• Eka

    Eka


    13 views

    Krìiing.., krìiiing..!, Telepon dì ruang kerjaku berderìng.

    “Hallo, pap. Mama pulangnya agak malam, ìstrì pemìlìk usaha ìnì, mìnta dì temani jalan.” Dan bla-bla-bla, ìstrìku ngoceh terus.

    Tapì yang pentìng buatku, katanya dìa tìdak enak dan kasìhan sama Bu Eka (tukang lulur). Darìpada ngebatalìn, ya udah.., akhìrnya aku yang menggantìkan ìstrìku luluran.

    cerita-sex-dewasa-eka

    Jam 04.00 sore aku sudah sampaì dì rumah. Rupanya Bu Eka belum datang. Jadì aku sempat makan sedìkìt. Belum habìs makanannya, Bu Eka sudah berada dì muka pìntu gerbang. gara-gara sudah bìasa, dìa langsung masuk dan melakukan pemberesan kamar olah raga (bìasanya dì pakaì ìstrìku untuk senam dan luluran). yg terlebih dahulu pembantuku, Nìng namanya sudah aku berìtahu, kalau ìstrìku tìdak luluran, yang luluran aku. Sambìl membawa aìr putìh, pembantuku menyampaìkan, kalau Bu Eka sudah menantiku untuk luluran.

    “Sore Bu..”, sapaku sambìl membongkar baju dan celana panjang. Tìnggal memakaì celana dalam saja.

    Mestìnya sepertì ìstrìku, kalau luluran tìdak memakaì apa-apa. Tetapì gara-gara aku cowok dan baru kalì ìnì luluran, tìdak enak juga terasa, kalau ìkutan polos. Bìsa dìbìlang baru kalì ìnì aku bercakap-cakap banyak Bu Eka. Katanya, dìa sudah lama menjadì tukang lulur. Kìra-kìra 10 tahun dan menjadì tulang punggung Famili. Dìa berceraì suamìnya sudah 5 tahunan menanggung 2 anak remaja. Sambìl tìduran (gara-gara dì lulur), aku perhatìkan Bu Eka. Umurnya kìra-kìra 45 thn. Kulìtnya putìh (turunan chìnese), tìnggìnya kìra-kìra 165 cm, beratnya 60 kg, dan bermuka menarìk.

    Sekalì-kalì Bu Eka menunduk, sambìl menggosok badanku lulur, wah.., tangan Bu Eka ìnì terhitung lembut juga. Mungkìn gara-gara tìap harì ngelulurìn, jadì lembut kalì. Aku betul-betul tìdak menyangka kalau Bu Eka memìlìkì buah dada yang besar. BH-nya sebesar ukuran kìra-kìra 38D. Sampaì-sampaì brung dì bawah pusarku lakukan getaran, terangsang. ìngìn terasa membuat masuknya didalam lubang kemaluan Bu Eka. Tapì aku tìdak mempunyaì keberanìan untìk ìtu, takut ketahuan ìstrì, bìsa gawat! Sambìl nyoba-nyoba aku pancìng-pancìng Bu Eka.

    “Bu.., pernah nggak ngelulur lakì-lakì?”, sambìl menanya aku sìbakkan celana dalam.

    Cerita Sex Dewasa

    Maksudnya supaya dìa ngelulur juga selangkaanku.

    “Serìng Pak, justru ada anak remaja, beberapa langganan saya suamìnya juga serìng luluran”.
    “Nggak malu Bu? Kalau sampe ada yang buka celana, trus ìbu pastì lìat barang terlarang khan?”, Coba-coba kupancìng dìa. Nah.., kelìhatannya dìa sudah mulaì terbawa suasana hot.

    Sambìl ketawa dìa bìlang,

    “Ya.., nggak dong Pak, khan ngelìat aja, nggak dì apaìn, palìng dìpegang aja”. Nah.., feelìngku mulaì merasa ìnì bìsa dìmaìnkan juga. Pìkìran kotorku mulaì beraksì.
    “Kalau gìtu, saya buka celana dalamnya ya.., bu? Bìar bìsa dì lulur dì selangkangan, kan dakìnya banyak dì sìtu”.

    Tanpa banyak ba.., bì.., bu.., celana dalam kulepas, kìnì aku bugìl dì depan Bu Eka, penìsku yang mendongak ke atas.

    Berdìrì tegak jantannya. Kulìhat ekspresì mukanya sedìkìt, entah kaget atau takjub, melìhat penìsku yang besar dan panjang.

    “Lho.., kog? Udah gede.., Pak, adìk kecìlnya” katanya, tapì matanya tetap tìdak berkedìp memandang penìsku. Mulaì Dilalap Api bìrahìnya.
    “Wah.., ìnì sìh belum apa-apa Bu, kalo dìpanasì bìsa tambah greng lho?, kataku sambìl tangannya kupegang dan aku letakkan dì atas penìsku. Tapì Bu Eka tidaklah mengelak, justru tangannya mulaì memaìn-maìnkan penìsku.

    Gìla.., acara lulurannya jadì berpindah tempat..! Tangan Bu Eka betul-betul lembut dan halus. Dì maìnkannya alat vitalku mesranya. Dìremeess, dìusap-usap, sedìkìt kocokan.., bikin kepala penìsku kìan membesar. Kulìhat juga Bu Eka makìn terangsang.

    “Aah.., mhemm..”, Tìdak kusìa-sìakan peluang ìnì, kumelepaskan tangannya darì penìsku, langsung kumasukkan ke mulut

    Bu Eka. Bìbìr seksìnya mencìum dan mulaì mengulum penìsku, “Whoom.., oopp.., whoomm.., whoop.., oopp!” Bunyì mulutnya tatkala mengocok penìsku.

    “Besar sekalì.. Pak, sampe nggak muat ke mulut saya”, Sambìl senyum Bu Eka kembalì beraksì. Masuk.., keluar.., maju.., mundur.., penìsku masuk ke mulut Bu Eka.
    “Uuhh.., oohh.., nìkmat skalì.., Bu.., trus.., Bu.., aduh.., nggak tahan saya!”Cerita Sex Dewasa

    Aku betul-betul merasakan kenìkmatan. Aku tahan spermaku yang mau keluar, aku ìngìn keluar dì dalam lubang vagìnan Bu Eka. Sambìl aku tahan, Bu Eka makìn menjadì-jadì memaìnkan penìsku dì mulutnya. Mulaì aku buka bajunya, kupegang buah dadanya yang besar, kuremas lembut, Bu Eka tambah terangsang. Darì rìntìhan kecìlnya, aku tahu, dìa sudah dìbawah kendalìku. Aku makì bernafsu.., bangun pelan-pelan, kulepas bajunya sambìl bìbìrnya dan bìg boobnya kucìum, aku dan Bu Eka sepertì lepas kendalì.., salìng cìum.., peluk. Badanku yang masìh berìsì lulur menambah hangatnya pergumulan. buah dadanya yang besar menempel dì badanku. lakukan getaran nafsuku.

    “aah..” Bu Eka sedìkìt membuat erangan, manakala buah dadanya kucìum dan kugìgìt-gìgìt.

    Posìsìnya sekarang dì bawah, telentang! Darì buah dadanya kutelusurì (aku jìlatì) perutnya

    “cup.., csrut..”, lìdahku mulaì bermaìn. seluruh detìal buah dadanya kucìum, kujìlatì.., melesat ke bawah, perutnya.., ke bawah lagì.., waah.., luar bìasa.., bau badan Bu Eka begìtu harum.

    Tìnggal selangkah lagì lìdahku bermaìn, hìngga kutemukan bulu-bulu halusnya yang menyembul darì celana dalamnya. Sedìkìt usaha terlepas sudah celana dalamnya. Kelìhatan bulu-bulu hìtam menyembul makìn lebat. Aku melongok ke bawahnya, bulu-bulu hìtamnya kusìbakkan.., terlìhat lubang kenìkmatan yang mempunyai warna merah muda mengajukan tantangan. Aku tìdak tahan! Kujìlatì semuanya.., bulu-bulunya.., clìtorìsnya.., lubang vagìnanya. Sìsì-sìsì vagìna Bu Eka memang sedìkìt keluar, aku hìsap,

    “Sruup.., cuupp..” semuanya!

    “Aahh.., Oooh.., aduh nggak tahan.., Pak..!” Erangannya menambah nafsu lìarku, tìdak hentì-hentìnya kujìlatì vagìnanya dan clìtorìsnya aku kulum, kugìgìt-gìgìt kecìl, sampaì akhìrnya,
    “aah.., aduh.., saya keluar..”, sambìl berusaha, duduk menghadap ke arahku. Akupun langsung berdìrì.

    Kuarahkan penìsku ke arah bìbìrnya,

    “Slup.., mhom..”, dìkulumnya sekalì lagì penìsku.
    “Oooh.., bagus Bu.., trus masukìn semuanya.., hìsaap.., Bu..” kulumannya bikinku semakìn mabuk kepayang.

    Darì ujung penìs hìngga ke bìjì pelerku seluruh bersìh.., dìhìsep.., dìkulum.., masuk.., keluar,

    “oohh..” gara-gara kìta sudah makìn memuncak, aku tarìk penìsku, kucìum Bu Eka sambìl tìduran, kakìnya menjulur ke bawah tempat tìdur.

    Percuma kubuka, lubang kenìkmatannya sedìkìt terbuka.

    “pelan-pelan dong… ” seakan tak perduli kutekan lagi.

    kali ini agak dalam ternyata seperti ada yang membatasi. ku tekan kuat-kuat

    “ahhhhhhh… aaaaaa… aaaauuuuu… , sakit… ohh… oh… ooghhhhhh… ” aku paksakan saja… akhirnya tembus juga.
    “ahhhhhhhhhh… aaaaahhhhhh… , sakitttttttt… ” bu eka berteriak keras sekali… Sambil ku dorong kontontolku maju mundur pelan dan ku percepat goyanganku.
    “aahhhhhh… auhhhhhhhh… u.h… u.u… hh… a… u… u… hhhhh.hh.h.h. h… Dia terus menjerit kesakitan, dan sekitar 20 kali goyanganku aku terasa seperti mau keluar.

    Cerita Sex Dewasa

    Lalu aku arahkan kontolku ke mulutnya dan… croot… … crroootttt… sekitar 5 kali muncrat mulut bu eka telah di penuhi oleh spermaku yang berwarna putoh kenta (maklum udah 2 minggu ngga ngocok) Selang beberapa menit aku baru menyadari kalau pepek bu eka mengeluarkan cairan seperti darah. Lalu ibu eka cepat-cepat ke kamar mandi.

    Setalah keluar dari kamar mandi bu eka langsung menyepong kontolku sambil tiduran di lantai. Ternyata walaupun perawan bu eka pandai sekali berpose. Lalu ku pegang pinggul bu eka dan mengarahkan ke posisi menungging.

    Lalu aku arahkan kontolku ke pepek bu eka, lalu ku genjot lagi… ohhh… oh… o… h.h.h.h.hh… h.hhhhh… h… hhhhhhh… hhhhh… yeahhhhh oouu… yesssss… ooohhhhh… yeahhhhh… saat aku sudah mulai bosan ku cabut kontolku lalu ku arah kan ke buritnya

    “sakit ngga… ” laluku jawab
    “paling dikit bu… ” aku mencoba memasukkan tetapi ngga bisa karena terlalu sempit lalu bu eka berkakta
    “ngga apa-apa kok kan masih ada pepekku mau lagi nggaaaa… ” laluku kentot lagi pepeknya tapisekarang beda waktu aku memeasukkan kontolku ke dalam, baru sedikit saja sudah di telan oleh pepeknya.

    Baca Juga Cerita Sex Nafsu Tante

    Ternyata pepek bu eka mirip dengan lumpur hidup. aku mengarahkan kontolku lagi ahhh… ahhh… ahhh… ahh… oooouuuhh… yeah… ou… ou… ohhhhhh… dan saat sekitar 15 kali goyangan ku bu eka melepaskan kontolku

    “aku mau keluar… ” lalu ku jawab
    “aku juga bu… , kita keluarin di dalem aja buu… ”
    “iya deeh jawabnya… ” lalu kumasukkan lagi kontol ku kali ini aku menusukknya kuatkuat.

    aaahhhh… ahhhh… aaaahhhhhh. ooooouuuuuuhhh… saat teriakan panjang itu aku menyemprotkan spermaku ke dalam pepeknya crroooot… crootttt… aku mendengar kata- katanya

    “nikmat sekali… ” Dan aku pun tidur sampai pagi dengan menancapkan kontolku di dalam pepeknya dengan posisi berhadapan ke samping

  • Di Buat Tak Berkutik Oleh Pacar Adikku

    Di Buat Tak Berkutik Oleh Pacar Adikku


    12 views

     Namaku Irma, tapi biasa dipanggil I’in oleh orang di rumah. Aku sulung dari 4 bersaudara yang semuanya perempuan. Saat ini usiaku 34 tahun dan adik bungsuku Tita 21 tahun. Aku sangat menjaga bentuk tubuhku, dengan tinggi badan 167 cm dan berat badan 59 kg, tidak ada yang menyangka kalau aku sudah memiliki 2 orang anak yaitu Echa 6 tahun dan Dita 3 tahun. Kalau menurut suamiku, teman-temannya sering memuji tubuhku, terutama pada bagian pinggul dan payudara yang terlihat sangat seksi jika sedang mengenakan baju yang pressed body. Begini ceritaku..

    cerita-sex-dewasa-di-buat-tak-berkutik-oleh-pacar-adikku-1024x682
    Kenaikan jabatan yang diterima oleh suamiku membuatnya harus berada di luar daerah, dan hanya bisa pulang sebulan sekali. Otomatis kebutuhan biologisku hanya bisa terpenuhi pada saat suamiku pulang saja. Bahkan sering juga aku harus puasa sampai berbulan-bulan karena pada saat suamiku pulang aku sedang kedatangan “tamu”. Tapi itu tidak terlalu kupedulikan, toh saat kami berhubungan, aku jarang sekali mengalami orgasme karena suamiku biasanya sudah keluar duluan dan bila sudah begitu pasti ia langsung tertidur dan membiarkanku menggantung sendirian.

    Sampai akhirnya terjadi peristiwa yang membuatku sangat malu pada awalnya, namun menjadi ketagihan pada akhirnya. Orang yang membuatku mabuk kepayang itu bernama Hasan yang tidak lain adalah pacar adikku. Orangnya lumayan ganteng dengan bentuk tubuh yang kekar karena ia adalah seorang atlit renang perwakilan daerah. Hasan sudah berpacaran dengan adikku Tita selama lima tahun sehingga hubungan keluarga kami dengannya sudah sangat dekat, aku sendiri bahkan sudah menganggapnya sebagai adik iparku demi melihat keseriusan hubungan Hasan dan adikku.

    Hasan juga sering datang ke rumah untuk mengantarkan aku pergi karena aku tidak bisa naik motor, tentu saja sebelumnya aku selalu memintanya tolong melalui Tita. Selama tidak sibuk dia pasti mau menolongku sehingga kami menjadi lumayan dekat. Ia sering bercerita tentang hubungannya dengan Tita adikku, sehingga aku jadi tahu kalau dia adalah pemuda yang sangat menghormati wanita. Itu adalah pandanganku sebelum terjadi affair antara kami berdua.

    Sore itu aku berangkat dengan diantar Tita adikku untuk berenang di sebuah hotel di kota SMD. Setelah berganti dengan baju renang, aku melangkahkan kaki ke tepi kolam. Beberapa pemuda melirikku dengan pandangan nakal. Setelah melakukan pemanasan aku lalu turun ke air. Setelah menyesuaikan diri dengan suhu air baru aku mulai berenang. Setelah bolak-balik 3 kali putaran, aku beristirahat di pinggir kolam sambil mengatur napas. Beberapa pemuda yang lewat menggodaku, aku hanya tersenyum. Lalu aku terhanyut pada lamunanku yang sudah 3 bulan tidak melakukan hubungan suami-istri.

    “Sendirian saja Kak?” Suara yang ramah mengagetkanku dari belakang.
    “I.. Iya” Jawabku sambil menoleh ke belakang.

    Setelah melihat siapa yang menyapaku, aku menjadi tenang tetapi sedikit risih karena ternyata ia adalah Hasan yang melihatku tanpa berkedip. Sambil mengajakku mengobrol ia melakukan pemanasan. Sesekali aku melirik untuk melihat tubuhnya yang kekar. Lalu mataku turun lagi ke dadanya yang bidang dan perutnya yang sangat berotot. Saat mataku sampai ke celana renangnya, dadaku berdegup kencang, celana itu terlihat sangat menonjol pada bagian tengahnya. Pasti besar sekali, mungkin bahkan lebih besar dari pada milik suamiku, batinku.

    Lalu aku tercekat saat Hasan melompat terjun ke kolam renang dan langsung meluncur. Setelah 7 kali bolak-balik ia menepi ke sampingku untuk beristirahat. Ia meletakkan tangannya di sampingku sehingga sikunya menyentuh paha kananku.

    “Kesini pake apa Kak?” Tanyanya sambil menatapku dengan tajam.
    “Diantar sama Tita” Jawabku sambil menghindari pandangan matanya.
    “Trus.. Sekarang Titanya kemana?” Sahut Hasan melirik sekeliling.Cerita Sex Dewasa
    “Langsung pulang jagain Dita sama Echa..” Sebelum ia sempat menanyaiku lagi, aku langsung melompat terjun.

    Setelah menyeberang, aku lansung naik karena ingin segera pulang. Sebelumnya aku tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang mengenalku di kolam ini. Dan yang bertemu denganku ternyata Hasan, terlebih lagi aku hanya mengenakan baju renang hingga otomatis menampakkan sebagian tubuhku. Aku tidak mau menoleh ke belakang karena aku takut Hasan akan berbicara lagi denganku. Setelah memakai rok setinggi lutut, aku mengenakan pakaian yang lumayan ketat sehingga memamerkan garis tubuhku yang masih terbentuk.

    Saat melangkahkan kaki menuju jalan raya untuk mencari angkot, ada motor yang memotong jalanku. Aku kaget bukan kepalang, terlebih lagi saat melihat siapa yang menaikinya, lagi-lagi ternyata Hasan.

    “Saya antar ya Kak?” Tawar Hasan dengan sopan.

    Aku berpikir sejenak, sebelum aku sempat menjawab Hasan sudah menyodorkan helm. Dengan ragu aku menerima helm itu, setelah mengenakannya aku lalu duduk menyamping di belakang dengan tangan kananku melingkar di pinggangnya. Sebenarnya hal ini sudah sangat sering kulakukan, tapi untuk saat ini aku merasa sangat serba salah. Perasaanku semakin tidak enak saat ia mengarahkan motornya ke arah yang berlawanan dengan arah ke rumahku. Bodohnya, aku cuma diam saja sampai akhirnya Hasan menghentikan motornya di depan sebuah bioskop yang cukup terkenal di kota SMD.

    “Nonton dulu ya Kak?” Pintanya sopan.
    “Aduh gimana ya San.. Ini kan sudah sore” Jawabku panik.
    “Please Kak.. Ini film yang pengen banget aku tonton, lagian ini hari pemutarannya yang terakhir” Sahut Hasan dengan tatapan yang memohon.
    “Iya deh.. Tapi habis itu langsung pulang” tegasku. Hasan tersenyum dengan penuh kemenangan.

    Setelah memesan tiket, kami pun masuk ke dalam dan ternyata yang menonton sangat sedikit. Setelah mendapatkan tempat duduk, kami berdua mulai menikmati film yang diputar. Belum lama berselang, aku tercekat kaget saat tangan Hasan merangkul bahuku. Aku berusaha untuk tenang dan tak bereaksi apa-apa. Melihat aku diam saja Hasan semakin berani, mukanya didekatkan ke wajahku hingga sontak aku menolak saat ia mencoba mencium bibirku. Tapi malah bertambah parah karena yang dia cium adalah telinga dan leherku, padahal itu termasuk daerah sensitifku.

    Aku menjadi deg-degan, dan sepertinya Hasan mengetahui kalau aku mulai memakan umpan yang ia berikan. Tangannya mulai turun ke dadaku dari bahu. Ternyata tangannya sangat lihai meskipun dari luar putaran-putaran jarinya mampu membuatku sesak karena buah dadaku yang telah mengeras. Tangannya terus aku pegang. Tangannya yang satu berhasil kutahan semantara yang lain berhasil lolos dan semakin aktif.

    Dia berhasil membuka kancing-kancing bajuku bagian atas lalu tangannya bermutar-mutar di atas BH-ku yang tipis. Malu juga rasanya kalau Hasan tahu bahwa putingku sudah keras sekali. Bibirnya yang bermain di leherku mulai turun ke bahu dan entah bagaimana caranya, ternyata Hasan telah menurunkan tali BH dan bajuku sampai ke pinggang lalu bibirnya bermain diatas BH-ku dan sekali renggut buah dadaku telah terekspos pada bibirnya.

    Aku menjadi semakin lupa diri, lupa pada suami dan anak-anakku, dan lupa kalau Hasan adalah kekasih adikku dan kemungkinan besar akan menjadi iparku kelak. Begitu buah dadaku terekspos, Hasan tidak langsung mencaplok tapi putingku yang keras dirangsang dulu dengan hidungnya. ceritasexdewasa.org Nafasnya yang hangat sudah bisa membuat putingku semakin mengeras. Lalu dia ciumi pelan-pelan buah dadaku yang berukuran 34B itu, mula-mula bagian bawah terus melingkar sehingga hampir semua bagian buah dadaku dicium dengan lembut olehnya. Belum puas menggodaku, lidahnya kemudian mulai menari-nari di atas buah dadaku. Akhirnya pertahananku pun jebol hingga aku mulai mendesah halus. Akhirnya apa yang kukhawatirkan terjadi, lidahnya mulai menyapu sekitar puting dan akhirnya..

    Akh.. putingku tersapu lidahnya.. Perlahan mula-mula, semakin lama semakin sering dan akhirnya putingku dikulumnya. Ketika aku merasa nikmat, ia melepaskannya dan kemudian mulai mengecup dari bagian tepi lagi. Perlahan mendaki ke atas dan kembali ditangkapnya putingku. Kali ini putingku digigitnya perlahan sementara lidahnya berputar-putar menyapu putingku. Sensasi yang ditimbulkannya sungguh luar biasa, semua keinginan yang kupendam selama 3 bulan ini serasa terpancing keluar dan berontak untuk segera dipuaskan.

    Melihatku mendesah, Hasan semakin berani. Selain menggigit-gigit kecil putingku sembari lidahnya menyapu-nyapu, tangannya mulai bermain di lututku. Perasaan yang kupendam selama ini kelihatannya mulai bergejolak. Hal itu membuatku membiarkan tangannya menggerayangi lutut dan masuk menyelusup ke dalam rokku untuk mengelus pahaku. Dia tahu bahwa tubuhku merinding menahan nikmat dan dengan lihai tangannya mulai mendaki dan kini berada di selangkanganku.

    Dengan lembut Hasan mengusap pangkal pahaku di pinggiran CD-ku. Hal ini menimbulkan sensasi dan nikmat yang luar biasa. Aku tak dapat duduk tenang lagi, sebentar-bentar menggelinjang. Aku sudah tak dapat lagi menyembunyikan kenikmatan yang kualami, hal ini bisa dia ketahui dengan telah lembabnya CD-ku. Jarinya yang besar itu akhirnya tak mampu kutahan ketika dia memaksa menyelinap ke balik CD-ku dan langsung menuju clitku. Dengan lembut dia memainkan jarinya sehingga aku terpaksa menutup bibirku agar lenguhanku yang keluar tak terdengar oleh penonton yang lain. Jarinya dengan lembut menyentuh clitku dan gerakannya yang memutar membuat tubuhku serasa ringan dan melayang.

    Akhirnya pertahananku jebol, cairan kental mulai keluar dari vaginaku dan Hasan mengetahuinya hingga semakin mengintensifkan serangannya. Akhirnya puncak itu datang, kupeluk kepalanya dengan erat dan kuhunjamkan bibirku ke bibirnya dan tubuhku bergetar. Hasan dengan sabar mengelus clitku hingga membuatku bergetar-getar seolah tak berhenti. Lubang vaginaku yang basah dimanfaatkan dengan baik olehnya. Sementara jari jempolnya tetap memainkan clitku, jari tengahnya mengorek-ngorek lubangku mensimulasi apa yang dilakukan laki-laki pada wanita. Aku megap-megap dibuatnya, entah berapa lama Hasan membuatku seperti itu dan sudah berapa kali aku mengalami orgasme.

    Aku lalu memberanikan diri, kujulurkan tanganku ke arah selangkangannya. Di sana jemariku menemukan gundukan yang mulai mengeras. Begitu tersapu oleh belaianku, gundukan itu berubah menjadi batang hangat yang mengeras. Jariku terus membelai turun naik sepanjang batang itu yang menurutku sangat besar untuk ukuran seorang pemuda berusia 21 tahun. Secara perlahan batang tersebut bertambah panjang dan besar hingga menimbulkan getaran-getaran yang membuatku kembali mencapai orgasme. Saat orgasme, tanganku secara tak sengaja meremas-remas bolanya sehingga Hasan pun terangsang.Cerita Sex Dewasa

    “Kita ke tempat kosku ya Kak..” bisiknya kemudian sambil mengecup daun telingaku.

    Aku mengangguk, dan setelah merapikan pakaian yang aku kenakan, Hasan menarikku sehingga aku berjalan mengikutinya. Setelah 10 menit naik motor, kami mulai memasuki sebuah bangunan yang besar dan agak sepi. Saat dia menggandeng pinggulku menuju kamarnya, beberapa orang anak kost di sana tampak menatap kami dengan pandangan penuh pengertian. Tapi itu tetap tak mengurangi rasa kikuk dan canggung yang menyerangku. Apa yang sedang kulakukan di sini, batinku.

    Saat aku sampai di depan pintu kamar kostnya yang terbuka, aku terdiam sejenak. Keraguan besar mendadak menyerangku, dan itu ternyata ditangkap oleh Hasan. Dengan tenang dia menangkap bahuku dari belakang dan dengan pelan dia mendorongku masuk ke dalam. Setelah menutup pintu dan menguncinya, lalu tangannya turun ke pinggulku dan kemudian memutar tubuhku sehingga kini kami saling berhadapan untuk pertama kalinya sejak dari kolam renang.

    Kami berhadapan sejenak, lalu Hasan tersenyum dan kembali bibirnya mengecup bibir bawah dan atasku bergantian dan berusaha membangkitkan gairahku lagi. Aku mendesah kecil ketika tangannya turun ke bokongku kemudian meremasnya lalu menarik tubuhku merapat ke tubuhnya. Bibirnya perlahan mengecup bibirku, bibirnya merambat di antara dua bibirku yang tanpa sadar merekah menyambutnya.

    Lidah itu begitu lihai bermain di antara kedua bibirku mengorek-ngorek lidahku agar keluar. Sapuan lidahnya menimbulkan sensasi-sensasi nikmat yang belum pernah aku rasakan, sehingga dengan perlahan lidahku dengan malu-malu mengikuti gerakan lidahnya mencari dan mengikuti kemana lidahnya pergi. Dan ketika lidahku menjulur memasuki mulutnya, dengan sigap Hasan menyambutnya dengan lembut dan menjepit lidahku di antara langit-langit dan lidahnya. Tubuhku menggeliat menahan nikmat yang timbul, itulah ciuman ternikmat yang pernah kurasakan dalam hidupku.

    Pada saat itulah aku merasa Hasan membuka kancing-kancing bajuku. Tubuhku sedikit menggigil ketika udara malam yang dingin menerpa tubuhku yang perlahan-lahan terbuka ketika Hasan berhasil memerosotkan bajuku ke lantai. Kemudian tangannya menjulur lagi ke pinggul, kemudian berhenti di bokong untuk meraih retsleting yang ada di rokku lalu menariknya ke bawah dan menanggalkan rokku ke lantai.

    Aku lalu membuka mataku perlahan-lahan dan kulihat Hasan sedang menatapku dengan tajam tanpa berkedip. Dia tampak tertegun melihat tubuh mulusku yang hanya terbungkus oleh BH dan CD yang ketat. Sorotan matanya yang tajam menyapu bagian-bagian tubuhku secara perlahan, pandangannya agak lama berhenti pada bagian dadaku yang kencang membusung. BH-ku yang berukuran 34B memang hampir tak sanggup menampung bongkahan dadaku, sehingga menampilkan pemandangan yang mengundang syahwat lelaki, apa lagi darah muda seperti Hasan.

    Tatapan matanya cukup membuatku merasa hangat, dan dalam hati kecilku ada perasaan senang dan bangga dipandangi lelaki dengan tatapan penuh kekaguman sperti itu. Rasanya semua usahaku selama ini untuk menjaga kekencangan tubuh tidak sia-sia. Aku terseret maju ketika lengan kekar Hasan kembali merangkul pinggangku yang ramping dan menariknya merapat ke tubuhnya. Tanganku terkulai lemas ketika sambil memelukku, Hasan mengecup bagian-bagian leherku sambil tak henti-hentinya membisikkan pujian-pujian akan kecantikan bagian-bagian tubuhku. Akhirnya kecupannya sampai ke daerah telingaku dan lidahnya secara lembut menyapu bagian belakang telingaku.

    Aku menggelinjang, tubuhku bergetar sedikit dan rintihan kecil lepas dari kedua bibirku. Hasan telah menyerang salah satu bagian sensitifku dan dia mengetahui sehingga ia melakukannya berulang kali.

    “Kak I’in.. Aku ingin menghabiskan malam ini bersama kamu.., jangan menolak ya.. please..” bisiknya dengan penuh pesona.

    Kemudian bibirnya kembali menyapu bagian belakang telingaku hingga pangkal leherku. Aku tak sanggup menjawab, tubuhku terasa ringan dan tanpa sadar tanganku kulingkarkan ke lehernya. Rupanya bahasa tubuhku telah cukup dimengerti oleh Hasan sehingga dia menjadi lebih berani. Tangannya telah membuka kaitan BH-ku dan dalam sekejap BH itu sudah tergeletak di lantai.Cerita Sex Dewasa

    Tubuhku serasa melayang. Ternyata Hasan telah mengangkat tubuhku, dibopongnya ke tempat tidur dan dibaringkan secara perlahan. Kemudian Hasan menjauhiku dan dengan perlahan mulai melepaskan pakaiannya. Aku sangat menikmati pemandangan ini. Tubuh Hasan yang kekar dan berotot itu tanpa lemak hingga menimbulkan gairah tersendiri untukku. Dengan hanya mengenakan celana dalam, Hasan duduk di ujung ranjang. Aku berusaha menduga-duga apa yang akan dilakukannya. Kemudian dia membungkuk dan mulai menciumi ujung jariku kakiku. Aku merintih kegelian dan berusaha mencegahnya, namun Hasan memohon agar dia dapat melakukannya dengan bebas. Karena penasaran dengan sensasi yang ditimbulkannya, akhirnya aku biarkan dia menciumi, menjilat dan mengulum jari-jari kakiku.

    Aku merasa geli, tersanjung sekaligus terpancing untuk terus melanjutkan kenikmatan ini. Bibirnya kini tengah sibuk di betisku yang menurutnya sangat indah itu. Mataku terbelalak ketika kurasakan dengan perlahan tapi pasti bibirnya semakin bergerak ke atas menyusuri paha bagian dalamku. Rasa geli dan nikmat yang ditimbulkan membuatku lupa diri dan tanpa sadar secara perlahan pahaku terbuka. Hasan dengan mudah memposisikan tubuhnya di antara kedua pahaku. Aku berteriak tertahan ketika Hasan mendaratkan bibirnya di atas gundukan vaginaku yang masih terbungkus CD. Tanpa mempedulikan masih adanya celana dalam, Hasan terus melumat gundukan tersebut dengan bibirnya seperti saat sedang menciumku.

    Aku berkali-kali merintih nikmat, dan perasaan yang lama telah hilang dalam setahun ini muncul kembali. Getaran-getaran orgasme mulai bergulung-gulung, tanganku meremas apa saja yang ditemuinya, sprei, bantal, dan bahkan rambut Hasan. Tubuhku tak bisa diam bergetar menggeliat dan gelisah, mulutku mendesis tanpa sengaja, pinggulku meliuk-liuk erotis secara refleks dan beberapa kali terangkat mengikuti kepala Hasan. Untuk kesekian kalinya pinggulku terangkat cukup tinggi dan pada saat itu Hasan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menarik celana dalamku lepas. Aku agak tersentak tetapi puncak orgasme yang makin dekat membuatku tak sempat berpikir untuk bertindak apa pun. Bukit vaginaku yang sudah 3 bulan tak tersentuh suami terpampang di depan mata Hasan.

    Dengan perlahan lidah Hasan menyentuh belahannya, aku menjerit tak tertahan dan ketika lidah itu bergerak turun naik di belahan vaginaku, puncak orgasmeku datang tanpa tertahankan. Tanganku memegang dan meremas rambut Hasan, tubuhku bergetar-getar dan melonjak-lonjak. Hasan tetap bertahan pada posisinya, sehingga lidahnya tetap bisa menggelitik klitorisku ketika puncak kenikmatan itu datang. Aku merasa dinding-dinding vaginaku telah melembab, ceritasexdewasa.org dan kontraksi-kontraksi khas pada lorong vaginaku mulai terasa. Itulah salah satu kelebihanku yaitu lorong vaginaku secara refleks akan membuat gerakan-gerakan kontraksi hingga membuat suamiku selalu tak bisa bertahan lama.

    Hasan tampaknya bisa melihat kontraksi-kontraksi itu, sehingga membuatnya semakin bernafsu. Kini lidahnya semakin ganas dan liar menyapu habis daerah selangkanganku, bibirnya ikut mengecup dan bahkan cairanku yang mulai mengalir disedot habis olehnya. Nafasnya mulai memburu, aku tak lagi bisa menghitung berapa kali aku mencapai puncak orgasme oleh permainan lidah dan bibirnya. Hasan kemudian bangkit. Dengan posisi setengah duduk dia melepaskan celana dalamnya. Beberapa saat kemudian aku merasa batang yang sangat besar itu mulai menyentuh selangkanganku yang basah.

    Hasan membuka kakiku lebih lebar dan mengarahkan kepala kemaluannya ke bibir vaginaku. Meskipun tidak terlihat olehku, aku bisa merasakan betapa keras dan besarnya milik Hasan. Dia mempermainkan kepala penisnya di bibir kemaluanku, digerakkan ke atas dan ke bawah dengan lembut untuk membasahinya. Tubuhku seperti tidak sabar untuk menanti tindakan selanjutnya, lalu gerakan itu berhenti. Dan aku merasa sesuatu yang hangat mulai mencoba menerobos lubang kemaluanku yang masih sempit. Tetapi karena liang itu sudah cukup basah, kepala penis itu dengan perlahan tapi pasti terbenam, semakin lama semakin dalam.

    Aku merintih panjang ketika Hasan akhrinya membenamkan seluruh batang kemaluannya. Aku merasa sesak tetapi sekaligus merasakan nikmat yang luar biasa, seakan seluruh bagian sensitif dalam liang itu tersentuh. Batang kemaluan yang keras dan padat itu disambut hangat oleh dinding vaginaku yang sudah 3 bulan tidak tersentuh. Cairan-cairan pelumas mengalir dari dinding-dindingnya dan vaginaku mulai berdenyut hingga membuat Hasan membiarkan kemaluannya terbenam agak lama untuk merasakan kenikmatan denyutan vaginaku. Kemudian Hasan mulai menariknya keluar dengan perlahan dan mendorongnya lagi, semakin lama semakin cepat.

    Sodokan-sodokan yang sedemikian kuat dan buas membuat gelombang orgasme kembali membumbung, dinding vaginaku kembali berdenyut. Kombinasi gerakan kontraksi dan gerakan maju mundur membuat batang kemaluan Hasan seakan diurut-urut, suatu kenikmatan yang tidak bisa disembunyikan oleh Hasan hingga gerakannya semakin liar, mukanya menegang dan keringat bertetesan dari dahinya. Melihat hal ini, timbul keinginanku untuk membuatnya mencapai nikmat.

    Pinggulku kuangkat sedikit dan membuat gerakan memutar manakala Hasan melakukan gerakan menusuk. Hasan tampak terkejut dengan gerakan ‘dangdut’ ini hingga mimik mukanya bertambah lucu menahan nikmat, batang kemaluannya bertambah besar dan keras, ayunan pinggulnya bertambah keras tetapi tetap lembut. Akhirnya pertahanannya pun bobol, kemaluannya menghunjam keras ke dalam vaginaku, tubuhnya bergetar dan mengejang ketika spermanya menyemprot keluar dalam vaginaku berkali-kali. Aku pun melenguh panjang ketika untuk kesekian kalinya puncak orgasmeku kembali tercapai.

    Sesaat dia membiarkan batangnya di dalamku hingga nafasnya kembali teratur. Tubuhku sendiri lemas luar biasa, namun kuakui kenikmatan yang kuperoleh sangat luar biasa dan belum pernah kurasakan sebelumnya selama aku telah 10 tahun menikah. Kami kemudian terlelap kecapaian setelah bersama-sama mereguk kenikmatan.

    Pagi itu aku terbangun sekitar jam 05:45, dan aku merasa seluruh badanku sangat pegal dan linu. Setelah beberapa saat mengembalikan kesadaran, aku kembali teringat tentang malam hebat yang baru saja aku lalui. Bahkan saat malam pertama bersama suami dulu pun aku tidak merasakan kepuasan yang teramat sangat seperti ini. Bulu kudukku meremang saat mengingat tiap detik kejadian tadi malam. Lalu aku mencoba bangkit untuk duduk, tapi badanku tertahan.

    Saat kuperhatikan, ternyata badanku tertahan oleh kedua lengan Hasan. Tangan kanannya menjadi bantal untuk kepalaku dan sedang menggenggam lemah salah satu payudaraku, sementara tangan kirinya melingkar di pinggang dengan telapak tangan terjepit di antara kedua belah pahaku. Lalu aku merasakan hembusan nafas hangat yang halus di tengkukku, lalu aku menolehkan kepala sedikit. Aku melihat wajah Hasan yang sedang tertidur tenang di sampingku, wajah itu seperti sedang tersenyum puas. Siapa pun akan berwajah seperti itu jika habis ML, batinku.

    Saat aku mencoba melepaskan tangan kirinya, aku mendengar suara Hasan yang bergumam di belakangku. Kutolehkan wajahku, perlahan dia membuka kedua matanya lalu sebuah senyum tipis terlihat di wajahnya. Bersamaan dengan itu aku merasakan tangan kanannya semakin erat menggenggam payudaraku dan tangan kirinya mulai mengelus-elus pangkal pahaku. Aku yang tidak siap dengan serangan itu agak terkejut sehingga tubuhku bergetar halus.Cerita Sex Dewasa

    “Pagi Kak I’in tersayang”, sapanya halus sambil mengecup leherku.
    “Mmh.. Pagi san.. kamu.. mau.. ngapain..?”, balasku sambil mencoba mengatasi pergerakan kedua tangan Hasan yang semakin aktif.

    Lalu kecupannya mulai bergerak dari tengkuk menuju leher di bawah telinga kemudian lidahnya menjilati belakang telingaku yang memang sejak semalam mendapatkan rangsangan berkali-kali.

    “Saan.. Kakak boleh nanya nggak?”, ucapku sambil menikmati jilatannya.
    “Masalah apa Kak?”, balasnya sambil terus menjilat dan meremas.
    “Kenapa kamu.. Mau sama Kak I’in yang sudah tua ini?”.

    Sejenak Hasan terdiam, lalu ia membalikkan tubuhku sehingga kini aku berhadap-hadapan dengannya, kemudian dia mengecup bibirku lembut. Lalu Hasan bercerita kalau dia sangat suka melihat keindahan tubuhku yang tetap terjaga walaupun telah memiliki 2 orang anak. Selama ini dia masih bisa menahan hasratnya, tapi saat melihat aku yang mengenakan pakaian renang, Hasan tidak dapat lagi mengendalikan birahinya. Saat aku menanyakan bagian mana dari tubuhku yang membuatnya sangat terangsang. Hasan mengatakan bahwa pinggangku yang ramping terlihat sangat seksi dari belakang. Terutama kalau mengenakan celana kain yang ketat, tambahnya.

    Aku cuma terdiam mendengar penuturannya, tak kusangka kalau selama ini Hasan sangat memperhatikan diriku. Lalu dengan tenang Hasan mulai meremas dadaku lagi, aku cuma diam menerima apa yang bakal dia lakukan. Kedua jari-jari tangannya aktif meremas kedua payudaraku, apa lagi saat jari-jari itu mulai memilin dan kemudian memelintir kedua puting susuku. Rasa nikmat yang luar biasa dari dada itu menyebar ke seluruh badanku, sehingga membuat tubuhku bergetar dan mengerang halus. Tiba-tiba semua kenikmatan itu terhenti, tapi ada sesuatu yang hangat di sekitar dadaku, terus berhenti di putingku. Aku membuka mata sebentar, ternyata Hasan sedang asyik menjilati putingku dan sesekali menghisap-hisapnya.

    Aku terus meresapi setiap kenikmatan yang dihasilkan oleh permainan lidah Hasan di dadaku, pelan-pelan kubuka mataku. Dan aku bisa menyaksikan bagaimana Hasan menjelajahi setiap lekuk tubuhku. Aku mendesah panjang saat aku merasakan ada sesuatu yang menyentuh vaginaku. Rupanya jari-jari Hasan telah mengelus-elus vaginaku yang sudah basah sekali. Sambil terus memainkan lidahnya di puting susuku yang sudah sangat mengeras, seperti semalam sambil menghisap lidahnya memutar-mutar puting susuku, sesekali dia menggigitnya sehingga aku menjadi berkelojotan tak tertahankan. Saat aku terengah-engah mengambil nafas, Hasan memindahkan serangannya ke arah selangkanganku.

    Aku menarik nafas dalam-dalam sewaktu lidahnya yang basah dan hangat pelan-pelan menyentuh vaginaku, aku mendesah tertahan saat lidahnya naik ke klitorisku dan menyentuhnya. Kemudian dengan lihainya Hasan memelintir klitorisku dengan bibir hingga benar-benar membuatku merem-melek keenakan. Aku seperti tersetrum karena tidak tahan, melihat itu Hasan semakin ganas memelintir klitorisku.

    “Euh.. Ah.. Ah.. Ach.. Aw..”

    Aku sudah tidak tahu bagaimana keadaanku waktu itu, yang jelas mataku buram, semua serasa memutar-mutar. Badanku lemas dan nafasku seperti orang yang baru lari marathon. Aku benar-benar pusing, terus aku memejamkan mataku, ada lonjakan-lonjakan nikmat di badanku yang bermula dari selangkangan merambat ke pinggul lalu bergerak ke dada dan akhirnya membuat badanku kejang-kejang tanpa bisa kukendalikan.

    Hasan memandangi wajahku yang sedang menikmati puncak kenikmatan yang telah dia berikan, sesungging senyum terlintas di sana. Aku mencoba mengatur nafasku, dan sewaktu aku telah mulai tenang Hasan menyodorkan penisnya yang.. wow, ternyata 2 kali lebih besar daripada milik suamiku.

    Kini penisnya yang telah hampir maksimal berdiri di depan mukaku, tangan kanannya digunakan untuk memegang batang penis itu sementara tangan kirinya membelai rambutku dengan lembut. Aku tahu dia mau dioral. Sudah 2 tahun aku tidak melakukannya sehingga ada rasa jijik sedikit. Tapi rasanya tidak adil, dia sudah memuaskan aku, masa aku tolak keinginannya.

    Aku buka mulutku dan kujilat sedikit kepala penisnya, terasa hangat dan membuatku ketagihan. Aku mulai berani menjilat lagi terus dan terus. Hasan duduk di ranjang, kedua kakinya dibiarkannya telentang. Aku juga duduk di ranjang, lalu aku membungkuk sedikit, aku pegang batang penisnya yang 2 kali lebih besar daripada milik suamiku itu dengan tangan kiri dan tangan kananku menahan badanku agar tidak jatuh saat mulutku sedang bekerja.

    Mula-mula cuma menjilati, terus aku mulai kulum kepala penisnya. Aku hisap sedikit terus kumasukkan semuanya ke mulutku tapi sayang tidak bisa masuk semuanya. Kepala penisnya sudah menyodok ujung mulutku tapi masih ada sisa beberapa centi lagi. Aku tidak mau memaksakannya, aku gerakkan naik turun sambil aku hisap dan sesekali aku gosok batang penisnya memakai tangan kiriku.

    Hasan sepertinya puas dengan permainanku, dia memperhatikan bagaimana asyiknya aku mengkaraoke batang penisnya, sesekali dia membuka mulut sambil sedikit mendesah. Sekitar 10 menit kemudian, masih juga belum ada tanda-tanda kalau dia akan keluar. Lalu dia melepaskan batang penisnya dari mulutku yang masih penasaran. Lalu Hasan berdiri dan mendorong tubuhku ke ranjang sampai aku telentang.

    Lalu dibukanya pahaku agak lebar dan dijilatinya lagi vaginaku yang sudah kebanjiran. Terus dipegangnya penisnya yang sudah berukuran maksimal, kemudian Hasan mengarahkan batang penisnya ke vaginaku, tapi tidak langsung dia masukkan. Dia gosok-gosokkan kepala penisnya terlebih dulu ke bibir vaginaku, baru beberapa detik kemudian dia dorong batang penisnya ke dalam.

    Terasa sesuatu yang keras padat hangat dan besar memaksa masuk ke dalam vaginaku, menggesek dindingnya yang sudah berlendir. Aku mulai berkejap-kejap lagi merasakan bagaimana penisnya menggosok-gosok dinding vaginaku hingga rasa nikmat yang luar biasa kembali menjalari tubuhku. Tiba-tiba penis Hasan memaksa masuk terus melesak ke dalam vaginaku hingga membuat tubuhku berkelojotan tak karuan menahan nikmat.

    Lalu Hasan mulai menggerakkan pinggangnya naik turun. Penisnya menggesek-gesek vaginaku, mula-mula lambat lalu semakin lama semakin cepat. Ada rasa nikmat luar biasa setiap kali Hasan menusukkan penisnya dan menarik penis itu lagi. Hasan semakin cepat dan semakin keras mengocok vaginaku, aku sendiri sudah merem-melek tidak tahan merasakan nikmat yang terus mengalir dari dalam vaginaku.

    Saat rasa nikmat itu semakin menggumpal dan hampir tumpah keluar, tiba-tiba Hasan mencabut penisnya dari vaginaku. Dia tengkurap diatasku, walau sudah lemas tapi aku tahu apa yang ingin Hasan lakukan. Lalu aku angkat pantatku ke atas, aku tahan pakai lututku dan kubuka pahaku sedikit sementara tanganku menahan badanku agar tidak ambruk dan aku bersiap untuk ditusuk olehnya dari belakang.

    Hasan memasukkan penisnya ke vaginaku dari belakang, terus dia kocok lagi vaginaku. Dari belakang kocokan Hasan tidak terlalu keras, tapi semakin cepat. Aku sudah sekuat tenaga menahan badanku agar tidak ambruk, dan aku rasakan tangan Hasan meremas-remas dadaku dari belakang, terus jari-jarinya menggosok-gosok puting susuku hingga ini membuatku merasa seperti diserang dari dua arah, depan dan belakang.

    Baca JUga Cerita Sex Selingkuh Di Warteg

    Hasan kembali mengeluarkan penisnya dari vaginaku, kali ini dimasukkannya ke dalam anusku. Dia benar-benar memaksakan penisnya masuk, padahal inilah pertama kalinya ada batang penis yang menjelajahi lubang anusku. Hasan sepertinya tidak peduli, dia mengocok anusku seperti mengocok vaginaku, kali ini cuma tangan kirinya yang meremas dadaku sedangkan tangan kanannya sibuk bermain-main di selangkanganku, dia masukkan jari tengahnya di vaginaku dan jempolnya menggosok klitorisku.

    Aku benar-benar melayang, tubuhku bergerak-gerak tak karuan dan mataku berkejap-kejap keenakan. Anusku dikocok-kocok, klitorisku digosok-gosok, dadaku diremas-remas dan putingnya dipelintir-pelintir dan vaginaku dikocok-kocok juga pakai jari tengah. Aku benar-benar tidak kuat lagi, serasa seperti ada aliran setrum yang menyerang tubuhku dan menyebar ke segala arah. Bersamaan dengan itu aku merasa kepala penis Hasan membesar di dalam lubang anusku. Secara bersamaan aku menjerit halus dan ambruk ke atas kasur, batang penisnya sudah tidak bergerak-gerak lagi tapi kedua tangannya tetap aktif bergerak membantuku meresapi setiap detik kenikmatan di setiap sendi tubuhku. Hasan lalu membalikkan tubuhku kemudian menjilati kedua puting susuku.

    Sambil menikmati sisa-sisa gelombang orgasme yang masih terus menjalar, aku pegang rambut Hasan yang lumayan panjang dan kujambak. Setelah itu aku melangkahkan kaki ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar kostnya. Guyuran air yang dingin mengembalikan kesegaran tubuhku yang terasa linu di sana-sini. Saat sedang asyik menikmati semua itu, ada ketokan halus dari arah pintu. Kubuka pintu kamar mandi dan Hasan tampak terkesima menyaksikan tubuhku yang telanjang bulat dengan rambut yang basah. Dia masuk dan langsung merangkul tubuhku.

    “Mandi dulu dong”, pintaku berbisik di telinganya.

    Ternyata dia mau menurut dan langsung mengguyur badannya dengan air, kemudian Hasan menyabuni tubuhnya dengan sabun cair. Melihat tubuh kekar yang berotot itu basah oleh air, gairahku mulai naik kembali.

    Selama ini aku belum pernah bercinta sambil mandi dengan suamiku, mungkin inilah kesempatan untukku, batinku. Kudekati tubuh Hasan, kuambil sedikit sabun cair lalu kuoleskan ke telapak tanganku. Setelah itu kusabuni tubuhnya, pertama ke dadanya yang bidang, lalu turun ke perutnya yang berotot dan akhirnya ke arah batang penisnya yang sudah berdiri tegak kembali.

    Melihat batang kejantanannya yang membesar dan mengeras itu membuatku bergidik dan gemas. Pelan-pelan kuoleskan sabun ke penisnya lalu kuusap-usap lembut batang penis yang perkasa itu. Kulihat Hasan mulai gelisah, sehingga kutingkatkan gerakan tanganku menjadi sebuah kocokan tapi tetap lembut. Kulihat gerakan tubuh Hasan semakin tidak beraturan, mau keluar rupanya dia, batinku.

    Tiba-tiba Hasan menarik tanganku dan melepaskannya dari batang penisnya. Lalu Hasan ganti menyabuni tubuhku, mula-mula dia menggosok kedua tanganku terus kedua kakiku. Sampailah gerakan menyabunnya pada daerahku yang vital. Lalu Hasan berdiri di belakangku. Kemudian dia merangkulku dan mulai menyabuni kedua payudaraku dengan telapak tangannya yang besar dan lebar. Aku berusaha bertahan agar tidak mengeluarkan suara desahan, tapi apa mau dikata saat dia mulai memelintir puting susuku sebuah desahan panjang keluar juga dari bibirku.

    Puas bermain di sekitar dada, usapannya merangkak ke bawah melewati perutku dan terus turun hingga akhirnya sampai di liang senggamaku. Aku kembali merintih saat Hasan mengusap liang vaginaku dengan lembut, busa sabun hampir menutupi permukaan lubang vaginaku. Saat gerakanku semakin liar, Hasan menarik tangannya dari bawah pahaku dan mengguyur tubuh kami berdua dengan air yang dingin menyejukkan. Aku lalu membalikkan tubuhku sehingga kini kami saling berhadapan, tinggi badanku hanya sampai kening Hasan.

    Kucium bibirnya dan dia membalasnya, gerakan lidahnya yang liar menari-nari di dalam rongga mulutku dan aku sangat menikmatinya. Tangan kami pun tidak tingal diam, dia menyentuh payudaraku dan aku pun menyentuh batang kejantanannya yang berdiri tegak perkasa. Terjadilah perang gerakan tangan antara kami berdua, Hasan asyik meremas dan memelintir sepasang puting susuku sambil sesekali menghisap dan menggigitnya. Sementara aku mencoba mengimbanginya dengan terus aktif mengocok batang penis Hasan yang sudah sangat keras. Desahan nafas dan rintihan kenikmatan kami berdua memenuhi semua sudut kamar mandi itu.

    Setelah kurasa cukup, secara perlahan kubimbing batang penisnya untuk memasuki lubang vaginaku. Kulebarkan sedikit kakiku agar batang kejantanan Hasan dapat lebih mudah memasuki liang vaginaku. Secara perlahan batang penis itu mulai menerobos liang senggamaku yang seakan menyedotnya. Kubiarkan sejenak rasa nikmat itu menjalari semua sendi tubuhku, lalu kulilitkan tanganku ke lehernya. Lalu Hasan menggendongku dan menyandarkan tubuhku ke dinding kamar mandi. Kemudian Hasan mulai menggoyang pinggulnya yang membuat batang kejantanannya keluar masuk di lubang vaginaku. Rasa nikmat luar biasa menderaku saat batang penis Hasan menghunjam ke dalam liang senggamaku. Sekitar sepuluh menit kemudian rasa nikmat itu mulai menjalari tubuhku, dan akhirnya sebuah erangan panjang menyertai ledakan orgasme yang menghantam tubuhku.Cerita Sex Dewasa

    Hasan berhenti sejenak untuk memberikan kesempatan padaku menikmati orgasme yang kesekian kalinya. Setelah melihat nafasku yang kembali teratur, dia kembali melanjutkan gerakan pinggulnya yang semakin cepat dan tajam. Aku tak menyangka kalau gerakannya itu bisa kembali membuatku merasakan detik-detik menjelang orgasme. Saat Hasan menjerit dan menumpahkan spermanya ke dalam lubang vaginaku, saat itulah aku merasa tubuhku seakan disetrum dan kembali ledakan orgasme menderaku. Padahal baru lima menit yang lalu aku mencapai klimaks. Setelah cukup tenang, aku menarik wajah Hasan lalu menciumnya lembut.

    “Saan.. Kakak boleh nanya nggak?”, ucapku membuka pembicaraan.

    “Apa itu Kakak sayang..?”, bisiknya lembut di telingaku.

    “Apa kamu sudah pernah melakukan ini dengan Tita.. Atau dengan cewek lain?”, tanyaku lembut. Dia tersenyum menatapku, lalu ia memelintir kedua puting susuku sehingga aku mendesah kecil, lalu dia berbisik..

    “Kak I’in adalah orang pertama yang menikmati batang kejantananku”.

    Astaga, ternyata pada saat Hasan bercinta denganku dia masih perjaka, tapi aku tidak begitu saja percaya dan sepertinya Hasan bisa melihatnya dari air mukaku. Lalu ia berkata bahwa dia rajin membaca buku dan cerita mengenai seks, selain itu dia juga sering menonton film BF untuk mencari trik-trik baru. Dan saat bersamaku dia mengeluarkan semua ilmu yang telah didapatnya, dan yang membuatku lebih kaget lagi adalah dia mengatakan bahwa itu pun belum semua ilmunya dikeluarkan.

    Karena periode datang bulanku dan kepulangan suamiku dari tempatnya bekerja, membuat hubunganku dengan Hasan agak terganggu. Praktis selama dua minggu lebih kami tidak melakukan pertemuan sejak hubungan seks pertama yang kami lakukan. Memang pernah sekali dia datang ke rumahku tapi itu hanya untuk menemani Tita adikku yang juga pacarnya.

    Selama dua minggu itu, aku selalu terbayang-bayang bagaimana perkasanya Hasan saat sedang mencumbuku malam itu, bahkan saat sedang bercinta dengan suamiku, yang kubayangkan saat sedang memasukkan batang kejantanannya ke liang senggamaku adalah Hasan.

    Dan siang itu, setelah suamiku kembali ketempat dia bekerja, aku mendapat SMS dari Hasan yang mengatakan bahwa dia sangat kangen padaku dan ingin bertemu di sebuah mall yang cukup terkenal di kota kami. Aku segera bersiap sambil mengkhayalkan apa yang akan kami lakukan siang ini.

    Setelah mengenakan celana kain ketat berwarna hitam lalu BH yang juga berwarna hitam yang menjadi pilihanku untuk menopang sepasang payudaraku yang menggantung indah. Dengan baju kaus warna putih yang agak kekecilan sehingga memamerkan lekuk tubuhku yang tak kalah dengan anak remaja. Aku segera bergegas pergi ke Mall dengan taksi yang kupesan melalui telepon.

    Setelah membayar ongkos taksi, aku segera melangkahkan kaki ke dalam mall yang cukup megah itu. Lalu aku menunggu di suatu tempat yang mana dari tempat itu kita akan bisa melihat hampir ke seluruh sudut ruangan. Saat sedang asyik memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang, ada tangan yang merangkul pinggangku dan disertai sebuah ciuman di pipi.

    “Halo Kak I’in.. Apa Kabar? Aku kangen loh..” sapanya sopan.
    “Baik.. Kangen ketemu.. Atau kangen yang lain..?” godaku.
    “Ah kakak.. Paham aja..” sahut Hasan sambil meremas pelan pantatku.

    Kemudian kami berbincang-bincang sejenak untuk menghilangkan kekakuan. Berkali-kali Hasan memuji penampilanku saat itu yang katanya tidak seperti seorang ibu yang telah memiliki dua orang anak, tetapi lebih mirip seorang perawan yang minta diperawani. Aku merasa malu dan langsung mencubit pinggangnya sehingga dia berteriak dan membuat beberapa orang yang lewat menoleh ke kami. Lalu Hasan menarik pinggulku untuk segera beranjak pergi dari sana.

    Dengan mesra kulingkarkan tanganku ke pinggang Hasan, sementara tangan Hasan semakin sering meremas-remas sepasang pantatku yang terlihat kencang dibalut celana kain yang ketat. Aku menunggu sebentar di luar mall, tak berapa lama Hasan datang dengan motornya. Lalu aku membonceng ke motor itu dan melingkarkan kedua tanganku ke pinggangnya sementara sepasang payudaraku menempel di punggung Hasan yang lebar.

    Sepanjang perjalanan, Hasan terus bercerita bagaimana dia sangat ingin bertemu lagi denganku, sementara aku hanya berdiam menempelkan dadaku ke punggungnya. Begitu sampai di tempat kostnya, Hasan memintaku naik duluan karena ia masih harus memarkir motor. Beberapa mata mengawasiku saat melangkahkan kaki ke kamar Hasan, entah karena penampilanku atau karena aku pernah bermalam di sini. Setelah membuka pintu aku melangkah masuk dan menutupnya lagi, kuperhatikan seisi kamar masih rapi seperti terakhir kali saat aku berkunjung dan bercinta di sini.

    Tak lama aku mendengar suara pintu dibuka lalu ditutup lagi, kemudian ada suara langkah kaki yang mendekat ke arahku. Kemudian sepasang tangan yang kokoh merangkul pinggangku, dan sebuah kecupan halus mendarat di leherku. Kuletakkan tanganku di kedua tangan Hasan yang sedang merangkulku, kemudian kecupan bibirnya bergerak ke arah sisi lain leherku. Perlahan tapi pasti rangsangan itu mulai merasuk ke tubuhku, ini kurasakan dari payudaraku yang mulai mengencang dan liang vaginaku yang mulai basah.

    Lalu kecupan di leher itu mulai berubah menjadi jilatan di sekitar leherku. Sementara tangan Hasan sudah mulai menelusup masuk ke dalam bajuku dari arah depan. Aku memejamkan mataku saat tangan itu mulai mengusap-usap perutku, jarinya berputar-putar di sekitar lubang pusarku hingga menimbulkan sensasi geli tertahan. Kemudian tangan itu bergerak ke atas sambil menyingkap bajuku, sementara kecupan dan lidah Hasan menyerang telingaku sebelah kanan. Ini membuatku mendesah halus.Cerita Sex Dewasa

    “Buka matanya dong sayang..” bisiknya halus di telingaku.

    Perlahan aku membuka kedua mataku, dan entah kapan ternyata Hasan telah memindahkan posisiku yang kini menghadap ke arah cermin lemari pakaiannya. Di cermin itu aku menyaksikan bahwa tangan Hasan telah sampai ke buah payudaraku, sementara kaus yang kukenakan sudah tersingkap setengahnya. Lalu kedua tangan Hasan mulai meremas lembut sepasang payudaraku yang masih berbalut BH, mataku menyipit dan dari bibirku keluar suara mendesah yang halus menikmati remasan tangannya pada dadaku.

    Lalu Hasan melepaskan baju kaus yang masih menggantung di leherku sehingga kini tubuh atasku hanya mengenakan BH hitam yang kontras dengan warna kulitku yang putih kekuning-kuningan. Aku merasakan di punggungku ada benda hangat yang bergerak turun dengan perlahan. Dengan giginya Hasan membuka kaitan pada bagian belakang BH-ku, dan dengan gerakan yang lembut akhirnya BH hitam itu melayang jatuh ke lantai. Seperti dikomando, semua aktivitas Hasan di tubuhku berhenti serempak.

    “Kakak punya sepasang susu yang sangat indah..” bisiknya di telingaku. Aku melihat ke arah cermin dan bola mata Hasan tampak sangat bersinar terbakar oleh kobaran api birahi.
    “Aku nggak bosan.. dan tak akan pernah bosan melihat.. menikmatinya..” bisik Hasan sambil mencium pipiku. Aku menjadi terharu mendengar perkataannya hingga rasa sayang dan hasrat birahiku semakin menjadi-jadi padanya.

    Aku bisa merasakan nafasnya mulai memburu dan berat. Dengan pasti bibir kami saling bertemu, pertama-tama hanya ciuman ringan. Kemudian mulai menjadi liar tak terkendali lagi, mataku kembali terpejam menikmati setiap sensasi yang kualami. Kusambut serangan lidah Hasan yang bergerak-gerak liar di dalam rongga mulutku. Selama beberapa saat lidahku dan lidah Hasan bergulat bagai dua naga langit yang sedang bertarung. Secara tiba-tiba Hasan mencengkeram kedua payudaraku dengan keras hingga membuatku melenguh keras dan kakiku limbung seolah tanpa pijakan.

    Entah mengapa ia melakukannya tapi itu memberikan sensasi luar biasa pada diriku. Aku hanya bisa pasrah sambil tanganku meremas rambut Hasan. Selama beberapa detik ia menahan posisi itu sehingga membuat nafasku mulai menjadi sesak, lalu secara perlahan dia melepas cengkeraman tangannya dan aku segera menghirup udara segar sepuas-puasnya. Tangan Hasan kembali bekerja dengan lembut di kedua buah payudaraku. Sesekali tangan nakal itu memilin-milin puting susuku kemudian meremasnya lagi dengan lembut, lalu puting susuku ditekan dan ditarik sampai membuatku menjerit pelan karena sensasi nikmat yang ditimbulkannya.

    Sambil duduk di tepi kasur Hasan memutar tubuhku hingga kini kami saling berhadapan, sementara kepalanya tepat berada di depan payudaraku yang telah mengeras dengan putingnya yang telah memerah. Sebuah senyum simpul terlukis di wajahnya, lalu dia membenamkan wajahnya di belahan kedua payudaraku. ceritasexdewasa.org Aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat di sana, kemudian seperti seekor anjing yang sedang mengendus bebauan, hidung Hasan bergerak mengitari kedua payudaraku, ini menambah rasa geli dan nikmat yang kurasakan.

    Akhirnya mulutnya memangsa salah satu puting susuku yang telah memerah dan mengeras. Di dalam mulutnya putingku mendapat serangan yang teramat dahsyat, lidah itu bergerak melingkar-lingkar di putingku sementara giginya menggigit-gigit halus buah dadaku. Hasan melakukannya bergantian pada kedua payudaraku. Dan ini sangat menyiksa batinku hingga kulampiaskan dengan menjambak rambut Hasan yang gondrong ikal itu.

    Kedua tangan Hasan mulai turun ke arah pantatku dan mulai meremasnya dengan lembut. Hisapan, jilatan dan gigitan pada payudaraku, dan remasan pada sepasang pantatku yang kencang membuatku semakin tak dapat mengontrol diri. Aku bisa merasakan bagaimana selangkanganku sudah sangat basah dan lembab, sementara belum ada tanda-tanda bahwa Hasan akan segera menyelesaikan permainannya pada bagian-bagian sensitif pada tubuhku. Tangannya tetap asyik bekerja di pantatku dan mulutnya terus aktif memangsa sepasang payudaraku.

    Ada rasa lega saat Hasan mulai membuka resleting celanaku, dan saat ia memerosotkannya ke bawah tampaklah pemandangan yang pasti akan membuat setiap lelaki akan lupa diri jika melihatnya. CD putih yang kukenakan sudah sangat basah sehingga mencetak jelas apa yang ditampungnya di sana. Rambut vaginaku yang tebal karena belum sempat dicukur sudah basah oleh lendir yang keluar dari liang senggamaku dan mengeluarkan bau khusus yang merangsang.

    “Wah sudah basah banget nih Kak.. Gimana dong..?” godanya nakal.
    “Kamu sich nakal.. Bikin kakak terangsang hebat.. Pokoknya kamu harus tanggung jawab San” bentakku pura-pura dongkol.

    dengan sekali sentak aku merasa melayang dan saat tersadar, tubuhku sudah terbaring di kasur tanpa ada benang yang melekat pada tubuhku. Lalu Hasan naik ke atas kasur dan langsung menindih tubuhku. Dengan nakal dia mencium bibirku lembut dan saat aku ingin membalasnya, bibirnya sudah bergerak turun ke arah leher sampai akhirnya mendarat di dadaku. Di sini bibir itu berhenti sejenak untuk menetek pada sepasang payudaraku, setelah puas di sana bibir itu kembali bergerak turun. Dan ketika mulai menyentuh rambut kemaluanku, bibir itu kembali berhenti dan menjulurkan lidahnya untuk menjilat perbatasan antara bagian yang berambut dan yang tidak.

    Aku yang benar-benar telah terbakar oleh birahi jadi tak sabar. Kujambak rambut Hasan dan kuarahkan kepalanya ke arah pangkal pahaku. Sebuah lenguhan panjang keluar dari sepasang bibirku saat lidah Hasan menyentuh bibir vaginaku.

    “Kakak cantik dan seksi sekali, Sayang..” katanya dngan suara parau pertanda bahwa dia juga sudah sangat terangsang.

    Setelah itu Hasan membentangkan kedua belah pahaku lebih lebar, kemudian kepalanya kembali tenggelam di selangkanganku. Tanpa membuang waktu, bibir Hasan mulai melumat bibir kemaluanku yang sudah sangat basah. Tubuhku menggelinjang hebat, sementara kedua tangannya merayap ke atas dan langsung meremas-remas kedua buah payudaraku.

    Bagaikan seekor singa buas ia menjilati liang kemaluanku dan meremas buah dadaku yang kenyal dan putih ini. Lidahnya yang hangat mulai menyusup ke dalam liang kemaluanku. Tubuhku terlonjak dan pantatku terangkat ke atas saat lidahnya mulai mengais-ngais bibir vaginaku. Diringi desahan dan erangan dari bibirku, tanganku menarik kepala Hasan lebih ketat agar lebih kuat menekan selangkanganku, sedangkan pantatku selalu terangkat seolah menyambut wajah Hasan yang masih tenggelam di selangkanganku.

    Aku semakin megap-megap dan mengerang karena kenikmatan yang amat sangat dan sulit dilukiskan dengan kata-kata. Aku menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan karena rasa geli dan nikmat ketika bibir dan lidah Hasan menjilat dan melumat bibir kemaluanku. Aku semakin melayang dan seolah terhempas ke tempat yang kosong. Tubuhku bergetar dan mengejang bagaikan tersengat aliran listrik. Aku mengejat-ngejat dan menggelepar saat bibir Hasan menyedot klitorisku dan lidahnya mengais-ngais dan menggelitik klitorisku.

    “Akhh.. Akhh.. Ohh..”

    Dengan diiringi jeritan panjang akhirnya aku merasakan orgasme yang teramat nikmat. Benar-benar pandai memainkan lidah si Hasan ini, pikirku, hingga pantatku secara otomatis terangkat dan wajah Hasan semakin ketat membenam di antara selangkanganku yang terkangkang lebar. Napasku tersengal-sengal setelah mengalami orgasme yang sangat hebat tadi.

    Lalu dengan tenang Hasan membersihkan cairan kenikmatan yang masih terus mengalir keluar dari liang senggamaku, sementara aku masih menetralisir aliran nafasku yang tersengal-sengal setelah mencapai puncak orgasme yang luar biasa. Rasanya seluruh tubuhku remuk dan pegal, kemudian Hasan pamit ke kamar mandi untuk berkumur sebentar.

    Beberapa saat kemudian dia kembali sudah dalam keadaan telanjang bulat dan langsung berdiri di samping kepalaku dengan batang kejantanannya berdiri tegak menantang ke arahku. Aku merinding melihat besarnya batang pelir milik Hasan dan saat membayangkan bagaimana rasanya saat batang kontol yang besar itu memasuki liang vaginaku. Hasrat yang sempat turun itu mulai naik lagi. Saat tanganku hendak memegangnya, Hasan bergerak mundur hingga membuatku menjadi bingung.

    “Hari ini biarkan aku saja yang muasin Kakak ya..” ucap Hasan sambil duduk di tepi kasur.
    “Maksud kamu..? Kakak nggak ngerti San..?” tanyaku bingung.
    “Hari ini aku pengen sepuasnya menikmati setiap inci tubuh Kakak” katanya tersenyum sambil membelai rambutku yang awut-awutan.
    “Hari ini aku pengen membuat kakak mencapai kenikmatan sampai mau pingsan.. Boleh ya Kak..?” pintanya memelas.
    “Ya udah.. Terserah kamu aja..” jawabku, walaupun sebenarnya aku tidak begitu paham dengan apa yang dia inginkan.Cerita Sex Dewasa

    Kemudian dengan tersenyum Hasan mencium keningku yang dilanjutkannya dengan mencium kedua mataku, lalu bibirnya mengecup hidung dan kedua pipiku. Setelah menggosok-gosokkan hidungnya dengan hidungku, bibirnya mengecup pelan bibirku. Dengan mesra aku melingkarkan kedua tanganku pada lehernya dan menariknya agar lebih puas, aku ingin menikmati permainan lidahnya dalam mulutku karena tadi aku merasa lidah itu terlalu cepat turun ke bawah.

    Lidah Hasan mulai menari-nari di dalam rongga mulutku, dengan lihainya lidah itu menelusuri setiap sudut rongga mulutku seolah memiliki mata. Sementara gerakan lidahku tidak dapat mengimbangi pergerakan lidah Hasan yang sangat liar. Dan itu menimbulkan sensasi nikmat yang memabukkan. Apa lagi saat kedua tangan Hasan mulai meremas-remas kedua buah payudaraku yang telah mengeras lagi. Payudara berukuran 34B itu seakan tenggelam dalam genggaman tangannya yang besar.

    Hasan lalu memegang batang kemaluannya dan ditusukkannya ke celah-celah bibir kemaluanku yang sudah sangat licin. Dengan lembut dia mendorong pantatnya sampai akhirnya ujung kemaluan Hasan berhasil menerobos bibir kemaluanku hingga membuat tubuhku menggeliat hebat ketika ujung kemaluan yang besar itu mulai menyeruak masuk. Perlahan namun pasti rasa nikmat mulai kurasakan dari arah selangkanganku.

    Kenikmatan yang kurasa betul-betul membuatku hampir berteriak histeris. Sungguh batang kemaluan Hasan luar biasa nikmatnya. Liang kemaluanku serasa berdenyut-denyut saat menjepit ujung topi batang kemaluan Hasan yang bergerak maju mundur secara perlahan. Dia terus menerus mengayunkan pantatnya, sementara keringat kami berdua semakin deras mengalir dan mulut kami masih terus berpagutan.

    “Akkhh.. Ssaann..” aku menjerit perlahan saat kurasakan betapa batang kemaluan Hasan menyeruak semakin dalam dan serasa begitu sesak memenuhi liang senggamaku. Batang penisnya terasa berdenyut-denyut dalam jepitan liang vaginaku. Apa lagi lidah Hasan yang panas mulai menyapu-nyapu seluruh leherku dengan ganasnya hingga bulu kudukku serasa merinding di buatnya.

    Aku tak sadar saat Hasan kembali mendorong pantatnya hingga batang kemaluannya yang terjepit erat dalam liang kemaluanku semakin menyeruak masuk. Aku yang sudah sangat terangsang menggoyangkan pantatku untuk memperlancar gerakan batang kemaluan Hasan dalam liang kemaluanku. Kepalaku bergerak-gerak liar merasakan sensasi hebat yang sedang kualami. Liang kemaluanku semakin berdenyut-denyut dan ada semacam gejolak yang meletup-letup hendak pecah dari dalam diriku.

    Bless.., dengan perlahan tapi pasti batang kemaluan yang besar itu melesak ke dalam lubang kenikmatanku. Vaginaku terasa penuh sesak oleh batang kemaluan Hasan yang besar itu.

    “Hebat Kak.. Gak terasa kalau lubang kakak ini sudah dua kali ngeluarin anak..” puji Hasan. Ini membuatku semakin merasa bangga dan bahagia.

    Terasa kehangatan batang kemaluannya dalam jepitan liang kemaluanku. Batang kemaluan Hasan mengedut-ngedut dalam jepitan lubang kenikmatanku. Kemudian dengan perlahan sekali Hasan mulai mengayunkan pantatnya hingga kurasakan batang kejantanannya menelusuri setiap inci liang kenikmatanku. Ini menimbulkan sensasi yang teramat nikmat untukku. Aku tak sempat mengerang karena tiba-tiba bibir Hasan sudah melumat bibirku. Lidahnya menyeruak masuk ke dalam mulutku dan mencari-cari lidahku. Aku pun membalasnya.

    Hasan mendengus perlahan pertanda bahwa birahinya sudah mulai meningkat sementara gerakan batang kemaluannya semakin mantap di dalam liang kemaluanku. Aku dapat merasakan bagaimana batang kontolnya yang keras menggesek-gesek dinding vaginaku. Aku pun mengerang dan tubuhku bergerak liar menyambut gesekan batang kejantanannya. Pantatku mengangkat ke atas seolah-olah mengikuti gerakan Hasan yang menarik batang kejantanannya dengan cara menyentak seperti orang memancing sehingga hanya ujung batang kejantanannya yang masih terjepit di dalam lubang kenikmatanku.

    Lalu ia mendorong batang kejantanannya secara perlahan hingga ujungnya seolah menumbuk perutku. Hasan melakukannya berulang-ulang. Aku merasa ada semacam sentakan dan kedutan hebat saat Hasan menarik batang kemaluannya dengan cepat. Gerakannya ini membuat napasku semakin terengah-engah dan merasakan kenikmatan yang terus naik dan tak tertahankan. Besarnya batang kejantanan Hasan membuat liang vaginaku terasa sempit. Sangat terasa sekali bagaimana nikmatnya batang kemaluan Hasan menggesek-gesek dinding liang vaginaku.

    Secara refleks aku pun mengimbangi genjotan Hasan dengan menggoyang pantatku. Semakin lama genjotan Hasan semakin cepat dan keras, sehingga tubuhku tersentak-sentak dengan hebat. Slep.. slep.. slep.. demikian bunyi gesekan batang kejantanan Hasan saat memompa liang kemaluanku.

    “Akhh..! Akkhh..! Oohh..!” erangku berulang-ulang. Benar-benar luar biasa sensasi yang kudapatkan. Hasan benar-benar menyeretku ke surga kenikmatan, aku kembali merasa seperti gadis perawan yang sedang melepaskan mahkotanya.

    Tak berapa lama kemudian aku merasakan nikmat yang luar biasa dari ujung kepala hingga ujung kemaluanku. Tubuhku menggelepar-gelepar di bawah genjotan Hasan. Aku menjadi lebih liar dan menyedot-nyedot lidah Hasan dan kupeluk tubuhnya erat-erat seolah takut terlepas.

    “Ooh.. Oh.. Akhh..!” aku menjerit ketika hampir mencapai puncak kenikmatan. Tahu bahwa aku hampir orgasme, Hasan semakin kencang menggerakkan batang kemaluannya yang terjepit di liang kenikmatanku. Saat itu tubuhku semakin menggelinjang liar di bawah tubuh Hasan yang kekar. Tak lama kemudian aku benar-benar mencapai klimaks.

    “Oohh.. Aauuhh.. Oohh..!” jeritku tanpa sadar. Secara refleks jari-jariku mencengkrram punggung Hasan. Pantatku kunaikkan ke atas menyongsong batang kemaluan Hasan agar bisa masuk sedalam-dalamnya. Lalu kurasakan liang senggamaku berdenyut-denyut dan akhirnya aku merasakan sedang melayang, tubuhku serasa ringan bagaikan kapas. Aku benar-benar orgasme!! Gerakanku semakin melemah setelah mencapai puncak kenikmatan itu. Hasan lalu menghentikan gerakannya.Cerita Sex Dewasa

    “Enak kan Sayang..” bisik Hasan lembut sambil mengecup pipiku. Aku hanya terdiam dan wajahku merona karena rasa malu dan nikmat. Hasan yang belum mencapai klimaks membiarkan saja batang kejantanannya terjepit dalam liang kemaluanku. Hasan sengaja membiarkan aku untuk menikmati sisa-sisa kenikmatan itu. Aku kembali mengatur napasku, sementara aku merasakan batang kemaluan Hasan mengedut-ngedut dalam jepitan liang senggamaku. Tubuh kami berdua sudah mengkilat karena peluh yang membanjiri tubuh kami berdua. Hanya kipas angin yang membantu menyejukkan kamar kost mesum itu.

    Setelah beberapa saat, Hasan yang belum mencapai klimaks kembali menggerak-gerakkan batang kemaluannya maju mundur. Gerakannya yang perlahan, lembut dan penuh perasaan itu kembali membangkitkan birahiku yang telah sempat menurun. Kugoyangkan pinggulku seirama gerakan pantat Hasan. Rasa nikmat kembali naik ke ubun-ubunku saat kedua tulang kemaluan kami saling beradu. Gerakan batang kemaluan Hasan semakin lancar dalam jepitan liang senggamaku.

    Aku yang sudah cukup lelah hanya dapat bergerak mengimbangi ayunan batang kemaluan Hasan yang terus memompaku. Hasan semakin lama semakin kencang memompa batang kemaluannya. Sementara mulutnya tidak henti-hentinya menciumi pipi dan leherku dan kedua tangannya meremas sepasang payudaraku yang indah. Mendapat rangsangan tanpa henti seperti itu, nafsuku kembali merambat naik menuju puncak. Dapat kurasakan bagaimana kenikmatan mulai kembali menjalari seluruh tubuhku.

    Bermula dari selangkanganku, kenikmatan itu menjalari putingku dan naik ke ubun-ubun. Aku balik membalas ciuman Hasan. Pantatku bergerak memutar mengimbangi batang kemaluan Hasan yang dengan perkasanya menusuk-nusuk lubang vaginaku. Gerakan Hasan semakin liar dengan napas yang mendengus tak beraturan. Pantatku kuputar-putar, kiri-kanan semakin liar untuk menggerus batang kejantanan Hasan yang terjepit erat di dalam lubang kenikmatanku.

    Aku pun semakin tak bisa mengontrol tubuhku hingga kusedot lidah Hasan yang menelusup masuk ke dalam mulutku. Tubuh Hasan mengejat-ngejat seperti orang yang terkena setrum karena rasa nikmat yang luar biasa. Kemudian jeritan panjang memenuhi ruangan kost itu saat aku mencapai orgasme untuk yang kesekian kalinya. Sementara gerakan tubuh Hasan mulai mengejat-ngejat tak beraturan.

    “Ough.. Ough.. Ughh..!” Dengan napas yang terengah-engah, Hasan yang berada di atas tubuhku semakin cepat menghunjamkan batang kejantanannya. Lalu.. Crrtt.. Crrtt.. Crrtt.. Crrtt.. Crrtt.. Aku bisa merasakan bagaimana batang kejantanan Hasan menyemprotkan air maninya dalam kehangatan liang senggamaku. Matanya membeliak dan tubuhnya berguncang hebat. Batang kejantanan Hasan pun mengedut-ngedut dengan kerasnya saat menyemburkan air maninya. Aku bisa merasakan ada semprotan hangat di dalam sana, nikmat sekali rasanya. Kami mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan.

    “Teruss.. Teruss.. Putarr.. Sayanghh..!” dengus Hasan.

    Baca Juga Cerita Sex Gelora Sex

    Aku membantunya dengan semakin liar memutar pinggulku. Setelah beberapa saat, tubuhnya ambruk menindih tubuhku dengan batang kemaluan yang masih menancap pada liang vaginaku. Kurasakan ada cairan yang mengalir keluar dari liang kemaluanku. Napas kami menderu selama beberapa saat setelah pergumulan nikmat yang melelahkan itu. Lalu kupeluk tubuh Hasan yang basah oleh keringat, kuciumi seluruh wajahnya.

    “Thank’s ya San.. Kamu memang sangat perkasa.. Tita sangat beruntung memilikimu..” bisikku di telinganya.
    “Kak I’in juga.. Jangan menolak kalau lain kali aku pengen bercinta lagi dengan kakak ya..” balasnya. Aku mengangguk perlahan.

    Lima belas menit kemudian aku membersihkan diri di kamar mandi sementara Hasan masih berbaring mengatur napasnya. Saat mengenakan pakaian dan celana, Hasan masih mencuri kesempatan untuk meremas kedua dadaku dan mencium bagian belakang leherku. Atas permintaannya, BH dan CD yang kupakai saat itu kuberikan pada Hasan sebagai tanda mata bahwa hubungan kami tak akan berhenti sampai di sini saja.

  • Diaryku

    Diaryku


    9 views

    Namaku Lina. Sejak aku kuliah semester awal, aku telah memutuskan untuk mengenakan busana Muslimah

    termasuk mengenakan Jilbab yang menutupi Kepalaku. Meski demikian pakaian tersebut tak mampu menutupi
    lekuk liku tubuhku yang indah. Terutama pada bagian dada 34C ku yang memang sangat menonjol itu.
    Jika pada umumnya wanita lain mengenakan busana muslimah dengan ukuran longgar, aku memilih mengenakan
    pakaian yang ketat hingga membentuk tubuhku dengan jelas. Jika pada umumnya wanita lain mengenakan
    Jilbab yang panjang hingga sampai ke perut, aku justru memilih Jilbab pendek yang bahkan tidak sampai
    menutupi dadaku. Karena terus terang saja, aku memang sangat bangga pada bentuk dadaku yang besar,
    montok indah. Jika mengenakan BH yang tepat, dipadu dengan baju yang ketat, maka akan terlihat menonjol
    dan menantang sekali.

    cerita-sex-dewasa-diaryku

    Pacarku sangat tergila-gila pada bentuk dadaku yang montok. Setiap kali kami bertemu, pasti
    disempatkannya untuk mencumbu dadaku. Sementara kedoyananku pada penis bermula ketika aku masih duduk di
    bangku SMA. Saat itu aku hanya berani menyentuh kontol pacarku saja. Menyentuh, mengelus-elus. Tidak
    lebih dari itu.

    Lagipula ketika SMA itu pacarku memang tidak pernah menuntut lebih. Dia sudah cukup keenakan hanya
    dengan kusentuh-sentuh saja. Bahkan seringkali aku hanya menyentuh penisnya dari luar celananya.

    Namun semuanya berubah ketika aku mulai kuliah di Jakarta. Perkenalanku dengan cowok-cowok Jakarta yang
    ternyata penuh pengalaman membuat hidupku berubah.

    Sejak pertama kali pacarku meminta aku mengisap penisnya, aku langsung suka. Dan sejak itu aku jadi
    wanita berjilbab yang doyan kontol.

    # Sebuah Permulaan

    Pagi ini hangatnya mentari yang menerobos jendela kamarku membuatku terbangun dari tidurku yang lelap
    setelah semalam memekku luluh lantak dijilat pacarku.

    Masih terbayang bagaimana lidahnya menari-nari di dalam memekku. Masih terbayang juga bagaimana
    kontolnya memenuhi rongga mulutku sampai muncrat dengan derasnya di dalam mulutku. Saking derasnya
    sampai-sampai tumpah meleleh membasahi leherku.

    Malas-malasan kusingkirkan selimut yang menutupi tubuh telanjangku. Kubiarkan angin menerpa tubuh
    mulusku. Sambil tanganku meraba-raba bulu memekku yang tipis, aku membayangkan kembali kejadian-kejadian
    di masa lalu saat pertama kali aku mengenal kontol.

    ***

    Saat itu aku masih kelas 3 SMA. Sebenarnya saat itu aku belum boleh pacaran. Tapi mana bisa aku tahan.
    Maka dengan diam-diam aku tetap menjalin hubungan dengan teman sekelasku.

    Ceritanya waktu itu aku janjian dengan pacarku mau nonton film di bioskop. Sekitar jam 6.30 sore aku
    bergegas pergi tanpa pamit.

    Sesampai di bioskop pacarku menyambut dengan senyum lebarnya. Langsung digandengnya tanganku menuju
    teater 3 karena pertunjukan sudah hampir dimulai.

    Ternyata da memilih tempat duduk paling belakang dan paling ujung. Benar-benar tempat yang strategis dan
    aman untuk pacaran. Kami pun langsung duduk manis di pojok bioskop ini.

    Belum lagi pertunjukan dimulai, tangannya sudah mulai bergerilya meraba-raba pahaku yang terbungkus rok
    longgar dengan potongan agak pendek. Perlahan dia menyentuh lututku yang tidak tertutup rok. Padahal
    lampu bioskop belum dimatikan. Tapi kudiamkan saja perbuatannya itu. Karena kulihat di barisan tempat
    kami duduk tidak ada penonton lain. Jadi bisa dipastikan tidak ada yang melihat gerakan jemarinya di
    lututku.

    Mungkin karena merasa tidak ada penolakan dariku membuat jemarinya semakin berani. Perlahan jari-
    jemarinya bergerak ke atas menggeser rokku hingga sedikit tersingkap. Bulu kudukku lamgsung meremang
    menerima serangan seperti ini.

    Ini adalah pengalaman pertama aku di raba-raba seperti ini. Biasanya pacarku hanya berani menggandeng
    dan menggenggam tanganku saja. Kejadian ini benar-benar pengalaman pertama buatku.

    Perlahan jemari di atas pahaku semakin bergerak ke atas. Perasaan aneh menyelimuti diriku. Geli… tapi
    nikmat. Hingga akhirnya rokku benar-benar tersingkap sampai atas. Dan celana dalamku pun terpampang
    dengan jelasnya sementara lampu bioskop masih terang benderang. Sejenak ada terbersit rasa takut
    ketahuan. Tapi rasa nikmat mengalahkan pikiran sehatku. maka kubiarkan saja jemari kasar itu terus
    bermain-main di atas pahaku. bahkan kemudian kurasakan jemarinya mulai menyentuh belahan memekku dari
    luar celana dalam.Cerita Sex Dewasa

    Aku tersentak nikmat. Rasa nikmat yang belum pernah kurasakan.

    Sedang kunikmati gesekan jemarinya di belahan memekku, tiba-tiba lampu padam. Ah, pertunjukan akan
    dimulai.

    Aku tidak perduli lagi dengan keadaan sekitar. Langsung kurengkuh wajah pacarku ini. Kucium bibirnya
    penuh nafsu. Lidahku bermain-main di rongga mulutnya. Saling membelit, melilit, menjilat-jilat dengan
    liar. Padahal ini adalah ciuman pertama bagiku. Aku hanya mengikuti naluri nafsuku saja.

    Menerima perlakuanku yang penuh nafsu itu membuat dia bertambah semangat. Jemarinya langsung menerobos
    celana dalamku. Dan akupun terpekik pelan saat kurasakan jemarinya menyentuh memekku secara langsung.
    Perlahan dibukanya belahan memekku sambil mencari-cari klitorisku. Dan saat benda kecil itu tersentuh,
    sungguh rasanya seperti melayang ke langit ke tujuh. Luar biasa nikmatnya. Jika saja aku sedang tidak di
    dalam bioskop, aku pasti sudah berteriak histeris penuh nikmat.

    Saat kurasakan tangan pacarku agak terhambat celana dalam, tanpa ragu-ragu segera kupelorotkan celana
    dalamku dan kuletakkan celana dalamku itu di kursi sebelah. Lalu kubentangkan kakiku lebar-lebar agar
    memekku bebas terhidang dengan lezatnya. Dengan demikian jemari nikmat itu semakin mudah mengobok-obok
    memekku yang sudah banjir bandang.

    “Aaaaah… gosok terus, sayaaang…” aku mengerang perlahan takut terdengar penonton lain. kugoyang-
    goyangkan pinggulku agar jemarinya menyentuh itilku. Setiap kali itilku tersentuh, rasanya seperti ada
    ribuan jemari yang menggelitik sekujur tubuhku.

    Nikmaaaaaat… Oooooh…!!!

    Tak cukup sampai disitu, segera kubuka kancing-kancing kemejaku. Kubuka semuanya sampai tubuh bagian
    depanku terbuka bebas. Lalu kubuka kancing BH ku dari belakang. Tak ayal kedua payudaraku yang berukuran
    extra itu langsung melompat mencari udara segar.

    Kubuka BH-ku lewat kedua lenganku dan kuletakkan di kursi sebelah bersama CD-ku yang sudah nangkring
    duluan. Kini dadaku terpampang dengan indah. Lalu kuremas-remas sendiri mengimbangi gerak jemari pacarku
    yang masih asik bermain-main di memekku.

    Tak lama kurasakan ada sesuatu yang mendesak akan meledak dari dalam tubuhku. Seluruh otot ditubuhku
    mengejang. Terutama otot memek. Beberapa kedutan kurasakan dengan rasa nikmat yang tak terkira.
    “Aaaaaaaah… sayaaaaanggg… enak bangeeeeet…”

    Masih tersisa beberapa kedutan lagi sampai akhirnya tubuhku lemas tak berdaya. Rasanya bagaikan tulang-
    tulang di seluruh tubuh ku di lepas satu per satu.

    Aku masih terbuai dengan rasa nikmat yang tiada tara saat kurasakan puting dadaku ada yang mencium.
    Oooh… nikmat itu datang lagi. Lalu pacarku berbisik lembut di telingaku. “Lin, gantian pegang kontolku
    donk…”

    Aku hanya mengangguk sambil menjawab “Iya…” dengan perlahan. Dalam hatiku muncul rasa penasaran seperti
    apa bentuk kontol itu sebenarnya.

    Dengan agak terburu-buru kekasihku menurunkan celana berikut celana dalamnya sampai sebatas lutut. Dan
    terlihat lah benda bulat panjang yang mengacung dengan gagahnya.

    Agak ragu kusentuh benda yang katanya bisa bikin enak memek itu.

    Melihat aku ragu-ragu, pacarku langsung menyambar tanganku dan membimbingnya untuk menggenggam kontol
    besar itu. Baru sekali itu aku melihat langsung kontol yang sedang ngaceng. Karena belum mengerti harus
    bagaimana, aku hanya mengelus-elus perlahan sambil kubolak-balik memperhatikan bentuknya.

    Sedang seru-serunya menggenggam kontol, tiba-tiba lampu menyala terang benderang. Aku panik bukan main.
    Buru-buru kukancingkan bajuku tanpa sempat memakai BH. Bahkan celana dalam pun belum sempat kukenakan.

    Jadilah aku pulang dengan tanpa BH tanpa celana dalam…

    ***

    # Ancol Kenangan

    Selepas SMA, aku melanjutkan kuliah ke Jakarta di sebuah perguruan tinggi yang lokasinya dekat dengan
    Ancol. Disaat kuliah inilah aku memutuskan untuk memakai busana muslim lengkap dengan Jilbab yang
    menutupi kepalaku.

    Di bulan ketiga aku kuliah, aku berkenalan dengan seorang cowok dari fakultas teknik. Wajahnya lumayan
    ganteng, tubuh atletis karena memang dia rajin berolah raga. Dadanya bidang tegap dengan bongkahan
    pantatnya yang membulat bikin ngences. Doni benar-benar punya bentuk tubuh yang sangat menjanjikan.

    Kencan pertama kami pergi nonton di bilangan Kelapa Gading. Saat film dimulai, Doni mulai menggenggam
    jemariku. Kemudian dia mencium jemariku. Aku menunggu dengan berdebar langkah berikutnya.

    Tapi ternyata serangannya hanya sampai di situ saja. Hingga film usai, dia hanya menciumi jemariku tidak
    lebih. Ah, padahal aku ingin lebih. Ingin rasanya aku memulai, tapi malu juga. Apalagi ini baru kencan
    pertama. Akhirnya kami pulang tanpa meninggalkan kesan apapun.

    Hari-hari berikutnya aku disibukkan dengan kuliah hingga tidak terlalu sering bertemu dengan dia.

    Namun selang 3 hari, kembali Doni mengajakku kencan. Mau makan malam katanya. Akupun langsung menyetujui
    dan minta dia menjemputku di tempat kostku.

    Jam 8 malam dia datang menjemput, dan kami langsung menuju Ancol dengan mobilnya. Awalnya kami hanya
    berputar-putar saja di kawasan ancol. Mungkin karena dia mengira aku belum pernah ke ancol. Maklum baru
    3 bulan di Jakarta.

    Akhirnya kami parkir di tempat yang agak sepi. Sebenarnya aku bingung juga, ngapain ngobrol di mobil.
    Katanya mau makan malam. Tapi belum sempat aku bertanya, tiba-tiba dia sudah langsung mencium bibirku.
    Ciumannya begitu menghanyutkan membuat aku benar-benar terlena. Apalagi tangan kanannya langsung meremas
    dada kiriku dengan lembut. Lalu tanpa sempat aku menolak, Jilbabku di buka. Aku ingin mencegah, tapi
    kupikir pacaran begini pake jilbab, ya malu sama jilbab lah. Maka kubiarkan saja jilbabku melayang entah
    kemana.

    Perlahan ciumannya berpindah ke kupingku yang sudah tak tertutup jilbab lagi. Langsung aku gemetar
    merasakan geli-geli enak yang luar biasa. Setelah itu lidahnya turun menjilati leherku yang putih mulus.
    Aku semakin melayang.
    Perlahan tangannya membuka kancing-kancing bajuku sampai copot semua. Dengan semangat, kemejaku di
    kuakkannya hingga terbuka lebar. Lalu tangannya bergerak ke punggungku dan ‘Tasss !’ kancing BH-ku
    dilepas. Dadaku yang besar langsung melompat indah.

    Dengan penuh nafsu dia angkat BH-ku keatas, dan tampaklah payudaraku yang putih besar dengan putingnya
    yang sudah mengacung keras. Sejenak dipandanginya kedua buah dadaku. Lalu perlahan diusapnya putingku.
    Dipencet-pencet, dipelintir pelan, ooooh…. rasanya tidak kuat lagi. Langsung kutarik kepalanya minta
    diisep.

    Rupanya dia mengerti keinginanku. Langsung lidahnya bermain-main di putting susuku. Ujung pentilku di
    sentil-sentil dengan lidahnya. Rasanya bukan main. Enaaakkk sekali…

    “Aaaaah… Sayaaaang…. Isep, sayaaang…” tak mampu kutahan kejolak nafsuku. Saat mulutnya melahap dadaku,
    eranganku semakin menjadi. “Aaaaaaghhhh… terus, sayaaang… isep yang kenceeeng…” Lupa sudah aku dengan
    Jilbabku. Yang kuinginkan saat ini adalah kenikmatan yang lebih dan lebih …

    Celana dalamku rasanya sudah basah. Maka agar dia langsung menuju memekku yang sudah becek ini, kuangkat
    kakiku dan ngangkang selebar-selebarnya. Rok-ku tersingkap sampai perut. CD-ku terlihat dengan bebasnya.
    Benar saja. Melihat gayaku seperti itu, tangannya langsung dimasukkan ke dalam CD-ku.

