TOKET

  • Cerita Panas Perkosa Ibu Tiri Yang Kejam

    Cerita Panas Perkosa Ibu Tiri Yang Kejam


    7177 views

    Cerita Panas Perkosa Ibu Tiri Yang Kejam

    Perkenalkan Nama ku Nando, Hari Minggu ini sebenarnya aku sedikit malas dgn permintaan ayahku agar aku mengantar Bu Titis (ibu tiriku), Ia adalah istri ke-3 ayahku. Karena Bu Titis orangnya sangat judes, galak, pelit dan sombong, aku sangat-sangat membencinya. Ia sebenarnya cantik dan seksi namun apa kata aku tak menyukainya karena dialah penyebab terjadinya perceraian antara ibu dan ayah kandungku.

    Bu Titis, Sebenarnya lebih tepat menjadi kakak ku, karena umurnya hanya tiga tahun lebih tua dari aku yg kini berumur 23 Tahun dan dia tdk begitu akrab dgn aku hanya saja aku menyaygi ayahku, aku menerima dia di rumah ayahku sebagai istri ke 3 ayahku. Sebenarnya rumahnya tdk terlalu jauh dari tempat tinggal kami. Setelah mengantarnya sampai dirumah Bu Titis, ternyata di rumah bu Titis yg lama tampak sepi, aku nyelonong aja masuk dan duduk di ruang tamu yg berdekatan dgn kamar ibu tiriku itu.

    Sekitar setengah jam aku menunggu, Bu Titis keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju kamarnya, dia hanya berbalut handuk yg dililitkan ditubuhnya. Sehingga aku sekilas dapat melihat paha mulus Ibu Tiriku yg aduhai itu. Keadaan itu membuatku berniat menyetubuhinya. Sebagai pria normal dan sdh biasa bersetubuh dgn wanita, nafsu birahi ku bergejolak disuguhi pemandangan seperti itu. Tanpa berpikir panjang, perlahan aku mengikuti langkah ibu tiriku masuk ke kamar.

    Bu Titis yg sedang berdiri sambil melepaskan handuk yg melilit ditubuhnya sama sekali tak menygka kehadiranku yg ikut masuk ke kamarnya. Bu Titis sangat terkejut saat aku mulai mendekap dgn kuat tubuhnya sambil menciumi lehernya dari belakang. Bu Titis berteriak keras, tetapi dgn cekatan tangan ku yg kuat membungkam mulutnya.

    Aku mendorong tubuhnya keranjang hingga terjatuh dan terlentang lalu menindihnya. Bu Titis mencoba memberontak tp sia-sia, aku terlalu kuat baginya. Dgn mudah aku meringkusnya. Aku menyumpal mulutnya dgn tanganku utk beberapa saat. Aku menelikung kedua tangannya kebelakang dan menahan dgn kuat kedua kaki nya. Memaksanya agar lebih menikmati permainan yg baru akan di mulai.

    Bu Titis mulai putus asa dan memohan agar tdk dipaksa melayani nafsuku. Aku tahu kalau dia sdh kehabisan tenaga, dgn santai aku mulai menciumi dan menjilat toketnya nya, secara bergantian. Bentuk tubuhnya berbeda dgn cewek-cewek yg pernah ku tiduri. Lebih sintal dgn ukuran dada yg pas di genggaman tanganku.

    Lumayan lama aku menjilati toket ibu tiriku itu, dan kini wajah ku merangkaki perutnya dgn mulut yg terus menjilati bagian tubuhnya. Tanganku meraba-raba selangkangan dan mencucuk-cucuk lubang memeknya yg menggunduk dan tampak montok. Sesaat kemudian aku memindahkan jilatanku keselangkangannya.

    “Ooooohhhhh… Jangan Do, Tolong hentikan” pintanya

    Aku tdk memperdulikanya ocehan si berengsek itu, Kedua tangannya ku buka lebar-lebar dan kembali ku hisap toketnya dan ku gigit gigit putingnya.

    “Jangan Nando, Ampun.. tolong hentikan..” Pintanya sambil menangis

    Desahan dan permohonan kembali terjadi ketika ku lumat seluruh toketnya sebelah kanan dan ku masukan hingga hampir seluruh mulutku. Ia mulai kehabisan akal utk melarangku dan kini dia hanya bisa pasrah dan menangis.

    “Nikmat bukan..?” Tanya ku Nakal sambil tersenyum

    Bu Titis hanya terdiam dan menangis, ia kini mulai terangsang dan mendesis-desis, saat lidah ku menyapu setiap puting toketnya dan turun ke selangkangannya. Setiap jilatanku begitu dahsyat melebihi ayahku. Kini lidahku ku arahkan ke bibir memeknya dan ku gigit tonjolan klitorisnya.

    “Ugggghhhhhh, Sakit Nando..” desahan bu Titis dgn lantang

    Tak ku hentikan sampai disitu, ku sedot klitorisnya perlahan-lahan sambil memainkan lidahku ke bibir memeknya. Tampak sekilas wajah bu Titis menikmati alur permainanku yg semakin lama semakin hot. Ku hentikan sejenak permainanku dan ku beranjak meninggalkan kamarnya. Aku segera ke dapur mencari air utk mengkonsumsi obat kuat yg telah ku beli jauh-jauh hari di toko online.

    Setelah menelan obat kuat, aku kembali ke kamar. Ternyata kamar bu Titis telah di kunci dari dlm, Dgn marah ku gedor-gedor pintunya. Tanpa memberikan waktu utknya berfikir meloloskan diri dariku, segera ku dobrak dgn seluruh tenaga. Tak beberapa lama kemudian pintu pun terbuka.

    Aku sempat gugup ketika melihat bu Titis sedang memegang hp nya dan mencari beberapa nomer yg akan di hubungi, ku dekatinya dgn perlahan sambil menanggalkan pakaianku. Aku tersenyum padana, tampak mukanya semakin ketakutan melihat k0ntolku yg sdh mengeras. Tanpa ku suruh, ia pun mulai melepaskan genggaman HPnya dan mulai mundur ke dinding.

    “Kenapa sayang..? Mau lapor papa..?? Silahkan” kataku sambil mendekatinya.

    Dia hanya menggelengkan kepalanya, Aku segera mendekatnya dan langsung memeluknya sambil menciumi bibirnya. Ia menolak ciuman ku namun ku pegang erat pipinya dan mencekiknya.

    “Jangan sakitin aku Do..” Pintanya dgn nafas tersenggal-senggal

    Aku mulai mengurangi cekikanku dan ku ciumi lagi bibirnya. Ciuman ku berikut ini di terima dgn pasrah sambil tetap berdiri. Ciumanku kulai turun ke lehernya, toketnya dan kini sampai di memeknya. Ku angkat kaki kirinya ke atas tempat tidur dan ia hanya mengikuti gaya yg ku inginkan. Memeknya tampak terbuka dan tanpa panjang lebar ku sodorkan lidahku ke liang memeknya.

    “Oooohhhhhhh…..!!” Desahannya dgn mata sedikit terpejam dan memegang kepalaku.

    Ku sedot dan ku jilati seluruh bagian memeknya yg merah merekah dan berbulu tipis itu. Perlahan Bu Titis merasakan lubang memeknya mulai basah dgn air kenimatanya. Aku yg tahu kalau Bu Titis sdh terangsang, semakin bersemangat menjilati dan menyedot-nyedot klitorisnya.

    Nafas Bu Titis ngos-ngosan menahan nafsu birahinya. Aku sangat lihai merangsang Bu Titis. Membuat suasana menjadi berbalik. Kini Bu Titis sdh tak sabar lagi menunggu ku utk segera meneroboskan k0ntolku ke liang memeknya.

    Beberapa saat kemudian aku menyudahi jilatanku pada memeknya. Aku mulai merebahkannya di kasur dgn kakinya yg masih menyentuh lantai. Tampaknya Bu Titis sdh tak sabar lagi meraih dan mengocok-ngocok k0ntol ku, kemudian Bu Titis mengarahkan k0ntol ku ke lubang memeknya.

    “Eiiittttzzzzzz… jangan terburu-buru sayang” pintaku sambil mulai mendekatkan k0ntolku ke mulutnya.

    Ku sodorkan k0ntolku dan ia mulai mengulumnya perlahan-lahan. Ku sentakkan k0ntolku hingga ke tenggorokannya dan tampak bu Titis kehabisan nafas. Aku tak menghiraukannya, ku tekan dlm-dlm k0ntolku dan kutahan.

    “mmmmppphhhhh…” Terdengar suaraisan keluar dari mulutnya.

    Aku semakin bersemangat utk mengulanginya lagi. Ku ulang beberapa kali gaya tersebut dan OOOOHHHHHHH.. seMburan spermaku tepat masuk ke tenggorokannya. Ia berusaha melepaskan k0ntolku dari mulutnya namun semua itu sia-sia, aku semakin menekannya dlm-dlm dan tiga kali semburan membuatnya harus menelan spermaku nikmat itu.

    Ku lepaskan perlahan-lahan k0ntolku dari mulutnya dan kini ku dekatkan k0ntolku ke bagian belahan dadanya dan ku goyangkan maju mundur. K0ntolku masih menegang akibat obat kuat yg ku konsumsi. Ku remas kedua buah dadanya yg masih ranum itu dan kutempelkan kuat-kuat ke k0ntolku seraya mengoyangkan k0ntolku maju dan mundur.

    “Cukup Nando, Jangan kasar dong. Please” Pintanya sambil menahan perih di bagian toketnya.

    Aku berhenti sejenak dan mengulanginya lagi. Setelah puas memainkan Tits Job tersebut, aku mulai mengarahkan k0ntolku ke memeknya yg sedari tadi basah. Ku tekan kepala k0ntolku perlahan-lahan sampai bagian kepala k0ntolku mulai terbenam sebagian dan CLUPPPZZZ, kutekan kuat-kuat hingga seluruh k0ntolku masuk kelubang memeknya..

    “OOOHHHHHHH…!!!!” Rintihan ibu tiriku seraya memegang kedua pergelangan tanganku.

    Sejenak ku biarkan k0ntolku terbenam sambil kuarahkan bibirku ke bagian lehernya dan menjilati lekuk lehernya yg berkeringa itu. Hampir 30 detik kudiamkan k0ntolku di lubangnya dan kini mulai kusentak dan ku pompa memeknya dgn irama yg semakin tinggi. Kedua tangan bu Titis memegang dan menjambak perlahan-lahan rambutku. Lidahnya mulai nakal menelusuri leherku seperti tak mau kalah dgn permainanku.

    Desis dan desahannya semakin menjadi-jadi. Aku pun terus mencium lehernya dan sesekali mengarahkan lidahku ke arah telinganya dgn desahan-desahan yg membuatnya semakin merinding dan bertambah nafsu. Genjotan k0ntolku masih semakin menjadi-jadi. Tak ku beri dia kesempatan utk beristirahat, kini tanganku mengarah ke bukit kembarnya seraya meremasnya dgn begitu nafsu.

    “Oooohhhhh.. Pelan Nando, Aaaahhhhhhh, aaahhhhhh, pelan dong” desahnya dgn nada terengah-engah sambil memejamkan mata.

    Hampir 1 jam bermain dgn gaya ini dan kini ku mulai hampir mencapai orgasme. Sodokanku mulai kupercepat dan tangan bu Titis mulai memelukku dgn erat. Tak habis akal utk mempermainkannya, kali ini ku gigit bagian Kuping tepat di lubang antingnya.

    “Oooohhhhhhh…” Desisnya

    Ku arahkan lidahku keleher dan kugigit lagi lehernya, kali ini dgn sedikit bejat dan kuat. Sodokanku masih sekuat tadi, dan bu Titis hanya bisa mendesah dan terus mendesah. Saat tubuhku mulai menegang, ia pun berusaha melepaskan k0ntolku dari memeknya tp ku tak beri dia kesempatan utk melakukan itu dan

    CROOOOOOTTTTTTTT…CROOOOOOTTTT…CROOOOOTTTT..

    Tumpahan spermaku di liang memeknya membuatnya melototin aku tanda tak terima dgn perilakuku. Aku benamkan k0ntolku utk beberapa saat dan ku genjot lagi, kali ini dgn irama yg membuatnya kalang kabut nikmat bukan kepalang. 5 Menit ku genjot dan AHHHHHHHHHH…..UUUFFFFTTT…!! Desahan mautnya pun keluar dari mulut seksinya tanda dia telah mencapai surga dunia orgasmenya.

    Segera ku tarik keluar k0ntolku dan menunggu cairan spermaku menetes keluar dari lubang memeknya dan mulai ku oleskan cairan sperma yg menetes ke k0ntolku. Aku melihat ia mulai lemas tak berdaya. Ku pegang rambutnya da kutarik kepalanya mengarah kek0ntolku dan ku paksa dia mengoral k0ntolku. Ia tak bisa menolak keinginanku, dgn tubuh lemas ia melakukan oral dgn baik dan masih penuh nafsu. Ia tak menygka ketika ia ku suruh berbalik membelakangiku dan Kusentakan k0ntolku tepat keliang anusnya…

    “Oooohhhhhh.. Jangan disitu Nando, Sakit…!!” Jeritnya sambil melirik ke belakang menatap ku.

    Dgn nafsunya ku tekan kuat-kuat ke lubang anusnya dan memompanya. Sempit banget anus ibu tiriku ini. Ia gak bisa menolaknya dan hanya menerima ujaman k0ntolku di lubang anusnya. Ia merasa sakit yg sangat namun hanya bisa memohon dan menangis. 10 menit melakukan anal seks yg dahsyat denganya dan akhirnya

    CREEETTTT..CREETTTTT Spermaku mulai keluar tak terelakkan masuk ke anusnya. Ku diamkan beberapa saat dan kulepas k0ntolku dari lubang anusnya.

    Ku balikan badannya dan kususruh dia mengoral lagi k0ntolku utk yg terakhir. Setelah selesai mengulum k0ntolku, aku menuju kamar mandi. Dia hanya menangis terseduh2 dan ku ancam kalau sampai bokap ku tau apa yg kulakukan denganya, maka aku tak segan-segan membunuhnya.

    Kejadian ini sering terulang kembali saat rumahku sepi dan lenggang. Aku melakukannya selalu dgn memaksanya melakukan hal-hal yg belum diketahui dan dgn cara dipaksa. Ia sekarang malah senang dgn perlakuanku itu dan sering memintaku utk menyiksanya sebelum di Ngentot.

  • Cerita Panas Perkosa Wanita Berkerudung

    Cerita Panas Perkosa Wanita Berkerudung


    1106 views

    Cerita Panas Perkosa Wanita Berkerudung

    Aku seorang lelaki beristri. Tetapi, kejadian spontan telah membuatku menjadi orang yg terobsesi pada sex dengan kekerasan. Tepatnya, aku kini jadi pemerkosa. Spesialisasiku, memperkosa perempuan berjilbab.

    Siang itu, aku berhenti di depan sebuah warung kecil. Mau beli Djarum Super. Baru sekali ini aku ke warung ini. Seperti aku bilang tadi, aku mau beli Djarum Super. Rokok biasanya dipajang di bagian depan warung. Saat itulah kulihat seorang perempuan tengah nungging membelakangiku. Kelihatannya ia sedang menata barang dagangan.

    Kalian pasti membayangkan aku melihat paha yg tersingkap di balik rok. Jangan keliru dulu. Yg kulihat justru perempuan dengan busana serba tertutup. Ia pakai gamis panjang sampai mata kaki. Tetapi justru itu menariknya. Perempuan ini memakai gamis dari bahan halus berwarna biru muda. Kelihatan juga ia berjilbab biru tua. Jilbabnya panjang. Ujungnya sampai ke pinggulnya. Pada posisi menungging gitu, bagian muka jilbabnya jatuh sampai ke lantai. Dari celah jilbab di bawah lengannya terlihat tonjolan teteknya lumayan gede juga.

    yg pertama menarik perhatianku justru bokongnya. Dari belakang terlihat bundar. Di bundaran itulah terlihat cetakan garis celana dalamnya. Entah mengapa aku jadi tertarik mengamati terus gerakan bokong perempuan itu. Sekitar lima menitan aku pandangi bokong itu. Yg terlihat di mataku kini bercampur dengan imajinasi bokong telanjang. Tambah parah lagi karena sekali perempuan itu menggaruk pantatnya tanpa sadar ada yg mengawasi. Tanganku rasanya gatal, ingin mengelus dan meremas pantat bundar itu. Akhirnya, perempuan itu menyadari kehadiranku. Ia menoleh ke belakang dan terkejut.

    “Eh… mau beli apa pak ?” katanya di tengah keterkejutannya.

    Aku lebih terkejut lagi. Ternyata, perempuan ini sangat cantik. Usianya memang tak muda lagi. Mungkin sudah sekitar 30 tahunan. Tapi wajahnya itu lho yg bikin aku nggak bosan memandangnya. Putih, amat putih malah, bersih dan lembut…..Aku berlagak mencari-cari barang sambil terus menerus mencuri kesempatan memandang wajahnya. Sesekali kuajak ngobrol dia. Suaranya juga lembut, selembut wajahnya. Pikiranku mulai ngeres. Membayangkan rintihannya ketika memeknya ditembus k0ntolku.

    Dari ngobrol itulah kutahu bahwa dia seorang ibu dengan tiga anak. Yg paling besar baru kelas 5 SD. Kaget juga aku waktu tahu dia sudah punya 3 anak. Menurutku, dia bahkan pantas jadi mahasiswi semester I. Suaminya kerja dan baru pulang sore. Anak-anaknya sedang sekolah.

    “Jadi sendirian nih, Mbak ?” komentarku, keceplosan saking excitednya.
    “Iya, Pak. Sebentar lagi anak-anak juga pulang,” jawabnya tanpa curiga.

    Aku masih asyik dengan bayangan tubuh telanjangnya ketika ide jahat melintas begitu saja. Itu terjadi ketika kulihat sebilah pisau dagangan yg dipajang. Cepat sekali itu terjadi. Aku asal saja mengambil barang-barang dan kutaruh di meja kasir di hadapannya.

    “Aduh, Mbak… saya kok kebelet pipis. Bisa numpang ke belakang nggak ?” kataku, mulai menjalankan rencana jahatku.
    “Eh… gimana ya….?” katanya ragu. Aku tahu ia ragu, karena ia sendirian di rumah.
    “Gimana nih…. udah nggak tahan, Mbak,” kataku sambil demonstratif meremas selangkanganku di hadapannya.

    Kulihat wajahnya memerah.

    “Eh…. tapi tunggu sebentar ya… kamar mandinya berantakan. Saya rapikan sebentar,” sahutnya sambil bergegas ke dalam.

    Aku langsung menutup pintu warung dan menguncinya. Lalu, kuambil pisau dan menyusul perempuan tadi. Sekilas kulihat ia keluar dari kamar mandi dan menaruh BH ke mesin cuci.

    “Gimana ? Dah nggak tahan nih,” kataku lagi sambil meremas selangkanganku dan melangkah ke arahnya.

    Ibu muda itu kelihatan jengah karena melihatku ada di dalam rumah. “Eh… sudah, silakan,” katanya dengan wajah menunduk.

    Karena menunduk itu, ia kaget betul waktu aku berhenti di depannya. Ia mengangkat wajahnya dan seketika terlihat pucat waktu kuacungkan pisau ke arah perutnya.

    “Angkat tangan dan jangan melawan !” kataku setengah berbisik.

    Ia tampak ketakutan betul. Tangannya segera terangkat. Kusuruh ia berbalik menghadap tembok. Kedua tangannya kemudian kuturunkan dan kuikat dengan BH yg kuambil dari mesin cuci. Lalu, kuputar tubuhnya hingga menghadapku.

    “Jangan… tolong, jangan apa-apakan saya…” katanya dengan suara gemetar.
    “Jangan takut, saya cuma mau senang-senang sedikit,” kataku sambil menjulurkan tangan ke dada kanannya yg tertutup jilbab lebar.

    Ibu muda ini memekik kecil. Wow… teteknya terasa kenyal dan mantap.

    “Kamu nggak pake BH ya ?” kataku sambil mencubit putingnya dari luar jilbab. Ia terus menggeliat-geliat.
    “Siapa namamu ?” kataku sambil memencet putingnya agak keras.
    “Aduh…. aduh… Anisa… aduh, jangan keras-keras….” ia merintih-rintih.

    Kulepaskan jepitanku pada putingnya. Tetapi kini tanganku mulai merayap ke perutnya yg ramping. Terus turun ke pusarnya dan akhirnya berhenti di selangkangannya. Kuremas-remas gundukan memeknya.

    “Ohhh… jangan… jangan….” Anisa menggeliat-geliat.
    “Jangan takut Mbak… saya cuma mau main-main sebentar…” kataku lalu berlutut di hadapannya.

    Tanganku kemudian masuk ke balik gamisnya. Menyusuri kulit tungkainya yg mulus. Lalu perlahan kutarik turun celana dalamnya. Perempuan itu mulai terisak. Apalagi, kini kupaksa kedua kakinya merenggang. Kuangkat bagian bawah gamisnya sampai ke pinggang. Wow… indah sekali. Memeknya mulus tanpa rambut. Gemuk dan celahnya terlihat rapat. Tak sabar kuciumi memek cantik itu.

    Anisa terisak, memohon-mohon agar aku melepaskannya. Ia pun menggeliat-geliat menghindar. Tetapi, mulutku sudah begitu lekat dengan pangkal pahanya. Kujilati sekujur permukaan memeknya sampai basah kuyup. Lidahkupun berusaha menerobos di antara celah memeknya. Agak sulit pada posisi seperti itu. Maka, kugandeng Anisa ke kamarnya. Setengah kubanting tubuhnya ke atas ranjangnya sendiri. Ibu muda itu menjerit-jerit kecil ketika dengan kasar kucabik-cabik gamisnya dengan pisau. Sampai akhirnya, tak ada sehelai kainpun kecuali jilbabnya.

    Kupandangi tubuh yg putih mulus itu. Kedua kakinya menjuntai ke tepi ranjang. Teteknya berguncang-guncang ketika ia menangis. Dengan penuh nafsu kucengkeram kedua teteknya dengan kedua tanganku, lalu kuciumi kedua putingnya. Sesekali kugigit-gigit benda mungil itu.

    “Jangan berteriak keras-keras ya. Cukup mendesah-desah saja. Kalau Mbak Anisa berteriak terlalu keras, aku bisa marah dan kupotong puting Mbak ini,” kataku sambil menjepit puting kanannya, menariknya ke atas dan menempelkan mata pisau ke sisinya. Anisa tampak ketakutan dan menggigigit bibirnya.

    Aku kemudian melorot turun. Wajahku tepat di hadapan selangkangannya. Kuangkat paha perempuan itu hingga terentang lebar, lalu kudorong ke arah tubuhnya. Kini tubuhnya melengkung dan pangkal pahanya terangkat ke arah wajahku. Perlahan, lidahku menjilat alur lubang memeknya dari bawah ke atas.

    “Eungghhhhh….” terdengar Anisa mengerang.

    Tak sabar, aku menguakkan bibir memeknya dengan jemariku. Lebar-lebar sampai terlihat bagian dalam lubang memeknya yg pink dan lembab. Jantungku berdegup kencang. Baru kali ini aku melihat dari dekat bagian dalam lubang memek selain milik istriku. Lebih berdebar lagi, karena memek yg satu ini milik seorang perempuan alim berjilbab lebar.

    Antara degup jantung dan dorongan gairah itu, kujulurkan lidahku sejauh-jauhnya ke lorong itu. Soal rasa tdk penting kuceritakan. Tetapi, sensasinya itu yg luar biasa. Tubuh Anisa bergetar hebat diiringi erangan dari mulutnya. Hampir tak henti-henti ia meratap-ratap diiringi isaknya.

    “Jangan… jangan…. ouhhhh…. jangan…. “

    Ratapannya makin menjadi-jadi saat lidahku menyerang klitorisnya dengan sapuan yg intens. Istriku bisa menjerit-jerit histeris jika itu kulakukan pada klitorisnya. Kulirik Anisa memejamkan mata dan menggigit bibirnya. Kepalanya menggeleng-geleng. Kutusukkan dua jariku dan mengaduk-aduk memeknya. Akibatnya lebih hebat lagi. Anisa merintih-rintih dengan suara yg mirip seperti suara istriku menjelang orgasme. Memeknya terasa amat basah.

    Kugerakkan jariku makin cepat. Lalu, kusedot-sedot klitorisnya. Tiba-tiba, Anisa mengerang panjang dan kedua pahanya mengatup hingga menjepit kepalaku. Tubuhnya mengejang-ngejang. Saat itulah kugigit bibir memeknya dengan gemas. Terdengar Anisa memekik kesakitan. Dari gelinjang kenikmatan, ia kini meronta-ronta kesakitan, berusaha menjauhkan pangkal pahanya dari gigitanku.

    “Sakit….sakit, aduh… sakit… lepaskan….” rintihnya memelas.

    Aku lepaskan gigitanku lalu kedua lututku menekan pahanya hingga mengangkang. Terlihat bekas gigitanku di memeknya. Tetapi bibir memeknya memang terlihat mengkilap oleh cairan memeknya sendiri.

    “Kamu suka ya diperkosa ?” kataku sambil kali ini menusukkan tiga jari ke memeknya yg basah.

    Orgasme Anisa tadi rupanya tertunda. Buktinya, ketika tiga jariku menusuk memeknya, otot-ototnya langsung bereaksi seperti meremas ketiga jariku. Ibu muda itu pun mengerang dan merintih….

    “Ouuhhhh… jangannnhhh…aihhhh….oummmmhhhh…” desahannya makin menjadi ketika bibirku menangkap puting kanannya dan menghisapnya kuat-kuat.

    Aku tahu perempuan ini orgasme saat mendengar rintihannya. Sangat mirip rintihan istriku ketika orgasme. Otot-otot memeknya juga mencengkeram tiga jariku sementara pinggulnya bergerak tak terkontrol. Kupandangi wajah sayu Anisa dengan penuh nafsu. Dia menggigit bibirnya sendiri. Matanya terpejam. Tiga jariku masih menusuk memeknya yg terlihat amat becek. Tubuh telanjang ibu muda berjilbab ini terlihat bergetar menahan sisa-sisa orgasmenya.

    Sampai akhirnya, Anisa benar-benar terkapar lunglai. Kedua tangannya masih terikat di belakang punggung, mengganjal pantatnya sehingga bagian pinggulnya mendongak ke atas. Tubuhnya bermandi peluh. Kedua pahanya mengangkang lebar. Kutarik keluar tiga jariku, kunikmati pemandangan lubang memeknya yg membentuk huruf O dan perlahan mengatup kembali.

    “Ok… sekarang giliranku,” kataku sambil menempatkan diri di tengah pahanya yg mengangkang.

    Anisa cuma bisa menggeleng lemah saat kepala k0ntolku mulai menyusup di celah memeknya. Kupaksa ia mengulum tiga jariku yg berlumur lendir dari memeknya sendiri.

    “Kamu belum pernah menjilat memekmu sendiri kan ?” kataku.

    Anisa terisak-isak sambil mengulum tiga jariku yg berlumur lendir kemaluannya sendiri. Terlihat keningnya berkerut. Kepala k0ntolku sudah terjepit di mulut lubang memeknya yg terasa sangat basah. Aku ingin memberinya sedikit kejutan. Tanpa peringatan sama sekali, langsung kuhentakkan k0ntolku jauh sampai ke dasar memeknya. K0ntolku terasa menerobos lorong sempit yg berlendir. Suara benturan biji pelirku dengan pangkal pahanya terdengar cukup keras.

    Reaksi Anisa juga luar biasa. Kedua matanya tiba-tiba membelalak. Kalau saja mulutnya tdk sedang mengulum jariku, mungkin dari mulutnya akan terdengar jeritan. Tetapi kini yg terdengar hanya gumaman tak jelas. Bahkan, jariku terasa agak sakit karena digigit ibu muda ini.

    Tetapi yg jelas, k0ntolku kini terasa seperti diremas-remas oleh otot-otot memek perempuan berjilbab lebar ini luar biasa.

  • Cerita Panas Perkosaan Di Malam Pertama

    Cerita Panas Perkosaan Di Malam Pertama


    921 views

    Cerita Panas Perkosaan Di Malam Pertama

    Malam ini merupakan malam pertama D & L sebagai suami istri. Di kamar, D & L mengganti pakaiannya dengan piyama tidur yg nyaman dan santai dipakainya. Begitu rebah ke ranjang, keduanya langsung saling berpagut. Saat itu Teguh merasakan adanya hal yg aneh pada dirinya. Sepertinya jantungnya berdegup lebih cepat dan lebih keras.

    Semangat libidonya menjadi sangat menyala-nyala. Nafsu birahinya menjadi demikian membara. Malam itu mata Teguh yg nampak menjadi merah seakan terbakar menyaksikan Emi istrinya yg teramat sangat seksi. Saat menyaksikan pengantinnya tergolek di ranjang, dia ingin secepatnya menggagahinya. Menyetubuhinya.

    Kemudian dengan serta merta tanpa menunjukkan kelembutan atau sentuhan-sentuhan awal, bahkan dengan cara agak kasar, dilucutinya pakaian tidur istrinya Emi, kemudian juga pakaiannya sendiri. Perasaan yg menggebu-gebu ini ternyata juga melanda Emi sendiri.

    Saat Teguh melucuti pakaiannya, dengan desahan yg keras Emi juga menunjukkan ketdksabarannya. Diraihnya tonjolan besar pada selangkangan Teguh yg nampak menggunung. Sebelum sempat Teguh menelanjangi dirinya sendiri, di betotnya k0ntol Teguh dari sarangnya. Langsung di kulumnya. Mereka, para pengantin ini nampak dikuasai nafsu birahi yg sudah tdk dapat mereka kendalikan sendiri.

    Mereka saling merangsek, saling mencengkeram dan meremas, saling menjilat dan menyedoti, saling melampiaskan dendam birahinya. Suasana riuh rendah oleh desah dan rintih pasangan ini sungguh sangat erotis bagi siapapun yg mendengarnya.

    Mungkinkah hal itu disebabkan oleh suasana romantis villa mewah ini”. Suasana romantis yg memilik kekuatan untuk mendongkrak libido mereka dengan tajam sehingga nafsu birahi mereka sepertinya begitu terbakar. Nampak Emi yg telah telanjang bulat menunjukkan buah dadanya yg sangat ranum mengencang.

    Putingnya yg memerah mencuat keras tegak di bukit ranum kencang itu, seakan menanti siapapun yg bersedia mengulum dan menyedotinya. Sementara itu k0ntol Teguh demikian pula. Darahnya telah penuh terpompa pada urat-urat batangnya. k0ntol Teguh ngaceng dengan keras sekali. Urat-uratnya bertonjolan di sekeliling batang itu.

    Kepalanya yg cukup besar berkilatan yg disebabkan darahnya menekan keluar hingga membuat kulitnya tegang dan mengkilat. k0ntol itu terus mengaduk-aduk wilayah selangkangan istrinya. Dia mencari lubang vagina Emi yg juga sudah merekah kehausan menunggu k0ntol Teguh untuk menembusnya.

    Pagutan, ciuman, gigitan yg disertai erangan, desahan dan rintihan dari Teguh dan Emi saling bersambut. Keduanya benar-benar tenggelam dalam nafsu birahi yg sangat tinggi.

    “Ayyooo Teguhyy, masukkan k0ntolmuuuu.. ayyooo Dann…”.
    “Mana vaginamu sayangggg… K0ntolku sudah tdk dapat tahan nihhh. ingin secepatnya memasuki lubang surganmuuuu… EMIAAAAA!

    Tak pelak lagi, dengan penuh ketdk sabaran, mereka, Teguh dan Emi ini sepertinya telah dirasuki kegilaan birahi. Mereka nyaris seperti hewan, yg melampiaskan nafsunya berdasarkan naluri hewaniahnya. Berbagai obsesi seksual yg sesungguhnya bersifat sangat pribadi dan tersimpan dalam-dalam di sanubari masing-masing, tdk dapat tersembunyikan lagi tumpah di malam pertama bulan madu mereka di Villa Forest Green yg sangat romantis ini.

    Ujung k0ntol Teguh sudah tepat di bibir lubang vagina Emi ketika tiba-tiba dengan sangat mengejutkan terdengar pintu kamar digedor-gedor dengan sangat kasar dan keras.

    “Haaiiiii, yg di dalam kamarrr! Bukaa! Buka pintunyaa! Atau aku yg akan buka dengan paksa! Ayyyooooo bukkaa!”.

    Amukan birahi seksual D & L yg sedang memuncak langsung runtuh. Dengan geragapan mereka langsung diserang kecemasan dan ketakutan hebat. Mereka sama sekali tdk pernah memperhitungkan adanya kemungkinan seperti ini. Di villa mewah yg sejuk dan penuh kesan tenang dan aman ini sama sekali tdk menyiratkan kemungkinan-kemungkinan seperti ini. Teguh langsung mendekap istrinya yg nampak langsung gagap histeris penuh ketakutan.

    Kemudian menyusul gedoran lagi dan gedoran yg semakin kasar lagi. Dengan gemetar dan ketakutan yg hebat kedua pengantin pria dan wanita itu serta merta menarik selimut seakan dapat bersembunyi sambil menutupi ketelanjangannya.

    Dan akhirnya terdengar tendangan-tendangan yg sangat kuat. Pintu kamar tidur itu jebol. Daun pintunya terbanting ke lantai dengan mengeluarkan suara yg sangat keras. Teguh dan Emi menggigil. Mata mereka terpaku tajam ke arah lubang pintu yg telah jebol tebuka itu.

    Mereka melihat ada 2 orang bertopeng setengah telanjang kecuali cawat-cawat mereka yg menutupi aurat mengayun-ayunkan kapak di tangannya. D & L semakin ketakutan, menggigil gemetar. Kedua orang itu menutupi kepalanya dengan semacam rajutan kaos gelap, persis seperti yg terjadi di film-film kriminal atau peristiwa-peristiwa teror di TV. Yg nampak hanya mata mereka yg beringas dan suara mereka yg terdengar keras, kasar dan brutal.

    “Ho, ho, ho, ha, ha, ha…, rupanya sepasang pengantin cantik dan tampan ini sedang bercumbu… uhhhh… Uhhh nikmatnya nihhh…”.

    Kemudian salah satu dari mereka mendekat ke ranjang. Dengan kekuatan tangannya dia renggut selimut yg menutupi Teguh dan Emi. Dengan sekali renggut selimut itu langsung terbuka dan tampaklah Teguh dan Emi yg bugil saling berpelukan histeris. Langsung dilemparkannya selimut itu ke lantai.

    “Ampuuunnnnnnn Paakk… Jangan diapa-apakan kamiii… ampunnnn.. a.. mpuunn …”, Emi menangis dan gagap karena didera ketakutan yg amat sangat.

    Seolah-olah tdk mendengar suara-suara iba tersebut, ketakutan maupun sikap protes dari Teguh dan Emi, kedua orang itu langsung membuka kedoknya. Dan betapa terperanjatnya Teguh dan Emi ketika melihat siapa kedua begundal itu.

    Mereka adalah Ricky dan Rama yg sebelumnya dianggap sangat santun dan menyenangkan oleh pasangan D & L ini.

    Tanpa dapat dicegah lagi Teguh yg dalam keadaan bugil langsung bangkit hendak mengamuk dan melawan kedua orang itu. Tapi dari penglihatan sepintas sudah jelas, Teguh bukanlah lawan mereka berdua. Tubuh Ricky dan Rama yg kekar dan penuh otot bukan lawan Teguh. Dengan mudah dia dilumpuhkan, tangan-tangan kuat Rama meringkusnya kemudian kedua tangan dan kaki Teguh diikat dan tubuhnya dibiarkan tergeletak di lantai.

    Mereka tdk mengacuhkan segala protes, hujatan dan caci maki Teguh. Dengan tertawa penuh kemenangan mereka merasa puas dengan lancarnya perbuatan keji mereka. Selanjutnya Ricky dan Rama lebih tertarik untuk memusatkan perhatian pada pengantinnya yg cantik, yg juga bugil dan tanpa daya tergolek di ranjangnya. Permohonan ampun dan tangisan ketakutan penuh pilu dari bibir mungil Emi sama sekali tdk menggetarkan hati para begundal itu. Mungkin hati mereka memang telah mereka buang jauh-jauh.

    Tangan-tangan Ricky dan Rama tdk sabar lagi untuk menjamah tubuh cantik mulus Emi itu. Tapi saat Rama mendekat untuk meraih pahanya, tanpa dia duga kaki Emi menendang matanya. Gelagapan dan kepedihan pada matanya membuat Rama terduduk sambil menutup mukanya. Melihat hal itu dengan sigap Ricky langsung merangkul Emi.Pe

    ngantin yg berontak dan berteriak-teriak histeris ketakutan itu ditindihnya. Tubuh putih mulus telanjang itu dipeluk dan diringkusnya tanpa banyak kesulitan, bahkan nampaknya Ricky ini sangat menikmati apa yg harus dia lakukan. Tangan kanan Emi direnggutnya. Dia keluarkan tali dari kantongnya. Tangan itu diikatnya kuat-kuat ke tiang bagian atas ranjang itu. Dan tangan kirinya kembali direnggut untuk diikatkan ke tiang ranjang di bagian sebelah atas yg lain.

    Tentu saja Emi yg dilanda ketakutan yg amat sangat langsung berontak dan meronta seperti kuda betina yg Emir. Kaki-kakinya menendang-nendang apa saja yg ada di dekatnya. Tapi semua perlawanan itu hanya sia-sia. Kaki-kaki itu, oleh Rama yg sudah baik matanya direnggut dan diikatkannya ke kaki ranjang bagian bawah kanan dan kiri.

    Peristiwa itu sungguh menjadi penampakkan yg sangat erotis baginya. Emi, sang pengantin, bidadari yg mulus, dewi berkulit kuning putih tanpa cacat, perempuan jelita yg mengamuk dengan Emir, melawan dua begundal setengah telanjang dengan tubuh hitamnya yg berkilat karena keringatnya. Para begundal brutal itu nampak kewalahan saat meringkus Emi.

    Dengan cara merangkulkan tangan-tangannya serta menekankan wajah-wajah mereka sekenanya pada tubuh yg sangat merangsang birahi milik si jelita, Ricky dan Rama memerlukan kerja keras sambil menikmati sensual tubuh Emi. Akhirnya sang korban yg jelita itu benar-benar tak berdaya.

    Dan kini, kaki dan tangan Emi telah terikat kuat-kuat pada ranjang pengantinnya. Dan untuk keberhasilannya, para pendatang brutal itu langsung disuguhi pemandangan yg sangat spektakuler, merangsang dan erotis sekali. Tangan Emi yg terikat ke bagian atas kanan dan kiri ranjang membuat ketiaknya yg indah nampak terbuka.

    ‘Uuhhh… Akan kubenamkan hidungku ke lembah ketiakmu yg indah itu.. lidahku, bibirku akan menjilati dan menyedotmu Emiaa…’, begitu begitu pikir begundal-begundal tersebut.

    Dan paha Emi yg kini telah mengangkang terbuka, memamerkan vaginanya yg ranum menggunung yg langsung mendongkrak nafsu birahi kedua serigala lapar dan brutal itu. Keduanya tercekat menyaksikan dengan penuh takjub kemaluan Emi yg ditutupi bulu-bulu tipis merekah yg seakan menunggu jamahan tangan-tangan kasar mereka atau jilatan lidah dan sedotan bibir tebal mereka atau bahkan tusukan k0ntol-k0ntol kedua begundal brutal itu.

    Tak tahan menyaksikan tindakan brutal yg dilakukan Rama dan Ricky pada istrinya, Teguh berteriak-teriak dengan harapan ada orang lain yg mendengarkannya di tengah hutan sepi itu. Ulah itu hanya jadi tertawaan para begundal.

    Ricky menyuruh Rama untuk menyumpal mulut Teguh dan menyeretnya ke kamar sebelah. Rama langsung bertelanjang melepas cawatnya sendiri yg dekil dan pesing untuk di sumpalkan pada mulut Teguh. Tentu saja Teguh jadi gelagapan panik menerima perlakuan kotor Rama itu. Tetapi mana dapat ia melawan dengan kaki dan tangannya yg masih terikat erat-erat.

    Dan Ricky juga langsung bertelanjang melepas cawatnya. Dia sumpalkan cawatnya yg sama dekilnya ke mulut Emi yg langsung berkelojotan karena jijik dan ingin muntah. Tetapi sia-sia pula. Dan akhirnya tanpa daya pasangan D & L ini menjadi tawanan Rama dan Ricky.

    Dan tanpa terhindarkan, Teguh maupun Emi dihadapkan pada pemandangan yg selama ini dianggapnya sangat tabu. Kedua orang ini menyaksikan k0ntol lelaki lain, k0ntol Rama dan Ricky yg telah ngaceng berat. k0ntol-k0ntol mereka yg nampak tegak dan kaku itu sungguh luar biasa. Mengingatkan pada pisang tanduk di sepanjang jalan Bogor. Besar dan panjangnya tak kurang dari 20 cm dengan garis tengah sekitar 4,5 cm.

    Bagi seorang wanita semacam Emi, k0ntol sebesar itu membuat khayalannya langsung melayg. Emi membaygkan bagaimana rasa pedih dan sakitnya apabila k0ntol itu dipaksakan menembus vaginanya yg masih perawan. Akankah hal itu akan terjadi pada dirinya yg hingga kini bahkan suaminya pun belum pernah benar-benar menjamah vaginanya itu”.

    Akankah Rama dan Ricky mendahului Teguh sebagai pemilik yg sah atas vaginanya secara bergiliran memaksakan k0ntol-k0ntol mereka itu menembus vaginanya” Emi sangat takut dan merasa ngeri dengan pikirannya yg mengkhayal sejauh itu. Dia menggigil kemudian menutup matanya.

    Sementara itu bagi Teguh, melihat Rama dan Ricky yg memiliki k0ntol sebesar dan sepanjang itu rasa percaya dirinya langsung runtuh. Dia baygkan apabila istrinya sempat mereka paksa untuk menerima k0ntol mereka, dan pada akhirnya Emi mendapatkan kenikmatan serta kepuasan dengan k0ntol-k0ntol sebesar itu, dapat dipastikan dia tdk mungkin mampu mengungguli Rama maupun Ricky. Dan di belakang hari dapat dipastikan Emi tdk akan pernah puas berhubungan seks dengan dirinya. Emi akan dengan sebelah mata saja melayani dia sebagai suaminya.

    Teguh sangat terpukul. Membaygkan istrinya Emi mendesah serta merintih mendapatkan kenikmatan birahi dari Ricky dan Rama. Hatinya langsung ciut.

    “Yo, ambil minuman itu lagi. Kita buat mereka lebih galak lagi”, terdengar Ricky menyuruh Rama.

    Kata-kata Ricky itu menjadi pikiran Teguh maupun Emi. Minuman apa itu” Bikin galak lagi” Apakah hal itu yg membuat mereka demikian panas birahinya saat memasuki peraduan setelah makan malam tadi” Mungkinkah Rama dan Ricky memasukkan obat perangsang seks pada makan malam mereka tadi”

    Tak lama kemudian Rama balik dengan sebotol cairan berwarna kuning bening. Pertama-tama pada Teguh. Tangan Ricky memegangi kepala dan membuka sumpal mulut Teguh yg langsung panik ketakutan. Kemudian Rama menjejalkan mulut botol ke mulut Teguh dan memaksakan untuk minum.

    Ketika Teguh berusaha menolak dengan cara memalingkan wajahnya, Ricky memeganginya dan membekap hidungnya. Karena tersedak Teguh terpaksa menelan cairan dari botol itu. Dia merasakan asin dan pesing. Jangan-jangan air kencing mereka ini. Dengan cara yg sama cairan itu juga dijejalkan pula pada mulut Emi.

    “Nahhhh, bapak dan ibu, jangan khawatir… Itu adalah minuman demi kesehatan pak Teguh yg tampan dan bu Emi yg jelita…, sebentar lagi bapak dan ibu pasti akan semakin segar, ha, ha, ha…”.

    Beberapa saat kemudian, pasangan D & L merasakan dunia seakan berputar-putar. Pandangan matanya mengabur. Jantungnya berdegup lebih kencang. Emi merasakan darahnya memanas. Dan gambaran k0ntol-k0ntol Rama serta Ricky yg luar biasa itu mendekat.

    Dia merasakan seakan-akan ujung-ujung k0ntol mereka menyentuh gerbang bibir vaginanya. Dia merasakan rangsangan birahi yg hebat, seperti halnya saat k0ntol Teguh suaminya menyentuh vaginanya. Sementara itu Teguh juga merasakan darahnya yg memanas.

    Nafsu birahinya meledak-ledak. Ingin rasanya menjilati selangkangan Emi istrinya yg saat ini terbuka memamerkan nonoknya di atas ranjang pengantinnya. Ingin rasanya dapat secepatnya terbebas dari para begundal itu untuk kemudian melanjutkan apa yg tadi telah hampir dilakukannya, k0ntolnya menembus vagina istrinya.

    “Lemparkan Teguh ke kamar sebelah”.

    Si Rama kembali melaksanakan perintah Ricky. Dengan mulutnya yg kembali tersumpal cawat Rama dan perasaannya yg mabuk dan ingin muntah akibat minuman yg dijejalkan tadi, Teguh diseret ke kamar sebelah. Kemudian pintunya dikunci. Teguh sangat penasaran, kesal dan marah. Semula dia berharap dapat tetap sekamar dengan istrinya.

    Setdk-tdknya matanya masih dapat menikmati tubuh bugil istrinya yg terikat di ranjang, sehingga ledakan birahinya yg kini melanda nafsunya dapat sedikit tersalurkan.

    Di lain pihak Emi yg ditinggalkan suaminya tak dapat menghindarkan pandangannya pada k0ntol Rama dan Ricky yg nampak sedemikian besar dan panjangnya. Batang k0ntol-k0ntol yg dikelilingi urat-urat itu semakin nampak perkasa.

    Kepala helmnya yg yg tumpul membulat berkilatan kena cahaya lampu kamar. Emi sendiri belum pernah menyaksikan secara langsung k0ntol lelaki dewasa seperti yg dilihatnya sekarang ini. Dia hanya ingat bahwa pernah melihat k0ntol-k0ntol sebesar itu dari VCD porno yg disaksikan ramai-ramai bersama teman-temannya pada saat jam istirahat di kantor.

    Sewaktu vaginanya siap ditembus k0ntol Teguh dia hanya merasakan ujung k0ntol yg hangat merangsang bibir-bibir vaginanya. Dia ingat betapa nikmatnya saat birahinya menjadi demikian memuncak yg disebabkan ujung k0ntol Teguh itu. Dia merasakan keinginannya yg sangat kuat agar Teguh secepatnya menembus kemaluannya. Bibir vaginanya sangat kehausan untuk melahap batang k0ntol Teguh.

    Tapi kini Teguh tdk lagi berada di kamar ini. Yg nampak kini adalah Rama dan Ricky yg sama-sama telah berbugil ria. Dan k0ntol-k0ntol mereka itu, kenapa mata Emi dibuatnya sangat terpesona” k0ntol-k0ntol itu tegak ngaceng dengan kokoh dan tegarnya.

    Emi berpikir akankah mereka juga akan seperti Teguh” Menempelkan atau menusukkan k0ntol-k0ntol yg luar biasa itu ke bibir vaginanya” Akankah dia akan membiarkan dan menerima kehadiran k0ntol-k0ntol yg bukan milik suaminya itu” Akankah dia mampu menerima serangan badai nafsu serigala para brutal itu” Dari celah matanya yg basah karena air mata, Emi melirik ke k0ntol para brutal tersebut.

    Tiba-tiba perasaan seperti yg terjadi pada saat bersama Teguh memasuki kamar usai makan malam tadi melintas. Rasa ingin, ingin, ingin, ingin, keinginan yg kuat, keinginan yg meledak-ledak, ingin Teguh melanjutkan tusukan k0ntolnya ke lubang kemaluannya, melanjutkan kenikmatan birahi yg mulai memuncak. Mungkinkah itu” Bagaimana mungkin”

    Yg nampak jelas siap melakukan itu justru Ricky dan Rama yg telah telanjang bulat dengan k0ntol-k0ntol keras besar panjang mereka itu. Mereka sangat siap dan sangat mungkin memperkosanya. Ooohh…, alangkah ngerinyaaa…

    Emi berusaha menepis perasaan yg sangat menakutkan itu. Dipalingkan wajahnya dari k0ntol-k0ntol itu. Sungguh ngeri membaygkan k0ntol sebesar dan sepanjang milik para brutal itu menembus vaginanya. Apabila hal itu terjadi pasti akan merobek-robek vaginanya.

    Tetapi darah dan jantung ini” Mengapa darah dan jantung Emi terus berdegup kencang sejak makan malam tadi seakan ada yg terus merangsangnya. Dan kini bahkan semakin kencang serta kuat memacu darahnya, setelah Ricky dan Rama mencekoki cairan kuning bening tadi. Apakah itu obat perangsang seksual yg membuat dirinya tdk dapat melepaskan pandangannya atau memalingkan wajahnya dari k0ntol-k0ntol Rama dan Ricky itu”.

    Ah, sangat mungkin…! Bukankah Rama dan Ricky nampak jelas telah mempersiapkan semua rencana jahatnya ini. Topeng itu, kampak itu, gedoran di pintu itu. Semua merupakan bagian rencana jahatnya. Dengan memberikan obat perangsang birahi seksual, korbannya akan cepat takluk dan mengikuti kemauan bejat seksualnya. Korbannya akan patuh untuk menjadi budak seksualnya.

    Emi akan cepat menyerah dan sangat kehausan untuk secepatnya menikmati k0ntol-k0ntol para pejantan itu. Ahhh…, degup jantung ini…, kenapa jadi sulit sekali, membuang keinginannya untuk tdk kembali melirik k0ntol-k0ntol pejantan itu.

    ‘Oohh.., jangannnn… jangannnn…!’

    Emi memejamkan matanya untuk menghapus semua lintasan pikirannya, wajahnya memucat, kemudian memerah, kemudian kembali memucat, kembali memerah. Baygan akan k0ntol-k0ntol besar itu jadi berbalik sangat menggairahkannya.

    Perasaan ngeri, takut, cemas tetapi tdk sepenuhnya ingin benar-benar menghindar, rasa birahi yg terus mengejarnyaa, dirasuki dengan penuh kebimbangan dan keraguan, semuanya serba bercampur aduk. Emi dilanda kebingungan yg amat sangat. Khayalan-khayalan Emirnya yg terus memburu tdk dapat dilenyapkan dari kepalanya. Detak dan degup jantungnya juga tak dapat dikendalikannya.

    ‘Akankah…, Ohhh…, ampuni aku Teguh…, Teguhyyyyyy…, ampuni akuuuu…, aku tdk mampu mengambil keputusan…, tolongggg…, aku membutuhkan kk… kkaamuuu… uuuu.. uuuhhhh…’.

    Dan memang, keputusan akhirnya bukanlah di tangan Emi.

    Begitu terlempar ke kamar buangannya, pertama-tama yg dicari Teguh adalah lubang. Lubang atau celah di dinding, dimana dia dapat mengintip istrinya yg telanjang. Pengaruh minuman yg dijejalkan Rama dan Ricky tadi membuat libido Teguh terangsang dengan hebat, saat ini yg diperlukan Teguh adalah dapat mengintip istrinya telanjang, dia ingin melakukan mastubasi.

    Ternyata dia dapatkan, kamar villa yg seluruhnya dibuat dari kayu dan balok itu memberikan celah di antara dua baloknya. Celah itu cukup longgar. Teguh serta merta beringsut ke celah itu. Tetapi ternyata celah itu terlampau tinggi di atas kepala Teguh. Dengan ikatan tali pada tangan dan kakinya Teguh kesulitan untuk berdiri maupun sekedar jongkok. Sementara celah itu dapat dia raih setdk-tdknya dengan berjongkok. Dia mengamati sekeliling kamar itu.

    Dari kamar sebelah terdengar suara riuh. Terdengar

    ‘hah, huh, hah, huh…’, suara istrinya yg mulutnya terbungkam celana dalam dekil milik Ricky. Teguh jadi panik, dia memastikan sesuatu telah terjadi pada istrinya.

    Dia gulingkan tubuhnya ke sebuah kotak kayu di pojok kamar itu. Dia coba menendang kotak itu dengan kaki terikat agar dapat didekatkan ke dinding. Berhasil. Teguh kembali berguling. Memerlukan perjuangan cukup panjang untuk dapat memanjat kotak itu dengan kaki dan tangan yg terikat.

    Sementara itu suara istrinya sudah terdengar berbeda, dalam waktu singkat suara itu telah berubah menjadi desahan dan rintihan, disamping juga terdengar suara Ricky atau Rama atau kedua-duanya. Mereka terdengar berbicara dalam bahasa daerah mereka yg Teguh sama sekali tdk memahami artinya, tetapi Teguh memastikan mereka sedang melakukan sesuatu hal yg tdk senonoh pada Emi istrinya yg kini terikat dan telanjang bulat di depan mereka.

    Akhirnya setelah berjuang keras untuk memanjat kotak kayu itu, dalam keadaan terikat tangan dan kakinya mata Teguh kini dapat menyaksikan Ricky sedang memeluk dan menciumi kedua payudara istrinya. Dan Rama dari arah lain sedang memeluk paha Emi serta wajahnya tenggelam dalam selangkangannya. Nampak kepala Rama naik turun menjilati arah kemaluan Emi.

    Seketika itu juga seolah-olah ada sejuta petir menghantam kesadaran Teguh. Dia langsung terjungkal ke lantai. Teguh kehilangan kesadarannya. Tetapi hanya sesaat, dalam keadaan terkapar di lantai nampak kelopak mata Teguh yg lelah pelan-pelan terbuka. dan kemudian dengan cepat dia bangkit dan kembali berusaha merangkak ke kotak itu untuk mengintip celah di dinding itu.

    Bermenit-menit dia lalui untuk mampu kembali pada posisi dimana dia dapat mengintip kamar istrinya yg saat ini sedang digarap oleh Ricky dan Rama. Suara erangan yg telah berganti menjadi suara desahan dan rintihan istrinya terus terdengar, juga pembicaraan antara Ricky dan Rama yg tdk diketahui maknanya oleh Teguh terdengar semakin cepat bersahut-sahutan.

    Sementara itu telah terjadi hal yg aneh pada diri Teguh, mungkin pengaruh dari makanan dan minuman yg dicekokkan oleh para begundal itu ke mulutnya atau setelah menyaksikan istrinya dikerjai secara brutal oleh dua begundal itu sehingga membuatnya terjungkal ke lantai, atau mungkin juga campuran dari keduanya.

    Saat dia kembali menaiki kotak itu, dorongan keinginannya sudah berganti. Dia tdk lagi ingin mengintip untuk melihat istrinya yg telanjang atau untuk menyaksikan bagaimana istrinya dengan gigih melawan kedua brutal itu.

    Yg diinginkannya sekarang adalah menyaksikan bagaimana kedua brutal itu yg dengan k0ntol besar dan panjangnya dapat memberikan kenikmatan erotik dan sensasional kepada istrinya. Sekarang dia ingin menikmati pemandangan bagaimana istrinya dientot oleh para begundal itu. Teguh kembali ngaceng berat. Lebih sensasional daripada sebelumnya. Dia ingin secepatnya menyalurkan syahwatnya. Dia ingin melakukan masturbasi sambil menonton istrinya dientot para berandal-berandal di kamar sebelah itu.

    Inikah yg disebut “shock terapy”“ Sebuah peristiwa yg sangat luar biasa yg mampu dengan seketika mengubah mental, selera, cara pandang ataupun keyakinan seseorang. Yg mampu mengubah Teguh, dari ketakutan serta kekhawatiran yg mencekam, menjadi sesuatu yg justru dia harapkan untuk terjadi” Dari yg awalnya berkeinginan untuk menolong menjadi keinginan untuk ikut menikmati”

    Dan itulah yg terjadi. Saat matanya kembali di lubang ingintipan tersebut, kini dia menyaksikan bahwa telah terjadi perkembangan. Nampak sumpal pada mulut istrinya sudah dilepas, walaupun pada tangan dan kakinya masih terikat pada ranjang itu. Nampak istrinya menggeEmit-geEmit tetapi tdk berteriak menolak. Yg terdengar justru desahan dan rintihan dari mulut Emi yg terdengar penuh kenikmatan, bahkan mata Emi nampak memandang Ricky dengan k0ntolnya yg sangat besar, sedang memompa kemaluannya.

    Teguh melihat bagaimana pinggul istrinya sedemikian bergairahnya menjemput keluar masuknya k0ntol Ricky yg kelewat besar itu. Adakah Emi juga telah diterkam obat perangsang itu, sehingga membuatnya kini menyerah dalam jarahan seksual para begundal itu”

    ‘Ah masa bodohlah, aku sendiri punya kebutuhan pula, birahiku ooohhhhh, menyaksikan istriku dientot para begundal itu’, demikian pikir Teguh.

    Jarak lubang dengan posisi istrinya yg terikat ini tdk lebih dari 1 meter di kamar yg relatif sempit itu. Teguh dapat dengan nyata menyaksikan mengkilatnya batang k0ntol Ricky yg keluar masuk menembus vagina Emi istrinya.

    Tanpa dapat dicegah, air liur Teguh menetes saat melihat k0ntol Ricky yg luar biasa itu. Telinganya yg menangkap suara desahan dan rintihan istrinya yg tdk lagi terbungkam itu sebagai pertanda kenikmatan yg sedang melanda istrinya. Teguh tersenyum. K0ntolnya yg ngaceng dipepetkannya ke dinding. Pelan-pelan digosok-gosokkannya. Duhh…, nikmatnyaaaa…

    Dari lubang ingintipan itu, Teguh melihat Ricky semakin cepat memompa. Makin cepat, makin cepat, cepat, cepat… Dan,

    ‘AACCHH…’, terdengar teriakan Ricky… Dan sperma Teguh muncrat berbarengan dengan air mani Ricky yg tumpah-ruah di kemaluan dan tubuh istrinya Emi.

    Itulah kepuasan seksual pertama sejak perkawinannya dengan Emi istrinya, pada hari-hari yg seharusnya penuh bahagia, pada hari-hari bulan madunya.

    Kemudian Teguh lemah terduduk. Tetapi tdk lama. Dia mendengar kembali suara-suara desahan dan rintihan dari kamar sebelah, Teguh kembali mengintip. Kini dia melihat Rama menindih tubuh istrinya. Dia melumat leher, ketiak dan dada Emi. Sementara tangan kanannya memegang k0ntolnya yg bukan main indahnya di mata Teguh kini, dan tangan kirinya memeluk pinggul Emi untuk menempatkan lubang kemaluannya persis di ujung k0ntolnya.

    an yg menjadi sasaran birahi Teguh sekarang adalah menyaksikan istrinya Emi menggeEmit-geEmitkan pinggulnya menahan kenikmatan pada saat vaginanya melahap ujung k0ntol Rama. Tubuhnya dicekal oleh otot-otot lengan Rama. Dan vagina Emi dengan penuh kepasrahan menerima tembusan dan tusukan nikmat dari begundal brutal itu.

    Mata Teguh melotot melihat adegan-adegan itu. K0ntolnya kembali bangkit ngaceng. Obat perangsang yg dicekokkan padanya membuat k0ntolnya tdk dapat tidur. Dan kembali dinding kamarnya menerima gosokan k0ntol Teguh. Dan keadaan Emi sendiri, tak terhindarkan lagi, kebrutalan para begundal itu mulai menjadi, Emi menyaksikan wajah Ricky langsung tenggelam, dia rasakan sedotan bibir tebal dan jilatan-jialatan lidah kasarnya yg merambahi ketiak, leher, dadanya…

    Dia rasakan bagaimana bibir Ricky mencaplok kedua payudaranya. Lidahnya menari-nari pada putingnya. Gigitan kecil tetapi terasa sangat kasar membuat putingnya menjadi perih. Tetapi yg dia rasakan sangat aneh adalah…, perasaan ngeri, takut dan cemas itu, mengapa pupus, ternyata pupus, mengapa yg hadir kini justru rasa haus yg amat sangat.

    Dia diserang rasa kehausan yg amat sangat. Ingin sekali dia mendapatkan air untuk tenggorokannya. Ingin sekali, ingin sekali. Dia sangat menantikan Ricky mengangkat celana pesingnya yg membungkam mulutnya. Dia sangat menantikan bibir tebal Ricky melumat bibirnya. Dia ingin sekali meminum ludah Ricky langsung dari mulutnya.

    ‘Oohhhh Rickyi tolooong… akuuu hauss…, tolong Rickyii, tolongggg…’.

    Dan kehausan itu semakin menjadi ketika dilihatnya Rama menyusul menenggelamkan wajahnya ke selangkangannya. Lidah Rama yg juga kuat dan kasar itu langsung menjilat seluruh bibir kemaluannya. Langsung membor lubang vaginanya.

    Untung saja Ricky tahu…, Ricky yg telah 40tahun itu tahu reaksi perempuan yg kehausan saat menerima jilatan, sedotan, sentuhan lidah maupun bibir atau sodokan k0ntol. Dia tahu bagaimana desakan birahi akan membuat tenggorokannya mengering dan seorang perempuan akan meminta agar secepatnya dilumat bibirnya untuk dapat menyedot ludah lelaki yg menyetubuhinya dan secepatnya kemaluannya ditembus k0ntol besarnya.

    Ricky yg sangat berpengalaman itu serta merta meraih celana dalamnya yg sejak tadi disumpalkan pada mulut Emi. Kemudian secepat kilat bibirnya melumat bibir sensual pengantin cantik itu. Dan serta merta, Emi langsung menyambutnya dengan penuh kelahapan birahinya. Dia dengan histeris menyedot ludah Ricky. Bahkan dari bibirnya juga keluar bisikan-bisikan kehausannya.

    “Pak Rickyi, ayyooo, Emi udah tdkk tahannn…, ayyooo Pak Rickyi…, Emi udah pengin k0ntol Pak Ricky ituu…, ayoooo Pak Rickyiii …”.

    Ricky tahu bahwa Emi sedang dalam keadaan tersiksa oleh deraan nafsu birahinya sendiri, dia tolak Rama dari keasyikannya melumati kemaluan Emi, kemudian dirabanya kemaluan indah itu. Cairan birahinya sudah membanjir. Dan Ricky dengan cepat mengambil posisi. Dia kangkangkan selangkangan Emi, untuk kemudian dia menempatkan k0ntolnya di antara selangkangan Emi itu. Diarahkannya k0ntol itu langsung ke lubang vagina Emi, yg telah sangat kehausan menunggunya.

    Karena Emi masih perawan, sejago-jagonya Ricky tetap saja segalanya masih harus diusahakan dengan keras. k0ntol itu setiap kali meleset dari targetnya. Mungkin licin. Beberapa kali Ricky merasa k0ntolnya sudah tepat berada di mulut vagina Emi, meleset lagi.

    Dan saat berhasil tembus, Emi berteriak kesakitan, dan Ricky melihat darah keperawanan Emi mengalir dari bibir vaginanya. Selaput perawan Emi telah robek. Kemaluan Emi sudah berhasil ditembus k0ntol Ricky. Kemudian Ricky mulai memompa. Pelan…, pelan…, pelan…, tetapi Emi sendiri yg sudah sangat kegatalan ingin lebih cepat… Dan Ricky menurut untuk mempercepat…

    Dari balik kamar, Teguh ternyata ikut menyaksikan saat-saat itu. Hingga dia saksikan bagaimana Ricky memuntahkan bermili-mililiter air maninya ke dalam vagina istrinya Emi itu. Dan dalam kesempatan itu, Teguh juga menyalurkan birahinya hingga spermanya menyemprot dinding tempatnya mengintip istrinya menikmati genjotan Ricky.

    Sungguh suatu pengalaman yg sangat dahsyat bagi perawan seperti Emi ini. Seumur-umur baru kali inilah dia merasakan nikmatnya senggama. Saat Ricky melepas spermanya tumpah di dalam vaginanya, Emi pun mendapatkan orgasme pertamanya. k0ntol Ricky masih berada di dalam lubang vaginanya saat Rama datang. Dia menepuk punggung Ricky, mengisyaratkan meminta ‘jatah’nya.

    Emi menatap kehadiran Rama dengan pandangan penuh gairah dan birahi. Orgasme yg baru saja diraihnya bersama Ricky belum menghabiskan semangat libidonya. Kegatalan birahi pada kemaluannya masih menuntut gesekan batang-batang penuh kejantanan dari para pecundang ini.

    Dan begitu Rama datang serta langsung menembakkan rudalnya pada vagina Emi, ditariknya tubuh Rama. Dia ingin Rama ngentot nonoknya dengan bibir tebal Rama tetap melumat bibirnya. Dia ingin menguras ludah dari mulut Rama. Dia ingin mendengarkan desah dan rintih Rama yg merasa kelimpungan oleh jepitan vaginanya langsung di telinganya.

    Dia ingin hidungnya mengendus seluruh keringat yg keluar dari tubuh Rama. Dia ingin Rama melumat ketiaknya, payudara dan putingnya. Kini Emi telah menjadi kuda betina yg binal. Dia tdk lagi memikirkan Teguh. Dia hanya ingin Teguh bergabung dalam kenikmatan bersama ini.

    Dia ingin Teguh menerima kenyataan dunia ini. Dia ingin Teguh untuk tetap setia dan menurut saja pada dewa-dewa jantan yg begundal dan brutal ini. Emi berkeyakinan kedua brandal begundal brutal ini adalah dewa-dewa jantan yg membawa sejuta kenikmatan. Teguh harus patuh dan tunduk pada mereka.

    Sementara itu di kamar lain…

    Teguh kini menyadari bahwa Rama dan Ricky telah memberikan kenikmatan tak terhingga pada Emi istrinya. Dia berfikir sederhana, kalau k0ntol-k0ntol Rama dan Ricky itu nikmat bagi Emi yg dicintainya, tentunya akan nikmat pula bagi Teguh yg mencintainya khan”

    Suatu logika yg sangat rasional. Kalau Emi meminum dengan rasa segar ludah Rama maupun Ricky, tentunya ludah itu juga akan menyegarkan bagi Teguh khan” Dan pada akhirnya semua bagian tubuh Rama maupun Ricky mestinya nikmat dan layak untuk dinikmati semuanya khan”

    Kini ganti Teguh yg diserang rasa haus…

    Tiba-tiba terdengar kunci kamar itu dibuka oleh seseorang. Nampak Rama dan Ricky masuk dan memeriksa wajah Teguh. Kemudian dia periksa pula k0ntolnya. Mereka tersenyum. Kemudian Rama dan Ricky memeriksa dinding di dekat kotak kayu dimana Teguh tadi mengintip.

    Diamatinya dinding itu. Dan saat ditemukannya sperma Teguh yg masih meleleh pada dinding, kembali Rama dan Ricky tersenyum puas. Teguh berharap sumpal mulutnya dilepaskan seperti halnya Emi istrinya.

    Tapi ternyata tdk. Kedua begundal itu kini menyodorkan k0ntol mereka ke wajahnya.

    ‘Ooohh…, mereka hendak membuang air kencingnya ke wajahku’, pikir Teguh.

    Teguh menunggunya dengan perasaan penuh birahi. Dia amati k0ntol Ricky yg ujungnya bulat seperti jamur merang. Lubang kencingnya menganga lebar. Dan Ujung k0ntol Rama nampak agak belang. Kulupnya masih membungkus, tanda bahwa dia belum ngaceng sempurna.

    Dan akhirnya, seerrr… dan seeerrrrr…, kencing Ricky dan Rama langsung mengguyur wajah Teguh. Celana dalam Rama itu ternyata langsung menyerap cairan kuning itu. Di dalam mulutnya, Teguh merasakan hangat air kencing mereka berdua.

    Dia berusaha menelannya sebanyak mungkin. Inilah obat haus bagi Teguh. Sedemikian banyaknya kencing Rama dan Ricky sehingga membuat Teguh tampak seperti mandi. Seluruh tubuhnya basah kuyup oleh air kencing mereka. Bau pesing air kencing itu seakan-akan menjadi bau sedap bagi Teguh yg sedang horny.

    Setelah selesai, Rama mengambil celana dalam yg menyumpal pada mulut Teguh. Teguh lega. Akhirnya rahangnya dapat beristirahat setelah sekitar 4 jam menganga. Tetapi ternya urusan masih belum selesai. Rama memerintahkan Teguh untuk membuka mulutnya lagi. Diperasnya air kencing Rama dan Ricky yg terserap dalam celana dalam Rama itu ke mulut Teguh. Dan tanpa disuruh lagi Teguh langsung menjilatinya.

    Kemudian Ricky berbicara.

    “Kamu sekarang jadi budakku. Tahu”!”.

    Teguh seakan mendengar berita gembira. Dia mengangguk angguk senang. Kemudian Rama menuntun menuju kamar dimana Emi masih terikat di ranjangnya.

    “Hai, pelayanku, budakku, anjingku… Bersihkan nonok istrimu dari peju-peju (sperma) kami yg tertinggal di dalamnya. Kamu sedot dengan mulutmu sampai bersih. Cepat”.

    Ternyata Ricky dan Rama ini benar-benar seorang ahli kejiwaan yg hebat. Mereka pakar sekali dalam hal mengubah, merusak dab menghancurkan mental orang lain. Dan tampak sekarang…, Teguh telah tercuci otaknya menjadi budak yg penurut dan k0ntol yg siap menunggu perintah tuannya. Dia siap untuk melakukan apapun, termasuk minum air kencing mereka atau bahkan lebih dari itu. Tdk ada lagi rasa tabu, jijik, jorok bagi para budak mereka.

    Emi juga telah diubah sebagai budak seksnya. Pasangan itu akhirnya kembali seperti halnya yg diharapkan oleh para tamu dalam acara pesta kemarin siang, “Semoga Teguh dan Emi selalu saling melengkapi”. Dengan karakter baru setelah melalui garapan Ricky dan Rama, pasangan Teguh dan Emi tetap saling melengkapi. Setdk-tdknya di depan para berandal brutal itu.

    Dan kini Teguh merangkak di lantai menuju tepian ranjang. Dia datangi nonok Emi yg masih basah penuh sperma yg meleleh dari lubang vaginanya. Teguh harus membersihkan dengan lidahnya. Dia dekatkan bibirnya menuju vagina yg penuh lelehan sperma Rama dan Ricky itu. Lidahnya menjilati dan bibirnya langsung menyedotnya hingga nonok Emi kembali kosong.

    Sejak kehadiran Teguh kembali ke kamarnya dan kemudian menjilati kemaluannya dari sisa-sisa sperma yg dibuang Ricky dan Rama ke dalam vaginanya, Emi hanya dapat menyaksikan dengan diam. Pandangannya pada Teguh sudah hambar.

    Bukannya karena Teguh tdk dapat menyelamatkan dia saat-saat menderita. Tetapi Emi kini yakin bahwa Teguh tdk mungkin dapat memberikan kenikmatan ranjang macam Rama dan Ricky. Teguh tdk akan mampu merangsang birahinya untuk meraih orgasmenya. Dan di mata Emi kini, Teguh memang hanya pantas menjadi budak atau k0ntol yg menjilati sperma buangan tuannya.

