Threesome

  • Yoan Dan Siska

    Yoan Dan Siska


    11 views

    Siska terengah-engah ketika Yoan mulai meraba selangkangannya, membuat seluruh tubuhnya bergetar. Sentuhan kasar itu sangat nikmat rasanya. Jari-jari Yoan memainkan klitorisnya yang tebal, membuat gumpalan daging itu merekah kemerahan dan basah. Kemudian Yoan berhenti dan Siska tahu apa yang harus ia lakukan. Siska mulai melepas jeans-nya dan kemudian melepaskan celana dalamnya yang sudah basah dan lengket. Kemudian Siska duduk kembali di sofa dan membuka kakinya lebar-lebar.
    “Cepet Yoan, bentar lagi ortu Siska datang, cepet!” kata Siska sambil mengusap-usap selangkangannya.

    cerita-sex-dewasa-yoan-dan-siska

    Yoan lalu berlutut di depan selangkangan mulus Siska yang masih menunggu. Bibir vaginanya yang masih perawan berwarna merah kecoklatan, dengan gumpalan daging kecil di atasnya, yang ditumbuhi rambut-rambut tebal di sekelilingnya.

    Yoan menjulurkan lidahnya, merasakan kenikmatan selangkangan Siska yang basah dengan penuh nafsu. Yoan mengulum-ngulum klitorisnya dengan nikmat, dan sesekali lidahnya menjulur masuk ke lubang kemaluannya. Dijilatinya terus selangkangan Siska, sambil ia sendiri merogoh ke balik celana dalamnya mengusap-usap kemaluannya yang terangsang.

    Nafas Siska semakin cepat, seiring dengan hampir sampainya ia ke puncak. Jilatan dan hisapan-hisapan Yoan ke selangkangannya sangat nikmat dan tepat ke titik-titik nikmatnya. Hisapan-hisapan mulut Yoan membawanya melayang menuju klimaks. Pahanya semakin terasa kaku dan otot-otot kemaluannya semakin meregang seiring dengan mengalirnya cairan kemaluannya, sampai akhirnya Siska berteriak ketika ia mencapai puncak.

    Begitu nikmatnya sampai Siska bergelinjangan merasakan otot-otot kemaluannya mengalami orgasme. Sensasi itu sangat nikmat dibarengi dengan jilatan-jilatan Yoan yang masih terus mencari sela-sela di tengah-tengah kemaluannya, seakan-akan haus akan cairannya. Sampai akhirnya otot-ototnya mulai relaksasi dan Siska langsung mendorong kepala Yoan menjauh karena klitorisnya sudah sangat sensitif terhadap sentuhan. Siska harus mendorong kepala Yoan agak kuat karena Yoan kelihatannya masih belum puas.

    “Cukup Yoan, cukup, Siska sudah kecapekan! Tuh, suara klakson mobil Papa! Cukup Yoan!” kata Siska setengah berteriak sambil mendorong kepala Yoan untuk yang ketiga kalinya.

    Siska langsung berdiri dengan agak terhuyung-huyung karena masih lemas, lalu langsung memakai celana dalamnya, diikuti celana jeans-nya, dan pas ketika itu pintu depan terbuka dan orang tua Siska masuk ke dalam.

    “Eh, Yoan.. sudah lama di sini?” sapa Ibu Siska yang masuk sambil menenteng keranjang belanjaan.
    “Lumayan, saya lagi mau pulang ini, Tante.” jawab Yoan sambil menyeka bibirnya yang basah oleh cairan Siska.
    “Kamu mau anterin Yoan pulang, Sis?” tanya ayah Siska, “Ati-ati lho.. di Siliwangi rada macet.”
    “Iya, Pap.. Siska pergi dulu ya, Pap.. Mam..”
    “Mari, Oom.. Tante!”
    “Ya, ati-ati ya!” jawab Ibu Siska.

    Begitu Siska sudah menjalankan mobilnya sampai keluar rumahnya, Yoan langsung berkata,

    “Aku masih belum puas Siska, kita harus melakukannya lagi kapan-kapan, harus!”
    “Yoan.. aku ngerasa nggak enak tentang ini.. maksudku, ini kan nggak normal, ini hubungan lesbian, Yoan!”
    “So what kalo ini lesbian, ini jauh lebih baik daripada straight sex, kan? Lebih kecil resikonya, dan dengan kadar kenikmatan yang lebih.

    Yah.. maksudku aku juga menikmati hubungan seks dengan pacarku sih.. sangat menikmati.. tapi ini kan demi kamu, kamu yang ingin merasakan nikmatnya orgasme, dan aku juga ingin menikmati hubungan sesama jenis dari dulu. Kita ini adalah pasangan yang tepat untuk bereksperimen, Siska! Sangat tepat. Aku jadi dokternya dan kamu jadi pasiennya, iya kan Siska?”

    Siska lalu menjawab,

    “Yah gimana.. aku ngerasa berdosa nih, dan ngerasa nggak normal.”
    “Gini deh Sis.. bilang ke aku sekarang kalo tadi itu nggak enak, nggak nikmat, bilang kamu nggak mau lagi dijilatin kaya tadi, dan aku nggak akan lakuin lagi!” kata Yoan.
    “Yo.. jangan gitu dong, aku masih bingung nih..”
    “Ya udah.. kalo gitu aku nggak akan lakuin lagi, kamu nggak akan ngerasain lagi nikmatnya orgasme seperti tadi.”
    “Bukan.. bukan, bukan gitu maksudku.. aku suka kok..”
    “Kamu nggak akan ngerasain klitoris kamu dijilatin sedemikian rupa dan puting susumu dihisap sampai kamu mengelepar dalam kenikmatan?”
    “Nggak.. nggak, aku masih mau kok..”
    “Kalo kamu nggak mau lagi ya udah, aku bisa cari pasien lain kok..”
    “Nggak.. jangan.. jangan, aku masih mau, please.. aku masih mau kaya tadi, mau banget, please deh Yoan, pleasee..!”

    “Kalo kamu emang mau ya nggak usah banyak omong, nggak usah ngerasa berdosa segala macem, nggak usah munafik lah jadi orang! Aku tau kok kamu tuh sebenernya anaknya nafsu seksnya gede dan suka ngekhayal, aku cuman mau ngewujudin fantasi kamu. Kalo kamu nggak mau ya udah, nggak pa-pa!”

    “Sorry deh Yoan.. sorry, abis tadi Siska kan baru pertama, masih ngerasa bingung. Iya deh, sekarang Siska mau deh ama Yoan gitu lagi, kapan aja. Sorry deh Yoan tadi Siska ragu-ragu..”
    “Ya udah.. kamu sendiri ya yang ngomong mau gitu kapan aja, kalo gitu abis ini langsung di kost aku.”
    “Yah.. nggak bisa Yoan, aku abis ini mesti pergi ama bonyok (bokap-nyokap, red), ini kan hari Minggu, nggak bisa ditawar lagi Yoan..”
    “Kata kamu kamu mau kapan aja ama aku..”
    “Besok deh Yoan, janjii.. besok abis ujian Metper jam 9:00 pagi kan beresnya? Abis itu Siska ke kost kamu deh, sampe sore.. OK? OK? Please Yoan.. pleasee..!”
    “Besok ya bener, abis pulang ujian, jangan sampe telat, awas!” ancam Yoan.
    “Iya, bener kok,” jawab Siska sambil tersenyum senang tidak tahu apa yang akan terjadi besok.Cerita Sex Dewasa

    Yoan masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan menang dan berkuasa, tak disangkanya Siska bisa masuk ke dalam genggamannya. Ia memang dari awal kuliah bersahabat dengan Siska. Sifat Yoan yang tomboy dan Siska yang manja membuat mereka berdua sangat cocok. Siska sering curhat ke Yoan tentang cowok-cowok yang mendekatinya. Siska benar-benar polos tentang semua masalah cowok karena orang tuanya yang sangat ketat dengan masalah pacaran. Orang tua Siska hanya mengijinkan Siska berteman dengan cewek dan bukan cowok.

    Sementara itu kepolosan dan kebaikan Siska membuat Yoan merasa sangat berkuasa. Sifatnya yang dari dulu tomboy membuat Yoan menjadi ingin memiliki Siska secara keseluruhan termasuk dalam hal seks. Yoan dari SMA sudah disekolahkan di sekolah khusus perempuan dan tinggal di asrama. Di sana ia mengenal dunia lesbian, walaupun tidak menyeluruh. Tapi ia sudah mengenal pelampiasan nafsu seksual dengan sesama jenis sejak di asrama, di mana ia membantu temannya masturbasi dengan tangannya, dan juga oral seks.

    Pada kelas tiga SMA, Yoan berpacaran dengan anak luar sekolah dan berhubungan seks dengannya. Hubungan seks dengan lawan jenis juga disukai Yoan, ia menikmatinya seperti saat ia menikmati telanjang dengan sesama jenis dan saling meraba. Bedanya dengan lawan jenis adalah ia berada di bagian yang lemah dan tidak berkuasa, sedangkan dengan sesama perempuan ia menjadi yang berkuasa dan bisa melakukan semua yang diinginkannya.

    Setelah ia lulus SMA dan kuliah di Bandung, ia tidak menemukan sesama perempuan untuk memenuhi hasratnya, sampai semester 1 berakhir. Ia berkenalan dengan Siska ketika mereka mendapat tugas kelompok untuk dikerjakan bersama. Kebetulan mereka duduk bersebelahan dan Siska mengajak Yoan menjadi anggota kelompoknya, dan Yoan pun tidak menolaknya.

    Yoan kemudian memperhatikan bahwa Siska adalah perempuan yang benar-benar sesuai dengan seleranya, lemah, polos dan penurut. Fisik Siska pun juga sangat menarik dan banyak cowok yang mengejarnya, namun ditolaknya semua karena otaknya sudah terdoktrinasi oleh kedua orang tuanya tentang bagaimana bahayanya lelaki jaman sekarang, yang mana sangat menguntungkan bagi Yoan.

    Tinggi Siska kira-kira 162 cm dengan berat badan 55 kg. Ia terkesan agak bongsor tetapi sangat manis bila dilihat. Pantatnya besar dan menggemaskan, dan payudaranya juga montok dan merangsang birahi orang yang melihatnya. Rambutnya panjang dan modis, dengan wajah yang polos dan sangat manis bila tersenyum. Kulitnya putih mulus dengan bulu-bulu halus di punggung tangannya.

    Sementara Yoan bertubuh langsing, dengan tinggi 160 cm dan berat 48 kg, dengan rambut hitam seleher dan kulit agak hitam. Pantat dan payudaranya terlihat kencang dan terlatih berkat aerobik yang rutin dilakukannya, walaupun lengannya terlihat terlalu besar untuk wanita seukurannya. Ia juga adalah cewek yang sangat kuat dan atletis. Tidak ada yang mampu menandingi staminanya dalam kegiatan olahraga yang diadakan kampus.

    Pada awalnya sebenarnya ia merasa Siska itu terlalu alim dan polos untuk diajak berlanjut ke hubungan lesbian, apalagi Siska dan keluarganya sangat aktif di salah satu kegiatan rohani di Bandung. Tapi kemudian semuanya mulai menjadi jelas ketika Siska sering curhat bahwa ia beberapa kali masturbasi, dan kurang mengerti bagaimana mencapai klimaks. Ia pun juga tidak pernah melihat film-film XX yang memaparkan hubungan seks secara detail.

    Akhirnya Yoan berhasil mempengaruhinya bahwa ia bisa membantunya mencapai klimaks yang sangat dalam dan memuaskan, ceritasexdewasa.org setelah meyakinkannya berkali-kali bahwa hal itu tanpa resiko penyakit dan kehamilan, dan tidak terlalu berdosa, juga dengan banyak penjelasan yang merangsang tentang bagaimana indah dan menyehatkannya klimaks yang hebat itu, dan juga menyegarkan pikiran serta melancarkan aliran darah.

    Akhirnya terjadi juga pada hari Minggu sore itu. Yoan tak akan pernah melupakannya, Minggu sore 13 Mei 2001, di ruang tamu rumah Siska, Siska akhirnya bersedia mencobanya. Walaupun Yoan masih belum puas menikmati selangkangan Siska hari itu, ia masih cukup membayangkan ia akan menikmati Siska lagi esok hari, di kost-nya yang sepi, sepanjang sore. Dan saat itu, ia pasti sudah menyiapkan segalanya demi kepuasannya, dan untuk menundukkan Siska pada perintahnya, untuk selama-lamanya.

    Yoan lalu melucuti pakaiannya sampai ia telanjang bulat, lalu mulai menyiapkan segala sesuatunya buat esok hari di dalam kamarnya dengan selengkap-lengkapnya, kemudian setelah itu ia melakukan push-up dan angkat barbel untuk kekuatannya, dan bermasturbasi dengan gila-gilaan sebanyak tiga kali dengan bayangan Siska yang memohon-mohon belas kasihan padanya besok, sampai akhirnya ia tidur kelelahan di ranjangnya.

    Yoan mengintip dari jendela kamarnya ketika ia mendengar suara mobil memasuki halaman parkir kost-nya. Dilihatnya Suzuki Esteem warna abu-abu tua milik Siska sudah datang. Yoan segera berlari turun untuk membukakan pintu. Di depan pintu sudah ada Siska menunggunya. Ia kelihatan cantik sekali pagi ini, dengan rambutnya yang ditimpa matahari sehingga menjadi berwarna kemerahan, dan kaos ketat hijau kesayangannya serta celana jeans warna biru tua yang kemarin dipakainya. Yoan hanya mengenakan daster merah yang tipis tanpa mengenakan apa-apa lagi di dalamnya, dan ia dapat merasakan bahwa selangkangannya mulai lengket.

    “Kamu keliatan cakep banget hari ini, Sis!” kata Yoan sambil menyuruh Siska masuk dan mengunci dobel pintu depannya.

    Ia tak ingin diganggu siapa pun hari ini, termasuk teman kost-nya.

    “Thanks.. dan kamu vulgar banget hari ini, Yo..” kata Siska sambil melihat tubuh Yoan yang menerawang di balik dasternya.
    “Kost kamu sepi hari ini?”
    “Iya, Monik dan Rini lagi KP di Bali, Stanley ujian sampe malam dan langsung nginep di rumah temennya, trus Yaya lagi nginep di kost cowoknya, misalnya balik kost juga pasti cuman bentar,” kata Yoan sambil naik ke kamarnya dengan diikuti Siska.
    “Berarti di kost cuman kamu doang seharian ini?”
    “Yoi,” jawab Yoan ringan.

    Begitu sampai di kamar, Yoan menutup korden jendelanya dan menyalakan lampu kecil di kamar itu. Suasana menjadi remang-remang dan bernuansa merah. Yoan lalu menyalakan lilin-lilin besar dalam gelas di dekat ranjang, yang dalam sekejap memancarkan cahaya kuning dan menebarkan aroma yang sensual.

    “Yoan, apa kita mau langsung sekarang juga?” tanya Siska.
    “Yup,” jawab Yoan sambil langsung melumat bibir Siska dengan penuh nafsu.

    Lidah Yoan yang mencari-cari akhirnya dibalas oleh lidah Siska yang tidak berpengalaman, yang kemudian ikut tenggelam dalam lautan birahi. Kemudian Yoan tiba-tiba melepaskan ciumannya dari bibir Siska yang meminta-minta, meninggalkan pandangan kebingungan di mata Siska. Yoan lalu berjalan menuju pintu kamar, lalu menutupnya, dan ia melakukan hal yang sama terhadap pintu kamar mandinya.

    Seketika suasana menjadi sangat merah dan dan hanya cahaya-cahaya lilin yang tersisa dan bohlam kecil warna merah. Daster tidur warna merah yang dipakai Yoan tampak serasi dengan suasana saat itu sehingga membuatnya tampak seksi dan membuat lekuk-lekuk tubuhnya tampak jelas di antara nyala lilin.

    “Buka bajumu Siska,” kata Yoan, “Semuanya, aku ingin melihat kamu telanjang di depanku.”
    “Aaa..”
    “Jangan bicara Siska, kamu nggak ingin merusak suasana romantis ini kan?” lanjut Yoan, “Turuti saja omonganku dan semuanya pasti indah dan menyenangkan.”

    Siska kemudian mulai membuka sabuknya tanpa berkata apapun. Ia mengakui bahwa suasana ini sangat romantis dan menimbulkan kesan aneh tapi sensual, dan ia jelas tak ingin merusaknya. Ketika ia sudah tinggal bra dan celana dalam, ia mulai agak merasa risih. Ia belum pernah telanjang lebih dari ini dengan siapa pun juga, kecuali kemarin tentu saja, ketika ia dilanda nafsu birahi yang hebat.

    “Terusin Siska, jangan mengecewakan aku.”

    Akhirnya Siska membuka bra-nya dan kemudian celana dalamnya, kemudian berdiri dengan risih di depan Yoan. Butir-butir keringat mulai membasahi keningya karena udara yang sangat panas di dalam kamar. Yoan mengamatinya dari kepala sampai kaki. Yoan tak dapat menahan rasa bahagianya, karena fantasinya akan menjadi kenyataan. Ia belum pernah benar-benar berkuasa atas seseorang sebelum ini, bahkan cewek-cewek di asrama pun membuka bajunya dengan sukarela, bukan dengan malu-malu seperti ini.

    Tubuh Siska sangat indah, dengan payudara besar yang turun di dadanya, tetapi tidak lembek, melainkan sangat montok dan berlemak, selain putih mulus. Pangkal pahanya dipenuhi bulu-bulu yang membentuk segitiga berwarna hitam dan agak lebat. Yoan tak kuasa untuk tidak menelan ludahnya. Lalu Yoan melepas dasternya dan berdiri telanjang bulat di hadapan Siska. Mereka berdua berdiri telanjang berhadap-hadapan dalam jarak dua meter, mata Yoan menatap tajam penuh nafsu ke mata Siska, sedangkan Siska menatap malu-malu ke mata Yoan, dan ke tubuh Yoan yang sempurna.Cerita Sex Dewasa

    Yoan berjalan mendekati Siska, selangkah demi selangkah. Kemudian ia memeluknya, dan berbisik di telinganya, “Ini saatnya, Sis. Saatnya bagi kamu buat pasrah, serahin saja ke aku, demi kenikmatan kita berdua..” Lalu Yoan melumat bibir Siska dengan penuh nafsu yang langsung disambut oleh lidah Siska yang membara. Siska melakukannya dengan sangat baik, membuat Yoan semakin bersemangat untuk memilikinya. Mereka berpelukan, merasakan kedua payudara mereka bersentuhan, dengan puting-puting mereka saling bersentuhan dan kemudian semakin mengeras.

    Siska menggesek-gesekkan dadanya ke dada Yoan semakin keras seakan ia tidak sabar untuk merasakan kenikmatan. Yoan menyadari ini, hingga ia kemudian mendorong Siska sampai jatuh ke ranjangnya yang besar dan empuk, yang menjadi basah oleh tubuh Siska yang berkeringat. Siska sudah tak sabar menginginkan kepuasan seperti kemarin.

    Ia lalu membuka kakinya lebar-lebar, menunjukkan selangkangannya yang lembab oleh cairan kewanitaannya. “Lakukan sekarang Yoan,” kata Siska penuh harap.

    Tapi kemudian Yoan tidak langsung menuruti kata-kata Siska, melainkan ia menuju ke arah kepala ranjang. Di sana ia mengambil tali nilon, yang ternyata telah terikat ke kaki-kaki ranjangnya, dan mengikatnya ke pergelangan tangan Siska sebelah kanan. Siska hanya menatap dengan pandangan penuh tanya, tapi tak berkata apa-apa, takut merusak suasana.

    Yoan melakukannya juga dengan pergelangan tangan Siska yang sebelah kiri, juga terhadap kedua pergelangan kakinya. Kebingungan Siska langsung terlupakan ketika Yoan lalu merebahkan diri di atasnya, dan mulai menghisap-hisap puting susunya, pertama-tama ia menghisap dengan lembut, kemudian dihisapnya sekuat-kuatnya, kemudian lembut kembali, membuat Siska menjadi gila karena nikmatnya.

    Setelah beberapa menit bermain dengan puting susu Siska, mulut Yoan mulai turun menjelajahi perutnya, lalu turun lagi ke pahanya, ke bagian dalam pahanya, dan kemudian berhenti. Siska seakan tersentak ketika Yoan tidak merangsangnya lagi, diangkatnya kepalanya ke atas untuk melihat apa yang sedang Yoan lakukan. Dan dilihatnya Yoan yang sedang memandangi sela-sela pahanya. Yoan sedang menikmati apa yang dilihatnya sekarang.

    Ia belum pernah melihat kemaluan yang begitu alami seperti ini, masih benar-benar perawan. Dengan bibir vagina yang tipis berwarna merah muda kecoklatan, tapi gemuk di bagian luarnya, dan gumpalan daging yang menyembul di bagian atas berwarna coklat muda. Bagian bibir dalamnya tertutup rapat, tidak memperlihatkan bekas-bekas pernah dipenetrasi oleh benda-benda asing. Dan semua itu dilapisi oleh rambut-rambut yang tipis pada bagian sekitar vagina sampai dekat anus, dan menebal pada bagian di atas klitoris. Semuanya tampak begitu basah dan mengkilap, serta menunggu untuk dinikmati olehnya, semua keindahan itu hanya untuknya.

    Yoan tidak dapat menahan dirinya lebih lama lagi dan langsung melumat selangkangan Siska yang gemuk. Jari-jarinya bergerak terlatih memainkan klitorisnya, sementara lidahnya bergerak-gerak lincah di bawahnya, berusaha mencari lubang surgawinya. Gerakan Yoan yang begitu cepat dan intens membuat Siska tenggelam dalam kenikmatan yang begitu diimpikannya selama ini, membuatnya bergerak kesana kemari karena sensasi yang ditimbulkannya, tapi gerakannya terbatas oleh tali yang mengikat keempat anggota tubuhnya dengan kuat.

    Mulut Yoan semakin liar, lidahnya sudah menjulur masuk ke dalam lubang kemaluannya, berusaha menghisap apa saja yang ada di situ, sementara jari telunjuk dan jari jempolnya semakin kasar memainkan klitorisnya, sementara tangan kanannya sendiri sudah menjelajah ke dalam kemaluannya sendiri, yang sudah meminta-minta. Siska mengerang-erang semakin keras sementara jilatan-jilatan dan hisapan-hisapan Yoan serta gerakan jari tangannya semakin gila bekerja di pangkal paha Siska yang sudah lembab.

    “Yoan.. terus Yoan.. terus.. sebentar lagi.. sedikit lagi Yoan.. ah.. ahh!” Siska mulai berteriak dengan penuh kenikmatan menuju orgasmenya yang hebat.
    “Ahh.. ahh.. sekarang Yoan.. sekarang waktunya..” dan akhirnya Siska tenggelam dalam kenikmatan orgasme yang sensasional ini, seluruh tubuhnya bergetar hebat, selangkangannya seakan mau meledak akibat sensasi yang ditimbulkannya, seakan-akan seluruh aliran darahnya terpusat hanya di otot-otot vaginanya saja, yang kemudian tertarik kesana kemari dalam kenikmatan.

    Tapi kenikmatan itu tidak berlangsung lama ketika mulut Yoan tetap dalam intensitas yang sama, mencari-cari tiap titik kenikmatan di lubang kemaluannya, dan jarinya yang terus-menerus menarik dan memainkan klitorisnya.

    Ketika saraf-saraf kenikmatan di vaginanya mulai beristirahat dan menjadi sensitif, Yoan seakan tidak peduli dan terus menjelajahi selangkangan Siska dengan liar dan kejam.

    “Cukup Yoann.. aku sudah.. aku.. tolong.. Yoan cukup.. ini berlebihan,” rengek Siska sambil berusaha menjauhkan kepala Yoan yang seakan menempel pada selangkangannya, tapi tentu saja usaha itu percuma karena kedua tangan dan kakinya yang terikat erat di kaki-kaki ranjang.
    “Cukup Yoan.. tolong.. aku menderita.. aku..” kata-kata Siska tak dilanjutkan lagi ketika ia hanya bisa terengah-engah kesakitan, ketika vaginanya yang belum terlatih terus-menerus dirangsang pada saat sedang sensitif.

    Setelah mendengar rengekan-rengekan Siska, Yoan seakan semakin gila. Ia memperkuat hisapan-hisapan dan jilatan-jilatan pada area sensitif Siska, dan jari-jarinya pun juga semakin kasar. Hisapan-hisapan ini membawa Siska menuju orgasme berikutnya, yang dibarengi dengan rasa sakit tapi juga kenikmatan yang aneh.

    Tak lebih dari satu menit kemudian Siska sudah di ambang orgasmenya yang kedua, dibarengi dengan lidah dan jari Yoan yang semakin menggila, vagina Siska meledak dalam kenikmatan dan kesakitan dalam waktu bersamaan. Saraf-saraf vaginanya yang sudah lelah berkonstraksi lagi selama beberapa kali, membuat Siska terlonjak dari tempat tidurnya dalam kesakitan dan kenikmatan yang murni, dalam konteks yang tak pernah dibayangkannya sebelumnya.

    “cukup Yoan.. cukup.. aku sudah puas.. aku sudah nggak kuat lagi..” kata Siska lirih.

    Tapi ini masih juga belum berakhir. Yoan yang sudah gila menjadi semakin binal mendengar suara Siska yang manja dan penuh belas kasihan. Ia ikut klimaks setiap kali Siska orgasme, dan ia masih belum puas, berarti ia harus meneruskannya. Yoan terus menghisap-hisap vagina Siska yang lembab dengan suara keras, dan lidahnya terus menjulur semakin dalam ke lubang kemaluannya.Cerita Sex Dewasa

    “Jangan Yoann.. aku nggak tahan.. tolong.. jangann..” teriak Siska.

    Siska menggeliat-geliat kesetanan dalam ikatannya ketika vaginanya yang sudah sangat sensitif dan belum terlatih itu dilumat kembali oleh Yoan.

    Satu menit kemudian Siska kembali tenggelam dalam sensasi aneh antara kesakitan yang amat sangat dan kenikmatan yang terombang-ambing antara ada dan tidak. Saraf-saraf vaginanya kembali berkonstraksi dengan keras oleh rangsangan-rangsangan dari lidah dan jari Yoan untuk ketiga kalinya. Siska sudah hampir tidak sadar, ia hanya merasa panas dan merah di sekelilingnya, sementara vaginanya yang sudah sangat sensitif itu berkonstraksi lagi dan lagi, dan meledak dalam orgasmenya yang ketiga kali. Siska sudah tidak lagi meronta-ronta lagi, ia sudah hampir tidak bereaksi lagi. Hal in membuat Yoan tersadar bahwa mungkin ini terlalu inten untuk pengalaman pertama. Mungkin beberapa kali lagi baru Siska akan bertahan.

    Akhirnya Yoan menghentikan semua bentuk rangsangannya ke selangkangan Siska. Siska langsung sadar kembali ke dunianya, samar-samar dirasakannya vaginanya yang super sensitif dan sangat basah dan lengket. Kemudian dilihatnya Yoan berbaring di sampingnya, sedang menggesek-gesekkan kedua tangannya di vaginanya sendiri, semakin lama semakin cepat, sampai akhirnya Yoan menggelepar dalam kenikmatannya sendiri.

    Baca Juga Cerita Seks Tante Selfi

    Sekitar 5 menit kemudian Yoan terbangun dan menoleh kepada Siska, dilihatnya wajah Siska yang sedang kelelahan, dengan rambut basah kuyub oleh keringat dan napas yang mulai beraturan. Ia bangkit dan diciumnya bibir Siska, dalam dan lama. Ketika ciuman itu berakhir, Siska membuka matanya dan dilihatnya senyuman bahagia Yoan di depannya. Siska tersenyum tipis dan lemas.

    “Bagaimana Sayang? Nikmat kan tadi? Maaf kalau aku terlalu kasar.” kata Yoan.
    “Aku capek sekali, Yoan..” kata Siska pelan,
    “Dan kurasa aku tadi sudah diambang batas antara pingsan dan sadar.”
    “Ya, aku tahu, tapi akui saja tadi merupakan pengalaman klimaks terhebat yang pernah kamu alami bukan?” jawab Yoan, “Dan itu baru saja permulaan dari serangkaian pengalaman yang akan kita jalani, Sayang.”

    Tangan Yoan turun dan menyentuh selangkangannya, membuat Siska terlonjak saking kagetnya, “Ouch.. ati-ati Yoan,” kata Siska.

    “Sorry Sayang, cuman ingin merasakan lagi, aku belum puas nih,” jawab Yoan sambil menarik tangannya yang basah oleh cairan kemaluan Siska dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
    “Hmm.. tastes so good..” Yoan lalu melepaskan ikatan di tubuh Siska dan mereka mengobrol selama 30 menit lebih dekat dan akrab dari pada yang pernah mereka lakukan selama ini.

  • Dipatok 3 Burung

    Dipatok 3 Burung


    11 views

    Fela pulang kerja jalan kaki, jalanan cukup sepi, sementara suara guruh sesekali terdengar. Awan terlihat mendung dilangit malam itu.
    Cewek yang tingginya sekitar 170 cm, langsing, kakinya juga jenjang banget (Fela waktu itu pake rok yg rada mini) mempercepat jalannya.

    cerita-sex-dewasa-dipatok-3-burung

    Pukul 20:00 jalanan diluar rumah Fela, sepi jarang ada mobil yang lewat. Penduduk kota sudah tahu akan ada badai besar malam itu.

    Kelima berandal yang bertubuh kekar itu mengendap-endap memasuki pekarangan rumah. Mereka mau membalas cewek bertampang melankolis itu yang memergoki mereka mencuri minuman keras tadi,dengan melaporkan satpam. Mereka berencana berpesta memperkosa cewek itu habis-habisan sebagai balasannya.

    “Sssstttt…..hati-hati jangan berisik…..ayo sini….” Bisik Emilo sambil memberi aba-aba untuk segera maju bersembunyi dikebun rumah Fela yang penuh semak-semak.

    Sementara itu Fela tidak mengetahui kalau dirinya diikuti oleh para berandal sejak sepulang kerja tidak menaruh curiga. Cewek itu menyalakan kran air mandi, lalu menuju kekamarnya. Fela menyalakan lagu disco, sambil melepaskan baju kerjanya.

    Di kebun para berandal sudah mulai mengendap- endap sambil menyusun rencana untuk masuk ke dalam rumah. Edi dan Jack mendapat tugas mengawasi jalanan, sedangkan Emilo membuka pintu depan, Joe dan Billie mencari jalan masuk lewat belakang.

    Pada saat itu secara tidak sengaja Joe melewati jendela kamar Fela yang lagi membuka baju kerjanya. Roknya berada diatas ranjang, sementara Fela yang tubuhnya cuma terbungkus kemeja kerja dan celana dalam sambil berdisco membuka kancing kemejanya.

    Joe segera memanggil Billie untuk melihat pemandangan itu. Mereka menelan ludah melihat Fela yang meliuk-liuk merangsang menari disco. Ukuran dadanya yang sekitar 36B keliatan jelas banget belahannya ketika cewek itu sudah melepas kemejanya.

    “Wow, Joe…LOOK AT HER TITS….aku ingin segera mencicipi tubuhnya….” Bisik Billie tanpa melepaskan padangan matanya menatap tubuh Fela yang hanya mengenakan baju dalam.
    “He…he….he…sabar, Bill…nanti kita cicipi sama-sama, sampai pagi!” sahut Joe yang makin bernapsu melihat hal itu.

    Beberapa saat kemudian Fela beranjak menuju kekamar mandi. Sementara itu Emilo yang berhasil membuka pintu depan segera memberi aba-aba pada teman-temannya untuk masuk. Para berandal itu sudah memperhitungkan segalanya, mereka mengunci pintu dari dalam sehingga nanti mereka bebas bertindak.

    Kabel telpon sudah mereka putus, cewek itu tinggal sendirian dan lagi badai yang akan datang sangat menguntungkan rencana mereka. Dengan leluasa mereka masuk ke kamar cewek itu. Jack membuka kulkas, yang lain masuk ke kamar Fela. Edi memeriksa lemari pakaian Fela.

    “Hai….lihat apa yang kutemukan!” sambil menunjukkan barang temuannya. Joe segera menyahut celana dalam itu.

    “Hmmmmm….mmmm…” Joe mencium celana dalam

    “Ingat aku yang pertama bercinta dengannya!” sahutnya sambil tersenyum penuh arti. Para berandal itu tak sabar membayangkan apa yang akan mereka nikmati. Lalu mereka mengambil posisi untuk bersembunyi.

    Fela selesai mandi menuju keruang tengah. Tubuhnya hanya terbalut oleh baju dalam dan kemeja putih, duduk menikmati acara TV kabel.
    Waktu itu pukul 20:30, cewek itu tidak menaruh curiga bahwa ada orang lain dalam rumahnya. Tiba-tiba dari arah belakang salah seorang berandal maju mendekap tubuhnya. Fela terkejut dan segera berontak melepaskan diri.

    “EVER BEEN GANG RAPED BABY? DON’T KNOW WHAT YOU BEEN MESSIN! YOU STILL REMEMBER US DON’T YOU……” ejek Edi.

    Fela segera mengenali wajah itu menjadi ketakutan sekali, ia tak menyangka kalau para berandal itu benar-benar melaksanakan ancamannya.

    Joe maju menerkamnya tiba-tiba, cewek itu menjerit ketakutan ketika berhasil dipeluk. Ia meronta-ronta dan menendang Joe. Tanpa disadarinya tendangannya mengenai selangkangan Joe membuatnya meringis kesakitan dan melepaskan dekapannya.

    Fela segera melepaskan diri dan lari menuju pintu depan. Para berandal segera mengejarnya sambil menyorakinya. Dengan sekuat tenaga pintu depan itu berusaha dibuka, tetapi usahanya sia-sia.

    “Wooooo……woooooo……ha…ha…ha….ayo sayang, mau lari kemana kamu hah….ayo sini…ha…ha….ha…” Ejek para berandal yang mengejarnya dari belakang. Fela segera dikepung oleh para berandal. Mereka menyoraki ketidak berdayaannya.

    Fela didesak terus sampai merapat kedinding, Joe yang tadi meringis kesakitan mulai maju. Pada saat cewek itu hampir putus asa, ia berhasil berkelit dari kepungan berandal itu, lolos dan lari menuju ke dapur, Fela bermaksud lari lewat pintu belakang.

    Para berandal segera mengejarnya lagi. Nasib sial bagi Fela, begitu tangannya berhasil menyentuh gagang pintu, para berandal berhasil menangkapnya kembali. Rambut pirang Fela yang panjangnya sebahu terjambak, sehingga ia tidak bisa berbuat apa-apa.

    “Aaaahhhh….aammpun…aaah” hiba Fela, sementara para berandal tersenyum sinis memandangnya.

    “Sayang…. Kami akan memberimu pengalaman yang tak akan kau lupakan! kau tadi telah merusak acara pesta kami, sekarang kau harus membayarnya dengan tubuhmu yang indah itu……ha…ha..ha…, oya kau juga akan menyesal telah menendang punyaku, akan kujoblos kau sampai mampus! ” Joe maju dari kerumunan temannya.

    Fela tak berdaya, rambutnya dijambak sementara tangannya dilipat kebelakang. Dari dapur ia diseret menuju ruang tamu saat itu pukul 20:45. Disana ia dikelilingi oleh kelima berandal sambil didorong-dorong.Cerita Sex Dewasa

    “Sayang, kita akan berpesta denganmu!” seru Edi tak sabar sambil mendorong ke arah Billie.

    “Ha…..ha…ha…. kau tak akan bisa lolos kali ini….” Ejek Billie sambil mendekap tubuh Fela. Mereka berteriak-teriak membuat Fela makin ketakutan.

    “Kemarikan dia Bill….HEY BABE, I BET MY COCK WOULD FEEL REAL GOOD WARPED UP IN YOUR PUSSY!” seru Jack tak sabar, sambil mempraktekkan gaya bercinta penuh napsu

    Fela didorong ke arah Jack yang segera merangkul nya dari depan. Mulutnya segera mencari dada cewek itu, sementara pinggulnya bergerak maju mundur seakan sedang bercinta dengannya.

    “Wooooo…. Wooooou…..FUCK YOU GIRL, FUCK YOU…..” Jack menggerayangi cewek itu.

    “Aaaahhhh…….aaam…punnn….aahhh…..jaa…aa ahhhh!!!” jerit Fela ketakutan.

    Tiba-tiba dengan satu sabetan, tangan salah satu berandal merobek kemeja putih Fela, membuat cewek itu terpelanting. Emilo segera mendekap dari belakang. Sekarang tubuh Fela hanya mengenakan BH dan celana dalam saja, membuat mereka makin menjadi-jadi.

    “Ah…aahh…aahh!” jerit Fela ketika tangan Emilo yang mendekap tubuhnya dari belakang mulai menggerayangi pahanya yang putih mulus.

    “Kita akan memberimu pengalaman yang tak terlupakan, manis…ha…ha…ha…” bisik Emilo.

    Para berandal lainnya ikutan beraksi. Tangan Edi meremas remas buah dada Fela. Jack memburu kemaluan Fela, sementara Billie dan Joe buka baju dan celana panjang mereka sambil tertawa sinis. Tubuh para berandal itu terlihat begitu kekar dan berotot.

    “HEY, SOMEBODY GET BEHIND THE BITCH AND HOLD HER ARMS, I’M FUCKING HER FIRST!” Joe memberi aba-aba yang langsung disetujui teman-temannya. Cewek itu meronta-ronta di bopong kelima berandal itu keruang tengah.

    “Jack, Emilo, kau pegangi tangan dan kakinya, terlentangkan dia di meja ini” perintah Joe.
    Lonceng berdentang menunjukkan pukul 21:00. Disana Fela diterlentangkan di atas sebuah meja bundar. Masing-masing tangan dan kakinya dipegangi erat-erat oleh para berandal.

    Sinar lampu diatas meja membuat cewek itu silau, Fela hanya bisa melihat tubuh-tubuh kekar mengerubunginya dan tangan-tangan berotot meraba-raba dadanya, wajah sinis dan suara tawa para berandal mengejek ketidak berdayaannya.

    Lidah Joe menelusuri lehernya yang jenjang. Fela berontak berusaha melepaskan diri, tetapi apa daya tenaga seorang cewek dibanding dengan lima laki-laki yang kesetanan.

    Jack dan Edi memegangi kakinya, sementara tangan kanan dan kiri Fela dipegangi erat-erat oleh Emilo dan Billie. Joe mencumbunya dengan kasar dan penuh napsu, tangannya dengan liar meremas-remas buah dada Fela.

    “I CAN SEE THE NIPPLES POKING AT HER BRA!” kata Joe yang langsung disambut oleh tawa para berandal.

    “HEY, CUT THAT BRA OFF MAN. WHAT’S WRONG WITH YOU?” sahut Emilo sudah tidak sabar lagi.

    “Aaaah…..aaah….ooh…jangan…..aahkh!” jerit Fela ketika dengan satu hentakan kasar tangan Joe merobek BH yang dikenakannya.

    Para berandal makin seru menyorakinya. Mulut Joe segera melumat buah dada Fela yang sintal, sementara tangan kirinya masih meremas-remas buah dada sebelah kanan Fela.

    “Aaaaah….aaoooh…..ooooh…aahh …aaaahh…aaahhhhh….” desah Fela mengeliat-liat. Putingnya dijilati penuh napsu oleh lidah Joe.

    “Ha….ha….ha…. kau sungguh mengiurkan sayang!” tawa Billie menelan ludah tak sabar ingin segera menikmati gilirannya. Joe sekarang membuka celana dalamnya sendiri, penisnya yang hitam besar 10 inci itu terlihat tegak siap beraksi.

    “Kenyal sekali…..ha…ha…ha…”seru Joe sambil menerkam dan mulutnya menciumi buah dada cewek itu dengan buas.

    Tubuh Fela mengeliat-liat membusur, sementara buah dadanya diremas-remas sampai merah. Lidah Joe menelusuri buah dada Fela, lalu turun ke daerah perut dan menjilati pusarnya. Beberapa saat kemudian sambil tersenyum sinis, mata Joe memelirik kearah paha Fela.

    “Oooohhh….jangan…..aaahhhh….” hiba Fela ketakutan tidak berani membayangkan diperkosa oleh kelima berandal kekar dan berotot.

    Lalu tangan Joe mulai memelorot celana dalam Fela. Cewek itu berusaha mempertahankannya

    “Ha..ha…ha…percuma kau berontak manis!” ejek Joe ketika Fela berontak sekuat tenaga, tetapi Billie dan Emilo makin erat memegangi tangan Fela, perlahan- lahan celana dalamnya terlepas, rambut kemaluan Fela terlihat ketika celana dalam berwarna pink itu dari pinggul dilorot turun kepahanya dan akhirnya terlepas.

    “Cihuuuiiii……Ha…ha…ha….PARTY TIMES… ha…ha…ha….” Teriaknya sambil memutar-putar celana dalam itu, lalu dicium dalam-dalam menikmati aromanya dan dilemparkan kelantai. Mata Joe jelalatan memandangi Fela yang telanjang bulat terlentang diatas meja.

    Fela lemas karena ketakutan, ia tak berani membayangkan para berandal itu akan ‘menelan tubuhnya ramai-ramai’. Para berandal makin ramai menyorakinya, mata mereka jelalatan memandang setiap lekuk tubuh Fela. Emilo yang tadi memegangi tangan Fela digantikan oleh Billie.

    “Oooooh…..aaaahh….am…pun…..aaaah…jang… an…aaahh..” hiba tangis Fela.

    “Diam!….THERE’S GOING TO BE A BIG PARTY IN YOUR PUSSY TONIGHT…..Ha…ha…ha…kita lihat siapa yang paling hebat bercinta denganmu!” ejek Emilo mendekati Fela sambil mengeluarkan pisau lipat.

    Fela ketakutan ketika Emilo memainkan pisau itu diantara buah dadanya sambil tersenyum sinis memandang tubuhnya. Pisau itu bergerak kearah puting susunya dan diputar-putar mengelilingi belahan buah dada Fela yang naik-turun karena napasnya tak beraturan.

    Hal itu membuat para berandal benar-benar terangsang. Pisau itu terasa dingin di buah dada Fela, lalu pisau itu bergerak kearah perut cewek itu dan turun ke daerah bawah pusar cewek itu. Edi menyeringai penuh arti ketika mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Emilo dengan pisau lipatnya.

    “Ayo Milo, cukur sampai habis…..ha…ha…ha…ha…” seru Edi kegirangan.

    “Aaaahh…..ohhhh…jangan….aaah….” teriak Fela sambil berontak, tetapi para berandal itu makin mempererat pegangannya, sementara pisau lipat itu dengan buas mulai beraksi mencukur rambut kemaluannya.

    “Ha…ha….ha… kesempatan yang langka ini tak akan kami lewat begitu saja. Ayo manis berteriaklah semaumu, tak akan ada yang mendengarmu saat ini.” Ejek Joe sambil menerkam buah dada Fela,

    Diremasnya kuat-kuat membuat cewek itu mengerang kesakitan sementara Emilo mencukur rambut kemaluannya tanpa foam pelicin sehingga Fela merasa perih. Billie, Jack dan Edi yang memegangi kaki dan kedua tangan Fela tertawa melihat cewek itu meronta-ronta.

    “Aaaaaagggg….aaaaoooohh….ooooohhh…oohh.. .” desah Fela buah dadanya diremas-remas oleh Joe. Suara desahan itu membuat para berandal itu makin terangsang.

    Dengan buas pisau Emilo beraksi, dalam beberapa menit saja rambut kemaluan Fela telah tercukur habis. Daerah kulit bawah perut Fela yang tadinya ada rambut kemaluannya terlihat memerah. Emilo tersenyum puas,

    Joe segera maju sambil mementang kaki cewek itu lebar-lebar, sekarang ia berada diantara pahanya , memandang kemaluan Fela yang terlihat jelas karena rambut disekitar daerah itu habis tercukur.

    “Ha…ha…ha…buah dadamu sungguh lezat, NOW I’LL EAT YOUR PUSSY!” kata Joe sambil menjilatkan lidahnya sementara matanya melirik kearah kemaluan Fela.

    “Oooooh….lepas…kan….jang…an ..oooOOAAHH!” tangis Fela terhenti ketika Joe mulai menjilatinya. Lidah itu seakan menjulur panjang menjelajahi lorong vagina Fela. Tubuh cewek itu mengelinjang-gelinjang, sementara lidah Joe bergerak seperti cacing menggali lobang.

    “Oooooohhhhh…aaaauuuuoooo…oooouuu…aaaah. ..” Desis Fela sementara kepalanya hanya bisa menggeleng ke kiri dan kanan. Tubuh Fela bergetar, tangannya mengepal erat-erat, Emilo menciumi leher dan daerah sekitar ketiak, sambil tangannya mencubit puting susu cewek itu. Jack melepaskan kaki cewek itu, dan ikutan mencumbu perut Fela. Lidah Jack menjilati pusar cewek itu.

    “Uuuuuuhhhh….oooouuh…ooohhh…” suara desah Fela makin keras, ketika lidah Joe masuk makin dalam divaginanya.

    “Ha…ha…ha….percuma kau berontak sayang, mau tak mau kau akan menikmati pesta ini!” ejek salah satu berandal.

    Buah dada Fela memerah dan mengembang karena remasan tangan Emilo.

    Joe makin bersemangat, ketika vagina Fela mulai berlendir. Lidah itu menjelajah makin dalam bersamaan dengan pekik desah Fela. Emilo masih mengulum buah dada cewek itu.

    Putingnya disedot kuat-kuat, membuat cewek itu mengeliat menahan rasa nikmat dan sakit yang bercampur menjadi satu. Tanpa disengaja dari puting buah dada Fela keluar cairan putih seperti susu. Emilo lebih bersemangat lagi menyedoti cairan itu, sementara tangannya meremas-remas buah dada Fela agar keluar lebih banyak.

    “Uuuuggghhhh……uuuuuhhhh….uuuhhhh….aaauuuhh hhh….” desis Fela dengan napas tersedak-sedak.

    “Ha…ha…ha….ternyata tubuhmu menghianatimukan? Diam-diam kau menikmatinya……BITCH!!!!” ejek Emilo sambil menyedoti buah dada Fela, kanan-kiri.

    Lonceng berbunyi menunjukkan pukul 21:30. Rupanya para berandal itu senang bermain-main dengan tubuhnya dan berniat melakukan WARMING-UP sebelum memperkosanya.

    Fela hanya bisa mengeliat-liat dikerubuti para berandal yang kekar. Lidah Joe dengan lahapnya menjilati vagina Fela.

    Tidak puas hanya lidah, sekarang jari tangan Joe ikutan beraksi. Jari tengah dan telunjuk Joe masuk di lobang kemaluan cewek itu, diputar-putar seolah-olah mengaduk-aduk vagina Fela, sementara lidahnya ikut menjilati bibir kemaluan Fela.

    “Aaaauuuuhhhhh……uuuuuhhh…..aaahhhh” desah cewek itu makin keras, membuat para berandal itu tertawa mengejek ketidak berdayaannya. Jari tangan Joe menusuk masuk dan bermain-main dengan klitorisnya, membuat Fela mengelinjang-gelinjang.

    Mata Fela terpejam, kepalanya menggeleng ke kiri kanan, Jack menciumi pusarnya, tangan Emilo meremas-remas buah dadanya. Setelah puas bermain-main, Joe mementang kedua kaki Fela.

    “Joe mau pakai kondom?” tanya Billie. Joe menolak usul Billie.Cerita Sex Dewasa

    “NO WAY….Ha…ha…ha….I WANT TO FEEL SKIN TO SKIN…ok sekarang saatnya manis… NOW LETS SEE JUST HOW TIGHT YOUR CUNT IS!” Joe mengangkat pinggul Fela tinggi-tinggi.

    Penisnya sekarang digesek-gesekkan disekitar bibir kemaluan Fela berusaha menyibak belahannya. Mata cewek itu terbelalak kaget ketika merasakan kepala penis Joe yang besar dan hangat. Batang penis itu berdenyut-denyut dibibir kemaluannya.

    “Ohhh…ohhhh sekarang saatnya!” pikiran Fela melayang jauh ketika Joe mulai beraksi menindih tubuhnya.

    “Ayo Joe cumbu dia sampai mampus……Cihuuui!!!” para berandal itu memberi semangat.
    Joe merasakan rasa hangat yang mengalir pada kepala batang kemaluannya yang sudah menancap tepat pada pintu gua kenikmatan milik cewek itu.

    Joe menekan perlahan, seperempat dari bagian kepala kemaluannya mulai terbenam ….Fela menahan napas …. ditekan lebih dalam lagi …. separuh dari bagian kepala kemaluannya melesak masuk …. dengan lebih bertenaga Joe mendesak batang kemaluannya untuk masuk lebih dalam lagi.

    “Ayo Joe! sedikit lagi! Masukin saja semua! Biar dia rasain Joe!” Emilo menyoraki Joe sambil meremas-remas buah dada Fela.

    “AAAgggh!!!!” Pekik Fela merasakan sesuatu yang menyakitkan dipangkal pahanya ketika seluruh kepala kemaluan Joe sudah terbenam kedalam liang hangat miliknya, dengan satu hentakan yang kuat, penis Joe menyeruak masuk ke dalam vagina Fela membuatnya memekik kesakitan.

    Sementara badai diluar mulai turun dengan deras dimulailah pesta perkosaan itu. Fela terlentang diatas meja bundar diruang tengah, tangan dan kakinya dipegangi erat-erat oleh Billie dan Edi, buah dadanya dijilati, disedoti oleh Jack dan Emilo, sementara penis Joe mengoyak-koyak vaginanya dengan ganas.

    “Aaagh…..aaahh….ooooh….ooohh…” suara rintih Fela seiring dengan gerakan ayunan pinggul Joe yang kuat. Senti demi senti batang kemaluan Joe menelusur masuk menerobos keketatan liang kemaluan Fela yang sudah basah berlendir itu.

    Setiap ayunan Joe membuat tubuhnya mengelepar kesakitan karena penis yang besar itu berusaha masuk lebih dalam. Suara desahan Fela membuat para berandal itu makin bernapsu menikmati tubuhnya.

    “Ayo Joe…..genjot terus sampai mampus….. ha…ha…ha…” seru salah satu berandal.
    Joe merasakan begitu ketatnya ujung kemaluannya terjepit di dalam vagina Fela, selang beberapa saat penis itu terhenti menerobos keluar masuk.

    “CAN’T SEEM TO GET MY COCK DEEP ENOUGH INTO YOU BABY!” Joe mengatur posisi pinggulnya, “YOU SO DAMN TIGHT!.” kemudian dengan satu hentakan yang kuat membuat batang penis itu hilang tertelan kemaluan Fela.

    “AAAaaaaggggkkk!!” suara lolong histeris Fela ketika dengan satu hentakan kuat tanpa masalah penis itu beraksi lagi di liang vagina Fela yang berlendir, rupanya selaput perawan Fela robek.

    “Uuuugggghhhh…. SO YOU’RE STILL A VIRGIN? Ha…ha…ha….manis, kau tak akan melupakan pengalaman ini!” ejek Joe, Penis itu dengan mudah menerjang keluar masuk dengan cepat, sementara tubuhnya menghentak hentak barbar diatas Fela yang mendesah-desah tak berdaya.

    Kemaluan Fela terasa akan robek oleh desakan penis Joe yang menyeruak masuk keluar dalam-dalam seperti membor kilang minyak. Joe melengkuh-lengkuh nikmat, pinggulnya berayun-ayun memompa, penis itu keluar masuk.

    Kaki Fela terangkat tinggi diatas meja terayun-ayun seirama gerakan pinggul Joe menghujamkan keluar masuk batang penisnya yang dengan barbar beraksi divaginanya.

    Fela berharap ia dapat pingsan saat itu juga supaya tidak merasakan sakit yang tak terlukiskan itu. Para berandal itu menyanyikan lagu “ROW YOUR BOAT”.

    “Aaaahhh…aaaahh….ammm….pun….aahh…

    aaahh…aaahh….sakit..ahhhhh..aaaahhh….”jerit Fela. Pinggul Joe bergerak seperti pompa. Penis itu keluar masuk seiring desahan Fela.

    “Ayo Joe coblos terus, coblos…coblos…woooo…

    wooooo BABY….” teriak Emilo sambil menciumi dada cewek itu.

    “Delapan puluh delapan……delapan puluh sembilan….sembilan puluh…Ayo…” dengan semangat Edi menghitungi setiap hujaman penis Joe.

    “Aaaaahhh….wahhhhaaa….aaaah….uuuuh…

    uuugh….” pekik Fela, sementara Joe berayun-ayun diatas tubuhnya. Cewek itu hanya bisa terisak-isak. Suara petir menyambar di sela-sela badai.

    “YEAAAHHH. HOW’S IT FEEL, BABE, HOW’S IT FEEL WITH A REAL MAN’S BIG COCK IN YOUR BELLY? OOOOOOOOOOOOO YOU FEEL SO GOOD, SO HOT.” ejek Joe sambil memaksa Fela yang mendesah untuk melihat penisnya mengenjot keluar masuk lorong vaginanya.

    Fela bisa merasakan setiap inci dari otot dibatang penis Joe bergerak menelusuri lorong kemaluannya.
    “Uuuh…uuuh….uuaah…” lengkuh Joe, sudah sekitar setengah jam dia berayun-ayun diatas cewek itu, keringat membasahi tubuh keduanya, tetapi gerakan pinggulnya tetap ganas, penisnya menyodok-sodok dikemaluan Fela, tangannya menggerayangi pahanya dengan liar.

    Sementara itu Emilo membuka celana panjang dan celana dalamnya sendiri, penisnya panjang, (tetapi tidak sebesar Joe sekitar 8.7 inci) sudah tegak menegang.

    Jack masih asyik menyedoti puting buah dada Fela. Sesekali cewek itu berusaha memberontak, tetapi Edi dan Billie mempererat pegangannya. Joe melengkuh-lengkuh nikmat di atas tubuh Fela yang mengeliat-liat menahan berat tubuh Joe yang menindihnya.

    “Seratus enam puluh enam…… seratus enam puluh tujuh…..seratus enam puluh delapan…..ayo Joe taklukan dia….ha…ha…ha…” Edi menyemangati yang langsung diikuti oleh para berandal yang lain.

    “Seratus tujuh puluh tiga….seratus tujuh puluh empat…seratus tujuh puluh lima….” Para berandal yang lain ikutan menyemangati Joe.

    Tubuh dan buah dada Fela berguncang-guncang seirama dengan hentakan genjotan Joe yang makin liar. Vaginanya terasa terbakar oleh gesekan penis Joe yang buas.

    “Aaaaaaahhhh…..aaaaaa….aaaaaahh…..aahhhh…. ..ooooohhh” Fela melolong menahan sakit

    “Ayo…….ayo….seratus delapan puluh delapan…..seratus delapan puluh sembilan….seratus sembilan puluh….ha…ha…ha…” Edi memberi semangat.

    “Uuuuaah….uuuuuh….uuughh…tubuhmu nikmat sekali!” Joe mengejek Fela yang mengigit bibirnya menahan sakit. Pinggulnya maju mundur diantara selangkangan cewek itu. Jack dengan gemas mengigit puting buah dada Fela, sementara tangannya yang satu meremas- remas buah dada sebelah kanan.

    “Aaaaahh……uuuughhh…..uuughh…uuukkkh….ooo uuuughh…” rintih Fela, sementara gerakan Joe mulai pelan, tapi mantap.

    “Seratus sembilan puluh enam…..seratus sembilan puluh tujuh….” Semua berandal menyemangati Joe. Batang penisnya keluar masuk dengan barbar.

    “”I’M COMING, BABY!” lengkuh Joe.

    “OH GOD! NO, PLEASE ! NOOOOO!! NOO! DON’T COME INSIDE ME!!! NOOO, PLEASE!!!!…..AAAKKKHHHH!” kepala Fela terjengkang keatas, sementara terdengar suara lolong kesakitan ketika batang penis itu menghujam dalam-dalam divaginanya.

    Dengan satu hentakan kuat Joe mencapai klimax, penisnya menyemburkan sperma dalam lorong kemaluan Fela.

    “Uuuuuugggh…..ha…ha…ha….bagaimana?” ejek Joe sambil mencabut penisnya dengan perkasa.

    “kau akan digilir sampai pagi!!…..ha…ha…ha…NEXT!!!” seru salah satu berandal.

    Sementara itu kilat diluar menyambar-yambar, waktu itu pukul 22:25. Fela hanya bisa terisak-isak, Emilo maju sambil menyeringai. Tanpa perlawanan yang berarti, Emilo sudah berada di antara selangkangan cewek itu.

    “Ha…ha…ha…IS MY TIME TO RIDE, BABY I’M GONNA TAKE MY TIME AND FUCK YOU NICE AND SLOW. LET’S SEE HOW LONG I CAN KEEP MY DICK HARD IN THIS WONDERFULLY TIGHT CUNT OF YOURS. SEE HOW LONG I CAN KEEP YOU MOANS…..!” ejek Emilo, sementara batang penisnya dengan mudah masuk ke vagina Fela.

    “Cerita sex” Emilo memulai gerakannya, pinggulnya bergerak memutar, memastikan penisnya masuk penuh, lalu bergerak maju mundur perlahan tapi dalam. Pinggulnya berayun-ayun pelan dan mantap, diantara kedua paha Fela yang terbuka lebar, sambil meremas-remas buah dadanya.

    Kadang jari-jari tangan Emilo melintir-lintir puting susu cewek itu, tubuh Fela hanya bisa mengeliat-liat, sementara dari bibirnya yang terbuka terdengar suara erangan dan desah.

    Penis itu beraksi di vaginanya, pinggulnya diangkat ke antara pinggang Emilo yang maju mundur. Jack meninggalkan kerumunan menuju kulkas diruang makan. Joe duduk disofa, sambil melihat teman- temannya beraksi diatas tubuh Fela.

    Billie masih dengan erat memegangi tangan kanan dan kiri Fela, juga Edi yang memegangi kedua kaki Fela. Suara desah erangan cewek itu bagai musik merdu ditelinga mereka.

    Tubuh Fela basah kuyup karena keringat, sementara Emilo melengkuh-lengkuh nikmat.

    “Ooooooooohhhhhh…….uuuuuuhhhhh…..uuuhhhh…. .uuhhh…..

    ha…ha…ha….” suara Emilo, penisnya yang panjang tanpa ampun terus mengenjot kemaluan Fela. Buah dadanya dijadikan bual-bualan oleh Emilo.

    Giginya mengigiti putingnya dengan gemas, membuat Fela menjerit kesakitan. Terlihat bercak-bercak merah bekas cupangan disekitar leher dan dada ditubuh Fela.

    “Aaaahhh…..aaaaoooohhh….ooooohhhhhh…ooooohhh h…..” desah Fela merasakan penis Emilo menusuk keluar masuk divaginanya. Sudah sekitar lima belas menit Emilo beraksi, tubuh Fela berguncang- guncang seirama ayunan pinggul Emilo.

    Pukul 23.10. Kilat dan guntur bersahutan diluar, membuat jalanan bertambah sepi.

    “Hah…hah….hah……uuuggghhh…”lengkuh Emilo, sekarang ayunannya tidak perlahan seperti pertama, tetapi berirama cepat dan dalam. Vagina Fela terasa perih terbakar oleh gesekan penis Emilo.

    “Ha….ha…ha….. tunggu punyaku manis, YOU WILL LOVE IT!” seru Edi sambil mengolesi penisnya sendiri dengan selei sehingga kepala penis itu terlihat gilap dan lebih besar dari yang sebelumnya.

    “Uuuuuggghhhh…….uuuuuggghh…… uuuugggghhhh……”desah Fela pendek seirama keluar masuk penis Emilo di kemaluannya.

    Edi meremas-remas penisnya sendiri, sambil memandangi setiap lekuk tubuh Fela.

    “Ha…ha…ha….Ed, kau sudah tak sabar ya?……” tanya Billie sambil matanya terkagum melihat penis Edi yang makin besar, sehingga kepala penis itu seperti jamur.