    “Ooooooooogh… iya itu, sayang… mainin yang itu…” aku benar-benar sudah lupa diri.Saat itilku dimainkan,
    teriakanku semakin menjadi-jadi. Kugoyang-goyangkan pantatku mencari kenikmatan lebih. Kuimbangi gerakan
    jarinya di memekku dengan goyangan pinggulku.

    Sampai akhirnya desakan di memekku semakin kuat. Otot-otot memekku mengejang, dan… “Oooooooooghhh…
    sayaaang… enaaaaaaak!!” Memekku berkedut-kedut beberapa kali. Rasanya sungguh luar biasa. Bagaikan
    dilempar ke angkasa, kemudian dihempaskan kembali ke bumi dengan nikmat.

    Aku lemas, tersandar, ngangkang…

    Kubiarkan kakiku ngangkang dengan lebarnya beberapa saat. Sambil kuresapi kenikmatan barusan. Saat
    kubuka mataku, tampak senyum lebar pacarku. Langsung kukecup mesra bibirnya. Lalu dia bangkit dan
    merebahkan sandaran kursinya. Dia pun terlentang di kursinya, dan tampaklah kontolnya mengacung dengan
    gagahnya, Rupanya saat aku terpejam tadi dia sudah membuka celana berikut CD-nya.

    Aku tertegun menatap kontolnya yang sudah ngaceng itu. Wuiiiih… Gede banget. Tegak berdiri, Urat-uratnya
    tampak bertonjolan di sekitar kontolnya. Kepala kontolnya begitu besar seperti helm tentara. Nafsuku
    langsung bangkit lagi.

    Perlahan kugenggam kontol besar itu. Waaaw, tanganku yang mungil ini hampir tidak cukup menggenggamnya.
    Kontolnya kuremas-remas, kuusap-usap, seperti yang biasa dulu kulakukan dengan pacarku saat di SMA.

    “Diisep donk, say…” kata pacarku tiba-tiba.

    Aku terkejut. ”Kok diisep? kenapa ?”

    “Ya biar enak”. jawabnya.

    Karena penasaran, kucoba mencium kepala kontolnya perlahan. Lalu kujilat batang kontolnya dari bawah ke
    atas. Tapi dia rupanya belum puas kalau belum kukulum. Dia minta aku memasukkan kontolnya ke mulutku.
    Meski agak jijik, tapi karena memang pengen tau, kumasukkan kontol gede itu ke mulutku yang lebar.
    Kuisap, kepalaku naik turun dengan sendirinya. Ternyata enak juga.

    Gesekan kontol besar itu di mulutku menimbulkan sensasi nikmat sendiri. Aku semakin semangat mengelomoh
    kontolnya yang luar biasa itu. Sesekali kujilati kepala kontolnya. Lalu lubang kencingnya kubuka-buka
    dengan lidahku. Dia sampai merem melek akibat perbuatanku itu. Kubasahi seluruh batang kontolnya dengan
    ludahku, kemudian kukocok dengan kuat pake tangan. Saat kontolnya agak kering, kumasukkan lagi ke
    mulutku. Lalu kukocok lagi.

    “Iyaaaah… terus, sayang… isep yang kenceng…. Ooohhh…” pacarku benar-benar keenakan. Melihat kondisi
    pacarku seperti itu, aku semakin bersemangat memberikan kenikmatan padanya.

    “Oooogghhh… kamu pinter, sayang… kocok terus, sayaaaang…” rintihnya.

    Sampai kurasakan kontolnya semakin membesar, lalu tiba-tiba… “Craaaaattttss…!!!” air maninya menyembur
    saat kukocok dengan kencang. Aku tak sempat mengelak hingga mukaku terkena muncratan air maninya. Begitu
    juga leher dan dadaku.

    Terus kukocok kontolnya sampai tidak ada lagi air mani yang keluar. Lalu kujilati kontolnya sampai
    bersih. Tampak pacarku begitu puas. Dan aku juga sangat puas. Pertama kali ngisep kontol dan pertama
    kali melihat sperma laki-laki.

    Sejak itu, aku semakin doyan ngisep kontol. Setiap ada kesempatan aku selalu minta untuk ngisep
    kontolnya sampai dia muncrat keenakan…

    ***

    # Kontol Sore-Sore

    Aku masih bengong sendirian di kamar. jam baru menunjukkan pukul 4 sore, Sudah seminggu lewat sejak
    terakhir aku ngisep kontol. Dan malam ini pacarku mengajakku jalan malam lagi. Ugh… masih lama. Padahal
    aku udah kangen banget sama kontolnya. Kangen pengen kuisep-isep lagi.

    Sedang aku termenung sendiri, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar kostku. Dengan agak malas aku
    membuka pintu.

    Saat pintu terbuka, ternyata pacarku yang datang lebih awal. Aku terkejut sekaligus senang dengan
    kedatangannya. “Kok udah dateng am segini? Aku belom mandi lho…”

    Pacarku tersenyum sambil melangkah masuk ke dalam kamarku. Katanya dia udah kangen. Gak tahan nunggu
    sampai malam.

    Aku senang mendengarnya. Supaya bisa cepat berangkat, aku pamit mau mandi dulu. Tapi pacarku mencegah.
    Dia bilang mandinya nanti aja. Sekarang ngobrol-ngobrol dulu katanya. Lalu dia menutup pintu kamar. Ups!
    Cepat-cepat aku cegah. Soalnya di tempat kostku ini kalau ada tamu cowok boleh aja di bawa ke kamar.
    Tapi gak boleh tutup pintu.

    Pacarku sepertinya kecewa. Untung aku cepat dapat ide. Segera aku minta pacarku menggeser tempat tidurku
    ke balik pintu kamar. Sehingga pintu hanya bisa di buka sepermpat. Dan ruang dibalik pintu menjadi agak
    lega dan aman. Kalaupun ada yang masuk, pasti kita yang di dalam udah tau duluan.

    Mendengar itu pacarku langsung semangat. Dengan badannya yang kekar itu sebentar saja tempat tidurku
    sudah berpindah posisi. Dan benar. Posisi di balik pintu benar-benar aman.Cerita Sex Dewasa

    Dengan agak tergesa tubuhku di dorong hingga jatuh telentang di atas tempat tidurku di bagian yang
    terlindung. Dan dengan tergesa juga tiba-tiba dia sudah menindih tubuhku.Bibirku langsung dilumatnya
    dengan penuh gairah. Lidah kami langsung saling melilit. Bahkan lidahnya sampai menggaruk-garuk langit-
    langit mulutku.

    Dengan cepat gairahku naik. Memekku langsung terasa lembab dan berdenyut minta di jilat.

    Ciuman pacarku mulai bergerak dari bibirku bergeser ke kupingku. Daerah paling sensitive yang bisa bikin
    aku menggelinjang hebat. Kalau bukan karena pintu yang masih terbuka, pasti aku sudah mengerang-ngerang
    keenakan. Terpaksa aku tahan suaraku agar tidak terdengar dari luar. Benar-benar tersiksa rasanya.
    Tersiksa dalam penjara kenikmatan birahi yang luar biasa.
    Lalu lidahnya meluncur turun ke leherku. Digigit-gigit kecil leherku, bikin aku tambah kelojotoan. Aku
    tidak perduli walau leherku penuh dengan bekas gigitan. Toh kalau keluar aku selalu pakai jilbab. Gak
    bakal keliatan.

    Sambil terus menjilat leherku, tangannya mulai menggerayangi dadaku. Diremas-remas begitu benar-benar
    bikin aku tidak tahan. “Hhhhhhh… sayaaang…” erangku pelan takut terdengar dari luar. Kurasakan jemari
    tangan pacarku mulai bekerja membuka kancing-kancing kemejaku. Ups! segera kucegah. Aku takut kalau aku
    sampai telanjang lantas tiba-tiba ada yang masuk, bisa berabe.

    Akhirnya pacarku hanya meremas-remas dadaku dari luar bajuku saja. Tidak berhenti disitu, tangannya
    dengan cepat mengangkat rokku sampai ke perut. Maka memekku yang masih tertutup CD langsung terhidang
    dihadapannya. Tidak menunggu lama-lama, jemarinya langsung menyelinap kebalik CD-ku dan menari-nari di
    lubang penuh nikmat itu.

    Aku benar-benar tidak sanggup lagi bertahan. Tubuhku menggelinjang dan bergetar dengan hebat. Setiap
    gesekan jemarinya membuat aku melayang-layang tidak karuan. Tiba-tiba tangannya berusaha menarik lepas
    CD-ku.

    “Jangan!” meski sudah dipenuhi birahi, aku masih sempat kuatir jika nanti ada yang masuk secara tiba-
    tiba.

    Untunglah pacarku tidak protes. “Ya udah, kalo kamu gak mau buka celana, aku aja deh.” katanya sambil
    langsung membuka celananya sampai sebatas lutut.

    Woooow… aku terbelalak melihat kontolnya yang gede panjang sudah berdiri tegak siap tempur. Belum sempat
    aku meraih batang kontol besar itu, pacarku sudah menindih tubuhku lagi. Kontolnya yang sudah keras itu
    di gesek-gesekkannya ke memek aku yang masih tertutup CD.

    Ampuuuunnn…. rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Enaknya luar biasa.

    Terus saja dia gesek-gesek kontolnya ke memekku. Terkadang malah kepala kontolnya di tusuk-tusukkan ke
    lobang memekku. Membuat tubuhku semakin bergetar.

    Akhirnya aku tak mampu lagi bertahan. Bagaikan bendungan yang jebol, seluruh hasratku memancar dengan
    derasnya. Memekku berkedut-kedut dengan gencarnya. CD-ku basah, benar-benar banjir. Tubuhku lemas
    lunglai, kunikmati terjangan gelombang orgasme ini dengan kaki mengangkang lebar. Nikmaaaaat…

    Setelah dilihatnya napasku mulai teratur, tanganku ditariknya sampai aku terduduk di kasur. Lalu
    disodorkannya kontolnya yang besar itu ke mulutku. Aku mengerti keinginannya. Langsung saja kuraih
    batang enak itu, kuelus-elus sejenak sebelum kumasukkan ke dalam mulutku.

    Aku selalu suka jika batang kontol besar memenuhi rongga mulutku. Dengan semangat batang kontol itu aku
    isap, kujilat, mulutku maju mundur dengan teratur.

    Setelah kontolnya basah dan licin, segera kukocok kontol itu dengan tanganku. Kuisap lagi, kocok lagi
    begitu seterusnya, sampai tiba-tiba tubuh pacarku menegang dan… Craaaaat…!! air maninya memancar seperti
    pemadam kebakaran. Banyak sekali. Langsung saja kutelan semua air mani itu sambil kubersihkan kontolnya
    dengan lidahku.

    Akhirnya malam itu kami tidak jadi keluar. Kami lebih suka menghabiskan malam dengan ngobrol di kamarku
    sambil sedikit raba-raba. Malah aku masih sempat ngisep kontolnya sampai ngecret di mulutku sekali lagi.

    ***

    # Sehari Dua Kontol

    Hubunganku dengan Doni sudah berjalan hampir setahun. Selama kami berpacaran, entah sudah berapa kali
    kontolnya yang besar itu menyemburkan air maninya di dalam mulutku.

    Untunglah aku masih bisa bertahan untuk tidak menyerahkan keperawananku pada Doni. Betapapun
    menggairahkannya kontol Doni, namun aku tetap pada prinsip bahwa perawanku hanya untuk suamiku kelak.

    Belakangan frekuensi pertemuan kami semakin berkurang. Terkadang sampai sebulan kami tidak bertemu sama
    sekali.

    Di tengah jarangnya pertemuanku dengan Doni, aku berkenalan dengan Sam, mahasiswa di kampusku juga.
    Pemuda asal Padang ini lumayan ganteng. Badannya juga gak kalah dengan Doni. Malah mungkin bisa dibilang
    lebih bagus, lebih berisi.

    Hubungan kami dimulai dengan ngobrol di kantin, makan bareng. Hanya di kampus. Aku belum berani menerima
    ajakan Sam untuk jalan, karena kuatir ketauan Doni. Bagaimanapun sampai saat ini statusku masih pacar
    Doni.

    Saat makan siang hari ini, Sam mengajak aku menemaninya besok siang ke tempat perkumpulan Mahasiswa
    Sumbar. Semula aku menolak, tapi melihat wajah Sam yang kecewa, akhirnya aku bersedia.

    Begitu juga saat Sam memaksa untuk mengantarkanku ke tempat Kost, aku tidak menolak. Kupikir toh Doni
    tidak akan tahu. Dia kan sedang ke Bandung dengan teman-temannya.

    Sesampai di tempat kost, aku sengaja tidak mengajak Sam ke kamarku karena ini adalah kunjungan
    pertamanya. Dia hanya kuajak ngobrol di ruang tengah yang biasanya dipakai untuk menerima tamu.

    Saat ngobrol, Sam mulai berani menyentuh tanganku. Jemariku diremas-remas, terkadang dikecup lembut.
    Gairahku mulai terpancing, tapi aku masih menunggu Sam yang memulai. Untungnya saat ini tempat kost ku
    sedang sepi.

    Sampai akhirnya Sam mencium bibirku. Ciumannya panjang dan lama sekali. Seolah tak mau berhenti. Tapi
    kurasakan bahwa Sam belum banyak pengalaman dengan perempuan. Ciumannya terasa biasa-biasa saja. Saat
    aku baru akan mulai melayani ciumannya dengan penuh gairah, Sam malah menghentikan ciumannya. Dia pamit
    pulang. Aaah… nanggung banget rasanya…

    Saat pulang Sam sempat mengingatkan soal rencana besok ke tempat perkumpulan Mahasiswa Sumbar. Aku
    katakan untuk bertemu di kampus saja. Aku janji jam 10 pagi sudah bisa meninggalkan kampus.

    ***

    Pagi-pagi sekali aku sudah siap untuk berangkat kuliah. Aku teringat dengan janjiku dengan Sam jam 10
    nanti. Artinya hari ini aku hanya akan mengikuti satu mata kuliah saja.

    Namun betapa terkejutnya aku saat membuka pintu kamar, Doni sudah berdiri di depan pintu dengan
    senyumnya yang khas. Tanpa kupersilahkan masuk, Doni sudah melangkah ke dalam kamarku.

    “Eh… ngapain masuk? Yuk berangkat. Aku mau kuliah.” kataku. Tapi Doni hanya senyum-senyum sambil
    merebahkan tubuhnya di kasur.

    “Lho… kamu gak mau kuliah, Don?” tanyaku. Lagi-lagi Doni hanya tersenyum sambil menarik tanganku sampai
    aku terjatuh menimpa tubuhnya.

    “Aku kangen,” kata Doni singkat dan langsung mencium bibirku. Aku tidak bisa apa-apa selain meladeni
    ciuman Doni yang memang jago ciuman itu. Perlahan gairahku bangkit. Lumatan lidahnya di dalam rongga
    mulutku membuat aku melenguh nikmat.

    Tapi saat Doni akan membuka jilbabku, cepat-cepat aku menolak. Aku teringat akan janjiku dengan Sam.
    Gawat… bisa telat nih. Jadi kupikir, supaya cepat selesai, lebih baik biar aku saja yang memuaskan Doni.
    Segera lidahku bermain di sekujur wajah Doni. Lalu ciumanku turun ke lehernya. Mulai dari leher bagian
    bawah, ke jakun sampai dagu kujilati naik turun. Doni tampak mulai keenakan. Kepalanya sampai mendongak
    ke atas.

    Lalu kubuka kancing baju kemejanya, dan langsung kujilati dadanya yang bidang bikin ngiler itu. Puting
    susunya kujilati, kusedot-sedot dan kusentil-sentil dengan lidahku. Doni mulai mendesah nikmat.
    Jilatanku turun lagi sampai ke perutnya yang rata dan kencang. Lubang pusernya kujilati hingga terlihat
    perut Doni bergerak karena menahan napas.

    Puas menjilati perutnya, kubuka resleting celana Doni. Lalu kuturunkan celananya berikut CD nya
    sekaligus. Wooow! kontolnya sudah ngaceng dan keras sekali. Aku sangat suka dengan kontol Doni. Apalagi
    sudah sebulan aku tidak bertemu dengan Kontolnya ini. Langsung saja kontolnya yang besar itu kukulum dan
    kuisap-isap dengan kuat. Aku berharap Doni cepat keluar supaya aku tidak terlambat menepati janjiku
    dengan Sam.

    Namun sepertinya kali ini Doni benar-benar hebat. Sudah hampir 1 jam aku mengulum kontolnya yang
    besarnya minta ampun ini. Tapi belum juga ada tanda-tanda dia mau keluar. Sementara waktu sudah semakin
    siang. Bisa-bisa aku terlambat. Sam pasti sudah menungguku.

    Kujilati kontol besar panjang itu mulai dari bijinya yang kencang, terus kujilat ke atas sampai kepala
    kontolnya. Turun lagi sampai ke bijinya. Lalu kubolak balik kontol besar itu. Kujilat bagian atasnya,
    lalu kujilat bagian bawahnya yang banyak urat-uratnya. Lalu kumasukkan kontolnya ke dalam mulutku sambil
    lidahku bermain-main di kepala kontolnya.

    Tidak itu saja, aku mengocok kontol Doni dengan mulutku sambil menghisapnya. Saat mulutku maju dan
    kontolnya masuk ke dalam mulutku, lidahku bermain-main di batang kontolnya. Saat mulutku mundur kuhisap
    kontol Doni dengan kuat sambil kukeluarkan sampai batas kepala kontolnya.

    Gayaku ini tampak membuahkan hasil. Doni mengerang-ngerang keenakan. Lalu kukocok kontolnya dengan
    tanganku. Kuhisap lagi, kukocok lagi. Kubasahi kontol Doni dengan ludahku supaya licin. Kemudian kukocok
    dengan cepat. Sampai akhirnya terasa Kontol itu semakin membesar dan semakin keras. Lalu bisa kurasakan
    ada kedutan-kedutan di urat-uratnya yang sudah sangat kuhapal. Doni mau keluar. Cepat kumasukkan kontol
    itu ke dalam mulutku dan kuhisap kuat-kuat.

    Crooooot… croott… air maninya menyembur ke dalam mulutku. Kutelan semuanya sambil terus kuisap kontolnya
    sampai tidak ada lagi tetesan air mani yang keluar.

    Akhirnya… aku lega.

    Cepat aku membersihkan diri, merapikan pakaian dan menyemprotkan parfum di bajuku. Aku takut nanti Sam
    mencium bau sperma di mulutku. Bisa gawat.
    Setelah semuanya rapi, Doni mengantarkanku ke kampus. Doni tidak kuliah. Mau istirahat di rumah,
    katanya. Aku lega sekali. Berarti dia tidak akan tahu aku pergi dengan Sam hari ini.

    ***

    Meski agak terlambat, aku dan Sam tetap pergi ke tempat perkumpulan Mahasiswa Sumbar sesuai rencana.
    Ternyata tempatnya berupa mess atau guest house yang dihuni oleh para mahasiswa asal Sumbar.

    Hari ini mess tersebut terlihat sepi. Menurut Sam kalau jam segini memang biasa sepi. Baru ramai nanti
    sore menjelang malam. Sam membawaku ke sebuah kamar dan menguncinya dari dalam. Aku langsung duduk di
    tepi tempat tidur. Tidak menunggu lama, Sam langsung menciumku dengan penuh semangat. Tapi seperti
    kemarin, Sam hanya menciumku lamaaaa tapi tidak melakukan hal-hal yang lain. Jika kemarin aku masih
    ja’im, tidak hari ini. Langsung kudorong tubuh Sam hingga terlentang di kasur. Kakinya masih menjuntai
    ke lantai.

    Kucium bibir Sam dengan ganas, lidahnya kubelit dengan lidahku. Sam tampak gelagapan tidak menduga aku
    yang pakai jilbab bisa seganas ini. Lalu bibirku mulai turun menjilati lehernya, kupingnya, kembali lagi
    ke lehernya. Lalu kubuka kancing baju kemejanya, dan langsung kujilati dadanya. Puting susunya kujilati,
    kusedot-sedot dan kusentil-sentil dengan lidahku. Sam semakin kelojotan.

    Jilatanku turun lagi sampai ke perutnya yang rata dan kencang. Lubang pusernya kujilati hingga terlihat
    perut Sam bergerak-gerak dengan cepat. Lidahku terus menari-nari di sekitar pusarnya sambil kuusap-usap
    perut bawahnya. Lalu lidahku turun lagi sampai ke perut bawahnya. Kemudian kubuka kubuka resleting
    celananya. Sam sempat mencegah dengan memegang tanganku erat. Tapi sambil tersenyum dan menatap matanya,
    kusingkirkan tangan Sam yang mencegah perbuatanku.

    Celananya kuperosotkan ke bawah. Terlihat gundukan besar di dalam CD nya. Kuciumi gundukan besar itu.
    Lalu kuturunkan CD nya menyusul celananya yang sudah merosot duluan.

    Oooowwgh… besarnyaaa…!!! ternyata kontol Sam lebih besar dari kontol Doni. Tidak sabar, langsung aku
    merosot berjongkok di lantai dan kujilati batang kontol yang luar biasa indahnya itu. biji pelernya
    kuremas-remas lembut sambil terus kujilati batang kontolnya.Cerita Sex Dewasa

    Lalu mulai kumasukkan batang kontol itu ke dalam mulutku. Kuisap-isap, kuemut-emut dan kujilati dengan
    penuh nafsu.

    Namun, mungkin karena ini pengalaman pertama buat Sam, baru sebentar aku mengisap kontolnya sudah terasa
    kedutan-kedutan tanda Sam mau muncrat. Cepat kukeluarkan kontol itu dari mulutku dan kukocok-kocok. Aku
    belum mau Sam keluar di mulutku karena ini baru pertama.

    Cepat kukocok-kocok kontol Sam sambil aku agak menghindar ke samping. Dan benar saja, tak lama kemudian
    Sam berteriak tertahan, dan… Crooooootttt…! air maninya mucrat dengan derasnya. Muncratannya sampai
    mengenai dinding kamar saking kencangnya. Benar-benar kontol perjaka.

    Tanganku terus saja bermain-main dengan kontol Sam sampai kontol itu mengecil kembali. Tapi aku tidak
    berhenti, terus saja kontol itu aku permainkan. Aku begitu terpesona dengan kontol Sam sampai rasanya
    sayang kalau buru-buru dilepaskan.

    Aaaghhh… segarnya. Seharian ini aku sudah dapat 2 kontol.

    Saat di jalan pulang, dengan mengendarai motor, tanganku tetap masuk ke dalam celana Sam. Sepanjang
    jalan aku terus bermain-main dengan kontolnya.

    ***

    # Segarnya Kontolmu Sayang

    Sejak kejadian dengan Sam di Mess Mahasiswa Sumbar, hubunganku dengan Sam semakin dekat. Sementara
    hubunganku dengan Doni semakin merenggang. Terus terang, dibanding dengan Doni, Sam kalah jauh untuk
    urusan percumbuan. Karena bagaimanapun Doni jauh lebih jago untuk urusan bercumbu. Jilatan-jilatannya
    pada dadaku, serta permainan jarinya di memekku membuatku benar-benar ketagihan. Belum lagi kontolnya
    yang besar panjang itu terasa sekali memenuhi rongga mulutku. Aku selalu bernafsu ingin mengisap
    kontolnya.

    Sementara Sam sangat lugu dan kurang pengalaman. Namun kelembutan Sam mampu membuat aku merasa nyaman
    berada di dekatnya. Siang ini sepulang kuliah seperti biasa aku membonceng motor Sam menuju Kost-ku.
    Seperti biasa juga sepanjang jalan tanganku masuk ke dalam celananya sambil meremas-remas kontolnya. Aku
    suka dengan bentuk kontolnya yang gemuk dan kekar.

    Tapi di perjalanan aku sempat bingung karena ternyata motor Sam tidak menuju ke tempat kostku.
    Sebenarnya aku mau protes, tapi akhirnya kubiarkan saja sambil terus menikmati bermain-main dengan
    kontol Sam yang sudah semakin menegang.

    Ternyata aku dibawa ke rumahnya. Saat itu rumahnya dalam keadaan sepi. Langsung aku dibawa ke dalam
    kamarnya.

    “Kamu mau minum apa, Lin?” tanya Sam basa-basi.

    Aku tau itu sekedar basa-basi makanya aku menjawab dengan menggoda “Minum kontol kamu aja deh…”

    Mendengar jawabanku, Sam langsung mengunci pintu kamarnya, kemudian menubruk tubuhku sampai aku
    terlentang di tempat tidurnya. Sam mencium bibirku lama sekali. Bibirku di sedot-sedot, berganti-ganti
    bibir atas dan bibir bawah. Tapi lidahnya sama sekali tidak bermain. Maka aku segera mengambil
    inisiatif. Kujulurkan lidahku kedalam mulutnya. Kucari lidahnya, kemudian kubelit-belit dengan lidahku.
    Perlahan namun pasti Sam mulai bisa mengimbangi ciumanku. Lidahnya mulai bisa menari-nari didalam rongga
    mulutku. Sampai langit-langit mulutkupun di jilatinya. Rasanya cukup membuat aku terangsang.

    kemudian tangannya mulai meremas-remas dada kiriku. Aku langsung menggelinjang nikmat. Sam terus bermain
    dengan dadaku dari luar kemejaku. Tidak sabar, aku buka sendiri kancing bajuku hingga terbuka lebar,
    Jilbabku kutarik lebih keatas agar dadaku tidak terhalang meski jilbabnya tidak dibuka.

    Melihat keadaanku yang sudah terhidang, ciuman Sam langsung pindah ke dadaku. Gumpalan dadaku diciumi
    dengan penuh nafsu. Terkadang digigit-gigit kecil sampai meninggalkan tanda merah.

    Sekali lagi aku merasa tidak sabar. Sam hanya menciumi bukit dadaku sambil meremas tanpa berusaha
    membuka BH-ku. Langsung saja kukeluarkan toketku dari BH dan kusodorkan puting susuku ke mulutnya
    seperti ibu yang menyusui bayi. Sam dengan lahap langsung menyedot puting susuku.

    “Ooooh… Saaaam… sedot terus, sayaaang… sedot yang kenceeeng…” teriakku tak perduli apakah suaraku
    terdengar keluar atau tidak. Toh rumah ini sedang sepi.

    “Teruuuuss… Saaaam…. sedot teruuuuussss… remes-remes yang kenceng…” pekikanku semakin tidak karuan.

    Mendengar eranganku, Sam semakin bersemangat. Dia menciumi dadaku berganti-ganti yang kiri dan kanan.
    Saat mencium dada kiri, Tangannya meremas dada kananku. Sebaliknya saat mencium dada kanan, tangannya
    meremas dada kiriku.

    Aku benar-benar dibawa ke dunia kenikmatan yang sangat indah. Sambil terus menikmati ciuman Sam pada
    dadaku, kuangkat rokku sampai ke perut. Hingga tampaklah memekku yang masih tertutup CD. Sudah terasa
    denyutan di bawah sana minta dicolok.

    Kemudian kubuka resleting celana Sam. Rupanya dia mengerti. Dia segera bangkit dan membuka seluruh
    pakaiannya hingga bugil. Terlihatlah kontolnya yang sudah tegang. Begitu besar dengan urat-urat
    disekitar batang kontolnya. Setelah itu dia langsung menindih tubuhku lagi. Kontolnya yang tegang di
    gesek-gesekkan ke memekku yang masih tertutup CD. Rasanya sungguh luar biasa.

    Sambil tetap menggesek-gesekkan kontolnya, Sam kembali menciumi dadaku. Dengan tubuh agak membungkuk dia
    terus menyedot puting susuku sambil kontolnya terus maju mundur menggesek-gesek memekku.

    Kutarik tangan Sam dan kubawa ke memekku. Tangannya langsung masuk ke balik CD-ku dan bermain-main
    disana. Ketika itilku tersentuh, aku spontan terpekik nikmat. “Oooooowwwgh… Saaaaam…. enaaaaak… enak
    bangeeet, sayaaaang…” Kugoyang-goyangkan pinggulku mengejar kenikmatan yang mendera seiring dengan
    permainan jari-jari Sam di itilku.

    Jari-jari Sam terus meluncur naik turun di memekku. Tekadang dijepitnya memekku dengan jempol dan
    telunjuknya. Membuat aku semakin berteriak-teriak histeris. “Addduuuh… Saaaam…. enak bangeeet… terus,
    sayaaaang…”

    Sementara bibir dan lidah Sam masih terus saja mengerjai dadaku, membuat aku benar-benar seperti cacing
    kepanasan. Menggeliat-geliat nikmat. Kutekan kepala Sam lebih keras lagi ke dadaku. Kujenggut-jenggut
    rambutnya menahan kegelian dan kenikmatan yang tiada tara.

    Sampai kemudian kedutan di memekku semakin terasa nyata, dan gelombang kenikmatan seperti mengalir dari
    sekujur tubuhku menuju memekku, dan… “Aaaaaaaakhhh… Saaaaam…. aku nyampeeee….ooooowhg…!!!”

    Pancaran kenikmatan menyembur membasahi memekku. Dan tubuh serasa tersedot menuju lubang yang dalam.
    Gelap, indah, nikmaaaat…

    Setelah mengatur nafas, segera kudorong tubuh Sam hingga ia terlentang di kasur. Lalu kutindih tubuh
    bugil Sam. Kontolnya kududuki sambil kugoyang-goyangkan pinggulku maju mundur menggesek kontolnya yang
    besar.

    Sam tampak keenakan dengan perbuatannku. Kulanjutkan dengan menjilati lehernya, kemudian kupingnya. Sam
    semakin kelojotan. Napasnya menjadi tidak teratur.

    Ciumanku turun ke dadanya. Puting susunya kujilati. Kugigit-gigit kecil, kemudian kusentil-sentil dengan
    lidahku. Kujilati terus dadanya kiri dan kanan. Sementara pantatku terus maju mundur menggesek-gesek
    memekku ke kontolnya yang sudah sangat tegang.

    Kontolnya yang besar terasa sekali mengerus belahan memekku meski aku masih mengenakan CD. Walau hanya
    di gesek-gesek dari luar, rasanya memekku sudah belah menjadi lebar.

    Kemudian lidahku turun lagi menyusuri tubuh telanjangnya menuju perutnya. Akupun semakinmerosot ke
    bawah. Meski sayang kutinggalkan kontolnya dari memekku. Kucium perutnya dan kujilati sekitar pusarnya
    dengan melingkar. Lalu lidahku terus turun dan menyentuh ujung kontol kerasnya.

    Kujilati kepala kontol besar itu. Kujilati lubang kecilnya sambil kubuka-buka lubangnya dengan lidahku.
    Lalu kujilati batang kontolnya mulai dari bijinya, naik keatas sampai kepala kontolnya. Kujilati lagi
    terus berulang ulang.

    Lalu perlahan kumasukkan batang kontol yang besar itu kedalam mulutku. Kudiamkan sejenak dalam mulutku
    sambil lidahku bemain-main mengusap batang kontolnya. Baru kemudian perlahan kutarik mulutku keatas
    sampai ujung, kemudian kuturunkan lagi. Lalu kunaikkan lagi sambil kuisap kuat-kuat. Kuturunkan lagi.
    Begitu terus, kepalaku naik turun secara otomatis. Penuhnya rongga mulutku dengan batang kontolnya
    membuat aku semakin bernafsu. Memekku sampai basah lagi.

    Jika sebelumnya aku membiarkan Sam muncrat ke tembok, kali ini aku ingin memberi hadiah pada Sam untuk
    muncrat di dalam mulutku. Cepat kukocok-kocok kontol Sam dengan tanganku. Jika kering kukulum lagi
    kontolnya sampai licin, kemudian kukocok lagi dengan tanganku.

    Saat kurasakan denyutan kontol Sam semakin terasa, buru-buru kontol Sam kumasukkan ke dalam mulutku lagi
    dan kuisap kuat-kuat. Sampai akhirnya … Crooooottzz…!!! Air mani Sam muncrat kedalam mulutku dengan
    deras dan banyak sekali. Saking banyaknya sampai-sampai air mani itu tidak bisa kutelan semua dan ada
    yang meleleh membasahi dagu dan Jilbabku.

    Buru-buru aku lari ke kamar mandi membersihkan jilbabku. Kuatir nanti aromanya tercium saat aku pulang
    nanti.

    ***

    # Ih, Kecil Banget..

    Memasuki Semester akhir, hubungan cintaku malah berantakan. Sudah 3 bulan aku menjomblo. Artinya sudah 3
    bulan aku tidak ketemu kontol.

    Seringkali aku membayangkan saat-saat bercumbu dengan pacar-pacarku dulu. Saat dengan bernafsu kancing
    bajuku dilucuti, saat BH ku dibuka dan selanjutnya dadaku diremas-remas dengan kuat. terbayang bagaimana
    lidah mereka menjilati puting susuku. menyentil-nyentil nakal, lalu toketku di hisap dengan gemas.
    Aaaaah…. nikmatnya.

    Kalau sudah begitu biasanya aku langsung buka baju dan BH ku kemudian rebahan di tempat tidur. Kuremas-
    remas sendiri dadaku sambil membayangkan ada tangan lelaki yang meremasnya.

    Lalu terbayang saat ada lidah yang menyusuri tubuhku. Mulai dari dada turun ke perut, berputar-putar di
    pusarku, lalu turun lagi menjilati bawah pusarku. teruuuuuss… turun sampai menyentuh bagian atas
    memekku.

    Oooowgh… tidak tahan langsung kugosok-gosok sendiri itilku. Daging kecil itupun membesar dan habis
    kupermainkan dengan jariku. Kugosok, kujepit, kemudian jariku kugosok naik turun sepanjang belahan
    memekku. Banjir sudah memekku. Terasa semakin licin saja.

    Pantatkuku goyang-goyang mengejar kenikmatan yang mulai mendera. Oooooh… aku pengen kontooolll…

    Jemariku semakin cepat menggosok-gosok memekku. Pantatku berputar-putar hebat. Sampai akhirnya tubuhku
    mengejang hebat. Memekku berdenyut-denyut.
    Ah, gila. begitu kangennya aku sama kontol sampai-sampai aku bisa orgasme hanya dengan masturbasi
    begini. Terlalu…

    ***

    Pulang kuliah… aku masih tidak semangat. Masih terbayang kejadian tadi pagi saat aku masturbasi sebelum
    berangkat kuliah. Memekku gatal lagi.

    Sedang aku berjalan sambil melamun jorok, tiba-tiba ada suara orang memanggilku. “Lin, tunggu…”

    Aku menoleh mencari arah suara itu. Terlihat seorang cowok ganteng berlari menghampiriku. Oh, si Sony.
    Teman sekelasku. “Ada apa, Son” tanyaku saat Sony sudah berada dihadapanku sambil aku melanjutkan
    langkahku.

    “Mau pulang bareng gak? Gue anter deh. Kan gue emang selalu lewatin tempat kost kamu.” kata Sony sambil
    berjalan di sampingku.

    Aku katakan pada Sony bahwa siang ini aku mau ke rumah kakakku di Rawamangun.Gak langsung pulang ke
    kost.

    “Ya gak pa pa. Gue anterin aja sekalian ke Rawamangun. Gimana, mau kan?” sahut Sony semangat.

    Kupikir, apa salahnya. Lumayan irit ongkos. Dan tentunya lebih enak naik mobil dari pada naik bajaj.
    Lantas kami segera menuju mobil Sony di tempat parkir.

    Di perjalanan berkali-kali tangan Sony seperti tidak sengaja menyentuh pahaku saat memindahkan gigi
    mobilnya. Semula aku ingin bergeser menghindar. Tapi sentuhan-sentuhan kecil yang seolah tidak sengaja
    itu justru membawa sensasi tersendiri. Maka bukannya aku bergeser menjauh, justru aku menggeser
    mendekat. Sempat aku melirik senyum Sony yang merasa berhasil menggodaku. Wah gawat. bisa dikira cewek
    gampangan nih.

    Sesampai di depan rumah aku langsung turun dari mobil sambil mengucapkan terima kasih. Tapi Sony
    bukannya langsung pergi malah mematikan mesin mobilnya dan ikut turun mengikutiku ke depan pintu rumah.

    “Lin, aku boleh mampir ya. ngobrol-ngobrol aja sebentar. Males pulang sekarang.” kata Sony sambil
    menatap mataku lembut. Aku tidak bisa menolak. Maka kuajak Sony masuk ke rumah.

    Seperti biasa, kalau jam segini pasti rumah kakakku kosong. Maka tanpa perlu mengetuk pintu aku langsung
    membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu kubawa di dalam tasku.

    “Wah, kamu bawa kunci sendiri. Rumahnya kosong ya, Lin?” tanya Sony.

    “Iya. kalo jam segini masih pada kerja. nanti pulangnya menjelang maghrib.”

    “Wah, asik donk..”

    “Asik apaan! jangan macem-macem deh.” ancamku pada Sony sambil cemberut. Sony hanya tersenyum sambil
    ikut masuk ke dalam rumah. Tanpa dipersilahkan Sony langsung menghempaskan pantatnya di sofa.

    Aku menawarkan Sony untuk minum, tapi Sony menolak. Katanya mending ngobrol-ngobrol dulu aja. Nanti kalo
    udah haus baru minum.

    Ternyata enak juga ngobrol dengan Sony. Orangnya humoris, sering membuat aku tertawa. Lama kelamaan
    obrolan kami mulai nyerempet-nyerempet ke hal-hal yang berbau porno. Entah bagaimana mulanya, tau-tau
    kami sudah berciuman.

    Awalnya hanya kecupan-kecupan ringan, sampai akhirnya ketika lidah kami mulai saling melilit ciuman tu
    berubah menjadi ciuman penuh nafsu yang ganas.

    Tangan Sony mulai meremas dadaku dari luar bajuku. Aku langsung tersentak nikmat. Oooh… sudah 3 bulan
    dadaku tidak disentuh lelaki. Aku begitu menginginkannya. Ingin lebih.

    Tangan Sony bergerak ingin membuka jilbabku. Segera kutahan. “Son… kita di kamar aja yuk.”

    Sony tersenyum girang mendengar ajakanku. Kamipun bergegas menuju kamar tamu. Sesampai di kamar, Sony
    menutup pintu dan langsung mendorong tubuhku ke pintu.

    Aku dipepet ke pintu dan bibirnya kembali menyergap bibirku. Ciumannya kali ini benar-benar ganas.
    Jilbabku dibuka, dan langsung leherku diserang dengan jilatan-jilatan yang membuat aku mengerang.

    Lalu tangannya mulai mempereteli kancing bajuku satu persatu. Bajuku dilempar begitu saja ke lantai.
    Sony sempat tertegun memandang dada besarku yang seperti mau melompat keluar dari BH.

    Tidak menunggu lama, bibirnya langsung nyosor menciumi dadaku. Sementara tangannya bergerak ke belakang
    mencari kaitan BH-ku. Aku membantu melepas BH dan membuangnya ke lantai.

    Sony semakin bernafsu melihat dadaku yang sudah terhidang bebas di depan wajahnya. Lidahnya pun langsung
    menari-nari di pentil susuku. Ugh… nikmatnya. Rasa yang sudah lama tidak kudapatkan. Kutekan kepala Sony
    ke dadaku lebih erat lagi. Sony semakin kuat menyedot pentil susuku. Lalu lidahnya kembali menjalar ke
    leherku. Lalu bibirku dicium lagi. Kami ciuman panjang dan lama. Lidah kami saling melilit.Cerita Sex Dewasa

    Tak sabar kubuka kancing baju Sony, lalu kulepas baju itu dan kubuang ke lantai.Kupeluk Tubuh Sony erat
    hingga dadaku menempel ketat dengan dadanya. Tangan Sony mengelus punggungku, lalu turun ke bawah ke
    arah pinggangku. Terus ke bawah lagi. Bongkahan pantatku di remas-remasnya. Aku menggelinjang geli.
    Goyanganku membuat memekku bergesekan dengan gundukan daging di selangkangannya menambah nikmat
    percumbuan ini.

    Dengan terampil Sony membuka kancing dan resleting rok panjangku. Dan rok itupun meluncur jatuh di
    kakiku. Kini aku berdiri hampir telanjang dengan hanya mengenakan CD ku saja.

    Aku tidak mau kalah, kubuka ikat pinggang celana Sony. Lalu kubuka kancing dan resletingnya. Sony
    membantu memerosotkan celana panjangnya. Setelah celananya merosot, kembali Sony merangkul tubuhku
    dengan erat. Ciumannya semakin ganas.

    Sangat terasa ada yang mengganjal dan menekan-nekan memekku. Ugh, sepertinya kontol Sony sudah mulai
    ngaceng walau belum sepenuhnya. Tapi sudah mulai terasa nikmat gesekannya.

    Ciuman Sony meluncur turun ke leher, lalu turun lagi ke dadaku. Bergantian puting dada kanan dan dada
    kiriku di isapnya. “Ooooogh… Sonnn… isep terusssss… iyaaaahhhh…” erangku tak kuasa menahan nikmat. Rasa
    kangen akan sentuhan yang telah kutahan selama 3 bulan ini benar-benar minta di tuntaskan.

    Tubuh Sony mulai merosot sambil terus menjilati tubuhku. Perutku di jilat-jilat. Lidahnya bermain-main
    di lubang pusarku. Akhirnya Sony berjongkok, dan wajahnya langsung menghadap memekku yang masih
    terbungkus CD. Dengan sekali tarikan meluncurlah CD ku sampai kaki. Aku membantu mengangkat kaki dan
    menendang CD ku sampai melayang entah kemana.

    Lalu Sony mengangkat kaki kananku dan ditumpangkan dibahunya. Akibatnya memekku langsung merekah lebar
    menganga di hadapannya. Perlahan lidah Sony menyapu belahan memekku dari bawah ke atas. “Aaaawh! Sonnnn…
    enaaaaaak, sayaaaanghhh…”

    Ini gaya baru. Belum pernah memekku dijilati sambil berdiri begini. Rasanya luar biasa nikmat.
    Kugoyang-goyangkan pantatku maju mundur mengejar lidahnya yang terus menari-nari di memekku. Terkadang
    lidahnya terasa menerobos masuk menjilati pinggiran dinding dalam memekku. Aku semakin bergelinjang tak
    karuan. Teriakanku semakin keras menerima rangsangan yang hebat seperti ini.

    “Adddduhh, Son.. enak bangeeeet…. Gilaaa… lu pinter banget sih jilat memeknyaaa…”

    Sedang nikmat-nikmatnya dijilat, tiba-tiba Sony menghentikan serangannya dan berdiri. Dia lalu meraih
    lenganku dan membimbingku ke tempat tidur. Aku langsung berbaring telentang. Kakiku kukangkangkan
    lebar-lebar menanti serangan Sony berikutnya.

    Melihat posisiku yang menantang itu Sony sampai terbelalak. Cepat dia memelorotkan CD nya. Tampaklah
    kontolnya. Kelihatannya belum ngaceng benar. ukurannya belum maksimal.

    Sonny langsung menerkam aku. Tubuhku ditindih, bibirku dicium dengan ganas. Kontolnya di gesek-gesek ke
    memek. Sempat kurasakan ujung kontolnya menyeruak belahan memekku.

    “Son, jangan dimasukin. Gue masih perawan.” desahku di tengah kenikmatan yang menderu.

    Sony agak kaget mendengarnya. Untung dia mau ngerti. “Iya. Gak gue masukin deh.Tapi nanti bantu keluarin
    ya…”

    Aku menjawab dengan ciuman penuh nafsu pada bibirnya. Sony bangkit, kali ini langsung nyungsep ke
    memekku. Jilatan-jilatannya semakin menggila. Aku tidak tahan lagi.

    “Soooonnn… gue keluaaarrrr…” aku kejang. Tubuhku tersentak-sentak bersama dengan kedutan-kedutan yang
    menyembur di memekku. Sony bukannya berhenti malah terus menjilati memekku dengan ganas. Aku bagai kapas
    yang ditiup dan melayang-layang. Nikmaaaat…

    Sony lantas menindihku lagi dan mencium bibirku mesra. Lalu tubuhnya bergulir dan tiduran telentang di
    sampingku.

    Aku mengerti yang diinginkannya. Segera aku bangkit duduk, dan kuraih kontolnya. Kuremas-remas lembut.
    Kontolnya belum juga membesar meski sudah sangat keras. Aku sempat bingung. Perasaan tadi sudah di
    puncak nafsu. Kok kontolnya masih kecil gini?

    Segera kukulum kontol Sony, kujilat-jilat, kusedot-sedot. Tetap saja kecil. Ah, kayaknya kontolnya
    memang kecil nih. Cuma sebesar pisang lampung. Seluruh kontolnya bisa masuk ke mulutku dengan mudah.
    Nafsuku langsung hilang… yaaaaah… kecil bangeeeeettt…

    Untuk tidak mengecewakan Sony, kukocok-kocok saja kontolnya dengan tanganku.Kalau kering aku hanya
    meludahinya saja. Aku malas memasukkan kontol kecil itu ke mulutku. Tidak ada sensasi apa-apa. Terlalu
    longgar.

    Tak berapa lama, Sony ngecret. Langsung saja dia kutinggal ke kamar mandi sambil kubawa semua pakaianku.

    Jilatnya pinter sih… tapi kecilnya itu…

    ***

    # Oops!

    Petualanganku dengan Sony sempat berlanjut selama beberapa kali. Tapi aku sudah malas untuk ngisep
    kontolnya lagi. Gairahku langsung hilang bila melihat kontolnya yang kecil itu. Jadi aku lebih suka
    minta dia menjilat memekku sampai aku selesai, baru kemudian kontolnya kukocok. Paling hanya kukulum
    sebentar untuk melicinkan kontolnya saja. Toh dengan begitupun dia sudah kelojotan. Begitu dia selesai,
    gairahku selalu hilang tanpa bekas. Maka biasanya kalau kami bercumbu di rumahku, dia akan langsung
    kusuruh pulang dengan berbagai alasan. Atau jika di tempat lain, aku akan buru-buru minta diantar
    pulang.

    Tak lama berselang kuliahku selesai. Dan selesai juga hubunganku dengan Sony. Beruntung bagiku selesai
    kuliah tidak pelu repot-repot mencari kerja. Salah satu familyku mengajakku bekerja di perusahaannya
    yang baru dibangun.
    Berhubung kantornya terletak di bilangan Kebayoran, maka kuputuskan untuk mencari tempat kost di
    dekat-dekat kantor.

    Di kantor ada salah seorang staff yang usianya terpaut 4 tahun lebih muda dari aku. Penampilan Dodi yang
    energik dan humoris membuat aku betah berlama-lama ngobrol dengannya.

    Sebenarnya aku sadar setiap kami ngobrol, mata Dodi seringkali menatap dadaku yang berukuran 34C ini.
    Dan menyadari hal itu membuat aku ingin menggodanya dengan sering-sering membusungkan dadaku. Terkadang
    aku sengaja mengangkat tanganku tinggi-tinggi seolah ingin menghilangkan pegal. Padahal maksudnya supaya
    dadaku semakin terekspos di depan matanya.

    Benar saja, setiap kali aku melakukan gerakan-gerakan seperti itu matanya tak berkedip memandang dada
    besarku.

    Sekali waktu Dodi mengajakku nonton ke bioskop sepulang kerja. Karena aku juga tidak ada acara, aku pun
    menyambut ajakannya. Kami segera menuju kawasan Blok M.

    Saat film dimulai, Dodi mulai menggenggam tanganku. Kubalas dengan genggaman yang lembut sambil jemariku
    bermain mengelus jarinya. Karena dilihatnya aku tidak menolak, Dodi melepas genggaman tangannya dan
    beralih merangkul pundakku. Akupun segera merebahkan kepalaku di dadanya.

    Terasa bahuku diusap-usap dan terkadang diremas dengan keras. Aku membalas dengan mengusap-usap dadanya,
    kemudian turun ke perutnya. Lama telapak tanganku berputar-putar di perutnya.

    Lalu Dodi mengangkat daguku dengan tangannya. Saat kepalaku terdongak ke atas dia langsung mencium
    bibirku. Bukan ciuman lembut, tapi langsung ciuman penuh nafsu. Ah… dasar anak muda. Maunya langsung-
    langsung aja. Aku mengimbangi permainan bibir dan lidahnya. Perlahan nafsuku mulai bangkit.

    Di tengah pergumulan lidah itu kurasakan tangan Dodi mulai meraba dadaku, Segera kutolak. Ini baru
    kencan pertama. Meskipun sebenarnya aku sangat menginginkannya, tapi kupikir aku harus jaga image dulu
    di kantor baruku ini. Aku takut Dodi yang masih muda ini akan membanggakan diri cerita ke teman-teman
    lainnya. Bisa berabe aku.

    Baca JUga Cerita Seks Selingkuh Di Warteg

    Kutepis tangan Dodi sambil aku melepaskan ciuman dan mencoba konsentrasi pada film yang diputar.
    Sebenarnya bukan konsentrasi, tapi aku harus menurunkan nafsuku sendiri yang sebenarnya sudah mulai
    bergejolak. Meski terlihat agak kecewa, tapi Dodi tetap merangkul dan mengusap-usap bahuku sampai film
    usai.

    ***

    Sejak ciuman di bioskop, hubunganku dengan Dodi semakin dekat. Mungkin dia menganggap ciuman itu sudah
    merupakan tanda bahwa kami resmi pacaran. Padahal bagiku itu tidak lebih dari sekedar ciuman iseng saja.

    Jelang 2 hari kemudian, kembali Dodi mengajakku nonton bioskop. Kali ini kami kebagian duduk di barisan
    agak tengah. Tapi untungnya masih kebagian yang paling pinggir. Jadi tetap bisa mojok walaupun ada
    resiko telihat oleh penonton yang duduk di barisan atas.

    Dasar anak muda, begitu lampu padam aku langsung direngkuhnya. Bibirku dilumat dengan penuh nafsu. Dan
    tidak menunggu waktu lama tangannya langsung meremas dadaku. Kali ini kudiamkan saja karena aku juga
    sudah sangat rindu dengan remasan-remasan pada dadaku.

    Perlahan tanganku meluncur dari dadanya, turun ke perutnya dan akhirnya mendarat di selangkangannya.
    Terasa kontol ngacengnya dari balik celananya. Kuremas-remas dan kugosok-gosok kontol itu dari luar
    celana. Woooow… besaaaar… Jenis kontol yang kusuka. Kugosok-gosok .dan kuremas-remas terus kontolnya.
    Sesekali kuremas biji-bijinya meski hanya dari luar celananya.

    Aku begitu bernafsu sampai tidak menyadari bahwa kancing bajuku telah terbuka semua. Bahkan BH ku telah
    terlepas ke atas. Aku begitu terkejut saat tiba-tiba bibir Dodi menyergap putting susuku. Owwwgh… What !
    Aku sudah telanjang dada?!

    Aku kaget bercampur takut ada yang melihat. Soalnya posisi duduk kami sangat tidak aman. Apalagi
    penonton di barisan belakang cukup ramai. Cepat aku mendorong kepala Dodi agar menghentikan aksinya.

    Bukannya berhenti, Dodi malah menyedot puting susuku dengan kuat. Sementara sebelah tangannya meremas
    susuku yang sebelah lagi. Aku langsung menggelinjang hebat. Betapapun aku takut dilihat orang, tapi rasa
    nikmat yang mendera tubuhku lebih kuat dari rasa takutku. Akhirnya aku hanya sanggup mengerang pelan
    sambil kuremas kepala Dodi dan menekannya lebih kuat lagi ke dadaku.

    Ciuman dan jilatan Dodi mulai turun ke bawah ke arah perutku. Terus turun sampai di bawah pusarku. Aku
    semakin kelojotan tidak karuan. Tiba-tiba Dodi membuka resleting celana panjangku dan menariknya turun
    besama dengan celana dalamku. Aku bukannya mencegah, malah kuangkat sedikit pantatku agar Dodi lebih
    mudah membuka celanaku. Aku sudah tidak perduli lagi dengan keadaan sekeliling yang mungkin saja ada
    yang melihat kelakuan kami berdua ini. Nafsu birahi sudah menutupi akal sehatku.

    Celana panjang berikut celana dalamku meluncur sampai ke mata kakiku. Dodi mengangkat kaki kananku
    hingga celanaku terlepas sebelah. Kaki kananku diletakkan pada sandaran kursi hingga posisiku
    mengangkang dengan lebar. Kemudian Dodi berjongkok di lantai dan menghadap memekku secara langsung.

    Dengan penuh nafsu Dodi langsung menjilati memekku dari bawah ke atas. Itilku dijilat dan dipermaikan
    dengan lidahnya. Terkadang itilku di sedot dengan kuat. Duniaku sudah gelap. Bahkan suara film yang
    sedang diputar pun sudah tidak terdengar lagi. Yang ada hanya rasa nikmaaaaaat… enaaaaaaaak…

    Sampai akhirnya kurasakan denyutan yang sudah sangat kuhapal. Denyutan yang menyerbu memekku dengan
    deras. Tubuhku mengejang, aku mengerang panjang. ”Oooooooooghhhhh… enaaaaaaaakkkk… aaaaakhhhh…”

    Memekku banjir sudah. Aku lemas. Aku terpejam mengangkang menikmati semburan nikmat yang baru saja
    lewat. Aku tidak perduli dengan keadaanku yang separuh telanjang sambil mengangkang. Sampai tiba-tiba
    lampu menyala terang benderang. Oops! Filmnya habis.

    Aku panik. Segera kukatupkan kemejaku menutupi dadaku yang terbuka. Tapi celanaku belum sempat kupakai.
    Terpaksa celana panjangku kudorong agak ke bawah tempat duduk. Kuambil tasku dan kuletakkan diatas
    pahaku menutupi ketelanjangan bagian bawahku.

    Kami tetap duduk menunggu seluruh penonton pergi. Entahlah apakah para penonton yang melewati tempat
    duduk kami menyadari bahwa aku tidak pakai celana. Semoga saja tidak ada yang sadar.

    Setelah seluruh penonton meninggalkan ruangan, barulah aku mengenakan celana dan merapikan BH serta
    kemejaku.

    ***

    # Ke Ancol Lagi
    Pengalaman percumbuan di bioskop bersama Dodi waktu itu adalah yang pertama dan terakhir bagiku. Bukan
    karena aku tidak menyukainya. Bukan… Jujur saja pengalaman bercumbu di depan orang banyak begitu
    menimbulkan sensasi erotis yang menggairahkan bagiku. Mengingatnya saja bisa membuat memekku basah.

    Namun yang membuatku enggan meneruskan petualangan bersama Dodi adalah sikapnya yang menjadi sangat
    protektif terhadap diriku. Dia benar-benar menganggap aku ini sebagai miliknya yang bisa dikuasai sesuai
    dengan keinginannya.

    Sementara bagiku, Dodi is just another Kontol. Tidak lebih. Dia sudah mulai banyak bertanya jika aku
    dekat dengan teman pria lain. Atau di lain kesempatan dia mulai mengatur cara aku berpakaian. Dia tidak
    suka dengan jilbabku yang pendek. Dia meminta aku mengenakan jilbab panjang yang menutupi dadaku.
    Katanya jilbab yang aku kenakan saat ini justru sangat menonjolkan bentuk dadaku yang besar. Lho… So
    What ? Memang itu yang kuinginkan.Cerita Sex Dewasa

    Atas sikapnya itu aku memutuskan mulai menjaga jarak dan lebih sering menghindar. Beberapa kali
    ajakannya untuk menonton aku tolak. Walau sebenarnya saat dia mengajak aku nonton di bioskop, langsung
    terbayang kejadian dimana dia begitu bernafsu menjilat memekku. Ingin sekali rasanya aku mengulangi
    kejadian itu.

    Namun jika mengingat hidupku yang semakin tidak nyaman, aku kuatkan untuk tetap menolak.

    “Kamu kenapa sih, gak pernah mau lagi jalan sama aku?” tanya Dodi kesal saat aku kembali menolak
    ajakannya untuk nonton.

    “Gak apa-apa kok. Lagi males aja.” jawabku santai. “Kalau mau jalan, kita makan aja yuk, gak usah
    nonton” sambungku.

    Walau dengan wajah cemberut, akhirnya Dodi setuju untuk pergi makan malam. Akhirnya kami pergi ke Pondok
    Indah.

    “Sebenernya ada apa sih, Lin? Belakangan sikap kamu aneh.” ujar Dodi sambil menunggu makanan pesanan
    kami datang. Kutatap mata Dodi lekat-lekat. Aku menimbang-nimbang dalam hati. Kubiarkan saja
    pertanyaannya, atau aku berterus terang saja soal perasaanku padanya yang hanya menganggap teman, bukan
    pacar.

    Kembali Dodi mendesak dengan pertanyaannya, Kutatap lagi matanya.

    “Loe beneran mau tau?” tanyaku sambil menatap matanya tajam.

    “Ya iya lah. Gak enak pacaran tapi aneh gini.” jawabnya.

    Aku mengambil nafas panjang sambil mencari kata-kata yang tepat. “Dod, sebelumnya sorry ya. Gue akui loe
    orangnya baik, lucu, ganteng. Tapi masalahnya, belakangan gue mulai merasa gak nyaman karna kayaknya gue
    udah gak bebas lagi sejak deket sama loe.” aku berusaha mengucapkan kata-kata itu dengan sangat sopan.

    Tapi tak urung Dodi tersentak kaget. “Gak nyaman gimana maksud kamu, Lin?”

    “Ya, belakangan loe udah berani ngatur-ngatur gue, ngatur cara berpakaian gue, ngatur dengan siapa gue
    bisa berteman, ya gitu deh. Buat gue itu udah bikin gue gak nyaman.” jawabku dengan suara yang kucoba
    sedatar mungkin.

    “Lho… wajar donk, namanya juga orang pacaran…“

    “Nah, itu dia masalahnya,“ tukasku memotong ucapannya. “Loe terlalu gegabah menganggap kita pacaran.
    Sementara gue cuma menganggap loe sebagai teman dekat gue. Gak lebih gak kurang, Dod.”

    Dodi tampak terkaget-kaget mendengar ucapanku. “Cuma teman? Trus, gimana dengan hubungan kita selama
    ini…” tanya Dodi seperti tidak bisa menerima ucapanku.

    “Hubungan yang mana…” tanyaku belaga bego.

    “Ya hubungan kita. Ciuman-ciuman kita… trus … yang di bioskop…”

    Aku tersenyum geli melihat Dodi mencak-mencak begitu. “Dod, ciuman sama loe emang nyaman buat gue.
    Apalagi kejadian yang di Bioskop. Jilatan loe emang bener-bener hebat. Gue sampe menggelapar waktu itu,
    Dod. Tapi itu kan gak berarti lantas gue jadi pacar loe? Itu kan hubungan sama-sama enak. Memek gue enak
    loe jilatin, loe juga dapet rejeki bebas jilatin memek gue. Kurang apa, Dod? Cukuplah hubungan kita
    sebatas itu aja. Jangan berharap lebih lagi. Soalnya menurut gue itu udah lebih banget. Coba… sampe
    memek gue aja gue kasih, kurang gimana lagi hayo?!”

    Dodi tampak geram mendengar ucapanku. Lalu dengan suara berat dia lanjut bertanya. “Jadi… bukan cuma aku
    yang kamu kasih jilatin memek kamu?”

    Aku menatap tajam matanya mendengan ucapannya yang menurutku cukup kurang ajar. “Itu urusan gue. Loe gak
    perlu tau!” ujarku ketus sambil tetap menatap matanya dengan tajam.

    “Hah, gak nyangka, Lin. Kamu gak beda sama perek-perek di jalan. Percuma kamu pake jilbab. Mending
    telanjang aja kamu!” Dodi memakiku sambil bangkit dan beranjak meninggalkan aku sendiri di rumah makan
    itu.

    Aku cukup sakit hati mendengar ucapannya. Laki-laki! Waktu dia berusaha menelanjangi tubuhku apa pernah
    dia berpikir seperti itu. Saat sudah gak dapet memek lagi, langsung pandangannya berubah. Dasar!

    Malam itu aku pulang sendiri. Hatiku gundah, sedih, sakit… Belum pernah aku dihina seperti ini. Mantan-
    mantanku dulu tak pernah menyakitiku seperti ini.
    Besoknya aku tidak melihat Dodi di kantor. Besoknya lagi juga tidak. Hari ketiga dia muncul menghadap
    HRD dan mengajukan pengunduran dirinya. Lalu dia pergi tanpa berpamitan denganku.

    Meski begitu, tetap saja rasa sakit hatiku belum bisa hilang. Jika kuingat lagi ucapannya di restoran
    malam itu, hatiku benar-benar seperti di sayat-sayat. Untunglah beberapa hari kemudian ada karyawan baru
    yang ganteng dan bertubuh atletis. Tidak membutuhkan waktu lama, aku sudah akrab dengan Torik, karyawan
    baru tersebut.

    Sudah 2 hari berturut-turut kami makan siang bersama. Bukan itu saja, sudah 2 hari berturut-turut pula
    aku diantar pulang dengan mobilnya. Di hari ke 3, bertepatan dengan akhir pekan, Torik mengajakku
    jalan-jalan dulu sebelum pulang. Aku setuju saja. Bagaimana mungkin aku menolak ajakan cowok ganteng
    seperti Torik. Apalagi badannya juga bagus sekali, terutama bagian bokongnya yang terlihat begitu
    kencang.

    Ternyata Torik membawa mobilnya menuju Ancol. Ah… Ancol. Teringat aku pada pengalaman pertamaku ngisep
    kontol. Di ancol inilah pertama kali aku belajar ngisep kontol pacarku waktu kuliah dulu.

    Torik memarkir mobilnya di tempat sepi. Sama seperti kejadian dengan pacarku dulu. Membayangkan hal itu
    aku sudah panas dingin duluan. Torik memarkir mobil tanpa mematikan mesinnya. Lalu tanpa ba bi bu dia
    langsung mencium bibirku. Ah… sudah nafsu rupanya. Aku tidak mau tinggal diam, kuladeni ciumannya dengan
    menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Ugh… cepat sekali birahiku naik.

    Kupeluk erat tubuh Torik sambil kubisikkan kata-kata… “Sayang, pindah ke belakang aja yuk…”

    Torik tersenyum penuh semangat mendengar ajakanku. Tak menunggu lebih lama lagi kami langsung pindah ke
    kursi belakang. Begitu sampai di belakang Torik langsung membuka jilbabku. Kemudian diserangnya leherku
    yang jenjang dengan jilatan-jilatannya yang membuat aku menggelinjang birahi.

    Tangannya tak tinggal diam, satu-persatu kancing kemejaku di preteli. Kemudian di lepaskannya kemejaku
    dan dilemparkan ke lantai mobil. Setelah itu lidahnya langsung pindah menuju bukit dadaku yang hampir
    melompat keluar dari BH ku. Tidak puas menjilati bukit dadaku, Torik membuka kait BH- ku dan
    merenggutnya hingga lepas dan terbang entah kemana. Setelah itu lidahnyapun mendarat di puting susuku
    yang sudah tegak mencuat dan keras.

    Aku terhenyak nikmat merasakan sedotan bibirnya pada putting susuku. Aaaaaagh… aku kangeeeennnn sama
    beginian…

    Aku di dorong hingga terlentang di jok mobilnya. Kemudian jilatannya bergeser menuju perutku. Terus
    turun lagi sampai perut bagian bawah… Oghhh… aku tidak tahan. Pasti memekku sudah banjir.

    Dengan penuh nafsu Torik membuka resleting celana panjangku, lalu menarik lepas celana berikut celana
    dalamku. Dan bugil lah aku. Kemudian Torik bangkit duduk untuk membuka seluruh pakaiannya. Dan
    wooooowww… kontolnya… Besaaaarrr…!

    Memekku sampai berdenyut-denyut melihat kontol Torik yang mengangguk-angguk seolah memanggilku untuk
    menghisapnya. Dengan tidak sabar Torik melebarkan kakiku sampai terpentang ngangkang. Kemudian dia
    menindih tubuhku. Sepertinya nafsunya sudah sampai di ubun-ubun. Gerakannya begitu bersemangat.

    Kurasakan kontolnya mulai berusaha menerobos lubang memekku. Oh Gawat ! “Sayang, jangan dimasukin! Aku
    masih perawan!”Cerita Sex Dewasa

    Tapi sepertinya Torik tidak perduli. Dia mencium bibirku dengan ganas, dan kontolnya terus berusaha
    menyodok lubang memekku. “Jangan… oghhh… jangan….. digesek-gesek di luar aja….” erangku antara menolak
    dan ingin.

    Sodokan kepala kontolnya benar-benar nikmat. Aku hampir tidak kuasa lagi untuk menolak kenikmatan ini.
    Ditengah kebimbangan antara takut kehilangan perawan dan rasa nikmat yang luar biasa, tiba-tiba…

    Creeet… Creeeet… Creeeet… Terasa memekku disiram dengan semburan-semburan hangat dari kontolnya. Aaaah…
    rupanya Torik begitu bernafsu sampai-sampai sudah keluar sebelum tiba di tujuan. Syukurlah… perawanku
    selamat.

    Cepat kudorong tubuh Torik yang sudah lemas, kemudian segera kubersihkan air mani Torik dengan tissue
    yang sudah tersedia di mobilnya. Buru-buru kupakai celanaku. Soalnya aku tidak yakin bisa menolak jika
    nanti Torik minta lagi. Segera aku pindah ke kursi depan menunggu Torik selesai berpakaian. Aku mengajak
    Torik segera pulang.

    ***

    # Hampir Saja Perawanku Hilang

    “Terima kasih ya, pak.” ujarku mengakhiri percakapanku di telepon dengan seorang Manager Hotel di
    kawasan Sudirman. Karena seringnya perusahaan kami memesan kamar hotel untuk klien-klien kami dan selama
    ini aku yang selalu berhubungan dengan pihak Hotel, maka pihak Hotel memberi hadiah berupa beberapa
    lembar voucher untuk menginap gratis di kamar Superior mereka. Lumayan…

    Ah… memekku langsung berdenyut saat membayangkan akan mengajak Torik untuk menggunakan voucher ini.
    Terbayang Kontol besar Torik saat kami bercumbu di ancol beberapa hari lalu. Apalagi aku belum sempat
    merasakan kontol besarnya secara utuh. Ugh… menbayangkan itu saja aku sudah tidak sabar ingin ngisep
    kontolnya.

    Seperti dugaanku Torik sangat bersemangat saat hal itu kusampaikan padanya ketika kami makan siang. “Ya
    udah ntar malem aja, Lin.” ucap Torik dengan penuh semangat. Aku tersenyum pengen melihat semangatnya
    itu.

    “Besok aja deh, malem ini gue musti ke rumah tante gue.”

    “Yaah… kelamaan nunggunya, Lin. Udah pengen nih.” ujar Torik dengan wajah kecewa. Aku tertawa melihatnya
    begitu.

    “Sabaaar ah. Besok pagi jemput gue ke tempat kost ya. Kan musti bawa baju ganti.”

    “Sip. Pagi-pagi gue jemput.” jawab Torik girang.

    “Tapi janji dulu.” ucapku membuat Torik memandangku heran.

    “Janji apa?” tanya Torik.

    “Jangan dimasukin. Gue masih perawan.”

    “Iyaaa.. jangan kuatir.” jawab Torik sambil kembali menyeruput kopinya.

    ***
    Pagi-pagi sekali Torik sudah menjemputku di tempat kost. Gila, semangat amat. Untung aku sudah
    menyiapkan pakaian ganti sejak tadi malam. Jadi bisa langsung berangkat.

    Hari ini sepertinya pekerjaan begitu membosankan, Aku sudah tidak sabar untuk segera menikmati kontol
    Torik di hotel nanti. Brengseknya hari ini justru aku banyak pekerjaan.

    Sudah pukul 8 malam lewat sedikit saat aku menyelasikan pekerjaanku. Saat aku sampai di lobby, kulihat
    Torik masih menunggu dengan wajah bosan. Kamipun segera bergegas menuju Sudirman.

    Di perjalanan sepertinya Torik sudah tidak sabar. Tubuhku dirangkul sampai tersandar di perutnya
    sementara tangannya terus saja meremas toketku dari balik punggungku.

    Aku tidak mau kalah, kuremas-remas kontolnya dari luar celana. Terasa sekali kontol itu sudah begitu
    tegangnya. Besaaar… keraaaas…

    Rupanya Torik benar-benar sudah tidak tahan. Dia membuka sendiri kait ikat pinggang dan menurunkan
    resleting celananya. Tampaklah kepala kontolnya yang sudah menyembul keluar dari celana dalamnya.

    Kusentuh kepala kontol itu dengan jari-jariku. Woow… lebar sekali. Kuturunkan celana dalamnya. Kontol
    besar itu sampai melompat bergoyang-goyang saat terbebas dari celana dalamnya. Gilaaa… gede bangeeet…
    Dengan gemas kugenggam batang kontolnya dengan kedua tanganku. Uuuh… sudah pakai dua tangan, tapi kepala
    kontolnya masih nongol. Panjaaaang…
    Hhh.. tak sadar aku mendesah. Bukan karena toketku yang terus diremas-remas oleh Torik. Tapi karena tak
    kuat membayangkan enaknya kontol besar begini.
    Kuremas-remas kontol besar itu. Kukocok dengan lembut. Lalu kuusap-usap kepala kontolnya dengan jari
    telunjuk dan jempolku. Tak lama terlihat cairan bening keluar dari lubang di ujung kontolnya. Bening…
    tapi kental. Kusapukan cairan itu ke seluruh permukaan kepala kontolnya.

    Kontan Torik tersentak dan mengerang “Aaaaaghhh…”

    Aku sudah tidak sabar ingin mengemut kontol ini. Tapi baru saja aku akan memasukkan kontol itu ke
    mulutku, Torik sudah menarik tubuhku untuk bangun.
    “Udah dulu sayang… kita udah sampe.”

    Aaah… tanggung bener sih… Segera kurapikan celana Torik dan akupun bangkit duduk dengan manis.

    Sesampai di kamar, Torik benar-benar seperti Tarzan yang mau perang. Begitu pintu di kunci, aku langsung
    direngkuhnya dengan ganas. Bibirku dicium dengan bernafsu sekali. Aku sampai gelagapan sulit bernapas.
    Jilbabku dibuka dengan terburu-buru. Lalu kembali aku diciumi sambil berdiri. Leherku dijilat-jilat dan
    digigit-gigit kecil.

    Lalu bajuku dibuka dengan kasar. Saking kasarnya sampai ada kancing yang copot terpental entah kemana.
    Bajuku dilemparkan begitu saja, dan tidak menunggu lama langsung tangannya menuju punggungku membuka
    kait BH. Kembali BH itu terlempar. Tidak seperti biasanya, Torik melewatkan Toketku yang sudah tegang.
    Tangannya langsung meraih kancing dan resleting celana panjangku. Celanaku dipelorotkan berikut dengan
    celana dalamnya. Oooh… aku langsung bugil dihadapannya.

    Kemudian Torik dengan terburu-buru melucuti seluruh pakaiannya sampai sama-sama bugil. Aku masih saja
    terbelalak menyaksikan kontolnya yang menakjuban itu. Tiba-tiba aku terkaget karena tubuhku digendong
    dan dibawa ke ranjang. Torik melempar tubuhku begitu saja ke atas ranjang. Owgh… kasar sekali. Tapi aku
    suka.

    Belum hilang kagetku, Torik sudah melompat menindih tubuhku dan langsung menyerang bibirku dengan ganas.
    Terasa kontol besarnya bergesekan dengan memekku. Oooghhh… enak sekali permainan kasar begini. Aku belum
    pernah dipelakukan seperti ini. Ternyata sensasinya sungguh beda. Lebih nikmat.

    Tiba-tiba Torik bangkit duduk. Kedua belah kakiku diangkat terlipat, sampai dengkulku menyentuh Toket.
    Aku benar-benar terkangkang dan memekku terekspos dengan bebas di hadapan Torik. Kemudian Torik mulai
    berusaha memasukkan kontolnya ke dalam memekku. Oh gawat! Torik pengen ngentot.

    “Jangan… Torik! Jangan…” aku benar-benar panik. Kugoyang-goyangkan pantatku menghidari kontolnya yang
    ingin menerobos ke dalam memekku. Tapi goyanganku justru membuat kontol itu seperti di gesek-gesek
    kebelahan memek. Dan rasanya luar biasa nikmat. Aku benar-benar dipersimpangan jalan. Kubiarkan kontol
    itu masuk dan kehilangan perawan, atau biarin aja. Enaaaaak…

    Torik terus berusaha memasukkan kontolnya. Aku semakin panik dan semakin bimbang. Pantatku masih terus
    kugoyang-goyangkan. Tapi sepertinya bukan lagi untuk menghindar, melainkan untuk mendapatkan rasa enak
    yang semakin menjalar.

    Akhirnya kepala kontol Torik mulai menemukan jalan masuk. Goyanganku justru membuat jalannya semakin
    terbuka. Ooohhhh… gawaaaaat…

    Mungkin karena merasa yakin sudah pasti masuk, Torik langsung merebahkan tubuhnya menindihku dan kembali
    menjilati leherku. Kesempatan itu tidak kusia-siakan, kugigit kupingnya dengan keras. Torik terpekik
    kesakitan dan tubuhnya merenggang. Langsung kudorong tubuh kekarnya sampai terguling ke samping. Dan
    lepaslah kontolnya dari memekku.Cerita Sex Dewasa

    Sebelum Torik marah, segera kudorong Torik sampai telentang, lalu cepat kutindih tubuhnya. Kucium
    bibirnya. Kususupkan lidahku ke dalam mulutnya. Untung, Torik tidak jadi marah. Dia membalas lilitan
    lidahku. Memekku tepat diatas kontolnya. Terasa batang kontol itu sampai membelah memekku. Kugesek-gesek
    memekku maju mundur mengejar nikmat batang kontolnya. Tiap kali Torik berusaha bergerak ingin
    menggulingkan tubuhku cepat aku mendekapnya erat sambil tetap menggesek-gesekkan kontolnya ke memekku.

    ”Owwwgggghhhh… nikmatnya…” memekku semakin basah membuat gesekan memekku di kontolnya semakin licin dan
    lancar. Terus kugesek sampai kepala kontolnya berkali-kali terasa menyundul klitorisku. Uuuuuaaaagghhh…
    enaaak bangeeeet…

    Cepat sekali birahiku menyerbu. Denyutan-denyutan terasa mendera memekku. Tubuhku kejang, dan
    ooooggggh…. Aku orgasme. Terasa ada yang menyembur-nyembur dari dalam memekku. Aku lemas. Sungguh
    rasanya tulangku copot semua. Kudekap erat tubuh Torik. Untung aku segera tersadar. Jika tidak cepat
    bertindak, pasti aku akan diperkosa lagi oleh Torik.

    Cepat aku meluncur ke bawah menuju kontolnya. Langsung kumasukkan kontol yang masih belepotan cairan
    cintaku itu ke dalam mulutku. Kusedot dengan kuat. Torik sampai teriak nikmat merasakan sedotanku. Lalu
    mulutku mulai naik turun mengocok kontol besarnya. Mulutku sampai terasa penuh menampung batang kontol
    besar panjang ini.

    Saat mulutku naik, kusedot kontolnya dengan kuat sampai kepala kontolnya hampir terlepas. Lalu
    kuturunkan lagi mulutku. Kuangkat lagi sambil kusedot kuat-kuat. Torik benar-benar kubikin sampai
    kelojotan dan mengerang-ngerang hebat.

    Saat mulutku mulai terasa pegal segera kuludahi kontol itu sampai basah kuyup, lalu ku kocok-kocok
    dengan tanganku. Begitu kontolnya kering, kulumat lagi kontolnya dengan mulutku sampai pegal. Kuulangi
    terus berkali-kali.

    Sedot…. kocok…. sedot…. kocok….

    Memekku sampai gatal lagi. Segera aku rubah posisi dari nungging menjadi telungkup. Memekku kugeser-
    geser menindih kakinya sampai terasa jempol kakinya menyentuh memekku.

    Langsung saja jempol kaki Torik kujadikan pemuas memekku sambil aku terus mengerjai kontolnya dengan
    mulutku. Uuuughhhh enak banget…. memekku terus kugesek-gesek ke kakinya, sementara mulutku terus
    bekerja. sedot… kocok… sedot… kocok…

    Gelombang orgasmeku kembali menyerbu. Kurapatkan pahaku sambil menjepit jempol kaki Torik. Kusedot
    kontolnya dengan kuat sambil menikmati gelombang orgasmeku. Sedotanku yang kuat membuat Torik tidak
    mampu bertahan lagi. Kontonya mendenyut-denyut dan… crooooot… crooot… crooot… air maninya menyembur ke
    dalam tenggorokanku.

    Aku sampai kaget merasakan kencangnya semburan dari kontol Torik. Air maninya begitu banyak sampai tidak
    tertampung dalam mulutku. Sebagian ku telan saja, tapi tidak bisa semuanya. Masih banyak yang melelh
    keluar dari bibirku dan mengalir ke dagu dan terus ke leherku. Aaaaah… segarrr… ngisep kontol memang
    benar-benar nikmat. Cepat kukenakan jas mandi yang sudah tersedia di kamar hotel mewah ini.

    “Rik, loe pulang aja deh sekarang.” ujarku pada Torik sambil aku mengumpulkan pakaian Torik dan
    kulemparkan ke arahnya.

    Torik menangkap pakaiannya dengan terkejut. “Lho, kok pulang? Kan kita mau nginep…“ tanyanya dengan
    bingung.

    “Siapa bilang kita mau nginep. Gue mau nginep sendiri. Bukan nginep bareng.” ucapku sambil berdiri dekat
    pintu, kuatir Torik menolak aku suruh pulang. Maksudku, jika dia menolak aku akan membuka pintu lebar-
    lebar hingga terlihat dia masih telanjang.

    Torik tampak kesal, tapi melihat wajahku yang serius akhirnya dia segera mengenakan pakaiannya dan
    mengangkut tasnya menuju ke arahku, “Gue gak ngerti sama sekali, Lin. Kenapa cepet sekali berubah…” ucap
    Torik dengan wajah kaku.

    Aku menghela nafas dan menatapnya lembut. “Sorry, Rik. Gue belom siap tidur bareng. Cuma itu aja. Cukup
    kayak gini aja. Terima kasih Rik. Tadi itu luar biasa enak. Tapi gue belum bisa lebih dari itu…” ucapku
    pelan. Aku benar-benar tidak yakin bisa bertahan jika Torik tetap menginap malam ini.

    Torik meletakkan tasnya di lantai dan berusaha menyentuh wajahku. Aku segera mundur sambil menarik pintu
    hingga terbuka lebar. Torik menghentikan gerakannya melihat sikapku seperti itu.

    “Tapi boleh gak gue jilat memek loe sebentar. Bentaaar… aja!” memekku langsung berdenyut mendengar
    permintaannya. Aku langsung bimbang.

    “Tapi disini aja ya. Jangan di kasur.” jawabku sambil beringsut sedikit berlindung dibalik pintu. Torik
    menyeringai girang merasa menang. Cepat dia berjongkok di depan memekku dan menyibakkan jas mandiku
    dimana aku tidak mengenakan apa-apa lagi di dalamnya.

    Torik langsung mencium memekku. Ooogh… aku tidak tahan. Kuangkat sebelah kakiku dan kutumpangkan di
    bahunya untuk semakin memudahkan serangan Torik.

    Lidahnya langsung menari-nari di celah memekku. Lidahnya menjilat dari bawah ke atas berulang-ulang.
    Uuuugh… nikmat luar biasa. Orgasmeku mulai mendekati. Aagggh… cepat sekali aku terangsang.

    Torik meneruskan serangannya dengan menyedot keras itilku sambil lidahnya menari-nari di seputar itilku.
    “Oooooggghhhh… iyaaaaah… itu enak bangeeeet..” Aku lupa bahwa pintu terbuka hingga tak sadar berteriak
    lumayan keras menikmati jilatan Torik.

    Akhirnya kedutan-kedutan nikmat itu muncul juga. Kutekan kepala Torik ke arah memekku dengan kuat. Aku
    kejang… dan… “Oooogghhhh… sayaaanggg… aaaaakh…” memekku berkedut kencang. Aku lemas. Cepat kuraih daun
    pintu menjaga agar aku tidak jatuh. Kudorong kepala Torik menjauhi memekku,

    “Udah.. udah… Rik! Udah…” ujarku sambil terus kudorong kepalanya.

    Torik bangkit lalu dia pergi tanpa pamit lagi. Segera kututup pintu dan kukunci. Lalu kubuka jas mandiku
    dan kuhempaskan tubuh telanjangku ke atas kasur empuk hotel ini.

    Aku terbaring telentang…. telanjang…. ngangkang….

    ***

    # Perjodohan Yang Nikmat

    Aku terbangun dengan tubuh agak menggigil kedinginan. Uuuh… pantas saja dingin. Aku masih telanjang
    bulat. Kuraih jam tanganku yang kuletakkan di meja samping tempat tidur. Ah, masih jam 2 pagi. Aku
    kembali meringkuk di balik selimut tebal kamar hotel.

    Sempat terpikir untuk mengenakan pakaian. Tapi rasanya malas sekali untuk beranjak dari kasur empuk ini.
    Akhirnya aku terus saja meringkuk sambil kuselipkan tanganku diselangkangan untuk mencari kehangatan.
    Namun rupanya hal itu malah menimbulkan getar-getar enak di seputar memekku.

    Aaaah… terbayang lagi bagaimana Torik menjilati memekku di depan pintu sebelum dia kuusir tadi. Gila,
    semalaman tadi sudah orgasme sampai dua kali. Sekali saat kugesek memekku ke kontolnya yang luar biasa
    besar itu, kemudian saat dia menjilati memekku habis-habisan sambil berdiri di balik pintu.

    Membayangkan hal itu menyebabkan memekku kembali basah. Kugosok-gosok permukaan memekku dengan tanganku
    yang masih kuselipkan di antara selangkangan. Aaaah… nikmat. Aku telentang sekarang. Kubentangkan kaki
    selebar mungkin, lalu kuraba-raba memekku. Kuusap-usap bulu-bulu memekku dengan halus, kemudian perlahan
    jariku bergerak kebawa sampai hampir menyentuh duburku. Kemudian dengan agak ditekan, kutarik jemariku
    menelusuri memekku dari bawah sampai ke itilku. Aaaaaah… enaaaak…

    Kugosok lagi memekku ke bawah, kemudian kutekan dan kutarik lagi ke atas sampai ke itilku. Sungguh
    nikmat. Kuulangi terus menerus sambil sebelah tanganku yang lain meremas dadaku sendiri. Puting toketku
    sudah sangat tegang berdiri mengacung dan keras. Kupelintir-pelintir putingku sambil sesekali kuremas
    dadaku kuat-kuat. Sementara di bawah sana jemariku terus bermain-main dengan lobang memekku yang sudah
    semakin licin.

    Kugoyang-goyangkan pinggulku dengan hebat sambil terus kugosok-gosok memekku mencari kenikmatan yang
    terus mendera. Jemariku berhenti sejenak di itilku. Kupermainkan daging kecil itu ke kiri dan ke kanan.
    Kucolek-colek, kupencet dengan dua jari. Oooooghhhh… nikmatnya…

    Kubayangkan lidah Torik menyentil-nyentil itilku. Nafsuku semakin menggelora. Ooooowgh…. pengen di
    jilaaaatttt… Sempat aku menyesal telah mengusir pulang Torik tadi malam. Seandainya tidak kuusir, pasti
    sekarang kontol besarnya sedang menggesek-gesek memekku. Oh, kontol itu… terbayang besarnya kontol
    Torik. Terbayang bagaimana kepala kontolnya yang sepert helm tentara itu masuk ke celah memekku dan
    menyundul-nyundul itilku.

    Terbayang batang kontolnya yang besar dan berurat menggesek-gesek celah memekku. Urat-uratnya begitu
    terasa seperti polisi tidur menggerus memekku.
    Aku semakin hebat bergoyang, menggosok-gosok memek, meremas toket sambil terus membayangkan kontol
    besar Torik. Dan… aaaaaaahhhhhkkkk… tubuhku kejang… seluruh urat di tubuhku menegang, memekku berkedut-
    kedut… seerrrrr… srrrr… denyutan-denyutan kencang menerpa bersamaan menyemburnya cairan cintaku
    membasahi relung-relung memekku. Aku terengah-engah lemas. Tubuhku bagai dihempaskan dari loteng. Aku
    telentang, kedua tanganku terentang ke kiri dan kekanan, kakiku mengangkang lebar seperti kaki kodok.
    Nikmaaat… dan akupun jatuh tertidur lagi…

    ***

    HP-ku berdering membangunku dari tidur nikmatku. Kuraih Hp itu dan kubaca nama pemanggilnya. Hhhh… tante
    Neni? Mau apa dia pagi-pagi begini?

    “Assalamualaikum… “ sapaku dengan suara serak akibat nyawa yang belom kumpul semua.

    “Waalaikum salaaam. Ya ampuuuun… Lin, jam segini belum bangun? Gimana sih, anak perawan kok males
    banget.” Tante Neni yang memang cerwet itu terus saja nyerocos ngomel. Aku hanya mendengarkan saja
    omelannya dengan malas-malasan. Pada intinya dia memintaku untuk bolos kerja hari ini dan harus sudah
    ada dirumahnya paling telat pukul 9 pagi. Aku lirik jam tanganku yang ada di meja. Jam 6. Buset, masih
    pagi bener, Pantes males banget bangun.

    “Pokoknya kamu pasti suka deh. Orangnya ganteng, bisnisnya juga udah mapan, dan yang pasti orang tuanya
    kaya. Kalo kamu bisa kawin sama dia, dijamin hiduo kamu gak bakalan susah.” semangat sekali tante Neni
    mempromosikan anak temannya yang akan dijodohkan denganku. Huh… Jaman gini, masih musim ya jodoh-jodohin
    orang.

    Tapi agar tidak mengecewakan tante Neni akupun menyanggupi untuk datang ke rumahnya dengan syarat tante
    Neni harus telpon adiknya yang jadi bossku sekarang ini.

    Selesai menutup telepon kembali kuhempaskan tubuh telanjangku ke ranjang. Lima menit kemudan barulah aku
    bangkit. Kusingkapkan selimut tebal yang menutupi tubuh telanjangku, kemudian aku beranjak ke jendela.
    Kubuka tirai yang menutupi dan Ups! silau sekali saat sinar mentari menyambar mataku yang masih ngantuk.

    Kubiarkan sinar mentari pagi meraba tubuhku. Kurentangkan tanganku tinggi-tinggi dan kunikmati hangatnya
    mentari pagi menyusuri seluruh tubuhku, wajahku, leherku, dadaku, perutku, memekku… lalu… Opss lagi!

    Ternyata tirai benar-benar terbuka, termasuk vitrage tipis yang biasanya menjadi pelapis kedua gorden.
    Artinya, tubuhku benar-benar ter-ekspos di depan kaca. dan pastinya akan terlihat dengan jelas dari luar
    sana. Kuperhatikan kondisi diuar. Ah, untung aku ada di lantai 5. Agak sulit orang di bawah sana melihat
    kemari. Paling-paling orang-orang di gedung sebelah yang sejajar dengan kamarku. Biarin deh…Cerita Sex Dewasa

    Setelah puas berjemur ringan, aku segera menuju kamar mandi. Mau mandi tentunya…

    ***

    Aku mampir sebentar ke tempat kost untuk meletakkan tas pakaianku, baru aku berangkat ke rumah tante
    Neni. Bisa bingung dia kalo aku datang kesana sambil bawa-bawa tas pakaian.

    Sekitar pukul 10 pagi teman tante Neni datang. Seorang ibu yang kira-kira seusia dengan tante Neni.
    Kelihatan dari dandanannya memang dia berasal dari keluarga berada. Tapi yang menarik perhatianku adalah
    cowok ganteng yang datang bersamanya. Gilaaa… ganteng banget. Putih, tinggi dan tubuhnya atletis.

    Celana jeans ketatnya memperlihatkan paha yang kuat dan bokong yang kencang. Selera gue banget deh, asli
    bikin ngences… Setelah basa-basi perkenalan yang membosankan, ibu si Dito, cowok ganteng itu menyarankan
    agar kami jalan-jalan dulu malam ini.

    Supaya tidak terlalu terlihat bahwa aku sudah mupeng, aku minta Dito menjemputku ke kantor besok sore
    saja. Semuanya setuju dengan usulku. Tante Neni terlihat senang sekali karena aku sepertinya menyambut
    perkenalan ini. Ya iya laaah… siapa sih yang bisa nolak cowok keren kayak gitu.

    ***

    Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Aku masih saja duduk di lobi kantor sambil membaca
    majalah yang baru saja kubeli saat makan siang tadi. Suasana kantor sudah sepi, hanya ada satpam dan
    beberapa karyawan yang memang akan kerja lembur.

    Malam ini aku menunggu Dito yang berjanji akan menjemputku pulang kantor sesuai kesepakatan kami
    kemarin. Tak lama tampak sebuah sedan memasuki pelataran parkir. Ah, itu pasti Dito. Aku segera bergegas
    menghampiri mobil tersebut dan langsung duduk di kursi depan. Dia berseri-seri melihatku mengenakan
    pakaian muslim ketat hingga dia bisa melihat lekuk liku bodyku yang proporsional dan langsung mengundang
    selera lelaki yang melihatnya.

    “Kamu laper gak, kita makan dulu yuk?” ujar Dito.

    “Terserah kamu deh, aku ikut aja.” jawabku sambil tersenyum.

    Tidak sampai 20 menit kami sudah memasuki kawasan Senayan, dimana banyak pedagang makanan di pinggir
    jalan berjejer dengan tenda-tenda semi permanen. Memang kantorku tidak jauh dari kawasan Senayan.

    Dito memilih parkir yang agak jauh dari keramaian dan cukup terlindung pepohonan hingga suasananya
    cenderung gelap. Didukung kaca mobilnya yang memang gelap, maka bisa dipastikan tidak ada orang yang
    dapat melihat ke dalam mobil. Aku tersenyum sendiri menyadari maksud Dito memilih tempat parkir yang
    sepi begini.

    Seorang pelayan berlari kecil menghampiri mobil. Dito membuka kaca mobilnya sambil bertanya padaku.
    “Kamu mau makan apa, Lin?”

    “Minum aja ah, aku belum laper.” jawabku.

    “Ya udah, aku juga minum dulu aja deh.” Dito segera meminta pelayan tersebut untuk membawakan 2 botol
    soft drink.

    Sepeninggal pelayan, kami lanjutkan obrolan-obrolan ringan kami. Setelah beberapa lama ngobrol, Dito
    menghadapkan tubuhnya ke arahku dan meletakkan tangannya di pahaku. Merinding aku merasakan gerak
    jemarinya di atas pahaku.

    Tiba-tiba kurasakan bibirnya sudah menyentuh dahiku, terus menyusur pipiku. Tubuhnya begeser merapat,
    bibirku dilumat dengan lembut. Kenikmatan menjalar hangat di sekujur tubuhku. Sensasi nikmat yang sudah
    kutunggu sedari tadi. Di tengah gelora nikmat yang melanda, tiba-tiba terdengar ketukan di kaca mobil.

    Kamipun terkejut dan segera melepaskan ciuman. Ternyata itu adalah pelayan yang datang membawa minuman
    pesanan mereka. Dito segera mengambil minuman tersebut dan menutup kaca mobilnya kembali. Sepertinya
    Dito sudah tidak perduli lagi dengan minuman yang dipesannya karena botol minuman itu langsung
    diletakkan begitu saja di lantai mobil.

    Selanjutnya tanpa dikomando kembali kami berpagutan. Kali ini ciuman Dito bukan lagi ciuman mesra, namun
    sudah berubah menjadi ciuman-ciuman panas.

    Sedang kunikmati lidahnya yang menjelajah di mulutku, kurasakan tangannya meremas lembut toketku yang
    masih terhalang baju muslim dan terbungkus BH. Ooooh… aku merasa sudah tidak kuat menahan gejolak
    nafasku, padahal baru awal pemanasan.

    Perlahan jemari Dito mulai menjalar ke arah perutku. Dan terus turun hingga pinggulku.Diremas-remasnya
    pinggulku dengan gemas sambil bibirnya terus menciumi bibirku. Desahanku semakin kuat apalagi saat
    kurasakan jemari Dito mulai membelai-belai pahaku yang masih tertutup celana panjang.

    “Kita pindah ke belakang yuk,” bisik Dito tiba-tiba. Aku hanya mengangguk pelan dan langsung beranjak
    mengikuti Dito pindah ke kursi belakang.

    Di kursi belakang Dito menerkamku dengan lebih ganas. ciumannya semakin gencar menyerang. Lidahnya
    menari-nari dirongga mulutku. Bibirnya meneruskan jelajahannya, sambil tangannya melepas satu persatu
    kancing baju muslimku. Maka tampaklah bulatan dadaku yang putih tertutup BH hitamku. Tangan Dito
    langsung meremas toketku dan menyelusup kebalik BH ku. Pentil toketku dipermainkan membuatku semakin
    menggelinjang. Kemudian tangannya menjalar kepunggungku dan melepas kaitan BH-ku hingga toketku terbebas
    dan semakin mudah untuk diremas.

    Lalu aku direbahkan hingga terbaring telentang di kursi belakang mobil ini. BH ku diangkat hingga kedua
    toketku benar-benar terhidang dengan bebas. Bibirnya langsung menelusur di permukaan kulitku.

    Dari mulai pentil kiriku tersentuh lidahnya dan dihisap. Terus pindah ke pentil kanan. Kadang-kadang
    seolah seluruh toketku akan dihisap. Dan tangan satunya mulai turun dan memainkan puserku, terasa geli
    tapi nikmat, nafsuku makin berkobar karena elusan tangannya. Kemudian tangannya turun lagi dan menjamah
    selangkanganku. Menyentuh memekku yang pasti sudah basah sekali.

    Lama hal itu dilakukannya sampai akhirnya dia kemudian membuka ristsluiting celanaku dan menarik
    celanaku ke bawah terus melewati kakik kemudian teonggok di lantai mobil. Tinggalah CD miniku yang
    tipis. Dibelainya celah memekku dengan perlahan. Sesekali jarinya menyentuh itilku. Ketika benda itu
    dielus pahaku otomatis mengangkang agar dia bisa mengakses daerah memekku dengan leluasa. Bergetar semua
    rasanya tubuhku, kemudian CD ku yang sudah basah itu dilepaskannya. Aku mengangkat pantatku agar dia
    bisa melepas pembungkus memekku dengan leluasa.

    Jadilah aku wanita muslimah berjilbab dengan baju bagian depan terbuka memperlihatkan toket besar
    menantang dan kaki mengangkang mempertontonkan memek telanjangku.

    Dito mengangkat kakiku hingga terpentang tinggi. Jarinya mulai sengaja memainkan itil-ku. Oh, nikmatnya…
    bibirnya terus bergantian menjilati pentil kiri dan kanan dan sesekali dihisap dan terus menjalar ke
    perutku. Dan akhirnya sampailah ke memekku. Kali ini diciumnya jembutku yang tipis dan aku rasakan bibir
    memekku dibuka dengan dua jari. Dan akhirnya kembali memekku dibuat mainan oleh bibirnya, kadang
    bibirnya dihisap, kadang itilku, namun yang membuat aku tak tahan adalah saat lidahnya masuk di antara
    kedua bibir memekku sambil menghisap itilku. Dia benar-benar mahir memainkan memekku.

    Hanya dalam beberapa menit aku benar-benar tak tahan. Dan.. Aku mengejang dan dengan sekuatnya aku
    berteriak sambil mengangkat pantatku supaya merapatkan itilku dengan mulutnya, kuremas-remas rambutnya.
    Dia terus mencumbu memekku, rasanya belum puas dia memainkan memekku hingga nafsuku bangkit kembali
    dengan cepat. Kubuka pahaku lebih lebar lagi untuk menggapai kenikmatan lebih dalam.

