TANTE

  • tante muda cantik penjual es buah

    tante muda cantik penjual es buah


    2370 views

    IBU MUDA PENJUAL ES BUAH SEGAR

    Ibu muda cantik penjual es buah – memek sempitnya seger kaya es buah Namaku Ari, seorang mahasiswa jurusan Psikologi tingkat ahkir yang tinggal di rumah kos yang bisa dibilang elite dan sangat bebas, banyak teman teman kos yang sering bawa pacar atau cewe buat sekedar ngobrol ataupun sampai ML, termasuk saya juga, tapi sekarang keadaan sedang tidak mendukung 3 bulan ini seperti sedang menjomblo karena pacar diterima kuliah diPTN kota lain, yah demi masa depan OK lah. Cerita bermula dari kesepianku saat hanya sering sendirian dikostan, kost ini termasuk sepi dan tidak terlihat dari luar kalau rumah ini adalah rumah kost pemiliknya pun seorang yang disegani dikota kami tapi memang kurang ketat jadi kesempatan buat anak anak kos buat ngapain aja. di depan rumah kost ada yang jualan es buah yah baru buka kira kira 2 minggu, awal awalnya sih saya nggak pernah minat buat beli, eh setelah beberapa waktu pas naik motor mau masuk kost sempet nglirik sedikit “kog kayanya ada yang cantik” jadi penasaran, setelah masukin motor dan naruh barang bawaan dikamar iseng iseng saya keluar coba beli, setelah sampai diwarung es buah ahhhh… kecewa… ternyata anak smp, memang sih cantik kulitnya putih mulus tapi ga enak ati klo mau pdkt, yah terlanjur sampai warung sekalian pesen es buah, “dek es buah ya” ujar ku “iya mas, silahkan duduk dulu” jawab adek penjual es buah dengan manisnya. “adek jualan sendirian” tanyaku “ah… nggak mas sama ibu, saya cuma bantuin kalau pulang sekolah aja, ini ibu lagi pulang sebentar ambil susu kaleng, habis soalnya” jawab adek cantik ini sambil nyrocos. ternyata adek ini memang cantik banget mukanya bersih dengan bibir merah walau tanpa lipstik, tubuhnya nggak kurus dan nggak gemuk pas pokoknya, sambil nunggu es buah sambil lirik lirik tubuh adek cantik ini, lumayan lah buat cuci mata. “Silahkan mas” suara lembut adek cantik ini memecahkan lamunanku. “oo..oohh.. ii.. iya” jawabku dengan sedikit kaget, Saat sedang menikmati es buah yang ternyata nikmat dan segar sekali, terdengar suara wanita lain, ah ternyata ini ibu adek cantik ini.

    seorang wanita yang memang pantas jadi ibu adek cantik ini, karena memang ibunya cantik juga, ibu muda kira kira berumur 40an dengan kulit putih rambut panjang yang dikuncir kebelakang, memakai kaos merah ketat hingga toketnya yang lumayan besar menonjol dengan indahnya bawahannya memakai jeans 3/4 yang ketat terlihat betisnya yang putih mulus dan kaki yang seksi hingga bokongnya yang montok yang terlihat belahan pantatnya, “hmmm… es buah ini kog jadi tambah nikmat ya, bakalan sering mampir kesini nih” kataku dalam hati, sambil iseng iseng ambil hp dan diam diam foto si ibu cantik ini yang lagi duduk sambil mencatat sesuatu. Misi hari pertama selesai, setelah jepret beberapa foto langsung aku berdiri, dan bertanya “udah bu, habis berapa ya” ujar ku “es buah aja kan mas” jawab si ibu muda cantik ini “iya” “5000 aja mas” jawabnya sambil tersenyum saat didekat ibu muda ini hidungku serasa dimanja dengan bau parfum yang baunya seger banget, sambil iseng biar agak lama aku keluaring uang 50 ribuan hahaha…. “wah, nggak ada uang kecil mas?” tanya ibu cantik ini “duh maaf bu, nggak ada nih” “sebentar” jawab ibu cantik ini sambil mengeluarkan uang dari dompetnya, “maaf pecahan dua ribuan ya” ujar ibu cantik ini “nggak papa bu, makasih” ujarku sambil tersenyum dan berbalik pulang. didalam kamar ku buka buka hasi foto yang tadi diambil, semakin diperhatikan ibu muda cantik ini semakin hati berdebar debar, “ah besok kesana lagi” kataku dalam hati.

    keesokan harinya pagi sampai siang aku dikampus menunggu dosen buat konsultasi skripsi, sambil liat foto ibu cantik ini, penasaran banget siapa sih namanya, sama ada suaminya nggak ya, coba nanti ngobrol ah. setelah selesai dikampus, aku langsung meluncur pulang, tapi kali ini aku tidak masuk kost dulu tapi langsung ke warung es karena langit mendung takutnya malah hujan, rejeki memang tidak kemana, ibu cantik ini sendirian warungnya sepi dan anaknya yang cantik itu juga tidak kelihatan, saat itu pukul 14:45 jalan depan kost lagi rame sama kondisi mendung kayanya pada buru buru, ibu cantik penjual es buah ini terlihat melamun sambil melihat jalan yang ramai. setelah parkir motor aku langsung melangkah ke warung, si ibu cantik ini berdiri sambil tersenyum “mari, silahkan mas, es buah ya?” ujarnya. “ah…, nggak bu, saya cuma mau numpang duduk” jawabku becanda, dan si ibu cantik ini jadi bengong. “hahhaha… becanda bu iya es buah, susunya yang banyak ya” ujarku sambil ngelirik toket ibu cantik ini yang kali ini memakai kaos putih agak longgar dengan kerah melingkar yang lebar jadi bagian tulang dadanya terlihat, memang mulus luar dalam ni ibu cantik. “baru pulang kuliah mas” ujar ibu cantik ini sambil meracik es buah, “iya, bu, ketemu dosen buat konsultasi” “oh udah mau lulus ya, ambil jurusan apa mas” ujarnya sambil menaruh mangkok es buah dihadapanku, dan wangi itu kembali menggoda hidungku. “iya bu tinggal skripsi, jurusan psikologi” ujarku sambil menyeruput sendokan es buah pertama. “wah, hebat ada psikolog ni disini, boleh konsultasi nggak mas, tapi gratis ya?” ujar ibu cantik ini, dan ibu cantik ini juga tau tau duduk dikursi deketku cuma dia menghadap kejalan sambil bercerita kisah hidupnya yang cukup menyedihkan ternyata.

    setelah beberapa saat ngobrol baru aku tau ibu cantik ini bernama Mirna dan suaminya pergi entah kemana, sudah 2 tahun tidak pulang cuma kadang menelpon Adelia (itu nama adek cantik putri satu satunya bu mirna ini). tak terasa udah sejam lebih duduk disini, melihat bu mirna malah ga enak hati matanya yang indah terlihat berkaca kaca menahan tangis, bu mirna yang cantik ini terlihat sibuk melayani pembeli lain, dan aku pun berdiri sambil mengambil sesobek kertas kecil dan kutulis pin bbm ku dan nomer hp, sambil membayar ku berikan kertas ini, “bu, kalau nanti masih butuh tempat curhat ini pin bbm dan no saya” bu mirna pun tersenyum, sambil berkata “iya pasti nanti saya bbm, tapi agak malam boleh nggak?, soalnya masih banyak kerjaan dirumah” “nggak papa bu, saya besok juga libur, tidurnya juga malem kog” “ya sudah, saya permisi dulu ya” “iya, makasih ya Rie” ujarnya, dan akupun berlalu. Dikost menunggu bbm ibu mirna cantik ini dan benar saja, jam 10:30 malam ada permintaan kontak baru, ternyata memang bu mirna, langsung aja kuterima, eh dia pajang foto bareng adelia, sebelum diganti disave dulu buat koleksi, malam itu bu mirna cerita dan bertanya banyak lewat bbm, aku pun jawab sebisaku, walau aku juga belum lulus kuliah psikologi setidaknya aku bisa beri jawaban yang pas, capek ngetik ahkirnya aku minta ijin buat telpon dia, dan bu mirna pun mengiyakan, dengan semangat kutelpon ibu cantik ini mendengar suaranya yang lembut membuatku konak untung punya handsfree jadi tangan bebas mau ngapain aja, sambil dengar suara bu mirna yang lembut dan memandangi foto nya akupun melepas celanaku, sambil tiduran kontolku yang udah tegang ku elus elus lalu ku kocok kocok dengan lembut sambil membayangkan tubuh mulus bu mirna, “bisa nggak ya ngentot ibu cantik ini” tanya ku dalam hati, bu mirna masih aja nyerocos cerita aku pun cuma menjawab seperlunya, karena masih menikmati kocokan kontolku yang mulai terasa nikmat sampai ahkirnya tak tahan lagi dan spermaku pun nyemprot dan tanpa sadar ternyata aku mendesah cukup kencang

    “Kenapa Rie” bu mirna kaget dan bertanya akupun kelimpungan cairan pejuku nyemprot kemana mana “ahh… nggak papa bu, ini sambil minum kopi hangat, seger banget” aku pun mencari alasan, takut kalau dia sadar hehehe… “owh… ini udah jam 1 rie, besok pagi saya harus kepasar beli buah pagi pagi, disambung besok lagi ya” kata bu mirna “ah… iya iya… ke pasar mana bu, jam berapa?” lah kog aku tanya gituan kenapa nih wah otak error nggak kekontrol “Ke pasar B, subuh rie kalo kesiangan takut ga kebagian yang bagus”, “owh… sendirian, mau dianter?” udah terlanjut basah lah sekalian aja siapa tau dia mau hehehe… “ah nanti ngrepotin, lagian subuh kamu juga paling belum bangun” “kalau ibu mirna mau, ya saya anterin nggak papa, sekalian saya cari sarapan” strategi PDKT kayanya tembus ni. “hmmm…. ok lah subuh saya bbm ya nanti ditunggu di warung aja, soalnya nggak enak sama tetengga kalau ketemu dirumah” Jawab bu mirna aku pun dengan semangat menjawab “Siappp!!! sekarang pasang alarm” setelah pamitan bu mirna menutup telponnya, dan akupun masih bingung membersihkan cairan peju yang tadi nyemprot kemana mana. Keesokan hari, benar bu mirna udah menunggu di warung aku juga nggak telat, bu mirna terlihat cantik dia memakai jaket dan legging ketat yang membuat lekukan tubuh bawahnya terlihat langsung aja kusuruh naik dan motor pun melaju, sesekali iseng dilampu merah kurem agak mendadak, dan tubuh bu mirna terhentak kedepan hingga toketnya menyentuh punggungku, lumayan, empuk, bu mirna tidak berkomentar mungkin dia nggak sadar kalau ku sengaja. selesai dari pasar bu mirna kuturunkan di warung dan aku pun masuk kos.

    Siang harinya, pintu kamar kost ku diketuk setelah kubuka ternyata bu mirna, aku kaget sekali “eh bu” “kog tau kamarku disini” “iya itu tadi tanya sama pembantu pak kost, ini es buah buat kamu” jawab bu mirna “lah saya kan nggak pesen bu” jawabku “iya, itu hadiah spesial karena udah bantuin belanja dan angkat angkat tadi” jawab bu mirna sambil melihat kedalam kamar ku. “kamarmu bagus ya?, nyaman banget kayanya, sebulan berapa?” cecar bu mirna. “eh… mari masuk duduk dulu didalam kalau mau bu” jawabku terbata bata karena masih bingung dan kaget. “ah kapan kapan aja ya, itu adelia sendirian diwarung kasian” jawab bu mirna “nanti kalau ada waktu ke warung ya” kata bu mirna lagi “eh… ada apa lagi bu” jawabku agak bingung “Balikin mangkok es nya hehehehe….” jawab bu mirna sambil tertawa dan beranjak pergi. Hatiku semakin deg degan, ini beneran bu mirna kayanya kepancing atau memang dia ngerasa kesepian karena sudah lama tidak merasakan perlindungan dan belaian lelaki, bisa jadi juga. ah entahlah, jalani aja dulu. Dua jam kemudian terdengar gemuruh dilangit dan mulai gerimis, akupun bergegas lari sambil bawa mangkok kewarung, diperjalanan ternyata hujan deras, terlihat dari jauh bu mirna sendirian mengemasi peralatan warungnya, saat aku tiba bu mirna berkata. “Untung kamu datang rie, tau tau ujan deres pakai angin gini saya takut” ujar bu mirna “sini saya bantuin” ujarku sambil masukin barang barang kedalam gerobak, “dah selesai, udah dikunci kan gerobaknya?” tanyaku “udah rie” jawab bu mirna sambil menengadah melihat pohon didepan warungnya yang gergoyang tertiup angin. “Masuk ke kost dulu yuk, disini bahaya takut pohonnya ambruk” kataku, dan tanpa basa basi bu mirna pun mengangguk mau. dengan payung yang dibawa bu mirna kami berdua pun berjalan berdempetan, sesampai dikamar baju kami ternyata basah kuyup, kasihan bu mirna kalau masuk angin, lalu ku tawarkan ganti baju pakai kaos dan celana pendekku, “bu ganti baju ya? ini pakai kaosku, masih baru kog belum pernah dipakai, dari pada masuk angin” ujarku memaksa. “ah nggak usah rie nanti ngrepotin” jawabnya “alah ngrepotin apa ini ganti baju sana, itu kamar mandi” kataku sambil menunjuk kamar mandi didalam kamar kost ku.

    bu mirna pun tidak membantah lagi dia meraih kaos yang ku beri dan melangkah ke kamar mandi, 5 menit kemudian dia keluar rambutnya basah. “aku numpang keramas ya, takut pusing kehujanan” ujar bu mirna “hahahaha…. udah mandi baru bilang” candaku bu mirna pun ikut tertawa. “lha adelia kemana bu apa dirumah sendirian?” tanya ku basa basi “adelia kerumah neneknya, pulang besok pagi besok kan minggu sekalian nemenin neneknya sekali kali” ujarnya wah kesempatan ini nggak ada gangguan dan cuaca mendukung. “bu mirna suka nonton film nggak, ini aku ada film baru baru, atau mau nonton TV, itu hujan angin belum reda” tanyaku “apa aja deh nggak papa”, “ngobrol aja juga nggak papa” jawab bu mirna sambil melihat sekeliling kamar. dan tiba tiba matanya tertuju pada layar laptopku yang masih menyala disitu terbuka program ACD SEE untuk melihat gambar gambar, dan terlihat thumbnail gambar foto foto dia, dia pun mendekat dengan jalan berjongkok karena kamarku memang lesehan semua :D, dan bu mirna pun sedikit kaget, “kog banyak foto ku sama adelia disini” tanya nya penuh curiga “aaa… aanu…” aku bingung mau jawab gimana “kamu suka ya sama adelia” tanya bu mirna “aaa… enggak… bu… bukan…” jawabku terbata bata. “Terus kog banyak fotoku sama adelia?” bu mirna semakin curiga “se… se… sebenarnya” aduh omong nggak ya, ini kondisi lagi mendukung banget, jadi bingung… “hahaha… udah nggak papa, adelia memang cantik kog” ujarnya “hehehe… nggak bu… cantikan ibunya kog” jawab ku lirih bu mirna cuma tersenyum mendengar kata kataku, kemudian dia berkata “panggil mirna aja rie”, “nggak enak kedengerannya dipanggil ibu” ujar bu mirna “oohh.. ya bu” jawabku “lah masih bu” kata bu mirna sambil tertawa setengah jam berlalu hujan masih deras diluar, saat itu pukul setengah lima sore, bu mirna beberapa kali menelpon adelia tanya rumah udah dikunci belum tadi. dan sepertinya bu mirna udah terlihat tenang mendengar rumah sudah dikunci. kemudian aku menyodorkan bantal aku suruh dia tiduran sambil lihat TV nggak enak duduk tanpa sandaran pastinya capek. “Bu… eh mir tiduran sini dikasur biar aku yang dikarpet, istirahat dulu aja capek kan kamu?” ujarku sedikit memaksa sambil menarik tangannya dengan lembut. “ah… udah kamu aja nggak enak kalau ada yang lihat” ujarnya “siapa yang lihat? kos sepi malam minggu semua pulang, pak kos juga ga bakal keliling, santai aja, lagian pintu juga ditutup”, “sini” kataku sambil aku berpindah ke karpet dari kasur, sambil mendorong sedikit punggung bu mirna. bu mirna pun perlahan pindah kekasur dan merebahkan dirinya, sambil memandangku entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Sudah hampir malam akupun beranjak ke kamar mandi beberapa saat bu mirna masih terdengar tertawa kecil melihat tontonan ditv, setelah aku selesai mandi terlihat bu mirna terpejam, sepertinya dia ketiduran.

    yang membuatku kaget hpku ada ditangannya, dan kucoba mengambilnya perlahan supaya dia tidak terbangun, ya ampun… dia membuka gallery dan disitu ada foto foto bu mirna lebih banyak dari pada yang dilaptop, hatiku semakin bingung aku cuma terduduk disamping kasur sambil memandangi bu mirna yang tertidur pulas, mungkin dia lelah, kasihan wanita secantik ini harus berjuang sendirian. Bu mirna terlihat cantik banget saat tidur, bu mirna tidur terlentang kakinya terbuka, celana pendek ku yang dipakainya tergulung keatas hingga terlihat pahanya yang putih mulus. hatiku berdebar kencang, pengen rasanya mengelus paha mulusnya, sambil terus memandanginya pandanganku mengarah keatas puting payudara bu mirna terlihat menonjol, aku baru sadar, ternyata BH nya memang basah dan dijemur dikamar mandi. ini benar benar kesempatan emas, tapi gimana ya aku bingung…. kalau aku apa apain kalau bu mirna nggak mau dan teriak gimana… duh… ahkirnya perlahan ku tiduran kasur tepat disebelahnya sambil nonton tv, tak beberapa lama bu mirna berpindah posisi kearahku tangannya yang lembut memeluk dadaku, kakinya diatas kakiku dengkul dan paha tepat berada diatas burungku, hariku semakin berdebar, entah bu mirna ini sadar atau tidak, aku terdiam beberapa saat bau parfum nya yang kusuka itu tercium sekali perasaanku semakin kacau, kontolku sudah berdiri tegang. Perlahan kuberanikan diri mengelus rambutnya, kepala bu mirna bergerak perlahan masuk diantara pundak dan leherku, tangan kiriku mengelus rambut tangan kananku berusaha mengelus punggung bu mirna, 5 menit ku elus elus punggungnya ahkirnya kuberanikan diri tanganku masuk kedalam kaosnya dan mengelus punggung bu mirna dari dalam, kepala bu mirna kadang bergerak, mungkin dia sadar, tapi tak apalah sudah kepalang tanggung. tangan kananku semakin berani ku selipkan masuk kebagian celana belakang bu mirna dan merasakan gumpalan besar pantat yang lembut, dan dengan lembut pula ku raba dan ku elus, sampai ahkirnya ku beranikan diri meraih memeknya dari belakang, perlahan ku elus elus kucoba meraih klitorisnya, tapi susah tanganku terjepit, perlahan kudorong tubuh bu mirna supaya terlentang, bu mirna pun terlihat tidur pulas. tanpa berlama lama, ku tarik sedikit demi sedikit celana bu mirna sampai ke mata kakinya, celana dalam bu mirna pun sudah tidak ada apa mungkin basah juga, ah bodo amat, ini udah terbuka lebar jangan disia siakan pikirku.

     

    perlahan ku kangkangkan kaki bu mirna indah sekali memek bu mirna ini, bersih terawat dengan sedikit bulu halus seperti bulu abg ku elis perlahan dengan jari tanganku bu mirna masih belum sadar dan kemudian akupun menunduk mengarahkan lidahku kememek bu mirna, kujilat perlahan, jilatan kuarahkan ke itil bu mirna yang memeknya kubuka sedikit dengan jemariku, ku jilat lembut dari bawah keatas sesekali kumasukkan lidahku kedalam lubang memeknya, perlahan kurasakan kaki bu mirna bergerak, tapi aku cuek tetep menjilati memeknya yang sudah mulai basah sambil mengelus perut dan meremas toket bu mirna. Tiba tiba “aaaahhh…. Arieee… ” bu mirna setengah berteriak kaget “kamu ngapain….” Secara refleks tanganku menutup mulut bu mirna sambil tubuhku menindihnya supaya dia tidak berontak “maaf mir aku ga tahan, sepertinya aku jatuh cinta sama kamu”, “tadi kamu tidur meluk aku aku kira kamu sadar dan aku terbawa suasana” “aku buka tanganku kamu jangan teriak ya” Bu mirna mengangguk kencang, dan langsung kubuka bekapan tanganku, “ARIIIEE… APPAA APAAN KAMU…” dia sedikit marah… dan gelagatnya seperti mau berteriak, tanganku kembali ke mulutnya tapi tiba tiba tangan nya menahan tanganku. Tanpa menghiraukan bu mirna aku malah mencium bibirnya yang hampir nyerocos lagi “Hmmp…arr…rr…iii mmm..hhmmmpp” ku pagut bibir tipisnya dan tangan kananku turun kebawah dan meraih itil memek bu mirna lagi hingga bu mirna diam dan ga lagi bicara, kaki bu mirna berusaha menahan tanganku tapi selalu kutahan kutindih tubuhnya dengan badanku yang lebih besar darinya. jemariku sibuk mengelus itil yang sudah licin dan basah karena rangsangan yang hebat bu mirna mulai diam ku lepas bibirku dari bibirnya, dan mulai bibirku bergerilya di sekitar leher bu mirna, ku ciumi leher kiri dan depan bu mirna kali ini bu mirna terlihat pasrah.

    perlahan ku raih kaos bajunya, dan kuangkat supaya toketnya kelihatan, tiba tiba tangan bu mirna bergerap berusaha melepas kaosnya “biar ku buka sendiri riee… kamu kasar” kata bu mirna dengan nada sedikit marah Kaospun telah terlepas posisiku duduk diatas perutnya sambil melepas bajuku dan berusaha melepas celanaku, bu mirna cuma diam, setelah aku pun telanjang dan kontolku bebas aku menindihnya kembali dan menjilati daun telinga bu mirna, mungkin bu mirna juga sudah sangat terangsang, berbulan bulan atau mungkin tahun, dia tidak merasakan hal seperti ini, lidahku kembali gerilya dari telinga leher kemudian menjilati puting susunya sambil meremas toket bu mirna yang sudah tegang. Bu mirna berusaha memelukku sambil mengelus punggungku dan terdengar desahan desahan lembut tanda dia juga menikmati persetubuhan ini. Jam menunjukkan pukul setengah enam sore, hujan masih terdengar walau sudah berkurang, desahan nafas bu mirna terdengar lebih kencang dari suara hujan diluar, aku takut kalau terdengar dari luar ku berdiri sebentar memutar mp3 lagu lagu romantis dengan sedikit kencang, dan menyiapkan tissue kalau kalau spermaku muncrat lagi.

    bu mirna meraih kotak tissue dan mengambil selembar dia mengelap keringat dikeningku dan melempar kotak tissue agak jauh dari kasur. “loh kog dibuang” tanyaku “Kamu laki laki kan? nanti keluarin didalam aja” jawab bu mirna “tt…ttaa ppiii…” jawabku bingung tanpa bicara bu mirna meraih kontolku yang lemes lagi dan merebahkan ku diatas kasur, sembari dia bangkit dan duduk disamping tubuhku yang sudah telanjang bulat, perlahan kontolku dielus dengan lembut dan dikocok naik turun perlahan, hingga kontolku secara langsung tegang kembali, kocokan bu mirna semakin kencang dan rasanya nikmat sampai ke ubun ubun, aaaahhhhh…. aku hampir tidak kuat…. “bu… eh… mir… aakkk… sttoopp sttopp” , “aku mau keluar” pintaku perlahan Bu mirna memelankan kocokannya, dan kembali mengelus elus batang kontolku kemudian bu mirna rebahan disampingku memelukku dan berbisik, “kamu sengaja ya merencanakan ini semua?” tanyanya lirih “sengaja gimana bu… eh … mir”, “enggak lah”, “cuma….” “Cuma apa?” tanya bu mirna dengan tegas “iya, aku suka kamu dari awal ketemu” jawabku “suka apa nafsu?” tanya bu mirna lagi “aku udah lihat foto fotoku dihpmu”, “foto itu foto pertama kamu datang ke warung kan?” tanya nya kembali sebelum aku sempat jawab lagi bu mirna udah nyerocos lagi “Gini, aku mau sekarang juga ngelakuin sama kamu, tau kenapa?” tanya nya “enggak…” jawabku polos “dasar bego, emang aku ini pelacur apa buatmu?” jawab bu mirna terlihat marah “aku deket ma kamu karena aku ngerasain kehangatan seorang pria, yang udah lama nggak aku rasain” “cinta? bukan cinta!!! aku nggak tau tapi aku ngerasa kamu bisa meluluhkan hatiku, dan membuatku tenang” cerocos bu mirna “kalau kamu cuma anggap aku sekarang ini pemuas nafsu mu, aku pulang sekarang” katanya sambil berdiri akupun ikut berdiri dan memeluk tubunya yang masih telanjang. dan berbisik ketelinganya, “aku nggak tau mir, diantara kasihan, iba akan kisah hidupmu dan nafsu”, “tapi aku janji, kalau kamu butuh aku selama aku bisa aku akan ada untukmu” “Riiee aku sadar umurku jauh diatasmu, bukan aku pengen kamu tanggung jawab jadi suamiku tapi aku pengen kamu ga ninggalin aku setelah kamu nikmati tubuhku” “cuma itu” bisik bu mirna lirih ketelingaku.

    Perlahan kudorong tubuh bugil bu mirna ketembok dan menciumi bibirnya dengan lembut, bu mirna pun membalas, lidah kami pun saling menjilat, sambil ku raba seluruh tubuhnya yang mulus telanjang tanpa busana. “Masukkan riiee, aku pengen banget…” bisik bu mirna ke telingaku. Perlahan kuraih burungku yang sudah tegang mengencang lagi, dan berusaha kumasukkan kedalam lubang vagina bu mirna, ku gesek gesek kepala kontolku kebibir vagina nya yang sudah basah dan licin, dan kudorong masuk perlahan, ahhhh… susah sekali, mungkin akibat lama nggak dimasuki kontol memek bu mirna jadi menyempit, sekali lagi kumasukkan kepala penis berhasil masuk, perlahan lahan ku sodok keluar masuk dan ahkirnya “Ah… arrr…rriieee… aaahhh….” bu mirna mendesah hampir seluruh batang kontolku tenggelam dalam memek bu mirna, dalam posisi berdiri ku angkat sebelah kaki bu mirna sambil kusodok keluar masuk dengan kencang memek bu mirna, kontol besarku terasa terjepit dilubang vagina bu mirna yang semakin licin, desahan bu mirna semakin kencang dan dekapan tangan di punggungku terasa semakin kencang seirama dengan sodokan keluar masuk kontolku. “Rrr…Riiiieee, aku keluar rrriiee…” bu mirna berbisik sambil mendesah, tubuh bu mirna terasa bergetar sesaat kemudian melemas, bu mirna mencapai orgasme, Syukurlah bukan aku dulu yang keluar.

     

    perlahan kubaringkan tubuh bu mirna dikasur, sambil aku juga meredakan nikmat yang hampir tak bisa kutahan, ku tunggu 5 menit sambil mengelap cairan dimemek bu mirna yang sangat banyak, dan membuat kurang enak karena terlalu licin. setelah beberapa saat kukocok lagi kontolku supaya tegang sambil memandangi tubuh mulus bu mirna yang terkulai lemas, perlahan kumasukkan kontolku kedalam memek bu mirna lagi, kali ini tangan bu mirna seperti menahan menolak, tapi tetap ku paksa. sambil ku berjongkok kukangkangkan kaki wanita cantik ini, dan mulai menyodok nyodok memek sempitnya, kepala bu mirna terlihat bergerak kekanan kekiri dan mendongak ku bungkukkan tubuhku dan menciumi toket bu mirna yang bulat mengencang, mengulum puting susunya sambil mendengarkan desahan lirih dari bibir bu mirna, tak lama tubuh bu mirna menegang kembali kontolku kali ini terasa terjepit lebih erat nikmat terasa sampai ke ubun ubun, dan ku mempercepat gerakan ku menyodok memek bu mirna keluar masuk sampai terdengar desahan lembut yang lebih kencang dari yang pertama tadi tanpa menghiraukannya kupegang perut bu mirna dan ku genjot lebih kencang memeknya sampai ahkirnya dorongan kencang spermaku keluar muncrat didalam memek bu mirna, perlahan lahan tetep ku gerakkan maju mundur sambil memandangi wajah cantik bu mirna, dan kucabut perlahan kontolku dari vagina wanita cantik ini, terlihat cairan putih kental mengalir keluar dari dalam memek wanita cantik ini, kemudian tubuhku terkulai lemas dan rebahan disamping tubuh bu mirna yang sudah lemas. kami pun tertidur pulas, tanpa sadar terbangun pukul setengah enam minggu pagi, bu mirna pun pamit pulang. Setelah kejadian itu, kami sering berkencan sampai nginep dihotel hanya untuk bercinta, pada ahkirnya bagi kami berdua semua ini hanyalah pemuas nafsu belaka, dan setiap malam minggu kami selalu bertemu walau cuma satu jam untuk saling memuaskan nafsu.

  • Melewati Malam Bersama Dokter Shinta

    Melewati Malam Bersama Dokter Shinta


    1355 views

    BONUS VIDEO BOKEP DAN FOTO BUGIL


    Cerita Dewasa Sex | Melewati Malam Bersama Dokter Shinta

    Shinta adalah seorang dokter muda. Dia baru saja menamatkan pendidikannya pada sebuah universitas ternama di Pulau S. Selain kecerdasannya yang mengantarkan dirinya meraih gelar dokter. Shinta juga merupakan gambaran profil generasi muda masa kini. Disamping sebagai gadis yang sangat cantik, Shinta yang berusia 24 tahun ini juga lincah dan intelek dan dikenal oleh teman-temannya sebagai gadis yang cinta lingkungan dan masalah sosial budaya. Dia sangat senang dengan petualangan alam. Selama 2 tahun terakhir di kampusnya Shinta dipercaya teman-temannya menjadi Ketua Group Pecinta Alam. Sangat kontras memang.

    221663_04

    Dilihat dari penampilan fisiknya yang demikian cantik dan lembut Shinta adalah ahli bela diri Kung Fu pemegang sabuk hitam. Disamping itu dia juga sebagai pemanjat tebing yang handal dan juga beberapa kali telah mengikuti kegiatan arung jeram dengan menelusuri sungai-sungai ganas di seputar Sumatera. Sebagaimana dokter baru ia harus menjalani masa PTT pada sebuah desa yang jauh dari tempat tinggalnya. Reaksi orang tuanya dalam hal ini ibunya dan Rudi tunangannya adalah sangat keberatan saat mendengar bahwa dia harus bertugas di desa terpencil itu. Ibu Shinta sangat menyayangi Shinta. Beliaulah yang terus mendorong sekolah Shinta hingga lulus menjadi dokter. Orang tua Shinta cerai saat Shinta masih kecil. Sampai tamat dokter Shinta mengikuti ibunya. Shinta tak pernah kenal dan tahu bagaimana dan dimana ayahnya sekarang.

    Selain jauh dari kotanya daerah itu masih sangat terbelakang dan terisolir. Bayangkan, untuk mencapai daerah itu orang harus seharian naik bus antar kota, kemudian disambung dengan ojek hingga ke tepian desa yang dimaksud. Di desanya sendiri yang sama sekali tak ada sarana transportasi juga belum terjangkau oleh penerangan listrik. Tak ada TV dan belum ada sambungan pesawat telpon maupun antene repeater untuk penggunaan hand phone. Ibunya minta pamannya yang adik kandung ibunya bersama Rudi tunangannya untuk menyempatkan diri meninjau langsung desa itu. Sepulang dari desa tersebut mereka menyatakan bahwa betapa berat medan yang akan dihadapi oleh Shinta nantinya. Mereka khawatir dan cemas pada Shinta yang rencananya pada bulan Haji nanti akan dinikahkan dengan Rudi. Shinta dan Rudi telah bertunangan selama hampir 2 tahun. Rudi sendiri adalah seorang insinyur pertanian yang telah bekerja di Dinas Pertanian Kabupaten. Tetapi semua kecemasan dan kekhawatiran orang tua dan tunangannya itu tidak terlampau ditanggapi oleh Shinta. Untuk lebih menghayati cerita selanjutnya, biarlah Shinta sendiri yang menceriterakan kisah yang dialaminya sebagaimana yang tertera di bawah ini.

    221663_05

    Perjalanan itu hampir memakan waktu 1 jam. Mungkin hanya 10 menit kalau jalanannya macam jalan aspal di kota. Sampai di pintu desa nampak mereka yang menjemputku. Masih beberapa rumah dan kebon yang mesti kami lewati. Aku mendapatkan seorang perempuan yang sedang menggigil karena demam yang tinggi. Sesudah kuperiksa dia kuberi obat-obatan yang diperlukan. Kepada suami dan kerabatnya yang di rumah itu aku berkesempatan memberikan sedikit penerangan kesehatan.

    Aku sarankan banyak makan sayur dan buah-buahan yang banyak terdapat di desa itu. Bagaimana mencuci bakal makanan sehingga bersih dan sehat. Jangan terlalu asyik dengan ikan asin. Kalau berkesempatan buatlah kakus yang benar. Perhatikan kebersihan rumah dan sebagainya. Terkadang Pak Tanba ikut melengkapi omonganku. Dari sekian puluh kali dia mengantar aku, akhirnya dia juga menguasai ilmu populer yang sering kusiarkan pada penduduk itu.
    Saat pulang, kilat dari langit makin sering dengan sesekali diiringi suara guntur. Jam tanganku menujukkan pukul 10.30 malam. Ah, hujan, nih. Pak Tanba mencoba mempercepat laju kendaraannya. Angin malam di pedesaan yang dingin terasa menerpa tubuhku.
    Kira-kira setengah perjalanan kami rasakan hujan mulai jatuh. Lampu motor Pak Tanba menerangi titik-titik hujan yang seperti jarum-jarum berjatuhan. Aku lebih mempererat peganganku pada pinggulnya dan lebih menyandarkan kepalaku ke punggungnya untuk mencari kehangatan dan menghindarkan jatuhan titik-titik air ke wajahku.
    Hujan memang tak kenal kompromi. Makin deras.

    Aku pengin ngomong ke Pak Tanba agar berteduh dulu, tetapi derasnya hujan membuat omonganku tak terdengar jelas olehnya. Dia terus melaju dan aku semakin erat memeluki pinggulnya. Tiba-tiba dia berhenti. Rupanya kami mendapatkan dangau beratap daun nipah yang sepi di tepi jalanan. Aku ingat, dangau tempat jualan milik orang desa sebelah. Kalau siang hari tempat ini dikunjungi orang yang mau beli peniti, sabun atau barang-barang kebutuhan lain yang bersifat kering. Ada ‘amben’ dari bambu yang tidak luas sekedar cukup untuk duduk berteduh. Pak Tanda lekas menyandarkan motornya kemudian lari kebawah atap nipah. Aku menyilahkannya duduk.
    “Sini Pak, cukup ini buat berdua,”
    Dan tanpa canggung dia mendekat ke aku dan sambil merangkulkan tangannya ke pundakku duduk di sampingku.

    221663_06

    “Ibu kedinginan?”
    “Iyalah, Pak..” sambil aku juga merangkul balik pinggangnya dengan rasa akrab.
    Untuk beberapa saat kami hanya diam mendengarkan derasnya hujan yang mengguyur. Omongan apapun nggak akan terdengar. Suara hujan yang seperti dicurahkan dari langit mengalahkan suara-suara omongan kami. Beberapa kali aku menekan pelukanku ke tubuh Pak Tanba untuk lebih mendapatkan kehangatannya. Kepala dan wajahku semakin rebah menempel ke dadanya.
    Aku nggak tahu bagaimana mulanya. Kudengar dengusan nafas Pak Tanba di telingaku dan tahu-tahu kurasakan mukanya telah nyungsep ke leherku.Aku diam. Aku pikir dia juga perlu kehangatan. Dan aku merasakan betapa damai pada saat-saat seperti ini ada Pak Tanba. Aku juga ingin membuat dia merasa senang di dekatku.
    Tiba-tiba dia menggerakkan kecil wajahnya dan leherku merasakan bibirnya mengecupku. Aku juga diam. Aku sendiri sesungguhnya sedang sangat lelah. Ini jam-jam istirahatku. Kondisi rasio dan emosiku cenderung malas. Aku cenderung cuek dan membiarkan apa maunya.

    221663_07

    Aku nggak perlu mengkhawatirkan ulah Pak Tanba yang telah demikian banyak berkorban untukku. Dan aku sendiri yang semakin kedinginan karena pakaianku yang basah ditambahi oleh angin kencang malamnya yang sangat dingin merasakan bibir itu mendongkrak kehangatan dari dalam tubuhku. Bahkan kemudian aku juga tetap membiarkan ketika akhirnya kurasakan kecupan itu juga dilengkapi dengan sedotan bibirnya. Aku hanya sedikit menghindar.
    “Aiihh..” desahku tanpa upaya sungguh-sungguh untuk menghindar. Hingga kudengar.

    “Bb.. Bu dokteerr..” desis bisik setengah samar-samar di tengahnya suara hujan yang semakin deras menembusi gendang telingaku.
    “Buu..” kembali desis itu.
    Dan aku hanya, “Hhmm..”
    Aku nggak tahu mesti bagaimana. Aku secara tulus menyayangi Pak Tanba sebagai sahabat dan orang yang telah demikian banyak menolong aku. Aku menyayanginya juga karena adanya rasa ‘damai dan terlindungi’ saat dia berada di dekatku. Aku juga menyayanginya karena rasa hormatku pada seorang lelaki yang begitu ‘concern’ akan nilai tanggung jawabnya.

    Aku menyayangi Pak Tanba sebagai bentuk hormatku pada seorang manusia yang juga mampu menunjukkan rasa sayangnya pada sesama manusia lainnya.
    Adakah aku juga menyayangi karena hal-hal lain dari Pak Tanba yang usianya mungkinlebih tua dari ayahku? Adakah aku sedang dirundung oleh rasa sepiku? Adakah aku merindukan belaian seorang ayah yang belum pernah kujumapi? Adakah aku merindukan belaian Rudi tunanganku? Sementara aku masih gamang dan mencari jawab, kecupan dan sedotan bibir dengan halus melata pelan ke atas menyentuhi kupingku yang langsung membuat darahku berdesir.

    Jantungku tersentak dan kemudian berdenyut kencang. Tubuhku tersentak pula oleh denyut jantungku. Rasa dingin yang disebabkan angin malam dan pakaian basah di tubuhku langsung sirna. Kegamanganku menuntun tanganku untuk berusaha mencari pegangan.