    “Oooooohhhhhh….uuugggghhh…..oooohh……

    oooohh……..HERE I CAMEEE……!!!!” jerit klimax Emilo, penisnya menghujam dalam-dalam sambil menyemprotkan cairan putih.

    “Aaaaaaakkkkkhhhhhhh……oooohhh……” pekik Fela diantara lengkuhan nikmat Emilo.Cerita Sex Dewasa

    Emilo mencium kening Fela yang terlentang terengah-engah diatas meja.

    “FUCK YOU BABE!…..ha…ha..ha….” ejek Emilo sambil mencabut penisnya.

    Posisinya segera digantikan oleh Edi. Kepala penis yang besar itu digesek-gesekkan di antara paha Fela. Edi memandangi tubuh Fela yang sintal dan mulus basah oleh keringat.

    “LET’S GO TO HEAVEN, manis…ha…ha…ha….” Bersamaan dengan kata itu Edi menciumi buah dada Fela, sementara tangannya mengesek-gesekkan penisnya di bibir kemaluan cewek itu.

    Teriakan Fela tertelan badai yang ganas, pukul 23.45. Fela, meronta-ronta tubuhnya membusur digumuli Edi yang penuh napsu, sementara para berandal yang lain tertawa terbahak-bahak.

    Tangan Fela yang dipegangi oleh Billie,membuatnya tak bisa melawan, sehingga dengan leluasa Edi menciumi tubuhnya.

    Dari leher, lidah Edi terus menelusur turun ke buah dadanya, disedotnya kuat-kuat buah dada cewek itu, membuatnya mengerang kesakitan, lidahnya menjilati dengan lahap cairan yang keluar dari puting susu Fela.

    Tiba-tiba dengan hentakan yang kuat penis Edi menerobos masuk kemaluan cewek itu.

    “Aaaaakkkkkkkhhhhh…….”Diana berteriak kesakitan. Penis itu terus berusaha masuk penuh, Fela bisa merasakan kepala penis yang besar itu berusaha masuk lebih dalam di vaginanya.

    “Uuuuugggghhhhh…..sempit sekali….uuuuaahh…

    hhhaaaa….”seru Edi sambil terus mendorong masuk penisnya.

    “Ayo…..Ed,……ha….ha…ha….masukkan semuanya….biar mampus dia!” teriak Joe menyemangati Edi.

    Sekarang kepala penis itu sudah masuk, Edi diam sebentar merasakan otot vagina Fela yang berusaha menyesuaikan diri dengan penisnya. Dinding vagina Fela serasa meremas-remas penisnya, membuatnya lebih tegang.

    “Ha….ha…ha….kulumat kau, manis!” bisik Edi sambil mulai menggenjotkan penisnya dengan barbar. Joe menciumi leher Fela, Jack meremas-remas buah dadanya.

    Emilo meratakan olesan selai, sedangkan tangan Edi mementang pahanya agar lebih leluasa penisnya bisa maju mundur diliang kemaluan Fela.

    “Aaaahhhh……aaahhhhhh…..aaaggghhhh…

    aaahhhhh…” lolongan desah Fela digarap ramai-ramai. Suara desah dan erangan Fela terdengar bagai musik merdu ditelinga para berandal. Tanpa menghiraukan Fela yang sudah kelelahan, mereka terus berpesta menikmati tubuh cewek itu.

    Bagai menyantap hidangan lezat, mereka melahap dan menjilati tubuh Fela yang basah, mengkilat karena olesan selai dan keringat. Penis Edi menerobos keluar masuk dengan cepat, sementara disetiap hentakan tubuhnya terdengar erangan Fela menghiba kesakitan.

    Jack yang meremas-remas buah dadanya sekarang mulai menjilatinya penuh napsu, sedangkan putingnya disedoti agar keluar cairan seperti susu, Joe terus menciumi leher Fela yang jenjang.
    “Uuugggh…….uuuuggghhh……..aauughh…..

    uuugghhh….uuuuggghhh….” rintih Fela, sudah sekitar lima belas menit Edi berpacu dengan birahi, peluh membasahi tubuhnya. Edi melengkuh-lengkuh penuh napsu, menikmati setiap inci hujaman penisnya dilorong kemaluan Fela.

    “Haaah…..haaah….uuuggh…..bagaimana manis, asik bukan…..kau akan digilir sampai pagi…ha…ha…

    ha….Haah….haaah….” seru Edi sementara pinggulnya bergerak seperti memompa diantara kedua paha Fela. Buah dada cewek itu memerah diremas-remas dengan kasar oleh para berandal. Tubuh Fela berguncang-guncang dengan ganas seirama ayunan Edi.

    “He…he…he…..buah dadamu lezat sekali, ya…..kau akan membayarnya dengan tubuhmu sayang!” ejek Jack sambil menjilatkan lidahnya keudara sementara tangannya meremas-remas buah dada cewek itu dengan napsu.

    Fela hanya bisa terisak-isak sambil menahan sakit disekujur tubuhnya yang basah kuyup karena keringat dan selai. Penis Edi makin ganas menggenjot cewek itu.

    “Aaaauuh…..aaagggh……uuuuugggghhhh…

    uuuughhhhh….” pikik desah Fela. Vaginanya terasa panas dan perih oleh gesekan penis Edi yang barbar.

    Badai masih ganas, didekat lantai meja makan, terlihat BH dan celana dalam Fela berserakan sementara diatas meja Fela diperkosa dengan ganas oleh lima berandal yang kekar, tubuhnya dipentang dan dijilati penuh napsu.

    Buah dadanya dicengkram dan diremas-remas, lehernya diciumi, puting dan pusarnya dijilati, sementara Edi melengkuh-lengkuh nikmat, cewek itu hanya bisa merintih dan mendesah karena penis besar dan hitam beraksi menghentak-hentak barbar keluar masuk diantara selangkangannya.

    Waktu menunjukkan 24:16 Edi sudah hampir mencapai klimax, irama ayunan pinggulnya makin cepat tanpa perduli Fela yang terengah-engah kelelahan, Jack menggigit puting buah dadanya, membuat Fela mengerang kesakitan.

    “aakkkh….aaahh…ooooohhhh…” rintih Fela diantara lengkuh nikmat Edi.

    “Huuuh…uuuhhh…..uuuuhhh…..uhhhh….

    HUUAAAHHHH…..” jerit Edi mencapai klimax, dengan satu hujaman yang kuat, penisnya masuk hilang tertelan dilorong vagina Fela.

    “Aaaaakkkkhhhh….” jerit Fela tertahan, tubuh cewek itu mengeliat kejang, lalu lunglai, pingsan kelelahan, sementara penis itu menyemburkan banyak sprema dalam vaginanya. Peluh menetes dari tubuh Edi yang masih menindih cewek itu.

    “Ha…ha…ha….tubuhmu sungguh menggairahkan sekali…” Raut wajahnya terlihat puas, beberapa saat kemudian Edi mencabut penisnya, sambil mencium leher Fela yang masih pingsan. Jack siap-siap maju mengambil posisi.

    “Biarkan dia istirahat dulu, nggak enak kalau nggak ada perlawanan” Cegah Joe.

    “Kita beri dia obat perangsang saja!” usul Billie sambil tersenyum penuh napsu.

    “Jangan, kita simpan itu untuk yang terakhir” Joe duduk disofa.

    Beberapa menit kemudian, sekitar pukul 24:40, Fela yang baru saja siuman dibopong ramai-ramai menuju kamarnya, disana cewek itu dilempar ke ranjang dan langsung diterkam oleh para berandal yang sekarang semuanya sudah telanjang bulat.

    Cewek itu berusaha berontak melarikan diri, tetapi dengan cekatan para berandal itu menerentangkan tubuh Fela.

    Cewek itu berteriak ketakutan ketika para berandal dengan buas menggumuli tubuhnya.

    “Aaaahhhh…..aampun…..aaaahhhh….”hiba Fela, sementara Edi dengan kasar mulai meremas-remas buah dada kanannya. Joe berusaha mencium bibirnya yang merah merekah. Emilo menjilati dan menyedoti puting sebelah kiri.

    “Aaaaduuuhh…aaaaawww…aaaahhh…..ja…ja….ngan…”teriakan Fela tak digubris.

    Jack maju mengambil posisi diantara kedua kakinya, tersenyum sinis sambil membungkuk menciumi leher cewek itu. Fela mengeliat-liat tak berdaya. Lidah Jack menelusur turun dari lehernya menuju perutnya Fela.

    “Aaaaaahhh…..le…paskan…..aaaahhh” jerit Fela ditengah kerubutan berandal. Jack mulai menjilati daerah pusar Fela.

    “Manis…tadi kulihat kau suka disco! bagaimana kalau sambil diputarkan lagu…hmmm?…
    disco…rock…atau metal?….OK metal saja!”

    Billie mengejek Fela. Beberapa saat kemudian terdengar lagu metal, membuat para berandal itu lebih bersemangat menikmati setiap lekuk tubuh Fela.

    “Ha…ha…ha…manis, kami masih belum puas!” ejek Jack. Billie membaca surat yang ditemukannya dimeja rias pinggir ranjang.

    Gumam Billie sambil melihat Fela yang mendesah-desah tak berdaya dijilati dan diciumi teman-temannya. Beberapa saat kemudian Billie naik keatas ranjang, berbaring disamping cewek itu.

    “Nah Fela sayang, ARE YOU READY TO LOSE YOUR VIRGINITY IN ANOTHER HOLE? kau benar-benar beruntung manis! kau pasti puas!” kata Billie sambil menjilat muka cewek itu yang menangis ketakutan.

    Billie merangkul tubuhnya dari samping dan digulingkan menghadapkan keatas terlentang sehingga posisinya sekarang dibawah Fela.

    “Hai….sayang pestanya dilanjutkan. Manis kau pikir tadi sudah yang paling sakit, tunggu yang ini kau akan rasain sakit yang sebenernya!” kata Emilo sambil menerkam gemas buah dadanya.

    “Dan sekarang kau dapat kehormatan manis BECAUSE I’LL TAKE YOUR ASS VIRGINITY!!” mata Fela terbelalak ketakutan.

    “Oooohhh….jang…aan…PLEASE!!!!” hiba Fela disela isak tangisnya.

    “Dianay kau akan merasakan sesuatu yang belum pernah kau bayangkan sebelumnya sayang!” ejek Billie.

    Cewek itu berusaha berontak sekuat tenaga, tapi kerubutan dan remasan dibuah dadanya membuatnya tak bisa berkutik.

    Fela didudukkan tepat diatas tubuh Billie, berandal itu mengarahkan penisnya yang tegak di lobang anus cewek itu dan segera dihujamkan dalam anus Fela tanpa pelumas sehingga membuatnya menjerit kesakitan.

    “AAAAKKKKKKKHHHHHH!!!!” lolong Fela, sementara penis Billie (10 inci) masuk penuh dalam anusnya, sekarang cewek itu dipaksa tidur terlentang. Jack diatas menindihnya sementara Fela meronta-ronta kesakitan, anusnya terasa sakit oleh batang penis Billie yang berada dibawahnya.

    Jack yang sudah puas menjilati perut Fela, sekarang mementang kedua paha Fela, mengarahkan penisnya (8 inci) ke lorong vagina cewek itu.

    Apa daya tenaga seorang cewek yang dikeroyok lima lelaki kekar, dengan mudah masing-masing tangan Fela diikat dengan tali BH dijeruji pilar ranjangnya agar tidak bisa berontak.

    Jack segera memasukkan penisnya ke vagina Fela yang masih meronta-ronta, sambil tertawa terbahak-bahak.Cerita Sex Dewasa

    “Ha….ha…ha…. sayang sekarang kau rasakan ini!” sambil berkata seperti itu, Jack dan Billie mulai menggoyangkan pinggul mereka.

    Penis Billie bergerak naik-turun dianus sedangkan penis Jack menyodok keluar masuk seirama nada metal yang makin bersemangat. Teriakan cewek itu tertelan oleh bunyi halilintar yang keras. Usaha Fela untuk berontak membuat ikatan ditangannya makin erat dan menyakitkan.

    Tubuh Fela meronta-ronta kesakitan, tanpa disadarinya gerakannya itu makin membuat Jack dan Billie yang memperkosanya makin terangsang.

    Tubuhnya mulai menggelinjang kesana kemari, pinggulnya bergerak-gerak ke kanan, kiri, memutar, sementara Billie yang dibawah mempertahankan kecepatan ritme keluar masuk batang penisnya dianus Fela. Suara kecipak akibat gesekan kemaluan mereka berdua semakin terdengar.

    Sodokan batang penis Billie dianus Fela membuat tubuh cewek itu meliuk-liuk tak beraturan dan semakin lama semakin bergerak naik seolah menantang kejantanan Jack.

    “Ha…ha…ha….Dianay kau suka ya? Nih akan kumasukkan lebih dalam lagi! HAAAHHHH!!!!” teriak Jack sambil bertumpu pada remasan tangannya dibuah dada cewek itu ia menyodokkan penisnya lebih dalam ke vagina Fela.

    “Oooooohhhh……aaahhh….aaahhhh…aahh…

    ampun…amp..aaaaahhh…aaahh!!!!” erang Fela kesakitan. Sementara kedua penis berandal itu mengkoyak-koyak vagina dan anusnya, begitu penuh nafsu, ganas dan liar.

    Melihat pemandangan itu dan terbakar oleh api birahi, para berandal lainnya sambil tertawa terbahak-bahak melihat ketidak berdayaan Fela, mereka meremas-remas penis mereka sendiri.

    “Ohhh….ha…ha…ha….bagaimana sayang, bagaimana rasanya….puas nggak? tenang pestanya masih lama….tunggu giliran kita…ha…ha…ha..” seru para berandal lainnya.

    Beberapa menit saja penis mereka sudah tegak tegang siap beraksi kembali. Ranjang berderit-derit seirama musik metal dan gerakan mereka yang barbar, Fela ditindih ditengah-tengah mereka yang menghentak-hentak berpacu dalam birahi.

    Baca Juga Cerita Sex Anak Kuliahan

    Gerakan Billie bagaikan dongkrak memaksa tubuh Fela mengelinjang keatas mengundang penis Jack masuk ke lorong vaginanya, sedangkan gerakan Jack yang seperti memompa dari atas menekan kebawah sehingga penis Billie masuk penuh, begitu seterusnya, membuat cewek itu terengah-engah menahan rasa sakit di anus dan vaginanya sekaligus. Billie menciumi leher, tengkuk, telinganya penuh napsu.

    “Uuuggh…uuggh…uuuughhh….” rintih Fela seirama ayunan kedua penis itu. Cewek itu bisa merasakan seakan-akan kedua penis itu saling bertemu dan bergesekan didalam perutnya, hanya berbeda lorong saja.

    Jack dan Billie melengkuh-lengkuh nikmat. Buah dadanya diremas-remas dengan kasar sekali oleh Jack. Fela merasakan kesakitan, tapi remasan dibuah dadanya membuatnya tetap tersadar. Para berandal yang lainnya bersorak-sorak menyemangati keduanya melahap tubuh Fela.

    Penis-penis mereka digesek-gesekkan di tubuh cewek itu. Waktu menunjukkan Pukul 01:20 sementara pesta perkosaan itu makin brutal terbawa napsu birahi para berandal.

    Badai diluar makin ganas dan guntur sesekali menggelegar menelan teriakan Fela. Joe menemukan lipstik dimeja rias dan dioleskan dengan paksa dibibir Fela.

  • Makin Rame Makin Meriah

    Makin Rame Makin Meriah


    19 views

    Aku mendapat tempat kos yang istimewa. Kusebut begitu karena selain harganya tidak mahal, rumahnya bagus
    letaknya tidak di jalan besar, di lingkungan yang tenang dan aku adalah satu-satunya laki-laki di situ.
    Aku mendapat kamar diatas garasi yang mempunyai akses sendiri. Di bawahku dulu bekas garasi, tetapi
    sudah diubah lalu disewakan untuk kos.

    Aku bisa diterima disitu, karena sebelumnya kenal dengan ibu kost karena bisnis MLM. Dia kebetulan up
    link ku. Soal ini kalau diceritakan cukup panjang dan kurang menarik pastinya. Namun yang jelas ketika
    dia membinaku, akhirnya pembicaraan sampai ke masalah kost. Mungkin dia terkesan pada pribadiku sehingga
    dia menawarkan aku kost saja di tempatnya. Padahal dia selama ini belum pernah menerima kost laki-laki.

    Sebagian besar yang indekos disitu adalah anak kuliahan. Akademi itu memang tidak jauh, jauhnya jika
    jalan kaki mungkin sekitar 10 menit. Sekolah itu sejak lama terkenal di Jakarta Selatan.

    Rumah induk mempunyai kamar cukup banyak maka sebagian besar mereka berada di dalam rumah induk. Yang di
    luar hanya kamarku dan kamar bekas garasi yang hanya dihuni 2 cewek. Aku bebas membawa cewekku ke kamar
    jika hari minggu. Biasanya kami berendam di kamar dari jam sebelas siang sampai jam 3 sore. Ya semua
    yang seharusnya tidak terjadi, terjadilah. Mungkin kalau diceritakan kurang seru, karena sama pacar
    sendiri.

    Setelah sekitar 3 bulan aku baru mulai mengenal para penghuni kos. Mereka semua ada delapan orang.
    Diantara mereka tinggalnya di Jakarta ini juga, tapi memang jauh dari sekolah mereka. Mungkin kurang
    praktis jika pulang pergi dari rumah ke sekolah. Jadinya setiap Sabtu dan Minggu rumah kos itu sepi
    karena sebagian besar penghuninya pulang ke rumah mereka masing-masing. Yang tinggal hanya anak-anak
    dari luar kota, ada dari Cirebon, Bandung dan Lampung.

    Suatu malam aku lupa hari apa, listrik padam dan hujan turun sangat deras. Aku tidak bisa melakukan apa
    pun kecuali tiduran. Mata melek sama merem tidak ada bedanya, gelap gulita. Mungkin sudah jam sepuluh
    malam, tiba-tiba ada yang mengetok kamarku.

    “Jay, bukain dong, cepetan,” kayak suara Dewi anak Bandung yang tinggal di kamar di bawahku.

    Aku segera membuka pintu, memang benar, Dewi dan Ana datang berkerudung selimut dan bawa bantal segala.

    ”Jay, aku numpang tidur dong di kamarmu, Kami takut di bawah gelap dan petirnya keras banget.” Kamarku
    memang cukup luas, Ya sekitar 6 x 5 m dengan satu tempat tidur yang muat dua orang atau kalau dipaksakan
    juga cukup bertiga.

    Aku tidak mungkin bisa menolak mereka, lagian ngapain rezeki gini ditolak. Mereka pun tanpa persetujuan
    dariku sudah mengambil posisi di tempat tidur. Tempat tidurku berada di pojok di ruangan, jadi bagian
    kepala dan salah satu sisinya merapat ke dinding. Dewi mengambil posisi ditengah, Ana dipinggir merapat
    ke tembok aku disisakan tempat di tepi.

    Lampu mati kali ini cukup lama sejak hujan deras tadi mungkin sekitar jam delapan. Sampai hampir jam
    sebelas malam belum juga nyala. Hujan masih terus deras. Untung kamar gelap, sehingga tempat tidurku
    yang berantakan spreinya tidak kelihatan. Kamar bujangan mana mungkin rapi, apa lagi aku malas sekali
    merapikan kamar.

    Mereka berdua langsung membujur, aku menempati posisi yang tersisa. Mana mungkin bisa ngantuk, tidur
    bertiga dengan dua cewek gitu lho, cakep-cakep lagi. Yang kupikirkan apa yang bakal terjadi dan apa pula
    yang harus terjadi. Apakah aku harus memulai, aku ragu apakah Dewi yang ada di dekatku suka dengan aku.
    Bagaimana kalau tanganku ditepis, wah malu banget rasanya. Tapi pendapat lain seperti memanas-manasi.
    Jangan-jangan mereka menunggu inisiatif dariku. Laki-laki kan sepantasnya yang berinisiatif. Aduh
    bingung aku dengan dua pendapat ini.

    Akhirnya aku tidur telentang pasrah menunggu bergulirnya sejarah. Kami tidur berhimpitan, karena tempat
    tidur kapasitas dua orang ditempati bertiga. Dewi yang mulanya tidur miring membelakangiku, kemudian
    ganti posisi telentang. Lha aku kan bingung, dimana harus kuletakkan tangan kanan, agar tidak menyentuh
    Dewi. Tangan kananku yang memang dari tadi lurus ke bawah tidak dihindari jadi ketindih tangan kiri
    Dewi. Apa boleh buat, pegel terpaksa ditahan biar tidak bergerak. Aku khawatir kalau tanganku bergerak
    bisa menimbulkan kecurigaan, atau kalau melakukan gerakan menghindar bisa disangka aku jual mahal. Repot
    deh.Cerita Sex Dewasa

    Diam mematung dalam keadaan spaning tentu tidak mudah. Tapi itulah tantanganku di dalam kegelapan.
    Tangan Dewi kemudian kurasakan mulai meremas tanganku. Aku segera paham bahwa sinyal sudah mulai
    dinyalakan. Untuk menyambut keramahannya, aku pun membalas meremas tangannya. Hanya sebatas itu saja aku
    berani bertindak.

    Dewi berubah posisi lagi, kali ini miring menghadapku dan dia memelukku ibarat aku ini guling. Ya ampun,
    tanganku belum sempat berubah posisi dan kejadiannya tangan ini tertindih selangkangannya. Aku harus
    bagaimana sekarang, karena tanganku menempel dibagian paling vital Dewi, tentu aku tidak berdaya. Kalau
    jariku begerak sedikit saja, pasti akan memberi kesan meremas memeknya. Aduh aku nggak mau dikesankan
    orang yang kurang ajar. Tanganku mulai kesemutan, karena aliran darah tertahan akibat ditindih. Apa
    boleh buat aku harus bertahan sekuat mungkin.

    Aku tidak tahu tangan dewi yang sebelah lagi ada dimana, tetapi tangan kanannya ada di atas dadaku. Dia
    mengelus-elus dadaku dan hidung serta mulutnya dekat sekali dengan telingaku. Sehingga aku bisa jelas
    memantau hembusan nafasnya. Dari pemindaianku nafasnya mulai tidak teratur, bahkan cenderung rada cepat.
    Ini kan nafas kalau cewek mulai diliputi nafsu birahi.

    Dia menarik kepalaku lebih rapat dan diciuminya pipiku. Dia tempel terus hidungnya ke pipiku. Aku jadi
    mulai mendidih. Bukan hanya panas karena tubuh kami rapat, tetapi tensi birahiku juga naik.
    Dimiringkannya kepalaku lalu bibirnya menyusuri wajahku dan pencariannya berhenti ketika menemukan
    bibirku. Kami jadi berciuman dan panjang sekali rasanya.Sinyal-sinyal yang dihidupkannya mensyaratkan
    aku harus segera meresponnya. Tangan ku yang tadi tertindih mulai bergerak mencari sasaran.

    Gundukan dibalik dasternya tentu saja menjadi sasaran. Aku remas-remas gundukan di selangkangannya. Dewi
    merespon dengan gerakan pinggulnya menekan-nekan tanganku. Jari yang tadi tertindih mulai mendapat tugas
    untuk mencari jalan. Perlahan-lahan kutarik keatas dasternya sampai jariku bisa merasakan celana
    dalamnya. Dewi malah membantu agar kerja jariku lebih mudah menguak penutup.

    Aku meremas kambali gundukan yang kini hanya terlindung oleh celana dalam. Tidak ada ruang untuk aku
    menarik tanganku agar bisa masuk menyusupkan telapak tangan kananku masuk dari celah atas celana
    dalamnya. Satu-satunya jalan hanya menguak celdamnya dari samping. Jari ku seperti ular mencari
    sarangnya, jari tengah lebih trampil dari jari lainnya dalam mencari belahan vital Dewi.

    Jari tengahku mulai merasakan kehangatan sekaligus kelembaban di balik bulu-bulu keriting yang ternyata
    sangat lebat. Si jari tengah ternyata sangat trampil dalam pencariannya, karena clitoris Dewi mulai
    ditemukan. Daging kecil itu sudah mengeras, sehingga mudah mencarinya. Aku segera berkosentrasi pada
    bagian itu.

    Dewi tidak mampu menahan kenikmatan akibat gelitikan jariku di clitorisnya, sehingga walau dia berusaha
    menahan gerakan, sesekali dia lepas kontrol juga. Masalahnya mungkin rikuhlah karena ada Ana di sebelah
    yang sedang terbaring. Kan gak enak rasanya bercumbu disamping teman akrabnya tanpa ada komitmen
    sebelumnya.

    Dewi makin erat memelukku dan aku makin intensif memainkan jariku di clitorisnya. Aku tidak bisa
    memperkirakan berapa lama jariku bermain di clitoris Dewi. Dia akhirnya mengejang dan ditekankannya
    badannya ke kakiku, sambil kurasa gerakan kontraksi di sekujur kemaluannya. Dia mencapai kepuasan. Dia
    lalu melemas dan aku segera menarik tanganku dari tindihannya dan kuposisikan memelukkan dengan
    menyelinap di bawah lehernya. Tangan kananku berada dibagian belakang badannya yang miring menghadapku.

    Dewi sudah jatuh tertidur. Dia mendengkur halus dekat sekali dengan telingaku. Aku jadi serba sulit,
    barangku jadi terabaikan, padahal sudah siap diluncurkan. Tapi mau diluncurkan bagaimana, sebab
    situasinya sangat tidak memungkinkan.

    Listrik belum juga nyala, hujan masih deras. Wah kalau gini situasinya bakal sampai besok pagi listrik
    akan padam. Dalam keadaan tanpa harapan aku berusaha menidurkan diri dan menyabarkan hasratku yang
    cenggur (ngaceng nganggur).

    Nah lho, tanganku ada yang meremas dibelakang punggung Dewi, tangan siapa lagi kalau bukan Ana. Dia
    tidak hanya meremas, tapi juga mencium dan bahkan menjilati jari-jariku. Aduh mak, jari-jariku kan tadi
    bekas terkena cairan si Dewi, pasti punya aroma khas. Tapi Ana rasanya menikmati sekali jari-jariku.
    Dicium dan dilomot-lomotnya jariku. Aku yang tadinya kosentrasi menuju ngantuk, jadi siuman lagi.

    Tangan kulemaskan mengikuti arah yang dimaui Ana. Dia membimbing tanganku mengusap-usapkan tanganku ke
    wajahnya, lehernya dan ke dadanya lalu ke teteknya dari luar daster. Diberi peluang menangkap tetek,
    tentunya segera kurespon dengan gerakan meremas. Tangan Ana ikut membantu tanganku meremas teteknya.
    Tebal benar tetek Ana ini. Baru kusadari sekarang kalau tetek Ana cukup besar. Kelak kalau keadaan sudah
    terang aku jadi ingin menegaskan berapa besar sih tetek Ana. Sebelum ini aku tidak pernah memperhatikan
    tetek Ana.

    Tanganku lalu dibimbing lagi menelusup ke balik daster dan langsung dibalik BHnya. Memang terasa benar
    besarnya. Cengkeraman tanganku terasa kurang besar terhadap tetek Ana. Kuremas-remas tetek Ana dari
    sebelah ke sebelah. Tugasku berikutnya adalah mencari tombol-tombol di kedua tetek itu. Pencarian tidak
    terlalu sulit, karena Ana memberi ruang untuk keleluasaan tanganku. Kupilin lalu kuusap. Gerakan itu
    terus menerus secara bergantian.

    Ana yang tadi diam saja sekarang badannya terasa lasak. Bahunya bergoyang-goyang terus. Aku tentu saja
    khawatir, perselingkuhan tanganku ini bakal membangunkan Dewi. Tapi Ana kelihatannya sudah turun
    kesadaran lingkungannya.

    Tanganku tiba-tiba ditarik menjauh dari teteknya. Aku segera berkesimpulan bahwa Ana tiba-tiba waras
    kembali otaknya. Aku turuti saja dengan melemaskan tanganku. Tapi tangan Ana tetap saja memegang
    tanganku. Aku merasa ada gerakan bahwa Ana mengubah posisi tidurnya. Telapak tanganku merasa menyentuh
    kulit lembut dan dari analisa data di otakku. Tangan ini menyentuh kulit perut.

    Aku segera memindai posisi tanganku tepatnya berada dibagian apa? Memang benar, telapak tanganku
    menemukan pusat (udel). Ana melepas tanganku dan aku dibiarkan sendiri mencari jalan. Aku segera
    mengerti bahwa Ana sudah mengangkat dasternya dan memposisikan tanganku untuk mencari jalan yang benar.

    Arahan itu tentu saja mudah kupahami, tanganku segera merayap ke bawah dan menemukan garis celana
    dalamnya. Tanganku berusaha merayap terus ke bawah sampai kutemukan bulu-bulu halus. Jangkauanku kini
    maksimal, padahal target belum tercapai. Ana rupanya paham, dinaikkannya badannya sedikit dan kini
    jari-jariku bisa mencapai belahan memeknya. Ternyata memeknya sudah basah, sehingga jari tengahku dengan
    mudah menyusup ke dalam dan menemukan clitoris yang sudah mengeras. Ini tentu saja membantuku menemukan
    sasaran yang tepat.

    Aku lalu memainkan jari tengahku. Ana yang kini telentang, pinggulnya mengikuti irama sentuhan jari
    tengahku. Dia menggelinjang, ketika bagian paling sensitifnya tersentuh. Sesungguhnya posisi tanganku
    kurang nyaman, tapi aku mencoba terus bertahan, paling tidak sampai Ana puas. Aku kurang bisa
    memperkirakan waktu, karena gelap dan tanganku terasa pegal sekali. Aku merasa lama sekali aku mengorek
    kemaluan Ana ini sampai kemudian dia menjepit tanganku dan memeknya berkontraksi. Dia puas dan setelah
    usai kontraksinya tanganku ditariknya keluar.

    Aku turuti saja dan tanganku memang pegel dengan posisi itu tadi. Dia melepaskan tanganku sementara
    membenahi dasternya yang terangkat tinggi. Aku menempatkan posisi tanganku pada posisi yang paling
    nyaman.

    Ana membawa tanganku agar berada di posisi di bawah lehernya dan menerobos kebelakang punggungnya. Aku
    bagaikan memeluk dua wanita sekaligus. Mereka berdua puas dan tertidur, sementara aku cenggur makin
    parah. Tapi kutentramkan hasratku, dan itung-itung pengorbanan untuk investasi masa depan.

    Paginya aku terbangun karena mereka berdua menciumi pipiku sambil mengucapkan terima kasih lalu mereka
    keluar kamar. Aku berkesimpulan jalan sudah terbuka, tinggal aku mengatur bagaimana melanjutkan alur
    yang sudah terbangun. Mereka berdua sebenarnya tahu kalau aku punya cewek yang setiap Minggu selalu aku
    benam di kamarku. Tapi nampaknya itu tidak menghalangi keakraban mereka denganku.

    Di satu malam minggu, Ana pulang ke rumah orang tuanya di Kebon Jeruk dan Dewi tetap tinggal di kost,
    karena rumah orang tuanya di Bandung. Malam itu otomatis Dewi tidur gabung denganku. Kami memuaskan diri
    masing-masing sampai berkali-kali. Aku lupa berapa ronde yang kami mainkan, sampai paginya dia masih
    bermain sekali lagi sebelum kembali ke kamarnya.

    Penyelinapan Dewi, sama sekali tidak diketahui oleh penghuni kost yang lain. Jadi kami menjalankan
    akting biasa-biasa saja di depan teman-temannya. Setelah aku berkesempatan memompa Dewi di lain
    kesempatan ketika Dewi menginap di rumah saudaranya, Ana lah yang menyelinap ke kamarku. Kami juga
    memuaskan diri sampai pagi. Kedua bersahabat ini benar-benar tangguh di ranjang.

    Aku tidak mengorek keterangan apakah hubungan mereka denganku yang demikian intim itu diketahui masing-
    masing, atau mereka melakukan peran diam-diam. Aku ingin menikmati saja hidangan yang tersedia, tanpa
    repot-repot menyelidik. Toh nanti bakal ketemu juga jawabannya, tanpa aku bertanya.

    Dalam usiaku yang 20 tahun, aku memang dikaruniai kelebihan, yaitu muka yang manis (kata cewek-cewek)
    badan yang atletis (padahal jarang olahraga) dan kesehatan yang baik. Aku selalu berusaha menjadi anak
    manis dan sebisa mungkin menjauhkan diri dari kesan anak yang kurang ajar. Cool, istilah yang sering
    cewek-cewek sebutkan mengenai perilakuku.Cerita Sex Dewasa

    Aku kurang jelas umur Dewi dan Ana, tetapi dari jenjang pendidikannya kuterka mereka lebih tua setahun
    atau sebaya denganku. Dewi kulitnya agak gelap, rambutnya keriting, badannya ramping dan teteknya kecil
    (ukuran 32 mungkin). Sedang Ana bodinya rata-rata saja, teteknya mungkin agak besar, tetapi tidak
    terlalu mencolok. Mukanya manis dan rambutnya hitam lurus.
    Kami sering tidur bertiga di kamarku. Tidak setiap kali kami bertiga selalu melakukan aktivitas sex,
    kadang-kadang ya hanya tidur biasa saja. Yang membedakan dari situasi yang pertama, adalah aku selalu
    diminta tidur diantara mereka berdua. ceritasexdewasa.org Kalau pun kami melakukan aktivitas sex ketika mereka berdua di
    sampingku, aku hanya melakukan raba-rabaan, tanpa coitus. Dan itu selalu dimainkan tanpa sepengetahuan
    Dewi. Ana tau tapi Ana berusaha menyembunyikannya dari Dewi. Mungkin itu kode etik diantara mereka.

    Hampir setahun aku menetap di rumah kost itu, dan penghuninya nyaris masih tetap seperti yang dulu.
    Tempat kos ini memang enak dan tentram, Pemiliknya janda yang kutaksir usianya sekitar 40 tahun. Tidak
    terlalu cantik, tetapi manis dan kelihatan sekali dia berasal dari Jawa. Dia memliki wajah keibuan yang
    berwibawa. Badannya tidak gemuk seperti umumnya wanita diusia 40 tahunan. Dia tinggal sendiri di rumah
    itu.

    Aku makin akrab dengan cewek seisi rumah itu. Kalau malam minggu kadang-kadang mereka mengajakku
    berkumpul di ruang tengah di rumah induk. Dari sekedar ngobrol sampai kadang-kadang main kartu remi.

    Penghuni baru adalah Mbak Ratih yang kutaksir usianya sekitar 27 atau 28. Dia masih single, badannya
    agak gemuk dan putih. Dia tipikal wanita Jawa banget.

    Suatu malam ketika aku tidak kebagian ikut main kartu dan Mbak Ratih sibuk merajut kruistik, dia
    menselonjorkan kakinya di sofa ke dekatku. “Dik, mbok mbak dipijetin kakinya daripada bengong,” katanya.

    Permintaannya segera aku penuhi dengan memijat-mijat kakinya. Aku memang cukup piawai memijat, karena
    ketika aku masih tinggal di rumah orang tuaku, ibuku sering meminta aku memijat kakinya. Selain itu aku
    pernah belajar pijat refleksi dari teman yang bekeja di pijat refleksi dan akupresur. Selanjutnya aku
    mengoleksi buku-buku mengenai seni dan cara memijat.

    Pertama-tama aku menekan titik syaraf di telapak kakinya. Kadang-kadang Mbak Ratih menjerit ketika titik
    syaraf tertentu kutekan. Kalau sudah begitu aku mulai membual, ”Wah, mbak ini kelihatannya ada gangguan
    di ginjal lah atau di pencernaan, atau di hati.” Padahal aku kurang tau pasti. Ini hanya kira-kira saja
    dari yang kuingat-ingat ketika membaca buku-buku akupuntur atau buku pijat. Aku kalau iseng memang suka
    membaca buku seperti itu.

    Namun yang kuingat benar adalah simpul syaraf birahi. Bagian ini aku berusaha menghafal benar letaknya
    di sebelah mana. Jadi di tengah pijatan refleksiku, aku iseng menekan-tekan simpul birahi mbak Ratih, di
    dekat mata kakinya.

    “Aduh, dik, rasanya nyer-nyeran kalau situ yang ditekan,” katanya. Aku cuek saja seolah tidak memahami
    apa yang dimaksud nyer-neran itu. Padahal aku tahu pasti, itu adalah nyer-nyer di liang vaginanya.

    “Mbak, kalau ada lotion, aku bisa urut betisnya biar uratnya lemes.” kataku.

    “Ada, dik, tolong ambilkan di meja dekat tempat tidurku,” katanya.

    Aku segera bangkit dan kembali dengan body lotion. Aku menseriusi pijatan itu bukan karena aku rajin,
    tapi aku ingin merangsang mbak Ratih melalui pijatanku.

    Mbak Ratih berhenti menyulam, dan menikmati pijatanku. “Ternyata kamu jago mijet ya, dik. Ototku yang
    kaku jadi lemes semua,” katanya.

    Kenikmatan pijatanku membuat spontanitas Mbak Ratih keluar begitu saja dan dia nyerocos terus tentang
    kepintaranku. Ini tentu saja menggugah perhatian cewek-cewek lain yang sedang main kartu.

    “Aku daftar ah, minta dipijeti juga,” kata Nia. Yang lainnya latah langsung ikut-ikutan minta dipijat
    juga. Sampai semuanya pada minta dipijat.
    “Kalau satu orang 100 ribu, lumayan untuk bayar kos dan jajan gue,” kataku bercanda.
    “Wooo, matre nih,” kata mereka beramai-ramai.
    “Enggak kok, gratislah,” jawabku sambil tersenyum.
    “Dik, badanku kok jadi pegal ya, kamu bisa mijat badan juga kan?” kata Mbak Ratih.

    Padahal bukan karena kakinya dipijat lalu badannya jadi pegal. Tapi kayaknya dia minta diservis pijat
    seluruh badan, karena dianggap aku mengerti urat.

    ”Sorry ya, aku mau pijat dulu ke kamar, dengan cah bagus ini,” kata Mbak Ratih sambil menggandengku ke
    kamarnya.
    “Woo curang, mau dikuasai sendiri,” kata cewek-cewek yang lain. Aku cengar-cengir saja. Habis posisiku
    jadi serba salah sih.

    Aku masuk kamar mbak Ratih. Entah sengaja apa nggak, pintunya kemudian ditutup. “Aku telentang atau
    tengkurep, dik?” kata mbak Ratih bertanya.

    “Tengkurep aja dulu, mbak,” jawabku. Aku kembali memijat kakinya, dari mulai telapak kaki sampai ke
    paha. Dia kelihatannya tidak perduli kalau dasternya sudah terangkat tinggi sekali sampai menampakkan
    celana dalamnya. Aku sengaja memainkan pijatan erotisku, terutama di bagian paha sebelah dalam.

    “Aduh, dik, enak tapi geli,” kata Mbak Ratih setiap kali kusentuh pahanya sebelah dalam. Pahanya
    menggairahkan karena besar dan putih. Aku tau dia sudah terangsang dengan pijatanku, tetapi aku pura-
    pura biasa saja. Pijatanku beralih ke pantat dan punggungnya. Bagian ini masih tertutup daster.Cerita Sex Dewasa

    “Mbak, punggungnya mau diurut pakai krim juga apa enggak?” tanyaku. ”Tapi dasternya mbak lepas dulu biar
    ngurutnya bisa rata.”

    ”Oh gitu, kamu tidak malu kan melihat tubuhku?” katanya lalu bangkit melepas dasternya.

    “Kok saya yang malu sih, mbak? Kan mbak yang buka baju,” sahutku.

    Mbak Ratih menyisakan celana dalam dan BH-nya lalu kembali telungkup. Pijatanku mulai dari bagian bahu.
    Aku mengambil posisi mengangkangi badan mbak Ratih. “Aduh, enak, dik. Kamu pintar ya, coba dari dulu
    ngomong kalau kamu bisa mijet.” katanya. Badannya diliputi lemak yang cukup tebal. Aku tidak memaksa dia
    untuk membuka BH-nya, biar saja, nanti bakal terbuka dengan kemauannya sendiri. Ini untuk menghindari
    kesan bahwa itu bukan dari kemauanku.

    Meski tertutup BH tapi telapak tanganku bebas menelusuri bagian belakang badannya di balik tali BH
    sampai ke samping dan menyentuh bagian pinggir teteknya. Aku tentunya berlagak sebagai pemijat
    professional. Setelah bahu dan punggung, kini pijatanku mengarah ke bongkahan pantatnya yang bahenol.
    Mulanya aku memijat dari luar celananya, tapi pengurutan tanganku sesekali menerobos di bawah celana
    dalamnya dan menekan-nekan titik erotis di bagian pantatnya. Mbak Ratih mulai mendesis-desis menandakan
    dia makin terangsang.

    “Aduh, dik. Enak, dik. Aku jadi merinding saking enaknya.” katanya.

    Aku diam saja dan pijatan mulai mengekploitir bagian pantat dan pangkal paha, di bagian ini rangsangan
    yang dirasakan perempuan pasti makin tinggi. Jariku sudah berhasil mencapai belahan pantatnya dan hampir
    menyentuh kemalauannya. Mbak Ratih sudah tidak perduli dengan jamahanku, birahinya mulai tinggi sehingga
    kesadarannya mulai rendah. Pada posisi terangsang yang tinggi aku minta dia telentang. Mbak Ratih pasrah
    dan telentang sambil menutup mata. Aku mulai lagi dari bahu, untuk melemaskan bagian itu. Perlahan-lahan
    lalu turun ke bawah mendekati bongkahan susunya. Susunya memang sangat besar.

    “Mbak, maaf ya, apa bagian ini mau dipijet juga apa nggak?“ kataku sambil menangkupkan tanganku di
    susunya dari luar BH.

    “Kamu bisa mijet susu? Susuku nggak pernah dipijet, enak apa nggak ya, dik?” kata Mbak Ratih.

    “Ya dicoba dulu, mbak. Nanti baru tau rasanya,” kataku.

    “Ya sudah kalau gitu,” katanya lalu bangkit membuka BH-nya. Kini terpampang sepasang susu yang cukup
    besar. Pijatanku dimulai dari bagian pinggir, dengan gerakan halus. Bagian ini paling sensitif, sehingga
    aku tidak boleh ceroboh. Pentilnya tampak mengeras, dan sesekali aku memilin.

    “Maaf ya, mbak, ini untuk merangsang syaraf supaya lemes,” kataku mengesankan keahlian professional. Aku
    minta dia menarik nafas ketika kupilin putingnya lalu pelan-pelan menghembuskannya saat kurengkuh kedua
    susunya dari samping.

    “Aduh, dik, rasanya jadi nggak karuan, merinding semua badanku,” katanya menyamarkan rasa rangsangan
    yang tinggi.

    “Mbak, geli itu adalah bagian dari cara mengaktifkan syaraf untuk bekerja normal,” kataku membual.
    Setelah puas meremas tetek mbak Ratih, aku mulai turun ke perut. “Mbak sering pipis, ato kalau batuk dan
    ketawa suka keluar pipis dikit ya?” kataku bertanya.

    “Iya, dik. Kamu kok tahu?” katanya kagum. Dia makin percaya.

    “Ini lho, mbak, perutnya agak turun dikit,” kataku sok tau.

    Aku lalu menekan bagian bawah perutnya untuk kusorong ke atas. Gerakan yang sangat pelan dan hati-hati
    ini tampak dia nikmati sekali. Mbak Ratih tampaknya sudah percaya penuh pada keahlian pijatanku,
    sehingga tidak perduli lagi kalau jembutnya ada yang keluar dari celananya. Dari perut aku mulai
    menelusur ke bawah sampai menyentuh jembutnya, tapi tentunya dengan gerakan memijat. Dia pasrah saja.
    Aku mengesankan pijatanku terganggu oleh celana dalamnya.

    “Dik, buka saja kalo itu mengganggu. Kamu tidak malu kan?“

    ”Ya terserah, mbak, tapi memang sebaiknya dibuka biar tuntas mijetnya,” kataku sungguh-sungguh.

    Mbak Ratih tidur telentang telanjang bulat. Aku jadi leluasa, dan kini aku berusaha merangsangnya agar
    dia makin tinggi lagi nafsunya. Untuk mengesankan tidak berbuat kurang ajar, aku minta ijin tanganku
    masuk ke bagian memeknya.

    “Mbak, maaf ya, jariku agak masuk ke dalam untuk mijet lubang pipisnya supaya nggak beser (sering
    kencing),“ kataku.

    “Iya, dik, terserah. Pokoknya aku segar dan enak,” katanya.

    Ini hanya taktikku saja untuk meraba clitoris dan G-spotnya. Mana mungkin lubang pipis bisa dipijet.
    Jari tengahku perlahan-lahan masuk ke vagina mbak Ratih sementara jempol mencari posisi clitoris. Mbak
    Ratih sudah tidak bisa menahan desisan dan erangan karena rangsangan hebat. Dua bagian paling sensitif
    kini aku rangsang. Tidak sampai tiga menit dia mengerang panjang sambil menjepit kakinya. Mbak Ratih
    mencapai dua orgasme sekaligus, orgasme clitoris dan G-spot.

    Setelah kontraksinya selesai, kucabut jariku dari kemaluannyanya. Jariku belepotan cairan vaginanya yang
    banjir. Dia telentang lemas. “Aduh, dik, kamu memang benar-benar pintar. Kamu apa nggak ngaceng nggarap
    aku seperti ini, kok kelihatannya tenang-tenang saja?” katanya takjub atas ketenanganku.

    “Ya ngaceng, mbak. Masih muda masak nggak greng? Tapi aku kan menghormati mbak, jadi mana berani kurang
    ajar,” kataku kalem.

    Mbak Ratih kelihatannya jadi merasa berhutang setelah dipuaskan. “Sudah, gantian kamu kupijat. Lepas
    semua bajumu.” katanya sambil berusaha membuka semua pakaianku.

    Aku turuti semua kemauannya sampai aku akhirnya bugil. Disuruhnya aku telentang dan tangannya segera
    menggenggam penisku. Di kocok sebentar lalu dia mengambil posisi di antara kedua kakiku. Diciuminya
    sekitar alat vitalku dan aku menggelinjang kegelian. Dia lalu melahap batangku dan dihisapnya kuat-kuat.
    Dijilatinya seluruh bagian vitalku sampai ke lubang matahari.

    Aku yang dari tadi sudah terangsang berat, tidak mampu menahan desakan ejakulasi. Ketika akan meletus,
    aku berusaha mengangkat mulut Mbak Ratih tetapi dia bersikeras tetap mengulum penisku. Aku tidak mampu
    membendung, maka pecahlah ejakulasi di mulutnya. Dia menelan semua air maniku, sehingga diakhir
    ejakulasiku aku merasa sangat geli dan ngilu.

    Batangku masih tegang, mbak Ratih dengan segera menuntun barangku masuk ke liang vaginanya. Dia
    mengambil posisi di atasku dan melakukan gerakan maju mundur. Batangku yang masih keras sehabis
    ejakulasi mulai menurun kekerasannya. Namun Mbak Ratih cukup piawai, dia berusaha mempertahankan
    batangku agar tetap berada di dalam vaginanya. Dia menghentikan gerakannya lalu melakukan aksi
    kontraksi. Batangku yang hampir melemas total jadi urung karena merasa dipijat oleh liang vaginanya.
    Rangsangan kedutan liang vagina mbak Ratih luar biasa, sehingga batangku mulai mengeras lagi.

    Merasa kekerasan batangku memadai dia mulai melakukan gerakan maju mundur lagi, sampai batangku keras
    mendekati sempurna. Mbak Ratih mulai bergerak liar dan dia tiba-tiba ambruk memeluk diriku. Vaginanya
    berkedut menandakan dia mencapai puncak. ceritasexdewasa.org Aku dimintanya berganti posisi. Setelah aku di atas gantian
    kini aku menggenjot mbak Ratih sambil mencari posisi yang memberi rangsangan paling maksimal terhadap
    kemaluannya. Setelah memperhatikan responnya, aku bertahan di satu posisi itu. Tidak sampai lima menit
    mbak Ratih menjerit lirih sambil menahan gerakanku, dia dapet orgasme lagi. Aku masih belum merasa
    tanda-tanda. Kini aku memusatkan perhatian pada rangsangan maksimalku untuk segera mendapat orgasme. Aku
    menggenjot cepat.

    Mbak Ratih malah teriak, ”Dik, kasari aku, dik. Kasari!”

    Aku makin liar menggenjot tubuhnya, aku merasa titik tertinggi sudah makin dekat. Mbak Ratih
    kelihatannya juga hampir nyampe. Pada satu titik aku akan segera meledakkan laharku dan ketika akan
    kucabut malah ditahan sama mbak Ratih. Rupanya dia merasa tanggung sebab juga akan muncak, Akhirnya kami
    nyampe berbarengan. Aku istirahat sebentar, lalu kembali berpakaian.

    Aku diciumi Mbak Ratih seperti anak kesayangannya. “Dik, kamu hebat banget, jangan kapok yo,
    kelihatannya kalem, tapi luar biasa pinter.”

    Aku hanya senyum-senyum, lalu keluar meninggalkan Mbak Ratih.

    ***

    Selesai mengurut Mbak Ratih, kutinggalkan kamarnya. Dia tidur pulas. Badannya yang tadi pegal, sekarang
    mungkin sudah lemas. Mungkin juga luar dan dalam sudah melemas. Untuk menuju kamarku, aku harus melalui
    ruang tengah rumah kost-kostan ini. Di situ ada televisi cukup besar. Jam di dinding sudah menunjukkan
    jam satu malam, tapi masih ada suara TV. Kulongok Nia masih nonton sendirian.

    Karena mulutku asem dari tadi nggak merokok, inilah kesempatanku ngrokok sambil nemenin si Nia nonton
    TV. Aku berjingkat pelan dengan langkah tanpa suara dan mencolek bahu Nia. Dia menoleh ke arah yang
    salah, ketika dia melihat ke arah sebaliknya, dia kaget.

    “Sialan, lu, ngagetin gua,” katanya. “Nah lho, lu apain si Ratih, lama bener?” tambahnya sambil bernada
    curiga menggoda.

    “Ya mijet lah,“ sahutku.

    “Mijet, apa mijet?” tanyanya menyelidik.

    “Ya mijet aja,” kataku sambil menyalakan rokok lalu duduk di sebelahnya. “Bagus filmnya?” tanyaku.

    “Seru nih, mau tidur jadi nanggung,” katanya. “Jay, masih kuat mijet gue kan?” katanya berharap.

    “Sepuluh lagi juga masih,” kataku menyombongkan diri. Padahal jujur aja aku sudah lemes.

    “Kalau gitu tolong dong, bahuku dipijet, “ katanya sambil mengubah posisi.

    “Tunggu ya, kuhabiskan dulu rokok ini,” kataku. Selesai merokok, kuraih bahunya lalu aku mulai
    melancarkan pijatan. Nia ini orangnya manis.. Badannya lembut sekali dan rambutnya wangi. “Wah, boleh
    juga ini kugarap,” batinku. Perasaan lemes tadi jadi hilang berganti semangat berbalut penasaran.

    “Kaku banget nih ototnya, gak pernah dipijet kali ya?” ujarku.

    “Iya, aku udah lama nggak pernah pijet lagi, biasanya kalau di rumah aku punya langganan sih,” katanya.
    Nia kutaksir umurnya sekitar 24 tahun. Dia sudah selesai kuliah, dan sekarang bekerja di salah satu
    kedutaan asing.

    Leher dan bahunya mulai lemes. Kini aku menekan-nekan punggungnya, dia menggeliat-geliat merasakan
    nikmatnya pijatanku. Sesekali dia bersendawa. “Wah, masuk angin nih, kalau dikerok pasti merah,” kataku
    asal kena.

    “Emang lu bisa ngerok, gue sih hobi banget dikerokin,” katanya.

    “Itu sih enteng,” kataku.

    “Bener nih, tolong dong kerokin gue,” katanya.

    “Disini?” tanyaku.

    “Ya enggaklah, di kamar gua noh,” katanya sambil berdiri menarik tanganku. Rumah sudah sepi dan gelap.
    Aku digelandang masuk ke kamar Nia. Dia menyewa kamar sendiri. Kamarnya rapi dan baunya harum.

    “Kerokannya pakai apa, Jay?” tanyanya.

    “Pakai garpu kalau ada,” candaku.

    “Hah, gila lu, nih pakai koin aja,” katanya.

    “Ya pakai inilah, tapi jangan pakai balsem, pakai lotion aja,” kataku.

    “Lho biasanya aku pake balsem, tapi ya terserah lu deh,” katanya sambil menyodorkan koin dan hand body
    lotion. Ada maksud tersembunyi makanya aku menyarankan pake balsem. Mudahlah kalian menebaknya.

    “Nia, aku nggak bisa ngerok kalau kamu pake daster gitu. Dengan segala hormat, kamu harus buka
    dasternya,” kataku.

    “Paham, bos, paham. Sabar napa,” katanya sambil berdiri membelakangiku membuka dasternya. Dia ternyata
    nggak pake BH. Daster tadi ditutupkan ke teteknya lalu dia tidur telungkup.

    Aku mulai beraksi mengerok punggungnya yang putih mulus. Hasil kerokanku memang merah bahkan cenderung
    merah tua. Dia ternyata masuk angin serius. Tadinya kukira dia hanya masuk angin bohong-bohong saja.

    “Wah, ini sih masuk angin berat, pasti semua badanmu pegel-pegel ya?” kataku.

    “Emang bener sih, malah rasanya rada panas dingin gitu, kayak orang mau demam,” katanya.

    Sekitar 15 menit, selesai sudah semua punggungnya dikerok. Aku menawarkan untuk dipijet sekalian biar
    otot-ototnya gak kaku. “Emang kamu nggak capek habis mijet mbak Ratih? Kalau kuat sih dengan senang hati
    dong,” katanya.Cerita Sex Dewasa

    Aku mengambil posisi menduduki pantatnya yang bahenol, “Sorry ya, aku duduki,” kataku. Kenyal bener
    pantat si Nia. Aku mulai melancarkan pijatan serius.

    Dia terus menerus melontarkan pujian mengenai nikmatnya pijatanku sambil sesekali berkomentar, “Ya, ya,
    situ pegel banget. Aduh, kamu kok pinter, tau urat segala sih?” katanya.

    “Kakinya mau sekalian dipijet apa, gimana?” tanyaku.

    “Aduh, mau dong. Kebetulan kakiku pegel bener,” katanya.

    Aku memulai dari telapak kaki, mencari simpul-simpul syaraf. Beberapa simpul aku tekan, dia menjerit
    kesakitan. Disini aku mulai lagi membual kalau beberapa organnya agak terganggu.

    Satu simpul erotis aku tekan, dia menjerit. “Aduh, apaan tuh, kok sakit banget?” katanya.

    “Jangan tersinggung ya, aku boleh terus terang nggak?“ pancingku.

    “Iya, ngomong aja terus terang, kok pake nanya tersinggung segala,” katanya sambil meringis kesakitan.

    “Bener ya? Ini simpul syaraf kalau sakit ditekan, mungkin nih, sekali lagi mungkin, lu rada frigid, atau
    dingin ama cowo. Nggak usah dijawab kalo malu,” ujarku.

    “Eh, lu kok tau aja sih? Sejak gua putus ama pacar gua yang dulu, gua jadi benci ama cowo, makanya gua
    rada kurang suka aja kalau ada cowo deket-deketin gua. Wah, lu ternyata jago beneran nih, gua jadi nggak
    bisa nutup-nutupin rahasia nih. Eh, tapi sekarang udah gak sakit lagi kok, mencetnya dipelanin ya,”
    katanya.

    Padahal aku makin keras menekannya. Kalau rasa sakitnya berkurang, berarti dia mulai cair dan bisa
    bergairah lagi. “Yang begituan jangan ditahan-tahan, lu bisa migren sampe mata lu merah sebelah,”
    kataku.

    “Eh, gila, lu! Bener juga, gua suka migren. Kalau lagi kambuh, ampun sakitnya. Eh, dimana tuh syarafnya,
    bisa diilangin nggak penyakit gua yang suka kambuh itu?” katanya.

    “Asal lu ijinin gua coba, sebab titik syarafnya tidak hanya di kaki tapi juga di pantat, tangan dan di
    bawah perut, dan di punggung.” kataku.

    “Tolong dong sekalian, gua pasrah aja deh ama lu, kayaknya lu udah pakar banget sih,” dia mengharap.

    Aku mulai memainkan titik-titik syaraf yang merangsang sambil juga titik syaraf migren. Sekitar 10 menit
    titik migren sudah mulai lemes, kini tinggal syaraf perangsangan yang aku mainkan. Ketika bagian pantat
    aku tekan-tekan dan beberapa titik di paha di bagian dalam, dia mulai mendesis.

    “Gila lu, gua jadi konak, udah lama gua nggak ngrasain kayak gini, lu apain sih gua? Lu kerjain kali
    ya?”

    “Tadi kan gua udah minta ijin, akibatnya kalau syaraf frigid di terapi kalau berhasil yang dingin
    jadinya panas, ya udah kalo gitu gua brenti aja sekarang,” kataku menantang.

    “Eh, jangan-jangan. Nggak pa-pa, gua nikmati koq, lu terusin aja. Gua masih banyak ingin berkonsultasi
    ama lu, jangan marah yaa,” dia merayu. “Kepala gua sekarang kok jadi pusing sih, kayak penuh gitu lho,
    badan gua juga rasanya kayak merinding-merinding, kenapa sih gua ini?” ujarnya sambil menggeliat-
    geliatkan badannya.

    Aku tahu Nia berusaha melawan rangsangan dirinya sendiri. Selama titik-titik sensual aku serang terus,
    dia bakalan makin konak. Aku menekan-nekan pantatnya. Dia mendesis-desis, entah sadar atau tidak tapi
    disertai pula dengan gerakan pantat ke kiri dan ke kanan. Kemudian dia kuminta telentang. Aku kembali
    mulai dari bahu. Nia masih malu sehingga teteknya masih ditutupinya dengan dasternya. Kubiarkan saja dia
    mempertahankan rasa malunya. Tapi aku yakin nanti akan dia buka atas kemauannya sendiri. Pijatanku mulai
    ke bawah di seputar teteknya, mulai kuurut dengan gerakan halus, naik turun, kadang melingkar dan
    sesekali naik sampai ke putingnya.

    “Aduh, Jay, enak banget,“ Dia jadi tidak perduli bahwa penutup teteknya sudah tidak berfungsi lagi,
    sebab semua teteknya sudah menyembul keluar. Teteknya bulat padat dan cukup gembung, pentilnya kecil dan
    aerolanya tidak lebar, berwarna coklat muda.

    “Maaf ya, Nia, ini untuk melancarkan peredaran darah sekitar toketmu, kalau dia menggumpal, bisa-bisa
    menjadi tumor. Aku mau kurang ajar dikit nih untuk mengaktifkan semua saraf di dadamu, kuterusin apa
    boleh?” tanyaku serius sambil berhenti memijat.

    “Apa aja deh terserah, gua udah pasrah banget ama lu,” katanya sambil terengah-engah.

    Putingnya aku sentuh dengan jari telunjuk lalu aku putar-putar dengan gerakan halus. “Rasa geli yang
    kamu rasakan itu ibarat mengaktifkan aliran listrik di semua syaraf yang bersimpul di puting. Jadi
    dengan rasa geli ini semua syaraf jadi tergugah dan aliran darah di sekitarnya makin lancar,” ini asli
    aku ngarang, sebab sebenarnya ini hanya trikku untuk lebih merangsang dia. Dan Nia rupanya mempunyai
    kelemahan di putingnya. Dia tidak mampu menahan rangsangan jika putingnya disentuh-sentuh.

    “Aduh, Jay, sumpah gua jadi kepengen, gua jadi pusing. Aduh, gimana ini? Tolongin dong gua, Jay,”
    katanya memelas.

