Posts tagged with ‘kisah asmara sex’

  • Cerita Panas Pelampiasan Yang Salah

    Cerita Panas Pelampiasan Yang Salah


    218 views

    Cerita Panas Pelampiasan Yang Salah

    Perkenalkan namaku Rida umurku sekarang 30 tahun tinggi badan 165cm dan paytudaraku termasuk besar karena berukuran 34b, aku juga termasuk seksi….aku sudah berkeluarga dan memiliki dua anak suamiku bekerja di perusahaan swasta aku tinggal di sebuah kota M di Jawa Tengah.

    Perlu pembaca seksigo ketahui keseharianku adalah ibu rumah tangga tiap hari cuma antar jemput sekolah anakku. kehidupan rumah tanggaku termasuk normal-normal saja termasuk dlm berhubungan sex, aku termasuk wanita engan gairah seks yg cukup tinggi.

    Aku mempunyai teman akrab bernama Ana kira-kira dia seusia dgnku dia bekerja disebuah perusahaan swasta sedang suaminya bekerja diinstansi pemerintah. aku sangat dekat sekali dgn Ana setiap ada waktu pasti kuluangkan utk bermain dgnya jalan ke mall kalau tdk juga cuma curhat-curhat biasa…paling enggak saya sering menghubungi dia lewat chat atau bbm aku pun juga akrab dgn suaminya yg bernama mas Didik sampai-sampai aku sering bercanda dgn nya tp seringnya lewat bbm sih.

    aku sering cerita dgn Ana perihal birahik sexu yg cukup tinggi itu sampai-sampai aku sering lupa waktu bila sedang ingin bersetubuh dgn suamiku…Ana pun sering bercerita mengenai kehidupan sex nya yg dia katakan normal-normal saja.

    Awal cerita sex terbaru ini ketika hari jum’at siang sekitar jam dua aku akan menjemput anaku yg sekolah.siang itu sehabis mandi aki berganti dgn setelan G-String CD dan BRA yg serasi berwarna Putih dipadu dgn rok panjang karena siang itu aku berharap suamiku pulang lebih awal dan aku akan memberi kejutan utk pakain ku ini berharap bisa berhubungan sex dgn suamiku…dan sewaktu mau berangkat suamiku telp pulangya agak malam karena dia akan keluar kota utk meeting dikantor pusat diluar kota katanya pulang sekitar jam sepuluh malam.dgn terpasa aku mengiyakanya walaupun aku sangat kecewa karena libidoku sedang naik.

    waktu mau berangkat jemput ternyata langit sangat gelap mendung menggelayut aku lupa bawa mantol waktu berjalan sekitar 200m hujanpun turun dgn derasnya karena tanggung aku numpang berteduh dirumah Ana temanku itu motor kuparkir dan aku berlari menuju kerumah Ana dan ternyata mas Didik sudah pulang kerja dia sambil duduk menikmati rokok dan bermain hp. karena hujan sangat deras dan petir menyambar-nyambar aku pun dipersilahkan masuk. kutunggu sekitar setengah jam ternyata hujan belum reda-reda malah tambah deras disertai petir…akhirnya kuputuskan utk menelpon adiku utk jemput anakku kesekolah karena aku sedang berteduh dan gak bawa jas hujan.

    Aku disuruh masuk dan dibuatkan minum oleh mas Didik karena aku nampak kedinginan akupun berbincang-bincang denganya mulai dari kerjaan suamiku sampai masalah sex, aku mulai terangsang dgn obrolan itu sampai aku kebelet pipis dan meminta ijin kebelakang waktu kubuka celana dlmku aku sudah basah dgn cairan bening lengket…ohhh ternyata aku mulai terangsang. setelah selesai dari kamar mandi aku keluar karena licin aku terjatuh dan kakiku agak terkilir spontan aku berteriak memanggil mas Didik.

    dia tanya

    “kenapa Ri kok bisa jatuh”
    “iya mas ini licin jd aku terjatuh….” sambil duduk dilntai kakiku kutekuk satu aku diurut mas Didik ternyata rokku agak tersingkap dan celana dlmku kelihatan aku tdk sadar kalau mas Didik sambil tertunduk malu dan sesekali melirik pahaku.

    Mas Didik memapah aku disofa dan sambil mengurut dia bertanya

    “yg sakit sebelah mana Ri?” sambil dia melirik ke arah pangkal pahaku yg kelihatan sedikit celana dlm seksi ku kulirik dicelana pendeknya sepertinya k0ntolnya mulai berdiri setelah melihat celana dlmku.-cerit sex hot-

    Akupun diurut sambil meringis kesakitan….tak terasa urutanya semakin keatas.aku pun berkat

    “jangan keatas-atas mas aku gak kuat gelinya” sambil bercanda dia berkata
    “emang yg dicari kan gelinya”aku pun diam saja.

    sambil rebahan di sofa diiringin hujan yg sangant lebat mas Didik terus mengurut betisku…rabaan itu membuat otot memekku berdenyut tak terasa memekku mulai basah kulirik jam menunjuka pukul 3 sore.pijatanya mulai keatas sampai pangkal pahaku dan rokku tersingkap mulai keatas dan jarinya menyentuh Celana dlmku aku mulai terbuai…tak terasa mas Didik mulai meraba-raba cdku aku bilang

    “jangan mas nanti kalo Ana pulang bisa berabe”tanganya terus memaksa masuk kedlm roku…

    akhirnya pertahannku jebol juga dia muliai memijat-mijat memekku dari luar cd mas Didik pun mulai mendekatkan wajahnya dan kamipun bepagutan…bibirnya mulai menyentuh bibirku dia mulai mencium bibirku tangan kanannya mulai memijat klitorisku aku meulai melayg..dlm batinku aku berkata

    “maafkan aku Ana aku telah mengkhianati persahabatan kita” tanganku mulai memijat k0ntol mas Didik dari luar celananya.

    tangan kanan mas Didik meremas paDidikraku..aku terus memijit pensisnya.mas Didik terus menyerabg leher dan bibirku.roku mulai disingkap sampai atas dan mulai terlepas kini hanya tingal bra dan cd gstring putihku…aku pun kaget ternyata sampai sejauh ini aku sama mas Didik.

    sambil terus berpagutan mas Didik melepas celana pendek dan kaos yg dipakainya.kita sekaranga sama-sama hanya memakai cd saja.ciumanya mulai turun ke perut dan akhirnya turun ke selangkangnku aku tak kuasa menolak walaupun aku gak risih karena selama ini aku tdk pernah melakukanya dgn suamiku.mas yudda mulai menciumi memekku dari luar cdku.memekku mulai basah karena banjir orgasme.

    aku tdk mau ketinggalan kupelorotkan cd mas Didik dan ternyata k0ntolnya lebih besar dan panjang dari suamiku kutaksir panjangnya 17cm.kujilati tanpa rasa risih.kamipun melakukan gaya 69 mas Didik mulai menari G-Strings putihku dan menjilati klitorisku aku semakin terbuai ke awang-awang. sambil ku plintir-pilintir putingku sendiri.

    setelah puas sambil telanjang kami beradu muka dan berciuman sangat rakus seperti pengantin baru…dia menidurkanku disofa dan mulai menggesek-gesek kan k0ntolnya ke memekku…kepala k0ntolnya mulai menerobos bibir memekku aku melayg dibuatnya dlm hati aku memohon maaf kepada Ana karena telah bersetubuh dgn suaminya…

    mas Didik mulai memasukan kepala k0ntolnya kedlm memekku sambil memijit klitorisku.aku bertambah melayg-layg…dan setelah 5 menit akhirnya blesss…ouuughhh masssss mulutku mulai merancu…terus mass aku udahhh gak tahann sogok terussss….sambil terus memompa memekku yg telah basah sedari tadi sekitar 15 menit aku disogok dia meminta aku nungging kita bergaya doggy style aku disetubuhi dari belakang….sambil berdiri mas Didik terus memompa memekku….

    setelah puas gantian aku yg di diatas aku bergoyang seperti penari striprtise sampai mas Didik merancu”Ri terusss goyang terusss Ri aku seperti melayg Ri….oughhhh.setelah pergumulan sekita 45 menit aku gantian dibawah mas Didik diatas sambil meremas-remas payudaraku sendiri mas Didik memompaterus entah sudah berapa kali aku orgasme dibuatnya….mas Didik muali mempercepat gerakanya sambil berkata

    “Ri aku udah mo keluar…..kita keluar barengan ya….” aku hanya mngangguk saja dan benar sekita 5 menit mas Didik orgasme dan Creeett….Creeett…Creeett…sekita 8 kali sperma mas Didik menembak dinding memekku….kamipun terkulai lemas…sambil pamit ke belakang mas Didik mengelap k0ntolnya yg basah bercampur sperma dan cairan kewanitaanku.

    didlm kamar mndi aku hanya bisa merenung da berkata dlm hati “apa yg baru saja aku lakukan..kenapa aku tdk bisa menahan nafsuku…Ana maafkan aku” setelah selesai membersihkan sperma yg masih mengalir di memekku.

    aku keluar kamar mandi…mas Didik bilang padaku…maafkan aku Ri…akupun membalas dgn senyuman….sambil pamitan karena huajn telah reda kami berciuman sebentar dan tangan mas Didik meremas memekku….aku pun berlalu pulang kerumah, dgn senyum senyum sendiri membayangkan hal yg baru saja terjadi…

  • Cerita Panas Dinda Junior Di Kantor

    Cerita Panas Dinda Junior Di Kantor


    145 views

    Cerita Panas Dinda Junior Di Kantor

    Aku tdk tahu bagaimana aku bisa terpikat dgn wanita ini. Semuanya berawal pada saat aku membuka emailku dan menerima salam perkenalan dari seseorang yg bernama Indri. Hampir setiap hari aku menerima email darinya.

    Setelah berjalan hampi 2 bulan, hubungan di dunia maya tersebut semakin erat. Hingga dia berani mengirimkan foto dirinya yg separoh telanjang walaupun bagian wajahnya di blur. Indri memberitahu itulah dirinya. Kerana wajahnya di blur, aku tdk tahu siapa dia sebenarnya. Setiap melihat fotonya terbayang tubuh montok yg mulus, buah dada yg bulat besar dan montok dgn putingnya yg berwarna coklat kemerah-merahan itu membuat nafsu birahiku naik.

    Indri pun mulai berani menceritakan hal peribadinya kepadaku terutama kehidupan seks bersama suaminya. Katanya dia merasa kesepian karena semenjak suaminya menduduki jabatan dikantornya, suaminya asyik dgn tugas kantornya. Dia jarang mendapatkan nafkah biologis dari suaminya. Dan kalaupun dapat, dia belum pernah mendapatkan kepuasan saat berhubungan seks dgn suaminya, karena begitu suaminya menginginkannya biasanya suaminya langsung menyetubuhi dirinya dan setelah suaminya menyemprotkan pejunya, suaminya langsung tidur tanpa menghiraukan dirinya apakah sudah mendapatkan kepuasan atau belum.

    Menginjak bulan ketiga hubunganku dgn Indri, aku dikejutkan dgn sebuah email dari Indri,

    “Bang… pingin sekali Indri merasakan kenikmatan dalam bersetubuh.
    Namun rasanya mustahil itu dapat Indri peroleh dari suamiku.
    Karena dia sibuk dgn urusan kantornya.
    Kalau lihat foto Abang,
    Abang pasti sanggup memberikan kepuasan yg Indri inginkan.
    Apa mungkin hal itu terjadi, Bang?????
    Ah kayaknya Indri terlalu banyak berharap???
    Namun Indri yakin suatu saat harapan itu pasti terwujud.”

    Email tersebut sangat menggangu pikiranku selama berhari-hari. Apalagi kalau membayangkan bentuk tubuh Indri yg sangat menggiurkan. Email itupun kemudian aku balas,

    “Ndri… sebenarnya Abang pun jg menginginkan hal itu.
    Setiap melihat foto Indri, Abang selalu terbayang akan keindahan tubuh Indri,
    Sehingga nafsu birahi Abang bangkit menggelora.
    Abang jadi tersanjung dgn ajakan Indri.
    Tp gimana aku dapat mewujudkan harapan kamu???
    Siapa kamu sebenarnya aku pun tdk tahu???
    Harapan Abang, Indri dapat memberitahukan jati diri Indri yg sebenarnya.
    Sehingga Abang dapat mewujudkan harapan Indri…..”

    Aku berharap saat itu jg Indri membalas emailku, namun hingga hampir 1 bulan ternyata Indri belum jg membalas emailku tersebut, hingga suatu hari ada email masuk dari Indri

    “Bang… Indri akan kasih tahu siapa sebenarnya Indri.
    Tp syaratnya Abang harus berjanji tdk akan menyebarkan dan memberitahukan identitas diriku kepada siapapun.
    Indri percaya Abang dapat menjaga kerahasiaan itu…
    Ini nomor HPku 0856xxxxxxx”

    Dibawah kata-kata tersebut ada sebuah foto terbaru Indri. Alangkah terkejutnya aku saat melihat foto tersebut. Ternyata Indri adalah Dinda… teman satu kantor dan satu bagian dgnku. Dinda adalah juniorku. Dalam hati aku memujinya betapa selama ini dia dapat menyembunyikan identitas dirinya walau setiap hari bertemu dgnku, sehingga akupun tdk tahu bahwa dia adalah Indri kekasihku di dunia maya.

    Saat jam pulang kantor aku sengaja menghampirinya, dan tampak dia terkejut melihat aku sudah berdiri didepan meja kerjanya.

    “Din…, mau pulang bareng?” ajakku

    Dinda sepertinya tdk percaya dgn ajakanku, dgn agak ragu dia menjawab,

    “Boleh jg nih… lumayan ngirit ongkos taxi…”

    Akhirnya dgn mengendarai mobilku aku dan Dinda menyusuri jalanan ibu kota yg masih macet. Diperjalanan Dinda sempat menanyakan nomor HPku yg kemudian disimpannya nomor HPku tersebut dalam HPnya.

    Aku tawarkan pada Dinda gimana kalau sebelum pulang kerumah masing-masing cari tempat makan dulu dan ternyata Dinda menyetujui ajakanku tersebut. Kamipun akhirnya masuk salah satu restoran dan pada saat makan tersebut, dgn hati-hati aku bertanya pada Dinda,

    “Din, kamu serius dgn ajakan kamu diemail tempo hari kepadaku?” tanyaku.

    “Menurut Abang gimana? Abang sendiri berani gak menerima tantangan dariku?” jawab Dinda sambil tangannya mengetikkan pesan singkat di HPnya.

    Tak berapa lama HPku berbunyi pertanda ada sebuah SMS masuk dan begitu aku lihat ternyata SMS dari Dinda. Sambil tersenyum aku baca SMS tersebut,

    “Bang, jujur setiap ketemu Abang di kantor aku selelu membayangkan enaknya disetubuhi Abang!! Abang adalah harapan bagi Dinda untuk mewujudkan kenikmatan yg telah lama hilang dari Dinda. Kalau Abang mau malam ini kita kerumah Dinda mumpung suami Dinda lagi dinas luar kota.”

    Seakan gak percaya dgn SMS tersebut, aku tatap wajah Dinda,

    “Ke rumahku yuk Bang?” ajak Dinda sambil membersihkan sisa makanan dimulutnya tanpa menunggu jawaban dariku. Dinda memanggil pelayan restoran dan meminta bill dan membayarnya segera setelah bill itu diterimanya. Bagai kerbau dicocok hidungnya aku menurut saja ketika Dinda mengajak kerumahnya.

    Diperjalanan aku masih bingung dgn kenekatan Dinda. Rupanya dorongan nafsu telah mengalahkan akal sehat Dinda. Rasanya aku gak sabar ingin segera sampai dirumah Dinda dan menikmati tubuh montok Dinda yg selama ini selalu aku bayangkan. Ternyata malam ini apa yg aku bayangkan selama ini akan terwujud.

    Begitu tiba dirumah Dinda, Dinda bergegas turun dari mobilku dan membukakan pintu pagar serta menyuruhku agar memarkir mobilku dihalaman belakang agar gak kelihatan orang dari jalan. Kemudian Dinda membuka kunci pintu rumahnya dan menghilang dibalik pintu.

    Selesai memarkir mobil akupun bergegas masuk rumah Dinda dan begitu pintu terbuka, tertegun aku seketika melihat tubuh Dinda yg hanya ditutup baju tidur tipis warna putih dan tanpa BH dan CD sehingga bagian payudara dan selangkangannya terlihat jelas. Tampak payudaranya yg bulat besar dan montok menggantung indah dgn putingnya yg berwarna coklat ke-merah2an sama seperti yg terlihat difoto yg pernah dikirimkan kepadaku. Sedangkan bagian selangkangannya terlihat bagian vaginanya ditutupi bulu2 jem but yg hitam lebat, kontras dgn warna kulit pahanya yg putih mulus. Bagian itulah yg selama ini belum pernah aku lihat, sehingga begitu melihat bagian tersebut akupun berdecak kagum,

    “Sempurna…” batinku.

    Dgn senyuman manis Dinda memelukku. Aku segera membalas pelukannya. Aku menyentuh pipinya dgn hidungku. Licin dan lembut. Per-lahan2 aku mengucup bibirnya. Kemudian mulai mengulum lidahnya dan menghisapnya perlahan-lahan sambil merangkul lehernya.

    Saat aku semakin merapatkan badanku, payudara Dinda yg besar dan montok terasa mengganjal didadaku. Rangkulan aku longgarkan agar tanganku dapat meremas payudara Dinda. Namun belum sempat menyentuh payudaranya, tanganku dipegangnya dan ditariknya tanganku sambil berjalan menuju kedalam kamarnya.

    Menyadari hal itu akupun segera menggendong Dinda sambil mulutku mengulum bibirnya hingga sampai ke dalam kamarnya. Sesampainya dikamar aku rebahkan Dinda di atas kasur yg empuk. Aku berbisik telinganya,

    “Malam ini, kamu akan merasakan kembali kenikmatan yg telah lama tdk kau rasakan….. Aku akan memenuhi harapan kamu…..!!!”.

    Sambil terus berciuman tanganku mulai menjalar di dada Dinda. Terasa payudara Dinda yg besar dan montok, memang padat dan kencang. Aku meremas-meremas payudaranya sambil mengulum lidahnya. Dinda membalas kulumanku.

    Setelah puas berkuluman dan remas-meremas, aku terus melepaskan baju tidur Dinda agar tdk ada lagi yg menutupi keindahan tubuhnya. Kini dari dekat aku dapat melihat betapa indah tubuhnya yg berkulit putih mulus itu. Aku terus menjilat telinga dan seluruh tubuhnya.

    “Aaaahhhhhhhggggghhhhhh…” Dinda mengerang manja.

    Dinda berusaha melepaskan pakaianku… hingga yg tersisa tinggal cdku saja.

    Tak sabar rasanya aku untuk menjamah daging mentah yg terhidang didepan mata….

    Kemudian tanganku meremas kedua payudara Dinda yg kenyal dan montok itu. Kulihat puting payudara Dinda yg berwarna coklat kemerahan sudah menegak. Dgn rakus aku hisap payudaranya. Mula-mula sebelah kiri dan yg sebelah lagi kuremas-remas. Setelah puas aku hisap payudara yg sebelah kiri, aku pindah ke payudara sebelah kanan. Tampak Dinda sudah makin terangsang. Dia merintih dan menggeliat antara geli dan nikmat.

    “Mmmm… enak Bang … sssshhhh… ooooohhh…” erangnya perlahan.

    Aku terus menghisap kedua puting payudara Dinda bergantian… Dinda menggeliat lagi.

    “Mmmm sedappp Bang… terus Bang … ” Dinda semakin mendesah tak karuan saat hisapan mulutku makin kuat pada payudaranya.

    “Aawww….nnggggggg… Bang!!!” Dinda mengerang dan kedua tangannya memegang kain seprai dgn kuat.

    Aku semakin menggila… tak puas dgn menghisap, mulutku mulai menjilati kedua payudara Dinda secara bergantian. Seluruh permukaan payudaranya basah. Ku-gigit2 puting payudaranya sambil meremas-remas kedua payudara Dinda yg gede dan montok itu.

    “Ooohhh… oouwww… sssshhh… tambah enak Bang” erang Dinda.

    Aku tak peduli. Dinda menjerit kecil sambil menggeliat ke kiri dan kanan, sesekali kedua jemari tangannya memegang dan meremas rambutku. Kedua tanganku tetap meremas payudara Dinda sambil menghisapnya.

    Didalam mulut, puting payudara Dinda ku-pilin-pilin dgn lidahku sambil terus menghisap. Dinda hanya mampu mendesis, mengerang, dan beberapa kali menjerit perlahan ketika gigiku menggigit lembut putingnya. Beberapa tempat di kedua bulatan payudaranya nampak berwarna kemerahan bekas hisapan dan garis-garis kecil bekas gigitanku.

    Setelah cukup puas menghisap payudara Dinda, bibir dan lidahku kini merayap turun ke bawah. Kutinggalkan kedua payudara Dinda yg basah yg penuh dgn tanda merah bekas gigitan dan hisapanku yg cukup jelas terlihat.

    Lidahku mulai menjilati perutnya, Dinda mulai meng-erang2 kecil keenakan, bau keringat tubuhnya menambah nafsuku semakin memuncak. Kucium dan kubasahi seluruh perutnya yg putih mulus itu dgn air liurku.

    Aku turun kebawah lagi… dgn cepat lidah dan bibirku yg tak pernah lepas dari kulit tubuhnya itu telah berada diatas bukit vaginanya yg indah. Tampak bulu-bulu jembutnya yg lebat itu telah basah oleh cairan vaginanya. Tampaknya Dinda sudah sangat terangsang akibat ulahku.

    Perlahan-lahan jilatanku turun ke lututnya kemudian naik lagi ke pangkal paha. Aku berhenti menjilati pangkal pahanya kemudian kusibakkan bulu2 jembut Dinda yg lebat yg menutupi bukit vaginanya sehingga terpampanglah belahan vaginanya yg sudah sangat basah.

    “Buka sayang…” pintaku agar dia merenggangkan kangkangannya.
    “Oooh…” Dinda hanya merintih perlahan saat aku melebarkan kangkangannya. Kelihatannya dia sudah sangat terangsang…

    Aku letakkan kepalaku tepat diatas selangkangan Dinda. Dinda membuka kedua belah pahanya lebar-lebar… Wajahnya yg manis kelihatan kusut dan rambutnya tampak acak2an. Kedua matanya sayu memandang ke-langit-langit, menikmati apa yg telah lama hilang dalam hidupnya. Bibirnya basah merekah indah sekali.

    Aku tersenyum, sebentar lagi aku akan merasakan kenikmatan yg kuidamkan selama ini… menyetubuhi tubuh montok Dinda yg selama ini selalu aku bayangkan. Kunikmati sesaat keindahan vagina Dinda. Bibir vaginanya yg tadi tertutup oleh lebatnya bulu jembutnya, kini tampak merah merekah. Aahhh betapa nikmatnya jika nanti penisku dapat memasuki lubang vagina tersebut.

    Dinda menekan kepalaku agar lebih dekat ke vaginanya. Hidungku terbenam diantara kedua bibir vaginanya yg empuk dan hangat. Kuhirup se-puas-puasnya bau vagina yg khas itu. Bibirku mulai menjilati bagian bawah bibir vagina Dinda dgn penuh bernafsu. Aku jilati vaginanya dgn mulutku, sementara kedua tanganku meremas bokongnya yg padat bulat dan montok dgn gemas.

    Dinda men-jerit-jerit merasakan kenikmatan yg tak terkira, tubuhnya menggeliat hebat dan terkadang megelinjang kencang, beberapa kali kedua pahanya menjepit kepalaku yg asyik menjilati bibir vaginanya.

    “Mmmm… ohh… hgggghhhh… nikmat Bang, jilat itil Dinda Bang” Dinda mengerang, merintih dan merengek manja agar bagian itilnya segera aku jilati.

    Kedua tangannya bergerak meremas rambutku, sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya. Terkadang bokongnya dinaikkannya sambil mengejang nikmat, terkadang digoyangkan bokongnya seirama dgn jilatanku kepada vaginanya.

    “Oouhhh… yaahh… yaaahah… huhuhu… huhuhu… Jilat 1tilnya Bang, ayo jilat 1tilnya lagi!!” Dinda makin kuat merintih begitu 1tilnya aku jilati.

    Terkadang Dinda seperti menangis, mungkin tdk berdaya menahan kenikmatan yg dirasakan pada vaginanya. Tubuhnya menggeliat hebat dan kepala Dinda berpaling kekiri dan kekanan dgn cepat, mulutnya mendesis dan mengerang tak karuan.

    Aku makin bernafsu melihat reaksinya. mulutku semakin buas, dgn nafas tersengal-sengal kulebarkan lagi bibir vagina Dinda sehingga terlihat jelas bagian dalam vagina Dinda berwarna merah sudah sangat basah oleh cairan kenikmatannya.

    Kuusap dgn lembut bibir vagina Dinda. Kemudian lalu per-lahan-lahan aku jilati belahan vagina Dinda yg tampak merah merekah yg sudah sangat basah. Dibagian atas vaginanya 1tilnya yg besar berwarna kemerahan tampak semakin tegak dan membesar pertanda Dinda dalam kondisi yg sangat terangsang.

    Kujulurkan lidahku dan kembali menjilati 1tilnya yg besar itu. Dinda menjerit keras sambil kedua kakinya menyentak-nyentak ke bawah. Dinda mengejang dgn hebat…

    Dgn gemas aku memegang kedua belah pahanya dgn kuat lalu kulekatkan bibir dan hidungku diatas celah kedua bibir vaginanya, kujulurkan lidahku keluar sepanjang mungkin lalu kusapukan lidahku diatas bibir vaginanya secara berulang ulang sambil sesekali aku cucukan lidahku kedalam lubang kemaluan yg telah begitu basah.

    “Hgggghgggh… hhghghghg… ssssshsh!!!” Dinda menjerit keenakan dan mendesis panjang dgn perlakuanku itu.

    Tubuhnya kembali mengejang. Bokongnya diangkat-angkat keatas sehingga lidahku dapat menyelusup masuk kedalam lubang vaginanya dan men-jilat-jilat 1tilnya. Tiba-tiba kudengar Dinda seperti terisak dan kurasakan adanya lelehan hangat singgah ke bibir mulutku. Aku terus menjilati 1tilnya hingga tubuh Dinda terkulai lemah dan akhirnya bokongnya pun jatuh kembali ke kasur. Dinda telah mencapai orgasmenya akibat perlakauan lidahku pada vaginanya. Untuk pertama kalinya Dinda mendapatkan kembali kenikmatan syurga dunia setelah sekian lama hilang dalam kehidupannya. Dinda terus mengerang menghayati kenikmatan tersebut.

    Seer… seeerrr… seeeerrrr… cairan hangat terus meleleh keluar dari lubang vagina Dinda. Celah vaginanya kini tampak lebih merah. Selangkangannya nampak basah penuh dgn air liur bercampur lendir orgasmenya. Sluurp…. sluuuurrp… sluuuurrrp… aku jilat seluruh cairan yg terus keluar membasahi permukaan bukit vaginanya itu.

    “Ooohh… Dinda keluar Bang…..!!!” erang Dinda sambil tangannya menekan kuat-kuat kepalaku keselangkangannya sehingga mulut dan hidungku menempel ketat dicelah vaginanya. Kurasakan celah vagina Dinda ber-denyut-denyut. Dinda benar-benar telah mendapatkan kenikmatan yg maha dasyat diorgasmenya yg pertama akibat ulah lidahku.

    Ketika tekanan tangan Dinda pada kepalaku agak mengendor, dgn tdk memperdulikan erangannya, mulut dan lidahku kembali bermain di seluruh vagina Dinda. Beberapa bulu jembutnya ikut masuk ke dalam mulut ku, aku rasa bibirku sudah sangat basah dan rongga mulutku penuh dgn cairan orgasme dari vaginanya.

    Lidah ku terus menjilati 1til Dinda yg sudah sangat bengkak itu. Sambil perlahan aku masukkan jari telunjuk ku kedalam liang vaginanya yg hangat yg sudah sangat basah, aku dapat merasakan jari telunjukku terjepit kuat oleh dinding-dinding dalam vagina Dinda. Jariku serasa di-remas-remas didalam liang vagina Dinda. Punggung Dinda kembali terangkat saat jari ku makin masuk kedalam liang vaginanya. Aku tdk masukkan jariku terlalu dalam sebab aku ingin peniskulah yg merasakannya. Aku cabut jariku keluar dari liang vagina Dinda dan kemudian aku rangkul punggung Dinda dan aku tarik punggungnya naik ke atas sehingga vaginanya kembali tepat berada di mulutku.

    Tiba tiba Dinda menarik rambutku sehingga bibirku lepas dari vaginanya. Dia bangun sambil menahan kenikmatan. Tubuhnya masih menggigil saat aku melepaskan mulutku dari vaginanya. Dia dorong tubuhku hingga aku terbaring diranjang, kemudian dgn cepat Dinda melepaskan cdku. Maka tersembullah penisku yg sudah ngaceng dan tegak berdiri. Dinda senyum.

    “Hmm… penis Abang gede dan panjang sesuai dugaanku selama ini… !!” kata Dinda.

    Dgn tersenyum tangannya memegang batang penisku lalu Dinda mendekatkan mulutnya ke penisku. Dia membuka mulut dan memasukkan penisku kedalam mulutnya. Dinda mulai menghisap penisku. Di dalam mulutnya aku merasa kepala penisku dijilat-jilat oleh lidah Dinda.

    Aku merasa penisku makin menegang dan keras. Dinda dgn penuh nafsu menjilati batang penisku dan aku hampir gila merasakan kenikmatan yg aku rasa saat itu. Tdk hanya dijilati, batang penisku yg sudah sangat ngaceng dan keras itu mulai disedot dan dihisap oelh Dinda.

    “Mmmph… slurp slurp slurp… mmppphh…!!!” bunyi mulut Dinda yg sedang menyepong penisku.

    Sulit bagi Dinda untuk memasukkan semua penisku yg panjang dan besar itu kedalam mulutnya yg mungil itu. Beberapa kali dia mencoba tetapi baru separuh masuk sudah mengenai anak tekaknya membuat dia tersedak. Dinda terus menghisap penisku dgn mulutnya. Dia menjilati penisku mulai dari kepala penisku hingga ke buah pelirku. Dikenyotnya kedua buah pelirku.

    “Aduhh… mmmppphhhhh… Diiiiinnnnn terus Diiiiinnnnnn… enak Din…!!!” pintaku pada Dinda agar mulutnya terus menjilat, menyedot dan mengulum penisku.

    Puas menhulum kedua buah pelirku, mulut Dinda naik kembali menjilati batang penisku kemudian lidahnya berhenti tepat di kepala penisku. Lidahnya me-jilat-jilat lubang kencing yg berada tepat ditengah kepala penisku dan sesekali dia memasukkan seluruh penisku kedalam mulutnya kembali.

    “Mmmmmmmppphhhhhh… oooohhhhhh… nikmat banget Diiiinnnnn…!!!” lagi-lagi aku mengerang merasakan kenimatan tersebut.

    Tiba-tiba Dinda berhenti mengulum penisku dan dia membisikkan sesuatu kepadaku.

    “Bang, aku belum pernah berbuat seperti ini dgn orang lain selain dgn suamiku. Aku tahu apa yg kita perbuat ini salah, tp aku sudah tak tahan dan ini adalah rahasia kita berdua. Tolong jaga rahasia ini Bang!” bisik Dinda sambil menempelkan pipinya ke pipiku.

