Threesome

  • Cerita Panas Perkosa Wanita Berkerudung

    Cerita Panas Perkosa Wanita Berkerudung


    117 views

    Cerita Panas Perkosa Wanita Berkerudung

    Aku seorang lelaki beristri. Tetapi, kejadian spontan telah membuatku menjadi orang yg terobsesi pada sex dengan kekerasan. Tepatnya, aku kini jadi pemerkosa. Spesialisasiku, memperkosa perempuan berjilbab.

    Siang itu, aku berhenti di depan sebuah warung kecil. Mau beli Djarum Super. Baru sekali ini aku ke warung ini. Seperti aku bilang tadi, aku mau beli Djarum Super. Rokok biasanya dipajang di bagian depan warung. Saat itulah kulihat seorang perempuan tengah nungging membelakangiku. Kelihatannya ia sedang menata barang dagangan.

    Kalian pasti membayangkan aku melihat paha yg tersingkap di balik rok. Jangan keliru dulu. Yg kulihat justru perempuan dengan busana serba tertutup. Ia pakai gamis panjang sampai mata kaki. Tetapi justru itu menariknya. Perempuan ini memakai gamis dari bahan halus berwarna biru muda. Kelihatan juga ia berjilbab biru tua. Jilbabnya panjang. Ujungnya sampai ke pinggulnya. Pada posisi menungging gitu, bagian muka jilbabnya jatuh sampai ke lantai. Dari celah jilbab di bawah lengannya terlihat tonjolan teteknya lumayan gede juga.

    yg pertama menarik perhatianku justru bokongnya. Dari belakang terlihat bundar. Di bundaran itulah terlihat cetakan garis celana dalamnya. Entah mengapa aku jadi tertarik mengamati terus gerakan bokong perempuan itu. Sekitar lima menitan aku pandangi bokong itu. Yg terlihat di mataku kini bercampur dengan imajinasi bokong telanjang. Tambah parah lagi karena sekali perempuan itu menggaruk pantatnya tanpa sadar ada yg mengawasi. Tanganku rasanya gatal, ingin mengelus dan meremas pantat bundar itu. Akhirnya, perempuan itu menyadari kehadiranku. Ia menoleh ke belakang dan terkejut.

    “Eh… mau beli apa pak ?” katanya di tengah keterkejutannya.

    Aku lebih terkejut lagi. Ternyata, perempuan ini sangat cantik. Usianya memang tak muda lagi. Mungkin sudah sekitar 30 tahunan. Tapi wajahnya itu lho yg bikin aku nggak bosan memandangnya. Putih, amat putih malah, bersih dan lembut…..Aku berlagak mencari-cari barang sambil terus menerus mencuri kesempatan memandang wajahnya. Sesekali kuajak ngobrol dia. Suaranya juga lembut, selembut wajahnya. Pikiranku mulai ngeres. Membayangkan rintihannya ketika memeknya ditembus k0ntolku.

    Dari ngobrol itulah kutahu bahwa dia seorang ibu dengan tiga anak. Yg paling besar baru kelas 5 SD. Kaget juga aku waktu tahu dia sudah punya 3 anak. Menurutku, dia bahkan pantas jadi mahasiswi semester I. Suaminya kerja dan baru pulang sore. Anak-anaknya sedang sekolah.

    “Jadi sendirian nih, Mbak ?” komentarku, keceplosan saking excitednya.
    “Iya, Pak. Sebentar lagi anak-anak juga pulang,” jawabnya tanpa curiga.

    Aku masih asyik dengan bayangan tubuh telanjangnya ketika ide jahat melintas begitu saja. Itu terjadi ketika kulihat sebilah pisau dagangan yg dipajang. Cepat sekali itu terjadi. Aku asal saja mengambil barang-barang dan kutaruh di meja kasir di hadapannya.

    “Aduh, Mbak… saya kok kebelet pipis. Bisa numpang ke belakang nggak ?” kataku, mulai menjalankan rencana jahatku.
    “Eh… gimana ya….?” katanya ragu. Aku tahu ia ragu, karena ia sendirian di rumah.
    “Gimana nih…. udah nggak tahan, Mbak,” kataku sambil demonstratif meremas selangkanganku di hadapannya.

    Kulihat wajahnya memerah.

    “Eh…. tapi tunggu sebentar ya… kamar mandinya berantakan. Saya rapikan sebentar,” sahutnya sambil bergegas ke dalam.

    Aku langsung menutup pintu warung dan menguncinya. Lalu, kuambil pisau dan menyusul perempuan tadi. Sekilas kulihat ia keluar dari kamar mandi dan menaruh BH ke mesin cuci.

    “Gimana ? Dah nggak tahan nih,” kataku lagi sambil meremas selangkanganku dan melangkah ke arahnya.

    Ibu muda itu kelihatan jengah karena melihatku ada di dalam rumah. “Eh… sudah, silakan,” katanya dengan wajah menunduk.

    Karena menunduk itu, ia kaget betul waktu aku berhenti di depannya. Ia mengangkat wajahnya dan seketika terlihat pucat waktu kuacungkan pisau ke arah perutnya.

    “Angkat tangan dan jangan melawan !” kataku setengah berbisik.

    Ia tampak ketakutan betul. Tangannya segera terangkat. Kusuruh ia berbalik menghadap tembok. Kedua tangannya kemudian kuturunkan dan kuikat dengan BH yg kuambil dari mesin cuci. Lalu, kuputar tubuhnya hingga menghadapku.

    “Jangan… tolong, jangan apa-apakan saya…” katanya dengan suara gemetar.
    “Jangan takut, saya cuma mau senang-senang sedikit,” kataku sambil menjulurkan tangan ke dada kanannya yg tertutup jilbab lebar.

    Ibu muda ini memekik kecil. Wow… teteknya terasa kenyal dan mantap.

    “Kamu nggak pake BH ya ?” kataku sambil mencubit putingnya dari luar jilbab. Ia terus menggeliat-geliat.
    “Siapa namamu ?” kataku sambil memencet putingnya agak keras.
    “Aduh…. aduh… Anisa… aduh, jangan keras-keras….” ia merintih-rintih.

    Kulepaskan jepitanku pada putingnya. Tetapi kini tanganku mulai merayap ke perutnya yg ramping. Terus turun ke pusarnya dan akhirnya berhenti di selangkangannya. Kuremas-remas gundukan memeknya.

    “Ohhh… jangan… jangan….” Anisa menggeliat-geliat.
    “Jangan takut Mbak… saya cuma mau main-main sebentar…” kataku lalu berlutut di hadapannya.

    Tanganku kemudian masuk ke balik gamisnya. Menyusuri kulit tungkainya yg mulus. Lalu perlahan kutarik turun celana dalamnya. Perempuan itu mulai terisak. Apalagi, kini kupaksa kedua kakinya merenggang. Kuangkat bagian bawah gamisnya sampai ke pinggang. Wow… indah sekali. Memeknya mulus tanpa rambut. Gemuk dan celahnya terlihat rapat. Tak sabar kuciumi memek cantik itu.

    Anisa terisak, memohon-mohon agar aku melepaskannya. Ia pun menggeliat-geliat menghindar. Tetapi, mulutku sudah begitu lekat dengan pangkal pahanya. Kujilati sekujur permukaan memeknya sampai basah kuyup. Lidahkupun berusaha menerobos di antara celah memeknya. Agak sulit pada posisi seperti itu. Maka, kugandeng Anisa ke kamarnya. Setengah kubanting tubuhnya ke atas ranjangnya sendiri. Ibu muda itu menjerit-jerit kecil ketika dengan kasar kucabik-cabik gamisnya dengan pisau. Sampai akhirnya, tak ada sehelai kainpun kecuali jilbabnya.

    Kupandangi tubuh yg putih mulus itu. Kedua kakinya menjuntai ke tepi ranjang. Teteknya berguncang-guncang ketika ia menangis. Dengan penuh nafsu kucengkeram kedua teteknya dengan kedua tanganku, lalu kuciumi kedua putingnya. Sesekali kugigit-gigit benda mungil itu.

    “Jangan berteriak keras-keras ya. Cukup mendesah-desah saja. Kalau Mbak Anisa berteriak terlalu keras, aku bisa marah dan kupotong puting Mbak ini,” kataku sambil menjepit puting kanannya, menariknya ke atas dan menempelkan mata pisau ke sisinya. Anisa tampak ketakutan dan menggigigit bibirnya.

    Aku kemudian melorot turun. Wajahku tepat di hadapan selangkangannya. Kuangkat paha perempuan itu hingga terentang lebar, lalu kudorong ke arah tubuhnya. Kini tubuhnya melengkung dan pangkal pahanya terangkat ke arah wajahku. Perlahan, lidahku menjilat alur lubang memeknya dari bawah ke atas.

    “Eungghhhhh….” terdengar Anisa mengerang.

    Tak sabar, aku menguakkan bibir memeknya dengan jemariku. Lebar-lebar sampai terlihat bagian dalam lubang memeknya yg pink dan lembab. Jantungku berdegup kencang. Baru kali ini aku melihat dari dekat bagian dalam lubang memek selain milik istriku. Lebih berdebar lagi, karena memek yg satu ini milik seorang perempuan alim berjilbab lebar.

    Antara degup jantung dan dorongan gairah itu, kujulurkan lidahku sejauh-jauhnya ke lorong itu. Soal rasa tdk penting kuceritakan. Tetapi, sensasinya itu yg luar biasa. Tubuh Anisa bergetar hebat diiringi erangan dari mulutnya. Hampir tak henti-henti ia meratap-ratap diiringi isaknya.

    “Jangan… jangan…. ouhhhh…. jangan…. “

    Ratapannya makin menjadi-jadi saat lidahku menyerang klitorisnya dengan sapuan yg intens. Istriku bisa menjerit-jerit histeris jika itu kulakukan pada klitorisnya. Kulirik Anisa memejamkan mata dan menggigit bibirnya. Kepalanya menggeleng-geleng. Kutusukkan dua jariku dan mengaduk-aduk memeknya. Akibatnya lebih hebat lagi. Anisa merintih-rintih dengan suara yg mirip seperti suara istriku menjelang orgasme. Memeknya terasa amat basah.

    Kugerakkan jariku makin cepat. Lalu, kusedot-sedot klitorisnya. Tiba-tiba, Anisa mengerang panjang dan kedua pahanya mengatup hingga menjepit kepalaku. Tubuhnya mengejang-ngejang. Saat itulah kugigit bibir memeknya dengan gemas. Terdengar Anisa memekik kesakitan. Dari gelinjang kenikmatan, ia kini meronta-ronta kesakitan, berusaha menjauhkan pangkal pahanya dari gigitanku.

    “Sakit….sakit, aduh… sakit… lepaskan….” rintihnya memelas.

    Aku lepaskan gigitanku lalu kedua lututku menekan pahanya hingga mengangkang. Terlihat bekas gigitanku di memeknya. Tetapi bibir memeknya memang terlihat mengkilap oleh cairan memeknya sendiri.

    “Kamu suka ya diperkosa ?” kataku sambil kali ini menusukkan tiga jari ke memeknya yg basah.

    Orgasme Anisa tadi rupanya tertunda. Buktinya, ketika tiga jariku menusuk memeknya, otot-ototnya langsung bereaksi seperti meremas ketiga jariku. Ibu muda itu pun mengerang dan merintih….

    “Ouuhhhh… jangannnhhh…aihhhh….oummmmhhhh…” desahannya makin menjadi ketika bibirku menangkap puting kanannya dan menghisapnya kuat-kuat.

    Aku tahu perempuan ini orgasme saat mendengar rintihannya. Sangat mirip rintihan istriku ketika orgasme. Otot-otot memeknya juga mencengkeram tiga jariku sementara pinggulnya bergerak tak terkontrol. Kupandangi wajah sayu Anisa dengan penuh nafsu. Dia menggigit bibirnya sendiri. Matanya terpejam. Tiga jariku masih menusuk memeknya yg terlihat amat becek. Tubuh telanjang ibu muda berjilbab ini terlihat bergetar menahan sisa-sisa orgasmenya.

    Sampai akhirnya, Anisa benar-benar terkapar lunglai. Kedua tangannya masih terikat di belakang punggung, mengganjal pantatnya sehingga bagian pinggulnya mendongak ke atas. Tubuhnya bermandi peluh. Kedua pahanya mengangkang lebar. Kutarik keluar tiga jariku, kunikmati pemandangan lubang memeknya yg membentuk huruf O dan perlahan mengatup kembali.

    “Ok… sekarang giliranku,” kataku sambil menempatkan diri di tengah pahanya yg mengangkang.

    Anisa cuma bisa menggeleng lemah saat kepala k0ntolku mulai menyusup di celah memeknya. Kupaksa ia mengulum tiga jariku yg berlumur lendir dari memeknya sendiri.

    “Kamu belum pernah menjilat memekmu sendiri kan ?” kataku.

    Anisa terisak-isak sambil mengulum tiga jariku yg berlumur lendir kemaluannya sendiri. Terlihat keningnya berkerut. Kepala k0ntolku sudah terjepit di mulut lubang memeknya yg terasa sangat basah. Aku ingin memberinya sedikit kejutan. Tanpa peringatan sama sekali, langsung kuhentakkan k0ntolku jauh sampai ke dasar memeknya. K0ntolku terasa menerobos lorong sempit yg berlendir. Suara benturan biji pelirku dengan pangkal pahanya terdengar cukup keras.

    Reaksi Anisa juga luar biasa. Kedua matanya tiba-tiba membelalak. Kalau saja mulutnya tdk sedang mengulum jariku, mungkin dari mulutnya akan terdengar jeritan. Tetapi kini yg terdengar hanya gumaman tak jelas. Bahkan, jariku terasa agak sakit karena digigit ibu muda ini.

    Tetapi yg jelas, k0ntolku kini terasa seperti diremas-remas oleh otot-otot memek perempuan berjilbab lebar ini luar biasa.

  • Gigolo

    Gigolo


    14 views

    Senang bisa berbagi pengalaman sex, aku akan menceritakan kisahku menjadi pria gigolo, cerita ini
    nyata terjadi di kehidupanku dan pernah aku alamai , perkenalkan namaku Andi umurku 25 tahun aku dari
    Bandung, dan yang mengejutkan aku melayani semalan dengan 4 wanita sekaligus, profesi ini aku jalankan
    dari 3 tahun lalu.

    cerita-sex-dewasa-gigolo

    Aku mempunyai langganan namanya tante Mira dia janda tapi belum mempunyai anak dia tinggal di bandung
    orangnya cantik, payudaranya besar dia seorang yang kaya dan memiliki perusahaan di Bandung dan Di
    Surabaya dan memliki sahan di hotel berbintang di Bandung.

    Sabtu pukul 7 pagi, HP-ku berbunyi dan terdengar suara seorang wanita, dan kulihat ternyata nomor HP
    Tante Mira.

    “Hallo Sayang.. lagi ngapain nich.. udah bangun?” katanya.

    “Oh Tante.. ada apa nich, tumben nelpon pagi-pagi?” kataku.

    “Kamu nanti sore ada acara nggak?” katanya.

    “Nggak ada Tante.. emang mo ke mana Tante?” tanyaku.

    “Nggak, nanti sore anter Tante ke puncak yach sama relasi Tante, bisa khan?” katanya.

    “Bisa tante.. aku siap kok?” jawabku.

    “Oke deh Say.. nanti sore Tante jemput kamu di tempatmu”, katanya.

    “Oke.. Tante”, balasku, dengan itu juga pembicaraan di HP terputus dan aku pun beranjak ke kamar mandi
    untuk mandi.

    Sore jam 5, aku sudah siap-siap dan berpakaian rapi karena Tante Mira akan membawa teman relasinya.
    Selang beberapa menit sebuah mobil mercy new eye warnah hitam berkaca gelap berhenti di depan rumahku.

    Ternyata itu mobil Tante Mira, langsung aku keluar menghampiri mobil itu sesudah aku mengunci seluruh
    pintu rumah dan jendela. Aku pun langsung masuk ke dalam mobil itu duduk di jok belakang, setelah
    masuk mobil pun bergerak maju menuju tujuan.

    Di dalam mobil, aku diperkenalkan kepada dua cewek relasinya oleh tante, gila mereka cantik-cantik
    walaupun umur mereka sudah 40 tahun, namanya Tante Lisa umurnya 41 tahun kulitnya putih, payudaranya
    besar,

    Dia merupakan istri seorang pengusaha kaya di Jakarta dan Tante Sari 39 tahun, payudaranya juga besar,
    kulitnya putih, juga seorang istri pengusaha di Jakarta. Mereka adalah relasi bisnis Tante Mira dari
    Jakarta yang sedang melakukan bisnis di Bandung, dan diajak oleh Tante Mira refreshing ke villanya di
    kawasan Puncak. Keduanya keturunan Tionghoa.

    Di dalam mobil, kami pun terlibat obralan ngalor-ngidul, dan mereka diberitahu bahwa aku ini seorang
    gigolo langganannya dan mereka juga mengatakan ingin mencoba kehebatanku. Selang beberapa menit
    obrolan pun berhenti, dan kulihat Tante Lisa yang duduk di sebelahku, di sofa belakang, tangannya
    mulai nakal meraba-raba paha dan selangkanganku.

    Aku mengerti maksudnya, kugeser dudukku dan berdekatan dengan Tante Lisa, lalu tangan Tante Lisa,
    meremas batang kemaluanku dari balik celana. Dengan inisatifku sendiri, aku membuka reitsleting celana
    panjangku dan mengeluarkan batang kemaluanku yang sudah tegak berdiri dan besar itu. Tante Lisa kaget
    dan matanya melotot ketika melihat batang kemaluanku besar dan sudah membengkak itu.

    Tante Lisa langsung bicara kepadaku,

    “Wow.. Ded, kontol kamu gede amat, punya suamiku aja kalah besar sama punya kamu..” katanya.

    “Masa sich Tante”, kataku sambil tanganku meremas-remas payudaranya dari luar bajunya.

    “Iya.. boleh minta nggak, Tante pengen ngerasain kontol kamu ini sambil kontolku dikocok-kocok dan
    diremas-remas, lalu dibelai mesra?” katanya.Cerita Sex Dewasa

    “Boleh aja.. kapan pun Tante mau, pasti Andi kasih”, kataku.

    Langsung disambut Tante Lisa dengan membungkukkan badannya lalu batang kemaluanku dijilat-jilat dan
    dimasukakkan ke dalam mulutnya, dengan rakusnya batang kemaluanku masuk semua ke dalam mulutnya sambil
    disedot-sedot dan dikocok-kocok.

    Iklan Sponsor :

    Tante Sari yang duduk di jok depan sesekali menelan air liurnya dan tertawa kecil melihat batang
    kemaluanku yang sedang asyik dinikmati oleh Tante Lisa. Tanganku mulai membuka beberapa kancing baju
    Tante Lisa dan mengeluarkan kedua payudaranya yang besar itu dari balik BH-nya. lalu kuremas-remas.

    “Tante.. susu tante besar sekali.. boleh Andi minta?” tanyaku.

    Tante Lisa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu tanganku mulai meremas-remas payudaranya.

    Tangan kiriku mulai turun ke bawah selangkangannya, dan aku mengelus-ngelus paha yang putih mulus itu
    lalu naik ke atas selangkangannya, dari balik CD-nya jariku masuk ke dalam liang kewanitaannya. Saat
    jariku masuk, mata Tante Lisa merem melek dan medesah kenikmatan,Cerita Sex Dewasa

    “Akhhh.. akhhhh.. akhhh.. terus sayang..”

    Beberapa jam kemudian, aku sudah tidak tahan mau keluar.

    “Tante… Andi mau keluar nich..” kataku.

    “Keluarain di mulut Tante aja”, katanya.

    Selang beberapa menit, “Crooot.. crooot.. crottt..” air maniku keluar, muncrat di dalam mulut Tante
    Lisa, lalu Tante Lisa menyapu bersih seluruh air maniku.

    Kemudian aku pun merobah posisi. Kini aku yang membungkukkan badanku, dan mulai menyingkap rok dan
    melepaskan CD warna hitam yang dipakainya. Setelah CD-nya terlepas, ceritasexdewasa.org aku mulai mencium dan menjilat
    liang kewanitaannya yang sudah basah itu.

    Aku masih terus memainkan liang kewanitaannya sambil tanganku dimasukkan ke liang senggamanya dan
    tangan kiriku meremas-remas payudara yang kiri dan kanan. Sepuluh menit kemudian, aku merubah posisi.

    Kini Tante Lisa kupangku dan kuarahkan batang kemaluanku masuk ke dalam liang senggamanya, “Blesss..
    belssss.” batang kemaluanku masuk ke dalam liang kewanitaannya, dan Tante Lisa menggelinjang
    kenikmatan, ku naik-turunkan pinggul Tante Lisa, dan batang kemaluanku keluar masuk dengan leluasa di
    liang kewanitaannya.

    Satu jam kemudian, kami berdua sudah tidak kuat menahan orgasme, kemudian kucabut batang kemaluanku
    dari liang kewanitaannya, lalu kusuruh Tante Lisa untuk mengocok dan melumat batang kemaluanku dan
    akhirnya, “Crooot.. crott.. croottt..” air maniku muncrat di dalam mulut Tante Lisa. Seketika itu juga
    kami berdua terkulai lemas.

    Kemudian aku pun tertidur di dalam mobil. sesampainya di villa Tante Mira sekitar jam 8 malam. Lalu
    mobil masuk ke dalam pekarangan villa. Kami berempat keluar dari mobil. Tante Mira memanggil penjaga
    villa, lalu menyuruhnya untuk pulang dan disuruhnya besok sore kembali lagi.

    Kami berempat pun masuk ke dalam villa, karena lelah dalam perjalanan aku langsung menuju kamar tidur
    yang biasa kutempati saat aku diajak ke villa Tante Mira.

    Begitu aku masuk ke dalam kamar dan hendak tidur-tiduran, aku terkejut ketika ke 3 tante itu masuk ke
    dalam kamarku dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelain benang pun yang menempel di tubuhnya.
    Kemudian mereka naik ke atas tempat tidurku dan mendorongku untuk tiduran, lalu mereka berhasil
    melucuti pakaianku hingga bugil.

    Batang kemaluanku diserang oleh Tante Sari dan Tante Mira, sedangkan Tante Lisa kusuruh dia
    mengangkang di atas wajahku, lalu mulai menjilati dan menciumi liang kewanitaan Tante Lisa. Dengan
    ganasnya mereka berdua secara bergantian menjilati, menyedot dan mengocok batang kemaluanku, hingga
    aku kewalahan dan merasakan nikmat yang luar biasa.

    Kemudian kulihat Tante Sari sedang mengatur posisi mengangkang di selangkanganku dan mengarahkan
    batang kemaluanku ke liang kewanitaannya, “Blesss.. bleeesss..” batang kemaluanku masuk ke dalam liang
    kewanitaan Tante Sari, lalu Tante Sari menaik turunkan pinggulnya dan aku merasakan liang kewanitaan
    yang hangat dan sudah basah itu. Aku terus menjilat-jilat dan sesekali memasukkan jariku ke dalam
    liang kewanitaan Tante Lisa, sedangakan Tante Mira meremas-remas payudara Tante Sari.

    Beberapa jam kemudian, Tante Sari sudah orgasme dan Tante Sari terkulai lemas dan langsung menjatuhkan
    tubuhnya di sebelahku sambil mencium pipiku.

    Kini giliran Tante Mira yang naik di selangkanganku dan mulai memasukan batang kemaluanku yang masih
    tegak berdiri ke liang senggamanya, “Bleesss.. bleesss..” batang kemaluanku pun masuk ke dalam liang
    kewanitaan Tante Mira. Sama seperti Tante Sari, pinggul Tante Mira dinaik-turunkan dan diputar-putar.

    Setengah jam kemudian, Tante Mira sudah mencapai puncak orgasme juga dan dia terkulai lemas juga,
    langsung kucabut batang kemaluanku dari liang kewanitaan Tante Mira, lalu kusuruh Tante Lisa untuk
    berdiri sebentar, dan aku mengajaknya untuk duduk di atas meja rias yang ada di kamar itu,Cerita Sex Dewasa

    Lalu kubuka lebar-lebar kedua pahanya dan kuarahkan batang kemaluanku ke liang kewanitaannya,
    “Blesss.. .bleeess..” batang kemaluanku masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Lisa.

    Kukocok-kocok maju mundur batang kemaluanku di dalam liang kewanitaan Tante Lisa, dan terdengar
    desahan hebat,

    “Akhhh.. akhhh.. akhhh.. terus sayang.. enak..”

    Aku terus mengocok senjataku, selang beberapa menit aku mengubah posisi, kusuruh dia membungkuk dengan
    gaya doggy style lalu kumasukan batang kemaluanku dari arah belakang.

    “Akhhh.. akhhh..” terdengar lagi desahan Tante Lisa.

    Aku tidak peduli dengan desahan-desahannya, aku terus mengocok-ngocok batang kemaluanku di liang
    kewanitaannya sambil tanganku meremas-remas kedua buah dada yang besar putih yang bergoyang-goyang
    menggantung itu. Aku merasakan liang kewanitaan Tante Lisa basah dan ternyata Tante Lisa sudah keluar.

    Baca Juga Cerita Sex Maafkan Daku

    Aku merubah posisi, kini Tante Lisa kusuruh tiduran di lantai, di atas karpet dan kubuka lebar-lebar
    pahanya dan kuangkat kedua kakinya lalu kumasukkan batang kemaluanku ke dalam liang kewanitaannya,
    “Blesss.. blessss.. blessss..” batang kemaluanku masuk dan mulai bekerja kembali mengocok-ngocok di
    dalam liang kewanitaannya. Selang beberapa menit, aku sudah tidak tahan lagi, lalu kutanya ke Tante
    Lisa,

    “Tante, aku mau keluar nich.. di dalam apa di luar?” tanyaku.

    “Di dalam aja Sayang..” pintanya.

    Kemudian, “Crottt.. crooottt.. croottt..” air maniku muncrat di dalam liang kewanitaan Tante Lisa,
    kemudian aku jatuh terkulai lemas menindih tubuh Tante Lisa sedangkan kejantananku masih manancap
    dengan perkasanya di dalam liang kewanitaannya.

    Kami berempat pun tidur di kamarku, keesokan harinya kami berempat melakukan hal yang sama di depan TV
    dekat perapian, di kamar mandi, maupun di dapur.

  • Kisah Tragis

    Kisah Tragis


    8 views

    Nasib yang tak beruntung ditimpa oleh Kina mahasiswi yang wajahnya cantik dan mungil tersebut, dimana
    nasibnya diperkosa secara bergilir oleh teman kampusnya, Kina yang masih muda mempunyai tubuh yang
    memang menggoda kaum para laki laki, apalagi dengan payudara yang besar dan bulat, rambut pendeknya
    dan mudah bergaul dengan siapa saja.

    cerita-sex-dewasa-kisah-tragis

    Di kampus dan pergaulannya dia sering mengenakan jilbab, walau begitu jika sedang dirumah dia tak
    berjilbab dan berpakain santai seperti cewek kebanyakan.

    Kejadiannya bermula pada hari sabtu siang ketika Kina baru saja pulang dari kampus dan hendak
    beristirahat. Tiba-tiba hp miliknya berdering.dilayar tercantum nama Doni.dia adalah teman kampus
    Kina.

    “halo don, ada apa?”. sapa Kina.

    “halo juga, ga aku cuma mau ngajak kamu belajar bareng dirumahku!” Jawab Doni.

    “sama sapa aja?” Tanya Kina lagi.

    “sama aku, Heri, Tio, Agus terus Evi, Ika sama Tika juga ikut”.jelas Doni.

    Karna merasa ada cewek lain yang ikut akhirnya Kina pun mengiyakan ajakan Doni.

    SekKinar pukul 3 sore dia menuju rumah Doni yang berjarak tak jauh dari kost-kostan Kina .dia
    mengenakan jilbab hKinam serta kaus lengan panjang berwarna merah muda serta celana jeans yang makin
    membuat lekuk tubuhnya terlihat walau dia berjilbab.

    Berapa saat kemudian Kina sampai dirumah Doni disana sudah ada Agus, Tio dan Heri namun dia belum
    melihat ada cewek yang datang.Cerita Sex Dewasa

    “eh kalian dah nyampe, mana Vivi sama yang lain?” Tanya Kina.

    Mereka tak menjawab pertanyaan Kina. Agus langsung bangkit dan mengunci pintu sedangkan Tio, Heri dan
    Doni menghampiri Kina yang berdiri kebingungan.

    “eh,apa-apaan ini? apa yang akan kalian lakukan?”. Kina mulai panik dengan keadaan ini.

    “tenang sayang, kKina akan bersenang senang sampai pagi!” Doni menimpali Kina dengan senyum yang aneh.

    Sementara Tio dan Heri mulai menghampiri Kina dan memegang kedua tangan Kina .Agus langsung maju dan
    memeluk Kina dan memaksa memagut bibir mungil Kina. Tio dan Heri mulai bergerilya dipayudara mungil
    Kina yang menawan.

    Doni tak mau kalah dia memeluk Kina dari belakang tangannya bergerilya ke daerah selangkangan Kina,
    mengelus vagina Kina dari luar. Doni mulai mencari retsleting celana jeans Kina untuk membukanya.

    Kina tak bisa berbuat apa-apa karena kedua tangannya dipegang erat oleh Tio dan Heri.sementara Agus
    yan memagut bibirnya membuat dia susah bernafas.

    Akhirnya Doni berhasil membuka celana jeans milik Kina dan menurunkannya sampai batas mata kaki.Doni
    kembali berdiri dan kembali meraba vagina Kina .kali ini dia langsung menyentuh vagina Kina melalui
    celah cd warna krem milik Kina .

    “wah, mem3k kamu anget banget, jembutnya juga halus!”. komentar Doni.

    Tio dan Heri tak mau kalah mereka mulai melucuti kaos yang dikenakan Kina, Agus pun berhenti memagut
    Kina untuk memudahkan Tio dan Heri membuka kaos Kina. Kini Kina berdiri dengan jilbab dan bh serta cd
    saja, dikelilingi oleh 4 pria yang menatapnya dengan buas seolah-olah siap menghabisi mangsanya.

    “bener-bener mulus nih cewek, susunya juga montok”. komentar Heri.

    Kina yang merasa risih langsung menyilangkan kedua tangannya untuk menutup payudara dan vaginanya.

    “wah, jangan malu-malu gitu dong, kamu khan cantik”. timpal Tio.

    Kemudian Agus mendekat dan memeluk tubuh Kina tangannya bergerilya dipunggung Kina untuk mencari
    pengait bh Kina. kemudian tanpa ragu-ragu Agus membuka bh hKinam milik Kina. Semua pria menatap kagum
    pada payudara Kina yang ranum dengan pentil merah muda yang terlihat begitu segar dan menggoda.

    Tanpa komando mereka mengerubuti tubuh bugil Kina. Doni dan Agus berbagi payudara Kina sementara Tio
    melepas cd Kina dan mulai memainkannya dia menjilat dan membuka vagina Kina dengan kedua jarinya tak
    lupa dia juga menggosok klitoris mungil milik Kina.

    Sementara Tio memeluk Kina dari belakang dan mencium bibir Kina dengan semangat. Beberapa kali mereka
    berpindah peran hingga semua mencicipi bibir, payudara, vagina dan pantat sekal Kina. Entah sudah
    berapa kali Kina orgasme, tubuhnya terasa lemas.

    Mungkin jika tak ditopang oleh Agus, Kina sudah jatuh lemas. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat yang
    semakin memancarkan aroma khas yang menggoda pria disekKinarnya. Mereka sudah merasakan cairan vagina
    Kina yang manis dan gurih, sudah hampir 30 menit mereka menggerayangi Kina diruang tamu dalam posisi
    berdiri.hingga akhirnya Doni mengambil gelang besi yang terikat tambang.

    Kemudian dia memasangkan gelang itu dikaki kanan Kina, kemudian Doni menarik tambang dan memaksa Kina
    yang lemah untuk melangkah. Doni membawa Kina ke kamarnya. Disana ada tempat tidur yang cukup luas.

    Kemudian Doni memasang gelang lagi dikedua tangan Kina kemudian mengaitkan dengan tambang untuk
    menggantungkan Kina. Kembali Kina akan diperkosa dalam keadaan berdiri. Kini kondisinya lebih parah
    karena tangannya terikat keatas yang semakin mengekspos keindahan tubuhnya. Ketiaknya juga menjadi
    daya tarik tersendiri

    SekKinar pukul 02.00 dini hari, Agus terbangun dari tidurnya dia merasakan ada benda kenyal dan empuk
    dKinangannya. Ternyata itu adalah payudara Kina yang masih terlelap. Agus memandang wajah Kina yang
    terlelap dengan jilbab dikepalanya.

    Betapa manis dan cantiknya wajah itu. Kemudian dia mulai meremas payudara milik Kina, tentu saja hal
    itu membuat Kina terkejut dan bangun dari tidurnya. Tak hanya itu, semua yang ada disitupun ikut
    terbangun bahkan Heri yang dari semalam jarinya berada divagina Kina langsung menyodoknya. JerKinan
    dan tangisan Kina pun kembali pecah.

    “toloongg…jangaaan..saya udah cape…” rintih Kina .

    Namun tanpa ampun mereka terus menggerayangi tubuhnya.bahkan mereka sudah bersiap untuk memperkosa
    Kina. Kali ini mereka akan main secara keroyokan. Dini hari memang waktu yang sangat menggairahkan.
    Mereka mengangkat tubuh Kina, sementara Tio sudah terlentang menunggu vagina Kina.

    “ayo cepat masukin, kont0l gue pengen ngebor mem3knya lagi.” Perintah Tio.

    Kemudian mereka memapah Kina kemudian mengarahkan vagina Kina ke penis Tio. Kemudian dari arah
    belakang Heri mulai mengarahkan penisnya ke pantat Kina, sementara Doni memaksa membuka mulut Kina dan
    memasukan penisnya kesana.

    Agus mengarahkan tangan Kina dan mengarahkan untuk mengocok penisnya. Mereka terus menggarap tubuh
    Kina dan mengejar klimaks masing-masing. Sepertinya mereka tak memperdulikan kondisi Kina yang lemas.

    Kondisi pagi hari yang sepi menambah sensasi erotis dikamar itu. Selang berapa lama, Heri mulai
    mencapai klimaks disusul Tio, Agus kemudian Doni. Mereka saling bertukar posisi hingga akhirnya mereka
    lemas dan mengakhiri permainannya.

    Kini tubuh Kina kembali berlumur sperma dan keringat. Namun itu semua belum berakhir karena hari masih
    panjang dan esok adalah hari minggu. Jadi mereka masih punya banyak kesempatan untuk meniduri Kina .

    Pagi akhirnya datang, mereka terbangun sekKinar pukul 08.00. Rasa pegal dan lemas tentu melanda mereka
    semua, terlebih Kina yang menjadi pelampiasan keempat pria tersebut. Mereka menggendong Kina dan
    membawanya kekamar mandi Doni, karna ukurannya yang mewah dan cukup luas, memungkinkan mereka masuk
    semua kesana.

    Tio mulai memutar kran shawer, air dingin mengalir mengenai tubuh Kina membuat dia tersentak, mereka
    mengkerubuti Kina dan berebut untuk menyabuninya.

    Jilbab yang dari kemarin melekatpun mulai dicopot, kini nampak jelas rambut pendek sebahu Kina yang
    telah basah, kemudian Heri mengambil shampo dan mulai mengkeramasi rambut Kina .Namun tak hanya rambut
    yang dikepala, rambut vagina Kina juga ikut dikeramasi bahkan disela aktivKinasnya,Cerita Sex Dewasa

    Heri masih sempat meremas payudara Kina dan memagut bibir Kina, posisinya yang berada dibelakang tubuh
    Kina membuat penisnya menempel dipantat Kina yang sekal. Tak dapat dihindari lagi. Penis Heri pun
    mulai mencari lubang anus milik Kina untuk disodomi.

    Dalam posisi berdiri Kina kembali mengalami pelecehan seksual,bahkan kini Agus mulai maju dan
    mengangkat kaki kanan Kina untuk kemudian memasukan penisnya kelubang vagina Kina .kini Kina diapit
    oleh dua orang pria dibawah siraman air yang dingin.setelah Heri dan Agus selesai, kini giliran Tio
    dan dino.

    Tubuh Kina lemas setelah beberapa kali klimaks, andai Tio tak menopang tubuhnya mungkin dia sudah
    ambruk tak berdaya. Tio mendapat anus Kina sementara dino mendapat vagina. Setelah masing masing
    mencapai klimaks, mereka mendudukan Kina dipinggir bath-up. Agus mengambil cukuran jenggot milik dino
    hendak mencukur bulu vagina Kina .

    “ayo manis, dicukur dulu jembutnya biar tambah imut..hehehe..!” Kata Agus.

    Heri dan Tio pun membuka kaki Kina lebar-lebar. Sementara dino mengoleskan krim disekKinar vagina
    Kina. Kini Agus sudah siap untuk mencukur bulu vagina Kina. Kina yang nampak tak setuju mencoba
    menutup kakinya,

    Namun peganan Heri dan Tio dikakinya begitu kuat hingga membuat usahanya sia-sia. Selang satu menit,
    Agus sudah selesai mencukur bulu kemaluan Kina. Kemudian mereka memapah Kina dan menepatkannya didepan
    cermin yang besar hingga membuat pantulan tubuhnya terlihat jelas.

    “gimana cantik, bagus ga hasil karyaku?” Tanya Agus sambil mencubit vagina Kina yang kini plontos.
    Lagi-lagi Kina hanya menangis dan meratapi nasibnya.

    SekKinar pukul 09.00 akhirnya mereka selesai mandi, namun tak ada satu pun yang berpakaian. Semuanya
    masih bugil termasuk Kina yang kini juga sudah tidak mengenakan jilbab lagi, bahkan tubuh bugil itu
    dibiarkan basah oleh mereka.

    Karna menurut mereka, tubuh Kina menjadi semakin sexy. Dengan tubuh basah dan bugil, mereka membawa
    Kina ke dapur mereka ingin Kina memasak sesuatu untuk mereka. Akhirnya Kina memasak nasi goreng untuk
    mereka, disela-sela aktivKinasnya memasak, mereka juga bergantian jongkok dibawah Kina untuk menjilati
    vaginanya dan memainkan klitorisnya dengan jari mereka. Tak jarang, ketika mencapai klimaks Kina
    merasa lemas dan hampir terjatuh. Heri dan teman-temannya juga bergantian mengemut payudara Kina .

    Setelah makanan siap, mereka memapah Kina dan membaringkannya dimeja makan.Disekeliling Kina dKinaruh
    berbagai lauk pauk, bahkan Heri menaruh ice cream di vagina, payudara dan perut Kina.

    Setelah itu, dia juga menuangkan susu kental manis disekujur tubuh Kina dari kepala sampai kaki. Tentu
    saja ini terasa amat menyiksa bagi Kina, karna dia harus menahan dinginnya ice cream di daerah
    sensitifnya.

    Namun tak demikian dengan ke empat pria yang ada bersama Kina, disela-sela mereka menikmati makanan,
    mereka juga menikmati ice cream serta susu kental manis yang berada ditubuh Kina .

    “wah, ini ice cream terenak yang pernah gue rasain. Ice cream rasa mem3k!” Komentar Tio.

    “apalagi ini, susu rasa susu hahahaha!” Sambung Agus yang sedang menjilati susu kental manis yang
    berada di payudara Kina .

    Selesai makan,mereka mempersilahkan Kina untuk makan, namun kali ini menunya khusus. Mereka mencampur
    nasi yang akan dimakan oleh Kina dengan sperma mereka berempat.

    “ayo, sarapan nasi campur peju pasti sehat!” Celoteh Doni.

    Kina juga tak boleh turun dari meja,dia harus makan dalam posisi merangkak seperti anjing. Tentu saja
    Kina merasa terhina dan sedih mendapatkan perlakuan tersebut.

    “tolong hentikan, kapan kalian akan melepaskanku?” Tanya Kina lirih.

    Namun tak ada satupun yang menjawab. Doni dan Heri yang duduk disebelah kanan Kina langsung meremas
    payudara Kina yang menggantung dengan indah sementara Agus dan Tio dipayudara satunya lagi.

    Setelah itu, Tio bangkit dan mengambil sesuatu dilemari es. Ternyata dia mengambil dua batang
    mentimun, langsung tia mengangkat satu kaki Kina dari samping dan memasukan batang mentimun itu
    kevagina Kina. Tentu saja hal itu membuat Kina kaget dan memekik.

    “aaaaawww…..aaahhhh…..apa yang kalian lakukan?” Pekik Kina .

    Kembali vagina Kina merasa amat dingin, dia juga merasakan sakit karena vaginanya yang masih kering
    dan tekstur timun yang tidak halus. Heri mulai tertarik akan hal tersebut lalu mengambil sebuah wortel
    dan langsung memasukannya keliang anus milik Kina.

    Sementara Kina yang belum menyelesaikan makannya dipaksa mengulum batang penis milik Agus. Sementara
    Doni menikmati kedua payudara Kina yang menggantung bebas. Setelah beberapa menit, cairan vagina Kina
    mulai mengalir, kemudian Tio mencabut timun yang berada didalam vagina Kina dan memaksa Kina untuk
    memakanya.

    “ayo manis, rasakan mentimun rasa mem3k dan peju!” Perintah Tio dengan sedikit memaksa.
    Tak hanya itu, Heri juga memaksa Kina untuk memakan wortel yang tadi dimasukan kelubang anus Kina.

    Setelah selesai, mereka kembali berpindah tempat, kali ini mereka menuju keruang tengah. Agus yang
    menggendong Kina didepan tak mau kehilangan kesempatan dia memasukan penisnya ke vagina Kina dalam
    posisi berdiri dan berjalan.

    Payudara Kina bergesekan dengan dada Agus yang berbulu, sesampainya diruang tamu, Agus yang belum
    klimaks langsung memepet tubuh Kina ditembok kemudian dia semakin cepat menggenjotnya.akhirnya Agus
    klimaks juga dia langsung lemah dan menjatuhkan Kina dari gendongannya, Kina pun langsung duduk tak
    sanggup berdiri karena kaki yang sudah lemas.Cerita Sex Dewasa

    Tio menyeret tubuh Kina dan disuruh melakukan oral sex kepada mereka semua yang kini sudah duduk
    disofa panjang.

    Tanpa pilihan Kina melakukan hal tersebut sambil terkadang juga disuruh mengocok batang penis mereka.
    Tak hanya dimulut, mereka juga mengeluarkan sperma diluar yang mengenai rambut, wajah, leher serta
    payudaranya.

    Setelah selesai Tio mengangkat tubuh Kina dan mendudukannya diatas penisnya. Dia menggenjot dengan
    penuh semangat, payudara Kina yang berguncang membuat Tio gemas kemudian meremasnya dan terkadang
    menggigit puting Kina .

    “aw…sakiiiitt….!” Rintih Kina yang merasa Tio meremas payudaranya begitu keras.

    Baca Juga Cerita Sex Jebakan

    Setelah klimaks, Kina harus melayani Heri dan Doni semetara Agus sudah mendapat jatah pertama.

    Setelah selesai semua, Kina pun lemas tubuh bugil dan mungilnya kini tergolek lemah dikarpet, tubuhnya
    penuh dengan sperma dan bekas merah, terutama dibagian payudaranya. Merekapun terus menggilir Kina
    sampai malam, kadang diruang tamu, didapur, tangga dan berbagai tempat dirumah itu.

    Mereka juga sempat mendandani Kina menggunakan seragam smu, karna tubuh dan wajahnya yang imut Dia
    masih terlihat pantas mengenakan seragam smu. Sementara mereka berempat berperan sebagai gurunya.

    Kina kembali digenjot bergilir dengan kemeja putih dan rok abu-abu masih melekat pada dirinya.setelah
    cukup puas memperkosa dan menyiksa Kina, akhirnya mereka mengantarkan Kina kembali ke kost-annya.

    Sejak saat itu, mereka bebas menikmati tubuh Kina dimanapun kapanpun. Bahkan mereka sempat mengeroyok
    Kina di toilet kampus. Kina pun harus siap melayani mereka baik semua ataupun perorangan. Itulah
    sekelumit kisah wanita cantik nan imut yang mengalami nasib tragis.

  • Threesome yang Tidak di Sengaja

    Threesome yang Tidak di Sengaja


    724 views

    Threesome yang Tidak di Sengaja

    Gambaran tentang kejadian malam itu masih teringat jelas di dalam pikiran ku. Cerita ini dimulai ketika Shelly, istri ku dan aku menyewa seorang babysitter dari sebuah perusahaan penyedia jasa lokal. Saat itu akan menjadi malam pertama kami pergi keluar semenjak sang bayi lahir.

    Shelly masih merasa sedikit cemas tentang meninggalkan si bayi berdua saja dengan seorang babysitter, tapi kami berdua butuh hiburan. Aku memutuskan untuk membawa istri ku yang cantik keluar untuk makan malam dan minum-minum.

    Sang babysitter muncul tepat waktu. Aku membukakan pintu. Aku merasa sangat senang saat melihat seorang wanita muda yang sangat cantik. “Hello, nama ku Stephanie,” katanya dengan riang.

    Aku mengulurkan tangan ku. “Aku Kyle, senang bertemu dengan mu,” kata ku. Meskipun cuaca di luar sangat dingin tapi tangannya terasa lembut dan hangat.

    Shelly keluar dari kamar tidur, sambil memasang anting-anting. “Terima kasih banyak sudah datang,” kata Shelly kepada Stephanie sambil mengedipkan matanya dan setelah itu kami buru-buru menuju ke pintu untuk keluar.

    Shelly tampak jauh lebih cantik dibanding sebelumnya, saat aku mengikutinya dari belakang, pantatnya yang sempurna menggoda ku dengan mengintip keluar dari rok mininya yang sangat pendek. Aroma parfum Shelly mengelilingi ku dan mengingatkan aku kembali akan aktivitas seksual kami di masa lalu.

    Shelly memesan makanan favoritnya, lobster. Aku memesan sebuah steak dan segelas anggur. Wajah Shelly tampak bersinar saat dia memandang ke sekeliling ruangan restoran itu. Dia menyukai keramaian dan sangat senang pergi keluar.

    Sedangkan aku sebaliknya, lebih suka duduk di rumah sambil menonton TV. Shelly menikmati lobsternya sedikit demi sedikit. Aku sudah menyelesaikan steak ku dalam waktu yang sangat singkat dan memesan sebotol anggur lagi.

    Satu hal yang sangat menyenangkan tentang menikah adalah aku jadi tidak perlu lagi berusaha keras hanya untuk bisa melakukan hubungan seks.

    Shelly sangat senang melakukan hubungan seks dan hampir selalu merasa horny, dan saat dia minum nafsu birahinya jadi semakin besar. Dia seperti jadi seperti tidak lagi bisa mengendalikan diri dan sangat liar.

    Dia akan ngomong kotor untuk menggoda ku tentang pria lain di depan ku saat kontol ku sedang berada jauh di dalam memeknya. Terkadang dia akan menyebut ku dengan berbagai istilah dan meminta ku untuk melakukan banyak hal misalnya memasukkan jari ku ke dalam pantatnya.

    Aku mulai mengisi gelasnya lagi setiap kali dia meneguk minumannya, aku ingin dia minum lebih cepat lagi. Aku sudah tidak sabar untuk segera membawa pulang pengantin ku dan menelanjanginya.

    Akhirnya, setelah beberapa lama, dia menghisap potongan lobster terakhir ke dalam mulutnya. Dia menenggak anggurnya yang terakhir dan mengatakan bahwa dia sudah siap untuk pulang. Dia mencubit pantat ku diperjalanan menuju ke mobil, aku tahu itu adalah sebuah pertanda yang bagus.

    Saat kami sampai di rumah, Stephanie sedang duduk di sofa sambil menonton TV. Dia mengatakan bahwa si bayi sudah tidur. Secara insting Shelly segera menuju ke kamar si bayi untuk memeriksanya. Shelly berterima kasih kepada Stephanie sambil memberikan yang 20 dollar.

    “Terima kasih dia sama sekali tidak membuat ku kerepotan,” kata Stephanie.

    Shelly mengundang Stephanie untuk minum segelas anggur dan Stephanie menerimanya dengan senang hati. Aku berharap Stephanie segera pulang supaya aku bisa berdua saja dengan istri ku.

    Shelly menunjuk ke lemari pendingin dan mengambil sebotol anggur. Dia terlihat frustasi saat dia mulai menuangkan botol yang hampir kosong tersebut. “Sayang, kenapa kau tidak bilang kalau kita kehabisan anggur?” dia bertanya pada ku. “Apa kau bisa keluar untuk membelinya?” dia memohon.

    Aku ini adalah suami yang selalu penurut. Aku akan selalu melakukan apapun yang dia inginkan karena jika dia merasa tidak bahagia maka aku juga yang akan sengsara. Aku mengambil mantel ku lalu pergi ke toko minuman terdekat. Aku harus mengantri disana kemudian buru-buru pulang sambil membawa botol-botol ku.

    Saat aku membuka pintu, aku mendengar suara erangan. Aku berjalan masuk ke ruang tengah dan tidak menumukan Shelly maupun Stephanie. Aku mendengar suara erangan lagi dan mengikutinya ke ruang makan.

    Disana, Shelly sedang berlutut di lantai dan Stephanie sedang berdiri dengan kedua kaki yang terentang lebar diatasnya. Wajah Shelly sedang berada di memek Stephanie. Dia sedang menjilati clitoris Stephanie dan menghisapnya.

    Kaki-kaki Stephanie terentang lebar saat Shelly memainkan lidahnya keluar masuk di lubang Stephanie yang berwarna pink itu. Aku tidak tahu kalau Shelly juga menyukai wanita. Aku awalnya merasa sedikit marah saat melihat istri ku sedang menikmati babysitter kami.

    Kepala Stephanie terangkat kebelakang dan matanya tertutup sehingga tidak satupun dari mereka yang menyadari kalau aku sudah kembali. Aku mengamati mereka selama beberapa menit dan menjadi sangat terangsang oleh skenario yang ada di depan ku itu.

    Kemudian aku memutuskan kenapa aku harus marah? Pria umumnya akan sangat menginginkan moment seperti ini. Aku berpikir bahwa jika istri ku bisa melakukan itu dengan babysitter kami yang masih muda belia itu, maka aku mungkin juga bisa melakukannya.

    Aku melangkah ke arah mereka lalu menaruh tangan ku diwajah Stephanie. Dia membuka matanya yang tampak dipenuhi dengan nafsu birahi. Dia terkejut saat melihat ku. Aku menciumnya bibirnya lalu menyelipkan lidah ku ke dalam mulutnya. Bibirnya terasa hangat dan lembut dan lidahnya melilit lidah ku.

    Aku menaruh jari ku ke bibirnya dan dia menghisapnya seperti sebuah kontol. Secara perlahan aku menggerakkan ujung jari ku ke atas payudaranya dan mulai membuka bajunya.

    Shelly memandang ke arah ku, wajahnya tampak di penuhi dengan cairan vagina Stephanie dan tersenyum. “Aku tahu kau tidak akan marah,” bisiknya. Dia mulai membuka celana ku saat bibir ku sedang menghisap puting-puting Stephanie yang lezat.

    Shelly meraih kontol ku lalu menghisapnya. Dia sudah sering menghisap kontol ku tapi kali ini tampaknya dia jauh lebih menikmatinya. Pasti karena rasa memek Stephanie yang lezat dan masih muda belia itulah yang membuatnya merasa sangat horny.

    Aku mengangkat Stephanie ke atas meja makan lalu dia menelentang. Aku membuka kedua kakinya lebar-lebar dan menjilati memeknya. Rasa memeknya memang sangat nikmat jadi karena itulah Shelly sangat menyukainya.

    Shelly menghisap kontol ku dengan liar. Dia memasukkan semua batang kontol ku ke dalam tenggorokannya. Aku mengambil giliran untuk menikmati memek Stephanie.

    Tiba-tiba, Shelly berhenti menghisap kontol ku lalu berdiri. Dia bergerak ke sisi lain dari meja makan itu, menunduk lalu menciumi bibir Stephanie. Shelly menatap dengan cemas saat aku menjilati clitoris Stephanie dan memasukkan jari ku ke dalam lubang memeknya. Kemudian Shelly berkata, “Aku juga ingin seperti itu.”

    Aku ingin mengentot Stephanie!! Aku sudah sangat sangat sering mengentot Shelly dan kesempatan ku untuk bisa mengentot Stephanie mungkin hanya kali ini saja. Kenapa istri ku sangat senang menjilati memek Stephanie?

    “OK,” kata ku dengan enggan, tapi kemudian aku akan mengentotnya, menggangguk kepada Stephanie. Shelly kembali ke sisi lain dari meja dan mengambil tempat ku untuk menjilati memek Stephanie. Aku berdiri di dekatnya sambil menonton dan mengocok kontol ku.

    Stephanie mengerang dan mengangkat pantatnya dari meja itu untuk menyambut bibir istri ku. Sesekali Shelly akan berhenti dan menghisap kontol untuk sejenak. Dia mulai melakukannya secara sistematis, berpindah-pindah dari memek Stephanie ke kontol ku, lalu kembali ke memek Stephanie.

    Akhirnya, Shelly berkata, “Ok kau bisa mengentotnya sekarang.” Shelly meraih kontol ku lalu membasahi kontol itu dengan air liurnya. Kemudian dia memandu ujung kontol ku ke arah lubang memek Stephanie yang kecil, sempit dan basah. Aku mendorong kontol ku hingga jauh ke dalam lubang memek Stephanie itu.

    Stephanie mengerang dengan keras saat aku mengentotnya. Aku mulai mengayunkan pantat ku, meluncurkan kontol ku keluar masuk di lubang memek yang sempit itu. Lubang memek Stephanie terasa begitu sempit dan hangat, kontol ku terasa seperti sedang di remas-remas dengan sangat kuat setiap kali aku menghujamkannya.

    Beberapa lama kemudian Shelly menarik keluar kontol ku yang basah dari dalam memek Stephanie lalu menjilati dan menghisapi cairan yang membasahi seluruh batang kontol ku, dan kemudian menjilati memek Stephanie. Shelly tampaknya sangat menikmati campuran dari rasa air mani ku dengan cairan vagina Stephanie itu.

    Kemudian Shellu kembali memasukkan kontol ku ke dalam lubang memek Stephanie. Aku pun kembali mengentot Stephanie dengan keras dan cepat.

  • Bercinta Dengan Tiga Wanita Sekaligus

    Bercinta Dengan Tiga Wanita Sekaligus


    473 views

    BONUS VIDEO BOKEP DAN FOTO BUGIL


    Cerita Sex Dewasa | Bercinta Dengan Tiga Wanita Sekaligus

    Pada suatu sore di hari libur (liburan dari kerja) aku buang waktu dengan main internet, lebih kurang satu setengah jam bermain internet, tiba-tiba terdengar suara bel. Setengah kesal aku hampiri juga pintu rumahku, dan setelah aku mengintip dari lubang kecil di pintu, kulihat tiga orang gadis. Kemudian kubuka pintu dan bertanya (maaf langsung aku terjemahkan saja ke bahasa Indonesia semua percakapan kami),Bisa saya bantu? kataku kepada mereka.Maaf, kami sangat mengganggu, kami mencari Gamha dan sudah satu jam lebih kami coba untuk telepon tapi kedengarannya sibuk terus, maka kami langsung saja datang.Yang berwajah Jepang nyerocos seperti kereta express di negerinya.Oh, soalnya saya lagi main internet, maklumlah soalnya hanya satu sambungan saja telepon saya, jawabku.Memangnya kalian tidak tahu kalau si Gamha sedang pulang kampung dua hari yang lalu? lanjutku lagi.

    abgimuttogelagipamertoketifotoabgiabgbugilitogemontokifotohotifotobugil3-1Kali ini yang bule berambut sebahu dengan kesal menjawab, Kurang ajar si Gamha, katanya bulan depan pulangnya, Jepang sialan tuh!Eh! Kesel sih boleh, tapi jangan bilang Jepang sialan dong. Gua tersinggung nih, yang berwajah Jepang protes.Sudahlah, memang belum rejeki kita dijajanin sama si Gamha, sekarang bule bermata biru nyeletus.Dengan setengah bingung karena tidak mengerti persoalannya, kupersilakan mereka untuk masuk. Mulanya mereka ragu-ragu, akhirnya mereka masuk juga. Iya deh, sekalian numpang minum, kata bule yang berambut panjang masih kedengaran kesalnya.

    Setelah mereka duduk, kami memperkenalkan nama kami masing-masing.Nama saya Jacky, kataku.Khira, kata yang berwajah Jepang (dan memang orang Jepang).Yang berambut panjang menyusul, Emily, (Campuran Italia dengan Inggris).Saya Eve, gadis bermata biru ini asal Jerman.Jacky, kamu berasal dari mana? lanjutnya.Jakarta, Indonesia, jawabku sambil menuju ke lemari es untuk mengambilkan minuman sesuai permintaan mereka.Sekembalinya saya ke ruang tamu dimana mereka duduk, ternyata si Khira dan Eve sudah berada di ruang komputer saya, yang memang bersebelahan dengan ruang tamu dan tidak dibatasi apa-apa.Aduh, panas sekali nich?! si Emily ngedumel sambil membuka kemeja luarnya.

    Memang di awal bulan Desember lalu, Australia ini sedang panas-panasnya. Aku tertegun sejenak, karena bersamaan dengan aku meletakkan minuman di atas meja, Emily sudah melepaskan kancing terakhirnya. Sehingga dengan jelas dapat kulihat bagian atas bukit putih bersih menyembul, walaupun masih terhalangi kaos bagian bawahnya. Tapi membuatku sedikit menelan ludah. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara si Eve,Jacky, boleh kami main internetnya?Silakan, jawabku.Aku tidak keberatan karena aku membayar untuk yang tidak terbatas penggunaannya.Mau nge-chat yah? tanyaku sambil tersenyum pada si Emily.Ah, paling-paling mau lihat gambar gituan, lanjut Emily lagi.Eh, kaliankan masih di bawah umur? kataku mencoba untuk protes.Paling umur kalian 17 tahun kan? sambungku lagi.

    abgimuttogelagipamertoketifotoabgiabgbugilitogemontokifotohotifotobugil4-1Khira menyambut, Tahun ini kami sudah 18 tahun. Hanya tinggal beberapa bulan saja. Aku tidak bisa bilang apa-apa lagi. Baru saja aku ngobrol dengan si Emily, si Eve datang lagi menanyakan, apa saya tahu site-nya gambar gituan yang gratis. Lalu sambil tersenyum saya hampiri komputer, kemudian saya ketikkan salah satu situs seks anak belasan tahun gratis kesukaanku. Karena waktu mengetik sambil berdiri dan si Khira duduk di kursi meja komputer, maka dapat kulihat dengan jelas ke bawah bukitnya si Khira yang lebih putih dari punyanya si Emily. Barangku terasa berdenyut. Setengah kencang.

    Setelah gambar keluar, yang terpampang adalah seorang negro sedang mencoba memasuki barang besarnya ke lubang kecil milik gadis belasan. Sedangkan mulut gadis itu sudah penuh dengan barang laki-laki putih yang tak kalah besar barangnya dengan barang si negro itu. Terasa barangku kini benar-benar kencang karena nafsu dengan keadaan. Si Emily menghampiri kami berada, karena si Eve dan Khira tertawa terbahak-bahak melihat gambar itu. Aku mencoba menghindar dari situ, tapi tanpa sengaja sikut Khira tersentuh barangku yang hanya tertutup celana sport tipis. Baru tiga langkah aku menghindar dari situ, kudengar suara tawa mereka bertambah kencang, langsung aku menoleh dan bertanya, Ada apa? Eve menjawab, Khira bilang, sikutnya terbentur barangmu, katanya.

    abgimuttogelagipamertoketifotoabgiabgbugilitogemontokifotohotifotobugil5-1Aku benar-benar malu dibuatnya. Tapi dengan tersenyum aku menjawab, Memangnya kenapa, kan wajar kalau saya merasa terangsang dengan gambar itu. Itu berarti aku normal. Kulihat lagi mereka berbisik, kemudian mereka menghampiriku yang sedang mencoba untuk membetulkan letak barangku. Si Eve bertanya padaku sambil tersipu,Jacky, boleh nggak kalau kami lihat barangmu?Aku tersentak dengan pertanyaan itu.Kalian ini gila yah, nanti aku bisa masuk penjara karena dikira memperkosa anak di bawah umur.(Di negeri ini di bawah 18 tahun masih dianggap bawah umur).Kan tidak ada yang tahu, lagi pula kami tidak akan menceritakan pada siapa-siapa, sungguh kami janji, si Emily mewakili mereka.Please Jacky! sambungnya.Oke, tapi jangan diketawain yah! ancamku sambil tersenyum nafsu.

    Dengan cepat kuturunkan celana sport-ku dan dengan galak barangku mencuat dari bawah ke atas dengan sangat menantang. Lalu segera terdengar suara terpekik pendek hampir berbarengan.Gila gede banget! kata mereka hampir berbarengan lagi.Nah! Sekarang apa lagi? tanyaku.Tanpa menjawab Khira dan Emily menghampiriku, sedangkan Eve masih berdiri tertegun memandang barangku sambil tangan kanannya menutup mulutnya sedangkan tangan kirinya mendekap selangkangannya.

    abgimuttogelagipamertoketifotoabgiabgbugilitogemontokifotohotifotobugil6-1Boleh kupegang Jack? tanya Khira sambil jari telunjuknya menyentuh kepala barangku tanpa menunggu jawabanku. Aku hanya bisa menjawab, Uuuh karena geli dan nikmat oleh sentuhannya. Sedang Eve masih saja mematung, hanya jari-jari tangan kirinya saja yang mulai meraih-raih sesuatu di selangkangannya. Lain dengan Emily yang sedang mencoba menggenggam barangku, dan aku merasa sedikit sakit karena Emily memaksakan jari tengahnya untuk bertemu dengan ibu jarinya. Tiba-tiba Emily, hentikan kegiatannya dan bertanya padaku, Kamu punya film biru Jack? Sambil terbata-bata kusuruh Eve untuk membuka laci di bawah TV-ku dan minta Eve lagi untuk masukan saja langsung ke video.

    Waktu mulai diputar gambarnya bukan lagi dari awal, tapi sudah di pertengahan. Yang tampak adalah seorang laki-laki 60 tahun sedang dihisap barangnya oleh gadis belasan tahun. Kontan saja si Eve menghisap jarinya yang tadinya dipakai untuk menutup mulut sedangkan jari tangan kirinya masih kembali ke tugasnya. Pandanganku sayup, dan terasa benda lembut menyapu kepala barangku dan benda lembut lainnya menyapu bijiku.

    Aku mencoba untuk melihat ke bawah, ternyata lidah Khira di bagian kepala dan lidah Emily di bagian bijiku.Uuh ssshh uuuhh ssshhh aku merasa nikmat.Kupanggil Eve ke sampingku dan kubuka dengan tergesa-gesa kaos dan BH-nya. Tanpa sabar kuhisap putingnya dan segera terdengar nafas Eve memburu.Jacky ooohh Jacky terusss ooohhh nikmat Eve terdengar.Kemudian terasa setengah barangku memasuki lubang hangat, ternyata mulut Khira sudah melakukan tugasnya walaupun tidak masuk semua tapi dipaksakan olehnya.Slep slep chk chkItulah yang terdengar paduan suara antara barangku dan mulut Khira. Emily masih saja menjilat-jilat bijiku.

    Dengan kasar Eve menarik kepalaku untuk kembali ke putingnya. Kurasakan nikmat tak ketulungan. Kuraih bahu Emily untuk bangun dan menyuruhnya untuk berbaring di tempat duduk panjang. Setelah kubuka semua penghalang kemaluannya langsung kubuka lebar kakinya dan wajahku tertanam di selangkangannya.Aaahhh Jacky aaahhh enak Jacky teruskan aaahhh terussss Jacky! jerit Emily.Ternyata Eve sudah bugil, tangannya dengan gemetar menarik tanganku ke arah barangnya. Aku tahu maksudnya, maka langsung saja kumainkan jari tengahku untuk mengorek-ngorek biji kecil di atas lubang nikmatnya. Terasa basah barang Eve, terasa menggigil barang Eve.Aaaahhh Eve sampai puncaknya.

    Aku pun mulai merasa menggigil dan barangku terasa semakin kencang di mulut Khira, sedangkan mulutku belepotan di depan barang Emily, karena Emily tanpa berteriak sudah menumpahkan cairan nikmatnya. Aku tak tahan lagi, aku tak tahan lagi, Aahhh Sambil meninggalkan barang Emily, kutarik kepala Khira dan menekannya ke arah barangku. Terdengar, Heeerrkk Rupanya Khira ketelak oleh barangku dan mencoba untuk melepaskan barangku dari mulutnya, tapi terlambat cairan kentalku tersemprot ke tenggorokannya. Kepalanya menggeleng-geleng dan tangannya mencubit tanganku yang sedang menekan kepalanya ke arah barangku. Akhirnya gelengannya melemah Khira malah memaju mundurkan kepalanya terhadap barangku. Aku merasa nikmat dan ngilu sekali, Sudah sudah aku ngiluuu sudah pintaku. Tapi Khira masih saja melakukannya. Kakiku gemetar, gemetar sekali. Akhirnya kuangkat kepala Khira, kutatap wajahnya yang berlumuran dengan cairanku. Khira menatapku sendu, sendu sekali dan kudengar suara lembut dari bibirnya, I Love you, Jacky! aku tak menjawab. Apa yang harus kujawab! Hanya kukecup lembut keningnya dan berkata, Thank you Khira!

    abgimuttogelagipamertoketifotoabgiabgbugilitogemontokifotohotifotobugil7-1Rasa nikmatku hilang seketika, aku tak bernafsu lagi walaupun kulihat Eve sedang memainkan klitorisnya dengan jarinya dan Emily yang ternganga memandang ke arahku dan Khira. Mungkin Emily mendengar apa yang telah diucapkan oleh Khira. Demikianlah, kejadian demi kejadian terus berlangsung antara kami. Kadang hanya aku dengan salah satu dari mereka, kadang mereka berdua saja denganku. Aku masih memikirkan apa yang telah diucapkan oleh Khira. Umurku lebih 10 tahun darinya. Dan sekarang Khira lebih sering meneleponku di rumah maupun di tempat kerjaku. Hanya untuk mendengar jawabanku atas cintanya. Dan belakangan aku dengar Eve dan Emily sudah jarang bergaul dengan Khira.abgimuttogelagipamertoketifotoabgiabgbugilitogemontokifotohotifotobugil8-1

  • Ke 2 Sahabat Istriku

    Ke 2 Sahabat Istriku


    10 views

    cerita-sex-dewasa-ke-2-sahabat-istriku

    Cerita Sex Dewasa | Aku bangun kesiangan. Kulirik jam dinding…ah… pukul 8 pagi…Suasana rumahku sepi. Tumben, pikirku. Segera
    aku meloncat bangun, mencari-cari istri dan anak-anakku..tidak ada…Ahh…baru kuingat, hari Minggu ini ada
    acara di sekolah anakku mulai jam 9 pagi. Pantas saja mereka sudah berangkat.
    Istriku sengaja tidak membangunkan aku untuk ikut ke sekolah anakku, karena malamnya aku pulang kantor
    hampir jam 4 pagi. Yah, beginilah nasib auditor kalo lagi dikejar tenggat laporan audit. Untung saja,
    ada anggota timku yang bisa mengurangi keteganganku. Ya, Agnes tentunya, yang semalam telah memberikan
    kenikmatan untukku.

    Baginya, bersetubuh dengan laki-laki lain selain suaminya bukan hal yang tabu, karena dia sendiri juga
    tidak mempermasalahkan jika suaminya berkencan dengan wanita lain. Prinsip mereka, yang penting pasangan
    tidak melihat kejadian itu dengan mata kepala sendiri. Aku tersenyum mengingat kejadian semalam.

    Sebenarnya jam 11 malam kami sepakat untuk pulang kantor, tapi ternyata aku dan Agnes sama-sama lagi
    horny berat. Akhirnya, terjadilah seperti yang sudah kuceritakan diatas. Tak terasa, aku mulai horny
    lagi. tongkolku pelan-pelan mengangguk-angguk dan mulai mengacung.

    “haduuhhh…repot bener nih, pikirku.
    “Lagi sendiri, eh ngaceng.” Kebetulan, di rumah tidak ada pembantu, karena istriku, Indah, lebih suka
    bersih-bersih rumah sendiri dibantu kedua anakku.
    “Biar anak-anak gak manja dan bisa belajar mandiri. Lagian, bisa menghemat pengeluaran,” kilah istriku.

    Aku setuju saja. Kurebahkan tubuhku di sofa ruang tengah, setelah memutar DVD BF. Sengaja kusetel, biar
    hasratku cepet tuntas. Setelah kubuka celanaku, aku sekarang hanya pakai kaos, dan tidak pakai celana.
    Pelan-pelan kuurut dan kukocok tongkolku. Tampak dari ujung lubang tongkolku melelehkan cairan bening,
    tanda bahwa birahiku sudah memuncak.