    “Sabar ya, sayang, kita selesaikan dulu ini.” kataku. Pijat urutku mulai turun ke bawah. Bagian perutnya
    aku urut pelan lalu turun terus sampai ke pangkal pahanya. Jariku bebas menelusup ke bawah celana
    dalamnya. Dia sudah membiarkan saja aksiku meski seluruh permukaan mekinya sudah terjamah. Aku berlagak
    repot dengan celana dalam itu, sehingga Nia kemudian meloloskan celana dalamnya. Urat malunya udah
    kendor. Terpampanglah memek dengan bulu halus yang rapi dengan gundukan yang cukup gemuk. Aku kagum
    dengan bentuk memek Nia yang menggairahkan ini. Mungkin inilah yang disebut ’turuk mentul’.

    “Bagaimana, masih pusing?” tanyaku.

    “Iya, Jay, gimana dong?” katanya.

    “Wah, ini simpul sarafnya sulit tempatnya, karena adanya di tempat yang paling rahasia,” kataku sambil
    berhenti mengurut.

    ”Dimana sih?” katanya mendesah.

    “Di dalam sini,“ kataku sambil menepuk memeknya. “Kalau kamu ijinkan gue urut juga biar pusingnya
    hilang, tapi itu terserah kamu, aku sih ikut apa yang kamu mau,” ujarku dengan nada dingin.

    “Iya, boleh-boleh. Please, dooooong,” katanya mengiba.

    “Maaf ya,” aku minta ijin lalu jempolku menekan clitorisnya dan aku putar-putar lalu perlahan-lahan jari
    tengahku menyusup ke dalam liang vaginanya mencari titik G-spot.

    G-spotnya sudah menyembul menandakan dia sudah sangat tinggi terangsang. Ibarat pria kalau dikocok
    sedikit saja pasti muncrat. Dia menggelinjang hebat ketika dua simpul sarafnya yang paling peka aku
    mainkan. Baru sekitar dua menit aku melakukan aksi itu, dia sudah mengerang dan akhirnya melengking
    panjang sambil menjepit kedua kakinya. Tapi tertahan oleh badanku yang berada di antara kedua kakinya.
    Kulepas jempolku dari posisi sentuhan ke clitorisnya, sementara jari tengah masih tetap berada di dalam.
    Liang vaginanya berkedut dan tiba-tiba memancar cairan agak kental sampai sekitar jarak sepuluh cm. Nia
    orgasme disertai ejakulasi. Pancarannya sekitar 4 sampai 5 kali seirama dengan kontraksi otot di dalam
    vaginanya. Nia lalu tergolek lemas.

    “Aduh, Jay, seumur-umur gua baru ngrasain ini, gua tadi ngompol ya.” tanya Nia dengan mata yang terbuka
    sedikit dengan pandangan sayu.

    “Iya, itu tadi kamu mencapai orgasme sempurna. Gimana, sekarang masih pusing?” tanyaku.

    “Wah, sekarang plong banget rasanya, dunia tambah terang kelihatannya. Cuma badanku jadi lemes banget,
    ngantuk sekali.”

    “Ya udah, tidurlah,” lalu aku membantu menyelimuti badannya.

    “Tunggu, Jay, rasanya ibarat makan sudah kenyang tapi kurang mantep kalau nggak makan nasi,”

    “Apa laper mau makan nasi?” tanyaku bingung.

    “Bukan, sini deh, Jay.” tanganku ditariknya dan aku terduduk, lalu dia bangun memeluk badanku sembari
    menariknya tidur diatas badannya. Nia lalu dengan ganas sekali menciumi seluruh wajahku lalu dia
    menyosor mulutku. Aku dibawanya berguling sehingga dia sekarang menindih tubuhku. Nia duduk di atas
    badanku lalu dia memohon. “Jay, mau kan tolongin aku sekali lagi aja,” katanya mengiba.

    “Apa pun yang tuan putri kehendaki, hamba siap, tuan putri,” kataku sambil tersenyum.

    “Jay, puasin aku lagi yaaaaaa?” katanya sambil menarik t-shirtku ke atas lalu dia beralih duduk dan
    dengan sekali sentak ditariknya celana pendek dan celana dalamku, sehingga lepaslah kekangan penisku
    hingga benda itu segera mengacung ke atas. Nia lalu menyergap batangku dan dilumatnya habis dengan penuh
    nafsu. Dia menjilati semua bagian kemaluanku seperti anak-anak menjilat ice cream horn. Aku pasrah dan
    menutup mata. Dua ronde sebelum ini membuat aku mampu bertahan dan menenangkan kobaran nafsuku.

    Nia sudah tidak sabar lagi lalu jongkok di atas burungku dan dengan panduan tangannya dituntunnya
    batangku masuk ke dalam lubang vaginanya. Perlahan-lahan sampai semua tertelan habis. Nia melakukan
    gerakan naik turun. Posisi ini sebenarnya kurang membuat dia bergerak bebas dan cepat melelahkan,
    makanya tidak lama kemudian dia mendudukiku dan melakukan gerakan maju mundur.

    Nia kelihatannya memposisikan sentuhan penisku ke pusat-pusat saraf kenikmatannya, baik itu clitoris
    dengan dibenturkan ke permukaan jembutku maupun G-spot dengan batangku. Dia berjuang dengan gerakan maju
    mundur sekitar lima menit mungkin sebelum akhirnya mengerang dan ambruk ke badanku. Nafasnya tersengal-
    sengal. Vaginanya berkedut cukup lama, meskipun makin lama makin jauh tenggang waktu gerak kontraksinya.

    “Aduh, enak banget, Jay, makasih ya,”Cerita Sex Dewasa

    “Aku belum bisa membalas terima kasih kembali,” kataku sambil tersenyum.

    Nia tidak mengerti, dia mengernyitkan dahinya. Aku tidak memberi kesempatan dia berpikir panjang , aku
    segera membalikkan posisi sehingga di tidur telentang dan aku menindihnya. Setelah posisi agak leluasa
    aku mulai menggenjot dengan gerakan lambat dan konstan.

    “Aduh, Jay, cepet dikit donk, aku udah terasa diujung nih.” rintihnya.

    Aku tidak menuruti kemauannya, sehingga dia tertunda-tunda pencapaian orgasmenya. Sampai titik dimana
    aku sudah merasakan rangsangan hebat aku segera mempercepat genjotanku dengan menabrak-nabrakkan
    gumpalan memeknya keras-keras.

    “Aku nyampe! Aku nyampe, aaaaaaa!” erangnya.

    Mendengar itu, aku makin terangsang dan meletuslah spermaku menyemprot liang memeknya. Aku tidak sempat
    menarik keluar karena pantatku ditahan tangan Nia dengan tarikan yang kuat sekali. Aku telentang
    terbujur disampingnya. Nia memelukku.

    “Jay, kamu tadi sama mbak Ratih gini juga ya?” tanya Nia.

    “Ah, itu kode etik, nggak bisa diceritakan. Apa mau permainan ini aku ceritakan ke orang lain juga?“
    tanyaku.

    “Sorry, aku terbawa perasaan. Iya deh, aku paham. Btw, aku thanks banget ama kamu ya.“ katanya.

    Aku bangkit kembali berpakaian dan kuselimuti Nia. Sebelum keluar kamarnya kukecup keningnya, “Bobo ya,
    sayang,” kataku singkat yang sepertinya klise, tapi jika dilantunkan pada saat yang tepat, dia menjadi
    mantera yang ampuh.

    Setelah menggarap Mbak Ratih dan Nia, aku diagung-agungkan oleh kedua orang itu sebagai pakar urat
    syaraf. Sebenarnya beberapa penghuni kost lainnya yang belum mendapat giliran sudah merayu-rayuku untuk
    juga dipijat. Tapi aku agak menahan diri dengan alasan badanku sedang kurang fit atau alasan sibuk atau
    apalah.

    Saat kami sedang bercengkerama, ibu kost bergabung ikut ngrumpi sambil nonton TV. “Dik Jay ini dipuji-
    puji abis ama Mbak Ratih dan Nia, katanya jago mijet dan tahu susunan syaraf, belajar dimana sih, dik?”
    tanya bu Rini.

    “Ah, mereka memang suka melebih-lebihkan, bu. Saya cuma belajar dari buku-buku aja kok, belum mahir
    bener, baru taraf pemula,” kataku mencoba merendah.

    “Bohong, bu, dia sok merendah,” kata Nia.

    “Aku jadi ketagihan dan rasanya aku belum pernah nemu tukang pijat sepinter Jay, bu,” tambah Mbak Ratih.

    “Wah, perlu dibuktikan nih,” kata bu Rini. Mata Mbak Ratih dan Nia langsung memandangku dengan penuh
    arti. Aku belagak bego aja sambil senyum ditahan.

    “Kristin kemana kok nggak keliatan?“ tanya bu Rini.

    “Ada di kamar, dia lagi kambuh sakit magnya,“ kata Juli yang juga gadis keturunan Cina seperti Kristin.

    “Udah diobati apa belum?” tanya Bu Rini.

    “Udah sih, tadi dikasih obat mag, tapi masih sakit,” kata Juli lagi.

    “Jay, kamu bisa bantu Kristin nggak untuk ngurangi rasa sakit? Kasihan dia,” kata Mbak Ratih.

    “Kristin kan nggak suka dipijet, katanya dia itu penggeli,” kataku berkilah.

    Bu Rini lalu masuk ke kamar Kristin diikuti Mbak Ratih dan Juli. Entah apa yang dibicarakan, nggak lama
    kemudian Mbak Ratih keluar. “Jay, tolong dong. Kristin kasihan, dia merintih kesakitan tuh perutnya, dia
    udah pasrah, pokoknya rasa sakitnya bisa berkurang,” katanya.

    Aku pun masuk ke kamar Kristin. Dia terbujur tidur berselimut sambil cengar-cengir menahan rasa sakit
    akibat magnya kambuh. Aku minta Kristin duduk dan kupegang tangan kanannya. Badannya agak panas, mungkin
    akibat dia menahan rasa sakit. Kuraba telapak tangan kanannya. Mukanya pucat, matanya berair. Aku
    mencari celah antara jempol dan jari telunjuknya kutekan pelan.

    Kristin berteriak, “Sakit…!”

    Aku menjelaskan, bagian itu memang sakit sekali jika ditekan manakala mag sedang bermasalah. Kalau dia
    bisa menahan rasa sakit, mudah-mudahan rasa saakit dilambungnya akan berangsur-angsur berkurang. “Kamu
    bisa tahan sakit nggak, atau tinggal pilih mau sakit terus di lambung atau nahan sakit disini?” kataku.

    “Aduh, sakit sekali di situ, tapi cobalah aku tahan, daripada magku yang sakit, dari tadi kok rasanya
    makin sakit,” kata Kristin.

    Aku mulai menekan celah di telapak tangannya dengan tekanan pelan sekali. Meskipun begitu, dia sudah
    merasakan kesakitan. Setiap kali kutekan, dia melonjak menahan rasa sakit. Sekitar 5 menit tangannya
    kugarap, dia minta istirahat sebentar untuk menetralisir sakit di tangannya.

    “Di kepala rasanya pyar-pyar, agak mending nih sakitnya di lambung, nggak kayak tadi lagi,” kata
    Kristin.

    “Sabar ya, Kris, aku harus pelan-pelan terapinya, karena sakit sekali kalau kutekan. Kamu kalau mau
    bersendawa jangan ditahan, atau kalau terasa mau buang angin dilepas aja. Nanti kalau sudah bisa kentut
    dan bersendawa, rasa sakitnya akan hilang, jangan malu-malu,” kataku.

    Bu Rini lalu menggiring Mbak Ratih dan Juli agar keluar kamar untuk memberi kesempatan aku melakukan
    terapi pada Kristin. Lagian kalau ada mereka mungkin Kristin malu mau buang angin. Setelah 15 menit
    kutekan telapak tangannya, dia mulai merasa tahan dengan tekanan yang lebih keras. Ini menandakan
    berangsur-angsur rasa sakit magnya mulai berkurang.

    “Aduh, Jay, aku pengin kentut, sorry ya,” Kristin lalu memiringkan pantatnya dan meletuslah angin dari
    pantatnya panjang sekali. “Aduh, sorry yaaa, aaah… bau apa nggak nanti ya?” katanya dengan nada
    khawatir.

    “Relaks aja, Kris, yang penting kamu sembuh, bau juga nggak apa-apa, normal-normal aja, orang cantik
    kentutnya gak harus wangi kan?” kataku menggoda. Kristin memang cantik. Gadis Cina dengan postur agak
    tinggi dan rambut lurus dipotong pendek seleher.

    Kristin juga berkali-kali bersendawa. Tangan kiri dan kanannya kini kupencet sudah tidak terlalu sakit
    lagi. Padahal tekananku cukup kuat. “Ilang, Jay, sakitnya, wah salut aku ama kamu, hebat, kenapa gak
    dari dulu kamu bilang?” katanya.

    “Orang kamu gak nanya, masak aku ngojok-ngojokin diri?” kataku. “Sini, duduk membelakangiku, kepalamu
    kan masih tegang bekas nahan sakit tadi,”

    “Kamu kok tau sih?” katanya lalu memutar badannya membelakangiku.

    Aku lalu memijat kepalanya dengan gerakan yang tidak terlalu keras, untuk merelakskan otot-otot yang
    tadi menegang. Lehernya mendapat giliran berikutnya lalu bahu dan lengannya. Di leher bagian belakang
    juga ada simpul syaraf erotik. Aku iseng menekan simpul itu. Pastinya Kristin tidak sadar kalau aku
    sedang mengisengi dirinya.

    “Aduh, Jay, enak tapi agak geli, badanku jadi kemrenyeng semua, merinding nih, Jay, tanganku,” kata
    Kristin.

    Aku tahu itu adalah reaksi normal jika rangsangan mulai menjalar ke tubuhnya. Pasti memeknya juga mulai
    basah. Aku minta dia tidur tengkurap dan telapak kakinya aku garap sekalian untuk menuntaskan terapi
    magnya dan juga menambah stimulan erotisnya. Titik erotis yang kuat sebenarnya ada di bagian pahanya.
    Tapi nantilah. Aku memijat sekujur kakinya dengan sebelumnya menekan syaraf yang membuatnya bisa menahan
    rasa geli.

    “Aku kok jadi gak geli ya, Jay? Biasanya aku penggeli banget, kamu bisa aja, Jay. Aku jadi makin
    kemrenyeng gini sih, Jay?” katanya. Kristin memang Cina Cirebon, sehingga dia gak sadar kalau bahasa
    daerahnya nyampur ke bahasa Indonesia.

    “Badannya mau sekalian nggak?” kataku menawarkan diri.

    “Boleh, Jay, kamu pinter sih mijetnya. Aku kok gak ngrasain geli lagi ya?” kata Kristin yang tidur
    telungkup dengan masih lengkap terbalut piyamanya.

    Sifat isengku adalah kelemahanku, jadi kesempatan ini pun aku menggarap Kristin dengan tekanan-tekanan
    simpul erotis di punggungnya. Aku menyiksanya dengan meninggalkan rangsangan yang tidak bakal
    terlampiaskan, jika tidak aku tuntaskan. “Rasain, looo!” kataku membatin. Tapi di balik semuanya
    rangsangan itu, juga untuk menyirnakan ketegangan akibat deraan sakit mag tadi.

    Setelah sekitar sejam setengah, tuntaslah sudah terapi untuk Kristin. Aku segera pamit keluar.Tapi
    Kristin menarikku. Dia berdiri lalu mencium pipiku kiri dan kanan. Aku merasa ini bukan ciuman biasa,
    karena sambil mencium dia memelukku erat sekali. Aku ikuti saja maunya dan aku pasif saja.

    “Makasih banget ya, Jay,” bisiknya.

    Aku lalu keluar kamar. Gak lama kemudian Kristin juga ikut keluar. Mukanya segar bahkan air mukanya agak
    merah. Kesegaran itu mungkin karena dia sudah pulih dari rasa sakit dan juga ada rangsangan yang masih
    terbenam di dalam tubuhnya yang belum tersalurkan.

    Baca JUga Cerita Seks Calon Mertua

    “Untung ada Jay, Bu, kalau nggak, mungkin saya sudah mati kesakitan,” katanya sambil tersenyum renyah.

    “Ah, ibu jadi makin penasaran pengin mbuktikan nih,” kata Bu Rini.

    “Coba deh, bu, sekali-kali ibu mesti nyoba biar gak penasaran,” kata Nia dengan senyum penuh arti sambil
    memandangku. Mbak Ratih juga ikut tersenyum sambil melirik.

    “Sialan nih cewek-cewek, aku jadi malu dipromosikan begitu dan rasanya dibalik promosi itu ada makna
    yang terpendam,” batinku.
    Jam di dinding sudah menunjukkan jam 10 malam.

    “Jay, masih kuat gak? Ibu juga pengin dong dipijet, tadi kebetulan manggil mbok pijet dia-nya lagi
    sakit. Badan ibu memang rada nggak enak sih,” kata Bu Rini sambil memeluk pundakku.

    “Ah, lima lagi juga masih kuat, bu, orang tadi gak keluar tenaga banyak. Kristin gak kuat dipijat
    soalnya.” kataku.

    Aku lalu digandeng Bu Rini menuju kamarnya. Mbak Ratih dan Nia menatapku sambil tersenyum penuh arti.
    Kamar Bu Rini dingin sekali. Dia katanya suka tidur di hawa yang dingin.

    “Apa nya yang sakit, bu?” tanyaku.

    “Ah, badanku pegel semua,” katanya. Dia lalu tanya bagaimana aku memijatnya. Aku menimpali, bagaimana
    biasanya dia dipijat sama mbok pijet. Katanya dia biasa pakai sarung aja. lalu kusarankan dia seperti
    biasanya dipijat.
    “Kalau pegel yang ibu rasakan ini sebenarnya bukan karena cape kerja, tapi ini efek dari ibu tidur di
    ruangan yang terlalu dingin. Kalau di luar panas, lalu masuk ke kamar dingin dan keluar lagi panas,
    efeknya pori-pori tidak mampu secara segera menyesuaikan suhu, bu,” kataku seperti dokter memberi
    konsultasi.

    “Ah, adik ini apa pernah kuliah di kedokteran apa, kok ngerti begituan?“ tanyanya.

    “Nggak kok, bu, itu hanya pengetahuan umum saja, badan ibu sudah bukan badan remaja lagi yang elastis,
    jadi kalau pori-pori tidak menciut sempurna untuk menahan suhu badan maka dampaknya ibu merasa pegel
    semua. Begitulah kira-kira, bu.“ kataku.

    “Terus harusnya gimana, dik?” tanyanya.

    “Ibu hanya perlu berkeringat agar pori-porinya mengembang kembali, kalau sudah berkeringat pasti
    pegelnya ilang. Biasanya orang mengambil jalan pintas dengan dikerok, tapi sebenarnya tanpa dikerok juga
    bisa mengembangkan pori-pori,” kataku.

    “Lha terus gimana jadinya?” kata Bu Rini.

    “Kalau ibu ijinkan, AC-nya harus dimatikan,” kataku.

    “Ya sudah, matikan saja,” katanya. “Tapi kan masih dingin to, dik?” tanya bu Rini.

    “Iya, nanti kita buat biar berkeringat,” kataku.

    “Sini, bu, coba tengkurep, nanti saya cari simpul-simpul sarafnya yang bisa bikin ibu kemeringet,” Aku
    mulai menekan simpul-simpul syaraf kakinya. Beberapa bagian dia menjerit kesakitan. Aku minta dia
    menahan sedikit sakitnya. “Ini, bu, ini adalah tanda kalau ibu punya darah rendah, jadi kalau lagi drop
    ibu pasti suka ngantuk dan lehernya agak kaku,” kataku.

    “Iya, dik. Bener, dik, aku memang darah rendah, dan aku sering ngrasa cekot-cekot di leher bagian
    belakang, tapi itu sakit sekali, apa nekennya bisa agak pelan dikit biar gak sakit,” pintanya.

    “Tahan sebentar, bu, Ibu karena nahan sakit pasti nanti berkeringat dan mudah-mudahan darahnya nggak
    mudah drop.”

    Bu Rini menjerit-jerit kesakitan, dan badannya mulai berkuah alias berkeringat. Dia merasa kamarnya jadi
    gerah. Padahal sisa dinginnya AC tadi masih cukup kuat. “Wah, bener, dik. Aku jadi kemringet dan badanku
    juga gak pegel lagi. Kok bisa ilang pegelnya ya, padahal belum dipijet?” katanya.Cerita Sex Dewasa

    Dari satu titik, aku pindah ke titik-titik simpul saraf lainnya sampai Bu Rini benar-benar kuyup oleh
    keringetnya. Karena dia berselimut sarung maka penguapan keringetnya jadi terhalang.

    “Bu, kalo ibu kerudungan sarung terus nanti gerah, kalo ibu gak keberatan, buka aja sarungnya,” saranku.

    Bu Rini agak ragu membuka sarungnya, tapi akhirnya dia buka juga dan ternyata beliau tidak pakai BH. Dia
    tungkrupkan sarung di bagian depan lalu kembali telungkup. Badan Bu Rini cukup terawat meskipun ada
    selulit dipaha dan di bokongnya. Pahanya besar, dan bokongnya gempal banget. Bu Rini memiliki tulang
    pinggul yang besar, sehingga dalam usia STW, dia masih kelihatan berpinggang.

    Body STW menggairahkan juga rupanya. Terus terang aku belum punya pengalaman ML sama STW. Kira-kira
    longgar apa gimana ya. Sambil aku melakukan terapi aku juga menekan simpul-simpul syaraf erotis Bu Rini.
    Biasanya kalau syaraf erotis ditekan, rasa malu perempuan agak berkurang, karena nafsu birahinya
    bangkit. Bu Rini kelihatannya sudah lama menjanda, bagaimana dia memenuhi kebutuhan sexnya. Aku agak
    penasaran dengan misteri ini.

    Reaksi dari pijatan di simpul syaraf erotis mulai menampakkan hasilnya. Bu Rini mulai agak gelisah.
    ”Aduh, dik, pijatan refleksimu enak juga, kamu belajar dimana kok ngerti refleksi segala?” tanya bu
    Rini.

    “Dulu saya punya teman kerja di pijat refleksi, saya iseng-iseng belajar bu, saya juga belajar dari
    buku-buku, saya sih belum mahir sebetulnya, masih taraf pemula,” kataku merendah.

    “Tapi keliatannya kamu paham benar bisa menerangkan sampai soal darah rendah, kamu berbakat lho, dik,”
    katanya.

    Setelah semua simpul syaraf di bagian telapak kaki kugarap, aku mulai merambat naik ke atas kaki.
    Sebelumnya sekujur kakinya aku usap dengan lotion agar lancar mengurut. Paha Bu Rini termasuk besar,
    tetapi tumitnya ramping. Konon wanita yang memiliki tumit ramping, barangnya berasa legit. Beberapa
    simpul syaraf erotis di bagian betis dan paha kugarap tuntas sambil mengurut untuk melemaskan otot-
    ototnya. Bu Rini sudah tidak merasa sakit lagi. Dia malah menikmati sekali urut-urutan di kakinya.

    Aku mulai memusatkan pijatan di bagian paha, terutama bagian dalam. Kenyal sekali paha Bu Rini. Aku suka
    menekan lemak-lemak tebal perempuan, karena empuk dan halus. Bu Rini mulai mendesis sambil sesekali
    bergumam, kadang-kadang gak jelas apa yang diucapkannya. Aku hanya mendengar, “Aduh enak-e, dik.”

    Kelihatannya Bu Rini sudah mulai bangkit nafsu birahinya. Kuabaikan saja dengan pura-pura memijat serius
    dan tidak memusatakan pijatan di bagian yang kontak dengan syaraf syur. Aku mulai memijat badannya
    dimulai dari bahu, leher terus di bawah. Bagian pantat aku sisakan. Nanti akan kugarap khusus.

    Bu Rini memujiku terus menerus, sampai dia mengatakan pijatanku lebih enak dari langganan mbok-pijetnya.
    Aku hanya sederhana saja berpikir, pekerjaan memijat meskipun sederhana, kalau dilakukan dengan tekun
    serius dan suka melakukannya pasti hasilnya maksimal. Memijat juga memerlukan pengembangan pengetahuan,
    dan aku rajin mempelajari teknik memijat dari buku-buku yang kubeli di pasar loakan.

    Sekarang giliran pantat. Bokong bu Rini hanya terbungkus celana dalam, sehingga bongkahan daging tebal
    pantatnya jelas terlihat dari luar celana dalamnya. Aku mulai melancarkan serangan pijatan erotis.
    Pertama kutekan dan dengan gerakan lambat aku memutar tekanan jariku. Pijatan ini biasanya akan
    mentriger vagina dan akibatnya lubang senggama bisa basah kuyup.

    Sambil menyusupkan kedua tanganku ke balik celana dalamnya sehingga langsung bisa menyentuh kulit
    bokong. Aku melakukan gerakan seperti mengumpulkan sesuatu dan kudorong bongkahan daging kedua belah
    pantatnya ke atas lalu kuperintahkan Bu Rini untuk mengencangkan otot kegelnya selama mungkin. Namun dia
    tidak sanggup, baru sebentar sudah dilepas lagi.

    “Nggak kuat, dik,” katanya. Kuminta berkali-kali tetapi dia tetap tidak mampu bertahan lebih dari 30
    detik.

    ”Bu, kelihatannya ibu punya kelemahan dalam hal menahan pipis.”

    “Bener, dik, koq adik bisa tahu sih?” katanya heran.

    “Ibu juga mungkin kalau pipis gak bisa tuntas, suka ada yang ketinggalan keluar sedikit setelah pakai
    celana.” kataku menebak-nebak.

    “Aduh, bener banget, dik, itu makanya ibu kadang-kadang suka risih, bisa diterapi gak dik yang
    begituan?” katanya penuh harap.

    Aku lalu menyarankan dia untuk berlatih sejenak mengencangkan otot kegelnya. “Coba, bu, kita latih
    sebentar,” kataku. Aku memintanya menahan otot kegelnya ketika bongkahan pantatnya kudorong ke atas
    sambil menarik nafas, dan melemaskannya ketika aku melepas dorongan tanganku ke pantatnya. Sampai
    hitungan ke tiga puluh dia masih mampu, selanjutnya di menyerah.

    “Capek, dik,” katanya.

    “Latihan otot ini kalau tidak ada stimulannya memang cepet capek,” kataku.

    “Stimulannya apa to, dik, kok latihan pake stimulan segala?” tanyanya penasaran.

    “Nanti, bu, selesai pijet aku jelaskan,” kataku sambil memintanya berbalik badan menjadi telentang.

    Aku tau di dalam tubuh Bu Rini sedang membara api sekam birahinya. Dia kelihatannya berusaha menekan,
    tetapi setiap kali mengendur aku tambah stimulant, sehingga bukannya makin reda malah makin menjadi.
    Dalam tidur telentang, Bu Rini masih berusaha menutup kedua payudaranya dengan sarung. Aku melihat ini
    hanya sikap basa-basinya saja, jadi kubiarkan saja dia mempertahankan martabatnya. Hal kecil gini kalau
    dikutik bisa jadi masalah besar.

    Misalnya kalau kukomentari, ”Sudahlah, bu, gak usah ditutupi,” pasti akan muncul perlawanan dan otaknya
    memproses sehingga aku diposisikannya sebagai lawan yang harus diwaspadai.

    Sebenarnya Bu Rini sudah pasrah, urat malunya tinggal sedikit saja yang nyambung, disentil aja urat itu
    bakal putus. Yang ada hasrat birahi yang membara, marak di dalam dadanya. Aku mulai memijat bahunya dari
    bagian atas. Otot-otot di bahunya sudah melemas, tidak kaku seperti pertama kupegang tadi. Kemudian
    merayap mendekati dadanya. Aku berhenti sejenak.

    “Bu, BDnya mau diurut juga apa gak?” tanyaku.

    “Apa bisa to susu diurut, biar apa to, dik?” tanyanya penasaran.

    “Biar lancar peredaran darahnya, kalau tidak lancar bisa menggumpal dan lama-lama bisa jadi bibit
    tumor,” kataku berusaha bicara datar untuk meyakinkannya. Padahal ini 100 persen cuma ngarang aja.

    “Boleh lah, dik,” katanya.

    Kedua belah tanganku mulai menyelusup di bawah kain penutup dadanya. Dadanya sangat kenyal, bahkan
    gumpalannya cukup besar. Gerakanku mengurut, otomatis perlahan-lahan membuka semua penutup dadanya.
    Kutaksir Bu Rini berusia di atas 40, tetapi buah dadanya masih utuh menggumpal. Yang membedakannya
    dengan gadis ABG mungkin hanya putingnya yang lebih besar dan lingkaran aerolanya yang agak lebar.Kedua
    puting Bu Rini kelihatan menegang. ceritasexdewasa.org Ketika kusentuh dia mendesis. Itu adalah spontanitas yang kadang
    sulit dikendalikan atau disembunyikan, dari wanita yang terangsang. Aku menduga, perempuan yang mendesis
    adalah mereka yang mulai kurang mampu mengontrol perilakunya akibat rangsangan sex. Jika wanita bisa
    mengontrol perilakunya , pastilah malu memperdengarkan desahan, karena bunyi-bunyi itu dirasa bisa
    merendahkan martabat.

    “Bu, maaf ya, aku sentuh pentilnya, ini untuk merangsang syaraf geli agar aliran listrik di semua syaraf
    yang berpusat di puting bisa merangsang peredaran darah ke seluruh bagian payudara.“ kataku.

    “Sudah, dik, jangan sungkan, ibu udah pasrah, kamu kelihatannya paham betul. Ibu malah jadi belajar ama
    kamu sekarang,” katanya pasrah.

    Dengan pelan kupilin dan kuusap putingnya dengan gerakan memutar, maka rangsangan birahi yang dirasakan
    Bu Rini makin kuat, dia makin gelisah dan menggelinjang, pinggulnya tidak bisa tenang selalu bergerak ke
    kiri dan kanan. Setelah rangsangan kurasa maksimal aku pindah mengurut bagian perutnya, lalu ke bagian
    bawah perutnya.

    “Bu, kalau bagian ini kutekan, ibu bisa kebelet pipis, coba rasakan,” kataku.

    “Iya, dik, aku jadi kebelet pipis nih, jangan-jangan sudah ada yang keluar sedikit? Dik, aku permisi
    dulu ke kamar mandi sebentar, mau pipis,” kata Bu Rini buru-buru bangkit menuju kamar mandi. Dia
    melenggang hanya mengenakan celana dalam. Tidak ada lagi kebutuhan untuk menutup badannya dengan sarung.
    Sekembalinya dari kamar mandi dia juga dengan santai berjalan nobra hanya mengenakan celana dalam
    kembali berbaring.

    “Sekarang udah lega, dik. Kok bisa gitu ya?” ujarnya.

    Aku meneruskan mengurut bagian bawah perut Bu Rini dan sekali-kali menerobos masuk ke bawah celana
    dalamnya sampai menyentuh rambut kemaluannya. Bu Rini tampaknya tidak perduli lagi atas apa yang
    kulakukan, dia terbakar birahi dan mempercayai kemahiranku 100 persen. Aku juga makin berani mengurut
    sampai ke gundukan kemaluannya. Bahkan gundukan itu aku urut secara khusus.

    “Bu, maaf ya. Apa boleh saya teruskan mengurut di bagian sini?” tanyaku.

    Bu Rini tidak berkomentar, hanya mengangguk saja. Aku mengurut terus sampai ke bawah ke bagian
    selangkangannya. Sentuhan tangan pria di sekitar kemaluan, pastinya menimbulkan rangsangan yang makin
    dahsyat. Bu Rini kini sudah mendesah dan mendesis seperti layaknya melakukan hubungan badan. Celana
    dalamnya sekarang sudah melorot ke bawah sehingga tidak lagi menutupi segi tiga yang lebat ditumbuhi
    bulu.

    “Dik, buka aja kalau ngrepoti,” katanya tiba-tiba. Dia mengangkat pinggulnya dan celananya kuloloskan ke
    bawah lepas dari kedua belah kakinya. Ibu Rini sudah telanjang bulat dihadapanku sambil matanya
    terpejam. Aku memusatkan urutan merangsang dirinya tanpa mengesankan aku sedang merangsang dirinya.

    “Gimana, bu, sekarang sudah selesai, perasaan ibu sekarang gimana?” tanyaku.

    Ia tergugah, matanya terbuka sayu. “Enak sih, dik, tapi aku jadi merinding dan kepalaku jadi rada
    pusing, tapi kayak bukan pusing seperti biasa, kenapa ini ya, dik?” katanya.

    “Coba ibu duduk membelakangiku, aku pijat sebentar bagian kepalanya.”
    Pertama aku memijat biasa kepalanya, tetapi kemudian aku mengurut bagian tengkuknya, dimana syaraf
    syaraf erotik juga banyak simpulnya di sana. Bu Rini seperti tidak bertenaga, dia menyandarkan badannya
    ke badanku,seperti minta dipeluk. Aku jadi tidak bisa melakukan pijatan karena tidak ada ruang untuk
    melakukannya.

    “Dik, gimana tadi mau nerangkan cara latihan yang katanya pake stimulan segala?” katanya.

    “Sebenarnya saya kurang enak menjelaskannya pada ibu, karena penjelasannya kurang pantas didengar,”
    kataku dengan nada ragu.Cerita Sex Dewasa

    “Udah lah, dik, saya open aja sama adik, orang saya udah telanjang di depan kamu saja saya gak rasa
    risih lagi kok, ayo dong.” katanya penuh harap.

    “Gini, bu, latihan otot bagian dalam itu sebaiknya dilakukan oleh suami istri secara bersamaan,“ kataku.

    “Lha aku gak punya suami, jadi mau latihan sama siapa, dik? Latihannya gimana sih, ayo dong tunjukin
    saya,” katanya makin berharap.

    “Maaf ya, bu, itu latihannya sambil berhubungan badan,” kataku.

    “Coba, dik, tunjukin caranya,” katanya sambil tiba-tiba membalikkan badan dan mebuka kausku lalu
    menciumi leher dan mukaku. Aku didorongnya hingga telentang, lalu celanaku dipelorotkan. Batangku yang
    dari tadi sudah mengeras sempurna langsung mencuat.

    Bu Rini lalu tidur telentang di sebelahku, ”Ayo, dik. Coba, dik,” katanya.

    Aku duduk dan Bu Rini kuminta duduk di pangkuanku. Dia rendahkan badannya perlahan lahan sambil mencari
    posisi yang tepat agar penisku masuk ke lubang vaginanya. Begitu semua penisku terbenam dia langsung
    bergumam, “Aduh, enak-e,”

    Bu Rini kuminta tenang dulu sebentar untuk mendengar instruksiku. Aku meminta dia mengedutkan otot
    bagian dalam tubuhnya seperti jika dia menahan kencing atau mengontraksi ketika akan melahirkan anak.
    Aku juga akan melakukan hal yang sama tetapi secara bergantian. Kuminta dia mengedutkan otot kegelnya
    ketika sedang menarik nafas, dan mengendurkannya ketika menghembuskan nafas.

    “Coba ya, bu, sekarang,” kataku.

    Bu Rini mengedutkan ototnya, penisku serasa dicengkeram vaginanya, dan ketika dia mengendur, gantian aku
    mengeraskan penis. Kami terus melakukan olah tubuh itu sampai tiba-tiba Bu Rini mengerang, orgasme. Aku
    tidak lama kemudian juga dijalari kenikmatan yang memuncak, tetapi tidak sampai ejakulasi. Kami
    melanjutkan terus gerakan itu sampai sekitar 30 menit. Bu Rini entah berapa kali mencapai orgasme begitu
    juga aku. Tetapi tetap tidak ejakulasi. Bu Rini akhirnya minta berhenti karena katanya badannya lemas.

    Kami sudahi permainan itu dan Bu Rini kubaringkan di tempat tidurnya dengan ditutupi selimut. AC
    kunyalakan kembali. Aku berpakaian dan mencium kening Bu Rini untuk berpamitan. Dia hanya mengangguk
    lemah dan membuka matanya dengan susah payah.

    ***

    Aku sama sekali sebelumnya tidak menyangka jika Bu Rini pemilik kost ini akhirnya bisa kugarap juga. Dia
    sebetulnya tidak masuk dalam targetku. Alasannya sederhana saja, aku segan, lalu beda umur kami juga
    jauh. Aku keluar dari kamar Bu Rini dengan langkah perlahan. Setelah dengan hati hati kututup pintu
    kamar dan aku berbelok menuju ruang keluarga, tempat biasa dimana anak-anak pada ngumpul, suasananya
    sudah sepi. Kelihatannya masih ada cewek yang nonton TV.

    “Kok lama banget sih, aku udah nunggu dari tadi,” tanya Kristin.

    “Bu Rini banyak penyakitnya jadi terapinya lama,” kataku ngawur.

    “Jay, magku sakit lagi nih, Jay,” kata Kristin manja. Sementara penghuni rumah kos-kosan ini sudah
    kembali ke kamarnya masing-masing. Maklum jam sudah menunjukkan 1.30 tengah malam.

    Aku ditarik Kristin masuk ke kamarnya dan dia segera menutup pintu. Kami duduk di pinggir tempat
    tidurnya. Kristin mengeluh magnya kambuh lagi. Aku heran, karena belum pernah kutemui keadaan seperti
    itu, lalu coba kutekan bagian telapak tangannya. Dia tidak bereaksi menunjukkan kesakitan.

    “Berarti dia bohong, nih.” kataku membatin. Mungkin serangan pijatan erotisku masih mengendap dalam
    tubuh Kristin, sehingga dia penasaran untuk dituntaskan. Dia berpura-pura kambuh magnya agar bisa
    menyeret aku masuk ke kamarnya lagi.

    Nafsuku sebenarnya berada di titik terendah. Namun aku sulit sekali menolak permintaan, apalagi ini
    adalah cewek Cina, cakep, umurnya sekitar 22 tahun, rambutnya di cat agak coklat tua terurai. “Jay, kamu
    temenin aku dong disini, aku khawatir pagi-pagi kambuh lagi, sebab biasanya sekitar jam 4 – 5 magku
    kambuh, aku takut tidur sendiri kalau lagi sakit gini, mau yaaaa?” pinta Kristin penuh harap.

    “Aku mau tidur dimana?” tanyaku.

    “Disini, berdua bareng aku,” katanya.

    Tempat tidur Kristin sebenarnya cukup untuk satu orang. Ukuran lebarnya kira-kira 90 cm. Kalau aku
    paksakan tentu bisa saja tapi sempit sekali nanti gak bisa bergerak. Lalu aku berpikir, kalau memang
    minta ditemani lebih baik Kristin ngungsi ke kamarku. Kamarku lebih besar dan ranjangnya juga lebar.

    “Aku gak keberatan sih nemenin kamu tidur, tapi gimana kalau kamu nginep di kamarku aja, disana lebih
    tenang. Kalau disini besok pagi aku keluar dari kamarmu semua penghuni kos bisa ngliat, kalau di kamarku
    kan lebih leluasa,” aku membuka tawaran.

    Kristin berpikir sebentar, lalu dia setuju. Dia lalu menarik aku keluar kamar dan menggandengku masuk ke
    kamarku diatas. Kamarku berantakan kayak kapal habis dirompak. Aku minta Kristin memaklumi, kamar lajang
    memang jarang rapi. Aku permisi sebentar turun mau pipis sekalian gosok gigi.
    Sekembalinya aku masuk kamar, keadaan sudah rapi sampai ke meja belajarku. Buku-buku yang berantakan
    sudah rapi tersusun, lantai sudah pula disapu bersih. Aku berpikir ini bakal seminggu aku bebas tugas
    tidak merapikan kamar. Kristin duduk di meja belajarku. Wajahnya yang cantik sama sekali tidak
    menunjukkan dia ngantuk, padahal sudah hamper jam 2 malam. Sementara mataku sudah tinggal 5 watt.

    “Aduh, Jay, aku seneng deh bisa tidur ditemeni kamu, aku jadi gak takut kambuh.” katanya sambil bangkit
    lalu duduk ditempat tidur di sampingku.

    “Nanti kalau pacarmu tau kamu tidur bareng aku, apa nggak terjadi perang dunia?” godaku.

    “Ah, biarin aja, dia gak bakal tau kalau gak ada yang kasi tau, ala udah ah, sebel ngomongi soal
    pacarku,” katanya.

    Pacar Kristin, juga Cina dan tajir. Dia punya showroom mobil dan penampilannya selalu trendy. Aku memang
    sempat dikenalkan ketika Kristin dijemput, waktunya aku udah lupa kapan yaa. Aku jadi berpikir bahwa
    perempuan juga punya hasrat selingkuh. Kalau dilihat dari penampilan luar, Kristin termasuk cewek alim
    dan tentunya setia. Nyatanya dia minta tidur bareng aku malam ini. Jadi kesimpulannya apa yaa…

    “Kamu mau tidur dimana, di pinggir atau di tengah?” tanyaku.

    “Aku di tengah, kalau di pinggir nanti takut jatuh,” katanya manja.

    Lampu kuredupkan, dan aku menempati posisiku yang tersisa. Tapi tempat yang disisakan untukku sempit
    sekali. Kristin membiarkan tempat tersisa di bagian dia cukup lebar. Jadi begitu badan kuhempaskan
    langsung berhimpitan dengan tubuh Kristin. Aku masih menerawang tidur membujur, tiba-tiba Kristin
    memelukku. Dia tidak memberi aku kesempatan aku langsung diciuminya. Bahkan mulutku dicucupnya sampai
    aku sesak nafas.
    Rupanya bara birahi yang kutinggalkan di benak Kristin tadi masih terus nyala. Dia ganas bener. Badanku
    ditindihnya, tidak lama kemudian bangkit dan menduduki pas di atas burungku. Untung saja posisi burungku
    sedang menghadap ke bawah, jadi tidak tersiksa. Di dorong kausku ke atas lalu di kembali menciumi bagian
    dadaku, perutku lalu di tariknya pelan-pelan celanaku ke bawah.

    Aku pasrah dan ingin menikmati woman domination. Kristin ganas sekali menyerangku, aku tidak diberinya
    kesempatan sedikit pun untuk membela diri atau membelainya. Akhirnya aku menutup mata saja menikmati
    babak selanjutnya.
    Celana dalam pertahananku terakhir pun akhirnya di tarik kebawah. Aku sudah telanjang bulat, tetapi
    Kristin masih lengkap berpakaian. Aku berpikir, kalau dia terangsang, kenapa juga dia harus menyerangku
    habis-habisan. Wajarnya kalau dia yang konak ya dialah yang minta dipuaskan, bukan malah ingin memuaskan
    aku. Tapi aku diam saja menyimpan pertanyaan itu sambil menunggu jawabannya kelak.

    Krsitin bangkit, dia membuka semua pakaiannya lalu tengkurap diantara kedua pahaku. Dia mulai menjilati
    kedua zakarku. Serangan ini membuat aku belingsatan. Batang yang sudah berdiri tegak menjadi target
    serangan berikutnya. Aku melenguh merasakan nikmatnya.

    Dia kemudian bangkit lagi, mengubah posisinya. Dia merangkak di atasku dan mulai lagi melakukan
    serangan. Aku menangkap kemauannya. Dia minta dioral, sehingga dia mengatur posisi 69. Aku mulai
    melancarkan serangan dengan mengoralnya. Tapi posisiku tidak bisa bertahan lama. Dia terlalu tinggi,
    sehingga aku harus cukup tinggi mengangkat kepalaku. Kugapai bantal untuk mengganjal kepalaku sampai
    posisiku pas di depan mekinya.

    Serangannya membuat dia mengerang dan mendesis. Barangku jadi terabaikan ketika dia mendapat kenikmatan
    oral dariku. Aku segera mengubah posisi, membalikkan badannya dan telungkup diantara kedua
    selangkangannya. Clitnya yang sudah mengeras dengan mudah ditemukan dan lidahku mulai mengulas ujung
    kelentit itu. Dia menjerit-jerit menahan kenikmatan. Gila bener, memeknya banjir bandang.

    Sambil mengoral aku mengingat mitos bahwa cewe yang kulitnya putih, memeknya cenderung lebih banjir. Ini
    baru kubuktikan. Sambil menjilat aku mencolokkan jari tengah kananku ke dalam lubang vaginanya. Pelan-
    pelan kutekan, tidak ada halangan. Berarti dia sudah bolong. Aku lalu mencari G spot. Agak lama
    merabanya karena selain pinggulnya terus menerus bergoyang di dalam liangnya banyak sekali bentuk-bentuk
    daging yang susah digambarkan. Yang mana sih G Spot anak ini.

    Aku mencoba berkonsentrasi sambil menahan pinggulnya agar tidak terus bergerak.Kutingkatkan kepekaan
    jari tengahku dengan lebih berkosentrasi, sampai kemudian kutemukan. Pantas agak susah, ternyata
    letaknya tidak tepat di posisi jam 12, dia di posisi 10.30. Untuk memastikan itu adalah G spot aku
    hentikan terpaan clitorisnya, lalu kumainkan G spot. Dia menggelinjang, berarti sudah kena sasarannya.
    Serangan dengan dua target aku gencarkan, sampai kemudian dia menyerah.

    “Ampun! Ampun, ngilu…” katanya sesaat setelah orgasmenya tercapai. Dia menarikku ke atas.

    Aku menindih badannya. Baru kusadari bahwa payudara Kristin ini ternyata tidak terlalu besar. Tapi
    bentuknya cukup menggairahkan. Kujilati kedua putingnya, dia kembali mengelinjang. Batangku yang keras
    aku tuntun untuk bertamu ke gua Kristin. Pelan-pelan kusorongkan dan terbenamlah sudah seluruh batang
    penisku. Meski banjir, tapi aku merasa memek kristin tetap sempit. Cairan vaginanya ternyata agak kelat,
    bukan encer. Jadi rasa batangku seperti menyelam di cairan perekat, atau lem. Ketika kumaju- mundurkan
    terasa sekali agak lengket. Aku berfikir, mungkin Kristin sedang berada di puncak masa subur, sehingga
    vaginanya mempersiapkan cairan terbaik untuk menjamu batang yang masuk. Kalau begitu aku harus
    menghindar menembak di dalam.

    Aku mengatur posisi genjotan untuk menggali kembali orgasme Kristin. Hampir 5 menit dia sudah
    bersemangat membalas hentakanku. Makin cepat dan akhirnya dia menarik tubuhku keras-keras. Dia ternyata
    mencapai kepuasan. Padahal aku sudah berada di gigi 5 untuk siap tinggal landas. Jadi terpaksa berhenti
    lagi untuk sementara . Setelah kedutan orgasmenya reda aku mulai lagi menyerang, tapi bisa langsung gigi
    3 sehingga melaju lebih cepat. Aku berkosentrasi penuh untuk mencapai kenikmatanku.

    Aku abai saja terhadap Kristin apa nikmat apa tidak, toh dia sudah beberapa kali klimaks. Ketika hampir
    mencapai puncak tiba-tiba Kristin menahan pantatku untuk mempertahankan benaman maksimal batang bertopi
    baja ini. Padahal akau sudah hampir mencapai point no return. Bagaikan cangkir dia mengadukku, jadi
    bukan sendok yang mengaduk, keadaan sudah terbalik. ceritasexdewasa.org Rupanya dia juga hampir sampai ke puncak everest.
    Batangku mendapat kejutan berupa kontraksi yang tidak mungkin lagi aku mampu menahan luapan lumpur
    seperti Lapindo. Maka akupun terpaksa meledak di dalam.
    Sambil merasakan kenikmatan puncak, aku pun diliputi kekuatiran mengenai kemungkinan Kristin hamil
    membesarkan janin dari spermaku. Aduh sulit berfikir dalam keadaan nikmat begini, aku nikmati ajalah,
    soal kemungkinan itu bagaimana berikutnya sajalah.

    Setelah ketegangan mereda, gencatan senjata ditandatangani. Aku memprotes Kristin kenapa dia tahan aku
    sehingga aku tidak bisa melepas ejakulasiku di luar. Risiko hamil sangat besar, dan itu bakal menjadi
    tanggunganku nanti.

    “Tenang aja, Jay, aku kan dipasang spiral,” Meledaklah keheranan di kepalaku, sampai aku tidak sadar
    mangap lebar terlalu lama. “Mau tanya apa lagi lu, Jay?”

    “Nggak punya pertanyaan lagi, aku ngantuk.” kataku.

    Punya banyak sasaran genjotan kalau di alam khayal rasanya nikmat banget, tapi mengalaminya di alam
    nyata tidak begitu. Meski aku sudah menelanjangi mereka, tetapi aku tetap menjaga perasaan mereka,
    sehingga aku menjaga diri untuk tidak mengambil inisiatif. Aku berusaha tampil lugu, bahkan cenderung
    culun.

    Kelihatannya mereka masing-masing tau kalau aku sudah bermain di antara sesama kolega. Tapi karena
    konvensi, atau perjanjian yang tidak tertulis, mereka saling menjaga perasaan.

    Namun ada hal-hal yang tidak bisa mereka tutupi atau tidak sadar melakukannya. Aku sering kali dilendoti
    dan diciumi (walaupun hanya di pipi). Entah kenapa setiap hari di awal pertemuan mereka selalu
    menciumku.

    Aku jadi merasa rikuh kepada Juli, Ita dan Niar. Mereka tentunya tidak bisa seakrab teman-temannya yang
    pernah aku timpa. Mohon juga dipahami, aku tidak pula berusaha bernafsu menggarap mereka bertiga. Apakah
    jika aku bisa menggarap semua wanita di tempat kost ini aku bisa menepuk dada sebagai jagoan. Mau pamer
    ke siapa, lantas apa pula manfaatnya. Kurasa itu hanya kesombongan yang tidak bisa dibanggakan.

    Sesungguhnya aku tidak ingin membeda-bedakan atau mengkotak-kotakkan pertemanan di rumah ini, antara
    yang sudah kugarap dengan yang belum. Aku berusaha akrab dengan semuanya tanpa membedakan mereka.
    Cewek-cewek di rumah ini masing-masing punya kelebihan, meski pun cantik dan ayunya berbeda-beda. Aku
    jamin lelaki siapa pun kalau disuruh memilih satu diantara mereka untuk dipacari pasti bingung. Sebab
    memang semuanya menarik.

    Juli, Ita dan Niar termasuk gadis-gadis yang gila kerja. Di usia mereka sekitar 25 tahun, mereka mungkin
    sedang berada di jenjang karir yang menjanjikan. Dari penampilannya, terlihat gaji mereka cukup besar.
    Dulunya mereka kuliah di akademi sekretaris yang kuceritakan diawal kisah ini, tetapi karena merasa
    betah, sampai setelah bekerja pun mereka tetap bertahan di kos-kos ini.

    Di antara ketiga orang ini, Ita lah yang mempunyai kelebihan daya tarik. Susunya besar sekali, seperti
    tidak seimbang dengan tubuhnya yang cenderung kurus. Temanku orang Jawa menyebutkan penampilan Ita
    sebagai Wongso Subali (Wong e Ora Sepiro, Susu ne sak Bal Voli / Orangnya tidak seberapa, tetapi
    payudaranya sebesar bola Voli). Kulitnya tidak putih cenderung sawo matang.

    Tingginya sekitar 160, cukup tinggi bagi rata-rata cewe melayu. Namun di balik kelebihannya itu, dia
    mempunyai kekurangan. Ketiaknya baunya kurang sedap, seperti bawang mentah. Apalagi kalau dia
    berkeringat, satu ruangan seperti terpenuhi oleh bau ketiaknya. Cewek-cewek yang kebetulan berada di
    ruangan itu, sebentar-sebentar menggesekkan hidung. Tapi Ita sepertinya tidak merasa, dia menjadi
    penyebab sumber polusi udara.

    Mungkin tidak ada yang berani menegur, Ita. Masalah itu rasanya terlalu sensitive. Untungnya Ita tinggal
    di kamar sendiri, tidak berbagi (share) dengan yang lain. Kalau dia joinan sekamar dengan orang lain,
    pasti temennya mabuk kepayang.

    Aku berpikir keras mencari cara untuk menyampaikan kekurangannya itu. Kesulitan yang kurasakan adalah
    Ita orangnya agak tertutup dan cenderung pendiam. Dia lebih sering mengurung diri di kamarnya daripada
    ngrumpi.

    Suatu hari kami keluar dari rumah bersamaan menuju halte bus. Jaraknya halte memang tidak begitu jauh,
    karena ada jalan pintas melalui gang. Kami ngobrol tanpa isi, tetapi menjelang sampai halte aku
    melontarkan, “Ta, sebenarnya gue pengin nyampein sesuatu yang sangat penting untuk kamu.”

    “Apa sih, sekarang aja kenapa?“ jawabnya dengan wajah penasaran.

    “Ntar aja lah, Ntar malam di rumah, pokoknya penting banget buat kamu,” kataku. Meski dia berkali-kali
    mendesak agar aku menceritakan secuil info yang akan aku sampaikan nanti, tapi aku tetap bertahan bahkan
    menambahkan kata-kata yang makin bikin dia penasaran.

    Kami berpisah, karena bus kami masing-masing berbeda jurusan. Di dalam bus aku seperti orang melamun.
    Sebenarnya bukan melamun, tetapi sedang menyusun kata-kata yang nanti akan kusampaikan ke Ita. Aku pun
    masih belum menemukan kata pembuka.Cerita Sex Dewasa

    Aku pulang agak telat, jam 8 malam aku baru sampai di rumah. Ita rupanya sudah sampai duluan. Dia
    melihatku sekelebat, ketika aku hendak naik ke kamarku. Aku diburunya dan dia mengekoriku ikut masuk ke
    kamar.

    “Mau ngomong apaan sih? Gua jadi nggak tenang kerja seharian, gara-gara lu,” Ita mengkomplain.

    ”Sebenarnya bagi gue nggak terlalu penting, tapi buat kami rasanya penting banget.“ Wah, ini kata-kata
    tidak pernah kupikirkan sebelumnya, kok meluncur begitu aja, kataku dalam hati. “Gini lho, Ta, kamu ini
    kan cakep, seksi, montok lagi,” kataku menggoda.

    “Ya, terus kenapa?” katanya sambil matanya melotot seperti mau menelanku.

    “Tapi ada kekurangan kecil yang sangat mengganggu,” kataku lalu aku diam.

    “Apaan sih? Bikin orang tambah penasaran,” katanya.

    “Aku mau jujur, tapi kamu mesti janji jangan marah dan jangan tersinggung ya, karena ini demi kamu
    juga,” kataku. Ita makin kesal, tapi dia berjanji tidak akan marah padaku. “Terus terang ya, kamu ini
    punya kelemahan di bau badanmu, rasanya sih bersumber dari sini,” kataku menunjuk ketiaknya.

    Ita tertunduk. “Iya, Jay, aku sudah berusaha dengan berbagai cara bahkan pakai bedak badan yang anti bau
    badan, tapi gak berhasil juga. Aku malu jadinya, Jay, ama kamu. Tapi anyway, aku terima kasih, kamu
    berani terus terang begitu, kamu tau nggak caranya untuk ngilangi bau ketiakku ini?” tanyanya.

    Aku menjelaskan bahwa aku dulu juga menghadapi masalah seperti itu. Aku kemudian menggunan tawas yang
    kuusapkan setiap kali selesai mandi. Ketika sedang mandi, aku selalu membawa handuk kecil untuk
    menggosok bagian ketiak sampai terasa benar-benar bersih. Aku meminta Ita mengikuti caraku.

    “Tawas kayak gimana sih, belinya dimana tuh?” katanya.

    Aku lalu menjelaskan bentuk tawas yang seperti es batu, dan belinya di toko kembang di Senen biasanya
    ada. Aku menawarkan diri untuk membelikan satu untuk dia. Ita senyum-senyum.

    “Terima kasih ya, Jay, kamu ternyata sahabatku yang penuh perhatian.” katanya sambil mencium pipiku.

    “Aduh, aku mabuk nih,” sambil menjatuhkan diri telentang ke tempat tidur.

    “Hah, kenapa?” katanya terheran-heran.

    “Bau ketiak,” kataku serius.

    “Sialan lu, dasar brengsek,“ katanya lalu keluar kamarku.

    Anjuranku rupanya dituruti, sampai seminggu kemudian aku bertemu lagi di rumah. Ketika berpasasan kami
    sama sama berhenti. Aku langsung berusaha membaui badannya dan hidungku menuju ke kesalah satu
    ketiaknya. Tidak terasa ada bau.

    “Ah, lu ngapain sih, bikin orang risih aja,” katanya sambil mendorong badanku.

    “Sekarang nggak terasa ada bau bawang lagi, Ta,” kataku setengah bercanda.

    “Iya nih, kayaknya reseplu berhasil, resep murah tapi hebat juga ya, Jay,” katanya.

    Sejak saat itu Ita sudah tidak menjadi sumber polusi di rumah kami. Teman-teman ceweknya saling
    bergunjing. Juli yang hari itu melihat aku membaui ketiaknya menanyakan aku apakah itu karena aku
    memberinya obat. Kuakui bahwa aku yang menegurnya soal bau ketiak.

    Kristin yang duduk di samping Juli langsung menanggapi, “Emang kamu terus terang ngomong ama dia? Gila,
    lu nekat amat,” katanya.

    Mbak Ratih tanya, “Trus, dia gimana reaksinya?”

    “Ya dia malu, tapi nggak marah kok,” kataku.

    Ita sejak keberhasilan itu makin dekat denganku. Aku bahkan sering dijadikan tong sampah untuk
    mengeluarkan isi hatinya. Aku sering digelandang ke kamarnya hanya untuk jadi pendengar. Kadang kadang
    dia menangis dan bersandar di dadaku sambil meluapkan kekesalannya. Meski aku lebih muda, tapi kalau
    menghadapi situasi seperti ini harus berperan sebagai laki-laki dewasa, sok tenang, sok kalem dan
    berlagak sebagai pengayom.

    Kalau dia bersandar di dadaku, tidak bisa lain, teteknya juga menghimpit badanku. Rasanya kenyal sekali
    dan tebal. Biasanya nih sekali lagi umumnya, kalau perempuan tidak merasa malu payudaranya tersentuh
    laki-laki maka dia merasa laki-laki itu sangat dekat dengan dirinya.

    Kalau dia menangis di dadaku maka aku hanya bisa mengelus-elus rambutnya dan mencium dahinya. Itu saja
    tidak lebih. Aku tidak berusaha mencari kesempatan dalam kesempitan. Ini membuat Ita jadi makin dekat
    denganku, sampai kadang kadang dia memeluk tanganku sampai tanganku menekan susunya. Dia kelihatannya
    mengabaikan saja susunya tertekan, atau mungkin juga dia sengaja, yang mana yang benar aku cari
    jawabannya nanti.

    Suatu hari aku ditariknya ke teras ke depan rumah. “Jay, aku mau minta tolong banget ama kamu, bisa
    nggak?“ katanya.

    “Nggak,“ kataku berusaha bermuka serius.

    “Ah, jangan gitu dong, serius nih,” katanya.

    “Minta tolongnya apa? Belum tau aku sudah dikasi pilihan menjawab,” kataku.

    “Lu emang susah, nggak bisa serius orangnya,” kata Ita sambil bermuka merajuk.

    “Ada apa, tuan putri, apa ketiaknya bau lagi? Kayaknya sih sekarang malah wangi.” aku menggoda.

    “Aku minta tolong lu nemenin gue menghadiri pesta perkawinan sahabat gue, tapi pestanya di Lampung, lu
    bisa kan? Kita berangkat hari Sabtu pagi, pulang lagi hari Minggu sore,” katanya.

    “Kamu kan orang Lampung, kok pulang kampung minta dikawal?” jawabku.

    “Rumah gue di Metro, masih jauh dari Bandar Lampung. Lagian kalau gua pulang ke rumah, repot terlalu
    jauh dan gak bisa nyampe di Jakarta lagi hari Minggu. Pokoknya lu tau bereslah, semua biaya gue yang
    tanggung,” katanya sungguh-sungguh.

    “Gue mau lihat agenda gue dulu apa ada acara nggak sabtu sama minggu besok,“ kataku berpura-pura serius.

    “Gaya lu kayak pejabat Negara aja, pake periksa agenda. Udahlah, bisa ya?” Ita setengah memaksaku.