    Dgn berbisik pula aku menjawab permintaan tersebut,

    “Jangan khawatir sayang, sampai kapanpun aku akan menjaga rahasia kita berdua ini”

    Kemudian kami berdua tersenyum. Lalu aku baringkan Dinda dan menguakkan kakinya dan mengganjal pinggul Dinda dgn bantal. Vaginanya yg telah basah kunyup kini terbentang indah dihadapan ku.

    Perlahan-lahan aku mulai menindih tubuh Dinda dan menempatkan kepala penisku tepat di muka bibir vaginanya yg sudah menantikan tusukan penisku. Sebelum memasukkan penisku dalam lubang vagina Dinda, aku merebahkan diriku diatas perutnya. Untuk mengurangkan berat badan, aku sangga badanku dgn sikuku. Dalam keadaan tiarap di atas perut Dinda aku mulai mengisap dan menjilati puting payudaranya. Tampak Dinda benar-benar dalam kondisi kenikmatan. Tangannya kuat merangkul kepala dan rambutku. Nafasnya mendengus kuat. Dadanya bergelombang laksana lautan dipukul badai.

    Perlahan kepala penisku mulai membelah celah vagina Dinda, lalu sedikit demi sedikit batang penisku mulai masuk ke dalam liang senggama vaginanya yg sudah sangat basah itu.

    “Aaaahhhhhh… mmmpphhhhhh…!!!” Dinda merintih menahan sakit namun nikmat saat penisku yg gede dan panjang itu mulai menerobos masuk ke dalam liang senggama vaginanya yg masih sempit.

    Rupanya vagina Dinda jarang dipakai sama suaminya, sehingga masih terasa sangat sempit sekali. Sejenak aku hentikan enjotan penisku didalam vagina Dinda untuk menikmati enaknya empotan vaginanya yg luar biasa nikmatnya. Batang penisku terasa diremas2 dan dipijit-pijit oleh empotan didalam liang senggama vagina Dinda. Sambil menahan nikmat yg sangat, aku meneruskan enjotan penisku dalam liang senggama vagina Dinda yg super basah, hangat dan empotannya yg sangat kuat.

    Aku kembali meng-isap-isap kedua payudara Dinda secara bergantian. Dindapun mendesah menahan kegelian dan kenikmatan.

    “Aarrgghhh nikmaaattttt, Bang…!!!” jerit Dinda saat seluruh penisku telah amblas didalam liang senggama vaginanya hingga mentok ke dasar vaginanya. Aku biarkan sesaat penisku terbenam di dalamnya. Empotan vagina Dinda makin terasa oleh penisku.

    Dinda mengangkat tubuhnya sambil memeluk tubuhku. Kami berbalas kuluman sementara penisku masih terbenam seluruhnya dalam vaginanya yg lembut dan nikmat itu.

    Kemudian aku mulai memaju mundurkan pantatku sehingga penisku keluar masuk liang senggama vagina Dinda. Sesaat aku lihat kebawah, tampak bibir vagina Dinda menjadi monyong setiap kali batang penisku kutarik keluar dan bibir vagina Dinda akan melesak kedalam setiapkali penisku kumasukkan kedalam liang senggama vagina Dinda.

    Pemandangan tersebut dan rintihan Dinda membuat aku tambah bernafsu dalam menyetubuhi Dinda.

    “Aaaaahhhhhh… nnniiikkkmmmaaattt, Bang…!!!” tak henti2nya Dinda merintih merasakan kenikmatan yg dialaminya.

    Enjotan penisku dgn sambil memutar-mutar penisku di liang senggama vaginanya membuat nafsu Dinda makin menggelora. Tangannya mencengkeram erat pundakku sambil matanya merem melek dan mulutnya mengerang keenakan.

    “Terus Bang… enjot yg kuat… nikmaaaaat… aaaaahhh…!!!” erangannya semakin kuat.

    Aku terus memompa vagina Dinda dgn sekuat tenaga. Penisku keluar masuk dgn cepat di liang senggama vaginanya yg semakin licin dan basah. Dinda mengangkat-angkat dan menggerakkan pinggulnya membalas setiap tusukan penisku ke vaginanya.

    Kemudian aku mencabut penisku dan meminta Dinda menungging. Dinda menungging dan aku berlutut di belakangnya. Tampak belahan vaginanya kelihatan nyempil dari belakang dan tampak ujung2 bulu jembutnya yg basah oleh cairan vaginanya. Kusodokkan penisku masuk liang senggama vaginanya.

    “Ohhh… nikmatnya, Ayo Bang sodok yg keras… Aggghhhhhh… nikmatnya…!!” erang Dinda dan akupun semakin kuat memompa liang senggama vagina Dinda dgn penisku.

    Tdk berapa lama kemudian, Ser… seer… seeer… terasa vagina Dinda kembali menyemprotkan cairan orgasmenya untuk yg kedua kali.

    “Aaaahhhhh… Baaaang… Dinda keeee… luuuuaaaarrrr… lagi…” jerit Dinda saat mendapatkan orgasme keduanya.

    Vaginanya ber-denyut-denyut kuat sekali. Sehingga aku diamkan penisku di dalam liang senggama vaginanya untuk merasakan kenikmatan akibat empotan vagina Dinda tersebut.

    Setelah empotan vaginanya berhenti Dinda ingin dia yg diatas. Aku menuruti kemauannya. Aku mencabut penisku dan membaringkan tubuhku di atas ranjang. Sambil menggemgam batang penisku, Dinda mulai menurunkan bokongnya dan mengarahkan batang penisku tepat dibawah vaginanya. Setelah penisku masuk ke dalam lubang vaginanya, perlahan lahan dia menggerakkan bokongnya naik turun. Dalam posisi tersebut dgn jelas aku dapat melihat penisku keluar masuk liang senggama vagina Dinda. Melihat hal itu nafsuku jadi tambah menggebu.

    Saat Dinda menggerakkan bokongnya naik turun, aku meremas-remas payudaranya. Penisku terasa licin, ini menunjukkan banyaknya lendir yg ada dalam liang senggama vagina Dinda akibat dua kali orgasme yg dialaminya. Kupegang erat kedua payudaranya kemudian dgn menggunakan ibu jari dan jari telunjukku aku me-milin2 puting payudara Dinda.

    “Ohhh… eeeennnaaaaakkkkk… hnggg…” racau mulut Dinda sambil terus menaikturunkan bokongnya. Sesekali dia me-mutar-mutar bokongnya yg kemudian dikombinasikan dgn gerakan seperti orang menahan kencing. Saat Dinda melakukan gerakan tersebut, luar biasa dinding-dinding liang senggama vagina Dinda seperti me-mijit-mijit batang penisku. Baru kali ini aku benar-benar merasakan nikmatnya vagina dgn empotan yg luar biasa.

    Nafas Dinda sudah mulai ngos-ngosan dan terasa panas, pertanda dia sudah sangat terangsang. Lubang vaginanya terasa semakin ketat menjepit penisku.Tanganku masih meraba dan meremas-remas payudaranya.

    Sebentar kemudian aku suruh dia menahan posisinya dgn mengangkat sedikit bokongnya supaya aku dapat menyodokkan penisku ke liang senggama vaginanya. Begitu Dinda menahan posisinya, akupun mulai memompa penisku keluar masuk liang senggama vaginanya sambil tanganku terus-terusan memilin puting payudaranya.

    “Ohh… nikmaattt… ehhhhh… enaaaaakkkk!!!” erang Dinda ber-kali-kali.
    “Ah…!!! kenapa berhenti. Lagi nikmat-nikmtnya niiih, Bang. Ayo sodokin lagi penisnya…!!” protes Dinda saat aku berhenti mengenjotkan penisku.

    “Sabar… sayang. Saya capek…” jawabku berpura-pura. Padahal aku mulai merasakan bahwa pejuhku sebentar lagi jg sudah akan muncrat, kalau saja aku terus memompanya tadi pasti pejuhku akan muncrat. Aku masih ingin lebih lama merasakan penisku bermain dalam liang senggama vagina Dinda yg super nikmat tersebut.

    Dinda masih di atas. Dgn kedua telapak tangannya di atas dadaku, dia membongkok sedikit. Aku tdk jemu-jemunya bermain dgn payudaranya yg mengkal dan bulat itu. Pada saat kuusap usap puting payudaranya, badannya mulai mengeliat merasakan kenikmatan.

    “Ayo Baaaang, sodok lagi vagina Dinda dgn penis gede Abang… enaaaakkk Baaaang!!!” rayu Dinda sekali lagi.

    Dgn perlahan-lahan, kembali aku mulai mengenjotkan penisku keluar masuk liang senggama vagina Dinda. Semakin lama semakin cepat.

    “Ennaaaak… aaahhhh niiiiiiikmaaaaat…!!! Dinda mau keluuuuaaaaarrr lagi Baaaangg!!!” Dinda mulai merintih lagi.
    “Tahan dulu Din, Abang jg sebentar lagi mau keluar…” kataku.

    Tanpa mencabut penisku dari vagina Dinda, perlahan aku dorong tubuh Dinda hingga berbaring sehingga sekarang posisiku ada di atas Dinda. Aku angkat kedua kaki Dinda dan aku tumpangkan di atas pundakku kemudian dgn gerakan yg cepat aku pompa lagi vagina Dinda dgn penisku.

    “Agghhhhhh… aduh Baaaaang… enaaaaaakkk Baaaang…!!!” Dinda mengerang keenakan tatkala penisku mulai memompa liang senggama vagina Dinda kembali, karena dgn posisi seperti itu vaginanya terasa lebih sempit sehingga gesekan penisku semakin terasa olehnya.

    Penisku keluar masuk liang senggama vagina Dinda. Semakin lama semakin cepat. Aku semakin mempercepat pompaanku dan Dinda mulai mengerang kuat. Aku tahu Dinda akan mendapatkan orgasmenya. Demekian pula Aku.

    “Din, aku ******* pejuhku didalam atau diluar nih???”
    “Didalam aja Bang, Dinda pingin merasakan semprotan pejuh Abang!!!!”
    “Kalau kamu hamil gimana????”
    “Jaannggggannn…. takut Bang… Dinda pakai KB kok. Dinda ngerti kok pasti Abang akan merasakan lebih nikmat kalau dikeluarkan didalam!!!” Dinda menjerit halus membantah perkataanku.

    Aku makin cepat memompa penisku di liang senggama vagina Dinda. Sampai akhirnya,

    “Baaaangggg!!!! Dinda keluuuuuaaaarrr….. Ssssshhhh… Aaaaahhhh!!!” teriak Dinda. Ser… seerr… seeerrr… semburan cairan orgasme Dinda mengiringi teriakannya.

    Dan pada saat mencapi orgasme tersebut empotan vagina Dinda terasa sangat kuat. Hal tersebut membuat penisku merasakan nikmat yg amat sangat sehingga dgn sekali enjotan yg kuat Crot… croott… crooottt… menyemburlah pejuhku banyak sekali didalam liang senggama vagina Dinda.

    “Aaahhh….. ssssshhhhh… Aaaaahhhh…!!! Aku mengerang merasakan puncak kenikmatan yg sungguh luar biasa.

    Seketika itu banjirlah vagina Dinda oleh semburan cairan orgasmenya dan semprotan pejuhku. Saking banyaknya cairan kental dan pekat tersebut sampai luber keluar membasahi seprai.

    Dinda tersenyum puas dan membiarkan air nikmat itu mengalir. Hampir lima menit aku tiarap diatas tubuh Dinda, kemudian Dinda menggulingkan tubuhku lalu dia tiarap di atas badanku. Diciumnya bibirku sambil menggesekkan belahan vaginanya ke batang penisku. Terasa belahan vagina Dinda tersebut masih hangat dan terasa licin. Lama kelamaan penisku pun mulai ngaceng kembali. Perlahan-lahan kepala Dinda turun hingga bibirnya bersentuhan dgn penisku. Terus dijilatnya buah pelirku dan dikulumnya penisku. Kenikmatan mulai menjalar keseluruh tubuhku, merasakan nikmatnya jilatan dan kuluman lidah dan bibir Dinda pad penisku.

    “Bang, tidur disini saja yah? Aku masih ingin menikmati penis gede ini…!!!” bisik Dinda manja.

    Ketika kutengok jam menunjukan pukul 00.15 Berarti sudah 2 jam lebih aku menggumuli tubuh yg indah ini. Aku peluk Dinda sambil mengangguk dan akhirnya kami bersetubuh sekali lagi sebelum akhirnya kita tertidur keletihan.

    Pagi harinya aku terjaga ketika kurasakan jilatan dan kuluman pada penisku, dan ketika aku lihat Dinda dgn rakusnya mengerjai penisku dgn mulutnya. Kulihat jam menunjukkan hampir pukul setengah enam pagi.

    Pagi ini adalah hari Sabtu, berarti kami berdua libur kerja. Hampir sepanjang hari itu aktifitas kami tdk lepas dari persetubuhan. Sepanjang hari itu aku menggumuli tubuh montok Dinda dan merasakan sempitnya dan empotan vagina Dinda. Begitu pula Dinda, ber-kali-kali dia merasakan kenikmatan persetubuhan yg luar biasa yg telah lama tdk dia rasakan.

  • Cerita Panas Sisil Cewek Jakarta Doyan Dugem dan Ngentot

    Cerita Panas Sisil Cewek Jakarta Doyan Dugem dan Ngentot


    251 views

    Cerita Panas Sisil Cewek Jakarta Doyan Dugem dan Ngentot

    Perkenalkan Nama Saya Bernard.. Seperti cerita – cerita lainnya.. saya adalah salah satu mahasiswa Ilmu Komputer Semester 4 di perguruan tinggi swasta di daerah jakarta barat.

    2 tahun yang lalu ialah masa2 SMA saya akan berakhir.. yah.. itu kelas 3.. dan kata orang masa – masa SMA itu masa yang paling indah… . Mungkin memang paling indah… masa SMA masa dimana seorang beranjak dewasa.. mulai mengenal dunia luar… dunia gelap.. dunia gemerlap.. narkotika.. kejam.. memang kejam.. tapi sangat mengasyikan.. Saya adalah orang yang cukup di bilang.. seminggu sekali untuk datang ke salah satu diskotik di jakarta.. awalnya saya pun di ajak oleh salah satu teman saya.. tapi lama2 ketagihan.. cukup sedikit menghilangkan stresss…

    Singkat saja.. kami ber 5.. merupakan teman atau team dugem.. hohoho.. adi,dani,dono,dan cicil.. yahh… kami ber 5 memang cukup dekat dalem pertemanan..seperti biasa.. malam minggu pun tiba.. dan mulai mempersiapkan untuk pesta tar malem… dari permen karet, minyak angin, minyak sayurr dann segala jenis macam nya… katanya si biar “kenceng” on nya.. Setelah siap… saya pun mulai menjemput sisil.. wow… Dengan Rok Mini Putih.. yang menurut saya super pendekk… dan tengktop putih… dengan menggunakan topi putih.. dia siap bergoyang.. dalam hatiku.. “wahh nti malam bakal panaz ni..”

    Singkat cerita kami sudah sampai table.. nice.. ntah sisil kemana.. biasa wanita slalu berkeliaran mencarii barangnya sendiri.. akhirnya kami mulai party… ON… kenceng… dan pada jam 01.00 sisil dateng ke table.. dengan sempoyongan.. ku papah dia.. sambil ku pegang pantat nya untuk memapahnya.. “bitch! Ternyata make g-string” dalem hatiku.. karena tidak ada belahan tali kolor saat ku pegang pantat nya.. Setelah ku papah agar dia duduk di tempatku.. ternyata dia tidak mao.. dan inggin bergoyang.. sambil bergoyang pantatnya yang sekel itu… nempel ke Torpedo ku..

    Kata orang kalo lagi ON.. Torpedo gak bakal bisa berdiri.. ternyata salah.. kalo kebawa nafsu.. tetep aja berdiri.. ON ku mulai tak sehat.. memikirkan nafsu.. nafsu kepada temannya sendiri.. Jam menunjukan pukul 03.00.. Mulai sepi.. karena pada waktu itu bulan puasa.. diskotik tutup lebih awal… akhirnya.. aku mengajak teman2ku untuk bermalam di kost-ku.. sambil melanjutkan acara tripingnya.. Sampai di kost.. ternyata semua sudah lelah.. tidak ingin melanjutkan tripingnya..

    Akhirnya memilih untuk tidur.. ke 3 temanku tidur di lantai.. dan aku yg punya kost tidur di atas beserta sisil… karena kamar ku ini sangat sempit.. AC kost sengaja ku kecilkan ke 26 drajat.. biar pada mrasa dingin.. Sisil pun mulai kedinginan.. dan aku menawarkan masuk ke dalam badcover ku… Dia pun masuk… jadi kami tidur di dalam badcov er yg sama.. ohh!! Pikiranku melayang.. bukan tidur… malah nafsu yang ada di benaku.. Ku lihat dia mulai terlelap… Akhirnya ku coba memeluk pinggang dia..

    ternyata diam saja.. lalu pelan2 tanganku kunaek-an ke atas.. sehingga tangan kiri ku menindih payudara dia.. Dia masi diam saja.. jantungku terus berdetak cepat.. tiba2 dia membalik.. menghadap ke arahku… mungkin karena dingin… ohh… mukanya menghadapku… ku cium keningnya perlahan.. uh… temanku yg seksi.. akhirnya bisa menciumnya.. lalu ku turun kan kebibir… ehmm… dia masi tetap diam.. ntah neken berapa dia malam..

    Tangaknku mulai turun… meraba pantatnya.. aku sengaja… karena ingin menjalajahi tubuhnya perhalah2.. Rok mininya ku naekan.. ku masukan tanganku ke dalam rok mininya.. ku raba pantatnya perlahan2.. Setelah puas.. Aku mulai naek keatas.. tanganku masuk ke dalam tangktopnya.. mencari pengait Branya.. dan membuknya.. jantungku berdetak cepat….

    Dan akhirnya… terbuka juga bra nya.. stlh itu ku dorong dirinya.. agar dia telentang.. lalu perlahan2.. tanganku mulai masuk dari perutnya.. pelan2 tanpa menyentuh perutnya.. dan akhirnya…. Ku pegang payudaranya.. ohh.. begitu pas dengan tanganku.. di dalam badcoverku,, ku terus melakukan aksiku.. stlah puas meraba payudara sisil… tanganku mulai nekat.. turun ke bawah.. begitu mudahnya karena dia hanya menggunakan rok mini.. langsung tersingkap begitu saja.. ku raba langsung ke pintu surganya… oh…. Botakkk… aku suka vagina botak… stlh ku tarik g-stringnya.. ku dapati vaginanya basah.. aku berpikir apa dia sadar.. atau tidak… lalu ku coba menghisap putingnya dari balik tengktop putihnya.. slurpp..

    Ohh…. Ku gesek2an ***** di kakinya… sambil tanganku mencoba mencari celah klitorisnya..pikiranku mulai melayang.. takut2 dia bangun.. dan teman2ku bangun.. rusak semua pertemananku.. Rasanya ingin ku masukan jariku ke dalam vaginannya.. tapi takut dia terbangun..
    Aku terus menggesekkk jari2ku di klitorisnya.. sambil menghisap putting susunya dari balik tengtop putihnya.. dan sesekali ku cium bibirnya saat tiba2 terbuka.. ohh…
    Tapi tiba2.. Tanganku di tepakk dia…
    Sisil : “Ngapain lu nard!! Kurang ajarr siall!!”
    Sorry2..!! gw kebawa nafsu.. barangnya bkin horny..
    (sambil berisik.. karena takut ke tiga temanku bangun…)
    Sisil : “ horny si horny.! Tp masa temen lu sendiri lu embad.! Gila apa..!!”
    Iyah2!! Sorry2.. dah2 tidur…
    Akhirnya sisil kembali tidur.. tapi kali ini menghadap ke tembok.. dan pantatnya menghadapku.. 1 jam berlalu.. aku mulai gelisah.. ku coba peluk dia dr belakang.. tidak ada perlawanan..
    Ku coba berbisik ke dia.. “gw peluk lu boleh yah sil..” yah dah gw jg masi dingin ni.!
    Akhirnya ku peluk dirinya lalu aku berkata… “maafin gw yah sil.. gw kebawa nafsu., “ sambil ngmg di dekat telinganya.. iyah2 udah tidur sana… karena ku pikir lampu hijao… akhirnya ku cium lehernya…
    Sisil : “apaan si lu!!”
    Sorry2..!! Cuma ciuman biasa sie..!!
    Sengaja torpedoku, ku tempelkan dengan pantatnya.. pasti dia merasakan betapa tegaknya torpedoku..
    Sisil : “barang lu awasin tuh! Ganjel tau!” (sambil tetap berbisik)
    Gw : “gpp gini aja.. gw gk ngapa2in de..”
    SiSil : “yah udah! Awas lu macem2..!”
    Akhirnya sisil tidur lagi.. tapi kali ini nafsuku makin menjadi..
    Ku raba dada dia.. (bra nya masi blm di kaitkan..) uhh.. lalu ku tarik rok blakangnya..
    Karena sudah kepalang tanggung.. ku keluarkan torpedoku.. ku jepit di antar kedua kakinya.. lalu mulai ku gesekan pelan2.. ! sambil ku cium lehernya…
    Dan “sisil..! : ahh…! Luu begitu terus lama2 gw jd ikutan horny..”
    Masukin sekarang aja udah!! Dah ngantuk gw.!
    Wahhh!! Hatiku bersorak… ku masukan torpedoku ke dalam vaginanya..
    “ouchh!! Pelan2 nard..!! ughh gede juga titid lu.. “
    Dah msk blm sil..
    “udah2.. dah mentok ini.. goyang pelan2 nard.. takut pada bangun..”
    Lalu ku goyangkan pantatku.. sambil ku cium bibir sisil.. ternyata dia membalas ciumanku… sambil tanganku memilin putting susunya..
    “ouchh nard..!!’
    Sstt..! tar pada bangun sil.!
    “uhhh… cpt… !
    “ouchhh nard… gw mw keluar!!”
    “sabarrr… gw juga… gw keluarin dmn ni…”
    “ di luar lah bego..!! lu mao gw hamilll hah..??”
    Ups..! sorry.. kirain lu dah makan pil apa gitu!
    “pala lu!! Uhhh.. ahhh ouch…. Gw… samp…pe…”
    Ku rasakan basah di palkon ku.. ternyata dia dah keluar..
    Dann..
    “gwww jugaaa sil…”
    Lalu ku keluarkann dan ku arahkan ke atas.. sehingga spermaku nempel di tengktopnya..
    Sisil : “udah puas..??”
    Gw : “udah2.. thanks yah!
    Sisil : “skrg boleh tidur gw.??”
    Gw : “boleh2!”
    Sisil : “awas lu blg anak2.. jaga tuh bacot yah! Tar pada nagih mati gw.!”
    Gw : ok2!

    -pagii hariii-
    Semua dah pada bangun.. tinggal aku.. sisil juga dah bangun.. lagi merokok di teras kostku..
    Gw : “ yg laen pada kemana sil..”
    Sil : “noh di bawah.! Lg pada makan mie..”
    Gw : oh.. (wahhh! Keqnya dia lupa sama semalam nie..
    Sil : “ gw pinjem anduk donk..mw mandi nie..”
    Gw : “ohh noh ambil aj di lemari gw..

    Dia pun mandi dalam kamar kostku…
    (kamar kost ku memiliki kamar mandi dalam..)
    Saat dia mandi ku coba ketuk pintunya..
    Gw : “sil..”
    Sisil.. : “ kenapa.. sambil buka pintu..”
    Gw : “ gw… horny… tolong coliin aja dnk.. “
    Sisil : “coliin aja yah! Gk macem2..! yah dah! Konci sono pintu lu tar pada masuk gaswat..”
    Gw : ok..!
    Akhirnya di coliin.. stlh.. di kocok 10 menit tidak keluar2…
    Sisil :”lama amat siii!! Keluarnya..!”
    Gw : “gw pegang badan lu yah biar cpt keluarnya.”
    Sisil : “ haduh!! Okeh2..!! toket aja! Gk pake bawah..”
    Akhirnya gw memegang toketnya.. gw pilin2 putingnya…

    Gw : “isep donk sill..!”
    Sisil : “yah dah!..”
    Akhirnya ku isap putingnya.. sambil menunduk menghisap payudaranya.. dan dia tetap mengocok torpedoku.. uhhh.. oh…hh.. terus sil… ehmm…
    Ternyata sisil juga horny.. karena dia tidak mw ML lagi… dia masukan ke dalam mulutnya..
    “my god!! Ohh!! Terus sil2…” ohhh…!!
    5 menit blm keluar2.. ternyata sisil mulai merasa lelah…
    Dan akhirnya dia berikan vagina nya sekali lagi di pagi itu..

  • Cerita Panas Cewek Marketing Property Cantik

    Cerita Panas Cewek Marketing Property Cantik


    662 views

    Cerita Panas Cewek Marketing Property Cantik

    Perkenalakn namaku Jimmy Usia 27 tahun dan belum menikah, adalah seorang eksekutif muda. Jujur, banyak cewek yang kukenal di kota Jakarta ini, tp tak satu pun dari mereka yang dapat meluluhkan hatiku. Selama ini teman cewekku sekedar hanya lah teman jalan dan have fun di akhir pekan.

    Berawal dari niatku utk mencari sebuah rumah kontrakan di daerah kelapa gading. Sebenarnya aq sdh memiliki sebuah rumah hanya saja lokasi kantorku yang agak jauh dari rumah membuat diriku harus bertarung dgn waktu kalau pergi dan pulang kantor, belum lagi macetnya. Akhirnya kuputuskan utk mencari sebuah rumah kontrakan di kawasan kelapa gading, hari minggu sore setelah mencari lumayan lama aq menemukan sebuah rumah yang rasanya cocok dgn keinginanku. Dan di rumah itu dipasang nomor telpon marketing property dan namanya “Vera”.

    Iseng-iseng kucoba utk menghubungi nomor telpon itu

    “Halo selamat sore dgn Vera disini, ada yang bisa saya bantu” terdengar suara dari seberang sana,
    ”Halo bu, saya Jimmy, maaf cuma mau tanya apa betul rumah di kelapa gading blok xxx no xx disewakan?” Tnayku lagi dgn seksama.

    Vera mengatur waktu janjian dgnku utk melihat kondisi rumah itu keesokan hari jam tiga sore. Maklum karena kerjaanku lumayan banyak aq sengaja mengatur waktu ketemuanku pas sore hari dgn tujuan setelah itu langsung pulang kerumah lebih awal.

    Keesokan harinya jam 14.15 handpone ku berdering, setelah kulihat ternyata nomor Vera yang menghubungiku.

    “Sore Ko Jimmy, dgn Vera nih, cuma mastiin aja apa nanti jadi ke lokasi rumah yang kemarin ko?” Tanya Vera dgn sedikit iba,
    ”Oh tentu saja jadi bu Vera, tp nanti aja jam 3an karena sekarang aq lagi sibuk” jawabku sekenanya.
    “O ya udah nanti Vera jam 3an langsung ke lokasi ya ko, nanti kita langsung ketemuan disana aja, kebetulan Vera lagi di daerah cengkareng lagi kena macet, sepertinya jam 3 bisa tiba disana. sesaat setelah aq menutup pembicaraan singkatku dgn Vera, timbul pikiran kotorku membayangkan Vera seorang cewek yang seksi, cantik dan bisa bawa mobil sendiri. Wah pasti bukan sembarangan marketing nih pikirku. Ah bodo amat, aq kan mau cari rumah kontrakan bukan cari cewek batinku lagi.

    Dibalut dgn rasa yang sedikit penasaran, jam 14.50 kuputuskan utk menuju lokasi yang telah kami janjikan sebelumnya, ternyata Vera belum ada di loksi. Aq terlalu cepat tanpanya, akhirnya kuputuskan utk tetap menunggu didalam mobilku sambil mendengarkan musik kesukaan dari mobilku. Pukul 15.20 sebuah mobil berwarna merah parker disebelah mobilku, sesaat kemudian keluar lah seorang cewek yang membuatku terkejut, Vera ternyata seorang wanita yang cantik, dan memiliki kulit yang putih bersih dan rambut yang panjang dibiarkan terurai.

    Vera mengenakan blazer hitam, berpadu dgn tanktop warna biru muda, dan rok pendek hitam yang begitu ketat, Aq tak sanggup menahan rasa kagumku, sampai aq tdk tau kalau Vera melihat kearah mobilku sambil tersenyum.

    “Ko Jimmy ya, udah lama nyampenya?”
    “mm, nggak baru aja kok bu” jawabku sedikit gugup.
    “jangan panggil ibu deh, Vera ngerasa tua banget ko, panggil Vera aja” katanya dgn logat manja nya Buset, mimpi apa ya aq hari ini?

    Panjang lebar Vera menjelaskan detail rumah yang mau kukontrakan, tp pikiranku sdh tdk konsentrasi lagi terhadap pembicaraannya, yang terlintas di otakku hanyalah bayangan akan tubuh seksi Vera yang ditopang buah dadanya 36c sepertinya. Betisnya yang jenjang dan putih dan rambutnya yang rebonding agak di warnai ungu, membuat tititku tak tahan seperti mau berontak mencari lawan tanding..

    Setelah berada di dlm teras rumah yang cukup besar itu, Vera menutup pintu pagar rumah itu, biar ngga ada yang datang katanya. soalnya sering ada orang minta sumbangan yang nggak jelas. kemudian Vera tampak sedang memunguti selebaran kertas yang disebarkan oleh tukang renovasi, billing listrik dan air.

    “maaf ko agak berantakan nih” katanya sambil sedikit menunduk sehingga aq dgn jelas dapat melihat belahan buah dada Vera yang padat dan sintal. tanpa dikomando aq ikut membantu Vera memunguti kertas-kertas yang berserakn itu sehingga dgn jelas kali ini aq bisa melihat paha Vera yang mulus, wah putih banget, selama ini teman cewek yang pernah kuajak kencan tdk seperti Vera, kali ini pikiranku semakin kacau. Setan seakan-akan mulai merasuki akal sehatku. “ko, kok diem aja sih?” perkataan Vera membuyarkan lamunanku.
    “eh nggak koq Ver, aq lg agak pusing mikirin kerjaan kantor” ujarku berbohong.

    Sesaat kemudian kami sdh berada di dlm rumah yang terdiri dari 2 lantai yang udah lengkap dgn perabotannya,

    ”rumah ini sdh lengkap dgn furniture-nya jadi koko nggak perlu lagi repot cari perabotan, apalagi kalau mau nikah kan tinggal bawa istrinya aja kesini” perkataan Vera sedikit memancing nih pikirku.
    “ah,boro-boro pikir nikah, pacar aja aq belom ada” jawabku.
    “oyah, masa sih ko blom ada pacar, nggak mungkin bangt deh. pacar belom ada istri dimana-mana ya gak” jawab Vera dgn pandangan penuh gairah.
    “bisa aja lu Ver” jawabku.

    Sesaat kemudian kami sdh berada di lantai 2 rumah itu, gede jg kamar utamanya, layaknya fasilitas hotel berbintang, ada bath tube dan shower jg,

    ”system penataan lampunya jg bagus, bisa membuat suasana tambah romntis” ujar Vera sambil menatapku penuh arti.

    Kubalas tatapan matanya, kulihat Vera sedikit memalingkan wajahnya.