    221663_08

    Dan pada saat yang bersamaan tangan kiri Pak Tanba mendekap tangan-tanganku kemudian tangan kanannya merangkul untuk kemudian menelusup ke bawah baju basahku. Dia meraba kemudian mencengkeramkan dengan lembut jari-jarinya pada buah dadaku.

    Kemudian juga meremasinya pelan. Darahku melonjak dalam desiran tak tertahan. Jari-jari tangannya yang kasar itu menyentuh dan menggelitik puting susuku. Aku tak menduga atas apa yang Pak Tanba lakukan ini. Tetapi aku tak hendak menolak. Aku merasakan semacam nikmat. Aku menggelinjang berkat remasan tangan Pak Tanba pada susuku. Aku langsung disergap rasa dahaga yang amat sangat.

    Dengan sedikit menggeliat aku mendesah halus sambil sedikit menarik leher dan menengadahkan mukaku. Sebuah sergapan hangat dan manis menjemput bibirku. Bibir Pak Tanba langsung melumat bibirku. Oocchh.. Apa yang telah terjadi.. Apa yang melandaku dalam sekejab ini.. Apa yang melemparkan aku dalam awang tanpa batas ini.. Dimana orbitku kini..

    Seperti burung yang terjerat pukat, aku merasakan ada arus yang mengalir kuat dan menyeretku. Namun aku tak berusaha mencari selamat. Aku justru kehausan dan ingin lebih lumat larut dalam arus itu. Tanganku bergerak ke atas. Kuraih kepala Pak Tanba dan menarik menekan ke bibirku. Aku ingin dia benar-benar melumatku habis.
    Aku mau dahagaku terkikis dengan lumantannya. Aku menghisap bibirnya. Kami saling melumat. Lidah Pak Tanba meruyak ke mulutku dan aku menyedotinya. Aku langsung kegerahan dalam hujan lebat dan dinginnya malam pedesaan itu. Tubuhku terasa mengeluarkan keringat. Mungkin pakaianku mengering karena panas tubuhku kini.

    “Mmmhh..” desahnya.
    “Mllmmhh..” desahku.
    Aku tak tahu lagi apa yang berikutnya terjadi. Aku hanya merasa Pak Tanba merebahkan tubuhku ke ‘amben’ bambu itu sambil mulutnya terus melumati bibirku. Dan tanganku tak lepas dari pegangan di kepalanya untuk aku bisa lebih menekankannya ke bibirku. Desah dan rintih yang tertimpa bunyi derasnya hujan menjadi mantera dan sihir yang dengan cepat menggiring kami ketepian samudra birahi. Hasrat menggelora menggelitik saraf-saraf libidoku.

    Kemudian kehangatan bibir itu melepas dari bibirku untuk melata. Pak Tanba sesaat melumat dan menggigit kecil bibir bawahku untuk kemudian turun melumati daguku. Aamppuunn.. Kenapa gairah ini demikian mengobarkan syahwatku.. Ayoo.. Terus Paakk.. Aku hauss.. Pak Tanbaa..
    Leherku mengelinjang begitu bibir Pak Tanba menyeranginya. Kecupan demi kecupan dia lepaskan dan aku tak mampu menahan gejolak nafsuku. Aku beranikan menjerit di tengah hujan keras di atas dangau sepi dekat tepian desa ini.
    “Ayyoo.. Paakk.. Aku hauss Pak Tanbaa.. “.

    Aku menggelinjang kuat. Aku meronta ingin Pak Tanba merobek-robek nafsu birahiku. Aku ingin dia cepat menyambut dahagaku.

    Tiba-tiba tangan Pak Tanba merenggut keras baju dokterku. Dia renggut pula blusku. Semua kancing-kancing bajuku putus terlepas. Pak Tanba menunjukkan kebuasan syahwat hewaniahnya. Duh.. Aku jadi begitu terbakar oleh hasrat nikmat birahiku. Aku merasakan seorang yang sangat jantan sedang berusaha merampas kelembutan keperempuananku. Dan aku harus selekasnya menyerah pada kejantanannya itu.

    Dia ‘cokot’i buah dadaku. Dia emoti susu-susuku. Di gigit-gigit pentil-pentilku. Sambil tangannya mengelusi pinggulku, pantatku, pahaku. Ciuman-ciumannya terus menyergapi tubuhku. Dari dada turun ke perut dan turun lagi.. Turun lagi.. Aku benar-benar terlempar ke awang lepas.

    221663_09

    Aku memasuki kenikmatan dalam samudra penuh sensasi. Semua yang Pak Tanba lakukan pada tubuhku belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku sama sekali tak mempertimbangkan adanya Rudi tunanganku itu.
    Dan yang lebih-lebih menyiksaku kini adalah rasa gatal yang sangat di seputar kemaluanku. Tanpa mampu kuhindarkan tanganku sendiri berusaha menggaruk elus rasa gatal itu. Dengan sigap tanpa rasa malu aku lepasi celana dalamku sendiri. Kulemparkan ke tanah. Aku menekan-nekan bagian atas vaginaku untuk mengurangi kegatalan itu. Aku makin merasakan cairan birahiku meleleh luber keluar dari vaginaku.
    Sensasi dari Pak Tanba terus mengalir.

    Kini bibirnya telah merasuk lebih kebawah. Dia mengecupi dan menjilat-jilat selangkanganku. Dan itu membuat aku menjadi sangat histeris. Kujambaki rambut Pak Tanba dalam upaya menahan kegatalan syahwatku. Pak Tanba rupanya tahu. Bibirnya langsung merambah kemaluanku. Bibirnya langsung melumat bibir vaginaku. Lidahnya menjilati cairan birahiku. Kudengar.. Ssluurrpp.. Sslluurrpp.. Saat menyedoti cairan itu. Bunyi itu terdengar sangat merangsang nafsuku.

    Aku tak tahan lagi. Aku ibarat hewan korban persembahan Pak Tanba yang siap menerima tusukan tajam dari tombaknya. Kobaran birahiku menuntut agar persembahan cepat dilaksanakan. Aku tarik bahu Pak Tanba agar bangkit dan cepat menikamkan tombaknya padaku. Ayoolaahh.. Paakk..
    Aku tak tahu kapan Pak Tanba melepasi pakaiannya.

    Bahkan aku juga tak sepenuhnya menyadari kenapa kini aku telah telanjang bulat. Pak Tanba memang lekas merespon kobaran nafsuku. Dia telah jauh pengalamannya. Apa yang aku lakukan mungkin sudah sering dia dapatkan dari istri-istrinya. Dengan sigap dia naik dan menindihku dalam keadaan telah telanjang. Dia benamkan wajahnya ke lembah ketiakku. Dia menjilati dan menyedotinya.
    Sementara itu aku juga merasakan ada batang keras dan panas menekan pahaku. Tak memerlukan pengalaman untuk mengetahui bahwa itu adalah kemaluan Pak Tanba yang telah siap untuk menikam dan menembusi kemaluanku. Tetapi dia terhenti. Detik-detik penantianku seakan-akan bertahun-tahun. Dia berbisik dalam parau.
    “Bu Dokter, ibu masih perawan?”
    Aku sedikit tersentak atas bisikkannya itu. Yaa.. Aku memang masih perawan. Akankah aku serahkan ini kepada Pak Tanba? Bagaimana dengan Rudi nanti? Bagaimana dengan masa depanku? Bagaimana dengan risiko moralku? Bagaimana dengan karirku? Dalam sekejab aku harus mengambil sikap. Dengan sangat kilat aku mencoba berkilas balik.

    221663_11
    Dalam posisi begini ternyata aku mampu berpikir jernih, walau sesaat. Kemudian aku kembali ke arus syahwat birahi yang menyeretku. Aku tidak menjawab dalam kata kepada Pak Tanba. Aku langsung menjemput bibirnya untuk melumatinya sambil sedikit merenggangkan pahaku. Aku rela menyerahkan keperawananku kepada Pak Tanba.
    Ditengah derasnya hujan dan dinginnya pedesaan, diatas ‘amben’ bambu dan disaksikan dangau beratap daun nipah di tepi jalan tidak jauh dari pintu desaku Pak Tanba telah mengambil keperawananku.

    Aku tak menyesalinya. Hal itu sangat mungkin karena rasa relaku yang timbul setelah melihat bagaimana Pak Tanba tanpa menunjukkan pamrihnya membantu tugas-tugasku. Dan mungkin juga atas sikapnya yang demikian penuh perhatian padaku. Rasa ‘adem’ dan ‘terlindungi’ dari sosok dan perilaku Pak Tanba demikian menghanyutkan kesadaran emosi maupun rasioku hingga aku tak harus merasa kehilangan saat keperawananku di raihnya.

    Sesaat setelah peristiwa itu terjadi Pak Tanba nge-’gelesot’ di rerumputan dangau itu sambil menangis di depan kakiku. Ini juga istimewa bagiku karena aku pikir orang seperti Pak Tanba tidak bisa menangis.
    “Maafkan kekhilafan saya, Bu Dokter. Saya minta ampuunn..”
    Tetapi aku cepat meraihnya untuk kembali duduk di ‘amben’. Bahkan aku merangkulinya. Bahkan sambil kemudian menjemput bibirnya dan kembali melumatinya aku katakan bahwa aku sama sekali rela atas apa yang Pak Tanba telah lakukan kepadaku.

    Malam itu sebelum beranjak pulang kami sekali lagi menjemput nikmat syahwat birahi. Tanpa kata-kata Pak Tanba menuntunku bagaimana supaya aku bisa meraih orgasmeku. Dia bimbing aku untuk menindih tubuhnya yang kekar itu. Dia tuntun kemaluannya untuk diarahkan ke kemaluanku. Kemudian dia dorong tarik sesaat sebelum aku berhasil melakukannya sendiri. Betapa sensasi syahwat langsung menyergapku. Aku mengayun pantat dan pinggulku seperti perempuan yang sedang mencuci di atas penggilesan. Hanya kali ini yang berayun bukan tanganku tetapi pantat dan pinggulku. Aku berhasil meraih orgasmeku secara beruntun menyertai saat-saat orgasme dan ejakulasinya Pak Tanba yang kurasakan pada kedutan-kedutan kemaluannya yang disertai dengan panasnya semprotan sperma kentalnya dalam liang sanggamaku.

    Aneh, saat kami bersiap pulang langit mendadak jadi terang benderang. Bahkan bulan yang hampir purnama membagikan cahayanya mengenai pematang sawah di tepian jalan itu. Sebelum Pak Tanba menarik motornya dia sekali lagi meraih pinggangku dan kembali memagut bibirku kemudian.
    “Bu Dokter maukah kamu menjadi istriku?,”

    Aku tak menjawab dalam kata pula. Aku hanya mencubit lengannya yang dibalas Pak Tanba dengan ‘aduh’.
    Dalam keremangan cahaya bulan kami memasuki desa tantanganku. Aku merenungi betapa desa ini telah memberiku banyak arti dalam hidupku. Dan pada dini pagi yang dingin itu kutetapkan hatiku. Aku akan mengabdi pada desa tantanganku ini. Aku akan jadi dokter desa dan tinggal bersama suamiku sebagai istri ke.4 Pak Tanba yang sangat baik itu.

    Saat pamanku datang menjemput dan kebetulan tanpa disertai Rudi karena sedang bertugas di luar kotanya semuanya kuceritakan kepadanya. Kusampaikan bahwa dengan sepenuh kesadaranku aku telah menemukan jalan dan pilihanku. Aku akan mengabdi di desa tantanganku. Dan aku minta tolong untuk disampaikan kepada Rudi permohonan maafku yang telah mengecewakannya. Dan tentu saja kepada ibuku disamping restunya yang selalu aku perlukan.

    221663_12 221663_13 221663_14 221663_15

  • Cerita Panas Tante Girang Horny Berat

    Cerita Panas Tante Girang Horny Berat


    90 views

    Cerita Panas Tante Girang Horny Berat

    Suasana rumah Tante Betty petang itu tetap lengang. Hanya tampak satu sepeda motor milik Randy serta suatu mobil Kijang terakhir yang baru saja memasuki garasi. Randy serta kakaknya, Susan, berlibur di rumah Tante Betty untuk mengisi liburan kenaikan kelas. Tante Betty sebagai wanita karier tidak jarang merasa kesepian sebab ia belum bersuami. Ia sangat bahagia jika ponakan-ponakannya berkunjung ke rumahnya, apalagi hingga menginap lama semacam yang diperbuat anak dari kakak pertama serta keduanya itu.

    Susan baru saja pulang dari rumah Nina saat waktu menunjukkan pukul 19:30. Menonton suasana rumah kosong ia segera masuk kamar. Matanya tampak sembab menandakan ia baru saja menangis. Meskipun jauh-jauh hari Susan telah merasakan perubahan sikap Ari, tetapi tetap saja kaget dengan keputusan kekasihnya itu untuk tidak meneruskan hubungan mereka lagi. Apalagi di telepon tadi, Ari yang berbicara bahwa mereka tidak tepat semacam dibuat-buat saja. Tapi Susan juga bukan gadis yang lemah. Baginya, tidak ada argumen baginya untuk menjadi gadis yang cengeng diusianya yang telah menginjak delapan belas. Pintu kamar Susan tiba-tiba saja terbuka. Kepala Randy timbul dari balik pintu sambil tersenyum. “Baru datang, Kak?”, tanya Randy sambil ngeloyor masuk walau kakaknya sedang berganti pakaian. Randy berlangsung acuh tidak acuh. “Iya..”, jawab Susan singkat. Pikirannya tetap sumpek dengan kejadian tadi siang. Segera saja direbahkan badannya di kasur seusai mengganti baju perginya dengan daster tipis. “Kok, lesu gitu.., Kenapa?”, Randy yang baru kelas dua SMP itu menghampiri Susan.

    Ia juga kemudian merebahkan badannya disamping kakaknya tersebut. Susan hanya diam saja seolah tidak mendengar pertanyaan adiknya. Matanya menerawang menonton langit-langit kamar. Randy pun akhirnya memperhatikan sepupunya tersebut. Susan terbukti sangatlah cantik. Kadang-kadang ia merasa lebih bahagia kalau Susan bukan saudaranya. Mungkin sebab tidak jarangkali ia tanpa sadar mengagumi tubuh Susan. Entah mengapa belakangan ini minatnya kepada wanita begitu meningkat. Ia bahkan suka sekali menonton-lihat pose wanita di majalah kosmopolitan milik kakaknya itu. Biasanya ia sehingga terangsang serta onani di kamar mandi. “Sret..”, Sepersekian detik posisi tangan Susan bergerak terbuktiku kepalanya sendiri serta tanpa ia sadari belahan baju di dadanya menjadi terbuka.

    Menonton faktor demikian Randy sehingga sedikit canggung. Ia kebingungan sekaligus menyukai pemandangan itu. Randy agak berdebar-debar ketika ia terus jelas menonton lekuk buah dada kakaknya yang tampak ranum serta indah. Apalagi tampak tonjolan puting di balik daster tipis itu. Batang penisnya terasa sedikit mengeras. Sebab dorongan hasratnya, Randy memberanikan diri perlahan-lahan mendekati tubuh Susan. Ia merangkul pinggang kakaknya tersebut. Merasakan sentuhan di tubuhnya, membikin rasa kecewa Susan terus mendalam. Air matanya mulai keluar serta ia segera membalikkan badan membelakangi adiknya. Ia tidak mau menangis di hadapan Randy. Posisi demikian membikin Randy dapat merangkul Susan dengan bebas dari belakang. “Kamu cantik deh.., malam ini..”, ucap Randy tanpa sadar. Susan pun hanya diam saja. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah ada orang yang menyayanginya.

    Randy kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang Susan. Gadis yang merasa sedang bersedih itu sedikit bergerak lebih mendekatkan badannya ke dalam pelukan Randy. Ia ingin ada orang yang menghiburnya disaat-saat seperti ini. Respon Susan ini membuat Randy berani menggerakan tangannya dengan lembut untuk menyentuh bagian bawah buah dada sepupunya. Susan hanya memejamkan mata saja. Posisi tubuh yang berhimpitan itu membuat pikiran Randy semakin tidak menentu. Apalagi batang penisnya yang berhimpitan dengan pantat Susan. Perlahan ia mulai meremas dengan halus buah dada sepupunya tersebut.

    Susan pun dalam keadaan sedang sedih menjadi merasa sangat tenang karena adiknya seperti mengerti kesedihannya. Ia tahan terhadap seorang sepupu. Ia juga membiarkan telapak tangan Randy membelai-belai buah dadanya yang memang tidak memakai beha. Belaian Randy pada bagian tubuhnya yang sensitif tersebut membuat jantung Susan sedikit berdebar-debar. Tapi ia segera menganggap wajar sentuhan kasih sayang sepupunya tersebut.

    Randy pun mulai berani menciumi bagian tengkuk leher Susan sambil memasukkan tangannya ke dalam daster Susan. Perasaan Susan menjadi sedikit tidak karuan. Ia mulai menyadari bahwa sentuhan sepupunya bukan lagi sentuhan kasih sayang, tapi di satu sisi ia amat menikmati sentuhan itu. Terutama remasan telapak tangan Randy terhadap puting susunya. Perasaan sedih yang sedang ia alami seperti berganti dengan keinginan untuk terus dibelai. Ia ingin menghentikan Randy, namun sentuhan itu membangkitkan perasaan lain dalam kesedihannya. Sentuhan-sentuhan halus itu membuat bulu tengkuknya berdiri. Buah dadanya pun menjadi agak mengeras oleh karena sentuhan dan remasan lembut tangan Randy. “Ran, mmh.., udah ah.., aku kegelian”, akhirnya Susan berusaha menyudahi aktivitas itu.
    “Ah, aku kan sayang sama kamu”, sahut Randy sambil sedikit ngos-ngosan. Ia masih saja merabai tubuh sepupunya. “Engh, badanku jadi lemas semua nih”, tanpa sadar Susan berucap sambil setengah merengek.

    Kemaluannya bagian bawah pun mulai terasa hangat dan lembab. Randy tidak menghiraukan perkataan sepupunya tersebut, ia masih terus meremas-remas payudara Susan. Malah ia mulai memasukkan satu tangannya ke dalam celana dalam sepupunya. Bulu-bulu halus di kemaluan Susan pun terasa di telapak tangan Randy. Iapun menyentuh bibir vagina sepupunya itu. Susan menggelinjang. Nafasnya mulai tidak terkontrol. Kesadarannya pun mulai hilang. Sekilas ia hanya menyadari bahwa ia sedang dicumbui oleh sepupunya sendiri. Kemaluannya sudah mulai berdenyut-denyut. Randy secara lembut namun penuh nafsu mulai merebahkan tubuh Susan. Kemaluannya seperti ingin membutuhkan sesuatu. Ditindihnya tubuh sepupunya dengan birahi yang mulai tidak terkontrol. Segera saja ia buka kancing daster sepupunya. Tampak dengan jelas kedua belah buah dada sepupunya yang indah itu dengan putingnya yang telah berdiri tegak. Ia langsung mengulumi puting buah dada sepupunya tersebut.

    “Ran.., ngmhhnghh.., udah dong.., sshh”, ucap Susan ketika sekilas kesadarannya datang. Namun Randy sudak asyik dengan aktivitas birahinya. Lidahnya mempermainkan puting susu sepupunya dengan penuh perasaan. Mata Susan terpejam dan tangannya membelai kepala Randy, merasakan kenikmatan jilatan-jilatannya. Randy akhirnya mulai tak sabar, ditariknya turun celana dalam sepupunya tersebut. Susan sudah benat-benar dikuasai nafsu. Ia tidak sadar ketika celana dalamnya terlepas. Randy pun segera memelorotkan celana pendeknya sendiri sampai batang penisnya terlihat tegak. Dikangkangkannya kedua kaki Susan dengan perlahan. Kemualuannya segera ia arahkan ke dalam pangkal paha Susan. “Sleep!”, Setengah detik kemudian kemaluan Randy mulai memasuki liang vagina Susan. Terasa hangat dan empuk. Sesaat Susan seperti tersadar apa yang sedang terjadi, namun kesadarannya langsung hilang ketika Randy mulai menggerakan pinggangnya naik turun.

    Napas Randy semakin ngos-ngosan tatkala tubuhnya mulai bergerak menindih tubuh sepupunya yang mulus itu. Buah dada Susan bergoyang-goyang karena gerakan sodokan Randy terhadap tubuhnya. Semuanya seperti tidak dapat dihentikan begitu saja. Kesadaran Susan pun telah musnah berganti kebutuhan untuk dicumbui. Ia akhirnya juga merespon gerakkan yang dilakukan sepupunya tersebut. Kemaluannya berdenyut-denyut ketika penis sepupunya terus bergerak dalam liang kemaluannya. Pinggangnya bergerak berputar-putar dan sambil merintih penuh rasa nikmat.

    “Ran.., nghh enghhnak.., enghh terusshhsshh”, rintih Susan dalam kenikmatan. Desahan Susan membuat nafsu Randy semakin menjadi-jadi. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa gadis yang sedang ia setubuhi adalah kakak sepupunya sendiri. Konsentrasi Randy hanyalah pada gerakan tubuhnya yang maju mundur. Batang penisnya seperti dipijit-pijit di dalam lubang kemaluan Susan. Ia semakin mempercepat gerakannya karena terasa sesuatu yang mendesak batang kemaluannya. “Engghh.., yang.., engghh lebihhss kerassh..sshh”, Susan mendesah merasa saat itu dirinya telah membubung tinggi.

    Randy semakin mempercepat gerakannya. Bunyi kecepak-kecepuk menjadi semakin berirama. Randy merasa kemaluannya seperti akan meledak. Gerakannya kini telah menjadi hentakan-hentakan. Susan masih terus memeluk erat tubuh sepupunya sambil matanya terus terpejam. “Esshh.., Ahh.., ahh..ampirr.., ashh”, Susan mendesah-desah. Ia merasa tubuhnya sudah hampir mencapai puncak. Gerakan tubuh keduanya menjadi sangat cepat. Tiba-tiba Randy menghentakkan badannya dengan keras dan lama ke dalam tubuh sepupunya. Kedua tubuh itu tampak bergetar. Tangan Susan pun memeluk tubuh Randy tak kalah eratnya. Keduanya telah sampai dipuncak kenikmatan.

    Adegan kedua sepupu itu tanpa disadari sebenarnya dilihat oleh Tante Betty dari balik pintu. Tante Betty benar-benar bingung dengan apa yang dilihatnya. Ia sebenarnya ingin segera memasuki kamar itu namun ia segera menyadari bahwa hal itu dapat memperburuk keadaan. Beberapa saat kemudian Tante Betty melihat keduanya tampak tertidur. Kedua ponakannya itu terkulai lemas dalam keadaan telanjang. Dengan perlahan ia memasuki kamar itu dan mendekati ranjang tempat dua ponakannya tertidur lelap.

    Ia mulai menatap wajah kedua ponakannya dengan rasa galau. Mungkin karena aku terlalu sibuk sehingga hal ini sampai terjadi ucapnya dalam hati. Dengan perlahan ia mulai menaiki kasur dan mendekatkan badannya pada tubuh Susan. Dipeluknya gadis ponakannya itu dengan penuh rasa kasih sayang. Melihat tubuh gadisnya yang sintal dengan buah dada yang ranum membuatnya tersadar bahwa Susan memang mungkin sudah saatnya dewasa. Benar-benar kesalahanku, keluhnya.

    Randy yang merasa ada orang datang mulai terbangun. Kelopak matanya terbuka perlahan dan tampak tantenya memakai daster biru membelakanginya. Lekuk tubuh tantenya tampak indah dalam keremangan kamar. Dalam keadaan setengah sadar, ia masih merasakan kenikmatan yang baru saja dilaluinya bersama Susan. Tak terasa beberapa saat kemaluannya menegang kembali.

    Kebutuhan yang mulai mendesak itu membuat Randy mulai salah tingkah. Tiba-tiba saja ia ingin menyentuh tubuh tantenya yang berada di hadapannya. Apalagi lekuk tubuh tantenya terlihat sangat indah. Namun ia sangat takut apabila tantenya marah. Maka iapun berpura-pura tidur dan memejamkan mata. Dalam keadaan yang mulai birahi kembali Randy memutar otaknya agar dorongannya tersebut terpuaskan. Maka dengan pura-pura dalam keadaan tidur Randy menggerakan badannya untuk dapat memeluk tubuh tantenya.

    Tante Betty yang merasa tubuh Randy bergerak segara membalikkan badan dan memeluk tubuh Randy. Buah dadanya yang hanya dibalut daster biru terasa menyentuh bagian muka Randy. Tante Betty pun mulai membelai kepala Randy dengan penuh kelembutan. Diperhatikan ponakan laki-lakinya dari atas kepala dan turun ke bawah. Pasti banyak yang naksir, ucap tante Betty dalam hati melihat kepolosan wajah ponakannya itu.

    Tiba-tiba wajah Tante Betty memerah. Tak sengaja matanya menyapu penis Randy yang agak menegang. Ia berusaha menenangkan diri bahwa yang dihadapannya adalah keponakannya sendiri. Namun jantungnya semakin berdebar-debar. Apalagi diusia yang telah memasuki usia tiga puluh tahun ini ia belum pernah disentuh laki-laki. Kebutuhan seksualnya selama ini ia alihkan dengan menyibukkan diri pada pekerjaan. Sebagai wanita matang, selama ini ia belum pernah melihat tubuh laki-laki dewasa dalam keadaan telanjang. Tubuh Randy pun juga mulai mekar di usia enam belas tahun itu. Tiba-tiba kepala tante Betty terasa agak berkunang-kunang.

    Tanpa sadar tangan Tante Betty mulai bergerak mendekati batang penis Randy. Dengan perlahan-lahan agar Randy tidak terbangun, Tante Betty mulai menyentuh batang penis Randy. Terasa hangat dan agak keras. Dibelai-belai batang penis itu dengan penuh kelembutan. Ia membayangkan andai saja batang penis itu mendesak-desak di lubang kemaluannya. Matanya mulai terpejam. Tanpa sadar tangannya yang sebelah meremas buah dadanya sendiri. Terasa ada cairan hangat mengalir di dalam kemaluannya. Mau tidak mau Tante Betty mengakui bahwa ia mulai terangsang setelah menyentuh batang penis Ponakannya.

    Tiba-tiba saja tangan Randy bergerak. Rasa kaget itu membuat Tante Betty menghentikan sentuhannya. Ia memejamkan mata sambil berbaring dalam keadaan memeluk ponakannya. Harapannya adalah Randy menganggapnya tidur. Merasakan apa yang baru saja dilakukan tantenya terhadap penisnya, Randy menjadi berani. Dibukanya ritsluiting atas daster tantenya. Tampak di depan matanya buah dada yang lebih besar dari kepunyaan Susan. Tampak pula tonjolan mungil puting Tante Betty yang berwarna merah kecoklat-coklatan. Randy sudah tidak sabar. Ia langsung mengulum puting susu tantenya yang sudah mulai menegang itu. Buah dada tantenya pun mulai terasa mengeras.

    Tante Betty kebingungan dengan apa yang dilakukan ponakannya itu. Sekilas hampir saja ia beranjak bangun. Seharusnya ia menegur yang dilakukan ponakannya itu. Tapi jangan-jangan ia tahu apa yang tadi kulakukan, pikir Tante Betty. Ia menjadi takut sendiri kalau hal itu benar-benar terjadi. Pasti bisa memalukan dirinya jika ponakannya melapor pada mamanya.

    Akhirnya dengan pasrah, Tante Betty tetap berpura-pura tidur. Apalagi sentuhan lidah Randy pada putingnya membawa kenikmatan yang luas biasa. Bahkan ia mulai menikmati sepenuhnya ketika kuluman Randy disertai gigitan kecil. Tante Betty pun mengigit bibir karena cumbuan ponakannya.

    “Ssshh..”, tanpa sadar Tante Betty mendesah penuh kenikmatan saat Randy mengulum puting buah dadanya.
    Ia pun memegangi kepala ponakannya dengan penuh kelembutan seperti tidak boleh membiarkan aktivitas itu berhenti. Kesadarannya mulai kabur dan seluruh sendi tubuhnya menjadi sangat lemas. Randy tahu bahwa tantenya berpura-pura tidur. Ia juga tahu kalau tantenya benar-benar menikmati semua yang dia lakukan pada tubuh tantenya itu. Hal ini semakin membangkitkan keberaniannya. Ia segera membuka daster Tante Betty sambil terus mengulum puting serta meremas-remas tubuh Tante Betty. Dijilatinya seluruh tubuh tantenya.

    “Enghh.., ahhng.., ahh.., nggssh”, Tante Betty mendesah tanpa mampu menahan apa yang dilakukan ponakannya tersebut. Tubuhnya seperti tidak mau berhenti dijilati. Saat ini dia hanya ingin terus disentuh dengan penuh kemesraan. Napas Randy mulai ngos-ngosan. Kebutuhannya untuk memuaskan dorongan kebutuhannya membuat ia segera membuka celana dalam Tante Betty. Pemandangan bulu-bulu halus di sekitar kemaluan tantenya membuat Randy semakin bernafsu. Diarahkan batang penisnya ke dalam selangkangan tante Betty.

    “Sleep!”, Batang Penisnya pun telah masuk ke dalam lubang kemaluan tantenya. Tante Betty merasakan tubuhnya dimasuki sesuatu yang terasa luar biasa enaknya. Matanya terpejam sangat dalam. Tubuhnya mulai merespon gerakan naik turun Randy. Nafasnya tidak teratur dipenuhi dengan dorongan nafsu yang mulai tinggi. “Aahh.., esshh.., ahh”, Tante Betty mulai mengerang kenikmatan.

    Ia pun memegangi pantat Randy untuk membantu gerakan naik turun. Mendengar suara desahan-desahan Susan pun terbangun. Ia sedikit terhenyak melihat tubuh tantenya dalam keadaan telanjang ditindih oleh Randy. Dilihatnya Randy dengan penuh nafsu menyetubuhi Tante Betty. Susan pun agak bingung bahwa Tantenya itu justru merepon dengan desahan-desahan. Tangan Randy memegangi paha Tante Betty dan pinggangnya terus bergerak di sela-sela selangkangan tantenya itu. Melihat adegan sepupu serta desahan tantenya dalam ruangan yang remang-remang ini membuat Susan mulai terangsang.

    Tanpa sadar Susan mendekati wajah tantenya itu. Diciumnya bibir Tante Betty. Tante Betty pun dalam keadaan yang sudah di awang-awang segera merespon ciuman itu dengan lumatan yang penuh birahi. Randy sudah asyik dengan aktivitas maju-mundur untuk meningkatkan kenikmatannya.

    “Eng.., ssh.., nikmat.., Ran”, desah Susan sambil disela-sela ciumannya dengan Tante Betty. Penis Randy terasa semakin tersedot-sedot.
    Suara kecepak kecepok menjadi semakin keras dan berirama sering dengan gerakan Penis Randy memasuki liang vagina Tante Betty.
    Susan semakin larut dengan permainan tante dan sepupunya itu. Vaginanya pun telah menjadi basah karena terangsang melihat adegan sepupu dan tantenya itu. Kepala Susan kemudian bergerak turun. Bibirnya mengulum puting dan tangannya meremas-remas buah dada tantenya.

    “Enghss.., enghh.., terusshhin.., engshh”, Tante Betty semakin merasa terbang di awang-awang. Gerakan Randy membuat vaginanya terasa sangat nikmat. Jilatan lidah Susan pada putingnya semakin membuat nafsunya menjadi-jadi. Nafasnya menjadi semakin tidak teratur. Cumbuan kedua ponakannya memenuhi kebutuhan seksualnya yang sudah tertahan belasan tahun. Tubuhnya pun ikut maju-mundur seiring dengan gerakan Randy. Ia pun semakin mempererat pelukannya pada Randy. Gerakan maju-mundur Randy diimbangi dengan gerakan bergoyang-goyang oleh Tante Betty.

    Aktivitas ini membuat ia merasa ada sesuatu yang mendesak. Tante Betty semakin mempercepat goyangannya. Ia memeluk Randy sangat erat sambil terus mengoyangkan pinggulnya dengan cepat. Tiba-tiba tubuh Tante Betty menegang dan vaginanya berdenyut-denyut seperti meledakkan sesuatu. Ia merasa tubuhnya hancur berkeping-keping dalam kenikmatan. “Ran.., ganti aku aja.., Tante udah lemas tuh”, ucap Susan tanpa malu-malu. Ia segera mengangkangkan kakinya. Nafsunya sudah memuncak dan harus dipenuh. Seluruh bagian tubuhnya seperti menuntut untuk dicumbui. Randy pun menarik penis dari kemaluan tantenya yang telah terkulai itu. Diarahkannya batang kemaluannya itu ke arah lubang kemaluan Susan yang telah mengangkang itu. “Sleep!”, Penisnya langsung terasa tersedot-sedot. Ditindihnya tubuh sepupunya itu. Mereka sudah dikuasai oleh birahi yang tak tertahankan. Kebutuhan itu saling memuaskan membuat tidak ada lagi kecanggungan diantara mereka. Randy menciumi buah dada Susan sambil pinggang melakukan gerakan naik turun. Susan melingkarkan tangannya pada punggung Randy.

    “Enghh terusshh.., Ran.., masukin terus.., enggsshh”, desah Susan sambil matanya masih terus terpejam. Dengan perlahan Randy menarik tubuh Susan agar duduk di atas pinggang Randy. Posisi ini semakin membuat penis Randy lebih bisa masuk lebih dalam lagi. Tangan Randy memegangi pantat sepupunya itu. Susan juga merasa vaginanya terisi lebih penuh oleh batang kemaluan Randy.

    Randy semakin merasa penisnya disedot-sedot oleh kemaluan sepupunya. Susan yang berada di atas tubuh Randy mulai menggerakkan bandannya. Keduanya telah larut dalam gerakan berirama. Randy semakin memperdalam gerakannya pada selangkangan sepupunya. Susan pun mencontoh gerakan tantenya dengan menggoyang-goyang pinggangnya.

    “Enghh.., terus.., Ran.., Enghh enaahkk”, mata Susan terpejam dan bibirnya mendesah.
    Randy terus menggerakan pinggangnya semakin cepat. Goyangan Susan pun menjadi samakin cepat pula. Kedua tubuh itu telah menyatu dalam kebutuhan yang tak tertahankan. Vaginanya terasa semakin berdenyut-denyut oleh sodokan-sodokan penis sepupunya itu.
    “Lebihh kerashh.., enghh lagi”, Susan merasakan tubuhnya akan meledak.

    Gerakan keduanya menjadi semakin cepat dan keras. Tiba-tiba saja tubuh keduanya menegang secara bersamaan tanda mereka mencapai puncak kenimatan bersamaan. Beberapa saat kemudian ketiganya sudah tertidur pulas dalam keadaan telanjang
    Peristiwa semalam tampaknya dianggap seperti tidak pernah ada oleh Tante Betty. Saat makan pagi, tante Betty tampak berusaha bersikap santai.

    “Ran, kamu mau kemana hari ini”, tanya Tante Betty sambil mengoleskan mentega pada roti tawarnya.
    Ia sudah mengenakan busana kerja. Blus krem dan rok span abu-abu. “Mungkin ke toko buku, ada novel Shedney Shieldon yang baru”, ucap Randy sambil berpura-pura membaca koran. Ia masih sungkan dengan Tante Betty mengingat apa yang dilakukannya semalam. Ia takut kalau sampai Tante Betty lapor ke mamanya. Bisa-bisa aku dibunuh oleh Papa, pikirnya. “Kalau gitu ini buat beli novelnya”, ucap Tante Betty sambil menyodorkan dua lembar uang lima puluh ribuan. Randy pun mendongakan kepalanya sambil terheran-heran. Dilihatnya Tante Betty mengangguk. Tanda ia harus menerima uang itu. “Makasih ya, Tante”, ucap Randy sambil menyorongkan badannya memeluk Tante Betty, Merekapun berangkulan erat. Tiba-tiba Tante Betty berbisik”, Yang tadi malem jangan kasih tau siapa-siapa ya, Ran”.
    “Iya, Tante”. Kemaluan Randy terasa mengeras.

    “Terus kalau Randy takut tidur sendirian, tidur di kamar Tante aja ya”, ucap Tante Betty dengan nada datar. Ia tidak mau Randy menangkap keinginannya. Namun bagi Randy kata-kata itu seperti undangan yang sangat jelas maksudnya. Randy pun sedikit melonggarkan pelukannya dan melihat wajah Tante Betty tampak agak memerah. Hasrat untuk melakukan aktivitas seperti semalam menggelegak dalam dirinya. Tanpa sadar diciumnya bibir Tante Betty. Pertama lembut namun kemudian semakin ganas. Kebutuhannya mulai tak tertahankan. Tante Betty sempat gelagapan dengan apa yang dilakukan oleh Randy. Ia tidak mengira Randy sudah berani terang-terangan. Namun sekian detik kemudian ia mulai membalas ciuman itu. Mereka saling melumat lidah dan menghisap. Ia bahkan membiarkan tangan Randy membuka kancing blusnya. Tangan Randy segera menyisihkan BH dan meremasi buah dadanya. Semakin lama buah dada itu terasa mengeras.

    “Sudah, Ran. Tante mau ke kantor”, ucap Tante Betty sambil berpura-pura tidak mau.
    Namun tampaknya Randy tidak peduli. Ia mulai menciumi leher tante Betty dengan lembut. Tangannya yang satu bahkan mulai mengangkat span abu-abu itu hingga celana dalam tante Betty terlihat. Tangan Randy pun mulai menggerayangi sesuatu yang ada di balik celana dalam itu.

    “Ash.., neghh, udah, Ran”, desah Tante Betty. Ia tidak ingin terlambat. Tender proyek dua M itu bisa hilang, pikir tante Betty. Namun apa yang dilakukan ponakannya ini benar-benar terasa nikmat. Akhirnya ia membalikkan badan dan segera menurunkan celana dalamnya. “Udah, Ran dari belakang aja”, ucap Tante Betty sunguh-sungguh. Rani, teman kantornya, pernah mengatakan kalau pria bersetubuh lewat belakang akan cepat ejakulasi. Paling tidak ia masih sempat merasakan persetubuhan dan tidak terlambat ke kantor.

    Kesempatan itu tidak disia-siakan Randy. Dipelorotkannya celana pendeknya. Batang penisnya tampak sudah sangat tegang. Perlahan diarahkannya penisnya ke vagina Tante Betty. “Slepp!”, Penis Randy mulai memasuki lubang kemaluan Tante Betty. Lututnya seperti hampir copot ketika penis itu masuk ke dalam lubang vagina Tante Betty. Tante Betty juga segera merasa lemas. Ia pun segera menahan badannya pada sandaran sofa. Posisinya seperti orang yang akan naik kuda.

    “Eenghh.., nikmat, terusshh”, desah Tante Betty sambil memejamkan mata. Randy memegangi pinggang tantenya dan terus menyodok-nyodokan penisnya ke vagina Tante Betty. Penisnya terasa seperti dipijat-pijat dan disedot-sedot. Ia kemudian ikut membungkukkan badan agar tangannya dapat meremas buah dada Tante Betty yang ranum menggantung.

