TANTE

  • ABG ONANI

    ABG ONANI


    21001 views

    Menyaksikan ABG Onani di Rumahku.

    Saya, suami dan anak-anak tinggal di apartemen (kalau di Indonesia sih disebutnya mesti condominium). Apartemen kami tidak jauh dari sekolah anak-anak, cukup jalan kaki saja. Saya 45 tahun, suami 5 tahun lebih tua dari saya. Anak-anak kami sudah ada yang sekolah di SMA. Anak saya yang SMA itu namanya Bayu. Teman-teman Bayu sering main dan menginap di apartemen kami.

    Kadang-kadang numpang tidur siang juga. Biasa lah anak-anak. Ada satu temannya yang paling rapat dengan anak saya, namanya Hasan. Mereka sekelas dan dari SMP kelas 1 memang sudah berteman. Hasan ini sangat sopan kepada saya, dia selalu panggil saya Tante. Saya juga kenal baik ibu Hasan yang rumahnya satu condo
    dengan saya. Walau Bayu sedang keluar, Hasan masih tetap suka juga datang dan ikut nonton TV, atau malah numpang istirahat di kamar Bayu. Walau Hasan sangat sopan, tetapi saya juga maklum,bahwa di usia yang abg ini, dia mesti sedang mekar-mekarnya dan mencari tau mengenai lawan jenis.

    Saya kadang- kadang bercanda juga sama dia mengenai soal punya pacar, tetapi dia cuma nyengir dan senyum malu. Katanya kalau anak-anak perempuan SMA sih payah, tidak menarik. Kalau udah gitu kita jadi saling bergurau, walau tetap sopan. Di rumah saya biasa pakai daster panjang yang sampai di bawah lutut. Sopan deh pokoknya. Yang saya tak menyadari adalah Hasan memiliki perasaan tertarik ke saya. Mungkin karena kita sering ngobrol di apartemen, ada Bayu atau tidak ada Bayu, Hasan dan saya tetap saja masih juga ngobrol. Entah ya, mungkin dia pikir tingkah laku dan cara saya ngomong elegan gitu (maklum kan ibu-ibu mesti elegan). Dia sangat memperhatikan saya. Saya sih senang saja diperhatikan. Walau saya awalnya tidak curiga bahwa perhatian Hasan itu ada makna yang lain. Tetapi lama-lama saya rasa dia sering memperhatikan gerak gerik saya dari ekor matanya, dan kalau saya pandang balik, dia pura-pura melihat ke arah lain.

    Apa dia mulai memperhatikan tubuh saya?
    Walau saya sangat terhormat di lingkungan kami, dan di antara ibu-ibu. Tiada orang yang tahu bahwa saya sangat suka browse internet dan terutama membaca cerita-cerita yang erotik. Jadi kalau untuk member-member DS sih mesti udah maklum dak kebayang deh bagaimana imajinasi dan lamunan saya akibat didikan DS. Di DS, yang saya suka itu baca cerita seru dan kadang-kadang es-lilin. Balik pada cerita saya, saya pun mulai juga mikirin si Hasan ini, dan menebak-nebak apa yang ada di dalam pikiran dia.

    Nah, episode yang berikut ini menyadarkan saya apa yang
    tengah terjadi. Suatu hari Hasan main ke rumah dan biasa ngobrol dengan Bayu dan saya di ruang tamu. Saya kebetulan minta Bayu pergi untuk beli sesuatu keluar. Walau diajak, Hasan menolak untuk ikut dengan alasan males badan lagi capek. Jadi sambil beresin rumah, saya  ngobrol dan bergurau dengan dia. Lagi-lagi terasa betapa intensnya cara dia ngomong ke saya dan juga cara dia memandang. Sekitar pukul 5 sore, sesuai dengan kebiasaan harian, setelah beres-beres saya mandi. Kebetulan saja saya mandi di kamar mandi dekat dapur, bukan di ruang tidur utama (istilahnya master bedroom). Tiba-tiba selintas saya melihat kelebat bayangan di celah pintu kamar mandi yang retak kecil pada sambungan papan di pintu bagian bawah.

    Rasanya ada yang mengintip. Kalau ada yang ngintip mungkin bisa keliatan kaki saya bagian bawah sampai lutut dan paha bagian bawah saya. Tapi siapa? Bukankah di rumah hanya ada Hasan, lagi pula dia kan pemuda yang sopan. Ah, mungkin hanya kebetulan. Saya balik lagi meneruskan mandi. Saya bersihkan seluruh tubuh. Tiba-tiba saya melihat
    lagi bayangan tadi. Ah, ini pasti Hasan. Tetapi hendak apa dia? Apakah dia sedemikian ngebetnya ingin buang air hingga menantiku dengan tidak sabarnya? Tiba-tiba bayangan cerita-cerita di DS menerpa, ah apakah memang dia tertarik pada saya dan menyimpan nafsu tersendiri? Apa ini bukan pertama dia mengintip saya sedang mandi. Atau janganjangan dia mengintip saya juga di kamar, atau tempat lain?

    Selesai mandi saya lihat Hasan sedang duduk membaca majalah. Saya ke kamar, bukan untuk ganti baju, tetapi hanya menyisir di depan cermin saja. Lagi-lagi saya merasa diperhatikan dari balik pintu yang memang tidak saya tutup.

    Gerakan Hasan di balik pintu tampak dari cermin saya. Saat saya keluar kamar ternyata Hasan di sofa dan saya yakin dia hanya pura-pura saja baca majalah. Tiba-tiba saya teringat ada janji mau ketemu tetangga di condo, ada titipan dari kawan yang mesti saya ambil. Saya beri tahu Hasan, saya akan ke tempat ibu Susi, dan balik kira-kira sejam, jadi tolong titip rumah. Sampai di apartemen bu Susi, ternyata terkunci karena sedang ke luar. Wah bisa-bisanya janjian tapi ditinggal pergi begini. Terpaksa saya balik lagi ke rumah, yang semula maunya balik sesudah 1 jam, ini baru 15 menit sudah sampai rumah lagi. Walau pintu dikunci, saya tau Hasan ada di dalam. Bayu pastilah belum sampai rumah lagi.

    Saya buka dengan kunci saya sendiri pelan-pelan, dan masuk ke dalam. Karena di ruang tamu tidak ada orang, saya yakin Hasan mesti di kamar Bayu anak saya, mungkin main computer seperti kebiasaan mereka. Di luar pintu kamar, saya mendengar suara menderit-derit krek, krek, krek, berulang-ulang. Saya jadi ingin tahu, saya buka perlahan pintu kamar Bayu. Kamar-kamar di tempat saya memang tidak berkunci, kecuali pintu masuk dan pintu master bedroom. Pintu terbuka sedikit dan saya bisa melihat ke dalam dari celah sempit itu. Dan di dalam Hasan sedang duduk di bangku computer. Celana panjangnya telah turun dan teronggok di lantai dibawah bangku. Celana dalamnya tak tampak lagi. Posisi Hasan menyamping dari saya tapi karena jaraknya yang sangat dekat ke pintu, saya dapat melihat semua dengan jelas.

    Sekarang ini mata Hasan tertutup rapat dan bernafas berat, dengan kaki membuka, dan tangannya mencengkeram erat batang anunya yang sedang tegak berdiri. Suara krik krik krik bangku terdengar karena irama tangannya yang mengocok batang keras itu berirama. Selain dari gambar es lilin di internet, selain milik suami, saya tidak melihat lagi lelaki telanjang secara langsung. Dan tiba-tiba sekarang saya melihat pemuda abg yang sedang terangsang berat. Batang tegang Hasan yang tengah dia remas keras-keras itu tampak panjang, kira-kira 12-13 cm berukuran langsing, dan tampak agak melengkung sedikit. Kulit batangnya tampak kemerahan karena Hasan memang putih kulitnya. Kedua kulit kantung telurnya tampak bersih tidak berambut. Ada sedikit rambut halus dan jarang di
    daerah pubicnya.

    Saya bisa melihat kepala batangnya berlumuran dengan air mazi bening, dan tampak merah keras berkilat. Dari tempat saya mengintip, saya bisa melihat sedikit pada layar computer dan melihat gambar seorang perempuan bule yang sudah dewasa (ibu-ibu) sedang melakukan oral sex mengisap penis pemuda bule.

    Batang pemuda bule itu sudah tampak tidak tegang lagi dan diisap seperti lollipop. Muka wanita bule itu berlumuran mani si pemuda. Saya heran, kenapa Hasan onani dengan melihat perempuan dewasa dan bukannya perempuan muda. Tiba-tiba terbukalah pikiran saya. Selama ini Hasan tak menyukai anak perempuan SMA karena dia lebih mengagumi perempuan dewasa. Dan itu sebabnya dia sangat memperhatikan saya. Terdengar oleh saya, Hasan menggumam sambil terus meremas dan mengocok batangnya. Walau tidak jelas yang dibisikkan, tapi sepertinya dia menggumam, ìAuh tante, jilat terus, remes dan jilat. Isep sampai Hasan keluar mani tanteî. Saya kurang pasti, apa yang dikatakan, karena memmang nggak jelas.

    Saya lihat pinggulnya mulai naik turun di atas bangku yang diduduki. Sebagai wanita dewasa yang sudah berpengalaman, saya tahu dia mesti sudah hamper-hampir memancurkan air maninya. Saya rasa sedikit tak enak hati mengintip macam ini, tapi saya tidak sanggup untuk mengalihkan pandangan mata saya dari batangnya yang merah dan basah ujungnya karena remasan-remasan yang kencang itu. Saya merasa daerah kemaluan di antara kedua paha saya mengecup-kecup dan kegatalan muncul di daerah itu.

    Saya yakin, kebasahan mulai terjadi di sana. Sama dengan efek yang terjadi masa saya membaca cerita di DS. Hasan mulai terdengar mengerang keras. Dia onani dan berfantasi dengan bebas tak menyangka kalau saya sudah balik ke rumah dan menyaksikan pemandangan yang indah ini. Erangannya terdengar jelas, ìYa ya tante, isep air maninya, isep kepala kontolku tante, isep airnya Ö.. ahhhhÖî. Sambil mengerang demikian, tiba-tiba dia muncrat dan memancar aliran ke atas. Pancrutan itu naik ke atas dan akhirnya jatuh lagi memancur ke bawah mengenai seluruh bagian perut dan daerah kemaluannya.

    Saya tidak pernah melihat pancrutan air mani yang demikian kencang. Tapi memang ini pertama kali saya melihat onani abg yang sedang mengeluarkan air maninya. Saat itu saya sudah panas dingin, kepala saya terasa mengambang. Meki saya terasa berdenyut dengan kegatalan yang melanda. Saya juga merasa bagian dalam lubang
    kenikmatan saya mulai mengembun dan menerbitkan kebasahan yang sangat.

    Tetapi pemandangan yang saya saksikan tak membuat saya beranjak pergi. Luar biasa sekali, walau telah mengeluarkan air mani, batang Hasan tak juga menyurut lunak. Batang itu masih tampak keras dan diselimuti oleh kebasahan mani dan mazi yang ditumpahkan. Hasan masih mengurut-urut lembut batangnya. Dia tampak merubah gambar di layar komputer, dan kini terpampang gambar lain lagi. Seorang pemuda Cina (atau Jepang) berbaring, dan seorang wanita dewasa (Jepang juga atau Cina) jongkok di atasnya dan memposisikan mekinya dan anusnya di atas muka pemuda yang tampaknya seperti sedang menjilati.

    Bagian mulut dan hidung pemuda tadi tampak tenggelam di dalam kerimbunan rambut memek si wanita. Sambil jongkok wanita tadi yang tampak sedang kenikmatan, juga memegang batang kemaluan pemuda tadi. Kembali Hasan mengocok batangnya yang berlumuran mani itu. Batang itu sama sekali tidak mereda kekerasannya, panjangnya tetap tegar sepanjang 13 cm.

    Dan tampak berkilat karena cairan putih yang menyelimuti. Kepala batangnya tampak semakin merah. Hasan mengocok sambil menjilati bibirnya, sedikit mani ia oleskan dari batangnya ke bibir. Sambil terus mengocok dan mengecap bibir Hasan mengerang ìGimana jilatan Hasan tante..? Enak tante? Aduh ah Hasan mau liat memek tante? Jembutnya lebat mesti ya punya tanteÖ? AH kocok juga punya ku tante?î Saya panas dingin dan tak kuasa menahan birahi, sedemikian dahsyat imajinasi pemuda ini.

    Sampai-sampai dia membayangkan meki saya seperti apa. Tak terasa jari-jari saya sudah menyelinap masuk ke dalam celana dalam. Kebasahan yang sangat terasa di sana. Jariku mulai membelai lipat-lipatan bibir bawah, menyebarkan kebasahan kearah kelentit yang terasa sangat sensitive dan gatal. Sambil jari tengah menggosok-gosok dan menekan celah-celah bibir bagian dalam meki, jempolku menekan dan menggosok-gosok batang kelentit.

    Birahi saya tak terbendung lagi. Kegatalan itu terus memuncak menimbulkan kenikmatan yang sangat di bagian dalam lubang memek. Saya terus onani sambil memandang onani yang tengah dilakukan Hasan. Bau air mani terasa kuat dari batang berlumuran yang terus dikocok kencang. Puncak kenimmatan Hasan dan saya datang hamper bersamaan.

    Saya mesti menutup mulut saya dengan tangan takut erangan dan desisan keluar dari mulut saya. Ledakan nikmat melanda, dan badan saya kaku sejenak menikmati terpaan-terpaan rasa nikmat bersumber dari dalam sepanjang lubang kenikmatan saya, menuju kelentit dan meyebarkan kenyamanan di seluruh tubuh. Terasa cairan merembes keluar dari dalam lubang saya. Ah kenikmatan yang luar biasa. Disusul kemudian oleh Hasan yang tampak badannya menegang ìAh remes tante batang HasanÖî, membayangkan aksi seperti di layar komputer. ìAh Ö. ehÖ.î, dan kemudian tampak cairan sperma merembes ke luar dari lubang di ujung batangnya. Ada juga puncratan, tetapi tak sebanyak dan sekeras tadi.

    Saya buru-buru dengan perlahan ke luar dari rumah, menguncinya dari luar dan berdiri di luar pintu menenangkan diri. Saya turun dengan lift ke lantai bawah dan duduk di bawah untuk menenangkan diri. Untung juga saya tak menjumpai orang yang saya kenal. Saya mesti tampak pucat. Walau orang tak tahu, saya merasa pangkal paha saya lengket karena cairan meki yang keluar tadi sudah melai mengering.

    Sesudah ada lima menitan di bawah saya naik lagi ke atas. Memencet bel di pintu. Agak lama menunggu, akhirnya Hasan membuka pintu dari dalam. ìAh tante sori lama, tadi Hasan pas lagi di kamar mandiî, katanya nyengir sambil muka dia agak terlihat pucat. Ini mesti pucat karena capek onani tadi, saya mengatakan di dalam hati. ìSudahlah biar, tapi tante capek, mau istirahatî, saya cari alasan masuk ke kamar, takut dia melihat ada perubahan-perubahan penampilan saya. Hasan juga pamit pulang karena sudah terlalu lama di apartemen saya. Di ranjang saya berbaring letih. Peristiwa tadi benar-benar mengganggu, baik fisik maupun mental. Saya mulai berpikir, mungkin Hasan telah lama onani demikian sambil membayangkan saya. Semua erotisme yang terjadi tadi terus bermain di benak saya. Tapi kenikmatan dan ketegangan itu tak dapat meninggalkan pikiran saya.

     

    Apakah benar yang saya lakukan, kenapa saya malah menikmati peristiwa tadi, dan bukannya tersinggung dan marah. Mungkin terlalu banyak baca cerita erotik telah merubah saya. Ah sudahlah, biarkan yang telah terjadi tetap terjadi. Saya tak tahu bagaimana nanti kalau berjumpa lagi dengan Hasan setelah melalui peristiwa ini dan tahu apa yang dipikirkan Hasan tentang saya. Biarlah itu urusan nanti.

  • cerita nafsu liar dari sepupu ku

    cerita nafsu liar dari sepupu ku


    9966 views

    Aku agus menikah disurabaya, waktu itu aku kost dirumahnya dan anak ibu kost ini masih sekolah di SMK jurusan TUP. Kami pacaran dan dengan didasari cinta kamipun dipadukan dalam perkawinan isteriku asli madura tapi sejak lahir sudah berada disurabaya, jadi bahasanya medok bahasa suroboyoan ciri khas maduranya telah hilang sama sekali aku masih ingat pada saat pesta perkawinan dulu ada seorang gadis manis yang datang lebih awal sebelum hari h perkawinan kami isteriku memperkenalkan namanya Irma, sepupu isteriku, ia tinggal di bangkalan dan sekolah disana dan saat perkawinan kami berjalan setahun kami pernah ke bangkalan dan mampir dirumah irma rupanya dia juga telah menikah dengan seorang pengusaha katanya, setelah lama kuketahui suaminya jualan velg dan ban bekas disurabaya.

    Rumah irma tidak jauh dari rumah orangtuanya alias rumah tante isteriku, genap 2 tahun perkawinan kami kami telah dikarunai seorang anak laki laki yang sehat dan saat itu masih berusia 27 hari, berarti sudah lebih 1 bulan adik kecilku nganggur aku ditugaskan oleh kantor ke bangkalan karena urusan ini selama 2 hari terpaksa harus menginap dibangkalan, iseng iseng aku main ke rumah Irma, suami Irma sudah barang tentu tidak ada dirumah karena hanya seminggu sekali ia balik kebangkalan yaitu cuma hari sabtu dan hari seninnya suaminya balik lagi kesurabaya, kami ngobrol banyak tentang keluarga dan tak terasa makan kian larut, niat utk nginap di rumah irma semenjak siang tadi sudah menjadi cita cita, tapi dengan alasan yang dibuat buat, aku bangkit berdiri ingin pamitan.

    “Lho……..mo kemana????”
    “Mo balik ke penginapan…” jawabku.
    “Udah malam nih mas … tanggung nginap disini aja….khan ada kamar kosong tuh…paling depan….lagi pula mas aku disurabaya kok….sepi rasanya rumah gak ada laki lakinya…”

    “bi irah…..sudah tidur dari tadi …beliau jam 8 sudah ndengkur malah…….” tambahnya lagi

    Aku bersorak dalam hati,

    “Horeee umpanku berhasil juga…” pikirku.

    kemudian lagi tambahnya, “Irma paling senneng nonton KONAK yang ditayangkan T**** TV tapi acaranya malam benner, kalo sendiri Irma kadang takut dirumah yang sebesar ini ”

    Rupanya KONAK menayangkan acara selingkuh selingkuhan dengan gaya KOCAK, akupun menikmatinya, kami duduk berdekatan disofanya yang panjang, sambil minum coca cola dan kacang garuda yang kubawa tadi sore, ia asik menatap adegan demi adegan di TV, aku meliriknya

    “achhhhhh sepupu isteriku ini memang …cantik…..dan lincah….juga periang…..” Bisikku dalam hati

    Apabila adegan lucu yang disaksikannya di TV membuatnya tertawa lebar terkadang kepalanya disandarkannya ke banhuku, seakan mengajakku ikut tertawa…yeah, aku ikut tertawa tapi adik kecilku malah marah, maklum sudah 1 bulan lebih gak berendam, dan akhirnya kuberanikan diri pas saat ia akan menyandarkan kepalanya malah bibirku yang kusodorkan dan

    “cuupp…”

    Pas pipi kirinya, ia menatapku sejenak, sambil meninjuki ku seakan kejadian itu juga lucu, ia hanya senyum, tidak marah

    “achhhhhhhh aku harus lanjutkan perjuanganku demi adik kecilku” Kataku dalam hati

    Kudempetkan badanku kami duduk rapat sekali, tanganku melingkar diatas pundaknya ia cuma diam, kutarik badannya mendekati badanku, ia juga diam, kubalikkan wajahnya, kukecup bibirnya pelan, selembut mungkin, ia hanyut, ciumanku dibibirnya, terbalas, lidahnya bergoyang dalam mulutku, kamipun berpagutan, akhirnya dengan tidak diketahui siapa yang mulai kami berdiri, TV kami matikan,

     

    kami berjalan kekamar paling depan, kami berpagutan lagi, dasternya kulepas, BH nya, juga sdh lepas, kami bergumul, diatas ranjang, foreplay, berlangsung sangat singkat, kemaluanku sdh sangat mendesak, dan akhirnya, berendamlah adik kecilku, 45 menit berlalu, permainan kami berlangsung dengan ganasnya, rupanya nafsu Irma, sangat besar, dan iapun mendapatkan orgasmenya yang pertama, Kami terdiam sesaat kemudian

    “Aku kepengen pipisss sayang, aku kekamar kecil dulu yah ????..boleh ?” pintanya memecah kesunyian masih berpelukan erat sambil kubelai-belai punggungnya dengan tangan kiriku dan agak kuremas-remas pantatnya dengan tangan kananku.

    “Boleh, tapi jangan lama-lama ya, aku belum apa-apa nih..” ujarku jahil sambil tersenyum. Sambil mencubit pinggangku Irma melepas pelukannya, melepas penisku yang bersarang di liang vaginanya

    “Plop..”

    Sambil memejamkan matanya menikmati sensasi pergeseran penisku dan didinding-dinding vaginanya yang memisah untuk kemudian berdiri dan berjalan keluar kamar, aku menatapi Irma berjalan menuju kamar mandi dalam kamarnya yang besar. Indah sekali pemandangan tubuhnya dari belakang, putih mulus dan tanpa cacat. Tubuh Irma mengigil menikmati sensasi yang baru saja dilaluinya untuk kemudian kembali mengendur meskipun vaginanya masih mengempot dan menghisap-hisap, aku diam dan kubiarkan Irma menikmati sensasi kenikmatan klimaksnya.

    “Ahh..punyamu enak ya Irma..bisa ngempot-ngempot gini..”ujarku memuji

    “Enak mana sama punya isterimu ?” tanyanya sambil menghadapkan kearah wajahku dibelakangnya dan tersenyum

    “Punyamu..hisapannya lebih hebat..mmhh..” kucium mesra bibirnya dan Irma memejamkan matanya. Kemudian kucabut penisku

    “Ploop..” “Aahh..” Irma agak menjerit, dan cepat kugandeng tangannya keluar dari kamar mandi dan kembali ketempat tidur.
    Setelah Irma merebahkan dirinya terlentang di tempat tidur, aku berada diatasnya sambil kuciumi dan kulumat bibir mungilnya

    “Mmhh..mmhh..” tangan kanannya meremas-remas penisku yang masih saja gagah setelah 2 jam bertempur

    “Kamu hebat Gus, udah 2 jam masih keras aja..dan kamu bener-bener bikin aku puas.” puji Irma,

    “Sekali lagi yaa, yang ini gong nya, aku bikin kamu puas dan nggak akan ngelupain aku selamanya, oke ?!” balasku, sambil berkata aku mulai menggeser tubuhku dan mengangkanginya, kemudian tanganku menuntun penisku memasuki liang vaginanya menuju pertempuran terakhir pada hari itu.

    “Sleepp..”

    “Auuwhh..”

    Irma agak menjerit. Perlahan tapi mantap kudorong penisku, sambil terus kutatap wajah manis wanita ini……, Irma merem melek, mengernyitkan dahinya, dan menggigit bibir bawahnya dengan nafas memburu menahan kenikmatan yang amat sangat didinding-dinding vaginanya yang becek

    “Hehhnghh..engghh..aahh.! .” erangnya.

    Aku mulai memaju mundurkan gerakan pinggulku, perlahan-lahan makin lama makin cepat, makin cepat, dan makin cepat, sementara Irma yang berada dibawahku mulai melingkarkan kedua kaki indahnya kepinggangku dan kedua tangannya memegang kedua tanganku yang sedang menyangga tubuhku, Irma mengerang-erang, mendesah-desah dan melenguh-lenguh

    “Aahh….oohh..sshh..aahh…hemhh..enghh..aahh..adhii. .aahh..teruss..teruss.
    . ….oohh..enghh…”

    Sementara akupun terbawa suasana dengusan nafas kami berdua yang memburu dengan menyertainya mendesah, mengerang, dan melenguh bersamanya

    “Enghh..Irrmaa..oohh..ennakh..sayang..?” tanyaku

    “He-eh..enghh..aahh..enghh..enakhh..banghethh..gusss…a a hh..” lenguhannya kadang meninggi disertai jeritan-jeritan kecil dari bibir mungilnya

    “Oohh..gusss..oohh..enghh..”

     

    Tubuhnya mulai bergelinjangan dan berkelojotan, matanya mulai dipejamkan, jepitan kaki-kakinya mulai mengetat dipinggangku, kami terus memacu irama persetubuhan kami, aku yang bergerak turun naik memompa dan merojok-rojok batang penisku kedalam liang vaginanya diimbangi gerakan memutar-mutar pinggul Irma yang menimbulkan sensasi memilin-milin di batang penisku, nikmat sekali. Kulepas pelukanku untuk kemudian aku merubah posisiku yang tadinya menidurinya ke posisi duduk, kuangkat kedua kaki Irma yang indah dengan kedua tanganku dan kubuka lebar-lebar untuk kembali kupompa batang penisku kedalam liang vaginanya yang makin basah dan makin menghisap-hisap

    “Enghh..Agus..oohh..shaa..yang..aahh..”

    kedua tangan Irma meremas erat bantal dibawah kepalanya yang menengadah keatas disertai rintihan, teriakan, desahan dan lenguhan dari bibir mungilnya yang tidak berhenti. Kepalanya terangguk-angguk dan badannya terguncang-guncang mengimbangi gerakan tubuhku yang makin beringas……….

    Kemudian aku mengubah posisi kedua kaki Ima untuk bersandar dipundakku, sementara agak kudorong tubuhku kedepan, kedua tanganku serta merta bergerak kekedua buah dadanya untuk meremas-remas yang bulat membusung dan memuntir-puntir puting susunya kenyal dan mengeras tanpa kuhentikan penetrasi penisku kedalam liang vaginanya yang hangat dan basah. Irma tidak berhenti merintih dan mendesah sambil dahinya mengernyit menahan klimaksnya agar kami lebih lama menikmati permainan yang makin lama semakin nikmat dan membawa kami melayang jauh.

    “Oohh..Ahh..Guss..enghh..ehn..nnakhh..aahh..mmnghh ..aahh..enghh..oohh..” desahan dan rintihan Irma menikmati gesekan-gesekan batang penis dan rojokan-rojokan kepala penisku berirama merangsangku untuk makin memacu pompaanku, nafas kami saling memburu………….ruar…biasa………..

    Setelah mulai kurasakan ada desakan dari dalam tubuhku untuk menuju penisku, aku merubah posisi lagi untuk kedua tanganku bersangga pada siku-siku tanganku dan membelai-belai rambutnya yang sudah basah oleh kucuran keringat dari kulit kepalanya. Sambil aku merapatkan tubuhku diatas tubuh Irma, kedua kaki Irma mulai menjepit pinggangku lagi untuk memudahkan kami melakukan very deep penetration, rintihan dan desahan nafasnya yang memburu masih terdengar meskipun kami sambil berciuman

    “Mmnghh..mmhh..oohh..ahh..Gusss..mmhh..enghh..aahh . .”

    “Oohh..Irmaa..enghh..khalau..mau sampai..oohh..bhilang..ya..sha..yang..enghh..aahh. .” ujarku meracau

    “Iyaa.. Iyaa….oohh..enghh..aahh..aahh..” tubuh kami berdua makin berkeringat, dan rambut kami juga tambah acak-acakan, sesekali kami saling melumat bibir dengan permainan lidah yang panas disertai gerakan maju mundur pinggulku yang diimbangi gerakan memutar, kekana! n dan kekiri pinggul Irma.

    “Oohh..enghh..aahh..gusss..oohh..uu..dhahh..belomm . .engghh..akhu..udahh..ngga
    k khuat..niihh..aahh..”

    Erangan-erangan kenikmatan Ima disertai tubuhnya yang makin menggelinjang hebat dan liang vaginanya yang mulai mengempot-empot dan menghisap-hisap hampir mencapai klimaksnya

    “Irmaaa..laghi..sayang..oohh..enghh..mmhh..aahh ..aahh..” sambutku karena penisku juga sudah mulai berdenyut-denyut

    “Aahh..aa..gusss..noww..noww..oohh..oohh.. enghh..aahh..aahh..” jeritnya

    “Yeeaa..aahh..iimm..aahh..aahh..enghh..aahh..” jeritanku mengiringi jeritan Irma, akhirnya “Aahh..aahh..enghh..mmhh..aahh..”

    Kami mencapai klimaks bersamaan,

    “Srreett..crreett..srreett..crreett..srreett..crre ett..”

    kami secara bersamaan dan bergantian memuntahkan cairan kenikmatan berkali-kali sambil mengerang-erang dan mendesah desah, kami berpelukan sangat erat, aku menekan pinggulku dan menancapkan penisku sedalam-dalamnya ke dalam liang vagina Irma, sementara Irma membelit pinggangku dengan kedua kaki indahnya dan memelukku erat sekali seakan tak ingin dilepaskan lagi sambil kuciumi lehernya dan bibir kami juga saling berciuman.

    “Aahh..mmhh..oohh..enghh..emnghh..Aguss..aahh..emm h h…hhuuhh..”

    Nikmat yang kami reguk sangatlah dahsyat dan sangat sulit dilukiskan dengan kata-kata. Sementara kami masih saling berpelukan erat, vagina Irma masih mengempot-empot dan menghisap-hisap habis cairan spermaku seakan menelannya sampai habis, dan penisku masih berdenyut-denyut didalamnya,dan kemudian secara perlahan tubuh kami mengendur saling meregang, dan akupun jatuh tergulir disamping kanannya.

    Sesaat rebah berdiam diri bersebelahan, Ima kemudian merebahkan kepalanya dipundak kiriku sambil terengah-engah kelelahan dan mencoba mengatur nafasnya setelah menikmati permainan surga dunia kami. Kulit tubuhnya yang putih dan halus berkeringat bersentuhan dengan kulitku yang berkeringat, Ima memelukku mesra, dan tangan kiriku membelai rambut dan pundaknya.

    “Agus..kamu hebat banget, gue sampai puas banget sore ini, klimaks yang gue rasakan beberapa kali belum pernah gue alamin sebelumnya, hemmhh..” Ima berkata sambil menghela nafas panjang

    “Ma kasih ya sayang..thank you banget..”ujarnya lagi sambil kami berciuman mesra sekali seakan tak ingin diakhiri.

    Tak terasa kami sudah mereguk kenikmatan berdua lebih dari 4 jam lamanya dan hari sudah menj***** sore. Setelah puas berciuman dan bermesraan, kami berdua menuju kamar mandi untuk membasuh keringat yang membasahi tubuh kami, kami saling membasuh dan membelai tak lupa diselingi ciuman-ciuman kecil yang mesra. Setelah selesai kami berpakaian dan menuju lantai bawah ke ruang tengah untuk menonton TV dan menunggu istri dan mertuaku serta anaknya pulang dari kegiatan masing-masing. Sambil menunggu kami masih saling berciuman menikmati waktu yang tersisa, Ima berucap padaku

    “GUss..kalo gue telpon, kamu mau dateng untuk temenin gue ya sayang..”

    “Pasti !” jawabku, lalu kami kembali berciuman.

  • Nikmatnya Bersama Tante Lisa

    Nikmatnya Bersama Tante Lisa


    8908 views

    Cerita Sex Dewasa | Nikmatnya Bersama Tante Lisa

    Namaku Wawan, aku adalah seorang mahasiswa PTS terkenal di Yogyakarta berusia 22 tahun dan aku kost di sebuah rumah milik seorang janda pengusaha toko, sebut saja Tante Lisa. Usianya masih 40 tahun. Suaminya meninggal karena komplikasi, dan dengar-dengar dari tetangga Tante Lisa itu dulunya hostess di Surabaya.

    Tante Lisa sangat cantik dan menjaga tubuhnya sehingga dia tampak seperti berumur 30 tahun. Dia juga berpenampilan seksi, suka memakai celana kaos ketat dan tank-top.

    Ceritanya berawal ketika suatu hari aku sedang onani di kamar mandi dan ternyata lupa dikunci. Ternyata Tante Lisa menontonnya dan setelah aku orgasme, aku kaget melihatnya.

    “Wan, kelihatannya asyik ya… mendingan lain kali minta bantuan Tante pasti lebih enak.”

    Aku jadi malu berat dibuatnya, “Maaf Tante, saya lupa menutup pintunya.”
    “Nggak apa kok Wan, kan kamu sudah dewasa dan wajar melakukannya. Tante juga sudah sering lihat yang begituan kok”, katanya sambil senyum.

     

    Beberapa hari kemudian aku disuruh bantu-bantu di tokonya dan tanpa segan-segan aku membantunya hingga malam Tante Lisa memintaku untuk menemaninya dan aku disuruh menginap di situ, memang di tokonya ada dua kamar di lantai dua (ruko) dan kamar tersebut kadang ditempati Tante Lisa bersama anaknya. Tante Lisa mengajakku makan bersama dan minum wine dan aku tidak mengerti kok aku bisa sampai tidak sadar, mungkin dicampur obat tidur.

    Paginya Tante Lisa membangunkanku bahkan harus sampai disiram, aku disuruh cepat-cepat pulang kost dan merahasiakan kalau aku tidur di ruko. Aku menurutinya dan malamnya setelah toko tutup Tante Lisa mengajakku berhubungan intim.

    “Wan, Tante minta malam ini kamu puasin Tante ya.”
    Karuan saja kutolak karena aku memang belum pernah gituan dan takut meskipun aku sering nonton BF.

    “Maaf Tante saya nggak berani”, kataku sambil gugup. Tante Lisa mengancam dan Tante Lisa memutar videoku sedang tidur bugil. Tante Lisa bilang tadi malam saat tidur menelanjangiku dan merekamnya dengan Handycam.
    “Tante akan menyebarkan rekaman ini jika kamu nggak mau melayani Tante kecuali kamu mau melakukan yang Tante minta. Percaya Tante deh, toh Tante juga menjaga nama baik Tante jadi ini akan jadi rahasia kita berdua.”

    Akhirnya karena takut dan polos aku melayaninya. Dari situ aku tahu ternyata Tante Lisa maniak seks, Tante Lisa pertama minta mandi Caty (dijilati tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung rambut) dan Tante Lisa minta aku menjilatinya liang kewanitaannya sampai berjam-jam setiap aku berhenti Tante Lisa menjambak rambutku dan menekan kepalaku ke liang sorganya.

     

    Pengalaman pertamaku menyentuh wanita apalagi menjilati seluruh bagian tubuhnya, dalam keterpaksaan itu aku sampai menangis.
    “Sudah Tante… sudah”, sambil nafasku tersengal-sengal.
    “Aghhh.. jangan lepas. Teruss.. terusss!”

    Tante Lisa terus menjepit kepalaku dengan kedua pahanya yang kencang. Aku dapat merasakan harumnya kemaluan Tante Lisa. Aku sendiri merasa nikmat sekaligus takut. Dia menyuruhku tidur di sofa dan Tante Lisa menduduki wajahku sehingga aku dipaksa menjilati kelamin dan anusnya.

    “Aghh.. enak sekali Wan”, katanya sambil memutar-mutar pantatnya di atas wajahku yang sudah basah karena cairan kewanitaannya. Pantatnya yang hangat dan kencang itu menindih wajahku sehingga aku sampai susah bernafas. Jika Tante Lisa tidak merasa puas atas pelayananku ia suka sekali menampar, mencakar, menjambak, meludahi.

    Setelah itu Tante Lisa mengambil posisi 69 dan kami saling mengoral. “Ayo Wan, kamu bisa lebih panjang lagi”, katanya sambil menarik-narik kemaluanku dan memelintir pelirku. Aku yang kesakitan tapi merasakan sensasi yang luar biasa. Dalam mengoral, Tante Lisa seperti singa yang tidak diberi makan 3 hari.

    Sangat buas dan Tante Lisa mempermainkannya dengan sangat cekatan terampil, kadang menarik terus memutar kadang mengocoknya dengan cepat terus perlahan.

