TOKET

  • Akibat Ngintip

    Akibat Ngintip


    9 views

    Kegiatan ronda memang rutin diadakan di kampugku selama ini masih berjalan baik, setiap malam pasti
    ada ship terdiri dari 3 orang, malam itu aku dapat giliran untuk untuk jaga pada malam minggu, tepat
    pukul 00.00 yang seharusnya menemaniku ronda belum kunjung datang karena kegitan ronda sukarela maka
    aku juga tidak memperdulikan mau datang atau tidak.

    cerita-sex-dewasa-akibat-ngintip

    Dan aku mengelilingi kampungku karena aku belum mengantuk aku mengelilingi rumah rumah penduduk dengan
    sarung dan senter karena udaranya dingin aku menyalakan rokokku, pada sampai di rumah Pak Erkam aku
    melihat kaca yang belum tertutup dengan benar dan aku mendekati itu kelupaan atau ada orang yang masuk
    dengan hati-hati kudekati, tetapi ternyata kain korden tertutup rapi.

    Kupikir kemarin sore pasti lupa menutup kaca nako, tetapi langsung menutup kain kordennya saja.
    Mendadak aku mendengar suara aneh, seperti desahan seseorang. Kupasang telinga baik-baik, ternyata
    suara itu datang dari dalam kamar. Kudekati pelan-pelan, dan darahku berdesir, ketika ternyata itu
    suara orang bersetubuh. Nampaknya ini kamar tidur Pak Erkam dan istrinya.

    Aku lebih mendekat lagi, suaranya dengusan nafas yang memburu dan gemerisik dan goyangan tempat tidur
    lebih jelas terdengar.

    “Ssshh… hhemm… uughh… ugghh, terdengar suara dengusan dan suara orang seperti menahan sesuatu. Jelas
    itu suara Bu Erkam yang ditindih suaminya. Terdengar pula bunyi kecepak-kecepok, nampaknya penis Pak
    Erkam sedang mengocok liang vagina Bu Erkam.

    Aduuh, darahku naik ke kepala, penisku sudah berdiri keras seperti kayu. Aku betul-betul iri
    membayangkan Pak Erkam menggumuli istrinya. Alangkah nikmatnya menyetubuhi Bu Erkam yang cantik dan
    bahenol itu.

    “Oohh, sshh buuu, aku mau keluar, sshh…. ssshh..” terdengar suara Pak Erkam tersengal-sengal.

    Suara kecepak-kecepok makin cepat, dan kemudian berhenti. Nampaknya Pak Erkam sudah ejakulasi dan
    pasti penisnya dibenamkan dalam-dalam ke dalam vagina Bu Erkam. Selesailah sudah persetubuhan itu, aku
    pelan-pelan meninggalkan tempat itu dengan kepala berdenyut-denyut dan penis yang kemeng karena tegang
    dari Erkam.

    Sejak malam itu, aku jadi sering mengendap-endap mengintip kegiatan suami-istri itu di tempat
    tidurnya.

    Walaupun nako tidak terbuka lagi, namun suaranya masih jelas terdengar dari sela-sela kaca nako yang
    tidak rapat benar. Aku jadi seperti detektip partikelir yang mengamati kegiatan mereka di sore hari.

    Biasanya pukul 21.00 mereka masih melihat siaran TV, dan sesudah itu mereka mematikan lampu dan masuk
    ke kamar tidurnya.

    Aku mulai melihat situasi apakah aman untuk mengintip mereka. Apabila aman, aku akan mendekati kamar
    mereka. Kadang-kadang mereka hanya bercakap-cakap sebentar, terdengar bunyi gemerisik (barangkali
    memasang selimut), lalu sepi. Pasti mereka terus tidur.

    Tetapi apabila mereka masuk kamar, bercakap-cakap, terdengar ketawa-ketawa kecil mereka, jeritan lirih
    Bu Erkam yang kegelian (barangkali dia digelitik, dicubit atau diremas buah dadanya oleh Pak Erkam),
    dapat dipastikan akan diteruskan dengan persetubuhan.Cerita Sex Dewasa

    Dan aku pasti mendengarkan sampai selesai. Rasanya seperti kecanduan dengan suara-suara Pak Erkam dan
    khususnya suara Bu Erkam yang keenakan disetubuhi suaminya.

    Hari-hari selanjutnya berjalan seperti biasa. Apabila aku bertemu Bu Erkam juga biasa-biasa saja,
    namun tidak dapat dipungkiri, aku jadi jatuh cinta sama istri Pak Erkam itu.

    Orangnya memang cantik, dan badannya padat berisi sesuai dengan seleraku. Khususnya pantat dan buah
    dadanya yang besar dan bagus.

    Aku menyadari bahwa hal itu tidak akan mungkin, karena Bu Erkam istri orang. Kalau aku berani menggoda
    Bu Erkam pasti jadi masalah besar di kampungku.

    Bisa-bisa aku dipukuli atau diusir dari kampungku. Tetapi nasib orang tidak ada yang tahu. Ternyata
    aku akhirnya dapat menikmati keindahan tubuh Bu Erkam.

    Pada suatu hari aku mendengar Pak Erkam opname di rumah sakit, katanya operasi usus buntu. Sebagai
    tetangga dan masih bujangan aku banyak waktu untuk menengoknya di rumah sakit. Dan yang penting aku
    mencoba membangun hubungan yang lebih akrab dengan Bu Erkam.

    Pada suatu sore, aku menengok di rumah sakit bersamaan dengan adiknya Pak Erkam. Sore itu, mereka
    sepakat Bu Erkam akan digantikan adiknya menunggu di rumah sakit, karena Bu Erkam sudah beberapa hari
    tidak pulang.

    Aku menawarkan diri untuk pulang bersamaku. Mereka setuju saja dan malah berterima kasih. Terus terang
    kami sudah menjalin hubungan lebih akrab dengan keluarga itu.

    Sehabis mahgrib aku bersama Bu Erkam pulang. Dalam mobilku kami mulai mengobrol, mengenai sakitnya Pak
    Erkam. Katanya seminggu lagi sudah boleh pulang.

    Aku mulai mencoba untuk berbicara lebih dekat lagi, atau katakanlah lebih kurang ajar. Inikan
    kesempatan bagus sekali untuk mendekatai Bu Erkam.

    “Bu, maaf yaa. ngomong-ngomong Bu Erkam sudah berkeluarga sekitar 3 tahun kok belum diberi momongan
    yaa”, kataku hati-hati.

    “Ya, itulah Dik Budi. Kami kan hanya lakoni. Barangkali Tuhan belum mengizinkan”, jawab Bu Erkam.

    “Tapi anu tho bu… anuu.. bikinnya khan jalan terus.” godaku. “Ooh apa, ooh. kalau itu sih iiiya Dik
    Budi” jawab Bu Erkam agak kikuk.

    Sebenarnya kan aku tahu, mereka setiap minggunya minmal 2 kali bersetubuh dan terbayang kembali
    desahan Bu Erkam yang keenakan. Darahku semakin berdesir-desir. Aku semakin nekad saja.

    “Tapi, kok belum berhasil juga yaa bu?” lanjutku.Cerita Sex Dewasa

    “Ya, itulah, kami berusaha terus. Tapi ngomong-ngomong kapan Dik Budi kimpoi. Sudah kerja, sudah punya
    mobil, cakep lagi. Cepetan dong. Nanti keburu tua lhoo”, kata Bu Erkam.

    “Eeh, benar nih Bu Erkam. Aku cakep niih. Ah kebetulan, tolong carikan aku Bu. Tolong carikan yang
    kayak Ibu Erkam ini lhoo”, kataku menggodanya.

    “Lho, kok hanya kayak saya. Yang lain yang lebih cakep kan banyak. Saya khan sudah tua, jelek lagi”,
    katanya sambil ketawa.

    Aku harus dapat memanfaatkan situasi. Harus, Bu Erkam harus aku dapatkan. “Eeh, Bu Erkam. Kita kan
    nggak usah buru-buru nih.

    Di rumah Bu Erkam juga kosong. Kita cari makan dulu yaa. Mauu yaa bu, mau yaa”, ajakku dengan penuh
    kekhawatiran jangan-jangan dia menolak.

    “Tapi nanti kemaleman lo Dik”, jawabnya.

    “Aah, baru jam tujuh. Mau ya Buu”, aku sedikit memaksa.

    “Yaa gimana yaa… ya deh terserah Dik Budi. Tapi nggak malam-malam lho.” Bu Erkam setuju. Batinku
    bersorak.

    Kami berehenti di warung bakmi yang terkenal. Sambil makan kami terus mengobrol. Jeratku semakin aku
    persempit.

    “Eeh, aku benar-benar tolong dicarikan istri yang kayak Bu Erkam dong Bu. benar nih. Soalnya begini
    bu, tapii eeh nanti Bu Erkam marah sama saya. Nggak usaah aku katakan saja deh”, kubuat Bu Erkam
    penasaran.

    “Emangnya kenapa siih.” Bu Erkam memandangku penuh tanda tanya.

    “Tapi janji nggak marah lho.” kataku memancing. Dia mengangguk kecil. “Anu bu… tapi janji tidak marah
    lho yaa.”

    “Bu Erkam terus terang aku terobsesi punya istri seperti Bu Erkam.

    Aku benar-benar bingung dan seperti orang gila kalau memikirkan Bu Erkam. Aku menyadari ini nggak
    betul. Bu Erkam kan istri tetanggaku yang harus aku hormati.

    Aduuh, maaf, maaf sekali bu. aku sudah kurang ajar sekali”, kataku menghiba. Bu Erkam melongo,
    memandangiku. sendoknya tidak terasa jatuh di piring.

    Bunyinya mengagetkan dia, dia tersipu-sipu, tidak berani memandangiku lagi.

    Sampai selesai kami jadi berdiam-diaman. Kami berangkat pulang. Dalam mobil aku berpikir, ini sudah
    telanjur basah. Katanya laki-laki harus nekad untuk menaklukkan wanita. Nekad kupegang tangannya
    dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku memegang setir.

    Di luar dugaanku, Bu Erkam balas meremas tanganku. Batinku bersorak. Aku tersenyum penuh kemenangan.
    Tidak ada kata-kata, batin kami, perasaan kami telah bertaut. Pikiranku melambung, melayang-layang.
    Mendadak ada sepeda motor menyalib mobilku. Aku kaget.

    “Awaas! hati-hati!” Bu Erkam menjerit kaget. “Aduh nyalib kok nekad amat siih”, gerutuku.

    “Makanya kalau nyetir jangan macam-macam”, kata Bu Erkam.

    Kami tertawa. Kami tidak membisu lagi, kami ngomong, ngomong apa saja. Kebekuan cair sudah. Sampai di
    rumah aku hanya sampai pintu masuk, aku lalu pamit pulang. Di rumah aku mencoba untuk tidur.

    Tidak bisa. Nonton siaran TV, tidak nyaman juga. Aku terus membayangkan Bu Erkam yang sekarang
    sendirian, hanya ditemani pembantunya yang tua di kamar belakang. Ada dorongan sangat kuat untuk
    mendatangi rumah Bu Erkam.

    Berani nggaak, berani nggak. Mengapa nggak berani. ceritasexdewasa.org Entah setan mana yang mendorongku, tahu-tahu aku
    sudah keluar rumah. Aku mendatangi kamar Bu Erkam. Dengan berdebar-debar, aku ketok pelan-pelan kaca
    nakonya, “Buu Erkam, aku Budi”, kataku lirih.

    Terdengar gemerisik tempat tidur, lalu sepi. Mungkin Bu Erkam bangun dan takut. Bisa juga mengira aku
    maling.

    “Aku Budi”, kataku lirih. Terdengar gemerisik. Kain korden terbuka sedikit.

    Nako terbuka sedikit. “Lewat belakang!” kata Bu Erkam. Aku menuju ke belakang ke pintu dapur. Pintu
    terbuka, aku masuk, pintu tertutup kembali.

    Aku nggak tahan lagi, Bu Erkam aku peluk erat-erat, kuciumi pipinya, hidungnya, bibirnya dengan lembut
    dan mesra, penuh kerinduan. Bu Erkam membalas memelukku, wajahnya disusupkan ke dadaku.

    “Aku nggak bisa tidur”, bisikku.

    “Aku juga”, katanya sambil memelukku erat-erat.

    Dia melepaskan pelukannya. Aku dibimbingnya masuk ke kamar tidurnya. Kami berpelukan lagi, berciuman
    lagi dengan lebih bernafsu.

    “Buu, aku kangen bangeeet. Aku kangen”, bisikku sambil terus menciumi dan membelai punggungnya. Nafsu
    kami semakin menggelora. Aku ditariknya ke tempat tidur.

    Bu Erkam membaringkan dirinya. Tanganku menyusup ke buah dadanya yang besar dan empuk, aduuh nikmat
    sekali, kuelus buah dadanya dengan lembut, kuremas pelan-pelan. Bu Erkam menyingkapkan dasternya ke
    atas, dia tidak memakai BH. Aduh buah dadanya kelihatan putih dan menggung.

    Aku nggak tahan lagi, kuciumi, kukulum pentilnya, kubenamkan wajahku di kedua buah dadanya, sampai aku
    nggak bisa bernapas. Sementara tanganku merogoh kemaluannya yang berbulu tebal. Celana dalamnya
    kupelorotkan, dan Bu Erkam meneruskan ke bawah sampai terlepas dari kakinya.

    Dengan sigap aku melepaskan sarung dan celana dalamku. Penisku langsung tegang tegak menantang. Bu
    Erkam segera menggenggamnya dan dikocok-kocok pelan dari ujung penisku ke pangkal pahaku. Aduuh,
    rasanya geli dan nikmat sekali. Aku sudah nggak sabar lagi. Aku naiki tubuh Bu Erkam, bertelekan pada
    sikut dan dengkulku.

    Kaki Bu Erkam dikangkangkannya lebar-lebar, penisku dibimbingnya masuk ke liang vaginanya yang sudah
    basah. Digesek-gesekannya di bibir kemaluannya, makin lama semakin basah, kepala penisku masuk,
    semakin dalam, semakin… dan akhirnya blees, masuk semuanya ke dalam kemaluan Bu Erkam.

    Aku turun-naik pelan-pelan dengan teratur. Aduuh, nikmat sekali. Penisku dijepit kemaluan Bu Erkam
    yang sempit dan licin. Makin cepat kucoblos, keluar-masuk, turun-naik dengan penuh nafsu.

    “Aduuh, Dik Budi, Dik Budii… enaak sekali, yang cepaat.. teruus”, bisik Bu Erkam sambil mendesis-
    desis.

    Kupercepat lagi. Suaranya vagina Bu Erkam kecepak-kecepok, menambah semangatku.

    “Dik Budiii aku mau muncaak… muncaak, teruus… teruus”, Aku juga sudah mau keluar.

    Aku percepat, dan penisku merasa akan keluar. Kubenamkan dalam-dalam ke dalam vagina Bu Erkam sampai
    amblaas. Pangkal penisku berdenyut-denyut, spermaku muncrat-muncrat di dalam vagina Bu Erkam.

    Kami berangkulan kuat-kuat, napas kami berhenti. Saking nikmatnya dalam beberapa detik nyawaku
    melayang entah kemana. Selesailah sudah. Kerinduanku tercurah sudah, aku merasa lemas sekali tetapi
    puas sekali.

    Kucabut penisku, dan berbaring di sisinya. Kami berpelukan, mengatur napas kami. Tiada kata-kata yang
    terucapkan, ciuman dan belaian kami yang berbicara.

    “Dik Budi, aku curiga, salah satu dari kami mandul. Kalau aku subur, aku harap aku bisa hamil dari
    spermamu. Nanti kalau jadi aku kasih tahu. Yang tahu bapaknya anakku kan hanya aku sendiri kan. Dengan
    siapa aku membuat anak”, katanya sambil mencubitku.

    Malam itu pertama kali aku menyetubuhi Bu Erkam tetanggaku. Beberapa kali kami berhubungan sampai aku
    kimpoi dengan wanita lain. Bu Erkam walaupun cemburu tapi dapat memakluminya.

    Keluarga Pak Erkam sampai saat ini hanya mempunyai satu anak perempuan yang cantik. Apabila di
    kedepankan, Bu Erkam sering menciumi anak itu, sementara matanya melirikku dan tersenyum-senyum manis.
    Tetanggaku pada meledek Bu Erkam, mungkin waktu hamil Bu Erkam benci sekali sama aku.

    Karena anaknya yang cantik itu mempunyai mata, pipi, hidung, dan bibir yang persis seperti mata, pipi,
    hidung, dan bibirku.

    Seperti telah anda ketahui hubunganku dengan Bu Erkam istri tetanggaku yang cantik itu tetap berlanjut
    sampai kini, walaupun aku telah berumah tangga. Namun dalam perkimpoianku yang sudah berjalan dua
    tahun lebih, kami belum dikaruniai anak.

    Istriku tidak hamil-hamil juga walaupun penisku kutojoskan ke vagina istriku siang malam dengan penuh
    semangat. Kebetulan istriku juga mempunyai nafsu seks yang besar. Baru disentuh saja nafsunya sudah
    naik.

    Biasanya dia lalu melorotkan celana dalamnya, menyingkap pakaian serta mengangkangkan pahanya agar
    vaginanya yang tebal bulunya itu segera digarap. Di mana saja, di kursi tamu, di dapur, di kamar
    mandi, apalagi di tempat tidur, kalau sudah nafsu, ya aku masukkan saja penisku ke vaginanya.

    Istriku juga dengan penuh gairah menerima coblosanku. Aku sendiri terus terang setiap saat melihat
    istriku selalu nafsu saja deh. Memang istriku benar-benar membuat hidupku penuh semangat dan gairah.

    Tetapi karena istriku tidak hamil-hamil juga aku jadi agak kawatir. Kalau mandul, jelas aku tidak.
    Karena sudah terbukti Bu Erkam hamil, dan anakku yang cantik itu sekarang menjadi anak kesayangan
    keluarga Pak Erkam.Cerita Sex Dewasa

    Apakah istriku yang mandul? Kalau melihat fisik serta haidnya yang teratur, aku yakin istriku subur
    juga. Apakah aku kena hukuman karena aku selingkuh dengan Bu Erkam? aah, mosok.

    Nggak mungkin itu. Apakah karena dosa? Waah, mestinya ya memang dosa besar. Tapi karena menyetubuhi Bu
    Erkam itu enak dan nikmat, apalagi dia juga senang, maka hubungan gelap itu perlu diteruskan,
    dipelihara, dan dilestarikan.

    Untuk mengatur perselingkuhanku dengan Bu Erkam, kami sepakat dengan membuat kode khusus yang hanya
    diketahui kami berdua. Apabila Pak Erkam tidak ada di rumah dan benar-benar aman, Bu Erkam memadamkan
    lampu di sumur belakang rumahnya.

    Biasanya lampu 5 watt itu menyala sepanjang malam, namun kalau pada pukul 20.00 lampu itu padam,
    berarti keadaan aman dan aku dapat mengunjungi Bu Erkam. Karena dari samping rumahku dapat terlihat
    belakang rumah Bu Erkam, dengan mudah aku dapat menangkap tanda tersebut.

    Tetapi pernah tanda itu tidak ada sampai 1 atau 2 bulan, bahkan 3 bulan. Aku kadang-kadang jadi agak
    jengkel dan frustasi (karena kangen) dan aku mengira juga Bu Erkam sudah bosan denganku. Tetapi
    ternyata memang kesempatan itu benar-benar tidak ada, sehingga tidak aman untuk bertemu.

    Pada suatu hari aku berpapasan dengan Bu Erkam di jalan dan seperti biasanya kami saling menyapa
    baik-baik. Sebelum melanjutkan perjalanannya, dia berkata, “Dik Budi, besok malam minggu ada keperluan
    nggak?”

    “Kayaknya sih nggak ada acara kemana-mana. Emangnya ada apa?” jawabku dengan penuh harapan karena
    sudah hampir satu bulan kami tidak bermesraan.

    “Nanti ke rumah yaa!” katanya dengan tersenyum malu-malu.

    “Emangnya Pak Erkam nggak ada?” kataku.

    Dia tidak menjawab, cuma tersenyum manis dan pergi meneruskan perjalanannya. Walaupun sudah biasa,
    darahku pun berdesir juga membayangkan pertemuanku malam minggu nanti.

    Seperti biasa malam minggu adalah giliran ronda malamku. Istriku sudah tahu itu, sehingga tidak
    menaruh curiga atau bertanya apa-apa kalau pergi keluar malam itu. Aku sudah bersiap untuk menemui Bu
    Erkam.

    Aku hanya memakai sarung, tidak memakai celana dalam dan kaos lengan panjang biar agak hangat. Dan
    memang kalau tidur aku tidak pernah pakai celana dalam tetapi hanya memakai sarung saja. Rasanya lebih
    rileks dan tidak sumpek, serta penisnya biar mendapat udara yang cukup setelah seharian dipepes dalam
    celana dalam yang ketat.

    Waktu menunjukkan pukul 22.00. Lampu belakang rumah Bu Erkam sudah padam dari Erkam. Aku berjalan
    memutar dulu untuk melihat situasi apakah sudah benar-benar sepi dan aman. Setelah yakin aman, aku
    menuju ke samping rumah Bu Erkam.

    Aku ketok kaca nako kamarnya. Tanpa menunggu jawaban, aku langsung menuju ke pintu belakang. Tidak
    berapa lama terdengar kunci dibuka. Pelan pintu terbuka dan aku masuk ke dalam. Pintu ditutup kembali.

    Aku berjalan beriringan mengikuti Bu Erkam masuk ke kamar tidurnya. Setelah pintu ditutup kembali,
    kami langsung berpelukan dan berciuman untuk menyalurkan kerinduan kami. Kami sangat menikmati
    kemesraan itu, karena memang sudah hampir satu bulan kami tidak mempunyai kesempatan untuk
    melakukannya.

    Setelah itu, Bu Erkam mendorongku, tangannya di pinggangku, dan tanganku berada di pundaknya. Kami
    berpandangan mesra, Bu Erkam tersenyum manis dan memelukku kembali erat-erat. Kepalanya disandarkan di
    dadaku.

    “Paa, sudah lama kita nggak begini”, katanya lirih. Bu Erkam sekarang kalau sedang bermesraan atau
    bersetubuh memanggilku Papa. Demikian juga aku selalu membisikkan dan menyebutnya Mama kepadanya.
    Nampaknya Bu Erkam menghayati betul bahwa Nia, anaknya yang cantik itu bikinan kami berdua.

    “Pak Erkam sedang kemana sih maa”, tanyaku.

    “Sedang mengikuti piknik karyawan ke Pangandaran. Aku sengaja nggak ikut dan hanya Nia saja yang ikut.
    Tenang saja, pulangnya baru besok sore”, katanya sambil terus mendekapku.

    “Maa, aku mau ngomong nih”, kataku sambil duduk bersanding di tempat tidur. Bu Erkam diam saja dan
    memandangku penuh tanda tanya.

    “Maa, sudah dua tahun lebih aku berumah tangga, tetapi istriku belum hamil-hamil juga. Kamu tahu,
    mustinya secara fisik, kami tidak ada masalah.

    Aku jelas bisa bikin anak, buktinya sudah ada kan. Aku nggak tahu kenapa kok belum jadi juga. Padahal
    bikinnya tidak pernah berhenti, siang malam”, kataku agak melucu. Bu Erkam memandangku.

    “Pa, aku harus berbuat apa untuk membantumu. Kalau aku hamil lagi, aku yakin suamiku tidak akan
    mengijinkan adiknya Nia kamu minta menjadi anak angkatmu. Toh anak kami kan baru dua orang nantinya,
    dan pasti suamiku akan sayang sekali.

    Untukku sih memang seharusnya bapaknya sendiri yang mengurusnya. Tidak seperti sekarang, keenakan dia.
    Cuma bikin doang, giliran sudah jadi bocah orang lain dong yang ngurus”, katanya sambil merenggut
    manja. Aku tersenyum kecut.Cerita Sex Dewasa

    “Jangan-jangan ini hukuman buatku ya maa, Aku dihukum tidak punya anak sendiri. Biar tahu rasa”,
    kataku.

    “Ya sabar dulu deh paa, mungkin belum pas saja. Spermamu belum pas ketemu sama telornya Rina (nama
    istriku). Siapa tahu bulan depan berhasil”, katanya menghiburku.

    “Ya mudah-mudahan. Tolong didoain yaa…”

    “Enak saja. Didoain? Mustinya aku kan nggak rela Papa menyetubuhi Rina istrimu itu. Mustinya Papa kan
    punyaku sendiri, aku monopoli. Nggak boleh punya Papa masuk ke perempuan lain kan.

    Kok malah minta didoain. Gimana siih”, katanya manja dan sambil memelukku erat-erat.
    Benar juga, mestinya kami ini jadi suami-istri, dan Nia itu anak kami.

    “Maa, kalau kita ngomong-ngomong seperti ini, jadinya nafsunya malah jadi menurun lho. Jangan-jangan
    nggak jadi main nih”, kataku menggoda.

    “Iiih, dasar”, katanya sambil mencubit pahaku kuat-kuat.

    “Makanya jangan ngomong saja. Segera saja Mama ini diperlakukan sebagaimana mestinya. Segera digarap
    doong!” katanya manja.

    Kami berpelukan dan berciuman lagi. Tentu saja kami tidak puas hanya berciuman dan berpelukan saja.
    Kutidurkan dia di tempat tidur, kutelentangkan. Bu Erkam mandah saja. Pasrah saja mau diapain.

    Dia memakai daster dengan kancing yang berderet dari atas ke bawah. Kubuka kancing dasternya satu per
    satu mulai dari dada terus ke bawah. Kusibakkan ke kanan dan ke kiri bajunya yang sudah lepas
    kancingnya itu. Menyembullah buah dadanya yang putih menggunung (dia sudah tidak pakai BH). Celana
    dalam warna putih yang menutupi vaginanya yang nyempluk itu aku pelorotkan.

    Aku benar-benar menikmati keindahan tubuh istri gelapku ini. Saat satu kakinya ditekuk untuk
    melepaskan celana dalamnya, gerakan kakinya yang indah, vaginanya yang agak terbuka, aduh pemandangan
    itu sungguh indah.

    Benar-benar membuatku menelan ludah. Wajah yang ayu,buah dada yang putih menggunung, perut yang
    langsing, vagina yang nyempluk dan agak terbuka, kaki yang indah agak mengangkang, sungguh mempesona.
    Aku tidak tahan lagi.

    Aku lempar sarungku dan kaosku entah jatuh dimana. Aku segera naik di atas tubuh Bu Erkam. Kugumuli
    dia dengan penuh nafsu. Aku tidak peduli Bu Erkam megap-megap keberatan aku tindih sepenuhnya. Habis
    gemes banget, nafsu banget sih.

    “Uugh jangan nekad tho. Berat nih”, keluh Bu Erkam.

    Aku bertelekan pada telapak tanganku dan dengkulku. Penisku yang sudah tegang banget aku paskan ke
    vaginanya. Terampil tangan Bu Erkam memegangnya dan dituntunnya ke lubang vaginanya yang sudah basah.

    Tidak ada kesulitan lagi, masuklah semuanya ke dalam vaginanya. Dengan penuh semangat kukocok vagina
    Bu Erkam dengan penisku. Bu Erkam semakin naik, menggeliat dan merangkulku, melenguh dan merintih.
    Semakin lama semakin cepat, semakin naik, naik, naik ke puncak.

    “Teruuus, teruus paa.. sshh… ssh…” bisik Bu Erkam

    “Maa, aku juga sudah mau… keluaarr”

    “Yang dalam paa… yang dalamm. Keluarin di dalaam Paa… Paa… Adduuh Paa nikmat banget Paa…, ouuch..”,
    jeritnya lirih yang merangkulku kuat-kuat.

    Kutekan dalam-dalam penisku ke vaginanyanya. Croot, cruuut, crruut, keluarlah spermaku di dalam rahim
    istri gelapku ini. Napasku seperti terputus. Kenikmatan luar biasa menjalar kesuluruh tubuhku. Bu
    Erkam menggigit pundakku. Dia juga sudah mencapai puncak. Beberapa detik dia aku tindih dan dia
    merangkul kuat-kuat.

    Baca Juga Cerita Sex Jilatan Gigolo

    Akhirnya rangkulannya terlepas. Kuangkat tubuhku. Penisku masih di dalam, aku gerakkan pelan-pelan,
    aduh geli dan ngilu sekali sampai tulang sumsum. Vaginanya licin sekali penuh spermaku.

    Kucabut penisku dan aku terguling di samping Bu Erkam. Bu Erkam miring menghadapku dan tangannya
    diletakkan di atas perutku.

    Dia berbisik, “Paa, Nia sudah cukup besar untuk punya adik. Mudah-mudahan kali ini langsung jadi ya
    paa.

    Aku ingin dia seorang laki-laki. Sebelum Papa Erkam mengeluh Rina belum hamil, aku memang sudah
    berniat untuk membuatkan Nia seorang adik. Sekalian untuk test apakah Papa masih joos apa tidak. Kalau
    aku hamil lagi berarti Papa masih joosss.

    Kalau nanti pengin menggendong anak, ya gendong saja Nia sama adiknya yang baru saja dibuat ini.” Dia
    tersenyum manis.

    Aku diam saja. menerawang jauh, alangkah nikmatnya bisa menggendong anak-anakku.

    Malam itu aku bersetubuh lagi. Sungguh penuh cinta kasih, penuh kemesraan. Kami tuntaskan kerinduan
    dan cinta kasih kami malam itu. Dan aku menunggu dengan harap-harap cemas, jadikah anakku yang kedua
    di rahim istri gelapku ini?

  • Aku mau dong

    Aku mau dong


    346 views

    Cerita Seks Aku mau dong

    Namaku Sony, wajahku ganteng, tubuh tinggi dan sexy sehingga banyak cewek tergila-gila. Tapi keadaan ekonomiku kurang mencukupi. Pernah aku mencintai dan ingin melamar seorang gadis idamanku. Orang tuanya menolak lamaranku karena aku miskin. Disaat itulah aku ditawari sebuah pekerjaan oleh atasan bapakku dimana beliau bekerja. Aku akan diberi kedudukan, tapi dengan syarat aku harus mau menjadi suami kontrak anaknya yang hamil diluar nikah. Oleh karena keadaan itulah aku menerima persyaratannya meskipun bapakku tidak setuju akan keputusanku. Tapi karena tekadku sudah bulat maka aku terpaksa tidak mendengar nasehat bapakku. Maka berangkatlah aku menuju ke rumahnya.Sesampai di rumahnya, aku dikenalkan dengan cewek calon istriku itu. Namanya Sari. Cantik juga orangnya tapi agak sombong dan cerewetnya minta ampun.

      Dia melihatku cuek dan sepertinya tidak ada rasa suka padaku. Wuih hebat juga nich cewek, padahal di kampung aku jadi primadona desa. Cewek-cewek yang mandi di sungai biasanya mengajakku untuk mandi bersama. Mereka tidak malu telanjang di hadapanku, mulai dari gadis cilik, gadis perawan, ibu-ibu muda, janda muda, janda tua, bahkan sampai nenek-nenek pun pamer tubuh di hadapanku. Aku sungguh heran dengan cewek satu ini kenapa dia tidak ada rasa suka sama sekali padaku yang ganteng ini.

    Di saat hari pernikahan, dia tidak menampakkan wajah gembira sama sekali. Wajahnya murung dan cuek padaku, meskipun di hadapan tamu dia masih bisa tersenyum.Selesai acara resepsi pernikahan kami, disaat para tamu sudah pulang. Dia langsung masuk ke kamar. Aku langsung menyusul dari belakang, tapi tidak kuduga pintu kamar telah terkunci dari dalam. Aku bingung dan agak kesal karena sikapnya. Sepertinya dia tidak menghormatiku, meskipun aku hanya suami kontrakan. Kedua mertuaku pun jadi bingung akan sikap anaknya. Mereka minta maaf padaku, lalu menyuruhku tidur di kamar tamu.Keesokan harinya, disaat aku mau mandi dan ganti baju kuketok pintu kamarnya yang terkunci. Nggak ada jawaban. “Sayang, aku mau mandi.. tolong buka pintunya dong..?” Tidak ada jawaban, aku bingung. Lalu.. “Sayang, aku mau berangkat kerja nich nanti telat lho.. Tolong buka pintunya sayang.?”Lalu beberapa saat kemudian pintu kamar terbuka, aku masuk. Kulihat dia tidur lagi dengan posisi tengkurap, memakai daster putih transparan sehingga lekuk-lekuk tubuhnya kelihatan jelas sekali. Pantatnya yang montok itu terpampang jelas karena ia tidak memakai CD.

    Lalu aku masuk ke kamar mandi, sengaja pintu kamar mandi tidak kututup. Saat aku sedang mandi dan kebetulan aku sedang menggosok penisku yang besar dan panjang dengan sabun LUX dan penisku sedang berdiri tegak karena gosokanku tadi. “Eeehh..” tiba-tiba Sari masuk terburu-buru sambil kedua tangannya mengangkat dasternya ke atas. Melihat aku ada di dalam kamar mandi dan kebetulan aku menghadap ke arah pintu.”Aaahh.. Sonnyy..” teriaknya kaget sekaligus senang tertahan sambil menutupkan kedua tangannya ke arah mulutnya, tapi matanya yang terbelalak kaget itu tetap tertuju ke arah penisku. Lalu..”Sonnyy..” lanjutnya setelah kekagetannya sedikit hilang, “Lho.. kok.. pintunya nggak ditutup sih..” katanya. Sambil matanya masih tetap tertegun ke arah penisku.”Lho.. ini kan kamar mandi kita Sayang.. buat apa pintunya ditutup.. ya kan sayang.. Kamu pasti mau pipis kan Sayang.. sini aku bantu.. buka aja dasternya biar nggak basah nanti..” kataku sambil membuka dasternya dan terpampanglah tubuhnya yang indah, susunya yang besar dan perutnya yang datar. Dan itu.. vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu hitam yang lumayan lebat dan mungil.”Akhh.. kamu orangnya lembut juga ya Son..? Oh.. ya maafkan aku tadi malam, bukannya aku tidak mau menerima kamu sebagai suamiku meski hanya kontrakan. Tapi sebetulnya aku hanya memberi sebuah ujian buat kamu. Apakah kamu mau mengawini aku yang sudah ternoda ini dengan tulus dan ikhlas. Dan sepertinya kamu orangnya baik dan sabar.

    Buktinya tadi sewaktu kamu masuk ke kamar, kamu ingat kan aku tidur tanpa menggunakan CD dan BH. Itu juga suatu ujian buat kamu, apakah kamu kuat menahan nafsumu untuk tidak menyentuhku sebelum aku mengijinkanmu untuk menyentuhku. Dan sekarang kamu memiliki semua apa yang kumiliki dan tentunya apa yang kamu miliki juga akan jadi milikku. Nah, sekarang aku mau pipis dan kamu harus meminum air kencingku sebagai tanda kamu cinta padaku. Dan nanti aku juga meminum air kencingmu.. jadi kita adil.. bagaimana Sayang setujukah kamu..?” katanya.”Baiklah, Sayang.. Ayo arahkan vaginamu ke mukaku..?”Hatiku berdebar, aku belum pernah merasakan bagaimana dikencingi orang, siapa yang mau? Tapi demi masa depanku, aku merelakan nasibku yang malang.Lalu dia berdiri diantara kepalaku, kemudian pelan-pelan dia jongkok di atas wajahku, kurasakan vaginanya menyentuh hidungku. Aku sedikit menekan pinggulnya sehingga hidungku amblas ke dalam vaginanya, dia tak peduli, terus digosok-gosokkan vaginanya di sana, setelah itu lidahku mulai menjulur lalu menjilati lubang pantatnya lagi, sementara dia sepertinya sudah tidak tahan.”Awas.. mau keluar Sayang..”Aku memejamkan mataku. Diarahkannya lubang vaginanya ke mulutku, dikuakkan bibir vaginanya supaya air kencingnya tidak memencar, lalu aku menjulurkan lidahku menjilati bibir vaginanya, lalu memancarlah air kencingnya dengan sangat deras, semuanya masuk ke dalam mulutku, sebagian besar keluar lagi. Setelah itu, kutusuk vaginanya dengan jariku sehingga kencingnya tertahan seketika, badannya mulai menggeliat dan mulutnya mendesah. Kenikmatan yang luar biasa dirasakannya ketika kencingnya tertahan oleh jariku. Lalu vaginanya kutusuk terus keluar masuk dengan jariku.

    Kira-kira 1 menit kulihat air kencingnya kembali memancar dashyat, sambil kencing dia menggosok-gosokkan vaginanya ke seluruh wajahku. Aku masih memejamkan mata. Akhirnya kulihat air kencingnya habis, yang keluar cuma tetes tersisa disertai lendir bening keputihan menjuntai masuk ke dalam mulutku, dan aku langsung menjilat serta menghisap habis. Dia mungkin juga tidak tahan, lalu mencium mulutku dengan lahap, terus dia memegang penisku, dikocok-kocoknya penisku, kemudian dikulumnya penisku yang besar itu. Dia menyuruhku nungging di atas wajahnya, lalu disedotnya penisku yang sudah basah sekali oleh lendir bening yang terus-menerus menetes dari lubang kencingku. Aku mulai memompa penisku di dalam mulutnya, keluar masuk seolah-olah mulutnya adalah vaginanya, dia tidak peduli. Dia beranikan diri mencoba menjilat lubang pantatku yang berbulu lebat dan berwarna kehitam-hitaman. Dia menjilat lubang pantatku, kadang-kadang disedotnya 2 telor kembarku, kadang-kadang penisku kembali masuk ke mulutnya. Tak lama kemudian tubuhku menegang lalu aku menjerit keras. Penisku menyemburkan air mani yang banyak sekali ke dalam mulutnya. Dia hisap terus, dia menelan semua air maniku yang agak asin tapi gurih itu, dan sebagian menyembur ke wajahnya, terus dikocok lagi penisku, aku seperti meregang nyawa, tubuhku meliuk-liuk disertai erangan-erangan keras. Setelah beberapa lama, akhirnya penisku agak melemas, tapi terus dihisapnya dengan mulutnya.
    “Nah, sekarang giliran kamu Sayang.. ok?””Baiklah Sayang, aku siap..?”
    Kemudian aku berlutut di atas wajahnya, lalu kedua tanganku mengangkat kepalanya sehingga penisku tepat mengarah ke mulutnya.

    Dia jilat-jilat kepala penisku yang masih berlendir. Tak lama kemudian air kencingku menyembur masuk ke dalam mulutnya. Dia pejamkan matanya, kemudian air kencingku terus menyembur ke seluruh wajahnya, sebagian diminumnya. Lalu, kupukulkan penisku ke wajah dan mulutnya. Setelah habis kencingku, dia kembali menyedot penisku sambil mengocoknya.

    Kira-kira 1 menit penisku mulai besar dan tegang kembali, keras seperti tiang listrik. Aku lalu mengarahkan penisku ke vaginanya, dituntunnya penisku itu masuk ke dalam vaginanya. Kemudian aku mulai memompa penisku yang besar itu ke dalam vaginanya.

    Dia merasakan kenikmatan yang bukan main setiap penisku kucabut lalu kutusukkan lagi. Kadang-kadang aku mencabut penisku lalu kumasukkan ke dalam mulutnya, kemudian aku mulai berusaha menusukkan penisku masuk ke dalam lubang pantatnya.
    “Pelan-pelan Sayang.. sakit.. uhh..” katanya.Kemudian penisku itu mulai menerobos pelan masuk ke dalam lubang pantatnya, dia agak kesakitan, tapi diantara rasa sakit itu mungkin dia merasakan ada rasa nikmatnya. Dia makin lama makin menikmati, sudah 2 kali dia mencapai orgasme, sedangkan aku masih terus bergantian menusuk vagina dan pantatnya.

    Tubuh kami sudah berkubang keringat dan air kencing, kulihat lantai kamar mandinya yang tadinya kering, sekarang basah semua.”Aakkhh.. Sarii, Saarrii.. aa..” aku merengek-rengek keenakan sambil memompa terus penisku di dalam lubang pantatnya. Dengan sigap dia bangun lalu secepat guntur terus dimasukkannya penisku ke dalam mulutnya, dikulumnya penisku itu sampai akhirnya menyemburlah cairan kenikmatan dari penisku. Air maniku menyembur banyak sekali, sebagian ditelannya, sebagian lagi diarahkannya ke wajahnya sendiri sehingga seluruh wajahnya berlumuran air maniku.

    Kemudian aku menggosok-gosokkan penisku ke seluruh wajahnya, lalu kami berpelukan erat sambil bergulingan di lantai kamar mandi. Kami saling berciuman sangat dalam sekali.”Sony kamu sungguh luar biasa Sayang, kamu sangat lembut, romantis, baik dan selalu menuruti segala permintaanku.. oohh.. kamu sungguh suami yang pengertian.. Son.. peluk dan cium aku lagi Son.. oohh.. sayangku aku cinta kamu..” katanya sambil memeluk dan menciumiku dengan agresif.”Aku bahagia kamu mau menerima aku, Sari sayang..” kataku sambil membalas ciumannya.