    Aku memang tidak ada acara dan tidak ada kuliah sejak Jumat sampai Minggu. Sebenarnya aku tidak
    keberatan, tetapi rikuh jugalah ama temen-temen kost kalau aku pergi mengawal Ita. Aku minta kepergian
    kami dirahasiakan. Aku beralasan ke Bandung dan Ita ke Lampung. Ita kemudian mengubah rencana kami
    berangkat Jumat siang. Dia beralasan ada beberapa hal yang mau dicari di Bandar.

    Kami sampai di Lampung sekitar jam 7 sore dan Ita berinisiatif mencari penginapan. Aku tidak mengenal
    Bandar Lampung, sehingga Italah yang berinisiatif mencari tempat penginapan. Ia mencari Hotel di tempat
    resepsi perkawinan temannya. Kami akhirnya mendapat kamar di hotel yang lumayan bagus. Kalau tidak salah
    hotel bintang empat. Ita hanya mengambil satu kamar untuk kami tempati berdua, tetapi tempat tidur di
    kamar kami hanya ada satu berukuran king size.

    “Kamu kok tidak pesan kamar yang 2 bed, kalau begini kan kita kaya berbulan madu?” kataku.

    “Ah, nggak apa-apa lah, hotel ini penuh. Syukur kita masih kebagian kamar, lagian ama kamu aja kok, kan
    kamu itu adikku,” katanya.

    “Aku takut ketularan baunya,” kataku.

    “Sekarang udah nggak lagi, weeeei… Sialan lu, ngeledek terus,” katanya sambil melempar bantal. “Sekarang
    kita mandi, siapa duluan, lu apa gue?” katanya.

    Aku memilih mandi dulu karena agak tersesak bab. Setelah menyulut rokok aku segera masuk kamar mandi
    mencuci bath tub dan mengisinya dengan air hangat. Aku melampiaskan hajat sambil menunggu air penuh di
    bath tub. Setelah selesai dan air penuh aku mulai berendam. Pertama airnya tidak terlalu panas, karena
    aku tidak tahan. Setelah semua terendam, aku tambahkan air panas sampai sangat hangat. Nikmat sekali
    rasanya berendam di air panas. Entah kenapa batang jadi bangun ketika direndam. Aku jadi menerawang, apa
    kejadian yang bakal terjadi nanti malam, aku tidur satu bed dengan Ita yang bertetek besar. Rasanya
    bakal ada peristiwa penting nanti malam. Sejauh ini aku belum pernah mencumbu Ita, meskipun dia sudah
    sangat dekat dengan ku. Misalnya ia tidak risih lagi menekan susunya ke badanku atau ke lenganku. Aku
    selama ini aku cool aja.

    Sedang enak-enaknya menghayal, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Ita muncul dengan daster berwarna
    pink. Buset dah, aku lupa menguncinya. Aku jadi kikuk juga sebab sedang telanjang bulat di dalam bak
    mandi. Ita berdiri di samping bak sambil ngomel, “Mandinya lama amat sih? Aku udah kebelet pipis, nggak
    kuat lagi nunggu,” katanya sambil terus menurunkan celana dalamnya dan langsung duduk di toilet.

    Aku tidak menyaksikan pemandangan apa-apa, karena dia menurunkan celana dalam tapi masih tertutup oleh
    dasternya. Suara mendesis nyaring sekali terdengar,. ”Buset, siulannya kenceng bener,” kataku.

    Mendengar guruanku, dia malu, lalu segera menggelontorkan air agar suara pipisnya samar dengan
    gelontoran air. “Dasar lu adik bandel, bikin gue malu aja.” katanya.

    “Apa gue nggak lebih malu telanjang begini?” kataku.

    “Enak ya ngerendem begitu, kok gue jadi pengen mandi juga ya?” katanya sambil mencelupkan tangannya di
    bak mandi. “Ih, kok bangun sih tuh barang, lagi ngayalin gue ya? “ katanya setelah tangannya usil masuk
    ke bak mandi dan menggenggam barangku. Aku tidak menyangka, sehingga terkejut dan senang juga kemudian.

    Ita melepas celana dalamnya sambil duduk di toilet lalu berdiri menyangkutkan di gantungan baju. Dia
    lalu mengangkat dasternya yang ternyata sudah tidak mengenakan BH lagi. Tanpa ada rasa rikuh dia berdiri
    menghadapku dalam keadaan bugil. Susunya memang ukuran ekstra large dan putingnya seperti terbenam di
    dalam gumpalan daging.

    Dia mencelupkan kaki satu persatu lalu membungkuk untuk meraih air bagi menciprat-cipratkan tubuhnya.
    “Ih, panas bener sih airnya? Ntar telor lu mateng baru tau rasa,“ katanya sambil tersenyum.

    Posisinya yang membungkuk menghadapku membuat kedua payudaranya menggantung seperti pepaya Bangkok
    terhidang di depan mataku. Aku dalam posisi duduk di dekat keran, sedang Ita mengambil posisi
    dihadapanku. Dia pelan-pelan merendahkan badannya sambil cengar-cengir menahan panasnya air. Sampai
    posisi duduk , teteknya masih terpampang didepanku. Air bak kurang tinggi untuk menenggelamkan susu
    besar yang seperti pelampung itu.

    Ita masih menciprat-cipratkan air panas ke badannya dan meraup mukanya. Ia lalu pelan pelan menurunkan
    badannya sampai tinggal mukanya saja yang diatas air. Gerakkannya itu menjadikan kakinya menyelusup ke
    bawah kakiku dan bagian vitalnya menerjang pantatku. Batangku jadi terangkat muncul ke atas air setengah
    tiang.

    “Wah, teropong kapal selamnya muncul tuh, mau mengamati musuh ya, musuhnya ada di bawah kok,” kata Ita
    santai.

    Dipegangnya batangku lalu ditarik kearahnya, akibatnya badanku jadi lengser kebawah. Pantatku bersetumpu
    di atas tetek Ita, dan punggungku bersandar di atas kemaluannya dengan jembut yang lumayan lebat. Nikmat
    sekali rasanya berendam di air hangat dengan cewek yang teteknya super besar.

    Setelah berendam sekitar 10 menit aku kemudian berdiri untuk bersabun. Pertama aku menyabuni diriku
    sendiri. Ita ikut bangkit dan celakanya dia minta aku menyabuni dirinya. Aku meski dalam keadaan siaga
    satu, karena batangku terus menegang, dengan gaya cool mulai menyapukan tangan dengan sabun. Dimulai
    dari bahu, turun ketangan kanan, lalu kiri dan… mulai lah menyabuni teteknya kiri kanan. Susunya kenyal
    banget. Aku permainkan dengan meremas, tetapi tanganku tidak muat. Setelah itu turun ke bawah sampai ke
    perut lalu aku minta ia berbalik badan. Punggung dan pantatnya giliran berikutnya sampai turun ke kaki,
    lalu kuminta berbalik lagi kini kaki bagian depan lalu naik ke bagian vitalnya. Kugosok jembutnya sampai
    berbusa lalu aku menyelipkan jariku ke memeknya. Dengan gerakan mendadak jari tengahku menyelinap ke
    dalam lubangnya lalu segera kucium jari itu.Cerita Sex Dewasa

    “Bau sabunnya kalah sama bau anumu,” kataku mengejek.

    Ita gusar dan malu, “sialan lu, memek gua gak bau lagi, sok tau lu,” katanya sambil ikut meraih memeknya
    sendiri lalu menciumnya.

    “Benerkan, bau sabunnya ilangkan? Yang ada bau kecap ikan,” kataku kembali mengejek.

    “Eh iya, bener juga,” katanya malu.

    Aku lalu kembali menyabuni memeknya sampai ke lubang pantatnya. Bagian penting itu terbelai, akibatnya
    Ita mendesis. “Oooiii sedapnya,” katanya sambil meraih badanku dan memeluknya.

    Badan kami licin sekali dan karena air untuk kami berendam tadi aku buang akibatnya bak mandi juga jadi
    sangat licin. Khawatir jatuh aku mengajak Ita untuk pelan-pelan duduk. Badan kami masih berselemak sabun
    tetapi air sudah mengering. Aku menawarkan untuk kami saling melakukan body massage.

    “Gimana caranya?” kata Ita.

    Ita kuminta tidur telentang dan aku tengkurap diatasnya. Aku meluncur ke atas dan ke bawah. Menggosokkan
    batang dan jembutku ke perut dan dadanya. Setelah itu aku mengambil posisi telentang di bawah badannya
    dengan posisi kepala berlawanan arah. Aku kembali meluncur ke atas dan ke bawah, sehingga batang dan
    jembutku menyapu dan mengganjal pantat dan punggungnya.

    “Iiiih, sedapnya, merangsang banget ya?” kata Ita sambil terus mendesis.

    Ita kemudian kuminta mengubah psosinya jadi tengkurap. Sehingga kami berhadapan tetapi dengan arah
    kepala yang berlawanan. Aku kembali menaik dan menurunkan badanku mengganjal tubuhnya. Ita tidak tinggal
    diam, dia juga ikut melakukan gerakan berlawanan. Batangku kadang-kadang terselip diantara kedua pahanya
    lalu terlepas lagi, tapi tidak sampai terpeleset masuk ke dalam lubang vaginanya.

    Posisi ini membuat nafsuku tambah tinggi sehingga akhirnya aku tidak mampu menahan desakan ejakulasi.
    Aku tak kuasa menahan sehingga cairan putih hangat lepas dan menyapu ke badan Ita.

    “Yahhh, kamu nggak kuat ya?“ katanya ketika merasa batangku berkedut diantara kedua susunya.

    “Enak banget sih, dan susumu itu yang buat pertahanan gua jebol,” kataku.

    Kami lalu mandi berbilas dan mengeringkan badan dengan handuk. Aku digandengnya keluar kamar mandi. Kami
    berdua jalan dalam keadaan bugil. Aku di dorongnya hingga jatuh telentang di kasur. Aku yang merasa
    lemas setelah tembakan tadi, tidur telentang pasrah. Ita mengambil inisiatif dengan menindih badanku.
    Dia mencium bibirku dan kami lama sekali berpagutan.

    Ita melepas ciumannya dari mulutku dia turun ke bawah dan menghisap pentilku. Rasa geli dan nikmat
    menjalar ke seluruh tubuhku. Ita terus meluncur ke bawah dan sekitar kemaluanku diciuminya dengan rakus.
    Batang dan zakarku tidak diciumnya, tetapi dia turun menciumi paha lalu kedua lututku. Aku merasakan
    kegelian yang amat sangat sampai aku menggelinjang. Mengetahui aku kegelian dia mengarahkan ciumannya ke
    atas dan batangku menjadi sasarannya kemudian. Batangku yang masih setengah sadar di lahapnya dan
    dihisapnya. lalu dijilatinya. Kaki ku ditekuk dan jilatannya turun ke kedua buah zakarku lalu turun lagi
    lidahnya mengitari lubang matahari.

    Aku menggelinjang nikmat. Dia kembali mengulum batangku sampai menjadi sadar dan tegak penuh. Kuluman
    Ita sungguh canggih, sehingga aku kelojotan merasa nikmatnya. Untungnya tadi sudah mencapai puncak,
    sehingga aku mampu menahan diri agar tidak buru-buru muncrat lagi.

    Ita membalikkan badanku dan aku dimintanya berganti peran menyerang dirinya. Aku segera paham dan
    memulai tugasku dengan mencium leher lalu kedua payudaranya. Agak sulit rasanya menghisap pentilnya
    karena terbenam. Kutelateni menghisap pentilnya sampai akhirnya keduanya mencuat keras.

    Puas dengan menjilat dan meremas kedua susunya aku turun ke perut lalu ke memeknya. Bulu lebat dan
    keriting membuat aku agak sukar menemukan belahan memeknya. Dengan bantuan kedua tanganku, kusibak dan
    lidahku menyerbu ke belahan itu. Aku memulainya dengan menjilati sekitar bibir luar, bibir dalam lalu
    mengarah ke clitorisnya.

    Memeknya yang tadi kering setelah kuhanduki, kini sudah basah lagi oleh cairan pelumas vaginanya. Baunya
    wangi seperti bau sabun. Saat lidahku menggapai clitorisnya Ita menggelinjang dan pinggulnya bergerak
    liar. Aku jadi sulit mengkosentrasikan jilatanku. Aku lalu menahan kedua pahanya agar tidak liar.

    Serangan ujung lidahku berkosentrasi pada clitoris Ita yang sudah makin mencuat. Dia mendesah-desah dan
    tidak sampai lima menit dia tumbang dengan orgasmenya yang pertama. Dia minta aku berhenti mengoralnya
    karena katanya barangnya ngilu. Aku bangun dan duduk bersimpuh diantara kedua kakinya. Jari tengah kanan
    pelan-pelan kucolokkan ke vagina Ita.

    Kucolok-colok ke lubang basah itu dan aku seperti sebelumnya dengan para wanita, mencari benjolan G
    spot. Tombol G spot Ita mudah ditemukan, sehingga kini gerakan jariku berkosentrasi pada tombol itu.
    Gerakan halus mengusap g spot itu membuat Ita kembali mendesis. Dia lalu tidak hanya mendesis tetapi
    mengangkat angkat pinggulnya. Usapanku jadi meleset. Aku minta Ita menahan gerakannya agar dia merasa
    lebih nikmat.

    “Aduh, kok enak banget sih, Jay, lua apain gua?” katanya sambil menggigit bibir bawahnya. Dia berusaha
    melawan nikmat yang menjalar dari dalam vaginanya, tapi belum dua menit dia mengeluh panjang dan
    berusaha mengapit kedua kakinya, namun terhalang oleh tubuhku. Kedua tangannya meraih bantal lalu
    ditutupkan ke mukanya dan dia menjerit sekuat-kuatnya dibawah bantal. Bersamaan dengan itu, Ita
    ejakulasi sampai mengenai hidung dan mulutku. Kujilat cairan itu di bibirku terasa agak asin dan kental.
    Orgasmenya panjang dan Ita kemudian jatuh terkulai. Badannya bagai tak bertulang.

    “Aduh, badan gua lemes banget,” katanya seperti orang ngantuk.

    Sementara dia lemas aku tegang. Tanpa minta izin dan mengatakan sesuatu aku segera mengarahkan batangku
    menuju lubang vaginanya. Dalam posisi bersetumpu kaki terlipat, batangku kutekan pelan menyeruak
    vaginanya. Lubang memeknya terasa sempit, meskipun banjir. “Aduh, Jay! Pelan-pelan, Jay,” katanya.

    Aku dengan sabar menekan penisku masuk kedalam gua nikmat itu. Setelah tenggelam seluruhnya aku mulai
    melakukan gerakan maju mundur. Sensasi menyaksikan gerakan maju mundur batangku ke dalam memeknya
    membuat aku sangat terangsang. Apalagi Ita mulai mendesis dan bergumam, ah uh au uh.

    Aku makin bersemangat, tetapi karena posisiku sulit lama-lama jadi kurang nyaman kemudian aku mengubah
    posisi menindih badannya. Aku bertumpu di kedua lutut dan kedua sikuku. Pada posisi ini aku leluasa
    memompa badan Ita. Aku tidak perduli lagi apa dia nikmat atau tidak, tetapi aku berkonstrasi pada
    kenikmatan diriku. Semakin cepat kupompa, semakin dia mengerang. Belum aku sampai pada puncak Ita sudah
    menarik rapat badanku dan dia kembali berkedut bagian dalamnya. Ita kembali menikmati orgasme yang
    dahsyat.

    “Aduh, aku rasanya gak kuat nglawan kamu, Jay,” katanya. Aku diam saja dan kembali menggenjot, karena
    pencapaianku tadi tanggung.

    Aku kemudian menjelang puncak dan beberapa saat akan mencapai puncak kutarik batangku keluar dan air
    maniku kulepas di atas perutnya. Aku rebah disampingnya dan badanku terasa lelah. Kami tertidur entah
    berapa lama sampai terbangun karena merasa dingin. Aku bangun dan ke kamar mandi mengambil handuk kecil
    membasahinya dengan air hangat. Handuk itu kusapukan ke tumpahan maniku di perut ita, setelah aku
    sebelumnya membersihkan penisku dengan air dan sabun. Kami kembali tidur di bawah selimut. Bed cover
    yang tadi terhampar sudah kumasukkan ke dalam lemari.

    Belum lima menit aku berbaring, Ita bangun. “Jay, laper ya,” katanya. Aku juga merasakan yang sama. Ita
    kemudian bangun dan ke kamar mandi. Dia kedengarannya mencuci alat vitalnya dan juga mungkin sekalian
    pipis.

    “Kita cari makan diluar yuk, di hotel kurang enak, di dekat sini ada ayam goreng yang enak,“ katanya.

    Kami lalu berkemas. Ita mengenakan celana jean, kaus hitam dan dibungkus lagi dengan jaket. Sementara
    aku kembali mengenakan jean yang kukenakan tadi hanya mengganti T-shirt. Kami turun dan keluar hotel.
    Sekitar 5 menit jalan menyeberang, kami menemukan tempat ayam goreng yang dimaksud Ita. Jam sudah
    menunjukkan 11 malam, tetapi warung tenda ayam goreng itu ramai sekali.

    Perut kenyang badan terasa hangat. Keinginan sex sudah terpenuhi, apalagi yang kurang. Sekembali kami ke
    Hotel Ita mengajakku duduk di coffe shop. Disitu ada live music. Ita menawarkan bir yang tentu saja
    tidak bisa kutolak..
    Nikmat sekali cairan bir itu membasahi kerongkonganku. Kata orang nikmatnya minum bir itu adalah pada
    tegukan yang pertama. Ternyata memang benar. Satu botol besar kuhabiskan berdua dengan Ita, namun dia
    hanya minum segelas.

    “Gaul juga anak ini,” batinku.

    Ita menawariku tambah dengan satu botol kecil bir hitam. kata dia bagus untuk stamina. Menyimak stamina,
    aku lalu menyetujuinya. Rasa pahit bir hitam itu menjadi nikmat karena syaraf perasaku terpengaruh
    hasutan ’demi stamina’.

    Kami kembali ke kamar sekitar jam satu malam. Mata mulai mengantuk dan lelahnya badan yang tadi tidak
    terasa kini menumpuk. Mataku seperti sudah mau terkatup saja. Sesampai di kamar aku melepas celana jean
    dan t shirt, tinggal celana dalam lalu menyusup ke dalam selimut. Ita masih sibuk di kamar mandi. Aku
    segera terlelap. Mungkin ada satu jam aku tertidur lalu terjaga karena merasa dipeluk Ita. Dalam keadaan
    antara tertidur dan sadar aku merasa Ita memelukku dalam keadaan telanjang di bawah selimut. Susunya
    yang besar menekan badanku dan jembutnya yang tebal menempel di pahaku.

    Situasi itu membuatku pelan-pelan kembali tersadar dan bangun seutuhnya. Penisku pelan-pelan bangun,
    tetapi badanku lelah sekali. Apalagi pengaruh bir tadi mengendap di otakku. Aku kembali jatuh tertidur.

    Entah sudah berapa lama aku tertidur sampai aku merasa badanku dingin oleh tiupan AC.Kamar telah gelap,
    cahaya hanya ada dari lampu di gang di depan kamar mandi. Aku membuka sedikit mataku dan memperhatikan
    sekeliling. Ita ternyata sedang menyedot batangku. Dia tidak tahu kalau aku sudah terbangun. Aku
    berusaha menahan reaksi rangsangannya dengan menahan suara agar disangka masih tidur.

    Karena sedotan yang maut, barangku jadi keras sempurna. Ita lalu bangkit dan didudukinya batangku. Pelan
    pelan diarahkan batangku ke dalam mekinya sampai ambles sepenuhnya.

    Dia mengendalikan persetubuhan dengan gerakan-maju mundur kadang kala naik turun. Sesekali batangku
    terlepas karena dia terlalu hot menaikkan badannya. Tapi ia segera kembali memasukkan batangku ke dalam
    tubuhnya. Aku tetap bertahan pura-pura tidur. Mungkin 15 menit atau mungkin lebih, Ita mulai mencapai
    orgasmenya. Sementara aku karena gaya gravitasi merasa mampu bertahan lama. Barangku tetap tegak
    sempurna, sementara Ita sudah berkedut-kedut. Setelah istirahat hampir 5 menit Ita kembali menggenjot
    batangku. Dia ternyata tangguh juga. Pemandangan di depanku sulit untuk diabaikan, tetek yang bergoyang
    adalah atraksi sangat menarik. Aku mengintip guncangan tetek besar dihadapanku.

    “Kalau aku tidak berperan pura-pura tidur, pasti sudah kuremas-remas gumpalan daging besar itu. Tapi apa
    boleh buat, aku sudah memilih peran tidur.”

    Ita kembali bersemangat memompa apalagi menjelang orgasmenya dia bergerak tidak karuan. Aku jadi spaning
    juga hingga mendekati titik orgasmeku. Karena aku pura-pura tidur maka aku tidak boleh bereaksi,
    sehingga aku pasrah saja ketika akhirnya ejakulasi lepas di dalam memeknya. Kedutan ejakulasiku menambah
    semangat Ita karena rupanya dia juga orgasme dan rubuh memelukku.

    “Ih, kamu sadis deh, pura-pura tidur lagi, sampai aku cape menggenjot,” katanya.Cerita Sex Dewasa

    “Abis enak banget sih, lagian kenapa juga gak bangunin aku dulu baru adekku,” kataku sambil tersenyum.

    Ternyata sudah jam 7 pagi. Kamar kami gelap karena korden tertutup rapat. Kami lalu mandi berdua dan
    berkemas untuk turun menikmati breakfast. Badanku terasa segar dan ringan.

    Selesai breakfast kami kembali ke kamar. Hari itu tidak ada acara, kecuali jam 7 malam nanti menghadiri
    resepsi perkawinan temannya. Ita mengajakku jalan-jalan ke kota. Kami makan siang di restoran Padang.
    Aku penggemar makanan enak, masakan Padang ini rasanya nikmat sekali, melebihi yang pernah kumakan di
    Jakarta. Selesai menyantap dua piring nasi, Ita menyarankan aku untuk mencoba teh telur. Kata dia bagus
    untuk meningkatkan vitalistas pria. Teh yang diaduk bercampur telur tampak sangat berbusa. Panasnya teh
    tidak lagi terlalu terasa, tetapi rasanya seperti teh susu dan gurih telur.

    “Lumayanlah untuk mengisi stroom,” kataku dalam hati.

    Kami kembali ke hotel untuk istirahat. Maksudnya memang istirahat, tetapi kejadiannya malah bekerja
    keras. Kami terlelap kembali dan bangun menjelang pukul 6 sore. Kami lalu berkemas untuk menghadiri
    acara perkawinan teman akrab Ita.

    Tidak ada yang istimewa dalam acara pesta perkawinan itu. Aku kurang berselera, mungkin karena lelah
    setelah berkali-kali bertempur.

    Minggu pagi kami mempersiapkan diri untuk kembali ke Jakarta Sebelumnya masih ada pertempuran seru satu
    ronde. Disebut seru karena panjang dan heboh. Dia tergolong wanita yang berisik jika melakukan hubungan
    intim. Sepanjang perjalanan aku hanya tidur saja. Anehnya sejak berangkat dari Lampung sampai kembali ke
    Jakarta, penisku tidak sekalipun bangun mengeras, meskipun dalam keadaan terdesak kebelet pipis. Tiba di
    Jakarta sudah sore dan aku menunda kepulangan ke tempat kos sekitar 1 jam.

    Setiba aku kembali ke rumah kost aku disambut bagaikan tamu besar. Kebetulan para penghuni sedang
    berkumpul di kamar tengah. Aku disambut dengan bertubi-tubi ciuman. Mereka rasanya terlalu berlebihan
    karena ketiadaan diriku di tempat itu hanya 2 malam mereka rasakan ada sesuatu yang hilang.

    Aku tertidur di kamar mungkin dari jam 5 sore. Rasanya ngantuk sekali dan lelah. Entah berapa lama
    tertidur sampai merasa ada orang yang masuk di kamarku. Kamar gelap gulita, karena tadi aku tidak sempat
    menyalakan lampu. Aku tidak bisa melihat siapa yang masuk ke kamarku.

    Tiba-tiba lampu dinyalakan dan ternyata 2 cewek sudah ada di kamarku. Mereka adalah Dewi dan Ana dengan
    baju tidur daster dan Dewi mengenakan kaus serta celana boxer.

    “Wah, pangeran kita kecapean nih,” kata Ana.

    Mereka minta izin untuk menginap lagi di kamarku. Mereka takut karena tadi siang habis melayat temannya
    yang meninggal karena kecelakaan. Katanya wajah temannya selalu terbayang-bayang.

    “Ada-ada saja cewek-cewek ini,” pikirku.

    Lampu kembali dimatikan dan kamar jadi gelap gulita. Malam ini cuaca panas sekali, karena mau hujan
    tetapi tidak jadi. Untung aku tidur hanya mengenakan celana pendek, sehingga tidak terlalu gerah.

    Ana mengipas dadanya dengan menarik-narik bajunya. Dia juga merasakan kegerahan. Dewi mengipas-kipaskan
    telapak tangannya. Mereka bertanya apa aku punya kipas. Aku bilang tidak ada, karena tidak pernah
    terlintas dipikiranku untuk melengkapi kipas di kamar. Kalau mau ada majalah atau koran, tapi dalam
    keadaan gelap gini aku susah mencarinya apalagi aku tidur diapit.
    Entah pikiran darimana aku iseng melontarkan ide, agar kami bertiga tidur telanjang aja. Aku pikir
    sebenarnya wajar saja, aku sudah sering melihat Dewi telanjang, ketika dia tidur di kamarku tatkala Ana
    pulang kampung. Ana juga sudah pernah kulihat dia telanjang juga ketika dia diam-diam menyelinap ke
    kamarku, manakala Dewi menginap di rumah saudaranya di Ciledug. Mereka berdua juga pernah bahkan
    berkali-kali melihat aku telanjang di kamar ini. Masalahnya aku belum pernah secara bersamaan melihat
    mereka berdua telanjang bersamaan di depanku.

    “Siapa takut?“kata Ana. Dewi pun rupanya tidak keberatan. Sambil tiduran mereka mencopoti bajunya dan
    aku pun memelorotkan celanaku. Posisiku yang diapit dua cewek begini tentu memacu aliran darah untuk
    berkumpul di penis, sehingga tegang mengacung. Tadi yang kucemaskan sejak kembali dari Lampung sekarang
    sudah terjawab.

    Aku tidak tahu kemana mereka melempar pakaiannya, yang kurasa kulitku sudah bersinggungan dengan kulit
    juga baik di kanan, maupun di kiri. Dewi memelukku di sebelah kanan, dan Ana juga memelukku di sebelah
    kiri. Kedua tanganku yang mereka tindih jadi memeluk keduanya di kiri dan kanan.
    Udara gerah tidak membuat rasa makin gerah meski dipeluk. Pikiranku lebih terpusat pada rangsangan
    dipeluk dua makhluk perempuan telanjang.

    Mulanya tangan mereka hanya mengelus-elus dadaku, tetapi Dewi mulai merayap kebawah dan menggenggam
    batangku yang sedang keras. Tangan Ana pun juga merayap ke bawah dan bertemulah dua tangan dari mahluk
    yang berbeda. Kedua tangan itu berbagi tempat mencengkeram batangku.
    Aku sudah tidak memperhatikan tangan siapa ada dibagian mana. Yang kurasakan seluruh bagian kemaluanku
    diremas-remas.

    Aku mencium mulut Ana. Ana membalas dengan sedotan dan permainan lidah yang hot. Selepas itu aku
    berpaling dan berganti mencium Dewi. Dia juga tidak kalah hot, karena mungkin sudah terbakar birahi. Ana
    yang kutinggal, dia bangkit dan mengambil posisi di antara kedua kakiku. Ana mengulum penisku. Tangan
    kiriku yang leluasa segera menggamit memek Dewi dan meremas-remas lalu memainkan clitorisnya. Menerima
    serangan di clitoris, Dewi melepaskan ciumannya . Dia mengubah posisi telentang. Aku berusaha
    membebaskan tangan kananku dari tindihan Dewi dan tangan kanan mendapat tugas baru menggantikan peran
    tangan kiri.

    Dewi semakin tinggi terangsang karena clitorisnya aku putar-putar dengan jari tengahku. Dewi kemudian
    bangkit dan duduk bersimpuh dengan kedua lutut dilipat. Dia duduk menghadap ke wajahku dan memeknya di
    aturnya dekat ke mulutku. Aku tahu, Dewi ingin dioral. Dewi memang paling senang dioral. Dia pernah
    memujiku bahwa oralku jauh lebih enak dari yang dilakukan pacarnya. Pacarnya katanya suka menggigit
    karena gemas. Kalau sudah begitu rangsangan jadi sirna berganti rasa sakit katanya. Sementara aku
    dipujinya mengerti menyentuh tempat yang tepat dan gerakan lidahku katanya lebih halus.

    Kedua tanganku memeluk paha kiri kanannya membantu posisi Dewi agar dia bisa menempatkan memeknya tepat
    di hadapan mulutku. Dewi duduk agak condong kebelakang. Kedua tangannya menopang kebelakang.

    Sementara aku sedang memusatkan perhatian mengoral Dewi, aku tidak terasa Ana mengoralku lagi. Aku
    merasa tangannya mencengkeram batangku dan beberapa saat kemudian Ujung penisku dipadukan dengan gerbang
    memeknya. Sambil mengoral aku mengira-kira posisi Ana menyetubuhiku. Setelah dia melakukan gerakan aku
    baru bisa memastikan bahwa Ana bukan membelakangiku. Mungkin dia duduk bersimpuh juga. Gerakannya yang
    kurasakan adalah maju mundur, sehingga penisku serasa diperah.

    Mereka berdua saling mendesis. Aku tidak bisa bergerak, karena menahan berat badan kedua cewek. Gerakan
    Ana makin terasa hot, sementara oralku ke Dewi juga semakin terfokus pada clitorisnya. Pada posisi ini
    sebenarnya aku ingin memasukkan jariku ke memeknya, tetapi tidak ada ruang untuk tanganku. Jadi hanya
    lidahku saja yang bermain di memek Dewi. Dewi tiba-tiba berhenti menggelinjang, mungkin dia sedang
    memusatkan diri menjelang orgasme. Benar juga sesaat kemudian dia mengeluh panjang sambil menarik
    kepalaku merapat ke memeknya. ceritasexdewasa.org Bukan hanya mulut yang terbekap, hidungku juga tertutup gundukan memek
    Dewi yang berambut keriting. Setelah kedutan orgasmenya agak reda aku berusaha melepaskan mulut dan
    hidungku dari bekapan Dewi. Aku hampir kehabisan nafas.

    Ana yang makin hot memompa. Sementara Dewi mengubah posisinya tidur telentang disampingku. Sepertinya
    dia ingin beristirahat setelah mencapai puncak kenikmatan. Ana masih terus menggenjot. Mungkin sudah 5
    menit sejak Dewi tadi orgasme baru Ana mendapat Orgasme.

    Sementara aku belum apa-apa. Masalahnya hari-hari sebelumnya aku sudah kenyang dengan Ita, sehingga
    nafsuku tidak menggebu-gebu. Aku lebih mampu menahan diri. Apalagi posisiku di bawah, maka aku makin
    bisa bertahan lama.

    Setelah mencapai orgasme, Ana menjatuhkan diri telungkup di atasku sejenak. Setelah itu dia bergeser
    tidur telentang disampingku. Meski gelap, aku bisa juga melihat sosok Ana yang tadi mengadukku diatas.
    Tidak terlalu jelas memang, tetapi dengan bantuan ilmu kira-kira, adegan yang berlangsung di atas
    badanku cukup jelas terlihat.

    Mungkin Dewi juga melihat Ana mengadukku. Buktinya setelah Ana turun dari badanku, aku ditariknya agar
    menindih badannya. Aku segera paham apa yang diinginkannya. Dia ingin disetubuhi juga. Tanpa melakukan
    foreplay lagi aku segera manancapkan penisku ke memek Dewi. Kenikmatan orgasme Dewi yang pertama tadi
    mungkin belum sirna, karena begitu kugenjot dia langsung mendesis dan agak mengerang. Aku mencari posisi
    yang paling bisa merangsang organ Dewi.

    Setelah kudapatkan posisi itu dengan membaca respon yang ditunjukkannya aku bertahan di posisi itu.
    Cukup 5 menit saja Dewi sudah mendapatkan orgasmenya. Dia memelukku erat-erat, sampai semua orgasmenya
    terlampiaskan.

    Setelah reda kucabut batangku dan aku kembali ke posisi semula tidur telentang diantara mereka berdua.
    Belum habis aku menikmati jeda istirahat, Ana pula sekarang yang merengkuhku agar menindih dirinya. Dia
    mungkin terangsang menyaksikan adegan permainanku dengan Dewi.

    Aku bukan ingin berlebihan dan menjagokan diriku, tetapi sesungguhnya aku masih tegang bahkan belum ada
    tanda-tanda mendekati ejakulasi. Inilah kalau terlalu hot bermain sebelumnya dengan Ita. Sebelum
    marathon bersama Ita, malam-malam sebelumnya setiap malam aku selalu berpindah-pindah kamar. Bisa
    dikatakan tiada hari bagiku tanpa bersetubuh. Pelayananku di rumah ini cukup banyak mulai dari Bu Rini
    pemilik kost, Mbak Ratih, Kristin, Ita , Nia dan kedua mereka ini. Kedua mereka ini termasuk paling
    jarang kutiduri. Dewi mungkin 2 minggu lalu, Ana malah mungkin sebulan yang lalu.

    Kembali ke Ana, aku tanpa basa-basi lagi langsung memompa Ana. Seperti juga Dewi aku berusaha mencari
    posisi yang paling menyenangkan bagi Ana. Setelah mendapat posisi itu, aku tidak perlu bekerja terlalu
    lama, Ana sudah mencapai orgasme. Dia menghentikan genjotanku dengan menarik badanku rapat-rapat.
    Batangku menikmati sensasi kontraksi memek Ana dan cairan hangat menyelimutinya. Setelah orgasmenya reda
    aku kembali istirahat dengan badan basah berkeringat.

    Aku berpikir kepada siapa nanti akan kulampiaskan orgasmeku, padahal badanku sudah lelah sekali dari
    tadi push-up terus. Tapi penisku tidak mau kompromi, dia tetap tegak. Sementara aku masih menerawang,
    tiba-tiba batangku digenggam.

    “Ih, hebat banget nih, belum juga kendor dari tadi,” suara Dewi terdengar. Berarti tangan itu adalah
    tangan Dewi.

    Dia kembali menarik badanku untuk menindihnya. Dia minta disetubuhi lagi. Aku berpikir, Dewi tadi makan
    apa kok jadi hot banget begini. Dengan sisa tenaga yang ada aku kembali melayaninya. Tapi tubuhku sudah
    tidak kuat lagi untuk push-up. Kutarik tubuh Dewi untuk berganti posisi menjadi di atasku. Dewi menurut
    dan mengambil posisi yang nyaman lalu dialah sekarang yang aktif. Dia segera saja mendapat orgasme.
    Ketika dirubuhkannya badannya ke tubuhku dan otot vaginanya berkontraksi maka aku segera membalikkan
    badannya dan segera kugenjot. Aku tidak memberinya masa istirahat dan langsung dalam keadaan vaginanya
    masih berkedut kugencot sekeras-kerasnya. Dewi menjerit tertahan-tahan. Aku begerak makin buas sampai
    akhirnya dia menjerit keras sekali lalu ditutupkan bantal di wajahnya untuk meredam teriakannya. Dewi
    kelihatannya mencapai orgasme yang sempurna.

    Aku puas tapi belum juga muncrat. Ana yang menonton kami sambil dia duduk bersila memeriksa penisku.
    “Wuihhh, masih keras juga, hebat amat,” katanya.

    Aku ditariknya sehingga terduduk dengan kaki lurus. Aku tidak bisa menduga apa yang dia mau. Ana berdiri
    dan duduk dipangkuanku sambil memelukku. Memeknya diturunkannya sampai menelan penisku. Dia kembali
    terangsang melihat Dewi danaku bermain kasar. Apalagi Dewi selama persetubuhan berteriak kecil
    terputus-putus sampai akhirnya berteriak nyaring.

    Ana memaju-mundurkan pinggulnya sehingga menimbulkan efek gerakan mengaduk batangku. Dia mendesis-desis
    menikmati hunjaman barangku yang masih keras. Makin lama, terakannya makin cepat dan liar karena
    iramanya jadi tidak menentu, sampai akhirnya dia memeluku keras sekali dan vaginanya berdenyut. Seperti
    juga Dewi aku tidak memberi kesempatan dia menikmati orgasmenya. Kudorong badannya sampai dia terlentang
    dan segera kugenjot dengan gerakan-gerakan kasar. Karena diberi waktu beristirahat sambil duduk,
    tenagaku masih lumayan yang tersisa. Aku terus menghunjam dengan gerakan cepat dan panjang.

    BAca JUga Cerita Sex Toilet Kampus

    Ana tidak lagi mendesis, dia mengeluarkan suara yang tertahan-tahan. Kedengarannya seperti mengucap
    huruf A ber kali-kali. Irama pengulangan teriakannya seirama dengan gerakanku. Setiap aku menghunjam dia
    menyebut A. Makin cepat gerakanku makin cepat pula irama teriakannya. Sampai akhirnya dia berteriak
    panjang tetap dengan suara A. Teriakannya keras membuatku gugup. Karena di dekat situ tidak ada bantal
    maka kucucup saja mulutnya. Dibekap mulutnya oleh mulutku pun dia masih berusaha berteriak. Tetapi
    suaranya tidak keluar, teredam oleh mulutku. Aku menciuminya dengan ulah yang ganas sampai dia lemas
    terkulai.

    Sejak tadi perasaan yang menyelimuti diriku adalah kebanggaan sebagai laki-laki yang super. Sekarang
    berbalik aku cemas, karena burungku tidak juga surut, dan sulit sekali mencapai orgasme. Yang
    kucemaskan, seandainya batangku tegang terus sampai besok. Kalau dibawa ke dokter, rasanya malu luar
    biasa. Apalagi menjawab pertanyaan dokter, “Apa keluhannya?”

    Ah bagaimana nantilah, yang ada rasa badanku sudah letih luar biasa dengan keringat membasahi semua
    pori-pori badanku. Aku bangkit dan mencari handuk untuk mengeringkan badanku.

    “Hebat amat anak ini ya, tadinya mau kita perkosa, kejadiannya malah kita yang diperkosa,” kata Dewi.
    Rupanya kedua cewek ini sudah punya rencana ketika hijrah tidur ke kamarku. Pantas aja ketika kutawari
    tidur telanjang mereka langsung setuju.

    “Rasain, punya rencana nggak terus terang, jadinya kalian yang merasa akibatnya,” kataku.

    “Biarin aja, enak kok,“ kata Dewi.

    Kulihat ana sudah terbujur di posisinya semula malah sudah mendengkur. Aku mengambil posisiku dan
    langsung mencari PW (posisi uwenak). Sampai keesokan harinya ketika aku bangun mereka berdua sudah tidak
    ada. Aku segera memeriksa barangku. Dia masih tegang, tetapi sekarang posisinya sedang sesak kencing.
    Setelah kulampiaskan hasrat kencingku, pelan-pelan penisku melemas. Aku lega…

    Selama ini aku melihat cewek hanya dari sosok luarnya. Setelah aku tinggal bersama 8 cewek plus satu
    janda pemilik kost, aku baru menyadari bahwa sosok luar tidak bisa memberi gambaran sepenuhnya mengenai
    siapa dia sesungguhnya.Pengalaman mengajarkan cewek yang kelihatannya alim, ternyata di balik itu dia
    ganas di tempat tidur. Perempuan yang sok gengsi dan sangat jaim, di balik itu dia sangat bernafsu. Ada
    pula yang kulihat mesra banget sama cowoknya dan jauh dari kesan bisa diselingkuhi, ternyata juga suka
    selingkuh. Kesimpulanku, jangan mudah kagum melihat penampilan seorang wanita betapa cantik dan
    anggunnya dia.

    Mbak Ratih yang semakin akrab denganku kadang-kadang membuatku malu. Dia bisa tiba-tiba duduk di
    pangkuanku di depan cewek-cewek yang lain. Dia memang paling sering minta diservice. Selalu saja ada
    alasan agar bisa menyeretku ke kamarnya. Kalau sudah gitu aku tak kuasa menolak. Pada awalnya sih dia
    minta dipijat, tetapi akhirnya minta ditiban juga.

    Satu kali Mbak Ratih menarikku masuk ke kamarnya. Kami duduk di tempat tidur. “Jay, aku punya temen, aku
    kasihan sekali melihat keadaannya. Umurnya seumuranku, dia pengusaha. Dia sering mengeluh kepalanya
    pusing sebelah. Kayaknya dia sudah berobat kemana-mana, tapi penyakitnya nggak bisa ilang,” kata Mbak
    Ratih.Cerita Sex Dewasa

    Dia bercerita banyak mengenai temannya itu dan buntutnya dia memintaku untuk mencoba melakukan terapi.
    “Aku sudah promosiin kamu lho, Jay, katanya dia mau mencoba, kamu mau ya bantu aku dan temenku itu?”
    pintanya.

    Aku berkilah bahwa aku bukan ahli terapi, makanya kalau nanti aku terapi tidak berhasil, mbak Ratih bisa
    malu. “Mbak jangan berpromosi kelewatan, mbak, nanti malah malu-maluin,” kataku.

    “Udah lah, Jay, aku yakin kamu bisa lah, buktinya di rumah ini semua yang kamu terapi berhasil, kamu
    berbakat lho, dan kamu bisa kaya dengan hobimu ini,” kata Mbak Ratih sungguh-sungguh.

    Setelah ngobrol soal temannya itu, kami keluar kamar. Hari itu adalah hari libur. Para penghuni kost
    banyak yang pulang ke rumahnya masing-masing. Yang tinggal mungkin sekitar 2 atau 3 orang, aku kurang
    pasti.

    Situasi agak gerah meenjelang jam 11 siang. Bu Rini menghampiri kami yang sedang duduk menonton TV. Bu
    Rini memanggilku. Aku beranjak mendekati dia. “Dik, bisa minta tolong nggak beliin makanan, si Ijah tadi
    pagi pulang kampung, Ibu nggak bisa masak, Atun juga nggak bisa, bisanya cuma bikin indomie,” kata Bu
    Rini sambil setengah berbisik.

    Kami memang kost di situ berikut makan, jadi wajar jika Bu Rini bingung saat ditinggal pergi pembantunya
    yang biasa menyiapkan makanan. Aku menawarkan option untuk masak saja di rumah, biar aku yang kerjakan.

    Bu Rini setengah tidak percaya memandangiku, “Kamu bisa masak juga to?” katanya.

    “Ya sedikit-sedikit, bu. Ayo kita ke dapur, ada bahan makanan apa saja, biar saya oleh jadi lauk hari
    ini,” kataku.

    Kami lalu ke dapur. Kulihat ada sawi, daun bawang, bawang putih, kecap manis, kecap asin, cabe rawit dan
    telur. “Beres, bu, kita buat ifumi,” kataku.

    Bu Rini setengah tidak percaya setengahnya lagi penasaran, ingin tahu apakah aku sungguh-sungguh bisa
    masak. Aku lalu minta Atun membeli tepung kanji ke warung dekat rumah.

    Bu Rini jadi ikut heboh bertanya apa saja yang perlu disiapkan. Dia kuminta menggoreng mi instant hingga
    seperti kerupuk dan Atun kuminta menyiangi sayur-sayuran yang ada. Bu Rini teringat bahwa di kulkasnya
    masih ada ayam yang belum diolah. Dia lalu kuminta mengeluarkannya segera dan setelah berkurang
    dinginnya aku menyayat dagingnya berbentuk kubus.

    Setelah semua bahan siap dan aku mencoba-coba mengingat apa lagi yang diperlukan.Wajan kunaikkan ke atas
    kompor dengan api maksimal, lalu masuk minyak. Setelah agak panas masuklah bawang putih menyusul
    potongan ayam diceburkan. Goseng-goseng sedikit lalu kusiram dengan sedikit kecap asin cap ikan.

    Bau harum segera menyebar. Dari ruang tengah ada yang berteriak, “Wah, baunya enak, masak apa, bu?”

    Sayuran menyusul terjun lalu garam dan bubuk penyedap. Setelah sayuran agak layu air yang sebelumnya
    kucampur dengan tepung kanji kutuangkan sampai hampir menenggelamkan sayur dan bahan lain di wajan. Aduk
    sebentar lalu masuklah 3 butir telur ayam. Sambil aku mengaduk masakan, kuminta Atun mengiris cabe rawit
    bulat-bulat.

    Kuah sudah siap, yang mirip cap cai, bedanya jika cap cai tidak pakai telur ini ada pelengkap telur ayam
    yang diaduk jadi satu di kuahnya. Mi instan yang sudah goreng bu Rini seperti kerupuk lalu ditempatkan
    di wadah. Mi kering itu lalu kusiramkan. Jadilah sekarang Ifu Mi dadakan.

    “Baunya dari tadi udah bikin laper,“ kata Mbak Ratih. Menyusul Juli keluar dari sarangnya dan Niar
    rupanya dia milih tinggal di sini dari pada nginap di rumah saudaranya.

    “Wah, enak banget nih, siapa yang masak, bu?” tanya Juli.

    Bu Rini lalu menunjuk aku. “Tuh kokinya, pinter ya?” puji bu Rini.

    Dalam sekejap ifu mi yang kubuat sudah ludes. “Gila ini orang, pinter mijet, pinter masak lagi,” kata
    Mbak Ratih

    “Ah aku nggak percaya kalau dia pinter mijet, belum aku buktikan,” kata Niar.

    Aku terkesiap. Niar yang jarang kumpul dan jarang bercanda dengan kami, hari itu dia berkomentar. Niar
    perantau dari Medan. Orang tuanya memang masih tinggal di sana. Di Jakarta mulanya Niar sekolah
    sekretaris, setelah lulus dia bekerja di salah satu perusahaan operator telepon selular. Kelihatannya
    dia memiliki posisi yang lumayan penting, sehingga sering pulang agak malam.

    Bu Rini lalu menyambung, “Memang harus dicoba, baru tau rasanya.” Bu Rini tersenyum penuh arti
    melirikku.

    “Aku mau dong, sekarang ya?” kata Niar.

    Aku menyarankan agar menunggu beberapa saat sampai makanan selesai dicerna. Kurang enak rasanya jika
    pijat setelah makan. Aku minta Niar menunggu sebentar.

    “Badanku pegal kali, tidur terus-terusan rasanya juga cape, tolonglah aku ya tapi jangan kuat-kuat, aku
    tidak biasa dipijat sebetulnya tapi mendengar promosi kalian, aku jadi penasaran,” kata Niar.

    Niar nggak sabaran dia minta segera aku pijat. Setelah kurasa perutku tidak sesak lagi setelah makan
    siang tadi akhirnya aku turuti kemauannya. Kami masuk ke kamarnya. Kamarnya ternyata ada AC dan
    televisi. Dia cukup berduit untuk menyewa kamar yang lux ini. Dinginnya AC dikamar Niar membuat badanku
    segar.

    “Apanya kak yang mau dipijat?” kataku. Aku memanggil dia kakak, karena usia kami terpaut 5 tahun dan dia
    kelihatan sudah sangat dewasa. Mungkin di kantornya dia terbiasa dengan pembawaan berwibawa.

    “Badanku pegal semua, macam mana caranya dipijat?” tanyanya.

    Aku menerangkan biasanya yang dipijat mengenakan sarung dan tiduran. Aku menawarkan pijatan dimulai dari
    kaki lalu ke badan. Niar setuju dan dia lantas berganti mengenakan sarung. Dia mengenakan sarung seperti
    orang Jawa mengenakan kemben. Jadi payudaranya tertutup sampai ke batas lutut.

    Niar mengambil posisi tengkurap. Aku memulai pijatan refleksi di kaki. Pijatan refleksiku sengaja tidak
    terlalu keras, agar dia merasa nyaman dulu. Aku lemaskan semua syaraf di telapak kakinya lalu naik ke
    betis. Setelah semua otot terasa lemas aku mulai memijat pahanya, pantatnya dan badannya. Berhubung
    masih terhalang sarung aku hanya menekan-nekan tidak terlalu keras. Niar tertidur. Mungkin pengaruh dari
    makan siang tadi dan juga nikmatnya pijatanku.

    Badan Niar cukup besar dan tinggi. Tingginya mungkin sekitar 170 dengan berat badan yang seimbang. Untuk
    ukuran cewek Indonesia ukuran tubuh Niar termasuk besar dan tinggi. Pahanya ternyata cukup tebal dan
    pantatnya juga menyembul. Sekitar 30 menit dia kubiarkan tertidur lelap sambil aku pijat kakinya dengan
    pijatan nyaman.

    “Aduh enak kali pijatan kau, Jay, sampai tidur aku,“ katanya tiba-tiba.

    “Itu cuma kusuk ecek-ecek, kak,” kataku menjelaskan bahwa pijatanku itu hanya pijatan sederhana saja.

    “Jadi rupanya ada pula pijat yang betul-betul, macam mana pula itu, Jay?” katanya sambil tengkurap.

    “Kalau kakak mau, aku bisa mendeteksi organ kakak yang mana yang kurang beres,” kataku.

    “Ah, cobalah mainkan,” katanya.

    Aku mulai menekan simpul-simpul syaraf di telapak kakinya. “Aduh mak, sakit kali itu.” katanya ketika
    simpul syaraf pencernaannya aku tekan. Aku jelaskan bahwa pencernaannya agak terganggu, dan ini bisa
    mengarah ke penyakit maag. Simpul lain yang aku tekan menunjukkan bahwa dia sering tidak teratur
    haidnya. Itu dia akui.

    “Bisa tidak kau mainkan biar jadi teratur, biar aku tenang,” katanya nyerocos. Dari kata-katanya
    terkandung misteri yang seharusnya dia rahasiakan, tapi nyerocos secara tidak disadari. Kata-kata ’biar
    aku tenang’ aku anggap sebagai satu signal. Tapi aku cuek saja dan seolah-olah tidak mendengar
    perkataannya yang terakhir.

    Aku jadi berniat menyelediki secara diam-diam dan langsung. Seperti sebelumnya, aku mulai memainkan
    simpul-simpul syaraf erotisnya. Aku mulai garap di bagian permukaan kulit yang terbuka, yaitu, di
    telapak kaki, di dekat mata kaki lalu di betis dan di belakang lutut. Bagian-bagian itu mendapat pijatan
    lebih banyak dari titik-titik syaraf lainnya.

    “Aduh, enak kali pijatan kau, Jay, badanku jadi panas, bekeringat pula.” katanya.

    Aku menyarankan kalau mau lebih enak lagi sebaiknya menggunakan krim agar bisa lebih licin diurut. Dia
    menyetujui dan memintaku mengambil krim body lotion di meja riasnya.

    Aku mengulang lagi mengurut telapak kaki dan betis. Ulasan krim makin keatas menuju bagian pahanya yang
    tebal. Tanganku menyusur di bawah sarung sampai ke paha bagian atas. Di paha bagian dalam kusentuh
    titik-titik sensitifnya. Pinggulnya mulai bergerak. Ini sepertinya dia mulai terangsang.Cerita Sex Dewasa

    Aku minta izin untuk mengurut punggungnya dengan krim. Dia setuju dan aku mulai mengoleskan krim dari
    bagian bahu turun sampai ke pinggang. Urutan punggung menimbulkan kenikmatan, karena bagian-bagian yang
    pegal jika diurut akan menimbulkan kenikmatan. Badannya meliuk-liuk menikmati urutanku yang sesekali
    juga menimbulkan rasa agak sakit. Ada bagian otot yang kaku jika diurut akan menimbulkan rasa agak
    sakit, tetapi hanya sebentar.

    Dengan gerakan mengurut, sarungnya mulai terdorong ke bawah sampai ke batas pinggang. Niar masih
    menggunakan BH. Ini karena dia tidak terbiasa dipijat, jadi rasa malunya masih besar. Tanganku mulai
    merambah makin kebawah sampai ke bagian pantatnya yang montok.

    Mulanya aku tekan dan kadang-kadang dengan gerakan memutar di pantatnya. Pijatan seperti itu biasanya
    akan menimbulkan rangsangan ke alat vitalnya. Dia pun berkomentar bahwa bagian itu enak sekali dipijat.
    Kuterangkan bahwa akibat terlalu lama duduk, maka bagian pantat ototnya agak kaku. Aku kembali minta
    izin untuk mengurut bagian pantat agar otot-ototnya lemas. Dia hanya menjawab, “Mainkanlah.”

    Sarungnya sudah tidak berfungsi menutupi tubuhnya, karena sudah berkumpul di pinggang. Body Niar sungguh
    luar biasa. Meski kulitnya tidak putih, tetapi dari ujung kaki sampai leher kulitnya mulus nyaris tanpa
    goresan. Karena tubuhnya tinggi, maka bentuk tubuhnya jadi sangat ideal dengan pinggang mengecil dan
    pantat besar. Aku belum bisa memastikan payudaranya sebesar apa. Selama ini aku lengah menelaah dada
    Niar.

    Tanganku mulai mengurut bagian pantatnya. Mulanya mengurut dari arah atas menyusup ke celana dalam.
    Selanjutnya mengurut dari bawah dengan mendorong-dorong daging bongkahan pantatnya.

    Diakui ada bagian yang pegal di pantatnya yang rasanya nikmat jika diurut. Dia minta bagian itu
    berkali-kali diurut. Dorongan urut aku atur tidak selalu searah. Meskipun selalu mengarah ke atas,
    tetapi titik startnya berubah-ubah sampai ada yang dekat sekali dengan kemaluannya.

    Entah dia sadar atau tidak, tetapi aku sudah berkali-kali menyentuh bagian luar belahan kemaluannya.
    Tanganku bisa merasakan karena bagian itu ditumbuhi-bulu-bulu. Meski kemaluannya sudah terjamah tetapi
    dia tidak protes, malah cenderung menikmati.

    Aku berani menyentuh bagian itu karena yakin Niar sesungguhnya sudah terangsang. Terapi itu cukup lama
    sampai Niar kadang-kadang terlepas mendesis juga.

    Setelah kurasa maksimal merangsang dengan pijatan dari belakang aku minta dia berbalik tidur telentang.
    Niar menurut saja, pasrah. Sarungnya dibiarkan berkumpul di pinggang.

    Baru aku sadari bahwa payudara Niar ternyata cukup besar. Dia menggunakan BH dengan cup model setengah,
    sehingga gumpalan payudaranya menonjol seperti mau tumpah.

    Aku mulai lagi mengurut bagian kaki. Terus sampai ke paha. Paha bagian dalam mendapat terapi yang
    istimewa. Aku ingin membuatnya gila dengan rangsangan yang kulakukan. Bukan hanya paha yang aku urut
    tetapi naik menyelusup di bawah celana dalamnya sampai ke bagian atas termasuk gundukan kemaluannya. Aku
    merasa Niar mencukur sebagian bulu kemaluannya, karena yang terasa berbulu hanya bagian tengah membujur
    ke atas. Tapi aku tidak berkomentar, karena aku berlagak pemijat prof jadi berperan seolah-olah tidak
    hirau dengan masalah kemaluan.

    Niar kelojotan dengan urutan di sekitar kemaluannya. “Aduh, sedap kali, Jay, pandai kali kau
    mengurutnya, bisa mati dengan sedap aku kalau kau urut terus begitu, “ katanya sambil bergelinjang dan
    mulai agak mengerang meski dengan suara tertahan.

    Pertahanan rasa malunya sudah jebol, dia tidak perduli lagi dengan tubuhnya yang nyaris telanjang.
    Kepalanya berkali-kali bergeleng seperti sedang disetubuhi.
    Kurasa sudah cukup mengerjai bagian vitalnya. Aku berpindah ke bagian atas. Dimulai dari bahu lalu
    turun ke dada. “Aduh, enak, Jay. Aku baru percaya sekarang kalau kau pandai mengusuk,” katanya.

    Jariku tertahan oleh ketatnya BH sehingga tidak bisa mengurut bagian samping. Aku sarankan agar dia
    melonggarkan BHnya, agar kerjaku mengurut tidak terhalang. Dia patuh dan dengan meninggikan dadanya
    tangan kanannya meraih pengait BH dibelakang. Kaitan terlepas dan kedua payudaranya langsung kembali ke
    bentuk asalnya.

    Buah dadanya yang tadi seolah berkumpul di tengah sehingga menimbulkan efek menyembul dan membentuk
    lipatan diantara kedua bongkahan, kini melebar sampai tumpah ke samping badannya. BHnya masih menutup
    putingnya.

    Tanganku jadi lebih leluasa mengurut ke samping buah dadanya. Dia sudah tidak perduli lagi buah dadanya
    disentuh oleh laki-laki. Niar hanya menikmati rangsangan dari pijatanku.

    Aku kembali minta izin untuk memijat payudaranya. Seperti wanita-wanita sebelum ini, aku selalu berkilah
    bahwa pijatan payudara itu selain untuk merangsang otot mengencangkan payudara, juga untuk melancarkan
    peredaran darah di sekitarnya. Niar percaya dan mengangguk saja. Dia semakin tidak peduli ketika BHnya
    kusibak sehingga terpampanglah kedua putingnya.

    Kedua putingnya tidak terlalu besar berwarna coklat tua. Aku mulai memijat bagian payudaranya sampai
    menyentuh kedua putingnya. Setiap kali tersentuh putingnya, dia mendesis nikmat.

    Gerakan pijatku berlangsung seperti gaya profesional yang dilakukan seolah-olah tanpa nafsu. Padahal di
    bawah sana sudah ada pemberontakan. Aku melakukan gerakan meremas dari samping kiri dan kanan mengurut
    ke atas sampai jempol dan jari telunjukku bisa meraih kedua putingnya. Putting itu lalu kupelintir lirih
    dan ditekan dengan gerakan memutar.

    Gerakan memutar dengan tekanan lembut di kedua putingnya merupakan terapi berikutnya. Aku melakukan ini
    sambil menjelaskan bahwa efek dari pijatan ini adalah untuk merangsang syaraf di sekitar payudara agar
    berkerja normal. Dengan demikian aliran darah juga akan lancar.

    Sambil melakukan itu aku menekan-nekan kedua payudaranya dengan kedua telapak tanganku. Alasanku untuk
    mencari tahu apakah ada benjolan yang mencurigakan. yang bisa menimbulkan kanker.

    Niar entah percaya entah tidak, tetapi dia mendesis sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. “Aduh, mau
    mati aku rasanya,” katanya tiba-tiba.

    “Kenapa, kak?” tanyaku pura-pura terkejut lalu berhenti memijat.

    “Paten kali pijatan kau ini, aduh mak,” katanya melenguh.

    Kutinggalkan bagian payudara, aku turun ke bagian perut. Bagian perut karena merupakan bagian yang rawan
    bagi wanita, aku tidak berani gegabah. Hanya pijatan halus dan mengurut menaikkan bagian dalam perut
    yang agak turun.

    “Kakak ini beser ya?” kataku.

    “Apa itu beser?” tanyanya.

    Aku terangkan bahwa beser itu adalah sering kencing, tiap sebentar kebelet pipis melulu. Itu dia
    benarkan. Aku katakan bahwa itu adalah akibat kandung kencingnya tertekan jadi kapasitasnya tidak bisa
    menampung air seni secara maksimal. Aku berusaha memperbaiki posisinya.

    “Kak, bagian bawahnya mau dipijat jugakah?” tanyaku.

    “Apa sebabnya perlu dipijat?” katanya dengan logat Medan.

    Di situ ada urat dan syaraf yang kalau kejepit akibatnya wanita bisa mandul. Ini aku ngarang aja.
    Padahal dibalik itu aku ingin megang kemaluannya. Yah berdalih lah biar kelihatannya tidak memalukan.

    “Boleh-bolehlah,” katanya.

    Tanganku mulai menelusur ke bagian bawah mengurut ke bawah celdam. Aku bergerak dari bagian pinggir lalu
    ke arah tengah. Mulanya celdamnya masih menutupi segitiga kemaluannya. Namun karena gerakan tanganku
    celana itu melorot juga ke bawah, sehingga terpampanglah bukit pubis dengan jembut rapi tercukur.