    Bahkan pernah Tante Lisa mengencingi wajahku sambil membuka mulutku.. lalu aku disuruh menjilat air kencingnya yang tercecer di lantai. Entah kenapa lama-lama aku malah menyukai mungkin aku termasuk sado masochocist.

    Suatu hari entah dari mana Tante Lisa membawa alat-alat untuk seks sado masochist, ada bola penyumpal mulut terus seperti kuas penggelitik, cemeti dari kulit, pengikat leher seperti anjing, CD kulit yang berlobang di bagian depannya dan pakaian seperti pasukan Romawi dulu.

    Dia menelanjangi dan mengikatku sambil merangkak Tante Lisa berteriak-teriak memecutiku dan menendang pantatku persis seperti anjing, dia sebar makanan di lantai dan menyuruhku memungut dengan mulut bahkan menjilati ludah dan kencingnya di lantai.

    Di bagian batang kemaluanku dia mengikatkan sebuah karet gelang yang ada kerincingnya sehinga setiap kali merangkak berbunyi nyaring. “Ayo… ayo kalau kamu mau jadi anjing Tante yang setia harus nurut yang Tante perintahkan!” Tante Lisa kadang memperlakukanku seperti kuda, dengan mengikat leherku dan menunggangi punggungku sambil memecut pantatku.

    Sering juga Tante Lisa memasukkan sebagian pisang susu ke liang kewanitaannya dan menyuruhku mengambil dan memakannya dengan mulut. Untuk menyumpal mulutku agar aku tidak mengerang keras biasanya Tante Lisa memakai CD-nya atau Carefree Panty Shield.

    Aku tidak pernah punya kesempatan menggunakan batang kemaluanku, paling Tante Lisa suka sekali mengocoknya bahkan Tante Lisa pernah mengocokku sampai orgasme 4 kali dalam satu malam. Sampai batang kemaluanku lecet dan perih dan tangan Tante Lisa juga sampai pegal-pegal.

    Tante Lisa sangat merawat batang kemaluanku, buktinya setiap habis main selalu dia merendam dengan air hangat dan kadang dengan teh basi katanya agar batang kemaluanku selalu kuat dan siap kapan saja.

    “Masak cuman bisa dua kali… nih rasakan!” katanya sambil menyentil ujung kemaluanku.
    “Aduh.. ampun Tante…” pintaku memelas.

    Itulah yang sering terjadi jika Tante Lisa memaksaku orgasme berkali-kali. Dalam mengocok Tante Lisa juga kadang pakai sarung tangan, pakai foam/shampoo, odol, pakai supit untuk mie dll, biasanya Tante Lisa mengocokku sambil minta dioral seks atau menjilati puting dan ketiaknya. Yang paling mengerikan, pernah Tante Lisa memintaku memakan kotorannya (berak red) dan aku tolak karena selain jijik juga takut sakit, untungnya Tante Lisa mau ngerti.

    Sampai sekarang sudah hampir 2 tahun dan aku makin suka meski kadang aku sempat sakit. Aku hanya merasakan kepuasan dan mengabaikan rasa sakit dan suatu saat aku berangan-angan dapat bermain seks seperti itu dengan lebih dari 1 orang saja

  • ADIK IPARKU YANG CANTIK

    ADIK IPARKU YANG CANTIK


    6270 views

    adik piar ku yang cantik aku entot saat telanjang

    Aku hidup bahagia bersama istri dan ke-2 anak-anaku, laki2 dan perempuan walopun akuhanya pegawai rendahan di suatu instansi pemerintah di kota B. Kami menempati rumahtipe 45, cicilan rumah BTN, yang kemudian di renov secara sederhana sehinggamempunyai 3 kamar tidur yang berukuran tidak terlalu besar.

     

    Suatu hari, di tahun 1992, kami kedatangan ibu mertua bersama adik ipar saya yangpaling kecil, sebut saja Neng, baru lulus SLA. Atas permintaan ibu mertua, untuksementara ikut kami sambil mencari pekerjaan. Perbedaan umur Aku dan Neng cukupjauh, sekitar 10 tahun. Karena kami dari daerah Jawa Barat, Neng memanggilku dengansebutan Aa (yang artinya kakak laki2).

    Sementara belum mendapatkan pekerjaan, Neng mengikuti berbagai kursus, BahasaInggris, Komputer, Akutansi, dan atas ijin serta perintah istriku, Aku kebagian untukantar jemput menggunakan motor ëbekjulí ku. Bekjul maksudnya motor bebek 70 cc. Mungkin karena nasib baik atau memang wajah Neng cukup cantik, tidak sampaiseminggi, Neng mendapat tawaran pekerjaan sebagai pelayan toko yang cukup bonafidedenga pembagian kerja, seminggu bagian pagi dan seminggu kebagian malam, demikiansilih berganti. dan kalau kebagian kerja malam, aku bertugas untuk menjemputnya, biasanya toko tutup pukul 21.00 dan pegawai baru bisa pulang sekitar 21.30. Perjalanandari toko ke rumah tidak begitu jauh, bisanya ditempuh sekitar 30 menitan. Neng anaknya manja, mungkin karena bungsu, setiap kali di bonceng motor, apalagi kalomalam pulang kerja, dia akan memelukku dengan erat, mungkin juga karena hawa malamyang dingin.

    Entah sengaja atau tidak, payudaranya yang sudah cukup besar akanmenempel di punggungku. Hal ini selalu terjadi setiap kali aku menjemput Neng pulangkerja malam, tapi yang heran, kelihatannya Neng tidak ada rasa bersalah ataupun rikuhsedikitpun setiap kali payudara nempel di punggungku, mungkin dianggapnya hal inisuatu konsekuensi logis bila berboncengan naik motor. Akulah yang sering berhayal yangtidak-tidak, seringkali dengan sengaja motor kukemudikan dengan kecepatan rendah, kadangkala sengaja mencari jalan yang memutar agar bisa merasakan gesekan-gesekannikmat di punggungku lebih lama. Pada suatu malam, seperti biasanya Aku menjemput Neng pulang kerja malem, sampairumah sekitar pukul 22.15 dan seperti biasanya istriku yang membukakan pintu. Setelahmembukakan pintu istriku akan kembali ke kamar untuk melanjutkan tidur.

    Malam ituaku tidak langsung tidur, aku ke dapur, memanaskan air untuk membuat kopi karenaberniat untuk menonton pertandinga sepak bola di TV, kalau tidak salah saat itukesebelasan paforitku main, Brazil. Saat aku keluar dari dapur, secara bersamaan Nengjuga keluar dari kamar mandi, sehingga kami sama berada di lorong depan kamar mandi, entah apa penyebabnya, malam itu kami sama-sama berhenti dan saling pandang tanpasepatah katapun keluar dari mulut kami masing-masing.Tiba-tiba ada suatu dorongan, secara cepat aku rangkul dan aku kecup bibirnya selamabeberapa detik. Setelah itu Neng melepaskan diri dari rangkulanku dan dengan tergesamasuk ke kamarnya. Aku kembali ke ruang tengah untuk melihat pertandingan bola, tapiperasaanku kacau, tidak konsen pada acara di TV. Saat itu ada perasaan takutmenghantuiku, takut Neng ngadu ke istriku, bisa-bisa perang dunia ke tiga.

    Saat pikiranku kacau, aku dikejutkan suara peluit dari dapur yang menandakan air telahmendidih, bergegas aku ke dapur untuk membuat kopi. Kembali aku keruang tengansambil membawa secangkir kopi yang nikmat sekali, tetapi tetap saja pikiranku kacau. kok bisa-bisanya tadi aku mengecup bibir Neng??????Dalam kegalauan perasaanku, kembali dikejutkan dengan suara lonceng yangmenunjukkan pukul 23.30. Saat itu aku melihat kamar Neng lampunya masih nyala, yangmenandakan penghuninya belum tidur, karena aku tau Neng selalu mematikan lampunyaapabila tidur. Terpikirkan olehku, harus memastikan bahwa Neng tidak marah olehulahku tadi dan berharap istriku tidak sampai tau insiden tersebut. Dengan pelahan, aku buka kamarku untuk melihat istriku, ternyata dia sudah pulas, tergambar dari dengkurannya yang halus disertasi helaan nafar yang teratur. Denganpelahan kututup kembali pintu kamar dan secara pelahan pula kubuka pegangan pintukamar Neng, ternyata tidak dikunci, pelahan tapi pasti pintu kubuka dan kudapati Nengduduk di atas tempat tidur sambil memeluk bantal menghadap tembok. Perlahan akudekati, tiba-tiba Neng menoleh kearahku, kulihat matanya merah berkaca-kaca, akubertambah khawatir, Neng pasti marah dengan kelakuanku tadi. Diluar dugaan, Nengberdiri mendekatiku dan tiba-tiba memelukku dengan erat sambil kembali menangis lirih. Tambah bingung aku dibuatnya, kemudian utnuk memastikan apa yang terjadisebenarnya, dengan pelahan dan hati-hati aku raih mukanya dan aku tengadahkan, ìKamu marah?î, pertanyaan konyol tiba-tiba keluar dari mulutku. Tanpa kata-kata, Nengmenjawab dengan gelengan kepala sambil tajam menatapku. Kami beradu pandang, danentah dorongan dari mana, secara pelahan kudekatkan bibirku ke bibirnya, ketika tidakada usaha tolakan dari Neng, dengan lembut kembali kukecup bibirnya.

    Setelah beberapalama, terasa ada reaksi dari Neng, rupanya dia juga menikmati kecupan tersebut. Akhirnya kecupan ini berlangsung lebih lama dan kami saling memeluk dengan erat, saling mengeluarkan emosi yang kami sendiri tidak tau bagaimana menggambarkannya. Tetapi kemesraan ini harus segera diakhiri, sebelum dipergoki oleh isi rumah yang lain, terutama istriku. Segera aku keluar kamar, kembali keruang tengah untuk melanjutkanmelihat sepak bola yang ternyata sudah berakhir dengan skor yang tidak aku ketahui. Akhirnya TV kumatikan dan aku masuk kekamarku untuk tidur dengan perasaan yangsangat bahagia. Hubungan kami tambah erat dan tambah mesra, setiapkali ada kesempatan kejadianmalam itu selalu kami ulangi, dan tentunyanya makin hari kualitasnya makin bertambahmesra.Suatu hari, aku pulang kerja lebih awal dan kudapati di rumah hanya ada adikku Nengdan pembantu. Pembantuku anak perempuan lulusan SMP yang tidak melanjutkansekolah karena biaya, rumahnya tidak jauh dari rumahku, jadi pagi-pagi datang dan sorehari pulang. Badan pembantuku termasuk bongsor, kulitnya sawo matang dengan mukayang cukup manis untuk ukuran pembantu.

    Kembali kepokok cerita, rupanya istriku sedang pergi dengan ke 2 anakku, berdasarkansurat yang diditipkan ke Neng, sedang berkunjung ketempat Tante yang katanya sedangmengadakan syukuran. Seperti biasanya, sore itu sekitar pk 16.00 pembantuku ijin pulang, maka tinggallah kamiberdua, aku dan Neng, sementara istri dan anak-anakku masih dirumah tante. Tanpa dikomando, rupanya kami sama-sama memendam kerinduan, sepeninggalpembantu, setelah pintu depan dikunci, kami saling berpelukan dengan erar danberpagutan untuk menumpahkan perasaan masing-masing. Setelah beberapa lama kamiberpagutan sambil berdiri, secara perlahan aku menuntun Neng sambil masih berpelukanke arah kamar dan melanjutkan pergulatan di atas tempat tidur. abibir kami saling berpagutan sambil saling sedot dan saling menggelitik menggunakanlidah, tanganku mencoba meraba payudaranya dari balik kaos yang dipakai, rupanyaulahku sangat mengejutkan, ssstttttÖÖ.. sssttt Ö. sssstttt, terdengar erangan sepertiorang kepedasan pada saat aku permainkan putingnya. Aku tambah agresip, kuangkat kaos yang dipakainya, telihatlah payudaranya yang masihditutupi beha tipis, dengan tergesa aku singkap beha-nya dan dengan rakus aku kecup danaku permainkan dengan lidah putingnya. Akibatnya sangat luar biasa, ssstttt Ö.. ooohhhÖ.. uuuhh Ö.ssstttt ,,, demikian rintihanpanjang Neng,

    hal ini terjadi karena belum pernah ada laki-laki yang menjamah, ternyataakulah laki-laki pertama yang mencium bibirnya dan pembermainkan payudaranya. Pakaian kami makin awut-awutan, aku berharap istriku tidak pulang cepat. kamimelanjutkan kemesaraan, kali ini aku kembali mencium bibirnya sambil meremas-remaspayudara dan sesekali mempermainkan putingnya. kali ini aku memesrai Neng sambilmenindih badannya, perlahan tapi pasti aku berusaha menggesekkan adik kecilku yangsudah sangat keras ke kemaluannya yang rupanya juga sudah mulai lembab. Kembali terdengar eranga-erangan nikmat, ssssttt ÖÖÖ uuuhhh Ö.. ooohhhh ÖÖuuuh. Bibir dengan cekatan menyedot payudaranya silih berganti sambil menggesekkan adikkecilku yang sudah sangat keras ke kemaluannya, kami masih sama-sama pakai baju. Neng pakai bawahan dan kaos, aku masih memakai pakain kerja. Aku makin bernafsu, aku singkap bawahan Neng sehingga nampak celana dalamnyayang sudah lembab kemudian kembali aku gesek-gesekan adik kecilku sambi tidak henti- hentinya mengecup payudara dan mempermainkan putingnya.Erangan-erangan panjang kembali terdengan dan tiba-tiba Neng memeluku dengan sangat erat dan terdengar erangan panjang uuuuhhhhÖÖÖÖ.. uuuuuuuuhhhhÖÖ. uuuuuuhhhhhhhÖ.. aduuuuuuuuhhÖÖ. rupanya Neng mengalami orgasme, mungkinini adalah orgasme yang pertama yang pernah dialaminya.

    Lama-lama cengekeramanNeng makin mengendur dan lepas seiiring dengan selesainya orgasme tadi. Aku????belum tersalurkan, tapi merasakan kebahagiaanya yang amat sangat karena telah berhasilmembuat Neng yang sangat kusayang bisa mendapatkan orgasme yang ternyata barudialami saat itu dan merupakan orgasme yang pertama. Sejak kejadian itu, maksudnya sejak Neng mendapatkan orgasme yang pertama, kamiselalu mencari-cari kesempatan untuk mengulanginya. Tetapi kesempatannya tidakmudah, karena kami tidak mau menanggung resiko sampai kepergok oleh istriku.

    Pada suatu malam, sekitar pukul 23.00, saat aku berada dalam kamar bersama istriku, terdengar suara pintu kamar sebelah terbuka, dan terdengar langkah-langkah halusmenuju kamar mandi, aku dapat menebak dengan pasti bahwa itu adalah Neng yang adakeperluan ke kamar mandi, kuperhatikan istriku sudah tertidur dengan nyenyak yangditandai dengan dengkuran halus yang teratur. Dengan sangat hati-hati, aku buka pintukamar sehalus mungkin dengan harapan tidak ada suara yang dapat menyebabkan istrikuterbangun, lalu dengan perlahan pula pintu kututup kembali dan secara pelahan akumenuju lorong yang menghubungkan ke kamar mandi. Aku berdiri di lorong sambilmemperhatikan pintu kamarku bagian bawah, kalau-kalau ada lintasan bayangan yangmenandakan istriku bangun, sementara telingaku tidak lepas mendengarkan apa yangterjadi di kamar mandi. Tidak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka, dan benar dugaanku, Neng keluar darikamar mandi dengan memakai baju tidur warna kuning kesukaannya. Baju tidur yangdipakai adalah model terusan dengan bukaan di bagian dada dan bagian bawah sebataslutut. ìNgapain A berdiri di situî tegur Neng memecah kesunyian, ìNungguin kamuî jawabku. Tanpa dikomando, kuraih lengannya dan wajah kami saling mendekat, tak ayal lagi kamiberpagutan melampiaskan kerinduan kami. Beberapa saat kemudian kami melepaskanpagutan sambil tersengal. ìA, Neng pengen Öî bisiknya lirih di telingaku. Aku maklum apa yang diinginkan Neng, kembali kukecup bibirnya sambil kuremas halus payudaranya, rupanya Neng kali initidak memakai beha.

    Aku buka satu kancing baju tidurnya, dan nongolah payudaranyayang putih disertai tonjolan coklat kemerahan. Tak ayal lagi, bibirku berpindah kepayudaranya dengan disertai sedotan dan gigitan-gigitan lembut pada tonjolan halus yangcoklat kemerahan itu. î Sssstttttt ÖÖ uuuhhî terdengar desahan-desahan halus, menandakan Neng mulaiterangsang. Tanganku turun, meraba pinggang, terus turun lagi, lagi dan sampailahkegundukan di bawah pusar, kuusap halus sambil kadang meremas sampai jari tengahku menemui lekukan di balik baju tidur dan celana dalam. î uuuhhh Ö. uuuhhh î rupanyarabaan itu menambah rangsangan. ìA, pengen Ö.î kembali bisikan lirih di telingaku, kemudian aku jongkok sehinggakemaluan Neng tepat di mukaku, Kuangkat rok baju tidur, terlihat celana dalam warnaputih yang tipis dan agak lembab, dengan bernafsu aku mulai menjilati kemaluan Nengyang masih dibungkus celana dalam. î uuuhhh Ö.ssstttt Ö.. uuhhuuî kembali terdengarerangan-erangan kenikmatan yang menambah nafsuku makin bergejolak. Kucoba menyingkap celana dalamnya, terlihatlah gumpalah daging yang ditumbuhi bulu- bulu halus. Untuk pertama kali aku melihat langsung kemaluan Neng, aroma khas mulaitercium, tanpa membuang waktu aku mulai mencium gundukan daging yang sangatmenimbulkan minat itu, sampai akhirnya aku menemukan lekukan yang lembabberwarna kemerah-merahan.

    Aku makin semangat menjilat-jilat lekukan yang sudahsangat lembab itu. ìuuhhh Ö.. aaahhhhh Ö.sssttt Ö. uuuhhhhhî suara erangan makinkeras dan terasa rambutku dipegang dengan keras dengan gerakan menekan. Hal inisemakin membuat nafsuku berkobar-kobar dan makin inten lidahku menjilati lekukan itu, keluar – masuk, ke kiri – kana, ke atas – bawah, demikian berulang ulang sampai padasuatu saat terasa jambakan pada rambutku makin keras disertai himpitan kaki dikepalaku. ìUuuuuuuuhhhhhhh Ö.. aaaaaahhhhhhh Ö.. uuuuhhhhhî terdengan erangan panjangdisertai keluarya cairan yang cukup banyak membasahi mulut dan mukaku. Mukakuterasa dihimpit keras sekali sampai-sampai kesulitan untuk bernafas. ìUuuhhhhhhhhhhh Ö. aaahhhhhhhhhhî kembali erangan panjang terdengar disertaidengan himpitan dan gerataran yang khas, menandakan orgasme telah dicapai oleh Nengdisertai semprotan cairan yang cukup banyak membasahi mukaku. Aku peluk dengankuat kakinya disertai himpitan dan tekanan mukaku ke kemaluan Neng, karena akumaklum hal seperti inilah yang diinginkan wanita pada saat mencapai puncakorgasmenya. Beberapa lama kemudian, mulai mengendur himpitan pada mukaku, sampai akhirnyatenang kembali. Aku berdiri dan ku peluk Neng dengan mesra ìTerima kasih ya Aîterdengar bisikan di telingaku. Kejadian-kejadian ini terus kami ulangi kalau ada kesempatan, tapi karena niatku yangtidak ingin merusak adiku sendiri, sampai akhirnya Neng menemukan jodoh dan menikahmasih dalam keadaan perawan.

    Demikian sebagian pengalamanku dengan adik iparkuyang cantik.

  • cerita gentot bersama sepupuku Nabilah yang Mungil

    cerita gentot bersama sepupuku Nabilah yang Mungil


    4669 views

    Sebuah cerita pengalaman pribadiku ngentot bersama Nabilah yaitu notabenya sepupuku sendiri..Aku lihat sekali lagi catatanku. Benar, itu rumah nomor 27. Pasti itu rumah Om Andri, kerabat jauh ayahku. Kuhampiri pintunya dan kutekan bel rumahnya. Tidak lama kemudian dari balik pintu muncul muka yang sangat cantik.
    “Cari siapa Mas?” tanyanya.
    “Apa betul ini rumah Om Andri? nama saya Dodi.”
    “Oh.. sebentar yah, Pa.. ini Dodinya sudah datang”, teriaknya ke dalam rumah.

    Kemudian aku dipersilakan masuk, dan setelah Om Andri keluar dan menyambutku dia pun berkata dengan ramah, “Dodi, papimu barusan sudah nelpon, nanyain apa kamu sudah datang. Ini kenalin, anak Om, namanya Nabilah, terus anterin Dodi ke kamarnya, kan dia cape, biar dia istirahat dulu, nanti baru deh ngobrol-ngobrol lagi.” Aku datang ke kota ini karena diterima disalah satu Universitas, dan oleh papi aku disuruh tinggal dirumah Om Andri. Nabilah ternyata baru kelas 1 SMA. Dia anak tunggal. Badannya tidak terlalu tinggi, mungkin sekitar 165 cm, tapi mukanya sangat lucu, dengan bibir yang agak penuh. Di sini aku diberi kamar di lantai 2, bersebelahan dengan kamar Nabilah.

    Aku sekarang sudah 3 bulan tinggal di rumah Om Andri, dan karena semuanya ramah, aku jadi betah. Lebih lagi Nabilah. Kadang-kadang dia suka tanya-tanya pelajaran sekolah, dan aku berusaha membantu. Aku sering mencuri-curi untuk memperhatikan Nabilah. Kalau di rumah, dia sering memakai daster yang pendek hingga pahanya yang putih mulus menarik perhatianku. Selain itu buah dadanya yang baru mekar juga sering bergoyang-goyang di balik dasternya. Aku jadi sering membayangkan betapa indahnya badan Nabilah seandainya sudah tidak memakai apa-apa lagi.

    Suatu hari pulang kuliah sesampainya di rumah ternyata sepi sekali. Di ruang keluarga ternyata Nabilah sedang belajar sambil tiduran di atas karpet.
    “Sepi sekali, sedang belajar yah? Tante kemana?” tanyaku.
    “Eh.. Dodi, iya nih, aku minggu depan ujian, nanti aku bantuin belajar yah.., Mami sih lagi keluar, katanya sih ada perlu sampai malem.”
    “Iya deh, aku ganti baju dulu.”

    Kemudian aku masuk ke kamarku, ganti dengan celana pendek dan kaos oblong. Terus aku tidur-tiduran sebentar sambil baca majalah yang baru kubeli. Tidak lama kemudian aku keluar kamar, lapar, jadi aku ke meja makan. Terus aku teriak memanggil Nabilah mengajak makan bareng. Tapi tidak ada sahutan. Dan setelah kutengok ke ruang keluarga, ternyata Nabilah sudah tidur telungkup di atas buku yang sedang dia baca, mungkin sudah kecapaian belajar, pikirku. Nafasnya turun naik secara teratur. Ujung dasternya agak tersingkap, menampakkan bagian belakang pahanya yang putih. Bentuk pantatnya juga bagus.

    Memperhatikan Nabilah tidur membuatku terangsang. Aku merasa kemaluanku mulai tegak di balik celana pendek yang kupakai. Tapi karena takut ketahuan, aku segera ke ruang makan. Tapi nafsu makanku sudah hilang, maka itu aku cuma makan buah, sedangkan otakku terus ke Nabilah. Kemaluanku juga semakin berdenyut. Akhirnya aku tidak tahan, dan kembali ke ruang keluarga. Ternyata posisi tidur Nabilah sudah berubah, dan dia sekarang telentang, dengan kaki kiri dilipat keatas, sehingga dasternya tersingkap sekali, dan celana dalam bagian bawahnya kelihatan. Celana dalamnya berwarna putih, agak tipis dan berenda, sehingga bulu-bulunya membayang di bawahnya. Aku sampai tertegun melihatnya. Kemaluanku tegak sekali di balik celana pendekku. Buah dadanya naik turun teratur sesuai dengan nafasnya, membuat kemaluanku semakin berdenyut. Ketika sedang nikmat-nikmat memandangi, aku dengar suara mobil masuk ke halaman. Ternyata Om Andri sudah pulang. Aku pun cepat-cepat naik kekamarku, pura-pura tidur.

    sex (1)

    Dan aku memang ketiduran sampai agak sore, dan aku baru ingat kalau belum makan. Aku segera ke ruang makan dan makan sendirian. Keadaan rumah sangat sepi, mungkin Om dan Tante sedang tidur. Setelah makan aku naik lagi ke atas, dan membaca majalah yang baru kubeli. Sedang asyik membaca, tiba-tiba kamarku ada yang mengetuk, dan ternyata Nabilah.
    “Dodi, aku baru dibeliin kalkulator nih, entar aku diajarin yah cara makainya. Soalnya rada canggih sih”, katanya sambil menunjukkan kalkulator barunya.
    “Wah, ini kalkulator yang aku juga pengin beli nih. Tapi mahal. Iya deh, aku baca dulu manualnya. Entar aku ajarin deh, kayaknya sih tidak terlalu beda dengan komputer”, sahutku.

    “Ya sudah, dibaca dulu deh. Nabilah juga mau mandi dulu sih”, katanya sambil berlalu ke teras atas tempat menjemur handuk. Aku masih berdiri di pintu kamarku dan mengikuti Nabilah dengan pandanganku. Ketika mengambil handuk, badan Nabilah terkena sinar matahari dari luar rumah. Dan aku melihat bayangan badannya dengan jelas di balik dasternya. Aku jadi teringat pemandangan siang tadi waktu dia tidur. Kemudian sewaktu Nabilah berjalan melewatiku ke kamar mandi, aku pura-pura sedang membaca manual kalkulator itu. Tidak lama kemudian aku mulai mendengar suara Nabilah yang sedang mandi sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Kembali imajinasiku mulai membayangkan Nabilah yang sedang mandi, dan hal itu membuat kemaluanku agak tegang. Karena tidak tahan sendiri, aku segera mendekati kamar mandi dan mencari cara untuk mengintipnya, dan aku menemukannya. Aku mengambil kursi dan naik di atasnya untuk mengintip lewat celah ventilasi kamar mandi. Pelan-pelan aku mendekatkan mukaku ke celah itu, dan ya Tuhan… aku! Melihat Nabilah yang sedang menyabuni badannya, mengusap-usap dan meratakan sabun ke seluruh lekuk tubuhnya. Badannya sangat indah, jauh lebih indah dari yang kubayangkan. Lehernya yang putih, pundaknya, buah dadanya, putingnya yang kecoklatan, perutnya yang rata, pantatnya, bulu-bulu di sekitar kemaluannya, pahanya, semuanya sangat indah. Dan kemaluanku pun menjadi sangat tegang.Tapi aku tidak berlama-lama mengintipnya, karena selain takut ketahuan, juga aku merasa tidak enak mengintip orang mandi. Aku segera ke kamarku dan berusaha menenangkan perasaanku yang tidak karuan.

    sex (2)

    Malamnya sehabis makan, aku dan Om Andri sedang mengobrol sambil nonton TV, dan Om Andri bilang kalau besok mau keluar kota dengan istrinya seminggu. Dia pesan supaya aku membantu Nabilah kalau butuh bantuan. Tentu saja aku bersedia, malah jantungku menjadi berdebar-debar. Tidak lama kemudian Nabilah mendekati kita.
    “Dodi, tolongin aku dong, ajarin soal-soal yang buat ujian, ayo!” katanya sambil menarik-narik tanganku. Aku mana bisa menolak. Aku pun mengikuti Nabilah berjalan ke kamarnya dengan diiringi Om Andri yang senyum-senyum melihat Nabilah yang manja. Beberapa menit kemudian kita sudah terlibat dengan soal-soal yang memang butuh konsentrasi. Nabilah duduk sedangkan aku berdiri di sampingnya. Aku bersemangat sekali mengajarinya, karena kalau aku menunduk pasti belahan dada Nabilah kelihatan dari dasternya yang longgar. Aku lihat Nabilah tidak pakai beha. Kemaluanku berdenyut-denyut, tegak di balik celana dan kelihatan menonjol. Aku merasa bahwa Nabilah tahu kalau aku suka curi melihat buah dadanya, tapi dia tidak berusaha merapikan dasternya yang semakin terbuka sampai aku bisa melihat putingnya. Karena sudah tidak tahan, sambil pura-pura menjelaskan soal aku merapatkan badanku sampai kemaluanku menempel ke punggungnya. Nabilah pasti juga bisa merasakan kemaluanku yang tegak. Nabilah sekarang cuma diam saja dengan muka menunduk.

    “Nabilah, kamu cantik sekali..” kataku dengan suara yang sudah bergetar, tapi Nabilah diam saja dengan muka semakin menunduk. Kemudian aku meletakkan tanganku di pundaknya. Dan karena dia diam saja, aku jadi makin beNabilah mengusap-usap pundaknya yang terbuka, karena tali dasternya sangat kecil. Sementara kemaluanku semakin menekan pangkal lengannya, usapan tanganku pun semakin turun ke arah dadanya. Aku merasa nafas Nabilah sudah memburu seperti suara nafasku juga. Aku jadi semakin nekad. Dan ketika tanganku sudah sampai kepinggiran buah dada, tiba-tiba tangan Nabilah mencengkeram dan menahan tanganku. Mukanya mendongak kearahku.

    “Dodi aku mau diapain..” Rintihnya dengan suara yang sudah bergetar. Melihat mulutnya yang setengah terbuka dan agak bergetar-getar, aku jadi tidak tahan lagi. Aku tundukkan muka, kemudian mendekatkan bibirku ke bibirnya. Ketika bibir kita bersentuhan, aku merasakan bibirnya yang sangat hangat, kenyal, dan basah. Aku pun melumat bibirnya dengan penuh perasaan, dan Nabilah membalas ciumanku, tapi tangannya belum melepas tanganku. Dengan pelan-pelan badan Nabilah aku bimbing, aku angkat agar berdiri berhadapan denganku. Dan masih sambil saling melumat bibir, aku peluk badannya dengan gemas. Buah dadanya keras menekan dadaku, dan kemaluanku juga menekan perutnya.

    sex (3)

    Pelan-pelan lidahku mulai menjulur menjelajah ke dalam mulutnya, dan mengait-ngait lidahnya, membuat nafas Nabilah semakin memburu, dan tangannya mulai mengusap-usap punggungku. Tanganku pun tidak tinggal diam, mulai turun ke arah pinggulnya, dan kemudian dengan gemas mulai meremas-remas pantatnya. Pantatnya sangat empuk. Aku remas-remas terus dan aku semakin rapatkan kebadanku hingga kemaluanku terjepit perutnya. Tidak lama kemudian tanganku mulai ke atas pundaknya. Dengan gemetar tali dasternya kuturunkan dan dasternya turun ke bawah dan teronggok di kakinya. Kini Nabilah tinggal memakai celana dalam saja. Aku memeluknya semakin gemas, dan ciumanku semakin turun. Aku mulai menciumi dan menjilat-jilat lehernya, dan Nabilah mulai mengerang-erang. Tangannya mengelus-elus belakang kepalaku.

    Tiba-tiba aku berhenti menciuminya. Aku renggangkan pelukanku. Aku pandangi badannya yang setengah telanjang. Buah dadanya bulat sekali dengan puting yang tegak bergetar seperti menantangku. Kemudian mulutku pelan-pelan kudekatkan ke buah dadanya. Dan ketika mulutku menyentuh buah dadanya, Nabilah mengerang lagi lebih keras sambil mendongakkan kepalanya, dan menekan pantat dan dadanya ke arahku. Nafsuku semakin naik. Aku ciumi susunya dengan ganas, putingnya aku mainkan dengan lidahku, dan susunya yang sebelah aku mainkan dengan tanganku.

    “Aduuhh.. aahh.. aahh”, Nabilah semakin merintih-rintih ketika dengan gemas putingnya aku gigit-gigit sedikit. Badannya menggeliat-geliat membuatku semakin bernafsu untuk terus mencumbunya. Tangan Nabilah kemudian menelusup kebalik bajuku dan mengusap kulit punggungku.

    “Dodiii.. aahh.. baju kamu dibuka dong.. aahh..” Akupun mengikuti keinginannya. Tapi selain baju, celana juga kulepas, hingga aku juga cuma pakai celana dalam. Mulutnya kembali kucium dan tanganku memainkan susunya. Penisku semakin keras karena Nabilah menggesek-gesekkan pinggulnya sembari mengerang-erang. Tanganku mulai menyelinap ke celana dalamnya. Bulu kemaluannya aku usap-usap, dan kadang aku garuk-garuk. Aku merasa vaginanya sudah basah ketika jariku sampai ke mulut vaginanya. Dan ketika tanganku mulai mengusap clitorisnya, ciumannya di mulutku semakin liar. Mulutnya mengisap mulutku dengan keras. Clitorisnya kuusap, kuputar-putar, makin lama semakin kencang, dan semakin kencang. Pantat Nabilah ikut bergoyang, dan semakin rapat menekan, sehingga penisku semakin berdenyut. Sementara clitorisnya masih aku putar-putar, jariku yang lain juga mengusap bibir vaginanya. Nabilah menggelinjang semakin keras, dan pada saat tanganku mengusap semakin kencang, tiba-tiba tanganku dijepit dengan pahanya,dan badan Nabilah tegang sekali dan tersentak-sentak selama beberapa saat.

    sex (4) “aahh aahh Dodiii.. adduuuhh aahh aahh aahh”,
    Dan setelah beberapa saat akhirnya jepitannya berangsur semakin mengendur. Tapi mulutnya masih mengerang-erang dengan pelan.
    “Dod.. aku boleh yah pegang punya kamu”, tiba-tiba bisiknya di kupingku. Aku yang masih tegang sekali merasa senang sekali.
    “Iyaa.. boleh..” bisikku. Kemudian tangannya kubimbing ke celana dalamku.
    “Aahh…” Akupun mengerang ketika tangannya menyentuh penisku. Terasa nikmat sekali. Nabilah juga terangsang lagi, karena sambil mengusap-usap kepala penisku, mulutnya mengerang di kupingku. Kemudian mulutnya kucium lagi dengan ganas. Dan penisku mulai di genggam dengan dua tangannya, di urut-urut dan cairan pelumas yang keluar diratakan keseluruh batangku. Badanku semakin menegang. Kemudian penisku mulai dikocok-kocok, semakin lama semakin kencang, dan pantatnya juga ikut digesekkan kebadanku. Tidak lama kemudian aku merasa badanku bergetar, terasa ada aliran hangat di seluruh tubuhku, aku merasa aku sudah hampir orgasme.
    “Raannniii.. aku hampir keluar..” bisikku yang membuat genggamannya semakin erat dan kocokannya makin kencang.
    “Aahh.. Ranniii.. uuuhh.. aahh..” akhirnya dari penisku memancar cairan yang menyembur kemana-mana. Badanku tersentak-sentak. Sementara penisku masih mengeluarkan cairan, tangan Nabilah tidak berhenti mengurut-urut, sampai rasanya semua cairanku sudah diperas habis oleh tangannya. Aku merasa sperma yang mengalir dari sela-sela jarinya membuat Nabilah semakin gemas. Spermaku masih keluar untuk beberapa saat lagi sampai aku merasa lemas sekali.

    Akhirnya kita berdua jatuh terduduk di lantai. Dan tangan Nabilah berlumuran spermaku ketika dikeluarkan dari celana dalamku. Kita berpandangan, dan bibirnya kembali kukecup, sedangkan tangannya aku bersihkan pakai tissue. Dan secara kebetulan aku melihat ke arah jam.
    “Astaga, sekarang sudah jam 11! Wah, sudah malam sekali nih, aku ke kamarku dulu yah, takut Om curiga nanti..” kataku sembari berharap mudah-mudahan suara desahan kita tidak sampai ke kuping orang tuanya. Setelah Nabilah mengangguk, aku bergegas menyelinap ke kamarku.Malam itu aku tidur nyenyak sekali.