    “Ver,kamu uda punya pacar belum sih”,
    ”emang kenapa ko? “ sesaat kulihat mata Vera berkaca-kaca sepertinya ia menangis,
    ”Ver kamu kenapa?koq nangis sih aq Tanya begitu?” Vera duduk di tepian ranjang kamar sambil mengusap matanya dgn tissue,

    kemudian kutemani dia duduk berdua, dan Vera pun mulai menceritakan kalau dia sebenarnya udah punya pacar dan akan segera menikah beberapa bulan kemudian, tetapi ternyata cowoknya adalah seorang pengedar narkoba, yang baru aja tertangkap polisi dua bulan yang lalu. Nah hingga saat ini dia memutuskan utk melupakan mantan cowoknya itu walaupun dia sdh pernah ngesex dgn cowoknya.

    “ko,Vera boleh jujur nggak ke ko Jimmy?” pertanyaan Vera membuatku sedikit bingung, apa lagi maunya anak ini? “jujur aja Vera selama ini kesepian, semenjak cowok Vera nggak ada, Vera merasa ga punya siapa-siapa,teman curhat sekalipun teman yang bisa bahagiain Vera.” Vera pun merapat kearahku, tangannya memegang pundakku,
    ”Vera suka sama ko Jimmy, dari awal Vera uda ngrasain kalau kita mungkin jodoh” Kesempatan itu tak kusia-siakan, dgn tatapan penuh kasih sayang bercampur nafsu ku peluk Vera, nafasnya memburu membuat irama jantungku berdetak bertambah cepat.
    “sama Ver, aq jg dari awal udah suka sama kamu, kamu mau kan sama aq?”

    Vera mengangguk dgn pandangan yang sayu tanda ia jg suka sama aq. Ntah dari mana semua terjadi begitu cepat,kami saling ciuman mesra,tanganku memegang pinggang Vera dan dia bergelayut di leherku,kami ciuman sekitar 10 menit,nafasnya semakin memburu.

    ”Ver,aq buka ya bajumu?” Vera tak menjawab,langsung kubuka blazernya,menyisakan tanktop birunya,wuih seksi sekali Vera, rambutnya yang harum membuai angan-anganku jauh ke langit ketujuh. buah dadanya yang besar tanpa padat menantang, langsung kubuka tanktop dan BH nya, Vera telanjang dada di depanku. yang kulihat hanyalah ciptaaan Tuhan yang sempurna, buah dada Vera memang padat dan putih, putingnya kecil, seperti ABG.

    Kuciumi sekujur tubuhnya dgn penuh nafsu, perut, leher, dadanya dan tak lupa buah dadanya yang harum.

    “oohhh.. ko, Vera sayang sama koko”
    “Vera mau koko berikan Vera cinta” kubuka rok Vera, tampak celana dalamnya bewarna putih tanpa basah, perlahan-lahan jariku bermain di lipatan vagina Vera. ia menggelinjang keenakan,
    ”terus ko, Vera sayang ama koko” kubuka bajuku, sekarang kami sama-sama tinggal mengenakan celana dlm.kulihat Vera melihat kontolku yang uda mencuat tampak dibalik celana dlmku.
    “wah besar banget” kata Vera membuatku bangga”

    Perlahan-lahan kulorotkan celana dlm Vera, vaginanya yang udah basah oleh cairan kenikmatan Vera, kontolku udah ga sabar mau merasakan lubang kenikmatan Vera. kuambil posisi missionary, tampak Vera menutup mulutnya dgn tangannya.

    ”tenang Ver, semuanya akan baik-baik aja okee” Vera mengangguk, perlahan-lahan kontolku berusaha masuk ke dlm lubang kenikmatan Vera, karena Vera uda terangsang hebat, tdk sulit bagiku utk penetrasi, Vera merintih kesakitan ketika kontolku mulai menusuk ke dlm lubang memeknya. Zleeeppp…arrgghhh..

    Memek Vera walaupun sdh basah oleh cairan, masih saja terasa rapet, mungkin dia belum lama mengenal sex, jadi bisa dibilang belum banyak pengalaman, dilihat dari permainan sexnya aq yang aktif, dia pasif aja.

    Setelah kontolku masuk semua, kucoba utk mengocok dgn perlahan-lahan, Vera mengelinjang menahan kenikmatan “ mmmpphhhh… oohhh.. ssshhhhh…” desahan Vera membuatku semakin bernafsu utk mengocoknya lebih cepat.

    “plakk..plakk..plakk..” bunyi yang indah terdengar disaat kedua senjata kami saling beradu, Vera begitu menikmati kocokanku. Sampai akhirnya ia mendapat orgasmenya yang pertama

    “ oooohhh…oooohhh…ko……….. Verlly nyampee… “

    kurasakan Vera bergetar hebat, sambil mencengkram lenganku dgn kencang, kurasakan jg denyutan memeknya memijit setiap senti dari kontolku, terus aja ku kocok Vera, sehingga dia kelojotan menahan surge yang baru dirasakan”

    Sepuluh menit berlalu, kuajak Vera posisi WO,

    ”koko belum ya” tanya Vera kepadaq.
    “belum Ver, mungkin bentar lagi”
    “bagus deh,Vera pengen sekali lagi rasain kenikmatan dari koko” kata Vera membuatku semakin bergairah.

    Vera mengambil posisi diatasku, ia meringis menahan sakit dan nikmat ketika kontolku kembali menusuk ke dlm memeknya, buah dada yang bulat tampak naik turun menambah indahnya persetubuhan kami, kemudian Vera memelukku, membuat aq semakin mempercepat kocokan kontolku di memek Vera. tanganku memeluk pinggangnya dan Vera memeluk kepalaku, kali ini aq mulai merasakan cairan kenikmatanku mulai bergerak ke ujung kontolku.

    ”Ver, aq uda mau nyampe nih..oooogghhhhh..”
    “sama ko Vera jg, koko cepetin, Vera jg uda mulai nggak tahan nich” sejurus kemudian kupercepat pompaan kontolku, kulihat Vera menceracau tak karuan, oooorrggggg….uuucchhhh… ooohhhh… yeah… ooohhh….” lima belas menit akhirnya aq tak bisa membendung pertahananku. sepertinya akan jebol,
    ”Verl aq mau nyampeee…”
    “didalem aja yak ko,Vera mau ngrasain air kenikmatan koko”
    “Verlllllll…………….. ooooggghhhhhhh……………….”
    “aaagggghhhhhh…………….koko……….. Vera juuugaa……..ko….. ooocchh…ooocchh…”
    “Creeettt…….Creeettt… Creeettt… Creeettt….” Akhirnya mataq terasa gelap,tak bisa kulukiskan bagaimana rasanya saat itu, yang kulihat Vera ambruk diatas tubuhku, sejam kami tiduran dgn posisi Vera diatasku,

    Kurasakan cairan kenikmatan kami berdua meleleh keluar dari lubang memeknya.

    “Verl aq cinta kamu” Vera hanya terdiam dan menganggukkan kepalanya. kulihat keringat membasahi seluruh tubuhnya.

    Tepat jam 7 malam kami berdua meninggalkan rumah itu, rumah yang menjadi saksi bisu cinta terlarang aq dan Vera, kenangan itu tdk akan kulupakan seumur hidupku.

    Vera masih kerja di broker itu dan kami sering meluangkan waktu utk bertemu kadang di apartemennya, kadang jg liburan kami keluar kota bareng demi menuntaskan hasrat birahi kami.

  • Cerita Panas Sex Berkungjung Ke Counter HP

    Cerita Panas Sex Berkungjung Ke Counter HP


    558 views

    Cerita Panas Berkungjung Ke Counter HP

    Siang itu aku pergi ke sebuah Mall. Aku memakai celana jeans cut bray dengan kaos ketat. Rambutku aku beri gel secukupnya untuk menjaga penampilanku. Dengan percaya diri aku masuk ke sebuah mall tersebut untuk membeli casing handphone. Aku datang masih pagi, sekitar jam 09.30. Rupanya beberapa Counter masih tutup. Banyak pegawai Counter yg berdiri di depan counternya yg tertutup. Mereka menunggu pimpinan atau pemilik Counter nya yg akan datang membukakan Counter.

    Sambil berjalan aku merasa diriku diperhatikan 2 orang cewek yg tampaknya pegawai yg menunggu Counternya buka. Mereka memperhatikanku, terutama salah seorang di antara mereka ada yg wajahnya manis. Tingginya rata-rata saja, kira-kira160 cm. Aku belum memperhatikan detil lain kecuali rambutnya yg panjang. Mata cewek itu memandangku sambil ngobrol dengan temannya. Kemudian mereka tertawa bersama. Aku pikir mereka membicarakanku.

    Aku cuek saja. Aku ingin agar urusanku cepat selesai. Seperti pengunjung kebanyakan, aku ingin mencari dan membeli barang yg kubutuhkan, lalu pulang. Ketika melihat sebuah counter hp yg sudah buka, aku segera masuk dan mulai mencari casing hp. Ternyata cukup sulit menemukan casing yg aku inginkan. Keluar dari satu counter, aku mencari di counter lain, dan masih belum mendapatkannya.

    Sambil mencari counter lain, aku melihat 2 cewek tersebut masih memperhatikanku. Yg satu malah dengan nekat tersenyum dan mengedipkan mata padaku. Darahku berdesir. Dilihati saja aku sudah biasa. Tetapi kalau digoda dengan kedipan mata, jarang sekali. Pernah juga aku dicium di lift beberapa tahun lalu oleh seorang perempun yg tdk kukenal, tetapi itu adalah satu-satunya peristiwa langka yg aku alami.

    Kali ini, mau tdk mau aku jadi salting. Akhirnya kubalas senyumnya. Dasar cowok! Diberi umpan, di ambil saja. Tiba-tiba aku punya pikiran jelek. Siapa tahu mereka adalah cewek nakal yg mencari mangsa di mall? Wah, aku tdk tertarik sama sekali dengan cewek yg menjual tubuhnya demi uang. Tapi aku tdk suka hanya berpraduga. Maka kuputuskan untuk menghampiri mereka. Begitu sadar bahwa aku berjalan mendekati mereka, kedua cewek itu seperti orang yg kebingungan. Sambil tertawa, salah seorang di antara mereka pergi menjauh. Tinggal cewek yg tadi tersenyum padaku. Wah untunglah, yg lebih cantik dan manis yg tinggal. cewek itu tampak grogi ketika aku mendekat.

    “Haiiii..” sapaku.

    Sex Hot, Aku tersenyum dan berdiri di sampingnya.

    “Hai.. Lagi cari hp ya?” tanyanya.
    “Oh. Gak.. cuma Lagi nyari casing. Kamu kerja dimana?” aku berharap dia benar-benar pegawai counter.
    “Di counter itu..” katanya sambil menunjuk sebuah counter handphone yg masih tutup.

    Aku lega mengetahui dia benar-benar pegawai counter. Bagaimana kalau pegawai counter yg punya profesi ganda? Muncul pertanyaan itu di otakku. Masa bodoh ah. Tdk ada bukti.

    “Biasanya bos-mu datang jam berapa?” tanyaku lagi.

    Kulihat cewek ini memakai baju yg kancingnya agak terbuka. Tanpa sengaja aku bisa melihat payudaranya yg terbungkus bra hitam. Wah, sexy juga. Jantungku berdebar. Aku bisa mengintip buah dadanya. Kalau tadi tdk sengaja, sekarang aku sengaja mencuri kesempatan untuk melihatnya.

    “Tdk tentu. Kadang jam 9.30, kadang 10, kadang juga molor sampai jam 11.”
    “Oh ya.. Namamu? Aku Troy” aku mengulurkan tanganku.
    “Ya.. Aku Sela. Cari casing apa? Mungkin di counterku ada”
    “Hm.. Ini..” aku menyebutkan salah satu tipe ponsel.

    Aku agak kurang konsentrasi karena mataku masih mencuri pandang ke belahan bajunya yg memberiku hak akses melihat payudaranya. Ugh.. kecil, sekitar 34A, tapi sexy sekali. Tubuh Sela juga kecil, dengan tinggi 160 cm, beratnya mungkin hanya sekitar 45 kg. Kurus langsing. Payudaranya coklat sesuai dengan warna kulitnya. Aku suka sekali bisa mengintipnya.

    Tiba-tiba tangan Sela meraih kemejanya dan melepas salah satu kancingnya! Aku sangat terkejut. Rupanya Sela tahu bahwa aku mengintip payudaranya. Tapi bukannya menegurku, dia malah membuka salah satu kancing bajunya. Ugh.. Aku menelan ludah. Tiba-tiba aku merasa haus. Ingin segera kuraih payudaranya dan kuhisap. Sela sengaja membiarkanku melihat payudaranya!

    “Di counterku ada banyak casing HP itu. Kamu cari yg seperti apa?” Tanya Sela.

    Gayanya cuek sekali. Membuat jantungku makin berdetak kencang. cewek ini bikin aku bergairah.

    “Mmmmmm.. Aku cari yg transparan. Aku suka bisa melihat bagian dalammu..”
    “Bagian dalamku?”
    “Upsss.. Bagian dalam HPku. Sorry” Astaga.. Aku sampai salah bicara gara-gara tdk konsentrasi.

    Busyet, aku melihat Sela tersenyum kecil. Jari-nya kini menyelinap masuk payudaranya dan membuat gerakan mengusap pelan. Arrgh.. Gila.. Dia menggodaku. Kurang ajar!! Aku marah pada k0ntolku yg dengan manjanya mulai menggeliat bangun. K0ntol memang tdk pernah bisa dikontrol. Seandainya bisa, aku akan menyuruhnya tidur dulu.

    “Ada yg transparan. Dari depan sampai belakang kamu bisa lihat sepuasnya..” katanya pelan.

    Kata-kata Sela mulai membawaku melayg terbang. K0ntolku berdenyut nikmat. Dia mulai siaga merasa akan ada pertempuran. Gila, ini di Plaza!

    “Mana bisa.. Countermu masih tutup. Aku tdk banyak waktu. Aku cari di counter lain aja..” kataku mengalihkan pembicaraan.

    Uffhh.. Aku menahan nafas melihat Sela membuka sedikit bra dengan jarinya dan menunjukkan puting susunya! cewek ini pasti exhibionist. Suka mempertunjukkan bagian tubuhnya. Kulihat dia menikmati pandanganku yg makin panas ini.

    “Ya cari saja di counter lain. Tapi kamu akan rugi kalau tdk beli di counterku..” bisiknya.

    Sela mendekatkan tubuhnya merapat ke tubuhku. Kami saat itu berdiri di dinding counter. Tangannya tiba-tiba bergerak cepat memelukku dari belakang dan mencubit pantatku! Lalu tangannya kembali seolah tdk terjadi apa-apa. cewek ini bikin aku semakin bergairah. Aku nyaris kehilangan kata-kata. Keep cool, man! bisikku dalam hati. Aku mencoba tenang.

    “Kenapa aku rugi?” tanyaku pelan juga.

    Tanganku bergerak cepat juga mencubit pantatnya. Sela menjerit pelan. Bukan jeritan mungkin, hanya semacam seruan terkejut. Tapi itu pasti hanya pura-pura terkejut.

    “Kamu ada uang 15.000?” bisik Sela. Tentu saja ada.
    “Buat apa? Harga casingnya segitu ya?” tanyaku belum mengerti maksudnya.
    “Ikut aku..” katanya kemudian sambil melangkah pergi.

    Mau tdk mau karena penasaran aku mengikutinya. Kami berjalan melewati beberapa lorong sampai melewati kamar mandi. Kemudian kami tiba di sebuah pintu bertuliskan,

    “Selain Karyawan Dilarang Masuk.” Mungkin semacam gudang tempat penyimpanan alat-alat cleaning service dan security.

    Sela membuka pintu itu dan kami bertemu seorang pria karyawan plaza yg di dadanya bertuliskan “Cleaning Service”. Sela meraih uang dari tanganku dan memberikannya pada karyawan pria itu sambil membisikkan sesuatu pada pria itu. Pria tersebut mengangguk sambil tersenyum dan keluar dari ruangan itu.

    Sekarang aku paham. Kami akan memakai ruangan ini untuk bercinta! Setelah pria itu keluar sambil membawa uang Rp 20.000 tadi, Sela mengunci dari dalam dan aku yg sudah terangsang segera menghampirinya.

    “Aku pasti beli di countermu..” bisikku sambil mencium bibirnya.

    Sela membalas ciumanku dengan ganas. Tapi ciumannya agak kasar. Dia melumat-lumat bibirku sambil sesekali menggigitku. Aku sampai terheran-heran melihat agresifitasnya.

    “Kok nafsu banget, Sela?” tanyaku.

    Sela bukan seorang yg hebat kissingnya. Tapi jelas nafsunya lagi tinggi. Aku mencoba melayaninya dengan baik. Mencium bibirnya dengan caraku yg unik. Unik? Hanya orang-orang yg pernah bercumbu denganku yg tahu. Aku tdk bisa mendeskripsikannya di sini.

    Aku kemudian menjilat pipinya dan turun ke leher. Sela tdk mau kalah. Dia melepas sendiri kemejanya. Kini dia hanya memakai bra. Nafasnya terengah-engah. Aku menjilati lehernya hingga membuatnya merintih keenakan.

    “Oogghhhh.. Enak, Troy..” rintihnya.

    Aku memainkan lidahku di lehernya. Kemudian naik ke telinganya dan mulai menggigit kecil telinganya.

    “Mmmmpphhhh” desah Sela.

    Ia menarik kepalaku dan mencari bibirku. Kami kembali saling melumat. Dengan rakusnya dia mencumbuku. Wah, wah, mirip Lily, tetapi Sela agak kasar. Belum sehebat Lily. Kami berciuman lama sekali. Sela ternyata hobi berciuman bibir. Tdk bosan-bosan dia melumatku. Bibirku sampai getir rasanya. Pada kenyataannya, berciuman dengan agresif seperti ini, tdk akan bertahan lama rasa enaknya. Apalagi untuk bibir seperti bibirku yg tipis seksi.

    Tanganku sudah tak sabar melepas kait bra-nya. Begitu bra-nya lepas, payudaranya menyembul keluar. Sangat menantang. Kecil tapi seksi. Payudara tdk harus besar bagiku. Kecil pun oke. Tentu untuk payudara kecil, tanganku tdk boleh terlalu keras menekannya. Aku memilih meremasnya dengan sangat lembut. Payudara adalah bagian tubuh yg sensitif. Dengan halus aku merangsang payudaranya.

    Tubuh Sela kegelian menahan rangsanganku. Dia menggeliat ke kiri kanan sambil terus menciumku! Bibirku sudah makin getir. Aku memutuskan melepas ciuman kami dan mulai mencium tubuhnya. Aku menjilat bagian pusarnya. Kemudian merayap naik ke dasar lembah payudaranya. Sela mendesah sambil tertawa karena geli.

    “Ah.. Ah.. Haha.. Kamu pintar juga, Troy!” desahnya.

    Aku sampai heran, begini saja kok disebut pintar. Padahal biasa saja, cuma menjilat di perut dan merayap naik. Semua pria juga bisa. Tapi mungkin tdk semua pria tdk mau berlama-lama menjilati perut segala.

    Dari dasar payudara, aku mulai naik mengelilingi lingkar payudaranya. Berputar naik mencari putingnya. Makin mendekati putingnya, desahan Sela makin kuat.

    “Ah.. Ooooggghhh.. Yes.. Yah.. Terus.. Troy!” desahnya.

    Tentu saja aku akan melayaninya. Membuatnya nikmat dengan jilatanku yg dahsyat. Tak lama kemudian ujung lidahku mencapai puncak payudaranya. Kemudian seluruh lidahku menutupi putingnya dan aku menyapunya penuh.. Srr.. Srr..

    “Agghhhhh..” Sela mengerang hebat.

    Dia terangsang dengan perbuatanku. Kelebihanku adalah memainkan tempo dan dinamika jilatan. Membuat saraf-saraf Sela berdebar menanti kejutan dan siksaan nikmat yg kuberikan. Kemudian mulutku menerkam payudaranya. Kuhisap sambil mengkombinasi dengan tekanan lidahku pada putingnya. Kurasakan puting payudara Sela mengeras. Tegang berarti darahnya sudah naik. Warna putingnya semakin gelap. Keringat mulai mengucur. Perlahan aku merasa tangan Sela bergerak membuka celanaku. Aku tdk memakai sabuk, jadi mudah saja membuka kancing jeansku. Segera Sela menyibak celana dalamku dan menemukan k0ntolku.

    “Ugghh” aku agak kesakitan karena k0ntolku terhalang celana dalam yg belum terbuka sempurna. Ditambah beberapa rambut-rambut k0ntolku yg tertarik tangan Sela.

    Aku membantu melepas celanaku. Kini aku telah telanjang di bagian bawah. Sela dengan ciri khasnya yg agak kasar mengocok k0ntolku. Cengkeramannya sangat kuat di k0ntolku.

    “Oh..” aku menahan nafas sambil merasakan kenikmatan yg kuperoleh dari kocokan Sela.

    Tanganku ikut bergerak ke balik rok mininya. Aku membuka ritsluiting roknya dari belakang dari menurunkannya. Mudah sekali. Sekalian aku melepas celana dalamnya. Jariku langsung menyelinap di selangkangannya. Memeknya sudah basah kuyup! Bulu-bulu memeknya tdk lebat.

    Aku menggosok lembut memeknya. Beradu lihai dengan jari Sela yg juga mengocok k0ntolku. Sementara bibir Sela kembali mencari bibirku. Wah, benar-benar menyukai kissing, Sela ini. Jariku kemudian merayap menembus memeknya. Aku mengocoknya dengan jariku. Dengan bebas jariku bermain di memeknya. Berputar-putar, menekan, maju mundur dengan banyak variasi lainnya.

    “Ochh.. Och.. Ah.. Ach.. mmmmpphhhhh.. Nak.. Ach..” Sela terus meraung.

    Tangannya semakin cepat mengocok k0ntolku. Sesekali jempol tangannya mengusap kepala k0ntolku dan menemukan cairan pelumas di k0ntolku. K0ntolku berdenyut makin kencang. Nikmat sekali.

    “Troy, ayo masukkan..” pinta Sela. Dia sudah terangsang hebat. Aku bisa merasakan memeknya yg semakin membengkak.

    Mudah sekali k0ntolku masuk ke memeknya. Sela sudah sangat siap. Dia mungkin sedang horny berat. Kami pun segera memulai aksi paling nikmat di dunia. Have Sex, making love, bercinta! Apa pun istilahnya, intinya adalah k0ntolku menembus memeknya dan aku menggerakkan k0ntolku maju mundur, berputar-putar dengan irama yg teratur.

    Lama-lama kurasakan pantat Sela mempercepat gerakannya. Dia ingin lebih cepat dan keras. Tiap cewek punya ciri khas dan Sela suka yg agak kasar. Aku pun ikut memacu lebih cepat. Ada suara khas yg timbul saat k0ntolku masuk dan keluar dari memeknya. Nikmat, guys! Enak sekali. Keringat kami bercucuran. K0ntolku berdenyut-denyut nikmat. Tubuh kami bergoyang berirama.

    “Ohh.. ohh.. ohh..” Sela menjerit agak kuat. Aku sampai mendekapkan tanganku kuatir suaranya di dengar orang dari luar.

    Lalu aku merasakan ada cairan yg meleleh keluar. Tubuh Sela bergelinjang. Tangannya mencengkeram erat tubuhku dan memelukku sangat erat. Dia agak bergoncang-goncang dan memek-nya berdenyut-denyut menjepit dan melepas k0ntolku. Sela orgasme. Cepat sekali dia orgasme. Mungkin karena saking horny-nya dia. Ini mungkin adalah ML-ku yg tercepat. Aku memeluknya beberapa saat. Mengusap-usap punggungnya. Memijat tengkuknya dan menciumnya. After orgasm service. Kemudian aku kembali mengocok k0ntolku. Aku mempercepat kocokanku. Aku juga ingin segera sampai ke puncak.

    “Kamu udah hampir sampai?” tanya Sela.

    Dengan terengah-engah aku menganggukkan kepala. Cairan orgasmeku sudah mendekat. Tiba-tiba Sela berhenti. Dia melepas k0ntolku. Aku sampai terkejut dan heran. Aku belum sampai! Ternyata Sela memasukkan k0ntolku ke mulutnya. Ochhh.. Aku agak bergidik menyadari bahwa Sela tentu akan menelan sendiri cairan memeknya yg menempel di k0ntolku.

    “Ayo, bercinta dengan mulutku!” kata Sela.

    Tanggung. Aku sudah hampir ke puncak. Segera kugerakkan k0ntolku maju mundur memasuki mulut Sela. Ternyata Sela pintar menjaga agar giginya tdk menyentuh k0ntolku. Lebih enak bercinta dengan memek asli daripada dengan mulut tetapi karena aku memang sudah hampir tiba, aku tdk lama melakukannya. Srreet.. Crreeet.. Crreeet.. Aku menyemprotkan cairan sperma ke mulutnya. Cairan putih kental itu masuk mulut Sela. Dengan lahap Sela menjilati k0ntolku. Dia tampaknya sangat menikmati cairan semen.

    “Kamu suka ya?” tanyaku.

    Ini adalah pengalaman baruku. Aku harus bertanya. Sela mengganggukkan kepala. Dia tdk menjawab karena masih sibuk menjilati sisa sperma di k0ntolku.

    Selesai ngesex kilat, kami kembali berpakaian dan keluar. Karyawan pria yg tadi menerima uang 15.000-ku ternyata dengan setia menjaga di luar. Dia tertawa melihatku sambil berkata..

    “Makasih bos! Enak ya si Sela?”
    “Makasih jg, Mas! Mas-nya coba sendiri saja!” jawabku.
    “Enak saja! Siapa mau dengan dia!” timpal Sela sewot.

    Kami berjalan menuju counternya. Di tengah perjalanan aku bertanya padanya mengapa dia begitu horny. Ternyata Sela sudah bersuami dan suaminya sudah beberapa hari sakit sehingga tdk bisa diajak bercinta. Lalu sejak malam Sela sudah begitu horny hingga paginya bertemu denganku dan dia tertarik padaku.

    “Wahhh.. Kamu beruntung dong ketemu aku!” kataku menggodanya.
    “Enak aja, kamu yg beruntung dapat cewek lagi horny!” Sela mulai kelihatan aslinya. Bicara ceplas ceplos. Bawel. Aku tertawa saja.

    Kesempatan bagus, aku bertanya pada Sela tentang arti sex baginya.

    “Wah.. Aku sih suka sekali bercinta, Troy! Gak bisa deh bayangin hidup menikah tanpa sex”
    “Kalau disuruh memilih cowok berpribadi oke, sabar, baik, pengertian, dan semuanya sempurna. Tapi kelemahannya dia impoten.. Dibandingkan cowok yg perkasa di ranjang, tetapi main pukul, tdk bertanggung jawab, tdk setia, pokoknya pribadinya buruk.. Kamu pilih mana?” pertanyaan yg sama kembali aku tanyakan.

    “Waduh.. Susah! Untung suamiku baik dan juga tdk impotent, walaupun tdk sepintar kamu cara merangsangnya.”
    “Itu bukan jawaban dari pertanyaanku. Ini cuma misal kok.” Desakku.
    “Hmm.. Sebentar.. Aku bayangin dulu hidup tanpa sex dibanding hidup tanpa kasih sayang..” benar juga. Sela membandingkan hal yg penting.
    “Aku pilih yg pribadinya baik deh..” jawab Sela.

    Fuh.. Aku lega mendapatkan jawaban spesifik.

    “Kenapa?” tanyaku.
    “Aku masih bisa tanpa sex satu minggu. Tapi aku jelas tdk bisa tanpa kasih sayang selama satu minggu. Kira-kira kalau dipaksakan, tetap aku pilih yg pribadinya bagus..” jawab Sela.

    Ini point yg aku harapkan. Sela memberikannya.

    “Makasih jawabannya. Semoga suamimu kelak impotent..” gurauku sambil tertawa.

    Sela marah-marah. Dia memukulku.

    “Enak aja!” kami sama-sama tertawa.

    Lalu kami masuk ke counternya yg ternyata sudah buka dan aku membeli casing transparan yg sebenarnya jenisnya tdk terlalu aku sukai. Di counter sebelumnya juga ada. Tapi karena faktor Sela, aku beli saja. Lalu aku pulang. Belum lama berjalan keluar counter, tiba-tiba Sela berlari keluar.

    “Troy.. Kamu lupa kembaliannya..”
    “Ah.. Buat kamu aja deh. Gitu aja lho. Oh ya, Sela.. Kalau apa-apa lagi, hubungi aku ya!” Sela tersenyum menganggukkan kepala.
    “Oh ya, Troy. Kalau suamiku impoten atau tdk perkasa lagi, aku akan cari kamu. Haha..” candanya.

    Lalu aku berjalan pulang menuju tempat parkir mobil. Sampai rumah aku baru sadar bahwa aku belum bertukar nomor handphone dengan Sela. Wah.. Lain kali saja aku ke counternya lagi.

    Kadang keberuntungan bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Seandainya aku tdk pernah berani menghampiri Sela, mungkin tdk akan pernah terjadi hubungan singkat dan cepat yg aku alami dengannya.

  • Cerita Panas Salah SMS berujung dapat Ngentot Cewek Gratis

    Cerita Panas Salah SMS berujung dapat Ngentot Cewek Gratis


    835 views

    Cerita Panas Salah SMS berujung dapat Ngentot Cewek Gratis

    Karena sudah tidak lama berhubungan, dan gw tidak punya catatan tentang nomor HP temanku tersebut, maka gw menuliskan nomor HP dengan agak mereka-reka. Segera kukirimkan SMS tersebut, berisi pesan yang kira-kira menyatakan bahwa gw kangen dan ingin bertemu dengannya! Hallow Jun How Are U? I MISS U JUN Satu kali SMS kukirim kepadanya, dia tidak menjawab. Aneh, pkirku. Tak mungkin temanku itu tidak membalas kalau tahu SMS tersebut dariku. Kemudian kukirimkan sekali lagi, dan kucantumkan nama gw. Tak lama kemudian, ia membalas dengan miss call. Karena saat itu gw sedang sibuk, kubalas saja miss call nya dengan pesan SMS yang menyatakan bahwa gw akan meneleponnya sore nanti.

    pukul 5 langsung kutelepon temanku itu, seperti yang kujanjikan. Halo, Juny?, Tanya gw sejenak, ragu. Saya pikir anda salah orang, begitu tanggapan lawan bicara gw. Oh, maaf. Saya pikir anda adalah teman saya. Memang saya tidak ingat betul nomor HP-nya. Maaf kalau telah mengganggu, jawabku sambil menahan malu. Oh, tidak apa-apa, jawab lawan bicaragw lagi. Saat itu juga hendak kumatikan teleponku, namun lawan bicaragw segera bertanya. Memang yang mau kamu telepon ini siapa sih? Kok pake kangen2 segala?, ungkapnya, menggoda. Lalu kujawab bahwa Juny adalah teman lamagw, dan kami telah berkawan selama 6 tahun. Singkat kata, akhirnya kami berkenalan. Dari telepon itu, gw tahu bahwa nama wanita tersebut adalah Fitri.

    Sejak saat itu, kami sering berkirim SMS. Kadang-kadang gw malah menelponnya. Namun, tidak ada niat sedikitpun dalam diriku untuk menemuinya, atau melihat wajahnya. Toh tidak ada maksud apa-apa, pikirku. Dua bulan berjalan sejak perkenalan itu, entah mengapa, isi pesan SMS berubah menjadi hal-hal yang agak menjurus ke sex. Tiga bulan berjalan sejak perkenalan kami lewat telepon. Tiba-tiba, Fitri mengirim SMS yang menyatakan ingin bertemu. Mengapa tidak, kupikir. Toh tidak ada ruginya untukku. Saat itu pikiranku belum berpikir jauh sampai ke sex.