    Dito kemudian membuka celananya. Aku terkejut melihat kontolnya yang besar dan panjang nongol dari
    bagian atas CD-nya, gak kebayang ada kontol sebesar itu. Kemudian dia juga melepas CD-nya. Sementara itu
    aku dengan berdebar terbaring menunggu dengan semakin berharap. Kontolnya yang besar dan panjang dan
    sudah maksimal ngacengnya, tegak hampir menempel ke perut.

    Dan saat dia pelan-pelan menggesek-gesekan kontolnya di memekku, aku membuka pahaku makin lebar, rasanya
    tidak sabar memekku menunggu kontol extra gede itu. Aku pejamkan mata. Kurasakan bibir memekku mulai
    tersentuh ujung kontolnya. Sebentar diusap-usapkan dan pelan sekali mulai kurasakan bibir memekku
    terdesak menyamping. Ohh, benar-benar kurasakan penuh dan sesak liang memekku dimasuki kontolnya. Aku
    menahan nafas. Dan nikmat luar biasa. Gesekan demi gesekan kurasakan memenuhi memekku. Kepala kontol
    besar itu bergerak ke atas menyentuh klitorisku, turun lagi ke bawah berkali-kali.

    Aku mendesah tertahan karena rasa yang luar biasa nikmatnya. Terus.. Terus… Dan tangannya tak henti-
    henti meremas-remas toketku. Konsentrasi kenikmatanku tetap pada kontol besar yang terus saja di gesek-
    gesekan ke bagian dalam memekku. Aku benar benar cepat terbawa ke puncak nikmat tak berujung. Nafasku
    cepat sekali memburu, terengah-engah. Aku benar-benar merasakan nikmat luar biasa merasakan gerakan
    kontol besar itu. Maka hanya dalam waktu yang singkat aku makin tak tahan. Dan dia tahu bahwa aku
    semakin hanyut. Maka makin gencar remasan tangannya di toketku.

    Dengan kontolnya dipepetnya itil-ku sambil digoyang-goyangkan, aku menggelepar, tubuhku mengejang,
    tanganku mencengkeram kuat-kuat sekenanya. Memekku menegang, berdenyut dan mencengkeram kuat-kuat,
    benar-benar puncak kenikmatan yang tiada tara. Ohh, aku benar benar menerima kenikmatan yang luar biasa.
    Aku tak ingat apa-apa lagi kecuali kenikmatan dan kenikmatan.

    “Ditooooo… aku nyampeeeee…” Aku sendiri terkejut atas teriakkan kuatku.

    Setelah selesai, pelan pelan tubuhku lunglai, lemas. Setelah dua kali aku nyampe dalam waktu relatif
    singkat, namun terasa nyaman sekali. Kubuka mataku, Dia tersenyum dan menciumku lembut sekali, tak henti
    hentinya toketku diremas-remas pelan.

    Kemudian perlahan Dito bangkit dan jongkok di samping kepalaku. Ketika menengadah kulihat kontolnya
    telah berada persis di depanku. Kuremas kontolnya, lalu kuarahkan ke mulutku. Kukecup ujung kepala
    kontolnya. Tubuhnya bergetar menahan nikmat ketika aku menjilati kepala kontolnya. Dia makin menggeliat
    dan berdesis menahan kenikmatan permainan lidahku dan membuat mulutku semakin penuh.

    Kurasakan agak sulit ngisep kontol dengan posisi seperti ini. Aku segera bangkit duduk dan kuminta Dito
    gantian berbaring di kursi. Lalu aku yang gantian jongkok di lantai sambil menghadap kontolnya yang
    sudah tegak itu. Kusedot-sedot kontol besanya dengan semangat. ceritasexdewasa.org Kukeluarkan segala kemampuan ngisepku.
    Sesekali kujilati batang kontolnya dari bawah sampai ke kepala kontolnya. Lidahku menyusuri batang
    kontol yang putih bersih itu terus menerus. Sempat kujilati kedua biji pelernya. Bahan biki peler itu
    kumasukkan ke dalam mulutku sambil kuhisap bergantian. Hisap yang kiri, hisap yang kanan, lalu lidahku
    menjilati batangnya dari batas lubang pantatnya ke biji, ke pangkal batang, batang terus sampai ke
    kepala kontolnya. Kumasukkan kepala kontolnya ke mulutku sedikit, sambil lidahku berputar-putar
    menjilati kepala kontolnya. Lalu lidahku menjilati lubang kencingnya. Kubuka-buka lubang kencing itu
    dengan lidahku. Dito sampai terkejang-kejang saat lubang kencingnya kupermainkan.

    Lalu kumasukkan seluruh batang kontol itu ke mulutku. Huaaah… hampir sampai ke tenggorokan. Enak sekali
    ngisep kontol besar begini. Kunaik-turunkan mulutku di sepanjang kontolnya. lalu kubasahi kepala
    kontolnya dengan ludahku, kemudian kukocok-kocok dengan taganku. Lalu kumasukkan lagi ke dalam mulutku
    dan kuhisap-hisap dengan nikmat.

    Tiba-tiba tangannya meremas-remas pundakku dengan kuat. Kurasakan kontolnya semakin besar dan penuh
    dalam mulutku. Tubuhnya mengejang dan menggelepar, wajahnya menengadah. Satu tangannya mencengkeram
    kepalaku yang masih tertutup jilbab dan satunya meremas pundakku. Puncak kenikmatan diikuti semburan
    peju yang kuat di dalam mulutku, menyembur berulang kali.

    Oh, terasa banyak sekali peju kental dan hangat menyembur dan memenuhi mulutku, hangat sekali dan terasa
    sekali peju yang keluar seolah menyembur seperti air yang memancar kuat. Langsung kutelan semua cairan
    nikmat itu tanpa bersisa. Setelah selesai, dia memiringkan tubuhnya dan tangannya meraih wajahku hingga
    mendekati wajahnya. Tangannya meremas lembut toketku sambil mencium wajahku. Aku senang dengan
    perlakuannya terhadapku.

    Baca JUga Cerita Sex Pramugari

    “Lin, kamu luar biasa, memekmu licin, isepanmu nikmatnya bukan main.” Aku tersenyum bahagia mendengarnya
    sambil terus kugenggam kontolnya yang mulai mengecil.

    Dia memang sangat pandai memperlakukan wanita. Dia tidak langsung bangkit merapihkan pakaian, tapi malah
    mengajak mengobrol sembari kontolnya makin mengecil. Dan tak henti-hentinya dia menciumku, membelai
    wajahku dan paling suka membelai toketku. Setelah cukup mengobrol dan saling membelai, dia menciumku
    lembut sekali. Benar benar aku terbuai dengan perlakuannya.

    Hari-hari selanjutnya kejadian ini selalu kami ulangi dan ulangi lagi. Aku semakin suka dengan kontolnya
    yang besar dan panjang itu.

    ***

    # Mandi Bareng Yang Nikmat
    Sejak kuusir dari kamar Hotel beberapa waktu lalu, Torik semakin menjauhiku. Jika bukan untuk urusan
    kerja, dia tidak pernah lagi menegurku. Bahkan jika memungkinkan untuk urusan kerjapun dia hanya
    menitipkan dengan rekan kerjaku. Kecuali untuk pengambilan uang tunai yang memang harus menhadap aku
    secara langsung.

    Apalagi sejak dia mengetahui aku mulai sering jalan bareng Dito. Bisa dikatakan hubunganku dengan Torik
    usai sudah. Bagiku tidak menjadi masalah. Karena hubunganku dengan Dito jelas jauh lebih menjanjikan.

    Sejak aku resmi pacaran dengan Dito yang dideklarasikan saat air maninya menyembur di dalam mulutku di
    parkiran mobil Senayan beberapa hari lalu, gaya berpakaianku berubah total. Jika biasanya aku selalu
    mengenakan gaun muslim ketat dengan resleting di bagian punggung hingga bagian depan tubuhku benar-benar
    tercetak dengan jelas, kini aku selalu mengenakan busana dengan kancing-kancing yang banyak di bagian
    depan. Begitu juga dengan bagian bawahnya. Biasanya aku selalu mengenakan celana panjang, kini aku
    selalu mengenakan rok panjang.

    Hal itu kulakukan atas permintaan Dito. Dia lebih suka aku mengenakan rok dan busana muslim berkancing
    depan. Bagiku tidak masalah, toh semua pakaian itu Dito yang membelikan.

    Alasannya aku terlihat lebih anggun jika mengenakan busana seperti itu. Padahal aku tahu pasti alasan
    sebenarnya. Busana dengan kancing depan, tentunya supaya mudah dipreteli. Dan rok panjang, tentunya
    supaya mudah diangkat tanpa harus diplorotin seperti jika aku mengenakan celana panjang.

    Apalagi sekarang ini jika kami akan kencan di tempat parkir Senayan yang sudah menjadi lokasi tetap kami
    itu, Dito selalu meminta aku untuk tidak mengenakan BH dan celana dalam. Dia selalu memeriksa kondisi
    ini ketika menjemputku di kantor. Begitu aku duduk di mobilnya, dia langsung meraba toket dan memekku.
    Jika ternyata aku masih mengenakan pakaian dalam, pasti aku disuruh turun lagi untuk segera melepasnya
    di toilet kantor.

    Pernah usai kencan di mobil sampai dia ngecret di mulutku seperti biasanya, kami lanjut jalan-jalan ke
    Plaza Senayan. Padahal saat itu aku tidak mengenakan pakaian dalam karena Dito tidak mengijinkan aku
    mengenakannya. Jadilah aku jalan-jalan di sepanjang mall tanpa pakaian dalam. Selama jalan-jalan itu
    Dito tidak pernah lepas merangkul pinggangku sambil sesekali meremas pantatku yang telanjang di bagian
    dalamnya.

    Dengan Dito memang aku cenderung jadi penurut. Bukan hanya karena Dito begitu royal dalam memberi hadiah
    termasuk HP terbaru yang saat ini aku gunakan. Tapi mungkin karena aku sudah yakin bahwa Dito akan
    menikahiku mengingat hubungan ini memang diawali oleh niat kedua belah pihak keluarga untuk menjodohkan
    kami. Aku suah sering dibawa berkunjung ke rumahnya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya, atau hanya
    sekedar silaturahmi saja.

    Seperti hari ini, dimana aku menghabiskan hari mingguku di rumah orang tua Dito sejak jam 8 pagi tadi.
    Bahkan untuk datang ke rumah orang tua Dito kali ini aku tidak perlu janjian dengan Dito, dan tidak
    perlu di jemput. Aku bisa datang sendiri.Cerita Sex Dewasa

    Saat aku tiba dirumah orang tua dito di kawasan kemayoran, aku hanya diterima oleh ibunya. Sementara
    Dito sendiri masih tidur di kamarnya. Sebenarnya ibunda Dito mempersilahkan aku untuk membangunkan Dito
    di kamarnya. Tapi aku menolak karena rasa tidak enak dan tentunya jaga image sebagai calon menantu
    solehah, hahaha..

    Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, ternyata ibu dan ayah Dito harus pergi berbelanja beberapa keperluan.
    Aku sempat kecewa dan segera pamit pulang.
    Tapi mereka mencegah, malah menyuruhku untuk jangan pulang dulu sampai mereka kembali dari berbelanja
    nanti. Katanya aku harus bantu mereka merias beberapa kado untuk pernikahan sahabat mereka.

    “Emang belanjanya di mana, Bu?” tanyaku ingin tahu kira-kira berapa lama mereka meninggalkan rumah.

    “Pondok Indah. Soalnya waktu itu udah coba cari di Senen sama di Kelapa Gading gak ada. Temen ibu bilang
    sih di Pondok Indah ada. Ya udah, mending yang pasti-pasti ajalah,”

    Wah, kemayoran – pondok indah kan jauh. Berarti mereka bakalan lama banget baru pulang. Langsung pikiran
    jorokku melintas.

    “Ya udah, Lin, kita pergi dulu ya. Tolong jagain rumah ya, Lin, pintunya di kunci aja.” Aku hanya
    mengangguk. Pastilah pintunya akan aku kunci. Supaya kalau mereka kembali aku sempat pake baju dulu.

    Begitu mobil mereka hilang dari pandanganku, langsung kukunci pintu. Kemudian aku segera berjalan menuju
    kamar Dito. Kubuka pintu kamar Dito pelan-pelan karena tidak ingin membangunkan Dito.

    Di dalam kamar yang luas ini kulihat Dito tergeletak di kasurnya bertelanjang dada dengan selimut yang
    hanya menutupi pinggang ke bawah. Kututup pintu pelan-pelan, langsung kubuka seluruh pakaianku sampai
    aku telanjang bulat tanpa sehelai benangpun menutupi. Kemudian aku langsung rebah disamping Dito, dan
    kukecup bibir Dito lembut. Dito hanya menggeliat kecil saat kukecup bibirnya. Kembali bibirnya kukecup
    pelan sambil tanganku mengusap-usap perutnya.

    Perlahan Dito membuka matanya, dan terkejut melihat aku sudah berbaring bugil di sampingnya. “Eh, kamu
    kok telanjang di sini, nanti ketahuan ibu gimana?” sergah Dito sedikit panik.

    “Tenang aja. Semuanya pergi ke Pondok Indah. Rumah sepi kok. Cuma ada pembantu. Mereka gak akan ngadu
    kan?” jawabku sambil menindih tubuh Dito dan mengeser-geser putting dadaku ke dadanya.

    Dito tersenyum sambil merangkul tubuhku dan tangannya meremas pantatku. Kemudian aku digulingkan ke
    samping hingga aku terbaring telentang. Kemudian gantian Dito yang menindih tubuhku. Dia langsung
    menyerbu bibirku dengan penuh nafsu.

    “Iiih… jorok ah. Belom sikat gigi. Mandi dulu gih sana.” teriakku sambil meronta centil menghindari
    ciuman-ciumannya.

    “Mandiin…” rengek Dito manja.

    “Manja deh…” tapi aku tidak menolak.

    Kami segera bangkit dari tempat tidur. Aku keluar dari kamar Dito menuju kamar mandi sambil tetap dalam
    keadaan telanjang bulat. Aku yakin jika pembantu Dito melihatpun tidak akan berani bicara apa-apa pada
    keluarga Dito.

    Di dalam kamar mandi aku langsung menelanjangi Dito yang tinggal memakai celana pendek. Kutarik
    celananya sambil aku berjongkok di depannya. Kontolnya hampir menampar mukaku saat celana dalamnya
    kupeloroti. Terlihat kontolnya sudah mulai ngaceng walau belum terlalu keras. Arahnya masih tegak lurus
    menunjuk mukaku. Belum sampai tegak berdiri. Biasanya kalau sudah ngaceng maksimal, pasti kontolnya akan
    tegak ke atas. Bukan menunjuk ke mukaku seperti sekarang ini.

    Kugenggam pelan kontol Dito sambil kemudian kekocok-kocok pelan. Lalu kukecup ujung kepala kontolnya
    sambil aku bangkit berdiri. “Ayo, mandi dulu” bisikku seraya mengecup bibir Dito pelan.

    Dito segera berbalik menuju Washtafel dan mulai menggosok giginya. Selama Dito menggosok gigi, aku
    menempelkan tubuhku dari belakang. Kutekan-tekan dadaku ke punggungnya, sementara kedua tanganku
    bermain-main dengan kontol besarnya. Batang kontolnya kukocok-kocok pelan dan biji pelernya kuremas-
    remas lembut. Saat Dito membungkuk untuk berkumur, aku meremas biji pelernya dari belakang pantatnya.

    Selesai berkumur, Dito langsung mendekap tubuhku dan mengecup bibirku penuh nafsu. Lidah kami langsung
    saling membelit mengahdirkan rangsang-rangsang birahi yang menghanyutkan. Perlahan Dito mendorong
    tubuhku sampai dibawah shower. Sambil tetap berciuman tangan Dito membuka keran Shower.

    Aku sempat terkaget sedikit saat air mengguyur tubuhku. “Oooghh….” desahku sambil terus menikmati
    jilatan-jilatan Dito di leherku.

    Kontol Dito yang masih belum berdiri tegak terlipat ke bawah menyodok memekku. Kepala kontolnya
    menggerus-gerus memekku. Terasa sangat kencang karena kontol yang sedang berusaha bangkit berdiri itu
    tersangkut di belahan memekku. Tangan Dito meluncur dari punggungku terus turun sampai ke pantatku.
    Bongkahan pantatku diremasnya dengan gemas. Sambil terus menjilati leher dan pundakku, tangannya yang
    meremas pantatku terus turun sampai ke lobang pantatku. Jemarinya melewati lobang pantat dan menyentuh
    memekku. Aku tersentak dan otomatis memaju-mundurkan pinggulku.

    Kuangkat sebelah kakiku membelit kakinya hingga aku agak terkangkang. Akibatnya kepala kontol Dito
    semakin leluasa menyodok memekku. “Katanya mau mandiin aku…” bisik Dito ditelingaku sambil daun
    telingaku di kecup dan ditarik-tarik dengan bibirnya. Aku segera melapaskan pelukanku dan mengambil
    botol sabun cair dan menuangkannya ke kain busa yang sudah tersedia.

    Lalu kogosok tubuh Dito mulai dari dadanya, kemudian turun keperut bawahnya sampai hampir menyentuh
    batang kontolnya. Kemudian aku berputar ke balik tubuhnya dan mulai menyabuni punggung Dito. Aku merosot
    turun sampai berjongkok dan lama menyabuni pantat seksi Dito. Kugosok-gosok dan kuremas-remas pantatnya.
    Kemudian aku terus menyabuni paha belakangnya sampai ke betis dan mata kakinya. Lalu aku meminta Dito
    berbalik hingga kontolnya kembali menghadap wajahku. Kusabuni paha depan Dito dan bagian dalam paha di
    dekat biji pelernya.

    Aku tidak menyabuni kontolnya karena aku lebih tertarik menjilati kontol yang sudah tegang itu. Kukecup
    ujung kontol Dito, kuemut-emut kepala kontolnya. Lalu kuhisap kontol Dito kuat-kuat sambil mulutku maju.
    Kontol itu seolah tersedot ke dalam mulutku sampai pangkal batang kontolnya. Seluruh batang kontol Dito
    masuk sudah ke dalam mulutku. Lidahku berputar-putar menjelajahi seluruh batang kontolnya. Lalu kembali
    kusedot kuat sambil mulutku mundur sampai ke ujung kepala kontolnya. Begitu sampai di kepala kontol, aku
    menghisap lebih kuat lagi lalu kumundurkan mulutku sampai kontolnya terlepas. Kontol Dito sampai
    terpental dan plak! terdengar suara keras saat kontol itu terpental menyentuh perutnya. Kontolnya
    benar-benar sudah ngaceng penuh.

    Aku sedikit bangkit dan menunduk untuk mengambil kembali kontol Dito dengan mulutku, dan melanjutkan
    menghisap, menjilat dan mengulum kontol besar yang menggairahkan itu. Kukocok-kocok kontol Dito dengan
    tanganku yang belepotan sabun. Akibat banyaknya sabun di tanganku, kocokanku pada kontol Dito menjadi
    licin dan lancar. Kemudian kubiarkan air shower menghapus busa sabun di kontolnya dan kembali aku
    memasukkan kontol itu ke dalam mulutku, membuat Dito mengerang-ngerang hebat.

    Tiba-tiba Dito menggenggam bahuku dan memaksaku berdiri. Gantian sekarang dia yang menyabuni tubuhku.
    Padahal tadi pagi aku sudah mandi. Tapi mandi kali ini jauh lebih nikmat daripada mandiku tadi pagi.

    Dito menyabuni tubuhku dengan telaten. Apalagi saat sampai di bagian dadaku. Lama sekali tangannya
    berputar-putar di sekitar puting susuku. Kedua tangannya berputar-putar di kedua belah dadaku sambil
    meremas-remas. Kemudian putaran tangannya semakin mengerucut hingga menyentuh pentil toketku. Lalu
    pentil toketku di jepit dengan jari-jarinya dan dipilin-pilin kemudian ditarik-ditarik. Setelah itu
    kembali tangannya berputar-putar menjelajahi dadaku dan terus menjawil-jawil pentil toketku lagi.

    Aaaaaghhh… aku benar-benar menikmati permainan Dito. Nikmat sekali dikerjain sambil diguyur shower
    seperti ini. Dito meletakkan busa ke tempatnya di dinding kamar mandi dan kembali meremas dadaku sampai
    busa sabunnya benar-benar hilang tersapu air shower.

    Lalu gantian lidahnya yang menyerbu toketku. Pentil toketku di sedot dengan kuat sambil lidahnya terus
    menyentil-nyentil. Bergantian dada kiri dan kananku diserbu oleh Dito. Aku semakin bergelinjang nikmat.
    Pentil susuku sudah berdiri mengacung dengan tegak. Mulutku hanya mampu mendesis-desis tidak bisa
    berkata yang lain.Cerita Sex Dewasa

    Dito mulai menurunkan tubuhnya sambil lidahnya ikutan turun menjelajahi perutku. Tanpa mampir ke
    perutku, Dito terus turun dan langsung melahap memekku. Tidak perlu dikomando lagi langsung kuangkat
    sebelah kakiku. Telapak kakiku kuletakkan di bahu Dito. Posisiku saat ini benar-benar merangsang.
    Ngangkang lebar sekali.

    Dengan posisiku seperti itu lidah Dito menjadi leluasa untuk menjilati seluruh relung memekku. Lidahnya
    menjilat dari bawah ke atas berkali-kali.

    “Ooooohhhhh… Ditoooo… enaaaaak…” aku menggoyang-goyangkan pinggulku mencari kenikmatan. Dito terus saja
    menjilati memekku dari bawah keatas. Lalu tiba-tiba itilku disedot dengan kuat.

    “Aaaaaawww…” aku bukan lagi sekedar mendesah. Tapi aku menjerit sekuatnya. Sedotan Dito pada itilku
    benar-benar membuat aku tersentak-sentak nikmat. Sepinya rumah membuat aku merasa leluasa untuk
    menjerit-jert histeris.

    Kemudian sambil terus menjilati memekku, Dito membuka memekku dengan kedua belah tangannya. Memekku
    sampai merekah lebar. Lalu lidah Dito menerobos lebih ke dalam lagi lubang memekku.

    “Aaaawwwwhhhh… Dito… diapaiiin ituuu… enak bangeeeet…” aku semakin histeris merasakan lidah Dito yang
    menerobos ke dalam lubang memekku. Lidah itu tidak hanya menerobos, tapi berputar-putar menjilati
    dinding-dnding memek.

    Aku tidak mampu lagi bertahan. Gelombang orgasme menderu dengan derasnya. Aku berpegangan pada kepala
    Dito sambil kuremas rambutnya. Memekku kutekan kuat-kuat ke mulutnya mengiringi semburan-semburan nikmat
    dari dalam memekku. Aku kejang… tegang… lemas…

    Tak bisa ditahan lagi, tubuhku meluncur turun sampai aku terduduk di lantai dan bersandar lemah ke
    dinding kamar mandi. Dito membiarkan aku terduduk lemas dan melanjutkan mandinya. Kulihat perlahan
    kontol Dito mulai mengecil karena terguyur air dingin. Tapi tidak sampai kecil sekali. Kontolnya hanya
    mengecil sedikit sampai pada posisi menunjuk ke depan lagi. Setelah selesai mandi dia mematikan shower
    dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk.

    Setelah itu dia mengelap tubuhku dengan handuk. Mulai dari rambutku, wajahku, leher, kemudian dada,
    perut, memek dan kakiku dikeringkannya dengan handuk. Kemudian aku ditarik hingga duduk tegak agar dia
    mudah mengeringkan punggungku. Aku merasa tersanjung sekali dengan perlakuannya.

    Setelah selesai, aku digendong keluar kamar mandi dalam keadaan kami masih sama-sama telanjang bulat.
    Saat akan memasuki kamar Dito, kami berpapasan dengan salah seorang pembantu Dito yang langsung menjerit
    kaget melihat kontol Dito yang mengangguk-angguk. Pembantu itu langsung terbirit-birit ke dapur sambil
    menutup mukanya. Aku dan Dito hanya cekikikan menyaksikan peristiwa itu.

    Sesampai di kamar, Dito menutup pintu kamar dengan cara menendangnya. Kemudian aku direbahkan ke kasur
    dan langsung Dito menindih tubuhku. Bibirku kembali diciumi denga ganas, sementara kontolnya menggesek-
    gesek memekku.

    Kemudian tiba-tiba Dito bangkit berjongkok di depan memekku. Kedua belah kakiku diangkat sampai
    mengangkang lebar. Kemudian Dito mulai menggesek-gesek memekku dengan kontolnya.

    Aku langsung tegang menerima serangan seperti ini. Aku takut Dito memasukkan kontolnya ke dalam memekku.
    Tapi aku juga tidak ingin menyuruhnya berhenti.

    Rupanya Dito menyadari ketakutanku. Dia menunduk mengecup puting dada kananku kemudian memandangku
    sambil tersenyum. “Tenang, sayang… aku tahu kamu masih perawan. Aku cuma mau gesek-gesek aja kok. Kamu
    nikmatin aja ya. Gak usah tegang gitu.”

    Aku tenang mendengar janji Dito. Walaupun bisa saja Dito melanggar janjinya dan nekat menerobos masuk.
    Kembali Dito meletakkan kontolnya di belahan memekku. Kemudian kontol itu digerak-gerakkan ke atas dan
    ke bawah. Terkadang dengan bantuan tangannya kontol itu digetar-getarkan dengan kuat di lubang memekku.

    “Aaaaawwww… Dito… iyaaa… gitu, sayaaaang… enak bangeeet…” aku menjerit-jerit lagi. Dito terus memainkan
    kontolnya di memekku. Itilku disundul-sundul menggunakan kepala kontolnya.

    Gelombang nikmat kembali menderaku dengan hebat. Seluruh tubuhku menegang, pentil susuku mengacung
    keras, aku mengangkat pantatku tinggi menekan kontolnya lebih keras lagi. Dan… serrrr… srrrrrr… semburan
    nikmat terasa melanda dari dalam memekku dengan derasnya.

    Pantatku terus terangkat tinggi. Memekku menempel ketat pada kontolnya. Setelah itu aku terjerembab
    lemas terkangkang di kasur. Dito masih menindih tubuhku sebentar sambil menciumi wajahku. Setelah itu
    dia bangkit dan duduk bersandar di sebelahku. Kontolnya masih mengacung tegak dekat sekali dengan
    kepalaku.

    Aku berguling kepangkuannya dan langsung menghadap kontolnya. Kumasukkan kontol besar yang full ngaceng
    itu ke dalam mulutku. Kusedot-sedot, kukocok-kocok dengan mulutku. Lidahku menjilati batang kontolnya
    mulai dari biji pelernya, naik terus ke batang kontol sampai ke ujung kepala kontolnya. Lubang
    kencingnya kujilat-jilat dan kubuka-buka dengan ujung lidahku. Kumasukkan lagi seluruh batang kontol itu
    ke dalam mulutku. Mulutku kutekan sampai menyentuh pangkal kontolnya. Terasa ujung kontolnya hampir
    menyentuh kerongkonganku. Lidahku bermain-main di dalam sana. Lalu kutarik pelan mulutku sambil
    menghisap kontol Dito kuat-kuat.

    Kuturunkan lagi, kuhisap lagi sambil kutarik keluar, kuhisap lagi, lalu kukocok-kocok dengan mulutku
    berkali-kali dengan kecepatan sedang. Setelah itu kontolnya kukocok dengan tanganku setelah seluruh
    permukaan kontolnya kubasahi dengan ludahku. ceritasexdewasa.org Dito mengerang keras saat tanganku mengocok kontolnya.
    Sepertinya dia merasa lebih nikmat saat kukocok. Karena teriakannya lebih keras saat kontolnya kukocok
    dengan tangan dibandingkan saat kuhisap-hisap dengan mulutku.

    Menyadari itu aku lebih sering mengocok dengan tangan daripada menghisapnya dengan mulut. Paling-paling
    saat kontolnya agak kering, aku mengulumnya sejenak untuk membasahi kontonya lagi. Setelah itu kukocok
    lagi menggunakan tanganku dengan kecepatan tinggi.

    Cara ini membuahkan hasil. Dito sampai mendelik sambil mengerang keras. Kontolnya terasa mendenyut-
    denyut keras. Cepat-cepat kumasukkan lagi kontolnya ke dalam mulutku. Kusedot-sedot dengan kuat. Dan…
    Crooooooot… croooot…

    Terasa tidak kurang dari 6 kali semburan hangat menerpa mulutku. Kutelan semua air mani Dito. Tapi saat
    kontolnya kulepaskan dari mulutku, ternyata masih ada 2 kali semburan lagi yang langsung menerpa wajahku
    dan membasahi hidung dan bibirku. Aku sampai terkaget-kaget menerima semburan yang tiba-tiba itu.

    Setelah aku yakin semburannya sudah berhenti, kubersihkan kontol Dito dengan mulutku. Kemudian aku
    berguling telentang.

    Aaah… nikmat sekali…

    ***

    # Sebuah Pengakuan

    “Iya, sayaaang… isep terussss… isep yang kenceng…” teriak Dito di tengah sibuknya mulutku mengulum
    kontol besarnya. Kulepaskan kontol Dito dari mulutku lalu kukocok-kocok kontol itu dengan tanganku.

    “Aaaaaahh… iseeep lagiiii…” kurasakan kontol Dito semakin keras. Cepat kulahap lagi kontol Dito. Kuhisap
    kuat-kuat dan… crooottt… crooott… beberapa semburan hangat menerjang tenggorokanku.

    Kutelan semua air maninya, kemudian kubersihkan kontol Dito dengan cara menjilati sekujur batang
    kontolnya. Setelah kontolnya bersih, kurebahkan tubuh telanjangku di sebelah Dito.

    Hhh… sudah jam 9 malam. Capek juga. Sudah tiga kali Dito ngecret di mulutku sejak kami check-in sore
    tadi. Hotel dikawasan Sudirman ini lagi-lagi memberiku hadiah voucher menginap. Kali ini aku
    menikmatinya bersama Dito. Dan begitu kami masuk kamar kami langsung bertempur hebat dalam keadaan bugil
    total. Dan sampai saat ini kami belum berpakaian sama sekali. Termasuk saat makan malam tadi, tetap kami
    nikmati dalam keadaan bugil.

    Saat pelayan mengantarkan makanan, aku hanya menutupi tubuh telanjangku dengan selimut tebal sambil
    berbaring. Sementara Dito hanya melilitkan handuk menutupi kontolnya yang baru saja muncrat.

    Dito mengusap kepalaku lembut, kemudian mengecup bibirku pelan. Selanjutnya aku bergeser mendekat dan
    meletakkan kepalaku di bahunya. “Kamu pinter banget sih ngisep kontolnya, sayang…” ucap Dito sambil
    mengusap-usap bahuku. Aku diam saja tidak berkomentar. Hanya jemariku saja yang terus mengusap-usap dada
    bidangnya.

    “Emang kamu udah pengalaman ya ngisep kontol?” tanya Dito tiba-tiba. Aku agak tercekat mendengar
    pertanyaannya.

    “Nggak kok… kamu nuduh…” jawabku pelan dan hati-hati. Dito tetap mengusap-usap bahuku.

    “Kalo gak pengalaman, kok bisa jago gitu ngisepnya?”

    “Ya nggak tau… aku cuma ngikutin naluri aja.” jawabku berdalih. Tidak mungkin aku mengakui bahwa
    sebenarnya hampir semua mantan pacarku pasti pernah aku isap kontolnya.

    “Cerita donk, sayang… aku gak apa-apa kok kalo memang ternyata kamu udah pengalaman. Malah enak kan,
    punya pacar yang jago ngisep kontol.” Dito terus saja medesak dengan pertanyaannya.

    Aku bimbang. Haruskah aku jujur padanya? Bagaimana kalau nanti dia merasa jijik dan malah
    meninggalkanku. Tapi jika aku tidak jujur, bagaimana jika nanti dia tau dari orang lain? Apalagi jika
    kami sudah menikah nantinya, tiba-tiba ada mantan pacarku yang cerita. Pasti Dito akan marah besar. Aku
    benar-benar bingung.

    Dito terus saja membujukku dengan kata-kata yang lembut sambil terus mengusap-usap bahuku. Sampai
    akhirnya aku merasa Dito benar-benar sayang padaku dan mau menerimaku apa adanya.

    “Iya emang aku udah pernah sih ngisep kontol sebelum kamu…” ujarku pelan. Sangat pelan malah. Nyaris
    hanya berbisik. Aku menunggu reaksi Dito dengan takut. Dito meremas bahuku sejenak.

    “Nah, kan gitu enak. Gak apa-apa lagi. Gak usah malu-malu. Lagian kan berasa isepan yang udah pengalaman
    sama yang belom.” Aku tetap tidak berani menatap wajah Dito. Ada rasa malu yang hinggap ketika harus
    mengaku mengenai masa laluku.

    “Udah berapa kontol yang pernah kamu isep?” tanya Dito lagi tetap tanpa ekspresi yang berlebihan. Dia
    tetap dengan gaya tenangnya sambil mengusap-usap bahuku.

    “Iih… udah ah. Jangan bahas yang begituan.” aku menghindar dari pertanyaannya. Sulit bagiku untuk
    menjawab pertanyaan yang satu ini.

    “Gak apa-apa, sayang. Aku pengen tau aja. Gak akan ada pengaruhnya buat aku. Aku tetep sayang kamu kok.”
    terus saja Dito membujukku untuk mengaku.

    “Ya ampir semua mantan pacarku pernah aku isep.” jawabku akhirnya.

    “Kamu udah berapa kali pacaran sih?” taya Dito lagi.

    “Delapan kali, termasuk kamu.”

    “Semuanya pernah kamu isep?” kejar Dito. Sepertinya dia benar-benar penasaran ingin tahu yang
    sebenarnya.

    “Ya nggak lah. Gak semuanya aku isep.” sergahku. Kupererat pelukanku pada tubuh Dito untuk menutupi rasa
    khawatirku.

    “Jadi berapa kontol yang udah pernah kamu isep?” tanya Dito terus-menerus sampai akhirnya aku menyerah.

    “Lima, termasuk kamu.” jawabku hati-hati.

    “Wooow… dari 8 pacar, 5 orang kamu isep kontolnya? Hebat. Ternyata kamu bener-bener pengalaman soal
    kontol, sayang…” ujar Dito sambil mengangkat wajahku. Aku begitu malu untuk menatap wajahnya. Tapi
    melihat senyumnya, akhirnya aku menjadi lega. Dito tidak marah. Dia malah mencium bibirku dengan penuh
    nafsu.

    “Ngebayangin kamu ngisep kontol pacar-pacar kamu, aku jadi ngaceng lagi nih…” Mendengar ucapannya buru-
    buru kuraba selangkangannya. Oooh… memang benar. Kontolnya sudah keras lagi.

    “Ayo, sayang… puasin aku lagi. Keluarin semua ilmu ngisep kontol kamu, sayang…” pinta Dito sambil
    tersenyum penuh nafsu.Cerita Sex Dewasa

    “Beneran kamu pengen diisep?” tanyaku berbasa-basi.

    “Iya donk, sayang… percuma punya pacar jago ngisep kontol kalo gak mau di isep. Ayo, sayang, puasin
    aku.” Dito berkata begitu sambil mendorong kepalaku menuju kontolnya.

    Aku segera menggeser tubuhku turun dan menjilati perutnya. Tapi Dito terus saja mendorong kepalaku. “Gak
    usah mampir di perut. Langsung aja isep kontolnya.” aku mendengar nada yang agak aneh dan tidak
    biasanya. Tapi buru-buru kuhapus rasa aneh tersebut. Aku langsung merosot menuju kontolnya.

    Kugenggam kontol Dito yang sudah ngaceng penuh itu. Urat-urat di batang kontolnya sudah bertonjolan
    membuat kontol itu tampak begitu gagah. Kujilat pelan kepala kontolnya yang seperti helm tentara itu.
    Kuputar-putar lidahku di selebar kepala kontolnya. Kubuka-buka lubang kencingnya dengan ujung lidahku.
    Erangan Dito mulai terdengar agak keras.

    Aku tidak ingin buru-buru memasukkan kontol besar ini ke dalam mulutku. Kujelajahi dulu seluruh
    batangnya dengan lidahku. Mulai dari kedua bijinya, kujilati bergantian biji kiri dan kanan. Kemudian
    kumasukkan salah satu biji pelernya ke dalam mulutku. Kusedot pelan sambil lidahku bermain-main di
    seputar biji itu. Lalu kulakukan hal yang sama pada biji satunya lagi. Kumasukkan ke dalam mulut,
    kuhisap pelan dan kujilati seluruh permukaan bijinya. Lalu kutarik-tarik bulu-bulu di sekitar bijinya
    dengan bibirku.

    Kemudian lidahku menjilati dari biji naik ke atas menyusuri seluruh batang kontolnya. Kujilati dari
    bawah ke atas berulang-ulang sambil terus kugenggam kontol beras itu dengan tanganku.

    Selanjutnya kutekuk kontol Dito sedikit ke arah bawah, sehingga aku bisa menjilati perut bawah Dito.
    Kutarik-tarik lagi bulu-bulu di perut bagian bawah tepat diatas pangkal kontol dengan bibirku. Kemudian
    kuciumi permukaan kontolnya sampai ke ujung kepala kontolnya. Barulah setelah itu kumasukkan kepala
    kontolnya ke dalam mulutku.

    Kuisap-isap dan kupermainkan lidahku dipermukaan kepala kontolnya. Lalu kumasukkan seluruh batang
    kontolnya ke dalam mulutku. Memang terasa batang kontol Dito lebih besar dan lebih keras dari biasanya.
    Mungkin benar Dito menjadi lebih terangsang mendengar aku sudah banyak pengalaman soal kontol.

    Memikirkan itu aku jadi lebih bersemangat. Kugerakkan mulutku maju mundur mengocok kontolnya sambil
    lidahku terus menjilat-jilat. Kusedot-sedot kontolnya sampai hampir melejit keluar dari mulutku.

    Setelah mulutku agak pegal, kukocok kontol Dito dengan tanganku. Kukocok dengan kecepatan tinggi. Dito
    sampai berteriak saking enaknya. “Uaaaaaahhhhhh… enak banget, sayang….. terus, sayaaaanggg…”

    Semakin Dito berteriak, semakin semangat aku mengocok dan menghisap kontolnya. Sampai akhirnya kurasakan
    denyutan-denyutan kecil di kontol Dito. Menyadari bahwa Dito sebentar lagi akan ngecret, cepat kuhisap
    kontol Dito sekuat-kuatnya sambil batang kontolnya dibagian bawah kukocok-kocok dengan tanganku.

    Akhirnya sampai juga. Dito berteriak histeris menjemput ejakulasinya. Crooooooootttt…!!! semburannya
    begitu keras terasa menggempur dinding-dinding mulutku. Kuhisap terus, kusedot-sedot sambil aku menelan
    semua air mani yang ada. Kusedot-sedot terus sampai tidak ada lagi yang keluar dari kontolnya.

    Kusedot terus sampai kontol Dito melemas dan mulai mengecil. Terus saja kusedot-sedot sampai kontol itu
    benar-benar kecil dan lemas.

    Dito terkapar nikmat. Matanya terpejam sementara dadanya naik turun seiring dengan nafasnya yang ngos-
    ngosan. Aku berbaring disebelah Dito sambil mengangkang lebar menunggu serangan Dito selanjutnya. Tapi
    kutunggu-tunggu Dito tetap memejamkan matanya tak peduli dengan memekku yang sudah gatal ingin dijilati.

    Dengan tak sabar kutindih tubuh Dito lalu kukecup bibirnya. Tak ada reaksi, malah terdengar dengkur
    tipis Dito. Aahh… Dito tidur? Kok curang sih?

    Kuhempaskan lagi tubuhku ke kasur dengan sedikit kesal. Tapi setelah kupikir lagi, ya wajarlah Dito
    jatuh tertidur. Dia sudah 4 kali ngecret semalaman ini saja. Menyadari hal itu kukecup pipi Dito yang
    masih terlelap itu dengan penuh rasa sayang. Kemudian aku mencoba untuk tidur.

    ***

    # Dia Mulai Berubah

    Semenjak Dito tahu bahwa aku sudah biasa ngisep kontol-kontol para mantanku dulu, nafsunya seolah
    menjadi semakin liar. Jujur sebenarnya aku takut masa laluku yang cukup liar dalam berpacaran membuat
    hilangnya rasa sayang Dito padaku. Tapi melihat perkembangan hubungan kami setiap hari yang semakin
    panas, aku menjadi lebih tenang dan yakin bahwa perilaku liarku dimasa lalu tidak akan mempengaruhi
    hubungan kami.

    Namun meski Dito semakin liar padaku, terkadang aku menjadi agak risih dengan keinginannya yang semakin
    aneh-aneh. Belakangan ini Dito senang sekali memintaku telanjang meski di lokasi yang tidak terlalu
    aman.

    Seperti hari ini, seperti biasa Dito menjemputku ke kantor. Dan seperti biasa aku sudah siap tanpa
    celana dalam dan BH menghampiri mobilnya. Begitu aku duduk, Dito langsung meremas dada dan memekku
    sekedar men-check apakah aku mengenakan pakaian dalam atau tidak. Setelah yakin aku polos didalam, Dito
    tersenyum dan mengecup bibirku perlahan kemudian menjalankan mobilnya.

    Belum jauh mobil meninggalkan kantor, Dito memintaku untuk membuka rok panjangku. Aku sempat protes
    karena saat ini jalanan masih ramai. Baru jam enam sore lewat sedikit. Bahkan masih cukup terang. Tapi
    Dito tetap memaksa dengan alasan kaca mobilnya sangat gelap sehingga tidak akan terlihat dari luar.

    Dengan deg-degan aku melepas rok panjangku dan melemparnya ke kursi belakang. Kemudian cepat aku
    berusaha menutupi memekku dengan ujung kemeja walau dengan sangat susah payah. Karena sialnya hari ini
    aku mengenakan kemeja yang agak pendek, hingga aku harus menahan ujung kemeja itu dengan tangan agar
    tetap bisa menutupi memekku.

    Gawatnya Dito segera menepis tanganku. Akibatnya memekku terbuka dengan bebas karena kemejaku tak mampu
    menutupinya. Aku benar-benar malu saat itu. Rasanya semua mata di jalanan melihat bagian bawahku yang
    telanjang. Tapi belum sempat aku protes, Dito telah melebarkan pahaku hingga mengangkang dan langsung
    jemarinya menggosok-gosok memekku. Aku tak mampu lagi untuk protes. Aku hanya bisa menengadah merasakan
    getar nikmat akibat rabaan jemari Dito di memekku. Untunglah perlahan namun pasti matahari semakin
    tenggelam. Dengan demikian aku bisa lebih tenang menikmati serangan Dito di memekku.

    Dito begitu bersemangat mengubek-ngubek memekku. Bibir memekku di buka-buka dengan dua jarinya. Kemudian
    jarinya langsung menggosok itilku. Uuugh… nikmatnya. Aku terkapar tak berdaya sambil mengangkat-angkat
    pantatku mengejar jemarinya.

    Tiba-tiba Dito menjepit itilku dengan dua jari, kemudian memelintirnya bolak-balik. “Aaaaaaakhhh…
    Ditooooo… diapain sihhh, sayaaaang…”

    Dito tidak menjawab. Tatapannya tetap konsentrasi pada jalanan di depannya, sementara tangan kirinya
    terus mengerjai memekku tiada henti. Itilku di pelintir, digosok atas bawah, digosok kiri kanan,
    Kemudian jemarinya menggosok memekku dari bawah ke atas sampai menyentuh itilku. Lalu tiba-tiba
    tangannya menggosok bibir memekku dari kiri ke kanan dengan kecepatan tinggi.

    “Aoooooowwwwhhh…. Enaaaak bangeeettt…” Aku sudah hampir orgasme ketika tiba-tiba Dito menghentikan
    kegiatannya. Ah, rupanya kami sudah sampai di Senayan tempat biasa kami berkencan.

    Dito langsung memarkir mobilnya di tempat yang agak sepi. Begitu mengaktifkan rem tangan, Dito langsung
    menarik jilbabku sampai lepas dan serta merta mencium bibirku penuh nafsu. Bibirku disedot dengan ganas.
    Lidahnya langsung menari-nari dalam rongga mulutku. Nafsuku yang sempat tertunda langsung naik lagi.
    Apalagi tangan kanan Dito mulai lagi menari-nari di memekku.

    Sedang seru-serunya kami ciuman, tiba-tiba terdengar suara ketukan di jendela sebelah Dito. Dengan
    santai Dito melepas ciumannya kemudian membuka kaca jendela mobil tanpa perduli dengan keadaanku yang
    setengah telanjang.

    “Dito, tunggu…!”. Terlambat. Kaca mobil sudah terbuka dengan lebar. Aku hanya bisa menutupi memekku
    dengan telapak tangan. Aku yakin pelayan makanan itu pasti puas melihat paha mulusku yang terbuka sambil
    mendengarkan pesanan Dito.

    Sepeninggal pelayan, Dito menutup kembali kaca jendela mobil dan langsung merengkuh tubuhku lagi.
    Kurasakan ciumannya semakin ganas. Dan kali ini jemarinya dengan tangkas mempereteli kancing kemejaku.

    “Nanti aja Dito. Bentar lagi minumannya datang. Bisa repot kalo telanjang sekarang.” bisikku berusaha
    mencegah tangan Dito yang sedang menelanjangiku.
    “Buka kancingnya aja. Bajunya gak usah dulu.” jawab Dito sambil terus mempereteli kancing bajuku satu
    persatu sampai terlepas semuanya. Setelah itu kemejaku disibakkan ke kiri dan kanan hingga dadaku yang
    tanpa BH bebas merdeka.

    Dito langsung menciumku lagi sambil meremas dada kiriku. Aku risih dengan perlakuan Dito ini, tapi ada
    rasa nikmat yang lebih dari yang biasa kurasakan. Perlakuan Dito yang sedikit agak ’merendahkanku’ ini
    justru membuat nafsuku cepat sekali bangkit. Desahanku semakin keras seiring dengan remasan-remasan
    tangan Dito di dada kiriku.

    Dan benar saja…. kembali terdengar ketukan di kaca jendela. Pelayan warung sudah siap dengan 2 buah teh
    botol di tangannya. Lagi-lagi Dito langsung membuka kaca jendela tanpa menunggu aku selesai merapikan
    bajuku. Terlihat dari sudut mataku pelayan itu melotot menyaksikan memekku yang tidak sempat kututupi
    karena kemejaku hanya sempat menutupi dadaku saja. Sementara bagian bawahnya masih terbuka lebar.

    Dito segera menutup kembali kaca jendela setelah meletakkan teh botol kami di lantai. Lalu dengan cepat
    dia melepaskan kemejaku hingga aku bugil total. “Pindah ke belakang aja yuk…” bisikku di tengah
    serangan. Mendengar permintaanku, Dito menghentikan serangannya dan segera pindah ke belakang
    mendahuluiku. Aku mengikutinya dengan perasaan was-was takut dilihat orang karena tubuhku sudah bugil.

    Sesampai di belakang, Dito langsung menanggalkan seluruh pakaiannya hingga kami sama-sama bugil.
    Terlihat kontolnya sudah ngaceng sempurna. Dia memintaku untuk duduk dipangkuannya. Aku segera
    mengangkang dipangkuannya. Tak bisa dihindari, memekku bersentuhan dengan batang kontolnya. Aku
    merinding merasakan kontolnya menggesek belahan memekku. Kugoyang-goyangkan pantatku maju mundur
    menikmati gesekan kontolnya disepanjang belahan memek.

    Sementara Dito begitu lahapnya menciumi toketku. Toketku dihisap sekuat-kuatnya seperti ingin ditelan
    seluruhnya. Selanjutnya pentil susuku di sentil-sentil dengan lidahnya sebelum akhirnya di hisap dengan
    kuat. Erangan dan goyanganku semakin menjadi-jadi. Apalagi tangan Dito mulai meremas bongkahan pantatku
    dan membantuku memaju mundurkan pantat menggesek kontol Dito ke memekku.

    Lalu kurasakan jemari Dito menelusuri bawah pantatku dan bermain-main di pinggiran lobang pantatku.
    ”Oooooooowwgghhhh… gilaaaaaa… enaaaaaakkk…”

    Memekku banjir sudah. Kedutan-kedutannya semakin jelas terasa. Aku semakin menggila menggoyang-goyangkan
    pantatku dan menggesek-gesekkan memekku ke kontol besar Dito.

    Sampai akhirnya… ”Aaaaaakkhhhh…” aku berteriak kuat sambil memeluk kepala Dito kuat-kuat. Orgasmeku
    memancar dengan derasnya diiringi kedutan-kedutan dahsyat. Lebih sering dan lebih kuat dari biasanya.

    Gilaaaa… nikmat sekali. Aku lemas… aku tergolek kesamping, tersandar… Kemudian aku tersadar bahwa kontol
    Dito masih berdiri tegak menunggu giliran. Tanpa di komando lagi aku merosot ke bawah bersimpuh di depan
    kontol Dito.

    Kugenggam kontol besar yang penuh cetakan urat-urat menonjol itu. Kuusap-usap sambil meratakan cairan
    cintaku yang membasahi bawah kontolnya. Kukecup pelan ujung kontolnya, kujilati seluruh permukaan kepala
    kontol yang menjamur lebar itu. Kubuka-buka lubang kencingnya dengan lidahku. ceritasexdewasa.org Lalu kumasukkan seluruh
    batang kontolnya ke dalam mulutku. Kubiarkan sejenak batang kontol besar itu di dalam mulutku sambil
    lidahku bermain-main didalamnya. Baru kemudian kuangkat kepalaku perlahan sampai kontol itu terlepas
    dari mulutku.

    Kujilati kedua biji pelernya. Kutarik-tarik jembutnya dengan bibirku sambil tanganku menggenggam lembut
    batang kontolnya. Kumasukkan satu biji pelernya ke dalam mulutku, kuhisap pelan sambil lidahku terus
    menjilati. Setelah itu ganti biji satunya lagi kuperlakukan dengan sama.

    Kemudian kutelusuri seluruh batang kontolnya dengan lidahku sambil sesekali kugigit-gigit kecil kulit
    kontolnya. Sampai di kepala kontolnya lidahku bermain-main di bagian bawah topi helm kontol Dito.

    Seluruh permukaan bawah kepala kontolnya kujilati sambil lidahku berputar-putar disekitar kepala
    kontolnya. Baru kemudian kuhisap kuat-kuat kepala kontolnya. Dan mulailah kumaju-mundurkan kepalaku
    mengocok kontolnya dengan mulutku.

    Kubasahi seluruh permukaan batang kontol Dito dengan ludahku. Lalu kukocok-kocok kontolnya menggunakan
    tanganku dengan kecepatan tinggi. Pada saat tanganku sampai di kepala kontolnya, kuremas sejenak kepala
    kontol itu sebelum kembali aku mengocok dengan kencang.

    Tak sampai 5 menit aku isap dan kocok, kurasakan kontol Dito semakin membesar dan berdenyut-denyut.
    Kukocok semakin kuat. Dan saat Dito menegang, cepat-cepat kumasukkan kontolnya ke dalam mulutku sambil
    kuhisap dengan kuat. Dan… Crooooot… crooottt… 5 sampai 6 tembakan kurasakan mendera rongga mulutku.
    Kutelan semua air mani yang terpancar. Air kental asin yang sangat kusuka…

    Belum lagi aku istirahat, Dito meminta aku mengambil teh botol yang ada di lantai depan. Segera aku
    meraih bajuku untuk sekedar menutupi ketelanjanganku. Tapi Dito mencegah.

    “Gak usah pake baju dulu. Ambil aja tehnya dulu.” sergah Dito.

    “Kaca depannya gak terlalu gelap Dito. Nanti orang diluar bisa liat aku telanjang.” jawabku menjelaskan
    kenapa aku harus pake baju.

    “Udaaah… jangan banyak jawab. Ambil aja minumannya. Gak usah pake baju.” sergah Dito lagi agak keras.

    Aku sempat tersentak mendengar nada bicara Dito yang menurutku tidak seperti biasanya. Tidak lemah
    lembut, tapi agak sedikit membentak. Dengan menahan kecewa aku melangkah ke kursi depan dengan tubuh
    telanjang bulat. Kubungkukkan tubuhku agar tidak terlihat dari luar. Cepat-cepat kuambil teh botol dan
    segera kembali ke kursi belakang.

    Sesampai di belakang, kulihat Dito sedang membersihkan kontolnya menggunakan jilbabku. Aku kesal sekali
    melihat perbuatannya. Gak mungkin kan aku pulang dengan jilbab belepotan air mani begitu.

    “Kamu apa-apan sih? Itu kan jilbab. Kenapa gak pake Tissue?” bentakku sambil merebut jilbabku dari
    tangannya.

    “Lho… kenapa memangnya?” tanya Dito berlagak bodoh.

    “Kok kenapa sih? Nanti aku pulang gimana, masak pake jilbab belepotan mani gini?” aku benar-benar kesal
    jadinya.

    “Yang aku pake kan bagian dalemnya. Gak akan keliatan dari luar.” jawab Dito seenaknya.

    “Ya tetep aja ada baunya.” sergahku lagi.

    “Nggak lah… gak semua orang apal bau kontol. Kecuali yang udah sering ngisep kontol kayak kamu.”

    Seperti di tampar rasanya aku mendengar kata-kata Dito. Aku sedih sekali. “Kita pulang sekarang!” aku
    segera mengenakan semua pakaianku dan pindah duduk di bangku depan.

    Dito mengikuti setelah selesai berpakaian. Setelah membayar minuman, kami beranjak pulang. Disepanjang
    perjalanan kami hanya diam membisu. Aku benar-benar kecewa dengan ucapan Dito barusan.

    Sampai di kamar kostku aku menangis sejadi-jadinya… Sedih… perih… sakit…

    ***

    # Dinginnya Bandung

    Hampir seminggu aku mogok kencan dengan Dito. Bukan hanya mogok kencan, bahkan telepon dan smsnya pun
    tak mau kujawab. Aku benar-benar tersinggung atas kata-katanya padaku.

    Tapi Dito terus saja membujukku melalui sms-smsnya. Kata-kata maaf mengalir terus menerus membuatku
    goyah juga. Akhirnya aku setuju untuk dijemput seperti biasanya, dan kembali bercumbu di mobil seperti
    biasa. Dito menepati janjinya. Tidak sedikitpun dia menyinggung soal masa laluku yang sudah banyak
    mengenal bentuk kontol.

    Bahkan malam ini percumbuan kami begitu menggairahkan. Setelah kontolnya kuisap sampai ngecret di
    mulutku, Dito tidak langsung istirahat. Dia malah segera melahap memekku lagi dengan lidahnya. Padahal,
    sebelum kontolnya kuhisap tadi, dia sudah menjilati memekku sampai aku lemas.

    Cepat sekali birahiku mendera. Tubuh telanjangku menggeliat-geliat hebat di kursi belakang mobil Dito.
    Eranganku tak putus-putus menerima serangan lidah Dito yang terus saja menyeruak belahan memekku.

    Dito membuka memekku dengan kedua tangannya hingga lobang memekku menganga lebar. Aku terkangkang hebat
    menerima perlakuannya. Setelah itu lidahnya menerobos masuk ke dalam lobang yang menganga. Mengaduk-aduk
    dinding lobang yang telah banjir ini. Kemudian lidahnya bergerak dari bawah keatas berkali-kali sambil
    sesekali menyentuh klitorisku. Aku benar-benar terlempar-lempar merasakan nikmat yang tiada tara.Cerita Sex Dewasa

    Tiba-tiba kurasakan klitorisku dilumat dan disedot kuat-kuat. “Aaauuuuwwwwhhhhh…“ aku menjerit sejadi-
    jadinya. Dito bukannya berhenti mendengar teriakanku. Dia malah mengunyah itilku dengan bibirnya,
    membuatku terlonjak-lonjak di kursi.

    Aku benar-benar tak kuasa menahan kenikmatan ini. Tubuhku melengkung menyambut semburan dahsyat dari
    dalam tubuhku yang menyerbu menuju memekku. Kedutan-kedutan deras di memekku tak dapat kubendung lagi.
    Aku terus melengkung mengangkat pinggulku tinggi-tinggi sampai akhirnya aku terhempas ke kursi dengan
    tubuh lunglai… lemas… nikmat…

    Aku terpejam bersandar. Masih kurasakan belaian lembut Dito pada dadaku, kecupan ringan di puting
    susuku. Kubiarkan semuanya… aku benar-benar terhempas dalam kenikmatan…

    “Sayang… “ bisik Dito di telingaku sambil bibirnya melumat daun telingaku pelan.

    “Hmmmmm…” aku hanya menggumam menjawab panggilannya.

    “Besok ikut aku ke Bandung ya?” sambung Dito di telingaku.

    “Ke Bandung? Jam berapa?”

    “Pagi-pagi. Kita nginep semalem.” jelas Dito. Tangannya terus saja meremas-remas dadaku.

    “Besok kan aku masih kerja,” aku ragu-ragu antara kepengen dan bingung karena besok masih hari kerja.

    “Ya ijin aja lah. Besok telepon aja boss kamu dari jalan. Alesan apa kek…” bujuk Dito lagi.

    Akhirnya aku setuju dengan ajakannya. Di depan rumah kost-ku, kembali Dito mengingatkan akan menjemputku
    pagi-pagi sekali. Dan lagi-lagi dia minta aku tidak mengenakan pakaian dalam. Ah… masih aja dia begitu.
    Padahal, sekarang pun aku turun dari mobilnya tanpa pakaian dalam.

    ***

    Baru saja aku selesai Sholat subuh ketika kudengar suara mobil parkir di depan rumah kostku. Entah
    karena masih subuh dan sepi hingga suara mobilnya terdengar jelas, atau karena memang letak kamarku yang
    lokasinya paling depan. Yang jelas aku langsung keluar buka pintu dan mengajak Dito masuk kamarku sambil
    menunggu aku merapikan pakaian yang akan aku bawa.

    Selesai aku menyiapkan pakaian, aku segera menanggalkan pakaianku. Ganti baju. Soalnya aku masih
    mengenakan pakaian tidur. Baru saja aku akan mengenakan rokku, Dito cepat mencegah.

    “CD-nya buka donk. Ngapain pake CD? BH-nya juga.”

    Aku berusaha menolak, “Bandung kan dingin, Dit. Apalagi sekarang masih subuh…”

    “Nanti AC mobilnya aku kecilin. Bawa jaket aja.”

    Akhirnya aku menurut saja pada permintaan Dito. Segera kutanggalkan CD dan BH-ku. Lalu cepat kukenakan
    rok panjang dan kemeja serta jilbabku. Kalau kelamaan bisa-bisa aku diserbu. Bisa gak jadi ke bandung
    nanti.

    Di mobil, setelah menyalakan mesin, Dito masih sempat memelukku dan mencium bibirku. Dan tangannya
    langsung membuka kancing jaket serta kancing kemejaku. Kemudan di bentangkannya jaket dan kemeja itu
    hingga dada telanjangku terbuka. Setelah itu diangkatnya rok panjangku hingga memekku terlihat. Barulah
    setelah itu dia menjalankan mobilnya.

    Setelah masuk Tol, Dito memintaku untuk duduk menghadap dia. Aku bersandar ke pintu mobil memperlihatkan
    tubuh telanjangku yang dibungkus kemeja dan jaket yang terbuka. Sebelah kakiku kuangkat ke kursi, hingga
    praktis aku terkangkang menampakkan memekku dengan jelas.

    Sepenjang perjalanan tak henti jemarinya bermain-main di dada dan memekku bergantian. Berkali-kali dia
    mencubit dan menarik-narik itilku, membuat aku benar-benar banjir.

    Sesampai di tempat parkir Hotel, tak kurang sudah 3 kali aku orgasme. Begitu masuk kamar, aku langsung
    menggila. Kupereteli semua pakaian Dito sampai dia bugil. Kudorong tubuhnya sapai terhempas telentang di
    kasur. Tidak menunggu lama lagi, kuisap habis kontolnya yang sudah ngaceng. Aku benar-benar tidak tahan
    menunggu dari subuh tadi. Kulumat kontolnya dengan ganas. Kujilat-jilat kepalanya, kubuka-buka lobang
    kencing dengan lidahku. Kujilati seluruh permukaan batangnya dari bawah ke atas seperti menjilati es
    lilin. Aku benar-benar menggila dan liar.

    Kumasukkan kontol besar itu ke dalam mulutku. Kusedot-sedot dengan kuat. Bukan hanya kukulum, tapi
    benar-benar kusedot. Lalu kukocok-kocok dengan tanganku kuat-kuat. Aku bagaikan cewek yang sudah setahun
    gak ketemu kontol. Aku sendiri heran kenapa bisa begini. Aku begitu lapar akan kontol Dito yang besar.

    Sepertinya Dito pun sudah kewalahan dengan keliaranku. Kurasakan kontolnya semakin keras dan berdenyut-
    denyut. Cepat kuhisap dan kusedot lagi kontolnya. Benar saja… tak lama, croooot… crooott… semburan
    hangatnya menerpa mulutku. Kutelan semua sambil aku terus menyedot kuat kontolnya.

    Sebelum kontol Dito mengecil, cepat kutindih tubuh Dito dan kugesek-gesek kontol yang hampir lemas itu
    ke memekku. Ingin kuraih lagi kenikmatan yang mulai menghampiriku. Tapi Dito menolak…

    “Udah dulu, sayang… aku harus ketemu orang pagi ini.” ujar Dito sambil bangkit dari ranjang dan bergegas
    ke kamar mandi.

    Aku terhempas kecewa. Tapi kupikir, sudahlah. Dito kesini karena ada kerjaan. Aku tidak boleh egois.
    Segera aku bangkit menyiapkan pakaian Dito. Sebelum pergi, ia meninggalkan uang tunai 1 juta. Katanya
    untuk aku belanja-belanja di Factory Outlet yang banyak bertebaran di Bandung. Apalagi kami menginap di
    kawasan Dago yang banyak sekali FO nya.

    Sepeninggal Dito, aku lanjutkan berbaring telanjang di kasur empuk hotel ini. Dan aku terlelap lelah.

    Aku terjaga sekitar pukul 1 siang lewat. Perutku lapar. Segera aku mandi dan berpakaian. Kutelusuri Dago
    dengan berjalan kaki. Kubelanjakan uang 1 juta dari Dito. Senang sekali rasanya dimanjakan seperti ini.

    Sekitar jam 4 sore, aku sudah telanjang lagi di hotel menunggu kedatangan Dito. Tapi sampai jam 9 malam,
    Dito tidak juga pulang. Akhirnya aku tertidur telanjang dibalik selimut.

    Di tengah lelapnya aku tertidur, kurasakan ada yang bermain-main dengan memekku. Kurasakan ada benda
    tumpul yang menggesek-gesek memekku. Saat kubuka mataku, kulihat Dito sedang berjongkok telanjang di
    depan selangkanganku sambil menggosok-gosokkan kontol ngacengnya ke belahan memekku. Aku langsung kejang
    merasakan nikmatnya. Dito terus menyodok-nyodokkan kontolnya sampai menyundul-nyundul itilku. Luar biasa
    nikmatnya. Seandainya Dito nekat memasukkan kontolnya ke dalam memekku, aku yakin aku tak mungkin mampu
    menolak.

    Pinggulku bergoyang-goyang mengikuti irama sodokan kontol Dito. Aku benar-benar tidak tahan lagi.
    Orgasmeku menyerbu dengan derasnya. Setelah aku terhenyak lemas, Dito duduk bersandar di sebalah
    kepalaku. Kontolnya berdiri tegak dengan gagahnya. Memandang kontol besar yang indah itu, aku segera
    berguling ke pangkuan Dito.

    Kini kepalaku menghadap langsung kontol ngaceng Dito yang sudah tegak dengan perkasa. Segera kugenggam
    kontol indah itu dengan kedua belah tanganku. Kukocok-kocok, lalu kujilat-jilat.

    Kuhisap dan kulumat kontolnya dengan penuh semangat. Kujilat-jilat kepalanya, kubuka-buka lobang kencing
    dengan lidahku. Kujilati seluruh permukaan batangnya dari bawah ke atas. Kukocok-kocok lagi dengan
    tanganku. Begitu terus, isap, kocok, isap, kocok…

    Akhirnya kontol di dalam mulutku ini mulai berdenyut-denyut lagi dan… croooot… kurasakan lagi semburan
    kerasnya.

    Dito telentang puas. Aku telentang nikmat…

    ***

    # Akhir Yang Menyakitkan

    Aku terbangun karena sinar matahari menerpa wajahku. Ternyata kain gorden penutup jendela terbuka dengan
    lebar. Kugeliatkan tubuh telanjangku menghapus sisa-sisa kantuk dari tidur nikmatku semalam.

    Aku menoleh kesamping. ”Lho, Dito mana?” aku tidur sendirian. Ah, mungkin dia di kamar mandi. Tapi
    kemudian mataku tertumbuk pada tumpukan uang 100 ribuan di meja kecil samping tempat tidur. Didekatnya
    ada secarik pesan. Kuambil pesan itu. Dari Dito…

    “Lin, sorry aku berangkat pagi-pagi. Kamu pulang duluan aja ke Jakarta. Gak usah nunggu aku. Aku udah
    tinggalin kamu duit 2 juta. Anggap aja tanda terima kasih karena udah kamu bikin enak semalam. See you,
    Dito.”

    Aku merasa kata-kata dalam surat ini agak kasar. Apakah Dito serius memberiku 2 juta sebagai tanda
    terima kasih? Bukan karena sayang? Atau Dito cuma bercanda. Ya semoga dia cuma bercanda.

    Berpikir seperti itu aku segera bangkit dari tempat tidur dan dengan santainya aku berdiri telanjang
    bulat sambil menggeliat meluruskan otot-ototku. Tapi oops! Ternyata jendela kamar benar-benar terbuka
    tanpa penutup kain vitrage sekalipun. Padahal kamar ini ada di lantai dasar dan jendelanya menghadap
    taman. Akibatnya beberapa tamu hotel yang sedang berjalan-jalan di taman tertegun menatap tubuh
    telanjangku yang sedang dalam pose menggairahkan. Telanjang, kedua tangan diangkat tinggi-tinggi, hingga
    dada dan memekku jelas terpampang.

    Gila! Dito benar-benar gila! Aku segera berlari menuju kamar mandi. Seusai mandi aku keluar kamar mandi
    dengan berbalut handuk. Perlahan aku melangkah menuju jendela. Kututup jendela dengan menarik tali di
    pinggirannya. Ah… aman.

    Barulah setelah itu aku berani melepas handuk penutup tubuhku dan segera berdandan. Aku harus checkout
    pagi ini juga dan langsung pulang ke Jakarta. Seharian aku berputar-putar di kota Bandung sendirian.
    Baru menjelang malam aku pulang ke Jakarta mengendarai mobil angkutan Cipaganti.

    ***

    Sesampai di kamar kostku di Jakarta, kuhempaskan tubuhku di kasur kamarku. Pikiranku menerawang. Aku
    memikirkan kejadian-kejadian yang kualami belakangan ini.

    Kuraih dompetku. Kukeluarkan sisa uang pemberian Dito. Menginap semalam bersama Dito aku mendapatkan 3
    juta. Tapi kenapa hati ini tidak bisa senang. Kenapa aku justru merasa terhina. Apalagi kata-kata Dito
    dalam pesan yang ditinggalkannya pagi tadi sungguh menyakitkan.

    Apa iya Dito hanya menganggapku perempuan bayaran? Ah, tapi tidak mungkin. Dengan 3 juta seharusnya Dito
    bisa dapat pelayanan penuh dari perempuan-perempuan malam yang siap memberikan kepuasan. Sedangkan
    dengan aku, Dito tidak bisa menikmati tubuhku sepenuhnya. Artinya, Dito tidak mungkin menganggapku sama
    dengan para perempuan malam itu.

    Lagipula, kami sudah sering membahas rencana pernikahan kami dengan kedua orang tua Dito. Bahkan seluruh
    keluarga sudah sepakat pernikahan akan dilangsungkan 4 bulan lagi.

    Tapi… tetap saja aku merasa tidak nyaman. Apalagi Dito seringkali seolah sengaja mempertontonkan tubuh
    telanjangku kepada orang lain. Di mobil, dan terakhir pagi tadi di Hotel setelah dengan sengaja membuka
    tirai Hotel lebar-lebar.
    Aku bingung… aku bimbang… akhirnya aku tertidur lelah…

    ***

    Pagi…
    Baru saja aku akan berangkat ke kantor ketika kudengar ketukan di pintu kamarku. Kubuka pitu dengan hati
    bertanya-tanya siapa yang sepagi ini mau bertamu ke kamarku.

    Saat kubuka pintu, kulihat Dito berdiri sambil tersenyum tipis. Sebelum sempat kusapa, Dito sudah
    mendorong tubuhku masuk kembali ke kamar. Kemudian Dito menutup pintu dan menguncinya sekaligus. Setelah
    itu tanpa berkata apa-apa dia mulai membuka seluruh pakaiannya sendiri.

    “Dit, mau ngapain? Nanti aku terlambat.” protesku. Aku agak tersinggung dengan kedatangannya yang tiba-
    tiba dan langsung buka pakaian di hadapanku tanpa basa-basi.

    “Biarin lah terlambat sedikit. Udah biasa kan?” jawab Dito santai sambil membuka celana dan celana
    dalamnya sekaligus. Aku ingin protes lagi, tapi mataku tertumbuk pada kontol besarnya yang sudah ngaceng
    dan berdiri tegak. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi saat Dito memeluk tubuhku dan mencium bibirku.

    Aku hanya pasrah saja saat Dito membuka jilbabku dan melemparkannya entah kemana. Aku semakin pasrah
    ketika lidah Dito menari-nari di telingaku sementara kurasakan kontol kerasnya mendesak-desak perutku.
    Kuremas rambut Dito sambil meresapi jilatannya di telinga dan leherku.

    Dito tidak hanya menjilat leherku, tapi menggigit-gigit kecil sambil dihisap kuat-kuat. Aku yakin
    gigitannya pasti meninggalkan bekas merah di leherku. Aku tidak perduli. Toh nanti akan tertutup
    jilbabku. Aku hanya peduli pada kenikmatan yang kurasakan saat ini.

    Setelah puas menggarap leherku, Dito berhenti sejenak sambil menatap tubuhku yang masih berpakaian
    lengkap. Kemudian tiba-tiba dengan agak kasar dan terburu-buru Dito melepas kancing-kancing bajuku dan
    merenggutnya dengan keras untuk kemudian melemparkannya begitu saja. Lalu tangannya bergerak ke
    punggungku membuka kait BH ku. Lagi-lagi Dito merenggut BH ku dengan agak kasar dan melemparkannya.

    Sejenak dipandanginya dada telanjangku. Lalu diremasnya dengan kedua tangannya. Oooh… kasar sekali. Tapi
    rasanya justru aku menyukainya. Remasan kasar Dito pada dadaku berhenti saat Dito meluncur turun
    berjongkok di hadapanku.

    Tangannya dengan lincah membuka celana sekaligus celana dalamku dalam satu tarikan. Dan bugil lah aku…
    Di kecupnya memekku dan dijilat dari bawah keatas. Uuughhh… aku berdiri dengan gemetar merasakan jilatan
    Dito pada memekku.

    Disaat aku sedang menikmati jilatannya, tiba-tiba Dito menghentikan kegiatannya. Dia bangkit berdiri
    dihadapanku lalu tanpa persiapan sama sekali aku di dorong keras hingga terpental ke kasur.

    Aku kaget dengan perlakuan kasar Dito ini. Tapi belum sempat aku berkata apa-apa, Dito sudah menerkam
    menindih tubuhku. Ciumannya begitu ganas. Lidahnya menerobos membelit-belit lidahku. Pinggulnya
    bergerak-gerak menekan kontolnya di atas memekku.Cerita Sex Dewasa

    Aku benar-benar terhanyut dengan permainan kasar ini. Sensasi dari ketidak berdayaan seolah akan
    diperkosa ini justru menambah nikmat cumbuan-cumbuan yang kurasakan.

    Jilatan Dito mulai turun ke dadaku. Mulutnya melahap dada kiriku dengan penuh nafsu seolah ia ingin
    memasukkan seluruh daging dadaku itu ke dalam mulutnya.

    “Ooooh… Dit… kamu tambah hebat, sayang…” aku semakin meracau tidak karuan dengan perlakuannya ini.
    Ditambah lagi sementara mulutnya melahap sambil menjilati puting dada kiriku, tangan kirinya meremas
    kuat dada kananku sambil jemarinya memilin-milih puting susu kananku dengan cepat dan berulang-ulang.

    Aku tak tahan menghadapi serang Dito kali ini. Belum-belum memekku banjir sudah. Kugoyang-goyangkan
    pinggulku mengejar kontolnya yang terus saja menggesek permukaan memekku.

    Dito merosot ke bawah. Tangannya menggenggam kedua pahaku dan di bentangkannya lebar-lebar. Lalu
    kepalanya merangsek selangkangku dengan tiba-tiba.

    “Aoooow! Oooooooohhh…!” Aku benar-benar dibuat menjerit. Lidah Dito langsung bermain menjilati lubang
    memekku. Dengan kecepatan lebih dari biasanya, Dito menjilati memekku dari bawah ke atas berulang-ulang.
    Lidahnya serasa menggaruk-garuk memekku yang memang sudah gatal sedari tadi.

    Lalu Dito melahap sebelah bibir memekku seperti sedang mencium bibirku. Di sedot-sedotnya bibir memekku
    sambil lidahnya menerobos masuk ke dalam lobang memekku dan menjilati dinding-dinding bagian dalam
    memekku. Ooowwwh… semoga selaput daraku tidak sampai pecah gara-gara lidah Dito yang bermain sampai ke
    dalam.

    Kemudian kembali Dito menjilati memekku dari bawah ke atas berulang-ulang, Lalu tiba-tiba mulutnya
    menangkap itilku dan menghisapnya kuat-kuat sambil giginya mengunyah perlahan membuat itilku seperti
    digiling.

    Aku tidak sanggup lagi bertahan. Tubuhku kejang. Pantatku kuangkat tinggi-tinggi mengejar mulut Dito.
    Tanganku terlempar ke kiri dan kanan sambil meremas apa saja yang bisa kugapai. Punggungku melengkung,
    kepalaku terdongak ke atas.

    Kupejamkan mataku sambil berteriak histeris, “Aaaaaaaaaaagghhhhhh…”

    Rasanya cairan memekku bukan hanya mengalir. Tapi benar-benar menyembur dengan kuat. Entahlah, benar
    begitu atau perasaanku saja. Yang jelas aku benar-benar merasakan nikmat yang luar biasa.

    Lama aku kejang dalam posisi melengkung seperti itu sampai akhirnya aku terhempas hebat ke kasur.
    Nafasku tersengal dengan keringat yang membasahi tubuhku.

    Plak! Dito menampar pahaku tiba-tiba sambi menghempaskan tubuhnya telentang di sampingku. “Ayo gantian.
    Isep kontolku sekarang.” ujar Dito agak kasar.

    Meski masih terasa lemas, aku bangkit duduk menghadap kontol Dito. Kuraih batang kontol yang besar dan
    berurat itu. Kuremas-remas dengan gemas. Lalu tanpa basa basi lagi kumasukkan batang keras yang hangat
    itu ke dalam mulutku.

    Kumajukan kepalaku naik turun mengocok kontolnya dengan mulutku. Sesekali kuhisap kuat-kuat kontol itu
    sebelum akhirnya kukocok lagi dengan mulutku. Kujilati kepala kontol Dito, lalu kuhisap. Hanya kepala
    kontolnya saja yang masuk ke mulutku. Lalu kuhisap-hisap sambil lidahku ikut menjilat-jilat. Kuhisap-
    hisap sampai kepala kontol itu melejit dan hampir terlontar keluar. Tapi sebelum kontolnya terlepas dari
    mulutku, segera kumasukkan lagi kepala kontol itu sambil tetap kuhisap-hisap.

    Setelah itu kembali kumasukkan seluruh batang kontol besar itu ke dalam mulutku. Kukocok-kocok lagi
    dengan mulutku sampai akhirnya kubasahi seluruh permukaan kontolnya dengan ludahku.

    Selanjutnya giliran tanganku yang bertugas memberikan kenikmatan kepada kontol Dito. Kukocok dengan
    cepat batang kontol besar ini. Tiba-tiba Dito bangkit duduk dan berdiri diatas kedua lututnya membuat
    aku ikut terduduk.

    “Ayo, isep terus… kocok yang kenceng… aku udah mau keluarrrr…” teriak Dito.

    Aku pun semakin bersemangat mengocok kontol Dito. Kurasakan kontol itu semakin keras. Dan mulai terasa
    kedutan-kedutan pertanda sudah mau keluar. Seperti biasa, aku segera memasukkan kontol Dito ke dalam
    mulutku supaya bisa ngecret di mulut.

    Tapi Dito justru menepis tanganku dan mencabut kontolnya dari mulutku. Lalu dia malah mengocok sendiri
    kontolnya dengan tangannya di hadapan mukaku, dan… Crooot… Croooot… crooot… tiga semburan menerpa
    wajahku. Mata, hidung dan mulutku. Dan Dito mendorong tubuhku hingga telentang sambil terus saja
    mengocok kontolnya. Dengan sengaja Dito mengarahkan semburan kontolnya ke leher, dada dan terakhir ke
    perutku.

    Aku terkapar telentang belepotan air mani di sekujur wajah dan tubuhku. Kulihat Dito bangkit meraih
    bajuku dan membersihkan kontolnya dengan bajuku itu. Aku ingin protes, tapi lemas sekali rasanya.
    Kubiarkan saja kelakuannya itu.

    Tanpa berkata-kata Dito mengenakan pakaiannya kembali. Sementara aku tetap saja terbaring lemas di
    kasur. Kupikir sudahlah, aku tidak usah ngantor hari ini.

    “Lin, aku mau ngomong…” ujar Dito sambil mengenakan sepatunya. Aku tidak menjawab selain menatapnya
    heran dengan wajahku yang masih belepotan air maninya itu.

    “Mulai hari ini… kita putus!” ucap Dito tiba-tiba.

    Aku tersentak bangun. Aku duduk menatap wajahnya yang tampak tanpa ekspresi itu. “Kenapa ?” tanyaku
    lemah.

    “Terus terang, sebenernya pacaran sama kamu itu enak. Nikmat banget. Susah nyari perempuan yang bisa
    bikin enak kayak kamu, Lin. Masalahnya, kamu cuma enak buat dipacarin. Kalau untuk dijadikan istri, aku
    mau cari perempuan baik-baik yang belum kenal kontol sama sekali. Bukan yang udah kebanjiran air mani
    kayak kamu gini… Sorry ya, Lin. Kita sampai disini aja. Terima kasih, barusan luar biasa enak.”

    Aku tak mampu lagi berteriak. Aku hanya menatap Dito yang melangkah ke pintu dengan air mataku yang
    berlinang bercampur dengan air mani yang membasahi pipiku.

    Sebelum membuka pintu, kembali Dito berkata “Eh, tapi kalo kamu kangen sama kontol aku, telpon aja ya.
    Aku siap kok. Oke?“ setelah itu Dito membuka pintu dan berlalu.

    Aku membanting tubuhku telentang ke kasur. Dan menangis sejadi-jadinya…

    ***

    # Bertemu Dana

    Enam bulan sudah sejak perpisahanku dengan Dito yang menyakitkan. Terlebih lagi jika mengingat hubungan
    kami sebenarnya sudah sangat serius. Bahkan rencana pernikahan sudah sering dibicarakan diantara
    keluarga kami. Hubunganku dengan orang tua Dito sudah demikian dekat.

    Tak bisa kubayangkan jika Dito menyampaikan kepada orang tuanya alasan dia memutuskan hubungan kami.
    Bagaimana mungkin gadis baik-baik berjilbab yang mereka sayangi ini ternyata luar biasa binal, bahkan
    saat putus dengan anaknya pun penuh belepotan air mani.

    Untunglah Dito masih punya sisa-sisa kebaikan. Dia cuma bilang bahwa kami sangat tidak cocok.

    Well, enam bulan gak ketemu kontol. Enam bulan gak ada yang jilatin memek. Kangennya luar biasa. Tapi
    untuk memulai hubungan lagi rasanya juga gampang. Trauma dengan sikap Dito setelah menerima kenikmatan
    dariku membuatku semakin ragu untuk pacaran lagi.

    Tapi kemudian semuanya berubah. Aku dipindah tugaskan sebagai staff administrasi khusus untuk event-
    event seminar wilayah Jakarta. Hal ini menyebabkan aku sering terlibat langsung dengan penyelenggaraan
    event, bahkan sampai menginap di hotel tempat penyelenggaraan.

    Pada saat event-event inilah aku sering bertemu Dana, salah seorang Staff yang biasa mengurus
    operasional event. Seringnya kami kerja bersama-sama dalam sebuah event membuat kami tambah akrab.
    Keakraban itu berlanjut tidak hanya di tempat event, tapi juga ke kantorku. Setiap hari kami makan siang
    bareng, walaupun untuk pulang bareng masih belum menjadi rutinitas.

    Dana tidak terlalu ganteng jika dibandingkan dengan mantan-mantanku dulu. Secara fisik hampir tidak ada
    yang istimewa. Namun wajah teduhnya membuat aku nyaman berada di dekatnya.

    Sangat terlihat bahwa Dana belum banyak pengalaman soal perempuan. Seringkali Dana terlihat canggung
    jika aku mengajaknya bicara yang agak nyerempet-nyerempet bahaya.Wajahnya terlihat tersipu, dan aku tahu
    itu bukan pura-pura. Satu lagi, Dana sangat sholeh. Aku tidak pernah melihatnya meninggalkan Sholat.
    Bahkan jika kebetulan aku datang ke kantor agak pagi, kerap aku memergoki Dana sedang Sholat Duha.
    Melihat kenyataan itu, tipis rasanya harapanku untuk merasakan kontolnya. Tapi di lain sisi, aku
    berharap Dana bisa menjadi calon suamiku.

    Suatu ketika, kembali kantorku menyelenggarakan event seminar. Dan seperti biasanya aku ditugaskan
    langsung dimulai sejak persiapan.

    Saat itu seluruh team yang bertugas diberi fasilitas menginap di Hotel dimana event tersebut
    diselenggarakan. Tentunya karyawan wanita sekamar dengan yang wanita. Sebaliknya karyawan pria dengan
    karyawan pria. Dan tidak ada satupun dari kami yang kebagian sekamar sendirian. Sehingga tipis
    kemungkinan aku bisa tidur bareng Dana.

    Dana mendapat kamar di lantai 4 sekamar dengan Baron sedangkan aku menempati kamar dilantai 5 sekamar
    dengan rekanku Nani yang bertugas sebagai kasir.

    Persiapan baru selesai sekitar pukul 9 malam. Saat akan kembali ke kamar, Baron mengajak Dana untuk
    mencari makan di luar saja. Alasannya makanan di kamar disamping mahal, rasanya juga gak nendang. Aku
    agak malas untuk makan diluar karena rasanya sudah sangat letih dan ingin segera rebahan untuk
    istirahat.

    Sesampai di kamar aku segera mengganti pakaian dengan daster panjang tanpa lengan dimana di dalamnya aku
    tidak mengenakan apa-apa lagi. Sebenarnya aku lebih suka tidur telanjang bulat. Namun karena aku tidak
    sendirian, terpaksa kututupi tubuh bugilku dengan daster panjang.

    Rasanya belum lama aku memejamkan mata ketika HP ku berbunyi. Ah.. Dana. Ngapain malam-malam gini
    telpon?

    “Ya, Dan… ada apa?” tanyaku dengan suara agak serak-serak bangun tidur.

    “Udah tidur ya. Aku beliin martabak nih. Mau gak?”

    “Aku udah kenyang, Dan. Nggak usah deh.” jawabku malas-malasan. Malam-malam gini makan martabak? Bisa
    gendut aku.

    “Yaaah… sayang donk. Ya udah, temenin kita makan aja yuk. Sambil ngobrol-ngobrol.”

    Sebenarnya aku masih sangat ngantuk. Tapi ngobrol-ngobrol dengan Dana di kamar? Sayang kalau dilewatkan.
    “Iya deh. Tunggu sebentar ya.” Aku segera bergegas bangkit dari kasur. Kukenakan kembali Jilbabku. Aku
    sempat bimbang apakah aku harus ganti baju, pakai celana dalam dan BH, atau gak usah aja. Kupandangi
    sejenak tubuhku melalui cermin. Rasanya tidak akan terlihat kalau aku tidak pakai celana dalam. Tapi BH?
    wow, pentil susuku jelas sekali terlihat. Lagipula daster ini tanpa lengan. Bisa rusak imageku nanti.

    Akhirnya kukenakan jaket dan kukancingkan rapat untuk menutupi dada serta lenganku yang terbuka. Yup.
    Cukup tertutup lah. Jadi aku tidak perlu ganti baju.

    Yakin dengan dandananku yang cukup tertutup, segera aku keluar menuju kamar Dana di lantai 4.

    Sama seperti kamarku, kamar Dana memiliki dua buah tempat tidur yang dipisahkan oleh meja kecil di
    tengah-tengahnya. Sesampainya aku di sana ternyata mereka sedang makan nasi goreng di atas tempat
    tidurnya masing-masing. Aku segera menghampiri Dana dan duduk di kasur berdekatan dengan Dana.

    Selesai makan kami lanjutkan ngobrol-ngobrol. Dana pindah duduk di kursi sementara Baron tetap duduk di
    kasurnya. Sedangkan aku dengan santai duduk di kasur Dana bersandarkan bantal yang kususun tinggi.

    Jujur saja, isi obrolan sangat membosankan. Apalagi Baron. Omongannya gak ada yang menarik. Jokenya pun
    garing banget. Seandainya bukan karena Dana, aku pasti sudah balik ke kamar. Tapi kesempatan berdekatan
    begini sayang rasanya kalau kulewatkan begitu saja.

    Untunglah setelah sekitar sejam ngobrol gak jelas, Baron ngantuk dan pamit tidur duluan. Dia langsung
    masuk ke balik selimut dan tidur miring menghadap tembok. Ah, asiiik…. aku tinggal berdua dengan Dana.

    Kutunggu sesaat sampai kira-kira Baron sudah tertidur. Setelah kulihat tak ada tanda-tanda kehidupan,
    kubuka kancing jaketku hingga tubuh bagian depanku yang terbungkus daster bisa terlihat. Terutama bentuk
    dada besarku serta putingnya pasti tercetak dengan jelas.

    Berkali-kali kulihat Dana menatap dadaku sekilas, kemudian langsung memalingkan wajahnya. Aku yakin Dana
    bisa melihat bentuk dadaku, dan aku yakin dia tahu kalau aku tidak pakai BH. Terlihat sekali dia
    canggung dengan keadaan pakaianku. Wah, bagaimana kalau dia tahu aku tidak pakai celana dalam ya?

    “Dan, ngobrolnya sini donk. Jangan jauh-jauhan gitu. Kayak musuhan aja.” ajakku ketika kulihat Dana
    tidak juga mengambil inisiatif. “Ayo sini. Gak akan aku gigit deh. Kecuali kamu yang minta.” ajakku lagi
    saat Dana tidak juga bereaksi.

    Akhirnya Dana bangkit pindah duduk di sebelahku. Terasa sekali Dana sangat canggung duduk berdekatan di
    atas tempat tidur berduaan denganku. Aku jadi tersenyum geli melihat tingkahnya yang serba salah itu.

    Kugeser dudukku lebih dekat dan menghadap dia. Kuusap kepalanya lembut sambil terus ngobrol ngalor
    ngidul. Saat bercerita, sesekali siku lengan Dana menyenggol dadaku yang tanpa BH. Dana semakin gelisah.

    Tidak tahan dengan sikapnya yang pasif, segera kuraih kepala Dana dan kucium bibirnya. Beberapa kali
    kukecup-kecup bibirnya sampai akhirnya Dana mulai bisa menguasai keadaan. Tangannya mulai meraih pipiku
    sambil lidahnya bermain-main di mulutku. Kemudian perlahan tangannya turun ke leherku, terus turun lagi
    sampai ke dadaku. Diremasnya dadaku perlahan. Ah… akhirnya bisa juga dia.

    Aku benar-benar tidak tahan. Kudorong tubuh Dana hingga terlentang, lalu kutindih dia. Kuciumi bibirnya
    dengan penuh gelora nafsu sambil memekku kugesek-gesekkan ke kontolnya yang terasa sudah keras dibalik
    celana panjangnya.

    Sedang seru-serunya kami bercumbu, tiba-tiba …

    “Lin, kalo mau pacaran jangan disini. Gue gak bisa tidur dengerinnya…” terdengar suara Baron agak ketus
    walau wajahnya tetap menghadap tembok.

    Aku menghela nafasku yang sudah tersengal-sengal. Duuuuh… ganggu aja deh… Terpaksa kami menghentikan
    kegiatan nikmat ini. Aku minta Dana untuk mengantarku ke kamar. Di dalam Lift kembali kucium Dana dengan
    penuh nafsu. Dana memelukku erat. Tiba-tiba tangannya meremas pantatku. Saat itulah dia sadar kalau aku
    tidak pakai celana dalam. Sayang, pintu lift keburu terbuka. Kami keluar dari lift dengan saling
    rangkul. Rupanya tangan Dana masih betah berdiam di pantatku. Kurasakan tangannya mengelus-elus pantatku
    dengan mesra.

    Di depan pintu, kembali kami berciuman. Kali ini Dana sangat bernafsu. Tangannya tidak henti meremas
    dadaku. Kurasakan kontolnya begitu keras menekan atas perutku.

    “Dan… besok kita buka kamar aja yuk…” bisikku di telinga Dana dengan nafas memburu. Dana menatap mataku
    sejenak. Terlihat dia agak ragu. “Aku yang bayar deh. Mau yah… yah… yah…” bisikku lagi setengah memaksa.

    Akhirnya Dana mengangguk setuju. Kucium bibirnya lama sebelum akhirnya kulepaskan dan meninggalkannya
    berdiri di depan pintu.

    ***

    Seharian ini kuikuti kegiatan seminar dengan tidak sabar. Pikiranku sudah tertuju pada rencana malam
    nanti. Saat break makan siang tadi aku sudah memesan kamar dilantai 8. Agak mahal memang, tapi yang
    penting terpisah jauh dari teman-temanku yang lain.

    Begitu Seminar hari pertama selesai, aku langsung menghilang ke kamar. Kepada Nani teman sekamarku
    kukatakan bahwa malam ini aku tidak menginap. Padahal sesungguhnya aku pindah ke kamar yang telah
    kupesan.

    Di kamar aku langsung melepas seluruh pakaianku hingga telanjang bulat. Semula aku akan menyambut Dana
    dengan tubuh bugil seperti ini. Tapi setelah kupikir lagi, rasanya terlalu ekstrim. Akhirnya aku memilih
    daster yang paling tipis. Setelah siap, kutelpon Dana, memintanya segera menemuiku di kamar.

    Tak berapa lama kudengar bel berbunyi. Segera kubuka pintu, dan Dana tertegun memandangku.

    Kutarik tangan Dana dan segera kututup pintu. Dana menatapku dengan takjub. Aku yang biasa berpakain
    serba tertutup kini berdiri di hadapannya hanya mengenakan daster tipis tanpa apa-apa lagi di dalamnya.

    Kudorong tubuh Dana hingga tersandar di pintu. Kupeluk dia, kucium dengan ganas. Dana sampai gelagapan
    menghadapi seranganku yang tiba-tiba. Dengan tergesa dan penuh nafsu kupereteli kancing-kancing
    kemejanya. Lalu kubuka kemeja itu dan kulemparkan ke lantai. Lidahku langsung menari-nari di lehernya.
    Kugigit-gigit kecil lehernya. Lalu kujilati mulai pangkal lehernya melewati jakun sampai ke dagunya.
    Kujilati berulang-ulang. Dana tidak bisa bisa berkata-kata selain ucapan uh-uh yang tidak jelas.

    Lidahku meluncur ke dadanya. Kujilat pentil dadanya sambil kutarik-tarik dengan mulutku. Lalu kusedot
    kuat-kuat bergantian pentil kiri dan kanan. Selanjutnya aku merosot turun berjongkok dihadapannya.
    Kujilati pusarnya sambil tanganku membuka ikat pinggangnya. Kubuka kancing celananya, kubuka
    resletingnya lalu kuperosotkan celana panjangnya hingga ke mata kaki. Tampaklah tonjolan dibalik celana
    dalam putih yang sudah siap untuk dikulum.

    Saat aku akan merenggut celana dalamnya, Dana mencegahku. Tubuhku ditarik berdiri, kemudian dia
    memelukku dengan kuat sambil kembali mencium bibirku. Tangannya meremas-remas pantatku.

    Aku benar-benar tidak tahan. Kutarik tangannya menuju tempat tidur. Kudorong tubuhnya hingga jatuh
    telentang diatas tempat tidur. Kubuka dasterku dan berdiri telanjang bulat dihadapannya. Dana sampai
    melotot melihat tubuh telanjangku. Tak menunggu lama lagi kutarik celana dalam Dana melewati kakinya dan
    kulempar entah kemana. Maka terlihatlah kontolnya yang sudah ngaceng sepenuhnya. Berdiri tegak menanti
    untuk di sedot.

    Ukuran kontolnya biasa saja, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Tapi bagiku yang sudah enam
    bulan tidak ketemu kontol, pemandangan di hadapanku ini menjadi begitu menggairahkan.

    Kupanjat tubuh telanjang Dana. Kuciumi bibirnya dengan nafsu membara. Kutekan dadaku ke dadanya hingga
    gepeng. Lalu kugoyang-goyang pinggulku hingga memekku bergesekan dengan kontolnya. Kugoyang pantatku
    maju mundur, membuat belahan memekku yang sudah basah meluncur lancar disepanjang batang kontolnya.

    Tidak sampai dua menit aku menggesek memek kulihat Dana mengerang keras, dan… Croooot air maninya
    menyembur membasahi perut kami berdua. Ah… kontol perjaka. Nyesel tadi gak aku isep aja. jadi kan air
    maninya gak mubazir terbuang percuma begini.

    Sedikit kecewa aku beranjak ke kamar mandi membersihkan tubuhku dari semburan air mani Dana. Setelah itu
    aku kembali ke kamar sambil membawa handuk kecil. Kubersihkan perut Dana dengan handuk kecil yang
    kubawa. Kubersihkan juga kontolnya yang sudah mulai mengecil.

    Setelah itu aku berbaring di samping Dana. Kurebahkan kepalaku di bahunya sambil tanganku terus
    meremas-remas kontolnya. Aku berharap kontol Dana bisa cepat bangkit kembali.

    Dan benar saja, tidak perlu berlama-lama kurasakan kontol itu semakin membesar. Kukocok-kocok terus
    kontolnya sampai benar-benar ngaceng. Setelah itu aku langsung bangkit menindih tubuhnya lagi.

    Aku berjongkok di atas kontolnya. Kuraih kontolnya dengan tanganku, lalu dengan nekat kugosok-gosok
    kepala kontolnya ke dalam belahan memekku. Aaaah… rasanya luar biasa nikmat. Ingin rasanya kumasukkan
    seluruh batang kontol ini ke dalam memekku ketika tiba-tiba Dana meronta menghindari memekku.

    “Jangan, Lin. Gak boleh. Kita belom nikah…” wajah Dana terlihat tegang. Antara takut dosa dan kepengen
    dosa.

    Kurebahkan tubuhku menindih tubuhnya. Kukecup lembut pipinya. “Iya, aku tau. Aku juga masih perawan
    kok.” ujarku sambil kemudian kukecup lembut bibirnya. “Tapi kalo main-main dikit boleh kan?” aku tak
    menunggu jawabannya, tapi langsung melorot ke bawah hingga wajahku berhadapan langsung dengan kontolnya.

    Kuraih benda yang sudah lama kurindukan itu. Kuusap-usap, lalu kemudian kujilat dari bawah ke atas.
    Ooooh… akhirnya… ketemu kontol lagi…

    Kusedot-sedot kepala kontolnya sambil lidahku menari-nari diseluruh permukaan kepala kontolnya. Lalu
    kumasukkan seluruh batang kontol itu ke dalam mulutku. Karena kontol Dana tidak terlalu panjang, tidak
    sulit aku menelan seluruh batang kontolnya.