    Semua yg dilakukan Teguh sepenuhnya berada dalam pengawasan Rama dan Ricky. Mereka puas melihat Teguh. Mereka juga puas melihat Emi. Kini tali-tali mereka akan dilepaskan. Rama dan Ricky yakin bahwa Teguh dan Emi sekarang bukan lagi Teguh dan Emi pada 4 jam yg lalu.

    “Tadi saat kalian datang, kami sepenuhnya melayani kalian. Sekarang kamu menjadi pelayan-pelayan kami, menjadi budak-budak kami, menjadi k0ntol-k0ntol yg setia pada kami. Dengar, kami akan bermurah hati melepaskan tali kalian. Agar kalian selalu siap menjalankan perintah kami berdua”.

    Kemudian tali-tali mereka dilepaskan. Ricky memerintahkan keduanya untuk mandi dan berganti pakaian. Rama dan Ricky akan menunggu mereka untuk makan malam di teras kebun. Tempat itu sengaja dipilih karena malam ini adalah malam purnama. Teguh dan Emi akan disuguhi pemandangan malam yg sangat indah.

    Ricky membisikkan kepada Teguh dan Emi, bahwa dia telah memasak makanan kesukaan mereka. Sebelum meninggalkan pasangan itu, Rama dan Ricky menyampaikan selamat malam dengan sangat santun.

  • Cerita Panas Akibat Ke Dukun

    Cerita Panas Akibat Ke Dukun


    746 views

    Cerita Panas Akibat Ke Dukun

    Aku dilahirkan dalam keluarga pengusaha. Papa dan Mamaku adalah seorang pengusaha. Mereka membangun bisnis bersama dari bawah. Usaha keluarga kami cukup menghasilkan. Kami mampu membeli rumah di daerah Kelapa Gading dan beberapa rumah peristirahatan di luar kota Jakarta. Keluarga kami terdiri dari Papaku, Budiawan berusia 40 tahun, Mamaku, Sinta berusia 36m tahun dan aku, sekarang umurku 18 tahun. Namaku Kenny, tp sering dipanggil Koko.

    Kami keturunan Tionghoa. Papaku tampak seperti pengusaha biasa, dgn rambut mulai membotak dan perut buncit. Mama, di lain pihak, adalah seorang wanita yg senang merawat diri. Tubuh Mama tdk pernah gendut. Ia tampak langsing dan memiliki postur yg tegap bagai peragawati. Walaupun dadanya tdk terlalu membusung, namun tetap saja terlihat indah dan mancung di balik pakaiannya. Kulit Mama yg putih mulus dgn rambut dan wajah yg runcing dan cantik, seringkali membuat teman-temanku membicarakan Mamaku sebagai obyek seks. Hal yg sering membuatku bertengkar dgn teman-temanku.

    Tetapi jujur saja, aku sangat mengagumi kecantikan Mamaku. Pernah jg aku onani membayangkan tubuh Mamaku namun setelah itu aku merasa bersalah. kami punya kolam renang dan biasa berenang. Biasanya Mama memakai baju renang one piece. Dan karena biasa aku jadi tdk terlalu memikirkannya, namun suatu kali Mama memakai bikini kuning dan aku dapat melihat tubuh Mama yg hampir telanjang.

    Buah dada Mama memang tdk besar, namun gundukkan buah dadanya cukup jelas terlihat dan bentuknya tegak bukan kendor, dgn puting menyembul di kain penutup dadanya. Perut Mama begitu rata dgn pinggang ramping, namun pantat sedikit besar. Tinggi badannya 160 cm, lebih pendek dariku yg bertinggi 170 cm. Kulitnya begitu putih mulus bagai pualam. Tiba-tiba saja aku ngaceng dan akhirnya aku ke kamar mandi untuk onani.

    Saat itu aku berusia 17 tahun. Aku saat itu kelas 3 SMA. Berhubung aku sdh dewasa dan memiliki KTP, aku dihadiahkan mobil sedan yg sering kupakai untuk sekolah maupun jalan-jalan.

    Pada saat itu, usaha Papa dan Mama mengalami penurunan, penurunan ini mulai semenjak 3 tahun belakangan. Kami tertipu ratusan juta rupiah. Selain itu, banyak jg rekan bisnis yg memilih untuk berbisnis dgn saingan kami. Jg ada investasi yg tdk menguntungkan, maka makin lama, keuangan kami mulai menipis. Bahkan dua rumah peristirahatan kamipun dijual untuk menutupi hutang-hutang.

    Segala cara telah dicoba, mulai dgn menawarkan discount ke rekan bisnis ataupun customer, berhutang ke bank untuk ditanam sebagai modal (yg membuat hutang semakin menambah) dan bahkan pergi ke orang pintar untuk meminta bantuan. Namun semuanya tdk berhasil mengangkat perekonomian keluarga kami.

    Pada suatu hari, teman dekat Mamaku datang berkunjung. Mereka asyik berbincang ngalor ngidul. Akhirnya sampai pada topic keuangan. Teman Mamaku itu jg memiliki bisnis keluarga yg dibangun bersama suaminya. Mama bertanya kepada temannya mengenai kiat mereka sehingga dalam jaman susah begini usahanya makin maju.

    Sungguh terperanjat Mama ketika tahu, bahwa temannya itu pergi ke dukun di luar kota. Mulanya Mama tdk percaya, namun temannya tetap bersikukuh bahwa semua karena dukun itu. Akhirnya setelah bicara panjang lebar, Mama menjadi yakin dan ingin mencoba dukun itu. Anehnya, teman Mama berkata,

    “Tetapi, Ci. Ada syaratnya.”
    “Syarat? Syaratnya apa ya?”
    “Cici harus berangkat berdua ke dukun itu. Harus membawa teman pria, tetapi tdk boleh membawa suami.”
    “Loh, emang kenapa?”
    “Itu memang syaratnya. Pokoknya cici percaya saja. Saya sdh membuktikan sendiri. Dan segala perkataan dukun itu terbukti semua.”
    “Terus harus sama siapa?”
    “Pokoknya harus pria dewasa yg bukan suami sendiri. Cici kan punya sopir? Saya sarankan bawa sopir aja. Kan sekalian ada yg ngatar jg. Nah, begitu sampai, Cici dan supir Cici harus menghadap dukun itu.”

    Tak lama kemudian teman Mama pulang setelah memberitahukan alamat dukun itu dgn peta buram untuk mencapai ke sana. Malamnya, Mama dan Papa berembuk. Papa yg jg sdh tak berdaya menghadapi keadaan akhirnya setuju.

    “Tp, Ma,” kata Papa,” Papa ga mau Mama dianter sopir ke tempat dukun itu di luar kota. Papa ga merasa nyaman.”
    “Loh, Pak Har itu kan sdh lama jadi supir kita? Hampir 10 tahun.”
    “Papa tetap ga setuju.”
    “Tp syaratnya kan harus ada lelaki yg ngantar Mama.”
    “Begini saja, deh. Si Koko itu kan sdh besar, lagian dia jg sdh bisa bawa mobil. Mending kalian berdua saja yg pergi. Papa merasa kalau Koko yg nganter, maka lebih aman dan nyaman. Baik bagi Mama maupun bagi Papa.”

    Akhirnya mereka menyetujui hal ini. Aku jadi sopirnya Mama. Pada mulanya aku menolak, berhubung akhir minggu aku ada kencan dgn pacarku. Tp Papa malah marah dan mengatakan aku anak durhaka yg tak mau menolong keluarga. Akhirnya aku terpaksa menurut jg dgn hati penuh rasa sebal dan marah.

    Malam Sabtu kami berangkat sore. Perjalanan ke tempat dukun itu memakan waktu sekitar 5 jam. Sekitar pukul 10 kami sampai di tempat itu. Tampak banyak pengunjung. Ada sekitar 20an pasangan menunggu. Setelah kamipun ada sekitar 5 atau 6 pasangan yg datang.

    Dari kesemua pasien dukun itu, tampak sepertinya adalah majikan dan sopir. Namun ada jg yg bagaikan suami isteri yg sepantaran. Mungkin jg supir tp ganteng, entahlah. Mama dan aku berpandangan. Jgn-jgn harus dgn sopir. Wah bisa berabe nih. Namun karena nasi sdh menjadi bubur, maka kami tetap menunggu giliran kami dipanggil dukun itu.

    Akhirnya kami dipanggil masuk kamar dukun itu. Dukun itu tampak sedikit terkejut. Kami bersila di depannya dgn tempat kemenyan yg berasap di antara kami dan dukun itu. Setelah jeda yg agak lama ia berkata,

    “Maaf, Mama. Mama membawa siapa?”
    “Ini anak saya, Ki.”

    Dukun itu mengangguk-angguk dan terdiam berfikir selama beberapa saat. Akhirnya ia berkata,

    “Biasanya yg datang adalah pasien dgn sopirnya atau temannya. Tp Mama bawa anak sendiri. Bagus, bagus.”
    “Apanya yg bagus, dok?” tanyaku penasaran. Tp dukun itu tdk menjawab malah menerawang jauh seperti sedang memikirkan sesuatu yg berat. Akhirnya ia berkata lagi,
    “Ada keinginan apa, sehingga Mama datang ke sini?”

    Mamaku menjawab,

    “Begini, Ki. Kami sekeluarga memiliki usaha yg besar. Tetapi akhir-akhir ini terus merugi. Kami sdh melakukan segalanya untuk memperbaiki usaha kami, tp selalu gagal. Nah, menurut teman saya, Aki ini katanya pintar sekali dan manjur. Maka kami ke sini minta bantuan Aki agar usaha kami sukses.”

    Dukun itu manggut-manggut. Setelah terdiam (lagi) beberapa saat ia berkata,

    “Bisa. Bisa. Tp, syarat untuk mencapai keinginan ini berat sekali. Kalian harus bersumpah kepada Aki untuk melakukan syaratnya. Bila syarat ini tdk dilakukan, maka hasilnya adalah harta kalian akan habis sekejap dan kalian akan jadi miskin.”
    “Syarat apa itu, Ki? Kalau tdk berat maka kami pasti akan melakukannya,” kata Mamaku.
    “Syarat ini jelas berat. Namun, Aki tdk boleh membicarakan syarat sebelum kalian bersumpah dahulu. Ini adalah keharusan dari ilmu yg Aki miliki.”
    “Maksudnya, kami harus bersumpah tanpa tahu syaratnya apa?” Tanya Mama.
    “Betul.”
    “Gimana, ya Ki? Kami harus tahu dulu agar kami bisa menentukan bisa atau tdknya. Contoh, bila syaratnya membunuh orang, tentu kami tdk akan melakukannya.”
    “tdk perlu membunuh. Syarat ini tdk akan menyakiti orang lain malahan akan memberikan kebaikan pada diri sendiri.”
    “Aki tdk akan bilang syaratnya sebelum kami bersumpah?”

    Dukun itu mengangguk-angguk lagi.

    Mama menatapku dan bertanya,

    “Gimana?”
    “Koko sih setuju aja bila tdk harus menyakiti orang lain. Kan semua demi keluarga.”

    Akhirnya kami setuju. Dan ritual sumpah itu dilakukan. Kami bersumpah sendiri-sendiri dgn sang dukun memegang jidat kami dan mengasapi dgn kemenyan. Anehnya, aku hanya bersumpah akan melakukan satu syarat, sementara Mama harus bersumpah melakukan dua syarat. Barulah kemudian ia kembali duduk di tempat semula dan berkata,

    “Perlu diingat bahwa kalian sdh bersumpah. Dan dalam sumpah itu, kalian jg menerima bahwa apabila menolak melakukan syarat-syarat, maka harta kalian akan hilang dari muka bumi.”

    Kami berdua mengangguk.

    “Sebenarnya syaratnya adalah kalian harus melakukan ritual dalam sebulan tiga kali, untuk membuat jin-jin membantu kalian mengumpulkan uang. Bila ritual ini tdk dijalankan, maka jin-jin itu akan menghabiskan uang kalian, alias akan merugikan kalian sendiri. Ritual itu harus dilakukan kalian berdua sebagai pasangan yg datang kemari minta bantuan.”

    Sang dukun berdehem dan kemudian melanjutkan pembicaraan,

    “Ritual ini adalah ritual seks.”
    “Apaaaa?”

    Kami berdua kaget setengah mati. Ritual seks? Mama dan anak?”

    “Tp, Ki. Kami Mama dan anak!” kata Mamaku.
    “Justru disitulah kuncinya. Selama ini, Aki menganjurkan ritual dgn lelaki yg bukan suami. Demikian tuntutan ilmu itu. Berselingkuh dgn lelaki lain membuat jin-jin itu akan datang menonton dan bekerja kepada pasangan tdk sah itu. Sedangkan bila Mama dgn anak melakukan ritual, dapat dipastikan jin-jin yg datang akan lebih banyak. Karena selain berselingkuh itu adalah sesuatu yg disukai jin-jin itu, maka berselingkuh dgn anak sendiri adalah hal yg paling disukai mereka. Dipastikan akan lebih banyak Jin yg datang.”
    “Tp…… tp………..”

    Sang Dukun memotong,

    “Yg perlu diingat sumpah si lelaki hanya satu syarat, tetapi sumpah si perempuan ada 2 syarat. Yg satu adalah melakukan ritual dgn pasangan yg di bawa ke sini, yg satu adalah untuk menghentikan hubungan seksual dgn suami sendiri. Ini adalah kesenangan Jin yg lain, melihat bahwa si suami tdk mendapatkan tubuh isterinya, sementara isterinya memberikan diri kepada orang lain.”

    Mama tambah membelalakan matanya. Seks dgn anak sdh parah, kini tdk boleh berhubungan seks dgn suaminya. Rupanya dukun ini adalah dukun ilmu hitam. Ada rasa penyesalan yg terlihat di wajah Mama. Aku pun kaget jadinya.

    Dukun ini berwajah angker dan berwibawa. Mama tdk berani menolak melainkan hanya mengangguk saja untuk memperlihatkan persetujuan. Akhirnya Mama membayar mahar sekitar sepuluh juta rupiah lalu kami pergi dari situ.

    Sepanjang jalan Mama ngomel-ngomel. Untung saja Pak Har, supir kami tdk ikut. Pak Har itu sdh tua dan tampangnya jg jelek. Mama mana nafsu dgn lelaki itu. Aku sepanjang jalan terdiam karena ketika mendengar syarat itu aku terkejut seperti Mama, namun aku tdk semarah Mama, melainkan aku menjadi membayangkan tubuh Mama saat memakai bikini dan penisku langsung bangun. Sungguh tak percaya aku mendengarnya. Aku malahan Bahagia. Moga-moga saja Mama mau melakukannya ketika sampai rumah.

    Namun, dalam perjalanan kami itu, Mama menekankan bahwa kami tdk akan berhubungan seks. Dukun itu memang gila. Masa harus begituan dgn anak sendiri? Aku menjadi kecewa dan sedih, namun aku berusaha tdk menunjukkannya.

    Kami sampai di Jakarta keesokan paginya. Aku langsung tidur karena letih dan begitu jg Mama. Sampai beberapa minggu hal ini tdk pernah kami bicarakan.

    Tiga minggu kemudian, saat itu malam hari. Mama mengetuk pintu kamarku dan masuk ke kamarku. Mama memakai daster yg panjang ke lutut namun bagian atasnya merupakan gaun berleher rendah dgn tali daster yg tipis memeluk bahunya. Sayangnya Mama pakai BH, dapat kulihat tali BHnya yg ada di bawah tali dasternya dan sedikit cup BH yg menyembul karena leher gaun yg cukup rendah. Aku sedang nonton TV sambil tiduran dgn hanya memakai celana boxer, karena memang seperti itu kebiasaanku.

    “Ko, kamu inget dukun yg pernah kita datangi bersama-sama waktu itu?”
    “Oh, yg gila itu?” kataku sambil terus menonton TV untuk menunjukkan aku tdk terlalu memikirkan hal itu, padahal selama ini aku selalu masturbasi membayangkan Mama semenjak pulang dari dukun itu.
    “Begini, Ko. kamu inget ga, apa kata dukun itu bila kita tdk melakukan ritual?”

    Aku belagak mendengus tak percaya, padahal aku ingat sekali semua perkataan dukun itu. Dukun itu bilang, kalau kami berdua tdk jg berhubungan seks, maka keluarga kami akan bangkrut. Aku diam-diam berharap sekali bahwa usaha keluarga kami merugi agar aku bisa tidur dgn Mama.

    “Dukun itu benar, Jun. tiga minggu ini, usaha kita rugi terus. hampir 1 M melayg selama tiga minggu ini. Dan bila ini terus terjadi, kita terpaksa harus menjual hampir seluruh harta kita.”
    “Apa?” aku berkata dgn memasang muka sedih, kecewa, kaget dan lain-lain.

    Namun hatiku berbunga-bunga. Pucuk dicinta ulam tiba, kata orang tua. Dalam hati aku begitu bahagianya hingga aku susah payah menahan senyum di wajahku. Rasanya ingin berteriak. Apakah ini berarti Mamaku mengajakku ML?

    Mama mendehem sekali. Tampak ia gugup.

    “Nah, Mama dan Papa tak pernah menyimpan rahasia. Dulu sewaktu pulang, Papamu telah Mama beritahu tentang dukun ini. Maka, sekarangpun Papamu tahu bahwa kita merugi karena ulah sumpah kita sendiri.”
    “Terus?” dalam hati aku berteriak kegirangan. Tampaknya, harapanku akan segera terwujud.
    “Mama dan Papa sepakat untuk mengikuti ritual ini selama sebulan ini. Terus kita lihat apakah ada perubahan? Bila tdk ada, maka kami berdua mohon agar kamu melupakan semua ini dan memaafkan kami berdua.”
    “Bila ada perubahan dan usaha kita untung?”

    Mama hanya menggeleng,

    “Kita lihat saja nanti.”

    Kemudian Mama menghampiriku. Aku deg-degan sekali. Mama menarik boxerku sehingga lepas. Kaget jg ia ketika melihat penisku yg besar sdh tegak berdiri akibat pembicaraan ini. Terlihat di raut mukanya bahwa ia kaget.

    “Mama agak bingung bagaimana seharusnya kita melakukannya. Tp Mama berpendapat, kita tdk boleh melakukan hubungan seksual dgn percintaan, karena kita Mama dan anak.”

    “Maksud Mama?”

    “Kita tdk perlu ciuman, buka seluruh pakaian dan lain-lain seperti sepasang kekasih. Mama tetap akan pakai daster. Kamu tdk boleh memegang Mama. Biar Mama di atas saja. Kamu diam saja di bawah.”

    Maka aku berbaring diam. Mamaku menekan penisku sampai menempel di perutku dgn tangan kirinya, lalu ia menduduki penisku. Ternyata di balik daster Mama, tdk ada celana dalam sehingga batang penisku merasakan bibir Meki Mama menekan di batang penisku.

    “Kemaluan perempuan harus basah dulu. Jadi, mama akan gesek-gesek sebentar sampai kemaluan Mama basah, lalu kita akan melanjutkan ke ritual.”

    Lalu Mama menopang tubuhnya dgn memegang dadaku, kemudian ia mulai menggesekkan Mekinya di batang penisku. Aku dapat merasakan bibir Mekinya membuka dan penisku kini dijepit bibir itu, sementara bagian bawah batang penisku menekan bagian dalam Meki Mama, tepatnya dinding di mana labium minoranya terletak.

    Lama kelamaan keluar cairan pelumas. Aku dapat merasakan Meki Mama perlahan mulai lembap dan licin lalu basah karena lendir yg keluar dari Mekinya. Selama proses ini Mama memejamkan matanya. Akhirnya setelah beberapa menit, selangkangan Mama dan batang penisku sdh licin karena lendir Mama.

    Pengalaman ini terus kuingat sepanjang hidupku. Walaupun Mama tdk membuka pakaiannya, namun aku merasakan sensualitas yg sangat tinggi menguasai tubuhku. Saat vagina Mama sdh basah dan membasahi batang penisku, aku dapat mencium bau badan Mamaku yg perlahan memasuki hidungku. Selain itu, tubuh Mama hari itu wangi karena tampaknya baru saja mandi. Jadi, aku dapat mencium wangi sabun dan jg wangi kemaluan Mamaku tercampur di udara.

    Setelah yakin bahwa Mekinya telah licin dan siap untuk dimasuki penisku, Mama berlutut sebentar, tangannya memegang penisku dan diacungkan ke atas, lalu ia memposisikan penisku di depan lubang Mekinya. Setelah posisinya pas, maka ia duduk perlahan di penisku.

    Nikmatnya merasakan penisku perlahan menembus Meki Mama. Pertama-tama lingkar luar lubang vagina Mama dilewati oleh kepala penisku dgn susah payah. Untuk beberapa saat ujung penisku tdk berhasil masuk lubang kecil itu, lalu plop! Tiba-tiba kepala penisku sdh masuk ke dalam liang senggama Mama. Lubang Meki Mama sempit sekali, kepala penisku bagai sedang dijepit tabung silinder yg sempit. Mama mendesah bagai sedang makan cabe. Lalu perlahan menurunkan tubuhnya lagi sampai tiga perempat penisku menggeleser lebih jauh dalam lubang kencingnya itu. Namun, tiba-tba saja gerakan Mama berhenti karena penisku menancap di lingkaran lubang masuk ke rahim milik Mama.

    “Punya kamu besar dan panjang. Belum masuk semua udah ada di ujung rahim Mama,” kata Mama dgn nafas tersengal. Sementara itu, Meki Mama berdenyut-denyut, dan menjepit penisku begitu kuatnya. Aku merasa linu di lututku dan aku mengerang nikmat sekali walaupun penisku berasa sedikit sakit karena sempitnya Meki Mamaku.

    Desahan Mama makin jelas, lalu tiba-tiba Mama menghempaskan tubuhnya ke bawah sehingga kini penisku ambles ke dalam liang persenggamaan Mamaku. Aku dapat merasakan kepala penisku melewati lubang masuk rahim Mama dan kini kepala penisku dan sedikit bagian batang penisku sdh ada di dalam rahim Mama.

    Mama melenguh kecil,

    “Uuuuuuuhhhhh………………. Belum pernah ada yg masuk sejauh ini………… tahan sebentar, ya………”

    Mata Mama terpejam erat. Wajahnya meringis. Nafas Mama memburu. Sementara itu, Aku menjadi serba salah. Ingin rasanya kupeluk Mama lalu kuentot dgn buas tubuhnya, namun aku takut dimarahi. Kepalaku pusing menahan birahi ini. Dinding vagina Mama yg halus dan basah itu begitu kuat menjepit penisku lagi lubang itu seakan mengenyot batangku karena membuka dan menutup seiring irama nafas Mama. Beberapa saat kemudian barulah Mama mulai menaik turunkan pantatnya. Mamaku mulai mengentoti aku dgn perlahan-lahan.

    Kedua tanganku meremas seprai, sementara mataku berusaha melihat selangkangan kami berdua, namun daster Mama menghalangi. Kupandangi wajah Mama yg cantik itu. Dahi Mama mengerut seakan menahan sakit dan matanya terpejam rapat. Nafasnya yg mulai memburu mengeluarkan suara desahan nafas yg ditahan. Semakin lama nafas Mama semakin cepat dan hembusannya makin terasa di wajahku. Nafas Mama begitu segar dalam indera penciumanku.

    Meki Mama masih mengocoki burungku. Selangkanganku kini sdh basah oleh lendir vagina Mamaku. Bau tubuh Mama yg menguar dari dalam kemaluannya menjadi makin kuat, mengalahkan wangi sabun yg merebak dari tubuhnya. Bau tubuh Mama yg sedang birahi, Bau yg Belum pernah kucium sebelum malam ini, karena selama ini Mama selalu memakai parfum mahal, sehingga aku tdk pernah tahu bau tubuh Mama yg sebenarnya.

    Aku merasakan sesuatu yg belum pernah kurasakan. Penisku yg tadinya perjaka kini sdh mengalami hubungan seks dgn perempuan. Meki Mamaku menyedot-nyedot penisku, mengirimkan sensasi sensual yg menjalar dari burungku hingga ke seluruh ujung tubuhku. Aku seakan berada di suatu tempat fantasi yg indah, bukan lagi di bumi. Suatu perasaan yg begitu nikmatnya sehingga barulah aku setuju dgn orang-orang bahwa ngentot itu adalah pekerjaan yg paling enak dilakukan.

    Makin lama pantat Mama makin cepat digoyang. Selangkangan Mama menumbuki selangkanganku dgn bunyi yg terdengar makin keras. Mulut Mama mulai membuka dan desahan mulutnya mulai berubah menjadi erangan.

    “aaaaaaahhhhhhhhhhhh………….. mmmmmpppphhhhhhh…………. Aaaaaaaaaaaahhh……..”

    Tiba-tiba Mama merebahkan diri di tubuhku dgn mata masih terpejam. Kedua tangannya memeluk pundakku dari luar kedua tanganku, sehingga menjepit kedua tanganku di samping tubuhku dgn telapak tangan mengarah kedepan sehingga ia memegang pundakku dari belakang. Dapat kurasakan kedua payudara Mama menekan dadaku dari balik daster dan BHnya. Aku tdk tahu kekenyalan yg kurasakan apakah karena busa BH ataukah karena tetek itu sendiri. Maklum, inilah pertama kalinya aku ngentot sehingga masih buta segala sesuatunya.

    Bau tubuh Mama yg begitu erotis dan sensual membuatku gila, Aku ingin sekali merengkuh tubuh Mama dan balas mengentotinya dgn liar. Aku pikir karena Mama sdh memelukku, maka akupun tak apa memeluknya. Oleh Karena itu, ku peluk Mama dgn telapak tanganku memegang pantatnya.

    Ketika aku mulai meremasi pantat Mama, Mama kurasakan kaget karena menarik nafas tiba-tiba. Kupikir ia akan marah, namun ternyata ia melanjutkan erangannya.

    “Yeeeeaaaaaaaaaaah…… mmmmmpppphhhhhhh………. Ahhhhhhhhhhhh………..”

    Pipi kami berdua kini menempel. Pelukan Mama makin erat saja, dan selangkangan kami kini sdh basah kuyup oleh cairan vagina Mama. Suara selangkangan kami yg beradu begitu cepatnya dank eras memenuhi kamar tidurku.

    “clekclekclekclekclekclek……..”

    Ditingkahi erangan Mama yg terus menerus mengatakan ‘yeah’ dan ‘ah’ diulang-ulang. Aku jg menjadi ikut terbawa suasana. Aku memberanikan diri mengerang jg.

    “aaaaahhhhhh….. mmmmmpppphhhhhhh…… maaaa…………. Aaaaaaaaaaaahhhhhh……… Maaaa……”

    Sengaja kupanggil Mama disela-sela eranganku karena hal ini membuat aku makin bernafsu. Dgn memanggil Mama, maka tersirat bahwa aku menyadari bahwa aku sedang bersetubuh dgn Mamaku dan aku menyukai bersenggama dgn Mamaku. Entah apakah Mama menyadarinya…

    Namun reaksi Mama hanya terus mengerang, namun pipinya kini diusap-usapkan ke pipiku. Sementara pelukan Mama kurasa kini sdh erat sekali. Pantat Mamapun kini digerakkan naik turun begitu cepat dan keras, untungnya spring bed ku mahal sehingga mengikuti gerakan tubuh kami sehingga aku tdk merasa sakit.

    Tiba-tiba Mama menekan pantatnya dalam-dalam sambil memeluk erat sekali. Pipinya pun ditekan keras-keras jg di pipiku. Dan kini Mama tdk mengerang, melainkan berteriak keras-keras,

    “Aaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh………………..”

    Kurasakan selangkangannya dan terutama dinding Mekinya bergetar bagaikan tubuh orang yg kedinginan sambil menjepit penisku erat-erat. Kejadian berikutnya berlangsung begitu cepat. Aku tak kuasa menahan birahi yg sedari tadi coba kutahan-tahan. Rasanya begitu nikmat dijepit Mekinya yg hangat dan licin itu. Entah bagaimana, naluriku yg mengambil alih, aku lepas kedua tangan dari pantat Mama, lalu kupeluk tubuhnya erat-erat, kemudian aku putar badan, bagaikan pegulat professional sehingga kini aku yg ada di atas tubuh Mama. Mama masih orgasme namun membalas dgn merangkulku dgn satu tangan mendekap belakang kepalaku sementara satu tangan memeluk bahuku, dan kedua kakinya kini merangkul bagian bawah tubuhku dgn kedua tumit kaki ditekan ke pantatku.

    Setelah Mama kutindih, dgn secepat mungkin dan sekuat mungkin aku kocok lubang meki Mama. Kusedot leher Mama dgn mulutku pula. Mama masih mengerang dgn keras dan memelukku erat-erat. Kulit leher Mama begitu halus di mulutku. Kucupang leher itu dgn mengenyotinya keras-keras. Sementara Meki Mama yg sempit itu kuhujami berkali-kali sekuatnya. Akhirnya aku sampai jg. Kutumpahkan maniku di dalam rahim Mama.

    Kami terdiam beberapa lama. Lalu tanpa bicara, Mama mendorong tubuhku sehingga tak lagi menindihnya, lalu ia pergi ngeloyor keluar. Di antara perasaan kecewaku, ada perasaan Bahagia dan puas jg. Akhirnya, pikirku. Lalu aku tertidur.

    Keesokan harinya, sarapan pagi dgn kedua orangtuaku menjadi canggung. Kami bertiga tdk banyak bercakap-cakap seperti biasanya. Mama dan Papa hanya berbicara seperlunya saja. Aku sendiri malah hanya terdiam saja sambil mengunyah. Kami bertiga tahu apa yg terjadi tadi malam, sehingga masing-masing terbelenggu dgn fakta bahwa Mama dan anak tadi malam baru saja melakukan perhubungan yg tabu.

    Papa pergi bekerja, sementara Mama menyMamakkan diri di dapur untuk cuci piring dan lainnya. Aku tdk tahu apa yg harus aku lakukan sehingga memutuskan untuk sekolah tanpa berbicara apa-apa lagi. Hubungan keluarga kami sekarang sdh berbeda dan tdk dapat dirubah lagi. Entah aku ini senang atau tdk, namun kini, tiap kali aku lihat Mama maka aku pasti ngaceng.

    Ketika hari makin cepat berlalu, aku jadi semakin kecewa. Karena Mamaku tdk pernah lagi datang ke kamarku untuk begituan. Apakah dukun itu gagal? Pikirku. Apakah Papa masih merugi walaupun aku dan Mama telah melakukan ritual? Aku menjadi sangat sedih ketika kulihat pada bulan ini, tinggal tersisa dua hari lagi. Malam ini akan terlihat apakah Mama akan meneruskan ritual itu, karena sesuai pesanan pak dukun, kami harus melakukannya tiga kali dalam sebulan.

    Hari telah malam dan menunjukkan pukul sepuluh. Aku duduk di kamar dgn hanya memakai celana boxer saja. Jantungku berdetak kacau menunggu Mama. Di satu pihak aku berharap sangat Mama akan datang, di lain pihak aku ketakutan bila Mama tdk datang hari ini.

    Tiba-tiba saja pintu perlahan terbuka, dan Mama masuk ke dalam kamar dgn memakai daster yg sama. Aku merasa lega sekali. Perasaanku berbunga-bunga dan perlahan burungku mulai mengeras. Aku menanti-nanti dgn jantung yg berdebar-debar ketika Mama naik ke tempat tidur pelan-pelan tanpa mengeluarkan suara, matanya tak pernah menatap mataku, lalu ia memelorotkan celanaku sampai lepas dan menduduki penisku seperti sebelumnya. Hanya saja, saat ini aku sedang duduk di tempat tidur dan bukan tiduran seperti sebelumnya.

    Kini posisinya Mama menduduki kedua pahaku dan kemaluannya menempel di batang penisku yg kini mengacung ke atas terjepit antara Meki Mama dan perutku sendiri, lalu Mama memeluk kepalaku sehingga jatuh di pundaknya. Namun aku dapat melihat bahwa kini teteknya tdk ditutupi BH sehingga aku menjadi girang tak terkira. Apalagi saat dadaku merasakan tetek Mama yg hanya berlapiskan daster untuk pertama kalinya. Tetek Mama begitu empuk dan kenyal dgn puting yg menonjol bagaikan pensil.

    Mama tdk bau sabun. Tampaknya ia tdk mandi sebelum ke sini seperti sebelumnya, tp aku tdk kecewa. Malah aku senang jadinya. Aroma Meki Mama yg pernah kucium sedikit tercium dari ketiak Mama. Mama mulai menggesekkan kemaluannya di batang penisku. Namun, kali ini gesekkannya lebih cepat dan nafas Mama pun kali ini memburu lebih cepat dibandingkan sebelumnya dan lagi pelukan Mama begitu eratnya. Akupun memeluk badan Mama dan Mama tampaknya tdk marah.

    Apakah Mama sdh horny duluan? Pikirku dalam hati. Ada kemungkinan begitu, karena aku ingat bahwa dukun bilang Mama hanya boleh bersenggama dgnku, sementara sdh duapuluh hari yg lalu kami berdua melakukan hubungan seksual. Kemungkinan selama ini Mama seringkali berhubungan seks dgn Papa. Aku pun kalau menjadi Papa akan selalu ingin berhubungan seks dgn isteri secantik Mama.

    Tak lama Meki Mama sdh basah sekali. Kemudian Mama melepaskan pelukannya, lalu sedikit menaikan pantat, memegang penisku dan akhirnya memasukkan Mekinya ke penisku yg sdh tegang dari tadi hingga kepala penisku memasuki liang senggamanya. Mama lalu menaruh kedua tangannya di pundakku lalu perlahan-lahan merendahkan tubuhnya sehingga perlahan Mekinya membungkus penisku.

    Sepanjang perjalanan masuknya penisku, Mama memejamkan matanya dan melenguh,

    “mmmppphhhhhhhhh…………. Yeaaaaaahhhhhhhhhh……..”

    “Maaaamaaaaahhhhh…..” kataku tak mau kalah,” yeeeaaaaaaah…… Maaaaa……….”

    Ketika penisku sampai lagi di ujung rahimnya, Mama melingkarkan tangannya di leherku dan dgn satu tangan mendekap kepalaku. Lalu tiba-tiba pantatnya dihenyakkan ke bawah sehingga penisku menghujam masuk rahimnya secara cepat.

    Reaksiku adalah memeluk Mama erat-erat karena kaget dan sedikit sakit. Rangkulan Mamapun jg makin erat. Mama mengerang-ngerang dan aku mendesah-desah merasakan sensasi penisku yg dMamangkus dinding Meki Mama sedang dipijat-pijat dinding Meki itu.

    Lalu Mama mulai menggoyang pantatnya. Aku merasakan nikmat sekali. Apalagi kini kami dalam posisi duduk dan berpelukan. Rasanya kami adalah dua pasang kekasih. Kuingat Mama tdk mau berciuman dgnku, namun aku tak tahan dgn keintiman tanpa cinta ini. Aku ingin sekali menciumi tubuh Mamaku. Akhirnya aku masa bodo dan mulai mengenyot pundak Mama yg telanjang.

    Mama mulai mendesis-desis seperti kepedesan. Aku kini menjilati pundak Mama dan mengarah ke lehernya. Kukecupi dan kujilati leher Mama yg halus. Wajahku terbenam di lehernya, rambut Mama menutupi kepalaku. Wangi shampoo Mama dan bau tubuh Mama bercampur di hidungku. Ini adalah bau surgawi, pikirku dalam hati. Mulutku tdk pernah tinggal diam. Leher Mama sdh habis aku ciumi, jilati dan kenyoti. Mama makin keras mendesahnya. Semakin lama Mama mempercepat goyangannya pula.

    Kedua tanganku kugerakkan ke bawah sehingga meremas kedua pantat Mama yg bahenol. Otot pantat Mama sungguh kenyal dan tdk lembek. Ini mungkin karena Mama rajin ke gym untuk berolahraga. Sementara itu, kedua pantat Mama yg masih ditutupi daster telah kuremas-remas sambil kutarik-tarik seirama dgn goyangan pantat Mama.

    Suatu saat ketika aku meremas-remas pantat Mama, tak sengaja kain daster Mama sdh tertarik ke atas. Aku baru menyadari ketika ujung jari tangan kiriku menyentuh kulit Mama. Aku serentak mendapatkan ilham. Aku mulai meremasi pantat Mama sambil berusaha menyingkap daster Mama ke atas lagi. Usahaku perlahan berhasil. Pada akhirnya kedua tanganku berhasil menggenggam kedua pantat Mama tanpa dihalangi kain daster itu.

    Mama masih sMamak menggoyangkan pantat dan mengerang-erang kenikmatan. Aku mengambil kesempatan dgn menyusupkan tangan kananku ke atas sehingga kini tangan kananku sdh berada dalam daster dan memegang punggung Mamaku secara langsung.

    Tiba-tiba Mama memelukku begitu eratnya aku sampai aku merasa sedikit sesak. Selangkangan Mama tiba-tiba berhenti bergerak. Mama menekan penisku keras sekali sambil berseru,

    “Yeeeeaaaahhhhhh…… Mama sampaaaaiiiiiiii……………”

    Mamaku orgasme duluan. Akhirnya Mama melepaskan pelukannya beberapa saat kemudian. Aku kecewa begitu Mamaku menarik kedua tanganku sampai lepas dari tubuhnya. Ia menatapku lalu berkata,

    “Ko, kamu itu bandel ya. Kamu kok cium-cium leher Mama kayak gitu. Kan Mama sdh bilang, kita ini bukan kekasih. Kita ini Mama dan anak. Jgn berperilaku ga sopan gitu donk.”

    Aku hanya menunduk saja karena kecewa. Tp setdknya tanganku yg menggerepe dia tdk diprotes. Artinya aku boleh lagi nanti. Mama meninggalkan pangkuanku, untuk sementara aku kecewa sekali karena belum sampai orgasme, namun Mama tdk keluar kamar melainkan ia merangkak di tempat tidur bagai anjing, hanya saja sedikit nungging karena kepalanya ia taruh di bantal. Mama lalu menoleh ke arahku yg berada di belakangnya dan berkata,

    “Kamu masukkin dari belakang saja ya. Biar kamu ga cium-cium Mama lagi.”

    Tanpa disuruh kedua kalinya, Aku segera memposisikan diri di belakang Mama, berhubung aku lebih tinggi dari Mama, maka aku hanya sedikit menekuk lutut agar penisku sejajar dgn Mekinya. Aku menyingkap dasternya yg saat itu menutup pantatnya. Karena Mama tdk bilang apa-apa, aku beranikan diri menyingkap daster itu hingga tersingkap hingga setengah punggungnya. Aku belum berani terlalu jauh takut dimarahi.

    Aku tekan penisku di depan lubang Meki Mama dgn dipandu tangan kananku, tangan kiriku menyibak pantatnya agar terlihat lubang itu. Setelah pas posisinya, aku dorong pantatku perlahan demi menikmati sensasi gesekan penisku yg memasuki liang vagina Mamaku, suatu sensasi gerakan menggeser di mana gesekkan antara dinding vagina Mama dan batang penisku menyebabkan nafsu birahiku yg sdh tinggi menjadi semakin tinggi lagi.

    Gerakanku terhenti ketika penisku sdh di ujung lubang dalam vagina Mama dan mencapai awal rahimnya. Kini kedua tanganku memegang kedua pinggul Mama. Sambil menghentakkan pantatku ke depan, kedua tanganku menarik pinggulnya untuk menambah tenaga tumbukkan. Dgn suara plok tanda selangkanganku menampar pantat Mama, kepala penisku kini sdh memasuki rahim Mama.

    “Ooooooooh……………” teriak Mama perlahan,” dalam banget rasanya…………….”

    Dalam posisi seperti ini, aku rasakan seluruh kepala penisku masuk ke rahim Mama, sementara sebelumnya hanya tiga perempat saja yg masuk. Posisi ini ternyata memberikan jarak penetrasi yg lebih jauh.

    Aku terpaku pada pemandangan indah di bawahku. Mamaku yg sedang setengah telanjang dgn daster terbuka setengah punggung dan bagian bawah yg telanjang, dalam posisi doggy style dgn penisku ambles memasuki Mekinya. Aku tarik kedua pantatnya menggunakan kedua tanganku agar pemandangan ini lebih jelas. Kulihat anus Mama begitu rapat tanda Mama sedang mengencangkan otot vaginanya yg membuat penisku merasa nikmat karena diremas otot vaginanya itu.

    Perlahan kutarik penisku hingga hanya setengah yg keluar dari Meki Mama, lalu kudorong lagi sehingga seluruh penisku terbenam di sana. Kulakukan berulang-ulang masih dgn gerakan pelan, karena pemandangan penisku keluar masuk lubang kehormatan Mamaku itu begitu indah di mataku. Begitu sucinya selangkangan Mama. Begitu sucinya kemaluan Mama. Kemaluan yg hanya pernah dijelajah oleh ayahku dan kini aku yg menjelajahi tiap jengkalnya. Bahkan Papaku itu belum pernah menjelajah sampai ke dalam rahim Mama.

    Aku menjelajahi alat reproduksi Mama lebih jauh daripada siapapun di dunia ini! Saat itulah aku berketetapan dalam hati, bahwa Mama harus menjadi milikku dan bukan milik orang lain. Perempuan keturunan Tionghoa ini harus menjadi milikku. Seluruh jengkal tubuh perempuan ini harus jadi milikku. Aku harus menjelajahi tiap senti tubuh seksi ini. Tubuh seorang bidadari yg turun dari surga.

    Entah beberapa menit aku asyik menarik dan mendorong penisku untuk menggeleser dalam lubang kenikmatan Mamaku, aku baru sadar ketika Mamaku mulai balas mendorong dan menarik pantatnya. Selain itu, suara Mama mulai terdengar lagi,

    “Yeaaah…… yeaaaaaaaaaaaaah……. Lebih cepat….. lebih cepat…….. yeaaaahhhhh..”

    Maka aku mulai mempercepat gerakanku. Di samping tempat tidurku ada lemari dgn kaca besar di salah satu pintunya. Aku melihat bayangan kami berdua di cermin itu. Cermin yg menunjukkan seorang remaja sedang mengentot perempuan dewasa dalam posisi doggy style. Kepala perempuan itu bergerak-gerak dan di wajahnya tampak kenikmatan dalam bersenggama. Aku lihat dasternya yg terbuka sampai setengah tubuh Mama. Mungkin kalau aku dorong sedikit-sedikit, aku dapat melihat tetek Mama dari cermin.

    Aku segera bertindak. Kedua tanganku yg sedang memegang pantatnya mulai kugerakan untuk meremas-remas pantat itu. Mama mulai memperkeras suaranya, kurasa Mama tdk sengaja melainkan kenikmatan ini sdh menguasai pikirannya.

    “Yeeeeahhhhhhhhhh!! Cepaaat……….!! Teruuuuus……… Yeeeeaaaaaaaaaaahhhh…….”

    Kedua tanganku kini mulai mengusap-usap pantatnya diselingi oleh remasan. Makin lama kedua telapakku bergerak ke atas. Kini punggung bawahnya aku belai. Sebenarnya belai tdk tepat, melainkan aku mengusap-usap punggungnya. Akhirnya usapanku makin memanjang, dari bawah punggung ke bagian tengah punggung Mama tepat di kain dasternya yg terlipat di sana.

    Punggung Mama begitu licin karena Mama sdh keringatan. Kulit putihnya mengkilat dijilat oleh cahaya lampu kamar. Begitu erotis, pikirku. Usapanku itu terus ku lakukan hingga jari tanganku mulai mendorongi daster Mama sedikit demi sedikit. Namun agak susah mendorongnya karena daster itu terlipat. Aku mendapat ilham lagi lalu aku mengusap ke atas lagi namun kali ini bukan mendorong daster melainkan tanganku menyusup. Setelah setengah telapakku menyusup di balik daster di bagian tengah punggung di antara belikatnya, aku segera mengusap balik ke bawah dan menunggu reaksi Mama. Mama tetap hanya mengerang-ngerang.

    “Yeaaaaah……… teruuuuuusssss!!!!”

    Aku susupkan lagi tanganku di bawah dasternya, namun kali ini ketika jariku hendak masuk, aku menggerakkan kedua telunjukku ke atas dan aku mengkaitkan kain daster itu di kedua telunjukku, menyebabkan bagian bawah daster mama terjepit antara telunjuk dan jari tengahku, lalu kuteruskan mengusap ke atas dgn kedua tanganku, sehingga kini kain daster Mama ikut bergerak ke atas. Untung saja posisi Mama sedikit nungging, sehingga daster itu kini berjumbel di dada bagian atasnya dan tdk kembali jatuh ke bawah.

    Dari cermin kulihat toket Mama yg bulat dan mancung menjuntai. Yg menakjubkan adalah toket itu tampak lebih besar daripada yg tersirat ketika Mama memakai baju. Aku ingin sekali meraba dada itu namun takut dimarahi. Makanya aku kini kembali mengusap-usap punggung Mama. Tak terasa karena aku semakin bernafsu, aku kini mengentoti Mama dgn kuat. Selangkanganku menumbuki pantat Mama dgn mengeluarkan suara PLOK! PLOK! PLOK! Yg keras terdengar.

    “YEAAAH……!” tahu-tahu kini suara Mama keras sekali. Mama sdh berteriak dan suaranya memenuhi ruangan kamarku,
    ”TERUUUUSS……. KOCOK TERUUUUS…….. KOCOK MEKI MAMAAAA……. MAMA SAMPAIIIII……..”

    Aku kaget. Kemarin Mama tdk seliar ini. Entah apa yg ada dipikirannya. Aku menjadi gelap mata. Kuraih kedua payudaranya dari belakang. Kurasakan bulatan payudara Mama melebihi kapasitas genggamanku. Ternyata cukup lebar lingkar payudara Mama. Aku remasi payudara Mama yg lembut dan kenyal itu. Dan aku tiba-tiba saja tak dapat menahan lagi dan memuntahkan peju di dalam rahim Mama.

    Setelah beberapa saat aku merebahkan diri di samping Mama. Entah bagaimana aku merasa sangat puas dan tenteram sehingga tak lama kemudian aku tertidur.

  • Cerita Panas Pimpinan Bank

    Cerita Panas Pimpinan Bank


    421 views

    Cerita Panas Pimpinan Bank

    Hallo, perkenalkan nama saya Hengky (nama samaran tentunya). Saat ini sih berusia 38 tahun. Mempunyai seorang istri dan 2 orang anak. umur 8 dan 7 tahun. Bisa dibilang kami keluarga yg bahagia. Anakku 1 cowok dan 1 cewek, pas sdh. Istriku? Well, katakan I am a lucky bastard. Istriku seorang yg cantik dan seksi, tinggi badanya 170-an, buah dadanya bisa dikatakan proposional dgn tubuhnya, montok atau lebih tepatnya sedikit chubby. Aku memang tdk suka cewek yg kurus dan entah kenapa cewek chubby selalu membuatku terangsang. Chubby bukan ndut ato overweight. Istriku suka berpakain yg seksi, itu ditunjang oleh kulitanya yg putih mulus dan perawakan tubuhnya yg bohay.

    Rambutnya yg panjang seketiak membuat dia sangatlah sedap untuk dipandang. dan saya tahu kalo kita pergi jalan ke mall, pasti banyak mata laki-laki yg melihatnya, walaupun cuman sekilas. –cerita sex terbaru– Somehow, bikin gw bangga sekaligus teransang (sakit kali gw). Tinggiku 186cm dgn berat 90kg. Penisku standart orang indonesia sih. gak panjang kayak di film BF ataupun kayak di cerita dewasa lainnya. Aku gak pernah ngukur berapa panjangnya, tp yg bisa kubanggakan adalah diameternya. Bisa dibilang lebih gendut dibanding temen yg aku kenal, ada sedikit garis-garis urat dgn kepala penis yg cukup besar. Aku gak tahu standart besar itu gimana, tp penisku telah banyak memuaskan banyak cewek. Jadi aku yakin punyaku memang cukup bagus.

    gw ngesex dgn pembantu tetangga yg berumur 50-an tp masih bagus untuk di-ML. Well, itu sekitar 5-6 bulan yg lalu. Sekarang bu lastri dah pulang kampung nemenin adek-nya yg suaminya meninggal. Kemungkinan gak bakal balik dan tetangga sebelahku juga sdh mengambil pembantu baru yg maish muda, kurus, item dan gak menarik perhatianku. yah, hilang deh sumber pelampiasanku. Jadi beberapa bulan terakhir gw cuman sesekali ngesex dgn kenalan lama yg emang dulu pernah ngesex.

    Sampe dua bulan terakhir ini, gw punya tempat pelampiasan tetap. Lebih muda sedikit dari bu lastri, lebih ramping sedikit dari bu lastri (bahkan lebih ramping dikit dari istriku), tp buah dadanya montok. Damn! gw suka banget sama cewek yg berbuah dada montok. Dia berusia lebih tua 7-8 tahuan dari gw deh. Agak tinggi walaupun gak tinggi-tinggi banget, gak tahu deh tingginya berapa. Perutnya rata, padahal anaknya 2 dan udah gede-gede. Dia nikah muda, jadi anaknya sekrang paling tua sdh kuliah. Namaya bu Sandra.

    Bu Sandra saat ini menjadi kepala cabang sebuah bank. Waktu gw masih kerja di bank itu, bu Sandra masih jadi kepala marketing. Orang yg murah senyum dan supel. Walaupun sdh berumur, tp penampilan dan fisiknya maish bagus. Dia rajin senam dan sesekali perawatan. Kulitnya putih dan rambutnya sebahu serta selalu menggunakan ikat rambut hiasan. Selalu pake rok, belum pernah gw lihat dia pake celana panjang (apalagi celana pendek). Selalu menggunakan baju dalaman yg agak redah dan blazer.

    Selama gw kerja di bank, temen-temen dan gw sering beberapa kalai bercanda bisa meniduri bu Sandra. Tp kita gak ada yg bernai macem-macem ke dia karena dia orangnya juga terlihat tegas dan bukan “murahan”. Ketika gw sdh keluar dari bank, terdengar gosip kalo dia cerai. Gak tahu kenapa. Gw juga gak pernah kontek dai sejak keluar dari bank.

    Sampai suatu saat, “nasib” mempertemukan kita…. untuk saling memuaskan.

    Hari itu gw lagi pingin jalan ke mall. Gak ada pikiran untuk “berburu”, lagian gw emang lagi pingin jalan. Suntuk ajah di kantor. FYI, sebenarnay sekretarisku itu lumayan cakep dan sexy, tp seperti kata pepatah, don’t shit where you eat. Jadi gw belum pernah apa-apa in sekretaris gw. Akhir gw tiba juga di food court. order makan, duduk santai sambil ngeliatin cewek-cewek ABG dgn pakaian yg sexy. I wish, i can fuck those young girls. Tp, gw gak berani, karena gw bukan tipe cowok yg bisa bertanggung jawab. Setelah sekitar 1 jam makan dan duduk santai, gw jalan di mall untuk sightseeing. Ketika melewati sebuah resto, dari kaca gw lihat wajah yg cukup familir. Ternyata bu Sandra.

    Lagi berbicara dgn 2 orang yg tampakny client bisnis kali. Pakaiannya bu Sandra masih inget banget deh. Daleman warna putih yg agak rendah, blazer hitam dan rok span putih juga. Sangat serasi banget dgn kulitnya yg putih. Damn! setelah sekian tahun gak lihat dia, bu Sandra masih menarik ajah. Gw sengaja gak terlalau jauh dari resto itu, lihat toko-toko yg disebelahnya ajah. Untunglah gak begitu lama kedua tamu bu Sandra pergi, tp bu Sandra masih didalam, kayakanya masih menikmati makanannya dan sesekali ngetik di hapenya. Gw nekatin masuk tuh resto, disambut oleh pelayan, tp aku menunjuk bu Sandra dan berketepatan bu Sandra juga lihat ke gw.

    “Masih inget sama saya bu?” sambil aku berjalan pelan mendekatinya.
    “Loh? pak Hengky khan?” sambil bu Sandra berdiri dan menjabat tangan.

    Yah, kita ngobrol ajah dan berbasa basi, tp sesekali gw mencuri pandang melihat belahan dadanay yg terlihat sedikti dari balik baju dalamnya. Tdk ada yg menarik untuk di obrolin, seperti biasa soal kerjaan dan lainnya.

    Lalu “pura-pura” tanay soal keluarga, anak lalu suami.

    “Oh, saya sama suami sdh pisah. belum tahu yah?” masih tetap tersenyum.
    “Oh, sorry bu… kapan cerainya? maaf saya gak tahu” jawab gw pura=pura begog.
    “Pisah sih, belum ada kesepakatan cerai. Dia tinggal dirumahnya sendiri, saya dirumah sendiri” jawab bu Sandra.
    “ouhh, lalu anak-anak gimana bu?” kali ini bener-bener serius, karena gw belum tahu.
    “Ikut saya, tp sesekali ke bapaknya juga” jawab bu Sandra tenang.

    Tdk terlalu detail dia cerita walaupun tak tanya. Kayaknya dia gak mau menceritakan lebih detail soal “pisah” sama suaminya. Tp gw mulai SSI, siapa tau berhasil.

    “Lalu bu Sandra gak nikah lagi?”
    “Hahaha… udah tua pak Hengky, gak mikir mau nikah deh”
    “Loh, bu Sandra masih cantik kok. Masih bisa bikin cowok ngelirik lah”
    “Waduh, hahah… bisa ajah pak Hengky ini”
    “Saya ajah suka bu ngeliatin bu Sandra di kantor. Kalo bu Sandra lewat selalu bikin saya deg-deg-an” Kata gw dgn cuek. gak peduli deh tersinggung apa nggak dia.
    “Oh yah? wah, nakal ternyata yah pak Hengky ini” dgn nada yg santai. Tdk marah tandanya.

    Aku lanjut SSI gw tanpa merendahkan dirinya. Dia malah lebih sering tertawa dan mengkap dgn santai rayuan gw.
    Kita pun bertukar PIN. Lalu aku lanjutin SSInya ke dia.

    “Kalo malem tidur sendirian kalo gituh sekarang?”
    “Loh? pertanyaannya loh… haha, mancing nih pertanyaannya” jawab bu Sandra santai.
    “Khan katanya gak menikah lagi dan pisah sama suami”
    “Yah, gak perlu dijawab khan kalo gituh… emang kenapa? mau nemenin emangnya?”
    “Kalo sesekali bisa kok nemenin bu Sandra. gak nolak saya”
    “Haha. nakal ternyata pak Hengky ini. Saya pikir alim loh dulu”

    … dan berbagai SSI gw dijawab santai sama bu Sandra. Kita masih cerita yg agak nyerempet dikit gituh. Gw juga harus “sedikit” berbohong dgn cerita kalo istriku dingin dan gw jarang dapet jatah, tp gak jajan, cuman self service.

    Gw juga heran kalo bu Sandra ternyata gak risih, malah serius denger ceritaku.
    Kita masih bercerita ngalor ngidul, sesekali tak sempret dgn SSI.

    Tp tdk terjadi apa-apa, kita akhirnya pamitan. Janjian suatu saat bisa bertemu lagi. Dan hari itu kita berpisah gak ada apa-apa. Yah gw sih santai ajah, walaupun kepingin banget.

    Beberapa hari kita gak pernah kontak-an. Dia gak kontak, gw juga gak kontak. Sampai suatu saat ketika iseng lihat update status orang-orang di hape gw, lihat punya bu Sandra yg isinya “jaga diri di jalan yah sayang”. Langsung gw chat dia.

    “Wah, udah dapet pasangan bu Sandra?”
    “Hahah… anakku keluar kota sama temennya. pikiranmu loh pak Hengky”
    “Ouhh… wah, sendirian dirumah dong. gak takut?” pancingku
    “Ah, udah biasa kok.” jawabnya pendek.

    Damn! susah banget sih nih orang. Kayaknya gak nolak, tp gak kasih lampu hijau. Gw ciba terus sih.

    “Sampai kapan anaknya pergi? 2-2-nya?” masih mancing gw.
    “Sampe minggu balik. cuman 1 orang, yg 1 sama bapaknya juga sampe minggu. hayoo, kenapa nanya-nanya?” Wah, kok kayaknya ada “harapan” nih.
    “Gak papa, siapa tahu bu Sandra mau saya kunjungi”
    “haha.. kalo mau dateng, yah dateng ajah. Cuman bertamu ajah khan?”
    “Emang boleh kalo nginep?” pancingku lagi
    “Loh? dicari istrinya nanti. gawat saya… haha”
    “Gak kok, yakin gak. nginep sehari deh” nekat deh gw.
    “Emang berani pak Hengky?”

    Wah, chat selanjutnya tarik ulur deh sama bu Sandra soal bisa nginep apa nggak. Bu Sandra kelihatan entah emang jual mahal atau ragu. gak tahu deh gw. Cukup banyak rayuan juga sih sampai akhirnya dia mengijinkan gw nginap sehari dirumahnya. Tp sore datengnya, karena besok siang dia masih kerja.

    Yipieeee…

    Untuk soal pergi nginep sehari, istriku gak curiga. Karena dgn kerjaan gw ini, sering gw pergi keluar kota 1-2 hari untuk berbagi urusan. Jadi dia gak bakal curiga. Paling suruh beli oleh-oleh. Tp itu bisa diatur deh.

    Gw sengaja gak bawa mobil dan gw naik taxi ke rumah bu Sandra. sore gw naek taxi ke rumah bu Sandra. Perumahan yg elit. Tp seperti perumahan gw, kayaknay penduduknya cuek dgn tetangga. Rumah dia agak mojok. Ternyata sampe sana, ada pembantunya. Waduh, gak bisa macem-macem ini. Sialan gw pikir! bu Sandra belum pulang, tp pembantunay udha dititipin pesan. Jadi gw dipersilahkan masuk di ruang tamu dan menunggu. Selama 1 jam gw nunggu dan berbicara dgn pembantunya, ternyata dia pembantu harian, dateng pagi pulang setelah bu Sandra dateng. Fiuhh, syukurlah. Gw yakin pasti bisa execusi bu Sandra. Asala sabar ajah.

    Akhirnya bu Sandra pulang. Pas dia masuk, gw sengaja melihat bagian dadanya. Dia pake baju batik terusan yg pendek dgn belahan dada rendah. Jadi lebih jelas lagi terlihat belahan dadanya. Pahanya pun terlihat mulus banget. Duh, asli gw sengaja banget lihat belahannya.

    Setelah basa-basi dan salam-salaman. Siapin makan, ngobrol lalu pembantunya pamit pulang. Akhirnya kita berdua deh.

    Bu Sandra masih pake baju kerjanya belum mandi. Kita ngobrol sambil makan dan gw masih sesekali melirik dadany. Gw sengaja gak curi pandang. tp bener-bener melihat ketika momentnya pas.

    “Heh, matamu itu kok nakal sih” dgn nada santai tanpa marah.

    Tp agak berbeda. Dia lebih santai, gak jaim. yahh… seperti waSandra biasa yg pada umumnya deh. Gw agak kaget ajah, karena baru kali ini lihat dia seperti itu.

    “Yah, saya khan masih normal bu. ada yg indah yah saya suka lihatnya”

    Bu Sandra tertawa santai. gw terus SSI ke dia, dia tanggapin dgn santai tanpa marah sama sekali. Cerita soal istriku yg dingin (hahaha..). Ketika selesai makan, dia bawa ke dapur, gw bantuin ke dapur. walaupun dia bilang gak usah, tp tetep gw bantuin. Di dapur sesekali tangan kita bersentuhan ketika bantuin dia nyuci. masih sambil cerita santai.

    Lalu dia pamit mau mandi dulu. Gw tanpa malu dan takut, nekat ajah deh ngomong

    “Saya juga belum mandi nih bu”
    “Kamar mandi ada tuh di samping. saya mandi dikamar” sambil ternseyum.

    Kita guyonan soal itu dgn SSI tetep jalan, sampai akhirnya..

    “haha.. udah saya duga kamu mau nakal disini” lalu masuk kamarnya, tanpa menutup pintu kamarnya.

    Gw lihat dia ambil handuk dan masuk kamar mandi, tp pintu kamar mandinya ditutup gak rapat. Damn! ini pasti lampu hijau. Langsung gw berjalan masuk kamarnya dan membuka pintu kamar mandinya perlahan. Bu Sandra sdh melepas bajunya dan lagi melilitkan handuk di badannya.

    Untuk memperpendek cerita, saya tdk tulis apa ajah pujian dan cerita-cerita disitu. Dgn tanpa malu gw langsung buka baju semuanya ketika bu Sandra masih bersihin mukanya. Ketika dia selesai cuci muka dan lihat dari kaca gw telanjang, dia cuman tersenyum. Gw peluk dia dari belakang dan berusaha pelan-pelan mau buka handuknya. Dia “pura-pura” ngelarang waluapun tanpa perlawanan. Ketika sdh bisa terbuka, gw bener-bener kagum akan badannya. Putih, mulus, perut kempes, walaupun ada kerut-kerut dikit disana sini, tp terlihat bagus. Toketnya padat, dgn pentil coklat yg agak gendut. Gw sempet bengong sambil ngelus badannya.

    “Kecewa yah lihat aslinya?” sambil pasang wajah agak serius.
    “Gimana kalo kita mandinya nanti ajah dan saya tunjukkin kecewa apa nggak”

    Lalu perlahan dari kamar mandi gw tarik giring ke ranjangnya, dia nurut ajah masih tetep posisi membelakagi gw.

    Sampe dikamar deket ranjang, gw puter badannya. Ketika bertatapan, gw langsung cium bibirnya perlahan. bu Sandra bales ciuman gw dan perlahan lidah kita saling bertemu. Gw cium dia sambil terus memainakn lidah gw, kayaknya bu Sandra juga menikmatinya. bu Sandra terus membalas ciuman gw, bahakn dia bisa mengimbangi saling hisap lidah kita. Tanganku mengelus punggungnya, sementara bu Sandra cuman memeluk gw doang. Tanganku meremas halus pantat bu Sandra yg ternyata masih padat.

    bu Sandra mengerang pelan. Jari gw perlahan mengelus pelan belahan pantatnya, dgn satu tangan berusaha membuka belahan pantat dan satu tangan berusaha mengelus sisi dalem pantatnya. Jariku kugosok pelan dan mengelus lubang pantatnya. Agak sedikit basah ternyata. Gile, ternyata bu Sandra masih basah banget sampe ke daerah pantat. Ada erangan halus dari bu Sandra, sambil dia mengigit pelan bibirku. Jariku semakin turun untuk bisa mendapati mekinya yg sdh basah. Jariku tambah lincah memainkan didaerah antar pantat dan meki itu. Semakin terdengar erangan bu Sandra. Ada goyangan kecil di pantatnya.

    Gw berusaha untuk terus memainkan jarinya, apalgi goyangannya makin kerasa dan erangan sambil ciuman makin terdengar.

    Tpii…

    Sorry pembaca, emang agak keputus dan memang bikin kentang. Tp itu yg terjadi selanjutnya.

    Tiba-tiba bu Sandra melepaskan ciuman gw, melepas tanganku yg lagi asik dan duduk ditempat tidur sambil menahan kepalanya. Gak ada isak tangin, gak ada ucapan, cuman duduk dan terdengar masih ada sisa desahan yg berusaha dilepas. Asli gw bingung kenapa. Gw pikir gw melakukan kesalahan. gw berjongkok dan berusaha menahan nafsu dan bertanya kedia ada apa. Dia bilang gak ada apa-apa, tp gak mau lihat gw. akhirnya gw cuman jongkok ajah sambil pegang pahanya.

    Asli gw nafsu banget, tp gw juga gak berani maksa. Dia bilang sorry, lalu bilang suruh gw pulang, tp dgn nada datar dan bukan emosi. gw bilang gak bisa dan kasih alasan. lalu dia suruh gw tidur dikamar anaknya ajah kalo gituh. Gw jelas gak mau, cuman gw gak bilang. Tp gw masih tetap santai tanya kenapa. Gw gak tahu berapa menit, tp beberapa menit berikutnya gw berusaha tanya dan dia berusaha defensive. Sebenarnya sebel dan pingin cabut ajah deh, tp geu gak mau sia-sia dan kentang. Pokoknya gw berusaha tenang deh. Sampai akhirnya dia luluh dan cerita. Sebenarnya dia gak mau kayak ginih, tp beberapa hari ini dia emang lagi menahan emosi karena ternyata suaminya sdh tinggal dgn waSandra lain.

    Anaknya cerita ke dia. Dia berusaha tegar dan tdk emosi. Di kantor dan depan anak-anaknya pun dia berusaha menunjukkan dia gak terpengaruh, padahal dia emosi banget. Beberapa menit berikutnya dia “curhat” ke gw sambil telanjang kita berdua. Shit! penis gw sampe lemes lagi. Terlihat dia agak menitikkan air mata walaupun gak sampe nangis meraung-raung.

    Jadi dia sebenarnya mau membuktikkan pada diri sendiri kalo dia masih menarik dan masih disukai pria, tp mendadak “pikiran normal”-nya kembali. Sialan! dia minta maaf dan masih mau nyuruh aku tidur di kamar anaknya. Akhirnya giliran aku yg curhat. Cerita jujur dan kenapa gw boong. Dia jadi bengong dan gak nangis lagi. Entah berapa lama kita cerita-cerita dan malah jadi sesi saling tanya jawab. Akhirnya bu Sandra bisa tertawa lagi. Sepertinya ada yg membuat kita berdua lega gituh. walaupun dia agak sebel karena gw boong untuk pdkt ke dia…

    Akhirnya….

    Perlahan tp pasti, bu Sandra mendekati gw dan memelukku dan langsung mencium bibir gw. Sambil duduk di ranjang kita berciuman dan saling menghisap lidah. Perlahan kudorong bu Sandra ketempat tidur tanpa ada perlawanan. Ketika bu Sandra sdh diranjang, dia menempatkan posisi kakinya langsung menjepit badanku. Jadi kakinya langsung menyilang di belakangku. Kita masih tetep berciuman dan saling menghisap lidah. Inilah aku sukanya bini orang, gak perlu diajar lagi dan lebih pinter.

    Entah berapa lama kita ciuman, yg pasti lama. Bu Sandra kayakany suka banget berciuman. Tp pinggangnya terus bergoyang kayaknya berusaha menggesek mekinya dgn penisku. Terasa banget mekinya basah banget. Lalu gw rasakan tangannya berusaha memegang penisku untuk membimbing masuk ke mekinya. Ketika ujung penisnya menyentuh masuk mekinya perlahan, bu Sandra agak mengerang. Dia bilang pelan-pelan, karena dah lama gak pernah ngesex.

    Kudorong pelan penisku masuk, bu Sandra masih mengerang pelan. Biuh, kayak ngese sama perawan. Padahal pas penisu masuk, mekinya licin dan gak terlalu seret seperti bu lastri. Setelah penisku masuk semua, ku goyang keluar masuk pelan. bu Sandra mendesah pelan. Kutambah kecepatan untuk keluar masuknya. Kakinya makin menjepit pinggangku, ciuman kita sudha terlepas. gw melihat bu Sandra terpejam sambil mulutnya gaak terbuka. Kugoyang terus penisku keluar masuk dgn kecepatan yg tetap. Toket bu Sandra agak bergoyang, bu Sandra tdk berhenti mendesah. Gw gak berasa mau keluar sama sekali. mungkin karena tadi sempet lemes dan turn off kali. Ketika coba kusodok agak keras kedalam mekinya, bu Sandra agak teriak sambil memukul pelan badanku.

    “Sakit bu?”
    “shtt… g-ak kok. kaget ajah”

    Lalu kuulangi sodok agak dalem ke dalam mekinya, keluar lagi jeritannya kecilnya.
    Lalu kutambah sedikit kecepatan penisku keluar masuk, bu Sandra semakin mendesah

    “ouhhh… sshhtt… ahhhgghh…” tp matanay terpejam.

    Gak berapa lama…

    “ohhh… saya mau keluar”… bu Sandra menggoyangkan pantatnya, penis gw teken kedalam mekinya. bu Sandra menggerakkan pantatnya terus dan akhirnya dia menaikkan pantatnay dan menekan kebadanku. Tangannya memelku ku erat.

    Sesekali pantatnya seperti bergetar.

    “ouhhh… ohhhh… ouhhh…”. Kedekatkan kepalaku ke kepala bu Sandra, dia menyambutnya dgn mencium bibirku. Ciuman mesra, bukan french kiss.

    Gw belum orgasme, tp orgasme pertama bu Sandra jelas membuat dia lemes dan gw gak tega memaksanya. Kakinya terkulai dan lepas dari jepitannya. tangannya juga sdh lepas disamping badannya. dia membuka matanya…

    “ehhm… sorry yah? sakit gak?”
    “gak kok bu, tenang ajah…” kucium bibirnya lagi mesra.

    Itulah orgasme pertama bu Sandra. Habis itu kita mandi dan dikamar mandi, sambil dia duduk di closet, bu Sandra mengoral penisku. Cukup pintar juga dia mengoral penisku. Bahkan dia bisa masukkan semua ke dalam mulutnya penisku, Sampe keluar dan tanpa ragu-ragu menahan dan membiarkan sperma semuanya keluar didalam mulutnya dan dia menelannya. wow, gw suka banget ngeliatnya.

    Selesai mandi, selesai mengeringkan badan. kita kembali ke ranjang dan ditutupi selimut sambil telanjang. Kita lanjut cerita soal pasangan kita. Soal sex pasangan kita. Malem itu sampe subuh kita ngesex kira-kira 2-3x deh. Bahkan kita sempet order makan karena kelaperan dan kedinginan.

    Pagi kita bangun dan aku disuruh pindah kamar anaknya sebelum pembantunya dateng. Siangnya, pembantunya disuruh pulang dgn alasan dia mau pergi keluar kota. Akhirnya, hari itu kita ngesex beberapa kali.

    Gw gak sangka kalo bu Sandra senafsu itu. Terus terang gw sampe juga capek dan penis gw jadi panas. Gw akui ke dia kalo gw gak kuat. Dia cuman tertawa dan gak permasalahkan, karena suaminya dia juga gituh, malah lebih gak kuat ketimbang gw.

    Sampe sekrang, dia TTM tetap gw. Malah sejak ngesex sama gw, dia jadi rajin merawat tubuhnya. Dia bilang biar gw tetep suka. Dia gak pernah puas kalo maen cuman sekali. Walaupun kalo orgasme dia lebih cepet keluar, tp gak cukup cuman sekali. Karena masalah kerjaan dan waktu, kita emang jarang bertemu. Tp kalo bertemu, dipastikan bahwa pasti akan dipuas-puasin. Kalo kita ketemu, gak mungkin gak ngesex. Malah kayaknya gw pelampiasannya dia. Lebih sering gw yg gak kuat ketimbang bu Sandra. Tp dia gak mau gw minum obat kuat ato sejenisnya. Gw juga gak kepingin sih.
    Untunglah bu Sandra berusaha menjaga hubungan kita tetap aman. Dia gak mau kelihatan orang kalo dia ada hubungan dgn pria lain dan dia juga gak mau kalo sampe rumah tanggaku masalah.

    Dia ngakunya ikut KB, saluran kandungnya dijepit. Semoga deh, tp udah beberapa bulan ini aman sih. Kita cuman bisa ketemu sebulan 1-2x doang sih. Dia selalu ngajak ngesex dirumahnya, gak pernah mau di hotel short time. Paling baru 2 kali kita di hotel, itupun karena curi kesempatan ke luar kota. Gw malah yg takut kalo ngesex dirumahnya malah di-grebek. Tp untunglah tdk. Alasannya dia takut ketahuan orang kalo ke hotel. Sehari-hari paling cuman lewat telpon. Dia gak mau phone sex ato nonton BF. Bahkan dia “maksa” aku untuk buka pinjaman di cabangnya dia, agar ada alasan untuk ketemu muka. Walaupun gak ngapa-ngapain sih, Karena di mobil ajah dia gak mau macem-macem. Untung cicilan pinjamannya rendah.