    Kami janjian sore pukul 17.00. Kebetulan hari itu hari libur. Setelah tiba di tempat yang dijanjikan, gw segera meneleponnya. Gua pake sweater pink, kata Fitri. Segera kutemui Fitri yang sedang berdiri menunggu. Hai, Fitri ya?, tanyagw. Fitri segera tersenyum. Wajahnya memang tidak cantik, tubuhnya pun tidak aduhai seperti poster swimsuit di majalah Popular. Namun, gw memang tidak terlalu mempermasalahkan penampilan fisik. Segera kuperkenalkan diriku. Gua Nala, katagw. Memang pergaulanku dengan wanita tidak intens, sehingga saat itu gw sedikit gugup. Namun, segera kututupi kegugupanku dengan sedikit jaim (jaga image). Kami segera menjadi akrab. Kami berbicara sebentar sambil menikmati makanan di sebuah food court.

    Nala, suka nyanyi-nyanyi gak?, tanya Fitri setelah kami selesai makan. Suka, tapi tidak di depan umum, begitu jawabku. Sama dong. Kalo gitu, mau gak kamu saya ajak utk nyanyi di karaoke? Kita bisa pesan private room kok, jadi tidak ada orang lain. tanya Fitri. Kupikir, asyik juga ya, untuk melepas lelah. Segera kami meluncur ke sebuah karaoke terdekat menggunakan mobilku.

    Setibanya di sana, kami memesan tempat untuk dua orang. Kami segera dituntun masuk oleh seorang wanita. Ruangannya agak remang-remang, dan ditutupi gorden, jadi memang tidak akan terlihat dari luar. Sambil waitress menyiapkan ruangan, kami memesan minuman. Fitri permisi kepadagw untuk ke toilet. Tepat setelah waitress menyiapkan ruangan dan minuman, Fitri kembali. Kurasa agak aneh waktu itu karena aroma wewangiannya kian tajam. Namun, tidak kupedulikan.

    Segera kami mulai memasang lagu kesukaan kami, dan kami bernyanyi-nyanyi. Sampai tibalah kami di lagu yang kelima. Fitri memesan lagu yang lembut, dan agak romantis. Sebelum lagu tersebut dimulai, tak sengaja punggung tanganku menyentuh punggung tangan Fitri. Halus sekali, pikirku. Sayang sekali tanganku untuk berpindah dari punggung tangannya, sehingga kubiarkan saja di situ. Fitri pun diam saja, tidak berusaha melepaskan sentuhan tangannya dari tanganku. Dingin ya?, tanya Fitri, kepadagw, sambil melihat tanganku. Iya, jawabku mengangguk lemah. Segera Fitri mendekatkan tanganku ke tangannya. Tanganku segera menggenggam jari-jarinya. Kami bernyanyi sambil menikmati kehangatan tersebut. Pelan-pelan, naluriku mulai berjalan. Ingin sekali gw mengelus pipinya yang lembut, namun gw agak takut-takut. Perlahan-lahan Fitri mendekatkan bahunya ke bahuku sehingga kami duduk sangat dekat.

    Wangi aroma tubuh Fitri segera membius diriku. Tak kupedulikan lagi ketakutanku. Segera kubelai pipi dan kening Fitri. Ia menatapku. Gw balas menatapnya. Lalu kuusap lembut rambutnya. Darah kelelakianku segera berdesir. Kukecup keningnya. Fitri diam saja. Kukecup rambut dan pipinya, segera aroma tubuhnya kembali membius diriku. Fitri benar-benar kuperlakukan seperti pacarku sendiri. Tiba-tiba timbul gelora yang besar untuk memeluknya. Fitri sepertinya mengerti karena dia segera mengubah posisi duduknya sehingga memudahkanku untuk memeluknya. Segera kupeluk Fitri dengan rasa sayang.

    Tiba-tiba Fitri menarik tanganku ke dada kirinya. Segera kurasakan bagian lembut kewanitaannya tersebut. Nikmat sekali, namun dengan rasa agak takut. Pelan-pelan kusentuh buah dadanya yang lembut itu. Fitri diam saja. Gw mulai berani. Ku elus-elus buah dadanya, perlahan-lahan, dengan gerakan memutar, tanpa menyentuh bagian putingnya. Gw semakin berani. Tangan kananku kumasukkan ke dalam sweater merahnya. Segera ku elus bukit lembut tersebut di bagian pinggirannya. Ku putar-putar tanganku mengelilingi putingnya. Setelah beberapa saat, kusentuh putingnya. Ternyata putingnya sudah mengeras. Lalu kuremas dengan lembut. Fitri mendesah. Ssshh, desahnya.

    Kulanjutkan penjelajahanku ke dada kanannya. Kuulangi hal yang sama. Lagi-lagi Fitri mendesah. Segera ia memagut bibirku, dan melumatnya. Saat kujulurkan lidahku, segera dihisapnya kuat-kuat. Oh, nikmat sekali berciuman seperti ini, pikirku karena memang gw belum pernah berciuman dengan wanita. Badanku bergetar hebat, karena gw belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Kami lanjutkan permainan kami beberapa saat. Setelah itu, kami berhenti untuk menikmati minuman kami. Kusodorkan sedotan minumanku untuk diminum terlebih dulu oleh Fitri. Kemudian kami lanjutkan nyanyian kami sambil berpelukan. Nyaman sekali rasanya saat itu.

    Kuteruskan permainan tanganku dengan lembut, mengelus dan meremas dengan lembut buah dada Fitri. Fitri kembali memagut bibirku. Kami berciuman hebat. Tiba-tiba Fitri menarik tanganku, dan memasukan tanganku ke dalam celana panjangnya. Segera terasa bulu-bulu halus kemaluannya tersentuh oleh tanganku. Pelan-pelan kudorong tanganku ke bawah, menuju organ intimnya. Segera terasa tanganku menyentuh vaginanya yang hangat dan basah. Montok kan punya gua?, begitu ungkap Fitri saat tanganku mengelus lembut vaginanya. Segera kuiyakan pertanyaannya itu, padahal gw tidak bisa membedakan seperti apa vagina yang tidak montok. Kuusap terus vaginanya, seraya desahan Fitri mengiringi gerakanku. Sssh.. Oh, Nala. Baru kamu laki-laki yang bisa memperlakukanku dengan lembut, begitu terus desahnya. Tersanjung juga gw dipuji dirinya.

    Kami terus bercumbu sampai tak terasa dua jam berlalu. Nala, kamu jangan pulang dulu ya. Gw ingin dikelonin sama kamu. Temani sebentar gw di hotel ya?, tanya Fitri kepadagw. Saat itu, gw agak takut. Takut gw tidak bisa menahan diri untuk tidak tidur dengannya. Segera kuingat ajaran2 agama yang melarangku melakukannya. Namun sepertinya Fitri mengerti ketakutanku. Gw cuma minta dibelai kok. Tidak lebih. Ya, Nala?, tanyanya dengan mata memohon. Berat sekali rasanya untuk mengiyakan permintaannya. Di satu sisi, gw takut sekali melanggar ajaran agama. Lagipula, gw banyak tugas yang malam itu harus kuselesaikan. Namun sisi kemanusiaanku membuat gw tidak tega menolaknya. Baiklah, tapi tidak lebih dari itu ya?, jawabku. Iya, gua janji deh, kata Fitri lagi.

    Kami segera keluar dari ruangan, membayar ke kasir, dan meluncur ke sebuah hotel menggunakan mobilku. Fitri menjadi penunjuk jalan. Setelah membayar uang deposit di kasir hotel, kami segera melenggang ke dalam kamar. Di dalam kamar, gw menyalakan televisi. Sejenak kami menikmati sebuah film. Tak lama kemudian, Fitri membentangkan tubuhnya di kamar tsb. Nala, sini dong, kata Fitri. Gw mengubah posisi duduk ku di ranjang mendekati Fitri. Gw dalam posisi duduk, sementara Fitri sudah telentang. Nala, belai gw lagi ya, kata Fitri. Segera tanganku mengelus dahi Fitri. Kuelus-elus dahinya beberapa lama, turun ke pipi, lalu ke rambutnya yang panjang.

    Fitri menikmati gerakanku sambil menutup mata. Lalu kusandarkan tubuhku ke ranjang, kukecup lembut kening dan dahinya. Fitri membuka matanya, tersenyum. Lalu kucium kelopak matanya. Fitri benar-benar menikmati perlakuanku. Perlahan kukecup lembut bibirnya. Gw hanya menyentuhkan bibirku di bibirnya. Namun segera Fitri menjerat bibirku di bibirnya. Dilumat bibirku dengan bergairah, sementara tangannya dengan kuat memelukku. Kujulurkan lidahku untuk menyentuh bibir bawahnya, namun Fitri segera menghisap bibirku tersebut. Segera kuarahkan ciumanku ke bagian telinganya, dan kujilat bagian dalam daun telinganya dengan lidahku.

    Fitri meronta-ronta dan mendesah. Aduh Nala, geli sekali. Teruskan Nala, katanya. Kucumbu Fitri terus di telinganya. Kemudian kuarahkan cumbuanku ke lehernya. Fitri mendesah hebat. Ssshh.. sshh.. ohh, desah Fitri. Gw tidak bisa menahan diriku lagi. Fitri, boleh kubuka bajumu?, tanyagw pelan kepada Fitri. Fitri mengangguk, tersenyum. Perlahan-lahan kubuka kancing bajunya. Terlihatlah tubuhnya yang putih mulus, dengan bra berwarna biru. Kulanjutkan ciumanku di seputar payudaranya. Tak lupa kukecup pelan ketiaknya yang bersih tanpa bulu. Fitri mengerang. Nala, buka BH gua dong, pinta Fitri. Segera kuarahkan tanganku ke punggungnya untuk membuka BHnya. Sulit sekali membuka BHnya. Maklum, belum pernah gw membuka BH wanita.

    Setelah terbuka, pelan-pelan kutanggalkan BHnya. Segera tampak bukit indahnya yang putih bersih, tanpa cacat, dengan puting kecoklatan. Indah sekali, pikirku. Ingin sekali gw menciumnya. Kupindahkan BHnya dan bajunya ke meja supaya tidak kusut. Lalu, pelan-pelan kubasahi buah dadanya dengan lidahku. Kuputar wajahku memutari tokednya. Fitri mendesah lagi. Gerakan itu terus kuulang beberapa kali, lalu berpindah ke toked kanannya. Di sana kuulangi lagi gerakanku sebelum akhirnya lidahku tiba di puncak tokednya. Kubasahi putingnya dengan lidahku, kumain-mainkan, kukulum, dan kuhisap. Fitri mengerang-ngerang. Aduh, Nala..ssh..ssh.. geli sekali. Terus Nala… Sambil mengulum putingnya, pelan2 kuelus bagian perutnya. Auw.. enak Nala.., Fitri menekan wajahku ke dadanya. Kira-kira 15 menit Fitri kuperlakukan seperti itu.

    Nala, bukain celanaku dong.., pinta Fitri. Segera kubuka kancing celananya, dan kupelorotkan ke bawah. Terlihatlah pahanya yang putih bersih, dan kewanitaannya yang masih tertutupi Celana Dalam warna hitam. Masih mengulum putingnya, segera kuarahkan tanganku ke selangkangannya. Kuelus-elus perlahan. Kugerakan tanganku dari dekat lututnya, terus bergerak sedikit demi sedikit ke arah pangkal pahanya.ohh.., rintih Fitri menahan kenikmatan yang kuberikan. Kuelus vaginanya yang masih tertutupi CD. Ternyata CD-nya sudah basah. Kubelai pelan-pelan bagian tersebut. Fitri meronta-ronta, dijepitnya tanganku dengan kedua belah pahanya. Oh.. ohh.. ronta Fitri. Gantian tangan Fitri yang masuk ke celana dalamku. Dipegangnya Kontolku, lalu dikocok pelan-pelan. Uuh, nikmat sekali rasanya.. Nala, buka celana dalam gua.., pinta Fitri. Jangan Fitri, gua gak berani melakukan itu.. katagw.

    Gw bukan bermaksud munafik, tapi gw memang benar-benar takut saat itu, karena belum pernah melakukannya. Tak apa-apa, Nala, tidak usah dimasukin. Gua cuma minta diciumi aja, pinta Fitri memohon. Akhirnya kubuka celana dalam Fitri. Kunikmati pemandangan indah dihadapanku. Oh, indah sekali makhluk bernama wanita ini, pikirku. Elus lagi, Nala.., pinta Fitri. Perlahan-lahan, tanganku mulai mengelus bibir vaginanya yang sudah basah. Kuputar-putar jariku dengan lembut di sana. Lagi-lagi Fitri meronta. Ohh..ohh. Ke atas lagi Nala. Elus klitorisku, begitu desahnya perlahan. Gw tidak tahu persis di mana klitoris. Gw terus mengelus bibir vaginanya. Segera tangan Fitri membimbing tanganku ke klitorisnya.

    Baru sekali itu gw tahu bentuk klitoris. Mungil dan menggemaskan. Dengan lembut kuputar-putar jariku di atas klitorisnya. Setiap 5 putaran, Fitri langsung mengepit tanganku dengan pahanya. Sepertinya ia benar2 menikmati perlakuanku. Nala, tolong hisap klitorisku, yah?, pinta Fitri. Gw sedikit ragu, dan jijik. Pake tangan aja yah, Fitri.., gw berusaha menolak dengan halus. Tolong dong, Nala. Sekali ini saja. Nanti gantian deh , pinta Fitri. Gw masih berat hati menghisapnya. Fitri, maaf ya. Tapi kan itu kemaluan. Apa nanti… Belum selesai gw bicara, Fitri segera memotongku. Kemaluanku bersih kok, Nala. Gw selalu menggunakan antiseptik. Tolong ya.. sebentar saja, kok, pinta Fitri lagi.

    Perlahan-lahan kudekatkan mulutku ke memeknya Fitri. Segera tercium aroma yang tidak bisa kugambarkan. Perlahan-lahan kujulurkan lidahku ke klitorisnya. Gw takut sekali kalau rasanya tidak enak atau bau. Kukecap lidahku ke vaginanya. Ternyata tawar, tidak ada rasa apa-apa. Terus, Nala..ohh.. enak sekali, desah Fitri. Kuulangi lagi, pelan-pelan. Lama-lama rasa takut dan jijikku hilang, malah berganti dengan gairah. Kuulang-ulang menjilati vaginanya. Fitri makin mendesah. ooh.. oohh.. ohh.. ohh. Fitri menggenggam jari telunjukku, lalu memasukkan ke dalam liang vaginanya. Kamu nanti tidak kesakitan?, tanyaku kepadanya. Ia menggeleng pelan. Lalu, kuputar-putar jariku di dalam vaginanya. Ahh.., Fitri menjerit kecil. Kuputar jariku tanpa menghentikan jilatanku ke vaginanya.

    Saat kuarahkan jariku ke langit-langit memeknya, terasa ada bagian yang agak kasar. Kuelus pelan bagian tersebut, berkali-kali. ‘Ya, terus di situ Nala.. ahh.. enak sekali.. Kuteruskan untuk beberapa saat. Fitri makin membuka lebar-lebar pahanya. Tiba-tiba Fitri menggerakkan pantatnya ke atas dan bawah, berlawanan dengan arah jilatanku. Ah Nala.. gw mau keluaar.. erang Fitri. Fitri makin mempercepat gerakannya, dan tiba-tiba gerakan pantatnya dia hentikan, lalu dikepitnya kepalagw dengan pahanya. Ahh.. Nala..gw keluar, desahnya. Segera kupeluk tubuh Fitri, dan kugenggam tangannya erat. Kubiarkan Fitri menikmati orgasmenya. Setelah beberapa saat, kuelus-elus dahi dan rambutnya. Nala, enak sekali, kata Fitri. Gw diam saja.

    Sekarang gantian, ya, kata Fitri. Gw mengangguk pasrah, antara mau dan takut. Diputarnya tubuhku sehingga tubuhnya menindih tubuhku sekarang. Dibukanya celana dan celana dalamku. Malu sekali rasanya saat itu. Segera kututupi Kontolku yang masih terduduk lemas. Sepertinya Fitri mengerti perasaanku. Ia segera mematikan lampu kamar. Gw merasa lebih tenang jadinya. Lalu, dibukanya pahagw yang menutupi Kontolku. Fitri segera meraba-raba Kontolku. Oh, geli sekali rasanya. Rasa geli itu membuatku secara refleks menggelinjang. Fitri tertawa. Enak kan, Nala? tanyanya menggodagw. Sial nih orang, pikirku. Dikerjain gua. Mau diterusin gak, Nala? tanya Fitri sambil menggoda lagi. Gw hanya mengangguk.

    Saat itu Kontolku belum berdiri. Aneh sekali. Padahal biasanya kalo melihat adegan yg sedikit porno, punyagw langsung keras. Akhirnya Fitri mendekatkan mulutnya ke Kontolku. Dikecupnya ujung Kontolku perlahan. Ada getaran dashyat dalam diriku saat kecupannya mendarat di sana. Nala, punya kamu enak. Bersih dan terawat, ujar Fitri. Geer juga gw dipuji begitu. Dipegangnya gagang Kontolku, lalu Fitri mulai menjilati Kontolku. Ya ampun, pikirku. Geli sekali.. Secara reflek gw meronta, melepaskan Kontolku dari mulut Fitri. Kenapa, Nala?, tanya Fitri. Gua gak tahan. Geli banget, sih?, katagw protes. Ya udah, pelan-pelan aja, ya?, kata Fitri. Gw mengangguk lagi. Fitri mulai memperlambat tempo permainannya. Rasa geli masih menjalari tubuhku, tapi dengan diikuti rasa nyaman.

    Kuperhatikan Fitri menjilati Kontolku, tak terasa Kontolku segera mengeras. Fitri senang sekali melihatnya. Segera dilahap kembali Kontolku itu, kali ini sambil dikocok-kocok dengan tangannya. Sekali lagi gw disiksanya dengan rasa geli yang amat sangat. Kunikmati permainannya, tak terkira nikmatnya. Ya ampun, baru sekali ini kurasakan kenikmatan yang tiada tara seperti ini. Ah.., tak kuasa gw menahan desahanku. Nala, kumasukan ya punyamu?, tanya Fitri. Nanti kamu sakit, gak?, tanyagw. Gw sudah tak bisa menguasai diri lagi. Ingin sekali rasanya Kontolku dikepit oleh vaginanya. Ya, kalau gw yang ngontrol sih, gak sakit, kata Fitri. Ya udah, kamu yang di atas aja, katagw kepadanya.

    Fitri segera mengubah posisi tubuhnya. Ia kangkangkan pahanya di atas tubuhku, lalu pelan-pelan dibimbingnya Kontolku menuju liang Kontolnya. Ditekannya sedikit, masuklah sedikit ujung Kontolku ke dalam. Terasa sedikit basah dan licin kemaluannya. Didiamkan punyagw di sana utk beberapa saat. Gw diam menunggu. Lalu ditekannya sedikit lagi. Kali ini punyagw masuk lebih dalam dan makin terasa cairan pelicin kemaluannya. Sudah sepertiga dari panjang Kontolku yang berada dalam vaginanya. Dia diamkan lagi Kontolku di sana beberapa saat. Ia sedikit mengernyit. Sakit?, kutanya. Iya, tapi gak apa2. , jawab Fitri. Kemudian ia mendorong Kontolku makin dalam, hingga akhirnya semua Kontolku tertelan di dalam vaginanya. Terasa basah dan hangat vaginanya. Nikmat dan geli sekali rasanya. Setelah beberapa saat, Fitri mulai menggerakkan pinggulnya naik dan turun. Ahh.. enak sekali menikmati Kontolku terjepit dalam vagina Fitri.

    Baca Juga : Kangen Adik Dan Mamaku

    Gerakan pantat Fitri membuat Kontolku terkocok, dan segera gw merasakan kenikmatan yang tiada tara. Fitri pun seakan-akan begitu. Ohh.. ohh.. ohh.. ohh, Fitri mengerang-ngerang. Fitri terus menggerakan pinggulnya naik dan turun selama beberapa saat dengan diiringi desahan. Tiba-tiba ia berhenti. Entah mengapa tiba-tiba ada perasaan kesal dalam diriku. Namun, ternyata Fitri tidak berhenti begitu saja. Kini pinggulnya digerakan tidak naik-turun lagi, tapi maju mundur, dan terkadang berputar. Sepertinya Fitri sangat menikmati gerakan ini, terbukti erangannya semakin sering. Ah.. ah.. ahh.. ahh.., desahnya terus, tanpa henti. Kuremas dengan lembut payudaranya, Fitri makin merintih. Sssh.. ssh.. sshh.. enak Nala .

    Makin lama gerakan Fitri makin cepat. Nala, gw mau keluar lagi, Nala.. rintihnya. Gw pun merasa Kontolku berdenyut kencang. Fitri, tolong lepaskan, gw mau keluar, katagw. Gw takut sekali kalau sampai Fitri hamil. Tapi Fitri tidak mau melepaskan Kontolku. Ditekannya kuat tanganku dengan kedua tangannya sehingga gw tidak bisa melepaskan diri darinya. Tiba-tiba kurasa Kontolku menyemburkan cairan kuat di dalam vaginanya. Aduh, Fitri, jangan.. nanti kamu hamil.., teriakku, sesaat sebelum cairanku keluar. Tapi semua sudah terlambat. Semua cairanku sudah keluar dalam vaginanya. Nikmat sekali rasanya, namun terasa lemas tubuhku sesudahnya. Segera otot-otot Kontolku mengerut, dan menjadi kecil kembali.

    Fitri dengan kecewa melepaskan Kontolku. Fitri, kalo kamu hamil gimana, tanyagw dengan setengah takut. Tenang aja, Nala. Gua pake alat kontrasepsi kok. Kamu gak perlu takut, ya?, kata Fitri menenangkan diriku. Kemudian, Fitri segera memijat-mijt Kontolku. Dielus, dan di kulum lagi seperti tadi. Tak lama, Kontolku segera mengejang lagi. Segera Kontolku dimasukan lagi oleh Fitri ke vaginanya. Kembali Fitri melakukan gerakan maju mundur tadi. ohh.. ohh.. ohh.. oohh, erangnya. Kuremas lembut tokednya. Ssshh.. sshh.. sshh, begitu terus rintihannya. Selama beberapa saat Fitri mengocok Kontolku dengan vaginanya, sampai akhirnya ia berteriak. Nala, gw hampir keluar, desah Fitri.

    Segera Fitri mempercepat gerakannya. Gw pun membantunya dengan menggerakan pinggulku berlawanan dengan arah gerakannya. Ahh.. Nala, gw keluar, desahnya agak keras. Sejenak ia menikmati orgasmenya, sebelum rubuh ke dalam pelukanku. Kubiarkan ia menikmati orgasmenya, kuelus rambutnya, dan kukecup keningnya. Kami berpelukan, dan tidur tanpa busana sampai pagi hari. Alangkah Indahnya Hidup ini dibuat oleh fitri dan gw tak akan pernah melupakan kenangan terindah di malam pertama bersama fitri walaupun kini gw gat au kabarnya si Fitri ini! HIkz….hikzzzz…. nasib2 salah kirim sms dapat ngentot cewek gratis

  • Cerita Panas Mbak Wiwikku Di Dalam Bus Malam

    Cerita Panas Mbak Wiwikku Di Dalam Bus Malam


    624 views

    Cerita Panas Mbak Wiwikku Di Dalam Bus Malam

    Sebelumnya aku kasih tahu tentang aku. Aku adalah seorang karyawan disebuah perusahaan di Jakarta. Namaku sebut apa inug, umur 28tahun. Aku sudah menikah dan mempunyai 2 orang anak. Awal kejadian perselingkuhan yang tak aku inginkan pada saat aku pulang ke jogja. Saat itu aku biasa ke yogyakarta memilih naik bus.

    Saat pukul 15.00 aku berangkat keagen bus Kramat Jati, karena pada tiket tertulis pukul 16.00 bus sudah berangkat. Tapi saat tiba pukul 16.00 bus belum datang dan akhirnya pukul 17.15 busnya datang aku pun langsung naik.

    Ternyata kursiku berada di urutan ke-2 dari belakang sebelah kanan. Dan disitu sudah terisi seorang cewek sekitar umur 30an tahun.

    Selama perjalanan cewek disampingku diam tak berbicara, akupun tidak menghiraukannya. Dan kuperhatikan dia sibuk sms. Waktu bus memasuki kota Cikampek aku mulai menyapa.
    “Tujuan mau kemana mbak?”dia agak kaget dengan sapaanku.
    “Jogja kalau kamu tujuan kemana?” dia balik tanya.
    “Saya juga kejogja, memang jogjanya turun mana mbak?”
    “di janti, trus ntar nyambung naik taksi ke malioboro” jawabnya singkat.
    “malioboronya mana mbak, sory mbak nanyaku detail banget ya?”
    “gak apa-apa, di hotel Natour Garuda, kalau adik jogjanya mana?”
    “Wah, kita satu arah mbak, saya daerah alun alun selatan jadi dari malioboro lurus apa gak jauh.”

    Hari mulai gelap lampu dalam bus tidak dihidupkan, mungkin karena kru bus dapat menggangu istirahat para penumpang.

    Bus executive yang aku naiki banyak fasilitasnya seperti bantal, selimut dan tisu yang terletak diatas aku duduk.
    “Nama Mbak siapa?, aku mulai bertanya lagi.
    “wiwik, kalau adik namanya siapa?” sambil dia julurkan tangannya.
    Aku menjabat tangannya dan menyebutkan namaku.
    “Aku Inug mbak, aku mau mudik mbak”.

    Dalam jabatan tangannya aku merasakan kehangatan yang luar biasa mungkin pengaruh dari dingin AC bus.

    Selama perjalanan kami sudah banyak bercerita, dari Tanya jawab tentang pekerjaan dia sampai pekerjaanku. Dan begitu juga dia bercerita tentang hidup di jogja lebih murah dari pada Jakarta.

    aku berinisiatip untuk banyak ngomong dan mengajak dia berbicara. Selama pembicaraan sepenuhnya aku menunjukkan sikap hormat dan santun padanya. Dia juga menaruh respek padaku karena sikapku itu. Dia pinjamkan majalah dan koran bacaannya padaku, dia juga tawarkan makanan atau minuman yang dia bawa. Aku terbiasa hanya minum air mineral saat bepergian begini. Sedangkan air yang ditawarkan adalah Coca-cola makanya aku menolak dengan halus.

    Dan akhirnya pukul 19.00 bus berhenti untuk makan malam dan para penumpang dapat kupon makan gratis.

    Aku dan mbak wiwik turun menuju restoran dan menukarkan kupon gratis makan malam. Kami duduk berdua sambil cerita. Tiba-tiba ditengah-tengah Suasana makan malam aku berkata:
    “Mbak cantik deh”
    dia terkejut terselek makanan
    “Maksudnya apa Dik?”
    “Iya mbak cantik, maaf mbak jangan berpikirkan yang negative terhadapku karena yang saya omongkan kenyataan.”
    Dia agak malu terlihat dari mukanya yg memerah dan menunduk.

    Kru bus memberitahukan kalau busnya sudah bersiap berangkat, kami pun bergegas menuju bus yang kami tumpangi.

    Sampai dalam bus aku sarankan mbak wiwik untuk pindah kesebelah yang dekat jendela, dia pun mengiyakan karena dia bisa lebih leluasa melihat keluar.

    Didalam bus aku memilih diam, Aku berselimut dan mencoba memejamkan mata. Malam semakin larut Aku mencoba memberanikan diri menggenggam tangannya, dia hampir menarik tangannya kalau saja aku tidak bilang,

    “Tangan Mbak dingin banget, nih. Mau nggak kalau aku pijat refleksi tangannya, nanti hangat, deh?”, aku cari seribu satu alasan yang selalu tepat untuk banyak berbuat padanya. Aku juga nggak tahu, kenapa dia pasrah saja saat tanganku meraih tangannya membawa ke pangkuanku untuk aku pijit-pijit. Aduh, mbak wiwik berteriak tertahan karena kesakitan, tetapi dengan cepat aku bilang dalam bisikkan, bahwa kalau mbakmerasakan sakit artinya bahwa memang sedang sakit. aku terangkan bahwa yang aku pijat itu adalah tombol-tombol saraf yang berhubungan dengan bagian di tubuh yang sedang kena sakit. Mbak wiwik bilang paru-paru dan punggungnya sedang tidak normal karena dingin atau mungkin karena lelahnya perjalanan. Aku dapat merasakan tubuh mbak wiwik langsung merinding dan bergetar mendengar suara bisikkanku tadi.

    mbak wiwik mulai sadar tidak seharusnya seperti ini, lalu ditarik tangannya. Aku pun sadar,
    “Maaf mbak saya Cuma pengen membantu mbak biar hangat.”
    Aku masih diam tak bicara. Tapi yang namanya godaan selalu apa ada.
    Tanganku mulai menyentuh pahanya dan mbak wiwik menyingkirkan tanganku dari pahanya.
    “Maaf dik.. aku sudah bersuami.”
    “Maaf mbak bukan maksudku.”
    Langsung aku putus pembicaraannya.
    “Dudahlah Dik, lebih baik adik tidur saja, mbak juga sudah ngantuk.”
    mbak wiwik pun terdiam, tapi aku tidak mau menyerah begitu saja mungkin rasa penasaranku terhadapnya.

    Tanganku mulai bergerak lagi tapi kali ini tanganku langsung merangkul dibelakang kepalanya. Dan memaksanya dalam pelukanku. Diapun kaget tapi apa daya tanganku jauh lebih kuat, Mbak wiwik tampaknya gak mau membuat keributan didalam bus yang penuh dengan penumpang. Akhirnya mbak wiwik dipelukanku dengan kusandarkan kepalanya dipundakku dan tanganku melingkar ditubuhnya.

    Sangat luar biasa kehangatan yang kurasakan saat itu, maafkan aku istrikuku aku telah melakukan perselingkuhan walau tidak berhubungan badan.

    Aku tidak berhenti disitu apa, aku mulai meraba payudaranya yang berukuran 34B. Dia mencoba melarangku tapi aku tidak mempedulikannya, aku mulai merasakan kenikmatan yg lain. Aku terus memijit-mijit panyudaranya, mbak wiwik mendesis, “akh.!!!”
    Aku terus memijit panyudaranya tanpa henti-henti.

    Akupun tidak merasa takut ketahuan penumpang lainya karena perbuatanku dibawah selimut bus.
    Aku mulai membuka kancing bajunya satu per satu. Dalam hati aku hanya bisa meminta maaf pada istriku, maafkan aku Ma….
    Kancing sudah terlepas semua aku mulai menurunkan BHnya sekarang payudaranya dapat terlihat dengan jelas oleh ku.
    “Susumu indah banget mbak, boleh gak aku hisap?”
    Mbak wiwik hanya diam tak bicara.
    Akupun mulai menundukan kepalaku kepayudaranya dan menghisapnya seperti bayi yang minum asi. Nikmat campur rasa bersalah pada saat itu sama istriku yang telah ku kianati cintanya.
    “Gimana mbak?” kataku
    “Terus Dik hisap trus!!!”
    Akh. Ogh… Dia hanya mendesis kenikmatan. Aku tidak mau berhenti disitu saja, aku mulai menurunkan resleting celana kainnya. aku menurunkan celana dalamnya dan aku masukkan jari-jariku ke dalamvaginanya.
    Mbak wiwik mendesah..
    “Akh.. Akh… ough.. Terus dik. Terus.. Oh…!!!”
    Aku terus mengobok-ngobok vaginanya dengan jariku dan menghisap panyudaranya. Dan akhirnya. Mbak wiwik orgasme.
    Sungguh fantastis….mbak wiwik mengerang dan menjambak rambutku saat orgasme. “Akhhhhh…!!!”