    Aku pun teringat Linda, sahabat istriku. Kebetulan Linda berasal dari suku Chinese. Dia adalah sahabat
    istriku sejak dari SMP hingga lulus kuliah, dan sering juga main kerumahku. Kadang sendiri, kadang
    bersama keluarganya. Ya, aku memang sering berfantasi sedang menyetubuhi Linda. Tubuhnya mungil,
    setinggi Agnes, tapi lebih gendut. Yang kukagumi adalah kulitnya yang sangat-sangat-sangat putih mulus,
    seperti warna patung lilin. Dan pantatnya yang membulat indah, sering membuatku ngaceng kalo dia
    berkunjung. Aku hanya bisa membayangkan seandainya tubuh mulus Linda bisa kujamah, pasti nikmat sekali.
    Fantasiku ini ternyata membuat tongkolku makin keras, merah padam dan cairan bening itu mengalir lagi
    dengan deras.

    Ah Linda…seandainya aku bisa menyentuhmu..dan kamu mau ngocokin tongkolku..begitu pikiranku saat itu.
    Lagi enak-enak ngocok sambil nonton bokep dan membayangkan Linda, terdengar suara langkah sepatu dan
    seseorang memanggil-manggil istriku.Cerita Sex Dewasa

    “Ndah…Indah…aku dateng,” seru suara itu… Oh my gosh…itu suara Linda…mau ngapain dia kesini, pikirku.

    Kapan masuknya, kok gak kedengaran? Linda memang tidak pernah mengetuk pintu kalau ke rumahku, karena
    keluarga kami sudah sangat akrab dengan dia dan keluarganya. Belum sempat aku berpikir dan bertindak
    untuk menyelamatkan diri, tau-tau Linda udah nongol di ruang tengah, dan…

    “AAAHHH…ANDREEEEW…!!!!,”jeritnya. “Kamu lagi ngapain?”
    “Aku…eh…anu…aku….ee…lagi…ini…,”aku tak bisa menjawa pertanyaannya.

    Gugup. Panik. Sal-ting. Semua bercampur jadi satu. Orang yang selama ini hanya ada dalam fantasiku,
    tiba-tiba muncul dihadapanku dan straight, langsung melihatku dalam keadaan telanjang, gak pake celana,
    Cuma kaos aja. Ngaceng pula.

    “Kamu dateng ok gak ngabarin dulu sih?” aku protes.
    “Udah, sana, pake celana dulu!” Pagi-pagi telanjang, nonton bf sendirian,lagi ngapain sih?”ucapnya
    sambil duduk di kursi didepanku.
    “Yee…namanya juga lagi horny…ya udah mending colai sambil nonton bf. Lagian anak-anak sama mamanya lagi
    pergi ke sekolah. Ya udah, self service,”sahutku.
    “Udah, Ndrew. Sana pake celana dulu. Kamu gak risih apa?”
    “Ah, kepalang tanggung kamu dah liat? Ngapain juga dtitutupin? Telat donk,”kilahku.
    “Dasar kamu ya. Ya, udah deh, aku pamit dulu. Salam aja buat istrimu. Sana, terusin lagi.” Linda
    beranjak dari duduknya, dan pamit pulang. Buru-buru aku mencegahnya.
    “Lin, ntar dulu lah…,”pintaku.

    “Apaan sih, orang aku mau ngajak Indah jalan, dia nggak ada ya udah, aku mau jalan sendiri,”sahutnya.
    “Bentar deh Lin. Tolongin aku, gak lama kok, paling sepuluh menit,”aku berusaha merayunya.
    “Gila kamu ya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”Linda protes sambil melotot.
    “Kamu jangan macem-macem deh, Ndrew. Gak mungkin donk aku lakukan itu,”sergahnya. “Lin,”sahutku tenang.
    “Aku gak minta kamu untuk melakukan hal itu. Enggak. Aku Cuma minta tolong, kamu duduk didepanku, sambil
    liatin aku colai.”
    “Gimana?” Linda tidak menjawab.

    Matanya menatapku tajam. Sejurus kemudian..

    “Ok, Lin. Aku janji gak ndeketin apalagi menyentuh kamu. Tapi, sebelum itu, kamu juga buka bajumu dong…
    pake BH sama CD aja deh, gak usah telanjang. Kan kamu dah liat punyaku, please?” aku merayunya dengan
    sedikit memelas sekaligus khawatir.
    “Hm…fine deh. Aku bantuin deh…tapi bener ya, aku masih pake BH dan CDku dan kamu gak nyentuh aku ya.
    Janji lho,”katanya.
    “Tapi, tunggu. Aku mau tanya, kok kamu berani banget minta tolong begitu ke aku?”
    ”Yaaa…aku berani-beraniin…toh aku gak nyentuh kamu, Cuma liat doang. Lagian, kamu dah liat punyaku?
    Trus, aku lagi colai sambil liat BF…lha ada kamu, kenapa gak minta tolong aja, liat yang asli?”kilahku.
    “Dasar kamu. Ya udah deh, aku buka baju di kamar dulu.”
    “Gak usah, disini aja,”sahutku.

    Perlahan, dibukanya kemejanya…dan…ah payudara itu menyembul keluar. Payudara yang terbungkus BH sexy
    berwarna merah…menambah kontras warna kulitnya yang sangat putih dan mulus. ceritasexdewasa.org Aku menelan ludah karena
    hanya bisa membayangkan seperti apa isi BH merah itu. Seteah itu, diturunkannya zip celana jeansnya, dan
    dibukanya kancing celananya. Perlahan, diturunkannya jeansnya…sedikit ada keraguan di wajahnya. Tapi
    akhirnya, celana itu terlepas dari kaki yang dibungkusnya.

    Wow…aku terbelalak melihatnya. Paha itu sangat putih sekali. Lebih putih dari yang pernah aku bayangkan.
    Tak ada cacat, tak ada noda. Selangkangannya masih terbungkus celana dalam mini berbahan satin, sewarna
    dengan Bhnya. Sepertinya, itu adalah satu set BH dan CD.

    “Nih, aku udah buka baju. Dah, kamu terusin lagi colinya. Aku duduk ya.” Linda segera duduk, dan hendak
    menyilangkan kakinya.

    Buru-buru aku cegah.

    “Duduknya jangan gitu dong…”
    “Ih, kamu tuh ya…macem-macem banget. Emang aku musti gimana?”protes Linda.
    “Nungging, gitu?” ”Ya kalo kamu mau nungging, bagus banget,”sahutku.
    “Sori ye…emang gue apaan,”cibirnya.
    “Kamu duduk biasa aja, tapi kakimu di buka dikit, jadi aku bisa liat celana dalam sama selangkanganmu.
    Toh veggy kamu gak keliatan?”usulku.
    “Iya…iya…ni anak rewel banget ya. Mau colai aja pake minta macem-macem,”Linda masih saja protes dengan
    permintaanku.
    “Begini posisi yang kamu mau?”tanyanya sambil duduk dan membuka pahanya lebar-lebar.
    “Yak sip.” Sahutku.
    “Aku lanjut ya colinya.” Sambil memandangi tbuh Linda, aku terus mengocok tongkolku, tapi kulakukan
    dengan perlahan, karena aku nggak mau cepet-cepet ejakulasi.

    Sayang, kalau pemandangan langka ini berlalau terlalu cepat. Aku pun menceracau, tapi Linda tidak
    menanggapi omonganku.

    “Oh…Liiiinnn….kamu kok mulus banget siiiihhh….”aku terus menceracau. Linda menatapku dan tersenyum.
    “Susumu montok bangeeeettttt… pahamu sekel dan putiiiihhhh….hhhhh….bikin aku ngaceng, Liiiiiinnn……”
    Linda terus saja menatapku dan kini bergantian, menatap wajahku dan sesekali melirik ke arah tongkolku
    yang terus saja ngacai alias mengeluarkan lendir dari ujung lobangnya.
    “Pantatmu, Liiiinnn….seandainya kau boleh megang….uuuuhhhhh….apalagi kena tongkolku….oouuufff…..pasti
    muncrat aku….,”aku merintih dan menceracau memuji keindahan tubuhnya. Sekaligus aku berharap, kata-
    kataku dapat membuatnya terangsang.Cerita Sex Dewasa

    Linda masih tetap diam, dan tersenyum Matanya mulai sayu, dan dapat kulihat kalo nafasnya seperti orang
    yang sesak nafas. Kulirik ke arah celana dalamnya…oppsss….aku menangkap sinyal kalo ternyata Linda juga
    mulai ternagsang dengan aktivitasku. Karena celana dalamnya berbahan satin dan tipis, jelas sekali
    terlihat ada noda cairan di sekitar selangkannya. Duduknya pun mulai gelisah.

    Tangannya mulai meraba dadanya, dan tangan yang satunya turun meraba paha dan selangkangannya. Tapi
    Linda nampak ragu untuk melakukannya. Mungkin karena ia belum pernah melakukan ini dihadapan orang lain.
    Kupejamkan mataku, agar Linda tau bahwa aku tidak memperhatikan aktivitasku.

    Dan benar saja…setelah beberapa saat, aku membuka sedikit mataku, kulihat tangan kiri Linda meremas
    payudaranya dan owww…BH sebelah kiri ternyata sudah diturunkan… Astagaaa..!!! Puting itu merah sekali…
    tegak mengacung. Meski sudah melahirkan, dan memiliki satu anak, kuakui, payudara Linda lebih bagus dan
    kencang dibandingkan Agnes.
    Kulihat tangan kiri Linda memilin-milin putingnya, dan tangan kanannya ternyata telah menyusup ke dalam
    celana dalamnya.

    “Sssshh….oofff….hhhhhh…..:” Kudengar suaranya mendesis seolah menahan kenikmatan.

    Aku kembali memejamkan mataku dan meneruskan kocokan pada tongkolku sambil menikmati rintihan-rintihan
    Linda.

    Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang hangat…basah…lembut…menerpa tongkol dan tanganku.

    Aku membuka mata dan terpekik. “Lin…kamu…,”leherku tercekat.

    “Aku nggak tega liat kamu menderita, Ndrew,”sahut Linda sambil membelai tongkolku dengan tangannya yang
    lembut.

    My gosh…perlahan impin dan obsesiku menjadi kenyataan. tongkolku dibelai dan dikocok dengan tangan Linda
    yang putih mulus. Aku mendesis dan membelai rambut Linda.

    Kemudian secara spontan Linda menjilat tongkolku yang sudah bene-bener sewarna kepiting rebus dan
    sekeras kayu. Dan…hap…! Sebuah kejadian tak terduga tetapi sangat kunantikan…akhirnya tongkolku masuk ke
    mulutnya. Ya, tongkolku dihisap Linda. Sedikit lagi pasti aku memperoleh lebih dari sekedar cunilingis.
    Tak tahan dengan perlakuan sepiha Linda, kutarik pinggulnya dan buru-buru kulepaskan Cdnya.

    “Kamu mau ngapain, Ndrew?” Linda protes sambil menghentikan hisapannya.

    Aku tidak menjawab, jariku sibuk mengusap dan meremas pantat putih nan montok, yang selama ini hanya
    menjadi khayalanku.

    “Ohh..Lin…boleh ya aku megang pantat sama memiaw kamu?”pintaku.
    “Terserah…yang penting kamu puas.” Segera kuremas-remas pantat Linda yang montok.

    Ah, obsesiku tercapai…dulu aku hanya bisa berkhayal, sekarang, tubuh Linda terpampang dihadapanku. Puas
    dengan pantatnya, kuarahkan jariku turun ke anus dan vaginanya. Linda merintih menahan rasa nikmat
    akibat usapan jariku.

    “Achh…Liiiinn…enak bangeeeeett….sssshhh…….”aku menceracau menikmati jilatan lidah dan hangatnya mulut
    Linda saat mengenyot tongkolku. Betul-betul menggairahkan melihat bibir dan lidahnya yang merah menyapu
    lembut kepala dan batang kelelakianku.

    Hingga akhirnya…. “Liiinn….bibir kamu lembut banget sayaaaannggg….aku…kach…aku…” “Keluarin sayang…
    tongkol kamu udah berdenyut tuh….udah mau muncrat yaaa….”

    “I…iiy…iiyyaaa….Liiiiinnnnnnnnn….Ouuuuufuffffff…..argggghhhhhhhhhh…..” Tak dapat kutahan lagi.

    Bobol sudah pertahananku. Crottt…..crooottt….crooootttt… Spermaku muncrat sejadi-jadinya di muka, bibir
    dan dada Linda.

    Tangan halus Linda tak berhenti mengocok batang kejantananku, seolah ingin melahap habis cairan yang
    kumuntahkan Ohhhh…….my dream come true….. Obsesiku tercapai…pagi ini aku muncratin pejuhku di bibir dan
    muka Linda.

    “Lin…kamu gak geli sayang…? Bibir, muka sama dada kamu kenas permaku?” Linda menggeleng dengan pandangan
    sayu.

    Tangannya masih tetap memainkan tongkolku yang sedikit melemas.

    “Kamu baru pertama kali kan, mainin koto orang selain suami kamu?”
    “Iya, Ndrew. Tapi kok aku suka ya…terus terang, bau sperma kamu seger banget…kamu rajin maka buah sama
    sayur ya?” tanya Linda.
    “Iya…kalo gak gitu, Indah mana mau nelen sperma aku.”
    “Aihhh….” Linda terpekik.
    “Indah mau nelen sperma?” Aku mengangguk.
    “Keapa Lin? Penasaran sama rasanya? Lha itu spremaku masih meleleh di muka sama dada kamu. Coba aja
    rasanya,”sahutku.
    “Mmmm…ccppp…ssllrppp….” terdengar lidah dan bibir Linda mengecap spermaku. Dengan jarinya yang lentik,
    disapunya spermaku yang tumpah didada dan mukanya, kemudian dijilatnyajarinya smape bersih.Cerita Sex Dewasa

    Hmmm….akhirnya spermaku masuk kedalam tubuhnya…

    “Iya, Ndrew, sperma kamu kok enak ya. Aku gak ngerasa enek pas nelen sperma kamu…”
    ”Mau lagi….?”
    “Ih…kamu tuch ya…masih kurang, Ndrew?” “Lha kan baru oral belum masuk ke meqi kamu, Lin.” Sahutku…
    ”Tuh, liat…bangun lagi kan?”
    “Dasar kamu ya….”
    ”Benerkamu gak mau spermaku ? Ya udah kalo gitu, aku mau bersih-bersih dulu.”ancamku sambil bangkit
    dari kursi.
    “Mau sih…Cuma takut kalo Indah dateng…gimana donk….”Linda merajuk.

    Perlahan kuhampiri Lida, kuminta dia duduk di sofa, sambil kedua kakiya diangkat mengangkang. Kulihat
    meqinya yang licin karena cairan cintanya meleleh akibat perbuatan jariku.

    “Hmmm…Lin…meqi kamu masih basah…kamu masih horny dong…”tanyaku.
    “Udah, Ndrew….cepetan deh…nanti istrimu keburu dateng…Lagian aku udah…Auuuwwww….!!!!
    Ohhh..Shhhhh…….”Linda memiawik saat lidahku menari diujung klitorisnya.
    “Ndrewwww…kamu gilaaa yaaa…”bisiknya samil menjambak rambutku.

    Kumainkan lidahku dikelentitnya yang udah membengkak. Jari ku menguak bibir vagina Linda yang semakin
    membengkak. Perlahan kumasukkan telunjukku, mencari G-spotnya. Akibatnya luar biasa. Linda makin meronta
    dan merintih. Jambakannya makin kuat. Cairan birahinya makin membasahi lidah dan mulutku. Tentu saja hal
    ini tak kusia-siakan. Kusedot kuat agar aku dapat menelan cairan yang meleleh dari vaginanya. Ya…aroma
    vagina Linda lain dengan aroma vagina istriku.

    Meskipun keduanya tidak berbau amis, tapi ada sensasi tersendiri saat kuhirup aroma kewanitaan Linda.

    “C’mon..Ndrew…I can’t stand…ochhh…ahhhhhh…shhhh……c’mon honey….quick…quick….” Aku paham, gerakan pantt
    Linda makin liar. Makin kencang. Kurasakan pula meqinya mulai berdenyut…..seentar lagi dia meledak,
    pikirku.
    “Ting…tong…”bel rumahku berbunyi.
    “Mas…..mas Andrew….”suara wanita didepan memanggil namaku.

    Sontak kulepaskan jilatanku. Linda memandang wajahku dengan wajah pucat. Aku pun memandang wajahnya
    dengan jantung berdebar.

    “Ndrew..kok kayak suara Rika ya…”Linda bertanya
    “Wah..mau ngapain dia kesini…..gawat dong…”ucapku ketakutan.
    “Udah Lin, kamu masuk kamarku dulu deh…cepetan…” Segera Linda berjingkat masuk ke kamarku, mungkin
    sekalian membersihkan tubuhnya karena dikamarku ada kamar mandi.

    Aku tau ada sebersit ekspresi kecewa di wajahnya, karena Linda hampir meledakkan orgasmenya, yang
    terputus oleh kedatangan Rika, sahabatnya sekaligus sahabat istriku.

    Setelah kupakai kaos dan celana yang kuambil dari lemari dan cuci muka sedikit, aku menuju ke ruang
    tamu, membuka pintu.

    “Halo, mas….’Pa kabar..?” sahut Rika begitu melihatku membuka pintu.
    “Baik, dik. Ayo masuk dulu. Tumben nih pagi-pagi, kayaknya ada yang penting?” tanyaku seraya mengajak
    Rika menuju ruang tengah.

    Mataku sedikit terbelalak melihat pakaiannya. Bagaimana tidak? Kaos ketat menempel dibadannya, dipadukan
    dengan celana spandex ketat berwarna putih. Aku melihat lipatan cameltoe di selangkangannya menandakan
    bahwa didaerah itu tidak ada bulu jembutnya, dan saat aku berjalan dibelakangnya, tak kulihat garis
    celana dalam mebayang di spandexnya. Hmm…mana mungkin dia gak pake CD..mungkin pake G-string, pikirku.

    Kami berdua segera menuju ruang tengah. Untung saja, film bokep yang aku setel udah selesai, jadi Rika
    nggak sempat melihat film apa yang tengah aku setel.

    “Ini lho mas, aku mau anter oleh-oleh. Kan kemarin aku baru dateng dari Jepang. Nah, ini aku bawain
    ….sedikit bawaan lah, buat kamu sama Indah. Itung-itung membagi kesenangan.”
    “Wah…tengkyu banget lho…kamu baik banget”
    “Ah, biasa aja lageee..hehehe” Kami berdua sejenak ngobrol-ngobrol, karena memang sudah beberapa bulan
    Rika nggak berkunjung ke rumahku.

    Rika ini adalah salah satu sahabat istriku, selain Linda . Diam-diam, akupun juga terobsesi dapat
    menikmati tubuhnya. Ya, Rika seorang wanita yang mungil. Tinggi badannya nggak lebih dari 155cm.
    Bandingkan dengan tinggiku yang 170. Warna kulitnya putih, tapi cenderung kemerahan.

    Hmm..aku sering berkhayal lagi ngent*tin Rika, sambil aku gendong dan aku rajam memiawnya dengan
    tongkolku. Pasti dia merintih-rintih menikmati hujaman tongkolku…Cerita Sex Dewasa

    “Hey…bengong aja…ngeliatin apa sih..” tegur Rika.
    “Eh…ah…anu…enggak. Cuma lagi mikir, kapan ya gw bisa jalan-jalan sama kamu…” Eits..kok ngomongku
    ngelantur begini sih. Aduh…gawat deh…
    “Alaaa..mikirin jalan-jalan apa lagi ngeliatin sesuatu?” Rika melirikku dengan pandangan menyelidik.

    Mati aku…berarti waktu aku ngeliatin bodynya, ketahuan dong kalo aku melototin selangkangannya. Wah….

    “Ya udah, mas. Aku pamit dulu, abis Indah pergi. Lagian,dari tadi kamu ngeliatin melulu. Ngeri aku…ntar
    diperkosa sama kamu deh..hiyyy…” Rika bergidik ambil tertawa. Aku Cuma tersenyum.
    “Ya udah, kalo kamu mau pamit. Aku gak bisa ngelarang.”
    “Aku numpang pipis dulu ya.”Rika menuju kamar mandi di sebelah kamarku.
    “Iya.” Tepat saat Rika masuk kamar mandi, sambil berjingkat Linda keluar dari kamarku.

    Aku terkejut, dan segera menyuruhnya masuk lagi, karena takut ketahuan. Ternyata CD Linda ketinggalan di
    kursi yang tadi didudukinya waktu sedang aku jilat memiawnya.

    Astagaaa…untung Rika nggak ngeliat…atu jangan-jangan dia udah liat, makanya sempat melontarkan pandangan
    menyelidik? Entahlah…

    “Cepeeeett..ambil trus ke kamar lagi.”perintahku sambil berbisik. Linda mengangguk, segera menyambar
    Cdnya dan…
    “Ceklek….!” Pintu kamar mandi terbuka, dan saat Rika keluar, kulihat wajahnya terkejut melihat Linda
    berdiri terpaku dihadapannya sambil memegang celana dalamnya yang belum sempat dipakainya.

    Ditambah keadaan Linda yang hanya memaki kaos, tetapi dibawah tidak memakai celana jeansnya. Akupun
    terkejut, dan berdiri terpaku. Hatiku berdebar, tak tahu apa yang harus kuperbuat atau kuucapkan.
    Semuanya terjadi dalam waktu yang sangat singkat dan tak terelakkan. Kepalaku terasa pening.

    “Linda…? Kamu lagi ngapain?” Rika bertanya dengan wajah bingung campur kaget.
    “Eh…anu…ini lho…”kudengar Linda gelagapan menjawab pertanyaan Rika.
    “Kok kamu megang celana dalem? Setengah telanjang lagi?” selidik Rika.
    “Oo…aku tau…pasti kamu berdua lagi berbuat yaaa…?”
    “Enggak Rik. Ngaco kamu, orang Linda lagi numpang dandan di kamarku kok.” Sergahku membela diri.
    “Trus, kalo emang numpang dandan, ngapain dia diruangan ni, pake bawa celana dalem lagi.” Udah gitu
    telanjang juga..Hayo!!!” Rika bertanya dengan galak.
    “Sini liat.” Rika menghampiri Linda dan cepat merebut celana dalam yang dipegang Linda, tanpa perlawanan
    dari Linda.
    “Kok basah…?”Rika mengerutkan keningnya.
    “Nhaaaaa..bener kan…hayooooo….kamu ngapain…?”
    ”udah deh, Rik…emang bener, aku lagi mau ML sama Linda. Belum sempet aku ent*t, sih. Baru aku jilat-
    jilat memiawnya, keburu kamu dateng.”

    Aku menyerah dan memilih menjelaskan apa yang barusan aku lakukan.

    “Kamu tuh ya…udah punya istri masih doyan yang lain. Ini cewek juga sama aja, gatel ngeliat suami
    sahabatnya sendiri.” Rika memaki kami berdua dengan wajah merah padam.
    “Terserah kamu lah…kamu mau laporin aku sama Linda ke polisi…silakan. Mau laporin ke Indah…
    terserah….”ucapku pasrah.
    “Hmm…kalo aku laporin ke Indah…kasian dia. Nanti dia kaget.Kalo ke polisi….ah…ngrepotin.” Rika
    meninmbang-nimbang apa yang hendak dilakukannya.
    “Gini aja mas. Aku gak laporin ke mana-mana. Tapi ada syaratnya.” Rika memberikan tawarannya kepadaku.
    “Apa syaratnya, Rik?”
    “Nggak berat kok. Gampang banget dan mudah.”
    “Iya, apaan syaratnya?” Linda ikut bertanya
    “Terusin apa yang kamu berdua tadi lakuin. Aku duduk disini, nonton. Bagaimana?”
    “WHAT?” aku dan Linda berteriak bebarengan.
    “Gila lu ya, masa mau nonton orang lagi ML?”
    “Ya terserah kamu.Mau pilih mana…?”Rika mencibir dengan senyum kemenangan.

    Aku dan Linda saling berpandangan. Kuhampiri Linda, kubelai tangan dan rambutnya. Linda seolah memahami
    dan menyetujui syarat yang diajukan Rika. Segera saja kulumat bibirnya yang ranum dan tanganku meremas
    pantatnya yang sekel. Linda segera membuka kaosnya.

    Sambil terus berciuman dan meremas pantatnya, kubimbing Linda menuju sofa. Kurebahkan ia disana, dan
    dengan cekatan dilepaskannya kaos dan celana ku sehingga aku sekarang telanjang bulat di hadapan Linda
    dan Rika.

    Aku melirik Rika, yang duduk menyilangkan kakinya. Kulihat wajahnya menegang seperti tegangnya
    tongkolku. Aku tersenyum-senyum kearahnya, sambil memainkan dan mengocok-ngocok tongkolku, seolah hendak
    memamerkan kejantananku.

    “Ayo, ndrew…cepetan deh…udah gak tahan, honey…”Linda merintih.
    “Biarin aja si Rika…paling dia juga udah basah.”
    “Enak aja kamu bilang.”sergah Rika.
    “Udah buruan, aku pengen liat kayak apa sih kalian kalo ML.” Aku menatap mata Linda yang mulai sayu dan
    tersenyum.

    Setelah melepas seluruh pakaiannya, sempurnalah ketelanjangbulatan kami berdua. Tak sabar, segera
    kusosor memiaw Linda yang sangat becek oleh lendir birahinya.

    “Achhhh….sshhhh….ooouufffffggg…Andreeeeewwwwww….”Linda menjerit dan mengerang menerima serangan lidahku.
    Pantatnya tersentak keatas, mengikuti irama permainan lidahku. Hmmm…nikmat sekali. memiawnya berbau
    segar, tanda bahwa memiaw ini sangat terawat.

    Dan yang membutku girang adalah lendir memiawnya yang meleleh deras, seiring dengan makin kuatnya
    goyangan pinggulnya.

    “Hmmmppppppff…Andrew…Andrew…sayaaaanngg.. akh…akh…akkkkkuu…”Linda terus merintih. Nafasnya tersengal-
    sengal, seolah ada sesuatu yang mendesaknya.
    ‘Akku……mmmhhhhh…ssshhh….”
    “Keluarin sayang….keluarin yang banyak…..”aku berbisik sambil jari tengahku terus mengocok memiawnya,
    dan jempolku menggesek itilnya yang sudah sangat keras.

    Baik itil maupun memiaw Linda sudah benar-benar berwarna merah, sangat basah akibat lendirnya yang
    meleleh, hingga membasahi belahan pantat dan sofa. Segera aktivitas tanganku kuganti dengan jilatan
    lidahku lagi. Hal ini membuatpaha Linda menegang, tangannya menjambak rambutku, sekaligus membenamkan
    kepalaku ditengah jepitan pahanya yang menegang. Aku merasakan memiawnya berdenyut, dan ada lelehan
    cairan hangat menerpa bibirku.Cerita Sex Dewasa

    “ANDREEEEEEWWWWWWW…..AAAAACCCCHHHHHHHHH……”Linda menjerit keras sekali, menjepit kepalaku dengan pahanya,
    menekan kepalaku di selangkangannya dan berguncang hebat sekali.

    Tak kusia-siakan lendir yang meleleh itu. Kusedot semuanya, kutelan semuanya. Ya, aku tidak mau membuang
    lendir kenikmatan Linda. Sedotanku pada memiawnya membuat guncanganLinda makin keras…dan akhirnya Linda
    terdiam seperti orang kejang. Tubuhnya kaku dan gemetaran.

    “Oooohhhh…Ndreww…aaachhh…..”Linda menceracau sambil gemetaran.
    “Enn..en….Nik…mat…bangeth….sssse….dothan…sama jhiilatan kkk…kamu…” Kulihat Linda tersenyum dengan wajah
    puas.

    Segera kuarahkan bibrku melumat putingnya yang keras dan kemerahan. Meskipun sudah melahirkan dan
    menyusui dua anak, payudara Linda sangat terawat, kencang. Dan putingnya masih berwwarna kemerahan.
    Siapa lelaki yang tahan melihat warna putting seperti itu, apalgi sekarang puting merah itu benar-benar
    masih keras dan mengacung meski pemiliknya barusan menggapai orgasme.

    “Shhh…Dreeewwww…iihhhh…geli….” Lnda menggelinjang saat kuserbu putingnya.

    Aku tidak mempedulikan rintihannya. Kulumat putingnya dengan ganas sehingga badan Linda mulai mengejang
    lagi.

    “Acchhh….Andreww….sayaaaannggg…”Linda merintih.
    “Terus sayang…iss…ssseeeppp…pen….til…kuhh…ooofffffhhhhhhhhh……” Tanpa aba-aba, segera kusorongkan
    tongkolku yang memang sudah mengeras seperti kayu ke memiaw Linda.

    Blessss…….

    “Ahhhhkkk…..mmmmppppfff…..ooooooggggghhhh….”pantat Linda tersentak kedepan, seiring dengan menancapnya
    tongkolku di mekinya.

    Kutekan tongkolku makin dalam dan kuhentikan sejenak disana. Terasa sekali memiaw Linda berkedut-kedut,
    walaupun tergolong super becek.

    “Ayo, nDrew…..gocek tongkol kamuh….akk….kkuuuu….udah mau…keluarrrrr…laggiiiihhh…”Linda merintih memohon.
    Segera kugocek tongkolku dengan ganas.
    “crep.crep…cplakkk….cplaakkkk…cplaakkkk….” suar gesekan tongkolku dengan memiaw Linda yang sudah basah
    kuyup nyaring terdengar.

    Tak lupa kulumat bibirnya yang ranum, dan tanganku menggerayang memilin menikmati payudara dan
    putingnya. Sesaat kemudian kulihat mata Lnda terbalik, Cuma terlihat putihnya. Kakinya dilipat mengapit
    pinggul dan pantatku. Tangannya memeluk ubuhku erat.

    “AN…DREEEWWWW…….OOOOGGGHHHH…>AAAKKKKKKKKKKKK….” Linda menjerit keras dan sekejap terdiam.

    Tubuhnya bergetar hebat. Terasa di tongkolku denyutan memiaw Linda…sangat kuat. Berdenyut-denyut, seolah
    hendak memijit dan memaksa spermaku untuk segera mengguyur menyiram memenya yang luar biasa becek. Makin
    kuat kocokan tongkolku didalam memiaw Linda, makin kencang pula pelukannya. Nafas Linda tertahan, seolah
    tidka ingin kehilangan moment-moment indah menggapai puncak kenikmatan. Karena denyutan memiaw Linda
    yang membuatku nikmat, ditambah rasa hangat karena uyuran lendir memiawnya, aku pun tak tahan. Ditambah
    ekspresi wajahnya yangmemandang wajahku dengan mata sayu namun tersirat kepuasan yang maat sangat.

    “Ayo nDrew…keluarin pejuh kamu…keluarin dimemiawku….”Linda memohon.
    “Kamu gak papa aku tumpahin pejuh di rahim kamu?”tanyaku sambil terengah-engah.
    “No problem honey…aku safe kok….”sahut Linda.
    “C’mon honey..shot your sperm inside…c’mon honey….”

    LIN……LINDAAAA…..LINDAAAAAAAA….ARGGGGGGHHHHH…”aku merasakan pejuhku mendesak.
    Kupercepat kocokanku, dan Linda juga mengencangkan otot memiawnya, berharap agar aku cepet muncrat.
    AAACCHHHHHHH………..” Jrrrrrooooooooootttt…..jrrrrooooooooottttt..jrrrroooooottttt…..tak kurang dari tujuh
    kali semprotan pejuhku. Banyak sekali pejuh yang kusemprotkan ke rahim Linda, sampai-sampai ia
    tersentak. Kubenamkan dalam-dalam tongkolku, hingga terasa kepalaku speerti memasuki liang kedua.

    Ah….ternyata tongkolku bisa menembus mulut rahimnya. Berarti pejuhku langsung menggempur rahimnya.
    Ohhh…nDrreeeww…enak sayang….nikmat, sayaaannggg…offffffghhhh……” Linda merintih lagi. “Uggghhh…hangat
    sekali pejuh kamu, Ndrew…” ucap Linda.

    Setelah beristirahat sejenak dengan menancapkan tongkolku dalam-dalam, secara mendadak kucabu tongkolku.

    “Plllookkkkk….” Kupandangi memiaw Linda yang masih membengkak dan merah dengan lubang menganga. Linda
    segera mengubah posisi duduknya dan…ceeerrrrrr……pejuhku meleleh.Cerita Sex Dewasa

    Segera saja jemari Linda meraih dan mengorek bibir memiawnya, menjaga agar pejuhku tidak tumpah kesofa.
    Akibatnya, telapak tangan Linda belepotan penuh dengan pejuhku yang telah bercampur lendir memiawnya.
    Dengan pejuh di telapak tangan kanannya, Linda menggunakan jari tangan kirinya,mengorek memiawny untuk
    membersihkan memiawnya dari sisa pejuhku.

    “Brani kamu telen lagi?” tantangku.
    “Idih…syapa takut….”Linda balas menantangku.
    “Nih liat ya….” Clep…dijilatnya telapak tangan yang penuh pejuhku…
    “MMmmmm….slrrpppp….glek….aachhhh….” Linda nampak puas menikmati pejuh ditangannya.
    “Hari ini kenyang sekali aku…sarapan pejuh kamu duakali..hihihihi…”Linda tertawa geli.
    “Tuh…masih ada sisanya ditangan. Mbelum bersih.” Sahutku.
    “Tenang, nDrew..sisanya buat…ini.” Sambil berkata begitu, Linda mengambil sebagian pejuhku dan
    mengusapkannya diwajahnya.
    “Bagus lho buat wajah…biar tetep mulus…”sahut Linda sambil mengerling genit.
    “Astagaaaa….kamu tuh, Lin…diem-diem ternyata…”kataku terkejut.
    “Kenapa…? Kaget ya?”
    “Diem-diem, muka alim..tapi kalo urusan birahi liar juga ya..”
    “Ya iyalaaahhh..hare gene, Ndrew…orang enak kok ditolak.”
    ”Tau gitu tadi aku semprot di uka kamu aja ya..” sesalku
    “Iya juga sih..sebenernya aku pengen kamu semprot. Cuman aku dah gak bisa ngomong lagi…nahan enak
    sih..lagian aku pengen ngerasain semprotan pejuh kamu di memiawku.” Linda tersenyum
    “Eh, Ndrew…ssstttt…coba liat tuh…jailin yuk…..”ajak Linda

    Ya ampuuunnnn…aku lupa bahwa aktivitasku tengah diamat Rika. Segera kulirik Rika, yang ternyata tanpa
    kami sadari tengah beraktivitas sendiri. Tangannya menggosok-nggosok sapndexnya, yang mulai membasah.
    Kulihat lekukan cameltoenya makinbesar, lebih besar dari yang kulihat diruang tamu.

    Pertanda bahwa Rika juga telah dilanda birahi. Linda mencolek tanganku, rupanya ia ingin mengerjai Rika.
    Aku setuju. Sambil berjingkat, aku dan Linda menghampiri Rika. Segera tangan Linda yang masih ada sisa
    pejuhku dioleskan kemuka dan bibir Rika.

    “MMppphhhh…..fffggghhh…..” Rika sontak terkejut dan menghentikan aktivitasnya.
    “apaan nih…kok kayak bau pejuh…?”
    “Udahlah Rik….aku tau kamu juga ikutan horny, ngeliat aku dient*t sama mas Andrew.” Linda tersenyum-
    senyum genit.
    “AH…aku…eeehh….anuu….” Rika gelagapan kehabisan kata-kata.
    “Rik…kalo kamu juga horny, gak papa kok…aku masih kuat.” Tantangku.
    “Tuh, kamu liat. Kon tolku masih bisa bangun.” Ya, walaupun sudah menyemprotkan amunisinya dua kali
    permainan, kon tolku mash berdiri walaupun tak sekeras waktu ngent*tin Linda.

    Malahan sekarang kon tolku berdenyut dan mengangguk-angguk, seolah menyetujui usulku dan Linda.

    “Tuhhh, Rik. Kon tolku manggutmanggut.”sahutku.

    “Tapi nanti kalo Indah pulang gimana?” tanya Rika.
    “Don’t worry, honey. Kalo memang kepergok, nanti aku bantu jelasin ke Indah.” Hibur Linda.
    “Soalnya, dulu-dulu aku pernah becandain Indah, gimana kalo sekali-sekali aku minjem tongkol suaminya.”
    “Trus, Indah bilang apa?” Rika penasaran.
    “Mmmm.dia sih gak bilang iya tapi juga gak bilang enggak.”jawab Linda.
    “Dia cuman ngomong, ya kalo kamu gak malu sama Andrew, terserah kamu. Tapi kalo Andrew ketagihan, resiko
    tanggung sendiri lho. Gitu kata Indah.”
    “Oooo…..” Rika terlongong mendengar penjelasan Linda.

    Aku pun terperangah. Jadi……ternyata…..???? jangan-jangan mereka berdua memang sengaja kesini…atas
    suruhan Indah…. Gak pake lama segera kulumat bibir Rika yang mungil.

    “Mmmpphhh…mmppfff……..aaahhhh…”Rika mendesah….
    ”Andrewww…puasin aku sayang……guyur aku dengan pejuhmu kayak Linda tadi….oooccchhhhh…..”

    Aku terus melumat bibirnya..lehernya yang jenjang dan mulus…kujilat pula telinganya yang membuat Rika
    merinding dan tersengal-sengal. Ternyata salah satu titik rangsangannya adala teling. Linda membantu
    melepaskan spandex Rika.

    Dan…oouuuwww…pantesan di selangkangan Rika terlihat seperti terbelah. Rupanya dia memakai G-String yang
    segitiganya hanya mampu menutupi itilnya. Selebihnya…terlihat bibir me meknya sudah membengkak kemerahan
    dan basah kuyup oleh lendirnya. Kulihat me mek Rika sama dengan Linda…bersih dari bulu jembut, sehingga
    ha ini membuat kon tolku langsung tegak mengeras lagi. Linda turut membantu Rika melepaskan G-String,
    kaos dan Bhnya. Seolah Linda tak ingin Rika direpotkan oleh aktivitas lain yang mengurangi kenikmatan
    bercinta.

    “Ohhh…nDreeww,,,,sssshhhhh….hhhaaaaaarrrggghhh….mmmppphhhhh…..”Rika merintih-rintih sambil
    mennggelengkan kepalanya saat bibirku turun ke putingnya.

    Payudara Rika lebih kecil dari Linda, mungkin hanya 34B, dibandingkan milik Linda yang 36C. Putingnya
    berwarna coklat muda, tegak keras mengacung, seolah menantangku untuk segera melahapnya.
    Dan…hap….kusedot putting kiri, sementara tangan kananku meremas payudara sebelah kanan dan memilin
    putingnya.Cerita Sex Dewasa

    “Auuuccchhhh..Anddreewwww…ampunnnn…amppuuuuuunnnnn…..”Rika berteriak menahan nikmat saat jari tangan
    kiriku menyusuri memiawnya.

    Kumasukkan jari tengahku sambil jempolku menggosok itil Rika yang sangat keras.

    “Rik…kon tol Andrew diusap dong…biar cepet keras…” ujar Linda. Segera tanpa diperintah dua kali, Rika
    segera meraih kon tolku, mengusap dan mengocok bergantian.
    “Uffff…Rika sayaaanng…akhirnya kon tolku kena kamu yaaa…”aku merintih menahan nikmat.

    Ternyata Rika sangat terampil dalam urusan kocok mengocok, sehingga tak perlu waktu lama kon tolku sudah
    sekeras kayu lagi, mengkilat kemerahan. Tak sabar segera kubalikkan tubuh Rika, sehingga posisinya
    sekarang nungging didepanku. Lututnya bertumpu pada sofa panjang, sehingga punggungnya meliuk, menambah
    sexy posisinya saat itu. Dengan pantat membulat, tampak bibir me mek Rika merekah merah dan berkilat
    licin oleh cairan birahinya. Tak tahan, kuserbu me mek Rika, kujilat itilnya dan kukorek liangnya dengan
    jari-jariku.

    “Arggghhh…Andrew….oohhhh….nik..mat…sss…sseekkk..kali……say….yaannnghhh….”Rika menjerit sambil tersengal.
    Napasnya memburu.
    “Akk..kku…hammm..ppir sampai, honey…”Rika terus merintih.Ah…ternyata Rika tak sanggupbertahan lebih lama
    lagi.

    Terasa sekali dibibirku, suhu me mek Rika makin panas, dan lendir cintanya bertambah banyak mengalir.
    Segera saja kuarahkan batang kon tolku yang menunggu giliran, merojok me mek Rika.

    “Ugghhhh……aaacccgghhhhhh…Andreeeewwww………”pantat Rika tersentak menerima hunjaman kon tolku yang begitu
    tiba-tiba.

    Nikmat sekali me mek Rika. Meskipun sama-sama becek dan mampu berdenyut, aku merasakan sensasi lain
    dibandingkan me mek Linda. Makin lama makin terasa me mek Rika berdenyut-denyut. Tak ada suara yang
    keluar dari bibir Rika, kecuali erangan dan rintihan. Kurasakan otot disekitar pantat dan
    selangkangannya mengejang dan tiba-tia Rika menekan pantatku sambil melolong….

    “OOOOUUUWWWWWW….ANDREEEEEEEWWWW…..UUUUUUUFFFFGGGGHHHHHH…..” Nafas Rika tertahan, dan kupercepat hunjaman
    kon tolku, seolah menyerbu me mek Rika bertubi-tubi.

    Ahh…..betapa hangat lendir birahi yang mengalir, bahkan sampai meleleh membasahi pahaku dan paha Rika.
    Rika tetap menggoyang-goyangkan pantatnya, sehingga membuatku makin bernafsu menggocek kon tolku dalam
    me meknya yang becek namun sempit.

    “C’mon honey…shot your sperm inside my mouth….,”Rika menoleh dan menatapku dengan mata sayu seolah
    memohon agar kusemprotkan spermaku dimulutnya.

    “Ohhhhh….aaaawwwgghhh….Rikaaaaa…me mek kamu kok ennnnaaakk bangethhh sssssiiiccchhh….,”aku menceracau
    sambil terus memajumundurkan pantatku.
    “Ngeliat pantat kamu yang bulet ..dddaannn…putih…eeegghhhh….bikinnhh….aakkk…..kkkuuuu….pengennnnhhhh
    ….ngecreettthhh…….aaarrrrggghhh….RIIIKKKAAAAAAAAAA……,”aku berteriak keras sambil mencabut tongkolku.

    Serta merta Rika meraih kon tolku, mengocoknya sambil mengisap kepala dan batangnya. “C’mon…ayo Ndrew…
    keluarin pejuhmu…..”

    “Aku pengen ngerasain pejuh kamu….” Linda pun tak tinggal diam. Ia berbaring telentang dibawahku dan
    menjilat perineumku, seolah tau bahwa itu adalah daerah “mati”ku.

    Ya, aku paling gak tahan kalo perineumku dijilat. AAAARRRGGGHHHH….LINDAAAAAA….gila
    kamu….aaarrrghhhh…..nnnniiikk…mathhh..bangetttt…..”

    “Aku gak tahan, Rikaaa…Lindaaa….sayangku cintaku…..”

    Dan…..crrroooooottt….crroooootttt…..

    “Haeeppphh…eeelllppphhhhh….hhhmmmppphhhhh…..”suara dari mulut Rika.

    Tampak dia gelagapan menerima semburan spermaku, tak kurang dari 5semburan kencang dan banyak…

    “Aaaahhh…..ooouuffhh….auuww…ooouuww…udah Rik…udah…udah…jangan diisep teruss…gelllliiii…..”aku meringis
    kegelian karena Rika tetep mengisap tongkolku, seolah tak rela kalo pejuhku tak keluar tuntas.

    Seolah ingin menikmati pejuhku hingga tetes terakhir.

    “Hmmm…udah puas kamu Rik?” tanya Linda sambil bibirnya mengecap-ngecap pejuhku yang menetes ke mukanya.
    “Ahh…gila juga si Andrew ya…”sahut Rika.
    “memiawku rasanya penuh banget. Mana kon tol dia panjang lagi. Berasa mentok di rahimku kayaknya.”
    “Liang kamu gak dalem sih Rik,” timpalku.
    “Tapi asyik kok rasanya. Ternyata memiaw kalian sama2 gak dalem ya…”
    “Thanks banget ya buat kamu berdua, udah mau bantuin aku,”ucapku.
    “No problem, dear Andrew,” sahut Rika dan Linda hampir bersamaan.
    “Gimanapun, kamu kan suami sahabatku, boleh dong kalo saling bantu…”sahut Rika.

    Baca Juga Cerita Sex Rental

    Kami pun bercanda sejenak sekedar melepaskan lelah. Dan sambil masih tetap bertelanjang, kupersilakan
    Rika dan Linda ke ruang makan untuk sekedar minum minuman segar. Kulirik, jam menunjukkan waktu pukul
    11.37 siang, pertanda tak lama lagi istriku dan anak-anak akan segera datang. Mereka berdua pun segera
    membersihkan diri dari sisa-sisa lendir dan sperma yang membasahi me mek maupun wajah mereka.

    “Ok Ndrew…aku pamit dulu ya…,”Rika pamit sambil mengecup bibirku.
    “Daaa, sayang…”
    “Mmmuuaachh…,”Linda memagut bibirku lama, seolah tak mau kehilangan momen yang sangat dahsyat.
    “Bye, Ndrew…,”Linda juga berpamitan.
    “Salam buat Indah ya…tapi jangan bilang lho, kalo kamu habis bagi-bagi pejuh…xixixi..” Rika dan Linda
    cekikikan sambil berjalan keluar.
    “Ok, hon…don’t worry…thanks ya…”sahutku sambil melambaikan tangan dan mengantar mereka ke pagar. Ah,
    betapa bahagianya aku, ternyata dua sahabat istriku tak keberatan olah sex denganku, yang selama ini
    hanya khayalanku, kini telah menjadi kenyataan.

  • DI PAKSA TAPI TAK TERLALU

    DI PAKSA TAPI TAK TERLALU


    1425 views

    sex yang tak terlalu di paksa tak terlalu dipaksa

     Maya duduk di atas ranjang. Hal ini terjadi lagi. Suara dengkuran Krisna menandakanbahwa dia tertidur dengan sangat lelapnya dan membiarkan Maya merenungi sendiri apayang tengah terjadi dalam kehidupan rumah tangganya. Setelah berjalan lima tahun, perkawinan mereka terasa mulai hambar. Selama empat tahun sebelumnya, kehidupanseksual mereka bias dikatakan sangat sempurna. Hubungan seks berlangsung hampirsetiap malam dalam seminggu hingga beberapa bulan belakangan. Sekarang hanya sekalidalam seminggu dan itupun berlangsung dengan amat cepat dan singkat dan selalumembuatnya tergantung. Maya berfikir apakah ini semua karena dirinya yang menjadipenyebabnya tapi dia sadar dalam usianya yang ke28 tahun sekarang ini bentuk tubuhnyamasih tetap sama tak ubahnya ketika berumur dua puluh. Hampir semua pria yangdikenalnya mengatakan kalau dia adalah sosok dambaan setiap lelaki normal. Dia bangkit dari ranjang tanpa membangunkan suaminya. Bahkan suaminya tak akanbangun jikalau dia bermaksud membangunkannya sekarang, kondisi suaminya selalukelelahan akhir-akhir ini. Dia berjalan melintasi kamar tidurnya masih dalam keadaantelanjang seusai persetubuhan yang berakhir dengan kekecewaan dengan suaminya. Cahaya bulan purnama menyinari kamar tidurnya hingga menjadikan seakan disiang hari. Dia berhenti di depan cermin memandangi tubuhnya untuk memastikan apakah bentuktubuhnya masih tetap seperti dalam angannya. Apa yang dilihatnya adalah sesosok wanitaberusia 28 tahun yang telah menikah selama 5 tahun dengan kekasihnya ketika kuliahdulu.

    Rambut hitamnya yang panjang dan lebat sama hitam dan lebatnya dengan rambutyang menutupi sekitar selangkangannya dan diteruskan dengan sepasang paha yangjenjang menopang semampai tubuh 167nya. Buah dadanya masih tetap kencang danmendongak angkuh, dan bongkahan pantatnya tetap bundar dan padat. Semua ituterbingkai dalam sosoknya yang seberat 50kg. Tidak, tak mungkin dirinya yangmenjadikan Krisna berpaling darinya setiap malamnya. Dia memikirkan Krisna. Mereka mulai pacaran di tahun terakhir kuliah dan segeramenikah begitu wisuda. Seks merupakan bagian yang besar dalam hubungan merekabahkan sebelum mereka menikah, dan semakin menjadi bagian yang lebih besar setelahkeduanya menikah. Krisna memang mempunyai pengalaman yang ëlebihí sebelumbertemu dengannya dan Maya sendiri masih ëgadisí sebelum bertemu dengan Krisna. Krisna mengajarkan semuanya pada Maya hingga menjadi sosok wanita seperti yangsekarang, dan Krisna masih tetap satu-satunya guru, kekasih, suami dan partner seks yangdimilikinya. Krisna adalah sosok dambaan semua teman wanitanya. Tinggi tubuhnyayang mencapai 190 membuatnya gagah ditambah rambut ikalnya dan sepasang mataelangnya. Kejantanannya sendiri cukup besar untuk memuaskan dahaga seksual Maya. Krisna mempunya pekerjaan yang menghasilkan uang yang cukup untuk memenuhisemua kebutuhan rumah tangganya dengan tanpa Maya susah payah bekerja. MemangKrisna menginginkan dia menjadi ibu rumah tangga dan mengurus semua kebutuhanrumah. Mereka memiliki sebuah rumah yang nyaman dengan halaman yang sangat luas.Get yours now!yang bias menampung sebuah kolam renang dan sekedar untuk berkuda. Benar-benarmemberikan mereka sebuah privasi yang berlebih dengan letaknya yang jauh dari pusatkota. Mereka sudah menempati rumah tersebut selama dua tahun. Satu-satunya orangyang tinggal dengan meraka hanyalah seorang penduduk setempat berusia hampir paruhbaya yang bekerja mengurus rumah mereka. Adik Krisna baru saja tinggal denganmereka beberapa bulan yang lalu. Ayah dan Ibu Krisna memutuskan untukmengontrakkan rumah mereka yang berada di pusat kota dan pindah di kampung halamanuntuk menghabiskan masa tua mereka. Adi, adiknya Krisna masih ingin tetap tinggal dikota ini untuk meneruskan sekolahnya. Adi bukan merupakan sebuah masalah diantara Maya dan Krisna.

     

    Masalah mereka sudahberawal jauh sebelum dia pindah dengan mereka. Maya suka dengan adik iparnyatersebut dan sangat setuju jika Adi tinggal bersama mereka. Adi sama sekali bukanmasalah dan dia bukan orang yang suka mencampuri terlalu dalam urusan orang lain. Adijuga merasa cocok dengan kakak iparnya dan mereka sering menghabiskan waktubersama untuk sekedar ngobrol ataupun berenang. Adi merupakan sebuah duplikat yanglebih muda dari kakaknya. Sukri, sang pengurus rumah, juga tinggal di rumah ini. Dia menempati sebuah rumahkecil yang terletak dekat dengan gudang, jauh di pekarangan belakang rumah mereka. Dia lahir dan tumbuh di tanah ini, dan ketika tanah ini dibeli Krisna dia meminta ijinuntuk tetap tinggal disini. Usianya hamper 40 tahun tapi alam membuatnya terlihat masihberusia 20an. Tubuhnya tinggi kekar dengan kulit sawo matang. Dia merasa senangbekerja mengabdi pada Krisna dan Maya. Terutama saat berada di dekat Maya ketikawanita ini berkuda dengan memakai celana jeans ketatnya. Dalam benaknya dia melihatMaya yang tanpa busana setiap kali berada di dekatnya. Strata sosial yang membedakanderajat mereka, ataupun Maya yang juga majikannya tak menghentikan fantasinya untukmenikmati keindahan tubuh wanita cantik ini di atas ranjang. Maya memandang kea rah tempat tidur dan Krisna masih terlihat lelap tidurnya. Dikenakannya kembali baju tidur sutra tipisnya yang beberapa saat lalu dipakainya untukmembangkitkan gairah suaminya agar bercinta dengannya. Itu merupakan sebuah bajutidur seksi yang sangat tipis dan tak mampu menyembunyikan bagian dalam tubuhtelanjangnya. Dia berjalan menuruni anak tangga dab keluar menuju beranda belakangyang mengarah ke kolam renang. Suasana malam musim panas ini terasa tenang dan damai di pinggir kolam renang. Mayasering berada di sekitar kolam renang ini saat malam hari untuk sekedar duduk-duduksantai melepaskan lelah dan terkadang juga berenang, dengan tanpa selembarpakaianpun. Krisna pernah mengingatkannya kalau mungkin saja Sukri melihatnya, tapiMaya tak peduli. Dia merasa bangga dengan bentuk tubuhnya dan tak merasa ada yangmembuatnya malu dengan keadaannya. Dia tak selalu beranang dalam keadaan telanjangtapi bikini yang dipakainya juga tak mampu berbuat banyak untuk menutupi keindahantubuhnya. Dan Maya juga tahu kalau Adi, adik iparnya itu juga suka memandangitubuhnya saat dia mengenakan bikini. Tapi Adi belum pernah melihatnya beranangtelanjang karena dia menghentikan kebiasaannya tersebut begitu adik iparnya menetap.Get yours now!bersama mereka. Pernah suatu malam Adi menemaninya berenang di malam hari setelahKrisna pergi tidur dan keduanya berenang bersama.. Pakaian tidur tipi situ membungkus tubuhnya semakin erat saat Maya merentangkankedua tangannya dan menghitung bintang bintang yang bertaburan menghiasi langithitam di atasnya. Dia baru beberapa menit berada di luar sini ketika di dengarnya suaramobil Adi memasuki carport.

    Dia tahu kalau seharusnya dia bergegas berdiri dan masukke dalam rumah sebelum adik iparnya masuk. Dia tidak telanjang tapi apa yang menutupitubuhnya tak bisa menutupi tubuhnya meskipun di bawah cahaya sinar rembulan. Diamerasa bimbang untuk berbuat apa hingga akhirnya waktu jadi terlambat saat mobil Adimulai memasuki tempat parker yang terletak di samping kolam renang tersebut. Adi keluar dari dalam mobil dan kemudian membanting pintunya dengan sangat keras. ìWah wah, kamu pasti sedang sangat marah ya sampai-sampai pintunya kamu bantingbegitu.î Adi terlonjak saking terkejutnya tak menyadari ada seseorang dibelakangnya di jamselarut ini. ìYa, mbak boleh bilang malam yang benar-benar sial.î Maya tahu kalau adikiparnya baru pulang dari kencan dengan kembang sekolahnya. Seorang gadis yangmenjadi rebutan dan kabar burung menceritakan kalau gadis tersebut bisa diajak tidurasal bisa menaklukkan hatinya, dan malam ini Adi mencoba peruntungannya. Merekaberdua pernah membicarakan tentang hal ini sebelumnya dan saat Adi akan keluar malamtadi, Maya juga mendoakan agar dia berhasil. Maya bangkit dari bangku yang didudukinya dan memberi isyarat pada Adi untukmendekat. ìKelihatannya kamu dan aku sedang sial malam ini. Duduklah sini danceritakan bagaimana kencanmu.î Adi baru saja akan duduk saat dia menyadari betapa tipisnya baju tidur yang dikenakankakak iparnya ini. Dia pernah melihatnya memakai bikini tapi payudara kakak iparnyajauh tampak lebih jelas dengan baju tidur tipis yang dikenakannya ini dibandingkan saatmemakai bikini. ìHey, mbak terlihat sangat cantik. Bagaimana mungkin mbak punyamasalah kalau pakai pakaian seperti ini?î Maya melipat kedua lengannya di depan dadanya. ìKamu jangan memandangiku sepertiitu.îìRasanya sulit setelah kencan sial malam ini.îìCeritakan padaku.îìMbak yang cerita lebih dulu apa yang sudah terjadi baru aku ceritakan apa yang terjadidengan kencanku.îìTak banyak yang bisa kuceritakan. Sudah kusiapkan dinner yang romantis dengan winedan lilin. Sudah susah-susah pergi ke salon biar kelihatan cantik. Pakai pakaian seksi.Get yours now!seperti ini dan apa yang kudapatkan? Abangmu malah pergi tidur meninggalkan aku, endof story.îìKalau mbak berdandan seksi seperti ini untuk aku pasti aku tak akan pergi tidur danmembiarkan mbak sendirian.îìAh, kamu hanya coba menghibur aku.î Adi duduk disamping kakak iparnya. Dia duduk merapat sangat dekat hingga bisadirasakan kehangatan tubuh kakak iparnya. ìCeritaku tidak lebih baik dari mbak. Kencandengan cewek yang jadi rebutan tapi hasilnya nol besar. Benar-benar malam yang palingsial minggu ini.î Maya menyandarkan kepalanya di bahu Adi. ìSepertinya kita berdua jadi pecundangmalam ini.î Lengan Adi bergerak melingkari bahu kakak iparnya dan merengkuhnya lebih merapatpadanya. ìAku tak tahu soal itu, tapi ini terasa sangat indah bagiku.î Tangannya bergerakke bawah dan singgah pada buah dada Maya. Maya tak menyingkirkan tangan Adi dari dadanya, dia hanya menatap jari-jari Adi yangmulai bergerak di dadanya dan kemudian memandangi wajah adik iparnya. ìApa kamubenar-banar baru berumur 18 tahun?îìAku cukup dewasa untuk merubah malam yang sebelumnya sial menjadi lebih baik.î Tangan Adi yang satunya mulai bergerak melepaskan tali yang mengikat baju tidur kakakiparnya.

     

    Segera saja dia menyibak gaun tidur itu hingga tubuh indah isteri abangnya initerpampang jelas tanpa penghalang lagi. Kedua telapak tangannya bergerak ke buah dadaMaya dan meremasnya dengan lembut hingga membuat putingnya mencuat menusuklembut telapak tangannya. Kedua tangannya terus memainkan kedua daging kenyaltersebut sambil matanya menelusuri perut Maya yang rata hingga menuju ke bawahselangkangan yang dihiasi rambut lebat. ìKamu cukup dewasa bagi abangmu yang akan membunuhmu kalau dia bangun.î Mayatak tahu apa yang membuat dirinya membiarkan adik iparnya ini berbuat seperti ini. Diasama sekali tidak berusa untuk mencegahnya. Adi sudah hamper 3 bulan tinggal bersamamereka dan dalam benak Maya sama sekali tak pernah terlintas pikiran yang berbauseksual terhadap adik iparnya, hingga sampai malam ini, dan sekarang dia berada hanyaberdua dengannya di pinggir kolam renang ini malam ini dalam keadaan telanjangseutuhnya dan suaminya sedang tertidur lelap di kamar tidur lantai atas Dan vaginanyasudah terasa sangat basah oleh gairah. Bibir Adi mulai bergerak turun menuju bibirnya. Maya mendekatkan bibirnya tanpadiminta. Bibir Adi menyentuh bibirnya dan mulutnya mulai membuka. Lidah adikiparnya menyentuh bibirnya dan Maya membuka mulut untuknya. Adik iparnya sangatmahir memainkan bibirnya dan dia merasakan ada sebuah perasaan yang sangat mirip.Get yours now!antara Adi dan suaminya. Maya mungkin tak pernah mempunya pikiran seksual terhadapadik iparnya ini tapi sudah lama Adi memendam hasrat ini dan saat ini dia benar-benarmemanfaatkan kesempatan akan kepasrahan kakak iparnya ini. Adi bisa mendengar lenguhan lirih Maya saat dia menciumnya. Maya mulaimenggerakkan pinggulnya dan lengannya bergerak meraih tubuh Adi agar kedua bibirmereka melumat semakin merapat. Adi menyadari kalau kakak iparnya tak akanmenolaknya malam ini dan mungkin saat ini adalah kesempatan terbaiknya untukmewujudkan impiannya selama ini. Malam ini Maya merasa telah dicampakkan olehsuaminya dikala gairahnya tengah menyala-nyala dan Adi akan segera menyantaphidangan yang masih hangat yang tersuguh di hadapannya . Sebelah tangan Adi bergerak turun ke bawah dan menelusuri kulit perut Maya yanglembut untuk menyentuh tepian vagina berbulu lebatnya. Kedua pahanya yang masihmerapat erat menahan gerakan jemari Adi. Jemari Adi terus menggerayangi perut bagianbawahnya disertai lidahnya yang menari dalam mulut Maya. Akhirnya kedua paha Mayamelemas dan mulai bergerak membuka. Jemari Adi langsung turun kea rah kelentitnya. Begitu kelentitnya tersentuh jemari Adi, kedua paha Maya membuka semakin lebar. Akhirnya Maya memberikan ruang seutuhnya pada Adi untuk berbuat sekehendak hatiterhadap daerah paling rahasia dari tubuhnya.

     

    Langsung saja jemari Adi melesak masukke dalam. Maya menjadi teramat sangat basah. Dia sedang berada dalam lingkaran perasaan yangmembuatnya kesulitan untuk membedakan yang sedang mengeksplorasi tubuhnya iniKrisna ataukah bukan. Keduanya terasa sangat sama hingga Maya merasa kalau yangsedang menyentuhnya saat ini adalah Krisna. Nafasnya semakin memburu cepat saat diamerasa tubuhnya direbahkan ke atas bangku malas ini. Adi merbahkan tubuh Maya dansekali lagi bibirnya menuju ke payudara Maya. Ciuman bibirnya menjalar bebas kesekujur tbuh kakak iparnya ini. Gaun tidurnya terbuka lebar dan Maya rebah dengankedua belah paha terpentang lebar saat jemari adik iparnya bergerak keluar masuk dalamvaginanya. Maya berada diperbatasan dari puncak kenikmatannya saat tiba-tiba Adimenghentikan aksinya. Kedua mata Maya yang semula terpejam rapat langsung terbuka menatap begitu Adiberhenti. Adi sedang membuka pakaian terakhir yang menutupi tubuhnya. Batangpenisnya mengacung dengan tegak dan keras, terayun-ayun saat dia berjalan mendekat kearahnya. Batang penisnya cukup besar dan panjang. Untuk pertama kalinya Mayamenyadari perbedaan di antara keduanyaÖìStop Adi! Apa yang kamu lakukan?îìAku akan membahagiakan mbak malam ini. Pikirkan saja betapa jauh lebih baiknyaperasaan kita berdua setelah semua kesialan yang kita dapat sebelumnya.îìJangan lakukan, please. Aku isteri abangmu dan kalau ini terjadi mungkin kita berduatak akan bisa menghentikannya.î.Get yours now!ìAku tak mungkin stop sekarang. Sudah sangat lama menginginkan mbak dan aku tahukalau abang sudah tak melakukan PRnya dengan benar.î Maya merapatkan keduapahanya untuk mencegahnya. ìAyolah mbak Maya buka untukku, aku tahu mbak pastimenginginkan juga seperti aku.î Adi menunduk dan mencium sebuah putting payudara Maya lagi. Lalu dia berpindah kemulutnya. Maya membuka mulut untuknya tanpa dipaksa. Adi menghentikan ciumannyauntuk berbisik pada Maya, matanya menatap lembut, ìBukalah untukku May,Ö Akuingin merasakan vaginamu meremas erat penisku saat kumasuki.î Lalu dia kembalimelumat bibirnya. Untuk pertama kalinya Adi memanggilnya tanpa panggilan mbak, sesuatu yang tak biasatapi itu jadi pemicu bagi Maya hingga kalah dalam pertempuran ini. Maya memangmenginginkan batang penis Adi memasuki tubuhnya.

    Sudah terlalu lama Maya tidakdisetubuhi sesai dambaannya. Saat ini ada seseorang yang ingin memuaskan dia sepertiapa yang pernah dilakukan suaminya dulu. Maya membuka pahanya. Sebelah pahanyamasih berada di atas bangu dan sebelahnya lagi ditariknya ke atas tubuhnya. Adi bergerakke depan dan batang penisnya dengan sendirinya menemukan jalan masuk. Denganperlahan didorngnya maju dan kepala penisnya menyeruak membelah bibir vagina Maya. Maya akhirnya melingkarkan kedua pahanya pada pinggang Adi dan tumitnya menancaperat pada pantat adik iparnya ini untuk menariknya masuk semakin dalam. Perlahan Adimulai mengisi vagina Maya melebihi apa yang pernah dirasakannya. Setiap kocokannyaAdi membawa mereka berdua semakin tinggi dan bertambah tinggi. Tak menunggu lebihlama Adi mulai menyentakkan penis kerasnya seutuhnya hingga ke dasar vagina kakakiparnya. Adi menghentakkannya dengan sangat keras tapi itulah yang didambakan Maya. Setiap kali Adi menarik keluar batang penisnya, kedua kaki menahannya seakan inginsegara melesakkannya ke dalam vaginanya kembali. Sama sekali tak terlintas dibenaknyakalu kini dia telah mengkhianati suaminya. Maya hanya meredakan dahaga batinnya dariapa yang beberapa bulan belakangan ini tak pernah diberikan oleh suaminya. Tak membutuhkan waktu yang lama bagi keduanya untuk meraih akhir. Adi memberikanpersetubuhan yang cepat, keras dan sedikit kasar pada Maya seperti apa yang belakanganini tak didapatkannya dari suaminya. Klimaks itu berada di puncak bukit di depan matadan mereka berdua saling bergegas mendakinya bersama. Dengan berbarengan keduanyamencapainya dan hanya mulut Adi yang segera melumat bibir isteri abangnyalah yangmencegah suara jeritan kenikmatan Maya agar tak membangunkan Krisna atau bahkanSukri. Semuanya sudah berakhir dan mereka berdua benar-benar merasa amat kelelahan. Dengan kepayahan Adi mengangkat tubuhnya yang menindih Maya. Batang penisnyayang melemas tercabut keluar dari vagina Maya yang terisi penuh sperma adik iparnyadan mulai meleleh keluar menuruni paha jenjangnya. Maya bangkit untuk duduk denganlemas dan Adi duduk di sampingnya, keduanya masih tanpa pekaian. Maya mulaimerasakan penyesalan dan Adi menyadari hal tersebut. ìJangan menyesali sesuatu yangterasa sangat indah. Tak mungkin ini sesuatu yang buruk.î Dia mendekat dan mencium.Get yours now!ujung bibir Maya. Maya menatapnya; ìApa benar kamu baru berumur 18?î Keduanyatertawa pelan dan Maya merasa jauh lebih baik. Maya berkata, ìSudah cukup kita menggunakan kesempatan untuk malam ini. Aku haruskembali ke kamar sebelum Krisna menyadari kalau aku tak ada di sampingnya. Kitaberdua sama-sama menginginkan ini terjadi malam ini dan aku rasa kita juga sudahmendapatkan apa yang kita mau.î Keduanya berjalan saling berpelukan menuju ke dalamrumah. Adi masih telanjang dan membawa pakaiannya di tangannya sedangkan Mayasudah mengenakan gaun tidurnya kembali.

    Di pintu belakang Adi memberi sebuahciuman selamat malam pada Maya, tak melepaskan ciumannya hingga Mayalah yangakhirnya menghentikannya. Dalam benak keduanya membayangkan kalau saja malam inihanya mereka berdua yang berada di rumah pastilah malam masih akan teramat panjang. Adi berjalan menuju kamarnya di lantai bawah dan Maya berjalan menaiki tanggamenuju kamarnya di lantai atas. Krisna sudah terjaga dan mendapati kalau dia sendirian. Di pikir isterinya sedang kekamar mandi dan segera kembali nanti. Dia kembali tidur tapi beberapa menit kemudianterbangun lagi. Maya masih belum kembali. Dia tahu kalau kadang-kadang isterinya sukaberenang malam-malam. Dia berjalan menuju ke jendela dan hal yang pertama kalidisaksikannya adalah isterinya, Maya yang sedang berciuman dengan Adi, adiknya diatas bangku di pinggir kolam renang. Cahaya bulan purnama membuatnya dapatmemastikan hal itu meskipun dalam keremangan malam. Reaksi pertamanya adalah inginlangsung turun ke sana dan menendang pantat adiknya. Tapi kemudian sesuatu itumenghantamnya, dia sadar kalau hal itu penyebabnya adalah karena salahnya sendiri. Diasadar kalau telah menampik setiap ajakan isterinya untuk bercinta beberapa bulanbelakangan ini. Dia tak menginginkannya, tapi dia sudah terlibat dalam hubungan yang rumit denganseorang wanita di kantornya dan dia tak mampu untuk menghentikannya. Susan berumurlebih tua darinya dan bahkan tidak berwajah lebih cantik dibandingkan Maya. Saat itu diasedang mabuk di acara pesta kantornya dan mereka berdua berakhir dalam persetubuhandi atas meja kerja kantornya. Susan seakan sebuah obat yang tak mampu dia tolak. Diamampu memberikan sesuatu yang lebih dengan vaginanya yang belum pernah diarasakan sebelumnya. Dia mengontrol otot vaginanya hingga seakan mampu memerahbatang penisnya dan hal tersebut tak dimiliki Maya. Sejak affair ini terjadi, Susan seakan tak pernah merasa terpuaskan. Dia menginginkanbersetubuh setiap waktu dan dimanapun tempatnya jika memungkinkan. Dan itulah yangmembuatnya selalu kelelahan saat pulang ke rumah. Jadi, ketika Krisna melihat adiknyasedang mencium isterinya dan mulai menyetubuhinya, yang mampu dilakukannya hanyamelihat. Dan yang lebih mengejutkannya adalah ternyata penisnya menjadi sangat ereksisaat melihat hal itu. Krisna bukanlah satu-satunya orang yang menyaksikan dengan menahan nafsuperselingkuhan antara Maya dan Adi. Sukri sudah melihat saat Maya keluar dari pintubelakang dan duduk di atas bangku itu. Dengan bersembunyi di kegelapan malam dia.Get yours now!sudah menanti kedatangan Maya, sebelumnya dia sudah pernah menyaksikan nyonyamajikannya itu berenang dengan telanjang, dan malam ini dia berharap hal itu terulangkembali. Dia menyaksikan saat Adi dating dan kemudian mulai menyetubuhi nyonyamajikannya yang cantik itu. Sejak pertama kali bertemu, Sukri sudah menginginkanMaya. Dia adalah wanita tercantik yang pernah dia temui. Meskipun dia sadar betapapundia mengharapkan, hal itu tak akan terwujud. Dan dengan kejadian yang dia saksikanmalam itu memberinya sebuah harapan untuk mewujudkan impiannya. Dengan hati riang Maya mengayunkan pinggul menapaki tangga menuju kamar tidurnya. Untuk pertama kali sejak beberapa bulan birahi dan vaginanya terpuaskan. Saat diamembuka pintu kamar dia mendapati Krisna di atas ranjang. Selimutnya sudah terlempardi atas lantai dan dia rebah dengan batang penis yang ereksi.