    Pagi itu aku bangun kesiangan, seisi rumah rupanya sudah pergi semua. Aku pun segera mandi dan berangkat ke kampus. Meskipun hari itu kuliah sangat padat, pikiranku tidak bisa konsentrasi sedikit pun, yang kupikirkan cuma Nabilah. Aku pulang ke rumah sekitar jam 3 sore, dan rumah masih sepi. Kemudian ketika aku sedang nonton TV di ruang keluarga sehabis ganti baju, Nabilah keluar dari kamarnya, sudah berpakaian rapi. Dia mendekat dan mukanya menunduk.
    “Dodi, kamu ada acara nggak? Temani aku nonton dong..”
    “Eh.. apa? Iya, iya aku tidak ada acara, sebentar yah aku ganti baju dulu” jawabku, dan aku buru-buru ganti baju dengan jantung berdebaran. Setelah siap, aku pun segera mengajaknya berangkat. Nabilah menyarankan agar kita pergi dengan mobilnya. Aku segera mengeluarkan mobil, dan ketika Nabilah duduk di sebelahku, aku baru sadar kalau dia pakai rok pendek, sehingga ketika duduk ujung roknya makin ke atas. Sepanjang perjalanan ke bioskop mataku tidak bisa lepas melirik kepahanya.

    Sesampainya di bioskop, aku beNabilahkan memeluk pinggangnya, dan Nabilah tidak menolak. Dan sewaktu mengantri di loket kupeluk dia dari belakang. Aku tahu Nabilah merasa penisku sudah tegang karena menempel di pantatnya. Nabilah meremas tanganku dengan kuat. Kita memesan tempat duduk paling belakang, dan ternyata yang menonton tidak begitu banyak, dan di sekeliling kita tidak ditempati. Kami segera duduk dengan tangan masih saling meremas. Tangannya sudah basah dengan keringat dingin, dan mukanya selalu menunduk. Ketika lampu mulai dipadamkan, aku sudah tidak tahan, segera kuusap mukanya, kemudian kudekatkan ke mukaku, dan kita segera berciuman dengan gemasnya. Lidahku dan lidahnya saling berkaitan, dan kadang-kadang lidahku digigitnya lembut. Tanganku segera menyelinap ke balik bajunya. Dan karena tidak sabar, langsung saja kuselinapkan ke balik behanya, dan susunya yang sebelah kiri aku remas dengan gemas. Mulutku langsung dihisap dengan kuat oleh Nabilah. Tanganku pun semakin gemas meremas susunya, memutar-mutar putingnya, begitu terus, kemudian pindah ke susu yang kanan, dan Nabilah mulai mengerang di dalam mulutku, sementara penisku semakin meronta menuntut sesuatu.

    Kemudian tanganku mulai mengelus pahanya, dan kuusap-usap dengan arah semakin naik ke atas, ke pangkal pahanya. Roknya kusingkap ke atas, sehingga sambil berciuman, di keremangan cahaya, aku bisa melihat celana dalamnya. Dan ketika tanganku sampai di selangkangannya, mulut Nabilah berpindah menciumi kupingku sampai aku terangsang sekali. Celana dalamnya sudah basah. Tanganku segera menyelinap ke balik celana dalamnya, dan mulai memainkan clitorisnya. Kuelus-elus pelan-pelan, kuusap dengan penuh perasaan, kemudian kuputar-putar, semakin lama semakin cepat. Tiba-tiba tangannya mencengkram tanganku, dan pahanya juga menjepit telapak tanganku, sedangkan kupingku digigitnya sambil mendesis-desis. Badannya tersentak-sentak beberapa saat.
    “Dodi.. aduuuhh.. aku tidak tahan sekali.. berhenti dulu yaahh.. nanti di rumah ajaa..” rintihnya. Aku pun segera mencabut tanganku dari selangkangannya.

    sex (5)“Dodi.. sekarang aku mainin punya kamu yaahh..” katanya sambil mulai meraba celanaku yang sudah menonjol. Kubantu dia dengan kubuka ritsluiting celana, kemudian tangannya menelusup, merogoh, dan ketika akhirnya menggenggam penisku, aku merasa nikmat luar biasa. Penisku ditariknya keluar celana, sehingga mengacung tegak.
    “Dodi.. ini sudah basah.. cairannya licin..” rintihnya di kupingku sambil mulai digenggam dengan dua tangan. Tangan yang kiri menggenggam pangkal penisku, sedangkan yang kanan ujung penisku dan jari-jarinya mengusap-usap kepala penis dan meratakan cairannya.
    “Nabilah.. teruskan sayang..” kataku dengan ketegangan yang semakin menjadi-jadi. Aku merasa penisku sudah keras sekali. Nabilah meremas dan mengurut penisku semakin cepat. Aku merasa spermaku sudah hampir keluar. Aku bingung sekali karena takut kalau sampai keluar bakal muncrat kemana-mana.
    “Nabilah.. aku hampir keluar nih.., berhenti dulu deh..” kataku dengan suara yang tidak yakin, karena masih keenakan.
    “Waahh.. Nabilah belum mau berhenti.. punya kamu ini bikin aku gemes..” rengeknya.
    “Terus gimana.., apa enaknya kita pulang saja yuk..!” ajakku, dan ketika Nabilah mengangguk setuju, segera kurapikan celanaku, juga pakaian Nabilah, dan segera kita keluar bioskop meskipun filmnya belum selesai. Di mobil tangan Nabilah kembali mengusap-usap celanaku. Dan aku diam saja ketika dia buka ritsluitingku dan menelusupkan tangannya mencari penisku. Aduh, rasanya nikmat sekali. Dan penisku makin berdenyut ketika dia bilang, “Nanti aku boleh yah nyiumin ininya yah..” Aku pengin segera sampai kerumah.

    Dan, akhirnya sampai juga. Kita berjalan sambil berpelukan erat-erat. Sewaktu Nabilah membuka pintu rumah, dia kupeluk dari belakang, dan kuciumi samping lehernya. Tanganku sudah menyingkapkan roknya ke atas, dan tanganku meremas pinggul dan pantatnya dengan gemas. Nabilah kubimbing ke ruang keluarga. Sambil berdiri kuciumi bibirnya, kulumat habis mulutnya, dan dia membalas dengan sama gemasnya. Pakaiannya kulucuti satu persatu sambil tetap berciuman. Sambil melepas bajunya, aku mulai meremasi susunya yang masih dibalut beha. Dengan tak sabar behanya segera kulepas juga. Kemudian roknya, dan terakhir celana dalamnya juga kuturunkan dan semuanya teronggok di karpet.

    Badannya yang telanjang kupeluk erat-erat. Ini pertama kalinya aku memeluk seorang gadis dengan telanjang bulat. Dan gadis ini adalah Nabilah yang sering aku impikan tapi tidak terbayangkan untuk menyentuhnya. Semuanya sekarang ada di depan mataku. Kemudian tangan Nabilah juga melepaskan bajuku, kemudian celana panjangku, dan ketika melepas celana dalamku, Nabilah melakukannya sambil memeluk badanku. Penisku yang sudah memanjang dan tegang sekali segera meloncat keluar dan menekan perutnya. Uuuhh, rasanya nikmat sekali ketika kulit kita yang sama-sama telanjang bersentuhan, bergesekan, dan menempel dengan ketat. Bibir kita saling melumat dengan nafas yang semakin memburu. Tanganku meremas pantatnya, mengusap punggungnya, mengelus pahanya, dan meremasi susunya dengan bergantian. Tangan Nabilah juga sudah menggenggam dan mengelusi penisku. Badan Nabilah bergelinjangan, dan dari mulutnya keluar rintihan yang semakin membangkitkan birahiku. Karena rumah memang sepi, kita jadi mengerang dengan bebas.

    Kemudian sambil tetap meremasi penisku, Nabilah mulai merendahkan badannya, sampai akhirnya dia berlutut dan mukanya tepat di depan selangkanganku. Matanya memandangi penisku yang semakin keras di dalam genggamannya, dan mulutnya setengah terbuka. Penisku terus dinikmati, dipandangi tanpa berkedip, dan rupanya makin membuat nafsunya memuncak. Mulutnya perlahan mulai didekatkan ke kepala penisku. Aku melihatnya dengan gemas sekali. Kepalaku sampai terdongak ketika akhirnya bibirnya mengecup kepala penisku. Tangannya masih menggenggam pangkal penisku, dan mengelusnya pelan-pelan. Mulutnya mulai mengecupi kepala penisku berulang-ulang, kemudian memakai lidahnya untuk meratakan cairan penisku. Lidahnya memutar-mutar, kemudian mulutnya mulai mengulum dengan lidah tetap memutari kepala penisku. Aku semakin mengerang, dan karena tidak tahan, kudorong penisku sampai terbenam kemulutnya. Aku rasa ujungnya sampai ketenggorokannya. Rasanya nikmat sekali. Kemudian pelan-pelan penisku disedot-sedot dan dimaju mundurkan di dalam mulutnya. Rambutnya kuusap-usap dan kadang-kadang kepalanya aku tekan-tekan agar penisku semakin nikmat. Isapan mulutnya dan lidahnya yang melingkar-lingkar membuat aku merasa sudah tidak tahan. Apalagi sewaktu Nabilah melakukannya semakin cepat, dan semakin cepat, dan semakin cepat.

    Ketika akhirnya aku merasa spermaku mau muncrat, segera kutarik penisku dari mulutnya. Tapi Nabilah menahannya dan tetap menghisap penisku. Maka aku pun tidak bisa menahan lebih lama lagi, spermaku muncrat di dalam mulutnya dengan rasa nikmat yang luar biasa. Spermaku langsung ditelannya dan dia terus menghisapi dan menyedot penisku sampai spermaku muncrat berkali-kali. Badanku sampai tersentak-sentak merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Meskipun spermaku sudah habis, mulut Nabilah masih terus menjilat. Akupun akhirnya tidak kuat lagi berdiri dan akhirnya dengan nafas sama-sama tersengal-sengal kita berbaring di karpet dengan mata terpejam.
    “Thanks ya Bil, tadi itu nikmat sekali”, kataku berbisik.
    “Ah.. aku juga suka kok.., makasih juga kamu ngebolehin aku mainin kamu.”
    Kemudian ujung hidungnya kukecup, matanya juga, kemudian bibirnya. Mataku memandangi tubuhnya yang terbaring telanjang, alangkah indahnya. Pelan-pelan kuciumi lehernya, dan aku merasa nafsu kami mulai naik lagi. Kemudian mulutku turun dan menciumi susunya yang sebelah kanan sedangkan tanganku mulai meremas susu yang kiri. Nabilah mulai menggeliat-geliat, dan erangannya membuat mulut dan tanganku tambah gemas memainkan susu dan putingnya. Aku terus menciumi untuk beberapa saat, dan kemudian pelan-pelan aku mulai mengusapkan tanganku keperutnya, kemudian ke bawah lagi sampai merasakan bulu kemaluannya, kuelus dan kugaruk sampai mulutnya menciumi kupingku. Pahanya mulai aku renggangkan sampai agak mengangkang. Kemudian sambil mulutku terus menciumi susunya, jariku mulai memainkan clitorisnya yang sudah mulai terangsang juga. Cairan vaginanya kuusap-usapkan ke seluruh permukaan vaginanya, juga ke clitorisnya, dan semakin licin clitoris dan vaginanya, membuat Nabilah semakin menggelinjang dan mengerang. clitorisnya kuputar-putar terus, juga mulut vaginanya bergantian.

    “Ahh.. Dodiii.. aahh.. terusss… aahh.. sayaanggg..” mulutnya terus meracau sementara pinggulnya mulai bergoyang-goyang. Pantatnya juga mulai terangkat-angkat. Aku pun segera menurunkan kepalaku ke arah selangkangannya, sampai akhirnya mukaku tepat di selangkangannya. Kedua kakinya kulipat ke atas, kupegangi dengan dua tanganku dan pahanya kulebarkan sehingga vagina dan clitorisnya terbuka di depan mukaku. Aku tidak tahan memandangi keindahan vaginanya. Lidahku langsung menjulur dan mengusap clitoris dan vaginanya. Cairan vaginanya kusedot-sedot dengan nikmat. Mulutku menciumi mulut vaginanya dengan ganas, dan lidahku kuselip-selipkan ke lubangnya, kukait-kaitkan, kugelitiki, terus begitu, sampai pantatnya terangkat, kemudian tangannya mendorong kepalaku sampai aku terbenam di selangkangannya. Aku jilati terus, clitorisnya kuputar dengan lidah, kuhisap, kusedot, sampai Nabilah meronta-ronta. Aku merasa penisku sudah tegak kembali, dan mulai berdenyut-denyut.

    “Dodii.. aku tidak tahan.. aduuhh.. aahh.. enaakk sekaliii.. ” rintih Nabilah berulang-ulang.

    Mulutku sudah berlumuran cairan vaginanya yang semakin membuat nafsuku tidak tertahankan. Kemudian kulepaskan mulutku dari vaginanya. Sekarang giliran penisku kuusap-usapkan ke clitoris dan bibir vaginanya, sambil aku duduk mengangkang juga. Pahaku menahan pahanya agar tetap terbuka. Rasanya nikmat sekali ketika penisku digeser-geserkan di vaginanya. Nabilah juga merasakan hal yang sama, dan sekarang tangannya ikut membantu dan menekan penisku digeser-geserkan di clitorisnya.
    “Nabilahii.. aahh.. enakkk.. aahh..”
    “aahh.. iya.. eeennaakkk sekaliii..”
    Kita saling merintih. Kemudian karena penisku semakin gatal, aku mulai menggosokkan kepala penisku ke mulut vaginanya. Nabilah semakin menggelinjang. Akhirnya aku mulai mendorong pelan sampai kepala penisku masuk ke vaginanya.
    “Aduuuhh.. Dodii.. saakiiitt.. aadduuuhh.. jaangaann..” rintihnya
    “Tahan dulu sebentar… Nanti juga hilang sakitnya..” kataku membujuk
    Kemudian pelan-pelan penisku aku keluarkan, kemudian kutekan lagi, kukeluarkan lagi, kutekan lagi, kemudian akhirnya kutekan lebih dalam sampai masuk hampir setengahnya. Mulut Nabilah sampai terbuka tapi sudah tidak bisa bersuara.

    Punggungnya terangkat dari karpet menahan desakan penisku. Kemudian pelan-pelan kukeluarkan lagi, kudorong lagi, kukeluarkan lagi, terus sampai dia tenang lagi. Akhirnya ketika aku mendorong lagi kali ini kudorong sampai amblas semuanya ke dalam. Kali ini kita sama-sama mengerang dengan keras. Badan kita berpelukan, mulutnya yang terbuka kuciumi, dan pahanya menjepit pinggangku dengan keras sekali sehingga aku merasa ujung penisku sudah mentok ke dinding vaginanya. Kita tetap berpelukan dengan erat saling mengejang untuk beberapa saat lamanya. Mulut kami saling menghisap dengan kuat. Kita sama-sama merasakan keenakan yang tiada taranya. Setelah itu pantatnya sedikit demi sedikit mulai bergoyang, maka aku pun mulai menggerakkan penisku pelan-pelan, maju, mundur, pelan, pelan, semakin cepat, semakin cepat, dan goyangan pantat Nabilah juga semakin cepat.
    “Dodii.. aduuuhh.. aahh.. teruskan sayang.. aku hampir niihh..” rintihnya.
    “Iya.. nihh.. tahan dulu.. aku juga hampirr.. kita bareng ajaa..” kataku sambil terus menggerakkan penis semakin cepat. Tanganku juga ikut meremasi susunya kanan dan kiri. Penisku semakin keras, kuhunjam-hunjamkan ke dalam vaginanya sampai pantatnya terangkat dari karpet. Dan aku merasa vaginanya juga menguruti penisku di dalam. Penisku kutarik dan kutekan semakin cepat, semakin cepat.. dan semakin cepat.. dannn..”Raaniii.. aku mau keluar niihh..””Iyaa.. keluarin saja.. Nabilah juga keluar sekarang niiihh.”Aku pun menghunjamkan penisku keras-keras yang disambut dengan pantat Nabilah yang terangkat ke atas sampai ujung penisku menumbuk dinding vaginanya dengan keras. Kemudian pahanya menjepit pahaku dengan keras sehingga penisku makin mentok, tangannya mencengkeram punggungku. Vaginanya berdenyut-denyut. Spermaku memancar, muncrat dengan sebanyak-banyaknya menyirami vaginanya.
    “aahh… aahh.. aahh..” kita sama-sama mengerang, dan vaginanya masih berdenyut, mencengkeram penisku, sehingga spermaku berkali-kali menyembur. Pantatnya masih juga berusaha menekan-nekan dan memutar sehingga penisku seperti diperas. Kita orgasme bersamaan selama beberapa saat, dan sepertinya tidak akan berakhir. Pantatku masih ditahan dengan tangannya, pahanya masih menjepit pahaku erat-erat, dan vaginanya masih berdenyut meremas-remas penisku dengan enaknya sehingga sepertinya spermaku keluar semua tanpa tersisa sedikitpun.
    “aahh.. aahh.. aduuuhh…” Kita sudah tidak bisa bersuara lagi selain mengerang-erang keenakan.

    Ketika sudah mulai kendur, kuciumi Nabilah dengan penis masih di dalam vaginanya. Kita saling berciuman lagi untuk beberapa saat sambil saling membelai. Kuciumi terus sampai akhirnya aku menyadari kalau Nabilah sedang menangis. Tanpa berbicara kita saling menghibur. Aku menyadari bahwa selaput daranya telah robek karena penisku. Dan ketika penisku kucabut dari sela-sela vaginanya memang mengalir darah yang bercampur dengan spermaku. Kita terus saling membelai, dan Nabilah masih mengisak di dadaku, sampai akhirnya kita berdua tertidur kelelahan dengan berpelukan.

    Aku terbangun sekitar jam 11 malam, dan kulihat Nabilah masih terlelap di sampingku masih telanjang bulat. Segera aku bangun dan kuselimuti badannya pelan-pelan. Kemudian aku segera ke kamar mandi, kupikir shower dengan air hangat pasti menyegarkan. Aku membiarkan badanku diguyur air hangat berlama-lama, dan memang menyegarkan sekali. Waktu itu kupikir aku sudah mandi sekitar 20 menit, ketika aku merasa kaget karena ada sesuatu yang menyentuh punggungku. Belum sempat aku menoleh, badanku sudah dilingkari sepasang tangan. Ternyata Nabilah sudah bangun dan masuk ke kamar mandi tanpa kuketahui. Tangannya memelukku dari belakang, dan badannya merapat di punggungku.
    “Aku ikut mandi yah..?” katanya.
    Aku tidak menjawab apa-apa. Hanya tanganku mengusap-usap tangannya yang ada di dadaku, sambil menenangkan diriku yang masih merasa kaget. Sambil tetap memelukku dari belakang, Nabilah mengambil sabun dan mulai mengusapkannya di dadaku. Nafsuku mulai naik lagi, apalagi aku juga merasakan susunya yang menekan punggungku. Usapan tangan Nabilah mulai turun ke arah perutku, dan penisku mulai berdenyut dan berangsur menjadi keras. Tidak lama kemudian tangan Nabilah sampai di selangkanganku dan mulai mengusap penisku yang semakin tegak. Sambil menggenggam penisku, Nabilah mulai menciumi belakang leherku sambil mendesah-desah, dan badannya semakin menekan badanku. Selangkangan dan susunya mulai digesek-gesekkan ke pantat dan punggungku, dan tangannya yang menggenggam penisku mulai meremas-remas dan digerakkan ke pangkal dan kepala penisku berulang-ulang sehingga aku merasakan kenikmatan yang luar biasa.

    “Nabilahii oohh.. nikmat sekali sayang.”
    “Dodiii uuuhh”, erangnya sambil lidahnya semakin liar menciumi leherku. Aku yang sudah merasa gemas sekali segera menarik badannya, dan sekarang posisi kita berbalik. Aku sekarang memeluk badannya dari belakang, kemudian pahanya kurenggangkan sedikit, dan penisku diselinapkan di antara pahanya, dan ujungnya yang nongol di depan pahanya langsung di pegang lagi oleh Nabilah. Tangan kiriku segera meremasi susunya dengan gemas sekali, dan tangan kananku mulai meremasi bulu kemaluannya. Kemudian ketika jari tangan kananku mulai menyentuh clitorisnya, Nabilah pun mengerang semakin keras dan pahanya menjepit penisku, dan pantatnya mulai bergerak-gerak yang membuat aku semakin merasa nikmat. Mukanya menengok ke arahku, dan mulutnya segera kuhisap dengan keras. Lidah kami saling membelit, dan jari tanganku mulai mengelusi clitorisnya yang semakin licin. Kepala penisku juga mulai dikocok-kocok dengan lembut.
    “Nabilah aku tidak tahan nih aduuuhh.”
    “Iya Dod.. aku juga sudah tidak tahan.. uuuhh.. uuuhh.”
    Badan Nabilah segera kubungkukkan, dan kakinya kurenggangkan. Aku segera mengarahkan dan menempelkan ujung penisku ke arah bibir vaginanya yang sudah menganga lebar menantang.
    “Dodi.. cepat masukkan sayang cepat uuhh ayoo.” Aku yang sudah gemas sekali segera menekan penisku sekuat tenaga sehingga langsung amblas semua sampai ke dasar vaginanya. Nabilah menjerit keras sekali. Mukanya sampai mendongak.
    “aahh.. kamu kasar sekali.. aduuhh sakit aduuhh..” Aku yang sudah tidak sabar mulai menggerakkan penisku maju mundur, kuhunjam-hunjamkan dengan kasar yang membuat Nabilah semakin keras mengerang-erang. Susunya aku remas-remas dengan dua tanganku. Tidak lama kemudian Nabilah mulai menikmati permainan kita, dan mulai menggoyangkan pantatnya. Vaginanya juga mulai berdenyut meremasi penisku. Aku menjadi semakin kasar, dan penisku yang sudah keras sekali terus mendesak dasar vaginanya. Dan kalau penisku sedang maju membelah vaginanya, tanganku juga menarik pantatnya ke belakang sehingga penisku menghunjam dengan kuat sekali. Tapi tiba-tiba Nabilah melepaskan diri.
    “hh sekarang giliranku aku sudah hampir sampai.” katanya. Kemudian aku disuruh duduk selonjor di lantai di antara kaki Nabilah yang mulai menurunkan badannya. Penisku yang mengacung ke atas mulai dipegang Nabilah, dan di arahkan ke bibir vaginanya.

    Tiba-tiba Nabilah menurunkan badannya duduk di pangkuanku sehingga penisku langsung amblas ke dalam vaginanya. Kita sama-sama mengerang dengan keras, dan mulutnya yang masih menganga kuciumi dengan gemas. Kemudian pantatnya mulai naik turun, makin lama makin keras. Nabilah melakukannya dengan ganas sekali. Pantatnya juga diputar-putar sehingga aku merasa penisku seperti dipelintir.
    “Dodii.. aku.. aku.. sudah.. hampirrr, uuuhh…” Erangnya sambil terus menghunjam-hunjamkan pantatnya. Mulutku beralih dari mulutnya ke susunya yang bulat sekali. Putingnya kugigit-gigit, dan lidahku berputar menyapu permukaan susunya. Susunya kemudian kusedot dan kukenyot dengan keras, membuat gerakan Nabilah semakin liar. Tidak lama kemudian Nabilah menghunjamkan pantatnya dengan keras sekali dan terus menekan sambil memutar pantatnya.
    “Sekaranggg aahh sekaranggg Dodi, sekaranggg”, Nabilah berteriak-teriak sambil badannya berkelojotan. Vaginanya berdenyutan keras sekali. Mulutnya menciumi mulutku, dan tangannya memelukku sangat keras. Nabilah orgasme selama beberapa detik, dan setelah itu ketegangan badannya berangsur mengendur.
    “Dod, makasih yah.., sekarang aku pengin ngisep boleh yah..?” katanya sambil mengangkat pantatnya sampai penisku lepas dari vaginanya. Nabilah kemudian menundukkan mukanya dan segera memegang penisku yang sangat keras, berdenyut, dan ingin segera memuntahkan air mani. Mulutnya langsung menelan senjataku sampai menyentuh tenggorokannya. Tangannya kemudian mengocok pangkal penisku yang tidak muat di mulutnya. Kepalanya naik turun mengeluar-masukkan penisku. Aku benar-benar sudah tidak tahan. Ujung penisku yang sudah sampai di tenggorokannya masih aku dorong-dorong. Tanganku juga ikut mendesakkan kepalanya. Lidahnya memutari penisku yang ada dalam mulutnya. “Nabilahii isap terus terusss hampirr terusss yyyaa sekaranggg sekarangg.. issaapp..”, Nabilah yang merasa penisku hampir menyemburkan sperma semakin menyedot dengan kuat. Dan…”aahh.. sekaranggg.. sekaranggg.. issaappp..” spermaku menyembur dengan deras berkali-kali dengan rasa nikmat yang tidak berkesudahan. Nabilah dengan rakusnya menelan semuanya, dan masih menyedot sperma yang masih ada di dalam penis sampai habis. Nabilah terus menyedot yang membuat orgasmeku semakin nikmat. Dan setelah selesai, Nabilah masih juga menjilati penisku, spermaku yang sebagian tumpah juga masih di jilati.

    Kemudian setelah beristirahat beberapa saat, kami pun meneruskan mandi sambil saling menyabuni. Setiap lekuk tubuhnya aku telusuri. Dan aku pun semakin menyadari bahwa badannya sangat indah. Setelah itu kami tidur berdua sambil terus berpelukan.

    Pagi-pagi ketika aku bangun ternyata Nabilah sudah berpakaian rapi, dan dia cantik sekali. Dia mengenakan rok mini dan baju tanpa lengan yang serasi dengan kulitnya yang halus. Dia mengajakku belanja ke Mall karena persediaan makanan memang sudah habis. Maka aku pun segera mandi dan bersiap-siap.

    Di perjalanan dan selama berbelanja kita saling memeluk pinggang. Siang itu aku menikmati jalan berdua dengannya. Kita belanja selama beberapa jam, kemudian kita mampir ke sebuah Café untuk makan siang. Di dalam mobil dalam perjalanan pulang kita ngobrol-ngobrol tentang semua hal, dari masalah pelajaran sekolah sampai hal-hal yang ringan. Ketika ngobrol tentang sesuatu yang lucu, Nabilah tertawa sampai terpingkal-pingkal, dan saking gelinya sampai kakinya terangkat-angkat. Dan itu membuat roknya yang pendek tersingkap. Aku pun sembari menyetir, karena melihat pemandangan yang indah, meletakkan tanganku ke pahanya yang terbuka.
    “Ayo.. nakal yah..” kata Nabilah, bercanda.
    “Tapi suka kan?” kataku sambil meremas pahanya. Kami pun sama-sama tersenyum. Mengusap-usap paha Nabilah memang memberi sensasi tersendiri, sampai aku merasa penisku menjadi tegang sendiri.
    “Dodi.. sudah kamu nyetir saja dulu, tuh kan itunya sudah bangun.. pingin lagi yah? Nabilah jadi pengin ngelusin itunya nih..” kata Nabilah menggodaku. Aku cuma senyum menanggapinya, dan memang aku sudah kepingin mencumbunya lagi.
    “Dodi, bajunya dikeluarin dong dari celana, biar tanganku ketutupan. Dipegang yah?” Aku semakin nyengir mendengarnya. Tapi karena memang kepingin, dan memang lebih aman begitu dari pada aku yang meneruskan aksiku. Sambil menyetir aku pun mengeluarkan ujung bajuku dari celanaku. Kemudian tanpa menunggu, tangan Nabilah langsung menyelinap ke balik bajuku, ke arah selangkanganku. Tangannya mencari-cari penisku yang semakin tegang.

    “Ati-ati, masih siang nih, kalau ada orang nanti tangan kamu ditarik yah!” kataku. Nabilah diam saja, dan kemudian tersenyum ketika tangannya menemukan apa yang dicari-cari. Tangannya kemudian mulai meremas penisku yang masih di dalam celana. Penisku semakin tegang dan berdenyut-denyut. Karena terangsang juga, Nabilah mulai berusaha membuka ritsluiting celanaku, dan kemudian menyelinapkan tangannya, dan mulai memegang kepala penisku. Cairan pelumas yang mulai keluar diusap-usapkan ke kepala dan batang penisku.
    “Dodi.. aku pengin ngisep ininya.. aku pengin ngisep sampai kamu keluar dimulutku..” katanya sambil agak mendesah. Aku juga ingin segera merasakan apa yang dia ingini. Yang ada di otakku adalah segara sampai di rumah, dan segera mencumbunya.

    Tapi harapan kita ternyata tidak segera terwujud karena sesampainya di rumah, ternyata orang tua Nabilah sudah pulang. Kita cuma saling berpandangan dan tersenyum kecewa.
    “Eh, sudah pada pulang yah..” Nabilah menyapa mereka.
    “Iya nih, ada perubahan acara mendadak. Makanya sekarang cape banget. Nanti malem ada undangan pesta, makanya sekarang mau istirahat dulu. Kamu masak dulu saja ya sayang.. sudah belanja kan?” kata maminya Nabilah.
    “Iya deh, sebentar Nabilah ganti baju dulu. Eh, Dodi, katanya kamu pengin belajar masak, ayo, sekalian bantuin aku”, kata Nabilah sambil tersenyum penuh arti. Aku cuma mengiyakan dan ke kamarku ganti pakaian dengan celana pendek dan T-shirt. Kemudian aku ke dapur dan mengeluarkan belanjaan dan memasukkannya ke lemari es. Tidak lama kemudian Nabilah menyusul ke dapur. Dia pun sudah berganti pakaian, dan sekarang memakai daster kembang-kembang. Tante juga ikut-ikutan menyiapkan bahan makanan dan Nabilah mulai mengajariku memasak.
    “Sudah Mami istirahat saja sana, kan ini juga sudah ada yang ngebantuin..” kata Nabilah.
    “Iya deh, emang Mami cape banget sih, sudah yah, Mami mau coba istirahat saja”, kata Maminya Nabilah sambil keluar dari dapur. Aku yang sedang memotongi sayuran cuma tersenyum. Setelah beberapa saat, Nabilah tiba-tiba memelukku dari belakang, tangannya langsung ditelusupkan ke dalam celanaku dan memegang penisku yang masih tidur.

    “Eh.. kok ininya bobo lagi.. Nabilah bangunin yah?” tangannya dikeluarkan kemudian Nabilah mengambil salad dressing yang ada di depanku, masih sambil merapatkan badannya dari belakangku. Kemudian salad dressingnya dituangkan ke tangannya, dan langsung menyelinap lagi ke celana dan dioleskan ke penisku yang langsung menegang. Sambil merapatkan badannya, susunya menekan punggungku, Nabilah mulai meremasi penisku dengan dua tangannya. Nikmat yang aku rasakan sangat luar biasa. Aku segera melingkarkan tangan ke belakang, meremas pantatnya yang bulat itu. Tanganku aku turunkan sampai ke ujung dasternya, kemudian kusingkapkan ke atas sambil meremas pahanya dengan gemas. Ketika sampai di pangkal pahanya, aku baru menyadari kalau Nabilah ternyata sudah tidak memakai celana dalam. Maka tanganku menjadi semakin gemas meremasi pantatnya, dan kemudian menelusuri pahanya ke depan sampai ke selangkangannya. Jari-jariku segera membuka belahan vaginanya dan mulai memainkan clitorisnya yang sudah sangat basah terkena cairan yang semakin banyak keluar dari vaginanya. Tangan Nabilah juga semakin liar meremas, meraba dan mengocok penisku.
    “Nabilah.. sana diliat dulu, apa Om dan Tante memang sudah tidur..” kataku berbisik karena merasa agak tidak aman. Nabilah kemudian melepaskan pegangannya dan keluar dapur.

    Tidak lama kemudian Nabilah kembali dan bilang semuanya sudah tidur. Aku segera memeluk Nabilah yang masih ada di pintu dapur, kemudian pelan-pelan pintu kututup dan Nabilah kupepet ke dinding. Kita berciuman dengan gemasnya dan tangan kita langsung saling menelusup dan memainkan semua yang ditemui. Penisku langsung ditarik keluar oleh Nabilah dan aku segera menyingkap dasternya ke atas, kemudian kaki kirinya kuangkat ke pinggulku, dan selangkangannya yang menganga langsung kuserbu dengan jari-jariku. Tangan Nabilah menuntun penisku ke arah selangkangannya, menyentuhkan kepala penisku ke belahan vaginanya dan terus-terusan menggosok-gosokkannya. Untuk mencegah agar Nabilah tidak mengerang, mulutnya terus kusumbat dengan mulutku. Kemudian karena sudah tidak tahan, aku segera mengarahkan penisku tepat ke mulut vaginanya, dan menekan pelan-pelan, terus ditekan, terus ditekan sampai seluruh batangnya amblas. Kaki Nabilah satunya segera kuangkat juga ke pinggangku, sehingga sekarang dua kakinya melingkari pinggangku sambil kupepet di dinding. Kita saling mengadu gerakan, aku maju-mundurkan penisku, dan Nabilah berusaha menggoyang-goyangkan pantatnya juga. Vaginanya berdenyutan terasa meremasi batang penisku. Tidak lama kemudian aku merasa Nabilah hampir orgasme. Denyutan vaginanya semakin keras, badannya semakin tegang dan isapan mulutnya di mulutku semakin kuat. Kemudian aku merasa Nabilah orgasme. Kontraksi otot vaginanya membuat penisku merasa seperti diurut-urut dan aku juga merasa hampir mencapai orgasme. Setelah orgasme, gerakan Nabilah tidak liar lagi, dia cuma mengikuti gerakan pantatku yang masih menghunjam-hunjamkan penisku dan mendesakkan badannya ke dinding.

    Kemudian sementara penisku masih di dalam dan kaki Nabilah masih di pinggangku, aku melangkah ke arah meja dapur dan duduk di salah satu kursi, sehingga sekarang Nabilah ada di pangkuanku dengan punggung menyandar di meja dapur. Selama beberapa saat kita cuma berdiam diri saja. Nabilah masih menikmati sisa kenikmatan orgasmenya dan menikmati penisku yang masih di dalam vaginanya. Sementara aku menikmati sekali posisi ini, dan menikmati melihat Nabilah ada di pangkuanku. Tanganku mengusap-usap pahanya dan menyingkapkan dasternya ke atas sampai melihat bulu kemaluan kami yang saling menempel. Belahan vaginanya kubuka dan aku melihat pemandangan yang sangat indah. Penisku hanya kelihatan pangkalnya karena seluruh batangnya masih di dalam vagina Nabilah, dan di atasnya aku melihat clitorisnya yang sangat basah. Jari-jariku mulai mengusap-usap clitorisnya sampai Nabilah mulai mendesis-desis lagi, dan pantatnya mulai bergerak lagi, berputar dan mendesakkan penisku menjadi semakin masuk. Aku merasa vaginanya mulai berdenyutan lagi meremas-remas penisku. Karena gemas, kadang-kadang clitorisnya kupelintir dan kucubit-cubit.