    Gerakan mereka makin lama makin cepat. Tante Betty sudah tertelungkup di sandaran sofa dan Randy menyetubuhinya dari belakangnya. Kenikmatan itu semakin membuat ia lupa urusan kantornya.
    “Terusshh, Ran.., enakk”, desah Tante Betty.

    Beberapa saat kemudian Randy mempercepat gerakannya. Ia memeluk erat tubuh Tante Betty namun pinggangya masih melakukan gerakan maju-mundur. Tiba-tiba tubuhnya mengejang sambil penisnya disorongkan secara mendalam ke lubang kemaluan Tante Betty. Ia telah sampai di pucak kenikmatan.

    “Cret.., cret.., cret”, sperma Randy membasahi lubang kemaluan Tante Betty. Ia kemudian menarik penisnya dan segera menjatuhkan badannya ke sofa. Tante Betty segera menaikkan celana dalamnya dan merapikan blus serta rok mininya. Dilihatnya ponakannya memandang dengan mesra. Tampaknya kecanggungan diantara mereka sudah luntur dan berganti hubungan dua lawan jenis yang saling membutuhkan. Tante Betty pun mau tidak mau mulai mengakui bahwa ia tidak lagi melihat Randy sebagai ponakannya namun tak lain sebagai pria yang mampu memberikan kepuasan seksualnya.

    “Udah, ya Tante ke kantor dulu”, ucap Tante Betty sambil mendekati Randy.
    Mereka berciuman dengan mesra seperti seorang kekasih. Setelah melihat jam di dinding, Tante Betty segera beranjak ke garasi. Ia sudah terlambat sepuluh menit. Tak lama kemudian deru suara mobil pun berbunyi dan semakin lama semakin menghilang. Randy pun segera memakai celananya dan tertidur di sofa.

  • Desahan Seorang Guru

    Desahan Seorang Guru


    9 views

    Disekolahku ada wanita yang cantik dengan tubuh indahnya dia berprofesi sebgai guru sejarah di SMA
    namanya Ibu Yeni umurnya mash muda 28 tahun dan dia bercerai dengan suaminya kalau di diskripsikan
    wajahnya seperti Yeyen Presenter Bola, dengan tinggi 170 cm buah dada kiranya berukuran 36 B, semua
    murid bahkan guru laki pun jika melihat dia berjalan rasanya ingin menggodanya.

    cerita-sex-dewasa-desahan-seorang-guru

    Suatu hari Yeni terpaksa harus memanggil salah satu muridnya ke rumahnya, untuk ulangan susulan. Si
    Adi harus mengulang karena ia kedapatan menyontek di kelas. Adi juga terkenal karena kekekaran
    tubuhnya, maklum dia sudah sejak SD bergulat dengan olah raga beladiri, karenanya ia harus menjaga
    kebugaran tubuhnya.

    Bagi Yeni, kedatangan Adi ke rumahnya juga merupakan suatu kebetulan. Ia juga diam-diam naksir dengan
    anak itu. Karenanya ia bermaksud memberi anak itu ‘pelajaran’ tambahan di Minggu siang ini.

    “Sudah selesai Adi?”,

    Yeni masuk kembali ke ruang tamu setelah meninggalkan Adi selama satu jam untuk mengerjakan soal-soal
    yang diberikannya.

    “Hampir bu”

    “Kalau sudah nanti masuk ke ruang tengah ya saya tinggal ke belakang..”

    “Iya..”

    “Bu Yeni, Saya sudah selesai”, Adi masuk ke ruang tengah sambil membawa pekerjaannya.

    “Ibu dimana?”

    “Ada di kamar.., Adi sebentar ya”, Yeni berusaha membetulkan t-shirtnya.

    Ia sengaja mencopot BH-nya untuk merangsang muridnya itu. Di balik kaus longgarnya itu bentuk
    payudaranya terlihat jelas, terlebih lagi puting susunya yang menyembul.

    Begitu ia keluar, mata Adi nyaris copot karena melotot, melihat tubuh gurunya. Yeni membiarkan rambut
    panjangnya tergerai bebas, tidak seperti biasanya saat ia tampil di muka murid-muridnya.

    “Kenapa ayo duduk dulu, Ibu periksa..”

    Muka Adi merah karena malu, karena Yeni tersenyum saat pandangannya terarah ke buah dadanya.

    “Bagus bagus…, Kamu bisa gitu kok pakai menyontek segala..?”

    “Maaf Bu, hari itu saya lupa untuk belajar..”

    “oo…, begitu to?”

    “Adi kamu mau menolong saya?”, Yeni merapatkan duduknya di karpet ke tubuh muridnya.

    “Apa Ibu?”, tubuh Adi bergetar ketika tangan gurunya itu merangkul dirinya, sementara tangan Yeni yang
    satu mengusap-uasap daerah ‘vital’ nya.

    “Tolong Ibu ya…, dan janji jangan bocorkan pada siapa–siapa”.

    “Tapi tapi…, Saya”.

    “Kenapa?, oo…, kamu masih perawan ya?”.Muka Adi langsung saja merah mendengar perkataan Yeni

    “Iya”

    “Nggak apa-apa”, Ibu bimbing ya.Cerita Sex Dewasa

    Yeni kemudian duduk di pangkuan Adi. Bibir keduanya kemudian saling berpagutan, Yeni yang agresif
    karena haus akan kehangatan dan Adi yang menurut saja ketika tubuh hangat gurunya menekan ke dadanya.

    Ia bisa merasakan puting susu Yeni yang mengeras. Lidah Yeni menjelajahi mulut Adi, mencari lidahnya
    untuk kemudian saling berpagutan bagai ular.

    Setelah puas, Yeni kemudian berdiri di depan muridnya yang masih melongo. Satu demi satu pakaiannya
    berjatuhan ke lantai. Tubuhnya yang polos seakan akan menantang untuk diberi kehangatan oleh perjaka
    yang juga muridnya ini.

    “Lepaskan pakaiannmu Adi”, Yeni berkata sambil merebahkan dirinya di karpet. Rambut panjangnya
    tergerai bagai sutera ditindihi tubuhnya.

    “Ahh cepat Adi”, Yeni mendesah tidak sabar.

    Adi kemudian berlutut di samping gurunya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Pengetahuannya
    tentang seks hanya di dapatnya dari buku dan video saja.

    “Adi…, letakkan tanganmu di dada Ibu”,

    Dengan gemetar Adi meletakkan tangannya di dada Yeni yang turun naik. Tangannya kemudian dibimbing
    untuk meremas-remas payudara Yeni yang montok itu.

    “Oohh…, enakk…, begitu caranya…, remas pelan-pelan, rasakan putingnya menegang..”
    Dengan semangat Adi melakukan apa yang gurunya katakan.

    “Ibu…, Boleh saya hisap susu Ibu?”.

    Yeni tersenyum mendengar pertanyaan muridnya, yang berkata sambil menunduk,

    “Boleh…, lakukan apa yang kamu suka”.

    Tubuh Yeni menegang ketika merasakan jilatan dan hisapan mulut pemuda itu di susunya. Perasaan yang ia
    pernah rasakan 3 tahun lalu saat ia masih bersama suaminya.

    “Oohh…, jilat terus sayang…, ohh”,

    Tangan Yeni mendekap erat kepala Adi ke payudaranya.Cerita Sex Dewasa

    Adi semakin buas menjilati puting susu gurunya tersebut, mulutnya tanpa ia sadari menimbulkan bunyi
    yang nyaring. Hisapan Adi makin keras, bahkan tanpa ia sadari ia gigit-gigit ringan puting gurunya
    tersebut.

    “mm…, nakal kamu”, Yeni tersenyum merasakan tingkah muridnya itu.

    “Sekarang coba kamu lihat daerah bawah pusar Ibu”.Adi menurut saja.

    Duduk diantara kaki Yeni yang membuka lebar. Yeni kemudian menyandarkan punggungya pada dinding di
    belakangnya.

    “Coba kamu rasakan”, ia membimbing telunjuk Adi memasuki vaginanya.

    “Hangat Bu..

    “Bisa kamu rasakan ada semacam pentil…?”

    “Iya..”

    “Itu yang dinamakan kelentit, itu adalah titik peka cewek juga. Coba kamu gosok-gosok”
    Pelan-pelan jari Adi mengusap-usap clitoris yang mulai menyembul itu.

    “Terus…, oohh…, ya…, gosok…, gosok”,

    Yeni mengerinjal-gerinjal keenakan ketika clitorisnya digosok-gosok oleh Adi.”Kalo diginiin nikmat ya
    Bu?”, Adi tersenyum sambil terus menggosok-gosok jarinya.

    “Oohh…, Adio…, mm”,

    tubuh Rini telah basah oleh peluh, pikirannya serasa di awang-awang, sementara bibirnya merintih-
    rintih keenakan.

    Tangan Adi semakin berani mempermainkan clitoris gurunya yang makin bergelora dirangsang birahi.
    Nafasnya yang semakin memburu pertanda pertahanan gurunya akan segera jebol.
    “Ooaahh…, Anntoo”,

    Tangan Yeni mencengkeram pundak muridnya, sementara tubuhnya menegang dan otot-otot kewanitaannya
    menegang. Matanya terpejam sesaat, menikmati kenikmatan yang telah lama tidak dirasakannya.

    “Hmm…, kamu lihai Adi…, Sekarang…, coba kamu berbaring”.Adi menurut saja.

    Penisnya segera menegang ketika merasakan tangan lembut gurunya.

    “Wah…, wahh.., besar sekali”,

    tangan Yeni segera mengusap-usap penis yang telah mengeras tersebut.

    Segera saja benda panjang dan berdenyut-denyut itu masuk ke mulut Yeni. Ia segera menjilati penis
    muridnya itu dengan penuh semangat. Kepala penis muridnya itu dihisapnya keras-keras, sehingga Adi
    merintih keenakan.

    “Ahh…, enakk…,enakk”,

    Adi tanpa sadar menyodok-nyodokkan pinggulnya untuk semakin menekan penisnya makin ke dalam kuluman
    Yeni. Gerakannya makin cepat seiring semakin kerasnya hisapan Yeni.

    “oohh Ibu…, Ibbuu”

    Muncratlah cairan mani Adi di dalam mulut Yeni, yang segera menjilati cairan itu hingga tuntas.

    “Hmm…, manis rasanya Adi”, Yeni masih tetap menjilati penis muridnya yang masih tegak.

    “Sebentar ya aku mau minum dulu”.

    Ketika Yeni sedang membelakangi muridnya sambil menenggak es teh dari kulkas. Tiba-tiba ia merasakan
    seseorang mendekapnya dari belakang.Cerita Sex Dewasa

    “Adi…, biar Ibu minum dulu”.

    “Tidak…, nikmati saja ini”,

    Adi yang masih tegang berat mendorong Yeni ke kulkas.Gelas yang dipegang Yeni jatuh, untungnya tidak
    pecah. Tangan Yeni kini menopang tubuhnya ke permukaan pintu kulkas.

    “Ibu…, sekarang!”

    “Ahhkk”, Yeni berteriak,

    saat Adi menyodokkan penisnya dengan keras ke liang vaginanya dari belakang. Dalam hatinya ia sangat
    menikmati hal ini, pemuda yang tadinya pasif berubah menjadi liar.

    “Adio…, enakk…, ohh…, ohh”.

    Tubuh Yeni bagai tanpa tenaga menikmati kenikmatan yang tiada taranya. Tangan Adi satu menyangga
    tubuhnya, sementara yang lain meremas payudaranya. Dan penisnya yang keras melumat liang vaginanya.

    “Ibu menikmati ini khan”, bisik Adi di telinganya

    “Ahh…, hh”, Yeni hanya merintih,

    setiap merasakan sodokan keras dari belakang.

    “Jawab…, Ibu”,

    dengan keras Adi mengulangi sodokannya.

    “Ahh…,iyaa”

    “Adi…, Adi jangann…, di dal.. La” belum sempat ia meneruskan kalimatnya, Yeni telah merasakan
    cairan hangat di liang vaginanya menyemprot keras. Kepalang basah ia kemudian menyodokkan keras
    pinggulnya.

    “Uuhgghh”,

    penis Adi yang berlepotan mani itupun amblas lagi ke dalam liang Yeni.

    “Ahh”.

    Kedua insan itupun tergolek lemas menikmati apa yang baru saja mereka rasakan.
    Setelah kejadian dengan Adi, Yeni masih sering bertemu dengannya guna mengulangi lagi perbuatan
    mereka. Namun yang mengganjal hati Yeni adalah jika Adi kemudian membocorkan hal ini ke teman-
    temannya.
    Ketika Yeni berjalan menuju mobilnya seusai sekolah bubar, perhatiannya tertumbuk pada seorang
    muridnya yang duduk di sepeda motor di samping mobilnya, katakanlah dia Reza. Ia berbeda dengan Adi,
    anaknya agak pembuat onar jika di kelas, kekar dan nakal. Hatinya agak tidak enak melihat situasi ini.

    “Bu Yeni salam dari Adi”, Reza melemparkan senyum sambil duduk di sepeda motornya.

    “Terima kasih, boleh saya masuk”,

    Ia harus berkata begitu karena sepeda motor Reza menghalangi pintu mobilnya.

    “Boleh…, boleh Bu saya juga ingin pelajaran tambahan seperti Adi.”

    Langkah Yeni terhenti seketika. Namun otaknya masih berfungsi normal, meskupun sempat kaget.

    “Kamu kan nilainya bagus, nggak ada masalah kan..”, sambil duduk di balik kemudi.

    “Ada sedikit sih kalau Ibu nggak bisa mungkin kepala guru bisa membantu saya, sekaligus melaporkan
    pelajaran Adi”, Reza tersenyum penuh kemenangan.

    “Apa hubungannya?”, Keringat mulai menetes di dahi Yeni.

    “Sudahlah kita sama-sama tahu Bu. Saya jamin pasti puas”.

    Tanpa menghiraukan omongan muridnya, Yeni langsung menjalankan mobilnya ke rumahnya. Namun ia sempat
    mengamati bahwa muridnya itu mengikutinya terus hingga ia menikung untuk masuk kompleks perumahan.

    Setelah mandi air hangat, ia bermaksud menonton TV di ruang tengah. Namun ketika ia hendak duduk pintu
    depan diketuk oleh seseorang. Yeni segera menuju pintu itu, ia mengira Adi yang datang. Ternyata
    ketika dibuka

    “Reza! Kenapa kamu ngikuutin saya!”, Yeni agak jengkel dengan muridnya ini.

    “Boleh saya masuk?”.Cerita Sex Dewasa

    “Tidak!”.

    “Apa guru-guru perlu tahu rahasiamu?”

    .”!!”dengan geram ia mempersilakan Reza masuk.

    “Enak ya rumahnya, Bu”, dengan santainya ia duduk di dekat TV.

    “Pantas aja Adi senang di sini”.

    “Apa hubunganmu dengan Adi?, Itu urusan kami berdua”, dengan ketus Yeni bertanya.

    “Dia teman dekat saya. Tidak ada rahasia diantara kami berdua”.

    “Jadi artinya”, Kali ini Yeni benar-benar kehabisan akal.

    Tidak tahu harus berbuat apa.

    “Bu, kalo saya mau melayani Ibu lebih baik dari Adi, mau?”,

    Reza bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Yeni.Yeni masih belum bisa menjawab pertanyaan
    muridnya itu. Tubuhnya panas dingin.

    Yeni masih belum bisa menjawab pertanyaan muridnya itu. Tubuhnya panas dingin. Belum sempat ia
    menjawab, Reza telah membuka ritsluiting celananya. Dan setelah beberapa saat penisnya meyembul dan
    telah berada di hadapannya.

    “Bagaimana Bu, lebih besar dari Adi khan?”.Reza ternyata lebih agresif dari Adi, dengan satu gerakan
    meraih kepala Yeni dan memasukkan penisnya ke mulut Yeni.

    “Mmpfpphh”.

    “Ahh yaa…, memang Ibu pandai dalam hal ini. Nikmati saja Bu…, nikmat kok”

    Rupanya nafsu menguasai diri Yeni, menikmati penis yang besar di dalam mulutnya, ia segera mengulumnya
    bagai permen. Dijilatinya kepala penis pemuda itu dengan semangat. Kontan saja Reza merintih keenakan.

    “Aduhh…, nikmat sekali Bu oohh”, Reza menyodok-nyodokkan penisnya ke dalam mulut Yeni, sementara
    tangannya meremas-remas rambut ibu gurunya itu. Yeni merasakan penis yang diisapnya berdenyut-denyut.
    Rupanya Reza sudah hendak keluar.

    “oohh…, Ibu enakk…, enakk…, aahh”.Cairan mani Reza muncrat di mulut Yeni, yang segera
    menelannya. Dijilatinya penis yang berlepotan itu hingga bersih. Kemudian ia berdiri.

    “Sudahh…, sudah selesai kamu bisa pulang”, Namun Yeni tidak bisa memungkiri perasaannya.
    Ia menikmati mani Reza yang manis itu serta membayangkan bagaimana rasanya jika penis yang besar itu
    masuk ke vaginanya.

    “Bu, ini belum selesai. Mari ke kamar, akan saya perlihatkan permainan yang sebenarnya.”

    “Apa! beraninya kamu memerintah!”, Namun dalam hatinya ia mau.

    Karenanya tanpa berkata-kata ia berjalan ke kamarnya, Reza mengikuti saja.

    Setelah ia di dalam, Yeni tetap berdiri membelakangi muridnya itu. Ia mendengar suara pakaian jatuh,
    dugaannya pasti Reza sedang mencopoti pakaiannya. Ia pun segera mengikuti jejak Reza. Namun ketika ia
    hendak melepaskan kancing dasternya.

    “Sini saya teruskan”, ia mendengar Reza berbisik ke telinganya.

    Tangan Reza segera membuka kancing dasternya yang terletak di bagian depan. Kemudian setelah dasternya
    jatuh ke lantai, tangan itupun meraba-raba payudaranya. Yeni juga merasakan penis pemuda itu diantara
    belahan pantatnya.

    “Gilaa…, besar amat”, pikirnya.

    Tak lama kemudian iapun dalam keadaan polos. Penis Reza digosok-gosokkan di antara pantatnya,
    sementara tangan pemuda itu meremasi payudaranya. Ketika jemari Reza meremas puting susu Yeni, erangan
    kenikmatan pun keluar.

    “mm oohh”.Reza tetap melakukan aksi peremasan itu dengan satu tangan, sementara tangan satunya
    melakukan operasi ke vagina Yeni.

    “Reza…, aahh…, aahh”, Tubuh Yeni menegang saat pentil clitorisnya ditekan-tekan oleh Reza.
    “Enak Bu?”, Reza kembali berbisik di telinga gurunya yang telah terbakar oleh api birahi itu.

    Yeni hanya bisa menngerang, mendesah, dan berteriak lirih. Saat usapan, remasan, dan pekerjaan tangan
    Reza dikombinasi dengan gigitan ringan di lehernya. Tiba-tiba Reza mendorong tubuh Yeni agar
    membungkuk. Kakinya di lebarkan.

    “Kata Adi ini posisi yang disukai Ibu”

    “Ahhkk…, hmm…, hmmpp”, Yeni menjerit, saat Reza dengan keras menghunjamkan penisnya ke liang
    vaginanya dari belakang.

    “Ugghh…, innii…, innii”, Reza medengus penuh gairah dengan tiap hunjaman penisnya ke liang Yeni.
    Yenipun berteriak-teriak kenikmatan, saat liang vaginanya yang sempit itu dilebarkan secara cepat.

    “Adduuhh…, teruss.., teruss Rezaa…, oohh”, Kepala ibu guru itu berayun-ayun, terpengaruh oleh
    sodokan Reza. Tangan Reza mencengkeram pundak Yeni, seolah-olah mengarahkan tubuh gurunya itu agar
    semakin cepat saja menelan penisnya.

    “Oohh Yeni…, Rinnaa”.

    Yeni segera merasakan cairan hangat menyemprot di dalam vaginanya dengan deras. Matanya terpejam
    menikmati perasaan yang tidak bisa ia bayangkan.

    Yeni masih tergolek kelelahan di tempat tidur. Rambutnya yang hitam panjang menutupi bantalnya,
    dadanya yang indah naik-turun mengikuti irama nafasnya. Sementara itu vaginanya sangat becek,
    berlepotan mani Reza dan maninya sendiri.

    Reza juga telajang bulat, ia duduk di tepi tempat tidur mengamati tubuh gurunya itu. Ia kemudian duduk
    mendekat, tangannya meraba-raba liang vagina Yeni, kemudian dipermainkannya pentil kelentit gurunya
    itu.

    “mm capek…, mm”, bibir Yeni mendesah saat pentilnya dipermainkan.

    Sebenarnya ia sangat lelah, tapi perasaan terangsang yang ada di dalam dirinya mulai muncul lagi.
    Dibukanya kakinya lebar-lebar sehingga memberikan kemudahan bagi Reza untuk memainkan clitorisnya.

    “Rezz aahh”, Tubuh Yeni bergetar, menggelinjang-gelinjang saat Reza mempercepat permainan tangannya.

    “Bu…, balik…, Reza pengin nih”

    “Nakal kamu ahh”, dengan tersenyum nakal, Yeni bangkit dan menungging. Tangannya memegang kayu dipan
    tempat tidurnya. Matanya terpejam menanti sodokan penis Reza.

    Reza meraih payudara Yeni dari belakang dan mencengkeramya dengan keras saat ia menyodokkan penisnya
    yang sudah tegangCerita Sex Dewasa

    “Adduuhh…, owwmm”, Yeni mengaduh kemudian menggigit bibirnya, saat lubang vaginannya yang telah
    licin melebar karena desakan penis Reza.

    “Bu Yeni nikmat lho vagina Ibu…, ketat”, Reza memuji sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.

    “mm…, aahh…, ahh…, ahhkk”, Yeni tidak bisa bertahan untuk hanya mendesah. Ia berteriak lirih
    seiring gerakan Reza. Badannya digerakkannya untuk mengimbangi serangan Reza. Kenikmatan ia peroleh
    juga dari remasan muridnya itu.

    “Ayoo…, aahh.., ahh… Mm.., buat Ibu keluuaa.. Rr lagi…”.

    Gerakan Yeni makin cepat menerima sodokan Reza.

    Tangan Reza beralih memegangi tubuh Yeni, diangkatnya gurunya itu sehingga posisinya tidak lagi “doggy
    style”, melainkan kini Yeni menduduki penisnya dengan membelakangi dirinya. Reza kini telentang di
    tempat tidur yang acak-acakan dan penuh oleh mani yang mengering.

    “Ooww..”, Teriakan Yeni terdengar keras saat ia tidak bisa lagi menahan orgasmenya.

    Tangannya mencengkeram tangan Reza, kepalanya mendongak menikmati kenikmatan yang menjalar ke seluruh
    tubuhnya. Sementara Reza sendiri tetap menusuk-nusukkan penisnya ke vagina Yeni yang makin becek.

    “Ayoo…, makin dalam dalamm”.

    “Ahh.., aahh…, aahh..”, Rezapun mulai berteriak-teriak.

    “Mau kelluuaarr”

    Yeni sekali lagi memejamkan matanya, saat mani Reza menyemprot dalam liang vaginanya. Yeni kemudian
    ambruk menindih tubuh Reza yang basah oleh keringat. ceritasexdewasa.org Sementara diantara kaki-kaki mereka mengalir
    cairan hangat hasil kenikmatan mereka.

    “Bu Yeni…, sungguh luar biasa, Coba kalau Adi ada disini sekarang”.

    “mm memangnya kamu mau apa”, Yeni kemudian merebahkan dirinya di samping Reza.
    Tangannya mengusap-usap puting Reza.

    “Kita bisa main bertiga, pasti lebih nikmat..”

    Yeni tidak bisa menjawab komentar Reza, sementara perasaannya dipenuhi kebingungan.

    Akhirnya hari kelulusan murid klas 3 sampai juga. Dengan demikian Yeni harus berpisah dengan kedua
    murid yang disayanginya, terlebih lagi ketika ia harus pindah ke kota lain untuk menempati pos baru di
    Kanwil.

    Karenanya ia memanggil Adi untuk datang ke rumahnya untuk memberitahukan perihal kepindahannya.Ketika
    seputar Indonesia mulai ditayangkan, Adi muncul. Ia langsung dipersilakan duduk.

    “Bu, Adi kangen lho”.

    “Iya deh…, nanti. Gini, Ibu bulan depan pindah ke kota B, soalnya akan dinaikkan pangkatnya.
    Jadi…, jadi…, Ibu ingin malam ini malam terakhir kita”, mata Yeni berkaca-kaca ketika mengucapkan
    itu.

    “…………..”, Adi tidak bisa menjawab.

    Ia kaget mendengar berita itu. Baginya Yeni merupakan segalanya, terlebih lagi ia telah mendapatkan
    pelajaran berharga dari gurunya itu.

    “Tapi Adi masih boleh berkirim surat kan?”.Yeni bisa sedikit tersenyum melihat muridnya tabah,
    “Iya…, boleh…, boleh”

    “Minum dulu Nto, ada es teh di meja makan. Kalau sudah nonton VCD di kamar yaa”, Yeni mengerling nakal
    ke muridnya sambil beranjak ke kamar.

    Di kamar ia mengganti pakaiannya dengan kimono kegemarannya, melepas BH, menghidupkan AC dan tentu
    saja menyetel VCD ‘Kamasutra-nya Penthouse”. Lalu ia tengkurap di tempat tidur sambil menonton TV.

    Diluar Adi meminum es teh yang disediakan Yeni dan membiarkan pintu depan tidak terkunci. Ia mempunyai
    rencana yang telah disusun rapi.Lalu Adi menyusul Yeni ke kamar tidur. Begitu pintu dibuka ia melihat
    gurunya tengkurap menonton VCD dengan dibalut kimono merah tipis, lekuk tubuhnya jelas terlihat.

    Rambutnya yang panjang tergerai di punggungnya bagai gadis iklan shampo Pantene.”Ganti pakaian itu
    Nto..”, Yeni menunjuk celana pendek dan kaos tipis yang terlipat rapi di meja riasnya.

    Ketika Adi sedang mencopot celananya Yeni sempat melihat penis pemuda itu menyembul di balik CD GT
    Man-nya. Setelah selesai Adi juga tengkurap di samping Yeni.

    “Sudah liat film ini belum? Bagus lho untuk info posisi-posisi ngesex”.

    “Belum tuh…”, Mata Adi tertuju pada posisi dimana si wanita berdiri memegang pohon sementara si pria
    memasukkan penisnya dari belakang, sambil meremas-remas payudara partnernya.

    “mm…, itu posisi fave saya. Kalau kamu suka nanti CD itu bisa kamu ambil”.

    “Thanx..”, Adi kemudian mengecup pipi gurunya.

    Adegan demi adegan terus bergulir, suasana pun menjadi semakin panas. Yeni kini tengkurap dengan tidak
    lagi mengenakan selembar benangpun. Demikian pula Adi.

    Adi kemudian duduk di sebelah gurunya itu, dibelainya rambut Yeni dengan lembut, kemudian
    disibakkannya ke sebelah kiri. Bibir Adi kemudian menciumi tengkuk Yeni, dijilatinya rambut-rambut
    halus yang tumbuh lebat.

    “aahh…”

    Setelah puas, Adi kemudian memberi isyarat pada Yeni agar duduk di pangkuannya.

    “Bu, biar Adi yang puasin ibu malam ini…”, Bisik Adi di telinga Yeni.

    Yeni yang telah duduk di pangkuan Adi pasrah saja saat kedua tangan muridnya meremas-remas payudaranya
    yang liat. Kemudian ia menjerit lirih saat puting susunya mendapat remasan.

    “Akhh…”, Yeni memejamkan matanya.

    “Adi…, jilatin vagina ibu…”

    Adi kemudian merebahkan Yeni, dibukanya kaki gurunya itu lebar-lebar, kemudian dengan perlahan ia
    mulai menjilati vagina gurunya. Bau khas dari vagina yang telah basah oleh gairah itu membuat Adi kian
    bernafsu.

    “oohh…, teruss…, teruuss…”, Yeni bergetar merasakan kenikmatan itu.

    Tangannya membimbing tangan Adi dalam meremasi susunya. Memberikan kenikmatan ganda.

    “Jilatin…, pentil itu…, oohohh”, Bagai dikomando Adi menjilati pentil clitoris Yeni, dengan penuh
    semangat.

    “Aduuhh….. Oohh…oohh…hh.. Hh…..”Cerita Sex Dewasa

    “Adi…, massuukk”.

    Kaki Yeni kemudian disampirkannya ke pundak, dan dengan cepat disodokkannya penisnya ke vagina Yeni
    yang becek.

    “mm…”, Yeni menggigit bibirnya.

    Meskipun lubang vaginanya telah licin, namun penis yang besar itu tetap saja agak kesulitan menerobos
    masuk.

    “Uuhh…, masih susah juga ya Bu…”, Adi sambil meringis memaju mundurkan penisnya.
    Ia merasakan penisnya bagai diremas-remas oleh tangan yang sangat halus saat di dalam. Tangan Yeni
    mempermainkan puting Adi. Dengan gemas dicubitnya hingga Adi berteriak.

    “Uhh…, nakal, Ini balasannya!”, sodokan Adi makin keras, lebih keras dari saat ia memasukkan
    penisnya.

    “aa…”.

    Tiba-tiba pintu kamar tebuka! Spontan Yeni terkejut, tapi tidak bagi Adi. Reza sudah berdiri di muka
    pintu, senjatanya telah tegak berdiri.

    “mm…, hot juga permainan Ibu dengan Dia, boleh saya bergabung?”, Reza kemudian berjalan mendekati
    mereka. Yeni yang hendak berdiri ditahan oleh Adi, yang tetap menjaga penisnya di dalam vagina Yeni.

    “Nikmati saja…” Reza kemudian mengangkangi Yeni, penisnya berada tepat di mukanya.

    “Isap… Ayoo”, sambil memasukkan penisnya. Saat itu pula Adi menghentakkan gerakannya. Saat Yeni
    berteriak, saat itu pula penis Reza masuk.

    “Ahh…, nikmat..”, Yeni merem-melek menghisap-hisap penis muridnya, sementara Adi dengan puas
    menggarap vaginanya.

    “uufff…, jilatin…, jilatt”, tangan Reza memegangi kepala Yeni, agar semakin dalam saja mengisap
    penisnya.

    Posisi itu tetap bertahan hingga akhirnya Adi keluar duluan. Maninya menyemprot dengan leluasa di
    lubang vagina gurunya yang cantik. Sementara Reza tetap mengerang-erang sambil medorong-dorong kepala
    Yeni.Setelah Adi mengeluarkan penisnya dari vagina Yeni,

    “Berdiri menghadap tembok Bu!” Yeni masih kelelahan.

    Ia telah orgasme pula saat Adi keluar, namun ia tidak bisa teriak karena ada penis di mulutnya. Saat
    ia berdiri dengan tangan di tembok menahan tubuhnya, mani Adi menetes ke lantai.

    “mm…, Nto…, liat tuh punya kamu..”, seru Reza sambil tertawa.

    Ia kemudian menempelkan tubuhnya ke Yeni. Penisnya tepat berada di antara kedua pantat Yeni.

    “Nih Bu rasakan punya Reza juga ya”.

    Adi dengan santai menyaksikan temannya menggarap gurunya dari belakang. Tangan Reza memegangi pinggang
    Yeni saat ia menyodok-nyodokkan penisnya keluar masuk dengan cepat.

    Baca Juga Cerita Sex Tante Vina

    Saat Yeni merintih-rintih menikmati permainan mereka, Adi merasakan penisnya tegang lagi. Ia tidak
    tahan melihat pemandangan yang sangat erotik sekali.Kedua insan itu saling mengaduh, mendesah, dan
    berteriak lirih seiring kenikmatan yang mereka berikan dan rasakan.

    “ooww…”, Tubuh Yeni yang disangga Reza menegang, kemudian lemas.

    Adi menduga mereka berdua telah sampai di puncak kenikmatan. Timbul isengnya, ia kemudian mendekati
    mereka dan menyusup diantara Yeni dan tembok. Dipindahkannya tangan Yeni ke pundaknya, dan penisnya
    menggantikan posisi milik Reza.

    “Adi…”, Lagi-lagi Yeni mendesah saat penis Adi masuk dan pinggulnya didorong oleh Reza dari
    belakang.

    “Ahh.. Ahh…. Dorongg…dorongg………….”

    “aa.. Aa… Aa”.”oohhkk…, kk…, kk..”, Yeni berteriak keras sekali, saat dorongan Reza sangat keras
    menekan pinggulnya.

    penis Adi amblas hingga mencapai pangkalnya masuk ke vagina Yeni. Saat itu pula ia merasakan penis
    yang berdenyut-denyut itu melepaskan muatannya untuk kedua kali

  • Cerita Panas Selingkuh Dengan Mertua Ku Yang Imut

    Cerita Panas Selingkuh Dengan Mertua Ku Yang Imut


    153 views

    Cerita Panas Selingkuh Dengan Mertua Ku Yang Imut

    Satu minggu Ibu Mertuaku berada di Jakarta, hampir setiap hari setiap ada kesempatan aku dan Ibu Mertuaku selalu mengulangi persetubuhan kami. Apalagi setelah Indri istriku ditugaskan ke Medan selama tiga hari untuk mengerjakan proyek yang sedang di kerjakan kantor istriku.

    Aku dan Ibu mertuaku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang kami peroleh, kami berdua semakin lupa diri. Aku dan Ibu mertuaku tidur seranjang, layaknya suami istri, ketika hasrat birahi kami datang aku dan Ibu Mertuaku langsung menuntaskan hasrat kami berdua. Kusirami terus menerus rahim Ibu Mertuaku dengan spermaku, akibatnya fatal.

    Istriku kembali dari Medan Bapak mertuaku minta agar Ibu mertuaku segera pulang ke Gl, dengan berat hati akhirnya Ibu mertuakupun kembali ke desa Gl. Setelah Ibu mertuaku kembali kedesa GL hari hariku jadi sepi Aku begitu ketagihan dengan permainan sex Ibu Mertuaku aku rindu jeritan jeritan joroknya, saat orgasme sedang melandanya.

    Pertengahan juni lalu Ibu mertuaku menelponku ke kantor, aku begitu gembira sekali Kami berdua sudah sama sama saling merindukan, untuk mengulangi persetubuhan kami, tapi yang paling membuatku kaget adalah saat Ibu mertuaku memberikan kabar, kalau beliau terlambat datang bulan dan setelah diperiksa ke dokter, Ibu mertuaku positip hamil. Aku kaget sekali, aku pikir, Ibu Mertuaku sudah tidak bisa hamil lagi.

    Aku minta kepada Ibu mertuaku, agar benih yang ada dalam kandungannya dijadikan saja, namun Ibu mertuaku menolaknya, Ibu mertuaku bilang itu sama saja dengan bunuh diri, karena suaminya sudah lama tidak pernah lagi menggaulinya, tetapi masih bisa hamil. Baru aku tersadar, yah kalau Bapak mertuaku tahu istrinya hamil, pasti Bapak mertuaku marah besar apalagi jika Bapak mertuaku tahu kalau yang menghamili istrinya adalah menantunya sendiri.

    Juga atas saran Dokter, menurut dokter di usianya yang sekarang ini, sangat riskan sekali bagi Ibu mertuaku untuk hamil atau memiliki anak lagi, jadi Ibu mertuaku memutuskan untuk mengambil tindakan.

    “Bu, apa perlu aku datang ke desa Gl?”
    Ibu mertuaku melarang, “Tidak usah sayang nanti malah bikin Bapak curiga, lagipula ini hanya operasi kecil”.
    Setelah aku yakin bahwa Ibu mertuaku tidak perlu ditemani, otak jorokku langsung terbayang tubuh telanjang Ibu mertuaku.

    “Bu aku kangen sekali sama Ibu, aku kepengen banget nih Bu”

    “Iya Mas, Ibu juga kangen sama Mas Pento. Tunggu ya sayang, setelah masalah ini selesai, akhir bulan Ibu datang. Mas Pento boleh entotin Ibu sepuasnya”.

    Sebelum kuakhiri percakapan, aku bilang sama Ibu mertuaku agar jangan sampai hamil lagi, Ibu mertuaku hanya tersenyum dan berkata kalau dia kecolongan. Gila.., hubungan gelap antara aku dengan Ibu mertuaku menghasilkan benih yang mendekam di rahim Ibu mertuaku, aku sangat bingung sekali.

    Saat aku sedang asyik asyiknya melamun memikirkan apa yang terjadi antara aku dan Ibu mertuaku, aku dikagetkan oleh suara dering telepon dimejaku.

    “Hallo, selamat pagi”.

    “Pento kamu tolong ke ruang Ibu sebentar”.

    Ternyata Bos besar yang memanggil, akupun beranjak dari tempat dudukku dan bergegas menuju rangan Ibu Mila. Ibu Mila, wanita setengah baya, yang sudah menjanda karena ditinggal mati suaminya akibat kecelakaan, saat latihan terjun payung di Sawangan. Aku taksir, usia Ibu Mila kurang lebih 45 tahun, Ibu Mila seorang wanita yang begitu penuh wibawa, walaupun sudah berusia 45 tahun namun Ibu Mila tetap terlihat cantik, hanya sayang Tubuh Ibu Mila agak gemuk.

    “Selamat pagi Bu, ada apa Ibu memanggil saya”.

    “Oh nggak.., Ibu cuma mau Tanya mengenai pekerjaan kemarin, yang diberikan sama Bp. Anwar sudah selesai kamu kerjakan atau belum?”.

    “Oh.. ya Bu.. sudah, sekarang saya sedang memeriksanya kembali sebelum saya serahkan, biar tidak ada kesalahan”. Jawabku.

    “Oh.. ya.. sudah kalau begitu, Kamu kelihatan pucat kenapa? Kamu sakit?”. Tanya Ibu Mila.

    “Oh nggak Bu Saya tidak apa-apa”.

    “Kalau kamu kurang sehat, ijin saja istirahat dirumah, jangan dipaksakan nanti malah tambah parah penyakit mu”.

    “Ah.. nggak apa-apa Bu saya sehat kok”. Jawabku.

    Saat aku hendak meninggalkan ruangan Ibu Mila, aku sangat terkejut sekali, saat Ibu Mila berkata, “Makanya kalau selingkuh hati hati dong Pen Jangan terlalu berani. Sekarang akibatnya ya beginilah Ibu mertuamu hamil”.

    Aku sangat terkejut sekali, bagai disambar petir rasanya mukaku panas sekali, aku sungguh-sungguh mendapatkan malu yang luar biasa.

    “Dari mana Ibu tahu?” tanyaku dengan suara yang terbata bata.

    “Maaf Pen Bukannya Ibu ingin tahu urusan orang lain, Tadi waktu Ibu menelfon kamu kamu kok online terus Ibu jadi penasaran, Ibu masuk saja ke line kamu. Sebenarnya, setelah Ibu tahu kamu sedang bicara apa, saat itu Ibu hendak menutup telepon rasanya kok lancang dengerin pembicaraan orang lain, tapi Ibu jadi tertarik begitu Ibu tahu bahwa kamu selingkuh dengan Ibu mertuamu sendiri”.