    Bu Sandra yg kelihatannya jaim gituh, ternyata nafsunya gede. Padahal dia gak terlalu suka pedes dan gak ada bulu halus lebat di tangan atau kakinya. Tp kalo soal sex, dia nafsu banget. Bahkan, dia mau mencoba lubang pantatnya gw masukkin. bu Sandra dan gw sama-sama pertama kali maen di lubang pantat. Beberapa kali kita lakuin, tp gak sering.

    Repotnya, tiap kali selesai ngesex sama bu Sandra, gw butuh 1-2 hari baru bisa nafsu sama istri lagi. Apa mungkin karena “kehabisan” yah?

  • Cerita Panas Mbak Dian yang Aduhai

    Cerita Panas Mbak Dian yang Aduhai


    557 views

    Cerita Panas Mbak Dian yang Aduhai

    Kejadian ini terjadi tepatnya pada tahun 2006, nama gue Donny Suhendra… Gue berasal dari suatu keluarga yang cukup berada di bilangan Jakarta Timur. Gue merupakan anak ke empat dari lima bersaudara yang sekarang berumur 25 tahun… gue punya pembokat namanya Dian yang sampai sekarang masih setia ngabdi di keluarga gue semenjak masih gadis hingga udah menikah dan kemudian cerai dengan suaminya.

    Kriteria pembokat gue dengan postur body menantang toket ukuran 36 B plus bokong yang bak bemper yang padet, tinggi badannya kira kira 160 dan berkulit putih…. karena pembantu gue ini orang asal Kota Bandung, umurnya sekarang kira kira 29 tahun. silakan bayangkan gimana bodynya, gue aja kalo liat dia lagi ngepel langsung otomatis dede yang di dalem celana langsung mengeliak saat bongkahan dadanya memaksa keluar dari celah kerah bajunya.

    Terkadang di pikiran gue terlintas pemikiran kapan yang bisa nyicipin tubuh montok pembokat gue yang aduhai itu… udah naga bonar gak bisa di ajak kompromi lagi, liat sedikit aja langsung bangun dari tidurnya…

    Pernah suatu hari gue lagi mau ganti baju di dalam kamar pas waktu itu gue lupa ngunci pintu… tiba tiba gue kaget pembokat gue masuk tanpa ngetuk ngetuk lagi, mungkin dia pikir udah lama kerja sama keluarga gue n udah kenal gue dari gue masih SD…

    “Eh…, lagi ganti baju ya… Donn” kata pembantu gue sambil buka pintu kamar gue tanpa ada rasa kegelisahan apa apa saat liat gue gak pake apa apa… cuma tinggal CD aja yang belom gue lepas.

    “Mbak, ketok dulu dong kalo mau masuk kamar Donny… gimana kalo pas masuk Donny lagi telanjang…” celetuk gue sama dia
    “Emangnya kenapa sih Donn, saya kan udah lama kerja di keluarga Donny… ,lagian’kan waktu masih SD juga kamu suka pake CD aja kalo di rumah…”. Kata Dian sama gue yang kayaknya acuh terhadap posisi gue yang telanjang.

    “Mbak… itu’kan dulu, waktu saya masih SD. Sekarang’kan saya sudah besar… Mbak memang gak malu yah liat saya kalo telanjang bulat gak pake apa apa…” celetuk asal keluar dari mulut.

    “Iiiihhh…. malu gapain… lagian saya juga gak mau liat… yah udah sana kalo mau ganti baju, mbak mau beresin kamar kamu nih yang berantakan mulu tiap hari kayak kandang sapi…”

    Karena dia menjawab dengan rasa yang tidak keberatan kalo gue ganti baju disaat ada dia. Dengan santai gue mulai turunin CD gue yang nutupin kont*l gue yang udah mulai agak kenceng dikit…

    Tanpa sengaja gue tangkap lirikan matanya yang memandang ke arak selangkangan gue yang di tumbuhin rambut yang lebat…

    “Nah… tuh ngeliatin mulu… katanya tadi mbak Dian gak mau liat, sekarang liat mulu…”
    “Siapa yang liat… wong saya lagi beresin sprei yang berantakan ini kok…” bantah dia karena malu mungkin kepergok ngelihat kearah selangkangan gue.

    AKhirnya gue tinggal dia di dalam kamar gue yang sedang beresin kamar gue yang berantakan itu, di luar gue jadi teringat gimana yah caranya buat bisa nikmatin tubuh pembantu gue yang bahenol ini… dan gue rasa dia juga kayaknya penasaran sama kont*l gue yang gede ini… buktinya beberapa kali gue pergokin dia ngelirik terus kearah gue.

    Pas suatu hari libur, hari minggu keluarga gue pada pergi ke rumah kerabat gue yang mau nikahin anaknya.

    “Donny… kamu mau ikut gak. Mama semuanya mau pergi ke pesta pernikahan anaknya tante Henny di Bandung…”. Tanya Mama gue.

    “Kapan pulangnya Ma,…” Jawab gue sambil ngucek ngucek mata karena baru bangun…

    “Mhhhmmm,… mungkin 2 hari deh baru pulang dari Bandung, kan capek dong Donn… kalo langsung pulang…
    kamu tanya kapan pulang, kamu mau ikut gak… atau mau di rumah saja” tanya mamaku kembali…

    “Kayaknya dirumah aja deh Ma… abis capek ah, jauh… lagian besok Donny ada acara sama teman teman Donny…” jawab

    ku seraya kembali membenamkan kepalaku kembali ke bantal…
    “Yah udah… mama mau berangkat jalan kamu baik baik yah jaga rumah… mau apa minta aja sama Mbak dian…”
    “Dian… Dian… Dian…” panggil Mamaku
    “Iyah Nyah…, Maaf saya lagi nyuci.

    Kurang denger tadi Nyonya panggil. Kenapa Nyah…” Jawab Mbak Dian Sambil datang dari belakang yang ternyata sedang cuci baju… baju yang dikenakan sebetulnya tidaklah menantang, namun

    karena terkena air sewaktu mencuci menjadi bagian paha dan dadanya seakan transparan menantang…
    “Dian… kamu jaga rumah yah selama saya dan tuan pergi ke Bandung”
    “Iyah Nyah… ,” jawab kembali pembokat gue itu ke mama gue…

    Setelah kira kira selang beberapa jam setelah keberangkatan mamaku… akhirnya aku keluar dari kamar hendak buang air kecil.

    Perlu Bro Bf ketahui jarak antara tempat pembantu gue nyuci sama kamar mandi deket banget… waktu gue jalan ke kamar mandi, gue liat pembantu gue yang lagi nyuci baju dengan posisi duduknya yang buat naga di dalam cd gue bangun…
    Pembantu gue pake T shirt putih yang tipis karena dah lama di tambah lagi kaosnya kena air, secara langsung keliatan jelas banget BH krem yang dipake pembantu gue berserta paha mulusnya yang udah agak terbuka karena duduknya hingga keliatan CD putihnya…

    “Anjriiit, mulus juga nih pembantu gue meskipun udah janda anak satu tapi dari paha dan teteknya masih keliatan kenceng, kayak cewek yang belum pernah kesentuh sama laki laki”.oceh gue dalam hati sambil kencing trus ngelirik ke pahanya yang mulus itu.
    Sambil kencing gue mikir gimana caranya buka omongan sama pembantu gue, biar gue bisa agak lamaan liat CD dan teteknya yang aduhai itu… pantes banyak tukang sayur selalu suka nanyain Mbak Dian mulu kalo tiap pagi…
    “Mbak gimana kabar Ani, sekarang udah umur berapa… Mbak Dian kok bisa sampai cerai sih sama suaminya”Iseng gue tanya seputar hubungan dia sama mantan suaminya yang sekarang udah cerai, dan kenapa bisa sampai cerai… gugup juga sih gua waktu nanyanya kayak gue nih psikolog aja…

    “Kok tiba tiba Donny tanya tentang itu sih sama Mbak… ”
    “Gak pa pa kan Mbak… “

    “Anak mbak sekarang udah umur lima tahun, mbak cerai sama suami mbak karena dia pengangguran… mau nya enak doang.
    Mau bikinnya tapi gak mau besarin. Yah… lebih baik mbak minta cerai aja. masa sih mbak sendiri yang banting tulang cari uang,

    sedangkan suami mbak cuman bangun, makan, main judi sampai subuh… males Donn punya suami pengangguran, lebih baik
    sendiri… sama aja kok” Jawab pembantu ku panjang lebar, seraya tangannya tetap membilas baju yang sedang ia cuci.

    Ini dia masuk ke dalam dialog yang sebenarnya… akhirnya pembicaraan yang gue maksud agar gue arahin pembicaraan hingga tentang persoalan hubungan intim.

    “Lah… bukannya enakan punya suami, mbak… daripada gak ada…”
    “Enak dari mananya Donn… punya suami sama gak punya sama aja ah…”
    “Loh beda dong mbak…”
    “Beda dari mananya Donn… coba jelasin, aah kamu ngomongnya kayak kamu dah pernah ngerasain menikah aja sih Donn…” tanya pembantuku sambil bercanda kecil.

    “Yah beda lah mbak… dulu kalo masih ada suami kan kalo lagi pengen tinggal minta sama suami mbak… sekarang udah cerai

    pas lagi pengen… mau minta sama siapa…” Jawab gue sambil menjuruskan kalimat kalimat yang gue tuju ke hal yang gue inginin.

    “Maksud Donny apa sih… mau apa. Ngomongnya jangan yang bikin mbak bingung dong Donn…”

    “Gini mbak, maksudnya apa mbak gak pernah pengen atau kangen sama ini nya laki laki…” waktu gue ngomong gitu sambil gue turunin dikit celana pendek gue, trus gue keluarin punya gue ngadep ke depan mukanya…

    “Iiih gede banget punya kamu Donn… punya mantan suami mbak sih gak begitu gede kayak gini…” Jawab mbak dian sambil melotot ke kont*l gue yang udah Super tegang, karena dari tadi udah minta di keluarin.

    “Kangen gak sama Kont*l laki laki mbak…” tanya kembali saya yang sempat membuyarkan pandangan mbak dian yang dari
    setadi tak lepas memandang kont*lku terus.
    “…… waduh mbak gak tahu deh Donn…, kalo punya mbak dimasukin sama punya kamu yang gede kayak gini. Gimana rasanya mbak gak bisa ngebayangin…”

    “Loh… mbak saya kan gak tanya apa rasanya di masukin sama punya saya yang lebih gede dari punya mantan suami mbak. Saya kan cuman tanya apa mbak gak kangen sama punyanya laki laki”Padahal didalam hati gue udah tahu keinginan dia yang pengen ngerasain kont*l gue yang super size ini…

    “mmmmhhhhh… maksud mbak dian sih… yah ada kangen sama punya laki laki… tapi kadang kadang mbak tahan aja, abis
    mbak kan dah cerai sama suami… ” jawab mbak dian yang keliatan di pipinya merona karena merasa jawabannya ngawur
    dari apa yang gue tanyain ke dia”

    “Mbak… boleh gak saya pegang tetek mbak ”
    “Iiihh… Donn kok mintanya sama mbak sih, minta dong sama pacar Donny… masa sama mbak…”
    “Yah… gak pa pa sih, saya mau ngerasain begituan sama mbak dian… gimana sih begitu sama ce yang udah pernah punya
    anak… boleh yah mbak… ” kata gue sambil mendekatkan kontol gue lebih dekat ke mulutnya…

    “iiih donny… punya kamu kena mulut mbak nih… memangnya kamu gak malu gituan sama mbak dian…” jawab mbak dian sambil merubah posisi duduknya sambil menghadap ke kont*l gue dan ngelepasin baju yang sedang dia bilas…

    “Yah gak lah kan gak ada yang tahu… lagian kan gak ada yang tahu, kan sekarang gak ada orang selain mbak dian sama saya” jawab gue sambil yakinin ke dia, biar di mau kasih yang gue pengen.

    “Tapi jangan keterusan yah… trus kamu mau di apain sama mbak…”
    “Mbak mulutnya di buka dikit dong, saya mau masukin punya saya ke dalam mulut mbak dian…”
    “Iih… gak ah jijik… masa punya kamu di masukin ke dalam mulut mbak… mbak gak pernah lakuin kayak gini sama mantan
    suami mbak, gak ahh… ” tapi posisi tangannya sekarang malah megang kont*l gue sambil ngocok ngocok maju mundur.
    “Cobain dulu mbak enak loh… anggap aja mbak dian lagi kemut permen lolipop atau es krim yang panjang” rayu gue ngarep mbak dian mau masukin kontol gue ke dalam mulutnya yang mungil itu.
    Akhirnya permintaan gue diturutin tanpa banyak ngomong lagi mbak dian majuin mukanya kearah kontol gue yang udah

    super tegang itu kedalam mulutnya yang mungil… sementara dia kemut kontol gue maju mundur yang terkadang di selingin jilatan jilatan yang bikin gue pegang kepalanya trus gue tarik maju hingga kepala kontol gue mentok sampe kerongkongan mbak dian.

    “Ooooooh… mbak emut truuuus mbak…. ennnnak banget” sambil tangan gue mulai turun megang tet*knya yang mengoda itu.

    Tangan gue masuk lewat kerah kaosnya, trus langsung gue remes kera tet*knya… Tangan mbak dian juga kayaknya gak mau

    kalah sama gue. Dia malah makin ngedorong pantat gue dengan tangannya hingga hidungnya nempel sama jembut gue…

    Karena tempatnya kurang tepat untuk bertempur lalu gue ajak mbak dian ke ruangan tengah sambil ngemut kontol gue jalan ke ruangan tengah. Perlu di ketahui mbak dian merangkak seperti ****** yang haus sex gak mau lepas dari kontol gue, merangkak berjalan ngikutin langkah kaki gue yang mundur ke arah ruang tengah.

    Gue liat mulutnya yang mungil sekarang terisi kontol gue… tangannya sambil remas remas buah dadanya sendiri…

    ” Mbak dian lepasin dulu dong kontol saya, buka dulu baju mbak dian. Entarkan mbak juga nikmatin sepenuhnya punya saya…”

    ” Donnn…. punya kamu enak banget… mbak kira dari dulu jijik kalo liat ce ngemut punyanya cowok… ehh ternyata nikmatnya bener bener bikin ketagihan Donn…”

    Dengan cepat cepat mbak dian membuka seluruh baju dan roknya yang tadi basah karena kena air… Wooow, sungguh pemandangan yang sangat indah… kini di hadapan gue telah ada seorang wanita yang telanjang tanpa tertutup sehelai benang… berjalan menghampiri gue dengan posisi doggie style mbak dian kembali memasukkan kontol gue ke dalam mulutnya yang mungil itu.

    Dengan jels bisa gue liat buah dada yang gelantungan dan bongkahan pantat yang begitu padat, yang slama ini udah banyak bikin kontol gue penasaran pengen di selipin diantara bongkahan itu… nafas suara mbak dian semakin lama semakin membara terpacu seiringin dengan birahi yang selama ini terkubur di dalam dirinya. Sekarang terbangun dan mendapatkan suatu kepuasan seks yang selama ini ia tahan tahan.

    Sementara mbak dian ngemut kontol gue, gue remas tet*knya yang menantang itu terkadang gue pegang MQ nya yang ternyata udah banjir oleh cairan kenikmatan.

    Gue tusuk tusuk jari tengah gue ke dalam memeknya hingga mbak dian ngeluarin desahan sambil meluk pantat gue…

    ” Mmmmhhhhh….. ooooooohhhhhh……” desahannya begitu menambah gue buat semakin cepat menusuk nusuk liang kenikmatannya semakin cepat.

    “Donnn…..OOooooohhhh…. Donnn… enak donnn… enak….” Desahan mbak dian benar benar membuat semakin terangsang… tusukan jari yang gue sodok sodok pun semakin gencar…

    ” Aaaaaahhhh…. Donnnyyyyyy…. OOOhhhhh Dooooonnn… mbakkkkk….. mmmmbb….. klllluuuaar… ” bersamaan dengan desahan mbak Dian yang panjang, akhirnya mbak Dian telah mencapai puncak kenikmatannya yang terasa di jari tengah yang gue sodok sodok ke lubang MQ nya waktu mbak Dian menyemprot cairan kenikmatannya….

    Karena mbak Dian telah mengalami organismenya yang pertama, maka Gue pun tak mau kala. Irama sodokkan kontol gue percepat kedalam mulut mbak Dian berkali kali hingga desahan panjang gue pun mulai keluar yang menandakan sperma gue akan muncrat… anuanuan.gif

    ” Mbak Donny mau kkkkelllluaaar…. aaaaahhhh…. sedot mbak… sedot peju Donny…. ” kata gue sama Mbak Dian sambil menahan kepalanya untuk memendamkan kontol gue hingga masuk ke tenggorokannya. Namun Mbak Dian meronta ronta tidak menginginkan sperma gue keluar di dalam mulutnya… sia sia rontahan mbak Dian Sperma gue akhirnya keluar hingga penuh di dalam mulutnya.

    Crroooot…. Crooot… crooot… crotz.gif akhirnya Gue semburkan berkali kali peju gue di dalam mulut mbak Dian. Meskipun pada saat Mbak Dian tidak ingin menelan Sperma gue namun gue memaksanya untuk menelannya dan menikmati Sperma gue yang segar itu.

    Posisi mbak Dian masih sama seperti sebelumnya, namun sekarang kakinya seperti kehilangan tenaga untuk menahan berat badannya mengalami kenikmatannya… dari sela sela bibirnya mengalir sisa spermaku yang di jilat kembali. Tubuh mbak Dian kini terkapar tak berdaya namun menampilkan sosok wajah penuh dengan kepuasan yang selama ini tak ia dapatkan.

    Melihat expresi wajahnya membuat gue kembali semakin nafsu… karena dari tadi gue anggap hanyalah pemanasan.

    Gue berjalan mendekat ke tubuh mbak dian yang sedang lemes… trus menelentangkan posisi tubuhnya dan gue rengangkan kedua belah pahanya. Dengan tangan sebelah kanan gue genggam kontol gue yang udah tegang terus menerus mengesek gesekan kepala kontol gue di atas permukaaan Mem*k mbak dian yang udah licin, basah karena cairan kenikmatan milik mbak dian. Saat Gue mau menjebloskan kontol gue yang udah menyibak bibir memeknya, tiba tiba mbak dian menahan dada gue dan berharap gue gak masukin kontol gue ke dalam memeknya yang sudah lima tahun gak pernah terisi sama kontol laki laki…

    Karena saat itu nafsu gue udah sampe otak, gue dah gak perduli lagi sambil tetap ngeliat ke bawah tempat dimana kontol gue sekarang akan menembus liang kenikmatan yang sungguh sungguh mengiurkan…

    “Tenang mbak tahan dikit… saya ngerti mungkin kontol saya terlihat terlalu besar dibandingkan memek mbak. Tapi nanti disaat udah masuk kedalam memek mbak… nikmatnya akan 10x lipat nikmat yang pernah mbak dian rasain sama mantan suami mbak…” gue bisa liat di matanya takut saat detik detik gue akan menghujang basoka yang besar ini kedalam memeknya yang terbilang sempit…

    ” Dooonnnn….. peeellllannn… mbak ngeri liat punya kamu yang besar banget itu…. ” kata mbak Dia sambil melirik ke arah basoka rambo yang siap mengaduk gaduk isi memeknya.

    ” Iya… Donny coba pelan pelan masukin nya… mbak tahan dikit yah… mungkin karena dah lama aja mbak kali mbak… ” kataku kembali kepada mbak Dian seraya meyakinkan hatinya.

    Sambil kembali menaikkan kembali libidonya, gue gesek gesek kepala kontol gue tepat diatas bibir memeknya yang mulai kembali basah sama cairan kewanitaannya. Terkadang gue selipin sedikit demi sedikit ke dalam liang memeknya mbak Dian, lalu gue tarik kembali dan mengesekkan kembali ke itil nya yang merah segar itu.

    sleep…sleep… sleeep… mungkin sangkin basahnya memek mbak Dian hingga mengakibatkan suara seperti itu….

    ” hhmmmmm… eeee… ssstttt….. Donnn… Donnn… Kamu apain punya mbak Dian. ” tanya mbak Dian sambil matanya terpejam mengigit bibir bawahnya sendiri…

    ” Donn… udah dong… jangan bikin mbak Dian kayak gini trus…. masukkin aja Donn “

    ” Mbak mohon kasihan kamu… entot*n mbak… mbak gak tahan lagi… ooohhh… eemmmm… ” rengge mbak Dian sama gue mengharap segera kontol gue masuk ke dalam memeknya dan memompa dia.

    ” Tahan mbak yah… ” lalu tanpa menunggu jawaban selanjutnya ku tancapkan seluruh batang kontol gue yang udah dari tadi mau mengobok gobok isi memeknya.

    ” Doooooonn…… ” sahut mbak Dian di saat pertama gue terobos memeknya, tangannya langsung merangkul leher gue. Seperti orang yang mengantungkan setengah badannya.

    ” Pelan… pelan… Donn… nyeri… bannngeet …”

    Namun gue gak sahutin ucapan mbak Dian, karena gue lagi nikmatin sesuatu yang memijit kontol gue yang terkadang menyedot yedod kontol gue ini. Rasanya begitu nikmat hingga gue tanjap lagi lebih dalam sampai terasa kontol gue mentok di dasar rahim mbak Dian yang motok ini.

    Desahan liar mbak Dian pun semakin tak karuan… terkadang dengan tangannya sendiri mbak Dian memelintir puting susunya yang udah mengeras…

    ” Gimana Mbak masih sakit… sekarang rasanya apa… enak gak mbak… ” tanya ku kepada mbak Dian setelah gue liat raut mukanya yang penuh dengan expresi kenikmatan. Gerakkannya dan goyangan pinggulnya yang mengikuti irama enjotan gue pun semakin lama semakin liar. Kadang kadang pantatnya di hentakkan ke atas yang berbarengan dengan sodok sodokkan yang gue hujam ke memeknya.

    ” Donnn… Donnn… kamu hebat banget… Donnnn….”

    ” Donnn… mmmmmaaauuu… mmmmmbbbaaakk keluar lagi nih… OOOOOoooooohhh ” Cengkraman tangannya di punggungku dan lipatan kedua kakinya pada pinggangku bersamaan dengan erangan panjang yang menandai bahwa mbak

    Dian akan menyemburkan air maninya untuk kedua kalinya…

    Karena gue masih ngaceng dan semakin bertambah bernafsu setelah ngeliat raut muka seorang janda beranak satu ini merasa kepuasaan, lalu tanpa banyak buang waktu lagi.

    Gue langsung membalikkan tubuh mbak Dian dan memintanya untuk menungging, ternyata mbak Dian tanpa bertanya kembali ia menuruti permintaan gue yang ingin cepat cepat menghajar kembali memeknya…

    ” Donnn, kamu memang hebat Donn… mbak baru pertama kali di entot sama laki laki lain selain mantan suami mbak sendiri “

    ” Donnn, sekarang kamu mau apain aja mbak ikutin aja… yang penting mbak bisa ikut nikmatin peju kamu Donn… ” kata mbak Dian sambil mempersiapkan memeknya dengan membersihkan memeknya dari cairannya sendiri yang mengalir hingga di kedua pangkal pahanya. Beberapa kali ia seka memeknya sendiri hingga bersih dan terlihat kering kembali… dan siap untuk di santap kembali.

    Sekarang di hadapan gue mbak Dian sudah siap dengan 2 pasang bongkahan pantatnya yang masih kenceng, dengan posisi kepalanya lebih rendah dari pada pantatnya. Liang kewanitaannya seakan akan menantang kontol gue untuk memompa memeknya mbak Dian kembali…

    Jelas terlihat belahan bibir memeknya yang membuka sedikit mengintip dari celah daging segar karena barusan gue entot.

    Dengan tangan sebelah kanan gue pegang batang kontol gue dan tangan sebelah kirinya gue membuka belahan pantatnya yang mulus sambil terkadang gue usap permukaan memeknya yang tandus bukan karena suka di cukur namun memang sudah keturunan, setiap wanita dikeluarga tidak akan memiliki bulu/jembut pada memek. Sungguh indah sekali pemandangan yang terpampang, memek yang mengiurkan terjepit oleh dua bongkahan pantatnya yang bahenol itu.

    Kumajukan kontol gue hingga menempel di permukaan memek mbak Dian, mengorek gorek permukaan memeknya dengan kepala kontol gue. Ternyata apa yang gue lakukan ini sangat dinikmati oleh mbak Dian sendiri… yang terkadang selalu mendesah setiap kali bibir memeknya tersibak karena gesekan kepala kontol gue.

    Lalu dengan gerakan perlahan gue tusuk memek mbak Dian perlahan biar sesasi yang timbul akan semakin nikmat disaat itilnya ikut masuk bersama dengan dorongan kontol gue yang mulai terpendam.
    ” Geli banget Donn rasanya… tapi lebih enak Donn rasanya daripada sebelumnya… “

    ” Donn… lebih keras…. Donn… entot*n mbak… puasin mbak Donn… ” pinta mbak Dian sembari memeras buah dadanya sendiri.

    ” Donn… lagiii… laggiii… Donn… lebiiihhh.. kencenggg lagi… ” pinta kembali mbak Dian sambil mulutnya yang ter engap engap seperti ikan yang baru saja keluar dari air.

    Hujangan kontol ku kini semakin cepat dan semakin gencar ke dalam memeknya… hingga menimbulkan suara suara yang terjadi karena sodokan sodokan kontol gue itu. Tingkat aktivitas yang gue lakukanpun kini semakin gencar. Tangan gue memeras buah dada mbak Dian hingga erangan mbak Dian pun semakin menjadi tak kala hentakan kontol gue yang kencang mengesek dinding liang kewanitaannya.

    Cukup lama juga gue mengentot*n mbak Dian dengan style doggie ini, hingga gue menyuruh mbak Dian berganti variasi seks. Posisi mbak dian sekarang tidur terlentang namun kakinya menimpa pada kaki sebelahnya dan badannya agak miring, dengan posisi ini memeknya yang terhimpit terlihat seakan membentuk belahan memek.

    Lalu kembali lagi gue masukin kontol gue yang masih keras ini kedalam memek mbak Dian, dengan tangan sebelah gue menahan di pinggulnya. Kali ini dengan mudah kontol gue masuk menerobos liang kewanitaannya, enjotan gue kali ini benar benar nikmat banget karena sekarang posisinya kontol gue serasa di jepit sama pantatnya.

    Setiap dorongan kontol gue menimbulkan sensasi yang lebih di raut muka mbak Dian. Mukanya mendahak ke arah gue sambil memegang lengan tangan sebelah kiri sambil mulutnya terbuka seperti pelacur yang haus kontol kontol para pelanggan setianya.

    ” Mbak… enak gak… kontol Donn… ” tanya gue sama mbak Dian dengan nafas yang telah terengah engah.

    ” Enaaaak… Donnn …. Truuus …. Donnn…. jgan brenti… “

    ” Ngomong mbak Dian kalo mulai saat ini mbak memang pelacur Donn… mbak suka banget sama kontol Donn…” Suruh gue ke mbak Dian buat niru ucapan gue.

    ” Mbak memang pelacur Donnny… kapan aja Donnny mau… mbak layani… sssstt… Dooonn… “

    ” Mbak suka bngeeeeet… koooont*l Donnnnyyy… ennnntot*n mbak Diannn tiap hari Donnnn… entot*n… entot*n…. trussss “

    Mendengar seruan mbak Dian yang tertahan tahan karena nafsu yang besar kini sudah menyelubungi seluruh saraf ditbuhnya, menambah birahi gue semakin memuncak. Menambah gue semakin cepat dan cepat mengentot*n mbak Dian, sampai sampai goyangan buah dadanya seiringan dengan dorongan yang gue berikan ke dalam memek…

    Akhirnya mbak Dian kembali mencapai puncaknya kembali, sambil memasukan jarinya kedalam lubang anusnya sendiri…

    ” Donnnn… mbak.. mmmmau… kllllluaaar laaagi…. ooooooohhh…Doooonnn…. ” erang mbak Dian yang hendak memuncratkan air semakin membuat ku terangsang karena mimik mukanya yang sungguh sungguh mengairahkan.

    Dengan badan yang telah lunglai, mbak Dian terkapar seperti orang yang lemah tak berdaya. Namun pompaan kontol gue yang keluar masuk tetap gak berhenti malah semakin lama semakin cepat.

    Tiba tiba gue ngerasain sesuatu yang berdenyut denyut disekitar pangkal kontol gue. Dengan keadaan mbak Dian yang sudah tidak berdaya aku terus mengentot*n memeknya tanpa memperdulikan keadaan mbak Dian yang sekujur tubuhnya berkeringat karena kelelahan setelah gue entot*n dari setadi.

    ” Mbaaaak… Dooonnn…nyyy mmmaaau.. kkklarrrr… Aaaahhhh…. ” Seruku disaat sesuatu hendak mau menyembur keluar dan terus menerus memaksa.

    Crrrooot… Crrrooot… CCrooot… akhirnya gue tersenyum puas dan mencabut kontol gue dari dalam memek mbak Dian dan menghampiri mbak Dian dan memangku kepalanya dan meminta mbak Dian membersihkan bekas bekas peju gue yang bececeran di selangkangan gue…

    Gak pernah gue sia sia in saat berdua dirumah… setiap saat gue mau, langsung gue entot mbak Dian. Saat mbak Dian lagi ngegosok baju tiba tiba gue sergap dia dari belakang dan langsung buka celananya dan gue entot mbak Dian dalam keadaan berdiri dan slalu gue keluarin di dalam memeknya dan yang terkadang gue suruh mbak Dian sepong kontol gue lalu gue keluarin di dalam mulutnya serta langsung di nikmatin peju gue itu… katanya nikmat manis…

    Hari hari yang sangat sungguh indah selama beberapa hari gue selalu entotin mbak Dian dengan berbagai variasi seks… hingga sampai mbak Dian sekarang hebat dalam mengemut kontol gue… Mbak Dian pun gak pernah menolak saat gue membutuhkan memeknya karena dia juga sudah ketagihan sodokan kontol gue. Sering malam malam mbak Dian suka masuk ke kamar gue dan suka sepongin kontol gue hingga gue bangun dan langsung gue entot mbak Dian.

  • Toket Montok

    Toket Montok


    27134 views

     Pacarku seorang anak bungsu. Kecuali kolokan, dia juga seorang penakut, sehingga sampai jam 10 malam
    minta ditemani. Sehabis mandi sore, aku pergi ke kosnya. Sampai dia berangkat tidur. aku belajar atau
    menulis tugas akhir dan dia belajar atau mengerjakan tugas-tugas kuliahnya di ruang tamu. Kamar kos-nya
    sendiri berukuran cukup besar, yakni 3mX6m.

    Kamar sebesar itu disekat dengan triplex menjadi ruang tamu dengan ukuran 3mX2.5m dan ruang tidur dengan
    ukuran 3mX3.5m. Lobang pintu di antara kedua ruang itu hanya ditutup dengan kain korden.

    lbu kost-nya mempunyai 4 anak, semua cewek. Semua manis-manis sebagaimana kebanyakan perempuan Sunda.
    Anak yang pertama sudah menikah, anak yang kedua duduk di kelas 3 SMA, anak ketiga kelas I SMA, dan anak
    bungsu masih di SMP. Menurut desas-desus yang sampai di telingaku, menikahnya anak pertama adalah karena
    hamil duluan. Kemudian anak yang kedua pun sudah mempunyai prestasi. Nama panggilannya Ika. Dia
    dikabarkan sudah pernah hamil dengan pacarya, namun digugurkan. Menurut penilaianku, Ika seorang
    playgirl. Walaupun sudah punya pacar, pacarnya kuliah di suatu politeknik, namun dia suka mejeng dan
    menggoda laki-laki lain yang kelihatan keren. Kalau aku datang ke kos pacarku, dia pun suka mejeng dan
    bersikap genit dalam menyapaku.

    lka memang mojang Sunda yang sangat aduhai. Uumurnya akan 18 tahun. Tingginya 160 cm. Kulitnya berwarna
    kuning langsat dan kelihatan licin. Badannya kenyal dan berisi. Pinggangnya ramping. Buah dadanya padat
    dan besar membusung. Pinggulnya besar, kecuali melebar dengan indahnya juga pantatnya membusung dengan
    montoknya. Untuk gadis seusia dia, mungkin payudara dan pinggul yang sudah terbentuk sedemikian indahnya
    karena terbiasa dinaiki dan digumuli oleh pacarnya. Paha dan betisnya bagus dan mulus. Lehernya jenjang.
    Matanya bagus. Hidungnya mungil dan sedikit mancung. Bibirnya mempunyai garis yang sexy dan sensual,
    sehingga kalau memakai lipstik tidak perlu membuat garis baru, tinggal mengikuti batas bibir yang sudah
    ada. Rambutnya lebat yang dipotong bob dengan indahnya.

    Sore itu sehabis mandi aku ke kos pacarku seperti biasanya. Di teras rumah tampak Ika sedang mengobrol
    dengan dua orang adiknya. Ika mengenakan baju atas “you can see” dan rok span yang pendek dan ketat
    sehingga lengan, paha dan betisnya yang mulus itu dipertontonkan dengan jelasnya.

    “Mas Bob, ngapel ke Mbak Dina? Wah.. sedang nggak ada tuh. Tadi pergi sama dua temannya. Katanya mau
    bikin tugas,” sapa Ika dengan centilnya.
    “He.. masa?” balasku.
    “Iya.. Sudah, ngapelin Ika sajalah Mas Bob,” kata Ika dengan senyum menggoda. Edan! Cewek Sunda satu ini
    benar-benar menggoda hasrat. Kalau mau mengajak beneran aku tidak menolak nih, he-he-he..
    “Ah, neng Ika macam-macam saja..,” tanggapanku sok menjaga wibawa. “Kak Dai belum datang?”

    Pacar Ika namanya Daniel, namun Ika memanggilnya Kak Dai. Mungkin Dai adalah panggilan akrab atau
    panggilan masa kecil si Daniel. Daniel berasal dan Bogor. Dia ngapeli anak yang masih SMA macam minum
    obat saja. Dan pulang kuliah sampai malam hari. Lebih hebat dan aku, dan selama ngapel waktu dia
    habiskan untuk ngobrol. Atau kalau setelah waktu isya, dia masuk ke kamar Ika. Kapan dia punya
    kesempatan belajar?Cerita Sex Dewasa

    “Wah.. dua bulan ini saya menjadi singgel lagi. Kak Dai lagi kerja praktek di Riau. Makanya carikan
    teman Mas Bob buat menemani Ika dong, biar Ika tidak kesepian.. Tapi yang keren lho,” kata Ika dengan
    suara yang amat manja. Edan si playgirl Sunda mi. Dia bukan tipe orang yang ngomong begitu bukan sekedar
    bercanda, namun tipe orang yang suka nyerempet-nyerempet hat yang berbahaya.

    “Neng Ika ini.. Nanti Kak Dai-nya ngamuk dong.”
    “Kak Dai kan tidak akan tahu..”

    Aku kembali memaki dalam hati. Perempuan Sunda macam Ika ini memang enak ditiduri. Enak digenjot dan
    dinikmati kekenyalan bagian-bagian tubuhnya.

    Aku mengeluarkan kunci dan membuka pintu kamar kos Dina. Di atas meja pendek di ruang tamu ada sehelai
    memo dari Dina. Sambil membuka jendela ruang depan dan ruang tidur, kubaca isi memo tadi. “Mas Bobby,
    gue ngerjain tugas kelompok bersama Niken dan Wiwin. Tugasnya banyak, jadi gue malam ini tidak pulang.
    Gue tidur di rumah Wiwin. Di kulkas ada jeruk, ambil saja. Soen sayang, Dina”
    Aku mengambil bukuku yang sehari-harinya kutinggal di tempat kos Di. Sambil menyetel radio dengan suara
    perlahan, aku mulai membaca buku itu. Biarlah aku belajar di situ sampai jam sepuluh malam.

    Sedang asyik belajar, sekitar jam setengah sembilan malam pintu diketok dan luar. Tok-tok-tok..

    Kusingkapkan korden jendela ruang tamu yang telah kututup pada jam delapan malam tadi, sesuai dengan
    kebiasaan pacarku. Sepertinya Ika yang berdiri di depan pintu.

    “Mbak Di.. Mbak Dina..,” terdengar suara Ika memanggil-manggil dan luar. Aku membuka pintu.
    “Mbak Dina sudah pulang?” tanya Ika.
    “Belum. Hari ini Dina tidak pulang. Tidur di rumah temannya karena banyak tugas. Ada apa?”
    “Mau pinjam kalkulator, mas Bob. Sebentar saja. Buat bikin pe-er.”
    “Ng.. bolehlah. Pakai kalkulatorku saja, asal cepat kembali.”
    “Beres deh mas Bob. Ika berjanji,” kata Ika dengan genit. Bibirnya tersenyum manis, dan pandang matanya
    menggoda menggemaskan.

    Kuberikan kalkulatorku pada Ika. Ketika berbalik, kutatap tajam-tajam tubuhnya yang aduhai. Pinggulnya
    yang melebar dan montok itu menggial ke kiri-kanan, seolah menantang diriku untuk meremas*-remasnya.
    Sialan! Kontholku jadi berdiri. Si “boy-ku” ini responsif sekali kalau ada cewek cakep yang enak
    digenjot.

    Sepeninggal Ika, sesaat aku tidak dapat berkonsentrasi. Namun kemudian kuusir pikiran yang tidak-tidak
    itu.

    Kuteruskan kembali membaca textbook yang menunjang penulisan tugas sarjana itu.

    Tok-tok-tok! Baru sekitar limabelas menit pintu kembali diketok.

    “Mas Bob.. Mas Bob..,” terdengar Ika memanggil lirih.

    Pintu kubuka. Mendadak kontholku mengeras lagi. Di depan pintu berdiri Ika dengan senyum genitnya.
    Bajunya bukan atasan “you can see” yang dipakai sebelumnya. Dia menggunakan baju yang hanya setinggi
    separuh dada dengan ikatan tali ke pundaknya. Baju tersebut berwarna kuning muda dan berbahan mengkilat.
    Dadanya tampak membusung dengan gagahnya, yang ujungnya menonjol dengan tajam dan batik bajunya.
    Sepertinya dia tidak memakai BH. Juga, bau harum sekarang terpancar dan tubuhnya. Tadi, bau parfum harum
    semacam ini tidak tercium sama sekali, berarti datang yang kali ini si Ika menyempatkan diri memakai
    parfum. Kali ini bibirnya pun dipolesi lipstik pink.

    “Ini kalkulatornya, Mas Bob,” kata Ika manja, membuyarkan keterpanaanku.
    “Sudah selesai. Neng Ika?” tanyaku basa-basi.
    “Sudah Mas Bob, namun boleh Ika minta diajari Matematika?”
    “0, boleh saja kalau sekiranya bisa.”Cerita Sex Dewasa

    Tanpa kupersilakan Ika menyelonong masuk dan membuka buku matematika di atas meja tamu yang rendah.
    Ruang tamu kamar kos pacarku itu tanpa kursi. Hanya digelari karpet tebal dan sebuah meja pendek dengan
    di salah satu sisinya terpasang rak buku. Aku pun duduk di hadapannya, sementara pintu masuk tertutup
    dengan sendirinya dengan perlahan. Memang pintu kamar kos pacarku kalau mau disengaja terbuka harus
    diganjal potongan kayu kecil.

    “Ini mas Bob, Ika ada soal tentang bunga majemuk yang tidak tahu cara penyelesaiannya.” Ika mencari-cari
    halaman buku yang akan ditanyakannya.

    Menunggu halaman itu ditemukan, mataku mencari kesempatan melihat ke dadanya. Amboi! Benar, Ika tidak
    memakai bra. Dalam posisi agak menunduk, kedua gundukan payudaranya kelihatan sangat jelas. Sungguh
    padat, mulus, dan indah. Kontholku terasa mengeras dan sedikit berdenyut-denyut.

    Halaman yang dicari ketemu. Ika dengan centilnya membaca soal tersebut. Soalnya cukup mudah. Aku
    menerangkan sedikit dan memberitahu rumusnya, kemudian Ika menghitungnya. Sambil menunggu Ika
    menghitung, mataku mencuri pandang ke buah dada Ika. Uhhh.. ranum dan segarnya.

    “Kok sepi? Mamah, Ema, dan Nur sudah tidur?” tanyaku sambil menelan ludah. Kalau bapaknya tidak aku
    tanyakan karena dia bekerja di Cirebon yang pulangnya setiap akhir pekan.
    “Sudah. Mamah sudah tidur jam setengah delapan tadi. Kemudian Erna dan Nur berangkat tidur waktu Ika
    bermain-main kalkulator tadi,” jawab Ika dengan tatapan mata yang menggoda.

    Hasratku mulai naik. Kenapa tidak kusetubuhi saja si Ika. Mumpung sepi. Orang-orang di rumahnya sudah
    tidur. Kamar kos sebelah sudah sepi dan sudah mati lampunya. Berarti penghuninya juga sudah tidur. Kalau
    kupaksa dia meladeni hasratku, tenaganya tidak akan berarti dalam melawanku. Tetapi mengapa dia akan
    melawanku? jangan-jangan dia ke sini justru ingin bersetubuh denganku. Soal tanya Matematika, itu hanya
    sebagai atasan saja. Bukankah dia menyempatkan ganti baju, dari atasan you can see ke atasan yang
    memamerkan separuh payudaranya? Bukankah dia datang lagi dengan menyempatkan tidak memakai bra? Bukankah
    dia datang lagi dengan menyempatkan memakai parfum dan lipstik? Apa lagi artinya kalau tidak menyodorkan
    din?

    Tiba-tiba Ika bangkit dan duduk di sebelah kananku.

    “Mas Bob.. ini benar nggak?” tanya Ika.

    Ada kekeliruan di tengah jalan saat Ika menghitung. Antara konsentrasi dan menahan nafsu yang tengah
    berkecamuk, aku mengambil pensil dan menjelaskan kekeliruannya. Tiba-tiba Ika lebih mendekat ke arahku,
    seolah mau memperhatikan hal yang kujelaskan dan jarak yang lebih dekat. Akibatnya.. gumpalan daging
    yang membusung di dadanya itu menekan lengan tangan kananku. Terasa hangat dan lunak, namun ketika dia
    lebih menekanku terasa lebih kenyal.

    Dengan sengaja lenganku kutekankan ke payudaranya.

    “Ih.. Mas Bob nakal deh tangannya,” katanya sambil merengut manja. Dia pura-pura menjauh.
    “Lho, yang salah kan Neng Ika duluan. Buah dadanya menyodok-nyodok lenganku,” jawabku.

    lka cemberut. Dia mengambil buku dan kembali duduk di hadapanku. Dia terlihat kembali membetulkan yang
    kesalahan, namun menurut perasaanku itu hanya berpura-pura saja. Aku merasa semakin ditantang. Kenapa
    aku tidak berani? Memangnya aku impoten? ceritasexdewasa.org Dia sudah berani datang ke sini malam-malam sendirian. Dia
    menyempatkan pakai parfum. Dia sengaja memakai baju atasan yang memamerkan gundukan payudara. Dia
    sengaja tidak pakai bra. Artinya, dia sudah mempersilakan diriku untuk menikmati kemolekan tubuhnya.
    Tinggal aku yang jadi penentunya, mau menyia-siakan kesempatan yang dia berikan atau memanfaatkannya.
    Kalau aku menyia-siakan berarti aku band!

    Aku pun bangkit. Aku berdiri di atas lutut dan mendekatinya dari belakang. Aku pura-pura mengawasi dia
    dalam mengerjakan soal. Padahal mataku mengawasi tubuhnya dari belakang. Kulit punggung dan lengannya
    benar-benar mulus, tanpa goresan sedikitpun. Karena padat tubuhnya, kulit yang kuning langsat itu tampak
    licin mengkilap walaupun ditumbuhi oleh bulu-bulu rambut yang halus.

    Kemudian aku menempelkan kontholku yang menegang ke punggungnya. Ika sedikit terkejut ketika merasa ada
    yang menempel punggungnya.

    “Ih.. Mas Bob jangan begitu dong..,” kata Ika manja.
    “Sudah.. udah-udah.. Aku sekedar mengawasi pekerjaan Neng Ika,” jawabku.

    lka cemberut. Namun dengan cemberut begitu, bibir yang sensual itu malah tampak menggemaskan. Sungguh
    sedap sekali bila dikulum-kulum dan dilumat-lumat. Ika berpura-pura meneruskan pekerjaannya. Aku semakin
    berani. Kontholku kutekankan ke punggungnya yang kenyal. Ika menggelinjang. Tidak tahan lagi. Tubuh Ika
    kurengkuh dan kurebahkan di atas karpet. Bibirnya kulumat-lumat, sementara kulit punggungnya kuremas-
    remas. Bibir Ika mengadakan perlawanan, mengimbangi kuluman-*kuluman bibirku yang diselingi dengan
    permainan lidahnya. Terlihat bahkan dalam masalah ciuman Ika yang masih kelas tiga SMA sudah sangat
    mahir. Bahkan mengalahkan kemahiranku.

    Beberapa saat kemudian ciumanku berpindah ke lehernya yang jenjang. Bau harum terpancar dan kulitnya.
    Sambil kusedot-sedot kulit lehernya dengan hidungku, tanganku berpindah ke buah dadanya. Buah dada yang
    tidak dilindungi bra itu terasa kenyal dalam remasan tanganku. Kadang-kadang dan batik kain licin baju
    atasannya, putingnya kutekan-tekan dan kupelintir-pelintir dengan jari-jari tanganku. Puting itu terasa
    mengeras.

    “Mas Bob, Mas Bob buka baju saja Mas Bob..,” rintih Ika.

    Tanpa menunggu persetujuanku, jari-jari tangannya membuka Ikat pinggang dan ritsleteng celanaku. Aku
    mengimbangi, tali baju atasannya kulepas dan baju tersebut kubebaskan dan tubuhnya. Aku terpana melihat
    kemulusan tubuh atasnya tanpa penutup sehelai kain pun. Buah dadanya yang padat membusung dengan
    indahnya. Ditimpa sinar lampu neon ruang tamu, payudaranya kelihatan amat mulus dan licin. Putingnya
    berdiri tegak di ujung gumpalan payudara. Putingnya berwarna pink kecoklat-coklatan, sementara puncak
    bukit payudara di sekitarnya berwarna coklat tua dan sedikit menggembung dibanding dengan permukaan
    kulit payudaranya.

    Celana panjang yang sudah dibuka oleh Ika kulepas dengan segera. Menyusul. kemeja dan kaos singlet
    kulepas dan tubuhku. Kini aku cuma tertutup oleh celana dalamku, sementara Ika tertutup oleh rok span
    ketat yang mempertontonkan bentuk pinggangnya yang ramping dan bentuk pinggulnya yang melebar dengan
    bagusnya. Ika pun melepaskan rok spannya itu, sehingga pinggul yang indah itu kini hanya terbungkus
    celana dalam minim yang tipis dan berwarna pink. Di daerah bawah perutnya, celana dalam itu tidak mampu
    menyembunyikan warna hitam dari jembut lebat Ika yang terbungkus di dalamnya. Juga, beberapa helai
    jembut Ika tampak keluar dan lobang celana dalamnya.

    lka memandangi dadaku yang bidang. Kemudian dia memandang ke arah kontholku yang besar dan panjang, yang
    menonjol dari balik celana dalamku. Pandangan matanya memancarkan nafsu yang sudah menggelegak. Perlahan
    aku mendekatkan badanku ke badannya yang sudah terbaring pasrah. Kupeluk tubuhnya sambil mengulum
    kembali bibirnya yang hangat. Ika pun mengimbanginya. Dia memeluk leherku sambil membalas kuluman di
    bibirnya. Payudaranya pun menekan dadaku. Payudara itu terasa kenyal dan lembut. Putingnya yang mengeras
    terasa benar menekan dadaku. Aku dan Ika saling mengulum bibir, saling menekankan dada, dan saling
    meremas kulit punggung dengan penuh nafsu.

    Ciumanku berpindah ke leher Ika. Leher mulus yang memancarkan keharuman parfum yang segar itu kugumuli
    dengan bibir dan hidungku. Ika mendongakkan dagunya agar aku dapat menciumi segenap pori-pori kulit
    lehernya.

    “Ahhh.. Mas Bob.. Ika sudah menginginkannya dan kemarin.. Gelutilah tubuh Ika.. puasin Ika ya Mas
    Bob..,” bisik Ika terpatah-patah.Cerita Sex Dewasa

    Aku menyambutnya dengan penuh antusias. Kini wajahku bergerak ke arah payudaranya. Payudaranya begitu
    menggembung dan padat. namun berkulit lembut. Bau keharuman yang segar terpancar dan pori-porinya.
    Agaknya Ika tadi sengaja memakai parfum di sekujur payudaranya sebelum datang ke sini. Aku menghirup
    kuat-kuat lembah di antara kedua bukit payudaranya itu. Kemudian wajahku kugesek-gesekkan di kedua bukit
    payudara itu secara bergantian, sambil hidungku terus menghirup keharuman yang terpancar dan kulit
    payudara. Puncak bukit payudara kanannya pun kulahap dalam mulutku. Kusedot kuat-kuat payudara itu
    sehingga daging yang masuk ke dalam mulutku menjadi sebesar-besarnya. Ika menggelinjang.

    “Mas Bob.. ngilu.. ngilu..,” rintih Ika.

    Gelinjang dan rintihan Ika itu semakin membangkitkan hasratku. Kuremas bukit payudara sebelah kirinya
    dengan gemasnya, sementara puting payudara kanannya kumainkan dengan ujung lidahku. Puting itu kadang
    kugencet dengan tekanan ujung lidah dengan gigi. Kemudian secara mendadak kusedot kembali payudara kanan
    itu kuat-kuat. sementara jari tanganku menekan dan memelintir puting payudara kirinya. Ika semakin
    menggelinjang-gelinjang seperti ikan belut yang memburu makanan sambil mulutnya mendesah-desah.

    “Aduh mas Booob.. ssshh.. ssshhh.. ngilu mas Booob.. ssshhh.. geli.. geli..,” cuma kata-kata itu yang
    berulang-ulang keluar dan mulutnya yang merangsang.

    Aku tidak puas dengan hanya menggeluti payudara kanannya. Kini mulutku berganti menggeluti payudara
    kiri. sementara tanganku meremas-remas payudara kanannya kuat-kuat. Kalau payudara kirinya kusedot
    kuat-kuat. tanganku memijit-mijit dan memelintir-pelintir puting payudara kanannya. Sedang bila gigi dan
    ujung lidahku menekan-nekan puting payudara kiri, tanganku meremas sebesar-besarnya payudara kanannya
    dengan sekuat-kuatnya.

    “Mas Booob.. kamu nakal… ssshhh.. ssshhh.. ngilu mas Booob.. geli..” Ika tidak henti-hentinya
    menggelinjang dan mendesah manja.

    Setelah puas dengan payudara, aku meneruskan permainan lidah ke arah perut Ika yang rata dan berkulit
    amat mulus itu. Mulutku berhenti di daerah pusarnya. Aku pun berkonsentrasi mengecupi bagian pusarnya.
    Sementara kedua telapak tanganku menyusup ke belakang dan meremas-remas pantatnya yang melebar dan
    menggembung padat. Kedua tanganku menyelip ke dalam celana yang melindungi pantatnya itu. Perlahan*-
    lahan celana dalamnya kupelorotkan ke bawah. Ika sedikit mengangkat pantatnya untuk memberi kemudahan
    celana dalamnya lepas. Dan dengan sekali sentakan kakinya, celana dalamnya sudah terlempar ke bawah.

    Saat berikutnya, terhamparlah pemandangan yang luar biasa merangsangnya. Jembut Ika sungguh lebat dan
    subur sekali. Jembut itu mengitari bibir memek yang berwarna coklat tua. Sambil kembali menciumi kulit
    perut di sekitar pusarnya, tanganku mengelus-elus pahanya yang berkulit licin dan mulus. Elusanku pun ke
    arah dalam dan merangkak naik. Sampailah jari-jari tanganku di tepi kiri-kanan bibir luar memeknya.
    Tanganku pun mengelus-elus memeknya dengan dua jariku bergerak dan bawah ke atas. Dengan mata terpejam,
    Ika berinisiatif meremas-remas payudaranya sendiri. Tampak jelas kalau Ika sangat menikmati permainan
    ini.

    Perlahan kusibak bibir memek Ika dengan ibu jari dan telunjukku mengarah ke atas sampai kelentitnya
    menongol keluar. Wajahku bergerak ke memeknya, sementara tanganku kembali memegangi payudaranya.
    Kujilati kelentit Ika perlahan-lahan dengan jilatan-jilatan pendek dan terputus-putus sambil satu
    tanganku mempermainkan puting payudaranya.

    “Au Mas Bob.. shhhhh.. betul.. betul di situ mas Bob.. di situ.. enak mas.. shhhh..,” Ika mendesah-desah
    sambil matanya merem-melek. Bulu alisnya yang tebal dan indah bergerak ke atas-bawah mengimbangi gerakan
    merem-meleknya mata. Keningnya pun berkerut pertanda dia sedang mengalami kenikmatan yang semakin
    meninggi.

    Aku meneruskan permainan lidah dengan melakukan jilatan-jilatan panjang dan lubang anus sampai ke
    kelentitnya.
    Karena gerakan ujung hidungku pun secara berkala menyentuh memek Ika. Terasa benar bahkan dinding
    vaginanya mulai basah. Bahkan sebagian cairan vaginanya mulai mengalir hingga mencapai lubang anusnya.
    Sesekali pinggulnya bergetar. Di saat bergetar itu pinggulnya yang padat dan amat mulus kuremas kuat-
    kuat sambil ujung hidungku kutusukkan ke lobang memeknya.

    “Mas Booob.. enak sekali mas Bob..,” Ika mengerang dengan kerasnya.

    Aku segera memfokuskan jilatan-jilatan lidah serta tusukan-tusukan ujung hidung di vaginanya. Semakin
    lama vagina itu semakin basah saja. Dua jari tanganku lalu kumasukkan ke lobang memeknya. Setelah masuk
    hampir semuanya, jari kubengkokkan ke arah atas dengan tekanan yang cukup terasa agar kena “G-spot”-nya.
    Dan berhasil!

    “Auwww.. mas Bob..!” jerit Ika sambil menyentakkan pantat ke atas. sampai-sampai jari tangan yang sudah
    terbenam di dalam memek terlepas. Perut bawahnya yang ditumbuhi bulu-bulu jembut hitam yang lebat itu
    pun menghantam ke wajahku.
    Bau harum dan bau khas cairan vaginanya merasuk ke sel-sel syaraf penciumanku.

    Aku segera memasukkan kembali dua jariku ke dalam vagina Ika dan melakukan gerakan yang sama. Kali ini
    aku mengimbangi gerakan jariku dengan permainan lidah di kelentit Ika. Kelentit itu tampak semakin
    menonjol sehingga gampang bagiku untuk menjilat dan mengisapnya. ceritasexdewasa.org Ketika kelentit itu aku gelitiki dengan
    lidah serta kuisap-isap perlahan, Ika semakin keras merintih-rintih bagaikan orang yang sedang mengalami
    sakit demam. Sementara pinggulnya yang amat aduhai itu menggial ke kiri-kanan dengan sangat
    merangsangnya.

    “Mas Bob.. mas Bob.. mas Bob..,” hanya kata-kata itu yang dapat diucapkan Ika karena menahan kenikmatan
    yang semakin menjadi-jadi.

    Permainan jari-jariku dan lidahku di memeknya semakin bertambah ganas. Ika sambil mengerang*-erang dan
    menggeliat-geliat meremas apa saja yang dapat dia raih. Meremas rambut kepalaku, meremas bahuku, dan
    meremas payudaranya sendiri.

    “Mas Bob.. Ika sudah tidak tahan lagi.. Masukin konthol saja mas Bob.. Ohhh.. sekarang juga mas Bob..!
    Sshhh. . . ,” erangnya sambil menahan nafsu yang sudah menguasai segenap tubuhnya.

    Namun aku tidak perduli. Kusengaja untuk mempermainkan Ika terlebih dahulu. Aku mau membuatnya orgasme,
    sementara aku masih segar bugar. Karena itu lidah dan wajahku kujauhkan dan memeknya. Kemudian kocokan
    dua jari tanganku di dalam memeknya semakin kupercepat. Gerakan jari tanganku yang di dalam memeknya ke
    atas-bawah, sampai terasa ujung jariku menghentak-hentak dinding atasnya secara perlahan-lahan.
    Sementara ibu jariku mengusap-usap dan menghentak-hentak kelentitnya. Gerakan jari tanganku di memeknya
    yang basah itu sampai menimbulkan suara crrk-crrrk-crrrk-crrk crrrk.. Sementara dan mulut Ika keluar
    pekikan-pekikan kecil yang terputus-putus:

    “Ah-ah-ah-ah-ah..”

    Sementara aku semakin memperdahsyat kocokan jari-jariku di memeknya, sambil memandangi wajahnya. Mata
    Ika merem-melek, sementara keningnya berkerut-kerut.

    Crrrk! Crrrk! Crrek! Crek! Crek! Crok! Crok! Suara yang keluar dan kocokan jariku di memeknya semakin
    terdengar keras. Aku mempertahankan kocokan tersebut. Dua menit sudah si Ika mampu bertahan sambil
    mengeluarkan jeritan-jeritan yang membangkitkan nafsu. Payudaranya tampak semakin kencang dan licin,
    sedang putingnya tampak berdiri dengan tegangnya.

    Sampai akhirnya tubuh Ika mengejang hebat. Pantatnya terangkat tinggi-tinggi. Matanya membeliak-*beliak.
    Dan bibirnya yang sensual itu keluar jeritan hebat, “Mas Booo00oob..!” Dua jariku yang tertanam di dalam
    vagina Ika terasa dijepit oleh dindingnya dengan kuatnya. Seiring dengan keluar masuknya jariku dalam
    vaginanya, dan sela-sela celah antara tanganku dengan bibir memeknya terpancarlah semprotan cairan
    vaginanya dengan kuatnya. Prut! Prut! Pruttt! Semprotan cairan tersebut sampai mencapai pergelangan
    tanganku.

    Beberapa detik kemudian Ika terbaring lemas di atas karpet. Matanya memejam rapat. Tampaknya dia baru
    saja mengalami orgasme yang begitu hebat. Kocokan jari tanganku di vaginanya pun kuhentikan. Kubiarkan
    jari tertanam dalam vaginanya sampai jepitan dinding vaginanya terasa lemah. Setelah lemah. jari tangan
    kucabut dan memeknya. Cairan vagina yang terkumpul di telapak tanganku pun kubersihkan dengan kertas
    tissue.

    Ketegangan kontholku belum juga mau berkurang. Apalagi tubuh telanjang Ika yang terbaring diam di
    hadapanku itu benar-benar aduhai. seolah menantang diriku untuk membuktikan kejantananku pada tubuh
    mulusnya. Aku pun mulai menindih kembali tubuh Ika, sehingga kontholku yang masih di dalam celana dalam
    tergencet oleh perut bawahku dan perut bawahnya dengan enaknya. Sementara bibirku mengulum-kulum kembali
    bibir hangat Ika, sambil tanganku meremas-remas payudara dan mempermainkan putingnya. Ika kembali
    membuka mata dan mengimbangi serangan bibirku. Tubuhnya kembali menggelinjang-gelinjang karena menahan
    rasa geli dan ngilu di payudaranya.

    Setelah puas melumat-lumat bibir. wajahku pun menyusuri leher Ika yang mulus dan harum hingga akhirnya
    mencapai belahan dadanya. Wajahku kemudian menggeluti belahan payudaranya yang berkulit lembut dan
    halus, sementara kedua tanganku meremas-remas kedua belah payudaranya. Segala kelembutan dan keharuman
    belahan dada itu kukecupi dengan bibirku. Segala keharuman yang terpancar dan belahan payudara itu
    kuhirup kuat-kuat dengan hidungku, seolah tidak rela apabila ada keharuman yang terlewatkan sedikitpun.Cerita Sex Dewasa

    Kugesek-gesekkan memutar wajahku di belahan payudara itu. Kemudian bibirku bergerak ke atas bukit
    payudara sebelah kiri. Kuciumi bukit payudara yang membusung dengan gagahnya itu. Dan kumasukkan puting
    payudara di atasnya ke dalam mulutku. Kini aku menyedot-sedot puting payudara kiri Ika. Kumainkan puting
    di dalam mulutku itu dengan lidahku. Sedotan kadang kuperbesar ke puncak bukit payudara di sekitar
    puting yang berwarna coklat.

    “Ah.. ah.. mas Bob.. geli.. geli ..,” mulut indah Ika mendesis-desis sambil menggeliatkan tubuh ke
    kiri-kanan. bagaikan desisan ular kelaparan yang sedang mencari mangsa.

    Aku memperkuat sedotanku. Sementara tanganku meremas-remas payudara kanan Ika yang montok dan kenyal
    itu. Kadang remasan kuperkuat dan kuperkecil menuju puncak bukitnya, dan kuakhiri dengan tekanan-tekanan
    kecil jari telunjuk dan ibu jariku pada putingnya.

    “Mas Bob.. hhh.. geli.. geli.. enak.. enak.. ngilu.. ngilu..”

    Aku semakin gemas. Payudara aduhai Ika itu kumainkan secara bergantian, antara sebelah kiri dan sebelah
    kanan. Bukit payudara kadang kusedot besarnya-besarnya dengan tenaga isap sekuat-kuatnya, kadang yang
    kusedot hanya putingnya dan kucepit dengan gigi atas dan lidah. Belahan lain kadang kuremas dengan
    daerah tangkap sebesar-besarnya dengan remasan sekuat-kuatnya, kadang hanya kupijit-pijit dan
    kupelintir-pelintir kecil puting yang mencuat gagah di puncaknya.

    “Ah.. mas Bob.. terus mas Bob.. terus.. hzzz.. ngilu.. ngilu..” Ika mendesis-desis keenakan. Hasratnya
    tampak sudah kembali tinggi.

    Matanya kadang terbeliak-beliak. Geliatan tubuhnya ke kanan-kini semakin sening fnekuensinya.
    Sampai akhirnya Ika tidak kuat mehayani senangan-senangan keduaku. Dia dengan gerakan eepat
    memehorotkan celana dalamku hingga tunun ke paha. Aku memaklumi maksudnya, segera kulepas eelana
    dalamku. Jan-jari tangan kanan Ika yang mulus dan lembut kemudian menangkap kontholku yang sudah berdiri
    dengan gagahnya. Sejenak dia memperlihatkan rasa terkejut.

    “Edan.. mas Bob, edan.. Kontholmu besar sekali.. Konthol pacar-pacarku dahulu dan juga konthol kak Dai
    tidak sampai sebesar ini Edan.. edan..,” ucapnya terkagum-kagum.

    Sambil membiankan mulut, wajah, dan tanganku terus memainkan dan menggeluti kedua belah payudaranya,
    jan-jari lentik tangan kanannya meremas* remas perlahan kontholku secara berirama, seolah berusaha
    mencari kehangatan dan kenikmatan di hatinya menahan kejantananku. Remasannya itu memperhebat vothase
    dan rasa nikmat pada batang kontholku.

    “Mas Bob, kita main di atas kasur saja..,” ajak Ika dengan sinar mata yang sudah dikuasai nafsu birahi.

    Aku pun membopong tubuh telanjang Ika ke ruang dalam, dan membaringkannya di atas tempat tidun pacarku.
    Ranjang pacarku ini amat pendek, dasan kasurnya hanya terangkat sekitar 6 centimeter dari lantai. Ketika
    kubopong. Ika tidak mau melepaskan tangannya dari leherku. Bahkan, begitu tubuhnya menyentuh kasur,
    tangannya menarik wajahku mendekat ke wajahnya. Tak ayal lagi, bibirnya yang pink menekan itu melumat
    bibirku dengan ganasnya. Aku pun tidak mau mengalah. Kulumat bibirnya dengan penuh nafsu yang
    menggelora, sementara tanganku mendekap tubuhnya dengan kuatnya. Kupeluk punggungnya yang halus mulus
    kuremas-remas dengan gemasnya.

    Kemudian aku menindih tubuh Ika. Kontholku terjepit di antara pangkal pahanya yang mulus dan perut
    bawahku sendiri. Kehangatan kulit pahanya mengalir ke batang kontholku yang tegang dan keras. Bibirku
    kemudian melepaskan bibir sensual Ika. Kecupan bibirku pun turun. Kukecup dagu Ika yang bagus. Kukecup
    leher jenjang Ika yang memancarkan bau wangi dan segarnya parfum yang dia pakai. Kuciumi dan kugeluti
    leher indah itu dengan wajahku, sementara pantatku mulai bergerak aktif sehingga kontholku menekan dan
    menggesek-gesek paha Ika. Gesekan di kulit paha yang licin itu membuat batang kontholku bagai diplirit-
    plirit. Kepala kontholku merasa geli-geli enak oleh gesekan-gesekan paha Ika.

    Puas menggeluti leher indah, wajahku pun turun ke buah dada montok Ika. Dengan gemas dan ganasnya aku
    membenamkan wajahku ke belahan dadanya, sementara kedua tanganku meraup kedua belah payudaranya dan
    menekannya ke arah wajahku. Keharuman payudaranya kuhirup sepuas-puasku. Belum puas dengan menyungsep ke
    belahan dadanya, wajahku kini menggesek-gesek memutar sehingga kedua gunung payudaranya tertekan-tekan
    oleh wajahku secara bergantian. Sungguh sedap sekali rasanya ketika hidungku menyentuh dan menghirup
    dalam-dalam daging payudara yang besar dan kenyal itu.

    Kemudian bibirku meraup puncak bukit payudara kiri Ika. Daerah payudara yang kecoklat-coklatan beserta
    putingnya yang pink kecoklat-coklatan itu pun masuk dalam mulutku. Kulahap ujung payudara dan putingnya
    itu dengan bernafsunya, tak ubahnya seperti bayi yang menetek susu setelah kelaparan selama seharian. Di
    dalam mulutku, puting itu kukulum-kulum dan kumainkan dengan lidahku.Cerita Sex Dewasa

    “Mas Bob.. geli.. geli ..,” kata Ika kegelian.

    Aku tidak perduli. Aku terus mengulum-kulum puncak bukit payudara Ika. Putingnya terasa di lidahku
    menjadi keras. Kemudian aku kembali melahap puncak bukit payudara itu sebesar-besarnya. Apa yang masuk
    dalam mulutku kusedot sekuat-kuatnya. Sementara payudara sebelah kanannya kuremas sekuat-kuatnya dengan
    tanganku. Hal tersebut kulakukan secara bergantian antara payudara kiri dan payudara kanan Ika.
    Sementara kontholku semakin menekan dan menggesek-gesek dengan beriramanya di kulit pahanya. Ika semakin
    menggelinjang-gelinjang dengan hebatnya.

    “Mas Bob.. mas Bob.. ngilu.. ngilu.. hihhh.. nakal sekali tangan dan mulutmu.. Auw! Sssh.. ngilu..
    ngilu..,” rintih Ika.

    Rintihannya itu justru semakin mengipasi api nafsuku. Api nafsuku semakin berkobar-kobar. Semakin ganas
    aku mengisap-isap dan meremas-remas payudara montoknya. Sementara kontholku berdenyut-denyut keenakan
    merasakan hangat dan licinnya paha Ika.

    Akhirnya aku tidak sabar lagi. Kulepaskan payudara montok Ika dari gelutan mulut dan tanganku. Bibirku
    kini berpindah menciumi dagu dan lehernya, sementara tanganku membimbing kontholku untuk mencari liang
    memeknya. Kuputar-putarkan dahulu kepala kontholku di kelebatan jembut di sekitar bibir memek Ika.
    Bulu-bulu jembut itu bagaikan menggelitiki kepala kontholku. Kepala kontholku pun kegelian. Geli tetapi
    enak.

    “Mas Bob.. masukkan seluruhnya mas Bob.. masukkan seluruhnya.. Mas Bob belum pernah merasakan memek Mbak
    Dina kan?

    Mbak Dina orang kuno.. tidak mau merasakan konthol sebelum nikah. Padahal itu surga dunia.. bagai
    terhempas langit ke langit ketujuh. mas Bob..”
    Jari-jari tangan Ika yang lentik meraih batang kontholku yang sudah amat tegang. Pahanya yang mulus itu
    dia buka agak lebar.

    “Edan.. edan.. kontholmu besar dan keras sekali, mas Bob..,” katanya sambil mengarahkan kepala kontholku
    ke lobang memeknya.

    Sesaat kemudian kepala kontholku menyentuh bibir memeknya yang sudah basah. Kemudian dengan perlahan-
    lahan dan sambil kugetarkan, konthol kutekankan masuk ke liang memek. Kini seluruh kepala kontholku pun
    terbenam di dalam memek. Daging hangat berlendir kini terasa mengulum kepala kontholku dengan enaknya.

    Aku menghentikan gerak masuk kontholku.

    “Mas Bob.. teruskan masuk, Bob.. Sssh.. enak.. jangan berhenti sampai situ saja..,” Ika protes atas
    tindakanku.

    Namun aku tidak perduli. Kubiarkan kontholku hanya masuk ke lobang memeknya hanya sebatas kepalanya
    saja, namun kontholku kugetarkan dengan amplituda kecil. Sementara bibir dan hidungku dengan ganasnya
    menggeluti lehernya yang jenjang, lengan tangannya yang harum dan mulus, dari ketiaknya yang bersih dari
    bulu ketiak. Ika menggelinjang-gelinjang dengan tidak karuan.

    “Sssh.. sssh.. enak.. enak.. geli.. geli, mas Bob. Geli.. Terus masuk, mas Bob..”

    Bibirku mengulum kulit lengan tangannya dengan kuat-kuat. Sementara gerakan kukonsentrasikan pada
    pinggulku. Dan.. satu.. dua.. tiga! Kontholku kutusukkan sedalam-dalamnya ke dalam memek Ika dengan
    sangat cepat dan kuatnya. Plak! Pangkal pahaku beradu dengan pangkal pahanya yang mulus yang sedang
    dalam posisi agak membuka dengan kerasnya. Sementara kulit batang kontholku bagaikan diplirit oleh bibir
    dan daging lobang memeknya yang sudah basah dengan kuatnya sampai menimbulkan bunyi: srrrt!

    “Auwww!” pekik Ika.

    Aku diam sesaat, membiarkan kontholku tertanam seluruhnya di dalam memek Ika tanpa bergerak sedikit pun.

    “Sakit mas Bob.. Nakal sekali kamu.. nakal sekali kamu…” kata Ika sambil tangannya meremas punggungku
    dengan kerasnya.

    Aku pun mulai menggerakkan kontholku keluar-masuk memek Ika. Aku tidak tahu, apakah kontholku yang
    berukuran panjang dan besar ataukah lubang memek Ika yang berukuran kecil. Yang saya tahu, seluruh
    bagian kontholku yang masuk memeknya serasa dipijit-pijit dinding lobang memeknya dengan agak kuatnya.
    Pijitan dinding memek itu memberi rasa hangat dan nikmat pada batang kontholku.