    Kemudian dasternya kusingkap semakin ke atas sampai aku melihat susunya yang menantangku untuk segera memainkannya. Dengan tak sabar segera susunya yang kiri kulumat dengan mulutku, yang membuat kepala Nabilah mendongak merasakan kenikmatan itu. Sambil melumati susunya, lidahku juga memainkan putingnya yang sudah sangat tegang. Kadang-kadang putingnya juga kugigit-gigit kecil dengan gemas. Tanganku dua-duanya meremasi pantatnya yang bulat.
    “Ya Tuhan Dodiii aahh aahh”, rintihnya di kupingku, sambil kadang menjilati dan menggigit kupingku.
    “Dodii.. aahh.. aku hampir dapet lagii.. ahh.., terus gitu sayang”, rintihnya dengan gerakan yang semakin liar. Pantatnya semakin keras menekan dan berputaran, yang membuat penisku juga seperti dipelintir dengan lembut. Aku pun menuruti dan terus memberikan kenikmatan dengan terus memainkan susunya bergantian yang kiri dan kanan, dan tanganku juga ikut memainkan puting susunya, sampai Nabilah tiba-tiba menggigit kupingku dengan keras dan setelah menghentakkan pantatnya dia memelukku dengan eratnya.
    “hh Dodddiii.. hh. hh.” Aku merasakan Nabilah orgasme untuk kedua kalinya dan lebih hebat dari yang pertama. Denyutan vaginanya keras sekali dan berlangsung selama beberapa detik, dan kenikmatan yang aku rasakan membuatku merasa sudah hampir orgasme. Tapi setelah orgasme, ternyata Nabilah masih ingat keinginannya untuk menghisap penisku.
    “Dodi.. jangan dikeluarin dulu.. nanti di mulutku saja yah”. Maka setelah turun dari pangkuanku, Nabilah segera jongkok di depanku dan langsung mengulum penisku. Lidahnya memutari batangnya dan mulutnya menyedot-nyedot membuat aku merasa orgasmeku sudah sangat dekat. Tanganku memegang belakang kepala Nabilah, dan kutekan agar penisku semakin masuk di mulutnya, kemudian aku juga membantu memasuk-keluarkan penisku di mulutnya, dan
    “aahh Nabilah aku keluarrr terus isaappp.. aahh..” dan memang Nabilah dengan lahapnya terus menghisap spermaku yang langsung berhamburan masuk ke tenggorokannya. Penisku yang masih mengeluarkan sperma terus disedot dan dikenyot-kenyot dan pangkal penisku juga terus-terusan dikocok-kocok. Orgasmeku kali ini kurasakan sangat luar biasa.

    Setelah itu kita kembali berciuman, dan kembali meneruskan memasak.
    “Dodi.. makasih yah, tapi aku belum puas, habis kurang bebas sih, entar malem lagi yah..!” aku yang merasa hal yang sama cuma mengangguk.
    “Ran, aku nanti malem pengin menikmati seluruh tubuhmu.”
    “Maksudmu..? apa selama ini belum?”
    “Aku pengin melakukan hal yang lain sama kamu.., tunggu saja..”
    “Ihh.. apaan sih.., Nabilah jadi merinding nih”, kata Nabilah sambil memperlihatkan bulu-bulu tangannya yang memang berdiri, dan sambil tersenyum aku mengelusi tangannya. Kemudian badannya kupeluk dari belakang dengan lembut. Aku merasa bahagia sekali.
    dan pada akhirnya akupun menjalin hubungan dengan Nabilah hingga kuliahku selesai

  • Ngentot dengan Tante yang Montok

    Ngentot dengan Tante yang Montok


    3051 views

    Cerita Dewasa Sex | Ngentot dengan Tante yang Montok

    Sejak setelah menikah, ibu tinggal di rumah kecil kami beberapa  bulan sambil menunggu bangunan rumah baru mereka selesai. Lagi-lagi,  rumah baru mereka tidak jauh dari bengkel ayah. Ayah menolak tinggal di  rumah tante Tina karena alasan pribadi ayah. Setelah banyak process yang  dilakukan antara ayah dan ibu, akhirnya bengkel tempat ayah bekerja,  kini menjadi milik ayah dan ibu sepenuhnya.

    Ayah pernah memohon  kepada ibu agar dia ingin tetap dapat bekerja di bengkel, dan terang  saja bengkel itu langsung ibu putuskan untuk dibeli saja. Maklum ibu  adalah ‘business-minded person’. Aku semakin sayang dengan ibu, karena  pada akhirnya cita-cita ayah untuk memiliki bengkel sendiri terkabulkan.  Kini bengkel ayah makin besar setelah ibu ikut berperan besar di sana.  Banyak renovasi yang mereka lakukan yang membuat bengkel ayah tampak  lebih menarik.

    Pelanggan ayah makin bertambah, dan kali ini  banyak dari kalangan orang-orang kaya. Ayah tidak memecat  pegawai-pegawai lama di sana, malah menaikkan gaji mereka dan  memperlakukan mereka seperti saat dia diperlakukan oleh pemilik bengkel  yang lama.

    Kehidupan dan gaya hidupku & ayah benar-benar  berubah 180 derajat. Kini ayah sering melancong ke luar negeri bersama  ibu, dan aku sering ditinggal di rumah sendiri dengan pembantu. Alasan  aku ditinggal mereka karena aku masih harus sekolah.

    Ibu sering  mengundang teman-teman lamanya bermain di rumah. Salah satu temannya  bernama tante Ani. Tante Ani saat itu hanya 15 tahun lebih tua dariku.  Semestinya dia pantas aku panggil kakak daripada tante, karena wajahnya  yang masih terlihat seperti orang berumur 20 tahunan. Tanti Ani adalah  pelanggan tetap salon kecantikan ibu, dan kemudian menjadi teman baik  ibu.

    Wajah tante Ani tergolong cantik dengan kulitnya yang putih  bersih. Dadanya tidak begitu besar, tapi pinggulnya indah bukan main.  Maklum anak orang kaya yang suka tandang ke salon kecantikan. Tante Ani  sering main ke rumah dan kadang kala ngobrol atau gossip dengan ibu  berjam-jam. Tidak jarang tante Ani keluar bersama kami sekeluarga untuk  nonton bioskop, window shopping atau ngafe di mall.

    Aku pernah  sempat bertanya tentang kehidupan pribadi tante Ani. Ibu bercerita bahwa  tante Ani itu bukanlah janda cerai atau janda apalah. Tapi tante Ani  sempat ingin menikah, tapi ternyata pihak dari laki-laki memutuskan  untuk mengakhiri pernikahan itu. Alasan-nya tidak dijelaskan oleh ibu,  karena mungkin aku masih terlalu muda untuk mengerti hal-hal seperti  ini.

    Pada suatu hari ayah dan ibu lagi-lagi cabut dari rumah.  Tapi kali ini mereka tidak ke luar negeri, tapi hanya melancong ke kota  Bandung saja selama akhir pekan. Lagi-lagi hanya aku dan pembantu saja  yang tinggal di rumah. Saat itu aku ingin sekali kabur dari rumah, dan  menginap di rumah teman. Tiba-tiba bel rumah berbunyi dan waktu itu  masih jam 5:30 sore di hari Sabtu. Ayah dan ibu baru 1/2 jam yang lalu  berangkat ke Bandung. Aku pikir mereka kembali ke rumah mengambil barang  yang ketinggalan.

     

    Sewaktu pintu rumah dibuka oleh pembantu,  suara tante Ani menyapanya. Aku hanya duduk bermalas-malasan di sofa  ruang tamu sambil nonton acara TV. Tiba-tiba aku disapanya.

    “Bernas kok ngga ikut papa mama ke Bandung?” tanya tante Ani.
    “Kalo ke Bandung sih Bernas malas, tante. Kalo ke Singapore Bernas mau ikut.” jawabku santai.
    “Yah kapan-kapan aja ikut tante ke Singapore. Tante ada apartment di sana” tungkas tante Ani.
    Aku  pun hanya menjawab apa adanya “Ok deh. Ntar kita pigi rame-rame aja.  Tante ada perlu apa dengan mama? Nyusul aja ke Bandung kalo penting.”.
    “Kagak  ada sih. Tante cuman pengen ajak mamamu makan aja. Yah sekarang tante  bakalan makan sendirian nih. Bernas mau ngga temenin tante?”.
    “Emang tante mau makan di mana?”
    “Tante sih mikir Pizza Hut.”
    “Males ah ogut kalo Pizza Hut.”
    “Trus Bernas maunya pengen makan apa?”
    “Makan di Muara Karang aja tante. Di sono kan banyak pilihan, ntar kita pilih aja yang kita mau.”
    “Oke deh. Mau cabut jam berapa?”
    “Entaran aja tante. Bernas masih belon laper. Jam 7 aja berangkat. Tante duduk aja dulu.”

    Kami  berdua nonton bersebelahan di sofa yang empuk. Sore itu tante Ani  mengenakan baju yang lumayan sexy. Dia memakai rok ketat sampai 10 cm di  atas lutut, dan atasannya memakai baju berwarna orange muda tanpa  lengan dengan bagian dada atas terbuka (kira-kira antara 12 sampai 15cm  kebawah dari pangkal lehernya). Kaki tante Ani putih mulus, tanpa ada  bulu kaki 1 helai pun. Mungkin karena dia rajin bersalon ria di salon  ibu, paling tidak seminggu 2 kali. Bagian dada atasnya juga putih mulus.  Kami nonton TV dengan acara/channel seadanya saja sambil menunggu  sampai jam 7 malam. Kami juga kadang-kadang ngobrol santai, kebanyakan  tante Ani suka bertanya tentang kehidupan sekolahku sampai menanyakan  tentang kehidupan cintaku di sekolah. Aku mengatakan kepada tante Ani  bahwa aku saat itu masih belum mau terikat dengan masalah percintaan  jaman SMA. Kalo naksir sih ada, cuma aku tidak sampai mengganggap  terlalu serius.

    Semakin lama kami berbincang-bincang, tubuh tante  Ani semakin mendekat ke arahku. Bau parfum Chanel yg dia pakai mulai  tercium jelas di hidungku. Tapi aku tidak mempunyai pikiran apa-apa saat  itu.

    Tiba-tiba tante Ani berkata, “Bernas, kamu suka dikitik-kitik ngga kupingnya?”.
    “Huh? Mana enak?” tanyaku.
    “Mau tante kitik kuping Bernas?” tante Ani menawarkan/
    “Hmmm…boleh aja. Mau pake cuttonbud?” tanyaku sekali lagi.
    “Ga usah, pake bulu kemucing itu aja” tundas tante Ani.
    “Idih jorok nih tante. Itu kan kotor. Abis buat bersih-bersih ama mbak.” jawabku spontan.
    “Alahh  sok bersihan kamu Bernas. Kan cuman ambil 1 helai bulunya aja. Lagian  kamu masih belum mandi kan? Jorok mana hayo!” tangkas tante Ani.
    “Percaya tante deh, kamu pasti demen. Sini baring kepalanya di paha tante.” lanjutnya.

    Seperti  sapi dicucuk hidungnya, aku menurut saja dengan tingkah polah tante  Ani. Ternyata memang benar adanya, telinga ‘dikitik-kitik’ dengan bulu  kemucing benar-benar enak tiada tara. Baru kali itu aku merasakan  enaknya, serasa nyaman dan pengen tidur aja jadinya. Dan memang benar,  aku jadi tertidur sampe sampai jam sudah menunjukkan pukul 7 lewat.  Suara lembut membisikkan telingaku.

    “Bernas, bangun yuk. Tante dah laper nih.” kata tante.
    “Erghhhmmm … jam berapa sekarang tante.” tanyaku dengan mata yang masih setengah terbuka.
    “Udah  jam 7 lewat Bernas. Ayo bangun, tante dah laper. Kamu dari tadi asyik  tidur tinggalin tante. Kalo dah enak jadi lupa orang kamu yah.” kata  tante sambil mengelus lembut rambutku.
    “Masih ngantuk nih tante … makan di rumah aja yah? Suruh mbak masak atau beli mie ayam di dekat sini.”
    “Ahhh ogah, tante pengen jalan-jalan juga kok. Bosen dari tadi bengong di sini.”
    “Oke oke, kasih Bernas lima menit lagi deh tante.” mintaku.
    “Kagak boleh. Tante dah laper banget, mau pingsan dah.”

     

    Sambil  malas-malasan aku bangun dari sofa. Kulihat tante Ani sedang  membenarkan posisi roknya kembali. Alamak gaya tidurku kok jelek sekali  sih sampe-sampe rok tante Ani tersingkap tinggi banget. Berarti dari  tadi aku tertidur di atas paha mulus tante Ani, begitulah aku berpikir.  Ada rasa senang juga di dalam hati.

    Setelah mencuci muka, ganti  pakaian, kita berdua berpamitan kepada pembantu rumah kalau kita akan  makan keluar. Aku berpesan kepada pembantu agar jangan menunggu aku  pulang, karena aku yakin kita pasti bakal lama. Jadi aku membawa kunci  rumah, untuk berjaga-jaga apabila pembantu rumah sudah tertidur.

    “Nih kamu yang setir mobil tante dong.”
    “Ogah  ah, Bernas cuman mau setir Baby Benz tante. Kalo yang ini males ah.”  candaku. Waktu itu tante Ani membawa sedan Honda, bukan Mercedes-nya.
    “Belagu banget kamu. Kalo ngga mau setir ini, bawa itu Benz-nya mama.” balas tante Ani.
    “No way … bisa digantung ogut ama papa mama.” jawabku.
    “Iya udah kalo gitu setir ini dong.” jawab tante Ani sambil tertawa kemenangan.

    cerita sex,cerita dewasa,cerita mesum,cerita ngentot, ngentot artis, cerita bokep, Cerita panas
    Mobil  melaju menyusuri jalan-jalan kota Jakarta. Tante Ani seperti bebek  saja, ngga pernah stop ngomong and gossipin teman-temannya. Aku jenuh  banget yang mendengar. Dari yang cerita pacar teman-temannya lah, sampe  ke mantan tunangannya. Sesampai di daerah Muara Karang, aku memutuskan  untuk makan bakmi bebeknya yang tersohor di sana. Untung tante Ani tidak  protes dengan pilihan saya, mungkin karena sudah terlalu lapar dia.

    Setelah  makan, kita mampir ke tempat main bowling. Abis main bowling tante Ani  mengajakku mampir ke rumahnya. Tante Ani tinggal sendiri di apartemen di  kawasan Taman Anggrek. Dia memutuskan untuk tinggal sendiri karena  alasan pribadi juga. Ayah dan ibu tante Ani sendiri tinggal di Bogor.  Saat itu aku tidak tau apa pekerjaan sehari-hari tante Ani, yang tante  Ani tidak pernah merasa kekurangan materi.

    Apartemen tante Ani  lumayan bagus dengan tata interior yang classic. Di sana tidak ada  siapa-siapa yang tinggal di sana selain tante Ani. Jadi aku bisa maklum  apabila tante Ani sering keluar rumah. Pasti jenuh apabila tinggal  sendiri di apartemen.

    “Anggap rumah sendiri Bernas. Jangan malu-malu. Kalau mau minum ambil aja sendiri yah.”
    “Kalo begitu, Bernas mau yang ini.” sambil menunjuk botol Hennessy V.S.O.P yang masih disegel.
    “Kagak boleh, masih dibawah umur kamu.” cegah tante Ani.
    “Tapi Bernas dah umur 17 tahun. Mestinya ngga masalah” jawabku dengan bermaksud membela diri.
    “Kalo kamu memaksa yah udah. Tapi jangan buka yang baru, tante punya yang sudah dibuka botolnya.”.

    Tiba-tiba  suara tante Ani menghilang dibalik master bedroomnya. Aku menganalisa  ruangan sekitarnya. Banyak lukisan-lukisan dari dalam dan luar negeri  terpampang di dinding. Lukisan dalam negerinya banyak yang bergambarkan  wajah-wajah cantik gadis-gadis Bali. Lukisan yang berbobot tinggi, dan  aku yakin pasti bukan barang yang murahan.

    “Itu tante beli dari seniman lokal waktu tante ke Bali tahun lalu” kata tante Ani memecahkan suasana hening sebelumnya.
    “Bagus tante. High taste banget. Pasti mahal yah?!” jawabku kagum.
    “Ngga  juga sih. Tapi tante tidak pernah menawar harga dengan seniman itu,  karena seni itu mahal. Kalo tante tidak cocok dengan harga yang dia  tawarkan, tante pergi saja.”

    Aku masih menyibukkan diri mengamati  lukisan-lukisan yang ada, dan tante Ani tidak bosan menjelaskan arti  dari lukisan-lukisan tersebut. Tante Ani ternyata memiliki kecintaan  tinggi terhadap seni lukis.

    “Ok deh. Kalo begitu Bernas mau pamit pulang dulu tante. Dah hampir jam 11 malam. Tante istirahat aja dulu yah.” kataku.
    “Ehmmm … tinggal dulu aja di sini. Tante juga masih belum ngantuk. Temenin tante bentar yah.” mintanya sedikit memohon.

    Aku  juga merasa kasihan dengan keadaan tante Ani yang tinggal sendiri di  apartemen itu. Jadi aku memutuskan untuk tinggal 1 atau 2 jam lagi,  sampai nanti tante Ani sudah ingin tidur.

    “Kita main UNO yuk?!” ajak tante Ani.
    “Apa itu UNO?!” tanyaku penasaran.
    “Walah kamu ngga pernah main UNO yah?” tanya tante Ani. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala.
    “Wah kamu kampung boy banget sih.” canda tante Ani. Aku hanya memasang tampak cemburut canda.

    Tante  Ani masuk ke kamarnya lagi untuk membawa kartu UNO, dan kemudian masuk  ke dapur untuk mempersiapkan hidangan bersama minuman. Tante Ani membawa  kacang mente asin, segelas wine merah, dan 1 gelas Hennessy V.S.O.P on  rock (pake es batu). Setelah mengajari aku cara bermain UNO, kamipun  mulai bermain-main santai sambil makan kacang mente. Hennesy yang aku  teguk benar-benar keras, dan baru 2 atau 3 teguk badanku terasa panas  sekali. Aku biasanya hanya dikasih 1 sisip saja oleh ayah, tapi ini skrg  aku minum sendirian.

    Kepalaku terasa berat, dan mukaku panas.  Melihat kejadian ini, tante Ani menjadi tertawa, dan mengatakan bahwa  aku bukan bakat peminum. Terang aja, ini baru pertama kalinya aku minum 1  gelas Hennessy sendirian.

    “Tante, anterin Bernas pulang yah. Kepala ogut rada berat.”
    “Kalo gitu stop minum dulu, biar ngga tambah pusing.” jawab tante Ani.

    Aku  merasa tante Ani berusaha mencegahku untuk pulang ke rumah. Tapi  lagi-lagi, aku seperti sapi dicucuk hidung-nya, apa yang tante Ani  minta, aku selalu menyetujuinya. Melihat tingkahku yang suka menurut,  tante Ani mulai terlihat lebih berani lagi. Dia mengajakku main kartu  biasa saja, karena bermain UNO kurang seru kalau hanya berdua. Paling  tepat untuk bermain UNO itu berempat.

    Tapi permainan kartu ini  menjadi lebih seru lagi. Tante mengajak bermain blackjack, siapa yang  kalah harus menuruti permintaan pemenang. Tapi kemudian tante Ani ralat  menjadi ‘Truth & Dare’ game. Permainan kami menjadi seru dan terus  terang aja tante Ani sangat menikmati permainan ‘Truth & Dare’, dan  dia sportif apabila dia kalah. Pertama-tama bila aku menang dia selalu  meminta hukuman dengan ‘Truth’ punishment, lama-lama aku menjadi semakin  berani menanyakan yang bukan-bukan. Sebaliknya dengan tante Ani, dia  lebih suka memaksa aku untuk memilih ‘Dare’ agar dia bisa lebih leluasa  mengerjaiku. Dari yang disuruh pushup 1 tangan, menari balerina, menelan  es batu seukuran bakso, dan lain-lain. Mungkin juga tidak ada pointnya  buat tante Ani menanyakan the ‘Truth’ tentang diriku, karena kehidupanku  terlihat lurus-lurus saja menurutnya.

    Ini adalah juga kesempatan  untuk menggali the ‘Truth’ tentang kehidupan pribadinya. Aku pun juga  heran kenapa aku menjadi tertarik untuk mencari tahu kehidupannya yang  sangat pribadi. Mula-mula aku bertanya tentang mantan tunangannya,  kenapa sampai batal pernikahannya. Sampai pertanyaan yang menjurus ke  seks seperti misalnya kapan pertama kali dia kehilangan keperawanan.  Semuanya tanpa ragu-ragu tante Ani jawab semua pertanyaan-pertanyaan  pribadi yang aku lontarkan.

    Kini permainan kami semakin wild dan  berani. Tante Ani mengusulkan untuk mengkombinasikan ‘Truth & Dare’  dengan ‘Strip Poker’. Aku pun semakin bergairah dan menyetujui saja usul  tante Ani.

    “Yee, tante menang lagi. Ayo lepas satu yang menempel di badan kamu.” kata tante Ani dengan senyum kemenangan.
    “Jangan  gembira dulu tante, nanti giliran tante yang kalah. Jangan nangis loh  yah kalo kalah.” jawabku sambil melepas kaus kakiku.

    Selang  beberapa lama … “Nahhh, kalah lagi … kalah lagi … lepas lagi … lepas  lagi.”. Tante Ani kelihatan gembira sekali. Kemudian aku melepas kalung  emas pemberian ibu yang aku kenakan.

    “Ha ha ha … two pairs, punya tante one pair. Yes yes … tante kalah sekarang. Ayo lepas lepas …” candaku sambil tertawa gembira.
    “Jangan gembira dulu. Tante lepas anting tante.” jawab tante sambil melepas anting-anting yang dikenakannya.

    Aku makin bernapsu untuk bermain. Mungkin bernapsu untuk melihat tante Ani bugil juga. Aku pengen sekali menang terus.

    “Full house … yeahhh … kalah lagi tante. Ayo lepas … ayo lepas …”. Aku kini menari-nari gembira.
    Terlihat tante Ani melepas jepit rambut merahnya, dan aku segera saja protes “Loh, curang kok lepas yang itu?”.
    “Loh,  kan peraturannya lepas semuanya yang menempel di tubuh. Jepit tante kan  nempel di rambut dan rambut tante melekat di kepala. Jadi masih  dianggap menempel dong.” jawabnya membela.

    Aku rada gondok mendengar pembelaan tante Ani. Tapi itu menjadikan darahku bergejolak lebih deras lagi.

    “Straight  … Bernas … One Pair … Yes tante menang. Ayo lepas! Jangan malu-malu!”  seru tante Ani girang. Aku pun segera melepas jaket aku yang kenakan.  Untung aku selalu memakai jaket tipis biar keluar malam. Lihatlah  pembalasanku, kataku dalam hati.

    “Bernas Three kind … tante … one  pair … ahhh … lagi-lagi tante kalah” sindirku sambil tersenyum. Dan  tanpa diberi aba-aba dan tanpa malu-malu, tante melepas baju atasannya.  Aku serentak menelan ludah, karena baju atasan tante telah terlepas dan  kini yang terlihat hanya BH putih tante. Belahan payudara-nya terlihat  jelas, putih bersih. Bernas junior dengan serentak langsung menegang,  dan kedua mataku terpaku di daerah belahan dadanya.

    “Hey, lihat kartu dong. Jangan liat di sini.” canda tante sambil menunjuk belahan dadanya. Aku kaget sambil tersenyum malu.

    “Yes  Full House, kali ini tante menang. Ayo buka … buka”. Tampak tante Ani  girang banget bisa dia menang. Kali ini aku lepas atasanku, dan kini aku  terlanjang dada.
    “Ck ck ck … pemain basket nih. Badan kekar dan hebat. Coba buktikan kalo hokinya juga hebat.” sindir tante Ani sambil tersenyum.
    Setelah  menegak habis wine yang ada di gelasnya, tante Ani kemudian beranjak  dari tempat duduknya menuju ke dapur dengan keadaan dada setengah  terlanjang. Tak lama kemudian tante Ani membawa sebotol wine merah yang  masih 3/4 penuh dan sebotol V.S.O.P yang masih 1/2 penuh.
    “Mari kita bergembira malam ini. Minum sepuas-puasnya.” ucap tante Ani.
    Kami saling ber-tos ria dan kemudian melanjutkan kembali permainan strip poker kami.

    “Yesss … ” seruku dengan girangnya pertanda aku menang lagi.
    Tanpa  disuruh, tante Ani melepas rok mininya dan aduhaiii, kali ini tante Ani  hanya terliat mengenakan BH dan celana dalam saja. Malam itu dia  mengenakan celana dalam yang kecil imut berwarna pink cerah. Tidak  tampak ada bulu-bulu pubis disekitar selangkangannya. Aku sempat  berpikir apakah tante Ani mencukur semua bulu-bulu pubisnya.

    Muka  tante Ani sedikit memerah. Kulihat tante Ani sudah menegak abis gelas  winenya yang kedua. Apakah dia berniat untuk mabuk malam ini? Aku kurang  sedikit perduli dengan hal itu. Aku hanya bernafsu untuk memenangkan  permainan strip poker ini, agar aku bisa melihat tubuh terlanjang tante  Ani.

    “Yes, yes, yes …” senyum kemenangan terlukis indah di wajahku.

    Tante  Ani kemudian memandangkan wajahku selang beberapa saat, dan berkata  dengan nada genitnya “Sekarang Bernas tahan napas yah. Jangan sampai  seperti kesetrum listrik loh”. Kali ini tante Ani melepaskan BH-nya dan  serentak jatungku ingin copot. Benar apa kata tante Ani, aku seperti  terkena setrum listrik bertegangan tinggi. Dadaku sesak, sulit bernapas,  dan jantungku berdegup kencang. Inilah pertama kali aku melihat  payudara wanita dewasa secara jelas di depan mata. Payudara tante Ani  sungguh indah dengan putingnya yang berwarna coklat muda menantang.

    “Aih  Bernas, ngapain liat susu tante terus. Tante masih belum kalah total.  Mau lanjut ngga?” tanya tante Ani. Aku hanya bisa menganggukkan kepala  pertanda ‘iya’.
    “Pertama kali liat susu cewek yah? Ketahuan nih.  Dasar genit kamu.” tambah tante Ani lagi. Aku sekali lagi hanya bisa  mengangguk malu.

    Aku menjadi tidak berkonsentrasi bermain, mataku  sering kali melirik kedua payudaranya dan selangkangannya. Aku  penasaran sekali ada apa dibalik celana dalam pinknya itu. Tempat di  mana menurut teman-teman sekolah adalah surga dunia para lelaki. Aku  ingin sekali melihat bentuknya dan kalo bisa memegang atau meraba-raba.

    Akibat  tidak berkonsentrasi main, kali ini aku yang kalah, dan tante Ani  meminta aku melepas celana yang aku kenakan. Kini aku terlanjang dada  dengan hanya mengenakan celana dalam saja. Tante Ani hanya  tersenyum-senyum saja sambil menegak wine-nya lagi. Aku sengaja menolak  tawaran tante Ani untuk menegak V.S.O.P-nya, dengan alasan takut pusing  lagi.

    Karena kami berdua hanya tinggal 1 helai saja di tubuh  kami, permainan kali ini ada finalnya. Babak penentuan apakah tante Ani  akan melihat aku terlanjang bulat atau sebaliknya. Aku berharap malam  itu malaikat keberuntungan berpihak kepadaku.

    Ternyata harapanku  sirna, karena ternyata malaikat keberuntungan berpihak kepada tante Ani.  Aku kecewa sekali, dan wajah kekecewaanku terbaca jelas oleh tante Ani.  Sewaktu aku akan melepas celana dalamku dengan malu-malu, tiba-tiba  tante Ani mencegahnya.
    “Tunggu Bernas. Tante ngga mau celana dalam mu  dulu. Tante mau Dare Bernas dulu. Ngga seru kalo game-nya cepat habis  kayak begini” kata tante Ani.
    Setelah meneguk wine-nya lagi, tante  Ani terdiam sejenak kemudian tersenyum genit. Senyum genitnya ini lebih  menantang daripada yang sebelum-sebelumnya.
    “Tante dare Bernas untuk … hmmm … cium bibir tante sekarang.” tantang tante Ani.
    “Ahh, yang bener tante?” tanyaku.
    “Iya bener, kenapa ngga mau? Jijik ama tante?” tanya tante Ani.
    “Bukan karena itu. Tapi … Bernas belum pernah soalnya.” jawabku malu-malu.
    “Iya udah, kalo gitu cium tante dong. Sekalian pelajaran pertama buat Bernas.” kata tante Ani.

    cerita sex,cerita dewasa,cerita mesum,cerita ngentot, ngentot artis, cerita bokep, Cerita panas
    Tanpa  berpikir ulang, aku mulai mendekatkan wajahku ke wajah tante Ani. Tante  Ani kemudian memejamkan matanya. Pertamanya aku hanya menempelkan  bibirku ke bibir tante Ani. Tante Ani diam sebentar, tak lama kemudian  bibirnya mulai melumat-lumat bibirku perlahan-lahan. Aku mulai merasakan  bibirku mulai basah oleh air liur tante Ani. Bau wine merah sempat  tercium di hidungku.

    Aku pun tidak mau kalah, aku berusaha  menandinginya dengan membalas lumatan bibir tante Ani. Maklum ini baru  pertama, jadi aku terkesan seperti anak kecil yang sedang melumat-lumat  ice cream. Selang beberapa saat, aku kaget dengan tingkah baru tante  Ani. Tante Ani dengan serentak menjulurkan lidahnya masuk ke dalam  mulutku. Anehnya aku tidak merasa jijik sama sekali, malah senang  dibuatnya. Aku temukan lidahku dengan lidah tante Ani, dan kini lidah  kami kemudian saling berperang di dalam mulutku dan terkadang pula di  dalam mulut tante Ani.

    Kami saling berciuman bibir dan lidah  kurang lebih 5 menit lamanya. Nafasku sudah tak karuan, dah kupingku  panas dibuatnya. Tante Ani seakan-akan menikmati betul ciuman ini. Nafas  tante Ani pun masih teratur, tidak ada tanda sedikitpun kalau dia  tersangsang.

    “Sudah cukup dulu. Ayo kita sambung lagi pokernya” ajak tante Ani.

    Aku  pun mulai mengocok kartunya, dan pikiranku masih terbayang saat kita  berciuman. Aku ingin sekali lagi mencium bibir lembutnya. Kali ini aku  menang, dan terang saja aku meminta jatah sekali lagi berciuman  dengannya. Tante Ani menurut saja dengan permintaanku ini, dan kami pun  saling berciuman lagi. Tapi kali ini hanya sekitar 2 atau 3 menit saja.

    “Udah ah, jangan ciuman terus dong. Ntar Bernas bosan ama tante.” candanya.
    “Masih belon bosan tante. Ternyata asyik juga yah ciuman.” jawabku.
    “Kalo  ciuman terus kurang asyik, kalo mau sih …” seru tante Ani kemudian  terputus. Kalimat tante Ani ini masih menggantung bagiku, seakan-akan  dia ingin mengatakan sesuatu yang menurutku sangat penting. Aku  terbayang-bayang untuk bermain ‘gila’ dengan tante Ani malam itu.

    Aku  semakin berani dan menjadi sedikit tidak tau diri. Aku punya perasaan  kalo tante Ani sengaja untuk mengalah dalam bermain poker malam itu.  Terang aja aku menang lagi kali ini. Aku sudah terburu oleh napsuku  sendiri, dan aku sangat memanfaatkan situasi yang sedang berlangsung.

    “Bernas menang lagi tuh. Jangan minta ciuman lagi yah. Yang lain dong …” sambut tante Ani sambil menggoda.
    “Hmm … apa yah.” pikirku sejenak.
    “Gini aja, Bernas pengen emut-emut susu tante Ani.” jawabku tidak tau malu.

    Ternyata  wajah tante Ani tidak tampak kaget atau marah, malah balik tersenyum  kepadaku sambil berkata “Sudah tante tebak apa yang ada di dalam pikiran  kamu, Bernas.”.
    “Boleh kan tante?!” tanyaku penasaran. Tante Ani hanya mengangguk pertanda setuju.

    Kemudian  aku dekatkan wajahku ke payudara sebelah kanan tante Ani. Bau parfum  harum yang menempel di tubuhnya tercium jelas di hidungku. Tanpa  ragu-ragu aku mulai mengulum puting susu tante Ani dengan lembut. Kedua  telapak tanganku berpijak mantap di atas karpet ruang tamu tante Ani,  memberikan fondasi kuat agar wajahku tetap bebas menelusuri payudara  tante Ani. AKu kulum bergantian puting kanan dan puting kiri-nya.  Kuluman yang tante Ani dapatkan dariku memberikan sensasi terhadap tubuh  tante Ani. Dia tampak menikmati setiap hisapan-hisapan dan  jilatan-jilatan di puting susu-nya. Nafas tante Ani perlahan-lahan  semakin memburu, dan terdengar desahan dari mulutnya. Kini aku bisa  memastikan bahwa tante Ani saat ini sedang terangsang atau istilah  modern-nya ‘horny’.

    “Bernasss … kamu nakal banget sih! … haahhh …  Tante kamu apain?” bisik tante Ani dengan nada terputus-putus. Aku  tidak mengubris kata-kata tante Ani, tapi malah semakin bersemangat  memainkan kedua puting susunya. Tante Ani tidak memberikan perlawanan  sedikitpun, malah seolah-olah seperti memberikan lampu hijau kepadaku  untuk melakukan hal-hal yang tidak senonoh terhadap dirinya.

    Aku  mencoba mendorong tubuh tante Ani perlahan-lahan agar dia terbaring di  atas karpet. Ternyata tante Ani tidak menahan/menolak, bahkan tante Ani  hanya pasrah saja. Setelah tubuhnya terbaring di atas karpet, aku  menghentikan serangan gerilyaku terhadap payudara tante Ani. Aku  perlahan-lahan menciumi leher tante Ani, dan oh my, wangi betul leher  tante Ani. Tante Ani memejamkan kedua matanya, dan tidak  berhenti-hentinya mendesah. Aku jilat lembut kedua telinganya,  memberikan sensasi dan getaran yang berbeda terhadap tubuhnya. Aku tidak  mengerti mengapa malam itu aku seakan-akan tau apa yang harus aku  lakukan, padahal ini baru pertama kali seumur hidupku menghadapi suasana  seperti ini.

    Kemudian aku melandaskan kembali bibirku di atas  bibir tante Ani, dan kami kembali berciuman mesra sambil berperang lidah  di dalam mulutku dan terkadang di dalam mulut tante Ani. Tanganku tidak  tinggal diam. Telapak tangan kiriku menjadi bantal untuk kepala  belakang tante Ani, sedangkan tangan kananku meremas-remas payudara kiri  tante Ani.

    Tubuh tante Ani seperti cacing kepanasan. Nafasnya  terengah-engah, dan dia tidak berkonsentrasi lagi berciuman denganku.  Tanpa diberi komando, tante Ani tiba-tiba melepas celana dalamnya  sendiri. Mungkin saking ‘horny’-nya, otak tante Ani memberikan instinct  bawah sadar kepadanya untuk segera melepas celana dalamnya.

    Aku  ingin sekali melihat kemaluan tante Ani saat itu, namun tante Ani  tiba-tiba menarik tangan kananku untuk mendarat di kemaluannya.
    “Alamak  …”, pikirku kaget. Ternyata kemaluan/memek tante Ani mulus sekali.  Ternyata semua bulu jembut tante Ani dicukur abis olehnya. Dia menuntun  jari tengahku untuk memainkan daging mungil yang menonjol di memeknya.  Para pembaca pasti tau nama daging mungil ini yang aku maksudkan itu.  Secara umum daging mungil itu dinamakan biji etil atau biji etel atau  itil saja. Aku putar-putar itil tante Ani berotasi searah jarum jam atau  berlawanan arah jarum jam. Kini memek tante Ani mulai basah dan licin.

    “Bernasss … kamu yah … aaahhhh … kok berani ama tante?” tanya tante Ani terengah-engah.
    “Kan tante yang suruh tangan Bernas ke sini?” jawabku.
    “Masa sihhh … tante lupa … aahhh Bernasss … Bernasss … kamu kok nakal?” tanya tante Ani lagi.
    “Nakal tapi tante bakal suka kan?” candaku gemas dengan tingkah tante Ani.
    “Iyaaa … nakalin tante pleasee …” suara tante Ani mulai serak-serak basah.

    Aku  tetap memainkan itil tante Ani, dan ini membuatnya semakin menggeliat  hebat. Tak lama kemudian tante Ani menjerit kencang seakaan-akan terjadi  gempa bumi saja. Tubuhnya mengejang dan kuku-kuku jarinya sempat  mencakar bahuku. Untung saja tante Ani bukan tipe wanita yang suka  merawat kuku panjang, jadi cakaran tante Ani tidak sakit buatku.

    “Bernasss  … tante datangggg uhhh oohhh …” erang tante Ani. Aku yang masih hijau  waktu itu kurang mengerti apa arti kata ‘datang’ waktu itu. Yang pasti  setelah mengatakan kalimat itu, tubuh tante Ani lemas dan nafasnya  terengah-engah.