    Aku marah sekali, tapi apa daya Ibu Mila adalah atasanku, selain itu Ibu Mila adalah saudara sepupu dari pemilik perusahaan tempat aku bekerja, bisa bisa malah aku dipecat. Aku hanya diam dan menundukan kepalaku, aku pasrah

    “Ya sudah, tenang saja rahasia kamu aman ditangan Ibu”

    “Terima kasih Bu”, jawabku lirih sambil menundukkan mukaku

    “Nanti sore setelah jam kerja kamu temenin Ibu ke rumah, ada yang hendak Ibu bicarakan dengan kamu, OK”.

    “Tentang apa Bu?” tanyaku.

    “Ibu mau mendengar semua cerita tentang hubunganmu dengan Ibu mertuamu dan jangan menolak” pintanya tegas.

    Akupun keluar dari ruangan Ibu Mila dengan perasaan tidak karuan, aku marah atas perbuatan Ibu Mila yang dengan lancang mendengarkan pembicaraanku dengan Ibu mertuaku dan rasa malu karena hubungan gelapku dengan Ibu mertuaku diketahui oleh orang lain.

    “Kenapa Pen? Kok mukamu kusut gitu habis dimarahin sama si gendut ya”, Tanya Wilman sohibku.

    “Ah, nggak ada apa apa Wil Aku lagi capek aja”.

    “Oh aku pikir si gendut itu marahin kamu”.

    “Kamu itu Wil, gendat gendut, ntar kalau Ibu Mila denger mati kamu”.

    Hari itu aku sudah tidak konsentrasi dalam pekerjaanku Aku hanya melamun dan memikirkan Ibu mertuaku, kasihan sekali beliau harus dikuret sendirian, terbayang dengan jelas sekali wajah Ibu mertuaku kekasihku, rasanya aku ingin terbang ke desa GL dan menemani Ibu mertuaku, tapi apa daya Ibu mertuaku melarangku. Apalagi nanti sore aku harus pergi dengan Ibu Mila, dan aku harus menceritakan kepadanya semua yang aku alami dengan Ibu mertuaku, uh.. rasanya mau meledak dada ini

    Aku berharap agar jam tidak usah bergerak, namun detik demi detik terus berlalu dengan cepat, tanpa terasa sudah jam setengah lima. Ya aku hanya bisa pasrah, mau tidak mau aku harus mencerikan semua yang terjadi antara aku dengan Ibu mertuaku agar rahasiaku tetap aman.

    “Kring.. “, kuangkat telepon di meja kerjaku.

    “Gimana? Sudah siap”, Tanya Ibu Mila.

    “Ya Bu saya siap”.

    “Ya sudah kamu jalan duluan tunggu Ibu di ATM BNI pemuda”.

    Ternyata Ibu Mila tidak ingin kepergiannya denganku diketahui karyawan lain. Dengan menumpang mobil kawanku Wilman, aku diantar sampai atm bni, dengan alasan aku mau mengambil uang, dan akan pergi ketempat familiku, akhirnya wilman pun tidak jadi menunggu dan mengantarkanku pulang seperti biasanya.

    Kurang lebih lima belas menit aku menunggu Ibu Mila, tapi yang ditunggu-tunggu belum datang juga, saat kesabaranku hampir habis kulihat mobil Mercedes hitam milik Ibu Mila masuk ke halaman dan parkir. Ibu Mila pun turun dari mobil dan berjalan kearah ATM.

    “Hi.. Pento ngapain kamu disini?”, sapa Ibu Mila.

    Aku jadi bingung, namun Ibu Mila mengedipkan matanya, akupun mengerti maksud Ibu Mila, agar kami bersandiwara karena ada beberapa orang yang sedang antri mengambil uang.

    “Oh nggak Bu, saya lagi nunggu temen tapi kok belum datang juga”, sahutku.

    Ibu Milapun bergabung antri di depan ATM.

    “Gimana, temenmu belum datang juga?” Saat Ibu Mila keluar dari ruang ATM.

    “Belum Bu”.

    “Ya sudah pulang bareng Ibu aja toh kita kan searah”.

    Aku pun berjalan kearah mobil Ibu Mila, aku duduk di depan disamping supir pribadi Ibu Mila sementara Ibu Mila sendiri duduk dibangku belakang.

    “Ayo, Pak Bari kita pulang”

    “Iya Nya.. “, sahut Pak bari

    “Untung aku ketemu kamu disini Pento Padahal tadi aku sudah cari kamu dikantor kata teman temanmu kamu udah pulang”.

    Uh.. batinku Ibu Mila mulai bersandiwara lagi.

    “Memangnya ada apa Ibu mencari saya?”.

    “Mengenai proposal yang kamu bikin tadi siang baru sempat Ibu periksa sore tadi, ternyata ada beberapa kekurangan yang harus ditambahkan. Yah dari pada nunggu besok mendingan kamu selesaikan sebentar di rumah Ibu OK”.

    Aku hanya diam saja, pikiranku benar-benar kacau saat itu, sampai sampai aku tidak tahu kalau aku sudah sampai dirumah Ibu Mila.

    “Ayo masuk”, ajak Ibu mia.

    Aku sungguh terkagum kagum melihat rumah bossku yang sanggat besar dan megah. Aku dan Ibu Mila pun masuk kerumahnya semakin kedalam aku semakin bertambah kagum melihat isi rumah Ibu Mila yang begitu antik dan mewah.

    “Selamat sore Nya”,

    “Sore Yem, Oh ya.. yem ini ada anak buah ku dikantor, mau mengerjakan tugas yang harus diselesaikan hari ini juga tolong kamu antar dia ke kamar Bayu, biar Bapak Pento bekerja disana”.

    “Baik Nya”.

    Akupun diajak menuju kamar Bayu oleh Iyem pembantu di rumah Ibu Mila.

    “Silakan Den, ini kamarnya”.

    Akupun memasuki kamar yang ditunjuk oleh Iyem. Sebuah kamar yang besar dan mewah sekali. Langsung aku duduk di sofa yang ada di dalam kamar.

    “Kring.., kring.. “, kuangkat telepon yang menempel di dinding.

    “Hallo, Pento, itu kamar anakku, sekarang ini anakku sedang kuliah di US, kamu mandi dan pakai saja pakaian anakku, biar baju kerjamu tidak kusut”.

    “Oh.. iya Bu terimakasih”.

    Langsung aku menuju kamar mandi, membersihkan seluruh tubuhku denga air hangat, setelah selesai akupun membuka lemari pakian yang sangat besar sekali dan memilih baju dan celana pendek yang pas denganku.

    Sudah hampir jam tujuh malam tapi Ibu Mila belum muncul juga, yang ada malah Iyem yang datang mengantarkan makan malam untukku. Saat aku sedang asyik menikmati makan malamku, pintu kamar terbuka dan kulihat ternyata Ibu Mila yang masuk, aku benar benar terpana melihat pakaian yang dikenakan oleh Ibu Mila tipis sekali. Setelah mengunci pintu kamar Ibu Mila datang menghampiri dan ikut duduk di sofa. Sambil terus melahap makananku aku memandangi tubuh Ibu Mila, walaupun gendut tapi Ibu Mila tetap cantik.

    Setelah beberapa saat aku menghabiskan makananku Ibu Mila berkata kepadaku, “Sekarang, kamu harus menceritakan semua peristiwa yang kamu alami dengan Ibu Mertuamu, Ibu mau dengar semuanya, dan lepas semua pakaian yang kamu kenakan”.

    “Tapi Bu”, protesku.

    “Pento, kamu mau istrimu tahu, bahwa suaminya ada affair dengan ibunya bahkan sekarang ini Ibu kandung istrimu sedang mengandung anakmu”.

    Aku benar benar sudah tidak punya pilihan lagi, kulepas kaos yang kukenakan, kulepas juga celana pendek berikut CD ku, aku telanjang bulat sudah. Karena malu kututup kontolku dengan kedua tanganku.

    “Sial!”, makiku dalam hati, aku benar benar dilecehkan oleh Ibu Mila saat itu.

    “Lepas tanganmu Ibu mau lihat seberapa besar kontolmu”, bentak Ibu Mila.

    “Mm.., lumayan juga kontolmu”.

    Malu sekali aku mendengar komentar Ibu Mila tentang ukuran kontolku, yang ukurannya hanya standar Indonesia.

    “Nah, sekarang ceritakan semuanya”.

    Dengan perasaan malu, akupun menceritakan semua kejadian yang aku alami bersama Ibu Mertuaku, mau tidak mau burungkupun bangun dan tegak berdiri, karena aku menceritakan secara detail apa yang aku alami. Kulihat Ibu Mila mendengarkan dan menikmati ceritaku, sesekali Ibu Mila menarik napas panjang. Tiba tiba Ibu Mila bangkit berdiri dan melepaskan seluruh pakaian yang dia kenakan, aku terdiam dan terpana menyaksikan tubuh gendut orang paling berpengaruh dikantorku, sekarang sudah telanjang bulat dihadapanku. Walaupun banyak lemak disana sini namun pancaran kemulusan tubuh Ibu Mila membuat jakunku turun naik.

    “Kenapa diam, ayo lanjutkan ceritamu”, bentaknya lagi.

    “Baik Bu”, akupun melanjutkan ceritaku kembali, namun aku sudah tidak konsentrasi lagi dengan ceritaku, apalagi saat Ibu Mila menghampiri dan membuka kakiku kemudian mengelus elus dan mengocok ngocok kontolku, aku sudah tidak fokus lagi pada ceritaku.

    “Ahh.. “, jeritku tertahan saat mulut Ibu Mila mulai mengulum kontolku.

    “Ahh.. Bu.., nikmat sekali”.

    Kuangkat kepala Ibu Mila, kamipun berciuman dengan liarnya, kupeluk tubuh gendut bossku.

    “Bu.. kita pindah keranjang saja”, pintaku,

    Sambil terus berpelukan dan berciuman kami berdua berjalan menuju ranjang. Kurebahkan tubuh Ibu Mila, ku lumat kembali bibirnya, kami berdua bergulingan diatas pembaringan, saling merangsang birahi kami.
    “Ahh.. “, Jerit Ibu Mila saat mulutku mulai mencium dan menjilati teteknya.

    “Uhh Pento.. enak.. sayang”.

    Ketelusuri tubuh Ibu Mila dan jilatan lidahkupun menuju memek Ibu Mila yang licin tanpa sehelai rambutpun. Kuhisap memek Ibu Mila dan kujilati seluruh lendir yang keluar dari memeknya. Banjir sekali Mungkin karena Ibu Mila sudah sangat terangsang mendengar ceritaku.

    “Ahh”, jerit Ibu Mila saat dua jariku masuk ke lubang surganya, dan tanganku yang satu lagi meremas-remas teteknya.

    Aku berharap agar orang yang telah melecehkanku ini cepat mencapai orgasmenya, aku makin beringas lidahku terus menjilati memek Ibu Mila yang sedang dikocok kocok dua jari tanganku. Usahaku berhasil, Ibu Mila memohon agar aku segera memasukan kontolku le lubang memeknya, tapi aku tidak mengindahkan keinginannya, kupercepat kocokan jari tanganku dilubang memek Ibu Mila, tubuh Ibu Milapun makin menegang.

    “Aaarrgghh.. Pento”, jerit Ibu Mila tubuhnya melenting, kakinya menjepit kepalaku saat badai orgasme melanda dirinya,

    Aku puas sekali melihat kondisi Ibu Mila, seperti orang yang kehabisan napas, matanya terpejam, kubiarkan Ibu Mila menikmati sisa sisa orgasmenya. Kucumbu kembali Ibu Mila kujilati teteknya, kumasukan lagi dua jariku kedalam memek nya yang sudah sangat basah.

    “Ampun.. Pento.. biarkan Ibu istirahat dulu”, pintanya.

    Aku tidak memperdulikan permintaannya, kubalik tubuh telentangnya, tubuh Ibu Mila tengkurap kini.

    “Jangan.. dulu Pen.. too.. Ibu lemas sekali”.

    Aku angkat tubuh tengkurapnya, Ibu Mila pasrah dalam posisi nungging. Matanya masih terpejam. Kugesek gesekan kontolku kelubang memek Ibu Mila. Kutekan dengan keras dan.. Bless masuk semua batang kontolku tertelan lubang nikmat memek Ibu Mila.

    “Iiihh.. Pen.. to.. kamu.. jahat”.

    Akupun mulai mengeluar masukan kontolku ke lubang memek Ibu Mila, orang yang paling di takuti dikantorku sekarang ini sedang bertekuk lutut di hadapanku, merintih rintih mendesah desah, bahkan memohon mohon padaku. Aku puas sekali, kupompa dengan cepat keluar masuknya kontoku di lubang memek Ibu Mila, bunyi plak.. plak.. akibat beradunya pantat Ibu Mila dengan tubuhku menambah nikmat persetubuhkanku.

    “Uhh.. “, jeritku saat kontolku mulai berdenyut denyut.

    Akupun sudah tidak sanggup lagi menahan bobolnya benteng pertahananku. Kupompa dengan cepat kontolku, Ibu Milapun makin belingsatan kepalanya bergerak kekiri dan kekanan.
    “Ahh Ibu.. aku mau.. keluar.. “.

    Dan cret.. cret, muncrat sudah spermaku masuk kedalam Memek dan rahim Ibu Mila, beberapa detik kemudian Ibu Mila pun menyusul mendapatkan orgasmenya, dengan satu teriakan yang keras sekali, Ibu Mila tidak peduli apakah Iyem pembantunya mendengar jeritannya diluar sana.

    Ibu Mila rebah tengkurap, akupan rebah di belakangnya sambil terus memeluk tubuh gendut Ibu Mila. Nikmat sekali.., Orgasme yang baru saja kami raih bersamaan, kulihat Ibu Mila sudah lelap tertidur, dari celah belahan memek Ibu Mila, air manyku masih mengalir, aku benar benar puas karena orang yang telah melecehkanku sudah kubuat KO. Kuciumi kembali tubuh Ibu Mila, kontolkupun tegak kembali, ku balik tubuh Ibu Mila agar telentang, kuangkat dan kukangkangi kakinya. Kugesek-gesekan kontolku di lubang memek Ibu Mila.

    “Uhh Pento.. Ibu lelah sekali sayang”, Lirih sekali suara Ibu Mila.

    Aku sudah tidak peduli, langsung kutancapkan kontolku ke lubang nikmat Ibu Mila, Bless.. Licin sekali, kupompa keluar masuk kontolku, tubuh Ibu Mila terguncang guncang akibat kerasnya sodokan keluar masuk kontolku, rasanya saat itu aku seperti bersetubuh dengan mayat, tanpa perlawanan Ibu Mila hanya memejamkan matanya. Kukocok dengan cepat dan keras keluar masuknya kontolku di lubang memek Ibu Mila.., dan langsung ku cabut kontolku dan kumuncratkan air maniku diatas perut Ibu Mila.

    Karena lelah akupun tertidur sisamping tubuh telanjang Ibu Mila, sambil kupeluk tubuhnya, saat aku terbangun kulihat jarum jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam, buru buru aku bergegas membersihkan tubuhku dan mengenakan pakaian kerjaku.

    “Bu.. Bu.. Mila bangun Bu.. “.

    Akhirnya dengan malas Ibu Mila membuka matanya.
    sumber:

    “Sudah malam Bu saya mau pulang”.

    “Pento kamu liar sekali, rasanya tubuh Ibu seperti tidak bertulang lagi”.

    Ibu Milapun bangkit mengenakan pakaiannya, kami berdua berjalan keluar kamar.

    “Tunggu sebentar ya Pento, kemudian Ibu Mila masuk kekamarnya, beberapa saat kemudian Ibu Mila keluar dari kamarnya dengan senyumnya yang menawan.

    “Ini untuk kamu”.

    “Apa ini Bu?”, Tanyaku, saat Ibu Mila menyodorkan sebuah amplop kepadaku.

    Aku menolak pemberian Ibu Mila, namun Ibu Mila terus memaksaku untuk menerimanya. Terrpaksa kukantongi amplop yang diberikan Ibu Mila lalu kembali kami berciuman dengan mesranya.

    Dalam perjalanan pulang aku masih tidak menyangka bahwa aku baru saja bersetubuh dengan Ibu Mila. Entah nasib baik ataukah nasib buruk tapi aku benar benar menikmatinya.

  • Mantan Guruku

    Mantan Guruku


    11 views

    cerita-sex-dewasa-mantan-guruku

    Cerita Sex Dewasa | Namaku adi, aku saat ini berumur 21 tahun, aku sekarang masih kuliyah disalah satu universitas ternama
    di Malang. Waktu aku masih duduk dibangku SD aku pernah mempunyai seorang guru wanita yang membuatku
    selalu membayangkannya tiap malam. Dia bernama Bu Lilik Masriyah, dia sudah mempunyai suami bernama Pak
    Lukman yang juga seorang Guru. Bu lilik mempunyai 3 orang anak, anaknya yang pertama sebaya denganku
    sedangkan anaknya yang kedua kelas 1 SMA, anaknya yang ketiga duduk dibangku TK.
    Bu lilik dikenal oleh semua murid sebagai guru yang otoriter, begitu banyak murid murid yang takut bila
    dia yang mengajar. Tapi dimataku dia adalah wanita yang perfect. Saat ini Bu lilik adalah seorang wanita
    yang berusia 40 tahun yang anggun, dia cantik, kulitnya putih mulus, hidungnya mancung, bibirnya merah
    delima, rambutnya sebahu, postur tubuhnya tinggi, body tubuhnya lumayan dan masih singset daripada
    wanita 40 tahun lainnya.

    Sewaktu aku masih duduk dibangku SD, tak sengaja sering terlihat bra yang dipakai Bu lilik waktu dia
    sedang menulis di papan tulis ataupun waktu dia sedang duduk. Hal – hal itu yang membuatku terbayang –
    baying setiap saat setiap waktu. Bisa dibilang masa puberku waktu itu terjadi karena sering membayangkan
    aku bercinta dengan Bu lilik. Dasar anak – anak pikirku. Setiap pulang dari malang aku selalu lewat
    depan rumahnya, kulihat rumahnya selalu sepi.

    Mungkin setiap aku lewat dia tak sedang berada diRumah. Singkat cerita Waktu itu aku tiba dirumah pukul
    12 malam. Aku sejenak duduk diruang tamu kulihat dimeja ada sebuah undangan reuni dari sekolah SD ku
    dulu. Besoknya aku datang ke tempat reuni aku bertemu dengan banyak teman – teman SD disitu. Kulihat Bu
    lilik juga hadir dalan acara tersebut. Ku lihat dia masih tetap cantik seperti dulu. Dalam acara
    tersebut panitia reuni mengadakan tour ke Bali dalam rangka ulang tahun berdirinya sekolah.

    Kebetulan 1 minggu aku libur kuliyah dan aku memutuskan untuk ikut dalam tour tersebut. Pukul 4 sore
    acaranya selesai. Aku segera menghampiri Bu lilik. Ku jabat dan kucium tangannya seraya memberi hormat
    padanya. Hanya beberapa menit kami ngobrol. Kulihat yang lain sudah pada pulang.

    “Bu nunggu siapa? Kok belum pulang? Nunggu jemputan yah??” tanyaku sambil tersenyum kecil.
    “iyah.. ibu nunggu jemputan anak ibu…” jawabnya sambil membalas senyumku
    “loh memang suami Bu lilik kemana kok anak ibu yang jemput???” tanyaku lagi.
    “suami ibu lagi melayat ke rumah temanya kedua anak ibu dirumah tapi anak ibu yang sebaya dengan kamu
    kuliyah diSurabaya dan tadinya dia mau pulang dan sekalian jemput ibu gitu”
    “oh anak ibu kuliyah diSurabaya ngekost yah bu???” kemudian hp di tasnya Bu lilik berbunyi dan akhirnya
    dia mengangkatnya.Cerita Sex Dewasa

    Beberapa detik pembicaraan ku dengan dia terpotong dengan suara hp di tasnya.

    “oh anak ibu kos disana dia Cuma pulang 1 minggu 1 kali. Tapi kali ini dia gak bissa pulang karena
    banyak tugas di kampus….barusan dia nelpon ibu” dalam hati ku berkata ini kesempatan untukku untuk bissa
    menawarkan sesuatu pada dia.
    “maaf bu lilik, kalau saya diperbolehkan biarkan saya saja yang nganterin ibu pulang…gimana bu???”
    “eeehhhmmm..gimana yah Di…eehhmmm… yauda deh ibu mau” Setelah sampai didepan rumahnya aku memintai dia
    nomor HP.

    Kemudian waktu terus berlalu. 2 hari berikutnya aku berangkat ke Bali bareng teman teman alumni yang
    ikut. Kulihat pula ternyata Bu lilik ikut dalam tour ini. Aku segera berpindah duduk disamping Bu lilik.

    “Bu suami dan anaknya kok gak diajak…”
    “suami ibu dan anak anak ibu pada gak mau ibu ajak… gak tau ni padahal kan gratis” waktu terus berlalu
    kami ngobrol cukup lama sampai tertidur dalam bus.

    Ingin sekali kudekap tubuh mulus nya itu tapi untung aku masih bissa mengendalikan diri karena banyak
    orang didalam bus itu. Waktu terus berjalan, akhirnya pukul 5 pagi aku dan rombongan sekolah tiba di
    pantai sanur untuk melihat sunrise. Pukul 10 pagi aku dan rombongan tiba diHotel. ceritasexdewasa.org Kebetulan aku dan
    rombongan menginap diHotel yang mewah dan berkelas tak heran kalau banyak orang kaya disitu. Aku segera
    masuk kamar dan melepas kepenatan dengan mandi dikolam renang.

    Saat mandi dikolam renang tak sengaja kulihat Bu lilik hanya mengenakan BH G- string berwarna hitam.
    Karena kebetulan kamarku dengan kamar Bulilik berdekatan hanya saja kamar Bu lilik berada di lantai atas
    dan kebetulan juga Bu lilik waktu ganti baju lupa menutup jendela dan akhirnya terlihat dari bawah.
    ‘wwooow nafsu birahi langsung memuncak., pemandangan seperti itu membuat penisku yang tadi tidur menjadi
    bangun dank eras dan amat keras. Dalam hati aku berkata

    “nanti malam aku harus bissa masuk kekamar bulilik” Malam pun tiba. Pukul 8 malam aku mengetuk pintu
    kamar Bu lilik.

    Kuketuk beberapa kali tapi gak ada yang membuka. Kemudian aku hendak balik kekamarku, dan baru dua
    langka Bu lilik memanggilku.

    “Ada apa Di??? “ kulihat Bu lilik mengenakan baju tidur dan kulihat pula rambutnya basah. Ternyata dia
    habis mandi. “saya mau ngobrol sesuatu pada ibu gak papa kan kalau saya masuk, maaf bu kalau saya
    menggangu istarahat ibu”
    “ohhh… ya uda masuk ajah” langsung aku mengunci pintunya tanpa sepengatahuan Bu lilik. setelah didalam
    kamar aku ngobrol beberapa kata dengan dia.

    Kemudian aku bilang pada Bu lilik kalau aku suka kepadanya dan sangat mengaguminya. “Bu aku sangat ingin
    sekali memiliki kamu bu, tapi ibu sudah bersuami dan ibu sudah punya anak, kalau boleh memilih takdir
    aku ingin jadi suamimu Bu” langsung seketika Bu lilik kaget dan marah dengan pengakuanku tadi.

    “Di…kamu gak boleh sepeti ini pada Ibu…bagaimanapun juga Ibu ini tetap Mantan Gurumu dan harus kau
    hormati dan jangan mengada ngada tentang kata katamu tadi” Aku segera mendekati tubuh Bu lilik.

    Terasa sudah keras penisku tertahan oleh CD yang kukenakan saat mendekati tubuhnya. Langsung dengan
    cekatan kucium pipinya yang sebelah kiri.

    “Astagfirullah Di…jangan…di…” saat Bu lilik melontarkan kata kata itu dengan nada marah dan kesal tanpa
    panjang lebar langsung masih dalam posisi berdiri aku memeluk tubuhnya bu Lilik dengan erat, segera
    kuciumi pipinya dan bibirnya.
    “Di jangan Di….ibu mohon jangan” bu lilik hanya marah tapi dia tidak berontak seperti adegan adegan
    perkosaan lain.

    Dia hanya melarangku dengan kata – kata nya yang bernada marah tapi dia tak melawan bahkan tangannya
    diam tak berusaha mendorong tubuhku. Setelah beberapa kali kuciumi pipi nya baik sebelah kanan maupun
    kiri aku beralih ke lehernya yang putih dan mulus. Kuciumi dengan lahap lehernya, bahkan waktu itu aku
    mirip seperti orang kesetanan yang bringas. Dengan cepat kuciumi setiap lekuk leher bu lilik dengan
    bringas.

    “stop..hentikan ini Di…kamu jangan kurang ajar sama Ibu..aaaahhh…aaaahhh…hentikan Di….aaaahhh” kudengar
    nada kata katanya yang tadi seperti orang marah ternyata sekarang berubah menjadi lirih dan diiringi
    dengan desahan desahannya yang membuatku semakin bringas dan liar menciumi lehernya.Cerita Sex Dewasa

    Aroma wangi tubuhnya membuat penisku seperti ingin keluar merobek CD. Sambil menciumi leher dan bibirnya
    Segera aku melepas baju ku sedikit demi sedikit hingga kuhanya mengenakan CD Kulihat Bu lilik memejamkan
    mata sambil mendesah dan melarangku melakukan itu.

    “Di…jangan….Di….aaaaahhhhh….ini perbuatan dosa Di….aaaahhhh….sekali lagi…ibu mohon………aaaaaaahhhhhhh”
    Setelah puas menciumi lehernya aku langsung beralih menciumi bagian pundaknya sambil mencoba melepaskan
    baju tidur yang dia pakai.
    “dasar….bajingan kamu…Di….hentikan…ibu mohon….aaaaaaaaahhhhh…..Ibu gak mau Di….ini dosa….….aaaaahhhhh….”
    dia terus mendesah sambil memejamkan mata.

    Tak lama kemudian Baju tidurnya terjatuh dilantai, kulihat dia memakai BH G-string merah, kulihat BH G
    string yang dia pakai seperti terlalu ketat dan kekecilan sehingga Payudaranya dibagian atas seperi mau
    menjumbul keluar. segera kusosor dengan lahap pundak dan dadanya yang terlihat mulus. Ditengah aksiku
    menciumi dadanya aku berkata pada bu lilik

    “Bu aku ingin sekali ibu orang yang pertama kali mendapatkan perjakaku ini, cccccpppppccckkk….. jadi aku
    mohon…mmmmuuuuaaaachhhh…mmmmhhhhcccchhh….. izinkan aku menjamah tubuh ibu yang mulus ini… karena sejak
    SD aku menantikan kesempatan seperti ini dengan kamu Bu” langsung kuteruskan ciumanku ke pundak dan
    dadanya yang mulus. “tapi kamu salah Di…ibu ini hanya wanita tua berumur 40 tahun… aaaaahhhh….tak
    pantas…kau perlakukan ibu sperti ini….….aaaaahhhhh…. ibu tak ada bedanya dengan ibu kamu sendiri….
    ….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh….hentikan hentikan Di….kamu memang biadab….….aaaaahhhhh….dasar terkutuk
    kamu….aaaaahhhhh….” setelah puas kumenciumi dadanya kuciumi Payudaranya yang masih terbungkus BH G-
    String berwarna merah.

    Saat bibirku menyentuh tali BH nya. Aku benar benar seperti orang kesetanan dan bringas, kulahap dengan
    cepat hingga BH nya yang dia pakai basah karena air liurku. Kemudian sambil terus menciumi payudaranya
    yang terbungkus BH aku mencoba membuka kancing BH nya yang berada dibelakang punggungnya. Akhirnya
    tanganku berhasil meraih kancing BH nya. Segera kutarik dengan cepat terlepaslah BH yang dia pakai dan
    terjatuh diLantai.

    Aku sangat kaget melihat ukuran payudaranya saat BH nya ku buka ternyata sangat montok dan besar,
    padahal dulu aku mengira payudaranya ukuranya kecil serta biasa saja, tapi setelah terpampang didepanku
    langsung dengan bringas/liar/lahap/bahkan seperti orang kesetanan aku lagsung menciumi kedua payudaranya
    yang montok itu baik kanan ataupun kiri, seperti orang yang tak sabaran dan tergesa gesa gaya ciumanku
    terhadap payudaranya itu.

    “….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh…. biadab kamu ….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh….
    jangan….aaaaahhhhh….jangan….aaaaahhhhh….jaaaaaaaaaangaaaaaannn Di” desahannya yang lirih sambil
    menegelus elus dan memegangi kepalaku.Cerita Sex Dewasa

    Sangat lama sekali aku menciumi kedua payudaranya. Tak henti hentinya kuciumi berulang ulang
    payudaranya.

    “mmmccchhhhh…mmmmmcccchhhh,…..” terasa nikmat sekali terasa seperti dipuncak kenikmatan saat kuberulang
    ulang kumenciumi kedua payudaranya. Setelah berulang kali kuciumi kumenghisap payudaranya yang sebelah
    kanan secara bergantian baek kiri maupun kanan” beberapa menit lamanya aku gak tahu yang kurasa
    kulakukan ciuman dipayudaranya itu sangat lama dari pada yang ciumanku dibagian tubuhnya yang lain.

    Sambil terus menciumi dan menghisap payudaranya yang montok aku mendorong tubuh Bu lilik ke ranjang
    besar dan empuk itu. Bu lilik dan tubuhku terbaring di atas ranjang dengan posisi tubuhku diatas tubuh
    Bu lilik.

    “….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh…. biadab kamu ….aaaaahhhhh….….bangsat kamu aaaaahhhhh….
    ….aaaaahhhhh…. jangan….aaaaahhhhh….jangan….aaaaahhhhh….jaaaaaaaaaangaaaaaannn Di” setelah cukup lama ku
    menciumi dan menghisap kedua payudaranya aku beralih ke perutnya.

    Kuciumi perut dan pusarnya sampai menuju vaginanya yang masih terbungkus oleh CD G-String Hitam.
    Kurasakan saat bibirku menyentuh vaginanya yang ternyata sudah basah sekali. Langsung sambil menciumi
    selakangannya yang wangi kumelorotkan CD G-string hitam yang dia pakai hingga terlepas dan terjatuh ke
    lantai. Kusosor dengan lahap vaginanya.

    “….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh…. biadab kamu ….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh….
    jangan….aaaaahhhhh….jangan….aaaaahhhhh….jaaaaaaaaaangaaaaaannn lakukan itu ….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh….
    ….aaaaahhhhh…….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh….stop ibu gak mau berbuat dosa….aaaaahhhhh….
    ….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh….” tak lama kemudian Bu lilik tak melarangku tapi dia hanya mendesah berulang
    kali “….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh…….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh…….aaaaahhhhh….
    ….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh…….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh…aaaauuuuuhh……” setelah kumenciumi
    seluruh permukaan vaginanya ku beralih kebawa terus dan terus hingga jari kakinya. Sambil melepas CD
    yang kukenakan aku menciumi betis dan kakinya.

    Setelah kuciumi kaki dan jarinya aku naik keatas tubuhnya lagi. Kutindih tubuh Bu lilik sambil
    menancapkan penisku ke liang vaginanya. Kulihat Bu lilik pasrah sambil memejamkan mata. Tak lama
    kemudian penisku terbenam tepat diVaginanya Bu lilik yang dari tadi sudah basah sekali. Kugenjot tubuhku
    berulang kali.

    “….aaaaahhhhh….….oooohhhhh….….aaaaahhhhh…….aaaauuuu….….aaaaahhhhh…aaahhhhh….….oooohhhhh….
    ….aaaaahhhhh…….aaaauuuu….….aaaaahhhhh ….aaaaahhhhh….….oooohhhhh….….aaaaahhhhh…….aaaauuuu….….aaaaahhhhh”
    hanya desahan dan desahan yang keluar dari bibir bu lilik sambil memejamkan kedua matanya.

    Benar benar dipuncak kenikmatan walu berawal dari pemaksaan aku benar benar manusia paling bahagia
    didunia waktu itu. Setelah berulang kali ku menggenjot tubuhku, tak lamma kemudian kumerasakan ada yang
    menyembur deras dari penisku menuju liang vaginanya setelah air mani itu keluar dan menuju liang
    vaginannya Bu lilik, aku menggenjot tubuhku lagi berulang kali dengan ritme yang pelan. Hingga air mani
    itu keluar berulang kali.

    Baca JUga Cerita Sex Supermarket

    Setelah beberapa saat kemudian aku merasa lelah sekali setelah berulang kali melakukan genjotan. Kulihat
    pula dari wajahnya Bu lilik kelelahan. Kulihat dia memejamkan matanya dan menoleh kea rah kiri dan tak
    berani memandang wajahku. Segera kutarik penisku dari vaginanya dan kuberbaring disampingnya sambil
    menciumi payudaranya. Ditengah ciumanku aku minta maaf pada Bu lilik

    ”Bu maafin aku… aku sudah berbuat dosa pada ibu…sekali lagi maaf” kemudian aku mengambil selimut dan aku
    berbaring disamping Bu lilik sambil memeluk tubuhnya yang mulus, kumenyelimuti tubuh kami berdua dengan
    selimut yang tebal. Karena udaranya sangat dingin. Kami berdua tidur bersama hingga pagi.

  • cerita gentot bersama sepupuku Nabilah yang Mungil

    cerita gentot bersama sepupuku Nabilah yang Mungil


    4669 views

    Sebuah cerita pengalaman pribadiku ngentot bersama Nabilah yaitu notabenya sepupuku sendiri..Aku lihat sekali lagi catatanku. Benar, itu rumah nomor 27. Pasti itu rumah Om Andri, kerabat jauh ayahku. Kuhampiri pintunya dan kutekan bel rumahnya. Tidak lama kemudian dari balik pintu muncul muka yang sangat cantik.
    “Cari siapa Mas?” tanyanya.
    “Apa betul ini rumah Om Andri? nama saya Dodi.”
    “Oh.. sebentar yah, Pa.. ini Dodinya sudah datang”, teriaknya ke dalam rumah.

    Kemudian aku dipersilakan masuk, dan setelah Om Andri keluar dan menyambutku dia pun berkata dengan ramah, “Dodi, papimu barusan sudah nelpon, nanyain apa kamu sudah datang. Ini kenalin, anak Om, namanya Nabilah, terus anterin Dodi ke kamarnya, kan dia cape, biar dia istirahat dulu, nanti baru deh ngobrol-ngobrol lagi.” Aku datang ke kota ini karena diterima disalah satu Universitas, dan oleh papi aku disuruh tinggal dirumah Om Andri. Nabilah ternyata baru kelas 1 SMA. Dia anak tunggal. Badannya tidak terlalu tinggi, mungkin sekitar 165 cm, tapi mukanya sangat lucu, dengan bibir yang agak penuh. Di sini aku diberi kamar di lantai 2, bersebelahan dengan kamar Nabilah.

    Aku sekarang sudah 3 bulan tinggal di rumah Om Andri, dan karena semuanya ramah, aku jadi betah. Lebih lagi Nabilah. Kadang-kadang dia suka tanya-tanya pelajaran sekolah, dan aku berusaha membantu. Aku sering mencuri-curi untuk memperhatikan Nabilah. Kalau di rumah, dia sering memakai daster yang pendek hingga pahanya yang putih mulus menarik perhatianku. Selain itu buah dadanya yang baru mekar juga sering bergoyang-goyang di balik dasternya. Aku jadi sering membayangkan betapa indahnya badan Nabilah seandainya sudah tidak memakai apa-apa lagi.

    Suatu hari pulang kuliah sesampainya di rumah ternyata sepi sekali. Di ruang keluarga ternyata Nabilah sedang belajar sambil tiduran di atas karpet.
    “Sepi sekali, sedang belajar yah? Tante kemana?” tanyaku.
    “Eh.. Dodi, iya nih, aku minggu depan ujian, nanti aku bantuin belajar yah.., Mami sih lagi keluar, katanya sih ada perlu sampai malem.”
    “Iya deh, aku ganti baju dulu.”

    Kemudian aku masuk ke kamarku, ganti dengan celana pendek dan kaos oblong. Terus aku tidur-tiduran sebentar sambil baca majalah yang baru kubeli. Tidak lama kemudian aku keluar kamar, lapar, jadi aku ke meja makan. Terus aku teriak memanggil Nabilah mengajak makan bareng. Tapi tidak ada sahutan. Dan setelah kutengok ke ruang keluarga, ternyata Nabilah sudah tidur telungkup di atas buku yang sedang dia baca, mungkin sudah kecapaian belajar, pikirku. Nafasnya turun naik secara teratur. Ujung dasternya agak tersingkap, menampakkan bagian belakang pahanya yang putih. Bentuk pantatnya juga bagus.

    Memperhatikan Nabilah tidur membuatku terangsang. Aku merasa kemaluanku mulai tegak di balik celana pendek yang kupakai. Tapi karena takut ketahuan, aku segera ke ruang makan. Tapi nafsu makanku sudah hilang, maka itu aku cuma makan buah, sedangkan otakku terus ke Nabilah. Kemaluanku juga semakin berdenyut. Akhirnya aku tidak tahan, dan kembali ke ruang keluarga. Ternyata posisi tidur Nabilah sudah berubah, dan dia sekarang telentang, dengan kaki kiri dilipat keatas, sehingga dasternya tersingkap sekali, dan celana dalam bagian bawahnya kelihatan. Celana dalamnya berwarna putih, agak tipis dan berenda, sehingga bulu-bulunya membayang di bawahnya. Aku sampai tertegun melihatnya. Kemaluanku tegak sekali di balik celana pendekku. Buah dadanya naik turun teratur sesuai dengan nafasnya, membuat kemaluanku semakin berdenyut. Ketika sedang nikmat-nikmat memandangi, aku dengar suara mobil masuk ke halaman. Ternyata Om Andri sudah pulang. Aku pun cepat-cepat naik kekamarku, pura-pura tidur.

    sex (1)

    Dan aku memang ketiduran sampai agak sore, dan aku baru ingat kalau belum makan. Aku segera ke ruang makan dan makan sendirian. Keadaan rumah sangat sepi, mungkin Om dan Tante sedang tidur. Setelah makan aku naik lagi ke atas, dan membaca majalah yang baru kubeli. Sedang asyik membaca, tiba-tiba kamarku ada yang mengetuk, dan ternyata Nabilah.
    “Dodi, aku baru dibeliin kalkulator nih, entar aku diajarin yah cara makainya. Soalnya rada canggih sih”, katanya sambil menunjukkan kalkulator barunya.
    “Wah, ini kalkulator yang aku juga pengin beli nih. Tapi mahal. Iya deh, aku baca dulu manualnya. Entar aku ajarin deh, kayaknya sih tidak terlalu beda dengan komputer”, sahutku.