    Urutan tanganku tidak sampai menyelusup ke belahan kemaluannya, tetapi kedua pinggirnya sudah berkali-
    kali tertekan kedua jariku. Niar sudah tidak sungkan-sungkan lagi melenguh dan mendesis. Tampaknya dia
    sudah tidak peduli lagi dengan harus menahan malu karena terangsang. Telapak tanganku menekan bagian
    luar kenaluannya dan melakukan pijatan dengan mengurut dari bagian pantat sampai ke atas. Jari tengahku
    walau tidak sampai terpelsest masuk ke belahan kemaluannya tetapi bisa merasakan ada cairan diantara
    belahan itu.Cerita Sex Dewasa

    “Aduh, Jay, lama-lama bisa aku terkam kau, Jay,”

    “Kenapa, Kak?“ kataku belagak bodoh.

    “Kau bikin aku gila,” katanya.

    “Kakak baru gila sebentar sudah sombong. Aku dari dulu gila tak pernah sombong,” kataku mencandai dia
    yang sedang terombang-ambing dengan nafsunya.

    Niar mungkin tidak bisa menyimak kata-kataku lagi, karena dia heboh dengan erangan dan desisannya. Aku
    makin dalam menggarap kemaluannya. Jari tengahku perlahan-lahan terbenamkan ke belahan kemalauannya
    dengan gerakan menyapu dari bawah ke atas. Gerakan ini berkali-kali sampai aku bisa merasakan
    clitorisnya menegang.

    Setelah rasanya dia hampir memuncak. Aku berhenti melakukan pijatan dan aku katakan “Sudah selesai,
    kak.” Aku duduk disamping badannya yang terbujur telanjang.

    “Aduh, kau menyiksaku, bisa aku bunuh kau nanti,” katanya.

    “Semua sudah aku pijat, kak, apalagi kak?” kataku lugu.

    Ditariknya badanku sehingga aku menindih badannya. Niar lalu mencium wajahku lalu bibirku. Aku terus
    terang belum siap menerima serangan, sehinggga ketika mulutku dibekap oleh mulutnya aku megap-megap.
    Niar buas sekali menyerangku. Dia gulingkan badanku sehingga aku ditindihnya.

    “Kak, sabar, kak. Kakak tenang dulu, “ kataku membalikkan badannya.

    “Ah, kau bikin aku gila,” katanya.

    “Masih ada lagi terapi, kak, tapi ini terapi khusus, hanya untuk yang sangat membutuhkan,” kataku.

    “Apa pula itu?” katanya tidak sabar.

    “Sekarang kakak tenang dulu biar aku bantu agak rileks. Kakak lemaskan badan kakak ya,” kataku.

    Bagai kerbau dicucuk hidungnya, Niar menuruti semua perintahku. Sarungnya kulepas, BHnya kusingkirkan.
    Bantal kuselipkan di bawah pantatnya. Lalu kedua kakinya kutekuk. Aku merangkak diantara kedua kakinya
    lalu dengan bersetumpu siku aku mendekatkan mulut ke kemaluan Niar.

    Sebagai penjilat yang sudah banyak mendapat penghargaan, aku memulai usapan lidahku menyapu bibir luar
    kemaluan Niar. Selanjutnya dengan bantuan kedua tanganku aku membelah kemaluannya sehingga tepampanglah
    kemaluan dengan warna merah ditengahnya dan bibir luar yang berwarna agak ungu. Lidahku mulai menyapu
    sekitar lubang vagina dari arah bawah sampai ke atas.

    Usapan lidahku membuat Niar menggelinjang. Setelah kurasa cukup ujung lidah mulai mengarah ke puncak
    pertemuan bibir dalam di bagian atas. Di lipatan atas itu ada sebentuk bintil mencuat, berwarna merah
    mengkilat. Yang tertutup lipatan bibir dalam. Dengan bantuan kedua tanganku ku kuak lipatan yang
    menghalangi bintil itu sehingga terekspos bebas. Setelah kupastikan clitoris Niar kutemukan aku
    membekapkan mulut ke bagian atas kemaluan Niar. Lidahku langsung berputar mengitari sekitar clitoris.

    Mendapat terapi lidah ini, Niar menggelinjang. Lidahku bergerak kanan-kiri dibagian atas.Pada awalnya
    aku menjaga agar bagian lidah ini tidak sampai menyentuh ujung clitorisnya. Kemudian secara bertahap dan
    pelan bagian bawah lidahku mulai menyentuh clitoris. Aku merasa gerakan ini menimbulkan dampak
    clitorisnya makin menegang. Aku mengubah gerakan lidah dari bawah keatas menyapu seluruh bagian
    clitoris.

    Setiap kali lidahku menyentuh ujung clitoris, Niar menggelinjang. Bagian ujung clitoris pada awal
    rangsangan mungkin masih dirasa terlalu geli dan ngilu jika disentuh langsung. Oleh karena itu aku belum
    melakukan pemusatan jilatan di ujung clitorisnya.

    Aku mengubah sapuan lidah ke bagian bawah letak clitorisnya. Ujung lidah kuusahakan mengeras sehingga
    bisa mendeteksi pangkal clitoris. Bagian pangkal itulah yang kemudian menjadi sasaran jilatan maut.

    Niar sudah mendesis, melenguh nggak karuan, bahkan kadang-kadang berbicara, tapi aku tidak jelas
    mendengar dan pastinya juga tidak bisa menjawab. Aku mencoba menjilat ujung clitorisnya untuk memastikan
    apakah rasa geli dan ngilunya sudah berkurang. Memang rupanya rasa geli berubah jadi rasa nikmat. Niar
    makin liar ketika jilatan lidahku fokus ke ujung ke ujung clitorisnya dengan gerakan kiri–kanan.

    Niar makin gila dan tangannya mulai ikut mengatur irama gerakan lidahku sambil meremas rambutku. Sesaat
    kemudian tangannya tidak bergerak, Dia diam seperti sedang berkosentrasi. Tidak lama kemudian dia
    mengerang panjang sambil menekan kepalaku ke kemaluannya dan kedua pahanya menjepit.
    Lidahku kutekan ke clitorisnya dan diam tanpa gerakan. Aku hanya merasakan denyutan pada clitorisnya
    seperti denyutan penis ketika mencapai orgasme. Niar memang mencapai orgasme. Setelah denyutan orgasme
    mereda, kulepas mulutku dari kemaluannya dan aku duduk diantara kedua pahanya dengan posisi bersimpuh.

    Jari tengah tangan kanan mendapat tugas berikutnya. Dengan posisi telapak tangan menghadap keatas, jari
    tengah perlahan-lahan menerobos ke dalam. Tujuannya adalah mencari G-spot. Dengan rabaan halus aku
    segera menemukan G-spot. Bagian itu sudah seperti membengkak bentuknya kira-kira seperti bulatan uang
    logam 100 perak, tapi lebih kecil sedikit. Jaringan lunak itu perlahan-lahan aku usap dengan gerakan
    halus sekali.

    Awalnya Niar tidak menampakkan reaksi, tetapi setelah 5 atau 10 kali usapan dia mulai menggelinjang dan
    mendesis. Sambil terus mengusap G-spotnya untuk mempercepat orgasmenya, jempol kiriku ditugaskan
    mengusap clitoris yang sudah kembali menegang. Niar mengerang-erang lalu berdesis lalu mengerang lagi.
    Dia tidak karuan bingung merasakan kehebatan rangsangan yang menerbangkan dirinya.

    Dalam waktu tidak terlalu lama kedua tangan Niar meremas sprei dan menariknya sambil menggigit bibir
    bawahnya dia mengerang panjang sekali. Pada saat itu, lalu ku kuak belahan vaginanya selebar mungkin.
    Dari lubang kcingnya yang berada dibawah clitorisnya menyemprotlah cairan tapi tidak terlalu banyak.
    Cairan itu agak cair, tetapi lebih kental dari urine. Mungkin sekitar 5 kali, pancaran itu menyembur
    lalu hanya meleleh.

    Niar tergeletak lemah. “Aduh gila, aku belum pernah mencapai nikmat kayak gini, pandai kali kau
    memainkan perempuan, Jay, “ kata Niar dengan suara lemah. “Sini, Jay, aku ingin memeluk kau,” katanya
    sambil menarik tanganku dan aku dipeluknya erat sekali.

    Kulemaskan badanku dan kuikuti kemauannya. Terasa kemaluannya ditekankannya ke pahaku lekat sekali lalu
    digerak-gerakkannya. Aku masih berpakaian lengkap pada saat itu.

    “Lemas kali badanku, Jay, aku rasa ngantuk kali,” katanya.

    Dia lalu meregangkan pelukannya dan aku pun bangkit. Badannya telanjang bulat telentang. Niar sudah
    mulai mendengkur. Kasihan dia maka kucari selimut dan kututupi tubuhnya. Niar tertidur pulas dengan air
    muka berseri-seri.

    ***

    Aku tidak menyangka ketika awal aku indekos di rumah ini bakal mengalami kejadian yang mencengangkan.
    Jika kuceritakan kepada siapa pun pasti, pasti tidak akan ada yang percaya. Tapi meskipun keinginan
    bercerita pengalaman ini sangat menggelitik hatiku, aku tetap berusaha menyimpan rapat-rapat rahasia
    ini.

    Aku tidak pernah menghayalkan apalagi berencana untuk mencicipi para penghuni kos ini. Tapi sejarah
    sudah menetapkan alur hidupku, aku hanya mengalir saja kemana arah yang sebaiknya aku tuju. Sulit
    rasanya mempercayai, bahwa 8 cewek penghuni kos ini semua sudah pernah aku tiduri. Bukan itu saja Ibu
    kosnya yang janda dan tampilan berwibawa dan sangat menjaga kesopanan ternyata paling rajin mengundangku
    ke kamarnya.
    Aku menjadi orang yang sangat penting di rumah itu. Kemampuanku terapi pijat refleksi, bisa memasak dan
    menjadi tong penampung curhat banyak menjadi tumpuan penghuni kos.

    Semua hobiku itu tak kusangka memberi penghasilan yang lumayan. Aku tidak lagi perlu membayar uang kos.
    Aku tidak tahu bagaimana duduk perkara sebenarnya, apakah ibu kos yang menolak pembayaran uang kos itu
    karena memang ia tidak mau dibayar, atau karena sewa kostku ada yang membayari.

    Setiap kali aku mau bayar, si Ibu kost selalu bilang, “Nggak usah, dik, semua membutuhkan adik di sini,”

    Aku selalu menolak jika diberi uang setelah aku memijat cewek-cewek penghuni kost ini.Aku memang hanya
    ingin membantu, toh aku juga mendapat kenikmatan dari mereka.

    Pernah satu kali, Mbak Ratih menanyakan no rekening bankku, katanya dia tidak punya tabungan di bank itu
    dan ada temannya mau transfer uang untuk dia melalui rekening bankku karena kebetulan bank temennya sama
    dengan bank tempatku menabung. Meski kemudian uang yang ditransfer itu sudah kuberikan kepada Mbak
    Ratih, tetapi di hari-hari berikutnya tabunganku terus bertambah. Nilai yang masuk setiap bulan bukan
    kecil. Menurut ukuranku yang masih kuliah, jumlah uang itu sangat besar.

    Mungkin setelah aku lulus kuliah, aku nggak bakal bisa menerima gaji sebesar uang yang masuk setiap
    bulan ke rekeningku. Aku tak kuasa membendung masuknya uang ke rekeningku itu, aku pun tak cukup kuat
    punya niat untuk melakukan investigasi. Aku jadi teringat pepatah orang Batak . “Sakit meminta tak
    diberi, tetapi lebih sakit memberi tapi tak diterima.”

    Dari pada aku sok nggak butuh dan bisa menyakitkan hati orang, lebih baik aku nikmati saja yang terjadi
    pada hidupku. Manis atau pahit kalau kita enjoy, pasti nikmat-nikmat aja.

    Bukan hanya tabungan yang terus membengkak, rokok pun sekarang aku tidak pernah beli. Kadang-kadang ada
    saja yang memberiku oleh-oleh. Bentuknya bermacam-macam, ada T-shirt, ada celana jeans, sepatu. Ah,
    banyaklah. Yang bikin aku nggak enak hati Ibu kos memaksa agar kamarku dipasang AC.

    Cewek-cewek di sini, jika di luar mereka semua punya pacar, kecuali ibu kost. Soal dia, aku kurang tahu
    persis. Tetapi ketika mereka di rumah ini semua merapat mendekatiku.

    Kami bergaul akrab satu sama lain, semua dekat dan semua saling mengerti. Tidak ada rasa cemburu
    diantara mereka. Misalnya aku sedang masuk ke kamar A, yang lainnya bisa menerima. Tidak ada jadwal
    khusus yang diatur, kapan aku ke kamar A, kapan ke kamar B dan seterusnya. Semuanya berjalan secara
    alamiah, siapa yang paling membutuhkan, dialah yang menggendongku. Kalau aku periksa catatan rahasiaku,
    memang jadwal dateku dengan mereka tidak sama, ada yang dalam sebulan sampai 8 kali, tetapi ada yang
    cuma sekali. Namun itupun bisa berubah di bulan lainnya, yang bulan lalu dia mendapat jatah 8 kali,
    bulan berikutnya ternyata bisa cuma sekali. Aneh juga ya.

    Sebelumnya aku mau bercerita bagaimana akhirnya Juli bisa kugarap. Bagi pembaca yang mengikuti cerita
    ini sejak awal mudah-mudahan masih mengingat siapa-siapa saja teman satu kostku.

    Aku bisa menggarap Juli adalah gara-gara Kristin sahabat dekatnya. Mereka sama-sama berdarah Cina.
    Mereka bukan sekampung, sebab Juli adalah Cina Padang. Mungkin karena mereka satu angkatan waktu
    sekolah, sehingga karena itu jadi akrab.

    Kristin suatu kali manarik tanganku untuk berpisah dengan teman-teman lain. Dia ingin menyampaikan
    sesuatu. “Eh, ini rahasia, tapi gue harus sampaikan ke lu, karena mungkin lu bisa bantu, “ kata Kristin
    membuka pembicaraan.

    “Gini, Jay, aku kasihan ama Juli, dia itu ternyata nafsu sexnya kuat, tapi sangat pemalu. Jadi gini,
    Jay, dia sering bermasturbasi karena sulit mengendalikan nafsunya.“ kata Kristin.

    Aku diam saja tidak memberi reaksi dan menanya apa pun. Aku memberi kesempatan kepada Kristin untuk
    menuntaskan ceritanya. Sebab aku menduga, Kristin sudah bersusah payah sebelum ini menyusun kata-kata
    untuk mengungkapkan ini kepadaku.

    “Dia sampai sering nangis sendiri karena tidak tahan menahan gejolak nafsunya. Padahal dia kan belum
    pernah pacaran, jadi kayak nggak ada penyaluran, gitulah, Jay,” katanya.

    “Lho, cowok yang suka ngantar dia itu apa bukan pacarnya?” tanyaku.

    “Cowok yang mana? Itu kan supir kantornya, ngawur aja lu,” jawab Kristin.

    “Jadi aku harus menolong bagaimana, masak mendadak tiba-tiba aku ajak, Jul maen yuk,” tanyaku sambil
    bercanda.

    “Lu gila, orangnya susah diajak serius nih, becanda melulu. Udahlah, pokoknya lu harus cari jalan
    bagaimana caranya supaya dia juga merasa tertolong dan tidak sungkan,” kata Kristin.

    Juli menurutku tidak jelek, tetapi tubuhnya yang tambun itu membuatnya kurang diminati cowok. Andai saja
    beratnya bisa dikurangi 20 kg saja, Juli bakal menjadi cewek idaman.

    Setelah pembicaraan rahasia itu, aku segera mencari bahan bacaan yang berkaitan dengan pengurangan berat
    tubuh melalui pijat refleksi. Penelusuran itu membawaku sampai kepada hipnotherapy. Melalui cara ini
    juga bisa membantu menguruskan badan.Cerita Sex Dewasa

    Ilmu ini kurasa penting. Aku kemudian mengikuti kursus hipnotherapy. Masalah biaya aku tidak pusing,
    karena tabunganku memadai. Namun aku merahasiakan bahwa aku mulai mendalami hipnotherapy. Jadi tak satu
    pun tahu aku mempunyai aktifitas baru mendalami hipnotis.

    Setelah merasa aku mulai bisa menguasainya meskipun belum canggih benar, aku mengontak Kristin.
    “Bagaimana kalau aku mencoba menterapi penurunan berat badan. Ini ilmu baru yang belum pernah aku
    praktekkan. Tapi kalau Juli tidak keberatan dan mau jadi kelinci percobaan aku akan coba ke dia,”
    kataku.

    “Nah, ini cocok,“ kata Kristin bersemangat. “Eh, tapi soal nafsunya itu gimana, apa bisa diterapi juga?”
    katanya kemudian penuh ragu.

    “Ah, itu sih gak perlu diterapi, biar aku saja yang nampung,” kataku sambil senyum-senyum.

    “Ah, lu emang gila, apa nggak takut gempor, emang lu payah, becanda mulu, sekali-kali serius napa?” kata
    Kristin.

    Kristin tidak sabar ingin segera menyampaikan kabar baik itu kepada Juli. Dia bergegas ke kamar Juli.
    Tidak kusadari berapa lama mereka berdua berunding. Yang jelas malam itu tinggal aku sendiri yang berada
    di ruang tengah menonton pertandingan bola.

    “Jay,” aku mendengar suaru lirih, ternyata asalnya dari Kristin. Dia mendekat dan berkata setengah
    berbisik, “Juli mau diterapi untuk kurus, kalau pun nggak berhasil nggak pa-pa. Dia siap jadi kelinci
    percobaan lu, “ kata Kristin. “Eh, tapi jangan disinggung-singgung soal nafsu sexnya ya, itu dia minta
    dirahasiakan sekali, awas lu,” tambahnya.

    “Ok, bos, siap melaksanakan tugas,” jawabku sambil berdiri.

    “Sekarang bisa?” tanya Kristin lagi.

    “Siap,” kataku.

    Diambilnya remote TV lalu dimatikan dan aku digelandang masuk ke kamar Juli. Di kamar itu Juli sedang
    bengong duduk di tempat tidur. “Apakah dia berharap juga bahwa malam ini aku memulai terapinya?” kataku
    bertanya dalam hati.

    Aku duduk dikursi berhadapan dengan Juli. Aku katakan bahwa terapi menguruskan badan ini belum tentu
    berhasil. Soalnya aku belum pernah melakukakannya dan disamping itu harus ada kerjasama dengan yang
    diterapi. Juli mengangguk-angguk dan bisa memahami. Kristin yang duduk di samping Juli mendesak temannya
    agar menuruti apa yang kuminta, maksudnya menuruti apa yang kunasehati.

    Juli mengaku beratnya 85 kg, tinggi 160 cm, umur 24 tahun. Idealnya dia harus menurunkan 25 sampai 30
    kg. Ini bukan pekerjaan ringan pikirku. Namun kalau aku berhasil ini adalah investasi besar.

    Aku meminta Juli terbuka denganku, maksudnya mengenai pola hidupnya dan pola makannya. Ini akan sangat
    membantu aku menemukan cara terbaik dan aman menurunkan berat badannya. Dia mengaku suka ngemil. Memang
    makannya tidak banyak. Porsinya sedikit, tetapi sulit menahan selera melihat jajanan.

    Di samping itu, dia hobby makanan yang berlemak, bersantan dan minum manis serta kue coklat. Olahraga
    sama sekali tidak pernah, karena dia cepat capek dan nafasnya sesak. Dia mengaku mungkin dia punya
    penyakit asma.

    “Okelah, coba saya chek up dulu,” kataku.

    Aku memintanya tidur telentang. Juli mengenakan celana piyama. Seharusnya piyama longgar, tetapi di
    tubuh Juli jadi ketat, terutama di pahanya. Aku mulai menekan-nekan simpul syaraf di telapak kakinya.
    Ketika simpul syaraf pencernaannya aku tekan, Juli menjerit. Pantaslah, dia harus sering makan. Sebab
    kalau tidak perutnya akan terasa perih. Aku jelaskan soal itu, dia membenarkan.

    “Tuh kan gue bilang apa, Jay ini ngerti lho, udahlah lu percaya aja ama dia gak usah banyak bantah,”
    kata Kristin mencecar temannya. Juli yang dicecar begitu hanya meringis saja, sebab dia sedang menahan
    rasa sakit.

    “Udah, gue tinggal, gue ngantuk, lu pokoknya bereslah ama Jay,” kata Kristin lalu beranjak dan
    meninggalkan kami berdua.

    Aku mencoba menekan syaraf-syaraf yang bisa berakibat mengurangi selera makannya. Syaraf-syaraf itu jika
    ditekan kata Juli sakit sekali. Simpul syaraf seperti ini memang tidak bisa dilemaskan dalam satu kali
    terapi. Juli mau mengerti jika terapi ini harus berulang-ulang.

    Aku mencoba menekan semua simpul syaraf yang memberi dampak menurunkan bobot itu. Semua titik tersebut
    jika ditekan sedikit saja, Juli sudah menjerit kesakitan. Hampir satu jam aku menelusuri semua syaraf
    langsing itu, sampai Juli badannya basah kuyup karena keringat akibat menahan sakit.

    “Bagaimana, Jul, semua yang ditekan sakit, apa kamu kuat diteruskan?” tanyaku.

    “Biarin deh aku tahan, yang penting aku bisa kurus, “ katanya bersemangat.

    Aku lalu menyarankan agar dia berganti mengenakan daster saja, sebab semua bajunya sudah basah
    berkeringat. Tapi akan lebih baik kalau mengenakan sarung saja sebab selain tidak terlalu gerah, juga
    memudahkan aku menyentuh simpul-simpul syaraf. Kali ini aku serius, bukan mau ngerjain Juli. Kasihan
    juga sih.

    Juli menurut dia bangkit. Aku lalu menyarankan dia agar ke kamar mandi dulu untuk pipis. Lebih baik
    pipis sekarang daripada nanti ditengah-tengah terapi kebelet pipis. Aku juga ingin merokok dulu di luar
    sebentar. Juli setuju dan aku keluar lalu mengasapi ruangan. Setelah sebatang rokok putih habis tidak
    lama kemudian Juli memanggilku.

    Juli mengenakan sarung yang diikatkan di dadanya. Aku terperangah juga, badannya putih sekali dan
    semuanya serba besar. Payudaranya besar dan pantatnya juga besar. Setelah menyiapkan semua perlengkapan
    termasuk body lotion aku memulai terapi dengan menyuruhnya tidur telungkup.

    Aku kembali mengulang menekan simpul-simpul syaraf tadi. Namun sekarang dengan bantuan cream aku jadi
    lebih lancar mengurut bagian-bagian simpul syaraf di seputar kakinya. Menurut Juli sekarang tidak lagi
    merasa terlalu sakit seperti pertama tadi. Aku jelaskan bahwa jika diurut, maka penekanan simpul syaraf
    tidak terfokus pada satu titik, jadi yang dirasa adalah sakitnya tidak seberapa.

    Dari tidak ada niat sampai muncul sifat iseng dan ingin tahu. Dua hal terakhir ini adalah kelemahanku,
    terutama suka iseng. Jadinya seperti biasa simpul syaraf erotis aku senggol-senggol juga. Rupanya
    terhadap Juli simpul itu cepat sekali menimbulkan reaksi. Dia jadi gelisah.

    Kubiarkan dia tersiksa dengan kegelisahannya. Paling tidak membantu aku untuk menyingkap sarungnya agar
    aku bisa meraih bagian-bagian yang tersembunyi. Dia pasrah saja ketika sarungnya aku singkap keatas. Aku
    memerlukannya karena akan mencapai bagian paha. Luar biasa besar pahanya dan putih bersih. Sambil
    mengurut aku mengagumi kebesaran itu.
    Urut dan penekanan simpul syaraf aku atur selang-seling. Jika dia kesakitan berikutnya aku urut bagian
    yang nyaman dan menggairahkan. Saat dia mulai syur aku tekan lagi bagian yang sakit. Juli kemudian
    mengaku bingung merasakan pijatanku.

    “Sebentar enak, sebentar sakit, bisa nggak dipijet biar enak terus?“ kata Juli.

    “Nanti lama-lama yang sakit jadi terasa enak, tenang aja, tapi sorry nih aku terpaksa menyingkap sarung
    sampai begini, kamu keberatan apa enggak?”

    Dia langsung menyambut cepat bahwa dia tidak keberatan yang penting bagi dia terapiku lekas
    berhasil.”Ibaratnya aku harus telanjang pun aku turuti, Jay,” kata Juli.

    Aku langsung menjawab, “Ya kalau nggak keberatan telanjang aja, aku jadi lebih gampang, nggak ngraba-
    raba di dalam sarung,“ kataku dengan nada yang kutenang-tenangkan.

    “Dibuka semuanya Jay?” tanyanya minta konfirmasi.

    “Kalau nggak keberatan, terserahlah,”

    “Ya udah, demi kesehatan dan menghargai pertolongan kamu aku ikut saja,” katanya sambil berdiri dan
    meloloskan sarung, lalu BH dan celana dalamnya dengan posisi membelakangiku. “Tapi jangan diketawain ya,
    badanku gemuk,”

    “Dari dulu udah tau kamu gemuk, masak sekarang mau ngetawain, udahlah kamu anggap aja aku nggak ada dan
    yang mijet ini mesin,” kataku berusaha membangkitkan percaya dirinya.

    Namun di dalam hatiku terkagum-kagum dengan gumpalan lemak yang begitu banyak di seluruh tubuhnya. Aku
    bertanya sendiri, apa bisa lemak-lemak itu nanti meleleh. Kalau bisa hebat juga aku.

    “Aku belum pernah meniduri cewek gemuk, kira-kira rasanya bagaimana ya. Empuk kali. Ah jadi pengen nih,”
    kataku dalam hati.

    Aku mulai menggarap lebih banyak simpul syaraf erotis dari pada syaraf yang melangsingkan. Toh dia juga
    sudah tersiksa kesakitan dari tadi, jadi perlu diberi terapi nikmat.

    Memang benar kata Kristin, nafsunya mudah sekali dibangkitkan. Belum setengah perjalanan dia sudah
    mengaduh-aduh keenakan dan kegatelan. Aku jadi makin tergoda dengan rintihannya.

    “Aaaaaduuuuh, Jaaayyy…” Ini bukan rintihan sakit, tapi nikmat. Bokongnya yang gempal mulai aku garap. Di
    situ banyak sekali syaraf-syaraf erotis berada. Lalu aku turun lagi menekan beberapa bagian di paha
    sebelah dalam dekat sekali dengan kemaluannya. Berhubung pahanya besar sekali aku minta dia
    merenggangkan kakinya. Kakinya sudah merenggang cukup jauh, tetapi tetap saja kedua belah pahanya masih
    rapat. Aku terpaksa menyelipkan tanganku untuk meraih titik yang perlu disentuh.

    Karena begitu gempalnya aku kurang menyadari jika suatu saat tanganku sudah menyentuh bibir kemaluannya.
    Aku terkejut sendiri menyadari tanganku sudah mencapai bagian vital, padahal sesungguhnya aku belum mau
    sampai di situ.

    Kuakhiri menyentuh daerah sensitif, berpindah ke pinggang lalu naik ke bahu dan tengkuk. Punggungnya
    ketika aku tekan terasa tebal sekali lemak di situ. Senang betul aku memainkan lemak-lemak di situ
    Setelah bahu kedua tanganku menyelusup ke ketiaknya dan melakukan pijatan badannya bagian samping.
    Bagian pinggir buah dadanya jadi teraba juga. Bagian buah dadanya melebar ke samping karena bagian
    depannya tertekan.

    Setelah selesai bagian belakang aku minta dia berbalik. Pemandangan makin indah. Dibagian atas bergumpal
    susu yang besar di bawahnya perut yang berlipat kebawah lagi segitiga, tapi rambutnya cuma sedikit dan
    membujur ke bawah sepasang paha putih yang besar sekali.

    Aku berusaha tenang dan seolah-olah tidak melihat apa-apa. Padahal sedang terkagum-kagum menyaksikan
    bongkahan lemak bergumpal dimana-mana dan putih bersih.

    Aku kembali mengurut dari ujung kaki terus naik keatas sampai ke pangkal paha. Juli merintih sampai
    seperti sedang menangis. Aku berusaha menyimak apakah dia benar menangis atau sekedar merintih. Ternyata
    dia merintih sambil menangis.

    Aku tanyakan kenapa menangis, apa menyesal atau karena apa. Aku sempat menghentikan pijatan untuk
    memastikan keadaan.

    “Aduh, Jay, aku nggak tau kenapa aku begini. Aku rasanya seperti disiksa oleh keinginanku sendiri,” dia
    tidak meneruskan kata-katanya. Aku mengerti apa yang dimaui sebenarnya.

    Dengan gaya cool aku menenangkan dia. “Sudah, Yul, kamu tenang saja, pokoknya kita harus bisa
    merahasiakan semua yang terjadi di kamar ini. Aku paham apa yang ada di dalam tubuhmu, sabar sebentar ya
    biar aku tuntaskan terapi ini. Kamu kalau mau berteriak atau apa pun lepas aja, jangan ditahan ya, nanti
    dada kamu jadi sesak,” kataku.

    “Aduh, Jay, terima kasih, kamu ternyata sangat pengertian. Sorry ya, Jay, jangan ketawain aku ya kalau
    aku bersuara atau bertingkah aneh,” katanya mengiba.

    Aku jadi kasihan. Kusarankan agar dia menutup mukanya dengan bantal saja agar suaranya tidak terlalu
    terdengar sampai ke luar kamar. Dia segera menuruti saranku. Meski tertutup bantal rintihannya masih
    juga terdengar, tetapi tidak terlalu keras.

    Aku memijat kedua paayudaranya. Dia makin merintih. Apalagi ketika tersentuh kedua putingnya yang
    berwarna merah jambu. Putingnya tidak terlalu besar sehingga bentuknya sangat menggairahkan.

    Perutnya yang penuh lemak agak sulit mengurutnya.Aku hanya menggosok-gosok saja. Pijatanku turun ke
    bawah dan mulai menggarap sekitar kemaluannya. Juli tidak hanya memberi ruang dengan merenggangkan
    kakinya tetapi kakinya ditekuk dan dibukanya selebar mungkin. Meski sudah begitu besar celah yang dia
    buka, tetapi belahan kemaluannya belum terbuka juga karena di situ juga bergumpal lemak menutupi celah
    itu.

    Aku menggosok kemaluannya perlahan-lahan sambil menyelipkan jari tengahku menerobos masuk ke dalam
    belahan yang ternyata sudah sangat basah. Pijatan di kemaluan itu kulakukan tanpa minta izin lagi ke
    pemiliknya. Aku tekan sebentar clitorisnya. Dia menggelinjang dan suaranya terdengar agak keras
    mengerang di bawah bantal.

    Selesai sudah semua terapi pijatanku. Aku lalu berbisik di telinganya. “Jul, pijatannya sudah selesai,
    boleh aku bantu biar kamu lega.”Cerita Sex Dewasa

    Juli hanya menangguk lemah, lalu kembali menutup bantal ke wajahnya. Aku membuka semua pakaianku kecuali
    celana dalam. Terapi selanjutnya adalah mengoral vaginanya.

    Tinggi juga faktor kesulitan yang kuhadapi untuk mengoral kemaluan Juli. Lemak yang berlebihan
    menghalangiku untuk mencapai bagian clitorisnya. Aku harus mengatur posisi agar masih bisa bernafas
    sambil mengoral. Juli tersengal-sengal menikmati oralku. Seluruh bagian mulutku sampai ke dagu basah
    kuyup oleh cairan Juli. Dia cepat sekali mencapai orgasme. Bukan rintihan atau erangan yang kudengar,
    tetapi suara seperti menangis. Kubiarkan saja dia mengekspresikan kenikmatannya.

    Selanjutnya aku berusaha merangsang G-spotnya, Dengan gerakan hati-hati aku memasukkan jari tengahku ke
    dalam liang vaginanya. Terasa sekali sempit. Di dalam vagina juga banyak gumpalan lemak, sehingga agak
    sulit mencari mana tonjolan G-spot. Aku hanya mencoba membaca reaksinya ketika bagian dalam kujamah.
    Sampai aku yakin menemukan bagian yang tepat, aku bertahan di titik itu dengan elusan yang lembut.

    Hanya sebentar saja dia sudah meronta-ronta ketika orgasmenya kembali datang. Vaginanya banjir seperti
    ngompol. Sprei di bawahnya basah kuyup. Setelah orgasmenya mereda aku menindihnya dengan sebelumnya aku
    melepas celana dalamku. Kami berdua telanjang bertindih-tindihan. Aku menggesek-gesekkan batang penisku
    di luar belahan kemaluannya. Juli menyambutnya dengan menggoyang-goyangkan pinggulnya.

    “Aduh, Jay, nikmat sekali, Jay. Aku belum pernah begini. Terusin aja, Jay, masukkan! Aku sudah tidak
    perawan lagi kok.“ bisiknya.

    Aku mengerahkan ujung penisku ke gerbang vaginanya. Meski licin, tetapi aku berkali-kali gagal
    memasukkan kepala penisku. Aku mengubah posisi dengan duduk bersimpuh dan menselaraskan letak kepala
    penis dengan lubangnya. Aku terpaksa menguak lebar kemaluannya untuk memastikan dimana letak mulut
    vagina Juli.

    Setelah jelas baru aku dorong pelan-pelan. Bagian kepala sudah berhasil terbenam, tetapi untuk maju
    masih agak sulit. Juli merintih sakit katanya. Aku berusaha menyabarkannya agar dia menahan sebentar
    saja rasa sakit itu. Batang kutekan lagi sampai hampir setengah tertelan kemaluan Juli.

    Dengan posisi setengah aku mulai memaju mundurkan penisku sampai Juli merasa tidak sakit lagi. Setelah
    dia merasa nyaman dan mendesah-desah, kutekan lagi perlahan lahan sampai seluruhnya ambles ke dalam
    vaginanya. Meski banyak lemak di dalamnya aku merasa vagina Juli masih sempit, maklum lubang ini belum
    pernah dikunjungi penis.

    Juli merintih sambil berucap betapa enaknya vaginanya terasa terganjal dan hangat. Aku melakukan gerakan
    mengedut-kedutkan penisku beberapa kali. Juli semakin mengerang merasakan nikmatnya kekerasan penisku
    yang mengganjal di dalam liangnya.

    Setelah yakin semua batang terbenam di dalam aku kembali rebah menindih tubuh Juli. Kedua putingnya
    kuhisap bergantian, sambil penisku tetap menancap di dalam liang vaginanya. Aku terus melakukan gerakan
    mengedut sambil menciumi kedua putingnya. Juli terangsang hebat dan dia berteriak, “Jay, aku nyampe,“

    Sementara dia berogasme, bibirnya aku lumat dan kuhisap dengan gerakan yang ganas. Dia semakin bernafsu
    dan orgasmenya berlangsung cukup lama. Aku tidak tahu pasti orgasme jenis apa yang dia rasakan.

    Setelah reda dia berkomentar bahwa baru kali ini dia merasa nikmat yang luar biasa. Semua pening dan
    sesak di dadanya menjadi plong. Matanya terasa ngantuk dan lemes. Aku tidak memberi kesempatan dia
    tertidur. Segera aku pompa dengan gerakan 8 kali hunjaman dangkal dan sekali dalam.

    Kosentrasiku menghitung hunjaman ini menganggu konsentrasi menikmati vaginanya. Mungkin ini menyebabkan
    aku jadi bisa bertahan lama.
    Juli tidak jadi jatuh tertidur, dia kembali mendesah, mengerang dan kepalanya digeleng-gelengkan.

    “Aduh, Jay, aku lemas banget, tapi nikmat sekali. Aduh, Jay, aku nyeraaahh,” katanya.Sementara aku terus
    memompanya.

    Efek dari pijataan ku tadi berakibat dia mudah sekali mencapai orgasme. Aku sudah tidak lagi
    memperhatikan sudah berapa kali dia mencapai orgasme. Padahal permainan baru berlangsung 15 menit. Aku
    terus memompa sampai dia tidak mampu lagi bereaksi karena kelelahan yang amat sangat. Aku berkosentrasi
    sampai ketika akan meledak buru-buru aku cabut dan ditumpahkan ke perut Juli. Juli hanya membuka mata
    sebentar lalu jatuh tertidur. Di bagian akhir, tampaknya dia sudah setengah tidur.

    Seperti biasa aku segera menutup selimut ke seluruh tubuhnya dan aku kembali berpakaian. Dengan langkah
    berjingkat ku tinggalkan kamar Juli.

    Aku mendapat pengalaman baru lagi merasakan lemak tebal.

    Dua hari setelah itu aku digamit Kristin. Dia berbisik, “Juli berterima kasih sekali sama lu, katanya
    terapinya luar biasa. Dia juga senang karena selera makannya jadi kurang banget,”

    Sedang kami berdua tiba-tiba muncul Juli. “Jay, beratku turun sekilo, kayaknya terapimu mulai
    menunjukkan hasil.” katanya.

    Aku mengingatkan agar dia jangan terlalu bersemangat menurunkan berat badan. Sebab jika turun terlalu
    drastis, kurang baik terhadap kesehatan. Aku menyarankan agar dia berusaha jalan lebih jauh dari
    biasanya dan kalau bisa hindari naik lift atau eskalator. Dengan begitu badannya tetap kencang meski
    bobotnya berkurang.

    Selain terapi pijat refleksi, aku melakukan kombinasi dengan hypnotherapy. Aku menanamkan sugesti ke
    dalam alam bawah sadarnya untuk tidak berselera kepada makanan manis, berlemak dan coklat. Kebiasaan
    makannya aku ubah dengan lebih menyukai sayur dan buah-buahan. Sugesti itu terus-menerus aku tanamkan ke
    dalam benak Juli, sampai dia sendiri merasa perubahan selera makannya karena kesadaran akan mencapai
    bentuk dan berat badan yang ideal. Aku juga berterima kasih kepada Juli, tetapi di dalam hati. Berkat
    tantangan yang dia berikan aku bisa menguasai hypnotherapy.

    Singkat cerita, 6 bulan kemudian Juli sudah mencapai berat yang ideal yaitu 55 kg. Tampilan Juli makin
    cantik dan hebatnya payudara dan pantatnya tetap bertahan gempal tidak ikut susut. Juli menjadi seksi
    sekali.

    Di balik keberhasilannya menurunkan berat badan, aku yang jadi megap-megap. Setiap kali mengetahui
    jadwalku kosong, Juli langsung minta jatah. Padahal katanya dia sudah punya pacar. Tapi dia mengaku
    susah melupakanku.

    “Aku kecanduan kamu, Jay,” katanya.

    Keberhasilanku menurunkan berat badan Juli segera tersebar ke seluruh jaringan cewek-cewek ini. Aku di
    baiat sebagai terapis paling ampuh. Padahal, keberhasilan Juli menurunkan berat badan antara lain karena
    dia hampir setiap hari kelelahan karena nafsu sexnya yang mendorong dia selalu minta disetubuhi.

    Setelah keberhasilanku menurunkan berat badan Juli, Mbak Ratih dan Bu Rini juga minta diturunkan
    kegemukannya. Kelebihan berat mereka berdua tidak terlalu parah, mungkin hanya perlu turun 5 sampai 10
    kg.

    Sudah tiga orang berhasil kuterapi jadi kurus dan berisi. Aku tidak menyangka kemampuanku ini kelak akan
    menerbangkan aku ke banyak tempat dan menjadi dambaan banyak ibu-ibu dan perawan gemuk.

    Aku tidak mampu mengurus sendiri begitu banyak permintaan terapi. Bu Rini kuminta menjadi managerku. Dia
    lah yang mengatur waktu bahkan menentukan biaya terapinya. Kami berdua yang tadinya banyak berharap
    mendapat penghasilan dari MLM, sekarang sudah kami tinggalkan.

    Informasi dari mulut ke mulut ternyata cepat sekali merebak. Aku akhirnya kewalahan menghadapi begitu
    banyaknya order yang masuk. Aku minta Bu Rini membatasi orderan. Dia bingung bagaimana caranya
    menyeleksi, semua butuh dan semua perlu dibantu. Aku lalu minta dia menetapkan tarif yang tinggi agar
    tidak banyak orang mampu mengorderku. Tapi aku minta dia juga menyeleksi atau bahkan mencari mereka yang
    perlu benar-benar dibantu. Terhadap mereka ini kutekankan kepada Bu Rini jangan minta bayaran apa pun.
    Melalui teknik penyeleksian ini aku jadi banyak bertemu wanita-wanita tingkat atas. Aku kagum atas
    berlimpahnya uang mereka. Jika mereka minta diterapi, selalu menyewa kamar hotel bintang 5. Mulanya aku
    agak minder juga menghadapi mereka, karena penampilan yang wah dan wangi serta kelengkapan yang serba
    mahal.

    Dengan kemampuan uang yang begitu besar, kadang-kadang permintaan mereka rada aneh. Sebagai contoh ada
    yang minta lubang vaginanya disempitkan atau bibir vaginanya dibuat berwarna pink atau mengecilkan
    puting susu.

    Terhadap mereka yang kurang mampu, mereka umumnya sangat menurut dan patuh pada semua nasihatku. Aku
    berharap bantuanku kepada mereka bisa lebih mencerahkan jalan hidupnya ke depan. Umumnya yang minta
    diterapi baik dari kalangan kaya, maupun dari kalangan kurang mampu adalah keluhan kegemukan.

    Bedanya, kalangan berduit banyak sekali permintaannya. Kadang-kadang jika aku kesal, aku mainkan
    penekanan syaraf erotisnya. Mereka kelojotan minta digauli. Pada titik ini aku berlagak bodoh dan pura-
    pura tidak memahaminya. Aku selalalu menyudahi terapi dengan mengatakan, “Bu atau Mbak, terapinya sudah
    selesai,”

    “Mas, bisa nggak aku diservice sekalian? Kepalaku pusing jadinya nih,”

    “Apanya yang diservice bu/mbak?”

    “Aduh, tolonglah, dik, nanti aku kasih tip tambahan deh,” kata mereka.

    Jika sudah mereka mengiba-iba, aku baru keluarkan jurus penuntasan. Biasanya tip yang diberikan kepadaku
    jauh lebih besar dari tarif resmi yang harus mereka bayar. Tips ini tentu saja 100 persen masuk ke
    kantongku.
    Aku jadi makin berduit, tetapi aku tetap berusaha hidup bersahaja. Masalahnya aku belum siap memasuki
    dunia glamour. Kalau mau sebetulnya aku cukup mampu membeli mobil baru, beli apartemen. Tapi jika itu
    kuturuti aku harus mengubah pola hidupku yang belum tentu aku mampu menjalaninya.

    “Begini saja udah enjoy, uang banyak, hidup dikelilingi bidadari yang setiap saat siap dilayani dan
    melayani,” batinku.

    Aku hanya ingin berbagi cerita pengalaman yang unik-unik saja yang aku temukaan dari pasienku. Salah
    satunya adalah Ibu Dina. Dia adalah pengusaha wanita terkenal dan mungkin termasuk jajaran konglomerat.
    Saking menjaga rahasia, dia harus menyewa 2 kamar di hotel bintang 5 dengan kamar yang memiliki
    conneting door. Kalau sudah begini Bu Rini lah yang berperan mengatur terapi rahasia itu, sehingga hanya
    aku, bu Rini dan Bu Dina saja yang tahu soal terapi ini.

    Bu Rini awalnya memiliki tubuh yang terlalu gemuk. Dia ingin tampil seperti badan gadis remaja atau
    katakanlah gadis 20 tahunan. Padahal usianya sudah hampir mencapai 50. Karena kekuatan uang maka meski
    gemuk dia tetap berpenampilan cantik dan mahal.

    “Dik, aku sudah bosan kemana-mana untuk nurunin berat badanku ini, tapi selalu tidak berhasil. Kalaupun
    berhasil, tidak bisa lama bertahan, aku malah tambah gemuk. Gimana ya, dik, solusinya?” kata Bu Dina.

    Aku jelaskan bahwa soal menunrunkan berat badan itu tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada terapis,
    tetapi harus ada kerjasama dengan yang diterapi. Bahkan Ibu Dina harus lebih banyak berperan dari pada
    saya yang menerapi.

    “Saya hanya memberi arah saja, bu, ibu yang harus mengikuti jalan itu. Kalau ibu tidak nurut, ya pasti
    tidak akan berhasil,” kataku.

    “Oh, gitu toh, dik? Tapi kan saya udah makan obat, masak yo saya harus susah payah nahan selera makan
    segala sih. Saya kan suka ada acara dinner, makannya itu enak-enak dan mahal, rasanya sayang kalu nggak
    dicoba,” katanya.

    “Saya tidak menjanjikan terapi saya bakal berhasil bu, tetapi saya coba, kalau cocok mungkin bisa
    berhasil. Biasanya saya tidak mengharuskan pasien saya mengubah 180 derajat pola makan mereka, tetapi
    hanya mengurangi saja porsi dari yang sebelumnya. Bagaimana bu apa mau dicoba,” tanyaku dengan nada
    merendah.

    “Kamu ini masih muda kok bisa punya keahlian gini toh, dik? Katanya udah banyak yang berhasil, makanya
    aku penasaran,” katanya.

    Seperti biasa, aku meminta dia mengenakan sarung dan kusarankan agar melepas BH juga. Badan Bu Dina
    sangat mulus, putih dan gemuk Aku mulai melakukan ritual. Semua simpul syaraf yang berhubungan dengan
    selera makan aku garap. ceritasexdewasa.org Simpul-simpul itu tidak sampai 30 menit sebetulnya sudah tuntas. Selebihnya aku
    hanya melakukan chek up lalu memberi pijatan nyaman. Dia sudah merasa membayar mahal, jika aku hanya
    menggarapnya 30 menit rasanya tidak pantas.

    Selama kelebihan waktu itu aku juga iseng menekan syaraf-syaraf erotisnya. Dalam hal ini kurasa
    keahlianku sudah sangat mahir. Baru sekitar 15 menit syaraf erotis kumainkan, Bu Dina sudah mulai
    merintih. “Dik, pijetanmu kok enak banget to, dik?” katanya.

    “Bu, maaf ya, bu, kelihatannya ibu jarang disambangi nih,” kataku memancing reaksinya.

    “Disambangi apa toh, dik?” tanyanya dengan nada heran.

    “Ah, ibu masak nggak paham? Maksud saya, disambangi ama bapak,” kataku.

    “Lho, kamu kok bisa tahu rahasia sampai kesitu to? Tapi emang benar kok, dik, bapak itu kan diabet, jadi
    ya agak susah. Apa kamu bisa terapi diabet juga to, dik?” tanya Bu Dina.

    Aku terus terang belum pernah mencoba terapi orang diabet, tetapi penyakit itu menurut pengetahuanku
    tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dikendalikan.
    “Maaf ya, bu, ini dampaknya dari kurang disambangi, jadi ibu ini termasuk suka mudah marah, emosinya
    rada cepat meluap,” kataku datar.

    Dia membenarkan, bahkan dia malah nyerocos, dalam soal sepele saja kadang-kadang marahnya bisa meledak-
    ledak. Susah mengendalikan emosi marah, katanya. Dia tanya apa yang begituan bisa dikendalikan.

    Saya katakan ini adalah ibarat asap, apinya adalah soal disambangi tadi. Jadi ada perasaan yang
    terpendam bertahun-tahun dan lama-lama tidak menyadari, padahal perasaan kecewa itu tetap ada di dalam.

    Ibu Dina rupanya termasuk istri yang setia dan tidak pernah punya keberanian untuk bermain mata dengan
    laki-laki lain. Untuk terapi ini saja dia membuat pengamanan berlapis-lapis agar jangan sampai diketahui
    orang. Maklumlah dia sendiri termasuk orang punya nama, suaminya juga terkenal.

    Aku jadi penasaran ingin membuat Bu Dina kelojotan. Apakah dalam kondisi di puncak rangsangan dia masih
    mampu bertahan. Bagaimana sih kuatnya benteng pertahanannya . Aku memainkan syaraf syaraf sensual.
    Stimulasi terus-menerus aku garap, tanpa menyentuh bagian-bagian alat vital.

    “Aduh, dik, aku kayaknya udah nggak kuat lagi nih, dik,” katanya.

    Aku lalu berhenti memijat dan bertanya apa pijetnya cukup sekian aja. Bu Dina langsung membantah bahwa
    bukan itu yang dia maksud, katanya kepalanya mau pecah menahan rasa yang nggak karuan. Aku lalu
    menawarkan untuk memijat kepalanya. Padahal aku tahu itu tidak akan menyembuhkan bahkan mungkin bisa
    tambah menggila. Dia memberi kesempatan aku memijat kepalanya. Bukan tambah selesai, tetapi malah tambah
    menggila. Bu Dina tanpa dia sadari merebahkan badannya ke badanku yang sedang memijat kepalanya dari
    depan. Dia memelukku erat sekali sambil kepalanya di guselkan ke dadaku. Dia menarik kepalaku dan
    diciuminya wajahku lalu bibirku disedot dan diciuminya ganas sekali. Kepalaku lalu didorong ke arah
    dadanya. Aku segera paham bahwa payudaranya minta disedot. Payudara Bu Dina masih cukup montok dengan
    pentil yang agak besar.

    Baca JUga Cerita Sex Kado Istimewa

    Bu Dina menggeliat-geliat menikmati cumbuanku. Aku lalu mengoralnya sampai dia orgasme bahkan aku
    membawanya juga G Spot O. Namun Bu Dina masih ingin dilanjutkan dan dia membuka celanaku lalu mengoralku
    sebentar kemudian dia minta aku menyetubuhinya. Aku menggenjotnya, sampai dia mencapai O , tapi dia
    masih minta aku melanjutkan permainan sampai dia kembali mendapat O. Badanku merasa lelah dan aku mulai
    berkosentrasi untuk mencapai O. Menjelang aku O Bu Dina rupanya juga hampir nyampe. Aku sengaja melepas
    ledakan ejakulasiku di dalam vagina bu Dina. Dia memelukku erat sekali dan diciuminya wajahku.

    “Saya puas, dik, biar aku nggak berhasil jadi kurus tapi kamu harus mau melakukan terapi lagi,“ kata Bu
    Dina.

    Bu Dina adalah pelangganku yang menjadi ketergantungan kepadaku. Dia selalu minta diterapi setiap 2
    minggu sekali. Pernah juga aku dimintanya menyusul ke Singapura. Aku diperamnya disana selama 3 malam.

    Berat Bu Dina berhasil juga turun hampir 15 kg dalam 6 bulan. Terapi yang aku lakukan adalah kombinasi
    pijatan dan hipnotis. Tidak hanya soal mengurangi selera makannya, tetapi juga emosinya sekarang lebih
    terkendali.

    “Dik, aku sudah bisa menahan marah, sejak kamu terapi aku kok jadi penyabar ya, dik?” katanya.

    Aku memujinya. Dia kupuji karena mau bekerjasama untuk memperbaiki sifatnya yang negatif. Aku juga
    menenamkan ke dalam benaknya bahwa marah itu adalah perbuatan sia-sia. Aku selalu memberi tantangan
    kepadanya untuk mengembangkan kreatifitas. Maksudnya jika timbul rasa marahnya kepada seseorang, maka
    dia harus mencari cara atau jalan atau kata-kata agar orang yang seharusnya dimarahi karena kesalahannya
    bisa menyadari dan memperbaiki diri .

    “Bu Dina pasti bisa mencari cara lain dari marah,” kataku.

    “Iya, dik, bahkan ada karyawanku yang harusnya aku marahin malah aku kasih uang dan kuajak bicara baik-
    baik, akhirnya dia sekarang jarang berbuat kesalahan, malah loyal sekali kepadaku,” katanya.

    Aku membatin, sumber penyebab kemarahannya sudah cair, yakni keinginan sexnya yang selama ini bertumpuk
    sudah lenyap, karena aku menjadi pelanggan servicenya. Selain itu sugesti yang aku tanamkan di dalam
    alam bawah sadarnya membantu dia berfikir positif dan kreatif.

    Ada lagi pelangganku yang minta aku melakukan terapi di motel-motel. Dia selalu minta janji ketemu di
    pusat-pusat perbelanjaan. Dari situ dia minta aku membawanya ke motel hanya berdua saja.

    Pelangganku yang kupanggil dengan nama Bu Monik ini awalnya juga minta tubuhnya dirampingkan, tetapi
    kemudian berkelanjutan minta diservice lengkap. Dia juga pengusaha kaya yang nafsu sexnya tidak mampu
    diimbangi suaminya. Kalau kuturuti dia maunya aku melakukan terapi setiap minggu.

    Tak terasa, sudah 2 tahun aku malang melintang di dunia terapi . Relasiku di kalangan atas, terutama
    para wanita cukup lumayan. Tidak hanya pengusaha, tetapi juga politisi selebriti dan ibu pejabat. Ada
    juga ibu yang mempunyai jabatan penting di kalangan TNI dan Polri.

    Jujur saja, aku tidak merasa cukup mampu menjadi terapis. Aku juga sebenarnya kurang yakin bahwa titik-
    titik simpul syaraf yang ditekan bisa manjur menyembuhkan berbagai penyakit. Kuperhatikan simpul-simpul
    syaraf itu hanya membantu usaha penyembuhan. Penyembuhan sepenuhnya sebetulnya adalah pada diri orang
    itu. Jika dia mengubah pola hidupnya maka keberhasilannya untuk sembuh lebih besar. Namun jika dia tetap
    dengan pola hidupnya yang lama, maka penyakit yang dikeluhkannya akan tetap menggerogotinya. Teori ini
    tidak bisa diterapkan juga kepada semua orang dan semua penyakit. Akan tetapi sebagian besar memang
    begitu.

    Kesibukanku melayani pelanggan membuatku jadi jenuh. Aku berkeinginan suatu saat bisa berkeliling Eropa
    untuk berlibur. Pada dasarnya aku senang berkelana. Namun menjelajah Eropa jika hanya menikmati dari
    balik jendela rasanya kurang puas. Maksudku di balik jendela itu adalah dari balik jendela hotel, taxi,
    bus, kereta api dan seterusnya. Artinya aku tidak terlibat dengan kehidupan sehari-hari di tempat yang
    kukunjungi. Untuk bisa begitu paling tidak aku harus bisa berkomunikasi dengan bahasa setempat.

    Keinginan itulah yang mendorong aku mengambil kursus bahasa Perancis, Jerman dan Spanyol sambil
    memperdalam pengetahuan bahasa Inggris. Setahun kurasa cukup untuk menguasai sekedar bahasa sehari-hari
    bahasa-bahasa besar dunia itu.

    Awalnya aku ingin berkelana sendiri ke Belanda, Prancis, Jerman dan Spanyol. Namun ketika aku bercerita
    sambil melakukan terapi kepada beberapa pelangganku, mereka malah mau ikut. Jadinya ada 5 orang emak-
    emak kaya raya yang mau ikut berkelana. Mereka malah membiayai semua kebutuhanku. Apalagi mereka
    akhirnya tahu bahwa aku lumayan ngerti bahasa negara-negara yang akan kami kunjungi.Cerita Sex Dewasa

    Berkelana selama 2 minggu ke 4 negara pada musim panas kemudian memang terwujud. Aku jadi tour leader,
    dan memang aku yang mengatur kemana saja tujuan wisata kami. Aku syaratkan kepada ibu-ibu pesertaku agar
    tidak berbelanja oleh-oleh kecuali mau dipakai langsung. Aku tidak mau perjalananku terhambat gara-gara
    soal barang bawaan yang terlalu banyak. Ibu-ibu kalau tidak dibendung, nafsu belanjanya kadang-kadang
    lebih besar dari nafsu sexnya.

    Selama kami tour, kami berenam sudah seperti remaja lagi. Tidak hanya aku harus bergantian setiap malam
    tidur dikamar mereka, Tetapi sering juga kami ngumpul berenam lalu melakukan orgy party. Ibu-ibu itu
    selalu menempati suite room, jadi kamarnya lebih lega. Terbang pun kami selalu di kelas satu.

    Aku rasa soal ini kalau diceritakan bisa terlalu panjang. Namun lain kalilah kuungkap kehidupan 2 minggu
    kami sambil berkeliling Eropa.-

  • Pesta Sex

    Pesta Sex


    21 views

    Memang dulu aku pernah menjadi bintang kelas sewaktu SMP maka dari itu banyak wanita yang naksir
    denganku, diantara wanita wanita lain Bertha yang aku akan ceritakan di bawah ini.

    cerita-sex-dewasa-pesta-sex

    Perkenalkan namaku Hafiz saat ini aku bekerja di perusahaan swasta di Jakarta dan aku termasuk
    eksekutif muda, kemarin aku ada meeting di Surabaya aku ingat bulan ini si Bertha ulangtahun. Secara
    singkat dia mempunyai body yang montok dia tingginya 171 cm.

    Habis meeting aku mencoba menelpon Bertha dia mengundang untuk bermain kerumahnya, langsung saja aku
    cabut kerumahnya sesampainya dirumahnya banyak mobil yang parkir dan disitu sudah ramai sama teman
    temannya, termasuk Danela.

    Acara pesta tersebut berlangsung sampai jam 9 malam. Di pesta tersebut Bertha cerita kepadaku kalau
    minggu depan dia mau menikah terus Danela minggu depannya lagi, lalu Bertha cerita masa-masa dia
    naksir aku terus sampai sekarang dia masih kangen berat. Maklumlah sudah 2 tahunan nggak jumpa.

    Kebetulan waktu itu komputer dia lagi ngadat. Nah kesempatan buatku untuk tinggal lebih lama. Langsung
    saja kucoba membetulkan PC-nya. Sementara di rumahnya tinggal Danela saja yang belum pulang dan orang
    tuanya juga nggak ada.

    Pas sedang asyik mengutak-atik PC-nya, dia menungguku di sampingku dengan sekali-sekali melirikku, aku
    sendiri masih hati-hati mau menembak dia. Eh nggak tahunya si Danela main serobot saja.

    Dari belakang Danela langsung memelukku dan meng-kiss pipiku (Danela nggak beda jauh sama Bertha,
    bedanya mata Bertha kebiru-biruan sedikit dan lebih hitam dari Danela). Punggungku terasa ada benda
    kental yang bikin aku naik.

    Habis itu Danela membisikan kalau dia masih kepingin denganku, terus aku responin juga kalau aku
    kangen juga, terus kulumat saja bibirnya yang mungil kemerah-merahan itu.

    Danela langsung balas dengan penuh nafsu dan tetap memelukku Dari belakang tapi tangannya sudah
    langsung menggerayangi penisku, dalam hati ini anak kepingin di embat nich. Aku lihat Bertha
    disampingku bengong saja dan cemberut merasa kalah duluan.

    Terus Bertha pergi sebentar, aku masa bodoh saja, kutarik si Danela ke pangkuanku dan bibirnya masih
    kulumat habis. Gila! nafsunya besar sekali! Setelah itu kualihkan Dari bibir, kukecup terus ke bawah
    sambil tanganku meraba buah dadanya yang besar dan kenyal.

    Pas kukecup di belahan buah dadanya, Danela berteriak,

    “Sstt…aahh..”

    Dan semakin kencang remasan tangannya yang sudah masuk ke CD-ku, kubuka saja bajunya terus branya
    sekalian. Kelihatan buah dadanya menggantung siap diremas habis. Dengan gemasnya kulumat habis buah
    dadanya sampai dia menggelinjang keenakan,

    “sstt…sstt…aahh…”

    Setelah itu tanganku pindah ke CD-nya yang sudah basah, langsung saja kulepas roknya.

    Dia pun kelihatan bugil tapi masih pakai CD.

    Terus Bertha datang dengan membisikanku bahwa kalau mau meneruskan di dalam kamarnya saja.

    “Sambung di kamar aja yuk…”

    Tanpa pikir lama-lama, langsung saja kugendong Danela sambil buah dadanya terus kuhisap ke dalam kamar
    Bertha.