    Dengan tanpa di beri aba-aba, aku lepas celana  dalamku yang masih saja menempel. Aku sudah lupa sejak kapan batang  penisku tegak. Aku siap menikmati tubuh tante Ani, tapi sedikit ragu,  karena takut akan ditolak oleh tante Ani. Keragu-raguanku ini terbaca  oleh tante Ani. Dengan lembutnya tante Ani berkata, “Bernas, kalo pengen  tidurin tante, mendingan cepetan deh, sebelon gairah tante habis. Tuh  liat kontol Bernas dah tegak kayak besi. Sini tante pegang apa dah  panas.”.

    Aku berusaha mengambil posisi diatas tubuh tante. Gaya  bercinta traditional. Perlahan-lahan kuarahkan batang penisku ke mulut  vagina tante Ani, dan kucoba dorong penisku perlahan-lahan. Ternyata  tidak sulit menembus pintu kenikmatan milik tante Ani. Selain mungkin  karena basahnya dinding-dinding memek tante Ani yang memuluskan jalan  masuk penisku, juga karena mungkin sudah beberapa batang penis yang  telah masuk di dalam sana.

    “Uhhh … ohhh … Bernasss … ahhh …” desah tante Ani.
    Aku  coba mengocok-kocok memek tante Ani dengan penisku dengan  memaju-mundurkan pinggulku. Tante Ani terlihat semakin ‘horny’, dan  mendesah tak karuan.
    “Bernasss … Bernasss … aduhhh Bernasss … geliiii tante … uhhh … ohhhh …” desah tante Ani.
    Di  saat aku sedang asyik memacu tubuh tante Ani, tiba-tiba aku disadarkan  oleh permintaan tante Ani, sehingga aku berhenti sejenak.
    “Bernasss … kamu dah mau keluar belum … ” tanya tante Ani.
    “Belon sih tante … mungkin beberapa saat lagi … ” jawabku serius.
    “Nanti  dikeluarin di luar yah, jangan di dalam. Tante mungkin lagi subur  sekarang, dan tante lupa suruh kamu pake pengaman. Lagian tante ngga  punya stock pengaman sekarang. Jadi jangan dikeluarin di dalam yah.”  pinta tante Ani.
    “Beres tante.” jawabku.
    “Ok deh … sekarang jangan diam … goyangin lagi dong …” canda tante Ani genit.

    Tanpa  menunda banyak waktu lagi, aku lanjutkan kembali permainan kami. Aku  bisa merasakan memek tante Ani semakin basah saja, dan aku pun bisa  melihat bercak-bercak lendir putih di sekitar bulu jembutku.

    Aku  mulai berkeringat di punggung belakangku. Muka dan telingaku panas.  Tante Ani pun juga sama. Suara erangan dan desahan-nya makin terdengar  panas saja di telingaku. Aku tidak menyadari bahwa aku sudah berpacu  dengan tante Ani 20 menit lama-nya. Tanda-tanda akan adanya sesuatu yang  bakalan keluar dari penisku semakin mendekat saja.

    “Bernasss …  ampunnn Bernasss … kontolnya kok kayak besi aja … ngga ada lemasnya dari  tadi … tante geliii banget nihhh …” kata tante Ani.
    “Tante … Bernasss dah sampai ujung nih …” kataku sambil mempercepat goyangan pinggulku.

    Puting  tante Ani semakin terlihat mencuat menantang, dan kedua payudara pun  terlihat mengeras. Aku mendekatkan wajahku ke wajah tante Ani, dan bibir  kami saling berciuman. Aku julur-julurkan lidahku ke dalam mulutnya,  dan lidah kami saling berperang di dalam. Posisi bercinta kami tidak  berubah sejak tadi. Posisiku tetap di atas tubuh tante Ani.

    Aku percepat kocokan penisku di dalam memek tante Ani. Tante Ani sudah menjerit-jerit dan meracau tak karuan saja.

    “Bernasss  … tante datangggg … uhhh … ahhhhhh …” jerit tante Ani sambil memeluk  erat tubuhku. Ini pertanda tante Ani telah ‘orgasme’.

    Aku pun  juga sama, lahar panas dari dalam penisku sudah siap akan menyembur  keluar. Aku masih ingat pesan tante Ani agar spermaku dilepas keluar  dari memek tante Ani.

    “Tante … Bernassss datangggg …” jeritku  panik. Kutarik penisku dari dalam memek tante Ani, dan penisku  memuncratkan spermanya di perut tante Ani. Saking kencangnya, semburan  spermaku sampai di dada dan leher tante Ani.

    “Ahhh … ahhhh … ahhhh …” suara jeritan kepuasanku.
    “Idihhh  … kamu kecil-kecil tapi spermanya banyak bangettt sih …” canda tante  Ani. Aku hanya tersenyum saja. Aku tidak sempat mengomentari candaan  tante Ani.

    Setelah semua sperma telah tumpah keluar, aku  merebahkan tubuhku di samping tubuh tante Ani. Kepalaku masih  teriang-iang dan nafasku masih belum stabil. Mataku melihat ke  langit-langit apartment tante Ani. Aku baru saja menikmati yang namanya  surga dunia.

    Tante Ani kemudian memelukku manja dengan posisi kepalanya di atas dadaku. Bau harum rambutku tercium oleh hidungku.

    “Bernas puas ngga?” tanya tante Ani.
    “Bukan puas lagi tante … tapi Bernas seperti baru saja masuk ke surga” jawabku.
    “Emang memek tante surga yah?” canda tante Ani.
    “Boleh dikata demikian.” jawabku percaya diri.
    “Kalo tante puas ngga?” tanyaku penasaran.
    “Hmmm  … coba kamu pikir sendiri aja … yang pasti memek tante sekarang ini  masih berdenyut-denyut rasanya. Diapain emang ama Bernas?” tanya tante  Ani manja.
    “Anuu … Bernas kasih si Bernas Junior … tuh tante liat  jembut Bernas banyak bercak-bercak lendir. Itu punya dari memek tante  tuh. Banjir keluar tadi.” kataku.
    “Idihhh … mana mungkin …” bela tante Ani sambil mencubit penisku yang sudah mulai loyo.

    “Bernas sering-sering datang ke rumah tante aja. Nanti kita main poker lagi. Mau kan?” pinta tante Ani.
    “Sippp tante.” jawabku serentak girang.

    Malam  itu aku nginap di rumah tante Ani. Keesokan harinya aku langsung pulang  ke rumah. Aku sempat minta jatah 1 kali lagi dengan tante Ani, namum  ajakanku ditolak halus olehnya karena alasan dia ada janji dengan  teman-temannya.

    Sejak saat itu aku menjadi teman seks gelap tante  Ani tanpa sepengetahuan orang lain terutama ayah dan ibu. Tante Ani  senang bercinta yang bervariasi dan dengan lokasi yang bervariasi pula  selain apartementnya sendiri. Kadang bermain di mobilnya, di motel kilat  yang hitungan charge-nya per jam, di ruang VIP spa kecantikan ibuku  (ini aku berusaha keras untuk menyelinap agar tidak diketahui oleh para  pegawai di sana). Tante Ani sangat menyukai dan menikmati seks. Menurut  tante Ani seks dapat membuatnya merasa enak secara jasmani dan rohani,  belum lagi seks yang teratur sangatlah baik untuk kesehatan. Dia pernah  menceritakan kepadaku tentang rahasia awet muda bintang film Hollywood  tersohor bernama Elizabeth Taylor, yah jawabannya hanya singkat saja  yaitu seks dan diet yang teratur.

    Tante Ani paling suka ‘bermain’  tanpa kondom. Tapi dia pun juga tidak ingin memakai sistem pil sebagai  alat kontrasepsi karena dia sempat alergi saat pertama mencoba minum pil  kontrasepsi. Jadi di saat subur, aku diharuskan memakai kondom. Di saat  setelah selesai masa menstruasinya, ini adalah saat di mana kondom  boleh dilupakan untuk sementara dulu dan aku bisa sepuasnya berejakulasi  di dalam memeknya. Apabila di saat subur dan aku/tante Ani lupa  menyetok kondom, kita masih saja nekat bermain tanpa kondom dengan  berejakulasi di luar (meskipun ini rawan kehamilannya tinggi juga).

    Hubungan  gelap ini sempat berjalan hampir 4 tahun lamanya. Aku sempat memiliki  perasaan cinta terhadap tante Ani. Maklum aku masih tergolong  remaja/pemuda yang gampang terbawa emosi. Namun tante Ani menolaknya  dengan halus karena apabila hubunganku dan tante Ani bertambah serius,  banyak pihak luar yang akan mencaci-maki atau mengutuk kami. Tante Ani  sempat menjauhkan diri setelah aku mengatakan cinta padanya sampai aku  benar-benar ‘move on’ dari-nya. Aku lumayan patah hati waktu itu (hampir  1.5 tahun), tapi aku masih memiliki akal sehat yang mengontrol perasaan  sakit hatiku. Saat itu pula aku cuti ‘bermain’ dengan tante Ani.

    Saat  ini aku masih berhubungan baik dengan tante Ani. Kami kadang-kadang  menyempatkan diri untuk ‘bermain’ 2 minggu sekali atau kadang-kadang 1  bulan sekali. Tergantung dari mood kami masing-masing. Tante Ani sampai  sekarang masih single. Aku untuk sementara ini juga masih single. Aku  putus dengan pacarku sekitar 6 bulan yang lalu. Sejak putus dengan  pacarku, tante Ani sempat menjadi pelarianku, terutama pelarian seks.  Sebenarnya ini tidak benar dan kasihan tante Ani, namun tante Ani  seperti mengerti tingkah laku lelaki yang sedang patah hati pasti akan  mencari seorang pelarian. Jadi tante Ani tidak pernah merasa bahwa dia  adalah pelarianku, tapi sebagai seorang teman yang ingin membantu  meringkankan beban perasaan temannya.

     

  • tante muda cantik penjual es buah

    tante muda cantik penjual es buah


    2370 views

    IBU MUDA PENJUAL ES BUAH SEGAR

    Ibu muda cantik penjual es buah – memek sempitnya seger kaya es buah Namaku Ari, seorang mahasiswa jurusan Psikologi tingkat ahkir yang tinggal di rumah kos yang bisa dibilang elite dan sangat bebas, banyak teman teman kos yang sering bawa pacar atau cewe buat sekedar ngobrol ataupun sampai ML, termasuk saya juga, tapi sekarang keadaan sedang tidak mendukung 3 bulan ini seperti sedang menjomblo karena pacar diterima kuliah diPTN kota lain, yah demi masa depan OK lah. Cerita bermula dari kesepianku saat hanya sering sendirian dikostan, kost ini termasuk sepi dan tidak terlihat dari luar kalau rumah ini adalah rumah kost pemiliknya pun seorang yang disegani dikota kami tapi memang kurang ketat jadi kesempatan buat anak anak kos buat ngapain aja. di depan rumah kost ada yang jualan es buah yah baru buka kira kira 2 minggu, awal awalnya sih saya nggak pernah minat buat beli, eh setelah beberapa waktu pas naik motor mau masuk kost sempet nglirik sedikit “kog kayanya ada yang cantik” jadi penasaran, setelah masukin motor dan naruh barang bawaan dikamar iseng iseng saya keluar coba beli, setelah sampai diwarung es buah ahhhh… kecewa… ternyata anak smp, memang sih cantik kulitnya putih mulus tapi ga enak ati klo mau pdkt, yah terlanjur sampai warung sekalian pesen es buah, “dek es buah ya” ujar ku “iya mas, silahkan duduk dulu” jawab adek penjual es buah dengan manisnya. “adek jualan sendirian” tanyaku “ah… nggak mas sama ibu, saya cuma bantuin kalau pulang sekolah aja, ini ibu lagi pulang sebentar ambil susu kaleng, habis soalnya” jawab adek cantik ini sambil nyrocos. ternyata adek ini memang cantik banget mukanya bersih dengan bibir merah walau tanpa lipstik, tubuhnya nggak kurus dan nggak gemuk pas pokoknya, sambil nunggu es buah sambil lirik lirik tubuh adek cantik ini, lumayan lah buat cuci mata. “Silahkan mas” suara lembut adek cantik ini memecahkan lamunanku. “oo..oohh.. ii.. iya” jawabku dengan sedikit kaget, Saat sedang menikmati es buah yang ternyata nikmat dan segar sekali, terdengar suara wanita lain, ah ternyata ini ibu adek cantik ini.

    seorang wanita yang memang pantas jadi ibu adek cantik ini, karena memang ibunya cantik juga, ibu muda kira kira berumur 40an dengan kulit putih rambut panjang yang dikuncir kebelakang, memakai kaos merah ketat hingga toketnya yang lumayan besar menonjol dengan indahnya bawahannya memakai jeans 3/4 yang ketat terlihat betisnya yang putih mulus dan kaki yang seksi hingga bokongnya yang montok yang terlihat belahan pantatnya, “hmmm… es buah ini kog jadi tambah nikmat ya, bakalan sering mampir kesini nih” kataku dalam hati, sambil iseng iseng ambil hp dan diam diam foto si ibu cantik ini yang lagi duduk sambil mencatat sesuatu. Misi hari pertama selesai, setelah jepret beberapa foto langsung aku berdiri, dan bertanya “udah bu, habis berapa ya” ujar ku “es buah aja kan mas” jawab si ibu muda cantik ini “iya” “5000 aja mas” jawabnya sambil tersenyum saat didekat ibu muda ini hidungku serasa dimanja dengan bau parfum yang baunya seger banget, sambil iseng biar agak lama aku keluaring uang 50 ribuan hahaha…. “wah, nggak ada uang kecil mas?” tanya ibu cantik ini “duh maaf bu, nggak ada nih” “sebentar” jawab ibu cantik ini sambil mengeluarkan uang dari dompetnya, “maaf pecahan dua ribuan ya” ujar ibu cantik ini “nggak papa bu, makasih” ujarku sambil tersenyum dan berbalik pulang. didalam kamar ku buka buka hasi foto yang tadi diambil, semakin diperhatikan ibu muda cantik ini semakin hati berdebar debar, “ah besok kesana lagi” kataku dalam hati.

    keesokan harinya pagi sampai siang aku dikampus menunggu dosen buat konsultasi skripsi, sambil liat foto ibu cantik ini, penasaran banget siapa sih namanya, sama ada suaminya nggak ya, coba nanti ngobrol ah. setelah selesai dikampus, aku langsung meluncur pulang, tapi kali ini aku tidak masuk kost dulu tapi langsung ke warung es karena langit mendung takutnya malah hujan, rejeki memang tidak kemana, ibu cantik ini sendirian warungnya sepi dan anaknya yang cantik itu juga tidak kelihatan, saat itu pukul 14:45 jalan depan kost lagi rame sama kondisi mendung kayanya pada buru buru, ibu cantik penjual es buah ini terlihat melamun sambil melihat jalan yang ramai. setelah parkir motor aku langsung melangkah ke warung, si ibu cantik ini berdiri sambil tersenyum “mari, silahkan mas, es buah ya?” ujarnya. “ah…, nggak bu, saya cuma mau numpang duduk” jawabku becanda, dan si ibu cantik ini jadi bengong. “hahhaha… becanda bu iya es buah, susunya yang banyak ya” ujarku sambil ngelirik toket ibu cantik ini yang kali ini memakai kaos putih agak longgar dengan kerah melingkar yang lebar jadi bagian tulang dadanya terlihat, memang mulus luar dalam ni ibu cantik. “baru pulang kuliah mas” ujar ibu cantik ini sambil meracik es buah, “iya, bu, ketemu dosen buat konsultasi” “oh udah mau lulus ya, ambil jurusan apa mas” ujarnya sambil menaruh mangkok es buah dihadapanku, dan wangi itu kembali menggoda hidungku. “iya bu tinggal skripsi, jurusan psikologi” ujarku sambil menyeruput sendokan es buah pertama. “wah, hebat ada psikolog ni disini, boleh konsultasi nggak mas, tapi gratis ya?” ujar ibu cantik ini, dan ibu cantik ini juga tau tau duduk dikursi deketku cuma dia menghadap kejalan sambil bercerita kisah hidupnya yang cukup menyedihkan ternyata.

    setelah beberapa saat ngobrol baru aku tau ibu cantik ini bernama Mirna dan suaminya pergi entah kemana, sudah 2 tahun tidak pulang cuma kadang menelpon Adelia (itu nama adek cantik putri satu satunya bu mirna ini). tak terasa udah sejam lebih duduk disini, melihat bu mirna malah ga enak hati matanya yang indah terlihat berkaca kaca menahan tangis, bu mirna yang cantik ini terlihat sibuk melayani pembeli lain, dan aku pun berdiri sambil mengambil sesobek kertas kecil dan kutulis pin bbm ku dan nomer hp, sambil membayar ku berikan kertas ini, “bu, kalau nanti masih butuh tempat curhat ini pin bbm dan no saya” bu mirna pun tersenyum, sambil berkata “iya pasti nanti saya bbm, tapi agak malam boleh nggak?, soalnya masih banyak kerjaan dirumah” “nggak papa bu, saya besok juga libur, tidurnya juga malem kog” “ya sudah, saya permisi dulu ya” “iya, makasih ya Rie” ujarnya, dan akupun berlalu. Dikost menunggu bbm ibu mirna cantik ini dan benar saja, jam 10:30 malam ada permintaan kontak baru, ternyata memang bu mirna, langsung aja kuterima, eh dia pajang foto bareng adelia, sebelum diganti disave dulu buat koleksi, malam itu bu mirna cerita dan bertanya banyak lewat bbm, aku pun jawab sebisaku, walau aku juga belum lulus kuliah psikologi setidaknya aku bisa beri jawaban yang pas, capek ngetik ahkirnya aku minta ijin buat telpon dia, dan bu mirna pun mengiyakan, dengan semangat kutelpon ibu cantik ini mendengar suaranya yang lembut membuatku konak untung punya handsfree jadi tangan bebas mau ngapain aja, sambil dengar suara bu mirna yang lembut dan memandangi foto nya akupun melepas celanaku, sambil tiduran kontolku yang udah tegang ku elus elus lalu ku kocok kocok dengan lembut sambil membayangkan tubuh mulus bu mirna, “bisa nggak ya ngentot ibu cantik ini” tanya ku dalam hati, bu mirna masih aja nyerocos cerita aku pun cuma menjawab seperlunya, karena masih menikmati kocokan kontolku yang mulai terasa nikmat sampai ahkirnya tak tahan lagi dan spermaku pun nyemprot dan tanpa sadar ternyata aku mendesah cukup kencang

    “Kenapa Rie” bu mirna kaget dan bertanya akupun kelimpungan cairan pejuku nyemprot kemana mana “ahh… nggak papa bu, ini sambil minum kopi hangat, seger banget” aku pun mencari alasan, takut kalau dia sadar hehehe… “owh… ini udah jam 1 rie, besok pagi saya harus kepasar beli buah pagi pagi, disambung besok lagi ya” kata bu mirna “ah… iya iya… ke pasar mana bu, jam berapa?” lah kog aku tanya gituan kenapa nih wah otak error nggak kekontrol “Ke pasar B, subuh rie kalo kesiangan takut ga kebagian yang bagus”, “owh… sendirian, mau dianter?” udah terlanjut basah lah sekalian aja siapa tau dia mau hehehe… “ah nanti ngrepotin, lagian subuh kamu juga paling belum bangun” “kalau ibu mirna mau, ya saya anterin nggak papa, sekalian saya cari sarapan” strategi PDKT kayanya tembus ni. “hmmm…. ok lah subuh saya bbm ya nanti ditunggu di warung aja, soalnya nggak enak sama tetengga kalau ketemu dirumah” Jawab bu mirna aku pun dengan semangat menjawab “Siappp!!! sekarang pasang alarm” setelah pamitan bu mirna menutup telponnya, dan akupun masih bingung membersihkan cairan peju yang tadi nyemprot kemana mana. Keesokan hari, benar bu mirna udah menunggu di warung aku juga nggak telat, bu mirna terlihat cantik dia memakai jaket dan legging ketat yang membuat lekukan tubuh bawahnya terlihat langsung aja kusuruh naik dan motor pun melaju, sesekali iseng dilampu merah kurem agak mendadak, dan tubuh bu mirna terhentak kedepan hingga toketnya menyentuh punggungku, lumayan, empuk, bu mirna tidak berkomentar mungkin dia nggak sadar kalau ku sengaja. selesai dari pasar bu mirna kuturunkan di warung dan aku pun masuk kos.

    Siang harinya, pintu kamar kost ku diketuk setelah kubuka ternyata bu mirna, aku kaget sekali “eh bu” “kog tau kamarku disini” “iya itu tadi tanya sama pembantu pak kost, ini es buah buat kamu” jawab bu mirna “lah saya kan nggak pesen bu” jawabku “iya, itu hadiah spesial karena udah bantuin belanja dan angkat angkat tadi” jawab bu mirna sambil melihat kedalam kamar ku. “kamarmu bagus ya?, nyaman banget kayanya, sebulan berapa?” cecar bu mirna. “eh… mari masuk duduk dulu didalam kalau mau bu” jawabku terbata bata karena masih bingung dan kaget. “ah kapan kapan aja ya, itu adelia sendirian diwarung kasian” jawab bu mirna “nanti kalau ada waktu ke warung ya” kata bu mirna lagi “eh… ada apa lagi bu” jawabku agak bingung “Balikin mangkok es nya hehehehe….” jawab bu mirna sambil tertawa dan beranjak pergi. Hatiku semakin deg degan, ini beneran bu mirna kayanya kepancing atau memang dia ngerasa kesepian karena sudah lama tidak merasakan perlindungan dan belaian lelaki, bisa jadi juga. ah entahlah, jalani aja dulu. Dua jam kemudian terdengar gemuruh dilangit dan mulai gerimis, akupun bergegas lari sambil bawa mangkok kewarung, diperjalanan ternyata hujan deras, terlihat dari jauh bu mirna sendirian mengemasi peralatan warungnya, saat aku tiba bu mirna berkata. “Untung kamu datang rie, tau tau ujan deres pakai angin gini saya takut” ujar bu mirna “sini saya bantuin” ujarku sambil masukin barang barang kedalam gerobak, “dah selesai, udah dikunci kan gerobaknya?” tanyaku “udah rie” jawab bu mirna sambil menengadah melihat pohon didepan warungnya yang gergoyang tertiup angin. “Masuk ke kost dulu yuk, disini bahaya takut pohonnya ambruk” kataku, dan tanpa basa basi bu mirna pun mengangguk mau. dengan payung yang dibawa bu mirna kami berdua pun berjalan berdempetan, sesampai dikamar baju kami ternyata basah kuyup, kasihan bu mirna kalau masuk angin, lalu ku tawarkan ganti baju pakai kaos dan celana pendekku, “bu ganti baju ya? ini pakai kaosku, masih baru kog belum pernah dipakai, dari pada masuk angin” ujarku memaksa. “ah nggak usah rie nanti ngrepotin” jawabnya “alah ngrepotin apa ini ganti baju sana, itu kamar mandi” kataku sambil menunjuk kamar mandi didalam kamar kost ku.

    bu mirna pun tidak membantah lagi dia meraih kaos yang ku beri dan melangkah ke kamar mandi, 5 menit kemudian dia keluar rambutnya basah. “aku numpang keramas ya, takut pusing kehujanan” ujar bu mirna “hahahaha…. udah mandi baru bilang” candaku bu mirna pun ikut tertawa. “lha adelia kemana bu apa dirumah sendirian?” tanya ku basa basi “adelia kerumah neneknya, pulang besok pagi besok kan minggu sekalian nemenin neneknya sekali kali” ujarnya wah kesempatan ini nggak ada gangguan dan cuaca mendukung. “bu mirna suka nonton film nggak, ini aku ada film baru baru, atau mau nonton TV, itu hujan angin belum reda” tanyaku “apa aja deh nggak papa”, “ngobrol aja juga nggak papa” jawab bu mirna sambil melihat sekeliling kamar. dan tiba tiba matanya tertuju pada layar laptopku yang masih menyala disitu terbuka program ACD SEE untuk melihat gambar gambar, dan terlihat thumbnail gambar foto foto dia, dia pun mendekat dengan jalan berjongkok karena kamarku memang lesehan semua :D, dan bu mirna pun sedikit kaget, “kog banyak foto ku sama adelia disini” tanya nya penuh curiga “aaa… aanu…” aku bingung mau jawab gimana “kamu suka ya sama adelia” tanya bu mirna “aaa… enggak… bu… bukan…” jawabku terbata bata. “Terus kog banyak fotoku sama adelia?” bu mirna semakin curiga “se… se… sebenarnya” aduh omong nggak ya, ini kondisi lagi mendukung banget, jadi bingung… “hahaha… udah nggak papa, adelia memang cantik kog” ujarnya “hehehe… nggak bu… cantikan ibunya kog” jawab ku lirih bu mirna cuma tersenyum mendengar kata kataku, kemudian dia berkata “panggil mirna aja rie”, “nggak enak kedengerannya dipanggil ibu” ujar bu mirna “oohh.. ya bu” jawabku “lah masih bu” kata bu mirna sambil tertawa setengah jam berlalu hujan masih deras diluar, saat itu pukul setengah lima sore, bu mirna beberapa kali menelpon adelia tanya rumah udah dikunci belum tadi. dan sepertinya bu mirna udah terlihat tenang mendengar rumah sudah dikunci. kemudian aku menyodorkan bantal aku suruh dia tiduran sambil lihat TV nggak enak duduk tanpa sandaran pastinya capek. “Bu… eh mir tiduran sini dikasur biar aku yang dikarpet, istirahat dulu aja capek kan kamu?” ujarku sedikit memaksa sambil menarik tangannya dengan lembut. “ah… udah kamu aja nggak enak kalau ada yang lihat” ujarnya “siapa yang lihat? kos sepi malam minggu semua pulang, pak kos juga ga bakal keliling, santai aja, lagian pintu juga ditutup”, “sini” kataku sambil aku berpindah ke karpet dari kasur, sambil mendorong sedikit punggung bu mirna. bu mirna pun perlahan pindah kekasur dan merebahkan dirinya, sambil memandangku entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Sudah hampir malam akupun beranjak ke kamar mandi beberapa saat bu mirna masih terdengar tertawa kecil melihat tontonan ditv, setelah aku selesai mandi terlihat bu mirna terpejam, sepertinya dia ketiduran.

    yang membuatku kaget hpku ada ditangannya, dan kucoba mengambilnya perlahan supaya dia tidak terbangun, ya ampun… dia membuka gallery dan disitu ada foto foto bu mirna lebih banyak dari pada yang dilaptop, hatiku semakin bingung aku cuma terduduk disamping kasur sambil memandangi bu mirna yang tertidur pulas, mungkin dia lelah, kasihan wanita secantik ini harus berjuang sendirian. Bu mirna terlihat cantik banget saat tidur, bu mirna tidur terlentang kakinya terbuka, celana pendek ku yang dipakainya tergulung keatas hingga terlihat pahanya yang putih mulus. hatiku berdebar kencang, pengen rasanya mengelus paha mulusnya, sambil terus memandanginya pandanganku mengarah keatas puting payudara bu mirna terlihat menonjol, aku baru sadar, ternyata BH nya memang basah dan dijemur dikamar mandi. ini benar benar kesempatan emas, tapi gimana ya aku bingung…. kalau aku apa apain kalau bu mirna nggak mau dan teriak gimana… duh… ahkirnya perlahan ku tiduran kasur tepat disebelahnya sambil nonton tv, tak beberapa lama bu mirna berpindah posisi kearahku tangannya yang lembut memeluk dadaku, kakinya diatas kakiku dengkul dan paha tepat berada diatas burungku, hariku semakin berdebar, entah bu mirna ini sadar atau tidak, aku terdiam beberapa saat bau parfum nya yang kusuka itu tercium sekali perasaanku semakin kacau, kontolku sudah berdiri tegang. Perlahan kuberanikan diri mengelus rambutnya, kepala bu mirna bergerak perlahan masuk diantara pundak dan leherku, tangan kiriku mengelus rambut tangan kananku berusaha mengelus punggung bu mirna, 5 menit ku elus elus punggungnya ahkirnya kuberanikan diri tanganku masuk kedalam kaosnya dan mengelus punggung bu mirna dari dalam, kepala bu mirna kadang bergerak, mungkin dia sadar, tapi tak apalah sudah kepalang tanggung. tangan kananku semakin berani ku selipkan masuk kebagian celana belakang bu mirna dan merasakan gumpalan besar pantat yang lembut, dan dengan lembut pula ku raba dan ku elus, sampai ahkirnya ku beranikan diri meraih memeknya dari belakang, perlahan ku elus elus kucoba meraih klitorisnya, tapi susah tanganku terjepit, perlahan kudorong tubuh bu mirna supaya terlentang, bu mirna pun terlihat tidur pulas. tanpa berlama lama, ku tarik sedikit demi sedikit celana bu mirna sampai ke mata kakinya, celana dalam bu mirna pun sudah tidak ada apa mungkin basah juga, ah bodo amat, ini udah terbuka lebar jangan disia siakan pikirku.

     

    perlahan ku kangkangkan kaki bu mirna indah sekali memek bu mirna ini, bersih terawat dengan sedikit bulu halus seperti bulu abg ku elis perlahan dengan jari tanganku bu mirna masih belum sadar dan kemudian akupun menunduk mengarahkan lidahku kememek bu mirna, kujilat perlahan, jilatan kuarahkan ke itil bu mirna yang memeknya kubuka sedikit dengan jemariku, ku jilat lembut dari bawah keatas sesekali kumasukkan lidahku kedalam lubang memeknya, perlahan kurasakan kaki bu mirna bergerak, tapi aku cuek tetep menjilati memeknya yang sudah mulai basah sambil mengelus perut dan meremas toket bu mirna. Tiba tiba “aaaahhh…. Arieee… ” bu mirna setengah berteriak kaget “kamu ngapain….” Secara refleks tanganku menutup mulut bu mirna sambil tubuhku menindihnya supaya dia tidak berontak “maaf mir aku ga tahan, sepertinya aku jatuh cinta sama kamu”, “tadi kamu tidur meluk aku aku kira kamu sadar dan aku terbawa suasana” “aku buka tanganku kamu jangan teriak ya” Bu mirna mengangguk kencang, dan langsung kubuka bekapan tanganku, “ARIIIEE… APPAA APAAN KAMU…” dia sedikit marah… dan gelagatnya seperti mau berteriak, tanganku kembali ke mulutnya tapi tiba tiba tangan nya menahan tanganku. Tanpa menghiraukan bu mirna aku malah mencium bibirnya yang hampir nyerocos lagi “Hmmp…arr…rr…iii mmm..hhmmmpp” ku pagut bibir tipisnya dan tangan kananku turun kebawah dan meraih itil memek bu mirna lagi hingga bu mirna diam dan ga lagi bicara, kaki bu mirna berusaha menahan tanganku tapi selalu kutahan kutindih tubuhnya dengan badanku yang lebih besar darinya. jemariku sibuk mengelus itil yang sudah licin dan basah karena rangsangan yang hebat bu mirna mulai diam ku lepas bibirku dari bibirnya, dan mulai bibirku bergerilya di sekitar leher bu mirna, ku ciumi leher kiri dan depan bu mirna kali ini bu mirna terlihat pasrah.

    perlahan ku raih kaos bajunya, dan kuangkat supaya toketnya kelihatan, tiba tiba tangan bu mirna bergerap berusaha melepas kaosnya “biar ku buka sendiri riee… kamu kasar” kata bu mirna dengan nada sedikit marah Kaospun telah terlepas posisiku duduk diatas perutnya sambil melepas bajuku dan berusaha melepas celanaku, bu mirna cuma diam, setelah aku pun telanjang dan kontolku bebas aku menindihnya kembali dan menjilati daun telinga bu mirna, mungkin bu mirna juga sudah sangat terangsang, berbulan bulan atau mungkin tahun, dia tidak merasakan hal seperti ini, lidahku kembali gerilya dari telinga leher kemudian menjilati puting susunya sambil meremas toket bu mirna yang sudah tegang. Bu mirna berusaha memelukku sambil mengelus punggungku dan terdengar desahan desahan lembut tanda dia juga menikmati persetubuhan ini. Jam menunjukkan pukul setengah enam sore, hujan masih terdengar walau sudah berkurang, desahan nafas bu mirna terdengar lebih kencang dari suara hujan diluar, aku takut kalau terdengar dari luar ku berdiri sebentar memutar mp3 lagu lagu romantis dengan sedikit kencang, dan menyiapkan tissue kalau kalau spermaku muncrat lagi.

    bu mirna meraih kotak tissue dan mengambil selembar dia mengelap keringat dikeningku dan melempar kotak tissue agak jauh dari kasur. “loh kog dibuang” tanyaku “Kamu laki laki kan? nanti keluarin didalam aja” jawab bu mirna “tt…ttaa ppiii…” jawabku bingung tanpa bicara bu mirna meraih kontolku yang lemes lagi dan merebahkan ku diatas kasur, sembari dia bangkit dan duduk disamping tubuhku yang sudah telanjang bulat, perlahan kontolku dielus dengan lembut dan dikocok naik turun perlahan, hingga kontolku secara langsung tegang kembali, kocokan bu mirna semakin kencang dan rasanya nikmat sampai ke ubun ubun, aaaahhhhh…. aku hampir tidak kuat…. “bu… eh… mir… aakkk… sttoopp sttopp” , “aku mau keluar” pintaku perlahan Bu mirna memelankan kocokannya, dan kembali mengelus elus batang kontolku kemudian bu mirna rebahan disampingku memelukku dan berbisik, “kamu sengaja ya merencanakan ini semua?” tanyanya lirih “sengaja gimana bu… eh … mir”, “enggak lah”, “cuma….” “Cuma apa?” tanya bu mirna dengan tegas “iya, aku suka kamu dari awal ketemu” jawabku “suka apa nafsu?” tanya bu mirna lagi “aku udah lihat foto fotoku dihpmu”, “foto itu foto pertama kamu datang ke warung kan?” tanya nya kembali sebelum aku sempat jawab lagi bu mirna udah nyerocos lagi “Gini, aku mau sekarang juga ngelakuin sama kamu, tau kenapa?” tanya nya “enggak…” jawabku polos “dasar bego, emang aku ini pelacur apa buatmu?” jawab bu mirna terlihat marah “aku deket ma kamu karena aku ngerasain kehangatan seorang pria, yang udah lama nggak aku rasain” “cinta? bukan cinta!!! aku nggak tau tapi aku ngerasa kamu bisa meluluhkan hatiku, dan membuatku tenang” cerocos bu mirna “kalau kamu cuma anggap aku sekarang ini pemuas nafsu mu, aku pulang sekarang” katanya sambil berdiri akupun ikut berdiri dan memeluk tubunya yang masih telanjang. dan berbisik ketelinganya, “aku nggak tau mir, diantara kasihan, iba akan kisah hidupmu dan nafsu”, “tapi aku janji, kalau kamu butuh aku selama aku bisa aku akan ada untukmu” “Riiee aku sadar umurku jauh diatasmu, bukan aku pengen kamu tanggung jawab jadi suamiku tapi aku pengen kamu ga ninggalin aku setelah kamu nikmati tubuhku” “cuma itu” bisik bu mirna lirih ketelingaku.

    Perlahan kudorong tubuh bugil bu mirna ketembok dan menciumi bibirnya dengan lembut, bu mirna pun membalas, lidah kami pun saling menjilat, sambil ku raba seluruh tubuhnya yang mulus telanjang tanpa busana. “Masukkan riiee, aku pengen banget…” bisik bu mirna ke telingaku. Perlahan kuraih burungku yang sudah tegang mengencang lagi, dan berusaha kumasukkan kedalam lubang vagina bu mirna, ku gesek gesek kepala kontolku kebibir vagina nya yang sudah basah dan licin, dan kudorong masuk perlahan, ahhhh… susah sekali, mungkin akibat lama nggak dimasuki kontol memek bu mirna jadi menyempit, sekali lagi kumasukkan kepala penis berhasil masuk, perlahan lahan ku sodok keluar masuk dan ahkirnya “Ah… arrr…rriieee… aaahhh….” bu mirna mendesah hampir seluruh batang kontolku tenggelam dalam memek bu mirna, dalam posisi berdiri ku angkat sebelah kaki bu mirna sambil kusodok keluar masuk dengan kencang memek bu mirna, kontol besarku terasa terjepit dilubang vagina bu mirna yang semakin licin, desahan bu mirna semakin kencang dan dekapan tangan di punggungku terasa semakin kencang seirama dengan sodokan keluar masuk kontolku. “Rrr…Riiiieee, aku keluar rrriiee…” bu mirna berbisik sambil mendesah, tubuh bu mirna terasa bergetar sesaat kemudian melemas, bu mirna mencapai orgasme, Syukurlah bukan aku dulu yang keluar.