    “Ya sudah, dibaca dulu deh. Nabilah juga mau mandi dulu sih”, katanya sambil berlalu ke teras atas tempat menjemur handuk. Aku masih berdiri di pintu kamarku dan mengikuti Nabilah dengan pandanganku. Ketika mengambil handuk, badan Nabilah terkena sinar matahari dari luar rumah. Dan aku melihat bayangan badannya dengan jelas di balik dasternya. Aku jadi teringat pemandangan siang tadi waktu dia tidur. Kemudian sewaktu Nabilah berjalan melewatiku ke kamar mandi, aku pura-pura sedang membaca manual kalkulator itu. Tidak lama kemudian aku mulai mendengar suara Nabilah yang sedang mandi sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Kembali imajinasiku mulai membayangkan Nabilah yang sedang mandi, dan hal itu membuat kemaluanku agak tegang. Karena tidak tahan sendiri, aku segera mendekati kamar mandi dan mencari cara untuk mengintipnya, dan aku menemukannya. Aku mengambil kursi dan naik di atasnya untuk mengintip lewat celah ventilasi kamar mandi. Pelan-pelan aku mendekatkan mukaku ke celah itu, dan ya Tuhan… aku! Melihat Nabilah yang sedang menyabuni badannya, mengusap-usap dan meratakan sabun ke seluruh lekuk tubuhnya. Badannya sangat indah, jauh lebih indah dari yang kubayangkan. Lehernya yang putih, pundaknya, buah dadanya, putingnya yang kecoklatan, perutnya yang rata, pantatnya, bulu-bulu di sekitar kemaluannya, pahanya, semuanya sangat indah. Dan kemaluanku pun menjadi sangat tegang.Tapi aku tidak berlama-lama mengintipnya, karena selain takut ketahuan, juga aku merasa tidak enak mengintip orang mandi. Aku segera ke kamarku dan berusaha menenangkan perasaanku yang tidak karuan.

    sex (2)

    Malamnya sehabis makan, aku dan Om Andri sedang mengobrol sambil nonton TV, dan Om Andri bilang kalau besok mau keluar kota dengan istrinya seminggu. Dia pesan supaya aku membantu Nabilah kalau butuh bantuan. Tentu saja aku bersedia, malah jantungku menjadi berdebar-debar. Tidak lama kemudian Nabilah mendekati kita.
    “Dodi, tolongin aku dong, ajarin soal-soal yang buat ujian, ayo!” katanya sambil menarik-narik tanganku. Aku mana bisa menolak. Aku pun mengikuti Nabilah berjalan ke kamarnya dengan diiringi Om Andri yang senyum-senyum melihat Nabilah yang manja. Beberapa menit kemudian kita sudah terlibat dengan soal-soal yang memang butuh konsentrasi. Nabilah duduk sedangkan aku berdiri di sampingnya. Aku bersemangat sekali mengajarinya, karena kalau aku menunduk pasti belahan dada Nabilah kelihatan dari dasternya yang longgar. Aku lihat Nabilah tidak pakai beha. Kemaluanku berdenyut-denyut, tegak di balik celana dan kelihatan menonjol. Aku merasa bahwa Nabilah tahu kalau aku suka curi melihat buah dadanya, tapi dia tidak berusaha merapikan dasternya yang semakin terbuka sampai aku bisa melihat putingnya. Karena sudah tidak tahan, sambil pura-pura menjelaskan soal aku merapatkan badanku sampai kemaluanku menempel ke punggungnya. Nabilah pasti juga bisa merasakan kemaluanku yang tegak. Nabilah sekarang cuma diam saja dengan muka menunduk.

    “Nabilah, kamu cantik sekali..” kataku dengan suara yang sudah bergetar, tapi Nabilah diam saja dengan muka semakin menunduk. Kemudian aku meletakkan tanganku di pundaknya. Dan karena dia diam saja, aku jadi makin beNabilah mengusap-usap pundaknya yang terbuka, karena tali dasternya sangat kecil. Sementara kemaluanku semakin menekan pangkal lengannya, usapan tanganku pun semakin turun ke arah dadanya. Aku merasa nafas Nabilah sudah memburu seperti suara nafasku juga. Aku jadi semakin nekad. Dan ketika tanganku sudah sampai kepinggiran buah dada, tiba-tiba tangan Nabilah mencengkeram dan menahan tanganku. Mukanya mendongak kearahku.

    “Dodi aku mau diapain..” Rintihnya dengan suara yang sudah bergetar. Melihat mulutnya yang setengah terbuka dan agak bergetar-getar, aku jadi tidak tahan lagi. Aku tundukkan muka, kemudian mendekatkan bibirku ke bibirnya. Ketika bibir kita bersentuhan, aku merasakan bibirnya yang sangat hangat, kenyal, dan basah. Aku pun melumat bibirnya dengan penuh perasaan, dan Nabilah membalas ciumanku, tapi tangannya belum melepas tanganku. Dengan pelan-pelan badan Nabilah aku bimbing, aku angkat agar berdiri berhadapan denganku. Dan masih sambil saling melumat bibir, aku peluk badannya dengan gemas. Buah dadanya keras menekan dadaku, dan kemaluanku juga menekan perutnya.

    sex (3)

    Pelan-pelan lidahku mulai menjulur menjelajah ke dalam mulutnya, dan mengait-ngait lidahnya, membuat nafas Nabilah semakin memburu, dan tangannya mulai mengusap-usap punggungku. Tanganku pun tidak tinggal diam, mulai turun ke arah pinggulnya, dan kemudian dengan gemas mulai meremas-remas pantatnya. Pantatnya sangat empuk. Aku remas-remas terus dan aku semakin rapatkan kebadanku hingga kemaluanku terjepit perutnya. Tidak lama kemudian tanganku mulai ke atas pundaknya. Dengan gemetar tali dasternya kuturunkan dan dasternya turun ke bawah dan teronggok di kakinya. Kini Nabilah tinggal memakai celana dalam saja. Aku memeluknya semakin gemas, dan ciumanku semakin turun. Aku mulai menciumi dan menjilat-jilat lehernya, dan Nabilah mulai mengerang-erang. Tangannya mengelus-elus belakang kepalaku.

    Tiba-tiba aku berhenti menciuminya. Aku renggangkan pelukanku. Aku pandangi badannya yang setengah telanjang. Buah dadanya bulat sekali dengan puting yang tegak bergetar seperti menantangku. Kemudian mulutku pelan-pelan kudekatkan ke buah dadanya. Dan ketika mulutku menyentuh buah dadanya, Nabilah mengerang lagi lebih keras sambil mendongakkan kepalanya, dan menekan pantat dan dadanya ke arahku. Nafsuku semakin naik. Aku ciumi susunya dengan ganas, putingnya aku mainkan dengan lidahku, dan susunya yang sebelah aku mainkan dengan tanganku.

    “Aduuhh.. aahh.. aahh”, Nabilah semakin merintih-rintih ketika dengan gemas putingnya aku gigit-gigit sedikit. Badannya menggeliat-geliat membuatku semakin bernafsu untuk terus mencumbunya. Tangan Nabilah kemudian menelusup kebalik bajuku dan mengusap kulit punggungku.

    “Dodiii.. aahh.. baju kamu dibuka dong.. aahh..” Akupun mengikuti keinginannya. Tapi selain baju, celana juga kulepas, hingga aku juga cuma pakai celana dalam. Mulutnya kembali kucium dan tanganku memainkan susunya. Penisku semakin keras karena Nabilah menggesek-gesekkan pinggulnya sembari mengerang-erang. Tanganku mulai menyelinap ke celana dalamnya. Bulu kemaluannya aku usap-usap, dan kadang aku garuk-garuk. Aku merasa vaginanya sudah basah ketika jariku sampai ke mulut vaginanya. Dan ketika tanganku mulai mengusap clitorisnya, ciumannya di mulutku semakin liar. Mulutnya mengisap mulutku dengan keras. Clitorisnya kuusap, kuputar-putar, makin lama semakin kencang, dan semakin kencang. Pantat Nabilah ikut bergoyang, dan semakin rapat menekan, sehingga penisku semakin berdenyut. Sementara clitorisnya masih aku putar-putar, jariku yang lain juga mengusap bibir vaginanya. Nabilah menggelinjang semakin keras, dan pada saat tanganku mengusap semakin kencang, tiba-tiba tanganku dijepit dengan pahanya,dan badan Nabilah tegang sekali dan tersentak-sentak selama beberapa saat.

    sex (4) “aahh aahh Dodiii.. adduuuhh aahh aahh aahh”,
    Dan setelah beberapa saat akhirnya jepitannya berangsur semakin mengendur. Tapi mulutnya masih mengerang-erang dengan pelan.
    “Dod.. aku boleh yah pegang punya kamu”, tiba-tiba bisiknya di kupingku. Aku yang masih tegang sekali merasa senang sekali.
    “Iyaa.. boleh..” bisikku. Kemudian tangannya kubimbing ke celana dalamku.
    “Aahh…” Akupun mengerang ketika tangannya menyentuh penisku. Terasa nikmat sekali. Nabilah juga terangsang lagi, karena sambil mengusap-usap kepala penisku, mulutnya mengerang di kupingku. Kemudian mulutnya kucium lagi dengan ganas. Dan penisku mulai di genggam dengan dua tangannya, di urut-urut dan cairan pelumas yang keluar diratakan keseluruh batangku. Badanku semakin menegang. Kemudian penisku mulai dikocok-kocok, semakin lama semakin kencang, dan pantatnya juga ikut digesekkan kebadanku. Tidak lama kemudian aku merasa badanku bergetar, terasa ada aliran hangat di seluruh tubuhku, aku merasa aku sudah hampir orgasme.
    “Raannniii.. aku hampir keluar..” bisikku yang membuat genggamannya semakin erat dan kocokannya makin kencang.
    “Aahh.. Ranniii.. uuuhh.. aahh..” akhirnya dari penisku memancar cairan yang menyembur kemana-mana. Badanku tersentak-sentak. Sementara penisku masih mengeluarkan cairan, tangan Nabilah tidak berhenti mengurut-urut, sampai rasanya semua cairanku sudah diperas habis oleh tangannya. Aku merasa sperma yang mengalir dari sela-sela jarinya membuat Nabilah semakin gemas. Spermaku masih keluar untuk beberapa saat lagi sampai aku merasa lemas sekali.

    Akhirnya kita berdua jatuh terduduk di lantai. Dan tangan Nabilah berlumuran spermaku ketika dikeluarkan dari celana dalamku. Kita berpandangan, dan bibirnya kembali kukecup, sedangkan tangannya aku bersihkan pakai tissue. Dan secara kebetulan aku melihat ke arah jam.
    “Astaga, sekarang sudah jam 11! Wah, sudah malam sekali nih, aku ke kamarku dulu yah, takut Om curiga nanti..” kataku sembari berharap mudah-mudahan suara desahan kita tidak sampai ke kuping orang tuanya. Setelah Nabilah mengangguk, aku bergegas menyelinap ke kamarku.Malam itu aku tidur nyenyak sekali.

    Pagi itu aku bangun kesiangan, seisi rumah rupanya sudah pergi semua. Aku pun segera mandi dan berangkat ke kampus. Meskipun hari itu kuliah sangat padat, pikiranku tidak bisa konsentrasi sedikit pun, yang kupikirkan cuma Nabilah. Aku pulang ke rumah sekitar jam 3 sore, dan rumah masih sepi. Kemudian ketika aku sedang nonton TV di ruang keluarga sehabis ganti baju, Nabilah keluar dari kamarnya, sudah berpakaian rapi. Dia mendekat dan mukanya menunduk.
    “Dodi, kamu ada acara nggak? Temani aku nonton dong..”
    “Eh.. apa? Iya, iya aku tidak ada acara, sebentar yah aku ganti baju dulu” jawabku, dan aku buru-buru ganti baju dengan jantung berdebaran. Setelah siap, aku pun segera mengajaknya berangkat. Nabilah menyarankan agar kita pergi dengan mobilnya. Aku segera mengeluarkan mobil, dan ketika Nabilah duduk di sebelahku, aku baru sadar kalau dia pakai rok pendek, sehingga ketika duduk ujung roknya makin ke atas. Sepanjang perjalanan ke bioskop mataku tidak bisa lepas melirik kepahanya.

    Sesampainya di bioskop, aku beNabilahkan memeluk pinggangnya, dan Nabilah tidak menolak. Dan sewaktu mengantri di loket kupeluk dia dari belakang. Aku tahu Nabilah merasa penisku sudah tegang karena menempel di pantatnya. Nabilah meremas tanganku dengan kuat. Kita memesan tempat duduk paling belakang, dan ternyata yang menonton tidak begitu banyak, dan di sekeliling kita tidak ditempati. Kami segera duduk dengan tangan masih saling meremas. Tangannya sudah basah dengan keringat dingin, dan mukanya selalu menunduk. Ketika lampu mulai dipadamkan, aku sudah tidak tahan, segera kuusap mukanya, kemudian kudekatkan ke mukaku, dan kita segera berciuman dengan gemasnya. Lidahku dan lidahnya saling berkaitan, dan kadang-kadang lidahku digigitnya lembut. Tanganku segera menyelinap ke balik bajunya. Dan karena tidak sabar, langsung saja kuselinapkan ke balik behanya, dan susunya yang sebelah kiri aku remas dengan gemas. Mulutku langsung dihisap dengan kuat oleh Nabilah. Tanganku pun semakin gemas meremas susunya, memutar-mutar putingnya, begitu terus, kemudian pindah ke susu yang kanan, dan Nabilah mulai mengerang di dalam mulutku, sementara penisku semakin meronta menuntut sesuatu.

    Kemudian tanganku mulai mengelus pahanya, dan kuusap-usap dengan arah semakin naik ke atas, ke pangkal pahanya. Roknya kusingkap ke atas, sehingga sambil berciuman, di keremangan cahaya, aku bisa melihat celana dalamnya. Dan ketika tanganku sampai di selangkangannya, mulut Nabilah berpindah menciumi kupingku sampai aku terangsang sekali. Celana dalamnya sudah basah. Tanganku segera menyelinap ke balik celana dalamnya, dan mulai memainkan clitorisnya. Kuelus-elus pelan-pelan, kuusap dengan penuh perasaan, kemudian kuputar-putar, semakin lama semakin cepat. Tiba-tiba tangannya mencengkram tanganku, dan pahanya juga menjepit telapak tanganku, sedangkan kupingku digigitnya sambil mendesis-desis. Badannya tersentak-sentak beberapa saat.
    “Dodi.. aduuuhh.. aku tidak tahan sekali.. berhenti dulu yaahh.. nanti di rumah ajaa..” rintihnya. Aku pun segera mencabut tanganku dari selangkangannya.

    sex (5)“Dodi.. sekarang aku mainin punya kamu yaahh..” katanya sambil mulai meraba celanaku yang sudah menonjol. Kubantu dia dengan kubuka ritsluiting celana, kemudian tangannya menelusup, merogoh, dan ketika akhirnya menggenggam penisku, aku merasa nikmat luar biasa. Penisku ditariknya keluar celana, sehingga mengacung tegak.
    “Dodi.. ini sudah basah.. cairannya licin..” rintihnya di kupingku sambil mulai digenggam dengan dua tangan. Tangan yang kiri menggenggam pangkal penisku, sedangkan yang kanan ujung penisku dan jari-jarinya mengusap-usap kepala penis dan meratakan cairannya.
    “Nabilah.. teruskan sayang..” kataku dengan ketegangan yang semakin menjadi-jadi. Aku merasa penisku sudah keras sekali. Nabilah meremas dan mengurut penisku semakin cepat. Aku merasa spermaku sudah hampir keluar. Aku bingung sekali karena takut kalau sampai keluar bakal muncrat kemana-mana.
    “Nabilah.. aku hampir keluar nih.., berhenti dulu deh..” kataku dengan suara yang tidak yakin, karena masih keenakan.
    “Waahh.. Nabilah belum mau berhenti.. punya kamu ini bikin aku gemes..” rengeknya.
    “Terus gimana.., apa enaknya kita pulang saja yuk..!” ajakku, dan ketika Nabilah mengangguk setuju, segera kurapikan celanaku, juga pakaian Nabilah, dan segera kita keluar bioskop meskipun filmnya belum selesai. Di mobil tangan Nabilah kembali mengusap-usap celanaku. Dan aku diam saja ketika dia buka ritsluitingku dan menelusupkan tangannya mencari penisku. Aduh, rasanya nikmat sekali. Dan penisku makin berdenyut ketika dia bilang, “Nanti aku boleh yah nyiumin ininya yah..” Aku pengin segera sampai kerumah.

    Dan, akhirnya sampai juga. Kita berjalan sambil berpelukan erat-erat. Sewaktu Nabilah membuka pintu rumah, dia kupeluk dari belakang, dan kuciumi samping lehernya. Tanganku sudah menyingkapkan roknya ke atas, dan tanganku meremas pinggul dan pantatnya dengan gemas. Nabilah kubimbing ke ruang keluarga. Sambil berdiri kuciumi bibirnya, kulumat habis mulutnya, dan dia membalas dengan sama gemasnya. Pakaiannya kulucuti satu persatu sambil tetap berciuman. Sambil melepas bajunya, aku mulai meremasi susunya yang masih dibalut beha. Dengan tak sabar behanya segera kulepas juga. Kemudian roknya, dan terakhir celana dalamnya juga kuturunkan dan semuanya teronggok di karpet.

    Badannya yang telanjang kupeluk erat-erat. Ini pertama kalinya aku memeluk seorang gadis dengan telanjang bulat. Dan gadis ini adalah Nabilah yang sering aku impikan tapi tidak terbayangkan untuk menyentuhnya. Semuanya sekarang ada di depan mataku. Kemudian tangan Nabilah juga melepaskan bajuku, kemudian celana panjangku, dan ketika melepas celana dalamku, Nabilah melakukannya sambil memeluk badanku. Penisku yang sudah memanjang dan tegang sekali segera meloncat keluar dan menekan perutnya. Uuuhh, rasanya nikmat sekali ketika kulit kita yang sama-sama telanjang bersentuhan, bergesekan, dan menempel dengan ketat. Bibir kita saling melumat dengan nafas yang semakin memburu. Tanganku meremas pantatnya, mengusap punggungnya, mengelus pahanya, dan meremasi susunya dengan bergantian. Tangan Nabilah juga sudah menggenggam dan mengelusi penisku. Badan Nabilah bergelinjangan, dan dari mulutnya keluar rintihan yang semakin membangkitkan birahiku. Karena rumah memang sepi, kita jadi mengerang dengan bebas.

    Kemudian sambil tetap meremasi penisku, Nabilah mulai merendahkan badannya, sampai akhirnya dia berlutut dan mukanya tepat di depan selangkanganku. Matanya memandangi penisku yang semakin keras di dalam genggamannya, dan mulutnya setengah terbuka. Penisku terus dinikmati, dipandangi tanpa berkedip, dan rupanya makin membuat nafsunya memuncak. Mulutnya perlahan mulai didekatkan ke kepala penisku. Aku melihatnya dengan gemas sekali. Kepalaku sampai terdongak ketika akhirnya bibirnya mengecup kepala penisku. Tangannya masih menggenggam pangkal penisku, dan mengelusnya pelan-pelan. Mulutnya mulai mengecupi kepala penisku berulang-ulang, kemudian memakai lidahnya untuk meratakan cairan penisku. Lidahnya memutar-mutar, kemudian mulutnya mulai mengulum dengan lidah tetap memutari kepala penisku. Aku semakin mengerang, dan karena tidak tahan, kudorong penisku sampai terbenam kemulutnya. Aku rasa ujungnya sampai ketenggorokannya. Rasanya nikmat sekali. Kemudian pelan-pelan penisku disedot-sedot dan dimaju mundurkan di dalam mulutnya. Rambutnya kuusap-usap dan kadang-kadang kepalanya aku tekan-tekan agar penisku semakin nikmat. Isapan mulutnya dan lidahnya yang melingkar-lingkar membuat aku merasa sudah tidak tahan. Apalagi sewaktu Nabilah melakukannya semakin cepat, dan semakin cepat, dan semakin cepat.

    Ketika akhirnya aku merasa spermaku mau muncrat, segera kutarik penisku dari mulutnya. Tapi Nabilah menahannya dan tetap menghisap penisku. Maka aku pun tidak bisa menahan lebih lama lagi, spermaku muncrat di dalam mulutnya dengan rasa nikmat yang luar biasa. Spermaku langsung ditelannya dan dia terus menghisapi dan menyedot penisku sampai spermaku muncrat berkali-kali. Badanku sampai tersentak-sentak merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Meskipun spermaku sudah habis, mulut Nabilah masih terus menjilat. Akupun akhirnya tidak kuat lagi berdiri dan akhirnya dengan nafas sama-sama tersengal-sengal kita berbaring di karpet dengan mata terpejam.
    “Thanks ya Bil, tadi itu nikmat sekali”, kataku berbisik.
    “Ah.. aku juga suka kok.., makasih juga kamu ngebolehin aku mainin kamu.”
    Kemudian ujung hidungnya kukecup, matanya juga, kemudian bibirnya. Mataku memandangi tubuhnya yang terbaring telanjang, alangkah indahnya. Pelan-pelan kuciumi lehernya, dan aku merasa nafsu kami mulai naik lagi. Kemudian mulutku turun dan menciumi susunya yang sebelah kanan sedangkan tanganku mulai meremas susu yang kiri. Nabilah mulai menggeliat-geliat, dan erangannya membuat mulut dan tanganku tambah gemas memainkan susu dan putingnya. Aku terus menciumi untuk beberapa saat, dan kemudian pelan-pelan aku mulai mengusapkan tanganku keperutnya, kemudian ke bawah lagi sampai merasakan bulu kemaluannya, kuelus dan kugaruk sampai mulutnya menciumi kupingku. Pahanya mulai aku renggangkan sampai agak mengangkang. Kemudian sambil mulutku terus menciumi susunya, jariku mulai memainkan clitorisnya yang sudah mulai terangsang juga. Cairan vaginanya kuusap-usapkan ke seluruh permukaan vaginanya, juga ke clitorisnya, dan semakin licin clitoris dan vaginanya, membuat Nabilah semakin menggelinjang dan mengerang. clitorisnya kuputar-putar terus, juga mulut vaginanya bergantian.

    “Ahh.. Dodiii.. aahh.. terusss… aahh.. sayaanggg..” mulutnya terus meracau sementara pinggulnya mulai bergoyang-goyang. Pantatnya juga mulai terangkat-angkat. Aku pun segera menurunkan kepalaku ke arah selangkangannya, sampai akhirnya mukaku tepat di selangkangannya. Kedua kakinya kulipat ke atas, kupegangi dengan dua tanganku dan pahanya kulebarkan sehingga vagina dan clitorisnya terbuka di depan mukaku. Aku tidak tahan memandangi keindahan vaginanya. Lidahku langsung menjulur dan mengusap clitoris dan vaginanya. Cairan vaginanya kusedot-sedot dengan nikmat. Mulutku menciumi mulut vaginanya dengan ganas, dan lidahku kuselip-selipkan ke lubangnya, kukait-kaitkan, kugelitiki, terus begitu, sampai pantatnya terangkat, kemudian tangannya mendorong kepalaku sampai aku terbenam di selangkangannya. Aku jilati terus, clitorisnya kuputar dengan lidah, kuhisap, kusedot, sampai Nabilah meronta-ronta. Aku merasa penisku sudah tegak kembali, dan mulai berdenyut-denyut.

    “Dodii.. aku tidak tahan.. aduuhh.. aahh.. enaakk sekaliii.. ” rintih Nabilah berulang-ulang.

    Mulutku sudah berlumuran cairan vaginanya yang semakin membuat nafsuku tidak tertahankan. Kemudian kulepaskan mulutku dari vaginanya. Sekarang giliran penisku kuusap-usapkan ke clitoris dan bibir vaginanya, sambil aku duduk mengangkang juga. Pahaku menahan pahanya agar tetap terbuka. Rasanya nikmat sekali ketika penisku digeser-geserkan di vaginanya. Nabilah juga merasakan hal yang sama, dan sekarang tangannya ikut membantu dan menekan penisku digeser-geserkan di clitorisnya.
    “Nabilahii.. aahh.. enakkk.. aahh..”
    “aahh.. iya.. eeennaakkk sekaliii..”
    Kita saling merintih. Kemudian karena penisku semakin gatal, aku mulai menggosokkan kepala penisku ke mulut vaginanya. Nabilah semakin menggelinjang. Akhirnya aku mulai mendorong pelan sampai kepala penisku masuk ke vaginanya.
    “Aduuuhh.. Dodii.. saakiiitt.. aadduuuhh.. jaangaann..” rintihnya
    “Tahan dulu sebentar… Nanti juga hilang sakitnya..” kataku membujuk
    Kemudian pelan-pelan penisku aku keluarkan, kemudian kutekan lagi, kukeluarkan lagi, kutekan lagi, kemudian akhirnya kutekan lebih dalam sampai masuk hampir setengahnya. Mulut Nabilah sampai terbuka tapi sudah tidak bisa bersuara.

    Punggungnya terangkat dari karpet menahan desakan penisku. Kemudian pelan-pelan kukeluarkan lagi, kudorong lagi, kukeluarkan lagi, terus sampai dia tenang lagi. Akhirnya ketika aku mendorong lagi kali ini kudorong sampai amblas semuanya ke dalam. Kali ini kita sama-sama mengerang dengan keras. Badan kita berpelukan, mulutnya yang terbuka kuciumi, dan pahanya menjepit pinggangku dengan keras sekali sehingga aku merasa ujung penisku sudah mentok ke dinding vaginanya. Kita tetap berpelukan dengan erat saling mengejang untuk beberapa saat lamanya. Mulut kami saling menghisap dengan kuat. Kita sama-sama merasakan keenakan yang tiada taranya. Setelah itu pantatnya sedikit demi sedikit mulai bergoyang, maka aku pun mulai menggerakkan penisku pelan-pelan, maju, mundur, pelan, pelan, semakin cepat, semakin cepat, dan goyangan pantat Nabilah juga semakin cepat.
    “Dodii.. aduuuhh.. aahh.. teruskan sayang.. aku hampir niihh..” rintihnya.
    “Iya.. nihh.. tahan dulu.. aku juga hampirr.. kita bareng ajaa..” kataku sambil terus menggerakkan penis semakin cepat. Tanganku juga ikut meremasi susunya kanan dan kiri. Penisku semakin keras, kuhunjam-hunjamkan ke dalam vaginanya sampai pantatnya terangkat dari karpet. Dan aku merasa vaginanya juga menguruti penisku di dalam. Penisku kutarik dan kutekan semakin cepat, semakin cepat.. dan semakin cepat.. dannn..”Raaniii.. aku mau keluar niihh..””Iyaa.. keluarin saja.. Nabilah juga keluar sekarang niiihh.”Aku pun menghunjamkan penisku keras-keras yang disambut dengan pantat Nabilah yang terangkat ke atas sampai ujung penisku menumbuk dinding vaginanya dengan keras. Kemudian pahanya menjepit pahaku dengan keras sehingga penisku makin mentok, tangannya mencengkeram punggungku. Vaginanya berdenyut-denyut. Spermaku memancar, muncrat dengan sebanyak-banyaknya menyirami vaginanya.
    “aahh… aahh.. aahh..” kita sama-sama mengerang, dan vaginanya masih berdenyut, mencengkeram penisku, sehingga spermaku berkali-kali menyembur. Pantatnya masih juga berusaha menekan-nekan dan memutar sehingga penisku seperti diperas. Kita orgasme bersamaan selama beberapa saat, dan sepertinya tidak akan berakhir. Pantatku masih ditahan dengan tangannya, pahanya masih menjepit pahaku erat-erat, dan vaginanya masih berdenyut meremas-remas penisku dengan enaknya sehingga sepertinya spermaku keluar semua tanpa tersisa sedikitpun.
    “aahh.. aahh.. aduuuhh…” Kita sudah tidak bisa bersuara lagi selain mengerang-erang keenakan.

    Ketika sudah mulai kendur, kuciumi Nabilah dengan penis masih di dalam vaginanya. Kita saling berciuman lagi untuk beberapa saat sambil saling membelai. Kuciumi terus sampai akhirnya aku menyadari kalau Nabilah sedang menangis. Tanpa berbicara kita saling menghibur. Aku menyadari bahwa selaput daranya telah robek karena penisku. Dan ketika penisku kucabut dari sela-sela vaginanya memang mengalir darah yang bercampur dengan spermaku. Kita terus saling membelai, dan Nabilah masih mengisak di dadaku, sampai akhirnya kita berdua tertidur kelelahan dengan berpelukan.

    Aku terbangun sekitar jam 11 malam, dan kulihat Nabilah masih terlelap di sampingku masih telanjang bulat. Segera aku bangun dan kuselimuti badannya pelan-pelan. Kemudian aku segera ke kamar mandi, kupikir shower dengan air hangat pasti menyegarkan. Aku membiarkan badanku diguyur air hangat berlama-lama, dan memang menyegarkan sekali. Waktu itu kupikir aku sudah mandi sekitar 20 menit, ketika aku merasa kaget karena ada sesuatu yang menyentuh punggungku. Belum sempat aku menoleh, badanku sudah dilingkari sepasang tangan. Ternyata Nabilah sudah bangun dan masuk ke kamar mandi tanpa kuketahui. Tangannya memelukku dari belakang, dan badannya merapat di punggungku.
    “Aku ikut mandi yah..?” katanya.
    Aku tidak menjawab apa-apa. Hanya tanganku mengusap-usap tangannya yang ada di dadaku, sambil menenangkan diriku yang masih merasa kaget. Sambil tetap memelukku dari belakang, Nabilah mengambil sabun dan mulai mengusapkannya di dadaku. Nafsuku mulai naik lagi, apalagi aku juga merasakan susunya yang menekan punggungku. Usapan tangan Nabilah mulai turun ke arah perutku, dan penisku mulai berdenyut dan berangsur menjadi keras. Tidak lama kemudian tangan Nabilah sampai di selangkanganku dan mulai mengusap penisku yang semakin tegak. Sambil menggenggam penisku, Nabilah mulai menciumi belakang leherku sambil mendesah-desah, dan badannya semakin menekan badanku. Selangkangan dan susunya mulai digesek-gesekkan ke pantat dan punggungku, dan tangannya yang menggenggam penisku mulai meremas-remas dan digerakkan ke pangkal dan kepala penisku berulang-ulang sehingga aku merasakan kenikmatan yang luar biasa.

    “Nabilahii oohh.. nikmat sekali sayang.”
    “Dodiii uuuhh”, erangnya sambil lidahnya semakin liar menciumi leherku. Aku yang sudah merasa gemas sekali segera menarik badannya, dan sekarang posisi kita berbalik. Aku sekarang memeluk badannya dari belakang, kemudian pahanya kurenggangkan sedikit, dan penisku diselinapkan di antara pahanya, dan ujungnya yang nongol di depan pahanya langsung di pegang lagi oleh Nabilah. Tangan kiriku segera meremasi susunya dengan gemas sekali, dan tangan kananku mulai meremasi bulu kemaluannya. Kemudian ketika jari tangan kananku mulai menyentuh clitorisnya, Nabilah pun mengerang semakin keras dan pahanya menjepit penisku, dan pantatnya mulai bergerak-gerak yang membuat aku semakin merasa nikmat. Mukanya menengok ke arahku, dan mulutnya segera kuhisap dengan keras. Lidah kami saling membelit, dan jari tanganku mulai mengelusi clitorisnya yang semakin licin. Kepala penisku juga mulai dikocok-kocok dengan lembut.
    “Nabilah aku tidak tahan nih aduuuhh.”
    “Iya Dod.. aku juga sudah tidak tahan.. uuuhh.. uuuhh.”
    Badan Nabilah segera kubungkukkan, dan kakinya kurenggangkan. Aku segera mengarahkan dan menempelkan ujung penisku ke arah bibir vaginanya yang sudah menganga lebar menantang.
    “Dodi.. cepat masukkan sayang cepat uuhh ayoo.” Aku yang sudah gemas sekali segera menekan penisku sekuat tenaga sehingga langsung amblas semua sampai ke dasar vaginanya. Nabilah menjerit keras sekali. Mukanya sampai mendongak.
    “aahh.. kamu kasar sekali.. aduuhh sakit aduuhh..” Aku yang sudah tidak sabar mulai menggerakkan penisku maju mundur, kuhunjam-hunjamkan dengan kasar yang membuat Nabilah semakin keras mengerang-erang. Susunya aku remas-remas dengan dua tanganku. Tidak lama kemudian Nabilah mulai menikmati permainan kita, dan mulai menggoyangkan pantatnya. Vaginanya juga mulai berdenyut meremasi penisku. Aku menjadi semakin kasar, dan penisku yang sudah keras sekali terus mendesak dasar vaginanya. Dan kalau penisku sedang maju membelah vaginanya, tanganku juga menarik pantatnya ke belakang sehingga penisku menghunjam dengan kuat sekali. Tapi tiba-tiba Nabilah melepaskan diri.
    “hh sekarang giliranku aku sudah hampir sampai.” katanya. Kemudian aku disuruh duduk selonjor di lantai di antara kaki Nabilah yang mulai menurunkan badannya. Penisku yang mengacung ke atas mulai dipegang Nabilah, dan di arahkan ke bibir vaginanya.

    Tiba-tiba Nabilah menurunkan badannya duduk di pangkuanku sehingga penisku langsung amblas ke dalam vaginanya. Kita sama-sama mengerang dengan keras, dan mulutnya yang masih menganga kuciumi dengan gemas. Kemudian pantatnya mulai naik turun, makin lama makin keras. Nabilah melakukannya dengan ganas sekali. Pantatnya juga diputar-putar sehingga aku merasa penisku seperti dipelintir.
    “Dodii.. aku.. aku.. sudah.. hampirrr, uuuhh…” Erangnya sambil terus menghunjam-hunjamkan pantatnya. Mulutku beralih dari mulutnya ke susunya yang bulat sekali. Putingnya kugigit-gigit, dan lidahku berputar menyapu permukaan susunya. Susunya kemudian kusedot dan kukenyot dengan keras, membuat gerakan Nabilah semakin liar. Tidak lama kemudian Nabilah menghunjamkan pantatnya dengan keras sekali dan terus menekan sambil memutar pantatnya.
    “Sekaranggg aahh sekaranggg Dodi, sekaranggg”, Nabilah berteriak-teriak sambil badannya berkelojotan. Vaginanya berdenyutan keras sekali. Mulutnya menciumi mulutku, dan tangannya memelukku sangat keras. Nabilah orgasme selama beberapa detik, dan setelah itu ketegangan badannya berangsur mengendur.
    “Dod, makasih yah.., sekarang aku pengin ngisep boleh yah..?” katanya sambil mengangkat pantatnya sampai penisku lepas dari vaginanya. Nabilah kemudian menundukkan mukanya dan segera memegang penisku yang sangat keras, berdenyut, dan ingin segera memuntahkan air mani. Mulutnya langsung menelan senjataku sampai menyentuh tenggorokannya. Tangannya kemudian mengocok pangkal penisku yang tidak muat di mulutnya. Kepalanya naik turun mengeluar-masukkan penisku. Aku benar-benar sudah tidak tahan. Ujung penisku yang sudah sampai di tenggorokannya masih aku dorong-dorong. Tanganku juga ikut mendesakkan kepalanya. Lidahnya memutari penisku yang ada dalam mulutnya. “Nabilahii isap terus terusss hampirr terusss yyyaa sekaranggg sekarangg.. issaapp..”, Nabilah yang merasa penisku hampir menyemburkan sperma semakin menyedot dengan kuat. Dan…”aahh.. sekaranggg.. sekaranggg.. issaappp..” spermaku menyembur dengan deras berkali-kali dengan rasa nikmat yang tidak berkesudahan. Nabilah dengan rakusnya menelan semuanya, dan masih menyedot sperma yang masih ada di dalam penis sampai habis. Nabilah terus menyedot yang membuat orgasmeku semakin nikmat. Dan setelah selesai, Nabilah masih juga menjilati penisku, spermaku yang sebagian tumpah juga masih di jilati.

    Kemudian setelah beristirahat beberapa saat, kami pun meneruskan mandi sambil saling menyabuni. Setiap lekuk tubuhnya aku telusuri. Dan aku pun semakin menyadari bahwa badannya sangat indah. Setelah itu kami tidur berdua sambil terus berpelukan.

    Pagi-pagi ketika aku bangun ternyata Nabilah sudah berpakaian rapi, dan dia cantik sekali. Dia mengenakan rok mini dan baju tanpa lengan yang serasi dengan kulitnya yang halus. Dia mengajakku belanja ke Mall karena persediaan makanan memang sudah habis. Maka aku pun segera mandi dan bersiap-siap.

    Di perjalanan dan selama berbelanja kita saling memeluk pinggang. Siang itu aku menikmati jalan berdua dengannya. Kita belanja selama beberapa jam, kemudian kita mampir ke sebuah Café untuk makan siang. Di dalam mobil dalam perjalanan pulang kita ngobrol-ngobrol tentang semua hal, dari masalah pelajaran sekolah sampai hal-hal yang ringan. Ketika ngobrol tentang sesuatu yang lucu, Nabilah tertawa sampai terpingkal-pingkal, dan saking gelinya sampai kakinya terangkat-angkat. Dan itu membuat roknya yang pendek tersingkap. Aku pun sembari menyetir, karena melihat pemandangan yang indah, meletakkan tanganku ke pahanya yang terbuka.
    “Ayo.. nakal yah..” kata Nabilah, bercanda.
    “Tapi suka kan?” kataku sambil meremas pahanya. Kami pun sama-sama tersenyum. Mengusap-usap paha Nabilah memang memberi sensasi tersendiri, sampai aku merasa penisku menjadi tegang sendiri.
    “Dodi.. sudah kamu nyetir saja dulu, tuh kan itunya sudah bangun.. pingin lagi yah? Nabilah jadi pengin ngelusin itunya nih..” kata Nabilah menggodaku. Aku cuma senyum menanggapinya, dan memang aku sudah kepingin mencumbunya lagi.
    “Dodi, bajunya dikeluarin dong dari celana, biar tanganku ketutupan. Dipegang yah?” Aku semakin nyengir mendengarnya. Tapi karena memang kepingin, dan memang lebih aman begitu dari pada aku yang meneruskan aksiku. Sambil menyetir aku pun mengeluarkan ujung bajuku dari celanaku. Kemudian tanpa menunggu, tangan Nabilah langsung menyelinap ke balik bajuku, ke arah selangkanganku. Tangannya mencari-cari penisku yang semakin tegang.

    “Ati-ati, masih siang nih, kalau ada orang nanti tangan kamu ditarik yah!” kataku. Nabilah diam saja, dan kemudian tersenyum ketika tangannya menemukan apa yang dicari-cari. Tangannya kemudian mulai meremas penisku yang masih di dalam celana. Penisku semakin tegang dan berdenyut-denyut. Karena terangsang juga, Nabilah mulai berusaha membuka ritsluiting celanaku, dan kemudian menyelinapkan tangannya, dan mulai memegang kepala penisku. Cairan pelumas yang mulai keluar diusap-usapkan ke kepala dan batang penisku.
    “Dodi.. aku pengin ngisep ininya.. aku pengin ngisep sampai kamu keluar dimulutku..” katanya sambil agak mendesah. Aku juga ingin segera merasakan apa yang dia ingini. Yang ada di otakku adalah segara sampai di rumah, dan segera mencumbunya.