    “Bagaimana Ika, sakit?” tanyaku
    “Sssh.. enak sekali.. enak sekali.. Barangmu besar dan panjang sekali.. sampai-sampai menyumpal penuh
    seluruh penjuru lobang memekku..,” jawab Ika.

    Aku terus memompa memek Ika dengan kontholku perlahan-lahan. Payudara kenyalnya yang menempel di dadaku
    ikut terpilin-pilin oleh dadaku akibat gerakan memompa tadi. Kedua putingnya yang sudah mengeras
    seakan-akan mengkilik-kilik dadaku yang bidang. Kehangatan payudaranya yang montok itu mulai terasa
    mengalir ke dadaku.
    Kontholku serasa diremas-remas dengan berirama oleh otot-otot memeknya sejalan dengan genjotanku
    tersebut. Terasa hangat dan enak sekali. Sementara setiap kali menusuk masuk kepala kontholku menyentuh
    suatu daging hangat di dalam memek Ika. Sentuhan tersebut serasa menggelitiki kepala konthol sehingga
    aku merasa sedikit kegelian. Geli-geli nikmat.

    Kemudian aku mengambil kedua kakinya yang kuning langsat mulus dan mengangkatnya. Sambil menjaga agar
    kontholku tidak tercabut dari lobang memeknya, aku mengambil posisi agak jongkok. Betis kanan Ika
    kutumpangkan di atas bahuku, sementara betis kirinya kudekatkan ke wajahku. Sambil terus mengocok
    memeknya perlahan dengan kontholku, betis kirinya yang amat indah itu kuciumi dan kukecupi dengan
    gemasnya. Setelah puas dengan betis kiri, ganti betis kanannya yang kuciumi dan kugeluti, sementara
    betis kirinya kutumpangkan ke atas bahuku. Begitu hal tersebut kulakukan beberapa kali secara
    bergantian, sambil mempertahankan rasa nikmat di kontholku dengan mempertahankan gerakan maju-mundur
    perlahannya di memek Ika.Cerita Sex Dewasa

    Setelah puas dengan cara tersebut, aku meletakkan kedua betisnya di bahuku, sementara kedua telapak
    tanganku meraup kedua belah payudaranya. Masih dengan kocokan konthol perlahan di memeknya, tanganku
    meremas-remas payudara montok Ika. Kedua gumpalan daging kenyal itu kuremas kuat-kuat secara berirama.
    Kadang kedua putingnya kugencet dan kupelintir-pelintir secara perlahan. Puting itu semakin mengeras,
    dan bukit payudara itu semakin terasa kenyal di telapak tanganku. Ika pun merintih-rintih keenakan.
    Matanya merem-melek, dan alisnya mengimbanginya dengan sedikit gerakan tarikan ke atas dan ke bawah.

    “Ah.. mas Bob, geli.. geli.. Tobat.. tobat.. Ngilu mas Bob, ngilu.. Sssh.. sssh.. terus mas Bob, terus..
    Edan.. edan.. kontholmu membuat memekku merasa enak sekali… Nanti jangan disemprotkan di luar memek, mas
    Bob. Nyemprot di dalam saja.. aku sedang tidak subur…”

    Aku mulai mempercepat gerakan masuk-keluar kontholku di memek Ika.

    “Ah-ah-ah.. benar, mas Bob. benar.. yang cepat.. Terus mas Bob, terus..”

    Aku bagaikan diberi spirit oleh rintihan-rintihan Ika. tenagaku menjadi berlipat ganda. Kutingkatkan
    kecepatan keluar-masuk kontholku di memek Ika. Terus dan terus. Seluruh bagian kontholku serasa
    diremas*-remas dengan cepatnya oleh daging-daging hangat di dalam memek Ika. Mata Ika menjadi merem-
    melek dengan cepat dan indahnya. Begitu juga diriku, mataku pun merem-melek dan mendesis-desis karena
    merasa keenakan yang luar biasa.

    “Sssh.. sssh.. Ika.. enak sekali.. enak sekali memekmu.. enak sekali memekmu..”
    “Ya mas Bob, aku juga merasa enak sekali.. terusss.. terus mas Bob, terusss..”

    Aku meningkatkan lagi kecepatan keluar-masuk kontholku pada memeknya. Kontholku terasa bagai diremas-
    remas dengan tidak karu-karuan.

    “Mas Bob.. mas Bob.. edan mas Bob, edan.. sssh.. sssh.. Terus.. terus.. Saya hampir keluar nih mas Bob..
    sedikit lagi.. kita keluar sama-sama ya Booob..,” Ika jadi mengoceh tanpa kendali.

    Aku mengayuh terus. Aku belum merasa mau keluar. Namun aku harus membuatnya keluar duluan. Biar
    perempuan Sunda yang molek satu ini tahu bahwa lelaki Jawa itu perkasa. Biar dia mengakui kejantanan
    orang Jawa yang bernama mas Bobby. Sementara kontholku merasakan daging-daging hangat di dalam memek Ika
    bagaikan berdenyut dengan hebatnya.

    “Mas Bob.. mas Bobby.. mas Bobby..,” rintih Ika. Telapak tangannya memegang kedua lengan tanganku seolah
    mencari pegangan di batang pohon karena takut jatuh ke bawah.

    Ibarat pembalap, aku mengayuh sepeda balapku dengan semakin cepatnya. Bedanya, dibandingkan dengan
    pembalap aku lebih beruntung. Di dalam “mengayuh sepeda” aku merasakan keenakan yang luar biasa di
    sekujur kontholku. Sepedaku pun mempunyai daya tarik tersendiri karena mengeluarkan rintihan-rintihan
    keenakan yang tiada terkira.

    “Mas Bob.. ah-ah-ah-ah-ah.. Enak mas Bob, enak.. Ah-ah-ah-ah-ah.. Mau keluar mas Bob.. mau keluar.. ah-
    ah-ah-ah-ah.. sekarang ke-ke-ke..”

    Tiba-tiba kurasakan kontholku dijepit oleh dinding memek Ika dengan sangat kuatnya. Di dalam memek,
    kontholku merasa disemprot oleh cairan yang keluar dari memek Ika dengan cukup derasnya. Dan telapak
    tangan Ika meremas lengan tanganku dengan sangat kuatnya. Mulut sensual Ika pun berteriak tanpa kendali:

    “..keluarrr..!”

    Mata Ika membeliak-beliak. Sekejap tubuh Ika kurasakan mengejang.

    Aku pun menghentikan genjotanku. Kontholku yang tegang luar biasa kubiarkan diam tertanam dalam memek
    Ika. Kontholku merasa hangat luar biasa karena terkena semprotan cairan memek Ika. Kulihat mata Ika
    kemudian memejam beberapa saat dalam menikmati puncak orgasmenya.Cerita Sex Dewasa

    Setelah sekitar satu menit berlangsung, remasan tangannya pada lenganku perlahan-lahan mengendur.
    Kelopak matanya pun membuka, memandangi wajahku. Sementara jepitan dinding memeknya pada kontholku
    berangsur-angsur melemah. walaupun kontholku masih tegang dan keras. Kedua kaki Ika lalu kuletakkan
    kembali di atas kasur dengan posisi agak membuka. Aku kembali menindih tubuh telanjang Ika dengan
    mempertahankan agar kontholku yang tertanam di dalam memeknya tidak tercabut.

    “Mas Bob.. kamu luar biasa.. kamu membawaku ke langit ke tujuh,” kata Ika dengan mimik wajah penuh
    kepuasan.
    “Kak
    Dai dan pacar-pacarku yang dulu tidak pernah membuat aku ke puncak orgasme seperti ml. Sejak Mbak Dina
    tinggal di sini, Ika suka membenarkan mas Bob saat berhubungan dengan Kak Dai.”

    Aku senang mendengar pengakuan Ika itu. berarti selama aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku selalu
    membayangkan kemolekan tubuh Ika dalam masturbasiku, sementara dia juga membayangkan kugeluti dalam
    onaninya. Bagiku. Dina bagus dijadikan istri dan ibu anak-anakku kelak, namun tidak dapat dipungkiri
    bahwa tubuh aduhai Ika enak digeluti dan digenjot dengan penuh nafsu.

    “Mas Bob… kamu seperti yang kubayangkan. Kamu jantan.. kamu perkasa.. dan kamu berhasil membawaku ke
    puncak orgasme. Luar biasa nikmatnya..”

    Aku bangga mendengar ucapan Ika. Dadaku serasa mengembang. Dan bagai anak kecil yang suka pujian, aku
    ingin menunjukkan bahwa aku lebih perkasa dari dugaannya. Perempuan Sunda ini harus kewalahan menghadapi
    genjotanku. Perempuan Sunda ini harus mengakui kejantanan dan keperkasaanku. Kebetulan aku saat ini baru
    setengah perjalanan pendakianku di saat Ika sudah mencapai orgasmenya. Kontholku masih tegang di dalam
    memeknya. Kontholku masih besar dan keras, yang harus menyemprotkan pelurunya agar kepalaku tidak
    pusing.

    Aku kembali mendekap tubuh mulus Ika, yang di bawah sinar lampu kuning kulit tubuhnya tampak sangat
    mulus dan licin. Kontholku mulai bergerak keluar-masuk lagi di memek Ika, namun masih dengan gerakan
    perlahan. Dinding memek Ika secara berargsur-angsur terasa mulai meremas-remas kontholku. Terasa hangat
    dan enak. Namun sekarang gerakan kontholku lebih lancar dibandingkan dengan tadi. Pasti karena adanya
    cairan orgasme yang disemprotkan oleh memek Ika beberapa saat yang lalu.

    “Ahhh.. mas Bob.. kau langsung memulainya lagi.. Sekarang giliranmu.. semprotkan air manimu ke dinding-
    dinding memekku.. Sssh..,” Ika mulai mendesis-desis lagi.

    Bibirku mulai memagut bibir merekah Ika yang amat sensual itu dan melumat-lumatnya dengan gemasnya.
    Sementara tangan kiriku ikut menyangga berat badanku, tangan kananku meremas-remas payudara montok Ika
    serta memijit-mijit putingnya, sesuai dengan mama gerak maju-mundur kontholku di memeknya.

    “Sssh.. sssh.. sssh.. enak mas Bob, enak.. Terus.. teruss.. terusss..,” desis bibir Ika di saat berhasil
    melepaskannya dari serbuan bibirku. Desisan itu bagaikan mengipasi gelora api birahiku.

    Sambil kembali melumat bibir Ika dengan kuatnya, aku mempercepat genjotan kontholku di memeknya.
    Pengaruh adanya cairan di dalam memek Ika, keluar-masuknya konthol pun diiringi oleh suara, “srrt-srret
    srrrt-srrret srrt-srret..” Mulut Ika di saat terbebas dari lumatan bibirku tidak henti-hentinya
    mengeluarkan rintih kenikmatan,

    “Mas Bob.. ah.. mas Bob.. ah.. mas Bob.. hhb.. mas Bob.. ahh..”

    Kontholku semakin tegang. Kulepaskan tangan kananku dari payudaranya. Kedua tanganku kini dari ketiak
    Ika menyusup ke bawah dan memeluk punggung mulusnya. Tangan Ika pun memeluk punggungku dan mengusap-
    usapnya. Aku pun memulai serangan dahsyatku. Keluar-masuknya kontholku ke dalam memek Ika sekarang
    berlangsung dengan cepat dan berirama. Setiap kali masuk, konthol kuhunjamkan keras-keras agar menusuk
    memek Ika sedalam-dalamnya. Dalam perjalanannya, batang kontholku bagai diremas dan dihentakkan kuat-
    kuat oleh dinding memek Ika. Sampai di langkah terdalam, mata Ika membeliak sambil bibirnya mengeluarkan
    seruan tertahan,

    “Ak..!” Sementara daging pangkal pahaku bagaikan menampar daging pangkal pahanya sampai berbunyi: plak!
    Di saat bergerak keluar memek, konthol kujaga agar kepalanya yang mengenakan helm tetap tertanam di
    lobang memek. Remasan dinding memek pada batang kontholku pada gerak keluar ini sedikit lebih lemah
    dibanding dengan gerak masuknya. Bibir memek yang mengulum batang kontholku pun sedikit ikut tertarik
    keluar, seolah tidak rela bila sampai ditinggal keluar oleh batang kontholku. Pada gerak keluar ini
    Bibir Ika mendesah, “Hhh..”Cerita Sex Dewasa

    Aku terus menggenjot memek Ika dengan gerakan cepat dan menghentak-hentak. Remasan yang luar biasa kuat,
    hangat, dan enak sekali bekerja di kontholku. Tangan Ika meremas punggungku kuat-kuat di saat kontholku
    kuhunjam masuk sejauh-jauhnya ke lobang memeknya. beradunya daging pangkal paha menimbulkan suara: Plak!
    Plak! Plak! Plak! Pergeseran antara kontholku dan memek Ika menimbulkan bunyi srottt-srrrt.. srottt-
    srrrt.. srottt-srrrtt.. Kedua nada tersebut diperdahsyat oleh pekikan-pekikan kecil yang merdu yang
    keluar dari bibir Ika:

    “Ak! Uhh.. Ak! Hhh.. Ak! Hhh..”

    Kontholku terasa empot-empotan luar biasa. Rasa hangat, geli, dan enak yang tiada tara membuatku tidak
    kuasa menahan pekikan-pekikan kecil:

    “Ika.. Ika.. edan.. edan.. Enak sekali Ika.. Memekmu enak sekali.. Memekmu hangat sekali.. edan..
    jepitan memekmu enak sekali..”
    “Mas Bob.. mas Bob.. terus mas Bob..” rintih Ika, “Enak mas Bob.. enaaak.. Ak! Ak! Ak! Hhh.. Ak! Hhh..
    Ak! Hhh..”

    Tiba-tiba rasa gatal menyelimuti segenap penjuru kontholku. Gatal yang enak sekali. Aku pun mengocokkan
    kontholku ke memeknya dengan semakin cepat dan kerasnya. Setiap masuk ke dalam, kontholku berusaha
    menusuk lebih dalam lagi dan lebih cepat lagi dibandingkan langkah masuk sebelumnya. Rasa gatal dan rasa
    enak yang luar biasa di konthol pun semakin menghebat.

    “Ika.. aku.. aku..” Karena menahan rasa nikmat dan gatal yang luar biasa aku tidak mampu menyelesaikan
    ucapanku yang memang sudah terbata-bata itu.
    “Mas Bob.. mas Bob.. mas Bob! Ak-ak-ak.. Aku mau keluar lagi.. Ak-ak-ak.. aku ke-ke-ke..”

    Tiba-tiba kontholku mengejang dan berdenyut dengan amat dahsyatnya. Aku tidak mampu lagi menahan rasa
    gatal yang sudah mencapai puncaknya. Namun pada saat itu juga tiba-tiba dinding memek Ika mencekik kuat
    sekali. Dengan cekikan yang kuat dan enak sekali itu. aku tidak mampu lagi menahan jebolnya bendungan
    dalam alat kelaminku.
    Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala kontholku terasa disemprot cairan memek Ika, bersamaan dengan pekikan
    Ika,

    “..keluarrrr..!” Tubuh Ika mengejang dengan mata membeliak-beliak.
    “Ika..!” aku melenguh keras-keras sambil merengkuh tubuh Ika sekuat-kuatnya, seolah aku sedang berusaha
    rnenemukkan tulang-tulang punggungnya dalam kegemasan. Wajahku kubenamkan kuat-kuat di lehernya yang
    jenjang. Cairan spermaku pun tak terbendung lagi.

    Crottt! Crott! Croat! Spermaku bersemburan dengan derasnya, menyemprot dinding memek Ika yang terdalam.
    Kontholku yang terbenam semua di dalam kehangatan memek Ika terasa berdenyut-denyut.

    Beberapa saat lamanya aku dan Ika terdiam dalam keadaan berpelukan erat sekali, sampai-sampai dari alat
    kemaluan, perut, hingga ke payudaranya seolah terpateri erat dengan tubuh depanku. Aku menghabiskan
    sisa-sisa sperma dalam kontholku. Cret! Cret! Cret! Kontholku menyemprotkan lagi air mani yang masih
    tersisa ke dalam memek Ika. Kali ini semprotannya lebih lemah.

    Perlahan-lahan tubuh Ika dan tubuhku pun mengendur kembali. Aku kemudian menciumi leher mulus Ika dengan
    lembutnya, sementara tangan Ika mengusap-usap punggungku dan mengelus-elus rambut kepalaku. Aku merasa
    puas sekali berhasil bermain seks dengan Ika. Pertama kali aku bermain seks, bidadari lawan mainku
    adalah perempuan Sunda yang bertubuh kenyal, berkulit kuning langsat mulus, berpayudara besar dan padat,
    berpinggang ramping, dan berpinggul besar serta aduhai. Tidak rugi air maniku diperas habis-habisan pada
    pengalaman pertama ini oleh orang semolek Ika.

    Baca JUga Cerita Sex Istri Keponakan

    “Mas Bob.. terima kasih mas Bob. Puas sekali saya. Indah sekali.. sungguh.. enak sekali,” kata Ika
    lirih.

    Aku tidak memberi kata tanggapan. Sebagai jawaban, bibirnya yang indah itu kukecup mesra. Dalam keadaan
    tetap telanjang, kami berdekapan erat di atas tempat tidur pacarku. Dia meletakkan kepalanya di atas
    dadaku yang bidang, sedang tangannya melingkar ke badanku. Baru ketika jam dinding menunjukkan pukul
    22:00, aku dan Ika berpakaian kembali. Ika sudah tahu kebiasaanku dalam mengapeli Dina, bahwa pukul
    22:00 aku pulang ke tempat kost-ku sendiri.
    Sebelum keluar kamar, aku mendekap erat tubuh Ika dan melumat-lumat bibirnya beberapa saat.

    “Mas Bob.. kapan-kapan kita mengulangi lagi ya mas Bob.. Jangan khawatir, kita tanpa Ikatan. Ika akan
    selalu merahasiakan hal ini kepada siapapun, termasuk ke Kak Dai dan Mbak Dina. Ika puas sekali bercumbu
    dengan mas Bob,” begitu kata Ika.

    Aku pun mengangguk tanda setuju. Siapa sih yang tidak mau diberi kenikmatan secara gratis dan tanpa
    ikatan? Akhirnya dia keluar dari kamar dan kembali masuk ke rumahnya lewat pintu samping. Lima menit
    kemudian aku baru pulang ke tempat kost-ku

  • Lita

    Lita


    7412 views

    BONUS VIDEO BOKEP DAN FOTO BUGIL


    ini adalah diary yang kesekian kalinya yang pernah aku jalani. Dalam kehidupanku memangh selalu diwarnai
    dengan Cerita Seks dan itu mungkin sudah menjadi takdirku yang selalu bergelut dengan yang namanya
    Memek. Untuk lebih jelasnya tentang Permainan Seks Dengan Lita silahkan kalian baca cerita berikut ini
    yang mungkin bisa kalian ambil hikmahnya.

    Lita seorang yang baru aku kenal kira kira akhir April kemarin di salah satu mall di kota Makasar yang
    ada di kota ini Perawakan wajah datar sederhana dengan body lumayan aduhai Tinggi 169 cm dengan berat 57
    kg Kulit sawo matang layaknya orang kebanyakan.Potongan rambut pendek sangat serasi dengan wajah dan
    postur tubuhnya yang langsing seksi Lita usianya sekitar 30 tahun seorang pegawai PNS di salah satu
    instansi yang ada di daerah ini Dari perkenalan yang tak sengaja itu akhirnya kemudian berbuntut dengan
    janji untuk bertemu lagi setelah dia memberikan nomor telepon kantornya untuk kemudian kami pun
    berpisah.

    Berawal dari telepon-teleponan ke kantornya tentu saja saat jam kantor Akhirnya suatu hari kira-kira 6
    hari setelah pertemuan itu Tepatnya hari Sabtu setahuku hari Sabtu jam kantor pegawai hanya sampai jam
    12 00 siang Janji bertemu di sebuah restorant fast food di sebuah mall yang terletak tidak jauh dari
    rumah dinas gubernur Dan sesuai janji jam 12 45 WITA Lita muncul dengan seorang teman wanita Kalau
    kutaksir umur teman Lita itu kira kira sebaya dengan Lita 30 tahun karena garis wajah yang tidak beda
    jauh dengan Lita Seorang wanita berperawakan manis kulit putih menurut dugaanku dia dari utara Manado
    maaf mungkin.

    Entahlah karena sepanjang pertemuan dengan Lita dan temannya itu aku tak pernah menanyakan asal usulnya
    Hanya sempat menanyakan namanya Linda Lita yang dari pengamatanku selama pertemuan itu perkiraanku Lita
    menggunakan bra berukuran 36 dan Linda menggunakan bra berukuran 34 Tinggi Linda pun sedikit di bawah
    Lita Hanya saja rambut Linda yang sepunggung membuat dia kelihatan lebih asyik Saat itu kedua teman
    baruku itu masih menggunakan pakaian kantor seragam coklat.

    Hingga selesai makan di restoran fast food tersebut aku diajak ke rumah Linda Sesuai dengan permintaan
    Linda yang minta tolong untuk membetulkan VCD nya yang tidak bisa di on. Dengan taxi kami pun berangkat
    bertiga ke rumah Linda yang ternyata agak jauh dari tempat kami bertemu tadi Di sebuah perumahan di
    kawasan utara kota Makassar Setelah kira kira setengah jam di taxi akhirnya sampai ke rumah Linda Turun
    dari taxi kuperhatikan rumah tersebut kosong.Cerita Sex Dewasa

    Dan setelah kutanyakan pada Linda katanya memang dia tinggal sendiri Padahal menurut perkiraanku Linda
    ini sudah bersuami Lain halnya dengan Lita yang memang sejak pertemuan pertama kami sudah aku tahu kalau
    dia sudah berkeluarga dan mempunyai seorang anak perempuan sudah kelas 1 SMP Mereka mempersilakan aku
    duduk sementara Lita dan Linda katanya akan mengganti pakaian dulu.

    Sambil memperlihatkan VCD nya Linda masuk kamar disusul Lita Dari dalam kamar terdengar Linda memintaku
    untuk melihat lihat peralatan VCD tersebut yang berada satu tempat dengan televisi Setelah kuperiksa
    ternyata kabel powernya putus Tidak lama kemudian Lita sudah berdiri di sampingku Sesaat kulirik dia
    Lita menggunakan sebuah daster umumnya wanita menggunakan daster saat sudah berada di rumah Hanya saja
    yang ada lain dari penglihatanku saat itu Lita sepertinya tidak menggunakan bra Meski tak tampak begitu
    jelas putingnya karena dasternya berwarna gelap biru tua Yang lebih membuat aku tak bisa berkonsentrasi
    lagi adalah ternyata daster tersebut pendek Hanya setelah paha Dapat dibayangkan postur tinggi 169 cm
    dengan daster pendek setengah paha dan porsi tubuh yang padat tentu saja hal ini membuat debaran yang
    lain Berdesir rasanya.

    Aku terkesima saat itu Lita ternyata memperhatikan tingkahku yang mulai agak gelisah Dia mendehem dan
    kemudian tersenyum saja untuk akhirnya dia duduk di tempatku duduk tadi Alamak itu paha makin terlihat
    jelas Aku semakin salah tingkah Setelah selesai menyambung kabel tersebut aku bertanya ke Lita kenapa
    tidak pulang ke rumahnya Dia malah tertawa kecil sambil menjawab bahwa suaminya sedang ada tugas ke
    daerah dan anaknya di rumah ditemani adiknya.

    Kucoba terus menenangkan perasaan yang kian tak karuan Aku berhasil sesaat kemudian kunyalakan TV dan
    VCD kuraih disk yang ada di dekat TV Ternyata memang cuma masalah kabel VCD tersebut sudah berfungi
    dengan baik Tapi tanpa sengaja ternyata VCD tersebut sebuah VCD Bokep Saat aku akan mematikan TV dan VCD
    tersebut tanganku ditepis Linda yang dari ruang tengah membawa tiga gelas minuman sirup Katanya biar
    saja sambil meleparkan senyuman ke arah Lita Paling tidak senyuman itu aku tahu maksudnya Upss Ada apa
    ini tanyaku dalam hati sejenak hingga sesaat kemudian aku sudah sadar maksud semua ini Baiklah sambutku
    lagi dalam hati aku akan ladeni permainan ini.

    Kuperhatikan Linda dengan menggunakan baju kaos yang sangat pendek hingga pusarnya kelihatan Dan tampak
    jelas puting Linda menyembul dari balik kaos putih tersebut Sengaja begitu bisikku dalam hati Linda
    mengenakan celana pendek yang juga berwarna putih tapi tipis Hingga tampak samar CD hitam yang dia
    kenakan Itu terlihat jelas ketika Linda hendak menyimpan nampan di meja dekat TV Sementara Lita saat itu
    duduk dalam posisi yang sangat menantang kaki di kangkang dengan tangan kirinya sudah mengusap-usap
    selangkangannya Gila jeritku dalam hati berani sekali perempuan ini Dan kenapa pula dia tidak malu
    padaku.

    Tanpa kusadari ternyata sesuatu yang tegang tengah menyembul dari balik celana kain yang kukenakan Linda
    memperhatikan hal itu hingga saat kembali kutatap Linda dia tersenyum dan kemudian melirik ke arah
    selangkanganku Hal itu membuatku salah tingkah tapi kemudian kuacuhkan Biar saja toh mereka juga saat
    ini lagi terangsang pikirku Tapi ternyata keberanianku hanya sebatas khayalanku saja Toh sesaat kemudian
    posisi duduk kuperbaiki rasanya aku masih malu dengan tonjolan di celanaku.

    Dengan wajah yang masih merah malu aku menunduk Tapi tentu saja aku tetap mencuri pandang bergantian ke
    kedua wanita itu secara bergantian Entahlah kedengarannya adegan di layar TV itu sedang hot-hotnya
    karena terdengar erangan-erangan yang makin membuatku terangsang.Tapi aku kurang begitu memperhatikan
    adegan di TV itu Yang ada dalam ruang pikiranku saat itu hanyalah kedua wanita yang makin hot ini Yang
    lebih mengagetkan lagi sejurus kemudian Linda telah membuka semua pakaiannya telanjang bulat Dan wow
    rambut yang lebat di selangkangannya sangat menantang hasratku sebagai laki laki Tapi sekali lagi hasrat
    itu aku harus terbendung dengan ketidakberanianku.Cerita Sex Dewasa

    Saat kumenoleh ke arah Lita hah dia pun sudah mulai membuka satu persatu pakaian yang dia kenakan Kedua
    wanita ini tanpa busana Hah rasanya nafasku kian memburu Entah bagaimana lagi harus kuatur tapi tetap
    saja aku terengah engah Hingga kucoba menenangkan diri 1 detik 2 detik 9 detik dan kira kira 10 detik
    dan aku pun berhasil aku berhasil mengatasinya Tapi ternyata pada saat itu Lita dan Linda sudah duduk di
    sebelah kiri dan kananku Dan yang lebih membuatku tambah gugup adalah ternyata kancing celana dan bajuku
    sudah terlepas Sempat terbetik dalam hatiku ke mana saja aku dan apa pula ini Pertanyaan yang terlintas
    dalam benakku menjadi basi dalam waktu yang kurang dari beberapa detik.

    Sementara aku masih dalam ketidakberdayaan gerak terpaku Lita telah mengulum batanganku yang ternyata
    sudah tegang Dan pada saat yang lain Linda dengan ganas dan bertubi-tubi menciumi dadaku Syaraf normalku
    rasanya tidak berkerja entahlah tanganku yang berada dalam bimbingan tangan Linda mengarahkan dan
    menuntunnya mengusap usap selangkangannya Licin Masih saja aku dalam ketidakberdayaan gerak yang
    memakuku dalam nuansa birahi Download VCD Bokep terbaru.

    Kesadaranku bangkit pada saat di mana aku bukan menjadi diriku lagi seperti sebuah perintah yang
    menggelegar saat syarafku menggerakkan birahiku Aku pun mulai bereaksi tapi keadaanku dalam posisi yang
    kalah Aku telah ditelanjangi mereka Tapi belum terlambat untuk memberikan perlawanan Tangan yang tadinya
    dituntun Linda ke selangkangannya kini dengan lincah dan lihai mempermainkan daerah terlarangnya yang di
    kelilingi rambut yang hitam.

    Batanganku yang dalam kuluman menghentak-hentak menikmati lincahnya lidah Lita yang mengisap dan
    menelusuri seluruh permukaan kepala batanganku Tapi hal ini tidak bertahan lama sepertinya mereka telah
    sepakat sebelumnya posisi mereka berganti Kini Lita yang mengulum kemaluanku dan Linda yang memintaku
    mengelus-elus selangkangannya.

    Bukan itu saja bahkan Lita menuntun jari tengah tangan kiriku untuk memasukkannya ke dalam Lubang
    Kemaluan Lita.. ceritasexdewasa.org Wow basah dan licin yang membuat tidak ada halangan apa apa hingga jari tengah kiriku
    kugerakkan keluar dan masuk di lubang kemaluan Lita Linda yang bagai kesetanan terus menggerakkan
    kepalanya maju dan mundur hingga kenikmatan hisapan sungguh kian terasa Aku bukan pemain seks yang hebat
    juga bukan menjajal kemaluan wanita yang hebat aku hanya laki laki kebanyakan Selama ini kehidupan
    seksualku biasa saja boleh dibilang tanpa pengalaman Ini yang pertama dan mungkin yang paling liar.

    Senja tentu saja telah berubah malam matahari telah betul betul hilang dalam dekapan malam Dan yang
    terlihat kini hanyalah burung burung malam yang terbang mencari cintanya di kegelapan malam Suasana Los
    Angels makin marak sepanjang jalan kenangan terlihat lampu lampu yang terpasang di gerobak para penjual
    mulai menerangi sekelilingnya Suasana hatiku seperti tersentak saat sebuah piring dari gerobak sebelah
    jatuh dan pecah Suara gemerincing beling ini mengingatkanku kembali pada suasana di mana birahiku kian
    berani melangkahkan keinginannya sendiri Linda dan Lita yah suasana saat itu makin melarutkan kami dalam
    adegan seksual yang sangat luar biasa.

    Linda yang terbaring di ranjang dengan sprei warna pink dengan posisi kaki di tekuk dan di kangkang
    melebar Hingga liang kemaluannya menganga dan siap menerima masuknya batanganku Sekali lagi tanpa susah
    payah kumasukkan Amblas kubiarkan sejenak merasakan hangatnya kemaluan Linda untuk kemudian mulai
    kugerakkan perlahan batanganku tenggelam dan tenggelam dalam liang kemaluan Linda Untuk sejurus kemudian
    Lita dengan posisi menungging liang kemaluannya menganga persis di depan wajahku Ahh aroma yang lain Ahh
    inikah aroma kemaluan wanita itu yang selama ini hanya kuketahui dari cerita teman-temanku Pertanyaan
    yang terjawab dengan sendirinya.

    Aku kurang begitu tahu maksud Lita tapi karena dia memintaku menjilat maka tanpa pikir panjang lidahku
    pun kujulurkan dan mulai mempermainkan bibir kemaluan yang menurut cerita temanku bibir kemaluan itu
    klitoris namanya.

    Lita menggeliat geliat menyeiramakan jilatan jilatanku dengan goyangan pantatnya Sementara Linda yang
    kian terengah-engah merasakan goyangan-goyangan pinggulku yang merasakan tenggelamnya batanganku dalam
    kemaluannya kian mengerang Andai saja Lita sebelum adegan bersetubuh ini tidak mengoleskan sesuatu
    minyak ke batanganku, mungkin sudah sejak dari tadi maniku sudah keluar dan tentunya aku sudah terkulai
    Bagaimana tidak menurutku kedua wanita ini mempunyai kelainan Seks Maniak kah Entahlah tidak begitu
    menjadi pikiran dalam benakku Hanya kenikmatan-kenikmatan yang silih berganti dari kedua wanita ini yang
    menjadi konsentrasiku.

    Pada saat aku hendak mencapai puncak kenikmatan orgasme tiba tiba suara suara pecah piring membuyarkan
    aktifitas seksual kami Lita yang kujilat selangkangannya menarik tubuhnya ke depan dan beranjak duduk
    Linda yang tengah mengerang erang tiba tiba diam dan membelalakkan matanya Aku sendiri setengah melompat
    ke tepi ranjang dan kemudian berdiri dengan terlebih dahulu melilitkan kain di pinggangku .

    Sial setelah aku cermati sumber suara itu ternyata dari belakang Dari dapur seekor kucing yang sedang
    asyik menyantap sisa makanan mungkin makanan bekas pagi tadi Dan setelah aku sampaikan pada kedua wanita
    itu kalau itu hanya seekor kucing yang lagi membongkar dapur spontan kami tertawa Saling berpandangan
    lucu. Lamunanku tersentak derai tawa 4 orang cewek yang sedang cekikikan dengan guyonan mereka Nafas
    kutarik dalam dalam dan perlahan kuhembuskan keluar Matahari ternyata sudah tenggelam.Hanya bias rona
    jingganya yang menyisakan rasa sejuk dan tentram.Cerita Sex Dewasa

    Belum terkikis ingatan pada kejadian adegan demi adegan hangat yang terjadi Hmm sebentar lagi sore akan
    berakhir berganti malam Sebias senyuman di sudut bibirku Lucu memang Tapi juga kaget Dasar kucing Hah
    Lita Angin apa yang membawa kita bertemu Dan entah kenapa aku ikut dalam birahi berani kalian Bunyi
    jilatan pada Lubang Memek Lita membuat Linda yang terbaring bangkit bangun dan memperhatikanku yang
    sedang melakukan itu Seringai Linda yang penuh nafsu seperti berbisik dia pun ingin merasakan hal yang
    sama Dengan sedikit isyarat Linda membaringkan tubuhnya di sisi Lita yang sedang menggeliat menikmati
    jilatanku pada bibir kemaluannya Kaki Linda terbuka lebar dan merekahlah liang kenikmatan itu.

    Sesaat setelah itu Linda pun tengah merasakan asyiknya jilatan jilatanku pada kemaluannya. Tangan Linda
    tanpa kendali meremas buah dadanya sendiri Lita hanya terbaring membentangkan tangannya ke atas
    kepalanya Nafasnya sekali sekali terengah-engah Tapi tanganku yang kiri tak membiarkan kemaluan Lita
    kesepian tanpa kenikmatan Becek kurasakan bibir kemaluan Lita yang menggeliat geliat Sejurus setelah itu
    batanganku kembali bangkit dari istirahatnya Tegang Kedua kaki Linda kutarik ke tepian ranjang dan
    langsung batanganku kumasukkan ke dalam lubang itu Linda melirik ke kami Tersenyum.

    Aku tahu arti senyum itu ingin Tanpa banyak aktivitas lain Linda hanya menggoyangkan pinggulnya ke kanan
    dan ke kiri Dan dalam posisi kuda kuda dengan kaki kukangkang batanganku tepat pada posisi yang sangat
    bagus untuk terus menggoyang dan menggoyang maju dan mundur Kisah Sex Tante Girang. Tidak lama kemudian
    terasa tubuh Linda menegang aku tahu itu Linda hendak orgasme hal ini membuatku terus mempercepat
    goyangan Erangan Linda kian menjadi Ughh Pada saat yang tepat batanganku kutekan dalam dalam Hal ini
    disambut dengan dekapan erat Linda sambil mendaratkan ciumannya di bibirku Agak lama dia melakukan itu
    mungkin 10 detik entahlah.

    Dan akhirnya terkulai lemas terbaring melentang di ranjang. Lita yang memperhatikan kami dengan baik
    mengambil posisi menungging Kaki yang di kangkang membuat lebar rekahnya lubang di selangkangannya Basah
    Tak ada aba aba.Batanganku yang masih tegang belum orgasme segera kumasukkan ke liang kemaluan Lita
    Batangan itu masih sangat basah oleh cairan kemaluan Linda barusan.

    Baca Juga Cerita Sex Malam Itu

    Tak perduli siapa yang perduli lalu batangan itu pun dengan leluasa memasuki Lubang Kenikmatan Lita
    memang sangat menyukai posisi doggy ini itu pengakuannya Entahlah ternyata memang dosa tak memperdulikan
    lagi sebuah pemikiran Dan peluh terus saja mengalir membasahi altar persembahan nista Tak terpikirkan
    sebuah atau setumpuk penyesalan Hanya terjadi dan terjadi Hingga pada suatu titik dimana kuasa tak lagi
    mampu dan hasrat telah terpenuhi ingin yang tercapai dan tenaga yang sudah terkulai lemas Kami bertiga
    terhempas terbaring di atas ranjang itu Kusut Lemas Tapi terpuaskan.

    Dan malam kini mengantar sepenggal jingga yang tersisa di pelupuk barat sana Seperti juga telah
    tersisakannya penyesalan setelah kejadian itu Hanya sepi yang membahana dalam rongga memori tentang
    adegan gila itu Asmara memang kadang berarti lain Atau kadang membisukan norma Jingga yang tertinggal
    memaksaku beranjak hendak pulang Dan pantai ini menjadi tempat kuhanyutkannya keinginan-keinginan liar
    Hingga Saat HP ku berdering dan sebuah nama yang tertera di displaynya Linda Hening sesaat dalam
    deringan itu Aku berpikir sejenak Haruskah?

    Entahlah aku hanya diam menyaksikan dan mendengarkan deringan demi deringan Hingga terputus Hening
    kembali Artinya biarkan saja Linda dan Lita lewat walau telah menyisihkan setumpuk kejadian adegan dan
    banyak lagi hal menjadi bagian dari penyesalan..itulah sepenggal ceritaku tentang LITA.

  • Mengulum Kontol Bos

    Mengulum Kontol Bos


    10067 views

    Pada satu kesempatan miting SDM, diperkenalkan majaner baru dilingkungan SDM grup yang khusus menangani
    masalah pelatihan dan pengembangan karyawan. Orangnya sih late thirties lah, atau paling gak awal 40an,
    atletis dan lagi guanteng banget, Deni namanya. Aku senang sekali berkenalan dengan pak Deni, orangnya
    ramah, humoris, baru diperkenalkan saja dia sudah akrab dengan semua penanggung jawab sdm anak
    perusahaan, termasuk aku tentunya. Selama miting, aku sering melirik kearahnya, dan herannya setiap kali
    aku meliriknya diapun sedang memandangku.

    Ketika tatapan mata kami bertemu dia selalu tersenyum ramah, menambah kegantengannya. Aku sampe tersipu
    malu karenanya, tapi ya kapok lah, terus saja mencuri pandang kearahnya terus. Sepertinya aku dah
    tertarik padanya sejak pandangan pertama, mungkin dia juga. Karena dia terus-terusan memandangiku,
    walaupun dilakukannya dengan tidak mengundang perhatian yang lainnya. Demikianlah hal itu kami lakukan
    selama miting berlangsung, sampai tau-tau mitingnya dah selesai. Baru sekali ini aku tidak merasa
    mitingnya bertele-tele dan berkepanjangan, walaupun aku tidak memperhatikan apa yang dibicarakan karena
    perhatianku terpusat pada pak Deni terus, toh nanti sekretaris Kadiv SDM grup akan mengirimkan notulen
    miting by email.

    Sejak miting itu, aku terus berusaha dalam melaksanakan pekerjaanku, untuk kontak dengan pak Deni. aku
    sering mencari alasan supaya bisa berkunjung ke kantor SDM grup, salah satu aktivitasnya dengan pura-
    pura konsultasi masalah pelatihan karyawan dengan pak Deni. Telpon dan sms antara aku dan pak Deni makin
    sering dan kami menjadi semakin akrab. Sudah beberapa kali pak Deni ngajakin aku lunch, kebetulan dekat
    kantorku ada banyak penjual makanan, baik model cafe atau resto, atau juga amigos (agak minggir got
    sdikit). Kaki lima maksudnya. Taste makanan menjadi nomor dua, yang penting adalah kami bisa bertemu dan
    tidak ngomongin pekerjaan.

    Suatu hari, aku mendapat telpon dari pak Deni, dia ngajak aku jalan sore ini. Wah berbunga2 rasanya
    diajak jalan ama pak Deni. Karena telpon kantor dibatasi hanya maksimum 3 menit, dia tidak bicara lama
    denganku. Gak lama kemudian setelah telpon ditutup, dia meng sms ku,

    “Nes, kita jalan yuk. boleh dong skali-kali kita jalan berdua yang gak makan siang doangan. aku pengen
    ngobrol ama kamu”. Aku bales smsnya,
    “Cuma ngobrol doangan kan pak”.
    “Ngobrol dan laen-laen deh, biar afdol. Sore ini aku ada seminar pendek di lembaga pelatihan dekan
    kantor kamu.

    Nanti bubar kantor kamu nunggu di cafe tempat kita biasa makan aja, aku kabur aja dari seminarnya
    sebelum selesai. Yang penting kan ketemu kamunya bukan seminarnya”. “Aku membalas smsnya yang panjang
    lebar itu,

    “Dan laen-laennya apaan pak”.

    Jawabnya,

    “Liat aja ntar sore deh”. Bubar kantor, aku buru-buru menuju ke cafe yang dimaksudkan, ternyata pak deni
    dah nongkrong duluan disana.
    “Kok dah sampe duluan pak?”, sapaku.
    “Iya, kan dah diitung supaya aku bisa sampe disini sebelum kamu nyampe.Cerita Sex Dewasa

    Seminarnya gak penting dan pembicaranya gak menarik, apalagi gratisan, jadi gak masalah kan ditinggal
    pulang”, jawabnya sambil tersenyum.

    “Emangnya kita mo kemana sih pak?”
    “aku pengen ngobrol sama kamu Nes, kita cari tempat ngoborol yang private yuk”. Aku diajaknya ke
    mobilnya dan mobilnya meluncur meninggalkan cafe tersebut.

    Ternyata dia mengajakku ke motel yang ada didekat cafe itu.

    “Kok kesini pak”, tanyaku.
    “Biar ada privacynya Nes, ngoborol dan yang laen-laennya”. Mobilnya masuk ke garasi dan rolling door
    ditutup petugasnya.

    Aku tau deh apa yang dia maksud dengan yang laen-laen tadi. Aku diem saja ketika dia menggandengku
    menaiki tangga memasuki ruangan motel. Kamarnya standar motel lah, ada kaca besar ditembok, dan juga
    dilangit-langit, ranjang besar, tv dan lemari es, seperangkat meja dan sofa dan di kamar mandi cuma
    disediakan shower saja. Dia membereskan administrasi motelnya, dia mengambil minuman yang ada di lemari
    es,

    “sudah termasuk biaya sewa”, katanya. Aku duduk diranjang,
    “Pak, kok Ines diajak ke motel sih, emangnya abang mo ngapain ama Ines”.
    “Santai aja Nes, minum deh. Aku mo mandi dulu ya”. Dia masuk kekamar mandi, terdengar suara air
    mengucur.

    Tak lama kemudian dia keluar dari kamar mandi hanya berbalut anduk saja.

    “Kamu gak mo mandi dulu Nes, biar seger”. Akupun melakukan hal yang sama.

    Karena aku dah tau maksud sebenarnya dia ngajak aku ke motel, akupun keluar hanya berbalut anduk. Karena
    anduknya kecil, hanya bisa menutupi dada dan pantatku saja. Aku senang dia mengajaku berbagi kenikmatan.

    Dia sedang berbaring di ranjang, aku duduk disebelahnya.

    “bapak pengen maen ama Ines ya”.
    “Jangan panggil bapak lah, rasanya tua banget. Kalo dah jadi Kadiv boleh dipanggil bapak”.
    “Abis panggil apa dong, kalo panggil nama Ines sungkan”.
    “Panggil abang aja”. Memang dia orang tapanuli, jadi biasa dipanggil abang, walaupun kalo bicara logat
    tapanulinya tidak dominan.
    “Kok abang ngajaknya Ines sih, kan masih ada cewek-cewek laen di SDM grup, Dina, Sintia dan laennya
    lagi”.
    “Kamu yang paling seksi Nes, aku dah tergiur sejak kita ketemu pertama kali waktu aku diperkenalkan”.
    “Pantes abang selama miting ngeliatin Ines terus”.
    “Kamu juga kan, ngelirik ke aku terus”.
    “Abis abang ganteng banget sih, cewek-cewek suka ngomongin kegantengan abang lo”.
    “masak seh”, dia kelihatannya senang aku sanjung seperti itu.
    “Terus kita mo ngapain bang, cuma pake anduk gini”. Dia tidak menjawab, aku ditariknya kedalam
    pelukannya sehingga aku terbarik disebelahnya.
    “Yang, kamu sudah tahu maksudku kan?” katanya lirih di telingaku.

    Merinding aku mendengarnya memanggil aku yang, dan aku hanya mengangguk.Cerita Sex Dewasa

    “Ya bang, Ines tahu, abang ,,,” belum selesai aku menjawab, kurasakan bibirnya sudah menyentuh leherku,
    terus menyusur ke pipiku.

    Bibirku dilumatnya dengan lembut. Ternyata dicium pria bibir tebal nikmat sekali, aku bisa mengulum
    bibirnya lebih kuat dan ketebalan bibirnya memenuhi mulutku. Sedang kunikmati lidahnya yang menjelajah
    di mulutku, kurasakan
    tangan besarnya menguraikan belitan anduk didadaku, sehingga aku langsung bertelanjang bulat.

    “Nes, kamu merangsang amat sih”. Aku diam saja dan dia langsung meremas lembut toketku.

    Ohh.., toketku ternyata tercakup seluruhnya dalam tangannya. Dan aku rasanya sudah tidak kuat menahan
    gejolak napsuku, padahal baru awal pemanasan. Bibirnya mulai meneruskan jelajahannya, leherku dikecup,
    dijilat kadang digigit lembut. Sambil tangannya terus meremas-remas toketku. Bibirnya terus menelusur di
    permukaankulitku. Dan mulai pentil kiriku tersentuh lidahnya dan dihisap. Terus pindah ke pentil kanan.
    Kadang-kadang seolah seluruh toketku akan dihisap.

    Dan tangan satunya mulai turun dan memainkan puserku, terasa geli tapi nikmat, napsuku makin berkobar
    karena elusan tangannya. Kemudian tangannya turun lagi dan menjamah selangkanganku. non0kku yang pasti
    sudah basah sekali. Lama hal itu dilakukannya. Jembutku sudah basah karena cairan non0kku yang sudah
    banjir. Dibelainya celah non0kku dengan perlahan. Sesekali jarinya menyentuh it1lku karena ketika dielus
    pahaku otomatis mengangkang agar dia bisa mengakses daerah non0kku dengan leluasa.

    Bergetar semua rasanya tubuhku. Jarinya mulai sengaja memainkan it1lku. Dan akhirnya jari besar itu
    masuk ke dalam non0kku. Oh, nikmatnya, bibirnya terus bergantian menjilati pentil kiridan kanan dan
    sesekali dihisap dan terus menjalar ke perutku. Dan akhirnya sampailah ke non0kku. Kali ini diciumnya
    jembutku yang lebat dan aku rasakan bibir non0kku dibuka dengan dua jari.

    Dan akhirnya kembali non0kku dibuat mainan oleh bibirnya, kadang bibirnya dihisap, kadang it1lku, namun
    yang membuat aku tak tahan adalah saat lidahnya masuk di antara kedua bibir non0kku sambil menghisap
    it1lku. Dia benar benar mahir memainkan non0kku. Hanya dalam beberapa menit aku benar-benar tak tahan.
    Dan.. Aku mengejang dan dengan sekuatnya aku berteriak sambil mengangkat pantatku supaya merapatkan
    it1lku dengan
    mulutnya, kuremas-remas rambutnya. Dia terus mencumbu non0kku, rasanya belum puas dia memainkan non0kku
    hingga napsuku bangkit kembali dengan cepat.

    “Bang, Ines sudah pengen dimasukin” kataku memohon sambil kubuka pahaku lebih lebar.

    Dia pun bangkit, membuka belian anduknya. Sementara itu aku dengan berdebar terbaring menunggu dengan
    semakin berharap. kont0lnya sudah maksimal ngacengnya, tegak hampir menempel ke perut. Dan saat dia
    pelan-pelan menindihku, aku membuka pahaku makin lebar, rasanya tidak sabar non0kku menunggu masuknya
    kont0lnya. Aku pejamkan mata. Dia mulai mendekapku sambil terus mencium bibirku, kurasakan bibir non0kku
    mulai tersentuh ujung kont0lnya. Sebentar diusap-usapkan dan pelan sekali mulai kurasakan bibir non0kku
    terdesak menyamping. Aku menahan nafas. Dan nikmat luar biasa. Mili per mili. Pelan sekali terus masuk
    kont0lnya. Aku mendesah tertahan karena rasa yang luar biasa nikmatnya.

    Terus.. Terus.. Akhirnya ujung kont0l itu menyentuh bagian dalam non0kku, maka secara refleks kurapatkan
    pahaku. Dia terus menciumi bibir dan leherku. Dan tangannya tak henti-henti meremas-remas toketku. Tapi
    konsentrasi kenikmatanku tetap pada kont0l yang mulai dienjotkan halus dan pelan. Aku benar benar cepat
    terbawa ke puncak nikmat yang belum pernah kualami. Nafasku cepat sekali memburu, terengah-engah. Aku
    benar benar merasakan nikmat luar biasa merasakan gerakan kont0lnya. Napsuku makin berkobar ketika aku
    melihat kecermin yang ada disamping ranjang dan dilangit2, melihat gerakannya mengenjotkan kont0lnya
    keluar masuk non0kku.

    Maka hanya dalam waktu yang singkat aku makin tak tahan. Dan dia tahu bahwa aku semakin hanyut. Maka
    makin gencar dia melumat bibirku, leherku dan remasan tangannya di toketku makin kuat. Dengan tusukan
    kont0lnya yang agak kuat dan dipepetnya it1lku dengan menggoyang goyangnya, aku menggelepar, tubuhku
    mengejang, tanganku mencengkeram kuat-kuat sekenanya. non0kku menegang, berdenyut dan mencengkeram
    kuat-kuat, benar-benar puncak kenikmatan yang belum pernah kualami. Ohh, aku benar benar menerima
    kenikmatan yang luar biasa. Aku tak ingat apa-apa lagi kecuali kenikmatan dan kenikmatan.

    “Baaang, Ines nyampe baang”.

    Setelah selesai, pelan pelan tubuhku lunglai, lemas. Setelah dua kali aku nyampe dalam waktu relatif
    singkat, namun terasa nyaman sekali, Dia membelai rambutku yang basah keringat. Kubuka mataku, Dia
    tersenyum dan menciumku lembut sekali, tak henti hentinya toketku diremas-remas pelan. ceritasexdewasa.org Tiba tiba,
    serangan cepat bibirnya melumat bibirku kuat dan diteruskan ke leher serta tangannya meremas-remas
    toketku lebih kuat. Napsuku naik lagi dengan cepat, saat kembali dia mengenjotkan kont0lnya semakin
    cepat. Uhh, sekali lagi aku nyampe, yang hanya selang beberapa menit, dan kembali aku berteriak lebih
    keras lagi.

    Dia terus mengenjotkan kont0lnya dan kali ini dia ikut menggelepar, wajahnya menengadah. Satu tangannya
    mencengkeram lenganku dan satunya menekan toketku. Aku makin meronta-ronta tak karuan. Puncak kenikmatan
    diikuti semburan peju yang kuat di dalam non0kku, menyembur berulang kali. Oh, terasa banyak sekali peju
    kental dan hangat menyembur dan memenuhi non0kku, hangat sekali dan terasa sekali peju yang keluar
    seolah menyembur seperti air yang memancar
    kuat.

    Setelah selesai, dia memiringkan tubuhnya dan tangannya tetap meremas lembut toketku sambil mencium
    wajahku. Aku senang dengan perlakuannya terhadapku.

    “Yang, kamu luar biasa, non0kmu peret dan nikmat sekali” pujinya sambil membelai dadaku.
    “Abang juga hebat. Bisa membuat Ines nyampe beberapa kali.”
    “Jadi kamu suka dengan kont0lku?” godanya sambil menggerakkan kont0lnya dan membelai belai wajahku.
    “Ya bang, kont0l abang nikmat dan keras banget” jawabku jujur.

    Dia tidak langsung mencabut kont0lnya, tapi malah mengajak mengobrol sembari kont0lnya makin mengecil.
    Dan tak henti-hentinya dia menciumku, membelai rambutku dan paling suka membelai toketku. Aku merasakan
    pejunya yang bercampur dengan cairan non0kku mengalir keluar. Setelah cukup mengobrol dan saling
    membelai, pelan-pelan kont0l yang telah menghantarkan aku ke awang awang itu dicabut sambil dia
    menciumku lembut sekali. Benar benar aku terbuai dengan perlakuannya. Kurang lebih setengah jam kami
    berbaring berdampingan. Ia lalu mengajakku mandi. Dibimbingnya aku ke kamar mandi, saat berjalan rasanya
    masih ada yang mengganjal non0kku dan ternyata masih ada peju yang mengalir di pahaku, mungkin saking
    banyaknya dia mengecretkan pejunya di dalam non0kku.

    Di kotak shower dia mengusap-usap menyabuni punggungku, dan akupun menyabuni punggungnya. Dia memelukku
    sangat erat hingga dadanya menekan toketku. Sesekali aku menggeliatkan badanku sehingga pentilku
    bergesekan dengan dadanya yang dipenuhi busa sabun. Pentilku semakin mengeras. Pangkal pahaku
    tersenggol2 kont0lnya. Hal itu menyebabkan napsuku mulai berkobar kembali. Aku di tariknya sehingga
    menempel lebih erat ke tubuhnya. Dia menyabuni punggungku. Sambil mengusap- usapkan busa sabun,
    tangannya terus menyusur kebawah. Dia mengusap-usap pantatku dan diremasnya. kont0lnya pun mulai ngaceng
    ketika menyentuh non0kku. Terasa bibir luar non0kku bergesekan dengan kont0lnya.

    Dengan usapan lembut, tapak tangannya terus menyusuri pantatku. Dia mengusap beberapa kali hingga ujung
    jarinya menyentuh lipatan daging antara lubang pantat dan non0kku. “Abang nakal!” desahku sambil
    menggeliat mengangkat pinggulku. Walau tengkukku basah, aku merasa bulu roma di tengkukku meremang
    akibat nikmat dan geli yang mengalir dari non0kku. Aku menggeliatkan pinggulku. Ia mengecup leherku
    berulang kali sambil menyentuh bagian bawah bibir non0kku. Tak lama kemudian, tangannya menyusur hingga
    ke bagian depan tubuhku, akhirnya kurasakan lipatan bibir luar non0kku diusap-usap. Dia berulang kali
    mengecup leherku. Sesekali lidahnya menjilat, sesekali menggigit dengan gemas.Cerita Sex Dewasa

    “Aarrgghh.. Sstt.. Sstt..” rintihku berulang kali.

    Dia menggerakkan tangannya keatas, meremas dengan lembut kedua toketku dan pentil ku dijepit2 dengan
    jempol dan telunjuknya. Pentil kiri dan kanan diremas bersamaan. Lalu dia mengusap semakin ke atas dan
    berhenti di leherku.

    “Bang, lama amat menyabuninya”, rintihku sambil menggeliatkan pinggulku.

    Aku merasakan kont0lnya semakin kerasdan membesar. Tangan kiriku segera meluncur ke bawah, lalu meremas
    biji pelernya dengan gemas. Dia menggerakkan telapak kanannya ke arah pangkal pahaku. Sesaat dia
    mengusap usap jembutku, lalu mengusap non0kku berulang kali. Jari tengahnya terselip di antara kedua
    bibir luar non0kku. Dia mengusap berulang kali. It1lku pun menjadi sasaran usapannya.

    “Aarrgghh..!” rintihku. Aku merasa lendir membanjiri non0kku.

    Aku jongkok didepannya, kont0lnya telah berada persis didepanku. Kont0lnya telah ngaceng berat.

    “Bang, kuat banget sih abang, baru aja ngecret di non0k Ines sekarang sudah ngaceng lagi”, kataku sambil
    meremas kont0lnya, lalu kuarahkan ke mulutku.

    Kukecup ujung kepala kont0lnya. Tubuhnya bergetar menahan nikmat ketika aku menjilati kepala kont0lnya.
    Dia meraih bahuku karena tak sanggup lagi menahan napsunya. Setelah berdiri, aku dibuatnya menungging
    membelakanginya sambil memegang dinding di depanku dan dia menyelipkan kepala kont0lnya ke celah di
    antara bibir non0kku.

    “Argh, aarrgghh..,!” rintihku.

    Dia menarik kont0lnya perlahan-lahan, kemudian mendorongnya kembali perlahan-lahan pula. Bibir luar
    non0kku ikut terdorong bersama kont0lnya. Perlahan-lahan menarik kembali kont0lnya sambil berkata

    “Enak Yang?”
    “Enaak banget bang”, jawabku!” Dia mengenjotkan kont0lnya dengan cepat sambil meremas bongkah pantat ku
    dan tangan satunya meremas toketku.
    “Aarrgghh..!” rintihku ketika kurasakan kont0lnya kembali menghunjam non0kku.

    Kedua tangannya dengan erat mememegang pinggulku dan dia mengenjotkan kont0lnya keluar masuk dengan
    cepat
    dan keras. Terdengar ‘cepak-cepak’ setiap kali pangkal pahanya berbenturan dengan pantatku.

    “Aarrgghh.., aarrgghh..baang.., Ines nyampe..!” Aku lemas ketika nyampe lagi untuk kesekian kalinya.

    Rupanya dia juga tidak dapat menahan pejunya lebih lama lagi.

    “Aarrgghh.., Yang”, kata nya sambil menghunjamkan kont0lnya sedalam-dalamnya.
    “Bang.., sstt, sstt..” kataku karena berulangkali ketika merasa tembakan pejunya dinon0kku.
    “Aarrgghh.., Yang, enaknya!” bisiknya ditelingaku.
    “Bang.., sstt.., sstt..! Nikmat sekali ya dient0t abang”, jawabku karena nikmatnya nyampe.Cerita Sex Dewasa

    Dia masih mencengkeram pantatku sementara kont0lnya masih nancep dinon0kku. Beberapa saat kami diam di
    tempat dengan kont0lnya yang masih menancap di non0kku. Kemudian dia menyalakan air hangat dan kami
    berpelukan mesra dibawah kucuran air hangat. Akhirnya terasa juga perut lapar yang sudah minta diisi.

    Setelah selesai dia keluar duluan, sedang aku masih menikmati shower. Selesai dengan rambut yang masih
    basah dan masih bertelanjang bulat, aku keluar dari kamar mandi. Dia sudah menyiapkan makan siang berupa
    sandwich dan kentang goreng yang dibelinya tadi di cafe lengkap dengan soft drink dingin dari lemari es,
    di meja dekat sofa. Aku dipersilakan minum dan makan sambil mengobrol.

    Setelah makan, dia lalu memintaku duduk di pangkuannya. Aku menurut saja. Terasa kecil sekali tubuhku.
    Sambil
    mengobrol, aku dimanja dengan belaiannya. Akhirnya setelah selesai makan, diraihnya daguku, dan
    diciumnya bibirku dengan hangatnya, aku mengimbangi ciumannya. Dan selanjutnya kurasakan tangannya mulai
    meremas-remas lembut toketku, kemudian tangannya menelusuri antara dada dan pahaku. Nikmat sekali
    rasanya, tapi aku sadar bahwa sesuatu yang aku duduki terasa mulai agak mengeras.

    Ohh, langsung aku bangkit. Aku bersimpuh di depannya dan ternyata kont0lnya sudah mulai ngaceng, walau
    masih belum begitu mengeras. Kuraih, kubelai dan kukocok pelan. Kemudian aku kulum kont0lnya. Dengan
    cepatnya kont0lnya makin membengkak dan dia mulai menggeliat dan berdesis menahan kenikmatan permainan
    lidahku dan membuat mulutku semakin penuh. “Bang hebat ya sudah ngaceng lagi, kita lanjut yuk bang”,
    kataku yang juga sudah terangsang. Rupanya dia makin tak tahan menerima rangsangan lidahku.

    Maka aku ditarik dan diajak ke tempat tidur. Dia menelentangkanku ditempat tidur, membuka kakiku dan dia
    langsung menelungkup di antara pahaku. “Aku suka melihat non0k kamu yang” ujarnya sambil membelai
    jembutku.

    “Napa?”
    “Seneng aja”. Aku merasakan dia terus membelai jembutku dan bibir non0kku. Kadang-kadang dicubit pelan,
    ditarik-tarik seperti mainan.

    Aku suka non0kku dimainkan berlama-lama, aku terkadang melirik apa yang dilakukannya. Seterusnya dengan
    dua jarinya membuka bibir non0kku, aku makin terangsang dan aku merasakan makin banyak keluar cairan
    dari non0kku. Dia terus memainkan non0kku seolah tak puas-puas memperhatikan non0kku, kadang kadang
    disentuh sedikit it1lku, membuat aku penasaran. Tak sadar pinggulku mulai menggeliat, menahan rasa
    penasaran. Maka saat aku mengangkat pinggulku, langsung disambut dengan bibirnya. Terasa dia menghisap
    lubang non0kku yang sudah penuh cairan. Lidahnya ikut menari kesana kemari menjelajah seluruh lekuk
    non0kku, dan saat dihisapnya it1lku dengan ujung lidahnya, cepat sekali menggelitik ujung it1lku, benar
    benar aku tersentak. Terkejut kenikmatan, membuat aku tak sadarberteriak..

    “Aauuhh!!”. Benar benar hebat dia merangsangku, dan aku sudah tak tahan lagi. “Ayo dong bang, Ines dah
    pingin dient0t lagi” ujarku.Cerita Sex Dewasa

    Dia langsung menempatkan tubuhnya makin ke atas dan mengarahkan kont0lnya ke arah non0kku. Aku masih
    sempat melirik saat dia memegang kont0lnya untuk diarahkan dan diselipkan di antara bibir non0kku. Saat
    kepala kont0lnya telah menyentuh di antara bibir non0kku, aku menahan nafas untuk menikmatinya. Pegangan
    dilepasnyasaat kepala kont0lnya mulai menyelinap di antara bibir non0kku dan menyelusup lubang non0kku
    hingga aku berdebar nikmat. Pelan-pelan ditekannya dan dia mulai mencium bibirku lembut.

    Kali ini aku lebih dapat menikmatinya. Makin ke dalam.. Oh, nikmat sekali. Kurapatkan pahaku supaya
    kont0lnya tidak terlalu masuk ke dalam. Dia langsung menjepit kedua pahaku hingga terasa sekali
    kont0lnya menekan dinding non0kku. kont0lnya semakin masuk. Belum semuanya masuk, dia menarik kembali
    seolah akan dicabut hingga tak sadar pinggulku naik mencegahnya agar tidak lepas. Beberapa kali
    dilakukannya sampai akhirnya aku penasaran dan berteriak-teriak sendiri. Setelah dia puas menggodaku,
    tiba tiba dengan hentakan agak keras, dipercepat gerakan mengenjotnya hingga aku kewalahan. Dan dengan
    hentakan keras serta digoyang goyangkan, tangan satunya meremas toketku, bibirnya dahsyat menciumi
    leherku.

    Akhirnya aku mengelepar-gelepar. Dan sampailah aku kepuncak. Tak tahan aku berteriak, terus dia
    menyerangku dengan dahsyatnya, rasanya tak habis-habisnya aku melewati puncak kenikmatan. Lama sekali.
    Tak kuat aku meneruskannya. Aku memohon, tak kuat menerima rangsangan lagi, benar benar terkuras
    tenagaku dengan orgasme berkepanjangan. Akhirnya dia pelan-pelan mengakhiri serangan dahsyatnya. Aku
    terkulai lemas sekali, keringatku bercucuran. Hampir pingsan aku menerima kenikmatan yang
    berkepanjangan. Benar-benar aku tidak menyesal ngent0t dengan dia, dia memang benar-benar hebat dan
    mahir dalam ngent0t, dia dapat mengolah tubuhku menuju kenikmatan yang tiada tara.

    Pahanya mulai kembali menjepit kedua pahaku dan dirapatkan, tubuhnya menindihku serta leherku kembali
    dicumbu. Kupeluk tubuhnya yang besar dan tangannya kembali meremas toketku. Pelan-pelan mulai dienjotkan
    kont0lnya. Kali ini aku ingin lebih menikmati seluruh rangsangan yang terjadi di seluruh bagian tubuhku.
    Tangannya terus menelusuri permukaan tubuhku. Dadanya merangsang dadaku setiap kali bergeseran mengenai
    pentilku. Dan kont0lnya dipompakan dengan sepenuh perasaan, lembut sekali, bibirnya menjelajah leher dan
    bibirku.

    Ohh, luar biasa. Lama kelamaan tubuhku yang semula lemas, mulai terbakar lagi. Aku berusaha menggeliat,
    tapi tubuhku dipeluk cukup kuat, hanya tanganku yang mulai menggapai apa saja yang kudapat. Dia makin
    meningkatkan cumbuannya dan memompakan kont0lnya makin cepat. Gesekan di dinding non0kku makin terasa.
    Dan kenikmatan makin memuncak. Maka kali ini leherku digigitnya agak kuat dan dimasukkan seluruh batang
    kont0lnya serta digoyang-goyang untuk meningkatkan rangsangan di it1lku.

    Maka jebol lah bendungan, aku mencapai puncak kembali. Kali ini terasa lain, tidak liar seperti tadi.
    Puncak kenikmatan ini terasa nyaman dan romantis sekali, ceritasexdewasa.org tapi tiba tiba dia dengan cepat mengenjot lagi.
    Kembali aku berteriak sekuatku menikmati ledakan orgasme yang lebih kuat, aku meronta sekenaku. Gila,
    batinku, dia benar-benar membuat aku kewalahan. Kugigit pundaknya saat aku dihujani dengan kenikmatan
    yang bertingkat-tingkat.

    Sesaat dia menurunkan gerakannya, tapi saat itu dibaliknya tubuhku hingga aku di atas tubuhnya. Aku
    terkulai di atas tubuhnya. Dengan sisa tenagaku aku keluarkan kont0lnya dari non0kku. Dan kuraih batang
    kont0lnya. Tanpa pikir
    panjang, kont0l yang masih berlumuran cairan non0kku sendiri kukulum dan kukocok. Dan pinggulku
    diraihnya hingga akhirnya aku telungkup di atasnya lagi dengan posisi terbalik.

    Kembali non0kku yang berlumuran cairan jadi mainannya, aku makin bersemangat mengulum dan menghisap
    sebagian kont0lnya. Dipeluknya pinggulku hingga sekali lagi aku orgasme. Dihisapnya it1lku sambil ujung
    lidahnya menari cepat sekali. Tubuhku mengejang dan kujepit kepalanya dengan kedua pahaku dan kurapatkan
    pinggulku agar bibir non0kku merapat ke bibirnya. Ingin aku berteriak tapi tak bisa karena mulutku
    penuh, dan tanpa sadar aku menggigit agak kuat kont0lnya dan kucengkeram kuat dengan tanganku saat aku
    masih menikmati orgasme.

    “Yang, aku mau ngecret yang, di dalam non0kmu ya”, katanya sambil menelentangkan aku.
    “Ya, bang”, jawabku.

    Baca Juga Cerita Sex Pacar Montokku

    Dia menaiki aku dan dengan satu hentakan keras, kont0lnya yang besar sudah kembali menyesaki non0kku.
    Dia langsung mengenjot kont0lnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Dalam beberapa enjotan saja
    ubuhnyapun mengejang. Pantat kuhentakkan ke atas dengan kuat sehingga kont0lnya nancap semuanya ke dalam
    non0kku dan akhirnya crot .. crot ..crot, pejunya muncrat dalam beberapa kali semburan kuat. Herannya,
    ngecretnya yang ketiga masih saja pejunya keluar banyak, memang luar biasa stamina si abang. Dia
    menelungkup diatasku sambil memelukku erat-erat.

    “Yang, nikmat sekali ngent0t sama kamu, non0k kamu kuat sekali cengkeramannya ke kont0lku”, bisiknya di
    telingaku. “Ya bang, Ines juga nikmat sekali. Rasanya sesek deh non0k Ines kalau abang neken kont0lnya
    masuk semua.

  • Boneka Dari India

    Boneka Dari India


    85 views

    Saya seorang mahasiswa di Malang punya pengalaman menarik tentang seks meski saya bukan yang paling ganteng diantara teman-teman saya, tampangku paling imut.
    Salah satu kisahnya begini.., kami berkenalan waktu semester 3, pertemuan kami tak sengaja, waktu itu saya menemani teman cowok saya saat main-main ke kost pacarnya, kebetulan pacar teman saya tuh juga ada temannya yang sedang main ke sana (cewek), so kami berkenalan, cewek itu manis sekali, bodi-nya ok banget! Namanya Leila Deol seorang cewek keturunan India, wajahnya mirip dengan artis India kesukaan saya, Amisha Patel.

    cerita-sex-dewasa-boneka-dari-india-1024x683

    Kulitnya kuning langsat namun tampak sehat terawat, payudaranya besar dan montok sekali melebihi payudara cewek Indonesia, terlihat begitu montok dan padat. Melihat dia, saya langsung suka. Saat saya dan teman saya mau pulang saya tanya alamatnya. Untungnya dia kost di dekat kost pacar teman saya. Wow, saya merasa beruntung sekali, tidak perlu jauh-jauh kalau mau ngejar dia.

    Setelah 1 minggu mengejar dia, saya akhirnya bisa menjadikan dia pacar saya. Saat pacaran sering saya ajak dia ke rumah kontrakan saya, maklum saya sendirian aja di rumah itu, so saya terus menggoda dia saat saya bawa Leila untuk kali pertama ke sana, saya puji dia sambil saya ciumin pipi dan bibirnya.

    “Hmmmmm kamu tuh, manis banget deh Leil”, kata saya sambil menciumi belakang telinganya.
    “Hihihi.. gombal!” Leila tersenyum sambil menundukkan wajahnya.

    Dia tampak kegelian, saya teruskan membuat dia kegelian sambil terus merayu dia, saya ingin sekali menaklukannya.

    Saya lantas menyusun cara untuk mencicipi Leila. Lusanya hati sabtu sore setelah kami nonton bioskop saya ajak dia ke kontrakan saya dan saya lakukan seperti kemarin tapi saya lingkarkan lengan saya ke bahunya sambil tangan saya sengaja senggol-senggolkan ke dadanya yang besar. Dia cuek saja, saya teruskan untuk sedikit menekan-nekan dadanya, rupanya dia merasa kalau saya sengaja.Cerita Sex Dewasa

    “Nakalnya kamu ini”, ucapnya pelan sambil menatap saya sambil tersenyum.
    “Kenapa, kamu marah yach?” kata saya sambil menjilati leher belakangnya.
    “Ehmm hihihi geli, nakal!” kata Leila sambil memalingkan wajahnya.

    Saya makin berani, saya pegang langsung dadanya, eh dia diam aja, wah kebetulan, saya tak perlu lagi merasa sungkan sama dia. Saya pegang dada kirinya dengan tangan kiri saya dan sebentar-sebentar saya remas-remas lalu saya putarkan jari jempol saya tepat di atas puting buah dadanya.