    Kepuasan yang mestinya kudapat tadi malam, tercapai sudah dan itu benar-benar sangat berarti bagiku. Sari makin sayang denganku.Mohon saran dan tanggapannya. Oh ya, khusus untuk cewek-cewek, segala status, segala usia, yang ingin kenalan, berbagi cerita atau pengalaman

  • Amoy PSK

    Amoy PSK


    14 views

     Sebut saja Erma dia adalah kenalanku dia seorang PSK aku bisa kenal dengannya karena aku iseng iseng maen di lokalisasi tak taunya kita saling bertukar nomer telepon, saat itu aku masih kuliah dan tak menyangka kita bertemu di daerah Cideng saat sore hari, karena aku haus maka dari itu aku cari tempat café unutk memesan minum sekaligus istirahat sebentar.

    cerita-sex-dewasa-amoy-psk

    Saat memesan dan aku duduk di kursi dengan dandanan yang tidak mencolok tidak ada hiasan apapun di wajahnya aku melihat wanita itu sepertinya kita pernah bertemu tapi aku lupa dimana aku duduk didepannya, saat menyeduh minuman tak lama kemudian wanita itu menyapaku.
    “Baru pulang dari kampus ya mas” tanyanya dengan ramah.

    “Iya mbak” jawabku

    “lho kita pernah ketemu kayaknya mbak”

    Dengan senyumannya dia mengelak bahwa belum pernah ketemu denganku.

    Mungkin kebanyakan pelanggan jadi dia lupa tannyaku. Hehehe

    Kemudian dia memberikan sebuah pertanyaan dengan nada ramahnya, tapi saat aku dengar dan rasakan dari mimik wajahnya dia mengajak menjerumus, mungkin dia sedang cari mangsa batinku.dengan wajah yang cantik tinggi 163 cm payu daranya juga besar, aku kadang melirik bauh dadanya terlihat tali BH berwarna hitam.

    Pertanyaan yang aku nantikan terucap dari mulut Erma ini,

    “Gak capek mas, istirahat dulu yuk Mas” ajaknya.

    “Maksutnya mbak” pura pura bodohi dari pertanyaan tersebut.

    “Aku juga mau pulang mbak mau istirahat di rumah saja” kataku.

    Dia pun masih langsung menyerobot perkataanku tadi.

    “Ah mas ini, pura pura gak tau, kita istirahat kekemar aja yuk” Mintanya.

    Gila banget nih ajakannya tak pikir panjang aku langsung mengiyakan setelah mencapai kesepakatan bersama, singkat cerita kita sudah berada di dalam hotel yang bertebaran di daerah sini. Setalah kita masuk kedalam kamar aku langsung mengunci kamar dan kupeluk, kucium dia tapi dia menolaknya, berkata “Kita mandi dulu deh mas”.

    Waow baru kali ini aku berfikir kok PSK tidak langsung tancep, malah menyuruh unutk mandi segala sebelum berkencan, mungkin dia ingin memberikan kesan yang berbeda dengan PSK lainnya, yaudah aku langsung buka seluruh pakaianku dan mengambil handuk kita pergi bersama ke kamar mandi.

    Saat mandi aku lihat tubuh Erma sungguh seksi aku pegang kulitnya dan aku cium bau badannya sungguh terangsang sekali, kusabuni dari punggung dan payudaranya kunyalakan kran biar air itu mengucur tubuh kita berdua mulai kusedot putingnya yang mengeras dengan tangannya dia mendorong kepalaku yang menyedot putingnya.

    “Sabar sebentar dong mas”nanti aja . Katanya.

    Ya udah aku sabuni tubuhmu yang elok ini erma, “terserah mas saja” tangannya Erma yang memegang sabun juga membersihkan tubuhku dari atas hingga penisku juga dibersihkan dengan cermat Erma tidak mengocoknya tapi benar benar unutk membersihkannya. Selama 30 menit kita mandi bersama.

    Setelah selesai mandi kita mengeringkan tubuh, langsung saja aku peluk dan aku junjung diatas ranjang harum sekali tubuhmu Erma. Aku ingin menikmati tubuhmu karena kau sudah menggoda dedekku hingga tegang mengeras.

    “Ahhhh Mas sabar dulu dong gak sabaran deh” sambil senyum Erma berkata seperti itu.

    Tidak aku hiraukan perkataanya masih mempermainkan putingnya.

    “Bentar dulu mas ahhh sambil memberai rambutnya sambil menelantangkan tubuhnya.Cerita Sex Dewasa

    Dia mengambil diodoran dan mengusapkan di dadaku dan ketiakku. Katanya biar harum saat dalam bercinta.

    Setalah semuanya diatasi keadaan semakin romantis dan kita menikmati, aku mengeluarkan uang untuk dia yang kuharapkan malah melebihi anganku, sungguh berbeda dengan PSK lainnya yang biasanya tidak seperti ini, Erma mencium dengan lembut semakin lama semakin menyedot bibirku dengan nafsunya.

    Kini dia mencium dan mengusap dadaku yang berbulu, kemudian terus ke bawah dan akhirnya penisku yang masih kecil diisapnya. Tak lama kemudian penisku pun membesar akibat rangsangan yang diberikan. Sungguh pandai ia memainkan mulut dan lidahnya di sekujur penisku. Setelah beberapa lama ia menghentikan aksinya dan berbaring telentang. Aku tahu ia ingin aku segera menyelesaikannya.

    Kutindih dan kucium bibirnya. Tak lama kemudian dengan arahan tangannya penisku sudah menembus liang vaginanya.

    Kurasakan iapun membalas dengan penuh gairah setiap serangan yang kulancarkan, namun aku tidak tahu apakah dia benar-benar menikmati atau hanya sekedar servis terhadap tamunya. Lima belas menit kemudian tubuhku sudah mengejang di atasnya. Ia tersenyum dan mengajakku membersihkan badan.

    Selesai membersihkan badan, kami masih sempat ngobrol-ngobrol sebentar hal-hal mengenai dirinya. Ketika kutanya apakah namanya hanyalah nama profesi atau nama sebenarnya, ia mengeluarkan KTP-nya dan menyerahkannya padaku.

    Kubaca, “Widya Erma”. Sekilas kulihat tanggal lahirnya, berarti ia sekarang dua puluh delapan, sementara aku waktu itu masih dua puluh tiga.

    Karena kami kamar yang kami sewa menggunakan cara jam-jaman dan kulihat waktu telah habis, maka kamipun keluar dan aku segera pulang. Kesan yang timbul padaku, bahwa ia pun menyukaiku lebih dari sekedar PSK dan pelanggannya.

    Beberapa hari kemudian, pada suatu siang aku lewat Tanah Abang lagi. Hanya sekedar lewat, namun aku juga berharap dapat bertemu dengan Erma lagi. Ketika berjalan dalam sebuah gang sempit, kulihat dari belakang sepertinya Erma. Kupercepat langkahku dan kujejerkan langkahku. Kulihat dari samping ternyata memang Erma.
    “Erma ya? Masih ingat aku nggak?” tanyaku setelah berjalan di sampingnya.

    Ia menoleh sambil menghentikan langkahnya. Menatapku dan mengingat-ingat, akhirnya, “Mas kan yang minggu lalu sama aku? Namanya.. Ennggh..” katanya.

    Kupotong kata-katanya, “Anto,” sahutku.

    “Ya, Mas Anto. Baru aku ingat”, jawabnya, “Mau ke mana?” sambungnya.

    “Enggak, ini mau pulang, kebetulan lewat sini. Siang-siang kok sudah pulang?” tanyaku.

    “Aku belum pulang mulai tadi malam. Sekarang baru bisa pulang dan mau istirahat”.

    Aku diam dan berpikir sejenak. Melihatku kelihatan ragu dia bertanya, “Mau istirahat lagi?”

    “Boleh deh,” kataku mengiakannya.

    Dia tidak jadi pulang dan kembali kami berkencan di hotel yang sama. Namun kali ini aku ambil sewa kamar selama dua jam. ceritasexdewasa.org Dengan perlakuan yang sama seperti kemarin ia melayaniku. Setelah kutembakkan laharku, kami sama-sama berbaring ngobrol sampai waktu habis. Ketika aku mengeluarkan dompet, ia berkata.

    “Nanti aja, sekarang kita ke kontrakanku yuk!”

    Akupun menurut saja dan mengikutinya ke rumah. Kembali kami mengobrol di kontrakannya. Ia tinggal bersama pemilik rumah, dan pemilik rumahnyapun mengerti dan mau menerima keadaannya. Ketika pulang, kembali kuambil uangku, namun ia tetap menolak dan berkata.

    “Untuk ongkos pulang kamu saja ke Bogor!”Cerita Sex Dewasa

    Setelah itu kami sering bertemu. Namun tidak setiap kali bertemu kami lalu bergulat di atas ranjang. Kadang kami hanya mengobrol saja. Kalau tidak ada di hotel, kucari dia di kontrakannya. Erma kadang masih menolak uang pemberianku, tetapi kalau aku lagi ada obyekan kecil, kupaksa dia untuk menerimanya. Dia menyatakan senang kalau ngobrol denganku.

    “Ada yang mau mendengarkan dan mengerti sisi hitam dari jalan hidupku,” katanya.

    Aku sendiri mengatakan, kalau ada kesempatan untuk berhenti, maka berhentilah dari pekerjaannya dan membuka usaha atau pekerjaan yang lain.

    Suatu ketika aku mencarinya di hotel. Kata penjaga hotel dia sudah pulang belum lama tadi. Kususul ke rumahnya. Ia sedang mandi. Tak lama kemudian ia sudah menemuiku di ruang tamu. Ia mengenakan gaun hitam panjang dengan belahan sebelah setinggi lutut. Kakinya yang mengenakan sepatu hak tinggi membuat ia semakin menarik. Kupikir-pikir ia mirip dengan Yuni Shara, hanya saja kulitnya lebih gelap.

    “Mau kemana. Kok rapi sekali?” kataku.
    “Kebetulan ada kamu. Anterin ke Pasar Minggu yuk. Aku mau beli gelang kaki di toko emas langgananku. Dulu aku punya, namun putus dan kujual,” jawabnya.

    Akhirnya kami berjalan ke depan menunggu Metro Mini yang ke arah Pasar Minggu. Panas matahari terasa menyengat kulit. Setengah jam menunggu belum ada juga Metro Mini yang kami tunggu. Cuaca semakin panas.

    “Panas, erma. Kita istirahat saja dulu yuk. Entar sore aja ke Pasar Minggunya!” ajakku.

    Ia setuju. Kamipun masuk ke dalam kamar. Kali ini dia yang memilih kamar ke penjaganya.

    “Kamar yang di sudut,” katanya.
    “Sama aja. Emangnya apa bedanya?” tanyaku.

    Ia tersenyum saja. Setelah mengambil kunci maka kami masuk ke dalam kamar yang dimaksudkannya. Isi dalam kamr tidak berbeda dengan kamar lainnya. Sebuah bed standar, kipas di langit-langit, lemari dan kamar mandi. Namun ketika kulihat di dinding, maka ada cermin yang dipasang memanjang sejajar dengan arah bed.

    “Ooo, ini toh bedanya..” kataku.
    “Tidak semua kamar ada cerminnya. Aku tahu beberapa kamar yang dipasang cermin. Dulu-dulu selalu tidak pernah kebagian kamar ini”.
    Ia membaringkan badannya. “Tidak mandi?” tanyaku.
    Ia mengeleng, “Tidak, aku kan baru saja mandi. Kamu saja mandi yang bersih!”

    Aku mandi dengan cepat dan yang penting kusabuni meriamku sampai bersih. Kulihat sudah mulai membesar tidak sabar untuk menembakkan pelurunya.

    Selesai mandi aku keluar dari kamar mandi dengan berlilitkan handuk. Kulihat Erma sedang berdiri dan mulai membuka kancing gaunnya. Kupeluk dia dari belakang dan tanganku membantunya melepaskan kancing dan bajunya.

    Seperti biasanya ia mengenakan celana dan bra hitam transparan sehingga apa yang ada di baliknya terlihat membayang. Setelah bra-nya terlepas, kurems-remas payudaranya dari bagian bawahnya. Kucium leher dan telinga kirinya, tangan kirinya terangkat dan kemudian menarik rambutku. Handukku terlepas setelah tangannya yang lain menarik ikatannya.

    Kutekankan selangkanganku di atas belahan pantatnya. Penisku yang sudah mulai siaga segera terarah ke atas setelah menempel di pinggangnya.

    Kulepaskan tangannya dan mulutku kemudian menyapu seluruh punggungnya. Dengan gigiku kulepas kaitan bra-nya dan dengan berjongkok kugigit ban celana dalamnya, kutarik ke bawah dan kuteruskan dengan tangan untuk melepasnya.

    Kupondong dan kubawa di ranjang. Aku berdiri dengan posisi menghadap ranjang dan Erma berbaring miring, dia dengan lahap menghisap kejantananku. Dijilatinya lubang kencingku, sedang tangannya memegang dan mengocok batang penisku kemudian memijat-mijat buah zakarku.

    “Hhmm.. Terus Erma. Enak.. Ohh.. Aaagak keraas Saantiihh..”.

    Setelah beberapa menit menjilati kejantananku, aku melepaskan penisku dari mulutku. Kubuka kakinya lebar-lebar, tercium aroma yang khas namun segar.

    “Mau diapain To?”

    “Tenang aja, Aku juga ingin jilatin milikmu”

    “Enggak usah To. Jangan.. Jang.. Ngan!”

    Tanpa menunggu kata-kata yang akan diucapkannya lagi, aku langsung menjulurkan lidahku menuju lubang vaginanya. Dia hanya bisa merintih.

    “Oooh.. Ssshhtt.. To..”

    Tangannya menjambak rambutku. Lidahku mulai mengarah ke klitorisnya. Jambakannya bertambah kuat dan desahannya semakin menjadi.

    “Tteeruus.. Saayaanghh.. Ooohh!”

    Baca Juga Cerita Seks Memuaskan Keponakan

    Aku semakin cepat menggerakkan lidahku berputar-putar dan menjilati klitorisnya. Sesekali aku menyedotnya dengan keras. Beberapa detik kemudian kedua tangannya menekan kepalaku dengan kuat sehingga aku sedikit susah bernafas. Aku semakin kuat menjilati klitorisnya.

    Kuhentikan gerakan lidahku. Kutindih tubuhnya dan wajahnya kulihat tersenyum. Sambil berciuman tangan kananku menjelajah ke selangkangannya. Dia semakin agresif menyedot bibirku. Bibirku turun ke lehernya, kujilat lehernya dan beralih ke dadanya. Kuisap putingnya dan sesekali kugigit belahan dadanya.

    “Ssshh.. To.. Ahh.. Shh..”.

    Tangan kanannya meraih batang penisku yang sedari tadi sudah mengeras. Kurasakan nafasnya sudah mulai tak teratur. Dia meremas penis.

  • Bedeng

    Bedeng


    8 views

    cerita-sex-dewasa-bedeng
    Cerita Sex Dewasa | Seperti biasa pada pagi hari semua penghuni bedeng sibuk dibelakang (mandi, mencuci). Perlu diketahui bahwa kondisi di rumah ini memiliki 5 kamar mandi terpisah dari rumah dan 2 buah sumur (air harus diangkat ke kamar mandi, maklum yang punya rumah belum punya Sanyo). Aku yang sudah terbiasa mandi paling pagi sedang duduk santai sambil nonton TV.
    Lagi asik nonton tv terdengar olehku gemercik air seperti orang sedang mandi. Mulanya sih biasa saja, tapi lama kelamaan penasaran juga aku dibuatnya. Aku mencoba melihat dari balik celah pintu belakang rumahku, dan aduh duuuhh!! betapa kagetnya aku ketika melihat Mbak Ratna yang sedang mengeringkan tubuhnya dengan handuk.

    Aku tidak tahu mengapa ia begitu berani untuk membuka tubuhnya pada tempat terbuka seperti itu. Mbak ratna yang sedikit kurus ternyata memiliki buah dada sekitar 32B dan sangat seksi sekali. Dengan bentuknya yang kecil beserta puting warna merah jambu untuk orang yang sudah menikah bentuknya masih sangat kencang.

    Aku terus mengamati dari balik celah pintu, tanpa kusadari batang kejantananku sudah mulai berdiri. Sudah tak tahan dengan pemandangan tersebut aku langsung melakukan onani sambil membayangkan bercinta dengan Mbak ratna ditempat terbuka tersebut. Semenjak hal itu, aku jadi ketagihan untuk selalu mengintip jika ada kesempatan. Keesokan harinya, aku masih sangat terbayang-bayang akan bentuk tubuh Mbak ratna.

    Hari itu adalah hari minggu, dan aku sedikit kesiangan. Ketika aku keluar untuk mandi, aku melihat Mbak Ita sedang mencuci pakaian. Dengan posisinya yang menjongkok terlihat jelas olehku belahan buahdadanya yang terlihat sudah agak kendor tapi berukuran 34B. Setiap kali aku memperhatikan pantatnya, entah mengapa aku langsung bernafsu dibuatnya (mungkin pengaruh film BF dengan doggystyle yang kebetulan favoritku). Kembali batang kemaluanku tegang dan seperti biasa aku melakukan onani di kamar mandi.

    Dua hari kemudian terjadi keributan di tetanggaku, yaitu Mbak ita yang sedang bertengkar hebat dengan suaminya (seorang agen). Ia menangis dan kulihat suaminya langsung pergi entah kemana. Aku yang kebetulan berada disitu tidak bisa berbuat apa-apa. Yang ada dipikiranku adalah apa sebenarnya yang sedang terjadi. Keesokan harinya Mbak Ita pergi dengan kedua anaknya yang katanya kerumah nenek, dan kembali sorenya.

    Sore itu aku baru akan mandi, begitu juga dengan Mbak ita. Setelah selesai aku langsung buru-buru keluar dari kamar mandi karena kedinginan. Diluar dugaanku ternyata aku menabrak sesuatu yang ternyata adalah Mbak ita. Keadaan waktu itu sangat gelap (mati lampu) sehingga kami saling bertubrukan. Menerima tubrukan itu, Mbak ita hampir jatuh dibuatnya. Secara reflek aku langsung menangkap tubuhnya. AduH! Tenyata aku tanpa sengaja telah menyentuh payudaranya.

    ” Maaf.. Aduh maaf mbak, nggak sengaja” ucapku.
    ” Nggak, nggak pa pa kok, wong saya yang nggak liat” balasnya.

    Sejenak kami terdiam dikeheningan yang pada saat itu sama-sama merasakan dinginnya angin malam. Tanpa dikomando, tubuh kami kembali saling berdekatan setelah tadi sempat malu karena kecerobohan kami berdua. Aku sangat degdegan dibuatnya dan tidak tahu harus berbuat apa pada posisi seperti ini. Sepertinya Mbak ita mengetahui bahwa aku belum pengalaman sama sekali.

    Ia kemudian mengambil inisiatif dan langsung memegang kemaluanku yang berada dibalik handuk. Est ..est.. auw ..aku mengerang keenakan. Belum selesai aku merasakan belaian tangannya, tiba-tiba ujung kemaluanku terasa disentuh oleh benda lembut dan hangat. Mbak ita sudah berada dibawahku denagn posisi jongkok sambil mengulum kemaluanku. Aduuhh .. nikmatt.. terus .. Akh ..est .. Sekarang aku sudah telanjang bulat dibuatnya.

    10 menit sudah kemaluanku dikulum oleh Mbak ita. Aku yang tadi pemalu sekarang mulai mengambil tindakan. Mbak ita kusuruh berdiri dihadapanku dan langsung kulumat bibinya dengan lembut. Est .. Ah ..uh ouw .. Ia mendesah ketika bibir kami saling berpagutan satu sama lain. Ciumanku sekarang telah berada pada lehernya. Bau sabun mandi yang masih melekat pada tubuhnya menambah gairahku.

    Est .. Ah .. teruss.. kepalanya tengadah keatas menahan nikmat. Kini tiba saat yang kutunggu. Handuk yang masih menutupi tubuhnya langsung kubuka tanpa hambatan. Secara samar-samar dapat kulihat bentuk payudaranya. Kuremas dan kukecup dengan lembut dan au ..est..nikmaat..teruss ..aow .., Mbak ita menahan nikmat.

    Sambil terus mencicipi bagian tubuhnya akhirnya aku sampai juga didaerah kemaluannya. Aku sedikit ragu untuk memcicipi kemaluanya yang sudah sedikit basah itu. Seperti difilm BF aku mencoba mempraktekkan gaya melumat kemaluan wanita. Kucoba sedikit dengan ujung lidahku, rasanya ternyata sedikit asin dan berbau amis. Tetapi itu tidak menghentikanku untuk terus menjilatinya. Semakin lama rasa jijik yang ada berubah menjadi rasa ninkmat yang tiada tara. Est ..est ..teruuss ..tee..russ..auw ..nik, mat..mbak ita tak mampu menahan nikmat yang diterimanya dari jilatan mautku yang sesekali kuiringi dengan memasukkan jariku ke liang senggamanya. “Mbak mau .. kelu..ar ahh” racaunya.

    Tanpa kusadari tiba-tiba keluar cairan kental dari vagina nya yang belakangan kutau bahwa itu adalah cairan wanita. Aku belum berhenti dan terus menjilati kemaluanya sampai bersih.

    Puas aku menjilati kemaluannya kemudian langsung aku angkat ia kedalam rumahnya menuju kamar tidurnya. Aduh .. benar-benar tak habis pikir olehku, wanita segede ini bisa kuangkat dengan mudah. Sesampai dikamarnya aku langsung terbaring dengan posisi terlentang. Mbak ita tanpa diperintah sudah tahu apa yang kumau dan langsung mengambil posisi berada diatasku. Oh ..ya pembaca, bahwa batang kemaluanku standar-standar saja untuk orang Indonesia. Aku yang berada dibawah saat itu sengaja tidak berbuat apa-apa dan membiarkan Mbak Ita mengambil inisiatif untuk memuaskanku.

    Mbak Ita langsung memegang kemaluanku dan mencoba memasukkannya kedalam liang senggamanya. Blues..bleb.. tanpa hambatan batang kejantananku tenggelam seluruhnya kedalam liang kenikmatan Mbak Ita. Est..es..auw..oh..ah..aku hanya terpejam merasakan kemaluanku seperti diperas-peras dan hangat sekali rasanya. Aku tak menyangka bahwa kenikmatan bersenggama dengan wanita lebih nikmat dibanding dengan aku beronani.Cerita Sex Dewasa

    Mbak Ita mulai menggenjot pantatnya secara perlahan tapi pasti. Ah..ah..ah..oh..oh..nik..maatt..ahh.. Mbak Ita terus melakukan gerakan yang sangat erotis. Desahan Mbak Ita membuatku semakin bernafsu ditambah dengan payudaranya bergoyang kesana-kemari. Rupanya aku tak bisa lagi tinggal diam. Aku berusaha mengimbangi genjotan Mbak Ita sehingga irama genjotan itu sangat merdu dan konstan. Tangankupun tidak mau kalah dengan pantatku.

    Aku berusaha mencapai kedua payudara yang ada didepan mataku itu.

    “Wah ..indahnya pemandangan ini” ucapku dalam hati. Tidak puas dengan hanya menyentuh payudara Mbak Ita, aku langsung mengambil posisi duduk sehingga payudara Mbak ita tepat berada didepan wajahku. Kembali aku melumat putingnya dengan lembut kiri dan kanan bergantian.

    Ahh..ah ..ah..oh.. Est..ss Mbak ita kelihatannya tak tahan menahan nikmat dengan perlakuanku ini. Lama kelamaan genjotan Mbak Ita semakin cepat dan aku..a..ku.. kee..luuarr..ahh..ohh..nikmaatt Mbak ita akhirnya mencapai klimaks yang kedua kalinya. ceritasexdewasa.org Aku yang belum apa-apa merasa kesal tidak bisa klimaks secara bersamaan. Akhirnya aku meminta Mbak Ita untuk kembali mengulum kemaluanku. Mbak Ita yang sudah mendapat kepuasan dengan semangat mengulum dan menjilati kemaluanku. Est..est..ahh..oh ucapku ketika Mbak Ita semakin mempercepat kuluman dan kocokannya pada kemaluanku. Sepertinya ia ingin segera memuaskanku dan menikmati air kejantananku.

    Selang 10 menit ah..auw..oh..nik..maatt..oh.. crot..crot..crot..semua air maniku tertumpah diwajah Mbak Ita dan diseluruh tubuhnya. Saat itu Mbak Ita tidak berhenti kulumannya dan menjilati seluruh air jantan tersebut. Aku sangat ngilu dibuatnya tapi sungguh masih sangat nikmat sekali.

    Setelah merasakan kepuasan yag tiada tara kami langsung jatuh terkulai diatas kasur. Mbak Ita tampaknya sangat kelelahan dan langsung tertidur pulas dengan keadaan telanjang bulat. Aku yang takut nanti ketahuan orang lain langsung keluar dari kamar tersebut dan mengambil handukku menuju rumahku.

    Ketika aku baru akan keluar dari rumah Mbak Ita, alangkah terkejutnya aku ketika dihadapanku ada seorang wanita yang kuduga sudah berdiri disitu dari tadi dan menyaksikan semua perbuatan kami. Eh..mm..mbak..mbak ..Ratna..ternyata ia tidak lain adalah Mbak Ratna.

    “Permisi mbak, aku mau masuk dulu” ucapku pura-pura tidak ada yang terjadi.

    Sambil berjalan tergesa-gesa aku langsung menuju rumahku untuk menghindari introgasi dari Mbak Ratna. Tiba-tiba

    “tunggu!!” teriak Mbak Ratna.

    Aku langsung panas dingin dibuatnya.

    “Jangan jangan ia akan melaporkanku ke Kepala Desa lagi” ucapku dalam hati.
    ” Aduuhh gawat nih, bisa-bisa cuci kampung” pikirku.
    ” A..a..ada apa ya mbak” balasku.

    Mbak Ratna langsung mendekatku dan berkata

    ” kamu akan aku laporkan kesuami Mbak Ita dan kepala desa atas apa yang telah kamu lakukan” ucap Mbak Ratna.
    ” Ta..tapi kami melakukannya atas dasar suka sama suka Mbak ” balasku dengan perasaan sedikit cemas. Tiba-tiba
    ” ha..ha..ha..ha.. ” Mbak ratna tertawa.

    Aku semakin bingung dibuatnya karena mungkin Mbak ratna punya dendam dan sekarang berhasil membalaskannya.

    ” Nggak usah takut, pokoknya sekarang kamu tetap berdiri disitu dan jangan sekali-kali bergerak ok!” usulnya.
    “Mbak mau melaporkan saya atau takut saya lari” ucapku semakin bingung.

    Tanpa bicara lagi Mbak Ratna semakin mendekatiku. Setelah tidak ada lagi jarak diantara kami tangan Mbak Ratna langsung melepas handuk yang kugunakan tadi sehingga aku kembali telanjang bulat.

    ”Mbak jangan dikebiri ya..” ucapku.
    ”Nnggak..nggak pa pa kok” balasnya.

    Mbak Ratna ternyata langsung berjongkok dan mulai mengocok kemaluanku.

    Ah..ah..oh..oh.. aku yang tadi lemas kembali bergairah dibuatnya. Belum lagi aku selesai merasakan nikmatnya kocokan lembut dari tangan Mbak Ratna, aku kembali merasakan ada benda lembut, hangat dan basah menyentuh kepala kemaluanku. Aku langsung tahu bahwa itu adalah kuluman dan jilatan dari mulut Mbak Ratna setelah tadi aku merasakannya dengan Mbak Ita. Kuluman dan jilatan Mbak Ratna ternyata lebih nikmat dari Mbak Ita.

    Aku bertaruh bahwa Mbak Ratna telah melakukan berbagai macam gaya dan variasi dengan suaminya untuk memperoleh keturunan. Estt..ah..oh..oh..aduhh..auw.. desahku menahan hebatnya kuluman Mbak Ratna. 15 menit sudah acara kulum-kuluman itu dan sekarang Mbak Ratna telah berganti posisi dengan menungging. Pantatnya yang kecil namun berisi itu sekarang menantangku untuk ditusuk segera dengan rudalku.Cerita Sex Dewasa

    “Ayo..cepetan..kamu sudah lama menginginkan ini kan..Mbak tau kamu sering ngintip dari celah pintu itu..ayoo masukkan dong” ucapnya dengan mesra.

    Aku jadi malu dibuatnya bahwa selama ini ia tahu akan perbuatanku. Tanpa pikir panjang aku langsung mencoba memasukkan batang kemaluanku ke liang kenikmatan Mbak Ratna.

    “Aduh!!” meleset pada tusukanku yang pertama.

    Aku kembali mecoba dan bluess..akhirnya aku berhasil juga.

    “Gila nih perempuan “pikirku,
    “ternyata lubang kemaluannya masih sempit sekali” ucapku.

    Perlahan aku coba menggoyangkan pantatku mau-mundur. Ah.ah..ahh..oh..oh..oh..ah.. Mbah Ratna mulai mendesah menahan nikmat. Aku semakin mempercepat goyanganku karena memang ini adalah gaya favoritku.

    “Ayo..teruuss..ayo..” teriakku memberi semangat”. Ah..ah..ah..oh..desah Mbak Ratna semakin terdengar kencang.

    Melihat payudaranya yang bergelantung dan bergoyang-goyang membuatku ingin mewujudkan impianku selama ini. Sambil terus menggenjot Mbak Ratna aku berusaha mencapai payudaranya. Kuremas-remas dengan garangnya seolah meremas santan kelapa. Aw..sakiitt..adu..hh..ah..ah.. Mbak Ita tak tahan akan perlakuanku. Aku tidak memperdulikannya dan tetap menggenjot dengan cepat.

    Kemudian aku mengganti posisi dengan menggendong Mbak Ratna didepanku. Bluess.. Kembali batang kejantananku kumasukkan kedalam liang senggamanya. Ahh..ah..ah..ah..desah Mbak Ratna menahan nikmat. Kulumat bibir dan kuciumi seluruh leher dan kukecup kedua puting susunya yang merah itu. Adu..nikkmatt sekaalii ah..ah..ah..oh..oh.. Mendapat perlakuan demikian bertubi-tubi akhirnya Mbak Ratna tak sanggup lagi menahan klimaksnya

    “Keeluuarr ..mau..ke..lua..rr akhirnya Mbak Ratna mencapai klimaksnya. Aku yang sedikit lagi juga hampil finish semakin menggenjot dengan cepat.
    ”Blep..blep..blep..bunyi hentakan sodokan antara kemaluanku dan kemaluan Mbak Ratna yang sudah sangat basah tersebut.

    Baca Juga Cerita Sex Tante Montok

    Tidak lama kemudian aku merasakan ada denyut-denyut di ujung batang kemaluanku dan:

    ”Crot..crot..crot..tumpahlah seluruh iir maniku kedalam liang senggamanya.

    Setelah itu kami berciuman sambil merasakan sisa-sisa nikmat yang ada dan kembali kerumah masing-masing. Keesokan harinya ketika bertemu, kami seolah-olah tidak merasakan sesuatu terjadi. Pembaca sekalian rupanya Mbak Ita tidak mau lagi berbicara denganku semenjak kejadian itu tapi aku terkadang masih melakukan hubungan sex ini hanya dengan Mbak Ratna saja ketika saya sedang ingin atau ia sedang sangat ingin melakukannya. Sekarang saya sudah selesai kuliah dan tidak lagi tinggal dibedengan itu.

  • Bercinta Dengan Wanita Bunting

    Bercinta Dengan Wanita Bunting


    8 views

    Aku akan sedikit cerita tentang pengalamanku tentang sex perkenalkan namaku Ratna umurku 19 tahun,
    kata orang aku mempunyai wajah cantik dan mempunyai payudara yang montok, aku sudah menikah setahun
    yang lalu dengan suamiku yang bernama Yeyen, dia berprfesi sebagai buruh tani dan pekerjaan tidak
    tetap.

    cerita-sex-dewasa-bercinta-dengan-wanita-bunting

    Meski demikian, aku sangat menyayangi Yeyen apa adanya. Untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari,
    aku bekerja sebagai penjual jamu gendong keliling, di desa tempat tinggalku daerah Jawa Tengah.

    Aku tidak sampai hati memaksa Yeyen untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga seorang diri, sehingga
    dari pagi hingga sore aku bekerja tanpa mengenal lelah.

    Belum lagi tanggunganku terhadap Ibuku yang sudah lanjut usia dan mulai sakit-sakitan. Tapi apa mau
    dikata, semua ini demi keadaan yang lebih baik.

    Saat ini aku sudah hamil 4 bulan, perutku sudah mulai membesar meski belum begitu terlihat. Yeyen pun
    semakin perhatian, ia sering berangkat bekerja lebih siang untuk membantuku membuat jamu yang akan
    kujual. Aku senang, meski begitu aku tetap menyuruh Yeyen bekerja tepat waktu karena aku tidak mau
    upahnya dipotong hanya karena terlambat.

    Kami berdua sangat rukun meski keadaan ekonomi kami cukup sulit. Seperti biasa, pagi-pagi aku
    berangkat ke pasar untuk membeli bahan-bahan daganganku. Semua tersusun rapi di dalam keranjang
    gendong di punggungku. Sampai rumah aku racik semua bahan-bahan tadi dalam sebuah kuali besar dan aku
    masukkan dalam botol-botol air mineral ukuran besar.

    “Wah, rAdin sekali istriku.” Yeyen menyapaku dan memberikan sebuah kecupan hangat di keningku.
    Aku pun membalasnya dengan ciuman di pipinya sebelah kanan.

    “Sudah mau berangkat ke ladang Pak Karjo?” Tanyaku.

    “Iya, mungkin sebentar lagi, hari ini ladangnya akan ditanam ulang setelah kemarin panen. Mungkin
    nanti aku tidak bisa mengantarmu sampai ujung jalan karena Pak Karjo akan marah jika aku sampai
    terlambat.” Jawab suamiku.

    “Tidak apa-apa, ini semua kan demi keluarga kita” Aku meyakinkannya sambil mengelus pipinya.
    “Tapi nanti hati-hati Ratna, ingat kamu sedang hamil. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan anak kita.”

    ”Iya, suamiku.” Jawabku mengakhiri obrolan kami.

    Sebentar saja suamiku minta pamit padaku untuk segera berangkat ke ladang Pak Karjo. Tak lupa aku
    memberikan rantang berisi makanan yang tadi telah aku siapkan. Setelah sedikit berbenah, akhirnya
    semua jamu sudah aku siapkan dan sudah aku masukkan ke keranjangku.Cerita Sex Dewasa

    Waktu juga sudah menunjuk pukul 09.00, berarti sudah saatnya aku mulai menjajakan jamu. Sebelumnya aku
    siap-siap dahulu dengan mengenakan kaos pendek warna putih dan rok selutut.

    Aku gendong keranjang berisi bermacam-macam jamu, aku kaitkan dengan selendang dengan tumpuan diantara
    dua payudaraku. Sehingga dadaku nampak menonjol sekali, belum lagi bawaan jamu yang cukup berat yang
    membuatku sedikit membusung hingga mencetak dengan jelas kedua dadaku.

    Setelah semuanya siap, aku segera berangkat berkeliling menjajakan jamu, tak lupa aku mengunci pintu
    depan dan belakang rumah warisan ayah Yeyen. Setiap hari rute perjalananku tidaklah sama, aku selalu
    mencari jalan baru sehingga orang-orang tidak akan bosan dengan jamu buatanku. Karena setiap hari aku
    bertemu dengan orang yang berbeda. Kali ini aku berjalan melewati bagian selatan desaku.

    “Jamu, Jamuuu.” Begitu teriakku setiap kali aku melewati rumah penduduk.

    “Mbakk, Mbakk, Jamunya satu.” Teriak seorang wanita.

    “Mau jamu apa mbak?” tanyaku.

    “Kunir Asem satu gelas saja mbak.” Pintanya.

    Segera aku tuangkan segelas jamu kunir asem yang aku tambahkan sedikit gula merah. Setelah itu aku
    berkeliling menjajakan jamu kembali.

    Siang itu begitu terik, hingga kaosku basah oleh keringat. Tapi aku tak peduli, toh penjualan hari ini
    cukup lumayan. Paling tidak sudah balik modal dari bahan-bahan tadi yang kubeli. Aku melangkah
    menyisir hamparan sawah dengan tanaman padi yang sudah mulai menguning.

    Memang mayoritas pekerjaan penduduk di Daerah tempatku tinggal adalah petani. Sehingga mulai dari
    anak-anak hingga dewasa sudah terbiasa dengan pekerjaan bercocok tanam.

    Aku melanjutkan perjalananku dan melewati sebuah gubuk sawah dimana para buruh tani sedang
    beristirahat karena sudah tengah hari. Belum sempat aku menawarkan mereka jamu, salah satu dari mereka
    sudah memanggil.

    ”Mbak, mbakk, jualan apa mbak?” tanya salah seorang dari mereka.

    “Anu, saya jualan jamu mas, ada jamu kunir asem, beras kencur, jamu pahitan, dan jamu pegel linu.”
    Jawabku sambil menunjukkan isi keranjangku.

    ”Ohh, kalau begitu saya minta beras kencurnya satu mbak.” kata salah seorang dari mereka.
    Segera kuturunkan keranjang bawaanku dan memberikan pesanannya.Mereka semua ada bertiga, salah satu
    dari mereka sepertinya masih smp.

    Aku duduk di pinggir gubuk tersebut. Sembari beristirahat dari teriknya siang hari. Mereka mengajakku
    berkenalan dan mengobrol sembari meminum jamu buatanku.

    “Wahh, sudah berapa lama mbak jualan jamu?” Tanya Adi yang memiliki tubuh kekar dan hitam.

    “Kurang lebih setahun mass, ya sedikit-sedikit buat bantu orang tua.” jawabku sekenanya.

    “Wah sama dengan Bowo, dia juga rAdin membantu orang tua.” Potong Abdul yang kurang lebih seumuran
    Adi, sedangkan Bowo adalah yang paling muda diantara mereka.

    “Yaa, mau gimana lagi mas, kalau nggak begini nanti nggak bisa makan.” Jawabku lagi.

    “Mbak tinggal di desa seberang ya?” tanya Bowo.

    “Iya mas, tiap hari saya berkeliling sekitar desa jualan jamu.”

    “Ooo, pantas kok saya belum pernah liat mbak.” Jawab Bowo lagi.

    Lama kami mengobrol ternyata mereka hampir seumuran denganku, Adi dan Abdul mereka berumur sekitar 20
    -an tahun, sedangkan Bowo masih 14-an tahun. Obrolan kami semakin lama hingga membuatku lupa waktu.

    “Wah, mbak kalo jamu kuda liar ada nggak ya?” Tanya Adi.

    “Wahh, mas ni ngaco, ya ndak ada to mas, adanya juga jamu pegel linu.” Jawabku sambil sedikit senyum.

    “Waduhh, kok nggak ada mbak? Padahal kan asik klo ada.” Jawab Abdul sambil terkekeh-kekeh.
    “Asik kenapa to mas?” Tanyaku heran.

    “Ya supaya saya jadi liar kayak kuda to mbak.” Jawab Adi sembari meletakkan gelas di dekat keranjangku
    kemudian duduk di sampingku.

    Posisiku kini ada diantara Adi dan Abdul, sedangkan Bowo ada dibelakangku. Rupanya Bowo diam-diam
    memperhatikan tubuhku dari belakang, memang BH ku saat itu terlihat karena kaosku yang sedikit basah
    oleh keringat dan celana dalamku yang sedikit mengecap karena posisi dudukku di pinggir gubuk. Tapi
    aku tidak tahu akan hal ini.

    “Wah panasnya hari ini, bikin tambah lelah saja.” Abdul berkata sambil tiduran di lantai gubuk itu.
    Saking keenakan tiduran tanpa terasa ia menggaruk-garuk bagian kemaluannya. Aku pura-pura tidak
    melihat, dalam hati aku berpikir,

    ”Dasar orang kampung tidak tahu malu.”

    Saat itu Panas semakin terik, sedangkan di gubuk sungguh sangat nyaman dengan angin yang semilir,
    tidak terasa aku pun mulai mengantuk. Mungkin karena tadi aku bangun pagi sekali sehingga aku belum
    sempat untuk beristirahat.

    Adi pun hanya bersandaran pada tiang kayu di sudut gubuk. Bowo juga sama seperti Abdul, tiduran di
    lantai dengan kepala menghadap ke arahku. Aku menghela nafas, mengeluh karena panas tak juga usai.
    Bukannya aku tidak mau berpanas-panasan berjualan, tapi mengingat kondisiku yang sedang hamil aku
    takut terjadi sesuatu dengan janinku.

    ”Wah, kok ngelamun aja to mbak? Cantik-cantik kok suka ngelamun, memang ngelamunin apa to mbak?” Kata
    Abdul mengagetkanku.

    ”A..anu mas saya cuma mikir kok panasnya tidak kunjung reda.” Jawabku.

    ”Wah, memangnya kenapa to mbak… tinggal ditunggu saja kok nanti juga tidak terik lagi.” Kata Bowo dari
    belakangku.

    “Ya gimana mas, kalau terus seperti ini nanti daganganku tidak laku, aku bisa rugi mas.” Jawabku
    sambil mengamati langit yang sangat terik.

    “Sudah mbak, tenang saja, kalau rezeki nggak akan kemana kok.” Hibur mas Adi.