    ìWaktu aku bangun kamu tidak ada. Aku pikir kamu segera kembali dan aku inginmenuntaskan apa yang kita awali sebelumnya. Sorry, belakangan ini aku seringkecapekan dan mengabaikan kamu. Kemarilah dan ijinkan aku menebusnya.îìAku mau ke kamar mandi dulu.îìJangan, tak usah. Aku mungkin tak bisa menahan lebih lama lagi kalau kamu ke kamarmandi dulu.î Maya sadar jika dia menuruti kemauan suaminya untuk bercinta sekarang, Krisna akanmerasakan sperma adiknya di dalam vaginanya. Krisna tak memberinya kesempatanuntuk berpikir, dia berdiri merengkuh tubuh Maya kedalam pelukannya dan memberinyasebuah ciuman yang dalam sebelum merebahkannya ke atas ranjang. Segeradilepaskannya tali gaun tidur itu dan menyibaknya lebar hingga tubuh isterinyaterpampang jelas di hadapannya. Dia bergerak di antara paha Maya dan sedetikberikutnya penisnya merangsak masuk ke dalam vagina Maya yang baru saja disetubuhiAdi. Dengan mudah penisnya masuk ke dalam. ìKamu sangat basah malam ini. Aku akanmemanjakan dan memuaskanmu.î Krisna menyetubuhinya dengan keras dan cepatmembuat batang penisnya bergerak mengaduk sperma adiknya. Dia tahu penyebabkenapa Maya sangat basah dan bukannya hal itu membuatnya marah tapi sebaliknya. Batang penisnya terasa sangat keras dan dia ingin mengantarkan Maya ke puncak terlebihdahulu sebelum dia menyemburkan spermanya sendiri. Maya sangat bahagia dengan cara suaminya menyetubuhinya sekarang ini. Dia sukadengan foreplay yang panjang dan seksi saat bercinta tapi begitu penis suaminyamemasuki vaginanya dia ingin Krisna tak menyia-nyiakan waktu lebih lama lagi dansegera menyetubuhinya bukannya sekedar bercinta dengannya. Meskipun setelah barusaja melakukan hubungan seks yang panas dengan Adi, Maya masih menginginkan yanglebih lagi dari Krisna. Maya sadar kalau suaminya bisa merasakan sperma Adi di dalamvaginanya tapi selama Krisna tak tahu apakah itu, maka hal tersebut tak menjadi masalahbaginya. Bersama mereka berdua menggapai puncak kenikmatan..Get yours now!Krisna menyemburkan spermanya di dalam wanita yang sangat dicintainya ini seiringgemuruj orgasme yang sedang dirasakan Maya dan membuat dinding vaginanyamemerah setiap tetes cairan cinta dari suaminya. Hubungan seks ini terasa sangatmemuaskan bagi Krisna dan dia berfikir apakah ini karana dia baru saja menyaksikanadiknya sendiri menyetubuhi isterinya ini. Maya tak peduli apa yang menyebabkan ini jadi terasa sangat nikmat kembali dia hanyamerasa sangat bahagia karena Krisna sudah kembali seperti dulu lagi. Mungkin dia bisamenyetubuhi Adi kapanpun dia mau, tapi bagaimanapun juga dia tetap membutuhkansuaminya sendiri. Maya bangun kesiangan esok paginya. Krisna sudah berangkat kerja dan Adi sudah pergike sekolah. Samar-samar dia ingat saat Krisna memberinya ciuman sebelum berangkatkerja tadi. Dia berguling dan dapat merasakan sisa sperma yang keluar dari vaginanya. Setelah Krisna selesai malam tadi, Maya sudah tak punya tenaga lagi untukmembersihkan diri. Mandi adalah hal pertama yang paling ingin dia lakukan hari ini. Seusai mandi dan membersihkan diri di wajahnya masih terlukis sebuah senyum olehperistiwa semalam. Dia sadar kalau semestinya dia merasa bersalah dan menyesal tentangAdi tapi entah kenapa dia tak mampu untuk itu. Untuk pemuda berusia 18 tahun, Adisungguh memahami benar bagaimana caranya membahagiakan seorang wanita. Maya tak tahu apa yang terjadi pada Krisna. Setelah beberapa bulan belakanganberlangsung dengan hubungan seksual yang sangat sangat jarang sekali dan tanpa gairah, tiba-tiba saja dia berubah seakan tak pernah tercukupi semalam. Maya sungguh berharapapapun yang mengganggu pikiran suaminya selama ini sudah terselasaikan. Menjelang siang dia sudah selesai sarapan dan sekaligus membersihkan sisa piring kotoryang ditinggalkan oleh Krisna dan Adi di dapur dan bersiap untuk pergi ke kolam renang.

    Dia heran kenapa Pak Sukri belum kelihatan hari ini. Jika saja orang tua itu tidak kerjahari ini dia akan menikmati sinar matahari seutuhnya. Merasa tak pasti akan hal tersebut, akhirnya dia memutuskan untuk memakai bikini saja. Meskipun tetap saja bikini yangdikenakannya masih tak mampu menutupi seluruhnya tapi setidaknya dia tidak telanjangjika ternyata Pak Sukri datang agak siangan lagi. Maya sudah melihat bagaimana caralelaki yang sudah lama ditinggal mati isterinya itu melihat dirinya,ada suatu yangmembuatnya berdesir entah apa. Dia berenang beberapa putaran seperti yang biasa dilakukannya setiap pagi sebelumakhirnya naik dan rebahan di atas bangku santai yang dipakainya bersama Adi semalam. Tak mampu dicegahnya untuk memikirkan peristiwa dengan adik iparnya tersebut, danbagaimana dia merebahkannya di atas bangku ini dan memberikannya sebuahpersetubuhan yang sangat menggairahkan. Puting susunya menjad sangat keras ketikamembayangkannya. Dia tak tahu bagimana nanti menghadapi Adi setelah kejadiansemalam, tapi yang pasti dia tahu kalau mereka berdua harus berhati-hati kalau adaKrisna. Dia juga merasa jika Adi akan menginginkannya lagi dan Maya merasa kalau diajuga tak ingin menghentikan adik iparnya..Get yours now!Baru saja dia hampir terlelap saat ada sebuah bayangan menghamiprinya, membuatnyaterbangun dan saat dia membuka matanya dilihatnya Sukri sudah berdiri di sampingnya. Dengan cepat dia bangkit. ìOh, selamat pagi Pak Sukri, aku baru saja mau tertidur. Adakeperluan apa Pak?î Maya tahu biasanya orang ua ini jarang sekali masuk ke dalam arearumahnya kecuali untuk mengerjakan pekerjaannya. Ada sesuatu pancaran di matanyayang belum pernah dilihat Maya sebelumnya. Sebuah tatapan mata yang sering dilihatnyadari para lelaki yang menginginkannya. DIa bersukur telah memakai bikini tapi saat inidia berharap memakai yang lebih lagi. Handuk yang tadi dibawanya telah dijatuhkannyadipinggir kolam di sisi yang lain sebelum dia terjun ke kolam tadi. ìNyonya Maya, saya ingin bicara dengan anda.î Maya hendak berdiri dan berkata, ìBaiklah Pak Sukri, ada keperluan apa?î Tangan Sukri menahan bahu Maya agar tak berdiri. Ini mengejutkan Maya. Ini pertamakalinya orang tua ini menyentuhnya. Dia kembali duduk dan menatap matanya. Dia takingin orang tua ini tahu kalau dia merasa takut terhadapnya. ìSaya hanya ingin ketemu anda dan mebicarakan sebuah perundingan dengan andaîìPerundingan macam apa maksud anda?îìSaya tak tahu lagi harus bagaimana kecuali langsung menemui anda danmembicarakannya. Saya sudah memperhatikan anda sejak pertama kali anda pindahkemari. Anda adalah wanita tercantik yang pernah saya lihat. Saya sangat ingin bercintadengan anda setiap kali saya melihat anda. Saya sadar kalau itu hanya harapan yang sia- sia belaka hingga semalam. Kemudian saya melihat anda dan mas Adi dan saya tahukalau akhirnya tiba waktunya harapan saya itu akan terkabul.î Maya merasa seakan tubuhnya diguyur oleh air dingin. Lelaki paruh baya ini telahmelihatnya dengan Adi semalam dan kini dia menginginkan hal yang sama juga. Yangterlintas di pikirannya saat ini adalah segera lari dari sini dan menyingkir jauh-jauh. ìSaya tak mengerti maksud anda. Apa yang saya lakukan dengan Krisna atau Adi atupunorang lain adalah urusan saya.î Dia mencoba untuk berdiri lagi dan kembali Sukrimendorongnya duduk, kali ini dengan lebih keas lagi. ìSaya tahu kalau itu adalah urusan anda tapi bagaimana kalau Tuan Krisna tahu andasudah tidur dengan adiknya?î Maya tak mungkin dia membiarkan Krisna tahu tentang perbuatannya dengan Adi, Mayasadar kalu dia tak bisa berbuat apa-apa. Jika kejadiannya dengan pria lain dan bukannyadengan adik suaminya mungkin saja tak seburuk ini. Mungkin dia bisa menangis danmemohon ampun pada Krisna dan suaminya itu mungkin saja mau memaafkannya, tapitak mmungkin kalau kejadiannya dengan. ìAnda mau apa?î.Get yours now!ìSaya menginginkan anda, dan saya menginginkan anda seperti Adi mendapatkan andatadi malam. Anda menuruti dan saya akan melupakan apa yang telah saya lihatsemalam.îìDan kalau saya tidak melakukan apa yang anda mau apa yang bisa anda lakukan? Inihanya akan jadi sebuah cerita karangan anda saja.îìSaya sudah mengira kalau anda akan berkata seperti ini.

    Saya sudah menyiapkanbeberapa foto yang akan menjadi bukti cerita saya itu.î Sukri sadar kalau soal foto ituhanyalah karangannya saja, tapi dia yakin kalau Nyonya majikannya ini tak tahu akan halitu. Maya sadar kalu dia telah kalah. Dengan adanya foto tersebut tak mungkin dia biasmembantah tentang perbuatannya dengan Adi kepada Krisna. Wajahnya tertunduk danSukri tahu kalau wanita di hadapannya akan memberikan apa yang dia maus. ìKapan?îìSekarang, sudah terlalu lama aku menunggu. Berdiri dan segera masuk ke dalam rumah. Saat saya menikmati tubuh anda saya ingin melakukannya di atas kasur yang lembut danempuk agar bisa benar benar merasakan nikmatnya.î Sukri memberi tanda agar diaberdiri dan Maya mematuhinya. Dengan perlahan dia berjalan menuju ke dalam rumah. Sempat terlintas dibenaknya untuk lari dan mengunci pintunya tapi dia sadar kalau lelakidi belakangnya ini akan menceritakan semuanya kepada Krisna dan pernikahannya akan. Begitu memasuki rumah Sukri langsung menutup pintu dan sekaligus menguncinya. Maya berhenti tapi segera Sukri menggiringnya menuju kamar tidur. Maya bermaksudmelewati kamar tidurnya dan menuju ke kamar tamu. Sukri menghentikannya danberkata, ìTidak, saya ingin di ranjang anda. Saya ingin menyetubuhi anda di tempatsuami anda melakukannya setiap waktu.î Maya memasuki kamarnya. Ranjang itu telah dirapikannya dan seprei serta selimutnyasudah diganti dengan yang bersih setelah terpakai semalam. Sukri menarik selimutnyadan melemparkannya ke lantai. Kemudian dia rebah ke atas kasur empuk itu dengantangan di bawah kepalanya. Dia tahu kalau Maya tidak bias lari ke manapun lagi dan diaingin benar-benar menikmati waktunya bersama nyonya majikannya yang cantik ini. Diaberdiri dengan berkacak pinggang. ìLepaskan bajuku.î Maya sadar dia tak punya pilihan lagi. Dia mendekat. Diraihnya bagian bawah baju Sukridan mengangkatnya melewati kepalanya. Lelaki paruh baya ini jauh lebih tinggi darinyahingga membuat dia hampir menyentuh tubuhnya saat melepaskan baju itu. Mayamelemparkan baju tersebut ke atas kursi. Maya sudah pernah melihat tubuh Sukri yangkekar tanpa baju saat bekerja di kandang kudanya, dan dalam jarak sedkat ini dia semakinmelihat betapa Sukri memiliki bentuk tubuh yang besar dan tegap. ìSekarang, buka bikiniatas anda.î.Get yours now!Untuk sejenak Maya bimbang dan kemudian tangannya bergerak ke belakang tubuhnyauntuk melepaskan bikini atasnya. Dia melepasnya melewati bahunya dan berusahamenutupi. ìTurunkan tangan anda, saya ingin melihatnya dengan jelas.î Mayamelemparnya ke kursi menyusul baju Sukri dan sekarang dia berdiri di depa Sukridengan payudara yang terpampang tak berpenutup. ìKe sini.î Tangan Sukri tejulur kedepan dan menarik tubuh Maya mendekat. Maya berusaha untuk mundur tapi Sukrimencengkeramnya dengan erat. Maya sadar kalau dia harus mematuhi semua kemauanlelaki paruh baya ini. Batang penis Sukri mengeras dengan sempurna saat payudara Maya terpampangseutuhnya.

    Tak sabar dia untuk merasakan daging membusung itu dengan tangan danmulutnya. Sukri mundur sedikit sekedar untuk mempertimbangkan apa yang pertama kaliakan dilakukannya pada isteri majikannya ini. Dia ingin langsung menerkamnya tapi dialebih ingin kalau wanita ini yang merengek memohon padanya. ìMendekatlah, biarputing anda menyentuh dada saya.î Maya merasa tegang menyadari kontak yang sebentar lagi akan terjadi. Payudaranyasangatlah sensitif fan dia sadar kalau lelaki ini ingin membuatnya jadi terangsang. Diameyakinkan dirinya kalau dia tak akan membiarkan lelaki ini merasa puas telah dapatmenjadikan dirinya menikmati pemaksaan ini. Dia mendekat seperti yang dipinta Sukri. Putingnya hanya menggesek otot di dada Sukri, tapi tubuhnya bereaksi berlawanandengan kehendak pikirannya. Putingnya langsung mulai mengeras karena sentuhan itu. Sukri menatap ke bawah pada payudara putihnya yang baru saja bersentuhan dengandadanya yang coklat kehitaman. Dia sangat ingin melumat dengan mulutnya tapi diamencoba untuk sabar menunggu. ìBuka mata anda. Lihat saat susu anda menyentuh saya. Putingnya langsung mengeras. Saya tahu kalau anda ingin segera disetubuhi?îìTidak, aku ingin menghentikan ini.îìLepaskan celana saya.î Maya diam saja. ìSekarang, jangan sampai membuat saya menunggu.î Maya sedikit mundur untuk meraihsabuknya tapi Sukri menarik tubuhnya hingga merapat padanya. Maya sadar kalau lelakiparuh baya ini ingin agar putingnya tetap menggesek kulitnya saat dia melepaskancelananya. Setelah dia buka sabuk itu, kemudian diturunkannya celana dan celana dalamnyasekaligus itu melewati pinggang Sukri. Maya mengalami sedikit kesulitan saatmelakukannya karena gundukan keras diselangkangan Sukri, tapi akhirnya dia berhasilmelepaskannya. Batang penis Sukri terbebas lepas dari dalam celana dalamnya begitupenutupnya terbuka. Maya bisa merasakan daging keras tersebut menghantam kulitperutnya saat dia menurunkan celana Sukri. Maya harus membungkukkan tubuhnyauntuk melepasnya, gerakannya itu membuat putting dan payudaranya semakin mengeras. Ketika akhirnya Maya berhasil menurunkan celana Sukri hingga mata kakinya, btangpenis itu jadi menggesek payudaranya. Batang itu tepat di depan matanya kini dan dia.Get yours now!melihat dengan terperanjat akan batang penis terbesar yang pernah dilihatnya seumurhidupnya. Warnanya sangat gelap coklat keunguan. Bahkan ini lebih besar dan panjangdari penis Adi. Vaginanya langsung saja menjadi lebih basah dan keteguhan hatinyauntuk tak membiarkan dirinya larut di dalam gairah saat ini menjadi pudar. Sukri tetap menahan tubuh Maya agar terus menghimpitnya. Dapat dirasakannya kalauputting nyonya majikannya ini semakin bertambah keras saja. Sukri membungkuk untukmeraih pinggul Maya dan melepaskan bikini bagian bawahnya. Sebelum dia berlututuntuk melepaskan kain terakhir itu, tangan Sukri bergerak ke selangkangan Maya untukmeraba vaginanya. Hal tersebut mengakibatkan sebuah sengatan listrik bagi Maya saat tangan Sukrimenyentuh kelentitnya dan sekaligus memeriksa sudah sebasah apakah dia kini. Sukrisangat mengerti kalau tinggal selangkah lagi Maya akan memohon padanya untuk segeramenyetubuhinya. Sukri berlutut dan menarik lepas bikini bawah itu dan Maya melangkahkeluar dari pakaian terakhir yang dikenakannya tanpa disuruh lagi. Vaginanya yangberambut lebat itu tersuguh tepat di depan wajah Sukri dan dia tak menyia-nyiakanbarang sedetikpun untuk menikmati madu birahi yang sudah mulai meleleh turun di pahaMaya. Lidahnya menyentuh setiap titik sensitive di vagina itu yang dia tahu.

    Maya takmampu mencegah tangannya agar tak mendorong kepala Sukri agar semakin terbenamdalam selangkangannya. Maya ingin agar lidah lelaki paruh baya di bawahnya initerbenam sedalam-dalamnya saat jemarinya mempermainkan kelentitnya. Tak ayal lagipaha Maya mulai bergetar. Sukri berhenti lalu berdiri. ìApa nyonya sudah siap untuk naik ke ranjang sekarang?î Maya tak menjawab tapi reaksinya berbicara lebih keras dari jawaban yang mungkinkeluar dari dalam mulutnya. Dia naik ke atas ranjang dan memberi ruang untuk Sukri, dan Sukri segera menyusulnya dan bergerak di antara paha Maya. Birahi Maya setinggisaat bersama Adi kemarin malam. Dia ingin disetubuhi sebanyak-banyaknya. Dia takpeduli kalau ini adalah pengurus rumahnya yang akan memasukinya. Dia hanya inginagar vaginanya terisi penuh dan yang aada saat ini hanyalah lelaki paruh baya ini. Mayamembuka lebar-lebar kakinya untuk Sukri. Dia melihat Sukri hanya menatapi vaginanyayang berambut lebat dan dia segera menarik maju tubuh Sukri. Kepala penisnya langsungmenyentuh bibir vagina Maya dan salah satu tangan Maya langsung menggenggamnyauntuk menempatkan kepintu masuknya. Sukri tahu kalau Maya sudah dalam kekuasaannya sepenuhnya sekarang. Diamembiarkan Mayalah yang membimbing batang penisnya untuk masuk. Dapat diarasakan kehangatan dari vagina Maya di kepala penisnya dan dia sadar kalau dia akansegera mengalami sebuah pengalaman yang sangat tak mungkin dilepaskannya. Kepalapenisnya hanya baru masuk setengahnya kemudian dia menghentakkan pinggulnyahingga kepala penisnya merangsak masuk membaelah bibir vagina nyonya majikannyaini. Tak ada yang mampu menghentikannya memasukkan batang penis coklat tuanyayang besar itu ke dalam vagina wanita cantik yang kaya ini sekarang..Get yours now!Dia menaikkan kedua paha Maya ke atas bahunya agar membuka seutuhnya. Tanpa ragudia mengayun tanpa henti hingga ke dasar vagina Maya. Maya menjerit kesakitan saatpenis Sukri menyodoknya hingga ke mulut rahimnya. ìStop! Hentikan! Kamu akanmembunuhku! Keluarkan! Tidak, Jangan bergerak! Jangan bergerak sedikitpun!î Sukrimenghentikan gerakannya hingga Maya berhenti berteriak. Dia baru sadar kalau takseharusnya berbuat sangat kasar tapi dia tak mampu menahannya. Sekarang Maya memang sudah sangat mengharapkan batang penis besar dan panjang itudi dalam vaginanya tapi bukan dengan cara seperti ini. ìJangan bergerak kamu*******!î Dia mencoba mengambil nafas karena serangan brutal yang terjadi pada tubuhmudanya ini. Belum pernah ada seseorang yang menyakitinya seperti Sukri sekarang inidan bahkan rasa sakitnya melebihi ketika keperawanannya direnggut Krisna dulu. ìDiamsaja. Rasanya sangat sakit meskipun mau kamu cabut. Kena juga kamu mestimelakukannya dengan sangat kasar sekali? Kamu tahu kalau aku sudah siap untukmu tapikenapa kamu mesti sangat kasar? Kamu telah menyakiti aku.îìSaya minta maaf.îìMaaf persetan, tidak heran kamu mesti memaksa seorang wanita untuk melayanimu. Biarpun kamu punya penis yang hebat tapi kamu sangat tak tahu bagaimanamenggunakannya.îìSaya hanya tak mampu menahan diri. Saya sudah terlalu lama menginginkan hal initerjadi.îìDiam saja dulu sejenak. Rasa sakitnya sudah mulai berkurana sekarang.î

    Setelah rasa sakit tak terperi yang telah diberikan Sukri, perlahan rasa sakit itu mulaiberganti dengan sebuah rasa yang lebih membuai. Tubuh Sukri yang besar menindih danmenutupi seluruh tubuh Maya di bawahnya tapi itu sama sekali bukan sesuatu yangmengganggu perasaan Maya tapi sebaliknya. ìKalau kamu mau menyetubuhiku makalakukanlah dengan benar.î Maya menarik kepala Sukri ke payudaranya dan Sukri tahukalau Maya ingin agar dia mencium payudaranya itu. Kali ini dia benar-benar menikmatiwaktunya dengan menghisap putingnya perlahn secara bergantian. Kemudia dia naik kemulut Maya. Bibir Sukri menyentuh bibir Maya dan Maya membuka mulut untuknya. Lidah Sukri memasuki mulutnya dan lidah Mya bertemu dengan lidahnya, saling melilitdalam tarian lidah yang panas hingga vaginanya mulai terasa normal kembali. Dia inginagar Sukri bergerak perlahan hingga dia bisa menyesuaikan dengan ukurannya. Semuanya jadi berbalik sekarang. Tak ada lagi pihak yang dipaksa. Mayamenginstruksikan apa yang harus dilakukannya dan bagaiman dia menginnginkannyaterjadi. Tak lama kemudian Sukri mengocokkan batang penisnya keluar masuk ke dalamvagina Maya dan Mya mengimbangi setiap ayunan Sukri dengan goyangan pinggulnya. Sukri tak mampu bertahan lebih lama lagi. ìSaya tak bisa menahannya lagi, saya haruskeluar sekarang.î.Get yours now!ìAku juga sudah siap kalau kamu siap sekarang.î Sukri mulai bergerak dengan cepat dansemakin bertambah cepat. Maya bersamanya sepenuhnya, vaginanya kini terasa sangatnikmat karena terisi oleh batang penisnya yang tak menyisakan ruang sedikitpun. Akhirnya Sukri sampai pada batas akhirnya dia mengangkat pantat Maya merapatkanvaginanya hingga membuat seluruh batang penisnya terbenam ke bagian terdalam darivagina Maya. Sukri berhenti bergerak saat dia memberi Maya semburan spermanya. SaatSukri memuntahkan spermanya, beriringan pula datangnya dengan klimaks Maya yangmelandanya. Dapan panasnya itu seakan lelaki paruh baya ini tak berhenti berejakulasi. Setalah semuanya mereda Sukri masih berada di atas tubuh Maya menciptakan sebuahpemandangan yang kontras. Tubuh muda putih molek tertindih tubuh tua kekar berwarnacoklat tua. Sukri tiada henti melumat bibir dan payudara Maya. ìUntuk sesuatu yangawalnya buruk, ini lumayan hebat juga. Aku yakin kalau kamu tak pernah berpikir untukmenggunakan kondom?î kata Maya. Dari pancaran sinar matanya, Maya tahu kalau katakondom sangat jauh dari benak Sukri. Belum lama berselang, penis Sukri kembali mengearas. Kali ini dia sangat menikmatiwaktunya untuk merasakan setiap kenikmatan dari tubuh Maya. Itu menjadikan Mayamendapatkan hadiah klimaks berkali-kali sebelum akhirnya Sukri menyemburkanspermanya untuk yang kedua kalinya ke dalam vaginanya lagi. Mereka berdua bercinta, bersetubuh dan saling mengeksplorasi seluruh tubuh masing- masing dalam sisa waktu hari ini. Kontras warna diantara mereka malah semakinmembuat birahi keduanya terbakar. Hingga hampir tiba waktunya jam pulang Adi darisekolahnya saat terakhir sesi persetubuhan mereka hari ini. Keduanya saling mengertibahwa ini hanyalah awal dari banyak hari lagi nantinya bagi mereka berdua untukmengulangi pertarungan birahi mereka.

    Keduanya juga tahu hal ini adalah sebuah rahasiayang harus saling mereka simpan rapat-rapat. Kalau sampai Adi ataupun suaminya tahuakan hal ini maka habislah mereka berdua, Krisna akan menceraikan Maya dan tentu sajamengusir mereka berdua dari rumah ini. Maya baru saja selesai mandi dan merapikan kamar tidurnya saat Adi pulang. Sukrisudah lama kembali ke tempatnya dan melakukan pekerjaannya yang seharusnyadilakukannya pagi ini. Hal yang paling ingin dia dengar adalah jika Krisna tahu akanperistiwa ini dan jadi marah besar hingga memecatnya. Dia ingin berada di rumah inilebih lama lagi dan menikmati keindahan tubuh dari isteri Krisna yang putih mulus dancantik itu. Adi berusaha sebisanya agar bisa pulang ke rumah secepat-cepatnya agar punya waktuyang lebih bersama Maya sebelum abangnya pulang kerja. Dia masuk ke rumah tepatketika Maya keluar dari dalam kamar. Rambutnya masih basah sehabis mandi dan puttingpayudaranya nampak menrawang dibalik blouse yang dikenakannya. Celana pendek yangdipakainya sangat longgar dan pendek memperlihatkan paha jenjangnya yang putih. Ketika keduanya bertemu, Adi berhenti di depannya. Ada sesuatu yang kelihatan berbedadari diri Maya hari ini. Adi kira itu karena efek dari kejadian semalam bersamanya..Get yours now!Dia menatap Maya tepat di matanya sebelum kemudian meraihnya ke dalam pelukannya. Maya menahan tubuh Adi dengan tangannya, bukannya dia tidak ingin dipeluk adikiparnya ini, dia hanya tak ingin kalau Adi tahu bahwa dia baru saja habis bersama lelaki. Setidaknya tidak sekarang ini. ìStop Adi. Abangmu akan segera pulang dan dia tak bolehmenemukan kita seperti ini.îìDia baru pulang beberapa jam lagi. Apa kamu tidak suka dengan apa yang kita lakukansemalam?îìYa, aku sangat senang melakukannya dengan kamu meskipun seharusnya itu tak bolehterjadi. Kalau Krisna mendapati kita bersama kamu akan diusir dan mungkin aku akandiceraikan. Kita hanya butuh berhati-hati.î Adi tak suka ditolak tapi dia sadar kalau mereka harus berhati-hati. Dia hanya inginbersama kakak iparnya ini agar bis menikmati tubuh moleknya kembali. ìKapan kita biasbersama lagi?î Sura pintu mobil yang ditutup menyelamatkan dia dari pertanyaan Adi. Dia melepaskandiri dari pelukan Adi dan melangkah kea rah pintu. ìMasuk ke kamarmu, aku mau lihatsiapa yang datang.î Pintunya sudah terbuka terlebih dulu sebelum Maya sampai. Yang datang ternyata Krisnadan dia pulang kerja jauh lebih awal dari biasanya. Sepanjang hari ini dia terusmembayangkan tentang kejadian antara isteri dan adiknya semalam. Meskipun sebuahquickie dengan Susan di kantornya sudah mampu meredakan batang penisnya yangtegang terus, tapi dia tetap tak mampu menyingkirkan bayangan itu dari dalam kepalanya. Dia meminta ijin pada atasannya untuk pulang lebih awal hari ini. Dia ingin bersetubuhdengan isterinya sebelum adiknya pulang dari sekolah. ìAda apa kok abang pulang lebih awal?îìAku hanya ingin bersamamu sebelum Adi pulang.îìAbang terlambat, dia baru saja pulang dan sekarang sudah ada di dalam kamarnya. Abang kenapa sih kok tiba-tiba berubah seperti ini? Beberapa bulan belakangan abangsering terlalu capek terus untuk memperhatikan aku, lalu kemarin malam dan sekarangabang ingin cepat-cepat naik ke ranjang.î Krisna tak tahu harus menjawab bagaimana. ìMungkin nanti malam kita bisa pergi tidurlebih awal lagi.î Maya tersenyum sambil menggesekkan payudaranya ke dada suaminya dan merasakanpenis Krisna yang tegang dan menekan erat ke tubuhnya. Dia menurunkan tangan untukmembelainya. ìTetap pertahankan ini seperti ini dan kita pasti akan segera mendapatkanwaktu untuk mengurusnya nanti.î.Get yours now!Sisa hari ini berjalan normal seperti biasanya. Kedua penis kaka beradik ini terus tegangdisepanjang sore ini setiap kali dia berada di dekat salah satu dari mereka. Maya sanagatmenikmati efek yang dia hasilkan pada mereka berdua. Dia sama sekali tak mencegahjika salah satu dari mereka merabanya saat yang satunya tak melihat. Dia tahu kalau halitu akan semakin membakar birahi mereka berdua. Saat tiba waktunya untuk tidur Maya sudah siap untuk sebuah persetubuhan yangberikutnya lagi. Sekarang suaminya sudah tak akan tahu kalau vaginanya telah dipakaipenis Sukri yang besar siang tadi.

    Krisna langsung menerkamnya begitu merka sudahberada dalam kamar. Dengan cepat Krisna melucuti pakaian Maya. Dia merasa cembututelah membiarkan Adi menyasikan seluruh keindahan lekuk tubuh isterinya tapi dilainsisi hal itu semakin membakar gairahnya. Dia tak mengerti kenapa hal itu sangatmembuatnya terangsang. Menemukan keduanya bersetubuh kemarin malam membuatnyasangat ingin menyetubuhi isterinya lagi dan lagi. Maya tak tahu apa yang merubah suaminya tapi dia tak mau memusingkan hal tersebut. Dia sangat bahagia hubungan seks dianra merka sudah berubah panas seperti biasanyadan dia sudah sangat merindukannya beberapa bulan belakngan ini. Biarpun setelahpersetubuhan yang demikian hebatnya bersama Sukri siang hari tadi, tidaklah meredakangairahnya untuk suaminya. Dia juga tak tahu kenapa dirinya setelah mengalami seluruhpersetubuhan disepanjang hari ini, dia masih siap dan sangat menginginkan agarsuaminya mengisikan seluruh spermanya ke dalam vagina mudanya. Tiga orang lelakiberlainan selama kurang dari satu hari hanya semakin membuatnya menginginkan yanglebih lagi. Persetubuhan mereka sangat liar dan menggairahkan selayaknya ketika pertama kalimereka menikah dahulu. Dua kali Krisna membawanya ke puncak kenikmatan sebelumakhirnya dia sendiri mendapatkan klimaksnya. Maya merasa sangat kelelahan saatsuaminya selesai dan menggulingkan tubuh di sampingnya. Saat berangkat kea lammimpi dia adalah seorang wanita yang sangat terpuaskan. ***Maya terbangun keesokan harinya saat mentari mulai terbit, lalu mulai menyiapkansarapan untuk Krisna dan Adi. Senyum ceria selalu terukir di wajahnya saat dia memasakpagi ini. Dia merasa tak perlu bersusah payah berpakaian. Dia hanya mengenakanpakaian tidur pendek yang tak begitu mampu menyembunyikan kemolekan tubuhnya darimata lelaki. Senyum lebarnya tetap tekembang ketika kedua lelaki ini menyantapsarapannya membuat Krisna merasa sangat bahagia karena tahu bahwa dialah yangmembuat isterinya tersenyum manis pagi ini. Mereka berdua menghabiskan sarapannya kemudian Maya memberi ucapan selamat jalanbagi keduanya. Adi yang berangkat sekolah dan Krisna pergi ke kantor. Dia membariKrisna sebuah pelukan dan ciuman bibir singkat dan sebuah pelukan untuk Adi. Maya takmau memberi yang labeih pada Adi dengan keberadaan Krisna disamping mereka. Dapatdilihatnya pancaran kekecewaan di mata Adi saat dia berjalan keluar..Get yours now!Baru saja keduanya masuk ke dalam mobil masing masing untuk berangkat, Adimelompat keluar dan kembali lagi ke dalam rumah. ìBukuku ketinggalan.î Diamemasuki rumah saat Krisna keluar ke jalan. Krisna menerka-nerka apa rencana adiknya lalu dia menepikan mobilnya dan menunggu. Lima menit kemudian Adi lewat tanpa tahu akan keberadaannya. Krisna mengira-ngiraapa yang sudah merka lakukan saat adiknya kembali ke dalam rumah tadi. Penisnya jadimengeras memikirkan hal tersebut. Dia merasa agak kecewa saat adi lewat tadi dan disaatyang sama merasa lega karena tak ada yang terjadi diantara isteri dan adiknya. Disepanjang hari penisnya terus mengeras saat memikirkan isteri dan adiknya. Sekali lagidia berusaha menemui Susan untuk pelepasan beberapa menit. Dia tahu ini hanyalahmeunggu waktu bagi Susan utuk berpindah ke pelukan lelaki lain nantinya. Dia senangpada akhirnya hal ini akan segera berakhir. Hampir saja dia kehilangan isterinya hanyakarena tak mampu berkata tidak pada Susan. Ketika Adi kembali lagi ke dalam rumah dia memang punya maksud. Maya berbalik saatmelihat Adi kembali. ìAda yang ketinggalan?îìIni.î Langsung didekapnya tubuh Maya dan melumat bibirnya. Maya tak melawan danmembalasnya dengan membuka mulutnya untuk lidahnya yang mendesaknya.

    TanganAdi menelusup ke balik gaun tidur Maya untuk meremas payudara yang menanti di sana. Seperti kemarin malam, Maya membairkan saja Adi berbuat sesukanya. Dia sangatlahmenjaga kesetiaannya terhadap Krisna sebelum Adi mandapatinya di saat rapuh danSukri memanfaatkan hal tersebut keesokan harinya. Sekarang Maya menyambutperlakuan Adi terhadapnya dan tak berusaha untuk menghentikan hal tersebut. Walaupunsetelah kejadian kemarin malam tetap saja membuat birahinya bergolak saat tangan Adimenyentuh tempat dimana hanya Krisnalah yang pernah menyentuhnya hingga waktukemarin. Pada akhirnya Maya sadar kalau dia harus menghentikan Adi atau dia akan terlambatmasuk sekolah. ìKamu harus segera berangkat atau nanti terlambat.îìApa aku tak bias ijin dulu hari ini?îìTidak. Apa nanti kata abangmu kalau sampai dia tahu kamu tak masuk sekolah hanyauntuk menghabiskan waktu bersamaku? Kita pasti akan punya waktu bersama lagi nanti, aku janji.î Maka lima menit berikutnya Adi sudah kemblai keluar rumah untuk berangkat sekolah. Ketika dia melewati tempat di mana Krisna memarkirkan mobilnya, Adi merasa melihatmobil yang mirip dengan milik abangnya itu tapi dia tak begitu mempedulikannya. Perhatiannya hanya terfokus pada penisnya yang terus tegang dan janji Maya untukbersamanya lagi nanti. Sesungguhnya Maya merasa gembira kalau Adi bisa menemaninya sepanjang hari. Sekarang dia baru sadar betapa dirinya sangat cinta pada seks. Bulan-bulan tanpa seks.Get yours now!dengan Krisna membuatnya sangat sensitive jika mengenai hal yang berbau seks. Diasangat senang suaminya sudah kembali memperhatikan dirinya tapi disaat yang sama diajuga menyukai perhatian yang didapatkannya dari lelaki lain. Dia sadar kalu semestinyadia hentikan affairnya dengan dua lelaki tersebut tapi dia juga yakin kalau Sukri tak akanmau mendengarnya dan Adi sudah serasa seperti udara segar dalam nafasnya dengangairah mudanya. Dia harus ekstra hati-hati dengan ketiga lelaki ini. Maya menyelesaikan rutinitas paginya dan merasa terkejut dan kecewa saat takmendapati kedatangan Sukri. Dia mengharapkan lelaki paruh baya itu dating ke dalamrumah begitu suami dan adik iparnya pergi. Dia mengenakan celana jeans dan kaos milikKrisna yang diikatnkan di bawah payudaranya. Ini membuat dada membusungnyatercetak jelas dan mempertontonkan perut rata dan putihnya. Dia tahu kalau dia terlihatlebih dari cukup untuk menarik perhatian lelaki manapun, dan kemudian dia mengendaraikudanya menuju ke gudang. Sukri ternyata tidak berada di gudang dan mobil truck yang biasa digunakannya tidakada. Dia mencoba menyembunyikan kekecewaannya saat tak menemukan Sukri. Diasudah sangat siap bersetubuh biarpun itu diakuinya atau tidak. Dinaikinya kudanyakembali ke rumah. Ada sebuah sungai kecil yang mengalir membelah daerah perkebunannya dan bermuarapada sebuah danau kecil yang cukup dalam untuk dipakai berenang dan terletak ditempatyang cukup terlindungi dari pandangan. Airnya sangat jernih dan dingin menyegarkanhingga Maya tak mampu berendam di dalamnya untuk waktu yang lama.

    Dibawanyasebuah selimut yang diikatkan di belakang pelananya yang akan digunakannya untukberjemur di bawah sinar mentari. Dahulu dia merasa sedikit khawatir saat berjemur ditepian kolam renang atau di sini karena keberadaan Sukri. Kini dia merasa saatmenggelar selimut itu di atas rerumputan dan kemudian melepaskan seluruh pakaiannyahingga telanjang bulat, sekarang tak ada sedikitpun rasa takut atau kekahawatirantersebut. Maya menjatuhkan pakaiannya ke atas selimut dan berjalan dengan telanjang ke tepidanau. Dia selalu merasa sedikit takut saat melangkahkan kakinya pertama kali ke dalamair. Tapi begitu kakinya sudah menyentuh air dan sekujur tubuhnya sudah terjalarisensasi itu dia langsung menceburkan diri dan menyelam jauh ke bagian yang terdalam. Air yang dingin tersebut membuat kedua putting susunya langsung jadi mengeras dengancepat, dan dia sangat menyukai hal itu. Hal itu seperti layaknya efek dari sentuhan tanganseorang lelaki di dadanya. Dia hanya mampu bertahan selama satu menit di dalam air dan kemudian naik danmerebahkan tubuh telanjangnya di atas selimut. Kehangatan sinar mentari pagi dengansegera menghangatkan tubuhnya yang tengkurap. Maya suka bertelanjang di wawah sinarmentari dan di ruang terbuka, jika memungkinkan selalu dia pasti akan mengabaikanpakaiannya. Membayangkan jikalau Adi atupun Krisna melihatnya telanjang beginimembuatnya tersenyum dan belaian kehangatan sinar mentari membawanya ke dalambuaian mimpi..Get yours now!Dia terbangun oleh suara kudanya. Ia gulingkan tubuh tengkurap dan melihat Sukri diatss kudanya sendiri memandanginya. Tadinya dia berharap menemuka Sukri di gudangketika pertama kali mencarinya tapi sekarang dia senang mendapatinya berada di sini. Dia tak bergerak untuk menutupi tubuhnya. Suri sudah melihat seluruh bagian tubuhnyadan juga sudah merasakannya sebelumnya lagipula dia sudah siap untuk bercintadengannya kembali. Setelah rasa sakit yang dirasakannya pertama kali itu hilang Mayabegitu menikmati mendapati vaginanya terisi oleh penisnya yang pajang dan besar itudigerakkan keluar masuk dalam tubuhnya yang begitu menyambutnya. Saat Maya sama sekali tak berusaha menutupi tubuh telanjangnya itu, Sukri bergerakturun dari atas kudanya dan mengikatkan kudanya. Dia berjalan mendekati Maya dansegera melepaskan baju beserta celananya. Dia tak mengenakan celana dalam dan batangpennisnya berdiri dengan tegak dan pongah. Dia mulai rebah di samping tubuh Maya tapiMaya mencegahnya. ìKamu herus masuk ke air dulu t.îìTapi airnya sangat dingin sekali.îìAku tahu, aku baru saja masuk ke dalamnya. Kalau kamu menginginkanku, kamu harusmasuk ke dalam air dulu.î Maya tertawa senang saat Sukri melangkah ke tepian danau. Batang penisnya terayun di antara pahanya membuat Maya membayangkan saatmenatapnya, ini bukan untuk pertama kalinya, bagaimana mungkin dia bias memasukkanbenda besar itu ke dalam lubang vaginanya yang kecil. Sukri menginginkan Maya melebihi hari kemarin. Dia akan melakukan apapun yangdisuruhnya hanya untuk bias merasakan kembali kenikmatan tubuh molek wanita cantikini. Dia mulai melangkah ke dalam air yang dingin. Dia piker kalau tubuhnya akan segeramembeku. Dengan satu lompatan panjang dia menyelam. Tubuhnya muncul dari dalam air diiringi sebuah teriakan panjang. Rasanya memangtubuhnya segera membeku dan dia tak bias keluar dari dalam air itu dengan cukup cepat. Dia melompat dari dalam air begitu mencapai ke tepian dan berlari kea rah Maya. Mayamemandanginya dan mulai tertawa geli. ìApa yang anda tertawakan?îìLihat dirimu.î Ternyata air memberikan efek kebalikan pada penisnya dibandingkanyang terjadi terhadap putting payudara Maya. Batang penisnya yang semula berdiridengan tegak dan pongahnya kini melemas dan seakan benar-benar mati. ìKemarilah, rebahan di sampingku. Aku yakin ini bukan permanent kondisinya.î Sukri merebahkan tubuhnya di samping Maya.

    Kedua tubuh merka menjadi sebuahpemandangan yang sangat kontras, tubuh Sukri yang coklat kehitaman serta besar dantubuh Maya yang putih mulus rebah berdampingan di bawah sinar mentari pagi..Get yours now!Maya bergerak ke atas untuk mencium bibir Sukri dengan lembut. ìApa kali ini kamuakan melakukan dengan kasar seperti kemarin lagi?îìTidak, aku janji akan melakukannya dengan lembut kali ini.î Ciaman Maya berhenti dan dia bergerak menuruni tubuh Sukri, ciumannya menjalarisetiap bagian tubuh Sukri turun menuju ke batang penis yang ingin dia kembalikanseperti keadaannya sebelum masuk ke air tadi. Begitu bibir lembut Maya menyentuhnyasegera saja batang penis tersebut hidup kembali. Maya mulai memasukkanseluruhnya kedalam mulutnya. May sedikit khawatir akan mengenai giginya saat batang penis Sukrisemakin membesar keras di dalam hisapan mulutnya. Dia sadar kalau tak mungkinmenampung keseluruhannya jika batang penis ini dalam keadaan ereksi sepenuhnya tapidia ingin merasakannya mengembang besar di dalam mulutnya. Mulut hangat dan lidah lembutnya dengan cepat membangunkan penisnya seutuhnya. Namun begitu batang penis itu semakin bertambah besar, mulut Maya tak mampu lagimenampungnya. Pada akhirnya dia hanya mampu memasukkan separoh bagian daripanjang batang penis Sukri. Maya dan suaminya sangat suka melakukan oral seks, tapidia tak begitu suka kalau suaminya berejakulasi di dalam mulutnya dan membuatnyaharus menelan sperma. Tapi hari ini dia ingin merasakan seluruh rasa sperma Sukri danmembuatnya menghisap dan mengocok dengan cepat dan keras untuk membawa Sukri kebatas akhirnya. Maya tak khawatir jika Sukri tak mampu ereksi lagi, setelah kejadiankemarin dia tahu kalau lelaki paruh baya ini mampu melakukannya berulang kali tanpajeda. Sukri rebah dengan tangannya berada di bawah kepalanya dan memandangi mulut Mayayang naik turun disepanjang batang penisnya. Wajah cantiknya terlihat penuh denganbirahi saat mengoralnya dengan penuh nafsu. Skri menyaksikan batang penisnya yangcoklat kehitaman itu menghilang diantara bibir mungil Maya tersebut. Pemandangan itutak mampu di tahannya lebih lama lagi, tak lama lagi dia rasa akan segera keluar. ìSayahampir sampai. Kalau anda tak ingin mulut anda penuh sperma lebih baik anda berhentisekarang.î Maya senang saat Sukri memperingatkannya terlebih dulu dan bukannya lagsungmenyemburkan spermanya ke dalam mulutnya. Dia ingin agar Sukri tahu denganreaksinya bahwa diaingin agar Sukri keluar di dalam mulutnya, dia memepercepatgerakan mulutnya sambil tangannya memerainkan buah zakar Sukri dan sebagian batangpenis itu yang tak mampu dimasukkannya ke dalam mulutnya. Sukri tak mampu menahannya lebih lama lagi. Dia naikkan pinggangnya agar batangpeninya masuk ke dalam mulut Maya lebih banyak lagi saat spermanya menyemburderas. Maya menghisap dengan cepat begitu semburan pertamanya menghantam dindingtenggorokannya. Dengan cepat ditelannya karena dia ingin mendapatkan semuanya danbahkan sperma lelaki paruh baya ini terasa berbeda dengan suaminya. Ditelannya seluruhapa yang diberikan Sukri padanya sebelum akhirnya mengangkat mulutnya dari batangpenis itu dan mulai membersihkannya dengan menggunakan lidah..Get yours now!Batang penis Sukri masih tetap tegak mengeras ketika Maya mulai bergerak ke atas untukmencium bibirnya lagi. Sukri bias merasakan spermanya sendiri dari lidah Maya saatmereka saling melumat. Belum pernah dia membiarkan ada seorang perempuan yangmenciumnya setelah menghisap penisnya, Ternyata rasanya tidaklah seburuk apa yangdia bayangkan. Maya mengangkat kepalanya; ìKamu suka nggak?îìItu yang terbaik yang pernah saya dapatkan. Hampir sama nikmatnya dengan yang andapunya diantara paha anda.îìOh, jadi kamu suka dengan yang diantara pahaku?îìAnda sudah tahu jawabannya.îìLalu kenapa kamu tidah tiduran lagi dan biar aku beri kamu sesuatu yang pasti akansama-sama kita sukai.î Maya bergerak ke atas tubuh Sukri. Vaginanya tepat di depanwajah Sukri lalu direndahkannya tubuhnya hingga lidah Sukri menyentuh bibirvaginanya.

    Kemudin digesekkannya kelentitnya maju mudur ke lidah Sukri. Maya sudahbasah sebelum menghisap penis Sukri tadi dan cairannya kini turun membasahi hidunghinggga lidah Sukri. Maya bergerak ke belakang untuk meraih batang penis Sukri yagsekali lagi mengeras dengan sempurna. Diangkatnya selangkangannya dari hadapanwajah Sukri hingga bibir vaginanya yang telah basah kuyup kini tepat di hadapan kepalapenis Sukri. Maya sangat menikmati seluruh waktunya sekarang ini. Meskipun dengan Krisna, diabelum pernah merasa sebebas untuk melakukan dan menyuruh apa yang dia inginkanseperti saat bersama Sukri sekarang ini. Dengan kedua kakinya yang berada dikedua sisiSukri membuat bibir vaginanya merekah terbuka. Maya membimbing batang penis Sukrimenuju ke jalan masuknya dengan tangannya sambil menurunkan tubuhnya hinggavagina panasnya menelan batang penis Sukri tenggelam seluruhnya. Dibiarkannya berattubuh dan grafitasi bumi membawanya turun, turun, dan turun hingga pantatnyamenyentuh perut bagian bawah Sukri. Tidak seperti hari kemarin, penetrasi pertamadalam tubuhnya kali ini membawanya pada klimaks pertamanya. Maya hanay duduk di atas penis itu dengan diam saja menikmati gelombang-gelombangkecil dari banyanya orgasme kecil yang melandanya dengan vagina yang tersumpalpenuh oleh batang penis besarnya Sukri ini. Setelah dia pulih kembali kemudian diamembungkuk untuk memberi sebuah ciuman pada Sukri. Dia menyetubuhi mulut Sukridengan lidahnya sambil menaik turunkan vaginanya pada batang penis Sukri lagi. Oralanyang dilakukannya pada penis Sukri tadi menjadikan Sukri bias mampu menahanklimaksnya lebih lama lagi. Maya menindih tubuh Sukri dibawahnya dan vaginanya terus meremas batang penisnyadengan otot-otot vaginanya. Bersama Krisna dia bias mendapatkan klimaks beberapa kalidalam semalam tapi mereka harus jeda sejenak sebelum memulai babak yang baru lagi..Get yours now!Tapi itu tidak berlaku bersama Sukri, setiap klimaks meledak disusul dengan ledakanklimaks yang berikutnya secara berkesinambungan. Sukri tak bias mempercayai betapa besar hasrat isteri majikannya ini untuk bersetubuh. Dia merasa sangat menyeal kenapa tidak dari dulu saja melakukannya. Dindingvaginanya yang rapat sangat jauh lebih baik dibandingkan dengan milik para wanita yangpernah ditidurinya bahkan dibandingka denga mendiang isterinya. Sudah sangat lamasekali Sukri memimpikan untuk dapat menikmati tubuh seorang wanita kaya dari kotatapi dia selalu tak punya keberanian untuk mewujudkannya. Tapi sekarang, Maya sangatsangat jauh lebih hebat dan nikmat dibandingkan dengan semua bayangannya selama ini. Sukri menggulingkan tubuh Maya dari atas tubuhnya hingga rebah dengan tanpamencabut batang penisnya dari dalam vagina basah Maya. Maya mengaitkan kakinyamelingkari pinggang Sukri dan mengangkat vaginanya agar terlepas saat digulingkantubuhnya. Maya ingin membuka diriny seluruhnya agar lelaki paruh baya ini bisamenikmati semua yang dimilikinya. Payudaranya menempel erat di dada Sukri begitu diaingin sedekat-dekatnya menempel erat pada tubuh Sukri. Maya ingin sekujur tubuh Sukrimenyentuh tubuhnya. Tubuhnya serasa terbakar gelora api birahi yang menyala-nyaladiantara mereka. Batang penis Sukri dmengayun dengan cepat untuk membawanya padapuncak kenikmatan yang berikutnya bagi mereka berdua. Maya bisa merasakan betapa batang penis Sukri semakin mengembang saat dia bergeraksemakin cepat. Dia tahu kalau Sukri sudah hampir keluar dan dia ingin mencapainyabersama. Maka tangan dan kakinya semakin erat memeluk, membuat tubuhnya semakinbertambah merapat pada tubuh Sukri sambil mulutnya tiada henti menyuruh lelaki paruhbaya ini agar menyetubuhinya lebih cepat dan keras lagi.

    Kedua tubuh manusia berlainan jenis ini bergerak seirama mendaki puncak kenikmatanseksual hingga pada akhirnya Sukri menancapkan dengan keras dan jauh ke dalam vaginaMaya untuk terakhir kalinya dan menyemburkan spermanya. Semburan demi semburandengan derasnya tertumpah ke dalam rahim Maya. Dinding-dinding vaginanya meremasdengan kencang untuk memerah setiap tetes sperma dari batang penis Sukri ke dalamtubuh dahaganya. Tak hanya dahaga tetapi juga tubuh yang amat menanti. Dia inginmerasakan seluruhnya. Batang penisnya terkubur sangat dalam di vaginanya dan lidahnyamerangsak masuk ke dalam tenggorokan Maya. Maya menghisap lidahnya dengan rakusseperti dia menghisap batang penisnya sebelumnya. Sperma sukri berenang langsungmenuju rahimnya. Belakangan Maya merasa sangat bersyukur kerena sudahmengkonsumsi pil anti hamil sebelumnya karena kalau tidak dia pasti akan hamil. Tapisaat sekearang ini dia sama sekali tak peduli akan hal tersebut. Sebuah babak persetubuhan lagi mereka lakukan unuk hari ini sebelum mengakhirnyadengan menyelam ke dasar danau yang dingin bersama. Dan beriringin keduanya kembalike rumah dengan mengendarai kudanya masing-masing. Saat tiba di kandang kuda Mayamemandangi Sukri yang turun dan melepaskan pelana..Get yours now!ìSukri, kita harus berhati-hati. Kamu tahu apa yang akan terjadi jika seseorang tahutentang kita.îìSaya tahu, tapi saya tetap harus mendapatkan anda lagi.îìAku juga merasakan hal yang sama, tapi kita hanya bisa melakukannya kalau kitasedang sendiri. Aku sangat cinta suamiku dan tidak ingin kehilangan dia.îìBagaimana dengan anda dan Adi? Apa anda akan tetap berlanjut dengan Adi?îìAku belum tahu. Seharusnya aku tak membiarkan dia berhubungan seks denganku. Diasekarang tak akan mungkin menyerah begitu saja untuk bias bersamaku lagi. Aku rasa initak akan berlangsung lama. Dia akan segera mendapatkan seorang gadis yang tepat untukseumurannya dan kisahnya denganku hanya akan jadi sebuah cerita saja. Kamu juga akanmelakukan hal yang sama nanti. Kalian para lelaki semuanya sama, begitu kalian sudahmendapatkan yang kalian inginkan, maka kalian akan mulai mencari yang lain lagi.î Ketika Maya mengucapkan itu, untuk pertama kalinya ini terlintas di hatinya, bahwamasalah Krisna mungkin saja adalah wanita yang lain. Sukri memprotes kalau dia tak akan merasa bosan terhadap dia tapi dalam hatinya diaberkata kalau apa yang barusan dikatakan nyonya majikannya ini benar adanya. Tapiuntuk sekarang ini dia akan menikmati tubuh molek Maya selam dia bisa. Maya berlalu menuju ke rumah lau mandi di bawah guyuran air hangat untukmembersihkan sisa-sisa sperma Sukri dari tubuhnya. Dihapusnya semua sisa bukti dariperbuatannya dengan Sukri pagi ini. Selain bibir vaginanya yang masih berwarnakemerahan dan terasa sedikit panas serta putingnya yang masih mencuat keras, tak adalagi bukti tersisa yang memeprlihatkan hal tersebut. Dia membayangkan apa yang akandia lakukan dengan Adi. Dia belum mengatakan pada Sukri, tapi dia tidak bermaksudmenghentikan perbuatannya dengan adik iparnya itu. Maya merasa terkejut sendiri saatmenyadari kalau dirinya sekarang mesih menharapkan bersetubuh dengan adik iparnya, meskipun setelah sebuah persetubuhan yang demikian hebatnya bersama sukridisepanjang pagi barusan. Dia menginginkan ketiga lelaki tersebut. Entah bagaimana diamencoba membayangkan bagaimana caranya untuk mendapatkan kuenya dan sekaligusmenyantapnya juga. Sore itu Adi harus tinggal lebih lama di sekolahan dan Krisna juga terlambat pulang. Keduanya untuk sekali lagi sepertinya akan tiba di rumah dalam waktu tak terpaut jauh. Maya tahu kalau Adi pasti masih ada di sekolahnya, tapi Krisna baru saja menelephonekalau dia akan lembur sore ini. Ada beberapa perkerjaan yang harus dia selesaikansebelum pulang. Dan kerja lemburnya adalah bersama Susan di sebuah motel selama takkurang dari empat jam. Kembali lagi dia sangat lelah kondisinya sesampainya di rumah. Dia sudah berencana untuk menyudahi affairnya dengan Susan tetapi begitu penisnyaterkubur dalam vaginanya, kembali dia kalah. Meskipun dia sadar kalau dia kini tengahbermain dengan api, tapi seperti ngengat yang selalu mendekat dan siap untuk terbakar..Get yours now!Tiba waktunya untuk dinner, seperti malam sebelumnya Maya sangat memanfaatkansetiap detiknya untuk menggoda kedua lelaki tersebut. Dengan sangat terbuka diabermanja pada Krisna tapi pada Adi dia juga tak mengabaikannya.

    Hanya saja malam inireaksi Krisna sangat berbeda dengan malam kemarin. Mereka menyelesaikan makan malam dan kemudia menyaksikan TV sebelum akhirnyaAdi pergi ke lantai bawah menuju ke kamarnya sendiri. Maya dan Krisna segeramenyusul pergi ke kamar mereka sendiri, Krisna hamper tertidur lelap ketika Mayakeluar dari dalam kamr mandi. Dia kenakan gaun tidur transparan yang berarti dia lebihmengharapkan berintim mesra dengan suaminya daripada pergi tidur, tapi Krisna takmenyadari itu. Maya naik ke atas ranjang dan meringkuk disamping tubuh Krisna. Setelah beberapa saatternya Krisna ak bereaksi atas keberadaannya, Maya akhirnya bangkit dan duduk. ìAbang punya masalah apa malam ini?î Krisna hampir saja terlelap tapi dia berusaha untuk terjaga dan menjawab. ìHari yangpanjang dan berat di kantor.îìAbang punya hari yang berat dan panjang selama hamper tiga bulan belakangan.Apayang sebenarnya terjadi? Malam kemarin abang tidur terlebih dulu dan kemudianterbangun dan seakan tak terpuaskan dengan seks. Kemarin malam abang menjadi diriabang yang dulu, tapi malam ini abang kembali lelah danÖ aku ingin tahu apa yangsebenarnya terjadi bang. Apa abang punya wanita lain?î Krisna tak bisa berbohong lagi meskipun dia ingin. Ekspresi wajahnya telahmenceritakan semuanya. Maya beringsut ke tepian ranjang. ìSiapa dia?î Krisna benar-benar terjaga sekarang. Dalam kondisinya yang kelelahan dia tak mampumemikirkan sebuah alasanpun untuk menutup-nutupi. ìHanya seorang wanita di kantor. Dia tak berarti apa-apa bagiku.îìApa maksud abang dia tak berarti apa-apa? Abang sudah menidurinya tak kurang daritiga bulan lamanya dan itu masih tak berarti apapun?î Maya sekarang sudah berdiri disamping tempat tidur dan dengan mata melotot menatap Krisna. ìMaksudku semuanya sudah berakhir.îìKalau semuanya sudah berakhir, lalu dari mana saja abang malam tadi?îìAku ketemu dia dan mencoba untuk menyelesaikan semuanya.îìApa maksud abang mencoba menyelesaikan semuanya. Yang harusnya abang lakukanadalah melempar pelacur itu ke jalanan!î.Get yours now!ìItu memang yang mau aku lakukan, tapi dia ingin melakkukan sekali lagi untukperpisahan. Sekali berlanjut ke yang berikutnya dan berikutnya. Aku tak tahu apa yangdimilikinya, seakan dia memantraiku hingga aku tak bisa berhenti.îìSeperti apa dia? Apa dia begitu cantik sehingga abang tak bisa melupakannya?îìTidak, dia cukup menarik tapi dia sebenarnya tidak cantik. Dia setidaknya berumur 20tahun lebih tua dariku.îìWell, sangat jelas kalau wanita itu punya penggemar yang setia. Abang ingin bercerai?îìTIDAK! Abang cinta kamu. Abang tidak ingin kehilangan kamu. Aku tahu kalau yangkulakukan ini sangat salah dan sepertinya aku tak bisa menghentikan diriku. Tapi kamusendiri tak sepenuhnya suci. Aku melihat apa yang kamu lakukan dengan Adi malamitu.î Maya benar-benar tak mampu bicara. Suaminya sudah memergokinya bersetubuh denganadiknya dan dia tak membicarakan apapun tentang hal tersebut. Kemudian suaminyamenyetubuhinya dengan sangat lebih baik dibandingkan beberapa bulan belakangan ini. ìAku tahu kalau itu salah juga, tapi abang sudah pergi tidur meninggalkan akumenggantung dan kita sudah terlalu lama tak berhubungan seks dan aku telahmembiarkan dia berbuat telalu jauh. Kenapa abang tidak mengatakan sesuatu saat melihatkami?îìAwalnya aku ingin menghajar kalian berdua saat itu juga. Lalu aku merasa ada semacamgairah saat melihat kalian berdua. Kemudian kamu kembali ke kamar dan aku harussegera menyetubuhi kamu sendiri. Aku tak bisa menceritakan padamu begitu saja kalauaku sudah melihat kamu bersetubuh dengan adikku sendiri. Aku pasti seperti seoranglelaki aneh dan tak waras kalau membiarkan dan melihat ada lelaki lain menyetubuhikamu.îìAbang tahu kalau Adi baru saja menyetubuhiku tapi abang tetap saja menginginkanku?Bahkan abang tak mengijinkanku untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Abang tahu kenapa saat itu vaginaku sangat basah dan abang tetap menyetubuhiku.î Semua pembicaraan tentang Adi yang menyetubuhinya memberikan sebuah efekterhadap Krisna. Batang penisnya mulai menjadi keras dan hal tersebut tak luput dariperhatian Maya. ìSepertinya abang tetap suka ide tentang adik abang memasukkanbatang penisnya ke dalam vaginaku.î Krisna tak bisa menyembunyikan gairahnya dari Maya. ìAku tahu ada sesuatu yang salahdenganku tapi bayanganmu dan Adi bersama hanya semakin menggairahkanku. Bahkansekarang, saat aku sangat letih aku tak bisa mencegahnya.î Maya berjalan mendekati ranjang kembali dan duduk disamping suaminya. ìAbang inginbercinta, bukanÖ abang ingin bersetubuh sekarang?î.Get yours now!ìYa.î Krisna menarik isterinya ke dalam pelukannya dan menciumnya. Maya sukadengan cara suaminya berciuman dan selalu akan menyukai ciumannya. Dengan cepatMaya sudah rebah di atas ranjang itu dan Krisna bergerak menaiki tubuhnya.

    Mayamembentangkan kedua bahanya lebar dan membimbing batang penis Krisna ke pintumasuk vaginanya. Krisna memasukinya seperti yang dilakukannya ratusan kalisebelumnya, tapi kali ini terasa berbeda. Maya tahu kalu dia sudah berselingkuh dan faktakalau menyaksikannya bersetubuh dengan adiknya sendiri ternyata sangat membakarbirahinya. Krisna mengayun dengan perlahan dan lembut pada awalnya sambil meberi ciuman padapayudara dan bibir Maya. Bibirnya tengah menghisap putting susunya say Maya bertanyapadanya, ìApa abang ingin melihatku dengan Adi lagi?î Batang penisnya mengejat kerasdalam vagina Maya saat dia menanyakan hal tersebut. Sebelum Krisna mampumenjawabnya dia sudah berejakulasi di dalam Maya. Sperma Krisna menyembur didalam vaginanya memberi Maya klimaksnya sendiri sesaat berikutnya. ìAku anggap itu sebagai jawaban ya.îìYa, aku akan sangat suka sekali melihat kalian kembali. Jangan katakana pada Adi kalauaku ingin melihatnya menyetubuhimu. Dia akan menganggap aku gila.îìBagaimana jika aku tak bisa mengatur agar abang bisa melihat? Apakah tidak akan apa- apa kalau aku hanya akan menceritakan semua yang kami lakukan pada abang nantinya?îìAku lebih suka melihatnya sendiri tapi kalaupun hanya memungkinkan untukmendengarnya saja itu tak masalah.îìKalau aku melakukan itu semua apa abang akan meninggalkan wanitu itu? Aku tidaksuka abang menyetubuhi wanita selain aku.îìAku hanya bisa berjanji kalau aku akan berusaha sebisanya.î Maya menggulinkan tubuhnya turun dari atas ranjang dan berjalan menuju kamar mandiuntuk membersihkan diri. Saat dia keluar, suaminya sudah setengah tertidur. Mayamembungkuk dan berbisik di telinga suaminya, ìAku rasa aku akan pergi mengechek siAdi. Anak muda yang malang itu mungkin merasa sudah diabaikan. Sampai jumpa lagibesok pagi.î Maya meninggalkan kamar itu tanpa sepatah kata dari suaminya yang sudahhamper terlelap. Batang penisnya mengeras kembali saat membayangkan isterinya yangpergi ke kamar adiknya. Sangat kelelahan dia akhirnya terlelap dengan kondisi batangpenis mengeras sempurna saat menyaksikan bayangan isterinya berjalan keluar darikamar dengan keadaan telanjang bulat hingga akhirnya benar-benar tertidur sepenuhnya. Maya merasa tak perlu mengenakan pakaian apapun karena dia tahu kalau tak lama lagiakan telanjang juga di kamar Adi nanti..Get yours now!Dia tak perlu mengetuk pintu kamar itu karena sudah agak terbuka dan kemudia diamendorongnya untuk masuk dan menyaksikan Adi yang terbaring di atas ranjangnya. Lampu tidur di atas bedsidenya masih menyala tapi dia sudah tertidur. Tubuhnya yanghanya ditutupi oleh sehelai boxer tak tertutupi oleh selimut. Maya bis melihat batangpenisnya yang cantik dari balik boxernya. Dia naik ke atas ranjang tanpa membangunkannya. Dilepaskannya batang penis itu darbalik boxernya. Dia membungkuk dan membawa batang cantik itu ke dalam mulutnya. Batang penis itu masih lemas dan terasa lembut serta hangat di dalam mulutnya dan diamembasahi seluruh bagiannya dengan lidahnya. Dengan cepat batang penis itu mulaimengeras dan sedetik kemudian segera mengeras kencang dan tegak. Maya menatap keatas dan Adi sedang memandanginya. Maya melepaskan batang penisnya dari mulutnya. ìBardiri dan cepat lepaskan boxermu.î Adi mengangkat pinggulnya dan menurunkanboxernya lepas melewati kakinya. ìAku hampir saja putus asa dan mengira kalau kamu tak akan kembali lagi padaku.îìAku sudah bilang kalau kita harus berhati-hati dan menunggu hingga kesempatan yangtepat dating. Abangmu kecapaian lagi malam ini dan pergi tidur dengan sangat nyenyak. Aku rasa dia tidak akan bangun sampai besok pagi. Kita punya waktu semalaman hanyauntuk kita berdua. Aku mau lihat apa kamu sehebat saat pertama kali dulu.î Mayabergerak ke atas dan memberinya sebuah ciuman, membuka mulutnya agar lidahnya bisabergerak menari diantara bibir Adi untuk mencari lidahnya. Adi merasa sangat bahagia mendapati Maya berada dalam pelukannya malam ini. Tubuhmoleknya menindih tubuhnya sendiri, tangannya bergerak ke payudaranya yang dengancepat digantikan oleh mulutnya. Jari tangannya meluncur ke bawah pada perut Mayauntuk bermuara pada rambut yang menghiasi bibir vaginanya. Maya menggulingkan tubuhnya dari atas tubuh Adi dan membiarkan adik iparnyaberbuat sekehendaknya terhadap tubunya. Maya suka bagaimana cara Adimemandanginya dan sentuhan tangan serta mulut adik iparnya ini pada tubuhnya. Mayamerasa sangat menginginkan agar Adi segera menjamahnya dan membenamkan batangpenis cantiknya jauh sedalam-dalamnya ke vaginanya.