    Kukocok-kocok kontol ngaceng itu dengan mulutku. Maju-mundur-maju-mundur, kuisap kuat-kuat sambil
    kutarik sampai hampir terlepas. Lalu kuisap lagi kuat-kuat sambil menelan kontolnya.

    Belum lama kontol itu kuisap, kurasakan denyutan-denyutan yang sudah sangat ku kenal. Ah cepat sekali…
    Langsung kuisap-isap dengan kuat dan cepat, dan… crooot..crooot.. crooot.. terasa semburan yang sangat
    kuat menerpa mulutku. Kutelan semua cairan yang menyembur itu sambil terus kusedot-sedot kepala
    kontolnya dengan kuat. Kontol itu baru kulepaskan setelah menciut jadi kecil dan lembek lagi.

    Kutatap wajah Dana. Matanya terpejam puas. Aku berbaring di sebelahnya sambil kubelai-belai rambutnya.
    Tak lama, Dana tertidur…

    Tinggal aku yang terbaring bugil dengan nafsu yang masih menggantung. Tak apalah, lumayan setelah enam
    bulan nganggur…Cerita Sex Dewasa

    ***

    # Gairah di Pagi Hari

    Bangun tidur, aku merencanakan untuk menggoda Dana lagi. Pura-pura mau mandi, aku berjalan pelan di
    depannya. Aku hanya menggunakan handuk kecil untuk kulilitkan ke tubuhku seadanya. Saat lewat di
    depannya yang sedang menonton TV, persis di depan matanya, handuk itu kulepaskan hingga jatuh ke lantai,
    kontan tubuhku yang tidak terbungkus apapun terlihat jelas olehnya.

    Dana langsung tersipu malu dan melengoskan pandangannya. Dasar bocah lugu. Sudah menikmati tubuhku
    semalaman, masih juga malu. Kuteruskan langkahku ke kamar mandi sambil tersenyum tertahan melihat
    tingkahnya.

    Tidak lama di dalam, aku berseru memanggil Dana untuk mengambilkan sabun cair di tas, ”Dan, tolong
    ambilin sabun yaaa…” kataku.

    ”Iya, Lin, sebentar…” kudengar dia turun dari ranjang dan melangkah pelan ke lemari, tempat dimana tasku
    berada. Setelah ketemu, dia mengetuk pintu kamar mandi yang tidak kukunci.

    Aku berseru. ”Masuk aja, Dan.”

    Dana membuka sedikit pintu itu dan menjulurkan tangannya yang menggenggam sabun. Segera kutarik
    tangannya ke dalam sambil berkata, ”Tolong dong, sabuni aku. Aku nggak bisa menyentuh bagian
    belakangku.”

    Dana tertegun melihat tubuh telanjangku yang mengkilat karena basah. Terutama payudara dan puting susuku
    yang tampak makin membengkak besar. Dia sudah tidak melengoskan pandangannya lagi, malah Dana
    memperhatikan tubuhku yang bugil dan ranum itu dengan muka memerah.

    “Heh, kok malah ngeliat gitu sih?” ujarku sambil pura-pura menutupi buah dadaku yang sudah besar dari
    dulu ini, karena susuku sering diremas dan di rangsang oleh laki-laki. ”Sini, buka bajumu agar gak
    basah. Kita mandi sama-sama.” segera kulucuti pakaian Dana tanpa menunggu jawaban darinya.

    Setelah kubuka celana dalamnya, kulihat kontolnya masih kecil, belum tegang sama sekali. Penasaran
    banget aku, masa ngeliat tubuhku gini, dia belum ngaceng sih, pikirku.Biar, nanti kuhisap dan kubuat kau
    ketagihan hisapan mulutku, pikirku mesum.

    Kupasang shower dan aku mulai mandi di depan Dana yang juga sudah telanjang bulat. ”Ayo, sabuni aku.
    Jangan bengong aja gitu.” ujarku. Dia mulai mengusap punggungku dengan tangan gemetar. Wah, asik nih,
    akan kuajari dia cara menyenangkan perempuan, pikirku.

    ”Sini, depannya juga. Masa cuma punggungnya aja.” kataku sambil membalikkan badan. Kuberikan bongkahan
    payudaraku kepadanya.

    ”Eh, i-iya, Lin….” Dana menjawab dengan gugup. Dia mulai mengusap-usap dadaku, meremasnya pelan, dan
    memilin-milin putingnya yang mungil menggiurkan. Aku jadi terangsang dengan usapan tangannya. Kunikmati
    pijatannya sambil merem melek.

    Tidak puas, aku juga mulai menyabuninya, ”Sini, Dan… tubuhmu juga harus dibersihkan, biar wangi dan
    harum.” kataku.

    Dana diam saja. Tapi tangannya masih tetap mengusap-ngusap buah dadaku. Dia meremasnya kuat-kuat saat
    tanganku berhenti di kontolnya dan mengocoknya lembut. Nah, mulai kelihatan aslinya, pikirku. ”Aduh,
    Lin, geli… geli banget… tapi enak.” katanya takut-takut.

    ”Udah, kamu diam aja.” Setelah kusiram bersih tubuhku dan tubuhnya, aku jongkok di depannya sambil
    kugenggam erat kontolnya yang belum terlalu ngaceng itu, masih agak lembek. Sambil melihat wajahnya,
    kumasukkan kontol itu ke dalam mulutku dan kukemot pelan-pelan. Kulihat mata Dana melotot sambil
    memperhatikan kontolnya yang keluar-masuk di mulutku, dia mendesah dan menelan ludah.

    Pelan kujilati seluruh kontolnya, mulai dari pelirnya sampai ke ujung kepala. Dari situ kumasukkan
    seluruh kontolnya ke mulutku, lumayan keras meski belum ngaceng sempurna.

    Setelah beberapa lama menghisap kontolnya, Dana mulai bergetar. Wah, tandanya dia mau keluar nih,
    pikirku. Semakin kuperkuat hisapanku, kontolnya kukenyot cepat di mulutku. Saking enaknya, tanpa
    disadari Dana, pantatnya sampai maju mundur seperti orang ngentot. Dia memperkosa mulutku.

    Lin, aduh… aku… Oughh! Enak sekali…” teriaknya, lalu… croott… crooottt… crooooottth…!!! banyak sekali
    pejuhnya keluar di dalam mulutku, langsung kusedot habis dan kutelan dengan kenikmatan luar biasa.
    Kulihat wajahnya merah padam pada saat pejuhnya keluar. Dana mendongak ke atas dan oleng ke kiri dan ke
    kanan.

    ”Enak nggak, Dan? Kau suka kontolmu kuhisap?” tanyaku nakal.

    ”He-eh, Lin. Enak sekali.” katanya masih sambil bergetar.

    Aku maklum, karena meski ini bukan pejuh pertamanya, tapi tetap saja dia menikmatinya. Pengalaman ini
    pasti terasa begitu luar biasa bagi orang pemula seperti Dana.

    BAca JUga Cerita Sex Teman Biniku

    Setelah dia bisa mengatur nafas, kini giliranku yang minta kepuasan. Berbaring mengangkang di lantai
    kamar mandi, kuminta dia menjilat memekku. Dana melakukannya dengan senang hati.

    Total hari itu, lebih dari 12 kali kami moncrot. Pejuh Dana berhamburan di mulutku, juga ke wajah,
    rambut, dan susuku. Bahkan ada yang ditaruh di atas memekku, sempat membuatku takut juga kalau sampai
    hamil. Cepat kuseka cairan itu dengan tissue sampai bersih.

    Sementara cairanku sendiri mengalir deras membasahi kasur dan sprei. Beberapa ada juga yang menyembur
    sampai ke lantai.

    Sama-sama puas, kami akhirnya terkulai lemas dan berbaring berpelukan. Mataku terpejam, sementara
    mulutku terbuka mengalirkan pelan pejuh Dana masuk ke dalam perutku.

    Aku lelah… tapi juga gembira luar biasa…

    ***

    Sejak itu, hubunganku dengan Dana makin dekat dan intim. Di kantor, kami sudah tidak malu-malu lagi
    untuk mengakui kalau kami berpacaran. Bahkan bisa lebih dari sekedar pacar, karena kini Dana sudah tidak
    malu-malu lagi meminta oral kepadaku. Aku juga begitu, horny dikit, aku langsung kontak Dana untuk
    ketemuan. Pokoknya, asal waktu dan tempatnya terpenuhi, kami akan melakukannya. Tapi meski begitu, satu
    yang kami pegang, aku mau tetap perawan sampai menikah nanti. Jadi terangsang bagaimanapun, kami harus
    bisa nahan diri cukup dengan emut atau gesek saja, tanpa tusuk apalagi genjot.

    Sama seperti sore ini, jam 17:15 aku datang ke ruangan Dana. Sudah sejak siang, memekku gatal pingin
    digaruk. Kebetulan seisi ruangan sudah pada pulang semua, tinggal aku berdua dengan Dana. Maka tanpa
    membuang waktu lagi, kubanting tubuh Dana ke meja kerjanya dan kuciumi dengan penuh nafsu.

    Dia yang sudah mengerti akan nafsu gilaku, mengimbangi dengan menyentuh paha mulusku pelan. Kebetulan
    hari itu aku mengenakan rok panjang longgar, jadi Dana mudah saja menyelipkan tangannya. Dengan cepat
    jari-jarinya naik, sedikit demi sedikit, menuju pangkal pahaku. Aku mulai merem melek keenakan, sambil
    tanganku merangkul pundaknya, sementara bibirku tetap menancap di mulut Dana yang tebal.

    Aku melenguh saat ujung jari tengah Dana menyentuh selangkanganku dan mengelus pelan sekumpulan rambut
    hitam yang ada disana, yang masih tertutup oleh celana dalam. ”Ahhhh… Dan, terus…” aku mendesah.

    ”Kamu memang sangat menggairahkan, Lin.” Dana berkomentar.

    Aku cuma menjawab dengan anggukan kecil dan mata makin terpejam rapat. Desahanku terdengar semakin
    keras. Jari tengah Dana sudah melewati celah celana dalamku sekarang, dia menyentuh bibir kemaluanku,
    dan mengelusnya. Dana menggesek-gesekkan jarinya di permukaan klitorisku yang sudah menyembul keras.
    Oughhhh… tubuhku langsung melenting. Aku kegelian, tapi juga enak.

    Setengah sadar aku berkata, ”Aduh, Dan… geliii… oughhh… geliii…” terasa sekali memek dan celana dalamku
    sudah basah berlendir. Tanganku makin rapat memegang pundak Dana, sementara mulut kami terus saling
    beradu.

    Tak mau kalah, tangan kananku merambat ke arah gundukan kaku di selangkangan Dana. Kubuka resletingnya
    dan kulorotkan celana dalamnya hingga sebatas paha. Tanpabisa dicegah, tersembulah kontol Dana yang
    sudah menegang dahsyat. Benda itu berdiri tegak, siap untuk diapain aja. Tanpa disuruh, aku segera
    memegang dan mengelus-elusnya.

    Dana yang sepertinya juga sudah nafsu buanget, meraih celana dalamku dan menariknya turun. Sementara rok
    panjangku cuma ia gulung hingga ke pinggang. Dana lalu mendudukkanku di meja sambil tangannya membuka
    kancing bajuku satu per satu. Ia juga meraih tali pengait BH-ku dan melepasnya dengan mudah. Maka
    lengkaplah sudah, aku telanjang di depannya.

    Kami saling melumat beberapa saat sebelum akhirnya ciuman Dana turun ke leher dan dadaku. Dia mencucup
    dan menjilati puncak gunung kembarku dengan rakus. Oughhh… Aku langsung mengerang keenakan. Tanganku
    makin keras meremas dan mengelus burung Dana.Cerita Sex Dewasa

    Setelah agak lama menyusu, dia lalu berbisik. ”Lin, jadi pengen masukin burungku ke sangkarnya…” sambil
    tangannya menerobos pelan lubang memekku.

    Aku yang tidak ingin ngentot, tentu saja menolaknya. ”Jangan, Dan… ingat komitmen kita.” aku masih ingin
    mempersembahkan perawanku untuknya saat malam pertama nanti.

    Dana yang pada dasarnya juga lugu, dengan mudah tersadar. Dia pun tidak berkata-kata lagi. Asyiknya,
    tangan dan mulutnya tidak berhenti bekerja, dia terus memborbardir pertahananku dengan lumatan dan
    elusannya yang sungguh-sungguh membangkitkan gairah.

    Melihat dia sudah tidak kuat lagi, aku segera turun dari meja dan berjongkok di bawah untuk mengulum
    burungnya. Dengan perlahan bibirku mengecup ujungnya, kujilati cairanprecum Dana yang mulai meleleh
    keluar. Kemuadian dengan sangat berhati-hati kutelan kontol itu, kumasukkan ke dalam mulutku. Kuhisap
    kontol itu bervariasi, dengan menjilati batangnya dari ujung lubang kemaluan sampai buah pelirnya,
    kemudian kuhisap-hisap keras seluruhnya hingga membuatku hampir tersedak, lalu kembali lagi pelan di
    sekitar ujungnya.
    Begitu terus hingga tanpa terasa 15 menit pun berlalu. Kurasakan kontol Dana mulai memanas dan
    berkedut-kedut. Sepertinya benda itu sudah mau meledak. Aku segera mempercepat kocokanku. Kumasukkan
    kontol Dana dalam-dalam ke mulutku dan kuhisap kuat-kuat.

    Dana menggeram, ”Lin, aku sudah mau keluaaarrr…”

    Segera kulepas kontol itu dan kukocok-kocok di depan wajahku. Tak sampai 1 menit, muncratlah air mani
    Dana membasahi wajah dan payudaraku. ”Ssshh… Lin… Enaknya…” dia mendesah sambil bersandar di kursi.

    Aku yang sudah sangat bergairah, segera berbaring telentang di meja. Kubuka kakiku lebar-lebar hingga
    Dana bisa melihat memek merahku yang sudah sangat basah. ”Ayo… Dan, jilat!” aku meminta.

    Dana pun segera membenamkan kepalanya disana…

    Begitulah hubunganku dengan Dana yang begitu panas dan menggairahkan.
    Hubungan kami terus berlanjut hingga ke tahap yang serius. Aku yakin Dana adalah laki-laki yang tepat
    untukku. Dia alim sekaligus nakal. Sementara bagi Dana, aku adalah gadis yang telah berjasa membawanya
    menuju kedewasaan. Kami saling mengisi dan melengkapi.

    ***

    # MALAM PERTAMA PENGANTIN BARU

    Dua bulan kemudian, kami menikah. Setelah lama cuma petting dan oral sex, inilah saat dimana kami akan
    melakukan yang sebenarnya. Berbekal pengetahuan seks yang kudapat dari internet, aku siap melayani Dana,
    suamiku.

    Wangi harum melati semerbak ke setiap sudut kamar pengantin kami yang dihias warna dominan merah jambu.
    Berbalut daster tipis yang juga berwarna pink, aku berbaring di ranjang. Jilbabku sudah kulepas sejak
    tadi. Dana ada di sisiku. Matanya yang bening menatapku penuh rasa cinta, sementara jemarinya yang halus
    membelai lembut tanganku yang sedang memeluknya.

    Malam ini adalah malam pertama kami sah untuk sekamar dan seranjang. Tidak ada lagi rasa takut atau
    khawatir dipergoki orang, tidak ada lagi rasa terburu-buru, dan juga tidak ada lagi rasa berdosa seperti
    yang kami rasakan dan alami selama berpacaran.

    Suasana yang romantis, ditambah dengan sejuknya hembusan AC, sungguh membangkitkan nafsu. Dana memelukku
    dan mengecup keningku, lalu mengajakku berdoa pada Yang Maha Kuasa seperti pesan pak Kyai tadi.
    ”Andaikan apa yang kami lakukan malam ini menumbuhkan benih dalam rahim, lindungi dan hindarilah dia
    dari godaan setan yang terkutuk.”

    Dari kening, ciuman Dana turun ke alis mataku yang hitam dan lebat, lalu berlanjut ke hidung dan terus
    hingga sampai ke bibirku. Ciuman kami semakin lama semakin bergelora, dua lidah saling melumat diikuti
    dengan desahan nafas yang semakin memburu. Tangan Dana yang tadinya memeluk punggungku, mulai menjalar
    ke depan, perlahan menuju ke gundukan payudaraku yang cukup besar. Dia memujiku karena sudah pintar
    memilih daster. Baju ini berkancing di depan dan hanya 4 buah, jadi mudah bagi Dana untuk membukanya
    tanpa harus melihat. Tidak lama kemudian, baju itu pun terkuak, juga kaitan BH-ku yang melingkar di
    punggung. Kedua bukit kembar ku pun tersembul keluar. Tampak indah menggoda dengan ukurannya yang besar
    dan bentuknya yang bulat sempurna, lengkap dengan putingnya yang mungil kemerahan.

    Sementara Dana mengelus dan memandanginya dengan kagum, aku juga berhasil membuka kancing piyamanya,
    melepas singlet dan juga celana panjangnya. Hanya tinggal celana dalam masing-masing yang masih
    memisahkan tubuh telanjang kami berdua.

    Kubisikkan kata-kata cinta padanya. Dana tersenyum dan menatapku sambil berkata bahwa dia juga amat
    mencintaiku. Dia lalu melanjutkan ciumannya ke leherku, turun ke dada, dan dengan amat perlahan, mendaki
    bukit payudaraku dengan lidahnya. Saat sampai di puncak, Dana menjilat dan mengulumnya dengan penuh
    nafsu. Diperlakukan seperti itu, putingku yang sudah mengacung keras, makin menegak tak karuan.

    ”Oughhh.. Arrgghhhhh…” aku jadi mendesah dan meracau tidak jelas. Mataku terpejam, sementara bibirku
    yang tebal sensual sedikit merekah. Sungguh sangat menggairahkan sekali.

    Sambil terus mencucup, tangan Dana mengelus, meremas dan memilin puting di puncak bukit satunya lagi.
    Dia seperti tidak ingin buru-buru, seperti ingin menikmati detik demi detik yang indah ini secara
    perlahan. Mulutnya berpindah dari satu sisi susu ke sisi satunya lagi, diselingi dengan ciuman ke
    bibirku, membuatku makin berkeringat. Aku cuma bisa membalas dengan mengacak-acak rambutnya liar, bahkan
    kadang-kadang menarik dan menjambaknya, yang penting birahiku terlampiaskan.

    Dengan berbaring menyamping berhadapan, Dana melepas celana dalamku. Satu-satunya kain yang masih
    tersisa. Perlakuan yang sama kulakukan kepadanya, membuat kontolnya yang sudah sedemikian kerasnya
    mengacung gagah. Dana membelai kakiku sejauh tangannya bisa menjangkau, perlahan naik ke paha,
    berputar-putar, berpindah dari kiri ke kanan, sambil sesekali seakan tidak sengaja menyentuh gundukan
    berbulu lebat milikku.

    Sementara aku yang juga sudah tidak sabar, segera membelai dan menggenggam kontolnya. Kukocok benda itu,
    kugerakkan tanganku maju mundur.

    ”Ahhhssss…” Dana melenguh nikmat. Walaupun hal itu sudah sering dia rasakan dalam kencan-kencan liar
    kami selama berpacaran, tetapi kali ini rasanya sungguh lain. Pikiran dan konsentrasi kami tidak lagi
    terpecah. Kami sudah halal untuk melakukannya.

    Melalui paha sebelah dalam, perlahan tangan Dana naik ke atas, menuju ke memekku. Begitu tersentuh, aku
    mendesah semakin keras. Nafasku juga semakin memburu. Perlahan Dana membelai rambut kemaluanku, lalu
    jari tengahnya mulai menguak ke tengah, membelai dan memilin-milin tonjolan daging sebesar kacang
    milikku yang sudah sangat licin dan basah.

    Tubuhku langsung menggelinjang, pinggulku bergerak ke kiri ke kanan, juga ke atas dan ke bawah. Keringat
    semakin deras keluar dari tubuhku yang montok.

    Di atas, ciuman Dana menjadi semakin ganas. Ia mulai menggigiti lidahku yang masih berada di dalam
    mulutnya. Sementara tangannya semakin cepat bermain di atas klitorisku, mengelusnya maju-mundur dengan
    cepat, hingga tak lama tubuhku mengejang dan melengkung, kemudian terhempas keras ke tempat tidur
    disertai erangan panjang.Orgasme yang pertama telah berhasil ia persembahkan untukku.

    Kupeluk dia dengan erat dan berbisik, “Ohh… nikmat sekali. Terima kasih, sayang.”

    Dana yang tidak ingin beristirahat lama-lama, segera menindih tubuhku, lalu dengan perlahan menciumi
    payudaraku, dan terus ke bawah hingga ke perut, ke bawah lagi, dan terus ke bawah, hingga deru nafasku
    kembali terdengar berisik disertai rintihan panjang begitu lidahnya mulai menguak lubang memekku. Cairan
    vagina ditambah dengan air liur Dana membuat lubang hangat itu semakin basah.

    Dana memainkan klitorisku dengan lidahnya, sambil kedua tangannya meremas-remas pantatku yang padat
    berisi. Tanganku kembali mengacak-acak rambutnya, sambil sesekali kukuku yang tidak terlalu panjang
    menancap di bahunya. Ngilu tapi nikmat rasanya. Kepalaku terangkat lalu terbanting kembali ke atas
    bantal menahan kenikmatan amat sangat yang diberikan oleh Dana. Perutku terlihat naik turun dengan
    cepat, sementara kedua kakiku menjepitnya dengan kuat.

    Tak tahan, kutarik kepalanya, lalu kucium dia dengan gemas. Dana menatap mataku dalam-dalam, meminta
    ijin dalam hati untuk menunaikan tugasnya sebagai suami. Tanpa kata, aku mengiyakannya. Akhirnya, tiba
    juga saat itu. Sambil tersenyum manis, kuanggukkan kepalaku.

    Dana memberikan kontolnya untuk kukulum sebentar, sekedar untuk membasahinya, sebelum akhirnya dengan
    perlahan, mengarahkannya menuju liang kewanitaanku. Dia menggosok-gosoknya sedikit untuk menambah bukaan
    memekku, kemudian dengan amat perlahan, menekan dan mendorong masuk.

    Aku langsung merintih keras, kesakitan. Spontan kudorong bahunya, meminta Dana untuk berhenti sebentar.
    Air mata meleleh di sudut mataku.

    Dana yang tidak tega, segera menarik kembali penisnya. Dia memeluk dan menciumiku. Hilang sudah nafsunya
    saat itu juga.

    ”Maafkan aku, sayang..” aku berkata penuh sesal.

    ”Iya, aku mengerti.” Dana melumat bibirku. ”kita coba lagi nanti.”

    Setelah beristirahat beberapa lama, Dana mencoba memulainya lagi, dan lagi-lagi gagal. Dia sangat
    mencintaiku sehingga tidak tega untuk menyakitiku.Cerita Sex Dewasa

    Aku sendiri juga sangat ingin melakukannya. Tapi mau bagaimana lagi, rasanya memang sangat-sangat sakit.
    Jadilah malam itu kami tidur berpelukan dengan tubuh masih telanjang. Aku meminta maaf kepadanya dengan
    mengoralnya sampai keluar. Tapi Dana kelihatan tidak begitu puas. Dia ingin memecah perawanku. Aku bisa
    mengerti kegusarannya.

    ***

    Esoknya, kami berdiskusi mengenai perkosaan. Kalau hubungan yang didasari oleh kerelaan dan rasa sayang
    saja susah, agak tidak masuk di akal bila seorang wanita diperkosa oleh seorang pria tanpa membuat
    wanita itu tidak sadarkan diri. Bukankah si wanita pasti berontak dengan sekuat tenaga? Apalagi kalau
    sampai wanita itu menikmati dan sampai orgasme, itu sangat-sangat tidak mungkin.

    Jam 10 malam, kami kembali masuk kamar dengan bergandengan mesra, diikuti oleh beberapa pasang mata dan
    olok-olok saudara-saudara iparku. Tidak ada rasa jengah atau malu, seperti yang kami alami pada waktu
    mata Receptionist Hotel mengikuti langkah-langkah saat kami pacaran dulu. Olok-olok dan sindiran dari
    mulut saudara-saudara ipar, kutanggapi dengan senang dan bahagia.

    Seperti biasa, setelah saling merayu dan memuji, kami segera melepas pakaian masing-masing. Dengan tubuh
    sama-sama telanjang, kami naik ke atas tempat tidur dan berpelukan dengan erat. Setelah berciuman dan
    saling remas beberapa saat, aku pun segera menghisap penis Dana. Kulakukan sampai dia hampir keluar.
    Sebelum moncrot, Dana meminta untuk berhenti. Sepertinya dia benar-benar berniat akan mangambil
    perawanku malam ini.

    Dana memintaku untuk berbaring telentang di tempat tidur. Dia menarik lututku hingga aku mengangkang.
    Telungkup tepat di bawahku, muka dan mata Dana persis berada di depan vaginaku. Dia memelototi bagian
    dalam memekku yang merah basah, sungguh menggairahkan. Dengan dua jari, Dana membuka dan memperhatikan
    bagian-bagiannya.

    ”Baru kali ini aku melihat memekmu dengan jelas.” katanya. Aku tahu, meski sudah sering menjilatinya,
    tapi Dana melakukannya dengan mata tertutup.

    ”Aku baru tahu kalau klitoris bentuknya tidak bulat, tetapi agak memanjang. Aku bisa mengidentifikasi
    mana yang disebut Labia Mayor, Labia Minor, Lubang Kemih, Lubang Senggama, dan yang membuatku merasa
    sangat beruntung, aku bisa melihat apa yang dinamakan Selaput Dara, benda yang berhasil kau jaga utuh
    selama ini. Jauh dari bayanganku, selaput itu ternyata tidak bening, tetapi berwarna sama dengan
    lainnya, merah darah. Di tengahnya ada lubang kecil.” Dia menerangkan.

    Tidak tahan berlama-lama, Dana segera mulai menciumi memekku. Dia memainkan klitorisku dengan lidahnya
    yang basah, hingga membuatku kembali mengejang.

    ”Arghhhhh…” merintih keenakan, kujepitkan kedua kakiku ke kepalanya erat-erat, seakan tidak rela untuk
    melepaskannya lagi.

    Dana terus memilin, menyedot, dan memain-mainkan klitoris kecilku dengan lidah dan mulutku. Dia semakin
    liar, bahkan aku sampai terduduk menahan kenikmatan yang amat sangat.

    Aku lalu menarik pinggulnya, sehingga posisi kami menjadi berbaring menyamping berhadapan, tetapi
    terbalik. Kepala Dana berada di depan memekku, sementara aku dengan rakusnya telah melahap dan mengulum
    batang penisnya yang sudah sangat keras dan besar. Oughhh… rasanya sungguh nikmat tiada tara.

    Tapi Dana kelihatan kesulitan untuk melakukan oral terhadapku dalam posisi seperti ini. Jadi dia
    memintaku kembali telentang di tempat tidur. Dana lalu naik ke atas tubuhku, tetap dalam posisi
    terbalik. Kami pernah beberapa kali melakukan hal yang sama dulu, tetapi rasa yang ditimbulkan jauh
    berbeda, karena kami sudah suami istri sekarang.

    Hampir bobol pertahanan Dana menerima jilatan dan hisapan lidahku yang hangat dan kasar. Apalagi saat
    kumasukkan kontolnya ke dalam mulutku seperti akan menelannya, kemudian aku bergumam. Getaran pita
    suaraku seakan menggelitik ujung kemaluannya, membuatnya menggelinjang keras. Bukan main nikmatnya.

    Karena hampir tidak tertahankan lagi, Dana segera mengubah posisi. Wajah kami berhadapan. Kembali dia
    menatap mataku, membisikkan bahwa dia sangat menyayangiku. Dana juga bertanya, apakah kira-kira aku akan
    tahan kali ini? Kucium bibirnya dengan gemas sebagai jawaban, kuminta dia untuk melakukannya pelan-
    pelan.

    Dana menuntun kontolnya menuju lubang vaginaku. Berdasarkan pengamatannya tadi, Dana tahu dimana kira-
    kira letak Liang Senggamaku. Dia menciumku sambil menurunkan pinggulnya pelan-pelan.

    Aku langsung merintih tertahan, tapi kali ini tanganku tidak lagi mendorong bahunya. Dana mengangkat
    lagi pinggulnya sedikit, sambil bertanya apakah terasa sangat sakit. Dengan isyarat gelengan kepala,
    kukatakan bahwa aku juga sangat menginginkannya.

    Setelah memintaku untuk menahan sakit sedikit, dengan perlahan tapi pasti, Dana menekan pinggulnya. Dia
    memasukkan kontolnya sedikit demi sedikit.

    Kepalaku terangkat ke atas menahan sakit. Dana segera menghentikan usahanya saat melihatku meringis. Dia
    menatap mataku lagi, meminta persetujuan.

    Meski ada setitik air mata disana, tetapi sambil tersenyum, aku menganggukkan kepala. ”Lakukan… sayang!”
    bisikku lirih.

    Mengangkat pinggulnya sedikit, Dana kemudian menekannya lagi pelan-pelan. Saat aku sudah tidak menolak,
    dia lalu mendorongnya kuat-kuat.

    ”Heggkkhhh…” aku mengerang keras sambil menggigit kuat bahunya. Kelak, bekas gigitan itu baru akan
    hilang setelah beberapa hari.

    Akhirnya, setelah melewati perjuangan keras dan menyakitkan, seluruh batang Dana berhasil masuk ke dalam
    lubang memekku. Dia tampak bangga dan bahagia telah berhasil melakukan tugasnya. Dana menciumi bibirku
    dengan mesra, dan menyeka butir air mata yang mengalir dari sudut mataku.

    Aku membuka mata. Sebagai istri, aku juga bahagia. Di balik rasa sakit yang kualami, aku juga telah
    berhasil mempersembahkan satu-satunya milikku yang berharga pada suamiku.

    Setelah rasa sakitku sedikit mereda, perlahan Dana menarik keluar kontolnya, lalu menekan lagi, ditarik
    lagi, ditekan lagi, begitu terus berulang-ulang, tapi tetap dalam tempo pelan, takut membuatku
    kesakitan. Baru setelah memekku bisa menerima kehadiran kontolnya, dia melakukannya dengan sedikit
    cepat.

    Setiap Dana menekan masuk, aku mendesah. Dan kali ini bukan lagi rintihan penuh kesakitan, tapi desisan
    dari rasa nikmat yang amat sangat yang menyerang memekku saat kontol kaku Dana menggesek cepat
    permukaannya yang hangat dan lembut. Menimbulkan rasa nikmat tiada tara yang baru kali ini kurasakan.
    Rasanya lebih nikmat dari sekedar jilat atau petting. Rupanya, beginilah kenikmatan persetubuhan yang
    sebenarnya. Oughhh… aku menyukainya. Kurasa, aku bisa ketagihan dan tergila-gila dibuatnya.

    Butir-butir keringat mulai membasahi tubuh telanjang kami berdua. Nafsu birahi yang telah lama tertahan
    terpuaskan lepas saat ini. Kepalaku mulai membanting ke kiri dan ke kanan, seiring kontol Dana yang
    mengocok lubang memekku semakin cepat.

    ”Oughhhh… Sshhhh…” aku merintih. Kupeluk erat tubuh Dana sambil sesekali kukuku menancap di punggungnya.

    Pijitan dan jepitan erat memekku membuat Dana jadi tidak tahan lagi. Sambil menancapkan batang kontolnya
    dalam-dalam, ia pun menyemburkan spermanya banyak-banyak ke dalam rahimku. Dana kalah kali ini. Dia
    memeluk dan menciumi wajahku yang basah oleh keringat, sambil berucap terima kasih.

    Mataku yang bening indah menatapnya bahagia. Meski tidak sampai orgasme, tapi aku sangat puas bisa
    mempersembahkan milikku yang paling berharga kepadanya.

    Dana menambahkan, ”Aku titip padamu, jaga baik-baik anak kita bila benih itu tumbuh nanti.”

    Aku mengangguk mengiyakan. Kami baru sadar bahwa kami lupa berdoa sebelumnya, tapi mudah-mudahan Yang
    Maha Esa selalu melindungi benih yang akan tumbuh itu.

    Baca JUga Cerita Seks Sekretaris Pribadi

    Seprai merah jambu sekarang bernoda darah. Mungkin karena selaput daraku cukup tebal, noda darahnya
    cukup banyak, hingga menembus sampai ke kasur. Itu akan menjadi kenang-kenangan kami selamanya.

    Malam itu kami hampir tidak tidur. Setelah beristirahat beberapa saat, kami melakukannya lagi, lagi, dan
    lagi. Entah berapa kali, tapi yang pasti, pada hubungan yang ke dua setelah tertembusnya selaput dara
    itu, Dana berhasil membawaku orgasme, bahkan lebih dari satu kali. Dia yang sudah kehilangan banyak
    sperma, menjadi sangat kuat dan tahan lama, hingga akhirnya dia menyerah kalah dan tergeletak dalam
    kenikmatan dan kelelahan yang amat sangat…

    ***

    Saat ini, kami telah memiliki 3 orang anak yang lucu-lucu. Tapi gairah dan nafsu kami seperti tidak
    pernah padam. Dalam usia kami yang mendekati 40 tahun, kami masih sanggup melakukannya 2-3 kali
    seminggu, bahkan tidak jarang, lebih dari satu kali dalam semalam. Nafsu yang didasari oleh cinta,
    memang tidak pernah padam. Aku sangat mencintai dia, begitupun yang kurasakan dari dia.

  • Makin Rame Makin Meriah

    Makin Rame Makin Meriah


    19 views

    Aku mendapat tempat kos yang istimewa. Kusebut begitu karena selain harganya tidak mahal, rumahnya bagus
    letaknya tidak di jalan besar, di lingkungan yang tenang dan aku adalah satu-satunya laki-laki di situ.
    Aku mendapat kamar diatas garasi yang mempunyai akses sendiri. Di bawahku dulu bekas garasi, tetapi
    sudah diubah lalu disewakan untuk kos.

    Aku bisa diterima disitu, karena sebelumnya kenal dengan ibu kost karena bisnis MLM. Dia kebetulan up
    link ku. Soal ini kalau diceritakan cukup panjang dan kurang menarik pastinya. Namun yang jelas ketika
    dia membinaku, akhirnya pembicaraan sampai ke masalah kost. Mungkin dia terkesan pada pribadiku sehingga
    dia menawarkan aku kost saja di tempatnya. Padahal dia selama ini belum pernah menerima kost laki-laki.

    Sebagian besar yang indekos disitu adalah anak kuliahan. Akademi itu memang tidak jauh, jauhnya jika
    jalan kaki mungkin sekitar 10 menit. Sekolah itu sejak lama terkenal di Jakarta Selatan.

    Rumah induk mempunyai kamar cukup banyak maka sebagian besar mereka berada di dalam rumah induk. Yang di
    luar hanya kamarku dan kamar bekas garasi yang hanya dihuni 2 cewek. Aku bebas membawa cewekku ke kamar
    jika hari minggu. Biasanya kami berendam di kamar dari jam sebelas siang sampai jam 3 sore. Ya semua
    yang seharusnya tidak terjadi, terjadilah. Mungkin kalau diceritakan kurang seru, karena sama pacar
    sendiri.

    Setelah sekitar 3 bulan aku baru mulai mengenal para penghuni kos. Mereka semua ada delapan orang.
    Diantara mereka tinggalnya di Jakarta ini juga, tapi memang jauh dari sekolah mereka. Mungkin kurang
    praktis jika pulang pergi dari rumah ke sekolah. Jadinya setiap Sabtu dan Minggu rumah kos itu sepi
    karena sebagian besar penghuninya pulang ke rumah mereka masing-masing. Yang tinggal hanya anak-anak
    dari luar kota, ada dari Cirebon, Bandung dan Lampung.

    Suatu malam aku lupa hari apa, listrik padam dan hujan turun sangat deras. Aku tidak bisa melakukan apa
    pun kecuali tiduran. Mata melek sama merem tidak ada bedanya, gelap gulita. Mungkin sudah jam sepuluh
    malam, tiba-tiba ada yang mengetok kamarku.

    “Jay, bukain dong, cepetan,” kayak suara Dewi anak Bandung yang tinggal di kamar di bawahku.

    Aku segera membuka pintu, memang benar, Dewi dan Ana datang berkerudung selimut dan bawa bantal segala.

    ”Jay, aku numpang tidur dong di kamarmu, Kami takut di bawah gelap dan petirnya keras banget.” Kamarku
    memang cukup luas, Ya sekitar 6 x 5 m dengan satu tempat tidur yang muat dua orang atau kalau dipaksakan
    juga cukup bertiga.

    Aku tidak mungkin bisa menolak mereka, lagian ngapain rezeki gini ditolak. Mereka pun tanpa persetujuan
    dariku sudah mengambil posisi di tempat tidur. Tempat tidurku berada di pojok di ruangan, jadi bagian
    kepala dan salah satu sisinya merapat ke dinding. Dewi mengambil posisi ditengah, Ana dipinggir merapat
    ke tembok aku disisakan tempat di tepi.

    Lampu mati kali ini cukup lama sejak hujan deras tadi mungkin sekitar jam delapan. Sampai hampir jam
    sebelas malam belum juga nyala. Hujan masih terus deras. Untung kamar gelap, sehingga tempat tidurku
    yang berantakan spreinya tidak kelihatan. Kamar bujangan mana mungkin rapi, apa lagi aku malas sekali
    merapikan kamar.

    Mereka berdua langsung membujur, aku menempati posisi yang tersisa. Mana mungkin bisa ngantuk, tidur
    bertiga dengan dua cewek gitu lho, cakep-cakep lagi. Yang kupikirkan apa yang bakal terjadi dan apa pula
    yang harus terjadi. Apakah aku harus memulai, aku ragu apakah Dewi yang ada di dekatku suka dengan aku.
    Bagaimana kalau tanganku ditepis, wah malu banget rasanya. Tapi pendapat lain seperti memanas-manasi.
    Jangan-jangan mereka menunggu inisiatif dariku. Laki-laki kan sepantasnya yang berinisiatif. Aduh
    bingung aku dengan dua pendapat ini.

    Akhirnya aku tidur telentang pasrah menunggu bergulirnya sejarah. Kami tidur berhimpitan, karena tempat
    tidur kapasitas dua orang ditempati bertiga. Dewi yang mulanya tidur miring membelakangiku, kemudian
    ganti posisi telentang. Lha aku kan bingung, dimana harus kuletakkan tangan kanan, agar tidak menyentuh
    Dewi. Tangan kananku yang memang dari tadi lurus ke bawah tidak dihindari jadi ketindih tangan kiri
    Dewi. Apa boleh buat, pegel terpaksa ditahan biar tidak bergerak. Aku khawatir kalau tanganku bergerak
    bisa menimbulkan kecurigaan, atau kalau melakukan gerakan menghindar bisa disangka aku jual mahal. Repot
    deh.Cerita Sex Dewasa

    Diam mematung dalam keadaan spaning tentu tidak mudah. Tapi itulah tantanganku di dalam kegelapan.
    Tangan Dewi kemudian kurasakan mulai meremas tanganku. Aku segera paham bahwa sinyal sudah mulai
    dinyalakan. Untuk menyambut keramahannya, aku pun membalas meremas tangannya. Hanya sebatas itu saja aku
    berani bertindak.

    Dewi berubah posisi lagi, kali ini miring menghadapku dan dia memelukku ibarat aku ini guling. Ya ampun,
    tanganku belum sempat berubah posisi dan kejadiannya tangan ini tertindih selangkangannya. Aku harus
    bagaimana sekarang, karena tanganku menempel dibagian paling vital Dewi, tentu aku tidak berdaya. Kalau
    jariku begerak sedikit saja, pasti akan memberi kesan meremas memeknya. Aduh aku nggak mau dikesankan
    orang yang kurang ajar. Tanganku mulai kesemutan, karena aliran darah tertahan akibat ditindih. Apa
    boleh buat aku harus bertahan sekuat mungkin.

    Aku tidak tahu tangan dewi yang sebelah lagi ada dimana, tetapi tangan kanannya ada di atas dadaku. Dia
    mengelus-elus dadaku dan hidung serta mulutnya dekat sekali dengan telingaku. Sehingga aku bisa jelas
    memantau hembusan nafasnya. Dari pemindaianku nafasnya mulai tidak teratur, bahkan cenderung rada cepat.
    Ini kan nafas kalau cewek mulai diliputi nafsu birahi.

    Dia menarik kepalaku lebih rapat dan diciuminya pipiku. Dia tempel terus hidungnya ke pipiku. Aku jadi
    mulai mendidih. Bukan hanya panas karena tubuh kami rapat, tetapi tensi birahiku juga naik.
    Dimiringkannya kepalaku lalu bibirnya menyusuri wajahku dan pencariannya berhenti ketika menemukan
    bibirku. Kami jadi berciuman dan panjang sekali rasanya.Sinyal-sinyal yang dihidupkannya mensyaratkan
    aku harus segera meresponnya. Tangan ku yang tadi tertindih mulai bergerak mencari sasaran.

    Gundukan dibalik dasternya tentu saja menjadi sasaran. Aku remas-remas gundukan di selangkangannya. Dewi
    merespon dengan gerakan pinggulnya menekan-nekan tanganku. Jari yang tadi tertindih mulai mendapat tugas
    untuk mencari jalan. Perlahan-lahan kutarik keatas dasternya sampai jariku bisa merasakan celana
    dalamnya. Dewi malah membantu agar kerja jariku lebih mudah menguak penutup.

    Aku meremas kambali gundukan yang kini hanya terlindung oleh celana dalam. Tidak ada ruang untuk aku
    menarik tanganku agar bisa masuk menyusupkan telapak tangan kananku masuk dari celah atas celana
    dalamnya. Satu-satunya jalan hanya menguak celdamnya dari samping. Jari ku seperti ular mencari
    sarangnya, jari tengah lebih trampil dari jari lainnya dalam mencari belahan vital Dewi.

    Jari tengahku mulai merasakan kehangatan sekaligus kelembaban di balik bulu-bulu keriting yang ternyata
    sangat lebat. Si jari tengah ternyata sangat trampil dalam pencariannya, karena clitoris Dewi mulai
    ditemukan. Daging kecil itu sudah mengeras, sehingga mudah mencarinya. Aku segera berkosentrasi pada
    bagian itu.

    Dewi tidak mampu menahan kenikmatan akibat gelitikan jariku di clitorisnya, sehingga walau dia berusaha
    menahan gerakan, sesekali dia lepas kontrol juga. Masalahnya mungkin rikuhlah karena ada Ana di sebelah
    yang sedang terbaring. Kan gak enak rasanya bercumbu disamping teman akrabnya tanpa ada komitmen
    sebelumnya.

    Dewi makin erat memelukku dan aku makin intensif memainkan jariku di clitorisnya. Aku tidak bisa
    memperkirakan berapa lama jariku bermain di clitoris Dewi. Dia akhirnya mengejang dan ditekankannya
    badannya ke kakiku, sambil kurasa gerakan kontraksi di sekujur kemaluannya. Dia mencapai kepuasan. Dia
    lalu melemas dan aku segera menarik tanganku dari tindihannya dan kuposisikan memelukkan dengan
    menyelinap di bawah lehernya. Tangan kananku berada dibagian belakang badannya yang miring menghadapku.

    Dewi sudah jatuh tertidur. Dia mendengkur halus dekat sekali dengan telingaku. Aku jadi serba sulit,
    barangku jadi terabaikan, padahal sudah siap diluncurkan. Tapi mau diluncurkan bagaimana, sebab
    situasinya sangat tidak memungkinkan.

    Listrik belum juga nyala, hujan masih deras. Wah kalau gini situasinya bakal sampai besok pagi listrik
    akan padam. Dalam keadaan tanpa harapan aku berusaha menidurkan diri dan menyabarkan hasratku yang
    cenggur (ngaceng nganggur).

    Nah lho, tanganku ada yang meremas dibelakang punggung Dewi, tangan siapa lagi kalau bukan Ana. Dia
    tidak hanya meremas, tapi juga mencium dan bahkan menjilati jari-jariku. Aduh mak, jari-jariku kan tadi
    bekas terkena cairan si Dewi, pasti punya aroma khas. Tapi Ana rasanya menikmati sekali jari-jariku.
    Dicium dan dilomot-lomotnya jariku. Aku yang tadinya kosentrasi menuju ngantuk, jadi siuman lagi.

    Tangan kulemaskan mengikuti arah yang dimaui Ana. Dia membimbing tanganku mengusap-usapkan tanganku ke
    wajahnya, lehernya dan ke dadanya lalu ke teteknya dari luar daster. Diberi peluang menangkap tetek,
    tentunya segera kurespon dengan gerakan meremas. Tangan Ana ikut membantu tanganku meremas teteknya.
    Tebal benar tetek Ana ini. Baru kusadari sekarang kalau tetek Ana cukup besar. Kelak kalau keadaan sudah
    terang aku jadi ingin menegaskan berapa besar sih tetek Ana. Sebelum ini aku tidak pernah memperhatikan
    tetek Ana.

    Tanganku lalu dibimbing lagi menelusup ke balik daster dan langsung dibalik BHnya. Memang terasa benar
    besarnya. Cengkeraman tanganku terasa kurang besar terhadap tetek Ana. Kuremas-remas tetek Ana dari
    sebelah ke sebelah. Tugasku berikutnya adalah mencari tombol-tombol di kedua tetek itu. Pencarian tidak
    terlalu sulit, karena Ana memberi ruang untuk keleluasaan tanganku. Kupilin lalu kuusap. Gerakan itu
    terus menerus secara bergantian.

    Ana yang tadi diam saja sekarang badannya terasa lasak. Bahunya bergoyang-goyang terus. Aku tentu saja
    khawatir, perselingkuhan tanganku ini bakal membangunkan Dewi. Tapi Ana kelihatannya sudah turun
    kesadaran lingkungannya.

    Tanganku tiba-tiba ditarik menjauh dari teteknya. Aku segera berkesimpulan bahwa Ana tiba-tiba waras
    kembali otaknya. Aku turuti saja dengan melemaskan tanganku. Tapi tangan Ana tetap saja memegang
    tanganku. Aku merasa ada gerakan bahwa Ana mengubah posisi tidurnya. Telapak tanganku merasa menyentuh
    kulit lembut dan dari analisa data di otakku. Tangan ini menyentuh kulit perut.

    Aku segera memindai posisi tanganku tepatnya berada dibagian apa? Memang benar, telapak tanganku
    menemukan pusat (udel). Ana melepas tanganku dan aku dibiarkan sendiri mencari jalan. Aku segera
    mengerti bahwa Ana sudah mengangkat dasternya dan memposisikan tanganku untuk mencari jalan yang benar.

    Arahan itu tentu saja mudah kupahami, tanganku segera merayap ke bawah dan menemukan garis celana
    dalamnya. Tanganku berusaha merayap terus ke bawah sampai kutemukan bulu-bulu halus. Jangkauanku kini
    maksimal, padahal target belum tercapai. Ana rupanya paham, dinaikkannya badannya sedikit dan kini
    jari-jariku bisa mencapai belahan memeknya. Ternyata memeknya sudah basah, sehingga jari tengahku dengan
    mudah menyusup ke dalam dan menemukan clitoris yang sudah mengeras. Ini tentu saja membantuku menemukan
    sasaran yang tepat.

    Aku lalu memainkan jari tengahku. Ana yang kini telentang, pinggulnya mengikuti irama sentuhan jari
    tengahku. Dia menggelinjang, ketika bagian paling sensitifnya tersentuh. Sesungguhnya posisi tanganku
    kurang nyaman, tapi aku mencoba terus bertahan, paling tidak sampai Ana puas. Aku kurang bisa
    memperkirakan waktu, karena gelap dan tanganku terasa pegal sekali. Aku merasa lama sekali aku mengorek
    kemaluan Ana ini sampai kemudian dia menjepit tanganku dan memeknya berkontraksi. Dia puas dan setelah
    usai kontraksinya tanganku ditariknya keluar.

    Aku turuti saja dan tanganku memang pegel dengan posisi itu tadi. Dia melepaskan tanganku sementara
    membenahi dasternya yang terangkat tinggi. Aku menempatkan posisi tanganku pada posisi yang paling
    nyaman.

    Ana membawa tanganku agar berada di posisi di bawah lehernya dan menerobos kebelakang punggungnya. Aku
    bagaikan memeluk dua wanita sekaligus. Mereka berdua puas dan tertidur, sementara aku cenggur makin
    parah. Tapi kutentramkan hasratku, dan itung-itung pengorbanan untuk investasi masa depan.

    Paginya aku terbangun karena mereka berdua menciumi pipiku sambil mengucapkan terima kasih lalu mereka
    keluar kamar. Aku berkesimpulan jalan sudah terbuka, tinggal aku mengatur bagaimana melanjutkan alur
    yang sudah terbangun. Mereka berdua sebenarnya tahu kalau aku punya cewek yang setiap Minggu selalu aku
    benam di kamarku. Tapi nampaknya itu tidak menghalangi keakraban mereka denganku.

    Di satu malam minggu, Ana pulang ke rumah orang tuanya di Kebon Jeruk dan Dewi tetap tinggal di kost,
    karena rumah orang tuanya di Bandung. Malam itu otomatis Dewi tidur gabung denganku. Kami memuaskan diri
    masing-masing sampai berkali-kali. Aku lupa berapa ronde yang kami mainkan, sampai paginya dia masih
    bermain sekali lagi sebelum kembali ke kamarnya.

    Penyelinapan Dewi, sama sekali tidak diketahui oleh penghuni kost yang lain. Jadi kami menjalankan
    akting biasa-biasa saja di depan teman-temannya. Setelah aku berkesempatan memompa Dewi di lain
    kesempatan ketika Dewi menginap di rumah saudaranya, Ana lah yang menyelinap ke kamarku. Kami juga
    memuaskan diri sampai pagi. Kedua bersahabat ini benar-benar tangguh di ranjang.

    Aku tidak mengorek keterangan apakah hubungan mereka denganku yang demikian intim itu diketahui masing-
    masing, atau mereka melakukan peran diam-diam. Aku ingin menikmati saja hidangan yang tersedia, tanpa
    repot-repot menyelidik. Toh nanti bakal ketemu juga jawabannya, tanpa aku bertanya.

    Dalam usiaku yang 20 tahun, aku memang dikaruniai kelebihan, yaitu muka yang manis (kata cewek-cewek)
    badan yang atletis (padahal jarang olahraga) dan kesehatan yang baik. Aku selalu berusaha menjadi anak
    manis dan sebisa mungkin menjauhkan diri dari kesan anak yang kurang ajar. Cool, istilah yang sering
    cewek-cewek sebutkan mengenai perilakuku.Cerita Sex Dewasa

    Aku kurang jelas umur Dewi dan Ana, tetapi dari jenjang pendidikannya kuterka mereka lebih tua setahun
    atau sebaya denganku. Dewi kulitnya agak gelap, rambutnya keriting, badannya ramping dan teteknya kecil
    (ukuran 32 mungkin). Sedang Ana bodinya rata-rata saja, teteknya mungkin agak besar, tetapi tidak
    terlalu mencolok. Mukanya manis dan rambutnya hitam lurus.
    Kami sering tidur bertiga di kamarku. Tidak setiap kali kami bertiga selalu melakukan aktivitas sex,
    kadang-kadang ya hanya tidur biasa saja. Yang membedakan dari situasi yang pertama, adalah aku selalu
    diminta tidur diantara mereka berdua. ceritasexdewasa.org Kalau pun kami melakukan aktivitas sex ketika mereka berdua di
    sampingku, aku hanya melakukan raba-rabaan, tanpa coitus. Dan itu selalu dimainkan tanpa sepengetahuan
    Dewi. Ana tau tapi Ana berusaha menyembunyikannya dari Dewi. Mungkin itu kode etik diantara mereka.

    Hampir setahun aku menetap di rumah kost itu, dan penghuninya nyaris masih tetap seperti yang dulu.
    Tempat kos ini memang enak dan tentram, Pemiliknya janda yang kutaksir usianya sekitar 40 tahun. Tidak
    terlalu cantik, tetapi manis dan kelihatan sekali dia berasal dari Jawa. Dia memliki wajah keibuan yang
    berwibawa. Badannya tidak gemuk seperti umumnya wanita diusia 40 tahunan. Dia tinggal sendiri di rumah
    itu.

    Aku makin akrab dengan cewek seisi rumah itu. Kalau malam minggu kadang-kadang mereka mengajakku
    berkumpul di ruang tengah di rumah induk. Dari sekedar ngobrol sampai kadang-kadang main kartu remi.

    Penghuni baru adalah Mbak Ratih yang kutaksir usianya sekitar 27 atau 28. Dia masih single, badannya
    agak gemuk dan putih. Dia tipikal wanita Jawa banget.

    Suatu malam ketika aku tidak kebagian ikut main kartu dan Mbak Ratih sibuk merajut kruistik, dia
    menselonjorkan kakinya di sofa ke dekatku. “Dik, mbok mbak dipijetin kakinya daripada bengong,” katanya.

    Permintaannya segera aku penuhi dengan memijat-mijat kakinya. Aku memang cukup piawai memijat, karena
    ketika aku masih tinggal di rumah orang tuaku, ibuku sering meminta aku memijat kakinya. Selain itu aku
    pernah belajar pijat refleksi dari teman yang bekeja di pijat refleksi dan akupresur. Selanjutnya aku
    mengoleksi buku-buku mengenai seni dan cara memijat.

    Pertama-tama aku menekan titik syaraf di telapak kakinya. Kadang-kadang Mbak Ratih menjerit ketika titik
    syaraf tertentu kutekan. Kalau sudah begitu aku mulai membual, ”Wah, mbak ini kelihatannya ada gangguan
    di ginjal lah atau di pencernaan, atau di hati.” Padahal aku kurang tau pasti. Ini hanya kira-kira saja
    dari yang kuingat-ingat ketika membaca buku-buku akupuntur atau buku pijat. Aku kalau iseng memang suka
    membaca buku seperti itu.

    Namun yang kuingat benar adalah simpul syaraf birahi. Bagian ini aku berusaha menghafal benar letaknya
    di sebelah mana. Jadi di tengah pijatan refleksiku, aku iseng menekan-tekan simpul birahi mbak Ratih, di
    dekat mata kakinya.

    “Aduh, dik, rasanya nyer-nyeran kalau situ yang ditekan,” katanya. Aku cuek saja seolah tidak memahami
    apa yang dimaksud nyer-neran itu. Padahal aku tahu pasti, itu adalah nyer-nyer di liang vaginanya.

    “Mbak, kalau ada lotion, aku bisa urut betisnya biar uratnya lemes.” kataku.

    “Ada, dik, tolong ambilkan di meja dekat tempat tidurku,” katanya.

    Aku segera bangkit dan kembali dengan body lotion. Aku menseriusi pijatan itu bukan karena aku rajin,
    tapi aku ingin merangsang mbak Ratih melalui pijatanku.

    Mbak Ratih berhenti menyulam, dan menikmati pijatanku. “Ternyata kamu jago mijet ya, dik. Ototku yang
    kaku jadi lemes semua,” katanya.

    Kenikmatan pijatanku membuat spontanitas Mbak Ratih keluar begitu saja dan dia nyerocos terus tentang
    kepintaranku. Ini tentu saja menggugah perhatian cewek-cewek lain yang sedang main kartu.

    “Aku daftar ah, minta dipijeti juga,” kata Nia. Yang lainnya latah langsung ikut-ikutan minta dipijat
    juga. Sampai semuanya pada minta dipijat.
    “Kalau satu orang 100 ribu, lumayan untuk bayar kos dan jajan gue,” kataku bercanda.
    “Wooo, matre nih,” kata mereka beramai-ramai.
    “Enggak kok, gratislah,” jawabku sambil tersenyum.
    “Dik, badanku kok jadi pegal ya, kamu bisa mijat badan juga kan?” kata Mbak Ratih.

    Padahal bukan karena kakinya dipijat lalu badannya jadi pegal. Tapi kayaknya dia minta diservis pijat
    seluruh badan, karena dianggap aku mengerti urat.

    ”Sorry ya, aku mau pijat dulu ke kamar, dengan cah bagus ini,” kata Mbak Ratih sambil menggandengku ke
    kamarnya.
    “Woo curang, mau dikuasai sendiri,” kata cewek-cewek yang lain. Aku cengar-cengir saja. Habis posisiku
    jadi serba salah sih.

    Aku masuk kamar mbak Ratih. Entah sengaja apa nggak, pintunya kemudian ditutup. “Aku telentang atau
    tengkurep, dik?” kata mbak Ratih bertanya.

    “Tengkurep aja dulu, mbak,” jawabku. Aku kembali memijat kakinya, dari mulai telapak kaki sampai ke
    paha. Dia kelihatannya tidak perduli kalau dasternya sudah terangkat tinggi sekali sampai menampakkan
    celana dalamnya. Aku sengaja memainkan pijatan erotisku, terutama di bagian paha sebelah dalam.

    “Aduh, dik, enak tapi geli,” kata Mbak Ratih setiap kali kusentuh pahanya sebelah dalam. Pahanya
    menggairahkan karena besar dan putih. Aku tau dia sudah terangsang dengan pijatanku, tetapi aku pura-
    pura biasa saja. Pijatanku beralih ke pantat dan punggungnya. Bagian ini masih tertutup daster.Cerita Sex Dewasa

    “Mbak, punggungnya mau diurut pakai krim juga apa enggak?” tanyaku. ”Tapi dasternya mbak lepas dulu biar
    ngurutnya bisa rata.”

    ”Oh gitu, kamu tidak malu kan melihat tubuhku?” katanya lalu bangkit melepas dasternya.

    “Kok saya yang malu sih, mbak? Kan mbak yang buka baju,” sahutku.

    Mbak Ratih menyisakan celana dalam dan BH-nya lalu kembali telungkup. Pijatanku mulai dari bagian bahu.
    Aku mengambil posisi mengangkangi badan mbak Ratih. “Aduh, enak, dik. Kamu pintar ya, coba dari dulu
    ngomong kalau kamu bisa mijet.” katanya. Badannya diliputi lemak yang cukup tebal. Aku tidak memaksa dia
    untuk membuka BH-nya, biar saja, nanti bakal terbuka dengan kemauannya sendiri. Ini untuk menghindari
    kesan bahwa itu bukan dari kemauanku.

    Meski tertutup BH tapi telapak tanganku bebas menelusuri bagian belakang badannya di balik tali BH
    sampai ke samping dan menyentuh bagian pinggir teteknya. Aku tentunya berlagak sebagai pemijat
    professional. Setelah bahu dan punggung, kini pijatanku mengarah ke bongkahan pantatnya yang bahenol.
    Mulanya aku memijat dari luar celananya, tapi pengurutan tanganku sesekali menerobos di bawah celana
    dalamnya dan menekan-nekan titik erotis di bagian pantatnya. Mbak Ratih mulai mendesis-desis menandakan
    dia makin terangsang.

    “Aduh, dik. Enak, dik. Aku jadi merinding saking enaknya.” katanya.

    Aku diam saja dan pijatan mulai mengekploitir bagian pantat dan pangkal paha, di bagian ini rangsangan
    yang dirasakan perempuan pasti makin tinggi. Jariku sudah berhasil mencapai belahan pantatnya dan hampir
    menyentuh kemalauannya. Mbak Ratih sudah tidak perduli dengan jamahanku, birahinya mulai tinggi sehingga
    kesadarannya mulai rendah. Pada posisi terangsang yang tinggi aku minta dia telentang. Mbak Ratih pasrah
    dan telentang sambil menutup mata. Aku mulai lagi dari bahu, untuk melemaskan bagian itu. Perlahan-lahan
    lalu turun ke bawah mendekati bongkahan susunya. Susunya memang sangat besar.

    “Mbak, maaf ya, apa bagian ini mau dipijet juga apa nggak?“ kataku sambil menangkupkan tanganku di
    susunya dari luar BH.

    “Kamu bisa mijet susu? Susuku nggak pernah dipijet, enak apa nggak ya, dik?” kata Mbak Ratih.

    “Ya dicoba dulu, mbak. Nanti baru tau rasanya,” kataku.

    “Ya sudah kalau gitu,” katanya lalu bangkit membuka BH-nya. Kini terpampang sepasang susu yang cukup
    besar. Pijatanku dimulai dari bagian pinggir, dengan gerakan halus. Bagian ini paling sensitif, sehingga
    aku tidak boleh ceroboh. Pentilnya tampak mengeras, dan sesekali aku memilin.

    “Maaf ya, mbak, ini untuk merangsang syaraf supaya lemes,” kataku mengesankan keahlian professional. Aku
    minta dia menarik nafas ketika kupilin putingnya lalu pelan-pelan menghembuskannya saat kurengkuh kedua
    susunya dari samping.

    “Aduh, dik, rasanya jadi nggak karuan, merinding semua badanku,” katanya menyamarkan rasa rangsangan
    yang tinggi.

    “Mbak, geli itu adalah bagian dari cara mengaktifkan syaraf untuk bekerja normal,” kataku membual.
    Setelah puas meremas tetek mbak Ratih, aku mulai turun ke perut. “Mbak sering pipis, ato kalau batuk dan
    ketawa suka keluar pipis dikit ya?” kataku bertanya.

    “Iya, dik. Kamu kok tahu?” katanya kagum. Dia makin percaya.

    “Ini lho, mbak, perutnya agak turun dikit,” kataku sok tau.

    Aku lalu menekan bagian bawah perutnya untuk kusorong ke atas. Gerakan yang sangat pelan dan hati-hati
    ini tampak dia nikmati sekali. Mbak Ratih tampaknya sudah percaya penuh pada keahlian pijatanku,
    sehingga tidak perduli lagi kalau jembutnya ada yang keluar dari celananya. Dari perut aku mulai
    menelusur ke bawah sampai menyentuh jembutnya, tapi tentunya dengan gerakan memijat. Dia pasrah saja.
    Aku mengesankan pijatanku terganggu oleh celana dalamnya.

    “Dik, buka saja kalo itu mengganggu. Kamu tidak malu kan?“

    ”Ya terserah, mbak, tapi memang sebaiknya dibuka biar tuntas mijetnya,” kataku sungguh-sungguh.

    Mbak Ratih tidur telentang telanjang bulat. Aku jadi leluasa, dan kini aku berusaha merangsangnya agar
    dia makin tinggi lagi nafsunya. Untuk mengesankan tidak berbuat kurang ajar, aku minta ijin tanganku
    masuk ke bagian memeknya.

    “Mbak, maaf ya, jariku agak masuk ke dalam untuk mijet lubang pipisnya supaya nggak beser (sering
    kencing),“ kataku.

    “Iya, dik, terserah. Pokoknya aku segar dan enak,” katanya.

    Ini hanya taktikku saja untuk meraba clitoris dan G-spotnya. Mana mungkin lubang pipis bisa dipijet.
    Jari tengahku perlahan-lahan masuk ke vagina mbak Ratih sementara jempol mencari posisi clitoris. Mbak
    Ratih sudah tidak bisa menahan desisan dan erangan karena rangsangan hebat. Dua bagian paling sensitif
    kini aku rangsang. Tidak sampai tiga menit dia mengerang panjang sambil menjepit kakinya. Mbak Ratih
    mencapai dua orgasme sekaligus, orgasme clitoris dan G-spot.

    Setelah kontraksinya selesai, kucabut jariku dari kemaluannyanya. Jariku belepotan cairan vaginanya yang
    banjir. Dia telentang lemas. “Aduh, dik, kamu memang benar-benar pintar. Kamu apa nggak ngaceng nggarap
    aku seperti ini, kok kelihatannya tenang-tenang saja?” katanya takjub atas ketenanganku.

    “Ya ngaceng, mbak. Masih muda masak nggak greng? Tapi aku kan menghormati mbak, jadi mana berani kurang
    ajar,” kataku kalem.

    Mbak Ratih kelihatannya jadi merasa berhutang setelah dipuaskan. “Sudah, gantian kamu kupijat. Lepas
    semua bajumu.” katanya sambil berusaha membuka semua pakaianku.

    Aku turuti semua kemauannya sampai aku akhirnya bugil. Disuruhnya aku telentang dan tangannya segera
    menggenggam penisku. Di kocok sebentar lalu dia mengambil posisi di antara kedua kakiku. Diciuminya
    sekitar alat vitalku dan aku menggelinjang kegelian. Dia lalu melahap batangku dan dihisapnya kuat-kuat.
    Dijilatinya seluruh bagian vitalku sampai ke lubang matahari.

    Aku yang dari tadi sudah terangsang berat, tidak mampu menahan desakan ejakulasi. Ketika akan meletus,
    aku berusaha mengangkat mulut Mbak Ratih tetapi dia bersikeras tetap mengulum penisku. Aku tidak mampu
    membendung, maka pecahlah ejakulasi di mulutnya. Dia menelan semua air maniku, sehingga diakhir
    ejakulasiku aku merasa sangat geli dan ngilu.

    Batangku masih tegang, mbak Ratih dengan segera menuntun barangku masuk ke liang vaginanya. Dia
    mengambil posisi di atasku dan melakukan gerakan maju mundur. Batangku yang masih keras sehabis
    ejakulasi mulai menurun kekerasannya. Namun Mbak Ratih cukup piawai, dia berusaha mempertahankan
    batangku agar tetap berada di dalam vaginanya. Dia menghentikan gerakannya lalu melakukan aksi
    kontraksi. Batangku yang hampir melemas total jadi urung karena merasa dipijat oleh liang vaginanya.
    Rangsangan kedutan liang vagina mbak Ratih luar biasa, sehingga batangku mulai mengeras lagi.

    Merasa kekerasan batangku memadai dia mulai melakukan gerakan maju mundur lagi, sampai batangku keras
    mendekati sempurna. Mbak Ratih mulai bergerak liar dan dia tiba-tiba ambruk memeluk diriku. Vaginanya
    berkedut menandakan dia mencapai puncak. ceritasexdewasa.org Aku dimintanya berganti posisi. Setelah aku di atas gantian
    kini aku menggenjot mbak Ratih sambil mencari posisi yang memberi rangsangan paling maksimal terhadap
    kemaluannya. Setelah memperhatikan responnya, aku bertahan di satu posisi itu. Tidak sampai lima menit
    mbak Ratih menjerit lirih sambil menahan gerakanku, dia dapet orgasme lagi. Aku masih belum merasa
    tanda-tanda. Kini aku memusatkan perhatian pada rangsangan maksimalku untuk segera mendapat orgasme. Aku
    menggenjot cepat.

    Mbak Ratih malah teriak, ”Dik, kasari aku, dik. Kasari!”

    Aku makin liar menggenjot tubuhnya, aku merasa titik tertinggi sudah makin dekat. Mbak Ratih
    kelihatannya juga hampir nyampe. Pada satu titik aku akan segera meledakkan laharku dan ketika akan
    kucabut malah ditahan sama mbak Ratih. Rupanya dia merasa tanggung sebab juga akan muncak, Akhirnya kami
    nyampe berbarengan. Aku istirahat sebentar, lalu kembali berpakaian.

    Aku diciumi Mbak Ratih seperti anak kesayangannya. “Dik, kamu hebat banget, jangan kapok yo,
    kelihatannya kalem, tapi luar biasa pinter.”

    Aku hanya senyum-senyum, lalu keluar meninggalkan Mbak Ratih.

    ***

    Selesai mengurut Mbak Ratih, kutinggalkan kamarnya. Dia tidur pulas. Badannya yang tadi pegal, sekarang
    mungkin sudah lemas. Mungkin juga luar dan dalam sudah melemas. Untuk menuju kamarku, aku harus melalui
    ruang tengah rumah kost-kostan ini. Di situ ada televisi cukup besar. Jam di dinding sudah menunjukkan
    jam satu malam, tapi masih ada suara TV. Kulongok Nia masih nonton sendirian.

    Karena mulutku asem dari tadi nggak merokok, inilah kesempatanku ngrokok sambil nemenin si Nia nonton
    TV. Aku berjingkat pelan dengan langkah tanpa suara dan mencolek bahu Nia. Dia menoleh ke arah yang
    salah, ketika dia melihat ke arah sebaliknya, dia kaget.

    “Sialan, lu, ngagetin gua,” katanya. “Nah lho, lu apain si Ratih, lama bener?” tambahnya sambil bernada
    curiga menggoda.

    “Ya mijet lah,“ sahutku.

    “Mijet, apa mijet?” tanyanya menyelidik.

    “Ya mijet aja,” kataku sambil menyalakan rokok lalu duduk di sebelahnya. “Bagus filmnya?” tanyaku.

    “Seru nih, mau tidur jadi nanggung,” katanya. “Jay, masih kuat mijet gue kan?” katanya berharap.

    “Sepuluh lagi juga masih,” kataku menyombongkan diri. Padahal jujur aja aku sudah lemes.

    “Kalau gitu tolong dong, bahuku dipijet, “ katanya sambil mengubah posisi.

    “Tunggu ya, kuhabiskan dulu rokok ini,” kataku. Selesai merokok, kuraih bahunya lalu aku mulai
    melancarkan pijatan. Nia ini orangnya manis.. Badannya lembut sekali dan rambutnya wangi. “Wah, boleh
    juga ini kugarap,” batinku. Perasaan lemes tadi jadi hilang berganti semangat berbalut penasaran.

    “Kaku banget nih ototnya, gak pernah dipijet kali ya?” ujarku.

    “Iya, aku udah lama nggak pernah pijet lagi, biasanya kalau di rumah aku punya langganan sih,” katanya.
    Nia kutaksir umurnya sekitar 24 tahun. Dia sudah selesai kuliah, dan sekarang bekerja di salah satu
    kedutaan asing.

    Leher dan bahunya mulai lemes. Kini aku menekan-nekan punggungnya, dia menggeliat-geliat merasakan
    nikmatnya pijatanku. Sesekali dia bersendawa. “Wah, masuk angin nih, kalau dikerok pasti merah,” kataku
    asal kena.

    “Emang lu bisa ngerok, gue sih hobi banget dikerokin,” katanya.

    “Itu sih enteng,” kataku.

    “Bener nih, tolong dong kerokin gue,” katanya.

    “Disini?” tanyaku.

    “Ya enggaklah, di kamar gua noh,” katanya sambil berdiri menarik tanganku. Rumah sudah sepi dan gelap.
    Aku digelandang masuk ke kamar Nia. Dia menyewa kamar sendiri. Kamarnya rapi dan baunya harum.

    “Kerokannya pakai apa, Jay?” tanyanya.

    “Pakai garpu kalau ada,” candaku.

    “Hah, gila lu, nih pakai koin aja,” katanya.

    “Ya pakai inilah, tapi jangan pakai balsem, pakai lotion aja,” kataku.

    “Lho biasanya aku pake balsem, tapi ya terserah lu deh,” katanya sambil menyodorkan koin dan hand body
    lotion. Ada maksud tersembunyi makanya aku menyarankan pake balsem. Mudahlah kalian menebaknya.

    “Nia, aku nggak bisa ngerok kalau kamu pake daster gitu. Dengan segala hormat, kamu harus buka
    dasternya,” kataku.

    “Paham, bos, paham. Sabar napa,” katanya sambil berdiri membelakangiku membuka dasternya. Dia ternyata
    nggak pake BH. Daster tadi ditutupkan ke teteknya lalu dia tidur telungkup.

    Aku mulai beraksi mengerok punggungnya yang putih mulus. Hasil kerokanku memang merah bahkan cenderung
    merah tua. Dia ternyata masuk angin serius. Tadinya kukira dia hanya masuk angin bohong-bohong saja.

    “Wah, ini sih masuk angin berat, pasti semua badanmu pegel-pegel ya?” kataku.

    “Emang bener sih, malah rasanya rada panas dingin gitu, kayak orang mau demam,” katanya.

    Sekitar 15 menit, selesai sudah semua punggungnya dikerok. Aku menawarkan untuk dipijet sekalian biar
    otot-ototnya gak kaku. “Emang kamu nggak capek habis mijet mbak Ratih? Kalau kuat sih dengan senang hati
    dong,” katanya.Cerita Sex Dewasa

    Aku mengambil posisi menduduki pantatnya yang bahenol, “Sorry ya, aku duduki,” kataku. Kenyal bener
    pantat si Nia. Aku mulai melancarkan pijatan serius.

    Dia terus menerus melontarkan pujian mengenai nikmatnya pijatanku sambil sesekali berkomentar, “Ya, ya,
    situ pegel banget. Aduh, kamu kok pinter, tau urat segala sih?” katanya.

    “Kakinya mau sekalian dipijet apa, gimana?” tanyaku.

    “Aduh, mau dong. Kebetulan kakiku pegel bener,” katanya.

    Aku memulai dari telapak kaki, mencari simpul-simpul syaraf. Beberapa simpul aku tekan, dia menjerit
    kesakitan. Disini aku mulai lagi membual kalau beberapa organnya agak terganggu.

    Satu simpul erotis aku tekan, dia menjerit. “Aduh, apaan tuh, kok sakit banget?” katanya.

    “Jangan tersinggung ya, aku boleh terus terang nggak?“ pancingku.

    “Iya, ngomong aja terus terang, kok pake nanya tersinggung segala,” katanya sambil meringis kesakitan.

    “Bener ya? Ini simpul syaraf kalau sakit ditekan, mungkin nih, sekali lagi mungkin, lu rada frigid, atau
    dingin ama cowo. Nggak usah dijawab kalo malu,” ujarku.

    “Eh, lu kok tau aja sih? Sejak gua putus ama pacar gua yang dulu, gua jadi benci ama cowo, makanya gua
    rada kurang suka aja kalau ada cowo deket-deketin gua. Wah, lu ternyata jago beneran nih, gua jadi nggak
    bisa nutup-nutupin rahasia nih. Eh, tapi sekarang udah gak sakit lagi kok, mencetnya dipelanin ya,”
    katanya.

    Padahal aku makin keras menekannya. Kalau rasa sakitnya berkurang, berarti dia mulai cair dan bisa
    bergairah lagi. “Yang begituan jangan ditahan-tahan, lu bisa migren sampe mata lu merah sebelah,”
    kataku.

    “Eh, gila, lu! Bener juga, gua suka migren. Kalau lagi kambuh, ampun sakitnya. Eh, dimana tuh syarafnya,
    bisa diilangin nggak penyakit gua yang suka kambuh itu?” katanya.

    “Asal lu ijinin gua coba, sebab titik syarafnya tidak hanya di kaki tapi juga di pantat, tangan dan di
    bawah perut, dan di punggung.” kataku.

    “Tolong dong sekalian, gua pasrah aja deh ama lu, kayaknya lu udah pakar banget sih,” dia mengharap.

    Aku mulai memainkan titik-titik syaraf yang merangsang sambil juga titik syaraf migren. Sekitar 10 menit
    titik migren sudah mulai lemes, kini tinggal syaraf perangsangan yang aku mainkan. Ketika bagian pantat
    aku tekan-tekan dan beberapa titik di paha di bagian dalam, dia mulai mendesis.

    “Gila lu, gua jadi konak, udah lama gua nggak ngrasain kayak gini, lu apain sih gua? Lu kerjain kali
    ya?”

    “Tadi kan gua udah minta ijin, akibatnya kalau syaraf frigid di terapi kalau berhasil yang dingin
    jadinya panas, ya udah kalo gitu gua brenti aja sekarang,” kataku menantang.

    “Eh, jangan-jangan. Nggak pa-pa, gua nikmati koq, lu terusin aja. Gua masih banyak ingin berkonsultasi
    ama lu, jangan marah yaa,” dia merayu. “Kepala gua sekarang kok jadi pusing sih, kayak penuh gitu lho,
    badan gua juga rasanya kayak merinding-merinding, kenapa sih gua ini?” ujarnya sambil menggeliat-
    geliatkan badannya.

    Aku tahu Nia berusaha melawan rangsangan dirinya sendiri. Selama titik-titik sensual aku serang terus,
    dia bakalan makin konak. Aku menekan-nekan pantatnya. Dia mendesis-desis, entah sadar atau tidak tapi
    disertai pula dengan gerakan pantat ke kiri dan ke kanan. Kemudian dia kuminta telentang. Aku kembali
    mulai dari bahu. Nia masih malu sehingga teteknya masih ditutupinya dengan dasternya. Kubiarkan saja dia
    mempertahankan rasa malunya. Tapi aku yakin nanti akan dia buka atas kemauannya sendiri. Pijatanku mulai
    ke bawah di seputar teteknya, mulai kuurut dengan gerakan halus, naik turun, kadang melingkar dan
    sesekali naik sampai ke putingnya.

    “Aduh, Jay, enak banget,“ Dia jadi tidak perduli bahwa penutup teteknya sudah tidak berfungsi lagi,
    sebab semua teteknya sudah menyembul keluar. Teteknya bulat padat dan cukup gembung, pentilnya kecil dan
    aerolanya tidak lebar, berwarna coklat muda.

    “Maaf ya, Nia, ini untuk melancarkan peredaran darah sekitar toketmu, kalau dia menggumpal, bisa-bisa
    menjadi tumor. Aku mau kurang ajar dikit nih untuk mengaktifkan semua saraf di dadamu, kuterusin apa
    boleh?” tanyaku serius sambil berhenti memijat.

    “Apa aja deh terserah, gua udah pasrah banget ama lu,” katanya sambil terengah-engah.

    Putingnya aku sentuh dengan jari telunjuk lalu aku putar-putar dengan gerakan halus. “Rasa geli yang
    kamu rasakan itu ibarat mengaktifkan aliran listrik di semua syaraf yang bersimpul di puting. Jadi
    dengan rasa geli ini semua syaraf jadi tergugah dan aliran darah di sekitarnya makin lancar,” ini asli
    aku ngarang, sebab sebenarnya ini hanya trikku untuk lebih merangsang dia. Dan Nia rupanya mempunyai
    kelemahan di putingnya. Dia tidak mampu menahan rangsangan jika putingnya disentuh-sentuh.

    “Aduh, Jay, sumpah gua jadi kepengen, gua jadi pusing. Aduh, gimana ini? Tolongin dong gua, Jay,”
    katanya memelas.

    “Sabar ya, sayang, kita selesaikan dulu ini.” kataku. Pijat urutku mulai turun ke bawah. Bagian perutnya
    aku urut pelan lalu turun terus sampai ke pangkal pahanya. Jariku bebas menelusup ke bawah celana
    dalamnya. Dia sudah membiarkan saja aksiku meski seluruh permukaan mekinya sudah terjamah. Aku berlagak
    repot dengan celana dalam itu, sehingga Nia kemudian meloloskan celana dalamnya. Urat malunya udah
    kendor. Terpampanglah memek dengan bulu halus yang rapi dengan gundukan yang cukup gemuk. Aku kagum
    dengan bentuk memek Nia yang menggairahkan ini. Mungkin inilah yang disebut ’turuk mentul’.

    “Bagaimana, masih pusing?” tanyaku.

    “Iya, Jay, gimana dong?” katanya.

    “Wah, ini simpul sarafnya sulit tempatnya, karena adanya di tempat yang paling rahasia,” kataku sambil
    berhenti mengurut.

    ”Dimana sih?” katanya mendesah.

    “Di dalam sini,“ kataku sambil menepuk memeknya. “Kalau kamu ijinkan gue urut juga biar pusingnya
    hilang, tapi itu terserah kamu, aku sih ikut apa yang kamu mau,” ujarku dengan nada dingin.

    “Iya, boleh-boleh. Please, dooooong,” katanya mengiba.

    “Maaf ya,” aku minta ijin lalu jempolku menekan clitorisnya dan aku putar-putar lalu perlahan-lahan jari
    tengahku menyusup ke dalam liang vaginanya mencari titik G-spot.

    G-spotnya sudah menyembul menandakan dia sudah sangat tinggi terangsang. Ibarat pria kalau dikocok
    sedikit saja pasti muncrat. Dia menggelinjang hebat ketika dua simpul sarafnya yang paling peka aku
    mainkan. Baru sekitar dua menit aku melakukan aksi itu, dia sudah mengerang dan akhirnya melengking
    panjang sambil menjepit kedua kakinya. Tapi tertahan oleh badanku yang berada di antara kedua kakinya.
    Kulepas jempolku dari posisi sentuhan ke clitorisnya, sementara jari tengah masih tetap berada di dalam.
    Liang vaginanya berkedut dan tiba-tiba memancar cairan agak kental sampai sekitar jarak sepuluh cm. Nia
    orgasme disertai ejakulasi. Pancarannya sekitar 4 sampai 5 kali seirama dengan kontraksi otot di dalam
    vaginanya. Nia lalu tergolek lemas.

    “Aduh, Jay, seumur-umur gua baru ngrasain ini, gua tadi ngompol ya.” tanya Nia dengan mata yang terbuka
    sedikit dengan pandangan sayu.

    “Iya, itu tadi kamu mencapai orgasme sempurna. Gimana, sekarang masih pusing?” tanyaku.

    “Wah, sekarang plong banget rasanya, dunia tambah terang kelihatannya. Cuma badanku jadi lemes banget,
    ngantuk sekali.”

    “Ya udah, tidurlah,” lalu aku membantu menyelimuti badannya.

    “Tunggu, Jay, rasanya ibarat makan sudah kenyang tapi kurang mantep kalau nggak makan nasi,”

    “Apa laper mau makan nasi?” tanyaku bingung.

    “Bukan, sini deh, Jay.” tanganku ditariknya dan aku terduduk, lalu dia bangun memeluk badanku sembari
    menariknya tidur diatas badannya. Nia lalu dengan ganas sekali menciumi seluruh wajahku lalu dia
    menyosor mulutku. Aku dibawanya berguling sehingga dia sekarang menindih tubuhku. Nia duduk di atas
    badanku lalu dia memohon. “Jay, mau kan tolongin aku sekali lagi aja,” katanya mengiba.

    “Apa pun yang tuan putri kehendaki, hamba siap, tuan putri,” kataku sambil tersenyum.

    “Jay, puasin aku lagi yaaaaaa?” katanya sambil menarik t-shirtku ke atas lalu dia beralih duduk dan
    dengan sekali sentak ditariknya celana pendek dan celana dalamku, sehingga lepaslah kekangan penisku
    hingga benda itu segera mengacung ke atas. Nia lalu menyergap batangku dan dilumatnya habis dengan penuh
    nafsu. Dia menjilati semua bagian kemaluanku seperti anak-anak menjilat ice cream horn. Aku pasrah dan
    menutup mata. Dua ronde sebelum ini membuat aku mampu bertahan dan menenangkan kobaran nafsuku.

    Nia sudah tidak sabar lagi lalu jongkok di atas burungku dan dengan panduan tangannya dituntunnya
    batangku masuk ke dalam lubang vaginanya. Perlahan-lahan sampai semua tertelan habis. Nia melakukan
    gerakan naik turun. Posisi ini sebenarnya kurang membuat dia bergerak bebas dan cepat melelahkan,
    makanya tidak lama kemudian dia mendudukiku dan melakukan gerakan maju mundur.

    Nia kelihatannya memposisikan sentuhan penisku ke pusat-pusat saraf kenikmatannya, baik itu clitoris
    dengan dibenturkan ke permukaan jembutku maupun G-spot dengan batangku. Dia berjuang dengan gerakan maju
    mundur sekitar lima menit mungkin sebelum akhirnya mengerang dan ambruk ke badanku. Nafasnya tersengal-
    sengal. Vaginanya berkedut cukup lama, meskipun makin lama makin jauh tenggang waktu gerak kontraksinya.

    “Aduh, enak banget, Jay, makasih ya,”Cerita Sex Dewasa

    “Aku belum bisa membalas terima kasih kembali,” kataku sambil tersenyum.

    Nia tidak mengerti, dia mengernyitkan dahinya. Aku tidak memberi kesempatan dia berpikir panjang , aku
    segera membalikkan posisi sehingga di tidur telentang dan aku menindihnya. Setelah posisi agak leluasa
    aku mulai menggenjot dengan gerakan lambat dan konstan.

    “Aduh, Jay, cepet dikit donk, aku udah terasa diujung nih.” rintihnya.

    Aku tidak menuruti kemauannya, sehingga dia tertunda-tunda pencapaian orgasmenya. Sampai titik dimana
    aku sudah merasakan rangsangan hebat aku segera mempercepat genjotanku dengan menabrak-nabrakkan
    gumpalan memeknya keras-keras.

    “Aku nyampe! Aku nyampe, aaaaaaa!” erangnya.

    Mendengar itu, aku makin terangsang dan meletuslah spermaku menyemprot liang memeknya. Aku tidak sempat
    menarik keluar karena pantatku ditahan tangan Nia dengan tarikan yang kuat sekali. Aku telentang
    terbujur disampingnya. Nia memelukku.

    “Jay, kamu tadi sama mbak Ratih gini juga ya?” tanya Nia.

    “Ah, itu kode etik, nggak bisa diceritakan. Apa mau permainan ini aku ceritakan ke orang lain juga?“
    tanyaku.

    “Sorry, aku terbawa perasaan. Iya deh, aku paham. Btw, aku thanks banget ama kamu ya.“ katanya.

    Aku bangkit kembali berpakaian dan kuselimuti Nia. Sebelum keluar kamarnya kukecup keningnya, “Bobo ya,
    sayang,” kataku singkat yang sepertinya klise, tapi jika dilantunkan pada saat yang tepat, dia menjadi
    mantera yang ampuh.

    Setelah menggarap Mbak Ratih dan Nia, aku diagung-agungkan oleh kedua orang itu sebagai pakar urat
    syaraf. Sebenarnya beberapa penghuni kost lainnya yang belum mendapat giliran sudah merayu-rayuku untuk
    juga dipijat. Tapi aku agak menahan diri dengan alasan badanku sedang kurang fit atau alasan sibuk atau
    apalah.

    Saat kami sedang bercengkerama, ibu kost bergabung ikut ngrumpi sambil nonton TV. “Dik Jay ini dipuji-
    puji abis ama Mbak Ratih dan Nia, katanya jago mijet dan tahu susunan syaraf, belajar dimana sih, dik?”
    tanya bu Rini.

    “Ah, mereka memang suka melebih-lebihkan, bu. Saya cuma belajar dari buku-buku aja kok, belum mahir
    bener, baru taraf pemula,” kataku mencoba merendah.

    “Bohong, bu, dia sok merendah,” kata Nia.

    “Aku jadi ketagihan dan rasanya aku belum pernah nemu tukang pijat sepinter Jay, bu,” tambah Mbak Ratih.

    “Wah, perlu dibuktikan nih,” kata bu Rini. Mata Mbak Ratih dan Nia langsung memandangku dengan penuh
    arti. Aku belagak bego aja sambil senyum ditahan.

    “Kristin kemana kok nggak keliatan?“ tanya bu Rini.

    “Ada di kamar, dia lagi kambuh sakit magnya,“ kata Juli yang juga gadis keturunan Cina seperti Kristin.

    “Udah diobati apa belum?” tanya Bu Rini.

    “Udah sih, tadi dikasih obat mag, tapi masih sakit,” kata Juli lagi.

    “Jay, kamu bisa bantu Kristin nggak untuk ngurangi rasa sakit? Kasihan dia,” kata Mbak Ratih.

    “Kristin kan nggak suka dipijet, katanya dia itu penggeli,” kataku berkilah.

    Bu Rini lalu masuk ke kamar Kristin diikuti Mbak Ratih dan Juli. Entah apa yang dibicarakan, nggak lama
    kemudian Mbak Ratih keluar. “Jay, tolong dong. Kristin kasihan, dia merintih kesakitan tuh perutnya, dia
    udah pasrah, pokoknya rasa sakitnya bisa berkurang,” katanya.

    Aku pun masuk ke kamar Kristin. Dia terbujur tidur berselimut sambil cengar-cengir menahan rasa sakit
    akibat magnya kambuh. Aku minta Kristin duduk dan kupegang tangan kanannya. Badannya agak panas, mungkin
    akibat dia menahan rasa sakit. Kuraba telapak tangan kanannya. Mukanya pucat, matanya berair. Aku
    mencari celah antara jempol dan jari telunjuknya kutekan pelan.

    Kristin berteriak, “Sakit…!”

    Aku menjelaskan, bagian itu memang sakit sekali jika ditekan manakala mag sedang bermasalah. Kalau dia
    bisa menahan rasa sakit, mudah-mudahan rasa saakit dilambungnya akan berangsur-angsur berkurang. “Kamu
    bisa tahan sakit nggak, atau tinggal pilih mau sakit terus di lambung atau nahan sakit disini?” kataku.

    “Aduh, sakit sekali di situ, tapi cobalah aku tahan, daripada magku yang sakit, dari tadi kok rasanya
    makin sakit,” kata Kristin.

    Aku mulai menekan celah di telapak tangannya dengan tekanan pelan sekali. Meskipun begitu, dia sudah
    merasakan kesakitan. Setiap kali kutekan, dia melonjak menahan rasa sakit. Sekitar 5 menit tangannya
    kugarap, dia minta istirahat sebentar untuk menetralisir sakit di tangannya.

    “Di kepala rasanya pyar-pyar, agak mending nih sakitnya di lambung, nggak kayak tadi lagi,” kata
    Kristin.

    “Sabar ya, Kris, aku harus pelan-pelan terapinya, karena sakit sekali kalau kutekan. Kamu kalau mau
    bersendawa jangan ditahan, atau kalau terasa mau buang angin dilepas aja. Nanti kalau sudah bisa kentut
    dan bersendawa, rasa sakitnya akan hilang, jangan malu-malu,” kataku.

    Bu Rini lalu menggiring Mbak Ratih dan Juli agar keluar kamar untuk memberi kesempatan aku melakukan
    terapi pada Kristin. Lagian kalau ada mereka mungkin Kristin malu mau buang angin. Setelah 15 menit
    kutekan telapak tangannya, dia mulai merasa tahan dengan tekanan yang lebih keras. Ini menandakan
    berangsur-angsur rasa sakit magnya mulai berkurang.

    “Aduh, Jay, aku pengin kentut, sorry ya,” Kristin lalu memiringkan pantatnya dan meletuslah angin dari
    pantatnya panjang sekali. “Aduh, sorry yaaa, aaah… bau apa nggak nanti ya?” katanya dengan nada
    khawatir.

    “Relaks aja, Kris, yang penting kamu sembuh, bau juga nggak apa-apa, normal-normal aja, orang cantik
    kentutnya gak harus wangi kan?” kataku menggoda. Kristin memang cantik. Gadis Cina dengan postur agak
    tinggi dan rambut lurus dipotong pendek seleher.

    Kristin juga berkali-kali bersendawa. Tangan kiri dan kanannya kini kupencet sudah tidak terlalu sakit
    lagi. Padahal tekananku cukup kuat. “Ilang, Jay, sakitnya, wah salut aku ama kamu, hebat, kenapa gak
    dari dulu kamu bilang?” katanya.

    “Orang kamu gak nanya, masak aku ngojok-ngojokin diri?” kataku. “Sini, duduk membelakangiku, kepalamu
    kan masih tegang bekas nahan sakit tadi,”

    “Kamu kok tau sih?” katanya lalu memutar badannya membelakangiku.

    Aku lalu memijat kepalanya dengan gerakan yang tidak terlalu keras, untuk merelakskan otot-otot yang
    tadi menegang. Lehernya mendapat giliran berikutnya lalu bahu dan lengannya. Di leher bagian belakang
    juga ada simpul syaraf erotik. Aku iseng menekan simpul itu. Pastinya Kristin tidak sadar kalau aku
    sedang mengisengi dirinya.

    “Aduh, Jay, enak tapi agak geli, badanku jadi kemrenyeng semua, merinding nih, Jay, tanganku,” kata
    Kristin.

    Aku tahu itu adalah reaksi normal jika rangsangan mulai menjalar ke tubuhnya. Pasti memeknya juga mulai
    basah. Aku minta dia tidur tengkurap dan telapak kakinya aku garap sekalian untuk menuntaskan terapi
    magnya dan juga menambah stimulan erotisnya. Titik erotis yang kuat sebenarnya ada di bagian pahanya.
    Tapi nantilah. Aku memijat sekujur kakinya dengan sebelumnya menekan syaraf yang membuatnya bisa menahan
    rasa geli.

    “Aku kok jadi gak geli ya, Jay? Biasanya aku penggeli banget, kamu bisa aja, Jay. Aku jadi makin
    kemrenyeng gini sih, Jay?” katanya. Kristin memang Cina Cirebon, sehingga dia gak sadar kalau bahasa
    daerahnya nyampur ke bahasa Indonesia.

    “Badannya mau sekalian nggak?” kataku menawarkan diri.

    “Boleh, Jay, kamu pinter sih mijetnya. Aku kok gak ngrasain geli lagi ya?” kata Kristin yang tidur
    telungkup dengan masih lengkap terbalut piyamanya.

    Sifat isengku adalah kelemahanku, jadi kesempatan ini pun aku menggarap Kristin dengan tekanan-tekanan
    simpul erotis di punggungnya. Aku menyiksanya dengan meninggalkan rangsangan yang tidak bakal
    terlampiaskan, jika tidak aku tuntaskan. “Rasain, looo!” kataku membatin. Tapi di balik semuanya
    rangsangan itu, juga untuk menyirnakan ketegangan akibat deraan sakit mag tadi.

    Setelah sekitar sejam setengah, tuntaslah sudah terapi untuk Kristin. Aku segera pamit keluar.Tapi
    Kristin menarikku. Dia berdiri lalu mencium pipiku kiri dan kanan. Aku merasa ini bukan ciuman biasa,
    karena sambil mencium dia memelukku erat sekali. Aku ikuti saja maunya dan aku pasif saja.

    “Makasih banget ya, Jay,” bisiknya.

    Aku lalu keluar kamar. Gak lama kemudian Kristin juga ikut keluar. Mukanya segar bahkan air mukanya agak
    merah. Kesegaran itu mungkin karena dia sudah pulih dari rasa sakit dan juga ada rangsangan yang masih
    terbenam di dalam tubuhnya yang belum tersalurkan.

    Baca JUga Cerita Seks Calon Mertua

    “Untung ada Jay, Bu, kalau nggak, mungkin saya sudah mati kesakitan,” katanya sambil tersenyum renyah.

    “Ah, ibu jadi makin penasaran pengin mbuktikan nih,” kata Bu Rini.

    “Coba deh, bu, sekali-kali ibu mesti nyoba biar gak penasaran,” kata Nia dengan senyum penuh arti sambil
    memandangku. Mbak Ratih juga ikut tersenyum sambil melirik.

    “Sialan nih cewek-cewek, aku jadi malu dipromosikan begitu dan rasanya dibalik promosi itu ada makna
    yang terpendam,” batinku.
    Jam di dinding sudah menunjukkan jam 10 malam.

    “Jay, masih kuat gak? Ibu juga pengin dong dipijet, tadi kebetulan manggil mbok pijet dia-nya lagi
    sakit. Badan ibu memang rada nggak enak sih,” kata Bu Rini sambil memeluk pundakku.

    “Ah, lima lagi juga masih kuat, bu, orang tadi gak keluar tenaga banyak. Kristin gak kuat dipijat
    soalnya.” kataku.

    Aku lalu digandeng Bu Rini menuju kamarnya. Mbak Ratih dan Nia menatapku sambil tersenyum penuh arti.
    Kamar Bu Rini dingin sekali. Dia katanya suka tidur di hawa yang dingin.

    “Apa nya yang sakit, bu?” tanyaku.

    “Ah, badanku pegel semua,” katanya. Dia lalu tanya bagaimana aku memijatnya. Aku menimpali, bagaimana
    biasanya dia dipijat sama mbok pijet. Katanya dia biasa pakai sarung aja. lalu kusarankan dia seperti
    biasanya dipijat.
    “Kalau pegel yang ibu rasakan ini sebenarnya bukan karena cape kerja, tapi ini efek dari ibu tidur di
    ruangan yang terlalu dingin. Kalau di luar panas, lalu masuk ke kamar dingin dan keluar lagi panas,
    efeknya pori-pori tidak mampu secara segera menyesuaikan suhu, bu,” kataku seperti dokter memberi
    konsultasi.