    “Ehh..h” Leila memejamkan matanya sambil menggigit bibirnya kegelian.
    “Badan kamu, padet berisi yach Leil” puji saya agar dia membiarkan saya berbuat lebih jauh.

    Tangan saya lalu masuk ke dalam baju hemnya dan menerobos masuk ke dalan BH-nya, dada besarnya terasa hangat dan sedikit mengeras. Saya buka bajunya, dia membuka matanya sambil kedua tangannya memegangi tangan saya yang akan membuka bajunya. Saya memaksakan tangan saya untuk terus membuka bajunya dan dia terus memegang tangan saya namun tak berkata apa-apa. Saya lemparkan baju atasnya dan BH-nya jauh dari sofa duduk di ruang tamu. Saya puaskan menikmati buah dadanya yang besar dan menantang, kulitnya yang kuning langsat terasa sangat halus. Puas saya pegang, saya langsung menjilati dadanya.

    “Ohh..h! Leila terkejut, namun dia membiarkan saya menjilati dadanya dan lidah saya mulai memainkan puting dadanya yang mulai menegang, sesekali saya katubkan bibir saya dan agak saya tarik puting dadanya, Leila hanya mendesah dan memejamkan matanya.
    “Ja..ngan” cegah dia saat saya merogoh ke dalam celana kulotnya.

    Saya diam saja, saya batalkan menggerayangi liang kewanitaannya. Saya lanjutkan lagi untuk menjilati buah dadanya yang halus dan hangat, saya menggeser duduk saya hingga saya leluasa menikmati kesintalan tubuhnya. Saat dia terlena oleh rangsangan saya, segera tanganku beraksi dan berhasil. Secara kebetulan tangan saya berhasil pula masuk ke celana dalamnya, segera saya mainkan jari saya di sela liang surganya yang terasa berbulu jarang-jarang tapi pendek dan lembut.

    “Ha..aghh!” Leila terkejut sekali saat saya memainkan liang kenikmatannya.

    Dia sedikit meronta. Segera saya cumbu dia, saya ciumi bibirnya yang merah merekah, dia hanya bisa mendesah dan menyerah, lama saya cumbui dia, makin lama desahan dan nafasnya makin cepat, saya merasa cukup merangsangnya. Secepat kilat saya memegang celananya dan melepaskannya.

    “ja..ngan” cegah Leila. Tapi saya cuek saja saya pelorotkan kulotnya beserta celana dalamnya, lalu saya campakkan jauh dari kami.

    Saya langsung membuka baju dan celana, lalu saya tidur di atasnya. Tubuhnya terasa makin hangat dan nafasnya memburu, saya cumbu dia. Beberapa lama kemudian saya bangun dari tubuhnya.

    “Aku cuci dulu yach” pamit saya seraya memungut bajunya agar dia tidak memakainya dan segera saya pergi ke kamar mandi.

    Saya cuci bersih-bersih penis saya. Saat saya kembali saya lihat Leila duduk di kursi sambil melihat saya, ia tersenyum malu, manisnya dia saat tersenyum malu, membuat saya makin bernafsu. Leila berdiri dan berjalan ke arah saya, ia berjalan melenggok begitu seksinya.

    “Aku ke kamar mandi dulu yach” pamit Leila, saya mengangguk saja.

    Cerita Sex Dewasa

    Beberapa saat ia keluar dari kamar mandi, saya mencegatnya di depan pintu kamar mandi, segera saya menggandeng tangannya dan saya ajak ke kamar atas. Kami masuk ke kamar dan segera saya rebahkan dia di atas ranjang. Saya cumbui dia dengan penuh beringas, saya nikmati dengan lidah tiap centi di kulit tubuhnya, dadanya makin mengeras saat saya jilat-jilat.

    “Aa..hh”, desah Leila saat saya katupkan bibir saya dan saya benamkan wajah saya di dadanya yang montok sambil saya tekan ke segala arah.

    Dia kegelian saat saya menjilati samping badannya. Dia beringsut sedikit, saya pegang tubuhnya dan saya hisap kulitnya kuat-kuat, ia tampak kegelian dan tampak menikmatinya. Saya jilat turun hingga perutnya dan saya sedot pusarnya dan lidah saya beraksi mengorek pusarnya kuat-kuat. Leila meggeliat-geliat geli, ia tersenyum menahan geli.

    “Emmhh.. Oooh” Leila mendesah menggigit bibirnya menahan rangsangan di perutnya.

    Saya turun ke liang kewanitaannya. Ah.. harumnya, ia mencuci bersih vaginanya, saya suka vaginanya yang bersih itu. Saya singkapkan liang senggamanya dan dengan lidah saya jilat dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan, sesekali saya tarik dengan menyedot bibir kemaluannya, makin saya beringas makin Leila menggeliat, saya tambah buas dan merasa bernafsu.

    “aa..ghh, Ooogh..oghh” Leila mendongakkan kepalanya, tangannya memegangi kepala saya, tubuhnya menggeliat dan pinggulnya bergerak turun naik.

    Ahh, dia sangat terangsang rupanya. Setelah agak lama saya sudahi dan saya duduk di sampingnya.

    “Karaoke’in aku dong Leil!” pinta saya.

    Leila segera memegang batang kemaluan saya, ia menjilati batang kenikmatan saya, terasa hangat mulutnya, ia menyedot dan menggelitik biji peler saya. Saya geli tapi saya suka gayanya. Saya rebahkan tubuh saya dan saya biarkan dia memuaskan saya, dia masukkan penis saya dalam mulutnya, wajahnya maju mundur dan menyedot sangat kuat, saya kegelian sekali dan hanya bisa mendesah nikmat. Beberapa lama kemudian saya tidak tahan ingin memainkan dia, saya duduk dan merebahkan Leila.

    Saya masukkan batang kemaluan saya ke sela liang kenikmatannya, hangatnya liang kewanitaannya. Leila menatap saya, dari matanya tampak nafsu seksnya memuncak, ia pasrah saja saat saya membuka liang senggamanya dan memasukkan batang kemaluan saya, saya gerakkan di sekitar lubang kewanitaannya untuk merangsangnya, setelah cukup terkena cairan pelicinnya saya masukkan batang kenikmatan saya pelan ke dalam liang kewanitaannya.

    “Ooohh!” Leila memejamkan matanya sambil merintih penuh gairah.

    Pelan saya tarik batang kemaluan saya dan saya benamkan setengahnya ke dalam liang kewanitaannya, saya rangkul bahunya agar dia tidak sampai berontak, saya masuk keluarkan makin cepat ke liang senggama Leila, namun tidak saya masukkan seluruhnya, saya putar-putar pinggul saya sehingga batang kemaluan saya menggesek-gesek seluruh dinding dalam kewanitaannya.

    “Emmhh.. aa..hh” Leila meggerakkan pinggulnya ke atas dan ke bawah, ia tak terkendali lagi rupanya.
    “Kamu hot sekali Leil..” Puji saya sambil saya jilati leher dan telinganya.

    Ia memejamkan matanya, saya menarik batang kenikmatan saya agak keluar dan saya benamkan seluruhnya, mentok ke dalam liang senggamanya, berulang-ulang.

    “Ooogh..h! aaghh. aagh!” Leila merintih keras.

    Leila merangkul punggung saya dan menciumi bibir saya kuat sekali, ia merintih-rintih, pinggulnya ikut turun naik, ia memejamkan matanya rapat-rapat, wajahnya tampak tegang. Saya segera menahan kakinya dengan lengan saya, disandarkan ke belakang lututnya, saya berdiri di atas lutut saya dan saya genjot dia dengan cepat dan dalam, tubuhnya terguncang-guncang.

    “Jlab! Jlab!” saya genjot dia dengan sekuat tenaga, dia makin rapat memejamkan matanya, wajahnya menggeleng ke kiri dan ke kanan, tampak tegang sekali.
    “Aagh.!! Uuugh!! Uuurghh!” Leila merintih keras.Cerita Sex Dewasa

    Terasa liang kenikmatan Leila berdenyut-denyut, ia merintih-rintih tak karuan, saya merasa batang kemaluan saya agak panas, saya terus mengenjot makin kuat dan cepat, saya remas-remas dadanya sambil sesekali saya sedot kuat dadanya, ia hanya merintih pasrah. Saya akhirnya tak tahan lagi, batang kemaluan saya terasa nikmat. Saya segera manarik batang kemaluan saya yang basah oleh cairan pelicinnya yang banyak membasahi batang kemaluan saya dan liang kewanitaannya, Saya gesekkan batang kemaluan saya di antara kedua buah dadanya yang besar. Leila mendekap kedua dadanya, menggencet batang kenikmatan saya yang maju mundur di sela buah dada momtoknya.

    “Crot..! Cro.t!” sperma saya akhirnya keluar, disertai sensasi kenikmatan di batang kemaluan dan leher saya terasa dingin sekali, lega dan sangat nikmat.
    “Auch.!” Leila menjerit, sebagian dari sperma saya muncrat di bibir dan pipinya.

    Kami kelelahan dan saya rebahan di sampingnya, ia mengambil tisu di sebelah ranjang dan membersihkan sperma saya di wajahnya. Saya tersenyum padanya dan dibalas dengan senyumannya yang manis.

    Baca Juga Cerita Sex Anita

    “Kamu puas.?” Tanya saya.
    “He’eh..” Jawabnya pelan sambil memeluk saya.
    “Kamu kok mau sich main sama saya?” Tanya saya menggoda Leila.
    “Nggak tau yach, liatin kamu bikin aku nafsu aja, kamu padahal gak ganteng tapi juga gak jelek, kamu cute dan keliatan hot sich kalo berduaan.” puji Leila, kepala ini rasanya mau meledak saja, GR saya jadinya.

    Namun kami harus berpisah pada saat kami jalan 3 bulan, karena perbedaan agama dan bangsa, Leila memberitahu orang tuanya tentang saya, sayapun sebaliknya memberitahu orang tua tentang Leila, saya terpukul oleh keputusan orang tua saya terlebih orang tuanya yang melarang kami melanjutkan hubungan karena perbadaan tersebut. Akhirnya Leila dipindahkan oleh orang tuanya ke Jakarta dan masuk universitas swasta di sana.

    Saya tetap di Malang, saya menerima perpisahan kami, dan sesekali saya main ke Jakarta. Kini dia sudah punya cowok yang sebangsa dengannya, namun dia tetap seperti dulu terhadap saya. Saat saya ke Jakarta menemui dia dan saya mengajaknya ke hotel tempat saya menginap untuk sekedar mengenang masa lalu kami, Leila bercerita tentang dirinya dan cowoknya yang sekarang. Saya juga bercerita padanya bahwa setelah berpisah dengannya saya terus memburu cewek-cewek yang saya suka, Leila tersenyum saja saat saya bercerita.

    gambar bikini hot

    gambar bikini hot

    foto toket gede

    foto toket gede

    foto tetek gede sexy

    foto tetek gede sexy

    foto bugil bulat

    foto bugil bulat

    foto memek sexy

    foto memek sexy

    foto pemain film porno

    foto pemain film porno

  • Diaryku

    Diaryku


    65 views

    Namaku Lina. Sejak aku kuliah semester awal, aku telah memutuskan untuk mengenakan busana Muslimah

    termasuk mengenakan Jilbab yang menutupi Kepalaku. Meski demikian pakaian tersebut tak mampu menutupi
    lekuk liku tubuhku yang indah. Terutama pada bagian dada 34C ku yang memang sangat menonjol itu.
    Jika pada umumnya wanita lain mengenakan busana muslimah dengan ukuran longgar, aku memilih mengenakan
    pakaian yang ketat hingga membentuk tubuhku dengan jelas. Jika pada umumnya wanita lain mengenakan
    Jilbab yang panjang hingga sampai ke perut, aku justru memilih Jilbab pendek yang bahkan tidak sampai
    menutupi dadaku. Karena terus terang saja, aku memang sangat bangga pada bentuk dadaku yang besar,
    montok indah. Jika mengenakan BH yang tepat, dipadu dengan baju yang ketat, maka akan terlihat menonjol
    dan menantang sekali.

    cerita-sex-dewasa-diaryku

    Pacarku sangat tergila-gila pada bentuk dadaku yang montok. Setiap kali kami bertemu, pasti
    disempatkannya untuk mencumbu dadaku. Sementara kedoyananku pada penis bermula ketika aku masih duduk di
    bangku SMA. Saat itu aku hanya berani menyentuh kontol pacarku saja. Menyentuh, mengelus-elus. Tidak
    lebih dari itu.

    Lagipula ketika SMA itu pacarku memang tidak pernah menuntut lebih. Dia sudah cukup keenakan hanya
    dengan kusentuh-sentuh saja. Bahkan seringkali aku hanya menyentuh penisnya dari luar celananya.

    Namun semuanya berubah ketika aku mulai kuliah di Jakarta. Perkenalanku dengan cowok-cowok Jakarta yang
    ternyata penuh pengalaman membuat hidupku berubah.

    Sejak pertama kali pacarku meminta aku mengisap penisnya, aku langsung suka. Dan sejak itu aku jadi
    wanita berjilbab yang doyan kontol.

    # Sebuah Permulaan

    Pagi ini hangatnya mentari yang menerobos jendela kamarku membuatku terbangun dari tidurku yang lelap
    setelah semalam memekku luluh lantak dijilat pacarku.

    Masih terbayang bagaimana lidahnya menari-nari di dalam memekku. Masih terbayang juga bagaimana
    kontolnya memenuhi rongga mulutku sampai muncrat dengan derasnya di dalam mulutku. Saking derasnya
    sampai-sampai tumpah meleleh membasahi leherku.

    Malas-malasan kusingkirkan selimut yang menutupi tubuh telanjangku. Kubiarkan angin menerpa tubuh
    mulusku. Sambil tanganku meraba-raba bulu memekku yang tipis, aku membayangkan kembali kejadian-kejadian
    di masa lalu saat pertama kali aku mengenal kontol.

    ***

    Saat itu aku masih kelas 3 SMA. Sebenarnya saat itu aku belum boleh pacaran. Tapi mana bisa aku tahan.
    Maka dengan diam-diam aku tetap menjalin hubungan dengan teman sekelasku.

    Ceritanya waktu itu aku janjian dengan pacarku mau nonton film di bioskop. Sekitar jam 6.30 sore aku
    bergegas pergi tanpa pamit.

    Sesampai di bioskop pacarku menyambut dengan senyum lebarnya. Langsung digandengnya tanganku menuju
    teater 3 karena pertunjukan sudah hampir dimulai.

    Ternyata da memilih tempat duduk paling belakang dan paling ujung. Benar-benar tempat yang strategis dan
    aman untuk pacaran. Kami pun langsung duduk manis di pojok bioskop ini.

    Belum lagi pertunjukan dimulai, tangannya sudah mulai bergerilya meraba-raba pahaku yang terbungkus rok
    longgar dengan potongan agak pendek. Perlahan dia menyentuh lututku yang tidak tertutup rok. Padahal
    lampu bioskop belum dimatikan. Tapi kudiamkan saja perbuatannya itu. Karena kulihat di barisan tempat
    kami duduk tidak ada penonton lain. Jadi bisa dipastikan tidak ada yang melihat gerakan jemarinya di
    lututku.

    Mungkin karena merasa tidak ada penolakan dariku membuat jemarinya semakin berani. Perlahan jari-
    jemarinya bergerak ke atas menggeser rokku hingga sedikit tersingkap. Bulu kudukku lamgsung meremang
    menerima serangan seperti ini.

    Ini adalah pengalaman pertama aku di raba-raba seperti ini. Biasanya pacarku hanya berani menggandeng
    dan menggenggam tanganku saja. Kejadian ini benar-benar pengalaman pertama buatku.

    Perlahan jemari di atas pahaku semakin bergerak ke atas. Perasaan aneh menyelimuti diriku. Geli… tapi
    nikmat. Hingga akhirnya rokku benar-benar tersingkap sampai atas. Dan celana dalamku pun terpampang
    dengan jelasnya sementara lampu bioskop masih terang benderang. Sejenak ada terbersit rasa takut
    ketahuan. Tapi rasa nikmat mengalahkan pikiran sehatku. maka kubiarkan saja jemari kasar itu terus
    bermain-main di atas pahaku. bahkan kemudian kurasakan jemarinya mulai menyentuh belahan memekku dari
    luar celana dalam.Cerita Sex Dewasa

    Aku tersentak nikmat. Rasa nikmat yang belum pernah kurasakan.

    Sedang kunikmati gesekan jemarinya di belahan memekku, tiba-tiba lampu padam. Ah, pertunjukan akan
    dimulai.

    Aku tidak perduli lagi dengan keadaan sekitar. Langsung kurengkuh wajah pacarku ini. Kucium bibirnya
    penuh nafsu. Lidahku bermain-main di rongga mulutnya. Saling membelit, melilit, menjilat-jilat dengan
    liar. Padahal ini adalah ciuman pertama bagiku. Aku hanya mengikuti naluri nafsuku saja.

    Menerima perlakuanku yang penuh nafsu itu membuat dia bertambah semangat. Jemarinya langsung menerobos
    celana dalamku. Dan akupun terpekik pelan saat kurasakan jemarinya menyentuh memekku secara langsung.
    Perlahan dibukanya belahan memekku sambil mencari-cari klitorisku. Dan saat benda kecil itu tersentuh,
    sungguh rasanya seperti melayang ke langit ke tujuh. Luar biasa nikmatnya. Jika saja aku sedang tidak di
    dalam bioskop, aku pasti sudah berteriak histeris penuh nikmat.

    Saat kurasakan tangan pacarku agak terhambat celana dalam, tanpa ragu-ragu segera kupelorotkan celana
    dalamku dan kuletakkan celana dalamku itu di kursi sebelah. Lalu kubentangkan kakiku lebar-lebar agar
    memekku bebas terhidang dengan lezatnya. Dengan demikian jemari nikmat itu semakin mudah mengobok-obok
    memekku yang sudah banjir bandang.

    “Aaaaah… gosok terus, sayaaang…” aku mengerang perlahan takut terdengar penonton lain. kugoyang-
    goyangkan pinggulku agar jemarinya menyentuh itilku. Setiap kali itilku tersentuh, rasanya seperti ada
    ribuan jemari yang menggelitik sekujur tubuhku.

    Nikmaaaaaat… Oooooh…!!!

    Tak cukup sampai disitu, segera kubuka kancing-kancing kemejaku. Kubuka semuanya sampai tubuh bagian
    depanku terbuka bebas. Lalu kubuka kancing BH ku dari belakang. Tak ayal kedua payudaraku yang berukuran
    extra itu langsung melompat mencari udara segar.

    Kubuka BH-ku lewat kedua lenganku dan kuletakkan di kursi sebelah bersama CD-ku yang sudah nangkring
    duluan. Kini dadaku terpampang dengan indah. Lalu kuremas-remas sendiri mengimbangi gerak jemari pacarku
    yang masih asik bermain-main di memekku.

    Tak lama kurasakan ada sesuatu yang mendesak akan meledak dari dalam tubuhku. Seluruh otot ditubuhku
    mengejang. Terutama otot memek. Beberapa kedutan kurasakan dengan rasa nikmat yang tak terkira.
    “Aaaaaaaah… sayaaaaanggg… enak bangeeeeet…”

    Masih tersisa beberapa kedutan lagi sampai akhirnya tubuhku lemas tak berdaya. Rasanya bagaikan tulang-
    tulang di seluruh tubuh ku di lepas satu per satu.

    Aku masih terbuai dengan rasa nikmat yang tiada tara saat kurasakan puting dadaku ada yang mencium.
    Oooh… nikmat itu datang lagi. Lalu pacarku berbisik lembut di telingaku. “Lin, gantian pegang kontolku
    donk…”

    Aku hanya mengangguk sambil menjawab “Iya…” dengan perlahan. Dalam hatiku muncul rasa penasaran seperti
    apa bentuk kontol itu sebenarnya.

    Dengan agak terburu-buru kekasihku menurunkan celana berikut celana dalamnya sampai sebatas lutut. Dan
    terlihat lah benda bulat panjang yang mengacung dengan gagahnya.

    Agak ragu kusentuh benda yang katanya bisa bikin enak memek itu.

    Melihat aku ragu-ragu, pacarku langsung menyambar tanganku dan membimbingnya untuk menggenggam kontol
    besar itu. Baru sekali itu aku melihat langsung kontol yang sedang ngaceng. Karena belum mengerti harus
    bagaimana, aku hanya mengelus-elus perlahan sambil kubolak-balik memperhatikan bentuknya.

    Sedang seru-serunya menggenggam kontol, tiba-tiba lampu menyala terang benderang. Aku panik bukan main.
    Buru-buru kukancingkan bajuku tanpa sempat memakai BH. Bahkan celana dalam pun belum sempat kukenakan.

    Jadilah aku pulang dengan tanpa BH tanpa celana dalam…

    ***

    # Ancol Kenangan

    Selepas SMA, aku melanjutkan kuliah ke Jakarta di sebuah perguruan tinggi yang lokasinya dekat dengan
    Ancol. Disaat kuliah inilah aku memutuskan untuk memakai busana muslim lengkap dengan Jilbab yang
    menutupi kepalaku.

    Di bulan ketiga aku kuliah, aku berkenalan dengan seorang cowok dari fakultas teknik. Wajahnya lumayan
    ganteng, tubuh atletis karena memang dia rajin berolah raga. Dadanya bidang tegap dengan bongkahan
    pantatnya yang membulat bikin ngences. Doni benar-benar punya bentuk tubuh yang sangat menjanjikan.

    Kencan pertama kami pergi nonton di bilangan Kelapa Gading. Saat film dimulai, Doni mulai menggenggam
    jemariku. Kemudian dia mencium jemariku. Aku menunggu dengan berdebar langkah berikutnya.

    Tapi ternyata serangannya hanya sampai di situ saja. Hingga film usai, dia hanya menciumi jemariku tidak
    lebih. Ah, padahal aku ingin lebih. Ingin rasanya aku memulai, tapi malu juga. Apalagi ini baru kencan
    pertama. Akhirnya kami pulang tanpa meninggalkan kesan apapun.

    Hari-hari berikutnya aku disibukkan dengan kuliah hingga tidak terlalu sering bertemu dengan dia.

    Namun selang 3 hari, kembali Doni mengajakku kencan. Mau makan malam katanya. Akupun langsung menyetujui
    dan minta dia menjemputku di tempat kostku.

    Jam 8 malam dia datang menjemput, dan kami langsung menuju Ancol dengan mobilnya. Awalnya kami hanya
    berputar-putar saja di kawasan ancol. Mungkin karena dia mengira aku belum pernah ke ancol. Maklum baru
    3 bulan di Jakarta.

    Akhirnya kami parkir di tempat yang agak sepi. Sebenarnya aku bingung juga, ngapain ngobrol di mobil.
    Katanya mau makan malam. Tapi belum sempat aku bertanya, tiba-tiba dia sudah langsung mencium bibirku.
    Ciumannya begitu menghanyutkan membuat aku benar-benar terlena. Apalagi tangan kanannya langsung meremas
    dada kiriku dengan lembut. Lalu tanpa sempat aku menolak, Jilbabku di buka. Aku ingin mencegah, tapi
    kupikir pacaran begini pake jilbab, ya malu sama jilbab lah. Maka kubiarkan saja jilbabku melayang entah
    kemana.

    Perlahan ciumannya berpindah ke kupingku yang sudah tak tertutup jilbab lagi. Langsung aku gemetar
    merasakan geli-geli enak yang luar biasa. Setelah itu lidahnya turun menjilati leherku yang putih mulus.
    Aku semakin melayang.
    Perlahan tangannya membuka kancing-kancing bajuku sampai copot semua. Dengan semangat, kemejaku di
    kuakkannya hingga terbuka lebar. Lalu tangannya bergerak ke punggungku dan ‘Tasss !’ kancing BH-ku
    dilepas. Dadaku yang besar langsung melompat indah.

    Dengan penuh nafsu dia angkat BH-ku keatas, dan tampaklah payudaraku yang putih besar dengan putingnya
    yang sudah mengacung keras. Sejenak dipandanginya kedua buah dadaku. Lalu perlahan diusapnya putingku.
    Dipencet-pencet, dipelintir pelan, ooooh…. rasanya tidak kuat lagi. Langsung kutarik kepalanya minta
    diisep.

    Rupanya dia mengerti keinginanku. Langsung lidahnya bermain-main di putting susuku. Ujung pentilku di
    sentil-sentil dengan lidahnya. Rasanya bukan main. Enaaakkk sekali…

    “Aaaaah… Sayaaaang…. Isep, sayaaang…” tak mampu kutahan kejolak nafsuku. Saat mulutnya melahap dadaku,
    eranganku semakin menjadi. “Aaaaaaghhhh… terus, sayaaang… isep yang kenceeeng…” Lupa sudah aku dengan
    Jilbabku. Yang kuinginkan saat ini adalah kenikmatan yang lebih dan lebih …

    Celana dalamku rasanya sudah basah. Maka agar dia langsung menuju memekku yang sudah becek ini, kuangkat
    kakiku dan ngangkang selebar-selebarnya. Rok-ku tersingkap sampai perut. CD-ku terlihat dengan bebasnya.
    Benar saja. Melihat gayaku seperti itu, tangannya langsung dimasukkan ke dalam CD-ku.

    “Ooooooooogh… iya itu, sayang… mainin yang itu…” aku benar-benar sudah lupa diri.Saat itilku dimainkan,
    teriakanku semakin menjadi-jadi. Kugoyang-goyangkan pantatku mencari kenikmatan lebih. Kuimbangi gerakan
    jarinya di memekku dengan goyangan pinggulku.

    Sampai akhirnya desakan di memekku semakin kuat. Otot-otot memekku mengejang, dan… “Oooooooooghhh…
    sayaaang… enaaaaaaak!!” Memekku berkedut-kedut beberapa kali. Rasanya sungguh luar biasa. Bagaikan
    dilempar ke angkasa, kemudian dihempaskan kembali ke bumi dengan nikmat.

    Aku lemas, tersandar, ngangkang…

    Kubiarkan kakiku ngangkang dengan lebarnya beberapa saat. Sambil kuresapi kenikmatan barusan. Saat
    kubuka mataku, tampak senyum lebar pacarku. Langsung kukecup mesra bibirnya. Lalu dia bangkit dan
    merebahkan sandaran kursinya. Dia pun terlentang di kursinya, dan tampaklah kontolnya mengacung dengan
    gagahnya, Rupanya saat aku terpejam tadi dia sudah membuka celana berikut CD-nya.

    Aku tertegun menatap kontolnya yang sudah ngaceng itu. Wuiiiih… Gede banget. Tegak berdiri, Urat-uratnya
    tampak bertonjolan di sekitar kontolnya. Kepala kontolnya begitu besar seperti helm tentara. Nafsuku
    langsung bangkit lagi.

    Perlahan kugenggam kontol besar itu. Waaaw, tanganku yang mungil ini hampir tidak cukup menggenggamnya.
    Kontolnya kuremas-remas, kuusap-usap, seperti yang biasa dulu kulakukan dengan pacarku saat di SMA.

    “Diisep donk, say…” kata pacarku tiba-tiba.

    Aku terkejut. ”Kok diisep? kenapa ?”

    “Ya biar enak”. jawabnya.

    Karena penasaran, kucoba mencium kepala kontolnya perlahan. Lalu kujilat batang kontolnya dari bawah ke
    atas. Tapi dia rupanya belum puas kalau belum kukulum. Dia minta aku memasukkan kontolnya ke mulutku.
    Meski agak jijik, tapi karena memang pengen tau, kumasukkan kontol gede itu ke mulutku yang lebar.
    Kuisap, kepalaku naik turun dengan sendirinya. Ternyata enak juga.

    Gesekan kontol besar itu di mulutku menimbulkan sensasi nikmat sendiri. Aku semakin semangat mengelomoh
    kontolnya yang luar biasa itu. Sesekali kujilati kepala kontolnya. Lalu lubang kencingnya kubuka-buka
    dengan lidahku. Dia sampai merem melek akibat perbuatanku itu. Kubasahi seluruh batang kontolnya dengan
    ludahku, kemudian kukocok dengan kuat pake tangan. Saat kontolnya agak kering, kumasukkan lagi ke
    mulutku. Lalu kukocok lagi.

    “Iyaaaah… terus, sayang… isep yang kenceng…. Ooohhh…” pacarku benar-benar keenakan. Melihat kondisi
    pacarku seperti itu, aku semakin bersemangat memberikan kenikmatan padanya.

    “Oooogghhh… kamu pinter, sayang… kocok terus, sayaaaang…” rintihnya.

    Sampai kurasakan kontolnya semakin membesar, lalu tiba-tiba… “Craaaaattttss…!!!” air maninya menyembur
    saat kukocok dengan kencang. Aku tak sempat mengelak hingga mukaku terkena muncratan air maninya. Begitu
    juga leher dan dadaku.

    Terus kukocok kontolnya sampai tidak ada lagi air mani yang keluar. Lalu kujilati kontolnya sampai
    bersih. Tampak pacarku begitu puas. Dan aku juga sangat puas. Pertama kali ngisep kontol dan pertama
    kali melihat sperma laki-laki.

    Sejak itu, aku semakin doyan ngisep kontol. Setiap ada kesempatan aku selalu minta untuk ngisep
    kontolnya sampai dia muncrat keenakan…

    ***

    # Kontol Sore-Sore

    Aku masih bengong sendirian di kamar. jam baru menunjukkan pukul 4 sore, Sudah seminggu lewat sejak
    terakhir aku ngisep kontol. Dan malam ini pacarku mengajakku jalan malam lagi. Ugh… masih lama. Padahal
    aku udah kangen banget sama kontolnya. Kangen pengen kuisep-isep lagi.

    Sedang aku termenung sendiri, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar kostku. Dengan agak malas aku
    membuka pintu.

    Saat pintu terbuka, ternyata pacarku yang datang lebih awal. Aku terkejut sekaligus senang dengan
    kedatangannya. “Kok udah dateng am segini? Aku belom mandi lho…”

    Pacarku tersenyum sambil melangkah masuk ke dalam kamarku. Katanya dia udah kangen. Gak tahan nunggu
    sampai malam.

    Aku senang mendengarnya. Supaya bisa cepat berangkat, aku pamit mau mandi dulu. Tapi pacarku mencegah.
    Dia bilang mandinya nanti aja. Sekarang ngobrol-ngobrol dulu katanya. Lalu dia menutup pintu kamar. Ups!
    Cepat-cepat aku cegah. Soalnya di tempat kostku ini kalau ada tamu cowok boleh aja di bawa ke kamar.
    Tapi gak boleh tutup pintu.

    Pacarku sepertinya kecewa. Untung aku cepat dapat ide. Segera aku minta pacarku menggeser tempat tidurku
    ke balik pintu kamar. Sehingga pintu hanya bisa di buka sepermpat. Dan ruang dibalik pintu menjadi agak
    lega dan aman. Kalaupun ada yang masuk, pasti kita yang di dalam udah tau duluan.

    Mendengar itu pacarku langsung semangat. Dengan badannya yang kekar itu sebentar saja tempat tidurku
    sudah berpindah posisi. Dan benar. Posisi di balik pintu benar-benar aman.Cerita Sex Dewasa

    Dengan agak tergesa tubuhku di dorong hingga jatuh telentang di atas tempat tidurku di bagian yang
    terlindung. Dan dengan tergesa juga tiba-tiba dia sudah menindih tubuhku.Bibirku langsung dilumatnya
    dengan penuh gairah. Lidah kami langsung saling melilit. Bahkan lidahnya sampai menggaruk-garuk langit-
    langit mulutku.

    Dengan cepat gairahku naik. Memekku langsung terasa lembab dan berdenyut minta di jilat.

    Ciuman pacarku mulai bergerak dari bibirku bergeser ke kupingku. Daerah paling sensitive yang bisa bikin
    aku menggelinjang hebat. Kalau bukan karena pintu yang masih terbuka, pasti aku sudah mengerang-ngerang
    keenakan. Terpaksa aku tahan suaraku agar tidak terdengar dari luar. Benar-benar tersiksa rasanya.
    Tersiksa dalam penjara kenikmatan birahi yang luar biasa.
    Lalu lidahnya meluncur turun ke leherku. Digigit-gigit kecil leherku, bikin aku tambah kelojotoan. Aku
    tidak perduli walau leherku penuh dengan bekas gigitan. Toh kalau keluar aku selalu pakai jilbab. Gak
    bakal keliatan.

    Sambil terus menjilat leherku, tangannya mulai menggerayangi dadaku. Diremas-remas begitu benar-benar
    bikin aku tidak tahan. “Hhhhhhh… sayaaang…” erangku pelan takut terdengar dari luar. Kurasakan jemari
    tangan pacarku mulai bekerja membuka kancing-kancing kemejaku. Ups! segera kucegah. Aku takut kalau aku
    sampai telanjang lantas tiba-tiba ada yang masuk, bisa berabe.

    Akhirnya pacarku hanya meremas-remas dadaku dari luar bajuku saja. Tidak berhenti disitu, tangannya
    dengan cepat mengangkat rokku sampai ke perut. Maka memekku yang masih tertutup CD langsung terhidang
    dihadapannya. Tidak menunggu lama-lama, jemarinya langsung menyelinap kebalik CD-ku dan menari-nari di
    lubang penuh nikmat itu.

    Aku benar-benar tidak sanggup lagi bertahan. Tubuhku menggelinjang dan bergetar dengan hebat. Setiap
    gesekan jemarinya membuat aku melayang-layang tidak karuan. Tiba-tiba tangannya berusaha menarik lepas
    CD-ku.

    “Jangan!” meski sudah dipenuhi birahi, aku masih sempat kuatir jika nanti ada yang masuk secara tiba-
    tiba.

    Untunglah pacarku tidak protes. “Ya udah, kalo kamu gak mau buka celana, aku aja deh.” katanya sambil
    langsung membuka celananya sampai sebatas lutut.

    Woooow… aku terbelalak melihat kontolnya yang gede panjang sudah berdiri tegak siap tempur. Belum sempat
    aku meraih batang kontol besar itu, pacarku sudah menindih tubuhku lagi. Kontolnya yang sudah keras itu
    di gesek-gesekkannya ke memek aku yang masih tertutup CD.

    Ampuuuunnn…. rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Enaknya luar biasa.

    Terus saja dia gesek-gesek kontolnya ke memekku. Terkadang malah kepala kontolnya di tusuk-tusukkan ke
    lobang memekku. Membuat tubuhku semakin bergetar.

    Akhirnya aku tak mampu lagi bertahan. Bagaikan bendungan yang jebol, seluruh hasratku memancar dengan
    derasnya. Memekku berkedut-kedut dengan gencarnya. CD-ku basah, benar-benar banjir. Tubuhku lemas
    lunglai, kunikmati terjangan gelombang orgasme ini dengan kaki mengangkang lebar. Nikmaaaaat…

    Setelah dilihatnya napasku mulai teratur, tanganku ditariknya sampai aku terduduk di kasur. Lalu
    disodorkannya kontolnya yang besar itu ke mulutku. Aku mengerti keinginannya. Langsung saja kuraih
    batang enak itu, kuelus-elus sejenak sebelum kumasukkan ke dalam mulutku.

    Aku selalu suka jika batang kontol besar memenuhi rongga mulutku. Dengan semangat batang kontol itu aku
    isap, kujilat, mulutku maju mundur dengan teratur.

    Setelah kontolnya basah dan licin, segera kukocok kontol itu dengan tanganku. Kuisap lagi, kocok lagi
    begitu seterusnya, sampai tiba-tiba tubuh pacarku menegang dan… Craaaaat…!! air maninya memancar seperti
    pemadam kebakaran. Banyak sekali. Langsung saja kutelan semua air mani itu sambil kubersihkan kontolnya
    dengan lidahku.

    Akhirnya malam itu kami tidak jadi keluar. Kami lebih suka menghabiskan malam dengan ngobrol di kamarku
    sambil sedikit raba-raba. Malah aku masih sempat ngisep kontolnya sampai ngecret di mulutku sekali lagi.

    ***

    # Sehari Dua Kontol

    Hubunganku dengan Doni sudah berjalan hampir setahun. Selama kami berpacaran, entah sudah berapa kali
    kontolnya yang besar itu menyemburkan air maninya di dalam mulutku.

    Untunglah aku masih bisa bertahan untuk tidak menyerahkan keperawananku pada Doni. Betapapun
    menggairahkannya kontol Doni, namun aku tetap pada prinsip bahwa perawanku hanya untuk suamiku kelak.

    Belakangan frekuensi pertemuan kami semakin berkurang. Terkadang sampai sebulan kami tidak bertemu sama
    sekali.

    Di tengah jarangnya pertemuanku dengan Doni, aku berkenalan dengan Sam, mahasiswa di kampusku juga.
    Pemuda asal Padang ini lumayan ganteng. Badannya juga gak kalah dengan Doni. Malah mungkin bisa dibilang
    lebih bagus, lebih berisi.

    Hubungan kami dimulai dengan ngobrol di kantin, makan bareng. Hanya di kampus. Aku belum berani menerima
    ajakan Sam untuk jalan, karena kuatir ketauan Doni. Bagaimanapun sampai saat ini statusku masih pacar
    Doni.

    Saat makan siang hari ini, Sam mengajak aku menemaninya besok siang ke tempat perkumpulan Mahasiswa
    Sumbar. Semula aku menolak, tapi melihat wajah Sam yang kecewa, akhirnya aku bersedia.

    Begitu juga saat Sam memaksa untuk mengantarkanku ke tempat Kost, aku tidak menolak. Kupikir toh Doni
    tidak akan tahu. Dia kan sedang ke Bandung dengan teman-temannya.

    Sesampai di tempat kost, aku sengaja tidak mengajak Sam ke kamarku karena ini adalah kunjungan
    pertamanya. Dia hanya kuajak ngobrol di ruang tengah yang biasanya dipakai untuk menerima tamu.

    Saat ngobrol, Sam mulai berani menyentuh tanganku. Jemariku diremas-remas, terkadang dikecup lembut.
    Gairahku mulai terpancing, tapi aku masih menunggu Sam yang memulai. Untungnya saat ini tempat kost ku
    sedang sepi.

    Sampai akhirnya Sam mencium bibirku. Ciumannya panjang dan lama sekali. Seolah tak mau berhenti. Tapi
    kurasakan bahwa Sam belum banyak pengalaman dengan perempuan. Ciumannya terasa biasa-biasa saja. Saat
    aku baru akan mulai melayani ciumannya dengan penuh gairah, Sam malah menghentikan ciumannya. Dia pamit
    pulang. Aaah… nanggung banget rasanya…

    Saat pulang Sam sempat mengingatkan soal rencana besok ke tempat perkumpulan Mahasiswa Sumbar. Aku
    katakan untuk bertemu di kampus saja. Aku janji jam 10 pagi sudah bisa meninggalkan kampus.

    ***

    Pagi-pagi sekali aku sudah siap untuk berangkat kuliah. Aku teringat dengan janjiku dengan Sam jam 10
    nanti. Artinya hari ini aku hanya akan mengikuti satu mata kuliah saja.

    Namun betapa terkejutnya aku saat membuka pintu kamar, Doni sudah berdiri di depan pintu dengan
    senyumnya yang khas. Tanpa kupersilahkan masuk, Doni sudah melangkah ke dalam kamarku.

    “Eh… ngapain masuk? Yuk berangkat. Aku mau kuliah.” kataku. Tapi Doni hanya senyum-senyum sambil
    merebahkan tubuhnya di kasur.

    “Lho… kamu gak mau kuliah, Don?” tanyaku. Lagi-lagi Doni hanya tersenyum sambil menarik tanganku sampai
    aku terjatuh menimpa tubuhnya.

    “Aku kangen,” kata Doni singkat dan langsung mencium bibirku. Aku tidak bisa apa-apa selain meladeni
    ciuman Doni yang memang jago ciuman itu. Perlahan gairahku bangkit. Lumatan lidahnya di dalam rongga
    mulutku membuat aku melenguh nikmat.

    Tapi saat Doni akan membuka jilbabku, cepat-cepat aku menolak. Aku teringat akan janjiku dengan Sam.
    Gawat… bisa telat nih. Jadi kupikir, supaya cepat selesai, lebih baik biar aku saja yang memuaskan Doni.
    Segera lidahku bermain di sekujur wajah Doni. Lalu ciumanku turun ke lehernya. Mulai dari leher bagian
    bawah, ke jakun sampai dagu kujilati naik turun. Doni tampak mulai keenakan. Kepalanya sampai mendongak
    ke atas.

    Lalu kubuka kancing baju kemejanya, dan langsung kujilati dadanya yang bidang bikin ngiler itu. Puting
    susunya kujilati, kusedot-sedot dan kusentil-sentil dengan lidahku. Doni mulai mendesah nikmat.
    Jilatanku turun lagi sampai ke perutnya yang rata dan kencang. Lubang pusernya kujilati hingga terlihat
    perut Doni bergerak karena menahan napas.

    Puas menjilati perutnya, kubuka resleting celana Doni. Lalu kuturunkan celananya berikut CD nya
    sekaligus. Wooow! kontolnya sudah ngaceng dan keras sekali. Aku sangat suka dengan kontol Doni. Apalagi
    sudah sebulan aku tidak bertemu dengan Kontolnya ini. Langsung saja kontolnya yang besar itu kukulum dan
    kuisap-isap dengan kuat. Aku berharap Doni cepat keluar supaya aku tidak terlambat menepati janjiku
    dengan Sam.

    Namun sepertinya kali ini Doni benar-benar hebat. Sudah hampir 1 jam aku mengulum kontolnya yang
    besarnya minta ampun ini. Tapi belum juga ada tanda-tanda dia mau keluar. Sementara waktu sudah semakin
    siang. Bisa-bisa aku terlambat. Sam pasti sudah menungguku.

    Kujilati kontol besar panjang itu mulai dari bijinya yang kencang, terus kujilat ke atas sampai kepala
    kontolnya. Turun lagi sampai ke bijinya. Lalu kubolak balik kontol besar itu. Kujilat bagian atasnya,
    lalu kujilat bagian bawahnya yang banyak urat-uratnya. Lalu kumasukkan kontolnya ke dalam mulutku sambil
    lidahku bermain-main di kepala kontolnya.

    Tidak itu saja, aku mengocok kontol Doni dengan mulutku sambil menghisapnya. Saat mulutku maju dan
    kontolnya masuk ke dalam mulutku, lidahku bermain-main di batang kontolnya. Saat mulutku mundur kuhisap
    kontol Doni dengan kuat sambil kukeluarkan sampai batas kepala kontolnya.

    Gayaku ini tampak membuahkan hasil. Doni mengerang-ngerang keenakan. Lalu kukocok kontolnya dengan
    tanganku. Kuhisap lagi, kukocok lagi. Kubasahi kontol Doni dengan ludahku supaya licin. Kemudian kukocok
    dengan cepat. Sampai akhirnya terasa Kontol itu semakin membesar dan semakin keras. Lalu bisa kurasakan
    ada kedutan-kedutan di urat-uratnya yang sudah sangat kuhapal. Doni mau keluar. Cepat kumasukkan kontol
    itu ke dalam mulutku dan kuhisap kuat-kuat.

    Crooooot… croott… air maninya menyembur ke dalam mulutku. Kutelan semuanya sambil terus kuisap kontolnya
    sampai tidak ada lagi tetesan air mani yang keluar.

    Akhirnya… aku lega.

    Cepat aku membersihkan diri, merapikan pakaian dan menyemprotkan parfum di bajuku. Aku takut nanti Sam
    mencium bau sperma di mulutku. Bisa gawat.
    Setelah semuanya rapi, Doni mengantarkanku ke kampus. Doni tidak kuliah. Mau istirahat di rumah,
    katanya. Aku lega sekali. Berarti dia tidak akan tahu aku pergi dengan Sam hari ini.

    ***

    Meski agak terlambat, aku dan Sam tetap pergi ke tempat perkumpulan Mahasiswa Sumbar sesuai rencana.
    Ternyata tempatnya berupa mess atau guest house yang dihuni oleh para mahasiswa asal Sumbar.

    Hari ini mess tersebut terlihat sepi. Menurut Sam kalau jam segini memang biasa sepi. Baru ramai nanti
    sore menjelang malam. Sam membawaku ke sebuah kamar dan menguncinya dari dalam. Aku langsung duduk di
    tepi tempat tidur. Tidak menunggu lama, Sam langsung menciumku dengan penuh semangat. Tapi seperti
    kemarin, Sam hanya menciumku lamaaaa tapi tidak melakukan hal-hal yang lain. Jika kemarin aku masih
    ja’im, tidak hari ini. Langsung kudorong tubuh Sam hingga terlentang di kasur. Kakinya masih menjuntai
    ke lantai.

    Kucium bibir Sam dengan ganas, lidahnya kubelit dengan lidahku. Sam tampak gelagapan tidak menduga aku
    yang pakai jilbab bisa seganas ini. Lalu bibirku mulai turun menjilati lehernya, kupingnya, kembali lagi
    ke lehernya. Lalu kubuka kancing baju kemejanya, dan langsung kujilati dadanya. Puting susunya kujilati,
    kusedot-sedot dan kusentil-sentil dengan lidahku. Sam semakin kelojotan.

    Jilatanku turun lagi sampai ke perutnya yang rata dan kencang. Lubang pusernya kujilati hingga terlihat
    perut Sam bergerak-gerak dengan cepat. Lidahku terus menari-nari di sekitar pusarnya sambil kuusap-usap
    perut bawahnya. Lalu lidahku turun lagi sampai ke perut bawahnya. Kemudian kubuka kubuka resleting
    celananya. Sam sempat mencegah dengan memegang tanganku erat. Tapi sambil tersenyum dan menatap matanya,
    kusingkirkan tangan Sam yang mencegah perbuatanku.

    Celananya kuperosotkan ke bawah. Terlihat gundukan besar di dalam CD nya. Kuciumi gundukan besar itu.
    Lalu kuturunkan CD nya menyusul celananya yang sudah merosot duluan.

    Oooowwgh… besarnyaaa…!!! ternyata kontol Sam lebih besar dari kontol Doni. Tidak sabar, langsung aku
    merosot berjongkok di lantai dan kujilati batang kontol yang luar biasa indahnya itu. biji pelernya
    kuremas-remas lembut sambil terus kujilati batang kontolnya.Cerita Sex Dewasa

    Lalu mulai kumasukkan batang kontol itu ke dalam mulutku. Kuisap-isap, kuemut-emut dan kujilati dengan
    penuh nafsu.

    Namun, mungkin karena ini pengalaman pertama buat Sam, baru sebentar aku mengisap kontolnya sudah terasa
    kedutan-kedutan tanda Sam mau muncrat. Cepat kukeluarkan kontol itu dari mulutku dan kukocok-kocok. Aku
    belum mau Sam keluar di mulutku karena ini baru pertama.

    Cepat kukocok-kocok kontol Sam sambil aku agak menghindar ke samping. Dan benar saja, tak lama kemudian
    Sam berteriak tertahan, dan… Crooooootttt…! air maninya mucrat dengan derasnya. Muncratannya sampai
    mengenai dinding kamar saking kencangnya. Benar-benar kontol perjaka.

    Tanganku terus saja bermain-main dengan kontol Sam sampai kontol itu mengecil kembali. Tapi aku tidak
    berhenti, terus saja kontol itu aku permainkan. Aku begitu terpesona dengan kontol Sam sampai rasanya
    sayang kalau buru-buru dilepaskan.

    Aaaghhh… segarnya. Seharian ini aku sudah dapat 2 kontol.

    Saat di jalan pulang, dengan mengendarai motor, tanganku tetap masuk ke dalam celana Sam. Sepanjang
    jalan aku terus bermain-main dengan kontolnya.

    ***

    # Segarnya Kontolmu Sayang

    Sejak kejadian dengan Sam di Mess Mahasiswa Sumbar, hubunganku dengan Sam semakin dekat. Sementara
    hubunganku dengan Doni semakin merenggang. Terus terang, dibanding dengan Doni, Sam kalah jauh untuk
    urusan percumbuan. Karena bagaimanapun Doni jauh lebih jago untuk urusan bercumbu. Jilatan-jilatannya
    pada dadaku, serta permainan jarinya di memekku membuatku benar-benar ketagihan. Belum lagi kontolnya
    yang besar panjang itu terasa sekali memenuhi rongga mulutku. Aku selalu bernafsu ingin mengisap
    kontolnya.

    Sementara Sam sangat lugu dan kurang pengalaman. Namun kelembutan Sam mampu membuat aku merasa nyaman
    berada di dekatnya. Siang ini sepulang kuliah seperti biasa aku membonceng motor Sam menuju Kost-ku.
    Seperti biasa juga sepanjang jalan tanganku masuk ke dalam celananya sambil meremas-remas kontolnya. Aku
    suka dengan bentuk kontolnya yang gemuk dan kekar.

    Tapi di perjalanan aku sempat bingung karena ternyata motor Sam tidak menuju ke tempat kostku.
    Sebenarnya aku mau protes, tapi akhirnya kubiarkan saja sambil terus menikmati bermain-main dengan
    kontol Sam yang sudah semakin menegang.

    Ternyata aku dibawa ke rumahnya. Saat itu rumahnya dalam keadaan sepi. Langsung aku dibawa ke dalam
    kamarnya.

    “Kamu mau minum apa, Lin?” tanya Sam basa-basi.

    Aku tau itu sekedar basa-basi makanya aku menjawab dengan menggoda “Minum kontol kamu aja deh…”

    Mendengar jawabanku, Sam langsung mengunci pintu kamarnya, kemudian menubruk tubuhku sampai aku
    terlentang di tempat tidurnya. Sam mencium bibirku lama sekali. Bibirku di sedot-sedot, berganti-ganti
    bibir atas dan bibir bawah. Tapi lidahnya sama sekali tidak bermain. Maka aku segera mengambil
    inisiatif. Kujulurkan lidahku kedalam mulutnya. Kucari lidahnya, kemudian kubelit-belit dengan lidahku.
    Perlahan namun pasti Sam mulai bisa mengimbangi ciumanku. Lidahnya mulai bisa menari-nari didalam rongga
    mulutku. Sampai langit-langit mulutkupun di jilatinya. Rasanya cukup membuat aku terangsang.

    kemudian tangannya mulai meremas-remas dada kiriku. Aku langsung menggelinjang nikmat. Sam terus bermain
    dengan dadaku dari luar kemejaku. Tidak sabar, aku buka sendiri kancing bajuku hingga terbuka lebar,
    Jilbabku kutarik lebih keatas agar dadaku tidak terhalang meski jilbabnya tidak dibuka.

    Melihat keadaanku yang sudah terhidang, ciuman Sam langsung pindah ke dadaku. Gumpalan dadaku diciumi
    dengan penuh nafsu. Terkadang digigit-gigit kecil sampai meninggalkan tanda merah.

    Sekali lagi aku merasa tidak sabar. Sam hanya menciumi bukit dadaku sambil meremas tanpa berusaha
    membuka BH-ku. Langsung saja kukeluarkan toketku dari BH dan kusodorkan puting susuku ke mulutnya
    seperti ibu yang menyusui bayi. Sam dengan lahap langsung menyedot puting susuku.

    “Ooooh… Saaaam… sedot terus, sayaaang… sedot yang kenceeeng…” teriakku tak perduli apakah suaraku
    terdengar keluar atau tidak. Toh rumah ini sedang sepi.

    “Teruuuuss… Saaaam…. sedot teruuuuussss… remes-remes yang kenceng…” pekikanku semakin tidak karuan.

    Mendengar eranganku, Sam semakin bersemangat. Dia menciumi dadaku berganti-ganti yang kiri dan kanan.
    Saat mencium dada kiri, Tangannya meremas dada kananku. Sebaliknya saat mencium dada kanan, tangannya
    meremas dada kiriku.

    Aku benar-benar dibawa ke dunia kenikmatan yang sangat indah. Sambil terus menikmati ciuman Sam pada
    dadaku, kuangkat rokku sampai ke perut. Hingga tampaklah memekku yang masih tertutup CD. Sudah terasa
    denyutan di bawah sana minta dicolok.

    Kemudian kubuka resleting celana Sam. Rupanya dia mengerti. Dia segera bangkit dan membuka seluruh
    pakaiannya hingga bugil. Terlihatlah kontolnya yang sudah tegang. Begitu besar dengan urat-urat
    disekitar batang kontolnya. Setelah itu dia langsung menindih tubuhku lagi. Kontolnya yang tegang di
    gesek-gesekkan ke memekku yang masih tertutup CD. Rasanya sungguh luar biasa.

    Sambil tetap menggesek-gesekkan kontolnya, Sam kembali menciumi dadaku. Dengan tubuh agak membungkuk dia
    terus menyedot puting susuku sambil kontolnya terus maju mundur menggesek-gesek memekku.

    Kutarik tangan Sam dan kubawa ke memekku. Tangannya langsung masuk ke balik CD-ku dan bermain-main
    disana. Ketika itilku tersentuh, aku spontan terpekik nikmat. “Oooooowwwgh… Saaaaam…. enaaaaak… enak
    bangeeet, sayaaaang…” Kugoyang-goyangkan pinggulku mengejar kenikmatan yang mendera seiring dengan
    permainan jari-jari Sam di itilku.

    Jari-jari Sam terus meluncur naik turun di memekku. Tekadang dijepitnya memekku dengan jempol dan
    telunjuknya. Membuat aku semakin berteriak-teriak histeris. “Addduuuh… Saaaam…. enak bangeeet… terus,
    sayaaaang…”

    Sementara bibir dan lidah Sam masih terus saja mengerjai dadaku, membuat aku benar-benar seperti cacing
    kepanasan. Menggeliat-geliat nikmat. Kutekan kepala Sam lebih keras lagi ke dadaku. Kujenggut-jenggut
    rambutnya menahan kegelian dan kenikmatan yang tiada tara.

    Sampai kemudian kedutan di memekku semakin terasa nyata, dan gelombang kenikmatan seperti mengalir dari
    sekujur tubuhku menuju memekku, dan… “Aaaaaaaakhhh… Saaaaam…. aku nyampeeee….ooooowhg…!!!”

    Pancaran kenikmatan menyembur membasahi memekku. Dan tubuh serasa tersedot menuju lubang yang dalam.
    Gelap, indah, nikmaaaat…

    Setelah mengatur nafas, segera kudorong tubuh Sam hingga ia terlentang di kasur. Lalu kutindih tubuh
    bugil Sam. Kontolnya kududuki sambil kugoyang-goyangkan pinggulku maju mundur menggesek kontolnya yang
    besar.

    Sam tampak keenakan dengan perbuatannku. Kulanjutkan dengan menjilati lehernya, kemudian kupingnya. Sam
    semakin kelojotan. Napasnya menjadi tidak teratur.

    Ciumanku turun ke dadanya. Puting susunya kujilati. Kugigit-gigit kecil, kemudian kusentil-sentil dengan
    lidahku. Kujilati terus dadanya kiri dan kanan. Sementara pantatku terus maju mundur menggesek-gesek
    memekku ke kontolnya yang sudah sangat tegang.

    Kontolnya yang besar terasa sekali mengerus belahan memekku meski aku masih mengenakan CD. Walau hanya
    di gesek-gesek dari luar, rasanya memekku sudah belah menjadi lebar.

    Kemudian lidahku turun lagi menyusuri tubuh telanjangnya menuju perutnya. Akupun semakinmerosot ke
    bawah. Meski sayang kutinggalkan kontolnya dari memekku. Kucium perutnya dan kujilati sekitar pusarnya
    dengan melingkar. Lalu lidahku terus turun dan menyentuh ujung kontol kerasnya.

    Kujilati kepala kontol besar itu. Kujilati lubang kecilnya sambil kubuka-buka lubangnya dengan lidahku.
    Lalu kujilati batang kontolnya mulai dari bijinya, naik keatas sampai kepala kontolnya. Kujilati lagi
    terus berulang ulang.

    Lalu perlahan kumasukkan batang kontol yang besar itu kedalam mulutku. Kudiamkan sejenak dalam mulutku
    sambil lidahku bemain-main mengusap batang kontolnya. Baru kemudian perlahan kutarik mulutku keatas
    sampai ujung, kemudian kuturunkan lagi. Lalu kunaikkan lagi sambil kuisap kuat-kuat. Kuturunkan lagi.
    Begitu terus, kepalaku naik turun secara otomatis. Penuhnya rongga mulutku dengan batang kontolnya
    membuat aku semakin bernafsu. Memekku sampai basah lagi.

    Jika sebelumnya aku membiarkan Sam muncrat ke tembok, kali ini aku ingin memberi hadiah pada Sam untuk
    muncrat di dalam mulutku. Cepat kukocok-kocok kontol Sam dengan tanganku. Jika kering kukulum lagi
    kontolnya sampai licin, kemudian kukocok lagi dengan tanganku.

    Saat kurasakan denyutan kontol Sam semakin terasa, buru-buru kontol Sam kumasukkan ke dalam mulutku lagi
    dan kuisap kuat-kuat. Sampai akhirnya … Crooooottzz…!!! Air mani Sam muncrat kedalam mulutku dengan
    deras dan banyak sekali. Saking banyaknya sampai-sampai air mani itu tidak bisa kutelan semua dan ada
    yang meleleh membasahi dagu dan Jilbabku.

    Buru-buru aku lari ke kamar mandi membersihkan jilbabku. Kuatir nanti aromanya tercium saat aku pulang
    nanti.

    ***

    # Ih, Kecil Banget..

    Memasuki Semester akhir, hubungan cintaku malah berantakan. Sudah 3 bulan aku menjomblo. Artinya sudah 3
    bulan aku tidak ketemu kontol.

    Seringkali aku membayangkan saat-saat bercumbu dengan pacar-pacarku dulu. Saat dengan bernafsu kancing
    bajuku dilucuti, saat BH ku dibuka dan selanjutnya dadaku diremas-remas dengan kuat. terbayang bagaimana
    lidah mereka menjilati puting susuku. menyentil-nyentil nakal, lalu toketku di hisap dengan gemas.
    Aaaaah…. nikmatnya.

    Kalau sudah begitu biasanya aku langsung buka baju dan BH ku kemudian rebahan di tempat tidur. Kuremas-
    remas sendiri dadaku sambil membayangkan ada tangan lelaki yang meremasnya.

    Lalu terbayang saat ada lidah yang menyusuri tubuhku. Mulai dari dada turun ke perut, berputar-putar di
    pusarku, lalu turun lagi menjilati bawah pusarku. teruuuuuss… turun sampai menyentuh bagian atas
    memekku.

    Oooowgh… tidak tahan langsung kugosok-gosok sendiri itilku. Daging kecil itupun membesar dan habis
    kupermainkan dengan jariku. Kugosok, kujepit, kemudian jariku kugosok naik turun sepanjang belahan
    memekku. Banjir sudah memekku. Terasa semakin licin saja.

    Pantatkuku goyang-goyang mengejar kenikmatan yang mulai mendera. Oooooh… aku pengen kontooolll…

    Jemariku semakin cepat menggosok-gosok memekku. Pantatku berputar-putar hebat. Sampai akhirnya tubuhku
    mengejang hebat. Memekku berdenyut-denyut.
    Ah, gila. begitu kangennya aku sama kontol sampai-sampai aku bisa orgasme hanya dengan masturbasi
    begini. Terlalu…

    ***

    Pulang kuliah… aku masih tidak semangat. Masih terbayang kejadian tadi pagi saat aku masturbasi sebelum
    berangkat kuliah. Memekku gatal lagi.

    Sedang aku berjalan sambil melamun jorok, tiba-tiba ada suara orang memanggilku. “Lin, tunggu…”

    Aku menoleh mencari arah suara itu. Terlihat seorang cowok ganteng berlari menghampiriku. Oh, si Sony.
    Teman sekelasku. “Ada apa, Son” tanyaku saat Sony sudah berada dihadapanku sambil aku melanjutkan
    langkahku.

    “Mau pulang bareng gak? Gue anter deh. Kan gue emang selalu lewatin tempat kost kamu.” kata Sony sambil
    berjalan di sampingku.

    Aku katakan pada Sony bahwa siang ini aku mau ke rumah kakakku di Rawamangun.Gak langsung pulang ke
    kost.

    “Ya gak pa pa. Gue anterin aja sekalian ke Rawamangun. Gimana, mau kan?” sahut Sony semangat.

    Kupikir, apa salahnya. Lumayan irit ongkos. Dan tentunya lebih enak naik mobil dari pada naik bajaj.
    Lantas kami segera menuju mobil Sony di tempat parkir.

    Di perjalanan berkali-kali tangan Sony seperti tidak sengaja menyentuh pahaku saat memindahkan gigi
    mobilnya. Semula aku ingin bergeser menghindar. Tapi sentuhan-sentuhan kecil yang seolah tidak sengaja
    itu justru membawa sensasi tersendiri. Maka bukannya aku bergeser menjauh, justru aku menggeser
    mendekat. Sempat aku melirik senyum Sony yang merasa berhasil menggodaku. Wah gawat. bisa dikira cewek
    gampangan nih.

    Sesampai di depan rumah aku langsung turun dari mobil sambil mengucapkan terima kasih. Tapi Sony
    bukannya langsung pergi malah mematikan mesin mobilnya dan ikut turun mengikutiku ke depan pintu rumah.

    “Lin, aku boleh mampir ya. ngobrol-ngobrol aja sebentar. Males pulang sekarang.” kata Sony sambil
    menatap mataku lembut. Aku tidak bisa menolak. Maka kuajak Sony masuk ke rumah.

    Seperti biasa, kalau jam segini pasti rumah kakakku kosong. Maka tanpa perlu mengetuk pintu aku langsung
    membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu kubawa di dalam tasku.

    “Wah, kamu bawa kunci sendiri. Rumahnya kosong ya, Lin?” tanya Sony.

    “Iya. kalo jam segini masih pada kerja. nanti pulangnya menjelang maghrib.”

    “Wah, asik donk..”

    “Asik apaan! jangan macem-macem deh.” ancamku pada Sony sambil cemberut. Sony hanya tersenyum sambil
    ikut masuk ke dalam rumah. Tanpa dipersilahkan Sony langsung menghempaskan pantatnya di sofa.

    Aku menawarkan Sony untuk minum, tapi Sony menolak. Katanya mending ngobrol-ngobrol dulu aja. Nanti kalo
    udah haus baru minum.

    Ternyata enak juga ngobrol dengan Sony. Orangnya humoris, sering membuat aku tertawa. Lama kelamaan
    obrolan kami mulai nyerempet-nyerempet ke hal-hal yang berbau porno. Entah bagaimana mulanya, tau-tau
    kami sudah berciuman.

    Awalnya hanya kecupan-kecupan ringan, sampai akhirnya ketika lidah kami mulai saling melilit ciuman tu
    berubah menjadi ciuman penuh nafsu yang ganas.

    Tangan Sony mulai meremas dadaku dari luar bajuku. Aku langsung tersentak nikmat. Oooh… sudah 3 bulan
    dadaku tidak disentuh lelaki. Aku begitu menginginkannya. Ingin lebih.

    Tangan Sony bergerak ingin membuka jilbabku. Segera kutahan. “Son… kita di kamar aja yuk.”

    Sony tersenyum girang mendengar ajakanku. Kamipun bergegas menuju kamar tamu. Sesampai di kamar, Sony
    menutup pintu dan langsung mendorong tubuhku ke pintu.

    Aku dipepet ke pintu dan bibirnya kembali menyergap bibirku. Ciumannya kali ini benar-benar ganas.
    Jilbabku dibuka, dan langsung leherku diserang dengan jilatan-jilatan yang membuat aku mengerang.

    Lalu tangannya mulai mempereteli kancing bajuku satu persatu. Bajuku dilempar begitu saja ke lantai.
    Sony sempat tertegun memandang dada besarku yang seperti mau melompat keluar dari BH.

    Tidak menunggu lama, bibirnya langsung nyosor menciumi dadaku. Sementara tangannya bergerak ke belakang
    mencari kaitan BH-ku. Aku membantu melepas BH dan membuangnya ke lantai.

    Sony semakin bernafsu melihat dadaku yang sudah terhidang bebas di depan wajahnya. Lidahnya pun langsung
    menari-nari di pentil susuku. Ugh… nikmatnya. Rasa yang sudah lama tidak kudapatkan. Kutekan kepala Sony
    ke dadaku lebih erat lagi. Sony semakin kuat menyedot pentil susuku. Lalu lidahnya kembali menjalar ke
    leherku. Lalu bibirku dicium lagi. Kami ciuman panjang dan lama. Lidah kami saling melilit.Cerita Sex Dewasa

    Tak sabar kubuka kancing baju Sony, lalu kulepas baju itu dan kubuang ke lantai.Kupeluk Tubuh Sony erat
    hingga dadaku menempel ketat dengan dadanya. Tangan Sony mengelus punggungku, lalu turun ke bawah ke
    arah pinggangku. Terus ke bawah lagi. Bongkahan pantatku di remas-remasnya. Aku menggelinjang geli.
    Goyanganku membuat memekku bergesekan dengan gundukan daging di selangkangannya menambah nikmat
    percumbuan ini.

    Dengan terampil Sony membuka kancing dan resleting rok panjangku. Dan rok itupun meluncur jatuh di
    kakiku. Kini aku berdiri hampir telanjang dengan hanya mengenakan CD ku saja.

    Aku tidak mau kalah, kubuka ikat pinggang celana Sony. Lalu kubuka kancing dan resletingnya. Sony
    membantu memerosotkan celana panjangnya. Setelah celananya merosot, kembali Sony merangkul tubuhku
    dengan erat. Ciumannya semakin ganas.

    Sangat terasa ada yang mengganjal dan menekan-nekan memekku. Ugh, sepertinya kontol Sony sudah mulai
    ngaceng walau belum sepenuhnya. Tapi sudah mulai terasa nikmat gesekannya.

    Ciuman Sony meluncur turun ke leher, lalu turun lagi ke dadaku. Bergantian puting dada kanan dan dada
    kiriku di isapnya. “Ooooogh… Sonnn… isep terusssss… iyaaaahhhh…” erangku tak kuasa menahan nikmat. Rasa
    kangen akan sentuhan yang telah kutahan selama 3 bulan ini benar-benar minta di tuntaskan.

    Tubuh Sony mulai merosot sambil terus menjilati tubuhku. Perutku di jilat-jilat. Lidahnya bermain-main
    di lubang pusarku. Akhirnya Sony berjongkok, dan wajahnya langsung menghadap memekku yang masih
    terbungkus CD. Dengan sekali tarikan meluncurlah CD ku sampai kaki. Aku membantu mengangkat kaki dan
    menendang CD ku sampai melayang entah kemana.

    Lalu Sony mengangkat kaki kananku dan ditumpangkan dibahunya. Akibatnya memekku langsung merekah lebar
    menganga di hadapannya. Perlahan lidah Sony menyapu belahan memekku dari bawah ke atas. “Aaaawh! Sonnnn…
    enaaaaaak, sayaaaanghhh…”

    Ini gaya baru. Belum pernah memekku dijilati sambil berdiri begini. Rasanya luar biasa nikmat.
    Kugoyang-goyangkan pantatku maju mundur mengejar lidahnya yang terus menari-nari di memekku. Terkadang
    lidahnya terasa menerobos masuk menjilati pinggiran dinding dalam memekku. Aku semakin bergelinjang tak
    karuan. Teriakanku semakin keras menerima rangsangan yang hebat seperti ini.

    “Adddduhh, Son.. enak bangeeeet…. Gilaaa… lu pinter banget sih jilat memeknyaaa…”

    Sedang nikmat-nikmatnya dijilat, tiba-tiba Sony menghentikan serangannya dan berdiri. Dia lalu meraih
    lenganku dan membimbingku ke tempat tidur. Aku langsung berbaring telentang. Kakiku kukangkangkan
    lebar-lebar menanti serangan Sony berikutnya.

    Melihat posisiku yang menantang itu Sony sampai terbelalak. Cepat dia memelorotkan CD nya. Tampaklah
    kontolnya. Kelihatannya belum ngaceng benar. ukurannya belum maksimal.

    Sonny langsung menerkam aku. Tubuhku ditindih, bibirku dicium dengan ganas. Kontolnya di gesek-gesek ke
    memek. Sempat kurasakan ujung kontolnya menyeruak belahan memekku.

    “Son, jangan dimasukin. Gue masih perawan.” desahku di tengah kenikmatan yang menderu.

    Sony agak kaget mendengarnya. Untung dia mau ngerti. “Iya. Gak gue masukin deh.Tapi nanti bantu keluarin
    ya…”

    Aku menjawab dengan ciuman penuh nafsu pada bibirnya. Sony bangkit, kali ini langsung nyungsep ke
    memekku. Jilatan-jilatannya semakin menggila. Aku tidak tahan lagi.

    “Soooonnn… gue keluaaarrrr…” aku kejang. Tubuhku tersentak-sentak bersama dengan kedutan-kedutan yang
    menyembur di memekku. Sony bukannya berhenti malah terus menjilati memekku dengan ganas. Aku bagai kapas
    yang ditiup dan melayang-layang. Nikmaaaat…

    Sony lantas menindihku lagi dan mencium bibirku mesra. Lalu tubuhnya bergulir dan tiduran telentang di
    sampingku.

    Aku mengerti yang diinginkannya. Segera aku bangkit duduk, dan kuraih kontolnya. Kuremas-remas lembut.
    Kontolnya belum juga membesar meski sudah sangat keras. Aku sempat bingung. Perasaan tadi sudah di
    puncak nafsu. Kok kontolnya masih kecil gini?

    Segera kukulum kontol Sony, kujilat-jilat, kusedot-sedot. Tetap saja kecil. Ah, kayaknya kontolnya
    memang kecil nih. Cuma sebesar pisang lampung. Seluruh kontolnya bisa masuk ke mulutku dengan mudah.
    Nafsuku langsung hilang… yaaaaah… kecil bangeeeeettt…

    Untuk tidak mengecewakan Sony, kukocok-kocok saja kontolnya dengan tanganku.Kalau kering aku hanya
    meludahinya saja. Aku malas memasukkan kontol kecil itu ke mulutku. Tidak ada sensasi apa-apa. Terlalu
    longgar.

    Tak berapa lama, Sony ngecret. Langsung saja dia kutinggal ke kamar mandi sambil kubawa semua pakaianku.

    Jilatnya pinter sih… tapi kecilnya itu…

    ***

    # Oops!

    Petualanganku dengan Sony sempat berlanjut selama beberapa kali. Tapi aku sudah malas untuk ngisep
    kontolnya lagi. Gairahku langsung hilang bila melihat kontolnya yang kecil itu. Jadi aku lebih suka
    minta dia menjilat memekku sampai aku selesai, baru kemudian kontolnya kukocok. Paling hanya kukulum
    sebentar untuk melicinkan kontolnya saja. Toh dengan begitupun dia sudah kelojotan. Begitu dia selesai,
    gairahku selalu hilang tanpa bekas. Maka biasanya kalau kami bercumbu di rumahku, dia akan langsung
    kusuruh pulang dengan berbagai alasan. Atau jika di tempat lain, aku akan buru-buru minta diantar
    pulang.

    Tak lama berselang kuliahku selesai. Dan selesai juga hubunganku dengan Sony. Beruntung bagiku selesai
    kuliah tidak pelu repot-repot mencari kerja. Salah satu familyku mengajakku bekerja di perusahaannya
    yang baru dibangun.
    Berhubung kantornya terletak di bilangan Kebayoran, maka kuputuskan untuk mencari tempat kost di
    dekat-dekat kantor.