    Tapi harapan kita ternyata tidak segera terwujud karena sesampainya di rumah, ternyata orang tua Nabilah sudah pulang. Kita cuma saling berpandangan dan tersenyum kecewa.
    “Eh, sudah pada pulang yah..” Nabilah menyapa mereka.
    “Iya nih, ada perubahan acara mendadak. Makanya sekarang cape banget. Nanti malem ada undangan pesta, makanya sekarang mau istirahat dulu. Kamu masak dulu saja ya sayang.. sudah belanja kan?” kata maminya Nabilah.
    “Iya deh, sebentar Nabilah ganti baju dulu. Eh, Dodi, katanya kamu pengin belajar masak, ayo, sekalian bantuin aku”, kata Nabilah sambil tersenyum penuh arti. Aku cuma mengiyakan dan ke kamarku ganti pakaian dengan celana pendek dan T-shirt. Kemudian aku ke dapur dan mengeluarkan belanjaan dan memasukkannya ke lemari es. Tidak lama kemudian Nabilah menyusul ke dapur. Dia pun sudah berganti pakaian, dan sekarang memakai daster kembang-kembang. Tante juga ikut-ikutan menyiapkan bahan makanan dan Nabilah mulai mengajariku memasak.
    “Sudah Mami istirahat saja sana, kan ini juga sudah ada yang ngebantuin..” kata Nabilah.
    “Iya deh, emang Mami cape banget sih, sudah yah, Mami mau coba istirahat saja”, kata Maminya Nabilah sambil keluar dari dapur. Aku yang sedang memotongi sayuran cuma tersenyum. Setelah beberapa saat, Nabilah tiba-tiba memelukku dari belakang, tangannya langsung ditelusupkan ke dalam celanaku dan memegang penisku yang masih tidur.

    “Eh.. kok ininya bobo lagi.. Nabilah bangunin yah?” tangannya dikeluarkan kemudian Nabilah mengambil salad dressing yang ada di depanku, masih sambil merapatkan badannya dari belakangku. Kemudian salad dressingnya dituangkan ke tangannya, dan langsung menyelinap lagi ke celana dan dioleskan ke penisku yang langsung menegang. Sambil merapatkan badannya, susunya menekan punggungku, Nabilah mulai meremasi penisku dengan dua tangannya. Nikmat yang aku rasakan sangat luar biasa. Aku segera melingkarkan tangan ke belakang, meremas pantatnya yang bulat itu. Tanganku aku turunkan sampai ke ujung dasternya, kemudian kusingkapkan ke atas sambil meremas pahanya dengan gemas. Ketika sampai di pangkal pahanya, aku baru menyadari kalau Nabilah ternyata sudah tidak memakai celana dalam. Maka tanganku menjadi semakin gemas meremasi pantatnya, dan kemudian menelusuri pahanya ke depan sampai ke selangkangannya. Jari-jariku segera membuka belahan vaginanya dan mulai memainkan clitorisnya yang sudah sangat basah terkena cairan yang semakin banyak keluar dari vaginanya. Tangan Nabilah juga semakin liar meremas, meraba dan mengocok penisku.
    “Nabilah.. sana diliat dulu, apa Om dan Tante memang sudah tidur..” kataku berbisik karena merasa agak tidak aman. Nabilah kemudian melepaskan pegangannya dan keluar dapur.

    Tidak lama kemudian Nabilah kembali dan bilang semuanya sudah tidur. Aku segera memeluk Nabilah yang masih ada di pintu dapur, kemudian pelan-pelan pintu kututup dan Nabilah kupepet ke dinding. Kita berciuman dengan gemasnya dan tangan kita langsung saling menelusup dan memainkan semua yang ditemui. Penisku langsung ditarik keluar oleh Nabilah dan aku segera menyingkap dasternya ke atas, kemudian kaki kirinya kuangkat ke pinggulku, dan selangkangannya yang menganga langsung kuserbu dengan jari-jariku. Tangan Nabilah menuntun penisku ke arah selangkangannya, menyentuhkan kepala penisku ke belahan vaginanya dan terus-terusan menggosok-gosokkannya. Untuk mencegah agar Nabilah tidak mengerang, mulutnya terus kusumbat dengan mulutku. Kemudian karena sudah tidak tahan, aku segera mengarahkan penisku tepat ke mulut vaginanya, dan menekan pelan-pelan, terus ditekan, terus ditekan sampai seluruh batangnya amblas. Kaki Nabilah satunya segera kuangkat juga ke pinggangku, sehingga sekarang dua kakinya melingkari pinggangku sambil kupepet di dinding. Kita saling mengadu gerakan, aku maju-mundurkan penisku, dan Nabilah berusaha menggoyang-goyangkan pantatnya juga. Vaginanya berdenyutan terasa meremasi batang penisku. Tidak lama kemudian aku merasa Nabilah hampir orgasme. Denyutan vaginanya semakin keras, badannya semakin tegang dan isapan mulutnya di mulutku semakin kuat. Kemudian aku merasa Nabilah orgasme. Kontraksi otot vaginanya membuat penisku merasa seperti diurut-urut dan aku juga merasa hampir mencapai orgasme. Setelah orgasme, gerakan Nabilah tidak liar lagi, dia cuma mengikuti gerakan pantatku yang masih menghunjam-hunjamkan penisku dan mendesakkan badannya ke dinding.

    Kemudian sementara penisku masih di dalam dan kaki Nabilah masih di pinggangku, aku melangkah ke arah meja dapur dan duduk di salah satu kursi, sehingga sekarang Nabilah ada di pangkuanku dengan punggung menyandar di meja dapur. Selama beberapa saat kita cuma berdiam diri saja. Nabilah masih menikmati sisa kenikmatan orgasmenya dan menikmati penisku yang masih di dalam vaginanya. Sementara aku menikmati sekali posisi ini, dan menikmati melihat Nabilah ada di pangkuanku. Tanganku mengusap-usap pahanya dan menyingkapkan dasternya ke atas sampai melihat bulu kemaluan kami yang saling menempel. Belahan vaginanya kubuka dan aku melihat pemandangan yang sangat indah. Penisku hanya kelihatan pangkalnya karena seluruh batangnya masih di dalam vagina Nabilah, dan di atasnya aku melihat clitorisnya yang sangat basah. Jari-jariku mulai mengusap-usap clitorisnya sampai Nabilah mulai mendesis-desis lagi, dan pantatnya mulai bergerak lagi, berputar dan mendesakkan penisku menjadi semakin masuk. Aku merasa vaginanya mulai berdenyutan lagi meremas-remas penisku. Karena gemas, kadang-kadang clitorisnya kupelintir dan kucubit-cubit.

    Kemudian dasternya kusingkap semakin ke atas sampai aku melihat susunya yang menantangku untuk segera memainkannya. Dengan tak sabar segera susunya yang kiri kulumat dengan mulutku, yang membuat kepala Nabilah mendongak merasakan kenikmatan itu. Sambil melumati susunya, lidahku juga memainkan putingnya yang sudah sangat tegang. Kadang-kadang putingnya juga kugigit-gigit kecil dengan gemas. Tanganku dua-duanya meremasi pantatnya yang bulat.
    “Ya Tuhan Dodiii aahh aahh”, rintihnya di kupingku, sambil kadang menjilati dan menggigit kupingku.
    “Dodii.. aahh.. aku hampir dapet lagii.. ahh.., terus gitu sayang”, rintihnya dengan gerakan yang semakin liar. Pantatnya semakin keras menekan dan berputaran, yang membuat penisku juga seperti dipelintir dengan lembut. Aku pun menuruti dan terus memberikan kenikmatan dengan terus memainkan susunya bergantian yang kiri dan kanan, dan tanganku juga ikut memainkan puting susunya, sampai Nabilah tiba-tiba menggigit kupingku dengan keras dan setelah menghentakkan pantatnya dia memelukku dengan eratnya.
    “hh Dodddiii.. hh. hh.” Aku merasakan Nabilah orgasme untuk kedua kalinya dan lebih hebat dari yang pertama. Denyutan vaginanya keras sekali dan berlangsung selama beberapa detik, dan kenikmatan yang aku rasakan membuatku merasa sudah hampir orgasme. Tapi setelah orgasme, ternyata Nabilah masih ingat keinginannya untuk menghisap penisku.
    “Dodi.. jangan dikeluarin dulu.. nanti di mulutku saja yah”. Maka setelah turun dari pangkuanku, Nabilah segera jongkok di depanku dan langsung mengulum penisku. Lidahnya memutari batangnya dan mulutnya menyedot-nyedot membuat aku merasa orgasmeku sudah sangat dekat. Tanganku memegang belakang kepala Nabilah, dan kutekan agar penisku semakin masuk di mulutnya, kemudian aku juga membantu memasuk-keluarkan penisku di mulutnya, dan
    “aahh Nabilah aku keluarrr terus isaappp.. aahh..” dan memang Nabilah dengan lahapnya terus menghisap spermaku yang langsung berhamburan masuk ke tenggorokannya. Penisku yang masih mengeluarkan sperma terus disedot dan dikenyot-kenyot dan pangkal penisku juga terus-terusan dikocok-kocok. Orgasmeku kali ini kurasakan sangat luar biasa.

    Setelah itu kita kembali berciuman, dan kembali meneruskan memasak.
    “Dodi.. makasih yah, tapi aku belum puas, habis kurang bebas sih, entar malem lagi yah..!” aku yang merasa hal yang sama cuma mengangguk.
    “Ran, aku nanti malem pengin menikmati seluruh tubuhmu.”
    “Maksudmu..? apa selama ini belum?”
    “Aku pengin melakukan hal yang lain sama kamu.., tunggu saja..”
    “Ihh.. apaan sih.., Nabilah jadi merinding nih”, kata Nabilah sambil memperlihatkan bulu-bulu tangannya yang memang berdiri, dan sambil tersenyum aku mengelusi tangannya. Kemudian badannya kupeluk dari belakang dengan lembut. Aku merasa bahagia sekali.
    dan pada akhirnya akupun menjalin hubungan dengan Nabilah hingga kuliahku selesai

  • Nikmat Sekali

    Nikmat Sekali


    20 views

    Waktu itu Ronal yang masih duduk di perkuliahan mempunyai teman akrab namanya Ghina di aberasal dari Sumatera dan katanya dia masih menumpang di rumah tantenya, kebetulan hobi kitra sama yaitu naik gunung pecinta alam kita sering bersama kadang aku juga maen kerumahnya, dan bisa lebih karena aku juga naksir dengan adik sepupunya namanya Lusi.

    cerita-sex-dewasa-nikmat-sekali
    Lusi adalah anak dari tante yang rumahnya ditumpangi oleh Ghina, walaupun aku sudah akrab dengan keluarganya tante tapi aku tak langsung pacari si Lusi, tapi selama perjalanan waktu sudah berubah dimana ayah Lusi yang wakil rakyat meninggal dunia.

    Jadi Sekarang Ibunya yang mengurus semua perusahaan yang dikendalaikan ayah Lusi, Harapanku untuk memacari Lusi tetap ada, walaupun saat aku berkunjung kerumahnya jarang bertemu langsung dengan Lusi, malah Ibunya yang namanya Ita menemaniku, karena kesibukannya Lusi yang di Jakarta sedang belajar di sekolah presenter stasiun TV swasta.

    Tapi sebenarnya kalau mau jujur Lusi masih kalah dengan ibunya. Bu Ita lebih cantik.,kulitnya lebih putih bersih, dewasa dan tenang pembawaannya. Sementara Lusi agak sawo matang, nurun ayahnya kali? Seandainya Lusi seperti ibunya: tenang pembawaannya, keibuan dan penuh perhatian, baik juga.

    Sekarang, di rumah yang cukup mewah itu hanya ada bu Ita dan seorang pembantu. Ghina sudah tidak di situ, sementara Lusi sekolah di ibukota, paling-paling seminggu pulang. Akhirnya saya di suruh bu Ita untuk membantu sebagai karyawan tidak tetap mengelola perusahaannya. Untungnya saya memiliki kemampuan di bidang komputer dan manajemennya, yang saya tekuni sejak SMA.

    Setelah mengetahui manajemen perusahaan bu Ita lalu saya menawari program akuntansi dan keuangan dengan komputer, dan bu Ita setuju bahkan senang. Merencanakan kalkulasi biaya proyek yang ditangani perusahaannya, dsb.

    Saya menyukai pekerjaan ini. Yang jelas bisa menambah uang saku saya, bisa untuk membantu kuliah, yang saat itu baru semester dua. Bu Ita memberi honor lebih dari cukup menurut ukuran saya. Pegawai bu Ita ada tiga cewek di kantor, tambah saya, belum termasuk di lapangan.

    Saya sering bekerja setelah kuliah, sore hingga malam hari, datang menjelang pegawai yang lain pulang. Itupun kalau ada proyek yang harus dikerjakan. Part time begitu. Bagi saya ini hanya kerja sambilan tapi bisa menambah pengalaman.

    Karena hubungan kerja antara majikan dan pegawai, hubungan saya dengan bu Ita semakin akrab. Semula sih biasa saja, lambat-laun seperti sahabat, curhat, dan sebagainya.

    Aku sering dinasehati, bahkan saking akrabnya, bercanda, saya sering pegang tangannya, mencium tangan, tentu saja tanpa diketahui rekan kerja yang lain. Dan rupanya dia senang. Tapi aku tetap menjaga kesopanan.

    Pengalaman ini yang mendebarkan jantungku, betapapun dan siapapun bu Ita, dia mampu menggetarkan dadaku. Walaupun sudah cukup umur wanita ini tetap jelita. Saya kira siapapun orangnya pasti mengatakan orang ini cantik bahkan cantik sekali.

    Dasar pandai merawat tubuh, karena ada dana untuk itu, rajin fitnees, di rumah disediakan peralatannya. Kalau sedang fitnees memakai pakaian fitnees ketat sangat sedap dipandang. Ini sudah saya ketahui sejak saya SMA dulu, tapi karena saya kepingin mendekati Lusi, hal itu saya kesampingkan.

    Data-data pribadi bu Ita saya tahu betul karena sering mengerjakan biodata berkaitan dengan proyek-proyeknya. Tingginya 161 cm, usianya saat kisah ini terjadi 37 tahun, lima bulan dan berat badannya 52 kg. Cukup ideal.

    Pada suatu hari saya lembur, karena ada pekerjaan proyek dan paginya harus didaftarkan untuk diikutkan tender. Pukul 22.00 pekerjaan belum selesai, tapi aku agak terhibur bu Ita mau menemaniku, sambil mengecek pekerjaanku.

    Dia cukup teliti. Kalau kerja lembur begini ia malah sering bercanda. Bahkan kalau minumanku habis dia tidak segan-segan yang menuang kembali, aku malah menjadi kikuk. Dia tak enggan pegang tanganku, mencubit, namun aku tak berani membalas.

    Apalagi bila sedang mencubit dadaku aku sama sekali tidak akan membalas. Dan yang cukup surprise tanpa ragu memijit-pijit bahuku dari belakang.

    “Capek ya..? Saya pijit, nih”, katanya.

    Aku hanya tersenyum, dalam hati senang juga, dipijit janda cantik. Apalagi yang kurasakan dadanya, pasti teteknya menyenggol kepalaku bagian belakang, saya rasakan nyaman juga. Lama-lama pipiku sengaja saya pepetkan dengan tangannya yang mulus, dia diam saja.

    Dia membalas membelai-belai daguku, yang tanpa rambut itu. Aku menjadi cukup senang. Hampir pukul 23.00 baru selesai semua pekerjaan, saya membersihkan kantor dan masih dibantu bu Ita. Wah wanita ini betul-betul seorang pekerja keras, gumanku dalam hati.

    Saya bersiap-siap untuk pulang, tapi dibuatkan kopi, jadi kembali minum.

    “Kamu sudah punya pacar Ron?”

    “Belum Bu”, jawabku

    “Masa.., pasti kamu sudah punya. Cewek mana yang tak mau dengan cowok ganteng”, katanya

    “Belum Bu, sungguh kok”, kataku lagi. Kami duduk bersebelahan di sofa ruang tengah, dengan penerangan yang agak redup. Entah siapa yang mendahului, kami berdua saling berpegangan tangan saling meremas lembut. Yang jelas semula saya sengaja menyenggol tangannya

    Mungkin karena terbawa suasana malam yang dingin dan suasana ruangan yang syahdu, dan terdengar suara mobil melintas di jalan raya serta sayup-sayup suara binatang malam, saya dan bu Ita hanyut terbawa oleh suasana romantis.

    Bu Ita yang malam itu memakai gaun warna hitam dan sedikit motif bunga ungu. Sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih.

    Wanita pengusaha ini makin mendekatkan tubuhnya ke arahku. Dalam kondisi yang baru aku alami ini aku menjadi sangat kikuk dan canggung, tapi anehnya nafasku makin memburu, kejar-kejaran dan bergelora seperti gemuruh ombak di Pelabuhan Ratu. Saya menjadi bergemetaran, dan tak mampu berbuat banyak, walau tanganku tetap memegang tangannya.

    “Dingin ya Ron..?!”, katanya sendu.

    Sementara tangan kiriku ditarik dan mendekap lengan kirinya yang memang tanpa lengan baju itu.
    “Ya, Bu dingin sekali”, jawabku.

    Terasa dingin, sementara tangannya juga merangkul pinggangku. Bau wewanginan semerbak di sekitar, aku duduk, menambah suasana romantis

    “Kalau ketahuan Darti (pembantunya), gimana Bu?”, kataku gemetar.

    “Darti tidak akan masuk ke sini, pintunya terkunci”, katanya.Cerita Sex Dewasa

    Saya menjadi aman. Lalu aku mencoba mengecup kening wanita lincah ini, dia tersenyum lalu dia menengadahkan wajahnya. Tanpa diajari atau diperintah oleh siapapun, kukecup bibir indahnya.

    Dia menyambut dengan senyuman, kami saling berciuman bibir saling melumat bibir, lidah kami bertemu berburu mencari kenikmatan di setiap sudut-sudut bibir dan rongga mulut masing-masing. Tangankupun mulai meraba-raba tubuh sintal bu Ita, diapun tidak kalah meraba-raba punggungku dan bahkan menyusup dibalik kaosku. Aku menjadi semakin terangsang dalam permainan yang indah ini.

    Sejenak jeda, kami saling berpandangan dia tersenyum manis bahkan amat manis, dibanding waktu-waktu sebelumnya.

    Kami berangkulan kembali, seolah-olah dua sejoli yang sedang mabuk asmara sedang bermesraan, padahal antara majikan dan pegawainya. Dia mulai mencumi leherku dan menggigit lembut semantara tanganku mulai meraba-raba tubuhnya, pertama pantatnya, kemudian menjalar ke pinggulnya.

    “Sejak kamu kesini dengan Ghina dulu, saya sudah berpikir: “Ganteng banget ini anak!””, katanya setengah berbisik.

    “Ah ibu ada-ada saja”, kataku mengelak walaupun saya senang mendapat sanjungan.

    “Saya tidak merayu, sungguh”, katanya lagi.

    Kami makin merangsek bercumbu, birahiku makin menanjak naik, dadaku semakin bergetar, demikian juga dada bu Ita. Diapun nampak bergetaran dan suaranya agak parau.

    Kemudian saya beranjak, berdiri dan menarik tangan bu Ita yang supaya ikut berdiri. Dalam posisi ini dia saya dekap dengan hangatnya. Hasrat kelakianku menjadi bertambah bangkit dan terasa seakan membelah celana yang saya pakai.

    Lalu saya bimbing dia ke kamarnya, bagai kerbau dicocok hidungnya bu Ita menurut saja. Kami berbaring bersama di spring bed, kembali kami bergumul saling berciuman dan becumbu.

    “Gimana kalau saya tidur di sini saja, Bu”, pintaku lirih.

    Ia berpikir sejenak lalu mengangguk sambil tersenyum. Kemudian dia beranjak menuju lemari dan mengambil pakaian sambil menyodorkan kepada saya.

    “Ini pakai punyaku”, dia menyodorkan pakaian tidur.

    Lalu aku melorot celana panjangku dan kaos kemudian memakai kimononya.

    Aku menjadi terlena. Dalam dekapannya aku tertidur. Baru sekitar setengah jam saya terbangun lagi. Dalam kondisi begini, jelas aku susah tidur.

    Udara terasa dingin, saya mendekapnya makin kencang. Dia menyusupkan kaki kanannya di selakangan saya. Penisku makin bergerak-gerak, sementara cumbuan berlangsung, penisku semakin menjadi-jadi kencangnya, yang sesungguhnya sejak tadi di sofa.

    Aku berpikir kalau sudah begini bagaimana? Apakah saya lanjutkan atau diam saja? Lama aku berfikir untuk mengatakan tidak! Tapi tidak bisa ditutupi bahwa hasrat, nafsu birahiku kuat sekali yang mendorong melonjak-lonjak dalam dadaku bercampur aduk sampai kepada ubun-ubunku.

    Walaupun aku diamkan beberapa saat, tetap saja kejaran libido yang terasa lebih kuat. Memang saya sadar, wanita yang ada didekapanku adalah majikanku, tantenya Ghina, mamanya Lusi, tapi sebagai pria normal dan dewasa aku juga merasakan kenikmatan bibir dan rasa perasaan bu Ita sebagai wanita yang sintal, cantik dan mengagumkan.

    Sedikitnya aku sudah merasakan kehangatannya tubuhnya dan perasaannya, meski pengalaman ini baru pertama kali kualami.

    Aku tak kuasa berkeputusan, dalam kondisi seperti ini aku semakin bergemetaran, antara mengelak dan hasrat yang menggebu-gebu. Aku perhatikan wajahnya di bawah sorot lampu bed, sengaja saya lihat lama dari dekat, wajahnya memancarkan penyerahan sebagai wanita, di depan lelaki dewasa.

    Pelan-pelan tanganku menyusup di balik gaunnya, meraba pahanya dia mengeliat pelan, saya tidak tahu apakah dia tidur atau pura-pura tidur. Aku cium lembut bibirnya, dan dia menyambutnya. Berarti dia tidak tidur. Ku singkap gaun tidurnya kemudian kulepas, dia memakai beha warna putih dan cedenya juga putih.

    Aku menjadi tambah takjub melihat kemolekan tubuh bu Ita, putih dan indah banget. Ku raba-raba tubuhnya, dia mengeliat geli dan membuka matanya yang sayu. Jari-jari lentiknya menyusup ke balik baju tidur yang kupakai dan menarik talinya pada bagian perutku, lalu pakaianku terlepas. Kini akupun hanya pakai cede saja.

    “Kamu ganteng banget, Ron, tinggi badanmu berapa, ya?”, bisiknya. Saya tersenyum senang.

    “Makasih. Ada 171. Bu Ita juga cantik sekali”, mendengar jawabanku, dia hanya tersenyum.

    Aku berusaha membuka behanya dengan membuka kaitannya di punggungnya, kemudian keplorotkan cedenya sehingga aku semakin takjub melihat keindahan alam yang tiada tara ini. Hal ini menjadikan dadaku semakin bergetar.

    Betapa tidak?! Aku berhadapan langsung dengan wanita tanpa busana yang bertubuh indah, yang selama ini hanya kulihat lewat gambar-gambar orang asing saja. Kini langsung mengamati dari dekat sekali bahkan bisa meraba-raba.

    Wanita yang selama ini saya lihat berkulit putih bersih hanya pada bagian wajah, bagian kaki dan bagian lengan ini, sekarang tampak seluruhnya tiada yang tersisa. Menakjubkan! Darahku semakin mendidih, melihat pemandangan nan indah itu.

    Di saat saya masih bengong, pelan-pelan aku melorot cedeku, saya dan bu Ita sama-sama tak berpakaian. Penisku benar-benar maksimal kencangnya. Kami berdua berdekapan, saling meraba dan membelai.

    Kaki kami berdua saling menyilang yang berpangkal di selakangan, saling mengesek. Penisku yang kencang ikut membelai paha indah bu Ita. Sementara itu ia membelai-belai lembut penisku dengan tangan halusnya, yang membawa efek nikmat luar biasa.

    Tanganku membela-belai pahanya kemudian kucium mulai dari lutut merambat pelan ke pangkal pahanya. Ia mendesah lembut. Dadaku makin bergetaran karena kami saling mencumbu, aku meraba selakangannya, ada rerumputan di sana, tidak terlalu lebat jadi enak dipandang.

    Dia mengerang lembut, ketika jemariku menyentuh bibir vaginanya. Mulutku menciumi payudaranya dengan lembut dan mengedot puntingnya yang berwarna coklat kemerah-merahan, lalu membenamkan wajahku di antara kedua susunya.

    Sementara tangan kiriku meremas lembut teteknya. Desisan dan erangan lembut muncul dari mulut indahnya. Aku semakin bernafsu walau tetap gemetaran. Tanganku mulai aktif memainkan selakangannya, yang ternyata basah itu.

    Saya penasaran, lalu kubuka kedua pahanya, kemudian kusingkap rerumputan di sekitar kewanitaannya. Bagian-bagian warna pink itu aku belai-belai dengan jemariku. Klitorisnya, ku mainkan, menyenangkan sekali.

    Ita mengerang lembut sambil menggerakkan pelan kaki-kakinya. Lalu jariku kumasukkan keterowongan pink tersebut dan menari-nari di dalamnya. Dia semakin bergelincangan. Kelanjutannya ia menarikku.Cerita Sex Dewasa

    “Ayo Ron”aku tak tahan”, katanya berbisik

    Dan merangkulku ketat sekali, sehingga bagian yang menonjol di dadanya tertekan oleh dadaku.
    Aku mulai menindih tubuh sintal itu, sambil bertumpu pada kedua siku-siku tanganku, supaya ia tidak berat menompang tubuhku.

    Sementara itu senjataku terjepit dengan kedua pahanya. Dalam posisi begini saja enaknya sudah bukan main, getaran jantungku makin tidak teratur. Sambil menciumi bibirnya, dan lehernya, tanganku meremas-remas lembut susunya.

    Penisku menggesek-gesek sekalangannya, ke arah atas (perut), kemudian turun berulang-ulang Tak lama kemudian kakinya direnggangkan, lalu pinggul kami berdua beringsut, untuk mengambil posisi tepat antara senjataku dengan lubang kewanitaannya. Beberapa kali kami beringsut, tapi belum juga sampai kepada sasarannya. Penisku belum juga masuk ke vaginanya

    “Alot juga”, bisikku. Bu Ita yang masih di bawahku tersenyum.

    “Sabar-sabar”, katanya. Lalu tangannya memegang penisku dan menuntun memasukkan ke arah kewanitaannya.

    “Sudah ditekan… pelan-pelan saja”, katanya. Akupun menuruti saja, menekan pinggulku…

    “Blesss”, masuklah penisku, agak seret, tapi tanpa hambatan. Ternyata mudah! Pada saat masuk itulah, rasa nikmatnya amat sangat. Seolah aku baru memasuki dunia lain, dunia yang sama sekali baru bagiku.

    Aku memang pernah melihat film orang beginian, tetapi untuk melakukan sendiri baru kali ini. Ternyata rasanya enak, nyaman, mengasyikkan. Wonderful! Betapa tidak, dalam usiaku yang ke 23, baru merasakan kehangatan dan kenikmatan tubuh wanita.

    Gerakanku mengikuti naluri lelakiku, mulai naik-turun, naik-turun, kadang cepat kadang lambat, sambil memandang ekspresi wajah bu Ita yang merem-melek, mulutnya sedikit terbuka, sambil keluar suara tak disengaja desah-mendesah. Merasakan kenikmatannya sendiri.

    “Ah… uh… eh… hem””

    Ketika aku menekankan pinggulku, dia menyambut dengan menekan pula ke atas, supaya penisku masuk menekan sampai ke dasar vaginanya. Getaran-getaran perasaan menyatu dengan leguhan dan rasa kenikmatan berjalan merangkak sampai berlari-lari kecil berkejar-kejaran.

    Di tengah peristiwa itu bu Ita berbisik

    “Kamu jangan terlalu keburu nafsu, nanti kamu cepat capek, santai saja, pelan-pelan, ikuti iramanya”, ketika saya mulai menggenjot dengan semangatnya.

    “Ya Bu, maaf”, akupun menuruti perintahnya.

    Lalu aku hanya menggerakkan pinggulku ala kadarnya mengikuti gerakan pinggulnya yang hanya sesekali dilakukan. Ternyata model ini lebih nyaman dan mudah dinikmati. Sesekali kedua kakinya diangkat dan sampai ditaruh di atas bahuku, atau kemudian dibuka lebar-lebar, bahkan kadang dirapatkan, sehingga terasa penisku terjepit ketat dan semakin seret.

    Gerak apapun yang kami lakukan berdua membawa efek kenikmatan tersendiri. Setelah lebih dari sepuluh menit , aku menikmati tubuhnya dari atas, dia membuat suatu gerakan dan aku tahu maksudnya, dia minta di atas.

    Aku tidur terlentang, kemudian bu Ita mengambil posisi tengkurap di atasku sambil menyatukan alat vital kami berdua. Bersetubuhlah kami kembali.Ia memasukkan penisku rasanya ketat sekali menghujam sampai dalam.

    Sampai beberapa saat bu Ita menggerakkan pinggulnya, payudaranya bergelantungan nampak indah sekali, kadang menyapu wajahku. Aku meremas kuat-kuat bongkahan pantatnya yang bergoyang-goyang. Payudaranya disodorkan kemulutku, langsung kudot.

    Gerakan wanita berambut sebahu ini makin mempesona di atas tubuhku. Kadang seperti orang berenang, atau menari yang berpusat pada gerakan pinggulnya yang aduhai. Bayang-bayang gerakan itu nampak indah di cermin sebelah ranjang.

    Tubuh putih nan indah perempuan setengah baya menaiki tubuh pemuda agak coklat kekuning-kuningan. Benar-benar lintas generasi!

    Adegan ini berlangsung lebih dari lima belas menit, kian lama kian kencang dan cepat, gerakannya. Nafasnya kian tidak teratur, sedikit liar. Kayak mengejar setoran saja. Tanganku mempererat rangulanku pada pantat dan pinggulnya, sementara mulutku sesekali mengulum punting susunya. Rasanya enak sekali. Setelah kerja keras majikanku itu mendesah sejadi-jadinya”

    “Ah… uh, eh… aku, ke.. luaar..Ron..”, rupanya ia orgasme.

    Puncak kenikmatannya diraihnya di atas tubuhku, nafasnya berkejar-kejaran, terengah-engah merasakan keenakan yang mencapai klimaknya.

    Nafasnya berkejar-kejaran, gerakannya lambat laun berangsur melemah, akhirnya diam. Ia menjadi lemas di atasku, sambil mengatur nafasnya kembali. Aku mengusap-usap punggung mulusnya. Sesekali ia menggerak-gerakkan pinggulnya pelan, pelan sekali, merasakan sisa-sisa puncak kenikmatannya. Beberapa menit dia masih menindih saya.

    Setelah pulih tenaganya, dia tidur terlentang kembali, siap untuk saya tembak lagi. Kini giliran saya menindihnya, dan mulai mengerjakan kegiatan seperti tadi. Gerakan ku pelan juga, dia merangkul aku. Naik turun, keluar masuk.

    Saat masuk itulah rasa nikmat luar biasa, apalagi dia bisa menjepit-jepit, sampai beberapa kali. Sungguh aku menikmati seluruhnya tubuh bu Ita. Ruaar biasa! Tiba-tiba suatu dorongan tenaga yang kuat sampai diujung senjataku, aliran darah, energi dan perasaan terpusat di sana, yang menimbulkan kekuatan dahsyat tiada tara.

    Energi itu menekan-nekan dan memenuhi lorong-lorong rasa dan perasaan, saling memburu dan kejar-kejaran. Didorong oleh gairah luar biasa, menimbulkan efek gerakan makin keras dan kuat menghimpit tubuh indah, yang mengimbangi dengan gerakan gemulai mempesona.

    Akhirnya tenaga yang menghentak-hentak itu keluar membawa kenikmatan luar biasa”, suara tak disengaja keluar dari mulut dua insan yang sedang dilanda kenikmatan. Air maniku terasa keluar tanpa kendali, menyemprot memenuhi lubang kenikmatan milik bu Ita.

    “Ahh… egh… egh… uhh”, suara kami bersaut-sahutan.

    Bibir indah itu kembali kulumat makin seru, diapun makin merapatkan tubuhnya terutama pada bagian bawah perutnya, kuat sekali. Menyatu semuanya,

    “Aku” keluar Bu”, kataku terengah-engah.

    “Aku juga Ron”, suaranya agak lemah.

    “Lho keluar lagi, tadi kan sudah?! Kok bisa keluar lagi?!”, tanyaku agak heran.

    “Ya, bisa dua kali”, jawabnya sambil tersenyum puas.

    Kami berdua berkeringat, walau udara di luar dingin. Rasanya cukup menguras tenaga, bagai habis naik gunung saja, lempar lembing atau habis dari perjalanan jauh, tapi saya masih bisa merasakan sisa-sisa kenikmatan bersama.

    Selang beberapa menit, setelah kenikmatan berangsur berkurang, dan terasa lembek, saya mencabut senjataku dan berbaring terlentang di sisinya sambil menghela nafas panjang. Puas rasanya menikmati seluruh kenikmatan tubuhnya.

    Perempuan punya bentuk tubuh indah itupun terlihat puas, seakan terlepas dari dahaganya, yang terlihat dari guratan senyumnya. Saya lihat selakangannya, ada ceceran air maniku putih kental meleleh di bibir vaginanya bahkan ada yang di pahanya.

    Pengalaman malam itu sangat menakjubkan, hingga sampai berapa kali aku menaiki bu Ita, aku lupa. Yang jelas kami beradu nafsu hampir sepanjang malam dan kurang tidur.

    Keesokan harinya. Busa-busa sabun memenuhi bathtub, aku dan bu Ita mandi bersama, kami saling menyabun dan menggosok, seluruh sisi-sisi tubuhnya kami telusuri, termasuk bagian yang paling pribadi. Yang mengasyikkan juga ketika dia menyabun penisku dan mengocok-kocok lembut. Saya senang sekali dan sudah barang tentu membawa efek nikmat.

    “Saya heran barang ini semalaman kok tegak terus, kayak tugu Ghinas, besar lagi. Ukuran jumbo lagi?!”, katanya sambil menimang-nimang tititku.

    “Kan Ibu yang bikin begini?!”, jawabku. Kami tersenyum bersama.

    Sehabis mandi, kuintip lewat jendela kamar, Darti sedang nyapu halaman depan, kalau aku keluar rumah tidak mungkin, bisa ketahuan. Waktu baru pukul setengah enam. Tetapi senjata ini belum juga turun, tiba-tiba hasrat lelakiku kembali bangkit kencang sekali.

    Kembali meletup-letup, jantung berdetak makin kencang. Lagi-lagi aku mendekati janda yang sudah berpakaian itu, dan kupeluk, kuciumi. Saya agak membungkuk, karena aku lebih tinggi. Bau wewangian semerbak disekujur tubuhnya, rasanya lebih fresh, sehabis mandi.

    Lalu ku lepas gaunnya, ku tanggalkan behanya dan kuplorotkan cedenya. Kami berdua kembali berbugil ria dan menuju tempat tidur. Kedua insan lelaki perempuan ini saling bercumbu, mengulangi kenikmatan semalam.

    Ia terbaring dengan manisnya, pemandangan yang indah paduan antara pinggul depan, pangkal paha, dan rerumputan sedikit di tengah menutup samara-samar huruf “V”, tanpa ada gumpalan lemaknya.

    Aku buka dengan pelan kedua pahanya. Aku ciumi, mulai dari lutut, kemudian merambat ke paha mulusnya. Sementara tangannya mengurut-urut lembut penisku. Tubuhku mulai bergetaran, lalu aku membuka selakangannya, menyibakkan rerumputan di sana.Cerita Sex Dewasa

    Aku ingin melihat secara jelas barang miliknya. Jariku menyentuh benda yang berwarna pink itu, mulai bagian atas membelai-belainya dengan lembut, sesekali mencubit dan membelai kembali. Bu Ita bergelincangan, tangannya makin erat memegang tititku.

    Kemudian jariku mulai masuk ke lorong, kemudian menari-nari di sana, seperti malam tadi. Tapi bibir, dan terowongan yang didominasi warna pink ini lebih jelas, bagai bunga mawar yang merekah. Beberapa saat aku melakukan permainan ini, dan menjadi paham dan jelas betul struktur kewanitaan bu Ita, yang menghebohkan semalam.

    Gelora nafsu makin menggema dan menjalar seantero tubuh kami, saling mencium dan mencumbu, kian memanas dan berlari kejar-kejaran. Seperti ombak laut mendesir-desir menerpa pantai. Tiada kendali yang dapat mengekang dari kami berdua.

    Apalagi ketika puncak kenikmatan mulai nampak dan mendekat ketat. Sebuah kejutan, tanpa aku duga sebelumnya penisku yang sejak tadi di urut-urut kemudian dikulum dengan lembutnya. Pertama dijilati kepalanya, lalu dimasukkan ke rongga mulutnya.

    Rasanya saya diajak melayang ke angkasa tinggi sekali menuju bulan. Aku menjadi kelelahan. Sesi berikutnya dia mengambil posisi tidur terlentang, sementara aku pasang kuda-kuda, tengkurap yang bertumpu pada kedua tangan saya.

    Saya mulai memasukkan penisku ke arah lubang kewanitaan bu Ita yang tadi sudah saya “pelajari” bagian-bagiannya secara seksama itu. Benda ini memang rasanya tiada tara, ketika kumasukkan, tidak hanya saya yang merasakan enaknya penetrasi, tetapi juga bu Ita merasakan kenikmatan yang luar biasa, terlihat dari ekpresi wajahnya, dan desahan lembut dari mulutnya.

    “Ah”, desahnya setiap aku menekan senjataku ke arah selakangannya, sambil menekankan pula pinggulnya ke arah tititku. Kami berdua mengulangi mengarungi samodra birahi yang menakjubkan, pagi itu.

    Semuanya sudah selesai, aku keluar rumah sekitar pukul setengah delapan, saat Darti mencuci di belakang. Dalam perjalanan pulang aku termenung, Betapa kejadian semalam dapat berlangsung begitu cepat, tanpa liku-liku, tanpa terpikirkan sebelumnya.

    Baca Juga Cerita Sex Jilatan Gigolo

    Sebuah wisata seks yang tak terduga sebelumnya. Kenikmatan yang kuraih, prosesnya mulus, semulus paha bu Ita. Singkat, cepat dan mengalir begitu saja, namun membawa kenikmatan yang menghebohkan.