    Sama seperti yang didapatnya dariSukri siang hari tadi dia ingin setiap lekuk tubuhnya terjamah. Dia merasa teramatbahagia karena mulai sekarang dia bisa menikmati persetubuhan dengan Adikapanpundia mau dengan restu suaminya. Dia harus segera menemukan cara agar bisamendapatkan keduanya disaat yang sama tanpa harus mengatakan pada Adi kalauabangnya ingin melihat mereka bersetubuh. Tapi malam ini dia hanya menginginkan Adiuntuk menyetubuhinya sebanyak yang dia mau dan dengan style apapun yang dia suka. Adi adalah type kebanyakan pemuda berumur 18 tahun lainnya. Batang penisnya tetapkeras sepanjang waktu dan sekarang dia sudah tahu kalau dia bisa menikmati tubuhmolek kakak iparnya kapanpun dia mau. Adi bergerak ke atas tubuh Maya dan Mayamembukakan pahanya untuknya. Dia melihat saat penisnya yang gemuk menemukanjalan masuknya sendiri dan dengan perlahan melesak masuk ke dalam vaginanya yang.Get yours now!menyambut. Sudah beberapa bulan belakangan ini Maya tak mendapatkan nafkah batinyang didambakannya. Sekarang dia mendapatkan pelepas dahaga kewanitaannya dariAdi, Sukri dan sekaligus dari suaminya hingga terpuaskan seutuhnya. Maya membuat dirinya rileks dan membiarkan Adilah yang berperan aktif mengerjaivaginanya dengan penis besarnya itu. Ini terasa sangat nikmat saat meresapi kenikmatandari batang penis muda dan keras milik Adi ketika dia mengocoknya keluar masuk dalamtubuhnya. Pelan namun pasti dia membawa Maya semakin tinggi dan bertambah tinggilagi hingga dia tak mampu menunggunya lebih lama lagi. Kedua kakinya melingkar padapinggul Adi dan kedua tangannya mengalungi lehernya merapatkan tubuh Adi. ìAyo, lebih cepat lagi,î bisiknya di telinga adik iparnya. ìLebih cepat, lebih cepat lagi, biarkanaku merasakan seluruh gairahmu dalam tubuhku.î Adi mengabulkan semua permintaanMaya dan mengocokkan dengan cepat dank eras batang penis kerasnya dalamcengkeraman hangat vagina isteri abangnya ini. Dan dengan cepat kemudian Adi tak mampu menahan deru kenimatan yang melandasekujur tubuhnya. Dia harus mengeluarkan madu birahinya dan dia mengatakannya padaMaya. ìAku sudah siap. Saat kamu mulai keluar nanti aku ingin kamu mendorongpenismu sedalam yang kamu mampu dan biarkan terkubur di dalamku. Aku inginmerasakan spermamu yang hangat menyiramku.î ADi mempercepat gerakannya danMaya bergerak mengimbanginya. Hingga tiba akhirnya klimaks itu diraihnya, Adimembenamkan seluruh batang penisnya sedalam dalamnya ke dalam cengkeramanvagina kakak iparnya. Tangannya berada di bawah pantat Maya untuk mengangkatvaginanya agar semakin merapat pada tubuhnya. Spermanya menyembur dengan sebuahtembakan keras berkali kali dan itu membuat Maya meraih klimaksnya sendiri bersamaAdi. Maya dapat merasakan setiap tetes sperma Adi saat menyembur, sperma yanghangat itu membuatnya tidak dalam periode mengkonsumsi obat pencegah kehamilanagar dia dapat merasakan setiap gerakan sperma adik iparnya yang hangat saat memasukirahimnya. Setelah gempuran puncak kenikmatan keduanya mereda, keduanya rebah di atas ranjangdengan saling berpelukan sambil berbincang. ìSekarang apa kamu menyesal temangadismu tak berhasil kamu dapatkan?îìTentu saja tidak, tak munkin dia bisa terasa senikmat dan sehebat kamu.îìAku juga merasa senang dia sudah mengecewakanmu. Aku bahagia akan apa yangsudah kita lakukan berdua.îìBagaimana dengan bang Krisna? Bagaimana jika dia tahu tentang kita?îìApa kamu pernah dengar tentang lelaki yang suka kalau isterinya dengan lelaki lain?îìAku pernah mendengarnya, tapi bagaimana bisa ada orang yang ingin isterinyabersetubuh dengan lelaki lain?î.Get yours now!ìAku rasa mereka ingin agar isterinya dapat merasakan kenikmatan yang lebih dari apayang bisa diberikan oleh satu lelaki saja dan disamping itu mereka juga merasakansebuah sensasi lain saat mengetahui hal tersebut.îìApa kamu pernah melakukannya dengan lelaki lain selan abang?îìKamu yang pertama bagiku selain dengan suamiku sendiri, dan sangat kebetulan sekalilelaki itu adalah adik dari suamiku sendiri. Aku tak pernah mengharapkan lelaki lainselain suamiku hingga kejadian malam itu. Kamu mendapatkanku di saat yang palingterlemahku dan aku merasa bersyukur kamu sudah melakukannya.î Maya merasa takperlu menceritakan kalu setelah malam itu dia juga bersetubuh dengan tukang kebunnyasetiap hari. ìAku juga bersyukur mendapatkanmu disaat itu.

    Aku hanya berharap agar abangkujangan sampai tahu.îìBagaimana kalau ternyata dia sudah tahu?îìAku mungkin akan diusir dari sini.îìBagaimana jika aku bisa membujuknya agar kamu boleh tetap berada di sini?îìBagaimana caramu bisa membujuk abang agar mengijinkanku tetap di sini sementaradia tahu tentang kita?îìApa kamu mau melakukannya denganku bersama bang Krisna di waktu yang sama?îìMaksudmu kita bertiga di waktu yang sama?îìYa, three some.îìAbang tak akan mau.îìJika aku bisa membujuknya apakah kamu akan bersedia melakukannya?îìGila, tentu saja mau, itu pasti akan menjadi hal paling hot uang pernah kulakukan.îë ìAku bisa tahu dengan batang penismu yang sudah mengeras laki saat ini, kalau kamusuka dengan ide itu. Aku akan mulai mencoba membujuk bang Krisna. Itu jalan agar kitabisa bersama terus kapanpun kita mau.î Percakapan itu membuat mereka siap kembali. Maya memutar tubuhnya dan mengambilbatang penis Adi untuk dimasukkan ke dalam mulutnya. Dia ingin sperma yangberikutnya keluar dalam mulut dan meluncur ke dalam tenggorokannya..Get yours now!Adi menatap vagina basah Maya yang berada tepat di atas wajahnya. Dia tak tahubagaimana rasanya menghisap spermnya sendiri dari vagina kakak iparnya. Dia takpunya banyak pilihan begitu Maya merendahkan vaginanya kea rah mulut Adi. Adimendapati kalau ternyata rasanya taklah seburuk bayangannya, Segera saj klimaksberikutnya mereka dapatkan dengan masing-masing permainan mulutnya. Maya menelanseluruh sperma yang diberikan batang penis Adi dan Adipun setiap tetes madu cinta darivagina Maya. Keduanya saling membersihkan kemaluannya masing-masing denganmenggunakan mulut sebelum kemudia memulai sebuah babak baru lagi. Sang mentari sudah hampir terbit saat Maya melangkah menuju ke kamar tidurnyakembali. Krisna sudah menantinya dengan batang penis yang sudah sangatlah keras, segera dibaringkannya Maya ke atas ranjang dan menghujamkan batang penisnya kedalam vaginanya yang sudah basah kuyup oleh begitu banyaknya sperma adiknya yangtertuang di dalamnya di sepanjang malam tadi. Saat Krisna menyetubuhinya dengansangat bergairah, Maya menceritakan secara detail apa yang telah terjadi dalam kamarAdi di lantai bawah tadi. Dan hal tersebut sungguh membuat birahi Krisna meroketmencapi batanya hingga sudah tak mampu lagi ditahannya spermanya menyembur keluarmembasahi vagina isterinya yang sudah teramat sangat basah itu. Maya tak meraihklimaksnya sendiri kali ini setelah begitu banyak puncak kenikmatan diraihnyasebelumnya bersama Adi, tapi dia merasa sangat bahagia dan damai berada dalampelukan suaminya tercinta saat ini. Dia merasa akan mendapatkan momen terindah dalamkehidupannya jika kedua lelaki ini bisa didapatkannya di saat yang bersamaan. *****Kedua lelaki ini bangun kesiangan keesokan harinya dan dengan bergegas mencobauntuk mengejar waktu agar tidak telambat ke sekolah maupun berangkat kerja. Sedangkan sabg wanita yang sudah terkuras selurh energi yang tersimapan dalamtubuhnya karena permainan birahi sepanjang malam tadi tetap tak beranjak darinikmatnya dekapan ranjang. Saat keduanya saling bertemu di dapur adalah momen yang paling membuat merekajengah dan kikuk. Adi merasa bersalah telah meniduri isteri abangnya tapi Krisnamengatakan padanya kalau Maya sudah menceritakan semuanya pada dia. ìRileks dik, Maya sudah menceritakan semuanya pada abang. Kelihatannya dia menginginkan kitaberdua, dia wanita yang hebat dan sepertinya membutuhkan kita berdua untukmembuatnya tetap bahagia. Setidaknya sampai kamu lululs sekolah. î Keduanyameninggalkan rumah dengan sura tawa bahagia mengiringi, tapi tak bisa disangkal lagikeduanya sudah tak sabar untuk menanti hari berganti malam agar mereka bisa bersamadengan Maya kembali. Waktu sudah menjelang saat makan siang ketika pintu kamar Maya terbuka. Sura pintuitu membangunkan Maya dari lelap tidurnya dan dia bangkit duduk di atas ranjangnya. Dia masih dalam keadaan telanjang bulat karena kejadian malam tadi. Ternyata yangdating Sukri untuk mengecek keadaannya.

    Dia menatap isteri majikannya tersebut yangduduk dia tas ranjang dalam keadaan selimut yang menutupi bagian pinggangnya ke.Get yours now!bawah. Payudara indahnya terpampang indah di depan mata Sukri dan Maya tak berusahasedikitpun untuk menutupinya dari pandangan Sukri. ìSaya pikir mungkin harus melihatkeadaan anda. Sekarang sudah hamper tengah hari dan anda belum keluar dari dalamkamar sekalipun. Apa anda baik-baik saja?î Maya memberi tanda padanya agar mendekat ke ranjang. Begitu Sukri sudah beradadekat dengannya, Maya menyibakkan selimut yang menutupi sisa bagian bawahtubuhnya hingga sekarang tubuh molek itu terpampang seutuhnya tanpa selembarkainpun menutupinya. ìBuka seluruh pakaianmu dan naiklah ke sini bersamaku.î Takperlu disuruh dua kali, Sukri bergegas melucuti seluruh pakaiannya dan bergabungdengan nyonya majikannya ke atas ranjang. ìSepertinya anda sangat sibuk tadi malam.îìMemang malam yang sangat sibuk tapi aku masih punya cukup untuk kamu. Kemarilahdan biarkan aku merasakan lagi batang penismu yang besar itu di dalam vaginaku.î Sukri tak bisa menunggu untuk segera menyetubuhinya kembali. Seperti suami dan adikiparnya, dia ingin merasakan batang penisnya dalam remasan kehangatan dinding vaginaMaya yang rapat. Sama sekali tak ada keraguan pada keduanya, Sukri inginmenyetubuhinya dan Maya ingin segera disetubuhi olehnya juga. Sukri benar-benarmenikmati dan memanfaatkan setiap detik dari waktu yang dia punya saat ini untukmemberikan Maya hadiah klimaks yang berkesinambungan berulang kali sebelumakhirnya dia tumpahkan sperma tuanya ke dalam vagina muda Maya. Maya teringatkemarin malam saat dia ingin malam itu tidak sedang dalam periode mengkonsumsi obatpencegah kehamilan agar sperma Adi dapat memasuki rahimnya hingga membuatnyahamil, namun sekarang dia merasa bersyukur karena dia dalam periodenya atau kalautidak dia pasti akan sangat kesulitan mencari alasan kenapa dia melahirkan bayi yang takmirip sama sekali dengan wajah suaminya tapi malahan wajah Sukri. Mereka berdua hanya rebah di atas ranjang setelah menuntaskan babaak-babakpersetubuhan di awal hari itu hingga siang hari berlalu, lalu keduanya bangkit untukmandi dan membersihkan diri. Keduanya berjalan menuju ke kolam renang dan berenangbersama sampai tiba waktunya menjelang Krisna dan Adi pulang. Maya sadar dia bisamengatur untuk mendapatkan suami dan adik iparnya bersamaan tapi sangat tidakmungkin mereka setuju jika Sukri ikut bergabung bersama mereka juga. Sukri faham kaludia harus tetap menjaga rahasia ini atau mereka akan berada dalam masalah besar. Diasudah merasa puas bisa menikmati kemolekan tubuh Maya saat siang harinya dan jikamalam tiba adalah waktu untuk majikan serta adik iparnya. Malam itu Maya, Adi, dan suaminya melakukan threesome yang pertama kalinya dalamkehidupan mereka. Pada awalnya semuanya terasa canggung bagi mereka tapi Mayaberhasil mengendalikan suasana. Dia melucuti pakaiannya dan membuat kedua lelaki itumengikuti tindakannya. Maya membuat keduanya rebah di atas ranjang, masing-masingdi kedua sisinya. Saat dia merebahkan tubuh telanjangnya diantara dua kakak beradik itu, tangannya meraih masing-masing batang penisnya. Begitu tangan halusnya mulai.Get yours now!bergerak memanjakan batang penisnya, kedua lalaki itu mulai merasa rileks dan larut kedalam suasana yang berhasil dibangun Maya. Krisna yang pertama kali bereaksi, dia menggeser tubuhnya kea rah Maya tapi tanpamembuat batang penisnya terlepas dari genggaman tangan isterinya, diraihnya sebelahpayudara Maya. Didekatkannya putting ranum itu pada mulutnya untuk dihisap hinggamembuatnya mengeras dan semakin memerah warnanya. Krisna melirik kea rah Adi danberkata, ìDia punya daging kenyal ini dua buah. Apa tak seharusnya kamu beri perhatianpada yang satunya?î Adi tak butuh dorongan lagi, langsung saja dia bekerja pada payudara Maya yang satunyadan tak lama kemudian mulutnya bergerak ke bawah menelusuri perutnya menuju padavagina Maya. Dia harus menepiskan tangan abangnya terlebih dulu untuk memberikanruang bagi lidahnya.

    Begitulah malam pertama itu berlangsung. Kedua lelaki itu menyentuh Maya seperti yangbelum pernah dia rasa sebelumnya. Keduanya membawa Maya pada titik puncak di manatak pernah terbayangkan dalam benak Maya sebelumnya. Maya sangat menyukai apayang bisa diberikan oleh kedua lelaki itu tapi saat ini terasa benar-benar dua kali lebihnikmat. Klimaks diikuti klimaks yang berikutnya menyusul setiap kali salah satu darimereka menyetubuhinya tanpa memberinya waktu jeda. Ketika mereka pada akhirnyasampai di tepi daya tahan tubuh masing-masing, ketiganya jatuh terlelap dalam kepuasandengan tubuh molek Maya terhimpit di antara pelukan kedua lelaki itu. Keesokan harinya Maya bangun yang palin awal, dia hanya butuh waktu sekejap untukbisa memahami sedang berada di mana dia. Dipandanginya kedua lelaki yang terbaringdisampingnya, begitu mirip. Benaknya melayang dalam lamunan, kurang dari satuminggu sebelumnya dia merasa ada yang salah dalam mahligai pernikahannya. Suaminyasudah tak menginginkan bercinta dengannya lagi, tapi sekarang dia mendapatkan semuakenikmatan seksual yang dia butuhkan dari keduanya, suaminya dan adik iparnya. Plussemua kepuasan seksual yang didaptnya juga dari Sukri yang kedua lelaki yang sedangterlelap disampinya itu tak mengetahuinya. Dia membayangkan apa yang akan mungkinbisa terjadi nantinya. Beberap bulan berikutnya semuanya tak berubah. Adi akhirnya pindah ke dalam kamarmereka. Setiap malamnya mereka berdua menggali semua kenikmatan seksual dari birahiMaya ataupun salah satunya yang hanya menyaksikan. Dan setiap harinya juga diisidengan petualangan seksual yang lain bersama Sukri. Maya merasa bahagia dengansemua permainan seks dengan mereka tapi ada kalanya dia harus berkata tidak padamereka agar bisa mengistirahatkan tubuhnya untuk beberapa hari. Ketiganya sungguhsangat memuaskan birahinya tapi juga membuatnya kewalahan. Maya tak pernahmembayangkan kalau dia akan mendapatkan kenikmatan seksual yang berlimpah lebihdari yang diimpikannya tapi wakti demi wakti semua itu didapatkannya. Hukum alam tak bisa dihindar, apapu juga pasti akan ada akhirnya. Adi yang pertamakali berlalu, dia akhirnya lulus sekolah dan pergi untuk melanjutkan ke jenjang kuliah..Get yours now!Dia masih tetap kembali ke rumah abangnya sesekali dan menghabiskan waktu bersamamereka. Dia tetap diterima oleh abang dan kakak iparnya. Sukri mengikuti beberapa minggu berikutnya. Seorang temannya menawarinya sebuahpekerjaan yang menjanjika di luar kota. Sebuah pekerjaan yang tak mungkin ditolaknyameskipun pilihannya harus meninggalkan Maya. Minggu-minggu terakhir kebersamaankeduanya dijadikan momen perpisahan yang tak terlupakan bagi keduanya, Maya tahukalau dia pasti akan merindukan lelaki paruh baya itu nantinya. Krisna akhirnya berpisah dengan Susan. Seks dengan Maya dan adiknya melebihi apayang didaptnya dari Susan. Setelah kepergian Adi, dia dan Maya masih melakukanhubungan seksual hamper tiap malamnya. Memang tetap terasa nikmat dan indah tapimasih tak bisa menyamai kenikmatan ketika kedua lelaki itu ada dan salingmemberikannya kepuasan. Krisna tak lama kemudian sudah menemukan wanita lainnyalagi. Perhatian Krisna mulai berkurang terhadapnya dan Maya tahu kalau suaminyamenemukan vagina muda yang baru untuk dia nikmatiÖ Kini Maya kembali padakeadaan sebelum Adi dan Sukri masuk ke dalam kehidupan seksnya. Dia dan Krisna mencoba beberpa kali untuk mencari pengganti Sukri tapi keberuntunganmasih belum berpihak pada mereka. Maya sedang bermalas-malasan menikmati waktunya berbaring di tepi kolam danmenikmati sentuhan sinar mentari dengan keadaan telanjang bulat sore itu. Sejak hanyadia seorang yang ada di rumah itu, kegiatan berjemur telanjangnya menjadi kegiatan yangrutin. Dia mendengar ada seseorang berteriak memanggil namanya, dia bangkit danmeraih handuk disampingnya untuk kemudian dililitkan pada tubuh moleknya. Diamelihat di depan gerbang ada seorang muda dengan kulit coklat tua dan tubuh tegapsedang berdiri memandanginya. ìAda perlu apa?îìNama saya Jaya dan paman Sukri yang menyuruh saya untuk datang ke sini menemuianda. Beliau bilang kalau anda sedang membutuhkan tenaga setelah kepergiannya.î Tanpa bertanya dia membuka pintu gerbang itu dan berjalan mendekati tempat Mayasedang duduk dengan hanya sebuah handuk saja yang menutupi tubuhnya.

    Apa yangterpampang di hadapan mMaya adalah sesosok lelaki berkulit galap berusia 20an dengantubuh tegap berotot dan sebuah tonjolan besar pada selangkangannya. ìKamu punya keahlian apa?îìTidak begitu banyak untuk urusan kebun ataupun rumah tapi bisa sangat diandalkanuntuk hal yang dibilang paman Sukri bahwa anda pasti lebih membutuhkan.î Diamelpaskan kaosnya melewati kepala dan disusul celanya juga. Mata maya segera terfokuske arah selangkangan anak muda dihadapannya ini, untuk memandangi dengan terpanapada sebuah batang penis yang bahkan lebih besar dari kepunyaan pamannya. Dan batangitu sudah berdiri tegak keras menunjuk ke arahnya..Get yours now!Maya menatap wajah Jaya lagi yang sedang mengamati lekuk tubuhnya tanpa berusahamenutup-nutupi saat dia sedang menatap takjub pada benda diantara pahanya. Mayamerenggut lepas handuk yang melilit tubuhnya. ìKelihatannya kamu punya peralatanyang tepat, kita lihat apa kamu tahu bagaimana cara menggunakannya dengan benar.î May membentangkan kedua pahanya dan tangannya terjulur ke depan untuk menariktubuh lelaki muda di hadapannya itu ke arahnya. Dia membimbingnya kea rah pintumasuk vaginanya, dan saat Jaya mulai memasukinya Maya berkata. ìPerlahan saja danjangan tergesa.

    Aku belum pernah merasakan yang sebesar ini.î Hari itu juga Jaya resmi bekerja di rumah itu dan malam harinya dia mulai memindahkanbarang-barangya untuk menempati bekas tempat Sukri. Dia sudah sibuk denganpekerjaan kebunnya saat Krisna berangkat bekerja. Sepanjang hari itu dia bekerja tanpalelah. Dia hanya berhenti untuk mengurus Maya sebelum Krisna pulang kembali. Krisna memutuskan kalau pemuda ini layak untuk bekerja menggantikan Sukri danmenetap di tempatnya. Tapi yang Krisna tak tahu adalah kenyataan bahwa pekerjaannyayang paling ternilai bagus bukanlah di kebun, mengurus kuda atupun lainnya melainkandisaat setelah Krisna pergi berangkat kerja setiap paginya. Pekerjaan kebun dan lainlainnyahanyalah menjadi semacam biaya yang mesti dikeluarkan Jaya untuk seorangwanita bertubuh molek dan vagina tercantik yang pernah ditemuinya. Tapi itumembuatnya menjadi seorang lelaki muda yang paling beruntung..Get yours now!

  • NIKMATNYA THREESOME

    NIKMATNYA THREESOME


    339 views

    NIKMATNYA THREESOME

    Sebelumnya perkenalkan diriku bernama Athi, karena aku keturunan Betawi aku suka dipanggil dengan nama Neng Athi. Aku saat ini ingin bercerita akan pengalamanku yang kejadiannya sudah sangat lama tapi hingga saat ini masih sering teringat dalam pikiran ku, mungkin sudah sekitar 4 tahun yang lalu aku mengalaminya. Kejadian ini terjadi sekitar bulan maret 4 tahun lalu, saat itu setelah lama tidak bertemu ada seorang teman lama menelponku sambil menangis.

    “hiks,, hiks,, Neng tolong Wiwi,,”, terdengar suara isak tangisnya di telponku.

    Mendengar temanku menanggis aku jadi bingung dan menanyakan kenapa dia menangis dan minta tolong apa, “Iya wi,, ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba menangis seperti ini”, jawabku.

    “hiks,, hiks,, Neng apa aku bisa minta tolong untuk pinjam uang, aku butuh uang saat ini neng pleasee,, hiks,, hiks,,??, tangis wiwi kepadaku.

    “Pinjam uang?? buat apa si wi,,” tanyaku kembali ke Wiwi.

    “Aku perlu untuk membayar sesuatu Neng, tolong Wiii,, hiks,, hiks”, dia menjawab menjelaskan detailnya kepadaku untuk keperluan apa hingga dia menangis seperti itu.

    Namun akupun tidak terlalu ingin lebih tau lebih jauh karena sepertinya Wiwi enggan menceritakan permasalahanya kepadaku saat ini.

    “Memang kamu perlunya berapa wi”, tanyaku kembali.

    “2 juta,,” Wiwi menjawab.

    “Woooww”, pekik ku dalam hatii,

    “Maaf wi, aku juga lagi ngak punya duit wi kalau sebanyak itu”, mendengar jawabanku itu meledaklah tangisan Wiwi sambil berkata,

    “toolong neng cariin, Wiwi perlu banget”, tangisnya kepadaku dengan nada memelas.

    “haah,,” aku sedikit menghela napas

    “Ok wi,, kasih waktu 2 hari yaa, aku coba hubungin teman mungkin nanti dari sana aku dapat pinjaman untuk kamu,” aku menjawab sekenanya untuk membuat wiwi berhenti menangis dan itulah penutup pembicaraan kami.

    Setelah 2 hari wiwi kembali menelepon ku lg, “gimana neng sudah ada kabar ga?? perlu banget neng,”.

    “haah gilaa,,,” gumamku, aku pikir setelah 2 hari wiwi ngak inget lagi atau dia sudah mendapat pinjaman yang lain ternyata dia inget banget.

    Aku juga bingung sebenarnya karena aku memang sudah coba tanya teman tapi semua memberi jawaban yang sama, “ga adaa yg lg pegang uang,”

    “Waduh wi sorry banget ya,, neng coba pinjam tapi ga adaa yg pegang duit wi”, aku coba memberi alasan kepada wiwi dan meledaklah tangisnya

    “Waduh pusing juga neh,” aku jadi stress sendiri kalo gini bhatinku.

    Akhirnya untuk coba mencairkan suasana aku menyeletuk sambil bercanda, “Wii,, kalau uang halal ngak adaa kalau uang haram mau ga, hahaha,, ” bercanda ku kepada wiwi agar dia berhenti menangis.

    Tapi aku salah menduga ternyat dengan antusias dan putus asa wiwi menjawab “Wiwi ngak peduli mau uang halal atau haram ngak jadi masalah tolong cariin neng karena dead line Nya 3 hari lg”

    “Waduuh” gumamku bikin tambah pusing nih mulut kadang keceplosan.

    “Oke tar Neng kabarin”, janjiku kepada wiwi

    Dengan nada girang wiwi menjawab, “wiwi tunggu ya neng and thanks ya sebelumnya”.

    Akhirnya selesai ditelpon oleh wiwi aku coba mengingat ingat siapa orang yang bisa aku hubungi. Tidak lama aku teringat sama seorang pria sebut saja om bal, aku kenal dia waktu lagi ada pameran produk dari perusahaan tempat aku kerja, om bal ini bekerja di sebuah BUMN dan kebetulan saat itu perusaahanku mengikuti pameran produk yang diselanggarakan oleh instansi tempat dia berkerja. Om bal ini sangat sering menelepon ku sejak perkenalan di pameran itu dan sering mengajak aku jalan tapi semua aku tolak dengan halus, entah kenapa sekarang cuma dia yang ada di pikiran ku.

    Aku akhirnya coba memberanikan diri mengirimnya sms hanya untuk berbasa-basi. Karena siapa dia lagi berada dijakarta,

    “hai apa kabar om bal”, itulah isi dari sms yang aku kirimkan.

    Cukup lama juga akhirnya dia membalas sms yang sudah aku kirimkan “hai neng pa kabar dah lama neh ga pernah angkat telepon aku eh sekarang sms waduh kaya mimpi”

    Waduh mampus pikirku, ketahuan nih aku modus Nya. Tapi sudahlah terlanjur basah akhirnya aku coba beranikan diri untuk membalas kembali,”baik om bal,om aku ada perlu neh, bisa bantu aku ngak”.

    Tidak lama setelah aku kirim SMS yang kedua hapeku berdering dan akun liat itu dari Om bal.

    “Halo,,” jawabku dengan sedikit gugup karena modusku sepertinya telah dia ketahui.

    “Ya halo neng sayang, apa yang bisa om bantu,”balasnya menjawab ku ditelpon.

    Akhirnya aku pun coba menceritakan soal Wiwi temanku dan permasalahan yang sedang dia hadapi.

    Setelah aku ceritakan panjang lebar om bal menyahut, “Ok neng aku bantu,, tapi ada syaratnya”

    Waah seperti yang aku duga sebelumnya om satu ini pasti mau bantu dengan syarat bathinku, “apa om syaratnya??” tanyaku ke om bal dengan pura-pura bodoh, padahal aku sudah tau pasti tidak jauh dari masalah selangkangan.

    “Syaratnya aku akan bantu asal temennya mau nemanin aku di hotel,” mendengar itu aku tersenyum sendiri karena dugaanku tepat. “Kebetulan aku ada waktu besok cuma 3 jam sebelum berangkat ke Singapore, hotel kamu yang boking ya neng ntar aku transfer duit nyaa tapi sms no rek kamu ya,” sambungnya lagi.

    “oke bos” jawabku girang karena berhasil mendapatkan bantuan untuk wiwi dan langsung aku sms no rekening ku ke dia.

    Setelah aku sms om bal aku segera telpon wiwi dan kasih kabar ini kepadanya.

    “Halo,, wi,, aku sudah mendapatkan orang yang mau membantumu, tapi kamu harus layanin dia diHotel besok pagi’, segera aku sampaikan apa tadi syarat yang diberikan om bal kepadaku.

    Hanya basa basi karena wiwi pasti tidak akan menolak tawaran om bal ini, dan benar wiwi tertawa dengan girang dia bilang terima kasih kepadaku, “mau neng, mau,, wiwi bakal terima syaratnya,, makasih ya neng”, akhirnya kami pun janjian jam 10 pagi ketemu di lobi sebuah hotel untuk bertemu dengan om bal.

    Pagi harinya aku segera ke ATM untuk mengambil uang transferan si om buat boking hotel seperti yang dia janjikan, aku melihat jam yang ada di hape ku

    “hmm sudah jam 10 kurang”, gumamku. Aku kemudian melonggok kedalam lobby hotel dan kulihat si wiwi sudah adaa di lobi hotel.

    “Neng,,”, panggilnya kepadaku sambil tersenyum. Wiwi menghampiriku, sambil menjitak kepalaku dia berkata “makasih ya neng”.

    Aku pun segera keresepsionis dan melalukan cek in kamar atas namaku, selesai cek in dan mendapatkan nomor kamar aku segera SMS om bal nomor kamar yang sudah aku bookingkan untuk mereka berdua. Sembari menunggu kedatangan om bal aku bersama wiwi mulai berjalan menuju kamar dan memesan minum serta cemilan dan sambil sambil menunggu kedatangan om bal.

    Setelah 30 menit waktu berselang pintu kamar hotel ada yang mengetuk “took,, tok,, tok,,”

    “Ya sebentar,” jawabku sambil menuju ke arah pintu kamar untuk membukanya. Setelah kubuka ternyata benar yang datang adalah Om bal.

    Segera om bal pergi masuk kedalam kamar, sambil masuk kedalam kamar dia memeluk dan mencium pipiku dan dengan nada bercanda aku berkata “aduh om yang seharusNya di sosot tuh teman aku si wiwi bukan neng,aduh salah neh,,”

    Mendengar candaan ku dengan genitnya om bal mencubit pipi ku dan tertawa, Aku pun segera mengenalkan Wiwi kepadanya.

    “Wi ini kenalin om bal yang tadi aku ceritakan ke kamu, ayo sini jangan malu-malu gitu”, tanganku menarik tangan wiwi untuk bersalaman dengan om bal.

    “Bagaimana om bal, kok malah bengong gitu,” tanya ku kepada om bal yang terdiam ketika melihat perawakan tubuh wiwi yang walaupun bertubuh lebih kecil dariku hanya 160 cm tapi dengan besaran Cup payudaranya yang berukuran 38 B itu pria mana yang tidak akan kehilangan kata-kata melihatnya.

    “Hayoo,, malah bengong,, tutup tuh mulutnya ntar ada laler yang masuk hihihi,” candaku kepada om bal yang terlihat bernafsu melihat wiwi.

    “Eh iya.. ya,,” jawab om bal gugup.

    Setelah kenalan dan berbasabasi sebentar om bal duduk di samping wiwi sambil tangannya kulihat sedang bergerilya dada wiwi, aku hanya tersenyum saja melihatnya, sepertinya om bal lupa kalau aku masih ada didalam kamar itu.

    Kamar yang aku pesan tadi memang kebetulan kamar doubel bed, jadi saat om bal dengan penuh nafsu meremas remas dada wiwi di bed satu lagi aku masih duduk dihadapan mereka yang berada, setelah suasana semakin memanas aku permisi mau nunggu di lobi.

    “Om,, wii,, aku ga enak nih takut ganggu,,” aku ke lobi dulu ya.

    “Jangan neng,, temenin aku disini,, aku masih takut,,” cegah wiwi yang tidak mau di tinggal olehku.

    Mendengar permintaan wiwi itu aku malah jadi bingung dan melihat ke Om bal.

    “Udah neng kalo wiwi maunya seperti kamu disini aja ya buat nemenin dia,” pinta om bal kepadaku sepertiny si om juga tidak keberatan dengan permintaan wiwi itu.

    “haah,, wiwi kamu ini aneh,, aneh saja,,” aku menghela napas panjang, dan akhirnya aku duduk diam dikamar dan mengambil remote Tv dan menghidupkannya.

    Sambil menonon TV, aku sempat melirik kearah wiwi dan om bal. Kulihat wiwi yang lagi asik mengoral kontolnya si om. “wih gede juga panjang agak bengkok lagi,” aku membathin dan berdecak melihatnya.

    Aku mencoba memalingkan pandangan ku kelayar TV kembali tapi kembali konsentrasi ku hilang ketika aku mendengar desahan si om yang ke enakan.

    “Aaahh,, uuhh,, terus wi enak banget mulut kamu”, desahnya

    “Uhh,,, iya wi trus,, aah,,” desahan itu terus berlanjut membuat ku kembali melirik kearah mereka.

    Namun kali ini lirikan ku kali ini ketahuan om bal dan dia mulai menggodaku, “kenapa neng,, kok lirik-lirik mau juga ya??”

    “Idiih,, enak aja,,” aku membalas godaanya dan dengan bercanda aku berkata “aku Cuma mau bilang om ko di oral tapi masih pada pakai baju sih,ga enak dong”

    Om bal tertawa mendengar candaan ku dan sambil menarik tangan ku di bilang “neng yg bukain baju aku dong”

    “Wah om kalau pakai asisten bayarannya beda nih” candaku. Tapi tetap aku melepaskan baju, celana sampai sempaknya dan kugantung dilemari.

    Wiwi yang melihatku melepas pakaian om bal ikut-ikutan memintaku hal yang sama “neng wiwi juga dong neng sekalian, kan neng asisten wiwi”

    “Sialan,ya udah lah aku gantung juga baju,celana dan under wear Nya kamu wi,, sini,,” sambil bercanda ku tepak pantat si wiwi ketika melepas underwearnya.

    “Wii,, kalau main yang hot dong,, masak kalah sama anak SMP ” ledekku ke wiwi.

    Kontan si wiwi cemberut dan si om ketawa terbahak-bahak, “iya niih malu kali adaa kamu neng”

    “Wah kalau malu malah aku tinggal ke lobi loh wi, bikin malu aja, rekomendasi aku tuh kamu main nyaa hot” sambilku colek kontol si om yang lagi di oral oleh wiwi, jujur saat itu akupun merasa penasaran dengan kontol Om bal.

    Merasa di ledek si wiwi menjawab “Okay,, Wiwi mainnya yang hot,, biar ntr neng juga horny liat nya”

    “hahaha,, coba aja kalau bisa,” ejekku sambil bercanda ke wiwi.

    Tidak lama dari ledek-ledekan dan candaan tadi, benar saja setelah itu wiwi dan om bal berciuman dan saling main lidah.

    “glekkk,,” melihat adegan itu aku tanpa sadar menelan ludah.

    Setelah puas berciuman aku melihat om bal menjilati lehet wiwi, dia mencium dan dan menjilati leher wiwi hingga kepundaknya. “Uhhh,,, ooh,,” aku mendengar suara wiwi mendesah nikmat saat om bal melakukan itu.

    Dari leher dan pundak ciuman om bal mulai perlahan tapi pasti mendarat di dada wiwi yang super besar. Dadanya yang berukuran 38 B itu seakan menantang untuk dijamah dengan pentil yang sudah tegak menantang

    Dengan rakus om bal menyedot dan memainkan lidah didada wiwi, “Uhh, Enakk omm,, Ehmm,,” wiwi terus mendesah.

    Om bal terus memainkan lidahnya di dada wiwi dipentilnya , aku melihat om bal menghisap dan bahkan menggigit pentil wiwi, “Argghh,,, enak omm,, trus om,,” wiwi terus meracau keenakan.

    “Uuuh,, terus om,, remas oom,,” seakan sudah lupa keberadaan ku disana wiwi terus mengerang keenakan.

    Aku melihat tangan om bal mulai mengelus-elus memeknya wiwi yang berbulu lebat. “Aahhh,, enak oomm,,”desar wiwi saat jari-jari om bal mulai memainkan memeknya.

    Wiwi trus mengelinjang dan mendesah, “Ahhh,,, nikmat om,, enak banget,, trus oomm,,”

    Mendengar desahan wiwi dengan semangat 45 om bal terus menghisap pentil si wiwi dan tangannya semakin cepat mengocok memek wiwi sampai terdengar bunyi keciprak..

    “Clapp,, clapp,,”, memek wiwi bunyi berkeciprak karena rangsangan luar biasa hingga menjadi sangat basah.

    Tanpa sadar aku mulai meremas dan memegang memekku sendiri, “Ehmm,,” aku mendesis karena merasa horny.

    Setelah 10 menit om bal melakukan foreplay dan rangsangan di dada dan memek wiwi, 2 titik wilayah kenikmatan seoarang wanita. Wiwi akhirnya mulau mengejang bibirnya mulai meracau tidak jelas “Oouugh.. om,, Enak,, Omm,, trus,, Arrrgghh,, Om trus,, wiwi mau keluar Aauchhhhhhhhhhhh,,” diiringin dengan teriakan panjang aku melihat badan wiwi mulai mengejang sambil menjambak rambut om bal.

    “Hmmphh,,” tenggorokanku menjadi kering melihat wiwi yang orgasme. Aku hanya bisa melirik dan menahan nafas.

    “Gila live show Nya panas, wiwi yang puas aku yang panas dingin”, aku membathin kesal.

    Aku kembali melirik mereka berdua dan aku lihat om bal kembali beraksi, dia menarik menarik badan wiwi keatas badannya dan membenam kan muka wiwi k selangkanganya mereke melakukan posisi 69.

    Wiwi yang sudan mulai bernafsu mengerti apa yang diinginkan om bal, dengan nafsunya yang sedang naik sampai puncaknya aku meliha wiwi langsung dengan nafsunya mengoral kontol om bal, dia menjilati kontolnya dari ujung lobang kencingnya sampai ke buah zakarnya om bal.

    “Ouuhhhhh….”, aku mendengar om bal mendesah rupanya wiwi sudah melancarkan serangannya disekitar selangkangannya, menjilati dan bahkan menghisap daerah sensitif om ba..

    “akhhhh….ouffffhhhhh….” om bal terus mendesah keenakan saat kontolnya dihisap bak seekor anjing yang baru menemukan tulang diantara sampah oleh wiwi… “ternyata wiwi bisa ganas kek ini juga,” aku membathin.

    “Uhhhh,,, Ehmmm,,” semakin lama memekku semakin berdenyut dan basah melihat om bal dan wiwi.

    “Ouhh,, Enak wi terus,, terus”, aku semakin horny mendengar desahan om bal, aku lihat wiwi terus mengemut kontol om bal, sedotan dan kocokan mulut wiwi membuat si om menarik nafas ke enakan.

    Tidak mau kalah Om bal pun menjilati dan menciumin Memek wiwi “Hmmm,, memek mu harum juga wi” puji om bal ke wiwi.

    Aku melihat wiwi tersenyum dipuji seperti itu oleh om bal, “Iyaa omm, jilatin memek wiwi om,,”

    Aku menjadi penasaran dengan pujian om bal dan ku lirik memeknya wiwi, ternyata walau berbulu lebat , bulu memek wiwi tertata indah dan rapi. Aku lihat om bal penuh gairah yang semakin menjadi menusuk-nusuk lidahnya kememek wiwi, menciumnya, menjilatinya, dan bahkan mengisapi cairan-cairan yang mulai menumpah membasahi memek wiwi tersebut.

    “Uhhmm,, Ahh,,” wiwi mendesah menikmati perlakukan om bal kedirinya.

    Aku melihat wiwi juga kembali melancarkan serangan ke om bal seakan tidak mau kalah. Selain mengocok kontol om bal, wiwi juga terlihat terlihat tidak jijik menjilati anus om bal.

    “hmm,, aah,,” aku semakin tidak bisa mengontrol diriku, ternyata wiwi bisa juga seliar ini pikirku, dan dia berhasil membuatku semakin merasa horny.

    Wiwi dengan semakin gencar melakukan kocokan batang kontolnya om bal hingga membuat si om bergetar badannya.

    Aku lihat kontol om bal menjadi sangat tegang, mengkilat karena basah oleh air ludah wiwi yang baru saja mengulumnya. Aku melihat wiwi berinisiatif naik ke atas badan om bal dan mulai memasukkan kontol om bal kedalam memeknya.

    ‘Uhhmm,,,” Wiwi mendesah begitu kontol om bal mencoba memasuki rongga memeknya.

    “Ahhhffff…ouhhh…” desah wiwi, kemudian kembali ia menarik tubuh om bal kearah tubuhnya serta mengarahkan kontolnya ke “gawang” kenikmatannya.

    “Blessshhhh….” kontol om bal sudah berada di memek wiwi, aku melihat wiwi pun meremas dadanya dan menggonyangkan pantatnya. Om bal mencoba mengimbangi wiwi dengan membantu gerakan maju mundur.

    “Ahh,,,” desah wiwi sambil mulai menggoyang pantat dan pinggulnya, naik dan turun,kadang kedepan dan kebelakang,

    “Claapp,, clapp,,” suara kelamin yg ketemu bersuara, tercium sensasi aroma khas wanita dah Wiwi mendesah dan nafas mereka sama2 terdengar ngos2an.

    “Sleeppsss…slupppss…ahhhhh” desah wiwi saat om bal menginstruksikan padanya untuk mempercepat gerakan.

    “Ohhhh… ahhhh..yaaa” desah wiwi.

    “Ayo dong wiii dipercepat lagi gerakannya…ohhh… dah mau keluar nih” pinta om bal.

    “Iya om wiwi juga mau keluar nich..oh..ouw”, racau wiwi menahan nikmat.

    “Tahan wi aku juga mau keluar, bareng-bareng” teriak om bal

    Mereka berpelukan sambil terus menggoyang pinggul dan pantatnya dengan tempo semakin lama semakin ceatt

    “Aahhhrggg,,,,,,, Wiiiiiiiii,,,, Ooomm,,,,,, Aaaaaahh” Keduanya mengerang bersamaan sambil berpelukan dan sedikit demi sedikit erangan itu mulai mereda.

    “Uhh,,” aku terus mengelus memekku sendiri melihat mereka mencapai. Tapi aku tidak peduli, aku ingin ikut bergabung tapi aku masih gengsi keinginan akan seks dan harga diriku saling berkecamuk dalam bathinku.

    Setelah mereka sedikit segar setelah klimaks yang dasyat yang baru saja mereka dapatkan wiwi bangkit dan berjalan kekamar mandi sambil tertawa dan berkata “betah banget neng cuma ngeliat doang, mau gabung ngak si om kontolnya gede banget, enak neng”

    “Uhhh,,” aku yang masih mengelus-elus memekku dan meremas dadaku sendiri. Jadi kehilangan akal karena ditantang seperti itu oleh wiwi.

    “Ok ronde ke 2 neng gabung tapi om bayarannya nambah dong masa beli 1 gratis 1. kaya d mini market”, candaku ke pada om bal, tentu itu hanya taktikku. Aku tidak mau dibilang cewe murahan dan soal harga diri aku tidak mau mengaku kalah dari wiwi dan mengakui bahwa aku tengah sangat horny.

    “Hahaha,,” Om bal ketawa mendengar permintaanku

    “Ok ntar di tambahin buat extra, om emang sudah lama juga neh ngerayu si neng tapi ngak pernah mau eh sekarang malah nantangin”, om bal berkata dengan wajah sangat senang, memang sudah sangat lama dia mengiginkan tubuhku dan aku tahu itu.

    Tidak lama setelah om bal dan wiwi selesai membersihkan diri dikamar mandi, tanganku di tarik oleh om bal dan si om mulai mencium bibir ku dengan penuh nafsu.

    “Mmmhh,,” aku mendesah nikmat.

    Sambil tangannya meraba-raba dan memencet puting putingku, wiwi pun tidak mau kalah dia mulai ikut menciumi dadaku. Dia meremas-remas dadaku.

    “Ahh,, uuhh,,” aku terus mendesah keenakan diperlakukan seperti itu oleh mereka berdua.

    “Uuuh,,Anjrit dobel fight neh” bathinku keenakan, setelah selesai berciuman om bal menyuruhku tidur di ranjang.

    Sepertinya dia sudah tidak tahan ingin mencoba bermain denganku setelah selama ini aku terus menolaknya.

    Aku tersenyum dan sambil terus diciumin oleh om bal serta wiwi aku berbisik ke wiwi “wi,, gimana kalau kita bikin si om ga bisa nginjak pedal gas mobil yu”

    Dengan ketawa si wiwi menjawab “ok bos,siap,,”

    Wiwi dengan ganasnya kemudian naik ke atas mulut om bal dengan sigap si om menyeruput memek wiwi sampai wiwi mendesis seperti orang kepedasn “ssttt,,, oo,, enak om”

    Melihat wiwi bersikap agresif seperti itu aku jadi ikut mengganas. Aku melihat kontol om bal sedang mengganggur aku langsung saja menjilati kontolnya dari ujung hingga ke pangkalnya dengan lidah sambil berputar membuat si om mengelinjing keenakan.

    “Mmmmh,, Uff,, ennaaak,, Neng,” om bal mengerang nikmat.

    Wiwi melihatku seperti itu akhirnya ikut-ikutan menaik turunkan selangkangannya dan mendesah nikmat, “Uhh,,, enak om,, terus omm”

    Ternyata om bal yang menerima service atas dan bawah membuat si om kewalahan juga, dia tidak tahan lagi dan dia menarik wiwi agar duduk d atas penis Nya yang menegang dan kembali di goyang oleh wiwi.

    “Uhh,, ayo wii,, goyang terus,,,” sambil om bal meremas-remas dada wiwi.

    Wiwi memang sangat mahir bergoyang dan menaik turun kan memeknya membuat si om mendesah, “aah,, enak,, wii,, terus goyang sayang”

    Aku pun tidak mau kalah dan segera kucium bibir om bal, menerima ciuman ku tangan om bal memegang dan meremas dadaku sedangkan tangan satunya lagi mengobok-obok liang vaginaku, “uhh nikmat sekali, om,, terus om”.

    Tanganku yang bebas kugunakan untuk memegang dan mengocok clistoris wiwi yang sedang bergoyang dengan hotnya. “Aahh,, neng apa yang kamu lakukan,,, Ahhh enak neng terus,,“

    Aku semakin cepat menggosok klitorisnya mendapat perlakuan seperti itu pertahanan wiwi akhrinya jebol juga wiwi ambruk di dada si om setelah berkata “Oouh.. wiwi mau ke luar lagi om enak,,,”.

    Nafasnya wiwi ngos-ngosan dia mengalami klimaksnya, Om bal yang masih belum mendapatkan orgasme bangkit dan menarik tanganku ke ranjang yg satunya lagi, meninggal kan wiwi yang masih tergeletak lemas,

    Dia menaiki badanku dan dengan sekali sentak kontolnya amblas ditelan memekku “Uuhh Uuuh,, Anjrit,, ayo om entotin neng om”, aku mendesah dan mengeluarkan kata kotor benar kata wiwi kontol om bal besar, panjang dan agak bengkok, ini membuat sensasi sendiri saat dia menggesek2an maju mundur, “Uuh,, nikmat,,” ini seakan membawa ku kelangit ke 7.

    “Oouhgg nikmat om,, terus entotin neng”, aku mulai terbawa nafsu, terus mengenjotkan pinggung dan bokongku.

    “Ahhkk…ahhkkk…ouhhh..” Erangku sambil melumat bibir om bal secara ganas.

    Goyangan demi goyangan membuatku semakin tidak tertahankan untuk mengeluarkan larva hangatku.

    “Akkkkhhhhh…..ougghhhhh…” desah panjangku mulai keluar

    “Eehmmm….ahhhhh..ouuu shitt,, ” Nikmat tiada tara kurasakan.

    “Ssst…ahhhhhhhhh”, om bal pun mengerang panjang dibarengi keluarnya sperma yang memuncrat dimemekku.

    “Ahhhhhh.. ouuuuu…. AAAah.” Hanya itu kata-kata yang dia ucapkan

    “Gila wi si eneng punya empot ayam, baru sebentar aja om dah ga kuat lawan dia, wah benar-benar ngak bisa nginjak pedal gas mobil neh,lemes banget”, om bal memujiku.

    Kami berdua pun ketawa karena om bal sampai sempoyongan jalan ke kamar mandi, Setelah kami bersih-bersih si om pun sudah kembali memakai baju dan celana Nya, dia mengeluarkan dompet dan berkata ambil semuanya neng, dan terima kasih ya sambil mencium pipi ku dan memeluk erat serta mencium pipi wiwi, dia pergi karna mau kembali ke kantornya dan besiap-siap ke singapore untuk meting

    Uang yang aku terima dari om bal aku kasih semua ke wiwi, dengan bingung dia berkata “neng aku cuma perlu 2 juta ini ada 5 juta, berarti 3 jutanya punya kamu”

    Dengan tersenyum aku bilang kepadanya “ga usah wi buat kamu aja semua,kamu kan perlu”

    “Gila kamu neng,, kamu kan juga abis di pake si om masa ga terima duit Nya” aku ketawa mendengar wiwi bilang seperti itu.

    “hahaha, wi,, neng tadi ikut-ikutan ML ama dia bukan buat d bayar tapi fun-fun aja,, neng tadi beneran pengen karena liat kalian berdua, ngak apa-apa duit itu buat kamu, Neng tau masalah kamu wi, sepupu kamu dah cerita ama neng kalau wiwi di kejar-kejar depcolector buat bayar kartu kredit yang di pake laki wi kan, ya sekarang wi tutup semua utang wi ke bank deh, ga enak punya utang sama yg begituan bikin pusing”

    Wiwi nangis dan memeluk ku sambil berkata “makasih neng,biar ini jadi rahasia kita ber dua ya” dengan mengerdipkan mata aku jawab “ok bos,siap” kami pun tertawa sambil keluar dari kamar itu.

  • Di hajar 4 cewek Haus Seks

    Di hajar 4 cewek Haus Seks


    353 views

    BONUS VIDEO BOKEP DAN FOTO BUGIL


    Cerita Sex Dewasa | Di hajar 4 cewek Haus Seks

    Cerita ini berawal dari perkenalanku dengan seorang wanita karir, yang entah bagaimana ceritanya wanita karir tersebut mengetahui nomor kantorku.

     160095_16Cerita Sex Dewasa | Di hajar 4 cewek Haus Seks – Siang itu disaat aku hendak makan siang tiba-tiba telepon lineku berbunyi dan ternyata operator memberitau saya kalau ada telepon dari seorag wanita yang engak mau menyebutkan namanya dan setelah kau angkat.

    “Hallo, selamat siang joko,” suara wanita yang sangat manja terdengar.
    “Helo juga, siapa ya ini?” tanyaku serius.
    “Namaku Karina,” kata wanita tersebut mengenalkan diri.
    “Maaf, Mbak Karina tahu nomor telepon kantor saya dari mana?” tanyaku menyelidiki.
    “Oya, aku temannya Yanti dan dari dia aku dapat nomor kamu,” jelasnya.
    “Ooo… Yanti,” kataku datar.

    Aku mengingat kisahku, sebelumnya yang berjudul empat lawan satu. Yanti adalah seorang wanita karir yang juga ‘mewarnai’ kehidupan sex aku.

    160095_08“Gimana kabarnya Yanti dan dimana sekarang dia tinggal?” tanyaku.
    “Baik, sekarang dia tinggal di Surabaya, dia titip salam kangen sama kamu,” jelas Karina.

    Sekitar 10 menit, kami berdua mengobrol layaknya orang sudah kenal lama. Suara Karina yang lembut dan manja, membuat aku menerka-nerka bagaimana bentuk fisiknya dari wanita tersebut. Saat aku membayangkan bentuk fisiknya, Karina membuyarkan lamunanku.

    “Hallo… Joko, kamu masih disitu?” tanya Karina.
    “Iya… Iya Mbak…” kataku gugup.
    “Hayo mikirin siapa, lagi mikirin Yanti yaaa?” tanyanya menggodaku.
    “Nggak kok, malahan mikirin Mbak Karina tuh,” celetukku.
    “Masa sih… Aku jadi GR deh” dengan nada yang sangat menggoda.
    “Joko, boleh nggak aku bertemu dengan kamu?” tanya Karina.
    “Boleh aja Mbak… Bahkan aku senang bisa bertemu dengan kamu,” jawabanku semangat
    “Oke deh, kita ketemuan dimana nih?” tanyanya semangat.
    “Terserah Mbak deh, Joko sih ngikut aja?” jawabku pasrah.
    “Oke deh, nanti sore aku tunggu kamu di Mc. Donald plasa senayan,” katanya.
    “Oke, sampai nanti joko… Aku tunggu kamu jam 18.30,” sambil berkata demikian, aku pun langsung menutup teleponku.

    Aku segera meluncur ke kantin untuk makan siang yang sempat tertunda itu. Sambil membayangkan kembali gimana wajah wanita yang barusan saja menelpon aku. Setelah aku selesai makan aku pun langsung segera balik ke kantor untuk melakukan aktivitas selanjutnya.

    Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.00, tiba saatnya aku pulang kantor dan aku segera meluncur ke plasa senayan. Sebelumnya prepare dikantor, aku mandi dan membersihkan diri setelah seharian aku bekerja. Untuk perlengkapan mandi, aku sengaja membelinya dikantin karena aku nggak mau ketemu wanita dengan tanpak kotor dan bau badan, kan aku menjadi nggak pede dengan hal seperti itu.

    160095_06Tiba di Plasa Senayan, aku segera memarkirkan mobil kijangku dilantai dasar. Jam menunjukkan pukul 18.15. Aku segera menuju ke MC. Donald seperti yang dikatakan Karina. Aku segera mengambil tempat duduk disisi pagar jalan, sehingga aku bisa melihat orang lalu lalang diarea pertokaan tersebut.

    Saat mataku melihat situasi sekelilingku, bola mataku berhenti pada seorang wanita setengan baya yang duduk sendirian. Menurut perkiraanku, wanita ini berumur sekitar 32 tahun. Wajahnya yang lumayan putih dan juga cantik, membuat aku tertegun, nataku yang nakal, berusaha menjelajahi pemadangan yang indah dipandang yang sangat menggiurkan apa lagi abgian depan yang sangat menonjol itu. Kakinya yang jenjang, ditambah dengan belahan pahanya yang putih dan juga montok dibalik rok mininya, membuat aku semakin gemas. Dalam hatiku, wah betapa bahagianya diriku bila yang aku lihat itu adalah orang yang menghubungiku tadi siang dan aku lebih bahagia lagi bila dapat merasakan tubuhnya yang indah itu.

    Tiba-tiba wanita itu berdiri dan menghampiri tempat dudukku. Dadaku berdetuk kencang ketika dia benar-benar mengambil tempat duduk semeja dengan aku.

    “Maaf apakah kamu Joko?” tanyanya sambil menatapku.
    “Iy… Iyaa… Kamu pasti Karina,” tanyaku balik sambil berdiri dan mengulurkan tanganku.

    Jarinya yang lentik menyetuh tanganku untuk bersalaman dan darahku terasa mendesr ketika tangannya yang lembut dan juga halus meremas tangaku dengan penuh perasaan.

    “Silahkan duduk Karina,” kataku sambil menarik satu kursi di depanku.
    “Terima kasih,” kata Karina sambil tersenyum.
    “Dari tadi kamu duduk disitu kok nggak langsung kesini aja sih?” tanyaku.
    “Aku tadi sempat ragu-ragu, apakah kamu memang Joko,” jelasnya.
    “Aku juga tadi berpikir, apakah wanita yang cantik itu adalah kamu?” kataku sambil tersenyum.

    160095_04Kami bercerita panjang lebar tentang apapun yang bisa diceritakan, kadang-kadang kami berdua saling bercanda, saling menggoda dan sesekali bicara yang ‘menyerempet’ ke arah sex. Lesung pipinya yang dalam, menambah cantik saja wajahnya yang semakin matang.

    Dari pembicaraan tersebut, terungkaplah kalau Karina adalah seorang wanita yang sedang bertugas di Jakarta. Karina adalah seorang pengusaha dan kebetulan selama 4 hari dinas di Jakarta.

    “Karin, kamu kenal Yanti dimana?” tanyaku.

    Yanti adalah teman chattingku di YM, aku dan Yanti sering online bersama. Dan kami terbuka satu sama lain dalam hal apapun. Begitu juga kisah rumah tangga, bahkan masalah sex sekalipun. Mulutnya yang mungil menjelaskan dengan penuh semangat.

    “Emangnya Yanti menikah kapan? Aku kok nggak pernah diberitahu sih,” tanyaku penuh penasaran.
    “Dia menikah dua minggu yang lalu dan aku nggak tahu kenapa dia nggak mau memberi tahu kamu sebelumnya,” Jawabnya penuh pengertian.
    “Ooo, begitu…” kataku sambil manggut-manggut.
    “Ini adalah hari pertamaku di Jakarta dan aku berencana menginap 4 hari, sampai urusan kantorku selesai,” jelasnya tanpa aku tanya.
    “Sebenarnya tadi Yanti juga mau dateng tapi berhubung ada acara keluarga jadi kemungkinan dia akan datang besok harinya dia bisa dateng,” jelasnya kembali.
    “Memangnya Mbak Karina menginap dimana nih?” tanyaku penasaran.
    “Kebetulan sama kantor sudah dipesankan kamar buat aku di hotel H…”jelasnya.
    “Mmm, emangnya Mbak sama siapa sih?” tanyaku menyelidik.
    “Ya sendirilah, Joko… Makanya saat itu aku tanya Yanti,” katanya
    “Tanya apa?” tanyaku mengejar.
    “Apakah punya teman yang bisa menemaniku selama aku di Jakarta,” katanya.
    “Dan dari situlah aku tahu nomor telepon kamu,” lanjutnya.

    160095_07Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul 10.25 wib, dan aku lihat sekelilingku pertokoan mulai sepi karena memang sudah mulai larut malam. Dan toko pun sudah mulai tutup.

    “Jok.. Kamu mau anter aku balik ke hotel nggak?” tanyanya.
    “Boleh, masa iya sih aku tega sih biarin kamu balik ke hotel sendirian,” kataku.

    Setelah obrolan singkat, kami segera menuju parkiran mobil dan segera meluncur ke hotel H… Yang tidak jauh dari pusat pertokoan Plasa Senayan. Aku dan Karina bergegas menuju lift untuk naik ke lantai 5, dan sesampainya di depan kamarnya, Karina menawarkan aku untuk masuk sejenak. Bau parfum yang mengundang syaraf kelaki-lakianku serasa berontak ketika berjalan dibelakangnya.

    Dan ketika aku hendak masuk ternyata ada dua orang wanita yang sedang asyik ngegosip dan mereka pun tersenyum setelah aku masuk kekamarnya. Dalam batinku, aku tenyata dibohongi ternyata dia nggak sendiri. Karina pun memperkenalkan teman-temannya yang cantik dan juga sex yang berbadan tinggi dan juga mempunyai payudara yang besar dia adalah Miranda(36b) sedangkan yang mempunyai badan yang teramat sexy ini dan juga berpayudara yang sama besarnya bernama Dahlia(36b). Dan mereka pun mempersilahkan aku duduk.

    160095_01Tanpa dikomando lagi mereka pun perlahan-lahan memulai membuka pakaian mereka satu persatu, aku hanya bisa melotot saja tak berkedip sekali pun, tak terasa adik kecilku pun segera bangun dari tidurnya dan segera bangun dan langsung mengeras seketika itu juga. Setelah mereka telanjang bulat terlihatlah pemandangan yang sangat indah sekali dengan payudara yang besar, Karina pun langsung menciumku dengan ganasnya aku sampai nggak bisa bernafas karena serangan yang sangat mendadak itu dan aku mencoba menghentikannya.

    Setelah itu dia pun memohon kepadaku agar aku memberikan kenikmatan yang pernah aku berikan sama Yanti dan kawan-kawan. Setelah itu Karina pun langsung menciumku dengan garangnya dan aku pun nggak mau tinggal diam aku pun langsung membalas ciumannya dengan garang pula, lidah kamipun beraduan, aku mulai menghisap lidahnya biar dalam dan juga sebaliknya. Sedangkan Miranda mengulum penisku ke dalam mulutnya, mengocok dimulutnya yang membuat sensasi yang tidak bisa aku ungkapkan tanpa sadar aku pun mendesah.

    “Aaahhh enak Mir, terus Mir hisap terus, aaahhh…”

    Sedangkan Dahlia menghisap buah zakarku dengan lembutnya membuat aku semakin nggak tertahankan untuk mengakhiri saja permaianan itu. Aku pun mulai menjilati vagina Karina dengan lembut dan perlahan-lahan biar dia bisa merasakan permaianan yang aku buat. Karina pun menjerit keras sambil berdesis bertanda dia menikmati permainanku itu.

    Mirandapun nggak mau kalah dia menghisap payudaranya Karina sedangkan Dahlia mencium bibir Karina agar tidak berteriak ataupun mendesis. Setelah beberapa lama aku menjilati vaginanya terasa badannya mulai menegang dan dia pun mendesah.
    “Jok… Akuuu mauuu keeeluuuarrr.”

    160095_15Nggak beberapa lama keluarlah cairan yang sangat banyak itu akupun langsung menghisapnya sampai bersih tanpa tersisa. Setelah itu aku pun langsung memasukkan penisku ke dalam vagina Karina, perlahan-lahan aku masukkan penisku dan sekali hentakan langsung masuk semua ke dalam vaginanya yang sudah basah itu. Aku pun langsung menggenjotnya dengan sangat perlahan-lahan sambil menikamati sodokan demi sodokan yang aku lakukan dan Karina pun mulai mendesah nggak karuan.

    “Aaahhh enak Jok, terus Jok, enak Jok, lebih dalam Jok aaahhh, ssttt..”

    Membuat aku bertambah nafsu, goyanganku pun semakin aku percepat dan dia mulai berkicau lagi.

    “Aaahhh enak Jok, penis kamu enak banget Jok, aaahhh…”

    Setelah beberapa lama aku mengocok, diapun mulai mengejang yang kedua kalinya akupun semakin mempercepat kocokanku dan tak beberapa lama aku mengocoknya keluarlah cairan dengan sangat derasnya dan terasa sekali mengalir disekitar penisku. Akupun segera mencabut penisku yang masih tegang itu. Miranda segera mengulum penisku yang masih banyak mengalir cairan Karina yang menempel pada penisku, sedangkan Dahlia menghisap vaginanya Karina yang masih keluar dalam vaginanya dengan penuh nafsunya.

    Miranda pun mulai mengambil posisi, dia diatas sedangkan aku dibawah. Dituntunnya penisku untuk memasuki vaginanya Miranda dan serentak langsung masuk. Blesss… Terasa sekali kehangatan didalam vaginanya Miranda. Dia pun mulai menaik turunkan pantatnya dan disaat seperti itulah dia mulai mempercepat goyangannya yang membuat aku semakin nggak karuan menahan sensasi yang diberikan oleh Miranda.

    Dahlia pun mulai menghisap payudara Miranda penuh gairah, sedangkan Karina mencium bibir Miranda dengan garangnya, Miranda mempercepat goyangannya yang membuat aku mendesah.

    “Aaahhh enak Mir… Terus Mir… Goyang terus Mir… Lebih dalam lagi Mir… Aaahhh sssttt”

    Dan selang beberapa menit aku merasakan penisku mulai berdenyut,

    “Mir… Aku… ingiiin keeeluuuaaarrr”

    Seketika itu juga muncratlah air maniku didalam vaginanya, entah berapa kali munceratnya aku nggak tahu karena terlalu nikmatnya dan diapun masih mengoyang semakin cepat. Seketika itu juga tubuhnya mulai menegang dan terasa sekali vaginanya berdenyut dan selang beberapa lama keluarlah cairan yang sangat banyak sekali, aku pun langsung mengeluarkan penisku yang sudah basah kuyup ditimpa cairan cinta. Mereka pun berebutan menjilati sisa-sia cairan yang masih ada dipenisku, Dahlia pun langsung menjilati vaginanya Miranda yang masih mengalir cairan yang masih menetes di vaginanya. Akupun melihat mereka seperti kelaparan yang sedang berebutan makanan, setelah selang beberapa lama aku mulai memeluk Dahlia dan aku pun mulai mencium bibirnya dan mulai turun ke lehernya yang jenjang menjadi sasaranku yang mulai menari-nari diatasnya.

    “Ooohhh… Joko… Geeelli…” desah Dahlia.

    Serangan bibirku semakin menjadi-jadi dilehernya, sehingga dia hanya bisa merem melek mengikuti jilatan lidahku.

    Miranda dan Karina mereka asyik berciuman dan saling menjilat payudara mereka. Setelah aku puas dilehernya, aku mulai menurunkan tubuhnya sehingga bibirku sekarang berhadapan dengan 2 buah bukit kembarnya yang masih ketat dan kencang. Aku pun mulai menjilati dan sekali-kali aku gigit puntingnya dengan gigitan kecil yang membuat dia tambah terangsang lagi dan dia medesah.

    “Aaahhh enak sekali Jok… Terus Jok hisap terus Jok enak Jok aaahhh sssttt..”

    Dahlia pun membalasnya dengan mencium bibirku dengan nafsunya dan setelah itu turun ke pusar dan setelah itu dia mulai mengulum, mengocok, menjilat penisku didalam mulutnya. Setelah dia puas aku kembali menyerangnya langsung ke arah lubang vaginanya yang memerah dan disekelilingi rambut-rambut yang begitu lebat. Aroma wangi dari lubang kewanitaannya, membuat tubuhku berdesis hebat. Tanpa menunggu lama lagi, lidahku langsung aku julurkan kepermukaan bibir vagina.

    Tanganku bereaksi untuk menyibak rambut yang tumbuh disekitar selangkangannya untuk memudahkan aksiku menjilati vaginanya.

    “Sssttt… Jok… Nikmat sekali… Ughhh,” rintihnya.

    Tubuhnya menggelinjang, sesekali diangkat menghindari jilatan lidahku diujung clitorisnya. Gerak tubuh Dahlia yang terkadang berputar-putar dan naik turun, membuat lidahku semakin menghujam lebih dalam ke lubang vaginanya.

    “Joko… Gila banget lidah kamu…” rintihnya
    “Terus… Sayang… Jangan lepaskan…” pintanya.

    Paha Dahlia dibuka lebar sekali sehingga memudahkan lidahku untuk menjilatnya. Dahlia menggigit bibir bawahnya seakan menahan rasa nikmat yang bergejola dihatinya.

    “Oohhh… Joko, aku nggak tahan… Ugh…” rintihnya.
    “Joko cepet masukan penis kamu aku sudah nggak tahan nih,” pintanya.

    Perlahan aku angkat kaki kanannya dan aku baringkan ranjang yang empuk itu. Batang kemaluanku sudah mulai mencari lubang kewanitaannya dan sekali hentak.

    “Bleest..” kepala penisku menggoyang vaginanya Dahlia.
    “Aowww… Gila besar sekali Jok… Punya kamu,” Dahlia merintih.

    Gerakan maju mundur pinggulku membuat tubuh Dahlia mengelinjang hebat danm sesekali memutar pinggulnya sehingga menimbulkan kenikmatan yang luar biasa dibatang kemaluanku.

    “Joko… Jangan berhenti sayang… Oogghhh,” pinta Dahlia.

    Dahlia terus menggoyangkan kepalanya kekanan dan kekiri seirama dengan penisku yang menghujam dalam pada lubang kewanitaannya. Sesekali Dahlia membantu pinggulnya untuk berputar-putar.

    “Joko… Kamu… Memang… Jagoo… Ooohhh,” kepalannya bergerak ke kiri dan ke kanan seperti orang triping.

    Beberapa saat kemudian Dahlia seperti orang kesurupan dan ingin memacu birahinya sekencang mungkin. Aku berusaha mempermainkan birahinya, disaat Dahlia semakin liar. Tempo yang semula tinggi dengan spontan aku kurangi sampai seperti gerakan lambat, sehingga centi demi centi batang kemaluanku terasa sekali mengoyang dinding vagina Dahlia.

    “Joko… Terus… Sayang… Jangan berhenti…” Dahlia meminta.

    Permainanku benar-benar memancing birahi Dahlia untuk mencapai kepuasan birahinya. Sesaat kemudian, Dahlia benar-benar tidak bisa mengontrol birahinya. Tubuhnya bergerak hebat.

    “Joko… Aakuuu… Kelluuuaaarrr… Aaakkkhhh… Goyang sayang,” rintih Dahlia.

    Gerakan penisku kubuat patah-patah, sehingga membuat birahi Dahlia semakin tak terkendali.

    “Jok… Ooo… Aaammmpuuunnn,” rintihnya panjang.

    Bersamaan dengan rintihan tersebut, aku menekan penisku dengan dalam hingga mentok dilangit-langit vagina Dahlia. Aku merasakan semburan cairan membasahi seluruh penisku.

    Dahlia yang sudah mendapat kedua orgasmenya, sedangkan aku masih berusaha untuk mencari kepuasan birahiku. Posisi Dahlia, sekarang menungging. Penisku yang masih tertancap pada lubang vaginanya langsung aku hujamkan kembali ke lubang vaginanya Dahlia.

    “Ooohhh… Joko… Kamu… Memang… Ahli…” katanya sambil merintih.

    Kedua tanganku mencengkeram pinggul Dahlia dan menekan tubuhnya supaya penisku bisa lebih menusuk ke dalam lubang vaginanya.

    “Dahlia… Vagina kamu memang enak banget,” pujiku.
    “Kamu suka minum jamu yaaa kok seret?” tanyaku.

  • Makin Rame Makin Meriah

    Makin Rame Makin Meriah


    19 views

    Aku mendapat tempat kos yang istimewa. Kusebut begitu karena selain harganya tidak mahal, rumahnya bagus
    letaknya tidak di jalan besar, di lingkungan yang tenang dan aku adalah satu-satunya laki-laki di situ.
    Aku mendapat kamar diatas garasi yang mempunyai akses sendiri. Di bawahku dulu bekas garasi, tetapi
    sudah diubah lalu disewakan untuk kos.