    Di kantor ada salah seorang staff yang usianya terpaut 4 tahun lebih muda dari aku. Penampilan Dodi yang
    energik dan humoris membuat aku betah berlama-lama ngobrol dengannya.

    Sebenarnya aku sadar setiap kami ngobrol, mata Dodi seringkali menatap dadaku yang berukuran 34C ini.
    Dan menyadari hal itu membuat aku ingin menggodanya dengan sering-sering membusungkan dadaku. Terkadang
    aku sengaja mengangkat tanganku tinggi-tinggi seolah ingin menghilangkan pegal. Padahal maksudnya supaya
    dadaku semakin terekspos di depan matanya.

    Benar saja, setiap kali aku melakukan gerakan-gerakan seperti itu matanya tak berkedip memandang dada
    besarku.

    Sekali waktu Dodi mengajakku nonton ke bioskop sepulang kerja. Karena aku juga tidak ada acara, aku pun
    menyambut ajakannya. Kami segera menuju kawasan Blok M.

    Saat film dimulai, Dodi mulai menggenggam tanganku. Kubalas dengan genggaman yang lembut sambil jemariku
    bermain mengelus jarinya. Karena dilihatnya aku tidak menolak, Dodi melepas genggaman tangannya dan
    beralih merangkul pundakku. Akupun segera merebahkan kepalaku di dadanya.

    Terasa bahuku diusap-usap dan terkadang diremas dengan keras. Aku membalas dengan mengusap-usap dadanya,
    kemudian turun ke perutnya. Lama telapak tanganku berputar-putar di perutnya.

    Lalu Dodi mengangkat daguku dengan tangannya. Saat kepalaku terdongak ke atas dia langsung mencium
    bibirku. Bukan ciuman lembut, tapi langsung ciuman penuh nafsu. Ah… dasar anak muda. Maunya langsung-
    langsung aja. Aku mengimbangi permainan bibir dan lidahnya. Perlahan nafsuku mulai bangkit.

    Di tengah pergumulan lidah itu kurasakan tangan Dodi mulai meraba dadaku, Segera kutolak. Ini baru
    kencan pertama. Meskipun sebenarnya aku sangat menginginkannya, tapi kupikir aku harus jaga image dulu
    di kantor baruku ini. Aku takut Dodi yang masih muda ini akan membanggakan diri cerita ke teman-teman
    lainnya. Bisa berabe aku.

    Baca JUga Cerita Seks Selingkuh Di Warteg

    Kutepis tangan Dodi sambil aku melepaskan ciuman dan mencoba konsentrasi pada film yang diputar.
    Sebenarnya bukan konsentrasi, tapi aku harus menurunkan nafsuku sendiri yang sebenarnya sudah mulai
    bergejolak. Meski terlihat agak kecewa, tapi Dodi tetap merangkul dan mengusap-usap bahuku sampai film
    usai.

    ***

    Sejak ciuman di bioskop, hubunganku dengan Dodi semakin dekat. Mungkin dia menganggap ciuman itu sudah
    merupakan tanda bahwa kami resmi pacaran. Padahal bagiku itu tidak lebih dari sekedar ciuman iseng saja.

    Jelang 2 hari kemudian, kembali Dodi mengajakku nonton bioskop. Kali ini kami kebagian duduk di barisan
    agak tengah. Tapi untungnya masih kebagian yang paling pinggir. Jadi tetap bisa mojok walaupun ada
    resiko telihat oleh penonton yang duduk di barisan atas.

    Dasar anak muda, begitu lampu padam aku langsung direngkuhnya. Bibirku dilumat dengan penuh nafsu. Dan
    tidak menunggu waktu lama tangannya langsung meremas dadaku. Kali ini kudiamkan saja karena aku juga
    sudah sangat rindu dengan remasan-remasan pada dadaku.

    Perlahan tanganku meluncur dari dadanya, turun ke perutnya dan akhirnya mendarat di selangkangannya.
    Terasa kontol ngacengnya dari balik celananya. Kuremas-remas dan kugosok-gosok kontol itu dari luar
    celana. Woooow… besaaaar… Jenis kontol yang kusuka. Kugosok-gosok .dan kuremas-remas terus kontolnya.
    Sesekali kuremas biji-bijinya meski hanya dari luar celananya.

    Aku begitu bernafsu sampai tidak menyadari bahwa kancing bajuku telah terbuka semua. Bahkan BH ku telah
    terlepas ke atas. Aku begitu terkejut saat tiba-tiba bibir Dodi menyergap putting susuku. Owwwgh… What !
    Aku sudah telanjang dada?!

    Aku kaget bercampur takut ada yang melihat. Soalnya posisi duduk kami sangat tidak aman. Apalagi
    penonton di barisan belakang cukup ramai. Cepat aku mendorong kepala Dodi agar menghentikan aksinya.

    Bukannya berhenti, Dodi malah menyedot puting susuku dengan kuat. Sementara sebelah tangannya meremas
    susuku yang sebelah lagi. Aku langsung menggelinjang hebat. Betapapun aku takut dilihat orang, tapi rasa
    nikmat yang mendera tubuhku lebih kuat dari rasa takutku. Akhirnya aku hanya sanggup mengerang pelan
    sambil kuremas kepala Dodi dan menekannya lebih kuat lagi ke dadaku.

    Ciuman dan jilatan Dodi mulai turun ke bawah ke arah perutku. Terus turun sampai di bawah pusarku. Aku
    semakin kelojotan tidak karuan. Tiba-tiba Dodi membuka resleting celana panjangku dan menariknya turun
    besama dengan celana dalamku. Aku bukannya mencegah, malah kuangkat sedikit pantatku agar Dodi lebih
    mudah membuka celanaku. Aku sudah tidak perduli lagi dengan keadaan sekeliling yang mungkin saja ada
    yang melihat kelakuan kami berdua ini. Nafsu birahi sudah menutupi akal sehatku.

    Celana panjang berikut celana dalamku meluncur sampai ke mata kakiku. Dodi mengangkat kaki kananku
    hingga celanaku terlepas sebelah. Kaki kananku diletakkan pada sandaran kursi hingga posisiku
    mengangkang dengan lebar. Kemudian Dodi berjongkok di lantai dan menghadap memekku secara langsung.

    Dengan penuh nafsu Dodi langsung menjilati memekku dari bawah ke atas. Itilku dijilat dan dipermaikan
    dengan lidahnya. Terkadang itilku di sedot dengan kuat. Duniaku sudah gelap. Bahkan suara film yang
    sedang diputar pun sudah tidak terdengar lagi. Yang ada hanya rasa nikmaaaaaat… enaaaaaaaak…

    Sampai akhirnya kurasakan denyutan yang sudah sangat kuhapal. Denyutan yang menyerbu memekku dengan
    deras. Tubuhku mengejang, aku mengerang panjang. ”Oooooooooghhhhh… enaaaaaaaakkkk… aaaaakhhhh…”

    Memekku banjir sudah. Aku lemas. Aku terpejam mengangkang menikmati semburan nikmat yang baru saja
    lewat. Aku tidak perduli dengan keadaanku yang separuh telanjang sambil mengangkang. Sampai tiba-tiba
    lampu menyala terang benderang. Oops! Filmnya habis.

    Aku panik. Segera kukatupkan kemejaku menutupi dadaku yang terbuka. Tapi celanaku belum sempat kupakai.
    Terpaksa celana panjangku kudorong agak ke bawah tempat duduk. Kuambil tasku dan kuletakkan diatas
    pahaku menutupi ketelanjangan bagian bawahku.

    Kami tetap duduk menunggu seluruh penonton pergi. Entahlah apakah para penonton yang melewati tempat
    duduk kami menyadari bahwa aku tidak pakai celana. Semoga saja tidak ada yang sadar.

    Setelah seluruh penonton meninggalkan ruangan, barulah aku mengenakan celana dan merapikan BH serta
    kemejaku.

    ***

    # Ke Ancol Lagi
    Pengalaman percumbuan di bioskop bersama Dodi waktu itu adalah yang pertama dan terakhir bagiku. Bukan
    karena aku tidak menyukainya. Bukan… Jujur saja pengalaman bercumbu di depan orang banyak begitu
    menimbulkan sensasi erotis yang menggairahkan bagiku. Mengingatnya saja bisa membuat memekku basah.

    Namun yang membuatku enggan meneruskan petualangan bersama Dodi adalah sikapnya yang menjadi sangat
    protektif terhadap diriku. Dia benar-benar menganggap aku ini sebagai miliknya yang bisa dikuasai sesuai
    dengan keinginannya.

    Sementara bagiku, Dodi is just another Kontol. Tidak lebih. Dia sudah mulai banyak bertanya jika aku
    dekat dengan teman pria lain. Atau di lain kesempatan dia mulai mengatur cara aku berpakaian. Dia tidak
    suka dengan jilbabku yang pendek. Dia meminta aku mengenakan jilbab panjang yang menutupi dadaku.
    Katanya jilbab yang aku kenakan saat ini justru sangat menonjolkan bentuk dadaku yang besar. Lho… So
    What ? Memang itu yang kuinginkan.Cerita Sex Dewasa

    Atas sikapnya itu aku memutuskan mulai menjaga jarak dan lebih sering menghindar. Beberapa kali
    ajakannya untuk menonton aku tolak. Walau sebenarnya saat dia mengajak aku nonton di bioskop, langsung
    terbayang kejadian dimana dia begitu bernafsu menjilat memekku. Ingin sekali rasanya aku mengulangi
    kejadian itu.

    Namun jika mengingat hidupku yang semakin tidak nyaman, aku kuatkan untuk tetap menolak.

    “Kamu kenapa sih, gak pernah mau lagi jalan sama aku?” tanya Dodi kesal saat aku kembali menolak
    ajakannya untuk nonton.

    “Gak apa-apa kok. Lagi males aja.” jawabku santai. “Kalau mau jalan, kita makan aja yuk, gak usah
    nonton” sambungku.

    Walau dengan wajah cemberut, akhirnya Dodi setuju untuk pergi makan malam. Akhirnya kami pergi ke Pondok
    Indah.

    “Sebenernya ada apa sih, Lin? Belakangan sikap kamu aneh.” ujar Dodi sambil menunggu makanan pesanan
    kami datang. Kutatap mata Dodi lekat-lekat. Aku menimbang-nimbang dalam hati. Kubiarkan saja
    pertanyaannya, atau aku berterus terang saja soal perasaanku padanya yang hanya menganggap teman, bukan
    pacar.

    Kembali Dodi mendesak dengan pertanyaannya, Kutatap lagi matanya.

    “Loe beneran mau tau?” tanyaku sambil menatap matanya tajam.

    “Ya iya lah. Gak enak pacaran tapi aneh gini.” jawabnya.

    Aku mengambil nafas panjang sambil mencari kata-kata yang tepat. “Dod, sebelumnya sorry ya. Gue akui loe
    orangnya baik, lucu, ganteng. Tapi masalahnya, belakangan gue mulai merasa gak nyaman karna kayaknya gue
    udah gak bebas lagi sejak deket sama loe.” aku berusaha mengucapkan kata-kata itu dengan sangat sopan.

    Tapi tak urung Dodi tersentak kaget. “Gak nyaman gimana maksud kamu, Lin?”

    “Ya, belakangan loe udah berani ngatur-ngatur gue, ngatur cara berpakaian gue, ngatur dengan siapa gue
    bisa berteman, ya gitu deh. Buat gue itu udah bikin gue gak nyaman.” jawabku dengan suara yang kucoba
    sedatar mungkin.

    “Lho… wajar donk, namanya juga orang pacaran…“

    “Nah, itu dia masalahnya,“ tukasku memotong ucapannya. “Loe terlalu gegabah menganggap kita pacaran.
    Sementara gue cuma menganggap loe sebagai teman dekat gue. Gak lebih gak kurang, Dod.”

    Dodi tampak terkaget-kaget mendengar ucapanku. “Cuma teman? Trus, gimana dengan hubungan kita selama
    ini…” tanya Dodi seperti tidak bisa menerima ucapanku.

    “Hubungan yang mana…” tanyaku belaga bego.

    “Ya hubungan kita. Ciuman-ciuman kita… trus … yang di bioskop…”

    Aku tersenyum geli melihat Dodi mencak-mencak begitu. “Dod, ciuman sama loe emang nyaman buat gue.
    Apalagi kejadian yang di Bioskop. Jilatan loe emang bener-bener hebat. Gue sampe menggelapar waktu itu,
    Dod. Tapi itu kan gak berarti lantas gue jadi pacar loe? Itu kan hubungan sama-sama enak. Memek gue enak
    loe jilatin, loe juga dapet rejeki bebas jilatin memek gue. Kurang apa, Dod? Cukuplah hubungan kita
    sebatas itu aja. Jangan berharap lebih lagi. Soalnya menurut gue itu udah lebih banget. Coba… sampe
    memek gue aja gue kasih, kurang gimana lagi hayo?!”

    Dodi tampak geram mendengar ucapanku. Lalu dengan suara berat dia lanjut bertanya. “Jadi… bukan cuma aku
    yang kamu kasih jilatin memek kamu?”

    Aku menatap tajam matanya mendengan ucapannya yang menurutku cukup kurang ajar. “Itu urusan gue. Loe gak
    perlu tau!” ujarku ketus sambil tetap menatap matanya dengan tajam.

    “Hah, gak nyangka, Lin. Kamu gak beda sama perek-perek di jalan. Percuma kamu pake jilbab. Mending
    telanjang aja kamu!” Dodi memakiku sambil bangkit dan beranjak meninggalkan aku sendiri di rumah makan
    itu.

    Aku cukup sakit hati mendengar ucapannya. Laki-laki! Waktu dia berusaha menelanjangi tubuhku apa pernah
    dia berpikir seperti itu. Saat sudah gak dapet memek lagi, langsung pandangannya berubah. Dasar!

    Malam itu aku pulang sendiri. Hatiku gundah, sedih, sakit… Belum pernah aku dihina seperti ini. Mantan-
    mantanku dulu tak pernah menyakitiku seperti ini.
    Besoknya aku tidak melihat Dodi di kantor. Besoknya lagi juga tidak. Hari ketiga dia muncul menghadap
    HRD dan mengajukan pengunduran dirinya. Lalu dia pergi tanpa berpamitan denganku.

    Meski begitu, tetap saja rasa sakit hatiku belum bisa hilang. Jika kuingat lagi ucapannya di restoran
    malam itu, hatiku benar-benar seperti di sayat-sayat. Untunglah beberapa hari kemudian ada karyawan baru
    yang ganteng dan bertubuh atletis. Tidak membutuhkan waktu lama, aku sudah akrab dengan Torik, karyawan
    baru tersebut.

    Sudah 2 hari berturut-turut kami makan siang bersama. Bukan itu saja, sudah 2 hari berturut-turut pula
    aku diantar pulang dengan mobilnya. Di hari ke 3, bertepatan dengan akhir pekan, Torik mengajakku
    jalan-jalan dulu sebelum pulang. Aku setuju saja. Bagaimana mungkin aku menolak ajakan cowok ganteng
    seperti Torik. Apalagi badannya juga bagus sekali, terutama bagian bokongnya yang terlihat begitu
    kencang.

    Ternyata Torik membawa mobilnya menuju Ancol. Ah… Ancol. Teringat aku pada pengalaman pertamaku ngisep
    kontol. Di ancol inilah pertama kali aku belajar ngisep kontol pacarku waktu kuliah dulu.

    Torik memarkir mobilnya di tempat sepi. Sama seperti kejadian dengan pacarku dulu. Membayangkan hal itu
    aku sudah panas dingin duluan. Torik memarkir mobil tanpa mematikan mesinnya. Lalu tanpa ba bi bu dia
    langsung mencium bibirku. Ah… sudah nafsu rupanya. Aku tidak mau tinggal diam, kuladeni ciumannya dengan
    menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Ugh… cepat sekali birahiku naik.

    Kupeluk erat tubuh Torik sambil kubisikkan kata-kata… “Sayang, pindah ke belakang aja yuk…”

    Torik tersenyum penuh semangat mendengar ajakanku. Tak menunggu lebih lama lagi kami langsung pindah ke
    kursi belakang. Begitu sampai di belakang Torik langsung membuka jilbabku. Kemudian diserangnya leherku
    yang jenjang dengan jilatan-jilatannya yang membuat aku menggelinjang birahi.

    Tangannya tak tinggal diam, satu-persatu kancing kemejaku di preteli. Kemudian di lepaskannya kemejaku
    dan dilemparkan ke lantai mobil. Setelah itu lidahnya langsung pindah menuju bukit dadaku yang hampir
    melompat keluar dari BH ku. Tidak puas menjilati bukit dadaku, Torik membuka kait BH- ku dan
    merenggutnya hingga lepas dan terbang entah kemana. Setelah itu lidahnyapun mendarat di puting susuku
    yang sudah tegak mencuat dan keras.

    Aku terhenyak nikmat merasakan sedotan bibirnya pada putting susuku. Aaaaaagh… aku kangeeeennnn sama
    beginian…

    Aku di dorong hingga terlentang di jok mobilnya. Kemudian jilatannya bergeser menuju perutku. Terus
    turun lagi sampai perut bagian bawah… Oghhh… aku tidak tahan. Pasti memekku sudah banjir.

    Dengan penuh nafsu Torik membuka resleting celana panjangku, lalu menarik lepas celana berikut celana
    dalamku. Dan bugil lah aku. Kemudian Torik bangkit duduk untuk membuka seluruh pakaiannya. Dan
    wooooowww… kontolnya… Besaaaarrr…!

    Memekku sampai berdenyut-denyut melihat kontol Torik yang mengangguk-angguk seolah memanggilku untuk
    menghisapnya. Dengan tidak sabar Torik melebarkan kakiku sampai terpentang ngangkang. Kemudian dia
    menindih tubuhku. Sepertinya nafsunya sudah sampai di ubun-ubun. Gerakannya begitu bersemangat.

    Kurasakan kontolnya mulai berusaha menerobos lubang memekku. Oh Gawat ! “Sayang, jangan dimasukin! Aku
    masih perawan!”Cerita Sex Dewasa

    Tapi sepertinya Torik tidak perduli. Dia mencium bibirku dengan ganas, dan kontolnya terus berusaha
    menyodok lubang memekku. “Jangan… oghhh… jangan….. digesek-gesek di luar aja….” erangku antara menolak
    dan ingin.

    Sodokan kepala kontolnya benar-benar nikmat. Aku hampir tidak kuasa lagi untuk menolak kenikmatan ini.
    Ditengah kebimbangan antara takut kehilangan perawan dan rasa nikmat yang luar biasa, tiba-tiba…

    Creeet… Creeeet… Creeeet… Terasa memekku disiram dengan semburan-semburan hangat dari kontolnya. Aaaah…
    rupanya Torik begitu bernafsu sampai-sampai sudah keluar sebelum tiba di tujuan. Syukurlah… perawanku
    selamat.

    Cepat kudorong tubuh Torik yang sudah lemas, kemudian segera kubersihkan air mani Torik dengan tissue
    yang sudah tersedia di mobilnya. Buru-buru kupakai celanaku. Soalnya aku tidak yakin bisa menolak jika
    nanti Torik minta lagi. Segera aku pindah ke kursi depan menunggu Torik selesai berpakaian. Aku mengajak
    Torik segera pulang.

    ***

    # Hampir Saja Perawanku Hilang

    “Terima kasih ya, pak.” ujarku mengakhiri percakapanku di telepon dengan seorang Manager Hotel di
    kawasan Sudirman. Karena seringnya perusahaan kami memesan kamar hotel untuk klien-klien kami dan selama
    ini aku yang selalu berhubungan dengan pihak Hotel, maka pihak Hotel memberi hadiah berupa beberapa
    lembar voucher untuk menginap gratis di kamar Superior mereka. Lumayan…

    Ah… memekku langsung berdenyut saat membayangkan akan mengajak Torik untuk menggunakan voucher ini.
    Terbayang Kontol besar Torik saat kami bercumbu di ancol beberapa hari lalu. Apalagi aku belum sempat
    merasakan kontol besarnya secara utuh. Ugh… menbayangkan itu saja aku sudah tidak sabar ingin ngisep
    kontolnya.

    Seperti dugaanku Torik sangat bersemangat saat hal itu kusampaikan padanya ketika kami makan siang. “Ya
    udah ntar malem aja, Lin.” ucap Torik dengan penuh semangat. Aku tersenyum pengen melihat semangatnya
    itu.

    “Besok aja deh, malem ini gue musti ke rumah tante gue.”

    “Yaah… kelamaan nunggunya, Lin. Udah pengen nih.” ujar Torik dengan wajah kecewa. Aku tertawa melihatnya
    begitu.

    “Sabaaar ah. Besok pagi jemput gue ke tempat kost ya. Kan musti bawa baju ganti.”

    “Sip. Pagi-pagi gue jemput.” jawab Torik girang.

    “Tapi janji dulu.” ucapku membuat Torik memandangku heran.

    “Janji apa?” tanya Torik.

    “Jangan dimasukin. Gue masih perawan.”

    “Iyaaa.. jangan kuatir.” jawab Torik sambil kembali menyeruput kopinya.

    ***
    Pagi-pagi sekali Torik sudah menjemputku di tempat kost. Gila, semangat amat. Untung aku sudah
    menyiapkan pakaian ganti sejak tadi malam. Jadi bisa langsung berangkat.

    Hari ini sepertinya pekerjaan begitu membosankan, Aku sudah tidak sabar untuk segera menikmati kontol
    Torik di hotel nanti. Brengseknya hari ini justru aku banyak pekerjaan.

    Sudah pukul 8 malam lewat sedikit saat aku menyelasikan pekerjaanku. Saat aku sampai di lobby, kulihat
    Torik masih menunggu dengan wajah bosan. Kamipun segera bergegas menuju Sudirman.

    Di perjalanan sepertinya Torik sudah tidak sabar. Tubuhku dirangkul sampai tersandar di perutnya
    sementara tangannya terus saja meremas toketku dari balik punggungku.

    Aku tidak mau kalah, kuremas-remas kontolnya dari luar celana. Terasa sekali kontol itu sudah begitu
    tegangnya. Besaaar… keraaaas…

    Rupanya Torik benar-benar sudah tidak tahan. Dia membuka sendiri kait ikat pinggang dan menurunkan
    resleting celananya. Tampaklah kepala kontolnya yang sudah menyembul keluar dari celana dalamnya.

    Kusentuh kepala kontol itu dengan jari-jariku. Woow… lebar sekali. Kuturunkan celana dalamnya. Kontol
    besar itu sampai melompat bergoyang-goyang saat terbebas dari celana dalamnya. Gilaaa… gede bangeeet…
    Dengan gemas kugenggam batang kontolnya dengan kedua tanganku. Uuuh… sudah pakai dua tangan, tapi kepala
    kontolnya masih nongol. Panjaaaang…
    Hhh.. tak sadar aku mendesah. Bukan karena toketku yang terus diremas-remas oleh Torik. Tapi karena tak
    kuat membayangkan enaknya kontol besar begini.
    Kuremas-remas kontol besar itu. Kukocok dengan lembut. Lalu kuusap-usap kepala kontolnya dengan jari
    telunjuk dan jempolku. Tak lama terlihat cairan bening keluar dari lubang di ujung kontolnya. Bening…
    tapi kental. Kusapukan cairan itu ke seluruh permukaan kepala kontolnya.

    Kontan Torik tersentak dan mengerang “Aaaaaghhh…”

    Aku sudah tidak sabar ingin mengemut kontol ini. Tapi baru saja aku akan memasukkan kontol itu ke
    mulutku, Torik sudah menarik tubuhku untuk bangun.
    “Udah dulu sayang… kita udah sampe.”

    Aaah… tanggung bener sih… Segera kurapikan celana Torik dan akupun bangkit duduk dengan manis.

    Sesampai di kamar, Torik benar-benar seperti Tarzan yang mau perang. Begitu pintu di kunci, aku langsung
    direngkuhnya dengan ganas. Bibirku dicium dengan bernafsu sekali. Aku sampai gelagapan sulit bernapas.
    Jilbabku dibuka dengan terburu-buru. Lalu kembali aku diciumi sambil berdiri. Leherku dijilat-jilat dan
    digigit-gigit kecil.

    Lalu bajuku dibuka dengan kasar. Saking kasarnya sampai ada kancing yang copot terpental entah kemana.
    Bajuku dilemparkan begitu saja, dan tidak menunggu lama langsung tangannya menuju punggungku membuka
    kait BH. Kembali BH itu terlempar. Tidak seperti biasanya, Torik melewatkan Toketku yang sudah tegang.
    Tangannya langsung meraih kancing dan resleting celana panjangku. Celanaku dipelorotkan berikut dengan
    celana dalamnya. Oooh… aku langsung bugil dihadapannya.

    Kemudian Torik dengan terburu-buru melucuti seluruh pakaiannya sampai sama-sama bugil. Aku masih saja
    terbelalak menyaksikan kontolnya yang menakjuban itu. Tiba-tiba aku terkaget karena tubuhku digendong
    dan dibawa ke ranjang. Torik melempar tubuhku begitu saja ke atas ranjang. Owgh… kasar sekali. Tapi aku
    suka.

    Belum hilang kagetku, Torik sudah melompat menindih tubuhku dan langsung menyerang bibirku dengan ganas.
    Terasa kontol besarnya bergesekan dengan memekku. Oooghhh… enak sekali permainan kasar begini. Aku belum
    pernah dipelakukan seperti ini. Ternyata sensasinya sungguh beda. Lebih nikmat.

    Tiba-tiba Torik bangkit duduk. Kedua belah kakiku diangkat terlipat, sampai dengkulku menyentuh Toket.
    Aku benar-benar terkangkang dan memekku terekspos dengan bebas di hadapan Torik. Kemudian Torik mulai
    berusaha memasukkan kontolnya ke dalam memekku. Oh gawat! Torik pengen ngentot.

    “Jangan… Torik! Jangan…” aku benar-benar panik. Kugoyang-goyangkan pantatku menghidari kontolnya yang
    ingin menerobos ke dalam memekku. Tapi goyanganku justru membuat kontol itu seperti di gesek-gesek
    kebelahan memek. Dan rasanya luar biasa nikmat. Aku benar-benar dipersimpangan jalan. Kubiarkan kontol
    itu masuk dan kehilangan perawan, atau biarin aja. Enaaaaak…

    Torik terus berusaha memasukkan kontolnya. Aku semakin panik dan semakin bimbang. Pantatku masih terus
    kugoyang-goyangkan. Tapi sepertinya bukan lagi untuk menghindar, melainkan untuk mendapatkan rasa enak
    yang semakin menjalar.

    Akhirnya kepala kontol Torik mulai menemukan jalan masuk. Goyanganku justru membuat jalannya semakin
    terbuka. Ooohhhh… gawaaaaat…

    Mungkin karena merasa yakin sudah pasti masuk, Torik langsung merebahkan tubuhnya menindihku dan kembali
    menjilati leherku. Kesempatan itu tidak kusia-siakan, kugigit kupingnya dengan keras. Torik terpekik
    kesakitan dan tubuhnya merenggang. Langsung kudorong tubuh kekarnya sampai terguling ke samping. Dan
    lepaslah kontolnya dari memekku.Cerita Sex Dewasa

    Sebelum Torik marah, segera kudorong Torik sampai telentang, lalu cepat kutindih tubuhnya. Kucium
    bibirnya. Kususupkan lidahku ke dalam mulutnya. Untung, Torik tidak jadi marah. Dia membalas lilitan
    lidahku. Memekku tepat diatas kontolnya. Terasa batang kontol itu sampai membelah memekku. Kugesek-gesek
    memekku maju mundur mengejar nikmat batang kontolnya. Tiap kali Torik berusaha bergerak ingin
    menggulingkan tubuhku cepat aku mendekapnya erat sambil tetap menggesek-gesekkan kontolnya ke memekku.

    ”Owwwgggghhhh… nikmatnya…” memekku semakin basah membuat gesekan memekku di kontolnya semakin licin dan
    lancar. Terus kugesek sampai kepala kontolnya berkali-kali terasa menyundul klitorisku. Uuuuuaaaagghhh…
    enaaak bangeeeet…

    Cepat sekali birahiku menyerbu. Denyutan-denyutan terasa mendera memekku. Tubuhku kejang, dan
    ooooggggh…. Aku orgasme. Terasa ada yang menyembur-nyembur dari dalam memekku. Aku lemas. Sungguh
    rasanya tulangku copot semua. Kudekap erat tubuh Torik. Untung aku segera tersadar. Jika tidak cepat
    bertindak, pasti aku akan diperkosa lagi oleh Torik.

    Cepat aku meluncur ke bawah menuju kontolnya. Langsung kumasukkan kontol yang masih belepotan cairan
    cintaku itu ke dalam mulutku. Kusedot dengan kuat. Torik sampai teriak nikmat merasakan sedotanku. Lalu
    mulutku mulai naik turun mengocok kontol besarnya. Mulutku sampai terasa penuh menampung batang kontol
    besar panjang ini.

    Saat mulutku naik, kusedot kontolnya dengan kuat sampai kepala kontolnya hampir terlepas. Lalu
    kuturunkan lagi mulutku. Kuangkat lagi sambil kusedot kuat-kuat. Torik benar-benar kubikin sampai
    kelojotan dan mengerang-ngerang hebat.

    Saat mulutku mulai terasa pegal segera kuludahi kontol itu sampai basah kuyup, lalu ku kocok-kocok
    dengan tanganku. Begitu kontolnya kering, kulumat lagi kontolnya dengan mulutku sampai pegal. Kuulangi
    terus berkali-kali.

    Sedot…. kocok…. sedot…. kocok….

    Memekku sampai gatal lagi. Segera aku rubah posisi dari nungging menjadi telungkup. Memekku kugeser-
    geser menindih kakinya sampai terasa jempol kakinya menyentuh memekku.

    Langsung saja jempol kaki Torik kujadikan pemuas memekku sambil aku terus mengerjai kontolnya dengan
    mulutku. Uuuughhhh enak banget…. memekku terus kugesek-gesek ke kakinya, sementara mulutku terus
    bekerja. sedot… kocok… sedot… kocok…

    Gelombang orgasmeku kembali menyerbu. Kurapatkan pahaku sambil menjepit jempol kaki Torik. Kusedot
    kontolnya dengan kuat sambil menikmati gelombang orgasmeku. Sedotanku yang kuat membuat Torik tidak
    mampu bertahan lagi. Kontonya mendenyut-denyut dan… crooooot… crooot… crooot… air maninya menyembur ke
    dalam tenggorokanku.

    Aku sampai kaget merasakan kencangnya semburan dari kontol Torik. Air maninya begitu banyak sampai tidak
    tertampung dalam mulutku. Sebagian ku telan saja, tapi tidak bisa semuanya. Masih banyak yang melelh
    keluar dari bibirku dan mengalir ke dagu dan terus ke leherku. Aaaaah… segarrr… ngisep kontol memang
    benar-benar nikmat. Cepat kukenakan jas mandi yang sudah tersedia di kamar hotel mewah ini.

    “Rik, loe pulang aja deh sekarang.” ujarku pada Torik sambil aku mengumpulkan pakaian Torik dan
    kulemparkan ke arahnya.

    Torik menangkap pakaiannya dengan terkejut. “Lho, kok pulang? Kan kita mau nginep…“ tanyanya dengan
    bingung.

    “Siapa bilang kita mau nginep. Gue mau nginep sendiri. Bukan nginep bareng.” ucapku sambil berdiri dekat
    pintu, kuatir Torik menolak aku suruh pulang. Maksudku, jika dia menolak aku akan membuka pintu lebar-
    lebar hingga terlihat dia masih telanjang.

    Torik tampak kesal, tapi melihat wajahku yang serius akhirnya dia segera mengenakan pakaiannya dan
    mengangkut tasnya menuju ke arahku, “Gue gak ngerti sama sekali, Lin. Kenapa cepet sekali berubah…” ucap
    Torik dengan wajah kaku.

    Aku menghela nafas dan menatapnya lembut. “Sorry, Rik. Gue belom siap tidur bareng. Cuma itu aja. Cukup
    kayak gini aja. Terima kasih Rik. Tadi itu luar biasa enak. Tapi gue belum bisa lebih dari itu…” ucapku
    pelan. Aku benar-benar tidak yakin bisa bertahan jika Torik tetap menginap malam ini.

    Torik meletakkan tasnya di lantai dan berusaha menyentuh wajahku. Aku segera mundur sambil menarik pintu
    hingga terbuka lebar. Torik menghentikan gerakannya melihat sikapku seperti itu.

    “Tapi boleh gak gue jilat memek loe sebentar. Bentaaar… aja!” memekku langsung berdenyut mendengar
    permintaannya. Aku langsung bimbang.

    “Tapi disini aja ya. Jangan di kasur.” jawabku sambil beringsut sedikit berlindung dibalik pintu. Torik
    menyeringai girang merasa menang. Cepat dia berjongkok di depan memekku dan menyibakkan jas mandiku
    dimana aku tidak mengenakan apa-apa lagi di dalamnya.

    Torik langsung mencium memekku. Ooogh… aku tidak tahan. Kuangkat sebelah kakiku dan kutumpangkan di
    bahunya untuk semakin memudahkan serangan Torik.

    Lidahnya langsung menari-nari di celah memekku. Lidahnya menjilat dari bawah ke atas berulang-ulang.
    Uuuugh… nikmat luar biasa. Orgasmeku mulai mendekati. Aagggh… cepat sekali aku terangsang.

    Torik meneruskan serangannya dengan menyedot keras itilku sambil lidahnya menari-nari di seputar itilku.
    “Oooooggghhhh… iyaaaaah… itu enak bangeeeet..” Aku lupa bahwa pintu terbuka hingga tak sadar berteriak
    lumayan keras menikmati jilatan Torik.

    Akhirnya kedutan-kedutan nikmat itu muncul juga. Kutekan kepala Torik ke arah memekku dengan kuat. Aku
    kejang… dan… “Oooogghhhh… sayaaanggg… aaaaakh…” memekku berkedut kencang. Aku lemas. Cepat kuraih daun
    pintu menjaga agar aku tidak jatuh. Kudorong kepala Torik menjauhi memekku,

    “Udah.. udah… Rik! Udah…” ujarku sambil terus kudorong kepalanya.

    Torik bangkit lalu dia pergi tanpa pamit lagi. Segera kututup pintu dan kukunci. Lalu kubuka jas mandiku
    dan kuhempaskan tubuh telanjangku ke atas kasur empuk hotel ini.

    Aku terbaring telentang…. telanjang…. ngangkang….

    ***

    # Perjodohan Yang Nikmat

    Aku terbangun dengan tubuh agak menggigil kedinginan. Uuuh… pantas saja dingin. Aku masih telanjang
    bulat. Kuraih jam tanganku yang kuletakkan di meja samping tempat tidur. Ah, masih jam 2 pagi. Aku
    kembali meringkuk di balik selimut tebal kamar hotel.

    Sempat terpikir untuk mengenakan pakaian. Tapi rasanya malas sekali untuk beranjak dari kasur empuk ini.
    Akhirnya aku terus saja meringkuk sambil kuselipkan tanganku diselangkangan untuk mencari kehangatan.
    Namun rupanya hal itu malah menimbulkan getar-getar enak di seputar memekku.

    Aaaah… terbayang lagi bagaimana Torik menjilati memekku di depan pintu sebelum dia kuusir tadi. Gila,
    semalaman tadi sudah orgasme sampai dua kali. Sekali saat kugesek memekku ke kontolnya yang luar biasa
    besar itu, kemudian saat dia menjilati memekku habis-habisan sambil berdiri di balik pintu.

    Membayangkan hal itu menyebabkan memekku kembali basah. Kugosok-gosok permukaan memekku dengan tanganku
    yang masih kuselipkan di antara selangkangan. Aaaah… nikmat. Aku telentang sekarang. Kubentangkan kaki
    selebar mungkin, lalu kuraba-raba memekku. Kuusap-usap bulu-bulu memekku dengan halus, kemudian perlahan
    jariku bergerak kebawa sampai hampir menyentuh duburku. Kemudian dengan agak ditekan, kutarik jemariku
    menelusuri memekku dari bawah sampai ke itilku. Aaaaaah… enaaaak…

    Kugosok lagi memekku ke bawah, kemudian kutekan dan kutarik lagi ke atas sampai ke itilku. Sungguh
    nikmat. Kuulangi terus menerus sambil sebelah tanganku yang lain meremas dadaku sendiri. Puting toketku
    sudah sangat tegang berdiri mengacung dan keras. Kupelintir-pelintir putingku sambil sesekali kuremas
    dadaku kuat-kuat. Sementara di bawah sana jemariku terus bermain-main dengan lobang memekku yang sudah
    semakin licin.

    Kugoyang-goyangkan pinggulku dengan hebat sambil terus kugosok-gosok memekku mencari kenikmatan yang
    terus mendera. Jemariku berhenti sejenak di itilku. Kupermainkan daging kecil itu ke kiri dan ke kanan.
    Kucolek-colek, kupencet dengan dua jari. Oooooghhhh… nikmatnya…

    Kubayangkan lidah Torik menyentil-nyentil itilku. Nafsuku semakin menggelora. Ooooowgh…. pengen di
    jilaaaatttt… Sempat aku menyesal telah mengusir pulang Torik tadi malam. Seandainya tidak kuusir, pasti
    sekarang kontol besarnya sedang menggesek-gesek memekku. Oh, kontol itu… terbayang besarnya kontol
    Torik. Terbayang bagaimana kepala kontolnya yang sepert helm tentara itu masuk ke celah memekku dan
    menyundul-nyundul itilku.

    Terbayang batang kontolnya yang besar dan berurat menggesek-gesek celah memekku. Urat-uratnya begitu
    terasa seperti polisi tidur menggerus memekku.
    Aku semakin hebat bergoyang, menggosok-gosok memek, meremas toket sambil terus membayangkan kontol
    besar Torik. Dan… aaaaaaahhhhhkkkk… tubuhku kejang… seluruh urat di tubuhku menegang, memekku berkedut-
    kedut… seerrrrr… srrrr… denyutan-denyutan kencang menerpa bersamaan menyemburnya cairan cintaku
    membasahi relung-relung memekku. Aku terengah-engah lemas. Tubuhku bagai dihempaskan dari loteng. Aku
    telentang, kedua tanganku terentang ke kiri dan kekanan, kakiku mengangkang lebar seperti kaki kodok.
    Nikmaaat… dan akupun jatuh tertidur lagi…

    ***

    HP-ku berdering membangunku dari tidur nikmatku. Kuraih Hp itu dan kubaca nama pemanggilnya. Hhhh… tante
    Neni? Mau apa dia pagi-pagi begini?

    “Assalamualaikum… “ sapaku dengan suara serak akibat nyawa yang belom kumpul semua.

    “Waalaikum salaaam. Ya ampuuuun… Lin, jam segini belum bangun? Gimana sih, anak perawan kok males
    banget.” Tante Neni yang memang cerwet itu terus saja nyerocos ngomel. Aku hanya mendengarkan saja
    omelannya dengan malas-malasan. Pada intinya dia memintaku untuk bolos kerja hari ini dan harus sudah
    ada dirumahnya paling telat pukul 9 pagi. Aku lirik jam tanganku yang ada di meja. Jam 6. Buset, masih
    pagi bener, Pantes males banget bangun.

    “Pokoknya kamu pasti suka deh. Orangnya ganteng, bisnisnya juga udah mapan, dan yang pasti orang tuanya
    kaya. Kalo kamu bisa kawin sama dia, dijamin hiduo kamu gak bakalan susah.” semangat sekali tante Neni
    mempromosikan anak temannya yang akan dijodohkan denganku. Huh… Jaman gini, masih musim ya jodoh-jodohin
    orang.

    Tapi agar tidak mengecewakan tante Neni akupun menyanggupi untuk datang ke rumahnya dengan syarat tante
    Neni harus telpon adiknya yang jadi bossku sekarang ini.

    Selesai menutup telepon kembali kuhempaskan tubuh telanjangku ke ranjang. Lima menit kemudan barulah aku
    bangkit. Kusingkapkan selimut tebal yang menutupi tubuh telanjangku, kemudian aku beranjak ke jendela.
    Kubuka tirai yang menutupi dan Ups! silau sekali saat sinar mentari menyambar mataku yang masih ngantuk.

    Kubiarkan sinar mentari pagi meraba tubuhku. Kurentangkan tanganku tinggi-tinggi dan kunikmati hangatnya
    mentari pagi menyusuri seluruh tubuhku, wajahku, leherku, dadaku, perutku, memekku… lalu… Opss lagi!

    Ternyata tirai benar-benar terbuka, termasuk vitrage tipis yang biasanya menjadi pelapis kedua gorden.
    Artinya, tubuhku benar-benar ter-ekspos di depan kaca. dan pastinya akan terlihat dengan jelas dari luar
    sana. Kuperhatikan kondisi diuar. Ah, untung aku ada di lantai 5. Agak sulit orang di bawah sana melihat
    kemari. Paling-paling orang-orang di gedung sebelah yang sejajar dengan kamarku. Biarin deh…Cerita Sex Dewasa

    Setelah puas berjemur ringan, aku segera menuju kamar mandi. Mau mandi tentunya…

    ***

    Aku mampir sebentar ke tempat kost untuk meletakkan tas pakaianku, baru aku berangkat ke rumah tante
    Neni. Bisa bingung dia kalo aku datang kesana sambil bawa-bawa tas pakaian.

    Sekitar pukul 10 pagi teman tante Neni datang. Seorang ibu yang kira-kira seusia dengan tante Neni.
    Kelihatan dari dandanannya memang dia berasal dari keluarga berada. Tapi yang menarik perhatianku adalah
    cowok ganteng yang datang bersamanya. Gilaaa… ganteng banget. Putih, tinggi dan tubuhnya atletis.

    Celana jeans ketatnya memperlihatkan paha yang kuat dan bokong yang kencang. Selera gue banget deh, asli
    bikin ngences… Setelah basa-basi perkenalan yang membosankan, ibu si Dito, cowok ganteng itu menyarankan
    agar kami jalan-jalan dulu malam ini.

    Supaya tidak terlalu terlihat bahwa aku sudah mupeng, aku minta Dito menjemputku ke kantor besok sore
    saja. Semuanya setuju dengan usulku. Tante Neni terlihat senang sekali karena aku sepertinya menyambut
    perkenalan ini. Ya iya laaah… siapa sih yang bisa nolak cowok keren kayak gitu.

    ***

    Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Aku masih saja duduk di lobi kantor sambil membaca
    majalah yang baru saja kubeli saat makan siang tadi. Suasana kantor sudah sepi, hanya ada satpam dan
    beberapa karyawan yang memang akan kerja lembur.

    Malam ini aku menunggu Dito yang berjanji akan menjemputku pulang kantor sesuai kesepakatan kami
    kemarin. Tak lama tampak sebuah sedan memasuki pelataran parkir. Ah, itu pasti Dito. Aku segera bergegas
    menghampiri mobil tersebut dan langsung duduk di kursi depan. Dia berseri-seri melihatku mengenakan
    pakaian muslim ketat hingga dia bisa melihat lekuk liku bodyku yang proporsional dan langsung mengundang
    selera lelaki yang melihatnya.

    “Kamu laper gak, kita makan dulu yuk?” ujar Dito.

    “Terserah kamu deh, aku ikut aja.” jawabku sambil tersenyum.

    Tidak sampai 20 menit kami sudah memasuki kawasan Senayan, dimana banyak pedagang makanan di pinggir
    jalan berjejer dengan tenda-tenda semi permanen. Memang kantorku tidak jauh dari kawasan Senayan.

    Dito memilih parkir yang agak jauh dari keramaian dan cukup terlindung pepohonan hingga suasananya
    cenderung gelap. Didukung kaca mobilnya yang memang gelap, maka bisa dipastikan tidak ada orang yang
    dapat melihat ke dalam mobil. Aku tersenyum sendiri menyadari maksud Dito memilih tempat parkir yang
    sepi begini.

    Seorang pelayan berlari kecil menghampiri mobil. Dito membuka kaca mobilnya sambil bertanya padaku.
    “Kamu mau makan apa, Lin?”

    “Minum aja ah, aku belum laper.” jawabku.

    “Ya udah, aku juga minum dulu aja deh.” Dito segera meminta pelayan tersebut untuk membawakan 2 botol
    soft drink.

    Sepeninggal pelayan, kami lanjutkan obrolan-obrolan ringan kami. Setelah beberapa lama ngobrol, Dito
    menghadapkan tubuhnya ke arahku dan meletakkan tangannya di pahaku. Merinding aku merasakan gerak
    jemarinya di atas pahaku.

    Tiba-tiba kurasakan bibirnya sudah menyentuh dahiku, terus menyusur pipiku. Tubuhnya begeser merapat,
    bibirku dilumat dengan lembut. Kenikmatan menjalar hangat di sekujur tubuhku. Sensasi nikmat yang sudah
    kutunggu sedari tadi. Di tengah gelora nikmat yang melanda, tiba-tiba terdengar ketukan di kaca mobil.

    Kamipun terkejut dan segera melepaskan ciuman. Ternyata itu adalah pelayan yang datang membawa minuman
    pesanan mereka. Dito segera mengambil minuman tersebut dan menutup kaca mobilnya kembali. Sepertinya
    Dito sudah tidak perduli lagi dengan minuman yang dipesannya karena botol minuman itu langsung
    diletakkan begitu saja di lantai mobil.

    Selanjutnya tanpa dikomando kembali kami berpagutan. Kali ini ciuman Dito bukan lagi ciuman mesra, namun
    sudah berubah menjadi ciuman-ciuman panas.

    Sedang kunikmati lidahnya yang menjelajah di mulutku, kurasakan tangannya meremas lembut toketku yang
    masih terhalang baju muslim dan terbungkus BH. Ooooh… aku merasa sudah tidak kuat menahan gejolak
    nafasku, padahal baru awal pemanasan.

    Perlahan jemari Dito mulai menjalar ke arah perutku. Dan terus turun hingga pinggulku.Diremas-remasnya
    pinggulku dengan gemas sambil bibirnya terus menciumi bibirku. Desahanku semakin kuat apalagi saat
    kurasakan jemari Dito mulai membelai-belai pahaku yang masih tertutup celana panjang.

    “Kita pindah ke belakang yuk,” bisik Dito tiba-tiba. Aku hanya mengangguk pelan dan langsung beranjak
    mengikuti Dito pindah ke kursi belakang.

    Di kursi belakang Dito menerkamku dengan lebih ganas. ciumannya semakin gencar menyerang. Lidahnya
    menari-nari dirongga mulutku. Bibirnya meneruskan jelajahannya, sambil tangannya melepas satu persatu
    kancing baju muslimku. Maka tampaklah bulatan dadaku yang putih tertutup BH hitamku. Tangan Dito
    langsung meremas toketku dan menyelusup kebalik BH ku. Pentil toketku dipermainkan membuatku semakin
    menggelinjang. Kemudian tangannya menjalar kepunggungku dan melepas kaitan BH-ku hingga toketku terbebas
    dan semakin mudah untuk diremas.

    Lalu aku direbahkan hingga terbaring telentang di kursi belakang mobil ini. BH ku diangkat hingga kedua
    toketku benar-benar terhidang dengan bebas. Bibirnya langsung menelusur di permukaan kulitku.

    Dari mulai pentil kiriku tersentuh lidahnya dan dihisap. Terus pindah ke pentil kanan. Kadang-kadang
    seolah seluruh toketku akan dihisap. Dan tangan satunya mulai turun dan memainkan puserku, terasa geli
    tapi nikmat, nafsuku makin berkobar karena elusan tangannya. Kemudian tangannya turun lagi dan menjamah
    selangkanganku. Menyentuh memekku yang pasti sudah basah sekali.

    Lama hal itu dilakukannya sampai akhirnya dia kemudian membuka ristsluiting celanaku dan menarik
    celanaku ke bawah terus melewati kakik kemudian teonggok di lantai mobil. Tinggalah CD miniku yang
    tipis. Dibelainya celah memekku dengan perlahan. Sesekali jarinya menyentuh itilku. Ketika benda itu
    dielus pahaku otomatis mengangkang agar dia bisa mengakses daerah memekku dengan leluasa. Bergetar semua
    rasanya tubuhku, kemudian CD ku yang sudah basah itu dilepaskannya. Aku mengangkat pantatku agar dia
    bisa melepas pembungkus memekku dengan leluasa.

    Jadilah aku wanita muslimah berjilbab dengan baju bagian depan terbuka memperlihatkan toket besar
    menantang dan kaki mengangkang mempertontonkan memek telanjangku.

    Dito mengangkat kakiku hingga terpentang tinggi. Jarinya mulai sengaja memainkan itil-ku. Oh, nikmatnya…
    bibirnya terus bergantian menjilati pentil kiri dan kanan dan sesekali dihisap dan terus menjalar ke
    perutku. Dan akhirnya sampailah ke memekku. Kali ini diciumnya jembutku yang tipis dan aku rasakan bibir
    memekku dibuka dengan dua jari. Dan akhirnya kembali memekku dibuat mainan oleh bibirnya, kadang
    bibirnya dihisap, kadang itilku, namun yang membuat aku tak tahan adalah saat lidahnya masuk di antara
    kedua bibir memekku sambil menghisap itilku. Dia benar-benar mahir memainkan memekku.

    Hanya dalam beberapa menit aku benar-benar tak tahan. Dan.. Aku mengejang dan dengan sekuatnya aku
    berteriak sambil mengangkat pantatku supaya merapatkan itilku dengan mulutnya, kuremas-remas rambutnya.
    Dia terus mencumbu memekku, rasanya belum puas dia memainkan memekku hingga nafsuku bangkit kembali
    dengan cepat. Kubuka pahaku lebih lebar lagi untuk menggapai kenikmatan lebih dalam.

    Dito kemudian membuka celananya. Aku terkejut melihat kontolnya yang besar dan panjang nongol dari
    bagian atas CD-nya, gak kebayang ada kontol sebesar itu. Kemudian dia juga melepas CD-nya. Sementara itu
    aku dengan berdebar terbaring menunggu dengan semakin berharap. Kontolnya yang besar dan panjang dan
    sudah maksimal ngacengnya, tegak hampir menempel ke perut.

    Dan saat dia pelan-pelan menggesek-gesekan kontolnya di memekku, aku membuka pahaku makin lebar, rasanya
    tidak sabar memekku menunggu kontol extra gede itu. Aku pejamkan mata. Kurasakan bibir memekku mulai
    tersentuh ujung kontolnya. Sebentar diusap-usapkan dan pelan sekali mulai kurasakan bibir memekku
    terdesak menyamping. Ohh, benar-benar kurasakan penuh dan sesak liang memekku dimasuki kontolnya. Aku
    menahan nafas. Dan nikmat luar biasa. Gesekan demi gesekan kurasakan memenuhi memekku. Kepala kontol
    besar itu bergerak ke atas menyentuh klitorisku, turun lagi ke bawah berkali-kali.

    Aku mendesah tertahan karena rasa yang luar biasa nikmatnya. Terus.. Terus… Dan tangannya tak henti-
    henti meremas-remas toketku. Konsentrasi kenikmatanku tetap pada kontol besar yang terus saja di gesek-
    gesekan ke bagian dalam memekku. Aku benar benar cepat terbawa ke puncak nikmat tak berujung. Nafasku
    cepat sekali memburu, terengah-engah. Aku benar-benar merasakan nikmat luar biasa merasakan gerakan
    kontol besar itu. Maka hanya dalam waktu yang singkat aku makin tak tahan. Dan dia tahu bahwa aku
    semakin hanyut. Maka makin gencar remasan tangannya di toketku.

    Dengan kontolnya dipepetnya itil-ku sambil digoyang-goyangkan, aku menggelepar, tubuhku mengejang,
    tanganku mencengkeram kuat-kuat sekenanya. Memekku menegang, berdenyut dan mencengkeram kuat-kuat,
    benar-benar puncak kenikmatan yang tiada tara. Ohh, aku benar benar menerima kenikmatan yang luar biasa.
    Aku tak ingat apa-apa lagi kecuali kenikmatan dan kenikmatan.

    “Ditooooo… aku nyampeeeee…” Aku sendiri terkejut atas teriakkan kuatku.

    Setelah selesai, pelan pelan tubuhku lunglai, lemas. Setelah dua kali aku nyampe dalam waktu relatif
    singkat, namun terasa nyaman sekali. Kubuka mataku, Dia tersenyum dan menciumku lembut sekali, tak henti
    hentinya toketku diremas-remas pelan.

    Kemudian perlahan Dito bangkit dan jongkok di samping kepalaku. Ketika menengadah kulihat kontolnya
    telah berada persis di depanku. Kuremas kontolnya, lalu kuarahkan ke mulutku. Kukecup ujung kepala
    kontolnya. Tubuhnya bergetar menahan nikmat ketika aku menjilati kepala kontolnya. Dia makin menggeliat
    dan berdesis menahan kenikmatan permainan lidahku dan membuat mulutku semakin penuh.

    Kurasakan agak sulit ngisep kontol dengan posisi seperti ini. Aku segera bangkit duduk dan kuminta Dito
    gantian berbaring di kursi. Lalu aku yang gantian jongkok di lantai sambil menghadap kontolnya yang
    sudah tegak itu. Kusedot-sedot kontol besanya dengan semangat. ceritasexdewasa.org Kukeluarkan segala kemampuan ngisepku.
    Sesekali kujilati batang kontolnya dari bawah sampai ke kepala kontolnya. Lidahku menyusuri batang
    kontol yang putih bersih itu terus menerus. Sempat kujilati kedua biji pelernya. Bahan biki peler itu
    kumasukkan ke dalam mulutku sambil kuhisap bergantian. Hisap yang kiri, hisap yang kanan, lalu lidahku
    menjilati batangnya dari batas lubang pantatnya ke biji, ke pangkal batang, batang terus sampai ke
    kepala kontolnya. Kumasukkan kepala kontolnya ke mulutku sedikit, sambil lidahku berputar-putar
    menjilati kepala kontolnya. Lalu lidahku menjilati lubang kencingnya. Kubuka-buka lubang kencing itu
    dengan lidahku. Dito sampai terkejang-kejang saat lubang kencingnya kupermainkan.

    Lalu kumasukkan seluruh batang kontol itu ke mulutku. Huaaah… hampir sampai ke tenggorokan. Enak sekali
    ngisep kontol besar begini. Kunaik-turunkan mulutku di sepanjang kontolnya. lalu kubasahi kepala
    kontolnya dengan ludahku, kemudian kukocok-kocok dengan taganku. Lalu kumasukkan lagi ke dalam mulutku
    dan kuhisap-hisap dengan nikmat.

    Tiba-tiba tangannya meremas-remas pundakku dengan kuat. Kurasakan kontolnya semakin besar dan penuh
    dalam mulutku. Tubuhnya mengejang dan menggelepar, wajahnya menengadah. Satu tangannya mencengkeram
    kepalaku yang masih tertutup jilbab dan satunya meremas pundakku. Puncak kenikmatan diikuti semburan
    peju yang kuat di dalam mulutku, menyembur berulang kali.

    Oh, terasa banyak sekali peju kental dan hangat menyembur dan memenuhi mulutku, hangat sekali dan terasa
    sekali peju yang keluar seolah menyembur seperti air yang memancar kuat. Langsung kutelan semua cairan
    nikmat itu tanpa bersisa. Setelah selesai, dia memiringkan tubuhnya dan tangannya meraih wajahku hingga
    mendekati wajahnya. Tangannya meremas lembut toketku sambil mencium wajahku. Aku senang dengan
    perlakuannya terhadapku.

    Baca JUga Cerita Sex Pramugari

    “Lin, kamu luar biasa, memekmu licin, isepanmu nikmatnya bukan main.” Aku tersenyum bahagia mendengarnya
    sambil terus kugenggam kontolnya yang mulai mengecil.

    Dia memang sangat pandai memperlakukan wanita. Dia tidak langsung bangkit merapihkan pakaian, tapi malah
    mengajak mengobrol sembari kontolnya makin mengecil. Dan tak henti-hentinya dia menciumku, membelai
    wajahku dan paling suka membelai toketku. Setelah cukup mengobrol dan saling membelai, dia menciumku
    lembut sekali. Benar benar aku terbuai dengan perlakuannya.

    Hari-hari selanjutnya kejadian ini selalu kami ulangi dan ulangi lagi. Aku semakin suka dengan kontolnya
    yang besar dan panjang itu.

    ***

    # Mandi Bareng Yang Nikmat
    Sejak kuusir dari kamar Hotel beberapa waktu lalu, Torik semakin menjauhiku. Jika bukan untuk urusan
    kerja, dia tidak pernah lagi menegurku. Bahkan jika memungkinkan untuk urusan kerjapun dia hanya
    menitipkan dengan rekan kerjaku. Kecuali untuk pengambilan uang tunai yang memang harus menhadap aku
    secara langsung.

    Apalagi sejak dia mengetahui aku mulai sering jalan bareng Dito. Bisa dikatakan hubunganku dengan Torik
    usai sudah. Bagiku tidak menjadi masalah. Karena hubunganku dengan Dito jelas jauh lebih menjanjikan.

    Sejak aku resmi pacaran dengan Dito yang dideklarasikan saat air maninya menyembur di dalam mulutku di
    parkiran mobil Senayan beberapa hari lalu, gaya berpakaianku berubah total. Jika biasanya aku selalu
    mengenakan gaun muslim ketat dengan resleting di bagian punggung hingga bagian depan tubuhku benar-benar
    tercetak dengan jelas, kini aku selalu mengenakan busana dengan kancing-kancing yang banyak di bagian
    depan. Begitu juga dengan bagian bawahnya. Biasanya aku selalu mengenakan celana panjang, kini aku
    selalu mengenakan rok panjang.

    Hal itu kulakukan atas permintaan Dito. Dia lebih suka aku mengenakan rok dan busana muslim berkancing
    depan. Bagiku tidak masalah, toh semua pakaian itu Dito yang membelikan.

    Alasannya aku terlihat lebih anggun jika mengenakan busana seperti itu. Padahal aku tahu pasti alasan
    sebenarnya. Busana dengan kancing depan, tentunya supaya mudah dipreteli. Dan rok panjang, tentunya
    supaya mudah diangkat tanpa harus diplorotin seperti jika aku mengenakan celana panjang.

    Apalagi sekarang ini jika kami akan kencan di tempat parkir Senayan yang sudah menjadi lokasi tetap kami
    itu, Dito selalu meminta aku untuk tidak mengenakan BH dan celana dalam. Dia selalu memeriksa kondisi
    ini ketika menjemputku di kantor. Begitu aku duduk di mobilnya, dia langsung meraba toket dan memekku.
    Jika ternyata aku masih mengenakan pakaian dalam, pasti aku disuruh turun lagi untuk segera melepasnya
    di toilet kantor.

    Pernah usai kencan di mobil sampai dia ngecret di mulutku seperti biasanya, kami lanjut jalan-jalan ke
    Plaza Senayan. Padahal saat itu aku tidak mengenakan pakaian dalam karena Dito tidak mengijinkan aku
    mengenakannya. Jadilah aku jalan-jalan di sepanjang mall tanpa pakaian dalam. Selama jalan-jalan itu
    Dito tidak pernah lepas merangkul pinggangku sambil sesekali meremas pantatku yang telanjang di bagian
    dalamnya.

    Dengan Dito memang aku cenderung jadi penurut. Bukan hanya karena Dito begitu royal dalam memberi hadiah
    termasuk HP terbaru yang saat ini aku gunakan. Tapi mungkin karena aku sudah yakin bahwa Dito akan
    menikahiku mengingat hubungan ini memang diawali oleh niat kedua belah pihak keluarga untuk menjodohkan
    kami. Aku suah sering dibawa berkunjung ke rumahnya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya, atau hanya
    sekedar silaturahmi saja.

    Seperti hari ini, dimana aku menghabiskan hari mingguku di rumah orang tua Dito sejak jam 8 pagi tadi.
    Bahkan untuk datang ke rumah orang tua Dito kali ini aku tidak perlu janjian dengan Dito, dan tidak
    perlu di jemput. Aku bisa datang sendiri.Cerita Sex Dewasa

    Saat aku tiba dirumah orang tua dito di kawasan kemayoran, aku hanya diterima oleh ibunya. Sementara
    Dito sendiri masih tidur di kamarnya. Sebenarnya ibunda Dito mempersilahkan aku untuk membangunkan Dito
    di kamarnya. Tapi aku menolak karena rasa tidak enak dan tentunya jaga image sebagai calon menantu
    solehah, hahaha..

    Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, ternyata ibu dan ayah Dito harus pergi berbelanja beberapa keperluan.
    Aku sempat kecewa dan segera pamit pulang.
    Tapi mereka mencegah, malah menyuruhku untuk jangan pulang dulu sampai mereka kembali dari berbelanja
    nanti. Katanya aku harus bantu mereka merias beberapa kado untuk pernikahan sahabat mereka.

    “Emang belanjanya di mana, Bu?” tanyaku ingin tahu kira-kira berapa lama mereka meninggalkan rumah.

    “Pondok Indah. Soalnya waktu itu udah coba cari di Senen sama di Kelapa Gading gak ada. Temen ibu bilang
    sih di Pondok Indah ada. Ya udah, mending yang pasti-pasti ajalah,”

    Wah, kemayoran – pondok indah kan jauh. Berarti mereka bakalan lama banget baru pulang. Langsung pikiran
    jorokku melintas.

    “Ya udah, Lin, kita pergi dulu ya. Tolong jagain rumah ya, Lin, pintunya di kunci aja.” Aku hanya
    mengangguk. Pastilah pintunya akan aku kunci. Supaya kalau mereka kembali aku sempat pake baju dulu.

    Begitu mobil mereka hilang dari pandanganku, langsung kukunci pintu. Kemudian aku segera berjalan menuju
    kamar Dito. Kubuka pintu kamar Dito pelan-pelan karena tidak ingin membangunkan Dito.

    Di dalam kamar yang luas ini kulihat Dito tergeletak di kasurnya bertelanjang dada dengan selimut yang
    hanya menutupi pinggang ke bawah. Kututup pintu pelan-pelan, langsung kubuka seluruh pakaianku sampai
    aku telanjang bulat tanpa sehelai benangpun menutupi. Kemudian aku langsung rebah disamping Dito, dan
    kukecup bibir Dito lembut. Dito hanya menggeliat kecil saat kukecup bibirnya. Kembali bibirnya kukecup
    pelan sambil tanganku mengusap-usap perutnya.

    Perlahan Dito membuka matanya, dan terkejut melihat aku sudah berbaring bugil di sampingnya. “Eh, kamu
    kok telanjang di sini, nanti ketahuan ibu gimana?” sergah Dito sedikit panik.

    “Tenang aja. Semuanya pergi ke Pondok Indah. Rumah sepi kok. Cuma ada pembantu. Mereka gak akan ngadu
    kan?” jawabku sambil menindih tubuh Dito dan mengeser-geser putting dadaku ke dadanya.

    Dito tersenyum sambil merangkul tubuhku dan tangannya meremas pantatku. Kemudian aku digulingkan ke
    samping hingga aku terbaring telentang. Kemudian gantian Dito yang menindih tubuhku. Dia langsung
    menyerbu bibirku dengan penuh nafsu.

    “Iiih… jorok ah. Belom sikat gigi. Mandi dulu gih sana.” teriakku sambil meronta centil menghindari
    ciuman-ciumannya.

    “Mandiin…” rengek Dito manja.

    “Manja deh…” tapi aku tidak menolak.

    Kami segera bangkit dari tempat tidur. Aku keluar dari kamar Dito menuju kamar mandi sambil tetap dalam
    keadaan telanjang bulat. Aku yakin jika pembantu Dito melihatpun tidak akan berani bicara apa-apa pada
    keluarga Dito.

    Di dalam kamar mandi aku langsung menelanjangi Dito yang tinggal memakai celana pendek. Kutarik
    celananya sambil aku berjongkok di depannya. Kontolnya hampir menampar mukaku saat celana dalamnya
    kupeloroti. Terlihat kontolnya sudah mulai ngaceng walau belum terlalu keras. Arahnya masih tegak lurus
    menunjuk mukaku. Belum sampai tegak berdiri. Biasanya kalau sudah ngaceng maksimal, pasti kontolnya akan
    tegak ke atas. Bukan menunjuk ke mukaku seperti sekarang ini.

    Kugenggam pelan kontol Dito sambil kemudian kekocok-kocok pelan. Lalu kukecup ujung kepala kontolnya
    sambil aku bangkit berdiri. “Ayo, mandi dulu” bisikku seraya mengecup bibir Dito pelan.

    Dito segera berbalik menuju Washtafel dan mulai menggosok giginya. Selama Dito menggosok gigi, aku
    menempelkan tubuhku dari belakang. Kutekan-tekan dadaku ke punggungnya, sementara kedua tanganku
    bermain-main dengan kontol besarnya. Batang kontolnya kukocok-kocok pelan dan biji pelernya kuremas-
    remas lembut. Saat Dito membungkuk untuk berkumur, aku meremas biji pelernya dari belakang pantatnya.

    Selesai berkumur, Dito langsung mendekap tubuhku dan mengecup bibirku penuh nafsu. Lidah kami langsung
    saling membelit mengahdirkan rangsang-rangsang birahi yang menghanyutkan. Perlahan Dito mendorong
    tubuhku sampai dibawah shower. Sambil tetap berciuman tangan Dito membuka keran Shower.

    Aku sempat terkaget sedikit saat air mengguyur tubuhku. “Oooghh….” desahku sambil terus menikmati
    jilatan-jilatan Dito di leherku.

    Kontol Dito yang masih belum berdiri tegak terlipat ke bawah menyodok memekku. Kepala kontolnya
    menggerus-gerus memekku. Terasa sangat kencang karena kontol yang sedang berusaha bangkit berdiri itu
    tersangkut di belahan memekku. Tangan Dito meluncur dari punggungku terus turun sampai ke pantatku.
    Bongkahan pantatku diremasnya dengan gemas. Sambil terus menjilati leher dan pundakku, tangannya yang
    meremas pantatku terus turun sampai ke lobang pantatku. Jemarinya melewati lobang pantat dan menyentuh
    memekku. Aku tersentak dan otomatis memaju-mundurkan pinggulku.

    Kuangkat sebelah kakiku membelit kakinya hingga aku agak terkangkang. Akibatnya kepala kontol Dito
    semakin leluasa menyodok memekku. “Katanya mau mandiin aku…” bisik Dito ditelingaku sambil daun
    telingaku di kecup dan ditarik-tarik dengan bibirnya. Aku segera melapaskan pelukanku dan mengambil
    botol sabun cair dan menuangkannya ke kain busa yang sudah tersedia.

    Lalu kogosok tubuh Dito mulai dari dadanya, kemudian turun keperut bawahnya sampai hampir menyentuh
    batang kontolnya. Kemudian aku berputar ke balik tubuhnya dan mulai menyabuni punggung Dito. Aku merosot
    turun sampai berjongkok dan lama menyabuni pantat seksi Dito. Kugosok-gosok dan kuremas-remas pantatnya.
    Kemudian aku terus menyabuni paha belakangnya sampai ke betis dan mata kakinya. Lalu aku meminta Dito
    berbalik hingga kontolnya kembali menghadap wajahku. Kusabuni paha depan Dito dan bagian dalam paha di
    dekat biji pelernya.

    Aku tidak menyabuni kontolnya karena aku lebih tertarik menjilati kontol yang sudah tegang itu. Kukecup
    ujung kontol Dito, kuemut-emut kepala kontolnya. Lalu kuhisap kontol Dito kuat-kuat sambil mulutku maju.
    Kontol itu seolah tersedot ke dalam mulutku sampai pangkal batang kontolnya. Seluruh batang kontol Dito
    masuk sudah ke dalam mulutku. Lidahku berputar-putar menjelajahi seluruh batang kontolnya. Lalu kembali
    kusedot kuat sambil mulutku mundur sampai ke ujung kepala kontolnya. Begitu sampai di kepala kontol, aku
    menghisap lebih kuat lagi lalu kumundurkan mulutku sampai kontolnya terlepas. Kontol Dito sampai
    terpental dan plak! terdengar suara keras saat kontol itu terpental menyentuh perutnya. Kontolnya
    benar-benar sudah ngaceng penuh.

    Aku sedikit bangkit dan menunduk untuk mengambil kembali kontol Dito dengan mulutku, dan melanjutkan
    menghisap, menjilat dan mengulum kontol besar yang menggairahkan itu. Kukocok-kocok kontol Dito dengan
    tanganku yang belepotan sabun. Akibat banyaknya sabun di tanganku, kocokanku pada kontol Dito menjadi
    licin dan lancar. Kemudian kubiarkan air shower menghapus busa sabun di kontolnya dan kembali aku
    memasukkan kontol itu ke dalam mulutku, membuat Dito mengerang-ngerang hebat.

    Tiba-tiba Dito menggenggam bahuku dan memaksaku berdiri. Gantian sekarang dia yang menyabuni tubuhku.
    Padahal tadi pagi aku sudah mandi. Tapi mandi kali ini jauh lebih nikmat daripada mandiku tadi pagi.

    Dito menyabuni tubuhku dengan telaten. Apalagi saat sampai di bagian dadaku. Lama sekali tangannya
    berputar-putar di sekitar puting susuku. Kedua tangannya berputar-putar di kedua belah dadaku sambil
    meremas-remas. Kemudian putaran tangannya semakin mengerucut hingga menyentuh pentil toketku. Lalu
    pentil toketku di jepit dengan jari-jarinya dan dipilin-pilin kemudian ditarik-ditarik. Setelah itu
    kembali tangannya berputar-putar menjelajahi dadaku dan terus menjawil-jawil pentil toketku lagi.

    Aaaaaghhh… aku benar-benar menikmati permainan Dito. Nikmat sekali dikerjain sambil diguyur shower
    seperti ini. Dito meletakkan busa ke tempatnya di dinding kamar mandi dan kembali meremas dadaku sampai
    busa sabunnya benar-benar hilang tersapu air shower.

    Lalu gantian lidahnya yang menyerbu toketku. Pentil toketku di sedot dengan kuat sambil lidahnya terus
    menyentil-nyentil. Bergantian dada kiri dan kananku diserbu oleh Dito. Aku semakin bergelinjang nikmat.
    Pentil susuku sudah berdiri mengacung dengan tegak. Mulutku hanya mampu mendesis-desis tidak bisa
    berkata yang lain.Cerita Sex Dewasa

    Dito mulai menurunkan tubuhnya sambil lidahnya ikutan turun menjelajahi perutku. Tanpa mampir ke
    perutku, Dito terus turun dan langsung melahap memekku. Tidak perlu dikomando lagi langsung kuangkat
    sebelah kakiku. Telapak kakiku kuletakkan di bahu Dito. Posisiku saat ini benar-benar merangsang.
    Ngangkang lebar sekali.

    Dengan posisiku seperti itu lidah Dito menjadi leluasa untuk menjilati seluruh relung memekku. Lidahnya
    menjilat dari bawah ke atas berkali-kali.

    “Ooooohhhhh… Ditoooo… enaaaaak…” aku menggoyang-goyangkan pinggulku mencari kenikmatan. Dito terus saja
    menjilati memekku dari bawah keatas. Lalu tiba-tiba itilku disedot dengan kuat.

    “Aaaaaawww…” aku bukan lagi sekedar mendesah. Tapi aku menjerit sekuatnya. Sedotan Dito pada itilku
    benar-benar membuat aku tersentak-sentak nikmat. Sepinya rumah membuat aku merasa leluasa untuk
    menjerit-jert histeris.