    Betapa aku bisa merasakan kehangatan tubuh bu Ita secara utuh, orang yang selama ini menjadi majikanku. Menyaksikan rona wajah bu Ita yang memerah jambu, kepasrahannya dalam ketelanjangannya, menunjukkan kedagaan seorang wanita yang mebutuhkan belaian dan kehangatan seorang pria.

    Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, si kumbang muda makin sering mendatangi bunga untuk mengisap madu. Dan bunga itu masih segar saja, bahkan rasanya makin segar menggairahkan. Memang bunga itu masih mekar dan belum juga layu, atau memang tidak mau layu.

  • Cerita Panas Terbaru Tante Yolla Suka Diajak ML

    Cerita Panas Terbaru Tante Yolla Suka Diajak ML


    74 views

    Cerita Panas Terbaru Tante Yolla Suka Diajak ML

    Pagi hari itu aku bangun pagi sekali, hari itu aku sedang libur sekolah karena seluruh kelas dipergunakan untuk Ebtanas. Karena nggak bisa tidur lagi, aku memutuskan untuk olah raga pagi. Biasa, untuk menjaga stamina tubuhku, aku selalu senam sendiri dirumahku, selain halaman belakang rumahku yg luas, papa juga menyediakan satu ruangan yg dilengkapi peralatan fitness.

    Aku mengenakan kaus ku yang paling enak dipakai, dan yg dapat menyerap keringat, kausku santai sekali, berlengan pendek sebatas pangkal lengan, dengan belahan dada yg rendah, sampai-2x gumpalan buah dadaku yg gempal itu nampak tersembul keluar bila meski aku sedang berdiri tegak, apalagi kalo menunduk…hihihi…, meskipun tanpa disanggah oleh BH pun bentuk buah dadaku tetap indah dan menantang. Untung kausku tidak ketat, karena kalau ketat bakal malah menonjolkan buah dadaku ini.

    aku nggak memakai BH karena aku agak gerah dgn BH ku yg mulai terlalu kecil itu, juga aku belum sempat untuk membeli BH baru dgn ukuran yg pas, sedang buah dadaku udah semakin besar, hanya dalam beberapa bulan saja, entah kenapa. Kupakai celana pendek yg agak ketat, saking pendeknya sampai-2x pada saat aku berdiri tegakpun, buah pantatku yg bulat itu nampak tersembul indah dan sexy. Bisa membayangkan? he..he..he..

    Selesai olah raga diruang olah raga, aku ambil sepedaku dan mulai bersepeda di kompleksku yg masih sepi itu. saat itu kurang lebih pukul 05.10 pagi, suasana masih agak dingin, masih gelap dgn penerangan lampu jalan. Di tikungan jalan, beberapa blok dari rumahku, ada pos hansip yg agak gelap karena bola lampunya yg mungkin hanya 20 watt saja. Disana ada seorang hansip yg sedang tidur-2x an, hansip itu terlihat masih muda sekali, menurutku kurang lebih baru berusia 19thn, mungkin, tubuhnya yg kurus itu terbungkus pakaian seragam hansip hijau dan terbalut sarung aja. wajahnya jelek sekali dengan giginya yg agak tonggos, matanya bundar besar tapi agak ngantuk.

    Timbul niat isengku untuk menggodanya, sambil bersepeda dari jauh kutarik kausku agar lebih kedepan, agar susuku lebih nampak jelas, karena sepedaku adalah sepeda balap, jadi aku harus menunduk apabila aku memegang setir nya. Jadi, ya bayangin sendiri gimana tampaknya… . Kuhentikan sepedaku didepan pos nya dan berpura-2x kecapaian.
    ‘pagi bang. koq tiduran bang? hayooo…nggak jaga yaa?’ sapaku. ‘eh…, pagi non’, sahutnya sambil menguap, dia bangkit duduk dan mengarahkan pandangannya kepadaku. Matanya tertumbuk pada susuku yg nampak jelas sekali disela-2x belahan kausku yg lebar itu, dia terbelalak.

    ehh, anu non, ketiduran…, capek…..’ katanya tergagap karena kaget dan matanya yg membelalak tetap tertuju pada dua gumpalan susuku itu, buah dadaku tergantung dan putingnya yg indah itu mencuat indah. ‘kenapa non? ada yg bisa dibantu?’ tanyanya.

    Aku menjawab, ‘anu bang, aku tadi terjatuh dan punggungku serta pantatku sakit sekali sekarang, bisa bantu pijit nggak bang?’ godaku. Dia memperhatikan aku dgn seksama, seperti orang yg sedang menilai-2x, wajah cantik, bahkan bisa dibilang cantik sekali, kulitnya juga putih bersih, mulus, keturunan chinese. tubuhnya masih kecil, tapi pinggulnya udah membentuk indah sekali, seperti gadis umur 20-an, pantatnya bulat sempurna, waah apalagi susu nya itu, daritadi dia memperhatikan susuku, itu susu bukan main indahnya, bergelantung dan putingnya mendongak dgn pongahnya. kulihat dia memperhatikan susuku terus.

    Sambil menengok kesekelilingnya, untuk melihat keadaan, dia berkata ‘mari non, duduk didalam sini, biar aku pijitin.’kuletakkan sepedaku dipinggir pos dan aku masuk kedalam pos ukuran 2 x 2 meter itu. Saat berdiri, kuperhatikan dia melihat puting susuku menonjol dari balik kausku, semakin menampakkan keindahan susuku, susuku yg gempal, bonggolnya yg besar, putih mulus, kulihat kontolnya udah ngaceng berat, wuaahh…asyikk pikirku mesum, aku mulai memikirkan ****** itu dalam genggamanku…, dan…. .

    Didalam pos, aku duduk disampingnya sambil membelakanginya, kuarahkan punggungku, dia dengan terampil mulai memijiti punggungku, tapi tidak lama. Dia mulai mengarahkan pijitannya ke bongkahan pantatku, katanya, ‘agak nungging dikit non, aku nggak bisa mijit kalo non duduk’ , aku merubah posisiku, kutunggingkan pantatku kearahnya, tapi dia bukannya memijit malah melorotkan celanaku, plus celana dalamku juga. Tanpa ba-bi-bu, dia mulai menciumi pantatku, diciuminya memekku yg terbuka itu dengan mulutnya
    ‘non pengen aku begini kan ….mmmhhh?’ katanya berani, aku cuman mendesis-2x nikmat ‘auuuhh….emmmh..ehhh, mmhhh…iya baanng, jilatin memekku ya baang…, aku lagi pengen banget niihhh…’, dia semakin berani memasukkan lidahnya kememekku, aku semakin geli dibuatnya.

    Dia bangkit sebentar, lalu… dengan sekali putar, dia padamkan satu-2xnya lampu didalam pos itu, khawatir ada yg lewat dan melihat kami didalam pos itu. Dia melanjutkan aksinya, sekarang dia mulai meremas-2x susuku yg dari tadi diincarnya, kausku dilepasnya dengan cepat, aku menjadi telanjang bulat, tanpa sehelai benangpun, didalam pos hansip, dipinggir jalan kompleks ku sendiri.

    Dia mulai melepasi pakaiannya sendiri, ternyata dia hanya memakai kemeja seragam, dibalik sarungnya dia tidak mengenakan apapun, terlihat olehku kontolnya yg udah ngaceng keras sekali, hitam, mengacung keatas, dengan otot-2xnya yg melingkar-2x, aku terkesima melihat ****** yg hitam itu.

    Dia membalik tubuhku dan ditelentangkan diatas dipan, dia berbaring miring di dipan dan kontolnya diarahkan kewajahku sambil wajahnya sendiri mengarah kememekku, dia menyuruhku menggengam kontolnya dan berkata ‘ayo non, kau masukkan kontolku kedalam mulut mu itu, jilati dan hisap, cicipi kontolku ini’, dia sendiri kembali mengaduk-2x memekku dan lubangnya dengan lidahnya. sambil kugenggam, aku masukkan kontolnya kedalam mulutku dan mulai mengemotnya, tanganku mengocok-2x kontolnya.

    aahhh..ahhhahhhh….ennaaakkk’ dia menikmati permainan lidahku. sementara memekku juga geli karena lidahnya kelihatannya dia nggak mau lama-2x, dia ingin permainan yg lebih dalam, tubuhku digendongnya, diangkat dan ditempelkan kedinding pos, tangannya menyanggah kedua kakiku dengan kedua lututku terlipat, kedua paha dan memekku terbuka lebar, dengan posisi tubuhku digendongnya seperti itu, diapun mulai menancapkan kontolnya kememekku, ‘ssslluuuppphhh…..addduuuhh…aduuhh baaaanng…enaak sekaliiii…terusss baaaang…terusssiinn…lebih dalaaaammm…, lebih dalaam lagii…’ teriakku nikmat, sambil menjepit pinggangnya dengan kakiku, kontolnya menancap dalam sekali dengan posisiku seperti itu, ‘aakkhhh…aduuh..memekmu enaak sekali nnooonnn…, seemmmpiiit.. bangeetthh…’ serunya sambil menambah kekuatan hujaman kontolnya.sementara kontolnya keluar masuk dengan kerasnya, tanganku memeluk kepalanya , kupeluk erat dan kusodorkan susuku untuk dilumatnya. Indah sekali pemandangan didalam pos itu, tubuhku didesaknya kedinding pos itu sambil kontolnya menancap dimemekku, mulutnya mengulum puting susuku sampai kemerah-2x an.‘ssppp…ssppphh…’ seluruh buah dadaku dijilatinya, putingku dilumatnya, digigiti dengan gemasnya, kelihatannya dia benar-2x mengagumi buah dadaku, mulutnya bergantian mengulum kedua susuku ini.

    Tidak lama kemudian dia mendesis ditelingaku, ‘aduuh…adduuhh.. aakkuu … mm ..aauu… keluarrrr nnnnooooo..oonn….’, aku juga tak mau ketinggalan, ‘hhkk…mmhh…sssshhh…aakkuu juggaa baaangg…jangan keluarin didalamm..yaa banng.. jangaan … didalam yyaaaaaa…. aaaaakkkhhhhh…’ aku keluarkan cairanku dengan kenikmatan yg luar biasa, tapi kelihatannya dia nggak ada niatan untuk mencabut kontolnya dari memekku, aku merasakan semburan pejuhnnya didalam memekku. ‘aaaakkkhhh…aakkkhhh…nnnhhh….hhkkk…udaahh keeluuaarr.. nooonn…’, aku melihat si hansip itu menikmati sekali semburan pejuhnya didalam memekku, dia kelihatan sangat menikmati tubuhku, dia tidak henti-2xnya meremas-2x buah dadaku yg gempal itu.

    Maapin abang ya non, tadi abang nggak sempat ngeluarin…, nggak apa-2x ya?’ tanyanya sambil mesem. Sial, kupikir. enak aja bilang nggak sempat, dasar. ‘iya udah deh… kan udah telanjur…’ sautku agak dongkol. Setelah itu, dia terbaring lemas tanpa sehelai benangpun ditubuhnya, sambil tangannya tetap menggenggan buah dadaku. kontolnya udah terjulai lemas, katanya ‘eemmhhh.. non, enak sekali memekmu itu, aku belum pernah merasakan memek anak gedongan yg kaya, keturunan lagi. kapan non bakal bersepeda pagi lagi?’, jawabku ‘hmm, enak yah? kontolmu itu juga enak bang, tapi aku nggak mau sering-2x beginian, ntar aku bisa hamil kalo pejuhmu selalu keluar didalam memekku ini…, gini aja, kalo aku pengen ngerasain kontolmu lagi, aku akan datang kesini lagi…, tapi lain kali kalo keluarin pejuhmu jangan didalam yah…’, ‘baik deh non, tapi keluarin nya dimana dong? habis lebih enak kalo keluarnya didalam, sambil goyang gitu…’ tanyanya tolol, ‘ya udah, lain kali keluarin pejuhmu didalam mulutku aja, biar aku nggak hamil, lagipula aku suka ngerasain pejuh didalam mulutku koq…’ jawabku enteng. si hansip muda itu hanya terbelalak dan kulihat kontolnya mulai ngaceng lagi. aku cepat-2x keluar dari pos itu. pikirku, lebih baik aku cepat-2x angkat kaki dari sini sebelum aku digarapnya lagi. bisa hamil gue.. akupun mengenakan kembali pakaianku dan melanjutkan bersepeda lagi. Seperti tidak pernah terjadi apa-2x. Dalam hati aku berpikir, andaikata dihitung, udah berapa ****** yg pernah masuk ke memekku ini, udah berapa orang yg telah menikmati tubuhku ini, aku makin pengen mencoba ******-2x yg lain, aku menikmati sekali ngentot dengan orang yg belum pernah aku kenal sebelumnya, bahkan yg namanya pun aku tidak tahu

  • Tante Nely

    Tante Nely


    15 views

    Kejadian ini berawal tahun 2010 yang lalu, namaku Dino umurku 23 tahun, aku anak ketiga dari empat bersaudara. Ayahku pegawai kereta api, sedangkan ibuku sudah meninggal 4 tahun yang lalu. saat ini aku belum bekerja, terasa sangat susah sekali mendapatkan pekerjaan dijaman sekarang ini, sehingga setiap hari hanya di rumah didepan komputer hanya sekedar browsing atau chating.

    cerita-sex-dewasa-tante-nely
    Aku punya tetangga namanya pak Marno dia kerja sebagai kontraktor sangat kaya dikampungku dan jarang ada dirumah, istri nya tante Nely sangat cantik dengan bodynya yang sexy, sintal, putih mulus dan yang membuatku menelan ludah payudaranya yang super montok.

    Pada suatu hari saat rumah sedang sepi iseng-iseng aku buka situs dewasa orisex.com dan menontonnya, karena asyiknya menonton aku tak mendengar ada orang bertamu yang ternyata tante Nely tetangga sexyku. saat aku sedang asyik menonton dan tanganku masuk ke celana memegangi kemaluanku yang memang dari tadi sudah tegang mengacung acung, tante Nely sudah berada di pintu kamarku melihatku menonton Bokep, entah sudah berapa lama tante Nely berdiri disitu.

    ” Dino ! nonton gituan kok sendirian nanti kerasukan setan loh!! ” suara itu mengejutkanku dan segera aku keluarkan tanganku dari balik celana dan segera aku tutup laptopku
    ” Eh tante Nely !!” aku pura-pura sambil menutupi rasa maluku.
    “Kenapa dimatiin filmnya?” kata tante Nely semakin membuatku malu. ” ah . . . enggak kok tante, aku sedang liat-lihat aja kok ” jawabku rada ngeless . . hehehe
    “Koleksimu banyak gak mas dino ?”
    ” hah . . . koleksi apaan tante?” tanyaku pura-pura bego.
    ” itu tadi yang barusan mas dino tonton!!”
    “enggak kok tante cuma ada beberapa aja ” jawabku sambil aku perhatikan wajah tante Nely yang sedikit nakal, turun ke buah dadanya yang besar .

    dalam hati aku cuma bisa bilang oh Tuhan enak sekali bila bisa ngentot perempuan putih mulus ini. “Mas dino !, kok bengong!!

    ” ah . . . enggak kok tante!!”
    “gini aja, bawa laptonya nanti kerumah ya . . . aku juga pengen nonton dah lama sekali gak pernah nonton film gituan. nanti aku tunggu di balai dibelakang rumah ya!!.
    ” iya-iya tante nanti aku bawa kesana” jawabku asal aja.

    pikirku wah ada harapan nih.

    “oh ya mas dino, nanti langsung masuk aja ya pintu pagar dan pintu rumah gak aku kunci ya,soalnya mbok darmi dan anak-ana gak ada dirumah semua!”
    “Iya-iya tante, nanti dino langsung masuk aja”
    “ya udah ini piring bekas pisang goreng kemaren disimpan dulu !”
    “oh ya mas dino nanti kalo dah masuk pagar sama pintu rumah dikunci aja takut ada maling”
    “iya-iya,tante” Tante Nely pergi meninggalkan rumahku, aku pandangi lekuk tubuh sexynya sampai menghilang dari pandanganku.Cerita Sex Dewasa

    aku sedikit heran dan campur senang, melihat kelakukan tante Nely yang mengajakku nonton bareng film bokep koleksiku. setelah aku simpan piring dan aku tutup semua pintu rumah, segera aku bergegas ke samping rumah tempat tante Nely tinggal. Rumah besar dengan halaman yang luas dan pagar yang tinggi, rumah pak marno suami tante Nely, aku coba dorong pagarnya ternyata memang benar tidak dikunci, sesuai petunjuk tante Nely aku gembok pagar dan aku melangkah menuju pintu rumah sama sperti pagar pintu juga tidak dikunci.
    Kudapati ruang tamu yang lebar dan tinggi, busyyeeeettt gede amat nih rumah, memang baru sekali ini aku masuk rumah tante Nely sejak direnovasi 3 tahun yang lalu.

    tak lupa aku kunci pintu depan dan segera aku melangkah ke belakang menuju balai (sawung), disana tante Nely sudah menunggu sambil membaca majalah, gak jelas majalah apa.

    “Eh mas dino, sini-sini kita nontonya disini aja ya ” aku disuruh duduk dekat tante Nely.
    “iya tante” jawabku agak canggung juga.
    “Mas dino ada berapa film nya?” “ada 45 buah tante” jawabku agak malu.
    “wah banyak juga ya!!” mulai aku pilih file bokep yang gambarnya paling jernih dan mulai aku play.

    akhirnya kami berdua menonton bokep, sambil aku lirih tangan tante Nely yang sangat putih, kakinya woooowww putih sekali, sampai aku nelan ludah “Glek,glek” aku lirik napas tante Nely mulai gak teratur jatungnya berdegap kencang sampai buah dada gedenya naik turun. aku rasa dia dah mulai terangsang dengan film bokep, tetapi aku gak berani macam-macam. aku sendiri dah mulai gak karuan pikiranku, kontolku yang dah tegang dari tadi semakin keras, dan aku rasakan ujungnya sudah keluar dari celana dalamku.

    Sesekali aku pergoki mata tante Nely melirik bagian selakangku,

    ” mas dino, sering nonton bokep ya ?”
    “gak juga tante kalo lagi suntuk aja dari pada gak ada kerjaan” jawabku
    “mas dino udah pernah melakukannya”tanya tante Nely
    “belum tante!” jawabku dan memang aku belum pernah melakukannya kalo cium perempuan sih pernah tapi kalo sampai ngentot aku belum berani melakukan.
    “mas dino belum pernah sama sekali???” tanya tante Nely dengan sedikit wajah heran
    “Belum” jawabku polos.
    “Mas dino mau coba?”tanya tante Nely menggodaku.
    “haah, mencoba tante?hmmmss” aku terdiam tidak bisa berbicara.

    mulai tangan tante Nely memegang pahaku, aku hanya bisa diam dan jantungku berdegup sangat kencang, rasa merinding menjalar ke seluruh badanku. tangan tante Nely mulai naik ke arah pangkal paha,buah dada nya mulai menempel di lenganku terasa sangat lembut (empuk).

    “mas dino mau? tante sudah gak tahan nih mas” tante Nely mulai ngaco ngomongnya.

    aku hany bisa mengangguk menyetujui tindakan tante Nely. mendapat respon tangannya mulai membuka kacing celanaku dan relestingku.

    “wooooowww gede banget mas dino punyamu??? dan kerasssss” tangannya mulai beraksi mengocok penisku nikmat banget terasa sampai di kepalaku.
    “mas dino tante kulum ya kontolnya?? tanpa menunggu jawaban dariku penisku sudah ada didalam mulutnya dan dijilati dari ujung sampai pangkal, aku lihat memang napsunya gede sekali tante Nely ini.

    aku hanya diam menikmati service tante Nely, sampai mataku merem melek. tanganku dipegang sama tante Nely dan dituntun menuju buah dadanya yang ternyata sudah tidak menggunakan BH, kenyal dan keras sekali buah dadanya.

    “mas dino diremas donk nenen tante!!” ohhhhhh . . . . .massss iya betulll begitu terussss . . . .yang kencang . . . .”
    “ouuughhh mas dini . . . enak bangetttt, nikmat bangetttt massss . . . ouuughh”
    ” mas dino dibuka ya baju sama celananya biar enak ?”
    ” iya tante” mulai aku lepas baju dan celanaku begitupun tante Nely yang juga membua pakainnya. oooooohhh tubuh yang mulusss dan indah, walaupun dah punya anak tapi masih seperti gadis.
    ” mas dino sini, nenen dulu punya tante, jilatin ya putingnya” disodorkannya buah dada yang ranum itu ke mulutku, tanpa babibu lagi aku kenyottt dan aku jilati sampai tante Nely menggelinjang keenakan seperti orang kesetanan. tangan tante Nely meraih tanganku dan diarahkan ke kemaluannya . . . . . . . . aku dapati kemaluan yang ditumbuhi bulu yang tipis jarang-jarang dan sangat lembut.Cerita Sex Dewasa

    mulai tanganku bereaksi menggosok vagina tante Nely yang sudah basah oleh lendir tanda memang dia sudah benar-benar terangsang.

    “ooohhhh mas . . . terus ooouuugghhhh” ohhhhh yesssss ooooooohhh massss terussss” mulai kata-kata yang gak karuan keluar dari mulut tante Nely.

    kucium bibir tante Nely dibalasnya dengan lumatan bibir yang membuatku terkejut, lidahnya masuk kerongga mulutku menggelitik didalam, membuat gairahku memuncak.

    “Mas dino mulut yang bawah juga dicium donk, kepalaku didorong ke vagina tante Nely”mulai aku cium vagina itu dengan aroma yang khas, aku gak perduli aku lumat vagina itu lidah ku mulai masuk ke liang vagina tante Nely dan aku mainkan,
    “Ooooouuughhh masss teruuussss” ooouuughhh matiiiiii akuuuuuu ohhhhh enak banget”
    “mas dino, aku gak tahan masukin kontolmu ke memek tante” aku bangkit dan mulai aku arahkan penisku ke arah lobang vagina tante Nely yang basah oleh lendir dan air liurku” cleeessss terasa hangat saat ujung kontolku menempel tanpa menunggu lagi aku masukan kontolku . . .

    cleeeeeb masuk sepenuhnya ke vagina tante Nely

    ” ooouuugghhh mas kontolmu gede banget, terus mas genjottt sampai mati massss” ocehan tante Nely tak aku hiraukan, pinggulku mulai aku gerakkan naik turun sehingga kontolku melesak keluar masuk . . . . . .

    tangan tante Nely memegang pantatku dan mendorong ke arahnya sehingga kontolku benar-benar masuk sampai ke itil tante Nely, vagina itu berdeyut sangat kencang seolah-olah menjepit penisku.

    “ooooohh mas dino aku keeeeee keeee keeluarrrrrr aooouuhhhhhh Tuhan” aku didekapnya seolah tidak mau dilepaskan, badannya mengejang dan terasa kaku, gerakanku aku hentikan karena aku dipeluknya sangat erat sekaliiiii . . .
    “mas dino aku dah keluar ini banyak banget, mas dino dibawah ya aku di atas” pinta tante Nely
    “iya tante” aku nurut aja kayak bocah kecil.

    aku posisi telentang tante Nely mulai pasang kuda-kuda jongkok dan mulai memasukkan batang kontolku ke vaginanya . . .

    “ooouuugghh tante” bisikku terasa enak sekali saat kontolku masuk memeknya.

    tante Nelypun mulai aksinya seolah naik kuda pinggulnya naik turun kadang maju mundur. Goyangan tante Nely memang benar-benar mauuut . . . kontolku terasa mau patah tapi enak banget. 5 menit kemudian . . . .

    ” Mas dinoooooo ouuughhhhhhhh ooouugggh tante keluar lagi masssss” badannya mengejang seperti tadi untuk beberapa saat dan akhirnya lemas dan menyandarkan kepalanya didadaku, tanda ia telah orgasme yang ke dua kalinya.

    kamipun beristirahat sebentar.

    “mas dino hebat juga belum keluar?” kata tante Nely memujiku.
    “ah tante gak juga, soalnya dino agak takut tante ketahuan suami tante bisa mati aku”bisikku
    “tenang mas dino suamiku pulangnya masih minggu depan”jawabnya sambil tersenyum.
    “ayo sekarang giliran mas dino keluarin ya, pakai posisi dogy style aja ya mas dino dari belakang” tanpa aku jawab aku berdiri ganti posisi dogy style dari belakang,

    langsung aku tancapkan batang kemaluanku yang gede ini ke lubang vaginanya dari belakang,

    “oooouuggg mas enakkk” aku goyangkan maju mundur sampai terasa dikepalaku. tangan tante Nely memegang papan pinggiran balai dan aku berdiri dibelakangnya sambil menghujamkan senjataku ke kemaluannya.

    enak banget pantatnya putih dan empuk itu serasa jadi bantalan.

    “ooouuggghh tante, pantatmu enak banget dipegang”kataku
    “remas yang keras pantatku masssss oouugggghhhh” kata tante Nely
    “oouuuhhhhhh tante ooouughhh tantteeee aku mau keluar” kataku dengan sigap tante Nely melepas tautan penisku dan memeknya dan segera memegang penisku sambil dikocok dan di masukkkan mulutnya . . .
    “oooouughhh tante enakkkk teruuusss yang kerasssss “kataku agak ngacaooo . . .

    Baca Juga Cerita Sex Ngulum KOntol Bos

    oooougghhh keluuuarrr tannn . .Crooot . . . . crooooott crooooot crot croot lima kali kontolku mengeluarkan many di mulut tante Nely sampai mulut tante Nely penuh . . .

    kemudian diisapnya kontolku sekuat tenaganya . . . . oooh benar-benar enak sekali. akupun lemas dan tidur disamping tante Nely. . . .

    “mas dino enak gak ?” sambil berbisik ditelingaku
    “enak sekali tante?” kataku.
    “nomor hape mas dino masih yang lama kan ?”
    “masih tante ?” jawabku.
    “kapan-kapan kalo masih mau lagi, mas dino misscall aja ya!!”
    “ok tante” jawabku semangat.

    Setelah saat itu aku sering berhubungan badan dengan tante Nely disaat suaminya pergi keluar kota, kadang-kadang kalo tante Nely bener-bener terangsang dan ingin ML tak segan-segan dia mengetuk jendela kamarku dan kamipun ngentot sampai pagi hari. Ini hanya sebuah cerita, bagi yang dibawah + 17 tahun dilarang keras membaca cerita ini. Oke nanti dilanjut lagi, penulisnya udah pingin juga nih hihihihi

  • Cerita Panas Ngesex Hot Di Tengah Hujan

    Cerita Panas Ngesex Hot Di Tengah Hujan


    164 views

    Cerita Panas Ngesex Hot Di Tengah Hujan

    Awan semakin gelap, mendung yg menggantung menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Pakde Yono menyuruh Tari membenahi ceret air dan rantang makanannya kemudian mereka segera bergegas pulang sebelum hujan turun. Tari adalah istri Iding keponakan Pakde Yono yg sejak kecil ikut Pakde-nya. Pakde Yono ini adalah kakak bapaknya yg tdk mempunyai anak sendiri. Dan sesudah menikah pasangan itu tetap mengikuti Pakde-nya yg sangat sayang pada keponakannya.

    Sehari-hari mereka bahu membahu untuk mencari sesuap nasi membantu Pakde Yono di sawah atau Budenya yg buka warung kecil-kecilan di rumahnya. Seperti biasanya menjelang siang Tari mengantarkan makanan dan minuman Pakde-nya yg kerja di sawah. Hari itu kebetulan Iding pergi ke kota untuk membeli pupuk dan bibit tanaman.

    Rupanya hujan keburu turun sementara mereka masih di tengah hamparan sawah desa yg sangat luas itu. Hujan ini luar biasa lebatnya. Disertai dgn angin yg menggoyang keras dan nyaris merubuhkan pohon-pohon di sawah hujan kali ini sungguh luar biasa besarnya. Sebagai petani yg telah terbiasa denagn kejadian semacam ini dgn enteng Pakde Yono membabat daun pisang yg lebar untuk mereka gunakan sebagai payung guna sedikit mengurangi terpaan air hujan yg jatuh di wajah mereka yg menghambat pandangan mata.

    Sambil memanggul cangkulnya Pakde Yono merangkul bahu Tari erat-erat agar payung daun pisangnya benar-benar bisa melindungi mereka berdua. Tari merasakan kehangatan tubuh Pakde-nya. Demikian pula Pakde Yono merasakan kehangatan tubuh Tari yg istri keponakannya itu. Jalan pematang langsung menjadi licin sehingga mereka berdua tdk bisa bergerak cepat. Sementara pelukan mereka jg bertambah erat karena Pakde Yono khawatir Tari jatuh dari pematang. Kadang-kadang terjadi pergantian, satu saat Tari yg memeluki pinggang Pakde-nya. Tiba-tiba ada “setan lewat” yg melihat mereka dan langsung menyambar ke duanya.

    Saat Pakde Yono memeluk bahu Tari tanpa sengaja beberapa kali menyentuh payudaranya. Pada awalnya hal itu tdk mempengaruhi Pakde, tetapi hawa dingin yg menyertai hujan itu ternyata mendatangkan gelisah di hatinya. Kegelisahan yg bisa merubah perasaannya. Saat pertama kali Pakde Yono tanpa sengaja menyentuh payudara istri keponakannya dia agak kaget, khawatir Tari menganggap dirinya berlaku tdk sopan.

    Tetapi saat yg kedua kali dan kemudian dgn sadar menyentuhnya kembali untuk yg ketiga kalinya dia tdk melihat adanya reaksi menolak dari Tari, pikiran Pakde mulai dirasuki “setan lewat” tadi. Dan pelan-pelan tetapi pasti penis di balik kolornya mulai menghangat dan bangun. Toh rasa ke-imanan Pakde Yono masih berusaha bilang “jangan” walaupun tak bisa dipungkiri bahwa dalam hatinya dia mengharapkan sesuatu keajaiban, mungkin semacam sinyal, yg datang dari Tari.

    Demikian pula Tari yg merasakan beberapa kali payudaranya tersentuh, pada awalnya dia tdk sepenuhnya menyadari. Tetapi saat tersentuh untuk yg kedua kalinya dia mulai mengingat sentuhan yg sama yg sering dilakukan oleh suaminya Iding. Biasanya kalau Iding menyentuh macam itu pasti ada maunya. Pikiran lugu Tari langsung disambar “setan lewat” lagi.

    Adakah macam kemauan suaminya itu jg melanda kemauan Pakde-nya di hari hujan yg lebat dan dingin ini? Tetapi sebagaimana Pakde Yono, Tari jg berusaha menepis pikiran buruknya dan berkata dalam hatinya “nggak mungkin, ah”. Walaupun dibalik sanggahannya sendiri itu bersemi di hati kecilnya, akankah datang sebuah keajaiban yg membuat tangan Pakde-nya menyentuh payudaranya lagi? Maka, ketika pelukkan Pakde Yono pada bahu Tari yg semakin mengetat dan menyebabkan sentuhan ke tiga benar-benar hadir, hal itu sdh merupakan awal kemenangan sang “setan lewat” tadi.

    Demikian pula saat hujan yg semakin lebat dan jalan yg semakin licin hingga mengharuskan mereka menyesuaikan dan mengganti posisi pelukan agar tdk jatuh dari pematang, pelukan Tari dari arah punggung pada pinggang dan dada Pakde-nya mendorong lajunya bisikkan “setan lewat” tadi. Payudara Tari yg kenyal menempel hangat di punggung dan tangan halus Tari yg menyentuh perut dan dada, membuat penis Pakde-nya benar-benar tdk tahu diri. Keras mencuat ke depan seperti cengkal kayu yg menonjol pada sarung anak yg disunat. Untung Tari berada di belakangnya sehingga gangguan teknis itu tdk terlihat olehnya. Pakde Yono mulai mencari-cari apa jalan keluarnya?

    Demikian pula yg dirasakan Tari saat memeluki Pakde-nya dari belakang. Tangannya yg ketat memeluk perut dan dada Pakde-nya membuat buah dadanya demikian gatal saat tergosok-gosok punggung Pakde yg tdk mungkin terdiam karena setiap langkah kaki Pakde-nya pasti akan menggoncang seluruh bagian-bagian tubuhnya. Kegatalan macam itu menjadi terasa nikmat saat Tari mengingat bagaimana Iding suaminya sering menggosokkan wajahnya ke payudaranya. Mudah-mudahan Pakde-nya tdk keberatan dgn pelukannya, demikian pikiran lugu Tari.

    Kemudian sang “setan lewat” kembali membisikkan ke dalam pikirannya, mudah-mudahan rumahnya semakin menjauh dan hujannya semakin lebat, yg disusul dgn seringai gigi taringnya karena gembira melihat usahanya telah meraih kemenangannya secara mutlak. Sekarang tinggal menggiring Pakde yono dan keponakkan mantunya ini menuju ke ke sentuhan setannya yg terakhir.

    Hujan yg demikian hebat ini membuat jam dua siang hari bolong itu gelap serasa menjelang maghrib. Awan gelap masih memenuhi langit. Dan lebih seram lagi kilat dan petir ikut menyambar-nyambar. Pikiran Pakde Yono dan Tari sekarang adalah mencari tempat berteduh. Pakde Yono tdk kehilangan arah. Dia tahu persis kini berada di petak sawah milik Parjan tetangganya. Kalau dia belok sedikit ke kanan dia akan menjumpai dangau untuk berteduh. Dan benar, begitu Pakde Yono yg dalam pelukan Tari belok kekanan nampak bayangan kehitaman berdiri tegak di depan jalannya. Mereka berdua memutuskan untuk berhenti dulu menunggu hujan sedikit reda.

    Tari bisa menurunkan beban gendongannya ke amben bambu yg ada di situ. Kini mereka saling memandang. Tari memandang kaos oblong Pakde-nya yg basah kuyup lengket di tubuhnya dan menunjukkan bayangan dadanya yg gempal berotot. Sementara Pakde Yono melihat kebaya dan kain di tubuh Tari yg istri keponakannya basah kuyup dan membuat bayangan tubuhnya yg sintal dgn payudaranya yg menggembung ke depan. Dgn setengah mati Pakde Yono berusaha menyembunyikan tonjolan penisnya pada celana kolornya.

    Pakde Yono memperkirakan jarak dangau itu ke dusunnya kira-kira “se-udut”-an, sebuah perhitungan yg biasa dipakai orang desa mengenai jarak dekat atau jauh diukur dari sebatang rokok yg dinyalakan (dihisap). Mungkin sekitar 6 s/d 8 menit orang jalan kaki. Sementara itu tak bisa diharapkan akan ada orang lewat sawah ini dalam keadaan hujan macam begini. Pandangan mata secara jelas ke depan tdk lebih dari 5 meter, selebihnya kabut hujan yg menyelimuti seluruh hamparan sawah itu.

    Dalam usaha menghindar percikan hujan di dangau Pakde Yono dan Tari harus duduk meringkuk ketengah amben yg relatip sangat sempit yg tersedia. Artinya seluruh anggota tubuh harus naik ke amben sehingga mau tdk mau mereka harus kembali berhimpitan. Dan sang “setan lewat” kembali hadir menawarkan berbagai pertimbangan dan keputusan.

    Tari yg ditimpa hujan dan hawa dingin menggigil. Demikian jg Pakde Yono. Untuk menunjukkan rasa iba pada istri keponakannya Pakde meraih pundak Tari dan membagikan kehangatan tubuhnya. Dan untuk menghormati maksud baik Pakde-nya Tari menyenderkan kepalanya pada dadanya. Walaupun pakaian mereka serba basah tetapi saat tubuh-tubuh mereka nempel kehangatan itu terjadi jg. Dan pelukan yg ini sdh berbeda dgn pelukan saat awal Pakde Yono membagi payung daun pisangnya tadi. Pelukan yg sekarang ini sdh terkontaminasi secara akumulatip oleh campur tangan sang “setan lewat” tadi.

    Saat kepala Tari terasa pasrah bersender pada dada, jantung Pakde Yono langsung tdk berjalan normal. Dan tonjolan di celananya membuat susah memposisikan duduknya. Demikian pula bagi Tari. Saat Pakde-nya meraih bahunya untuk memberikan kehangatan pada tubuhnya dia merasakan seakan Iding yg meraihnya. Dgn wajahnya yg mendongak pasrah menatap ke wajah Pakde-nya Tari semakin menggigil hingga kedengaran giginya yg gemelutuk beradu. Dan inilah saatnya “sang setan” lewat melemparkan bisikan racunnya yg terakhir kepada Pakde Yono.

    “Ambil!, Ambil!, Ambil!, Ambil!”, dan Pakde tahu persis maksudnya.

    Seperti bunga layu yg jatuh dari tangkainya, wajah Pakde Yono langsung jatuh merunduk. Bibirnya menjemput bibir Tari yg istri keponakkannya itu. Dan desah-desah lembut dari dua insan manusia itu, membuat seluruh rasa dingin dari baju yg basah dan tiupan angin menderu akibat hujan lebat itu musnah seketika dari persada Pakde Yono maupun persada Tari. Mereka kini saling melumat. Sang “setan lewat” cepat berlalu untuk menghadap atasannya dgn laporan bahwa otomatisasi setannya sdh ditinggal dan terpasang dalam posisi “ON” pada setiap dada korbannya. Kini dia berhak menerima bintang kehormatan para setan.

    Dan lumatan lembut menjadi pagutan liar. Kini lidah dan bibir mereka saling berebut jilatan, isepan dan kecupan. Dan bukan hanya sebatas bibir. Jilatan, isepan dan kecupan itu merambah dan menghujan ke segala arah. Keduanya menggelinjang dalam gelombang dahsyat birahi. Tari menggeliatkan tubuhnya minta agar Pakde-nya cepat merangkulnya. Pakde Yono sendiri langsung memeluki dada Tari. Wajahnya merangsek buah dadanya. Dikenyotnya baju basah penutup buah dadanya. Tari langsung mengerang keras-keras mengalahkan suara hujan. Kaki-kakinya menginjak tepian amben sebagai tumpuan untuk mengangkat-angkat pantatnya sebagai sinyal untuk Pakde-nya bahwa dia sdh menunggu tindak lanjut operasi cepat Pakde-nya.

    Pakde Yono memang mau segalanya berjalan cepat. Waktu mereka tdk banyak. Segalanya harus bisa diraih sebelum hujan reda. Dan operasi ini tdk memerlukan prosedur formal. Kain penutup tubuh Tari cukup dia singkap dgn tangannya hingga ke pinggang. Nonok Tari yg menggembung nampak sangat ranum dalam bayangan jembutnya yg lembut tipis. Kelentitnya nampak ngaceng mengeras menunggu lumatan lidahnya. Tak ada yg ditunggu, wajah Pakde Yono langsung merangsek ke kemaluan ranum itu. Bibir dan lidahnya melumat dan menghisap seluruh perangkat kemaluan itu.