    “Ah, adik ini apa pernah kuliah di kedokteran apa, kok ngerti begituan?“ tanyanya.

    “Nggak kok, bu, itu hanya pengetahuan umum saja, badan ibu sudah bukan badan remaja lagi yang elastis,
    jadi kalau pori-pori tidak menciut sempurna untuk menahan suhu badan maka dampaknya ibu merasa pegel
    semua. Begitulah kira-kira, bu.“ kataku.

    “Terus harusnya gimana, dik?” tanyanya.

    “Ibu hanya perlu berkeringat agar pori-porinya mengembang kembali, kalau sudah berkeringat pasti
    pegelnya ilang. Biasanya orang mengambil jalan pintas dengan dikerok, tapi sebenarnya tanpa dikerok juga
    bisa mengembangkan pori-pori,” kataku.

    “Lha terus gimana jadinya?” kata Bu Rini.

    “Kalau ibu ijinkan, AC-nya harus dimatikan,” kataku.

    “Ya sudah, matikan saja,” katanya. “Tapi kan masih dingin to, dik?” tanya bu Rini.

    “Iya, nanti kita buat biar berkeringat,” kataku.

    “Sini, bu, coba tengkurep, nanti saya cari simpul-simpul sarafnya yang bisa bikin ibu kemeringet,” Aku
    mulai menekan simpul-simpul syaraf kakinya. Beberapa bagian dia menjerit kesakitan. Aku minta dia
    menahan sedikit sakitnya. “Ini, bu, ini adalah tanda kalau ibu punya darah rendah, jadi kalau lagi drop
    ibu pasti suka ngantuk dan lehernya agak kaku,” kataku.

    “Iya, dik. Bener, dik, aku memang darah rendah, dan aku sering ngrasa cekot-cekot di leher bagian
    belakang, tapi itu sakit sekali, apa nekennya bisa agak pelan dikit biar gak sakit,” pintanya.

    “Tahan sebentar, bu, Ibu karena nahan sakit pasti nanti berkeringat dan mudah-mudahan darahnya nggak
    mudah drop.”

    Bu Rini menjerit-jerit kesakitan, dan badannya mulai berkuah alias berkeringat. Dia merasa kamarnya jadi
    gerah. Padahal sisa dinginnya AC tadi masih cukup kuat. “Wah, bener, dik. Aku jadi kemringet dan badanku
    juga gak pegel lagi. Kok bisa ilang pegelnya ya, padahal belum dipijet?” katanya.Cerita Sex Dewasa

    Dari satu titik, aku pindah ke titik-titik simpul saraf lainnya sampai Bu Rini benar-benar kuyup oleh
    keringetnya. Karena dia berselimut sarung maka penguapan keringetnya jadi terhalang.

    “Bu, kalo ibu kerudungan sarung terus nanti gerah, kalo ibu gak keberatan, buka aja sarungnya,” saranku.

    Bu Rini agak ragu membuka sarungnya, tapi akhirnya dia buka juga dan ternyata beliau tidak pakai BH. Dia
    tungkrupkan sarung di bagian depan lalu kembali telungkup. Badan Bu Rini cukup terawat meskipun ada
    selulit dipaha dan di bokongnya. Pahanya besar, dan bokongnya gempal banget. Bu Rini memiliki tulang
    pinggul yang besar, sehingga dalam usia STW, dia masih kelihatan berpinggang.

    Body STW menggairahkan juga rupanya. Terus terang aku belum punya pengalaman ML sama STW. Kira-kira
    longgar apa gimana ya. Sambil aku melakukan terapi aku juga menekan simpul-simpul syaraf erotis Bu Rini.
    Biasanya kalau syaraf erotis ditekan, rasa malu perempuan agak berkurang, karena nafsu birahinya
    bangkit. Bu Rini kelihatannya sudah lama menjanda, bagaimana dia memenuhi kebutuhan sexnya. Aku agak
    penasaran dengan misteri ini.

    Reaksi dari pijatan di simpul syaraf erotis mulai menampakkan hasilnya. Bu Rini mulai agak gelisah.
    ”Aduh, dik, pijatan refleksimu enak juga, kamu belajar dimana kok ngerti refleksi segala?” tanya bu
    Rini.

    “Dulu saya punya teman kerja di pijat refleksi, saya iseng-iseng belajar bu, saya juga belajar dari
    buku-buku, saya sih belum mahir sebetulnya, masih taraf pemula,” kataku merendah.

    “Tapi keliatannya kamu paham benar bisa menerangkan sampai soal darah rendah, kamu berbakat lho, dik,”
    katanya.

    Setelah semua simpul syaraf di bagian telapak kaki kugarap, aku mulai merambat naik ke atas kaki.
    Sebelumnya sekujur kakinya aku usap dengan lotion agar lancar mengurut. Paha Bu Rini termasuk besar,
    tetapi tumitnya ramping. Konon wanita yang memiliki tumit ramping, barangnya berasa legit. Beberapa
    simpul syaraf erotis di bagian betis dan paha kugarap tuntas sambil mengurut untuk melemaskan otot-
    ototnya. Bu Rini sudah tidak merasa sakit lagi. Dia malah menikmati sekali urut-urutan di kakinya.

    Aku mulai memusatkan pijatan di bagian paha, terutama bagian dalam. Kenyal sekali paha Bu Rini. Aku suka
    menekan lemak-lemak tebal perempuan, karena empuk dan halus. Bu Rini mulai mendesis sambil sesekali
    bergumam, kadang-kadang gak jelas apa yang diucapkannya. Aku hanya mendengar, “Aduh enak-e, dik.”

    Kelihatannya Bu Rini sudah mulai bangkit nafsu birahinya. Kuabaikan saja dengan pura-pura memijat serius
    dan tidak memusatakan pijatan di bagian yang kontak dengan syaraf syur. Aku mulai memijat badannya
    dimulai dari bahu, leher terus di bawah. Bagian pantat aku sisakan. Nanti akan kugarap khusus.

    Bu Rini memujiku terus menerus, sampai dia mengatakan pijatanku lebih enak dari langganan mbok-pijetnya.
    Aku hanya sederhana saja berpikir, pekerjaan memijat meskipun sederhana, kalau dilakukan dengan tekun
    serius dan suka melakukannya pasti hasilnya maksimal. Memijat juga memerlukan pengembangan pengetahuan,
    dan aku rajin mempelajari teknik memijat dari buku-buku yang kubeli di pasar loakan.

    Sekarang giliran pantat. Bokong bu Rini hanya terbungkus celana dalam, sehingga bongkahan daging tebal
    pantatnya jelas terlihat dari luar celana dalamnya. Aku mulai melancarkan serangan pijatan erotis.
    Pertama kutekan dan dengan gerakan lambat aku memutar tekanan jariku. Pijatan ini biasanya akan
    mentriger vagina dan akibatnya lubang senggama bisa basah kuyup.

    Sambil menyusupkan kedua tanganku ke balik celana dalamnya sehingga langsung bisa menyentuh kulit
    bokong. Aku melakukan gerakan seperti mengumpulkan sesuatu dan kudorong bongkahan daging kedua belah
    pantatnya ke atas lalu kuperintahkan Bu Rini untuk mengencangkan otot kegelnya selama mungkin. Namun dia
    tidak sanggup, baru sebentar sudah dilepas lagi.

    “Nggak kuat, dik,” katanya. Kuminta berkali-kali tetapi dia tetap tidak mampu bertahan lebih dari 30
    detik.

    ”Bu, kelihatannya ibu punya kelemahan dalam hal menahan pipis.”

    “Bener, dik, koq adik bisa tahu sih?” katanya heran.

    “Ibu juga mungkin kalau pipis gak bisa tuntas, suka ada yang ketinggalan keluar sedikit setelah pakai
    celana.” kataku menebak-nebak.

    “Aduh, bener banget, dik, itu makanya ibu kadang-kadang suka risih, bisa diterapi gak dik yang
    begituan?” katanya penuh harap.

    Aku lalu menyarankan dia untuk berlatih sejenak mengencangkan otot kegelnya. “Coba, bu, kita latih
    sebentar,” kataku. Aku memintanya menahan otot kegelnya ketika bongkahan pantatnya kudorong ke atas
    sambil menarik nafas, dan melemaskannya ketika aku melepas dorongan tanganku ke pantatnya. Sampai
    hitungan ke tiga puluh dia masih mampu, selanjutnya di menyerah.

    “Capek, dik,” katanya.

    “Latihan otot ini kalau tidak ada stimulannya memang cepet capek,” kataku.

    “Stimulannya apa to, dik, kok latihan pake stimulan segala?” tanyanya penasaran.

    “Nanti, bu, selesai pijet aku jelaskan,” kataku sambil memintanya berbalik badan menjadi telentang.

    Aku tau di dalam tubuh Bu Rini sedang membara api sekam birahinya. Dia kelihatannya berusaha menekan,
    tetapi setiap kali mengendur aku tambah stimulant, sehingga bukannya makin reda malah makin menjadi.
    Dalam tidur telentang, Bu Rini masih berusaha menutup kedua payudaranya dengan sarung. Aku melihat ini
    hanya sikap basa-basinya saja, jadi kubiarkan saja dia mempertahankan martabatnya. Hal kecil gini kalau
    dikutik bisa jadi masalah besar.

    Misalnya kalau kukomentari, ”Sudahlah, bu, gak usah ditutupi,” pasti akan muncul perlawanan dan otaknya
    memproses sehingga aku diposisikannya sebagai lawan yang harus diwaspadai.

    Sebenarnya Bu Rini sudah pasrah, urat malunya tinggal sedikit saja yang nyambung, disentil aja urat itu
    bakal putus. Yang ada hasrat birahi yang membara, marak di dalam dadanya. Aku mulai memijat bahunya dari
    bagian atas. Otot-otot di bahunya sudah melemas, tidak kaku seperti pertama kupegang tadi. Kemudian
    merayap mendekati dadanya. Aku berhenti sejenak.

    “Bu, BDnya mau diurut juga apa gak?” tanyaku.

    “Apa bisa to susu diurut, biar apa to, dik?” tanyanya penasaran.

    “Biar lancar peredaran darahnya, kalau tidak lancar bisa menggumpal dan lama-lama bisa jadi bibit
    tumor,” kataku berusaha bicara datar untuk meyakinkannya. Padahal ini 100 persen cuma ngarang aja.

    “Boleh lah, dik,” katanya.

    Kedua belah tanganku mulai menyelusup di bawah kain penutup dadanya. Dadanya sangat kenyal, bahkan
    gumpalannya cukup besar. Gerakanku mengurut, otomatis perlahan-lahan membuka semua penutup dadanya.
    Kutaksir Bu Rini berusia di atas 40, tetapi buah dadanya masih utuh menggumpal. Yang membedakannya
    dengan gadis ABG mungkin hanya putingnya yang lebih besar dan lingkaran aerolanya yang agak lebar.Kedua
    puting Bu Rini kelihatan menegang. ceritasexdewasa.org Ketika kusentuh dia mendesis. Itu adalah spontanitas yang kadang
    sulit dikendalikan atau disembunyikan, dari wanita yang terangsang. Aku menduga, perempuan yang mendesis
    adalah mereka yang mulai kurang mampu mengontrol perilakunya akibat rangsangan sex. Jika wanita bisa
    mengontrol perilakunya , pastilah malu memperdengarkan desahan, karena bunyi-bunyi itu dirasa bisa
    merendahkan martabat.

    “Bu, maaf ya, aku sentuh pentilnya, ini untuk merangsang syaraf geli agar aliran listrik di semua syaraf
    yang berpusat di puting bisa merangsang peredaran darah ke seluruh bagian payudara.“ kataku.

    “Sudah, dik, jangan sungkan, ibu udah pasrah, kamu kelihatannya paham betul. Ibu malah jadi belajar ama
    kamu sekarang,” katanya pasrah.

    Dengan pelan kupilin dan kuusap putingnya dengan gerakan memutar, maka rangsangan birahi yang dirasakan
    Bu Rini makin kuat, dia makin gelisah dan menggelinjang, pinggulnya tidak bisa tenang selalu bergerak ke
    kiri dan kanan. Setelah rangsangan kurasa maksimal aku pindah mengurut bagian perutnya, lalu ke bagian
    bawah perutnya.

    “Bu, kalau bagian ini kutekan, ibu bisa kebelet pipis, coba rasakan,” kataku.

    “Iya, dik, aku jadi kebelet pipis nih, jangan-jangan sudah ada yang keluar sedikit? Dik, aku permisi
    dulu ke kamar mandi sebentar, mau pipis,” kata Bu Rini buru-buru bangkit menuju kamar mandi. Dia
    melenggang hanya mengenakan celana dalam. Tidak ada lagi kebutuhan untuk menutup badannya dengan sarung.
    Sekembalinya dari kamar mandi dia juga dengan santai berjalan nobra hanya mengenakan celana dalam
    kembali berbaring.

    “Sekarang udah lega, dik. Kok bisa gitu ya?” ujarnya.

    Aku meneruskan mengurut bagian bawah perut Bu Rini dan sekali-kali menerobos masuk ke bawah celana
    dalamnya sampai menyentuh rambut kemaluannya. Bu Rini tampaknya tidak perduli lagi atas apa yang
    kulakukan, dia terbakar birahi dan mempercayai kemahiranku 100 persen. Aku juga makin berani mengurut
    sampai ke gundukan kemaluannya. Bahkan gundukan itu aku urut secara khusus.

    “Bu, maaf ya. Apa boleh saya teruskan mengurut di bagian sini?” tanyaku.

    Bu Rini tidak berkomentar, hanya mengangguk saja. Aku mengurut terus sampai ke bawah ke bagian
    selangkangannya. Sentuhan tangan pria di sekitar kemaluan, pastinya menimbulkan rangsangan yang makin
    dahsyat. Bu Rini kini sudah mendesah dan mendesis seperti layaknya melakukan hubungan badan. Celana
    dalamnya sekarang sudah melorot ke bawah sehingga tidak lagi menutupi segi tiga yang lebat ditumbuhi
    bulu.

    “Dik, buka aja kalau ngrepoti,” katanya tiba-tiba. Dia mengangkat pinggulnya dan celananya kuloloskan ke
    bawah lepas dari kedua belah kakinya. Ibu Rini sudah telanjang bulat dihadapanku sambil matanya
    terpejam. Aku memusatkan urutan merangsang dirinya tanpa mengesankan aku sedang merangsang dirinya.

    “Gimana, bu, sekarang sudah selesai, perasaan ibu sekarang gimana?” tanyaku.

    Ia tergugah, matanya terbuka sayu. “Enak sih, dik, tapi aku jadi merinding dan kepalaku jadi rada
    pusing, tapi kayak bukan pusing seperti biasa, kenapa ini ya, dik?” katanya.

    “Coba ibu duduk membelakangiku, aku pijat sebentar bagian kepalanya.”
    Pertama aku memijat biasa kepalanya, tetapi kemudian aku mengurut bagian tengkuknya, dimana syaraf
    syaraf erotik juga banyak simpulnya di sana. Bu Rini seperti tidak bertenaga, dia menyandarkan badannya
    ke badanku,seperti minta dipeluk. Aku jadi tidak bisa melakukan pijatan karena tidak ada ruang untuk
    melakukannya.

    “Dik, gimana tadi mau nerangkan cara latihan yang katanya pake stimulan segala?” katanya.

    “Sebenarnya saya kurang enak menjelaskannya pada ibu, karena penjelasannya kurang pantas didengar,”
    kataku dengan nada ragu.Cerita Sex Dewasa

    “Udah lah, dik, saya open aja sama adik, orang saya udah telanjang di depan kamu saja saya gak rasa
    risih lagi kok, ayo dong.” katanya penuh harap.

    “Gini, bu, latihan otot bagian dalam itu sebaiknya dilakukan oleh suami istri secara bersamaan,“ kataku.

    “Lha aku gak punya suami, jadi mau latihan sama siapa, dik? Latihannya gimana sih, ayo dong tunjukin
    saya,” katanya makin berharap.

    “Maaf ya, bu, itu latihannya sambil berhubungan badan,” kataku.

    “Coba, dik, tunjukin caranya,” katanya sambil tiba-tiba membalikkan badan dan mebuka kausku lalu
    menciumi leher dan mukaku. Aku didorongnya hingga telentang, lalu celanaku dipelorotkan. Batangku yang
    dari tadi sudah mengeras sempurna langsung mencuat.

    Bu Rini lalu tidur telentang di sebelahku, ”Ayo, dik. Coba, dik,” katanya.

    Aku duduk dan Bu Rini kuminta duduk di pangkuanku. Dia rendahkan badannya perlahan lahan sambil mencari
    posisi yang tepat agar penisku masuk ke lubang vaginanya. Begitu semua penisku terbenam dia langsung
    bergumam, “Aduh, enak-e,”

    Bu Rini kuminta tenang dulu sebentar untuk mendengar instruksiku. Aku meminta dia mengedutkan otot
    bagian dalam tubuhnya seperti jika dia menahan kencing atau mengontraksi ketika akan melahirkan anak.
    Aku juga akan melakukan hal yang sama tetapi secara bergantian. Kuminta dia mengedutkan otot kegelnya
    ketika sedang menarik nafas, dan mengendurkannya ketika menghembuskan nafas.

    “Coba ya, bu, sekarang,” kataku.

    Bu Rini mengedutkan ototnya, penisku serasa dicengkeram vaginanya, dan ketika dia mengendur, gantian aku
    mengeraskan penis. Kami terus melakukan olah tubuh itu sampai tiba-tiba Bu Rini mengerang, orgasme. Aku
    tidak lama kemudian juga dijalari kenikmatan yang memuncak, tetapi tidak sampai ejakulasi. Kami
    melanjutkan terus gerakan itu sampai sekitar 30 menit. Bu Rini entah berapa kali mencapai orgasme begitu
    juga aku. Tetapi tetap tidak ejakulasi. Bu Rini akhirnya minta berhenti karena katanya badannya lemas.

    Kami sudahi permainan itu dan Bu Rini kubaringkan di tempat tidurnya dengan ditutupi selimut. AC
    kunyalakan kembali. Aku berpakaian dan mencium kening Bu Rini untuk berpamitan. Dia hanya mengangguk
    lemah dan membuka matanya dengan susah payah.

    ***

    Aku sama sekali sebelumnya tidak menyangka jika Bu Rini pemilik kost ini akhirnya bisa kugarap juga. Dia
    sebetulnya tidak masuk dalam targetku. Alasannya sederhana saja, aku segan, lalu beda umur kami juga
    jauh. Aku keluar dari kamar Bu Rini dengan langkah perlahan. Setelah dengan hati hati kututup pintu
    kamar dan aku berbelok menuju ruang keluarga, tempat biasa dimana anak-anak pada ngumpul, suasananya
    sudah sepi. Kelihatannya masih ada cewek yang nonton TV.

    “Kok lama banget sih, aku udah nunggu dari tadi,” tanya Kristin.

    “Bu Rini banyak penyakitnya jadi terapinya lama,” kataku ngawur.

    “Jay, magku sakit lagi nih, Jay,” kata Kristin manja. Sementara penghuni rumah kos-kosan ini sudah
    kembali ke kamarnya masing-masing. Maklum jam sudah menunjukkan 1.30 tengah malam.

    Aku ditarik Kristin masuk ke kamarnya dan dia segera menutup pintu. Kami duduk di pinggir tempat
    tidurnya. Kristin mengeluh magnya kambuh lagi. Aku heran, karena belum pernah kutemui keadaan seperti
    itu, lalu coba kutekan bagian telapak tangannya. Dia tidak bereaksi menunjukkan kesakitan.

    “Berarti dia bohong, nih.” kataku membatin. Mungkin serangan pijatan erotisku masih mengendap dalam
    tubuh Kristin, sehingga dia penasaran untuk dituntaskan. Dia berpura-pura kambuh magnya agar bisa
    menyeret aku masuk ke kamarnya lagi.

    Nafsuku sebenarnya berada di titik terendah. Namun aku sulit sekali menolak permintaan, apalagi ini
    adalah cewek Cina, cakep, umurnya sekitar 22 tahun, rambutnya di cat agak coklat tua terurai. “Jay, kamu
    temenin aku dong disini, aku khawatir pagi-pagi kambuh lagi, sebab biasanya sekitar jam 4 – 5 magku
    kambuh, aku takut tidur sendiri kalau lagi sakit gini, mau yaaaa?” pinta Kristin penuh harap.

    “Aku mau tidur dimana?” tanyaku.

    “Disini, berdua bareng aku,” katanya.

    Tempat tidur Kristin sebenarnya cukup untuk satu orang. Ukuran lebarnya kira-kira 90 cm. Kalau aku
    paksakan tentu bisa saja tapi sempit sekali nanti gak bisa bergerak. Lalu aku berpikir, kalau memang
    minta ditemani lebih baik Kristin ngungsi ke kamarku. Kamarku lebih besar dan ranjangnya juga lebar.

    “Aku gak keberatan sih nemenin kamu tidur, tapi gimana kalau kamu nginep di kamarku aja, disana lebih
    tenang. Kalau disini besok pagi aku keluar dari kamarmu semua penghuni kos bisa ngliat, kalau di kamarku
    kan lebih leluasa,” aku membuka tawaran.

    Kristin berpikir sebentar, lalu dia setuju. Dia lalu menarik aku keluar kamar dan menggandengku masuk ke
    kamarku diatas. Kamarku berantakan kayak kapal habis dirompak. Aku minta Kristin memaklumi, kamar lajang
    memang jarang rapi. Aku permisi sebentar turun mau pipis sekalian gosok gigi.
    Sekembalinya aku masuk kamar, keadaan sudah rapi sampai ke meja belajarku. Buku-buku yang berantakan
    sudah rapi tersusun, lantai sudah pula disapu bersih. Aku berpikir ini bakal seminggu aku bebas tugas
    tidak merapikan kamar. Kristin duduk di meja belajarku. Wajahnya yang cantik sama sekali tidak
    menunjukkan dia ngantuk, padahal sudah hamper jam 2 malam. Sementara mataku sudah tinggal 5 watt.

    “Aduh, Jay, aku seneng deh bisa tidur ditemeni kamu, aku jadi gak takut kambuh.” katanya sambil bangkit
    lalu duduk ditempat tidur di sampingku.

    “Nanti kalau pacarmu tau kamu tidur bareng aku, apa nggak terjadi perang dunia?” godaku.

    “Ah, biarin aja, dia gak bakal tau kalau gak ada yang kasi tau, ala udah ah, sebel ngomongi soal
    pacarku,” katanya.

    Pacar Kristin, juga Cina dan tajir. Dia punya showroom mobil dan penampilannya selalu trendy. Aku memang
    sempat dikenalkan ketika Kristin dijemput, waktunya aku udah lupa kapan yaa. Aku jadi berpikir bahwa
    perempuan juga punya hasrat selingkuh. Kalau dilihat dari penampilan luar, Kristin termasuk cewek alim
    dan tentunya setia. Nyatanya dia minta tidur bareng aku malam ini. Jadi kesimpulannya apa yaa…

    “Kamu mau tidur dimana, di pinggir atau di tengah?” tanyaku.

    “Aku di tengah, kalau di pinggir nanti takut jatuh,” katanya manja.

    Lampu kuredupkan, dan aku menempati posisiku yang tersisa. Tapi tempat yang disisakan untukku sempit
    sekali. Kristin membiarkan tempat tersisa di bagian dia cukup lebar. Jadi begitu badan kuhempaskan
    langsung berhimpitan dengan tubuh Kristin. Aku masih menerawang tidur membujur, tiba-tiba Kristin
    memelukku. Dia tidak memberi aku kesempatan aku langsung diciuminya. Bahkan mulutku dicucupnya sampai
    aku sesak nafas.
    Rupanya bara birahi yang kutinggalkan di benak Kristin tadi masih terus nyala. Dia ganas bener. Badanku
    ditindihnya, tidak lama kemudian bangkit dan menduduki pas di atas burungku. Untung saja posisi burungku
    sedang menghadap ke bawah, jadi tidak tersiksa. Di dorong kausku ke atas lalu di kembali menciumi bagian
    dadaku, perutku lalu di tariknya pelan-pelan celanaku ke bawah.

    Aku pasrah dan ingin menikmati woman domination. Kristin ganas sekali menyerangku, aku tidak diberinya
    kesempatan sedikit pun untuk membela diri atau membelainya. Akhirnya aku menutup mata saja menikmati
    babak selanjutnya.
    Celana dalam pertahananku terakhir pun akhirnya di tarik kebawah. Aku sudah telanjang bulat, tetapi
    Kristin masih lengkap berpakaian. Aku berpikir, kalau dia terangsang, kenapa juga dia harus menyerangku
    habis-habisan. Wajarnya kalau dia yang konak ya dialah yang minta dipuaskan, bukan malah ingin memuaskan
    aku. Tapi aku diam saja menyimpan pertanyaan itu sambil menunggu jawabannya kelak.

    Krsitin bangkit, dia membuka semua pakaiannya lalu tengkurap diantara kedua pahaku. Dia mulai menjilati
    kedua zakarku. Serangan ini membuat aku belingsatan. Batang yang sudah berdiri tegak menjadi target
    serangan berikutnya. Aku melenguh merasakan nikmatnya.

    Dia kemudian bangkit lagi, mengubah posisinya. Dia merangkak di atasku dan mulai lagi melakukan
    serangan. Aku menangkap kemauannya. Dia minta dioral, sehingga dia mengatur posisi 69. Aku mulai
    melancarkan serangan dengan mengoralnya. Tapi posisiku tidak bisa bertahan lama. Dia terlalu tinggi,
    sehingga aku harus cukup tinggi mengangkat kepalaku. Kugapai bantal untuk mengganjal kepalaku sampai
    posisiku pas di depan mekinya.

    Serangannya membuat dia mengerang dan mendesis. Barangku jadi terabaikan ketika dia mendapat kenikmatan
    oral dariku. Aku segera mengubah posisi, membalikkan badannya dan telungkup diantara kedua
    selangkangannya. Clitnya yang sudah mengeras dengan mudah ditemukan dan lidahku mulai mengulas ujung
    kelentit itu. Dia menjerit-jerit menahan kenikmatan. Gila bener, memeknya banjir bandang.

    Sambil mengoral aku mengingat mitos bahwa cewe yang kulitnya putih, memeknya cenderung lebih banjir. Ini
    baru kubuktikan. Sambil menjilat aku mencolokkan jari tengah kananku ke dalam lubang vaginanya. Pelan-
    pelan kutekan, tidak ada halangan. Berarti dia sudah bolong. Aku lalu mencari G spot. Agak lama
    merabanya karena selain pinggulnya terus menerus bergoyang di dalam liangnya banyak sekali bentuk-bentuk
    daging yang susah digambarkan. Yang mana sih G Spot anak ini.

    Aku mencoba berkonsentrasi sambil menahan pinggulnya agar tidak terus bergerak.Kutingkatkan kepekaan
    jari tengahku dengan lebih berkosentrasi, sampai kemudian kutemukan. Pantas agak susah, ternyata
    letaknya tidak tepat di posisi jam 12, dia di posisi 10.30. Untuk memastikan itu adalah G spot aku
    hentikan terpaan clitorisnya, lalu kumainkan G spot. Dia menggelinjang, berarti sudah kena sasarannya.
    Serangan dengan dua target aku gencarkan, sampai kemudian dia menyerah.

    “Ampun! Ampun, ngilu…” katanya sesaat setelah orgasmenya tercapai. Dia menarikku ke atas.

    Aku menindih badannya. Baru kusadari bahwa payudara Kristin ini ternyata tidak terlalu besar. Tapi
    bentuknya cukup menggairahkan. Kujilati kedua putingnya, dia kembali mengelinjang. Batangku yang keras
    aku tuntun untuk bertamu ke gua Kristin. Pelan-pelan kusorongkan dan terbenamlah sudah seluruh batang
    penisku. Meski banjir, tapi aku merasa memek kristin tetap sempit. Cairan vaginanya ternyata agak kelat,
    bukan encer. Jadi rasa batangku seperti menyelam di cairan perekat, atau lem. Ketika kumaju- mundurkan
    terasa sekali agak lengket. Aku berfikir, mungkin Kristin sedang berada di puncak masa subur, sehingga
    vaginanya mempersiapkan cairan terbaik untuk menjamu batang yang masuk. Kalau begitu aku harus
    menghindar menembak di dalam.

    Aku mengatur posisi genjotan untuk menggali kembali orgasme Kristin. Hampir 5 menit dia sudah
    bersemangat membalas hentakanku. Makin cepat dan akhirnya dia menarik tubuhku keras-keras. Dia ternyata
    mencapai kepuasan. Padahal aku sudah berada di gigi 5 untuk siap tinggal landas. Jadi terpaksa berhenti
    lagi untuk sementara . Setelah kedutan orgasmenya reda aku mulai lagi menyerang, tapi bisa langsung gigi
    3 sehingga melaju lebih cepat. Aku berkosentrasi penuh untuk mencapai kenikmatanku.

    Aku abai saja terhadap Kristin apa nikmat apa tidak, toh dia sudah beberapa kali klimaks. Ketika hampir
    mencapai puncak tiba-tiba Kristin menahan pantatku untuk mempertahankan benaman maksimal batang bertopi
    baja ini. Padahal akau sudah hampir mencapai point no return. Bagaikan cangkir dia mengadukku, jadi
    bukan sendok yang mengaduk, keadaan sudah terbalik. ceritasexdewasa.org Rupanya dia juga hampir sampai ke puncak everest.
    Batangku mendapat kejutan berupa kontraksi yang tidak mungkin lagi aku mampu menahan luapan lumpur
    seperti Lapindo. Maka akupun terpaksa meledak di dalam.
    Sambil merasakan kenikmatan puncak, aku pun diliputi kekuatiran mengenai kemungkinan Kristin hamil
    membesarkan janin dari spermaku. Aduh sulit berfikir dalam keadaan nikmat begini, aku nikmati ajalah,
    soal kemungkinan itu bagaimana berikutnya sajalah.

    Setelah ketegangan mereda, gencatan senjata ditandatangani. Aku memprotes Kristin kenapa dia tahan aku
    sehingga aku tidak bisa melepas ejakulasiku di luar. Risiko hamil sangat besar, dan itu bakal menjadi
    tanggunganku nanti.

    “Tenang aja, Jay, aku kan dipasang spiral,” Meledaklah keheranan di kepalaku, sampai aku tidak sadar
    mangap lebar terlalu lama. “Mau tanya apa lagi lu, Jay?”

    “Nggak punya pertanyaan lagi, aku ngantuk.” kataku.

    Punya banyak sasaran genjotan kalau di alam khayal rasanya nikmat banget, tapi mengalaminya di alam
    nyata tidak begitu. Meski aku sudah menelanjangi mereka, tetapi aku tetap menjaga perasaan mereka,
    sehingga aku menjaga diri untuk tidak mengambil inisiatif. Aku berusaha tampil lugu, bahkan cenderung
    culun.

    Kelihatannya mereka masing-masing tau kalau aku sudah bermain di antara sesama kolega. Tapi karena
    konvensi, atau perjanjian yang tidak tertulis, mereka saling menjaga perasaan.

    Namun ada hal-hal yang tidak bisa mereka tutupi atau tidak sadar melakukannya. Aku sering kali dilendoti
    dan diciumi (walaupun hanya di pipi). Entah kenapa setiap hari di awal pertemuan mereka selalu
    menciumku.

    Aku jadi merasa rikuh kepada Juli, Ita dan Niar. Mereka tentunya tidak bisa seakrab teman-temannya yang
    pernah aku timpa. Mohon juga dipahami, aku tidak pula berusaha bernafsu menggarap mereka bertiga. Apakah
    jika aku bisa menggarap semua wanita di tempat kost ini aku bisa menepuk dada sebagai jagoan. Mau pamer
    ke siapa, lantas apa pula manfaatnya. Kurasa itu hanya kesombongan yang tidak bisa dibanggakan.

    Sesungguhnya aku tidak ingin membeda-bedakan atau mengkotak-kotakkan pertemanan di rumah ini, antara
    yang sudah kugarap dengan yang belum. Aku berusaha akrab dengan semuanya tanpa membedakan mereka.
    Cewek-cewek di rumah ini masing-masing punya kelebihan, meski pun cantik dan ayunya berbeda-beda. Aku
    jamin lelaki siapa pun kalau disuruh memilih satu diantara mereka untuk dipacari pasti bingung. Sebab
    memang semuanya menarik.

    Juli, Ita dan Niar termasuk gadis-gadis yang gila kerja. Di usia mereka sekitar 25 tahun, mereka mungkin
    sedang berada di jenjang karir yang menjanjikan. Dari penampilannya, terlihat gaji mereka cukup besar.
    Dulunya mereka kuliah di akademi sekretaris yang kuceritakan diawal kisah ini, tetapi karena merasa
    betah, sampai setelah bekerja pun mereka tetap bertahan di kos-kos ini.

    Di antara ketiga orang ini, Ita lah yang mempunyai kelebihan daya tarik. Susunya besar sekali, seperti
    tidak seimbang dengan tubuhnya yang cenderung kurus. Temanku orang Jawa menyebutkan penampilan Ita
    sebagai Wongso Subali (Wong e Ora Sepiro, Susu ne sak Bal Voli / Orangnya tidak seberapa, tetapi
    payudaranya sebesar bola Voli). Kulitnya tidak putih cenderung sawo matang.

    Tingginya sekitar 160, cukup tinggi bagi rata-rata cewe melayu. Namun di balik kelebihannya itu, dia
    mempunyai kekurangan. Ketiaknya baunya kurang sedap, seperti bawang mentah. Apalagi kalau dia
    berkeringat, satu ruangan seperti terpenuhi oleh bau ketiaknya. Cewek-cewek yang kebetulan berada di
    ruangan itu, sebentar-sebentar menggesekkan hidung. Tapi Ita sepertinya tidak merasa, dia menjadi
    penyebab sumber polusi udara.

    Mungkin tidak ada yang berani menegur, Ita. Masalah itu rasanya terlalu sensitive. Untungnya Ita tinggal
    di kamar sendiri, tidak berbagi (share) dengan yang lain. Kalau dia joinan sekamar dengan orang lain,
    pasti temennya mabuk kepayang.

    Aku berpikir keras mencari cara untuk menyampaikan kekurangannya itu. Kesulitan yang kurasakan adalah
    Ita orangnya agak tertutup dan cenderung pendiam. Dia lebih sering mengurung diri di kamarnya daripada
    ngrumpi.

    Suatu hari kami keluar dari rumah bersamaan menuju halte bus. Jaraknya halte memang tidak begitu jauh,
    karena ada jalan pintas melalui gang. Kami ngobrol tanpa isi, tetapi menjelang sampai halte aku
    melontarkan, “Ta, sebenarnya gue pengin nyampein sesuatu yang sangat penting untuk kamu.”

    “Apa sih, sekarang aja kenapa?“ jawabnya dengan wajah penasaran.

    “Ntar aja lah, Ntar malam di rumah, pokoknya penting banget buat kamu,” kataku. Meski dia berkali-kali
    mendesak agar aku menceritakan secuil info yang akan aku sampaikan nanti, tapi aku tetap bertahan bahkan
    menambahkan kata-kata yang makin bikin dia penasaran.

    Kami berpisah, karena bus kami masing-masing berbeda jurusan. Di dalam bus aku seperti orang melamun.
    Sebenarnya bukan melamun, tetapi sedang menyusun kata-kata yang nanti akan kusampaikan ke Ita. Aku pun
    masih belum menemukan kata pembuka.Cerita Sex Dewasa

    Aku pulang agak telat, jam 8 malam aku baru sampai di rumah. Ita rupanya sudah sampai duluan. Dia
    melihatku sekelebat, ketika aku hendak naik ke kamarku. Aku diburunya dan dia mengekoriku ikut masuk ke
    kamar.

    “Mau ngomong apaan sih? Gua jadi nggak tenang kerja seharian, gara-gara lu,” Ita mengkomplain.

    ”Sebenarnya bagi gue nggak terlalu penting, tapi buat kami rasanya penting banget.“ Wah, ini kata-kata
    tidak pernah kupikirkan sebelumnya, kok meluncur begitu aja, kataku dalam hati. “Gini lho, Ta, kamu ini
    kan cakep, seksi, montok lagi,” kataku menggoda.

    “Ya, terus kenapa?” katanya sambil matanya melotot seperti mau menelanku.

    “Tapi ada kekurangan kecil yang sangat mengganggu,” kataku lalu aku diam.

    “Apaan sih? Bikin orang tambah penasaran,” katanya.

    “Aku mau jujur, tapi kamu mesti janji jangan marah dan jangan tersinggung ya, karena ini demi kamu
    juga,” kataku. Ita makin kesal, tapi dia berjanji tidak akan marah padaku. “Terus terang ya, kamu ini
    punya kelemahan di bau badanmu, rasanya sih bersumber dari sini,” kataku menunjuk ketiaknya.

    Ita tertunduk. “Iya, Jay, aku sudah berusaha dengan berbagai cara bahkan pakai bedak badan yang anti bau
    badan, tapi gak berhasil juga. Aku malu jadinya, Jay, ama kamu. Tapi anyway, aku terima kasih, kamu
    berani terus terang begitu, kamu tau nggak caranya untuk ngilangi bau ketiakku ini?” tanyanya.

    Aku menjelaskan bahwa aku dulu juga menghadapi masalah seperti itu. Aku kemudian menggunan tawas yang
    kuusapkan setiap kali selesai mandi. Ketika sedang mandi, aku selalu membawa handuk kecil untuk
    menggosok bagian ketiak sampai terasa benar-benar bersih. Aku meminta Ita mengikuti caraku.

    “Tawas kayak gimana sih, belinya dimana tuh?” katanya.

    Aku lalu menjelaskan bentuk tawas yang seperti es batu, dan belinya di toko kembang di Senen biasanya
    ada. Aku menawarkan diri untuk membelikan satu untuk dia. Ita senyum-senyum.

    “Terima kasih ya, Jay, kamu ternyata sahabatku yang penuh perhatian.” katanya sambil mencium pipiku.

    “Aduh, aku mabuk nih,” sambil menjatuhkan diri telentang ke tempat tidur.

    “Hah, kenapa?” katanya terheran-heran.

    “Bau ketiak,” kataku serius.

    “Sialan lu, dasar brengsek,“ katanya lalu keluar kamarku.

    Anjuranku rupanya dituruti, sampai seminggu kemudian aku bertemu lagi di rumah. Ketika berpasasan kami
    sama sama berhenti. Aku langsung berusaha membaui badannya dan hidungku menuju ke kesalah satu
    ketiaknya. Tidak terasa ada bau.

    “Ah, lu ngapain sih, bikin orang risih aja,” katanya sambil mendorong badanku.

    “Sekarang nggak terasa ada bau bawang lagi, Ta,” kataku setengah bercanda.

    “Iya nih, kayaknya reseplu berhasil, resep murah tapi hebat juga ya, Jay,” katanya.

    Sejak saat itu Ita sudah tidak menjadi sumber polusi di rumah kami. Teman-teman ceweknya saling
    bergunjing. Juli yang hari itu melihat aku membaui ketiaknya menanyakan aku apakah itu karena aku
    memberinya obat. Kuakui bahwa aku yang menegurnya soal bau ketiak.

    Kristin yang duduk di samping Juli langsung menanggapi, “Emang kamu terus terang ngomong ama dia? Gila,
    lu nekat amat,” katanya.

    Mbak Ratih tanya, “Trus, dia gimana reaksinya?”

    “Ya dia malu, tapi nggak marah kok,” kataku.

    Ita sejak keberhasilan itu makin dekat denganku. Aku bahkan sering dijadikan tong sampah untuk
    mengeluarkan isi hatinya. Aku sering digelandang ke kamarnya hanya untuk jadi pendengar. Kadang kadang
    dia menangis dan bersandar di dadaku sambil meluapkan kekesalannya. Meski aku lebih muda, tapi kalau
    menghadapi situasi seperti ini harus berperan sebagai laki-laki dewasa, sok tenang, sok kalem dan
    berlagak sebagai pengayom.

    Kalau dia bersandar di dadaku, tidak bisa lain, teteknya juga menghimpit badanku. Rasanya kenyal sekali
    dan tebal. Biasanya nih sekali lagi umumnya, kalau perempuan tidak merasa malu payudaranya tersentuh
    laki-laki maka dia merasa laki-laki itu sangat dekat dengan dirinya.

    Kalau dia menangis di dadaku maka aku hanya bisa mengelus-elus rambutnya dan mencium dahinya. Itu saja
    tidak lebih. Aku tidak berusaha mencari kesempatan dalam kesempitan. Ini membuat Ita jadi makin dekat
    denganku, sampai kadang kadang dia memeluk tanganku sampai tanganku menekan susunya. Dia kelihatannya
    mengabaikan saja susunya tertekan, atau mungkin juga dia sengaja, yang mana yang benar aku cari
    jawabannya nanti.

    Suatu hari aku ditariknya ke teras ke depan rumah. “Jay, aku mau minta tolong banget ama kamu, bisa
    nggak?“ katanya.

    “Nggak,“ kataku berusaha bermuka serius.

    “Ah, jangan gitu dong, serius nih,” katanya.

    “Minta tolongnya apa? Belum tau aku sudah dikasi pilihan menjawab,” kataku.

    “Lu emang susah, nggak bisa serius orangnya,” kata Ita sambil bermuka merajuk.

    “Ada apa, tuan putri, apa ketiaknya bau lagi? Kayaknya sih sekarang malah wangi.” aku menggoda.

    “Aku minta tolong lu nemenin gue menghadiri pesta perkawinan sahabat gue, tapi pestanya di Lampung, lu
    bisa kan? Kita berangkat hari Sabtu pagi, pulang lagi hari Minggu sore,” katanya.

    “Kamu kan orang Lampung, kok pulang kampung minta dikawal?” jawabku.

    “Rumah gue di Metro, masih jauh dari Bandar Lampung. Lagian kalau gua pulang ke rumah, repot terlalu
    jauh dan gak bisa nyampe di Jakarta lagi hari Minggu. Pokoknya lu tau bereslah, semua biaya gue yang
    tanggung,” katanya sungguh-sungguh.

    “Gue mau lihat agenda gue dulu apa ada acara nggak sabtu sama minggu besok,“ kataku berpura-pura serius.

    “Gaya lu kayak pejabat Negara aja, pake periksa agenda. Udahlah, bisa ya?” Ita setengah memaksaku.

    Aku memang tidak ada acara dan tidak ada kuliah sejak Jumat sampai Minggu. Sebenarnya aku tidak
    keberatan, tetapi rikuh jugalah ama temen-temen kost kalau aku pergi mengawal Ita. Aku minta kepergian
    kami dirahasiakan. Aku beralasan ke Bandung dan Ita ke Lampung. Ita kemudian mengubah rencana kami
    berangkat Jumat siang. Dia beralasan ada beberapa hal yang mau dicari di Bandar.

    Kami sampai di Lampung sekitar jam 7 sore dan Ita berinisiatif mencari penginapan. Aku tidak mengenal
    Bandar Lampung, sehingga Italah yang berinisiatif mencari tempat penginapan. Ia mencari Hotel di tempat
    resepsi perkawinan temannya. Kami akhirnya mendapat kamar di hotel yang lumayan bagus. Kalau tidak salah
    hotel bintang empat. Ita hanya mengambil satu kamar untuk kami tempati berdua, tetapi tempat tidur di
    kamar kami hanya ada satu berukuran king size.

    “Kamu kok tidak pesan kamar yang 2 bed, kalau begini kan kita kaya berbulan madu?” kataku.

    “Ah, nggak apa-apa lah, hotel ini penuh. Syukur kita masih kebagian kamar, lagian ama kamu aja kok, kan
    kamu itu adikku,” katanya.

    “Aku takut ketularan baunya,” kataku.

    “Sekarang udah nggak lagi, weeeei… Sialan lu, ngeledek terus,” katanya sambil melempar bantal. “Sekarang
    kita mandi, siapa duluan, lu apa gue?” katanya.

    Aku memilih mandi dulu karena agak tersesak bab. Setelah menyulut rokok aku segera masuk kamar mandi
    mencuci bath tub dan mengisinya dengan air hangat. Aku melampiaskan hajat sambil menunggu air penuh di
    bath tub. Setelah selesai dan air penuh aku mulai berendam. Pertama airnya tidak terlalu panas, karena
    aku tidak tahan. Setelah semua terendam, aku tambahkan air panas sampai sangat hangat. Nikmat sekali
    rasanya berendam di air panas. Entah kenapa batang jadi bangun ketika direndam. Aku jadi menerawang, apa
    kejadian yang bakal terjadi nanti malam, aku tidur satu bed dengan Ita yang bertetek besar. Rasanya
    bakal ada peristiwa penting nanti malam. Sejauh ini aku belum pernah mencumbu Ita, meskipun dia sudah
    sangat dekat dengan ku. Misalnya ia tidak risih lagi menekan susunya ke badanku atau ke lenganku. Aku
    selama ini aku cool aja.

    Sedang enak-enaknya menghayal, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Ita muncul dengan daster berwarna
    pink. Buset dah, aku lupa menguncinya. Aku jadi kikuk juga sebab sedang telanjang bulat di dalam bak
    mandi. Ita berdiri di samping bak sambil ngomel, “Mandinya lama amat sih? Aku udah kebelet pipis, nggak
    kuat lagi nunggu,” katanya sambil terus menurunkan celana dalamnya dan langsung duduk di toilet.

    Aku tidak menyaksikan pemandangan apa-apa, karena dia menurunkan celana dalam tapi masih tertutup oleh
    dasternya. Suara mendesis nyaring sekali terdengar,. ”Buset, siulannya kenceng bener,” kataku.

    Mendengar guruanku, dia malu, lalu segera menggelontorkan air agar suara pipisnya samar dengan
    gelontoran air. “Dasar lu adik bandel, bikin gue malu aja.” katanya.

    “Apa gue nggak lebih malu telanjang begini?” kataku.

    “Enak ya ngerendem begitu, kok gue jadi pengen mandi juga ya?” katanya sambil mencelupkan tangannya di
    bak mandi. “Ih, kok bangun sih tuh barang, lagi ngayalin gue ya? “ katanya setelah tangannya usil masuk
    ke bak mandi dan menggenggam barangku. Aku tidak menyangka, sehingga terkejut dan senang juga kemudian.

    Ita melepas celana dalamnya sambil duduk di toilet lalu berdiri menyangkutkan di gantungan baju. Dia
    lalu mengangkat dasternya yang ternyata sudah tidak mengenakan BH lagi. Tanpa ada rasa rikuh dia berdiri
    menghadapku dalam keadaan bugil. Susunya memang ukuran ekstra large dan putingnya seperti terbenam di
    dalam gumpalan daging.

    Dia mencelupkan kaki satu persatu lalu membungkuk untuk meraih air bagi menciprat-cipratkan tubuhnya.
    “Ih, panas bener sih airnya? Ntar telor lu mateng baru tau rasa,“ katanya sambil tersenyum.

    Posisinya yang membungkuk menghadapku membuat kedua payudaranya menggantung seperti pepaya Bangkok
    terhidang di depan mataku. Aku dalam posisi duduk di dekat keran, sedang Ita mengambil posisi
    dihadapanku. Dia pelan-pelan merendahkan badannya sambil cengar-cengir menahan panasnya air. Sampai
    posisi duduk , teteknya masih terpampang didepanku. Air bak kurang tinggi untuk menenggelamkan susu
    besar yang seperti pelampung itu.

    Ita masih menciprat-cipratkan air panas ke badannya dan meraup mukanya. Ia lalu pelan pelan menurunkan
    badannya sampai tinggal mukanya saja yang diatas air. Gerakkannya itu menjadikan kakinya menyelusup ke
    bawah kakiku dan bagian vitalnya menerjang pantatku. Batangku jadi terangkat muncul ke atas air setengah
    tiang.

    “Wah, teropong kapal selamnya muncul tuh, mau mengamati musuh ya, musuhnya ada di bawah kok,” kata Ita
    santai.

    Dipegangnya batangku lalu ditarik kearahnya, akibatnya badanku jadi lengser kebawah. Pantatku bersetumpu
    di atas tetek Ita, dan punggungku bersandar di atas kemaluannya dengan jembut yang lumayan lebat. Nikmat
    sekali rasanya berendam di air hangat dengan cewek yang teteknya super besar.

    Setelah berendam sekitar 10 menit aku kemudian berdiri untuk bersabun. Pertama aku menyabuni diriku
    sendiri. Ita ikut bangkit dan celakanya dia minta aku menyabuni dirinya. Aku meski dalam keadaan siaga
    satu, karena batangku terus menegang, dengan gaya cool mulai menyapukan tangan dengan sabun. Dimulai
    dari bahu, turun ketangan kanan, lalu kiri dan… mulai lah menyabuni teteknya kiri kanan. Susunya kenyal
    banget. Aku permainkan dengan meremas, tetapi tanganku tidak muat. Setelah itu turun ke bawah sampai ke
    perut lalu aku minta ia berbalik badan. Punggung dan pantatnya giliran berikutnya sampai turun ke kaki,
    lalu kuminta berbalik lagi kini kaki bagian depan lalu naik ke bagian vitalnya. Kugosok jembutnya sampai
    berbusa lalu aku menyelipkan jariku ke memeknya. Dengan gerakan mendadak jari tengahku menyelinap ke
    dalam lubangnya lalu segera kucium jari itu.Cerita Sex Dewasa

    “Bau sabunnya kalah sama bau anumu,” kataku mengejek.

    Ita gusar dan malu, “sialan lu, memek gua gak bau lagi, sok tau lu,” katanya sambil ikut meraih memeknya
    sendiri lalu menciumnya.

    “Benerkan, bau sabunnya ilangkan? Yang ada bau kecap ikan,” kataku kembali mengejek.

    “Eh iya, bener juga,” katanya malu.

    Aku lalu kembali menyabuni memeknya sampai ke lubang pantatnya. Bagian penting itu terbelai, akibatnya
    Ita mendesis. “Oooiii sedapnya,” katanya sambil meraih badanku dan memeluknya.

    Badan kami licin sekali dan karena air untuk kami berendam tadi aku buang akibatnya bak mandi juga jadi
    sangat licin. Khawatir jatuh aku mengajak Ita untuk pelan-pelan duduk. Badan kami masih berselemak sabun
    tetapi air sudah mengering. Aku menawarkan untuk kami saling melakukan body massage.

    “Gimana caranya?” kata Ita.

    Ita kuminta tidur telentang dan aku tengkurap diatasnya. Aku meluncur ke atas dan ke bawah. Menggosokkan
    batang dan jembutku ke perut dan dadanya. Setelah itu aku mengambil posisi telentang di bawah badannya
    dengan posisi kepala berlawanan arah. Aku kembali meluncur ke atas dan ke bawah, sehingga batang dan
    jembutku menyapu dan mengganjal pantat dan punggungnya.

    “Iiiih, sedapnya, merangsang banget ya?” kata Ita sambil terus mendesis.

    Ita kemudian kuminta mengubah psosinya jadi tengkurap. Sehingga kami berhadapan tetapi dengan arah
    kepala yang berlawanan. Aku kembali menaik dan menurunkan badanku mengganjal tubuhnya. Ita tidak tinggal
    diam, dia juga ikut melakukan gerakan berlawanan. Batangku kadang-kadang terselip diantara kedua pahanya
    lalu terlepas lagi, tapi tidak sampai terpeleset masuk ke dalam lubang vaginanya.

    Posisi ini membuat nafsuku tambah tinggi sehingga akhirnya aku tidak mampu menahan desakan ejakulasi.
    Aku tak kuasa menahan sehingga cairan putih hangat lepas dan menyapu ke badan Ita.

    “Yahhh, kamu nggak kuat ya?“ katanya ketika merasa batangku berkedut diantara kedua susunya.

    “Enak banget sih, dan susumu itu yang buat pertahanan gua jebol,” kataku.

    Kami lalu mandi berbilas dan mengeringkan badan dengan handuk. Aku digandengnya keluar kamar mandi. Kami
    berdua jalan dalam keadaan bugil. Aku di dorongnya hingga jatuh telentang di kasur. Aku yang merasa
    lemas setelah tembakan tadi, tidur telentang pasrah. Ita mengambil inisiatif dengan menindih badanku.
    Dia mencium bibirku dan kami lama sekali berpagutan.

    Ita melepas ciumannya dari mulutku dia turun ke bawah dan menghisap pentilku. Rasa geli dan nikmat
    menjalar ke seluruh tubuhku. Ita terus meluncur ke bawah dan sekitar kemaluanku diciuminya dengan rakus.
    Batang dan zakarku tidak diciumnya, tetapi dia turun menciumi paha lalu kedua lututku. Aku merasakan
    kegelian yang amat sangat sampai aku menggelinjang. Mengetahui aku kegelian dia mengarahkan ciumannya ke
    atas dan batangku menjadi sasarannya kemudian. Batangku yang masih setengah sadar di lahapnya dan
    dihisapnya. lalu dijilatinya. Kaki ku ditekuk dan jilatannya turun ke kedua buah zakarku lalu turun lagi
    lidahnya mengitari lubang matahari.

    Aku menggelinjang nikmat. Dia kembali mengulum batangku sampai menjadi sadar dan tegak penuh. Kuluman
    Ita sungguh canggih, sehingga aku kelojotan merasa nikmatnya. Untungnya tadi sudah mencapai puncak,
    sehingga aku mampu menahan diri agar tidak buru-buru muncrat lagi.

    Ita membalikkan badanku dan aku dimintanya berganti peran menyerang dirinya. Aku segera paham dan
    memulai tugasku dengan mencium leher lalu kedua payudaranya. Agak sulit rasanya menghisap pentilnya
    karena terbenam. Kutelateni menghisap pentilnya sampai akhirnya keduanya mencuat keras.

    Puas dengan menjilat dan meremas kedua susunya aku turun ke perut lalu ke memeknya. Bulu lebat dan
    keriting membuat aku agak sukar menemukan belahan memeknya. Dengan bantuan kedua tanganku, kusibak dan
    lidahku menyerbu ke belahan itu. Aku memulainya dengan menjilati sekitar bibir luar, bibir dalam lalu
    mengarah ke clitorisnya.

    Memeknya yang tadi kering setelah kuhanduki, kini sudah basah lagi oleh cairan pelumas vaginanya. Baunya
    wangi seperti bau sabun. Saat lidahku menggapai clitorisnya Ita menggelinjang dan pinggulnya bergerak
    liar. Aku jadi sulit mengkosentrasikan jilatanku. Aku lalu menahan kedua pahanya agar tidak liar.

    Serangan ujung lidahku berkosentrasi pada clitoris Ita yang sudah makin mencuat. Dia mendesah-desah dan
    tidak sampai lima menit dia tumbang dengan orgasmenya yang pertama. Dia minta aku berhenti mengoralnya
    karena katanya barangnya ngilu. Aku bangun dan duduk bersimpuh diantara kedua kakinya. Jari tengah kanan
    pelan-pelan kucolokkan ke vagina Ita.

    Kucolok-colok ke lubang basah itu dan aku seperti sebelumnya dengan para wanita, mencari benjolan G
    spot. Tombol G spot Ita mudah ditemukan, sehingga kini gerakan jariku berkosentrasi pada tombol itu.
    Gerakan halus mengusap g spot itu membuat Ita kembali mendesis. Dia lalu tidak hanya mendesis tetapi
    mengangkat angkat pinggulnya. Usapanku jadi meleset. Aku minta Ita menahan gerakannya agar dia merasa
    lebih nikmat.

    “Aduh, kok enak banget sih, Jay, lua apain gua?” katanya sambil menggigit bibir bawahnya. Dia berusaha
    melawan nikmat yang menjalar dari dalam vaginanya, tapi belum dua menit dia mengeluh panjang dan
    berusaha mengapit kedua kakinya, namun terhalang oleh tubuhku. Kedua tangannya meraih bantal lalu
    ditutupkan ke mukanya dan dia menjerit sekuat-kuatnya dibawah bantal. Bersamaan dengan itu, Ita
    ejakulasi sampai mengenai hidung dan mulutku. Kujilat cairan itu di bibirku terasa agak asin dan kental.
    Orgasmenya panjang dan Ita kemudian jatuh terkulai. Badannya bagai tak bertulang.

    “Aduh, badan gua lemes banget,” katanya seperti orang ngantuk.

    Sementara dia lemas aku tegang. Tanpa minta izin dan mengatakan sesuatu aku segera mengarahkan batangku
    menuju lubang vaginanya. Dalam posisi bersetumpu kaki terlipat, batangku kutekan pelan menyeruak
    vaginanya. Lubang memeknya terasa sempit, meskipun banjir. “Aduh, Jay! Pelan-pelan, Jay,” katanya.

    Aku dengan sabar menekan penisku masuk kedalam gua nikmat itu. Setelah tenggelam seluruhnya aku mulai
    melakukan gerakan maju mundur. Sensasi menyaksikan gerakan maju mundur batangku ke dalam memeknya
    membuat aku sangat terangsang. Apalagi Ita mulai mendesis dan bergumam, ah uh au uh.

    Aku makin bersemangat, tetapi karena posisiku sulit lama-lama jadi kurang nyaman kemudian aku mengubah
    posisi menindih badannya. Aku bertumpu di kedua lutut dan kedua sikuku. Pada posisi ini aku leluasa
    memompa badan Ita. Aku tidak perduli lagi apa dia nikmat atau tidak, tetapi aku berkonstrasi pada
    kenikmatan diriku. Semakin cepat kupompa, semakin dia mengerang. Belum aku sampai pada puncak Ita sudah
    menarik rapat badanku dan dia kembali berkedut bagian dalamnya. Ita kembali menikmati orgasme yang
    dahsyat.

    “Aduh, aku rasanya gak kuat nglawan kamu, Jay,” katanya. Aku diam saja dan kembali menggenjot, karena
    pencapaianku tadi tanggung.

    Aku kemudian menjelang puncak dan beberapa saat akan mencapai puncak kutarik batangku keluar dan air
    maniku kulepas di atas perutnya. Aku rebah disampingnya dan badanku terasa lelah. Kami tertidur entah
    berapa lama sampai terbangun karena merasa dingin. Aku bangun dan ke kamar mandi mengambil handuk kecil
    membasahinya dengan air hangat. Handuk itu kusapukan ke tumpahan maniku di perut ita, setelah aku
    sebelumnya membersihkan penisku dengan air dan sabun. Kami kembali tidur di bawah selimut. Bed cover
    yang tadi terhampar sudah kumasukkan ke dalam lemari.

    Belum lima menit aku berbaring, Ita bangun. “Jay, laper ya,” katanya. Aku juga merasakan yang sama. Ita
    kemudian bangun dan ke kamar mandi. Dia kedengarannya mencuci alat vitalnya dan juga mungkin sekalian
    pipis.

    “Kita cari makan diluar yuk, di hotel kurang enak, di dekat sini ada ayam goreng yang enak,“ katanya.

    Kami lalu berkemas. Ita mengenakan celana jean, kaus hitam dan dibungkus lagi dengan jaket. Sementara
    aku kembali mengenakan jean yang kukenakan tadi hanya mengganti T-shirt. Kami turun dan keluar hotel.
    Sekitar 5 menit jalan menyeberang, kami menemukan tempat ayam goreng yang dimaksud Ita. Jam sudah
    menunjukkan 11 malam, tetapi warung tenda ayam goreng itu ramai sekali.

    Perut kenyang badan terasa hangat. Keinginan sex sudah terpenuhi, apalagi yang kurang. Sekembali kami ke
    Hotel Ita mengajakku duduk di coffe shop. Disitu ada live music. Ita menawarkan bir yang tentu saja
    tidak bisa kutolak..
    Nikmat sekali cairan bir itu membasahi kerongkonganku. Kata orang nikmatnya minum bir itu adalah pada
    tegukan yang pertama. Ternyata memang benar. Satu botol besar kuhabiskan berdua dengan Ita, namun dia
    hanya minum segelas.

    “Gaul juga anak ini,” batinku.

    Ita menawariku tambah dengan satu botol kecil bir hitam. kata dia bagus untuk stamina. Menyimak stamina,
    aku lalu menyetujuinya. Rasa pahit bir hitam itu menjadi nikmat karena syaraf perasaku terpengaruh
    hasutan ’demi stamina’.

    Kami kembali ke kamar sekitar jam satu malam. Mata mulai mengantuk dan lelahnya badan yang tadi tidak
    terasa kini menumpuk. Mataku seperti sudah mau terkatup saja. Sesampai di kamar aku melepas celana jean
    dan t shirt, tinggal celana dalam lalu menyusup ke dalam selimut. Ita masih sibuk di kamar mandi. Aku
    segera terlelap. Mungkin ada satu jam aku tertidur lalu terjaga karena merasa dipeluk Ita. Dalam keadaan
    antara tertidur dan sadar aku merasa Ita memelukku dalam keadaan telanjang di bawah selimut. Susunya
    yang besar menekan badanku dan jembutnya yang tebal menempel di pahaku.

    Situasi itu membuatku pelan-pelan kembali tersadar dan bangun seutuhnya. Penisku pelan-pelan bangun,
    tetapi badanku lelah sekali. Apalagi pengaruh bir tadi mengendap di otakku. Aku kembali jatuh tertidur.

    Entah sudah berapa lama aku tertidur sampai aku merasa badanku dingin oleh tiupan AC.Kamar telah gelap,
    cahaya hanya ada dari lampu di gang di depan kamar mandi. Aku membuka sedikit mataku dan memperhatikan
    sekeliling. Ita ternyata sedang menyedot batangku. Dia tidak tahu kalau aku sudah terbangun. Aku
    berusaha menahan reaksi rangsangannya dengan menahan suara agar disangka masih tidur.

    Karena sedotan yang maut, barangku jadi keras sempurna. Ita lalu bangkit dan didudukinya batangku. Pelan
    pelan diarahkan batangku ke dalam mekinya sampai ambles sepenuhnya.

    Dia mengendalikan persetubuhan dengan gerakan-maju mundur kadang kala naik turun. Sesekali batangku
    terlepas karena dia terlalu hot menaikkan badannya. Tapi ia segera kembali memasukkan batangku ke dalam
    tubuhnya. Aku tetap bertahan pura-pura tidur. Mungkin 15 menit atau mungkin lebih, Ita mulai mencapai
    orgasmenya. Sementara aku karena gaya gravitasi merasa mampu bertahan lama. Barangku tetap tegak
    sempurna, sementara Ita sudah berkedut-kedut. Setelah istirahat hampir 5 menit Ita kembali menggenjot
    batangku. Dia ternyata tangguh juga. Pemandangan di depanku sulit untuk diabaikan, tetek yang bergoyang
    adalah atraksi sangat menarik. Aku mengintip guncangan tetek besar dihadapanku.

    “Kalau aku tidak berperan pura-pura tidur, pasti sudah kuremas-remas gumpalan daging besar itu. Tapi apa
    boleh buat, aku sudah memilih peran tidur.”

    Ita kembali bersemangat memompa apalagi menjelang orgasmenya dia bergerak tidak karuan. Aku jadi spaning
    juga hingga mendekati titik orgasmeku. Karena aku pura-pura tidur maka aku tidak boleh bereaksi,
    sehingga aku pasrah saja ketika akhirnya ejakulasi lepas di dalam memeknya. Kedutan ejakulasiku menambah
    semangat Ita karena rupanya dia juga orgasme dan rubuh memelukku.

    “Ih, kamu sadis deh, pura-pura tidur lagi, sampai aku cape menggenjot,” katanya.Cerita Sex Dewasa

    “Abis enak banget sih, lagian kenapa juga gak bangunin aku dulu baru adekku,” kataku sambil tersenyum.

    Ternyata sudah jam 7 pagi. Kamar kami gelap karena korden tertutup rapat. Kami lalu mandi berdua dan
    berkemas untuk turun menikmati breakfast. Badanku terasa segar dan ringan.

    Selesai breakfast kami kembali ke kamar. Hari itu tidak ada acara, kecuali jam 7 malam nanti menghadiri
    resepsi perkawinan temannya. Ita mengajakku jalan-jalan ke kota. Kami makan siang di restoran Padang.
    Aku penggemar makanan enak, masakan Padang ini rasanya nikmat sekali, melebihi yang pernah kumakan di
    Jakarta. Selesai menyantap dua piring nasi, Ita menyarankan aku untuk mencoba teh telur. Kata dia bagus
    untuk meningkatkan vitalistas pria. Teh yang diaduk bercampur telur tampak sangat berbusa. Panasnya teh
    tidak lagi terlalu terasa, tetapi rasanya seperti teh susu dan gurih telur.

    “Lumayanlah untuk mengisi stroom,” kataku dalam hati.

    Kami kembali ke hotel untuk istirahat. Maksudnya memang istirahat, tetapi kejadiannya malah bekerja
    keras. Kami terlelap kembali dan bangun menjelang pukul 6 sore. Kami lalu berkemas untuk menghadiri
    acara perkawinan teman akrab Ita.

    Tidak ada yang istimewa dalam acara pesta perkawinan itu. Aku kurang berselera, mungkin karena lelah
    setelah berkali-kali bertempur.

    Minggu pagi kami mempersiapkan diri untuk kembali ke Jakarta Sebelumnya masih ada pertempuran seru satu
    ronde. Disebut seru karena panjang dan heboh. Dia tergolong wanita yang berisik jika melakukan hubungan
    intim. Sepanjang perjalanan aku hanya tidur saja. Anehnya sejak berangkat dari Lampung sampai kembali ke
    Jakarta, penisku tidak sekalipun bangun mengeras, meskipun dalam keadaan terdesak kebelet pipis. Tiba di
    Jakarta sudah sore dan aku menunda kepulangan ke tempat kos sekitar 1 jam.

    Setiba aku kembali ke rumah kost aku disambut bagaikan tamu besar. Kebetulan para penghuni sedang
    berkumpul di kamar tengah. Aku disambut dengan bertubi-tubi ciuman. Mereka rasanya terlalu berlebihan
    karena ketiadaan diriku di tempat itu hanya 2 malam mereka rasakan ada sesuatu yang hilang.

    Aku tertidur di kamar mungkin dari jam 5 sore. Rasanya ngantuk sekali dan lelah. Entah berapa lama
    tertidur sampai merasa ada orang yang masuk di kamarku. Kamar gelap gulita, karena tadi aku tidak sempat
    menyalakan lampu. Aku tidak bisa melihat siapa yang masuk ke kamarku.

    Tiba-tiba lampu dinyalakan dan ternyata 2 cewek sudah ada di kamarku. Mereka adalah Dewi dan Ana dengan
    baju tidur daster dan Dewi mengenakan kaus serta celana boxer.

    “Wah, pangeran kita kecapean nih,” kata Ana.

    Mereka minta izin untuk menginap lagi di kamarku. Mereka takut karena tadi siang habis melayat temannya
    yang meninggal karena kecelakaan. Katanya wajah temannya selalu terbayang-bayang.

    “Ada-ada saja cewek-cewek ini,” pikirku.

    Lampu kembali dimatikan dan kamar jadi gelap gulita. Malam ini cuaca panas sekali, karena mau hujan
    tetapi tidak jadi. Untung aku tidur hanya mengenakan celana pendek, sehingga tidak terlalu gerah.

    Ana mengipas dadanya dengan menarik-narik bajunya. Dia juga merasakan kegerahan. Dewi mengipas-kipaskan
    telapak tangannya. Mereka bertanya apa aku punya kipas. Aku bilang tidak ada, karena tidak pernah
    terlintas dipikiranku untuk melengkapi kipas di kamar. Kalau mau ada majalah atau koran, tapi dalam
    keadaan gelap gini aku susah mencarinya apalagi aku tidur diapit.
    Entah pikiran darimana aku iseng melontarkan ide, agar kami bertiga tidur telanjang aja. Aku pikir
    sebenarnya wajar saja, aku sudah sering melihat Dewi telanjang, ketika dia tidur di kamarku tatkala Ana
    pulang kampung. Ana juga sudah pernah kulihat dia telanjang juga ketika dia diam-diam menyelinap ke
    kamarku, manakala Dewi menginap di rumah saudaranya di Ciledug. Mereka berdua juga pernah bahkan
    berkali-kali melihat aku telanjang di kamar ini. Masalahnya aku belum pernah secara bersamaan melihat
    mereka berdua telanjang bersamaan di depanku.

    “Siapa takut?“kata Ana. Dewi pun rupanya tidak keberatan. Sambil tiduran mereka mencopoti bajunya dan
    aku pun memelorotkan celanaku. Posisiku yang diapit dua cewek begini tentu memacu aliran darah untuk
    berkumpul di penis, sehingga tegang mengacung. Tadi yang kucemaskan sejak kembali dari Lampung sekarang
    sudah terjawab.

    Aku tidak tahu kemana mereka melempar pakaiannya, yang kurasa kulitku sudah bersinggungan dengan kulit
    juga baik di kanan, maupun di kiri. Dewi memelukku di sebelah kanan, dan Ana juga memelukku di sebelah
    kiri. Kedua tanganku yang mereka tindih jadi memeluk keduanya di kiri dan kanan.
    Udara gerah tidak membuat rasa makin gerah meski dipeluk. Pikiranku lebih terpusat pada rangsangan
    dipeluk dua makhluk perempuan telanjang.

    Mulanya tangan mereka hanya mengelus-elus dadaku, tetapi Dewi mulai merayap kebawah dan menggenggam
    batangku yang sedang keras. Tangan Ana pun juga merayap ke bawah dan bertemulah dua tangan dari mahluk
    yang berbeda. Kedua tangan itu berbagi tempat mencengkeram batangku.
    Aku sudah tidak memperhatikan tangan siapa ada dibagian mana. Yang kurasakan seluruh bagian kemaluanku
    diremas-remas.

    Aku mencium mulut Ana. Ana membalas dengan sedotan dan permainan lidah yang hot. Selepas itu aku
    berpaling dan berganti mencium Dewi. Dia juga tidak kalah hot, karena mungkin sudah terbakar birahi. Ana
    yang kutinggal, dia bangkit dan mengambil posisi di antara kedua kakiku. Ana mengulum penisku. Tangan
    kiriku yang leluasa segera menggamit memek Dewi dan meremas-remas lalu memainkan clitorisnya. Menerima
    serangan di clitoris, Dewi melepaskan ciumannya . Dia mengubah posisi telentang. Aku berusaha
    membebaskan tangan kananku dari tindihan Dewi dan tangan kanan mendapat tugas baru menggantikan peran
    tangan kiri.

    Dewi semakin tinggi terangsang karena clitorisnya aku putar-putar dengan jari tengahku. Dewi kemudian
    bangkit dan duduk bersimpuh dengan kedua lutut dilipat. Dia duduk menghadap ke wajahku dan memeknya di
    aturnya dekat ke mulutku. Aku tahu, Dewi ingin dioral. Dewi memang paling senang dioral. Dia pernah
    memujiku bahwa oralku jauh lebih enak dari yang dilakukan pacarnya. Pacarnya katanya suka menggigit
    karena gemas. Kalau sudah begitu rangsangan jadi sirna berganti rasa sakit katanya. Sementara aku
    dipujinya mengerti menyentuh tempat yang tepat dan gerakan lidahku katanya lebih halus.

    Kedua tanganku memeluk paha kiri kanannya membantu posisi Dewi agar dia bisa menempatkan memeknya tepat
    di hadapan mulutku. Dewi duduk agak condong kebelakang. Kedua tangannya menopang kebelakang.

    Sementara aku sedang memusatkan perhatian mengoral Dewi, aku tidak terasa Ana mengoralku lagi. Aku
    merasa tangannya mencengkeram batangku dan beberapa saat kemudian Ujung penisku dipadukan dengan gerbang
    memeknya. Sambil mengoral aku mengira-kira posisi Ana menyetubuhiku. Setelah dia melakukan gerakan aku
    baru bisa memastikan bahwa Ana bukan membelakangiku. Mungkin dia duduk bersimpuh juga. Gerakannya yang
    kurasakan adalah maju mundur, sehingga penisku serasa diperah.

    Mereka berdua saling mendesis. Aku tidak bisa bergerak, karena menahan berat badan kedua cewek. Gerakan
    Ana makin terasa hot, sementara oralku ke Dewi juga semakin terfokus pada clitorisnya. Pada posisi ini
    sebenarnya aku ingin memasukkan jariku ke memeknya, tetapi tidak ada ruang untuk tanganku. Jadi hanya
    lidahku saja yang bermain di memek Dewi. Dewi tiba-tiba berhenti menggelinjang, mungkin dia sedang
    memusatkan diri menjelang orgasme. Benar juga sesaat kemudian dia mengeluh panjang sambil menarik
    kepalaku merapat ke memeknya. ceritasexdewasa.org Bukan hanya mulut yang terbekap, hidungku juga tertutup gundukan memek
    Dewi yang berambut keriting. Setelah kedutan orgasmenya agak reda aku berusaha melepaskan mulut dan
    hidungku dari bekapan Dewi. Aku hampir kehabisan nafas.

    Ana yang makin hot memompa. Sementara Dewi mengubah posisinya tidur telentang disampingku. Sepertinya
    dia ingin beristirahat setelah mencapai puncak kenikmatan. Ana masih terus menggenjot. Mungkin sudah 5
    menit sejak Dewi tadi orgasme baru Ana mendapat Orgasme.

    Sementara aku belum apa-apa. Masalahnya hari-hari sebelumnya aku sudah kenyang dengan Ita, sehingga
    nafsuku tidak menggebu-gebu. Aku lebih mampu menahan diri. Apalagi posisiku di bawah, maka aku makin
    bisa bertahan lama.

    Setelah mencapai orgasme, Ana menjatuhkan diri telungkup di atasku sejenak. Setelah itu dia bergeser
    tidur telentang disampingku. Meski gelap, aku bisa juga melihat sosok Ana yang tadi mengadukku diatas.
    Tidak terlalu jelas memang, tetapi dengan bantuan ilmu kira-kira, adegan yang berlangsung di atas
    badanku cukup jelas terlihat.

    Mungkin Dewi juga melihat Ana mengadukku. Buktinya setelah Ana turun dari badanku, aku ditariknya agar
    menindih badannya. Aku segera paham apa yang diinginkannya. Dia ingin disetubuhi juga. Tanpa melakukan
    foreplay lagi aku segera manancapkan penisku ke memek Dewi. Kenikmatan orgasme Dewi yang pertama tadi
    mungkin belum sirna, karena begitu kugenjot dia langsung mendesis dan agak mengerang. Aku mencari posisi
    yang paling bisa merangsang organ Dewi.

    Setelah kudapatkan posisi itu dengan membaca respon yang ditunjukkannya aku bertahan di posisi itu.
    Cukup 5 menit saja Dewi sudah mendapatkan orgasmenya. Dia memelukku erat-erat, sampai semua orgasmenya
    terlampiaskan.

    Setelah reda kucabut batangku dan aku kembali ke posisi semula tidur telentang diantara mereka berdua.
    Belum habis aku menikmati jeda istirahat, Ana pula sekarang yang merengkuhku agar menindih dirinya. Dia
    mungkin terangsang menyaksikan adegan permainanku dengan Dewi.

    Aku bukan ingin berlebihan dan menjagokan diriku, tetapi sesungguhnya aku masih tegang bahkan belum ada
    tanda-tanda mendekati ejakulasi. Inilah kalau terlalu hot bermain sebelumnya dengan Ita. Sebelum
    marathon bersama Ita, malam-malam sebelumnya setiap malam aku selalu berpindah-pindah kamar. Bisa
    dikatakan tiada hari bagiku tanpa bersetubuh. Pelayananku di rumah ini cukup banyak mulai dari Bu Rini
    pemilik kost, Mbak Ratih, Kristin, Ita , Nia dan kedua mereka ini. Kedua mereka ini termasuk paling
    jarang kutiduri. Dewi mungkin 2 minggu lalu, Ana malah mungkin sebulan yang lalu.

    Kembali ke Ana, aku tanpa basa-basi lagi langsung memompa Ana. Seperti juga Dewi aku berusaha mencari
    posisi yang paling menyenangkan bagi Ana. Setelah mendapat posisi itu, aku tidak perlu bekerja terlalu
    lama, Ana sudah mencapai orgasme. Dia menghentikan genjotanku dengan menarik badanku rapat-rapat.
    Batangku menikmati sensasi kontraksi memek Ana dan cairan hangat menyelimutinya. Setelah orgasmenya reda
    aku kembali istirahat dengan badan basah berkeringat.

    Aku berpikir kepada siapa nanti akan kulampiaskan orgasmeku, padahal badanku sudah lelah sekali dari
    tadi push-up terus. Tapi penisku tidak mau kompromi, dia tetap tegak. Sementara aku masih menerawang,
    tiba-tiba batangku digenggam.

    “Ih, hebat banget nih, belum juga kendor dari tadi,” suara Dewi terdengar. Berarti tangan itu adalah
    tangan Dewi.

    Dia kembali menarik badanku untuk menindihnya. Dia minta disetubuhi lagi. Aku berpikir, Dewi tadi makan
    apa kok jadi hot banget begini. Dengan sisa tenaga yang ada aku kembali melayaninya. Tapi tubuhku sudah
    tidak kuat lagi untuk push-up. Kutarik tubuh Dewi untuk berganti posisi menjadi di atasku. Dewi menurut
    dan mengambil posisi yang nyaman lalu dialah sekarang yang aktif. Dia segera saja mendapat orgasme.
    Ketika dirubuhkannya badannya ke tubuhku dan otot vaginanya berkontraksi maka aku segera membalikkan
    badannya dan segera kugenjot. Aku tidak memberinya masa istirahat dan langsung dalam keadaan vaginanya
    masih berkedut kugencot sekeras-kerasnya. Dewi menjerit tertahan-tahan. Aku begerak makin buas sampai
    akhirnya dia menjerit keras sekali lalu ditutupkan bantal di wajahnya untuk meredam teriakannya. Dewi
    kelihatannya mencapai orgasme yang sempurna.

    Aku puas tapi belum juga muncrat. Ana yang menonton kami sambil dia duduk bersila memeriksa penisku.
    “Wuihhh, masih keras juga, hebat amat,” katanya.

    Aku ditariknya sehingga terduduk dengan kaki lurus. Aku tidak bisa menduga apa yang dia mau. Ana berdiri
    dan duduk dipangkuanku sambil memelukku. Memeknya diturunkannya sampai menelan penisku. Dia kembali
    terangsang melihat Dewi danaku bermain kasar. Apalagi Dewi selama persetubuhan berteriak kecil
    terputus-putus sampai akhirnya berteriak nyaring.

    Ana memaju-mundurkan pinggulnya sehingga menimbulkan efek gerakan mengaduk batangku. Dia mendesis-desis
    menikmati hunjaman barangku yang masih keras. Makin lama, terakannya makin cepat dan liar karena
    iramanya jadi tidak menentu, sampai akhirnya dia memeluku keras sekali dan vaginanya berdenyut. Seperti
    juga Dewi aku tidak memberi kesempatan dia menikmati orgasmenya. Kudorong badannya sampai dia terlentang
    dan segera kugenjot dengan gerakan-gerakan kasar. Karena diberi waktu beristirahat sambil duduk,
    tenagaku masih lumayan yang tersisa. Aku terus menghunjam dengan gerakan cepat dan panjang.

    BAca JUga Cerita Sex Toilet Kampus

    Ana tidak lagi mendesis, dia mengeluarkan suara yang tertahan-tahan. Kedengarannya seperti mengucap
    huruf A ber kali-kali. Irama pengulangan teriakannya seirama dengan gerakanku. Setiap aku menghunjam dia
    menyebut A. Makin cepat gerakanku makin cepat pula irama teriakannya. Sampai akhirnya dia berteriak
    panjang tetap dengan suara A. Teriakannya keras membuatku gugup. Karena di dekat situ tidak ada bantal
    maka kucucup saja mulutnya. Dibekap mulutnya oleh mulutku pun dia masih berusaha berteriak. Tetapi
    suaranya tidak keluar, teredam oleh mulutku. Aku menciuminya dengan ulah yang ganas sampai dia lemas
    terkulai.

    Sejak tadi perasaan yang menyelimuti diriku adalah kebanggaan sebagai laki-laki yang super. Sekarang
    berbalik aku cemas, karena burungku tidak juga surut, dan sulit sekali mencapai orgasme. Yang
    kucemaskan, seandainya batangku tegang terus sampai besok. Kalau dibawa ke dokter, rasanya malu luar
    biasa. Apalagi menjawab pertanyaan dokter, “Apa keluhannya?”

    Ah bagaimana nantilah, yang ada rasa badanku sudah letih luar biasa dengan keringat membasahi semua
    pori-pori badanku. Aku bangkit dan mencari handuk untuk mengeringkan badanku.

    “Hebat amat anak ini ya, tadinya mau kita perkosa, kejadiannya malah kita yang diperkosa,” kata Dewi.
    Rupanya kedua cewek ini sudah punya rencana ketika hijrah tidur ke kamarku. Pantas aja ketika kutawari
    tidur telanjang mereka langsung setuju.

    “Rasain, punya rencana nggak terus terang, jadinya kalian yang merasa akibatnya,” kataku.

    “Biarin aja, enak kok,“ kata Dewi.

    Kulihat ana sudah terbujur di posisinya semula malah sudah mendengkur. Aku mengambil posisiku dan
    langsung mencari PW (posisi uwenak). Sampai keesokan harinya ketika aku bangun mereka berdua sudah tidak
    ada. Aku segera memeriksa barangku. Dia masih tegang, tetapi sekarang posisinya sedang sesak kencing.
    Setelah kulampiaskan hasrat kencingku, pelan-pelan penisku melemas. Aku lega…

    Selama ini aku melihat cewek hanya dari sosok luarnya. Setelah aku tinggal bersama 8 cewek plus satu
    janda pemilik kost, aku baru menyadari bahwa sosok luar tidak bisa memberi gambaran sepenuhnya mengenai
    siapa dia sesungguhnya.Pengalaman mengajarkan cewek yang kelihatannya alim, ternyata di balik itu dia
    ganas di tempat tidur. Perempuan yang sok gengsi dan sangat jaim, di balik itu dia sangat bernafsu. Ada
    pula yang kulihat mesra banget sama cowoknya dan jauh dari kesan bisa diselingkuhi, ternyata juga suka
    selingkuh. Kesimpulanku, jangan mudah kagum melihat penampilan seorang wanita betapa cantik dan
    anggunnya dia.

    Mbak Ratih yang semakin akrab denganku kadang-kadang membuatku malu. Dia bisa tiba-tiba duduk di
    pangkuanku di depan cewek-cewek yang lain. Dia memang paling sering minta diservice. Selalu saja ada
    alasan agar bisa menyeretku ke kamarnya. Kalau sudah gitu aku tak kuasa menolak. Pada awalnya sih dia
    minta dipijat, tetapi akhirnya minta ditiban juga.

    Satu kali Mbak Ratih menarikku masuk ke kamarnya. Kami duduk di tempat tidur. “Jay, aku punya temen, aku
    kasihan sekali melihat keadaannya. Umurnya seumuranku, dia pengusaha. Dia sering mengeluh kepalanya
    pusing sebelah. Kayaknya dia sudah berobat kemana-mana, tapi penyakitnya nggak bisa ilang,” kata Mbak
    Ratih.Cerita Sex Dewasa

    Dia bercerita banyak mengenai temannya itu dan buntutnya dia memintaku untuk mencoba melakukan terapi.
    “Aku sudah promosiin kamu lho, Jay, katanya dia mau mencoba, kamu mau ya bantu aku dan temenku itu?”
    pintanya.

    Aku berkilah bahwa aku bukan ahli terapi, makanya kalau nanti aku terapi tidak berhasil, mbak Ratih bisa
    malu. “Mbak jangan berpromosi kelewatan, mbak, nanti malah malu-maluin,” kataku.

    “Udah lah, Jay, aku yakin kamu bisa lah, buktinya di rumah ini semua yang kamu terapi berhasil, kamu
    berbakat lho, dan kamu bisa kaya dengan hobimu ini,” kata Mbak Ratih sungguh-sungguh.

    Setelah ngobrol soal temannya itu, kami keluar kamar. Hari itu adalah hari libur. Para penghuni kost
    banyak yang pulang ke rumahnya masing-masing. Yang tinggal mungkin sekitar 2 atau 3 orang, aku kurang
    pasti.

    Situasi agak gerah meenjelang jam 11 siang. Bu Rini menghampiri kami yang sedang duduk menonton TV. Bu
    Rini memanggilku. Aku beranjak mendekati dia. “Dik, bisa minta tolong nggak beliin makanan, si Ijah tadi
    pagi pulang kampung, Ibu nggak bisa masak, Atun juga nggak bisa, bisanya cuma bikin indomie,” kata Bu
    Rini sambil setengah berbisik.

    Kami memang kost di situ berikut makan, jadi wajar jika Bu Rini bingung saat ditinggal pergi pembantunya
    yang biasa menyiapkan makanan. Aku menawarkan option untuk masak saja di rumah, biar aku yang kerjakan.

    Bu Rini setengah tidak percaya memandangiku, “Kamu bisa masak juga to?” katanya.

    “Ya sedikit-sedikit, bu. Ayo kita ke dapur, ada bahan makanan apa saja, biar saya oleh jadi lauk hari
    ini,” kataku.

    Kami lalu ke dapur. Kulihat ada sawi, daun bawang, bawang putih, kecap manis, kecap asin, cabe rawit dan
    telur. “Beres, bu, kita buat ifumi,” kataku.

    Bu Rini setengah tidak percaya setengahnya lagi penasaran, ingin tahu apakah aku sungguh-sungguh bisa
    masak. Aku lalu minta Atun membeli tepung kanji ke warung dekat rumah.

    Bu Rini jadi ikut heboh bertanya apa saja yang perlu disiapkan. Dia kuminta menggoreng mi instant hingga
    seperti kerupuk dan Atun kuminta menyiangi sayur-sayuran yang ada. Bu Rini teringat bahwa di kulkasnya
    masih ada ayam yang belum diolah. Dia lalu kuminta mengeluarkannya segera dan setelah berkurang
    dinginnya aku menyayat dagingnya berbentuk kubus.

    Setelah semua bahan siap dan aku mencoba-coba mengingat apa lagi yang diperlukan.Wajan kunaikkan ke atas
    kompor dengan api maksimal, lalu masuk minyak. Setelah agak panas masuklah bawang putih menyusul
    potongan ayam diceburkan. Goseng-goseng sedikit lalu kusiram dengan sedikit kecap asin cap ikan.

    Bau harum segera menyebar. Dari ruang tengah ada yang berteriak, “Wah, baunya enak, masak apa, bu?”

    Sayuran menyusul terjun lalu garam dan bubuk penyedap. Setelah sayuran agak layu air yang sebelumnya
    kucampur dengan tepung kanji kutuangkan sampai hampir menenggelamkan sayur dan bahan lain di wajan. Aduk
    sebentar lalu masuklah 3 butir telur ayam. Sambil aku mengaduk masakan, kuminta Atun mengiris cabe rawit
    bulat-bulat.

    Kuah sudah siap, yang mirip cap cai, bedanya jika cap cai tidak pakai telur ini ada pelengkap telur ayam
    yang diaduk jadi satu di kuahnya. Mi instan yang sudah goreng bu Rini seperti kerupuk lalu ditempatkan
    di wadah. Mi kering itu lalu kusiramkan. Jadilah sekarang Ifu Mi dadakan.

    “Baunya dari tadi udah bikin laper,“ kata Mbak Ratih. Menyusul Juli keluar dari sarangnya dan Niar
    rupanya dia milih tinggal di sini dari pada nginap di rumah saudaranya.

    “Wah, enak banget nih, siapa yang masak, bu?” tanya Juli.

    Bu Rini lalu menunjuk aku. “Tuh kokinya, pinter ya?” puji bu Rini.

    Dalam sekejap ifu mi yang kubuat sudah ludes. “Gila ini orang, pinter mijet, pinter masak lagi,” kata
    Mbak Ratih

    “Ah aku nggak percaya kalau dia pinter mijet, belum aku buktikan,” kata Niar.

    Aku terkesiap. Niar yang jarang kumpul dan jarang bercanda dengan kami, hari itu dia berkomentar. Niar
    perantau dari Medan. Orang tuanya memang masih tinggal di sana. Di Jakarta mulanya Niar sekolah
    sekretaris, setelah lulus dia bekerja di salah satu perusahaan operator telepon selular. Kelihatannya
    dia memiliki posisi yang lumayan penting, sehingga sering pulang agak malam.

    Bu Rini lalu menyambung, “Memang harus dicoba, baru tau rasanya.” Bu Rini tersenyum penuh arti
    melirikku.

    “Aku mau dong, sekarang ya?” kata Niar.

    Aku menyarankan agar menunggu beberapa saat sampai makanan selesai dicerna. Kurang enak rasanya jika
    pijat setelah makan. Aku minta Niar menunggu sebentar.

    “Badanku pegal kali, tidur terus-terusan rasanya juga cape, tolonglah aku ya tapi jangan kuat-kuat, aku
    tidak biasa dipijat sebetulnya tapi mendengar promosi kalian, aku jadi penasaran,” kata Niar.

    Niar nggak sabaran dia minta segera aku pijat. Setelah kurasa perutku tidak sesak lagi setelah makan
    siang tadi akhirnya aku turuti kemauannya. Kami masuk ke kamarnya. Kamarnya ternyata ada AC dan
    televisi. Dia cukup berduit untuk menyewa kamar yang lux ini. Dinginnya AC dikamar Niar membuat badanku
    segar.

    “Apanya kak yang mau dipijat?” kataku. Aku memanggil dia kakak, karena usia kami terpaut 5 tahun dan dia
    kelihatan sudah sangat dewasa. Mungkin di kantornya dia terbiasa dengan pembawaan berwibawa.

    “Badanku pegal semua, macam mana caranya dipijat?” tanyanya.

    Aku menerangkan biasanya yang dipijat mengenakan sarung dan tiduran. Aku menawarkan pijatan dimulai dari
    kaki lalu ke badan. Niar setuju dan dia lantas berganti mengenakan sarung. Dia mengenakan sarung seperti
    orang Jawa mengenakan kemben. Jadi payudaranya tertutup sampai ke batas lutut.

    Niar mengambil posisi tengkurap. Aku memulai pijatan refleksi di kaki. Pijatan refleksiku sengaja tidak
    terlalu keras, agar dia merasa nyaman dulu. Aku lemaskan semua syaraf di telapak kakinya lalu naik ke
    betis. Setelah semua otot terasa lemas aku mulai memijat pahanya, pantatnya dan badannya. Berhubung
    masih terhalang sarung aku hanya menekan-nekan tidak terlalu keras. Niar tertidur. Mungkin pengaruh dari
    makan siang tadi dan juga nikmatnya pijatanku.

    Badan Niar cukup besar dan tinggi. Tingginya mungkin sekitar 170 dengan berat badan yang seimbang. Untuk
    ukuran cewek Indonesia ukuran tubuh Niar termasuk besar dan tinggi. Pahanya ternyata cukup tebal dan
    pantatnya juga menyembul. Sekitar 30 menit dia kubiarkan tertidur lelap sambil aku pijat kakinya dengan
    pijatan nyaman.

    “Aduh enak kali pijatan kau, Jay, sampai tidur aku,“ katanya tiba-tiba.

    “Itu cuma kusuk ecek-ecek, kak,” kataku menjelaskan bahwa pijatanku itu hanya pijatan sederhana saja.

    “Jadi rupanya ada pula pijat yang betul-betul, macam mana pula itu, Jay?” katanya sambil tengkurap.

    “Kalau kakak mau, aku bisa mendeteksi organ kakak yang mana yang kurang beres,” kataku.

    “Ah, cobalah mainkan,” katanya.

    Aku mulai menekan simpul-simpul syaraf di telapak kakinya. “Aduh mak, sakit kali itu.” katanya ketika
    simpul syaraf pencernaannya aku tekan. Aku jelaskan bahwa pencernaannya agak terganggu, dan ini bisa
    mengarah ke penyakit maag. Simpul lain yang aku tekan menunjukkan bahwa dia sering tidak teratur
    haidnya. Itu dia akui.

    “Bisa tidak kau mainkan biar jadi teratur, biar aku tenang,” katanya nyerocos. Dari kata-katanya
    terkandung misteri yang seharusnya dia rahasiakan, tapi nyerocos secara tidak disadari. Kata-kata ’biar
    aku tenang’ aku anggap sebagai satu signal. Tapi aku cuek saja dan seolah-olah tidak mendengar
    perkataannya yang terakhir.

    Aku jadi berniat menyelediki secara diam-diam dan langsung. Seperti sebelumnya, aku mulai memainkan
    simpul-simpul syaraf erotisnya. Aku mulai garap di bagian permukaan kulit yang terbuka, yaitu, di
    telapak kaki, di dekat mata kaki lalu di betis dan di belakang lutut. Bagian-bagian itu mendapat pijatan
    lebih banyak dari titik-titik syaraf lainnya.

    “Aduh, enak kali pijatan kau, Jay, badanku jadi panas, bekeringat pula.” katanya.

    Aku menyarankan kalau mau lebih enak lagi sebaiknya menggunakan krim agar bisa lebih licin diurut. Dia
    menyetujui dan memintaku mengambil krim body lotion di meja riasnya.

    Aku mengulang lagi mengurut telapak kaki dan betis. Ulasan krim makin keatas menuju bagian pahanya yang
    tebal. Tanganku menyusur di bawah sarung sampai ke paha bagian atas. Di paha bagian dalam kusentuh
    titik-titik sensitifnya. Pinggulnya mulai bergerak. Ini sepertinya dia mulai terangsang.Cerita Sex Dewasa

    Aku minta izin untuk mengurut punggungnya dengan krim. Dia setuju dan aku mulai mengoleskan krim dari
    bagian bahu turun sampai ke pinggang. Urutan punggung menimbulkan kenikmatan, karena bagian-bagian yang
    pegal jika diurut akan menimbulkan kenikmatan. Badannya meliuk-liuk menikmati urutanku yang sesekali
    juga menimbulkan rasa agak sakit. Ada bagian otot yang kaku jika diurut akan menimbulkan rasa agak
    sakit, tetapi hanya sebentar.

    Dengan gerakan mengurut, sarungnya mulai terdorong ke bawah sampai ke batas pinggang. Niar masih
    menggunakan BH. Ini karena dia tidak terbiasa dipijat, jadi rasa malunya masih besar. Tanganku mulai
    merambah makin kebawah sampai ke bagian pantatnya yang montok.

    Mulanya aku tekan dan kadang-kadang dengan gerakan memutar di pantatnya. Pijatan seperti itu biasanya
    akan menimbulkan rangsangan ke alat vitalnya. Dia pun berkomentar bahwa bagian itu enak sekali dipijat.
    Kuterangkan bahwa akibat terlalu lama duduk, maka bagian pantat ototnya agak kaku. Aku kembali minta
    izin untuk mengurut bagian pantat agar otot-ototnya lemas. Dia hanya menjawab, “Mainkanlah.”

    Sarungnya sudah tidak berfungsi menutupi tubuhnya, karena sudah berkumpul di pinggang. Body Niar sungguh
    luar biasa. Meski kulitnya tidak putih, tetapi dari ujung kaki sampai leher kulitnya mulus nyaris tanpa
    goresan. Karena tubuhnya tinggi, maka bentuk tubuhnya jadi sangat ideal dengan pinggang mengecil dan
    pantat besar. Aku belum bisa memastikan payudaranya sebesar apa. Selama ini aku lengah menelaah dada
    Niar.

    Tanganku mulai mengurut bagian pantatnya. Mulanya mengurut dari arah atas menyusup ke celana dalam.
    Selanjutnya mengurut dari bawah dengan mendorong-dorong daging bongkahan pantatnya.

    Diakui ada bagian yang pegal di pantatnya yang rasanya nikmat jika diurut. Dia minta bagian itu
    berkali-kali diurut. Dorongan urut aku atur tidak selalu searah. Meskipun selalu mengarah ke atas,
    tetapi titik startnya berubah-ubah sampai ada yang dekat sekali dengan kemaluannya.