    Terus aku telentangi Danela di tempat tidur Bertha, aku lihat Danela sudah pasrah menantang, langsung
    saja kubuka CD-nya, ehh ternyata bulu Danela rapi dan kecil-kecil, langsung saja kulepas celanaku sama
    CD-ku sampai aku bugil ria.Cerita Sex Dewasa

    “Wow…”, Terdengar teriakan Bertha kaget melihat penisku sepanjang 22 cm dan gede banget katanya
    sambil ngeloyor pergi meninggalkanku dan Danela.

    Aku tidak peduli lagi sama dia, langsung saja penisku aku arahkan ke vagina Danela, uhh seret banget,
    dan kulihat Danela menggigit bibirnya dan berteriak,
    “Aakkhh…eegghh…”

    Kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan sambil tangannya meremas seprei. Rupanya dia masih Virgin
    sehingga seret sekali memasukannya. Baru kepalanya saja Danela sudah teriak.

    Aku tahan sebentar, terus tiba-tiba langsung saja kusodok lebih keras, Danela langsung saja teriak
    kencang sekali. Masa bodoh, aku teruskan saja sodokanku sampai mentok. Rasanya nikmat banget, penisku
    seperti diremas-remas dan hangat-hangat basah.

    Sambil menarik napas, kulihat kalau Danela sudah agak tenang lagi, tapi rupanya dia meringis menahan
    sakit, kebesaran barangkali yach? Setelah itu aku tarik penisku pelan-pelan dan kelihatan sekali
    vagina Danela ikut ketarik terus kepalanya geleng-geleng ke kiri dan ke kanan sama matanya terpejam-
    pejam keenakan sambil teriak.

    “Sstt…aahh…sshh…egghh…”

    Sampai penisku tinggal kepalanya saja, langsung saja aku sodok lagi ke vaginanya sekeras-kerasnya,
    “Bleesshh…”

    Danela berteriak, “aahh….” Kira-kira 5 menitan vagina Danela terasa seret.

    Setelah itu vaginanya baru terasa licin hingga semakin nikmat buat disodok, semakin lama sodokanku
    semakin kupercepat sampai Danela kelihatan cuma bisa menahan saja. Rupanya Danela kurang agresif.
    Terus kusuruh Danela menggerakan pantatnya ke kiri dan ke kanan sambil mengikuti gerakanku. Baru
    beberapa menit Danela sudah teriak nggak karuan, rupanya dia mau orgasme.Cerita Sex Dewasa

    Makin kupercepat gerakanku, akhirnya Danela berteriak kencang sekali sembari memelukku kencang-
    kencang, lama sekali Danela memelukku sampai akhirnya dia telentang lagi kecapaian tapi penisku masih
    menancap di vaginanya.

    Sekilas kulihat kalau Bertha melihatku sambil menggigit jarinya, terus Bertha mendekati kami berdua
    kemudian bertanya,

    “Bagaimana tadi?” Aku senyum saja sambil penisku masih kutancapkan di vagina Danela, terus Bertha
    duduk di tepi ranjang dan ngobrol kepadaku.

    Aku iseng, kupegang tangan Bertha terus aku remas-remas. Tapi dia tetap diam saja. Setelah itu kutarik
    dia lalu kucium bibirnya yang ranum dan tubuhnya kutelentangi di atas perut Danela tapi penisku masih
    tetap menancap di vagina Danela, tidak ketinggalan kuremas-remas buah dada Bertha sambil matanya
    terpejam menikmati lumatan bibirku dan remasan tanganku.

    Sementara si Danela mencabut penisku lalu pergi ke kamar kecil dan jalannya sempoyongan seperti
    vaginanya ada yang mengganjal. Terus kubuka saja baju Bertha sementara tangannya sudah merangkul
    tengkukku. Setelah itu kujilati saja buah dadanya sambil sekali-kali kuhisap sampai dia menggelinjang
    kegelian.

    Terus kuraba CD-nya. Rupanya sudah basah, nggak ambil peduli langsung saja kulepas seluruh celananya
    sampai Bertha benar-benar bugil. Terus aku suruh Bertha pegang penisku sampai muka dia kelihatan
    kemerahan. Rupanya dia belum pernah merasakan begituan.

    Setelah itu aku perbaiki posisinya biar nikmat buat menyodok vaginanya. Kemudian Bertha bertanya kalau
    dia mau diapakan.

    Aku suruh Bertha pegang penisku lalu kugesek kevaginanya. Dia tercengang mendengar kataku, tapi dia
    tetap melakukan juga. Sambil matanya terpejam, Bertha mulai menggesek penisku kevaginanya, pas
    menyentuh vaginanya, dia kelihatan nyegir sambil mendesah-desah,

    “Aahh…”,

    sementara aku sibuk meremas-remas sambil menjilati buah dadanya yang semakin lama semakin mengeras dan
    kelihatan puting buah dadanya semakin munjung keatas.

    Pelan-pelan kudorong pantatku sampai penisku menempel lebih kencang di mulut vaginanya. Bertha diam
    saja malah semakin keras rintihannya, eh nggak tahunya Danela tiba-tiba saja mendorong pantatku
    sekeras-kerasnya secara langsung penisku kedorong masuk kedalam vagina Bertha sedangkan Bertha
    menjerit keras,

    “aakkh sakit Hafiz, apa-apaan kamu”,

    sambil badan Bertha menggeliat-geliat kesakitan sementara tangannya menahan pinggulku.

    “Tenang Bertha kalau sakitnya hanya sebentar saja kok..”, kata Vivin menenangkan Bertha,

    terus Danela malah mendorong lebih keras lagi sambil menarik tangan Bertha biar tidak menahan gerakan
    pinggulku. Bertha kelihatan menahan sakit sambil menggigit bibirnya. Sampai akhirnya masuk semua
    penisku.

    Bertha kelihatan mulai mengatur nafasnya yang tersengal-sengal selama menahan tadi. Aku biarkan dulu
    beberapa menit sambil mencumbu Bertha biar dia tambah naik sementara Danela yang masih bugil tadi
    melihat saja di samping tempat tidur sambil tertawa centil.

    Tidak lama Bertha sudah mulai dapat naik lagi, malah semakin menggebu saja. Mulai kutarik penisku
    pelan-pelan terus kusodok lalu masuk agak kencangan sedikit, seret sekali.

    Tiba-tiba bell pintu berbunyi lalu Danela mengintip lewat jendela kamar lalu pakai bajunya yang
    panjang sampai lutut terus Danela ngeloyor pergi sambil ngomong,

    “Nyantai saja, terusin biar aku yang nemuin’,

    tahu gitu aku teruskan saja kegiatanku yang sempat terhenti, aku lihat Bertha masih nyengir sambil
    kepalanya geleng kekiri dan kekanan terus pinggulnya digerakan pula mengikuti irama gerakanku. Rupanya
    vaginanya cepat basah dan mampu menelan penisku sampai penuh.

    Sementara tanganku sibuk meremas buah dada Bertha, aku terus menggenjotnya semakin cepat sampai dia
    mendesah-desah lebih keras terus tangannya meraba-raba punggungku lalu tiba-tiba kakinya dilipat ke
    atas pantatku sambil memelukku dan berteriak

    “aagghh…”, kencang sekali hingga gerakanku tertahan dan terasa ada cairan hangat keluar dari
    vaginanya hingga menambah rasa nikmat.

    Rupanya dia orgasme beruntun, setelah pelukan dia mulai kendor. Aku teruskan lagi genjotanku pelan-
    pelan sambil mulai mencumbu dia biar naik lagi. ceritasexdewasa.org Tidak lama dia sudah naik lagi terus aku ambil posisi
    lebih tegak sambil tanganku pegang pinggulnya dan tangannya memuntir-muntir putingku sambil tersenyum
    manis.

    Makin lama gerakanku semakin kupercepat sodokanku, waktu kudorong ke vaginanya aku keras-kerasi lalu
    kulihat Bertha sudah mulai memejamkan matanya dan kepalanya geleng-geleng ke kiri dan ke kanan
    mengikuti irama genjotanku.

    Aku sendiri rupanya sudah mau orgasme, maka aku genjot lebih kencang lagi sampai vaginanya bunyi
    kencang banget, nggak lama aku mau keluar kutarik penisku biar ejakulasi di luar.

    Dia malah menahan pantatku biar nggak ditarik ke luar langsung saja kudorong lagi sembari kupeluk dia
    erat-erat sambil teriak,

    “Aargghh.. eegghh..”,

    kemudian Bertha juga teriak lama sekali, aku ejakulasi di dalam vagina Bertha sampai Bertha gelagapan
    nggak bisa napas, kira-kira semenitan aku dekap Bertha erat-erat sampai aku kehabisan tenaga, terus
    kucabut penisku dan kelihatan maniku sampai keluar dari vaginanya bareng darah perawannya yang sobek
    karena kerasnya serobotan penisku dibantu dorongan Danela yang keras dan tiba-tiba tadi.

    Sementara itu Danela kedengarannya ngobrol sama seorang cewek, rupanya teman Bertha itu ketinggalan
    dompet terus kebetulan Danela juga kenal sama dia, nggak lama kemudian Danela masuk ke kamar terus
    menanyakan aku,

    “Mau kenalan nggak sama temanku?”

    “Masa aku bugil begini mau dikenalin’”, jawabku.

    “Cuek saja, lagian tadi aku sama dia sudah ngintip lu waktu sama Bertha tadi”, jawab Vivin santai.

    Aku bengong saja, terus Danela membisikan sesuatu ke Bertha terus Bertha mengangguk sambil tertawa
    cekikikan terus Bertha membisikan kepadaku supaya aku nanti menurut saja, katanya asyik sich.

    Lalu Danela dan Bertha yang cuma pakai selimut menemui temannya tadi terus diajak masuk sebentar ke
    kamar Bertha sambil matanya ditutup pakai T-shirt Danela. Setelah itu Danela kasih isyarat ke aku biar
    diam saja sambil menuntun Christ (nama temannya tadi) supaya rebahan dulu di tempat tidur.

    Tentu saja Christ bertanya kalau ada apa ini. Lalu Danela bilang kalau entar pasti nikmat dan nikmati
    saja.Cerita Sex Dewasa

    Christ mengangguk saja lalu Danela menyuruh Bertha pegang tangan Christ yang diangkat di atas
    kepalanya dan Danela meraba-raba sekujur badan Christ di dalam bajunya, tentu saja Christ teriak
    kegelian sampai akhirnya mendesah-desah keasyikan.

    lalu Danela pindah posisi dari duduk di atas paha Christ beralih ke samping sambil kasih kode ke aku
    biar aku duduk menggantikan dia sambil tangan Danela dimasukan ke dalam bra punya Christ, aku menurut
    saja sambil mulai mengikuti Danela meraba-raba tubuh seksi Christ, sementara Christ kaget dan mulai
    meronta-ronta nggak mau diteruskan.

    Aku yang sudah tanggung begitu langsung saja turun lalu menarik kaki Christ supaya posisi pantatnya
    pas di sudut tempat tidur kelihatan Bertha mengikuti dan tetap memegang tangan Christ yang sudah mulai
    meronta dan berteriak-teriak

    “Jangan…”,

    lalu Danela menutup mulut Christ dan melumat bibirnya sembari kasih kode ke aku biar diteruskan saja,
    langsung kubuka ritsluiting celananya dan kelihatan pahanya yang putih dan bentuk kakinya yang seksi
    membuat aku cepat naik, waktu aku mau peloroti CD-nya, Christ malah meronta-ronta sambil kakinya
    menendang-nendang hingga aku kesulitan.

    Aku jepit kakinya dengan pahaku lalu CD-nya aku tarik paksa sampai di bawah lututnya terus aku berdiri
    sedikit buat melepas CD-nya tadi habis itu aku kangkangi pahanya sembari aku arahkan penisku yang
    sudah tegang berat ke vagina Christ yang ada di sudut tempat tidur itu.

    Setelah kepala penisku menyentuh mulut vaginanya, aku pegangi pinggulnya biar Christ agak diam nggak
    meronta-ronta supaya aku bisa menyodok dengan mantap, gerakan pinggul Christ sudah dapat aku tahan
    lalu aku cepat-cepat menyodok penisku sekeras-kerasnya ke vaginanya.

    Sesaat kelihatan gerakan Christ yang berontak tertahan selama aku dorong masuk penisku tadi sampai
    mentok, seret banget dan masih agak licin, aku lihat Danela masih melumat bibir Christ sementara
    Bertha melihat penisku yang sudah menancap 3/4 saja di vagina Christ tadi.

    Setelah aku diamkan beberapa saat, aku tarik lagi penisku lalu kudorong masuk lagi sementara Christ
    kembali meronta-ronta menambah nikmatnya goyangan liarnya, lama-lama Christ mulai melemah rontanya dan
    mulai kedengaran desahan Christ, nggak tahunya Danela sudah nggak melumat bibirnya tadi.

    Mendengar desahan dan rintihannya itu bikin aku semakin ganas, tanganku mulai meraba ke atas dibalik
    T-shirtnya sampai menyentuh buah dadanya yang masih terbungkus bra.

    Lalu aku singkap bajunya ke atas terus Danela membantu membukakan bra Christ tadi sementara Bertha
    sudah melepaskan pegangan tangannya dan Bertha mengambil guling lalu memeluk guling itu sambil
    menggigit bibirnya sambil terus melihatku yang lagi ngerjain Christ dengan ganas.

    Baca Juga Cerita Seks Ibu Sekdes

    Lalu Danela ke kamar mandi sementara aku semakin percepat gerakanku yang semakin keras sambil
    kuremas-remas dan kujilati puting buah dadanya yang sudah merah merona serta desahan dan rintihan
    Christ yang menambah nafsuku.

    Rupanya rontaan Christ yang liar membuatku semakin cepat keluar, baru 5 menitan aku sudah nggak tahan
    lagi, aku dorong keras-keras sambil kupeluk Christ sekencang-kencangnya sampai Christ nggak bisa nafas
    tapi masih tetap menggoyang pinggulnya.

    Aku ejakulasi 30 detik lamanya kemudian Christ gantian mendekapku sambil menggigit telingaku sembari
    melenguh menahan kenikmatan yang baru dia rasakan, sementara penisku yang masih di dalam vagina Christ
    terasa hangat karena cairan yang keluar dari vaginanya tadi.

    Christ orgasme sampai 15 detik lalu aku terkulai lemas di samping tubuh Christ lalu Danela kembali ke
    tempat tidur lagi dan kami berempat pun terdiam tanpa ada yang berbicara sampai tertidur semuanya.

  • KETAGIHAN THREESOME

    KETAGIHAN THREESOME


    232 views

    KETAGIHAN THREESOME (KISAH NYATA)

    Ini adalah kisah nyata yang kualami di usia menginjak kepala 4 yang katanya masa puber kedua. Memang sesuatu yang tidak layak untuk kulakukan, namun justru aku terjerat oleh kenikmatan dunia ini. Semua yang kuceritakan disini 90% kisah nyataku, 10% adalah kamuflase nama pelaku dan sedikit bumbu penyedap rasa. Cara penulisanku harap dimaklumi karena bukan seorang writer professional.

    Aku seorang top manager di perusahaan agribisnis khususnya di bidang marketing, perusahaanku memiliki beberapa cabang di kota-kota besar dan aku sering melakukan perjalanan dinas untuk mengontrol para kepala cabang yang ada dan aku seorang Chinese, menurut teman SMA aku lumayan awet mudan dan masih cukup gantneg, dengan tinggi yang lumayan tetapi badan tidak gendut bahkan tergolong slim walaupun tidak kurus kering hehehe.

    Semua ini berawal dari kegiatan browsing internet, khususnya di forum-forum dewasa dimana aku menjadi salah satu membernya. Ternyata banyak sekali variasi seks yang bisa kita lakukan sebagai pasangan suami istri terutama saat hubungan menjadi sedikit hambar. Apalagi di usiaku sekarang. Salah satu yang sering kubaca dan dapat menaikkan tensi syahwatku adalah dunia threesome, yaitu kegiatan seks bertiga dengan melibatkan seorang wanita FFM atau dengan seorang lelaki MMF saat kita melakukan hubungan seks sebagai pasutri.

    Saat aku membaca FR dari rekan-rekan pasutri yang sudah terlebih dulu terjun ke dunia 3S ini, ternyata hubungan mereka semakin membara, semakin hangat dan membangkitkan kejenuhan. Satu persatu mulai kubaca dan semakin lama gairah ini mulai timbul, hasrat untuk mencoba mulai membuncah.

    Mulailah aku mencoba mengutarakan keinginan ini kepada istriku, memang sangat berat rasanya, mulut rasanya tertutup dan tenggorokan terkunci. Ternyata untuk mengutarakan hal ini, paling pas saat kita melakukan hubungan seks, dimana hormone seksual kita berdua meningkat, mulailah aku utarakan dan ternyata benar, rasanya setiap wanita atau istri hamper pasti mempunyai keinginan untuk berhubungan seks dengan orang lain. Saat aku bertanya dan aku minta dijawab dengan jujur, sambil terus kupompa vagina istriku, dan jawabannya memang luar biasa Ya, akum au, aku ingin. Dan kita berdua semakin bernafsu, semakin becek dan aku semakin tegang dan membesar kontolku. Semakin cepat juga kugoyang dan akhirnya mempercepat ejakulasiku. Tetapi yang menyedihkan, di saat selesai bersenggama dan kutanyakan lagi, kapan bisa direalisasikan, jawabannya sungguh sangat bertolak belakang. No, No dan No, hahahaha …. Wanita oh wanita ….

    Berulang kali persenggamaan kami terjadi, berulang kali pula diskusi terjadi, hasilnyapun tetap sama sampai hari ini. Akhirnya aku merasa putus asa dan mulai mencoba kulupakan fantasy threesome ini. Namun aku tetap mengikuti forum-forum ini dan sedikit memberikan komentar, kadang secara iseng aku memberikan komentar kepada pasutri yang lagi mencari partner baru, ada yang newbie dan pengen memulai dengan sensual massage, akupun menawarkan diri karena aku merasa bisa teknik sensual massage, biasanya juga aku lakukan ke istriku tercinta dan hasilnya luar biasa. Ada pula yang sudah berpengalaman dan mereka mencari partner baru, aku juga berusaha menawarkan diri walaupun tidak secara serius, karena yang aku inginkan adalah mengundang lelaki lain untuk menjadi partner kami, bukan aku yang menjadi partner pasutri lain. Dan memang tidak ada yang tertarik dengan orang sesusiaku ini, kebanyakan para pasutri penggemar 3S lebih mengutamakan stamina pria muda.

    Suatu saat ada private message dari seorang member dengan ID cewek yang masuk ke inboxku,

    Mas, bisa massage ? kemudian aku jawab Bisa.

    Ada pin BB ? demikian juga aku balas dengan memberikan pin BB ku

    Akhirnya obrolan berlanjut melalui blackberry messenger. Dan ternyata yang inbox adalah seorang pria yang memakai ID wanita, dan dia sedang mencari kandidat partner 3S buat istrinya. Namun mereka baru pertama kali ingin mencoba melakukan 3S, yaitu dengan melakukan sensual massage buat sang istri. Obrolan terus berlanjut sampai beberapa hari, kami melakukan tukar menukar foto, termasuk foto rudak tempurku dan beberapa batasan-batasan yang tidak diperbolehkan. Akhirnya kami sepakati tanggal pelaksanaan di kota mereka, yaitu Ibukota Jakarta. Dan aku yang harus terbang ke sana, akhirnya aku sinkronkan dengan jadwal meetingku dengan rekanan di Jakarta.

    Hari yang kami sepakati tiba dan aku sudah menginap di hotel langgananku di bilangan Pangeran Jayakarta, member disini aku rasa pasti pernah kesana karena hotel ini memiliki Spa dengan berbagai variasi menu. Seharian setelah bekerja, akupun cepat-cepat kembali ke hotel, mempersiapkan moment penting dalam hidupku, walaupun tidak ada jaminan untuk melakukan penetrasi jika sang istri keberatan.

    Setelah mempersiapkan diri, aku mulai menunggu sambil chat dengan sang suami untuk menginformasikan posisi hotelku. Cukup lama aku menunggu di kamar, ternyata mereka sangat terlambat, maklum Jakarta. Perutku sudah sangat keroncongan, akhirnya aku turun menuju restorant untuk memesan sepiring nasi goring, saat aku makan mereka baru tiba, telat sekitar 1.5 jam dari waktu yang disepakati.

    Sambil makan aku ngonrol dengan mereka, pasangan yang baru kukenal sambil mengenal lebih jauh, suami ternyata tidak terlalu tinggi bahkan boleh aku katakana pendek untuk ukuran lelaki, istri juga begitu aku nilai cukup cantic walaupun badannya kurus dan aku taksir ukuran dadanya tidak lebih dari 32B, tocil, toket kecil sebenarnya bukan seleraku. Sekalian mereka aku ajak makan, sambil ngobrol dan kadang suami meninggalkan kami berdua, memberikan kesempatan kepada kami untuk lebih dekat. Dan aku Tanya ke isrinya, apakah kamu sudah siap berbagi dan apakah aku cocok dengan seleramu ? kalau tidak sesuai tidak masalah, kita bisa ngobrol disini saja, tidak ada salahnya menjalin pertemanan. Tapi ternyata sang istri dengan malu-malu pengen mencoba juga tapi dengan sensual massage terlebih dahulu, Akupun juga katakana sama mereka, jika nanti di tengah jalan kalian merasa tidak nyaman atau sang suami tidak rela melihat istrinya digarap pria lain, silakan diinfo, aku tidak keberatan untuk menghentikannya.

    Beriutnya kami bertiga kembali ke kamarku, sang istri masuk ke kamar mandi untuk melepas sebagian pakaiannya dan keluar mengenakan handuk, aku lihat tali BH masih ada di pundaknya berarti dia masih belum melepasnya dan aku yakin, CD juga belum dilepas.

    Aku persilahkan istri untuk tiduran tengkurap, suami duduk di kursi yang cukup dekat dengan tempat tidur, aku Tanya ke mereka, apakah sudah bisa dimulai ? eh malah mereka saling bertanya dan akhirnya kita semua tertawa.

    Mulailah pemijatan dari ujung kaki, aku gunakan hand body yang biasa aku bawa. Perlahan lahan dan dengan tekanan yang sedang aku mulai pijatanku dari betis dan naik ke paha, Suami bertanya ke istrinya, Ma, gimana ? enak ?

    “Enak Pa, ternyata Koko memang bisa pijet, beneran enak seperti tukang pijet beneran” jawab istrinya

    Berarti si istri sudah mulai nyaman, naiklah pijatanku ke arah paha dan pantat, tangan nakalku mulai bergerilya di paha bagian dalam. Kuminta ijin untuk membuka handuk yang membelit, ternyata benar CD nya masih dipake, CD polkadot hitam putih. Bisa kulihat dengan jelas, pantatnya elatif kecil sehinggan diremas kurang mantap krn tidak berisi juga. Tetapi aku professional, kukerjakan tugasku dengan sepenh hati. Mulailah kusenggol bibir vaginanya, kuolesi dengan hand body agak banyak seupaya memperlicik dan mempergeli usapan tanganku. Semakin lama pantatnya digerak-gerakan sendiri dan tangan sang istri meremas kain sprei. Tanpa meminta ijin, langsung kubuka celana dalamnya, hanya saat aku mulai mengexplore vagina istrinya, aku meminta ijin dengan isyarat ke suaminya, dia cuman mengacungkan jempolnya saja. Artinya setuju dan mulai ku obok-obok tempiknya. Erangan dari mulut istri mulai mengeras tanpa malu, pantatnya semakin sering diangkat dan kurasakan jari jemariku mulai lengket dengan cairan pelumas vagina. Saat mendekati puncaknya, aku beralih memiijat pinggang dan punggungnya, jelas terlihat kekecewaan sang istri. Kubuka kaitan BHnya dan mulai kupijat dari sisi samping tubuhnya dan sedikit masuk ke susunya, makin lama makin kusenggol tepian ke arah dalam dan akhirnya kusentuh putingnya, susunya kecil, benar dugaanku. Mulailah kubuat mainan putingnya, gairah istri meningkat kembali, tangan kiriku memainkan susunya, tangan kananku kembali ke vaginannya untuk mengobok-obok lagi, dan tiba-tiba istrinya membalikkan diri dan melucuti celana dalamku dan mulai mengoral kontolku dengan demikian ganasnya, kulihat suaminya mukanya merah padam sambil mulutnya mengangga, seakan tidak percaya istrinya berbuat seperti itu. Si itri sudah tidak memperdulikan lagi, terus mengoral kontolku dengan rakusnya, tiba-tiba juga dia bilang sama suaminya, “Pa aku mau kontolnya koko ngentot aku ya ? boleh ya Pa, please aku ga tahan Pa” akupun merasa ga enak dan menoleh ke arah suaminya, lagi-lagi si suami hanya memberikan isyarat tangan untuk terus melanjutkan. Tanpa menunggu lama kontolku udah menancap di vagina sang istri, dengan posisi doggy style. Terus kugenjot dan goyangannya semakin liar, aku tusuk ke depan, pantatya selalu bergoyang ke belakang, suara tepukan pantatnya dan pahaku semakin lama semakin keras dan semakin cepat hingga suatu saat dia berhenti dan berteriak cukup kencang aaaaaaaahhhhhhhhh. Sambil memberhentikan goyangannya. Akhirnya dia berbaring sejenak dan aku mulai menaikinya dengan posisi misionari, kembali kugenjot sambil kepermaikan putin susunya yang semakin meruncing, tanda nafsunya masih tinggi. Makin lama makin becek sekali dan terasa sangat longgar. Akhirnya aku ambil tissue dank u lap bersih lendir di permukaan vagina dan kontolku. Kuganti posisi WOT, dia mulai diatas dan bergoyang pelan-pelan dan semakin lama semakin cepat, disinilah pria bisa melihat jam terbang wanita saat dia di posisi WOT, bagaimana goyangan yang dilakukan dan aku merasa kontolku dipilin-pilin, enaaaak sekali. Kemudian dia putar-putar, ganti sodok keras, pelan dan keras lagi, wah bener-bener melayang dan akhirnya aku ga tahan, muntahlah cairan kenikmatan dari kontolku. Kami berdua cukup lemas, tak terasa 30 menit kami sudah bergumul.

    Aku lihat suami sudah naik juga tensinya, dia melepas celananya dan meminta istrinya mengoral dan berganti dia mengoral istrinya tanpa meras jijik karena masih ada sedikit sisa air maniku di vagina istrinya walaupun sudah dibersihkan dengan tisu. Mulailah mereka bermain, aku hanya sebagai penonton, kulihat betapa semangat dan bernafsunya si suami, dia genjot dengan posisi diatas, aku membantu memainkan putting sang istri. Ga beberapa lama muncratlah lahar panas dari kontol suaminya.

    Setelah itu kami bertiga ngobrol membahas apa yang barusan terjadi. Aku tanya bagaimana rasanya, istri di entot orang lain. Awalnya memang sangat cemburu dan tidak bisa menerima, apalagi tadi istrinya yang memulai lebih dulu. Ada perasaan lain yang ga bisa dia gambarkan dimana dia sangat bergairah sekali lain dari biasanya. Dan ternyata memang luar biasa.

    Kemudian aku bertanya ke istrinya, rasanya memang aneh dan gila, masak suamiku mengijinkan bahkan menyuruhku untuk ngentot dengan orang lain, awalnya memang aku menolaknya, walaupun sebenarnya aku juga pengen mencoba bagaiman rasanya kontol lain menerobos memekku. Karena dia terus merayu, ya udahlah apa salahnya dicoba.

    Terus ……

    Ya aku dikasih tau kalau Koko kandidatnya dan dia sudah buat janji sendiri, akhirnya sampailah aku di kamar ini dan barusan yang terjadi sungguh luar biasa, enaknya minta ampun. Aku bisa sebinal itu, sungguh malu sebenarnya tapi enak banget. Apalagi Kontol koko panjang sekali rasanya mentok tok.

    Akhirnya mereka pulang dan tidak lupa meningatkan jika kembali ke Jakarta lagi, harus kontak mereka untuk mengulangi 3S ini.

    Sampai saat ini aku tidak tau nama sang istri, hanya nama suaminya saja. Akhirnya terbalik apa yang kuingikan tidak kesampaian tetapi judulnya tetap sama Threesome. Berikutnya akan aku tulis kembali cerita 3S kedua, ketiga dan beberapa kali lagi sampai saat ini tidak berhenti.

  • Rame – Rame

    Rame – Rame


    20 views

    Peristiwa ini terjadi kira kira sudah 2 tahun yang lalu pertengahan bulan september 2013 yaitu ketika
    2 pasangan sedang berlibur kepuncak saat itu liburan sekolah aku mengajak pacarku silvi dan temanku
    eros mengajak pacarnya namanya lisa.

    cerita-sex-dewasa-rame-rame

    Kalau dibandingkan antara Silvi dan Lisa keduanya sama-sama menggairahkan. Silvi orangnya tomboy
    sedang Lisa sangat manis, kalau payudaranya lebih besar punya Silvi. Kita berempat masing-masing sudah
    bertunangan dan rencananya akan menikah bersamaan. Karena kita sudah sangat akrab satu dengan lainnya.

    Singkat cerita kami berangkat dengan mobil sesampainya di Puncak kami menginap di Villaku. Kami
    beristirahat sebentar lalu malamnya kami berputar-putar mencari angin. Di dalam mobil Eros berpelukan
    dengan Lisa di belakang.

    “kamu kok sudah nggak sabar sih kan malam masih panjang” kataku.

    “Habis dingin banget nih” jawabnya. Dengan kaca spionku aku dapat melihat dengan jelas mereka
    berciuman dan tangan Eros bergerilya di sekitar dada Lisa, wah tegang aku jadinya melihat mereka dan
    Lisa tampak sangat cantik malam ini.

    “San kalau kamu gitu aku jadi nggak tahan lho..” kata Silvi.

    “Kamu duduk belakang sekalian aja”, jawab Lisa.

    “Edan keenakan Eros dong”, jawabku.

    “Nggak apa-apa to Ric kan sama temen kok dianggap sama orang lain”, jawab Eros.

    “Boleh khan yang”, tanya Silvi.

    “Terserah kamu aja jika pingin nyoba sana pindah” jawabku, lalu Silvi langsung pindah ke belakang.
    Eros jadi duduk di tengah, dia mencium Silvi dan Lisa bergantian.

    “Nanti sesampai di Villa ganti aku nyoba Lisa ya..”, tanyaku.

    “Boleh”, sahut mereka serempak.Cerita Sex Dewasa

    Karena sudah tidak tahan aku putar mobilku dan langsung kembali ke villa. Aku langsung rangkul Lisa
    dan aku ciumi, aku lakukan itu di ruang tengah, sedang Silvi dan Eros nonton TV.

    “yuk kita main berempat di kamar aja” ajak Eros.

    “OK, aku dan Lisa sih pasti mau-mau aja cuman Silvi apa mau jika kamu ikut? sebab kamu kan jelek,
    gantengan aku?”.

    “Ngejek ya aku sih malah takut jika Silvi nanti ketagihan sama pelerku”.

    Lalu kami berempat mulai masuk ke kamar utama. Kami berempat lalu telanjang bulat.

    Pertama-tama kami ciuman aku dengan Lisa sedang Silvi dengan Eros. Kita sih sudah sering melakukan
    hubungan seks tapi kalau berganti pasangan dan main secara bersama sih baru kali ini.

    Aku lirik si Silvi dia sudah mulai mengisap penis Eros, sedang Eros merem-melek keenakan. Aku sedang
    mainin clitoris Lisa dengan lidahku dia sangat terangsang kelihatannya.

    Lalu aku ganti diisep oleh Lisa. Kalau isapannya sih enakan isapan Silvi, si Lisa kurang pengalaman
    kali.

    “Mari kita main bareng”, ajakku.

    Baca Juga Cerita Sek Hadiah Ultah

    Lalu kita berempat tiduran di karpet si Lisa mengisap penisku dan aku mainin vagina Silvi dengan
    mulutku, sedang Eros diisap Silvi dan Eros mainin vagina Lisa. Kami main posisi begitu dengan
    berganti-ganti pasangan.

    Setelah puas aku main dengan lisa, vaginanya aku masukin penisku, penisku lebih besar dari punya Eros
    cuman kalah panjang. Vaginanya sih lebih nikmat punya Lisa sebab lebih kecil ukurannya dan tidak
    terlalu becek jadi lebih nikmat rasanya.

    Kami main berganti posisi dan juga berganti pasangan. Setelah puas aku dan Eros keluarin di mulut
    pacar masing-masing. Dan malam itu aku tidur dengan Lisa dan Silvi tidur dengan Eros.

  • Threesome Istriku dengan Laki-laki lain

    Threesome Istriku dengan Laki-laki lain


    144 views

    Threesome Istriku dengan Laki-laki lain

    Saya sekeluarga pernah tinggal di luar negeri selama 17 tahun dan sekarang kami sudah kembali ke Jakarta dan mempunyai tiga orang anak. Di bawah adalah cerita dari pengalaman seks saya dan istri saya dan ini benar-benar terjadi.

    Perkawinan kita bisa dibilang sangat bahagia demikian juga dengan kehidupan seks kami. Kita berdua sangat menyukai dan menikmati hubungan seks. Sampai saat ini pun kami masih menikmati dan menyenanginya. Keinginan untuk mencoba hubungan seks selain dengan pasangan sendiri selalu muncul dalam pembicaraan kita berdua. Dan bilamana itu dilakukan ketika kita sedang senggama, akan menambah gairah dan semangat. Kita sering membayangkan bagaimana enaknya bila kita disenggama atau senggama dengan orang lain. Oh iya perkenalkan nama saya Edo dan istri saya SANTI.
    Pada satu hari SANTI pulang dari jalan-jalan dan mengatakan bahwa dia ketemu dengan pria mix China Amerika yang sangat seksi. Saya memberanikan diri menanyakan apa dia tertarik dan ingin berhubungan badan dengan pria itu. Dia menjawab tentu mau dong.
    Akhirnya dia berhasil mengajak si pria tersebut ke rumah ketika saya sedang tugas keluar negeri. Saya sering bertugas keluar negeri untuk beberapa hari. Pada saat saya sampai di tempat tujuan saya, langsung saya telepon ke rumah dan menanyakan tentang rencana dia. Ceritanya nanti malam si pria akan datang sekitar jam 8 malam.
    Semalaman di hotel saya terpaksa bermain sendiri sampai keluar beberapa kali. Besoknya waktu saya sampai di rumah, langsung saya tanya tentang pria itu. Namanya Derrick. Kebetulan anak saya sedang tidur siang. Penis saya pada saat itu sudah sangat keras dan ingin cepat-cepat dimasukkan ke vaginanya.
    Derrick datang sekitar jam 9 malam, anak lelaki kita sudah tidur. Mereka mengobrol di ruang tamu dan mulai saling meraba badan masing-masing. Derrick mulai mencium dan meremas payudara SANTI. Vagina SANTI sudah mulai basah dan terasa di celana dalamnya. SANTI menganjurkan pindah ke kamar tidur untuk lebih nyaman. Sesampainya di kamar, Derrick melepaskan baju SANTI dan bajunya sendiri. SANTI bilang bahwa badan Derrick berbau harum bayi, terlebih lebih di sekitar penisnya. Yang sangat disayangkan oleh SANTI adalah ukuran penis Derrick. Langsung saja oleh SANTI penis Derrick dihisap agar menjadi keras dan besar. Tetapi penisnya tetap saja kecil.
    Derrick mulai mencium payudara dan badan SANTI dan turun ke bawah ke paha, SANTI mengharapkan bahwa Derrick akan menjilat vagina dan kelentitnya. Tetapi Derrick ternyata hanya lewat saja. Kebetulan pada saat itu SANTI memakai pembalut wanita karena dia baru saja selesai mens, tetapi vaginanya sudah bersih. Hanya saja Derrick mungkin merasa jijik. Derrick kemudian naik ke atas dan mencoba memasukkan penisnya yang kecil ke vagina istriku. Sangat sulit untuk Derrick memasukkan penisnya karena ukuran yang kecil dan vagina SANTI yang sudah terlalu basah karena rangsangan dari dia.
    Setelah berhasil memasukkan penisnya ke dalam, dia hanya bisa mempompa beberapa kali sebelum akhirnya mengeluarkan penisnya dari vagina SANTI. Ia bilang mau ke kamar kecil dan akan kembali secepatnya. Pengalaman SANTI dengan Derrick ternyata tidak memuaskan dan dia belum sampai orgasme kemarin. Penis saya pada saat itu sudah sangat keras. Langsung saja saya memasukkan penisku ke vaginanya yang telah basah dan siap untuk disetubuhi. Tidak lama untuk membuat kita berdua keluar bersamaan. Walaupun penis Derrick kecil tapi pengalaman tersebut cukup untuk membuat kita berdua terangsang sebelum bersenggama.
    Satu bulan setelah berhubungan badan dengan Derrick, pada satu malam kita berdua sedang mendengarkan radio kesukaan kita, SANTI mengatakan bahwa suara penyiar laki-laki sangat seksi. Saya bertanya apa yang akan dia lakukan? Tanpa mengatakan apapun juga, dia menghubungi stasiun radio dan berbicara dengan penyiar yang namanya Rick. Saya tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Tapi yang saya bisa lihat adalah SANTI sering sekali melipat pahanya.
    Setelah selesai berbicara, SANTI mendatangiku sambil berkata, Rick akan datang kira-kira 15 menit lagi. Saya merasa panik dan sangat terangsang. Sambil menunggu Rick datang, kita mulai memegang alat vital dan berciuman. Pikiran saya pada saat itu sangat bingung dan ada rasa cemburu. SANTI akan bermain cinta di depan mata saya.
    Tidak lama kemudian pintu diketuk dari luar. Saya bersembunyi di kamar anakku, dimana saya masih bisa melihat ke ruang tamu. Mereka berdua duduk di ruang makan dan saya hanya bisa mendengar suara mereka berbicara. Tidak lama kemudian mereka pindah ke ruang tamu dan duduk di sofa. Rick memeluk SANTI dan mulai menciumnya, pada saat bersaman tangannya bermain dengan payudara SANTI. Mata SANTI terpejam dan terlihat sangat menikmati apa yang dilakukan oleh Rick. Tangan SANTI mulai menggerayangi badan Rick dan mengelus-elus. Rick membuka baju atas SANTI dan mulai menghisap pentil payudara sambil memeras payudara yang lainnya. SANTI memeluk Rick dengan keras dan mulai memegang kepala dan mendorong ke arah payudaranya dengan lebih keras. Terdengar dia mendesah dan merintih-rintih kenikmatan.
    Tidak lama kemudian mereka berdua berjalan ke ruang tidur kita, sambil melihat kepadaku dan terseyum. Rick berbaring sambil menghisap payudara SANTI seperti anak bayi sedang menyusu. Setiap kali Rick ingin memegang vaginanya SANTI mendorong dan tidak mengijinkan Rick memegang vaginanya. Tangan SANTI terlihat menuju ke celana Rick yang pada saat itu memakai celana pendek. Tangannya langsung masuk dan terlihat meremas-remas penis Rick. Matanya tertutup dan menikmati hisapan Rick. SANTI kemudian melepaskan kancing celana Rick dan menurunkan celana ke bawah. Penis Rick dengan sendirinya keluar dan ukuran penisnya sangat besar, kira kira 13 inchi. Dengan diameter 3 inchi. Tangan SANTI terus meloco penis Rick dan semakin besar saja.
    Rick berusaha untuk memegang vaginanya tapi selalu disorong jauh. SANTI terus turun dan menjilat sambil mengulum penis Rick. Awalnya terlihat sangat sulit untuk dia memasukkan ke dalam mulutnya yang kecil. Penis Rick terlalu besar. Tapi dia berhasil juga mengulum walaupun tidak seluruhnya.
    Tidak lama kemudian Rick menarik SANTI ke atas dan menciumnya, tangan SANTI tidak berhenti mengocok penis Rick dan akhirnya sperma Rick keluar juga membasahi tempat tidur kita. Setelah itu Rick berpakaian dan pulang. Setelah dia pulang saya keluar dan mencium SANTI, terasa asin dan bau penis tetapi saya sudah terlalu terangsang untuk memikirkan lainnya. Saya memegang vaginanya dan basah sekali sampai licin sekali. Dia langsung menghisap penis saya dan menempatkan vaginanya ke mulut saya. Rasanya sangat nikmat menjilat vagina yang basah dan licin. Saya membayangkan bahwa hampir saja vagina ini dimasukin oleh penis yang sangat besar. SANTI mengatakan bahwa dia sebenarnya kaget juga melihat penis Rick yang sangat besar itu.
    Tiga hari kemudian, Rick menelepon ketika saya ada di rumah kira-kira jam satu siang. SANTI bilang kalau Rick mau datang ke rumah sebentar lagi dan dia minta ijin. Saya bilang silakan saja. SANTI bilang bahwa Rick akan datang kira-kira setengah jam lagi. Anak saya sedang tidur dan buru-buru kami siapkan kasur di ruang tamu untuk dipergunakan oleh mereka, ini agar saya bisa lihat dengan jelas apa yang dilakukan oleh mereka berdua. Cd-nya saya lepaskan dan segera menjilat vagina SANTI. Dia sudah siap dan sangat basah karena siang ini dia akan mainkan oleh penis yang begitu besar. Penisku dijilat dengan sangat rakus. SANTI sangat pintar menghisap penis dan membuat laki-laki kenikmatan. Saya lalu memasukkan penis saya ke vaginanya dan mulai memompa. Vaginanya membuat suara yang sangat seksi. Bell rumah berbunyi dan saya buru-buru melepaskan penis saya dari vaginanya, dan bersembunyi di belakang pintu. Dari balik pintu saya bisa melihat kasur dengan jelas.
    Rick masuk dan langsung duduk di kasur. SANTI menjelaskan bahwa dia baru saja tidur dengan anak kita dan sekarang sudah dipindahkan ke kamar. Tentu suatu kebohongan yang sangat membantu. Rick tidak membuang waktu segera dia mencium SANTI dan meraba-raba badannya. Payudaranya diremas-remas dan baju disingkap, puting payudara sudah keras dan siap untuk dihisap. Baju SANTI dilepas dan langsung putingnya dihisap oleh Rick. Mata SANTI merem-melek kenikmatan. Kepalanya goyang ke kiri-kanan dan dia mendesah-desah yang cukup keras.
    Tangan Rick turun ke bawah dan melepaskan rok mini SANTI. Terlihat di CD-nya basah mungkin karena tadi dia sudah saya persiapkan. Tangannya menyingkapkan CD ke samping dan mulai bermain dengan kelentit SANTI. Jari lainnya mulai keluar masuk ke dalam vagina SANTI dan SANTI menggoyangkan pantatnya mengikuti jari Rick. CD SANTI dilepas agar dia dapat memegang dengan mudah, mulutnya langsung menjilat kelentit SANTI dan terdengar erangan yang sangat keras dari mulut SANTI. Rambut Rick diremas dan kepalanya ditekan ke vagina. Kedua kaki diangkat ke atas sehingga Rick mendapatkan pandangan yang jelas dari vagina SANTI. Tangan SANTI kemudian memegang penis Rick dan mulai meremas-remasnya. Rick memutar dan memasukkan penisnya ke mulut SANTI. Saya di dalam kamar bermain sendiri dan hampir keluar. Penis Rick masih lemas sehingga mudah masuk ke dalam mulut SANTI. Perlahan-lahan penisnya menjadi besar dan dia memompa penisnya ke dalam mulut SANTI.
    Rick kemudian berjongkok dan menempatkan dirinya di atas SANTI dengan penisnya digosok-gosokkan ke vagina SANTI. Pantat SANTI diangkat ke atas dan pahanya dibuka selebar-lebarnya. Terlihat vagina SANTI merekah, setelah menggosok untuk beberapa saat, Rick mencoba memasukkan penisnya ke lubang vagina SANTI. Saya khawatir kalau-kalau penisnya terlalu besar dan akan menyakitkan SANTI. Rick menekan perlahan-lahan dan mengeluarkan lagi. SANTI mengangkat pantatnya ingin memasukkan penisnya sekaligus. Saya rasa Rick berhati-hati agar tidak menyakiti SANTI. Pelan-pelan penis Rick masuk ke dalam vagina SANTI dan terlihat vagina SANTI menjadi sangat besar dan lebar. Kelihatannya Rick sulit untuk memasukkan seluruh penisnya ke dalam vagina SANTI karena penisnya tidak sekeras kemarin. SANTI terlihat menikmati penis Rick dan mengerang sangat keras, sampai-sampai aku takut membangunkan anak dan tetangga. Kemudian Rick mencabut penisnya yang basah oleh lendir SANTI dan dia sendiri dan memasukkan ke mulut SANTI. Rick meminta SANTI untuk menghisap penisnya.
    Saya tidak percaya bahwa Rick melakukan hal demikian, selama ini SANTI tidak mau menghisap penisku setelah masuk ke dalam vaginanya. SANTI dengan tenang menghisap penis Rick dan menjilatnya bersih. Ini adalah pertama kalinya dia menjilat cairan vaginanya sendiri. Memang vagina SANTI tidak bau sama sekali, dia sangat menjaga kebersihan vaginanya.
    Penis Rick menjadi keras dan dia melepaskan dari mulut SANTI dan memasukkan kembali ke vagina SANTI. Kali ini penisnya masuk dengan mudah ke dalam vagina SANTI. Seluruh penis hilang ke dalam vagina SANTI, saya tidak percaya bahwa dia bisa menerima penis sebesar itu. SANTI bergerak dengan keras mendorong pantatnya ke atas setiap kali Rick menekan penisnya. Terlihat dia sangat menikmati penis Rick. Kakinya melingkar di pinggang Rick. Dari kamar saya bisa melihat dengan jelas penis Rick keluar masuk vagina SANTI. Pemandangan yang sangat seksi.
    SANTI mengerang dengan keras, saya yakin bukan karena sakit tetapi karena kenikmatan. Mereka berguling-guling di atas kasur tanpa melepaskan penis dari vagina SANTI. Sepertinya ini adalah pertama kali Rick memasukan ke vagina yang kecil dan ketat. Rick mencabut penisnya dan mengangkat SANTI ke atas dan memakan vaginanya. SANTI memutar badannya dan menghisap penis Rick yang berlumuran dengan cairan dari penis dan vaginanya sendiri. SANTI kemudian memutar badannya dan memegang penis Rick dan memasukkan ke dalam vaginanya lagi. Sekarang SANTI berada di atas Rick.
    Tangan Rick terlihat mengelus punggung SANTI dan meremas pantatnya yang sekal. Sekali-kali terlihat tangan Rick memegang vagina SANTI dan mencari kelentitnya. Jari Rick terlihat di luar lubang pantat SANTI, dan membasahinya dengan cairan dari vagina. Setelah basah dia memasukkan jari tengah ke dalam lubang pantat SANTI, SANTI berhenti bergoyang dan melihat muka Rick. Dia tidak menolak sama sekali ketika Rick memasukkan jarinya ke lubang pantat. Jari Rick terlihat keluar masuk di pantat SANTI. SANTI kemudian mencium Rick dengan intense, aksi Rick memasukkan jari ke pantat membuat SANTI tambah terangsang. Ini adalah pertama kalinya dia dikerjain lubang pantatnya.
    Pemandangan yang sangat seksi, kedua lubang SANTI dimainkan. SANTI menggoyangkan pinggul dan pantatnya sambil menekan penis Rick, saya ingat kalau SANTI sangat pintar mengecilkan vaginanya waktu penis saya di dalam vaginanya. Aksi memeras penis terlihat berdampak besar pada Rick, penisnya keluar masuk dengan lebih cepat dan badan SANTI terangkat ke atas beberapa kali. Penisnya masuk seluruhnya ke dalam vagina SANTI yang kecil itu. SANTI mengalami kesulitan bertahan tetap di atas badan Rick. Yang menjaga agar dia tidak jatuh hanyalah vaginanya yang terpaku pada penis Rick yang besar dan panjang itu.
    Dengan dorongan yang keras dan sekaligus, Rick mengeluarkan spermanya di dalam vagina SANTI, SANTI mengerang dan menggeliat kenikmatan. Dia selalu mengatakan bahwa yang paling dia suka adalah ketika sperma keluar dari penis dan menembak dinding di dalam vaginanya. Rick terus menerus memompa vagina SANTI, seakan-akan ini adalah orgasme yang terpanjang yang pernah Rick alami. Akhirnya dia berhenti juga. Rick memeluk dan mencium SANTI sambil mengelus badannya. Ketika penisnya dicabut, terlihat sperma Rick mengalir keluar vagina SANTI. Dengan mempergunakan tissue, sperma Rick dibersihkan dari vagina luarnya. Rick membantu membersihkan vagina SANTI. Badan SANTI terlihat menggelinjang ketika jari Rick menyentuh vaginanya. Tak lama kemudian Rick pulang meninggalkan SANTI di kasur.
    Begitu Rick pulang, saya buru-buru keluar dan tiduran di sebelah SANTI, vaginanya sangat basah dan lembek. SANTI pergi ke kamar mandi membersihkan vaginanya. Sekeluarnya dari kamar mandi SANTI langsung menghisap dan menjilat penisku yang sudah sangat keras. Saya meminta SANTI untuk memberikan vaginanya kepadaku, dia memutar tubuhnya dan menempatkan vaginanya di mulut saya. Terlihat merah dan lembek dan basah. Tercium bekas penis di vagina SANTI, tetapi aku sudah tidak bisa menahan diri lagi. Kujilat dan minum dari vagina SANTI. Rasanya nikmat dan menggairahkan. SANTI menggosok dan menekan vaginanya ke muka saya membuat muka saya basah oleh cairan vaginanya. Vagina luarnya terlihat sangat merah dan sedikit bengkak, saya rasa karena baru saja dia dimaini oleh monster penis dengan keras.
    Saya meminta SANTI untuk memasukkan penis saya ke dalam vaginanya persis seperti apa yang dia lakukan bersama Rick. Sebelum saya keluar, saya menarik penis dan memasukkan ke dalam mulutnya, betapa enaknya rasa penisku, setelah keluar masuk vagina sekarang dihisap oleh mulut SANTI. Saya menarik SANTI dan menciumnya, saya bertanya kenapa dia mau menghisap penis Rick setelah masuk di vaginanya, SANTI bilang karena dia sudah terlalu terangsang.
    SANTI kemudian memintaku untuk bermain lagi karena tadi dia tidak keluar ketika Rick menyetubuhinya. SANTI mengatakan bahwa penis Rick adalah penis yang ternikmat yang pernah dia rasakan, sampai saat ini SANTI telah merasakan 6 penis, empat sebelum kita menikah, dua orang bule dan dua orang Indonesia. Penis Rick terasa sangat dalam dan menyentuh peranakannya. Vaginanya terasa sangat lebar saat ini tetapi sangat nikmat. Awalnya terasa sedikit sakit ketika Rick memasukkan kepala penisnya yang besar, seakan-akan merobek vaginanya. SANTI masih mengharapkan untuk setubuhi oleh Rick karena tadi penis Rick tidak begitu keras seperti malam pertama. Malam itu saya dan SANTI habis-habisan menjilat dan senggama sampai pagi.
    Karena tidak mendapatkan penis Rick yang keras, SANTI berniat untuk mencobanya lagi. Pada satu malam SANTI menelepon stasiun radio dan berbicara dengan Rick. SANTI mengatakan kepada Rick bahwa saya sedang tidak di rumah. Rick datang sekitar jam 9 malam, anak kita sudah tidur dan saya sudah siap di kamar untuk mengintip. Ruang tamu sudah dipersiapkan dengan lampu baca yang mengarah ke kasur.
    Sebelum Rick datang, saya sudah menghangatkan vagina SANTI dan membuatnya basah. Sedikit dari sperma saya tertinggal di dalam vaginanya. Penis saya diusapkannya keseluruh mukanya. Ketika Rick datang mereka seperti biasa berbicara sambil tiduran di kasur. Rick melepaskan baju SANTI dan mereka berdiri di lutut mereka. Bajunya dilepaskan dan langsung saja penisnya keluar dan terlihat sangat keras. SANTI mencium dan menjilat penis Rick yang sudah besar dan keras. Kuluman SANTI membuat Rick hampir saja mengeluarkan spermanya, erangan Rick sangat keras, sebelum sperma Rick keluar, SANTI mencabut dari mulutnya dan SANTI tidur telentang di atas kasur.
    Rick langsung turun dan menjilat vagina SANTI yang sudah basah oleh sperma saya. Saya bertanya apakah Rick merasakan dan mencium bau sperma di vagina SANTI? Rasanya hal itu bukan masalah untuk Rick, dia dengan lahapnya menjilat dan mengulum kelentit SANTI. Saya rasa sangat sulit untuk menemukan kelentit SANTI, kelentitnya sangat kecil tidak seperti kelentit wanita lainnya. Mungkin terpotong waktu SANTI disunat. SANTI menggapai penis Rick dan mulai meremas-remasnya. Terlihat cairan putih bening keluar dari penis Rick, SANTI mempergunakan cairan untuk meloco Rick. Gerakan tangan SANTI membuat Rick menggoyangkan pantatnya seakan-akan sedang memainkan vagina. Tiba-tiba Rick merubah posisi dan memasukkan penisnya langsung ke dalam vagina SANTI dalam satu gerakan yang sangat cepat.
    Gerakannya terlihat sangat kasar, hilang sudah lemah lembut yang pernah dia perlihatkan. Mulai saat ini Rick bermain sama SANTI dengan sangat keras dan kasar. SANTI benar-benar dipergunakan sebagai objek seks. Saya sudah takut kalau-kalau Rick menyakiti SANTI, tetapi dilihat dari ekspressi muka dan gerakan SANTI ternyata SANTI menyukai dan menikmati apa yang dilakukan oleh Rick. Rick mencabut penisnya dan memasukkan ke dalam mulut SANTI sambil memegang belakang kepala SANTI, dia membantu SANTI naik turun sambil memasukkan penisnya kemulut.
    Rick kemudian berdiri dan mengangkat SANTI, mereka saling berpelukkan sambil berdiri. SANTI diangkat oleh Rick dan langsung memasukkan penisnya ke dalam vagina SANTI. Ini merek melakukan sambil berdiri. SANTI terlihat seperti anak kecil dalam gendongan Rick. Kaki SANTI terlihat merangkul pinggang Rick, berat badannya disanggah oleh penis Rick. Rick berusaha memompa sambil berdiri dan sekaligus mencium SANTI. Pantat SANTI terlihat merekah dan memberikan kemudahan bagi Rick untuk memasukkan jarinya ke lubang pantat SANTI. SANTI terlihat sangat menikmati coitus depan belakang. Pemandangan yang sangat seksi.
    Ketika Rick merasa capai, SANTI diturunkan dan Rick merebahkan diri di kasur. SANTI diangkat dan memasukkan penis Rick dari atas. Dari kamar saya bisa lihat penis Rick memaksa masuk ke dalam vagina SANTI yang kecil dan ketat. Vaginanya menjadi sangat lebar dan penis Rick menyentuh paha SANTI. SANTI menoleh ke kamar dan tersenyum ke saya sambil mengeluarkan lidahnya. SANTI memompa penis Rick secara teratur, setiap kali penis Rick masuk, terlihat vaginanya ikut masuk ke dalam dan cairan putih terbentuk di pinggir bibir vaginanya. Ketika penisnya keluar, terlihat vaginanya mengembang dan menjepit penis Rick. Mereka melakukan posisi ini cukup lama.
    Kemudian Rick mendorong SANTI dan bertumpu pada lutut dan tangan. Rick akan bermain doggy style. Ini adalah posisi yang paling disukai oleh SANTI. Rick mempompa vagina SANTI dengan sangat keras dan dalam, semua penisnya amblas ke dalam vagina SANTI. Tangan Rick yang lain dimasukkan ke dalam lubang pantat. SANTI setengah berteriak dan sangat menikmati penis Rick. Badannya menjulur ke depan, Rick tidak mau melepaskan penisnya mengikuti arah badan SANTI. SANTI benar-benar dalam keadaan yang sangat nikmat, desahan sudah berubah menjadi erangan dan erangan sudah berubah menjadi teriakan. Rick mencapai payudara SANTI dan mulai meremas-remasnya. Tak lama kemudian Rick mencabut penisnya dan menjilat vagina SANTI dari belakang. Vagina SANTI dibersihkan oleh lidah Rick.
    SANTI direbahkan di kasur dan Rick memasukkan penisnya dari atas, tangan SANTI membantu memasukkan penis Rick ke vaginanya. Kaki SANTI diangkat dan dilingkarkan ke pinggang Rick. Rick terus menerus memompa vagina SANTI. Badan SANTI yang kecil tenggelam ditutupi oleh badan Rick, yang terlihat oleh saya hanya pantat dan lubang vagina yang sudah diisi oleh penis Rick. Kadang-kadang terlihat tangan SANTI meraba dan meremas pantat Rick, sekali-kali jarinya dimasukkan ke dalam pantat Rick. Gerakan Rick bertambah cepat dan cepat, dengan erangan yang cukup keras Rick mengeluarkan spermanya di dalam vagina SANTI. Rick kemudian merebahkan diri di samping SANTI tanpa melepaskan penisnya dari vagina SANTI. SANTI melihat ke saya dan memberikan tanda bahwa yang satu ini sangat nikmat.
    Setelah Rick pulang, SANTI mencuci vaginanya dan meminta saya mengulang apa yang baru saja dilakukan oleh Rick. SANTI bilang bahwa dia belum keluar ketika Rick menyetubuhinya. Saya dengan senang hati memasukkan penis saya dan menjalankan tugas untuk membuat SANTI keluar. Penis Rick yang besar ternyata tidak dapat membuat SANTI keluar, mungkin terlalu besar.

     

  • Trisome Aku Istriku dan Temanku

    Trisome Aku Istriku dan Temanku


    704 views

    Trisome, Aku,Istriku dan Temanku …

    Istriku, Della dan aku telah berumah tangga selama beberapa tahun lamanya dan sering dalam tahun-tahun perkawinan kami tersebut aku berfantasi tentang dia bercinta dengan pria lain. Seorang pria sempurna yang menyetubuhinya dengan hebat dan membuat istriku mengerang keenakan menikmatinya.

    Dalam setahun belakangan ini, aku selalu mengungkapkan fantasiku ini ketika berada di atas ranjang dan kurasakan dia selalu menjadi lebih bergairah karenanya dan akan diikuti dengan permainan seks yang liar dan ledakan multi orgasme setiap kalinya. Masalahnya, jika diluar area ranjang Della tidak pernah mau mendiskusikan hal tersebut denganku, yang hal itu membuatku cukup merasa frustrasi. Jika aku berusaha untuk mengajak dia untuk mendiskusikannya dia langsung marah dan pergi. Della memang seorang wanita dengan latar belakang keluarga yang sangat ketat pendidikan agamanya.

    Istriku Della saat ini berusia 35 tahun. Tinggi dan berat badannya yang rata-rata tetap terjaga bentuknya karena rutinnya dia pergi ke pusat kebugaran dua kali dalam seminggu. Payudaranya juga sedang-sedang saja, tapi dia memiliki puting susu yang cukup besar saat gairahnya terbakar. Dan yang paling membuatku bangga beristrikan dia adalah wajahnya yang sangat manis dan teramat menarik, disamping kepribadiannya yang baik dan senyumannya yang selalu dapat meredakan amarahku. Dia juga seorang pasangan bercinta terbaik yang pernah kudapatkan.Akhirnya, kuputuskan agar fantasiku tentang dia bercinta dengan pria lain dapat terwujud, aku harus mencoba cara yang berbeda dengan jalan yang kupakai selama ini. Aku tahu dia sangat selektif terhadap pria. Maksudku selama perkawinan kami aku ingat ada sekitar empat atau lima pria lain yang mampu menarik perhatiannya. Kesemuanya dengan kepribadian yang unik, dapat kukatakan begitu, tinggi, gagah, dan menarik. Hasilnya, setelah sedikit ‘kembali ke masa lalu’, aku akhirnya menjatuhkan pilihanku pada seorang pria berumur sekitar tiga puluhan yang aku yakin memenuhi deskripsi tentang seorang pria yang dapat menarik perhatian Della. Aku bertemu dengannya saat sedang berkeliling di seputar kota. Namanya Thomas, dia sangat gagah dan tinggi dengan kulit yang kecoklatan, dan sangat menarik menurutku. Satu hal yang dapat menarik perhatian Della dari Thomas adalah tak hanya dia seangat menarik dan berkharisma, dia seorang pria bertipe jantan dan ‘jalanan’ yang sangat kontras dengan kami yang berpendidikan dan mapan.