    Tidak terasa aku semakin mengantuk. Semilir angin yang ditambah dengan suasana ladang sawah memang
    sangat nyaman.

    Tak terasa aku pun mulai memejamkan mata sembari bersandaran pada keranjang dagangan yang aku letakkan
    disampingku. Cukup lama aku ketiduran, hingga aku terbangun karena ada sesuatu yang menyentuh
    pantatku.

    “aaaaw apa-apaan ini!!?” Aku terbangun dan kaget ketika Abdul menciumi leherku yang putih, dibuatnya
    tubuhku merinding dan aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku menghindari jilatan liar lidah Abdul.

    Ciuman Abdul semakin turun mengarah pada dua gunung kembar milikku. Aku tak dapat mengan kasar.

    “Sudah diam! Nanti aku beli semua jamu milikmu dan sebagai bonusnya aku minta jamu milikmu yang indah
    itu.” Kata Adi sambil meremas payudara sebelah kiri milikku dan tertawa cenge-ngesan.Cerita Sex Dewasa

    Aku meronta-ronta minta tolong dan mencoba untuk melepaskan ikatan pada kaki dan tanganku. Tapi
    tenagaku tidak cukup untuk menolongku dari situasi ini.

    ”Ampunn mass, saya sudah menikah, nanti suamiku bisa menceraikanku.” Aku memelas dengan harapan mereka
    dapat berubah pikiran.

    ”Oh, ternyata kamu sudah tidak perawan toh, tapi tubuhmu masih sempurna.” Bisik abdul sambil meniup
    telingaku.

    Darahku serasa berdesir, dicampur rasa ketakutan yang mendalam. Dalam hati aku berpikir,

    ”bagaimana dengan Yeyen, aku takut, bagaimana dengan janinku, bagaimana kalau aku diperkosa.” Berbagai
    pertanyaan terus menghantui pikiranku saat itu.

    “Jangann mass, jangan, aku sedang haid, jadi tubuhku kotor.” Aku mencoba untuk mengelabui mereka.

    Setelah itu mereka bertiga berhenti menggerayangiku dan saling memandang satu sama lain.
    “Yang bener kamu sedang Haid? Wah Sial bener aku hari ini!” Jawab Abdul kesal.

    “iiya mas, sudah dua hari ini aku haid, jadi sedang banyak-banyaknya, tolong biarkan aku pergi.” Aku
    memohon pada mereka.

    “Ya.. ya sudahlah, mungkin kita sedang apes.” Kata Adi.

    Namun Bowo yang masih berumur 14 tahun ini tidak memperdulikan ucapanku, dia cukup senang meremas-
    remas pantatku.

    “Sudah wo, dia lagi haid, kamu mau apa kena darah?” Kata Adi pada Bowo.

    Bowo tetap tidak menghiraukannya. Justru ia semakin kencang meremas pantatku dan semakin kebawah
    menuju selangkanganku. Posisiku yang sambil tiduran membuat rok ku sedikit terangkat hingga celana
    dalam putihku terlihat. Bowo yang saat itu sedang meraba-raba pantatku rupanya tidak menyia-nyiakan
    hal ini, dibukanya rokku semakin keatas,

    “Mana? Tidak ada darah kok.” Kata Bowo.

    Sontak ucapan Bowo mendapat perhatian dari Adi dan Abdul.

    “Mana woo, jangan bohong kamu.” Kata mereka serempak.

    Kemudian Adi mengangkat rok dan menyentuh celana dalamku.

    “Kamu bohong!” dan PLakkk! Sebuah tamparan tepat mengenai wajahku.

    “Aaa Ampun mass, ampunn, Aku sedang hamil mass.” Aku semakin memelas dan ketakutan.
    “Ahh, mau pake alasan apa lagi kamu!” Abdul membentakku dan merobek bajuku, hingga aku hanya
    mengenakan BH warna hitam dan rok putih selutut.

    Adi melepaskan ikatan pada tangan dan kakiku.

    “Sekarang mau lari kemana kamu?! Memangnya kamu sanggup melawan kami bertiga?” Bowo menantangku,
    dengan cepat ia membuka baju dan celana pendeknya hingga hanya tersisa celana dalam warna coklat.

    Aku tersentak dan kaget, juga kulihat penis Bowo yang sudah membesar hingga sedikit mencuat ke atas
    celana dalamnya. Aku merangkak menuju sudut ruangan itu, aku menggedor-gedornya dengan harapan ada
    seseorang yang mendengar. Tapi tindakanku justru membuat mereka semakin bernafsu untuk segera
    menikmati tubuhku.

    “Mau kemana kamu, disini tidak ada orang lain kecuali kami bertiga hahaha.” Adi senang sekali
    melihatku hanya mengenakan BH dan Rok yang sedikit tersingkap.

    “Mass ampunn, aku sedang hamil, nanti suamiku bisa membunuhku.” Tubuhku merinding dan sesekali aku
    berteriak minta tolong.

    “Wahaha, aku sudah tidak percaya lagi dengan ucapanmu! Kalau suamimu ingin membunuhmu, ceraikan saja!
    Setelah itu kamu bisa jadi WTS sepuasnya.” Kata abdul sambil mendekatiku.

    Diraihnya kedua tanganku dan membuatku sedikit berdiri. Srakk, Abdul merobek rok ku dan melemparnya ke
    arah Bowo.

    “Itu wo, buat kenang-kenangan.” Kata abdul.

    “haha, iya mas, nanti aku pajang di rumah.” Kata Bowo cengar-cengir.

    Kini tubuhku sudah setengah bugil. Tanganku secara naluri menutup dada dan selangkanganku.

    “Wah bener-bener, ini namanya rejeki nomplok.” Abdul menciumi leherku yang putih, dibuatnya tubuhku
    merinding dan aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku menghindari jilatan liar lidah Abdul.

    Ciuman Abdul semakin turun mengarah pada dua gunung kembar milikku. Aku tak dapat mengelak, tanganku
    di pegang abdul dan diangkatnya keatas.

    Abdul semakin liar menjilati dadaku yang masih terbungkus BH, ia berpindah-pindah dari kiri ke kanan
    dan sebaliknya. Hingga ia kemudian menjilati ketiakku.

    “Aaa, ampun mass, ampun, too.. tolong nghh.” Aku tidak dapat berbohong kalau kelakuan Abdul membuat
    birahiku naik dan tubuhku menjadi sedikit lemas.

    Dengan sedikit dorongan, Abdul menjatuhkanku di tengah ruangan dan kait BH ku terlepas. Aku sudah
    tidak bisa lari dari mereka, kini yang ada di dalam pikiranku hanya janin di dalam perutku, aku
    menyadari semakin aku melawan maka mereka juga akan semakin kasar terhadapku.

    Aku terdiam, tak melakukan perlawanan, bahkan berteriak pun tidak. Air mata mulai menetes membasahi
    pipiku. Isak tangisku beradu dengan tawa dari mereka bertiga. Tubuhku lemas, antara takut dan pasrah
    menjadi satu.

    Dengan kedua tangannya Abdul membalikkan badanku hingga kini terlentang memperlihatkan Paha dan
    Payudaraku yang sudah sedikit terbuka. Mereka bertiga berdiri diatasku sambil cengengesan, rupanya Adi
    juga sudah melepas celananya diikuti dengan Abdul.

    Aku sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi sebentar lagi. Bowo yang sudah siap dari tadi
    telungkup dari atasku, tangannya mulai bermain di telingaku sedangkan kepalanya terus memburu bibirku.

    “mmpff… mmpff.” Bowo menciumku dengan ganas, aku hampir tidak bisa bernapas dibuatnya.
    Sambil tetap berciuman dia menggapai tanganku dan mengarahkannya ke penisnya yang sudah membesar.

    Dituntunnya aku untuk meremas-remas buah pelirnya yang kini ia berganti posisi dengan sedikit
    nungging. Aku pun menurut saja, aku remas-remas bagian buah zakar sampai ke dekat bagian anus yang
    masih tertutup celana dalam yang sudah usang.

    Tidak berapa lama Adi sudah berada di paha bagian kananku. Ia sudah telanjang, kini ia menindih pahaku
    diantara selangkangannya, hingga dapat kurasakan penisnya yang besar dan berotot menggesek-gesek pada
    pahaku yang mulus. Tangan Adi mulai bermain di dadaku, sambil sesekali ia menjilat bagian perutku.

    “nggghhh uaa mppff.” desahanku membuat mereka berdua semakin liar memainkan lidahnya di tubuhku.

    “ngghh, ahhh, mmppff.” sambil tetap berciuman desahanku tak henti-hentinya keluar. Memang harus kuakui
    meski dari rohani aku menolak, tapi tubuhku tidak dapat menolaknya dan aku rasakan vaginaku mulai
    basah oleh lendir kewanitaanku.

    “Heh! Minggir-Minggir!” Biar aku yang pertama merasakan tubuhnya.” Teriak Abdul.

    “Aku kan yang mendapatkan ide ini, jadi aku yang berhak untuk memulainya, awas-awas.” Tambahnya.

    Adi dan Bowo segera menyingkir dari tubuhku. Bak seorang raja, Abdul menindihku, dan kini penisnya
    yang sudah tidak dilapisi apapun tepat berada ditengah-tengah selangkanganku.

    “Gimana nona manis, sepertinya kamu juga keenakan ya?” Kata Abdul di depan mukaku.

    “Yang tadi itu belum pemanasan, baru tahap uji coba.” Ia semakin mendekat di wajahku.

    Seketika itu agus melepas BH ku, dan dengan liar putingku dimainkan.

    “nggg ahhh, aah, ah.” nafasku semakin tidak teratur.Cerita Sex Dewasa

    Bowo yang tidak bisa diam meraih tanganku dan mengarahkan ke penisnya lagi, lalu menyuruhku untuk
    mengocok-ocoknya. Adi pun tidak mau kalah, dari sisi yang lain ia memintaku untuk melakukan seperti
    apa yang kulakukan pada Bowo.

    Wajah Bowo menghilang dari hadapanku, rupanya ia turun dan kini ia tepat berada di atas daerah
    kemaluanku, dilebarkannya kakiku dan ia mulai menciumi vaginaku yang masih dilapisi celana dalam
    sambil tangannya memainkan putingku.

    Aku semakin bernafsu, tanpa kusadari aku mengangkat pinggulku agar ciuman Abdul pada vaginaku lebih
    terasa. Abdul tampaknya tahu kalau aku sudah sangat terangsang.

    Segera ia melepas celana dalamku yang sudah banjir oleh lendir dari vaginaku. Disibakkannya rambut
    kemaluanku dengan lidahnya. Kemudian Abdul mulai menjilati vaginaku dan sesekali menghisap klitorisku
    dan tangannya semakin liar bermain di kedua payudaraku.

    “nggghhh, ahhh, aaaa mmmh mass.” Aku mengerang keenakan sambil menekuk kedua pahaku sehingga abdul
    lebih leluasa memainkan vaginaku.

    Aku benar-benar serasa melayang, dihadapanku kini ada 3 orang yang secara beringas memperkosaku. Aku
    sangat malu pada diriku, kenapa aku justru bisa menikmati keadaan ini, tapi tubuhku seolah-olah sudah
    menyatu dengan jiwa mereka.

    “mass ahhh, terus mass, enn enak.” Aku terus meracau tak karuan yang membuat mereka bertiga semakin
    bernafsu. Lidah Abdul Semakin liar menghisap-hisap vaginaku diiringi kocokanku pada batang kemaluan
    Bowo dan Adi.

    “ ahhhh ahhh, mass. lebih cepat mass.” aku mengerang dan ketika itu juga aku mengalami orgasme.
    Cairanku membasahi wajah Abdul namun ia terus menjilatinya hingga aku menggelinjang kekanan dan
    kekiri.

    Kini Abdul membangunkan tubuhku, dan memintaku untuk menjilati ketiga penis mereka. Aku seperti
    dicekoki, didepanku kini ada 3 rudal yang siap menjejali mulutku.

    Tanpa menunggu lama, aku masukkan penis mereka bergantian di mulutku, sambil tanganku memainkan batang
    kemaluan mereka. Mereka bertiga nampaknya merasa keenakan,

    ”oohh.” Adi melenguh keenakan.

    Sekitar 15 menit aku memainkan penis mereka sambil terus mengocoknya. Abdul yang sudah sangat
    terangsang mendorong tubuhku dan mulai memasukkan penisnya yang besar itu.

    “mmass.” aku menahan sakit saat penis Abdul menghujam vaginaku.

    Dengan sekejap seluruh batang milik Abdul masuk kedalam liang kewanitaanku. Tanpa basa-basi, Abdul
    mulai menggerakkan penisnya maju mundur. Sedangkan Adi dan Bowo menjilat-jilat dan menghisap
    payudaraku.

    Aku dikeroyok oleh 3 orang. Libidoku pun semakin meningkat setelah tadi aku mengalami orgasme. Aku
    memegangi kepala Adi dan Bowo sambil terus melenguh keenakan.

    “Uhhh ahhh, umm. ahh.” Kata-kata itu yang terus muncul dari mulutku melihat perlakuan mereka
    terhadapku.

    Sekitar 10 menit kami melakukan posisi ini sambil bergantian Adi dan Bowo menciumi bibirku. Abdul
    belum juga keluar, ia cukup kuat untuk ukuran lelaki seperti dia. Kini ia menyuruhku untuk nungging.
    Aku hanya menuruti perkataannya.

    “Dul, gantian aku yang naikin dia.” Tanpa basa-basi Bowo mengarahkan penisnya ke arah vaginaku, kini
    posisiku berganti menjadi menungging sambil di genjot oleh penis Bowo.

    Penis Bowo tidak terlalu besar, bahkan hanya setengah milik Adi dan Abdul. Mungkin ini pertama kali
    baginya untuk merasakan liang vagina. Karena kulihat ia cukup lama sebelum seluruh batangnya masuk ke
    dalam vaginaku.

    “Uoogghh, uenakk tenann” Kata Bowo.

    Ia menggerakkan pinggulnya maju mundur mengikuti irama pantatku. Bowo cepat beradaptasi, Meski
    penisnya kecil, tapi gerakkannya sangat cepat, berbeda dengan Abdul yang menikmatiku dengan pelan.

    Adi berganti posisi, kini ia di depanku dan mengarahkan penisnya ke mulutku, kemudian ia memaju
    mundurkannya beriringan dengan genjotan Bowo. Abdul yang tadi menggenjotku kini asik bermain dengan
    putingku yang lumayan besar.

    Kami terus melakukan tarian kenikmatan ini, Bowo semakin cepat menggerakkan penisnya maju mundur,

    ”Ahhh, masss, aaa, aku keluaaarr. ummm, mmpfff.” Aku keluar untuk kedua kalinya. Begitu juga dengan
    Bowo, ia yang masih belum berpengalaman mengeluarkannya di dalam vaginaku, seketika itu juga ia
    langsung lemas.

    “Wah, wo, parah kamu, masa kamu keluarin di dalem, kan jadi kotor,” kata Adi.

    ”Aku saja belum sempat merasakannya sudah kotor sama peju kamu.” Tambahnya.

    “Maaf mas Adi, aku kelepasan.” Ucap Bowo.

    tampaknya Bowo sudah lelah, ia kemudian berbaring dan sepertinya akan tidur.

    “Wah, dasar anak ini, habis enak langsung minggat.” Ucap Abdul.

    Abdul kemudian menggantikan posisi Adi dengan memasukkan penisnya ke mulutku. Sedangkan Adi kini
    berada tepat dibelakangku dengan posisiku yang masih tetap menungging.

    “Tahan ya, sakit sedikit tapi enak kok..” Seringainya padaku.

    Aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan padaku, tidak begitu lama ternyata ada sesuatu yang mencoba
    masuk melalui anusku.

    “Nggghhh masss, sakitt, aa ampun mas.” Aku merasa kesakitan saat penis Adi yang besar mencoba
    menerobos anusku.

    “Ahhh, aaaw ashh, nnnhh.” Aku semakin tidak karuan merasakannya.

    Dengan sekuat tenaga meski sempat beberapa kali bengkok akhirnya penis Adi masuk ke dalam anusku,

    ”Nggg ahhh.” rasa sakitku pelan-pelan menjadi kenikmatan yang baru bagiku, karena baru kali ini anusku
    di jejali penis.

    “Hmmff Sempit banget , uahh.” Ucap Adi keenakan, ia juga tidak kalah keenakan daripada aku.

    Adi sudah mulai terbiasa dengan ini, sesekali ia meludahi anusku agar lebih mudah menggerakkan
    penisnya.

    “Akkkkhh, uuahhhh.” Adi mendesah keenakan saat ia mencapai puncak kenikmatan, spermanya mengisi penuh
    seluruh isi anusku hingga meleleh keluar. Tidak berapa lama Abdul yang sudah dari tadi memaju
    mundurkan penisnya di mulutku juga merasakan hal yang sama,Cerita Sex Dewasa

    “ouughhh teleennnn, sseeemuaa.” Ia meracau sambil tangannya menekan kepalaku pada penisnya.
    Seketika itu juga cairan spermanya menyemprot di dalam rongga mulutku dan mau tidak mau harus aku
    telan.

    Harus kuakui mereka bertiga cukup hebat, namun tetap saja tidak bisa mengalahkan mas Yeyen, Mereka
    bertiga hanya sanggup membuatku keluar 2 kali, tapi mas Yeyen mungkin bisa lebih, bahkan Hingga aku
    tidak mampu lagi untuk berdiri.

    Mereka bertiga duduk di dalam ruangan sambil beristirahat karena mereka sangat lelah. Aku pun masih
    terbaring di lantai tanpa sehelai benangpun. Abdul mengeluarkan 2 lembar lima puluh ribuan. “itu untuk
    ongkos jamu dan tubuh kamu.

    ”Sekarang kamu pergi dari sini!” Ucapnya sedikit membentak.

    “Bagaimana dengan pakaianku?” tanyaku.

    “Pikir saja sendiri” Balas abdul ketus.

    Kemudian aku memakai BH dan celana dalamku. Aku gunakan selendang yang kupakai untuk mengangkat
    keranjang tadi, Aku lilitkan untuk menutupi tubuhku dan untunglah cukup. Aku bergegas meninggalkan
    mereka sambil membawa kerangjangku. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 4 sore.

    “Mas Yeyen pasti sudah pulang ini.” Ucapku dalam hati sambil mengusap air mata di pipiku.

    Sesampainya di rumah ternyata benar, Mas Yeyen sudah menungguku pulang. Aku ceritakan semua kejadian
    ini padanya bagaimanapun aku tetap mencoba untuk terbuka padanya karena dialah satu-satunya orang yang
    kumiliki.

    Baca Juga Cerita Sex Aku Hamil

    Reaksi Mas Yeyen sungguh membuatku kaget, Ia justru memelukku dengan erat, dan mengelus perutku
    memberikan kasih sayang pada si Jabang Bayi.

    Aku terharu dengan Mas Yeyen. Meski sempat ia akan bergerak mengumpulkan warga untuk memberi pelajaran
    pada orang-orang yang memperkosaku, namun aku dapat meyakinkannya bahwa aku tidak apa-apa, dan semoga
    saja janinnya juga tidak terjadi apa-apa.

    Aku bangga dengan Mas Yeyen, ia tidak panik saat mendapatiku mengalami kejadian seperti ini, Selamanya
    aku tetap mencintainya.

    Setelah kejadian ini aku sudah tidak berjualan jamu lagi. Kali ini aku menjadi pendamping setia Mas
    Yeyen, dengan menemaninya pergi ke ladang setiap hari. Meski keadaan ekonomi kami semakin sulit, tapi
    kebahagiaan kami seolah menutup dalam-dalam semua keadaan ini dan kejadian masa lalu.

    Kini anakku sudah besar, peristiwa itu tidak membuat kondisinya saat lahir menjadi cacat mental atau
    sejenisnya. Ia tumbuh menjadi putri yang cantik dan kami beri nama Mentari, yang tetap bersinar
    sesulit apapun keadaan yang kami alami saat ini, esok, dan seterusnya

  • Birahi

    Birahi


    9 views

    Dunia sex yang mana saya sudah melang melintang lokasi panas sexsualitas yang ada di ibu kota sudah
    pernah aku datangi, tapi ada satu tempat yang menjadi favoritku di daerah Jakarta Timur, cewek disana
    banyak yang muda muda dan masih polos kelihatannya dari desa, penampilannya juga masih kayak orang
    kampung.

    cerita-sex-dewasa-birahi1

    Aku akhirnya punya langganan, namanya Katem, tapi lalu kuganti namanya jadi Ami. Jadi aku panggil dia
    Ami. Dia akhirnya terbiasa. Suatu hari dia bercerita ingin pulang kampung. Aku menawarkan diri
    mengantarnya sampai ke rumahnya.

    Dia dengan senangnya menyambut tawaranku. Kami akhirnya janjian untuk berangkat bersama. Kami janjian
    ketemu di halte mikrolet di dekat pasar. Dari situ kami menuju Pulo Gadung untuk mengambil bus jurusan
    Cirebon. Baru sekali itu aku naik bus dari Pulo Gadung dan bersama cewek.

    Sorry aku lupa menggambarkan bagaimana profil Mia. Usianya sekitar 15 tahun, mukanya manis, kulitnya
    agak gelap tingginya sekitar 155 cm. Rambut lurus sebahu. Bicara kurang lancar berbahasa Indonesia,
    dia sekolah sampai kelas 4 SD.

    Sekitar 3 jam setengah akhirnya kami sampai di pemberhentian sebelum kota Indramayu. Sebut saja KS,
    kami menyeberang jalan, dan di situ sudah ada puluhan ojek. Mia menyebut nama kampungnya dan kami
    menyewa 2 ojek dengan ongkos masing-masing 20 ribu. Rupanya tempatnya jauh juga masuk kedalam.

    Di kampung-kampung Indramayu dan Karawang, cukup banyak orang tua yang menganjurkan anaknya jadi
    pelacur. Jadi mereka sama sekali tidak keberatan ketika anaknya punya tamu. Bagi ortunya tamu itu
    adalah rejeki dan ini masuk area bisnis jadinya.

    “Nak, nginep disini aja, pulang ke jakarta besoklah, ngapain buru-buru pulang,” kata bapaknya.
    Jadi sebelum aku memohon sudah ditawari so ya why not kan. Lantas aku keluarin Rp 100k kasi langsung
    sama emaknya.Cerita Sex Dewasa

    “Mak ini buat beli makanan, nanti malam saya makan disini.”

    Wah itu emak langsung buru-buru pergi, pulangnya nenteng ayam hidup, lalu bapaknya suruh motong tuh
    ayam. Malamnya hidangannya adalah ayam goreng, sambel dan lauk berkuahnya 2 bungkus indomi direbus
    dengan banyak air. Yang makan berenam.

    Adik si cewek ada 2 soalnya. Aku gak bisa makan banyak, tapi dipaksa juga. Aku kurang selera, karena
    ayamnya masih keras dan masih bau amisnya ayam. Aku telen-telenin aja, abis kepaksa. Mau makan
    indomienya. Biasanya dua bungkus aku makan sendiri, ini dua bungkus dimakan berenam. Wah aku jadi gak
    enak body.

    Abis makan aku keluarin 50 k kasi ke bapaknya untuk beli rokok dan 50k lagi aku kasi ke dia juga
    dengan pesen untuk keamanan. Wekkk rumah tuh bapak akhirnya dijagain 2 hansip kampung semalaman.

    Buset deh, jadi raja minyak aku di kampung ini. Abis makan bukan terus tiarap, ngobrol dulu ama
    bokapnya ke utara-selatan. Yah bisa-bisa aku menerka minat obrolan dia. Begitu aku tau dia tertarik
    ama pertanian.

    aku keluarin jurus-jurus dewa mabok aku untuk mengimbangi percakapannya. Bukan mau sombong sih diajak

    ngomong soal apa aja dari mulai menanam padi sampai nuklir korea utara aku bisa njabani. Kalo soal
    olah raga aku nyerah deh, gak hobi. Namanya ilmu dewa mabuk, si bapak jadi kalah ilmu ama aku,
    wakakakak.

    Aku inget hari itu dia nanya-nanya nanem apa yang hasilnya lumayan. Aku bilang semangka tanpa biji
    bagus tuh pasarnya. Dia bingung, semangka tanpa biji yang ditanam apanya. Aku bilang ya biji, ada tuh
    bibitnya di jual kalengan cuma harganya rada mahal.

    “mau dong” kata bapaknya.

    “Yah nanti deh kalo saya kemari lagi.”

    Ngobrol sampai jam 10 an sambil minum kopi dan makan kacang garuda. Akhirnya tuh bapak nyadar juga dan
    nyuruh aku istirahat.

    “Kamarnya udah disiapi, silahkan nak istirahat dulu.”

    Jam 10 malam di kampung, sunyinya kayak orang tuli, mana gelap lagi. Tapi aku PD aja meski rada was-
    was juga, Gimana gak PD rumah dijagai 2 hansip. Kayaknya hansip kelurahan. Was-wasnya kalau ada apa-
    apa aku lari kemana.

    Aku kan gak bawa kendaraan. Oh ya aku lupa. Kalo masuk kampung pedalaman gitu dan mau nginep jangan
    bawa mobil, mencolok bo. Orang jadi banyak perhatiin kita. Kalo kita datang naik ojek, kita jadi
    membaur dan gak kelihatan mentang-mentang.

    Si bapak nunjuki kamar tidur untuk aku, dan anak perempuannya udah tiduran di situ. Kamarnya cuma
    diterangi lampu minyak dan yang istimewa tempat tidurnya pake kelambu. buset dah seumur-umur aku baru
    pernah kali itu tidur pake kelambu.

    Tadinya pengen malu, tapi karena bapaknya nganjurin aku tidur ama anaknya, aku jadi bingung pengen
    malu ama siapa wakakakakak.

    Besok paginya aku rada kesiangan bangunnya, malemnya kebanyakan tiarap kali ya. eh si cewek walau udah
    bangun tapi dia belum keluar dari tempat tidur.Mungkin nunggu sampai aku juga bangun.Wah setia banget.

    Di luar udah disiapi kopi dan nasi goreng. Wuissh raja minyak diservice abis. Aku salut ama diri aku
    sendiri, sebab petualangan itu aku jalani sendiri tanpa kawan. nekat abis. Aku akhirnya nginep lagi
    semalem, mengingat dana dikantong masih mencukupi dan aku rasa aman-aman aja.

    Seharian di kampung aku ditemani tetangganya (laki-laki) nyewa motor muter-muter di kampung. Eh dia
    malah nunjuki potensi cewek di desanya.

    Jadi aku dikenali ama banyak cewe. Buset banget, ternyata banyak yang ok. Gilanya dia nawari perawan.
    Bukan satu, kalo aku nggak salah inget ada 3 semuanya dikenali ke aku.

    Tetangga sebelah si Mia ini rupanya juga lagi pulang kampung. Gilanya dia kelihatan lebih muda,
    mungkin usianya masih 13 – 14 tahun. Aku diperkenalkan dan dia mengaku kerja (melacur) di daerah
    Cilincing. Tempat yang dia sebutkan itu belum pernah aku datangi.

    Setelah nginap semalam aku kemudian pamit kepada orang tua si Mia. Diantar oleh tetangganya aku
    berangkat dari rumah Mia. Heri begitu nama tetangga Mia yang menjadi penunjuk jalan.

    Aku bukan sungguh-sungguh pulang tapi pindah nginap di kampung yang letaknya jauh lebih ke pelosok.
    Tujuannya adalah rumah Nani. Anaknya manis agak tinggi sekitar 160 usianya juga masih amat belia
    sekitar 15 tahun.

    Dia termasuk stok baru, karena belum pernah dikaryakan. Kata Heri Nani baru cerai. Padahal mereka
    belum genap 3 bulan kawin. Seperti diceritakan Heri, orang-orang di kampung itu banyak yang kawin
    singkat hanya untuk mengejar status janda. Dengan status janda, dia bisa punya KTP dan bisa kerja ke
    kota.

    Rumah Nani tidak begitu besar, berdinding separuh tembok separuh bambu anyaman (gedek). Kami disambut
    seorang wanita usianya sekitar 32 tahun, dia adalah ibunya Nani.

    “Mari mas masuk,” katanya mempersilahkan kami.

    Aku memilih duduk di bale-bale (amben) bambu di teras rumahnya. Sementara itu Heri masuk bersama
    ibunya Nani, sepertinya ada yang mereka rembukkan.

    “Dari mana mas,” tanya ibu si Nani.

    “Jakarta,” jawabku singkat.

    Maknya si Nani ini kelihatan akrab sekali, sedangkan aku masih rada kikuk. Aku merasa malu karena
    niatku akan menginap di rumah itu, kayaknya vulgar banget. Tapi Bu Karta begitu dia mengenalkan
    namanyam dia pintar sekali mencairkan suasana, dan dia sudah tau betul niatku .

    “Mas tunggu sebentar ya, si Nani lagi mandi, katanya.

    Kami mengobrol macam-macam sampai aku tahu bahwa Bu Karta ini juga janda dengan 2 anak. Anak yang
    pertama laki-laki sekarang kerja di Jakarta.. Jadi mereka hanya tinggal berdua.

    “Masnya jadikan menginap di sini,” tanya Bu Karta.Cerita Sex Dewasa

    “ Kalau ibu boleh, ya saya mau,” kataku.

    “Ya boleh lah mas, hotel dari sini jauh, tapi disini rumah kampung, nggak ada listrik, rumahnya juga
    jelek, nggak kayak rumah di Jakarta, gedongan semua,” katanya merendah.

    Heri memberi kode agar aku ikuti dia. Heri membrief aku, bahwa semuanya oke dan ada juga uang
    keamanan. Dia mau pamit, dan aku minta dia datang lagi besok jam 10 pagi. Heri kemudian pamit kepada
    mak nya Nani dan segera ngacir.

    Perutku sudah rada kroncongan karena sekarang udah jam 1 siang. Kutarik 5 lembar uang 20 ribuan dan
    kuserahkan ke Bu Karta.

    “Ini bu untuk beli makanan, siang ini ibu beli indomi bangsa 5 bungkus, minyak goreng dan kalau ada
    sedikit tepung sagu (kanji), lainnya beliin tempe dan cabe rawit ijo juga bawang putih.”

    Ibunya masuk ke dalam rumah sebentar dan keluar lagi membawa secangkir kopi. Tak lama kemudian datang
    belanjaan. Rupanya Bu karta minta tetangganya untuk belanja , pantesan dia gak beranjak dari tadi.

    “Mas tepung sagunya mau dibuat apa ya,” katanya.

    “Mau buat mi bu,” kata ku.

    “Ah jangan panggil bu ah, panggil mbak aja, kayaknya kok jadi tua banget,” katanya sambil matanya
    genit.

    “Boleh saya masak mi nya di dapur bu,”

    “Eh masnya pinter masa yaa, tapi dapurnya jelek dan kotor” katanya lalu membibimbingku ke bagian
    belakang rumahnya.

    Aku berpapasan dengan Nani yang berbalut handuk masuk dari belakang rumah. Dia malu-malu menundukkan
    muka , langsung masuk kamar. Aku meminta 3 bungkus indomi untuk digoreng.

    “Sini mas kita saja yang goreng,” kata bu karta.

    Orang di Indramayu ini menyebut kita untuk aku.

    Setelah mi di goreng aku minta dia merebus air dan pinjem mangkuk untuk mencampur air dengan tepung
    sagu.“ Segini cukup gak mas airnya.

    “Kurangi dikit mbak.”

    Setelah air menggelegak aku masukkan air campuran dengan kanji dan bumbu mi instannya. Setelah
    mendidih dan kuah agak mengental kuminta dipindahkan ke tempat lain. Sekarang makanannya sudah siap.

    Mas kita cuma punya nasi ama ikan asin. Lalu kami pun mengelilingi meja makan yang posisinya
    ditempelkan ke tembok dengan 4 kursi. Aku duduk di tengah, disamping ku Nani, dan di kiriku Bu karta.

    “Wah enak mi-nya mas, masnya pinter masak juga ya,”

    “Ini namanya ifumi, tapi sebenarnya bumbunya lebih lengkap dari ini ada sayur, ada bakso, baso ikan,
    dan udang segala, tapi karena adanya ini ya begini aja lah,” kata ku .

    “Enak ya mak, kita jadi pengin nambah mi nya lagi,” kata Nani yang makan sambil duduk kakinya diangkat
    satu (metingkrang).

    “Mas itu ada tempe mau diapain, biar kita yang ngerjain,” kata mak Karta.

    “Digoreng aja biasa mbak,” kata ku.

    Dia lalu menghilang ke belakang tinggal aku dan Nani di ruang yang rada gelap. Kami ngobrol dan aku
    mengorek banyak informasi. Katanya dia sudah ditawari kerja ke Jakarta, Tapi maknya belum ngasih
    karena sendirian di rumah. Gak terasa sudah jam 4 sore, cuaca mulai teduh.

    “ E mas-e mau mandi kan, ayu bareng kita ke belakang saya unjukin tempatnya.” kata mak Karta.
    Aku segera mengorek isi tas ku mengambil sabun cair, handuk dan celana pendek serta kaus oblong, juga
    sikat gigi.

    Maknya Nani juga kelihatannya bawa perlengkapan mandi nani juga. Mereka masing masing menjinjing ember
    kecil. Mereka mau mandi juga nampaknya.

    Kami sampai di halaman belakang yang jaraknya sekitar 10 m dari rumah ditengh kebun singkong. Di situ
    hanya ada ponpa tangan dan ember yang lebar. Tidak ada dinding, sehingga sama sekali terbuka.

    Aku melihat ke sekeliling, tidak ada bangunan apa pun . Ternyata kamar mandinya ya di pompa itu. Di
    situ hanya ada dua tonggak yang dihubungkan dengan kawat. Maksudnya mungkin untuk jemuran. Mereka
    berdua lalu melampirkan handuk, dan baju-baju mereka.

    Kulihat mereka gak bawa sarung, aku jadi mikir nih mereka mandinya gimana. Aku diam aja sambil pura-
    pura terlihat biasa sambil menyampirkan baju-bajuku dan membuka semua pakaianku kecuali celanda dalam
    yang memang bentuknya boxer.

    Si mak giat sekali memompa. Aku segera mengambil alih memompa. Astaga mereka berdua membuka semua
    bajunya sampai telanjang bulat di depan ku lalu jongkok di pinggir ember.

    Dengan gayung bekas kaleng susu mereka membasahi semua badannya lalu menyabuni tubuhnya Aku terus
    memompa sambil pura-pura cuek, padahal dedeku mulai mengembang.

    “Udah itu mas air juga udah penuh masnya juga mandi sini, kata si mak,”

    Aku tidak mau kalah dengan aksi mereka, Aku berbalik dan segera melepaskan celana dalam, dan
    kugantungkan dengan bajuku. Kututup burungku lalu aku jongkok berhadapan dengan mereka. Pembatas kami
    hanya ember.

    “Wah masnya gak biasa mandi di kampung jadi masih malu ya mas,” kata Mak karta.

    Aku hanya nyengir,

    “Ah nggak mbak, Cuma burungku susah diatur,” kataku berkilah.Cerita Sex Dewasa

    Mas nya gak biasa sih jadi burungnya kaget kali,” kata bu Karta.

    Ibu nya si Nani ini tampak makin cantik ketika semua rambutnya dibasahi. Toketnya cukup montok mungkin
    ukuran 38 , perutnya agak gendut sedikit, tapi masih bisa digolongkan ramping untuk seumuran dia,
    pantanya buset gede banget, begitu juga pahanya. Badannya putih mulus pula.

    Nani badan gadis remaja Teteknya masih mancung menantang dengan putting kecil yang belum berkembang,
    jembutnya masih jarang sekali, berbeda sama jembut ibunya. Karena mereka cuek, aku juga cuek aja,
    meski pun barangku ngacung terus. Ah normal aja pikir ku, laki-laki dekat perempuan telanjang pula
    pastilah on.

    “Gitu dong mas jangan malu-malu,” Komentar ibunya sambil dia mengambil semacam sabut untuk
    menggosokkan badannya. Aku diberinya satu sabut yang kuperhatikan bentukunya bulat panjang seperti
    gambas atau oyong.

    Aku tenang saja menggosok badan ku sambil berdiri dan mereka berdua juga akhirnya berdiri sih. Mas
    sini aku gosok punggungnya dan mas gosok punggunya Nani. Kami pun lalu berbaris saling menggosok.

    Mulanya aku menggosok punggung Nani, Tapi lama-lama tangan ku gak tertahan meremas pula tetek si Nani.
    Tapi dia diem aja. Si Ibu masih terus menggosok, tapi tidak hanya punggung juga sampai ke kaki-kaki
    pula Eh lama-lama naik sampai ke dekat dede ku.

    Di bagian vital itu disabuninya pula tapi gak pake sabut. Aku jadi menggelinjang gak karuan. Eh dia
    malah lama sekali berputar-putar menyabuni dedeku. Aku jadi gelap mata kutarik si Nani lalu kucium.
    Nani membalas. Aku udah kehilangan akal, sampai gak terasa kalau dedeku dibasuh air. Tapi aduh
    ternyata burungku dilomot sama si ibu. Buset kok jadi orgi di kebun singkong gini.

    Aku tidak bertahan lama segera muncrat di dalam mulut si ibu. Dia buang air mani ku. Aku segera
    menempelkan barang ku ke pantat si nani yang kupeluk dari belakang sementera tanganku sudah dari tadi
    mengorek-korek itil si Nani sampai dia muncak juga nampaknya. Aku kemudian berbalik ke si emak dan
    kurangkul dia lalu kucium mulutnya. Dia membalas dengan ganas.

    Tangan ku tak hanya meremas teteknya yang super toge, tapi juga mulai mengelus-elus mekinya. Aku mau
    balas dendam. Perlahan-lahan kujilati tubuhnya kebawah sampai akhirnya aku berlutut dan di depanku
    terpampang mem3k berjembut lebat.

    Lidahku mencari sendiri belahan mem3k sambil tanganku menyibak hutan rimba. Mem3knya tidak ada baunya,
    malah cenderung bau sabun. Mulutku kubekap ke mem3knya dan kaki kirinya kupanggul dipundakku.

    Si emak berpegangan ke tiang sambil mendesis-desis. Gak sampai 2 menit dia sudah muncak dan sambil
    mengerang. Barangku jadi keras lagi aku segera berdiri dan kusuruh si emak membungkuk dengan sekali
    tusuk masuklah si dede ke meki emaknya dari belakang.

    Aku sungguh terpesona dengan pemandangan pantat yang demikian besar membulat aku tabrak-tabakkan badan
    ku ke pantat si emak dan si emak mengimbanginya dengan mendesis-desis.

    Nani yang jongkok sambil mengguyur badannya memperhatikan kelakuan kami. Kupanggil dia agar mendekat.
    Nani menurut lalu aku sambil memompa emaknya aku gerayangi badannya. Sekitar 5 menit si emak sudah
    bilang

    “udah-udah mas ampun mas saya lemes banget,” katanya setelah dia meregang puncak orgasme.

    Sementara aku masih nanggung.Kini nani ku minta nungging dan segera dedeku kuarahkan ke mem3knya dari
    belakang. Beda banget mem3k sianak dengan si Mak, Si Emak tadi mudah sekali mencoblosnya. Kalau sianak
    pake rada dituntun baru bisa pelan-pelan masuk.

    Aku kembali memompa dan karena ketatnya liang nani aku tidak mampu bertahan lama baru sekitar 5 menit
    aku sudah merasa akan meledakkan lahar. Kucabut dari meki si Nani lalu ku tembakkan ke udara bebas.

    Si emak lagi di duduk dilantai lemes.

    “Si emas jago banget maennya,” kata emak.

    Kami lalu menuntaskan mandi dan segera kemlai ke rumah. Kami jadi makin akrab dan aku segera dibawanya
    masuk ke ruang tidur. Kamar tidur itu adalah satu-satunya kamar tidur di rumah itu.

    Di situ terbentang 2 kasur yang didempetkan namun dengan dua sprei yang berbeda corak. Aku disuruhnya
    istirahat tiduran. Dan mereka berdua juga ikut tidur mengapit aku.

    Si emak ini agresif sekali. Kalau bicara sebentar-sebentar nyium pipiku.

    “Aku gemes sama si emas abis cakep sih,” katanya.

    Karena matahari masih mencorong dan kami di dalam kamar yang tidak berventilasi, dengan birahi tinggi
    maka badanku cepat sekali berkuah alias berkeringat.

    “Panas banget boleh gak kita buka baju,“ kata ku menyebut diriku dengan kita menyesuaikan bahasa
    mereka.

    Tanpa menunggu jawaban dari mereka aku segera bangkit dan melepas tidak hanya baju tetapi semua busana
    ku sampai aku telanjang bulat.

    “Kok dibuka semuanya,” kata si Nani.

    “Abis panas, lagian kan tadi udah pada liat di sumur, jadi malunya udah ilang,” kata ku.

    “Idih,” kata Nani.

    Aku kembali mengambil posisi di antara mereka dan diam saja tidak bereaksi. Si emak langsung meremas
    tol ku sambil menciumi pipiku.

    Kelihatannya dia menginstruksikan anaknya untuk juga menciumiku dari sisi lain. Nani gerakannya masih
    canggung, tapi aku diam saja. Emaknya bangkit sambil duduk mengintrusikan anaknya untuk menciumi
    seluruh badan ku.