     

    perlahan kubaringkan tubuh bu mirna dikasur, sambil aku juga meredakan nikmat yang hampir tak bisa kutahan, ku tunggu 5 menit sambil mengelap cairan dimemek bu mirna yang sangat banyak, dan membuat kurang enak karena terlalu licin. setelah beberapa saat kukocok lagi kontolku supaya tegang sambil memandangi tubuh mulus bu mirna yang terkulai lemas, perlahan kumasukkan kontolku kedalam memek bu mirna lagi, kali ini tangan bu mirna seperti menahan menolak, tapi tetap ku paksa. sambil ku berjongkok kukangkangkan kaki wanita cantik ini, dan mulai menyodok nyodok memek sempitnya, kepala bu mirna terlihat bergerak kekanan kekiri dan mendongak ku bungkukkan tubuhku dan menciumi toket bu mirna yang bulat mengencang, mengulum puting susunya sambil mendengarkan desahan lirih dari bibir bu mirna, tak lama tubuh bu mirna menegang kembali kontolku kali ini terasa terjepit lebih erat nikmat terasa sampai ke ubun ubun, dan ku mempercepat gerakan ku menyodok memek bu mirna keluar masuk sampai terdengar desahan lembut yang lebih kencang dari yang pertama tadi tanpa menghiraukannya kupegang perut bu mirna dan ku genjot lebih kencang memeknya sampai ahkirnya dorongan kencang spermaku keluar muncrat didalam memek bu mirna, perlahan lahan tetep ku gerakkan maju mundur sambil memandangi wajah cantik bu mirna, dan kucabut perlahan kontolku dari vagina wanita cantik ini, terlihat cairan putih kental mengalir keluar dari dalam memek wanita cantik ini, kemudian tubuhku terkulai lemas dan rebahan disamping tubuh bu mirna yang sudah lemas. kami pun tertidur pulas, tanpa sadar terbangun pukul setengah enam minggu pagi, bu mirna pun pamit pulang. Setelah kejadian itu, kami sering berkencan sampai nginep dihotel hanya untuk bercinta, pada ahkirnya bagi kami berdua semua ini hanyalah pemuas nafsu belaka, dan setiap malam minggu kami selalu bertemu walau cuma satu jam untuk saling memuaskan nafsu.

  • Adik Ipar yang Sopan Ternyata Mempunyai Sifat Sebagai Wanita Binal

    Adik Ipar yang Sopan Ternyata Mempunyai Sifat Sebagai Wanita Binal


    1897 views

    Adik Ipar yang Sopan Ternyata Mempunyai Sifat Sebagai Wanita Binal

    Cerita hot – Usiaku sudah hampir mencapai tiga puluh lima, ya… sekitar 3 tahunan lagi lah. Aku tinggal bersama mertuaku yang sudah lama ditinggal mati suaminya akibat penyakit yang dideritanya. Dari itu istriku berharap aku tinggal di rumah supaya kami tetap berkumpul sebagai keluarga tidak terpisah.

    Di rumah itu kami tinggal 7 orang, ironisnya hanya aku dan anak laki-lakiku yang berumur 1 tahun berjenis kelamin cowok di rumah tersebut, lainnya cewek. Jadi… begini nih ceritanya. Awal September lalu aku tidak berkerja lagi karena mengundurkan diri. Hari-hari kuhabiskan di rumah bersama anakku, maklumlah ketika aku bekerja jarang sekali aku dekat dengan anakku tersebut.

    Hari demi hari kulalui tanpa ada ketakutan untuk stok kebutuhan bakal akan habis, aku cuek saja bahkan aku semakin terbuai dengan kemalasanku. Pagi sekitar pukul 9 wib, baru aku terbangun dari tidur. Kulihat anak dan istriku tidak ada disamping, ah… mungkin lagi di beranda cetusku dalam hati.

    Saat aku mau turun dari tempat tidur terdengar suara jeritan tangis anakku menuju arah pintu. seketika itu pula pintu kamar terbuka dengan tergesanya. Oh… ternyata dia bersama tantenya Rosa yang tak lain adalah adik ipar ku, rupanya anakku tersebut lagi pipis dicelana. Rosa mengganti celana anakku, “Kemana mamanya, Sa…?” tanyaku.

    “Lagi ke pasar Bang” jawabnya “Emang gak diberi tau, ya?” timpalnya lagi. Aku melihat Rosa pagi itu agak salah tingkah, sebentar dia meihat kearah bawah selimut dan kemudian salah memakaikan celana anakku. “Kenapa kamu?” tanyaku heran “hmm Anu bang…” sambil melihat kembali ke bawah.

    “Oh… maaf ya, Sa?” terkejut aku, rupanya selimut yang kupakai tidur sudah melorot setengah pahaku tanpa kusadari, aku lagi bugil. Hmmm… tadi malam abis tempur sama sang istri hingga aku kelelahan dan lupa memakai celana hehehe….

    Anehnya, Rosa si adik ipar ku hanya tersenyum, bukan tersenyum malu, malah beliau menyindir “Abis tempur ya, Bang. Mau dong…” Katanya tanpa ragu “Haaa…” Kontan aja aku terkejut mendengar pernyataan itu. Malah kini aku jadi salah tingkah dan berkeringat dingin dan bergegas ke toilet kamarku.

    Dua hari setelah mengingat pernyataan Rosa kemarin pagi, aku tidak habis pikir kenapa dia bisa berkata seperti itu. Setahu aku tuh anak paling sopan tidak banyak bicara dan jarang bergaul. Ah… masa bodoh lah, kalau ada kesempatan seperti itu lagi aku tidak akan menyia-nyiakannya.

    Gimana gak aku sia-siakan, Tuh anak mempunyai badan yang sangat seksi, Kulit sawo matang, rambut lurus panjang. Bukannya sok bangga, dia persis kayak bintang film dan artis sinetron seksi. Kembali momen yang kutunggu-tunggu datang, ketika itu rumah kami lagi sepi-sepinya. Istri, anak dan mertuaku pergi arisan ke tempat keluarga almahrum mertua laki sedangkan iparku satu lagi pas kuliah. Hanya aku dan Rosa si adik ipar di rumah.

    Sewaktu itu aku ke kamar mandi belakang untuk urusan “saluran air”, aku berpapasan dengan Rosa yang baru selesai mandi. Wow, dia hanya menggunakan handuk menutupi buah dada dan separuh pahanya. Dia tersenyum akupun tersenyum, seperti mengisyaratkan sesuatu. Selagi aku menyalurkan hajat tiba-tiba pintu kamar mandi ada yang menggedor.

    “Siapa?” tanyaku
    “Duhhhh… kan cuma kita berdua di rumah ini, bang” jawabnya.
    “Oh iya, ada apa, Sa…?” tanyaku lagi
    “Bang, lampu di kamar aku mati tuh”
    “Cepatan dong!!”

    “Oo… iya, bentar ya” balasku sambil mengkancingkan celana dan bergegas ke kamar Rosa si adik ipar ku .

    Aku membawa kursi plastik untuk pijakan supaya aku dapat meraih lampu yang dimaksud.

    “Sa, kamu pegangin nih kursi ya?” perintahku “OK, bang” balasnya.
    “Kok kamu belum pake baju?” tanyaku heran.
    “Abisnya agak gelap, bang?”
    “ooo…!?”

    Aku berusaha meraih lampu di atasku. Tiba-tiba saja entah bagaimana kursi plastik yang ku injak oleng ke arah Rosa. Dan… braaak aku jatuh ke ranjang, aku menghimpit Rosa si adik ipar ku ..

    “Ou…ou…” apa yang terjadi. Handuk yang menutupi bagian atas tubuhnya terbuka.
    “Maaf, Sa”
    “Gak apa-apa bang”

    Anehnya Rosa tidak segera menutup handuk tersebut aku masih berada diatas tubuhnya, malahan dia tersenyum kepadaku. Melihat hal seperti itu, aku yakin dia merespon. Kontan aja barangku tegang. Kami saling bertatap muka, entah energi apa mengalir ditubuh kami, dengan berani kucium bibirnya, Rosa hanya terdiam dan tidak membalas.

    “Kok kamu diam?”
    “Ehmm… malu, Bang”

    Aku tahu dia belum pernah melakukan hal ini. Terus aku melumat bibirnya yang tipis berbelah itu. Lama-kelamaan ia membalas juga, hingga bibir kami saling berpagutan. Kulancarkan serangan demi serangan, dengan bimbinganku Rosa mulai terlihat bisa meladeni gempuranku. payudara miliknya kini menjadi jajalanku, kujilati, kuhisap malah kupelintir dikit.

    “Ouhh… sakit, Bang. Tapi enak kok”

    “Sa… tubuh kamu bagus sekali, sayang… ouhmmm” Sembari aku melanjutkan kebagian perut, pusar dan kini hampir dekat daerah kemaluannya. Rosa si adik ipar ku tidak melarang aku bertindak seperti itu, malah ia semakin gemas menjambak rambutku, sakit emang, tapi aku diam saja.

    Sungguh indah dan harum memeknya Rosa, maklum ia baru saja selesai mandi. Bulu terawat dengan potongan tipis. Kini aku menjulurkan lidahku memasuki liang vaginanya, ku hisap sekuatnya sangkin geramnya aku.

    “Adauuu…. sakiiit” tentu saja ia melonjak kesakitan.
    “Oh, maaf Sa”
    “Jangan seperti itu dong” merintih ia
    “Ayo lanjutin lagi” pintanya
    “Tapi, giliran aku sekarang yang nyerang” aturnya kemudian Tubuhku kini terlentang pasrah. Rosa langsung saja menyerang daerah sensitifku, menjilatinya, menghisap dan mengocok dengan mulutnya.

    “Ohhh… Sa, enak kali sayang, ah…?” kalau yang ini entah ia pelajari dari mana, masa bodo ahh…!!

    “Duh, gede amat barang mu, Bang”
    “Ohhh….”
    “Bang, Rosa sudah tidak tahan, nih… masukin punya mu, ya Bang”

    “Terserah kamu sayang, abang juga tidak tahan” Rosa kini mengambil posisi duduk di atas tepat agak ke bawah perut ku. Ia mulai memegang kemaluanku dan mengarahkannya ke lubang vaginanya. semula agak sulit, tapi setelah ia melumat dan membasahinya kembali baru agak sedikit gampang masuknya.

    “Ouuu…ahhhhh….” … seluruh kemaluanku amblas di dalam goa kenikmatan milik Rosa.
    “Awwwh, Baaaang….. akhhhhh” Rosa mulai memompa dengan menopang dadaku. Tidak hanya memompa kini ia mulai dengan gerakan maju mundur sambil meremas-remas payudara nya.

    Hal tersebut menjadi perhatianku, aku tidak mau dia menikmatinya sendiri. Sambil bergoyang aku mengambil posisi duduk, mukaku sudah menghadap payudaranya.Rosa semakin histeris setelah kujilati kembali gunung indahnya.

    “Akhhhh… aku sudah tidak tahan, bang. Mau keluar nih. Awwwhhh??”

    “Jangan dulu Sa, tahan ya bentar” hanya sekali balik kini aku sudah berada diatas tubuh Rosa genjotan demi genjotan kulesakkan ke memeknya. Rosa terjerit-jerit kesakitan sambil menekan pantatku dengan kedua tumit kakinya, seolah kurang dalam lagi kulesakkan.

    “Ampuuuun…… ahhhh… trus, Bang”
    “Baaang… goyangnya cepatin lagi, ahhhh… dah mau keluar nih”

    Rosa tidak hanya merintih tapi kini sudah menarik rambut dan meremas tubuhku.

    “Oughhhhh… abang juga mau keluar, Zzhaa” kugoyang semangkin cepat, cepat dan sangat cepat hingga jeritku dan jerit Rosa membahana di ruang kamar.

    Erangan panjang kami sudah mulai menampakan akhir pertandingan ini.

    ” ouughhhhh…. ouhhhhhh”
    “Enak, Baaaangg….”
    “Iya sayang…. ehmmmmmm” kutumpahkan spermaku seluruhnya ke dalam vagina Rosa dan setelah itu ku sodorkan kontol ke mulutnya, kuminta ia agar membersihkannya.
    “mmmmmmuaaachhhhh…” dikecupnya punyaku setelah dibersihkannya dan itu pertanda permainan ini berakhir, kamipun tertidur lemas.

    Kesempatan demi kesempatan kami lakukan, baik dirumah, kamar mandi, di hotel bahkan ketika sambil menggendongku anakku, ketika itu di ruang tamu. Dimanapun Rosa si adik ipar ku siap dan dimanapun aku siap.

  • Melewati Malam Bersama Dokter Shinta

    Melewati Malam Bersama Dokter Shinta


    1355 views

    BONUS VIDEO BOKEP DAN FOTO BUGIL


    Cerita Dewasa Sex | Melewati Malam Bersama Dokter Shinta

    Shinta adalah seorang dokter muda. Dia baru saja menamatkan pendidikannya pada sebuah universitas ternama di Pulau S. Selain kecerdasannya yang mengantarkan dirinya meraih gelar dokter. Shinta juga merupakan gambaran profil generasi muda masa kini. Disamping sebagai gadis yang sangat cantik, Shinta yang berusia 24 tahun ini juga lincah dan intelek dan dikenal oleh teman-temannya sebagai gadis yang cinta lingkungan dan masalah sosial budaya. Dia sangat senang dengan petualangan alam. Selama 2 tahun terakhir di kampusnya Shinta dipercaya teman-temannya menjadi Ketua Group Pecinta Alam. Sangat kontras memang.

    221663_04

    Dilihat dari penampilan fisiknya yang demikian cantik dan lembut Shinta adalah ahli bela diri Kung Fu pemegang sabuk hitam. Disamping itu dia juga sebagai pemanjat tebing yang handal dan juga beberapa kali telah mengikuti kegiatan arung jeram dengan menelusuri sungai-sungai ganas di seputar Sumatera. Sebagaimana dokter baru ia harus menjalani masa PTT pada sebuah desa yang jauh dari tempat tinggalnya. Reaksi orang tuanya dalam hal ini ibunya dan Rudi tunangannya adalah sangat keberatan saat mendengar bahwa dia harus bertugas di desa terpencil itu. Ibu Shinta sangat menyayangi Shinta. Beliaulah yang terus mendorong sekolah Shinta hingga lulus menjadi dokter. Orang tua Shinta cerai saat Shinta masih kecil. Sampai tamat dokter Shinta mengikuti ibunya. Shinta tak pernah kenal dan tahu bagaimana dan dimana ayahnya sekarang.

    Selain jauh dari kotanya daerah itu masih sangat terbelakang dan terisolir. Bayangkan, untuk mencapai daerah itu orang harus seharian naik bus antar kota, kemudian disambung dengan ojek hingga ke tepian desa yang dimaksud. Di desanya sendiri yang sama sekali tak ada sarana transportasi juga belum terjangkau oleh penerangan listrik. Tak ada TV dan belum ada sambungan pesawat telpon maupun antene repeater untuk penggunaan hand phone. Ibunya minta pamannya yang adik kandung ibunya bersama Rudi tunangannya untuk menyempatkan diri meninjau langsung desa itu. Sepulang dari desa tersebut mereka menyatakan bahwa betapa berat medan yang akan dihadapi oleh Shinta nantinya. Mereka khawatir dan cemas pada Shinta yang rencananya pada bulan Haji nanti akan dinikahkan dengan Rudi. Shinta dan Rudi telah bertunangan selama hampir 2 tahun. Rudi sendiri adalah seorang insinyur pertanian yang telah bekerja di Dinas Pertanian Kabupaten. Tetapi semua kecemasan dan kekhawatiran orang tua dan tunangannya itu tidak terlampau ditanggapi oleh Shinta. Untuk lebih menghayati cerita selanjutnya, biarlah Shinta sendiri yang menceriterakan kisah yang dialaminya sebagaimana yang tertera di bawah ini.

    221663_05

    Perjalanan itu hampir memakan waktu 1 jam. Mungkin hanya 10 menit kalau jalanannya macam jalan aspal di kota. Sampai di pintu desa nampak mereka yang menjemputku. Masih beberapa rumah dan kebon yang mesti kami lewati. Aku mendapatkan seorang perempuan yang sedang menggigil karena demam yang tinggi. Sesudah kuperiksa dia kuberi obat-obatan yang diperlukan. Kepada suami dan kerabatnya yang di rumah itu aku berkesempatan memberikan sedikit penerangan kesehatan.

    Aku sarankan banyak makan sayur dan buah-buahan yang banyak terdapat di desa itu. Bagaimana mencuci bakal makanan sehingga bersih dan sehat. Jangan terlalu asyik dengan ikan asin. Kalau berkesempatan buatlah kakus yang benar. Perhatikan kebersihan rumah dan sebagainya. Terkadang Pak Tanba ikut melengkapi omonganku. Dari sekian puluh kali dia mengantar aku, akhirnya dia juga menguasai ilmu populer yang sering kusiarkan pada penduduk itu.
    Saat pulang, kilat dari langit makin sering dengan sesekali diiringi suara guntur. Jam tanganku menujukkan pukul 10.30 malam. Ah, hujan, nih. Pak Tanba mencoba mempercepat laju kendaraannya. Angin malam di pedesaan yang dingin terasa menerpa tubuhku.
    Kira-kira setengah perjalanan kami rasakan hujan mulai jatuh. Lampu motor Pak Tanba menerangi titik-titik hujan yang seperti jarum-jarum berjatuhan. Aku lebih mempererat peganganku pada pinggulnya dan lebih menyandarkan kepalaku ke punggungnya untuk mencari kehangatan dan menghindarkan jatuhan titik-titik air ke wajahku.
    Hujan memang tak kenal kompromi. Makin deras.

    Aku pengin ngomong ke Pak Tanba agar berteduh dulu, tetapi derasnya hujan membuat omonganku tak terdengar jelas olehnya. Dia terus melaju dan aku semakin erat memeluki pinggulnya. Tiba-tiba dia berhenti. Rupanya kami mendapatkan dangau beratap daun nipah yang sepi di tepi jalanan. Aku ingat, dangau tempat jualan milik orang desa sebelah. Kalau siang hari tempat ini dikunjungi orang yang mau beli peniti, sabun atau barang-barang kebutuhan lain yang bersifat kering. Ada ‘amben’ dari bambu yang tidak luas sekedar cukup untuk duduk berteduh. Pak Tanda lekas menyandarkan motornya kemudian lari kebawah atap nipah. Aku menyilahkannya duduk.
    “Sini Pak, cukup ini buat berdua,”
    Dan tanpa canggung dia mendekat ke aku dan sambil merangkulkan tangannya ke pundakku duduk di sampingku.

    221663_06

    “Ibu kedinginan?”
    “Iyalah, Pak..” sambil aku juga merangkul balik pinggangnya dengan rasa akrab.
    Untuk beberapa saat kami hanya diam mendengarkan derasnya hujan yang mengguyur. Omongan apapun nggak akan terdengar. Suara hujan yang seperti dicurahkan dari langit mengalahkan suara-suara omongan kami. Beberapa kali aku menekan pelukanku ke tubuh Pak Tanba untuk lebih mendapatkan kehangatannya. Kepala dan wajahku semakin rebah menempel ke dadanya.
    Aku nggak tahu bagaimana mulanya. Kudengar dengusan nafas Pak Tanba di telingaku dan tahu-tahu kurasakan mukanya telah nyungsep ke leherku.Aku diam. Aku pikir dia juga perlu kehangatan. Dan aku merasakan betapa damai pada saat-saat seperti ini ada Pak Tanba. Aku juga ingin membuat dia merasa senang di dekatku.
    Tiba-tiba dia menggerakkan kecil wajahnya dan leherku merasakan bibirnya mengecupku. Aku juga diam. Aku sendiri sesungguhnya sedang sangat lelah. Ini jam-jam istirahatku. Kondisi rasio dan emosiku cenderung malas. Aku cenderung cuek dan membiarkan apa maunya.

    221663_07

    Aku nggak perlu mengkhawatirkan ulah Pak Tanba yang telah demikian banyak berkorban untukku. Dan aku sendiri yang semakin kedinginan karena pakaianku yang basah ditambahi oleh angin kencang malamnya yang sangat dingin merasakan bibir itu mendongkrak kehangatan dari dalam tubuhku. Bahkan kemudian aku juga tetap membiarkan ketika akhirnya kurasakan kecupan itu juga dilengkapi dengan sedotan bibirnya. Aku hanya sedikit menghindar.
    “Aiihh..” desahku tanpa upaya sungguh-sungguh untuk menghindar. Hingga kudengar.

    “Bb.. Bu dokteerr..” desis bisik setengah samar-samar di tengahnya suara hujan yang semakin deras menembusi gendang telingaku.
    “Buu..” kembali desis itu.
    Dan aku hanya, “Hhmm..”
    Aku nggak tahu mesti bagaimana. Aku secara tulus menyayangi Pak Tanba sebagai sahabat dan orang yang telah demikian banyak menolong aku. Aku menyayanginya juga karena adanya rasa ‘damai dan terlindungi’ saat dia berada di dekatku. Aku juga menyayanginya karena rasa hormatku pada seorang lelaki yang begitu ‘concern’ akan nilai tanggung jawabnya.

    Aku menyayangi Pak Tanba sebagai bentuk hormatku pada seorang manusia yang juga mampu menunjukkan rasa sayangnya pada sesama manusia lainnya.
    Adakah aku juga menyayangi karena hal-hal lain dari Pak Tanba yang usianya mungkinlebih tua dari ayahku? Adakah aku sedang dirundung oleh rasa sepiku? Adakah aku merindukan belaian seorang ayah yang belum pernah kujumapi? Adakah aku merindukan belaian Rudi tunanganku? Sementara aku masih gamang dan mencari jawab, kecupan dan sedotan bibir dengan halus melata pelan ke atas menyentuhi kupingku yang langsung membuat darahku berdesir.

    Jantungku tersentak dan kemudian berdenyut kencang. Tubuhku tersentak pula oleh denyut jantungku. Rasa dingin yang disebabkan angin malam dan pakaian basah di tubuhku langsung sirna. Kegamanganku menuntun tanganku untuk berusaha mencari pegangan.

    221663_08

    Dan pada saat yang bersamaan tangan kiri Pak Tanba mendekap tangan-tanganku kemudian tangan kanannya merangkul untuk kemudian menelusup ke bawah baju basahku. Dia meraba kemudian mencengkeramkan dengan lembut jari-jarinya pada buah dadaku.

    Kemudian juga meremasinya pelan. Darahku melonjak dalam desiran tak tertahan. Jari-jari tangannya yang kasar itu menyentuh dan menggelitik puting susuku. Aku tak menduga atas apa yang Pak Tanba lakukan ini. Tetapi aku tak hendak menolak. Aku merasakan semacam nikmat. Aku menggelinjang berkat remasan tangan Pak Tanba pada susuku. Aku langsung disergap rasa dahaga yang amat sangat.

    Dengan sedikit menggeliat aku mendesah halus sambil sedikit menarik leher dan menengadahkan mukaku. Sebuah sergapan hangat dan manis menjemput bibirku. Bibir Pak Tanba langsung melumat bibirku. Oocchh.. Apa yang telah terjadi.. Apa yang melandaku dalam sekejab ini.. Apa yang melemparkan aku dalam awang tanpa batas ini.. Dimana orbitku kini..

    Seperti burung yang terjerat pukat, aku merasakan ada arus yang mengalir kuat dan menyeretku. Namun aku tak berusaha mencari selamat. Aku justru kehausan dan ingin lebih lumat larut dalam arus itu. Tanganku bergerak ke atas. Kuraih kepala Pak Tanba dan menarik menekan ke bibirku. Aku ingin dia benar-benar melumatku habis.
    Aku mau dahagaku terkikis dengan lumantannya. Aku menghisap bibirnya. Kami saling melumat. Lidah Pak Tanba meruyak ke mulutku dan aku menyedotinya. Aku langsung kegerahan dalam hujan lebat dan dinginnya malam pedesaan itu. Tubuhku terasa mengeluarkan keringat. Mungkin pakaianku mengering karena panas tubuhku kini.

    “Mmmhh..” desahnya.
    “Mllmmhh..” desahku.
    Aku tak tahu lagi apa yang berikutnya terjadi. Aku hanya merasa Pak Tanba merebahkan tubuhku ke ‘amben’ bambu itu sambil mulutnya terus melumati bibirku. Dan tanganku tak lepas dari pegangan di kepalanya untuk aku bisa lebih menekankannya ke bibirku. Desah dan rintih yang tertimpa bunyi derasnya hujan menjadi mantera dan sihir yang dengan cepat menggiring kami ketepian samudra birahi. Hasrat menggelora menggelitik saraf-saraf libidoku.

    Kemudian kehangatan bibir itu melepas dari bibirku untuk melata. Pak Tanba sesaat melumat dan menggigit kecil bibir bawahku untuk kemudian turun melumati daguku. Aamppuunn.. Kenapa gairah ini demikian mengobarkan syahwatku.. Ayoo.. Terus Paakk.. Aku hauss.. Pak Tanbaa..
    Leherku mengelinjang begitu bibir Pak Tanba menyeranginya. Kecupan demi kecupan dia lepaskan dan aku tak mampu menahan gejolak nafsuku. Aku beranikan menjerit di tengah hujan keras di atas dangau sepi dekat tepian desa ini.
    “Ayyoo.. Paakk.. Aku hauss Pak Tanbaa.. “.

    Aku menggelinjang kuat. Aku meronta ingin Pak Tanba merobek-robek nafsu birahiku. Aku ingin dia cepat menyambut dahagaku.

    Tiba-tiba tangan Pak Tanba merenggut keras baju dokterku. Dia renggut pula blusku. Semua kancing-kancing bajuku putus terlepas. Pak Tanba menunjukkan kebuasan syahwat hewaniahnya. Duh.. Aku jadi begitu terbakar oleh hasrat nikmat birahiku. Aku merasakan seorang yang sangat jantan sedang berusaha merampas kelembutan keperempuananku. Dan aku harus selekasnya menyerah pada kejantanannya itu.

    Dia ‘cokot’i buah dadaku. Dia emoti susu-susuku. Di gigit-gigit pentil-pentilku. Sambil tangannya mengelusi pinggulku, pantatku, pahaku. Ciuman-ciumannya terus menyergapi tubuhku. Dari dada turun ke perut dan turun lagi.. Turun lagi.. Aku benar-benar terlempar ke awang lepas.

    221663_09

    Aku memasuki kenikmatan dalam samudra penuh sensasi. Semua yang Pak Tanba lakukan pada tubuhku belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku sama sekali tak mempertimbangkan adanya Rudi tunanganku itu.
    Dan yang lebih-lebih menyiksaku kini adalah rasa gatal yang sangat di seputar kemaluanku. Tanpa mampu kuhindarkan tanganku sendiri berusaha menggaruk elus rasa gatal itu. Dengan sigap tanpa rasa malu aku lepasi celana dalamku sendiri. Kulemparkan ke tanah. Aku menekan-nekan bagian atas vaginaku untuk mengurangi kegatalan itu. Aku makin merasakan cairan birahiku meleleh luber keluar dari vaginaku.
    Sensasi dari Pak Tanba terus mengalir.

    Kini bibirnya telah merasuk lebih kebawah. Dia mengecupi dan menjilat-jilat selangkanganku. Dan itu membuat aku menjadi sangat histeris. Kujambaki rambut Pak Tanba dalam upaya menahan kegatalan syahwatku. Pak Tanba rupanya tahu. Bibirnya langsung merambah kemaluanku. Bibirnya langsung melumat bibir vaginaku. Lidahnya menjilati cairan birahiku. Kudengar.. Ssluurrpp.. Sslluurrpp.. Saat menyedoti cairan itu. Bunyi itu terdengar sangat merangsang nafsuku.

    Aku tak tahan lagi. Aku ibarat hewan korban persembahan Pak Tanba yang siap menerima tusukan tajam dari tombaknya. Kobaran birahiku menuntut agar persembahan cepat dilaksanakan. Aku tarik bahu Pak Tanba agar bangkit dan cepat menikamkan tombaknya padaku. Ayoolaahh.. Paakk..
    Aku tak tahu kapan Pak Tanba melepasi pakaiannya.

    Bahkan aku juga tak sepenuhnya menyadari kenapa kini aku telah telanjang bulat. Pak Tanba memang lekas merespon kobaran nafsuku. Dia telah jauh pengalamannya. Apa yang aku lakukan mungkin sudah sering dia dapatkan dari istri-istrinya. Dengan sigap dia naik dan menindihku dalam keadaan telah telanjang. Dia benamkan wajahnya ke lembah ketiakku. Dia menjilati dan menyedotinya.
    Sementara itu aku juga merasakan ada batang keras dan panas menekan pahaku. Tak memerlukan pengalaman untuk mengetahui bahwa itu adalah kemaluan Pak Tanba yang telah siap untuk menikam dan menembusi kemaluanku. Tetapi dia terhenti. Detik-detik penantianku seakan-akan bertahun-tahun. Dia berbisik dalam parau.
    “Bu Dokter, ibu masih perawan?”
    Aku sedikit tersentak atas bisikkannya itu. Yaa.. Aku memang masih perawan. Akankah aku serahkan ini kepada Pak Tanba? Bagaimana dengan Rudi nanti? Bagaimana dengan masa depanku? Bagaimana dengan risiko moralku? Bagaimana dengan karirku? Dalam sekejab aku harus mengambil sikap. Dengan sangat kilat aku mencoba berkilas balik.

    221663_11
    Dalam posisi begini ternyata aku mampu berpikir jernih, walau sesaat. Kemudian aku kembali ke arus syahwat birahi yang menyeretku. Aku tidak menjawab dalam kata kepada Pak Tanba. Aku langsung menjemput bibirnya untuk melumatinya sambil sedikit merenggangkan pahaku. Aku rela menyerahkan keperawananku kepada Pak Tanba.
    Ditengah derasnya hujan dan dinginnya pedesaan, diatas ‘amben’ bambu dan disaksikan dangau beratap daun nipah di tepi jalan tidak jauh dari pintu desaku Pak Tanba telah mengambil keperawananku.

    Aku tak menyesalinya. Hal itu sangat mungkin karena rasa relaku yang timbul setelah melihat bagaimana Pak Tanba tanpa menunjukkan pamrihnya membantu tugas-tugasku. Dan mungkin juga atas sikapnya yang demikian penuh perhatian padaku. Rasa ‘adem’ dan ‘terlindungi’ dari sosok dan perilaku Pak Tanba demikian menghanyutkan kesadaran emosi maupun rasioku hingga aku tak harus merasa kehilangan saat keperawananku di raihnya.

    Sesaat setelah peristiwa itu terjadi Pak Tanba nge-’gelesot’ di rerumputan dangau itu sambil menangis di depan kakiku. Ini juga istimewa bagiku karena aku pikir orang seperti Pak Tanba tidak bisa menangis.
    “Maafkan kekhilafan saya, Bu Dokter. Saya minta ampuunn..”
    Tetapi aku cepat meraihnya untuk kembali duduk di ‘amben’. Bahkan aku merangkulinya. Bahkan sambil kemudian menjemput bibirnya dan kembali melumatinya aku katakan bahwa aku sama sekali rela atas apa yang Pak Tanba telah lakukan kepadaku.

    Malam itu sebelum beranjak pulang kami sekali lagi menjemput nikmat syahwat birahi. Tanpa kata-kata Pak Tanba menuntunku bagaimana supaya aku bisa meraih orgasmeku. Dia bimbing aku untuk menindih tubuhnya yang kekar itu. Dia tuntun kemaluannya untuk diarahkan ke kemaluanku. Kemudian dia dorong tarik sesaat sebelum aku berhasil melakukannya sendiri. Betapa sensasi syahwat langsung menyergapku. Aku mengayun pantat dan pinggulku seperti perempuan yang sedang mencuci di atas penggilesan. Hanya kali ini yang berayun bukan tanganku tetapi pantat dan pinggulku. Aku berhasil meraih orgasmeku secara beruntun menyertai saat-saat orgasme dan ejakulasinya Pak Tanba yang kurasakan pada kedutan-kedutan kemaluannya yang disertai dengan panasnya semprotan sperma kentalnya dalam liang sanggamaku.

    Aneh, saat kami bersiap pulang langit mendadak jadi terang benderang. Bahkan bulan yang hampir purnama membagikan cahayanya mengenai pematang sawah di tepian jalan itu. Sebelum Pak Tanba menarik motornya dia sekali lagi meraih pinggangku dan kembali memagut bibirku kemudian.
    “Bu Dokter maukah kamu menjadi istriku?,”

    Aku tak menjawab dalam kata pula. Aku hanya mencubit lengannya yang dibalas Pak Tanba dengan ‘aduh’.
    Dalam keremangan cahaya bulan kami memasuki desa tantanganku. Aku merenungi betapa desa ini telah memberiku banyak arti dalam hidupku. Dan pada dini pagi yang dingin itu kutetapkan hatiku. Aku akan mengabdi pada desa tantanganku ini. Aku akan jadi dokter desa dan tinggal bersama suamiku sebagai istri ke.4 Pak Tanba yang sangat baik itu.

    Saat pamanku datang menjemput dan kebetulan tanpa disertai Rudi karena sedang bertugas di luar kotanya semuanya kuceritakan kepadanya. Kusampaikan bahwa dengan sepenuh kesadaranku aku telah menemukan jalan dan pilihanku. Aku akan mengabdi di desa tantanganku. Dan aku minta tolong untuk disampaikan kepada Rudi permohonan maafku yang telah mengecewakannya. Dan tentu saja kepada ibuku disamping restunya yang selalu aku perlukan.

    221663_12 221663_13 221663_14 221663_15

  • Goyangan Maut Tante Any

    Goyangan Maut Tante Any


    908 views

    BONUS VIDEO BOKEP DAN FOTO BUGIL


    Cerita Sex Dewasa | Goyangan Maut Tante Any

    Sebut saja namaku Pram, aku adalah suami dari seorang istri yang menurutku sungguh sangat sempurna. Namun begitu sebagaimana layaknya sebuah pepatah, rumput tetangga sangatlah segar, itu yang berlaku dalam kehidupanku. Walaupun pelayanan yang kuterima dari istriku sungguh tidak kurang suatu apapun, masih juga terlintas dalam anganku fantasi yang menggairahkan setiap kali Tante Amy lewat di depan rumah.

    188844_01Tante Amy adalah seorang pengusaha Garment yang cukup ternama di kota Solo. Kalau tidak salah tafsir, usia Tante Amy sekitar 38 tahun, sementara suaminya adalah pemilik sebuah penginapan di Pantai Senggigi Pulau Lombok. Barangkali karena lokasi usaha pasutri ini yang berjauhan, mungkin itulah penyebab mereka sampai sekarang ini belum dikaruniani momongan. Tapi sudahlah, itu bukan urusanku, karena aku hanya berkepentingan dengan pemilik betis kaki yang berbulu halus milik Tante Amy yang selalu melintas dalam setiap fantasi seksku. Kalau menurut penilaianku betis kaki Tante Amy bak biji mentimun, sementara gumpalan buah dada, pantat maupun leher Tante Amy sangatlah sejuk kurasakan seiring dengan air liurku yang tertelan dalam kerongkonganku.

    Sore.., sehabis kubersihkan Tiger 2000-ku, terlihat Tante Amy keluar dari mobil. Saat itulah sejengkal paha putih di atas lutut tertangkap oleh mataku tidak urung kelaki-lakianku berdenyut juga. Lamunanku buyar oleh panggilan istriku dari teras samping. Sesuai rencana, aku akan mengantar istriku untuk berbelanja ke pasar untuk membeli oleh-oleh yang akan dibawa pulang ke Kalimantan (perlu kujelaskan di sini, istriku berasal dari Kalimantan Selatan).