    Aku lalu duduk setelah tahu kalau mbak wiwik sudah orgasme.
    “MBak tolong gantian dong.”

    Aku menuntun tangannya kearah kontolku. Sebetulnya aku sudah sangat terangsang, kontolku udah tegang dari tadi tapi aku tidak mau terburu2 takutnya mbak wiwik jadi tersinggung dan tujuanku jadi gagal total, tetapi diluar dugaanku tangan mbak wiwik langsung memegang kontolku yg sudah dari tadi aku keluarkan dari celanaku, serasa ditimpa dan ditampar sebuah sensasi yang luar biasa saat tangannya yg halus menggenggam kontolku. Tangannya terasa hangat di kontolku dan kontolku serasa berdenyut2. aku mulai mendesah pelan,
    “Akhhhhh…!!!”

    “Tolong, mbak, sebentar saja, aku bener-bener tidak bisa menahan nafsu birahiku, tolong Mbak, biar aku terlepas dari siksaanku ini, tolon..ng.. tadi mbak sudah saya buat orgasme jadi gantian Mbak.”, Aku menghibadalam berbisik dan ternyata berhasil bisikanku bagaikan sihir yg membangkitkan nafsu birahinya dengan sensasi penuh pesona ini.

    Aku kembali bisikkan ke telinganya,
    “Kocok, mbak, aku pengin keluar cepet, nih”, sambil aku pegang tangannya untuk menuntun kocokkannya. Dan mbak wiwikpun terbawa larut dalam suasana, tangannya mulai mengocok kontolku.

    Telah beberapa saat aku mendesas dan merintih lirih, tetapi belum juga ejakulasiku datang. Bahkan kinimbak wiwik sendiri mulai terjebak dalam kisaran arus birahi sejak tanganku juga merabai payudaranya dan memainkan puting susunya. Mbak wiwik terbawa mendesah dan merintih pelan dan tertahan. Aku mengalami keadaan ekstase birahi. Mataku tertutup, khayalku mengembara, aku bayangkan alangkah nikmatnya apabila kontolku meruyak ke vaginanya. Ah, alangkah nikmatnya.., nikmat sekali .., nikmat sekali.., pikiranku sudah kemana-mana mungkin karena aku sudah terangsang banget.
    “Ayoo, dik, aku sudah capenih, keluarin cepeett…s”,
    Aku tersenyum, “Susah, mbak, kecualii…”,
    “Apaan lagi?”,
    “Kalau Mbak mau menciumi dan mengisepnya.”. Gila. Aku sudah gila. Aku spontan apa minta mbak wiwik untuk mengemut kontolku. Tt.. tet.. ttapi .. mungkin mbak wiwik kini yang lebih gila lagi. Mbak wiwik mengangguk saat mataku melihat matanya. Sesungguhnya sejak tadi saat tangannya menggapai kontolku kemudian merasakan betapa halus sentuhannya aku sudah demikian terhanyut untuk selekasnya bisa menyaksikan betapa mentakjubkan kontolku masuk dalam mulut mungilnya itu. Aku sudah demikian tergiring untuk selekasnya merasakan hangatnya kontolku dalam mulutnya, ingin merasakan bagaimana seandainya lidahnya menjilati kepala kontolku trus melumat-lumat dan mengisap-isap kontolku ini.

    Cahaya lampu Bus yang memang diredupkan untuk memberi kesempatan para penumpang bisa tidur nyenyak sangat membantu apa yang sedang berlangsung di kursi kami ini. Seakan-akan mbak wiwik tidur di pangkuanku, mbak wiwik bergerak telungkup menyusup ke dalam selimutku. Gelap, tetapi bibirnya langsung menyentuh kemudian mencaplok kontolku. Aku sudah masa bodo. Nafsuku sudah menjerat aku. Mbak wiwik mulai mengkulum kontolku, lidahnya bermain dan mulai memompakan mulutnya ke kontolku. Huuhh,.., sungguh aku langsung terhanyut dan bergelegak. Aku mengharapkan sperma dan air maniku cepat muncrat ke mulutnya.

    Aku sudah memikirkan kemungkinan untuk tidak sampai menjadi perhatian penumpang lainnya. Aku sendiri akhirnya demikian masa bodoh. Aku yang sudah demikian larut dalam kenikmatan yang tak mudah kutemui di tempat lain ini terus hanyut dalam keasyikan birahi dengan ****** dalam jilatan dan kuluman mbak wiwik. Aku merem melek setiap lidahnya menjulur dan menariknya kembali. Rasa hangat lidah dan mulutnya sangat terasa di kontolku.
    Dalam ruangan selimut yang demikian sempit itu kepala mbak wiwik bergerak aktif turun naik seiring keluar masuknya kontolku dalam mulutnya. Sementara tanganku sendiri aktif mengelusi di arah rambutnya, terkadang juga turun hingga ke pantatnya.

    “Ayoo, dik, aku sudah capenih, keluarin cepeett…s”,
    Aku jawab, “sebentar lagi mbak…..”

    Mbak wiwik terus melumat-lumat kontolku dengan penuh perasaan sambil tangannya juga ikut mengelusi batang kontolku yg kekar dan keras itu, sesekali lidah dan bibirnya menjilati batang kontolku hingga ke pangkal dan bijih pelerku dengan harapan bisa secepatnya merangsangku dan membuatku orgasme. Kontolku dimasukkan dalam-dalam kemulutnya hingga menyentuh tenggorokkannya. Aku mengerang, mendesah sambil bergumam meracau.

    Benar, tidak sampai 10 menit aku mulai merasakan sebuah kedutan yang sangat keras dalam kontolku, dan aku bisikan ke telinga mbak wiwik,

    ” Mbak Aku mau keluar….”
    Mbak wiwik semakin cepat melumat-lumat dan menghisap kontolku dan tidak berapa lama kurasakan orgasme yg sangat luar biasa, air maniku muncrat 6 sampai 7 kali kedalam mulut mbak wiwik, dan aku merasakan sensasi yg luar biasa ketika mbak wiwik langsung menelan semua air maniku dan terus mengisap dan menjilati sisa2 air maniku sampai terasa ngilu sekali.
    “Terima kasih, ya mbak”, kataku sambil membetulkan celanaku dan menarik tutup resluitingku.
    Akupun langsung mencium mulutnya dan masih kurasakan spermaku dalam mulutnya.

    Kami pun tertidur pulas, tanganku sambil memeluknya.
    Akhirnya pukul 05.30 bus sampai di janti dan kamipun turun.

    “mbak gimana kalau kita satu taksi biar irit biaya toh jalannya satu arah”
    “ok..!!” mbak wiwik pun mengiyakan
    Didalam Taksi aku dan mbak wiwik berdiam diri sambil membayangkan semalam didalam bus yang luar biasa.

    Akhirnya mbak wiwik turun depan hotel Natour Garuda. Lalu kami tukar nomor HP. Hari itu aku ber smsan ria bersama mbak wiwik. Dan pada hari ke-3 aku dapat sms dari mbak wiwik yg isinya bahwa tugasnya dijogja udah selesai dan rencana mau pulang ke jakarta.

    Dan selang 10 menit HPku berdering kembali, ternyata dari mbak wiwik.
    “Pagi dik. lagi dimana? Gimana pulang ke Jakarta bareng apa yach?”
    “Pagi juga mbak…, ok deh kita bareng pulangnya, nanti siang aku ke hotel natour deh, Mbak saya jemput ya kita jalan-jalan dulu keliling Jogja, itung-itung biar mbak tau Jogja”
    “ok dech aku tunggu ya”.

    Begitulah, Aku menjemput mbak wiwik di hotel, aku dan mbak wiwik akhirnya berangkat jalan-jalan.
    Setelah lebih satu jam kami berputar-putar disekitar jogja, mbak wiwik akhirnya mengajak istirahat di hotel tempat dia menginap.

    Kami mengobrol tertawa cekikikan sampai bercerita tentang kejadian dibus. Tiba-tiba mbak wiwik menarik tanganku sehingga aku terduduk di kasur, mbak wiwik yang saat itu sedang duduk ditepi tempat tidur. Tanpa berkata apa-apa dia langsung mencium bibirku.

    Aku sempat terkejut tapi aku juga membiarkan ketika bibir nya menempel kebibirku hingga beberapa saat. Dadaku semakin berdegub kencang ketika kurasakan bibir nya melumat mulutku. Aku tidak mau kalah, Lidahku menelusup kecelah bibirnya dan menggelitik hampir semua rongga mulutnya. Mendapat serangan mendadak itu mbak wiwik tampak antusias dan lebih semangat dalam melumat bibirku, saking dahsyatnya bulu tengkukku sampai merinding.

    Namun tiba-tiba timbul kesadaranku. Aku teringat istriku dirumah, Kudorong tubuh mbak wiwik supaya ia melepaskan pelukannya pada diriku.
    “mbak…, jangan mbak…, ini enggak pantas kita lakukan..! “, kataku terbata-bata.
    mbak wiwik memang melepas ciumannya dibibirku, tetapi kedua tangannya masih merangkul leherku dan buah dadanya menempel ketat di dadaku, Kontolku sangat tegang dan keras menempel diperut mbak wiwik.

    “Memang nggak pantas dik, taapi gimana lagi toh kamu yang memulai waktu di bus dan aku Cuma merespon apa”, Ujar mbak wiwik yang terdengar seperti desahan.

    Setelah itu mbak wiwik kembali mendaratkan ciuman. Ia menjilati dan menciumi seluruh wajahku, lalu merambat keleher dan telingaku. Namun perlahan tapi pasti nafsu birahi semakin kuat menguasaiku , Aku sudah sangat terangsang, bayang2 istriku berbaur dengan wajah mbak wiwik yg cantik, akhirnya pertahananku bobol aku sudah tidak peduli lagi, toh ini cuma sekali aku berselingkuh sebuah pembenarandalam hatiku.. Harus kuakui, mbak wiwik sangat pandai mengobarkan birahiku. Jilatan demi jilatan lidahnya keleherku benar-benar telah membuatku terbakar dalam kenikmatan.

    mbak wiwik sendiri tampaknya juga mulai terangsang. Aku dapat merasakan napasnya mulai terengah-engah. Sementara aku semakin tak kuat untuk menahan erangan. Maka aku pun mendesis-desis untuk menahan kenikmatan yang mulai membakar kesadaranku. Setelah itu tiba-tiba tangan mbak wiwik mulai membuka kancing bajuku. Satu demi satu pakaian yg aku pakai terlepas dari tubuhku sampai akhirnya tidak ada sehelai benangpun yg menempel dalam tubuhku alias bugil total. Akupun tidak mau kalah, baju yg dipakai mbak wiwik satu demi satu aku preteli sampai akhirnya kita berdua sudah telanjang semua. Tak ayal lagi, buah dada mbak wiwik yang berwarna putih bersih itu terbuka didepanku tanpa tertutup sehelai kainpun.

    Mbak wiwik tampak agak malu dia berusaha menutupi buah dadanya yg terbuka dengan mendekapkan lengan didadanya tetapi dengan cepat tanganku memegangi lengannya dan merentangkannya. Kemudian aku mulai mengusap dan meremas payudaranya sambil mulutku mengisap dan menjilati putingnya. Hampir 10 menit kami saling remas dan cium kemudian aku mengambil inisiatif mengangkat dan merebahkan tubuhku ditempat tidur. Tanpa membuang waktu, bibirku melumat salah satu buah dadanya sementara salah satu tanganku juga langsung meremas-remas buah dadanya yang lainnya. Bagaikan seekor singa buas aku menjilati dan meremasbuah dada yang kenyal dan putih itu.

  • Cerita Panas Gadis SMA Masih Belia Yang Nikmat

    Cerita Panas Gadis SMA Masih Belia Yang Nikmat


    697 views

    Cerita Panas Gadis SMA Masih Belia Yang Nikmat

    David adalah seorang ayah yang memiliki 3 orang anak, David bekerja di bidang medis, dan kini tinggal di Jakarta Selatan. Wajahnya lumayan tampan, sedangkan istri David berkulit hitam manis dengan tinggi tubuhnya sekitar 165 cm, rambut lurus dan halus. Kehidupan seks David selama ini sangat normal, bahkan David termasuk laki laki yang memiliki selera berhubungan seks yang tinggi. Tidak hanya sekarang, bahkan sejak David berusia 17 tahun pada saat dirinya tumbuh dewasa.

    Disuatu malam yang dingin, David sengaja menghabiskan waktu untuk bermesraan bersama istrinya, mereka berdua duduk bersama dengan posisi istri berada di pangkuan, David menyentuh rambutnya dan tangannya bergerak ke leher istrinya, istri melenguh, tangannya mencari dan mencoba meraih penis yang sudah tegang keluar celananya. Tangan kanan david kemudian bergerak turun dari leher ke arah pinggul, istrinya bergeser turun dari pangkuannya, menarik pahanya, otomatis dasternya terangkat. kamu tahu apa?, Ternyata istrinya tidak menggunakan CD.

    Bahkan dengan istri, David harus mendapatkan kepuasan, tetapi sebagai laki laki normal, David juga memiliki fantasi melakukan hubungan seks dengan wanita lain. David akan sangat bersemangat dengan seorang perempuan yang kurus, tinggi, ramping dan memiliki payudara yang tidak terlalu besar, Itulah gambaran perempuan yang menjadi idaman David. Menjelang Hari Valentine, David teringat kejadian 5 tahun yang lalu, dan David mencoba untuk menuangkan dalam sebuah tulisan:

    Antara 1997 1998 aku diberi tugas belajar di Surabaya. Kota Surabaya sangat tidak asing bagiku karena di sanalah aku dilahirkan dan dibesarkan. Aku memutuskan untuk tinggal di asrama karena aku tidak ingin merepotkan kerabatku, toh juga hanya enam bulan?. Setelah sampai di asrama aku langsung berusaha menata pakaian pakaianku ke almari dan buku buku yang aku bawa terlihat masih sangat berantakan, sungguh aku memerlukan semangat pendorong untuk melakukan pekerjaan yang melelahkan ini. Akhirnya aku pun melakukan masturbasi. Dalam pikiranku, “Aku tidak bisa seperti ini terus.. aku memerlukan seseorang yang dapat memenuhi nafsu dan gairahku”.

    Keesokan harinya aku berusaha mencari teman teman lamaku yang dulu ada di kota ini, satu persatu mereka aku telepon. Singkatnya, ternyata aku telah kehilangan kontak dengan mereka, nomor nomor ponsel mereka sudah tidak aktif. Hanya ada satu yang masih aktif, dia adalah Hani, usianya lebih tua dariku, Hani sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Dulu kami pernah dekat, sering bersama saat belajar kelompok.

    Hani keturunan chinese, cukup tinggi untuk seorang wanita, berkulit putih dan berdada rata. Awalnya kita berdua hanya melakukan telepon satu sama lain, berdiskusi, makan dan pergi bersama, sampai suatu hari (pada pertengahan Februari) dia menelponku sambil menangis tersedu-sedu dan dia mengatakan ingin bertemu denganku.

    “Mas, bisa gak kita bertemu, aku ingin cerita”.

    “Bisa, baiklah kita bertemu di tempat biasa”.

    Dengan Lancer th 83’an aku pergi menemuinya, setelah bertemu Hani mengajakku pergi kerumahnya. “Ak tidak bisa melakukan ini, aku tidak ingin membuat suasana keruh bersama suamimu”, ucapku kepada Hani. “Tidak apa apa, ayo pergi bersamaku”, ucap Hani. Dalam perjalanan kami berbicara macam macam mulai ilmiah, politik, sampai hal hal yang kotor.

    “Mas, kapan kamu akan pergi ke Jakarta?” Dia bertanya ( jadwal aku untuk pulang ke rumah setiap bulan ).

    “Minggu depan, emang knapa?” Tanyaku kembali.

    “Tidak apa apa sih, pengin nanya aja”.

    ‘Masak sih cuma pengin nanya saja, Pengin yang lain lain kan, pengin nyoba?’, jawabku.

    ‘Hehehehe dasar ngeress aja yang ada dipikiran mas..

    Setelah sampai ke tempat tujuan, di sebuah rumah yang tidak aku ketahui, Hani membuka pintu.

    “Ini rumah siapa ????? Serambi kotor, penuh debu, kaya beberapa hari tidak disapu, kebangetan deh.’ Tanyaku heran. Ini rumah orang tuaku, kemarin abis dikontrakin, seminggu sekali aku kesini dan membersihkannya”, jawabnya sambil masuk ke rumah gak terawat tersebut. “Sebentar ya, aku mau masukin mobil dan segera kembali lagi…”

    Dalam pikiranku, “Meskipun teras penuh debu kotor, namun rumah ini gak pengap… Cukup nyaman, furniturnya juga masih bagus,”. Hani mempersilahkanku duduk, sementara dia menyaapu teras depan rumah tersebut. “Anggap aja rumah sendiri mas, gak usah sungkan, Aku mau bersih-bersih bentar,’ katanya.

    “Iya, ini rasanya udah kayak dirumah sendiri bersama istri sendiri,” kataku sedikit menggodanya. “Terserah deh, eh aku mau mandi dulu?” ucap Hani. Otakku dipenuhi pikiran ngeres, ngebayangin lekukan payudara Hani yang terlihat jelas dibalik baju transparan yang dikenakannya sehingga putingya terlihat sedikit menyembul.

    Ngomong-ngomong ada apa memintaku datang ke tempat ini? Apakah kamu punya masalah yang serius, masalah apa itu?” Aku bertanya lebih lanjut tanpa basa basi, ia pindah tempat duduk kesebelahku.

    “Masalah keluarga mas…”, Katanya.

    “Apakah itu tentang seks?” Aku bercanda dengannya.

    “Ah kamu tetep aja kaya dulu mas, sableng, dan tidak jauh dari yang gitu gituan”… Tapi ada benernya sih meskipun tidak secara langsung,” jawabnya.

    Kemudian Hani bercerita panjang lebar, intinya adalah rasa tidak puas, sikap otoriter suaminya dan selalu disalahkan ketika ada ketidaksepakatan dengan pada suatu masalah. “Aku bener-bener sudah capek, Mas Sony suamiku selalu berpihak sama ibunya, ketika aku mencoba menjawab persoalan dengan mertua, justru mertuaku mengomel habis habisan”. Terisak ia mengakhiri kisahnya.

    Ketika aku memegang tangannya, dia hanya terdiam, kemudian berkata lembut “Bolehkah aku bersandar di dada kamu mas?”. Aku mengangguk dan cepat cepat meraih dan membelai lembut rambut sebahunya. Aku mencium keningnya dengan lembut, Hani mendongak dan berbisik pelan “Mas, aku membutuhkan dukungan, kasih sayang dan belaian mesra.”

    Pada saat itu aku merasa hanyut dengan situasi yang diciptakannya, sehingga tanpa merasa canggung aku mencium matanya, kemudian hidungnya, Hani menngeliat sehingga bibir kami bertemu. Hani berdiri dan berkata pelan sambil memelukku, “pegang erat erat, aku milikmu sekarang”.

    Dengan lembut aku mencium bibirnya lagi. Kami berpelukan seperti sepasang kekasih yang baru bertemu setelah berpisah lama dengan segunung kerinduan. Setelah itu kami berdua kembali duduk.

    Dengan posisi Hani duduk di pangkuan, aku terus menyentuh rambutnya dan bergerak tanganku di lehernya, Hani melenguh, tangannya mencari dan mencoba meraih penis yang sudah tegang keluar celanaku. Tangan kananku kemudian bergerak dari leher ke arah pinggul, Hani bergeser turun dari pangkuanku, menarik pahanya, otomatis dasternya terangkat. Kamu tahu apa?, Ternyata Hani tidak menggunakan CD.

    “Aku sudah enggak tahan mas, lakukan sekarang bisiknya. Segera aku menjilati merah muda mecky indah dengan sedikit rambut namun panjang panjang, aku basahin dan sibakkan bulu bulu halus dengan lidahku sambil sesekali menyentuh klitorisnya .

    ‘Ahhh, mas … Aku ingin, kamu masukan sekarang ‘…. Tangannya berusaha membuka celanaku dan memegang penisku.

    “Tapi aku gak nyaman di sini” Ucapku sambil memandangi ruang ruang disekitar ruang tamu ini.

    “Ya udah, yuk kita pindah ruangan di dalam”, katanya berdiri dan mengunci ruang tamu tempat kami melakukan pemanasan tadi.

    “Siapa takut, Dia tersenyum dan berjalan sambil membuka daster tipisnya, aku mengikuti dari belakang, tubuhnya begitu indah halus seperti marmer.

    Kami masuk ke sebuah kamar tidur berukuran 5 x 6 meter dan cukup mewah. Yang lebih istimewa adalah adanya cermin besar ( mungkin ukurannya 3 x 2, 5 meter ) di depan tempat tidur. Hani memelukku di depan cermin dan dengan cekatan membuka kemeja, celana dan CD ku. Begitu indah dan erotis, gerakan gerakan yang kami lakukan terlihat pada cermin itu.

    Segera penisku mencuat keras seolah-olah sukacita karena melihat kebebasan. Aku memenuhi semua haus akan hasrat ini, kami menggosok dan saling berciuman. Setelah beberapa saat menyentuh dan disentuh, tubuh Hani yang indah menggeliat di tempat tidur sedang menunggu untuk di eksekusi. Aku melanjutkan kegiatanku yang ditangguhkan sebelumnya, berharap bahwa dia akan Mengerti apa yang aku inginkan. Dia seperti mendengar apa yang sedang aku pikirkan, Hani pun segera berbalik dan memposisikan diri pada posisi 69 …. dia langsung mengulum penisku yang sedang menegang kencang, tanpa rasa ragu dan takut Hani berperang melawan penis ukuran diameter 2,5 sampai 3,5 cm dan panjang 15 18 cm.

    Ahhh … Aku mendesah menikmati kuluman dan hisapan lembut bibir Hani… … … “Kamu benar benar sangat pintar memuskan lelaki Han, aku memujinya, sementara dia masih tetap sibuk menghisap penisku.

    Kemudian Hani membasahi meckynya sendiri dengan air liurnya, Hani terlihat sangat antusiasme. Ohh, mas… ayo.. ia bangkit dan jongkok di atas miniatur monasku …. Dicapai dan diarahkan penisku ke lubang senggamanya, kemudian ia menggoyangnya naik dan turun dan menggigit dengan bibir meckynya. Aku memegang payudara mungil dan meremasnya dengan perlahan, kemudian setelah 3 menit, Hani ingin aku mendekap erat tubuhnya … Hani tampaknya telah mencapai orgasme ketika ia menunggangiku.

    Aku membalikkan tubuh dengan posisi penis masih tertanam. Hani membantu membuka lebar lebar gerbang surgawinya dengan diangkat kedua pahanya ke atas. Aku mundur kemudian penisku ke depan, dengan irama kocokan 5X dalam dan 1X ringan akhirnya berhasil ditembus lebih maksimal.

    “Mas …. , Mmmmhhh, Lebih … … … …. Keras … …., Dia mengoceh gak karuan … … ….

    “Ini sudah sampai aku berkata, ‘… .. Hani tertawa … .. sehingga otot otot vaginanya berdenyut berpartisipasi ritme tertawanya … …. ,

    Aku mendorong tubuh Hani ke ujung tempat tidur, dan menekan penisku semakin dalam. Hani berteriak histeris menikmati gaya permainanku, tangannya menarik narik pinggulku seakan menikmati penisku yang sedang bergoyang mengganyang lubang kemaluannya.

    Aku mau sampai Han… … …. dia tidak sempat mengatakan bahwa, aku jangan mengeluarkan sperma ke dalam rahimnya … … dan, AAaahhgghh … … aku kehilangan ingatanku, aku merasa melayang diatas awan untuk beberapa saat… … Hani juga tampaknya telah mencapai orgasme untuk kedua kalinya.

    Kami bercanda dan mengobrol di tempat tidur setelah pertempuran melelahkan sebelumnya dapat diselesaikan dengan penuh gairah.

    “Kamu sudah kebangetan deh Han?”.. “Maaf mas, aku tidak bisa menahan tertawa ketika kamu mengatakan aku sudah mau sampai”

    “Hehehehe emangnya sudah sampai mana, sampai pasar?”, katanya. Udah ah, yok mandi bareng bareng, katanya sambil menciumku manja.

    Setelah peristiwa ngentot itu, kami semakin sering bertemu dan ML di tempat-tempat dimanapun asal memungkinkan, sampai aku menyelesaikan tugas belajar yang aku jalani.

  • Cerita Panas ML Dengan Pacarku dan Ibunya

    Cerita Panas ML Dengan Pacarku dan Ibunya


    304 views

    Cerita Panas ML Dengan Pacarku dan Ibunya

    Nadia, seorang wanita tetangga kami yang telah berumur jauh lebih tua. Saya dibesarkan didalam keluarga yang sangat taat dalam agama. Saya sebelumnya belum pernah terekspos terhadap hubungan laki-laki dan perempuan. Pengetahuan saya mengenai hal-hal persetubuhan hanyalah sebatas apa yang saya baca didalam cerita-cerita porno ketikan yang beredar di sekolah ketika saya duduk di bangku SMP.

    Pada masa itu belum banyak kesempatan bagi anak lelaki seperti saya walaupun melihat tubuh wanita bugil sekalipun. Anak-anak lelaki masa ini mungkin susah membayangkan bahwa anak seperti saya cukup melihat gambar-gambar di buku mode-blad punya kakak saya seperti Lana Lobell, dimana terdapat gambar-gambar bintang film seperti Ginger Roberts, Jayne Mansfield, yang memperagakan pakaian dalam, ini saja sudah cukup membuat kita terangsang dan melakukan masturbasi beberapa kali.

    Bisalah dibayangkan bagaimana menggebu-gebunya gairah dan nafsu saya ketika diberi kesempatan untuk secara nyata bukan saja hanya bisa melihat tubuh bugil wanita seperti Nadia, tetapi bisa mengalami kenikmatan bersanggama dengan wanita sungguhan, tanpa memperdulikan apakah wanita itu jauh lebih tua. Dengan hanya memandang tubuh Nadia yang begitu mulus dan putih saja sucah cukup sebetulnya untuk menjadi bahan imajinasi saya untuk bermasturbasi, apalagi dengan secara nyata-nyata bisa merasakan hangatnya dan mulusnya tubuhnya. Apalagi betul-betul melihat kemaluannya yang mulus tanpa jembut. Bisa mencium dan mengendus bau kemaluannya yang begitu menggairahkan yang kadang-kadang masih berbau sedikit amis kencing perempuan dan yang paling hebat lagi buat saya adalah bisanya saya menjilat dan mengemut kemaluannya dan kelentitnya yang seharusnyalah masih merupakan buah larangan yang penuh rahasia buat saya.

    Mungkin pengalaman dini inilah yang membuat saya menjadi sangat menikmati apa yang disebut cunnilingus, atau mempermainkan kemaluan wanita dengan mulut. Sampai sekarangpun saya sangat menikmati mempermainkan kemaluan wanita, mulai dari memandang, lalu mencium aroma khasnya, lalu mempermainkan dan menggigit bibir luarnya (labia majora), lalu melumati bagian dalamnya dengan lidah saya, lalu mengemut clitorisnya sampai si wanita minta-minta ampun kewalahan. Yang terakhir barulah saya memasukkan batang kemaluan saya kedalam liang sanggamanya yang sudah banjir.

    Setelah kesempatan saya dan Nadia untuk bermain cinta (saya tidak tahu apakah itu bisa disebut bermain cinta) yang pertama kali itu, maka kami menjadi semakin berani dan Nadia dengan bebasnya akan datang kerumah saya hampir setiap hari, paling sedikit 3 kali seminggu. Apabila dia datang, dia akan langsung masuk kedalam kamar tidur saya, dan tidak lama kemudian sayapun segera menyusul.

    Biasanya dia selalu mengenakan daster yang longgar yang bisa ditanggalkan dengan sangat gampang, hanya tarik saja keatas melalui kepalanya, dan biasanya dia duduk dipinggiran tempat tidur saya. Saya biasanya langsung menerkam pNadiadaranya yang sudah agak kendor tetapi sangat bersih dan mulus. Pentilnya dilingkari bundaran yang kemerah-merahan dan pentilnya sendiri agak besar menurut penilaian saya. Nadia sangat suka apabila saya mengemut pentil susunya yang menjadi tegang dan memerah, dan bisa dipastikan bahwa kemaluannya segera menjadi becek apabila saya sudah mulai ngenyot-ngenyot pentilnya.

    Mungkin saking tegangnya saya didalam melakukan sesuatu yang terlarang, pada permulaannya kami mulai bersanggama, saya sangat cepat sekali mencapai klimaks. Untunglah Nadia selalu menyuruh saya untuk menjilat-jilat dan menyedot-nyedot kemaluannya lebih dulu sehingga biasanya dia sudah orgasme duluan sampai dua atau tiga kali sebelum saya memasukkan penis saya kedalam liang peranakannya, dan setelah saya pompa hanya beberapa kali saja maka saya seringkali langsung menyemprotkan mani saya kedalam vaginanya. Barulah untuk ronde kedua saya bisa menahan lebih lama untuk tidak ejakulasi dan Nadia bisa menyusul dengan orgasmenya sehingga saya bisa merasakan empot-empotan vaginanya yang seakan-akan menyedot penis saya lebih dalam kedalam sorga dunia.

    Nadia juga sangat doyan mengemut-ngemut penis saya yang masih belum bertumbuh secara maksimum. Saya tidak disunat dan Nadia sangat sering menggoda saya dengan menertawakan “kulup” saya, dan setelah beberapa minggu Nadia kemudian berhasil menarik seluruh kulit kulup saya sehingga topi baja saya bisa muncul seluruhnya. Saya masih ingat bagaimana dia berusaha menarik-narik atau mengupas kulup saya sampai terasa sakit, lalu dia akan mengobatinya dengan mengemutnya dengan lembut sampai sakitnya hilang. Setelah itu dia seperti memperolah permainan baru dengan mempermainkan lidahnya disekeliling leher penis saya sampai saya merasa begitu kegelian dan kadang-kadang sampai saya tidak kuat menahannya dan mani saya tumpah dan muncrat ke hidung dan matanya.

    Kadang-kadang Nadia juga minta “main” walaupun dia sedang mens. Walaupun dia berusaha mencuci vaginanya lebih dulu, saya tidak pernah mau mencium vaginanya karena saya perhatikan bau-nya tidak menyenangkan. Paling-paling saya hanya memasukkan penis saja kedalam vaginanya yang terasa banjir dan becek karena darah mensnya. Terus terang, saya tidak begitu menikmatinya dan biasanya saya cepat sekali ejakulasi. Apabila saya mencabut kemaluan saya dari vagina Nadia, saya bisa melihat cairan darah mensnya yang bercampur dengan mani saya. Kadang-kadang saya merasa jijik melihatnya.

    Satu hari, kami sedang asyik-asyiknya menikmati sanggama, dimana kami berdua sedang telanjang bugil dan Nadia sedang berada didalam posisi diatas menunggangi saya. Dia menaruh tiga buah bantal untuk menopang kepala saya sehingga saya bisa mengisap-isap pNadiadaranya sementara dia menggilas kemaluan saya dengan dengan kemaluannya. Pinggulnya naik turun dengan irama yang teratur. Kami rileks saja karena sudah begitu seringnya kami bersanggama. Dan pasangan suami isteri yang tadinya menyewa kamar dikamar sebelah, sudah pindah kerumah kontrakan mereka yang baru.