    Aku protes agar mereka juga telanjang sehingga kita bertiga sama posisinya. Emaknya lalu berdiri
    membuka semua bajunya dan dia juga menyuruh anaknya untuk membuka semua bajunya juga..
    Si emak kembali mengajari anaknya bagaimana caranya menyenangkan laki-laki, sampai akhirnya anaknya
    disuruh ngemut tool-ku.

    “Jangan sampai kena giginya, nanti masnya ngrasa sakit. Mulanya si Nani agak ragu. Tapi kemudian
    ibunya memberi contoh dengan cara mempraktekkannya langsung lengkap menjilat kedua kantong zakarku
    sampai ke lubang matahari

    Aku yang menjadi bahan praktikum, mengelinjang-gelinjang nikmat. Nani tampaknya berbakat, karena dalam
    waktu relatif singkat dia sudah menguasi ilmu oral-mengoral. Setelah sekitar 10 menit kutarik tubuhnya
    ke atas lalu kusuruh dia duduk di dadaku kusuruh maju sedikit sampai mekinya tepat jangkauan lidahku.

    Kukuak mem3knya yang masih gundul dan baru berambut sedikit. Benjolan kecil nampak menonjol di ujung
    atas bibir dalamnya. Itu tanda dia sudah cukup terangsang, Segera lidahku menggapai clitoris sambil
    kedua tanganku menahan pinggulnya yang kalau kulepas gerakannya terlalu liar.

    Nani mendesis sambil mengerang. Dia kelihatannya lebih rame dari pada ibunya. Ibunya yang dari tadi
    duduk saja memperhatikan permainan kami tiba-tiba bangkit. Aku tidak bisa jelas melihatnya, tapi aku
    merasa dia duduk mengangkangi badanku sambil menuntun tool ku yang lagi siaga ke dalam mekinya.

    Blebesss, masuk semua barang ku kedalam mekinya dan dia segera memaju mundurkan pinggulnya. Toolku
    seperti diulek atau dikacau (stir). Kosentrasiku jadi terbelah. Tapi aku berusaha memuatkan serangan
    lidahku secara konstan di ujung clitoris si Nani. Nani makin hot terlihat dari gerakannya yang melawan
    tahanan tanganku.Cerita Sex Dewasa

    Aku semakin keras menahan pinggul nani agar dia tidak menggelinjang terlalu liar. Akhirnya Nani sampai
    dan dia menjerit.

    Aku lalu membenamkan mulutku di meki nani. Ibunya nampaknya terpengaruh dengan teriakan Nani sehingga
    dia pun lalu mempercepat gerakkannya dan semakin liar sampai akhirnya dia juga berhenti dengan liang
    vaginanya berkedut. Dia memeluk anaknya.

    Keduanya aku minta tidur telentang untuk istirahat. Aku mengambil alih dengan mencolokkan jari tengah
    kanan ke Nani dan jari tengah kiri ke emaknya. Aku meraba titik G spot mereka. Keduanya akhirnya
    teraba.

    Lalu ku usap halus. Mereka mulai bereaksi dan pinggulnya di gerakkan gak beraturan, kadang maju mundur
    kadang kiri-kanan, sampai tiba-tiba Nani teriak sekencang-kencangnya gak sampai semenit Emaknya juga
    ikut teriak panjang.

    Mereka berdua seperti orang tak berdaya lemas dan pasrah. Aku segera mengambil alih untuk memuaskan
    diriku. Pertama kupilih meki emaknya, kugenjot sampai sekitar 10 menit, kemudian aku pindah ke nani
    dan kugenjot terus sampai akhirnya aku memuntahkan lahar putih jauh di dalam meki si Nany.

    Kami tertidur bertiga dalam keadaan bugil.

    Aku tidak sadar berapa lama tertidur sampai kudengar suara samar-samar emak si nani bangun .dia
    mencari lampu untuk dihidupkan, karena seisi rumah itu gelap gulita. Lampu yang dinyalakan adalah
    lampu minyak.

    Aku pun lalu bangun dan akhirnya kami bertiga dengan obor menuju ke sumur untuk membersihkan diri. Aku
    merasa kayak punya dua istri dua di kampung ini. Tapi uniknya kedua istri itu anak dan ibu. Keduanya
    berlaku manja sekali dan sering menggelendot.

    “Mas tempenya udah digoreng, mau dimasak apaan” kata si emak.

    Baca Juga Cerita Sex Jilatan Gigolo

    ”Diulek pake 1 siung besar bawang putih dan cabe rawit ijo, tapi cabe dan bawangnya diulek dulu sama
    garam, jangan terlalu alus baru tempenya di teken-teken ke sambelnya,” kata ku.

    Dengan lauk tempe itu kami bertiga makan malam dengan lahapnya. “Enak banget ya padahal Cuma gitu aja
    bikinnya, “ kata si emak.

    Selesai makan kami duduk di beranda rumahnya sambil aku dibuatkan kopi dan singkong rebus. Kami
    ngobrol sampai sjam 11 malam. Lalu kembali masuk rumah dan menutup pintu. Kami bertiga kembali
    berbaring dan aku selalu ditempatkan diantara mereka berdua.

    Kami malam itu bertempur lagi sampai jam 2. Sampai akhirnya bangun agak kesiangan. Jam 7 baru kami
    terjaga dari tidur nyenak. Lalu kami buru-buru berkemas dan kembali ke sumur untuk membersihkan diri.
    Di sumur tidak terjadi insiden.

    Jam 10 si Heri datang untuk menjemput aku. Si emak minta agar aku memperpanjang waktu dan minta Heri
    datang besok lagi.

  • Boneka Dari India

    Boneka Dari India


    23 views

    Saya seorang mahasiswa di Malang punya pengalaman menarik tentang seks meski saya bukan yang paling ganteng diantara teman-teman saya, tampangku paling imut.
    Salah satu kisahnya begini.., kami berkenalan waktu semester 3, pertemuan kami tak sengaja, waktu itu saya menemani teman cowok saya saat main-main ke kost pacarnya, kebetulan pacar teman saya tuh juga ada temannya yang sedang main ke sana (cewek), so kami berkenalan, cewek itu manis sekali, bodi-nya ok banget! Namanya Leila Deol seorang cewek keturunan India, wajahnya mirip dengan artis India kesukaan saya, Amisha Patel.

    cerita-sex-dewasa-boneka-dari-india-1024x683

    Kulitnya kuning langsat namun tampak sehat terawat, payudaranya besar dan montok sekali melebihi payudara cewek Indonesia, terlihat begitu montok dan padat. Melihat dia, saya langsung suka. Saat saya dan teman saya mau pulang saya tanya alamatnya. Untungnya dia kost di dekat kost pacar teman saya. Wow, saya merasa beruntung sekali, tidak perlu jauh-jauh kalau mau ngejar dia.

    Setelah 1 minggu mengejar dia, saya akhirnya bisa menjadikan dia pacar saya. Saat pacaran sering saya ajak dia ke rumah kontrakan saya, maklum saya sendirian aja di rumah itu, so saya terus menggoda dia saat saya bawa Leila untuk kali pertama ke sana, saya puji dia sambil saya ciumin pipi dan bibirnya.

    “Hmmmmm kamu tuh, manis banget deh Leil”, kata saya sambil menciumi belakang telinganya.
    “Hihihi.. gombal!” Leila tersenyum sambil menundukkan wajahnya.

    Dia tampak kegelian, saya teruskan membuat dia kegelian sambil terus merayu dia, saya ingin sekali menaklukannya.

    Saya lantas menyusun cara untuk mencicipi Leila. Lusanya hati sabtu sore setelah kami nonton bioskop saya ajak dia ke kontrakan saya dan saya lakukan seperti kemarin tapi saya lingkarkan lengan saya ke bahunya sambil tangan saya sengaja senggol-senggolkan ke dadanya yang besar. Dia cuek saja, saya teruskan untuk sedikit menekan-nekan dadanya, rupanya dia merasa kalau saya sengaja.Cerita Sex Dewasa

    “Nakalnya kamu ini”, ucapnya pelan sambil menatap saya sambil tersenyum.
    “Kenapa, kamu marah yach?” kata saya sambil menjilati leher belakangnya.
    “Ehmm hihihi geli, nakal!” kata Leila sambil memalingkan wajahnya.

    Saya makin berani, saya pegang langsung dadanya, eh dia diam aja, wah kebetulan, saya tak perlu lagi merasa sungkan sama dia. Saya pegang dada kirinya dengan tangan kiri saya dan sebentar-sebentar saya remas-remas lalu saya putarkan jari jempol saya tepat di atas puting buah dadanya.

    “Ehh..h” Leila memejamkan matanya sambil menggigit bibirnya kegelian.
    “Badan kamu, padet berisi yach Leil” puji saya agar dia membiarkan saya berbuat lebih jauh.

    Tangan saya lalu masuk ke dalam baju hemnya dan menerobos masuk ke dalan BH-nya, dada besarnya terasa hangat dan sedikit mengeras. Saya buka bajunya, dia membuka matanya sambil kedua tangannya memegangi tangan saya yang akan membuka bajunya. Saya memaksakan tangan saya untuk terus membuka bajunya dan dia terus memegang tangan saya namun tak berkata apa-apa. Saya lemparkan baju atasnya dan BH-nya jauh dari sofa duduk di ruang tamu. Saya puaskan menikmati buah dadanya yang besar dan menantang, kulitnya yang kuning langsat terasa sangat halus. Puas saya pegang, saya langsung menjilati dadanya.

    “Ohh..h! Leila terkejut, namun dia membiarkan saya menjilati dadanya dan lidah saya mulai memainkan puting dadanya yang mulai menegang, sesekali saya katubkan bibir saya dan agak saya tarik puting dadanya, Leila hanya mendesah dan memejamkan matanya.
    “Ja..ngan” cegah dia saat saya merogoh ke dalam celana kulotnya.

    Saya diam saja, saya batalkan menggerayangi liang kewanitaannya. Saya lanjutkan lagi untuk menjilati buah dadanya yang halus dan hangat, saya menggeser duduk saya hingga saya leluasa menikmati kesintalan tubuhnya. Saat dia terlena oleh rangsangan saya, segera tanganku beraksi dan berhasil. Secara kebetulan tangan saya berhasil pula masuk ke celana dalamnya, segera saya mainkan jari saya di sela liang surganya yang terasa berbulu jarang-jarang tapi pendek dan lembut.

    “Ha..aghh!” Leila terkejut sekali saat saya memainkan liang kenikmatannya.

    Dia sedikit meronta. Segera saya cumbu dia, saya ciumi bibirnya yang merah merekah, dia hanya bisa mendesah dan menyerah, lama saya cumbui dia, makin lama desahan dan nafasnya makin cepat, saya merasa cukup merangsangnya. Secepat kilat saya memegang celananya dan melepaskannya.

    “ja..ngan” cegah Leila. Tapi saya cuek saja saya pelorotkan kulotnya beserta celana dalamnya, lalu saya campakkan jauh dari kami.

    Saya langsung membuka baju dan celana, lalu saya tidur di atasnya. Tubuhnya terasa makin hangat dan nafasnya memburu, saya cumbu dia. Beberapa lama kemudian saya bangun dari tubuhnya.

    “Aku cuci dulu yach” pamit saya seraya memungut bajunya agar dia tidak memakainya dan segera saya pergi ke kamar mandi.

    Saya cuci bersih-bersih penis saya. Saat saya kembali saya lihat Leila duduk di kursi sambil melihat saya, ia tersenyum malu, manisnya dia saat tersenyum malu, membuat saya makin bernafsu. Leila berdiri dan berjalan ke arah saya, ia berjalan melenggok begitu seksinya.

    “Aku ke kamar mandi dulu yach” pamit Leila, saya mengangguk saja.

    Cerita Sex Dewasa

    Beberapa saat ia keluar dari kamar mandi, saya mencegatnya di depan pintu kamar mandi, segera saya menggandeng tangannya dan saya ajak ke kamar atas. Kami masuk ke kamar dan segera saya rebahkan dia di atas ranjang. Saya cumbui dia dengan penuh beringas, saya nikmati dengan lidah tiap centi di kulit tubuhnya, dadanya makin mengeras saat saya jilat-jilat.

    “Aa..hh”, desah Leila saat saya katupkan bibir saya dan saya benamkan wajah saya di dadanya yang montok sambil saya tekan ke segala arah.

    Dia kegelian saat saya menjilati samping badannya. Dia beringsut sedikit, saya pegang tubuhnya dan saya hisap kulitnya kuat-kuat, ia tampak kegelian dan tampak menikmatinya. Saya jilat turun hingga perutnya dan saya sedot pusarnya dan lidah saya beraksi mengorek pusarnya kuat-kuat. Leila meggeliat-geliat geli, ia tersenyum menahan geli.

    “Emmhh.. Oooh” Leila mendesah menggigit bibirnya menahan rangsangan di perutnya.

    Saya turun ke liang kewanitaannya. Ah.. harumnya, ia mencuci bersih vaginanya, saya suka vaginanya yang bersih itu. Saya singkapkan liang senggamanya dan dengan lidah saya jilat dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan, sesekali saya tarik dengan menyedot bibir kemaluannya, makin saya beringas makin Leila menggeliat, saya tambah buas dan merasa bernafsu.

    “aa..ghh, Ooogh..oghh” Leila mendongakkan kepalanya, tangannya memegangi kepala saya, tubuhnya menggeliat dan pinggulnya bergerak turun naik.

    Ahh, dia sangat terangsang rupanya. Setelah agak lama saya sudahi dan saya duduk di sampingnya.

    “Karaoke’in aku dong Leil!” pinta saya.

    Leila segera memegang batang kemaluan saya, ia menjilati batang kenikmatan saya, terasa hangat mulutnya, ia menyedot dan menggelitik biji peler saya. Saya geli tapi saya suka gayanya. Saya rebahkan tubuh saya dan saya biarkan dia memuaskan saya, dia masukkan penis saya dalam mulutnya, wajahnya maju mundur dan menyedot sangat kuat, saya kegelian sekali dan hanya bisa mendesah nikmat. Beberapa lama kemudian saya tidak tahan ingin memainkan dia, saya duduk dan merebahkan Leila.

    Saya masukkan batang kemaluan saya ke sela liang kenikmatannya, hangatnya liang kewanitaannya. Leila menatap saya, dari matanya tampak nafsu seksnya memuncak, ia pasrah saja saat saya membuka liang senggamanya dan memasukkan batang kemaluan saya, saya gerakkan di sekitar lubang kewanitaannya untuk merangsangnya, setelah cukup terkena cairan pelicinnya saya masukkan batang kenikmatan saya pelan ke dalam liang kewanitaannya.

    “Ooohh!” Leila memejamkan matanya sambil merintih penuh gairah.

    Pelan saya tarik batang kemaluan saya dan saya benamkan setengahnya ke dalam liang kewanitaannya, saya rangkul bahunya agar dia tidak sampai berontak, saya masuk keluarkan makin cepat ke liang senggama Leila, namun tidak saya masukkan seluruhnya, saya putar-putar pinggul saya sehingga batang kemaluan saya menggesek-gesek seluruh dinding dalam kewanitaannya.

    “Emmhh.. aa..hh” Leila meggerakkan pinggulnya ke atas dan ke bawah, ia tak terkendali lagi rupanya.
    “Kamu hot sekali Leil..” Puji saya sambil saya jilati leher dan telinganya.

    Ia memejamkan matanya, saya menarik batang kenikmatan saya agak keluar dan saya benamkan seluruhnya, mentok ke dalam liang senggamanya, berulang-ulang.

    “Ooogh..h! aaghh. aagh!” Leila merintih keras.

    Leila merangkul punggung saya dan menciumi bibir saya kuat sekali, ia merintih-rintih, pinggulnya ikut turun naik, ia memejamkan matanya rapat-rapat, wajahnya tampak tegang. Saya segera menahan kakinya dengan lengan saya, disandarkan ke belakang lututnya, saya berdiri di atas lutut saya dan saya genjot dia dengan cepat dan dalam, tubuhnya terguncang-guncang.

    “Jlab! Jlab!” saya genjot dia dengan sekuat tenaga, dia makin rapat memejamkan matanya, wajahnya menggeleng ke kiri dan ke kanan, tampak tegang sekali.
    “Aagh.!! Uuugh!! Uuurghh!” Leila merintih keras.Cerita Sex Dewasa

    Terasa liang kenikmatan Leila berdenyut-denyut, ia merintih-rintih tak karuan, saya merasa batang kemaluan saya agak panas, saya terus mengenjot makin kuat dan cepat, saya remas-remas dadanya sambil sesekali saya sedot kuat dadanya, ia hanya merintih pasrah. Saya akhirnya tak tahan lagi, batang kemaluan saya terasa nikmat. Saya segera manarik batang kemaluan saya yang basah oleh cairan pelicinnya yang banyak membasahi batang kemaluan saya dan liang kewanitaannya, Saya gesekkan batang kemaluan saya di antara kedua buah dadanya yang besar. Leila mendekap kedua dadanya, menggencet batang kenikmatan saya yang maju mundur di sela buah dada momtoknya.

    “Crot..! Cro.t!” sperma saya akhirnya keluar, disertai sensasi kenikmatan di batang kemaluan dan leher saya terasa dingin sekali, lega dan sangat nikmat.
    “Auch.!” Leila menjerit, sebagian dari sperma saya muncrat di bibir dan pipinya.

    Kami kelelahan dan saya rebahan di sampingnya, ia mengambil tisu di sebelah ranjang dan membersihkan sperma saya di wajahnya. Saya tersenyum padanya dan dibalas dengan senyumannya yang manis.

    Baca Juga Cerita Sex Anita

    “Kamu puas.?” Tanya saya.
    “He’eh..” Jawabnya pelan sambil memeluk saya.
    “Kamu kok mau sich main sama saya?” Tanya saya menggoda Leila.
    “Nggak tau yach, liatin kamu bikin aku nafsu aja, kamu padahal gak ganteng tapi juga gak jelek, kamu cute dan keliatan hot sich kalo berduaan.” puji Leila, kepala ini rasanya mau meledak saja, GR saya jadinya.

    Namun kami harus berpisah pada saat kami jalan 3 bulan, karena perbedaan agama dan bangsa, Leila memberitahu orang tuanya tentang saya, sayapun sebaliknya memberitahu orang tua tentang Leila, saya terpukul oleh keputusan orang tua saya terlebih orang tuanya yang melarang kami melanjutkan hubungan karena perbadaan tersebut. Akhirnya Leila dipindahkan oleh orang tuanya ke Jakarta dan masuk universitas swasta di sana.

    Saya tetap di Malang, saya menerima perpisahan kami, dan sesekali saya main ke Jakarta. Kini dia sudah punya cowok yang sebangsa dengannya, namun dia tetap seperti dulu terhadap saya. Saat saya ke Jakarta menemui dia dan saya mengajaknya ke hotel tempat saya menginap untuk sekedar mengenang masa lalu kami, Leila bercerita tentang dirinya dan cowoknya yang sekarang. Saya juga bercerita padanya bahwa setelah berpisah dengannya saya terus memburu cewek-cewek yang saya suka, Leila tersenyum saja saat saya bercerita.

    gambar bikini hot

    gambar bikini hot

    foto toket gede

    foto toket gede

    foto tetek gede sexy

    foto tetek gede sexy

    foto bugil bulat

    foto bugil bulat

    foto memek sexy

    foto memek sexy

    foto pemain film porno

    foto pemain film porno

  • cerita dewasa pegawai bank yang sexy dan cantik

    cerita dewasa pegawai bank yang sexy dan cantik


    5538 views

    Sinta, seorang wanita muda berusia 25 tahun, dengan langkah gontai menembus kerumunan para peserta jalan sehat yang masih terus mondar-mandir kesana kemari dengan ramai menunggu hasil pengumuman door prize undian. Sejak tadi malam, kondisi badan Sinta memang sedang kurang fit, namun karena ia telah berjanji dengan temannya untuk mengikuti acara ini, ia pun memaksakan diri untuk mengikuti acara ini. Berbeda dengan hari kemarin yang terus menerus dirundung hujan, Kota Jakarta hari ini benar-benar terbasuh dengan terik mentari yang begitu dahsyat. Akibat perubahan cuaca yang begitu ekstrim ini, dapat dipastikan kondisi tubuh Sinta kian bertambah parah. Untuk mengistirahatkan diri, ia pun terduduk sejenak di pinggiran trotoar di sekitar lapangan tempat berkumpulnya peserta jalan sehat. Tas punggung yang hanya berisi barang seadanya itu, ia sampirkan di sampingnya.

    Sinta adalah seorang supervisor call center bank swasta terkemuka di indonesia. Ia adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Hari ini ia memakai setelan kaus dan celana training berwarna ungu yang memanjang hingga ke mata kakinya yang terbungkus kaus kaki berwarna krem yang agak transparan. Selain itu ia juga menali rambutnya gaya ekor kuda , sehingga tampak lehernya yang putih dan jenjang. Wajahnya bulat dihiasi dengan poni rambut, kulitnya kuning langsat, bola matanya hitam tajam. Tampak begitu manis walaupun dengan mimik yang lesu seperti itu. Hidungnya yang sedikit mancung nampak begitu mempesona. Sesaat ia mengeluarkan lidahnya dan menjilati bibir bawahnya, ia tampak kehausan.

    Tanpa ia sadari, seorang lelaki bertubuh gempal telah mengawasinya sejak awal acara jalan sehat. Lenggak-lenggok tubuh Sinta di balik baju sportinya telah mampu membuat darah muda lelaki berusia 20 tahunan itu menggelegak. Tejo namanya, Ia hanya cleaning service di gedung tempat Sinta bekerja. Jabatannya hanya sebagai pegawai biasa yg kerjanya bersih-bersih kantor, ia ikut gerak jalan ini karena ajakan rekan kerjanya yang lain dan ia mendengar Sinta ikut serta. Selama ini Tejo memendam rasa tertarik pada Sinta tapi segan karena perbedaan status yang mencolok. Namun kali ini, kemolekan body pegawai bank yang memang aduhai ini, ditambah dengan wajahnya yang mempesona, membuat rasa haus dan lapar Tejo hilang seketika. Berkali-kali ia meneguk liurnya sendiri memandang Sinta dari belakang. Perlahan ia mendekati Sinta dan menyapanya, “Kenapa Mbak, tampangnya pucat begitu? Mau diambilkan air?“

    “Eemmm, tak usah Mas. Nanti biar saya cari minum sendiri“ jawab Sinta sekenanya.

    “Nggak apa-apa Mbak, sebentar ya” Secepat kilat Tejo si pria muda itu telah kembali dari tempat pembagian air minum. Ia membawa dua botol Aqua sekaligus, satu untuk dirinya dan satu untuk Sinta, yang telah menggoda imannya.

    “Terima kasih banyak ya Mas” Tanpa persetujuan Sinta terlebih dahulu, Tejo langsung duduk tepat di samping pegawai bank cantik tersebut. Sinta pun menjadi sedikit risih dibuatnya. Ia sedikit menggeser pantatnya ke arah berlawanan. Karena merasa tidak enak sudah diambilkan minum, ia pun membiarkan lelaki itu duduk bersebelahan dengannya walaupun tetap dengan menjaga jarak. Karena ia telah demikian haus, ia pun menenggak air minum itu hingga setengah botol. Entah mengapa mendadak kepala Sinta menjadi pusing. Matanya berkunang-kunang, pandangannya kabur dan tenaganya melemah.

    Terdengar cekikikan dari mulut Tejo. Ternyata pria muda itu telah mencampurkan sesuatu di minuman Sinta sebelum ia menyantapnya. Dengan santainya ia mengalungkan tangannya ke leher Sinta dan menarik tubuh molek si pegawai bank yang cantik itu ke dalam pelukannya. Orang-orang masih sibuk lalu-lalang mengikuti menunggu pengumuman door prize undian. Walaupun ada orang melihat Tejo yang memeluk Sinta, mereka hanya menyangka kalau mereka adalah sepasang kekasih, karena umur keduanya tidak terpaut begitu jauh, selain itu karena akting Tejo yang meyakinkan. Apalagi wajah Sinta yang demikian lemah membuat para peserta lain tak berani mengganggu pasangan itu.

    Sinta merasa geli merasakan usapan-usapan tangan kasar Tejo di pipinya. Ia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya terasa lemah dan kaku. Ia merasa bingung akan apa yang terjadi padanya. Setelah minum air mineral tadi, kesadarannya terasa tertahan. Ia tidak bebas menggerakkan anggota badannya padahal ia masih dapat melihat dan merasakan segala sesuatu di sekelilingnya. Keringat semakin deras membasahi wajah dan kaus yang dikenakannya. Hampir-hampir pegawai bank nan molek itu basah kuyup oleh keringatnya sendiri.

    Melihat hewan buruannya telah begitu jinak di pelukannya, Tejo malah makin bernafsu. Kemaluan yang sudah beberapa bulan tidak dipakai itu kini berontak dengan dahsyat dari balik celana panjangnya. Bau keringat Sinta yang semakin menyengat membuat gelegak birahi Tejo makin meletup-letup. Ia membayangkan dirinya menyetubuhi pegawai bank cantik dan menawan itu dengan liar hingga Sinta bergetar hebat dibuatnya. Ia dekap tubuh indah itu lebih erat dan diciuminya bau keringat Pegawai bank yang merangsang itu. Ditempelkannya hidungnya di pipi Sinta dan sesekali Tejo mengeluarkan lidahnya dan menjilati wajah Sinta. Sinta pun hanya bisa meringis dan menikmati perlakuan Tejo pada dirinya.

    “Akkhhh …” terdengar sedikit lenguhan Sinta begitu pelan namun telah cukup membuat denyut nadi Tejo berdenyut-denyut. Pegawai bank yang kini makin basah bermandikan keringat itu, campuran dari keringat bekas mengikuti acara jalan sehat dan keringat dingin akibat dijamah oleh Tejo, itu terlihat begitu gelisah. Tubuhnya yang basah menjadi makin menggiurkan bagi pria muda yang tengah meraba-raba tubuhnya. Kegiatan mereka makin mendapat perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Tejo sedikit khawatir dengan hal itu, ia pun memikirkan jalan agar bisa menikmati tubuh Sinta dengan lebih leluasa.

    Tejo pun memutuskan untuk membawa Sinta ke sebuah tempat sepi, mumpung pegawai bank nan menawan itu masih dalam pengaruh bayang-bayang campuran obat bius dan obat perangsang yang tadi diberikannya. Dengan cepat ia melepas pelukannya pada Sinta dan bergegas mengambil motor bebeknya yang diparkir tak jauh dari situ. Ia pun membimbing Sinta untuk berdiri dari trotoar dan mengajaknya untuk naik motor bersamanya. Dengan lembut Tejo membisikkan sesuatu di telinga Sinta, “Sayang, bila kau ingin merasakan kenikmatan yang jauh lebih indah dari ini, ikutilah kata-kataku. Sekarang naiklah ke motor ini dengan membonceng padaku”

    Layaknya seorang kerbau yang dicocok hidungnya, Sinta pun menuruti semua yang diperintahkan Tejo. Ia merasakan adanya dorongan yang begitu dalam dari dirinya untuk merasakan kembali sentuhan dan belaian seorang Tejo. Ia merasakannya seperti gairah. Mungkin ini adalah efek dari obat perangsang yang diberikan oleh Tejo tadi. Sinta yang tadinya merupakan seorang pegawai bank yang anggun, menawan, cantik, dan santun kini telah tergila-gila dengan perbuatan cabul Tejo. Setelah Tejo naik motor pun, Sinta dengan pasrah menurutinya dan duduk menyamping sambil memeluk pinggang Tejo dengan erat.

    Merasakan hal tersebut, Tejo begitu girang. Selama perjalanan ia hanya memakai tangan kanan untuk menarik gas dan mengerem, sementara tangan kirinya terus mengelus-elus tangan perawan nan cantik yang melingkari pinggangnya. Sinta telah begitu jauh terperosok ke dalam jebakan yang dibuat Tejo. Mereka berdua begitu dilanda birahi yang menggebu-gebu di atas motor tua itu. Mereka sudah sama-sama tidak sadar untuk melampiaskan nafsunya masing-masing. Tanpa sadar tangan Sinta pun dengan lembut mengelus-elus bagian perut Tejo membuat pria muda itu belingsatan dibuatnya. Untung rumah kontrakan Tejo tidak begitu jauh sehingga 10 menit kemudian mereka telah sampai.

    Begitu sampai di dalam rumah, Tejo langsung menyiapkan segalanya. Pintu rumah ia kunci, motor ia masukkan, dan Sinta ia baringkan di atas kasur rumah kontrakannya. Kini hidangan lezat telah menantinya di atas ranjang itu dengan gairah yang menggelora.

    Tejo pun langsung membuka kaus dan celana panjangnya. Tinggal celana dalam saja yang tersisa ia pakai. Ia terlihat begitu sangat bernafsu dengan wanita yang tengah tergolek lemas di hadapannya. Ia pun merangkak di atas wanita itu dan membelai wajah Sinta yang cantik itu. “Siapa namamu manis?”

    “Sinta, Mas” jawab Sinta sambil menggigit bibir bawahnya. Ia juga tampak telah begitu tegang dengan Tejo yang telah menanggalkan busananya. Ia sadar semua ini sudah tidak bisa ditolak lagi. Pergolakan batin terus berlomba di dalam hatinya. Ia begitu bingung untuk memilih lari, karena raganya mengatakan sebaliknya. Baru kali ini ia diperlakukan seperti ini, dan baru kali ini seorang pria menanggalkan busana di hadapannya dan mendekatinya hingga begitu dekat di atas ranjang.

    “Nama yang bagus, Sayang. ”

    “Terima Kasih, Mas” Tejo pun menurunkan jari-jemarinya ke bawah menuju bagian buah dada Sinta yang menggunung. Besarnya ia taksir sekitar ukuran 36C. Sinta memang mempunyai ukuran payudara yang lebih besar dari teman-teman sesama pegawai bank. Bisa dibilang ialah pegawai bank terseksi di antara rekan kerjanya. Sebenarnya itu bukan masalah di kalangan rekan kerjanya, tapi setelah bertemu orang seperti Tejo yang begitu menggilai payudara besar, Sinta sadar bahwa itu adalah bahaya besar.

    Perlahan Tejo meremas-remas payudara yang masih tertutup kaus Sinta itu dengan nafsu yang begitu menggebu. Ia merasakan puting di payudara Sinta yang sebelah kanan, puting itu telah begitu tegang sehingga nampak menonjol dari balik kausnya. “Kamu udah horny yah say?”

    Sinta hanya diam saja diperlakukan seperti itu, ia tak mampu menyangkal bahwa ia telah takluk dalam dekapan pria muda yang lebih layak menjadi adiknya itu. Ia pun tetap diam ketika tangan Tejo mampir ke ujung celama panjangnya dan menariknya perlahan ke atas. Tangan yang kasar itu pun dengan lancangnya menjamah betis dan paha mulus Sinta yang belum pernah dilihat sekalipun oleh lelaki lain. Tangan itu bergerak naik turun sehingga membuat Sinta akhirnya mengeluarkan desahan yang begitu menggairahkan, “Aaaahhhh … “

    Tejo begitu senang mendengarnya. kemaluannya pun semakin keras dan tegang. Ia makin berani mengerjai pegawai bank nan cantik itu dengan menurunkan celana dalam Sinta ke bawah. Ia pun kini mengelus-elus lembut kemaluan yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi itu dari balik celana panjang yang masih terpasang. Tejo memang belum berniat melepas pakaian Sinta, ia makin terangsang dengan mengerjai Sinta dalam keadaan masih lengkap berpakaian sporty.

    Tejo pun mendekati wajah sang pegawai bank nan anggun tersebut. Bibir mereka telah begitu dekat. Sinta pun dapat merasakan bau badan Tejo yang begitu tak sedap, tapi entah kenapa Sinta pun ikut mendekatkan bibirnya yang indah itu ke bibir pria yang sama sekali tidak dikenalnya itu. Tejo membelai mesra rambut Sinta dan memagut bibir sang pegawai bank dengan lembut dan penuh nafsu serta gairah. Pria muda itu pun semakin berani dengan mengeluarkan lidahnya agar dijilat oleh Sinta. Sinta pun tanpa malu menyambutnya dengan gairah yang tidak kalah besarnya. Persetubuhan serasa tinggal menunggu waktu bagi mereka berdua.

    Sambil memagut bibir indah nan seksi itu, tak lupa Tejo pun meremas-remas payudara Sinta dari kausnya. Bergantian dari kanan ke kiri dan sesekali memelintir putingnya. Sinta pun merasakan sensasi yang begitu menakjubkan.

    Serasa tak ada waktu lagi, dengan buasnya Tejo melumat bibir suci nan menawan milik seorang pegawai bank ternama itu. Sinta, sang pegawai bank rupawan, kini sedang berpacu dengan gairah dan birahinya sendiri. Campuran dari obat perangsang yang diminumkan saat menunggu pengumuman door prize undian tadi dan jamahan yang terus dilakukan Tejo membuat jantungnya berdenyut begitu cepat. Ia seperti lupa rasa bencinya pada laki-laki sudah ia rasakan sejak lama. Padahal dalam setiap kesempatan, ia selalu menghindari hubungan cinta dengan laki-laki karena trauma pernah dikhianati mantan tunangannya yang sangat ia cintai. Tapi kini Sinta tampak malah meminta tubuhnya sendiri untuk dijamah oleh lelaki bejat seperti Tejo yang sedari tadi telah menanggalkan pakaiannya.

    Sinta meletakkan tangannya di punggung Tejo. Dielus-elusnya punggung pria muda yang telah mengundang birahi jalangnya untuk keluar itu. Tejo pun makin panas merasakan elusan sang pegawai bank idaman itu di bagian tubuhnya yang cukup sensitive. Namun ia tak mau kehilangan tempo, ia akan berusaha memancing gairah Sinta agar ia bertingkah lebih binal lagi. Ia ingin Sinta tak hanya menyerahkan keperawanannya namun juga bisa merasakan puncak kenikmatan dunia darinya, siapa tahu nanti Sinta menjadi ketagihan dan mau menjadi pemuas nafsu seksual dirinya yang sewaktu-waktu bisa meledak. Apalagi ia sudah jarang menikmati tubuh bibinya karena ngak enak mengkhianati kepercayaan pamannya dan bibinya terlalu banyak selingkuhan jadi memeknya ngak seret lagi.

    Sehingga selepas SMU ia memilih tinggal sendiri dan berkerja sebagai cleaning service sambil kuliah di dekat tempatnya bekerja. Sesekali memang ia masih berkunjung ke rumah pamannya untuk mendapat uang saku tapi ia selalu berusaha menghindari ajakan bibinya untuk selingkuh. Memang sesekali ia masih meladeni godaan bibinya tapi jauh menurun drastis daripada saat ia masih menumpang di rumahnya pamannya. Kadang-kadang Tejo dan rekan kerjanya juga main dengan kenalan mereka yang bisa dipakai tapi jarang yang bisa memuaskan Tejo.

    “Sebentar ya Mbak,” Tejo dengan nekat memasukkan tangannya yang hitam legam ke kaus ungu Sinta. Tangan Tejo pun langsung bergerilya di daerah itu. Payudara Sinta yang besar dan sensitive itu diremasnya dari balik kausnya. Sinta pun mendesah ringan sebelum kausnya disingkap hingga diatas dada dan tubuhnya resmi dimasuki oleh tangan nakal Tejo.

    “Mass, ohhh, geli mas” begitulah erangan Sinta ketika Tejo mulai intens meremas-remas payudara pegawai bank muda yang begitu ranum itu. Segaris senyum menempel di bibir mesum Tejo ketika Sinta menekan kepalanya begitu kencang ke arah payudaranya sendiri. “Ufhhh, ampunn Mas …. !”

    Tanpa pikir panjang lagi, Tejo langsung memasukkan kepalanya ke balik kaus ungu Sinta. Disingkapnya pakaian terusan Sinta, kemudian dengan perlahan ia mengeluarkan payudara Sinta yang telah begitu membuncah dari bra krem yang masih menempel di tubuhnya. “Mbak, toketnya ca’em banget … warnanya pink, lagi tegang gitu, ukurannya berapa sih?” Ledek Tejo sambil terus meremas-remas dan memainkan putting payudara Sinta.

    Ucapan kotor Tejo semakin membangkitkan birahinya. Satu persatu pertahanan keimanannya telah runtuh. Mimik wajahnya yang biasanya penuh keanggunan kini perlahan berubah menjadi begitu erotis dan merangsang. “Iya mas, ukurannya 36C … ohhh, enak mas diremes gitu”

    “Ohh, Mbak cantik suka yah? Kenapa gak bilang tadi waktu di monas, kan bisa sekalian mas entot di sana?” Jawab Tejo makin berani.

    “Apa mas? Entot ?? ahh …” Sinta lemas begitu Tejo mengucapkan kata-kata kotor itu. Ia sadar kalau dirinya sudah di ambang birahi, dan Tejo pun sudah tidak tahan untuk melepaskan gairahnya. Ia pun memperbaiki posisi berbaringnya agar Tejo bisa lebih mudah menyetubuhi dirinya. Ia telah benar-benar kehilangan akal sehatnya.

    Merasakan geliat tubuh indah yang ada dalam dekapannya, Tejo pun ikut bergeser hingga wajahnya tepat berada di atas payudara Sinta. “Liat deh Mbak, toketnya dah penuh neh, Mas kurangin sedikit yah susunya …” Ujar Tejo sambil menyibak sedikit kaus Sinta hingga ia bisa melihat payudaranya sendiri.

    “Ahh Mas …” Sinta pun mendesah ketika bibir Tejo mulai menyentuh putting payudaranya. Seketika selembar lidah nan panas dan kasar menjulur keluar dan menggerayangi payudara Sinta yang begitu mulus, belum terjamah seorang pria pun. Sinta pun langsung menggeleng-gelengkan kepalanya menahan desakan birahi yang begitu menggebu. Erangannya sudah tak bisa dibendung, matanya memejam menunggu ledakan gairah dari dalam tubuh seksinya.

    Tejo melakukannya dengan begitu perlahan-lahan. Ia ingin ini menjadi sesuatu yang tak akan ia lupakan seumur hidup. Kapan lagi kan, bisa menyetubuhi seorang pegawai bank cantik seperti Sinta ini. Dengan ganasnya Tejo mengulum putting payudara Sinta mulai dari yang sebelah kiri, kemudian berlanjut ke payudara sebelah kanan.

    “Ahhh, Mas. Geli banget …”

    “Mbak suka kan, kalo suka Mas kulum terus yah.” Tejo sudah tidak segan-segan lagi mengatakan kata-kata cabul di hadapan Sinta. Dan respon Sinta pun bukannya berusaha memberontak, tapi malah seakan membuka pintu lebar-lebar bagi Tejo untuk merobek keperawanannya di sebuah rumah yang terkesan sedikit kumuh itu.

    “Iya, Mas. Suka.” Mendengar kata-kata itu, Tejo pun menganggapnya sebagai sebuah izin untuk melakukan hal yang lebih jauh. Ia pun melepaskan kulumannya di payudara Sinta sang pegawai bank manis, dan kemudian diikuti lenguhan panjang Sinta yang menandakan kekecewaannya akan perlakuan Tejo itu. Dengan langkah cepat, Tejo langsung turun ke bagian bawah tubuh Sinta dan kemudian menarik perlahan celana panjang Sinta.

    Ternyata Sinta masih memakai celana dalam, celana dalam itu berwarna biru muda dan terbuat dari bahan yang tipis. “Mas buka ya Mbak, celana dalamnya.” Sinta yang telah dilanda birahi yang benar-benar menggelegak itu pun hanya mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya.

    Dengan sekali tarik, celana dalam itu pun terlepas dari tempatnya. Selain karena bahannya yang tipis dan kekuatan Tejo, Sinta pun ikut memberikan sedikit bantuan dengan mangangkat bokongnya untuk memudahkan Tejo. Ia seperti telah pasrah, bahkan malah benar-benar menginginkan untuk disetubuhi untuk pertama kalinya oleh Tejo.

    Dalam sekejap, betis dan paha mulus Sinta pun terpampang dengan jelas di hadapan Tejo. Bagian bawah tubuh indah pegawai bank itu benar-benar putih terawat. Mungkin karena tak pernah terkena sinar matahari langsung atau memang Sinta sengaja merawat bagian bawah tubuhnya tersebut. Selama ini para kekasih lesbinya selalu kagum dengan keindahannya, tapi kini seorang pria muda sedang memandanginya tanpa sehelai pun pembatas.

    Tejo semakin merasa takjub melihat Sinta dalam keadaan telanjang bagian bawah badannya. Sungguh, laki-laki ini tidak pernah menyangka kalau sore ini akan melihat kemulusan badan Sinta yang selama ini ia perhatikan dari jauh. Pertama kali Tejo melihat Sinta, pria ini memang sudah tergetar dengan kecantikan wanita berkulit putih ini walaupun sebenarnya Tejo juga punya beberapa kenalan wanita, tapi tidak apa-apanya apabila dibandingkan Sinta.

    “Mbak, pahanya mulus banget sih, Mas elus-elus yah?” Sebuab pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Tejo langsung mulai menjamah bagian terlarang dari seorang pegawai bank yang cantik seperti Sinta.