    Di salah satu kafe di sudut kota, waktu pertama kali bertemu dengan Thomas, kukeluarkan selembar foto Della dan mengatakan padanya kalau aku ingin agar dia bercinta dengan Della. Dia menyukai fotonya dan kalau dia bersedia, syaratnya dia boleh bercinta dengannya sesuai gayanya, tapi pertama-tama kami harus membuat Della bersedia melakukannya.

    Kami membuat sebuah rencana agar Thomas dan Della dapat bertemu, disamping rasa takutku kalau Della takut dan marah dan semua kerja kerasku ini akan sia-sia. Akhirnya kami memutuskan kalau dia akan datang ke rumah besok malamnya dan pura-pura menjadi seorang teman lama yang sekian tahun tak pernah bertemu dan sedang singgah di kota ini dan mampir sejenak di rumahku.

    Malam yang kunantikan serasa tak kunjung tiba, aku tenggelam dalam hayalanku membayangkan bagaimana malam tersebut akan berlangsung. Disamping rasa takutku kalau Della akan marah besar padaku karena telah menyusun rencana ini tanpa persetujuannya, aku lebih takut kalau dia tak bersedia berhubungan seks dengan Thomas. Kuhabiskan waktu untuk menyalakan lilin, menghidupkan CD player dan memilih lagu yang tepat untuk menjaga situasi hatinya. Kemudian kubujuk dia agar memakai sepatunya yang berhak tinggi yang selalu membuatku bergairah saat bercinta dengannya. Kurebahkan dia di atas karpet lantai ruang keluarga dan mulai mencumbu vaginanya selama kurang lebih 15 menit hingga dia mendapatkan orgasme pertamanya. Dia mulai hanyut dalam irama yang aku buat, dengan cepat jadi sangat basah saat aku mulai menyetubuhinya dengan gerakan lambat dan panjang. Aku mulai khawatir tak mampu bertahan lebih lama lagi. Saat orgasmenya yang kedua mulai datang lagi akhirnya terdengar Thomas mengetuk pintu depan.

    Ketukan itu membuatnya langsung bangkit dengan sedikit ketakutan dan langsung bertanya siapa yang mengetuk itu, saat itu sekitar pukul 10 malam. Aku tak tahu, jawabku tapi aku akan segera mencari tahu dan mengusirnya pergi. Dia segera merapikan pakaiannya dan kutenangkan dia, aku tak akan mengijinkan siapapun masuk kemari, maka dia kembali rebah di karpet menggosok kelentitnya menungguku kembali dan menyelesaikan apa yang telah kami mulai tadi.

    Kubuka pintu dan menjumpai Thomas berdiri di sana dengan maskulin dan mata yang bercahaya. Kukedipkan mataku padanya dan segera menyuruhnya masuk dengan tenang. Kubisikkan padanya agar segera ke ruang keluarga. Saat ini Della pasti sudah mendengar kedatangan kami.

    Kami berjalan memasuki ruang keluarga dan kuperkenalkan Thomas pada Della yang duduk di sana memandanginya untuk beberapa waktu, bertanya-tanya siapa gerangan pria ini… dan apa yang sebenarnya sedang terjadi? Lalu dia memandangku, dan berbalik memandangi kami berdua bergantian. Aku takut dia akan marah tapi dia mengejutkanku dengan tenangnya berdiri membiarkan pakaiannya yang berantakan tadi terjatuh dikarpet. Dan kemudian berjalan mendekat lalu memberi Thomas sebuah pelukan sebelum kembali berbalik lagi dengan pantat dan payudaranya yang bergoyang saat dia berjalan untuk duduk di karpet itu lagi. Belakangan aku tahu kalau dia sudah menyadari saat aku menjawab ketukan pintu itu kalau semua ini sudah aku rencanakan. Saat pertama kali dia melihat Thomas, dia tahu kalau aku menunggu pria ini datang untuk bercinta dengannya. Dia akhirnya memutuskan untuk melakukannya saat mengetahui kalau Thomas seorang pria yang mampu menarik hatinya dan dia sudah siap untuk itu…

    Setelah dia duduk di atas karpet, kami bertiga akhirnya juga duduk di atas karpet sekitar satu jam agar merasa nyaman berbicara tentang sesuatu selain seks meskipun kami dapat merasakan aura seksual semakin terbangun naik. Della duduk dengan tenang meskipun hanya memaki sepatu bertumit tingginya dan payudaranya yang terpampang dengan bebas di depan kami berdua dengan sangat menggoda. Aku memergoki Thomas selalu memandangi payudaranya. Dapat kukatakan Della menikmati pengalaman ini karena dia juga malah menggoda kami berdua dengan mengatakan kalau wajah kami merah dan terangsang. Dia terlihat sangat santai dan mengontrol situasi ini, yang itu sangat membuatku tekejut.

    Dapat kulihat tonjolan besar di celana Thomas. Ukuran penis di baliknya terlihat besar (belakangan Della bilang padaku dia menyadari hal itu juga dan itu membuatnya sangat terangsang, membantunya memutuskan untuk bercinta dengan Thomas). Tidak ada seorangpun yang tergesa-gesa meskipun aku sangat ingin melihat Thomas berada diantara pahanya mengocoknya berulang-ulang untuk memberinya multi orgasme. Della kelihatan sangat menikmati setiap waktunya dan melakukannya dengan perlahan dan itu semakin membuatku frustrasi. Ini diambang titik dimana aku mengharapkan fantasiku menjadi nyata.

    Saat Della akhirnya benar-benar merasa nyaman, dia rebah tengkurap dan meminta agar punggungnya dipijat. Ini adalah tanda yang kami tunggu-tunggu dan dalam keadaan ini tak mengejutkanku jika Della lah yang mengambil inisiatif tersebut. Dengan cepat aku memberi Thomas kesempatan memberi pijatan pada paha dan pantat Della, sedangkan aku dengan berdebar-debar terfokus pada leher dan bahunya. Kubiarkan Thomas memberikan akses menyeluruh terhadapnya.

    Thomas mulai membelai pahanya dengan lembut. Setelah beberapa saat tangannya mulai bergerak naik hingga semakin mendekati vaginanya. Terlihat tubuh Della sering menggelinjang, tapi lalu dengan cepat Della menyembunyikan reaksinya tersebut. Setelah beberapa menit kemudian Thomas memindahkan sasarannya dan mulai meremasi pantat Della dengan kedua tangannya. Dapat kulihat area di sekitar vagina Della sudah menjadi basah saat Thomas menjalankan aksinya.

    Akhirnya, Thomas kembali pada gerakan awalnya tadi pada bagian dalam paha Della dan membiarkan jarinya berada di dekat vaginanya. Dia benar-benar tahu apa yang sedang diperbuatnya dan dia tahu reaksi yang diberikannya terhadap Della yang mulai menekankan pinggulnya dengan pelan ke karpet. Mereka berdua terlihat sangat menikmati permainan kucing dan tikus ini. Dapat kulihat penis Thomas mendesak keluar dari celananya dan membuat celananya seakan hendak robek karenanya. Dengan cepat diturunkannya risleting celananya dan segera mengeluarkan penis itu. Akhirnya dia tak mampu menahannya lebih lama lagi dan bergerak menaiki tubuh Della dan mulai menggosokkan penisnya naik turun di belahan pantat Della. Dapat kukatakan Della berada dalam dunianya sendiri saat ini, dan jika aku pernah berfantasi tentang dia yang bercinta dengan pria lain, mereka mewujudkannya saat ini. Della sangat sensitive perasaannya saat bercinta dan dia bisa merasakan betapa besar dan kerasnya penisnya yang menekan pada pantatnya itu. Dengan pelan Della mulai menggoyangkan pantatnya pada penis itu dengan mata terpejam, tapi apa yang tergambar pada wajahnya memberitahukanku betapa apa yang tengah dirasakannya sungguh menakjubkan.

    Tak lama kemudian, kulucuti pakaianku dan bergerak ke sofa didepan Della. Dengan cepat Della bengkit dan dengan bertumpukan kedua lengan dan kakinya dia mulai menghisap penisku. Della sungguh sangat terbakar gairahnya, dimasukkannya seluruh batang penisku hingga menyodok di tenggorokannya. Dengan posisinya itu membuat pantat Della tepat berada di depan Thomas. Della sepertinya memang menginginkan Thomas berada di belakangnya, berada tepat di belakang vaginanya yang sudah gatal. Aku tahu Della terlalu malu untuk ‘meminta’ begitu juga denganku agar Thomas segera menyetubuhinya dan dengan cara inilah Della mengungkapkannya… Thomas mulai membuat langkah pertamanya!

    Aku mengisyaratkan pada Thomas untuk melepaskan sisa pakaian yang masih melekat di tubuhnya. Aku tahu dia memiliki tubuh yang tegap, tapi saat dia melepaskan pakaiannya, tubuhnya terlihat sangat menakjubkan bagiku. Aku tahu Della juga akan menyukai bentuk tubuhnya Thomas dan apalagi penis besarnya itu nanti saat dia memalingkan wajahnya ke belakang melihatnya.

    Penis Thomas perlahan tumbuh membesar saat dia melepaskan pakaiannya. Kupegang bahu Della, mengehentikan hisapannya pada penisku, dan menyuruhnya berbalik menghadap pada Thomas yang berlutut di hadapannya. Rasa cintaku padanya sungguh meluap saat ini. Dia menerima Thomas dan menggenggam bola zakarnya dengan tangannya yang halus dan memasukkan penis Thomas yang masih belum erkesi penuh ke dalam mulutnya. Penis Thomas dengan cepat mengeras dalam mulutnya. Dia suka menghisap penisku hingga ke tenggorokannya, tapi saat dia mencoba untuk memasukkan penis Thomas sampai ke tenggorokannya, dapat kulihat dia mengalami kesulitan dengan ukurannya, dan dia hampir tersedak untuk beberapa waktu. Tapi itu malah membuatnya semakin terangsang dan dia terus berusaha memasukkan penis Thomas ke dalam sampai tenggorokannya dapat beradaptasi dengan ukurannya. Belakangan Della menceritakan padaku, jika saja ukuran penis Thomas se inchi saja lebih panjang, dia tak mungkin dapat menampungnya. Saat Della sibuk dengan ‘pekerjaannya’, kusingkirkan lepas celana dalamnya dan mulai menggosok vaginanya dari belakang. Salah satu fantasi terbesarku adalah menggosok Della saat dia menghisap penis besar pria lain dan sekarang aku tahu aku sangat menyukainya. Aku lihat Della sangat asyik dengan ‘pekerjaannya’. Kehangatan cengkeraman dinding vagina Della langsung kurasakan begitu kulesakkan penisku ke dalamnya.

    Aku mengayun pelan, kedua tanganku memegangi pinggulnya agar penisku dapat lebih dalam masuk ke dalam vaginanya saat tengan Thomas berada pada kepala Della menggerakkan seperti keinginannya saat dia menyetubuhi mulut Della. Dalam waktu yang bersamaan aku menyetubuhi Della dengan lembut dari arah belakang, Thomas menggoyangnya dengan keras, memasukkan batang penisnya sedalam-dalamnya ke mulutnya dengan tangannya menahan gerakan kepala Della. Della tersedak waktu Thomas berusaha merangsak semakin dalam. Aku dapat mendengar suara kekurangan nafasnya itu, tapi seperti seorang ‘jalang’ yang baik Della tak berhenti dan aku mulai dapat mendengar lenguhannya diantara suara nafasnya yang tersedak saat dia menggoyangkan pinggulnya mengimbangi ayunanku.

    Dengan semua yang tengah berlangsung ini dan pemandangan Thomas yang sedang menyetubuhi mulut Della, membuatku tak memerlukan waktu lama untuk berejakulasi di dalam tubuhnya, melumuri dinding vagina Della dengan semburan spermaku. Rasanya seperti kudapatkan orgasme terbesar dalam hidupku. Bisa kulihat orgasmeku dan oral yang diberikan Della mendekatkan orgasme Thomas. Aku ingin menyaksikan Thomas menyetubuhi Della dan keluar dalam vaginanya, maka dengan cepat aku segera bangkit dan menyuruh Della naik ke atas sofa, merangkak untuk baralih menghisap penisku, agar Thomas dapat menyetubuhinya dari belakang. Akan selalu kuingat saat Thomas menyelipkan penisnya ke vagina Della, seperti hal itu berhenti untuk beberapa waktu. Ini adalah fantasi yang sudah lama kudambakan.

    Yang membuatku kagum adalah betapa cepatnya gerakan Thomas yang sudah berada di belakang Della dan langsung melesakkan penisnya ke dalam vaginanya. Sepertinya dia hanya mengenal satu kecepatan, dan itu adalah mendorong masuk dengan cepat dan keras. Aku tak tahu apa dia pernah berpikir kalau kami akan menghentikannya menyetubuhi Della, atau kami menyuruhnya untuk memakai kondom terlebih dulu. Sebelum kami sempat bereaksi dengan apa yang dilakukannya dia sudah berada di belakang Della dengan sekejap. Dan seperti yang Della katakan padaku kemudian… Thomas bukannya memasukkan penisnya… Dia menghentakkan seluruh batang penisnya ke dalam vaginanya dengan hanya sebuah dorongan saja. Della juga mengungkapkan padaku kalau dia belum pernah meraskan sebuah penis yang begitu besar, begitu nikmat, dan belum pernah merasa terisi penuh seperti yang dirasakannya akibat penis Thomas saat itu, saat dia melesakkannya dari belakang. Itu membuat nafas Della terhenti sejenak dan dia memutuskan tak perduli apa Thomas memakai kondom atau tidak, atau kalau-kalau dia bisa jadi hamil karenanya. Della ingin dia menyetubuhinya dan merasakan dia menghantam dinding vaginanya dengan penis besarnya tersebut (dan Della belakangan juga menambahkan kalau dia suka dengan bola zakarnya, yang lebih besar dan lebih berat dari milikku dan lebih jauh menggantung, hingga saat dia sedang menyetubuhinya, kantung bola zakarnya itu akan menampar kelentitnya yang membuatnya menggelinjang kegelian).

    Tak perlu dikatakan lagi menyaksikan momen ini dan melihat ekspresi wajah Della saat dia menghisapku mendorongku dengan cepat ke batas akhir untuk yang kedua kalinya. Sepertinya aku keluar lebih keras dan lebih lama dari yang pernah kualami, yang menyebabkan Della membuka matanya dan menatapku dengan mimik yang lucu. Aku terus mengisi mulutnya dengan berjuta sperma yang dihisap dan ditelannya. Sebuah pengalaman pertama dalam hidupku yang sangat menguras staminaku dan membuat aku dua kali orgasme dengan hebatnya.

    Saat aku berejakulasi dalam mulut Della, Thomas menyetubuhinya dengan keras dan cepat dari belakang. Aku bangkit dan menyingkir dari medan pertempuran mereka, dengan cepat Thomas langsung membalikkan tubuh Della agar rebah pada punggungnya. Lalu Thomas kembali memasukkan penisnya yang terlihat semakin bertambah besar saja, dan mereka mulai berciuaman dengan rapat, kaki Della berada di bahu Thomas. Dengan kaki Della yang berada di bahunya, Thomas mulai mengayun dengan tenaga yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Lengan Della melingkari leher Thomas saat dia menghentak tubuhnya.

    Saat itu aku ingin menghentikan Thomas dan menyuruhnya agar memakai kondom agar Della tidak hamil. Tapi saat kulihat mereka berdua, dapat kulihat bahwa Della sudah terlalu jauh untuk dihentikan dan Thomas tengah berada dalam iramanya yang tak kutemukan celah untuk menghentikannya sebentar. Setelah beberapa menit melihat mereka berdua bergerak semakin keras, itu membuatku semakin terangsang hingga tak mampu berkata apapun, apalagi Della tak pernah meminta Thomas untuk memakai kondom. Mungkin saat ini bukan masa suburnya atau dia bahkan tak memusingkan hal itu. Disamping itu, hal ini sangat liar dan seksi bercampur menjadi saru menyaksikan seorang pria asing menyetubuhi istriku tepat di depan mataku sendiri… dan di rumahku sendiri… dengan seijinku. Kepala Della terlempar ke sana-kemari dan kedua kelopak matanya terpejam rapat saat dia dengan rela membiarkan Thomas menyetubuhinya. Yang membuatku sedikit terkejut ternyata jika Della sedang berada di puncak gairahnya, dia bias mengumpat sepeti seorang wanita jalang dan saat dia tahu Thomas akan segera orgasme dia menyuruhnya agar keluar jauh di dalam vaginanya! Aku hanya duduk di samping mereka, melihat, tapi aku tahu kalau aku mengingatkan Della tentang kondom, itu akan merusak semuanya dan dia akan sangat marah. Belakangan dia mengatakan kalau itu terasa sangat aneh merasakan penis Thomas mengisi penuh vaginanya tanpa kondom. Setiap Thomas mendorong, rasanya dia mendapatkan sebuah orgasme kecil. Saat akhirnya Thomas orgasme, dia dapat merasakan penisnya berdenyut meledakkan spermanya, dan spermanya menghantam jauh ke tempat yang belum pernah diraskannya sebelumnya. Waktu Thomas mulai oberejakulasi, Della mengerang keras, dia dapat merasakan penisnya menjadi bertambah besar, dan dia semakin keras menjerit merasakan sperma Thomas mengahantam jauh di dalam tubuhnya. Della mendapatkan orgasmenya sendiri karenanya, tubuhnya bergetar hebat, dia menyentakkan pinggulnya semakin merapat pada tubuh Thomas agar dia semakin masuk ke dalam.

    Ini membuatku terangsang sekaligus membuatku takut. Belakangan Della meyakinkanku kalu saat itu memang dia sedang tidak dalam masa suburnya dan syukurlah ternyata dia benar.

    Ini adalah permulaan dari serangkaian persetubuhan yang panas dan setiap kalinya tak kurang dari empat jam non stop kecuali untuk mandi berendam dengan air panas.

    Saat Thomas orgasme, dia rebah pada punggungnya tapi Della tak mengijinkannya beristirahat. Rambutnya terlihat basah oleh keringat melekat pada wajah, leher dan bahu dan dadanya yang semuanya terlihat bersemu merah setelah mendapatkan begitu banyak orgasme. Setiap saat spermanya akan meledak, Della segera menghisap penisnya jauh ke dalam tenggorokannya hingga penisnya mengeras kembali. Dengan penis besarnya tersebut, Thomas tak banyak mendapatkan wanita yang dapat menghisap penisnya hingga jauh ke dalam tenggorokan, maka setiap Della berusaha memasukkan penisnya ke dalam tenggorokannya membuat Thomas bergairah dan ereksi segera. Della belakangan mengatakan kalau dia belum pernah meraskan penis yang terasa begitu lembut dalam mulutnya.

    Yang membuat Della begitu bergairah saat berhubungan seks dengan Thomas adalah kenyataan bahwa Thomas mampu menyetubuhinya dengan sangat keras. Dan juga Thomas selalu menampar bongkahan pantat Della setiap kali dia mengayun sampai pantatnya merah dibuatnya. Serta gigitannya pada putting Della yang sangat sensitive, yang hanya dengan menggosoknya saja dapat memberinya orgasme, sangat menaikkan kenikmatannya. Della selalu menyuruhku agar berbuat lebih keras lagi terhadapnya saat bercinta tanpa harus menjadi kejam. Entah bagaimana, perlakuan Thomas itu membuatku khawatir sampai di mana batas ketahanan yang dimiliki Della. Aku menyadari hal itu saat melihat betapa sosok pria jalanan yang dimiliki Thomas selalu membuatnya bergairah kembali dengan perlakuannya yang keras dan cenderung kasar itu. Itu sangat kontras dengan gambaran percintaan kami selama ini. Meskipun sejak kusuruh Thomas untuk menyetubuhinya dengan caranya sendiri dan itu memang membuat Della bergairah dan liar.

    Della adalah satu-satunya wanita yang pernah kutemui yang benar-benar menyukai menghisap penis hingga ke dalam tenggorkannya dan menelan sperma seorang pria, dan dapat kulihat dia ingin Thomas agar keluar jauh di dalam tenggorokannya. Saat menghisapnya, Della mulai memasukkan jarinya ke dalam lubang anus Thomas diiringi dengan remasan tangannya pada kantung bola zakarnya yang membuat Thomas mengerang keenakan. Setiap kali Della menambah dorongan jarinya masuk ke dalam lubang anusnya, Thomas menggelinjang, lalu mengerang. Sangat erotis buatku, Della ingin merasakan spermanya seperti yang dikatakannya padaku kemudian. Aku terpesona menyaksikan mereka berdua yang terlihat sangat indah dan seksi dan tubuh Thomas yang selalu menggelinjang karena perlakuan Della. Dan akhir dari pertahanannya, dia mengangkat pantatnya naik dari atas karpet dan mengerang keras mengiringi ledakan spermanya. Thomas menahan belakang kepala Della agar tak bergerak. Belum pernah kudengar suara yang seperti ini, Thomas mengerang dengan nyaring, suaranya hampir menyerupai suara seorang wanita. Reaksi tubuh Thomas membakar gairah Della, dan dia tak akan melepaskan Thomas saat dia menghisap habis sperma Thomas hingga tetesan terakhir.

    Della menceritakan padaku berulang kali setelahnya bahwa dia menyukai rasa dari spermanya itu. Kupikir memang jelas Della menyukai apapun yang dimiliki Thomas. Setelah Thomas cukup pulih, dengan bercanda dia mengatakan bahwa dia keluar dengam dahsyat hingga dapat membuat langit-langit ruang keluarga ini jebol jika Della tak mengisapnya tadi. Della suka dengan antusiasnya dan mengatakan tidak apa-apa sekeras apapun dia keluar dalam tenggorokannya.

    Kami bertiga perlu istirahat dan pergi berendam dengan air panas dalam bak mandi. Aku pikir mereka berduia sudah selesai, tapi mereka mulai saling menyentuh, saat bibir mereka saling melumat, membuatku ereksi keras untuk yang ke empat kalinya. Rasanya aneh melihat mereka tak merasakan kelelahan dalam berhubungan seks. Mereka memasuki sebuah level yang baru. Della sedang bercinta dengan Thomas dan aku merasakan cemburu dan terangsang dalam waktu yang sama.

    Akhirnya, aku mengajak mereka keluar dari kamar mandi dan meneruskan kesenangan ini. Kami keluar dari kamar mandi dan hisapan Della membuat Thomas mengeras lagi dan Della naik ke atas tubuh Thomas yang duduk di atas sofa dan dia menyetubuhinya dengan liar sampai kupikir sofa itu akan patah dibuatnya. Nafas Della terdengar memburu saat dia berusaha meraih orgasmenya lagi dengan cara yang cepat. Jelas Thomas nampak belum selesai dengan Della karena saat Della akhirnya rebah dalam pelukannya dengan orgasme yang diraihnya, Thomas langsung mendorong tubuh Della merangkak di atas karpet dan memposisikan dirinya di belakang Della.

    Kupikir dia akan memasuki Della dari belakang lagi, tapi akau salah. Dengan lemah Della berusaha mencegah Thomas yang berusaha memasukkan penisnya ke dalam lubang anusnya, tapi Della terlalu lemah setelah orgasme tadi. Dengan mudah Thomas menepis penolakan yang diberikan Della dan meneruskan usahanya untuk masuk. Aku melihat saat dia melebarkan lubang anusnya dan menekan kepala penisnya yang besar membelah otot lubang anus Della yang rapat. Della menggelinjang dan dengan lemah memohonnya untuk berhenti, tapi Thomas tak mendengarkannya. Kupikir ini saatnya aku maju dan menghentikannya… tapi aku tak mampu, aku sudah sangat terangsang. Aku sudah tersihir dengan apa yang kusaksikan dan berharap dia memberikan anal seks pada Della. Della meronta berusaha menjauh dari penisnya, tapi kemudian Thomas mencengkeram dengan erat pinggul Della sampai meninggalkan bekas di sana. Lalu dia mulai memasukkan penisnya membelah lubang anus Della. Della tak menyadarinya, tapi matanya terpejam rapat ketakutan, yang malah membuat Thomas dan aku semakin bergairah. Della menatapku, mengisyaratkan agar aku menghentikan Thomas, tapi aku tak bertenaga, tak mampu bergerak atau bereaksi, aku begitu terangsang. Dia kembali menatapku dan aku mamberinya pandangan tak berdaya. Dia sadar kalau aku tak akan melakukan apapun dan akhirnya dia pejamkan matanya dan mencoba untuk tenang.

    Pada akhirnya usaha Thomas berhasil dan mendorong kepala penisnya masuk ke dalam lubang anus Della membuatnya merintih kesakitan, meremas karpet dengan kedua tangannya. Thomas terus mendorong sampai akhirnya batang penisnya masuk ke dalam lubang anus Della seluruhnya hingga kantung bola zakarnya dengan mengejutkan menghantam kelentit Della. Della lebih membenamkan wajahnya di karpet dan menjerit. Sekujur tubuhnya bergetar, dan dia mulai merintih kesakitan. Aku melihat mendekat dan dapat kutemui air matanya keluar membasahi pipinya. Dengan penisnya yang sudah seluruhnya tertanam dalam lubang anus Della, Thomas memegangi pinggul Della dengan erat dan memandangku dengan tersenyum lebar. Aku tak akan melupakan wajah puasnya yang menggambarkan kekuasaannya terhadap seorang wanita dan mendominasinya secara menyeluruh. Dia dapat melakukan apapun terhadap Della. Thomas mulai menyetubuhi lubang anusnya dan dapat kulihat Della akhirnya menangis dan masih tetap berusaha mengeluarkan penis Thomas dari dalam anusnya. Dia tak menikmati paksaan Thomas terhadap anusnya. Kukira mungkin Thomas akan berhenti, tapi dia terlihat yakin dengan apa yang dilakukannya meskipun Della masih berontak menolaknya, yang malah membuat lubang anusnya semakin merapat… dan semakin merangsang aku dan Thomas.

    Dengan senyuman dan pandangan yang mengatakan ‘lihatlah saat aku membuat istrimu menjerit dan orgasme yang tak pernah di alaminya sebelumnya,’ kemudian dia semakin mempererat pegangannya pada pinggul Della dan mulai bergerak mengayun keluar masuk dalam lubang anusnya yang kecil. Tak bisa kupercaya Thomas dapat memasukkan penisnya yang besar itu ke dalam lubang anus Della yang rapat dan kecil itu, tapi entah bagaimana dai dapat melakukannya. Belum ada yang sebesar itu memasukinya sebelumnya dan itu membuatnya kesakitan. Air matanya terus mengalir dan tubuhnya yang terus mengejang, tapi aku tak mampu menghentikan Thomas, karena belum pernah kurasakan se-terangsang ini dalam hidupku sebelumnya. Gerakan mengayunnya membuat suara aneh saat kantung bola zakarnya menghantam kelentit dan vagina Della berulang-ulang.

    Setelah beberapa ayuna panjang dalam lubang anus Della, akhirnya dapat kudengar suara basah yang keluar dari dalam lubang anusnya dan bersamaan dengan itu Della mulai terlihat tenang. Perlahan mulai dilepaskannya cengkeraman tangannya pada karpet, seiring dia yang mulai menggerakkan pinggulnya mengimbangi gerakan mengayun Thomas. Aku benar-benar terkejut! Thomas tak pernah menghentikan gerakannya dan kemudian yang terjadi sungguh tak dapat dipercaya… Della mulai mengeluarkan gumaman kata-kata dan suara yang belum pernah kudengar. Belum pernah aku merasa begitu bangga terhadapnya seperti sekarang ini. Aku lihat lubang anusnya melebar dengan rapat mencengkeram batang penis Thomas yang membuatku yakin mengira kalau lubang anusnya akan robek lebar. Setiap kali Thomas menarik penisnya keluar, anusnya akan tertarik keluar dengan rapat bersamanya. Stamina yang dimiliki Thomas sungguh mengagumkan (sejak dia mengalami orgasme berulang kali sepengetahuanku, kali ini dia masih mampu bertahan selama ini)

    Tiba-tiba sebuah erangan keras keluar dari mulut istriku saat dengan tanpa henti Thomas menyodok penisnya dengan sebuah hentakan keras ke dalam lubang anus Della sambil tangannya melebarkan bongkahan pantatnya agar dia dapat masuk sedalam mungkin. Kepala Della terlempar ke belakang dan dia mengerang berusaha menarik nafasnya yang terhenti. Dia tak lagi seperti seorang wanita yang kutahu selama ini saat bercinta. Thomas telah membawanya pada level yang belum pernah dimasukinya. Suara erangannya bagaikan seekor hewan. Thomas melihatku dari balik punggungnya, memastikan apakah aku melihat jelas lubang anus istriku yang di masuki oleh penisnya. Perhatianku terpecah antara melihat lubang anus istriku yang sedang dikerjai Thomas dan konsentrasiku pada masturbasi yang kulakukan saat ini. Dengan sebuah senyuman yang tak kumengerti artinya, dia meneruskan ‘pekerjaannya’ terhadap istriku tersayang, Della yang tak hentinya mengerang dan mendapatkan orgasme beruntun.

    Setelah 3 atau 4 kali orgasmenya kini tiada hentinya dia mendapatkan orgasme lagi secara berkesinambungan. Belum pernah kulihat seorang wanita di film atau dimanapun yang mendapatkan orgasme berkesinambungan seperti yang dialami Della malam ini. Tak dapat kupalingkan mataku dari penis Thomas yang bergerak keluar masuk dalam lubang anus istriku yang rapat. Cairan cinta Della terus mengalir pada pahanya. Tubuhnya terus menggelinjang dibawah ayunan pria yang menyetubuhinya tanpa henti

    Aku tak menghitung lagi berapa kali dia membuat Della orgasme, tapi Della mendapatkan orgasme berulang kali hingga dia dengan lemah berusaha merangkak, sedangkan penis Thomas masih menancap dengan mantap dalam lubang anusnya. Thomas tak ingin melepaskannya dan mengikutinya hingga Della merebahkan tubuh bagian atasnya di atas sofa. Dengan sigap Thomas langsung memegangi pinggulnya dan kembali menyetubuhinya hingga getaran orgasme menggoyang tubuhnya lagi. Della tak mampu lagi mengendalikan tubuhnya yang terbaring lemas di atas sofa membiarkan Thomas terus menyetubuhinya. Aku kagum pada stamina Thomas, aku harap dia mau berbelas kasihan barang sebentar terhadap Della, tapi dia tidak. Dia tetap mencengkeram pinggul Della dengan keras dan langsung mengocok lubang anusnya dengan tanpa ampun. Saat akhirnya dia mencapai orgasmenya sendiri, bagian matanya yang hitam seolah hilang lenyap ke dalam rongga matanya, dan dia mengerang keras sampai-sampai aku takut tetangga sebelah akan mendengarnya. Della tahu kalau Thomas akhirnya keluar dan dia menggoyangkan pantatnya dan mulutnya mulai mengerang memohon agar Thomas keluar jauh di dalam lubang anusnya. Dia meledakkan bom sperma yang amat dahsyat, dan kemudian jatuh terhempas di atas pantat Della, seiring Della yang kembali mendaparkan orgasme terbesarnya malam ini.

    Pemandangan ini terlihat sangat erotis dengan cairan cinta Della yang membasahi semua tempat, dan sperma Thomas yang meleleh keluar dari lubang anusnya. Saat Thomas berbaring kecapaian di atas lantai, Della tergeletak di atas sofa dengan sebuah lelehan sperma yang panjang turun dari pantatnya. Aku memandangi sperma tersebut yang tak terputus hingga akhirnya jatuh menetes di atas karpet dan membentuk sebuah pola basah yang semakin membesar.

    Setelah berejakulasi dia tergeletak di atas lantai membiarkan Della yang masih lemah dengan tubuh yang setengahnya berada di atas sofa. Dia juga teramat lelah untuk bergerak. Tak dapat kulupakan pemandangan setelah Thomas menarik keluar penisnya dan Della hanya diam terbaring di sana. Lubang anusnya tebuka lebar hingga anda dapat melihat ke dalamnya. Anal seks yang baru saja mereka lakukan meyakinkanku saat kulihat spermanya yang meleleh keluar dari dalam lubang anus Della kalau aku menyukai segala yang terjadi. Pemandangan tadi membuatku segera menaiki tubuh Della dan ‘menyumbangkan’ spermaku ke lubang anusnya yang sudah merekah. Lubang anusnya terasa sudah kendor dan membuka lebar.

    Sejak saat itu tiga kali lagi kami bersama menghabiskan waktu dengan bercinta dan bercinta lagi. Della jadi ketagihan menjadi budak seksnya dan bersedia melakukan apapun keinginannya. Dia menjadi sangat penurut terhadapnya dan menelan sperma se sering yang Thomas kehendaki, atau Della mengijinkannya menyetubuhi lubang anusnya. Sangat menarik mengamati perubahan yang terjadi pada diri Della, kuperhatikan dia menyukai di dominasi secara menyeluruh saat berhubungan seks. Thomas menyukai lubang anus Della dan dia sering menyetubuhi lubang anus Della saat kita bertiga melakukan persetubuhan dan Della selalu mendapatkan multi orgasmenya setiap kali Thomas melakukan itu padanya.

    Suatu kali Thomas mengikuti Della berjalan menuju ke kamar kami untuk mandi setelah bersetubuh selama 3 jam non stop. Thomas masuk ke dalam kamar mandi bersamanya dan mereka kembali bersetubuh di dalam kamar mandi tersebut. Aku melihatnya dari balik kaca kamar mandi, pemandangan yang kusaksikan semakin bertambah erotis dengan butiran-butiran air yang ada di sekujur tubuh mereka dan dia menyetubuhi Della dari belakang.

    Tiba-tiba, membuat kami kecewa, Thomas harus segera meninggalkan kota ini. Kami merindukan seks bersama Thomas, tapi selalu berterima kasih dengan pertolongannya terhadap Della dan aku sadar kami berdua menikmati ada seorang pria lain yang bercinta dengan Della. Pengalaman seksual Della bersama Thomas merubah seluruh kehidupan seksualnya dan bagaimana terbukanya dia terhadap eksplorasi kehidupan seksual kami. Untungnya dia tidak hamil setelah bersama Thomas.

    Aku sangat berhutang budi terhadap Thomas yang telah membebaskan gairah seksual Della. Pengalamani bersamanya dalam ‘permainan bertiga’ kami membuat Della menyukai melakukan hubungan seks dengan dua orang pria bersamaan, dan sekarang bahkan dengan wanita juga. Sejak dengan Thomas… dia sudah melakukannya dengan beberapa pria lain yang ukuran penisnya bahkan lebih besar dari penis raksasanya Thomas. Dia tak lagi merasa takut bersama dengan pria lain selain aku untuk bercinta. Dia menikmatinya. Dia menikmati seks, tapi kami berdua sepakat kalau dia tak akan melakukannya tanpa kehadiranku.

    Sekarang dia suka berpakaian seksi saat bertemu dengan pria lain untuk membuatnya terangsang. Kami melakukannya beberapa kali dengan pria lain dan itu sangat erotis bagiku melihatnya. Hidup rasanya jadi semakin baik dan semakin bertambah baik saja sekarang karena dia sangat berantusias dan senang dipuaskan oleh dua pria sekaligus dan bersikap seperti seorang putri saat melakukannya. Kami mengharapkan ada pasangan lain yang mau mencobanya bersama kami…

  • Threesome yang Tidak di Sengaja

    Threesome yang Tidak di Sengaja


    724 views

    Threesome yang Tidak di Sengaja

    Gambaran tentang kejadian malam itu masih teringat jelas di dalam pikiran ku. Cerita ini dimulai ketika Shelly, istri ku dan aku menyewa seorang babysitter dari sebuah perusahaan penyedia jasa lokal. Saat itu akan menjadi malam pertama kami pergi keluar semenjak sang bayi lahir.

    Shelly masih merasa sedikit cemas tentang meninggalkan si bayi berdua saja dengan seorang babysitter, tapi kami berdua butuh hiburan. Aku memutuskan untuk membawa istri ku yang cantik keluar untuk makan malam dan minum-minum.

    Sang babysitter muncul tepat waktu. Aku membukakan pintu. Aku merasa sangat senang saat melihat seorang wanita muda yang sangat cantik. “Hello, nama ku Stephanie,” katanya dengan riang.

    Aku mengulurkan tangan ku. “Aku Kyle, senang bertemu dengan mu,” kata ku. Meskipun cuaca di luar sangat dingin tapi tangannya terasa lembut dan hangat.

    Shelly keluar dari kamar tidur, sambil memasang anting-anting. “Terima kasih banyak sudah datang,” kata Shelly kepada Stephanie sambil mengedipkan matanya dan setelah itu kami buru-buru menuju ke pintu untuk keluar.

    Shelly tampak jauh lebih cantik dibanding sebelumnya, saat aku mengikutinya dari belakang, pantatnya yang sempurna menggoda ku dengan mengintip keluar dari rok mininya yang sangat pendek. Aroma parfum Shelly mengelilingi ku dan mengingatkan aku kembali akan aktivitas seksual kami di masa lalu.

    Shelly memesan makanan favoritnya, lobster. Aku memesan sebuah steak dan segelas anggur. Wajah Shelly tampak bersinar saat dia memandang ke sekeliling ruangan restoran itu. Dia menyukai keramaian dan sangat senang pergi keluar.

    Sedangkan aku sebaliknya, lebih suka duduk di rumah sambil menonton TV. Shelly menikmati lobsternya sedikit demi sedikit. Aku sudah menyelesaikan steak ku dalam waktu yang sangat singkat dan memesan sebotol anggur lagi.

    Satu hal yang sangat menyenangkan tentang menikah adalah aku jadi tidak perlu lagi berusaha keras hanya untuk bisa melakukan hubungan seks.

    Shelly sangat senang melakukan hubungan seks dan hampir selalu merasa horny, dan saat dia minum nafsu birahinya jadi semakin besar. Dia seperti jadi seperti tidak lagi bisa mengendalikan diri dan sangat liar.

    Dia akan ngomong kotor untuk menggoda ku tentang pria lain di depan ku saat kontol ku sedang berada jauh di dalam memeknya. Terkadang dia akan menyebut ku dengan berbagai istilah dan meminta ku untuk melakukan banyak hal misalnya memasukkan jari ku ke dalam pantatnya.

    Aku mulai mengisi gelasnya lagi setiap kali dia meneguk minumannya, aku ingin dia minum lebih cepat lagi. Aku sudah tidak sabar untuk segera membawa pulang pengantin ku dan menelanjanginya.

    Akhirnya, setelah beberapa lama, dia menghisap potongan lobster terakhir ke dalam mulutnya. Dia menenggak anggurnya yang terakhir dan mengatakan bahwa dia sudah siap untuk pulang. Dia mencubit pantat ku diperjalanan menuju ke mobil, aku tahu itu adalah sebuah pertanda yang bagus.

    Saat kami sampai di rumah, Stephanie sedang duduk di sofa sambil menonton TV. Dia mengatakan bahwa si bayi sudah tidur. Secara insting Shelly segera menuju ke kamar si bayi untuk memeriksanya. Shelly berterima kasih kepada Stephanie sambil memberikan yang 20 dollar.

    “Terima kasih dia sama sekali tidak membuat ku kerepotan,” kata Stephanie.

    Shelly mengundang Stephanie untuk minum segelas anggur dan Stephanie menerimanya dengan senang hati. Aku berharap Stephanie segera pulang supaya aku bisa berdua saja dengan istri ku.

    Shelly menunjuk ke lemari pendingin dan mengambil sebotol anggur. Dia terlihat frustasi saat dia mulai menuangkan botol yang hampir kosong tersebut. “Sayang, kenapa kau tidak bilang kalau kita kehabisan anggur?” dia bertanya pada ku. “Apa kau bisa keluar untuk membelinya?” dia memohon.

    Aku ini adalah suami yang selalu penurut. Aku akan selalu melakukan apapun yang dia inginkan karena jika dia merasa tidak bahagia maka aku juga yang akan sengsara. Aku mengambil mantel ku lalu pergi ke toko minuman terdekat. Aku harus mengantri disana kemudian buru-buru pulang sambil membawa botol-botol ku.

    Saat aku membuka pintu, aku mendengar suara erangan. Aku berjalan masuk ke ruang tengah dan tidak menumukan Shelly maupun Stephanie. Aku mendengar suara erangan lagi dan mengikutinya ke ruang makan.

    Disana, Shelly sedang berlutut di lantai dan Stephanie sedang berdiri dengan kedua kaki yang terentang lebar diatasnya. Wajah Shelly sedang berada di memek Stephanie. Dia sedang menjilati clitoris Stephanie dan menghisapnya.

    Kaki-kaki Stephanie terentang lebar saat Shelly memainkan lidahnya keluar masuk di lubang Stephanie yang berwarna pink itu. Aku tidak tahu kalau Shelly juga menyukai wanita. Aku awalnya merasa sedikit marah saat melihat istri ku sedang menikmati babysitter kami.

    Kepala Stephanie terangkat kebelakang dan matanya tertutup sehingga tidak satupun dari mereka yang menyadari kalau aku sudah kembali. Aku mengamati mereka selama beberapa menit dan menjadi sangat terangsang oleh skenario yang ada di depan ku itu.

    Kemudian aku memutuskan kenapa aku harus marah? Pria umumnya akan sangat menginginkan moment seperti ini. Aku berpikir bahwa jika istri ku bisa melakukan itu dengan babysitter kami yang masih muda belia itu, maka aku mungkin juga bisa melakukannya.

    Aku melangkah ke arah mereka lalu menaruh tangan ku diwajah Stephanie. Dia membuka matanya yang tampak dipenuhi dengan nafsu birahi. Dia terkejut saat melihat ku. Aku menciumnya bibirnya lalu menyelipkan lidah ku ke dalam mulutnya. Bibirnya terasa hangat dan lembut dan lidahnya melilit lidah ku.

    Aku menaruh jari ku ke bibirnya dan dia menghisapnya seperti sebuah kontol. Secara perlahan aku menggerakkan ujung jari ku ke atas payudaranya dan mulai membuka bajunya.

    Shelly memandang ke arah ku, wajahnya tampak di penuhi dengan cairan vagina Stephanie dan tersenyum. “Aku tahu kau tidak akan marah,” bisiknya. Dia mulai membuka celana ku saat bibir ku sedang menghisap puting-puting Stephanie yang lezat.

    Shelly meraih kontol ku lalu menghisapnya. Dia sudah sering menghisap kontol ku tapi kali ini tampaknya dia jauh lebih menikmatinya. Pasti karena rasa memek Stephanie yang lezat dan masih muda belia itulah yang membuatnya merasa sangat horny.

    Aku mengangkat Stephanie ke atas meja makan lalu dia menelentang. Aku membuka kedua kakinya lebar-lebar dan menjilati memeknya. Rasa memeknya memang sangat nikmat jadi karena itulah Shelly sangat menyukainya.

    Shelly menghisap kontol ku dengan liar. Dia memasukkan semua batang kontol ku ke dalam tenggorokannya. Aku mengambil giliran untuk menikmati memek Stephanie.

    Tiba-tiba, Shelly berhenti menghisap kontol ku lalu berdiri. Dia bergerak ke sisi lain dari meja makan itu, menunduk lalu menciumi bibir Stephanie. Shelly menatap dengan cemas saat aku menjilati clitoris Stephanie dan memasukkan jari ku ke dalam lubang memeknya. Kemudian Shelly berkata, “Aku juga ingin seperti itu.”

    Aku ingin mengentot Stephanie!! Aku sudah sangat sangat sering mengentot Shelly dan kesempatan ku untuk bisa mengentot Stephanie mungkin hanya kali ini saja. Kenapa istri ku sangat senang menjilati memek Stephanie?

    “OK,” kata ku dengan enggan, tapi kemudian aku akan mengentotnya, menggangguk kepada Stephanie. Shelly kembali ke sisi lain dari meja dan mengambil tempat ku untuk menjilati memek Stephanie. Aku berdiri di dekatnya sambil menonton dan mengocok kontol ku.

    Stephanie mengerang dan mengangkat pantatnya dari meja itu untuk menyambut bibir istri ku. Sesekali Shelly akan berhenti dan menghisap kontol untuk sejenak. Dia mulai melakukannya secara sistematis, berpindah-pindah dari memek Stephanie ke kontol ku, lalu kembali ke memek Stephanie.

    Akhirnya, Shelly berkata, “Ok kau bisa mengentotnya sekarang.” Shelly meraih kontol ku lalu membasahi kontol itu dengan air liurnya. Kemudian dia memandu ujung kontol ku ke arah lubang memek Stephanie yang kecil, sempit dan basah. Aku mendorong kontol ku hingga jauh ke dalam lubang memek Stephanie itu.

    Stephanie mengerang dengan keras saat aku mengentotnya. Aku mulai mengayunkan pantat ku, meluncurkan kontol ku keluar masuk di lubang memek yang sempit itu. Lubang memek Stephanie terasa begitu sempit dan hangat, kontol ku terasa seperti sedang di remas-remas dengan sangat kuat setiap kali aku menghujamkannya.

    Beberapa lama kemudian Shelly menarik keluar kontol ku yang basah dari dalam memek Stephanie lalu menjilati dan menghisapi cairan yang membasahi seluruh batang kontol ku, dan kemudian menjilati memek Stephanie. Shelly tampaknya sangat menikmati campuran dari rasa air mani ku dengan cairan vagina Stephanie itu.

    Kemudian Shellu kembali memasukkan kontol ku ke dalam lubang memek Stephanie. Aku pun kembali mengentot Stephanie dengan keras dan cepat.

  • Ke 2 Sahabat Istriku

    Ke 2 Sahabat Istriku


    10 views

    cerita-sex-dewasa-ke-2-sahabat-istriku

    Cerita Sex Dewasa | Aku bangun kesiangan. Kulirik jam dinding…ah… pukul 8 pagi…Suasana rumahku sepi. Tumben, pikirku. Segera
    aku meloncat bangun, mencari-cari istri dan anak-anakku..tidak ada…Ahh…baru kuingat, hari Minggu ini ada
    acara di sekolah anakku mulai jam 9 pagi. Pantas saja mereka sudah berangkat.
    Istriku sengaja tidak membangunkan aku untuk ikut ke sekolah anakku, karena malamnya aku pulang kantor
    hampir jam 4 pagi. Yah, beginilah nasib auditor kalo lagi dikejar tenggat laporan audit. Untung saja,
    ada anggota timku yang bisa mengurangi keteganganku. Ya, Agnes tentunya, yang semalam telah memberikan
    kenikmatan untukku.

    Baginya, bersetubuh dengan laki-laki lain selain suaminya bukan hal yang tabu, karena dia sendiri juga
    tidak mempermasalahkan jika suaminya berkencan dengan wanita lain. Prinsip mereka, yang penting pasangan
    tidak melihat kejadian itu dengan mata kepala sendiri. Aku tersenyum mengingat kejadian semalam.

    Sebenarnya jam 11 malam kami sepakat untuk pulang kantor, tapi ternyata aku dan Agnes sama-sama lagi
    horny berat. Akhirnya, terjadilah seperti yang sudah kuceritakan diatas. Tak terasa, aku mulai horny
    lagi. tongkolku pelan-pelan mengangguk-angguk dan mulai mengacung.

    “haduuhhh…repot bener nih, pikirku.
    “Lagi sendiri, eh ngaceng.” Kebetulan, di rumah tidak ada pembantu, karena istriku, Indah, lebih suka
    bersih-bersih rumah sendiri dibantu kedua anakku.
    “Biar anak-anak gak manja dan bisa belajar mandiri. Lagian, bisa menghemat pengeluaran,” kilah istriku.

    Aku setuju saja. Kurebahkan tubuhku di sofa ruang tengah, setelah memutar DVD BF. Sengaja kusetel, biar
    hasratku cepet tuntas. Setelah kubuka celanaku, aku sekarang hanya pakai kaos, dan tidak pakai celana.
    Pelan-pelan kuurut dan kukocok tongkolku. Tampak dari ujung lubang tongkolku melelehkan cairan bening,
    tanda bahwa birahiku sudah memuncak.

    Aku pun teringat Linda, sahabat istriku. Kebetulan Linda berasal dari suku Chinese. Dia adalah sahabat
    istriku sejak dari SMP hingga lulus kuliah, dan sering juga main kerumahku. Kadang sendiri, kadang
    bersama keluarganya. Ya, aku memang sering berfantasi sedang menyetubuhi Linda. Tubuhnya mungil,
    setinggi Agnes, tapi lebih gendut. Yang kukagumi adalah kulitnya yang sangat-sangat-sangat putih mulus,
    seperti warna patung lilin. Dan pantatnya yang membulat indah, sering membuatku ngaceng kalo dia
    berkunjung. Aku hanya bisa membayangkan seandainya tubuh mulus Linda bisa kujamah, pasti nikmat sekali.
    Fantasiku ini ternyata membuat tongkolku makin keras, merah padam dan cairan bening itu mengalir lagi
    dengan deras.

    Ah Linda…seandainya aku bisa menyentuhmu..dan kamu mau ngocokin tongkolku..begitu pikiranku saat itu.
    Lagi enak-enak ngocok sambil nonton bokep dan membayangkan Linda, terdengar suara langkah sepatu dan
    seseorang memanggil-manggil istriku.Cerita Sex Dewasa

    “Ndah…Indah…aku dateng,” seru suara itu… Oh my gosh…itu suara Linda…mau ngapain dia kesini, pikirku.

    Kapan masuknya, kok gak kedengaran? Linda memang tidak pernah mengetuk pintu kalau ke rumahku, karena
    keluarga kami sudah sangat akrab dengan dia dan keluarganya. Belum sempat aku berpikir dan bertindak
    untuk menyelamatkan diri, tau-tau Linda udah nongol di ruang tengah, dan…

    “AAAHHH…ANDREEEEW…!!!!,”jeritnya. “Kamu lagi ngapain?”
    “Aku…eh…anu…aku….ee…lagi…ini…,”aku tak bisa menjawa pertanyaannya.

    Gugup. Panik. Sal-ting. Semua bercampur jadi satu. Orang yang selama ini hanya ada dalam fantasiku,
    tiba-tiba muncul dihadapanku dan straight, langsung melihatku dalam keadaan telanjang, gak pake celana,
    Cuma kaos aja. Ngaceng pula.

    “Kamu dateng ok gak ngabarin dulu sih?” aku protes.
    “Udah, sana, pake celana dulu!” Pagi-pagi telanjang, nonton bf sendirian,lagi ngapain sih?”ucapnya
    sambil duduk di kursi didepanku.
    “Yee…namanya juga lagi horny…ya udah mending colai sambil nonton bf. Lagian anak-anak sama mamanya lagi
    pergi ke sekolah. Ya udah, self service,”sahutku.
    “Udah, Ndrew. Sana pake celana dulu. Kamu gak risih apa?”
    “Ah, kepalang tanggung kamu dah liat? Ngapain juga dtitutupin? Telat donk,”kilahku.
    “Dasar kamu ya. Ya, udah deh, aku pamit dulu. Salam aja buat istrimu. Sana, terusin lagi.” Linda
    beranjak dari duduknya, dan pamit pulang. Buru-buru aku mencegahnya.
    “Lin, ntar dulu lah…,”pintaku.

    “Apaan sih, orang aku mau ngajak Indah jalan, dia nggak ada ya udah, aku mau jalan sendiri,”sahutnya.
    “Bentar deh Lin. Tolongin aku, gak lama kok, paling sepuluh menit,”aku berusaha merayunya.
    “Gila kamu ya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”Linda protes sambil melotot.
    “Kamu jangan macem-macem deh, Ndrew. Gak mungkin donk aku lakukan itu,”sergahnya. “Lin,”sahutku tenang.
    “Aku gak minta kamu untuk melakukan hal itu. Enggak. Aku Cuma minta tolong, kamu duduk didepanku, sambil
    liatin aku colai.”
    “Gimana?” Linda tidak menjawab.

    Matanya menatapku tajam. Sejurus kemudian..

    “Ok, Lin. Aku janji gak ndeketin apalagi menyentuh kamu. Tapi, sebelum itu, kamu juga buka bajumu dong…
    pake BH sama CD aja deh, gak usah telanjang. Kan kamu dah liat punyaku, please?” aku merayunya dengan
    sedikit memelas sekaligus khawatir.
    “Hm…fine deh. Aku bantuin deh…tapi bener ya, aku masih pake BH dan CDku dan kamu gak nyentuh aku ya.
    Janji lho,”katanya.
    “Tapi, tunggu. Aku mau tanya, kok kamu berani banget minta tolong begitu ke aku?”
    ”Yaaa…aku berani-beraniin…toh aku gak nyentuh kamu, Cuma liat doang. Lagian, kamu dah liat punyaku?
    Trus, aku lagi colai sambil liat BF…lha ada kamu, kenapa gak minta tolong aja, liat yang asli?”kilahku.
    “Dasar kamu. Ya udah deh, aku buka baju di kamar dulu.”
    “Gak usah, disini aja,”sahutku.

    Perlahan, dibukanya kemejanya…dan…ah payudara itu menyembul keluar. Payudara yang terbungkus BH sexy
    berwarna merah…menambah kontras warna kulitnya yang sangat putih dan mulus. ceritasexdewasa.org Aku menelan ludah karena
    hanya bisa membayangkan seperti apa isi BH merah itu. Seteah itu, diturunkannya zip celana jeansnya, dan
    dibukanya kancing celananya. Perlahan, diturunkannya jeansnya…sedikit ada keraguan di wajahnya. Tapi
    akhirnya, celana itu terlepas dari kaki yang dibungkusnya.

    Wow…aku terbelalak melihatnya. Paha itu sangat putih sekali. Lebih putih dari yang pernah aku bayangkan.
    Tak ada cacat, tak ada noda. Selangkangannya masih terbungkus celana dalam mini berbahan satin, sewarna
    dengan Bhnya. Sepertinya, itu adalah satu set BH dan CD.

    “Nih, aku udah buka baju. Dah, kamu terusin lagi colinya. Aku duduk ya.” Linda segera duduk, dan hendak
    menyilangkan kakinya.

    Buru-buru aku cegah.

    “Duduknya jangan gitu dong…”
    “Ih, kamu tuh ya…macem-macem banget. Emang aku musti gimana?”protes Linda.
    “Nungging, gitu?” ”Ya kalo kamu mau nungging, bagus banget,”sahutku.
    “Sori ye…emang gue apaan,”cibirnya.
    “Kamu duduk biasa aja, tapi kakimu di buka dikit, jadi aku bisa liat celana dalam sama selangkanganmu.
    Toh veggy kamu gak keliatan?”usulku.
    “Iya…iya…ni anak rewel banget ya. Mau colai aja pake minta macem-macem,”Linda masih saja protes dengan
    permintaanku.
    “Begini posisi yang kamu mau?”tanyanya sambil duduk dan membuka pahanya lebar-lebar.
    “Yak sip.” Sahutku.
    “Aku lanjut ya colinya.” Sambil memandangi tbuh Linda, aku terus mengocok tongkolku, tapi kulakukan
    dengan perlahan, karena aku nggak mau cepet-cepet ejakulasi.

    Sayang, kalau pemandangan langka ini berlalau terlalu cepat. Aku pun menceracau, tapi Linda tidak
    menanggapi omonganku.

    “Oh…Liiiinnn….kamu kok mulus banget siiiihhh….”aku terus menceracau. Linda menatapku dan tersenyum.
    “Susumu montok bangeeeettttt… pahamu sekel dan putiiiihhhh….hhhhh….bikin aku ngaceng, Liiiiiinnn……”
    Linda terus saja menatapku dan kini bergantian, menatap wajahku dan sesekali melirik ke arah tongkolku
    yang terus saja ngacai alias mengeluarkan lendir dari ujung lobangnya.
    “Pantatmu, Liiiinnn….seandainya kau boleh megang….uuuuhhhhh….apalagi kena tongkolku….oouuufff…..pasti
    muncrat aku….,”aku merintih dan menceracau memuji keindahan tubuhnya. Sekaligus aku berharap, kata-
    kataku dapat membuatnya terangsang.Cerita Sex Dewasa

    Linda masih tetap diam, dan tersenyum Matanya mulai sayu, dan dapat kulihat kalo nafasnya seperti orang
    yang sesak nafas. Kulirik ke arah celana dalamnya…oppsss….aku menangkap sinyal kalo ternyata Linda juga
    mulai ternagsang dengan aktivitasku. Karena celana dalamnya berbahan satin dan tipis, jelas sekali
    terlihat ada noda cairan di sekitar selangkannya. Duduknya pun mulai gelisah.

    Tangannya mulai meraba dadanya, dan tangan yang satunya turun meraba paha dan selangkangannya. Tapi
    Linda nampak ragu untuk melakukannya. Mungkin karena ia belum pernah melakukan ini dihadapan orang lain.
    Kupejamkan mataku, agar Linda tau bahwa aku tidak memperhatikan aktivitasku.

    Dan benar saja…setelah beberapa saat, aku membuka sedikit mataku, kulihat tangan kiri Linda meremas
    payudaranya dan owww…BH sebelah kiri ternyata sudah diturunkan… Astagaaa..!!! Puting itu merah sekali…
    tegak mengacung. Meski sudah melahirkan, dan memiliki satu anak, kuakui, payudara Linda lebih bagus dan
    kencang dibandingkan Agnes.
    Kulihat tangan kiri Linda memilin-milin putingnya, dan tangan kanannya ternyata telah menyusup ke dalam
    celana dalamnya.

    “Sssshh….oofff….hhhhhh…..:” Kudengar suaranya mendesis seolah menahan kenikmatan.

    Aku kembali memejamkan mataku dan meneruskan kocokan pada tongkolku sambil menikmati rintihan-rintihan
    Linda.

    Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang hangat…basah…lembut…menerpa tongkol dan tanganku.

    Aku membuka mata dan terpekik. “Lin…kamu…,”leherku tercekat.

    “Aku nggak tega liat kamu menderita, Ndrew,”sahut Linda sambil membelai tongkolku dengan tangannya yang
    lembut.

    My gosh…perlahan impin dan obsesiku menjadi kenyataan. tongkolku dibelai dan dikocok dengan tangan Linda
    yang putih mulus. Aku mendesis dan membelai rambut Linda.

    Kemudian secara spontan Linda menjilat tongkolku yang sudah bene-bener sewarna kepiting rebus dan
    sekeras kayu. Dan…hap…! Sebuah kejadian tak terduga tetapi sangat kunantikan…akhirnya tongkolku masuk ke
    mulutnya. Ya, tongkolku dihisap Linda. Sedikit lagi pasti aku memperoleh lebih dari sekedar cunilingis.
    Tak tahan dengan perlakuan sepiha Linda, kutarik pinggulnya dan buru-buru kulepaskan Cdnya.

    “Kamu mau ngapain, Ndrew?” Linda protes sambil menghentikan hisapannya.

    Aku tidak menjawab, jariku sibuk mengusap dan meremas pantat putih nan montok, yang selama ini hanya
    menjadi khayalanku.

    “Ohh..Lin…boleh ya aku megang pantat sama memiaw kamu?”pintaku.
    “Terserah…yang penting kamu puas.” Segera kuremas-remas pantat Linda yang montok.

    Ah, obsesiku tercapai…dulu aku hanya bisa berkhayal, sekarang, tubuh Linda terpampang dihadapanku. Puas
    dengan pantatnya, kuarahkan jariku turun ke anus dan vaginanya. Linda merintih menahan rasa nikmat
    akibat usapan jariku.

    “Achh…Liiiinn…enak bangeeeeett….sssshhh…….”aku menceracau menikmati jilatan lidah dan hangatnya mulut
    Linda saat mengenyot tongkolku. Betul-betul menggairahkan melihat bibir dan lidahnya yang merah menyapu
    lembut kepala dan batang kelelakianku.