    Aku bisa diterima disitu, karena sebelumnya kenal dengan ibu kost karena bisnis MLM. Dia kebetulan up
    link ku. Soal ini kalau diceritakan cukup panjang dan kurang menarik pastinya. Namun yang jelas ketika
    dia membinaku, akhirnya pembicaraan sampai ke masalah kost. Mungkin dia terkesan pada pribadiku sehingga
    dia menawarkan aku kost saja di tempatnya. Padahal dia selama ini belum pernah menerima kost laki-laki.

    Sebagian besar yang indekos disitu adalah anak kuliahan. Akademi itu memang tidak jauh, jauhnya jika
    jalan kaki mungkin sekitar 10 menit. Sekolah itu sejak lama terkenal di Jakarta Selatan.

    Rumah induk mempunyai kamar cukup banyak maka sebagian besar mereka berada di dalam rumah induk. Yang di
    luar hanya kamarku dan kamar bekas garasi yang hanya dihuni 2 cewek. Aku bebas membawa cewekku ke kamar
    jika hari minggu. Biasanya kami berendam di kamar dari jam sebelas siang sampai jam 3 sore. Ya semua
    yang seharusnya tidak terjadi, terjadilah. Mungkin kalau diceritakan kurang seru, karena sama pacar
    sendiri.

    Setelah sekitar 3 bulan aku baru mulai mengenal para penghuni kos. Mereka semua ada delapan orang.
    Diantara mereka tinggalnya di Jakarta ini juga, tapi memang jauh dari sekolah mereka. Mungkin kurang
    praktis jika pulang pergi dari rumah ke sekolah. Jadinya setiap Sabtu dan Minggu rumah kos itu sepi
    karena sebagian besar penghuninya pulang ke rumah mereka masing-masing. Yang tinggal hanya anak-anak
    dari luar kota, ada dari Cirebon, Bandung dan Lampung.

    Suatu malam aku lupa hari apa, listrik padam dan hujan turun sangat deras. Aku tidak bisa melakukan apa
    pun kecuali tiduran. Mata melek sama merem tidak ada bedanya, gelap gulita. Mungkin sudah jam sepuluh
    malam, tiba-tiba ada yang mengetok kamarku.

    “Jay, bukain dong, cepetan,” kayak suara Dewi anak Bandung yang tinggal di kamar di bawahku.

    Aku segera membuka pintu, memang benar, Dewi dan Ana datang berkerudung selimut dan bawa bantal segala.

    ”Jay, aku numpang tidur dong di kamarmu, Kami takut di bawah gelap dan petirnya keras banget.” Kamarku
    memang cukup luas, Ya sekitar 6 x 5 m dengan satu tempat tidur yang muat dua orang atau kalau dipaksakan
    juga cukup bertiga.

    Aku tidak mungkin bisa menolak mereka, lagian ngapain rezeki gini ditolak. Mereka pun tanpa persetujuan
    dariku sudah mengambil posisi di tempat tidur. Tempat tidurku berada di pojok di ruangan, jadi bagian
    kepala dan salah satu sisinya merapat ke dinding. Dewi mengambil posisi ditengah, Ana dipinggir merapat
    ke tembok aku disisakan tempat di tepi.

    Lampu mati kali ini cukup lama sejak hujan deras tadi mungkin sekitar jam delapan. Sampai hampir jam
    sebelas malam belum juga nyala. Hujan masih terus deras. Untung kamar gelap, sehingga tempat tidurku
    yang berantakan spreinya tidak kelihatan. Kamar bujangan mana mungkin rapi, apa lagi aku malas sekali
    merapikan kamar.

    Mereka berdua langsung membujur, aku menempati posisi yang tersisa. Mana mungkin bisa ngantuk, tidur
    bertiga dengan dua cewek gitu lho, cakep-cakep lagi. Yang kupikirkan apa yang bakal terjadi dan apa pula
    yang harus terjadi. Apakah aku harus memulai, aku ragu apakah Dewi yang ada di dekatku suka dengan aku.
    Bagaimana kalau tanganku ditepis, wah malu banget rasanya. Tapi pendapat lain seperti memanas-manasi.
    Jangan-jangan mereka menunggu inisiatif dariku. Laki-laki kan sepantasnya yang berinisiatif. Aduh
    bingung aku dengan dua pendapat ini.

    Akhirnya aku tidur telentang pasrah menunggu bergulirnya sejarah. Kami tidur berhimpitan, karena tempat
    tidur kapasitas dua orang ditempati bertiga. Dewi yang mulanya tidur miring membelakangiku, kemudian
    ganti posisi telentang. Lha aku kan bingung, dimana harus kuletakkan tangan kanan, agar tidak menyentuh
    Dewi. Tangan kananku yang memang dari tadi lurus ke bawah tidak dihindari jadi ketindih tangan kiri
    Dewi. Apa boleh buat, pegel terpaksa ditahan biar tidak bergerak. Aku khawatir kalau tanganku bergerak
    bisa menimbulkan kecurigaan, atau kalau melakukan gerakan menghindar bisa disangka aku jual mahal. Repot
    deh.Cerita Sex Dewasa

    Diam mematung dalam keadaan spaning tentu tidak mudah. Tapi itulah tantanganku di dalam kegelapan.
    Tangan Dewi kemudian kurasakan mulai meremas tanganku. Aku segera paham bahwa sinyal sudah mulai
    dinyalakan. Untuk menyambut keramahannya, aku pun membalas meremas tangannya. Hanya sebatas itu saja aku
    berani bertindak.

    Dewi berubah posisi lagi, kali ini miring menghadapku dan dia memelukku ibarat aku ini guling. Ya ampun,
    tanganku belum sempat berubah posisi dan kejadiannya tangan ini tertindih selangkangannya. Aku harus
    bagaimana sekarang, karena tanganku menempel dibagian paling vital Dewi, tentu aku tidak berdaya. Kalau
    jariku begerak sedikit saja, pasti akan memberi kesan meremas memeknya. Aduh aku nggak mau dikesankan
    orang yang kurang ajar. Tanganku mulai kesemutan, karena aliran darah tertahan akibat ditindih. Apa
    boleh buat aku harus bertahan sekuat mungkin.

    Aku tidak tahu tangan dewi yang sebelah lagi ada dimana, tetapi tangan kanannya ada di atas dadaku. Dia
    mengelus-elus dadaku dan hidung serta mulutnya dekat sekali dengan telingaku. Sehingga aku bisa jelas
    memantau hembusan nafasnya. Dari pemindaianku nafasnya mulai tidak teratur, bahkan cenderung rada cepat.
    Ini kan nafas kalau cewek mulai diliputi nafsu birahi.

    Dia menarik kepalaku lebih rapat dan diciuminya pipiku. Dia tempel terus hidungnya ke pipiku. Aku jadi
    mulai mendidih. Bukan hanya panas karena tubuh kami rapat, tetapi tensi birahiku juga naik.
    Dimiringkannya kepalaku lalu bibirnya menyusuri wajahku dan pencariannya berhenti ketika menemukan
    bibirku. Kami jadi berciuman dan panjang sekali rasanya.Sinyal-sinyal yang dihidupkannya mensyaratkan
    aku harus segera meresponnya. Tangan ku yang tadi tertindih mulai bergerak mencari sasaran.

    Gundukan dibalik dasternya tentu saja menjadi sasaran. Aku remas-remas gundukan di selangkangannya. Dewi
    merespon dengan gerakan pinggulnya menekan-nekan tanganku. Jari yang tadi tertindih mulai mendapat tugas
    untuk mencari jalan. Perlahan-lahan kutarik keatas dasternya sampai jariku bisa merasakan celana
    dalamnya. Dewi malah membantu agar kerja jariku lebih mudah menguak penutup.

    Aku meremas kambali gundukan yang kini hanya terlindung oleh celana dalam. Tidak ada ruang untuk aku
    menarik tanganku agar bisa masuk menyusupkan telapak tangan kananku masuk dari celah atas celana
    dalamnya. Satu-satunya jalan hanya menguak celdamnya dari samping. Jari ku seperti ular mencari
    sarangnya, jari tengah lebih trampil dari jari lainnya dalam mencari belahan vital Dewi.

    Jari tengahku mulai merasakan kehangatan sekaligus kelembaban di balik bulu-bulu keriting yang ternyata
    sangat lebat. Si jari tengah ternyata sangat trampil dalam pencariannya, karena clitoris Dewi mulai
    ditemukan. Daging kecil itu sudah mengeras, sehingga mudah mencarinya. Aku segera berkosentrasi pada
    bagian itu.

    Dewi tidak mampu menahan kenikmatan akibat gelitikan jariku di clitorisnya, sehingga walau dia berusaha
    menahan gerakan, sesekali dia lepas kontrol juga. Masalahnya mungkin rikuhlah karena ada Ana di sebelah
    yang sedang terbaring. Kan gak enak rasanya bercumbu disamping teman akrabnya tanpa ada komitmen
    sebelumnya.

    Dewi makin erat memelukku dan aku makin intensif memainkan jariku di clitorisnya. Aku tidak bisa
    memperkirakan berapa lama jariku bermain di clitoris Dewi. Dia akhirnya mengejang dan ditekankannya
    badannya ke kakiku, sambil kurasa gerakan kontraksi di sekujur kemaluannya. Dia mencapai kepuasan. Dia
    lalu melemas dan aku segera menarik tanganku dari tindihannya dan kuposisikan memelukkan dengan
    menyelinap di bawah lehernya. Tangan kananku berada dibagian belakang badannya yang miring menghadapku.

    Dewi sudah jatuh tertidur. Dia mendengkur halus dekat sekali dengan telingaku. Aku jadi serba sulit,
    barangku jadi terabaikan, padahal sudah siap diluncurkan. Tapi mau diluncurkan bagaimana, sebab
    situasinya sangat tidak memungkinkan.

    Listrik belum juga nyala, hujan masih deras. Wah kalau gini situasinya bakal sampai besok pagi listrik
    akan padam. Dalam keadaan tanpa harapan aku berusaha menidurkan diri dan menyabarkan hasratku yang
    cenggur (ngaceng nganggur).

    Nah lho, tanganku ada yang meremas dibelakang punggung Dewi, tangan siapa lagi kalau bukan Ana. Dia
    tidak hanya meremas, tapi juga mencium dan bahkan menjilati jari-jariku. Aduh mak, jari-jariku kan tadi
    bekas terkena cairan si Dewi, pasti punya aroma khas. Tapi Ana rasanya menikmati sekali jari-jariku.
    Dicium dan dilomot-lomotnya jariku. Aku yang tadinya kosentrasi menuju ngantuk, jadi siuman lagi.

    Tangan kulemaskan mengikuti arah yang dimaui Ana. Dia membimbing tanganku mengusap-usapkan tanganku ke
    wajahnya, lehernya dan ke dadanya lalu ke teteknya dari luar daster. Diberi peluang menangkap tetek,
    tentunya segera kurespon dengan gerakan meremas. Tangan Ana ikut membantu tanganku meremas teteknya.
    Tebal benar tetek Ana ini. Baru kusadari sekarang kalau tetek Ana cukup besar. Kelak kalau keadaan sudah
    terang aku jadi ingin menegaskan berapa besar sih tetek Ana. Sebelum ini aku tidak pernah memperhatikan
    tetek Ana.

    Tanganku lalu dibimbing lagi menelusup ke balik daster dan langsung dibalik BHnya. Memang terasa benar
    besarnya. Cengkeraman tanganku terasa kurang besar terhadap tetek Ana. Kuremas-remas tetek Ana dari
    sebelah ke sebelah. Tugasku berikutnya adalah mencari tombol-tombol di kedua tetek itu. Pencarian tidak
    terlalu sulit, karena Ana memberi ruang untuk keleluasaan tanganku. Kupilin lalu kuusap. Gerakan itu
    terus menerus secara bergantian.

    Ana yang tadi diam saja sekarang badannya terasa lasak. Bahunya bergoyang-goyang terus. Aku tentu saja
    khawatir, perselingkuhan tanganku ini bakal membangunkan Dewi. Tapi Ana kelihatannya sudah turun
    kesadaran lingkungannya.

    Tanganku tiba-tiba ditarik menjauh dari teteknya. Aku segera berkesimpulan bahwa Ana tiba-tiba waras
    kembali otaknya. Aku turuti saja dengan melemaskan tanganku. Tapi tangan Ana tetap saja memegang
    tanganku. Aku merasa ada gerakan bahwa Ana mengubah posisi tidurnya. Telapak tanganku merasa menyentuh
    kulit lembut dan dari analisa data di otakku. Tangan ini menyentuh kulit perut.

    Aku segera memindai posisi tanganku tepatnya berada dibagian apa? Memang benar, telapak tanganku
    menemukan pusat (udel). Ana melepas tanganku dan aku dibiarkan sendiri mencari jalan. Aku segera
    mengerti bahwa Ana sudah mengangkat dasternya dan memposisikan tanganku untuk mencari jalan yang benar.

    Arahan itu tentu saja mudah kupahami, tanganku segera merayap ke bawah dan menemukan garis celana
    dalamnya. Tanganku berusaha merayap terus ke bawah sampai kutemukan bulu-bulu halus. Jangkauanku kini
    maksimal, padahal target belum tercapai. Ana rupanya paham, dinaikkannya badannya sedikit dan kini
    jari-jariku bisa mencapai belahan memeknya. Ternyata memeknya sudah basah, sehingga jari tengahku dengan
    mudah menyusup ke dalam dan menemukan clitoris yang sudah mengeras. Ini tentu saja membantuku menemukan
    sasaran yang tepat.

    Aku lalu memainkan jari tengahku. Ana yang kini telentang, pinggulnya mengikuti irama sentuhan jari
    tengahku. Dia menggelinjang, ketika bagian paling sensitifnya tersentuh. Sesungguhnya posisi tanganku
    kurang nyaman, tapi aku mencoba terus bertahan, paling tidak sampai Ana puas. Aku kurang bisa
    memperkirakan waktu, karena gelap dan tanganku terasa pegal sekali. Aku merasa lama sekali aku mengorek
    kemaluan Ana ini sampai kemudian dia menjepit tanganku dan memeknya berkontraksi. Dia puas dan setelah
    usai kontraksinya tanganku ditariknya keluar.

    Aku turuti saja dan tanganku memang pegel dengan posisi itu tadi. Dia melepaskan tanganku sementara
    membenahi dasternya yang terangkat tinggi. Aku menempatkan posisi tanganku pada posisi yang paling
    nyaman.

    Ana membawa tanganku agar berada di posisi di bawah lehernya dan menerobos kebelakang punggungnya. Aku
    bagaikan memeluk dua wanita sekaligus. Mereka berdua puas dan tertidur, sementara aku cenggur makin
    parah. Tapi kutentramkan hasratku, dan itung-itung pengorbanan untuk investasi masa depan.

    Paginya aku terbangun karena mereka berdua menciumi pipiku sambil mengucapkan terima kasih lalu mereka
    keluar kamar. Aku berkesimpulan jalan sudah terbuka, tinggal aku mengatur bagaimana melanjutkan alur
    yang sudah terbangun. Mereka berdua sebenarnya tahu kalau aku punya cewek yang setiap Minggu selalu aku
    benam di kamarku. Tapi nampaknya itu tidak menghalangi keakraban mereka denganku.

    Di satu malam minggu, Ana pulang ke rumah orang tuanya di Kebon Jeruk dan Dewi tetap tinggal di kost,
    karena rumah orang tuanya di Bandung. Malam itu otomatis Dewi tidur gabung denganku. Kami memuaskan diri
    masing-masing sampai berkali-kali. Aku lupa berapa ronde yang kami mainkan, sampai paginya dia masih
    bermain sekali lagi sebelum kembali ke kamarnya.

    Penyelinapan Dewi, sama sekali tidak diketahui oleh penghuni kost yang lain. Jadi kami menjalankan
    akting biasa-biasa saja di depan teman-temannya. Setelah aku berkesempatan memompa Dewi di lain
    kesempatan ketika Dewi menginap di rumah saudaranya, Ana lah yang menyelinap ke kamarku. Kami juga
    memuaskan diri sampai pagi. Kedua bersahabat ini benar-benar tangguh di ranjang.

    Aku tidak mengorek keterangan apakah hubungan mereka denganku yang demikian intim itu diketahui masing-
    masing, atau mereka melakukan peran diam-diam. Aku ingin menikmati saja hidangan yang tersedia, tanpa
    repot-repot menyelidik. Toh nanti bakal ketemu juga jawabannya, tanpa aku bertanya.

    Dalam usiaku yang 20 tahun, aku memang dikaruniai kelebihan, yaitu muka yang manis (kata cewek-cewek)
    badan yang atletis (padahal jarang olahraga) dan kesehatan yang baik. Aku selalu berusaha menjadi anak
    manis dan sebisa mungkin menjauhkan diri dari kesan anak yang kurang ajar. Cool, istilah yang sering
    cewek-cewek sebutkan mengenai perilakuku.Cerita Sex Dewasa

    Aku kurang jelas umur Dewi dan Ana, tetapi dari jenjang pendidikannya kuterka mereka lebih tua setahun
    atau sebaya denganku. Dewi kulitnya agak gelap, rambutnya keriting, badannya ramping dan teteknya kecil
    (ukuran 32 mungkin). Sedang Ana bodinya rata-rata saja, teteknya mungkin agak besar, tetapi tidak
    terlalu mencolok. Mukanya manis dan rambutnya hitam lurus.
    Kami sering tidur bertiga di kamarku. Tidak setiap kali kami bertiga selalu melakukan aktivitas sex,
    kadang-kadang ya hanya tidur biasa saja. Yang membedakan dari situasi yang pertama, adalah aku selalu
    diminta tidur diantara mereka berdua. ceritasexdewasa.org Kalau pun kami melakukan aktivitas sex ketika mereka berdua di
    sampingku, aku hanya melakukan raba-rabaan, tanpa coitus. Dan itu selalu dimainkan tanpa sepengetahuan
    Dewi. Ana tau tapi Ana berusaha menyembunyikannya dari Dewi. Mungkin itu kode etik diantara mereka.

    Hampir setahun aku menetap di rumah kost itu, dan penghuninya nyaris masih tetap seperti yang dulu.
    Tempat kos ini memang enak dan tentram, Pemiliknya janda yang kutaksir usianya sekitar 40 tahun. Tidak
    terlalu cantik, tetapi manis dan kelihatan sekali dia berasal dari Jawa. Dia memliki wajah keibuan yang
    berwibawa. Badannya tidak gemuk seperti umumnya wanita diusia 40 tahunan. Dia tinggal sendiri di rumah
    itu.

    Aku makin akrab dengan cewek seisi rumah itu. Kalau malam minggu kadang-kadang mereka mengajakku
    berkumpul di ruang tengah di rumah induk. Dari sekedar ngobrol sampai kadang-kadang main kartu remi.

    Penghuni baru adalah Mbak Ratih yang kutaksir usianya sekitar 27 atau 28. Dia masih single, badannya
    agak gemuk dan putih. Dia tipikal wanita Jawa banget.

    Suatu malam ketika aku tidak kebagian ikut main kartu dan Mbak Ratih sibuk merajut kruistik, dia
    menselonjorkan kakinya di sofa ke dekatku. “Dik, mbok mbak dipijetin kakinya daripada bengong,” katanya.

    Permintaannya segera aku penuhi dengan memijat-mijat kakinya. Aku memang cukup piawai memijat, karena
    ketika aku masih tinggal di rumah orang tuaku, ibuku sering meminta aku memijat kakinya. Selain itu aku
    pernah belajar pijat refleksi dari teman yang bekeja di pijat refleksi dan akupresur. Selanjutnya aku
    mengoleksi buku-buku mengenai seni dan cara memijat.

    Pertama-tama aku menekan titik syaraf di telapak kakinya. Kadang-kadang Mbak Ratih menjerit ketika titik
    syaraf tertentu kutekan. Kalau sudah begitu aku mulai membual, ”Wah, mbak ini kelihatannya ada gangguan
    di ginjal lah atau di pencernaan, atau di hati.” Padahal aku kurang tau pasti. Ini hanya kira-kira saja
    dari yang kuingat-ingat ketika membaca buku-buku akupuntur atau buku pijat. Aku kalau iseng memang suka
    membaca buku seperti itu.

    Namun yang kuingat benar adalah simpul syaraf birahi. Bagian ini aku berusaha menghafal benar letaknya
    di sebelah mana. Jadi di tengah pijatan refleksiku, aku iseng menekan-tekan simpul birahi mbak Ratih, di
    dekat mata kakinya.

    “Aduh, dik, rasanya nyer-nyeran kalau situ yang ditekan,” katanya. Aku cuek saja seolah tidak memahami
    apa yang dimaksud nyer-neran itu. Padahal aku tahu pasti, itu adalah nyer-nyer di liang vaginanya.

    “Mbak, kalau ada lotion, aku bisa urut betisnya biar uratnya lemes.” kataku.

    “Ada, dik, tolong ambilkan di meja dekat tempat tidurku,” katanya.

    Aku segera bangkit dan kembali dengan body lotion. Aku menseriusi pijatan itu bukan karena aku rajin,
    tapi aku ingin merangsang mbak Ratih melalui pijatanku.

    Mbak Ratih berhenti menyulam, dan menikmati pijatanku. “Ternyata kamu jago mijet ya, dik. Ototku yang
    kaku jadi lemes semua,” katanya.

    Kenikmatan pijatanku membuat spontanitas Mbak Ratih keluar begitu saja dan dia nyerocos terus tentang
    kepintaranku. Ini tentu saja menggugah perhatian cewek-cewek lain yang sedang main kartu.

    “Aku daftar ah, minta dipijeti juga,” kata Nia. Yang lainnya latah langsung ikut-ikutan minta dipijat
    juga. Sampai semuanya pada minta dipijat.
    “Kalau satu orang 100 ribu, lumayan untuk bayar kos dan jajan gue,” kataku bercanda.
    “Wooo, matre nih,” kata mereka beramai-ramai.
    “Enggak kok, gratislah,” jawabku sambil tersenyum.
    “Dik, badanku kok jadi pegal ya, kamu bisa mijat badan juga kan?” kata Mbak Ratih.

    Padahal bukan karena kakinya dipijat lalu badannya jadi pegal. Tapi kayaknya dia minta diservis pijat
    seluruh badan, karena dianggap aku mengerti urat.

    ”Sorry ya, aku mau pijat dulu ke kamar, dengan cah bagus ini,” kata Mbak Ratih sambil menggandengku ke
    kamarnya.
    “Woo curang, mau dikuasai sendiri,” kata cewek-cewek yang lain. Aku cengar-cengir saja. Habis posisiku
    jadi serba salah sih.

    Aku masuk kamar mbak Ratih. Entah sengaja apa nggak, pintunya kemudian ditutup. “Aku telentang atau
    tengkurep, dik?” kata mbak Ratih bertanya.

    “Tengkurep aja dulu, mbak,” jawabku. Aku kembali memijat kakinya, dari mulai telapak kaki sampai ke
    paha. Dia kelihatannya tidak perduli kalau dasternya sudah terangkat tinggi sekali sampai menampakkan
    celana dalamnya. Aku sengaja memainkan pijatan erotisku, terutama di bagian paha sebelah dalam.

    “Aduh, dik, enak tapi geli,” kata Mbak Ratih setiap kali kusentuh pahanya sebelah dalam. Pahanya
    menggairahkan karena besar dan putih. Aku tau dia sudah terangsang dengan pijatanku, tetapi aku pura-
    pura biasa saja. Pijatanku beralih ke pantat dan punggungnya. Bagian ini masih tertutup daster.Cerita Sex Dewasa

    “Mbak, punggungnya mau diurut pakai krim juga apa enggak?” tanyaku. ”Tapi dasternya mbak lepas dulu biar
    ngurutnya bisa rata.”

    ”Oh gitu, kamu tidak malu kan melihat tubuhku?” katanya lalu bangkit melepas dasternya.

    “Kok saya yang malu sih, mbak? Kan mbak yang buka baju,” sahutku.

    Mbak Ratih menyisakan celana dalam dan BH-nya lalu kembali telungkup. Pijatanku mulai dari bagian bahu.
    Aku mengambil posisi mengangkangi badan mbak Ratih. “Aduh, enak, dik. Kamu pintar ya, coba dari dulu
    ngomong kalau kamu bisa mijet.” katanya. Badannya diliputi lemak yang cukup tebal. Aku tidak memaksa dia
    untuk membuka BH-nya, biar saja, nanti bakal terbuka dengan kemauannya sendiri. Ini untuk menghindari
    kesan bahwa itu bukan dari kemauanku.

    Meski tertutup BH tapi telapak tanganku bebas menelusuri bagian belakang badannya di balik tali BH
    sampai ke samping dan menyentuh bagian pinggir teteknya. Aku tentunya berlagak sebagai pemijat
    professional. Setelah bahu dan punggung, kini pijatanku mengarah ke bongkahan pantatnya yang bahenol.
    Mulanya aku memijat dari luar celananya, tapi pengurutan tanganku sesekali menerobos di bawah celana
    dalamnya dan menekan-nekan titik erotis di bagian pantatnya. Mbak Ratih mulai mendesis-desis menandakan
    dia makin terangsang.

    “Aduh, dik. Enak, dik. Aku jadi merinding saking enaknya.” katanya.

    Aku diam saja dan pijatan mulai mengekploitir bagian pantat dan pangkal paha, di bagian ini rangsangan
    yang dirasakan perempuan pasti makin tinggi. Jariku sudah berhasil mencapai belahan pantatnya dan hampir
    menyentuh kemalauannya. Mbak Ratih sudah tidak perduli dengan jamahanku, birahinya mulai tinggi sehingga
    kesadarannya mulai rendah. Pada posisi terangsang yang tinggi aku minta dia telentang. Mbak Ratih pasrah
    dan telentang sambil menutup mata. Aku mulai lagi dari bahu, untuk melemaskan bagian itu. Perlahan-lahan
    lalu turun ke bawah mendekati bongkahan susunya. Susunya memang sangat besar.

    “Mbak, maaf ya, apa bagian ini mau dipijet juga apa nggak?“ kataku sambil menangkupkan tanganku di
    susunya dari luar BH.

    “Kamu bisa mijet susu? Susuku nggak pernah dipijet, enak apa nggak ya, dik?” kata Mbak Ratih.

    “Ya dicoba dulu, mbak. Nanti baru tau rasanya,” kataku.

    “Ya sudah kalau gitu,” katanya lalu bangkit membuka BH-nya. Kini terpampang sepasang susu yang cukup
    besar. Pijatanku dimulai dari bagian pinggir, dengan gerakan halus. Bagian ini paling sensitif, sehingga
    aku tidak boleh ceroboh. Pentilnya tampak mengeras, dan sesekali aku memilin.

    “Maaf ya, mbak, ini untuk merangsang syaraf supaya lemes,” kataku mengesankan keahlian professional. Aku
    minta dia menarik nafas ketika kupilin putingnya lalu pelan-pelan menghembuskannya saat kurengkuh kedua
    susunya dari samping.

    “Aduh, dik, rasanya jadi nggak karuan, merinding semua badanku,” katanya menyamarkan rasa rangsangan
    yang tinggi.

    “Mbak, geli itu adalah bagian dari cara mengaktifkan syaraf untuk bekerja normal,” kataku membual.
    Setelah puas meremas tetek mbak Ratih, aku mulai turun ke perut. “Mbak sering pipis, ato kalau batuk dan
    ketawa suka keluar pipis dikit ya?” kataku bertanya.

    “Iya, dik. Kamu kok tahu?” katanya kagum. Dia makin percaya.

    “Ini lho, mbak, perutnya agak turun dikit,” kataku sok tau.

    Aku lalu menekan bagian bawah perutnya untuk kusorong ke atas. Gerakan yang sangat pelan dan hati-hati
    ini tampak dia nikmati sekali. Mbak Ratih tampaknya sudah percaya penuh pada keahlian pijatanku,
    sehingga tidak perduli lagi kalau jembutnya ada yang keluar dari celananya. Dari perut aku mulai
    menelusur ke bawah sampai menyentuh jembutnya, tapi tentunya dengan gerakan memijat. Dia pasrah saja.
    Aku mengesankan pijatanku terganggu oleh celana dalamnya.

    “Dik, buka saja kalo itu mengganggu. Kamu tidak malu kan?“

    ”Ya terserah, mbak, tapi memang sebaiknya dibuka biar tuntas mijetnya,” kataku sungguh-sungguh.

    Mbak Ratih tidur telentang telanjang bulat. Aku jadi leluasa, dan kini aku berusaha merangsangnya agar
    dia makin tinggi lagi nafsunya. Untuk mengesankan tidak berbuat kurang ajar, aku minta ijin tanganku
    masuk ke bagian memeknya.

    “Mbak, maaf ya, jariku agak masuk ke dalam untuk mijet lubang pipisnya supaya nggak beser (sering
    kencing),“ kataku.

    “Iya, dik, terserah. Pokoknya aku segar dan enak,” katanya.

    Ini hanya taktikku saja untuk meraba clitoris dan G-spotnya. Mana mungkin lubang pipis bisa dipijet.
    Jari tengahku perlahan-lahan masuk ke vagina mbak Ratih sementara jempol mencari posisi clitoris. Mbak
    Ratih sudah tidak bisa menahan desisan dan erangan karena rangsangan hebat. Dua bagian paling sensitif
    kini aku rangsang. Tidak sampai tiga menit dia mengerang panjang sambil menjepit kakinya. Mbak Ratih
    mencapai dua orgasme sekaligus, orgasme clitoris dan G-spot.

    Setelah kontraksinya selesai, kucabut jariku dari kemaluannyanya. Jariku belepotan cairan vaginanya yang
    banjir. Dia telentang lemas. “Aduh, dik, kamu memang benar-benar pintar. Kamu apa nggak ngaceng nggarap
    aku seperti ini, kok kelihatannya tenang-tenang saja?” katanya takjub atas ketenanganku.

    “Ya ngaceng, mbak. Masih muda masak nggak greng? Tapi aku kan menghormati mbak, jadi mana berani kurang
    ajar,” kataku kalem.

    Mbak Ratih kelihatannya jadi merasa berhutang setelah dipuaskan. “Sudah, gantian kamu kupijat. Lepas
    semua bajumu.” katanya sambil berusaha membuka semua pakaianku.

    Aku turuti semua kemauannya sampai aku akhirnya bugil. Disuruhnya aku telentang dan tangannya segera
    menggenggam penisku. Di kocok sebentar lalu dia mengambil posisi di antara kedua kakiku. Diciuminya
    sekitar alat vitalku dan aku menggelinjang kegelian. Dia lalu melahap batangku dan dihisapnya kuat-kuat.
    Dijilatinya seluruh bagian vitalku sampai ke lubang matahari.

    Aku yang dari tadi sudah terangsang berat, tidak mampu menahan desakan ejakulasi. Ketika akan meletus,
    aku berusaha mengangkat mulut Mbak Ratih tetapi dia bersikeras tetap mengulum penisku. Aku tidak mampu
    membendung, maka pecahlah ejakulasi di mulutnya. Dia menelan semua air maniku, sehingga diakhir
    ejakulasiku aku merasa sangat geli dan ngilu.

    Batangku masih tegang, mbak Ratih dengan segera menuntun barangku masuk ke liang vaginanya. Dia
    mengambil posisi di atasku dan melakukan gerakan maju mundur. Batangku yang masih keras sehabis
    ejakulasi mulai menurun kekerasannya. Namun Mbak Ratih cukup piawai, dia berusaha mempertahankan
    batangku agar tetap berada di dalam vaginanya. Dia menghentikan gerakannya lalu melakukan aksi
    kontraksi. Batangku yang hampir melemas total jadi urung karena merasa dipijat oleh liang vaginanya.
    Rangsangan kedutan liang vagina mbak Ratih luar biasa, sehingga batangku mulai mengeras lagi.

    Merasa kekerasan batangku memadai dia mulai melakukan gerakan maju mundur lagi, sampai batangku keras
    mendekati sempurna. Mbak Ratih mulai bergerak liar dan dia tiba-tiba ambruk memeluk diriku. Vaginanya
    berkedut menandakan dia mencapai puncak. ceritasexdewasa.org Aku dimintanya berganti posisi. Setelah aku di atas gantian
    kini aku menggenjot mbak Ratih sambil mencari posisi yang memberi rangsangan paling maksimal terhadap
    kemaluannya. Setelah memperhatikan responnya, aku bertahan di satu posisi itu. Tidak sampai lima menit
    mbak Ratih menjerit lirih sambil menahan gerakanku, dia dapet orgasme lagi. Aku masih belum merasa
    tanda-tanda. Kini aku memusatkan perhatian pada rangsangan maksimalku untuk segera mendapat orgasme. Aku
    menggenjot cepat.

    Mbak Ratih malah teriak, ”Dik, kasari aku, dik. Kasari!”

    Aku makin liar menggenjot tubuhnya, aku merasa titik tertinggi sudah makin dekat. Mbak Ratih
    kelihatannya juga hampir nyampe. Pada satu titik aku akan segera meledakkan laharku dan ketika akan
    kucabut malah ditahan sama mbak Ratih. Rupanya dia merasa tanggung sebab juga akan muncak, Akhirnya kami
    nyampe berbarengan. Aku istirahat sebentar, lalu kembali berpakaian.

    Aku diciumi Mbak Ratih seperti anak kesayangannya. “Dik, kamu hebat banget, jangan kapok yo,
    kelihatannya kalem, tapi luar biasa pinter.”

    Aku hanya senyum-senyum, lalu keluar meninggalkan Mbak Ratih.

    ***

    Selesai mengurut Mbak Ratih, kutinggalkan kamarnya. Dia tidur pulas. Badannya yang tadi pegal, sekarang
    mungkin sudah lemas. Mungkin juga luar dan dalam sudah melemas. Untuk menuju kamarku, aku harus melalui
    ruang tengah rumah kost-kostan ini. Di situ ada televisi cukup besar. Jam di dinding sudah menunjukkan
    jam satu malam, tapi masih ada suara TV. Kulongok Nia masih nonton sendirian.

    Karena mulutku asem dari tadi nggak merokok, inilah kesempatanku ngrokok sambil nemenin si Nia nonton
    TV. Aku berjingkat pelan dengan langkah tanpa suara dan mencolek bahu Nia. Dia menoleh ke arah yang
    salah, ketika dia melihat ke arah sebaliknya, dia kaget.

    “Sialan, lu, ngagetin gua,” katanya. “Nah lho, lu apain si Ratih, lama bener?” tambahnya sambil bernada
    curiga menggoda.

    “Ya mijet lah,“ sahutku.

    “Mijet, apa mijet?” tanyanya menyelidik.

    “Ya mijet aja,” kataku sambil menyalakan rokok lalu duduk di sebelahnya. “Bagus filmnya?” tanyaku.

    “Seru nih, mau tidur jadi nanggung,” katanya. “Jay, masih kuat mijet gue kan?” katanya berharap.

    “Sepuluh lagi juga masih,” kataku menyombongkan diri. Padahal jujur aja aku sudah lemes.

    “Kalau gitu tolong dong, bahuku dipijet, “ katanya sambil mengubah posisi.

    “Tunggu ya, kuhabiskan dulu rokok ini,” kataku. Selesai merokok, kuraih bahunya lalu aku mulai
    melancarkan pijatan. Nia ini orangnya manis.. Badannya lembut sekali dan rambutnya wangi. “Wah, boleh
    juga ini kugarap,” batinku. Perasaan lemes tadi jadi hilang berganti semangat berbalut penasaran.

    “Kaku banget nih ototnya, gak pernah dipijet kali ya?” ujarku.

    “Iya, aku udah lama nggak pernah pijet lagi, biasanya kalau di rumah aku punya langganan sih,” katanya.
    Nia kutaksir umurnya sekitar 24 tahun. Dia sudah selesai kuliah, dan sekarang bekerja di salah satu
    kedutaan asing.

    Leher dan bahunya mulai lemes. Kini aku menekan-nekan punggungnya, dia menggeliat-geliat merasakan
    nikmatnya pijatanku. Sesekali dia bersendawa. “Wah, masuk angin nih, kalau dikerok pasti merah,” kataku
    asal kena.

    “Emang lu bisa ngerok, gue sih hobi banget dikerokin,” katanya.

    “Itu sih enteng,” kataku.

    “Bener nih, tolong dong kerokin gue,” katanya.

    “Disini?” tanyaku.

    “Ya enggaklah, di kamar gua noh,” katanya sambil berdiri menarik tanganku. Rumah sudah sepi dan gelap.
    Aku digelandang masuk ke kamar Nia. Dia menyewa kamar sendiri. Kamarnya rapi dan baunya harum.

    “Kerokannya pakai apa, Jay?” tanyanya.

    “Pakai garpu kalau ada,” candaku.

    “Hah, gila lu, nih pakai koin aja,” katanya.

    “Ya pakai inilah, tapi jangan pakai balsem, pakai lotion aja,” kataku.

    “Lho biasanya aku pake balsem, tapi ya terserah lu deh,” katanya sambil menyodorkan koin dan hand body
    lotion. Ada maksud tersembunyi makanya aku menyarankan pake balsem. Mudahlah kalian menebaknya.

    “Nia, aku nggak bisa ngerok kalau kamu pake daster gitu. Dengan segala hormat, kamu harus buka
    dasternya,” kataku.

    “Paham, bos, paham. Sabar napa,” katanya sambil berdiri membelakangiku membuka dasternya. Dia ternyata
    nggak pake BH. Daster tadi ditutupkan ke teteknya lalu dia tidur telungkup.

    Aku mulai beraksi mengerok punggungnya yang putih mulus. Hasil kerokanku memang merah bahkan cenderung
    merah tua. Dia ternyata masuk angin serius. Tadinya kukira dia hanya masuk angin bohong-bohong saja.

    “Wah, ini sih masuk angin berat, pasti semua badanmu pegel-pegel ya?” kataku.

    “Emang bener sih, malah rasanya rada panas dingin gitu, kayak orang mau demam,” katanya.

    Sekitar 15 menit, selesai sudah semua punggungnya dikerok. Aku menawarkan untuk dipijet sekalian biar
    otot-ototnya gak kaku. “Emang kamu nggak capek habis mijet mbak Ratih? Kalau kuat sih dengan senang hati
    dong,” katanya.Cerita Sex Dewasa

    Aku mengambil posisi menduduki pantatnya yang bahenol, “Sorry ya, aku duduki,” kataku. Kenyal bener
    pantat si Nia. Aku mulai melancarkan pijatan serius.

    Dia terus menerus melontarkan pujian mengenai nikmatnya pijatanku sambil sesekali berkomentar, “Ya, ya,
    situ pegel banget. Aduh, kamu kok pinter, tau urat segala sih?” katanya.

    “Kakinya mau sekalian dipijet apa, gimana?” tanyaku.

    “Aduh, mau dong. Kebetulan kakiku pegel bener,” katanya.

    Aku memulai dari telapak kaki, mencari simpul-simpul syaraf. Beberapa simpul aku tekan, dia menjerit
    kesakitan. Disini aku mulai lagi membual kalau beberapa organnya agak terganggu.

    Satu simpul erotis aku tekan, dia menjerit. “Aduh, apaan tuh, kok sakit banget?” katanya.

    “Jangan tersinggung ya, aku boleh terus terang nggak?“ pancingku.

    “Iya, ngomong aja terus terang, kok pake nanya tersinggung segala,” katanya sambil meringis kesakitan.

    “Bener ya? Ini simpul syaraf kalau sakit ditekan, mungkin nih, sekali lagi mungkin, lu rada frigid, atau
    dingin ama cowo. Nggak usah dijawab kalo malu,” ujarku.

    “Eh, lu kok tau aja sih? Sejak gua putus ama pacar gua yang dulu, gua jadi benci ama cowo, makanya gua
    rada kurang suka aja kalau ada cowo deket-deketin gua. Wah, lu ternyata jago beneran nih, gua jadi nggak
    bisa nutup-nutupin rahasia nih. Eh, tapi sekarang udah gak sakit lagi kok, mencetnya dipelanin ya,”
    katanya.

    Padahal aku makin keras menekannya. Kalau rasa sakitnya berkurang, berarti dia mulai cair dan bisa
    bergairah lagi. “Yang begituan jangan ditahan-tahan, lu bisa migren sampe mata lu merah sebelah,”
    kataku.

    “Eh, gila, lu! Bener juga, gua suka migren. Kalau lagi kambuh, ampun sakitnya. Eh, dimana tuh syarafnya,
    bisa diilangin nggak penyakit gua yang suka kambuh itu?” katanya.

    “Asal lu ijinin gua coba, sebab titik syarafnya tidak hanya di kaki tapi juga di pantat, tangan dan di
    bawah perut, dan di punggung.” kataku.

    “Tolong dong sekalian, gua pasrah aja deh ama lu, kayaknya lu udah pakar banget sih,” dia mengharap.

    Aku mulai memainkan titik-titik syaraf yang merangsang sambil juga titik syaraf migren. Sekitar 10 menit
    titik migren sudah mulai lemes, kini tinggal syaraf perangsangan yang aku mainkan. Ketika bagian pantat
    aku tekan-tekan dan beberapa titik di paha di bagian dalam, dia mulai mendesis.

    “Gila lu, gua jadi konak, udah lama gua nggak ngrasain kayak gini, lu apain sih gua? Lu kerjain kali
    ya?”

    “Tadi kan gua udah minta ijin, akibatnya kalau syaraf frigid di terapi kalau berhasil yang dingin
    jadinya panas, ya udah kalo gitu gua brenti aja sekarang,” kataku menantang.

    “Eh, jangan-jangan. Nggak pa-pa, gua nikmati koq, lu terusin aja. Gua masih banyak ingin berkonsultasi
    ama lu, jangan marah yaa,” dia merayu. “Kepala gua sekarang kok jadi pusing sih, kayak penuh gitu lho,
    badan gua juga rasanya kayak merinding-merinding, kenapa sih gua ini?” ujarnya sambil menggeliat-
    geliatkan badannya.

    Aku tahu Nia berusaha melawan rangsangan dirinya sendiri. Selama titik-titik sensual aku serang terus,
    dia bakalan makin konak. Aku menekan-nekan pantatnya. Dia mendesis-desis, entah sadar atau tidak tapi
    disertai pula dengan gerakan pantat ke kiri dan ke kanan. Kemudian dia kuminta telentang. Aku kembali
    mulai dari bahu. Nia masih malu sehingga teteknya masih ditutupinya dengan dasternya. Kubiarkan saja dia
    mempertahankan rasa malunya. Tapi aku yakin nanti akan dia buka atas kemauannya sendiri. Pijatanku mulai
    ke bawah di seputar teteknya, mulai kuurut dengan gerakan halus, naik turun, kadang melingkar dan
    sesekali naik sampai ke putingnya.

    “Aduh, Jay, enak banget,“ Dia jadi tidak perduli bahwa penutup teteknya sudah tidak berfungsi lagi,
    sebab semua teteknya sudah menyembul keluar. Teteknya bulat padat dan cukup gembung, pentilnya kecil dan
    aerolanya tidak lebar, berwarna coklat muda.

    “Maaf ya, Nia, ini untuk melancarkan peredaran darah sekitar toketmu, kalau dia menggumpal, bisa-bisa
    menjadi tumor. Aku mau kurang ajar dikit nih untuk mengaktifkan semua saraf di dadamu, kuterusin apa
    boleh?” tanyaku serius sambil berhenti memijat.

    “Apa aja deh terserah, gua udah pasrah banget ama lu,” katanya sambil terengah-engah.

    Putingnya aku sentuh dengan jari telunjuk lalu aku putar-putar dengan gerakan halus. “Rasa geli yang
    kamu rasakan itu ibarat mengaktifkan aliran listrik di semua syaraf yang bersimpul di puting. Jadi
    dengan rasa geli ini semua syaraf jadi tergugah dan aliran darah di sekitarnya makin lancar,” ini asli
    aku ngarang, sebab sebenarnya ini hanya trikku untuk lebih merangsang dia. Dan Nia rupanya mempunyai
    kelemahan di putingnya. Dia tidak mampu menahan rangsangan jika putingnya disentuh-sentuh.

    “Aduh, Jay, sumpah gua jadi kepengen, gua jadi pusing. Aduh, gimana ini? Tolongin dong gua, Jay,”
    katanya memelas.

    “Sabar ya, sayang, kita selesaikan dulu ini.” kataku. Pijat urutku mulai turun ke bawah. Bagian perutnya
    aku urut pelan lalu turun terus sampai ke pangkal pahanya. Jariku bebas menelusup ke bawah celana
    dalamnya. Dia sudah membiarkan saja aksiku meski seluruh permukaan mekinya sudah terjamah. Aku berlagak
    repot dengan celana dalam itu, sehingga Nia kemudian meloloskan celana dalamnya. Urat malunya udah
    kendor. Terpampanglah memek dengan bulu halus yang rapi dengan gundukan yang cukup gemuk. Aku kagum
    dengan bentuk memek Nia yang menggairahkan ini. Mungkin inilah yang disebut ’turuk mentul’.

    “Bagaimana, masih pusing?” tanyaku.

    “Iya, Jay, gimana dong?” katanya.

    “Wah, ini simpul sarafnya sulit tempatnya, karena adanya di tempat yang paling rahasia,” kataku sambil
    berhenti mengurut.

    ”Dimana sih?” katanya mendesah.

    “Di dalam sini,“ kataku sambil menepuk memeknya. “Kalau kamu ijinkan gue urut juga biar pusingnya
    hilang, tapi itu terserah kamu, aku sih ikut apa yang kamu mau,” ujarku dengan nada dingin.

    “Iya, boleh-boleh. Please, dooooong,” katanya mengiba.

    “Maaf ya,” aku minta ijin lalu jempolku menekan clitorisnya dan aku putar-putar lalu perlahan-lahan jari
    tengahku menyusup ke dalam liang vaginanya mencari titik G-spot.

    G-spotnya sudah menyembul menandakan dia sudah sangat tinggi terangsang. Ibarat pria kalau dikocok
    sedikit saja pasti muncrat. Dia menggelinjang hebat ketika dua simpul sarafnya yang paling peka aku
    mainkan. Baru sekitar dua menit aku melakukan aksi itu, dia sudah mengerang dan akhirnya melengking
    panjang sambil menjepit kedua kakinya. Tapi tertahan oleh badanku yang berada di antara kedua kakinya.
    Kulepas jempolku dari posisi sentuhan ke clitorisnya, sementara jari tengah masih tetap berada di dalam.
    Liang vaginanya berkedut dan tiba-tiba memancar cairan agak kental sampai sekitar jarak sepuluh cm. Nia
    orgasme disertai ejakulasi. Pancarannya sekitar 4 sampai 5 kali seirama dengan kontraksi otot di dalam
    vaginanya. Nia lalu tergolek lemas.

    “Aduh, Jay, seumur-umur gua baru ngrasain ini, gua tadi ngompol ya.” tanya Nia dengan mata yang terbuka
    sedikit dengan pandangan sayu.

    “Iya, itu tadi kamu mencapai orgasme sempurna. Gimana, sekarang masih pusing?” tanyaku.

    “Wah, sekarang plong banget rasanya, dunia tambah terang kelihatannya. Cuma badanku jadi lemes banget,
    ngantuk sekali.”

    “Ya udah, tidurlah,” lalu aku membantu menyelimuti badannya.

    “Tunggu, Jay, rasanya ibarat makan sudah kenyang tapi kurang mantep kalau nggak makan nasi,”

    “Apa laper mau makan nasi?” tanyaku bingung.

    “Bukan, sini deh, Jay.” tanganku ditariknya dan aku terduduk, lalu dia bangun memeluk badanku sembari
    menariknya tidur diatas badannya. Nia lalu dengan ganas sekali menciumi seluruh wajahku lalu dia
    menyosor mulutku. Aku dibawanya berguling sehingga dia sekarang menindih tubuhku. Nia duduk di atas
    badanku lalu dia memohon. “Jay, mau kan tolongin aku sekali lagi aja,” katanya mengiba.

    “Apa pun yang tuan putri kehendaki, hamba siap, tuan putri,” kataku sambil tersenyum.

    “Jay, puasin aku lagi yaaaaaa?” katanya sambil menarik t-shirtku ke atas lalu dia beralih duduk dan
    dengan sekali sentak ditariknya celana pendek dan celana dalamku, sehingga lepaslah kekangan penisku
    hingga benda itu segera mengacung ke atas. Nia lalu menyergap batangku dan dilumatnya habis dengan penuh
    nafsu. Dia menjilati semua bagian kemaluanku seperti anak-anak menjilat ice cream horn. Aku pasrah dan
    menutup mata. Dua ronde sebelum ini membuat aku mampu bertahan dan menenangkan kobaran nafsuku.

    Nia sudah tidak sabar lagi lalu jongkok di atas burungku dan dengan panduan tangannya dituntunnya
    batangku masuk ke dalam lubang vaginanya. Perlahan-lahan sampai semua tertelan habis. Nia melakukan
    gerakan naik turun. Posisi ini sebenarnya kurang membuat dia bergerak bebas dan cepat melelahkan,
    makanya tidak lama kemudian dia mendudukiku dan melakukan gerakan maju mundur.

    Nia kelihatannya memposisikan sentuhan penisku ke pusat-pusat saraf kenikmatannya, baik itu clitoris
    dengan dibenturkan ke permukaan jembutku maupun G-spot dengan batangku. Dia berjuang dengan gerakan maju
    mundur sekitar lima menit mungkin sebelum akhirnya mengerang dan ambruk ke badanku. Nafasnya tersengal-
    sengal. Vaginanya berkedut cukup lama, meskipun makin lama makin jauh tenggang waktu gerak kontraksinya.

    “Aduh, enak banget, Jay, makasih ya,”Cerita Sex Dewasa

    “Aku belum bisa membalas terima kasih kembali,” kataku sambil tersenyum.

    Nia tidak mengerti, dia mengernyitkan dahinya. Aku tidak memberi kesempatan dia berpikir panjang , aku
    segera membalikkan posisi sehingga di tidur telentang dan aku menindihnya. Setelah posisi agak leluasa
    aku mulai menggenjot dengan gerakan lambat dan konstan.

    “Aduh, Jay, cepet dikit donk, aku udah terasa diujung nih.” rintihnya.

    Aku tidak menuruti kemauannya, sehingga dia tertunda-tunda pencapaian orgasmenya. Sampai titik dimana
    aku sudah merasakan rangsangan hebat aku segera mempercepat genjotanku dengan menabrak-nabrakkan
    gumpalan memeknya keras-keras.

    “Aku nyampe! Aku nyampe, aaaaaaa!” erangnya.

    Mendengar itu, aku makin terangsang dan meletuslah spermaku menyemprot liang memeknya. Aku tidak sempat
    menarik keluar karena pantatku ditahan tangan Nia dengan tarikan yang kuat sekali. Aku telentang
    terbujur disampingnya. Nia memelukku.

    “Jay, kamu tadi sama mbak Ratih gini juga ya?” tanya Nia.

    “Ah, itu kode etik, nggak bisa diceritakan. Apa mau permainan ini aku ceritakan ke orang lain juga?“
    tanyaku.

    “Sorry, aku terbawa perasaan. Iya deh, aku paham. Btw, aku thanks banget ama kamu ya.“ katanya.

    Aku bangkit kembali berpakaian dan kuselimuti Nia. Sebelum keluar kamarnya kukecup keningnya, “Bobo ya,
    sayang,” kataku singkat yang sepertinya klise, tapi jika dilantunkan pada saat yang tepat, dia menjadi
    mantera yang ampuh.

    Setelah menggarap Mbak Ratih dan Nia, aku diagung-agungkan oleh kedua orang itu sebagai pakar urat
    syaraf. Sebenarnya beberapa penghuni kost lainnya yang belum mendapat giliran sudah merayu-rayuku untuk
    juga dipijat. Tapi aku agak menahan diri dengan alasan badanku sedang kurang fit atau alasan sibuk atau
    apalah.

    Saat kami sedang bercengkerama, ibu kost bergabung ikut ngrumpi sambil nonton TV. “Dik Jay ini dipuji-
    puji abis ama Mbak Ratih dan Nia, katanya jago mijet dan tahu susunan syaraf, belajar dimana sih, dik?”
    tanya bu Rini.

    “Ah, mereka memang suka melebih-lebihkan, bu. Saya cuma belajar dari buku-buku aja kok, belum mahir
    bener, baru taraf pemula,” kataku mencoba merendah.

    “Bohong, bu, dia sok merendah,” kata Nia.

    “Aku jadi ketagihan dan rasanya aku belum pernah nemu tukang pijat sepinter Jay, bu,” tambah Mbak Ratih.

    “Wah, perlu dibuktikan nih,” kata bu Rini. Mata Mbak Ratih dan Nia langsung memandangku dengan penuh
    arti. Aku belagak bego aja sambil senyum ditahan.

    “Kristin kemana kok nggak keliatan?“ tanya bu Rini.

    “Ada di kamar, dia lagi kambuh sakit magnya,“ kata Juli yang juga gadis keturunan Cina seperti Kristin.

    “Udah diobati apa belum?” tanya Bu Rini.

    “Udah sih, tadi dikasih obat mag, tapi masih sakit,” kata Juli lagi.

    “Jay, kamu bisa bantu Kristin nggak untuk ngurangi rasa sakit? Kasihan dia,” kata Mbak Ratih.

    “Kristin kan nggak suka dipijet, katanya dia itu penggeli,” kataku berkilah.

    Bu Rini lalu masuk ke kamar Kristin diikuti Mbak Ratih dan Juli. Entah apa yang dibicarakan, nggak lama
    kemudian Mbak Ratih keluar. “Jay, tolong dong. Kristin kasihan, dia merintih kesakitan tuh perutnya, dia
    udah pasrah, pokoknya rasa sakitnya bisa berkurang,” katanya.

    Aku pun masuk ke kamar Kristin. Dia terbujur tidur berselimut sambil cengar-cengir menahan rasa sakit
    akibat magnya kambuh. Aku minta Kristin duduk dan kupegang tangan kanannya. Badannya agak panas, mungkin
    akibat dia menahan rasa sakit. Kuraba telapak tangan kanannya. Mukanya pucat, matanya berair. Aku
    mencari celah antara jempol dan jari telunjuknya kutekan pelan.

    Kristin berteriak, “Sakit…!”

    Aku menjelaskan, bagian itu memang sakit sekali jika ditekan manakala mag sedang bermasalah. Kalau dia
    bisa menahan rasa sakit, mudah-mudahan rasa saakit dilambungnya akan berangsur-angsur berkurang. “Kamu
    bisa tahan sakit nggak, atau tinggal pilih mau sakit terus di lambung atau nahan sakit disini?” kataku.

    “Aduh, sakit sekali di situ, tapi cobalah aku tahan, daripada magku yang sakit, dari tadi kok rasanya
    makin sakit,” kata Kristin.

    Aku mulai menekan celah di telapak tangannya dengan tekanan pelan sekali. Meskipun begitu, dia sudah
    merasakan kesakitan. Setiap kali kutekan, dia melonjak menahan rasa sakit. Sekitar 5 menit tangannya
    kugarap, dia minta istirahat sebentar untuk menetralisir sakit di tangannya.

    “Di kepala rasanya pyar-pyar, agak mending nih sakitnya di lambung, nggak kayak tadi lagi,” kata
    Kristin.

    “Sabar ya, Kris, aku harus pelan-pelan terapinya, karena sakit sekali kalau kutekan. Kamu kalau mau
    bersendawa jangan ditahan, atau kalau terasa mau buang angin dilepas aja. Nanti kalau sudah bisa kentut
    dan bersendawa, rasa sakitnya akan hilang, jangan malu-malu,” kataku.

    Bu Rini lalu menggiring Mbak Ratih dan Juli agar keluar kamar untuk memberi kesempatan aku melakukan
    terapi pada Kristin. Lagian kalau ada mereka mungkin Kristin malu mau buang angin. Setelah 15 menit
    kutekan telapak tangannya, dia mulai merasa tahan dengan tekanan yang lebih keras. Ini menandakan
    berangsur-angsur rasa sakit magnya mulai berkurang.

    “Aduh, Jay, aku pengin kentut, sorry ya,” Kristin lalu memiringkan pantatnya dan meletuslah angin dari
    pantatnya panjang sekali. “Aduh, sorry yaaa, aaah… bau apa nggak nanti ya?” katanya dengan nada
    khawatir.

    “Relaks aja, Kris, yang penting kamu sembuh, bau juga nggak apa-apa, normal-normal aja, orang cantik
    kentutnya gak harus wangi kan?” kataku menggoda. Kristin memang cantik. Gadis Cina dengan postur agak
    tinggi dan rambut lurus dipotong pendek seleher.

    Kristin juga berkali-kali bersendawa. Tangan kiri dan kanannya kini kupencet sudah tidak terlalu sakit
    lagi. Padahal tekananku cukup kuat. “Ilang, Jay, sakitnya, wah salut aku ama kamu, hebat, kenapa gak
    dari dulu kamu bilang?” katanya.

    “Orang kamu gak nanya, masak aku ngojok-ngojokin diri?” kataku. “Sini, duduk membelakangiku, kepalamu
    kan masih tegang bekas nahan sakit tadi,”

    “Kamu kok tau sih?” katanya lalu memutar badannya membelakangiku.

    Aku lalu memijat kepalanya dengan gerakan yang tidak terlalu keras, untuk merelakskan otot-otot yang
    tadi menegang. Lehernya mendapat giliran berikutnya lalu bahu dan lengannya. Di leher bagian belakang
    juga ada simpul syaraf erotik. Aku iseng menekan simpul itu. Pastinya Kristin tidak sadar kalau aku
    sedang mengisengi dirinya.

    “Aduh, Jay, enak tapi agak geli, badanku jadi kemrenyeng semua, merinding nih, Jay, tanganku,” kata
    Kristin.

    Aku tahu itu adalah reaksi normal jika rangsangan mulai menjalar ke tubuhnya. Pasti memeknya juga mulai
    basah. Aku minta dia tidur tengkurap dan telapak kakinya aku garap sekalian untuk menuntaskan terapi
    magnya dan juga menambah stimulan erotisnya. Titik erotis yang kuat sebenarnya ada di bagian pahanya.
    Tapi nantilah. Aku memijat sekujur kakinya dengan sebelumnya menekan syaraf yang membuatnya bisa menahan
    rasa geli.

    “Aku kok jadi gak geli ya, Jay? Biasanya aku penggeli banget, kamu bisa aja, Jay. Aku jadi makin
    kemrenyeng gini sih, Jay?” katanya. Kristin memang Cina Cirebon, sehingga dia gak sadar kalau bahasa
    daerahnya nyampur ke bahasa Indonesia.

    “Badannya mau sekalian nggak?” kataku menawarkan diri.

    “Boleh, Jay, kamu pinter sih mijetnya. Aku kok gak ngrasain geli lagi ya?” kata Kristin yang tidur
    telungkup dengan masih lengkap terbalut piyamanya.

    Sifat isengku adalah kelemahanku, jadi kesempatan ini pun aku menggarap Kristin dengan tekanan-tekanan
    simpul erotis di punggungnya. Aku menyiksanya dengan meninggalkan rangsangan yang tidak bakal
    terlampiaskan, jika tidak aku tuntaskan. “Rasain, looo!” kataku membatin. Tapi di balik semuanya
    rangsangan itu, juga untuk menyirnakan ketegangan akibat deraan sakit mag tadi.

    Setelah sekitar sejam setengah, tuntaslah sudah terapi untuk Kristin. Aku segera pamit keluar.Tapi
    Kristin menarikku. Dia berdiri lalu mencium pipiku kiri dan kanan. Aku merasa ini bukan ciuman biasa,
    karena sambil mencium dia memelukku erat sekali. Aku ikuti saja maunya dan aku pasif saja.

    “Makasih banget ya, Jay,” bisiknya.

    Aku lalu keluar kamar. Gak lama kemudian Kristin juga ikut keluar. Mukanya segar bahkan air mukanya agak
    merah. Kesegaran itu mungkin karena dia sudah pulih dari rasa sakit dan juga ada rangsangan yang masih
    terbenam di dalam tubuhnya yang belum tersalurkan.

    Baca JUga Cerita Seks Calon Mertua

    “Untung ada Jay, Bu, kalau nggak, mungkin saya sudah mati kesakitan,” katanya sambil tersenyum renyah.

    “Ah, ibu jadi makin penasaran pengin mbuktikan nih,” kata Bu Rini.

    “Coba deh, bu, sekali-kali ibu mesti nyoba biar gak penasaran,” kata Nia dengan senyum penuh arti sambil
    memandangku. Mbak Ratih juga ikut tersenyum sambil melirik.

    “Sialan nih cewek-cewek, aku jadi malu dipromosikan begitu dan rasanya dibalik promosi itu ada makna
    yang terpendam,” batinku.
    Jam di dinding sudah menunjukkan jam 10 malam.

    “Jay, masih kuat gak? Ibu juga pengin dong dipijet, tadi kebetulan manggil mbok pijet dia-nya lagi
    sakit. Badan ibu memang rada nggak enak sih,” kata Bu Rini sambil memeluk pundakku.

    “Ah, lima lagi juga masih kuat, bu, orang tadi gak keluar tenaga banyak. Kristin gak kuat dipijat
    soalnya.” kataku.

    Aku lalu digandeng Bu Rini menuju kamarnya. Mbak Ratih dan Nia menatapku sambil tersenyum penuh arti.
    Kamar Bu Rini dingin sekali. Dia katanya suka tidur di hawa yang dingin.

    “Apa nya yang sakit, bu?” tanyaku.

    “Ah, badanku pegel semua,” katanya. Dia lalu tanya bagaimana aku memijatnya. Aku menimpali, bagaimana
    biasanya dia dipijat sama mbok pijet. Katanya dia biasa pakai sarung aja. lalu kusarankan dia seperti
    biasanya dipijat.
    “Kalau pegel yang ibu rasakan ini sebenarnya bukan karena cape kerja, tapi ini efek dari ibu tidur di
    ruangan yang terlalu dingin. Kalau di luar panas, lalu masuk ke kamar dingin dan keluar lagi panas,
    efeknya pori-pori tidak mampu secara segera menyesuaikan suhu, bu,” kataku seperti dokter memberi
    konsultasi.

    “Ah, adik ini apa pernah kuliah di kedokteran apa, kok ngerti begituan?“ tanyanya.

    “Nggak kok, bu, itu hanya pengetahuan umum saja, badan ibu sudah bukan badan remaja lagi yang elastis,
    jadi kalau pori-pori tidak menciut sempurna untuk menahan suhu badan maka dampaknya ibu merasa pegel
    semua. Begitulah kira-kira, bu.“ kataku.

    “Terus harusnya gimana, dik?” tanyanya.

    “Ibu hanya perlu berkeringat agar pori-porinya mengembang kembali, kalau sudah berkeringat pasti
    pegelnya ilang. Biasanya orang mengambil jalan pintas dengan dikerok, tapi sebenarnya tanpa dikerok juga
    bisa mengembangkan pori-pori,” kataku.

    “Lha terus gimana jadinya?” kata Bu Rini.

    “Kalau ibu ijinkan, AC-nya harus dimatikan,” kataku.

    “Ya sudah, matikan saja,” katanya. “Tapi kan masih dingin to, dik?” tanya bu Rini.

    “Iya, nanti kita buat biar berkeringat,” kataku.

    “Sini, bu, coba tengkurep, nanti saya cari simpul-simpul sarafnya yang bisa bikin ibu kemeringet,” Aku
    mulai menekan simpul-simpul syaraf kakinya. Beberapa bagian dia menjerit kesakitan. Aku minta dia
    menahan sedikit sakitnya. “Ini, bu, ini adalah tanda kalau ibu punya darah rendah, jadi kalau lagi drop
    ibu pasti suka ngantuk dan lehernya agak kaku,” kataku.

    “Iya, dik. Bener, dik, aku memang darah rendah, dan aku sering ngrasa cekot-cekot di leher bagian
    belakang, tapi itu sakit sekali, apa nekennya bisa agak pelan dikit biar gak sakit,” pintanya.

    “Tahan sebentar, bu, Ibu karena nahan sakit pasti nanti berkeringat dan mudah-mudahan darahnya nggak
    mudah drop.”

    Bu Rini menjerit-jerit kesakitan, dan badannya mulai berkuah alias berkeringat. Dia merasa kamarnya jadi
    gerah. Padahal sisa dinginnya AC tadi masih cukup kuat. “Wah, bener, dik. Aku jadi kemringet dan badanku
    juga gak pegel lagi. Kok bisa ilang pegelnya ya, padahal belum dipijet?” katanya.Cerita Sex Dewasa

    Dari satu titik, aku pindah ke titik-titik simpul saraf lainnya sampai Bu Rini benar-benar kuyup oleh
    keringetnya. Karena dia berselimut sarung maka penguapan keringetnya jadi terhalang.

    “Bu, kalo ibu kerudungan sarung terus nanti gerah, kalo ibu gak keberatan, buka aja sarungnya,” saranku.

    Bu Rini agak ragu membuka sarungnya, tapi akhirnya dia buka juga dan ternyata beliau tidak pakai BH. Dia
    tungkrupkan sarung di bagian depan lalu kembali telungkup. Badan Bu Rini cukup terawat meskipun ada
    selulit dipaha dan di bokongnya. Pahanya besar, dan bokongnya gempal banget. Bu Rini memiliki tulang
    pinggul yang besar, sehingga dalam usia STW, dia masih kelihatan berpinggang.

    Body STW menggairahkan juga rupanya. Terus terang aku belum punya pengalaman ML sama STW. Kira-kira
    longgar apa gimana ya. Sambil aku melakukan terapi aku juga menekan simpul-simpul syaraf erotis Bu Rini.
    Biasanya kalau syaraf erotis ditekan, rasa malu perempuan agak berkurang, karena nafsu birahinya
    bangkit. Bu Rini kelihatannya sudah lama menjanda, bagaimana dia memenuhi kebutuhan sexnya. Aku agak
    penasaran dengan misteri ini.

    Reaksi dari pijatan di simpul syaraf erotis mulai menampakkan hasilnya. Bu Rini mulai agak gelisah.
    ”Aduh, dik, pijatan refleksimu enak juga, kamu belajar dimana kok ngerti refleksi segala?” tanya bu
    Rini.

    “Dulu saya punya teman kerja di pijat refleksi, saya iseng-iseng belajar bu, saya juga belajar dari
    buku-buku, saya sih belum mahir sebetulnya, masih taraf pemula,” kataku merendah.

    “Tapi keliatannya kamu paham benar bisa menerangkan sampai soal darah rendah, kamu berbakat lho, dik,”
    katanya.

    Setelah semua simpul syaraf di bagian telapak kaki kugarap, aku mulai merambat naik ke atas kaki.
    Sebelumnya sekujur kakinya aku usap dengan lotion agar lancar mengurut. Paha Bu Rini termasuk besar,
    tetapi tumitnya ramping. Konon wanita yang memiliki tumit ramping, barangnya berasa legit. Beberapa
    simpul syaraf erotis di bagian betis dan paha kugarap tuntas sambil mengurut untuk melemaskan otot-
    ototnya. Bu Rini sudah tidak merasa sakit lagi. Dia malah menikmati sekali urut-urutan di kakinya.

    Aku mulai memusatkan pijatan di bagian paha, terutama bagian dalam. Kenyal sekali paha Bu Rini. Aku suka
    menekan lemak-lemak tebal perempuan, karena empuk dan halus. Bu Rini mulai mendesis sambil sesekali
    bergumam, kadang-kadang gak jelas apa yang diucapkannya. Aku hanya mendengar, “Aduh enak-e, dik.”

    Kelihatannya Bu Rini sudah mulai bangkit nafsu birahinya. Kuabaikan saja dengan pura-pura memijat serius
    dan tidak memusatakan pijatan di bagian yang kontak dengan syaraf syur. Aku mulai memijat badannya
    dimulai dari bahu, leher terus di bawah. Bagian pantat aku sisakan. Nanti akan kugarap khusus.

    Bu Rini memujiku terus menerus, sampai dia mengatakan pijatanku lebih enak dari langganan mbok-pijetnya.
    Aku hanya sederhana saja berpikir, pekerjaan memijat meskipun sederhana, kalau dilakukan dengan tekun
    serius dan suka melakukannya pasti hasilnya maksimal. Memijat juga memerlukan pengembangan pengetahuan,
    dan aku rajin mempelajari teknik memijat dari buku-buku yang kubeli di pasar loakan.

    Sekarang giliran pantat. Bokong bu Rini hanya terbungkus celana dalam, sehingga bongkahan daging tebal
    pantatnya jelas terlihat dari luar celana dalamnya. Aku mulai melancarkan serangan pijatan erotis.
    Pertama kutekan dan dengan gerakan lambat aku memutar tekanan jariku. Pijatan ini biasanya akan
    mentriger vagina dan akibatnya lubang senggama bisa basah kuyup.

    Sambil menyusupkan kedua tanganku ke balik celana dalamnya sehingga langsung bisa menyentuh kulit
    bokong. Aku melakukan gerakan seperti mengumpulkan sesuatu dan kudorong bongkahan daging kedua belah
    pantatnya ke atas lalu kuperintahkan Bu Rini untuk mengencangkan otot kegelnya selama mungkin. Namun dia
    tidak sanggup, baru sebentar sudah dilepas lagi.

    “Nggak kuat, dik,” katanya. Kuminta berkali-kali tetapi dia tetap tidak mampu bertahan lebih dari 30
    detik.

    ”Bu, kelihatannya ibu punya kelemahan dalam hal menahan pipis.”

    “Bener, dik, koq adik bisa tahu sih?” katanya heran.