    Namun Sinta sendiri pun tidak melakukan perlawanan dan malah menyodorkan paha dan betis indahnya untuk dinikmati sang penjantan muda itu. “Iya Mas. Sinta selalu perawatan di salon. Ahhh, Mas, Udah yah, Sinta malu”

    Sebuah penolakan yang tampaknya tak berarti mengingat Sinta tak berusaha sedikitpun untuk menutupi bagian terlarang yang sudah terbuka lebar dan siap untuk dinikmati. Tejo langsung meraba-raba paha putih itu dan menjilat-jilat betis Sinta yang mulus. “Hmm, Mbak Sinta bener-bener kayak bidadari yah. Orangnya cantik, tubuhnya indah banget pula”

    “Ahh, ahhh, Mas … “ Desahan Sinta pun akhirnya keluar begitu saja tanpa mampu ia bendung.

    “Ada apa Mbak? Udah gak tahan yah …” Tejo pun tak mau berbasa-basi lagi, ia pun langsung mengangkangi bagian pinggul pegawai bank yang manis tersebut. Dengan bersemangat, ia pun menggesek-gesekkan kontolnya di memek Sinta, yang tampaknya sudah basah oleh lendir gairah itu.

    “Akhhh, geli banget Mas,” Sinta pun merasakan sensasi yang benar-benar baru dan luar biasa. Dalam kehidupan cintanya, ia tidak pernah berhubungan cinta dengan lawan jenis, apalagi menyentuh kemaluan lawan jenisnya. Namun kini, seorang pria muda tengah mengangkanginya, sambil menggesek-gesekkan kontolnya ke memek Sinta, membuaat Sinta benar-benar hilang akal. Ia pun hanya bisa pasrah ketika Tejo melepas kausnya, hingga payudaranya yang besar dan indah itu pun telah terpampang dan siap untuk dinikmati.

    Tejo pun terkesiap dengan apa yang ada di hadapannya. Sinta, seorang pegawai bank cantik dan jelita yang berstatus sebagai supervisor, kini sedang mengerang dan mendesah dengan banal di hadapannya. Dilihatnya kemaluan sang pegawai bank yang tanpa bulu sehingga dapat terlihat dengan jelas olehnya di mana letak klitoris dan lubang kelamin suci sang wanita. Memek Sinta ternyata telah berdenyut-denyut kencang tanpa bisa dikontrol si empunya, tanda bahwa empunya sedang mengalami gejolak birahi yang luar biasa.

    Tanpa memikirkan apa-apa lagi, Tejo langsung mendorong penisnya ke dalam memek suci Sinta . Diperlakukan seperti itu, Sinta tambah bergairah dan sedikit berteriak, “Ahhhhh, Massss ….” Tangannya menggenggam ujung seprei tempatnya berbaring sekarang, tempatnya dikerjain oleh seorang pria seperti Tejo yang sedang mengangkangi keperawanannya.

    “Mbak, toketnya nganggur tuhh, Mas remes-remes yahh …”

    “Ohhh, ohhh, tolong Mas, jangan lanjutkan ini … kasihani saya” Tampaknya Sinta telah berangsur-angsur sadar dari efek obat perangsang yang telah diminumnya. Namun sayangnya itu semua telah terlambat, dan keperawanannya telah di ujung penis Tejo.

    “Tanggung, Mbak, dikit lagi masuk neh. Sekali Mbak ngerasain kontol Tejo, pasti minta nambah deh nanti,” Tejo cekikikan ketika merasakan selaput dara pegawai bank itu telah berada tepat di depan kontolnya. Dengan menambah kekuatan remasan pada payudara Sinta, sehingga membuat Sinta sedikit menggelinjang, Tejo pun memusatkan konsentrasinya pada memek Sinta dan … “Akhhhhh, memek Mbak Sinta memang mantap …. Akhhhhh”

    “Akhhhhh, Masss …” Merasakan selaput daranya telah jebol, Sinta pun belingsatan. Rangsangan yang diberikan Tejo kepadanya begitu hebat. Bukannya berontak, Sinta memilih untuk melanjutkan persetubuhan ini sampai akhir, ia merasakan semuanya sudah terlanjur baginya. Selain itu ia tidak mengira kalau persetubuhan dengan lelaki ternyata sangat nikmat sekali.

    Tejo merupakan lelaki yang berpengalaman dalam masalah seks. Ketika merasakan aliran darah merembes di sela-sela kontolnya dan dinding vagina Sinta, Tejo pun sedikit menarik kontolnya keluar dari sarang yang hangat itu. Sinta pun terkesiap dan berusaha memasukkan kembali burung nakal Tejo kembali ke dalam tubuh seksinya. Mimik wajah Sinta telah berubah menjadi begitu binal dan jalang. Namun rambut yang dikuncir ekor kuda serta poni rambutnya nampak rapi tetap menghiasi paras manis dan cantik khas pegawai bank ini. Tejo benar-benar tak tahan akan mangsanya kali ini. Ia pun kehilangan control dan langsung menyambar bibir Sinta dengan bibirnya.

    Sekitar 15 menit lamanya Tejo menyetubuhi Sinta dengan posisi konvensional. Dengan buas ia melumat bibir dan lidah Sinta. Sinta pun tak kalah liar membalas kuluman bibir pria muda itu. Sementara itu, kontol Tejo terus mengocok vagina Sinta tanpa henti. Sinta pun membantu sang pejantan dengan mengangkat pinggulnya yang gemulai itu menjemput kontol Tejo yang berukuran dua kali ukuran normal ini. Dua insan berbeda jenis kelamin dan status social itu tampak menikmati persetubuhan terlarang itu. Sinta dengan tanpa malu mendesah-desah kenikmatan ditindih mesra oleh Tejo yang kekar dan gempal itu.

    “Ahhh, Ahhh, Ahhh, Mass, enakk Mas, enakk, Ohhh, Ohhh …”

    “Enakk ya Mbak, Ahhh, Ahhh, memek Mbak Sinta legit banget, Akhh, Tejo mau keluar Mbak …”

    “Ahh, iya Mas, kontolnya enakk Mas … Apanya yang mau keluar mas?”

    “Spermaaa Mbak, Pejuu Tejo …”

    Tiba-tiba Sinta bagai tersambar petir. Ia sadar betul bila sperma Tejo sampai masuk ke dalam rahimnya, maka besar kemungkinan ia akan hamil dan mengandung anak Tejo. Ketika terpikir hal itu, Sinta pun hendak berontak, Tapi saat itu juga ia mengalami orgasme. Cukup lama sekali Sinta menahan nafsunya karena sibut dikejar target menggaet nasabah untuk program asuransi. Kini tiba-tiba ada penis yang memasuki memeknya, apalagi memang dia dalam keadaan birahi tinggi, akibat pengaruh obat perangsang serta pemainan Tejo yang sudah cukup berpengalaman, dan sudah hampir klimaksnya, maka ketika Tejo menghujamkan penisnya dalam-dalam, maka Sinta mencapai orgasme yang begitu hebat yang belum pernah dirasakannya sebelumnya.

    Tejo merasa dirinya di surga ketujuh. Kini kontolnya sudah ambles masuk ke memek sinta. Dirasakannya liang senggama Sinta menjadi begitu sempit meremas batang kontolnya. Dinding liang senggama Sinta basah oleh cairan kewanitaan dan terasa seperti pipa lembut yang menjepit keras kontolnya. Apalagi sekarang Sinta sedang orgasme.

    Tejo dapat merasakan pinggul Sinta yang sedikit bergetar seperti menggigil, sementara dinding lubang kencing Sinta berdenyut-denyut meremas kontolnya seakan ingin menyedot habis isi kontolnya. Tejo terus mengaduk lubang memek Sinta dengan lembut dan membuat Sinta makin terbuai. Lalu, dengan geraman panjang, ia menusukkan kontolnya sejauh mungkin ke dalam kemaluan pegawi bank yang seksi ini.

    “Ohhh …mmhhh …enghhh”desah Sinta ketika sekali cairan kemaluannya menyembur menyiram penis Tejo yang sedang mengaduk aduk kemaluannya.

    Sinta yang masih dibuai gelombang kenikmatan, kembali merasakan sensasi aneh saat bagian dalam lubang memeknya gantian disembur cairan hangat mani dari penis Tejo yang terasa banyak membanjiri lubang lubang memeknya. Sinta kembali merintih, saat perlahan Tejo menarik keluar kontolnya yang lunglai.

    Sementara hujan diluar turun dengan deras disertai dengan Guntur. Rupanya Tejo belum puas setelah menyebadani badan montok wanita yang selama ini diperhatikan dari jauh tersebut. Sesaat kemudian Tejo meremas remas buah dada Sinta yang menegang seperti dua buah gunung kembar.

    “mas sudah mas… aku lelah banget” pinta Sinta sambil menoleh ke Tejo
    “satu ronde lagi aja mbak… tanggung nih..” kata Tejo sambil meremas buah dada pegawai bank tersebut. Lidah Tejo kini menyapu leher Sinta. Sinta menggelinjang karena perasaan geli bercampur nikmat, apalagi jilatan lidah Tejo itu terkadang disertai cupangan-cupangan yang membuat lututnya lemas. Kedua tangannya tetap meremas rambut Tejo. Lidah Tejo kini menyusuri dadanya. Tejo menjilat belahan dada Sinta yang seperti lembah kecil sambil sesekali mencupang daerah itu juga. Kemudian tanpa membuang waktu Tejo kemudian melucuti BH masih yang dipakai Sinta dan dengan rakus melahap payudara kanan Sinta sambil tangan kanannya meremas payudara Sinta yang sebelah kiri. Sinta makin menanjak birahinya ketika dirasakannya lidah Tejo memutar-mutar di puting payudaranya dan diselingi dengan hisapan mulut. Terkadang mulut Tejo menyedot pinggir payudara Sinta, bagian bawah payudara Sinta, bagian atasnya, pokoknya setiap jengkal dada kanannya dijelajahi oleh lidah dan mulut Tejo sehingga kini di sana-sini terlihat bekas cupangan. Nasib yang sama juga dialami oleh payudara kirinya. Tejo menyerang payudara kirinya dengan buas dan terkadang terlihat seakan Tejo sedang makan buah atau makanan nikmat karena mata Tejo itu merem melek.

    Puas dengan payudara Sinta kini perhatiannya pindah ke selangkangan, Matanya melotot buas ketika memperhatikan lubang memek Sinta yang tampak membukit. Gundukan di tengah selangkangan yang tampak menonjol membuat penis Tejo terasa kian keras menegang oleh birahi dan Tejo tak tahan mengulurkan tangannya meremas-remas bukit kemaluan yang montok milik Sinta. Sinta tersentak ketika tangan Tejo meremas-remas bagian selangkangannya yang masih berlepotan mani Tejo, darah perawan dan cairan kewanitaannya, namun pengaruh obat perangsang sex yang diminumnya membuat Sinta ini hanya bisa mendesah.

    Badan Sinta ini hanya menggeliat-geliat saat selangkangannya diremas remas oleh tangan Tejo tanpa jemu. Mulutnya mendesah-desah dengan ekspresi yang membuat libido Tejo kembali semakin terangsang. Tejo terkekeh melihat gelinjangan pegawai bank muda yang cantik ini saat bagian selangkangannya diremas-remas. Puas meremas-remas tonjolan bukit kemaluan sinta tersebut, mata Tejo kembali memandang Sinta yang terlentang di atas kasur ini dari ujung kepalanya yang masih tampak manis dengan rambut poni yang masih tertata rapi dan rambut yang dikuncir ekor kuda.

    Sungguh sebuah pemandangan yang menakjubkan dan muncul sebuah sensasi sendiri saat Tejo berhasil melihat bagaimana kemaluan wanita cantik seperti Sinta. Tangan dan penis Tejo memang telah merasakan kekenyalan bukit kemaluan Sinta, saat meremas-remas dan kemudian memasukinya sebelumnya. Tetapi ketika melihat bentuknya pada saat terlentang dalam keadaan telanjang ternyata sangat merangsang birahi. Tejo memperhatikan muka Sinta yang terlentang di depannya, muka ayu itu terlihat semakin ayu menggemaskan.

    Muka Sinta tersebut memperlihatkan ekspresi wanita yang tengah terlanda birahi. Tejo menyeringai sejenak sebelum kemudian kembali membenamkan mukanya di tengah selangkangan Sinta yang terasa hangat. Hidungnya mencium bau kewanitaan Sinta yang segar dan wangi, jauh sekali perbedaannya dibanding bau kewanitaan kenalan Tejo. Tejo semakin mendekatkan mukanya ke arah bukit kemaluan Sinta, bahkan hidungnya telah menyentuh kelentit pada kemaluan Sinta. Dengan nafas yang terengah-engah menahan birahi, lidahnya terjulur menjilati kelentit yang menonjol di antara bibir kemaluan Sinta. Saat lidahnya mulai menyapu kelentit Sinta, tiba-tiba pinggul Sinta ini menggelinjang dibarengi desahan pegawai bank yang cantik ini.

    “Ahh…ahhhhh..ahhh”desah Sinta yang membuat libido Tejo semakin menggelegak.
    Tejo semakin bernafsu menjilati dan menciumi bukit kemaluan Sinta yang semakin becek oleh cairan kemaluannya. Setiap kali lidahnya menyapu permukaan kemaluan Sinta atau bibir Tejo menciumnya dengan penuh nafsu, wanita berkulit putih ini menggelinjang dan mendesah- desah penuh birahi. Lidah dan bibir Tejo seakan berebut merambah sekujur permukaan bukit kemaluan Sinta .
    “Ouhhhh….Mbak Sinta……”desis Tejo melihat lagi gundukan bukit kemaluan Sinta yang makin basah akibat aksi Tejo.

    Bibir kemaluan Sinta terlihat merekah kemerahan dengan kelentit menonjol kemerahan semakin menawan dengan putihnya bukit kemaluan pegawai bank tersebut. Tejo melihat kemaluan Sinta sudah basah oleh persetubuhan sebelumnya, bahkan ketika Tejo menguakkan bibir kemaluan pegawai bank ini cairan kenikmatannya yang bercampur dengan darah keperawanan dan sperma Tejo jatuh menetes membasahi kasur. Tejo menjadi sangat terangsang melihat hal ini. Dengan birahi yang kian menggelegak lidah Tejo menyapu kemaluan telanjang di antara paha wanita cantik ini. Tejo merasa paha Sinta bergetar lembut ketika lidahnya mulai menjalar mendekati selangkangan pegawai bank lebar ini. Sinta menggeliat kegelian ketika akhirnya lidah Tejo sampai di pinggir bibir kemaluannya yang telah terasa menebal. Ujung lidah Tejo menelusuri lepitan-lepitan di situ, menambah becek kemaluan yang memang telah basah itu.

    Terengah-engah Sinta mencengkeram kasur menahan nikmat yang tiada tara. Sinta menggelinjang hebat ketika lidah dan bibir Tejo menyusuri sekujur kemaluan ibu muda ini. Mulut pegawai bank ini mendesah-desah dan merintih-rintih saat bibir kemaluannya di kuak lebar-lebar dan lidah Tejo terjulur masuk menjilati bagian dalam kemaluannya. Bahkan ketika lidah Tejo menyapu kelentit Sinta yang telah mengeras itu, kemudian di teruskan dengan menghisapnya dengan lembut Sinta merintih hebat. Badannya mengejang sampai punggungya melengkung bagaikan busur panah membuat dadanya yang montok membusung.

    11

    “Ahhhhh….ahhhhhh….ahhhhh”rintih Sinta dengan jalangnya disertai badan yang menggelinjang.
    Kembali cairan kenikmatan membasahi kemaluan pegawai bank ini, hal ini lidah dan bibir Tejo makin liar menjilati di daerah paling pribadi milik Sinta yang kini sudah membengkak kemerahan. Gundukan kemaluan yang putih kemerah- merahan itu menjadi berkilat-kilat basah dan bulu-bulu kemaluan pegawai bank ini pun menjadi basuh kuyup oleh jilatan Tejo. Lidah Tejo menyusuri belahan kemaluan yang telah membengkak lantas ke sekujur permukaan kemaluan yang membukit montok hingga ke sela-sela kedua pahanya, kemudian menyusuri ke bawah hingga ke belahan pantat yang tampak montok.

    Tejo menjadi semakin gemas melihat belahan pantat Sinta yang terlihat sebagian, sehingga dengan bernafsu Tejo membalikkan badan pegawai bank yang terlentang menjadi tengkurap. Mata Tejo melotot liar melihat pemandangan indah setelah pegawai bank lebar tersebut tengkurap. Pantat pegawai bank yang montok dan telanjang tampak menggunung menggiurkan. Tejo terengah penuh birahi memandang kemontokan pantat bundar Sinta yang putih mulus itu. Dengan gemas Tejo meremas-remas bukit pantat Sinta tersebut dengan tangan lantas Tejo mendekatkan mukanya pada belahan pantat pegawai bank tersebut . Lidahnya terjulur menyentuh belahan pantatnya kemudian dengan bernafsu Tejo mulai menjilati belahan pantatnya yang putih mulus tersebut. Sinta mendesah-desah dengan badan menggelinjang menahan birahinya, saat lidah Tejo menyusuri belahan pantatnya hingga belahan kemaluannya yang kemerahan. Belahan pantat mulus Sinta yang putih dalam sekejap menjadi basah berkilat oleh jilatan lidah Tejo.

    Kemudian bibir dan lidah Tejo secara bergantian menyusuri sekujur pantat montok Sinta tersebut. Tangannya juga menguak belahan pantat Sinta dan selanjutnya lidahnya menyapu daerah anus dan sekitarnya yang membuat Sinta tersebut mengerang penuh birahi. Puas menikmati pantat Sinta yang montok, Tejo kembali menelentangkan pegawi bank yang cantik ini. Mata Tejo terarah pada sepasang payudara montok yang seperti gunung hendak meletus. Tangan Tejo dengan lincah jari-jari tangannya meremas remasbuah dada Sinta yang tegak bagai gunung kembar tersebut.

    Buah dada Sinta nampak sangat montok dan indah. Buah dada yang putih mulus dengan puting susu yang kemerahan membuat Tejo tak sabar untuk meremas dan menyedot putting susunya. Sedetik kemudian, payudara pegawai bank ini telah berada dalam mulut Tejo yang menyedot dengan nafsu secara bergantian. Puting susu yang telah tegak mengeras tersebut di hisap dan diremas-remas membuat Sinta terpekik kecil menahan kenikmatan birahinya. Payudara Sinta yang putih mulus itu dalam sekejap basah oleh liur Tejo. Tejo sudah tak tahan menahan nafsunya.

    Tejo tidak menyangka kalau saat ini Tejo berhasil menelanjangi wanita yang selama ini ia kagumi. Birahinya sudah menggelegak di ubun-ubun dengan penis yang tegang mengeras. Tejo melihat pegawai bank ini mempunyai badan yang indah dan terlihat masih kencang.Tejo menyusuri keindahan badan telanjang wanita muda ini dari muka hingga ke kakinya. Kemudian mata Tejo kembali menatap kemaluan Sinta yang indah itu, tangan Tejo kembali terulur menjamah bagian kewanitaan pegawi bank yang telanjang ini. Tejo merasakan kewanitaan Sinta berdenyut liar, bagai memiliki kehidupan tersendiri. Warnanya yang merah basah, kontras sekali dengan warna putih bukit kemaluannya. Dari jarak yang sangat dekat, Tejo dapat melihat betapa lubang kewanitaan wanita muda tersebut membuka-menutup dan dinding-dindingnya berdenyut-denyut, sepertinya jantung Sinta telah pindah ke bawah. Tejo juga bisa melihat betapa otot-otot di pangkal paha Sinta menegang seperti sedang menahan sakit.

    Begitu hebat puncak birahi melanda Sinta, sampai dua menit lamanya perempuan yang menggairahkan ini bagai sedang dilanda ayan. Ia menjerit tertahan , lalu mengerang, lalu menggumam, lalu hanya terengah-engah. Batang kejantanan Tejo segera terlihat tegak bergerak-gerak seirama jantungnya yang berdegup keras. Sinta masih menggeliat-geliat dengan mata terpejam, menampakkan pemandangan sangat seksi di atas kasur ini.

    Tangan Sinta ini mencengkram kasur bagai menahan sakit, kedua pahanya yang indah terbuka lebar, kepalanya mendongak menampakkan ekspresi muka menggairahkan, rambut ekor kudanya yang kini menjuntai ke kanan dan kiri, sementara wajahnya yang sedang berkonsentrasi menikmati puncak birahi. Tejo menempatkan dirinya di antara kedua kaki Sinta, lalu mengangkat kedua pahanya, membuat kemaluan Sinta semakin terbuka.

    Sesaat kemudian dengan cepat penis Tejo yang tegang segera melesak ke dalam badan Sinta melalui lubang memeknya. Tejopun segera menunaikan tugasnya dengan baik, mendorong, menarik kejantanannya dengan cepat. Gerakannya begitu ganas dan liar, seperti hendak meluluh-lantakkan badan Sinta yang sedang menggeliat-geliat kegelian itu. Tak kenal ampun, batang penis Tejo menerjang-nerjang, menerobos dalam sekali sampai ke dinding belakang yang sedang berkontraksi menyambut orgasme. Wanita cantik ini merintih dan mengerang penuh kenikmatan. Tejo mengerahkan seluruh tenaganya menyebadani wanita yang cantik ini. Otot-otot bahu dan lengannya terasa menegang dan terlihat berkilat-kilat karena keringat. Pinggang Tejo bergerak cepat dan kuat bagai piston mesin-mesin di pabrik.

    Suara berkecipak terdengar setiap kali badannya membentur badan Sinta, di sela-sela desah dan erangan Sinta. Sinta merintih dan mengerang begitu jalang merasakan kenikmatan yang ganas dan liar. Seluruh badannya terasa dilanda kegelian, kegatalan yang membuat otot-ototnya menegang. Kewanitaannya terasa kenyal menggeliat-geliat, mendatangkan kenikmatan yang tak terlukiskan. Dengan mata merem melek, Sinta mengerang dan merintih penyerahan sekaligus pengesahan atas datangnya puncak birahi yang tak terperi. Tejo merasakan batang kejantanannya bagai sedang dipilin dan dihisap oleh sebuah mulut yang amat kuat sedotannya. Tejo tak mampu menahan lagi, Kenikmatan yang didapatkan dari jepitan kemaluan wanit cantik ini tidak mungkin dilukiskan. Dengan geraman liar Tejo memuncratkan seluruh isi kontolnya dalam lubang memek Sinta, bercipratan membanjiri seluruh rongga kewanitaan wanita cantik yang sedang megap-megap dilanda orgasme. Sinta mengerang merasakan siraman birahi panas dari ujung penis Tejo ke dalam dasar kemaluannnya. Tejo merasakan jepitan Sinta kian ketat berdenyut-denyut pada batang kontolnya dan cairan kewanitaan wanita cantik ini terasa mengguyur batang kontolnya yang datang bergelombang. Tejo menggeram liar disusul Sinta yang mengerang dan mengerang lagi, sebelum akhirnya terjerembab dengan badan bagai lumat di atas kasur.

    Tejo menyusul roboh menimpa badan motok Sinta yang licin oleh keringat itu. Nafas Tejo tersengal-sengal ditingkahi nafas Sinta yang juga terengah bagai perenang yang baru saja menyelesaikan pertandingan di kolam renang. Badan Tejo lunglai di atas badan telanjang Sinta yang juga lemas.
    “Oh, nikmat sekali. Betul-betul ganas…” kata Sinta akhirnya, setelah ia berhasil mengendalikan nafasnya yang memburu.

    “bagaimana mbak Sinta… nikmat kan? Bagaimana jika sekali lagi mbak…” ujar Tejo sambil terengah-engah sementara kedua tangan sibuk meremas – remas buah dada Sinta.

    “jangan mas… aku dah gak kuat… kapan-kapan lagi aja mas” sahut Sinta diantara nafasnya yang memburu. Sementara badannya sudah bagaikan kehilangan tulang.

    Tetapi Tejo yang tengah asyik meremas-remas payudara Sinta seolah tak mendengar keluhan Sinta, Tejo justru tersenyum buas sambil tangan kanannya bergerak mengelus-elus paha dan kemaluan Sinta yang berlepotan sperma. Diperlakukan seperti itu Sinta hanya bisa pasrah, matanya merem melek sementara badannya sudah tak berdaya.

    Tejo menjadi tak tahan. Laki – laki ini segera menindih Sinta yang tengah pasrah. Sinta sempat melirik penis besar Tejo sebelum penis besar dan panjang itu mulai melesak ke dalam lubang memeknya untuk yang ketiga kalinya. Wanita cantik ini mengerang dan merintih kenikmatan saat dirasakannya penis Tejo menyusuri lubang memeknya kian dalam, dan wanita ini terpaksa kembali membuka pahanya lebar-lebar untuk menerima sodokan penis yang besar dan panjang seperti milik Tejo. Tak berapa lama kemudian, Tejo menaik turunkan pantatnya diatas kemaluan Sinta. Kini Tejo mulai menggerak-gerakkan kontolnya naik-turun perlahan di dalam lubang kamaluan wanita cantik yang hangat itu. Lubang yang sudah sangat becek itu berdenyut- denyut, seperti mau melumat kemaluannya. Rasanya nikmat sekali. Tejo mendekatkan mulutnya menciumi muka ayu Sinta. Tangan Tejo juga menggerayangi payudara putih mulus yang sudah mengeras bertambah liat itu. Diremas- remasnya perlahan, sambil sesekali dipijit-pijitnya bagian putting susu yang sudah mencuat ke atas. Pinggul wanita cantik yang besar ini ikut bergoyang-goyang sehingga Tejo merasakan kenikmatan di dalam selangkangannya. Sementara lubang memeknya sendiri semakin berlendir dan gesekan alat kelamin kedua manusia lain jenis ini itu menimbulkan bunyi yang seret-seret basah.

    “Prrttt… prrrttt… prrttt.. ssrrrtt… srrrttt… srrrrttt… ppprttt… prrrttt…”
    penis besar Tejo memang terasa sekali, membuat kemaluan Sinta seperti mau robek. Lubang memek wanita berusia 25 tahun ini menjadi semakin membengkak besar kemerah-merahan seperti baru melahirkan. Membuat syaraf-syaraf di dalam lubang senggamanya menjadi sangat sensitif terhadap sodokan kepala penis laki – laki ini. Sodokan kepala penis itu terasa mau membelah bagian selangkangannya. Belum lagi urat-urat besar seperti cacing yang menonjol di sekeliling batang kemaluan Tejo membuat Sinta merasakan nikmat yang luar biasa. Meski agak pegal dan nyeri karena sudah ketiga kalinya disebadani oleh Tejo tapi rasa enak di kemaluannya lebih besar. Lendirnya kini makin banyak keluar membanjiri kemaluannya, karena rangsangan hebat pada wanita cantik ini. Ketika Tejo membenamkan seluruh batang kemaluannya,Sinta merasakan seperti benda besar dan hangat berdenyut- denyut itu masuk ke rahimnya. Perutnya kini sudah bisa menyesuaikan diri tidak mulas lagi ketika saat pertama tadi laki – laki ini menyodok- nyodokkan kontolnya dengan keras.

    Sinta kini mulai menuju puncak orgasme. Lubang memeknya kembali menjepit-jepit dengan kuat penis Tejo. Kaki wanita cantik ini diangkat menjepit kuat pinggang Tejo dan tangannya mencengkram kasur. Dengan beberapa hentakan keras pinggulnya, Sinta memuncrakan cairan dari dalam lubang memeknya menyiram dan mengguyur kemaluan Tejo disertai erangan panjang penuh kenikmatan. Setelah itu Sinta terkulai lemas di bawah badan berat Tejo. Kaki wanita cantik tersebut mengangkang lebar lagi pasrah menerima tusukan-tusukan kemaluan Tejo yang semakin cepat. Tanpa merasa lelah Tejo terus memacu kontolnya dan sesekali menggoyang-goyangkan pinggulnya. Sepertinya ia ingin mengorek-ngorek setiap sudut kemaluan wanita cantik ini. Suara bunyi becek makin keras terdengar karena lubang memek Sinta itu kini sudah dibanjiri lender kental yang membuatnya agak lebih licin. Sinta mulai merasakan pegal di kemaluannya karena gerakan Tejo yang bertambah liar dan kasar. Badannya ikut terguncang-guncang ketika Tejo menghentak-hentakkan pinggulnya dengan keras dan cepat.

    “Plok.. plokk… plok.. plookk…
    crrppp… crrppp… crrrppp… srrrpp… srrppp…” Bunyi keras terdengar dari persenggamaan ketiga kalinya oleh Tejo dan Sinta .
    “Mas Tejo….. ouhhh pelan, …!” desis Sinta sambil meringis kesakitan.
    Kemaluannya terasa nyeri dan pinggulnya pegal karena agresivitas Tejo yang seperti kuda liar. Akhirnya Tejo mulai mencapai orgasme. Dibenamkannya muka Tejo pada buah dada Sinta dan ditekankannya badannya kuat-kuat sambil menghentakkan pinggulnya keras berkali-kali membuat badan Sinta ikut terdorong. Muncratlah air mani dari kontolnya mengguyur rahim dan kemaluan pegawai bank tersebut. Karena banyaknya sampai-sampai ada yang keluar membasahi permukaan kasur. Sinta dari tadi diam, terdengar pelan isak tangisnya terdengar sementara hujan masih turun dengan derasnya. Tejo cuma menggumam, menenggelamkan kepalanya di antara dua payudara Sinta yang lembut. Begitu gelombang kenikmatan berlalu, kesadaran kembali memenuhi ruang pikiran wanita cantik ini. Sinta hanya bisa terlentang tak berdaya, meskipun hanya sekedar memakai pakaiannya kembali. Melihat tersebut Tejo tersenyum puas namun tiba-tiba sebuah rencana masuk ke pikiran bejat Tejo. Tejo kemudian bangkit berdiri memakai pakaiannya kembali dan pergi ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian kekuatan Sinta sudah mulai pulih, tapi Sinta jadi bingung karena celana dalam dan BHnya hilang

    “BH dan celana dalammu tak cuci di kamar mandi mbak, habis kotor kepakai ngelap sepermaku tadi. Mbak Sinta tak beli makanan jadi aku keluar dulu ya….” Ujar Tejo sambil tersenyum. Tak lama sesudah mandi ia tampak keluar rumah untuk membeli sesuatu.

    Setelah memastikan Tejo sudah keluar rumah, Sinta minum air yang ada di gelas dekat kasur dan memakai pakaiannya walaupun tanpa celana dalam dan BH, sehingga tampaklah cetakan pantat dan buah dadanya, dengan gontai Sinta berjalan ke kamar mandi untuk mengambil celana dalam serta BHnya dan mandi karena jarum jam menunjukkan pukul 3.00 sore.

    Bagian tiga : Di kamar mandi itu

    Setelah mandi badan Sinta nampak segar, namun tiba-tiba pakaian yang disampirkan di pintu jatuh di sisi luar. Ketika ia membuka pintu untuk mengambilnya, Tejo yang sudah menunggu tidak ingin membuang kesempatan emas itu. Dengan sigapnya ia meyerobot masuk, tangan Sinta ditarik dan tubuhnya disandarkan ke tembok. “Mbak.. aku masih ingin menikmati keindahan tubuhmu.. Pasti Mbak Sinta sudah segar kembali.. Nah sekarang tiba saatnya kita lanjutkan kembali..”

    Mendengar itu Sinta kaget setengah mati. Ia tidak menyangka bahwa Tejo masih belum puas. “Tapi Mas.., Sinta sudah capek nih.., lagian tadi kan sudah.., masa Mas tega pada Sinta?”

    “Oh.., jangan kuatir Mbak.., cuma sebentar kok.. aku masih pengen sekali lagi..”, kata Tejo. “Ja.., jangan Mas.., tolong jangan.., Sinta masih capek..”, jerit Sinta. “To.., tolong.., tolong..!”, tampak Sinta berusaha meronta-ronta karena tangan Tejo mulai meremas-remas payudaranya yang berukuran besar. Dan dengan sekali hentakan, BH Sinta barusan dipakai sudah lepas dan dilempar keluar. Walau sudah berusaha mendorong dan menendang tubuh gempal itu, namun nafsu Tejo yang sudah demikian buas terus membuatnya bisa mencengkeram tubuh mulus Sinta yang kini hanya mengenakan celana dalam dan terus menghimpitnya ke tembok WC itu.

     

    Karena merasa yakin bahwa ia sudah tidak bisa lari lagi dari sana, Sinta hanya bisa pasrah. Sekarang mulut Tejo sudah mulai menghisap-hisap puting susunya yang besar. Persis seperti bayi yang baru lahir sedang menyusu ke ibunya. Mulut Tejo juga kadang mengecup dan mengenyot payudara Sinta yang bermandikan peluh dan sekarang, bermandikan ludah Tejo juga. Sehingga payudara mulus Sinta makin penuh bekas-bekas merah akibat cupangan dari persetubuhan yang sebelumnya dan yang barusan dicupang Tejo. Jilatan kini sudah sangat melebar hingga ketek dan leher Sinta, cupangan dan sedotannya juga makin kencang, sehingga menimbulkan bunyi kecipokan yang keras dan bekas cupang dimana-mana. Gairah dalam diri Sinta tiba-tiba muncul dan bergejolak, tampaknya obat perangsang yang dicampurkan Tejo ke air minum yang diminum Sinta mulai bereaksi. Dengan sengaja diraihnya batang kemaluan Tejo yang sudah berdiri dari tadi. Dan dikocok-kocokknya dengan pelan. Memang penis itu amat besar dan panjang. “Wah, tadi enak banget waktu ngisi memekku.., ngak ngira dimasukin kontol sebesar ini ngak sakit sama sekali tapi malah bikin ketagihan..”, pikir Sinta dalam hati.

    Sementara itu tangan Tejo pun melepaskan celana dalam biru muda yang dikenakan Sinta… Dan Tejo pun ikut membuka semua pakaiannya.., hingga kini keduanya sama-sama dalam keadaan tanpa busana selembar benangpun. Tejo mengangkat kaki kanan Sinta ke pingggangnya lalu dengan perlahan ia memasukkan batang kemaluannya ke memek Sinta. Bles.., bless.., jebb.., setengah dari penis itu masuk dengan sempurna ke memek wanita yang barusan kehilangan keperawanannya itu. Sinta terbeliak kaget merasakan penis itu kembali masuk memeknya. Tejo terus saja mendorong maju batang kemaluannya sambil mencium dan melumat bibir Sinta yang seksi itu. Sinta tak mau kalah. Ia pun maju mundur menghadapi serangan Tejo. Jeb.., jeb.., jebb..! Penis yang besar itu keluar masuk berkali-kali.. Sinta sampai terpejam-pejam merasakan kenikmatan yang tiada taranya tubuhnya terasa terbang ke awang-awang kini ia sudah kecanduan penis ajaib Tejo…

    Sepuluh menit kemudian, mereka berganti posisi. Sinta kini berpegangan ke bagian atas kloset dan pantatnya di hadapkan ke Tejo. Melihat pemandangan menggairahkan itu, tanpa membuang-buang waktu lagi Tejo segera memasukkan batang kemaluannya dari arah belakang kemaluan Sinta.., bless.., bless.., jeb.., jebb..! Tejo dengan asyik melakukan aksinya itu. Tangan kanannya berusaha meraih payudara Sinta sambil terus menusukkan penis supernya ke kewanitaan Sinta.

    “Mas duduk aja sekarang di atas kloset ini.., biar sekarang gantian Sinta yang aktif..”, kata Sinta di tengah-tengah permainan mereka yang penuh nafsu. Tejo itu pun menurut. Tanpa menunggu lagi, Sinta meraih penis yang sudah 2 kali lebih keras dan besar itu, untuk segera dimasukkan ke liang kenikmatannya. Ia pun duduk naik turun di atas penis ajaib itu. Sementara kedua mata Tejo terpejam-pejam merasakan kenikmatan surgawi itu. Kedua tangannya meremas-remas gunung kembar Sinta. “Ooh.., oh.., ohh..”, erang Sinta penuh kenikmatan.

    Penis itu begitu kuat, kokoh dan keras. Walau sudah berkali-kali ditusukkan ke depan, belakang, maupun dari atas, belum juga menunjukkan akan menyemburkan cairan putih kentalnya, sementara Sinta sudah orgasme beberapa kali. Melihat itu, Sinta segera turun dari pangkuan Tejo itu. Dengan penuh semangat ia meraih penis itu untuk segera dimasukkan ke mulutnya. Dijilatnya dengan lembut kemudian dihisap dan dipilin-pilin dengan lidahnya… oooh.., oh.., oohh.., kali ini ganti Tejo yang mengerang karena merasakan kenikmatan. Lima belas menit kemudian, wajah Tejo tampak menegang dan ia mencengkeram pundak Sinta dengan sangat erat.. Sinta menyadari apa yang akan terjadi.., tapi ia tidak menghiraukannya.., ia terus saja menghisap penis ajaib itu.., dan benar.., crot.., crot.., crott..! Semburan air mani masuk ke dalam mulut seksi Sinta tanpa bisa dihalangi lagi. Sinta pun menelan semua mani itu termasuk menjilat yang masih tersisa di penis Tejo itu dengan lahapnya…

    Sejak peristiwa di rumah kontrakan itu, mereka tidak henti-hentinya berhubungan intim di mana saja dan kapan saja mereka bernafsu.., di mobil, di hotel, di rumah Sinta. Sinta kini mulai meninggalkan dunia lesbinya karena sekarang ada Tejo yang selalu sukses membawanya merasakan surga dunia. Sebaliknya Tejo juga ngak pusing lagi kalau lagi sange karena ada memek Sinta yang peret, wangi, halal dan aman.

  • CERITA NGENTOT DENGAN KAK VANIA YANG CANTIK

    CERITA NGENTOT DENGAN KAK VANIA YANG CANTIK


    4430 views

    Cerita seks dewasa bercinta dengan kakakku vania yang cantik – Namaku Adi aku mahasiswa perguruan tinggi swasta di kota Jakarta dan sekarang masih semester 2 jurusan yang aku ambil Teknik Informatika dari pertama kuliah aku tinggal bersama kakaku Vania usiaku terpaut lima tahun, dia memang bukan kakak kandungku tapi bagiku dia adalah sosok yang perhatian dan kami jauh dari orang tua.

     Rumah yang kami tempati, baru satu tahun dibeli kak Vania. Tidak terlalu besar memang, tapi lebih dari cukup untuk kami tinggali berdua. Setidaknya lebih baik dari pada kost-kostan. Kak Vania saat ini bekerja disalah satu KanCab bank swasta nasional. Meskipun usianya baru 24 tahun, tapi kalau sudah mengenakan seragam kantornya, ia kelihatan dewasa sekali. Berwibawa dan tangguh. Matanya jernih dan terang, sehingga menonjolkan kecantikan alami yang dimilikinya

    Dua bulan pertama aku tinggal dirumah kak Vania, semuanya berjalan normal. Aku dan kak Vania saling menyayangi sebagaimana adik dan kakak. Pengahasilan yang lumayan besar memungkinkan ia menangung segala keperluan kuliah ku. Memang sejak masuk kuliah, praktis segala biaya ditanggung kak Vania.

    Namun dari semua kekagumanku pada kak Vania, satu hal yang aku herankan. Sejauh ini aku tidak melihat kak Vania memiliki hubungan spesial dengan laki-laki. Kupikir kurang apa kakaku ini ? cantik, sehat, cerdas, berpenghasilan mapan, kurang apa lagi ?
    Seringkali aku menggodanya, tapi dengan cerdas ia selalu bisa mengelak. Ujung-ujungnya ia pasti akan bilang, “Gampang deh soal itu, yang penting karier dulu…!”, aku percaya saja dengan kata-katanya. Yang pasti, aku menghomati dan mengaguminya sekaligus.

    Hingga pada suatu malam. Saat itu waktu menunjukan pukul 9.00, suasana rumah lengang dan sepi. Aku keluar dari kamarku dilantai atas, lalu turun untuk mengambil minuman dingin di kulkas. TV diruang tengah dimatikan, padahal biasanya kak Vania asyik nongkrongin Bioskop Trans kesayangannya.

    Karena khawatir pintu rumah belum dikunci, lalu aku memeriksa pintu depan, ternyata sudah dikunci. Sambil bertanya-tanya didalam hati, aku bermaksud kembali ke kamarku. Namun tiba-tiba terlintas dibenakku,
    “kok sesore ini kak Vania sudah tidur ?”, lalu setengah iseng perlahan aku mencoba mengintip kak Vania didalam kamar melalui lubang kunci.
    Agak kesulitan karena anak kunci menancap dilubang itu, namun dengan lubang kecil aku masih dapat melihat kedalam.

    Dadaku berdegup kencang, dan lututku mendadak gemetar. Antara percaya dan tidak pada apa yang kulihat. Kak Vania menggeliat-geliat diatas spring bad. Tanpa busana sehelaipun !!!

    Ya Ampun ! Ia menggeliat-geliat kesana kemari. Terkadang terlentang sambil mendekap bantal guling, sementara kedua kakinya membelit bantal guling itu. Kemudian posisinya berubah lagi, ia menindih bantal guling.