    Saya sudah ejakulasi sekali dan air mani saya sudah bercampur dengan jus dari kemaluannya yang selalu membanjir. Lalu tiba-tiba, pada saat dia mengalami klimaks dan dia mengerang-erang sambil menekan saya dengan pinggulnya, anak perempuannya yang bernama Linda ternyata sedang berdiri dipintu kamar tidur saya dan berkata, “Ibu main kancitan, iya..?” (kancitan = ngentot, bahasa Solo)

    Saya sangat kaget dan tidak tahu harus berbuat bagaimana tetapi karena sedang dipuncak klimaksnya, Nadia diam saja terlentang diatas tubuh saya. Saya melirik dan melihat Linda datang mendekat ketempat tidur, matanya tertuju kebagian tubuh kami dimana penis saya sedang bersatu dengan dengan kemaluan ibunya. Lalu dia duduk di pinggiran tempat tidur dengan mata melotot.

    “Hayo, ibu main kancitan,” katanya lagi.

    Lalu pelan-pelan Nadia menggulingkan tubuhnya dan berbaring disamping saya tanpa berusaha menutupi kebugilannya. Saya mengambil satu bantal dan menutupi perut dan kemaluan saya .

    “Linda, Linda. Kamu ngapain sih disini?” kata Nadia lemas.

    “Linda pulang sekolah agak pagi dan Linda cari-cari Ibu dirumah, tahunya lagi kancitan sama Bang Johan,” kata Linda tanpa melepaskan matanya dari arah kemaluan saya. Saya merasa sangat malu tetapi juga heran melihat Nadia tenang-tenang saja.

    “Linda juga mau kancitan,” kata Linda tiba-tiba.

    “E-eh, Linda masih kecil..” kata ibunya sambil berusaha duduk dan mulai mengenakan dasternya.

    “Linda mau kancitan, kalau nggak nanti Linda bilangin Abah.”

    “Jangan Linda, jangan bilangin Abah.., kata Nadia membujuk.

    “Linda mau kancitan,” Linda membandel. “Kalo nggak nanti Linda bilangin Abah..”

    “Iya udah, diam. Sini, biar Johan ngancitin Linda.” Nadia berkata.

    Saya hampir tidak percaya akan apa yang saya dengar. Jantung saya berdegup-degup seperti alu menumbuk. Saya sudah sering melihat Linda bermain-main di pekarangan rumahnya dan menurut saya dia hanyalah seorang anak yang masih begitu kecil. Dari mana dia mengerti tentang “main kancitan” segala?

    Nadia mengambil bantal yang sedang menutupi kemaluan saya dan tangannya mengelus-ngelus penis saya yang masih basah dan sudah mulai berdiri kembali.

    “Sini, biar Linda lihat.” Nadia mengupas kulit kulup saya untuk menunjukkan kepala penis saya kepada Linda. Linda datang mendekat dan tangannya ikut meremas-remas penis saya. Aduh maak, saya berteriak dalam hati. Bagaimana ini kejadiannya? Tetapi saya diam saja karena betul-betul bingung dan tidak tahu harus melakukan apa.

    Tempat tidur saya cukup besar dan Nadia kemudian menyutuh Linda untuk membuka baju sekolahnya dan telentang di tempat tidur didekat saya. Saya duduk dikasur dan melihat tubuh Linda yang masih begitu remaja. PNadiadaranya masih belum berbentuk, hampir rata tetapi sudah agak membenjol. Putingnya masih belum keluar, malahan sepertinya masuk kedalam. Nadia kemudian merosot celana dalam Linda dan saya melihat kemaluan Linda yang sangat mulus, seperti kemaluan ibunya. Belum ada bibir luar, hanya garis lurus saja, dan diantara garis lurus itu saya melihat itilnya yang seperti mengintip dari sela-sela garis kemaluannya. Linda merapatkan pahanya dan matanya menatap kearah ibunya seperti menunggu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

    Saya mengelus-elus bukit venus Linda yang agak menggembung lalu saya coba merenggangkan pahanya. Dengan agak enggan, Linda menurut, dan saya berlutut di antara kedua pahanya dan membungkuk untuk mencium selangkangan Linda.

    “Ibu, Linda malu ah..” kata Linda sambil berusaha menutup kemaluannya dengan kedua tangannya.

    “Ayo, Linda mau kancitan, ndak?” kata Nadia.

    Saya mengendus kemaluan Linda dan baunya sangat tajam.

    “Uh, mambu pesing.” Saya berkata dengan agak jijik. Saya juga melihat adanya “keju” yang keputih-putihan diantara celah-celah bibir kemaluan Linda.

    “Tunggu sebentar,” kata Nadia yang lalu pergi keluar kamar tidur. Saya menunggu sambil mempermainkan bibir kemaluan Linda dengan jari-jari saya. Linda mulai membuka pahanya makin lebar.

    Sebentar kemudian Nadia datang membawa satu baskom air dan satu handuk kecil. Dia pun mulai mencuci kemaluan Linda dengan handuk kecil itu dan saya perhatikan kemaluan Linda mulai memerah karena digosok-gosok Nadia dengan handuk tadi. Setelah selesai, saya kembali membongkok untuk mencium kemaluan Linda. Baunya tidak lagi setajam sebelumnya dan sayapun menghirup aroma kemaluan Linda yang hanya berbau amis sedikit saja. Saya mulai membuka celah-celah kemaluannya dengan menggunakan lidah saya dan Linda-pun merenggangkan pahanya semakin lebar. Saya sekarang bisa melihat bagian dalam kemaluannya dengan sangat jelas. Bagian samping kemaluan Linda kelihatan sangat lembut ketika saya membuka belahan bibirnya dengan jari-jari saya, kelihatanlah bagian dalamnya yang sangat merah.

    Saya isap-isap kemaluannya dan terasa agak asin dan ketika saya mempermainkan kelentitnya dengan ujung lidah saya, Linda menggeliat-geliat sambil mengerang, “Ibu, aduuh geli, ibuu.., geli nian ibuu..”

    Saya kemudian bangkit dan mengarahkan kepala penis saya kearah belahan bibir kemaluan Linda dan tanpa melihat kemana masuknya, saya dorong pelan-pelan.

    “Aduh, sakit bu..,” Linda hampir menjerit.

    “Johan, pelan-pelan masuknya.” Kata Nadia sambil mengelus-elus bukit Linda.

    Saya coba lagi mendorong, dan Linda menggigit bibirnya kesakitan.

    “Sakit, ibu.”

    Nadia bangkit kembali dan berkata,”Johan tunggu sebentar,” lalu dia pergi keluar dari kamar.

    Saya tidak tahu kemana Nadia perginya dan sambil menunggu dia kembali sayapun berlutut didepan kemaluan Linda dan sambil memegang batang penis, saya mempermainkan kepalanya di clitoris Linda. Linda memegang kedua tangan saya erat-erat dengan kedua tangannya dan saya mulai lagi mendorong.

    Saya merasa kepala penis saya sudah mulai masuk tetapi rasanya sangat sempit. Saya sudah begitu terbiasa dengan lobang kemaluan Nadia yang longgar dan penis saya tidak pernah merasa kesulitan untuk masuk dengan mudah. Tetapi liang vagina Linda yang masih kecil itu terasa sangat ketat. Tiba-tiba Linda mendorong tubuh saya mundur sambil berteriak, “Aduuh..!” Rupanya tanpa saya sadari, saya sudah mendorong lebih dalam lagi dan Linda masih tetap kesakitan.

    Sebentar lagi Nadia datang dan dia memegang satu cangkir kecil yang berisi minyak kelapa. Dia mengolesi kepala penis saya dengan minyak itu dan kemudian dia juga melumasi kemaluan Linda. Kemudian dia memegang batang kemaluan saya dan menuntunnya pelan-pelan untuk memasuki liang vagina Linda. Terasa licin memang dan saya-pun bisa masuk sedikit demi sedikit. Linda meremas tangan saya sambil menggigit bibir, apakah karena menahan sakit atau merasakan enak, saya tidak tahu pasti.

    Saya melihat Linda menitikkan air mata tetapi saya meneruskan memasukkan batang penis saya pelan-pelan.

    “Cabut dulu,” kata Nadia tiba-tiba.

    Saya menarik penis saya keluar dari lobang kemaluan Linda. Saya bisa melihat lobangnya yang kecil dan merah seperti menganga. Nadia kembali melumasi penis saya dan kemaluan Linda dengan minyak kelapa, lalu menuntun penis saya lagi untuk masuk kedalam lobang Linda yang sedang menunggu. Saya dorong lagi dengan hati-hati, sampai semuanya terbenam didalam Linda. Aduh nikmatnya, karena lobang Linda betul-betul sangat hangat dan ketat, dan saya tidak bisa menahannya lalu saya tekan dalam-dalam dan air manikupun tumpah didalam liang kemaluan Linda. Linda yang masih kecil. Saya juga sebetulnya masih dibawah umur, tetapi pada saat itu kami berdua sedang merasakan bersanggama dengan disaksikan Nadia, ibunya sendiri.

    Linda belum tahu bagaimana caranya mengimbangi gerakan bersanggama dengan baik, dan dia diam saja menerima tumpahan air mani saya. Saya juga tidak melihat reaksi dari Linda yang menunjukkan apakah dia menikmatinya atau tidak. Saya merebahkan tubuh saya diatas tubuh Linda yang masih kurus dan kecil itu. Dia diam saja.

    Setelah beberapa menit, saya berguling kesamping dan merebahkan diri disamping Linda. Saya merasa sangat terkuras dan lemas. Tetapi rupanya Nadia sudah terangsang lagi setelah melihat saya menyetubuhi anaknya. Diapun menaiki wajah saya dan mendudukinya dan menggilingnya dengan vaginanya yang basah, dan didalam kami di posisi 69 itu diapun mengisap-ngisap penis saya yang sudah mulai lemas sehingga penis saya itu mulai menegang kembali.

    Wajah saya begitu dekat dengan anusnya dan saya bisa mencium sedikit bau anus yang baru cebok dan entah kenapa itu membuat saya sangat bergairah. Nafsu kami memang begitu menggebu-gebu, dan saya sedot dan jilat kemaluan Nadia sepuas-puasnya, sementara Linda menonton kami berdua tanpa mengucapkan sepatah katapun. Saya sudah mengenal kebiasaan Nadia dimana dia sering kentut kalau betul-betul sedang klimaks berat, dan saat itupun Nadia kentut beberapa kali diatas wajah saya. Saya sempat melihat lobang anusnya ber-getar ketika dia kentut, dan sayapun melepaskan semburan air mani saya yang ketiga kalinya hari itu didalam mulut Nadia. “Alangkah lemaknyoo..!” saya berteriak dalam hati.

    “Ugh, ibu kentut,” kata Linda tetapi Nadia hanya bisa mengeluarkan suara seperti seseorang yang sedang dicekik lehernya.

    Hanya sekali itu saja saya pernah menyetubuhi Linda. Ternyata dia masih belum cukup dewasa untuk mengetahui nikmatnya bersanggama. Dia masih anak kecil, dan pikirannya sebetulnya belum sampai kepada hal-hal seperti itu. Tetapi saya dan Nadia terus menikmati indahnya permainan bersanggama sampai dua atau tiga kali seminggu. Saya masih ingat bagaimana saya selalu merasa sangat lapar setelah setiap kali kami selesai bersanggama. Tadinya saya belum mengerti bahwa tubuh saya menuntut banyak gizi untuk menggantikan tenaga saya yang dikuras untuk melayani Nadia

  • Cerita Panas Ngewe Saat Jalan-jalan

    Cerita Panas Ngewe Saat Jalan-jalan


    361 views

    Cerita Panas Ngewe Saat Jalan-jalan

    Saat Jalan-jalan-dimulai dari Suasana meredam kepedihan saatnya di lakukan’dengan pergi wisata kulinar “asyik juga. sekian lama tidak berkunjung ke salah satu sohipku yang sudah lengket banget boleh dibilang duluk kayak prangko,nempel mulu.hem…! gimana ya keadaannya sekarang apakah sama seperti tahun sebelumnya atau dia sudah mengalami perubahan yang signifikan, Ah tak tahu rasa penasaranku semakin menguat,ingin cepat-cepat bertemu dia pokoknya, langsung kemas2 ke esokan paginya aku langusng berangkat dengan Namaku Doni, aku tinggal di kota K.

    Tanggal 22 Mei 1999 yang lalu aku pergi ke Surabaya untuk liburan, sambil refreshinglah. Setelah berputar-putar sebentar, sorenya aku menuju rumah temanku yang sudah sangat akrab di kawasan DK. Keluarganya sudah sangat akrab dengan keluargaku, sudah seperti satu keluarga sejak aku lahir. Di rumah ini ada Mas Zani yang umurnya 22 tahun, adiknya (cewek, masih SMU), sepupunya (cewek sudah sekitar 23 tahun), dan tentu saja kedua orang tua mereka. Hari itu biasa saja, tidak ada something spesial yang terjadi.

    Keesokan harinya, Mas Zani mengajakku pergi makan dan jalan-jalan di mall. Eh.., ternyata dia mengajak ceweknya. Ternyata ceweknya ini kost cuma sekitar 300 meter dari rumah Mas Zani. Namanya Yeni tapi panggilannya Yeyen. Anaknya cakep juga, masih kuliah, umurnya 21 tahun. Kulitnya putih kekuningan meskipun keturunan Jawa tulen, tingginya sekitar 164 cm, beratnya 46 kg, tapi pinggulnya cukup besar, bodinya asyik juga, dan payudaranya lebih besar dari rata-rata cewek Indonesia. So, dengan mobil Panther itu Mas Zani dan Yeyen duduk berdua di depan sedangkan aku yang duduk di bagian tengah dicuekin oleh mereka. Kami berputar-putar di Tunjungan Plaza, makan di sebuah restoran sea food sampai kenyang lalu kembali lagi ke tempat kos Yeyen.

    Lalu setelah mobil diparkir, kami bertiga masuk ke tempat kosnya dan langsung masuk kamarnya. Hmm.., sempat terpikir olehku, sebenarnya itu tempat kos cewek atau cowok, soalnya ada beberapa ciban (banci) yang nongkrong di situ. Di dalam kamar Yeyen, aku disetelin sebuah VCD porno, sambil diberi coklat Silver Queen, sementara Mas Zani dan Yeyen bermesraan berdua, berciuman dan bercumbu. Ah.., aku juga sempat berkenalan dengan adik Yeyen yang bernama Lenny, yang mondar-mandir keluar masuk kamar.

    Lenny bertubuh lebih pendek dari Yeyen, lebih coklat kulitnya, dan bodinya lebih langsing, cuma sayangnya payudara dan pantatnya juga lebih “tidak menantang” dibandingkan Yeyen. Cuma yang lebih disayangkan lagi Lenny seorang perokok berat dan hari itu dia sedang sakit tenggorokan. Setelah selesai menyetel VCD-nya sampai 45 menit non-stop, Aku matikan TV dan playernya. Eh, tiba-tiba Mas Zani nyeletuk, “Don.., kasih waktu 5 menit, dong..?”

    Aku sudah mulai merasakan gelagat kurang baik dari pasangan itu. Tapi ya terpaksa, aku melenggang keluar kamar, tapi baru sampai di pintu, aku lihat di ruang tamu banyak ciban yang lagi ngobrol dengan Lenny sambil merokok. kemudian akupun kembali ke kamar Yeyen. Lalu aku berkata, “Ah tidak usah dech, aku di sini saja, lagi tidak mood ngobrol sama orang-orang itu. Lakuin saja deh, aku tidak ngeliat”. Terus terang saja Mas Zani kaget, “Heh! Kon ‘jik cilik ngono kok..” (kamu itu masih kecil gitu kok). Kesel juga aku dibilang masih kecil. Lalu aku berusaha meyakinkan mereka, “Jangan kuatir lah.., aku sudah biasa kok ngeliatin ginian..”
    Akhirnya setelah beberapa perdebatan ringan dan berkat kelihaianku berdiplomasi mereka mengijinkan juga aku untuk di dalam kamar saja, tapi dengan syarat aku tidak boleh macam-macam apalagi melaporkan ke orang tuanya. Setelah pintu kukunci, aku cuma bersandar saja di pintu dengan perasaan gembira.

    Mas Zani lalu tidur telentang di ranjang, lalu Yeyen mulai jongkok di atasnya dan menciumi wajah Mas Zani, sedangkan Mas Zani cuma diam saja, matanya merem, tangannya mengusap-usap punggung Yeyen. Sesekali Yeyen melihat ke arahku, mungkin memeriksa apakah aku mulai terangsang, dan memang benar aku terangsang. Dan juga melihat gerakan Yeyen yang kelihatannya sudah “professional” dan ciuman-ciumannya yang ganas seperti di film BF, sepertinya Yeyen ini bukan pertama kalinya making love. Yeyen mulai menciumi Mas Zani langsung ke mulutnya, dan beberapa kali mereka bersilat lidah dan terlihat jelas karena jarakku dan jarak mereka berdua cuma sekitar 3 meter.

    “Hmmhh.., hmmhh..”, mereka berciuman sambil mendesah-desah, membuatku yang sejak tadi sudah tegang memikirkan hal yang tidak-tidak jadi semakin tegang saja. Setelah puas melumat bibir dan lidah Mas Zani, Yeyen mulai bergerak ke bawah, menciumi dagunya, lalu lehernya. Mas Zani ketika itu mengenakan T-Shirt yang di bagian kerahnya cuma ada dua kancing, so karena Mas Zani terlalu besar badannya (gemuk) maka Yeyen cuma menyingkapkannya dari bawah lalu menciumi dadanya yang montok dan putih. Mas Zani ini memang WNI Keturunan Cina. “Hmmhh.., aduh Yen nikmat Yen..”, begitu rintihan Mas Zani. Yeyen menciuminya kadang cepat, lalu lambat, cepat lagi, memang sepertinya begitu style anak yang satu ini. Sedangkan aku semakin tidak tahan saja, kepingin juga dadaku diciumin oleh cewek, uhh.., tapi aku masih menahan diri dan terus menempel pada pintu.

    “Ihh.., hmmh.., hh.., ihh..”, Mas Zani terus mendesah sementara Yeyen mulai menciumi perutnya, lalu pusarnya, sesekali Mas Zani berteriak kecil kegelian. Karena aku sangat terangsang, aku mulai meraba-raba diriku sendiri. “Sialan!” pikirku, “Ngapain juga gitu ahh..

    Akhirnya Yeyen mulai membuka risleting Mas Zani, pertamanya pelan sekali, namun tiba-tiba “wrett” ditarik dengan cepat sekali sehingga Mas Zani kaget, matanya terbuka sebentar, lalu tersenyum dan merem kembali, sedangkan kedua tangannya mengelus-elus rambut Yeyen. Yeyen langsung memegang-megang kemaluan Mas Zani dan digosok-gosok dengan tangannya dari luar, “Ahh.., hh.., Hmmhmh.., Ohh Yenn..”, Mas Zani cuma bisa mendesah. Lalu setelah puas menggosoknya dari luar, dia mulai menyingkap celana dalam Mas Zani dan tersembullah kemaluan Mas Zani yang sudah tegang keluar dari sarangnya.

    “Nylupp!”, Kemaluan Mas Zani langsung dikulum oleh Yeyen. Stylenya masih seperti tadi, kadang pelan, lalu cepat, kadang pelan, lalu cepat, bikin kaget saja ini anak main seksnya. Sementara Mas Zani sibuk meremas-remas rambut Yeyen saking enaknya, aku yang tidak kuasa menahan nafsu sibuk meremas-remas kemaluanku sendiri sambil tetap bersadar di pintu. Ahh.., aku benar-benar merasa serba salah waktu itu, dan mereka tidak mengacuhkanku sama sekali. Dasar.., Yang membuataku nyaris tertawa karena kemaluan Mas Zani yang sepertinya keseretan gara-gara Yeyen tidak melepaskan celana dalam Mas Zani terlalu ke bawah, jadi seperti tercekik dech.

    “Ehmm.., Ehmm..” Mungkin sekitar 5 menit Yeyen mengulum kemaluan Mas Zani, ternyata selama itu juga dia belum keluar sama sekali, Yeyen bilang, “Zan.., sekarang giliran kamu yach?” Mas Zani cuma tersenyum, lalu dia bangkit sambil melepaskan celana panjang dan celana dalamnya, sedangkan Yeyen sekarang yang ganti tiduran, lalu memejamkan mata. Sedangkan aku benar-benar kebingungan dan tidak tahu mau berbuat apa, aku benar-benar pingin buka baju dan join dengan mereka tapi ahh.., kacau sekali pikiranku ketika itu.

    Mas Zani mulai melakukan persis apa yang dia lakukan ke Yeyen sebelumnya. Nyaris persis sama, aku sampai heran apa memang sudah janjian ya mereka. Mas Zani mulai mencium bibir Yeyen, cuma Mas Zani menciumnya dengan stabil, pelan terus, berbeda dengan Yeyen yang style seksnya aku akui lumayan unik. “Hmmh.., mymmynm..”, Sayang Mas Zani sepertinya tidak profesional, cara menciumnya walau pelan, terlalu tergesa menuju ke bawah. Yeyen mencoba melepaskan t-shirt Mas Zani, lalu Mas Zani langsung melepasnya dan meletakkan di sebelahnya. Mas Zanipun mulai menciumi leher Yeyen. Sementara tangannya meraba-raba payudara Yeyen yang aduhai, “Hmhmhhm.., Hmhmhmh..” Mereka berdua terus mendesah keenakan. Aduh, pemandangan yang cukup menggelikan sekaligus menggairahkan itu benar-benar membuatku kewalahan pada diriku sendiri, diam-diam aku mulai melepaskan t-shirt yang kupakai dan menggerayangi tubuhku sendiri.

    Mas Zani mulai tidak sabar dan langsung mencopoti kancing demi kancing yang ada di kemeja yang dikenakan Yeyen. Tersembullah payudara Yeyen yang begitu aduhai, putih mulus sekali seperti payudara Chinese, Yeyen segera mengangkat punggungnya, lalu Mas Zani mencopot kancing BH-nya yang berwarna krem. Wah.., payudara Yeyen benar-benar besar dan menggairahkan dengan puting susunya yang tebal dan berwarna coklat tua. “Ahh.., Hmm.., Hmm..”, Mereka berdua saling melenguh setiap kali Mas Zani memainkan lidahnya di atas payudara dan puting susu Yeyen.

    “Hmmh.., Hmhh..”, Setelah puas melumat puting susu Yeyen bergantian, Mas Zani akhirnya menjilati perut Yeyen dan ingin melepaskan roknya. Yeyen mengangkat pantatnya, lalu Mas Zani membuka risleting roknya dan pelan-pelan melepaskan rok yang dipakai Yeyen. Setelah sampai di lutut, Mas Zani berhenti dan langsung menciumi kemaluan Yeyen yang masih tertutup celana dalam itu dengan cepat dan ganas. “Ahh.., Ahh..”, Yeyen mengerang dan mendesah keras keenakan. Aku yang sejak tadi terangsang menjadi semakin terangsang mendengar desahan Yeyen yang sangat menggairahkan, membuatku tidak tahan dan mulai memegangi kemaluanku sendiri, menggesek-gesekkannya dengan tanganku.

    Akhirnya Mas Zani melepaskan celana dalam Yeyen dan langsung menciumi kemaluannya dengan ganas sekali. Rambut di kemaluan Yeyen cukup tipis, sehingga memudahkan Mas Zani menjilatinya sepuasnya. Sesekali kudengar “Slurrp.., slurrp..”, sepertinya Mas Zani suka sekali menyedot kemaluan Yeyen. “Ahh.., Zan.., Ahh.., Zan.., Enak Zan..”, desahan Yeyen semakin keras saja karena merasa nikmat, seakan tidak peduli kalau terdengar orang di luar.

    Tidak berapa lama kemudian, Mas Zani berhenti lalu bertanya, “Yen, boleh sekarang?” Sambil tetap merem, Yeyen cuma tersenyum dan mengangguk. “Pelan-pelan yach..”, bisik Yeyen mesra. Kemudian Mas Zani memasukkan penisnya ke dalam kemaluan Yeyen, “Uh.., uhh.., Ahh..”, Sedikit kesulitan yang mereka hadapi, sekarang Mas Zani sudah mulai asyik menggesek-gesekkan penisnya dalam vagina Yeyen. “Ahh.., ahh.., aduh.., ahh..”, Mereka berdua saling mendesah sambil terus melanjutkan permainannya. Yeyen masih tetap dengan stylenya, kadang menarikan pinggulnya pelan-pelan, lalu cepat, pelan lagi. “Ahh.., Ahh.., Ahh..”, Mas Zani memaju-mundurkan badannya pelan-pelan sedangkan Yeyen asyik menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan tempo yang tidak beraturan. Aku jadi semakin tidak tahan melihat apa yang mereka lakukan, aku segera berjalan menuju kamar mandi, langsung kulepas celana panjang dan celana dalamku dan kugesek-gesek kemaluanku sendiri cepat-cepat.

    “Ahh.., Hmmh.., Ahh..”, Aku mendesah-desah kecil dengan apa yang kulakukan terhadap diriku sendiri. Lalu.., “aahh..”, Aku orgasme, spermaku semuanya terjatuh di lantai kamar mandi. Tubuhku rasanya nikmat sekali beberapa saat, lalu terasa lemas dan sepertinya aku merasa bersalah telah melakukannya. Aku segera menyiram ceceran sperma di lantai kamar mandi, melepas seluruh bajuku dan mandi.

    Setelah segar, aku hampir tidak percaya waktu keluar ternyata mereka masih saja bermesraan bersetubuh. Aku langsung berjalan keluar kamar, sedangkan mereka tidak menghiraukanku sama sekali, benar-benar gila..!
    Di luar, aku duduk-duduk saja di ruang tamu sambil ngobrol dengan Lenny dan teman-temannya yang kebetulan ciban semua. Mereka menawariku rokok tapi aku tolak. Setelah beberapa menit melakukan percakapan yang membosankan dan bikin mual, aku cuek saja dan asyik melihat TV, sambil menunggu Mas Zani dan Yeyen selesai melakukan aktivitasnya. Menit demi menit berlalu, gila.., lama sekali.

    Sekitar satu jam kemudian, muncullah mereka berdua dari pintu kamar Yeyen. “Gilaa..”, pikirku, lama sekali mereka begituan. Mas Zani dan Yeyen tersenyum geli pertama kali melihatku, mungkin mereka menganggap tingkahku di dalam kamar tadi lucu, lalu Mas Zani bertanya. “Don, kamu mau ikut renang?”. “Mau sich.., tapi aku tidak bawa celana renang tuch..”, jawabku agak kecewa. “Tidak pa-pa kok, ntar kita bisa pinjam celana renang di sana..”. Ya sudah, akhirnya jadi dech.., Setelah berpamitan, Mas Zani dan aku pulang. Di rumah kami langsung mempersiapkan segala kebutuhan renangnya.

    Jam menunjukkan sekitar pukul 16.30, kami bersiap pergi. Tepat waktu Mas Zani hendak menyalakan mobil, ada suara teriakan. Ternyata sepupu Mas Zani, “Mobilnya mau dibawa papanya lho..”, katanya. “Sial!” gerutu Mas Zani. Terus akhirnya Mas Zani telepon taksi, beberapa menit kemudian datang, lalu kami ke tempat kos Yeyen dulu untuk menjemput Yeyen. Eh, ternyata tidak hanya Yeyen yang ikut, tapi adiknya, Lenny, diajak serta. Aku tanya pada Lenny, “Lho, kok kamu ikut, katanya sakit tenggorokan. Nanti ikut renang?”. “Iya dong.., tidak Papa, nemenin Yeyen nich..” jawabnya enteng. Wah, nekat juga ini anak, pikirku.

    Taksi kami langsung meluncur ke Graha Residen, di sana ada kolam renangnya yang cukup besar dan ramai, termasuk para turis. Yeyen, Lenny, dan aku yang belum bisa berenang cuma berputar-putar saja di pinggiran, sedangkan Mas Zani berkelana ke sana ke mari dengan bebasnya.
    Waktu ada kesempatan, aku tanya pada Mas Zani soal Yeyen. Ternyata dia baru kenal Yeyen dua minggu, dan pertemuan pertamanya di kolam renang. Seminggu kemudian mereka langsung pacaran, lalu besoknya mereka melakukan hubungan badan. Mas Zani baru pertama kali itu bersenggama, sedangkan Yeyen sepertinya sudah berkali-kali, soalnya kata Mas Zani, Yeyen sudah tidak perawan lagi. Mas Zani juga bilang, “Kata Yeyen tuh si Lenny masih perawan, dianya agak menyesal juga pacaran sama Yeyen, bukan sama Lenny yang masih perawan”.

    Aku sempat ngobrol juga sama Lenny, yang sepertinya cuma bersandar saja di pinggiran. Sekitar jam 19.00 kami selesai renang dalam keadaan menggigil kedinginan, lalu setelah itu memanggil taksi Zebra, karena entah kenapa, Graha Residen hanya menyediakan taksi Zebra. Tidak kuduga, ternyata taksinya lama sekali datangnya, kami ngobrol-ngobrol lama juga. Mas Zani asyik ngobrol dengan Yeyen, sedangkan Lenny yang kelihatannya dicuekin mulai kuajak ngobrol.

    Ternyata Lenny ini masih SMU kelas 2. Selain suka rokok, katanya dia juga suka minuman keras. Hmm, aku jadi mikir apakah dia juga suka obat-obatan dan.., free seks. Tapi aku tidak berani menanyakannya, terlalu dini ah. cuma yang aku perhatikan, Lenny agak tersipu-sipu menjawab pertanyaanku, dan dia tidak berani menatapku secara langsung, malah sepertinya menunduk terus. Good sign, pikirku. Mungkin sekitar setengah jam kemudian baru taksinya datang. Lama banget sich.. Akhirnya sampai juga, setelah mengantarkan Yeyen dan Lenny, saya dan Mas Zani pulang. Aku asyik memikirkan pengalamanku barusan, memperhatikan orang melakukan hubungan seks.

    Sekitar jam 20.30, Mas Zani mengajakku pergi, mau mengembalikan VCD. Ya sudah, aku ikut saja, siapa tahu diajak makan juga, berhubung perutku mulai lapar nich. Walau naik sepeda motor, kami tidak pakai helm, katanya tempat persewaan VCD-nya dekat. Eh, ternyata memang dekat sekali dan tidak melewati jalan raya. Setelah itu Mas Zani bertanya, “Don, aku mau mampir ke tempat Yeyen nich.. Kamu ikut tidak?”. Walau perutku agak keroncongan, berhubung aku “kangen” juga sama Lenny, pingin ngerjain gitu, akhirnya aku setuju.
    Sesampainya di sana, ternyata banyak orang nongkrong di ruang tamu rumah kos itu. Uniknya, yang cewek cuma dua, Yeyen dan Lenny, lainnya ciban semua, ada 4 orang. Aneh sekali, pikirku. Begitu sampai, Mas Zani langsung berciuman dengan Yeyen lalu mereka langsung masuk kamar dan.., klik, Aduh.., mau ngapain lagi mereka, gila bener..