    “Ibu juga mungkin kalau pipis gak bisa tuntas, suka ada yang ketinggalan keluar sedikit setelah pakai
    celana.” kataku menebak-nebak.

    “Aduh, bener banget, dik, itu makanya ibu kadang-kadang suka risih, bisa diterapi gak dik yang
    begituan?” katanya penuh harap.

    Aku lalu menyarankan dia untuk berlatih sejenak mengencangkan otot kegelnya. “Coba, bu, kita latih
    sebentar,” kataku. Aku memintanya menahan otot kegelnya ketika bongkahan pantatnya kudorong ke atas
    sambil menarik nafas, dan melemaskannya ketika aku melepas dorongan tanganku ke pantatnya. Sampai
    hitungan ke tiga puluh dia masih mampu, selanjutnya di menyerah.

    “Capek, dik,” katanya.

    “Latihan otot ini kalau tidak ada stimulannya memang cepet capek,” kataku.

    “Stimulannya apa to, dik, kok latihan pake stimulan segala?” tanyanya penasaran.

    “Nanti, bu, selesai pijet aku jelaskan,” kataku sambil memintanya berbalik badan menjadi telentang.

    Aku tau di dalam tubuh Bu Rini sedang membara api sekam birahinya. Dia kelihatannya berusaha menekan,
    tetapi setiap kali mengendur aku tambah stimulant, sehingga bukannya makin reda malah makin menjadi.
    Dalam tidur telentang, Bu Rini masih berusaha menutup kedua payudaranya dengan sarung. Aku melihat ini
    hanya sikap basa-basinya saja, jadi kubiarkan saja dia mempertahankan martabatnya. Hal kecil gini kalau
    dikutik bisa jadi masalah besar.

    Misalnya kalau kukomentari, ”Sudahlah, bu, gak usah ditutupi,” pasti akan muncul perlawanan dan otaknya
    memproses sehingga aku diposisikannya sebagai lawan yang harus diwaspadai.

    Sebenarnya Bu Rini sudah pasrah, urat malunya tinggal sedikit saja yang nyambung, disentil aja urat itu
    bakal putus. Yang ada hasrat birahi yang membara, marak di dalam dadanya. Aku mulai memijat bahunya dari
    bagian atas. Otot-otot di bahunya sudah melemas, tidak kaku seperti pertama kupegang tadi. Kemudian
    merayap mendekati dadanya. Aku berhenti sejenak.

    “Bu, BDnya mau diurut juga apa gak?” tanyaku.

    “Apa bisa to susu diurut, biar apa to, dik?” tanyanya penasaran.

    “Biar lancar peredaran darahnya, kalau tidak lancar bisa menggumpal dan lama-lama bisa jadi bibit
    tumor,” kataku berusaha bicara datar untuk meyakinkannya. Padahal ini 100 persen cuma ngarang aja.

    “Boleh lah, dik,” katanya.

    Kedua belah tanganku mulai menyelusup di bawah kain penutup dadanya. Dadanya sangat kenyal, bahkan
    gumpalannya cukup besar. Gerakanku mengurut, otomatis perlahan-lahan membuka semua penutup dadanya.
    Kutaksir Bu Rini berusia di atas 40, tetapi buah dadanya masih utuh menggumpal. Yang membedakannya
    dengan gadis ABG mungkin hanya putingnya yang lebih besar dan lingkaran aerolanya yang agak lebar.Kedua
    puting Bu Rini kelihatan menegang. ceritasexdewasa.org Ketika kusentuh dia mendesis. Itu adalah spontanitas yang kadang
    sulit dikendalikan atau disembunyikan, dari wanita yang terangsang. Aku menduga, perempuan yang mendesis
    adalah mereka yang mulai kurang mampu mengontrol perilakunya akibat rangsangan sex. Jika wanita bisa
    mengontrol perilakunya , pastilah malu memperdengarkan desahan, karena bunyi-bunyi itu dirasa bisa
    merendahkan martabat.

    “Bu, maaf ya, aku sentuh pentilnya, ini untuk merangsang syaraf geli agar aliran listrik di semua syaraf
    yang berpusat di puting bisa merangsang peredaran darah ke seluruh bagian payudara.“ kataku.

    “Sudah, dik, jangan sungkan, ibu udah pasrah, kamu kelihatannya paham betul. Ibu malah jadi belajar ama
    kamu sekarang,” katanya pasrah.

    Dengan pelan kupilin dan kuusap putingnya dengan gerakan memutar, maka rangsangan birahi yang dirasakan
    Bu Rini makin kuat, dia makin gelisah dan menggelinjang, pinggulnya tidak bisa tenang selalu bergerak ke
    kiri dan kanan. Setelah rangsangan kurasa maksimal aku pindah mengurut bagian perutnya, lalu ke bagian
    bawah perutnya.

    “Bu, kalau bagian ini kutekan, ibu bisa kebelet pipis, coba rasakan,” kataku.

    “Iya, dik, aku jadi kebelet pipis nih, jangan-jangan sudah ada yang keluar sedikit? Dik, aku permisi
    dulu ke kamar mandi sebentar, mau pipis,” kata Bu Rini buru-buru bangkit menuju kamar mandi. Dia
    melenggang hanya mengenakan celana dalam. Tidak ada lagi kebutuhan untuk menutup badannya dengan sarung.
    Sekembalinya dari kamar mandi dia juga dengan santai berjalan nobra hanya mengenakan celana dalam
    kembali berbaring.

    “Sekarang udah lega, dik. Kok bisa gitu ya?” ujarnya.

    Aku meneruskan mengurut bagian bawah perut Bu Rini dan sekali-kali menerobos masuk ke bawah celana
    dalamnya sampai menyentuh rambut kemaluannya. Bu Rini tampaknya tidak perduli lagi atas apa yang
    kulakukan, dia terbakar birahi dan mempercayai kemahiranku 100 persen. Aku juga makin berani mengurut
    sampai ke gundukan kemaluannya. Bahkan gundukan itu aku urut secara khusus.

    “Bu, maaf ya. Apa boleh saya teruskan mengurut di bagian sini?” tanyaku.

    Bu Rini tidak berkomentar, hanya mengangguk saja. Aku mengurut terus sampai ke bawah ke bagian
    selangkangannya. Sentuhan tangan pria di sekitar kemaluan, pastinya menimbulkan rangsangan yang makin
    dahsyat. Bu Rini kini sudah mendesah dan mendesis seperti layaknya melakukan hubungan badan. Celana
    dalamnya sekarang sudah melorot ke bawah sehingga tidak lagi menutupi segi tiga yang lebat ditumbuhi
    bulu.

    “Dik, buka aja kalau ngrepoti,” katanya tiba-tiba. Dia mengangkat pinggulnya dan celananya kuloloskan ke
    bawah lepas dari kedua belah kakinya. Ibu Rini sudah telanjang bulat dihadapanku sambil matanya
    terpejam. Aku memusatkan urutan merangsang dirinya tanpa mengesankan aku sedang merangsang dirinya.

    “Gimana, bu, sekarang sudah selesai, perasaan ibu sekarang gimana?” tanyaku.

    Ia tergugah, matanya terbuka sayu. “Enak sih, dik, tapi aku jadi merinding dan kepalaku jadi rada
    pusing, tapi kayak bukan pusing seperti biasa, kenapa ini ya, dik?” katanya.

    “Coba ibu duduk membelakangiku, aku pijat sebentar bagian kepalanya.”
    Pertama aku memijat biasa kepalanya, tetapi kemudian aku mengurut bagian tengkuknya, dimana syaraf
    syaraf erotik juga banyak simpulnya di sana. Bu Rini seperti tidak bertenaga, dia menyandarkan badannya
    ke badanku,seperti minta dipeluk. Aku jadi tidak bisa melakukan pijatan karena tidak ada ruang untuk
    melakukannya.

    “Dik, gimana tadi mau nerangkan cara latihan yang katanya pake stimulan segala?” katanya.

    “Sebenarnya saya kurang enak menjelaskannya pada ibu, karena penjelasannya kurang pantas didengar,”
    kataku dengan nada ragu.Cerita Sex Dewasa

    “Udah lah, dik, saya open aja sama adik, orang saya udah telanjang di depan kamu saja saya gak rasa
    risih lagi kok, ayo dong.” katanya penuh harap.

    “Gini, bu, latihan otot bagian dalam itu sebaiknya dilakukan oleh suami istri secara bersamaan,“ kataku.

    “Lha aku gak punya suami, jadi mau latihan sama siapa, dik? Latihannya gimana sih, ayo dong tunjukin
    saya,” katanya makin berharap.

    “Maaf ya, bu, itu latihannya sambil berhubungan badan,” kataku.

    “Coba, dik, tunjukin caranya,” katanya sambil tiba-tiba membalikkan badan dan mebuka kausku lalu
    menciumi leher dan mukaku. Aku didorongnya hingga telentang, lalu celanaku dipelorotkan. Batangku yang
    dari tadi sudah mengeras sempurna langsung mencuat.

    Bu Rini lalu tidur telentang di sebelahku, ”Ayo, dik. Coba, dik,” katanya.

    Aku duduk dan Bu Rini kuminta duduk di pangkuanku. Dia rendahkan badannya perlahan lahan sambil mencari
    posisi yang tepat agar penisku masuk ke lubang vaginanya. Begitu semua penisku terbenam dia langsung
    bergumam, “Aduh, enak-e,”

    Bu Rini kuminta tenang dulu sebentar untuk mendengar instruksiku. Aku meminta dia mengedutkan otot
    bagian dalam tubuhnya seperti jika dia menahan kencing atau mengontraksi ketika akan melahirkan anak.
    Aku juga akan melakukan hal yang sama tetapi secara bergantian. Kuminta dia mengedutkan otot kegelnya
    ketika sedang menarik nafas, dan mengendurkannya ketika menghembuskan nafas.

    “Coba ya, bu, sekarang,” kataku.

    Bu Rini mengedutkan ototnya, penisku serasa dicengkeram vaginanya, dan ketika dia mengendur, gantian aku
    mengeraskan penis. Kami terus melakukan olah tubuh itu sampai tiba-tiba Bu Rini mengerang, orgasme. Aku
    tidak lama kemudian juga dijalari kenikmatan yang memuncak, tetapi tidak sampai ejakulasi. Kami
    melanjutkan terus gerakan itu sampai sekitar 30 menit. Bu Rini entah berapa kali mencapai orgasme begitu
    juga aku. Tetapi tetap tidak ejakulasi. Bu Rini akhirnya minta berhenti karena katanya badannya lemas.

    Kami sudahi permainan itu dan Bu Rini kubaringkan di tempat tidurnya dengan ditutupi selimut. AC
    kunyalakan kembali. Aku berpakaian dan mencium kening Bu Rini untuk berpamitan. Dia hanya mengangguk
    lemah dan membuka matanya dengan susah payah.

    ***

    Aku sama sekali sebelumnya tidak menyangka jika Bu Rini pemilik kost ini akhirnya bisa kugarap juga. Dia
    sebetulnya tidak masuk dalam targetku. Alasannya sederhana saja, aku segan, lalu beda umur kami juga
    jauh. Aku keluar dari kamar Bu Rini dengan langkah perlahan. Setelah dengan hati hati kututup pintu
    kamar dan aku berbelok menuju ruang keluarga, tempat biasa dimana anak-anak pada ngumpul, suasananya
    sudah sepi. Kelihatannya masih ada cewek yang nonton TV.

    “Kok lama banget sih, aku udah nunggu dari tadi,” tanya Kristin.

    “Bu Rini banyak penyakitnya jadi terapinya lama,” kataku ngawur.

    “Jay, magku sakit lagi nih, Jay,” kata Kristin manja. Sementara penghuni rumah kos-kosan ini sudah
    kembali ke kamarnya masing-masing. Maklum jam sudah menunjukkan 1.30 tengah malam.

    Aku ditarik Kristin masuk ke kamarnya dan dia segera menutup pintu. Kami duduk di pinggir tempat
    tidurnya. Kristin mengeluh magnya kambuh lagi. Aku heran, karena belum pernah kutemui keadaan seperti
    itu, lalu coba kutekan bagian telapak tangannya. Dia tidak bereaksi menunjukkan kesakitan.

    “Berarti dia bohong, nih.” kataku membatin. Mungkin serangan pijatan erotisku masih mengendap dalam
    tubuh Kristin, sehingga dia penasaran untuk dituntaskan. Dia berpura-pura kambuh magnya agar bisa
    menyeret aku masuk ke kamarnya lagi.

    Nafsuku sebenarnya berada di titik terendah. Namun aku sulit sekali menolak permintaan, apalagi ini
    adalah cewek Cina, cakep, umurnya sekitar 22 tahun, rambutnya di cat agak coklat tua terurai. “Jay, kamu
    temenin aku dong disini, aku khawatir pagi-pagi kambuh lagi, sebab biasanya sekitar jam 4 – 5 magku
    kambuh, aku takut tidur sendiri kalau lagi sakit gini, mau yaaaa?” pinta Kristin penuh harap.

    “Aku mau tidur dimana?” tanyaku.

    “Disini, berdua bareng aku,” katanya.

    Tempat tidur Kristin sebenarnya cukup untuk satu orang. Ukuran lebarnya kira-kira 90 cm. Kalau aku
    paksakan tentu bisa saja tapi sempit sekali nanti gak bisa bergerak. Lalu aku berpikir, kalau memang
    minta ditemani lebih baik Kristin ngungsi ke kamarku. Kamarku lebih besar dan ranjangnya juga lebar.

    “Aku gak keberatan sih nemenin kamu tidur, tapi gimana kalau kamu nginep di kamarku aja, disana lebih
    tenang. Kalau disini besok pagi aku keluar dari kamarmu semua penghuni kos bisa ngliat, kalau di kamarku
    kan lebih leluasa,” aku membuka tawaran.

    Kristin berpikir sebentar, lalu dia setuju. Dia lalu menarik aku keluar kamar dan menggandengku masuk ke
    kamarku diatas. Kamarku berantakan kayak kapal habis dirompak. Aku minta Kristin memaklumi, kamar lajang
    memang jarang rapi. Aku permisi sebentar turun mau pipis sekalian gosok gigi.
    Sekembalinya aku masuk kamar, keadaan sudah rapi sampai ke meja belajarku. Buku-buku yang berantakan
    sudah rapi tersusun, lantai sudah pula disapu bersih. Aku berpikir ini bakal seminggu aku bebas tugas
    tidak merapikan kamar. Kristin duduk di meja belajarku. Wajahnya yang cantik sama sekali tidak
    menunjukkan dia ngantuk, padahal sudah hamper jam 2 malam. Sementara mataku sudah tinggal 5 watt.

    “Aduh, Jay, aku seneng deh bisa tidur ditemeni kamu, aku jadi gak takut kambuh.” katanya sambil bangkit
    lalu duduk ditempat tidur di sampingku.

    “Nanti kalau pacarmu tau kamu tidur bareng aku, apa nggak terjadi perang dunia?” godaku.

    “Ah, biarin aja, dia gak bakal tau kalau gak ada yang kasi tau, ala udah ah, sebel ngomongi soal
    pacarku,” katanya.

    Pacar Kristin, juga Cina dan tajir. Dia punya showroom mobil dan penampilannya selalu trendy. Aku memang
    sempat dikenalkan ketika Kristin dijemput, waktunya aku udah lupa kapan yaa. Aku jadi berpikir bahwa
    perempuan juga punya hasrat selingkuh. Kalau dilihat dari penampilan luar, Kristin termasuk cewek alim
    dan tentunya setia. Nyatanya dia minta tidur bareng aku malam ini. Jadi kesimpulannya apa yaa…

    “Kamu mau tidur dimana, di pinggir atau di tengah?” tanyaku.

    “Aku di tengah, kalau di pinggir nanti takut jatuh,” katanya manja.

    Lampu kuredupkan, dan aku menempati posisiku yang tersisa. Tapi tempat yang disisakan untukku sempit
    sekali. Kristin membiarkan tempat tersisa di bagian dia cukup lebar. Jadi begitu badan kuhempaskan
    langsung berhimpitan dengan tubuh Kristin. Aku masih menerawang tidur membujur, tiba-tiba Kristin
    memelukku. Dia tidak memberi aku kesempatan aku langsung diciuminya. Bahkan mulutku dicucupnya sampai
    aku sesak nafas.
    Rupanya bara birahi yang kutinggalkan di benak Kristin tadi masih terus nyala. Dia ganas bener. Badanku
    ditindihnya, tidak lama kemudian bangkit dan menduduki pas di atas burungku. Untung saja posisi burungku
    sedang menghadap ke bawah, jadi tidak tersiksa. Di dorong kausku ke atas lalu di kembali menciumi bagian
    dadaku, perutku lalu di tariknya pelan-pelan celanaku ke bawah.

    Aku pasrah dan ingin menikmati woman domination. Kristin ganas sekali menyerangku, aku tidak diberinya
    kesempatan sedikit pun untuk membela diri atau membelainya. Akhirnya aku menutup mata saja menikmati
    babak selanjutnya.
    Celana dalam pertahananku terakhir pun akhirnya di tarik kebawah. Aku sudah telanjang bulat, tetapi
    Kristin masih lengkap berpakaian. Aku berpikir, kalau dia terangsang, kenapa juga dia harus menyerangku
    habis-habisan. Wajarnya kalau dia yang konak ya dialah yang minta dipuaskan, bukan malah ingin memuaskan
    aku. Tapi aku diam saja menyimpan pertanyaan itu sambil menunggu jawabannya kelak.

    Krsitin bangkit, dia membuka semua pakaiannya lalu tengkurap diantara kedua pahaku. Dia mulai menjilati
    kedua zakarku. Serangan ini membuat aku belingsatan. Batang yang sudah berdiri tegak menjadi target
    serangan berikutnya. Aku melenguh merasakan nikmatnya.

    Dia kemudian bangkit lagi, mengubah posisinya. Dia merangkak di atasku dan mulai lagi melakukan
    serangan. Aku menangkap kemauannya. Dia minta dioral, sehingga dia mengatur posisi 69. Aku mulai
    melancarkan serangan dengan mengoralnya. Tapi posisiku tidak bisa bertahan lama. Dia terlalu tinggi,
    sehingga aku harus cukup tinggi mengangkat kepalaku. Kugapai bantal untuk mengganjal kepalaku sampai
    posisiku pas di depan mekinya.

    Serangannya membuat dia mengerang dan mendesis. Barangku jadi terabaikan ketika dia mendapat kenikmatan
    oral dariku. Aku segera mengubah posisi, membalikkan badannya dan telungkup diantara kedua
    selangkangannya. Clitnya yang sudah mengeras dengan mudah ditemukan dan lidahku mulai mengulas ujung
    kelentit itu. Dia menjerit-jerit menahan kenikmatan. Gila bener, memeknya banjir bandang.

    Sambil mengoral aku mengingat mitos bahwa cewe yang kulitnya putih, memeknya cenderung lebih banjir. Ini
    baru kubuktikan. Sambil menjilat aku mencolokkan jari tengah kananku ke dalam lubang vaginanya. Pelan-
    pelan kutekan, tidak ada halangan. Berarti dia sudah bolong. Aku lalu mencari G spot. Agak lama
    merabanya karena selain pinggulnya terus menerus bergoyang di dalam liangnya banyak sekali bentuk-bentuk
    daging yang susah digambarkan. Yang mana sih G Spot anak ini.

    Aku mencoba berkonsentrasi sambil menahan pinggulnya agar tidak terus bergerak.Kutingkatkan kepekaan
    jari tengahku dengan lebih berkosentrasi, sampai kemudian kutemukan. Pantas agak susah, ternyata
    letaknya tidak tepat di posisi jam 12, dia di posisi 10.30. Untuk memastikan itu adalah G spot aku
    hentikan terpaan clitorisnya, lalu kumainkan G spot. Dia menggelinjang, berarti sudah kena sasarannya.
    Serangan dengan dua target aku gencarkan, sampai kemudian dia menyerah.

    “Ampun! Ampun, ngilu…” katanya sesaat setelah orgasmenya tercapai. Dia menarikku ke atas.

    Aku menindih badannya. Baru kusadari bahwa payudara Kristin ini ternyata tidak terlalu besar. Tapi
    bentuknya cukup menggairahkan. Kujilati kedua putingnya, dia kembali mengelinjang. Batangku yang keras
    aku tuntun untuk bertamu ke gua Kristin. Pelan-pelan kusorongkan dan terbenamlah sudah seluruh batang
    penisku. Meski banjir, tapi aku merasa memek kristin tetap sempit. Cairan vaginanya ternyata agak kelat,
    bukan encer. Jadi rasa batangku seperti menyelam di cairan perekat, atau lem. Ketika kumaju- mundurkan
    terasa sekali agak lengket. Aku berfikir, mungkin Kristin sedang berada di puncak masa subur, sehingga
    vaginanya mempersiapkan cairan terbaik untuk menjamu batang yang masuk. Kalau begitu aku harus
    menghindar menembak di dalam.

    Aku mengatur posisi genjotan untuk menggali kembali orgasme Kristin. Hampir 5 menit dia sudah
    bersemangat membalas hentakanku. Makin cepat dan akhirnya dia menarik tubuhku keras-keras. Dia ternyata
    mencapai kepuasan. Padahal aku sudah berada di gigi 5 untuk siap tinggal landas. Jadi terpaksa berhenti
    lagi untuk sementara . Setelah kedutan orgasmenya reda aku mulai lagi menyerang, tapi bisa langsung gigi
    3 sehingga melaju lebih cepat. Aku berkosentrasi penuh untuk mencapai kenikmatanku.

    Aku abai saja terhadap Kristin apa nikmat apa tidak, toh dia sudah beberapa kali klimaks. Ketika hampir
    mencapai puncak tiba-tiba Kristin menahan pantatku untuk mempertahankan benaman maksimal batang bertopi
    baja ini. Padahal akau sudah hampir mencapai point no return. Bagaikan cangkir dia mengadukku, jadi
    bukan sendok yang mengaduk, keadaan sudah terbalik. ceritasexdewasa.org Rupanya dia juga hampir sampai ke puncak everest.
    Batangku mendapat kejutan berupa kontraksi yang tidak mungkin lagi aku mampu menahan luapan lumpur
    seperti Lapindo. Maka akupun terpaksa meledak di dalam.
    Sambil merasakan kenikmatan puncak, aku pun diliputi kekuatiran mengenai kemungkinan Kristin hamil
    membesarkan janin dari spermaku. Aduh sulit berfikir dalam keadaan nikmat begini, aku nikmati ajalah,
    soal kemungkinan itu bagaimana berikutnya sajalah.

    Setelah ketegangan mereda, gencatan senjata ditandatangani. Aku memprotes Kristin kenapa dia tahan aku
    sehingga aku tidak bisa melepas ejakulasiku di luar. Risiko hamil sangat besar, dan itu bakal menjadi
    tanggunganku nanti.

    “Tenang aja, Jay, aku kan dipasang spiral,” Meledaklah keheranan di kepalaku, sampai aku tidak sadar
    mangap lebar terlalu lama. “Mau tanya apa lagi lu, Jay?”

    “Nggak punya pertanyaan lagi, aku ngantuk.” kataku.

    Punya banyak sasaran genjotan kalau di alam khayal rasanya nikmat banget, tapi mengalaminya di alam
    nyata tidak begitu. Meski aku sudah menelanjangi mereka, tetapi aku tetap menjaga perasaan mereka,
    sehingga aku menjaga diri untuk tidak mengambil inisiatif. Aku berusaha tampil lugu, bahkan cenderung
    culun.

    Kelihatannya mereka masing-masing tau kalau aku sudah bermain di antara sesama kolega. Tapi karena
    konvensi, atau perjanjian yang tidak tertulis, mereka saling menjaga perasaan.

    Namun ada hal-hal yang tidak bisa mereka tutupi atau tidak sadar melakukannya. Aku sering kali dilendoti
    dan diciumi (walaupun hanya di pipi). Entah kenapa setiap hari di awal pertemuan mereka selalu
    menciumku.

    Aku jadi merasa rikuh kepada Juli, Ita dan Niar. Mereka tentunya tidak bisa seakrab teman-temannya yang
    pernah aku timpa. Mohon juga dipahami, aku tidak pula berusaha bernafsu menggarap mereka bertiga. Apakah
    jika aku bisa menggarap semua wanita di tempat kost ini aku bisa menepuk dada sebagai jagoan. Mau pamer
    ke siapa, lantas apa pula manfaatnya. Kurasa itu hanya kesombongan yang tidak bisa dibanggakan.

    Sesungguhnya aku tidak ingin membeda-bedakan atau mengkotak-kotakkan pertemanan di rumah ini, antara
    yang sudah kugarap dengan yang belum. Aku berusaha akrab dengan semuanya tanpa membedakan mereka.
    Cewek-cewek di rumah ini masing-masing punya kelebihan, meski pun cantik dan ayunya berbeda-beda. Aku
    jamin lelaki siapa pun kalau disuruh memilih satu diantara mereka untuk dipacari pasti bingung. Sebab
    memang semuanya menarik.

    Juli, Ita dan Niar termasuk gadis-gadis yang gila kerja. Di usia mereka sekitar 25 tahun, mereka mungkin
    sedang berada di jenjang karir yang menjanjikan. Dari penampilannya, terlihat gaji mereka cukup besar.
    Dulunya mereka kuliah di akademi sekretaris yang kuceritakan diawal kisah ini, tetapi karena merasa
    betah, sampai setelah bekerja pun mereka tetap bertahan di kos-kos ini.

    Di antara ketiga orang ini, Ita lah yang mempunyai kelebihan daya tarik. Susunya besar sekali, seperti
    tidak seimbang dengan tubuhnya yang cenderung kurus. Temanku orang Jawa menyebutkan penampilan Ita
    sebagai Wongso Subali (Wong e Ora Sepiro, Susu ne sak Bal Voli / Orangnya tidak seberapa, tetapi
    payudaranya sebesar bola Voli). Kulitnya tidak putih cenderung sawo matang.

    Tingginya sekitar 160, cukup tinggi bagi rata-rata cewe melayu. Namun di balik kelebihannya itu, dia
    mempunyai kekurangan. Ketiaknya baunya kurang sedap, seperti bawang mentah. Apalagi kalau dia
    berkeringat, satu ruangan seperti terpenuhi oleh bau ketiaknya. Cewek-cewek yang kebetulan berada di
    ruangan itu, sebentar-sebentar menggesekkan hidung. Tapi Ita sepertinya tidak merasa, dia menjadi
    penyebab sumber polusi udara.

    Mungkin tidak ada yang berani menegur, Ita. Masalah itu rasanya terlalu sensitive. Untungnya Ita tinggal
    di kamar sendiri, tidak berbagi (share) dengan yang lain. Kalau dia joinan sekamar dengan orang lain,
    pasti temennya mabuk kepayang.

    Aku berpikir keras mencari cara untuk menyampaikan kekurangannya itu. Kesulitan yang kurasakan adalah
    Ita orangnya agak tertutup dan cenderung pendiam. Dia lebih sering mengurung diri di kamarnya daripada
    ngrumpi.

    Suatu hari kami keluar dari rumah bersamaan menuju halte bus. Jaraknya halte memang tidak begitu jauh,
    karena ada jalan pintas melalui gang. Kami ngobrol tanpa isi, tetapi menjelang sampai halte aku
    melontarkan, “Ta, sebenarnya gue pengin nyampein sesuatu yang sangat penting untuk kamu.”

    “Apa sih, sekarang aja kenapa?“ jawabnya dengan wajah penasaran.

    “Ntar aja lah, Ntar malam di rumah, pokoknya penting banget buat kamu,” kataku. Meski dia berkali-kali
    mendesak agar aku menceritakan secuil info yang akan aku sampaikan nanti, tapi aku tetap bertahan bahkan
    menambahkan kata-kata yang makin bikin dia penasaran.

    Kami berpisah, karena bus kami masing-masing berbeda jurusan. Di dalam bus aku seperti orang melamun.
    Sebenarnya bukan melamun, tetapi sedang menyusun kata-kata yang nanti akan kusampaikan ke Ita. Aku pun
    masih belum menemukan kata pembuka.Cerita Sex Dewasa

    Aku pulang agak telat, jam 8 malam aku baru sampai di rumah. Ita rupanya sudah sampai duluan. Dia
    melihatku sekelebat, ketika aku hendak naik ke kamarku. Aku diburunya dan dia mengekoriku ikut masuk ke
    kamar.

    “Mau ngomong apaan sih? Gua jadi nggak tenang kerja seharian, gara-gara lu,” Ita mengkomplain.

    ”Sebenarnya bagi gue nggak terlalu penting, tapi buat kami rasanya penting banget.“ Wah, ini kata-kata
    tidak pernah kupikirkan sebelumnya, kok meluncur begitu aja, kataku dalam hati. “Gini lho, Ta, kamu ini
    kan cakep, seksi, montok lagi,” kataku menggoda.

    “Ya, terus kenapa?” katanya sambil matanya melotot seperti mau menelanku.

    “Tapi ada kekurangan kecil yang sangat mengganggu,” kataku lalu aku diam.

    “Apaan sih? Bikin orang tambah penasaran,” katanya.

    “Aku mau jujur, tapi kamu mesti janji jangan marah dan jangan tersinggung ya, karena ini demi kamu
    juga,” kataku. Ita makin kesal, tapi dia berjanji tidak akan marah padaku. “Terus terang ya, kamu ini
    punya kelemahan di bau badanmu, rasanya sih bersumber dari sini,” kataku menunjuk ketiaknya.

    Ita tertunduk. “Iya, Jay, aku sudah berusaha dengan berbagai cara bahkan pakai bedak badan yang anti bau
    badan, tapi gak berhasil juga. Aku malu jadinya, Jay, ama kamu. Tapi anyway, aku terima kasih, kamu
    berani terus terang begitu, kamu tau nggak caranya untuk ngilangi bau ketiakku ini?” tanyanya.

    Aku menjelaskan bahwa aku dulu juga menghadapi masalah seperti itu. Aku kemudian menggunan tawas yang
    kuusapkan setiap kali selesai mandi. Ketika sedang mandi, aku selalu membawa handuk kecil untuk
    menggosok bagian ketiak sampai terasa benar-benar bersih. Aku meminta Ita mengikuti caraku.

    “Tawas kayak gimana sih, belinya dimana tuh?” katanya.

    Aku lalu menjelaskan bentuk tawas yang seperti es batu, dan belinya di toko kembang di Senen biasanya
    ada. Aku menawarkan diri untuk membelikan satu untuk dia. Ita senyum-senyum.

    “Terima kasih ya, Jay, kamu ternyata sahabatku yang penuh perhatian.” katanya sambil mencium pipiku.

    “Aduh, aku mabuk nih,” sambil menjatuhkan diri telentang ke tempat tidur.

    “Hah, kenapa?” katanya terheran-heran.

    “Bau ketiak,” kataku serius.

    “Sialan lu, dasar brengsek,“ katanya lalu keluar kamarku.

    Anjuranku rupanya dituruti, sampai seminggu kemudian aku bertemu lagi di rumah. Ketika berpasasan kami
    sama sama berhenti. Aku langsung berusaha membaui badannya dan hidungku menuju ke kesalah satu
    ketiaknya. Tidak terasa ada bau.

    “Ah, lu ngapain sih, bikin orang risih aja,” katanya sambil mendorong badanku.

    “Sekarang nggak terasa ada bau bawang lagi, Ta,” kataku setengah bercanda.

    “Iya nih, kayaknya reseplu berhasil, resep murah tapi hebat juga ya, Jay,” katanya.

    Sejak saat itu Ita sudah tidak menjadi sumber polusi di rumah kami. Teman-teman ceweknya saling
    bergunjing. Juli yang hari itu melihat aku membaui ketiaknya menanyakan aku apakah itu karena aku
    memberinya obat. Kuakui bahwa aku yang menegurnya soal bau ketiak.

    Kristin yang duduk di samping Juli langsung menanggapi, “Emang kamu terus terang ngomong ama dia? Gila,
    lu nekat amat,” katanya.

    Mbak Ratih tanya, “Trus, dia gimana reaksinya?”

    “Ya dia malu, tapi nggak marah kok,” kataku.

    Ita sejak keberhasilan itu makin dekat denganku. Aku bahkan sering dijadikan tong sampah untuk
    mengeluarkan isi hatinya. Aku sering digelandang ke kamarnya hanya untuk jadi pendengar. Kadang kadang
    dia menangis dan bersandar di dadaku sambil meluapkan kekesalannya. Meski aku lebih muda, tapi kalau
    menghadapi situasi seperti ini harus berperan sebagai laki-laki dewasa, sok tenang, sok kalem dan
    berlagak sebagai pengayom.

    Kalau dia bersandar di dadaku, tidak bisa lain, teteknya juga menghimpit badanku. Rasanya kenyal sekali
    dan tebal. Biasanya nih sekali lagi umumnya, kalau perempuan tidak merasa malu payudaranya tersentuh
    laki-laki maka dia merasa laki-laki itu sangat dekat dengan dirinya.

    Kalau dia menangis di dadaku maka aku hanya bisa mengelus-elus rambutnya dan mencium dahinya. Itu saja
    tidak lebih. Aku tidak berusaha mencari kesempatan dalam kesempitan. Ini membuat Ita jadi makin dekat
    denganku, sampai kadang kadang dia memeluk tanganku sampai tanganku menekan susunya. Dia kelihatannya
    mengabaikan saja susunya tertekan, atau mungkin juga dia sengaja, yang mana yang benar aku cari
    jawabannya nanti.

    Suatu hari aku ditariknya ke teras ke depan rumah. “Jay, aku mau minta tolong banget ama kamu, bisa
    nggak?“ katanya.

    “Nggak,“ kataku berusaha bermuka serius.

    “Ah, jangan gitu dong, serius nih,” katanya.

    “Minta tolongnya apa? Belum tau aku sudah dikasi pilihan menjawab,” kataku.

    “Lu emang susah, nggak bisa serius orangnya,” kata Ita sambil bermuka merajuk.

    “Ada apa, tuan putri, apa ketiaknya bau lagi? Kayaknya sih sekarang malah wangi.” aku menggoda.

    “Aku minta tolong lu nemenin gue menghadiri pesta perkawinan sahabat gue, tapi pestanya di Lampung, lu
    bisa kan? Kita berangkat hari Sabtu pagi, pulang lagi hari Minggu sore,” katanya.

    “Kamu kan orang Lampung, kok pulang kampung minta dikawal?” jawabku.

    “Rumah gue di Metro, masih jauh dari Bandar Lampung. Lagian kalau gua pulang ke rumah, repot terlalu
    jauh dan gak bisa nyampe di Jakarta lagi hari Minggu. Pokoknya lu tau bereslah, semua biaya gue yang
    tanggung,” katanya sungguh-sungguh.

    “Gue mau lihat agenda gue dulu apa ada acara nggak sabtu sama minggu besok,“ kataku berpura-pura serius.

    “Gaya lu kayak pejabat Negara aja, pake periksa agenda. Udahlah, bisa ya?” Ita setengah memaksaku.

    Aku memang tidak ada acara dan tidak ada kuliah sejak Jumat sampai Minggu. Sebenarnya aku tidak
    keberatan, tetapi rikuh jugalah ama temen-temen kost kalau aku pergi mengawal Ita. Aku minta kepergian
    kami dirahasiakan. Aku beralasan ke Bandung dan Ita ke Lampung. Ita kemudian mengubah rencana kami
    berangkat Jumat siang. Dia beralasan ada beberapa hal yang mau dicari di Bandar.

    Kami sampai di Lampung sekitar jam 7 sore dan Ita berinisiatif mencari penginapan. Aku tidak mengenal
    Bandar Lampung, sehingga Italah yang berinisiatif mencari tempat penginapan. Ia mencari Hotel di tempat
    resepsi perkawinan temannya. Kami akhirnya mendapat kamar di hotel yang lumayan bagus. Kalau tidak salah
    hotel bintang empat. Ita hanya mengambil satu kamar untuk kami tempati berdua, tetapi tempat tidur di
    kamar kami hanya ada satu berukuran king size.

    “Kamu kok tidak pesan kamar yang 2 bed, kalau begini kan kita kaya berbulan madu?” kataku.

    “Ah, nggak apa-apa lah, hotel ini penuh. Syukur kita masih kebagian kamar, lagian ama kamu aja kok, kan
    kamu itu adikku,” katanya.

    “Aku takut ketularan baunya,” kataku.

    “Sekarang udah nggak lagi, weeeei… Sialan lu, ngeledek terus,” katanya sambil melempar bantal. “Sekarang
    kita mandi, siapa duluan, lu apa gue?” katanya.

    Aku memilih mandi dulu karena agak tersesak bab. Setelah menyulut rokok aku segera masuk kamar mandi
    mencuci bath tub dan mengisinya dengan air hangat. Aku melampiaskan hajat sambil menunggu air penuh di
    bath tub. Setelah selesai dan air penuh aku mulai berendam. Pertama airnya tidak terlalu panas, karena
    aku tidak tahan. Setelah semua terendam, aku tambahkan air panas sampai sangat hangat. Nikmat sekali
    rasanya berendam di air panas. Entah kenapa batang jadi bangun ketika direndam. Aku jadi menerawang, apa
    kejadian yang bakal terjadi nanti malam, aku tidur satu bed dengan Ita yang bertetek besar. Rasanya
    bakal ada peristiwa penting nanti malam. Sejauh ini aku belum pernah mencumbu Ita, meskipun dia sudah
    sangat dekat dengan ku. Misalnya ia tidak risih lagi menekan susunya ke badanku atau ke lenganku. Aku
    selama ini aku cool aja.

    Sedang enak-enaknya menghayal, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Ita muncul dengan daster berwarna
    pink. Buset dah, aku lupa menguncinya. Aku jadi kikuk juga sebab sedang telanjang bulat di dalam bak
    mandi. Ita berdiri di samping bak sambil ngomel, “Mandinya lama amat sih? Aku udah kebelet pipis, nggak
    kuat lagi nunggu,” katanya sambil terus menurunkan celana dalamnya dan langsung duduk di toilet.

    Aku tidak menyaksikan pemandangan apa-apa, karena dia menurunkan celana dalam tapi masih tertutup oleh
    dasternya. Suara mendesis nyaring sekali terdengar,. ”Buset, siulannya kenceng bener,” kataku.

    Mendengar guruanku, dia malu, lalu segera menggelontorkan air agar suara pipisnya samar dengan
    gelontoran air. “Dasar lu adik bandel, bikin gue malu aja.” katanya.

    “Apa gue nggak lebih malu telanjang begini?” kataku.

    “Enak ya ngerendem begitu, kok gue jadi pengen mandi juga ya?” katanya sambil mencelupkan tangannya di
    bak mandi. “Ih, kok bangun sih tuh barang, lagi ngayalin gue ya? “ katanya setelah tangannya usil masuk
    ke bak mandi dan menggenggam barangku. Aku tidak menyangka, sehingga terkejut dan senang juga kemudian.

    Ita melepas celana dalamnya sambil duduk di toilet lalu berdiri menyangkutkan di gantungan baju. Dia
    lalu mengangkat dasternya yang ternyata sudah tidak mengenakan BH lagi. Tanpa ada rasa rikuh dia berdiri
    menghadapku dalam keadaan bugil. Susunya memang ukuran ekstra large dan putingnya seperti terbenam di
    dalam gumpalan daging.

    Dia mencelupkan kaki satu persatu lalu membungkuk untuk meraih air bagi menciprat-cipratkan tubuhnya.
    “Ih, panas bener sih airnya? Ntar telor lu mateng baru tau rasa,“ katanya sambil tersenyum.

    Posisinya yang membungkuk menghadapku membuat kedua payudaranya menggantung seperti pepaya Bangkok
    terhidang di depan mataku. Aku dalam posisi duduk di dekat keran, sedang Ita mengambil posisi
    dihadapanku. Dia pelan-pelan merendahkan badannya sambil cengar-cengir menahan panasnya air. Sampai
    posisi duduk , teteknya masih terpampang didepanku. Air bak kurang tinggi untuk menenggelamkan susu
    besar yang seperti pelampung itu.

    Ita masih menciprat-cipratkan air panas ke badannya dan meraup mukanya. Ia lalu pelan pelan menurunkan
    badannya sampai tinggal mukanya saja yang diatas air. Gerakkannya itu menjadikan kakinya menyelusup ke
    bawah kakiku dan bagian vitalnya menerjang pantatku. Batangku jadi terangkat muncul ke atas air setengah
    tiang.

    “Wah, teropong kapal selamnya muncul tuh, mau mengamati musuh ya, musuhnya ada di bawah kok,” kata Ita
    santai.

    Dipegangnya batangku lalu ditarik kearahnya, akibatnya badanku jadi lengser kebawah. Pantatku bersetumpu
    di atas tetek Ita, dan punggungku bersandar di atas kemaluannya dengan jembut yang lumayan lebat. Nikmat
    sekali rasanya berendam di air hangat dengan cewek yang teteknya super besar.

    Setelah berendam sekitar 10 menit aku kemudian berdiri untuk bersabun. Pertama aku menyabuni diriku
    sendiri. Ita ikut bangkit dan celakanya dia minta aku menyabuni dirinya. Aku meski dalam keadaan siaga
    satu, karena batangku terus menegang, dengan gaya cool mulai menyapukan tangan dengan sabun. Dimulai
    dari bahu, turun ketangan kanan, lalu kiri dan… mulai lah menyabuni teteknya kiri kanan. Susunya kenyal
    banget. Aku permainkan dengan meremas, tetapi tanganku tidak muat. Setelah itu turun ke bawah sampai ke
    perut lalu aku minta ia berbalik badan. Punggung dan pantatnya giliran berikutnya sampai turun ke kaki,
    lalu kuminta berbalik lagi kini kaki bagian depan lalu naik ke bagian vitalnya. Kugosok jembutnya sampai
    berbusa lalu aku menyelipkan jariku ke memeknya. Dengan gerakan mendadak jari tengahku menyelinap ke
    dalam lubangnya lalu segera kucium jari itu.Cerita Sex Dewasa

    “Bau sabunnya kalah sama bau anumu,” kataku mengejek.

    Ita gusar dan malu, “sialan lu, memek gua gak bau lagi, sok tau lu,” katanya sambil ikut meraih memeknya
    sendiri lalu menciumnya.

    “Benerkan, bau sabunnya ilangkan? Yang ada bau kecap ikan,” kataku kembali mengejek.

    “Eh iya, bener juga,” katanya malu.

    Aku lalu kembali menyabuni memeknya sampai ke lubang pantatnya. Bagian penting itu terbelai, akibatnya
    Ita mendesis. “Oooiii sedapnya,” katanya sambil meraih badanku dan memeluknya.

    Badan kami licin sekali dan karena air untuk kami berendam tadi aku buang akibatnya bak mandi juga jadi
    sangat licin. Khawatir jatuh aku mengajak Ita untuk pelan-pelan duduk. Badan kami masih berselemak sabun
    tetapi air sudah mengering. Aku menawarkan untuk kami saling melakukan body massage.

    “Gimana caranya?” kata Ita.

    Ita kuminta tidur telentang dan aku tengkurap diatasnya. Aku meluncur ke atas dan ke bawah. Menggosokkan
    batang dan jembutku ke perut dan dadanya. Setelah itu aku mengambil posisi telentang di bawah badannya
    dengan posisi kepala berlawanan arah. Aku kembali meluncur ke atas dan ke bawah, sehingga batang dan
    jembutku menyapu dan mengganjal pantat dan punggungnya.

    “Iiiih, sedapnya, merangsang banget ya?” kata Ita sambil terus mendesis.

    Ita kemudian kuminta mengubah psosinya jadi tengkurap. Sehingga kami berhadapan tetapi dengan arah
    kepala yang berlawanan. Aku kembali menaik dan menurunkan badanku mengganjal tubuhnya. Ita tidak tinggal
    diam, dia juga ikut melakukan gerakan berlawanan. Batangku kadang-kadang terselip diantara kedua pahanya
    lalu terlepas lagi, tapi tidak sampai terpeleset masuk ke dalam lubang vaginanya.

    Posisi ini membuat nafsuku tambah tinggi sehingga akhirnya aku tidak mampu menahan desakan ejakulasi.
    Aku tak kuasa menahan sehingga cairan putih hangat lepas dan menyapu ke badan Ita.

    “Yahhh, kamu nggak kuat ya?“ katanya ketika merasa batangku berkedut diantara kedua susunya.

    “Enak banget sih, dan susumu itu yang buat pertahanan gua jebol,” kataku.

    Kami lalu mandi berbilas dan mengeringkan badan dengan handuk. Aku digandengnya keluar kamar mandi. Kami
    berdua jalan dalam keadaan bugil. Aku di dorongnya hingga jatuh telentang di kasur. Aku yang merasa
    lemas setelah tembakan tadi, tidur telentang pasrah. Ita mengambil inisiatif dengan menindih badanku.
    Dia mencium bibirku dan kami lama sekali berpagutan.

    Ita melepas ciumannya dari mulutku dia turun ke bawah dan menghisap pentilku. Rasa geli dan nikmat
    menjalar ke seluruh tubuhku. Ita terus meluncur ke bawah dan sekitar kemaluanku diciuminya dengan rakus.
    Batang dan zakarku tidak diciumnya, tetapi dia turun menciumi paha lalu kedua lututku. Aku merasakan
    kegelian yang amat sangat sampai aku menggelinjang. Mengetahui aku kegelian dia mengarahkan ciumannya ke
    atas dan batangku menjadi sasarannya kemudian. Batangku yang masih setengah sadar di lahapnya dan
    dihisapnya. lalu dijilatinya. Kaki ku ditekuk dan jilatannya turun ke kedua buah zakarku lalu turun lagi
    lidahnya mengitari lubang matahari.

    Aku menggelinjang nikmat. Dia kembali mengulum batangku sampai menjadi sadar dan tegak penuh. Kuluman
    Ita sungguh canggih, sehingga aku kelojotan merasa nikmatnya. Untungnya tadi sudah mencapai puncak,
    sehingga aku mampu menahan diri agar tidak buru-buru muncrat lagi.

    Ita membalikkan badanku dan aku dimintanya berganti peran menyerang dirinya. Aku segera paham dan
    memulai tugasku dengan mencium leher lalu kedua payudaranya. Agak sulit rasanya menghisap pentilnya
    karena terbenam. Kutelateni menghisap pentilnya sampai akhirnya keduanya mencuat keras.

    Puas dengan menjilat dan meremas kedua susunya aku turun ke perut lalu ke memeknya. Bulu lebat dan
    keriting membuat aku agak sukar menemukan belahan memeknya. Dengan bantuan kedua tanganku, kusibak dan
    lidahku menyerbu ke belahan itu. Aku memulainya dengan menjilati sekitar bibir luar, bibir dalam lalu
    mengarah ke clitorisnya.

    Memeknya yang tadi kering setelah kuhanduki, kini sudah basah lagi oleh cairan pelumas vaginanya. Baunya
    wangi seperti bau sabun. Saat lidahku menggapai clitorisnya Ita menggelinjang dan pinggulnya bergerak
    liar. Aku jadi sulit mengkosentrasikan jilatanku. Aku lalu menahan kedua pahanya agar tidak liar.

    Serangan ujung lidahku berkosentrasi pada clitoris Ita yang sudah makin mencuat. Dia mendesah-desah dan
    tidak sampai lima menit dia tumbang dengan orgasmenya yang pertama. Dia minta aku berhenti mengoralnya
    karena katanya barangnya ngilu. Aku bangun dan duduk bersimpuh diantara kedua kakinya. Jari tengah kanan
    pelan-pelan kucolokkan ke vagina Ita.

    Kucolok-colok ke lubang basah itu dan aku seperti sebelumnya dengan para wanita, mencari benjolan G
    spot. Tombol G spot Ita mudah ditemukan, sehingga kini gerakan jariku berkosentrasi pada tombol itu.
    Gerakan halus mengusap g spot itu membuat Ita kembali mendesis. Dia lalu tidak hanya mendesis tetapi
    mengangkat angkat pinggulnya. Usapanku jadi meleset. Aku minta Ita menahan gerakannya agar dia merasa
    lebih nikmat.

    “Aduh, kok enak banget sih, Jay, lua apain gua?” katanya sambil menggigit bibir bawahnya. Dia berusaha
    melawan nikmat yang menjalar dari dalam vaginanya, tapi belum dua menit dia mengeluh panjang dan
    berusaha mengapit kedua kakinya, namun terhalang oleh tubuhku. Kedua tangannya meraih bantal lalu
    ditutupkan ke mukanya dan dia menjerit sekuat-kuatnya dibawah bantal. Bersamaan dengan itu, Ita
    ejakulasi sampai mengenai hidung dan mulutku. Kujilat cairan itu di bibirku terasa agak asin dan kental.
    Orgasmenya panjang dan Ita kemudian jatuh terkulai. Badannya bagai tak bertulang.

    “Aduh, badan gua lemes banget,” katanya seperti orang ngantuk.

    Sementara dia lemas aku tegang. Tanpa minta izin dan mengatakan sesuatu aku segera mengarahkan batangku
    menuju lubang vaginanya. Dalam posisi bersetumpu kaki terlipat, batangku kutekan pelan menyeruak
    vaginanya. Lubang memeknya terasa sempit, meskipun banjir. “Aduh, Jay! Pelan-pelan, Jay,” katanya.

    Aku dengan sabar menekan penisku masuk kedalam gua nikmat itu. Setelah tenggelam seluruhnya aku mulai
    melakukan gerakan maju mundur. Sensasi menyaksikan gerakan maju mundur batangku ke dalam memeknya
    membuat aku sangat terangsang. Apalagi Ita mulai mendesis dan bergumam, ah uh au uh.

    Aku makin bersemangat, tetapi karena posisiku sulit lama-lama jadi kurang nyaman kemudian aku mengubah
    posisi menindih badannya. Aku bertumpu di kedua lutut dan kedua sikuku. Pada posisi ini aku leluasa
    memompa badan Ita. Aku tidak perduli lagi apa dia nikmat atau tidak, tetapi aku berkonstrasi pada
    kenikmatan diriku. Semakin cepat kupompa, semakin dia mengerang. Belum aku sampai pada puncak Ita sudah
    menarik rapat badanku dan dia kembali berkedut bagian dalamnya. Ita kembali menikmati orgasme yang
    dahsyat.

    “Aduh, aku rasanya gak kuat nglawan kamu, Jay,” katanya. Aku diam saja dan kembali menggenjot, karena
    pencapaianku tadi tanggung.

    Aku kemudian menjelang puncak dan beberapa saat akan mencapai puncak kutarik batangku keluar dan air
    maniku kulepas di atas perutnya. Aku rebah disampingnya dan badanku terasa lelah. Kami tertidur entah
    berapa lama sampai terbangun karena merasa dingin. Aku bangun dan ke kamar mandi mengambil handuk kecil
    membasahinya dengan air hangat. Handuk itu kusapukan ke tumpahan maniku di perut ita, setelah aku
    sebelumnya membersihkan penisku dengan air dan sabun. Kami kembali tidur di bawah selimut. Bed cover
    yang tadi terhampar sudah kumasukkan ke dalam lemari.

    Belum lima menit aku berbaring, Ita bangun. “Jay, laper ya,” katanya. Aku juga merasakan yang sama. Ita
    kemudian bangun dan ke kamar mandi. Dia kedengarannya mencuci alat vitalnya dan juga mungkin sekalian
    pipis.

    “Kita cari makan diluar yuk, di hotel kurang enak, di dekat sini ada ayam goreng yang enak,“ katanya.

    Kami lalu berkemas. Ita mengenakan celana jean, kaus hitam dan dibungkus lagi dengan jaket. Sementara
    aku kembali mengenakan jean yang kukenakan tadi hanya mengganti T-shirt. Kami turun dan keluar hotel.
    Sekitar 5 menit jalan menyeberang, kami menemukan tempat ayam goreng yang dimaksud Ita. Jam sudah
    menunjukkan 11 malam, tetapi warung tenda ayam goreng itu ramai sekali.

    Perut kenyang badan terasa hangat. Keinginan sex sudah terpenuhi, apalagi yang kurang. Sekembali kami ke
    Hotel Ita mengajakku duduk di coffe shop. Disitu ada live music. Ita menawarkan bir yang tentu saja
    tidak bisa kutolak..
    Nikmat sekali cairan bir itu membasahi kerongkonganku. Kata orang nikmatnya minum bir itu adalah pada
    tegukan yang pertama. Ternyata memang benar. Satu botol besar kuhabiskan berdua dengan Ita, namun dia
    hanya minum segelas.

    “Gaul juga anak ini,” batinku.

    Ita menawariku tambah dengan satu botol kecil bir hitam. kata dia bagus untuk stamina. Menyimak stamina,
    aku lalu menyetujuinya. Rasa pahit bir hitam itu menjadi nikmat karena syaraf perasaku terpengaruh
    hasutan ’demi stamina’.

    Kami kembali ke kamar sekitar jam satu malam. Mata mulai mengantuk dan lelahnya badan yang tadi tidak
    terasa kini menumpuk. Mataku seperti sudah mau terkatup saja. Sesampai di kamar aku melepas celana jean
    dan t shirt, tinggal celana dalam lalu menyusup ke dalam selimut. Ita masih sibuk di kamar mandi. Aku
    segera terlelap. Mungkin ada satu jam aku tertidur lalu terjaga karena merasa dipeluk Ita. Dalam keadaan
    antara tertidur dan sadar aku merasa Ita memelukku dalam keadaan telanjang di bawah selimut. Susunya
    yang besar menekan badanku dan jembutnya yang tebal menempel di pahaku.

    Situasi itu membuatku pelan-pelan kembali tersadar dan bangun seutuhnya. Penisku pelan-pelan bangun,
    tetapi badanku lelah sekali. Apalagi pengaruh bir tadi mengendap di otakku. Aku kembali jatuh tertidur.

    Entah sudah berapa lama aku tertidur sampai aku merasa badanku dingin oleh tiupan AC.Kamar telah gelap,
    cahaya hanya ada dari lampu di gang di depan kamar mandi. Aku membuka sedikit mataku dan memperhatikan
    sekeliling. Ita ternyata sedang menyedot batangku. Dia tidak tahu kalau aku sudah terbangun. Aku
    berusaha menahan reaksi rangsangannya dengan menahan suara agar disangka masih tidur.

    Karena sedotan yang maut, barangku jadi keras sempurna. Ita lalu bangkit dan didudukinya batangku. Pelan
    pelan diarahkan batangku ke dalam mekinya sampai ambles sepenuhnya.

    Dia mengendalikan persetubuhan dengan gerakan-maju mundur kadang kala naik turun. Sesekali batangku
    terlepas karena dia terlalu hot menaikkan badannya. Tapi ia segera kembali memasukkan batangku ke dalam
    tubuhnya. Aku tetap bertahan pura-pura tidur. Mungkin 15 menit atau mungkin lebih, Ita mulai mencapai
    orgasmenya. Sementara aku karena gaya gravitasi merasa mampu bertahan lama. Barangku tetap tegak
    sempurna, sementara Ita sudah berkedut-kedut. Setelah istirahat hampir 5 menit Ita kembali menggenjot
    batangku. Dia ternyata tangguh juga. Pemandangan di depanku sulit untuk diabaikan, tetek yang bergoyang
    adalah atraksi sangat menarik. Aku mengintip guncangan tetek besar dihadapanku.

    “Kalau aku tidak berperan pura-pura tidur, pasti sudah kuremas-remas gumpalan daging besar itu. Tapi apa
    boleh buat, aku sudah memilih peran tidur.”

    Ita kembali bersemangat memompa apalagi menjelang orgasmenya dia bergerak tidak karuan. Aku jadi spaning
    juga hingga mendekati titik orgasmeku. Karena aku pura-pura tidur maka aku tidak boleh bereaksi,
    sehingga aku pasrah saja ketika akhirnya ejakulasi lepas di dalam memeknya. Kedutan ejakulasiku menambah
    semangat Ita karena rupanya dia juga orgasme dan rubuh memelukku.

    “Ih, kamu sadis deh, pura-pura tidur lagi, sampai aku cape menggenjot,” katanya.Cerita Sex Dewasa

    “Abis enak banget sih, lagian kenapa juga gak bangunin aku dulu baru adekku,” kataku sambil tersenyum.

    Ternyata sudah jam 7 pagi. Kamar kami gelap karena korden tertutup rapat. Kami lalu mandi berdua dan
    berkemas untuk turun menikmati breakfast. Badanku terasa segar dan ringan.

    Selesai breakfast kami kembali ke kamar. Hari itu tidak ada acara, kecuali jam 7 malam nanti menghadiri
    resepsi perkawinan temannya. Ita mengajakku jalan-jalan ke kota. Kami makan siang di restoran Padang.
    Aku penggemar makanan enak, masakan Padang ini rasanya nikmat sekali, melebihi yang pernah kumakan di
    Jakarta. Selesai menyantap dua piring nasi, Ita menyarankan aku untuk mencoba teh telur. Kata dia bagus
    untuk meningkatkan vitalistas pria. Teh yang diaduk bercampur telur tampak sangat berbusa. Panasnya teh
    tidak lagi terlalu terasa, tetapi rasanya seperti teh susu dan gurih telur.

    “Lumayanlah untuk mengisi stroom,” kataku dalam hati.

    Kami kembali ke hotel untuk istirahat. Maksudnya memang istirahat, tetapi kejadiannya malah bekerja
    keras. Kami terlelap kembali dan bangun menjelang pukul 6 sore. Kami lalu berkemas untuk menghadiri
    acara perkawinan teman akrab Ita.

    Tidak ada yang istimewa dalam acara pesta perkawinan itu. Aku kurang berselera, mungkin karena lelah
    setelah berkali-kali bertempur.

    Minggu pagi kami mempersiapkan diri untuk kembali ke Jakarta Sebelumnya masih ada pertempuran seru satu
    ronde. Disebut seru karena panjang dan heboh. Dia tergolong wanita yang berisik jika melakukan hubungan
    intim. Sepanjang perjalanan aku hanya tidur saja. Anehnya sejak berangkat dari Lampung sampai kembali ke
    Jakarta, penisku tidak sekalipun bangun mengeras, meskipun dalam keadaan terdesak kebelet pipis. Tiba di
    Jakarta sudah sore dan aku menunda kepulangan ke tempat kos sekitar 1 jam.

    Setiba aku kembali ke rumah kost aku disambut bagaikan tamu besar. Kebetulan para penghuni sedang
    berkumpul di kamar tengah. Aku disambut dengan bertubi-tubi ciuman. Mereka rasanya terlalu berlebihan
    karena ketiadaan diriku di tempat itu hanya 2 malam mereka rasakan ada sesuatu yang hilang.

    Aku tertidur di kamar mungkin dari jam 5 sore. Rasanya ngantuk sekali dan lelah. Entah berapa lama
    tertidur sampai merasa ada orang yang masuk di kamarku. Kamar gelap gulita, karena tadi aku tidak sempat
    menyalakan lampu. Aku tidak bisa melihat siapa yang masuk ke kamarku.

    Tiba-tiba lampu dinyalakan dan ternyata 2 cewek sudah ada di kamarku. Mereka adalah Dewi dan Ana dengan
    baju tidur daster dan Dewi mengenakan kaus serta celana boxer.

    “Wah, pangeran kita kecapean nih,” kata Ana.

    Mereka minta izin untuk menginap lagi di kamarku. Mereka takut karena tadi siang habis melayat temannya
    yang meninggal karena kecelakaan. Katanya wajah temannya selalu terbayang-bayang.

    “Ada-ada saja cewek-cewek ini,” pikirku.

    Lampu kembali dimatikan dan kamar jadi gelap gulita. Malam ini cuaca panas sekali, karena mau hujan
    tetapi tidak jadi. Untung aku tidur hanya mengenakan celana pendek, sehingga tidak terlalu gerah.

    Ana mengipas dadanya dengan menarik-narik bajunya. Dia juga merasakan kegerahan. Dewi mengipas-kipaskan
    telapak tangannya. Mereka bertanya apa aku punya kipas. Aku bilang tidak ada, karena tidak pernah
    terlintas dipikiranku untuk melengkapi kipas di kamar. Kalau mau ada majalah atau koran, tapi dalam
    keadaan gelap gini aku susah mencarinya apalagi aku tidur diapit.
    Entah pikiran darimana aku iseng melontarkan ide, agar kami bertiga tidur telanjang aja. Aku pikir
    sebenarnya wajar saja, aku sudah sering melihat Dewi telanjang, ketika dia tidur di kamarku tatkala Ana
    pulang kampung. Ana juga sudah pernah kulihat dia telanjang juga ketika dia diam-diam menyelinap ke
    kamarku, manakala Dewi menginap di rumah saudaranya di Ciledug. Mereka berdua juga pernah bahkan
    berkali-kali melihat aku telanjang di kamar ini. Masalahnya aku belum pernah secara bersamaan melihat
    mereka berdua telanjang bersamaan di depanku.

    “Siapa takut?“kata Ana. Dewi pun rupanya tidak keberatan. Sambil tiduran mereka mencopoti bajunya dan
    aku pun memelorotkan celanaku. Posisiku yang diapit dua cewek begini tentu memacu aliran darah untuk
    berkumpul di penis, sehingga tegang mengacung. Tadi yang kucemaskan sejak kembali dari Lampung sekarang
    sudah terjawab.

    Aku tidak tahu kemana mereka melempar pakaiannya, yang kurasa kulitku sudah bersinggungan dengan kulit
    juga baik di kanan, maupun di kiri. Dewi memelukku di sebelah kanan, dan Ana juga memelukku di sebelah
    kiri. Kedua tanganku yang mereka tindih jadi memeluk keduanya di kiri dan kanan.
    Udara gerah tidak membuat rasa makin gerah meski dipeluk. Pikiranku lebih terpusat pada rangsangan
    dipeluk dua makhluk perempuan telanjang.

    Mulanya tangan mereka hanya mengelus-elus dadaku, tetapi Dewi mulai merayap kebawah dan menggenggam
    batangku yang sedang keras. Tangan Ana pun juga merayap ke bawah dan bertemulah dua tangan dari mahluk
    yang berbeda. Kedua tangan itu berbagi tempat mencengkeram batangku.
    Aku sudah tidak memperhatikan tangan siapa ada dibagian mana. Yang kurasakan seluruh bagian kemaluanku
    diremas-remas.

    Aku mencium mulut Ana. Ana membalas dengan sedotan dan permainan lidah yang hot. Selepas itu aku
    berpaling dan berganti mencium Dewi. Dia juga tidak kalah hot, karena mungkin sudah terbakar birahi. Ana
    yang kutinggal, dia bangkit dan mengambil posisi di antara kedua kakiku. Ana mengulum penisku. Tangan
    kiriku yang leluasa segera menggamit memek Dewi dan meremas-remas lalu memainkan clitorisnya. Menerima
    serangan di clitoris, Dewi melepaskan ciumannya . Dia mengubah posisi telentang. Aku berusaha
    membebaskan tangan kananku dari tindihan Dewi dan tangan kanan mendapat tugas baru menggantikan peran
    tangan kiri.

    Dewi semakin tinggi terangsang karena clitorisnya aku putar-putar dengan jari tengahku. Dewi kemudian
    bangkit dan duduk bersimpuh dengan kedua lutut dilipat. Dia duduk menghadap ke wajahku dan memeknya di
    aturnya dekat ke mulutku. Aku tahu, Dewi ingin dioral. Dewi memang paling senang dioral. Dia pernah
    memujiku bahwa oralku jauh lebih enak dari yang dilakukan pacarnya. Pacarnya katanya suka menggigit
    karena gemas. Kalau sudah begitu rangsangan jadi sirna berganti rasa sakit katanya. Sementara aku
    dipujinya mengerti menyentuh tempat yang tepat dan gerakan lidahku katanya lebih halus.

    Kedua tanganku memeluk paha kiri kanannya membantu posisi Dewi agar dia bisa menempatkan memeknya tepat
    di hadapan mulutku. Dewi duduk agak condong kebelakang. Kedua tangannya menopang kebelakang.

    Sementara aku sedang memusatkan perhatian mengoral Dewi, aku tidak terasa Ana mengoralku lagi. Aku
    merasa tangannya mencengkeram batangku dan beberapa saat kemudian Ujung penisku dipadukan dengan gerbang
    memeknya. Sambil mengoral aku mengira-kira posisi Ana menyetubuhiku. Setelah dia melakukan gerakan aku
    baru bisa memastikan bahwa Ana bukan membelakangiku. Mungkin dia duduk bersimpuh juga. Gerakannya yang
    kurasakan adalah maju mundur, sehingga penisku serasa diperah.

    Mereka berdua saling mendesis. Aku tidak bisa bergerak, karena menahan berat badan kedua cewek. Gerakan
    Ana makin terasa hot, sementara oralku ke Dewi juga semakin terfokus pada clitorisnya. Pada posisi ini
    sebenarnya aku ingin memasukkan jariku ke memeknya, tetapi tidak ada ruang untuk tanganku. Jadi hanya
    lidahku saja yang bermain di memek Dewi. Dewi tiba-tiba berhenti menggelinjang, mungkin dia sedang
    memusatkan diri menjelang orgasme. Benar juga sesaat kemudian dia mengeluh panjang sambil menarik
    kepalaku merapat ke memeknya. ceritasexdewasa.org Bukan hanya mulut yang terbekap, hidungku juga tertutup gundukan memek
    Dewi yang berambut keriting. Setelah kedutan orgasmenya agak reda aku berusaha melepaskan mulut dan
    hidungku dari bekapan Dewi. Aku hampir kehabisan nafas.

    Ana yang makin hot memompa. Sementara Dewi mengubah posisinya tidur telentang disampingku. Sepertinya
    dia ingin beristirahat setelah mencapai puncak kenikmatan. Ana masih terus menggenjot. Mungkin sudah 5
    menit sejak Dewi tadi orgasme baru Ana mendapat Orgasme.

    Sementara aku belum apa-apa. Masalahnya hari-hari sebelumnya aku sudah kenyang dengan Ita, sehingga
    nafsuku tidak menggebu-gebu. Aku lebih mampu menahan diri. Apalagi posisiku di bawah, maka aku makin
    bisa bertahan lama.

    Setelah mencapai orgasme, Ana menjatuhkan diri telungkup di atasku sejenak. Setelah itu dia bergeser
    tidur telentang disampingku. Meski gelap, aku bisa juga melihat sosok Ana yang tadi mengadukku diatas.
    Tidak terlalu jelas memang, tetapi dengan bantuan ilmu kira-kira, adegan yang berlangsung di atas
    badanku cukup jelas terlihat.

    Mungkin Dewi juga melihat Ana mengadukku. Buktinya setelah Ana turun dari badanku, aku ditariknya agar
    menindih badannya. Aku segera paham apa yang diinginkannya. Dia ingin disetubuhi juga. Tanpa melakukan
    foreplay lagi aku segera manancapkan penisku ke memek Dewi. Kenikmatan orgasme Dewi yang pertama tadi
    mungkin belum sirna, karena begitu kugenjot dia langsung mendesis dan agak mengerang. Aku mencari posisi
    yang paling bisa merangsang organ Dewi.

    Setelah kudapatkan posisi itu dengan membaca respon yang ditunjukkannya aku bertahan di posisi itu.
    Cukup 5 menit saja Dewi sudah mendapatkan orgasmenya. Dia memelukku erat-erat, sampai semua orgasmenya
    terlampiaskan.

    Setelah reda kucabut batangku dan aku kembali ke posisi semula tidur telentang diantara mereka berdua.
    Belum habis aku menikmati jeda istirahat, Ana pula sekarang yang merengkuhku agar menindih dirinya. Dia
    mungkin terangsang menyaksikan adegan permainanku dengan Dewi.

    Aku bukan ingin berlebihan dan menjagokan diriku, tetapi sesungguhnya aku masih tegang bahkan belum ada
    tanda-tanda mendekati ejakulasi. Inilah kalau terlalu hot bermain sebelumnya dengan Ita. Sebelum
    marathon bersama Ita, malam-malam sebelumnya setiap malam aku selalu berpindah-pindah kamar. Bisa
    dikatakan tiada hari bagiku tanpa bersetubuh. Pelayananku di rumah ini cukup banyak mulai dari Bu Rini
    pemilik kost, Mbak Ratih, Kristin, Ita , Nia dan kedua mereka ini. Kedua mereka ini termasuk paling
    jarang kutiduri. Dewi mungkin 2 minggu lalu, Ana malah mungkin sebulan yang lalu.

    Kembali ke Ana, aku tanpa basa-basi lagi langsung memompa Ana. Seperti juga Dewi aku berusaha mencari
    posisi yang paling menyenangkan bagi Ana. Setelah mendapat posisi itu, aku tidak perlu bekerja terlalu
    lama, Ana sudah mencapai orgasme. Dia menghentikan genjotanku dengan menarik badanku rapat-rapat.
    Batangku menikmati sensasi kontraksi memek Ana dan cairan hangat menyelimutinya. Setelah orgasmenya reda
    aku kembali istirahat dengan badan basah berkeringat.

    Aku berpikir kepada siapa nanti akan kulampiaskan orgasmeku, padahal badanku sudah lelah sekali dari
    tadi push-up terus. Tapi penisku tidak mau kompromi, dia tetap tegak. Sementara aku masih menerawang,
    tiba-tiba batangku digenggam.

    “Ih, hebat banget nih, belum juga kendor dari tadi,” suara Dewi terdengar. Berarti tangan itu adalah
    tangan Dewi.