    Entah dia sadar atau tidak, tetapi aku sudah berkali-kali menyentuh bagian luar belahan kemaluannya.
    Tanganku bisa merasakan karena bagian itu ditumbuhi-bulu-bulu. Meski kemaluannya sudah terjamah tetapi
    dia tidak protes, malah cenderung menikmati.

    Aku berani menyentuh bagian itu karena yakin Niar sesungguhnya sudah terangsang. Terapi itu cukup lama
    sampai Niar kadang-kadang terlepas mendesis juga.

    Setelah kurasa maksimal merangsang dengan pijatan dari belakang aku minta dia berbalik tidur telentang.
    Niar menurut saja, pasrah. Sarungnya dibiarkan berkumpul di pinggang.

    Baru aku sadari bahwa payudara Niar ternyata cukup besar. Dia menggunakan BH dengan cup model setengah,
    sehingga gumpalan payudaranya menonjol seperti mau tumpah.

    Aku mulai lagi mengurut bagian kaki. Terus sampai ke paha. Paha bagian dalam mendapat terapi yang
    istimewa. Aku ingin membuatnya gila dengan rangsangan yang kulakukan. Bukan hanya paha yang aku urut
    tetapi naik menyelusup di bawah celana dalamnya sampai ke bagian atas termasuk gundukan kemaluannya. Aku
    merasa Niar mencukur sebagian bulu kemaluannya, karena yang terasa berbulu hanya bagian tengah membujur
    ke atas. Tapi aku tidak berkomentar, karena aku berlagak pemijat prof jadi berperan seolah-olah tidak
    hirau dengan masalah kemaluan.

    Niar kelojotan dengan urutan di sekitar kemaluannya. “Aduh, sedap kali, Jay, pandai kali kau
    mengurutnya, bisa mati dengan sedap aku kalau kau urut terus begitu, “ katanya sambil bergelinjang dan
    mulai agak mengerang meski dengan suara tertahan.

    Pertahanan rasa malunya sudah jebol, dia tidak perduli lagi dengan tubuhnya yang nyaris telanjang.
    Kepalanya berkali-kali bergeleng seperti sedang disetubuhi.
    Kurasa sudah cukup mengerjai bagian vitalnya. Aku berpindah ke bagian atas. Dimulai dari bahu lalu
    turun ke dada. “Aduh, enak, Jay. Aku baru percaya sekarang kalau kau pandai mengusuk,” katanya.

    Jariku tertahan oleh ketatnya BH sehingga tidak bisa mengurut bagian samping. Aku sarankan agar dia
    melonggarkan BHnya, agar kerjaku mengurut tidak terhalang. Dia patuh dan dengan meninggikan dadanya
    tangan kanannya meraih pengait BH dibelakang. Kaitan terlepas dan kedua payudaranya langsung kembali ke
    bentuk asalnya.

    Buah dadanya yang tadi seolah berkumpul di tengah sehingga menimbulkan efek menyembul dan membentuk
    lipatan diantara kedua bongkahan, kini melebar sampai tumpah ke samping badannya. BHnya masih menutup
    putingnya.

    Tanganku jadi lebih leluasa mengurut ke samping buah dadanya. Dia sudah tidak perduli lagi buah dadanya
    disentuh oleh laki-laki. Niar hanya menikmati rangsangan dari pijatanku.

    Aku kembali minta izin untuk memijat payudaranya. Seperti wanita-wanita sebelum ini, aku selalu berkilah
    bahwa pijatan payudara itu selain untuk merangsang otot mengencangkan payudara, juga untuk melancarkan
    peredaran darah di sekitarnya. Niar percaya dan mengangguk saja. Dia semakin tidak peduli ketika BHnya
    kusibak sehingga terpampanglah kedua putingnya.

    Kedua putingnya tidak terlalu besar berwarna coklat tua. Aku mulai memijat bagian payudaranya sampai
    menyentuh kedua putingnya. Setiap kali tersentuh putingnya, dia mendesis nikmat.

    Gerakan pijatku berlangsung seperti gaya profesional yang dilakukan seolah-olah tanpa nafsu. Padahal di
    bawah sana sudah ada pemberontakan. Aku melakukan gerakan meremas dari samping kiri dan kanan mengurut
    ke atas sampai jempol dan jari telunjukku bisa meraih kedua putingnya. Putting itu lalu kupelintir lirih
    dan ditekan dengan gerakan memutar.

    Gerakan memutar dengan tekanan lembut di kedua putingnya merupakan terapi berikutnya. Aku melakukan ini
    sambil menjelaskan bahwa efek dari pijatan ini adalah untuk merangsang syaraf di sekitar payudara agar
    berkerja normal. Dengan demikian aliran darah juga akan lancar.

    Sambil melakukan itu aku menekan-nekan kedua payudaranya dengan kedua telapak tanganku. Alasanku untuk
    mencari tahu apakah ada benjolan yang mencurigakan. yang bisa menimbulkan kanker.

    Niar entah percaya entah tidak, tetapi dia mendesis sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. “Aduh, mau
    mati aku rasanya,” katanya tiba-tiba.

    “Kenapa, kak?” tanyaku pura-pura terkejut lalu berhenti memijat.

    “Paten kali pijatan kau ini, aduh mak,” katanya melenguh.

    Kutinggalkan bagian payudara, aku turun ke bagian perut. Bagian perut karena merupakan bagian yang rawan
    bagi wanita, aku tidak berani gegabah. Hanya pijatan halus dan mengurut menaikkan bagian dalam perut
    yang agak turun.

    “Kakak ini beser ya?” kataku.

    “Apa itu beser?” tanyanya.

    Aku terangkan bahwa beser itu adalah sering kencing, tiap sebentar kebelet pipis melulu. Itu dia
    benarkan. Aku katakan bahwa itu adalah akibat kandung kencingnya tertekan jadi kapasitasnya tidak bisa
    menampung air seni secara maksimal. Aku berusaha memperbaiki posisinya.

    “Kak, bagian bawahnya mau dipijat jugakah?” tanyaku.

    “Apa sebabnya perlu dipijat?” katanya dengan logat Medan.

    Di situ ada urat dan syaraf yang kalau kejepit akibatnya wanita bisa mandul. Ini aku ngarang aja.
    Padahal dibalik itu aku ingin megang kemaluannya. Yah berdalih lah biar kelihatannya tidak memalukan.

    “Boleh-bolehlah,” katanya.

    Tanganku mulai menelusur ke bagian bawah mengurut ke bawah celdam. Aku bergerak dari bagian pinggir lalu
    ke arah tengah. Mulanya celdamnya masih menutupi segitiga kemaluannya. Namun karena gerakan tanganku
    celana itu melorot juga ke bawah, sehingga terpampanglah bukit pubis dengan jembut rapi tercukur.

    Urutan tanganku tidak sampai menyelusup ke belahan kemaluannya, tetapi kedua pinggirnya sudah berkali-
    kali tertekan kedua jariku. Niar sudah tidak sungkan-sungkan lagi melenguh dan mendesis. Tampaknya dia
    sudah tidak peduli lagi dengan harus menahan malu karena terangsang. Telapak tanganku menekan bagian
    luar kenaluannya dan melakukan pijatan dengan mengurut dari bagian pantat sampai ke atas. Jari tengahku
    walau tidak sampai terpelsest masuk ke belahan kemaluannya tetapi bisa merasakan ada cairan diantara
    belahan itu.Cerita Sex Dewasa

    “Aduh, Jay, lama-lama bisa aku terkam kau, Jay,”

    “Kenapa, Kak?“ kataku belagak bodoh.

    “Kau bikin aku gila,” katanya.

    “Kakak baru gila sebentar sudah sombong. Aku dari dulu gila tak pernah sombong,” kataku mencandai dia
    yang sedang terombang-ambing dengan nafsunya.

    Niar mungkin tidak bisa menyimak kata-kataku lagi, karena dia heboh dengan erangan dan desisannya. Aku
    makin dalam menggarap kemaluannya. Jari tengahku perlahan-lahan terbenamkan ke belahan kemalauannya
    dengan gerakan menyapu dari bawah ke atas. Gerakan ini berkali-kali sampai aku bisa merasakan
    clitorisnya menegang.

    Setelah rasanya dia hampir memuncak. Aku berhenti melakukan pijatan dan aku katakan “Sudah selesai,
    kak.” Aku duduk disamping badannya yang terbujur telanjang.

    “Aduh, kau menyiksaku, bisa aku bunuh kau nanti,” katanya.

    “Semua sudah aku pijat, kak, apalagi kak?” kataku lugu.

    Ditariknya badanku sehingga aku menindih badannya. Niar lalu mencium wajahku lalu bibirku. Aku terus
    terang belum siap menerima serangan, sehinggga ketika mulutku dibekap oleh mulutnya aku megap-megap.
    Niar buas sekali menyerangku. Dia gulingkan badanku sehingga aku ditindihnya.

    “Kak, sabar, kak. Kakak tenang dulu, “ kataku membalikkan badannya.

    “Ah, kau bikin aku gila,” katanya.

    “Masih ada lagi terapi, kak, tapi ini terapi khusus, hanya untuk yang sangat membutuhkan,” kataku.

    “Apa pula itu?” katanya tidak sabar.

    “Sekarang kakak tenang dulu biar aku bantu agak rileks. Kakak lemaskan badan kakak ya,” kataku.

    Bagai kerbau dicucuk hidungnya, Niar menuruti semua perintahku. Sarungnya kulepas, BHnya kusingkirkan.
    Bantal kuselipkan di bawah pantatnya. Lalu kedua kakinya kutekuk. Aku merangkak diantara kedua kakinya
    lalu dengan bersetumpu siku aku mendekatkan mulut ke kemaluan Niar.

    Sebagai penjilat yang sudah banyak mendapat penghargaan, aku memulai usapan lidahku menyapu bibir luar
    kemaluan Niar. Selanjutnya dengan bantuan kedua tanganku aku membelah kemaluannya sehingga tepampanglah
    kemaluan dengan warna merah ditengahnya dan bibir luar yang berwarna agak ungu. Lidahku mulai menyapu
    sekitar lubang vagina dari arah bawah sampai ke atas.

    Usapan lidahku membuat Niar menggelinjang. Setelah kurasa cukup ujung lidah mulai mengarah ke puncak
    pertemuan bibir dalam di bagian atas. Di lipatan atas itu ada sebentuk bintil mencuat, berwarna merah
    mengkilat. Yang tertutup lipatan bibir dalam. Dengan bantuan kedua tanganku ku kuak lipatan yang
    menghalangi bintil itu sehingga terekspos bebas. Setelah kupastikan clitoris Niar kutemukan aku
    membekapkan mulut ke bagian atas kemaluan Niar. Lidahku langsung berputar mengitari sekitar clitoris.

    Mendapat terapi lidah ini, Niar menggelinjang. Lidahku bergerak kanan-kiri dibagian atas.Pada awalnya
    aku menjaga agar bagian lidah ini tidak sampai menyentuh ujung clitorisnya. Kemudian secara bertahap dan
    pelan bagian bawah lidahku mulai menyentuh clitoris. Aku merasa gerakan ini menimbulkan dampak
    clitorisnya makin menegang. Aku mengubah gerakan lidah dari bawah keatas menyapu seluruh bagian
    clitoris.

    Setiap kali lidahku menyentuh ujung clitoris, Niar menggelinjang. Bagian ujung clitoris pada awal
    rangsangan mungkin masih dirasa terlalu geli dan ngilu jika disentuh langsung. Oleh karena itu aku belum
    melakukan pemusatan jilatan di ujung clitorisnya.

    Aku mengubah sapuan lidah ke bagian bawah letak clitorisnya. Ujung lidah kuusahakan mengeras sehingga
    bisa mendeteksi pangkal clitoris. Bagian pangkal itulah yang kemudian menjadi sasaran jilatan maut.

    Niar sudah mendesis, melenguh nggak karuan, bahkan kadang-kadang berbicara, tapi aku tidak jelas
    mendengar dan pastinya juga tidak bisa menjawab. Aku mencoba menjilat ujung clitorisnya untuk memastikan
    apakah rasa geli dan ngilunya sudah berkurang. Memang rupanya rasa geli berubah jadi rasa nikmat. Niar
    makin liar ketika jilatan lidahku fokus ke ujung ke ujung clitorisnya dengan gerakan kiri–kanan.

    Niar makin gila dan tangannya mulai ikut mengatur irama gerakan lidahku sambil meremas rambutku. Sesaat
    kemudian tangannya tidak bergerak, Dia diam seperti sedang berkosentrasi. Tidak lama kemudian dia
    mengerang panjang sambil menekan kepalaku ke kemaluannya dan kedua pahanya menjepit.
    Lidahku kutekan ke clitorisnya dan diam tanpa gerakan. Aku hanya merasakan denyutan pada clitorisnya
    seperti denyutan penis ketika mencapai orgasme. Niar memang mencapai orgasme. Setelah denyutan orgasme
    mereda, kulepas mulutku dari kemaluannya dan aku duduk diantara kedua pahanya dengan posisi bersimpuh.

    Jari tengah tangan kanan mendapat tugas berikutnya. Dengan posisi telapak tangan menghadap keatas, jari
    tengah perlahan-lahan menerobos ke dalam. Tujuannya adalah mencari G-spot. Dengan rabaan halus aku
    segera menemukan G-spot. Bagian itu sudah seperti membengkak bentuknya kira-kira seperti bulatan uang
    logam 100 perak, tapi lebih kecil sedikit. Jaringan lunak itu perlahan-lahan aku usap dengan gerakan
    halus sekali.

    Awalnya Niar tidak menampakkan reaksi, tetapi setelah 5 atau 10 kali usapan dia mulai menggelinjang dan
    mendesis. Sambil terus mengusap G-spotnya untuk mempercepat orgasmenya, jempol kiriku ditugaskan
    mengusap clitoris yang sudah kembali menegang. Niar mengerang-erang lalu berdesis lalu mengerang lagi.
    Dia tidak karuan bingung merasakan kehebatan rangsangan yang menerbangkan dirinya.

    Dalam waktu tidak terlalu lama kedua tangan Niar meremas sprei dan menariknya sambil menggigit bibir
    bawahnya dia mengerang panjang sekali. Pada saat itu, lalu ku kuak belahan vaginanya selebar mungkin.
    Dari lubang kcingnya yang berada dibawah clitorisnya menyemprotlah cairan tapi tidak terlalu banyak.
    Cairan itu agak cair, tetapi lebih kental dari urine. Mungkin sekitar 5 kali, pancaran itu menyembur
    lalu hanya meleleh.

    Niar tergeletak lemah. “Aduh gila, aku belum pernah mencapai nikmat kayak gini, pandai kali kau
    memainkan perempuan, Jay, “ kata Niar dengan suara lemah. “Sini, Jay, aku ingin memeluk kau,” katanya
    sambil menarik tanganku dan aku dipeluknya erat sekali.

    Kulemaskan badanku dan kuikuti kemauannya. Terasa kemaluannya ditekankannya ke pahaku lekat sekali lalu
    digerak-gerakkannya. Aku masih berpakaian lengkap pada saat itu.

    “Lemas kali badanku, Jay, aku rasa ngantuk kali,” katanya.

    Dia lalu meregangkan pelukannya dan aku pun bangkit. Badannya telanjang bulat telentang. Niar sudah
    mulai mendengkur. Kasihan dia maka kucari selimut dan kututupi tubuhnya. Niar tertidur pulas dengan air
    muka berseri-seri.

    ***

    Aku tidak menyangka ketika awal aku indekos di rumah ini bakal mengalami kejadian yang mencengangkan.
    Jika kuceritakan kepada siapa pun pasti, pasti tidak akan ada yang percaya. Tapi meskipun keinginan
    bercerita pengalaman ini sangat menggelitik hatiku, aku tetap berusaha menyimpan rapat-rapat rahasia
    ini.

    Aku tidak pernah menghayalkan apalagi berencana untuk mencicipi para penghuni kos ini. Tapi sejarah
    sudah menetapkan alur hidupku, aku hanya mengalir saja kemana arah yang sebaiknya aku tuju. Sulit
    rasanya mempercayai, bahwa 8 cewek penghuni kos ini semua sudah pernah aku tiduri. Bukan itu saja Ibu
    kosnya yang janda dan tampilan berwibawa dan sangat menjaga kesopanan ternyata paling rajin mengundangku
    ke kamarnya.
    Aku menjadi orang yang sangat penting di rumah itu. Kemampuanku terapi pijat refleksi, bisa memasak dan
    menjadi tong penampung curhat banyak menjadi tumpuan penghuni kos.

    Semua hobiku itu tak kusangka memberi penghasilan yang lumayan. Aku tidak lagi perlu membayar uang kos.
    Aku tidak tahu bagaimana duduk perkara sebenarnya, apakah ibu kos yang menolak pembayaran uang kos itu
    karena memang ia tidak mau dibayar, atau karena sewa kostku ada yang membayari.

    Setiap kali aku mau bayar, si Ibu kost selalu bilang, “Nggak usah, dik, semua membutuhkan adik di sini,”

    Aku selalu menolak jika diberi uang setelah aku memijat cewek-cewek penghuni kost ini.Aku memang hanya
    ingin membantu, toh aku juga mendapat kenikmatan dari mereka.

    Pernah satu kali, Mbak Ratih menanyakan no rekening bankku, katanya dia tidak punya tabungan di bank itu
    dan ada temannya mau transfer uang untuk dia melalui rekening bankku karena kebetulan bank temennya sama
    dengan bank tempatku menabung. Meski kemudian uang yang ditransfer itu sudah kuberikan kepada Mbak
    Ratih, tetapi di hari-hari berikutnya tabunganku terus bertambah. Nilai yang masuk setiap bulan bukan
    kecil. Menurut ukuranku yang masih kuliah, jumlah uang itu sangat besar.

    Mungkin setelah aku lulus kuliah, aku nggak bakal bisa menerima gaji sebesar uang yang masuk setiap
    bulan ke rekeningku. Aku tak kuasa membendung masuknya uang ke rekeningku itu, aku pun tak cukup kuat
    punya niat untuk melakukan investigasi. Aku jadi teringat pepatah orang Batak . “Sakit meminta tak
    diberi, tetapi lebih sakit memberi tapi tak diterima.”

    Dari pada aku sok nggak butuh dan bisa menyakitkan hati orang, lebih baik aku nikmati saja yang terjadi
    pada hidupku. Manis atau pahit kalau kita enjoy, pasti nikmat-nikmat aja.

    Bukan hanya tabungan yang terus membengkak, rokok pun sekarang aku tidak pernah beli. Kadang-kadang ada
    saja yang memberiku oleh-oleh. Bentuknya bermacam-macam, ada T-shirt, ada celana jeans, sepatu. Ah,
    banyaklah. Yang bikin aku nggak enak hati Ibu kos memaksa agar kamarku dipasang AC.

    Cewek-cewek di sini, jika di luar mereka semua punya pacar, kecuali ibu kost. Soal dia, aku kurang tahu
    persis. Tetapi ketika mereka di rumah ini semua merapat mendekatiku.

    Kami bergaul akrab satu sama lain, semua dekat dan semua saling mengerti. Tidak ada rasa cemburu
    diantara mereka. Misalnya aku sedang masuk ke kamar A, yang lainnya bisa menerima. Tidak ada jadwal
    khusus yang diatur, kapan aku ke kamar A, kapan ke kamar B dan seterusnya. Semuanya berjalan secara
    alamiah, siapa yang paling membutuhkan, dialah yang menggendongku. Kalau aku periksa catatan rahasiaku,
    memang jadwal dateku dengan mereka tidak sama, ada yang dalam sebulan sampai 8 kali, tetapi ada yang
    cuma sekali. Namun itupun bisa berubah di bulan lainnya, yang bulan lalu dia mendapat jatah 8 kali,
    bulan berikutnya ternyata bisa cuma sekali. Aneh juga ya.

    Sebelumnya aku mau bercerita bagaimana akhirnya Juli bisa kugarap. Bagi pembaca yang mengikuti cerita
    ini sejak awal mudah-mudahan masih mengingat siapa-siapa saja teman satu kostku.

    Aku bisa menggarap Juli adalah gara-gara Kristin sahabat dekatnya. Mereka sama-sama berdarah Cina.
    Mereka bukan sekampung, sebab Juli adalah Cina Padang. Mungkin karena mereka satu angkatan waktu
    sekolah, sehingga karena itu jadi akrab.

    Kristin suatu kali manarik tanganku untuk berpisah dengan teman-teman lain. Dia ingin menyampaikan
    sesuatu. “Eh, ini rahasia, tapi gue harus sampaikan ke lu, karena mungkin lu bisa bantu, “ kata Kristin
    membuka pembicaraan.

    “Gini, Jay, aku kasihan ama Juli, dia itu ternyata nafsu sexnya kuat, tapi sangat pemalu. Jadi gini,
    Jay, dia sering bermasturbasi karena sulit mengendalikan nafsunya.“ kata Kristin.

    Aku diam saja tidak memberi reaksi dan menanya apa pun. Aku memberi kesempatan kepada Kristin untuk
    menuntaskan ceritanya. Sebab aku menduga, Kristin sudah bersusah payah sebelum ini menyusun kata-kata
    untuk mengungkapkan ini kepadaku.

    “Dia sampai sering nangis sendiri karena tidak tahan menahan gejolak nafsunya. Padahal dia kan belum
    pernah pacaran, jadi kayak nggak ada penyaluran, gitulah, Jay,” katanya.

    “Lho, cowok yang suka ngantar dia itu apa bukan pacarnya?” tanyaku.

    “Cowok yang mana? Itu kan supir kantornya, ngawur aja lu,” jawab Kristin.

    “Jadi aku harus menolong bagaimana, masak mendadak tiba-tiba aku ajak, Jul maen yuk,” tanyaku sambil
    bercanda.

    “Lu gila, orangnya susah diajak serius nih, becanda melulu. Udahlah, pokoknya lu harus cari jalan
    bagaimana caranya supaya dia juga merasa tertolong dan tidak sungkan,” kata Kristin.

    Juli menurutku tidak jelek, tetapi tubuhnya yang tambun itu membuatnya kurang diminati cowok. Andai saja
    beratnya bisa dikurangi 20 kg saja, Juli bakal menjadi cewek idaman.

    Setelah pembicaraan rahasia itu, aku segera mencari bahan bacaan yang berkaitan dengan pengurangan berat
    tubuh melalui pijat refleksi. Penelusuran itu membawaku sampai kepada hipnotherapy. Melalui cara ini
    juga bisa membantu menguruskan badan.Cerita Sex Dewasa

    Ilmu ini kurasa penting. Aku kemudian mengikuti kursus hipnotherapy. Masalah biaya aku tidak pusing,
    karena tabunganku memadai. Namun aku merahasiakan bahwa aku mulai mendalami hipnotherapy. Jadi tak satu
    pun tahu aku mempunyai aktifitas baru mendalami hipnotis.

    Setelah merasa aku mulai bisa menguasainya meskipun belum canggih benar, aku mengontak Kristin.
    “Bagaimana kalau aku mencoba menterapi penurunan berat badan. Ini ilmu baru yang belum pernah aku
    praktekkan. Tapi kalau Juli tidak keberatan dan mau jadi kelinci percobaan aku akan coba ke dia,”
    kataku.

    “Nah, ini cocok,“ kata Kristin bersemangat. “Eh, tapi soal nafsunya itu gimana, apa bisa diterapi juga?”
    katanya kemudian penuh ragu.

    “Ah, itu sih gak perlu diterapi, biar aku saja yang nampung,” kataku sambil senyum-senyum.

    “Ah, lu emang gila, apa nggak takut gempor, emang lu payah, becanda mulu, sekali-kali serius napa?” kata
    Kristin.

    Kristin tidak sabar ingin segera menyampaikan kabar baik itu kepada Juli. Dia bergegas ke kamar Juli.
    Tidak kusadari berapa lama mereka berdua berunding. Yang jelas malam itu tinggal aku sendiri yang berada
    di ruang tengah menonton pertandingan bola.

    “Jay,” aku mendengar suaru lirih, ternyata asalnya dari Kristin. Dia mendekat dan berkata setengah
    berbisik, “Juli mau diterapi untuk kurus, kalau pun nggak berhasil nggak pa-pa. Dia siap jadi kelinci
    percobaan lu, “ kata Kristin. “Eh, tapi jangan disinggung-singgung soal nafsu sexnya ya, itu dia minta
    dirahasiakan sekali, awas lu,” tambahnya.

    “Ok, bos, siap melaksanakan tugas,” jawabku sambil berdiri.

    “Sekarang bisa?” tanya Kristin lagi.

    “Siap,” kataku.

    Diambilnya remote TV lalu dimatikan dan aku digelandang masuk ke kamar Juli. Di kamar itu Juli sedang
    bengong duduk di tempat tidur. “Apakah dia berharap juga bahwa malam ini aku memulai terapinya?” kataku
    bertanya dalam hati.

    Aku duduk dikursi berhadapan dengan Juli. Aku katakan bahwa terapi menguruskan badan ini belum tentu
    berhasil. Soalnya aku belum pernah melakukakannya dan disamping itu harus ada kerjasama dengan yang
    diterapi. Juli mengangguk-angguk dan bisa memahami. Kristin yang duduk di samping Juli mendesak temannya
    agar menuruti apa yang kuminta, maksudnya menuruti apa yang kunasehati.

    Juli mengaku beratnya 85 kg, tinggi 160 cm, umur 24 tahun. Idealnya dia harus menurunkan 25 sampai 30
    kg. Ini bukan pekerjaan ringan pikirku. Namun kalau aku berhasil ini adalah investasi besar.

    Aku meminta Juli terbuka denganku, maksudnya mengenai pola hidupnya dan pola makannya. Ini akan sangat
    membantu aku menemukan cara terbaik dan aman menurunkan berat badannya. Dia mengaku suka ngemil. Memang
    makannya tidak banyak. Porsinya sedikit, tetapi sulit menahan selera melihat jajanan.

    Di samping itu, dia hobby makanan yang berlemak, bersantan dan minum manis serta kue coklat. Olahraga
    sama sekali tidak pernah, karena dia cepat capek dan nafasnya sesak. Dia mengaku mungkin dia punya
    penyakit asma.

    “Okelah, coba saya chek up dulu,” kataku.

    Aku memintanya tidur telentang. Juli mengenakan celana piyama. Seharusnya piyama longgar, tetapi di
    tubuh Juli jadi ketat, terutama di pahanya. Aku mulai menekan-nekan simpul syaraf di telapak kakinya.
    Ketika simpul syaraf pencernaannya aku tekan, Juli menjerit. Pantaslah, dia harus sering makan. Sebab
    kalau tidak perutnya akan terasa perih. Aku jelaskan soal itu, dia membenarkan.

    “Tuh kan gue bilang apa, Jay ini ngerti lho, udahlah lu percaya aja ama dia gak usah banyak bantah,”
    kata Kristin mencecar temannya. Juli yang dicecar begitu hanya meringis saja, sebab dia sedang menahan
    rasa sakit.

    “Udah, gue tinggal, gue ngantuk, lu pokoknya bereslah ama Jay,” kata Kristin lalu beranjak dan
    meninggalkan kami berdua.

    Aku mencoba menekan syaraf-syaraf yang bisa berakibat mengurangi selera makannya. Syaraf-syaraf itu jika
    ditekan kata Juli sakit sekali. Simpul syaraf seperti ini memang tidak bisa dilemaskan dalam satu kali
    terapi. Juli mau mengerti jika terapi ini harus berulang-ulang.

    Aku mencoba menekan semua simpul syaraf yang memberi dampak menurunkan bobot itu. Semua titik tersebut
    jika ditekan sedikit saja, Juli sudah menjerit kesakitan. Hampir satu jam aku menelusuri semua syaraf
    langsing itu, sampai Juli badannya basah kuyup karena keringat akibat menahan sakit.

    “Bagaimana, Jul, semua yang ditekan sakit, apa kamu kuat diteruskan?” tanyaku.

    “Biarin deh aku tahan, yang penting aku bisa kurus, “ katanya bersemangat.

    Aku lalu menyarankan agar dia berganti mengenakan daster saja, sebab semua bajunya sudah basah
    berkeringat. Tapi akan lebih baik kalau mengenakan sarung saja sebab selain tidak terlalu gerah, juga
    memudahkan aku menyentuh simpul-simpul syaraf. Kali ini aku serius, bukan mau ngerjain Juli. Kasihan
    juga sih.

    Juli menurut dia bangkit. Aku lalu menyarankan dia agar ke kamar mandi dulu untuk pipis. Lebih baik
    pipis sekarang daripada nanti ditengah-tengah terapi kebelet pipis. Aku juga ingin merokok dulu di luar
    sebentar. Juli setuju dan aku keluar lalu mengasapi ruangan. Setelah sebatang rokok putih habis tidak
    lama kemudian Juli memanggilku.

    Juli mengenakan sarung yang diikatkan di dadanya. Aku terperangah juga, badannya putih sekali dan
    semuanya serba besar. Payudaranya besar dan pantatnya juga besar. Setelah menyiapkan semua perlengkapan
    termasuk body lotion aku memulai terapi dengan menyuruhnya tidur telungkup.

    Aku kembali mengulang menekan simpul-simpul syaraf tadi. Namun sekarang dengan bantuan cream aku jadi
    lebih lancar mengurut bagian-bagian simpul syaraf di seputar kakinya. Menurut Juli sekarang tidak lagi
    merasa terlalu sakit seperti pertama tadi. Aku jelaskan bahwa jika diurut, maka penekanan simpul syaraf
    tidak terfokus pada satu titik, jadi yang dirasa adalah sakitnya tidak seberapa.

    Dari tidak ada niat sampai muncul sifat iseng dan ingin tahu. Dua hal terakhir ini adalah kelemahanku,
    terutama suka iseng. Jadinya seperti biasa simpul syaraf erotis aku senggol-senggol juga. Rupanya
    terhadap Juli simpul itu cepat sekali menimbulkan reaksi. Dia jadi gelisah.

    Kubiarkan dia tersiksa dengan kegelisahannya. Paling tidak membantu aku untuk menyingkap sarungnya agar
    aku bisa meraih bagian-bagian yang tersembunyi. Dia pasrah saja ketika sarungnya aku singkap keatas. Aku
    memerlukannya karena akan mencapai bagian paha. Luar biasa besar pahanya dan putih bersih. Sambil
    mengurut aku mengagumi kebesaran itu.
    Urut dan penekanan simpul syaraf aku atur selang-seling. Jika dia kesakitan berikutnya aku urut bagian
    yang nyaman dan menggairahkan. Saat dia mulai syur aku tekan lagi bagian yang sakit. Juli kemudian
    mengaku bingung merasakan pijatanku.

    “Sebentar enak, sebentar sakit, bisa nggak dipijet biar enak terus?“ kata Juli.

    “Nanti lama-lama yang sakit jadi terasa enak, tenang aja, tapi sorry nih aku terpaksa menyingkap sarung
    sampai begini, kamu keberatan apa enggak?”

    Dia langsung menyambut cepat bahwa dia tidak keberatan yang penting bagi dia terapiku lekas
    berhasil.”Ibaratnya aku harus telanjang pun aku turuti, Jay,” kata Juli.

    Aku langsung menjawab, “Ya kalau nggak keberatan telanjang aja, aku jadi lebih gampang, nggak ngraba-
    raba di dalam sarung,“ kataku dengan nada yang kutenang-tenangkan.

    “Dibuka semuanya Jay?” tanyanya minta konfirmasi.

    “Kalau nggak keberatan, terserahlah,”

    “Ya udah, demi kesehatan dan menghargai pertolongan kamu aku ikut saja,” katanya sambil berdiri dan
    meloloskan sarung, lalu BH dan celana dalamnya dengan posisi membelakangiku. “Tapi jangan diketawain ya,
    badanku gemuk,”

    “Dari dulu udah tau kamu gemuk, masak sekarang mau ngetawain, udahlah kamu anggap aja aku nggak ada dan
    yang mijet ini mesin,” kataku berusaha membangkitkan percaya dirinya.

    Namun di dalam hatiku terkagum-kagum dengan gumpalan lemak yang begitu banyak di seluruh tubuhnya. Aku
    bertanya sendiri, apa bisa lemak-lemak itu nanti meleleh. Kalau bisa hebat juga aku.

    “Aku belum pernah meniduri cewek gemuk, kira-kira rasanya bagaimana ya. Empuk kali. Ah jadi pengen nih,”
    kataku dalam hati.

    Aku mulai menggarap lebih banyak simpul syaraf erotis dari pada syaraf yang melangsingkan. Toh dia juga
    sudah tersiksa kesakitan dari tadi, jadi perlu diberi terapi nikmat.

    Memang benar kata Kristin, nafsunya mudah sekali dibangkitkan. Belum setengah perjalanan dia sudah
    mengaduh-aduh keenakan dan kegatelan. Aku jadi makin tergoda dengan rintihannya.

    “Aaaaaduuuuh, Jaaayyy…” Ini bukan rintihan sakit, tapi nikmat. Bokongnya yang gempal mulai aku garap. Di
    situ banyak sekali syaraf-syaraf erotis berada. Lalu aku turun lagi menekan beberapa bagian di paha
    sebelah dalam dekat sekali dengan kemaluannya. Berhubung pahanya besar sekali aku minta dia
    merenggangkan kakinya. Kakinya sudah merenggang cukup jauh, tetapi tetap saja kedua belah pahanya masih
    rapat. Aku terpaksa menyelipkan tanganku untuk meraih titik yang perlu disentuh.

    Karena begitu gempalnya aku kurang menyadari jika suatu saat tanganku sudah menyentuh bibir kemaluannya.
    Aku terkejut sendiri menyadari tanganku sudah mencapai bagian vital, padahal sesungguhnya aku belum mau
    sampai di situ.

    Kuakhiri menyentuh daerah sensitif, berpindah ke pinggang lalu naik ke bahu dan tengkuk. Punggungnya
    ketika aku tekan terasa tebal sekali lemak di situ. Senang betul aku memainkan lemak-lemak di situ
    Setelah bahu kedua tanganku menyelusup ke ketiaknya dan melakukan pijatan badannya bagian samping.
    Bagian pinggir buah dadanya jadi teraba juga. Bagian buah dadanya melebar ke samping karena bagian
    depannya tertekan.

    Setelah selesai bagian belakang aku minta dia berbalik. Pemandangan makin indah. Dibagian atas bergumpal
    susu yang besar di bawahnya perut yang berlipat kebawah lagi segitiga, tapi rambutnya cuma sedikit dan
    membujur ke bawah sepasang paha putih yang besar sekali.

    Aku berusaha tenang dan seolah-olah tidak melihat apa-apa. Padahal sedang terkagum-kagum menyaksikan
    bongkahan lemak bergumpal dimana-mana dan putih bersih.

    Aku kembali mengurut dari ujung kaki terus naik keatas sampai ke pangkal paha. Juli merintih sampai
    seperti sedang menangis. Aku berusaha menyimak apakah dia benar menangis atau sekedar merintih. Ternyata
    dia merintih sambil menangis.

    Aku tanyakan kenapa menangis, apa menyesal atau karena apa. Aku sempat menghentikan pijatan untuk
    memastikan keadaan.

    “Aduh, Jay, aku nggak tau kenapa aku begini. Aku rasanya seperti disiksa oleh keinginanku sendiri,” dia
    tidak meneruskan kata-katanya. Aku mengerti apa yang dimaui sebenarnya.

    Dengan gaya cool aku menenangkan dia. “Sudah, Yul, kamu tenang saja, pokoknya kita harus bisa
    merahasiakan semua yang terjadi di kamar ini. Aku paham apa yang ada di dalam tubuhmu, sabar sebentar ya
    biar aku tuntaskan terapi ini. Kamu kalau mau berteriak atau apa pun lepas aja, jangan ditahan ya, nanti
    dada kamu jadi sesak,” kataku.

    “Aduh, Jay, terima kasih, kamu ternyata sangat pengertian. Sorry ya, Jay, jangan ketawain aku ya kalau
    aku bersuara atau bertingkah aneh,” katanya mengiba.

    Aku jadi kasihan. Kusarankan agar dia menutup mukanya dengan bantal saja agar suaranya tidak terlalu
    terdengar sampai ke luar kamar. Dia segera menuruti saranku. Meski tertutup bantal rintihannya masih
    juga terdengar, tetapi tidak terlalu keras.

    Aku memijat kedua paayudaranya. Dia makin merintih. Apalagi ketika tersentuh kedua putingnya yang
    berwarna merah jambu. Putingnya tidak terlalu besar sehingga bentuknya sangat menggairahkan.

    Perutnya yang penuh lemak agak sulit mengurutnya.Aku hanya menggosok-gosok saja. Pijatanku turun ke
    bawah dan mulai menggarap sekitar kemaluannya. Juli tidak hanya memberi ruang dengan merenggangkan
    kakinya tetapi kakinya ditekuk dan dibukanya selebar mungkin. Meski sudah begitu besar celah yang dia
    buka, tetapi belahan kemaluannya belum terbuka juga karena di situ juga bergumpal lemak menutupi celah
    itu.

    Aku menggosok kemaluannya perlahan-lahan sambil menyelipkan jari tengahku menerobos masuk ke dalam
    belahan yang ternyata sudah sangat basah. Pijatan di kemaluan itu kulakukan tanpa minta izin lagi ke
    pemiliknya. Aku tekan sebentar clitorisnya. Dia menggelinjang dan suaranya terdengar agak keras
    mengerang di bawah bantal.

    Selesai sudah semua terapi pijatanku. Aku lalu berbisik di telinganya. “Jul, pijatannya sudah selesai,
    boleh aku bantu biar kamu lega.”Cerita Sex Dewasa

    Juli hanya menangguk lemah, lalu kembali menutup bantal ke wajahnya. Aku membuka semua pakaianku kecuali
    celana dalam. Terapi selanjutnya adalah mengoral vaginanya.

    Tinggi juga faktor kesulitan yang kuhadapi untuk mengoral kemaluan Juli. Lemak yang berlebihan
    menghalangiku untuk mencapai bagian clitorisnya. Aku harus mengatur posisi agar masih bisa bernafas
    sambil mengoral. Juli tersengal-sengal menikmati oralku. Seluruh bagian mulutku sampai ke dagu basah
    kuyup oleh cairan Juli. Dia cepat sekali mencapai orgasme. Bukan rintihan atau erangan yang kudengar,
    tetapi suara seperti menangis. Kubiarkan saja dia mengekspresikan kenikmatannya.

    Selanjutnya aku berusaha merangsang G-spotnya, Dengan gerakan hati-hati aku memasukkan jari tengahku ke
    dalam liang vaginanya. Terasa sekali sempit. Di dalam vagina juga banyak gumpalan lemak, sehingga agak
    sulit mencari mana tonjolan G-spot. Aku hanya mencoba membaca reaksinya ketika bagian dalam kujamah.
    Sampai aku yakin menemukan bagian yang tepat, aku bertahan di titik itu dengan elusan yang lembut.

    Hanya sebentar saja dia sudah meronta-ronta ketika orgasmenya kembali datang. Vaginanya banjir seperti
    ngompol. Sprei di bawahnya basah kuyup. Setelah orgasmenya mereda aku menindihnya dengan sebelumnya aku
    melepas celana dalamku. Kami berdua telanjang bertindih-tindihan. Aku menggesek-gesekkan batang penisku
    di luar belahan kemaluannya. Juli menyambutnya dengan menggoyang-goyangkan pinggulnya.

    “Aduh, Jay, nikmat sekali, Jay. Aku belum pernah begini. Terusin aja, Jay, masukkan! Aku sudah tidak
    perawan lagi kok.“ bisiknya.

    Aku mengerahkan ujung penisku ke gerbang vaginanya. Meski licin, tetapi aku berkali-kali gagal
    memasukkan kepala penisku. Aku mengubah posisi dengan duduk bersimpuh dan menselaraskan letak kepala
    penis dengan lubangnya. Aku terpaksa menguak lebar kemaluannya untuk memastikan dimana letak mulut
    vagina Juli.

    Setelah jelas baru aku dorong pelan-pelan. Bagian kepala sudah berhasil terbenam, tetapi untuk maju
    masih agak sulit. Juli merintih sakit katanya. Aku berusaha menyabarkannya agar dia menahan sebentar
    saja rasa sakit itu. Batang kutekan lagi sampai hampir setengah tertelan kemaluan Juli.

    Dengan posisi setengah aku mulai memaju mundurkan penisku sampai Juli merasa tidak sakit lagi. Setelah
    dia merasa nyaman dan mendesah-desah, kutekan lagi perlahan lahan sampai seluruhnya ambles ke dalam
    vaginanya. Meski banyak lemak di dalamnya aku merasa vagina Juli masih sempit, maklum lubang ini belum
    pernah dikunjungi penis.

    Juli merintih sambil berucap betapa enaknya vaginanya terasa terganjal dan hangat. Aku melakukan gerakan
    mengedut-kedutkan penisku beberapa kali. Juli semakin mengerang merasakan nikmatnya kekerasan penisku
    yang mengganjal di dalam liangnya.

    Setelah yakin semua batang terbenam di dalam aku kembali rebah menindih tubuh Juli. Kedua putingnya
    kuhisap bergantian, sambil penisku tetap menancap di dalam liang vaginanya. Aku terus melakukan gerakan
    mengedut sambil menciumi kedua putingnya. Juli terangsang hebat dan dia berteriak, “Jay, aku nyampe,“

    Sementara dia berogasme, bibirnya aku lumat dan kuhisap dengan gerakan yang ganas. Dia semakin bernafsu
    dan orgasmenya berlangsung cukup lama. Aku tidak tahu pasti orgasme jenis apa yang dia rasakan.

    Setelah reda dia berkomentar bahwa baru kali ini dia merasa nikmat yang luar biasa. Semua pening dan
    sesak di dadanya menjadi plong. Matanya terasa ngantuk dan lemes. Aku tidak memberi kesempatan dia
    tertidur. Segera aku pompa dengan gerakan 8 kali hunjaman dangkal dan sekali dalam.

    Kosentrasiku menghitung hunjaman ini menganggu konsentrasi menikmati vaginanya. Mungkin ini menyebabkan
    aku jadi bisa bertahan lama.
    Juli tidak jadi jatuh tertidur, dia kembali mendesah, mengerang dan kepalanya digeleng-gelengkan.

    “Aduh, Jay, aku lemas banget, tapi nikmat sekali. Aduh, Jay, aku nyeraaahh,” katanya.Sementara aku terus
    memompanya.

    Efek dari pijataan ku tadi berakibat dia mudah sekali mencapai orgasme. Aku sudah tidak lagi
    memperhatikan sudah berapa kali dia mencapai orgasme. Padahal permainan baru berlangsung 15 menit. Aku
    terus memompa sampai dia tidak mampu lagi bereaksi karena kelelahan yang amat sangat. Aku berkosentrasi
    sampai ketika akan meledak buru-buru aku cabut dan ditumpahkan ke perut Juli. Juli hanya membuka mata
    sebentar lalu jatuh tertidur. Di bagian akhir, tampaknya dia sudah setengah tidur.

    Seperti biasa aku segera menutup selimut ke seluruh tubuhnya dan aku kembali berpakaian. Dengan langkah
    berjingkat ku tinggalkan kamar Juli.

    Aku mendapat pengalaman baru lagi merasakan lemak tebal.

    Dua hari setelah itu aku digamit Kristin. Dia berbisik, “Juli berterima kasih sekali sama lu, katanya
    terapinya luar biasa. Dia juga senang karena selera makannya jadi kurang banget,”

    Sedang kami berdua tiba-tiba muncul Juli. “Jay, beratku turun sekilo, kayaknya terapimu mulai
    menunjukkan hasil.” katanya.

    Aku mengingatkan agar dia jangan terlalu bersemangat menurunkan berat badan. Sebab jika turun terlalu
    drastis, kurang baik terhadap kesehatan. Aku menyarankan agar dia berusaha jalan lebih jauh dari
    biasanya dan kalau bisa hindari naik lift atau eskalator. Dengan begitu badannya tetap kencang meski
    bobotnya berkurang.

    Selain terapi pijat refleksi, aku melakukan kombinasi dengan hypnotherapy. Aku menanamkan sugesti ke
    dalam alam bawah sadarnya untuk tidak berselera kepada makanan manis, berlemak dan coklat. Kebiasaan
    makannya aku ubah dengan lebih menyukai sayur dan buah-buahan. Sugesti itu terus-menerus aku tanamkan ke
    dalam benak Juli, sampai dia sendiri merasa perubahan selera makannya karena kesadaran akan mencapai
    bentuk dan berat badan yang ideal. Aku juga berterima kasih kepada Juli, tetapi di dalam hati. Berkat
    tantangan yang dia berikan aku bisa menguasai hypnotherapy.

    Singkat cerita, 6 bulan kemudian Juli sudah mencapai berat yang ideal yaitu 55 kg. Tampilan Juli makin
    cantik dan hebatnya payudara dan pantatnya tetap bertahan gempal tidak ikut susut. Juli menjadi seksi
    sekali.

    Di balik keberhasilannya menurunkan berat badan, aku yang jadi megap-megap. Setiap kali mengetahui
    jadwalku kosong, Juli langsung minta jatah. Padahal katanya dia sudah punya pacar. Tapi dia mengaku
    susah melupakanku.

    “Aku kecanduan kamu, Jay,” katanya.

    Keberhasilanku menurunkan berat badan Juli segera tersebar ke seluruh jaringan cewek-cewek ini. Aku di
    baiat sebagai terapis paling ampuh. Padahal, keberhasilan Juli menurunkan berat badan antara lain karena
    dia hampir setiap hari kelelahan karena nafsu sexnya yang mendorong dia selalu minta disetubuhi.

    Setelah keberhasilanku menurunkan berat badan Juli, Mbak Ratih dan Bu Rini juga minta diturunkan
    kegemukannya. Kelebihan berat mereka berdua tidak terlalu parah, mungkin hanya perlu turun 5 sampai 10
    kg.

    Sudah tiga orang berhasil kuterapi jadi kurus dan berisi. Aku tidak menyangka kemampuanku ini kelak akan
    menerbangkan aku ke banyak tempat dan menjadi dambaan banyak ibu-ibu dan perawan gemuk.

    Aku tidak mampu mengurus sendiri begitu banyak permintaan terapi. Bu Rini kuminta menjadi managerku. Dia
    lah yang mengatur waktu bahkan menentukan biaya terapinya. Kami berdua yang tadinya banyak berharap
    mendapat penghasilan dari MLM, sekarang sudah kami tinggalkan.

    Informasi dari mulut ke mulut ternyata cepat sekali merebak. Aku akhirnya kewalahan menghadapi begitu
    banyaknya order yang masuk. Aku minta Bu Rini membatasi orderan. Dia bingung bagaimana caranya
    menyeleksi, semua butuh dan semua perlu dibantu. Aku lalu minta dia menetapkan tarif yang tinggi agar
    tidak banyak orang mampu mengorderku. Tapi aku minta dia juga menyeleksi atau bahkan mencari mereka yang
    perlu benar-benar dibantu. Terhadap mereka ini kutekankan kepada Bu Rini jangan minta bayaran apa pun.
    Melalui teknik penyeleksian ini aku jadi banyak bertemu wanita-wanita tingkat atas. Aku kagum atas
    berlimpahnya uang mereka. Jika mereka minta diterapi, selalu menyewa kamar hotel bintang 5. Mulanya aku
    agak minder juga menghadapi mereka, karena penampilan yang wah dan wangi serta kelengkapan yang serba
    mahal.

    Dengan kemampuan uang yang begitu besar, kadang-kadang permintaan mereka rada aneh. Sebagai contoh ada
    yang minta lubang vaginanya disempitkan atau bibir vaginanya dibuat berwarna pink atau mengecilkan
    puting susu.

    Terhadap mereka yang kurang mampu, mereka umumnya sangat menurut dan patuh pada semua nasihatku. Aku
    berharap bantuanku kepada mereka bisa lebih mencerahkan jalan hidupnya ke depan. Umumnya yang minta
    diterapi baik dari kalangan kaya, maupun dari kalangan kurang mampu adalah keluhan kegemukan.

    Bedanya, kalangan berduit banyak sekali permintaannya. Kadang-kadang jika aku kesal, aku mainkan
    penekanan syaraf erotisnya. Mereka kelojotan minta digauli. Pada titik ini aku berlagak bodoh dan pura-
    pura tidak memahaminya. Aku selalalu menyudahi terapi dengan mengatakan, “Bu atau Mbak, terapinya sudah
    selesai,”

    “Mas, bisa nggak aku diservice sekalian? Kepalaku pusing jadinya nih,”

    “Apanya yang diservice bu/mbak?”

    “Aduh, tolonglah, dik, nanti aku kasih tip tambahan deh,” kata mereka.

    Jika sudah mereka mengiba-iba, aku baru keluarkan jurus penuntasan. Biasanya tip yang diberikan kepadaku
    jauh lebih besar dari tarif resmi yang harus mereka bayar. Tips ini tentu saja 100 persen masuk ke
    kantongku.
    Aku jadi makin berduit, tetapi aku tetap berusaha hidup bersahaja. Masalahnya aku belum siap memasuki
    dunia glamour. Kalau mau sebetulnya aku cukup mampu membeli mobil baru, beli apartemen. Tapi jika itu
    kuturuti aku harus mengubah pola hidupku yang belum tentu aku mampu menjalaninya.

    “Begini saja udah enjoy, uang banyak, hidup dikelilingi bidadari yang setiap saat siap dilayani dan
    melayani,” batinku.

    Aku hanya ingin berbagi cerita pengalaman yang unik-unik saja yang aku temukaan dari pasienku. Salah
    satunya adalah Ibu Dina. Dia adalah pengusaha wanita terkenal dan mungkin termasuk jajaran konglomerat.
    Saking menjaga rahasia, dia harus menyewa 2 kamar di hotel bintang 5 dengan kamar yang memiliki
    conneting door. Kalau sudah begini Bu Rini lah yang berperan mengatur terapi rahasia itu, sehingga hanya
    aku, bu Rini dan Bu Dina saja yang tahu soal terapi ini.

    Bu Rini awalnya memiliki tubuh yang terlalu gemuk. Dia ingin tampil seperti badan gadis remaja atau
    katakanlah gadis 20 tahunan. Padahal usianya sudah hampir mencapai 50. Karena kekuatan uang maka meski
    gemuk dia tetap berpenampilan cantik dan mahal.

    “Dik, aku sudah bosan kemana-mana untuk nurunin berat badanku ini, tapi selalu tidak berhasil. Kalaupun
    berhasil, tidak bisa lama bertahan, aku malah tambah gemuk. Gimana ya, dik, solusinya?” kata Bu Dina.

    Aku jelaskan bahwa soal menunrunkan berat badan itu tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada terapis,
    tetapi harus ada kerjasama dengan yang diterapi. Bahkan Ibu Dina harus lebih banyak berperan dari pada
    saya yang menerapi.

    “Saya hanya memberi arah saja, bu, ibu yang harus mengikuti jalan itu. Kalau ibu tidak nurut, ya pasti
    tidak akan berhasil,” kataku.

    “Oh, gitu toh, dik? Tapi kan saya udah makan obat, masak yo saya harus susah payah nahan selera makan
    segala sih. Saya kan suka ada acara dinner, makannya itu enak-enak dan mahal, rasanya sayang kalu nggak
    dicoba,” katanya.

    “Saya tidak menjanjikan terapi saya bakal berhasil bu, tetapi saya coba, kalau cocok mungkin bisa
    berhasil. Biasanya saya tidak mengharuskan pasien saya mengubah 180 derajat pola makan mereka, tetapi
    hanya mengurangi saja porsi dari yang sebelumnya. Bagaimana bu apa mau dicoba,” tanyaku dengan nada
    merendah.

    “Kamu ini masih muda kok bisa punya keahlian gini toh, dik? Katanya udah banyak yang berhasil, makanya
    aku penasaran,” katanya.

    Seperti biasa, aku meminta dia mengenakan sarung dan kusarankan agar melepas BH juga. Badan Bu Dina
    sangat mulus, putih dan gemuk Aku mulai melakukan ritual. Semua simpul syaraf yang berhubungan dengan
    selera makan aku garap. ceritasexdewasa.org Simpul-simpul itu tidak sampai 30 menit sebetulnya sudah tuntas. Selebihnya aku
    hanya melakukan chek up lalu memberi pijatan nyaman. Dia sudah merasa membayar mahal, jika aku hanya
    menggarapnya 30 menit rasanya tidak pantas.

    Selama kelebihan waktu itu aku juga iseng menekan syaraf-syaraf erotisnya. Dalam hal ini kurasa
    keahlianku sudah sangat mahir. Baru sekitar 15 menit syaraf erotis kumainkan, Bu Dina sudah mulai
    merintih. “Dik, pijetanmu kok enak banget to, dik?” katanya.

    “Bu, maaf ya, bu, kelihatannya ibu jarang disambangi nih,” kataku memancing reaksinya.

    “Disambangi apa toh, dik?” tanyanya dengan nada heran.

    “Ah, ibu masak nggak paham? Maksud saya, disambangi ama bapak,” kataku.

    “Lho, kamu kok bisa tahu rahasia sampai kesitu to? Tapi emang benar kok, dik, bapak itu kan diabet, jadi
    ya agak susah. Apa kamu bisa terapi diabet juga to, dik?” tanya Bu Dina.

    Aku terus terang belum pernah mencoba terapi orang diabet, tetapi penyakit itu menurut pengetahuanku
    tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dikendalikan.
    “Maaf ya, bu, ini dampaknya dari kurang disambangi, jadi ibu ini termasuk suka mudah marah, emosinya
    rada cepat meluap,” kataku datar.

    Dia membenarkan, bahkan dia malah nyerocos, dalam soal sepele saja kadang-kadang marahnya bisa meledak-
    ledak. Susah mengendalikan emosi marah, katanya. Dia tanya apa yang begituan bisa dikendalikan.

    Saya katakan ini adalah ibarat asap, apinya adalah soal disambangi tadi. Jadi ada perasaan yang
    terpendam bertahun-tahun dan lama-lama tidak menyadari, padahal perasaan kecewa itu tetap ada di dalam.

    Ibu Dina rupanya termasuk istri yang setia dan tidak pernah punya keberanian untuk bermain mata dengan
    laki-laki lain. Untuk terapi ini saja dia membuat pengamanan berlapis-lapis agar jangan sampai diketahui
    orang. Maklumlah dia sendiri termasuk orang punya nama, suaminya juga terkenal.

    Aku jadi penasaran ingin membuat Bu Dina kelojotan. Apakah dalam kondisi di puncak rangsangan dia masih
    mampu bertahan. Bagaimana sih kuatnya benteng pertahanannya . Aku memainkan syaraf syaraf sensual.
    Stimulasi terus-menerus aku garap, tanpa menyentuh bagian-bagian alat vital.

    “Aduh, dik, aku kayaknya udah nggak kuat lagi nih, dik,” katanya.

    Aku lalu berhenti memijat dan bertanya apa pijetnya cukup sekian aja. Bu Dina langsung membantah bahwa
    bukan itu yang dia maksud, katanya kepalanya mau pecah menahan rasa yang nggak karuan. Aku lalu
    menawarkan untuk memijat kepalanya. Padahal aku tahu itu tidak akan menyembuhkan bahkan mungkin bisa
    tambah menggila. Dia memberi kesempatan aku memijat kepalanya. Bukan tambah selesai, tetapi malah tambah
    menggila. Bu Dina tanpa dia sadari merebahkan badannya ke badanku yang sedang memijat kepalanya dari
    depan. Dia memelukku erat sekali sambil kepalanya di guselkan ke dadaku. Dia menarik kepalaku dan
    diciuminya wajahku lalu bibirku disedot dan diciuminya ganas sekali. Kepalaku lalu didorong ke arah
    dadanya. Aku segera paham bahwa payudaranya minta disedot. Payudara Bu Dina masih cukup montok dengan
    pentil yang agak besar.

    Baca JUga Cerita Sex Kado Istimewa

    Bu Dina menggeliat-geliat menikmati cumbuanku. Aku lalu mengoralnya sampai dia orgasme bahkan aku
    membawanya juga G Spot O. Namun Bu Dina masih ingin dilanjutkan dan dia membuka celanaku lalu mengoralku
    sebentar kemudian dia minta aku menyetubuhinya. Aku menggenjotnya, sampai dia mencapai O , tapi dia
    masih minta aku melanjutkan permainan sampai dia kembali mendapat O. Badanku merasa lelah dan aku mulai
    berkosentrasi untuk mencapai O. Menjelang aku O Bu Dina rupanya juga hampir nyampe. Aku sengaja melepas
    ledakan ejakulasiku di dalam vagina bu Dina. Dia memelukku erat sekali dan diciuminya wajahku.

    “Saya puas, dik, biar aku nggak berhasil jadi kurus tapi kamu harus mau melakukan terapi lagi,“ kata Bu
    Dina.

    Bu Dina adalah pelangganku yang menjadi ketergantungan kepadaku. Dia selalu minta diterapi setiap 2
    minggu sekali. Pernah juga aku dimintanya menyusul ke Singapura. Aku diperamnya disana selama 3 malam.

    Berat Bu Dina berhasil juga turun hampir 15 kg dalam 6 bulan. Terapi yang aku lakukan adalah kombinasi
    pijatan dan hipnotis. Tidak hanya soal mengurangi selera makannya, tetapi juga emosinya sekarang lebih
    terkendali.

    “Dik, aku sudah bisa menahan marah, sejak kamu terapi aku kok jadi penyabar ya, dik?” katanya.

    Aku memujinya. Dia kupuji karena mau bekerjasama untuk memperbaiki sifatnya yang negatif. Aku juga
    menenamkan ke dalam benaknya bahwa marah itu adalah perbuatan sia-sia. Aku selalu memberi tantangan
    kepadanya untuk mengembangkan kreatifitas. Maksudnya jika timbul rasa marahnya kepada seseorang, maka
    dia harus mencari cara atau jalan atau kata-kata agar orang yang seharusnya dimarahi karena kesalahannya
    bisa menyadari dan memperbaiki diri .

    “Bu Dina pasti bisa mencari cara lain dari marah,” kataku.

    “Iya, dik, bahkan ada karyawanku yang harusnya aku marahin malah aku kasih uang dan kuajak bicara baik-
    baik, akhirnya dia sekarang jarang berbuat kesalahan, malah loyal sekali kepadaku,” katanya.

    Aku membatin, sumber penyebab kemarahannya sudah cair, yakni keinginan sexnya yang selama ini bertumpuk
    sudah lenyap, karena aku menjadi pelanggan servicenya. Selain itu sugesti yang aku tanamkan di dalam
    alam bawah sadarnya membantu dia berfikir positif dan kreatif.

    Ada lagi pelangganku yang minta aku melakukan terapi di motel-motel. Dia selalu minta janji ketemu di
    pusat-pusat perbelanjaan. Dari situ dia minta aku membawanya ke motel hanya berdua saja.

    Pelangganku yang kupanggil dengan nama Bu Monik ini awalnya juga minta tubuhnya dirampingkan, tetapi
    kemudian berkelanjutan minta diservice lengkap. Dia juga pengusaha kaya yang nafsu sexnya tidak mampu
    diimbangi suaminya. Kalau kuturuti dia maunya aku melakukan terapi setiap minggu.

    Tak terasa, sudah 2 tahun aku malang melintang di dunia terapi . Relasiku di kalangan atas, terutama
    para wanita cukup lumayan. Tidak hanya pengusaha, tetapi juga politisi selebriti dan ibu pejabat. Ada
    juga ibu yang mempunyai jabatan penting di kalangan TNI dan Polri.

    Jujur saja, aku tidak merasa cukup mampu menjadi terapis. Aku juga sebenarnya kurang yakin bahwa titik-
    titik simpul syaraf yang ditekan bisa manjur menyembuhkan berbagai penyakit. Kuperhatikan simpul-simpul
    syaraf itu hanya membantu usaha penyembuhan. Penyembuhan sepenuhnya sebetulnya adalah pada diri orang
    itu. Jika dia mengubah pola hidupnya maka keberhasilannya untuk sembuh lebih besar. Namun jika dia tetap
    dengan pola hidupnya yang lama, maka penyakit yang dikeluhkannya akan tetap menggerogotinya. Teori ini
    tidak bisa diterapkan juga kepada semua orang dan semua penyakit. Akan tetapi sebagian besar memang
    begitu.

    Kesibukanku melayani pelanggan membuatku jadi jenuh. Aku berkeinginan suatu saat bisa berkeliling Eropa
    untuk berlibur. Pada dasarnya aku senang berkelana. Namun menjelajah Eropa jika hanya menikmati dari
    balik jendela rasanya kurang puas. Maksudku di balik jendela itu adalah dari balik jendela hotel, taxi,
    bus, kereta api dan seterusnya. Artinya aku tidak terlibat dengan kehidupan sehari-hari di tempat yang
    kukunjungi. Untuk bisa begitu paling tidak aku harus bisa berkomunikasi dengan bahasa setempat.

    Keinginan itulah yang mendorong aku mengambil kursus bahasa Perancis, Jerman dan Spanyol sambil
    memperdalam pengetahuan bahasa Inggris. Setahun kurasa cukup untuk menguasai sekedar bahasa sehari-hari
    bahasa-bahasa besar dunia itu.

    Awalnya aku ingin berkelana sendiri ke Belanda, Prancis, Jerman dan Spanyol. Namun ketika aku bercerita
    sambil melakukan terapi kepada beberapa pelangganku, mereka malah mau ikut. Jadinya ada 5 orang emak-
    emak kaya raya yang mau ikut berkelana. Mereka malah membiayai semua kebutuhanku. Apalagi mereka
    akhirnya tahu bahwa aku lumayan ngerti bahasa negara-negara yang akan kami kunjungi.Cerita Sex Dewasa

    Berkelana selama 2 minggu ke 4 negara pada musim panas kemudian memang terwujud. Aku jadi tour leader,
    dan memang aku yang mengatur kemana saja tujuan wisata kami. Aku syaratkan kepada ibu-ibu pesertaku agar
    tidak berbelanja oleh-oleh kecuali mau dipakai langsung. Aku tidak mau perjalananku terhambat gara-gara
    soal barang bawaan yang terlalu banyak. Ibu-ibu kalau tidak dibendung, nafsu belanjanya kadang-kadang
    lebih besar dari nafsu sexnya.

    Selama kami tour, kami berenam sudah seperti remaja lagi. Tidak hanya aku harus bergantian setiap malam
    tidur dikamar mereka, Tetapi sering juga kami ngumpul berenam lalu melakukan orgy party. Ibu-ibu itu
    selalu menempati suite room, jadi kamarnya lebih lega. Terbang pun kami selalu di kelas satu.

    Aku rasa soal ini kalau diceritakan bisa terlalu panjang. Namun lain kalilah kuungkap kehidupan 2 minggu
    kami sambil berkeliling Eropa.-

  • Berondong

    Berondong


    12 views

    Saya ibu rumah tangga berumur 36 tahun yang sehari-sehari mempunyai kegiatan terkait dengan kegiatan
    sosial yang kadang-kadang menyelenggarakan kegiatan di luar rumah, termasuk rapat-rapatnya. Suami
    bekerja di pemerintahan. Anak kami dua yang tertua berumur 14 tahun.

    cerita-sex-dewasa-berondong
    Saya sewaktu masih muda kadang-kadang ikut sebagai peragawati dan kadang-kadang juga foto model, dengan
    tinggi badan 165 cm. Dengan bagian-bagian tubuh depan dan belakang termasuk bagus. Berat badan sekitar
    47,5 kg. Orang bilang saya punya penampilan yang menarik dan seksi terutama juga bibir saya. Apa yang
    saya akan ceritakan adalah pengalaman saya yang menarik yang telah menjadikan hidup saya terpuaskan
    lahiriah dan batiniah. Dan telah memperkuat kehidupan perkawinan kami.

    Ceritanya berawal pada suatu peringatan ultah suami kakak saya kurang lebih 2 tahun yang lalu, dimana
    banyak sudara-saudara yang membantu dalam persiapannya. Ikut pula membantu keponakan saya Martin, anak
    kakak saya yang lain lagi. Martin berusia 25 tahunan, masih kuliah, berperawakan tegap atletis tinggi
    kurang lebih 1,7 m. Tampangnya cakep dengan rambut hitam bergelombang.

    Termasuk seksi juga. Genit juga. Suka mencuri-curi memandangi saya, sepert mau menelan. Kalau bertatap
    pandang matanya sepertinya tersenyum. Kurang ajar juga pikiran saya, tetapi terus terang saya juga
    senang. Anaknya simpatik sih. Kadang-kadang ada juga pikiran, enak barangkali kalau mencium Martin atau
    memeluknya/dipeluk. Kelihatannya ada setrum dan chemistry di antara kami.

    Sore itu kakak meminta saya untuk mengambilkan kue tart, karena tidak ada yang bisa dimintai tolong.
    Karena tidak ada yang lain juga terpaksa Martin yang mengantarkan dengan mobilnya. Apa yang terjadi
    adalah ketika secara bersama Martin dan saya memungut dompet saya yang terjatuh di garasi. Martin
    memegang tangan saya menarik dan mencium pipi saya dengan senyum. Saya tidak bereaksi tetapi juga tidak
    marah tetapi berusaha memberikan kesan kalau saya juga senang. Sikap saya yang tidak menentang
    membuatnya kemudian mengulangi ciumannya dalam mobil ketika berhenti di lampu merah. Kali ini ciumannya
    di mulut sambil menekankan tangannya pada paha.

    Martin mencium dengan melumat dan memainkan lidahnya. Meski ini bukan pengalaman saya pertama untuk
    dicium tetapi saya tergetar seluruh tubuh dan merasakan ada rasa menggelitik dan mengalir di kemaluan
    saya. Selintas terjadi pertempuran antara ya dan tidak, antara pertahanan kejujuran terhadap suami
    melawan spontanitas keindahan kemunculan gairah, dan nampaknya kejujuran akan terkalahkan. Getaran terus
    menggebu sampai kesadaran muncul dengan reaksi mendorong sambil menggumam, “Jangan di sini, jangan di
    sini, dilihat orang.” Terus terang keinginan sangat besar untuk tidak menghentikannya, tetapi memang
    tempatnya tidak tepat. Babak awal telah terbuka, dan cerita tidak ingin terputus dan babak berikut perlu
    dipanggungkan secara berkelanjutan.

    Sepanjang proses pengambilan kue tart Martin pada kesempatan yang memungkinkan selalu mencuri untuk
    mencium dan sesekali membisikkan kata-kata,

    “You are beautiful,” dan terakhir menjelang sampai kembali ke rumah dia bisikkan,
    “I want you,” sambil mencium telinga saya.

    Sekali lagi saya tergetar sampai ke bawah. Melirik ke arah dia sambil senyum. Saya harap Martin bisa
    menangkap senyum saya dan pandangan mata saya sebagai tanda “OK”. Kami diam. Sesampai di pagar rumah
    saya bisikkan pada Martin,

    “Telepon saya besok pagi.” Pesta ulang tahun berjalan dengan lancar. Martin tetap mencuri-curi pandang
    pada setiap kesempatan. Akhirnya semua pulang, saya pun pulang, bersama suami, dengan berbagai perasaan
    seperti gadis yang jatuh cinta. Malam hari menjelang tidur pikiran tidak bisa terlepas dari Martin.
    Gelitik dan kelembaban terasa disela-sela paha. Karena pikiran dipenuhi Martin mata pun tidak bisa
    terpejam. Mengharap pagi hari lekas datang. Gila kalau dipikir, kok bisa tergoda, hanyut.

    Keesokan harinya pagi-pagi Martin sudah menelepon. Untung bukan suami yang mengangkat. Singkatnya siang
    itu Martin dan saya lunch, menikmati keberduaan dan kedekatan yang merangsang. Kami meninggalkan dengan
    Martin memegang inisiatip yang kemudian berakhir di salah satu motel di timur Jakarta, tanpa ada sikap
    keberatan atau protes dari saya. Tanpa menunggu pintu kamar motel tertutup rapat, sambil berdiri saya
    telah berada dipelukan Martin, melumat mulut dengan ciuman yang berapi-api.

    Tangannya menjelajah keseluruh bagian tubuh saya. Ke bawah rok menekan pantat saya dan menekankan
    badannya dan burungnya. Saya menyerah, tangan saya pun jadi ikut menjelajah ke burungnya yang telah
    sangat keras. Meremasnya dari luar dengan keinginan yang makin menggebu untuk membukanya. “Gila nih,
    gila nih!” terngiang di benak, tetapi tak mampu menyetop gairah yang sudah memuncak ini.

    Setelah memastikan bahwa tidak akan ada gangguan dari room service Martin menggiring saya ke tempat
    tidur tanpa melepaskan pelukannya. Pelan-pelan dia tidurkan saya dan secara lembut mulai menciumi dari
    telinga leher mulut, sambil kancing bacu dibuka, dan terus menciumi buah dada saya secara bergantian
    kanan kiri, BH dilepas, dihisapnya puting dan dijilatnya secara halus.

    Seluruh badan terasa kena setrum, terangsang. Kewanitaan saya terasa basah karena memang saya mempunyai
    kekhasan produksi cairan kewanitaan yang banyak. Martin pun memulai membuka satu persatu bajunya, masih
    tertinggal CD-nya. Secara pelahan Martin membuka bagian bawah rok sambil tak hentinya menciumi seluruh
    bagian yang terbuka. Perut saya dia ciumi bermesra-mesra. Tangannya menjalar juga keseluruh badan dan
    mendekap pada kewanitaan saya yang telah membasahi CD, sambil mulut Martin mendesah penuh gairah.Cerita Sex Dewasa

    Saya sudah tak bisa menahan kenikmatan yang rasanya sudah lama tak saya alami lagi. Tangan Martin mulai
    dimasukkan ke dalam CD menulusuri kewanitaan saya dengan menggerakkan jarinya. Gila setengah mati
    rasanya. Mau teriak rasanya. Martin secara halus dan pandai memainkan seluruh badan dan bagian-bagian
    peka saya. Kewanitaan saya mulai banjir merespon pada rangsangan yang selangit. Gila benar rasanya.

    Martin berlanjut dengan membuka CD dan memulai mengkonsentrasikan perhatiannya pada kewanitaan saya.
    Diciumnya secara perlahan dengan memainkan lidahnya dari atas ke bawah. Paha saya ditegakkan dan
    dibukanya lebar-lebar. Diciumnya bibir kemaluan dengan bibirnya secara penuh, dihisapnya secara
    berkali-kali sambil lidahnya memasuki celah-celah kemaluan saya. Aduh gila rasanya selangit.

    Ganti dia hisap klitoris secara halus. Dihisapnya, terus. Sampai saya tidak tahan dan sampailah saya
    pada puncak. Terasa cairan mengalir. Disertai dengan teriakan ringan tangan memeras rambut Martin. Ini
    menjadikan Martin lebih lagi menggumuli lubang kemaluan saya. Dia benamkan dan usapkan seluruh wajahnya
    pada kemaluan saya yang basah dengan desahan kepuasan.

    Saya sudah tidak bisa lagi menguasai diri dan terasa selalu tercapai puncak-puncak yang nikmat. Gila
    benar. Belum pernah saya dibeginikan. Pintar sekali si Martin ini, sepertinya pengalamannya sudah
    banyak. Saya hanya bisa menggerakkan kepala ke kanan kiri dengan mata terpajam mulut terbuka, dengan
    suara mendesah keenakan. Gila benar. Selangit.

    Kini giliran saya. Martin saya tarik ke atas. Kini batang kemaluannya terasa menekan paha saya. Martin
    saya balikkan dan batang kemaluannya saya genggam. Wah besar juga dan kencang lagi, sudah basah pula.
    Langsung saya hisap dengan gairah. Lidah saya permainkan di ujung kemaluannya sambil dikeluar-masukkan.
    Martin mengerang. Setelah kurang lebih sepuluh menit Martin melepaskannya.

    Dia lebih menghendaki keluar di liang kemaluan saya. Kini dia di atas saya lagi dengan posisi batang
    kemaluan di depan lubang kemaluan. Dengan ujungnya digerak-gerakkan di bibir kemaluan ke atas ke bawah.
    Enak sekali. Mabok benar. Kemudian secara perlahan masuklah batang kemaluan ke lubang kemaluan saya dan
    terus menekan sampai terasa penuh sekali, dan terasa sampai di dasar rahim. Gila rasanya benar-benar
    selangit. Tidak pernah rasanya seenak seperti ini. Martin menekan terus sambil menggoyang-goyangkan
    pantatnya. Gila! Enak benar! Terus dia putar-putar sambil keluar masuk.

    Sampai saya lebih dulu tidak tahan dan sampai di puncak, keluar dengan meledak-ledak terasa melayang
    kehilangan nafas sampai terasa hampa saking nikmatnya. Kemaluan saya terasa basah sekali. Martin masih
    terus memompa dan belum mau menyelesaikan cepat-cepat. Batang kemaluannya masih diputar dengan keluar
    masuk di lubang kemaluan, sehingga saya pun tidak tahan keluar lagi, yang ketiga atau yang keenam dengan
    yang keluar karena dihisap tadi. Gila benar! Seluruh badan basah rasanya. Sprei sudah basah betul dari
    cairan kewanitaan saya.

    Martin masih terus menekan, memutar, menggaruk-garuk dan mencium sekali-sekali. Ciumannya di telinga
    bersamaan dengan tekanan batang kemaluan di dalam lubang kemaluan saya sungguh membuat seluruh badan
    menggigil nikmat dan membuat saya keluar secara dahsyat. Kemaluan saya terangkat menyongsong tekanan
    batang kemaluan Martin. Gila benar, sungguh nikmat tiada tandingan. Akhirnya Martin mulai menggerang-
    ngerang berbisik mau keluar. Dengan tekanan yang mantap keluarlah dia dengan semprotan yang keras ke
    dalam liang kemaluan saya. Hangat, banyak dan terasa mesra dan memuaskan. Oh Tuhan, sungguh tak ada
    tandingannya.

    Dia remas badan saya dengan menekankan bibirnya pada bibir saya. Hampir habis nafas. Kehangatan
    semprotan Martin menggelitik lagi kemaluan saya sehingga orgasme saya pun keluar lagi yang kedelapan
    menyusul semprotan Martin. Kami bersama-sama keluar dengan nikmat sekali. Sesaat terasa pingsan kami.
    Setelah selesai terasa kepuasan yang menyeluruh terasakan di badan. Pikiran terasa terlepas dari semua
    masalah dan hanya keindahanlah yang ada. Kami masih berpelukan menikmati tanpa kata-kata, sambil
    memulihkan kembali energi yang telah tercurahkan secara intensif. Kami tertidur sejenak. Siuman setelah
    sepuluh menit dengan perasaan yang lega, dan puas.

    Meski demikian rasa mengelitik, gatal-gatal kecil masih terasa di kemaluan saya, seolah belum puas
    dengan kenikmatan yang begitu hebat. Tangan saya mendekap batang kemaluan Martin mengusap-usapnya
    sayang. Ingin rasanya batang kemaluan Martin memenuhi lagi di lubang kemaluan saya. Bibir tidak bisa
    menahan, saya tarik batang kemaluan Martin dan mulai meluncur ke bawah dan menghisapnya lagi dengan
    kasih sayang, diliputi bau campuran antara cairan saya dan mani yang terasa sedap.

    Kemaluan Martin terasa sangat lunak tidak segagah tadi. Serasa menghisap marshmallow. Tetapi hal itu
    tidak berlangsung lama karena secara perlahan batang kemaluannya mulai membengkak dan menyesaki mulut.
    Sekali lagi kewanitaan saya tergelitik. Tanpa bertanya saya bangkit jongkok di atas Martin dan
    memasukkan Martin pelan-pelan. Seluruhnya masuk terasa sampai di ujung perut dan mulai menggelitik G-
    spot. Ganti saya pompa ambil kadang merunduk memeluk Martin dan menciumnya. Kadang sambil duduk
    menikmati penuhnya di kemaluan saya. Rasanya enak sekali karena saya yang mencari posisi yang terenak
    untuk saya.

    Setelah beberapa waktu merasakan kenikmatan yang masih datar, kenikmatan mulai memuncak lagi dan terus
    memuncak sampai akhirnya sampai puncak tertinggi. Meledak-ledak lagi orgasme dengan teriakan-teriakan
    nikmat. Yang ternyata diikuti oleh Martin dengan semprotan kedua. Tangannya memeluk erat-erat dengan
    gerangan pula. Gila enaknya sungguh sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Ini kali rasanya
    surga dunia. Kalau bisa maunya seharian begini terus rasanya. Gila! Gila benar, sungguh nikmat
    memuaskan.

    Tetapi kami harus pulang. Saya kembali ke rumah, ke suami dan keluarga saya. Dengan suatu pengalaman
    yang tak terlupakan selama hidup. Sepanjang jalan kami diam tetapi tangan saling memegang. Malamnya
    menjelang tidur, sekali lagi kemaluan saya menggelitik dengan ingatan pengalaman siang tadi tidak bisa
    hilang. Ini memang pembawaan saya yang orang barangkali mengatakannya sebagai maniak seks, histeris,
    multi orgasme, kelaparan terus. Sekali terbuka lebar dan dirangsang maunya terus dipenuhi.Cerita Sex Dewasa

    Sejauh ini dengan suami tidak pernah tercapai apa yang Martin bisa lakukan. Kepuasan dengan suami sama-
    sama tercapai tetapi kepuasan yang tidak mendalam seperti Martin. Suami yang lekas selesai menjadikan
    “bakat” saya tidak berkembang. Sekarang yang ada hanya suami di samping saya. Saya merengek minta pada
    suami dengan tangan meraba burungnya dan memijat-mijatnya halus. Dia tertawa sambil mengejek,

    “Gatel nih ya.” Dalam hati saya bilang memang gatal. Saya mencoba menikmati penetrasi kemaluannya dengan
    membayangkan kemaluan Martin. Kewanitaan saya, saya goyangkan mencari spot yang nikmat sambil mendekap.

    Dia menekan menarik beritme sampai kemudian saya mencapai puncak dulu diikuti dengan semprotan maninya.
    Selesailah sudah. Kemaluan saya masih ingin sebetulnya, tetapi dia biasanya sudah tidak bisa lagi.
    Jadinya tanganlah yang bergerak

    “Self Service”. Memang penyakit saya (atau karunia) ya itu. Sekali sudah diobok-obok tidak bisa
    berhenti. Saya tidur dengan nyenyak malam itu.

    Baca Juga Cerita Sex Hipnotis

    Seperti yang bisa diduga pertemuan saya dengan Martin berlanjut. Semua fantasi seks dan impian-impian
    tak ada yang tidak kami wujudkan. Sungguh sangat-sangat nikmat. Teknik kami makin sempurna dan Martin
    bisa membuat saya orgasme sampai tiga belas kali. Pada kesempatan lain akan saya ceritakan pengalaman-
    pengalaman kami yang aduhai. Semoga saya tidak jatuh cinta dan menghendaki hubungan yang lebih dalam,
    dan mengacaukan rumah tangga saya yang sudah ada. Saya hanya mau seksnya. Sama seperti Martin juga.

    Sehingga dari luar, partner seks saya resmi adalah suami. Dibalik itu Martin lah yang menjadi pemuas
    seks dan fantasi saya dan ini telah berjalan selama dua tahunan. Dua kali dalam seminggu paling sedikit.
    Suami tetap dilayani seminggu sekali, kadang sepuluh harian sekali. Saya merasa bahagia dengan
    pengaturan sedemikian. Keluarga tetap tidak terganggu. Hubungan dengan anak-anak dan suami tetap seperti
    biasa, bahkan kehidupan seks dengan suami menjadi lebih baik. Ternyata selingkuh ada manfaat dan
    kebaikannya juga

  • Sales Counter Girl

    Sales Counter Girl


    14 views

    Sebagai perkenalan nama saya Bili, mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri. Lita pacarku masih sekolah kelas 3 di bangku sma swasta. Kami baru 4 bulan menjalin hubungan. Untuk diketahui Lita memiliki bentuk badan yang proporsional, tinggi badannya sekitar 170 dan badannya sangat seksi dengan bentuk lekuk tubuh yang ideal, rambutnya hitam lurus panjang sebahu.wajahnya yang cantik terkesan lugu seperti boneka. Karena matanya yang kemayu dihiasi bulu mata lentik dan alis mata yang indah sangat cocok dengan kulitnya yang putih bersih. Lita pun gemar menggunakan pakaian yang terbuka dan sering mengenakan celana jeans pendek ketat yang memperlihatkan kemulusan pahanya dan betisnya yang menurutku sangat seksi. Aku sangat menyayanginya dan sungguh bahagia bisa mendapatkannya karena selain cantik rupanya diapun sangat baik ramah dan sopan atau banyak orang bilang inner beautynya juga dapat menarik perhatian semua cowok.sebelum akhirnya ada suatu kejadian yang mengubah semua pandanganku. Kejadian ini bermula saat aku sedang mengikuti perkuliahan, tiba-tiba hp-ku bergetar dan ada 1 pesan masuk dari Lita pacarku yang berisi “Yank kita perginya nanti sore saja yaa, Ta lagi mau nyuci pakaian dlu..okeh.,”. Lita memang sebelumnya mengajakku untuk pergi mencari baju setelah aku selesai mengikuti perkuliahan.setelah selesai akupun tak langsung pulang ke kosanku karena malas kalo di kosan sendiri. Akhirnya aku memutuskan untuk kerumah Lita saja menunggu sampai sore pun tak apa karena setahu saya orang tua Lita sedang menghadiri acara pernikahan sodaranya di luar kota.tanpa bilang akupun langsung meluncur ke rumahnya. Sesampainya di rumah Lita, aku melihat rumahnya sangat sepi meski ada sebuah mobil yang parkir di depan rumahnya. Akupun mendekat dan ternyata pagar rumahnya tidak terkunci. Pintu rumahnya tertutup rapat aku sengaja berputar lewat belakang rumahnya karena tempat menjemur di belakang rumahnya. Ketika berputar kulihat ada sebuah ember yang berisi pakaian yang sudah dicuci dan belum dijemur.

    “Kemana si Lita ya?” tanyaku dalam hati

    cerita-sex-dewasa-hukuman-untuk-kekasihku

    Pintu belakang tertutup rapat. Aku pun berinisiatif untuk mengejutkannya jika dia sedang tertidur di kamarnya

    Kamar Lita memiliki jendela yang besar. Ketika dekat dengan jendela aku terkejut mendengar suara bincang-bincang suara Lita dan seorang laki-laki. Penasaran ingin tahu siapa orang tersebut, akupun mengendap untuk mengintip lewat celah jendela yang terbuka. Betapa terkejutnya aku melihat Lita yang masih mengenakan daster tidurnya sedang bermesraan dikamar tidurnya yang akupun belum pernah masuk ke dalam.terlihat daster Lita sudah tidak karuan tersingkap dan lebih gilanya cowok tersebut sudah tidak mengenakan celana, hanya baju saja, terlihat penisnya yang besar mengacung.tangan kiri cowok tersebut menyeinap di balik dasternya dan tangan kanannya mengelus dan terlihat mengocok vagina Lita yang sudah tidak mengenakan cd. Marah, jengkel, benci dan dalam keadaan emosi aku memaki maki Lita dalam hati.

    “Bajingan, dasar perek murahan!”

    Sungguh sangat miris persaanku saat itu.tubuh milik pacarku sedang dijamah orang lain yang aku kenal. Orang itu adalah Dwi, teman kuliahku. Sangat kacau sekali perasaanku. Kini tidak terdengar lagi perbincangan mereka, hanya lenguhan dari Lita yg sekali kali terdengar. Tangan kanan Dwi temanku kini menuntun tangan Lita menuju penisnya yang memang lebih panjang dari milikku, sekitar 16 cm panjangnya dan tangan Lita kini menggenggamnya perlahan mengocok penis Dwi yang kontan membuatnya merem melek.

    “Anjing…gua aja belum pernah!” pikirku.

    Tangan kiri Dwi terus bergerilya meremas payudara pacarku dari balik dasternya dan tangan kanannya terus menggosok-gosok bibir vagina Lita yang aku pun baru melihatnya sekarang. Sangat indah dengan bulu-bulu halus dan yang tidak banyak dan terlihat sekali kali lubang vagina Lita yang dibuka oleh dua jari Dwi dari situ terlihat lubang vagina Lita yang berwarna merah muda sangat kecil seukuran jari lentik. Entah kenapa perasaan aku yang tadi sangat emosi kini berubah menjadi bergairah untuk terus melihat apa yang sedang Lita lakukan. Meski posisi mereka menghadap ke arahku namun mereka tak akan melihat kehadiranku karena dari tempatku sangat gelap dan memang hanya sebuah gang sempit sisa dari bangunannya dan pagar. Sedangkan kamar Lita sangat terang oleh lampu yang menyala. Kini Dwi mulai berinisiatif untuk membuka daster pacarku, dengan mudah dia meloloskan dasternya dari atas dan ternyata Lita tidak mengenakan BH sehingga terpampang jelas payudaranya yang mancung dan masih ranum. Saat aku masih takjub dengan payudara milik Lita, Dwi sudah menyambarnya dan mengenyot puting milik pacarku yang belum pernah kujamah itu. Rasa menyesal menghampiriku kenapa bukan aku duluan? Ciuman Dwi kini beralih ke payudara yang satunya dan kemudian ke bibir mungil milik Lita. Mulut mereka beradu dan terlihat saling hisap.Sialan…melihat pacarku sedang disetubuhi aku malah terangsang, ingin sekali aku ikut dalam acara mereka.

    Sekian lama waktu berselang, mereka sudah dalam keadaan bugil dan terlihat Lita pacarku sudah terlentang pasrah menunggu langkah Dwi selanjutunya. Dwi tidak langsung memasukkan penisnya tetapi dia mulai dengan menjilati vagina Lita yang sangat lezat yang seharusnya menjadi milikku. Lama Dwi menjilati milik Lita kini dia bersiap memasukkan penis nya ke lubang vagina pacarku. Awalnya dia menggesek gesekan penisnya ke lubang vagina pacarku yang sudah mengkilap. Diangkatnya kedua paha Lita dengan kedua tangannya sementara tangan Lita memegangi penis Dwi yang terus melakukan penetrasi ke vaginanya.dalam hati aku terus memaki maki.dalam keadaan tidak sadar aku memegangi penis milikku yang sudah tegang. Akupun nekat dengan membuka celana panjangku hingga batas lutut dan mulai mengelus penisku. Sementara itu kepala penis milik Dwi sudah hilang dihisap vagina pacarku.dan tidak beberapa lama setengah penis Dwi sudah masuk dan dihimpit dinding vagina Lita yang legit. Mulut Lita menganga tangannya meremas punggung Dwi dan yang satunya meremas sprei tempat tidur yang sudah acak acak. Dwi pun langsung menghentakkan pinggangnya dan plok terdengar bunyi yang cukup keras. Kini penis Dwi terbenam seluruhnya di vagina pacarku yang belum pernah aku jelajahi. Sesaat Dwi terdiam lalu menciumi bibir Lita yang masih meringis.tidak ada darah dan kemungkinan Lita memang sudah pernah melakukannya sebelum ini. Tangan Dwi meremas payudara Lita lalu mencoba untuk menarik penisnya lalu memasukannya lagi, terlihat penis Dwi sudah mengkilap oleh cairan Lita. Hal ini membuatku hancur dan kecewa, jika pacarku selingkuh hanya sekedar selingkuh tak apa, tapi kenapa sampai melakukan persetubuhan yang aku pacarnya sendiri belum pernah merasakan nikamuatnya tubuh itu dan Dwi yang aku tahu dia juga sudah memiliki seorang pacar adik angkatan di tempatku kuliah. Sialan… kenapa dia merusak lahan milikku dalam hati aku memaki.tak tinggal diam akupun merekam semua kejadian itu dengan menggunakan hp milikku sambil sesekali mengocok penisku. Kini Dwi mulai mengocok penisnya di vagina pacarku, diapun sambil terus mengocok penisnya di dalam vagina Lita sambil mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan pada Lita berikut yang dapat saya dengar.
    “Sayang enak enggak??enak mana sama Bili??”
    “Enak kak, mmh belum pernah kak.”
    “apa belum pernah sama Bili?oh iya yah kan aku yang merawanin kamu di kosan Bili”
    “teruss kak..akkh!!”
    “enak banget ngentotin kamu sayang.”

    Tak berselang lama kocokan penis Dwi semakin cepat, tubuh pacarku kini tersentak sentak tangannya terus menekan pantat Dwi.

    “Akh sayank mau keluar nih…akkhh…!” erang Dwi

    Saat tubuh Dwi terangkat tapi justru tangan Lita pacarku malah menekan pantat Dwi yang sudah terangkat hingga merapat kembali dan terdengar lenguhan dari keduanya hampir besamaan

    “arrrrrrghhh.ahh ahh!!”

    Keduanya saling berpelukan dan aku tahu jika keduanya sudah orgasme dan sperma Dwi dikeluarkan di dalam vagina Lita dan pasti menyirami dan memenuhi rahimnya, terlihat dari lumeran sperma dari vagina Lita yang keluar melewati penis Dwi yang masih menancap dan mulai mengecil. Saat itu aku langsung mulai merapihkan pakaianku dan langsung cabut. Setelah kejadian tersebut, bayangan-bayangan tiap adegan masih terekam jelas dalam ingatanku dan sekali kali aku juga melihat hasil rekaman saat pacarku ML dengan Dwi. Ketika melihat adegan video tersebut selalu saja membuat penisku langsung tegak spontan. ceritasexdewasa.org Gundah sekali perasaanku, marah dan benci, ingin sekali menghukum Lita pacarku atas perbuataannya itu.dan terbesit sebuah pikiran kotor dalam benakku kalo aku ingin menghukumnya dengan menyuruhnya ML dengan teman-teman cowok di sekolahnya di depanku. Namun hal tersebut pasti akan ditolaknya, pikiranpun semakin picik. Aku akan menjebak pacarku sendiri yang sudah berselingkuh dan ML dengan temanku Dwi. 3 hari setelah kejadian itu akupun berpura-pura tidak tahu atas perbuatan Lita terhadapku dan bertindak seperti biasanya.aku sengaja datang ke sekolahnya tanpa Lita tahu dan mencari tahu tentang teman cowok Lita baik sahabat atau bahkan teman yang tidak disukai Lita. Ada beberapa teman kelasnya yang aku tahu ada 3 orang, yaitu Bayu, Raden dan Epul yang adalah anak-anak bengal di sekolah tersebut, aku yakin bahwa Lita sangat tidak menyukainya, apalagi tampang mereka pun jauh dari ganteng, ya kira-kira mirip para siswa tukang tawuran yang wajahnya sering menghiasi berita-berita kriminal itu. Setelah bertemu akupun langsung merencanakan ideku untuk mengerjai Lita. Mereka semua langsung satu kata setuju dengan rencanaku. Pada hari Sabtu saat Lita pulang cepat akupun menjemputnya dan mengantarnya pulang dengan sepeda motor. Sesuai dengan rencanaku akupun tidak langsung mengantarnya untuk pulang tetapi menuju rumah Leo teman sekolah Lita yang sangat bengal. Aku berdalih pada Lita bahwa aku ada urusan sama Leo.

    Setelah masuk ke dalam akupun disuguhi minuman dan berbincang sejenak..Lalu Leo masuk kembali ke ruangannya. Lita yang memang sedang kehausan langsung meminum air sirup orange tanpa basa basi. Lama menunggu Leo kami pun sempatkan untuk bercumbu sambil berciuman, namun entah kenapa ada yang aneh dengan Lita karena matanya sangat mengantuk dan benar saja dalam sekejap Lita sudah terkulai tertidur pulas di sofa rumah Leo. Lalu suara orang mengetuk pintu terdengar dan terlihat Epul,Bayu dan Raden sudah tiba. Saya yang sudah merencanakan hal tersebut mulai ragu, langsung kugendong tubuh Lita yang tertidur ke sebuah kamar milik Leo dengan ranjang yang empuk dan cukup tinggi. Kurebahkan tubuh Lita yang masih mengenakan seragam sekolahnya lalu kubuka satu persatu kancing bajunya dan kutanggalkan pakainya. Roknya pun tidak luput untuk kulucuti. Kini tubuhnya hanya dibalut BH warna krem dan cd warna putihnya.sengaja aku tidak menutup pintu kamarnya agar teman-temannya dapat melihat tubuh gadis yang hanya mereka bayangkan saja di sekolahnya. Menurut info dari teman-temanya, Lita memang pandai dan banyak yang suka padanya bahkan banyak yang onani dengan memikirkan menyetubuhinya. Kini tubuh yang mereka bayangkan tergolek di ranjang dan hanya mengenakan BH dan cd tentu membuat mereka tidak sabar dan akupun mencoba mengingatkan mereka untuk sesuai rencana dimana aku yang pertama melakukannya dan kemudian baru mereka. Kini ketiga orang temannya itu hanya duduk di tepi ranjang dan hanya melihat apa yang aku lakukan terhadap tubuh pacarku ini.ada sensasi sendiri ketika tubuh indah milik pacarku dilihat oleh orang lain. Kini aku ciumi Lita dari bibirnya hingga lehernya lalu kubuka pengait BH-nya dan semua yang di dalam kamar terdiam menunggu.setelah kaitannya terbuka lalu kuangkat BH milik Lita dan benar saja teman-temannya semua takjub melihat keindahan payudara Lita, bahkan mereka terlihat ada yang sudah membuka celananya dan mengocok penisnya. Nampak Epul mengocok penisnya dan Raden menggosok gosok penisnya dari luar sementara Bayu merekamnya dengan HP miliknya. Aku langsung melahap payudara Lita yang tertidur lelap pengaruh dari obat tidur yang di masukkan ke dalam sirup tadi.Cerita Sex Dewasa

    Karena tidak mau berlama-lama aku langsung melucuti pakaianku sendiri hingga bugil lalu aku pelorotin cd Lita dan terlihatlah vaginanya yang masih berwarna merah muda yang sudah pernah dimasuki oleh penis Dwi. Kuciumi aroma vaginanya dan aku jilati belahannya dan kukulum bibir vaginanya sambil menjulurkan lidahku masuk ke dalam lubang vaginanya yang hangat dan menjilati kelentitinya yang menonjol keluar. Lalu kuhisap hingga membuat Lita melenguh..tak sabar aku pun langsung menggosok gosokan penisku ke vaginanya yang sudah terlihat cairan lendirnya. Epul yang dari tadi sudah tidak sabar kini dia sudah bugil dan naik ke atas ranjang dan berlutut tepat di samping wajah pacarku. Tanpa basa basi diapun mengocok penisnya tepat di atas wajah Lita, sesekali tangannya yang nakal meremas payudara Lita. Tak mau ketinggalan Raden dan Bayu ikut telanjang dan kami pun sudah bugil semua. Epul yang berada di samping kanan wajah yang masih mengocok penisnya di atas wajah pacarku dan Raden di samping kirinya ikut tidur di sebelah Lita namun agak ke bawah sehingga wajah Raden tepat berada di payudara Lita tanpa ragu dia menjilati payudara bagian kanan. Memang tubuh indah pacarku membuat orang tidak tahan. Aku mencoba untuk tak peduli terhadap tindakan mereka bahkan menambah hasrat gairah seksku semakin meningkat di mana tubuh indah pacarku dijamah oleh teman temannya sendiri.kini aku mulai mencoba memasukkan penisku ke dalam vaginanya dan mudah saja untukku memasukknya karena memang sudah sangat basah vaginanya menerima rangsangan rangsangan itu. Penisku sudah masuk sepenuhnya ke dalam vagina pacarku yang sudah pernah dimasuki penis Dwi selingkuhannya. Waw…meski tidak perawan namun tetap seret dan peret menjepit batang penisku yang berukuran hanya 14 cm dan berdiameter 4 cm. Aku langsung menggoyang goyangkan mengocok penisku seperti yang dilakukan Dwi padanya. Tubuh Lita ikut tersentak sentak dan terlihat wajahnya yang meringis kesakitan walaupun tidak sadar sepenuhnya.melihat aku yang menusukk nusuk vagina Lita membuat Epul semakin berani dia menempelkan penis miliknya yang berukuran panjang sekitar 17 cm dan berdiameter 5 cm ke pipi pacarku, sambil berkata kata kotor.