    188844_04Malam terakhir sebelum keberangkatan istriku beserta putra putriku ke Kalimantan sungguh suatu malam yang menggairahkan buatku. Bagaimana tidak, setelah sekian minggu tidak pernah kulihat istriku minum ramu-ramuan anti hamil, malam ini dia kulihat sibuk di dapur mengaduk dua buah gelas jamu, satu untuknya satu untukku. Anak-anak asyik main video game di ruang keluarga di temani Ryan adikku. Kode rahasia dari kelopak mata istriku mengajakku masuk ke kamar tidur.

    Setelah mengunci pintu kamar, aku duduk di kursi sambil mengupas apel, sementara istriku yang mengenakan gaun tembus pandang sedang meletakkan dua buah gelas berisi rahasia kedahsyatan permainan ranjangku di meja di dekatku. Tonjolan payudara yang amat terawat bagus itu menyembul tepat di depan mataku. Pembaca yang budiman, cita rasa hubungan seksku adalah menarinya Citra istriku mengawali kisah ranjang.

    188844_05Setelah kuminum jamu, aku mendekati Citra sambil memandangi dari ujung kaki sampai ujung rambut panjang sebahunya perlahan kutelusuri. 15 menit sudah berlalu, Citra mulai melepas satu persatu pakaiannya hingga akhirnya tinggal BH dan celana dalamnya yang menutupi point penting persembahan untukku. Kudekap Citra sambil kucium mata indahnya, desahan napas terasa hangat terhembus di helaian bulu dadaku. Lidahku yang terjulur memasuki mulut Citra dan perlahan bergerak memutari langit-langit rongga mulut istriku. Balasan yang kurasakan sangatlah hangat menggetarkan bibirku.

    Tangan Citra yang melingkari tubuhku bergerak melucuti bajuku. Sementara jilatan lidahku mampir mendarati leher yang putih bergelombang bak roti bolu itu. Jilatanku pindah ke belakang leher dan daun telinganya. Pelukanku memutar ke belakang diikuti belaian tanganku memutari gumpalan payudara yang semakin mengeras. Tidak urung telapak tanganku semakin gemetaran, kuremas halus payudara Citra dengan tangan kananku sementara tangan kiriku meraba dan mengusap sekujur pusaran. Citra mendesah-desah sambil memegang klitorisnya.

    188844_07“Ouch.., uhh. Mas antar aku ke puncak sanggama buat sanguku pisah tiga minggu denganmu..!” permohonan Citra memang selalu begitu setiap bersetubuh.
    “Janganlah terlalu banyak bicara Citraku, lebih baik kita nikmati malam ini dengan desah napasmu, karena desah napas dan erangan kepuasanmu akan membuatku mampu mengantarmu ke puncak berulang-ulang. Kau tahu kan penyakitku, semakin kau mengerang kenikmatan semakin dahsyat pacuan kuda kontolku,” jawabku.
    “Aacchh.., huuhh.., hest..!” desah napas Citra keluar sambil kedua tangannya memeluk wajahku dan perlahan menuntunnya menelusuri titik-titik kenikmatan yang kata orang titik kenikmatan perempuan ada beratus-ratus tempatnya.

    188844_09Memang sampai saat ini aku tidak pernah menghitung entah ada berapa sebenarnya titik itu, yang jelas menurutku tubuh perempuan itu seperti permen yang semuannya enak dirasa untuk dijilati, buktinya setiap mili tubuh istriku kujilati selalu nikmat dirasakan Citraku. Perjalanan lidahku lurus di atas vagina yang kemudian menjilat helaian bulu halus menuju Vagina. Harum semerbak aroma vagina wanita asal Kalsel hasil dari Timung (Timung adalah perawatan/pengasapan ramu-ramuan untuk tubuh wanita-wanita asal Suku Kalimantan) membuatku menarik napas dalam-dalam.

    Kulumanku mendarat di bibir vagina sambil sesekali menarik lembut, membuat Citra menanggapi dengan erangan halus dan tekanan tangannya menekan kepalaku untuk semakin menelusuri kedalaman jilatan lidah mancari biji kedelai yang tersembunyi. Gigitan halus gigiku menarik lembut klitoris merah delima. Tanpa kusadari Citra mengulurkan balon jari kepadaku, jari tengah tanganku yang terbungkus dengan balon karet pelan kumasukkan ke dalam lubang vagina Citra dan menari di dalam menelusuri dinding lubang senggamanya.

    “Hsstt.. uuhh.. aduduhh..!” desah napas Citra membuat kedua kakinya gemetaran, “Ayo Mas..! Sekarang..!” pintanya tidak sabar lagi.
    Batang kemaluanku yang sejak tadi mengejang ditariknya menuju ring tinju persetubuhanku. Penisku memang tidak seberapa besar, namun panjangnya yang 18,3 cm ini sejak perjaka dulu kupasangi anting-anting, dan hal itu yang membuatku mampu main berulang-ulang.

    188844_10Di atas ranjang Citra membuat posisi silang, posisi yang sangat dia senangi. Tanpa membuat roman tambahan, kumasukkan batang kemaluanku ke lubang vagina yang sudah siap tempur itu.
    “Uuch.. aacchh.. terus genjot Mas..!” desahnya.
    Tanpa mencabut penisku dari lubang, Citra membuat posisi balik, “Ii.. ii yaa begitu Mas teeruus..!”
    Sekali lagi kelenturan hasil fitnest Citra membantu membalik posisi menungging tanpa kucabut batang kemaluanku yang masih menancap di liangnya.

    Dengan gerakan katrol kuhujani celah pantat Citra dengan kencang.
    Akhirnya, “Uuu.. uch aa.. ach e.. ee.. enakk..!” teriakan kecil Citra membuatku semakin kencang menusuk vaginanya dengan semakin dahsyat.
    “Tunggu aku Cit.. kita sama-sama.. oya.. oy.. yack.. uuhh..!” desahku.
    Kupeluk dari belakang tubuh yang terbalut dengan peluh, terasa nikmat sekali. Akhirnya malam ini Citra kewalahan setelah mengalami orgasme sampai lima kali hingga aku telat bangun pagi untuk jogging sambil melihat tubuh indah Tante Amy lari pagi di Minggu yang cerah ini.

    Hari ini masuk hitungan ke tiga hari aku ditinggalkan oleh istriku pulang mudik, fantasi Tante Amy selalu hadir dalam kesepianku. Hingga tanpa kusadari pembantu Tante Amy mengetuk pintu depan rumahku.
    “Pak Pram saya ke mari disuruh Ndoro Putri minta bantuan Pak Pram untuk memperbaiki komputer Ndoro Putri,” kata pembantu Tante Amy.
    Ya.. inilah namanya ‘kuthuk marani sundhuk’ (datang seperti apa yang diinginkan).
    “O ya, sebentar nanti saya susul.” kusuruh Bik Ijah pulang duluan.

    “Kulo nuwun..” kekethuk pintu depan rumah Tante Amy tanpa kudengar jawaban, hanya klethak.. klethok suara langkah kaki menuju pintu yang ternyata Tante Amy sendiri yang datang.
    “Silahkan masuk Dik Pram, Tante mau minta tolong komputer Tante kena Virus. Silahkan langsung saja ke ruang kerja Tante.”
    Tanpa berkata-kata lagi aku masuk menuju ruang kerja Tante Amy yang menurutku seperti kamar Hotel 7 (Obat Sakit Kepalaku yang sedang puyeng ngelihat lenggak-lenggok jalan Tante Amy di depanku).

    Sejujurnya kukatakan aku sudah tidak karuan membayangkan hal-hal yang menggairahkan. Sambil aku menunggu Scan Virus berjalan, kutelusuri pelosok ruangan kerja Tante Amy (sengaja kuhilangkan label Tante di depan nama Amy untuk menghibur dan membuat fantasi di benakku tentang kharisma seksualitas pemilik ruangan ini). Khayalanku buyar dengan kedatangan si pemilik ruang kerja ini. Pendek kata, sambil kerja aku di temani ngobrol oleh Tante Amy kesana kesini sampai akhirnya Tante Amy menyinggung rasa kesepiannya tanpa kehadiran anak di rumah yang megah ini.

    188844_11

    “Dik Pram nggak tahu betapa hampa hidup ini walau terguyur dan tertimbun harta begini tanpa kebersamaan suami dan hadirnya anak. Selain Om Jhony itu nggak bisa ngasih keturunan yang dapat memberikan kehangatan keluarga. Keadaan ini membuatku butuh teman untuk menghapus kekeringanku.” cerita Tante Amy membuat kelakianku langsung bangun.

    “Perkawinanku diambang kehancuran karena kerasnya mertuaku menuntut kehadiran cucu-cucu untuk mewarisi peninggalan Papanya Om Jhon. Sebenarnya jujur kukatakan Om Jhony nggak mau pisah denganku, apapun yang terjadi. Malah pernah diluar kewajarannya sebagai seorang Suami dan kepala Rumah Tangga, Om Jhony pernah memintaku untuk membuat Bayi tabung.” cerita Tante Amy tidak seratus persen kuperhatikan, karena aku lebih tertarik melihat betis biji timun Tante Ami dan pahanya tersingkap karena terangkat saat duduk di sofa.

    Ternyata tanpa kusadari sebenarnya Tante Amy memancing hasratku secara tidak langsung. Walau sedikit ragu aku semakin mengarahkan pembicaraan ke arah seks. Tanpa sadar aku pindah duduk di dekat Tante Amy, dan tanpa permisi kupegang dan kuremas tangannya. Ternyata perlakuanku itu tidak mendapatkan penolakan sama sekali. Hingga akhirnya dalam posisi berdiri kudorong Tante Amy ke tembok dan kucium bibir merekah delima itu.

    Dengan hasrat yang menggebu-gebu aku agak kasar dalam permainan, sehingga terbawa emosi menyerang sekujur tubuh Tante Amy yang tentunya takut ketahuan pembantu. Permainanku berhenti sejenak karena Tante Amy bergegas menutup pintu. Dan mungkin karena Tante Amy telah sekian lama kering tidak pernah disemprot air mani suaminya, dia terkesan terburu-buru. Dengan cepat dia melepas pakaiannya satu persatu hingga menyisakan BH dan celana dalamnya.

    188844_12

    Kini aku tahu betapa indahnya rumput tetangga dan betapa dahsyatnya gairahku. Kudorong Tante Amy rebah di atas meja kerja dengan tangan kananku meremas payudaranya yang kenyal karena belum pernah melahirkan. Terasa nikmat sekali payudaranya kuremas-remas, sementara tangan kiriku melepaskan celana dalam biru lautnya. Aduh itu bulu-bulu halusnya membuatku merinding. Tidak kuingat aku siapa Amy itu siapa.., Nilam dan Ziddan (anakku) yang sedang jauh di sana, semuanya kulupakan karena aku sudah terselimuti nafsu setan duniawi. Aku semakin menggila melumat dan menjilat, meraba serta meremas pantat Tante Amy yang sekal plus mulus terawat ini.

    Tante Amy menggelinjang kenikmatan merasakan pelayananku. Vagina Tante Amy ternyata masih teramat kuat mencengkeram penisku yang membuatnya terbelalak kagum plus ngeri melihat anting-anting yang kupasang di bawah ujung kepala kemaluanku. Tante Amy tidak sabar menanti nikmatnya ditusuk pistol kejantananku. Lagi-lagi Tante Amy kelewat terburu-buru menyerangku yang akhirnya aku merasa sedang diperkosanya. Anting-anting yang maha dahsyat tergantung setia selalu bertahun-tahun kupakai terasa sakit oleh hisapan dan kuluman serta gigitan giginya.

    Lidah Tante Amy berputar memutari batang kemaluanku. Aku menggelinjang tidak karuan. Pikir punya pikir inilah hasil dari pikiran kotorku selama ini, ya sudah, kunikmati saja walau sakit. Mendadak Tante Amy ganas menyerangku, didorongnya aku ke sofa, dengan posisi duduk bersandar aku menerima tindihan tubuh indah Tante Amy yang posisinya membelakangiku. Kemudian dipegangnya pistol gombyokku dan diarahkan ke vaginanya. Lalu dengan ngos-ngosan Tante Amy naik turun menekanku, ini berlangsung kurang lebih 15 menit.

    Kini posisi Tante Amy menghadapku. Lagi-lagi dipegang penisku dan dimasukkan ke liang vaginanya. Nah.., ini baru membuatku merasa enak karena aku dapat dengan leluasa mengulum putingnya dan mengusap-usap bulu halus betis biji timunnya. Goyang sana goyang sini, sekarang dengan kekuatanku kuangkat tubuh Tante Amy dengan posisi berdiri. Kunaik-turunkan dan kurebahkan di sofa tubuhnya. Kutaruh kaki indah ini di bahuku, kuhujani Tante Amy dengan gesekan-gesekan tajam. Dalam hal ini dia mulai merasa tidak tahan sama sekali, kakinya yang melingkar di bahuku semakin kencang menjepitku. Dia mengerang kenikmatan mencapai klimaks orgasme.

    188844_13

    Aku merasa heran, aku merasa belum mau keluar. Sudah berbagai posisi kulakukan, belum juga keluar. Tante Amy semakin merintih kewalahan, aku tidak mau melepaskan hujanan-hujananku. Anting-anting saktiku membantu membuatku dapat main sampai empat kali Tante Amy mengalami orgasmenya.

    Hingga pada suatu ketika aku merasa mendekati pelabuhan, kubiarkan batang kemaluanku tertanam dan tertimbun bulu-bulu kemaluannya yang tidak seharum punya Citra, istriku. Tanpa sadar aku terikat kenikmatan sedang main dengan istri orang. Lalu laharku muntah di dalam vagina bersamaan dengan orgasme Tante Amy untuk yang kelima kalinya. Aku lemas dengan masih membiarkan penisku yang terbenam dan tertimbun bulu vaginanya. Aku terkulai merasa hangat di atas tubuh Tante Amy yang basah oleh keringat.

    Lama-lama aku sadar, aku bangun tapi kok Tante Amy tidak bergerak. Ach.., mungkin dia tertidur kenikmatan. Kutepis anganku dari pikiran yang tidak-tidak. Aduh mak, Tante Amy ternyata pingsan. Tapi melihat seonggok tubuh montok berbulu halus, gairahku tumbuh lagi. Perlahan kujilat dari ujung kaki sampai pangkal paha dengan membalik posisi pistolku menindih wajahnya. Kukulum vagina Tante Amy sampai tiba-tiba aku kelelahan dan tertidur.

    188844_15

    Akhir cerita, perbuatanku ini berlangsung terus tanpa setahu suami Tante Amy dan Istriku. Sampai suatu hari kutahu Tante Amy sedang hamil tua yang tidak lain karena mengandung benihku, tapi herannya hubungan Tante Amy dengan suaminya tambah mesra. Kutahu juga belakangan hari mertua maupun orangtua Tante Amy sering hadir di rumah yang letaknya di depan rumahku.

    188844_16

  • Nikmatnya ngentot Sama Vani

    Nikmatnya ngentot Sama Vani


    854 views

    nikmatnya ngentot dengan tante veni yang hot

    Hey met malem sobat pasti lagi nunggu cerita-cerita terbaru nie. Langsung saja saya akan memberi cerita terbaru, saya dapat cerita ini dari salah satu pengunjung yang bersedia membagi ceritanya. Silahkan di baca ya kawan-kawan. Kuliah jam terakhir di kampus S di kawasan Jakarta Selatan baru saja berakhir. Jam menunjukkan pukul 18.00 dan hari pun mulai gelap. Vani, mahasiswi semester 4 fakultas Ekonomi dengan rambut sebahu berwarna brunette berjalan meninggalkan kampus menuju halte depan kampus. Sesampainya di halte, Vani merasa agar kurang nyaman. Mata para cowok penjual rokok dan si timer memelotinya seolah ingin menelanjanginya.

    Cerita Sex Dewasa | Nikmatnya ngentot Sama Vani – Tersadarlah Vani bahwa hari itu dia memakai pakaian yang sangat sexy. T-shirt putih lengan pendek dengan belahan rendah bertuliskan WANT THESE?, sehingga tokednya yang berukuran 36C seolah hendak melompat keluar, akibat hari itu Vani menggunakan BH ukuran 36B (sengaja, biar lebih nongol). Apalagi kulit Vani memang putih mulus. Di tambah rok jeans mini yang digunakannya saat itu, mempertontonkan kaki jenjang & paha mulusnya karena Vani memang cukup tinggi, 173cm.

    ”Buset, baru sadar gue kalo hari ini gue pake uniform sexy gue demi ngadepin ujiannya si Hutabarat, biar dia gak konsen”, pikir Vani.

    Biasanya Vani bila naik angkot menggunakan pakaian t-shirt atau kemeja yang lebih tertutup dan celana panjang jeans, demi menghindari tatapan dan ulah usil cowok-cowok di jalan. Siang tadi Vani ke kampus datang numpang mobil temannya, Angel. Tapi si Angel sudah pulang duluan karena kuliahnya lebih sedikit.

    Vani tambah salah tingkah karena cowok-cowok di halte tersebut mulai agak berani ngliatin belahan tokednya yang nongol lebih dekat lagi. ”Najis, berani amat sih nih cowok-cowok mlototin toked gw”, membatin lagi si Vani. Vani menggunakan bukunya untuk menutupi dadanya, tapi mereka malah mengalihkan pandangan mesumnya ke pantat Vani yang memang bulat sekal dan menonjol.

    Makin salah tingkahlah si Vani. Mau balik ke kampus, pasti sudah gelap dan orang sudah pada pulang. Mau tetap di halte nungguin angkot, gerah suasananya. Apalagi kalo naik bus yang pasti penuh sesak jam segini, Vani tidak kebayang tangan-tangan usil yang akan cari-cari kesempatan untuk menjamahi tubuhnya. Sudah kepikiran untuk naik taxi, tapi uang tidak ada. Jam segini di kos juga kosong, mau pinjam uang sama siapa bingung. Vani coba alternatif terakhir dengan menelpon Albert cowoknya atau si Angel atau Dessy teman2nya yang punya mobil, eh sialnya HP mereka pada off. ”Buset, sial banget sih gue hari ini.”

    Mulailah celetukan mesum cowok-cowok di halte dimulai ”Neng, susunya mau jatuh tuh, abang pegangin ya. Kasihan, pasti eneng keberatan hehe”. Pias! Memerahlah muka Vani. Dipelototin si tukang ojek yang berani komentar, eh dianya malah balas makin pelototin toked si Vani. Makin jengahlah si Vani.

    Tiba-tiba sebuah sedan BMW hitam berhenti tepat di depan Vani. Jendelanya terbuka, dan nongolah seraut wajah hitam manis berambut cepak sambil menyeringai, si Ethan. Cowok fakultas Ekonomi satu tahun di atas Vani, berkulit hitam, tinggi besar, hampir 180cm.
    ”Van, jualan lo disini? Hehe”.Vani membalas
    ”Sialan lo, gue ga ada tumpangan neh, terpaksa tunggu bus. Than, anter gue ya” pinta Vani.

    Vani sebenarnya enggan ikut bersama si Ethan karena dia terkenal suka main cewek. Tapi, dilihat dari kondisi sekarang, paling baik memang naik mobil si Ethan. Tapi si Ethan malah bilang ”Wah sory Van, gue harus pergi jemput nyokap gue. Arahnya beda sama kosan elo”. ”Than, please anter gue ya. Ntar gw traktir deh lo” rajuk Vani. Sambil nyengir mesum Ethan berucap ”Wah kalo ada bayarannya sih gue bisa pertimbangin”. ”Iya deh, ntar gue bayar” Vani asal ucap, yang penting bisa pergi segera dari halte tersebut. ”Hehe sip” kata Ethan sambil membuka pintu untuk Vani. Vani masuk ke dalam mobil Ethan, diiringi oleh pandangan sebel para cowok-cowok di halte yang kehilangan santapan rohani.Mobil Ethan mulai menembus kemacetan ibu kota.

    ”Buset dah lo Van, sexy amat hari ini”.
    Kata Vani ”Gue sengaja pake uniform andalan gue, karena hari ini ada ujian lisannya si Hutabarat, Akuntasi Biaya. Biar dia ga konsen, n kasi gw nilai bagus hehe”.
    ”Gila lo, gue biarin bentar lagi, lo udh dient*tin sama tu abang-abang di halte haha” balas Ethan.
    “Sial, enak aja lo ngomong Than” maki Vani.

    Sambil mengerling ke Vani, Ethan berucap “Van, bayaran tumpangan ini, bayar sekarang aja ya”. ”Eh, gue bawa duit cuma dikit Than. Kapan2 deh gue bayarin bensin lo” balas Vani. “Sapa yang minta diduitin bensin, Non” jawab Ethan. “Trus lo mau apa? Traktir makan” tanya Vani bingung. “Ga. Ga perlu keluar duit kok. Tenang aja” ucap Ethan misterius. Semakin bingung si Vani. Sambil menggerak-gerakan tangan kirinya si Ethan berkata ”Cukup lo puasin tangan kiri gue ini dengan megangin toked lo. Nepsong banget gue liatnya”. Seringai mesum Ethan menghiasi wajahnya. Seperti disambar petir Vani kaget dan berteriak ”BANGSAT LO THAN. LO PIKIR GUE CEWE APAAN!!”. Pandangan tajam Vani pada wajah Ethan yang tetap cengar-cengir. “Yah terserah lo. Cuma sekenyot dua kenyot doang. Apa lo gue turunin disini” kata Ethan. Pada saat itu mereka telah sampai di daerah yang gelap dan banyak gubuk gelandangan. Vani jelas ogah. “Bisa makin runyam kalo gue turun disini. Bisa2 gue digangbang” Vani bergidik sambil melihat sekitarnya. ”Ya biarlah si Ethan bisa seneng-seneng bentar nggranyangi toked gue. Itung-itung amal. Kampret juga si Ethan ini”. Akhirnya Vani ngomong ”Ya udah, cuma pegang susu gue doang kan. Jangan lama-lama” Vani ketus. ”Ga kok Van, cuma sampe kos lo doang” kata Ethan penuh kemenangan. ”Sialan, itu sih bisa setengah jam sendiri. Ya udhlah, biar cepet beres nih urusan sialan” pikir Vani.

    Tangan kiri Ethan langsung terjulur meraih toked Vani sebelah kanan bagian atas yang menonjol dari balik t-shirtnya. Vani merasakan jari-jari kasar Ethan dikulit tokednya mulai membelai-belai pelan. Darah Vani agak berdesir ketika merasakan belaian itu mulai disertai remasan-remasan lembut pada toked kanan bagian atasnya. Sambil tetap menyetir, Ethan sesekali melirik ke sebelah menikmati muka Vani yang menegang karena sebal tokednya diremas-remas. Ethan sengaja jalanin mobil agak pelan, sementara Vani tidak sadar kalau laju mobil tidak secepat sebelumnya, karena konsen ke tangan Ethan yang mulai meremas-remas aktif secara bergiliran kedua bongkahan tokednya.

    Nafas Vani mulai agak memburu, tapi Vani masih bisa mengontrol pengaruh remasan-remasan tokednya pada nafsunya ”Enak aja kalo gue sampe terangsang gara-gara ini” pikir Vani. Tapi Ethan lebih jago lagi, tiba-tiba jari-jarinya menyelusup kedalam t-shirt Vani, bahkan langsung masuk kedalam BH-nya yg satu ukuran lebih kecil. Toked Vani yang sebelah kanan terasa begitu penuh di telapak tangan Ethan yang sebenarnya lebar juga. ”Ahh…!” Vani terpekik kaget karena manuver Ethan. ”Hehe buset toked lo Van, gede banget. Kenyal lagi. Enak banget ngeremesinnya. Tangan gue aja ga cukup neh hehe” ujar Ethan penuh nafsu.

    Ethan melanjutkan gerakannya dengan menarik tangan kirinya beserta toked Vani keluar dari BH-nya. Toked sebelah kanan Vani kini nongol keluar dari wadahnya dan terekspos full. ”Wuah..buset gedenya. Pentilnya juga gede neh. Sering diisep ya Van” kata Ethan vulgar. ”Bangsat lo Than. Kok sampe gini segala” protes Vani berusaha mengembalikan tokednya kedalam BH-nya. Tangan Vani langsung ditahan oleh Ethan ”Eh, inget janji lo. Gue boleh ngremesin toked lo. Mo didalam BH kek, di luar kek, terserah gue”. Sambil cemberut Vani menurunkan tangannya. Penuh kemenangan, Ethan kembali menggarap toked Vani yang kini keluar semuanya.

    Remasan-remasan lembut di pangkal toked, dilanjutkan dengan belaian memutar disekitar puting, membuat Vani semakin kehilangan kendali. Nafasnya mulai memburu lagi. Apalagi Ethan mulai memelintir-melintir puting Vani yang besar dan berwarna pink. Gerakan memilin-milin puting oleh jari-jari Ethan yang kasar memberikan sensasi geli dan nikmat yang mulai menjalari toked Vani. Perasaan nikmat itu mulai muncul juga disekitar selangkangan. Perasaan geli dan getaran-getara nikmat mulai menjalar dari bawah puser menuju ujung selangkangan Vani. ”Ngehek nih cowok. Puting gue itu tempat paling sensitif gue. Harus bisa nahan!” membatin si Vani.

    Tapi puting Vani yang mulai menegang dan membesar tidak bisa menipu Ethan yang berpengalaman. ”Hehe mulai horny juga nih lonte. Rasain lo” pikir Ethan kesenangan. Karena berusaha menahan gairah yang semakin memuncak, Vani tidak sadar kalau Ethan sudah mengeluarkan kedua bongkah tokednya. Tangan kiri Ethan semakin ganas meremas-remas toked dan memilin-milih kedua puting Vani. Ucapan-ucapan mesum pun mulai mengalir dari Ethan “Nikmatin aja Van, remasan-remasan gue. Puting lo aja udh mulai ngaceng tuh. Ga usah ditahan birahi lo. Biarin aja mengalir. memek lo pasti udah mulai basah sekarang”. Vani sebal mendengar ucapan-ucapan vulgar Ethan, tapi pada saat yang sama ucapan-ucapan tersebut seperti menghipnotis Vani untuk mengikuti libidonya yang semakin memuncak. Vani juga mulai merasakan bahwa celana dalamnya mulai lembab.

    “Sial..memek gue mulai gatel. Gue biarin keluar dulu kali, biar gue bisa jadi agak tenangan. Jadi habis itu, gue bisa nanganin birahi gue walopun si Ethan masih ngremesin toked gue” pikir Vani yang mulai susah menahan birahinya. Berpikir seperti itu, Vani melonggarkan pertahanannya, membiarkan rasa gatal yang mulai menjalari memeknya menguat. Efeknya langsung terasa. Semakin Ethan mengobok-ngobok tokednya, rasa gatal di memek Vani semakin memuncak. “BUSETT. Cuma diremes-remes toked gue, gue udah mo keluar”. Vani menggigit bibir bawahnya agar tidak mendesah, ketika kenikmatan semakin menggila di bibir memeknya. Ethan yang sudah memperhatikan dari tadi bahwa Vani terbawa oleh birahinya, semakin semangat menggarap toked Vani.

    Ketika melihat urat leher Vani menegang tanda menahan rasa yang akan meledak di bawahnya, jari telunjuk dan jempol Ethan menjepit kedua puting Vani dan menarik agak keras kedepan. Rasa sakit mendadak di putingnya, membawa efek besar pada rasa gatal yang memuncak di memiaw Vani. Kedua tangan Vani meremas jok kuat-kuat, dan keluar lenguhan tertahan Vani “Hmmmffhhhhhhh….”. Pada saat itu, memek Vani langsung banjir oleh cairan pejunya. Pantat Vani mengangkat dan tergoyang-goyang tidak kuat menahan arus orgasmenya. “Oh..oh..hmmffhh” Vani masih berusaha menahan agar suaranya tidak keluar semua, tapi sia-sia saja. Karena Ethan sudah melihat bagaimana Vani orgasme, keenakan karena tokednya dipermainkan. “Hahaha dasar lonte lo Van. Sok ga suka. Tapi keluarnya sampe kelonjotan gitu” Ngakak Ethan penuh kemenangan.

    Nafas Vani masih tidak beraturan, dan agak terbungkuk-bungkuk karena nikmatnya gelombang orgasme barusan. “Kampret lo Than” maki Vani perlahan. “Lo boleh seneng sekarang. Tapi berikut ga bakalan gue keluar lagi. Gue udah ga horny lagi” tambah Vani yang berpikir setelah dipuasin sekali maka libidonya akan turun. Tapi, ternyata inilah kesalahan terbesarnya. Beberapa saat setelah memeknya merasakan orgasme sekali, sekarang malah semakin berkedut-kedut, makin gatal rasanya ingin digesek-gesek. ”Lho, kok memek gue makin gatel. Berkedut-kedut lagi. Aduuuh..gue pengen memek gue dikontolin sekaraangg..siaall..” sesal Vani dalam hati. Ethan seperti tahu apa yang berkecamuk dalam diri (dan memek) Vani. Walaupun Vani bilang dia tidak horny lagi, tapi nafasnya yang memburu dan putingnya yang semakin ngaceng mengatakan lain. Ethan menghentikan mobilnya mendadak di pinggir jalan bersemak yang memang sangat sepi, dan tangannya langsung bergerak ke setelan kursi Vani.

    Tangan satunya langsung menekan kursi Vani agar tertidur. Vani yang masih memakai seatbealt, langsung ikut terlentang bersama kursi. ”EEHHH…APA-APAAN LO THAN??” Teriak Vani. Tidak peduli teriakan Vani, tangan kiri Ethan langsung meremas toked Vani lagi, sedang tangan kanannya langsung meremas memek Vani. ”OOUUHHHH……….!!” lenguh Vani keras, karena tidak menyangka memeknya yang semakin gatel dan berkedut-kedut keras akan langsung merasakan gesekan, bahkan remasan. Akibatnya, Vani langsung orgasme untuk kedua kalinya. Ethan tidak tinggal diam, ketika badan Vani masih mengejang-ngejang, jari-jarinya menggesek-gesek permukaan celana dalam Vani kuat-kuat. Akibatnya, gelombang orgasme Vani terjadi terus-menerus.

    ”Oouuuhh…Aghhhh…Ouhhhhhhhh hh Ethaannnnn…!! Teriak Vani makin keras karena kenikmatan mendadak yang menyerang seluruh selangkangan dan tubuhnya. Kedua tangan Vani semakin kuat meremas jok, mata memejam erat dan urat-urat leher menonjol akibat kenikmatan yang melandanya. Ketika gelombang orgasme mulai berlalu, Vani mulai membuka matanya dan mengatur pernafasannya. Rasanya jengah banget karena keluar begitu hebatnya di depan si Ethan. ”Aseem, napa gue keluar sampe kaya gitu sih. Bikin tengsin aja. Tapi, emang enak banget. Udah semingguan gue ga ngentot” batin Vani.

    Saat Vani masih enjoy rasa nikmat yang masih tersisa, Ethan sudah bergerak di atas Vani, mengangkat t-shirt Vani serta menurunkan BH-nya kekecilan sehingga toked Vani yang bulat besar terpampang jelas di depan hidung Ethan. Tersenyum puas dan napsu banget Ethan berucap ”Gilaa..toked lo Van. Gede banget, mengkal lagi. Harus gue puas-puasin ngenyotinnya ni malem”. Ethan langsung menyergap kedua toked Vani yang putingnya masih mengacung tegak. Mulutnya mengenyot toked yang sebelah kanan, sambil tangan kanannya meremas-remas & memilin-milin puting yang sebelah kiri. Diisap-isap, lidah Ethan juga piawai menjilat-jilat dan memainkan kedua puting Vani. Gigitan-gigitan kecil dipadu remasan-remasan gemas jemari Ethan, membuat Vani terpekik ”Ehhgghh ahh.. ahh.. Ehhtanhnn.. kahtanya.. kahtanya cuma pegang-pegang..kok.. kok sekarangg.. loh ngeyotin tohked guehh…ahh..ahh..” kata Vani sambil tersengal-sengal nahan birahi yang naik lagi akibat rangsangan intensif di kedua tokednya. Ethan sudah tidak ambil pusing ”Hajar bleh. Kapan lagi gue bisa nikmatin toked kaya gini bagusnya”.

    Sekarang kedua tangan Ethan menekan kedua toked Vani ketengah, sehingga kedua putingnya saling mendekat. Kedua puting Vani langsung dikenyot, dihisap & dimainin oleh lidah Ethan. Sensasinya luar biasa, Vani semakin terhanyut oleh birahinya. Desahan pelan tertahan mulai keluar dari bibir ranum Vani. Lidah Ethan mulai turun menyusuri perut Vani yang putih rata, berputar-putar sejenak di pusernya. Tangan kanan Ethan aktif membelai-belai dan meremas paha bagian dalam Vani. ”Aah..ah.. emhh.. emh..Than.. lo ngapahin sihh..” keluh Vani tak jelas. Dengan sigap Ethan menyingkap rok mini Vani tinggi-tinggi. Memperlihatkan mini panty La Senza Vani berwarna merah. Agak transparan, dibantu cahaya lampu jalan samar-samar memperlihatkan isinya yang menggembung montok. Jembi Vani yang tipis terlihat hanya diatas saja, dengan alur jembi ke arah pusernya. ”Buseett..sexxyy bangett.. bikin konak gue ampir ga ketahan.” syukur Ethan dalam hati.

    Tanpa babibu lagi jari-jari Ethan langsung menekan belahan memiek Vani, dan Ethan langsung mengetahui betapa horny-nya Vani ”Wah Van, memek lo udah becek banget neh. Panty lo aja ampe njeplak gini hehe”. Vani cuma bisa menggeleng-geleng lemah, sambil tetap menggigit bibir bawahnya, karena jemari Ethan menenekan dan menggesek-gesek memeknya dari atas panty. ”Thaan..than..singkirinn tangan lo doong….emh..emh..” keluh Vani perlahan, tapi matanya memejam dan gelengannya semakin cepat. ”Wah, harus cepat gw beri teknik lidah gue neh, biar si Vani makin konak hehe” pikir Ethan napsu.

    Cepat Ethan ambil posisi di depan selangkangan Vani yang terbuka. Kursi Vani dimundurkan agar beri ruang cukup untuk manuver barunya. Paha Vani dibuka semakin lebar, dan Vani nurut saja. Jemari Ethan meraup panty mungil Vani, dan membejeknya jadi bentuk seperti seutas tali sehingga masuk kedalam belahan memek Vani. Ethan mulai menggesek-gesekkan panty Vani ke belahan memiawnya dengan gerakan naik turun dan kiri kanan yang semakin cepat. ”Aah.. aahh…ehmm..ehhmm.. uuh.. hapaan itu Etthann ahh…” desah Vani keenakan, karena gesekan panty tersebut menggesek-gesek bibir dalam memeknya sekaligus clitorisnya. Ethan juga semakin konak melihat memek Vani yang terpampang jelas.
    Dua gundukan tembem seperti bakpau, mulus tanpa ada jembi di sekelilingnya, cuma ada dibagian atasnya saja.

    ”Van, memek lo ternyata mantap & montok banget. Pasti enak kalo gue makan neh. Apalagi sampe gue genjot nanti hehe” ujar Ethan penuh nafsu. Panty Vani dipinggirkan sehingga lidah Ethan dengan mudah mulai menjilati bibir memiaw Vani. Tapi sebentar saja Ethan tidak betah dengan panty yang mengesek pipinya. Langsung diangkatnya pantat Vani, dan dipelorotkan panty-nya.

    Kini antara Ethan dan memek Vani yang tembem dan mulus, sudah tidak ada penghalang apa-apa lagi. Ethan langsung menyosorkan mulutnya untuk mulai melumat bakpao montok itu. Tapi, Vani yang tiba-tiba memperoleh kesadarannya, karena ada jeda sesaat ketika Ethan melepaskan pantynya, berusaha menahan kepala Ethan dengan kedua tanggannya. ”Gila lo Than, mo ngapain lo?? Jangan kurang ajar ya. Bukan gini perjanjian kita!” ujar Vani agak keras. Tapi kedua tangan Vani dengan mudah disingkirkan oleh tangan kiri Ethan, dan tanpa dapat dicegah lagi mulut Ethan langsung mencaplok memek Vani. Ethan melumatnya dengan gemas, sambil sekali lidah menyapu-nyapu clitoris dan menusuk-nusuk kedalam memiaw. Bunyi kecipakan ludah dan peju Vani terdengar jelas. Konak Vani yang sempat turun, langsung naik lagi ke voltase tinggi. Kepala Vani mengangkat dan dari bibirnya yang sexy keluar lenguhan agak keras.