    Dia kembali menarik badanku untuk menindihnya. Dia minta disetubuhi lagi. Aku berpikir, Dewi tadi makan
    apa kok jadi hot banget begini. Dengan sisa tenaga yang ada aku kembali melayaninya. Tapi tubuhku sudah
    tidak kuat lagi untuk push-up. Kutarik tubuh Dewi untuk berganti posisi menjadi di atasku. Dewi menurut
    dan mengambil posisi yang nyaman lalu dialah sekarang yang aktif. Dia segera saja mendapat orgasme.
    Ketika dirubuhkannya badannya ke tubuhku dan otot vaginanya berkontraksi maka aku segera membalikkan
    badannya dan segera kugenjot. Aku tidak memberinya masa istirahat dan langsung dalam keadaan vaginanya
    masih berkedut kugencot sekeras-kerasnya. Dewi menjerit tertahan-tahan. Aku begerak makin buas sampai
    akhirnya dia menjerit keras sekali lalu ditutupkan bantal di wajahnya untuk meredam teriakannya. Dewi
    kelihatannya mencapai orgasme yang sempurna.

    Aku puas tapi belum juga muncrat. Ana yang menonton kami sambil dia duduk bersila memeriksa penisku.
    “Wuihhh, masih keras juga, hebat amat,” katanya.

    Aku ditariknya sehingga terduduk dengan kaki lurus. Aku tidak bisa menduga apa yang dia mau. Ana berdiri
    dan duduk dipangkuanku sambil memelukku. Memeknya diturunkannya sampai menelan penisku. Dia kembali
    terangsang melihat Dewi danaku bermain kasar. Apalagi Dewi selama persetubuhan berteriak kecil
    terputus-putus sampai akhirnya berteriak nyaring.

    Ana memaju-mundurkan pinggulnya sehingga menimbulkan efek gerakan mengaduk batangku. Dia mendesis-desis
    menikmati hunjaman barangku yang masih keras. Makin lama, terakannya makin cepat dan liar karena
    iramanya jadi tidak menentu, sampai akhirnya dia memeluku keras sekali dan vaginanya berdenyut. Seperti
    juga Dewi aku tidak memberi kesempatan dia menikmati orgasmenya. Kudorong badannya sampai dia terlentang
    dan segera kugenjot dengan gerakan-gerakan kasar. Karena diberi waktu beristirahat sambil duduk,
    tenagaku masih lumayan yang tersisa. Aku terus menghunjam dengan gerakan cepat dan panjang.

    BAca JUga Cerita Sex Toilet Kampus

    Ana tidak lagi mendesis, dia mengeluarkan suara yang tertahan-tahan. Kedengarannya seperti mengucap
    huruf A ber kali-kali. Irama pengulangan teriakannya seirama dengan gerakanku. Setiap aku menghunjam dia
    menyebut A. Makin cepat gerakanku makin cepat pula irama teriakannya. Sampai akhirnya dia berteriak
    panjang tetap dengan suara A. Teriakannya keras membuatku gugup. Karena di dekat situ tidak ada bantal
    maka kucucup saja mulutnya. Dibekap mulutnya oleh mulutku pun dia masih berusaha berteriak. Tetapi
    suaranya tidak keluar, teredam oleh mulutku. Aku menciuminya dengan ulah yang ganas sampai dia lemas
    terkulai.

    Sejak tadi perasaan yang menyelimuti diriku adalah kebanggaan sebagai laki-laki yang super. Sekarang
    berbalik aku cemas, karena burungku tidak juga surut, dan sulit sekali mencapai orgasme. Yang
    kucemaskan, seandainya batangku tegang terus sampai besok. Kalau dibawa ke dokter, rasanya malu luar
    biasa. Apalagi menjawab pertanyaan dokter, “Apa keluhannya?”

    Ah bagaimana nantilah, yang ada rasa badanku sudah letih luar biasa dengan keringat membasahi semua
    pori-pori badanku. Aku bangkit dan mencari handuk untuk mengeringkan badanku.

    “Hebat amat anak ini ya, tadinya mau kita perkosa, kejadiannya malah kita yang diperkosa,” kata Dewi.
    Rupanya kedua cewek ini sudah punya rencana ketika hijrah tidur ke kamarku. Pantas aja ketika kutawari
    tidur telanjang mereka langsung setuju.

    “Rasain, punya rencana nggak terus terang, jadinya kalian yang merasa akibatnya,” kataku.

    “Biarin aja, enak kok,“ kata Dewi.

    Kulihat ana sudah terbujur di posisinya semula malah sudah mendengkur. Aku mengambil posisiku dan
    langsung mencari PW (posisi uwenak). Sampai keesokan harinya ketika aku bangun mereka berdua sudah tidak
    ada. Aku segera memeriksa barangku. Dia masih tegang, tetapi sekarang posisinya sedang sesak kencing.
    Setelah kulampiaskan hasrat kencingku, pelan-pelan penisku melemas. Aku lega…

    Selama ini aku melihat cewek hanya dari sosok luarnya. Setelah aku tinggal bersama 8 cewek plus satu
    janda pemilik kost, aku baru menyadari bahwa sosok luar tidak bisa memberi gambaran sepenuhnya mengenai
    siapa dia sesungguhnya.Pengalaman mengajarkan cewek yang kelihatannya alim, ternyata di balik itu dia
    ganas di tempat tidur. Perempuan yang sok gengsi dan sangat jaim, di balik itu dia sangat bernafsu. Ada
    pula yang kulihat mesra banget sama cowoknya dan jauh dari kesan bisa diselingkuhi, ternyata juga suka
    selingkuh. Kesimpulanku, jangan mudah kagum melihat penampilan seorang wanita betapa cantik dan
    anggunnya dia.

    Mbak Ratih yang semakin akrab denganku kadang-kadang membuatku malu. Dia bisa tiba-tiba duduk di
    pangkuanku di depan cewek-cewek yang lain. Dia memang paling sering minta diservice. Selalu saja ada
    alasan agar bisa menyeretku ke kamarnya. Kalau sudah gitu aku tak kuasa menolak. Pada awalnya sih dia
    minta dipijat, tetapi akhirnya minta ditiban juga.

    Satu kali Mbak Ratih menarikku masuk ke kamarnya. Kami duduk di tempat tidur. “Jay, aku punya temen, aku
    kasihan sekali melihat keadaannya. Umurnya seumuranku, dia pengusaha. Dia sering mengeluh kepalanya
    pusing sebelah. Kayaknya dia sudah berobat kemana-mana, tapi penyakitnya nggak bisa ilang,” kata Mbak
    Ratih.Cerita Sex Dewasa

    Dia bercerita banyak mengenai temannya itu dan buntutnya dia memintaku untuk mencoba melakukan terapi.
    “Aku sudah promosiin kamu lho, Jay, katanya dia mau mencoba, kamu mau ya bantu aku dan temenku itu?”
    pintanya.

    Aku berkilah bahwa aku bukan ahli terapi, makanya kalau nanti aku terapi tidak berhasil, mbak Ratih bisa
    malu. “Mbak jangan berpromosi kelewatan, mbak, nanti malah malu-maluin,” kataku.

    “Udah lah, Jay, aku yakin kamu bisa lah, buktinya di rumah ini semua yang kamu terapi berhasil, kamu
    berbakat lho, dan kamu bisa kaya dengan hobimu ini,” kata Mbak Ratih sungguh-sungguh.

    Setelah ngobrol soal temannya itu, kami keluar kamar. Hari itu adalah hari libur. Para penghuni kost
    banyak yang pulang ke rumahnya masing-masing. Yang tinggal mungkin sekitar 2 atau 3 orang, aku kurang
    pasti.

    Situasi agak gerah meenjelang jam 11 siang. Bu Rini menghampiri kami yang sedang duduk menonton TV. Bu
    Rini memanggilku. Aku beranjak mendekati dia. “Dik, bisa minta tolong nggak beliin makanan, si Ijah tadi
    pagi pulang kampung, Ibu nggak bisa masak, Atun juga nggak bisa, bisanya cuma bikin indomie,” kata Bu
    Rini sambil setengah berbisik.

    Kami memang kost di situ berikut makan, jadi wajar jika Bu Rini bingung saat ditinggal pergi pembantunya
    yang biasa menyiapkan makanan. Aku menawarkan option untuk masak saja di rumah, biar aku yang kerjakan.

    Bu Rini setengah tidak percaya memandangiku, “Kamu bisa masak juga to?” katanya.

    “Ya sedikit-sedikit, bu. Ayo kita ke dapur, ada bahan makanan apa saja, biar saya oleh jadi lauk hari
    ini,” kataku.

    Kami lalu ke dapur. Kulihat ada sawi, daun bawang, bawang putih, kecap manis, kecap asin, cabe rawit dan
    telur. “Beres, bu, kita buat ifumi,” kataku.

    Bu Rini setengah tidak percaya setengahnya lagi penasaran, ingin tahu apakah aku sungguh-sungguh bisa
    masak. Aku lalu minta Atun membeli tepung kanji ke warung dekat rumah.

    Bu Rini jadi ikut heboh bertanya apa saja yang perlu disiapkan. Dia kuminta menggoreng mi instant hingga
    seperti kerupuk dan Atun kuminta menyiangi sayur-sayuran yang ada. Bu Rini teringat bahwa di kulkasnya
    masih ada ayam yang belum diolah. Dia lalu kuminta mengeluarkannya segera dan setelah berkurang
    dinginnya aku menyayat dagingnya berbentuk kubus.

    Setelah semua bahan siap dan aku mencoba-coba mengingat apa lagi yang diperlukan.Wajan kunaikkan ke atas
    kompor dengan api maksimal, lalu masuk minyak. Setelah agak panas masuklah bawang putih menyusul
    potongan ayam diceburkan. Goseng-goseng sedikit lalu kusiram dengan sedikit kecap asin cap ikan.

    Bau harum segera menyebar. Dari ruang tengah ada yang berteriak, “Wah, baunya enak, masak apa, bu?”

    Sayuran menyusul terjun lalu garam dan bubuk penyedap. Setelah sayuran agak layu air yang sebelumnya
    kucampur dengan tepung kanji kutuangkan sampai hampir menenggelamkan sayur dan bahan lain di wajan. Aduk
    sebentar lalu masuklah 3 butir telur ayam. Sambil aku mengaduk masakan, kuminta Atun mengiris cabe rawit
    bulat-bulat.

    Kuah sudah siap, yang mirip cap cai, bedanya jika cap cai tidak pakai telur ini ada pelengkap telur ayam
    yang diaduk jadi satu di kuahnya. Mi instan yang sudah goreng bu Rini seperti kerupuk lalu ditempatkan
    di wadah. Mi kering itu lalu kusiramkan. Jadilah sekarang Ifu Mi dadakan.

    “Baunya dari tadi udah bikin laper,“ kata Mbak Ratih. Menyusul Juli keluar dari sarangnya dan Niar
    rupanya dia milih tinggal di sini dari pada nginap di rumah saudaranya.

    “Wah, enak banget nih, siapa yang masak, bu?” tanya Juli.

    Bu Rini lalu menunjuk aku. “Tuh kokinya, pinter ya?” puji bu Rini.

    Dalam sekejap ifu mi yang kubuat sudah ludes. “Gila ini orang, pinter mijet, pinter masak lagi,” kata
    Mbak Ratih

    “Ah aku nggak percaya kalau dia pinter mijet, belum aku buktikan,” kata Niar.

    Aku terkesiap. Niar yang jarang kumpul dan jarang bercanda dengan kami, hari itu dia berkomentar. Niar
    perantau dari Medan. Orang tuanya memang masih tinggal di sana. Di Jakarta mulanya Niar sekolah
    sekretaris, setelah lulus dia bekerja di salah satu perusahaan operator telepon selular. Kelihatannya
    dia memiliki posisi yang lumayan penting, sehingga sering pulang agak malam.

    Bu Rini lalu menyambung, “Memang harus dicoba, baru tau rasanya.” Bu Rini tersenyum penuh arti
    melirikku.

    “Aku mau dong, sekarang ya?” kata Niar.

    Aku menyarankan agar menunggu beberapa saat sampai makanan selesai dicerna. Kurang enak rasanya jika
    pijat setelah makan. Aku minta Niar menunggu sebentar.

    “Badanku pegal kali, tidur terus-terusan rasanya juga cape, tolonglah aku ya tapi jangan kuat-kuat, aku
    tidak biasa dipijat sebetulnya tapi mendengar promosi kalian, aku jadi penasaran,” kata Niar.

    Niar nggak sabaran dia minta segera aku pijat. Setelah kurasa perutku tidak sesak lagi setelah makan
    siang tadi akhirnya aku turuti kemauannya. Kami masuk ke kamarnya. Kamarnya ternyata ada AC dan
    televisi. Dia cukup berduit untuk menyewa kamar yang lux ini. Dinginnya AC dikamar Niar membuat badanku
    segar.

    “Apanya kak yang mau dipijat?” kataku. Aku memanggil dia kakak, karena usia kami terpaut 5 tahun dan dia
    kelihatan sudah sangat dewasa. Mungkin di kantornya dia terbiasa dengan pembawaan berwibawa.

    “Badanku pegal semua, macam mana caranya dipijat?” tanyanya.

    Aku menerangkan biasanya yang dipijat mengenakan sarung dan tiduran. Aku menawarkan pijatan dimulai dari
    kaki lalu ke badan. Niar setuju dan dia lantas berganti mengenakan sarung. Dia mengenakan sarung seperti
    orang Jawa mengenakan kemben. Jadi payudaranya tertutup sampai ke batas lutut.

    Niar mengambil posisi tengkurap. Aku memulai pijatan refleksi di kaki. Pijatan refleksiku sengaja tidak
    terlalu keras, agar dia merasa nyaman dulu. Aku lemaskan semua syaraf di telapak kakinya lalu naik ke
    betis. Setelah semua otot terasa lemas aku mulai memijat pahanya, pantatnya dan badannya. Berhubung
    masih terhalang sarung aku hanya menekan-nekan tidak terlalu keras. Niar tertidur. Mungkin pengaruh dari
    makan siang tadi dan juga nikmatnya pijatanku.

    Badan Niar cukup besar dan tinggi. Tingginya mungkin sekitar 170 dengan berat badan yang seimbang. Untuk
    ukuran cewek Indonesia ukuran tubuh Niar termasuk besar dan tinggi. Pahanya ternyata cukup tebal dan
    pantatnya juga menyembul. Sekitar 30 menit dia kubiarkan tertidur lelap sambil aku pijat kakinya dengan
    pijatan nyaman.

    “Aduh enak kali pijatan kau, Jay, sampai tidur aku,“ katanya tiba-tiba.

    “Itu cuma kusuk ecek-ecek, kak,” kataku menjelaskan bahwa pijatanku itu hanya pijatan sederhana saja.

    “Jadi rupanya ada pula pijat yang betul-betul, macam mana pula itu, Jay?” katanya sambil tengkurap.

    “Kalau kakak mau, aku bisa mendeteksi organ kakak yang mana yang kurang beres,” kataku.

    “Ah, cobalah mainkan,” katanya.

    Aku mulai menekan simpul-simpul syaraf di telapak kakinya. “Aduh mak, sakit kali itu.” katanya ketika
    simpul syaraf pencernaannya aku tekan. Aku jelaskan bahwa pencernaannya agak terganggu, dan ini bisa
    mengarah ke penyakit maag. Simpul lain yang aku tekan menunjukkan bahwa dia sering tidak teratur
    haidnya. Itu dia akui.

    “Bisa tidak kau mainkan biar jadi teratur, biar aku tenang,” katanya nyerocos. Dari kata-katanya
    terkandung misteri yang seharusnya dia rahasiakan, tapi nyerocos secara tidak disadari. Kata-kata ’biar
    aku tenang’ aku anggap sebagai satu signal. Tapi aku cuek saja dan seolah-olah tidak mendengar
    perkataannya yang terakhir.

    Aku jadi berniat menyelediki secara diam-diam dan langsung. Seperti sebelumnya, aku mulai memainkan
    simpul-simpul syaraf erotisnya. Aku mulai garap di bagian permukaan kulit yang terbuka, yaitu, di
    telapak kaki, di dekat mata kaki lalu di betis dan di belakang lutut. Bagian-bagian itu mendapat pijatan
    lebih banyak dari titik-titik syaraf lainnya.

    “Aduh, enak kali pijatan kau, Jay, badanku jadi panas, bekeringat pula.” katanya.

    Aku menyarankan kalau mau lebih enak lagi sebaiknya menggunakan krim agar bisa lebih licin diurut. Dia
    menyetujui dan memintaku mengambil krim body lotion di meja riasnya.

    Aku mengulang lagi mengurut telapak kaki dan betis. Ulasan krim makin keatas menuju bagian pahanya yang
    tebal. Tanganku menyusur di bawah sarung sampai ke paha bagian atas. Di paha bagian dalam kusentuh
    titik-titik sensitifnya. Pinggulnya mulai bergerak. Ini sepertinya dia mulai terangsang.Cerita Sex Dewasa

    Aku minta izin untuk mengurut punggungnya dengan krim. Dia setuju dan aku mulai mengoleskan krim dari
    bagian bahu turun sampai ke pinggang. Urutan punggung menimbulkan kenikmatan, karena bagian-bagian yang
    pegal jika diurut akan menimbulkan kenikmatan. Badannya meliuk-liuk menikmati urutanku yang sesekali
    juga menimbulkan rasa agak sakit. Ada bagian otot yang kaku jika diurut akan menimbulkan rasa agak
    sakit, tetapi hanya sebentar.

    Dengan gerakan mengurut, sarungnya mulai terdorong ke bawah sampai ke batas pinggang. Niar masih
    menggunakan BH. Ini karena dia tidak terbiasa dipijat, jadi rasa malunya masih besar. Tanganku mulai
    merambah makin kebawah sampai ke bagian pantatnya yang montok.

    Mulanya aku tekan dan kadang-kadang dengan gerakan memutar di pantatnya. Pijatan seperti itu biasanya
    akan menimbulkan rangsangan ke alat vitalnya. Dia pun berkomentar bahwa bagian itu enak sekali dipijat.
    Kuterangkan bahwa akibat terlalu lama duduk, maka bagian pantat ototnya agak kaku. Aku kembali minta
    izin untuk mengurut bagian pantat agar otot-ototnya lemas. Dia hanya menjawab, “Mainkanlah.”

    Sarungnya sudah tidak berfungsi menutupi tubuhnya, karena sudah berkumpul di pinggang. Body Niar sungguh
    luar biasa. Meski kulitnya tidak putih, tetapi dari ujung kaki sampai leher kulitnya mulus nyaris tanpa
    goresan. Karena tubuhnya tinggi, maka bentuk tubuhnya jadi sangat ideal dengan pinggang mengecil dan
    pantat besar. Aku belum bisa memastikan payudaranya sebesar apa. Selama ini aku lengah menelaah dada
    Niar.

    Tanganku mulai mengurut bagian pantatnya. Mulanya mengurut dari arah atas menyusup ke celana dalam.
    Selanjutnya mengurut dari bawah dengan mendorong-dorong daging bongkahan pantatnya.

    Diakui ada bagian yang pegal di pantatnya yang rasanya nikmat jika diurut. Dia minta bagian itu
    berkali-kali diurut. Dorongan urut aku atur tidak selalu searah. Meskipun selalu mengarah ke atas,
    tetapi titik startnya berubah-ubah sampai ada yang dekat sekali dengan kemaluannya.

    Entah dia sadar atau tidak, tetapi aku sudah berkali-kali menyentuh bagian luar belahan kemaluannya.
    Tanganku bisa merasakan karena bagian itu ditumbuhi-bulu-bulu. Meski kemaluannya sudah terjamah tetapi
    dia tidak protes, malah cenderung menikmati.

    Aku berani menyentuh bagian itu karena yakin Niar sesungguhnya sudah terangsang. Terapi itu cukup lama
    sampai Niar kadang-kadang terlepas mendesis juga.

    Setelah kurasa maksimal merangsang dengan pijatan dari belakang aku minta dia berbalik tidur telentang.
    Niar menurut saja, pasrah. Sarungnya dibiarkan berkumpul di pinggang.

    Baru aku sadari bahwa payudara Niar ternyata cukup besar. Dia menggunakan BH dengan cup model setengah,
    sehingga gumpalan payudaranya menonjol seperti mau tumpah.

    Aku mulai lagi mengurut bagian kaki. Terus sampai ke paha. Paha bagian dalam mendapat terapi yang
    istimewa. Aku ingin membuatnya gila dengan rangsangan yang kulakukan. Bukan hanya paha yang aku urut
    tetapi naik menyelusup di bawah celana dalamnya sampai ke bagian atas termasuk gundukan kemaluannya. Aku
    merasa Niar mencukur sebagian bulu kemaluannya, karena yang terasa berbulu hanya bagian tengah membujur
    ke atas. Tapi aku tidak berkomentar, karena aku berlagak pemijat prof jadi berperan seolah-olah tidak
    hirau dengan masalah kemaluan.

    Niar kelojotan dengan urutan di sekitar kemaluannya. “Aduh, sedap kali, Jay, pandai kali kau
    mengurutnya, bisa mati dengan sedap aku kalau kau urut terus begitu, “ katanya sambil bergelinjang dan
    mulai agak mengerang meski dengan suara tertahan.

    Pertahanan rasa malunya sudah jebol, dia tidak perduli lagi dengan tubuhnya yang nyaris telanjang.
    Kepalanya berkali-kali bergeleng seperti sedang disetubuhi.
    Kurasa sudah cukup mengerjai bagian vitalnya. Aku berpindah ke bagian atas. Dimulai dari bahu lalu
    turun ke dada. “Aduh, enak, Jay. Aku baru percaya sekarang kalau kau pandai mengusuk,” katanya.

    Jariku tertahan oleh ketatnya BH sehingga tidak bisa mengurut bagian samping. Aku sarankan agar dia
    melonggarkan BHnya, agar kerjaku mengurut tidak terhalang. Dia patuh dan dengan meninggikan dadanya
    tangan kanannya meraih pengait BH dibelakang. Kaitan terlepas dan kedua payudaranya langsung kembali ke
    bentuk asalnya.

    Buah dadanya yang tadi seolah berkumpul di tengah sehingga menimbulkan efek menyembul dan membentuk
    lipatan diantara kedua bongkahan, kini melebar sampai tumpah ke samping badannya. BHnya masih menutup
    putingnya.

    Tanganku jadi lebih leluasa mengurut ke samping buah dadanya. Dia sudah tidak perduli lagi buah dadanya
    disentuh oleh laki-laki. Niar hanya menikmati rangsangan dari pijatanku.

    Aku kembali minta izin untuk memijat payudaranya. Seperti wanita-wanita sebelum ini, aku selalu berkilah
    bahwa pijatan payudara itu selain untuk merangsang otot mengencangkan payudara, juga untuk melancarkan
    peredaran darah di sekitarnya. Niar percaya dan mengangguk saja. Dia semakin tidak peduli ketika BHnya
    kusibak sehingga terpampanglah kedua putingnya.

    Kedua putingnya tidak terlalu besar berwarna coklat tua. Aku mulai memijat bagian payudaranya sampai
    menyentuh kedua putingnya. Setiap kali tersentuh putingnya, dia mendesis nikmat.

    Gerakan pijatku berlangsung seperti gaya profesional yang dilakukan seolah-olah tanpa nafsu. Padahal di
    bawah sana sudah ada pemberontakan. Aku melakukan gerakan meremas dari samping kiri dan kanan mengurut
    ke atas sampai jempol dan jari telunjukku bisa meraih kedua putingnya. Putting itu lalu kupelintir lirih
    dan ditekan dengan gerakan memutar.

    Gerakan memutar dengan tekanan lembut di kedua putingnya merupakan terapi berikutnya. Aku melakukan ini
    sambil menjelaskan bahwa efek dari pijatan ini adalah untuk merangsang syaraf di sekitar payudara agar
    berkerja normal. Dengan demikian aliran darah juga akan lancar.

    Sambil melakukan itu aku menekan-nekan kedua payudaranya dengan kedua telapak tanganku. Alasanku untuk
    mencari tahu apakah ada benjolan yang mencurigakan. yang bisa menimbulkan kanker.

    Niar entah percaya entah tidak, tetapi dia mendesis sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. “Aduh, mau
    mati aku rasanya,” katanya tiba-tiba.

    “Kenapa, kak?” tanyaku pura-pura terkejut lalu berhenti memijat.

    “Paten kali pijatan kau ini, aduh mak,” katanya melenguh.

    Kutinggalkan bagian payudara, aku turun ke bagian perut. Bagian perut karena merupakan bagian yang rawan
    bagi wanita, aku tidak berani gegabah. Hanya pijatan halus dan mengurut menaikkan bagian dalam perut
    yang agak turun.

    “Kakak ini beser ya?” kataku.

    “Apa itu beser?” tanyanya.

    Aku terangkan bahwa beser itu adalah sering kencing, tiap sebentar kebelet pipis melulu. Itu dia
    benarkan. Aku katakan bahwa itu adalah akibat kandung kencingnya tertekan jadi kapasitasnya tidak bisa
    menampung air seni secara maksimal. Aku berusaha memperbaiki posisinya.

    “Kak, bagian bawahnya mau dipijat jugakah?” tanyaku.

    “Apa sebabnya perlu dipijat?” katanya dengan logat Medan.

    Di situ ada urat dan syaraf yang kalau kejepit akibatnya wanita bisa mandul. Ini aku ngarang aja.
    Padahal dibalik itu aku ingin megang kemaluannya. Yah berdalih lah biar kelihatannya tidak memalukan.

    “Boleh-bolehlah,” katanya.

    Tanganku mulai menelusur ke bagian bawah mengurut ke bawah celdam. Aku bergerak dari bagian pinggir lalu
    ke arah tengah. Mulanya celdamnya masih menutupi segitiga kemaluannya. Namun karena gerakan tanganku
    celana itu melorot juga ke bawah, sehingga terpampanglah bukit pubis dengan jembut rapi tercukur.

    Urutan tanganku tidak sampai menyelusup ke belahan kemaluannya, tetapi kedua pinggirnya sudah berkali-
    kali tertekan kedua jariku. Niar sudah tidak sungkan-sungkan lagi melenguh dan mendesis. Tampaknya dia
    sudah tidak peduli lagi dengan harus menahan malu karena terangsang. Telapak tanganku menekan bagian
    luar kenaluannya dan melakukan pijatan dengan mengurut dari bagian pantat sampai ke atas. Jari tengahku
    walau tidak sampai terpelsest masuk ke belahan kemaluannya tetapi bisa merasakan ada cairan diantara
    belahan itu.Cerita Sex Dewasa

    “Aduh, Jay, lama-lama bisa aku terkam kau, Jay,”

    “Kenapa, Kak?“ kataku belagak bodoh.

    “Kau bikin aku gila,” katanya.

    “Kakak baru gila sebentar sudah sombong. Aku dari dulu gila tak pernah sombong,” kataku mencandai dia
    yang sedang terombang-ambing dengan nafsunya.

    Niar mungkin tidak bisa menyimak kata-kataku lagi, karena dia heboh dengan erangan dan desisannya. Aku
    makin dalam menggarap kemaluannya. Jari tengahku perlahan-lahan terbenamkan ke belahan kemalauannya
    dengan gerakan menyapu dari bawah ke atas. Gerakan ini berkali-kali sampai aku bisa merasakan
    clitorisnya menegang.

    Setelah rasanya dia hampir memuncak. Aku berhenti melakukan pijatan dan aku katakan “Sudah selesai,
    kak.” Aku duduk disamping badannya yang terbujur telanjang.

    “Aduh, kau menyiksaku, bisa aku bunuh kau nanti,” katanya.

    “Semua sudah aku pijat, kak, apalagi kak?” kataku lugu.

    Ditariknya badanku sehingga aku menindih badannya. Niar lalu mencium wajahku lalu bibirku. Aku terus
    terang belum siap menerima serangan, sehinggga ketika mulutku dibekap oleh mulutnya aku megap-megap.
    Niar buas sekali menyerangku. Dia gulingkan badanku sehingga aku ditindihnya.

    “Kak, sabar, kak. Kakak tenang dulu, “ kataku membalikkan badannya.

    “Ah, kau bikin aku gila,” katanya.

    “Masih ada lagi terapi, kak, tapi ini terapi khusus, hanya untuk yang sangat membutuhkan,” kataku.

    “Apa pula itu?” katanya tidak sabar.

    “Sekarang kakak tenang dulu biar aku bantu agak rileks. Kakak lemaskan badan kakak ya,” kataku.

    Bagai kerbau dicucuk hidungnya, Niar menuruti semua perintahku. Sarungnya kulepas, BHnya kusingkirkan.
    Bantal kuselipkan di bawah pantatnya. Lalu kedua kakinya kutekuk. Aku merangkak diantara kedua kakinya
    lalu dengan bersetumpu siku aku mendekatkan mulut ke kemaluan Niar.

    Sebagai penjilat yang sudah banyak mendapat penghargaan, aku memulai usapan lidahku menyapu bibir luar
    kemaluan Niar. Selanjutnya dengan bantuan kedua tanganku aku membelah kemaluannya sehingga tepampanglah
    kemaluan dengan warna merah ditengahnya dan bibir luar yang berwarna agak ungu. Lidahku mulai menyapu
    sekitar lubang vagina dari arah bawah sampai ke atas.

    Usapan lidahku membuat Niar menggelinjang. Setelah kurasa cukup ujung lidah mulai mengarah ke puncak
    pertemuan bibir dalam di bagian atas. Di lipatan atas itu ada sebentuk bintil mencuat, berwarna merah
    mengkilat. Yang tertutup lipatan bibir dalam. Dengan bantuan kedua tanganku ku kuak lipatan yang
    menghalangi bintil itu sehingga terekspos bebas. Setelah kupastikan clitoris Niar kutemukan aku
    membekapkan mulut ke bagian atas kemaluan Niar. Lidahku langsung berputar mengitari sekitar clitoris.

    Mendapat terapi lidah ini, Niar menggelinjang. Lidahku bergerak kanan-kiri dibagian atas.Pada awalnya
    aku menjaga agar bagian lidah ini tidak sampai menyentuh ujung clitorisnya. Kemudian secara bertahap dan
    pelan bagian bawah lidahku mulai menyentuh clitoris. Aku merasa gerakan ini menimbulkan dampak
    clitorisnya makin menegang. Aku mengubah gerakan lidah dari bawah keatas menyapu seluruh bagian
    clitoris.

    Setiap kali lidahku menyentuh ujung clitoris, Niar menggelinjang. Bagian ujung clitoris pada awal
    rangsangan mungkin masih dirasa terlalu geli dan ngilu jika disentuh langsung. Oleh karena itu aku belum
    melakukan pemusatan jilatan di ujung clitorisnya.

    Aku mengubah sapuan lidah ke bagian bawah letak clitorisnya. Ujung lidah kuusahakan mengeras sehingga
    bisa mendeteksi pangkal clitoris. Bagian pangkal itulah yang kemudian menjadi sasaran jilatan maut.

    Niar sudah mendesis, melenguh nggak karuan, bahkan kadang-kadang berbicara, tapi aku tidak jelas
    mendengar dan pastinya juga tidak bisa menjawab. Aku mencoba menjilat ujung clitorisnya untuk memastikan
    apakah rasa geli dan ngilunya sudah berkurang. Memang rupanya rasa geli berubah jadi rasa nikmat. Niar
    makin liar ketika jilatan lidahku fokus ke ujung ke ujung clitorisnya dengan gerakan kiri–kanan.

    Niar makin gila dan tangannya mulai ikut mengatur irama gerakan lidahku sambil meremas rambutku. Sesaat
    kemudian tangannya tidak bergerak, Dia diam seperti sedang berkosentrasi. Tidak lama kemudian dia
    mengerang panjang sambil menekan kepalaku ke kemaluannya dan kedua pahanya menjepit.
    Lidahku kutekan ke clitorisnya dan diam tanpa gerakan. Aku hanya merasakan denyutan pada clitorisnya
    seperti denyutan penis ketika mencapai orgasme. Niar memang mencapai orgasme. Setelah denyutan orgasme
    mereda, kulepas mulutku dari kemaluannya dan aku duduk diantara kedua pahanya dengan posisi bersimpuh.

    Jari tengah tangan kanan mendapat tugas berikutnya. Dengan posisi telapak tangan menghadap keatas, jari
    tengah perlahan-lahan menerobos ke dalam. Tujuannya adalah mencari G-spot. Dengan rabaan halus aku
    segera menemukan G-spot. Bagian itu sudah seperti membengkak bentuknya kira-kira seperti bulatan uang
    logam 100 perak, tapi lebih kecil sedikit. Jaringan lunak itu perlahan-lahan aku usap dengan gerakan
    halus sekali.

    Awalnya Niar tidak menampakkan reaksi, tetapi setelah 5 atau 10 kali usapan dia mulai menggelinjang dan
    mendesis. Sambil terus mengusap G-spotnya untuk mempercepat orgasmenya, jempol kiriku ditugaskan
    mengusap clitoris yang sudah kembali menegang. Niar mengerang-erang lalu berdesis lalu mengerang lagi.
    Dia tidak karuan bingung merasakan kehebatan rangsangan yang menerbangkan dirinya.

    Dalam waktu tidak terlalu lama kedua tangan Niar meremas sprei dan menariknya sambil menggigit bibir
    bawahnya dia mengerang panjang sekali. Pada saat itu, lalu ku kuak belahan vaginanya selebar mungkin.
    Dari lubang kcingnya yang berada dibawah clitorisnya menyemprotlah cairan tapi tidak terlalu banyak.
    Cairan itu agak cair, tetapi lebih kental dari urine. Mungkin sekitar 5 kali, pancaran itu menyembur
    lalu hanya meleleh.

    Niar tergeletak lemah. “Aduh gila, aku belum pernah mencapai nikmat kayak gini, pandai kali kau
    memainkan perempuan, Jay, “ kata Niar dengan suara lemah. “Sini, Jay, aku ingin memeluk kau,” katanya
    sambil menarik tanganku dan aku dipeluknya erat sekali.

    Kulemaskan badanku dan kuikuti kemauannya. Terasa kemaluannya ditekankannya ke pahaku lekat sekali lalu
    digerak-gerakkannya. Aku masih berpakaian lengkap pada saat itu.

    “Lemas kali badanku, Jay, aku rasa ngantuk kali,” katanya.

    Dia lalu meregangkan pelukannya dan aku pun bangkit. Badannya telanjang bulat telentang. Niar sudah
    mulai mendengkur. Kasihan dia maka kucari selimut dan kututupi tubuhnya. Niar tertidur pulas dengan air
    muka berseri-seri.

    ***

    Aku tidak menyangka ketika awal aku indekos di rumah ini bakal mengalami kejadian yang mencengangkan.
    Jika kuceritakan kepada siapa pun pasti, pasti tidak akan ada yang percaya. Tapi meskipun keinginan
    bercerita pengalaman ini sangat menggelitik hatiku, aku tetap berusaha menyimpan rapat-rapat rahasia
    ini.

    Aku tidak pernah menghayalkan apalagi berencana untuk mencicipi para penghuni kos ini. Tapi sejarah
    sudah menetapkan alur hidupku, aku hanya mengalir saja kemana arah yang sebaiknya aku tuju. Sulit
    rasanya mempercayai, bahwa 8 cewek penghuni kos ini semua sudah pernah aku tiduri. Bukan itu saja Ibu
    kosnya yang janda dan tampilan berwibawa dan sangat menjaga kesopanan ternyata paling rajin mengundangku
    ke kamarnya.
    Aku menjadi orang yang sangat penting di rumah itu. Kemampuanku terapi pijat refleksi, bisa memasak dan
    menjadi tong penampung curhat banyak menjadi tumpuan penghuni kos.

    Semua hobiku itu tak kusangka memberi penghasilan yang lumayan. Aku tidak lagi perlu membayar uang kos.
    Aku tidak tahu bagaimana duduk perkara sebenarnya, apakah ibu kos yang menolak pembayaran uang kos itu
    karena memang ia tidak mau dibayar, atau karena sewa kostku ada yang membayari.

    Setiap kali aku mau bayar, si Ibu kost selalu bilang, “Nggak usah, dik, semua membutuhkan adik di sini,”

    Aku selalu menolak jika diberi uang setelah aku memijat cewek-cewek penghuni kost ini.Aku memang hanya
    ingin membantu, toh aku juga mendapat kenikmatan dari mereka.

    Pernah satu kali, Mbak Ratih menanyakan no rekening bankku, katanya dia tidak punya tabungan di bank itu
    dan ada temannya mau transfer uang untuk dia melalui rekening bankku karena kebetulan bank temennya sama
    dengan bank tempatku menabung. Meski kemudian uang yang ditransfer itu sudah kuberikan kepada Mbak
    Ratih, tetapi di hari-hari berikutnya tabunganku terus bertambah. Nilai yang masuk setiap bulan bukan
    kecil. Menurut ukuranku yang masih kuliah, jumlah uang itu sangat besar.

    Mungkin setelah aku lulus kuliah, aku nggak bakal bisa menerima gaji sebesar uang yang masuk setiap
    bulan ke rekeningku. Aku tak kuasa membendung masuknya uang ke rekeningku itu, aku pun tak cukup kuat
    punya niat untuk melakukan investigasi. Aku jadi teringat pepatah orang Batak . “Sakit meminta tak
    diberi, tetapi lebih sakit memberi tapi tak diterima.”

    Dari pada aku sok nggak butuh dan bisa menyakitkan hati orang, lebih baik aku nikmati saja yang terjadi
    pada hidupku. Manis atau pahit kalau kita enjoy, pasti nikmat-nikmat aja.

    Bukan hanya tabungan yang terus membengkak, rokok pun sekarang aku tidak pernah beli. Kadang-kadang ada
    saja yang memberiku oleh-oleh. Bentuknya bermacam-macam, ada T-shirt, ada celana jeans, sepatu. Ah,
    banyaklah. Yang bikin aku nggak enak hati Ibu kos memaksa agar kamarku dipasang AC.

    Cewek-cewek di sini, jika di luar mereka semua punya pacar, kecuali ibu kost. Soal dia, aku kurang tahu
    persis. Tetapi ketika mereka di rumah ini semua merapat mendekatiku.

    Kami bergaul akrab satu sama lain, semua dekat dan semua saling mengerti. Tidak ada rasa cemburu
    diantara mereka. Misalnya aku sedang masuk ke kamar A, yang lainnya bisa menerima. Tidak ada jadwal
    khusus yang diatur, kapan aku ke kamar A, kapan ke kamar B dan seterusnya. Semuanya berjalan secara
    alamiah, siapa yang paling membutuhkan, dialah yang menggendongku. Kalau aku periksa catatan rahasiaku,
    memang jadwal dateku dengan mereka tidak sama, ada yang dalam sebulan sampai 8 kali, tetapi ada yang
    cuma sekali. Namun itupun bisa berubah di bulan lainnya, yang bulan lalu dia mendapat jatah 8 kali,
    bulan berikutnya ternyata bisa cuma sekali. Aneh juga ya.

    Sebelumnya aku mau bercerita bagaimana akhirnya Juli bisa kugarap. Bagi pembaca yang mengikuti cerita
    ini sejak awal mudah-mudahan masih mengingat siapa-siapa saja teman satu kostku.

    Aku bisa menggarap Juli adalah gara-gara Kristin sahabat dekatnya. Mereka sama-sama berdarah Cina.
    Mereka bukan sekampung, sebab Juli adalah Cina Padang. Mungkin karena mereka satu angkatan waktu
    sekolah, sehingga karena itu jadi akrab.

    Kristin suatu kali manarik tanganku untuk berpisah dengan teman-teman lain. Dia ingin menyampaikan
    sesuatu. “Eh, ini rahasia, tapi gue harus sampaikan ke lu, karena mungkin lu bisa bantu, “ kata Kristin
    membuka pembicaraan.

    “Gini, Jay, aku kasihan ama Juli, dia itu ternyata nafsu sexnya kuat, tapi sangat pemalu. Jadi gini,
    Jay, dia sering bermasturbasi karena sulit mengendalikan nafsunya.“ kata Kristin.

    Aku diam saja tidak memberi reaksi dan menanya apa pun. Aku memberi kesempatan kepada Kristin untuk
    menuntaskan ceritanya. Sebab aku menduga, Kristin sudah bersusah payah sebelum ini menyusun kata-kata
    untuk mengungkapkan ini kepadaku.

    “Dia sampai sering nangis sendiri karena tidak tahan menahan gejolak nafsunya. Padahal dia kan belum
    pernah pacaran, jadi kayak nggak ada penyaluran, gitulah, Jay,” katanya.

    “Lho, cowok yang suka ngantar dia itu apa bukan pacarnya?” tanyaku.

    “Cowok yang mana? Itu kan supir kantornya, ngawur aja lu,” jawab Kristin.

    “Jadi aku harus menolong bagaimana, masak mendadak tiba-tiba aku ajak, Jul maen yuk,” tanyaku sambil
    bercanda.

    “Lu gila, orangnya susah diajak serius nih, becanda melulu. Udahlah, pokoknya lu harus cari jalan
    bagaimana caranya supaya dia juga merasa tertolong dan tidak sungkan,” kata Kristin.

    Juli menurutku tidak jelek, tetapi tubuhnya yang tambun itu membuatnya kurang diminati cowok. Andai saja
    beratnya bisa dikurangi 20 kg saja, Juli bakal menjadi cewek idaman.

    Setelah pembicaraan rahasia itu, aku segera mencari bahan bacaan yang berkaitan dengan pengurangan berat
    tubuh melalui pijat refleksi. Penelusuran itu membawaku sampai kepada hipnotherapy. Melalui cara ini
    juga bisa membantu menguruskan badan.Cerita Sex Dewasa

    Ilmu ini kurasa penting. Aku kemudian mengikuti kursus hipnotherapy. Masalah biaya aku tidak pusing,
    karena tabunganku memadai. Namun aku merahasiakan bahwa aku mulai mendalami hipnotherapy. Jadi tak satu
    pun tahu aku mempunyai aktifitas baru mendalami hipnotis.

    Setelah merasa aku mulai bisa menguasainya meskipun belum canggih benar, aku mengontak Kristin.
    “Bagaimana kalau aku mencoba menterapi penurunan berat badan. Ini ilmu baru yang belum pernah aku
    praktekkan. Tapi kalau Juli tidak keberatan dan mau jadi kelinci percobaan aku akan coba ke dia,”
    kataku.

    “Nah, ini cocok,“ kata Kristin bersemangat. “Eh, tapi soal nafsunya itu gimana, apa bisa diterapi juga?”
    katanya kemudian penuh ragu.

    “Ah, itu sih gak perlu diterapi, biar aku saja yang nampung,” kataku sambil senyum-senyum.

    “Ah, lu emang gila, apa nggak takut gempor, emang lu payah, becanda mulu, sekali-kali serius napa?” kata
    Kristin.

    Kristin tidak sabar ingin segera menyampaikan kabar baik itu kepada Juli. Dia bergegas ke kamar Juli.
    Tidak kusadari berapa lama mereka berdua berunding. Yang jelas malam itu tinggal aku sendiri yang berada
    di ruang tengah menonton pertandingan bola.

    “Jay,” aku mendengar suaru lirih, ternyata asalnya dari Kristin. Dia mendekat dan berkata setengah
    berbisik, “Juli mau diterapi untuk kurus, kalau pun nggak berhasil nggak pa-pa. Dia siap jadi kelinci
    percobaan lu, “ kata Kristin. “Eh, tapi jangan disinggung-singgung soal nafsu sexnya ya, itu dia minta
    dirahasiakan sekali, awas lu,” tambahnya.

    “Ok, bos, siap melaksanakan tugas,” jawabku sambil berdiri.

    “Sekarang bisa?” tanya Kristin lagi.

    “Siap,” kataku.

    Diambilnya remote TV lalu dimatikan dan aku digelandang masuk ke kamar Juli. Di kamar itu Juli sedang
    bengong duduk di tempat tidur. “Apakah dia berharap juga bahwa malam ini aku memulai terapinya?” kataku
    bertanya dalam hati.

    Aku duduk dikursi berhadapan dengan Juli. Aku katakan bahwa terapi menguruskan badan ini belum tentu
    berhasil. Soalnya aku belum pernah melakukakannya dan disamping itu harus ada kerjasama dengan yang
    diterapi. Juli mengangguk-angguk dan bisa memahami. Kristin yang duduk di samping Juli mendesak temannya
    agar menuruti apa yang kuminta, maksudnya menuruti apa yang kunasehati.

    Juli mengaku beratnya 85 kg, tinggi 160 cm, umur 24 tahun. Idealnya dia harus menurunkan 25 sampai 30
    kg. Ini bukan pekerjaan ringan pikirku. Namun kalau aku berhasil ini adalah investasi besar.

    Aku meminta Juli terbuka denganku, maksudnya mengenai pola hidupnya dan pola makannya. Ini akan sangat
    membantu aku menemukan cara terbaik dan aman menurunkan berat badannya. Dia mengaku suka ngemil. Memang
    makannya tidak banyak. Porsinya sedikit, tetapi sulit menahan selera melihat jajanan.

    Di samping itu, dia hobby makanan yang berlemak, bersantan dan minum manis serta kue coklat. Olahraga
    sama sekali tidak pernah, karena dia cepat capek dan nafasnya sesak. Dia mengaku mungkin dia punya
    penyakit asma.

    “Okelah, coba saya chek up dulu,” kataku.

    Aku memintanya tidur telentang. Juli mengenakan celana piyama. Seharusnya piyama longgar, tetapi di
    tubuh Juli jadi ketat, terutama di pahanya. Aku mulai menekan-nekan simpul syaraf di telapak kakinya.
    Ketika simpul syaraf pencernaannya aku tekan, Juli menjerit. Pantaslah, dia harus sering makan. Sebab
    kalau tidak perutnya akan terasa perih. Aku jelaskan soal itu, dia membenarkan.

    “Tuh kan gue bilang apa, Jay ini ngerti lho, udahlah lu percaya aja ama dia gak usah banyak bantah,”
    kata Kristin mencecar temannya. Juli yang dicecar begitu hanya meringis saja, sebab dia sedang menahan
    rasa sakit.

    “Udah, gue tinggal, gue ngantuk, lu pokoknya bereslah ama Jay,” kata Kristin lalu beranjak dan
    meninggalkan kami berdua.

    Aku mencoba menekan syaraf-syaraf yang bisa berakibat mengurangi selera makannya. Syaraf-syaraf itu jika
    ditekan kata Juli sakit sekali. Simpul syaraf seperti ini memang tidak bisa dilemaskan dalam satu kali
    terapi. Juli mau mengerti jika terapi ini harus berulang-ulang.

    Aku mencoba menekan semua simpul syaraf yang memberi dampak menurunkan bobot itu. Semua titik tersebut
    jika ditekan sedikit saja, Juli sudah menjerit kesakitan. Hampir satu jam aku menelusuri semua syaraf
    langsing itu, sampai Juli badannya basah kuyup karena keringat akibat menahan sakit.

    “Bagaimana, Jul, semua yang ditekan sakit, apa kamu kuat diteruskan?” tanyaku.

    “Biarin deh aku tahan, yang penting aku bisa kurus, “ katanya bersemangat.

    Aku lalu menyarankan agar dia berganti mengenakan daster saja, sebab semua bajunya sudah basah
    berkeringat. Tapi akan lebih baik kalau mengenakan sarung saja sebab selain tidak terlalu gerah, juga
    memudahkan aku menyentuh simpul-simpul syaraf. Kali ini aku serius, bukan mau ngerjain Juli. Kasihan
    juga sih.

    Juli menurut dia bangkit. Aku lalu menyarankan dia agar ke kamar mandi dulu untuk pipis. Lebih baik
    pipis sekarang daripada nanti ditengah-tengah terapi kebelet pipis. Aku juga ingin merokok dulu di luar
    sebentar. Juli setuju dan aku keluar lalu mengasapi ruangan. Setelah sebatang rokok putih habis tidak
    lama kemudian Juli memanggilku.

    Juli mengenakan sarung yang diikatkan di dadanya. Aku terperangah juga, badannya putih sekali dan
    semuanya serba besar. Payudaranya besar dan pantatnya juga besar. Setelah menyiapkan semua perlengkapan
    termasuk body lotion aku memulai terapi dengan menyuruhnya tidur telungkup.

    Aku kembali mengulang menekan simpul-simpul syaraf tadi. Namun sekarang dengan bantuan cream aku jadi
    lebih lancar mengurut bagian-bagian simpul syaraf di seputar kakinya. Menurut Juli sekarang tidak lagi
    merasa terlalu sakit seperti pertama tadi. Aku jelaskan bahwa jika diurut, maka penekanan simpul syaraf
    tidak terfokus pada satu titik, jadi yang dirasa adalah sakitnya tidak seberapa.

    Dari tidak ada niat sampai muncul sifat iseng dan ingin tahu. Dua hal terakhir ini adalah kelemahanku,
    terutama suka iseng. Jadinya seperti biasa simpul syaraf erotis aku senggol-senggol juga. Rupanya
    terhadap Juli simpul itu cepat sekali menimbulkan reaksi. Dia jadi gelisah.

    Kubiarkan dia tersiksa dengan kegelisahannya. Paling tidak membantu aku untuk menyingkap sarungnya agar
    aku bisa meraih bagian-bagian yang tersembunyi. Dia pasrah saja ketika sarungnya aku singkap keatas. Aku
    memerlukannya karena akan mencapai bagian paha. Luar biasa besar pahanya dan putih bersih. Sambil
    mengurut aku mengagumi kebesaran itu.
    Urut dan penekanan simpul syaraf aku atur selang-seling. Jika dia kesakitan berikutnya aku urut bagian
    yang nyaman dan menggairahkan. Saat dia mulai syur aku tekan lagi bagian yang sakit. Juli kemudian
    mengaku bingung merasakan pijatanku.

    “Sebentar enak, sebentar sakit, bisa nggak dipijet biar enak terus?“ kata Juli.

    “Nanti lama-lama yang sakit jadi terasa enak, tenang aja, tapi sorry nih aku terpaksa menyingkap sarung
    sampai begini, kamu keberatan apa enggak?”

    Dia langsung menyambut cepat bahwa dia tidak keberatan yang penting bagi dia terapiku lekas
    berhasil.”Ibaratnya aku harus telanjang pun aku turuti, Jay,” kata Juli.

    Aku langsung menjawab, “Ya kalau nggak keberatan telanjang aja, aku jadi lebih gampang, nggak ngraba-
    raba di dalam sarung,“ kataku dengan nada yang kutenang-tenangkan.

    “Dibuka semuanya Jay?” tanyanya minta konfirmasi.

    “Kalau nggak keberatan, terserahlah,”

    “Ya udah, demi kesehatan dan menghargai pertolongan kamu aku ikut saja,” katanya sambil berdiri dan
    meloloskan sarung, lalu BH dan celana dalamnya dengan posisi membelakangiku. “Tapi jangan diketawain ya,
    badanku gemuk,”

    “Dari dulu udah tau kamu gemuk, masak sekarang mau ngetawain, udahlah kamu anggap aja aku nggak ada dan
    yang mijet ini mesin,” kataku berusaha membangkitkan percaya dirinya.

    Namun di dalam hatiku terkagum-kagum dengan gumpalan lemak yang begitu banyak di seluruh tubuhnya. Aku
    bertanya sendiri, apa bisa lemak-lemak itu nanti meleleh. Kalau bisa hebat juga aku.

    “Aku belum pernah meniduri cewek gemuk, kira-kira rasanya bagaimana ya. Empuk kali. Ah jadi pengen nih,”
    kataku dalam hati.

    Aku mulai menggarap lebih banyak simpul syaraf erotis dari pada syaraf yang melangsingkan. Toh dia juga
    sudah tersiksa kesakitan dari tadi, jadi perlu diberi terapi nikmat.

    Memang benar kata Kristin, nafsunya mudah sekali dibangkitkan. Belum setengah perjalanan dia sudah
    mengaduh-aduh keenakan dan kegatelan. Aku jadi makin tergoda dengan rintihannya.

    “Aaaaaduuuuh, Jaaayyy…” Ini bukan rintihan sakit, tapi nikmat. Bokongnya yang gempal mulai aku garap. Di
    situ banyak sekali syaraf-syaraf erotis berada. Lalu aku turun lagi menekan beberapa bagian di paha
    sebelah dalam dekat sekali dengan kemaluannya. Berhubung pahanya besar sekali aku minta dia
    merenggangkan kakinya. Kakinya sudah merenggang cukup jauh, tetapi tetap saja kedua belah pahanya masih
    rapat. Aku terpaksa menyelipkan tanganku untuk meraih titik yang perlu disentuh.

    Karena begitu gempalnya aku kurang menyadari jika suatu saat tanganku sudah menyentuh bibir kemaluannya.
    Aku terkejut sendiri menyadari tanganku sudah mencapai bagian vital, padahal sesungguhnya aku belum mau
    sampai di situ.

    Kuakhiri menyentuh daerah sensitif, berpindah ke pinggang lalu naik ke bahu dan tengkuk. Punggungnya
    ketika aku tekan terasa tebal sekali lemak di situ. Senang betul aku memainkan lemak-lemak di situ
    Setelah bahu kedua tanganku menyelusup ke ketiaknya dan melakukan pijatan badannya bagian samping.
    Bagian pinggir buah dadanya jadi teraba juga. Bagian buah dadanya melebar ke samping karena bagian
    depannya tertekan.

    Setelah selesai bagian belakang aku minta dia berbalik. Pemandangan makin indah. Dibagian atas bergumpal
    susu yang besar di bawahnya perut yang berlipat kebawah lagi segitiga, tapi rambutnya cuma sedikit dan
    membujur ke bawah sepasang paha putih yang besar sekali.

    Aku berusaha tenang dan seolah-olah tidak melihat apa-apa. Padahal sedang terkagum-kagum menyaksikan
    bongkahan lemak bergumpal dimana-mana dan putih bersih.

    Aku kembali mengurut dari ujung kaki terus naik keatas sampai ke pangkal paha. Juli merintih sampai
    seperti sedang menangis. Aku berusaha menyimak apakah dia benar menangis atau sekedar merintih. Ternyata
    dia merintih sambil menangis.

    Aku tanyakan kenapa menangis, apa menyesal atau karena apa. Aku sempat menghentikan pijatan untuk
    memastikan keadaan.

    “Aduh, Jay, aku nggak tau kenapa aku begini. Aku rasanya seperti disiksa oleh keinginanku sendiri,” dia
    tidak meneruskan kata-katanya. Aku mengerti apa yang dimaui sebenarnya.

    Dengan gaya cool aku menenangkan dia. “Sudah, Yul, kamu tenang saja, pokoknya kita harus bisa
    merahasiakan semua yang terjadi di kamar ini. Aku paham apa yang ada di dalam tubuhmu, sabar sebentar ya
    biar aku tuntaskan terapi ini. Kamu kalau mau berteriak atau apa pun lepas aja, jangan ditahan ya, nanti
    dada kamu jadi sesak,” kataku.

    “Aduh, Jay, terima kasih, kamu ternyata sangat pengertian. Sorry ya, Jay, jangan ketawain aku ya kalau
    aku bersuara atau bertingkah aneh,” katanya mengiba.

    Aku jadi kasihan. Kusarankan agar dia menutup mukanya dengan bantal saja agar suaranya tidak terlalu
    terdengar sampai ke luar kamar. Dia segera menuruti saranku. Meski tertutup bantal rintihannya masih
    juga terdengar, tetapi tidak terlalu keras.

    Aku memijat kedua paayudaranya. Dia makin merintih. Apalagi ketika tersentuh kedua putingnya yang
    berwarna merah jambu. Putingnya tidak terlalu besar sehingga bentuknya sangat menggairahkan.

    Perutnya yang penuh lemak agak sulit mengurutnya.Aku hanya menggosok-gosok saja. Pijatanku turun ke
    bawah dan mulai menggarap sekitar kemaluannya. Juli tidak hanya memberi ruang dengan merenggangkan
    kakinya tetapi kakinya ditekuk dan dibukanya selebar mungkin. Meski sudah begitu besar celah yang dia
    buka, tetapi belahan kemaluannya belum terbuka juga karena di situ juga bergumpal lemak menutupi celah
    itu.

    Aku menggosok kemaluannya perlahan-lahan sambil menyelipkan jari tengahku menerobos masuk ke dalam
    belahan yang ternyata sudah sangat basah. Pijatan di kemaluan itu kulakukan tanpa minta izin lagi ke
    pemiliknya. Aku tekan sebentar clitorisnya. Dia menggelinjang dan suaranya terdengar agak keras
    mengerang di bawah bantal.

    Selesai sudah semua terapi pijatanku. Aku lalu berbisik di telinganya. “Jul, pijatannya sudah selesai,
    boleh aku bantu biar kamu lega.”Cerita Sex Dewasa

    Juli hanya menangguk lemah, lalu kembali menutup bantal ke wajahnya. Aku membuka semua pakaianku kecuali
    celana dalam. Terapi selanjutnya adalah mengoral vaginanya.

    Tinggi juga faktor kesulitan yang kuhadapi untuk mengoral kemaluan Juli. Lemak yang berlebihan
    menghalangiku untuk mencapai bagian clitorisnya. Aku harus mengatur posisi agar masih bisa bernafas
    sambil mengoral. Juli tersengal-sengal menikmati oralku. Seluruh bagian mulutku sampai ke dagu basah
    kuyup oleh cairan Juli. Dia cepat sekali mencapai orgasme. Bukan rintihan atau erangan yang kudengar,
    tetapi suara seperti menangis. Kubiarkan saja dia mengekspresikan kenikmatannya.

    Selanjutnya aku berusaha merangsang G-spotnya, Dengan gerakan hati-hati aku memasukkan jari tengahku ke
    dalam liang vaginanya. Terasa sekali sempit. Di dalam vagina juga banyak gumpalan lemak, sehingga agak
    sulit mencari mana tonjolan G-spot. Aku hanya mencoba membaca reaksinya ketika bagian dalam kujamah.
    Sampai aku yakin menemukan bagian yang tepat, aku bertahan di titik itu dengan elusan yang lembut.

    Hanya sebentar saja dia sudah meronta-ronta ketika orgasmenya kembali datang. Vaginanya banjir seperti
    ngompol. Sprei di bawahnya basah kuyup. Setelah orgasmenya mereda aku menindihnya dengan sebelumnya aku
    melepas celana dalamku. Kami berdua telanjang bertindih-tindihan. Aku menggesek-gesekkan batang penisku
    di luar belahan kemaluannya. Juli menyambutnya dengan menggoyang-goyangkan pinggulnya.

    “Aduh, Jay, nikmat sekali, Jay. Aku belum pernah begini. Terusin aja, Jay, masukkan! Aku sudah tidak
    perawan lagi kok.“ bisiknya.

    Aku mengerahkan ujung penisku ke gerbang vaginanya. Meski licin, tetapi aku berkali-kali gagal
    memasukkan kepala penisku. Aku mengubah posisi dengan duduk bersimpuh dan menselaraskan letak kepala
    penis dengan lubangnya. Aku terpaksa menguak lebar kemaluannya untuk memastikan dimana letak mulut
    vagina Juli.

    Setelah jelas baru aku dorong pelan-pelan. Bagian kepala sudah berhasil terbenam, tetapi untuk maju
    masih agak sulit. Juli merintih sakit katanya. Aku berusaha menyabarkannya agar dia menahan sebentar
    saja rasa sakit itu. Batang kutekan lagi sampai hampir setengah tertelan kemaluan Juli.

    Dengan posisi setengah aku mulai memaju mundurkan penisku sampai Juli merasa tidak sakit lagi. Setelah
    dia merasa nyaman dan mendesah-desah, kutekan lagi perlahan lahan sampai seluruhnya ambles ke dalam
    vaginanya. Meski banyak lemak di dalamnya aku merasa vagina Juli masih sempit, maklum lubang ini belum
    pernah dikunjungi penis.

    Juli merintih sambil berucap betapa enaknya vaginanya terasa terganjal dan hangat. Aku melakukan gerakan
    mengedut-kedutkan penisku beberapa kali. Juli semakin mengerang merasakan nikmatnya kekerasan penisku
    yang mengganjal di dalam liangnya.

    Setelah yakin semua batang terbenam di dalam aku kembali rebah menindih tubuh Juli. Kedua putingnya
    kuhisap bergantian, sambil penisku tetap menancap di dalam liang vaginanya. Aku terus melakukan gerakan
    mengedut sambil menciumi kedua putingnya. Juli terangsang hebat dan dia berteriak, “Jay, aku nyampe,“

    Sementara dia berogasme, bibirnya aku lumat dan kuhisap dengan gerakan yang ganas. Dia semakin bernafsu
    dan orgasmenya berlangsung cukup lama. Aku tidak tahu pasti orgasme jenis apa yang dia rasakan.

    Setelah reda dia berkomentar bahwa baru kali ini dia merasa nikmat yang luar biasa. Semua pening dan
    sesak di dadanya menjadi plong. Matanya terasa ngantuk dan lemes. Aku tidak memberi kesempatan dia
    tertidur. Segera aku pompa dengan gerakan 8 kali hunjaman dangkal dan sekali dalam.

    Kosentrasiku menghitung hunjaman ini menganggu konsentrasi menikmati vaginanya. Mungkin ini menyebabkan
    aku jadi bisa bertahan lama.
    Juli tidak jadi jatuh tertidur, dia kembali mendesah, mengerang dan kepalanya digeleng-gelengkan.

    “Aduh, Jay, aku lemas banget, tapi nikmat sekali. Aduh, Jay, aku nyeraaahh,” katanya.Sementara aku terus
    memompanya.

    Efek dari pijataan ku tadi berakibat dia mudah sekali mencapai orgasme. Aku sudah tidak lagi
    memperhatikan sudah berapa kali dia mencapai orgasme. Padahal permainan baru berlangsung 15 menit. Aku
    terus memompa sampai dia tidak mampu lagi bereaksi karena kelelahan yang amat sangat. Aku berkosentrasi
    sampai ketika akan meledak buru-buru aku cabut dan ditumpahkan ke perut Juli. Juli hanya membuka mata
    sebentar lalu jatuh tertidur. Di bagian akhir, tampaknya dia sudah setengah tidur.

    Seperti biasa aku segera menutup selimut ke seluruh tubuhnya dan aku kembali berpakaian. Dengan langkah
    berjingkat ku tinggalkan kamar Juli.

    Aku mendapat pengalaman baru lagi merasakan lemak tebal.

    Dua hari setelah itu aku digamit Kristin. Dia berbisik, “Juli berterima kasih sekali sama lu, katanya
    terapinya luar biasa. Dia juga senang karena selera makannya jadi kurang banget,”

    Sedang kami berdua tiba-tiba muncul Juli. “Jay, beratku turun sekilo, kayaknya terapimu mulai
    menunjukkan hasil.” katanya.

    Aku mengingatkan agar dia jangan terlalu bersemangat menurunkan berat badan. Sebab jika turun terlalu
    drastis, kurang baik terhadap kesehatan. Aku menyarankan agar dia berusaha jalan lebih jauh dari
    biasanya dan kalau bisa hindari naik lift atau eskalator. Dengan begitu badannya tetap kencang meski
    bobotnya berkurang.

    Selain terapi pijat refleksi, aku melakukan kombinasi dengan hypnotherapy. Aku menanamkan sugesti ke
    dalam alam bawah sadarnya untuk tidak berselera kepada makanan manis, berlemak dan coklat. Kebiasaan
    makannya aku ubah dengan lebih menyukai sayur dan buah-buahan. Sugesti itu terus-menerus aku tanamkan ke
    dalam benak Juli, sampai dia sendiri merasa perubahan selera makannya karena kesadaran akan mencapai
    bentuk dan berat badan yang ideal. Aku juga berterima kasih kepada Juli, tetapi di dalam hati. Berkat
    tantangan yang dia berikan aku bisa menguasai hypnotherapy.

    Singkat cerita, 6 bulan kemudian Juli sudah mencapai berat yang ideal yaitu 55 kg. Tampilan Juli makin
    cantik dan hebatnya payudara dan pantatnya tetap bertahan gempal tidak ikut susut. Juli menjadi seksi
    sekali.

    Di balik keberhasilannya menurunkan berat badan, aku yang jadi megap-megap. Setiap kali mengetahui
    jadwalku kosong, Juli langsung minta jatah. Padahal katanya dia sudah punya pacar. Tapi dia mengaku
    susah melupakanku.

    “Aku kecanduan kamu, Jay,” katanya.

    Keberhasilanku menurunkan berat badan Juli segera tersebar ke seluruh jaringan cewek-cewek ini. Aku di
    baiat sebagai terapis paling ampuh. Padahal, keberhasilan Juli menurunkan berat badan antara lain karena
    dia hampir setiap hari kelelahan karena nafsu sexnya yang mendorong dia selalu minta disetubuhi.

    Setelah keberhasilanku menurunkan berat badan Juli, Mbak Ratih dan Bu Rini juga minta diturunkan
    kegemukannya. Kelebihan berat mereka berdua tidak terlalu parah, mungkin hanya perlu turun 5 sampai 10
    kg.

    Sudah tiga orang berhasil kuterapi jadi kurus dan berisi. Aku tidak menyangka kemampuanku ini kelak akan
    menerbangkan aku ke banyak tempat dan menjadi dambaan banyak ibu-ibu dan perawan gemuk.

    Aku tidak mampu mengurus sendiri begitu banyak permintaan terapi. Bu Rini kuminta menjadi managerku. Dia
    lah yang mengatur waktu bahkan menentukan biaya terapinya. Kami berdua yang tadinya banyak berharap
    mendapat penghasilan dari MLM, sekarang sudah kami tinggalkan.

    Informasi dari mulut ke mulut ternyata cepat sekali merebak. Aku akhirnya kewalahan menghadapi begitu
    banyaknya order yang masuk. Aku minta Bu Rini membatasi orderan. Dia bingung bagaimana caranya
    menyeleksi, semua butuh dan semua perlu dibantu. Aku lalu minta dia menetapkan tarif yang tinggi agar
    tidak banyak orang mampu mengorderku. Tapi aku minta dia juga menyeleksi atau bahkan mencari mereka yang
    perlu benar-benar dibantu. Terhadap mereka ini kutekankan kepada Bu Rini jangan minta bayaran apa pun.
    Melalui teknik penyeleksian ini aku jadi banyak bertemu wanita-wanita tingkat atas. Aku kagum atas
    berlimpahnya uang mereka. Jika mereka minta diterapi, selalu menyewa kamar hotel bintang 5. Mulanya aku
    agak minder juga menghadapi mereka, karena penampilan yang wah dan wangi serta kelengkapan yang serba
    mahal.

    Dengan kemampuan uang yang begitu besar, kadang-kadang permintaan mereka rada aneh. Sebagai contoh ada
    yang minta lubang vaginanya disempitkan atau bibir vaginanya dibuat berwarna pink atau mengecilkan
    puting susu.

    Terhadap mereka yang kurang mampu, mereka umumnya sangat menurut dan patuh pada semua nasihatku. Aku
    berharap bantuanku kepada mereka bisa lebih mencerahkan jalan hidupnya ke depan. Umumnya yang minta
    diterapi baik dari kalangan kaya, maupun dari kalangan kurang mampu adalah keluhan kegemukan.

    Bedanya, kalangan berduit banyak sekali permintaannya. Kadang-kadang jika aku kesal, aku mainkan
    penekanan syaraf erotisnya. Mereka kelojotan minta digauli. Pada titik ini aku berlagak bodoh dan pura-
    pura tidak memahaminya. Aku selalalu menyudahi terapi dengan mengatakan, “Bu atau Mbak, terapinya sudah
    selesai,”

    “Mas, bisa nggak aku diservice sekalian? Kepalaku pusing jadinya nih,”

    “Apanya yang diservice bu/mbak?”

    “Aduh, tolonglah, dik, nanti aku kasih tip tambahan deh,” kata mereka.

    Jika sudah mereka mengiba-iba, aku baru keluarkan jurus penuntasan. Biasanya tip yang diberikan kepadaku
    jauh lebih besar dari tarif resmi yang harus mereka bayar. Tips ini tentu saja 100 persen masuk ke
    kantongku.
    Aku jadi makin berduit, tetapi aku tetap berusaha hidup bersahaja. Masalahnya aku belum siap memasuki
    dunia glamour. Kalau mau sebetulnya aku cukup mampu membeli mobil baru, beli apartemen. Tapi jika itu
    kuturuti aku harus mengubah pola hidupku yang belum tentu aku mampu menjalaninya.

    “Begini saja udah enjoy, uang banyak, hidup dikelilingi bidadari yang setiap saat siap dilayani dan
    melayani,” batinku.

    Aku hanya ingin berbagi cerita pengalaman yang unik-unik saja yang aku temukaan dari pasienku. Salah
    satunya adalah Ibu Dina. Dia adalah pengusaha wanita terkenal dan mungkin termasuk jajaran konglomerat.
    Saking menjaga rahasia, dia harus menyewa 2 kamar di hotel bintang 5 dengan kamar yang memiliki
    conneting door. Kalau sudah begini Bu Rini lah yang berperan mengatur terapi rahasia itu, sehingga hanya
    aku, bu Rini dan Bu Dina saja yang tahu soal terapi ini.

    Bu Rini awalnya memiliki tubuh yang terlalu gemuk. Dia ingin tampil seperti badan gadis remaja atau
    katakanlah gadis 20 tahunan. Padahal usianya sudah hampir mencapai 50. Karena kekuatan uang maka meski
    gemuk dia tetap berpenampilan cantik dan mahal.

    “Dik, aku sudah bosan kemana-mana untuk nurunin berat badanku ini, tapi selalu tidak berhasil. Kalaupun
    berhasil, tidak bisa lama bertahan, aku malah tambah gemuk. Gimana ya, dik, solusinya?” kata Bu Dina.