    Terpaksa, karena aku sudah telanjur di sana, aku ngobrol dengan orang-orang di situ. Aku sebetulnya lebih suka mengobrol dengan Lenny, tapi sayang teman-temannya selalu menggangguku. “Ih kamu ganteng dech, kita main seks yuk..”. Agak senang juga aku dipuji tapi main seks dengan mereka, mimpi saja tidak. Lalu akhirnya aku punya ide, aku tanya Lenny, “Kamu satu kamar sama Yeyen, yach?” “Tidak tuch, aku sewa kamar sendiri”, jawabnya. Kebetulan, pikirku, “Hmm.., di mana tuch, aku lihat dong..”

    Sesuai perkiraanku, akhirnya dia mau menunjukkan kamarnya. Kamarnya persis di depan kamar Yeyen, dan lebih tidak rapi dibanding kamar Yeyen. Sambil pura-pura mengamati kamarnya, aku lalu menutup pintu agar dia tidak curiga, aku langsung bertanya padanya, “Kamu suka tinggal di sini?”. Lalu akhirnya kami ngobrol dan bercanda di atas ranjangnya, bersandar di tembok. Seperti yang kuduga, dia masih terus menunduk tersipu-sipu menjawab pertanyaanku, tidak seperti waktu dia ngobrol dengan teman-temannya, menguatkan istingku kalau sebetulnya dia suka padaku.

    Di tengah-tengah obrolan, aku tanya, “Lenny, kamu kan suka ngerokok, apa tidak dimarahi cowokmu tuh?”. Dia tertawa kecil, lalu menjawab, “Suka-suka aku dong, Don, aku belum punya cowo tuch..”. Ahh.., kebetulan sekali, pikirku, lalu aku menggodanya, “Ah masa..? Aku tidak percaya ah.., Kamu kan cantik.., pasti banyak cowok yang ngelirik kamu..” Rupanya dia agak GR juga dengan pujianku, lalu sambil ketawa lirih dia cuma bilang, “Ah kamu..”. “Iya bener lhoh..” Dia diam sebentar, lalu dia menoleh ke arahku, dan mulai memandangku. Aku menatapnya, lalu aku tersenyum. Kami berpandangan beberapa saat. Hmm, betapa cantiknya dia, pikirku.

    Merasa ada kesempatan, segera kuarahkan tangan kananku pelan-pelan ke tangan kirinya, lalu kugenggam dan kuremas pelan-pelan. Dia agak kaget dan menghela napas panjang, seolah tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Pelan-pelan pula, badanku kuhadapkan ke arahnya dan kutaruh tangan kiriku di pinggangnya, lalu wajahku mulai mendekati wajahnya. Aku mulai bisa merasakan nafasnya yang semakin cepat dan tidak beraturan. Akhirnya dia memejamkan mata, lalu kucium lembut keningnya, lalu pipi kanannya, lalu pipi kirinya. Aku terdiam sebentar. Matanya masih tetap terpejam. lalu perlahan-lahan kucium bibirnya yang lembut itu. Dia membalas dengan menggerak-gerakkan mulutnya. Aku memeluknya, lalu kami saling mengulum bibir, lalu memainkan lidah.., Hmm nikmat sekali.

    Beberapa saat kemudian, aku hentikan permainan bibir itu lalu aku terdiam. Matanya terbuka, tatap matanya serasa seperti bertanya-tanya. Lalu aku menciumi bibirnya lagi sambil pelan-pelan merebahkannya di atas ranjang. Dia menurut saja, membuatku semakin bernafsu. Lalu aku cium dia pelan-pelan sedangkan tanganku meraba-raba dan meremas-remas payudaranya yang cukup besar, “Emhh.., Emh..” dia cuma melenguh saja membuat gairahku menjadi semakin naik saja.
    Segera kusingkapkan T-Shirt yang dipakainya ke atas, lalu kuciumi dan kujilati dadanya yang aduhai itu, “Ahh.., Emhh..”, badannya bergoyang-goyang kecil, membuat nafsuku semakin naik. Waktu mau kubuka kancing BH-nya, dia mengangkat badannya sehingga memudahkanku, lalu kujilati putingnya dan kuhisap-hisap selama beberapa menit, “Emhh.., Ahh.., Ahh..”

    Aku sudah tidak tahan lagi, langsung kubuka celana panjangnya lalu kupelorotkan, kujilati kemaluannya dari luar sebentar, lalu segera kupelorotkan juga. Hmm.., ternyata rambut kemaluannya masih lebat, jauh lebih lebat daripada kakaknya, sedangkan lubang kemaluannya masih sangat rapat. Ahh.., baru percaya aku kalau dia masih perawan. Kujilati clitoris vaginanya yang sangat menggairahkan itu, dia terengah-engah, “Ahh.., Ahh..”, dan sesekali tubuhnya menggelinjang. Kuhisap-hisap dan kujilati bagian dalam lubangnya. Hmm.., nikmat sekali, cairan yang keluar langsung saja kutelan.

    Aku sudah tidak sabar lagi, tidak sampai 5 menit aku menjilati vaginanya, segera kupelorotkan celana panjang dan celana dalamku lalu pelan-pelan kumasukkan penisku ke dalam lubang senggama Lenny. Uhh.., agak sulit juga tapi berhubung cairannya sudah cukup banyak, akhirnya masuk juga, kurasakan ada sesuatu yang menghalangi laju penisku, sepertinya selaput daranya namun kuteruskan saja pelan-pelan.

    “Aduh!”, pekiknya. “Lenny, sakit ya? Tahan ya..”, Aku terdiam sebentar, menunggu agar sakitnya hilang, lalu mulai kumasukkan lebih dalam lagi pelan-pelan. “Lenny, masih sakit..?”. “Iya.., tapi sudah agak.., ahh..”, Pelan-pelan sekali kumaju-mundurkan penisku di dalam vaginanya. Hmm, benar-benar nikmat.., benar-benar rapat sekali vaginanya, menjepit penisku yang merasa keenakan. “Ahh.., ahh.., hmmhh..” akhirnya dia mulai merasa nikmat, aku jadi berani mempercepat gerakanku. “Ahh.., Ahh.., Ahh..” Mungkin cuma sekitar 3 menit, dia sudah mulai terangsang sekali.”Ah.., Don.., Ah Don.., Aku sepertinya mau.., ahh..”, Sepertinya dia mau orgasme, akhirnya kupercepat gerakanku dan, “Ahh.., Ahh nikmat Don.., aduh nikmat sekali Don..”. Aku belum orgasme, lalu kutarik penisku dan kugesek-gesek sendiri dengan cepat dengan tanganku. “Ahh..”, akhirnya aku orgasme juga, spermaku bertebaran di perutnya.

    Setelah kami membersihkan spermaku, kami mandi bersama-sama, setelah itu kami ngobrol-ngobrol juga di atas ranjang, sambil bermesraan layaknya orang pacaran. Tapi sungguHPun begitu, aku tidak mencintai dia sama sekali dan tidak menganggapnya sebagai pacar, walaupun sebetulnya aku sendiri juga belum punya pacar, jahat juga yah aku. Beberapa puluh menit kemudian pintu diketuk oleh Mas Zani dan akhirnya kamipun pulang, sampai di rumah sudah sekitar jam 11 malam. Begitu melelahkan.., namun begitu nikmat. Aku baru bisa tidur sekitar jam 2 pagi, entahlah, membayangkan macam-macam.

    Semenjak itu aku sudah tidak pernah lagi bertemu dengannya, pernah aku mencoba meneleponnya tapi karena ada gangguan Telkom (suara tidak jelas, crosstalk) maka terpaksa tidak dilanjutkan, dan aku tidak pernah meneleponnya lagi. Tanggal 26 Mei kemarin aku pulang ke kota K. Mungkin nanti awal Juni aku mau ke Surabaya lagi, bertemu dengan dia. “Ahh..”, akan kunantikan saat itu.

  • Cerita Panas Pesona Ngentot Gadis Pemijat

    Cerita Panas Pesona Ngentot Gadis Pemijat


    413 views

    Cerita Panas Pesona Ngentot Gadis Pemijat

    Namaku Andra, sebut saja Andra **** (edited). Aku kuliah di sebuah PTS di Bandung sebuah kota metropolis yang gemerlap, yang identik dengan kehidupan malamnya. Di tengah kuliahku yang padat dan sibuk, aku mempunyai suatu pengalaman yang tak akan kulupakan pada waktu aku masih semester satu dan masih berdampak sampai sekarang. Latar belakangku adalah dari keluarga baik-baik, kami tinggal di sebuah perumahan di kawasan ****** (edited) di Bandung. Sebagai mahasiswa baru aku termasuk aktif mengikuti kegiatan kemahasiswaan, kebetulan aku menyukai kegiatan outdoor ataupun alam bebas. Aku memang mewarisi bakat ayahku yang merupakan seorang pemburu yang handal, hal inilah yang membuat darah petualangku menggelora.

    Memasuki pertengahan semester aku mulai kenal dan akrab dengan seorang cewek, sebut saja namanya Ema. Aku tertarik padanya karena ia orangnya juga menyukai kegiatan alam bebas, berburu misalnya. Awalnya sih aku agak heran juga kenapa cewek cantik seperti dia suka “mengokang” senapan yang notabene berat dan kemudian menguliti binatang hasil buruannya dengan beringas. Hemmm… kegaranganya bak macan betina inilah yang aku sukai, aku suka melihat buah dadanya yang menantang dibalut baju pemburu yang ketat dan kebiasaannya menggigit bibir bawahnya ketika mengokang senapan.

    Bibir merah yang seksi itu sering mengundang gairahku. Karena ada kecocokan, kami akhirnya jadian juga dan resmi pacaran tepatnya pada waktu akhir semester pertama. Kami berdua termasuk pasangan yang serasi, apa mau dikata lagi tubuhku yang tinggi tegap dapat mengimbangi parasnya yang langsing dan padat. Pacaran kami pada awalnya normal-normal saja, yahhh.. sebatas ciuman saja biasa kan? Dan aku melihat bahwa Ema itu orangnya blak-blakan kok.

    Semuanya berubah setelah pengalamanku di sebuah panti pijat. Hari itu Minggu 12 April 1999 aku masih ingat betul hari itu, aku dan ayahku berburu di sebuah gunung di daerah Jatiluhur tentu saja setelah berburu seharian badan terasa capai dan lemah. Malamnya aku memutuskan untuk mencari sebuah panti pijat di Bandung, dengan mengendarai Land Rover-ku aku mulai menyusuri kota Bandung. Dan akhirnya tempat itu kutemukan juga, aku masuk dan langsung menemui seorang gadis di meja depan dan aku dipersilakan duduk dulu. Tak lama kemudian muncullah seorang gadis yang berpakaian layaknya baby sitter dengan warna putih ketat dan rok setinggi lutut.

    Wuahh… cantik juga dia, dan pasti juga merangsang libidoku. Dengan ramah ia mempersilakan aku masuk ke ruang pijat, ruangan selebar 4×4 dengan satu ranjang dan sebuah kipas angin menggantung di atasnya. “Bajunya dibuka dulu ya Bang…” katanya dengan tersenyum manis, “OK lahh..” sambutku dengan semangat. “Tapi kipasnya jangan dinyalain yah, dingin nih..” dia pun mengangguk tanda paham akan keinginanku. Kubuka sweaterku dan aku pun berbaring, aku memang sengaja tidak memakai t-shirt malam itu. “Celananya sekalian dong Bang,” katanya. “Emmm.. Lo yang bukain deh, males nih..” dia pun tersenyum dan agaknya memahami juga hasratku. “Ahh.. kamu manja deh,” katanya, dengan cekatan tangannya yang mulus dan lentik itu pun mencopot sabuk di pinggangku kemudian melucuti celanaku. Wah dia kelihatannya agak nafsu juga melihat tubuhku ketika hanya ber-CD, terlihat “adik”-ku manis tersembul dengan gagahnya di dalam sarangnya.

    “Eh.. ini dicopot sekalian ya? biar enak nanti mijitnya!”
    “Wahhh… itu nanti aja deh, nanti malah berdiri lagi,” kataku setengah bercanda.
    Lagi-lagi ia menyunggingkan senyum manisnya yang menawan. Kemudian aku tengkurap, ia mulai memijitku dari punggung atas ke bawah.
    “Wah.. pijitanmu enak ya?” pujiku.
    “Nanti kamu akan merasakan yang lebih enak lagi,” jawabnya.
    “Oooh jadi servis plus nih?” tanyaku.
    “Mmm… buatmu aku senang melakukannya,” pijatannya semakin ke bawah dan sekarang tangannya sedang menari di pinggangku, wah geli juga nih, dan kemaluanku pun mulai “bereaksi kimia”.
    “Eh.. balikkan badan dong!” pintanya.
    “Ok.. ok..”
    Aku langsung saja berbaring. Tentu saja batanganku yang ereksi berat terlihat semakin menggunung.
    “Wahh.. belum-belum saja sudah ngaceng yaa..” godanya sambil tangannya memegang kemaluanku dengan jarinya seakan mengukur besarnya.
    “Habisnya kamu merangsang sihh..” kataku.
    “Nah kalo begitu sekarang waktunya dicopot yah? biar enak itu punyamu, kan sakit kalau begitu,” pintanya.
    “OK, copot aja sendiri,” aku memang udah nggak tahan lagi, abis udah ereksi penuh sih.

    Dengan bersemangat gadis itu memelorotkan CD-ku, tentu saja kemaluanku yang sudah berdiri tegak dan keras mengacung tepat di mukanya.
    “Ck.. ck.. ckk.. besar amat punyamu, berapa kali ini kamu latih tiap hari,” katanya sembari tertawa.
    “Ah… emangnya aku suka ‘lojon’ apa…” jawabku.
    Ia menyentuh kepala kemaluanku dengan penuh nafsu, dan mengelusnya. Tentu saja aku kaget dan keenakan, habis baru pertama kali sih.
    “Ahhh.. mau kau apakan adikku?” tanyaku.
    “Tenanglah belum waktunya,” ia mengelusnya dengan lembut dan merabai juga kantong zakarku.
    “Wah.. hh.. jangan berhenti dulu, aku mau keluar nih,” sergahku.
    “Haha.. baru digitukan aja udah mau keluar, payah kamu,” ledeknya.
    “Entar lagi lah, pijitin dulu badanku,” kataku.
    “OK lah…”
    Ia mulai mengambil minyak pijat dan memijat tangan dan dadaku. Wahhh ia naik dan duduk di perutku. Sialan! belahan dadanya yang putih mulus pun kelihatan, aku pun terbelalak memandangnya.
    “Sialan! montok bener tetekmu,” dan tanganku pun mulai gerilya meraba dan memeganginya, ia pun mengerjap, pijatannya pun otomatis terhenti.

    Setelah agak lama aku merabai gunungnya ia pun turun dari perutku, ia perlahan membuka kancing bajunya sampai turun ke bawah, sambil menatapku dengan penuh nafsu. Ia sengaja mempermainkan perasaanku dengan agak perlahan membuka bajunya.
    “Cepatlahh.. ke sini, kasihan nih adikku udah menunggu lama…” aku sambil mengocok sendiri kemaluanku, habis nggak tahan sih.
    “Eits… jangan!” ia memegang tanganku.
    “Ini bagianku,” katanya sambil menuding adikku yang seakan mau meledak.
    Tak lama ia kemudian mengambil minyak pijat dan mengoleskan ke kemaluanku.
    “Ehmm… ahhh…” aku pun menggelinjang, namun ia tak peduli, malah tangannya semakin cekatan memainkan kemaluanku.
    “Augghh… aku nggak tahan nihhh…”
    Kemudian ia mulai menghisapnya seraya tangannya mengelus buah zakarku.
    “Aduhhh… arghh.. aku mau keluar nihhh!”
    Kemudian kemaluanku berdenyut dengan keras dan akhirnya “Croottt…” maniku memancar dengan derasnya, ia terus mengocoknya seakan maniku seakan dihabiskan oleh kocokannya.
    “Aahhh…” aku melenguh panjang, badanku semua mengejang. Ia kelihatanya suka cairanku, ia menjilatinya sampai bersih, aku pun lemas.
    “Gimana… enak kan? tapi kamu payah deh baru digituin dikit aja udah ‘KO’,” godanya.
    “Habbiss kamu gitukan sih, siapa tahannn…”
    Ia memakluminya dan agaknya tahu kalau aku baru pertama kalinya.
    “Tuh kan lemes, punyamu mengkerut lagi,” sambil ia memainkan kemaluanku yang sudah nggak berdaya lagi.
    “Entar ya, nanti kukerasin lagi,” katanya.
    “Hufff… OK lah,” kataku pasrah.

    Dengan masih menggunakan bra dan CD ia mulai memijatku lagi. Kali ini ia memijat pahaku dan terkadang ia menjilati kemaluanku yang sudah lemas.
    “Ihhh… lucu ya kalau sudah lemes, kecil!” ia mengejekku.
    Aku yang merasa di-”KO”-nya diam saja. Sembari ia memijat pahaku, dadanya yang montok kadang juga menggesek kakiku, wahhh kenyal sekali!
    “Kenapa liat-liat, napsu ya ama punyaku?” katanya.
    “Wahhh, bisa-bisa adikku terusik lagi nih,” jawabku.
    Aku sambil mengelus dan mengocok sendiri kemaluanku sembari melihat geliat gadis itu memijatku.
    “Wah dasar tukang coli kamu…” serangnya.
    “Biar aja, akan kubuktikan kalo aku mampu bangkit lagi dan meng-’KO’ kamu,” kataku dengan semangat.
    Benar juga kemaluanku yang tadinya tidur dan lemas lambat laun mulai naik dan mengeras.
    “Tuh.. berdiri lagi,” katanya girang.
    “Pasti!” kataku.

    Aku tidak melewatkan kesempatan itu, segera kuraih tangannya dan aku segera menindihnya.
    “Uhhh.. pelan dikit doong!” katanya.
    “Biar aja, habis kamu napsuin sih…” kataku.
    Dengan cepat aku melucuti BH dan CD-nya. Sekarang kelihatan semua gunung kembarnya yang padat berisi dengan puting merahnya serta lubang kemaluannya yang bagus dan merah. Langsung saja kujilati puncak gunungnya dengan penuh nafsu, “Emmm.. nikmat, ayo terusin..” desahnya membuatku berdebar. Kulihat tangannya mulai merabai kemaluannya sendiri sehingga kelihatan basah sekarang. Tandanya ia mulai bernafsu berat, aku pun mengambil alih tangannya dan segera menjulurkan lidahku dan kumainkan di lubang kemaluannya yang lezat. Ia semakin menjadi, desahannya semakin keras dan geliat tubuhnya bagaikan cacing, “Ahhh… uhhh ayo lah puaskan aku…” ia pun mulai menggapai batang kemaluanku yang sudah keras, “Ayolah masukkan!” tanpa basa-basi aku pun menancapkan barangku ke lubang kemaluannya.
    “Slep.. slepp!”
    “Arghh… ihhh… ssshhh,” ia agak kaget rupanya menerima hujaman pusakaku yang besar itu.
    “Uahhh.. ennakkk…” katanya.

    Mulutnya megap-megap kelihatan seperti ikan yang kekurangan air, aku pun semakin semangat memompanya. Tapi apa yang terjadi karena terlalu bernafsunya aku tidak bisa mengontrol maniku. “Heggh… hegghh… ahhh, ehmm… aku mau keluar lagi nihh!” kataku.
    “Sshhh… ahhh ah… payah lo, gue tanggung ni… entar donk!”
    “Aku sudah tidak tahan lagii…”
    Tak lama kemudian batang kemaluanku berdenyut kencang.
    “Aaaku keluarrr…” erangku.
    “Ehhh… cepat cabut!” sergapnya.
    Aku pun mencabut batang kemaluanku dan ia pun segera menghisapnya.
    “Ahhh… shhh…!”
    “Crot… crottt… crottt” memancar dengan derasnya maniku memenuhi mulutnya dan berceceran juga di gunung kembarnya yang masih tegang.
    “Ugghh…” aku pun langsung tumbang lemas.
    “Aduh… gimana sih, aku nanggung nihh… loyo kamu.”
    Aku sudah tidak bisa berkata lagi, dengan agak sewot ia berdiri.
    “Ahhh… kamu menghabiskan cairanku yaaa.. lemes nihh,” kataku.
    “Udah lahh.. aku pergi,” katanya sewot.
    “Ya udah sana… thanks ya Sayang…” ia pun berlalu sambil tersenyum.

    Pengalaman malam itu seakan telah merubah pandanganku tentang cewek. Aku berpikir semua cewek adalah penyuka seks dan penyuka akan kemaluan lelaki. Atas dasar itulah kejadian ini terjadi. Siang itu aku bertemu sama pacarku.
    “Ehhh.. abis ngapain kamu Ndra? kok kelihatanya lemes amat? sakit yah…” tanyanya.
    “Ah nggak kok, kemaren abis berburu sama ayahku,” jawabku singkat.
    “Ohh.. gitu ya,” ia kelihatannya mulai paham.
    Memang siang itu mukaku kelihatan kusut, sayu dan acak-acakan. Pokoknya kelihatan sekali deh kalau orang habis ML jor-joran, tapi kelihatannya “Yayang”-ku tidak curiga.
    “Eh besok hari Rabu kan kita nggak kuliah,” katanya.
    “Iya memang enggak..” jawabku.
    “Kita berenang yuk?” ajaknya.
    “Emm… OK jadi!” jawabku mantap.
    Yayangku memang hobi berenang sih, jadi ya OK saja deh. Karena hari itu sudah sore, waktu menunjukkan pukul 04:55, aku segera menggandeng tangan Ema, “Ayo lah kita pulang, yok kuantar..” dia pun menurut sambil memeluk tanganku di dadanya.
    Malamnya aku tidak bisa tidur, gadis pemijat itu pun masih berputar di otakku dan tidak mau pergi. Bayangan-bayangan gerakan tangannya yang luwes serta hisapan kenikmatan yang kurasakan waktu itu tidak bisa dilupakan begitu saja dari benakku, “Sialan! bikin konak aja luh…” gerutuku. Aku pun hanya gelisah dan tidak bisa tidur, karena kemaluanku tegang terus. Aku pun berusaha melupakannya dengan memeluk guling dan berusaha untuk tidur, tetapi hangat liang kemaluannya mencengkeram kuat pusakaku masih saja menghantui pikiranku. “Ahhhh…aku nggak tahan nih…” segera kucopot celana dan CD-ku, kuambil baby oil di meja, aku pun onani ria dengan nikmatnya, “ahhh…” kugerakkan tanganku seolah menirukan gerakan tangan gadis itu sambil membayangkan adegan demi adegan kemarin malam itu. “Huff…” nafasku semakin memburu, gerakan tanganku semakin cepat dibuatnya. Kurang lebih 5 menit kemudian “Crott!” tumpahlah cairan maniku membasahi perut dan sprei sekitarku. Aku pun langsung tidur, “Zzz..”
    Paginya pukul 07:00 kakak perempuanku masuk ke kamar untuk membangunkanku. Karena kamarku tidak dikunci, betapa terbelalaknya dia ketika melihat aku tanpa celana tidur terlentang dan melihat batanganku sudah berdiri dan di perutku terdapat bekas mani yang mengering.
    “Andraaa… apa-apaan kau ini ha!” hardiknya, aku terkejut dan langsung mengambil selimut untuk menutupi batangan kerasku yang menjulang.
    “Eh … Kakak.. emm…” kataku gugup.
    “Kamu ngapain ha…? sudah besar nggak tau malu huh..!”
    Au cuek saja, malah aku langsung melepas selimut dan meraih celanaku sehingga kemaluanku yang tegang tampak lagi oleh kakakku.
    “Iiihhh… nggak tau malu, barang gituan dipamerin,” ia bergidik.
    “Biar aja… yang penting nikmat,” jawabku enteng, kakak perempuanku yang satu ini memang blak-blakan juga sih. Ia menatapnya dengan santai, kemudian matanya tertuju pada baby oil yang tergeletak di kasurku.
    “Sialan… kamu memakai baby oil-ku yah? Dasarrr!”
    Ia ngomel-ngomel dan berlalu, aku pun hanya tertawa cekikikan. “Brak!” terdengar suara pintu dibanting olehnya, “Dasar perempuan! nggak boleh liat cowok seneng,” gerutuku.
    Aku pun dengan santainya keluar kamar dan sarapan sebelum mandi, kulihat kakak perempuanku sedang lihat TV.
    “Eh… Kak minta sampoonya dan sabunnya dong!” pintaku.
    “Ogah ah… entar kamu buat macam-macam, pokoknya nggak mau,” jawabnya ketus.
    “Huhh.. weee!” aku mencibir.
    Aku langsung saja mandi dan sarapan. Sekitar pukul 08:00 kustater Land Rover kesayanganku dan langsung kupacu ke tempat Ema, mungkin ia sudah menungguku. Benar juga sampai di depan pagar rumahnya ia sudah menungguku di depan teras rumahnya.
    “Haii… kok agak terlambat sih Say?” tanyanya.
    “Eh… sori nih trouble dengan kakak perempuan,” dalihku.
    “OK lah, mari kita berangkat!”
    Kami pun langsung tancap menuju tempat tujuan kami yaitu kolam renang di kawasan Cipanas. Yah, maklum saja itu hari Rabu maka perjalanan kami lancar karena tidak terjebak macet. Kurang lebih 2 jam perjalanan santai kami sampai di tempat tersebut.
    “Eh.. yang sini sajalah, tempatnya enak loh,” pintanya.
    “Baiklah Sayaang…” kataku.
    Kami berdua langsung saja masuk.
    “Yang, aku ganti dulu yah… kamu ikut nggak?” ajaknya.
    “Yuk, sekalian saja aku juga mau ganti.”
    Di kolam renang itu paling hanya terdapat segelintir orang yang sedang berenang, karena tempat itu ramai biasanya pada hari Minggu.
    “Emmm… kita ganti baju bersama saja yah? biar asyikk..” katanya.
    Aku spontan menganggukkan kepalaku. Di dalam ruang ganti kami pun segera meletakkan tas kami dan segera melepas baju, Yayangku ganti baju terlebih dahulu. Ia mencopot dulu kaosnya, Ema memang penyuka kaos ketat dan celana jins, melihatnya melepas kaosnya aku pun hanya terpaku tak berkedip.
    “Kenapa Sayang… ayolah lepas bajumu,” katanya sambil tersenyum.
    “Habbis… aku suka memandangmu waktu begitu sih,” dan dia hanya tertawa kecil.
    Aku pun segera mencopot t-shirtku dan celana panjangku dan cuma CD yang kutinggalkan. Tanpa ragu-ragu aku pun memelorotkan CD-ku di depan pacarku karena ingin ganti dengan celana renang, “Wahhh… Yayang ni..” katanya sedikit terkejut. Rupanya ia agak kaget juga melihat batang kemaluanku yang setengah ereksi.
    “Kok tegang sih Say?” selidiknya manja.
    “Habis kamu montok sih..” jawabku seraya memakai celana renang yang super ketat.
    “Wahhh… hemmm,” goda pacarku ketika melihat kemaluanku tampak menyembul besar di balik celana renang itu, dia itu memang asyik orangnya.
    “Nahh… aku sudah beres,” kataku setelah memakai celana itu.
    “Eh.. bantu aku dong!” dia tampaknya kesulitan melepas branya.
    “Sini aku lepasin…” kataku.
    Kemudian kulepaskan branya. Astaga, sepasang daging montok dan putih terlihat jelas, hemmm spontan saja batang kemaluanku tegang dibuatnya.
    “Ah… sayang, dadamu indah sekali,” kataku sambil berbisik di belakang telinganya.
    Langsung saja ia kupeluk dari belakang dan kuciumi telinganya.
    “Eeh.. kamu ingin ML di sini yah?” jawabnya sambil memegang tengkukku.
    Aku tidak menjawab. Tanganku langsung bergerilya di kedua gunung kembarnya, kuremas-remas dengan mesra dan kupelintir lembut putingnya yang masih merah segar, “Ah… Sayang!” desahnya pendek, batang kemaluanku yang sudah tegak kugesek-gesekkan di pantatnya, wahhh.. nikmat sekali, dia masih memakai celana sih.
    “Aduh… keras sekali, Yayang ngaceng yah…” godanya.
    “Dah tau nanya.. hhh,” kataku terengah.
    Buah dadanya semakin keras saja, rupanya ia mulai terangsang dengan remasanku dan ciumanku di telinganya.
    “Ehhhmm… uhhh,” lenguhnya sambil memejamkan mata.
    Melihat gelagat tersebut aku menurunkan tanganku ke ritsleting celananya, kulepas kancingnya dan kupelorotkan ritsletingnya, ia agaknya masih agak ragu juga, terbukti dengan memegang tanganku berupaya menahan gerakan tanganku yang semakin nakal di daerah selangkanganya. Tetapi dengan ciumanku yang membabi buta di daerah tengkuknya dan remasanku yang semakin mesra, akhirnya tanganku dilepasnya, kelihatannya ia sudah terangsang berat. Tanpa basa-basi tanganku langsung menelusup ke CD-nya. Wahh… terasa bulu-bulu halus menumbuhi sekitar liang kemaluannya. Kuraba klitorisnya, “Aghhh… oouhh.. sayang kamu nakal deh,” dengusnya sambil mengerjap. Ia langsung membalikkan tubuhnya, memelukku erat dan meraih bibirku, “Cupppp…” wah ia lihai juga melakukan French Kiss. Dengan penuh nafsu ia melahap bibirku. Cewekku yang satu ini memang binal seperti singa betina kalau sudah terangsang berat.
    Agak lama kami ber-French Kiss ria, perlahan ia mulai menurunkan kepalanya dan ganti memangsa leherku, “Aahhh… geli sayang,” kataku. Rupanya debar jantungku yang menggelegar tak dirasakan olehnya. ia langsung mendorongku ke tembok, dan ia pun menciumi dadaku yang bidang dan berbulu tipis itu. “Wah… dadamu seksi yah…” katanya bernafsu. Menjulurlah lidahnya menjilati dadaku “Slurrppp…” jilatan yang cepat dan teratur tersebut tak kuasa menahan adikku kecil yang agak menyembul keluar di balik celana renangku. Jilatannya semakin lama semakin turun dan akhirnya sampai ke pusarku. Tangan pacarku kemudian merabai batang kemaluanku yang sudah keras sekali. Aku pun sangat bernafsu sekali karena mengingatkanku pada gadis panti pijat yang merabai lembut kemaluanku. “Ahhh.. Sayang…” desahku tertahan. Dengan cekatan ia memelorotkan celana renangku yang baru saja kupakai, alhasil batanganku yang keras dan panjang pun mendongak gagah di depan mukanya.
    “Ihh… gila punyamu Sayang…” katanya.
    “Ema… hisap dong Sayang!” pintaku.
    Ia agak ragu melakukan itu, maklum ia masih virgin sih. Ia belum menuruti permintaanku, ia hanya mengocok pelan namun gerakan kocokannya pun masih kaku, sangat berbeda dengan gadis pemijat tempo hari.
    “Ssshhh… uahhh…” aku pun mendesah panjang menahan kenikmatanku.
    “Sss… sayang hisap dong!”
    Aku pun menarik kepalanya dan mendekatkan bibirnya yang mungil ke kepala kemaluanku, sekali lagi ia agak ragu membuka mulut.
    “Aah… nggak mau Say, mana muat di mulutku…” jawabnya ragu.
    “Egh… tenang saja sayang, pelan-pelan lah,”
    Dia agaknya memahami gejolakku yang tak tertahan. Akhirnya ia memegang batanganku dan menjulurkan lidahnya yang mungil menjilati kepala kemaluanku.
    “Slurpp… slurpp…” sejuk rasanya.
    “Mmhhh… ahh, nah begitu Sayang… ayo teruss… ahh ssshh, buka mulutmu sayang.”
    Ia masih saja menjilati kepala dan leher kemaluanku yang mengacung menantang langit, lama-lama ia pandai juga menyenangkan lelaki, jilatannya semakin berani dan menjalar ke kantong semarku. “Ih… bau nih sayang.. tadi nggak mandi ya?” katanya menggoda ketika menjilati buah zakarku yang ditumbuhi bulu-bulu halus, aku memang merawat khusus adikku yang satu ini. “Ihh.. nggak lah sayang, kan yang penting nikmat,” kataku tertahan. Mulut mungil Ema perlahan membuka, aku pun membimbing batang kemluanku masuk ke mulutnya. “Mmhh.. eghh…” terdengar suara itu dari mulut Ema ketika batangku masuk, tampaknya ia menikmatinya. Ia pun mulai menghisapnya dengan bernafsu.
    “Slerpp.. cep..”
    “Ahhh… mmmm.. oohhh…” desahku penuh kenikmatan.
    “Mmmhh… sayang, nikmatttt sekali…” gumamku tidak jelas.
    Setelah agak lama, aku pun menarik kemaluanku dari mulut Ema. Segera kubopong tubuhnya ke bangku panjang di dalam ruang ganti. Kurebahkan badannya yang lencir dan montok di sana, dengan keadaan pusakaku yang masih mengacung, kupelorotkan celana jins Ema dengan penuh nafsu, “Syuutt…” dan tak lupa CD-nya. Ia pun tampaknya pasrah dan menikmatinya karena tangannya merabai sendiri puting susunya.
    Kemudian tampaklah lubang kemaluannya yang merah dan basah, aku pun segera mendekatkan kepalaku dan… “Slurp,” lidahku kujulurkan ke klitorisnya.
    “Hemmm… slurp…”
    “Aachhh… uhhh!” desahnya panjang menahan kenikmatan yang dirasakan tarian lidahku di kemaluannya yang sangat lincah, makanya Ema mati keenakan dibuatnya.
    “Sssh… sshhss…” desisnya bagaikan ular kobra.
    “Andraaa… aku nggak tahan lagiii…” ia menggeliat tak karuan.
    “Akuuu… nyampai nihhh…”
    Jilatanku semakin kupercepat dan kutambah ciuman mesra ke bibir kemaluannya yang harum, “Cup… cupp,” kelihatannya ia hampir mencapai puncak karena kemaluannya memerah dan banjir.
    “Sshh… aahh… oohhh Yaangg… aku keluarrr…” erangnya menahan kenikmatan yang luar biasa.
    Benar juga cairan kemaluannya membanjir menebar bau yang khas. Hemm enak, aku masih saja menjilatinya dengan penuh nafsu.
    “Aduhhh… hhh… Sayang, aku udah nihh…” katanya lemas.
    “Ma, aku masih konak nih…” kataku meminta.
    Langsung saja tanganku ditariknya dan mendudukkanku di atas perutnya, batang kemaluanku yang masih tegang menantang belum mendapat jatahnya. Langsung saja Ema mengambil lotion “Tabir Surya” dan mengolesinya ke batang kemaluanku dan ke dadanya yang montok, dan ia segera mengapitkan kedua gunung geulis-nya agar merapat. Ia mengambil lagi lotion itu, dan mengusapkan ke kemaluanku, “Ahhhh…” aku pun hanya merem-melek. Kemudian ia menarik batang kemaluanku di antara jepitan gunung kembarnya. Wahh… nikmat juga rasanya, aku pun memaju-mundurkan pantatku layaknya orang yang sedang bersetubuh.
    “Bagaimana rasanya sayang…” tanyanya manja dan memandangku sinis.
    “Aahhh… mmmm… ssss nikmat sayang…” ia pun tertawa kecil.
    Ia merapatkan lagi gunungnya sehingga rasanya semakin nikmat saja.
    “Uuahhh… nikkmattt sayangg…!” erangku.
    Ia hanya tersenyum melihat mukaku yang merah dan terengah menahan nikmat.
    “Rasain… habis kamu nakal sih…” katanya.
    “Tapi lebih… nikmat memekmu sayang.”
    “Hush…” katanya.
    Gerakanku semakin cepat, aku ingin segera mencapai puncak yang nikmat.
    “Uuhhh… uhhh… mmm… arghh…” erangku tertahan.
    Tak lama aku merasa hampir keluar.
    “Sayy… aku hampir nyampe nihh…” desahku.
    “Keluarin aja Ndra… pasti nikmatt…”
    Tak lama batang kemaluanku berdenyut dan…
    “Crottt… crutt…”
    “Uuahhh… hemmm… ssshh!” nikmat sekali rasanya.
    Spermaku memancar dengan deras dan banyak.
    “Ooohh…” gumamku.
    Spermaku memancar membasahi leher Ema yang jenjang dan mengena juga janggut dan bibirnya.
    “Ihhh… baunya aneh ya..”
    Ia mencoba membersihkan cairan kental itu dengan tangannya, aku pun turun dari atas tubuhnya. “Aahhh… nikmat Sayang…” tapi dalam hatiku aku belum puas jika belum menjebol liang kemaluan Ema. Ema pun segera membersihkan maniku yang belepotan.
    “Iihhh… kok kayak gini sih?” tanyanya penuh selidik.
    “Itu namanya cairan kenikmatan sayang…” jawabku enteng.
    “Ooo…” katanya pura-pura tahu.
    “Habis bercinta enaknya berenang yuk?” ajaknya.
    “OK,” kataku.
    Ema pun segera berpakaian renang dan aku juga. Setelah siap kami pun keluar kamar, wah ternyata di luar sepi sudah tidak ada orang lagi, padahal masih menunjukkan pukul 2:00 siang. Ternyata lama juga kami bercinta. “Byurrr…” kami berdua pun mencebur dan berenang, aku yang sudah terkuras kejantanannya semenjak kemarin malam segera ketepi dan hanya melihat Ema berenang. Gerakan renangnya yang bagai ikan duyung, dibalut baju renangnya yang seksi serta kulitnya yang putih mulus, membangkitkan lagi gairahku. Terbesit di pikiranku untuk bercinta di kolam renang, kebetulan tidak ada orang dan petugas jaganya jauh.
    “Ema sini sayang…!” panggilku.
    “OK… ada apa Ndra?”
    Ia berenang mendekat ke arahku, aku pun masuk ke air, aku langsung memeluknya dan mencium bibirnya dengan ganas.
    “Kamu membuatku nggak tahan sayang…” kataku.
    Untung saja kolam renangnya tidak dalam sehingga bisa enak kami bercinta. “Ughhh…” desahnya agak terkejut, ia pun membalas ciumanku. Aku tidak melucuti pakaian renangnya, aku cuma menyibakkan sedikit cawat bawahnya sehingga liang kemaluannya kelihatan. Uhhh, kelihatan menggairahkan sekali kemaluannya di dalam air yang jernih itu. Dengan ganas aku menciumi bibirnya yang basah serta meremas lembut dadanya yang terbalut baju renang yang tipis itu. Ema kelihatan sangat cantik dan segar dengan badan dan rambut yang basah terurai.
    “Ahhh… sayang… nanti kelihatan orang,” katanya khawatir.
    “Tenang Sayang… tak ada yang melihat kita begini…” kataku.
    “Baiklah… Ndra kubuat kamu ‘KO’ di kolam,” tantangnya.
    Ia langsung memelorotkan celana renangku, batang kemaluanku yang sudah tegang pun menyembul dan kelihatan asyik di dalam air. Ema mengocok kemaluanku di dalam air. “Mmm…” geli dan sejuk rasanya. Tanpa menunggu lama lagi aku ingin memasukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya.
    “Ema… kumasukin yah?”
    Ema pun tanpa ragu menganggukkan kepala tanda setuju.
    “Baik Sayang…”
    Kudekap erat tubuhnya agar dekat, ternyata Ema sudah membimbing batang kemaluanku masuk ke lubang kemaluannya.
    “Argghh…” ia menyeringai ketika kepala kemaluanku menyentuh bibir kemaluannya.
    Aku pun segera mengangkat Ema ke pinggir kolam dan kubaringkan dia, kutekuk lututnya sehingga lubang kemaluannya kelihatan menganga.