    Hingga akhirnya…. “Liiinn….bibir kamu lembut banget sayaaaannggg….aku…kach…aku…” “Keluarin sayang…
    tongkol kamu udah berdenyut tuh….udah mau muncrat yaaa….”

    “I…iiy…iiyyaaa….Liiiiinnnnnnnnn….Ouuuuufuffffff…..argggghhhhhhhhhh…..” Tak dapat kutahan lagi.

    Bobol sudah pertahananku. Crottt…..crooottt….crooootttt… Spermaku muncrat sejadi-jadinya di muka, bibir
    dan dada Linda.

    Tangan halus Linda tak berhenti mengocok batang kejantananku, seolah ingin melahap habis cairan yang
    kumuntahkan Ohhhh…….my dream come true….. Obsesiku tercapai…pagi ini aku muncratin pejuhku di bibir dan
    muka Linda.

    “Lin…kamu gak geli sayang…? Bibir, muka sama dada kamu kenas permaku?” Linda menggeleng dengan pandangan
    sayu.

    Tangannya masih tetap memainkan tongkolku yang sedikit melemas.

    “Kamu baru pertama kali kan, mainin koto orang selain suami kamu?”
    “Iya, Ndrew. Tapi kok aku suka ya…terus terang, bau sperma kamu seger banget…kamu rajin maka buah sama
    sayur ya?” tanya Linda.
    “Iya…kalo gak gitu, Indah mana mau nelen sperma aku.”
    “Aihhh….” Linda terpekik.
    “Indah mau nelen sperma?” Aku mengangguk.
    “Keapa Lin? Penasaran sama rasanya? Lha itu spremaku masih meleleh di muka sama dada kamu. Coba aja
    rasanya,”sahutku.
    “Mmmm…ccppp…ssllrppp….” terdengar lidah dan bibir Linda mengecap spermaku. Dengan jarinya yang lentik,
    disapunya spermaku yang tumpah didada dan mukanya, kemudian dijilatnyajarinya smape bersih.Cerita Sex Dewasa

    Hmmm….akhirnya spermaku masuk kedalam tubuhnya…

    “Iya, Ndrew, sperma kamu kok enak ya. Aku gak ngerasa enek pas nelen sperma kamu…”
    ”Mau lagi….?”
    “Ih…kamu tuch ya…masih kurang, Ndrew?” “Lha kan baru oral belum masuk ke meqi kamu, Lin.” Sahutku…
    ”Tuh, liat…bangun lagi kan?”
    “Dasar kamu ya….”
    ”Benerkamu gak mau spermaku ? Ya udah kalo gitu, aku mau bersih-bersih dulu.”ancamku sambil bangkit
    dari kursi.
    “Mau sih…Cuma takut kalo Indah dateng…gimana donk….”Linda merajuk.

    Perlahan kuhampiri Lida, kuminta dia duduk di sofa, sambil kedua kakiya diangkat mengangkang. Kulihat
    meqinya yang licin karena cairan cintanya meleleh akibat perbuatan jariku.

    “Hmmm…Lin…meqi kamu masih basah…kamu masih horny dong…”tanyaku.
    “Udah, Ndrew….cepetan deh…nanti istrimu keburu dateng…Lagian aku udah…Auuuwwww….!!!!
    Ohhh..Shhhhh…….”Linda memiawik saat lidahku menari diujung klitorisnya.
    “Ndrewwww…kamu gilaaa yaaa…”bisiknya samil menjambak rambutku.

    Kumainkan lidahku dikelentitnya yang udah membengkak. Jari ku menguak bibir vagina Linda yang semakin
    membengkak. Perlahan kumasukkan telunjukku, mencari G-spotnya. Akibatnya luar biasa. Linda makin meronta
    dan merintih. Jambakannya makin kuat. Cairan birahinya makin membasahi lidah dan mulutku. Tentu saja hal
    ini tak kusia-siakan. Kusedot kuat agar aku dapat menelan cairan yang meleleh dari vaginanya. Ya…aroma
    vagina Linda lain dengan aroma vagina istriku.

    Meskipun keduanya tidak berbau amis, tapi ada sensasi tersendiri saat kuhirup aroma kewanitaan Linda.

    “C’mon..Ndrew…I can’t stand…ochhh…ahhhhhh…shhhh……c’mon honey….quick…quick….” Aku paham, gerakan pantt
    Linda makin liar. Makin kencang. Kurasakan pula meqinya mulai berdenyut…..seentar lagi dia meledak,
    pikirku.
    “Ting…tong…”bel rumahku berbunyi.
    “Mas…..mas Andrew….”suara wanita didepan memanggil namaku.

    Sontak kulepaskan jilatanku. Linda memandang wajahku dengan wajah pucat. Aku pun memandang wajahnya
    dengan jantung berdebar.

    “Ndrew..kok kayak suara Rika ya…”Linda bertanya
    “Wah..mau ngapain dia kesini…..gawat dong…”ucapku ketakutan.
    “Udah Lin, kamu masuk kamarku dulu deh…cepetan…” Segera Linda berjingkat masuk ke kamarku, mungkin
    sekalian membersihkan tubuhnya karena dikamarku ada kamar mandi.

    Aku tau ada sebersit ekspresi kecewa di wajahnya, karena Linda hampir meledakkan orgasmenya, yang
    terputus oleh kedatangan Rika, sahabatnya sekaligus sahabat istriku.

    Setelah kupakai kaos dan celana yang kuambil dari lemari dan cuci muka sedikit, aku menuju ke ruang
    tamu, membuka pintu.

    “Halo, mas….’Pa kabar..?” sahut Rika begitu melihatku membuka pintu.
    “Baik, dik. Ayo masuk dulu. Tumben nih pagi-pagi, kayaknya ada yang penting?” tanyaku seraya mengajak
    Rika menuju ruang tengah.

    Mataku sedikit terbelalak melihat pakaiannya. Bagaimana tidak? Kaos ketat menempel dibadannya, dipadukan
    dengan celana spandex ketat berwarna putih. Aku melihat lipatan cameltoe di selangkangannya menandakan
    bahwa didaerah itu tidak ada bulu jembutnya, dan saat aku berjalan dibelakangnya, tak kulihat garis
    celana dalam mebayang di spandexnya. Hmm…mana mungkin dia gak pake CD..mungkin pake G-string, pikirku.

    Kami berdua segera menuju ruang tengah. Untung saja, film bokep yang aku setel udah selesai, jadi Rika
    nggak sempat melihat film apa yang tengah aku setel.

    “Ini lho mas, aku mau anter oleh-oleh. Kan kemarin aku baru dateng dari Jepang. Nah, ini aku bawain
    ….sedikit bawaan lah, buat kamu sama Indah. Itung-itung membagi kesenangan.”
    “Wah…tengkyu banget lho…kamu baik banget”
    “Ah, biasa aja lageee..hehehe” Kami berdua sejenak ngobrol-ngobrol, karena memang sudah beberapa bulan
    Rika nggak berkunjung ke rumahku.

    Rika ini adalah salah satu sahabat istriku, selain Linda . Diam-diam, akupun juga terobsesi dapat
    menikmati tubuhnya. Ya, Rika seorang wanita yang mungil. Tinggi badannya nggak lebih dari 155cm.
    Bandingkan dengan tinggiku yang 170. Warna kulitnya putih, tapi cenderung kemerahan.

    Hmm..aku sering berkhayal lagi ngent*tin Rika, sambil aku gendong dan aku rajam memiawnya dengan
    tongkolku. Pasti dia merintih-rintih menikmati hujaman tongkolku…Cerita Sex Dewasa

    “Hey…bengong aja…ngeliatin apa sih..” tegur Rika.
    “Eh…ah…anu…enggak. Cuma lagi mikir, kapan ya gw bisa jalan-jalan sama kamu…” Eits..kok ngomongku
    ngelantur begini sih. Aduh…gawat deh…
    “Alaaa..mikirin jalan-jalan apa lagi ngeliatin sesuatu?” Rika melirikku dengan pandangan menyelidik.

    Mati aku…berarti waktu aku ngeliatin bodynya, ketahuan dong kalo aku melototin selangkangannya. Wah….

    “Ya udah, mas. Aku pamit dulu, abis Indah pergi. Lagian,dari tadi kamu ngeliatin melulu. Ngeri aku…ntar
    diperkosa sama kamu deh..hiyyy…” Rika bergidik ambil tertawa. Aku Cuma tersenyum.
    “Ya udah, kalo kamu mau pamit. Aku gak bisa ngelarang.”
    “Aku numpang pipis dulu ya.”Rika menuju kamar mandi di sebelah kamarku.
    “Iya.” Tepat saat Rika masuk kamar mandi, sambil berjingkat Linda keluar dari kamarku.

    Aku terkejut, dan segera menyuruhnya masuk lagi, karena takut ketahuan. Ternyata CD Linda ketinggalan di
    kursi yang tadi didudukinya waktu sedang aku jilat memiawnya.

    Astagaaa…untung Rika nggak ngeliat…atu jangan-jangan dia udah liat, makanya sempat melontarkan pandangan
    menyelidik? Entahlah…

    “Cepeeeett..ambil trus ke kamar lagi.”perintahku sambil berbisik. Linda mengangguk, segera menyambar
    Cdnya dan…
    “Ceklek….!” Pintu kamar mandi terbuka, dan saat Rika keluar, kulihat wajahnya terkejut melihat Linda
    berdiri terpaku dihadapannya sambil memegang celana dalamnya yang belum sempat dipakainya.

    Ditambah keadaan Linda yang hanya memaki kaos, tetapi dibawah tidak memakai celana jeansnya. Akupun
    terkejut, dan berdiri terpaku. Hatiku berdebar, tak tahu apa yang harus kuperbuat atau kuucapkan.
    Semuanya terjadi dalam waktu yang sangat singkat dan tak terelakkan. Kepalaku terasa pening.

    “Linda…? Kamu lagi ngapain?” Rika bertanya dengan wajah bingung campur kaget.
    “Eh…anu…ini lho…”kudengar Linda gelagapan menjawab pertanyaan Rika.
    “Kok kamu megang celana dalem? Setengah telanjang lagi?” selidik Rika.
    “Oo…aku tau…pasti kamu berdua lagi berbuat yaaa…?”
    “Enggak Rik. Ngaco kamu, orang Linda lagi numpang dandan di kamarku kok.” Sergahku membela diri.
    “Trus, kalo emang numpang dandan, ngapain dia diruangan ni, pake bawa celana dalem lagi.” Udah gitu
    telanjang juga..Hayo!!!” Rika bertanya dengan galak.
    “Sini liat.” Rika menghampiri Linda dan cepat merebut celana dalam yang dipegang Linda, tanpa perlawanan
    dari Linda.
    “Kok basah…?”Rika mengerutkan keningnya.
    “Nhaaaaa..bener kan…hayooooo….kamu ngapain…?”
    ”udah deh, Rik…emang bener, aku lagi mau ML sama Linda. Belum sempet aku ent*t, sih. Baru aku jilat-
    jilat memiawnya, keburu kamu dateng.”

    Aku menyerah dan memilih menjelaskan apa yang barusan aku lakukan.

    “Kamu tuh ya…udah punya istri masih doyan yang lain. Ini cewek juga sama aja, gatel ngeliat suami
    sahabatnya sendiri.” Rika memaki kami berdua dengan wajah merah padam.
    “Terserah kamu lah…kamu mau laporin aku sama Linda ke polisi…silakan. Mau laporin ke Indah…
    terserah….”ucapku pasrah.
    “Hmm…kalo aku laporin ke Indah…kasian dia. Nanti dia kaget.Kalo ke polisi….ah…ngrepotin.” Rika
    meninmbang-nimbang apa yang hendak dilakukannya.
    “Gini aja mas. Aku gak laporin ke mana-mana. Tapi ada syaratnya.” Rika memberikan tawarannya kepadaku.
    “Apa syaratnya, Rik?”
    “Nggak berat kok. Gampang banget dan mudah.”
    “Iya, apaan syaratnya?” Linda ikut bertanya
    “Terusin apa yang kamu berdua tadi lakuin. Aku duduk disini, nonton. Bagaimana?”
    “WHAT?” aku dan Linda berteriak bebarengan.
    “Gila lu ya, masa mau nonton orang lagi ML?”
    “Ya terserah kamu.Mau pilih mana…?”Rika mencibir dengan senyum kemenangan.

    Aku dan Linda saling berpandangan. Kuhampiri Linda, kubelai tangan dan rambutnya. Linda seolah memahami
    dan menyetujui syarat yang diajukan Rika. Segera saja kulumat bibirnya yang ranum dan tanganku meremas
    pantatnya yang sekel. Linda segera membuka kaosnya.

    Sambil terus berciuman dan meremas pantatnya, kubimbing Linda menuju sofa. Kurebahkan ia disana, dan
    dengan cekatan dilepaskannya kaos dan celana ku sehingga aku sekarang telanjang bulat di hadapan Linda
    dan Rika.

    Aku melirik Rika, yang duduk menyilangkan kakinya. Kulihat wajahnya menegang seperti tegangnya
    tongkolku. Aku tersenyum-senyum kearahnya, sambil memainkan dan mengocok-ngocok tongkolku, seolah hendak
    memamerkan kejantananku.

    “Ayo, ndrew…cepetan deh…udah gak tahan, honey…”Linda merintih.
    “Biarin aja si Rika…paling dia juga udah basah.”
    “Enak aja kamu bilang.”sergah Rika.
    “Udah buruan, aku pengen liat kayak apa sih kalian kalo ML.” Aku menatap mata Linda yang mulai sayu dan
    tersenyum.

    Setelah melepas seluruh pakaiannya, sempurnalah ketelanjangbulatan kami berdua. Tak sabar, segera
    kusosor memiaw Linda yang sangat becek oleh lendir birahinya.

    “Achhhh….sshhhh….ooouufffffggg…Andreeeeewwwwww….”Linda menjerit dan mengerang menerima serangan lidahku.
    Pantatnya tersentak keatas, mengikuti irama permainan lidahku. Hmmm…nikmat sekali. memiawnya berbau
    segar, tanda bahwa memiaw ini sangat terawat.

    Dan yang membutku girang adalah lendir memiawnya yang meleleh deras, seiring dengan makin kuatnya
    goyangan pinggulnya.

    “Hmmmppppppff…Andrew…Andrew…sayaaaanngg.. akh…akh…akkkkkuu…”Linda terus merintih. Nafasnya tersengal-
    sengal, seolah ada sesuatu yang mendesaknya.
    ‘Akku……mmmhhhhh…ssshhh….”
    “Keluarin sayang….keluarin yang banyak…..”aku berbisik sambil jari tengahku terus mengocok memiawnya,
    dan jempolku menggesek itilnya yang sudah sangat keras.

    Baik itil maupun memiaw Linda sudah benar-benar berwarna merah, sangat basah akibat lendirnya yang
    meleleh, hingga membasahi belahan pantat dan sofa. Segera aktivitas tanganku kuganti dengan jilatan
    lidahku lagi. Hal ini membuatpaha Linda menegang, tangannya menjambak rambutku, sekaligus membenamkan
    kepalaku ditengah jepitan pahanya yang menegang. Aku merasakan memiawnya berdenyut, dan ada lelehan
    cairan hangat menerpa bibirku.Cerita Sex Dewasa

    “ANDREEEEEEWWWWWWW…..AAAAACCCCHHHHHHHHH……”Linda menjerit keras sekali, menjepit kepalaku dengan pahanya,
    menekan kepalaku di selangkangannya dan berguncang hebat sekali.

    Tak kusia-siakan lendir yang meleleh itu. Kusedot semuanya, kutelan semuanya. Ya, aku tidak mau membuang
    lendir kenikmatan Linda. Sedotanku pada memiawnya membuat guncanganLinda makin keras…dan akhirnya Linda
    terdiam seperti orang kejang. Tubuhnya kaku dan gemetaran.

    “Oooohhhh…Ndreww…aaachhh…..”Linda menceracau sambil gemetaran.
    “Enn..en….Nik…mat…bangeth….sssse….dothan…sama jhiilatan kkk…kamu…” Kulihat Linda tersenyum dengan wajah
    puas.

    Segera kuarahkan bibrku melumat putingnya yang keras dan kemerahan. Meskipun sudah melahirkan dan
    menyusui dua anak, payudara Linda sangat terawat, kencang. Dan putingnya masih berwwarna kemerahan.
    Siapa lelaki yang tahan melihat warna putting seperti itu, apalgi sekarang puting merah itu benar-benar
    masih keras dan mengacung meski pemiliknya barusan menggapai orgasme.

    “Shhh…Dreeewwww…iihhhh…geli….” Lnda menggelinjang saat kuserbu putingnya.

    Aku tidak mempedulikan rintihannya. Kulumat putingnya dengan ganas sehingga badan Linda mulai mengejang
    lagi.

    “Acchhh….Andreww….sayaaaannggg…”Linda merintih.
    “Terus sayang…iss…ssseeeppp…pen….til…kuhh…ooofffffhhhhhhhhh……” Tanpa aba-aba, segera kusorongkan
    tongkolku yang memang sudah mengeras seperti kayu ke memiaw Linda.

    Blessss…….

    “Ahhhhkkk…..mmmmppppfff…..ooooooggggghhhh….”pantat Linda tersentak kedepan, seiring dengan menancapnya
    tongkolku di mekinya.

    Kutekan tongkolku makin dalam dan kuhentikan sejenak disana. Terasa sekali memiaw Linda berkedut-kedut,
    walaupun tergolong super becek.

    “Ayo, nDrew…..gocek tongkol kamuh….akk….kkuuuu….udah mau…keluarrrrr…laggiiiihhh…”Linda merintih memohon.
    Segera kugocek tongkolku dengan ganas.
    “crep.crep…cplakkk….cplaakkkk…cplaakkkk….” suar gesekan tongkolku dengan memiaw Linda yang sudah basah
    kuyup nyaring terdengar.

    Tak lupa kulumat bibirnya yang ranum, dan tanganku menggerayang memilin menikmati payudara dan
    putingnya. Sesaat kemudian kulihat mata Lnda terbalik, Cuma terlihat putihnya. Kakinya dilipat mengapit
    pinggul dan pantatku. Tangannya memeluk ubuhku erat.

    “AN…DREEEWWWW…….OOOOGGGHHHH…>AAAKKKKKKKKKKKK….” Linda menjerit keras dan sekejap terdiam.

    Tubuhnya bergetar hebat. Terasa di tongkolku denyutan memiaw Linda…sangat kuat. Berdenyut-denyut, seolah
    hendak memijit dan memaksa spermaku untuk segera mengguyur menyiram memenya yang luar biasa becek. Makin
    kuat kocokan tongkolku didalam memiaw Linda, makin kencang pula pelukannya. Nafas Linda tertahan, seolah
    tidka ingin kehilangan moment-moment indah menggapai puncak kenikmatan. Karena denyutan memiaw Linda
    yang membuatku nikmat, ditambah rasa hangat karena uyuran lendir memiawnya, aku pun tak tahan. Ditambah
    ekspresi wajahnya yangmemandang wajahku dengan mata sayu namun tersirat kepuasan yang maat sangat.

    “Ayo nDrew…keluarin pejuh kamu…keluarin dimemiawku….”Linda memohon.
    “Kamu gak papa aku tumpahin pejuh di rahim kamu?”tanyaku sambil terengah-engah.
    “No problem honey…aku safe kok….”sahut Linda.
    “C’mon honey..shot your sperm inside…c’mon honey….”

    LIN……LINDAAAA…..LINDAAAAAAAA….ARGGGGGGHHHHH…”aku merasakan pejuhku mendesak.
    Kupercepat kocokanku, dan Linda juga mengencangkan otot memiawnya, berharap agar aku cepet muncrat.
    AAACCHHHHHHH………..” Jrrrrrooooooooootttt…..jrrrrooooooooottttt..jrrrroooooottttt…..tak kurang dari tujuh
    kali semprotan pejuhku. Banyak sekali pejuh yang kusemprotkan ke rahim Linda, sampai-sampai ia
    tersentak. Kubenamkan dalam-dalam tongkolku, hingga terasa kepalaku speerti memasuki liang kedua.

    Ah….ternyata tongkolku bisa menembus mulut rahimnya. Berarti pejuhku langsung menggempur rahimnya.
    Ohhh…nDrreeeww…enak sayang….nikmat, sayaaannggg…offffffghhhh……” Linda merintih lagi. “Uggghhh…hangat
    sekali pejuh kamu, Ndrew…” ucap Linda.

    Setelah beristirahat sejenak dengan menancapkan tongkolku dalam-dalam, secara mendadak kucabu tongkolku.

    “Plllookkkkk….” Kupandangi memiaw Linda yang masih membengkak dan merah dengan lubang menganga. Linda
    segera mengubah posisi duduknya dan…ceeerrrrrr……pejuhku meleleh.Cerita Sex Dewasa

    Segera saja jemari Linda meraih dan mengorek bibir memiawnya, menjaga agar pejuhku tidak tumpah kesofa.
    Akibatnya, telapak tangan Linda belepotan penuh dengan pejuhku yang telah bercampur lendir memiawnya.
    Dengan pejuh di telapak tangan kanannya, Linda menggunakan jari tangan kirinya,mengorek memiawny untuk
    membersihkan memiawnya dari sisa pejuhku.

    “Brani kamu telen lagi?” tantangku.
    “Idih…syapa takut….”Linda balas menantangku.
    “Nih liat ya….” Clep…dijilatnya telapak tangan yang penuh pejuhku…
    “MMmmmm….slrrpppp….glek….aachhhh….” Linda nampak puas menikmati pejuh ditangannya.
    “Hari ini kenyang sekali aku…sarapan pejuh kamu duakali..hihihihi…”Linda tertawa geli.
    “Tuh…masih ada sisanya ditangan. Mbelum bersih.” Sahutku.
    “Tenang, nDrew..sisanya buat…ini.” Sambil berkata begitu, Linda mengambil sebagian pejuhku dan
    mengusapkannya diwajahnya.
    “Bagus lho buat wajah…biar tetep mulus…”sahut Linda sambil mengerling genit.
    “Astagaaaa….kamu tuh, Lin…diem-diem ternyata…”kataku terkejut.
    “Kenapa…? Kaget ya?”
    “Diem-diem, muka alim..tapi kalo urusan birahi liar juga ya..”
    “Ya iyalaaahhh..hare gene, Ndrew…orang enak kok ditolak.”
    ”Tau gitu tadi aku semprot di uka kamu aja ya..” sesalku
    “Iya juga sih..sebenernya aku pengen kamu semprot. Cuman aku dah gak bisa ngomong lagi…nahan enak
    sih..lagian aku pengen ngerasain semprotan pejuh kamu di memiawku.” Linda tersenyum
    “Eh, Ndrew…ssstttt…coba liat tuh…jailin yuk…..”ajak Linda

    Ya ampuuunnnn…aku lupa bahwa aktivitasku tengah diamat Rika. Segera kulirik Rika, yang ternyata tanpa
    kami sadari tengah beraktivitas sendiri. Tangannya menggosok-nggosok sapndexnya, yang mulai membasah.
    Kulihat lekukan cameltoenya makinbesar, lebih besar dari yang kulihat diruang tamu.

    Pertanda bahwa Rika juga telah dilanda birahi. Linda mencolek tanganku, rupanya ia ingin mengerjai Rika.
    Aku setuju. Sambil berjingkat, aku dan Linda menghampiri Rika. Segera tangan Linda yang masih ada sisa
    pejuhku dioleskan kemuka dan bibir Rika.

    “MMppphhhh…..fffggghhh…..” Rika sontak terkejut dan menghentikan aktivitasnya.
    “apaan nih…kok kayak bau pejuh…?”
    “Udahlah Rik….aku tau kamu juga ikutan horny, ngeliat aku dient*t sama mas Andrew.” Linda tersenyum-
    senyum genit.
    “AH…aku…eeehh….anuu….” Rika gelagapan kehabisan kata-kata.
    “Rik…kalo kamu juga horny, gak papa kok…aku masih kuat.” Tantangku.
    “Tuh, kamu liat. Kon tolku masih bisa bangun.” Ya, walaupun sudah menyemprotkan amunisinya dua kali
    permainan, kon tolku mash berdiri walaupun tak sekeras waktu ngent*tin Linda.

    Malahan sekarang kon tolku berdenyut dan mengangguk-angguk, seolah menyetujui usulku dan Linda.

    “Tuhhh, Rik. Kon tolku manggutmanggut.”sahutku.

    “Tapi nanti kalo Indah pulang gimana?” tanya Rika.
    “Don’t worry, honey. Kalo memang kepergok, nanti aku bantu jelasin ke Indah.” Hibur Linda.
    “Soalnya, dulu-dulu aku pernah becandain Indah, gimana kalo sekali-sekali aku minjem tongkol suaminya.”
    “Trus, Indah bilang apa?” Rika penasaran.
    “Mmmm.dia sih gak bilang iya tapi juga gak bilang enggak.”jawab Linda.
    “Dia cuman ngomong, ya kalo kamu gak malu sama Andrew, terserah kamu. Tapi kalo Andrew ketagihan, resiko
    tanggung sendiri lho. Gitu kata Indah.”
    “Oooo…..” Rika terlongong mendengar penjelasan Linda.

    Aku pun terperangah. Jadi……ternyata…..???? jangan-jangan mereka berdua memang sengaja kesini…atas
    suruhan Indah…. Gak pake lama segera kulumat bibir Rika yang mungil.

    “Mmmpphhh…mmppfff……..aaahhhh…”Rika mendesah….
    ”Andrewww…puasin aku sayang……guyur aku dengan pejuhmu kayak Linda tadi….oooccchhhhh…..”

    Aku terus melumat bibirnya..lehernya yang jenjang dan mulus…kujilat pula telinganya yang membuat Rika
    merinding dan tersengal-sengal. Ternyata salah satu titik rangsangannya adala teling. Linda membantu
    melepaskan spandex Rika.

    Dan…oouuuwww…pantesan di selangkangan Rika terlihat seperti terbelah. Rupanya dia memakai G-String yang
    segitiganya hanya mampu menutupi itilnya. Selebihnya…terlihat bibir me meknya sudah membengkak kemerahan
    dan basah kuyup oleh lendirnya. Kulihat me mek Rika sama dengan Linda…bersih dari bulu jembut, sehingga
    ha ini membuat kon tolku langsung tegak mengeras lagi. Linda turut membantu Rika melepaskan G-String,
    kaos dan Bhnya. Seolah Linda tak ingin Rika direpotkan oleh aktivitas lain yang mengurangi kenikmatan
    bercinta.

    “Ohhh…nDreeww,,,,sssshhhhh….hhhaaaaaarrrggghhh….mmmppphhhhh…..”Rika merintih-rintih sambil
    mennggelengkan kepalanya saat bibirku turun ke putingnya.

    Payudara Rika lebih kecil dari Linda, mungkin hanya 34B, dibandingkan milik Linda yang 36C. Putingnya
    berwarna coklat muda, tegak keras mengacung, seolah menantangku untuk segera melahapnya.
    Dan…hap….kusedot putting kiri, sementara tangan kananku meremas payudara sebelah kanan dan memilin
    putingnya.Cerita Sex Dewasa

    “Auuuccchhhh..Anddreewwww…ampunnnn…amppuuuuuunnnnn…..”Rika berteriak menahan nikmat saat jari tangan
    kiriku menyusuri memiawnya.

    Kumasukkan jari tengahku sambil jempolku menggosok itil Rika yang sangat keras.

    “Rik…kon tol Andrew diusap dong…biar cepet keras…” ujar Linda. Segera tanpa diperintah dua kali, Rika
    segera meraih kon tolku, mengusap dan mengocok bergantian.
    “Uffff…Rika sayaaanng…akhirnya kon tolku kena kamu yaaa…”aku merintih menahan nikmat.

    Ternyata Rika sangat terampil dalam urusan kocok mengocok, sehingga tak perlu waktu lama kon tolku sudah
    sekeras kayu lagi, mengkilat kemerahan. Tak sabar segera kubalikkan tubuh Rika, sehingga posisinya
    sekarang nungging didepanku. Lututnya bertumpu pada sofa panjang, sehingga punggungnya meliuk, menambah
    sexy posisinya saat itu. Dengan pantat membulat, tampak bibir me mek Rika merekah merah dan berkilat
    licin oleh cairan birahinya. Tak tahan, kuserbu me mek Rika, kujilat itilnya dan kukorek liangnya dengan
    jari-jariku.

    “Arggghhh…Andrew….oohhhh….nik..mat…sss…sseekkk..kali……say….yaannnghhh….”Rika menjerit sambil tersengal.
    Napasnya memburu.
    “Akk..kku…hammm..ppir sampai, honey…”Rika terus merintih.Ah…ternyata Rika tak sanggupbertahan lebih lama
    lagi.

    Terasa sekali dibibirku, suhu me mek Rika makin panas, dan lendir cintanya bertambah banyak mengalir.
    Segera saja kuarahkan batang kon tolku yang menunggu giliran, merojok me mek Rika.

    “Ugghhhh……aaacccgghhhhhh…Andreeeewwww………”pantat Rika tersentak menerima hunjaman kon tolku yang begitu
    tiba-tiba.

    Nikmat sekali me mek Rika. Meskipun sama-sama becek dan mampu berdenyut, aku merasakan sensasi lain
    dibandingkan me mek Linda. Makin lama makin terasa me mek Rika berdenyut-denyut. Tak ada suara yang
    keluar dari bibir Rika, kecuali erangan dan rintihan. Kurasakan otot disekitar pantat dan
    selangkangannya mengejang dan tiba-tia Rika menekan pantatku sambil melolong….

    “OOOOUUUWWWWWW….ANDREEEEEEEWWWW…..UUUUUUUFFFFGGGGHHHHHH…..” Nafas Rika tertahan, dan kupercepat hunjaman
    kon tolku, seolah menyerbu me mek Rika bertubi-tubi.

    Ahh…..betapa hangat lendir birahi yang mengalir, bahkan sampai meleleh membasahi pahaku dan paha Rika.
    Rika tetap menggoyang-goyangkan pantatnya, sehingga membuatku makin bernafsu menggocek kon tolku dalam
    me meknya yang becek namun sempit.

    “C’mon honey…shot your sperm inside my mouth….,”Rika menoleh dan menatapku dengan mata sayu seolah
    memohon agar kusemprotkan spermaku dimulutnya.

    “Ohhhhh….aaaawwwgghhh….Rikaaaaa…me mek kamu kok ennnnaaakk bangethhh sssssiiiccchhh….,”aku menceracau
    sambil terus memajumundurkan pantatku.
    “Ngeliat pantat kamu yang bulet ..dddaannn…putih…eeegghhhh….bikinnhh….aakkk…..kkkuuuu….pengennnnhhhh
    ….ngecreettthhh…….aaarrrrggghhh….RIIIKKKAAAAAAAAAA……,”aku berteriak keras sambil mencabut tongkolku.

    Serta merta Rika meraih kon tolku, mengocoknya sambil mengisap kepala dan batangnya. “C’mon…ayo Ndrew…
    keluarin pejuhmu…..”

    “Aku pengen ngerasain pejuh kamu….” Linda pun tak tinggal diam. Ia berbaring telentang dibawahku dan
    menjilat perineumku, seolah tau bahwa itu adalah daerah “mati”ku.

    Ya, aku paling gak tahan kalo perineumku dijilat. AAAARRRGGGHHHH….LINDAAAAAA….gila
    kamu….aaarrrghhhh…..nnnniiikk…mathhh..bangetttt…..”

    “Aku gak tahan, Rikaaa…Lindaaa….sayangku cintaku…..”

    Dan…..crrroooooottt….crroooootttt…..

    “Haeeppphh…eeelllppphhhhh….hhhmmmppphhhhh…..”suara dari mulut Rika.

    Tampak dia gelagapan menerima semburan spermaku, tak kurang dari 5semburan kencang dan banyak…

    “Aaaahhh…..ooouuffhh….auuww…ooouuww…udah Rik…udah…udah…jangan diisep teruss…gelllliiii…..”aku meringis
    kegelian karena Rika tetep mengisap tongkolku, seolah tak rela kalo pejuhku tak keluar tuntas.

    Seolah ingin menikmati pejuhku hingga tetes terakhir.

    “Hmmm…udah puas kamu Rik?” tanya Linda sambil bibirnya mengecap-ngecap pejuhku yang menetes ke mukanya.
    “Ahh…gila juga si Andrew ya…”sahut Rika.
    “memiawku rasanya penuh banget. Mana kon tol dia panjang lagi. Berasa mentok di rahimku kayaknya.”
    “Liang kamu gak dalem sih Rik,” timpalku.
    “Tapi asyik kok rasanya. Ternyata memiaw kalian sama2 gak dalem ya…”
    “Thanks banget ya buat kamu berdua, udah mau bantuin aku,”ucapku.
    “No problem, dear Andrew,” sahut Rika dan Linda hampir bersamaan.
    “Gimanapun, kamu kan suami sahabatku, boleh dong kalo saling bantu…”sahut Rika.

    Baca Juga Cerita Sex Rental

    Kami pun bercanda sejenak sekedar melepaskan lelah. Dan sambil masih tetap bertelanjang, kupersilakan
    Rika dan Linda ke ruang makan untuk sekedar minum minuman segar. Kulirik, jam menunjukkan waktu pukul
    11.37 siang, pertanda tak lama lagi istriku dan anak-anak akan segera datang. Mereka berdua pun segera
    membersihkan diri dari sisa-sisa lendir dan sperma yang membasahi me mek maupun wajah mereka.

    “Ok Ndrew…aku pamit dulu ya…,”Rika pamit sambil mengecup bibirku.
    “Daaa, sayang…”
    “Mmmuuaachh…,”Linda memagut bibirku lama, seolah tak mau kehilangan momen yang sangat dahsyat.
    “Bye, Ndrew…,”Linda juga berpamitan.
    “Salam buat Indah ya…tapi jangan bilang lho, kalo kamu habis bagi-bagi pejuh…xixixi..” Rika dan Linda
    cekikikan sambil berjalan keluar.
    “Ok, hon…don’t worry…thanks ya…”sahutku sambil melambaikan tangan dan mengantar mereka ke pagar. Ah,
    betapa bahagianya aku, ternyata dua sahabat istriku tak keberatan olah sex denganku, yang selama ini
    hanya khayalanku, kini telah menjadi kenyataan.

  • Cerita Panas Perkosa Wanita Berkerudung

    Cerita Panas Perkosa Wanita Berkerudung


    117 views

    Cerita Panas Perkosa Wanita Berkerudung

    Aku seorang lelaki beristri. Tetapi, kejadian spontan telah membuatku menjadi orang yg terobsesi pada sex dengan kekerasan. Tepatnya, aku kini jadi pemerkosa. Spesialisasiku, memperkosa perempuan berjilbab.

    Siang itu, aku berhenti di depan sebuah warung kecil. Mau beli Djarum Super. Baru sekali ini aku ke warung ini. Seperti aku bilang tadi, aku mau beli Djarum Super. Rokok biasanya dipajang di bagian depan warung. Saat itulah kulihat seorang perempuan tengah nungging membelakangiku. Kelihatannya ia sedang menata barang dagangan.

    Kalian pasti membayangkan aku melihat paha yg tersingkap di balik rok. Jangan keliru dulu. Yg kulihat justru perempuan dengan busana serba tertutup. Ia pakai gamis panjang sampai mata kaki. Tetapi justru itu menariknya. Perempuan ini memakai gamis dari bahan halus berwarna biru muda. Kelihatan juga ia berjilbab biru tua. Jilbabnya panjang. Ujungnya sampai ke pinggulnya. Pada posisi menungging gitu, bagian muka jilbabnya jatuh sampai ke lantai. Dari celah jilbab di bawah lengannya terlihat tonjolan teteknya lumayan gede juga.

    yg pertama menarik perhatianku justru bokongnya. Dari belakang terlihat bundar. Di bundaran itulah terlihat cetakan garis celana dalamnya. Entah mengapa aku jadi tertarik mengamati terus gerakan bokong perempuan itu. Sekitar lima menitan aku pandangi bokong itu. Yg terlihat di mataku kini bercampur dengan imajinasi bokong telanjang. Tambah parah lagi karena sekali perempuan itu menggaruk pantatnya tanpa sadar ada yg mengawasi. Tanganku rasanya gatal, ingin mengelus dan meremas pantat bundar itu. Akhirnya, perempuan itu menyadari kehadiranku. Ia menoleh ke belakang dan terkejut.

    “Eh… mau beli apa pak ?” katanya di tengah keterkejutannya.

    Aku lebih terkejut lagi. Ternyata, perempuan ini sangat cantik. Usianya memang tak muda lagi. Mungkin sudah sekitar 30 tahunan. Tapi wajahnya itu lho yg bikin aku nggak bosan memandangnya. Putih, amat putih malah, bersih dan lembut…..Aku berlagak mencari-cari barang sambil terus menerus mencuri kesempatan memandang wajahnya. Sesekali kuajak ngobrol dia. Suaranya juga lembut, selembut wajahnya. Pikiranku mulai ngeres. Membayangkan rintihannya ketika memeknya ditembus k0ntolku.

    Dari ngobrol itulah kutahu bahwa dia seorang ibu dengan tiga anak. Yg paling besar baru kelas 5 SD. Kaget juga aku waktu tahu dia sudah punya 3 anak. Menurutku, dia bahkan pantas jadi mahasiswi semester I. Suaminya kerja dan baru pulang sore. Anak-anaknya sedang sekolah.

    “Jadi sendirian nih, Mbak ?” komentarku, keceplosan saking excitednya.
    “Iya, Pak. Sebentar lagi anak-anak juga pulang,” jawabnya tanpa curiga.

    Aku masih asyik dengan bayangan tubuh telanjangnya ketika ide jahat melintas begitu saja. Itu terjadi ketika kulihat sebilah pisau dagangan yg dipajang. Cepat sekali itu terjadi. Aku asal saja mengambil barang-barang dan kutaruh di meja kasir di hadapannya.

    “Aduh, Mbak… saya kok kebelet pipis. Bisa numpang ke belakang nggak ?” kataku, mulai menjalankan rencana jahatku.
    “Eh… gimana ya….?” katanya ragu. Aku tahu ia ragu, karena ia sendirian di rumah.
    “Gimana nih…. udah nggak tahan, Mbak,” kataku sambil demonstratif meremas selangkanganku di hadapannya.

    Kulihat wajahnya memerah.

    “Eh…. tapi tunggu sebentar ya… kamar mandinya berantakan. Saya rapikan sebentar,” sahutnya sambil bergegas ke dalam.

    Aku langsung menutup pintu warung dan menguncinya. Lalu, kuambil pisau dan menyusul perempuan tadi. Sekilas kulihat ia keluar dari kamar mandi dan menaruh BH ke mesin cuci.

    “Gimana ? Dah nggak tahan nih,” kataku lagi sambil meremas selangkanganku dan melangkah ke arahnya.

    Ibu muda itu kelihatan jengah karena melihatku ada di dalam rumah. “Eh… sudah, silakan,” katanya dengan wajah menunduk.

    Karena menunduk itu, ia kaget betul waktu aku berhenti di depannya. Ia mengangkat wajahnya dan seketika terlihat pucat waktu kuacungkan pisau ke arah perutnya.

    “Angkat tangan dan jangan melawan !” kataku setengah berbisik.

    Ia tampak ketakutan betul. Tangannya segera terangkat. Kusuruh ia berbalik menghadap tembok. Kedua tangannya kemudian kuturunkan dan kuikat dengan BH yg kuambil dari mesin cuci. Lalu, kuputar tubuhnya hingga menghadapku.

    “Jangan… tolong, jangan apa-apakan saya…” katanya dengan suara gemetar.
    “Jangan takut, saya cuma mau senang-senang sedikit,” kataku sambil menjulurkan tangan ke dada kanannya yg tertutup jilbab lebar.

    Ibu muda ini memekik kecil. Wow… teteknya terasa kenyal dan mantap.

    “Kamu nggak pake BH ya ?” kataku sambil mencubit putingnya dari luar jilbab. Ia terus menggeliat-geliat.
    “Siapa namamu ?” kataku sambil memencet putingnya agak keras.
    “Aduh…. aduh… Anisa… aduh, jangan keras-keras….” ia merintih-rintih.

    Kulepaskan jepitanku pada putingnya. Tetapi kini tanganku mulai merayap ke perutnya yg ramping. Terus turun ke pusarnya dan akhirnya berhenti di selangkangannya. Kuremas-remas gundukan memeknya.

    “Ohhh… jangan… jangan….” Anisa menggeliat-geliat.
    “Jangan takut Mbak… saya cuma mau main-main sebentar…” kataku lalu berlutut di hadapannya.

    Tanganku kemudian masuk ke balik gamisnya. Menyusuri kulit tungkainya yg mulus. Lalu perlahan kutarik turun celana dalamnya. Perempuan itu mulai terisak. Apalagi, kini kupaksa kedua kakinya merenggang. Kuangkat bagian bawah gamisnya sampai ke pinggang. Wow… indah sekali. Memeknya mulus tanpa rambut. Gemuk dan celahnya terlihat rapat. Tak sabar kuciumi memek cantik itu.

    Anisa terisak, memohon-mohon agar aku melepaskannya. Ia pun menggeliat-geliat menghindar. Tetapi, mulutku sudah begitu lekat dengan pangkal pahanya. Kujilati sekujur permukaan memeknya sampai basah kuyup. Lidahkupun berusaha menerobos di antara celah memeknya. Agak sulit pada posisi seperti itu. Maka, kugandeng Anisa ke kamarnya. Setengah kubanting tubuhnya ke atas ranjangnya sendiri. Ibu muda itu menjerit-jerit kecil ketika dengan kasar kucabik-cabik gamisnya dengan pisau. Sampai akhirnya, tak ada sehelai kainpun kecuali jilbabnya.

    Kupandangi tubuh yg putih mulus itu. Kedua kakinya menjuntai ke tepi ranjang. Teteknya berguncang-guncang ketika ia menangis. Dengan penuh nafsu kucengkeram kedua teteknya dengan kedua tanganku, lalu kuciumi kedua putingnya. Sesekali kugigit-gigit benda mungil itu.

    “Jangan berteriak keras-keras ya. Cukup mendesah-desah saja. Kalau Mbak Anisa berteriak terlalu keras, aku bisa marah dan kupotong puting Mbak ini,” kataku sambil menjepit puting kanannya, menariknya ke atas dan menempelkan mata pisau ke sisinya. Anisa tampak ketakutan dan menggigigit bibirnya.

    Aku kemudian melorot turun. Wajahku tepat di hadapan selangkangannya. Kuangkat paha perempuan itu hingga terentang lebar, lalu kudorong ke arah tubuhnya. Kini tubuhnya melengkung dan pangkal pahanya terangkat ke arah wajahku. Perlahan, lidahku menjilat alur lubang memeknya dari bawah ke atas.

    “Eungghhhhh….” terdengar Anisa mengerang.

    Tak sabar, aku menguakkan bibir memeknya dengan jemariku. Lebar-lebar sampai terlihat bagian dalam lubang memeknya yg pink dan lembab. Jantungku berdegup kencang. Baru kali ini aku melihat dari dekat bagian dalam lubang memek selain milik istriku. Lebih berdebar lagi, karena memek yg satu ini milik seorang perempuan alim berjilbab lebar.

    Antara degup jantung dan dorongan gairah itu, kujulurkan lidahku sejauh-jauhnya ke lorong itu. Soal rasa tdk penting kuceritakan. Tetapi, sensasinya itu yg luar biasa. Tubuh Anisa bergetar hebat diiringi erangan dari mulutnya. Hampir tak henti-henti ia meratap-ratap diiringi isaknya.

    “Jangan… jangan…. ouhhhh…. jangan…. “

    Ratapannya makin menjadi-jadi saat lidahku menyerang klitorisnya dengan sapuan yg intens. Istriku bisa menjerit-jerit histeris jika itu kulakukan pada klitorisnya. Kulirik Anisa memejamkan mata dan menggigit bibirnya. Kepalanya menggeleng-geleng. Kutusukkan dua jariku dan mengaduk-aduk memeknya. Akibatnya lebih hebat lagi. Anisa merintih-rintih dengan suara yg mirip seperti suara istriku menjelang orgasme. Memeknya terasa amat basah.

    Kugerakkan jariku makin cepat. Lalu, kusedot-sedot klitorisnya. Tiba-tiba, Anisa mengerang panjang dan kedua pahanya mengatup hingga menjepit kepalaku. Tubuhnya mengejang-ngejang. Saat itulah kugigit bibir memeknya dengan gemas. Terdengar Anisa memekik kesakitan. Dari gelinjang kenikmatan, ia kini meronta-ronta kesakitan, berusaha menjauhkan pangkal pahanya dari gigitanku.

    “Sakit….sakit, aduh… sakit… lepaskan….” rintihnya memelas.

    Aku lepaskan gigitanku lalu kedua lututku menekan pahanya hingga mengangkang. Terlihat bekas gigitanku di memeknya. Tetapi bibir memeknya memang terlihat mengkilap oleh cairan memeknya sendiri.

    “Kamu suka ya diperkosa ?” kataku sambil kali ini menusukkan tiga jari ke memeknya yg basah.

    Orgasme Anisa tadi rupanya tertunda. Buktinya, ketika tiga jariku menusuk memeknya, otot-ototnya langsung bereaksi seperti meremas ketiga jariku. Ibu muda itu pun mengerang dan merintih….

    “Ouuhhhh… jangannnhhh…aihhhh….oummmmhhhh…” desahannya makin menjadi ketika bibirku menangkap puting kanannya dan menghisapnya kuat-kuat.

    Aku tahu perempuan ini orgasme saat mendengar rintihannya. Sangat mirip rintihan istriku ketika orgasme. Otot-otot memeknya juga mencengkeram tiga jariku sementara pinggulnya bergerak tak terkontrol. Kupandangi wajah sayu Anisa dengan penuh nafsu. Dia menggigit bibirnya sendiri. Matanya terpejam. Tiga jariku masih menusuk memeknya yg terlihat amat becek. Tubuh telanjang ibu muda berjilbab ini terlihat bergetar menahan sisa-sisa orgasmenya.

    Sampai akhirnya, Anisa benar-benar terkapar lunglai. Kedua tangannya masih terikat di belakang punggung, mengganjal pantatnya sehingga bagian pinggulnya mendongak ke atas. Tubuhnya bermandi peluh. Kedua pahanya mengangkang lebar. Kutarik keluar tiga jariku, kunikmati pemandangan lubang memeknya yg membentuk huruf O dan perlahan mengatup kembali.

    “Ok… sekarang giliranku,” kataku sambil menempatkan diri di tengah pahanya yg mengangkang.

    Anisa cuma bisa menggeleng lemah saat kepala k0ntolku mulai menyusup di celah memeknya. Kupaksa ia mengulum tiga jariku yg berlumur lendir dari memeknya sendiri.

    “Kamu belum pernah menjilat memekmu sendiri kan ?” kataku.

    Anisa terisak-isak sambil mengulum tiga jariku yg berlumur lendir kemaluannya sendiri. Terlihat keningnya berkerut. Kepala k0ntolku sudah terjepit di mulut lubang memeknya yg terasa sangat basah. Aku ingin memberinya sedikit kejutan. Tanpa peringatan sama sekali, langsung kuhentakkan k0ntolku jauh sampai ke dasar memeknya. K0ntolku terasa menerobos lorong sempit yg berlendir. Suara benturan biji pelirku dengan pangkal pahanya terdengar cukup keras.

    Reaksi Anisa juga luar biasa. Kedua matanya tiba-tiba membelalak. Kalau saja mulutnya tdk sedang mengulum jariku, mungkin dari mulutnya akan terdengar jeritan. Tetapi kini yg terdengar hanya gumaman tak jelas. Bahkan, jariku terasa agak sakit karena digigit ibu muda ini.

    Tetapi yg jelas, k0ntolku kini terasa seperti diremas-remas oleh otot-otot memek perempuan berjilbab lebar ini luar biasa.

  • Bercinta Dengan Tiga Wanita Sekaligus

    Bercinta Dengan Tiga Wanita Sekaligus


    473 views

    BONUS VIDEO BOKEP DAN FOTO BUGIL


    Cerita Sex Dewasa | Bercinta Dengan Tiga Wanita Sekaligus

    Pada suatu sore di hari libur (liburan dari kerja) aku buang waktu dengan main internet, lebih kurang satu setengah jam bermain internet, tiba-tiba terdengar suara bel. Setengah kesal aku hampiri juga pintu rumahku, dan setelah aku mengintip dari lubang kecil di pintu, kulihat tiga orang gadis. Kemudian kubuka pintu dan bertanya (maaf langsung aku terjemahkan saja ke bahasa Indonesia semua percakapan kami),Bisa saya bantu? kataku kepada mereka.Maaf, kami sangat mengganggu, kami mencari Gamha dan sudah satu jam lebih kami coba untuk telepon tapi kedengarannya sibuk terus, maka kami langsung saja datang.Yang berwajah Jepang nyerocos seperti kereta express di negerinya.Oh, soalnya saya lagi main internet, maklumlah soalnya hanya satu sambungan saja telepon saya, jawabku.Memangnya kalian tidak tahu kalau si Gamha sedang pulang kampung dua hari yang lalu? lanjutku lagi.

    abgimuttogelagipamertoketifotoabgiabgbugilitogemontokifotohotifotobugil3-1Kali ini yang bule berambut sebahu dengan kesal menjawab, Kurang ajar si Gamha, katanya bulan depan pulangnya, Jepang sialan tuh!Eh! Kesel sih boleh, tapi jangan bilang Jepang sialan dong. Gua tersinggung nih, yang berwajah Jepang protes.Sudahlah, memang belum rejeki kita dijajanin sama si Gamha, sekarang bule bermata biru nyeletus.Dengan setengah bingung karena tidak mengerti persoalannya, kupersilakan mereka untuk masuk. Mulanya mereka ragu-ragu, akhirnya mereka masuk juga. Iya deh, sekalian numpang minum, kata bule yang berambut panjang masih kedengaran kesalnya.

    Setelah mereka duduk, kami memperkenalkan nama kami masing-masing.Nama saya Jacky, kataku.Khira, kata yang berwajah Jepang (dan memang orang Jepang).Yang berambut panjang menyusul, Emily, (Campuran Italia dengan Inggris).Saya Eve, gadis bermata biru ini asal Jerman.Jacky, kamu berasal dari mana? lanjutnya.Jakarta, Indonesia, jawabku sambil menuju ke lemari es untuk mengambilkan minuman sesuai permintaan mereka.Sekembalinya saya ke ruang tamu dimana mereka duduk, ternyata si Khira dan Eve sudah berada di ruang komputer saya, yang memang bersebelahan dengan ruang tamu dan tidak dibatasi apa-apa.Aduh, panas sekali nich?! si Emily ngedumel sambil membuka kemeja luarnya.

    Memang di awal bulan Desember lalu, Australia ini sedang panas-panasnya. Aku tertegun sejenak, karena bersamaan dengan aku meletakkan minuman di atas meja, Emily sudah melepaskan kancing terakhirnya. Sehingga dengan jelas dapat kulihat bagian atas bukit putih bersih menyembul, walaupun masih terhalangi kaos bagian bawahnya. Tapi membuatku sedikit menelan ludah. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara si Eve,Jacky, boleh kami main internetnya?Silakan, jawabku.Aku tidak keberatan karena aku membayar untuk yang tidak terbatas penggunaannya.Mau nge-chat yah? tanyaku sambil tersenyum pada si Emily.Ah, paling-paling mau lihat gambar gituan, lanjut Emily lagi.Eh, kaliankan masih di bawah umur? kataku mencoba untuk protes.Paling umur kalian 17 tahun kan? sambungku lagi.

    abgimuttogelagipamertoketifotoabgiabgbugilitogemontokifotohotifotobugil4-1Khira menyambut, Tahun ini kami sudah 18 tahun. Hanya tinggal beberapa bulan saja. Aku tidak bisa bilang apa-apa lagi. Baru saja aku ngobrol dengan si Emily, si Eve datang lagi menanyakan, apa saya tahu site-nya gambar gituan yang gratis. Lalu sambil tersenyum saya hampiri komputer, kemudian saya ketikkan salah satu situs seks anak belasan tahun gratis kesukaanku. Karena waktu mengetik sambil berdiri dan si Khira duduk di kursi meja komputer, maka dapat kulihat dengan jelas ke bawah bukitnya si Khira yang lebih putih dari punyanya si Emily. Barangku terasa berdenyut. Setengah kencang.

    Setelah gambar keluar, yang terpampang adalah seorang negro sedang mencoba memasuki barang besarnya ke lubang kecil milik gadis belasan. Sedangkan mulut gadis itu sudah penuh dengan barang laki-laki putih yang tak kalah besar barangnya dengan barang si negro itu. Terasa barangku kini benar-benar kencang karena nafsu dengan keadaan. Si Emily menghampiri kami berada, karena si Eve dan Khira tertawa terbahak-bahak melihat gambar itu. Aku mencoba menghindar dari situ, tapi tanpa sengaja sikut Khira tersentuh barangku yang hanya tertutup celana sport tipis. Baru tiga langkah aku menghindar dari situ, kudengar suara tawa mereka bertambah kencang, langsung aku menoleh dan bertanya, Ada apa? Eve menjawab, Khira bilang, sikutnya terbentur barangmu, katanya.

    abgimuttogelagipamertoketifotoabgiabgbugilitogemontokifotohotifotobugil5-1Aku benar-benar malu dibuatnya. Tapi dengan tersenyum aku menjawab, Memangnya kenapa, kan wajar kalau saya merasa terangsang dengan gambar itu. Itu berarti aku normal. Kulihat lagi mereka berbisik, kemudian mereka menghampiriku yang sedang mencoba untuk membetulkan letak barangku. Si Eve bertanya padaku sambil tersipu,Jacky, boleh nggak kalau kami lihat barangmu?Aku tersentak dengan pertanyaan itu.Kalian ini gila yah, nanti aku bisa masuk penjara karena dikira memperkosa anak di bawah umur.(Di negeri ini di bawah 18 tahun masih dianggap bawah umur).Kan tidak ada yang tahu, lagi pula kami tidak akan menceritakan pada siapa-siapa, sungguh kami janji, si Emily mewakili mereka.Please Jacky! sambungnya.Oke, tapi jangan diketawain yah! ancamku sambil tersenyum nafsu.

    Dengan cepat kuturunkan celana sport-ku dan dengan galak barangku mencuat dari bawah ke atas dengan sangat menantang. Lalu segera terdengar suara terpekik pendek hampir berbarengan.Gila gede banget! kata mereka hampir berbarengan lagi.Nah! Sekarang apa lagi? tanyaku.Tanpa menjawab Khira dan Emily menghampiriku, sedangkan Eve masih berdiri tertegun memandang barangku sambil tangan kanannya menutup mulutnya sedangkan tangan kirinya mendekap selangkangannya.

    abgimuttogelagipamertoketifotoabgiabgbugilitogemontokifotohotifotobugil6-1Boleh kupegang Jack? tanya Khira sambil jari telunjuknya menyentuh kepala barangku tanpa menunggu jawabanku. Aku hanya bisa menjawab, Uuuh karena geli dan nikmat oleh sentuhannya. Sedang Eve masih saja mematung, hanya jari-jari tangan kirinya saja yang mulai meraih-raih sesuatu di selangkangannya. Lain dengan Emily yang sedang mencoba menggenggam barangku, dan aku merasa sedikit sakit karena Emily memaksakan jari tengahnya untuk bertemu dengan ibu jarinya. Tiba-tiba Emily, hentikan kegiatannya dan bertanya padaku, Kamu punya film biru Jack? Sambil terbata-bata kusuruh Eve untuk membuka laci di bawah TV-ku dan minta Eve lagi untuk masukan saja langsung ke video.

    Waktu mulai diputar gambarnya bukan lagi dari awal, tapi sudah di pertengahan. Yang tampak adalah seorang laki-laki 60 tahun sedang dihisap barangnya oleh gadis belasan tahun. Kontan saja si Eve menghisap jarinya yang tadinya dipakai untuk menutup mulut sedangkan jari tangan kirinya masih kembali ke tugasnya. Pandanganku sayup, dan terasa benda lembut menyapu kepala barangku dan benda lembut lainnya menyapu bijiku.

    Aku mencoba untuk melihat ke bawah, ternyata lidah Khira di bagian kepala dan lidah Emily di bagian bijiku.Uuh ssshh uuuhh ssshhh aku merasa nikmat.Kupanggil Eve ke sampingku dan kubuka dengan tergesa-gesa kaos dan BH-nya. Tanpa sabar kuhisap putingnya dan segera terdengar nafas Eve memburu.Jacky ooohh Jacky terusss ooohhh nikmat Eve terdengar.Kemudian terasa setengah barangku memasuki lubang hangat, ternyata mulut Khira sudah melakukan tugasnya walaupun tidak masuk semua tapi dipaksakan olehnya.Slep slep chk chkItulah yang terdengar paduan suara antara barangku dan mulut Khira. Emily masih saja menjilat-jilat bijiku.

    Dengan kasar Eve menarik kepalaku untuk kembali ke putingnya. Kurasakan nikmat tak ketulungan. Kuraih bahu Emily untuk bangun dan menyuruhnya untuk berbaring di tempat duduk panjang. Setelah kubuka semua penghalang kemaluannya langsung kubuka lebar kakinya dan wajahku tertanam di selangkangannya.Aaahhh Jacky aaahhh enak Jacky teruskan aaahhh terussss Jacky! jerit Emily.Ternyata Eve sudah bugil, tangannya dengan gemetar menarik tanganku ke arah barangnya. Aku tahu maksudnya, maka langsung saja kumainkan jari tengahku untuk mengorek-ngorek biji kecil di atas lubang nikmatnya. Terasa basah barang Eve, terasa menggigil barang Eve.Aaaahhh Eve sampai puncaknya.

    Aku pun mulai merasa menggigil dan barangku terasa semakin kencang di mulut Khira, sedangkan mulutku belepotan di depan barang Emily, karena Emily tanpa berteriak sudah menumpahkan cairan nikmatnya. Aku tak tahan lagi, aku tak tahan lagi, Aahhh Sambil meninggalkan barang Emily, kutarik kepala Khira dan menekannya ke arah barangku. Terdengar, Heeerrkk Rupanya Khira ketelak oleh barangku dan mencoba untuk melepaskan barangku dari mulutnya, tapi terlambat cairan kentalku tersemprot ke tenggorokannya. Kepalanya menggeleng-geleng dan tangannya mencubit tanganku yang sedang menekan kepalanya ke arah barangku. Akhirnya gelengannya melemah Khira malah memaju mundurkan kepalanya terhadap barangku. Aku merasa nikmat dan ngilu sekali, Sudah sudah aku ngiluuu sudah pintaku. Tapi Khira masih saja melakukannya. Kakiku gemetar, gemetar sekali. Akhirnya kuangkat kepala Khira, kutatap wajahnya yang berlumuran dengan cairanku. Khira menatapku sendu, sendu sekali dan kudengar suara lembut dari bibirnya, I Love you, Jacky! aku tak menjawab. Apa yang harus kujawab! Hanya kukecup lembut keningnya dan berkata, Thank you Khira!

    abgimuttogelagipamertoketifotoabgiabgbugilitogemontokifotohotifotobugil7-1Rasa nikmatku hilang seketika, aku tak bernafsu lagi walaupun kulihat Eve sedang memainkan klitorisnya dengan jarinya dan Emily yang ternganga memandang ke arahku dan Khira. Mungkin Emily mendengar apa yang telah diucapkan oleh Khira. Demikianlah, kejadian demi kejadian terus berlangsung antara kami. Kadang hanya aku dengan salah satu dari mereka, kadang mereka berdua saja denganku. Aku masih memikirkan apa yang telah diucapkan oleh Khira. Umurku lebih 10 tahun darinya. Dan sekarang Khira lebih sering meneleponku di rumah maupun di tempat kerjaku. Hanya untuk mendengar jawabanku atas cintanya. Dan belakangan aku dengar Eve dan Emily sudah jarang bergaul dengan Khira.abgimuttogelagipamertoketifotoabgiabgbugilitogemontokifotohotifotobugil8-1