    Kemudian sambil terus menjilati memekku, Dito membuka memekku dengan kedua belah tangannya. Memekku
    sampai merekah lebar. Lalu lidah Dito menerobos lebih ke dalam lagi lubang memekku.

    “Aaaawwwwhhhh… Dito… diapaiiin ituuu… enak bangeeeet…” aku semakin histeris merasakan lidah Dito yang
    menerobos ke dalam lubang memekku. Lidah itu tidak hanya menerobos, tapi berputar-putar menjilati
    dinding-dnding memek.

    Aku tidak mampu lagi bertahan. Gelombang orgasme menderu dengan derasnya. Aku berpegangan pada kepala
    Dito sambil kuremas rambutnya. Memekku kutekan kuat-kuat ke mulutnya mengiringi semburan-semburan nikmat
    dari dalam memekku. Aku kejang… tegang… lemas…

    Tak bisa ditahan lagi, tubuhku meluncur turun sampai aku terduduk di lantai dan bersandar lemah ke
    dinding kamar mandi. Dito membiarkan aku terduduk lemas dan melanjutkan mandinya. Kulihat perlahan
    kontol Dito mulai mengecil karena terguyur air dingin. Tapi tidak sampai kecil sekali. Kontolnya hanya
    mengecil sedikit sampai pada posisi menunjuk ke depan lagi. Setelah selesai mandi dia mematikan shower
    dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk.

    Setelah itu dia mengelap tubuhku dengan handuk. Mulai dari rambutku, wajahku, leher, kemudian dada,
    perut, memek dan kakiku dikeringkannya dengan handuk. Kemudian aku ditarik hingga duduk tegak agar dia
    mudah mengeringkan punggungku. Aku merasa tersanjung sekali dengan perlakuannya.

    Setelah selesai, aku digendong keluar kamar mandi dalam keadaan kami masih sama-sama telanjang bulat.
    Saat akan memasuki kamar Dito, kami berpapasan dengan salah seorang pembantu Dito yang langsung menjerit
    kaget melihat kontol Dito yang mengangguk-angguk. Pembantu itu langsung terbirit-birit ke dapur sambil
    menutup mukanya. Aku dan Dito hanya cekikikan menyaksikan peristiwa itu.

    Sesampai di kamar, Dito menutup pintu kamar dengan cara menendangnya. Kemudian aku direbahkan ke kasur
    dan langsung Dito menindih tubuhku. Bibirku kembali diciumi denga ganas, sementara kontolnya menggesek-
    gesek memekku.

    Kemudian tiba-tiba Dito bangkit berjongkok di depan memekku. Kedua belah kakiku diangkat sampai
    mengangkang lebar. Kemudian Dito mulai menggesek-gesek memekku dengan kontolnya.

    Aku langsung tegang menerima serangan seperti ini. Aku takut Dito memasukkan kontolnya ke dalam memekku.
    Tapi aku juga tidak ingin menyuruhnya berhenti.

    Rupanya Dito menyadari ketakutanku. Dia menunduk mengecup puting dada kananku kemudian memandangku
    sambil tersenyum. “Tenang, sayang… aku tahu kamu masih perawan. Aku cuma mau gesek-gesek aja kok. Kamu
    nikmatin aja ya. Gak usah tegang gitu.”

    Aku tenang mendengar janji Dito. Walaupun bisa saja Dito melanggar janjinya dan nekat menerobos masuk.
    Kembali Dito meletakkan kontolnya di belahan memekku. Kemudian kontol itu digerak-gerakkan ke atas dan
    ke bawah. Terkadang dengan bantuan tangannya kontol itu digetar-getarkan dengan kuat di lubang memekku.

    “Aaaaawwww… Dito… iyaaa… gitu, sayaaaang… enak bangeeet…” aku menjerit-jerit lagi. Dito terus memainkan
    kontolnya di memekku. Itilku disundul-sundul menggunakan kepala kontolnya.

    Gelombang nikmat kembali menderaku dengan hebat. Seluruh tubuhku menegang, pentil susuku mengacung
    keras, aku mengangkat pantatku tinggi menekan kontolnya lebih keras lagi. Dan… serrrr… srrrrrr… semburan
    nikmat terasa melanda dari dalam memekku dengan derasnya.

    Pantatku terus terangkat tinggi. Memekku menempel ketat pada kontolnya. Setelah itu aku terjerembab
    lemas terkangkang di kasur. Dito masih menindih tubuhku sebentar sambil menciumi wajahku. Setelah itu
    dia bangkit dan duduk bersandar di sebelahku. Kontolnya masih mengacung tegak dekat sekali dengan
    kepalaku.

    Aku berguling kepangkuannya dan langsung menghadap kontolnya. Kumasukkan kontol besar yang full ngaceng
    itu ke dalam mulutku. Kusedot-sedot, kukocok-kocok dengan mulutku. Lidahku menjilati batang kontolnya
    mulai dari biji pelernya, naik terus ke batang kontol sampai ke ujung kepala kontolnya. Lubang
    kencingnya kujilat-jilat dan kubuka-buka dengan ujung lidahku. Kumasukkan lagi seluruh batang kontol itu
    ke dalam mulutku. Mulutku kutekan sampai menyentuh pangkal kontolnya. Terasa ujung kontolnya hampir
    menyentuh kerongkonganku. Lidahku bermain-main di dalam sana. Lalu kutarik pelan mulutku sambil
    menghisap kontol Dito kuat-kuat.

    Kuturunkan lagi, kuhisap lagi sambil kutarik keluar, kuhisap lagi, lalu kukocok-kocok dengan mulutku
    berkali-kali dengan kecepatan sedang. Setelah itu kontolnya kukocok dengan tanganku setelah seluruh
    permukaan kontolnya kubasahi dengan ludahku. ceritasexdewasa.org Dito mengerang keras saat tanganku mengocok kontolnya.
    Sepertinya dia merasa lebih nikmat saat kukocok. Karena teriakannya lebih keras saat kontolnya kukocok
    dengan tangan dibandingkan saat kuhisap-hisap dengan mulutku.

    Menyadari itu aku lebih sering mengocok dengan tangan daripada menghisapnya dengan mulut. Paling-paling
    saat kontolnya agak kering, aku mengulumnya sejenak untuk membasahi kontonya lagi. Setelah itu kukocok
    lagi menggunakan tanganku dengan kecepatan tinggi.

    Cara ini membuahkan hasil. Dito sampai mendelik sambil mengerang keras. Kontolnya terasa mendenyut-
    denyut keras. Cepat-cepat kumasukkan lagi kontolnya ke dalam mulutku. Kusedot-sedot dengan kuat. Dan…
    Crooooooot… croooot…

    Terasa tidak kurang dari 6 kali semburan hangat menerpa mulutku. Kutelan semua air mani Dito. Tapi saat
    kontolnya kulepaskan dari mulutku, ternyata masih ada 2 kali semburan lagi yang langsung menerpa wajahku
    dan membasahi hidung dan bibirku. Aku sampai terkaget-kaget menerima semburan yang tiba-tiba itu.

    Setelah aku yakin semburannya sudah berhenti, kubersihkan kontol Dito dengan mulutku. Kemudian aku
    berguling telentang.

    Aaah… nikmat sekali…

    ***

    # Sebuah Pengakuan

    “Iya, sayaaang… isep terussss… isep yang kenceng…” teriak Dito di tengah sibuknya mulutku mengulum
    kontol besarnya. Kulepaskan kontol Dito dari mulutku lalu kukocok-kocok kontol itu dengan tanganku.

    “Aaaaaahh… iseeep lagiiii…” kurasakan kontol Dito semakin keras. Cepat kulahap lagi kontol Dito. Kuhisap
    kuat-kuat dan… crooottt… crooott… beberapa semburan hangat menerjang tenggorokanku.

    Kutelan semua air maninya, kemudian kubersihkan kontol Dito dengan cara menjilati sekujur batang
    kontolnya. Setelah kontolnya bersih, kurebahkan tubuh telanjangku di sebelah Dito.

    Hhh… sudah jam 9 malam. Capek juga. Sudah tiga kali Dito ngecret di mulutku sejak kami check-in sore
    tadi. Hotel dikawasan Sudirman ini lagi-lagi memberiku hadiah voucher menginap. Kali ini aku
    menikmatinya bersama Dito. Dan begitu kami masuk kamar kami langsung bertempur hebat dalam keadaan bugil
    total. Dan sampai saat ini kami belum berpakaian sama sekali. Termasuk saat makan malam tadi, tetap kami
    nikmati dalam keadaan bugil.

    Saat pelayan mengantarkan makanan, aku hanya menutupi tubuh telanjangku dengan selimut tebal sambil
    berbaring. Sementara Dito hanya melilitkan handuk menutupi kontolnya yang baru saja muncrat.

    Dito mengusap kepalaku lembut, kemudian mengecup bibirku pelan. Selanjutnya aku bergeser mendekat dan
    meletakkan kepalaku di bahunya. “Kamu pinter banget sih ngisep kontolnya, sayang…” ucap Dito sambil
    mengusap-usap bahuku. Aku diam saja tidak berkomentar. Hanya jemariku saja yang terus mengusap-usap dada
    bidangnya.

    “Emang kamu udah pengalaman ya ngisep kontol?” tanya Dito tiba-tiba. Aku agak tercekat mendengar
    pertanyaannya.

    “Nggak kok… kamu nuduh…” jawabku pelan dan hati-hati. Dito tetap mengusap-usap bahuku.

    “Kalo gak pengalaman, kok bisa jago gitu ngisepnya?”

    “Ya nggak tau… aku cuma ngikutin naluri aja.” jawabku berdalih. Tidak mungkin aku mengakui bahwa
    sebenarnya hampir semua mantan pacarku pasti pernah aku isap kontolnya.

    “Cerita donk, sayang… aku gak apa-apa kok kalo memang ternyata kamu udah pengalaman. Malah enak kan,
    punya pacar yang jago ngisep kontol.” Dito terus saja medesak dengan pertanyaannya.

    Aku bimbang. Haruskah aku jujur padanya? Bagaimana kalau nanti dia merasa jijik dan malah
    meninggalkanku. Tapi jika aku tidak jujur, bagaimana jika nanti dia tau dari orang lain? Apalagi jika
    kami sudah menikah nantinya, tiba-tiba ada mantan pacarku yang cerita. Pasti Dito akan marah besar. Aku
    benar-benar bingung.

    Dito terus saja membujukku dengan kata-kata yang lembut sambil terus mengusap-usap bahuku. Sampai
    akhirnya aku merasa Dito benar-benar sayang padaku dan mau menerimaku apa adanya.

    “Iya emang aku udah pernah sih ngisep kontol sebelum kamu…” ujarku pelan. Sangat pelan malah. Nyaris
    hanya berbisik. Aku menunggu reaksi Dito dengan takut. Dito meremas bahuku sejenak.

    “Nah, kan gitu enak. Gak apa-apa lagi. Gak usah malu-malu. Lagian kan berasa isepan yang udah pengalaman
    sama yang belom.” Aku tetap tidak berani menatap wajah Dito. Ada rasa malu yang hinggap ketika harus
    mengaku mengenai masa laluku.

    “Udah berapa kontol yang pernah kamu isep?” tanya Dito lagi tetap tanpa ekspresi yang berlebihan. Dia
    tetap dengan gaya tenangnya sambil mengusap-usap bahuku.

    “Iih… udah ah. Jangan bahas yang begituan.” aku menghindar dari pertanyaannya. Sulit bagiku untuk
    menjawab pertanyaan yang satu ini.

    “Gak apa-apa, sayang. Aku pengen tau aja. Gak akan ada pengaruhnya buat aku. Aku tetep sayang kamu kok.”
    terus saja Dito membujukku untuk mengaku.

    “Ya ampir semua mantan pacarku pernah aku isep.” jawabku akhirnya.

    “Kamu udah berapa kali pacaran sih?” taya Dito lagi.

    “Delapan kali, termasuk kamu.”

    “Semuanya pernah kamu isep?” kejar Dito. Sepertinya dia benar-benar penasaran ingin tahu yang
    sebenarnya.

    “Ya nggak lah. Gak semuanya aku isep.” sergahku. Kupererat pelukanku pada tubuh Dito untuk menutupi rasa
    khawatirku.

    “Jadi berapa kontol yang udah pernah kamu isep?” tanya Dito terus-menerus sampai akhirnya aku menyerah.

    “Lima, termasuk kamu.” jawabku hati-hati.

    “Wooow… dari 8 pacar, 5 orang kamu isep kontolnya? Hebat. Ternyata kamu bener-bener pengalaman soal
    kontol, sayang…” ujar Dito sambil mengangkat wajahku. Aku begitu malu untuk menatap wajahnya. Tapi
    melihat senyumnya, akhirnya aku menjadi lega. Dito tidak marah. Dia malah mencium bibirku dengan penuh
    nafsu.

    “Ngebayangin kamu ngisep kontol pacar-pacar kamu, aku jadi ngaceng lagi nih…” Mendengar ucapannya buru-
    buru kuraba selangkangannya. Oooh… memang benar. Kontolnya sudah keras lagi.

    “Ayo, sayang… puasin aku lagi. Keluarin semua ilmu ngisep kontol kamu, sayang…” pinta Dito sambil
    tersenyum penuh nafsu.Cerita Sex Dewasa

    “Beneran kamu pengen diisep?” tanyaku berbasa-basi.

    “Iya donk, sayang… percuma punya pacar jago ngisep kontol kalo gak mau di isep. Ayo, sayang, puasin
    aku.” Dito berkata begitu sambil mendorong kepalaku menuju kontolnya.

    Aku segera menggeser tubuhku turun dan menjilati perutnya. Tapi Dito terus saja mendorong kepalaku. “Gak
    usah mampir di perut. Langsung aja isep kontolnya.” aku mendengar nada yang agak aneh dan tidak
    biasanya. Tapi buru-buru kuhapus rasa aneh tersebut. Aku langsung merosot menuju kontolnya.

    Kugenggam kontol Dito yang sudah ngaceng penuh itu. Urat-urat di batang kontolnya sudah bertonjolan
    membuat kontol itu tampak begitu gagah. Kujilat pelan kepala kontolnya yang seperti helm tentara itu.
    Kuputar-putar lidahku di selebar kepala kontolnya. Kubuka-buka lubang kencingnya dengan ujung lidahku.
    Erangan Dito mulai terdengar agak keras.

    Aku tidak ingin buru-buru memasukkan kontol besar ini ke dalam mulutku. Kujelajahi dulu seluruh
    batangnya dengan lidahku. Mulai dari kedua bijinya, kujilati bergantian biji kiri dan kanan. Kemudian
    kumasukkan salah satu biji pelernya ke dalam mulutku. Kusedot pelan sambil lidahku bermain-main di
    seputar biji itu. Lalu kulakukan hal yang sama pada biji satunya lagi. Kumasukkan ke dalam mulut,
    kuhisap pelan dan kujilati seluruh permukaan bijinya. Lalu kutarik-tarik bulu-bulu di sekitar bijinya
    dengan bibirku.

    Kemudian lidahku menjilati dari biji naik ke atas menyusuri seluruh batang kontolnya. Kujilati dari
    bawah ke atas berulang-ulang sambil terus kugenggam kontol beras itu dengan tanganku.

    Selanjutnya kutekuk kontol Dito sedikit ke arah bawah, sehingga aku bisa menjilati perut bawah Dito.
    Kutarik-tarik lagi bulu-bulu di perut bagian bawah tepat diatas pangkal kontol dengan bibirku. Kemudian
    kuciumi permukaan kontolnya sampai ke ujung kepala kontolnya. Barulah setelah itu kumasukkan kepala
    kontolnya ke dalam mulutku.

    Kuisap-isap dan kupermainkan lidahku dipermukaan kepala kontolnya. Lalu kumasukkan seluruh batang
    kontolnya ke dalam mulutku. Memang terasa batang kontol Dito lebih besar dan lebih keras dari biasanya.
    Mungkin benar Dito menjadi lebih terangsang mendengar aku sudah banyak pengalaman soal kontol.

    Memikirkan itu aku jadi lebih bersemangat. Kugerakkan mulutku maju mundur mengocok kontolnya sambil
    lidahku terus menjilat-jilat. Kusedot-sedot kontolnya sampai hampir melejit keluar dari mulutku.

    Setelah mulutku agak pegal, kukocok kontol Dito dengan tanganku. Kukocok dengan kecepatan tinggi. Dito
    sampai berteriak saking enaknya. “Uaaaaaahhhhhh… enak banget, sayang….. terus, sayaaaanggg…”

    Semakin Dito berteriak, semakin semangat aku mengocok dan menghisap kontolnya. Sampai akhirnya kurasakan
    denyutan-denyutan kecil di kontol Dito. Menyadari bahwa Dito sebentar lagi akan ngecret, cepat kuhisap
    kontol Dito sekuat-kuatnya sambil batang kontolnya dibagian bawah kukocok-kocok dengan tanganku.

    Akhirnya sampai juga. Dito berteriak histeris menjemput ejakulasinya. Crooooooootttt…!!! semburannya
    begitu keras terasa menggempur dinding-dinding mulutku. Kuhisap terus, kusedot-sedot sambil aku menelan
    semua air mani yang ada. Kusedot-sedot terus sampai tidak ada lagi yang keluar dari kontolnya.

    Kusedot terus sampai kontol Dito melemas dan mulai mengecil. Terus saja kusedot-sedot sampai kontol itu
    benar-benar kecil dan lemas.

    Dito terkapar nikmat. Matanya terpejam sementara dadanya naik turun seiring dengan nafasnya yang ngos-
    ngosan. Aku berbaring disebelah Dito sambil mengangkang lebar menunggu serangan Dito selanjutnya. Tapi
    kutunggu-tunggu Dito tetap memejamkan matanya tak peduli dengan memekku yang sudah gatal ingin dijilati.

    Dengan tak sabar kutindih tubuh Dito lalu kukecup bibirnya. Tak ada reaksi, malah terdengar dengkur
    tipis Dito. Aahh… Dito tidur? Kok curang sih?

    Kuhempaskan lagi tubuhku ke kasur dengan sedikit kesal. Tapi setelah kupikir lagi, ya wajarlah Dito
    jatuh tertidur. Dia sudah 4 kali ngecret semalaman ini saja. Menyadari hal itu kukecup pipi Dito yang
    masih terlelap itu dengan penuh rasa sayang. Kemudian aku mencoba untuk tidur.

    ***

    # Dia Mulai Berubah

    Semenjak Dito tahu bahwa aku sudah biasa ngisep kontol-kontol para mantanku dulu, nafsunya seolah
    menjadi semakin liar. Jujur sebenarnya aku takut masa laluku yang cukup liar dalam berpacaran membuat
    hilangnya rasa sayang Dito padaku. Tapi melihat perkembangan hubungan kami setiap hari yang semakin
    panas, aku menjadi lebih tenang dan yakin bahwa perilaku liarku dimasa lalu tidak akan mempengaruhi
    hubungan kami.

    Namun meski Dito semakin liar padaku, terkadang aku menjadi agak risih dengan keinginannya yang semakin
    aneh-aneh. Belakangan ini Dito senang sekali memintaku telanjang meski di lokasi yang tidak terlalu
    aman.

    Seperti hari ini, seperti biasa Dito menjemputku ke kantor. Dan seperti biasa aku sudah siap tanpa
    celana dalam dan BH menghampiri mobilnya. Begitu aku duduk, Dito langsung meremas dada dan memekku
    sekedar men-check apakah aku mengenakan pakaian dalam atau tidak. Setelah yakin aku polos didalam, Dito
    tersenyum dan mengecup bibirku perlahan kemudian menjalankan mobilnya.

    Belum jauh mobil meninggalkan kantor, Dito memintaku untuk membuka rok panjangku. Aku sempat protes
    karena saat ini jalanan masih ramai. Baru jam enam sore lewat sedikit. Bahkan masih cukup terang. Tapi
    Dito tetap memaksa dengan alasan kaca mobilnya sangat gelap sehingga tidak akan terlihat dari luar.

    Dengan deg-degan aku melepas rok panjangku dan melemparnya ke kursi belakang. Kemudian cepat aku
    berusaha menutupi memekku dengan ujung kemeja walau dengan sangat susah payah. Karena sialnya hari ini
    aku mengenakan kemeja yang agak pendek, hingga aku harus menahan ujung kemeja itu dengan tangan agar
    tetap bisa menutupi memekku.

    Gawatnya Dito segera menepis tanganku. Akibatnya memekku terbuka dengan bebas karena kemejaku tak mampu
    menutupinya. Aku benar-benar malu saat itu. Rasanya semua mata di jalanan melihat bagian bawahku yang
    telanjang. Tapi belum sempat aku protes, Dito telah melebarkan pahaku hingga mengangkang dan langsung
    jemarinya menggosok-gosok memekku. Aku tak mampu lagi untuk protes. Aku hanya bisa menengadah merasakan
    getar nikmat akibat rabaan jemari Dito di memekku. Untunglah perlahan namun pasti matahari semakin
    tenggelam. Dengan demikian aku bisa lebih tenang menikmati serangan Dito di memekku.

    Dito begitu bersemangat mengubek-ngubek memekku. Bibir memekku di buka-buka dengan dua jarinya. Kemudian
    jarinya langsung menggosok itilku. Uuugh… nikmatnya. Aku terkapar tak berdaya sambil mengangkat-angkat
    pantatku mengejar jemarinya.

    Tiba-tiba Dito menjepit itilku dengan dua jari, kemudian memelintirnya bolak-balik. “Aaaaaaakhhh…
    Ditooooo… diapain sihhh, sayaaaang…”

    Dito tidak menjawab. Tatapannya tetap konsentrasi pada jalanan di depannya, sementara tangan kirinya
    terus mengerjai memekku tiada henti. Itilku di pelintir, digosok atas bawah, digosok kiri kanan,
    Kemudian jemarinya menggosok memekku dari bawah ke atas sampai menyentuh itilku. Lalu tiba-tiba
    tangannya menggosok bibir memekku dari kiri ke kanan dengan kecepatan tinggi.

    “Aoooooowwwwhhh…. Enaaaak bangeeettt…” Aku sudah hampir orgasme ketika tiba-tiba Dito menghentikan
    kegiatannya. Ah, rupanya kami sudah sampai di Senayan tempat biasa kami berkencan.

    Dito langsung memarkir mobilnya di tempat yang agak sepi. Begitu mengaktifkan rem tangan, Dito langsung
    menarik jilbabku sampai lepas dan serta merta mencium bibirku penuh nafsu. Bibirku disedot dengan ganas.
    Lidahnya langsung menari-nari dalam rongga mulutku. Nafsuku yang sempat tertunda langsung naik lagi.
    Apalagi tangan kanan Dito mulai lagi menari-nari di memekku.

    Sedang seru-serunya kami ciuman, tiba-tiba terdengar suara ketukan di jendela sebelah Dito. Dengan
    santai Dito melepas ciumannya kemudian membuka kaca jendela mobil tanpa perduli dengan keadaanku yang
    setengah telanjang.

    “Dito, tunggu…!”. Terlambat. Kaca mobil sudah terbuka dengan lebar. Aku hanya bisa menutupi memekku
    dengan telapak tangan. Aku yakin pelayan makanan itu pasti puas melihat paha mulusku yang terbuka sambil
    mendengarkan pesanan Dito.

    Sepeninggal pelayan, Dito menutup kembali kaca jendela mobil dan langsung merengkuh tubuhku lagi.
    Kurasakan ciumannya semakin ganas. Dan kali ini jemarinya dengan tangkas mempereteli kancing kemejaku.

    “Nanti aja Dito. Bentar lagi minumannya datang. Bisa repot kalo telanjang sekarang.” bisikku berusaha
    mencegah tangan Dito yang sedang menelanjangiku.
    “Buka kancingnya aja. Bajunya gak usah dulu.” jawab Dito sambil terus mempereteli kancing bajuku satu
    persatu sampai terlepas semuanya. Setelah itu kemejaku disibakkan ke kiri dan kanan hingga dadaku yang
    tanpa BH bebas merdeka.

    Dito langsung menciumku lagi sambil meremas dada kiriku. Aku risih dengan perlakuan Dito ini, tapi ada
    rasa nikmat yang lebih dari yang biasa kurasakan. Perlakuan Dito yang sedikit agak ’merendahkanku’ ini
    justru membuat nafsuku cepat sekali bangkit. Desahanku semakin keras seiring dengan remasan-remasan
    tangan Dito di dada kiriku.

    Dan benar saja…. kembali terdengar ketukan di kaca jendela. Pelayan warung sudah siap dengan 2 buah teh
    botol di tangannya. Lagi-lagi Dito langsung membuka kaca jendela tanpa menunggu aku selesai merapikan
    bajuku. Terlihat dari sudut mataku pelayan itu melotot menyaksikan memekku yang tidak sempat kututupi
    karena kemejaku hanya sempat menutupi dadaku saja. Sementara bagian bawahnya masih terbuka lebar.

    Dito segera menutup kembali kaca jendela setelah meletakkan teh botol kami di lantai. Lalu dengan cepat
    dia melepaskan kemejaku hingga aku bugil total. “Pindah ke belakang aja yuk…” bisikku di tengah
    serangan. Mendengar permintaanku, Dito menghentikan serangannya dan segera pindah ke belakang
    mendahuluiku. Aku mengikutinya dengan perasaan was-was takut dilihat orang karena tubuhku sudah bugil.

    Sesampai di belakang, Dito langsung menanggalkan seluruh pakaiannya hingga kami sama-sama bugil.
    Terlihat kontolnya sudah ngaceng sempurna. Dia memintaku untuk duduk dipangkuannya. Aku segera
    mengangkang dipangkuannya. Tak bisa dihindari, memekku bersentuhan dengan batang kontolnya. Aku
    merinding merasakan kontolnya menggesek belahan memekku. Kugoyang-goyangkan pantatku maju mundur
    menikmati gesekan kontolnya disepanjang belahan memek.

    Sementara Dito begitu lahapnya menciumi toketku. Toketku dihisap sekuat-kuatnya seperti ingin ditelan
    seluruhnya. Selanjutnya pentil susuku di sentil-sentil dengan lidahnya sebelum akhirnya di hisap dengan
    kuat. Erangan dan goyanganku semakin menjadi-jadi. Apalagi tangan Dito mulai meremas bongkahan pantatku
    dan membantuku memaju mundurkan pantat menggesek kontol Dito ke memekku.

    Lalu kurasakan jemari Dito menelusuri bawah pantatku dan bermain-main di pinggiran lobang pantatku.
    ”Oooooooowwgghhhh… gilaaaaaa… enaaaaaakkk…”

    Memekku banjir sudah. Kedutan-kedutannya semakin jelas terasa. Aku semakin menggila menggoyang-goyangkan
    pantatku dan menggesek-gesekkan memekku ke kontol besar Dito.

    Sampai akhirnya… ”Aaaaaakkhhhh…” aku berteriak kuat sambil memeluk kepala Dito kuat-kuat. Orgasmeku
    memancar dengan derasnya diiringi kedutan-kedutan dahsyat. Lebih sering dan lebih kuat dari biasanya.

    Gilaaaa… nikmat sekali. Aku lemas… aku tergolek kesamping, tersandar… Kemudian aku tersadar bahwa kontol
    Dito masih berdiri tegak menunggu giliran. Tanpa di komando lagi aku merosot ke bawah bersimpuh di depan
    kontol Dito.

    Kugenggam kontol besar yang penuh cetakan urat-urat menonjol itu. Kuusap-usap sambil meratakan cairan
    cintaku yang membasahi bawah kontolnya. Kukecup pelan ujung kontolnya, kujilati seluruh permukaan kepala
    kontol yang menjamur lebar itu. Kubuka-buka lubang kencingnya dengan lidahku. ceritasexdewasa.org Lalu kumasukkan seluruh
    batang kontolnya ke dalam mulutku. Kubiarkan sejenak batang kontol besar itu di dalam mulutku sambil
    lidahku bermain-main didalamnya. Baru kemudian kuangkat kepalaku perlahan sampai kontol itu terlepas
    dari mulutku.

    Kujilati kedua biji pelernya. Kutarik-tarik jembutnya dengan bibirku sambil tanganku menggenggam lembut
    batang kontolnya. Kumasukkan satu biji pelernya ke dalam mulutku, kuhisap pelan sambil lidahku terus
    menjilati. Setelah itu ganti biji satunya lagi kuperlakukan dengan sama.

    Kemudian kutelusuri seluruh batang kontolnya dengan lidahku sambil sesekali kugigit-gigit kecil kulit
    kontolnya. Sampai di kepala kontolnya lidahku bermain-main di bagian bawah topi helm kontol Dito.

    Seluruh permukaan bawah kepala kontolnya kujilati sambil lidahku berputar-putar disekitar kepala
    kontolnya. Baru kemudian kuhisap kuat-kuat kepala kontolnya. Dan mulailah kumaju-mundurkan kepalaku
    mengocok kontolnya dengan mulutku.

    Kubasahi seluruh permukaan batang kontol Dito dengan ludahku. Lalu kukocok-kocok kontolnya menggunakan
    tanganku dengan kecepatan tinggi. Pada saat tanganku sampai di kepala kontolnya, kuremas sejenak kepala
    kontol itu sebelum kembali aku mengocok dengan kencang.

    Tak sampai 5 menit aku isap dan kocok, kurasakan kontol Dito semakin membesar dan berdenyut-denyut.
    Kukocok semakin kuat. Dan saat Dito menegang, cepat-cepat kumasukkan kontolnya ke dalam mulutku sambil
    kuhisap dengan kuat. Dan… Crooooot… crooottt… 5 sampai 6 tembakan kurasakan mendera rongga mulutku.
    Kutelan semua air mani yang terpancar. Air kental asin yang sangat kusuka…

    Belum lagi aku istirahat, Dito meminta aku mengambil teh botol yang ada di lantai depan. Segera aku
    meraih bajuku untuk sekedar menutupi ketelanjanganku. Tapi Dito mencegah.

    “Gak usah pake baju dulu. Ambil aja tehnya dulu.” sergah Dito.

    “Kaca depannya gak terlalu gelap Dito. Nanti orang diluar bisa liat aku telanjang.” jawabku menjelaskan
    kenapa aku harus pake baju.

    “Udaaah… jangan banyak jawab. Ambil aja minumannya. Gak usah pake baju.” sergah Dito lagi agak keras.

    Aku sempat tersentak mendengar nada bicara Dito yang menurutku tidak seperti biasanya. Tidak lemah
    lembut, tapi agak sedikit membentak. Dengan menahan kecewa aku melangkah ke kursi depan dengan tubuh
    telanjang bulat. Kubungkukkan tubuhku agar tidak terlihat dari luar. Cepat-cepat kuambil teh botol dan
    segera kembali ke kursi belakang.

    Sesampai di belakang, kulihat Dito sedang membersihkan kontolnya menggunakan jilbabku. Aku kesal sekali
    melihat perbuatannya. Gak mungkin kan aku pulang dengan jilbab belepotan air mani begitu.

    “Kamu apa-apan sih? Itu kan jilbab. Kenapa gak pake Tissue?” bentakku sambil merebut jilbabku dari
    tangannya.

    “Lho… kenapa memangnya?” tanya Dito berlagak bodoh.

    “Kok kenapa sih? Nanti aku pulang gimana, masak pake jilbab belepotan mani gini?” aku benar-benar kesal
    jadinya.

    “Yang aku pake kan bagian dalemnya. Gak akan keliatan dari luar.” jawab Dito seenaknya.

    “Ya tetep aja ada baunya.” sergahku lagi.

    “Nggak lah… gak semua orang apal bau kontol. Kecuali yang udah sering ngisep kontol kayak kamu.”

    Seperti di tampar rasanya aku mendengar kata-kata Dito. Aku sedih sekali. “Kita pulang sekarang!” aku
    segera mengenakan semua pakaianku dan pindah duduk di bangku depan.

    Dito mengikuti setelah selesai berpakaian. Setelah membayar minuman, kami beranjak pulang. Disepanjang
    perjalanan kami hanya diam membisu. Aku benar-benar kecewa dengan ucapan Dito barusan.

    Sampai di kamar kostku aku menangis sejadi-jadinya… Sedih… perih… sakit…

    ***

    # Dinginnya Bandung

    Hampir seminggu aku mogok kencan dengan Dito. Bukan hanya mogok kencan, bahkan telepon dan smsnya pun
    tak mau kujawab. Aku benar-benar tersinggung atas kata-katanya padaku.

    Tapi Dito terus saja membujukku melalui sms-smsnya. Kata-kata maaf mengalir terus menerus membuatku
    goyah juga. Akhirnya aku setuju untuk dijemput seperti biasanya, dan kembali bercumbu di mobil seperti
    biasa. Dito menepati janjinya. Tidak sedikitpun dia menyinggung soal masa laluku yang sudah banyak
    mengenal bentuk kontol.

    Bahkan malam ini percumbuan kami begitu menggairahkan. Setelah kontolnya kuisap sampai ngecret di
    mulutku, Dito tidak langsung istirahat. Dia malah segera melahap memekku lagi dengan lidahnya. Padahal,
    sebelum kontolnya kuhisap tadi, dia sudah menjilati memekku sampai aku lemas.

    Cepat sekali birahiku mendera. Tubuh telanjangku menggeliat-geliat hebat di kursi belakang mobil Dito.
    Eranganku tak putus-putus menerima serangan lidah Dito yang terus saja menyeruak belahan memekku.

    Dito membuka memekku dengan kedua tangannya hingga lobang memekku menganga lebar. Aku terkangkang hebat
    menerima perlakuannya. Setelah itu lidahnya menerobos masuk ke dalam lobang yang menganga. Mengaduk-aduk
    dinding lobang yang telah banjir ini. Kemudian lidahnya bergerak dari bawah keatas berkali-kali sambil
    sesekali menyentuh klitorisku. Aku benar-benar terlempar-lempar merasakan nikmat yang tiada tara.Cerita Sex Dewasa

    Tiba-tiba kurasakan klitorisku dilumat dan disedot kuat-kuat. “Aaauuuuwwwwhhhhh…“ aku menjerit sejadi-
    jadinya. Dito bukannya berhenti mendengar teriakanku. Dia malah mengunyah itilku dengan bibirnya,
    membuatku terlonjak-lonjak di kursi.

    Aku benar-benar tak kuasa menahan kenikmatan ini. Tubuhku melengkung menyambut semburan dahsyat dari
    dalam tubuhku yang menyerbu menuju memekku. Kedutan-kedutan deras di memekku tak dapat kubendung lagi.
    Aku terus melengkung mengangkat pinggulku tinggi-tinggi sampai akhirnya aku terhempas ke kursi dengan
    tubuh lunglai… lemas… nikmat…

    Aku terpejam bersandar. Masih kurasakan belaian lembut Dito pada dadaku, kecupan ringan di puting
    susuku. Kubiarkan semuanya… aku benar-benar terhempas dalam kenikmatan…

    “Sayang… “ bisik Dito di telingaku sambil bibirnya melumat daun telingaku pelan.

    “Hmmmmm…” aku hanya menggumam menjawab panggilannya.

    “Besok ikut aku ke Bandung ya?” sambung Dito di telingaku.

    “Ke Bandung? Jam berapa?”

    “Pagi-pagi. Kita nginep semalem.” jelas Dito. Tangannya terus saja meremas-remas dadaku.

    “Besok kan aku masih kerja,” aku ragu-ragu antara kepengen dan bingung karena besok masih hari kerja.

    “Ya ijin aja lah. Besok telepon aja boss kamu dari jalan. Alesan apa kek…” bujuk Dito lagi.

    Akhirnya aku setuju dengan ajakannya. Di depan rumah kost-ku, kembali Dito mengingatkan akan menjemputku
    pagi-pagi sekali. Dan lagi-lagi dia minta aku tidak mengenakan pakaian dalam. Ah… masih aja dia begitu.
    Padahal, sekarang pun aku turun dari mobilnya tanpa pakaian dalam.

    ***

    Baru saja aku selesai Sholat subuh ketika kudengar suara mobil parkir di depan rumah kostku. Entah
    karena masih subuh dan sepi hingga suara mobilnya terdengar jelas, atau karena memang letak kamarku yang
    lokasinya paling depan. Yang jelas aku langsung keluar buka pintu dan mengajak Dito masuk kamarku sambil
    menunggu aku merapikan pakaian yang akan aku bawa.

    Selesai aku menyiapkan pakaian, aku segera menanggalkan pakaianku. Ganti baju. Soalnya aku masih
    mengenakan pakaian tidur. Baru saja aku akan mengenakan rokku, Dito cepat mencegah.

    “CD-nya buka donk. Ngapain pake CD? BH-nya juga.”

    Aku berusaha menolak, “Bandung kan dingin, Dit. Apalagi sekarang masih subuh…”

    “Nanti AC mobilnya aku kecilin. Bawa jaket aja.”

    Akhirnya aku menurut saja pada permintaan Dito. Segera kutanggalkan CD dan BH-ku. Lalu cepat kukenakan
    rok panjang dan kemeja serta jilbabku. Kalau kelamaan bisa-bisa aku diserbu. Bisa gak jadi ke bandung
    nanti.

    Di mobil, setelah menyalakan mesin, Dito masih sempat memelukku dan mencium bibirku. Dan tangannya
    langsung membuka kancing jaket serta kancing kemejaku. Kemudan di bentangkannya jaket dan kemeja itu
    hingga dada telanjangku terbuka. Setelah itu diangkatnya rok panjangku hingga memekku terlihat. Barulah
    setelah itu dia menjalankan mobilnya.

    Setelah masuk Tol, Dito memintaku untuk duduk menghadap dia. Aku bersandar ke pintu mobil memperlihatkan
    tubuh telanjangku yang dibungkus kemeja dan jaket yang terbuka. Sebelah kakiku kuangkat ke kursi, hingga
    praktis aku terkangkang menampakkan memekku dengan jelas.

    Sepenjang perjalanan tak henti jemarinya bermain-main di dada dan memekku bergantian. Berkali-kali dia
    mencubit dan menarik-narik itilku, membuat aku benar-benar banjir.

    Sesampai di tempat parkir Hotel, tak kurang sudah 3 kali aku orgasme. Begitu masuk kamar, aku langsung
    menggila. Kupereteli semua pakaian Dito sampai dia bugil. Kudorong tubuhnya sapai terhempas telentang di
    kasur. Tidak menunggu lama lagi, kuisap habis kontolnya yang sudah ngaceng. Aku benar-benar tidak tahan
    menunggu dari subuh tadi. Kulumat kontolnya dengan ganas. Kujilat-jilat kepalanya, kubuka-buka lobang
    kencing dengan lidahku. Kujilati seluruh permukaan batangnya dari bawah ke atas seperti menjilati es
    lilin. Aku benar-benar menggila dan liar.

    Kumasukkan kontol besar itu ke dalam mulutku. Kusedot-sedot dengan kuat. Bukan hanya kukulum, tapi
    benar-benar kusedot. Lalu kukocok-kocok dengan tanganku kuat-kuat. Aku bagaikan cewek yang sudah setahun
    gak ketemu kontol. Aku sendiri heran kenapa bisa begini. Aku begitu lapar akan kontol Dito yang besar.

    Sepertinya Dito pun sudah kewalahan dengan keliaranku. Kurasakan kontolnya semakin keras dan berdenyut-
    denyut. Cepat kuhisap dan kusedot lagi kontolnya. Benar saja… tak lama, croooot… crooott… semburan
    hangatnya menerpa mulutku. Kutelan semua sambil aku terus menyedot kuat kontolnya.

    Sebelum kontol Dito mengecil, cepat kutindih tubuh Dito dan kugesek-gesek kontol yang hampir lemas itu
    ke memekku. Ingin kuraih lagi kenikmatan yang mulai menghampiriku. Tapi Dito menolak…

    “Udah dulu, sayang… aku harus ketemu orang pagi ini.” ujar Dito sambil bangkit dari ranjang dan bergegas
    ke kamar mandi.

    Aku terhempas kecewa. Tapi kupikir, sudahlah. Dito kesini karena ada kerjaan. Aku tidak boleh egois.
    Segera aku bangkit menyiapkan pakaian Dito. Sebelum pergi, ia meninggalkan uang tunai 1 juta. Katanya
    untuk aku belanja-belanja di Factory Outlet yang banyak bertebaran di Bandung. Apalagi kami menginap di
    kawasan Dago yang banyak sekali FO nya.

    Sepeninggal Dito, aku lanjutkan berbaring telanjang di kasur empuk hotel ini. Dan aku terlelap lelah.

    Aku terjaga sekitar pukul 1 siang lewat. Perutku lapar. Segera aku mandi dan berpakaian. Kutelusuri Dago
    dengan berjalan kaki. Kubelanjakan uang 1 juta dari Dito. Senang sekali rasanya dimanjakan seperti ini.

    Sekitar jam 4 sore, aku sudah telanjang lagi di hotel menunggu kedatangan Dito. Tapi sampai jam 9 malam,
    Dito tidak juga pulang. Akhirnya aku tertidur telanjang dibalik selimut.

    Di tengah lelapnya aku tertidur, kurasakan ada yang bermain-main dengan memekku. Kurasakan ada benda
    tumpul yang menggesek-gesek memekku. Saat kubuka mataku, kulihat Dito sedang berjongkok telanjang di
    depan selangkanganku sambil menggosok-gosokkan kontol ngacengnya ke belahan memekku. Aku langsung kejang
    merasakan nikmatnya. Dito terus menyodok-nyodokkan kontolnya sampai menyundul-nyundul itilku. Luar biasa
    nikmatnya. Seandainya Dito nekat memasukkan kontolnya ke dalam memekku, aku yakin aku tak mungkin mampu
    menolak.

    Pinggulku bergoyang-goyang mengikuti irama sodokan kontol Dito. Aku benar-benar tidak tahan lagi.
    Orgasmeku menyerbu dengan derasnya. Setelah aku terhenyak lemas, Dito duduk bersandar di sebalah
    kepalaku. Kontolnya berdiri tegak dengan gagahnya. Memandang kontol besar yang indah itu, aku segera
    berguling ke pangkuan Dito.

    Kini kepalaku menghadap langsung kontol ngaceng Dito yang sudah tegak dengan perkasa. Segera kugenggam
    kontol indah itu dengan kedua belah tanganku. Kukocok-kocok, lalu kujilat-jilat.

    Kuhisap dan kulumat kontolnya dengan penuh semangat. Kujilat-jilat kepalanya, kubuka-buka lobang kencing
    dengan lidahku. Kujilati seluruh permukaan batangnya dari bawah ke atas. Kukocok-kocok lagi dengan
    tanganku. Begitu terus, isap, kocok, isap, kocok…

    Akhirnya kontol di dalam mulutku ini mulai berdenyut-denyut lagi dan… croooot… kurasakan lagi semburan
    kerasnya.

    Dito telentang puas. Aku telentang nikmat…

    ***

    # Akhir Yang Menyakitkan

    Aku terbangun karena sinar matahari menerpa wajahku. Ternyata kain gorden penutup jendela terbuka dengan
    lebar. Kugeliatkan tubuh telanjangku menghapus sisa-sisa kantuk dari tidur nikmatku semalam.

    Aku menoleh kesamping. ”Lho, Dito mana?” aku tidur sendirian. Ah, mungkin dia di kamar mandi. Tapi
    kemudian mataku tertumbuk pada tumpukan uang 100 ribuan di meja kecil samping tempat tidur. Didekatnya
    ada secarik pesan. Kuambil pesan itu. Dari Dito…

    “Lin, sorry aku berangkat pagi-pagi. Kamu pulang duluan aja ke Jakarta. Gak usah nunggu aku. Aku udah
    tinggalin kamu duit 2 juta. Anggap aja tanda terima kasih karena udah kamu bikin enak semalam. See you,
    Dito.”

    Aku merasa kata-kata dalam surat ini agak kasar. Apakah Dito serius memberiku 2 juta sebagai tanda
    terima kasih? Bukan karena sayang? Atau Dito cuma bercanda. Ya semoga dia cuma bercanda.

    Berpikir seperti itu aku segera bangkit dari tempat tidur dan dengan santainya aku berdiri telanjang
    bulat sambil menggeliat meluruskan otot-ototku. Tapi oops! Ternyata jendela kamar benar-benar terbuka
    tanpa penutup kain vitrage sekalipun. Padahal kamar ini ada di lantai dasar dan jendelanya menghadap
    taman. Akibatnya beberapa tamu hotel yang sedang berjalan-jalan di taman tertegun menatap tubuh
    telanjangku yang sedang dalam pose menggairahkan. Telanjang, kedua tangan diangkat tinggi-tinggi, hingga
    dada dan memekku jelas terpampang.

    Gila! Dito benar-benar gila! Aku segera berlari menuju kamar mandi. Seusai mandi aku keluar kamar mandi
    dengan berbalut handuk. Perlahan aku melangkah menuju jendela. Kututup jendela dengan menarik tali di
    pinggirannya. Ah… aman.

    Barulah setelah itu aku berani melepas handuk penutup tubuhku dan segera berdandan. Aku harus checkout
    pagi ini juga dan langsung pulang ke Jakarta. Seharian aku berputar-putar di kota Bandung sendirian.
    Baru menjelang malam aku pulang ke Jakarta mengendarai mobil angkutan Cipaganti.

    ***

    Sesampai di kamar kostku di Jakarta, kuhempaskan tubuhku di kasur kamarku. Pikiranku menerawang. Aku
    memikirkan kejadian-kejadian yang kualami belakangan ini.

    Kuraih dompetku. Kukeluarkan sisa uang pemberian Dito. Menginap semalam bersama Dito aku mendapatkan 3
    juta. Tapi kenapa hati ini tidak bisa senang. Kenapa aku justru merasa terhina. Apalagi kata-kata Dito
    dalam pesan yang ditinggalkannya pagi tadi sungguh menyakitkan.

    Apa iya Dito hanya menganggapku perempuan bayaran? Ah, tapi tidak mungkin. Dengan 3 juta seharusnya Dito
    bisa dapat pelayanan penuh dari perempuan-perempuan malam yang siap memberikan kepuasan. Sedangkan
    dengan aku, Dito tidak bisa menikmati tubuhku sepenuhnya. Artinya, Dito tidak mungkin menganggapku sama
    dengan para perempuan malam itu.

    Lagipula, kami sudah sering membahas rencana pernikahan kami dengan kedua orang tua Dito. Bahkan seluruh
    keluarga sudah sepakat pernikahan akan dilangsungkan 4 bulan lagi.

    Tapi… tetap saja aku merasa tidak nyaman. Apalagi Dito seringkali seolah sengaja mempertontonkan tubuh
    telanjangku kepada orang lain. Di mobil, dan terakhir pagi tadi di Hotel setelah dengan sengaja membuka
    tirai Hotel lebar-lebar.
    Aku bingung… aku bimbang… akhirnya aku tertidur lelah…

    ***

    Pagi…
    Baru saja aku akan berangkat ke kantor ketika kudengar ketukan di pintu kamarku. Kubuka pitu dengan hati
    bertanya-tanya siapa yang sepagi ini mau bertamu ke kamarku.

    Saat kubuka pintu, kulihat Dito berdiri sambil tersenyum tipis. Sebelum sempat kusapa, Dito sudah
    mendorong tubuhku masuk kembali ke kamar. Kemudian Dito menutup pintu dan menguncinya sekaligus. Setelah
    itu tanpa berkata apa-apa dia mulai membuka seluruh pakaiannya sendiri.

    “Dit, mau ngapain? Nanti aku terlambat.” protesku. Aku agak tersinggung dengan kedatangannya yang tiba-
    tiba dan langsung buka pakaian di hadapanku tanpa basa-basi.

    “Biarin lah terlambat sedikit. Udah biasa kan?” jawab Dito santai sambil membuka celana dan celana
    dalamnya sekaligus. Aku ingin protes lagi, tapi mataku tertumbuk pada kontol besarnya yang sudah ngaceng
    dan berdiri tegak. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi saat Dito memeluk tubuhku dan mencium bibirku.

    Aku hanya pasrah saja saat Dito membuka jilbabku dan melemparkannya entah kemana. Aku semakin pasrah
    ketika lidah Dito menari-nari di telingaku sementara kurasakan kontol kerasnya mendesak-desak perutku.
    Kuremas rambut Dito sambil meresapi jilatannya di telinga dan leherku.

    Dito tidak hanya menjilat leherku, tapi menggigit-gigit kecil sambil dihisap kuat-kuat. Aku yakin
    gigitannya pasti meninggalkan bekas merah di leherku. Aku tidak perduli. Toh nanti akan tertutup
    jilbabku. Aku hanya peduli pada kenikmatan yang kurasakan saat ini.

    Setelah puas menggarap leherku, Dito berhenti sejenak sambil menatap tubuhku yang masih berpakaian
    lengkap. Kemudian tiba-tiba dengan agak kasar dan terburu-buru Dito melepas kancing-kancing bajuku dan
    merenggutnya dengan keras untuk kemudian melemparkannya begitu saja. Lalu tangannya bergerak ke
    punggungku membuka kait BH ku. Lagi-lagi Dito merenggut BH ku dengan agak kasar dan melemparkannya.

    Sejenak dipandanginya dada telanjangku. Lalu diremasnya dengan kedua tangannya. Oooh… kasar sekali. Tapi
    rasanya justru aku menyukainya. Remasan kasar Dito pada dadaku berhenti saat Dito meluncur turun
    berjongkok di hadapanku.

    Tangannya dengan lincah membuka celana sekaligus celana dalamku dalam satu tarikan. Dan bugil lah aku…
    Di kecupnya memekku dan dijilat dari bawah keatas. Uuughhh… aku berdiri dengan gemetar merasakan jilatan
    Dito pada memekku.

    Disaat aku sedang menikmati jilatannya, tiba-tiba Dito menghentikan kegiatannya. Dia bangkit berdiri
    dihadapanku lalu tanpa persiapan sama sekali aku di dorong keras hingga terpental ke kasur.

    Aku kaget dengan perlakuan kasar Dito ini. Tapi belum sempat aku berkata apa-apa, Dito sudah menerkam
    menindih tubuhku. Ciumannya begitu ganas. Lidahnya menerobos membelit-belit lidahku. Pinggulnya
    bergerak-gerak menekan kontolnya di atas memekku.Cerita Sex Dewasa

    Aku benar-benar terhanyut dengan permainan kasar ini. Sensasi dari ketidak berdayaan seolah akan
    diperkosa ini justru menambah nikmat cumbuan-cumbuan yang kurasakan.

    Jilatan Dito mulai turun ke dadaku. Mulutnya melahap dada kiriku dengan penuh nafsu seolah ia ingin
    memasukkan seluruh daging dadaku itu ke dalam mulutnya.

    “Ooooh… Dit… kamu tambah hebat, sayang…” aku semakin meracau tidak karuan dengan perlakuannya ini.
    Ditambah lagi sementara mulutnya melahap sambil menjilati puting dada kiriku, tangan kirinya meremas
    kuat dada kananku sambil jemarinya memilin-milih puting susu kananku dengan cepat dan berulang-ulang.

    Aku tak tahan menghadapi serang Dito kali ini. Belum-belum memekku banjir sudah. Kugoyang-goyangkan
    pinggulku mengejar kontolnya yang terus saja menggesek permukaan memekku.

    Dito merosot ke bawah. Tangannya menggenggam kedua pahaku dan di bentangkannya lebar-lebar. Lalu
    kepalanya merangsek selangkangku dengan tiba-tiba.

    “Aoooow! Oooooooohhh…!” Aku benar-benar dibuat menjerit. Lidah Dito langsung bermain menjilati lubang
    memekku. Dengan kecepatan lebih dari biasanya, Dito menjilati memekku dari bawah ke atas berulang-ulang.
    Lidahnya serasa menggaruk-garuk memekku yang memang sudah gatal sedari tadi.

    Lalu Dito melahap sebelah bibir memekku seperti sedang mencium bibirku. Di sedot-sedotnya bibir memekku
    sambil lidahnya menerobos masuk ke dalam lobang memekku dan menjilati dinding-dinding bagian dalam
    memekku. Ooowwwh… semoga selaput daraku tidak sampai pecah gara-gara lidah Dito yang bermain sampai ke
    dalam.

    Kemudian kembali Dito menjilati memekku dari bawah ke atas berulang-ulang, Lalu tiba-tiba mulutnya
    menangkap itilku dan menghisapnya kuat-kuat sambil giginya mengunyah perlahan membuat itilku seperti
    digiling.

    Aku tidak sanggup lagi bertahan. Tubuhku kejang. Pantatku kuangkat tinggi-tinggi mengejar mulut Dito.
    Tanganku terlempar ke kiri dan kanan sambil meremas apa saja yang bisa kugapai. Punggungku melengkung,
    kepalaku terdongak ke atas.

    Kupejamkan mataku sambil berteriak histeris, “Aaaaaaaaaaagghhhhhh…”

    Rasanya cairan memekku bukan hanya mengalir. Tapi benar-benar menyembur dengan kuat. Entahlah, benar
    begitu atau perasaanku saja. Yang jelas aku benar-benar merasakan nikmat yang luar biasa.

    Lama aku kejang dalam posisi melengkung seperti itu sampai akhirnya aku terhempas hebat ke kasur.
    Nafasku tersengal dengan keringat yang membasahi tubuhku.

    Plak! Dito menampar pahaku tiba-tiba sambi menghempaskan tubuhnya telentang di sampingku. “Ayo gantian.
    Isep kontolku sekarang.” ujar Dito agak kasar.

    Meski masih terasa lemas, aku bangkit duduk menghadap kontol Dito. Kuraih batang kontol yang besar dan
    berurat itu. Kuremas-remas dengan gemas. Lalu tanpa basa basi lagi kumasukkan batang keras yang hangat
    itu ke dalam mulutku.

    Kumajukan kepalaku naik turun mengocok kontolnya dengan mulutku. Sesekali kuhisap kuat-kuat kontol itu
    sebelum akhirnya kukocok lagi dengan mulutku. Kujilati kepala kontol Dito, lalu kuhisap. Hanya kepala
    kontolnya saja yang masuk ke mulutku. Lalu kuhisap-hisap sambil lidahku ikut menjilat-jilat. Kuhisap-
    hisap sampai kepala kontol itu melejit dan hampir terlontar keluar. Tapi sebelum kontolnya terlepas dari
    mulutku, segera kumasukkan lagi kepala kontol itu sambil tetap kuhisap-hisap.

    Setelah itu kembali kumasukkan seluruh batang kontol besar itu ke dalam mulutku. Kukocok-kocok lagi
    dengan mulutku sampai akhirnya kubasahi seluruh permukaan kontolnya dengan ludahku.

    Selanjutnya giliran tanganku yang bertugas memberikan kenikmatan kepada kontol Dito. Kukocok dengan
    cepat batang kontol besar ini. Tiba-tiba Dito bangkit duduk dan berdiri diatas kedua lututnya membuat
    aku ikut terduduk.

    “Ayo, isep terus… kocok yang kenceng… aku udah mau keluarrrr…” teriak Dito.

    Aku pun semakin bersemangat mengocok kontol Dito. Kurasakan kontol itu semakin keras. Dan mulai terasa
    kedutan-kedutan pertanda sudah mau keluar. Seperti biasa, aku segera memasukkan kontol Dito ke dalam
    mulutku supaya bisa ngecret di mulut.

    Tapi Dito justru menepis tanganku dan mencabut kontolnya dari mulutku. Lalu dia malah mengocok sendiri
    kontolnya dengan tangannya di hadapan mukaku, dan… Crooot… Croooot… crooot… tiga semburan menerpa
    wajahku. Mata, hidung dan mulutku. Dan Dito mendorong tubuhku hingga telentang sambil terus saja
    mengocok kontolnya. Dengan sengaja Dito mengarahkan semburan kontolnya ke leher, dada dan terakhir ke
    perutku.

    Aku terkapar telentang belepotan air mani di sekujur wajah dan tubuhku. Kulihat Dito bangkit meraih
    bajuku dan membersihkan kontolnya dengan bajuku itu. Aku ingin protes, tapi lemas sekali rasanya.
    Kubiarkan saja kelakuannya itu.

    Tanpa berkata-kata Dito mengenakan pakaiannya kembali. Sementara aku tetap saja terbaring lemas di
    kasur. Kupikir sudahlah, aku tidak usah ngantor hari ini.

    “Lin, aku mau ngomong…” ujar Dito sambil mengenakan sepatunya. Aku tidak menjawab selain menatapnya
    heran dengan wajahku yang masih belepotan air maninya itu.

    “Mulai hari ini… kita putus!” ucap Dito tiba-tiba.

    Aku tersentak bangun. Aku duduk menatap wajahnya yang tampak tanpa ekspresi itu. “Kenapa ?” tanyaku
    lemah.

    “Terus terang, sebenernya pacaran sama kamu itu enak. Nikmat banget. Susah nyari perempuan yang bisa
    bikin enak kayak kamu, Lin. Masalahnya, kamu cuma enak buat dipacarin. Kalau untuk dijadikan istri, aku
    mau cari perempuan baik-baik yang belum kenal kontol sama sekali. Bukan yang udah kebanjiran air mani
    kayak kamu gini… Sorry ya, Lin. Kita sampai disini aja. Terima kasih, barusan luar biasa enak.”

    Aku tak mampu lagi berteriak. Aku hanya menatap Dito yang melangkah ke pintu dengan air mataku yang
    berlinang bercampur dengan air mani yang membasahi pipiku.

    Sebelum membuka pintu, kembali Dito berkata “Eh, tapi kalo kamu kangen sama kontol aku, telpon aja ya.
    Aku siap kok. Oke?“ setelah itu Dito membuka pintu dan berlalu.

    Aku membanting tubuhku telentang ke kasur. Dan menangis sejadi-jadinya…

    ***

    # Bertemu Dana

    Enam bulan sudah sejak perpisahanku dengan Dito yang menyakitkan. Terlebih lagi jika mengingat hubungan
    kami sebenarnya sudah sangat serius. Bahkan rencana pernikahan sudah sering dibicarakan diantara
    keluarga kami. Hubunganku dengan orang tua Dito sudah demikian dekat.

    Tak bisa kubayangkan jika Dito menyampaikan kepada orang tuanya alasan dia memutuskan hubungan kami.
    Bagaimana mungkin gadis baik-baik berjilbab yang mereka sayangi ini ternyata luar biasa binal, bahkan
    saat putus dengan anaknya pun penuh belepotan air mani.

    Untunglah Dito masih punya sisa-sisa kebaikan. Dia cuma bilang bahwa kami sangat tidak cocok.

    Well, enam bulan gak ketemu kontol. Enam bulan gak ada yang jilatin memek. Kangennya luar biasa. Tapi
    untuk memulai hubungan lagi rasanya juga gampang. Trauma dengan sikap Dito setelah menerima kenikmatan
    dariku membuatku semakin ragu untuk pacaran lagi.

    Tapi kemudian semuanya berubah. Aku dipindah tugaskan sebagai staff administrasi khusus untuk event-
    event seminar wilayah Jakarta. Hal ini menyebabkan aku sering terlibat langsung dengan penyelenggaraan
    event, bahkan sampai menginap di hotel tempat penyelenggaraan.

    Pada saat event-event inilah aku sering bertemu Dana, salah seorang Staff yang biasa mengurus
    operasional event. Seringnya kami kerja bersama-sama dalam sebuah event membuat kami tambah akrab.
    Keakraban itu berlanjut tidak hanya di tempat event, tapi juga ke kantorku. Setiap hari kami makan siang
    bareng, walaupun untuk pulang bareng masih belum menjadi rutinitas.

    Dana tidak terlalu ganteng jika dibandingkan dengan mantan-mantanku dulu. Secara fisik hampir tidak ada
    yang istimewa. Namun wajah teduhnya membuat aku nyaman berada di dekatnya.

    Sangat terlihat bahwa Dana belum banyak pengalaman soal perempuan. Seringkali Dana terlihat canggung
    jika aku mengajaknya bicara yang agak nyerempet-nyerempet bahaya.Wajahnya terlihat tersipu, dan aku tahu
    itu bukan pura-pura. Satu lagi, Dana sangat sholeh. Aku tidak pernah melihatnya meninggalkan Sholat.
    Bahkan jika kebetulan aku datang ke kantor agak pagi, kerap aku memergoki Dana sedang Sholat Duha.
    Melihat kenyataan itu, tipis rasanya harapanku untuk merasakan kontolnya. Tapi di lain sisi, aku
    berharap Dana bisa menjadi calon suamiku.

    Suatu ketika, kembali kantorku menyelenggarakan event seminar. Dan seperti biasanya aku ditugaskan
    langsung dimulai sejak persiapan.

    Saat itu seluruh team yang bertugas diberi fasilitas menginap di Hotel dimana event tersebut
    diselenggarakan. Tentunya karyawan wanita sekamar dengan yang wanita. Sebaliknya karyawan pria dengan
    karyawan pria. Dan tidak ada satupun dari kami yang kebagian sekamar sendirian. Sehingga tipis
    kemungkinan aku bisa tidur bareng Dana.

    Dana mendapat kamar di lantai 4 sekamar dengan Baron sedangkan aku menempati kamar dilantai 5 sekamar
    dengan rekanku Nani yang bertugas sebagai kasir.

    Persiapan baru selesai sekitar pukul 9 malam. Saat akan kembali ke kamar, Baron mengajak Dana untuk
    mencari makan di luar saja. Alasannya makanan di kamar disamping mahal, rasanya juga gak nendang. Aku
    agak malas untuk makan diluar karena rasanya sudah sangat letih dan ingin segera rebahan untuk
    istirahat.

    Sesampai di kamar aku segera mengganti pakaian dengan daster panjang tanpa lengan dimana di dalamnya aku
    tidak mengenakan apa-apa lagi. Sebenarnya aku lebih suka tidur telanjang bulat. Namun karena aku tidak
    sendirian, terpaksa kututupi tubuh bugilku dengan daster panjang.

    Rasanya belum lama aku memejamkan mata ketika HP ku berbunyi. Ah.. Dana. Ngapain malam-malam gini
    telpon?

    “Ya, Dan… ada apa?” tanyaku dengan suara agak serak-serak bangun tidur.

    “Udah tidur ya. Aku beliin martabak nih. Mau gak?”

    “Aku udah kenyang, Dan. Nggak usah deh.” jawabku malas-malasan. Malam-malam gini makan martabak? Bisa
    gendut aku.

    “Yaaah… sayang donk. Ya udah, temenin kita makan aja yuk. Sambil ngobrol-ngobrol.”

    Sebenarnya aku masih sangat ngantuk. Tapi ngobrol-ngobrol dengan Dana di kamar? Sayang kalau dilewatkan.
    “Iya deh. Tunggu sebentar ya.” Aku segera bergegas bangkit dari kasur. Kukenakan kembali Jilbabku. Aku
    sempat bimbang apakah aku harus ganti baju, pakai celana dalam dan BH, atau gak usah aja. Kupandangi
    sejenak tubuhku melalui cermin. Rasanya tidak akan terlihat kalau aku tidak pakai celana dalam. Tapi BH?
    wow, pentil susuku jelas sekali terlihat. Lagipula daster ini tanpa lengan. Bisa rusak imageku nanti.

    Akhirnya kukenakan jaket dan kukancingkan rapat untuk menutupi dada serta lenganku yang terbuka. Yup.
    Cukup tertutup lah. Jadi aku tidak perlu ganti baju.

    Yakin dengan dandananku yang cukup tertutup, segera aku keluar menuju kamar Dana di lantai 4.

    Sama seperti kamarku, kamar Dana memiliki dua buah tempat tidur yang dipisahkan oleh meja kecil di
    tengah-tengahnya. Sesampainya aku di sana ternyata mereka sedang makan nasi goreng di atas tempat
    tidurnya masing-masing. Aku segera menghampiri Dana dan duduk di kasur berdekatan dengan Dana.

    Selesai makan kami lanjutkan ngobrol-ngobrol. Dana pindah duduk di kursi sementara Baron tetap duduk di
    kasurnya. Sedangkan aku dengan santai duduk di kasur Dana bersandarkan bantal yang kususun tinggi.

    Jujur saja, isi obrolan sangat membosankan. Apalagi Baron. Omongannya gak ada yang menarik. Jokenya pun
    garing banget. Seandainya bukan karena Dana, aku pasti sudah balik ke kamar. Tapi kesempatan berdekatan
    begini sayang rasanya kalau kulewatkan begitu saja.

    Untunglah setelah sekitar sejam ngobrol gak jelas, Baron ngantuk dan pamit tidur duluan. Dia langsung
    masuk ke balik selimut dan tidur miring menghadap tembok. Ah, asiiik…. aku tinggal berdua dengan Dana.

    Kutunggu sesaat sampai kira-kira Baron sudah tertidur. Setelah kulihat tak ada tanda-tanda kehidupan,
    kubuka kancing jaketku hingga tubuh bagian depanku yang terbungkus daster bisa terlihat. Terutama bentuk
    dada besarku serta putingnya pasti tercetak dengan jelas.

    Berkali-kali kulihat Dana menatap dadaku sekilas, kemudian langsung memalingkan wajahnya. Aku yakin Dana
    bisa melihat bentuk dadaku, dan aku yakin dia tahu kalau aku tidak pakai BH. Terlihat sekali dia
    canggung dengan keadaan pakaianku. Wah, bagaimana kalau dia tahu aku tidak pakai celana dalam ya?

    “Dan, ngobrolnya sini donk. Jangan jauh-jauhan gitu. Kayak musuhan aja.” ajakku ketika kulihat Dana
    tidak juga mengambil inisiatif. “Ayo sini. Gak akan aku gigit deh. Kecuali kamu yang minta.” ajakku lagi
    saat Dana tidak juga bereaksi.

    Akhirnya Dana bangkit pindah duduk di sebelahku. Terasa sekali Dana sangat canggung duduk berdekatan di
    atas tempat tidur berduaan denganku. Aku jadi tersenyum geli melihat tingkahnya yang serba salah itu.

    Kugeser dudukku lebih dekat dan menghadap dia. Kuusap kepalanya lembut sambil terus ngobrol ngalor
    ngidul. Saat bercerita, sesekali siku lengan Dana menyenggol dadaku yang tanpa BH. Dana semakin gelisah.

    Tidak tahan dengan sikapnya yang pasif, segera kuraih kepala Dana dan kucium bibirnya. Beberapa kali
    kukecup-kecup bibirnya sampai akhirnya Dana mulai bisa menguasai keadaan. Tangannya mulai meraih pipiku
    sambil lidahnya bermain-main di mulutku. Kemudian perlahan tangannya turun ke leherku, terus turun lagi
    sampai ke dadaku. Diremasnya dadaku perlahan. Ah… akhirnya bisa juga dia.

    Aku benar-benar tidak tahan. Kudorong tubuh Dana hingga terlentang, lalu kutindih dia. Kuciumi bibirnya
    dengan penuh gelora nafsu sambil memekku kugesek-gesekkan ke kontolnya yang terasa sudah keras dibalik
    celana panjangnya.

    Sedang seru-serunya kami bercumbu, tiba-tiba …

    “Lin, kalo mau pacaran jangan disini. Gue gak bisa tidur dengerinnya…” terdengar suara Baron agak ketus
    walau wajahnya tetap menghadap tembok.

    Aku menghela nafasku yang sudah tersengal-sengal. Duuuuh… ganggu aja deh… Terpaksa kami menghentikan
    kegiatan nikmat ini. Aku minta Dana untuk mengantarku ke kamar. Di dalam Lift kembali kucium Dana dengan
    penuh nafsu. Dana memelukku erat. Tiba-tiba tangannya meremas pantatku. Saat itulah dia sadar kalau aku
    tidak pakai celana dalam. Sayang, pintu lift keburu terbuka. Kami keluar dari lift dengan saling
    rangkul. Rupanya tangan Dana masih betah berdiam di pantatku. Kurasakan tangannya mengelus-elus pantatku
    dengan mesra.

    Di depan pintu, kembali kami berciuman. Kali ini Dana sangat bernafsu. Tangannya tidak henti meremas
    dadaku. Kurasakan kontolnya begitu keras menekan atas perutku.

    “Dan… besok kita buka kamar aja yuk…” bisikku di telinga Dana dengan nafas memburu. Dana menatap mataku
    sejenak. Terlihat dia agak ragu. “Aku yang bayar deh. Mau yah… yah… yah…” bisikku lagi setengah memaksa.

    Akhirnya Dana mengangguk setuju. Kucium bibirnya lama sebelum akhirnya kulepaskan dan meninggalkannya
    berdiri di depan pintu.

    ***

    Seharian ini kuikuti kegiatan seminar dengan tidak sabar. Pikiranku sudah tertuju pada rencana malam
    nanti. Saat break makan siang tadi aku sudah memesan kamar dilantai 8. Agak mahal memang, tapi yang
    penting terpisah jauh dari teman-temanku yang lain.

    Begitu Seminar hari pertama selesai, aku langsung menghilang ke kamar. Kepada Nani teman sekamarku
    kukatakan bahwa malam ini aku tidak menginap. Padahal sesungguhnya aku pindah ke kamar yang telah
    kupesan.

    Di kamar aku langsung melepas seluruh pakaianku hingga telanjang bulat. Semula aku akan menyambut Dana
    dengan tubuh bugil seperti ini. Tapi setelah kupikir lagi, rasanya terlalu ekstrim. Akhirnya aku memilih
    daster yang paling tipis. Setelah siap, kutelpon Dana, memintanya segera menemuiku di kamar.

    Tak berapa lama kudengar bel berbunyi. Segera kubuka pintu, dan Dana tertegun memandangku.

    Kutarik tangan Dana dan segera kututup pintu. Dana menatapku dengan takjub. Aku yang biasa berpakain
    serba tertutup kini berdiri di hadapannya hanya mengenakan daster tipis tanpa apa-apa lagi di dalamnya.

    Kudorong tubuh Dana hingga tersandar di pintu. Kupeluk dia, kucium dengan ganas. Dana sampai gelagapan
    menghadapi seranganku yang tiba-tiba. Dengan tergesa dan penuh nafsu kupereteli kancing-kancing
    kemejanya. Lalu kubuka kemeja itu dan kulemparkan ke lantai. Lidahku langsung menari-nari di lehernya.
    Kugigit-gigit kecil lehernya. Lalu kujilati mulai pangkal lehernya melewati jakun sampai ke dagunya.
    Kujilati berulang-ulang. Dana tidak bisa bisa berkata-kata selain ucapan uh-uh yang tidak jelas.

    Lidahku meluncur ke dadanya. Kujilat pentil dadanya sambil kutarik-tarik dengan mulutku. Lalu kusedot
    kuat-kuat bergantian pentil kiri dan kanan. Selanjutnya aku merosot turun berjongkok dihadapannya.
    Kujilati pusarnya sambil tanganku membuka ikat pinggangnya. Kubuka kancing celananya, kubuka
    resletingnya lalu kuperosotkan celana panjangnya hingga ke mata kaki. Tampaklah tonjolan dibalik celana
    dalam putih yang sudah siap untuk dikulum.

    Saat aku akan merenggut celana dalamnya, Dana mencegahku. Tubuhku ditarik berdiri, kemudian dia
    memelukku dengan kuat sambil kembali mencium bibirku. Tangannya meremas-remas pantatku.