    ”Ouuuffhhh….eeahh…ah. .ah lo apain mehmmek gue Thann..” erang Vani nyaris setengah sadar.

    Rasa gatal yang hebat menyeruak dari sekitar selangkangannya menuju bibir-bibir memeknya. Rasa gatal itu mendapatkan pemuasannya dari lumatan bibir, jilatan lidah dan gigitan kecil Ethan. Tapi, semakin Ethan beringas mengobok-obok memek Vani dengan mulut, dibantu dengan ketiga jarinya yang mengocok lubang memek Vani, rasa gatal nikmat itu malah semakin hebat. Vani sudah tidak dapat membendung konaknya sehingga desahan dan erangannya sudah berubah menjadi lenguhan.

    ” OUUHHHHG….. HMMPPHH… ARRGGHH.. HAHHH.. OUHHH..”.

    Kepala Vani menggeleng ke kiri dan kanan dengan hebatnya. Kedua tangannya menekan kepala Ethan semakin dalam ke selangkangannya. Pantatnya naik turun tidak kuat menahan rangsangan yang langsung menyentuh titik tersensitif Vani. Rasa ogah & jaim sudah hilang sama sekali. Yang ada hanya kebutuhan untuk dipuaskan.

    ”ETHAANN…GILLAA… HOUUUHHH.. ENAAKK…. THANN…AHHH” Vani semakin keenakan.

    Ethan yang sedang mengobok-obok memek Vani semakin semangat karena memek Vani sudah betul-betul banjir. Peju dan cairan pelumas Vani membanjir di mulut dan jok mobil Ethan. Jempol kiri Ethan menggesek-gesek clitoris Vani, sedang jari-jari Ethan mengocok-ngocok lubang memek dan G-spot Vani dengan cepat. ”Heh, ternyata lo lonte juga ya Van. Mulut lo bilang nggak-nggak mulu. Tapi memek lo banjir kaya gini. Becek banget” kata Ethan dengan semangat sambil tetap ngocok memiaw Vani.

    Dalam beberapa kocokan saja Vani sudah mulai merasakan bahwa gelombang orgasme sudah diujung memeknya. Ketika Ethan melihat mata Vani yang mulai merem melek, otot-otot tangan mulai mengejang sambil meremas jok mobil kuat-kuat dan pantat Vani yang mulai mengangkat, Ethan tau bahwa Vani akan sampai klimaksnya. Langsung saja Ethan menghentikan seluruh aktivitasnya di wilayah selangkangan Vani. Vani jelas saja langsung blingsatan ” Ah..ah napa brentii…” sambil tangannya mencoba mengocok memeknya sendiri. Ethan dengan tanggap menangkap tangan Vani, dan berujar ”Lo mau dituntasin?”. Vani merajuk ”Hiyah.. Than.. gue udah konak banggett nih. Pleasee.. kocokin lagi gue ya”. “Kalo gitu lo nungging sekarang” kata Ethan sambil menidurkan kursi sopir agar lebih lapang lagi dan ada pijakan buat Vani nungging. “Napa harus nungging Than” Vani masih merajuk dan tangannya masih berusaha untuk menjamah memeknya sendiri. “Ayo, jangan bantah lagi” kata Ethan sambil mengangkat pantat Vani agar segera menungging.

    Vani dengan patuh menaruh kedua tangannya di jok belakang, dengan kedua lutut berada di jok depan yang sudah ditidurkan. Posisi yang sangat merangsang Ethan, demi melihat bongkahan pantat yang bulat, dan memek tembem yang nongol mesum di bawahnya.

    Cepat Ethan melepas sabuk dan celana panjangnya, lalu meloloskan celana dalamnya. Langsung saja kontol hitam berurat sepanjang 17cm dan berdiameter 4.5cm itu melompat tegak mengacung, mengangguk-ngangguk siap untuk bertempur. Vani yang mendengar suara-suara melepas celana di belakangnya, menengok dan langsung kaget melihat kontol Ethan sudah teracung dengan gagahnya.

    ”Buset, gede juga tu kontol, hampir sama dg punya Albert” pikir Vani reflek.
    ”Eh, lo mo ngontolin gue Than. Enak aja!” teriak Vani dan mencoba untuk membalik badan.

    Tapi Ethan lebih cepat lagi langsung menindih punggung Vani, sehingga Vani harus bertelekan lagi dengan kedua sikunya ke jok belakang. Ethan menggerakkan maju mundur pantatnya sehingga kontolnya yang ngaceng, menggesek-gesek bibir memek Vani. ”Sshh…Than…mmhh.. jangan macem-macem lo ya!” ujar Vani masih berupaya galak, tidak mau dikentot oleh Ethan.

    Kedua tangan Ethan meraih kedua toked besar Vani yang menggantung dan meremas-remasnya dengan ganas. Sambil menciumi dan menggigit tengkuk Vani, Ethan berkata ”Udah deh, lo ga usah sok ga doyan kontol gitu. Kan lo yang mau dituntasin. Ini gue tuntasin sekalian dengan kontol gue. Lebih mantep timbang cuma jari & lidah hehe”. Remasan & pilinan di kedua toket dan serbuan di tengkuk dan telinga membuat gairah Vani mulai naik lagi. Nafas Vani mulai memburu. Tapi Vani masih mencoba untuk bertahan. Namun, gesekan kontol yang makin intense di bibir memek Vani, betul-betul membuat pertahanan Vani makin goyah. Kepalanya mulai terasa ringan, dan rasa gatal kembali menyerang memeknya dengan hebat.

    ”Hmffh…shh…awas lo Than kalo sampe hhemm.. sampe berani masukin kontol lo, lo bakal gue..hmff..gue….OUUHHHHH” omongan Vani terputus lenguhannya, karena tiba-tiba Ethan mengarahkan pal-kon nya ke lubang memek Vani yang sudah basah kuyup dan langsung mendorongnya masuk, hingga kepala kontol Ethan yang besar kaya jamur merah amblas dalam memek tembem Vani, sehingga ada peju Vani yang muncrat keluar.

    ”Hah..hah…shhh…brengs ek lo Ethannn. kontol lo…kontol lo…itu mo masuk ke memek guee…” erang Vani kebingungan, antara gengsi dan birahi. Ethan diam saja, tapi memajukan lagi pantatnya sehingga tongkolnya yang besar masuk sekitar 2 cm lagi, tapi kemudian ditarik perlahan keluar lagi sambil membawa cairan pelumas memek Vani. Sekarang pantat Ethan maju mundur perlahan, mengocok memiaw Vani tapi tidak dalam-dalam, hanya dengan pal-konnya aja. Tapi, hal ini malah membuat Vani blingsatan, keenakan.

    ”HMFPHH….HEEMMFFHH…SS HH AAHH…Ethannn kontol lo… kontol lo… ngocokin memek guee….hhmmmff”. Rasa gatal yang mengumpul di memek Vani, serasa digaruk-garuk dengan enaknya. Vani yang semula tidak mau dikontolin, jadi kepengen dikocok terus oleh kontol Ethan.

    Kata Ethan ”Jadi mau lo gimana? Gue stop neh”. Ethan langsung mencabut kontolnya, dan hanya menggesek-gesekkan di bibir memek Vani. ”Ethaan…pleasee.. kentot gue. Masukin kontol lo ke memek gue. Gue udah ga tahan gatelnya..gue pengen dikenttooott!!!” rengek Vani sambil menggoyang-goyangkua pinggulnya, berusaha memundurkan pantatnya agar kontol Ethan yang dibibir memeknya bisa masuk lagi.

    ”Hahahaha sudah gue duga, elo emang lonte horny Van. Dari tampang & body elo aja gue tau, kalo elo itu haus tongkol” tawa Ethan penuh kemenangan. ”Ayo buka paha lebih lebar lagi” perintah Ethan. Vani langsung menurutinya, membuka pahanya lebih lebar sehingga memeknya makin terpampang. Ethan tanpa tedeng aling-aling langsung menusukkan kontolnya kuat-kuat ke memek Vani. Dan…BLESHH…seluruh tongkol hitam itu ditelan oleh memek montok Vani. Air peju Vani terciprat keluar akibat tekanan tiba-tiba benda tumpul besar.

    ”AUUGGHHHH…………!!! ” pekik Vani yang kaget dan kesakitan.

    ”Hehehe gimana rasa kontol gue Van” kekeh Ethan yang sedang menikmati hangat dan basahnya memek Vani. Vani masih shock dan agak tersengal-sengal berusaha menyesuaikan diri dengan benda besar yang sekarang menyesaki liang memeknya. ”Buseet..tebel banget nih kontol, memek gue penuh banget, keganjel. Mo buka paha lebih lebar lagi udah ga bisa.. mhhmff” erang Vani dalam hati. Karena Vani diam saja, hanya nafasnya saja yang terdengar memburu.

    Ethan mulai menarik keluar kontolnya sampai setengahnya, kemudian mendorongnya masuk lagi. Demikian terus menerus dengan ritme yang tepat. ”Hehh..heh…mmm legit banget memek lo Vannn..” desah Ethan keenakan ngentotin memek Vani yang peret tapi basah itu. Hanya butuh tiga kocokan, Vani mulai didera rasa konak dan kenikmatan yang luar biasa. Menjalari seluruh tangan, pundak, tokednya, sampai selangkangan dan seluruh memeknya. Rasa gatal yang sangat digemari oleh Vani seperti mengumpul dan menjadi berkali lipat gatalnya di memeke Vani. Vani sudah tidak mendesah lagi, tapi melenguh dengan hebat. Hilang sudah gengsi, tinggal rasa konak yang dahsyat.

    ”UUHHHHH…..UHHH……OUUHHGG GG… ENNAAKKNYAA…”.
    ”OH GODD..memek GUE…memek GUE..”
    Vani terbata-bata disela lenguhannya yang memenuhi mobil..
    ”memek GUE..GATELLL BANGETT….KENTTOOTTT GUE TTHANN…ARGGHH…”

    Lenguhan Vani semakin keras dan omongan vulgar keluar semua dari bibir sexy-nya. Kepalan tangan Vani menggegam keras, kepalanya menggeleng semakin cepat, pinggulnya bergerak heboh berusaha menikmati seluruh kontol Ethan. Ethan pun terbawa napsunya yang sudah diubun-ubun. Tangannya meremas-remas toked Vani tanpa henti dengan kasarnya, dan Ethan sudah tidak menciumi pundak & tengkuk Vani, melainkan menggigitnya meninggalkan bekas-bekas merah. Pantatnya bergerak maju mundur dengan ritme yang berantakan, cepat lalu perlahan, kemudian cepat lagi, membuat kontol Ethan mengocok memek Vani seperti kesetanan.

    Bunyi pejuh Vani yang semakin membanjir menambah nafsu mereka berdua semakin menggila. SLEPP..SLEPP..SLEPP..PLAK..PLA K…suara kontol yang keluar masuk memek dan benturan pantat Vani dengan pangkal kontol Ethan terdengar di sela-sela lenguhan Vani & Ethan. Tak sampai 10 menit Vani merasakan aliran darah seluruh tubuhnya mengalir ke memeknya. Rasa gatal sepertinya meruncing dan semakin memuncak di tempat-tempat yang dikocok oleh tongkol Ethan.

    ”GUEE KELUAARRRR THANNN……OUUUHHHHHHHHH….A HHHHHHH…” teriak Vani melampiaskan rasa nikmat yang tiba-tiba meledak dari memeknya. Ethan merasakan semburan hangat pada tongkolnya dari dalam memek Vani. Karena Ethan tetap mengocokkan kontolnya, bahkan lebih cepat ketika Vani mencapai klimaksnya, Vani bukan saja dilanda satu orgasme, melainkan beberapa orgasme sekaligus bertubi-tubi.

    ”OAHHH…OHHH….UUUHH..KOK..K OK.. KLUAR TERUSSS NIIIHHH…” erang Vani dalam klimaksnya yang berkali-kali sekaligus. Hal ini membuat Vani berada dalam kondisi extacy dalam 30 detik lamanya. Badan Vani berkelonjotan, air pejunya muncrat keluar dari dalam memeknya. ”Gilaa..enak bener than… gue sampe keluar berkali-kali” ujar Vani agak bergetar karena Ethan masih dengan nafsunya mompain memek Vani. ”Hehehe demen banget liat lo keluar kaya gitu Van. Betul-betul nafsuin. Tapi ini baru setengah jalan. Gue bikin lo lebih kelonjotan lagi. Gue kentot lo sampai peju lo keluar semua” kata Ethan.

    Vani hanya bisa merutuk dalam hati, karena memang dia merasa keenakan dientot Ethan dengan cara sekasar itu. Kemudian Ethan membalik tubuh Vani agar terlentang dan bersandar di jok belakang. Kedua kaki Vani diangkat dan mengangkang lebar sehingga Ethan bisa dengan jelas melihat memek Vani yang chubby itu berleleran dengan peju Vani. ”Than, udahan dulu ya. Gue lemes banget” Vani terengah-engah minta time-out. Tapi bukan Ethan namanya kalo nurutin kemauan si cewek. Bagi Ethan, si cewek harus digenjot terus sampai betul-betul lemes, baru disitu si cewek dapat klimaksnya yang paling hebat. Tidak pedulian rengekan Vani, Ethan langsung mengarahkan kontolnya ke memek Vani yang menganga, dan langsung BLEESHH..!! Dengan mudahnya memek Vani menelan kontol Ethan.

    ”Hmmffpp..sshiitt..” Vani cuma bisa mengumpat perlahan karena tiba-tiba saja (lagi) kontol Ethan sudah amblas kedalam memeknya. Ethan langsung menggenjot Vani dengan kecepatan tinggi. SLLEPP…SLEEPP… SLLEPPP…SLEPP…. kontol Ethan keluar masuk memek Vani dengan cepat. Vani yang sudah lemes dan kehabisa energy, tiba-tiba mulai merasakan sensasi horny lagi. ”Oh shit..gue kok horny lagi. Lagi-lagi memek gue minta digaruk shhhh..” mengumpat Vani dalam hati. Ethan yang kini berhadapan dengan Vani, bisa melihat perubahan mimik muka Vani yang dari lemes dan ogah-ogahan, menjadi mimik orang keenakan dan horny abis. ”Hehehe gue kata juga apa. Elo memang harus dikentot terus, dasar memek lonte” ujar Ethan sambil terus memompa memek Vani. Kedua tangan Ethan kini bertelekan di toked Vani, dan meremasnya seperti meremas balon.

    ”AAHH…AHH…AHH..EEMMPPHH… .EKKHH….” erang Vani yang merem melek keenakan dientot. Kali ini tidak sampai 5 menit, seluruh otot tubuh Vani sudah mengejang. Kedua tangan Vani memeluk dan mencakar punggung Ethan kuat-kuat. Lenguhan yang keluar dari mulut Vani semakin keras.

    ”HOUUUHH….HOOOHH….UUUGGHHH …ENNAAKKKKK..TERUSSS THANN…. GENJOTTT TERUSS…. GUE AMPIIRR NEEHHH……..”.
    ”Woe, lonte, lo udah mo keluar lagi? Tunggu gue napa” damprat Ethan tapi tetapi malah mempercepat genjotannya. Tanpa dapat dihalangi lagi, memek Vani kembali berkedut-kedut keras dan meremas-remas kontol Ethan yang berada didalamnya. Diiringi pekikan keras, Vani mencapai klimaksnya yang kesekian.

    ”AAGGGHHHHHHHHHHHHH……….. ………GUE KLUUAARRR ……..”.

    Vani merasakan gelombang kenikmatan yang luar biasa itu lagi, dan seluruh tulangnya serasa diloloskan. ”Hhhh…..enak bangetttttt. Lemes banget gue” membatin si Vani. Melihat Vani yang sudah keluar lagi, kali si Ethan agak kesal karena dia sebenernya juga sudah hampir keluar. Tapi kalo si cewek sudah nggak binal lagi, si Ethan merasa kurang puas. ”Sialan, lo Van. Main keluar aja lo. Kalo gitu gue entot diluar aja lo. Di sini sempit banget”.

    Maka Ethan langsung membuka pintu mobil, keluar dan menarik Vani keluar. ”Eh..eh.. apa-apaan ni Than. Gue mo dibawa kemana?” tanya Vani lemes. “Kaki gue lemes banget Than, susah banget berdiri” tambah Vani. Ethan langsung bopong Vani keluar dari mobil. Langsung dibawa kedepan mobil. Lantas badan Vani ditenkurapkan di kap depan BMW-nya.

    Posisinya betul-betul merangsang. Pinggang ke atas tengkuran di kap mobil, dengan kedua tangan terpentang. Kedua kaki Vani yang lemes menjejak tanah, dibuka lebar-lebar pahanya oleh Ethan. Vani jengah sekali karena kini dia bugil di tempat terbuka. Siapa saja bisa melihat mereka. ”Than, balik dalam lagi aja yuk” ujar Vani sambil berupaya berdiri. Tapi dengan kuatnya tangan Ethan menahan punggung Vani agar tetap tengkurap di kap mobil, sehinggu pantatnya tetap nungging. ”Kan gue udah bilang, gue bakal kentotin lo sampai habis peju lo Van” ujar Ethan yang nafsunya makin berkobar melihat posisi Vani.

    Hawa dingin malam malah membuat Ethan merasa energinya kembali lagi. Kedua tangan Ethan meremas bongkahan semok pantat Vani, dan membukanya sehingga memek Vani yang masih berleleran peju ikut membuka. Ethan langsung melesakkan kontolnya dalam-dalam ke memek Vani. ”AHHHH…” pekik Vani tertahan.

    Kali ini Ethan betul-betul seperti kesetanan. Tidak ada gigi 1, atau 2, bahkan 3. Langsung ke gigi 4 dan 5. Genjotan maju mundurnya dilakukannya sangat cepat, dan ketika menusukkan tongkolnya dilakukan dengan penuh tenaga. PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK..bunyi pantat Vani yang beradu dengan badan Ethan semakin keras terdengar. ”GILAA…ENAKKK BANGET NIH memekKK…..” Ethan mengerang keenakan.

    Tangannya mencengkram pantat Vani kuat-kuat, dan kepala Ethan mendongak ke atas, keenakan. Vani yang mula-mula kesakitan, mulai terangsang lagi. Entah karena kocokan Ethan, atau karena sensasi ngentot di areal terbuka seperti ini. Perasaan seperti dilihat orang, membuat memek Vani berkedut-kedut dan gatel lagi. Maka lenguhannya pun kembali terdengar.

    ”OUUHHH….HHHMMFFPPPPP….OHH H..UOOHH…ENAK..ENAK..ENAAKKK ….” Vani meceracau.

    Mendengar lenguhan Vani, Ethan tambah nafsu lagi ”Ooo.. lo demen ya dikentot kasar gini ya Van..Gue tambahin lagi kalo gitu” kata Ethan dengan nafas memburu. Jari-jari Ethan tetap mencengkram bongkahan montok pantat Vani, tapi bedanya kedua jari jempolnya dilesakkan kedalam lubang pantatnya. Dan digerakkan berputar-putar didalamnya. Lubang pantat Vani adalah juga merupakan titik sensitif bagi Vani, sehingga mendatangkan sensasi baru lagi. Apalagi 2 jari jempol yang langsung mengobok-oboknya. Vani makin blingsatan dan makin heboh lenguhannya.

    ”GILAA LO THAN…UUHHHHHH.. UHH..UHH.. OUUUUUUHHHHHHH…..!

    Vani sudah tidak bisa berkata-kata lagi, cuma lenguhan yang kluar dari mulutnya. Ethan tidak sadar bahwa setelah hampir 10 menit mengocok Vani dari belakang, Vani sudah dua kali keluar lagi. Vani yang sudah agak lewat sensasi orgasmenya, mulai menyadari bahwa gerakan Ethan mulai tidak beraturan dan tongkolnya jadi membesar. ”Oh shit, Ethan mo keluar. Pasti dia pengen nyemprot dalam memek gue. Harus gue cegah” pikir Vani panik. Tapi, pikiran tinggal pikiran. Badan Vani tidak mau diajak kerja sama. Mulutnya meneriakkan ”THAAN, JANGAN NGECRET DIDALLAMM….PLEASEE!!!”. Tapi Ethan yang memang sudah berniat menyemprotkan pejunya dalam memek Vani, malah semakin semakin semangat menggenjot dalam-dalam memek Vani. Vani sendiri karena memeknya semakin disesaki oleh kontol Ethan yang membesar karena hendak ngecret, jadi terangsang lagi dan langsung hendak ngecret juga.

    Maka, ketika Ethan mencapai klimaksnya, tangannya mencengkram pantat Vani kuat-kuat, dan kontolnya ditekan dalam-dalam dalam memek Vani, Ethan meraung keras. “HMMUUUUAHHHHH….AAHHHH” cairan peju hangat Ethan menyemprot berkali-kali dalam liang memek Vani. Vani pun bereteriak keras ” OUUUAAHHHH….GUE KELUARRRRR….” dan pejunya pun ikut muncrat lagi.

    Kedua mahluk lain jenis itu berkelonjotan menikmati setiap tetes peju yang mereka keluarkan. Cairan peju Ethan dan Vani berleleran keluar dari sela-sela jepitan kontol & memek Vani. Banyak sekali cairan yang keluar meleleh dari memek Vani turun ke pahanya.

    Ethan puas sekali bisa menembakkan pejunya dalam memek cewek sesexy Vani. Apalagi si Vani ikutan keluar juga. ”Komplet dah” pikir Ethan. Karena lemas, Ethan ikut tengkurap, menindih tubuh Vani di atas kap mobil. kontolnya yang mulai mengecil, masih dibiarkan di dalam memek Vani. Sedang Vani sendiri, masih memejamkan mata menikmati setiap sensasi extasy kenikmatan orgasme yang masih menjalarinya seluruh tubuhnya. Belum pernah ia ngentot sampai keluar lebih dari 4 kali seperti ini. Apalagi sebelumnya dia sempat menolak. Rasa tengsin dan malu mulai menjalar lagi, setelah gelombang kenikmatan orgasmenya memudar.

    Ethan yang masih menindihnya berkata ”Hehehe enak kan. Gue demen banget ngentot sama lo Van. Betul-betul binal & liar. Memek lo ga ada matinya, nyemprot peju mulu” kata Ethan seenaknya. Vani cuma bisa diam dan ngedumel dalam hati. ”Udah, bangun lo. Anter gue pulang sekarang. Berlebih banget nih gue bayarnya” ujar Vani ketus. ”Heheh ok..ok gue udah dapet apa yang gue mau. Sekarang gue anter lo pulang” balas Ethan.

    Ethan pun bangun dari punggung Vani dan beranjak ke pintu mobil dan mulai memakai pakaian dan celananya. Tapi kemudian dia heran, kok si Vani masih tengkurapan aja di kap mobil. ”Hei, katanya mo pulang. Kok masih tengkurapan aja” tanya Ethan. Vani tidak menjawab, hanya terdenger dengusan nafas saja. Ketika Ethan menghampiri, terlihatlah betapa merahnya muka Vani, karena menahan malu. ”Than, bantuin gue bangun dong. Kaki gue lemes banget. Selangkangan gue rasanya kaya masih ada yang ngganjel” ujar Vani malu-malu. ”Hahaha…KO juga lo ya, cewe paling bahenol di kampus” tawa Ethan membahana. Bertambahlah merahlah muka si Vani. Ketika mau bopong Vani, tiba-tiba pikiran mesum Ethan keluar lagi. Dikeluarkanlah HP-nya yang berkamera. Ethan ambil beberapa shot posisi Vani yang mesum banget itu plus dua close up memek Vani yang berleleran peju.

    Karena Vani memejamkan mata untuk mengatur nafas, dia tidak sadar akan tindakan Ethan. Akhirnya Ethan kasihan juga, tubuh Vani dibopong masuk kedalam mobil. Bahkan dibantuin memakai pakaian dan roknya lagi. Tapi ketika Vani meminta panty-nya, Ethan berkata ”Ini buat gue aja. Kenang-kenangan. Lo ga usah pake aja. Memek lo butuh udara segar kelihatannya, habis tadi gue sumpalin pake kontol gue terus”. ”Sial lo Than. Ya udah, ambil dah sana” ketus Vani.

    Vani langsung tertidur di kursi mobil. Baru terbagun ketika mobil Ethan sudah sampai di depan pagar kos-kosan Vani. ”Lo bisa jalan ga Van? Kalo masih lemes, gue papah deh masuk ke kamar lo. Itung-itung ucapan terima kasih sudah mau ngentot ama gue malam ini hehe” kata Ethan nakal. Vani tidak bisa menolak tawaran itu, karena memang dia masih merasa lemas dikedua kakinya. Maka Ethan pun memapah Vani berjalan menuju kosnya.

    Kamar Vani ada di lantai 2. Kamar-kamar di lantai 1 sudah pada tertutup semua. Tidak ada penghuninya yang nongkrong di luar. Diam-diam Vani merasa lega. Apa kata orang kalo dia pulang dipapah seperti ini. Kalo ga dibilang lagi mabok, bisa dibilang yang enggak-enggak lainnya. Tapi sialnya, ketika dilantai 2 mereka berpapasan dengan si Mirna yang baru dari kamar mandi. Mirna yang selama ini jealous dengan kesexy-an Vani, perhatiin Vani dari ujung rambut sampai ujung kaki.

    Tiba-tiba si Mirna ketawa sinis ”Napa lo Van”. ”Sedikit mabok Mir” jawab Vani sekenanya. ”Mabok apa lo? Mabok peju kelihatannya” kata Mirna nyelekit sambil mandangi paha Vani. Reflek Vani nengok kebawah, betapa kagetnya Vani, karena dia baru sadar tadi belum bersihin leleran peju Ethan dan pejunya sendiri. Lelehan peju mengalir dari dalam memek Vani, sampai lututnya. Cukup banyak, sehingga kelihatan jelas.

    PIASS! Muka Vani langsung memerah. Vani langsung berpaling, sedang Mirna terkekeh senang.
    ”Kalo elo kelihatannya malah kekurangan peju neh. Mana ada cowo yang ikhlas kasi pejunya ke cewe kerempeng kayo elo?” tiba-tiba Ethan nyeletuk pedes. Muka Mirna berubah dari merah, kuning sampai jadi ungu.
    ”Heh, gue juga punya cowok yang mau ngentot sama gue tanpa gue minta” balas Mirna ketus.
    ”Nah, berarti kan lo bedua sama, sama-sama butuh kontol & pejunya. Napa saling hina. Urus aja urusan lo masing-masing, dan kenikmatan lo masing-masing. Ga usah saling sindir” tandas Ethan.

    Mirna langsung terdiam, dan ngloyor masuk dalam kamarnya. Vani sedikit terkejut, ga nyangka kalo si bejat Ethan bisa ngomong cerdas seperti itu. Betul-betul penyelamatnya. Setelah ditidurkan di ranjangnya Ethan pamit ”Gue cao dulu ya Van. Thanks buat malam ini. Betul-betul sex yang hebat. Baru kali ini gue ngrasain. Kalo lo pengen, call gue aja ya. kontoll gue selalu siap melayani hehe”. ”Enak aja. Ini pertama dan terakhir Than. Kapok gue naik mobil lo” balas Vani pedas.

    Ethan cuma tartawa saja, lalu berbalik menutup pintu dan pergi. Sebenarnya Vani merasakan hal yang sama dengan Ethan, betul-betul sex yang luar biasa malam ini. Vani ragu-ragu, bila Ethan ngajak lagi, emang dia bakal langsung nolak. Kok ga yakin ya? Sialan maki Vani pada diri sendiri. Sekarang gue butuh tidur. Dalam sekejap Vani langsung terlelap, tanpa berganti pakaian.

  • Nikmatnya Bersama Tante Lisa

    Nikmatnya Bersama Tante Lisa


    820 views

    Cerita Sex Dewasa | Nikmatnya Bersama Tante Lisa

    BONUS FOTO BUGIL DAN VIDEO BOKEP


    Namaku Wawan, aku adalah seorang mahasiswa PTS terkenal di Yogyakarta berusia 22 tahun dan aku kost di sebuah rumah milik seorang janda pengusaha toko, sebut saja Tante Lisa. Usianya masih 40 tahun. Suaminya meninggal karena komplikasi, dan dengar-dengar dari tetangga Tante Lisa itu dulunya hostess di Surabaya.

      foto-tante-bugil-lagi-sange-2-1

    Tante Lisa sangat cantik dan menjaga tubuhnya sehingga dia tampak seperti berumur 30 tahun. Dia juga berpenampilan seksi, suka memakai celana kaos ketat dan tank-top.

    Ceritanya berawal ketika suatu hari aku sedang onani di kamar mandi dan ternyata lupa dikunci. Ternyata Tante Lisa menontonnya dan setelah aku orgasme, aku kaget melihatnya.

    “Wan, kelihatannya asyik ya… mendingan lain kali minta bantuan Tante pasti lebih enak.”

    Aku jadi malu berat dibuatnya, “Maaf Tante, saya lupa menutup pintunya.”
    “Nggak apa kok Wan, kan kamu sudah dewasa dan wajar melakukannya. Tante juga sudah sering lihat yang begituan kok”, katanya sambil senyum.

    Beberapa hari kemudian aku disuruh bantu-bantu di tokonya dan tanpa segan-segan aku membantunya hingga malam Tante Lisa memintaku untuk menemaninya dan aku disuruh menginap di situ, memang di tokonya ada dua kamar di lantai dua (ruko) dan kamar tersebut kadang ditempati Tante Lisa bersama anaknya. Tante Lisa mengajakku makan bersama dan minum wine dan aku tidak mengerti kok aku bisa sampai tidak sadar, mungkin dicampur obat tidur.

    Paginya Tante Lisa membangunkanku bahkan harus sampai disiram, aku disuruh cepat-cepat pulang kost dan merahasiakan kalau aku tidur di ruko. Aku menurutinya dan malamnya setelah toko tutup Tante Lisa mengajakku berhubungan intim.

    “Wan, Tante minta malam ini kamu puasin Tante ya.”
    Karuan saja kutolak karena aku memang belum pernah gituan dan takut meskipun aku sering nonton BF.

    “Maaf Tante saya nggak berani”, kataku sambil gugup. Tante Lisa mengancam dan Tante Lisa memutar videoku sedang tidur bugil. Tante Lisa bilang tadi malam saat tidur menelanjangiku dan merekamnya dengan Handycam.
    “Tante akan menyebarkan rekaman ini jika kamu nggak mau melayani Tante kecuali kamu mau melakukan yang Tante minta. Percaya Tante deh, toh Tante juga menjaga nama baik Tante jadi ini akan jadi rahasia kita berdua.”

    Akhirnya karena takut dan polos aku melayaninya. Dari situ aku tahu ternyata Tante Lisa maniak seks, Tante Lisa pertama minta mandi Caty (dijilati tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung rambut) dan Tante Lisa minta aku menjilatinya liang kewanitaannya sampai berjam-jam setiap aku berhenti Tante Lisa menjambak rambutku dan menekan kepalaku ke liang sorganya.

    anggie-ttm-1-300x224-1

    Pengalaman pertamaku menyentuh wanita apalagi menjilati seluruh bagian tubuhnya, dalam keterpaksaan itu aku sampai menangis.
    “Sudah Tante… sudah”, sambil nafasku tersengal-sengal.
    “Aghhh.. jangan lepas. Teruss.. terusss!”

    Tante Lisa terus menjepit kepalaku dengan kedua pahanya yang kencang. Aku dapat merasakan harumnya kemaluan Tante Lisa. Aku sendiri merasa nikmat sekaligus takut. Dia menyuruhku tidur di sofa dan Tante Lisa menduduki wajahku sehingga aku dipaksa menjilati kelamin dan anusnya.

    “Aghh.. enak sekali Wan”, katanya sambil memutar-mutar pantatnya di atas wajahku yang sudah basah karena cairan kewanitaannya. Pantatnya yang hangat dan kencang itu menindih wajahku sehingga aku sampai susah bernafas. Jika Tante Lisa tidak merasa puas atas pelayananku ia suka sekali menampar, mencakar, menjambak, meludahi.

    Setelah itu Tante Lisa mengambil posisi 69 dan kami saling mengoral. “Ayo Wan, kamu bisa lebih panjang lagi”, katanya sambil menarik-narik kemaluanku dan memelintir pelirku. Aku yang kesakitan tapi merasakan sensasi yang luar biasa. Dalam mengoral, Tante Lisa seperti singa yang tidak diberi makan 3 hari.

    Sangat buas dan Tante Lisa mempermainkannya dengan sangat cekatan terampil, kadang menarik terus memutar kadang mengocoknya dengan cepat terus perlahan.

    Bahkan pernah Tante Lisa mengencingi wajahku sambil membuka mulutku.. lalu aku disuruh menjilat air kencingnya yang tercecer di lantai. Entah kenapa lama-lama aku malah menyukai mungkin aku termasuk sado masochocist.

    Suatu hari entah dari mana Tante Lisa membawa alat-alat untuk seks sado masochist, ada bola penyumpal mulut terus seperti kuas penggelitik, cemeti dari kulit, pengikat leher seperti anjing, CD kulit yang berlobang di bagian depannya dan pakaian seperti pasukan Romawi dulu.

    Dia menelanjangi dan mengikatku sambil merangkak Tante Lisa berteriak-teriak memecutiku dan menendang pantatku persis seperti anjing, dia sebar makanan di lantai dan menyuruhku memungut dengan mulut bahkan menjilati ludah dan kencingnya di lantai.

    foto-tante-bugil-lagi-sange-1-1

    Di bagian batang kemaluanku dia mengikatkan sebuah karet gelang yang ada kerincingnya sehinga setiap kali merangkak berbunyi nyaring. “Ayo… ayo kalau kamu mau jadi anjing Tante yang setia harus nurut yang Tante perintahkan!” Tante Lisa kadang memperlakukanku seperti kuda, dengan mengikat leherku dan menunggangi punggungku sambil memecut pantatku.

    Sering juga Tante Lisa memasukkan sebagian pisang susu ke liang kewanitaannya dan menyuruhku mengambil dan memakannya dengan mulut. Untuk menyumpal mulutku agar aku tidak mengerang keras biasanya Tante Lisa memakai CD-nya atau Carefree Panty Shield.

    Aku tidak pernah punya kesempatan menggunakan batang kemaluanku, paling Tante Lisa suka sekali mengocoknya bahkan Tante Lisa pernah mengocokku sampai orgasme 4 kali dalam satu malam. Sampai batang kemaluanku lecet dan perih dan tangan Tante Lisa juga sampai pegal-pegal.

    foto-tante-bugil-lagi-sange-4-1

    Tante Lisa sangat merawat batang kemaluanku, buktinya setiap habis main selalu dia merendam dengan air hangat dan kadang dengan teh basi katanya agar batang kemaluanku selalu kuat dan siap kapan saja.

    “Masak cuman bisa dua kali… nih rasakan!” katanya sambil menyentil ujung kemaluanku.
    “Aduh.. ampun Tante…” pintaku memelas.

    Itulah yang sering terjadi jika Tante Lisa memaksaku orgasme berkali-kali. Dalam mengocok Tante Lisa juga kadang pakai sarung tangan, pakai foam/shampoo, odol, pakai supit untuk mie dll, biasanya Tante Lisa mengocokku sambil minta dioral seks atau menjilati puting dan ketiaknya. Yang paling mengerikan, pernah Tante Lisa memintaku memakan kotorannya (berak red) dan aku tolak karena selain jijik juga takut sakit, untungnya Tante Lisa mau ngerti.

    Sampai sekarang sudah hampir 2 tahun dan aku makin suka meski kadang aku sempat sakit. Aku hanya merasakan kepuasan dan mengabaikan rasa sakit dan suatu saat aku berangan-angan dapat bermain seks seperti itu dengan lebih dari 1 orang saja