    Baca Juga : ML Sama Tetangga Aku Puasss

    “Siap Sayang…”
    Aku mulai memasukkan sedikit.
    “Uhhhh…” padahal baru kepalanya saja yang masuk.
    “Aahhh.. Sayang, punyamu terlalu besarr…”
    Aku pun segera menekan lagi dan akhirnya “Blesss…” seluruhnya bisa masuk.
    “Uhhh… ahhh… mmmhhh,” erangnya menahan gesekanku.
    “Sshhh… ssss, enak kan Sayyy…” kataku terengah.
    “Huuff… uhhh… ayoo terus Ssayy… ennnakk…”
    Terdengar bunyi yang tak asing lagi, “Crep.. crepp… sslepp…” asyik kedengarannya, aku semakin giat memompanya. Kemudian aku ingin ganti posisi, aku suruh Ema menungging.
    “Ayolah Sayang… puaskan aku…”
    Ia pun menungging dengan seksinya, terlihat lubang kemaluannya merekah, menarik untuk ditusuk. “Sleppp…” batang kemaluanku kumasukkan.
    “Ahhh.. ssss… ahhh…” desahnya penuh kenikmatan.
    Nafasnya semakin memburu.
    “Huff… ehhh… mmm…” aku terengah.
    Kupercepat gerakanku, “Slep… slep.. slep.. slep…”
    “Ahhh… Ssayangg… bentar lagi aku nyampe nihh…” kataku terburu.
    “Aakuu… jugaa…”
    Himpitan liang kemaluan Ema yang kencang dan basah membuat maniku tak kuasa lagi untuk keluar, dan akhirnya Ema pun mencapai puncaknya.
    “Ooohhh… akuu lagi Sayanggg…”
    Cairan kemaluannya pun membanjir, hal ini semakin membuatku juga tidak tahan.
    “Aaahhh… aku juga Sayangg!” erangku penuh kenikmatan.
    “Cepat cabut… keluarin di luarr…!” sergahnya.
    Dengan cepat segera kucabut kemaluanku, Ema pun tanggap ia pun memegangnya dan mengocoknya dengan cepat.
    “Aauuhhh! nikmattt!”
    “Crut…” spermaku pun keluar.
    “Eerghhh… ahh…” tapi sedikit, maklum terforsir.
    “Aahh… kok sedikit Sayanggg…” katanya meledek.
    “Eemmhh… ah… habis nih cairanku…”
    Aku pun lemah tak berdaya dan ia pun berbaring di pangkuanku. Aku mengelus rambutnya yang basah, kukecup keningnya, “Cup! I love you Sayang…”
    Sejak itulah kami sering melakukannya, baik di mobil maupun pada di sebuah gubuk di hutan kala kami berburu bersama. Dalam hatiku aku berkata, gadis pemijatlah yang membuatku jadi begini, membuatku menjadi begini, membuatku menjadi “bercinta”. Yah…!

  • Cerita Panas Diana Teman Seks Ku

    Cerita Panas Diana Teman Seks Ku


    329 views

    Cerita Panas Diana Teman Seks Ku

    Memori yang tak dapat kulupakan. Namaku Ray, aku bekerja di sebuah harian ibukota. Baiklah ceritanya begini… “Mas Ray…, aahh…, mmhhaahh…, Aahh…” Dia kelojotan. Kurasakan lubang kemaluannya hangat, menegang dan mengejut-ngejut menjepit batang kemaluanku.
    “aahh…, gila…, Ini nikmat sekali…” Teriakku.

    Malam itu tanggal 2 Juni 1999 sekitar pukul 21.30. Aku di dalam mobilku sedang keliling-keliling kota Jakarta. Rencananya aku hendak meliput persiapan kampanye partai-partai yang katanya sudah ada di seputar HI. Aneh, kampanye resminya besok, tapi sudah banyak yang bercokol di putaran HI sejak malam ini. Kelihatannya mereka tidak mau kalah dengan partai-partai lain yang kemarin dan hari ini telah memanjat patung selamat datang, memasang bendera mereka di sana.

    Tercatat pp, PND, PBB, PKB, PAN dan PK telah berhasil. Dengan korban beberapa orang tentu saja. Entah apa yang dikejar mereka, para simpatisan itu. Kebanggaan? Atau sebuah ketololan. Kalau ternyata mereka tewas atau cedera, berartikah pengorbanan mereka? Apakah para ketua partai itu kenal sama mereka? Apakah pemimpin partai itu menghargai kenekadan mereka? Lho, kok aku bicara politik. Biarinlah. Macam-macam saja ulah mereka, maklumlah sudah saat kampanye terakhir buat partai-partai di Jakarta ini.

    Di depan kedutaan Inggris aku parkirkan mobilku, bersama banyak mobil lainnya. Memang aku lihat ada beberapa kelompok, masing-masing dengan bendera partai mereka dan atribut yang bermacam-macam. Aku keluarkan kartu persku, tergantung di leher. Juga Nikon, kawan baik yang menjadi sumber nafkahku. Aku mendekati kerumunan simpatisan partai. Bergabung dengan mereka. Berusaha mencari informasi dan momen-momen penting yang mungkin akan terjadi.

    Saat itulah pandanganku bertemu dengan tatap mata seorang gadis yang bergerombol dengan teman-temannya di atap sebuah mini bus. Wajahnya yang cantik tersenyum kepadaku. Gadis itu memakai kaos partai yang mengaku reformis,—aku rahasiakan saja baiknya—yang telah dipotong sedikit bagian bawahnya, sehinggs seperti model tank top, sedangkan bawahannya memakai mini skirt berwarna putih. Di antara teman-temannya, dia yang paling menonjol. Paling lincah, paling menarik.

    “Mas, Mas wartawan ya?” katanya kepadaku.
    “Iya”.
    “Wawancarai kita dong”, Salah seorang temannya nyeletuk.
    “Emang mau?”.
    “Tentu dong. Tapi photo kita dulu…”
    Mereka beraksi saat kuarahkan kameraku kepada mereka. Dengan lagak dan gaya masing-masing mereka berpose.
    “Kenapa sudah ada di sini, sih? Bukankah ____ (nama partai) baru besok kampanyenya?”.
    “Biarin Mas, daripada besok dikuasai partai lain?”.
    “Memang akan terus di sini? Sampai pagi?”.
    “Iya, demi ____ (nama partai), kami rela begadang semalaman.”
    “Hebat.”
    “Mas di sini aja, Mas. Nanti pasti ada lagi yang ingin manjat tugu selamat datang.” Kata gadis yang menarik perhatianku itu.

    Aku pun duduk dekat mereka, berbincang tentang pemilu kali ini. Harapan-harapan mereka, tanggapan mereka, dan pendapat mereka. Mereka lumayan loyal terhadap partai mereka itu, walaupun tampak sedikit kecewa, karena pemimpin partai mereka itu kurang berani bicara. Padahal diproyeksikan untuk menjadi calon presiden. Aku maklum, karena tahu latar belakang pemimpin yang mereka maksudkan itu.

    “Eh, nama kalian siapa?” Tanyaku, “Aku Ray.”
    “Saya Diana.” Kata cewek manis itu, lalu teman-temannya yang lain pun menyebut nama. Kami terus bercakap-cakap, sambil minum teh botol yang dijual pedagang asongan.

    Waktu terus berlalu. Beberapa kali aku meninggalkan mereka untuk mengejar sumber berita. Malam itu bundaran HI didatangi Kapolri yang meninjau dan ‘menyerah’ melihat massa yang telah bergerombol untuk pawai dan kampanye, karena jadwal resminya adalah pukul 06.00 – 18.00. Saat aku kembali, gerombolan Diana masih ada di sana.

    “Saya ke kantor dulu ya, memberikan kaset rekaman dan hasil photoku. Sampai ketemu.” Pamitku.
    “Eh, Mas, Mas Ray! Kantornya “x” (nama koranku), khan. Boleh saya menumpang?” Diana berteriak kepadaku.
    “Kemana?”
    “Rumah. Rumah saya di dekat situ juga.”
    “Boleh saja.” Kataku, “Tapi katanya mau tetap di sini? Begadang?”
    “Nggak deh. Ngantuk. Boleh ya? Gak ada yang mau ngantarin nih.”
    Aku pun mengangguk. Tapi dari tempatku berdiri, aku dapat melihat di dalam mini bus itu ada sepasang remaja berciuman.

    Benar-benar kampanye, nih? Sama saja kejadian waktu meliput demontrasi mahasiswa dulu. Waktu teriak, ikutan teriak. Yang pacaran, ya pacaran. (Ini cuma sekedar nyentil, lho. Bukan menghujat. Angkat topi buat gerakan mahasiswa kita! Peace!) Diana menggandengku. Aku melambai pada rekan-rekannya.
    “Diana! Pulang lho! Jangan malah…” Teriak salah seorang temannya. Diana cuma mengangkat tinjunya, tapi matanya kulihat mengedip.

    Lalu kami pun menuju mobilku. Dengan lincah Diana telah duduk di sampingku. Mulutnya berkicau terus, bertanya-tanya mengenai profesiku. Aku menjawabnya dengan senang hati. Terkadang pun aku bertanya padanya. Dari situ aku tahu dia sekolah di sebuah SMA di daerah Bulungan, kelas 2. Tadi ikut-ikutan teman-temannya saja. Politik? Pusing ah mikirinnya. Usianya baru 17 tahun, tapi tidak mendaftar pemilu tahun ini. Kami terus bercakap-cakap. Dia telah semakin akrab denganku.

    “Kamu sudah punya pacar, belum?” Tanyaku.
    “Sudah.” Nadanya jadi lain, agak-agak sendu.
    “Tidak ikut tadi?”
    “Nggak.”
    “Kenapa?”
    “Lagi marahan aja.”
    “Wah.., gawat nih.”
    “Biarin aja.”
    “Kenapa emangnya?”
    “Dia ketangkap basah selingkuh dengan temanku, tapi tidak mengaku.”
    “Perang, dong?”
    “Aku marah! Eh dia lebih galak.”
    “Dibalas lagi dong. Jangan didiemin aja.”
    “Gimana caranya?” Tanyanya polos.
    “Kamu selingkuh juga.” Jawabku asal-asalan.
    “Bener?”
    “Iya. Jangan mau dibohongin, cowok tu selalu begitu.”
    “Lho, Mas sendiri cowok.”
    “Makanya, aku tak percaya sama cowok. Sumpah, sampai sekarang aku tak pernah pacaran sama cowok. Hahaha.”
    Dia ikut tertawa.

    Aku mengambil rokok dari saku depan kemejaku, menyalakannya. Diana meminta satu rokokku. Anak ini badung juga. Sambil merokok, dia tampak lebih rileks, kakinya tanpa sadar telah nemplok di dashboardku. Aku merengut, hendak marah, tapi tak jadi, pahanya yang mulus terpampang di depanku, membuat gondokku hilang. Setelah itu aku mulai tertarik mencuri-curi pandang. Diana tak sadar, dia memejamkan mata, menikmati asap rokok yang mengepul dan keluar melalui jendela yang terbuka. Gadis ini benar-benar cantik. Rambutnya panjang. Tubuhnya indah. Dari baju kaosnya yang pendek, dapat kulihat putih mulus perutnya. Dadanya mengembang sempurna, tegak berisi. Tanpa sadar penisku bereaksi. Aku menyalakan tape mobilku. Diana memandangku saat sebuah lagu romantis terdengar.

    “Mas, setelah ini mau kemana?”
    “Pulang. Kemana lagi?”
    “Kita ke pantai saja yuk. Aku suntuk nih.” Katanya menghembuskan asap putih dari mulutnya.
    “Ngapain”
    “Lihat laut, ngedengerin ombak, ngapain aja deh. Aku males pulang jadinya. Selalu ingat Ipet, kalau aku sendirian.”
    “Ipet?”
    “Pacarku.”
    “Oh. Tapi tadi katanya ngantuk?”
    “Udah terbang bersama asap.” Katanya, tubuhnya doyong ke arahku, melingkarkan lengan ke bahuku, dadanya menempel di pangkal tangan kiriku. Hangat.
    “Bolehlah.” Kataku, setelah berpikir kalau besok aku tidak harus pagi-pagi ke kantor. Jadi setelah mengantar materi yang kudapat kepada rekanku yang akan membuat beritanya, aku dan Diana menuju arah utara. Ancol! Mana lagi pantai di Jakarta ini. Aku parkirkan mobil Kijangku di pinggir pantai Ancol. Di sana kami terdiam, mendengarkan ombak, begitu istilah Diana tadi. Sampai setengah jam kami hanya berdiam. Namun kami duduk telah semakin rapat, sehingga dapat kurasakan lembutnya tubuh yang ada di sampingku.
    Tiba-tiba Diana mencium pipiku.
    “Terima kasih, Mas Ray.”
    “Untuk apa?”
    “Karena telah mau menemani Diana.”

    Aku hanya diam. Menatapnya. Dia pun menatapku. Perlahan menunduk. Kunikmati kecantikan wajahnya. Tanpa sadar aku raih wajahnya, dengan sangat perlahan-lahan kudekatkan wajahku ke wajahnya, aku cium bibirnya, lalu aku tarik lagi wajahku agak menjauh. Aku rasakan hatiku tergetar, bibirku pun kurasakan bergetar, begitu juga dengan bibirnya. Aku tersenyum, dan ia pun tersenyum. Kami berciuman kembali. Saat hendak merebahkannya, setir mobil menghalang gerakan kami. Kami berdua pindah ke bangku tengah Kijangku. Aku cium kening Diana terlebih dahulu, kemudian kedua matanya, hidungnya, kedua pipinya, lalu bibirnya. Diana terpejam dan kudengar nafasnya mulai agak terasa memburu, kami berdua terbenam dalam ciuman yang hangat membara. Tanganku memegang dadanya, meremasnya dari balik kaos tipis dan bhnya.

    Sesaat kemudian kaos itu telah kubuka. Aku arahkan mulutku ke lehernya, ke pundaknya, lalu turun ke buah dadanya yang indah, besar, montok, kencang, dengan puting yang memerah. Tanganku membuka kaitan BH hitamnya. Aku mainkan lidahku di puting kedua buah dadanya yang mulai mengeras. Yang kiri lalu yang kanan.
    “Mas Ray, kamu tau saja kelemahan saya, saya paling nggak tahan kalo dijilat susu saya…, aahh…”.
    Aku pun sudah semakin asyik mencumbu dan menjilati puting buah dadanya, lalu ke perutnya, pusarnya, sambil tanganku membuka mini skirtnya.

    Terpampanglah jelas tubuh telanjang gadis itu. Celana dalamnya yang berwarna hitam, menerawangkan bulu-bulu halus yang ada di situ. Kuciumi daerah hitam itu. Aku berhenti, lalu aku bertanya kepada Diana
    “Diana kamu udah pernah dijilatin itunya?”
    “Belum…, kenapa?”.
    “Mau nyoba nggak?”.
    Diana mengangguk perlahan.
    Takut ia berubah pikiran, tanpa menunggu lebih lama lagi langsung aku buka celana dalamnya, dan mengarahkan mulutku ke kemaluan Diana yang bulunya lebat, kelentitnya yang memerah dan baunya yang khas. Aku keluarkan ujung lidahku yang lancip lalu kujilat dengan lembut klitorisnyana.
    Beberapa detik kemudian kudengar desahan panjang dari Diana

    “sstt… Aahh!!!”
    Aku terus beroperasi di situ
    “aahh…, Mas Ray…, gila nikmat bener…, Gila…, saya baru ngerasain nih nikmat yang kayak gini…, aahh…, saya nggak tahan nih…, udah deh…”

    Lalu dengan tiba-tiba ia menarik kepalaku dan dengan tersenyum ia memandangku. Tanpa kuduga ia mendorongku untuk bersandar ke bangku, dengan sigapnya tangannya membuka sabuk yang kupakai, lalu membuka zipper jins hitamku. Tangannya menggapai kemaluanku yang sudah menegang dan membesar dari tadi. Lalu ia memasukkan batang kemaluanku yang besar dan melengkung kedalam mulutnya.

    “aahh…” Lenguhku
    Kurasakan kehangatan lidah dalam mulutnya. Namun karena dia mungkin belum biasa, giginya beberapa kali menyakiti penisku.
    “Aduh Diana, jangan kena gigi dong…, Sakit. Nanti lecet…”

    Kuperhatikan wajahnya, lidahnya sibuk menjilati kepala kemaluanku yang keras, ia jilati melingkar, ke kiri, ke kanan, lalu dengan perlahan ia tekan kepalanya ke arahku berusaha memasukkan kemaluanku semaksimal mungkin ke dalam mulutnya. Namun hanya seperempat dari panjang kemaluanku saja kulihat yang berhasil terbenam dalam mulutnya.

    “Ohk!.., aduh Mas Ray, cuma bisa masuk seperempat…”
    “Ya udah Diana, udah deh jangan dipaksaain, nanti kamu tersedak.”
    Kutarik tubuhnya, dan kurebahkan ia di seat Kijangku. Lalu ia membuka pahanya agak lebar, terlihat samar-samar olehku kemaluannya sudah mulai lembab dan agak basah. Lalu kupegang batang kemaluanku, aku arahkan ke lubang kemaluannya. Aku rasakan kepala kemaluanku mulai masuk perlahan, kutekan lagi agak perlahan, kurasakan sulitnya kemaluanku menembus lubang kemaluannya. Kudorong lagi perlahan, kuperhatikan wajah Diana dengan matanya yang tertutup rapat, ia menggigit bibirnya sendiri, kemudian berdesah.

    “sstt…, aahh…, Mas Ray, pelan-pelan ya masukkinnya, udah kerasa agak perih nih…”
    Dan dengan perlahan tapi pasti kudesak terus batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Diana, aku berupaya untuk dengan sangat hati-hati sekali memasukkan batang kemaluanku ke lubang vaginanyana. Aku sudah tidak sabar, pada suatu saat aku kelepasan, aku dorong batang kemaluanku agak keras. Terdengar suara aneh. Aku lihat ke arah batang kemaluanku dan kemaluan Diana, tampak olehku batang kemaluanku baru setengah terbenam kedalam kemaluannya. Diana tersentak kaget.
    “Aduh Mas Ray, suara apaan tuh?”
    “Nggak apa-apa, sakit nggak?”
    “Sedikit…”
    “Tahan ya.., sebentar lagi masuk kok…”

    Dan kurasakan lubang kemaluan Diana sudah mulai basah dan agak hangat. Ini menandakan bahwa lend*r dalam kemaluan Diana sudah mulai keluar, dan siap untuk penetrasi. Akhirnya aku desakkan batang kemaluanku dengan cepat dan tiba-tiba agar Diana tidak sempat merasakan sakit, dan ternyata usahaku berhasil, kulihat wajah Diana seperti orang yang sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa, matanya setengah terpejam, dan sebentar-sebentar kulihat mulutnya terbuka dan mengeluarkan suara. “sshh…, sshh…”

    Lidahnya terkadang keluar sedikit membasahi bibirnya yang sensual. Aku pun merasakan nikmat yang luar biasa. Kutekan lagi batang kemaluanku, kurasakan di ujung kemaluanku ada yang mengganjal, kuperhatikan batang kemaluanku, ternyata sudah masuk tiga perempat kedalam lubang kemaluan Diana.

    Aku coba untuk menekan lebih jauh lagi, ternyata sudah mentok…, kesimpulannya, batang kemaluanku hanya dapat masuk tiga perempat lebih sedikit ke dalam lubang kemaluan Diana. Dan Diana pun merasakannya.
    “Aduh Mas Ray, udah mentok, jangan dipaksain teken lagi, perut saya udah kerasa agak negg nih, tapi nikmat…., aduh…, barangmu gede banget sih Mas Ray…”

    Aku mulai memundur-majukan pantatku, sebentar kuputar goyanganku ke kiri, lalu ke kanan, memutar, lalu kembali ke depan ke belakang, ke atas lalu ke bawah. Kurasakan betapa nikmat rasanya kemaluan Diana, ternyata lubang kemaluan Diana masih sempit, walaupun bukan lagi seorang perawan. Ini mungkin karena ukuran batang kemaluanku yang menurut Diana besar, panjang dan kekar. Lama kelamaan goyanganku sudah mulai teratur, perlahan tapi pasti, dan Diana pun sudah dapat mengimbangi goyanganku, kami bergoyang seirama, berlawanan arah, bila kugoyang ke kiri, Diana goyang ke kanan, bila kutekan pantatku Diana pun menekan pantatnya.

    Semua aku lakukan dengan sedikit hati-hati, karena aku sadar betapa besar batang kemaluanku untuk Diana, aku tidak mau membuatnya menderita kesakitan. Dan usahaku ini berjalan dengan mulus. Sesekali kurasakan jari jemari Diana merenggut rambutku, sesekali kurasakan tangannya mendekapku dengan erat.

    Tubuh kami berkeringat dengan sedemikian rupa dalam ruangan mobil yang mulai panas, namun kami tidak peduli, kami sedang merasakan nikmat yang tiada tara pada saat itu. Aku terus menggoyang pantatku ke depan ke belakang, keatas kebawah dengan teratur sampai pada suatu saat.

    “Aahh Mas Ray…, agak cepet lagi sedikit goyangnya…, saya kayaknya udah mau keluar nih…”
    Diana mengangkat kakinya tinggi, melingkar di pinggangku, menekan pantatku dengan erat dan beberapa menit kemudian semakin erat…, semakin erat…, tangannya sebelah menjambak rambutku, sebelah lagi mencakar punggungku, mulutnya menggigit kecil telingaku sebelah kanan, lalu terdengar jeritan dan lenguhan panjang dari mulutnya memanggil namaku.

    “Mas Ray…, aahh…, mmhhaahh…, Aahh…” Dia kelojotan. Kurasakan lubang kemaluannya hangat, menegang dan mengejut-ngejut menjepit batang kemaluanku.
    “aahh…, gila…, Ini nikmat sekali…” Teriakku.
    Baru kurasakan sekali ini lubang kemaluan bisa seperti ini. Tak lama kemudian aku tak tahan lagi, kugoyang pantatku lebih cepat lagi keatas kebawah dan, Tubuhku mengejang.
    “Mas Ray…, cabut…, keluarin di luar…”
    Dengan cepat kucabut batang kemaluanku lalu sedetik kemudian kurasakan kenikmatan luar biasa, aku menjerit tertahan
    “aahh…, ahh…” Aku mengerang.
    “Ngghh…, ngghh..”
    Aku pegang batang kemaluanku sebelah tangan dan kemudian kurasakan muncratnya air maniku dengan kencang dan banyak sekali keluar dari batang kemaluanku.
    Chrootth…, chrootthh…, crothh…, craatthh…, sebagian menyemprot wajah Diana, sebagian lagi ke payudaranya, ke dadanya, terakhir ke perut dan pusarnya.
    Kami terkulai lemas berdua, sambil berpelukan.

    “Mas Ray…, nikmat banget main sama kamu, rasanya beda sama kalo saya gituan sama Ipet. Enakan sama kamu. Kalau sama Ipet, saya tidak pernah orgasme, tapi baru sekali disetubuhi kamu, saya bisa sampai, barang kali karena barang kamu yang gede banget ya?” Katanya sambil membelai batangku yang masih tegang, namun tidak sekeras tadi.
    “Saya nggak bakal lupa deh sama malam ini, saya akan inget terus malem ini, jadi kenangan manis saya” Aku hanya tersenyum dengan lelah dan berkata “Iya Diana, saya juga, saya nggak bakal lupa”. Kami pun setelah itu menuju kostku, kembali memadu cinta. Setelah pagi, baru aku mengantarnya pulang. Dan berjanji untuk bertemu lagi lain waktu.