    Aku benar-benar tidak tahan. Kutarik tangannya menuju tempat tidur. Kudorong tubuhnya hingga jatuh
    telentang diatas tempat tidur. Kubuka dasterku dan berdiri telanjang bulat dihadapannya. Dana sampai
    melotot melihat tubuh telanjangku. Tak menunggu lama lagi kutarik celana dalam Dana melewati kakinya dan
    kulempar entah kemana. Maka terlihatlah kontolnya yang sudah ngaceng sepenuhnya. Berdiri tegak menanti
    untuk di sedot.

    Ukuran kontolnya biasa saja, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Tapi bagiku yang sudah enam
    bulan tidak ketemu kontol, pemandangan di hadapanku ini menjadi begitu menggairahkan.

    Kupanjat tubuh telanjang Dana. Kuciumi bibirnya dengan nafsu membara. Kutekan dadaku ke dadanya hingga
    gepeng. Lalu kugoyang-goyang pinggulku hingga memekku bergesekan dengan kontolnya. Kugoyang pantatku
    maju mundur, membuat belahan memekku yang sudah basah meluncur lancar disepanjang batang kontolnya.

    Tidak sampai dua menit aku menggesek memek kulihat Dana mengerang keras, dan… Croooot air maninya
    menyembur membasahi perut kami berdua. Ah… kontol perjaka. Nyesel tadi gak aku isep aja. jadi kan air
    maninya gak mubazir terbuang percuma begini.

    Sedikit kecewa aku beranjak ke kamar mandi membersihkan tubuhku dari semburan air mani Dana. Setelah itu
    aku kembali ke kamar sambil membawa handuk kecil. Kubersihkan perut Dana dengan handuk kecil yang
    kubawa. Kubersihkan juga kontolnya yang sudah mulai mengecil.

    Setelah itu aku berbaring di samping Dana. Kurebahkan kepalaku di bahunya sambil tanganku terus
    meremas-remas kontolnya. Aku berharap kontol Dana bisa cepat bangkit kembali.

    Dan benar saja, tidak perlu berlama-lama kurasakan kontol itu semakin membesar. Kukocok-kocok terus
    kontolnya sampai benar-benar ngaceng. Setelah itu aku langsung bangkit menindih tubuhnya lagi.

    Aku berjongkok di atas kontolnya. Kuraih kontolnya dengan tanganku, lalu dengan nekat kugosok-gosok
    kepala kontolnya ke dalam belahan memekku. Aaaah… rasanya luar biasa nikmat. Ingin rasanya kumasukkan
    seluruh batang kontol ini ke dalam memekku ketika tiba-tiba Dana meronta menghindari memekku.

    “Jangan, Lin. Gak boleh. Kita belom nikah…” wajah Dana terlihat tegang. Antara takut dosa dan kepengen
    dosa.

    Kurebahkan tubuhku menindih tubuhnya. Kukecup lembut pipinya. “Iya, aku tau. Aku juga masih perawan
    kok.” ujarku sambil kemudian kukecup lembut bibirnya. “Tapi kalo main-main dikit boleh kan?” aku tak
    menunggu jawabannya, tapi langsung melorot ke bawah hingga wajahku berhadapan langsung dengan kontolnya.

    Kuraih benda yang sudah lama kurindukan itu. Kuusap-usap, lalu kemudian kujilat dari bawah ke atas.
    Ooooh… akhirnya… ketemu kontol lagi…

    Kusedot-sedot kepala kontolnya sambil lidahku menari-nari diseluruh permukaan kepala kontolnya. Lalu
    kumasukkan seluruh batang kontol itu ke dalam mulutku. Karena kontol Dana tidak terlalu panjang, tidak
    sulit aku menelan seluruh batang kontolnya.

    Kukocok-kocok kontol ngaceng itu dengan mulutku. Maju-mundur-maju-mundur, kuisap kuat-kuat sambil
    kutarik sampai hampir terlepas. Lalu kuisap lagi kuat-kuat sambil menelan kontolnya.

    Belum lama kontol itu kuisap, kurasakan denyutan-denyutan yang sudah sangat ku kenal. Ah cepat sekali…
    Langsung kuisap-isap dengan kuat dan cepat, dan… crooot..crooot.. crooot.. terasa semburan yang sangat
    kuat menerpa mulutku. Kutelan semua cairan yang menyembur itu sambil terus kusedot-sedot kepala
    kontolnya dengan kuat. Kontol itu baru kulepaskan setelah menciut jadi kecil dan lembek lagi.

    Kutatap wajah Dana. Matanya terpejam puas. Aku berbaring di sebelahnya sambil kubelai-belai rambutnya.
    Tak lama, Dana tertidur…

    Tinggal aku yang terbaring bugil dengan nafsu yang masih menggantung. Tak apalah, lumayan setelah enam
    bulan nganggur…Cerita Sex Dewasa

    ***

    # Gairah di Pagi Hari

    Bangun tidur, aku merencanakan untuk menggoda Dana lagi. Pura-pura mau mandi, aku berjalan pelan di
    depannya. Aku hanya menggunakan handuk kecil untuk kulilitkan ke tubuhku seadanya. Saat lewat di
    depannya yang sedang menonton TV, persis di depan matanya, handuk itu kulepaskan hingga jatuh ke lantai,
    kontan tubuhku yang tidak terbungkus apapun terlihat jelas olehnya.

    Dana langsung tersipu malu dan melengoskan pandangannya. Dasar bocah lugu. Sudah menikmati tubuhku
    semalaman, masih juga malu. Kuteruskan langkahku ke kamar mandi sambil tersenyum tertahan melihat
    tingkahnya.

    Tidak lama di dalam, aku berseru memanggil Dana untuk mengambilkan sabun cair di tas, ”Dan, tolong
    ambilin sabun yaaa…” kataku.

    ”Iya, Lin, sebentar…” kudengar dia turun dari ranjang dan melangkah pelan ke lemari, tempat dimana tasku
    berada. Setelah ketemu, dia mengetuk pintu kamar mandi yang tidak kukunci.

    Aku berseru. ”Masuk aja, Dan.”

    Dana membuka sedikit pintu itu dan menjulurkan tangannya yang menggenggam sabun. Segera kutarik
    tangannya ke dalam sambil berkata, ”Tolong dong, sabuni aku. Aku nggak bisa menyentuh bagian
    belakangku.”

    Dana tertegun melihat tubuh telanjangku yang mengkilat karena basah. Terutama payudara dan puting susuku
    yang tampak makin membengkak besar. Dia sudah tidak melengoskan pandangannya lagi, malah Dana
    memperhatikan tubuhku yang bugil dan ranum itu dengan muka memerah.

    “Heh, kok malah ngeliat gitu sih?” ujarku sambil pura-pura menutupi buah dadaku yang sudah besar dari
    dulu ini, karena susuku sering diremas dan di rangsang oleh laki-laki. ”Sini, buka bajumu agar gak
    basah. Kita mandi sama-sama.” segera kulucuti pakaian Dana tanpa menunggu jawaban darinya.

    Setelah kubuka celana dalamnya, kulihat kontolnya masih kecil, belum tegang sama sekali. Penasaran
    banget aku, masa ngeliat tubuhku gini, dia belum ngaceng sih, pikirku.Biar, nanti kuhisap dan kubuat kau
    ketagihan hisapan mulutku, pikirku mesum.

    Kupasang shower dan aku mulai mandi di depan Dana yang juga sudah telanjang bulat. ”Ayo, sabuni aku.
    Jangan bengong aja gitu.” ujarku. Dia mulai mengusap punggungku dengan tangan gemetar. Wah, asik nih,
    akan kuajari dia cara menyenangkan perempuan, pikirku.

    ”Sini, depannya juga. Masa cuma punggungnya aja.” kataku sambil membalikkan badan. Kuberikan bongkahan
    payudaraku kepadanya.

    ”Eh, i-iya, Lin….” Dana menjawab dengan gugup. Dia mulai mengusap-usap dadaku, meremasnya pelan, dan
    memilin-milin putingnya yang mungil menggiurkan. Aku jadi terangsang dengan usapan tangannya. Kunikmati
    pijatannya sambil merem melek.

    Tidak puas, aku juga mulai menyabuninya, ”Sini, Dan… tubuhmu juga harus dibersihkan, biar wangi dan
    harum.” kataku.

    Dana diam saja. Tapi tangannya masih tetap mengusap-ngusap buah dadaku. Dia meremasnya kuat-kuat saat
    tanganku berhenti di kontolnya dan mengocoknya lembut. Nah, mulai kelihatan aslinya, pikirku. ”Aduh,
    Lin, geli… geli banget… tapi enak.” katanya takut-takut.

    ”Udah, kamu diam aja.” Setelah kusiram bersih tubuhku dan tubuhnya, aku jongkok di depannya sambil
    kugenggam erat kontolnya yang belum terlalu ngaceng itu, masih agak lembek. Sambil melihat wajahnya,
    kumasukkan kontol itu ke dalam mulutku dan kukemot pelan-pelan. Kulihat mata Dana melotot sambil
    memperhatikan kontolnya yang keluar-masuk di mulutku, dia mendesah dan menelan ludah.

    Pelan kujilati seluruh kontolnya, mulai dari pelirnya sampai ke ujung kepala. Dari situ kumasukkan
    seluruh kontolnya ke mulutku, lumayan keras meski belum ngaceng sempurna.

    Setelah beberapa lama menghisap kontolnya, Dana mulai bergetar. Wah, tandanya dia mau keluar nih,
    pikirku. Semakin kuperkuat hisapanku, kontolnya kukenyot cepat di mulutku. Saking enaknya, tanpa
    disadari Dana, pantatnya sampai maju mundur seperti orang ngentot. Dia memperkosa mulutku.

    Lin, aduh… aku… Oughh! Enak sekali…” teriaknya, lalu… croott… crooottt… crooooottth…!!! banyak sekali
    pejuhnya keluar di dalam mulutku, langsung kusedot habis dan kutelan dengan kenikmatan luar biasa.
    Kulihat wajahnya merah padam pada saat pejuhnya keluar. Dana mendongak ke atas dan oleng ke kiri dan ke
    kanan.

    ”Enak nggak, Dan? Kau suka kontolmu kuhisap?” tanyaku nakal.

    ”He-eh, Lin. Enak sekali.” katanya masih sambil bergetar.

    Aku maklum, karena meski ini bukan pejuh pertamanya, tapi tetap saja dia menikmatinya. Pengalaman ini
    pasti terasa begitu luar biasa bagi orang pemula seperti Dana.

    BAca JUga Cerita Sex Teman Biniku

    Setelah dia bisa mengatur nafas, kini giliranku yang minta kepuasan. Berbaring mengangkang di lantai
    kamar mandi, kuminta dia menjilat memekku. Dana melakukannya dengan senang hati.

    Total hari itu, lebih dari 12 kali kami moncrot. Pejuh Dana berhamburan di mulutku, juga ke wajah,
    rambut, dan susuku. Bahkan ada yang ditaruh di atas memekku, sempat membuatku takut juga kalau sampai
    hamil. Cepat kuseka cairan itu dengan tissue sampai bersih.

    Sementara cairanku sendiri mengalir deras membasahi kasur dan sprei. Beberapa ada juga yang menyembur
    sampai ke lantai.

    Sama-sama puas, kami akhirnya terkulai lemas dan berbaring berpelukan. Mataku terpejam, sementara
    mulutku terbuka mengalirkan pelan pejuh Dana masuk ke dalam perutku.

    Aku lelah… tapi juga gembira luar biasa…

    ***

    Sejak itu, hubunganku dengan Dana makin dekat dan intim. Di kantor, kami sudah tidak malu-malu lagi
    untuk mengakui kalau kami berpacaran. Bahkan bisa lebih dari sekedar pacar, karena kini Dana sudah tidak
    malu-malu lagi meminta oral kepadaku. Aku juga begitu, horny dikit, aku langsung kontak Dana untuk
    ketemuan. Pokoknya, asal waktu dan tempatnya terpenuhi, kami akan melakukannya. Tapi meski begitu, satu
    yang kami pegang, aku mau tetap perawan sampai menikah nanti. Jadi terangsang bagaimanapun, kami harus
    bisa nahan diri cukup dengan emut atau gesek saja, tanpa tusuk apalagi genjot.

    Sama seperti sore ini, jam 17:15 aku datang ke ruangan Dana. Sudah sejak siang, memekku gatal pingin
    digaruk. Kebetulan seisi ruangan sudah pada pulang semua, tinggal aku berdua dengan Dana. Maka tanpa
    membuang waktu lagi, kubanting tubuh Dana ke meja kerjanya dan kuciumi dengan penuh nafsu.

    Dia yang sudah mengerti akan nafsu gilaku, mengimbangi dengan menyentuh paha mulusku pelan. Kebetulan
    hari itu aku mengenakan rok panjang longgar, jadi Dana mudah saja menyelipkan tangannya. Dengan cepat
    jari-jarinya naik, sedikit demi sedikit, menuju pangkal pahaku. Aku mulai merem melek keenakan, sambil
    tanganku merangkul pundaknya, sementara bibirku tetap menancap di mulut Dana yang tebal.

    Aku melenguh saat ujung jari tengah Dana menyentuh selangkanganku dan mengelus pelan sekumpulan rambut
    hitam yang ada disana, yang masih tertutup oleh celana dalam. ”Ahhhh… Dan, terus…” aku mendesah.

    ”Kamu memang sangat menggairahkan, Lin.” Dana berkomentar.

    Aku cuma menjawab dengan anggukan kecil dan mata makin terpejam rapat. Desahanku terdengar semakin
    keras. Jari tengah Dana sudah melewati celah celana dalamku sekarang, dia menyentuh bibir kemaluanku,
    dan mengelusnya. Dana menggesek-gesekkan jarinya di permukaan klitorisku yang sudah menyembul keras.
    Oughhhh… tubuhku langsung melenting. Aku kegelian, tapi juga enak.

    Setengah sadar aku berkata, ”Aduh, Dan… geliii… oughhh… geliii…” terasa sekali memek dan celana dalamku
    sudah basah berlendir. Tanganku makin rapat memegang pundak Dana, sementara mulut kami terus saling
    beradu.

    Tak mau kalah, tangan kananku merambat ke arah gundukan kaku di selangkangan Dana. Kubuka resletingnya
    dan kulorotkan celana dalamnya hingga sebatas paha. Tanpabisa dicegah, tersembulah kontol Dana yang
    sudah menegang dahsyat. Benda itu berdiri tegak, siap untuk diapain aja. Tanpa disuruh, aku segera
    memegang dan mengelus-elusnya.

    Dana yang sepertinya juga sudah nafsu buanget, meraih celana dalamku dan menariknya turun. Sementara rok
    panjangku cuma ia gulung hingga ke pinggang. Dana lalu mendudukkanku di meja sambil tangannya membuka
    kancing bajuku satu per satu. Ia juga meraih tali pengait BH-ku dan melepasnya dengan mudah. Maka
    lengkaplah sudah, aku telanjang di depannya.

    Kami saling melumat beberapa saat sebelum akhirnya ciuman Dana turun ke leher dan dadaku. Dia mencucup
    dan menjilati puncak gunung kembarku dengan rakus. Oughhh… Aku langsung mengerang keenakan. Tanganku
    makin keras meremas dan mengelus burung Dana.Cerita Sex Dewasa

    Setelah agak lama menyusu, dia lalu berbisik. ”Lin, jadi pengen masukin burungku ke sangkarnya…” sambil
    tangannya menerobos pelan lubang memekku.

    Aku yang tidak ingin ngentot, tentu saja menolaknya. ”Jangan, Dan… ingat komitmen kita.” aku masih ingin
    mempersembahkan perawanku untuknya saat malam pertama nanti.

    Dana yang pada dasarnya juga lugu, dengan mudah tersadar. Dia pun tidak berkata-kata lagi. Asyiknya,
    tangan dan mulutnya tidak berhenti bekerja, dia terus memborbardir pertahananku dengan lumatan dan
    elusannya yang sungguh-sungguh membangkitkan gairah.

    Melihat dia sudah tidak kuat lagi, aku segera turun dari meja dan berjongkok di bawah untuk mengulum
    burungnya. Dengan perlahan bibirku mengecup ujungnya, kujilati cairanprecum Dana yang mulai meleleh
    keluar. Kemuadian dengan sangat berhati-hati kutelan kontol itu, kumasukkan ke dalam mulutku. Kuhisap
    kontol itu bervariasi, dengan menjilati batangnya dari ujung lubang kemaluan sampai buah pelirnya,
    kemudian kuhisap-hisap keras seluruhnya hingga membuatku hampir tersedak, lalu kembali lagi pelan di
    sekitar ujungnya.
    Begitu terus hingga tanpa terasa 15 menit pun berlalu. Kurasakan kontol Dana mulai memanas dan
    berkedut-kedut. Sepertinya benda itu sudah mau meledak. Aku segera mempercepat kocokanku. Kumasukkan
    kontol Dana dalam-dalam ke mulutku dan kuhisap kuat-kuat.

    Dana menggeram, ”Lin, aku sudah mau keluaaarrr…”

    Segera kulepas kontol itu dan kukocok-kocok di depan wajahku. Tak sampai 1 menit, muncratlah air mani
    Dana membasahi wajah dan payudaraku. ”Ssshh… Lin… Enaknya…” dia mendesah sambil bersandar di kursi.

    Aku yang sudah sangat bergairah, segera berbaring telentang di meja. Kubuka kakiku lebar-lebar hingga
    Dana bisa melihat memek merahku yang sudah sangat basah. ”Ayo… Dan, jilat!” aku meminta.

    Dana pun segera membenamkan kepalanya disana…

    Begitulah hubunganku dengan Dana yang begitu panas dan menggairahkan.
    Hubungan kami terus berlanjut hingga ke tahap yang serius. Aku yakin Dana adalah laki-laki yang tepat
    untukku. Dia alim sekaligus nakal. Sementara bagi Dana, aku adalah gadis yang telah berjasa membawanya
    menuju kedewasaan. Kami saling mengisi dan melengkapi.

    ***

    # MALAM PERTAMA PENGANTIN BARU

    Dua bulan kemudian, kami menikah. Setelah lama cuma petting dan oral sex, inilah saat dimana kami akan
    melakukan yang sebenarnya. Berbekal pengetahuan seks yang kudapat dari internet, aku siap melayani Dana,
    suamiku.

    Wangi harum melati semerbak ke setiap sudut kamar pengantin kami yang dihias warna dominan merah jambu.
    Berbalut daster tipis yang juga berwarna pink, aku berbaring di ranjang. Jilbabku sudah kulepas sejak
    tadi. Dana ada di sisiku. Matanya yang bening menatapku penuh rasa cinta, sementara jemarinya yang halus
    membelai lembut tanganku yang sedang memeluknya.

    Malam ini adalah malam pertama kami sah untuk sekamar dan seranjang. Tidak ada lagi rasa takut atau
    khawatir dipergoki orang, tidak ada lagi rasa terburu-buru, dan juga tidak ada lagi rasa berdosa seperti
    yang kami rasakan dan alami selama berpacaran.

    Suasana yang romantis, ditambah dengan sejuknya hembusan AC, sungguh membangkitkan nafsu. Dana memelukku
    dan mengecup keningku, lalu mengajakku berdoa pada Yang Maha Kuasa seperti pesan pak Kyai tadi.
    ”Andaikan apa yang kami lakukan malam ini menumbuhkan benih dalam rahim, lindungi dan hindarilah dia
    dari godaan setan yang terkutuk.”

    Dari kening, ciuman Dana turun ke alis mataku yang hitam dan lebat, lalu berlanjut ke hidung dan terus
    hingga sampai ke bibirku. Ciuman kami semakin lama semakin bergelora, dua lidah saling melumat diikuti
    dengan desahan nafas yang semakin memburu. Tangan Dana yang tadinya memeluk punggungku, mulai menjalar
    ke depan, perlahan menuju ke gundukan payudaraku yang cukup besar. Dia memujiku karena sudah pintar
    memilih daster. Baju ini berkancing di depan dan hanya 4 buah, jadi mudah bagi Dana untuk membukanya
    tanpa harus melihat. Tidak lama kemudian, baju itu pun terkuak, juga kaitan BH-ku yang melingkar di
    punggung. Kedua bukit kembar ku pun tersembul keluar. Tampak indah menggoda dengan ukurannya yang besar
    dan bentuknya yang bulat sempurna, lengkap dengan putingnya yang mungil kemerahan.

    Sementara Dana mengelus dan memandanginya dengan kagum, aku juga berhasil membuka kancing piyamanya,
    melepas singlet dan juga celana panjangnya. Hanya tinggal celana dalam masing-masing yang masih
    memisahkan tubuh telanjang kami berdua.

    Kubisikkan kata-kata cinta padanya. Dana tersenyum dan menatapku sambil berkata bahwa dia juga amat
    mencintaiku. Dia lalu melanjutkan ciumannya ke leherku, turun ke dada, dan dengan amat perlahan, mendaki
    bukit payudaraku dengan lidahnya. Saat sampai di puncak, Dana menjilat dan mengulumnya dengan penuh
    nafsu. Diperlakukan seperti itu, putingku yang sudah mengacung keras, makin menegak tak karuan.

    ”Oughhh.. Arrgghhhhh…” aku jadi mendesah dan meracau tidak jelas. Mataku terpejam, sementara bibirku
    yang tebal sensual sedikit merekah. Sungguh sangat menggairahkan sekali.

    Sambil terus mencucup, tangan Dana mengelus, meremas dan memilin puting di puncak bukit satunya lagi.
    Dia seperti tidak ingin buru-buru, seperti ingin menikmati detik demi detik yang indah ini secara
    perlahan. Mulutnya berpindah dari satu sisi susu ke sisi satunya lagi, diselingi dengan ciuman ke
    bibirku, membuatku makin berkeringat. Aku cuma bisa membalas dengan mengacak-acak rambutnya liar, bahkan
    kadang-kadang menarik dan menjambaknya, yang penting birahiku terlampiaskan.

    Dengan berbaring menyamping berhadapan, Dana melepas celana dalamku. Satu-satunya kain yang masih
    tersisa. Perlakuan yang sama kulakukan kepadanya, membuat kontolnya yang sudah sedemikian kerasnya
    mengacung gagah. Dana membelai kakiku sejauh tangannya bisa menjangkau, perlahan naik ke paha,
    berputar-putar, berpindah dari kiri ke kanan, sambil sesekali seakan tidak sengaja menyentuh gundukan
    berbulu lebat milikku.

    Sementara aku yang juga sudah tidak sabar, segera membelai dan menggenggam kontolnya. Kukocok benda itu,
    kugerakkan tanganku maju mundur.

    ”Ahhhssss…” Dana melenguh nikmat. Walaupun hal itu sudah sering dia rasakan dalam kencan-kencan liar
    kami selama berpacaran, tetapi kali ini rasanya sungguh lain. Pikiran dan konsentrasi kami tidak lagi
    terpecah. Kami sudah halal untuk melakukannya.

    Melalui paha sebelah dalam, perlahan tangan Dana naik ke atas, menuju ke memekku. Begitu tersentuh, aku
    mendesah semakin keras. Nafasku juga semakin memburu. Perlahan Dana membelai rambut kemaluanku, lalu
    jari tengahnya mulai menguak ke tengah, membelai dan memilin-milin tonjolan daging sebesar kacang
    milikku yang sudah sangat licin dan basah.

    Tubuhku langsung menggelinjang, pinggulku bergerak ke kiri ke kanan, juga ke atas dan ke bawah. Keringat
    semakin deras keluar dari tubuhku yang montok.

    Di atas, ciuman Dana menjadi semakin ganas. Ia mulai menggigiti lidahku yang masih berada di dalam
    mulutnya. Sementara tangannya semakin cepat bermain di atas klitorisku, mengelusnya maju-mundur dengan
    cepat, hingga tak lama tubuhku mengejang dan melengkung, kemudian terhempas keras ke tempat tidur
    disertai erangan panjang.Orgasme yang pertama telah berhasil ia persembahkan untukku.

    Kupeluk dia dengan erat dan berbisik, “Ohh… nikmat sekali. Terima kasih, sayang.”

    Dana yang tidak ingin beristirahat lama-lama, segera menindih tubuhku, lalu dengan perlahan menciumi
    payudaraku, dan terus ke bawah hingga ke perut, ke bawah lagi, dan terus ke bawah, hingga deru nafasku
    kembali terdengar berisik disertai rintihan panjang begitu lidahnya mulai menguak lubang memekku. Cairan
    vagina ditambah dengan air liur Dana membuat lubang hangat itu semakin basah.

    Dana memainkan klitorisku dengan lidahnya, sambil kedua tangannya meremas-remas pantatku yang padat
    berisi. Tanganku kembali mengacak-acak rambutnya, sambil sesekali kukuku yang tidak terlalu panjang
    menancap di bahunya. Ngilu tapi nikmat rasanya. Kepalaku terangkat lalu terbanting kembali ke atas
    bantal menahan kenikmatan amat sangat yang diberikan oleh Dana. Perutku terlihat naik turun dengan
    cepat, sementara kedua kakiku menjepitnya dengan kuat.

    Tak tahan, kutarik kepalanya, lalu kucium dia dengan gemas. Dana menatap mataku dalam-dalam, meminta
    ijin dalam hati untuk menunaikan tugasnya sebagai suami. Tanpa kata, aku mengiyakannya. Akhirnya, tiba
    juga saat itu. Sambil tersenyum manis, kuanggukkan kepalaku.

    Dana memberikan kontolnya untuk kukulum sebentar, sekedar untuk membasahinya, sebelum akhirnya dengan
    perlahan, mengarahkannya menuju liang kewanitaanku. Dia menggosok-gosoknya sedikit untuk menambah bukaan
    memekku, kemudian dengan amat perlahan, menekan dan mendorong masuk.

    Aku langsung merintih keras, kesakitan. Spontan kudorong bahunya, meminta Dana untuk berhenti sebentar.
    Air mata meleleh di sudut mataku.

    Dana yang tidak tega, segera menarik kembali penisnya. Dia memeluk dan menciumiku. Hilang sudah nafsunya
    saat itu juga.

    ”Maafkan aku, sayang..” aku berkata penuh sesal.

    ”Iya, aku mengerti.” Dana melumat bibirku. ”kita coba lagi nanti.”

    Setelah beristirahat beberapa lama, Dana mencoba memulainya lagi, dan lagi-lagi gagal. Dia sangat
    mencintaiku sehingga tidak tega untuk menyakitiku.Cerita Sex Dewasa

    Aku sendiri juga sangat ingin melakukannya. Tapi mau bagaimana lagi, rasanya memang sangat-sangat sakit.
    Jadilah malam itu kami tidur berpelukan dengan tubuh masih telanjang. Aku meminta maaf kepadanya dengan
    mengoralnya sampai keluar. Tapi Dana kelihatan tidak begitu puas. Dia ingin memecah perawanku. Aku bisa
    mengerti kegusarannya.

    ***

    Esoknya, kami berdiskusi mengenai perkosaan. Kalau hubungan yang didasari oleh kerelaan dan rasa sayang
    saja susah, agak tidak masuk di akal bila seorang wanita diperkosa oleh seorang pria tanpa membuat
    wanita itu tidak sadarkan diri. Bukankah si wanita pasti berontak dengan sekuat tenaga? Apalagi kalau
    sampai wanita itu menikmati dan sampai orgasme, itu sangat-sangat tidak mungkin.

    Jam 10 malam, kami kembali masuk kamar dengan bergandengan mesra, diikuti oleh beberapa pasang mata dan
    olok-olok saudara-saudara iparku. Tidak ada rasa jengah atau malu, seperti yang kami alami pada waktu
    mata Receptionist Hotel mengikuti langkah-langkah saat kami pacaran dulu. Olok-olok dan sindiran dari
    mulut saudara-saudara ipar, kutanggapi dengan senang dan bahagia.

    Seperti biasa, setelah saling merayu dan memuji, kami segera melepas pakaian masing-masing. Dengan tubuh
    sama-sama telanjang, kami naik ke atas tempat tidur dan berpelukan dengan erat. Setelah berciuman dan
    saling remas beberapa saat, aku pun segera menghisap penis Dana. Kulakukan sampai dia hampir keluar.
    Sebelum moncrot, Dana meminta untuk berhenti. Sepertinya dia benar-benar berniat akan mangambil
    perawanku malam ini.

    Dana memintaku untuk berbaring telentang di tempat tidur. Dia menarik lututku hingga aku mengangkang.
    Telungkup tepat di bawahku, muka dan mata Dana persis berada di depan vaginaku. Dia memelototi bagian
    dalam memekku yang merah basah, sungguh menggairahkan. Dengan dua jari, Dana membuka dan memperhatikan
    bagian-bagiannya.

    ”Baru kali ini aku melihat memekmu dengan jelas.” katanya. Aku tahu, meski sudah sering menjilatinya,
    tapi Dana melakukannya dengan mata tertutup.

    ”Aku baru tahu kalau klitoris bentuknya tidak bulat, tetapi agak memanjang. Aku bisa mengidentifikasi
    mana yang disebut Labia Mayor, Labia Minor, Lubang Kemih, Lubang Senggama, dan yang membuatku merasa
    sangat beruntung, aku bisa melihat apa yang dinamakan Selaput Dara, benda yang berhasil kau jaga utuh
    selama ini. Jauh dari bayanganku, selaput itu ternyata tidak bening, tetapi berwarna sama dengan
    lainnya, merah darah. Di tengahnya ada lubang kecil.” Dia menerangkan.

    Tidak tahan berlama-lama, Dana segera mulai menciumi memekku. Dia memainkan klitorisku dengan lidahnya
    yang basah, hingga membuatku kembali mengejang.

    ”Arghhhhh…” merintih keenakan, kujepitkan kedua kakiku ke kepalanya erat-erat, seakan tidak rela untuk
    melepaskannya lagi.

    Dana terus memilin, menyedot, dan memain-mainkan klitoris kecilku dengan lidah dan mulutku. Dia semakin
    liar, bahkan aku sampai terduduk menahan kenikmatan yang amat sangat.

    Aku lalu menarik pinggulnya, sehingga posisi kami menjadi berbaring menyamping berhadapan, tetapi
    terbalik. Kepala Dana berada di depan memekku, sementara aku dengan rakusnya telah melahap dan mengulum
    batang penisnya yang sudah sangat keras dan besar. Oughhh… rasanya sungguh nikmat tiada tara.

    Tapi Dana kelihatan kesulitan untuk melakukan oral terhadapku dalam posisi seperti ini. Jadi dia
    memintaku kembali telentang di tempat tidur. Dana lalu naik ke atas tubuhku, tetap dalam posisi
    terbalik. Kami pernah beberapa kali melakukan hal yang sama dulu, tetapi rasa yang ditimbulkan jauh
    berbeda, karena kami sudah suami istri sekarang.

    Hampir bobol pertahanan Dana menerima jilatan dan hisapan lidahku yang hangat dan kasar. Apalagi saat
    kumasukkan kontolnya ke dalam mulutku seperti akan menelannya, kemudian aku bergumam. Getaran pita
    suaraku seakan menggelitik ujung kemaluannya, membuatnya menggelinjang keras. Bukan main nikmatnya.

    Karena hampir tidak tertahankan lagi, Dana segera mengubah posisi. Wajah kami berhadapan. Kembali dia
    menatap mataku, membisikkan bahwa dia sangat menyayangiku. Dana juga bertanya, apakah kira-kira aku akan
    tahan kali ini? Kucium bibirnya dengan gemas sebagai jawaban, kuminta dia untuk melakukannya pelan-
    pelan.

    Dana menuntun kontolnya menuju lubang vaginaku. Berdasarkan pengamatannya tadi, Dana tahu dimana kira-
    kira letak Liang Senggamaku. Dia menciumku sambil menurunkan pinggulnya pelan-pelan.

    Aku langsung merintih tertahan, tapi kali ini tanganku tidak lagi mendorong bahunya. Dana mengangkat
    lagi pinggulnya sedikit, sambil bertanya apakah terasa sangat sakit. Dengan isyarat gelengan kepala,
    kukatakan bahwa aku juga sangat menginginkannya.

    Setelah memintaku untuk menahan sakit sedikit, dengan perlahan tapi pasti, Dana menekan pinggulnya. Dia
    memasukkan kontolnya sedikit demi sedikit.

    Kepalaku terangkat ke atas menahan sakit. Dana segera menghentikan usahanya saat melihatku meringis. Dia
    menatap mataku lagi, meminta persetujuan.

    Meski ada setitik air mata disana, tetapi sambil tersenyum, aku menganggukkan kepala. ”Lakukan… sayang!”
    bisikku lirih.

    Mengangkat pinggulnya sedikit, Dana kemudian menekannya lagi pelan-pelan. Saat aku sudah tidak menolak,
    dia lalu mendorongnya kuat-kuat.

    ”Heggkkhhh…” aku mengerang keras sambil menggigit kuat bahunya. Kelak, bekas gigitan itu baru akan
    hilang setelah beberapa hari.

    Akhirnya, setelah melewati perjuangan keras dan menyakitkan, seluruh batang Dana berhasil masuk ke dalam
    lubang memekku. Dia tampak bangga dan bahagia telah berhasil melakukan tugasnya. Dana menciumi bibirku
    dengan mesra, dan menyeka butir air mata yang mengalir dari sudut mataku.

    Aku membuka mata. Sebagai istri, aku juga bahagia. Di balik rasa sakit yang kualami, aku juga telah
    berhasil mempersembahkan satu-satunya milikku yang berharga pada suamiku.

    Setelah rasa sakitku sedikit mereda, perlahan Dana menarik keluar kontolnya, lalu menekan lagi, ditarik
    lagi, ditekan lagi, begitu terus berulang-ulang, tapi tetap dalam tempo pelan, takut membuatku
    kesakitan. Baru setelah memekku bisa menerima kehadiran kontolnya, dia melakukannya dengan sedikit
    cepat.

    Setiap Dana menekan masuk, aku mendesah. Dan kali ini bukan lagi rintihan penuh kesakitan, tapi desisan
    dari rasa nikmat yang amat sangat yang menyerang memekku saat kontol kaku Dana menggesek cepat
    permukaannya yang hangat dan lembut. Menimbulkan rasa nikmat tiada tara yang baru kali ini kurasakan.
    Rasanya lebih nikmat dari sekedar jilat atau petting. Rupanya, beginilah kenikmatan persetubuhan yang
    sebenarnya. Oughhh… aku menyukainya. Kurasa, aku bisa ketagihan dan tergila-gila dibuatnya.

    Butir-butir keringat mulai membasahi tubuh telanjang kami berdua. Nafsu birahi yang telah lama tertahan
    terpuaskan lepas saat ini. Kepalaku mulai membanting ke kiri dan ke kanan, seiring kontol Dana yang
    mengocok lubang memekku semakin cepat.

    ”Oughhhh… Sshhhh…” aku merintih. Kupeluk erat tubuh Dana sambil sesekali kukuku menancap di punggungnya.

    Pijitan dan jepitan erat memekku membuat Dana jadi tidak tahan lagi. Sambil menancapkan batang kontolnya
    dalam-dalam, ia pun menyemburkan spermanya banyak-banyak ke dalam rahimku. Dana kalah kali ini. Dia
    memeluk dan menciumi wajahku yang basah oleh keringat, sambil berucap terima kasih.

    Mataku yang bening indah menatapnya bahagia. Meski tidak sampai orgasme, tapi aku sangat puas bisa
    mempersembahkan milikku yang paling berharga kepadanya.

    Dana menambahkan, ”Aku titip padamu, jaga baik-baik anak kita bila benih itu tumbuh nanti.”

    Aku mengangguk mengiyakan. Kami baru sadar bahwa kami lupa berdoa sebelumnya, tapi mudah-mudahan Yang
    Maha Esa selalu melindungi benih yang akan tumbuh itu.

    Baca JUga Cerita Seks Sekretaris Pribadi

    Seprai merah jambu sekarang bernoda darah. Mungkin karena selaput daraku cukup tebal, noda darahnya
    cukup banyak, hingga menembus sampai ke kasur. Itu akan menjadi kenang-kenangan kami selamanya.

    Malam itu kami hampir tidak tidur. Setelah beristirahat beberapa saat, kami melakukannya lagi, lagi, dan
    lagi. Entah berapa kali, tapi yang pasti, pada hubungan yang ke dua setelah tertembusnya selaput dara
    itu, Dana berhasil membawaku orgasme, bahkan lebih dari satu kali. Dia yang sudah kehilangan banyak
    sperma, menjadi sangat kuat dan tahan lama, hingga akhirnya dia menyerah kalah dan tergeletak dalam
    kenikmatan dan kelelahan yang amat sangat…

    ***

    Saat ini, kami telah memiliki 3 orang anak yang lucu-lucu. Tapi gairah dan nafsu kami seperti tidak
    pernah padam. Dalam usia kami yang mendekati 40 tahun, kami masih sanggup melakukannya 2-3 kali
    seminggu, bahkan tidak jarang, lebih dari satu kali dalam semalam. Nafsu yang didasari oleh cinta,
    memang tidak pernah padam. Aku sangat mencintai dia, begitupun yang kurasakan dari dia.

  • Sales Counter Girl

    Sales Counter Girl


    58 views

    Sebagai perkenalan nama saya Bili, mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri. Lita pacarku masih sekolah kelas 3 di bangku sma swasta. Kami baru 4 bulan menjalin hubungan. Untuk diketahui Lita memiliki bentuk badan yang proporsional, tinggi badannya sekitar 170 dan badannya sangat seksi dengan bentuk lekuk tubuh yang ideal, rambutnya hitam lurus panjang sebahu.wajahnya yang cantik terkesan lugu seperti boneka. Karena matanya yang kemayu dihiasi bulu mata lentik dan alis mata yang indah sangat cocok dengan kulitnya yang putih bersih. Lita pun gemar menggunakan pakaian yang terbuka dan sering mengenakan celana jeans pendek ketat yang memperlihatkan kemulusan pahanya dan betisnya yang menurutku sangat seksi. Aku sangat menyayanginya dan sungguh bahagia bisa mendapatkannya karena selain cantik rupanya diapun sangat baik ramah dan sopan atau banyak orang bilang inner beautynya juga dapat menarik perhatian semua cowok.sebelum akhirnya ada suatu kejadian yang mengubah semua pandanganku. Kejadian ini bermula saat aku sedang mengikuti perkuliahan, tiba-tiba hp-ku bergetar dan ada 1 pesan masuk dari Lita pacarku yang berisi “Yank kita perginya nanti sore saja yaa, Ta lagi mau nyuci pakaian dlu..okeh.,”. Lita memang sebelumnya mengajakku untuk pergi mencari baju setelah aku selesai mengikuti perkuliahan.setelah selesai akupun tak langsung pulang ke kosanku karena malas kalo di kosan sendiri. Akhirnya aku memutuskan untuk kerumah Lita saja menunggu sampai sore pun tak apa karena setahu saya orang tua Lita sedang menghadiri acara pernikahan sodaranya di luar kota.tanpa bilang akupun langsung meluncur ke rumahnya. Sesampainya di rumah Lita, aku melihat rumahnya sangat sepi meski ada sebuah mobil yang parkir di depan rumahnya. Akupun mendekat dan ternyata pagar rumahnya tidak terkunci. Pintu rumahnya tertutup rapat aku sengaja berputar lewat belakang rumahnya karena tempat menjemur di belakang rumahnya. Ketika berputar kulihat ada sebuah ember yang berisi pakaian yang sudah dicuci dan belum dijemur.

    “Kemana si Lita ya?” tanyaku dalam hati

    cerita-sex-dewasa-hukuman-untuk-kekasihku

    Pintu belakang tertutup rapat. Aku pun berinisiatif untuk mengejutkannya jika dia sedang tertidur di kamarnya

    Kamar Lita memiliki jendela yang besar. Ketika dekat dengan jendela aku terkejut mendengar suara bincang-bincang suara Lita dan seorang laki-laki. Penasaran ingin tahu siapa orang tersebut, akupun mengendap untuk mengintip lewat celah jendela yang terbuka. Betapa terkejutnya aku melihat Lita yang masih mengenakan daster tidurnya sedang bermesraan dikamar tidurnya yang akupun belum pernah masuk ke dalam.terlihat daster Lita sudah tidak karuan tersingkap dan lebih gilanya cowok tersebut sudah tidak mengenakan celana, hanya baju saja, terlihat penisnya yang besar mengacung.tangan kiri cowok tersebut menyeinap di balik dasternya dan tangan kanannya mengelus dan terlihat mengocok vagina Lita yang sudah tidak mengenakan cd. Marah, jengkel, benci dan dalam keadaan emosi aku memaki maki Lita dalam hati.

    “Bajingan, dasar perek murahan!”

    Sungguh sangat miris persaanku saat itu.tubuh milik pacarku sedang dijamah orang lain yang aku kenal. Orang itu adalah Dwi, teman kuliahku. Sangat kacau sekali perasaanku. Kini tidak terdengar lagi perbincangan mereka, hanya lenguhan dari Lita yg sekali kali terdengar. Tangan kanan Dwi temanku kini menuntun tangan Lita menuju penisnya yang memang lebih panjang dari milikku, sekitar 16 cm panjangnya dan tangan Lita kini menggenggamnya perlahan mengocok penis Dwi yang kontan membuatnya merem melek.

    “Anjing…gua aja belum pernah!” pikirku.

    Tangan kiri Dwi terus bergerilya meremas payudara pacarku dari balik dasternya dan tangan kanannya terus menggosok-gosok bibir vagina Lita yang aku pun baru melihatnya sekarang. Sangat indah dengan bulu-bulu halus dan yang tidak banyak dan terlihat sekali kali lubang vagina Lita yang dibuka oleh dua jari Dwi dari situ terlihat lubang vagina Lita yang berwarna merah muda sangat kecil seukuran jari lentik. Entah kenapa perasaan aku yang tadi sangat emosi kini berubah menjadi bergairah untuk terus melihat apa yang sedang Lita lakukan. Meski posisi mereka menghadap ke arahku namun mereka tak akan melihat kehadiranku karena dari tempatku sangat gelap dan memang hanya sebuah gang sempit sisa dari bangunannya dan pagar. Sedangkan kamar Lita sangat terang oleh lampu yang menyala. Kini Dwi mulai berinisiatif untuk membuka daster pacarku, dengan mudah dia meloloskan dasternya dari atas dan ternyata Lita tidak mengenakan BH sehingga terpampang jelas payudaranya yang mancung dan masih ranum. Saat aku masih takjub dengan payudara milik Lita, Dwi sudah menyambarnya dan mengenyot puting milik pacarku yang belum pernah kujamah itu. Rasa menyesal menghampiriku kenapa bukan aku duluan? Ciuman Dwi kini beralih ke payudara yang satunya dan kemudian ke bibir mungil milik Lita. Mulut mereka beradu dan terlihat saling hisap.Sialan…melihat pacarku sedang disetubuhi aku malah terangsang, ingin sekali aku ikut dalam acara mereka.

    Sekian lama waktu berselang, mereka sudah dalam keadaan bugil dan terlihat Lita pacarku sudah terlentang pasrah menunggu langkah Dwi selanjutunya. Dwi tidak langsung memasukkan penisnya tetapi dia mulai dengan menjilati vagina Lita yang sangat lezat yang seharusnya menjadi milikku. Lama Dwi menjilati milik Lita kini dia bersiap memasukkan penis nya ke lubang vagina pacarku. Awalnya dia menggesek gesekan penisnya ke lubang vagina pacarku yang sudah mengkilap. Diangkatnya kedua paha Lita dengan kedua tangannya sementara tangan Lita memegangi penis Dwi yang terus melakukan penetrasi ke vaginanya.dalam hati aku terus memaki maki.dalam keadaan tidak sadar aku memegangi penis milikku yang sudah tegang. Akupun nekat dengan membuka celana panjangku hingga batas lutut dan mulai mengelus penisku. Sementara itu kepala penis milik Dwi sudah hilang dihisap vagina pacarku.dan tidak beberapa lama setengah penis Dwi sudah masuk dan dihimpit dinding vagina Lita yang legit. Mulut Lita menganga tangannya meremas punggung Dwi dan yang satunya meremas sprei tempat tidur yang sudah acak acak. Dwi pun langsung menghentakkan pinggangnya dan plok terdengar bunyi yang cukup keras. Kini penis Dwi terbenam seluruhnya di vagina pacarku yang belum pernah aku jelajahi. Sesaat Dwi terdiam lalu menciumi bibir Lita yang masih meringis.tidak ada darah dan kemungkinan Lita memang sudah pernah melakukannya sebelum ini. Tangan Dwi meremas payudara Lita lalu mencoba untuk menarik penisnya lalu memasukannya lagi, terlihat penis Dwi sudah mengkilap oleh cairan Lita. Hal ini membuatku hancur dan kecewa, jika pacarku selingkuh hanya sekedar selingkuh tak apa, tapi kenapa sampai melakukan persetubuhan yang aku pacarnya sendiri belum pernah merasakan nikamuatnya tubuh itu dan Dwi yang aku tahu dia juga sudah memiliki seorang pacar adik angkatan di tempatku kuliah. Sialan… kenapa dia merusak lahan milikku dalam hati aku memaki.tak tinggal diam akupun merekam semua kejadian itu dengan menggunakan hp milikku sambil sesekali mengocok penisku. Kini Dwi mulai mengocok penisnya di vagina pacarku, diapun sambil terus mengocok penisnya di dalam vagina Lita sambil mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan pada Lita berikut yang dapat saya dengar.
    “Sayang enak enggak??enak mana sama Bili??”
    “Enak kak, mmh belum pernah kak.”
    “apa belum pernah sama Bili?oh iya yah kan aku yang merawanin kamu di kosan Bili”
    “teruss kak..akkh!!”
    “enak banget ngentotin kamu sayang.”

    Tak berselang lama kocokan penis Dwi semakin cepat, tubuh pacarku kini tersentak sentak tangannya terus menekan pantat Dwi.

    “Akh sayank mau keluar nih…akkhh…!” erang Dwi

    Saat tubuh Dwi terangkat tapi justru tangan Lita pacarku malah menekan pantat Dwi yang sudah terangkat hingga merapat kembali dan terdengar lenguhan dari keduanya hampir besamaan

    “arrrrrrghhh.ahh ahh!!”

    Keduanya saling berpelukan dan aku tahu jika keduanya sudah orgasme dan sperma Dwi dikeluarkan di dalam vagina Lita dan pasti menyirami dan memenuhi rahimnya, terlihat dari lumeran sperma dari vagina Lita yang keluar melewati penis Dwi yang masih menancap dan mulai mengecil. Saat itu aku langsung mulai merapihkan pakaianku dan langsung cabut. Setelah kejadian tersebut, bayangan-bayangan tiap adegan masih terekam jelas dalam ingatanku dan sekali kali aku juga melihat hasil rekaman saat pacarku ML dengan Dwi. Ketika melihat adegan video tersebut selalu saja membuat penisku langsung tegak spontan. ceritasexdewasa.org Gundah sekali perasaanku, marah dan benci, ingin sekali menghukum Lita pacarku atas perbuataannya itu.dan terbesit sebuah pikiran kotor dalam benakku kalo aku ingin menghukumnya dengan menyuruhnya ML dengan teman-teman cowok di sekolahnya di depanku. Namun hal tersebut pasti akan ditolaknya, pikiranpun semakin picik. Aku akan menjebak pacarku sendiri yang sudah berselingkuh dan ML dengan temanku Dwi. 3 hari setelah kejadian itu akupun berpura-pura tidak tahu atas perbuatan Lita terhadapku dan bertindak seperti biasanya.aku sengaja datang ke sekolahnya tanpa Lita tahu dan mencari tahu tentang teman cowok Lita baik sahabat atau bahkan teman yang tidak disukai Lita. Ada beberapa teman kelasnya yang aku tahu ada 3 orang, yaitu Bayu, Raden dan Epul yang adalah anak-anak bengal di sekolah tersebut, aku yakin bahwa Lita sangat tidak menyukainya, apalagi tampang mereka pun jauh dari ganteng, ya kira-kira mirip para siswa tukang tawuran yang wajahnya sering menghiasi berita-berita kriminal itu. Setelah bertemu akupun langsung merencanakan ideku untuk mengerjai Lita. Mereka semua langsung satu kata setuju dengan rencanaku. Pada hari Sabtu saat Lita pulang cepat akupun menjemputnya dan mengantarnya pulang dengan sepeda motor. Sesuai dengan rencanaku akupun tidak langsung mengantarnya untuk pulang tetapi menuju rumah Leo teman sekolah Lita yang sangat bengal. Aku berdalih pada Lita bahwa aku ada urusan sama Leo.

    Setelah masuk ke dalam akupun disuguhi minuman dan berbincang sejenak..Lalu Leo masuk kembali ke ruangannya. Lita yang memang sedang kehausan langsung meminum air sirup orange tanpa basa basi. Lama menunggu Leo kami pun sempatkan untuk bercumbu sambil berciuman, namun entah kenapa ada yang aneh dengan Lita karena matanya sangat mengantuk dan benar saja dalam sekejap Lita sudah terkulai tertidur pulas di sofa rumah Leo. Lalu suara orang mengetuk pintu terdengar dan terlihat Epul,Bayu dan Raden sudah tiba. Saya yang sudah merencanakan hal tersebut mulai ragu, langsung kugendong tubuh Lita yang tertidur ke sebuah kamar milik Leo dengan ranjang yang empuk dan cukup tinggi. Kurebahkan tubuh Lita yang masih mengenakan seragam sekolahnya lalu kubuka satu persatu kancing bajunya dan kutanggalkan pakainya. Roknya pun tidak luput untuk kulucuti. Kini tubuhnya hanya dibalut BH warna krem dan cd warna putihnya.sengaja aku tidak menutup pintu kamarnya agar teman-temannya dapat melihat tubuh gadis yang hanya mereka bayangkan saja di sekolahnya. Menurut info dari teman-temanya, Lita memang pandai dan banyak yang suka padanya bahkan banyak yang onani dengan memikirkan menyetubuhinya. Kini tubuh yang mereka bayangkan tergolek di ranjang dan hanya mengenakan BH dan cd tentu membuat mereka tidak sabar dan akupun mencoba mengingatkan mereka untuk sesuai rencana dimana aku yang pertama melakukannya dan kemudian baru mereka. Kini ketiga orang temannya itu hanya duduk di tepi ranjang dan hanya melihat apa yang aku lakukan terhadap tubuh pacarku ini.ada sensasi sendiri ketika tubuh indah milik pacarku dilihat oleh orang lain. Kini aku ciumi Lita dari bibirnya hingga lehernya lalu kubuka pengait BH-nya dan semua yang di dalam kamar terdiam menunggu.setelah kaitannya terbuka lalu kuangkat BH milik Lita dan benar saja teman-temannya semua takjub melihat keindahan payudara Lita, bahkan mereka terlihat ada yang sudah membuka celananya dan mengocok penisnya. Nampak Epul mengocok penisnya dan Raden menggosok gosok penisnya dari luar sementara Bayu merekamnya dengan HP miliknya. Aku langsung melahap payudara Lita yang tertidur lelap pengaruh dari obat tidur yang di masukkan ke dalam sirup tadi.Cerita Sex Dewasa

    Karena tidak mau berlama-lama aku langsung melucuti pakaianku sendiri hingga bugil lalu aku pelorotin cd Lita dan terlihatlah vaginanya yang masih berwarna merah muda yang sudah pernah dimasuki oleh penis Dwi. Kuciumi aroma vaginanya dan aku jilati belahannya dan kukulum bibir vaginanya sambil menjulurkan lidahku masuk ke dalam lubang vaginanya yang hangat dan menjilati kelentitinya yang menonjol keluar. Lalu kuhisap hingga membuat Lita melenguh..tak sabar aku pun langsung menggosok gosokan penisku ke vaginanya yang sudah terlihat cairan lendirnya. Epul yang dari tadi sudah tidak sabar kini dia sudah bugil dan naik ke atas ranjang dan berlutut tepat di samping wajah pacarku. Tanpa basa basi diapun mengocok penisnya tepat di atas wajah Lita, sesekali tangannya yang nakal meremas payudara Lita. Tak mau ketinggalan Raden dan Bayu ikut telanjang dan kami pun sudah bugil semua. Epul yang berada di samping kanan wajah yang masih mengocok penisnya di atas wajah pacarku dan Raden di samping kirinya ikut tidur di sebelah Lita namun agak ke bawah sehingga wajah Raden tepat berada di payudara Lita tanpa ragu dia menjilati payudara bagian kanan. Memang tubuh indah pacarku membuat orang tidak tahan. Aku mencoba untuk tak peduli terhadap tindakan mereka bahkan menambah hasrat gairah seksku semakin meningkat di mana tubuh indah pacarku dijamah oleh teman temannya sendiri.kini aku mulai mencoba memasukkan penisku ke dalam vaginanya dan mudah saja untukku memasukknya karena memang sudah sangat basah vaginanya menerima rangsangan rangsangan itu. Penisku sudah masuk sepenuhnya ke dalam vagina pacarku yang sudah pernah dimasuki penis Dwi selingkuhannya. Waw…meski tidak perawan namun tetap seret dan peret menjepit batang penisku yang berukuran hanya 14 cm dan berdiameter 4 cm. Aku langsung menggoyang goyangkan mengocok penisku seperti yang dilakukan Dwi padanya. Tubuh Lita ikut tersentak sentak dan terlihat wajahnya yang meringis kesakitan walaupun tidak sadar sepenuhnya.melihat aku yang menusukk nusuk vagina Lita membuat Epul semakin berani dia menempelkan penis miliknya yang berukuran panjang sekitar 17 cm dan berdiameter 5 cm ke pipi pacarku, sambil berkata kata kotor.

    “Nih makan kontolku sayang” ujarnya.

    Epul masih asik terus mengeyot dan meremas puting Lita. Aku semakin cepat saja mengocok penisku. Epul terus menempelkan penisnya ke muka Lita dan kata kotornya terus terucap.

    Ia terus ke leher Lita yang indah karena lipatan lipatan dagingnya yang menambah keseksian lalu naik ke atas bagian dagu dan bibr mulutnya seakan akan menyuruh Lita menciumnya dan terus naik hingga ke bagian matanya yang masih terpejam dan alisnya tak luput dari gesekan penis Epul, bahkan cairan bening yang keluar dari penis Epul dioleskannya di bibir merah Lita, lalu tanpa segan dia mencium bibir Lita. Selesai mencium bibirnya kini Epul semakin berani dia berbaring di samping tubuh Lita namun agak ke atas hingga penisnya sejajar dengan wajah Lita. Tangan kiri Epul menarik kepala Lita hingga menengok ke arah penisnya dan kini tepat mulut mungil merah pacarku berhadapan dengan penis Epul yang berjarak hanya 1 cm. Epul langsung menggosok gosokan kepala penisnya yang ada sedikit cairan bening yang keluar ke bibir mungil pacarku dan dengan tangan kanannya di mencoba membuka mulut Lita dan ingin menyetubuhinya. Setelah mulut Lita terbuka Epul langsung memasukkan penisnya ke dalam membuat kenikmatan tersendiri untuk separuh penisnya sudah masuk. Epul tidak mau kalah menyetubuhi mulut pacarku, ia memaju mundurkan pantatnya dan merasakan sentuhan dari tiap rongga mulut Lita. Melihat kejadian tersebut membuatku tidak tahan lagi, kupercepat gerakanku dan hingga akhirrnya dengan sedikit teriakan

    “akkkhhh!!” aku sampai pada puncaknya, tubuhku mengejang dan penisku menancap penuh di vagina Lita, spermaku menyirami seluruh rongga vagina Lita yang telah berselingkuh dan terasa sedikitnya 4 semburan spermaku.

    Kini aku terkulai lemas lalu kucabut penisku dan aku terbaring di ranjang, kini Raden yang nampaknya akan mengambil alih tempatku dan Bayu terus merekam kejadian kejadian tersebut sesekali diapun ikut mencium dan mengenyot buah dada indah temannya itu. Kini Raden akan merasakan kenikamuatan vagina Lita pacarku dan sekaligus teman sekelasnya itu. Tanpa basa basi Raden langsung mengarahkan penisnya yang panjangnya tidak jauh beda dengan punyaku ke vagina teman kelasnya itu.dengan mudah dia memasukan dan langsung mengocok vagina pacarku dan memutar mutar seakan mengoyak seluruh vaginanya agar semua bagian vaginanya tersentuh oleh penis miliknya.

    Epul kini terlihat semakin cepat gerakannya menyetubuhi mulut Lita hingga ia pun mengeranng

    “aaahhkk…ennnaaaak!!!” sambil menekan kepala Lita dan membenamkan penisnya jauh lebih dalam di mulut Lita

    Saat itu aku menyadari bahwa Epul mengalami orgasme sperma yang langsung masuk dan meyemprot rongga mulut Lita tentu saja membuat pacarku tersedak. Dan dia pun tersadar dari tidurnya namun masih lemah Epul langsung menarik penisnya keluar dan mulut Lita menganga penuh oleh cairan sperma Epul dan ketika sudah sadar Lita seakan ingin bicara namun tak bisa karena masih penuh oleh cairan sperma Epul dan diapun mencoba menelan sperma yang sudah di ujung tenggorokan dan mengeluarkan sisa sisanya hingga meluber. Diapun terkejut ketika melihatku,

    “Bili apa yang kamu lakukan? kamu jahat!” ucapnya sambil badannya terguncang guncang akibat sodokan penis Raden yang lagi asik.
    “Kenapa sayang? Enak kan? hahaa….!” aku tertawa
    “Tolong cukup jangan lakuin ini lagi!” Lita memohon dengan sisa sperma Epul yang lengket di mulutnya.
    “Kamu yang jahat duluan!!” ujarku dengan nada kesal, “kamu asik ngentot sama Dwi di rumahmu sedangkan aku belum pernah mencicipi tubuhmu ini, sekarang rasakan hukumannya ngentot sama temanmu! Enak kan? aku baikkan??”
    “hmmmp!” saat dia ingin mencoba menjawab pertanyaanku mulutnya langsung disumbat oleh penis Bayu yang panjangnya hanya 12 cm dan berdiameter 5 cm.
    “Udah sekarang sayang rasakan aja yah nikmati ajah! toh semua temanmu ini!” ujarku.

    “Aduh Ta enak banget memekmu…dah lama banget aku pengen ngerasain memek ini Ta” Raden pun ikut mengoceh sambil terus memaju mundurkan pantanya memperkosa pacarku, “ayo rasain penisku ini Ta..enak kan? ntar kalo enak lo boleh minta ke gue lagi Ta..goyangin dong pantat mu Ta!”

    Raden menampar keras pantat Lita yang tak bisa berkata kata karena mulutnya masih disumpal penis milik Bayu yang sedang asik disepong olehnya.

    “wahh mulutmu enak Ta! ayo kulum teruss!” sahut Bayu sambil memaju mundurkan pinggulnya, “tiap hari kek gini enak Ta habis pulang sekolah di kelas enak pastinya.hahaha!”

    Bayu pun sangat senang dengan kemenangannya itu.Cerita Sex Dewasa

    Tak lama kemudian Raden mengerang, tubuhnya mengejang tanda mengalami orgasme dan spermanyapun dikeluarkan di dalam. Raden tergeletak lemas. Kini giliran Bayu yang akan mencicipi vagina teman kelasnya yang pandai dan cantik itu. Dengan lemah pacarku memohon pada Bayu untuk menyudahinya..
    “Bayu jangan…tolong sudah cukup!”
    “Udah kamu nikamuatin aja Lita sayang, toh pacarmu aja ngijinin koq” kata Bayu seraya mengangkat paha Lita dan menancapkan penisnya ke vagina Lita..
    “ahhhhhh!!!” Lita pun mengerang
    “Udah masuk nih kontolku di memekmu!” sahutnya enteng
    Lita hanya bisa melenguh lenguh dan sambil tangannya mendorong tubuh Bayu yang sudah kesetanan. Melihat seperti itu kini Bayu mulai memegang tangan Lita dan seperti adegan perkosaan yang lain Bayu langung menggenjot penisnya. Lita hanya mampu menggerak gerakan kepalanya ke kanan dan kiri sambil matanya terpejam menahan hasrat birahinya karena malu pada temannya itu dan tentunya karena aku. Beberapa menit berselang kocokan penis Bayu semakin cepat dan kini ia melepaskan genggaman tangan Lita dan beralih memegang pinggulnya dan terus mengocoknya. Terlihat pacarku sudah tidak menolaknya lagi padahal tangannya bebas dan dia hanya meremas sprei dan yang satunya memegangi buah dadanya sendiri yang padat dan ranum yang terguncang oleh hentakan pantat Bayu. Melihat tidak ada perlawanan lagi dari pacarku kini Bayu leluasa menggenjotnya dan diselingi dengan ciuman ciuman di payudara milik Lita dan saat Bayu mencium bibir pacarku nampaknya pacarku malah membalasnya bibir mereka bergumul lama. Saat sedang asik, aku pun mulai memancing mancing pacarku,

    “Nah enak kan sayang ngentot di depan pacarmu ini?” ujarku.

    Kedua insan tersebut semakin hangat bercinta membuatku kembali bergairah. Mereka terus berciuman dan aku mulai bergerilya. Di tengah asiknya mereka berciuman karena Bayu yang menggenjot dan mencium pacarku, kuselipkan tangan kananku di antara himpitan kedua tubuh Lita dan Bayu yang menempel erat tepat di buah dada Lita. Aku remas dengan keras payudara Lita yang dihimpit oleh tubuh Bayu yang menempel erat antara dada Bayu dan buah dada milik Litta. Lama aku meremas payudara Lita yang terhimpit tubuh Bayu dan akhirnya Bayu melepaskan ciumannya dari bibir Litta.Kini ia fokus menggenjot vagina Lita hingga membuat celah bagiku untuk bermain di bagian atas. Langsung saja aku lumat bibirnya yang sudah menjadi milik banyak orang bahkan aroma sperma masih sangat kuat.aku cium bibirnya sambil meremas payudaranya yang padat itu.

    Tak lama kemudian Bayu mempercepat gerakannya namun saat sebelum orgasme nampak tubuh pacarku sudah bergetar terlebih dahulu matanya terpejam badannya kaku dan dan mulutnya menganga melenguh keras. Beberapa saat kemudian giliran Bayu yang meradang dan mengejang

    “Aahhh Litta pereeek!!! enaak bangettttt memekmu!! lenguhnya dengan kencang dan membenamkan seluruh penisnya dan menyemprotkan seluruh sperma miliknya itu.

    Bayu langsung terkulai lemah.saat itu pula penisku yang sudah tegang kembali langsung aku suruh Lita untuk mengulumnya dan Lita hanya bisa menurut saja karena sudah terlanjur pikirnya. Namun seketika aku sedikit terkejut ketika melihat tubuh gelap yang sudah telanjang dengan penisnya yang mengacung tegak sangat besar dan panjang seperti ukuran orang luar yang saya taksir saat itu panjangnya mencapai 22 cm dan berdiameter 6 cm. Dia mendekat ke arah Litta dan sekarang sudah berada di antara selangkangan pacarku siap untuk menusuk vaginanya. Lita yang mengetahui kedatangannya terkejut dan langsung bereaksi

    “Kenapa dia harus meyetubuhi Ta juga?” ujarnya dengan kesal.

    “Ta ga mau sama dia!!” Lita tampaknya menolak namun Leo tetap memaksa untuk merobek vagina pacarku dengan penisnya. Lita sontak bangkit ketika kepala penis Leo sudah di depan menempel bibir vagina imut miliknya itu. Melihat hal tersebut aku langsung bersikap dengan kembali menahan tubuhnya dan tangannya seakan mempersilakan Leo untuk leluasa memperkosa pacarku itu. Seakan mengerti Leo langsung saja menekan penisnya hingga masuk ke dalam. Awalnya mengalami kesulitan dan Lita kini hanya menangis dan tak berdaya.mungkin dia menyesali perbuatannya. ceritasexdewasa.org Pada sodokan yang ketiga akhirnya kepala penis Leo sudah dapat masuk menembus vagina pacarku. Lita terbelalak dan meringis kesakitan. Dengan sedikit dorngan kini penis Leo sudah masuk setengahnya. Terlihat bagian atas vagina Lita mengembung karena vaginanya sangat penuh terjejali penis milik Leo. Tahu vagina Lita yang belum terbiasa dengan ukuran penis miliknya Leo sengaja mendiamkan beberapa saat untuk mebiasakannya.

    Penis Leo yang hitam legam dan berotot itu kini sudah masuk 3/4 nya lalu ia menariknya dan mendorongnya perlahan lahan hingga akhirnya mulai dengan gerakan mengocok. Aku sungguh tak percaya vagina imut milik pacarku yang cantik ini dimasuki penis dengan size besar dan berwarna coklat kehitam hitaman seperti orang negro. Dengan berhati hati aku menyaksikan vagina Lita pacarku dimasuki batang penis yang urat-uratnya terlihat sangat tangguh. Apakah Lita sanggup menaklukannya? Bayu kembali melanjutkan rekamanya dengan merekam kejadian itu dan mengolok ngolok Lita

    “Ayoo perek! lo senengkan dapetin kontol gede?? Hahaha!!” ejek Bayu, “nanti lo dapeti deh rekaman ini!”

    Kini kocokan dan genjotan Leo sudah semakin stabil dan mulai menambah kecepatannya. Melihat Lita yang sudah tidak melawan aku melepaskan peganganku.dan aku menyuruhnya untuk mengulum penisku. Lama posisi seperti ini kemudian aku pun kembali mengalami orgasme dan menyemburkan spermaku di mulutnya. Aku pun menyingkir dan kini pacarku berada ditangan Leo sepenuhnya. Bosan dengan posisi itu Leo kemudian membalikkan psosisinya. Sekarang Lita berada di atas sedangkan Leo di bawah. Nampak pacarku terlihat canggung mungkin jarang atau malu kalau dia di atas. Ia hanya terlihat merapatkan tubuhnya di pelukan Leo. Melihat tubuh pacarku sedang di atas tubuh orang lain dalam keadaan bugil dan vaginanya dijejali penis berukuran besar menjadi suatu sensasi yang luar biasa. Melihat Litta pacarku yang hanya terkulai lemas membuat Leo tak sabar, dia pun menegakkan badan Lita dan menyuruhnya menggenjotnya sambil tangannya yang kekar menampar nampar pantat pacarku hingga merah.

    “Ayooo perek cepat kau goyang!” ujar Leo kasar pada Lita.

    Litapun kini mencoba menggoyangkan pantatnya.

    “Nah gitu donk, katanya mau jadi perek profesional…ayo yang bagus gerakannya!”

    Lita mulai bisa mengontrol keadaannya.dia mulai menggenjot penis Leo yang tak bisa masuk sepenuhnya ke dalam vaginanya. Kini tangan Leo bebas meremas remas buah dada yang ranum itu dan menggigit gigitnya hingga terlihat merah merah di sekeliling payudara pacarku itu.

    Tak berapa lama goyangan Lita semakin cepat dan dia mengejang kembali mengalami puncaknya. Kembali tubuh telanjang Lita yang putih mulus kembali terkulai lemah di atas dada Leo yang kekar. Epul yang sudah bergejolak kembali melihat adegan tersebut langsung bangkit dan menuju belakang diantara kedua paha Litta. Karena belum puas Leo kembali melanjutkan gerakkannya dengan mencabut penisnya lalu memasukannya lagi dan mencabutnya dan memasukannya lagi dan saat ia mencabutnya terlihat lubang vagina Lita pacarku sudah sangat lebar yang semula hanya berukuran jari lentik kini sudah terlihat seperti lubang sumur yang dalam dan lebar mungkin aku perkirakan 4 jari bisa masuk ke dalam. Lita terkulai tak berdaya dengan kondisi penis Leo yang berukuran besar masih menancap tegak. Tiba tiba saja Epul mengambil posisi tepat di belakang Lita dengan posisi mau dooggy style.Cerita Sex Dewasa

    “Gua pikir penis Leo belum lepas mau apa dia??” hatiku berdebar bertanya tanya.

    Baca Juga Cerita Sex Bolos Kuliah

    Ternyata Epul ingin memaksa penisnya ikut masuk kedalam vagina Lita. Owh…dengan satu penis milik Leo saja sudah sesak apalagi ditambah milik Epul. Apa muat? membuatku penasaran. Ketika mencoba untuk menekan masuk penisnya, pacarku tersentak dan menjerit kesakitan, namun Epul tetap memaksa dan akhirnya bisa memasukinya. Waw…kini dua penis bersamaan masuk di dalam vagina pacarku. Mereka mulai menggenjot bersamaan secara pelan pelan sebelum akhirnya semakin cepat dan cepat. Aku tak tahu kondisi dari Lita sendiri mungkin sekarang dia sudah tak sadarkan diri hingga akhirnya kedua penis tersebut bersamaan menyemburkan spermanya di dalam vagina Lita dan kami pun membiarkannya untuk beristirahat sementara 3 teman kelasnya Epul, Bayu dan Raden berpamitan terlebih dahulu karena ada ekstrakulikuler pramuka di sekolahnya dan sebenarnya Lita pun termasuk anggota ekskul tersebut. Tak terasa 3 jam kami meyetubuhi pacarku bersama teman teman sekolahnya. Tak ada penyesalan sedikitpun karena ini merupakan hukuman untuknya. Setelah satu jam dia tertidur akupun membangunkan Lita yang belum berpakaian sama seperti aku dan Leo. Aku mengajaknya mandi bersama. Leo juga tak mau ketinggalan untuk ikut mandi bersama. Kami bertiga mandi bersama aku menggosokkan tubuh Litta bagian belakan dan Leo ikut ikutan menggosok bagian depannya. Sontak membuat kami berdua kembali bergairah. Leo mengulum buah dada Lita dan nampak Lita pasrah saja menerimanya bahkan sudah bisa menikmatinya ketika tangan Leo mengocok vaginanya yang sudah lebar itu. Kini giliranku yang memegang kamera hp dan melihat persetubuhan pacarku dengan Leo kembali. Saat itu Leo mengangkat kaki Litta dan meletakkannya di atas wastafel kamar mandi dan mulai memasukan lagi penis besarnya ke dalam vagina Litta hingga keduanya kembali berorgasme.

    Setelah selesai mandi aku pun langsung mengantar pulang Litta dan tidak banyak bercerita karena memikirkan pikirannya masing masing. Menurut sumber info terpercaya dari teman Lita, semejnak kejadian tersebut, Lita menjadi bulan bulanan pemuas nafsu seks teman teman sekolahnya, bahkan di kalangan tertentu Lita dicap sebagai perek murahan karena hanya dibayar 50rb atau 20 ribu bahkan ada yang hanya memberi 5ribu saja untuk mencicipi tubuh indahnya. Hal tersebut dikarenakan ulah Bayu yang memanfaatkan rekaman tersebut untuk melakukannya bahkan dia yang seperti germo dengan menyuruh Lita melakukan hubungan seks atau ML dengan teman-temannya untuk keuntungannya sendiri mendapatkan imbalan dari setiap yang memakai tubuh Lita. Jika menolak Bayu mengancam Lita bahwa video yang didapatkan atas kejadian waktu itu akan diberikan pada orang tuanya yang memiliki sakit jantung dan sebagai seorang yang dihormati dan disegani. Bahkan menjadi rahasia umum jika ada salah seorang guru yang pernah memakai Lita sebagai alat pemuasnya. Entah aku harus bangga atau apa atas kejadian ini tapi yang jelas kemarahanku terhadap Dwi belum tuntas aku berniat untuk membalasnya dengan mengerjai pacarnya yang juga tidak kalah cantik dari Litta dan terkenal sangat agresif serta dicap gatalan itu. Nantikan saja kelanjutannya…