    “Nih makan kontolku sayang” ujarnya.

    Epul masih asik terus mengeyot dan meremas puting Lita. Aku semakin cepat saja mengocok penisku. Epul terus menempelkan penisnya ke muka Lita dan kata kotornya terus terucap.

    Ia terus ke leher Lita yang indah karena lipatan lipatan dagingnya yang menambah keseksian lalu naik ke atas bagian dagu dan bibr mulutnya seakan akan menyuruh Lita menciumnya dan terus naik hingga ke bagian matanya yang masih terpejam dan alisnya tak luput dari gesekan penis Epul, bahkan cairan bening yang keluar dari penis Epul dioleskannya di bibir merah Lita, lalu tanpa segan dia mencium bibir Lita. Selesai mencium bibirnya kini Epul semakin berani dia berbaring di samping tubuh Lita namun agak ke atas hingga penisnya sejajar dengan wajah Lita. Tangan kiri Epul menarik kepala Lita hingga menengok ke arah penisnya dan kini tepat mulut mungil merah pacarku berhadapan dengan penis Epul yang berjarak hanya 1 cm. Epul langsung menggosok gosokan kepala penisnya yang ada sedikit cairan bening yang keluar ke bibir mungil pacarku dan dengan tangan kanannya di mencoba membuka mulut Lita dan ingin menyetubuhinya. Setelah mulut Lita terbuka Epul langsung memasukkan penisnya ke dalam membuat kenikmatan tersendiri untuk separuh penisnya sudah masuk. Epul tidak mau kalah menyetubuhi mulut pacarku, ia memaju mundurkan pantatnya dan merasakan sentuhan dari tiap rongga mulut Lita. Melihat kejadian tersebut membuatku tidak tahan lagi, kupercepat gerakanku dan hingga akhirrnya dengan sedikit teriakan

    “akkkhhh!!” aku sampai pada puncaknya, tubuhku mengejang dan penisku menancap penuh di vagina Lita, spermaku menyirami seluruh rongga vagina Lita yang telah berselingkuh dan terasa sedikitnya 4 semburan spermaku.

    Kini aku terkulai lemas lalu kucabut penisku dan aku terbaring di ranjang, kini Raden yang nampaknya akan mengambil alih tempatku dan Bayu terus merekam kejadian kejadian tersebut sesekali diapun ikut mencium dan mengenyot buah dada indah temannya itu. Kini Raden akan merasakan kenikamuatan vagina Lita pacarku dan sekaligus teman sekelasnya itu. Tanpa basa basi Raden langsung mengarahkan penisnya yang panjangnya tidak jauh beda dengan punyaku ke vagina teman kelasnya itu.dengan mudah dia memasukan dan langsung mengocok vagina pacarku dan memutar mutar seakan mengoyak seluruh vaginanya agar semua bagian vaginanya tersentuh oleh penis miliknya.

    Epul kini terlihat semakin cepat gerakannya menyetubuhi mulut Lita hingga ia pun mengeranng

    “aaahhkk…ennnaaaak!!!” sambil menekan kepala Lita dan membenamkan penisnya jauh lebih dalam di mulut Lita

    Saat itu aku menyadari bahwa Epul mengalami orgasme sperma yang langsung masuk dan meyemprot rongga mulut Lita tentu saja membuat pacarku tersedak. Dan dia pun tersadar dari tidurnya namun masih lemah Epul langsung menarik penisnya keluar dan mulut Lita menganga penuh oleh cairan sperma Epul dan ketika sudah sadar Lita seakan ingin bicara namun tak bisa karena masih penuh oleh cairan sperma Epul dan diapun mencoba menelan sperma yang sudah di ujung tenggorokan dan mengeluarkan sisa sisanya hingga meluber. Diapun terkejut ketika melihatku,

    “Bili apa yang kamu lakukan? kamu jahat!” ucapnya sambil badannya terguncang guncang akibat sodokan penis Raden yang lagi asik.
    “Kenapa sayang? Enak kan? hahaa….!” aku tertawa
    “Tolong cukup jangan lakuin ini lagi!” Lita memohon dengan sisa sperma Epul yang lengket di mulutnya.
    “Kamu yang jahat duluan!!” ujarku dengan nada kesal, “kamu asik ngentot sama Dwi di rumahmu sedangkan aku belum pernah mencicipi tubuhmu ini, sekarang rasakan hukumannya ngentot sama temanmu! Enak kan? aku baikkan??”
    “hmmmp!” saat dia ingin mencoba menjawab pertanyaanku mulutnya langsung disumbat oleh penis Bayu yang panjangnya hanya 12 cm dan berdiameter 5 cm.
    “Udah sekarang sayang rasakan aja yah nikmati ajah! toh semua temanmu ini!” ujarku.

    “Aduh Ta enak banget memekmu…dah lama banget aku pengen ngerasain memek ini Ta” Raden pun ikut mengoceh sambil terus memaju mundurkan pantanya memperkosa pacarku, “ayo rasain penisku ini Ta..enak kan? ntar kalo enak lo boleh minta ke gue lagi Ta..goyangin dong pantat mu Ta!”

    Raden menampar keras pantat Lita yang tak bisa berkata kata karena mulutnya masih disumpal penis milik Bayu yang sedang asik disepong olehnya.

    “wahh mulutmu enak Ta! ayo kulum teruss!” sahut Bayu sambil memaju mundurkan pinggulnya, “tiap hari kek gini enak Ta habis pulang sekolah di kelas enak pastinya.hahaha!”

    Bayu pun sangat senang dengan kemenangannya itu.Cerita Sex Dewasa

    Tak lama kemudian Raden mengerang, tubuhnya mengejang tanda mengalami orgasme dan spermanyapun dikeluarkan di dalam. Raden tergeletak lemas. Kini giliran Bayu yang akan mencicipi vagina teman kelasnya yang pandai dan cantik itu. Dengan lemah pacarku memohon pada Bayu untuk menyudahinya..
    “Bayu jangan…tolong sudah cukup!”
    “Udah kamu nikamuatin aja Lita sayang, toh pacarmu aja ngijinin koq” kata Bayu seraya mengangkat paha Lita dan menancapkan penisnya ke vagina Lita..
    “ahhhhhh!!!” Lita pun mengerang
    “Udah masuk nih kontolku di memekmu!” sahutnya enteng
    Lita hanya bisa melenguh lenguh dan sambil tangannya mendorong tubuh Bayu yang sudah kesetanan. Melihat seperti itu kini Bayu mulai memegang tangan Lita dan seperti adegan perkosaan yang lain Bayu langung menggenjot penisnya. Lita hanya mampu menggerak gerakan kepalanya ke kanan dan kiri sambil matanya terpejam menahan hasrat birahinya karena malu pada temannya itu dan tentunya karena aku. Beberapa menit berselang kocokan penis Bayu semakin cepat dan kini ia melepaskan genggaman tangan Lita dan beralih memegang pinggulnya dan terus mengocoknya. Terlihat pacarku sudah tidak menolaknya lagi padahal tangannya bebas dan dia hanya meremas sprei dan yang satunya memegangi buah dadanya sendiri yang padat dan ranum yang terguncang oleh hentakan pantat Bayu. Melihat tidak ada perlawanan lagi dari pacarku kini Bayu leluasa menggenjotnya dan diselingi dengan ciuman ciuman di payudara milik Lita dan saat Bayu mencium bibir pacarku nampaknya pacarku malah membalasnya bibir mereka bergumul lama. Saat sedang asik, aku pun mulai memancing mancing pacarku,

    “Nah enak kan sayang ngentot di depan pacarmu ini?” ujarku.

    Kedua insan tersebut semakin hangat bercinta membuatku kembali bergairah. Mereka terus berciuman dan aku mulai bergerilya. Di tengah asiknya mereka berciuman karena Bayu yang menggenjot dan mencium pacarku, kuselipkan tangan kananku di antara himpitan kedua tubuh Lita dan Bayu yang menempel erat tepat di buah dada Lita. Aku remas dengan keras payudara Lita yang dihimpit oleh tubuh Bayu yang menempel erat antara dada Bayu dan buah dada milik Litta. Lama aku meremas payudara Lita yang terhimpit tubuh Bayu dan akhirnya Bayu melepaskan ciumannya dari bibir Litta.Kini ia fokus menggenjot vagina Lita hingga membuat celah bagiku untuk bermain di bagian atas. Langsung saja aku lumat bibirnya yang sudah menjadi milik banyak orang bahkan aroma sperma masih sangat kuat.aku cium bibirnya sambil meremas payudaranya yang padat itu.

    Tak lama kemudian Bayu mempercepat gerakannya namun saat sebelum orgasme nampak tubuh pacarku sudah bergetar terlebih dahulu matanya terpejam badannya kaku dan dan mulutnya menganga melenguh keras. Beberapa saat kemudian giliran Bayu yang meradang dan mengejang

    “Aahhh Litta pereeek!!! enaak bangettttt memekmu!! lenguhnya dengan kencang dan membenamkan seluruh penisnya dan menyemprotkan seluruh sperma miliknya itu.

    Bayu langsung terkulai lemah.saat itu pula penisku yang sudah tegang kembali langsung aku suruh Lita untuk mengulumnya dan Lita hanya bisa menurut saja karena sudah terlanjur pikirnya. Namun seketika aku sedikit terkejut ketika melihat tubuh gelap yang sudah telanjang dengan penisnya yang mengacung tegak sangat besar dan panjang seperti ukuran orang luar yang saya taksir saat itu panjangnya mencapai 22 cm dan berdiameter 6 cm. Dia mendekat ke arah Litta dan sekarang sudah berada di antara selangkangan pacarku siap untuk menusuk vaginanya. Lita yang mengetahui kedatangannya terkejut dan langsung bereaksi

    “Kenapa dia harus meyetubuhi Ta juga?” ujarnya dengan kesal.

    “Ta ga mau sama dia!!” Lita tampaknya menolak namun Leo tetap memaksa untuk merobek vagina pacarku dengan penisnya. Lita sontak bangkit ketika kepala penis Leo sudah di depan menempel bibir vagina imut miliknya itu. Melihat hal tersebut aku langsung bersikap dengan kembali menahan tubuhnya dan tangannya seakan mempersilakan Leo untuk leluasa memperkosa pacarku itu. Seakan mengerti Leo langsung saja menekan penisnya hingga masuk ke dalam. Awalnya mengalami kesulitan dan Lita kini hanya menangis dan tak berdaya.mungkin dia menyesali perbuatannya. ceritasexdewasa.org Pada sodokan yang ketiga akhirnya kepala penis Leo sudah dapat masuk menembus vagina pacarku. Lita terbelalak dan meringis kesakitan. Dengan sedikit dorngan kini penis Leo sudah masuk setengahnya. Terlihat bagian atas vagina Lita mengembung karena vaginanya sangat penuh terjejali penis milik Leo. Tahu vagina Lita yang belum terbiasa dengan ukuran penis miliknya Leo sengaja mendiamkan beberapa saat untuk mebiasakannya.

    Penis Leo yang hitam legam dan berotot itu kini sudah masuk 3/4 nya lalu ia menariknya dan mendorongnya perlahan lahan hingga akhirnya mulai dengan gerakan mengocok. Aku sungguh tak percaya vagina imut milik pacarku yang cantik ini dimasuki penis dengan size besar dan berwarna coklat kehitam hitaman seperti orang negro. Dengan berhati hati aku menyaksikan vagina Lita pacarku dimasuki batang penis yang urat-uratnya terlihat sangat tangguh. Apakah Lita sanggup menaklukannya? Bayu kembali melanjutkan rekamanya dengan merekam kejadian itu dan mengolok ngolok Lita

    “Ayoo perek! lo senengkan dapetin kontol gede?? Hahaha!!” ejek Bayu, “nanti lo dapeti deh rekaman ini!”

    Kini kocokan dan genjotan Leo sudah semakin stabil dan mulai menambah kecepatannya. Melihat Lita yang sudah tidak melawan aku melepaskan peganganku.dan aku menyuruhnya untuk mengulum penisku. Lama posisi seperti ini kemudian aku pun kembali mengalami orgasme dan menyemburkan spermaku di mulutnya. Aku pun menyingkir dan kini pacarku berada ditangan Leo sepenuhnya. Bosan dengan posisi itu Leo kemudian membalikkan psosisinya. Sekarang Lita berada di atas sedangkan Leo di bawah. Nampak pacarku terlihat canggung mungkin jarang atau malu kalau dia di atas. Ia hanya terlihat merapatkan tubuhnya di pelukan Leo. Melihat tubuh pacarku sedang di atas tubuh orang lain dalam keadaan bugil dan vaginanya dijejali penis berukuran besar menjadi suatu sensasi yang luar biasa. Melihat Litta pacarku yang hanya terkulai lemas membuat Leo tak sabar, dia pun menegakkan badan Lita dan menyuruhnya menggenjotnya sambil tangannya yang kekar menampar nampar pantat pacarku hingga merah.

    “Ayooo perek cepat kau goyang!” ujar Leo kasar pada Lita.

    Litapun kini mencoba menggoyangkan pantatnya.

    “Nah gitu donk, katanya mau jadi perek profesional…ayo yang bagus gerakannya!”

    Lita mulai bisa mengontrol keadaannya.dia mulai menggenjot penis Leo yang tak bisa masuk sepenuhnya ke dalam vaginanya. Kini tangan Leo bebas meremas remas buah dada yang ranum itu dan menggigit gigitnya hingga terlihat merah merah di sekeliling payudara pacarku itu.

    Tak berapa lama goyangan Lita semakin cepat dan dia mengejang kembali mengalami puncaknya. Kembali tubuh telanjang Lita yang putih mulus kembali terkulai lemah di atas dada Leo yang kekar. Epul yang sudah bergejolak kembali melihat adegan tersebut langsung bangkit dan menuju belakang diantara kedua paha Litta. Karena belum puas Leo kembali melanjutkan gerakkannya dengan mencabut penisnya lalu memasukannya lagi dan mencabutnya dan memasukannya lagi dan saat ia mencabutnya terlihat lubang vagina Lita pacarku sudah sangat lebar yang semula hanya berukuran jari lentik kini sudah terlihat seperti lubang sumur yang dalam dan lebar mungkin aku perkirakan 4 jari bisa masuk ke dalam. Lita terkulai tak berdaya dengan kondisi penis Leo yang berukuran besar masih menancap tegak. Tiba tiba saja Epul mengambil posisi tepat di belakang Lita dengan posisi mau dooggy style.Cerita Sex Dewasa

    “Gua pikir penis Leo belum lepas mau apa dia??” hatiku berdebar bertanya tanya.

    Baca Juga Cerita Sex Bolos Kuliah

    Ternyata Epul ingin memaksa penisnya ikut masuk kedalam vagina Lita. Owh…dengan satu penis milik Leo saja sudah sesak apalagi ditambah milik Epul. Apa muat? membuatku penasaran. Ketika mencoba untuk menekan masuk penisnya, pacarku tersentak dan menjerit kesakitan, namun Epul tetap memaksa dan akhirnya bisa memasukinya. Waw…kini dua penis bersamaan masuk di dalam vagina pacarku. Mereka mulai menggenjot bersamaan secara pelan pelan sebelum akhirnya semakin cepat dan cepat. Aku tak tahu kondisi dari Lita sendiri mungkin sekarang dia sudah tak sadarkan diri hingga akhirnya kedua penis tersebut bersamaan menyemburkan spermanya di dalam vagina Lita dan kami pun membiarkannya untuk beristirahat sementara 3 teman kelasnya Epul, Bayu dan Raden berpamitan terlebih dahulu karena ada ekstrakulikuler pramuka di sekolahnya dan sebenarnya Lita pun termasuk anggota ekskul tersebut. Tak terasa 3 jam kami meyetubuhi pacarku bersama teman teman sekolahnya. Tak ada penyesalan sedikitpun karena ini merupakan hukuman untuknya. Setelah satu jam dia tertidur akupun membangunkan Lita yang belum berpakaian sama seperti aku dan Leo. Aku mengajaknya mandi bersama. Leo juga tak mau ketinggalan untuk ikut mandi bersama. Kami bertiga mandi bersama aku menggosokkan tubuh Litta bagian belakan dan Leo ikut ikutan menggosok bagian depannya. Sontak membuat kami berdua kembali bergairah. Leo mengulum buah dada Lita dan nampak Lita pasrah saja menerimanya bahkan sudah bisa menikmatinya ketika tangan Leo mengocok vaginanya yang sudah lebar itu. Kini giliranku yang memegang kamera hp dan melihat persetubuhan pacarku dengan Leo kembali. Saat itu Leo mengangkat kaki Litta dan meletakkannya di atas wastafel kamar mandi dan mulai memasukan lagi penis besarnya ke dalam vagina Litta hingga keduanya kembali berorgasme.

    Setelah selesai mandi aku pun langsung mengantar pulang Litta dan tidak banyak bercerita karena memikirkan pikirannya masing masing. Menurut sumber info terpercaya dari teman Lita, semejnak kejadian tersebut, Lita menjadi bulan bulanan pemuas nafsu seks teman teman sekolahnya, bahkan di kalangan tertentu Lita dicap sebagai perek murahan karena hanya dibayar 50rb atau 20 ribu bahkan ada yang hanya memberi 5ribu saja untuk mencicipi tubuh indahnya. Hal tersebut dikarenakan ulah Bayu yang memanfaatkan rekaman tersebut untuk melakukannya bahkan dia yang seperti germo dengan menyuruh Lita melakukan hubungan seks atau ML dengan teman-temannya untuk keuntungannya sendiri mendapatkan imbalan dari setiap yang memakai tubuh Lita. Jika menolak Bayu mengancam Lita bahwa video yang didapatkan atas kejadian waktu itu akan diberikan pada orang tuanya yang memiliki sakit jantung dan sebagai seorang yang dihormati dan disegani. Bahkan menjadi rahasia umum jika ada salah seorang guru yang pernah memakai Lita sebagai alat pemuasnya. Entah aku harus bangga atau apa atas kejadian ini tapi yang jelas kemarahanku terhadap Dwi belum tuntas aku berniat untuk membalasnya dengan mengerjai pacarnya yang juga tidak kalah cantik dari Litta dan terkenal sangat agresif serta dicap gatalan itu. Nantikan saja kelanjutannya…

  • Sales Counter Girl

    Sales Counter Girl


    14 views

    aku sering me laundry pakeanku pada laundry yang deket rumahku. Disana ada beberapa sales counter girl
    yang melayani aku. Yang paling menarik adalah Ita, orangnya item manis, imut banget deh, kalo berdiri
    paling setinggi daguku. Karena bodinya kecil makan perabotan yang bertengger dibadannya ya proporsional
    dengan ukuran bodinya. toketnya gak besar tapi gak bisa dibilang tocil juga si. proporsional lah,
    pantatnya yang agak gede, geol-geol kalo berjalan dan aku liatin dari belakang. Tiap ari dia pake
    seragam baju putih, celana panjang item dan rompi item.

    cerita-sex-dewasa-sales-counter-girl-1024x768
    aku sering bercanda dengan dia, aku suka iseng-iseng nanyain pacarnya, di abilang pacarnya ada dilain
    kota sehingga gak setiap malming bisa ngapelin dia.

    “Kasian ya, masa malming gak ada yang nemenin, trus nepokin nyamuk aja di kos ya”.
    “Iya nih, sepi pak”.
    “Mo saya yang nemenin gak kalo cowok kamu gak dateng”.
    “Bapak mo nemenin ITa> Serius ni”.
    “Napa enggak, aku juga sendirian kok, apa salahnya aku nemenin prempuan yang paling cantik di laundry
    ini”. Ita tersipu kalo aku memujinya cantik.
    “Ah, Ita mah biasa saja kok pak. bapak berlebihan ni mujinya”. “Gombal ya”. “Enggak gombal kok pak,
    berlebihan ja”.

    Tapi dari sorot matanya dia senang kalo dipuji cantik.

    “Ya udah, kamu bubar jam brapa, sampe sore?” Gak kok pak, aplusannya jam 3 nanti”.
    “Aku jemput kamu ya”.
    “Mangnya bapak mo ajak Ita kemana si”.
    “Ya jalan ja, menikmati malming”.
    “Jam 3 mah belum malming atuh pak, masi sore, malu ma matahari”.
    “Ya kita ngadem di mal aja, makan dulu, blanjain kamu”.
    “Bapak mo blanjain Ita”.
    “Kalo kamu mau, napa enggak. apa sih yang enggek buat prempuan secantik kamu”.
    “Iya deh pak, nanti bapak Ita tunggu di halte deket sini ya pak. Gak enak kalo dijemput di counter,
    keliatan ma temen yang gantiin Ita”.
    “Ok say, sampe nanti ya”. Aku minta no hpnya supaya bisa kontak dia kalo perlu.

    Jam 3 sore, aku dah nunggu di halte, lama juga Ita baru muncul.

    “Katanya jam 3, kok gini ari baru muncul”.
    “Iya pak, tadi serah terima ada pakean yang nyelip, jadi kudu dicari dulu”. Ita dah ganti pakean, dia
    cuma pake t shirt dan jins yang tidak terlalu ketat.

    Toketnya menonjol juga di balik t shirtnya.

    “Na gitu dong, kan makin cantik kalo gak pake seragam?”
    “Tapi kan masi pake baju pak”.
    “O Kalo gak pake baju pasti lebi cantik lagi”.
    “Ih bapak, porno ah”. Ita duduk disampingku dan mobil meluncur kearah mal yang gak jauh dari laundry nya
    Ita.

    Aku parkir di basement.

    “Kamu dah makan siang?” tanyaku.
    “Tadi gak sempet pak, tamunya banyak si”.
    “Pantes aja kamu kecil, makan gak teratur si”.
    “Teratur kok pak, se ari makan, se ari enggak”.
    “hah?” Ita tertawa, “gak kok pak, becanda”.
    “Sekarang kita makan dulu ya, kamu doyan makan apa”.
    “apa aja Ita doyan kok pak”.
    “Sosis doyan juga”, kataku memancing.
    “Sosis apaan pak”.
    “Yang gede panjang itu”.
    “Ih bapak ni, masi sore dah porno gitu”.
    “Kalo dah malem bole ya porno”. Ita hanya tersenyum.Cerita Sex Dewasa

    aku mengajaknya ke resto steak.

    “Wah Ita jarang makan steak pak”.
    “Ya udah nikmati aja ya”. Sambil makan kita ngobrol ngalor ngidul. Makin diliat2, Ita makin cantik
    kliatannya.

    aku mulai menyinggung apa yang dilakukan ma pacarnya kalo pacarnya apel.

    “Ya ngobrol di kos Ita pak”.
    “Cuma ngobrol aja, masak gak ada yang laennya”. Ita terdiam,
    “ada si pak”.
    “Jadi gak cuma ngobrol kan, ciuman ya”. Dia menganggul.
    “Trus cowok kamu ramah”. Maksud bapak?”
    “Rajin menjamah, atas bawah”.
    “Bapak kaya gak perna muda aja”.
    “Eh aku ni masi mudah, baru kepala 4″.
    “Ya tua lah kalo dibanding Ita yang baru mo kepala 2″.
    “Jadi ramah ya”. Kembali dia menggangguk.
    “Cuma ramah aja?” Dia kembali terdiam,
    “mangnya gak ngelakuin yang laen?”
    “Ngelakuin si pak, abis sama2 gak nahan”.
    “Sering?”
    “Kalo dia dateng aja, datengnya juga jarang, ya jaranglah Ita ngelakuinnya”.

    Sehabis makan, Ita aku ajak belanja,

    “kamu butuh apa? mumpung di mal blanja sekalian”.
    “Belum gajian pak”.
    “Udah aku yang bayarin”. Kita menuju ke supermarket yang ada.

    Ita tidak berlebihan blanjanya, dia beli yang memang dia perlukan untuk sehari2. Sudah itu blanjaan kita
    taruh di bagasi mobil dulu.

    “Aku mo beliin kamu pakean, mau ya”.
    “Pak, kok baek banget si, pasti ada maunya dari Ita ya”, katanya sambil tersenyum.
    “Mangnya gak boleh kalo aku mau kamu”.
    “Bole aja kok pak”. Wah signal ijo neh.

    Aku mengajak Ita ke dept store yangada juga di mal itu. Ita membeli keperluan makeup sederhana, ketika
    aku suru dia milih pakean, dia bingung.
    “Pakean kamu yang sedikit apa?”
    “Dress pak”.
    “Ya udah kita beli dress, kan perlu kalo ada acara resmi kan”. Lama juga Ita memilih dress yang cocok
    buat dirinya.

    Kalo dah dipas di ruang ganti, dia selalu menanyakan pendapatku. Aku membelikan dia beberapa potong
    pakean, dress, jins dan t shirt.

    “Gak beli daleman?” Ita tersipu malu,
    “ya beli aja sekalian, malu ya”.
    “Iya ni masa beli daleman ma bapak”.
    “Ya gak apa kan”. Ita memilih daleman, aku liat dia memilih bra ukuran 34a.

    gak kecil2 amat toketnya ya. Dia membeli beberapa potong daleman. Selesai belanja, hari dah cukup malem.

    “Dah laper lagi?”
    “Masi kenyang pak, tadi steaknya gede banget”.
    “Kan enak yang gede”. Ih bapak”.
    “Kan dah malem, jadi bole dong porno. Punya cowok kamu gede gak”. Dia diam saja.
    “Ya udah kita minum aja ya, aus nih”. aku mengajaknya menuju ke gerai minuman, pesan minuman untuk kami,
    juga kue2 kecil buat temen minum. Ngobrol masih terus,
    “Makasi banyak lo pak, baek banget deh bapak ke Ita. Bapak mo apa si dari Ita?”
    “Kamu mau gak nemenin aku malem ini”, kataku to the point. ”
    Dimana pak”.
    “Dihotel bole, dirumahku juga bole”.
    “Di rumah bapak aja ya, gak enak diliat orang kalo Ita masuk hotel ma bapak”. Asik, seruku dalam hati.

    tapi aku santai ja menikmati minuman itu.

    “Kamu gak ditunggu sapa2 kan di kos?”
    “Gak pak, nanti Ita sms tetangga Ita ja kalo Ita gak pulang malem ini”. Ita mengeluarkan hp nya dan
    mengirimkan sms ke temen tetangganya itu.
    “Dah agak larut,
    “Pak, Ita ngantuk nih, kekenyangan”.
    “Ya udah, ketempatku aja ya”. Aku membayar minuman dan membawakan belanjaannya menuju ke mobil.

    Dia diem aja selama perjalanan ke rumah, mungkin dia mikir baik enggaknya dia ikut aku malem ini. Pasti
    dia tau apa yang aku inginkan dari dia.

    “Napa, kamu nyesel ya ikut ma aku”.
    “Enggak kok pak, bapak kan dah abek banget ma Ita, Ita juga harus ngasi yang bapak mau dari Ita kan”.
    “Mangnya aku mau apaan dari kamu”.
    “Katanya bapak pengen ditemenin malem ini?”
    “Iya cuma ditemenin aja kok”.
    “Gak percaya Ita, pasti bapak nanti ramah dan ngelakuin yang laen juga kan?”
    “Kamu gak mau kita ngelakuin?”
    “Gak apa kok pak, Ita dah lama banget gak ngelakuin, pengen ni pak”.

    Sampe dirumah, aku mengajak Ita masuk, langsung ke lantai 2 rumahku. Ruang tamunya menghadap ke jalan,
    sehingga pemandangannya luas kalo diliat dari jendela. ceritasexdewasa.org Karena dah larut, dah sepi, cuma lampu jalan yang
    temaram. Ruang tamunya gak banyak isinya, cuma sofa besar dan meja, tv, dvd dan sound systemnya, lemari
    es, dan ada kamar mandi kecil. Aku mengajaknya duduk disofa. Lampu ruang kubuat temaram, romantis juga
    suasananya.

    “bapak romantis ya orangnya. Bapak tinggal sendiri ya”.
    “La iya lah, kalo gak sendiri mana bisa ngajak kamu kemari”. Ita duduk merapat ke aku. aku merangkul
    pundaknya dan menarik Ita makin merapat kebadanku.

    Aku mendekatkan wajahku dengan sangat perlahan-lahan kewajahnya. Kemudian akumencium bibirnya dengan
    lembut. Ita tidak menolak malah menyambut ciumanku, aku segera mengelus toketnya pelan. Ita mengerang
    ketika bibirnya kucium dengan penuh gairah.tanganku merogoh masuk kebalik t shirtnya, kemudian menyusup
    kedalam branya. toketnya langsung kuremes pelan, jari2ku kemudian memlintir pentilnya yang imut. Ita
    menjadi terangsang karena ulahku.

    “Ah, bapak nakal ih”, katanya manja.
    “Tapi kamu suka kan diremes2 begini. Aku udah kepengin nih”, kataku sambil membuka retsluiting
    celananya.

    Aku tidak menunggu lampu hijau dari dia tapi langsung action saja. Dia membiarkan tindakanku.

    Celananya malah kuplorotkan sampe kepaha sehingga kelihatanlah CDnya yang tipis dan minim. Dengan penuh
    napsu langsung tanganku menerobos ke sela2 pahanya dan menggosok no noknya yang masih dilapisi CD.

    “It udah basah banget no nok kamu, kamu udah napsu ya. Jembut kamu lebat banget It, nggak heran napsu
    kamu besar”.

    Dia membiarkan aku meraba seluruh tubuhnya. Dia buka retsluiting celanaku juga, menurunkan celanaku,
    kemudian dia merogoh masuk CDku,

    “Gede amat kon tol bapak”.
    “Emangnya kamu belum pernah ngerasain kon tol segede punyaku”.
    “Gak segede kon tol bapak sih”.
    “Wah kalo gitu no nok kamu masih sempit dong, cuma kelewatan kon tol yang kecil, malem ini asik dong
    kita ya. Kamu mau kan aku en tot”. kon tolku tergolong besar juga, keker, melengkung keatas dan urat-
    uratnya nonjol-nonjol.
    “Bapak sering ya bawak cewek kesini”.
    “Yah kalo mereka mau ya aku ajak kesini”.
    “Wah!… pasti cewek bapak ngejerit kalo bapak en tot”.
    “Iya, ngejerit keenakan. sebentar lagi kamu juga jerit2, cewek yang jembutnya lebat kaya kamu kan binal
    banget kalo lagi dien tot”. “Kalo lagi nikmat Ita memang suka jerit2″.

    T shirt dan celananya kulepaskan dan aku langsung saja meremas2 kembali toketnya. Nggak lama kemudian
    branya sudah kulepas. Dia dibaringkan disofa. Aku mencium keningnya, kemudian matanya. Dia terpejam
    menikmati ciuman dan remasan ditoketnya. Ciumanku turun ke hidung, pipi dan akhirnya mendarat di
    bibirnya. Nafasnya mulai agak memburu, kami berdua terbenam dalam ciuman yang hangat. Aku menciumi
    leher, pundak, lalu turun ke toketnya yang sudah mengeras. Aku memainkan lidah dipentilnya yang imut
    yang juga sudah mengeras, yang kiri dan kemudian yang kanan.

    “Aah enak”, katanya terengah karena napsunya yang sudah berkobar2.

    Aku terus menciumi pentilnya, kemudian turun ke perutnya dan menciumi pusernya, dia kegelian ketika
    pusernya kucium. Sambil mencium pusernya, tanganku nyelip ke balik CD mini nya dan meraba no noknya.
    otomatis pahanya mengangkang supaya aku mudah mengakses no noknya.

    “It, ni jembut, lebat amat,” kataku sambil mengelus2 jembutnya.
    “bapak suka kan ma prempuan yang jembutnya lebat?”
    “Suka banget, kaya kamu gini”.

    Kemudian jariku terbenam dino noknya dan terus mengilik2 it ilnya.

    “It, no nokmu udah basah banget, kamu udah napsu sekali ya”, kataku. Dia tidak menjawab hanya mengerang
    keenakan karena kilikan jariku ke it ilnya makin cepat.

    Aku kemudian menciumi jembutnya dan kemudian lidahku menggantikan fungsi jariku mengilik it ilnya. Dia
    semakin tidak dapat menahan napsunya dan erangannya semakin keras. Aku langsung meremas kedua toketnya
    dan memlintir2 pentilnya.

    “Ita udah pengen dien tot nih, masukin dong kon tol bapak”, katanya minta. Aku terus saja menjilati it
    ilnya sehingga kembali dia mendesah keenakan. “Aah enak banget, padahal baru dijilat.

    Apalagi kalo disodok pake kon tol gede bapak, lebih enak lagi, ayoo dong pak, Ita udah gak tahan nih”,
    dia terus merengek2 minta segera dien tot.Cerita Sex Dewasa

    Aku merebahkan diri disebelahnya. Sofa cukup lebar untuk 2 orang berbaring. Aku segera memposisikan
    diriku kedekat kepalanya

    “It, aku pengen ngerasain dulu diemut sama kamu”, kataku sambil mendekatkan kon tolku ke mulutnya.
    Segera digapainya kon tolku yang sudah ngaceng.

    Kemudian dijilatilah kepalanya dengan memutar terutama bagian tepi kepalanya. Kira2 sdh 5 menit lubang
    dikepala kon tolku dibuka2 dgn ujung lidah dengan gerakan yang cepat. 10 menit kemudian dimasukkannya
    ujung kepalanya kemulutnya lalu digesek2 dengan lidah sambil dikenyot2. Akhirnya dimasukkannya kon tolku
    dalam2 kemulutnya lalu dikeluar masukkan di mulutnya sambil dikocok pelan2 . Aku mendorong kon tolku
    keluar masuk pelan ke mulutnya sambil mendesis. Dia emut kon tolku terus.

    “It diemut mulut kamu aja nikmatnya kaya begini, apalagi kalo diemut no nok kamu ya”, kataku sambil
    mempercepat enjotan kon tolku keluar masuk mulutnya.
    “It, aku ngecret dimulut kamu ya”, kataku.

    “Jangan pak, dino nok Ita aja, Ita udah pengen ngerasain kon tol bapak keluar masuk no nok Ita”,
    jawabnya.

    Aku melepaskan semua pakaianku dan kemudian menarik CDnya sampe lepas, kami sudah bertelanjang bulat.
    Aku memposisikan tubuhku diantara kedua pahanya dan mengarahkan kon tol gedeku ke no noknya. Dia
    merasakan kepala kon tolku mulai masuk perlahan, kutekannya lagi sedikit sehingga kon tolku mulai
    menyeruak sedikit2 ke dalam no noknya. Nikmat banget rasanya kon tolku kegesek no noknya yang keset
    banget. Perlahan tapi pasti kon tolku nancep makin dalam ke no noknya. Kurasakan no noknya udah mulai
    basah karena gesekan kon tolku yang hampir masuk semua itu. Akhirnya aku mendesakkan kon tolku dengan
    cepat dan tiba-tiba sehingga nancap semuanya di no noknya.

    “Ssshhhhh…..”, erangnya sambil terpejam.

    Aku mulai mengenjot kon tolku keluar masuk no noknya dengan cepat dan keras. Dia merasakan nikmat yang
    luar biasa. Dia mulai memundur-majukan pantatnya, sebentar goyangannya kekiri, lalu kekanan, memutar,
    mengiringi enjotan kon tolku di no noknya. Dia meremas rambutku, sesekali badannya kupeluk erat2.
    Tubuhku dan dia berkeringat, namun aku tidak perduli karena sedang merasakan nikmat. Aku terus
    mengenjotkan kon tolku dengan cepat dan keras. Dia merasa sudah mau nyampe,

    “cepetean ngenjotnya pak, lebih keras lagi, enak banget kon tol bapak”, Kakinya kuangkat ke atas
    melingkari pinggangku sehingga rasanya kon tolku nancep makin dalem di no noknya.

    Akhirnya “aahhhh”, kurasakan no noknya menegang dan mengejut-ngejut menjepit kon tolku.

    “It, no nokmu nikmat bangetnya bisa ngempot, baru kali ini aku ngerasain empotan no nok senikmat empotan
    kamu”, kataku sambil terus mengenjotkan kon tolku sampe
    “Aaahhhhh…. gila…. ini nikmat sekali…”, aku menancapkan kon tolku sedalam2nya ke no noknya dan
    ngecretlah pejuku.

    Terasa pejuku muncrat beberapa kali dalam no noknya, pejuku muncrat banyak sekali. Dia terkulai lemes,
    kupeluk dia.

    “It, enak banget ngen tot sama kamu, rasanya beda sama cewek lainnya yang pernah kuen toti”, kataku.
    “Ita juga nikmat, abis kon tol bapak gede banget. Ita pengen lagi deh”. Kami berpelukan sampai kon tolku
    melemas dan lepas sendiri dari no noknya.

    Dia menuju ke kamar mandi, mengguyur badan di shower, sambil membersihkan leleran pejuku dipahanya.
    Sekembalinya kekamar, aku masih berbaring terpejam, masih menikmati layanannya barusan.

    Aku menghidupkan tv dan dvd, tampak dilayar tv perempuan dengan wajah asia sedang nungging dien tot sama
    bule. kon tol si bule yang besar dan panjang keluar masuk no nok sicewek, dan ceweknya ber ah uh,
    seperti lazimnya film biru. Dia duduk di tempat tidur, napsu juga dia nonton filmnya, sementara aku
    sedang membersihkan dirinya dikamar mandi. Kemudian aku duduk disebelahnya, ikut nonton. Dia merapat ke
    badanku, toketnya sebelah kiri udah nempel di badanku. kon tolku dirabanya, sudah ngaceng lagi dengan
    kerasnya. Aku membalas meremes toketnya sambil mencium bibirku.

    Dia berbaring disofa, aku mulai menciumi toketnya dan menghisap pentilnya. Tanganku satunya menjalar
    kebawah dan mengkilik2 no nok dan it ilnya. Dia merintih2 karena napsunya sudah naik lagi. Segera aku
    berbaring disebelahnya. kon tolku yang sudah keras sekali diremes2 dan dikocok2. Aku memutar badanku ke
    posisi 69 dan mulai menjilati no nok dan it ilnya diantara pahanya yang sudah mengangkang lebar2.
    jembutnya kuelus2nya sambil terus mengemut it ilnya. Dia sudah tidak dapat menahan napsunya yang sudah
    berkobar2. kon tolku segera diemut2. Akhirnya dia mengambil inisiatif menaiki badanku, menduduki kon
    tolku sehingga kon tolku kembali menyusup ke dalam no noknya, yang masuk belum semua tapi baru 1/3
    bagian, lalu pantatnya digerakkan memutar.Cerita Sex Dewasa

    Aku memegang pinggangnya untuk membantu dia memutarkan pantatnya. Kemudian dia mulai ganti goyang naik
    turun, hingga toketnya bergoyang agak keras dan segera kutahannya dengan kedua tanganku. Kuusap2 seraya
    kuremas pelan2 dan sebentar2 agak keras. Hal ini menambah rangsangan baginya. Ditekannya pantatnya
    kebawah dengan keras sehingga akhirnya kon tolku sudah nancep semuanya ke no noknya. Dia mulai mengenjot
    kon tolku dengan menaik-turunkan pantatnya. kon tolku keluar masuk no noknya seirama dengan enjotan
    pantatnya. Dia udah nggak tahan lagi, sehingga enjotannya makin cepet dan keras. toketnya kuremas2, dan
    pentilnya terkadang kuemut2. “Ita udah mau nyampe pak, enak banget kon tol bapak deh”, erangnya dan
    akhirnya dia ambruk diatas badanku. Terasa no noknya kedutan meremes2 kon tolku.

    Aku segera berguling sehingga dia telentang dibawahku. AKu meneruskan permainan dengan mengenjotkan kon
    tolku keluar masuk dengan cepat dan keras. Nikmat sekali, dia baru nyampe sudah kuenjot dengan keras.
    Aku terus saja mengenjot no noknya dengan cepat dan keras,

    “It, tadi empotan no nok kamu kerasa banget deh, lebih kerasa katimbang yang pertama. Nikmat banget deh
    It ngen tot sama kamu”. Nggak lama lagi akhirnya aku pun hampir nyampe,
    “It, keluarin sama2 ya, aku hampir ngecret nih”. Dia tidak menjawab, kakinya melingkari pinggangku dan
    diteken keras2 sehingga kon tolku nancep dalem sekali di no noknya, sampai akhirnya dia bergetar karena
    nyampe lagi
    “Nikmat banget pak, teken yang keras dong”. Aku mengenjotkan kon tolku sedalam2nya di no noknya dan
    melenguh
    “It, aku ngecret”. Terasa pejuku muncrat beberapa kali didalam no noknya.

    Oh nikmat banget rasanya, lemes banget badanku, aku memeluk dia erat2, dan dia akhirnya berbaring
    disebelahku, kon tolku berlumuran peju dan cairan no noknya. “Lemes banget deh Ita, ngen tot sama bapak
    menguras tenaga ya”, katanya. “Ya udah, tidur aja dulu, nanti bangun tidur kita ngen tot lagi”, jawabku
    sambil memeluknya. Aku mengajaknya masuk kamarku dan berbaring di ranjang. Karena lelah, dia tertidur
    dipelukanku.

    Ketika dia terbangun aku sedang memandangi wajahnya yang masih ngantuk itu.

    “It, kamu cantik sekali kalo sedang tidur, sayangnya kamu bukan istriku ya”.
    “Enggak jadi istri tapi kan udah melayani napsunya bapak”, jawabnya tersenyum.

    Aku bangun dan masuk kamar mandi yang ada didalem kamarku, keluar dari kamar mandi, aku membawa gayung,
    sabun dan handuk. Aku duduk disebelahnya dan mulai menyeka wajahnya, terus kebawah, ke toketnya, perut,
    no nok, paha sampai ke telapak kakiku. no nok dan pahanya kuelus2nya dengan handuk basah dan mulai
    membersihkan no noknya yang belepotan pejuku dan lendirnya sendiri. Dia jadi merinding, apalagi ruangan
    dingin karena AC. Dia hanya terpejam saja, menahan gelinya usapan handuk. Selesainya aku berkata,

    “Gantian dong”. Dia segera membuang air yang ada digayung dan mengisinya dengan air yang baru.

    Dia mulai mengelap wajah, leher, dada dan perutku dengan handuk basah. kon tolku dikocok2 dan kepalanya
    diemut2.

    “Enggak dilap malah diemut”, kataku.

    Dia tidak menjawab karena kepalanya sedang mengangguk2 sehingga kon tolku keluar masuk di mulutnya.
    Cukup lama dia mengemut kon tolku, sampe pelan2 kon tolku mulai mengeras lagi. Segera kon tolku dikocok2
    dengan cepat sehingga ngaceng sempurna.

    “Sudah siap tempur lagi nih kon tol bapak”.

    Aku tidak menjawab, tapi segera memeluk dan mencium bibirnya. Aku segera meremas2 toketnya dan kemudian
    kembali mengilik2 it ilnya. Aku tau bahwa napsunya akan cepat berkobar kalo it ilnya dikilik2, benar –
    nggak lama kemudian dia sudah napsu kembali dan pengen segera dien tot.

    “Ita udah pengen ngerasain lagi kon tol bapak keluar masuk no nok Ita, masukin dong”, dia merengek2.

    Aku segera menaikinya dan menancapkan kon tolku ke no noknya. Nikmat banget rasanya ketika kon tolku
    yang besar itu segera menyesaki no noknya, peret dan keset sekali. ceritasexdewasa.org karena sudah nancep semuanya kedalam
    no noknya, aku mulai mengenjot kon tolku keluar masuk no noknya dengan cepat dan keras. Dia mulai
    mengerang2 keenakan. Pantatnya bergerak kekiri dan kekanan mengimbangi enjotan kon tolku. toketnya
    kuremas2 dengan kedua tangan, aku bertumpu dengan sikut, hal ini menambah rangsangan buatnya.

    “Akhhh…Oukkkhhh” serunya kenikmatan. Aku memeluknya erat dan mempercepat enjotan kon tolku, makin lama
    makin cepat dan keras.

    Dia tidak dapat menahan seranganku lagi, sehingga akhirnya dia melolong

    “Ita nyampe lagi, nikmat banget ngen tot sama bapak deh”. no noknya terasa berdenyut2 meremas kon tolku
    sehingga akupun meringis keenakan
    “Aah It, empotan no nok kamu kerasa banget. kon tolku kaya sedang diemut dan diremes. Empotanmu hebat
    banget It”.

    Aku mencabut kon tolku dari no noknya, dia kutunggingkan dan aku menancapkan kon tolku ke no noknya
    dengan keras, sekali enjot kon tolku sudah masuk semua. Kemudian aku mulai lagi mengenjot no noknya dari
    belakang. Dia nelungkup ke bantal menahan rasa nikmat yang luar biasa ketika dienjot kon tolku. Aku
    memegang pantatnya sambil mengenjotkan kon tolku dengan cepat dan keras. Dia nggak tahan untuk nyampe
    lagi, mungkin saking nikmatnya enjotanku yang begitu merangsang dia, sehingga dia cepat sekali nyampe.

    “Ita mau nyampe lagi, aakh”, serunya dan dia ambruk ke tempat tidur.
    “It, kamu cepet banget nyampenya, aku belum kerasa mau ngecret”, kataku.
    “Abis kon tol bapak enak banget, bapak pinter banget ngenjotnya. Terusin aja sampe bapak ngecret lagi
    dino nok Ita”, jawabnya.

    Aku menelentangkannya dan segera menaiki tubuhnya. kon tolku kembali ambles dino noknya dan aku mulai
    mengenjotkan keluar masuk dengan cepat. Kalo ditekan, kon tolku ambles semua di no noknya, ooh nikmat
    banget rasanya. Aku dengan perkasa terus mengenjotkan kon tolku keluar masuk. Setelah ngecret 2 kali
    dino noknya, aku bisa bertahan lebih lama. Kadang kon tol kucabut dari no noknya, dan sebentar kemudian
    kutancepkan kembali dengan keras sehingga dengan sekali sodok langsung nancep semuanya ke no noknya.

    “Nikmat banget enjotan bapak yang barusan, terus pak, yang keras”, dia merintih2.

    Aku meneruskan cara enjotanku. Dia kembali berteriak2 keenakan. Dia menggoyangkan pinggulnya kekiri dan
    kekanan, ketika kon tol kucabut, pantatnya refleks mengangkat keatas untuk mencegah kon tolku lepas dari
    no noknya. Aku mengubah gaya enjotanku,sehabis menjotkan kon tolku hingga masuk semua, aku menarik kon
    tolku separuh beberapa kali kemudian kugentakkan kembali sehingga nancep kebagian paling dalam dari no
    noknya.

    “Aaakh, makin lama dien tot bapak makin nikmat rasanya, Ita lemes banget deh”, katanya kepayahan.

    Aku terus mempermainkan no noknya dengan cara itu. Kemudian aku memeluknya erat2, menciumi wajah dan
    bibirnya. kon tol tidak kuenjotkan karena sudah nancep dalam sekali, tetapi kugerak2kan. Lebih nikmat
    lagi rasanya karena seakan2 kon tolku sedang menggaruk2 no noknya.

    “Pinter banget sih bapak kasih kenikmatan sama Ita”, teriaknya.

    Aku mulai lagi mengenjotkan kon tolku keluar masuk dengan keras dan cepat. Dia menggeliat2 keenakan
    sambil mengerang2. Dia membelitkan kakinya ke pinggangku, supaya aku cuma bisa mengeluar-masukkan kon
    tolku ke no noknya tanpa bisa mencabutnya.

    “It, aku udah mau ngecret”, akhirnya aku melenguh.

    Kakinya yang melingkar dipinggangku diturunkan, dia mengangkang selebar2nya karena dia yakin aku akan
    mengenjotkan kon tolku lebih cepat dan keras lagi. Aku dengan terengah2 terus mengenjot no noknya,
    sampai akhirnya

    “It, aku ngecret”. Terasa pejuku muncrat beberapa kali dalam no noknya dan bersamaan dengan itu diapun
    nyampe lagi “aakh nikmat banget malem ini, bapak luar biasa sekali sehingga Ita nyampe 3 kali baru bapak
    ngecret”. no noknya terasa berdenyut2 meremas2 kon tolku.

    Keringatku bercampur dengan keringatnya yang membanjir walaupun AC dalam kamar menyala. Setelah denyut
    jantung kembali normal, kami masuk kamar mandi dan membersihkan diri.

    “Kita istirahat saja ya It, besok baru pulang”.
    “Iya, Ita lemes banget nih, tapi besok sebelum pulang Ita dien tot lagi ya”.

    Ketika aku terbangun kembali, kulihat dia sudah terbangun dan turun dari ranjang ke kamar mandi. Aku
    melihat arloji, jam 6 lewat. Dia masuk kekamar mandi membersihkan diri.Cerita Sex Dewasa

    “It, ngapain bebersih, kan sebentar lagi keringatan lagi”, kataku dari ranjang. Ketika dia keluar dari
    kamar mandi, aku masih berbaring di ranjang sambil mengelus2 kon tolku.

    Dia berbaring disebelahku dan segera mengelus2 kon tolku juga. Aku membiarkan dia mengelus2 kon tolku,
    diremas2 dan mulai dikocok2. Nggak lama kemudian kon tolku mulai mengeras. Aku mulai mencium bibirnya
    dengan napsu, toketnya kuremas2 dengan gemas. Perlahan aku mulai menciumi toketnya, pentilnya menjadi
    sasaran emutannya, dia mendesah2 keenakan.

    “Terus dong pak, enak”, erangnya.

    Bibirku terus menjelajah kebawah, ke no noknya. paha dikangkangkannya, sehingga belahan no noknya
    menganga. Aku mulai menjilati no noknya yang sudah basah. Dia tambah melenguh2 ketika it ilnya menjadi
    sasaran jilatanku yang berikut.

    “Enak banget, Ita udah napsu pak. Dien tot dong”, pintanya.

    Aku tidak memperdulikan erangannya, malah it ilnya kuemut, sementara tanganku terus meremas2 toketnya
    dan memlintir2 pentilnya. Rangsangan yang dia terima pagi itu makin besar sehingga akhirnya dia tidak
    dapat menahan dirinya lagi,

    “Ita nyampe aah”. “Cepat banget It, belum dien tot”, jawabku.

    Dia terkulai lemas karena sudah nyampe, kon tolku segera diremas2nya lagi.

    Aku kembali mencium bibirnyadengan ganas, dia menyambut ciumanku. Lidahku segera melilit lidahnya dan
    dia menghisap lidahku yang masuk kemulutnya. toketnya terus kuremas2.

    “It, isep kon tolku dong”, pintaku, segera saja dia merubah posisi dan mulai menjilati kon tolku yang
    sudah keras banget ngacengnya.

    Kepala kon tolku mulai diemut dan tak lama kemudian kepalanya mulai mengangguk2, mengeluar masukkan kon
    tolku di mulutnya. Giliranku yang melenguh,

    “Enak banget It”. no noknya yang berasa dekat mulutku kembali menjadi sasaran.

    Lidahku segera menyerbu masuk dan mulai menjilat it ilnya lagi. Napsunya dengan cepat berkobar kembali.
    Dia kurebahkan dan aku langsung menindihnya sembari menciumi bibirnya. kon tol ku arahkan hingga berada
    tepat di depan mulut no noknya, kugosok-gosokkan kon tolku di lipatan no noknya. Sensasinya sangat
    mengenakkan, dia memelukku erat sekali sambil terus mengerang nikmat. no noknya semakin basah dan
    perlahan kon tolku yang besar mendesak masuk ke dalam no noknya. Dia mengangkat kedua kakinya hingga
    selakangannya lebih terbuka lebar sehingga kon tolku dengan leluasa menerobos masuk no noknya. Dia
    mengeluh,

    “Aduh.., enak banget deh”. Saat itu kon tolku telah masuk semua, aku diam sejenak dan kemudian dengan
    perlahan mulai mengenjotkan kon tolku keluar masuk, semakin lama semakin kencang hingga memasuki no
    noknya sampe mentok.

    Aku terus mengenjotkan kon tolku dengan penuh napsu sambil melumat habis bibirnya dan meremas toketnya
    yang mengeras. Ciumanku mulai turun ke lehernya, dia mendesah kenikmatan.

    “Ita hampir..” dia makin mendesah nggak karuan.

    Aku tidak memperdulikan erangannya, kon tol terus kuenjotkan keluar masuk no noknya dengan keras dan
    cepat. Dia terus mendesah desah, sementara enjotan kon tolku makin cepat saja kedalam no noknya.

    “Ita mau lagi..Ahh..”, rintihnya.
    “Aku juga It..”, balasku.

    Enjotan kupercepat dan akhirnya pejuku muncrat memenuhi no noknya. Bersamaan dengan itu, dia mengejang
    keenakan. Dia nyampe berbarengan dengan aku. no noknya terasa berdenyut2 meremas2 kon tolku.

    Baca JUga Cerita Sex Bermain Di Sekolah

    “Enak banget It”, erangku.

    Aku memeluknya sambil mencium keningnya, kon tolku masih tertanam di no noknya sampai mengecil dengan
    sendirinya. Aku akhirnya mencabut kon tolku.

    Ranjang telah sangat basah oleh cairan kami berdua. Lalu kami berdua kembali tidur sambil berpelukan
    beberapa lama. Ketika bangun, segera aku mengajaknya membersihkan diri, berpakaian dan mengantarkannya
    pulang.

  • Guru Privat

    Guru Privat


    23 views

    Cerita ini ada cerita nyata saat aku sebut aja Adhit melakoni sebagai guru privat matematika SD/SMP. Dengan menjadi guru privat sangat bermanfaat untukku demi bisa menambah uang jajan sehari-hari. Dan cerita yang saya tuturkan ini adalah pengalaman saya yang tidak pernah bisa saya lupakan dalam hidup saya.

    cerita-sex-dewasa-guru-privat
    Ceritanya begini:

    Saya memiliki puluhan siswa dari SD sampai SMP. Setiap pulang kerja saya langsung mengajar privat sesuai jadwal yang sudah saya atur stiap harinya. Waktu itu saya ingat betul pada hari Rabu Tanggal 21 Agustus 2013 atau lebih tepatnya seminggu yang lalu sebelum saya menulis postingan ini. Saat itu waktu menunjukkan pukul setengah lima sore. Pada hari itu aku mengajar muridku namanya Dara.

    Siswaku ini baru kelas 3 SD di Jogjakarta. Dari kantor aku langsung bergegas menuju rumah siswaku di daerah Kadipiro Yogyakarta. Tepat pukul lima kurang seperempat aku sudah tiba di rumah siswaku. Aku taruh motorku di garasi luar, karena aku udah terbiasa langsung parkir motorku ke garasi luar. Aku tekan bel rumah, dan tak lama kemudian pintu terbuka. Entah setan apa yang merasuki tubuhku ketika ku lihat sosok wanita cantik, kulit putih mulus, rambut diikat ke atas sehingga terlihat lehernya yang seksi, dan hanya mengenakan daster diatas lutut. Dalam lamunanku terhentak ketika sesosok wanita cantik itu mempersilahkan aku masuk.

    “Silahkan Mas. Mari masuk. Dara udah menunggu di meja belajar dikamarnya..!! perintahnya.
    “Iya Tante, permisi saya masuk …” Jawabku singkat.

    kemudian saya langsung masuk ke kamar muridku dan Dara sudah siap menerima materi yang akan aku ajarkan. Disaat aku memberikan materi sesekali aku ajak ngobrol Dara.

    “Dek, siapa perempuan tadi? tanyaku.
    ” Dia Mama mas..Mama baru pulang dari Study di Australi ” Jawab dara.
    “ooOOO… Jadi itu Mama ” Sautku sambil mengangguk-angguk.
    30 menit aku mengajar tiba-tiba si perempuan cantik tadi yang ternyata Mamanya Dara datang membawa secangkir kopi hangat.

    “Silahkan Mas, di minum mumpung masih hangat…!” Perintahnya santun.
    “Iya Tante , Maksih. Malah repot-repot lho”. Jawabku
    ” Halah Santai aja kali Mas, Cuma Kopi doank..Ayo buruan diminum !! ” Balasnya sambil meninggalkan aku dan Dara belajar.

    Memang sejak awal aku mengajar di tempat Dara saya belum pernah ketemu dengan orang tuanya. Saya hanya berkomunikasi Via Telp. Mungkin tau nomor HP ku dari surat kabar, karena memang aku pasang iklan les privatku di berbagai media informasi. Orang tua Dara sudah bercerai dan Dara adalah anak tunggal.

    1 jam telah usai tibalah aku pamit mau pulang. Aku keluar dari kamar dara. aku lihat Mama dara sedang duduk diruang tamu sambil main HP.

    “Permisi tante, Jam belajar saya dengan Dara udah selesai, ini saya mau pamit”.. Sapaku minta izin.
    ” Looh,,,kok buru-buru to.. Mas belum pernah ngobrol langsung dengan saya khan?..Ayo, sini duduk dulu, Tante ingin bertanya-tanya tentang kemajuan pendidikan anak tante.” Jawabnya..

    Tanpa basa-basi dan karena sebenernya saya juga masih ingin memandang mamanya Dara yang cantik itu aku langsung aja menyetujuinya.

    “Oh, iya tante, Makasih tante.” Kataku pelan.

    Kemudian aku duduk dikursi depan persis mamanya dara dan kami pun mengobrol. Mulai dari perkembangan belajar Dara sampai hal-hal yang lain termasuk menanyakan kesibukanku yang lain. Oh iya dan di obrolanku itu juga aku baru tau kalau nama mamanya Dara itu Sarah.Cerita Sex Dewasa

    “Mas Adhit, maaf ya, selama ngajar anak saya hanya bik Sumi yang ada dirumah ini, Maklum lah mas semenjak saya bercerai dengan papanya Dara terpaksa saya sibuk kerja cari duit. Ini saya dapat cuti 1 bulan dari Study saya di

    Australi. Jadi saya sempatkan pulang untuk menemui Dara dan pengen liat perkembangan Dara khususnya di bidang pendidikannya.” Tutur tante Sarah.

    “Santai aja tante, selama saya masih bersedia mengajar, Pasti saya akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk semua siswa saya termasuk Dara.! ” Kataku dengan semangat.

    Saat aku menjawab seperti itu tante Sarah hanya tersenyum. Dan berrrrrrrr manis sekali bibirnya saat tersenyum. Udah cantik, putih, manis, baik, ramah, kaya lagi… hmmmmm bikin ngilerrrrr deh pokoknya.

    Apalagi saat aku ngobrol itu tante Sarah hanya memakai baju tidur warna hitam yang bahannya klunyur mengikuti lekuk tubuhnya. Dan terpaksa sesekali aku sempatkan melihat bagian tengah dadanya yang padat berisi 35B kayanya. Meskipun gedhe (besar) tapi perut tante Sarah tetap langsing dan terlihat kencang layaknya Mahasiswi 24 tahun.

    ” Tante terkadang merasa kasihan, Dara sering saya tinggal-tinggal. Dia masih kecil tapi jarang mendapat kasih sayang dari orang tuanya sendiri. Dan saya berharap untuk masalah pendidikan, mas Adhit yang saya percaya untuk mengurusnya”. Sambung Tante Sarah.
    ” Iya Tante, Saya akan berusaha menjaga amanah yang tante percayakan kepada saya”. Jawabku singkat.
    Kemudian disela kami ngobrol, tante Sarah berdiri sambil bilang ,
    ” Bentar Mas Adhit, saya liat Dara dulu apa dia langsung tidur atau masih belajar.”
    “Oh.. Iya Tante silahkan…” Jawabku.

    Dan sungguh indah sekali ketika ku lihat Tante Sarah dari belakang. Pinggulnya Bohai saat berjalan dengan baju tidur diatas lutut. Dan betisnya nampak putih kuning bersih tanpa noda. Pantatnya yang padat berisi sehingga terlihat jelas lekuk celana dalamnya. Hmmmm….Pokoknya makin kacau pikiranku dan membuat si Juniorku tegak berdiri tanpa di komando sekalipun. Terlihat Tante sarah menengok kamar anaknya, kemudian menutup pintu kamar Dara dan kembali ke ruang kita mengobrol.

    ” Dara udah tidur Mas Adhit. Capek mungkin ya!”. Kata tante Sarah.

    Dan tiba-tiba hal yang tak pernah disangkapun muncul.

    ” Mas Adhit, Kamu terburu-buru tidak?” Tanya tante.
    ” Emangnya kenapa Tante? Adhit gak ada acara kok.” Jawabku.
    ” Enggak, Tante cuma mau minta tolong aja, tadi turun dari pesawat pundak tante kayak tertekan tas bawaan tante dan sekarang terasa sakit”. Tante Sarah menuturkannya sambil memijati pundaknya yang katanya sakit.
    ” Terus, apa yang bisa saya bantu tante?”. Jawabku cepat.
    ” Maaf lo Mas, bukannya gimana-gimana, saya boleh minta tolong nggak, agar mas Adhit memijat pundak saya.!! Nanti saya hitung sekalian tarif lesnya juga kok, ” Tante Sarah menawar.

    Dalam hati aku menggumam ibarat tidak dibayarpun juga mau gituuu.. hehehehe.

    ” i,,i,,,ii,,ya Tante, dengan senang hati . ndak usah dibayar nggak apa, orang aku juga bukan jasa pijat kok.. hehehehe.” Jawabku agak terbata-bata sambil ketawa..

    Kemudian tante Sarah mengajakku ke lantai atas. Aku disuruh masuk ke dalam ruangan yang ada home teathernya. Keren sekali pokoknya ruangan itu. Diruangan itu juga sudah tersedia karpet empuk ukurannya super lebar. Ketika aku masih melihat-lihat ruangan itu, aku terkaget dengan sapaan tante Sarah yang agak mengagetkanku.

    “Woiiii… Mas Adhit… kenapa eee? kok malah nolah-noleh ruangan, yang mau dipijit disini gitu..!” kata tante Sarah memotong lamunanku.

    Dari situ aku sudah bisa menilai bahwa tante sarah ini masih jiwa muda, meskipun udah berusia 33 Tahun dan kaya’nya tante Sarah ini juga termasuk orang yang mudah bergaul dan santai.

    ” hehehehee… Habisnya , keren banget tante studionya..” Jawabku sambil tertawa kecil.
    ” Sini buruan pijit tante, sambil nonton film ya mas.” Sambung tante sarah.

    Kemudian aku disuruh duduk di kursi samping karpet, dan tante duduk selonjoran didepanku persis aku duduk sampai center pahaku menyentuh bagian punggung tubuhnya sambil nonton film horor. tersentak si Junior langsung brontak menongol. Jujur aku malu sekali, ceritasexdewasa.org aku berfikir jangan-jangan tante Sarah kerasa kalau bagian punggungnya ada yang mengganjal. Awalnya agak grogi aku memegang pundak tante Sarah karena aku agak nggak konsen melihat leher tante yang seksi karena rambut lurusnya diikat ke atas dan yang paling membuat aku makin nggak kuasa saat baju tidur tante sarah di bagian pundaknya agak diturunin sehingga bagian garis tengah buah dadanya ikut terlihat jelas dengan BH warna hitam seksi.

    Sambil sedikit memiringkan kepalanyaa akupun diminta untuk segera memijitnya.

    “Maaf ya taante, Adhit mulai memijit..” Izinku.
    ” Iya Mas, pokoknya santai aja kalau ama tante itu, Pijit aja semau mau Adhit.. Rileks aja, anggep tante orang terdekat Mas Adhit, So jangan canggung mau mijit-mijit tante” Jawabnya santun.

    Akhirnya aku pijit pelan-pelan, dan 7 menit kemudian aku lihat tante Sarah menikmatinya dengan memejamkan matanya.

    Tanpa disangka tangan tante yang kiri merangkul pahaku kiri dan kepalanya disandarkan disitu juga, nah buah dadanya jelas ikut mendorong empuk kuda-kuda kakiku . Hauuuuuuhhhh.. si Junior makin mengeras keras. Apalagi saat aku pijit terkadang siku tante Sarah entah disengaja atau tidak menyenggol si Juniorku. Greeeeeeeengggggggg!!!! aliran darah sangat deras menuju si Juniorku.

    Cukup lama aku memijit pundak tante Sarah, tentu pula aku juga cukup lama memandang seluruh tubuh tante sarah yang seksi itu dengan jelas karena ternyata tante sarah tertidur lelap dengan kepala direbahkan di paha kakiku. Dan yang paling bikin makin ngiler tante sarah nggak kerasa kalau baju tidurnya melorot sehingga nampak jelas BH hitam yang didalamnya terdapat gumpalan kenyal putih kuning bersi buah dada yang sungguh indah sekali dan sedikit terlihat warna pink di bagian putingnya. Srontak aku menelan ludahku banyak. Ingin ku usap tapi aku masih takut. Walaupun tadi sempat ada lampu hijau untuk bebas memijatnya.

    Disela tante tertidur, ternyata tante menggeliat dan tanpa disengaja wajah pas bibir tante Sarah jatuh di bagian tepat sarang Juniorku yang sudah keras berdiri tegak. dan akhirnya.,, aku menjerit pelan “” Auuuuuh…!!!”
    Dan tante Sarahpun terbangun, dan hanya memandangku dengan wajah sayu.

    Tanpa aku duga, tante sarah berdiri dan naik diposisi aku duduk, sehingga aku diapitnya. Dia duduk diatasku. Bagian Miss V nya jatuh tepat di atas Mr. P ku. aku di peluknya sambil duduk dikursi dimana aku tadi memijatnya. Dan bibir mungil pink yang sejak awal tadi aku udah tergiur langsung menciumi bibirku. dan akupun langsung membalasnya. Dan aku sudah tidak canggung lagi bahwa tante Satah sudah benar-benar terlihat memuncak nafsunya. Akupun bisa mengusap buah dadanya yang sedari tadi hanya bisa kulihat. Uuuuuh, sungguh kenyal sekali. Dan masih kencang, dan aku sentuh putingnya didalam BH-nya. Tante Sarahpun Menggeliat.

    “uuuuuuuuh….Uuuuuuuh….Uhhhhhhhhh … ehhhhhhhh hmmmmm,” Desah tante Sarah lembut dengan mata terpejam penuh kenikmatan.

    Ku lepas baju tidurnya, dan kini kulihat jelas tubuh tante Sarah yang sungguh indah sekali dengan pakaian dalam warna hitam. Tante Sarahpun nggak ikut kalah, dia juga membuka Kaos Poloku dan menyuruhku juga membuka celanaku. Kini kami hanya mengenakan pakaian dalam aja. Kami terpagut dalam pelukan hangat dengan ciuman bibir penuh nafsu, dan tanganku secara otomatis meremas-remas buah dada tante Sarah yang super kencang dan kenyal itu.

    “uuuuh… uhhhh..uuuuhhhh….” desah tante Sarah kenikmatan sambil menggoyang pinggulnya karena bagian Miss.V nya nempel di bagian Mr. P ku meskipun kami masih mengenakan celana dalam.

    Dari situ aku merasakan celana dalam tante Sarah yang basah. Tante Sarah sesekali mencumbui bagian belakang telingaku sampai leher, dada dan akhirnya tante Sarah menarikku untuk rebahan di karpet. Kemudian tante sarah dengan masih menciumi dan menjilat-jilat dari dada turun ke perut, pusar dan akhirnya menciumi Mr.P ku yang masih tertutup celana dalam. Tanpa di suruh, Tante Sarah langsung membuka pelan celana dalamku. Dengan lembut tante Sarah memegang batang kemaluanku sambil mengojok lembut dan mengusap-usap bagian ujung disertai tangan yang satunya mengelus-elus buah zakarku.Cerita Sex Dewasa

    Uuuuuh…Sungguh dahsyat luarrr biasa enaknya. Mantap banget. Tidak lama kemudian aku rasakan sentuhan lebih lembut dan sangat merangsang di bagian kemaluanku, dan kulihat ternyata tante Sarah menjilat-jilat Mr. P. ku dibagian ujung, belakang sesekali menyedot buah zakarku. Kemudian melumat habis Mr.P ku dalam bibir seksinya. Aku cuma cuma bisa merintih kenikmatan sambil mengelus-elus kepala tante Sarah yang masih menikmati mengemut Mr, P ku.

    Permainannya dalam memanjakan Mr. P ku sungguh tidak terkalahkan, karena sesekali Mr.Pku juga di taruh di bagian tengah buah dadanya dan di gesek-gesek sampai aku tidak sanggup mengungkapkan betapa nikmatnya permainan tante Sarah ini.

    Sela waktu kemudian aku ditarik bangun tante Sarah dan Tante Sarah gantian yang tiduran. Aku ditarik mendekat sehingga wajah kami berpandangan. Aku dipeluknya sehingga aku menindihi tante Sarah. Kami berciuman dan tangan tante Sarah menekan kepalaku kebawah tanda kode aku disuruh turun untuk gantian memanjakan Miss.V nya. Sambil aku menurunkan kepalaku ke bawah, tidak lupa diperjalanan turunnya kepalaku aku jilati tubuh tante Sarah mulai dari leher, dada, puting-puting, samping bawah buah dada, perut, dan akhirnya ku ciumi kemaluan tante Sarah yang masih tertutup celana dalam hitam. Bau khas sangat terasa dan kain celana dalam yang basah berlendir juga aku rasakan.

    Ku buka pelan celana dalamnya, dan Wow, begitu bersih sekali bagian sekitar area kemaluan tante Sarah. Dan lipatan Miss.V nya pun begitu indah. Warna kulit kemaluannya pun sungguh juga inda. Warna merah mudah cerah dengan kulit disekitarnya putih kuning bersih dengan terbasahi cairan Miss. V yang timbul karena rangsangan, sehingga makin memperindah pandangn dan semakin membuat nafsuku bergejolak.

    Pertam aku jilat bagian tepi-tepinya. Saat itu tante Sarah hanya menggeliat-menggeliat kejang. Kemudian aku buka lipatan Miss. Vnya dengan penuh kelembutan dan kudapati mirip kaya kacang telur didalam lipatan Miss.V. nya.aku sentuh lembut dengan ujung lidahku, dan ku putar-putar. Sontak tante Sarah menjeriiiiit dan menjambak rambutku.

    “Aaaauuuuuuuh….!!!!” Terus…terus Mas Adit… Teruuuuus…. enak sekali… Tante sudah lama sekali tidak berhubangan intim seperti ini .” tuturnya sambil terus mengarahkan kepalaku untuk terus menjilati kemaluannya.

    akupun semakin semangat untuk bisa memuaskan tante Sarah. tak lama kemudian… ketika aku menikmati jilatanku ke Miss. V tante Sarah , tante Sarah menggoyangkan pinggulnya kencang dan mengangkat-angkat ke atas dan menjepit kepalaku dengan kedua pahanya yang bohai.

    “Mas Adhit, aku dataaaaaanggggg…. auch…auch…auch…. !!!” Jerit tante Sarah.

    Aku hanya merasakan semburan cairan cukup kental keluar dari kemaluan tante Sarah yang tetap aku jilati itu. Ternyata tante Sarah orgasme yang pertama. Tidak menurunkan frekuensi jilatanku, aku menambah paduan jilatan itu dengan meremas-remas payu dara tante Sarah sambil yang satunya mengusap-usap kemaluannya dan terus tetap menjilatinya.

    ” Mas Adhit pinter ternyata. Nggak cuma pelajaran, ternyata Sex juga pinter”. bilang tante Sarah sembari memejamkan matanya karena kenikmatan yang terus meskipun sudah mencapai klimaks.

    Kepalaku kemudian di tarik keatas tentunya tubuhku juga terdorong ke atas.

    Aku dipeluknya erat. Aku diciuminya. Kemudian kaki tante sarah dilebarkan, dan ku rasakan tangan tante Sarah memegang kemaluanku dan mengarahkan untuk meluncur ke mulut Miss. V nya. Dipegangnya, terus digesek-gesekkannya. Saat itu yang kurasa hanya nikmat-nikmat dan nikmat. Akhirnya Mr. P ku yang masing dalam genggamannya di masukkan pelan pelan ke lubang kemaluannya. dan…..bleeeeeeessshhhhh…. Hangat, lembut, terasa ada yang nyedot-nyedot, uuuuh, tidak bisa aku ungkapkan denga kata-kata kenikmatannya. Aku goyang maju mundur pelan-pelan, karena memang masih sempit dan kencang gigitannya.

    “uuuh… aahhhhh… Uuuuuuh… Ahhhhh…” desah tante Sarah keenakan.
    ” Terus mas Adhit…. terus,,, terusss… dipercepat lagi Mas goyangannya…” Perintah tante Sarah

    Aku pun langsung tancap gas dan mempercepat goyanganku.Cerita Sex Dewasa

    Suara cairan yang dipadukan gesekan kulit Mr.P dan Miis V menjadikan suara yang erotis dan menakjubkan. Semakin membuat gejolak birahi meningkat full over.

    Cukup lama kami berdua melakukan gaya itu sesembari berhenti sejenak bernafas sambil pelukan tanpa melepas rudal yang masih menancap disarangnya. Kemudian Tante Sarah menggulingkanku sehingga menjadikan posisiku dibawah dan kini tante Sarah diatas.

    Dengan Miss V yang masih ditancepi Mr P ku, Tante Sarah merubah posisinya untuk duduk di dalam rentangan tubuhku. Kemudian tante sarah menggoyang kuat, kadang melingkar, naik turun… dan disitu hanya desahan kenikmatan yang ada…

    “eeemmmmmh… emmmmmhh…. achhhhh…!” Desah tante Sarah.

    15 menit tante menggoyang dan akhirnya tante memepercepat goyangannya….

    ” Mas Adhiiiitttttt…… Tante datang lagiiiii…. Aaaaaaaaaaaaaaaachhhhh!” jeritnya

    Tante Sarah klimaks orgasme ke dua kalinya.. Badannya kejang-kejang dan lalu memelukku, menciumiku dan berkata,

    ” Mas Adhit Jago dan operkasa sekali, baru kali ini tante merasakan dahsyatnya sex. Serius, tante berkata apa adanya!”

    Akupun menjawab, ” Masak sih tante, Adhit juga merasakan nikmat yang luar biasa. Adhit bener-bener merasakan surganya dunia ini ama tante.”

    “Adhit, kamu mau dikeluarin nggak maninya?” Tanya tante Sarah.
    ” Iya Tante kayaknya ini juga udah mau keluar.” Jawabku.
    ” Ya udah, nanti dikeluarin ke dalam aja ya, Tante pengen dan kangen hangatnya sperma pria. Dan jangan kawatir, tante punya resep agar tidak hamil kok. ” pinta tante Sarah.

    Tanpa buang-buang waktu aku langsung merubah gaya sex kami. Tante sarah tak suruh nungging, dan aku masukkan Mr.P ku dari belakang.

    Saat itu ku lihat pantatnya benar-benar indah sekali. Super kenyal dan masih kencang dengan paduan warna kulit yang putih bersih yang bohai juga tentunya. Ku goyang -goyang, dan ku usap-usap pantatnya, sesekali ku raih buah dadanya.” Uuuuh… aaaahhhhh…” desah kami berdua.
    Ku pegang pinggulnya, dan kupercepat goyanganku.

    “terus Mas Adhittt… Teruuus…. Teruuuusssss…. ahhh ahhha hhhhahhhhhh … aaahhhchchhhhhh….!” desah tante sarah.

    10 menit kemudaian..

    ” Tante,, tanteeee…. adhit mau nyampeeee’..!” kataku.
    ” Iya Sayaaaang… teruuuuuuuus.. kluarian aja didalaammmm ! Jawab tante sarah..

    Baca JUga Cerita Sex Adik Kelasku

    Dan akhirnya….serrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr…..grrrrrreeeeennnnnnnnnnnnkkkkkkk…., kami bersamaan klimaknya. tetap aku goyang dan ku dorong tante Sarah ke depan sehingga kami berdua tertelungkup dengan posisi aku menindihi tante Sarah yang dimana Mr. P. Masih menancap di liang kenikmatan tante Sarah…

    ” Oh sayaaaaang… enak sekali, tiga kali tante mancapai klimaks, Kamu sungguh hebat banget. Maksih ya Sayang!”.

    Kata tante Sarah manja sambil memegang pipiku dengan tangannya yang lembut.

    ” Iya tante, Adhit merasa beruntung sekali bisa mendapat ini dari tante Sarah. Secara ketemu juga baru kali ini, tapi malah Adhit mendapat pengalaman yang tidak mungkin adhit lupakan.!” Jawabku sambil terus menggoyang pelan, karena Mr.P ku masih cukup tegang didalam kehangatan liang kenikmatan tante Sarah.

    cukup lama kami berpelukan, akhirnya kami mandi berdua dengan air hangat dan berendam.
    Distu kami ulangi lagi permainan sex kami yang tidak kalah dengan adegan yang pertama.
    Sungguh pengalaman yang tidak bisa aku lupakan Cerita Sex Dengan Ibu Muridku Les ini.

    Buat tante Sarah, kamu memang dahsyat. Mau lagi dong kalau pulang dari Autrali. Ku Tunggu ya.. Well.

  • Tante Yang Baik

    Tante Yang Baik


    11 views

    Perkenalkanlah pembaca, nama saya Andi 22 tahun. Kejadian ini sebenarnya telah terjadi setahun yang lalu, dimana waktu itu saya sedang kerja praktek di sebuah perusahaan swasta. Waktu itu saya masih duduk di bangku kuliah di suatu universitas di Jogja, pada semester 7 saya harus melakukan magang / kerja praktek di sebuah perusahaan, kebetulan saya mendapat tempat di perusahaan swasta terkenal di jakarta selatan. Wah, kalau saya tinggal disana, biaya hidup pasti tinggi, belum biaya kost, buat makan sehari – hari dan buat yang lain. Maka dari itu, karena saya punya tante yang tinggal di Jakarta, tepatnya di daerah Cilandak, maka saya memutuskan untuk sementara waktu tinggal di tempat itu.

    cerita-sex-dewasa-tante-yang-baik
    Tanteku bernama tante Silvi, usianya baru 25 tahun, belum lama menikah. Tetapi karena suaminya yang bekerja di perusahaan pertambangan sering mendapat proyek di luar kota, sampai sekarang tanteku ini belum mendapat momongan. Karena saking sibuknya suaminya itu, terkadang sampai 2 minggu bahkan 1 bulan dihabiskan di luar kota. Tante silvi
    sebenarnya ingin ikut bareng suaminya kalau pas lagi ke luar kota, tapi karena tante Silvi juga seorang wanita karir yang bekerja di bank swasta, maka diurungkannya niatnya itu untuk menjaadi ibu rumah tangga saja, sehingga bisa sering ikut dengan suami kemanapun pergi.

    Tanteku Silvi orangnya manis, dibilang cantik enggak juga tetapi dibilang jelek ya enggak juga. Wajahnya bulat oriental, punya lesung pipi dan mata yang indah dengan tinggi badanya 160 cm dan rambut lurus seperti bintang iklan shampoo saja, sehingga melihatnya berkali-kalipun tidak bakal bosan. Bodinya itu yang aduhai, mungkin karena belum pernah punya anak ya.. jadi kelihatannya masih bodi perawan..

    Rencananya aku akan mendapat kerja praktek selama 2 bulan, maka dalam 2 bulan itu aku meminta izin ke tante Silvi untuk sementara waktu bisa tinggal di rumahnya yang kebetulan juga tidak jauh dari lokasi tempat kerja praktekku. Pertama kali datang ke rumah tante Silvi, suaminya akan pergi ke kalimantan untuk menyelesaikan proyek tambangnya selama 2 bulan, dengan wajah yang sedih, tante Silvi melepas kepergian sang suami untuk sementara waktu. Suaminya bilang,

    “Tenang sajaa ma, kan ada dek Andi yang mau tinggal disini.. ga perlu takut kan ?? jadi ada yang bisa nemenin gitu”

    Tante silvi cuma mengangguk. Rumah tante Silvi lumayan bagus, ada 2 lantai dan punya beberapa kamar. Tetapi sayangnya pembantunya baru-baru ini pulang kampung sehingga belum ada pembantu penggantinya. Aku dipersilahkan untuk tidur di kamar dekat dengan kamar tante Silvi yang ada di ruang tengah. Kelihatannya sepiii banget rumah ini, jadi aku pikir aku mesti bikin suasana rumah bisa menjadi agak rame.. biar rumah ini gak kayak kuburan saja.

    Seminggu pertama, sepertinya suasana masih biasa-biasa saja, walaupun pas lagi di rumah aku sering nyetel music, nyetel film, ato maen gitar biar nambah rame.. Tapi karena kesibukan tante Silvi sehingga pas pulang kantor langsung makan lalu tidur, ato cuman nonton TV saja terus langsung tidur, Aku jadi kurang akrab dan merasa ga enak saja. Tinggal di rumah cuman berdua, tapi sedikit ngobrolnya… Hari jum’at, di akhir pekan aku pulang agak malam. Waktu sampai di rumah, kebetulan tante Silvi juga baru nyampe depan rumah, aku langsung bukain pintu gerbang agar tante silvi bisa langsung masukin mobilnya ke garasi.

    Hari itu kayaknya tanteku ini lagi suntuk banget, muka sepertinya pucat. Aku langsung berinisiatif buat bikinin teh manis hangat buat tanteku ini, pas tante masuk rumah langsung ia senderan di sofa panjang sambil nyalain TV. Aku datang dan langsung nawarin teh yang aku bikin tadi dan tante silvi langsung meminumnya. Ga lama aku pun ngobrol dengan tante, ga seperti biasanya tante kayak gini.. Jawab tante cuman kecapekan saja. trus aku ngobrol tentang praktek kerjaku di perusahaan itu lumayan, orang – orangnya enak. Sambil nonton TV aku dan tante silvi ngobrol kesana kemari, kasihan juga ya tanteku ini udah nikah tapi serasa hidup sendiri saja..

    Ga berapa lama, tukang nasi goreng lewat, dan aku yang emang udah laper dari tadi langsung beli dan juga beliin tante yang juga belum makan malam. Sehabis makan, aku langsung mandi. Aku liat tante masih lemes banget, makannya juga ga habis dan langsung ketiduran di sofa. Aku berusaha bangunun tanteku agar segera pindah saja ke kamarnya karena di luar dingin dan banyak nyamuk, tapi karena sudah capek jadi ga bisa dibangunin. Setelah 1 jam, aku berpikir-pikir bat mindahin tante ke kamarnya, tapi ga enak.. trus karena kasihan juga, tanpa pikir panjang langsung kuangkat tante dipindahin ke kamarnya.Cerita Sex Dewasa

    Sewwaktu aku mau meletakkan tante ke tempat tidur, tanteku terbangun dan senyum ke aku, trus bilang

    “tante tidur di sofa juga gapapa, udah biasa”. Trus aku bilang
    “lebih baik di dalam saja tante, kan di luar dingin, banyak nyamuk lagi.. ” tante trus bilang makasih ke aku.
    “Oh ya, Ndi, kamu lagi mau ngapain ga ? kayaknya badan tante pegel-pegel nih.. mau ga mijitin kaki tante sebentar..?” tanya tante Silvi.
    “Hmm,… ya gapapa deh tante, aku belum mau tidur koq..!” Jawabku.

    Ga lama kemudian aku keluar dari kamar tante, karena tante akan mandi dulu biar agak segeran dikit. Trus ga lama kemudian aku dipanggil ke kamar tante, aku liat tante make piyama yang udah siap untuk tidur, tapi sebelum
    tidur aku disuruh mijitin bahu, tangan, dan kaki tante.

    “Ndi, tante tolong pijitin bentar ya.. Badan tante Pegel banget nih.., daripada manggil tukang urut, mending kamu aja deh gapapa..”. Aku langsung mijitin tangan tanteku dulu, tanggannya halus… ada bulu bulu halus yang numbuh di tangan, yang bikin aku jadi nafsu aja.

    Kemudian aku mijitin bahunya, dengan posisi tanteku telungkup. Badan tanteku ini putih bersih dan wangiii banget, ga tau habis make sabun apa, kok wangi banget.. Tante merasa nyaman karena pijitanku ini enak.. sampai-sampai pas belum selesai mijitin kakinya, tanteku sudah tertidur. Aku langsung ngambilin selimut buat tante. Ga lama kemudian aku juga ngerasa ngantuk dan kembali ke kamarku lalu tidur.

    Esok paginya aku bangun agak siangan ga seperti biasa, karena emang hari ini hari sabtu dan perusahaan emang libur. Tau-tau di meja makan sudah tersedia teh hangat dan bubur ayam. Pikirku,

    “Wah, baek banget nih tante, pagi-pagi udah disiapin sarapan. ” Sehabis mandi, aku liat tante sudah nonton TV dan nungguin aku buat sarapan pagi bareng.

    aku langsung diajakin sarapan pagi dan aku lihat tante silvi sudah seger.. dan ga keliatan capek lagi.

    “Wah.. tanteku udah seger nih.. ” kataku.. Tante trus bilang makasih udah mijitin sampe-sampe ketiduran.

    Sehabis sarapan aku dan tante ngobrol-ngobrol bareng sambil nonton TV lagi. Siangnya aku diajakin nemenin tante belanja di supermarket dekat rumah. Sehabis belanja banyak, tanteku tidur siang dan aku ke kamar buat mainan game di laptop yang biasa aku bawa. Ga lama maen game, bete juga pikirku. Trus aku cari aja film bokep koleksiku hasil dari download dan dapet dari temen-temen kampus. Ada yang indo, asia, sampe bule-bule. Kurang lebih sejam aku nonton sendirian pake headphone biar suaranya ga kedengeran kemana-mana, sampe burungku bolak-balik mengeras.

    Hehehhe… Tau-tau tanteku masuk ke kamarku, katanya aku dari tadi dipanggil-panggil tapi ga ngejawab, jadi tanteku langsung masuk saja ke kamarku. Aduhh… ketahuan deh aku lagi nonton bokeps, tante langsung mendekat ke aku, dan bilang,

    “kamu ya ndi, nonton sendirian aja.. bagi – bagi tante dong !! ” Aku agak ga enak, aku pikir tante mau marah ke aku, tapi habis itu, aku diminta buat nonton bareng saja di kamar tante.

    Trus kami berdua nonton film bokep bareng di kamar tante yang lumayan besar. Ga lama nonton, tanteku lansung megang guling. Kayaknya tanteku ini udah teransang.. tingkahnya jadi aneh banget.. Aku jadi ga enak, sambil senyum-senyum aku nonton, trus tanteku yang ngelihatku langsung nyubit aku, kenapa senyum-senyum sendiri..

    Lama nonton, udah sekitar 1 jam-an, tanteku rupanya sudah ga tahan.. trus nanya ke aku,

    “Ndi, punyamu segede itu ga ? ” Aku jadi deg-degan, tau-tau tante nanya-nanya anuku.

    Aku cuman senyum aja, tapi Mukaku jadi memerah.. trus tanteku bilang,

    “Gapapa, jangan merah gitu dong mukanya, biasa aja.. Kan tante cuman nanya, tuh jadi tegang kan tititnya ? hihihi….” kata tante.
    “Engga papa tante, kan malu kan masa’ diliatin tante..??” Jawabku.
    “Yah, cemen.. ngeliat aja ga boleh apalagi gituan.. ?? Andi emang udah punya pacar blom sih ?? ” tanya tante
    ” ya udah do.. dooong tante ” jawabku gugup.Cerita Sex Dewasa

    Trus tante balik ngejawab

    “Belum punya pacar ya.. ?? masih perjaka dong !! hhiihii.. Apa kau mau liat punya tante dulu nih ??”.. tante langsung berdiri dan sambil ngangkat roknya, ngelepas celana dalemnya.

    Trus ngeliatin semuanya ke aku..

    “Nih punya tante.. masih bagus kan ??” jawab tante.

    Aku jadi malu, tapi tetep aja aku liatin,.. Kesempatan kan ga dateng dua kali.. Memeknya keliatan merah dan agak basah, mungkin karena terangsang nonton film tadi. Jembutnya lumayan lebat tapi rapih, mungkin karena sering dicukur dan dirapihin kali. Aku gugup banget, baru kali ini liat punya cewe secara langsung.. aduh rasanya jantungku ini berdegub kencang !!. Kontolku jadi makin mengeras karena terangsang.. Ga lama langsung kupelorotin celana dan CD ku langsung sehingga tante Silvi ngelihat langsung kontolku yang sudah menegang kayak rudal.

    “Nah gitu dong jangan malu-malu.. ga Gentel kalo masih malu-malu gitu.. Tititmu lumayan gede juga ya.. sama kaya punya suami tante.. hehehe.. bulunya ga pernah dicukur ya Ndi ?? Kok semrawut gitu ?? .. Aku pegang ya ndi” kata tante.
    “Iiii ya tante,.. emang ga pernah aku cukur.. blom ada yang mau nyukurin sih tante.. Aku elus ya punya tante..” kataku, aku jadi ga gugup lagi.

    Tanteku langsung membuka baju dan roknya, kemudian mbuka BHnya ..

    “Aku jadi kagum ama tante, punya tante bagus ya.. aku mau jilatin nenennya ya..” Aku langsung saja ngejilatin abis nenenya gantian kiri dan kanan.. ukurannya lumayan gede, 36B.

    Aku semakin terangsang karena tante silvi terus saja ngelus-elus batang kemaluanku. Sambil ngulum abis toketnya, tanganku ga henti-hentinya ngelus-elus memek tanteku yang emang alus banget, dan bulu-bulunya sering aku tarik-tarik..

    “Jangan ditarik dong sayang, kan atit.. ” Kata tante. “tapi enak kan tante.. ” jawabku.

    Kuubahkan posisiku, lalu aku jilatin memeknya yang kemerahan itu, trus aku tarik-tarik bulu jembut ya, aku buka belahan memeknya, ternyata itilnya gede juga, merah gitu. Langsung saja aku jilatin itilnya sampe sampe tante silvi menggelinjang keenakan. Ga lama kemudian aku masukin jari ku ke vaginanya. Kukocok -kocok sampe keluar airnya, Tanteku makin keenakan..

    “Ochh… ohh..uhhhh…” Kemudian aku mainin itilnya pake lidah, kepalaku langsug dijepit pahanya, karena tanteku kegelian. ga lama kemudian,
    “Tante mau pipis nih.. adhuuhhh… adhuuh..” kata tante.

    Trus aku bilang saja

    “ya pipis aja disini gapapa tante.. ” jawabku.
    “Aahhhhh.. uuuhhhhh… enaaakkkk… nghhhhhhhh” suara tanteku yang mendesah-desah. trus tanteku pipis karena orgasme yangsangat amat..

    karena keluar air banyak banget.. sampe netes-netes. Abis itu gantian, kontolku yang dikocok abis dan dikulum-kulum, ga berapa lama, cuma hanya 3 menit aku langsung ngecrot..

    “Adhuhh tante .. kena muka tante deh.. maaf ya..” Tanteku senyum-senyum dan berterima kasih..

    Ga lama kemudian HP tanteku bunyi, rupanya suaminya dari kalimantan nelfon. Aku buru-buru pake celana dan ke kamar mandi.

    Selesai dari kamar mandi aku langsung duduk di depan sofa sambil nonton TV. Ga lama tante Silvi teriak dari kamar mau ambil handuk buat mandi “handuk putih tante dimana ya ? “. Rupanya dari tadi suaminya nelfonin. Mudah-mudahan saja ga terjadi nanya apa-apa deh.

    “Oh di jemur di belakang tante.. aku ambilin apa ??” jawabku.

    Tau-tau tante Silvi dengan masih telanjang bulat keluar dari kamarnya menuju belakang rumah. Aku heran ama tante, kok ga malu yaa, mungkin udah nanggung kali.. gapapa deh pikirku, lumayan ada pemandangan. heheheh… Tante langsung menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.Malam pun berlalu, aku pun kemudian tidur. Demikian juga dengan tante Silvi juga tidur sehabis mandi.

    Hari Minggu pagi, aku bangun dari tidur dan masih terbayang-bayang memek tanteku yang legit banget.. Waktu aku mau mandi, kran di kamar mandi rusak, jadi aku ketok-ketok pintu kamar tanteku buat numpang mandi. Tante Silvi cuman bilang saja langsung masuk karena ga dikunci. Aku langsung menuju

    kamar mandi di dalam kamar tante Silvi. Belum lama aku mandi, tau-tau tante Silvi ketok-ketok pintu toilet,

    “Ndi, buka bentar dong..” kata tante.

    Aku yang lagi nanggung mandi langsung berhenti buka pintu sedikit sambil ngeluarin kepala doang, karena masih telanjang. Tante Silvi tiba-tiba aja masuk ke dalam dan bilang

    “Tante kebelet pipis nih.. mau liat tante pipis ga ??, semalem tante tidur ga pake CD soalnya jadi udah kebelet pengen keluar jadi ga bisa ditahan.. daripada pipis di kasur, ntar kan repot..!!” jawab tante sambil ngebuka piyamanya langsung duduk di closet.
    ” Nih liat punya tante lagi pipis.. lucu yaa.. Itil tante gede ga sayang ??” canda tante.

    Aku langsung terangsang.. kontolku langsung bangun, dan tante ngeliatin aja sampe pipisnya abis. Aku bener-bener deg-degan. Sesudah selesai pipis, tanteku langsung megang kedua tanganku, dan tanganku ditempelkannya ke memeknya.Cerita Sex Dewasa

    “Ayo kita mandi bareng sayang.. ntar sekalian bulu jembut kamu tante rapihin.. kamu juga ntar gantian ya cukurin jembut tante.. kali ini tante pengen ga ada jembutnya.. yah.. yahh.. ” ajak tante. Langsung saja aku jawab “Iya tanteku sayang..”.

    Aku ngelus-elus toket dan memek tante Silvi yang udah telanjang bulat, demikian juga tante Silvi ngocok-ngocok kontolku yang dari tadi sudah ngaceng. Setelah elus-elusan, tante ngambil alat cukur yang biasa buat nyukur jembutnya.

    “Sayang, tante cukur ya.. mau model kayak gimana ?? kalo tante pengennya kamu, hmmmm.. dicukur abis aja yah sayang.. biar enak.. ntar punya tante dicukur abis juga.. OK ??” kata tante Silvi.
    ” iya deh apa aja tante.. yang penting enak buat gituan..” kataku..
    “Looh.. kamu ngajakin tante gituan yaa ?? gituan apa hayoo ?? kamu pengen ML ama tante ya ?? nakal ya kamu sekarang… nanti saya sentil tititnya loohh..” canda tante.
    “Hehehehe..” jawabku singkat.

    Ga lama tante nyukurin abis jembutku yang tadinya gondrong, sekarang jadi alus ga ada bulunya sama sekali.

    “sekarang gantian yah sayang.. Memek tante udah gatel nih udha pengen dicukur.. Cukurnya hati-hati ya.. jangan sampe punya tante lecet.. Kalo lecet ntar ga dapet jatah kamu..!!” ancam tante.
    “Sebelum dicukur aku gesek-gesekin penisku ke itilnya tante yah.. biar ga kaget.. ” kontolku yang lagi ngaceng kutempelin ke itilnya tante Silvi, tante Silvi merem melek keenakan.
    “Punya tante itilnya yang gede, dadi enak buat mainan nih.. “. akuku.

    Trus aku langsung cukur jembut tante Silvi pelan pelan.. sesekali aku jilatin biar ga bosen.. tanteku kayaknya seneng banget.. sekarang memek tante udah ga ada bulunya sama sekali. Putih bersih dan aku bersihin pake sabun sirih, biar wangi.. jadinya memek tante silvi lucu, nongol itilnya dikit.. aku jadi makin terangsang saja. Abis itu aku dan tante silvi mandi bareng pake shower sambil ciuman pelukan sesekali aku kocok-kocok memek tante pake jari pas mandi.

    Baca Juga Cerita Sex Menantu Seksiku

    “uhh.. enak banget tante.. romantis .. tante emang ga ada duanya ” akuku.

    Jadinya aku mandi lama banget sampe ga kerasa lama banget. Abis mandi kami berdua keluar tanpa busana lanjutin ML di kasur kamar tante silvi. Langsung aku rebahin tante silvi, kemudian aku kangkangin kakinya, aku jilatin memeknya yang baru dicukur.. tante silvi mendesah-desah keenakan, kuremasremas toketnya sampe kenceng dua-duanya. Benar-benar pagi yang indah..