    Napasku memburu. Ada rasa takut, malu, dan entah apalagi namanya. Sekuat tenaga aku tahan perasaan yang bergemuruh didadaku. Kualihkan pandanganku dari lubang kunci sesaat, pikiranku sungguh kacau, tak tahu apa yang harus kuperbuat. Namun kemudian rasa penasaran mendorongku untuk kembali mengintip. Kulihat kak Vania masih menindih batal guling.

     

    Pinggulnya bergerak-gerak agak memutar, lalu kemudian dengan posisi agak merangkak ia menumpuk dan memiringkan bantal dan guling, lalu meraih langerie-nya. Ujung bantal itu ditutupinya dangan langerie. Kembali aku mengalihkan pandanganku dari lubang kunci itu. Ngapain lagi tuh ?!!, aku tertegun.

    Entah kenapa, rasa takut dan jengah perlahan berganti dengan geletar-geletar tubuhku. Tanpa sadar ada yang memanas dan mengeras di balik training yang aku kenakan. Aku meremasnya perlahan. Ahhh…

    Ketika kembali aku mengintip ke dalam kamar, kulihat Kak Vania mengarahkan selangkangannya pada ujung bantal itu, hingga posisinya benar-benar seolah menunggangi tumpukan bantal itu.

    Lalu tubuhnya terutama bagian pinggul bergoyang goyang dan bergerak-gerak lagi, setiap goyangan yang dilakukanya secara reflek membuat aku semakin cepat meremas batang kemaluanku sendiri. Entah berapa lama aku menyaksikan tingkah laku kak Vania didalam kamar.
    Nafasku memburu, apalagi manakala aku melihat gerakan kak Vania yang semakin cepat. Mungkin ia hendak mencapai orgasme, dan benar saja, beberapa saat kemudian tubuh kak Vania nampak berguncang beberapa saat, jemari kak Vania mencengkram seprai.

    Aku tak tahan lagi. Bergegas aku menuju kamarku sendiri. Lalu kukunci pintu. Kumatikan lampu, lalu berbaring sambil memeluk bantal guling dengan nafas memburu. Pikiranku kacau. Bagaimanapun aku laki-laki normal. Aku merasakan gelombang birahi menyala dan semakin menyala didalam tubuhku.

    Dan makin lama makin membara. Ah… aku tak tahan lagi. Dengan tangan gemetar aku membuka seluruh pakaian yang kukenakan, lalu aku berguling-guling diatas spring bad sambil mendekap bantal guling. Aku merintih dan mendesah sendirian. Diantara desahan dan rintihan aku menyebut-nyebut nama kak Vania. Aku membayangkan tengah berguling-guling sambil mendekap tubuh kak Vania yang putih mulus. Pikiranku benar-benar tidak waras.

    Aku membayangkan tubuh kak Vania aku gumuli dan kuremas remas. Sungguh aku tidak tahan, dengan sensasi dan imajinasiku sendiri, aku merintih dan merintih lalu mengerang perlahan seiring cairan nikmat yang muncrat membasahi bantal guling. (Besok harus mencuci sarung bantal…masa bodo…!!!!)

    Sejak kejadian malam itu, pandanganku terhadap kak Vania mengalami perubahan. Aku tidak saja memandangnya sebagai kakak, lebih dari itu, aku kini melihat kak Vania sebagai wanita cantik. Ya wanita cantik ! wanita cantik dan seksi tentunya. Ah…….! (maafkan aku kak Vania !)

     

    Terkadang aku merasa berdosa manakala aku mencuri-curi pandang. Kini aku selalu memperhatikan bagian-bagian tubuh kak Vania. . ! mengapa baru sekarang aku menyadari kalau tubuh kak Vania sedemikian putih dan moligh. Pinggulnya, betisnya, dadanya yang dihiasi dua gundukan itu.

    Ah lehernya apalagi, mhhh rasanya ingin aku dipeluk dan membenamkan wajah dilehernya.
    “Hei, kenapa melamun aja ? Ayo makan rotinya !“, kata kak Vania sambil menuangkan air putih mengisi gelas dihadapanya, lalu meneguknya perlahan.
    Air itu melewati bibir kak Vania, lalu bergerak ke kerongkonganya…. Ahhh kenapa aku jadi memperhatikan hal-hal detail seperti ini ?

    “Siapa yang melamun, orang lagi …. ammmm mmm enak nih, selai apa kak ?”, aku mengalihkan perhatian ketika kedua bola mata kak Vania menatapku dengan pandangan aneh.

    “Nanas ! itu kan selai kesukaanmu. awas abisin yah !”, kak Vania bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan membelakangiku menuju wastafel untuk mencuci tangan.

    “OK, tenang aja !”, mulutku penuh roti, tapi pandangan mataku tak berkedip menyaksikan pinggul kak Vania yang dibungkus pakaian dinasnya. Alamak, betisnya sedemikian putih dan mulus…

    “Kamu gak pergi kemana-mana kan ?“, kata kak Vania. Hari sabtu aku memang gak ada mata kuliah.

    “Enggak…!”, kataku sesaat sebelum meneguk air minum.

    “Periksa semua kunci rumah ya Ted kalo mau pergi. Kemarin di blok C11 ada yang kemalingan….!”.

    “Mmhhh… iya, tenang aja…”, kataku sambil merapikan piring dan gelas bekas sarapan kami.

    Beberapa saat kemudian suara mobil terdengar keluar garasi. Lalu suara derikan pintu garasi ditutup. Dan ketika aku keteras depan, Honda Jazz warna silver itu berlalu meninggalkan pekarangan.

    Setelah memastikan kak Vania pergi, aku kemudian mulai mengamati atap dan jarak antar ruangan. Sejak kemarin aku telah memiliki suatu rencana.

    Aku mau memasang Mini Camera kekamar kak Vania, biar bisa online ke TV dikamarku, he he !.

    Sebulan berlalu, otakku benar-benar telah rusak.

    Aku selalu menunggu saat-saat dimana kak Vania bermasturbasi. Dengan bebas aku melihat Live Show, lewat mini kamera yang telah kupasang dilangit-langit kamar Kak Vania. Aman ! sejauh ini kak Vania tak menyadari bahwa segala gerak-geriknya ada yang mengamati.

    Benar rupanya hasil survai sebuah lembaga bahwa 60 % dari wanita lajang melakukan masturbasi. Kalau kuhitung bahkan ka Vania melakukanya seminggu dua kali. Pasti tidak terlewat ! malam rabu dan malam minggu.

    Kasihan kak Vania. Ia mestinya memang sudah berumah tangga. Tapi biarlah, kak Vania toh sudah dewasa, ia pasti tahu apa yang dilakukannya. Dan yang terpenting aku punya sesuatu untuk kunikmati. Kalau kak Vania melakukannya dikamarnya, pasti aku juga. Ahh….

    Seringkali ditengah kekacauan pikiranku, ingin rasanya aku bergegas kekamar kak Vania ketika kak Vania tengah menggeliat-geliat sendiri.

    Aku ingin membantunya. Sekaligus membantu diriku sendiri. Gak usah beneran, cukup saling bikin happy aja. Tapi aku gak berani. Apa kata dunia ?

    Malam ini. Aku tak sabar lagi menunggu, sudah hampir jam sembilan. Tapi kok gak ada tanda-tandanya. Kak Vania masih asyik nongkrongi TV diruang tengah. Aku kemudian bergegas keluar rumah bermaksud mengunci gerbang.

    “Mau kemana di ?”,

    “Kunci gerbang ah, udah malem !”, kataku sambil menggoyangkan anak kunci .

    “Jangan dulu dikunci, temen kak Vania ada yang mau kesini !”,

    “Mau kesini ? siapa kak ?”,

    “Santi…yang dulu itu lho !”,

    “Ohh…!”, aku mencoba mengingat. Angel ? ah masa bodo… tapi kalo dia kesini, kalo dia nginep, berarti …? Yah…! hangus deh.

    Aku bergegas kembali kedalam. Dan ketika aku menaiki tangga ke lantai atas, HP kak Vania berdering. Kudengar kak Vania berbicara, rupanya temennya si Angel brengsek itu udah mau datang. Huh !
    Aku hampir aja ketiduran. Atau mungkin memang ketiduran. Kulihat jam menunjukan pukul 10.30 malam, ya ampun aku memang ketiduran.

    Cuci muka di wastafel, lalu aku ambil sisa kopi yang tadi sore kuseduh. Dingin tapi lumayan daripada gak ada. Lalu seteguk air putih. Lalu sebatang Class Mild.

    Dan, asap memenuhi ruang kamar. Kubuka jendela, membiarkan udara malam masuk kekamarku. Sepi. Temennya kak Vania udah pulang kali ?!.

     

    Kunyalakan TV, tapi hampir seluruh chanel menyebalkan, Kuis, Lawakan, Ketoprak, Sinetron Mistery, fffpuih ! kuganti-ganti channel tapi emang semua chanell menyebalkan, lalu kutekan remote pada mode video…lho apa itu…?!

    Ya ampun ! sungguh pemandangan yang menjijikan.

    Apa yang akan dilakukan kak Vania dan temannya itu. Aku geleng-geleng kepala, ada rasa marah, kesal. Aku tidak menyangka kalau kak Vania ternyata menyukai sesama jenis (Lesbian).

    Apa kata Mama. Ya ampuuuuun…!

    Kumatikan TV. Aku termenung beberapa saat.

    Aku ambil gelas kopi, satu tetes, kering. Ah air putih saja. Aku habiskan air digelas besar sampai tetes terakhir.

    Tapi…., aku tekan lagi tombol power TV, Upps… masih On Line ! Aku melihat kak Vania dengan temannya berbaring miring berhadapan. Aku yakin mereka tanpa busana. Meskipun berselimut, bagian pundak mereka yang tak tertutup menunjukan kalau mereka tak berpakaian. Mereka saling menatap dan tersenyum.

    Tangan kiri kak Angel mengelus-elus pundak kak Vania. Sementara kuperhatikan tangan kak Vania nampaknya mengelus-elus pinggang kak Angel, tidak kelihatan memang tapi gerakan-gerakan dari balik selimut menunjukan hal itu.
    Lama sekali mereka saling pandang dan saling tersenyum. Mungkin mereka juga saling berbicara, tapi aku tak mendengarnya karena aku tidak memasang Mini Camera dengan Mic.

    Perlahan kepala kak Angel mendekat, tangannya menghilang kedalam selimut dan menelusuri punggung kak Vania. Aku Cemburu ! Mereka berciuman dengan penuh perasaan, perlahan saling mengulum dan melumat. fffpuih ! Ternyata benar-benar ada tugas pria yang dilakukan oleh wanita.

    Untuk beberapa saat mereka berciuman dan saling meraba. Aku jadi menahan nafas. Mungkin aku juga ketularan tidak waras, rasanya ada satu gairah yang perlahan bangkit didalam tubuhku. Bahkan, aku mulai mendidih !

    Sesaat kak Angel nampak menelusuri leher kak Vania dengan bibir dan lidahnya, aku mengusap leherku sendiri.

    Entah kenapa aku merasa merinding nikmat. Apalagi melihat ekpresi kak Vania yang pasrah tengadah, sementara kak Angel dengan lembut bolak-balik menjilat leher, dagu, pangkal telinga.
    Aku tak tahan melihat kak Vania diperlakukan seperti itu. Setelah mematikan lampu, aku kemudian beranjak ke atas spring Bad, mendekap bantal guling, sementara mataku tak lepas dari layar TV.

    Situasi semakin seru, kak Vania kini yang beraksi, ia kelihatan agak terlalu terburu-buru. Dengan penuh nafsu ia menjilati dan menciumi leher kak Angel yang kini terlentang ditindih kak Vania. Kepala kak Angel mendongak-dongak, aku yakin ia tengah merasakan gelenyar-gelenyar nikmat dilehernya.

    Kemudian kak Vania berpindah menciumi toket gede kak Angel, sekarang baru nampak jelas wajah kak Angel. Ia ternyata cantik sekali, bahkan sedikit lebih cantik dari kak Vania. Ah aku terangsang. Tonjolan dibalik kain sarung yang kukenakan makin mengeras. Agak ngilu terganjal ujung bantal guling, sehingga perlu kuluruskan.

    Kak Vania benar-benar beraksi, ia menciumi dan melahap payudara kak Angel. Wajah kak Angel mengernyit, dan mulutnya terbuka, apalagi ketika kak Vania mengemut putting susunya. Ia Menggeliat-geliat sementara kedua tangannya mendekap kepala kak Vania.
    Bergantian kak Vania mengerjai kedua payudara kak Angel. Kak Angel menggeliat-geliat. Semakin liar, apalgi ketika kak Vania menyelinap ke dalam selimut.

    Tiba-tiba kepala Kak Vania muncul lagi dari balik selimut, tengadah mungkin ia tersenyum atau tengah mengatakan sesuatu, karena kulihat kak Angel tersenyum, lalu sebuah kecupan mendarat dikening Kak Vania.

    Sesaat kemudian kak Vania menghilang lagi ke dalam selimut. Kak Angel tampak membetulkan posisi badannya, selimutnya juga dirapihkan, aku tak dapat melihat apa yang tengah dilakukan kak Vania, tapi menurut perkiraanku kepala kak Vania tepat diantara selangkangan kak Angel. Entah apa yang tengah dilakukannya.

    Namun yang terlihat, kak Angel mendongak-dongak, kedua tanganya meremas-remas kepala kak Vania. Kepala kak Angel bergerak kekanan dan kekiri. Tubuhnya juga menggelinjang kesana sini. Kondisi seperti itu berlalu cukup lama.

    Aku keringatan. Nafasku memburu. Tanpa sadar kubuka kaus yang kukenakan, lalu kulemparkan kain sarungku. Kemaluanku mengeras, menuntut diperlakukan sebagaimana mestinya. Ah… edan !

    Tiba-tiba aku lihat kak Angel mengejang beberapa kali. Pinggulnya mengangkat, kedua pahanya menjepit kepala kak Vania. Mengejang lagi, sementara kepalanya mendongak kekanan dan kiri. Ia terengah-engah, lalu sesaat kemudian terdiam.

    Matanya terpejam. Kemudian kak Vania muncul dari balik selimut, ia nampak mengelap mulutnya dengan selimut. Paha kak Angel tersingkap karenanya.

    Kak Angel kemudian meraih kedua bahu kak Vania, mendaratkan kecupan dikening, pipi kanan dan kiri kak Vania, lalu merangkul kak Vania ke dalam pelukannya. Beberapa saat mereka berpelukan. Aku yang menyaksikan kejadian itu hanya dapat menahan napas, sementara tangan kananku meremas-remas dan mengurut kemaluanku sendiri.

    Dan, kemudian mereka nampak berbincang lagi, lalu kak Vania membaringkan badanya. Terlentang. Kak Angel menarik selimut, lalu menyingkirkannya jauh-jauh.

    Kak Vania kelihatan protes, tapi protes kak Vania dibalas dengan lumatan bibir kak Angel. Tubuh kak Angel menindih tubuh kak Vania. Aku melihat, dengan mata kepalaku sendiri. Dua wanita cantik, dua tubuh indah dengan kulit putih mulus, tanpa busana, tanpa penutup apapun.

    Saling menyentuh. Kak Angel kini yang bertindak aktif, ia kini menjilati leher, pangkal leher, bahu, dada, payudara kanan dan kiri.

    Kak Vania nampak pasrah diperlakukan seperti itu. Kak Angel nampak lebih terampil dari kak Vania, hampir setiap inci tubuh kak Vania dijilati dan dikecupnya. Bahkan kini ia menelusuri pangkal paha kak Vania dari arah perut dan terus bergerak ke awah.

    Kak Vania hendak bangun, kedua tanganya seolah menahan kepala kak Vania yang terus bergerak ke bawah, entah mungkin karena geli atau nikmat yang teramat sangat. Tapi tangan kak Angel menahanya, akhirnya kak Vania menyerah. Dihempaskannya tubuhnya ke atas spring bad.

    Kak Angel kini menciumi paha, lutut, bahkan telapak kaki kak Vania. Tangan kanan kak Vania mengusap-usap kemaluannya, sementara jari-jari tangan kirinya dimasukan kedalam mulutnya sendiri. Ia mengeliat-geliat.

    Tubuh kak Angel kemudian berubah lagi. Ia kini telah siap berada diantara paha kak Vania. Kak Angel menarik bantal dan meletakannya, dibawah pinggul kak Vania, sehingga tubuh bagian bawah kak Vania makin terangkat. Kepala kak Vania terjepit persis diantara selangkangan kak Vania.

    Sebelah tangannya meremas-remas payudara kak Vania. Aku lihat tubuh kak Vania mengelinjang-gelinjang. Tak sadar aku turut merintih. Semakin kak Vania menggelinjang, nafasku semakin memburu. Tubuhku kini mendekap dan mengesek-gesek bantal guling, dan batang kemaluanku menggesek-gesek ujungnya.

    Nikmat, entah apa yang kini berada didalam pikiranku. Yang pasti aku turut larut dalam situasi antara kak Vania dan kak Angel.

    “Kak Vaniaii… kak Angel……, ini Adi… asssshhh..ahh kak…aku juga..!”, aku merintih dan terus merintih.
    Semakin lama kak Vania kulihat semakin liar, badannya bergerak-gerak, naik-turun searah pinggulnya. Kedua tangannya menangkup kepala kak Angel.

    Semakin lama gerakan kak Vania semakin liar, lalu pessss, TV mendadak padam. Sialan ! lampu diluar juga padam. Gelap gulita. PLN sialan ! Brengsekkkkkk !!!

    Aku terengah-engah, dalam kegelapan. Sudah kadung mendidih, aku teruskan aksiku meski tanpa sensasi visual. Aku merintih dan mendesah sendiri dalam kegelapan. Aku yakin disana kak Vania dan kak Angel pun tengah merintih dan mendesah, juga dalam kegelapan.

    Dok! Dok ! Dok !

    “Adi… bangun, udah siang !“, suara ketukan atau entah gedoran pintu membangunkan aku. Rupanya sudah siang.

    “Bangun…!”, suara kak Vania kembali terdengar.

    “Iya..! udah bangun…”, teriakku. Lalu terdengar langkah kaki kak Vania menjauh dari pintu kamarku.

    Ya ampun ! aku terkaget. Berantakan sekali tempat tidurku. Dan bantal guling…, bergegas aku buka sarungnya. Wah nembus !

    Dengan terburu-buru kurapikan kamarku, jam menunjukan pukul 8 pagi.

    Kalau tidak khawatir mendengar kembali teriakan kak Vania yang menyuruh sarapan mungkin aku memilih untuk tidur lagi. Akhirnya aku keluar kamar, mengambil handuk, dan bergegas kekamar mandi.

     

  • cerita ngentot dengan kakak sepupu

    cerita ngentot dengan kakak sepupu


    57871 views

    Kisahku bersama kakak sepupuku tapi ini pas aku masih baru masuk kuliah dia juga kuliah tapi belum lulus ketika itu dan itu pertama kali aku menyetubuhinya. Kakak sepupuku ini namanya Winda, bodinya manteb banget toket kira-kira 36 C.

    Aku sebenernya kalo bukan saudara udah ku embat ni kakakku walopun jarak umurku sekitar 6 tahunan.
    Awal mula ceritanya aku memutuskan berlibur ke rumah nenekku untuk beberapa minggu dengan alasan lagi mau minggu tenang ujian biasanya kan aku kerumah nenek mungkin hanya waktu lebaran. Ternyata waktu itu si Winda juga liburan kesana jadilah kami berdua dirumah nenek kami. Nenek kami itu tinggal disebuah desa sendirian karena kakek sudah meninggal lama di desa itu nenek juga tinggal jauh dari tetangga. Aku sampai di nenek lebih dulu siang dan kakakku sampai disana sorenya. Sesampai disana kakakku bener-bener aduhai bikin kontol ngaceng,gimana gak ngaceng kalo di pake kaos ketat yang nonjolin toketnya yang besar itu.

    “udah lama ngga datengnya” kata Winda

    “ya siang tadi lah mbak,berangkat habis subuh soalnya aku” jawabku

    “udah mandi sana Sar, cepet mandi cepet istirahat” kata nenekku

    “Iya nek,bentar lagi nunggu keringetnya kering..nanti malah masuk angin” jawab Winda

    Gak lama kemudian si Winda berangkat mandi dan nenek katanya pamit mau ke tetangga mau pesen kue camilan. Setelah nenek berangkat aku langsung ke kamar mandi dengan ide kotorku buat ngintip tubuh Winda yang bugil lagi mandi. Kebetulan kamar mandi di rumah nenekku itu memang ada lubang di pintu kamar mandinya yang memang sengaja dibuat tapi sampai sekarang aku juga gak tahu fungsinya buat apa. Kalo aku sih buat ngintip kakakku ini aja,Hehehehe….

     

    Pas aku ngintip aku nggak lupa kunci pintu kalau nenek dateng jadi tahu. Mataku mulai mengintip ternyata dia baru lagi buka udah mau buka BH,aduh jadi ngaceng ni kontol ngebayangin kalo toket itu aku kenyot-kenyot. Satu persatu mulai lepas sampai akhirnya celana dalam yang terakhir dan tampaklah memeknya kakakku ini yang bulu jembutnya tercukur rapi. Mungkin Kakakku ini rajin merawat memeknya dan terbayang gimana wangi dan rasa memeknya gimana rasanya. Biar bisa terus terbayang akhirnya kuambil Hpku dan kurekam semua adegan mandinya. Kusudahi ngerekamku mungkin sudah cukup pikirku buat bayangin kakakku. Dan gak lama kemudian nenekku ternyata datang pas aku sudah selesai ngintip kakakku yang mandi.

    “Mbakmu dimana? Belum selesai mandinya?” tanya nenekku

    “Belum nek” jawabku

    Akhirnya kakakku itu selesei juga mandinya,dan segera masuk kamar untuk ganti baju. Sementara itu aku bantu nenekku masak buat makan malam. Selesei ganti baju dia segera bantu masak juga,tertegun aku ngeliat dia pake daster tipis panjangnya pun gak sampe selutut. Gak konsen masak jadinya apalagi pas duduk dibawah kadang-kadang keliatan paha mulusnya dan terawang juga dalemannya.
    Jam 7 kami bertiga bersama makan malam,dan cerita masing-masing kuliah kami ke nenek. Selesai makan lanjutlah kami bertiga nonton tv bersama. Nenek yang mungkin capek dengan kegiatannya seharian segera masuk kamar dan tidur. Jadi tinggal aku sama kakakku Winda, kami berdua cerita-cerita sambil kucuri-curi pandang pahanya yang mulus karena baru kusadari dan dia gak sadari kalau rok.nya tersingkap.

    Dia cerita kalau banyak masalah jadi kuliahnya pun malas-malasan, mulai dari masalah sama bapaknya juga pacarnya. Baru tahu aku kalo dia sering dimarahi, dihina bahkan dilecehkan bapaknya walaupun gak sampai disetubuhi terus sama pacarnya yang baru putus karena selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Lebih parahnya lagi selingkuhnya pas dia main ke kontrakan sahabatnya ternyata pacarnya lagi ngentot sama sahabatnya itu dan akhirnya saat itu juga dia putus dan malas ke kampus buat ketemu sama sahabat juga mantan pacarnya itu.

    “Sabar ya mbak, sebaiknya tetep kamu jalani kuliahmu jangan hiraukan asalahmu sama sahabatmu sm mantanmu itu” kataku

    “iya sih, kalau yang sama mantanku itu mungkin salahku juga. Terus sama bapakku itu aku juga takut,takut sendiri juga takut ngomong ibu” jawabnya

    “iyaa mbak kamu jaga diri aja kalau dirumah,terus ngomong-ngomong kalau sama pacarmu kok km ngerasa salah sih mbak?”

    “sebenernya sih itu salahku karena aku gak mau diajak ML sama dia,tapi aku belum siap…walaupun…” jawab Winda
    “walaupun apa mbak?” tanyaku kepo, hehehe

    “walaupun pingin banget buat gituan,eh sorry jadi cerita aneh2 gini…udah deh aku ngantuk mau nyusul nenek tidur” jawabnya

    Akhirnya dia masuk kamar nenekku dan nyusul nenekku buat tidur memang dia tidur sama nenek biasanya, mungkin dia capek perjalanan tadi. Tapi aku sendiri masih belum ngantuk jadi kuterusin nonton TV. Sambil kubuka hasil rekaman tadi ngintip Winda mandi,ternyata body.nya menggiurkan banget. Pantes aja mantannya pingin banget buat ngentot sama dia, gini aja aku udah pingin banget buat coli.

    Sambil mikirin kata-kata si Winda tadi pingin ngentot kenapa yaa. Sejam kemudian aku baru berasa ngantuk akhirnya aku masuk kamar buat tidur. Pagi harinya aku bangun tapi udah agak siang sekitar jam 9 dan keadaan rumah sepi kulihat kedapur gak ada orang kebelakang rumah gak ada tapi di meja makan ada masakan. Akhirnya aku ke ruang tengah buat nonton TV tapi sebelum TV aku nyalain terdengar seperti suara desahan dari kamar nenekku. Ku intip akhirnya,pelan pelan kudekati pintu kamar nenekku dan kubuka. Ternyata kakakku Winda lagi masturbasi dan bajunya dan BH sudah keangkat ngeremesin toketnya sedangkan satunya lagi mainin itilnya. Gak lama kemudian aku balik lagi keluar dan kututup pintunya juga sambil pura-pura cari-cari orang rumah.

    “mbak…mbak…nekkk…pada dimana sih?” teriakku

    “apasih?? Aku dikamar kok, nenek lagi arisan koperasi sambil lanjut ke kota ada acara nikahan tetangga yang acaranya di kota” jawab kakakku sambil keluar dari kamar

    “oalah…pantes sepi amat ni rumah” kataku

    “Itu kalau mau mau sarapan udah disiapin sama nenek tadi” kata kakakku

    “Beres mbak..masih belum laper kok” kataku

    Akhirnya nonton TV berdua aku sama kakakku itu, sambil kutanya-tanya lagi yang masalah semalem.

    “Mbak pingin ngentot yaa? Semalem waktu cerita katanya pingin” tanyaku dengan penuh keberanian

    “Eh kamu kok tanyanya gitu sih tiba-tiba? Kamu aneh-aneh aja sih” jawabnya

    “Udah deh mbak jangan boong, tadi aku juga liat kamu lagi masturbasi” kataku sambil mendekatkan dudukku di dekat dia

    “Jadi kamu tadi ngintip aku yaa?” jawabnya sambil mukanya memerah

    Langsung setelah jawaban itu kusergap dan kucium dia,lumatan bibirnya sungguh menawan. Mmhhhh mmmhhh….desahan yang keluar dari bibirnya.

    “Sudahlah mbak, aku siap buat muasin kamu… aku mau kok ngentot sama kamu” kataku sambil ciuman sama dia

    “iyaa ngga, ajari aku yaa puasin akuu.. mmhhhh… mmmhhhhhh” itu jawaban yang keluar dari mulutnya

    Langsung lebih semangatlah aku, kuciumi dia sambil tanganku ngeremesin toketnya yang montok. Kuciumi dia mulai kening,pipi,bibir,dan lehernya.

    Akhirnya kuajak dia pindah kekamarku, biar lebih aman sebelumnya kukunci pintu rumah biar nanti aman tidak ada orang yang masuk. Langsung aja setelah dikamar kuciumi kulucuti juga bajunya sekarang tanganku juga mulai ngobel memeknya.

    Aacchhhh aaacchhhhh….ouuggghhhhhh desahanya semakin keras.

    Aku melepaskan BH dan celana dalam dan dilanjut menjilati memeknya.

    Aacchhh…oouugghhhh…ouuugghhhhh.

    Kami melakukan kegiatan itu kira-kira 1/2 jam. Lama juga. Pokoknya aku melakukannya dengan sangat pelan, biar dia juga lebih menikmati.

    “Mbak…aku masukin yaa??” kataku

    “iyaa cepet masukin tapi…pelan-pelan yaa? Mbak masih perawan” kata Mbak Winda

    “Wuah… Yakin kamu mbak kasih perawanmu buat aku?” tanyaku

    “iyaa cepet gih masukin… aku udah gak tahan… achhhh… acchhhh” jawabnya sambil mendesah karena tanganku ngobel-ngobel memeknya

    Akhirnya kukangkangin pahanya dan pelan-pelan kumasukin kepala kontolku ke memeknya. Pelan-pelan dan sedikit-sedikit kutekan kepala penisku, terus dan terus….

    “Ahh…. sakit ngga….” kata Mbak Winda.

    Akhirnya blesss… dan masuklah semua batang kemaluanku diiringi sedikit teriakan kecil Mbak Winda…aaacchhhhhhhhhhhhhhhhhh…. disaat itu kuliat Mbak Winda meneteskan sedikit air matanya.

    Kubiarkan kontolku nancep sebentar didalem memeknya sebelum ku pompa karena kasian pada kakakku yang perawannya pecah dan kulihat memang darahnya mengalir di memek juga batang kontolku.

    “Tenang mbak,aku akan puasin kamu… ini mungkin sedikit sakit tapi juga bakal enak juga akhirnya” kataku
    “iyaa adekku Angga… ayoooo sayang sodok aku sekarang…puasin aku” kata dia

    Langsung aja kupompa kontolku… slebbbb…. sllebbbb… sslleeebbbb… kupompa dengan sekuat tenaga. Selain itu toketnya aku remas jilati biar dia tambah terangsang.

    15 menit kemudian dia orgasme. “aacchhhhh aku keluar Angga sayang” kata Winda
    Sambil menunggu dia kembali lagi tenaganya kusuruh dia ngulum kontolku. Dia ternyata sangat jago ngulum kontol dikeluar masukin sampai di deepthroat juga ni kontol. Ternyata dia jago karena dia memang hanya sebatas blowjob kalau sama mantannya dulu. 5 menit di blowjob aku udah gak sabar aku suruh Mbak Winda nungging,dan kujilati sebentar memeknya biar basah dan kumasukkan lagi kontolku. Langsung tancap gas kupompa kontolku…sambil kuremas-remas toket yang selalu jadi idamanku ini. Memek kakakku bener-bener enak banget rapet bangettttt…..

     

    Gak lama ni kontol udah kerasa mau muntah aja. Dan kulihat sepertinya kakakku ini juga mau orgasme lagi. “Tahan ya Mbak, aku juga udah mau keluar”, kataku. Kira-kira setelah menyetubuhinya sekitar 15 menit. Lama-lama si Winda sudah tidak tahan, aku juga sudah tidak tahan. Spermaku sudah siap menembak. Akhirnya aku dan Winda sama-sama sampai klimaksnya. Tapi pas dia orgasme langsung kutarik batang kontolku dan kukeluarin spremaku di punggungnya. Aku langsung dekap tubuhnya, kucium bibirnya, sambil kuucap terimakasihku ke dia.

    “Terima kasih sayang, aku puas ngentot sama kamu” kataku dengan berani ku panggil sayang

    “Iya sama-sama sayang, makasih juga sudah ngajari dan muasin aku…kapan-kapan lagi yaa!” jawabnya

    Dengan semangat ku jawab “Beres mbakku Sayang, ayo udah beres-beres nanti keburu kalau ada nenek dateng”
    Kami pun bebersih bersamaan dan kami mandi bersama. Dikamar mandi nafsuku naik lagi jadi kuentot lagi kakakku dan kami pun orgasme bebarengan lagi. Dan langsung lanjut mandi atau saling mandiin tepatnya.

    Setelah mandi kami sarapan bareng padahal jam sebenernya udah nunjukkin sekitar jam 1. Dan gak lama kemudian nenek dateng. Kami pura-pura gak terjadi apa-apa,selama di rumah nenek aku sering quick Sex dengan kakakku curi-curi kesempatan dari nenekku. Hubungan itu sering berlanjut sampai sekarang dan entah tak tau kapan akan berakhir walaupun aku sekarang sudah punya pacar.

     

  • cerita ngewek di kampus saat ospek

    cerita ngewek di kampus saat ospek


    19932 views

    Seperti yang terjadi pada setiap perguruan tinggi, di universitasku setiap tahunnya terdapat mahasiswa baru dan sudah menjadi tradisi kami bahwa akan ada acara penggojlokan (pemloncoan) sebagai alat untuk para mahasiswa baru agar dapat bersosialisasi dengan mahasiswa lainnya dan untuk pengakraban.

    Kebetulan aku menjadi anggota panitia sekaligus koordinator bidang perlengkapan. Acara pemloncoan berlangsung selama 2 minggu, satu minggu berada di lingkungan kampus dan berikutnya selama 4 hari 3 malam berada di luar kampus tepatnya di tempat perkemahan, kami biasa menyebutnya malam pengakraban (makrab).

    Makrab kali ini benar-benar menyenangkan karena banyak mahasiswi baru cewek yang cantik-cantik. Maklum karena semua fakultas makrabnya dilebur menjadi satu sehingga fakultas-fakultas dengan mayoritas cewek seperti program sekretaris dan bisnis juga psikologi ikut jadi satu bagian.

    Singkatnya aku sudah mengincar setidaknya 5 cewek yang menurutku paling menarik diantara semua mahasiswa baru. Salah satu dari cewek tersebut adalah Leony, angkatan 2003 fakultas sekretary. Wajahnya putih bersih dan kulitnya mulus putih, bahenol abis deh pokoknya. Makrab mengambil tempat di sebuah bumi perkemahan di dekat lereng gunung, dan karena saat itu acara makrab kami sedikit lebih cepat daripada acara-acara serupa milik universitas lain maka saat kami datang ke tempat makrab, tempat itu sangat sepi dan nampaknya hanya kami saja yang menggunakan tempat itu sekalipun kadang tampak beberapa anak pramuka SMP di beberapa spot tertentu tapi jumlahnyapun sedikit.

     

    Bagian utara adalah sebuah gunung dengan hutan yang sangat lebat dan sebelah timur merupakan lereng yang didasarnya terdapat sungai yang hebatnya sungai itu masih bersih, mungkin karena tidak adanya pemukiman penduduk didekat tempat ini. Pemukiman penduduk terdekat kurang lebih satu kilometer selatan dari tempat kami makrab.

    Malamnya setelah semua tenda telah berdiri, kami para panitia dan koordinator berkumpul untuk technical meeting dengan ketua koordinator dan setelah itu dilanjutkan dengan makan malam. Karena aku koordinator perlengkapan yang notabene punya banyak anak buah maka pekerjaanku sangatlah santai, aku sering meluangkan waktu untuk berjalan dari satu tenda ke tenda yang lain hanya untuk mengecek siapa tahu ada gadis cantik. Dan benar saja tidak sampai satu jam aku berkeliling, aku sudah bertemu dengan seorang gadis cantik bernama Amanda, anak psikologi. Kami mengobrol sebentar sambil berbasa basi aku goda-goda dia sedikit. Entah karena aku panitia dan dia junior atau karena hal lain, nampaknya dia enjoy saja aku godain.

    Jam 10 malam sudah, saat untuk melakukan pembagian tugas malam, di tiap tenda dipilih seorang ketua regu untuk mengambil tugas yang akan dikerjakan dan harus dikumpulkan pada pagi harinya. Malam itu semua sibuk mengerjakan tugas masing-masing. Saat itu aku sedang jalan-jalan menyusuri sungai yang juga merupakan tempat kami mengambil air bersih. Samar-samar kudengar langkah beberapa orang mendekat, iseng-iseng aku bersembunyi untuk mengagetkan mereka. Ternyata itu adalah sekelompok anak SMU dan dilihat lebih lanjut sepertinya mereka anak kelas 3 . Sementara itu dari sisi lain sungai dibalik bebatuan muncul 2 orang gadis peserta makrab. Aku mengenal salah satunya, yup dia adalah Leony, salah satu idola angkatan 2003.

    Urung niatku untung mengagetkan mereka saat aku melihat ketiga anak SMP tersebut mendekati Leony dan temannya, yang akhir-akhir ini baru kuketahui namanya adalah Ratna. Dengan cepat anak SMU yang bertubuh jangkung segera mendekap Ratna sementara dua yang lain yang berambut cepak dan yang berbadan kurus segera mendekap Leony.

    Apa-apaan ini? Mau apa kalian? seru Leony keras. Lepaskan! Kalo nggak gua teriak. Ratna tak mau kalah meneriaki mereka. Dengan cepat si jangkung membungkam mulut Ratna dengan kain setangan leher pramuka nya sementara Leony ditindih tangan dan kakinya oleh kedua anak yang lain. Maaf mbak, tapi kita-kita sudah gak tahan. Mbaknya tadi pas mandi bodynya keren banget sih. kata seorang anak yang berambut cepak. Ternyata mereka sudah lama mengintip Leony dan Ratna mandi. Ugh . Ratna berusaha untuk melepaskan diri namun sia-sia karena walaupun si jangkung yang mendekapnya tidaklah gede-gede amat namun dia tetap cowok yang bertenaga lebih dari cewek.

     

    Aku tidak begitu jelas mendengar apa yang mereka bicarakan karena mataku terfokus pada pemandangan luar biasa dimana Ratna dengan liarnya dugumuli oleh si jangkung dan akhirnya lepas juga kausnya dan juga celana pendeknya. Sementara Leony sudah tanggal celana pendeknya. Tak sampai beberapa menit kedua dara cantik ini sudah bugil. Kupikir mereka akan segera memperkosa kedua gadis ini namun pemikiranku benar-benar salah. Sementara si jangkung menindih Ratna dan si cepak menindih Leony, si kurus yang akhirnya kutahu bernama Bambang hanya menduduki kaki Leony dan melakukan mansturbasi sambil meremas-remas bagian tubuh Leony. Hal yang sama dilakukan oleh kedua temannya.

    Sialan! Apa-apaan iani ? pikirku. Aku segera keluar dari persembunyianku dan membuat semua orang itu kaget. Hah ampun mas. kata si Bambang. Mereka ketakutan karena aku muncul sambil membawa parang terhunus. Parang itu sengaja aku gunakan terus untuk berjaga-jaga dan membabat ilalang dan nampaknya dapat menciutkan nyali ketiga orang bocah ini. Kak panitia, tolong saya. isak Ratna. Leony pun ikut menimpali, Mereka mau memperkosa kita kak, tolong rintihnya sambil kedinginan.

    Ampun kak. pinta si jangkung yang ternyata bernama Rudi. Sesaat aku memandang tubuh kedua gadis ini. Jujur saja nafsuku saat itu sudah diujung ubun-ubun. Kalian goblok yah? bentakku kepada ketiga anak SMP itu. Ngapain ngerjain cewek kalo cuman buat onani? Dasar goblok! bentakku lagi. Mereka bertiga kaget melihat reaksiku dan Leony dan Ratna lebih kaget lagi.

     

    Aku segera menyingkirkan Bambang dari kaki Leony dan menyuruhnya membantu Rudi memegangi Ratna. Sana loe! Ini cewek dah lama gua taksir, enak aja lo maen sembarangan. seruku sambil menduduki paha Leony yang putih mulus itu. Kak kakak gimana sih? Kenapa nggak bantuin kita? isak Leony. Lah ini juga dah aku bantuin non. kataku sambil tersenyum.

    Segera kusuruh ketiga bocah itu untuk melapas baju mereka semua, Nanggung kalau cuman onani, ga ada seninya dodol. Mending perkosa sekalian. seruku pada mereka. Tapi mas, ntar kalau ketahuan bisa bahaya. si cepak menjawab takut-takut. Gua ada kamera digital, kalau dah selesai tinggal jepret aja, dijamin ga bakalan ngadu mereka. kataku sambil meyeringai. Seolah tak percaya dengan apa yang baru saja kuucapkan, Leony dan Ratna berteriak namun tak lama karena dengan setangan leher pramuka segera kami bungkam mulut kedua dara ini.

    Montok juga kamu Ny. kataku pelan sambil meremas buah dadanya. Sementara kami semua sudah telanjang bulat segera mulai mengerjai kedua cewek ini. Aku gesek-gesekkan penisku kemulut vagina Leony dan dia tak dapat berkata apa-apa karena mulutnya tersumpal dan hanya dapat bergumam tak jelas. Segera kulesakkan batang kejantananku kedalam liang senggamanya. Sesaat Leony mendongak tersentak dan matanya membelalak menahan rasa sakit. Gila, gede amat punya mas. celetuk si cepak yang bernama Bimo itu. Heh .kalian ngapain diem aja? Tuh ada cewek satu lagi nganggur. kataku. Dalam hati bangga juga aku dibilang berpenis gede karena aku melihat kemaluan ketiga anak SMP itu jelas jauh dibawahku. Setidaknya hanya separuh milikku panjang dan besarnya. Oh enak nih .kenyal. Aku masukin ya mbak. kata Bambang kepada Ratna sambil membimbing penisnya kearah vagina Ratna yang bersih dari rambut itu, nampaknya dia rajin mencukurnya. Dan bleshhhh .dalam beberapa hunjaman saja penis milik si Bambang segera masuk semuanya kedalam vagina Ratna.

    Hmmm ..achhh .ohhhh. racau Bambang sambil menggenjot Ratna. Darah keperawananpun mengalir deras keluar dari liang kewanitaan Ratna seiring dengan pompaan penis Bambang. Kulihat mereka masih canggung saat melakukan persenggamaan dengan gadis.