    Aku jelaskan bahwa soal menunrunkan berat badan itu tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada terapis,
    tetapi harus ada kerjasama dengan yang diterapi. Bahkan Ibu Dina harus lebih banyak berperan dari pada
    saya yang menerapi.

    “Saya hanya memberi arah saja, bu, ibu yang harus mengikuti jalan itu. Kalau ibu tidak nurut, ya pasti
    tidak akan berhasil,” kataku.

    “Oh, gitu toh, dik? Tapi kan saya udah makan obat, masak yo saya harus susah payah nahan selera makan
    segala sih. Saya kan suka ada acara dinner, makannya itu enak-enak dan mahal, rasanya sayang kalu nggak
    dicoba,” katanya.

    “Saya tidak menjanjikan terapi saya bakal berhasil bu, tetapi saya coba, kalau cocok mungkin bisa
    berhasil. Biasanya saya tidak mengharuskan pasien saya mengubah 180 derajat pola makan mereka, tetapi
    hanya mengurangi saja porsi dari yang sebelumnya. Bagaimana bu apa mau dicoba,” tanyaku dengan nada
    merendah.

    “Kamu ini masih muda kok bisa punya keahlian gini toh, dik? Katanya udah banyak yang berhasil, makanya
    aku penasaran,” katanya.

    Seperti biasa, aku meminta dia mengenakan sarung dan kusarankan agar melepas BH juga. Badan Bu Dina
    sangat mulus, putih dan gemuk Aku mulai melakukan ritual. Semua simpul syaraf yang berhubungan dengan
    selera makan aku garap. ceritasexdewasa.org Simpul-simpul itu tidak sampai 30 menit sebetulnya sudah tuntas. Selebihnya aku
    hanya melakukan chek up lalu memberi pijatan nyaman. Dia sudah merasa membayar mahal, jika aku hanya
    menggarapnya 30 menit rasanya tidak pantas.

    Selama kelebihan waktu itu aku juga iseng menekan syaraf-syaraf erotisnya. Dalam hal ini kurasa
    keahlianku sudah sangat mahir. Baru sekitar 15 menit syaraf erotis kumainkan, Bu Dina sudah mulai
    merintih. “Dik, pijetanmu kok enak banget to, dik?” katanya.

    “Bu, maaf ya, bu, kelihatannya ibu jarang disambangi nih,” kataku memancing reaksinya.

    “Disambangi apa toh, dik?” tanyanya dengan nada heran.

    “Ah, ibu masak nggak paham? Maksud saya, disambangi ama bapak,” kataku.

    “Lho, kamu kok bisa tahu rahasia sampai kesitu to? Tapi emang benar kok, dik, bapak itu kan diabet, jadi
    ya agak susah. Apa kamu bisa terapi diabet juga to, dik?” tanya Bu Dina.

    Aku terus terang belum pernah mencoba terapi orang diabet, tetapi penyakit itu menurut pengetahuanku
    tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dikendalikan.
    “Maaf ya, bu, ini dampaknya dari kurang disambangi, jadi ibu ini termasuk suka mudah marah, emosinya
    rada cepat meluap,” kataku datar.

    Dia membenarkan, bahkan dia malah nyerocos, dalam soal sepele saja kadang-kadang marahnya bisa meledak-
    ledak. Susah mengendalikan emosi marah, katanya. Dia tanya apa yang begituan bisa dikendalikan.

    Saya katakan ini adalah ibarat asap, apinya adalah soal disambangi tadi. Jadi ada perasaan yang
    terpendam bertahun-tahun dan lama-lama tidak menyadari, padahal perasaan kecewa itu tetap ada di dalam.

    Ibu Dina rupanya termasuk istri yang setia dan tidak pernah punya keberanian untuk bermain mata dengan
    laki-laki lain. Untuk terapi ini saja dia membuat pengamanan berlapis-lapis agar jangan sampai diketahui
    orang. Maklumlah dia sendiri termasuk orang punya nama, suaminya juga terkenal.

    Aku jadi penasaran ingin membuat Bu Dina kelojotan. Apakah dalam kondisi di puncak rangsangan dia masih
    mampu bertahan. Bagaimana sih kuatnya benteng pertahanannya . Aku memainkan syaraf syaraf sensual.
    Stimulasi terus-menerus aku garap, tanpa menyentuh bagian-bagian alat vital.

    “Aduh, dik, aku kayaknya udah nggak kuat lagi nih, dik,” katanya.

    Aku lalu berhenti memijat dan bertanya apa pijetnya cukup sekian aja. Bu Dina langsung membantah bahwa
    bukan itu yang dia maksud, katanya kepalanya mau pecah menahan rasa yang nggak karuan. Aku lalu
    menawarkan untuk memijat kepalanya. Padahal aku tahu itu tidak akan menyembuhkan bahkan mungkin bisa
    tambah menggila. Dia memberi kesempatan aku memijat kepalanya. Bukan tambah selesai, tetapi malah tambah
    menggila. Bu Dina tanpa dia sadari merebahkan badannya ke badanku yang sedang memijat kepalanya dari
    depan. Dia memelukku erat sekali sambil kepalanya di guselkan ke dadaku. Dia menarik kepalaku dan
    diciuminya wajahku lalu bibirku disedot dan diciuminya ganas sekali. Kepalaku lalu didorong ke arah
    dadanya. Aku segera paham bahwa payudaranya minta disedot. Payudara Bu Dina masih cukup montok dengan
    pentil yang agak besar.

    Baca JUga Cerita Sex Kado Istimewa

    Bu Dina menggeliat-geliat menikmati cumbuanku. Aku lalu mengoralnya sampai dia orgasme bahkan aku
    membawanya juga G Spot O. Namun Bu Dina masih ingin dilanjutkan dan dia membuka celanaku lalu mengoralku
    sebentar kemudian dia minta aku menyetubuhinya. Aku menggenjotnya, sampai dia mencapai O , tapi dia
    masih minta aku melanjutkan permainan sampai dia kembali mendapat O. Badanku merasa lelah dan aku mulai
    berkosentrasi untuk mencapai O. Menjelang aku O Bu Dina rupanya juga hampir nyampe. Aku sengaja melepas
    ledakan ejakulasiku di dalam vagina bu Dina. Dia memelukku erat sekali dan diciuminya wajahku.

    “Saya puas, dik, biar aku nggak berhasil jadi kurus tapi kamu harus mau melakukan terapi lagi,“ kata Bu
    Dina.

    Bu Dina adalah pelangganku yang menjadi ketergantungan kepadaku. Dia selalu minta diterapi setiap 2
    minggu sekali. Pernah juga aku dimintanya menyusul ke Singapura. Aku diperamnya disana selama 3 malam.

    Berat Bu Dina berhasil juga turun hampir 15 kg dalam 6 bulan. Terapi yang aku lakukan adalah kombinasi
    pijatan dan hipnotis. Tidak hanya soal mengurangi selera makannya, tetapi juga emosinya sekarang lebih
    terkendali.

    “Dik, aku sudah bisa menahan marah, sejak kamu terapi aku kok jadi penyabar ya, dik?” katanya.

    Aku memujinya. Dia kupuji karena mau bekerjasama untuk memperbaiki sifatnya yang negatif. Aku juga
    menenamkan ke dalam benaknya bahwa marah itu adalah perbuatan sia-sia. Aku selalu memberi tantangan
    kepadanya untuk mengembangkan kreatifitas. Maksudnya jika timbul rasa marahnya kepada seseorang, maka
    dia harus mencari cara atau jalan atau kata-kata agar orang yang seharusnya dimarahi karena kesalahannya
    bisa menyadari dan memperbaiki diri .

    “Bu Dina pasti bisa mencari cara lain dari marah,” kataku.

    “Iya, dik, bahkan ada karyawanku yang harusnya aku marahin malah aku kasih uang dan kuajak bicara baik-
    baik, akhirnya dia sekarang jarang berbuat kesalahan, malah loyal sekali kepadaku,” katanya.

    Aku membatin, sumber penyebab kemarahannya sudah cair, yakni keinginan sexnya yang selama ini bertumpuk
    sudah lenyap, karena aku menjadi pelanggan servicenya. Selain itu sugesti yang aku tanamkan di dalam
    alam bawah sadarnya membantu dia berfikir positif dan kreatif.

    Ada lagi pelangganku yang minta aku melakukan terapi di motel-motel. Dia selalu minta janji ketemu di
    pusat-pusat perbelanjaan. Dari situ dia minta aku membawanya ke motel hanya berdua saja.

    Pelangganku yang kupanggil dengan nama Bu Monik ini awalnya juga minta tubuhnya dirampingkan, tetapi
    kemudian berkelanjutan minta diservice lengkap. Dia juga pengusaha kaya yang nafsu sexnya tidak mampu
    diimbangi suaminya. Kalau kuturuti dia maunya aku melakukan terapi setiap minggu.

    Tak terasa, sudah 2 tahun aku malang melintang di dunia terapi . Relasiku di kalangan atas, terutama
    para wanita cukup lumayan. Tidak hanya pengusaha, tetapi juga politisi selebriti dan ibu pejabat. Ada
    juga ibu yang mempunyai jabatan penting di kalangan TNI dan Polri.

    Jujur saja, aku tidak merasa cukup mampu menjadi terapis. Aku juga sebenarnya kurang yakin bahwa titik-
    titik simpul syaraf yang ditekan bisa manjur menyembuhkan berbagai penyakit. Kuperhatikan simpul-simpul
    syaraf itu hanya membantu usaha penyembuhan. Penyembuhan sepenuhnya sebetulnya adalah pada diri orang
    itu. Jika dia mengubah pola hidupnya maka keberhasilannya untuk sembuh lebih besar. Namun jika dia tetap
    dengan pola hidupnya yang lama, maka penyakit yang dikeluhkannya akan tetap menggerogotinya. Teori ini
    tidak bisa diterapkan juga kepada semua orang dan semua penyakit. Akan tetapi sebagian besar memang
    begitu.

    Kesibukanku melayani pelanggan membuatku jadi jenuh. Aku berkeinginan suatu saat bisa berkeliling Eropa
    untuk berlibur. Pada dasarnya aku senang berkelana. Namun menjelajah Eropa jika hanya menikmati dari
    balik jendela rasanya kurang puas. Maksudku di balik jendela itu adalah dari balik jendela hotel, taxi,
    bus, kereta api dan seterusnya. Artinya aku tidak terlibat dengan kehidupan sehari-hari di tempat yang
    kukunjungi. Untuk bisa begitu paling tidak aku harus bisa berkomunikasi dengan bahasa setempat.

    Keinginan itulah yang mendorong aku mengambil kursus bahasa Perancis, Jerman dan Spanyol sambil
    memperdalam pengetahuan bahasa Inggris. Setahun kurasa cukup untuk menguasai sekedar bahasa sehari-hari
    bahasa-bahasa besar dunia itu.

    Awalnya aku ingin berkelana sendiri ke Belanda, Prancis, Jerman dan Spanyol. Namun ketika aku bercerita
    sambil melakukan terapi kepada beberapa pelangganku, mereka malah mau ikut. Jadinya ada 5 orang emak-
    emak kaya raya yang mau ikut berkelana. Mereka malah membiayai semua kebutuhanku. Apalagi mereka
    akhirnya tahu bahwa aku lumayan ngerti bahasa negara-negara yang akan kami kunjungi.Cerita Sex Dewasa

    Berkelana selama 2 minggu ke 4 negara pada musim panas kemudian memang terwujud. Aku jadi tour leader,
    dan memang aku yang mengatur kemana saja tujuan wisata kami. Aku syaratkan kepada ibu-ibu pesertaku agar
    tidak berbelanja oleh-oleh kecuali mau dipakai langsung. Aku tidak mau perjalananku terhambat gara-gara
    soal barang bawaan yang terlalu banyak. Ibu-ibu kalau tidak dibendung, nafsu belanjanya kadang-kadang
    lebih besar dari nafsu sexnya.

    Selama kami tour, kami berenam sudah seperti remaja lagi. Tidak hanya aku harus bergantian setiap malam
    tidur dikamar mereka, Tetapi sering juga kami ngumpul berenam lalu melakukan orgy party. Ibu-ibu itu
    selalu menempati suite room, jadi kamarnya lebih lega. Terbang pun kami selalu di kelas satu.

    Aku rasa soal ini kalau diceritakan bisa terlalu panjang. Namun lain kalilah kuungkap kehidupan 2 minggu
    kami sambil berkeliling Eropa.-

  • Cerita Panas Pasrah

    Cerita Panas Pasrah


    14570 views

    Cerita Panas Pasrah

    Pada suatu hari, aku pulang sekolah agak malam yaitu sekitar pukul delapan, soalnya banyak tugas club yg harus dikerjakan dan besoknya harus dikumpulkan. Akhirnya malam itu aku bersama teman-temanku selesai mengerjakan tugas membuat web site club sepak bola di sekolahku.

    Ooo.. iya aku lupa berkenalan. Asalku Bandung, dan aku sekarang masih duduk dibangku kelas 1 SMU. Namaku Santi. Lalu aku menyerahkan flash disk itu kepada temenku (ketua kelompok) untuk diserahkan kepada guruku besoknya. Lalu setelah pulang, aku dan temenku berpencar, karena rumahku dekat, maka aku memilih untuk mengambil jalan pintas sebab aku jalan kaki.

    Pada saat aku melewati gang yg gelap, maka aku sepertinya dibius oleh seseorang. Setelah aku sadar, aku sudah berada di tempat tidur dan aku tdk tahu dimana aku sekarang. Yg kutahu sekarang aku berada dengan 3 orang laki-laki. Laki-laki itu membawa kamera dan handycam. Pada saat itu aku nggak tahu aku mau diapakan, dan kepalaku masih sangat pusing dan tubuhku lemas sekali. Lalu salah satu laki-laki itu mendatangiku dan melepas bajunya sampai telanjang bulat.

    Saat itu pula aku sadar kalau aku mau diperkosa. Lalu laki-laki itu ganti melucuti pakaianku satu persatu, sampe pada saat mau melepas BH dan CD-ku aku berusaha untuk melawan tetapi aku tdk bisa karena kepalaku masih sangat pusing dan tubuhku masih lemas. Lalu akhirnya pria itu berhasil melepas semua pakaian yg ada di tubuhku, dan akhirnya aku telanjang bulat.

    Dia lalu mulai meraba-raba seluruh lekuk tubuhku, aku melihat penisnya yg mulai membesar dan menegang, lalu penisnya digesek-gesekkan ke kaki, perut dan payudaraku. Entah kenapa tubuhku merasa geli dan payudaraku merasa mengeras.

    Setelah puas meraba-raba tubuhku yg telanjang bulat, lalu dia mulai memasang semacam alat. Dia berkata kepada temannya,

    “Ambilkan aku alat kondom”. Dan ternyata aku baru sadar bahwa tujuannya berikutnya adalah di vaginaku. Dan aku baru sadar pula bahwa sejak tadi aku telah direkam oleh HandyCam dan oleh kamera foto.

    Lalu orang itu memasang alat kontrasepsi tersebut ke penisnya yg tegang. Dan seketika itu juga vaginaku dimasuki oleh penisnya bagaikan pesawat roket yg meluncur ke lubang kecil. Pada saat pertama kalinya penisnya masuk ke vaginaku, vaginaku terasa sakit, tetapi setelah beberapa menit berlalu vaginaku terasa nikmat dan geli.

    Orang itu memompa terus penisnya ke vaginaku, dan akhirnya vaginaku mengeluarkan cairan putih kental, dan sedikit darah, aku tahu mungkin vaginaku sudah berlobang karena dimasuki oleh roket yg ditembakkannya padaku. Seketika itu juga badanku terasa lebih lemas, dan baru pertama kalinya dalam hidupku ada perasaan yg bercampur aduk semacam ini.

    Aku semakin meronta dan mendesah, “Ahh.. ahh.. ahh”, tetapi dia belum puas dan terus menciumiku dan meraba-raba payudaraku yg mengeras. Setelah beberapa menit berlalu aku sampai tdk bisa apa-apa karena tubuhku sudah tdk bisa digerakkan karena terlalu lemasnya. Setelah sekitar satu jam dia meniduriku, dia kelihatannya sudah puas dan memberi aku waktu untuk bernafas.

    Dia memberiku istirahat selama kurang lebih dua jam, setelah sadar aku melihat pria yg satunya lagi membuka bajunya sampai telanjang bulat. Aku takut sekali jangan-jangan mereka bertiga akan memperkosaku bergantian.

    Tetapi ketakutanku ini menjadi kenyataan, pria yg kedua itu kembali meniduriku dan meraba-raba tubuhku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia juga membawa bulu sulak, dan mengesek-gesekkan bulu itu ke kakiku dan setelah itu ke payudaraku dan setelah itu baru ke vaginaku.

    Aku merasa geli luar biasa di dalam hidupku. Setelah puas bermain-main dengan tubuhku, maka ia mulai memasukkan roketnya ke dalam vaginaku, dan ini roket dari jenis yg ke 2 yg masuk ke dalam vaginaku. Setelah itu dia memompa dengan sekuat tenaga sampai keluar cairan lagi dan tubuhku kembali lemas, dia meniduriku selama kurang lebih satu jam dengan posisi tubuh tengkurap.

    Setelah itu aku diberi waktu istirahat kembali kurang lebih 1 jam. Setelah ini aku berfikir bahwa orang ketiga ini akan memperkosaku seperti yg lainnya, dan aku akan pasrah. Dan benar, dia kemudian memompa penis yg sudah dilengkapi dengan alat kontrasepsi. Tetapi orang ini liar sekali. Dia ini lain dari kedua temannya yg membuat aku nikmat. Dia ini memompa penisnya dengan liar dan dengan sekuat tenaga, dia mengabaikan rontaanku dan desahanku yg semakin keras suaranya.

    Dia menikmati tubuhku selama kurang lebih 2 jam. Dan entah rasanya ini apa, tetapi aku sangat mengantuk atau aku sedang pingsan aku tdk tahu. Setelah aku bangun, kamar ini dalam keadaan kosong, dan aku melihat tubuhku sendiri yg masih dalam keadaan telanjang bulat dan dengan penuh cairan-cairan kental.

    Lalu aku berniat bangun dari tempat tidur itu, tetapi aku mengalami kesulitan karena tubuhku masih lemas karena telah diperkosa oleh 3 orang secara bergantian. Tetapi aku berusaha kembali dengan sekuat tenagaku untuk bangun, dan aku mencari pakaian seragamku yg kupakai tadi malam. Tetapi seragam itu sudah tdk ada.

    Lalu aku berjalan ke pintu keluar, dan aku terkejut karena rumah ini begitu besar. Dengan tubuh yg telanjang maka aku menuju ke suatu ruangan, mungkin ini adalah ruang tamu, dan aku mendengar seseorang telah menelepon seseorang.

    Katanya,

    “Ya, aku telah menikmati tubuh gadis itu, kalau kamu tdk percaya aku dapat memperlihatkan rekaman kejadian yg nikmat semalam kepada kamu, dia lumayan cantik dan rasanya nikmat sekali, tubuhnya putih sekali, lebih putih di luar dugaanku kalau kamu mau mencoba, kamu boleh datang ke rumahku. Apa? Minggu depan? Tdk usah kuatir itu bisa diatur. Sekarang kamu kalah dan aku beri waktu sampai nanti sore untuk memberikan uangnya kepadaku”.

    Aku baru sadar bahwa aku adalah barang taruhan, dan jika dia berhasil menikmati tubuhku maka di menang. Lalu aku memberanikan diri untuk mengintip ruangan itu dan aku melihat pakaianku di dekatnya. Maka aku menemuinya dan memintanya, tetapi dia berkata, “Baik ini ambil pakaianmu, tetapi CD, kaos dalam, dan BH mu aku bawa untuk kenang kenangan.

    Jangan mencoba untuk melaporkan kejadian ini ke polisi, kalau kamu tdk ingin tahu semua temanmu tahu akan hal ini. Kalau kamu kusuruh datang ke sini, maka kamu harusa datang, jika kamu menolak, maka aku akan menyebarkan rekaman dan foto-foto itu kepada seluruh teman-temanmu. Aku sudah membuat surat palsu bahwa kamu tdk masuk ke sekolah hari ini karena sedang sakit.

    Setiap jam istirahat pertama kamu harus menemui aku di kelasku, di 3 IPA 2, dan kamu setiap sekolah jangan memakai CD dan BH, terutama pada saat olahraga. Kalau kamu tdk menaati peraturan ini, kamu akan kukimkan ke tempat pelacuran selama semalam”.

    Aku menyetujuinya, dan setelah itu dia memberikan pakaianku. Aku merasa deg-degan dan payudaraku kembali mengeras karena aku telanjang bulat di depan seorang laki-laki. Lalu aku memakai pakaian OSIS, dan rasanya aneh sekali, rasanya seperti tdk memakai pakaian sebab payudaraku masih agak terlihat transparan, dan aku tdk memakai CD.

    Setelah itu aku pulang dengan taksi, dan aku berusaha menutupi payudaraku yg besar dengan lengan tanganku supaya tdk dilihat oleh supir taksi itu. Tetapi payudaraku masih terasa keras dan tegang sehingga putingnya masih dapat terlihat walaupun transparan. Aku sampai di rumah sekitar jam 10-an, dan aku tahu bahwa ayah dan ibuku sedang kerja dan tdk ada di rumah. Lalu pembantuku membukakan pintu, tetapi aku masih berusaha menutupi payudaraku agar tdk terlihat.

    Setelah masuk ke dalam rumah, maka aku langsung ke kamar, lalu mandi dan ganti baju. Aku berusaha mencari alasan jika ditanya oleh ayahku mengapa aku kemarin tdk pulang. Akhirnya aku mendapatkan alasan yg tepat. Aku khan sering pergi ke rumah saudaraku di dekat sekolahku dan kadan-kadang tanpa izin terlebih dulu. Lalu aku tidur sampai sore, dan ayahku pulang, lalu aku bilang kepada ayahku bahwa aku kemarin tdk pulang ke rumah karena sudah terlalu malam dan aku menginap ke rumah saudara.

    Setelah besoknya aku sekolah maka sesuai persetujuan, aku tdk memakai BH dan CD untuk ke sekolah, dan aku hanya memakai kaos dalam dan seragam pramuka. Sesampai di sekolah aku merasa asing dan malu jangan-jangan ada yg tahu kalau aku diperkosa. Tetapi aku berusaha PD, dan tdk memikirkan kejadian itu, tetapi aku tdk bisa, bahkan di dalam pelajaran pun aku tetap memikirkan kejadian semalam.

    Setelah istirahat pertama, maka aku mencari kelas 3 IPA 2, dan aku tahu bahwa mereka bertiga adalah teman sekelas. Lalu mereka pura-pura baik padaku, dan akhirnya aku tahu nama-nama mereka satu per-satu. Yg memperkosaku pertama kali bernama Andi, yg kedua bernama Erick, yg ketiga bernama Deni.

    Lalu Andi memperkenalkan aku kepada teman-teman sekelasnya seolah-olah aku ini adalah pacarnya. Mereka lalu mengatakan bahwa mereka mengincar aku sejak lama, dan sejak aku bertugas sebagai pengibar bendera, maka mereka melihat ada murid baru yg cantik dan bodynya bangkok, dengan payudara yg besar pula untuk gadis seumuranku.

    Lalu setelah ia tahu bahwa aku akan pulang malam pada saat itu, maka mereka merencanakan niat itu. Lalu aku dipaksa duduk di sebelahnya dan memasukkan tangannya ke dalam rokku untuk memastikan bahwa aku tdk memakai CD. Ternyata tdk cuma itu saja dia terus-terusan meraba-raba Vaginaku sehingga terasa geli dan akhirnya Payudaraku mengeras lagi. Lalu Andi membuat jadual aku harus disuruh ke rumahnya hari selasa, kamis, dan sabtu.

    Kalau selasa untuk Erik, kalau Kamis untuk Deni, dan kalau sabtu untuk Andi. Dan Andi bilang kalau besok sabtu aku akan dijemput, pacaran dulu baru buka-bukaan. Aku tahu bahwa mereka itu cuma ingin menikmati tubuhku dan nggak akan membuat telanjang. Pada saat berhubungan bersama Andi aku terkejut mengapa Andi nggak pake kondom? Lalu aku sangat takut klo aku bakal hamil, dan ternyata Andi memompa penisnya di bawah payudaraku, di atasnya perut, dan tubuhku penuh dengan cairan lengket.

    Lalu Andi mengambil kondomnya dan memasangnya, lalu memompanya di dalam Vaginaku sampai Pagi. Aku juga merasa hubungan itu hubungan yg nikmat dan enak, membuat tubuh terasa geli. Dan aku sekarang tahu banyak dari pengalaman sex bersama mereka. Dan aku diajari bermacam-macam gaya, seperti gaya 69. Setelah nanti keluar cairan pasti tubuh ini akan lemas sedikit, tetapi akan merasa nikmat.

    Pernah juga aku diolok-olok sama teman sekelas gara-gara aku nggak pake BH saat olahraga. Pada saat itu olahraga sedang latihan lari, dan temanku melihat dan memperhatikan bahwa payudaraku terlihat bergoyg kencang sekali dan terlihat besar.

    Maka mereka bertanya kepadaku,

    “San, kamu nggak pake BH ya?”. Aku berbohong dan menjawab,
    “Pake koq”. Karena teman-temanku banyak yg nakal, setelah gurunya pergi lalu mereka bersama-sama memegangi tubuhku dan lainnya membuka bajuku untuk membuktikan bahwa aku nggak pake BH. Lalu kaos olahragaku dibuka dan mereka melihat bahwa aku benar-benar tdk pake BH.

    Lalu teman-teman pada mengejekku dan menertawakanku. Lalu aku cepat-cepat menutupi payudaraku dan dalam pikiranku adalah menunggu mereka pergi dulu baru memakai kaos lagi. Tetapi si Susan tdk puas dan dia menghasut teman-teman begini katanya, “Jangan-jangan dia juga nggak pake CD, kita lepas celananya aja yuk.” Lalu mereka kembali memegangi tubuhku dan melempar kaos yg sedang kupegang ke lapangan, dan si Susan langsung melepas celanaku dan melempar celanaku ke tengah lapangan.

    Pada saat itu aku merasa malu yg luar biasa selama hidupku. Aku pada saat itu telanjang bulat di hadapan teman-teman sekelasku. Dan mereka pada tertawa, mereka malah menggodaku dengan membawa lari kaos dan celanaku. Dan aku mengejar mereka dengan tubuh tanpa busana di lapangan basket sekolahku. Lalu rasanya aku hampir menangis. Dan setelah puas menggoda aku, maka si Dewi mengembalikan baju dan celana kepadaku.

    Ini pengalaman pertamaku lari bugil di lapangan dan dilihat banyak orang. Aku malu sekali, karena vaginaku sudah berbulu dan payudaraku menjadi besar karena telanjang di hadapan orang banyak. Lalu teman-temanku mengejekku bahwa payudaraku besar sekali untuk gadis yg baru berusia 16 tahun.

    Yg menjadi beban mentalku yg lain adalah aku seringkali digoda oleh teman-temanku dan menyuruh aku menari telanjang di depan kelas jika guru tdk ada atau pada saat pelajaran kosong. Dan kalau aku tdk mau maka mereka menjadi liar, mereka mengunci pintu keluar kelas, dan menyuruh satu orang untuk mengawasi jika ada guru yg datang, lalu mereka menggendongku, melepas semua pakaianku sampai telanjang bulat, dan mengikatku di atas meja, dan bukan cuma laki-laki yg mengerumuniku tetapi juga banyak juga yg perempuan, mereka semuanya mempermainkan tubuhku, menggeraygi semua tubuhku dari ujung rambut sampai telapak kaki.

    Mereka mencubiti aku bagaikan barang dagangan. Ada pula yg mempermainkan payudaraku bagaikan susu sapi. Bahkan ada yg membawa gunting untuk menggunting bulu-bulu vaginaku. Tubuhku terasa geli sekali dan merasa bahwa aku ini hanyalah seperti barang dagangan yg dipertontonkan orang banyak.

  • Sekali Dayung 2 Vagina Ternikmati

    Sekali Dayung 2 Vagina Ternikmati


    15 views

    “PermisiiiIII………?” Terdengar suara dari arah pintu depan rumah ku, lalu beberapa suara lain, berbicara pelan, kira-kira tiga suara, 1 laki-laki 2 perempuan, agak asing tapi mirip suara pamanku.
    ” yaaa….” Ku jawab dan Langsung bergegas kutinggalkan meja makan diruang tengah menuju pintu depan, untuk ku buka.

    cerita-sex-dewasa-sekali-dayung-2-vagina-ternikmati

    Setelah terbuka ternyata memang pamanku, adik dari ibuku, bersama 1 orang perempuan yang kukenali sebagai tanteku dan….satunya lagi seorang perempuan muda berjilbab, maklum belum seminggu lebaran, tapi tidak aku kenali.
    “Eh Om Pras, Tante,.” sapaku dan langsung kusalami tangan Om ku , lalu berpindah ke tanteku, wanita yang amat kukagumi sedari aku kecil dulu saat mereka pertama berkunjung kerumah kami, saat itu aku masih duduk dibangku smp, kemudian kusalami juga gadis manis yang datang bersama Om ku, saat kusalami tangannya Om ku berkata
    “ …Dia Sandra, Tom. Anak Om…” lalu kujawab sekenaku
    “oh ya Om”.
    “ hai, saya Tomi..”
    “Sandra” jawabnya,sangat singkat dengan senyum manis seperti ibunya. M

    aklum, aku sering bertemu dengan Om pras dan jelas mengenalinya, tapi tidak putrinya ini. Dulu setiap lebaran berkunjung Sandra tidak pernah ikut, selalu dengan alasan ada di rumah nenek dari ibunya. Jadi ya… baru ini melihat dan kenalan langsung,tapi entahlah kalau saat kami masih sama2 kecil dulu, udah lupa tuh..

    ‘Ayah Ibumu mana?”Tanya tanteku..Cerita Sex Dewasa

    belum sempat kujawab sudah muncul suara ibuku dari arah halaman belakang… nah berhubung lagi pada kangen-kangenan, dan ngobrol ngalor ngidul, aku permisi deh… mau beli rokok,maklum baru abis makan, asem mulut rasanya..

    “Om, Tan..Aku kebelakang dulu ya ?” pamitku diantara mereka,
    “ eh ya Tom” jawab Omku, Lalu” Ajak nih Sandra jalan,Lihat-lihat sekitar..”
    “Iya Om…”

    Sandra pun ikut pamit pada ayah dan ibuku.hingga akhirnya kami kembali lagi kerumah.

    Sesampainya dirumah, ibuku menyambutku dengan pertanyaan

    ” Tom, mau gak kuliah di batam?”saat itu aku tinggal di cilegon.
    “ Pindah , maksud ibu?’jawabku.
    “ iya, nanti tinggal di rumah Om pras, sambil jaga rumah. Om ‘kan jarang pulang trus tantemu juga sibuk, rumahnya sering ditinggal kosong, mau ‘kan?
    “ya, terserah ibu,.. ‘gimana baiknya, aku nurut aja” jawabku saat itu,

    meski sebenarnya aku senang sekali, bisa melihat tanteku yang cantik setiap hari, yang aku impi-impikan dari dulu, yah…tanteku memang cantik, tinggi meski sekarang terlihat agak gemuk, tapi menurutku malah tambah montok, kadang menghayalkan dirinya telanjang.. trus, aku nenen di teteknya…dan….entahlah kenapa aku sangat menyukai tanteku, apa aku Oedipus kompleks, ah bodo amat,laki-laki normal manapun pasti menyukainya. Bahkan nantinya aku akan serumah dengan doi… wow asyiiiik.

    telah berselang 2 minggu dari kedatangan Om dan tanteku kerumah, dan mengurus kepindahan kuliahku, aku berangkat ke pulau batam, berbekal alamat yang diberikan Omku.

    selamat datang di bandara Hang Nadim Batam

    jam masih menunjukan pukul 9 pagi saat kuturuni tangga pesawat yang membawaku dari cengkareng ke pulau batam. setelah mengambil koperku dan sebuah boks berisi oleh-oleh langsung kupesan taxi dengan tujuan,…….. alamat yang pamanku berikan….15 menit berselang, taxi yang kutumpangi telah memasuki sebuak kompleks perumahan dilereng bukit, yah.. kompleks perumahan Bukit Indah Sukajadi.. tak lama taxi berhenti di depan sebuah rumah besar, diujung sisi kiri atas kompleks tersebut. Melihat nomor rumah yang tertera di gapura pagar rumah besar itu, aku yakin ini rumah pamanku.

    Kubayar taxi lalu turun….ku pencet bel di samping nomor rumah itu, beberapa kali, kutunggu sesaat….kupencet lagi…lalu, seseorang datang,karena pagar rumah yang tinggi dan agak tertutup, tak jelas siapa yang datang, setelah pagar terbuka ternyata Om ku yang membukakan…” hei.. Tom, akhirnya sampai juga…, kok gak nelpon dulu?”sapa Omku

    “ ‘kan bisa Om jemput.” Lanjutnya. “ gak Om, ibu bilang takut gak ada orang disini, dan gak repot kok cari alamatnya..” jawabku
    “ ayo masuk..”ajaknya..lalu menyuruh seorang perempuan dengan pakaian sederhana, cukup manis, muda dan yah lumayan seksi, hehehehe….. dasar otak lendir……
    yang kebetulan ada di samping rumah untuk membantuku membawa koper dan bawaan ku yang lain,..
    “kebetulan kamu datang, nanti malam Om harus berangkat lagi ke inggris, untuk kira-kira 6 bulan kedepan, urusan kerja.” Yah.. begitulah, sebagai seorang mekanik kapal tanker perusahaan minyak di inggris, Om pras harus rela bekerja lama tidak pulang.
    “ tenang aja Om, ‘kan ada Tomi di sini” jawabku santai
    “ yah sukurlah, masalah kuliahmu nanti di urus teman Om, nanti Om telponin, biar diurus
    semua olehnya,kamu santai aja,okay.
    “ iya Om”jawabku
    “ nah sekarang Istirahat dulu sana, kamarnya udah disiapin sama juju, kalo perlu apa-apa tinggal minta aja sama juju.”..ooo ternyata nama pembokatnya “juju”, cukup sederhana..

    Kabarnya lagi sih, janda kembang. Aku pamit pada Om ku untuk istirahat, sore nanti mau mengantarnya ke bandara….
    Selamat jalan Om, sampai jumpa 6 bulan yang akan datang…..

    Kan kujaga istrimu, anakmu serta pembantumu yang seksi-seksi itu, siang malam…

    Ohhhhhh.. ini minggu ketiga setelah Om ku pergi…semua biasa-biasa aja, tanteku sibuk dengan aktifitasnya sebagai seorang manajer keuangan perusahaan asing di pulau ini, Sandra sibuk dengan sekolah nya, juju sibuk dengan urusan rumah sedang aku belum ada kegiatan, karena belum ada kabar dari teman Om pras yang mengurus tempat kuliahku yang baruu……………tak ada yang special…..sampai suatu sore.

    “juuuu…” suara tanteku memanggil pembantunya dari dalam kamarnya di lantai 2.

    berselang satu ruang dengan kamarku, terpisah oleh kamar Sandra, disamping kamarku.

    “ya Nya..” jawab juju, sambil bergegas menuju kamar majikannya.

    Setelah itu tak ada suara, sepi,..1 jam kemudian terdengar pintu kamar terbuka, kamar tanteku,

    Karena ingin melihat tanteku, maka aku mengintip dari pintu kamarku yang ku buka sedikt. Ternyata bukan tanteku, tapi juju, keluar kamar dengan terburu-buru meuju kamarnya di lantai bawah. Penasaran, kuikuti perlahan juju dari belakang, melewati kamar Sandra yang selalau kosong di sore seperti ini, lalu pintu kamar tanteku yang tidak tertutup rapat, mungkin karena juju tadi terburu-buru. Kubuat langkahku tidak terdengar saat melewati kamar itu sambil mataku melirik kearah pintu mencoba melihat kedalam.Cerita Sex Dewasa

    Ooops, terlihat tanteku tertidur di ranjangnya dengan wajah menoleh membelakangi pintu namun tak ada sehelai benangpun menempel di tubuhnya yang montok, dengan sedikt lemak diperut, buah dadanya yang montok membuat jantungku deg-degan dan kaki berat unruk melangkah tapi takut kalau ketahuan, tanpa sadar ada yang mengembang didalam celana pendekku sore itu,..oohh.. Mupeng neh dan apa itu….sebuah benda menyerupai pipa berwarna coklat muda tergeletak di sisi paha mulusnya dengan dihiasi jemby yang rapi di pangkal paha, ya… itu penis buatan.

    Lalu apa yang terjadi baru saja di kamar ini… ohhh….ya.. juju pasti tahu, tapi tak mungkin dia akan cerita, aku harus cari tahu semua ini.

    Malam itu kulewati dengan bayangan tubuh tanteku yang aduhai serta sejuta pertanyaan tentang apa yang terjadi tadi sore…hingga tak terasa aku bangun kesiangan.

    Jam 10 pagi, saat aku terbangun karena ada suara dikamarku, ternyata juju.
    Aku terbangun karena kaget, hingga membuat juju nampak takut, kalau aku marah karena mangganggu tidurku,

    “maaf den, “ katanya.
    ” juju Cuma mau bersih-bersih”
    “ gak papa kok” jawabku sambil mencoba bangun dan menyingkap selimut dari tubuhku, ow..dengan cepat kutarik lagi selimut ku,karena tanpa kusadari penisku sedang bangun pagi ini.

    Ternyata juju tahu reaksiku yang batal turun dari tempat tidur

    “kenapa den?’ Tanya juju
    ‘”Gak pa pa kok” jawabku, ternyata juju hanya basa basi, melihat wajahnya yang bersemu merah aku yakin dia sudah melihat penisku yang bangun di dalam celana saat aku masih tertidur tadi. Karena aku tak pernah pakai CD saat tidur.

    Terlebih melihat posisi selimut yang rapi, menutup tubuhku,karena biasanya saat aku bangun, selalu acak-acakan.

    “ ju, jujur ya… kamu lihat ‘kan?” tanyaku…
    “ apa den?’ Tanya juju kembali dengan senyum dan mata yang genit. Kampret…
    “iya, tapi kan gak tahu bentuk aslinya den” tambahnya sambil berjalan menuju kamar mandi kamarku, saat itulah kulihat tubuh bahenolnya melenggok didepanku.

    Membuat darah ku pagi ini langsung naik ke ubun-ubun…..juju pasti memancingku..

    Dengan cepat kubangun dan menyusul juju ke kamar mandi, sampai di pintu ternyata juju sedang menyikat lantai kamar mandi sambil berlutut menyembulkan pantatnya yang bulat membuat penisku semakin tegang seolah ingin merobek celana pendekku, aku harus lampiaskan ini.

    Merasa ada yang memperhatikan, juju membalikakan badannya, dan kali ini memperlihatkan buah dadanya yang hampir jatuh tak tertahan oleh BH nya, dengan leher daster batiknya yang memang lebar membuat dadanya nampak jelas terlihat belahannya.

    “ mau mandi den?” Tanya juju sambil berdiri
    “ ah belum” jawabku sambil tangan ku menekan penisku supaya tidak terlihat nongol

    tiba-tiba juju berjalan hendak keluar kamar mandi, saat itulah kutahan dia dengan menyilangkan tangan kiriku menutupi pintu kamar mandi, membuatnya tak bisa keluar, dan tangan kananku tetap menekan penisku.

    “kenapa Den?” Tanya juju, melihatku meringis.
    “Sakit ya?”tanyanya lagi
    “ enggak “ jawabku
    “trus kenapa dong?” lanjutnya..
    “ini nih” jawabku sambil tangan kananku kuangkat dan kutunjukkan penisku yang menonjol di dalam celana padanya.
    “ih den genit, jangan ah den, gak boleh,” katamya
    “tolonglah juuu” rengekku
    “tolong apa den?”sambil matanya genit melirik kearah penisku.

    Aku tahu juju juga sebenarnya kepengen, karena juju sudah menjanda sekitar 3 tahun.

    “mau ‘kan?” tanyaku sambil menyerangnya dengan ciuman kearah bibirnya dan tangan kiriku kearah dadanya.
    “jangan den, nanti ketahuan nyonya, saya bisa di pecat” pintanya sambil mendorong tubuhku
    “nyonya ‘kan gak ada” lanjutku, dengan tangan kiriku masih menempel di dadanya

    ternyata juju juga udah horny dari tadi saat aku tertidur dengan penis yang terbangun

    “tapi den…” suaranya lemah menahan remasan tanganku didadanya
    “gak apa-apa…” jawabku, sambil menyerang lehernya dengan kecupan dan bermain di sekitar cupingnya.

    Busyeet ni pembantu bisa wangi begini.. tambah nafsu aja jadinya

    “den….” Terdengar lagi suara juju melenguh…sambil menyenderkan tubuhnya kedinding kamar mandi.

    Oops… berani juga nih juju.langsung main pegang aja penis orang. Sesaat matanya terbuka, ketika menggenggam penisku.

    “ wah panjang ya punya aden..” suaranya agak serak terdengar, aku asyik aja terus menjilati lehernya sampai ke cuping juju dengan tanganku masih bermain didada juju.

    Dengan kondisi seperti itu,kuhentikan permainan sambil berdiri tadi dan kutarik juju mendekati kloset duduk kamar mandi. Lalu aku duduk duluan, melihat wajahnya sudah merah menahan horny, kujongkokkan juju menghadap penisku. Tanpa diperintah juju langsung menarik kolorku hingga mencuat penisku yang tegang banget itu.

    Dengan tetap menggenggam penisku, juju sempat melirik nakal kearah ku, kutahu maksudnya, akupun akhirnya menarik daster batiknya untuk kubuka, lalu pengait BH nya, kini juju hanya pakai cd dan jongkok siap mengulum penisku, tanpa basa basi kubuka kakiku lebar-lebar memberikan jalan untuk juju lebih dekat, supaya lebih bebas blow job nya, dan akupun lebih enak mainin dadanya yang masih kenceng. Meski janda tapi juju belum punya anak, pentilnya pun masih kemerahan dan kecil layaknya perawan.

    Gila…sedotanya bersih, gak nyenggol gigi sedikitpun, pengalaman kayaknya neh, sambil terus kuremas dadanya, terlihat juju sesekali merubah posisi kakainya seolah tak tenang. Melihat nya seperti itu kuhentikan blow job nya, akupun ingin melihat yang lain sebelum permainan di lanjutkan. Kugerakkan tanganku memberinya kode untuk berdiri.

    Jujupun berdiri didepanku yang masih duduk di kloset. Kini posisi kepalaku tepat di depan segi tiga mautnya, kurenggangkan kedua kakinya.

    Kuraba selangkangannya…. Ya…memang sudah basah, dengan aroma khas menggiurkan.

    Kumainkan jariku diluar Cd nya yang basah, membuatnya menggoyangkan pinggulnya beberapa saat menahan nikmat, dengan suaranya agak melenguh serak. Lalu kutarik Cd nya ke bawah dan kulepas membuat vaginanya kini jelas terlihat segar dan sedikit mengkilap karena sudah basah, dan jembutnya yang tidak terlalu lebat nampak terawat dan bersih, layaknya perempuan kelas atas. Tanpa berlama-lama langsung kumainkan jariku di klentitnya yang mengkilat, sesekali kumasukkan jariku sedkikit kedalam vaginanya, membuatnya semakin tak tenang berdiri

    “ohhh…den… enak den..” desahnya

    kumainkan juga dadanya sambil kuciumi pusarnya ,yang memang tubuh juju terawat dan bersih, meski doi seorang pembantu. Melihatnya semakin tak tenang berdiri dan vaginanya yang semakin basah, kuhentikan permainan dan kutarik tubuhnya mengangkang di atas penisku yang sudah tak sabar ingin merasakan vagina yang indah itu. Kurapatkan kakiku hingga juju bisa mengangkang diatasku, kuarahkan penisku kearah mememknya yang semakin basah

    “OOOhhh….” Desahnya sedikit teriak saat penisku ku lesakkan masuk ke vaginanya.

    Meski basah tapi tetap seret. Gila …. Susah juga melesakkan penisku langsung kevaginanya, dengan ditekan tubuh juju, dengan pantat yang bulat bahenol, akhirnya masuk juga seluruh batang penisku. Sesaat setelah masuk, kuremaskan tanmganku di pantat bulatnya menariknya semakin rapat ketubuhku, kudiamkan sesaat penisku didalam vagina juju, merasakan sensasi hangat rongganya. Juju mulai bereaksi santai menggerakkan pinggulnya kedepan dan belakang saat ku ciumi dada montoknya yang kian mengencang. Tak ada suara, kulihat juju hanya menggigit bibir bawahnya, dan sesekali menarik nafas panjang. Benar-benar di nikmatinya penisku didalam vaginanya,.

    Juju hanya bergerak santai maju mundur, dan kurasakan penisku seperti di pinjat perlahan, memang nikmat sekali, kuikuti permainan juju yang santai itu sambil terus kucium dan kusedot putting susunya,membuatnya hanya sesekali menyentakkan pantatnya saat kusedot kuat putingnya. Sekitar 10 menit ku ikuti permainan juju hingga terdengar suaranya.

    “den juju pingin pipis”….seiring gerakan pantatnya yang kian cepat dan bahkan terangkat hingga setengah panjang penisku. dan semakit cepat.

    Kuhentikan ciumanku di putingnya, hanya membenamkan wajahku di antara dada montoknya. Kubantu gerakan naik turunnya dengan mengangkat dan meremas pantanya yang bulat kenyal itu. Tangan juju sibuk meremas rambutku, mengacak-acaknya. Juju menuju klimaksnya…..”den…oh…den…..oh….”suaranya melemah seiring gerakkan pantatnya yang juga melemah. Kurasakan ada yang meleleh keluar dari vaginanya saat juju menghentikan goyanganya.

    “maaf ya den, juju gak tahan..udah lama juju gak disetubuhi, 2 tahun lebih..” .. ucapnya sambil berdiri membuat penisku terlepas dari vaginaya yang basah.

    Gila, lama juga vaginanya nganggur…bathin ku. Juju lalu jongkok lagi dan mulai menciumi ,menjilat dan mengulum serta menyedot penisku dengan semangat, lebih heboh dari yang pertama. Sepertinya dia ingin membayar kepuasan yang telah ia dapatkan. Kali ini aku sandarkan tubuhku dan hanya menikmati sedotan di penisku. Setelah beberapa menit, kuhentikan kepala juju, yang lagi nyedot penisku. Kuajak ia berdiri dan kubawa ke tempat tidur. Kubalikkan badannya, kusuruh ia berpegangan pada ranjang dan membuatnya nungging, terlihatlah belahan vaginanya yang kemerahan, sekarang agak kering. Dengan penisku yang masih berdiri tegak dan basah bekas liur juju, kulesakkan masuk ke vagina juju dari belakang.

    Sambil menungging kulihat juju melihatku sambil menggigit bibirnya sendiri lalu terdengar suaranya lirih

    ”oooohhh,,,,”

    kali ini agak lancar melesakkannya. Seperti tadi, kubiarkan beberapa saat penisku didalam vaginanya,merasakan kehangatan sesungguhnya dari perempuan. Sambil kuraih dadanya, kuremas keduanya membuat juju melenguh nikmat beberapa kali , sambil mengangkat tubuh depannya, setengah berdiri, lalu turun lagi keposisi semula. Saat itulah mulai kutarik dan kumasukkan penisku perlahan, kurasakan seret vagina juju saat pertama kusodok namun, lama kelamaan mulai licin kembali, dan juju pun mulai menggoyang pinggulnya memutar, lalu kurasakan denyutan dalam vagina juju, seiring suara juju terdengar serak

    ”juju mau keluar lagi den..ooookhhh…denn enaak dennn…nungging gini enak bangetss uuukkhhh”

    Namun kali ini kubiarkan penisku terus maju mundur dalam vagina juju..meski kurasakan juju makin melemah berdirinya. Merasa juju tak melawan dalam posisi itu, kucabut penisku, lalu, kubalikkan tubuh juju hingga terlentang di ranjang.

    “maafin juju ya den, abis penis den tomi hebat sih.” terdengar juju bicara pelan..
    ”sekarang terserah den tomi deh, juju ladeni..” lanjutnya

    Aku hanya senyum-senyum, sambil kedua tanganku membuka kedua kakinya lebar-lebar, menyembulkan vagina juju yang kian memerah.

    ”gak pa-pa kok” sahutku sambil kudekatkan tubuhku dan kuarahkan penisku ke vaginanya..

    Srrreeet..slup..agak seret vagina juju.. mulai kering setelah klimaksnya

    Seperti biasa aku suka membiarkan penisku beberapa saat diam didalam vagina juju, merasakan kehangatan, sambil ku kenyot puting susunya..

    Terlihat juju kembali menggigit bibirnya menahan terobosan penisku…

    Tanpa suara membiarkan bibirku menyerang dada dan lehernya..

    Setelah beberapa saat kemudian, kurasakan ada gerakan memijat pada penisku, ternyata juju menggoyangkan pinggulnya, barulah aku mulai menarik kontoku setengah lalu kumasukkan lagi membuat juju menarik nafas dalam sambil masih menggigit bibirnya..

    Aku suka gaya bercinta juju yang kalem.. membuatku makin semangat menggali kenikmatan tubuhnya. Kutarik dan kudorong terus penisku membuat juju pun makin menggila menggoyangkan pinggulnya hingga terasa ada yang memijat penisku.. gila nikmat banget… Hebat betul goyangan janda satu ini…

    Lalu kurasaka ada gerakakn memijat dan sedotan yang hebat dalam vagina juju menbuat penisku agak seret keluar masuknya..dan kurasakan juga seperti ada sesuatu yang akan keluar dari penisku…

    ”den… juju mau keluar lagi niih…” rengeknya…
    ”iya, saya juga juuu..“ balas ku

    Juju memang makin menggila menggoyang pinggulnya, hingga terasa bergoyang tempat tidurku itu..

    Tak lama terdengar suara lenguhan setengah menjerit dari bibir juju, bebarengan dengan muncratnya pejuh dari penisku…

    ”deeenn okhh…okhhh… okhh…”

    Kubiarkan pejuhku muncrat didalam vagina juju, sambil terus kugerakakn penisku maju mundur yang semakin pelan… dan kubiarkan diam didalam vagina juju sambil kuciumi dada montoknya.. kurasakan tubuh juju melemah dan memejam sesaat setelah puncaknya yang ketiga itu..

    Kucabut penisku dari vaginanya yang basah dan hangat itu, lalu terlihat ada sedikit cairan kental mengalir keluar,…yah sisa pejuhku… ikut keluar..

    Namun juju masih terlihat terpejam seakan masih menikmati sisa kenikmatan tadi. Kubiarkan juju tergelatak di tepi ranjangku, dan kulangkahkan tubuhku kekamr mandi, lalu langsung kuguyur seluruh tubuhku..segar …setelah sebuah kenikmatan bersama juju, Pembokat seksi Omku.

    Setelah cukup kurasakan segarnya mandi pagi itu, kulangkahkan tubuhku keluar kamar mandi, namun juju sudah tak ditempat tidurku, meninggalkan tempat tidur yang sudah tertata rapi… Yah .. thank you lah juuu… Thank you for your service…

    kuawali hari itu dengan senyum segar , hingga sekitar pukul 3 sore kulihat tanteku sudah datang, pulang dari kerja, namun tidak sendiri, kulihat doi bersama seorang wanita sebayanya, mungkin teman sekantornya, melihat gaya pakaian layaknya wanita kantoran. Duduk sejenak di ruang tamu, basi basi dan sedikit tawa, lalu terlihat mereka berjalan menuju kamar tanteku…Cerita Sex Dewasa

    Tanpa berpikir yang lain langsung kucari tahu, tapi tidak mengintipnya, tapi menanyakan pada Juju..yah pada juju. Langsung kucari juju yang ternyata sudah ada didapur menyiapkan makanan untuk tanteku dan temannya.

    ” Ju, tadi yang datang siapa..” tanyaku pada juju sambil memperhatikan tubuhnya yang sedang sibuk menyiapkan makanan.
    ” itu Ibu Lola, teman nyonya.., kenapa?” juju balik bertanya.
    ”enggak, kok pake naik kekamar segala..?” makin penasaran, sambil memancing juju untuk jujur padaku.
    ” ehh, emang gak boleh..?” jawabnya sambil senyum genit.

    Kali ini kudekati juju sambil kuraba pantat bahenolnya

    ”iya tapi kan, gak mesti di kamar to..?” kilahku makin memancingnya buka mulut.
    ”nah itu dia, terserah Nyonya mau ajak tamunya kemana..” jawab juju centil, dengan tetap membiarkan pantatnya kuremas..
    ”tapi gak terjadi apa-apa ’kan?” Tanyaku lagi, sedikit menyelidik
    ”maksudnya..?” timpal juju
    ”yah.. kamu kan tahu?” lanjutku
    ” tahu apa den?” juju agak serius
    ”jujur deh?’ tambahku
    ”jujur apa den, emang ada apa?” juju tambah serius berlagak gak ngerti.
    ” kamu ’kan tahu kesenengannya Nyonya, kalo udah dikamar sama perempuan lain?” pancingku
    ”ihhh. Aden ini mngomong apa sihh..??/” jawabnya dengan mimik wajah yang berusaha menutupi sesuatu..
    ”ayolah ju, jujur aja..” ucap ku, sambil tambah kencang meremas pantatnya…

    Juju nampak kikuk,… salah tingkah, bukan lantaran remasan tanganku pada pantatnya tapi.. antara ingin terus terang dan takut.

    ’juju takut den” tiba tiba juju bicara lagi setelah cukup lama terdiam.
    ’gak pa-pa” timpalku.. sambil mendekatkan wajaku kesamping wajahnya dari belakang.
    ” kamu kan pernah sama Nyonya” mendengar itu juju langsung membalikkan badan dan menatapku tajam.
    ” aden tahu?” dengan mimik takut bercampur kaget, dengan polosnya juju bertanya.
    ”iya..kemarin sore” jawabku…

    Dengan wajah memerah juju langsung membalikkan badan…

    Lalu terdengar lirih suaranya,

    ” Juju takut di pecat den”
    ”kenapa?” tanyaku berlagak serius
    ”Nyonya memang suka ngajak juju, kalo ndak mau juju nanti di pecat” keluhnya
    ” tapi Cuma pake mainan, kaya penis dari karet kok den” lanjutnya
    ”kamu suka?” tanyaku lagi
    ”enggak, juju Cuma pura-pura suka, takut nyonya marah, abis gimana gitu…, lain sama punyanya aden…” jawab juju genit.
    ”jadi sekarang kira-kira nyonyamu itu lagi main-main di dalam sana?” tanyaku lagi
    ” iya den, juju juga pernah diajak mereka berdua, Ibu Lola itu seneng banget kalo begituan, sampe keluar 3 kali…”

    jawab juju dengan wajah nampak memerah, entah teringat saat nikmat itu datang atau malu.

    ”lama dong mereka nanti?’ terus juju kececar pertanyaan
    ” iya, kadang malam baru keluar kamar, sampe makanan ini dingin” jawabnya
    ”Non sandra tahu nggak?’ lanjutku
    ’Enggak, abis non pulang malam terus, kursus katanya, tapi pernah pulang mabuk den, diantar temannya, Nyonya gak tahu” tambahnya
    ” kasian Non sandra” ucapnyaa lirih.
    ” sejak saya di sini nyonya sering begitu den.” lanjutnya.
    ” ya udah, maksih ya ju, kamu udah mau jujur, nanti aku kasih bonus deh” ujarku genit sambil meremas pantatnya.
    ” kapan den?” tanyaya, sambil membalikkan badan,terseyum genit.
    ”besok pagi yah” jawabku sekenanya, sambil meninggalkan juju di ruang makan sendiri, dipenuhi harapan ngentot besok pagi denganku, hehehehe…

    Malam berlalu, sekitar jam 10 malam terdengar suara mobil meninggalkan halaman rumah besar itu, ya.., Tante Lola sudah pulang, diantar Tanteku sampai gerbang… Akhir selingkuh sejenis Tanteku hari itu… Sambil mengatur rencana untuk besok, kututup mataku malam ini dengan rencana setan di otakku..hehehehe……pagi ini aku bangun lebih pagi dan langsung mandi, saat kemudian kudengar pintu kamar mandiku diketuk seseorang, pasti juju, hehehehe… sudah nagih…

    ”den…den…?’ terdengar suara diseberang pintu, suara juju.
    “masuk aja ju”.. jawabku
    “ enggak ah” balasnya terdengar ragu
    ”udah gak apa-apa” rayuku.

    Lalu seseorang membuka pintu kamar mandi yang tak aku kunci itu.

    Nampak juju masuk, dengan memkai daster kembang-kembang, namun tetap dengan model kerah leher yang sama lebarnya dengan yang kemarin, hehehe

    Dengan tetap kubelakangi menghadap shower, juju pun tetap diam menunduk didepan pintu yang sudah ditutupnya itu.

    ” udah sini” pintaku
    ” nanti aj den” jawabnya

    Mendengar jawabnya itu, langsung ku balik badan dan mendekati juju,telanjang.

    Juju tetap menunduk meski terlihat curi curi pandang kearah penisku yang masih belum bereaksi. Kupegang tangannya, kutarik mendekat air shower, juju agak menahan tarikanku, mungkin takut basah. Tapi akhirnya kutarik kuat, juju kini basah di bawah shower itu, nampak lekuk tubuh indahnya,dibalut pakaian nya yang basah, wow seksi memang pembokat satu ini. Membuat penisku mulai bereaksi,mengembang…

    Juju yang matanya tak lepas dari penisku langsung menyambarnya, jongkok dan mulai menciumi, menjilat dan mulai mengulumnya, dibawah pancuran air itu, sungguh sensasi yang sangat menyegarkan di pagi ini.

    Untuk beberapa menit juju nampak serius menm-blow penisku, yang semakin tegang…. …

    ” oooohhhh enak juuu” ucapku saat juju kulihat melirik kearahku..

    Mendengar itu juju kian kuat menyedot penisku…

    Mungkin juju benar-benar ingin membalas semua kenikmatan yang diraihnya kemarin pagi..

    Saat kurasakan cukup untuk sesion ini, kutarik juju berdiri. Kuciumi lehernya, kujilati cupingnya, sambil kuremas dadanya yang masih terbungkus BH dan daster basahnya, namun terlihat juju menikmatinya.. terus kujilati sampai kedada atas depannya yang montok.

    Tak puas dengan balutan pakaian basahnya itu, kutarik keatas dan kubuka daster basahnya, lalu pengait BHnya namun ternyata juju gak pakai Cd, wow ….

    Kini tubuh telanjang juju telah siap untuk kunikmati, dengan kesan basah dari air shower itu membuat tubuhnya makin nampak indah dan mengkilap mulus.

    Langsung kudaratkan mulutku di puting susunya yang mengeras karena nafsu dan dinginnya air pagi itu…kusedot meski bercampur air, kujilati, terus hingga kurasakan juju menggeliat merasakan sensasi kenyotan bibirku.

    Kulanjutkan permainan bibirku menyusuri perutnya…lalu sampai di hutan kecil yang nampak basah oleh air..terus sampai kesela-sela selangkangannya..yang tanpa kuperintahkan sudah dibuka lebar oleh juju, mengharap aku memasuki area itu dengan lidahku, seperti saat pertama kali kemarin… namun tidak ku lakukan.. sengaja, biar membuatnya sedikit tersiksa…hehehe..

    justru aku bangun lagi dan mematikan kran air shower itu..lalu kutarik tangannya ke kloset duduk, dan menyuruhnya duduk. Nah, barulah kedua kakinya kubuka lebar, dengan duduk yang sedikit kutarik ketepi, supaya mudah buatku bermain lidah divaginanya yang menggairahkan itu…

    Dengan bertumpu lututku, ku mulai mainkan lidahku divaginanya..dengan tangan meremas dada montoknya. Membuat juju terdengar melenguh keenakan, dan kaki yang terus bergoyang menahan sensasi yang kuberikan pada vaginanya.

    Kujilati terus hingga kurasakan kedua paha juju mulai menjepit kepalaku dan berkata

    ”juju, mau keluar den…okhhh…okhhh…okhhh…okhhhh…” dan kurasakan jambakan tangannya di kepalaku pun melemah… yah.. Juju sudah sampai klimaksnya yang pertama.

    Tubuhnya yang mulai mengering dari air shower tadi nampak memunculkan warna kemerahan di wajahnya, akibat sensasi klimaksnya tadi…

    ”enak banget den, sumpah…nikmat den, maaf ya den,…nanti juju balas deh..” ucap juju sambil menarik tubuhku untuk berdiri, kuikuti tarikan tangan nya dan kini aku sudah berdiri dengan penisku tepat di depan wajahnya.

    Tanpa bicara lagi, juju langsung mengulum penisku..

    Hangat kurasa penisku didalam mulut juju.. tapi badan kedinginan nih.Cerita Sex Dewasa

    Untuk beberapa saat kubiarkan rasa dingin menyergapku setelah mandi tadi, sambil menikmati sepongan juju…

    Lalu kuhentikan gerakan kepala juju yang asyik mengulum dan menyedot penisku.

    Ku tarik tangannya ke arah tempat tidur, sambil kusambar handuk yang menggantung tak jauh dari pintu kamar mandi. Kusapu sisa air di badanku lalu kuberikan pada juju untuk dirinya mengeringkan juga sisi air di tubuh montoknya..
    Aku duduk lebih dulu di tepi ranjang, dengan penis yang masih berdiri tegak sambil menikmati pemandangan tubuh juju yang sedang disapu handuk olehnya..

    Kulihat juju senyum genit saat mengeringkan selangkangannya, ku hanya senyum, sambil memegang penisku…

    Dilemparkannya handuk basah ku kelantai oleh juju, lalu dengan senyum genit juju ternyata bergoyang erotis di depanku, wow….wow…., juju memberiku hiburan lain, juju striptease didepanku,.. gila.. belajar di mana nih pembokat, gara2 bergaul dengan majikannya pasti nih.

    Dengan meliuk-liukkan tubuh mulusnya juju terus menari didepanku dengan terus mendekatiku, sambil merangkak juju mendekatiku dengan sorot mata sayu kearah penisku..

    Menikmati tarian telanjang juju membuat penisku semakin tegak berdiri..
    Juju semakin dekat, mendekatkan mulutnya ke penisku…meraba pahaku dengan dada montoknya, dan langsung mengulum penisku dengan menggila.

    ”oookkkhhh…..enak juuuu” desah ku agar juju semakin semangat.

    Ternyata benar, juju makin kuat menyedot penisku yang memenuhi mulutnya..
    Kubiarkan sensasi sedotan juju, benar-benar kunikmati permainan juju pagi ini.
    Setelah sekitar lima menit juju menyedotnya, kuangkat kepala juju.
    Juju berdiri tepat didepanku kini…. memberiku kesempatan memainkan kembali puting susunya, kujilati…membuat juju melenguh perlahan.

    Akupun berdiri sambil terus kuremas dada montoknya, memutar tubuh lalu mendorong juju ketempat tidur sambil tetap menciumi dadanya lalu turun keperut dan hutan lebat di selangkangannya…. juju mulai basah lagi, terangsang.
    Akupun ikut naik ketempat tidur..

    Tiba-tiba juju terbangun dari rebahannya, menarikku hingga terlentang, langsung menyambar penisku dengan bibirnya,… gila gak puas – puas nih juju nyepong… tapi kubiarkan.. enak brur.. juju hebat nyepongnya,..
    Melihat penisku yang total tegang, juju menghentikan sedotannya, merayap naik keatas tubuhku, membuka kakinya dan siap menelan habis penisku dengan vaginanya yang basah itu.

    Kubiarka juju beraksi kali ini, dimasukkan penisku ke vaginanya, dipegang dan dituntun kearah bibir vaginanya,menekan dalam-dalam…

    Sreeettt…sluuuppp….kurasaka penisku melesak masuk..hangat…ooookhhhh
    Tahu akan kesukaanku yang selalu mendiamkan penisku sejenak dalam vaginanya, setelah masuk semua batang penisku dalam mememknya, juju hanya menciumi puting susuku tanpa menggerakakn pinggulnya, hangat terasa vagina juju….

    ”ooohhkkkkhh enak ju, vaginamu hangat banget,,,,” bisikku

    Juju Cuma senyum lalu menggigit bibirnya merasakan sensasi hangat yang sama.

    ” penis aden juga hebat, besar keras…juju suka den, biarin lama didalam ya…” pintanya, Aku hanya tersenyum….

    Namun tiba-tiba kurasaka ada gerakakn memijat pada batang penisku, ternyata juju gak tahan juga, dan mulai
    menggoyang penisku dengan santai, enak gila…

    ” enak juu, goyanganmu mantap…” ucapku

    Mendengar itu juju makin bersemangat,memutar lalu mangangkat pantatnya seolah ingin mematahkan penisku…..

    ”oohh ahhh oohhh ” terdengar suara juju sedikit berisik kali ini
    ”enak den… penis aden enak banget…oh ah oahkkhh…” juju meracau..menikmati batang penisku di dalam vaginanya, akupun juga merasakan sensasi lain dari juju kali ini…
    ”terus juuu” pintaku…

    Juju makin menggila, mungkin juju benar-benar ingin memuaskan ku pagi ini…

    Seiring goyangan juju yang menggoyang seluruh ranjangku pagi ini, kuremas dada montoknya sesekali kuangkat tubuhku mendekati putingnya dengan bibirku, kusedot kuat membuat juju menggelinjang dan makin membuat gerakan memutar dahsyat di pinggulnya….kubantu gerakakn pantatnya dengan remasan di pantat kenyalnya dan kadang kuangkat sedikit lalu turun lagi, mengocok penisku…

    ”deeeenn juju mau pipis lagi niiihh…” seru juju sedikit teriak tertahan.
    ” terus juuu goyang aja…” jawabku

    Kurasaka ada yang meyedot penisku dari dalam vagina juju, membuatku serasa ingin keluar juga…

    ”iya juu, saya juga mau keluar niihhh…” seru ku
    ” iya den… ohhhhh ahhh” jawab juju dengan wajah memerah dan goyangan yang makin menggila….
    ”iya..ya..ya..ya…ohhhh ohhhh ohhh ….” juju meracau dan bergetarrr
    ”terus ju…” pintaku melihat juju menegang dan mulai melemah gerakaknnya….

    Tak lama kurasakan ada yang muncrat dari penisku…sambil ku tarik pantat juju makin rapat ketubuhku…kulepaska pejuhku di dalam vagina juju…

    ”oookkkhhh….ohhhh”….teriakku…

    Kurasakan nikmat sekali vagina juju pagi ini…Seiring robohnya tubuh lemas juju di atas tubuhku, kurasakan ada yang meleleh keluar dari vagina juju….hangat….nikmat… mengiringi akhir pacuan mesum ku bersama pembokat seksi ini…
    Kubiarkan tubuhny tetap diatas tubuhku untuk beberapa menit….kupeluk….. akupun ikut melemah dan memejamkan mata… menikmati sisa-sisa kenikmatan pagi ini….

    Tak lama juju membuka mata…

    “maaf den juju ketiduran, abis capek banget,….keenakkan…”ucapnya sambil senyum dan mengangkat tubuhnya bergerak kesampingku….

    penisku pun terlepas dari vaginanya… sudah melemas…basah, sisa pejuh kaki berdua.

    Baca Juga Cerita Sex Tante Ida Yang Cantik

    “ju, nyonya mu itu apa gak suka lagi sama cowok ya…?” tanyaku
    ”ah enggak kok, Buktinya masih mainin penis mainan itu..” jawabnya lugu
    ”aku pengen ngentot dia ju” ucapku
    ”apa???” juju sedikit mengankat tubuhnya melihat wajahku , kaget
    ”yang bener aja den, masa tante sendiri di embat?’ lanjutnya
    ”kan ada juju den” tambahnya, sambil tangannya memainkan penisku, seperti tak rela kalo aku main dengan perempuan lain, wah gawat…
    ”abis dari dulu, aku tuh udah nafsu banget ama tanteku itu” kilahku
    ”kadang sampe mimpi basah..” ucapku berbohong sambil kulihat wajah juju lalu dadanya yang masih telanjang disampingku..
    ”masak sih den?” juju melongo
    ” iya juuu.., kamu mau bantu kan?’ tambahku
    ”apa…????//// wah aden tambah gila nih?” juju kaget
    ”tenang aja juu, aku yang atur, kamu bantu aja,….” rayu ku
    ” gimana bisa den?” juju tak percaya
    ” bisa ju, pokoknya kamu bantu aja ya…” pintaku sambil kedekatkan bibirku keputing juju, mencoba mencari kenikmatan selanjutnya…..

    jujupun membantu menarik kepelaku tambah menempel didadanya… kusedot…jilat…dan yang lain kuremas dengan tanganku…

    Juju menggelinjang…….kuhabiskan pagi ini dengan juju yang bahenol dan goyangannya yang mantap,sampai dua kali…..lumayan…..pegel…tapi langsung dapat pijatan dari juju…..gila enak banget pagi ini…..ngentot dua kali trus dipijat…. setelah itu akupun tertidur lagi dengan mimpi ngentot ama tanteku…dan rencana sudah kuatur dengan juju…. juju bersedia dengan imbalan gentot….. hahahah hahahaha……. sekali dayung dua vagina ternikmati…..