    “Ayo dong masukin … masa cuma coli aja ??” ajak tante buru-buru. Rupanya tanteku ini udah gak tahan.

    Aku langsung genjot.. masukin kontolku ke memek tante silvi. Rupanya masih keset.. baru separo panjang kontolku juga masih keset, trus aku masukin sampe abis.. goyangan tante silvi bagai goyang gergaji dewi persik sehingga bikin aku keenakan bagai di surga dunia. enak tante.. ahhh.. uhhh..aaghhh….plok.. plokk…. ga lama, tante sudah pengen keluar.. crtt..ccrtt.. ppsss… keluarlah air kenikmatan dari memek tante yang semakin berdenyut-denyut ngenyot kontolku..

    “hangattt.. enakkk..” kata tante.

    Aku ganti posisiku di bawah, tante silvi dengan goyangannya mengocok kontolku. Ga berapa lama, aku udah mau keluar.

    “Tante.. aku mau pipis nih.. di dalem apa di luar ?? ahh ahh..” …
    “Ntar tunggu bentar tante juga mau pipis.. ahhh.. uhhh..aggghhhrrr… ahhhh.. uuhhhhhh…. mmgghhhhh…mmhmhmhhhhh nih tante mau pipis.. Ayo sayang kita pipis bareng..” crrooot.. croottt… ssooorrr pssss… agghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh….. …… aku dan tante silvi orgasme bareng.. Langung aku peluk dan cium tante silvi erat-erat.. dan ga aku lepasin dulu kontolku dari memek tanteku..

  • Ketagihan Sama Mertua

    Ketagihan Sama Mertua


    15 views

    cerita-sex-dewasa-ketagihan-sama-mertua

    Cerita Sex Dewasa | Namaku Novianti. Usiaku telah menginjak kepala tiga. Sudah menikah setahun lebih dan baru mempunyai
    seorang bayi laki-laki. Suamiku berusia hanya lebih tua satu tahun dariku. Kehidupan kami dapat
    dikatakan sangat bahagia. Memang kami berdua kawin dalam umur agak terlambat sudah diatas 30 tahun.
    Selewat 40 hari dari melahirkan, suamiku masih takut untuk berhubungan seks.
    Mungkin dia masih terbayang pada waktu aku menjerit-jerit pada saat melahirkan, memang dia juga turut
    masuk ke ruang persalinan mendampingi saya waktu melahirkan. Di samping itu aku memang juga sibuk benar
    dengan si kecil, baik siang maupun malam hari. Si kecil sering bangun malam-malam, nangis dan aku harus
    menyusuinya sampai dia tidur kembali. Sementara suamiku semakin sibuk saja di kantor, maklum dia bekerja
    di sebuah kantor Bank Pemerintah di bagian Teknologi, jadi pulangnya sering terlambat. Keadaan ini
    berlangsung dari hari ke hari, hingga suatu saat terjadi hal baru yang mewarnai kehidupan kami,
    khususnya kehidupan pribadiku sendiri.

    Waktu itu kami mendapat kabar bahwa ayah mertuaku yang tinggal di Amerika bermaksud datang ke tempat
    kami. Memang selama ini kedua mertuaku tinggal di Amerika bersama dengan anak perempuan mereka yang
    menikah dengan orang sana. Dia datang kali ini ke Indonesia sendiri untuk menyelesaikan sesuatu urusan.
    Ibu mertua nggak bisa ikut karena katanya kakinya sakit. Ketika sampai waktu kedatangannya, kami
    menjemput di airport, suamiku langsung mencari-cari ayahnya.

    Suamiku langsung berteriak gembira ketika menemukan sosok seorang pria yang tengah duduk sendiri di
    ruang tunggu. Orang itu langsung berdiri dan menghampiri kami. Ia lalu berpelukan dengan suamiku. Saling
    melepas rindu. Aku memperhatikan mereka. Ayah mertuaku masih nampak muda diusianya menjelang akhir 50-
    an, meski kulihat ada beberapa helai uban di rambutnya. Tubuhnya yang tinggi besar, dengan kulit gelap
    masih tegap dan berotot. Kelihatannya ia tidak pernah meninggalkan kebiasaannya berolah raga sejak dulu.

    Beliau berasal dari belahan Indonesia Timur dan sebelum pensiun ayah mertua adalah seorang perwira
    angkatan darat.

    “Hei nak Novi. Apa khabar…!”, sapa ayah mertua padaku ketika selesai berpelukan dengan suamiku.
    “Ayah, apa kabar? Sehat-sehat saja kan? Bagaimana keadaan Ibu di Amerika..?” balasku.
    “Oh…Ibu baik-baik saja. Beliau nggak bisa ikut, karena kakinya agak sakit, mungkin keseleo….”
    “Ayo kita ke rumah”, kata suamiku kemudian.

    Sejak adanya ayah di rumah, ada perubahan yang cukup berarti dalam kehidupan kami. Sekarang suasana di
    rumah lebih hangat, penuh canda dan gelak tawa. Ayah mertuaku orangnya memang pandai membawa diri,
    pandai mengambil hati orang. Dengan adanya ayah mertua, suamiku jadi lebih betah di rumah. Ngobrol
    bersama, jalan-jalan bersama. Akan tetapi pada hari-hari tertentu, tetap saja pekerjaan kantornya
    menyita waktunya sampai malam, sehingga dia baru sampai kerumah di atas jam 10 malam. Hal ini biasanya
    pada hari-hari Senin setiap minggu. Sampai terjadilah peristiwa ini pada hari Senin ketiga sejak
    kedatangan ayah mertua dari Amerika.Cerita Sex Dewasa

    Sore itu aku habis senam seperti biasanya. Memang sejak sebulan setelah melahirkan, aku mulai giat lagi
    bersenam kembali, karena memang sebelum hamil aku termasuk salah seorang yang amat giat melakukan senam
    dan itu biasanya kulakukan pada sore hari. Setelah merasa cukup kuat lagi, sekarang aku mulai bersenam
    lagi, disamping untuk melemaskan tubuh, juga kuharapkan tubuhku bisa cepat kembali ke bentuk semula yang
    langsing, karena memang postur tubuhku termasuk tinggi kurus akan tetapi padat.

    Setelah mandi aku langsung makan dan kemudian meneteki si kecil di kamar. Mungkin karena badan terasa
    penat dan pegal sehabis senam, aku jadi mengantuk dan setelah si kecil kenyang dan tidur, aku menidurkan
    si kecil di box tempat tidurnya. Kemudian aku berbaring di tempat tidur. Saking sudah sangat mengantuk,
    tanpa terasa aku langsung tertidur. Bahkan aku pun lupa mengunci pintu kamar. Setengah bermimpi, aku
    merasakan tubuhku begitu nyaman. Rasa penat dan pegal-pegal tadi seperti berangsur hilang… Bahkan aku
    merasakan tubuhku bereaksi aneh.

    Rasa nyaman sedikit demi sedikit berubah menjadi sesuatu yang membuatku melayang-layang. Aku seperti
    dibuai oleh hembusan angin semilir yang menerpa bagian-bagian peka di tubuhku. Tanpa sadar aku
    menggeliat merasakan semua ini sambil melenguh perlahan. Dalam tidurku, aku bermimpi suamiku sedang
    membelai-belai tubuhku dan kerena memang telah cukup lama kami tidak berhubungan badan, sejak
    kandunganku berumur 8 bulan, yang berarti sudah hampir 3 bulan lamanya, maka terasa suamiku sangat
    agresif menjelajahi bagian-bagian sensitif dari sudut tubuhku.

    Tiba-tiba aku sadar dari tidurku… tapi kayaknya mimpiku masih terus berlanjut. Malah belaian, sentuhan
    serta remasan suamiku ke tubuhku makin terasa nyata. Kemudian aku mengira ini perbuatan suamiku yang
    telah kembali dari kantor. Ketika aku membuka mataku, terlihat cahaya terang masih memancar masuk dari
    lobang angin dikamarku, yang berarti hari masih sore. Lagian ini kan hari Senin, seharusnya dia baru
    pulang agak malam, jadi siapa ini yang sedang mencumbuku… Aku segera terbangun dan membuka mataku
    lebar-lebar.

    Hampir saja aku menjerit sekuat tenaga begitu melihat orang yang sedang menggeluti tubuhku. Ternyata…
    dia adalah mertuaku sendiri. Melihat aku terbangun, mertuaku sambil tersenyum, terus saja melanjutkan
    kegiatannya menciumi betisku. Sementara dasterku sudah terangkat tinggi-tinggi hingga memperlihatkan
    seluruh pahaku yang putih mulus.

    “Yah…!! Stop….jangan…. Yaaahhhh…!!?” jeritku dengan suara tertahan karena takut terdengar oleh Si Inah
    pembantuku. “Nov, maafkan Bapak…. Kamu jangan marah seperti itu dong, sayang….!!” Ia malah berkata
    seperti itu, bukannya malu didamprat olehku.
    “Ayah nggak boleh begitu, cepat keluar, saya mohon….!!”, pintaku menghiba, karena kulihat tatapan mata
    mertuaku demikian liar sambil tangannya tak berhenti menggerayang ke sekujur tubuhku.

    Aku mencoba menggeliat bangun dan buru-buru menurunkan daster untuk menutupi pahaku dan beringsut-ingsut
    menjauhinya dan mepet ke ujung ranjang. Akan tetapi mertuaku makin mendesak maju menghampiriku dan duduk
    persis di sampingku. Tubuhnya mepet kepadaku. Aku semakin ketakutan.

    “Nov… Kamu nggak kasihan melihat Bapak seperti ini? Ayolah, Bapak kan sudah lama merindukan untuk bisa
    menikmati badan Novi yang langsing padat ini….!!!!”, desaknya.
    “Jangan berbicara begitu. Ingat Yah… aku kan menantumu…. istri Toni anakmu?”, jawabku mencoba
    menyadarinya.
    “Jangan menyebut-nyebut si Toni saat ini, Bapak tahu Toni belum lagi menggauli nak Novi, sejak nak Novi
    habis melahirkan… Benar-benar keterlaluan tu anak….!!, lanjutnya.

    Rupanya entah dengan cara bagaimana dia bisa memancing hubungan kita suami istri dari Toni. Ooooh….
    benar-benar bodoh si Toni, batinku, nggak tahu kelakuan Bapaknya. ceritasexdewasa.org Mertuaku sambil terus mendesakku
    berkata bahwa ia telah berhubungan dengan banyak wanita lain selain ibu mertua dan dia tak pernah
    mendapatkan wanita yang mempunyai tubuh yang semenarik seperti tubuhku ini. Aku setengah tak percaya
    mendengar omongannya. Ia hanya mencoba merayuku dengan rayuan murahan dan menganggap aku akan merasa
    tersanjung. Aku mencoba menghindar… tapi sudah tidak ada lagi ruang gerak bagiku di sudut tempat tidur.

    Ketika kutatap wajahnya, aku melihat mimik mukanya yang nampaknya makin hitam karena telah dipenuhi
    nafsu birahi. Aku mulai berpikir bagaimana caranya untuk menurunkan hasrat birahi mertuaku yang
    kelihatan sudah menggebu-gebu. Melihat caranya, aku sadar mertuaku akan berbuat apa pun agar maksudnya
    kesampaian. Kemudian terlintas dalam pikiranku untuk mengocok kemaluannya saja, sehingga nafsunya bisa
    tersalurkan tanpa harus memperkosa aku. Akhirnya dengan hati-hati kutawarkan hal itu kepadanya.

    “Yahh… biar Novi mengocok Ayah saja ya… karena Novi nggak mau ayah menyetubuhi Novi… Gimana…?” Mertuaku
    diam dan tampak berpikir sejenak.

    Raut mukanya kelihatan sedikit kecewa namun bercampur sedikit lega karena aku masih mau bernegosiasi.

    “Baiklah..”, kata mertuaku seakan tidak punya pilihan lain karena aku ngotot tak akan memberikan apa
    yang dimintanya.

    Mungkin inilah kesalahanku. Aku terlalu yakin bahwa jalan keluar ini akan meredam keganasannya. Kupikir
    biasanya lelaki kalau sudah tersalurkan pasti akan surut nafsunya untuk kemudian tertidur. Aku lalu
    menarik celana pendeknya.

    Ugh! Sialan, ternyata dia sudah tidak memakai celana dalam lagi. Begitu celananya kutarik, batangnya
    langsung melonjak berdiri seperti ada pernya. Aku sangat kaget dan terkesima melihat batang kemaluan
    mertuaku itu…. Oooohhhh…… benar-benar panjang dan besar. Jauh lebih besar daripada punya Toni suamiku.
    Mana hitam lagi, dengan kepalanya yang mengkilap bulat besar sangat tegang berdiri dengan gagah perkasa,
    padahal usianya sudah tidak muda lagi. Tanganku bergerak canggung. Bagaimananpun baru kali ini aku
    memegang kontol orang selain milik suamiku, mana sangat besar lagi sehingga hampir tak bisa muat dalam
    tanganku. Perlahan-lahan tanganku menggenggam batangnya. Kudengar lenguhan nikmat keluar dari mulutnya
    seraya menyebut namaku.

    “Ooooohhh…..sssshhhh…..Noviii…eee..eeena aak. .. betulll..!!!” Aku mendongak melirik kepadanya.

    Nampak wajah mertuaku meringis menahan remasan lembut tanganku pada batangnya. Aku mulai bergerak turun
    naik menyusuri batangnya yang besar panjang dan teramat keras itu.

    Sekali-sekali ujung telunjukku mengusap moncongnya yang sudah licin oleh cairan yang meleleh dari
    liangnya. Kudengar mertuaku kembali melenguh merasakan ngilu akibat usapanku. Aku tahu dia sudah sangat
    bernafsu sekali dan mungkin dalam beberapa kali kocokan ia akan menyemburkan air maninya. Sebentar lagi
    tentu akan segera selesai sudah, pikirku mulai tenang. 2 menit, 3… sampai 5 menit berikutnya mertuaku
    masih bertahan meski kocokanku sudah semakin cepat.Cerita Sex Dewasa

    Kurasakan tangan mertuaku menggerayangi ke arah dadaku. Aku kembali mengingatkan agar jangan berbuat
    macam-macam.

    “Nggak apa-apa …..biar cepet keluar..”, kata mertuaku memberi alasan.

    Aku tidak mengiyakan dan juga tidak menepisnya karena kupikir ada benarnya juga. Biar cepat selesai,
    kataku dalam hati. Mertuaku tersenyum melihatku tidak melarangnya lagi. Ia dengan lembut dan hati-hati
    mulai meremas-remas kedua payudara di balik dasterku. Aku memang tidak mengenakan kutang kerena habis
    menyusui si kecil tadi. Jadi remasan tangan mertua langsung terasa karena kain daster itu sangat tipis.

    Sebagai wanita normal, aku merasakan kenikmatan juga atas remasan ini. Apalagi tanganku masih
    menggenggam batangnya dengan erat, setidaknya aku mulai terpengaruh oleh keadaan ini. Meski dalam hati
    aku sudah bertekad untuk menahan diri dan melakukan semua ini demi kebaikan diriku juga. Karena tentunya
    setelah ini selesai dia tidak akan berbuat lebih jauh lagi padaku.

    “Novi sayang.., buka ya? Sedikit aja..”, pinta mertuaku kemudian.
    “Jangan Yah. Tadi kan sudah janji nggak akan macam-macam..”, ujarku mengingatkan.
    “Sedikit aja. Ya?” desaknya lagi seraya menggeser tali daster dari pundakku sehingga bagian atas tubuhku
    terbuka.

    Aku jadi gamang dan serba salah. Sementara bagian dada hingga ke pinggang sudah telanjang. Nafas
    mertuaku semakin memburu kencang melihatku setengah telanjang.

    “Oh.., Novii kamu benar-benar cantik sekali….!!!”, pujinya sambil memilin-milin dengan hati-hati puting
    susuku, yang mulai basah dengan air susu. Aku terperangah. Situasi sudah mulai mengarah pada hal yang
    tidak kuinginkan. Aku harus bertindak cepat.

    Tanpa pikir panjang, langsung kumasukkan batang kemaluan mertuaku ke dalam mulutku dan mengulumnya
    sebisa mungkin agar ia cepat-cepat selesai dan tidak berlanjut lebih jauh lagi. Aku sudah tidak
    mempedulikan perbuatan mertuaku pada tubuhku. Aku biarkan tangannya dengan leluasa menggerayang ke
    sekujur tubuhku, bahkan ketika kurasakan tangannya mulai mengelus-elus bagian kemaluanku pun aku tak
    berusaha mencegahnya. Aku lebih berkonsentrasi untuk segera menyelesaikan semua ini secepatnya.

    Jilatan dan kulumanku pada batang kontolnya semakin mengganas sampai-sampai mertuaku terengah-engah
    merasakan kelihaian permainan mulutku. Aku tambah bersemangat dan semakin yakin dengan kemampuanku untuk
    membuatnya segera selesai. Keyakinanku ini ternyata berakibat fatal bagiku. Sudah hampir setengah jam,
    aku belum melihat tanda-tanda apapun dari mertuaku. Aku jadi penasaran, sekaligus merasa tertantang.
    Suamiku pun yang sudah terbiasa denganku, bila sudah kukeluarkan kemampuan seperti ini pasti takkan
    bertahan lama. Tapi kenapa dengan mertuaku ini? Apa ia memakai obat kuat?

    Saking penasarannya, aku jadi kurang memperhatikan perbuatan mertuaku padaku. Entah sejak kapan daster
    tidurku sudah terlepas dari tubuhku. Aku baru sadar ketika mertuaku berusaha menarik celana dalamku dan
    itu pun terlambat! Begitu menengok ke bawah, celana itu baru saja terlepas dari ujung kakiku. Aku sudah
    telanjang bulat! Ya ampun, kenapa kubiarkan semua ini terjadi. Aku menyesal kenapa memulainya. Ternyata
    kejadiannya tidak seperti yang kurencanakan. Aku terlalu sombong dengan keyakinanku.

    Kini semuanya sudah terlambat. Berantakan semuanya! Pekikku dalam hati penuh penyesalan. Situasi semakin
    tak terkendali. Lagi-lagi aku kecolongan. Mertuaku dengan lihainya dan tanpa kusadari sudah membalikkan
    tubuhku hingga berlawanan dengan posisi tubuhnya. Kepalaku berada di bawahnya sementara kepalanya berada
    di bawahku. Kami sudah berada dalam posisi enam sembilan! Tak lama kemudian kurasakan sentuhan lembut di
    seputar selangkanganku. Tubuhku langsung bereaksi dan tanpa sadar aku menjerit lirih. Suka tidak suka,
    mau tidak mau, kurasakan kenikmatan cumbuan mertuaku di sekitar itu.

    Akh luar biasa! Aku menjerit dalam hati sambil menyesali diri. Aku marah pada diriku sendiri, terutama
    pada tubuhku sendiri yang sudah tidak mau mengikuti perintah pikiran sehatku. Tubuhku meliuk-liuk
    mengikuti irama permainan lidah mertuaku. Kedua pahaku mengempit kepalanya seolah ingin membenamkan
    wajah itu ke dalam selangkanganku. Kuakui ia memang pandai membuat birahiku memuncak. Kini aku sudah
    lupa dengan siasat semula. Aku sudah terbawa arus. Aku malah ingin mengimbangi permainannya. Mulutku
    bermain dengan lincah.

    Batangnya kukempit dengan buah dadaku yang membusung penuh dan kenyal. Maklum, masih menyusui. Sementara
    kontol itu bergerak di antara buah dadaku, mulutku tak pernah lepas mengulumnya. Tanpa kusadari kami
    saling mencumbu bagian vital masing-masing selama lima belas menit. Aku semakin yakin kalau mertuaku
    memakai obat kuat. Ia sama sekali belum memperlihatkan tanda-tanda akan keluar, sementara aku sudah
    mulai merasakan desiran-desiran kuat bergerak cepat ke arah pusat kewanitaanku. Jilatan dan hisapan
    mulut mertuaku benar-benar membuatku tak berdaya.Cerita Sex Dewasa

    Aku semakin tak terkendali. Pinggulku meliuk-liuk liar. Tubuhku mengejang, seluruh aliran darah serasa
    terhenti dan aku tak kuasa untuk menahan desakan kuat gelombang lahar panas yang mengalir begitu cepat.

    “Oooohhhhh…….aaaa….aaaaa……aaauugghhh hhhh hh..!!!!!” aku menjerit lirih begitu aliran itu mendobrak
    pertahananku.

    Kurasakan cairan kewanitaanku menyembur tak tertahankan. Tubuhku menggelepar seperti ikan terlempar ke
    darat merasakan kenikmatan ini. Aku terkulai lemas sementara batang kontol mertuaku masih berada dalam
    genggamanku dan masih mengacung dengan gagahnya, bahkan terasa makin kencang saja. Aku mengeluh karena
    tak punya pilihan lain. Sudah kepalang basah. Aku sudah tidak mempunyai cukup tenaga lagi untuk
    mempertahankan kehormatanku, aku hanya tergolek lemah tak berdaya saat mertuaku mulai menindih tubuhku.
    Dengan lembut ia mengusap wajahku dan berkata betapa cantiknya aku sekarang ini.

    “Noviii…..kau sungguh cantik. Tubuhmu indah dan langsing tapi padat berisi.., mmpphh..!!!”, katanya
    sambil menciumi bibirku, mencoba membuka bibirku dengan lidahnya.

    Aku seakan terpesona oleh pujiannya. Cumbu rayunya begitu menggairahkanku. Aku diperlakukan bagai sebuah
    porselen yang mudah pecah. Begitu lembut dan hati-hati. Hatiku entah mengapa semakin melambung tinggi
    mendengar semua kekagumannya terhadap tubuhku. Wajahku yang cantik, tubuhku yang indah dan berisi.
    Payudaraku yang membusung penuh dan menggantung indah di dada. Permukaan agak menggembung, pinggul yang
    membulat padat berisi menyambung dengan buah pantatku yang `bahenol’.

    Diwajah mertuaku kulihat memperlihatkan ekspresi kekaguman yang tak terhingga saat matanya menatap nanar
    ke arah lembah bukit di sekitar selangkanganku yang baru numbuh bulu-bulu hitam pendek, dengan warna
    kultiku yang putih mulus. Kurasakan tangannya mengelus paha bagian dalam. Aku mendesis dan tanpa sadar
    membuka kedua kakiku yang tadinya merapat. Mertuaku menempatkan diri di antara kedua kakiku yang terbuka
    lebar. Kurasakan kepala kontolnya yang besar ditempelkan pada bibir kemaluanku. Digesek-gesek, mulai
    dari atas sampai ke bawah. Naik turun.

    Aku merasa ngilu bercampur geli dan nikmat. Cairan yang masih tersisa di sekitar itu membuat gesekannya
    semakin lancar karena licin. Aku terengah-engah merasakannya. Kelihatannya ia sengaja melakukan itu.
    Apalagi saat moncong kontolnya itu menggesek-gesek kelentitku yang sudah menegang. Mertuaku menatap
    tajam melihat reaksiku. Aku balas menatap seolah memintanya untuk segera memasuki diriku secepatnya. Ia
    tahu persis apa yang kurasakan saat itu. ceritasexdewasa.org Namun kelihatannya ia ingin melihatku menderita oleh siksaan
    nafsuku sendiri. Kuakui memang aku sudah tak tahan untuk segera menikmati batang kontolnya dalam
    memekku. Aku ingin segera membuatnya `KO’. Terus terang aku sangat penasaran dengan keperkasaannya.
    Kuingin buktikan bahwa aku bisa membuatnya cepat-cepat mencapai puncak kenikmatan.

    “Yah..?” panggilku menghiba.
    “Apa sayang…”, jawabnya seraya tersenyum melihatku tersiksa.
    “Cepetan..yaaahhhhh…….!!!”
    “Sabar sayang. Kamu ingin Bapak berbuat apa…….?” tanyanya pura-pura tak mengerti.

    Aku tak menjawab. Tentu saja aku malu mengatakannya secara terbuka apa keinginanku saat itu. Namun
    mertuaku sepertinya ingin mendengarnya langsung dari bibirku. Ia sengaja mengulur-ulur dengan hanya
    menggesek-gesekan kontolnya. Sementara aku benar-benar sudah tak tahan lagi mengekang birahiku.

    “Novii….iiii… iiiingiiinnnn aaa…aaayahhhh….se….se.. seeegeeeraaaa ma… masukin..!!!”, kataku terbata-bata
    dengan terpaksa.

    Aku sebenarnya sangat malu mengatakan ini. Aku yang tadi begitu ngotot tidak akan memberikan tubuhku
    padanya, kini malah meminta-minta. Perempuan macam apa aku ini!?

    “Apanya yang dimasukin…….!!”, tanyanya lagi seperti mengejek.

    “Aaaaaaggggkkkkkhhhhh…..ya…yaaaahhhh. Ja…..ja….Jaaangan siksa Noviiii..!!!”
    “Bapak tidak bermaksud menyiksa kamu sayang……!!”
    “Oooooohhhhhh.., Yaaaahhhh… Noviii ingin dimasukin kontol ayah ke dalam memek Novi…… uugghhhh..!!!” Aku
    kali ini sudah tak malu-malu lagi mengatakannya dengan vulgar saking tak tahannya menanggung gelombang
    birahi yang menggebu-gebu.

    Aku merasa seperti wanita jalang yang haus seks. Aku hampir tak percaya mendengar ucapan itu keluar dari
    bibirku sendiri. Tapi apa mau dikata, memang aku sangat menginginkannya segera. “Baiklah sayang. Tapi
    pelan-pelan ya”, kata mertuaku dengan penuh kemenangan telah berhasil menaklukan diriku. “Uugghh..”, aku
    melenguh merasakan desakan batang kontolnya yang besar itu. Aku menunggu cukup lama gerakan kontol
    mertuaku memasuki diriku. Serasa tak sampai-sampai. Selain besar, kontol mertuaku sangat panjang juga.
    Aku sampai menahan nafas saat batangnya terasa mentok di dalam.

    Rasanya sampai ke ulu hati. Aku baru bernafas lega ketika seluruh batangnya amblas di dalam. Mertuaku
    mulai menggerakkan pinggulnya perlahan-lahan. Satu, dua dan tiga tusukan mulai berjalan lancar. Semakin
    membanjirnya cairan dalam liang memekku membuat kontol mertuaku keluar masuk dengan lancarnya. Aku
    mengimbangi dengan gerakan pinggulku. Meliuk perlahan. Naik turun mengikuti irama tusukannya. Gerakan
    kami semakin lama semakin meningkat cepat dan bertambah liar. Gerakanku sudah tidak beraturan karena
    yang penting bagiku tusukan itu mencapai bagian-bagian peka di dalam relung kewanitaanku. Dia tahu
    persis apa yang kuinginkan.

    Ia bisa mengarahkan batangnya dengan tepat ke sasaran. Aku bagaikan berada di awang-awang merasakan
    kenikmatan yang luar biasa ini. Batang mertuaku menjejal penuh seluruh isi liangku, tak ada sedikitpun
    ruang yang tersisa hingga gesekan batang itu sangat terasa di seluruh dinding vaginaku.Cerita Sex Dewasa

    “Aduuhh.. auuffhh.., nngghh..!!!”, aku merintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini.

    Kembali aku mengakui keperkasaan dan kelihaian mertuaku di atas ranjang. Ia begitu hebat, jantan dan
    entah apalagi sebutan yang pantas kuberikan padanya. Toni suamiku tidak ada apa-apanya dibandingkan
    ayahnya yang bejat ini. Yang pasti aku merasakan kepuasan tak terhingga bercinta dengannya meski
    kusadari perbuatan ini sangat terlarang dan akan mengakibatkan permasalahan besar nantinya. Tetapi saat
    itu aku sudah tak perduli dan takkan menyesali kenikmatan yang kualami. Mertuaku bergerak semakin cepat.
    Kontolnya bertubi-tubi menusuk daerah-daerah sensitive. Aku meregang tak kuasa menahan desiran-desiran
    yang mulai berdatangan seperti gelombang mendobrak pertahananku.

    Sementara mertuaku dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulnya naik turun, ke kiri dan ke kanan.
    Eranganku semakin keras terdengar seiring dengan gelombang dahsyat yang semakin mendekati puncaknya.
    Melihat reaksiku, mertuaku mempercepat gerakannya. Batang kontolnya yang besar dan panjang itu keluar
    masuk dengan cepatnya seakan tak memperdulikan liangku yang sempit itu akan terkoyak akibatnya. Kulihat
    tubuh mertuaku sudah basah bermandikan keringat.

    Aku pun demikian. Tubuhku yang berkeringat nampak mengkilat terkena sinar lampu kamar. Aku mencoba
    meraih tubuh mertuaku untuk mendekapnya. Dan disaat-saat kritis, aku berhasil memeluknya dengan erat.
    Kurengkuh seluruh tubuhnya sehingga menindih tubuhku dengan erat. Kurasakan tonjolan otot-ototnya yang
    masih keras dan pejal di sekujur tubuhku. Kubenamkan wajahku di samping bahunya. Pinggul kuangkat
    tinggi-tinggi sementara kedua tanganku menggapai buah pantatnya dan menarik kuat-kuat. Kurasakan
    semburan demi semburan memancar kencang dari dalam diriku. Aku meregang seperti ayam yang baru dipotong.

    Tubuhku mengejang-ngejang di atas puncak kenikmatan yang kualami untuk kedua kalinya saat itu.

    “Yaaaah.., ooooohhhhhhh.., Yaaaahhhhh..eeee…eeennnaaaakkkkkkkk…!!!” Hanya itu yang bisa keluar dari
    mulutku saking dahsyatnya kenikmatan yang kualami bersamanya.
    “Sayang nikmatilah semua ini. Bapak ingin kamu dapat merasakan kepuasan yang sesungguhnya belum pernah
    kamu alami….”, bisik ayah dengan mesranya.
    “Bapak sayang padamu, Bapak cinta padamu…. Bapak ingin melampiaskan kerinduan yang menyesak selama
    ini..”, lanjutnya tak henti-henti membisikan untaian kata-kata indah yang terdengar begitu romantis.

    Aku mendengarnya dengan perasaan tak menentu. Kenapa ini datangnya dari lelaki yang bukan semestinya
    kusayangi. Mengapa kenikmatan ini kualami bersama mertuaku sendiri, bukan dari anaknya yang menjadi
    suamiku…????. Tanpa terasa air mata menitik jatuh ke pipi. Mertuaku terkejut melihat ini. Ia nampak
    begitu khawatir melihatku menangis.

    “Novi sayang, kenapa menangis?” bisiknya buru-buru.

    “Maafkan Bapak kalau telah membuatmu menderita..”, lanjutnya seraya memeluk dan mengelus-elus rambutku
    dengan penuh kasih sayang.

    Aku semakin sedih merasakan ini. Tetapi ini bukan hanya salahnya. Aku pun berandil besar dalam kesalahan
    ini. Aku tidak bisa menyalahkannya saja. Aku harus jujur dan adil menyikapinya.

    “Bapak tidak salah. Novi yang salah..”, kataku kemudian. “Tidak sayang. Bapak yang salah…”, katanya
    besikeras. “Kita, Yah. Kita sama-sama salah”, kataku sekaligus memintanya untuk tidak memperdebatkan
    masalah ini lagi.
    “Terima kasih sayang”, kata mertuaku seraya menciumi wajah dan bibirku. Kurasakan ciumannya di bibirku
    berhasil membangkitkan kembali gairahku.

    Aku masih penasaran dengannya. Sampai saat ini mertuaku belum juga mencapai puncaknya. Aku seperti
    mempunyai utang yang belum terbayar. Kali ini aku bertekad keras untuk membuatnya mengalami kenikmatan
    seperti apa yang telah ia berikan kepadaku. Aku tak sadar kenapa diriku jadi begitu antusias untuk
    melakukannya dengan sepenuh hati.
    Biarlah terjadi seperti ini, toh mertuaku tidak akan selamanya berada di sini. Ia harus pulang ke
    Amerika. Aku berjanji pada diriku sendiri, ini merupakan yang terakhir kalinya. Timbulnya pikiran ini
    membuatku semakin bergairah.

    Apalagi sejak tadi mertuaku terus-terusan menggerakan kontolnya di dalam memekku. Tiba-tiba saja aku
    jadi beringas. Kudorong tubuh mertuaku hingga terlentang. Aku langsung menindihnya dan menicumi wajah,
    bibir dan sekujur tubuhnya. Kembali kuselomoti batang kontolnya yang tegak bagai tiang pancang beton
    itu. Lidahku menjilat-jilat, mulutku mengemut-emut. Tanganku mengocok-ngocok batangnya. Kulirik kewajah
    mertuaku kelihatannya menyukai perubahanku ini. Belum sempat ia akan mengucapkan sesuatu, aku langsung
    berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan masing-masing berada di samping kiri dan kanan
    tubuh mertuaku. Selangkanganku berada persis di atas batangnya.

    “Akh sayang!” pekik mertuaku tertahan ketika batangnya kubimbing memasuki liang memekku. Tubuhku turun
    perlahan-lahan, menelan habis seluruh batangnya.Cerita Sex Dewasa

    Selanjutnya aku bergerak seperti sedang menunggang kuda. Tubuhku melonjak-lonjak seperti kuda binal yang
    sedang birahi. Aku tak ubahnya seperti pelacur yang sedang memberikan kepuasan kepada hidung belang.
    Tetapi aku tak perduli. Aku terus berpacu. Pinggulku bergerak turun naik, sambil sekali-sekali meliuk
    seperti ular. Gerakan pinggulku persis seperti penyanyi dangdut dengan gaya ngebor, ngecor, patah-patah,
    bergetar dan entah gaya apalagi. Pokoknya malam itu aku mengeluarkan semua jurus yang kumiliki dan
    khusus kupersembahkan kepada ayah mertuaku sendiri!

    “Ooohh… oohhhh… oooouugghh.. Noviiiii.., luar biasa…..!!!” jerit mertuaku merasakan hebatnya
    permainanku.

    Pinggulku mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tangan mertuaku mencengkeram kedua buah
    dadaku, diremas dan dipilin-pilin, sehingga air susuku keluar jatuh membasahi dadanya. Ia lalu bangkit
    setengah duduk. Wajahnya dibenamkan ke atas dadaku. Menjilat-jilat seluruh permukaan dadaku yang
    berlumuran air susuku dan akhirnya menciumi putting susuku. Menghisapnya kuat-kuat sambil meremas-remas
    menyedot air susuku sebanyak-banyaknya.

    Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan dinginnya udara meski kamarku
    menggunakan AC. Tubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lengket satu sama lain. Aku berkutat
    mengaduk-aduk pinggulku. Mertuaku menggoyangkan pantatnya. Kurasakan tusukan kontolnya semakin cepat
    seiring dengan liukan pinggulku yang tak kalah cepatnya. Permain kami semakin meningkat dahsyat. Sprei
    ranjangku sudah tak karuan bentuknya, selimut dan bantal serta guling terlempar berserakan di lantai
    akibat pergulatan kami yang bertambah liar dan tak terkendali.

    Kurasakan mertuaku mulai memperlihatkan tanda-tanda. Aku semakin bersemangat memacu pinggulku untuk
    bergoyang. Mungkin goyangan pinggulku akan membuat iri para penyanyi dangdut saat ini. Tak selang
    beberapa detik kemudian, aku pun merasakan desakan yang sama. Aku tak ingin terkalahkan kali ini.
    Kuingin ia pun merasakannya. Tekadku semakin kuat. Aku terus memacu sambil menjerit-jerit histeris. Aku
    sudah tak perduli suaraku akan terdengar kemana-mana. Kali ini aku harus menang! Upayaku ternyata tidak
    percuma.

    Kurasakan tubuh mertuaku mulai mengejang-ngejang. Ia mengerang panjang. Menggeram seperti harimau
    terluka. Aku pun merintih persis kuda betina binal yang sedang birahi.

    “Eerrgghh.. ooooo….ooooooo…..oooooouugghhhhhh..!!!!” mertuaku berteriak panjang.

    Tubuhnya menghentak-hentak liar. Tubuhku terbawa goncangannya. Aku memeluknya erat-erat agar jangan
    sampai terpental oleh goncangannya. Mendadak aku merasakan semburan dahsyat menyirami seluruh relung
    vaginaku. Semprotannya begitu kuat dan banyak membanjiri liangku. Akupun rasanya tidak kuat lagi menahan
    desakan dalam diriku. Sambil mendesakan pinggulku kuat-kuat, aku berteriak panjang saat mencapai puncak
    kenikmatan berbarengan dengan ayah mertuaku. Tubuh kami bergulingan di atas ranjang sambil berpelukan
    erat. Saking dahsyatnya, tubuh kami terjatuh dari ranjang. Untunglah ranjang itu tidak terlalu tinggi
    dan permukaan lantainya tertutup permadani tebal yang empuk sehingga kami tidak sampai terkilir atau
    terluka.

    Baca JUga Cerita Sex Kakak Sexyku

    “Oooooogggghhhhhhh.. yaahh..,nik….nikkkk nikmaatthh…. yaaahhhh..!!!!” jeritku tak tertahankan.

    Tulang-tulangku serasa lolos dari persendiannya. Tubuhku lunglai, lemas tak bertenaga terkuras habis
    dalam pergulatan yang ternyata memakan waktu lebih dari 2 jam! Gila! Jeritku dalam hati. Belum pernah
    rasanya aku bercinta sampai sedemikian lamanya. Aku hanya bisa memeluknya menikmati sisa-sisa kepuasan.
    Perasaanku tiba-tiba terusik. Sepertinya aku mendengar sesuatu dari luar pintu kamar, kayaknya si Inah….
    Karena mendengar suara ribut-ribut dari kamar, rupanya ia datang untuk mengintip…. tapi aku sudah
    terlalu lelah untuk memperhatikannya dan akhirnya tertidur dalam pelukan mertuaku, melupakan semua
    konsekuensi dari peristiwa di sore ini di kemudian hari….

  • Perjaka Polos

    Perjaka Polos


    12 views

    Cerita seks terbaru harta berlimbah mempunyai rumah mewah, uang yang berlebihan dan fasilitas hidup yang lebih dari cukup ternyata bukan kunci kebahagiaan untuk seorang wanita dewasa . Apalagi untuk seorang wanita yang muda, cantik dan penuh vitalitas hidup seperti sari. Sudah satu bulan ini ia ditinggal suaminya bertugas ke luar kota. Padahal mereka belum lagi enam bulan menikah. Pasti semakin mengesalkan juga, untuk Sari, kalau tugas dinas luar kota diperpanjang di luar rencana.

    cerita-sex-dewasa-perjaka-polos-742x1024
    Seperti malam itu, ketika Baskoro, suami Sari, menelepon untuk menjelaskan bahwa ia tidak jadi pulang besok karena tugasnya diperpanjang 2 – 3 minggu lagi. Sari keras mem-protes, tapi menurut suaminya mau tidak mau ia harus menjalankan tugas. Waktu Sari merayunya, supaya bisa datang untuk ‘week-end’ saja, Baskoro menolak. Katanya terlalu repot jauh-jauh datang hanya untuk sekedar ‘indehoy.’ Dengan hati panas Sari bertanya:

    “Lho mas, apa kamu nggak punya kebutuhan sebagai laki-laki?” Mungkin karena suasana pembicaraan dari tadi sudah agak tegang seenaknya Baskoro menjawab, …
    “Yah namanya laki- laki, di mana aja kan bisa dapet.” Dalam keadaan marah, tersinggung, bercampur gemas karena birahi, Sari membanting gagang telepon.

    Ia merasa sesuatu yang ‘nakal’ harus ia lakukan sebagai balas dendam kepada pasangan hidup yang sudah demikian melecehkannya. Kembali ia teringat kepada pembicaraannya dengan Minah beberapa hari yang lalu, kala ia tanyakan bagaimana pembantu wanitanya itu menyalurkan hasrat seks-nya. Waktu itu ia bercanda mengganggu janda muda yang sedang mencuci piring di dapur itu.

    “Minah, kamu rayu aja si Iman. Kan lumayan dapet daun muda.” Minah tersenyum malu-malu. Katanya,
    “Ah ibu bisa aja … Tapi mana dia mau lagi.” Lalu sambil menengok ke kanan ke kiri, seolah-lah takut kalau ada yang mendengar Minah mengatakan sesuatu yang membuat darah sari agak berdesir.
    “Bu, si Iman itu orangnya lumayan lho. Apalagi kalau ngeliat dia telanjang nggak pakai baju.” Pura- pura kaget Sari bertanya dengan nada heran:
    “Kok kamu tau sih?” Tersipu-sipu Minah menjelaskan.
    “Waktu itu malam-malam Minah pernah ke kamarnya mau pinjem balsem. Diketuk-ketuk kok pintunya nggak dibuka. Pas Minah buka dia udah nyenyak tidur. Baru Minah tau kalau tidur itu dia nggak pakai apa-apa.” Tersenyum Sari menanyakan lebih lanjut.
    “Jadi kamu liat punyaannya segala dong?” Kata Minah bersemangat,
    “Iya bu, aduh duh besarnya. Jadi kangen mantan suami. Biarpun punyanya nggak sebesar itu.” Setengah kurang percaya Sari bertanya,
    “Iman? Si Iman anak kecil itu?”
    “Iya bu!” Minah menegaskan.
    “Iya Iman si Pariman itu. Kan nggak ada yang lainnya tho bu.” Lalu dengan nada bercanda Sari bertanya mengganggu,
    ”Terus si Iman kamu tomplok ya?” Sambil melengos pergi Minah menjawab,
    “Ya nggak dong bu, “” kata Minah sambil buru-buru pergi.

    Dalam keadaan hati yang panas dan tersinggung jalan pikiran Sari menjadi lain. Ia yang biasanya tidak terlalu memperdulikan Iman, sekarang sering memperhatikan pemuda itu dengan lebih cermat. Beberapa kali sampai anak muda itu merasa agak rikuh. Dari apa yang dilihatnya, ditambah cerita Minah beberapa hari yang lalu, Sari mulai merasa tertarik. Membayangkan ‘barang kepunyaan’ Iman, yang kata Minah “aduh duh” itu membuat Sari merasa sesuatu yang aneh. Mungkin sebagai kompensasi atau karena gengsi sikapnya menjadi agak dingin dan kaku terhadap Iman. Iman sendiri sampai merasa kurang enak dan bertanya- tanya apa gerangan salahnya.

    Pada suatu hari, setelah sekian minggu tidak menerima ‘nafkah batin’nya, perasaan Sari menjadi semakin tak tertahankan. Malam yang semakin larut tidak berhasil membuatnya tertidur. Ia merasa membutuhkan sesuatu. Akhirnya Sari berdiri, diambilnya sebuah majalah bergambar dari dalam lemari dan pergilah ia ke kamar Iman di loteng bagian belakang rumah. Pelan-pelan diketuknya pintu kamar Iman.

    Setelah diulangnya berkali-kali baru terdengar ada yang bangun dari tempat tidur dan membuka pintu. Wajah Iman tampak kaget melihat Sari telah berdiri di depannya. Apalagi ketika wanita berkulit putih yang cantik itu langsung memasuki ruangannya. Agak kebingungan Iman melilitkan selimut tipisnya untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Melihat tubuh Iman yang tidak berbaju itu Sari menelan air liurnya. Lalu dengan nada agak ketus ia berkata,Cerita Sex Dewasa

    “Sana kamu mandi, jangan lupa gosok gigi.” Iman menatap kebingungan,
    “Sekarang bu?”

    Dengan nada kesal Sari menegaskan,

    ‘Ia sekarang ,,, udah gitu aja nggak usah pake baju segala.” Tergopoh-gopoh Iman menuju ke kamar mandi, memenuhi permintaan Sari.

    Sementara Iman di kamar mandi Sari duduk di kursi, sambil me!ihat- lihat sekitar kamar Iman. Pikirnya dalam hati, “Bersih, rapih juga ini anak.”Kira-kira sepuluh atau lima belas menit berselang Iman telah selesai.

    “Maaf bu …,” katanya sambil memasuki ruangan. Ia hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.
    ”Saya pake baju dulu bu,” katanya sambil melangkah menuju lemari pakaiannya.

    Dengan nada ketus Sari berkata,

    ”Nggak usah. Kamu duduk aja di tempat tidur … Bukan, bukan duduk gitu, berbaring aja.” Lalu sambil melempar majalah yang dibawanya ia menyuruh Iman membacanya.

    Sambil melangkah keluar Sari sempat berkata

    “Sebentar lagi saya kembali.” Dengan kikuk dan kuatir Iman mulai membalik halaman demi halaman majalah porno di tangannya. Tapi ia tidak berani bertanya kepada Sari, apa sebenarnya yang wanita itu inginkan.

    Setelah saat-saat yang menegangkan itu berlangsung beberapa lama, Iman mulai terangsang juga melihat berbagai adegan senggama di majalah yang berada di tangannya itu. Ia merasa ‘alat kejantanannya mengeras. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Sari melangkah masuk. Iman berusaha bangkit, tapi sambil duduk di tepi pembaringan Sari mendorong tubuhnya sampai tergeletak kembali. Tatapan matanya dingin, sama sekali tidak ada senyuman di bibirnya. Tapi tetap saja ia terlihat cantik.

    “Iman dengar kata-kata saya ya. Kamu saya minta melakukan sesuatu, tapi jangan sampai kamu cerita ke siapa- siapa. Mengerti?” Iman hanya dapat mengangguk, walaupun ia masih merasa bingung.

    Hampir ia menjerit ketika Sari menyingkap handuknya terbuka. Apalagi ketika tangannya yang halus itu memegang ‘barang kepunyaan’nya yang tadi sudah tegang keras.

    “Hm ….. Besar juga ya punya kamu,” demikian Sari menggumam. Diteruskannya mengocok-ngocok ‘daging kemaluan’ Iman, dengan mata terpejam.

    Pelan-pelan ketegangan Iman mulai sirna, dinikmatinya sensasi pengalamannya ini dengan rasa pasrah. Tiba-tiba Sari berdiri dan langsung meloloskan daster yang dikenakannya ke atas. Bagai patung pualam putih tubuhnya terlihat di mata Iman. Walaupun lampu di kamar itu tidak begitu terang, Iman dapat menyaksikan keindahan tubuh Sari dengan jelas. Tertegun ia memandangi Sari, sampai beberapa kali meneguk air liurnya. Tidak lama kemudian Sari naik ke tempat tidur, ceritasexdewasa.org diambilnya posisi mengangkangi Iman. Masih dengan nada ‘judes’ ia berkata …

    “Yang akan saya lakukan ini bukan karena kamu, tapi karena saya mau balas dendam. Jadi jangan kamu berpikiran macam-macam ya.” Lalu digenggamnya lagi ‘tonggak kejantanan” Iman dan diusap- usapkannya ‘bonggol kepala’nya ke bibir ke’maluan’nya sendiri.

    Terus menerus dilakukannya hal ini sampai ‘vagina’nya mulai basah. Lalu ditatapnya Iman dengan pandangan yang tajam. Katanya dengan suara ketus, …

    “Jangan kamu berani-berani sentuh tubuh saya.” Setelah itu, …
    “Juga jangan sampe kamu keluar di ‘punyaan’ saya. Awas ya.” Lalu di-pas-kannya ‘ujung kemaluan’ Iman di ‘bibir liang kewanitaan’nya dan ditekannya tubuhnya ke bawah.

    Pelan-pelan tapi pasti ‘barang kepunyaan’ Iman menusuk masuk ke ‘lubang kenikmatan’ Sari.

    ‘Aduh … Ah … Man, besar amat sih” demikian Sari sempat merintih.

    Setelah ‘kemaluan’ Iman benar- benar masuk Sari mulai menggoyang pinggulnya. Suaranya sesekali mendesah keenakan. Tidak lama kemudian dicapainya ‘orgasme’nya yang pertama. Hampir seperti orang kesakitan suara Sari mengerang-erang panjang.

    “Aah … Aargh … Aah, aduh enaknya … ” Seperti orang lupa diri Sari mengungkapkan rasa puasnya dengan polos.

    Tapi ketika Sari sadar bahwa kedua tangan Iman sedang mengusapi pahanya yang putih mulus, ditepisnya dengan kasar.

    “Tadi saya bilang apa …!” Iman ketakutan, …
    “Maaf bu.” Lalu perintah Sari lagi, …
    “Angkat tangannya ke atas.” Iman menurutinya, katanya …
    “Baik bu.” Begitu melihat bidang dada dan buluketiak Iman Sari kembali terangsang.

    Sekali lagi ia menggoyang pinggulnya dengan bersemangat, sampai ia mencapai ‘orgasme’nya yang kedua. Setelah itu masih sekali lagi dicapainya puncak kenikmatan, walaupun tidak sehebat sebelumnya. Iman sendiri sebetulnya juga beberapa kali hampir keluar, tapi karena tadi sudah di’wanti-wanti,’ maka ditahannya dengan sekuat tenaga. Rupanya Sari sudah merasa puas, karena dicabutnya ‘alat kejantanan’ Iman yang masih keras itu. Dikenakannya kembali dasternya.

    Sekarang wajahnya terlihat jauh lebih lembut. Sebelum meninggalkan kamar Iman sempat ia menunjukkan apresiasi-nya.

    “Kamu hebat Man …” lalu sambungnya
    “Lusa malam aku kemari lagi ya.” Setelah itu masih sempat ia berpesan, ….
    “O iya, kamu terusin aja sekarang sama Minah … Dia mau kok.” Iman hanya mengangguk, tanpa mengucapkan apa-apa.

    Sampai lama Iman belum dapat tertidur lelap, membayangkan kembali pengalaman yang baru saja berlalu. Kehilangan ke’perjaka’an tidak membuat Iman merasa sedih. Malah ada rasa bangga bahwa seorang wanita cantik dari kalangan berpunya seperti Sari telah memilih dirinya.Sesuai pesannya dua malam kemudian Sari datang lagi ke kamar Iman. Kali ini pemuda itu sudah betul-betul menyiapkan dirinya. Jadi Sari tinggal menaiki tubuhnya dan menikmati ‘alat kejantanan’nya yang keras itu. Walaupun suaranya masih ketus meminta Iman untuk sama-sekali tidak menyentuh tubuhnya, kali ini Sari sampai meremas-remas dada dan pinggul Iman ketika mencapai ‘orgasme’nya. Bahkan tidak lupa wanita cantik itu sempat memuji pemuda yang beruntung itu. Katanya, …Cerita Sex Dewasa

    “Man, Pariman, kamu hebat sekali. Selama kawin aku belum pernah sepuas sekarang ini. Terma kasih ya.” Iman hanya menjawab terbata-bata, …
    “Saya … Saya … seneng … Hm … Bisa nyenengin bu Sari.” Sambil membuka pintu kamar Sari berpesan. Katanya, ….
    “Iya Man, tapi jangan bosen ya.” Lalu tambahnya lagi, …
    “Udah, sekarang kamu terusin sama Minah sana. Aku mau tidur dulu ya.” Dua malam kemudian kembali Sari menyambangi kamar Iman.

    Kebetulan tanpa penjelasan apapun siangnya ia sempat meminta pemuda itu untuk mengganti seprei ranjang dan sarung bantalnya.

    “Man … Kamu capek nggak? Sari bertanya dengan lembut. Rupanya berkali-kali dipuaskan pemuda itu membuatnya sikapnya lebih ramah.

    Iman tersenyum, …

    “Nggak kok bu. Saya siap dan seneng aja melayani ibu.” Tanpa malu-malu langsung Sari melepaskan daster- nya.

    Setelah itu dilorotnya kain sarung Iman. Dengan takjub ia memandangi kepunyaan lelaki itu. Tanpa sadar sempat ia memuji, …

    “Aduh Man, udah besar amat sih kepunyaanmu.” Lalu sambil mengocok-ngocoknya Sari sempat berkata, …
    “Hm Man, keras lagi.” Lalu sambil membaringkan tubuhnya ia meminta, …
    “Kamu dari atas ya Man. Aku mau coba di bawah.” Langsung Iman memposisikan ‘kemaluan’nya di antara celah paha Sari.

    Lelaki muda itu betul-betul terangsang melihat kemolekan nyonya muda yang sedang marah kepada suaminya itu. Tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa ia boleh mencicipi tubuh yang seputih dan semulus ini. Apalagi Sari sekarang tidak lagi judes dan ketus seperti pada malam-malam sebelumnya, sehingga semakin tampak saja kecantikannya. Sempat terpikir oleh pemuda itu mungkin judes dan ketusnya dulu itu hanya untuk mengatasi rasa malu dan gengsinya saja.

    “Man …” Sari memanggilnya lembut, setengah berbisik.
    “Iya bu …”
    “Kamu gesek-gesek punyaanmu ke punyaanku dulu ya. Terus masukinnya nanti pelan-pelan.” Diikutinya permintaan Sari, digesek-geseknya ‘bibir kemaluan’ Sari dengan ‘ujung kejantanannya.’

    Sari mendesah kegelian, hingga membuat Iman lupa diri. Tangannya mulai mengusap-usap paha dan perut Sari. Tapi wanita cantik itu menepis tangannya.

    “Jangan sentuh tubuhku, jangan ….” serunya tegas.

    Iman segera berhenti, ditariknya tangannya. Tidak berapa lama kemudian terdengar Sari meminta.

    “Man, masukin pelan-pelan Man. Tapi ingat … Jangan sampai keluar di dalam ya.” Pelan-pelan Iman mendorong ‘batang keras’nya memasuki ‘liang kenikmatan’ Sari.

    Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit, ‘tombak kejantanan’nya menerobos masuk. Sari terus mendesah keenakan.

    “Maaf bu, saya mohon ijin memegang paha ibu, supaya punya ibu lebih kebuka.” Akhirnya Iman memberanikan diri meminta.

    Dengan terpaksa Sari mengijinkan, …

    “Iya deh. Tapi bagian bawahnya aja ya.” Begitu diberi ijin Iman langsung melakukannya.

    Walaupun tubuhnya tegak, karena kuatir menetesi tubuh Sari dengan keringatnya, ia dapat menghunjamkan ‘barang kepunyaan’nya masuk lebih jauh.

    “Ah Man, enak sekali.” Sari berseru keenakan.

    Langsung Iman menggoyangkan pinggulnya, ke kanan dan ke kiri, mundur dan maju. Sari terus mendesah keenakan, semakin lama semakin keras. Pada puncaknya ia menjerit lembut dan mengerang panjang.

    “Aduh Man, aku udah. Aduh enak sekali. Aaah, Maaan …. Aaah!” Sementara beristirahat Iman menarik keluar ‘batang kemaluan’nya dan melapnya dengan handuk.

    Dengan tatapan penuh hasrat Sari memandangi ‘kemaluan’ Iman yang tetap kaku dan keras. Pada ‘ronde’ berikutnya Iman yang bertindak mengambil inisiatif.

    “Maaf bu …” katanya sambil kedua tangannya mendorong paha mulus Sari hingga terbuka lebar.

    Sari hanya mengangguk lemah, sikapnya pasrah. Rupanya rasa gengsi atau angkuhnya sudah mulai sirna di hadapan pemuda pejantannya. Ditatapnya wajah Iman dengan seksama. Sekarang baru ia sadar bahwa Iman bukan hanya jantan, tapi juga lumayan ganteng. Begitu berhasil menembus ‘liang kemaluan’ Sari, yang merah merangsang itu, Iman mulai beraksi. Sekali lagi goyangannya berakhir dengan kepuasan Sari. … setelah itu sekali lagi … Sari tergolek lemah. Dibiarkannya Iman memandangi tubuhnya yang terbaring tanpa busana. Mungkin karena itulah ‘alat kejantanan’ Iman, yang memang belum ber-’ejakulasi,’ tetap berada dalam keadaan tegang.Cerita Sex Dewasa

    “Man … ” suara Sari terdengar memecah keheningan.
    “Kamu kok hebat sekali sih? Udah sering ya?” Iman menggelengkan kepalanya.
    “Belum pernah bu. Baru sekali ini saya melakukan. Sama ibu ini aja.” Dengan heran Sari menatapnya, lalu tersenyum karena teringat sesuatu.

    Tanyanya langsung, …

    “Tapi udah dikeluarin sama Minah kan?” Jawab Iman, …
    “Belum kok bu.” Semakin heran Sari.
    “Lho yang kemarin-kemarin itu? Kan udah saya kasih ijin.” Dengan polos Iman menjawab, …
    “Iya bu, tapi saya nggak kepengen.” Sari penasaran, …
    “Lho kenapa?” Dengan polos Iman menjawab, …
    “Abis barusan sama ibu yang cantik, masa’ disambung sama mbak Minah. Rasanya kok eman-eman ya bu.”
    “Jadi selama ini kamu tahan aja?” Jawab Iman, …
    “Iya bu, menurut saya kok sayang.” Entah bagaimana Sari merasa senang mendengar jawaban Iman.

    Ada rasa hangat di hatinya.

    “Ah sayang aku udah puas. Mana besok mens lagi …” Tapi ada rasa kasihan juga yang membersit di hatinya.

    Hebat juga pengorbanan Iman, yang lahir dari penghargaan kepadanya itu. Akhirnya ia mengambil keputusan …

    “Sini Man, sekarang kamu yang baring di sini.” Kata Sari sambil bangun dari posisinya semula.

    Iman menatapnya dengan pandangan bertanya, tapi diikutinya permintaan majikannya. Sari segera membersihkan ‘barang kepunyaan’ Iman dengan handuk. Karena dipegang-pegang ‘daging berurat’ milik Iman kembali mengeras penuh. Sambil duduk di tepi ranjang Sari mulai mengelus-elusnya. Sempat ia berdecak kagum menyaksikan kekokohan dan kerasnya. Dirasakannya ukuran ‘daging keras’ Iman yang besar, ketika berada dalam genggaman tangannya. Keenakan Iman, hingga matanya sesekali terpejam. Bibirnya juga mendesis, bahkan sesekali mengerang. Tangan kanannya di tempatkannya di bawah kepalanya. Tangan kirinya mengusap-usap lengan Sari yang sedang mengocok-ngocok ‘barang kepunyaan’nya.

    Kali ini Sari membiarkan apa yang pemuda itu ingin lakukan. Setelah beberapa saat berlalu Iman mulai mendekati puncak pengalamannya.

    “Bu, saya hampir bu” Lalu lanjutnya lagi,
    “Awas bu, awas kena, saya udah hampir.” Sari hanya tersenyum. Katanya,
    “Lepas aja Man, nggak apa-apa kok.” Setelah berusaha menahan, demi memperpanjang kenikmatan yang dirasanya, akhirnya Iman terpaksa menyerah.
    “Aduh bu aduuuh aaah …” Cairan kental ‘muncrat’ terlontar berkali- kali dari ‘daging keras’nya, yang terus dikocok-kocok Sari.

    Tanpa sadar kedua tangan Iman mencengkeram lengan Sari dan menariknya. Tubuh wanita itu tertarik mendoyong ke atas tubuh Iman. Akibatnya cairan kental Iman juga tersembur ke dada dan perutnya. Tapi Sari membiarkannya saja, seakan-akan menyukainya. Setelah ‘air mani’nya terkuras habis baru Iman sadar atas perbuatannya.

    “Maaf bu, saya tidak sengaja …” Matanya terlihat kuatir.

    Sari hanya tersenyum,

    “Nggak apa-apa kok Man.” Lalu sambungnya, …

    “Aduh Man, kentelnya punyaan kamu. Banyak amat sih muatannya. .” Iman bernafas lega, apalagi ketika dilihatnya Sari melap badannya sendiri, lalu setelah itu badan dan ‘batang terkulai’ miliknya dengan handuk.

    Sambil bangkit berdiri Sari mengenakan dasternya. Lalu ia berdiri di depan Iman yang masih duduk di tepi pembaringan.

    “Menurut kamu aku cantik nggak Man?” Tanyanya kepada pemuda itu.
    “Cantik dong bu, cantik sekali.” Sambil mengelus pipi Iman ia bertanya lagi, …
    “Kamu bisa nggak sementara nahan dulu?” Iman terlihat kecewa,
    “Berapa hari bu?” Tersenyum manis Sari menjwab, Yah, sekitar 5-6 hari deh.” Iman mengangguk tanda mengerti dan menatapnya dengan pandangan sayang.

    Sari membungkuk dan meremas ‘batang kemaluan’ Iman yang masih lumayan keras.

    “Punya kamu yang besar ini simpan baik- baik ya buat aku.” Lalu dengan gayanya yang manis ‘kemayu’ ia membuka pintu dan melangkah keluar.

    Sementara berlangsungnya masa penantian cukup banyak perubahan yang terjadi. Iman sekarang nampak lebih baik penampilannya daripada waktu-waktu sebelumnya. Rambutnya ia cukur rapi dan pakaian yang dikenakannya selalu bersih.

    Ia sendiri tampak semakin PD atau percaya diri, kalaupun sikapnya kepada Sari tetap sopan dan santun. Apalagi ia yang dulu-dulu tidak pernah dipandang sebelah mata, oleh nyonyanya, sekarang sering diajak mengobrol atau menonton TV. Semua ini tentu saja menimbulkan tanda-tanya, terutama dari orang-orang seperti Minah. Apalagi Sari sering tanpa sadar membicarakan tentang Iman, dengan nada yang memuji. Di waktu malam Sari kadang-kadang terlihat melamun sendiri. Tapi rupanya bukan memikirkan tentang suaminya yang lama bertugas ke luar Jawa. Ia malah sedang merindukan orang yang dekat-dekat saja.

    Setelah selesai masa menstruasi-nya Sari masih menunggu dua hari lagi, setelah itu baru ia merasa siap. Sore itu ketika berpapasan dengan Iman ia memanggilnya.

    “Shst sini Man.” Iman menghampirinya, …
    “Ada apa bu?” Dengan berseri-seri Sari menjelaskan, …
    “Nanti malam ya.” Iman merasa senang.
    “Udah bu? Kalau begitu saya tunggu di kamar saya ya bu. Nanti saya beresin.” Tapi kata Sari, …
    “Ah jangan, kamu aja yang ke kamarku. Jam 11-an ya?” Sambil melangkah pergi dengan tersenyum Iman mengiyakan.

    Sari benar-benar ingin tampil cantik. Dibasuhnya tubuhnya dengan sabun wangi merk ‘channel.’ Tidak lupa dikeramasnya juga rambutnya yang hitam, panjang dan lebat itu. Lalu dikenakannya gaun malam yang paling ’sexy,’ yang terbuka punggung dan lengannya. Sengaja tidak dipakainya ‘bra.’ Setelah itu masih dibubuhinya tubuhnya dengan ‘perfume’ dan sedikit kosmetik. Begitu juga dengan Iman. Setelah mandi dan keramas dipakainya ‘deodorant’ dan ‘cologne’ pemberian Sari. Jam sebelas kurang sudah diketuknya pintu ruang tidur utama, yaitu kamar Sari. Sari membuka pintu dan menggandeng tangan Iman.

    Pemuda itu tertegun menyaksikan kecantikan wanita yang berkulit putih itu. Sari mengajak Iman duduk di tepi ranjang. Ditatapnya mata pemuda itu yang balik menatapnya dengan rasa kagum. Sari tersenyum.

    “Malam ini kamu hanya boleh manggil aku Sari atau sayang. Mau kan?” Iman mengangguk sambil menelan ludah. Kata Sari lagi, …
    “Malam ini ini kamu boleh memegang saya dan melakukan apa aja yang kamu mau.” Agak gugup Iman menjawab, …
    “Eng … Terima kasih … Eng … Sayang. Kamu kok baik sekali. Kenapa? Saya ini orang yang nggak punya apa-apa dan nggak bisa ngasih apa-apa.” Sari merangkulkan tangannya ke leher Iman dan menidurkan kepalanya di bahu iman.Cerita Sex Dewasa
    “Kamu salah Man. Kamu itu laki-laki yang bisa memberi saya kepuasan yang total. Sejak kawin saya belum pernah mengalami seperti yang saya dapat dari kamu.” Lalu sambil tersenyum Sari meminta, …
    “Sini Yang, cium aku.” Iman mendekatkan bibirnya ke bibir Sari, lalu menciumnya.

    Tapi karena kurang berpengalaman akhirnya Sari yang lebih agresif, baru kemudian Iman mengikuti secara lebih aktif.

    Kedua bibir itu akhirnya saling berpagutan dengan penuh semangat. Dengan penuh gairah Sari melepas baju Iman. Sebaliknya Iman agak malu-malu pada awalnya, tapi akhirnya menjadi semakin berani. Dilepasnya gaun malam Sari, sambil diciuminya lehernya yang ramping, panjang dan molek itu. Dengan gemas tangannya meremas buah dada Sari yang ranum. Karena Sari membiarkan saja akhirnya ia berani menciumi, lalu mengulum puting buah dada yang indah itu. Sari kegelian. Tangannya mengusap- usap tonjolan di celana Iman.

    Kemudian dibukanya ‘ruitslijting’ celananya. Tangannya menguak celana dalam Iman dan masuk untuk menggenggam ‘batang kemaluan’nya yang telah mengeras. Tangan Iman juga langsung melepas celana dalam Sari, kemudian langsung ditaruhnya tangannya di celah paha Sari. Wanita cantik itu mengerang nikmat, rupanya sebelum dengan Iman rasanya cukup lama juga ‘milik berharga’nya itu tidak disentuh tangan lelaki. Kemudian Sari berlutut di depan Iman, hingga membuat pemuda itu merasa jengah. Ditariknya celana panjang Iman, sampai lepas. Lalu dimintanya Iman berbaring di tempat tidur. Iman sempat merasa agak kikuk, tapi gairah Sari segera membuatnya merasa nyaman. Dipeluknya wanita itu dikecup-kecupnya lengan, dada, perut, bahkan pahanya.

    Karena kegelian Sari mendorong dada Iman hingga sampai terbaring. Sekarang gantian ia yang menciumi tubuh pemuda itu. Dengan mantap dilorotnya celana dalam Iman hingga terlepas. Cepat digenggamnya ‘batang kemaluan’ Iman yang sudah tegang keras berdenyut-denyut.

    “Man, Iman, besarnya punya kamu. Keras lagi …” Iman tersenyum, …
    “Abis kamu cantik sih Yang.” Sambil mengocok- ngocok ‘kemaluan’ Iman dengan manja Sari berkata, …
    “Rasanya aku gemes deh Man.” Iman tersenyum nakal, entah apa yang ada dipikirannya.

    Ia hanya menanggapi singkat, …

    “Kalau gemes gimana dong Yang?” Sari tersenyum manis.

    Tiba-tiba diciuminya ‘kemaluan’ Iman, hingga membuat pemuda itu terkejut. Dengan tatapan heran, tapi senang, dilihatnya Sari kemudian menjilati ‘alat kejantanan’nya. Mulai dari ‘bonggol kepala,’ terus sepanjang ‘batang’nya, bahkan sampai ke ‘kantung buah zakar’nya. Ketika Sari mengulum ‘kemaluan’nya di mulutnya Iman mengerang keenakan.

    “Aduh sayang, aduh enak sekali … Ah enaknya.” Akhirnya Iman tidak tahan lagi.

    Ditariknya Sari dengan lembut lalu dibaringkannya terlentang. Didorongnya kedua paha Sari hingga terbuka lebar. Masih sempat diciumi dan dijilatinya tubuh Sari bagian atas, termasuk mengemut puting buah dadanya seperti bayi yang lapar. Lalu pelan-pelan didorongnya ‘alat kejantanan’nya masuk, menguak bibir ‘vagina’ Sari yang ranum, menyusuri liang kenikmatannya.

    “Pelan-pelan Man, … Punya kamu terasa besar amat sih malam ini, … Aah …” Sari mengerang keenakan.

    Akhirnya dengan sentakan terakhir Iman menghunjamkan ‘batang kemaluan’nya yang besar itu masuk. Begitu ia menggoyang pinggulnya Sari langsung mendesah. Rasanya nikmat sekali digagahi pemuda yang penuh vitalitas dan enerji ini. Iman terus menggerakkan ‘alat kejantanan’nya maju mundur, hingga membuat Sari mendesah dengan tanpa henti. Akibat gaya Iman yang agresif ini Sari tidak mampu menahan dirinya lebih dari 10 menit. Ia merasa seperti dilambungkan tinggi, sewaktu dicapainya puncak ‘orgasme’nya yang pertama.

    “Aduh Man, aduh, aku sayang kamu …. Aaah” Erangan panjang keluar dari bibir Sari.

    Baca JUga Cerita Sex Janda Muda

    Tapi Iman ternyata masih kuat. Diteruskannya gerakan maju- mundur dengan pinggulnya. Akibatnya sensasi nikmat Sari, yang tadi hampir mereda, mulai meningkat lagi. Lima belas menit atau dua puluh menit berlalu sampai terdengar lagi jeritan Sari.

    “Man … Pariman … Yang … Aku lagi … Yang … Aaah … Aaah” Sekali inipun Iman merasa sudah hampir tiba di ujung daya tahannya.
    “Sari … Sayang, saya hampir …. Boleh?” Dengan nafas tersengal-sengal Sari memintanya, …
    “Iya Man, lepas sekarang Man …” Segera Iman mendorong dengan hentakan- hentakan keras.
    “Sari … Sayang … Aaah” Begitu Iman menyemburkan ’sperma’nya ke dalam ‘vagina’ Sari, ujung kepala kemaluannya berdenyut-denyut.

    Akibatnya Sari kembali merasa kegelian yang nikmat.

    “Man aduh Man aduh …” Sari terkulai lemah.
    “Peluk aku dong Yang …” Disusupkannya kepalanya di ketiak Iman.

    Tangannya mengusap-usap dadanya yang berkeringat.

    “Kamu puas Man …?” Tanya Sari kepada Iman.
    “Puas Sayang, puas sekali” Dalam keheningan malam mereka berdua terbaring saling berpelukan, sampai Iman merasa tenaganya pulih.

    Sekali lagi ia minta dilayani. Walaupun Sari sudah merasa cukup, dipenuhinya kemauan pejantan mudanya itu. Dengan kagum dirasakannya bagaimana sekali lagi ia dipuaskan oleh birahi Iman. Akhirnya baru menjelang subuh Iman beranjak pergi untuk kembali ke kamarnya.

  • Bu Suti

    Bu Suti


    22 views

    Sudah tak terhitung berapa kali aku dan Bu Suti melakukan hubungan layaknya suami istri. Sudah lebih dari satu tahun, kita bercumbu dan saling memberi kepuasan. Dari Bu Suti, aku tahu bahwa suaminya sudah lebih dari 2 tahun tidak bisa memberinya kepuasaan. Akibat dari suaminya yang sudah tua dan sering pulang sore dengan keadaan yang lelah setelah bekerja sebagai kuli. Maka dari itu, diusianya yang sudah tua yang kini sudah 49 tahun ia masih begitu liar bersetubuh.

    cerita-sex-dewasa-bu-suti
    Seringkali Bu Suti memintaku supaya setiap kali ngentot, ia ingin di atas (WOT) dulu. Aku tak pernah menolak walaupun dengan posisi itu ia sering kelelahan dan orgasme. Tapi perlahan dan tanpa paksaan aku setubuhi ia dalam posisi berbaring miring, kadang telentang, kadang tengkurap, dan kadang kalau Bu Suti masih kuat ada sisa-sisa tenaga bisa bervariasi sampai ke dogystyle. Dan walaupun Bu Suti kelelahan ia selalu bersedia memberikan tubuhnya untuk aku nikmati sampai aku mencapai orgasme dan puas.

    Memang, aku kecewa karena setelah aku duduk di kelas 3 SMP hubungan ngentotku dengan Bu Suti menjadi sulit terealisasi. Sebab, sekolahku masuk pagi. Tak ayal, aku seringkali sakit kepala menahan birahi yang membuat pusing bukan kepalang. Namun, pada suatu hari ketika aku sudah di caturwulan 3 (maklum dulu masih caturwulan bukan semester) yaitu caturwulan terakhir keluargaku mendapat jatah liburan ke Pangandaran. Aku menolak ikut dengan alasan mau ikut pelatihan untuk persiapan ujian dan banyak tugas yang mesti dipenuhi sebagai syarat kelulusan.

    Akhirnya keluarga membolehkan aku tinggal di rumah. Aku pun menyarankan kepada ibuku, untuk urusan makan, biar Bu Suti yang menyiapkan untukku dan mengurusku selama keluarga berlibur. Ibuku setuju tanpa banyak bertanya ini itu. Sebab, nenekku yang biasa diandalkan jika keluarga bepergian kini ikut berlibur ke Pangandaran menggantikan jatahku. Sungguh senang hatiku. Artinya aku punya kesempatan untuk ngentot lagi dengan Bu Suti. Hari jumat pukul 7 malam keluargaku berangkat. Sambil bersantai di kursi dan nonton televisi, aku membayangkan ngentot dengan Bu Suti lagi. Teringat kembali kenangan-kenangan ngentotku yang liar bersamanya. Sungguh menjadi kenangan yang indah.

    Sekitar pukul setengah 8, Bu Suti masuk ke rumahku. Dag dig dug jantungku. Bingung memulainya tapi aku pun sudah kebelet ingin segera ngentot. “dek puji sama mama sudah dibuatkan makan malam?” tanyanya.

    “belum, bu. Mama gak sempet masak soalnya sedari siang mama ribet ngurus perlengkapan dan barang yang akan dibawa berlibur untuk keluarga.” jawabku.
    “oh yaudah, biar ibu yang masakin buat kamu. Tadi sebelum berangkat mama ke rumah ibu memberikan uang untuk keperluan kamu selama mama berlibur.”ujarnya penuh perhatian.
    “asik dimasakin Bu Suti. Bikin nasi goreng udang aja, bu. Itu di lemari es ada persediaan udang.” pintaku pada Bu Suti.
    “iya, boleh. Tapi tunggu bentar ya. Ibu mau ke rumah dulu ijin sama suami takut nyariin.” jawabnya sambil beranjak ke luar rumah ketika aku menganggukan kepala pertanda mengiayakan.

    Sambil menunggu Bu Suti, aku bersantai kembali di kursi sambil tiduran. Aku masih bingung, bagaimana caranya memulai persetubuhan yang sudah lebih dari 9 bulan tidak aku lakukan bersama Bu Suti. Semakin berpikir, semakin sakit kepalaku. Padahal birahiku sudah tak dapat aku bendung lagi. Tanpa menunggu lama, Bu Suti telah kembali. Dalam keadaan bingung, aku hanya bengong ketika Bu Suti melintas dihadapanku menuju dapur. Antara birahi dan kebingungan memulai akhirnya aku beranikan diri beranjak dari kursi menuju dapur.

    Tampak Bu Suti tengah menyiapkan bahan-bahan masakan. Akibat nafsu yang besar, tanpa banyak cakap aku peluk tubuh Bu Suti sambil mengesek-gesekan kontolku pada pantatnya yang bahenol. Sambil mencium dan menjilati lehernya, kedua telapak tanganku pun bergerilia pada kedua susunya yang kecil dan kendor. Susu 32B dengan puting sebesar kelingking itu selalu aku ingat.

    “sssshhh dek, ibu udah gak bisa begituan. ibu udah menopause sssshhhhhh.” ucapnya sambil mendesah pelan tanpa menghindari tindakanku yang penuh nafsu.
    “emang kenapa kalau menopause?” tanyaku polos sambil terus bergerilya di tubuhnya karena memang tidak tahu dan baru mendengar kata asing tersebut.
    “ibu udah gak menstruasi jadi memek ibu udah kering!” jawabnya sambil diselingi desah karena terbawa nafsu birahi. “oh itu, nanti pakai ludah aja, bu!” saranku sambil terus bergerilya.
    “gak bisa, ludah gampang kering. Memek ibu pasti perih kalau dimasukin kontol kamu” sergahnya masih disertai desahan pelan.

    Dengan kecewa, aku beranjak pergi dari dapur. Aku tak bisa memaksa Bu Suti untuk melakukan persetubuhan. Karena aku tidak mau menyakitinya. Ketika aku hendak duduk, aku melihat ada baby oil di dalam perlengkapan mandi adikku.

    Rupanya ibu lupa membawanya. Dengan secepat kilat, aku ambil dan segera menuju dapur.

    “bu, ada ini! Nah, kalau pakai ini pasti licin dan ibu gak akan merasa perih memeknya!” ucapku sambil menunjukan botol baby oil.

    Bu Suti mengangguk menandakan bahwa ia setuju dengan inginku. Maka, aku segera menghampirinya dan kembali bergerilya ditubuh Bu Suti yang sedang sibuk mengiris bahan masakan. Sampai akhirnya Bu Suti terbawa bernafsu kembali. Dengan secepat kilat ia membalikan badan dan langsung menyosor bibirku sambil tangannya meremas rambut serta kepalaku. Aku tak tinggal diam, aku balas ciumannya sampai lidah kami saling hisap, saling jilat, saling lilit dan bertukaran air liur.Cerita Sex Dewasa

    Sambil berciuman dan saling remas, aku tuntun tubuh Bu Suti menuju meja makan. Aku tarik kursi, aku dudukan ia. Terlihat mata Bu Suti begitu sayu karena terbakar nafsu birahi. Aku naikan daster hijau dengan belalahan dada rendah milik Bu Suti sampai ke perutnya. Aku Turunkan perlahan celana dalam berwarna hitam yang ia kenakan. Tampak bulu hitam memeknya. Segera aku arahkan kepalaku untuk melakukan jilatan dan hisapan pada liang memeknya sampai ke klitorisnya.

    Aku kenyot-kenyot itilnya. Terdengar desahan dan erangan saat lidahku dengan lincah menari-nari pada memeknya.

    “emmmmhhhh aaaahhhh ahhhhhhh ouuuuhhhhhh ssssshhhh.” desahnya membuat suasana menjadi semakin mesum.
    “bagaimana bu, masih enak?” tanyaku disela-sela kesibukan menjilat dan mengenyot-ngenyot memeknya.
    “aaaahhhhhhh ssshhhhh iiyyaaaa deeek eeeennaaakkk baangeeett!” jawabnya sambil meracau dengan erangan nikmat.

    Aku terus lakukan aktivitas lidahku di memeknya. Terlihat ia semakin bernafsu, wajahnya memerah, dan matanya semakin mengecil sehingga terlihat warna putih matanya saja sambil tangannya meremas-remas susunya sendiri. Maka, aku bantu ia menelanjangi dirinya sampai tak ada sehelai benangpun melekat pada tubuhnya. Setelah telanjang bulat, aku jilat dan kenyot- kenyot kedua susu kecilnya dengan penuh nafsu. Ia tampak begitu menikmati ulahku. Perlahan kepalaku mulai terbenam kembali pada memeknya.

    Aku jilat, aku hisap, aku kenyot liang memeknya sampai pada itilnya. Bu Suti tampak menggelinjang-gelinjang karena geli dan nikmat. Rupanya, menopause membuat dinding memeknya menjadi semakin tebal dan memang kering memeknya. Beruntung, ludahku cukup banyak sehingga memeknya menjadi basah.

    “oouuuuuhhhhhh ssshhhhhh deeekkk maaassssuuuukkkiiiiiiinnnn meeeemmmeeekkk uuddddaaaahhh gaaatttt eeeellll!” rintihnya disertai desahan penuh gairah.

    Aku menuruti kemauannya, aku tak mau menyiksanya dengan ulahku. Maka aku lebarkan kakinya. Tapi Bu Suti menolak. Ia meminta untuk duduk di atasku. Maka setelah membaluri kontolku dengan baby oil cukup banyak, Bu Suti mulai menurunkan pantatnya dan membimbing kontolku supaya bisa masuk ke dalam memeknya. Dengan perlahan dan hati-hati akhirnya kontolku terbenam dalam di memeknya.

    Bu Suti terdiam sejenak supaya kontolku bisa menyesuaikan diri dengan memeknya. Ketika kontolku sudah bisa beradaptasi, Bu Suti mulai menggoyang memutar serta menaik turunkan pantatnya. Terasa nikmat, kontolku bagai ada yang mengurut-urut. Membuat kami saling mendesah, mengerang, dan melenguh akibat nikmat yang tak terhingga.

    “ooooouuuuuhhhh aaaaaahhhhh aaaahhhhh sssssshhhhh eeeeemmmmhhhh.” desahnya sambil terus menggoyang dan menaik turunkan pantatnya pada pangkuanku.

    Tangan kananku, aku gunakan untuk memilin puting dan meremas-remas susunya secara bergantian. Sedang tangan kiriku yang sudah aku beri baby oil aku arahkan ke liang duburnya. Bu Suti tidak menolak ketika jari tangan kiriku menjamah liang duburnya.

    “eeeeeemmmmhhhh deeeekkkk ssssshhhhhh eeeennnaaaakkkk aaaaahhhhhhh.” desahnya merasakan sensasi dari kontol dan jari tengahku pada memek dan duburnya.

    Sampai akhirnya, Bu Suti melenguh cukup lama. Badannya meliuk-liuk dan bergetar. Sedangkan liang memeknya berkedut-kedut pertanda bahwa ia mencapai orgasme.

    “auuuuuuhhhhh oooooouuuuuwwwww ssssssshhhh keeeelllluuuaaaaarrrr!” lenguhnya cukup panjang sambil sesekali menghentak- hentakan pinggulnya.

    Bu Suti menikmati sisa-sisa orgasmenya sambil melingkarkan tangannya pada pundakku. Dengan posisi demikian, bau keringat penuh birahinya menusuk hidungku. Sungguh baunya membuatku mabuk kepayang. Setelah nafas ngos-ngosan Bu Suti agak mereda, aku bimbing ia menuju tempat cucian piring. Aku arahkan tangannya supaya bertumpu pada pinggir bak cuci. Aku kangkangkan kakinya. Dan setelah menambah baby oil pada kontolku, aku mulai masukan kontolku pada liang memeknya. Dengan perlahan aku mulai maju mundurkan kontolku pada liang memeknya yang setengah menungging.

    “aaaahhhhh oooouuuuuuhhhh ssssshhhhh heeeemmmmmm.” desahnya kembali membahana. Aku menggoyang-goyangkan pinggul dan mengocok dengan memaju mundurkan kontolku dengan cepat.

    Jari tengah tangan kiriku yang basah oleh baby oil mulai aku arahkan kembali menuju duburnya. Perlahan-lahan mulai aku tusukkan jari tengahku pada duburnya.

    “emmmmmhhhhh sssshhhhh deeeeekkkk eeemmmhhhhh peeeerrrriiiihhhh.” erangnya yang bercampur dengan desahan.

    Aku diamkan jari tengahku yang sudah masuk setengah di dalam liang duburnya. Dengan tangan kanan aku raih botol baby oil dan kemudian mengucurkannya pada duburnya. Perlahan, jari tengahku mulai sedikit mudah masuk lebih dalam. Tersentuh daging-daging kenyal di dalam liang duburnya. Sungguh nikmat sekali. Bu Suti semakin mendesah serta mengerang- erang mendapat perlakuan jari tengah tangan kiriku pada liang duburnya dan kontolku yang semakin lincah pada liang memeknya karena cairan baby oil yang mengucur dari duburnya. Sampai akhirnya, aku sudah tak tahan lagi menahan geli serta gatal pada kepala kontolku. Dengan gerakan cepat aku kocok memeknya dengan kontolku.Cerita Sex Dewasa

    “bbuuuuuu aku keluaaaarrr aaaahhh!” lenguhanku yang disambut lenguhan panjang Bu Suti yang mencapai orgasmenya lagi. “ooouuuuuuuuhhhh ssssshhhh aaaaahhh iibbbuuuu juugggaaaaa heeeemmmm aaaaaaahhhh eeennnaaaakkkk!” lenguhnya panjang.

    Setelah usai bersetubuh, aku dan Bu Suti sama- sama masuk kamar mandi membersihkan diri. Kemudian aku beranjak menuju kursi tempatku menonton televisi. Hampir 15 menit, nasi goreng udang pesananku selesai dibuatkan oleh Bu Suti. Ketika aku hendak makan di meja makan, aku ajak Bu Suti makan bersama. Tetapi Bu Suti menolak karena sebelumnya sudah makan di rumah bersama suami dan kedua cucunya. Maka Bu Suti memilih pamit pulang. Aku mengangguk mengiyakan sambil memberikan kecupan pada bibir dan keningnya.

    Tak lupa aku ucapkan banyak terima kasih atas segala pelayanannya. Bu Suti berjanji akan kembali besok pagi-pagi sekali. Namun aku katakan padanya jangan terlalu pagi sebab, besok hari sabtu sekolahku libur untuk siswa kelas 3 untuk mempersiapkan diri ikut pra ujian. Setelah mendapat informasi demikian ia pun mengerti dan mohon diri. Ketika berjalan ke luar dapur untuk pulang, aku lihat Bu Suti berjalan agak gemetar. Mungkin ia lemas setelah dua kali mendapat orgasme.

    Besoknya, aku bangun agak siang. Sekitar pukul 8 pagi. Aku segera membuka kunci rumah kemudian beranjak mandi. Selesai mandi, ketika aku ke luar kamar mandi tampak Bu Suti tengah membuatkanku sarapan. Dengan perasaan riang, aku sibak rambut sepunggung Bu Suti kemudian aku ciumi tengkuk dan pundaknya. Bu Suti tersenyum ketika membalikan badannya. Aku sosor bibirnya dan kami pun berciuman dengan saling rangkul dan peluk.

    “emhhhh sudah pakai baju dulu. Sarapan dulu.” ujarnya sambil tersenyum penuh perhatian.
    “yah ibu, aku pengen nih bu!” jawabku sambil meremas-remas susu kecil yang sudah kendor miliknya.
    “yaudah deh, mumpung lagi sepi. Jangan lupa baby oilnya.” ujarnya.

    Dengan masih berbalut handuk aku mengambil baby oil dan menunjukan padanya. Bu Suti tersenyum penuh arti. Maka aku tuntun tangannya meninggalkan dapur menuju kamar tidurku. Di dalam kamar, aku mulai serang bibirnya. Kami pun berciuman dengan liar. Em nikmatnya. Tanganku mulai membuka kancing daster warna putih yang di kenakan Bu Suti. Sampai akhirnya daster putih itu kandas dari tubuhnya sehingga terlihat kutang cream dan celana dalam berwarna merah yang dikenakannya.

    ” wow, ibu seksi sekali!” bisikku memujinya.

    Ia tersenyum membalas ucapanku. Kami kembali berciuman dengan penuh birahi. Lidah kami kembali saling lilit, saling jilat, saling hisap dan saling menukar air liur. emm sungguh nikmat rasanya. Aku buka kutang creamnya dan mulai meremas serta memilin puting susunya yang sebesar kelingking. Sedangkan tanganku yang lain meremas-remas pantat bahenolnya dengan gemas. Bu Suti melepaskan ciumannya dan mendesah-desah seperti orang makan sambal. Sungguh menggairahkan sekali. Sehingga, mulutku yang menganggur aku gunakan untuk menjilat susu dan mengenyot puting susunya yang menggairahkan. Tanganku mulai aku mainkan menggosok memeknya yang masih dibalut celana dalam merahnya.

    “aaaaahhhh ssssshhhhh heeeemmmmm.” desahnya membuat suasana semakin panas.

    Aku buka handukku sedangkan ia membuka celana dalam merahnya sehingga kami sama- sama bugil. Aku rebahkan badanku di kasur. Aku bimbing Bu Suti untuk melakukan 69. Awalnya ia tidak mengerti namun setelah aku jelaskan ia pun paham dan mulai naik di atasku dengan memeknya yang sudah berada tepat di wajahku. Dengan rakus aku lahap memeknya, aku sedot- sedot itilnya. Bu Suti pun tak hanya mengocok kontolku dengan tangannya tapi ia mulai mengulum kontolku pada mulutnya.

    BAca JUga Cerita Sex Cinta

    Sungguh sensasi 69 yang aku lihat di film bokef emang mantap. Nikmat rasanya. Aku semakin liar melakukan kenyotan, jilatan serta hisapan pada seluruh permukaan memek, liang memek, dan itilnya. Begitupun Bu Suti yang mengulum lebih bervariasi dengan menjilat dan mengenyot kepala dan batang kontolku. Kontolku ia jilat dan hisap dari kepala sampai ke biji pelerku. Rasanya sungguh luar biasa, walaupun ketika kepala Bu Suti naik turun saat mengulum kontolku masih sering kena gigi yang mengakibatkan rasa ngilu pada kontolku. Memang, selama berhubungan dengan Bu Suti bisa di hitung berapa kali ia mengoral kontolku. Sebab, kerapkali Bu Suti gatel memeknya dan memintaku segera memasukan kontol pada memeknya.

    “emmmmhhhh sssshhhhh aaaaahhhh maaaassssuuukkkiiiiinnn deeeeekkk!” pintanya sambil mendesah yang terdegar begitu sensual.

    Aku pun meminta supaya aku di atasnya. Ia pun setuju dan mulai berbaring telentang membuka kakinya lebar-lebar supaya aku lebih leluasa memasukan kontolku. Setelah memberi pelumas (baby oil) yang cukup banyak pada kontolku dengan perlahan aku masukan kontolku pada liang memeknya. Secara perlahan kontolku mulai masuk melewati gerbang memeknya, perlahan lebih dalam dan lebih dalam lagi. Aku memaju mundurkan kontolku denga perlahan. plok plok plok, suara yang khas itu menggema di ruang kamarku. Aku remas-remas susu kecil nan kendor itu secara bergantian. Aku pun memilin dengan gemas puting sebesar kelingking yang bergelayutan.

    Bu Suti yang sudah sangat birahi kemudian menarik kepalaku dan mencium bibirku. kami pun saling pagut, saling jilat, saling hisap, saling kenyot. Liur kami saling bertukar. Mulutnya sesekali menganga saat sedang berciuman untuk mengeluarkan desah atau erangan. Semakin lama, kocokan kontolku semakin kencang dan cepat. Sampai akhirnya badan Bu Suti melengkung-lengkung. Erangan dan desahannya semakin menggema dan panjang. Badannya bergetar dengan wajah memerah. Memeknya berkedut-kedut.

    “aaaaaaahhhhhh ssssshhhhhhhhhh.” lenguhnya ketika mendapat orgasme.

    Aku hentikan gerakanku. Aku sedot kuat-kuat susunya yang kendor sambil lidahku menjepit kuat-kuat puting susunya di mulutku. Bu Suti mencengkram kepalaku begitu kuat dengan kedua tangannya merasakan orgasmenya yang dahsyat. Ketika orgamsenya mereda, aku pinta Bu Suti untuk posisi dogystyle. Ia menuruti kemauanku sambil mengambil posisi nungging di atas kasurku. Aku mulai mengucurkan baby oil pada duburnya. Dengan perlahan dan hati-hati aku mulai tusuk liang duburnya dengan jari tengahku. Bu Suti mengerang mungkin terasa pedas di liang duburnya. Namun ia tidak berontak dan mencegah perbuatanku.

    Sampai akhirnya jari tengahku amblas semuanya di liang duburnya. Perlahan aku kembali mengucurkan baby oil pada duburnya. Setelah baby oil itu cukup banyak, aku mulai masukan jari telunjukku berbarengan dengan jari tengahku. Bu Suti kembali mengerang. Dengan perlahan aku kocok pelan supaya tidak terlalu terasa pedih. Bu Suti mengerang dan mendesah ketika kedua jariku mengocok-ngocok liang duburnya. Liang duburnya kini telah menyesuaikan diri dengan kedua jariku.

    Aku lumasi kontolku dengan baby oil cukup banyak dan mulai mengarahkannya pada liang duburnya. Tampak Bu Suti kaget ketika kepala kontolku telah masuk secara perlahan pada liang duburnya. Namun, dengan gerakanku yang perlahan ia mulai lebih santai. Sedikit demi sedikit kontolku semakin dalam memasuki liang duburnya. Kontolku merasakan sensasi luar biasa nikmat. Kontolku tercengkram kuat otot duburnya.Cerita Sex Dewasa

    Aku mulai melenguh merasakan kenikmatan yang baru. Rasanya nikmat sekali walau memang agak sakit sedikit sebab, kontolku seperti terjepit di dalam duburnya. Perlahan-lahan liang duburnya telah beradaptasi dan mulai menerima kehadiran kontolku. Maka dengan menambahkan lagi baby oil membuat aku menjadi lebih leluasa memaju mundurkan kontolku.

    Memang fantasy untuk ngentot dubur muncul ketika aku dan kawan-kawan sekolahku menonton bokef yang memasukan kontol secara bergantian pada memek dan dubur. Akibat tontonan itu, muncul keinginan untuk mencobanya. Sampai akhirnya dapat terealisasikan. Dan memang luar biasa sensasinya. Kini kocokan dalam duburnya aku naikan temponya dengan lebih cepat. Desah dan erangan Bu Suti sambil menahan perih terdengar menggema di seluruh ruangan kamarku.

    “aaaaahhhhhh sssshhhhhh aaaauuuuuuwwwww sssshhhhhh.” desah dan erangan Bu Suti merasakan sensasi baru yang aku berikan.

    Cukup lama aku mengentot duburnya, Bu Suti tiba-tiba mengejang-ngejang sambil melenguh panjang. Aku baru tahu kalau dengan cara mengentot liang dubur pun ternyata dapat membuat orgasme. Duburnya ikut berkedut-kedut dan mencengkram kuat-kuat kontolku. Sehingga aku pun merasakan sensasi gatal dan geli menggelitik kontolku. Hingga aku kembali mempercepat gerakanku untuk memburu orgasme.

    “ooooouuuuuwwwwwhhhh aaaaaaaaaahhhhh sssshhhhhhhhhh.” lenguhan Bu Suti yang dilanda orgasme.
    “aaaaaaaahhhhhhh ooooouuuuhhhhh!” lenguhanku sambil memuncratkan sperma sebanyak-banyaknya dalam dubur Bu Suti.

    Usai sperma terkuras habis, aku cabut perlahan kontolku ke luar dari duburnya. Terlihat cairan spermaku mengalir dari liang duburnya begitu banyaknya. Aku merasakan badanku cukup lemas sehingga aku baringkan tubuhku di samping Bu Suti. Kemudian ia berbalik badan mengarahku. Seperti yang pernah ia lakukan dahulu, ia menciumi pipi dan wajahku. Aku tersenyum dan balas mengecup bibirnya sambil merasakan pegal dan agak ngilu di kontolku akibat ngentot duburnya. Tiba-tiba, telephone rumahku berdering. Aku segera bangkit untuk mengangkat telephone. Rupanya temanku Dendy yang telphone. Ia menelphone sebab, aku tidak masuk sekolah. Sungguh perhatian sekali kawan dekatku ini.

    Ketika asik berbincang di telphone dengan kawanku, Bu Suti kemudian ke luar dari kamar. Ketika melintas di belakangku, ia berbisik, “pinjam handuknya ya dek, ibu mau mandi dulu. Ini sprei kasurnya basah biar ibu cuciin sekalian.

    ” Aku menggangguk mengiyakan. Bu Suti kemudian berlalu meninggalkanku yang masih asik berbincang dengan kawanku.

    Setelah menutup telphone, aku segera ke kamar mandi. Pintunya tidak di kunci oleh Bu Suti. Segera aku buka dan masuk. Bu Suti sedang menyabuni tubuhnya. Seksi sekali.

    “bu, nanti kawanku Dendy akan menginap di sini.” ujarku memberitahukan pada Bu Suti.
    “oh iya, gampang nanti ibu masakin buat kalian berdua.” jawabnya santai sambil menggosok- gosok badannya.
    “kayaknya enak bu jika begituan bertiga.” kataku sambil nyengir.Cerita Sex Dewasa
    “ah kamu, aneh-aneh aja. Begituan sama kamu aja ibu udah kewalahan apalagi ditambah satu lagi.” jawabnya sambil ikut-ikutan nyengir.
    “ya kita coba aja ya bu. Kalau gak malam ini, mungkin besok pagi!” pintaku dengan sungguh- sungguh.
    “gimana nanti ajak dek. Jika ibu udah gak lemes.” jawabnya sambil geleng-geleng kepala.

    Senangnya hatiku walaupun belum mendapat kepastian dari Bu Suti. Setelah mencuci tangan dan kelamin, aku segera ke luar kamar mandi untuk sarapan. Perut lumayan keroncongan setelah melakukan kegiatan mengentot yang banyak makan energi.