    Kulihat Leony sudah lemas karena sudah kuhajar liang senggamanya selama duapuluh menitan. Darah segar perawan dan cairan-cairan kewanitaannya keluar luber bersama dengan cairan dari penisku. Memekmu dihajar darimanapun juga nikmat Ny. kataku. Air mata mulai membasahi pipinya. Kubalik posisinya menjadi doggy style dan semakin kupercepat dorongan penisku masuk ke liang vaginanya yang putih bersih itu. Vagina yang tadinya putih berubah kemerahan karena gesekan dan cipratan darah perawannya tadi. Clok .clok clok. suara benturan penisku dan bibir vaginanya semakin jelas terdengar dan menarik perhatian ketiga anak yang lain. Mereka nampak terpana melihat permainan panasku dengan Leony yang selalu berubah-ubah gaya. Kulihat Bambang sudah tidak kuat menahan dirinya lagi dan sambil memeluk erat Ratna, dia mempercepat sodokannya. Mbak aku keluar nih. serunya dan segera dia cabut batang kemaluannya dan disodorkan penis itu keperut Ratna. Crottt ctottt! entah berapa semburan sperma yang keluar dari ujung penis itu menumpahi perut dan pusar Ratna.

    Melihat temannya selesai, Rudi segera ambil posisi. Kali ini dia membalik tubuh Ratna, nampaknya dia terinspirasi pada gaya permainan doggy style milikku. Sementara batang kemaluankupun bergetar dahsyat. Segera kupercepat goyangan pinggulku dan kubuka sumpalan mulut Leony dan kucium dia dalam-dalam sambil memperdalam sodokan penisku didalam vaginanya dan selang beberapa detik keluarlah cairan cinta itu memenuhi seluruh ruangan liang senggamanya. Crott ..croottttt crottt .crottt! keluar dengan sangat banyak, bahkan jauh lebih banyak daripada saat aku berhubungan dengan pacarku.

    Selama satu setengah jam kami berempat bergantian mengerjai kedua gadis ini. Ratna aku kerjai dengan posisi berdiri dengan menyandarkan tubuhnya pada batu kali. Kami bercinta didalam air sungai yang mengalir. Ini kali pertamanya aku bercinta didalam air. Benar-benar sensasi yang luar biasa. Rasa dingin diluar namun hangat membara didalam. Sementara aku mengerjai Ratna, Leony diperkosa tiga orang sekaligus. Baik vagina, mulut dan anusnya di masuki penis secara bersamaan dan mereka mengocok disaat bersamaan pula. Benar-benar pemandangan yang sangat hebat batinku. Tuh, temenmu di entotin tiga bocah langsung. kataku ke Ratna yang menggigil kedinginan dan terisak-isak.

    Neh kontol gue. Emut dong! perintahku kepada Ratna secara paksa. Aku paksa dia mengoral penisku yang menegang dari dalam air. Kontan dia gelagapan dan tersedak. Lalu kubalik tubuhnya dan kuperkosa dia dari belakang. Sepuluh menit kemudian aku merasa akan segera mencapai klimaks. Aku dah mau keluar nih. Keluarin di muka lo yah. kataku. Kupercepat goyanganku dan kucabut dengan cepat lalu kuarahkan kewajah Ratna dan muncratlah cairan putih kental itu membanjiri wajahnya yang manis itu. Sementara itu kulihat ketiga bocah SMP itu sudah selesai mengerjai Leony. Tubuh dara cantik itu belepotan sperma dimana-mana. Segera kuambil kamera digital dan aku portet tubuh telanjang mereka. Sebagai pengaman agar mereka tidak lapor kesiapapun mengenai hal ini atau bakal disebarkan semua foto-foto ini.

    Begitulah malam pertama makrabku yang indah. Malam itu aku mendapat tubuh 2 dara cantik dari fakultas sekretary. Benar-benar malam yang indah.

    Malam kedua makrab diisi dengan acara mencari jejak. Tentu saja tidak serius-serius amat karena ini hanya untuk melatih kekompakan dan meningkatkan rasa persaudaraan saja antar peserta. Rutenya tidak jauh-jauh banget hanya saja banyak jalan memutar sehingga terasa jauh.

    Singkatnya aku bertugas sebagai pengawas saja jika-jika ada anggota yang pingsan atau mendapat masalah di jalan. Aku bersama seorang temanku bernama Joni, nama lengkapnya Joni Everrat. Namanya sangat aneh menurutku, tapi maklum orang tuanya yang pria adalah keturunan orang Amerika Latin sehingga menamai anaknyapun tidak mau nama yang normal-normal saja.

     

    Aku dan Joni menggunakan rute kecil yang berada dekat dengan rute makrab. Dingin nih Di. Bosen gua kalau sepi gini. kata Joni padaku. Beh! Kita tugas bro, lo mau ntar dimaki-maki sama si Johan ketua panitia kalau sampai ada yang ilang? sahutku pelan. Iye seh, tapi bosen abis neh bro. By the way ntar kalau ada yang nyasar kita kerjain yuk biar seru. Biar tambah nyasar hahahahaha tawanya, syukur lah dalam hatiku berkata akhirnya dia sudah ga menggerutu lagi bosan aku mendengarnya.

    Sekitar satu jam setelah kami nongkrong di tempat persembunyian, ada suara beberapa anak mendekat. Ada 6 orang anak disitu, setelah habis makrab aku baru tahu nama mereka adalah: Antony, Silvia, Rasti, Iman, Nugroho dan Ashanti. Gie! panggil Antony kepada Nugroho yang panggilannya Nugie. Apaan? sahut Nugie. Gila neh. Lo yakin ini bener jalannya? sahut Antony lagi. Nugie menyahut, Lah, mana gua tahu. Gua khan bukan panitia. Lagian semua tandanya bikin kepala gua puyeng nih. Mana didepan ada perempatan pula. ****** nih panitia-panitia, ngerjain kita semua nih. umpatnya berkepanjangan.

    Silvia menengahi, Sudah-sudah! Ga ada gunanya kalian semua nih cowok-cowok. Gini aja, kita bagi regu menjadi 3. Trus kita lihat jalan didepan buntu atau kagak, kalau sudah yakin dengan jalan didepan baru kita balik ke perempatan ini lagi. Gimana?
    Iman yang dari tadi diam menjawab, Masuk akal nih, gua setuju. Lah, ntar yang cewek-cewek gimana dong? Aku ogah jalan sendirian ma cewek, ntar kalau kenapa-kenapa bisa gawat. kata Rasti. Silvia menyahut, OK! Tiap regu terdiri dari satu cewek dan satu cowok. Lalu merekapun berpencar. Anthony bersama dengan Ashanti, Silvia bersama Nugie, Iman bersama Rasti.

    Dilihat dari arah yang mereka tuju, sudah jelas bagi aku dan Joni bahwa arah yang dituju Nugroho dan Silvia adalah jalan menuju kepuncak gunung. Jelas mereka tak akan sampai di tempat perkemahan sebelum sadar dan itu bakalan lama karena lingkungan jalannya benar-benar menipu mata para pendaki pemula. Sementara itu Antony dan Ashanti menempuh jalan yang nantinya akan buntu karena dibatasi sungai, yang jalannya hanya bisa dilalui oleh orang-orang yang bisa berenang saja dan aku yakin Ashanti tak akan pernah mau. Hanya Iman dan Rasti yang berhasil memilih jalan.

    Bro! Lo denger gak tadi mereka ngomong apa? kata Joni. Emang napa seh? sahutku. Belagu tuh anak-anak kemaren sore. serunya dan kulihat dia benar-benar jengkel dengan ucapan si Nugie. Aku tersenyum padanya, Lah terus mau ngapain lagi? Kita khan panitia, masak mau marahin mereka. Ga pada tempatnya. sahutku lagi.

    Joni lalu mengikuti Anthony dan Ashanti pergi. Hoi, mau kemana loe? tanyaku pada Joni. Udah ikut aja bro. Gua pengin tahu ngapain mereka pilih jalan buntu ini, jelas-jelas arahnya melenceng keluar dari arah perkemahan. ujarnya. benar juga batinku, ngapain mereka mau pilih jalan itu.

    Tak lama kemudian aku dan Joni sudah mencapai jalan buntu yang dilewati sungai itu. Alirannya tidak deras-deras banget tapi kedalamnya hampir satu setengah meter, mau tak mau buat orang jeri juga bagi mereka yang tidak bisa berenang.

    Ssssttt! Tuh denger! Joni berbisik sambil membuat tanda diam dimulutnya. Dan benar saja aku melihat Anthony dan Ashanti sedang bercumbu di atas sebuah batu kali yang lebar dan lempeng. Pas bener nyari tempatnya? Gua berani tebak, mereka pasti sudah melihat kalau ada tempat asik disini pas waktu santai tadi siang. Gila tuh cewek, pahanya mulus coi, toketnya juga gede putih dan mulus. kata Joni sambil menelan ludahnya. Bah! Sialan, malam-malam gini malah bermesum ria. gerutuku. Kerjain yuk? kata Joni sambil senyum-senyum. Ntar! Kita liat dulu aja mereka mau ngapain. sahutku.

    Sssshhh achhh sshhh .achhhhh!!! Ton, kalau temen-temen liat gimana? Ashanti mencoba bicara ditengah gelora nafsunya. Anthony sambil terus menciumi lehernya dan meremas buah dada gadis cantik itu hanya tersenyum dan mempreteli seluruh pakaian gadis itu dan pakaiannya sendiri. Hanya dalam beberapa detik mereka sudah bugil dan permainan bertambah panas karena Anthony dengan batang kemaluan yang sudah membesar itu segera melakukan penetrasi ke liang vagina Ashanti.

    Say, aku masukin yah. kata Anthony pada gadis itu yang ternyata merupakan kekasihnya sejak di SMU kelas 3. Iya deh honey. Kita main cepetan yah, takut kalau ada yang tahu. ucap Ashanti disela-sela desahan kenikmatannya.

    Achhh terus ..te .te .rus .sayang .honey .ochhhh h! racau Ashanti saat penis Anthony menerobos liang senggamanya dan mulai digoyangkan pinggulnya naik turun. Laksana lokomotif, dia menggenjot tubuh kekasihnya itu diatas batu kali. Ahhh ..ohhh ahhhhh . racau Ashanti semakin menjadi-jadi saat kekasihnya semakin liar menyodokkan penisnya kedalam vaginanya. Enak yah say? canda Anthony ditengah-tengah goyangannya yang semakin cepat. Achhhh ..ahhhhhhhhhhhhhhh!!! racauan Ashanti berubah menjadi sebuah suara yang cukup keras. Nampaknya dia sudah mencapai orgasmenya yang pertama. Sementara itu Anthoni hanya senyum-senyum saja, dilanjutkannya penetrasinya dengan sodokan-sodokan yang mulai melemah lalu medadak menjadi liar kembali. Penis berukuran kurang lebih 13-15 sentimeter itu benar-benar membuat lubang vagina Ashanti yang putih bersih itu menjadi kemerah merahan karena efek gesekan yang sangat cepat. Clap, clap, clap, clap. bunyi saat penis milik Anthony menjarah liang kewanitaan Ashanti kekasihnya itu. Tak lama kemudian baru dia mencabut batang kejantanannya dan mengocoknya diatas perut kekasihnya dan, Crottt, crot, crottt! keluarlah semua spermanya dan membasahi perut gadis putih itu bahkan pusarnyapun tertutup cairan mani yang putih kental itu.

    Say, kamu bener-bener lihai bercinta sekarang. kata Anthony sambil mengecup bibir gadisnya. Ashanti yang lemas hanya dapat tersenyum.

    Srakkkk . suara semak-semak terinjak oleh Joni yang keluar dari persembunyian. Sepasang burung madu itupun kaget dan mencoba menutupi tubuh mereka dengan pakaian, tapi apa daya karena Joni sudah merengut pakaian mereka yang berjatuhan di bebatuan dan melemparkannya kesungai kecuali pakaian dalam sang cewek dan beberapa barang seperti dompet dan handphone. Hilang sudah semua pakaian mereka berdua.

    Mau apa lo? bentak Anthony lantang menutupi kagetnya dan juga perasaan takut. Bah! Bocah kemaren sore belagu. Mau cari mati lo hah? Malam-malam makrab malah dibuat *******. seru Joni lebih lantang. Ton Ashanti bersembunyi dibalik tubuh kekasihnya guna menutupi tubuhnya yang telanjang bulat dan dia terisak-isak.

    Akupun keluar dari semak-semak, Heh kalian! Apa kalian gak tau aturan disini? seruku pada sepasang kekasih itu. Disini kalau mau bersenang-senang kagak boleh sendirian. tambahku.

    Anthony menjauh dan berusaha untuk mecari alat buat menutupi tubuhnya. Mau apa kalian? serunya kali ini tidak selantang yang tadi. Aku tersenyum sambil melihat body Ashanti yang telanjang itu, Gua cuman mau cewek lo aja buat malam ini. tandasku padanya. Hah! Apaaaa? Anthony kaget namun aku yakin dia sudah memikirkan kemungkinan itu sebelumnya. Kalau kagak mau juga ga apa apa seh. Cuman cewek lo bakalan jadi bulan-bulanan disini karena dia bakalan pulang telanjang bulat karena celana dalam dan bra nya bakalan kami buang kesungai. seruku.

    Anthony berusaha menyerang Joni dengan harapan dapat merebut barang kekasihnya namun aku juga sigap dengan segera aku memukul tengkuk pria itu hingga dia pingsan. Lalu kami mengikat Anthony di sebuah pohon besar agak jauh dari tempat kami bertemu mereka sambil membawa paksa Ashanti yang bugil dan kedinginan.

    Nah. Kalau disini ntar kalau temen-temen lo pada balik nyariin gak bakalan ada yang nemuin lo. kataku pada Ashanti Lo kalau kedinginan ngapain pakai acara ******* malem-malem dihutan? lanjutku sambil mencium paksa bibirnya. Luar biasa lembut, gadis cantik ini benar-benar membuatku terpesona. Ampun kak. Saya minta pakaian dalamnya lagi, saya nggak akan bilang siapa-siapa soal ini asal saya dilepasin kak. katanya padaku sambil berlinangan air mata. Beh! Emang lo masih perawan apa? Anggap aja ngelayanin kami sama aja ngelayanin cowok lo. seru Joni sambil mempreteli bajunya. Menurut undian aku lebih dulu yang dapat jatah.

    Segera setelah aku melepaskan bajuku, aku segera menindih cewek bahenol ini dan mulai melakukan penetrasi. Sambil kuciumi payudara dan leher juga bibirnya aku berkata, Gua jamin, pelayanan gua lebih memuaskan daripada cowokmu itu.

    Jangan kak. Ampun! Kak janga ..an ..achhhhhh .achhhhhhhhh !!! ucapannya berubah menjadi rintihan saat penisku menerobos liang kemaluannya. Tak butuh waktu lama hingga seluruh penisku yang panjangnya 18 senti itu masuk semua kedalam vagina Ashanti. Sekarang enak khan? Penis gua lebih gedean khan dari punya cowok lo? kataku pelan sambil memulai sodokan-sodokan penisku kearah dalam vaginanya.

    Ach, ohhh, achhh, ochhh, jangan kak! Ahhhh ohhh Ashanti mulai tak terkendali, nampaknya walaupun dia ingin menolak tetapi dia tetap merasakan kenikmatannya. Tak sampai sepuluh menit dia mencapai orgasme keduanya malam ini. Achhhh, kak ahhhh! serunya diiringi tubuhnya yang mengejang kuat dan tanpa sadar tangannya menekan bahuku. Heheh! Ternyata menikmati juga yah? ejek Joni pada Ashanti.

    Lalu kupercepat gerakan sodokanku, kali ini kurubah gaya menjadi woman on top sehingga dia bisa bergoyang lebih bebas dan dengan gaya ini dia orgasme untuk ketiga kalinya. Cairan cinta dari vaginanya bercampur dengan cairan pelumas yang keluar dari batang kejantananku menimbulkan bunyi-bunyian yang berkesan becek saat kedua kelamin kami berbenturan.

    Kemudian kuakhiri petualanganku malam ini dengan doggy style dimana di kuposisikan menghadap kekasihnya yang masih pingsan dan kusuruh dia mendesah seliar mungkin. Tak lama kemudian aku merasakan spermaku akan keluar. Say, aku keluarin didalam yah. kataku padanya namun tak ada jawaban. Crot, crot, crot, crottt! spermaku menyemprot liang vaginanya setidaknya 4 sampai 5 kali.

    Selang 2 menitan Ashanti langsung disuruh jongkok oleh Joni dan dimembersihkan vagina cewek itu dengan air sungai. Bah! Tercemar sudah. serunya sambil terkekeh. Lalu tanpa aba-aba lagi dia langsung menyodokkan penisnya kedalam vagina Ashanti yang sudah lemas itu dengan posisi doggy style.

    Ach, ach, ohhh! Ashanti kembali meracau tidak karuan. Saat itu kekasihnya bangun dari pingsan dan melihat betapa liarnya Joni menggenjot kekasihnya. Nih liat! Cewekmu aduhai bener bodynya, goyangannya juga mantap. kata Joni pada Anthony sambil memperliar sodokannya sehingga kadang membuat Ashanti mengaduh kesakitan. Ahhh, yes, ohhh .yessss! kali ini giliran Joni yang meracau tak karuan. Aku segera ambil posisi, Kalau kamu mau pakaian dalam kamu balik, kamu harus mengoral penis gua dulu. Nih! kataku sambil menyodorkan batang kejantananku yang mengeras lagi kedepan bibir mungilnya yang menurutku sangat seksi.

    Dia lalu membuka bibirnya perlahan dan mulai memasukkan penisku kedalam mulutnya. Ahhh, gitu dong dari tadi. seruku sambil memaju mundurkan pinggangku mengerjai mulut Ashanti gadis manis ini. Tak lama kemudian Joni mempercepat goyangannya dan langsung meremas buah dada Ashanti dengan keras hingga gadis ini mengaduh keras. Ahhh gua keluar nih. Memek lo emang legit abis Shan, kalau jadi lonte dah bakalan laris lo. Joni berkata sambil melakukan sodokan pamungkasnya yang mendalam dan keluarlah seluruh cairan haram itu didalam vagina Ashanti. Gadis ini hanya bisa menutup mata namun tak lama dia terpaksa harus membuka matanya karena aku berejakulasi saat penisku dioral mulutnya. Dia mencoba melepaskan penisku namun gagal dan akhirnya harus menerima sebagian besar maniku keluar dimulutnya.

    Setelah puas, aku dan Joni berpakaian dan memberikan pakaian dalam Ashanti tapi sebelumnya aku kembali menggunakan kamera digitalku untuk memotret mereka berdua dalam kondisi telanjang bulat. Kalau lo pada buka mulut, foto-foto ini bakalan gua kirimin kesemua relasi kalian and tentu saja keseluruh kampus dan keluarga kalian. Ngerti! bentakku. Udah! Ayo pergi! Dah puas gua ngentotin tuh anak baru. kata Joni sambil ngeloyor pergi. Sebelum aku pergi aku berbisik pada Ashanti, Lain kali kalau kamu butuh kepuasan, cari saja aku. OK? bisikku.

    Kejadian itu merupakan kejadian yang sangat berkesan, karena aku bisa memperoleh tubuh cewek angkatan baru ketigaku. Lalu aku dan Joni segera pergi kearah Silvia dan Nugie pergi. Ceritanya cukup seru juga.

    Setelah menempuh setidaknya satu jam perjalanan, aku dan Joni memutuskan untuk berhenti mencari Silvia dan Nugie. Tapi benar-benar takdir, aku dan Joni mendengar ada suara ribut-ribut didekat kami dan kamipun mencari arah suara tersebut. Hmmm, tuh mereka berdua. Malah perang sendiri. kata Joni padaku.

    Anak baru emang ga berguna semua, nyari jalan saja pakai berantem. ucapku. Kami berdua lalu mendekati kedua anak itu. Mereka kaget tapi lega dan senang melihat ada panitia didekat mereka. Untung ada kakak panitia. kata Nugie pada Silvia. Silvia ini tidak begitu cantik paras wajahnya, namun dia sangat modis cara berpakaiannya dan body nya itu yang aduhai, jauh lebih seksi daripada Ashanti yang padahal menurutku sudah cukup seksi.

    Kami berencara untuk turun gunung namun ternyata jalan yang kami lalui tadi tertutup kabut. Bener-bener deh! Tadi waktu diatas ga ada kabutnya kok dibawah sekarang ada. gerutu Joni lagi. Aneh juga, baru kali ini ada yang beginian. Kalian juga sih pake acara naik gunung, dah tahu perkemahannya di kaki gunung. kataku kesal. Seolah mengakui kesalahan mereka, kedua bocah itu diam. Akhirnya kami berempat harus menunggu sampai kabut hilang karena jalan yang dilalui ada beberapa bagian yang curam dan jarak pandang hanya 2 meter didepan.

    Dah! Kita diam disini dulu saja sampai kabut ilang. kataku sambil duduk disebuah potongan ranting kayu yang besar yang nampaknya jatuh dari sebuah pohon. Joni terdiam lalu angkat bicara, Jangan! Gue kayaknya masih inget ada tempat persinggahan disini, pos buat para pendaki. Kami lalu mencari pos tersebut dan ternyata Joni benar dan letaknya tidak jauh dari tempat kami berdiri tadi.

    Pos berukuran 5×5 meter yang sederhana sekali, hanya terdapat sebuah tempat tidur dari semen yang bisa digunakan buat tidur, duduk ataupun bersantai sambil menaruh bawaan. Malam semakin larut dan kabut diluar pos semakin tebal saja. Karena hanya membawa lampu senter multifungsi tanpa membawa oncor, obor atau sebagainya maka hawa dingin semakin merajalela.

    Anjing! Dingin abis disini. Mana kaga ada perapian pula. Nugie mulai menyumpah serapahi keadaan. Aku melihat Silvia mulai mendekatiku dan berbagi jaket gunung bersamaku. Maklum diantara kami berempat, akulah yang menggunakan jaket gunung paling tebal, tapi jujur saja suasana dingin sudah biasa bagiku karena aku lahir didaerah pegunungan juga. Hih! Dingin, dingin banget. Silvia kini mulai berani memeluk tanganku. Kurasakan tonjolan menyentuh lengan atas tanganku. Dada Silvia yang cukup besar, 36B setidaknya menurut tebakanku menyentuh tanganku. Disuasana sedingin ini sebuah kehangatan merupakan surga.

    Hmm! Silvia. panggilku padanya dan dia menoleh. Dia terkejut karena tanganku sudah memasuki jaket dan baju kausnya bahkan sudah melewati himpitan branya dan menyentuh buah dadanya yang montok itu. Kakak! Kakak apa-apaan sih? bentaknya padaku namun tak berpengaruh bahkan aku semakin berani mereka payudaranya kali ini menggunakan kedua tanganku. Kamu tau nggak Silv, di cuaca sedingin ini kehangatanlah yang penting. Dari pada aku mati beku mending kita bekrja sama. aku beralasan. Tanpa di komando lagi, Joni segera memegangi kedua tangan Silvia dari belakang sementara aku membuka bra nya. Kali ini dada Silvia tidak tertutupi bra lagi walaupun dia masih mengenakan jaket dan kaus. Tak hanya itu, aku langsung memelorotkan celana jeansnya dan juga celana dalamnya. Setelah tubuh bawahnya telanjang dia baru dapat berteriak. Hentikan! Kalian sudah pada gila! Apa-apaan ini? Jangan macam-macam. serunya namun tak ada gunanya. Bahkan Nugie yang dari tadi bengong jadi ikut bereaksi meremas-remas payudara Silvia. Sementara mulutku mencumbu bibirnya dengan french kiss. Nampaknya mau tak mau dia pasrah juga melihat dirinya dikerumuni tiga pria dan semuanya berebutan untuk merangsang diri mereka dengan tubuhnya yang akhirnya berbalik merangsang diri Silvia sendiri.

    Tak menunggu lama segera aku pasang posisi, Jangan khawatir Silvi, yang penting kenikmatannya kok dan kehangatan kita semua. kataku sambil membuka resleting celana jeansku dan segeralah batang kejantananku mengacung tegak seolah menantang dinginnya malam berkabut itu. Gila! Gede amat. tanpa sadar Nugroho berceletuk dan ditanggapi dingin oleh aku dan Joni.

    Blessshhh. Segeralah batang penisku itu menerobos masuk kedalam vagina Silvia. Achh, sakit mas. Silvia mulai terbata-bata. Kala itu baru kepala penisku yang bisa masuk. Kamu masih perawan yah Sil. aku tersenyum melihat dia menahan rasa sakit namun tak sanggup memberikan perlawanan. Dan dalam selang satu sampai dua menit akhirnya seluruh batang kemaluanku berhasil sukses melesak masuk kedalam liang kewanitaan Silvia.

    Ah, achhh, ahhh. Silvia mulai mengejang menahan sensasi kenikmatan dan menahan rasa perih di liang senggamanya. Ukuran vaginanya memang lebih kecil dari semua cewek yang pernah kutiduri dan ditambah ukuran penisku yang cukup lumayan itu membuat terasa sangat seret dan sulit saat akan penetrasi.

    Benar-benar situasi yang luar biasa dimana Silvia yang hanya menggunakan atasan dan diriku yang masih berpakaian lengkap ini bersenggama di sebuah ruangan yang dingin berkabut. Karena kondisi maka aku memilih doggy style sehingga tidak perlu terlalu ribet. Tiap sodokan demi sodokan dari penisku membuat kedua payudara sang dara ini berguncang hebat. Achhh, mas, ahhh, ahhhh hentikan mas achhh. racaunya ditengah goyangan mautku. Bener mau berhenti? godaku padanya sambil senyum-senyum. Sambil meremas-remas payudaranya dari belakang, aku benar-benar mencapai kepuasan yang tiada tara. Gadis bertubuh molek ini akhirnya dapat aku garap dengan seekstrim ini. Dua puluh menti kemudian aku mencapai klimaksku dan ku semprotkan seluruh cairan kemaluanku didalam vaginanya. Saking banyaknya hingga ada tetesan yang keluar.

    Setelah diriku, Joni lalu kemudian Nugroho juga melampiaskan hasrat terpendam mereka ketubuh Silvia dan sama sepertiku mereka menggunakan doggy style. Sperma-sperma yang memenuhi liang kewanitaan Silvia seolah menjadii saksi kebrutalan tiga pria dalam satu malam yang dingin. Banyak sekali pose saat Silvia disodok yang terekam kameraku. Enak yah Sil? Nyari kehangatan sambil nyari kenikmatan. kataku padanya. Kalau kamu ntar mau ******* lagi, bisa ngomong ke aku OK Sil. aku manambahi.

    Setelah kurang lebih pukul 4 pagi, kabut mulai hilang dan kami berempat berani untuk turun. Malam itu selama kurang lebih 2 sampai 3 jam kami mengerjai Silvia dari segala sisi. Setidaknya aku sudah berejakulasi dirahim, anus dan dadanya. Begitu juga dengan dua orang yang lain, bahkan Nugie lebih rakus karena dia memaksa Silvia melayaninya hingga 5 kali. Entah sudah berapa banyak sperma yang memasuki rahim Silvia waktu itu. Malam itu selain mendapatkan servis dari Ashanti, aku juga memperoleh servis dari Silvia plus keperawanannya. Rekorku sepertinya melebihi rekor Yusak temanku dalam hal memerawani cewek.

    Hari ketiga waktu sore hari tiba, banyak peserta makrab yang menyiapkan acara mereka masing-masing karena tiap-tiap regu diharuskan menampilkan sebuah atraksi hiburan yang akan digunakan pada malam api unggun. Malamnya saat acara api unggun dimulai, suasana sangat meriah dan tidak ada lagi acara bentak-bentak dari para senior. Semuanya membaur menjadi satu baik senior maupun junior. Aku, aku memilih menyendiri di salah satu tenda panitia. Terus terang aku cukup lelah dengan aktifitas pagi waktu itu dimana kelompok tugasku diberikan tugas untuk menyiapkan keperluan dan perlengkapan untuk acara api unggun.

    Saat aku mendekati salah satu tenda panitia dari bagian dokumentasi, aku mendengar ada suara orang bercakap-cakap, setidaknya ada 3 orang disana. Kudengar samar-samar dan aku mulai dapat memastikan kalau suara itu adalah suara Joni dan Anwar temanku sementara suara satu lagi adalah suara perempuan yang aku tidak kenal. Tapi itu bukan yang membuatku terkejut, karena yang membuatku sangat terkejut adalah suara-suara yang muncul dari mulut ketiga orang itu.

    Jangan kak! Saya benar-benar nggak sengaja kok. kata si cewek yang ternyata bernama Ivone. Gak sengaja gimana? Jelas-jelas kamu bawa benda ginian ditas kamu, emangnya benda seperti ini isa masuk dewe? bentak Anwar dengan logat jawanya.

    Terdengar suara tangis kecil dan sesenggukan dari sang cewek. Aku segera masuk untuk mengetahui apa yang terjadi dan kudengar dari penuturan kedua rekanku itu bahwa bocah yang bernama Ivone ini ternyata membawa minuman keras Jack Daniels dan juga beberapa linting rokok berisi ganja.

    Sinting! Kamu pikir ini tempat apaan? bentakku. Emosi juga kumelihat ada junior yang berani bertingkah jauh diambang batas seperti gadis ini. Gadis berkulit putih ini hanya bisa terdiam. Ivone adalah gadis keturunan cina, tinggi tubuhnya 165 an dan berambut panjang lurus di cat warna merah dipinggirnya.

    Saya menyesal kak. Tolong jangan dilaporin. pintanya setengah merayu walaupun tangisnya masih juga keluar. Heh, dia pake acara merayu pula. ejek Anwar pada Ivone sambil duduk yang lalu pergi keluar untuk mecari udara diluar tenda. Aku lihat tubuh Ivone cukup bagus dan wajahnya juga lumayan karena didukung kulitnya yang putih bersih. Hng! Emangnya kamu mau ngerayu kami pake cara apaan? kataku padanya sambil melirik kearah buah dadanya. Saat itu dia memakai kaus lengan pendek dengan lingkar leher cukup besar sehingga dari lingkar leher kausnya dapat terlihat dadanya saat dia merunduk.

    Nampaknya Ivone cukup tanggap akan hal tersebut dan dia segera membuka kausnya hingga terlihat payudaranya yang dibalut bra berwana krem. Kakak boleh lihat tubuh Vony tapi jangan lapor tentang rokoknya sama minumannya. Please yah kak, ntar aku bisa dikeluarin. pintanya memelas. Joni menimpali, Lo bukan cuman bakal dikeluarin tapi juga dipenjara. Kita-kita bisa saja ngomong kalau lo mau mengedarkan ganja itu di lingkungan kampus. serunya pada dara tersebut.

    Sambil meletakkan tas cangklongku aku perlahan mendekati dia, Kamu, kalau cuman bisa buka segini ga ada gunanya. Ga setimpal. Kalau mau buka semuanya! seruku padanya. Akhirnya walau dengan enggan akhirnya dia mau mencopot seluruh pakaiannya didepan kami berdua. Payudara putihnya segera menjadi pemandangan utama dan ukurannya cukup besar sekitar 36B, belum lagi pusarnya yang ditindik membuat dia semakin seksi saja.

    Wah, kalau gini baru kita-kita bisa berpikir jernih tentang masalah lo. Joni terkekeh sambil menjulurkan tangannya memegang-megang payudara Ivone. Tapi dikebaskan tangan Joni oleh tangan Ivone. Sialan! Lo mau gua laporin apa? bentak Joni tidak terima. Namun suasana saat itu terhenti saat ada seseorang yang masuk yang ternyata adalah Anwar.

    Dia terkejut dan tak dapat melepaskan pandangannya dari tubuh bugil Ivone, Gila, apa-apaan neh? Kok jadi gini? Anwar bingung. Selang beberapa detik kemudian ada panggilan dari radio komunikasi kami dari HT salah satu teman kami diluar, isinya adalah buat Joni untuk segera datang keacara api unggun karena dia kebagian tugas mengabadikan acara tersebut dengan handycam panitia. Segera kusuruh Joni keluar walalaupun enggan tapi hal tersebut agar tidak membuat kecurigaan dikubu panitia.

    Sekarang tinggal kita bertiga. kataku pelan sambil membuka celanaku dan segera terpampang penisku yang sudah lama ereksi karena melihat tubuh telanjang Ivone. Kak, jangan! Tadi khan katanya cuman mau lihat. Bukan yang lain kak. kata Ivone patah-patah karena gugup. Anwar masih bengong dari tadi baru bisa menguasai dirinya, Di! Kowe sudah edan yah? Ntar kalau yang lain kesini bisa mampus kita. katanya panik dengan logat lucunya itu. Aku hanya meringis sambil menyergap Ivone yang mencoba berontak. Kupegang kedua tangan dara tersebut sementara kedua pahanya kutekan dengan kakiku sehingga tak dapat bergerak lagi.

    Von, sekarang kamu harus buat aku senang kalau tidak aku laporin semua barang bukti ini ke temen-temen panitia yang laen. Gak enak lho dipenjara bertahun-tahun apalagi buat gadis muda kayak kamu. Dipenjara bisa jadi bulan-bulanan. kataku menakut-nakutinya dan berhasil, dia menjadi minder ketakutan akan akibat yang mungkin terjadi jika aku melaporkan semuanya.

    Kuciumi mulutnya yang tipis itu sambil kuremas-remas payudaranya yang putih mulus itu. Kujilat dan kuhisap-hisap puting susunya sehingga mengeras dan sedikit demi sedikit dia sudah mulai merasakan kenikmatan cumbuanku. Vaginanya mulai basah dan saat inilah yang kutunggu. Kuarahkan penisku kearah bibir vaginanya dan segera kudorong melewati labia minora tersebut.

    Ach, ahhh !!! rintihnya pelan saat batang kejantananku melesak kedalam vaginanya. Ahhh, nikmat sekali. kataku pelan sementara dia hanya membisu dan membuang muka kesamping. Dari saat aku memasukkan penisku hingga saat aku mulai memompa batang kemaluanku itu, aku dapat merasakan kalau dia sudah pernah berhubungan dengan pria lain. Tak ada darah dan kesulitan memasukkannya tidak sesusah saat bersama dengan gadis yang masih perawan.

    Kugenjot semakin cepat sambil kuangkat kedua pahanya dan kusandarkan di pundakku sementara dia berbaring pasrah menerima hunjaman-hunjaman penisku di liang kemaluannya. Ahhh, achh, ohhh rintihnya pelan. Selama sepuluh menit aku hajar vaginanya dengan posisi itu dan karena tempat yang sempit aku enggan berpindah posisi. Ahh, aku mau keluar nih. Keluarin mana nih? kataku padanya. Dia hanya menjawab pasrah, Terserah kakak mau dikeluarin dimana.

    Ahhh, ahhh !!! aku mengerang cukup keras sebelum aku menegang dan penisku menyemburkan cairan sperma yang cukup banyak didalam vaginanya. Crot, crott, crottt, crottt .!!! Sekarang liang vaginanya dipenuhi cairan putih kental yang akhirnya sebagian besar mengalir keluar dari dalam liang senggama Ivone melalui bibir vaginanya. Aku lalu memakai celanaku lagi dan duduk agak jauh dari Ivone.

    Kamu nggak mau nyobain nih cewek? kataku pada Anwar yang dari tadi cuman tertegun menonton permainan panasku dengan Ivone. Akhirnya dia juga ambil bagian. Dengan sigap dia copot semua pakaiannya dan langsung mengarahkan penisnya yang berwana coklat kehitaman itu kearah bibir vagina Ivone yang putih kemerahan yang masih belepotan sperma itu, tapi nampaknya temanku itu tak peduli lagi.

    Ahhh, ahhh, akhirnya hilang juga perjakaku. Kentu ma cewek cina lagi. Ngimpi juga gak pernah aku. katanya padaku. Aku hanya tersenyum melihat kelakuan polos temanku itu. Batang kemaluan yang berwarna gelap itu kontras sekali dengan liang memek Ivone yang putih kemerahan. Setiap kali penis Anwar menyodok dalam vagina Ivone, gadis itu bergetar keras sambil mendesah entah desahan sakit atau kenikmatan.

    Ahhh, keluarin didalam yah non. kata Anwar dan benar saja hanya dalam waktu lima menit dia ******* dengan gadis itu dia langsung mencapai klimaksnya. Sekali lagi cairan sperma milik seorang pria membanjiri liang senggama Ivone. Setelah itu kami berdua menyuruhnya mengoral penis kami hingga kami berejakulasi diwajah dan mulutnya.

    Sekitar dua jam kemudian, Joni datang bersama tiga orang panitia yang lain. Semuanya pria dan semuanya menjadi horny saat melihat tubuh telanjang Ivone yang lemas karena melayani aku dan Anwar tanpa henti. Seakan kerasukan setan, keempat rekanku itu mencopot celana mereka masing-masing dan menggagahi Ivone secara bergantian. Kali ini bukan cuma vagina dan mulutnya yang dihajar dengan sumpalan penis, tapi juga lubang anusnya yang disodomi oleh keempat temanku ini. Benar-benar brutal sekali, karena sempat aku melihat saat vagina Ivone dijejali dua penis sekaligus. Saat itu dia menangis keras namun segera dibungkam oleh salah seorang dari mereka. Sekitar jam 12 malam tepat saat acara api unggun mendekati selesai, mereka berempat selesai mengerjai Ivone dan meninggalkannya dengan tubuh belepotan sperma baik dimulut, payudara, perut, paha, punggung bahkan anusnya, terlebih di liang kewanitaannya dibanjiri oleh sperma dari 6 orang pria berbeda. Karena terlalu banyak hingga meluber keluar. Malam itu Ivone lolos dari jerat hukum tetapi dia masuk kedalam jerat kami para panitia. Benar-benar malam yang menyenangkan.

     

  • Cerita Panas Akibat Ke Dukun

    Cerita Panas Akibat Ke Dukun


    74 views

    Cerita Panas Akibat Ke Dukun

    Aku dilahirkan dalam keluarga pengusaha. Papa dan Mamaku adalah seorang pengusaha. Mereka membangun bisnis bersama dari bawah. Usaha keluarga kami cukup menghasilkan. Kami mampu membeli rumah di daerah Kelapa Gading dan beberapa rumah peristirahatan di luar kota Jakarta. Keluarga kami terdiri dari Papaku, Budiawan berusia 40 tahun, Mamaku, Sinta berusia 36m tahun dan aku, sekarang umurku 18 tahun. Namaku Kenny, tp sering dipanggil Koko.

    Kami keturunan Tionghoa. Papaku tampak seperti pengusaha biasa, dgn rambut mulai membotak dan perut buncit. Mama, di lain pihak, adalah seorang wanita yg senang merawat diri. Tubuh Mama tdk pernah gendut. Ia tampak langsing dan memiliki postur yg tegap bagai peragawati. Walaupun dadanya tdk terlalu membusung, namun tetap saja terlihat indah dan mancung di balik pakaiannya. Kulit Mama yg putih mulus dgn rambut dan wajah yg runcing dan cantik, seringkali membuat teman-temanku membicarakan Mamaku sebagai obyek seks. Hal yg sering membuatku bertengkar dgn teman-temanku.

    Tetapi jujur saja, aku sangat mengagumi kecantikan Mamaku. Pernah jg aku onani membayangkan tubuh Mamaku namun setelah itu aku merasa bersalah. kami punya kolam renang dan biasa berenang. Biasanya Mama memakai baju renang one piece. Dan karena biasa aku jadi tdk terlalu memikirkannya, namun suatu kali Mama memakai bikini kuning dan aku dapat melihat tubuh Mama yg hampir telanjang.

    Buah dada Mama memang tdk besar, namun gundukkan buah dadanya cukup jelas terlihat dan bentuknya tegak bukan kendor, dgn puting menyembul di kain penutup dadanya. Perut Mama begitu rata dgn pinggang ramping, namun pantat sedikit besar. Tinggi badannya 160 cm, lebih pendek dariku yg bertinggi 170 cm. Kulitnya begitu putih mulus bagai pualam. Tiba-tiba saja aku ngaceng dan akhirnya aku ke kamar mandi untuk onani.

    Saat itu aku berusia 17 tahun. Aku saat itu kelas 3 SMA. Berhubung aku sdh dewasa dan memiliki KTP, aku dihadiahkan mobil sedan yg sering kupakai untuk sekolah maupun jalan-jalan.

    Pada saat itu, usaha Papa dan Mama mengalami penurunan, penurunan ini mulai semenjak 3 tahun belakangan. Kami tertipu ratusan juta rupiah. Selain itu, banyak jg rekan bisnis yg memilih untuk berbisnis dgn saingan kami. Jg ada investasi yg tdk menguntungkan, maka makin lama, keuangan kami mulai menipis. Bahkan dua rumah peristirahatan kamipun dijual untuk menutupi hutang-hutang.

    Segala cara telah dicoba, mulai dgn menawarkan discount ke rekan bisnis ataupun customer, berhutang ke bank untuk ditanam sebagai modal (yg membuat hutang semakin menambah) dan bahkan pergi ke orang pintar untuk meminta bantuan. Namun semuanya tdk berhasil mengangkat perekonomian keluarga kami.

    Pada suatu hari, teman dekat Mamaku datang berkunjung. Mereka asyik berbincang ngalor ngidul. Akhirnya sampai pada topic keuangan. Teman Mamaku itu jg memiliki bisnis keluarga yg dibangun bersama suaminya. Mama bertanya kepada temannya mengenai kiat mereka sehingga dalam jaman susah begini usahanya makin maju.

    Sungguh terperanjat Mama ketika tahu, bahwa temannya itu pergi ke dukun di luar kota. Mulanya Mama tdk percaya, namun temannya tetap bersikukuh bahwa semua karena dukun itu. Akhirnya setelah bicara panjang lebar, Mama menjadi yakin dan ingin mencoba dukun itu. Anehnya, teman Mama berkata,

    “Tetapi, Ci. Ada syaratnya.”
    “Syarat? Syaratnya apa ya?”
    “Cici harus berangkat berdua ke dukun itu. Harus membawa teman pria, tetapi tdk boleh membawa suami.”
    “Loh, emang kenapa?”
    “Itu memang syaratnya. Pokoknya cici percaya saja. Saya sdh membuktikan sendiri. Dan segala perkataan dukun itu terbukti semua.”
    “Terus harus sama siapa?”
    “Pokoknya harus pria dewasa yg bukan suami sendiri. Cici kan punya sopir? Saya sarankan bawa sopir aja. Kan sekalian ada yg ngatar jg. Nah, begitu sampai, Cici dan supir Cici harus menghadap dukun itu.”

    Tak lama kemudian teman Mama pulang setelah memberitahukan alamat dukun itu dgn peta buram untuk mencapai ke sana. Malamnya, Mama dan Papa berembuk. Papa yg jg sdh tak berdaya menghadapi keadaan akhirnya setuju.

    “Tp, Ma,” kata Papa,” Papa ga mau Mama dianter sopir ke tempat dukun itu di luar kota. Papa ga merasa nyaman.”
    “Loh, Pak Har itu kan sdh lama jadi supir kita? Hampir 10 tahun.”
    “Papa tetap ga setuju.”
    “Tp syaratnya kan harus ada lelaki yg ngantar Mama.”
    “Begini saja, deh. Si Koko itu kan sdh besar, lagian dia jg sdh bisa bawa mobil. Mending kalian berdua saja yg pergi. Papa merasa kalau Koko yg nganter, maka lebih aman dan nyaman. Baik bagi Mama maupun bagi Papa.”

    Akhirnya mereka menyetujui hal ini. Aku jadi sopirnya Mama. Pada mulanya aku menolak, berhubung akhir minggu aku ada kencan dgn pacarku. Tp Papa malah marah dan mengatakan aku anak durhaka yg tak mau menolong keluarga. Akhirnya aku terpaksa menurut jg dgn hati penuh rasa sebal dan marah.

    Malam Sabtu kami berangkat sore. Perjalanan ke tempat dukun itu memakan waktu sekitar 5 jam. Sekitar pukul 10 kami sampai di tempat itu. Tampak banyak pengunjung. Ada sekitar 20an pasangan menunggu. Setelah kamipun ada sekitar 5 atau 6 pasangan yg datang.

    Dari kesemua pasien dukun itu, tampak sepertinya adalah majikan dan sopir. Namun ada jg yg bagaikan suami isteri yg sepantaran. Mungkin jg supir tp ganteng, entahlah. Mama dan aku berpandangan. Jgn-jgn harus dgn sopir. Wah bisa berabe nih. Namun karena nasi sdh menjadi bubur, maka kami tetap menunggu giliran kami dipanggil dukun itu.

    Akhirnya kami dipanggil masuk kamar dukun itu. Dukun itu tampak sedikit terkejut. Kami bersila di depannya dgn tempat kemenyan yg berasap di antara kami dan dukun itu. Setelah jeda yg agak lama ia berkata,

    “Maaf, Mama. Mama membawa siapa?”
    “Ini anak saya, Ki.”

    Dukun itu mengangguk-angguk dan terdiam berfikir selama beberapa saat. Akhirnya ia berkata,

    “Biasanya yg datang adalah pasien dgn sopirnya atau temannya. Tp Mama bawa anak sendiri. Bagus, bagus.”
    “Apanya yg bagus, dok?” tanyaku penasaran. Tp dukun itu tdk menjawab malah menerawang jauh seperti sedang memikirkan sesuatu yg berat. Akhirnya ia berkata lagi,
    “Ada keinginan apa, sehingga Mama datang ke sini?”

    Mamaku menjawab,

    “Begini, Ki. Kami sekeluarga memiliki usaha yg besar. Tetapi akhir-akhir ini terus merugi. Kami sdh melakukan segalanya untuk memperbaiki usaha kami, tp selalu gagal. Nah, menurut teman saya, Aki ini katanya pintar sekali dan manjur. Maka kami ke sini minta bantuan Aki agar usaha kami sukses.”

    Dukun itu manggut-manggut. Setelah terdiam (lagi) beberapa saat ia berkata,

    “Bisa. Bisa. Tp, syarat untuk mencapai keinginan ini berat sekali. Kalian harus bersumpah kepada Aki untuk melakukan syaratnya. Bila syarat ini tdk dilakukan, maka hasilnya adalah harta kalian akan habis sekejap dan kalian akan jadi miskin.”
    “Syarat apa itu, Ki? Kalau tdk berat maka kami pasti akan melakukannya,” kata Mamaku.
    “Syarat ini jelas berat. Namun, Aki tdk boleh membicarakan syarat sebelum kalian bersumpah dahulu. Ini adalah keharusan dari ilmu yg Aki miliki.”
    “Maksudnya, kami harus bersumpah tanpa tahu syaratnya apa?” Tanya Mama.
    “Betul.”
    “Gimana, ya Ki? Kami harus tahu dulu agar kami bisa menentukan bisa atau tdknya. Contoh, bila syaratnya membunuh orang, tentu kami tdk akan melakukannya.”
    “tdk perlu membunuh. Syarat ini tdk akan menyakiti orang lain malahan akan memberikan kebaikan pada diri sendiri.”
    “Aki tdk akan bilang syaratnya sebelum kami bersumpah?”

    Dukun itu mengangguk-angguk lagi.

    Mama menatapku dan bertanya,

    “Gimana?”
    “Koko sih setuju aja bila tdk harus menyakiti orang lain. Kan semua demi keluarga.”

    Akhirnya kami setuju. Dan ritual sumpah itu dilakukan. Kami bersumpah sendiri-sendiri dgn sang dukun memegang jidat kami dan mengasapi dgn kemenyan. Anehnya, aku hanya bersumpah akan melakukan satu syarat, sementara Mama harus bersumpah melakukan dua syarat. Barulah kemudian ia kembali duduk di tempat semula dan berkata,

    “Perlu diingat bahwa kalian sdh bersumpah. Dan dalam sumpah itu, kalian jg menerima bahwa apabila menolak melakukan syarat-syarat, maka harta kalian akan hilang dari muka bumi.”

    Kami berdua mengangguk.

    “Sebenarnya syaratnya adalah kalian harus melakukan ritual dalam sebulan tiga kali, untuk membuat jin-jin membantu kalian mengumpulkan uang. Bila ritual ini tdk dijalankan, maka jin-jin itu akan menghabiskan uang kalian, alias akan merugikan kalian sendiri. Ritual itu harus dilakukan kalian berdua sebagai pasangan yg datang kemari minta bantuan.”

    Sang dukun berdehem dan kemudian melanjutkan pembicaraan,

    “Ritual ini adalah ritual seks.”
    “Apaaaa?”

    Kami berdua kaget setengah mati. Ritual seks? Mama dan anak?”

    “Tp, Ki. Kami Mama dan anak!” kata Mamaku.
    “Justru disitulah kuncinya. Selama ini, Aki menganjurkan ritual dgn lelaki yg bukan suami. Demikian tuntutan ilmu itu. Berselingkuh dgn lelaki lain membuat jin-jin itu akan datang menonton dan bekerja kepada pasangan tdk sah itu. Sedangkan bila Mama dgn anak melakukan ritual, dapat dipastikan jin-jin yg datang akan lebih banyak. Karena selain berselingkuh itu adalah sesuatu yg disukai jin-jin itu, maka berselingkuh dgn anak sendiri adalah hal yg paling disukai mereka. Dipastikan akan lebih banyak Jin yg datang.”
    “Tp…… tp………..”

    Sang Dukun memotong,

    “Yg perlu diingat sumpah si lelaki hanya satu syarat, tetapi sumpah si perempuan ada 2 syarat. Yg satu adalah melakukan ritual dgn pasangan yg di bawa ke sini, yg satu adalah untuk menghentikan hubungan seksual dgn suami sendiri. Ini adalah kesenangan Jin yg lain, melihat bahwa si suami tdk mendapatkan tubuh isterinya, sementara isterinya memberikan diri kepada orang lain.”

    Mama tambah membelalakan matanya. Seks dgn anak sdh parah, kini tdk boleh berhubungan seks dgn suaminya. Rupanya dukun ini adalah dukun ilmu hitam. Ada rasa penyesalan yg terlihat di wajah Mama. Aku pun kaget jadinya.

    Dukun ini berwajah angker dan berwibawa. Mama tdk berani menolak melainkan hanya mengangguk saja untuk memperlihatkan persetujuan. Akhirnya Mama membayar mahar sekitar sepuluh juta rupiah lalu kami pergi dari situ.

    Sepanjang jalan Mama ngomel-ngomel. Untung saja Pak Har, supir kami tdk ikut. Pak Har itu sdh tua dan tampangnya jg jelek. Mama mana nafsu dgn lelaki itu. Aku sepanjang jalan terdiam karena ketika mendengar syarat itu aku terkejut seperti Mama, namun aku tdk semarah Mama, melainkan aku menjadi membayangkan tubuh Mama saat memakai bikini dan penisku langsung bangun. Sungguh tak percaya aku mendengarnya. Aku malahan Bahagia. Moga-moga saja Mama mau melakukannya ketika sampai rumah.

    Namun, dalam perjalanan kami itu, Mama menekankan bahwa kami tdk akan berhubungan seks. Dukun itu memang gila. Masa harus begituan dgn anak sendiri? Aku menjadi kecewa dan sedih, namun aku berusaha tdk menunjukkannya.

    Kami sampai di Jakarta keesokan paginya. Aku langsung tidur karena letih dan begitu jg Mama. Sampai beberapa minggu hal ini tdk pernah kami bicarakan.

    Tiga minggu kemudian, saat itu malam hari. Mama mengetuk pintu kamarku dan masuk ke kamarku. Mama memakai daster yg panjang ke lutut namun bagian atasnya merupakan gaun berleher rendah dgn tali daster yg tipis memeluk bahunya. Sayangnya Mama pakai BH, dapat kulihat tali BHnya yg ada di bawah tali dasternya dan sedikit cup BH yg menyembul karena leher gaun yg cukup rendah. Aku sedang nonton TV sambil tiduran dgn hanya memakai celana boxer, karena memang seperti itu kebiasaanku.

    “Ko, kamu inget dukun yg pernah kita datangi bersama-sama waktu itu?”
    “Oh, yg gila itu?” kataku sambil terus menonton TV untuk menunjukkan aku tdk terlalu memikirkan hal itu, padahal selama ini aku selalu masturbasi membayangkan Mama semenjak pulang dari dukun itu.
    “Begini, Ko. kamu inget ga, apa kata dukun itu bila kita tdk melakukan ritual?”

    Aku belagak mendengus tak percaya, padahal aku ingat sekali semua perkataan dukun itu. Dukun itu bilang, kalau kami berdua tdk jg berhubungan seks, maka keluarga kami akan bangkrut. Aku diam-diam berharap sekali bahwa usaha keluarga kami merugi agar aku bisa tidur dgn Mama.

    “Dukun itu benar, Jun. tiga minggu ini, usaha kita rugi terus. hampir 1 M melayg selama tiga minggu ini. Dan bila ini terus terjadi, kita terpaksa harus menjual hampir seluruh harta kita.”
    “Apa?” aku berkata dgn memasang muka sedih, kecewa, kaget dan lain-lain.

    Namun hatiku berbunga-bunga. Pucuk dicinta ulam tiba, kata orang tua. Dalam hati aku begitu bahagianya hingga aku susah payah menahan senyum di wajahku. Rasanya ingin berteriak. Apakah ini berarti Mamaku mengajakku ML?

    Mama mendehem sekali. Tampak ia gugup.

    “Nah, Mama dan Papa tak pernah menyimpan rahasia. Dulu sewaktu pulang, Papamu telah Mama beritahu tentang dukun ini. Maka, sekarangpun Papamu tahu bahwa kita merugi karena ulah sumpah kita sendiri.”
    “Terus?” dalam hati aku berteriak kegirangan. Tampaknya, harapanku akan segera terwujud.
    “Mama dan Papa sepakat untuk mengikuti ritual ini selama sebulan ini. Terus kita lihat apakah ada perubahan? Bila tdk ada, maka kami berdua mohon agar kamu melupakan semua ini dan memaafkan kami berdua.”
    “Bila ada perubahan dan usaha kita untung?”

    Mama hanya menggeleng,

    “Kita lihat saja nanti.”

    Kemudian Mama menghampiriku. Aku deg-degan sekali. Mama menarik boxerku sehingga lepas. Kaget jg ia ketika melihat penisku yg besar sdh tegak berdiri akibat pembicaraan ini. Terlihat di raut mukanya bahwa ia kaget.

    “Mama agak bingung bagaimana seharusnya kita melakukannya. Tp Mama berpendapat, kita tdk boleh melakukan hubungan seksual dgn percintaan, karena kita Mama dan anak.”

    “Maksud Mama?”

    “Kita tdk perlu ciuman, buka seluruh pakaian dan lain-lain seperti sepasang kekasih. Mama tetap akan pakai daster. Kamu tdk boleh memegang Mama. Biar Mama di atas saja. Kamu diam saja di bawah.”

    Maka aku berbaring diam. Mamaku menekan penisku sampai menempel di perutku dgn tangan kirinya, lalu ia menduduki penisku. Ternyata di balik daster Mama, tdk ada celana dalam sehingga batang penisku merasakan bibir Meki Mama menekan di batang penisku.

    “Kemaluan perempuan harus basah dulu. Jadi, mama akan gesek-gesek sebentar sampai kemaluan Mama basah, lalu kita akan melanjutkan ke ritual.”

    Lalu Mama menopang tubuhnya dgn memegang dadaku, kemudian ia mulai menggesekkan Mekinya di batang penisku. Aku dapat merasakan bibir Mekinya membuka dan penisku kini dijepit bibir itu, sementara bagian bawah batang penisku menekan bagian dalam Meki Mama, tepatnya dinding di mana labium minoranya terletak.

    Lama kelamaan keluar cairan pelumas. Aku dapat merasakan Meki Mama perlahan mulai lembap dan licin lalu basah karena lendir yg keluar dari Mekinya. Selama proses ini Mama memejamkan matanya. Akhirnya setelah beberapa menit, selangkangan Mama dan batang penisku sdh licin karena lendir Mama.

    Pengalaman ini terus kuingat sepanjang hidupku. Walaupun Mama tdk membuka pakaiannya, namun aku merasakan sensualitas yg sangat tinggi menguasai tubuhku. Saat vagina Mama sdh basah dan membasahi batang penisku, aku dapat mencium bau badan Mamaku yg perlahan memasuki hidungku. Selain itu, tubuh Mama hari itu wangi karena tampaknya baru saja mandi. Jadi, aku dapat mencium wangi sabun dan jg wangi kemaluan Mamaku tercampur di udara.

    Setelah yakin bahwa Mekinya telah licin dan siap untuk dimasuki penisku, Mama berlutut sebentar, tangannya memegang penisku dan diacungkan ke atas, lalu ia memposisikan penisku di depan lubang Mekinya. Setelah posisinya pas, maka ia duduk perlahan di penisku.

    Nikmatnya merasakan penisku perlahan menembus Meki Mama. Pertama-tama lingkar luar lubang vagina Mama dilewati oleh kepala penisku dgn susah payah. Untuk beberapa saat ujung penisku tdk berhasil masuk lubang kecil itu, lalu plop! Tiba-tiba kepala penisku sdh masuk ke dalam liang senggama Mama. Lubang Meki Mama sempit sekali, kepala penisku bagai sedang dijepit tabung silinder yg sempit. Mama mendesah bagai sedang makan cabe. Lalu perlahan menurunkan tubuhnya lagi sampai tiga perempat penisku menggeleser lebih jauh dalam lubang kencingnya itu. Namun, tiba-tba saja gerakan Mama berhenti karena penisku menancap di lingkaran lubang masuk ke rahim milik Mama.

    “Punya kamu besar dan panjang. Belum masuk semua udah ada di ujung rahim Mama,” kata Mama dgn nafas tersengal. Sementara itu, Meki Mama berdenyut-denyut, dan menjepit penisku begitu kuatnya. Aku merasa linu di lututku dan aku mengerang nikmat sekali walaupun penisku berasa sedikit sakit karena sempitnya Meki Mamaku.

    Desahan Mama makin jelas, lalu tiba-tiba Mama menghempaskan tubuhnya ke bawah sehingga kini penisku ambles ke dalam liang persenggamaan Mamaku. Aku dapat merasakan kepala penisku melewati lubang masuk rahim Mama dan kini kepala penisku dan sedikit bagian batang penisku sdh ada di dalam rahim Mama.

    Mama melenguh kecil,

    “Uuuuuuuhhhhh………………. Belum pernah ada yg masuk sejauh ini………… tahan sebentar, ya………”

    Mata Mama terpejam erat. Wajahnya meringis. Nafas Mama memburu. Sementara itu, Aku menjadi serba salah. Ingin rasanya kupeluk Mama lalu kuentot dgn buas tubuhnya, namun aku takut dimarahi. Kepalaku pusing menahan birahi ini. Dinding vagina Mama yg halus dan basah itu begitu kuat menjepit penisku lagi lubang itu seakan mengenyot batangku karena membuka dan menutup seiring irama nafas Mama. Beberapa saat kemudian barulah Mama mulai menaik turunkan pantatnya. Mamaku mulai mengentoti aku dgn perlahan-lahan.

    Kedua tanganku meremas seprai, sementara mataku berusaha melihat selangkangan kami berdua, namun daster Mama menghalangi. Kupandangi wajah Mama yg cantik itu. Dahi Mama mengerut seakan menahan sakit dan matanya terpejam rapat. Nafasnya yg mulai memburu mengeluarkan suara desahan nafas yg ditahan. Semakin lama nafas Mama semakin cepat dan hembusannya makin terasa di wajahku. Nafas Mama begitu segar dalam indera penciumanku.

    Meki Mama masih mengocoki burungku. Selangkanganku kini sdh basah oleh lendir vagina Mamaku. Bau tubuh Mama yg menguar dari dalam kemaluannya menjadi makin kuat, mengalahkan wangi sabun yg merebak dari tubuhnya. Bau tubuh Mama yg sedang birahi, Bau yg Belum pernah kucium sebelum malam ini, karena selama ini Mama selalu memakai parfum mahal, sehingga aku tdk pernah tahu bau tubuh Mama yg sebenarnya.

    Aku merasakan sesuatu yg belum pernah kurasakan. Penisku yg tadinya perjaka kini sdh mengalami hubungan seks dgn perempuan. Meki Mamaku menyedot-nyedot penisku, mengirimkan sensasi sensual yg menjalar dari burungku hingga ke seluruh ujung tubuhku. Aku seakan berada di suatu tempat fantasi yg indah, bukan lagi di bumi. Suatu perasaan yg begitu nikmatnya sehingga barulah aku setuju dgn orang-orang bahwa ngentot itu adalah pekerjaan yg paling enak dilakukan.

    Makin lama pantat Mama makin cepat digoyang. Selangkangan Mama menumbuki selangkanganku dgn bunyi yg terdengar makin keras. Mulut Mama mulai membuka dan desahan mulutnya mulai berubah menjadi erangan.

    “aaaaaaahhhhhhhhhhhh………….. mmmmmpppphhhhhhh…………. Aaaaaaaaaaaahhh……..”

    Tiba-tiba Mama merebahkan diri di tubuhku dgn mata masih terpejam. Kedua tangannya memeluk pundakku dari luar kedua tanganku, sehingga menjepit kedua tanganku di samping tubuhku dgn telapak tangan mengarah kedepan sehingga ia memegang pundakku dari belakang. Dapat kurasakan kedua payudara Mama menekan dadaku dari balik daster dan BHnya. Aku tdk tahu kekenyalan yg kurasakan apakah karena busa BH ataukah karena tetek itu sendiri. Maklum, inilah pertama kalinya aku ngentot sehingga masih buta segala sesuatunya.

    Bau tubuh Mama yg begitu erotis dan sensual membuatku gila, Aku ingin sekali merengkuh tubuh Mama dan balas mengentotinya dgn liar. Aku pikir karena Mama sdh memelukku, maka akupun tak apa memeluknya. Oleh Karena itu, ku peluk Mama dgn telapak tanganku memegang pantatnya.

    Ketika aku mulai meremasi pantat Mama, Mama kurasakan kaget karena menarik nafas tiba-tiba. Kupikir ia akan marah, namun ternyata ia melanjutkan erangannya.

    “Yeeeeaaaaaaaaaaah…… mmmmmpppphhhhhhh………. Ahhhhhhhhhhhh………..”

    Pipi kami berdua kini menempel. Pelukan Mama makin erat saja, dan selangkangan kami kini sdh basah kuyup oleh cairan vagina Mama. Suara selangkangan kami yg beradu begitu cepatnya dank eras memenuhi kamar tidurku.

    “clekclekclekclekclekclek……..”

    Ditingkahi erangan Mama yg terus menerus mengatakan ‘yeah’ dan ‘ah’ diulang-ulang. Aku jg menjadi ikut terbawa suasana. Aku memberanikan diri mengerang jg.

    “aaaaahhhhhh….. mmmmmpppphhhhhhh…… maaaa…………. Aaaaaaaaaaaahhhhhh……… Maaaa……”

    Sengaja kupanggil Mama disela-sela eranganku karena hal ini membuat aku makin bernafsu. Dgn memanggil Mama, maka tersirat bahwa aku menyadari bahwa aku sedang bersetubuh dgn Mamaku dan aku menyukai bersenggama dgn Mamaku. Entah apakah Mama menyadarinya…

    Namun reaksi Mama hanya terus mengerang, namun pipinya kini diusap-usapkan ke pipiku. Sementara pelukan Mama kurasa kini sdh erat sekali. Pantat Mamapun kini digerakkan naik turun begitu cepat dan keras, untungnya spring bed ku mahal sehingga mengikuti gerakan tubuh kami sehingga aku tdk merasa sakit.

    Tiba-tiba Mama menekan pantatnya dalam-dalam sambil memeluk erat sekali. Pipinya pun ditekan keras-keras jg di pipiku. Dan kini Mama tdk mengerang, melainkan berteriak keras-keras,

    “Aaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh………………..”

    Kurasakan selangkangannya dan terutama dinding Mekinya bergetar bagaikan tubuh orang yg kedinginan sambil menjepit penisku erat-erat. Kejadian berikutnya berlangsung begitu cepat. Aku tak kuasa menahan birahi yg sedari tadi coba kutahan-tahan. Rasanya begitu nikmat dijepit Mekinya yg hangat dan licin itu. Entah bagaimana, naluriku yg mengambil alih, aku lepas kedua tangan dari pantat Mama, lalu kupeluk tubuhnya erat-erat, kemudian aku putar badan, bagaikan pegulat professional sehingga kini aku yg ada di atas tubuh Mama. Mama masih orgasme namun membalas dgn merangkulku dgn satu tangan mendekap belakang kepalaku sementara satu tangan memeluk bahuku, dan kedua kakinya kini merangkul bagian bawah tubuhku dgn kedua tumit kaki ditekan ke pantatku.

    Setelah Mama kutindih, dgn secepat mungkin dan sekuat mungkin aku kocok lubang meki Mama. Kusedot leher Mama dgn mulutku pula. Mama masih mengerang dgn keras dan memelukku erat-erat. Kulit leher Mama begitu halus di mulutku. Kucupang leher itu dgn mengenyotinya keras-keras. Sementara Meki Mama yg sempit itu kuhujami berkali-kali sekuatnya. Akhirnya aku sampai jg. Kutumpahkan maniku di dalam rahim Mama.

    Kami terdiam beberapa lama. Lalu tanpa bicara, Mama mendorong tubuhku sehingga tak lagi menindihnya, lalu ia pergi ngeloyor keluar. Di antara perasaan kecewaku, ada perasaan Bahagia dan puas jg. Akhirnya, pikirku. Lalu aku tertidur.

    Keesokan harinya, sarapan pagi dgn kedua orangtuaku menjadi canggung. Kami bertiga tdk banyak bercakap-cakap seperti biasanya. Mama dan Papa hanya berbicara seperlunya saja. Aku sendiri malah hanya terdiam saja sambil mengunyah. Kami bertiga tahu apa yg terjadi tadi malam, sehingga masing-masing terbelenggu dgn fakta bahwa Mama dan anak tadi malam baru saja melakukan perhubungan yg tabu.

    Papa pergi bekerja, sementara Mama menyMamakkan diri di dapur untuk cuci piring dan lainnya. Aku tdk tahu apa yg harus aku lakukan sehingga memutuskan untuk sekolah tanpa berbicara apa-apa lagi. Hubungan keluarga kami sekarang sdh berbeda dan tdk dapat dirubah lagi. Entah aku ini senang atau tdk, namun kini, tiap kali aku lihat Mama maka aku pasti ngaceng.

    Ketika hari makin cepat berlalu, aku jadi semakin kecewa. Karena Mamaku tdk pernah lagi datang ke kamarku untuk begituan. Apakah dukun itu gagal? Pikirku. Apakah Papa masih merugi walaupun aku dan Mama telah melakukan ritual? Aku menjadi sangat sedih ketika kulihat pada bulan ini, tinggal tersisa dua hari lagi. Malam ini akan terlihat apakah Mama akan meneruskan ritual itu, karena sesuai pesanan pak dukun, kami harus melakukannya tiga kali dalam sebulan.

    Hari telah malam dan menunjukkan pukul sepuluh. Aku duduk di kamar dgn hanya memakai celana boxer saja. Jantungku berdetak kacau menunggu Mama. Di satu pihak aku berharap sangat Mama akan datang, di lain pihak aku ketakutan bila Mama tdk datang hari ini.

    Tiba-tiba saja pintu perlahan terbuka, dan Mama masuk ke dalam kamar dgn memakai daster yg sama. Aku merasa lega sekali. Perasaanku berbunga-bunga dan perlahan burungku mulai mengeras. Aku menanti-nanti dgn jantung yg berdebar-debar ketika Mama naik ke tempat tidur pelan-pelan tanpa mengeluarkan suara, matanya tak pernah menatap mataku, lalu ia memelorotkan celanaku sampai lepas dan menduduki penisku seperti sebelumnya. Hanya saja, saat ini aku sedang duduk di tempat tidur dan bukan tiduran seperti sebelumnya.

    Kini posisinya Mama menduduki kedua pahaku dan kemaluannya menempel di batang penisku yg kini mengacung ke atas terjepit antara Meki Mama dan perutku sendiri, lalu Mama memeluk kepalaku sehingga jatuh di pundaknya. Namun aku dapat melihat bahwa kini teteknya tdk ditutupi BH sehingga aku menjadi girang tak terkira. Apalagi saat dadaku merasakan tetek Mama yg hanya berlapiskan daster untuk pertama kalinya. Tetek Mama begitu empuk dan kenyal dgn puting yg menonjol bagaikan pensil.

    Mama tdk bau sabun. Tampaknya ia tdk mandi sebelum ke sini seperti sebelumnya, tp aku tdk kecewa. Malah aku senang jadinya. Aroma Meki Mama yg pernah kucium sedikit tercium dari ketiak Mama. Mama mulai menggesekkan kemaluannya di batang penisku. Namun, kali ini gesekkannya lebih cepat dan nafas Mama pun kali ini memburu lebih cepat dibandingkan sebelumnya dan lagi pelukan Mama begitu eratnya. Akupun memeluk badan Mama dan Mama tampaknya tdk marah.

    Apakah Mama sdh horny duluan? Pikirku dalam hati. Ada kemungkinan begitu, karena aku ingat bahwa dukun bilang Mama hanya boleh bersenggama dgnku, sementara sdh duapuluh hari yg lalu kami berdua melakukan hubungan seksual. Kemungkinan selama ini Mama seringkali berhubungan seks dgn Papa. Aku pun kalau menjadi Papa akan selalu ingin berhubungan seks dgn isteri secantik Mama.

    Tak lama Meki Mama sdh basah sekali. Kemudian Mama melepaskan pelukannya, lalu sedikit menaikan pantat, memegang penisku dan akhirnya memasukkan Mekinya ke penisku yg sdh tegang dari tadi hingga kepala penisku memasuki liang senggamanya. Mama lalu menaruh kedua tangannya di pundakku lalu perlahan-lahan merendahkan tubuhnya sehingga perlahan Mekinya membungkus penisku.

    Sepanjang perjalanan masuknya penisku, Mama memejamkan matanya dan melenguh,

    “mmmppphhhhhhhhh…………. Yeaaaaaahhhhhhhhhh……..”

    “Maaaamaaaaahhhhh…..” kataku tak mau kalah,” yeeeaaaaaaah…… Maaaaa……….”

    Ketika penisku sampai lagi di ujung rahimnya, Mama melingkarkan tangannya di leherku dan dgn satu tangan mendekap kepalaku. Lalu tiba-tiba pantatnya dihenyakkan ke bawah sehingga penisku menghujam masuk rahimnya secara cepat.

    Reaksiku adalah memeluk Mama erat-erat karena kaget dan sedikit sakit. Rangkulan Mamapun jg makin erat. Mama mengerang-ngerang dan aku mendesah-desah merasakan sensasi penisku yg dMamangkus dinding Meki Mama sedang dipijat-pijat dinding Meki itu.

    Lalu Mama mulai menggoyang pantatnya. Aku merasakan nikmat sekali. Apalagi kini kami dalam posisi duduk dan berpelukan. Rasanya kami adalah dua pasang kekasih. Kuingat Mama tdk mau berciuman dgnku, namun aku tak tahan dgn keintiman tanpa cinta ini. Aku ingin sekali menciumi tubuh Mamaku. Akhirnya aku masa bodo dan mulai mengenyot pundak Mama yg telanjang.

    Mama mulai mendesis-desis seperti kepedesan. Aku kini menjilati pundak Mama dan mengarah ke lehernya. Kukecupi dan kujilati leher Mama yg halus. Wajahku terbenam di lehernya, rambut Mama menutupi kepalaku. Wangi shampoo Mama dan bau tubuh Mama bercampur di hidungku. Ini adalah bau surgawi, pikirku dalam hati. Mulutku tdk pernah tinggal diam. Leher Mama sdh habis aku ciumi, jilati dan kenyoti. Mama makin keras mendesahnya. Semakin lama Mama mempercepat goyangannya pula.

    Kedua tanganku kugerakkan ke bawah sehingga meremas kedua pantat Mama yg bahenol. Otot pantat Mama sungguh kenyal dan tdk lembek. Ini mungkin karena Mama rajin ke gym untuk berolahraga. Sementara itu, kedua pantat Mama yg masih ditutupi daster telah kuremas-remas sambil kutarik-tarik seirama dgn goyangan pantat Mama.

    Suatu saat ketika aku meremas-remas pantat Mama, tak sengaja kain daster Mama sdh tertarik ke atas. Aku baru menyadari ketika ujung jari tangan kiriku menyentuh kulit Mama. Aku serentak mendapatkan ilham. Aku mulai meremasi pantat Mama sambil berusaha menyingkap daster Mama ke atas lagi. Usahaku perlahan berhasil. Pada akhirnya kedua tanganku berhasil menggenggam kedua pantat Mama tanpa dihalangi kain daster itu.

    Mama masih sMamak menggoyangkan pantat dan mengerang-erang kenikmatan. Aku mengambil kesempatan dgn menyusupkan tangan kananku ke atas sehingga kini tangan kananku sdh berada dalam daster dan memegang punggung Mamaku secara langsung.

    Tiba-tiba Mama memelukku begitu eratnya aku sampai aku merasa sedikit sesak. Selangkangan Mama tiba-tiba berhenti bergerak. Mama menekan penisku keras sekali sambil berseru,

    “Yeeeeaaaahhhhhh…… Mama sampaaaaiiiiiiii……………”

    Mamaku orgasme duluan. Akhirnya Mama melepaskan pelukannya beberapa saat kemudian. Aku kecewa begitu Mamaku menarik kedua tanganku sampai lepas dari tubuhnya. Ia menatapku lalu berkata,

    “Ko, kamu itu bandel ya. Kamu kok cium-cium leher Mama kayak gitu. Kan Mama sdh bilang, kita ini bukan kekasih. Kita ini Mama dan anak. Jgn berperilaku ga sopan gitu donk.”

    Aku hanya menunduk saja karena kecewa. Tp setdknya tanganku yg menggerepe dia tdk diprotes. Artinya aku boleh lagi nanti. Mama meninggalkan pangkuanku, untuk sementara aku kecewa sekali karena belum sampai orgasme, namun Mama tdk keluar kamar melainkan ia merangkak di tempat tidur bagai anjing, hanya saja sedikit nungging karena kepalanya ia taruh di bantal. Mama lalu menoleh ke arahku yg berada di belakangnya dan berkata,

    “Kamu masukkin dari belakang saja ya. Biar kamu ga cium-cium Mama lagi.”

    Tanpa disuruh kedua kalinya, Aku segera memposisikan diri di belakang Mama, berhubung aku lebih tinggi dari Mama, maka aku hanya sedikit menekuk lutut agar penisku sejajar dgn Mekinya. Aku menyingkap dasternya yg saat itu menutup pantatnya. Karena Mama tdk bilang apa-apa, aku beranikan diri menyingkap daster itu hingga tersingkap hingga setengah punggungnya. Aku belum berani terlalu jauh takut dimarahi.

    Aku tekan penisku di depan lubang Meki Mama dgn dipandu tangan kananku, tangan kiriku menyibak pantatnya agar terlihat lubang itu. Setelah pas posisinya, aku dorong pantatku perlahan demi menikmati sensasi gesekan penisku yg memasuki liang vagina Mamaku, suatu sensasi gerakan menggeser di mana gesekkan antara dinding vagina Mama dan batang penisku menyebabkan nafsu birahiku yg sdh tinggi menjadi semakin tinggi lagi.

    Gerakanku terhenti ketika penisku sdh di ujung lubang dalam vagina Mama dan mencapai awal rahimnya. Kini kedua tanganku memegang kedua pinggul Mama. Sambil menghentakkan pantatku ke depan, kedua tanganku menarik pinggulnya untuk menambah tenaga tumbukkan. Dgn suara plok tanda selangkanganku menampar pantat Mama, kepala penisku kini sdh memasuki rahim Mama.

    “Ooooooooh……………” teriak Mama perlahan,” dalam banget rasanya…………….”

    Dalam posisi seperti ini, aku rasakan seluruh kepala penisku masuk ke rahim Mama, sementara sebelumnya hanya tiga perempat saja yg masuk. Posisi ini ternyata memberikan jarak penetrasi yg lebih jauh.

    Aku terpaku pada pemandangan indah di bawahku. Mamaku yg sedang setengah telanjang dgn daster terbuka setengah punggung dan bagian bawah yg telanjang, dalam posisi doggy style dgn penisku ambles memasuki Mekinya. Aku tarik kedua pantatnya menggunakan kedua tanganku agar pemandangan ini lebih jelas. Kulihat anus Mama begitu rapat tanda Mama sedang mengencangkan otot vaginanya yg membuat penisku merasa nikmat karena diremas otot vaginanya itu.

    Perlahan kutarik penisku hingga hanya setengah yg keluar dari Meki Mama, lalu kudorong lagi sehingga seluruh penisku terbenam di sana. Kulakukan berulang-ulang masih dgn gerakan pelan, karena pemandangan penisku keluar masuk lubang kehormatan Mamaku itu begitu indah di mataku. Begitu sucinya selangkangan Mama. Begitu sucinya kemaluan Mama. Kemaluan yg hanya pernah dijelajah oleh ayahku dan kini aku yg menjelajahi tiap jengkalnya. Bahkan Papaku itu belum pernah menjelajah sampai ke dalam rahim Mama.

    Aku menjelajahi alat reproduksi Mama lebih jauh daripada siapapun di dunia ini! Saat itulah aku berketetapan dalam hati, bahwa Mama harus menjadi milikku dan bukan milik orang lain. Perempuan keturunan Tionghoa ini harus menjadi milikku. Seluruh jengkal tubuh perempuan ini harus jadi milikku. Aku harus menjelajahi tiap senti tubuh seksi ini. Tubuh seorang bidadari yg turun dari surga.

    Entah beberapa menit aku asyik menarik dan mendorong penisku untuk menggeleser dalam lubang kenikmatan Mamaku, aku baru sadar ketika Mamaku mulai balas mendorong dan menarik pantatnya. Selain itu, suara Mama mulai terdengar lagi,

    “Yeaaah…… yeaaaaaaaaaaaaah……. Lebih cepat….. lebih cepat…….. yeaaaahhhhh..”

    Maka aku mulai mempercepat gerakanku. Di samping tempat tidurku ada lemari dgn kaca besar di salah satu pintunya. Aku melihat bayangan kami berdua di cermin itu. Cermin yg menunjukkan seorang remaja sedang mengentot perempuan dewasa dalam posisi doggy style. Kepala perempuan itu bergerak-gerak dan di wajahnya tampak kenikmatan dalam bersenggama. Aku lihat dasternya yg terbuka sampai setengah tubuh Mama. Mungkin kalau aku dorong sedikit-sedikit, aku dapat melihat tetek Mama dari cermin.

    Aku segera bertindak. Kedua tanganku yg sedang memegang pantatnya mulai kugerakan untuk meremas-remas pantat itu. Mama mulai memperkeras suaranya, kurasa Mama tdk sengaja melainkan kenikmatan ini sdh menguasai pikirannya.

    “Yeeeeahhhhhhhhhh!! Cepaaat……….!! Teruuuuus……… Yeeeeaaaaaaaaaaahhhh…….”

    Kedua tanganku kini mulai mengusap-usap pantatnya diselingi oleh remasan. Makin lama kedua telapakku bergerak ke atas. Kini punggung bawahnya aku belai. Sebenarnya belai tdk tepat, melainkan aku mengusap-usap punggungnya. Akhirnya usapanku makin memanjang, dari bawah punggung ke bagian tengah punggung Mama tepat di kain dasternya yg terlipat di sana.

    Punggung Mama begitu licin karena Mama sdh keringatan. Kulit putihnya mengkilat dijilat oleh cahaya lampu kamar. Begitu erotis, pikirku. Usapanku itu terus ku lakukan hingga jari tanganku mulai mendorongi daster Mama sedikit demi sedikit. Namun agak susah mendorongnya karena daster itu terlipat. Aku mendapat ilham lagi lalu aku mengusap ke atas lagi namun kali ini bukan mendorong daster melainkan tanganku menyusup. Setelah setengah telapakku menyusup di balik daster di bagian tengah punggung di antara belikatnya, aku segera mengusap balik ke bawah dan menunggu reaksi Mama. Mama tetap hanya mengerang-ngerang.

    “Yeaaaaah……… teruuuuuusssss!!!!”

    Aku susupkan lagi tanganku di bawah dasternya, namun kali ini ketika jariku hendak masuk, aku menggerakkan kedua telunjukku ke atas dan aku mengkaitkan kain daster itu di kedua telunjukku, menyebabkan bagian bawah daster mama terjepit antara telunjuk dan jari tengahku, lalu kuteruskan mengusap ke atas dgn kedua tanganku, sehingga kini kain daster Mama ikut bergerak ke atas. Untung saja posisi Mama sedikit nungging, sehingga daster itu kini berjumbel di dada bagian atasnya dan tdk kembali jatuh ke bawah.

    Dari cermin kulihat toket Mama yg bulat dan mancung menjuntai. Yg menakjubkan adalah toket itu tampak lebih besar daripada yg tersirat ketika Mama memakai baju. Aku ingin sekali meraba dada itu namun takut dimarahi. Makanya aku kini kembali mengusap-usap punggung Mama. Tak terasa karena aku semakin bernafsu, aku kini mengentoti Mama dgn kuat. Selangkanganku menumbuki pantat Mama dgn mengeluarkan suara PLOK! PLOK! PLOK! Yg keras terdengar.

    “YEAAAH……!” tahu-tahu kini suara Mama keras sekali. Mama sdh berteriak dan suaranya memenuhi ruangan kamarku,
    ”TERUUUUSS……. KOCOK TERUUUUS…….. KOCOK MEKI MAMAAAA……. MAMA SAMPAIIIII……..”

    Aku kaget. Kemarin Mama tdk seliar ini. Entah apa yg ada dipikirannya. Aku menjadi gelap mata. Kuraih kedua payudaranya dari belakang. Kurasakan bulatan payudara Mama melebihi kapasitas genggamanku. Ternyata cukup lebar lingkar payudara Mama. Aku remasi payudara Mama yg lembut dan kenyal itu. Dan aku tiba-tiba saja tak dapat menahan lagi dan memuntahkan peju di dalam rahim Mama.

    Setelah beberapa saat aku merebahkan diri di samping Mama. Entah bagaimana aku merasa sangat puas dan tenteram sehingga tak lama kemudian aku tertidur.