    Tangan Tari menangkap kepala Pakdenya, menekannya agar lumatan dan jilatan Pakde-nya lebih meruyak masuk ke dalam memeknya. Cairan birahi yg asin hangat bercampur dgn air hujan dia sedot dan telan untuk membasahi kerongkongannya yg kering kehausan. Itil Tari dia lumat dan gigit dgn sepenuh gemasnya. Tekanan Tari pada kepalanya berubah jadi jambakkan pada rambutnya. Pantat Tari terus naik-naik menjemput bibir dan lidah Pakde-nya. Tetapi Pakde Yono tdk akan mengikuti kemauan idealnya. Hitungan waktu mundurnya sdh dimulai.

    Kini Pakde Yono yg sdh meninggalkan celana kolornya di rerumputan pematang merangkak ke atas dan memeluki tubuh basah hujan Tari. Penisnya berayun-ayun mencari sasarannya. Paha Tari yg hangat langsung menjepit tubuh Pakde-nya dgn nonoknya yg tepat terarah ke ujung penis Pakde Yono. Untuk langkah lanjutannya, mereka berdua, baik yg senior maupun yg yunior sdh terampil dgn sendirinya. Ujung penis Pakde Yono sdh tepat berada di lubang memek istri keponakannya. Mereka telah siap melakukan manuver akhir sambil menunggu hujan reda.

    Dan saat mereka saling dorong, kemaluan Pakde Yono langsung amblas ditelan memek Tari. Sambil bibir-bibir mereka saling melumat, Pakde Yono mengayun dan Tari menggoyang. Penis dan memek Tari bertemu dalam kehangatan seksual birahi ruang luar, ditengah derasnya hujan, tiupan angin dan kilat serta petir yg menyambar-nyambar dgn disaksikan oleh segenap dangau yg lengkap dgn berisik ambennya, oleh belalang yg ikut berteduh di atapnya, oleh kodok yg bersuka ria menyambut hujan, oleh wereng yg berlindung di daunan padi yg sedang menguning, oleh baju-baju mereka yg basah dan lengket di badan.

    Pakde Yono mempercepat ayunan penisnya pada lubang kemaluan Tari. Walaupun dia sangat kagum sekaligus merasai nikmat yg sangat dahsyat atas penetrasi penisnya pada lubang memek Tari yg serasa perawan itu, dia tetap “concern” dgn waktu. Tari yg menikmati legitnya penis Pakde-nya menggelinjang dgn hebatnya. Dia jg ingin selekasnya meraih orgasmenya. Genjotan penis Pakde-nya yg semakin cepat pada kemaluannya mempercepat dorongan untuk orgasmenya.

    Kini dia merasakan segalanya telah siap berada di ujung perjalanan. Dan dgn jambakan tangannya pada rambut Pakde Yono, bak kuda betina yg lepas dari kandangnya Tari memacu seluruh saraf-saraf pekanya. Kedua kakinya dia jejakkan keras-keras pada tepian amben dangau hingga pantatnya terangkat tinggi untuk menelan seluruh batang penis Pakde Yono dan datanglah malaikat nikmat merangkum seluruh otot, daging dan tulang belulang Tari. Cairan birahi Tari muncrat melebihi derasnya hujan siang itu. Terus muncrat-muncrat yg diikuti dgn pantatnya yg terus naik-naik menjemputi penis Pakde Yono yg jg terus mempercepat sodokkannya untuk mengejar kesempatan meraih orgasme secara berbarengan dgn orgasme Tari.

    Dan pada saat puncratan cairan memek Tari mulai surut penis Pakde Yono yg masih kencang mengayun memek Tari tiba-tiba berkedut keras. Kedutan besar pertama menumpahkan bermili-mili liter air mani yg kental lengket dari kantong spermanya. Dan kedutan berikutnya merupakan kedutan pengiring yg menguras habis kandungan sperma dari kantongnya.

    Sesaat kemudian bersamaan dgn surutnya hujan mereka berdua Pakde Yono dan Tari yg istri keponakannya terengah-engah dan rebah. Amben dangau itu nyaris terbongkar. Bambu-bambunya ada yg lepas terjatuh. Mereka kini kegerahan dalam dinginnya sisa hujan. Keringat mereka bercucuran rancu dgn air hujan yg membasahi sebelumnya. Pakde Yono dan Tari telah meraih kepuasan yg sangat dahsyat.

    Pelan-pelan mereka bangkit dari amben dan turun ke pematang kembali. Tari membetulkan letak kain dan kebayanya. Pakde Yono memakai celana kolornya yg basah jatuh di pematang dan kembali meraih cangkulnya. Langit yg cepat cerah kembali nampak biru dgn sisa awan yg berarak menyingkir. Pohon kelapa di dusunnya nampak melambai-lambai menanti kepulangannya.

    Tari dan Pakde Yono yakin bahwa Bude maupun Iding pasti cemas pada mereka yg tertahan hujan ini. Pakde sdh membayangkan pasti istrinya telah memasak air untuk kopinya lengkap dgn singkong bakar kesukaannya. Dan dalam bayangan Tari, Iding pasti telah sangat merindukannya untuk bercumbu di siang hari. Suara kodok di sawah mengantarkan mereka pulang ke rumahnya.

  • Getaran Cinta

    Getaran Cinta


    11 views

    Tara adalah seorang Ibu rumah tangga, yang cukup santun, cantik dan pandai, dia seorang karyawati
    menengah yang sukses adapun suaminya Nico sangat religius dan agak kaku; malah dapat digolongkan sangat
    tradisionil jalan berpikirnya.

    cerita-sex-dewasa-getaran-cinta-668x1024
    Kehidupan Tara menjadi berubah dengan segala prubahan zaman serta kariernya, dimana dia bekerja disebuah
    hotel berbintang 5 di suatu property di kota besar dibagian dunia ini.

    Dengan penampilan Tara yang manis, ramah, pandai juga sexy, Tara menjabat sebagai ‘Event Coordinator
    Manager’, adalah suatu bagian yang memang cukup sibuk, di dunia ‘Hospitality Industry’ dan sering dia
    harus bekerja sampai larut malam.

    Didalam kehidupan social diHotel ada sebuah motto yang tak tertulis bahwa semua orang seharusnya bantu
    membantu, apa bila orang pernah tidak membantu satu bagian lain, otomatis suatu ketika dia akan kena
    batunya sendiri karena tidak akan diperlakukan baik bila dia mendapat kesukaran dikemudian hari.

    Motto ini dipegang teguh oleh Tara, sejak kepindahaannya dari lain perusahaan, yang benar-benar berbeda
    nafas dan warna usahanya; namun dengan cepat Tara bisa mengikuti jalur permainannya.

    Namun tak mengherankan juga, cara kehidupan yang begitu erat di property Hotel itu akhirnya mereka juga
    saling menjalin kasih diantara mereka, entah itu orang dari Front house dengan Back house, manager
    dengan waitress nya, ataupun chef dengan front office officernya; walaupun, ada tertulis bahwa mereka
    tidak boleh saling melecehkan pegawai, dalam arti pelecehan apapun termasuk sexuality.

    Banyak pegawai menyebutkan bahwa Tara adalah seorang yang sexy, menawan dan ramah, dengan kulit ‘fair’
    rambut panjang serta ‘grooming’ selalu terjaga, tidak terlalu menyolok dalam berdandan, juga ringan
    tangan. Mungkin hal ini karena dia dari Indonesia, yang terkenal dengan ramah tamah dan berbudi bahasa
    halus.

    Suatu saat pegawai Hotel dihebohkan dengan kejadian adanya pemerkosaan dan pembunuhan sebelah kanan
    gedung property Hotel, dilakukan oleh orang lokal yang memang tampang dan cara kehidupannya agak
    menyeramkan bagi yang menemuinya, namun jumlah mereka tidak banyak, dan makin memudar.

    Dengan peristiwa itu, banyak wanita pekerja Hotel itu harus di’escort’ sampai ketempat parkir atau pun
    tempat pemberhentian bis dimana dia harus mengambil jalur bis menuju ke rumahnya masing2 di malam hari,
    oleh siapa saja yang bertugas malam itu, bagian front office yang laki-laki, terutama Security.

    Tak berbeda dengan Tara, diapun mendapat perlakuan yang sama karena sering kali dia harus selesai jam
    22:00 atau 22:30. dimana kadang dia hanya naik bis saya menuju ke suburb dimana dia tinggal.

    Disuatu malam, karena Hotel memang sedang sibuk sekali Tara harus pulang malam, Tara menelephone pada
    suaminya yang sudah dirumah.

    “Nic, kerjaan aku belum selesai tuh, mungkin aku sampai agak malam karena harus keluarin leaflets dan
    brochures ini besok pagi?”
    “Biar deh aku naik bus aja ntar kamu jemput di halte bis aja ya?”
    “Uchh aku juga lagi nyiapin presentasi buat besok nih Tar, udah deh bila aku udah ngantuk ya sampai
    ketemu ditempat tidur aja ya”, jawab Nico.
    “OK deh soalnya aku belum tahu sampai jam berapa aku selesai, I love you”
    “OK I love you too, anak-anak udah pada belajar kok mereka udah mo pada bobo, udah ya muuacch!” kata
    Nico.
    “Ya udah sampai nanti, Mmmuuachh”, sambut Tara dengan agak rasa kesal.Cerita Sex Dewasa

    Tara meletakkan telephonenya dan mulai bekerja kembali menyelesaikan pekerjaannya yang menuntut
    penyelesaian malam itu.

    Jam 20:00 dia turun keKantin untuk makan malam, banyak pria yang menayakan akan keberadaannya dan
    menawarkan untuk panggil aja bila butuh escort. Tarapun menjawab dengan ramah dan santai, sambil
    memikirkan akan makan apa yang ada dikantin, karena kadang membuat dia bosan juga makanan ala Hotel yang
    itu-itu juga, terasa kurang rasa, tidak seperti di rumah makan Indonesia atau di warung makan biasa.
    Akhirnya dia cuma makan cumi yang digoreng pakai tepung dengan sayur mayur dan sedikit nasi goreng yang
    memang tinggal sedikit.

    Tara tak menghiraukan lingkungannya selama makan, karena ingin cepat kembali kepekerjaannya dan pulang
    tak terlalu malam, rupanya ada seorang yang memperhatikan tingkah lakunya yang agak serius setengah
    resah.

    “Banyak kerja Tara?”
    Tarapun menoleh karena kaget rasanya sangat familiar dengan suara itu.
    “Oh ya, kok kamu Harry, kok makan sini sih, bukannya kamu harusnya udah pulang tadi 2 jam yang lalu.”
    “Ya sama aku juga terjerat kerja nih besok ada Press Release”, kata “Deputy Executive Managing
    Director” ini menerangkan.

    Selesai kerja, Tara pergi kebawah menuju keFront Office untuk minta “escort”, kemudian seorang
    ditugaskan untuk mengantarnya sampai kehalte bis menunggu sampai dia naik bis.

    Namun tiba-tiba Harry menyahut dari belakang, “Biar saya saja yang mengantar Tara”
    Maka Tarapun jadi tidak enak hati dan menjawab, “Gak usah deh Harry biar Peter aja yang menantarku,
    keluargamu menunggumu”

    “Ya OK deh Peter, antar Tara kepemberhentian bis, jangan kamu pulang bila dia belum naik bis ya”,
    godanya.

    Sampai dirumah, Nico telah mengorok diperaduannya, melihat anak- anaknya udah lelap, kelihatan sangat
    suci sekali wajahnya dalam tidur nyenaknya. Cepat Tarapun membersihkan diri dan masuk ke quilt menyusul
    Nico tidur di malam spring yang agak sejuk itu. Mendekap Nico dari belakang, berusaha melupakan
    kekesalannya terhadap Nico yang selalu agak masa bodoh.

    Segera terjatuhlah Tara tertidur, namun belum pulas sekali; Nico merasa bahwa istrinya telah berada
    disampingnya, segera dia membalik dan melucuti pakaian Tara, juga dirinya sendiri. Segera dia memasukkan
    kemaluannya kedalam vagina Tara.

    Walaupun Tara agak capek dari kerja masih terpejam matanya, dia tak dapat mengelak perilaku suaminya
    yang memang tanpa permisi dan basa basi bila ingin menyalurkan syahwatnya, pun pula tanpa “warming up”
    dan cumbuan; Nico langsung menancapkan kemaluannya dan memompanya sepuasnya, bagaikan sebuah mesin sex
    yang lagi di”switch on”, semua getaran badan Nico terasa dibadan Tara.

    Belum juga Tara merasa mencapai pendakian birahinya, Nico telah sangat memburu nafsunya dan deru
    nafasnya tak terelakkan, kemudian keluarlah air many Nico dalam rahim Tara , creet, cret, cret. Tarapun
    menjadi kaget, karena dia masih belum separoh jalan menuju ke puncak pendakiannya dan masih harus
    berkonsentrasi akan rasa gesekan penis Nico dalam relung kenikmatannya, namun Nico telah KO, dan lunglai
    di dadanya.

    Betapa jengkel dan kecewa hati Tara, akan perlakuan suaminya yang selalu tak pernah memberikan
    kesempatan untuk berexpresi dan mendapatkan kenikmatan bila mereka membuat cinta. Namun Tara harus
    menerimanya dengan diam, karena telah beribu kali dia utarakan untuk berbicara mengenai hal yang satu
    ini, namun Nico, menjawabnya dengan masa bodoh seolah, memang itu tanggung jawab wanita, sebagai
    pelampyas nafsu suami titik.

    Esoknya, Tara kembali bekerja dengan tekunnya, memang kebetulan kamar kerja Tara berada agak pojok dan
    ngak banyak orang lalu lalang karena memang kegiatannya yang membutuhkan ketenangan, dalam menghadapi
    para langganannya. Tiba-tiba pintu terbuka tanpa ketukan, ternyata, Harry yang masuk, kontan kaget Tara
    akan kehadirannya, karena biasanya bila orang masuk tentu mengetuk pintu terlebih dahulu. Matanya agak
    sayu dan langsung menutup pintu kamar dan berkata,Cerita Sex Dewasa

    “Tara, kau tentu tahu bahwa aku menyukaimu, bukan saja pinggul dan dadamu yang indah, namun perilakumu
    meruntuhkan imanku.”
    “Kudambakan kelembutan wanita seperti kau, dan aku tahu, kau akan mengimbangi deru cinta dan nafsuku
    Tara”, berkata begitu sambil menatap mata Tara yang masih agak terperanjat namun juga sebagai kejutan,
    karenanya darahnya berdesir kencang sewaktu tangan Harry menggapai tanggannya, dan meremasnya halus.

    Ditariknya tangan Tara lembut dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menggapai leher Tara dan
    menariknya mendekat di mukanya, dalam sekejap bibir Harrypun telah menempel dibibir Tara dengan
    hangatnya. Terasa, hangat dan bergetar bibir Tara menerima kenyataan indah ini, sesaat Harry mendorong
    lidahnya dan memainkannya dirongga mulutnya dengan aktif, sambil sesekali menekan dan menghisap liurnya.

    Jantung Tara berdegup kencang, dan darah berdesir, keringat mulai membasah, menerima kenikmatan.
    Hangatnya dekapan yang tak disangka-sangka, membuat tubuhnya bergetar dan menggeridik bulu kuduknya,
    dalam berpangutan hangat ini. Akan tetapi, dirasakannya ada suatu halangan kenikmatan mereka, karena
    mereka berciuman terpisahkan antara meja tulis selebar 90 sentimeter.

    Maka bergesarlah Harry kearah balik meja dimana Tara berdiri, dan langsung mendekatkan dirinya pada Tara
    dan mendekapkan tangannya dipunggung Tara, kemudian merambatkan tangannya memegang leher dibalik rambut
    Tara yang panjang sebahu. Diraba dan dielusnya leher Tara dengan lembut, sambil bibirnya terus memangut
    bibir Tara yang hangat.

    Hampir lupa Tara bila dia dalam keadaan dinas; terhenyaklah mereka ketika telephone berdering, serta
    merta Tara mendorong pelan Harry, mengangkat telp dan menjawabnya setelah sesaat dikuasainya diri dan
    emosinya sendiri.

    “Event coordinator office, Tara speaking”

    Ternyata yang telepon dari graphic designer bicara mengenai design yang telah Tara setujui akan langsung
    di cetak, dan Tara menyetujuinya.

    Setelah selesai pembicaraan dengan graphic designer, Harrypun terus memegang tangan Tara lagi, dan
    mengatakan,

    “Tara, jangan lari dariku lagi please, aku mencintaimu”
    “Akan kuatur kebahagian kita bersama, will you accept this please”

    Tara tak kuasa menjawab, hanya anggukan kepala dengan mata tak berkedip memandang Harry, seolah cahaya
    kuat yang mempunyai daya tarik yang besar menyedot dirinya hampir dia tak akan bisa melepasnya. Maka
    Harry pun menegaskan sekali lagi.

    “Tara, aku ngak puas dengan anggukanmu, katakan bahwa kau juga merasakannya!”

    Akhirnya Tarapun berkata, “Ya Harry, akupun merasakannya dan akan kucoba memenuhi tuntutan jiwaku”

    “Kuharap kau sabar Harry, atas kebingunganku ini, namun tak kupungkiri aku mencintaimu juga”

    Harry segera menggapai tangan Tara sekali lagi dan mengelusnya sambil mengecup bibir, kemudian
    meninggalkan ruangan untuk mengadakan “Press Release”.

    Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12:15 siang dan terasa Tara butuh mengisi perutnya yang sudah
    mulai merengek minta dipenuhi, dan diapun meninggalkan ruangan menuju ke kantin. Tara tak banyak
    bercanda dengan sejawatnya, hanya sekedar basa basi dan ketawa menyegarkan suasana. Sekembali Tara
    keruang kerjanya, didapatinya surat tertutup yang ternyata dari Harry.

    “Tara, temui aku jam 8 malam di paviliunku room 1431, thank you for your acceptance.”

    Terasa berdesir darah menjadi cepat mengalir, terhentaklah jantungnya bagaikan halilintar menjambar
    dirinya, tak kuasa menahan deru detak jantung yang semakin mengencang, bingung rasanya apa yang akan
    diperbuat nanti malam, dalih apa yang akan disusunnya untuk memberitahu Nico suaminya. Segera Tara
    memutuskan menelphone Marrisa ‘Executive Secretary’ di’executive Offce’, memberitahukan bahwa dia ada
    appointment dokter siang itu dan akan kembali ke Hotel jam 4 sore untuk meneruskan kerjaannya, yang
    menurut agendanya dia akan selesai dimalam hari. Marrisa menjawab bahwa dia akan mencatat semua pesan-
    pesan yang masuk dari telephone untuknya.

    Kepergian Tara sebetulnya hanya akan menjenguk Nico dikantornya dan sambil minum kopi bersamanya
    sejenak, kemudian dia pulang bersama Nico untuk bertemu dengan anak-anak, hampir satu setengah jam Tara
    bermain dengan anak-anaknya, Tara kembali keHotel lagi dan bekerja kembali. Sore jam 6 dia minta room
    service” untuk mengirim secangkir kopi kekantornya dan sedikit kue supaya Tara dapat menghemat jam
    kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaannya hari itu.

    Tepat jam 19:50 malam Tara berajak dan menutup pintu menuju ke atas lantai 14 no 31, dimana Harry sudah
    menunggu nya.

    Setelah dia memencet tombol bel Harrypun membuka pintu, seraya mepersilahkan Tara masuk ke dalam
    Paviliunnya.

    Kaget bukan kepalang ketika berhadapan dengan Harry, karena Harry hanya mengenakan jas kamar dan
    menalikan sabuknya tidak kencang, jadi sebagian paha atasnya yang berbulu kelihatan. Segera Harrypun
    menyadari keadaan dan merangkul, membimbing Tara kedalam sambil membetulkan jas kamarnya.

    Segera, berkatalah Harry, “Tara kamu lelah, releks aja ya bersamaku disini, jangan kau hiraukan
    penampilanku, saat ini, telah kusiapkan dinner untuk kita berdua, maukah kau menemaniku malam ini?”

    Tara menjawab, “Saya yakin ini bukan sebuah order dari atasanku, namun aku datang untuk memenuhi
    komitmenku kepadamu, ya kita akan bersama beberapa saat malam ini.”

    Serta merta Harry menggapai dagu Tara dan segera menempelkan bibir hangatnya kepada Tara dengan penuh
    kasih dan emosinya.

    Tara pun tak tinggal diam dan segera menyambut sapuan lidah Hari dan menyedotnya dengan keras air liur
    Harry, dililitkannya lidahnya menyambut lidah Harry dengan penuh rasa getaran birahi, serasa dia bisa
    menghilangkan sekejap semua kekecewaan bathinnya akan sikap Nico suaminya.

    Setelah puas meraka bertautan merekapun berajak untuk makan malam. Selama makan malam, mereka bukan
    hanya menceritakan pengalaman indah dalam perkawinannya, namun juga kekecewaan dan himpitan dalam rumah
    tangga mereka masing-masing. Sesekali tangan mereka saling mengelus dan meremas; tak terasakan lilin
    telah hampir tinggal separoh batang, habis terbakar oleh bara yang romantis dan syahdu. Hampir jam 21:00
    mereka selesai makan, Harrypun kemudian masuk dan mengambil jas tidur wanita yang biasa disediakan untuk
    tamu VIP, bahan dari silky warna kuning lembut pastel dan katanya,

    “Tara, ganti ini yuk, nanti pakaian kerja kamu kusut loh”
    “Boleh nggak kubukakan pakaianmu, sayang”
    “Boleh Harry, tentu sekalian kau akan menyayangiku kan?”
    “Ya Tara, gimana kalau kita pindah di kamar tidur saja”, seraya digendongnya Tara dari ruang makan ke
    kamar tidur dan direbahkannya tubuh molek itu di kasur.

    Segera, Harrypun membalik badannya dan menuju ke Audionya memasang satu set lagu-lagu klasik,
    “Serenade”, Hofstetter ciptaan Haydn, ceritasexdewasa.org “Waltz of the Flowers” dari Peter Tchaikovsky dan” The four
    Season: “Spring” dari Vivaldi, dimana lagu-lagunya lembut namun ceria penuh gairah; sangat cocok untuk
    musim spring, dimana saatnya setiap insan sedang enak-enaknya membuat cinta, karena dunia pernuh warna
    dan hangatnya pas, nyaman sekali untuk semua insan didunia.

    Kembali Harry membalikkan badannya ke Tempat tidur, ternyata Tara telah ganti pakaian dengan jas
    tidurnya dengan tidak ditalikan sabuknya, terlihatlah bra yang transparan dengan “push up bra
    style”warna pastel, memberikan kesan seakan payudara Tara hampir tumpah meluap keluar lebih dari
    sepertiganya. Tangan kiri Tara mengelus-elus payudara yang sebelah kiri yang masih dibalut bra,
    sedangkan tangan kanannya membelai “pussy”nya yang menyembul mendesak CDnya, karena Tara memang
    mengenakan celana “mini high cut style”.

    Melihat pemandangan yang mempersona itu, segera Harrypun menghampiri Tara dengan deburan darah dan
    nafsunya, langsung menyambar bibir Tara yang lembut dan hangat, dilumatnya bibirnya dan didorongnya
    lidahnya untuk mencari lawannya didalam rongga mulut yang tak begitu besar itu. Dan didalam sana
    ternyata sambutan hangat, agak liar telah siap menari bersamanya didalam dan bertautlah keduanya dengan
    penuh nafsu birahi.

    Getaran jantung serta desiran darah Tara mengantarnya sampai kepintu kenikmatan yang tiada berujung,
    sementara tangan kanan Harry otomatis mendarat disembulan hangat payudara sebelah kanan Tara yang segar;
    dielusnya lembut, diselusupkan tanganya dalam bra yang hanya 2/3 menutupinya dan dikeluarkannya buah
    dada Tara, ditekan, dicarinya puntingnya kemudian dipilin halus seraya ditariknya pelan. Dengan
    perlakuan ini Tarapun melepas ciuman Harry dan mendesah, mendesis, menghempaskan kepalanya kekiri dan
    kekanan.

    Selepas tautan kedua bibir hangat itu, Harry menyapu dagu dan leher Tara, hingga Tarapun meracau
    menerima dera kenikmatan ini.

    “Harry, getaran dalam tubuhku mendera sukmaku Harry, kenapa kudapatkan ini darimu bukan dari Nico”
    “Harry, hantarkan aku mencapai awang-awang bersamamu, berikan aku kesempatan untuk menikmati bara
    cintaku denganmu Harry.”
    “Aaachh shheesstt, aachh aachh”

    Harrypun melepas kegiatan mulutnya.

    “Tara, aku telah khawatir tadi bila kau akan lari dariku, telah lama kudambakan ini denganmu, aku
    mencitaimu Tara.”
    “Mengapa baru kali ini aku bisa menggapaimu, jangan lagi kau pergi dariku”

    Tangan Harry pun segera membuka kaitan branya yang ada di depan, dengan sekali pijitan jari telunjuk dan
    Ibu jari sebelah kanan Harry, segeralah dua buah gunung kembar indah itu menyembul keluar menikmati
    kebebasan alam yang indah. Segera ditempelkannya bibir hangat Harry pada buahdada Tara sebelah kanan,
    disapu dan dijilatnya sembulan daging segar itu, secepat itu juga merambatlah lidahnya pada puting
    coklat muda keras, segar menentang keatas. Dikulumnya puting itu dengan buasnya, sesekali digigit halus
    dan ditariknya dengan gigi Harry. Adapun reaksi Tarapun semakin mengila, mengerang dan melenguh, sambil
    mengangkat badannya seraya melepaskan Jas tidurnya berserta bra yang telah dibuka Harry dan
    dilemparkannya dikursi dekat tempat tidur tersebut.Cerita Sex Dewasa

    Harry segera menyadari keadaan, dengan giat penuh nafsu Harry menyedot buahdada Tara yang sebelah kiri,
    tangan kanannya meraba dan menjalar kebawah sampai dia menyentuh CD Tara dan berhenti digundukan nikmat
    yang penuh menentang segar keatas, segera dirabanya kearah vertical, dari atas kebawah, yang ternyata
    ditemuinya sudah basah lembab, tanda cairan birahi tara telah tak tahan menahan dera kenikmatan dari
    perlakuan Harry. Segera Harrypun menurunkan CD Tara tersebut, mendorongnya dengan kaki kirinya sampai
    jatuh ke karpet. Adapun tangan kanan itu segera mengelus dan memberi sentuhan rangsangan pada memek
    Tara, yang dibagian atasnya ditumbuhi bulu halus terawat dan dipangkasnya adapun dibagian belahan memek
    dan dibagian bawahnya bersih dan mulus tiada berambut, rangsangan Harry ini semakin tajam dan hebat
    hingga Tara meracau.

    “Harry touch me please, touch me..”
    “Harry make me fly, I want to fly with you darling, please.”

    Harry segera membuka belahan gundukan tebal memek Tara, dengan dua jari telunjuk dan jari tengah dibantu
    dengan Ibu jari nya untuk menyentuh lebih dalam lagi mencari klitoris Tara; kemudian disapunya dengan
    telunjuknya ke atas dan kebawah. Tarapun mengerang-erang kuat tak bisa terkontrol.

    Adapun mulut Harrypun segera menjalar kebawah menyambut klitoris yang telah hangat dengan sentuhan jari
    telujuknya lalu dijulurkan lidahnya menggatikan kegiatan jari tangannya, disapunnya klitoris yang
    semakin membesar dan keras itu, ditekannya dengan penuh nafsu, bagai serigala yang sedang yang
    mendambakan kenikmatan daging rusa atau kembing muda, ataukah sang lebah yang ingin menghisap madu surga
    dunia bersama Tara; sedang kegiatan tangan kanan Harry tetap melanglang buana dalam lorong kenikmatan
    Tara menari didalam rongga yang gelap; Tarapun mengelinjang dan teriak tak tahan menahan orgasmenya yang
    akan semakin mendesak mencuat bagaikan merapi yang ingin memuntahkan isi buminya; sambil terengah-engah
    Tara mendorong pantatnya naik, seraya tangannya memegang kepala Harry dan menekannya kebawah sambil
    meracau.
    “Harry, fuck me darling, please fuck me with your tongue”

    Harry pun memindahkan tangannya dari relung kenikmatan Tara dan digantikannya dengan lidah yang kuat dan
    digerakkannya keluar masuk diantara lembah kenikmatan dan relungnya; Tarapun menjerit menerima ledakan
    Orgasmenya yang pertama, magmanya pun meluap menyemprot keatas hidung Harry yang mancung.

    “Harry aku keluaarr, aacchh Harry memekku berdenyut kencang, kiss me please kiss me darling..”
    dan.. mengejanglah Tara beberapa waktu sambil tetap meracau.
    “Harry kau jago sekali memainkan lidahmu dalam memekku darling, Please kiss me, acch ini permainan indah
    Harry baru kali ini aku benar mendapatkannya”

    Harry segera bangkit mendekap erat, diatas dadanya Tara yang dalam keadaan oleng menyambut getaran
    orgasmenya; diciumnya mulut Tara dengan kuatnya, yang disambutnya oleh Tara dengan tautan garang,
    menyerang lidah Harry dalam rongga mulutnya yang indah. Tergoleklah Tara tak berdaya sesaat, Harrypun
    mencumbunya dengan mesra sambil tangannya mengelus-elus seluruh tubuh Tara yang halus, seraya memberikan
    kecupan hangat didahi, pipi dan matanya yang terpejam dengan penuh cinta; dibiarkannya Tara menikmati
    sisa-sisa kenikmatan orgasmenya yang hebat, juga memberi kesempatan menurunnya nafsu yang ia rasakan,
    kemudian katanya,

    “Harry kau memberikan aku kebahagiaan, tak pernah aku merasakan sentuhan laki-laki yang nikmat seperti
    ini.”
    “Dengan Nico, aku lebih hanya menjalankan kewajibanku, mempersembahkan badanku untuknya, dan tak
    mempunyai hak untuk menikmatinya.”, dengan perasaan getir yang dalam Tara mengucapkannya.
    “Sudahlah, jangan kau ucapkan lagi, kita nikmati saja kebersamaan kita berdua, tak ingin rasanya
    keindahan ini terganggu dengan kekecewaan yang melintas di benak kita masing-masing.”

    Dengan sentuhan dan belaian Harry, Tara terbangkit gairah nafsunya lagi, segera dia bangkit, di
    dorongnya pelah badan Harry yang berada diatasnya, direbahkannya badan Harry disampingnya. Tara
    menundukkan kepalanya di pipi Harry, dicium dijilatinya pipinya, menjalar kekupingnya, dimasukkannya
    lidahnya kelobang kuping Harry, sehingga Harrypun meronta menahan gairahnya; kemudian jilatan Tara turun
    kebawah sampai dipunting susu kiri Hari yang berambut, dibelainya dada Harry yang penuh dengan rambut
    kecil, sedang tangan kanannya memainkan puting yang sebelah kiri. Menggelinjang Harry mendapat sentuhan
    yang menyengat dititik rawannya yang merambatkan gairahnya itu, iapun mengerang, dan mendesah.

    Kegiatan Tarapun semakin memanas dengan diturunkannya sapuan lidahnya sembari tangan Tara merangkak ke
    perut dan dimainkannya lubang pusar Harry sedikit ditekan kebawah dan kesamping, terus dilepaskannya dan
    dibelainya perut bawah Harry akhirnya sampai kekemaluan Harry yang sudah mengeras namun masih terbalut
    dc wana biru gelap. Kemudian dibuka, dielus lembut dengan jemari lentiknya batang kemaluan Harry, yang
    menentang ke atas berwarna kemerahan, kontras dengan kulit Harry yang putih, kepalanya pun telah
    berbening air birahi.

    Melihat keadaan yang sudah sangat menggairahkan tersebut, tak sabarlah Tara; segera menempelkan bibir
    hangatnya kekepala kontol Harry dengan penuh gelora nafsu, disapunya kepala kontol dengan cermat,
    dihisapnya lubang air seninya, hingga membuat Harry memutar-mutar kepalanya kekiri-kekanan dan
    mendongkak dongkakkan kepalanya menahan kenikmatan yang sangat indah tiada tara, adapun tangannya
    menjambak Tara.

    “Tara kekasihku, dera nikmat darimu tak tertahankan, kuingin memilikimu seutuhnya Tara”
    “Tara please berikan ini ditiap menit di kehidupanku jangan kau lari dariku sayangg, jangan kau lari
    dariku Tarraa”

    Tarapun tidak menjawabnya, hanya lirikan matanya sambil mengedipkannya satu kearah Harry yang sedang
    kelojotan, sukmanya terbang melayang ke alam raya oleh hembusan cinta birahi yang tinggi, diiringi lagu
    “The four Season: Spring” dari Vivaldi.

    Adapun tangan Tara memijat dan mengocoknya dengan ritme yang pelan dan semakin cepat, serta lidahnya pun
    menjilat seluruh permukaan kepala kontol tersebut, temasuk dibagian urat yang sensitive bagian atas
    sambil dipijat-pijatnya dengan penuh nafsu birahinya.

    Sadar akan keadaan Harry yang semakin mendaki puncak kenikmatanya, dan dia sendiripun telah terangsang,
    denyutan memeknya telah mempengaruhi deburan darah ditubuhnya, dia lepaskan kuluman kontol Harry dan
    segera dia memposisikan dirinya diatas Harry menghadap dikakinya, dan dimasukkannya kontol tegang Harry
    dalam relung nikmatnya, segera diputar memompanya naik turun sambil tekan pijatnya dengan otot vagina
    sekuat tenaganya, ritme gerakannyapun ditambah sampai ke kecepatan maksimal.

    Harrypun teriak, sementara Tarapun berfocus menikmati dera gesekan kontol Harry, yang menggesek G-
    spotnya berulang kali, menimbulkan dera kenikmatan nan indah sekali. Tangan Harrypun tak tinggal diam
    diremasnya pantat Tara yang bulat montok indah, dan dielus-elusnya anusnya, sambil menikmati dera
    goyangan Tara pada kontolnya akhirnya mereka berdua berteriak..

    “Tara aku tak kuat lagi.. berikan kenikmatan lebih lagi Tara, denyutan di ujung kontolku sudak tak
    tertahankan.”
    “Kau pandai seperti kuda binalku, kau liar sekali Tara, kau membuatku melayang Tara, aku mau keluar!”

    Lalu disuruhnya Tara memutar badannya menghadap pada dirinya dan dibalikkannya Tara posisi tidur dibawah
    bersandarkan bantal tinggi dan menaikan kedua kakinya dibahunya, Harrypun bersimpuh di depan memek Tara,
    sambil mengayun dan memompa kontolnya dengan ritme yang cepat dan kuat, karena tak tahan lagi Harry akan
    denyutan diujung kontol yang semakin mendesak seolah mau meledak.Cerita Sex Dewasa

    “Tara, please, let me release my valve, I am cumming, pleasee..”
    “Tunggu Harry, orgasmeku juga mau datang sayang, kita sama-sama”

    Akhirnya Creet, creet, creet, tak tertahankan bendungan Harry jebol memuntahkan spermanya di vagina
    Tara, adapun bersamaan Tarapun mendengus dan meneriaknan erangan nikmatnya; segera disambarnya bibir
    Harry, dikulumnya dengan hangat dan disodorkannya lidahnya dalam rongga mulut Harry, seraya didekapmya
    badan Harry yang sama mengejang, basah badan Harry dengan peluh menyatu dengan peluhnya, terkulailah
    Harry didada Tara, sambil menikmati denyutan vagina Tara, yang kencang menyambut Orgasmenya yang sangat
    nikmat, selama ini belum pernah ia rasakan.

    Dibelainya rambut Tara dengan penuh kasih dan sayang, dikecupnya dahinya.

    “Honey, Thank you, I love you so much, I want to grow old with you, please don’t go away from me, you
    make me a’live again.?

    Mereka bangun dan digendongnya Tara dikamar mandi dan di mandikannya Tara dibawah shower dan disabuninya
    dengan lembut sebagai tanda terima kasihnya dimalam itu. Segera berpakaian mereka kembali, kemudian
    dihantarkannya Tara kerumah suaminya.

    Ditemuinya Nico telah lelap di tempat tidur kembali dengan tenang dan damai, secepatnya tara berganti
    pakaian tidur, dan menyusul suaminya masuk dalam quiltnya dan mendekap Nico.

    Karena nikmatnya permainan cinta malam itu, Tara bermimpi indah, bersama Harry semalaman.

    *****

    Sejak kejadian malam itu di pavilliun Harry, Tara selalu mendambakan belaian Harry dan ingin selalu
    merasakan kemaluannya yang menggeliat di dalam vaginanya, bila teringat hal itu Tara selalu menelan
    ludahnya dan tak jarang dia melamun sejenak dalam kesibukannya, segera terhenyak bila telephone
    berdering ataupun tersadar bila ia diburu dengan tanggung jawabnya.

    Jum’at malam ada sebuah event untuk sebuah Oil Company yang akan merayakan “Hari Jadi” perusahaan
    tersebut, pesta ini mengikut sertakan sebagian besar staffnya, jadi memang agak besarlah event yang akan
    diaturnya untuk malam nanti.

    Pagi-pagi dia sudah ke field, ruang pesta, dan menyiapkan segala sesuatunya, kontak dengan dapur,
    mengenai makanan yang akan bergulir untuk nanti malam. Suasana Hotel masih sepi belum banyak pegawai
    mulai masuk terutama ‘waiters’nya; Tara ada di ruang ruang pesta sendirian, di pantry mencheck untuk
    terakhir kalinya; tiba-tiba Harry telah mendekapnya dari belakang dan mendaratkan ciumannya dileher Tara
    seraya menelusuri dagu dan bersarang di bibir lembut Tara.

    “Selamat Pagi gadisku, kuingin memuaskanmu disini, nikmatilah sayang kehadiranku.”

    Secepat itu juga dinaikkannya Tara diatas “pantry”, bagaikan kilat di perosotkannya CD Tara, kemudian
    mulut Harry telah bersarang di gundukan nikmat Tara. Tara yang telah biasa dengan perilaku suaminya,
    maka dia juga bisa menerima perlakuan Harry ini, maka Tara hanya menghisap nafas dalam-dalam dan
    menahannya sebentar dan dihembuskannya perlahan-lahan; Namun tentu saja dengan Harry mendapatkan sensasi
    yang lain dan memang dia mengharapkannya perlakuan semacam ini ditiap detik nafas dan hidupannya yang
    baru.

    Dinikmatinya rasa indah di bawah sana sambil menggelepar dan mengerang. Clitorisnya pun merasa semakin
    membesar dan vaginanya berdenyut kencang tak tertahankan. Tanpa dia sadari tangannya sendiri menggapai
    payudaranya dibawah blazernya dan di remasnya, beberapa saat kemudian ditelusupkannya tangannya kedalam
    bluse dan dirabanya puntingnya dan dipelintirnya sendiri, nikmat sekali rasanya seakan membuatnya
    melayang-layang.

    Setelah puas Harry menjilatin dan mengentot vagina Tara dengan lidahnya, berdirilah dia dan menarik
    retsleting celana panjangnya dan dikeluarkannya kemaluannya dari lubang CDnya.

    “Tara, kukunci pintu besar itu jangan kuatir, kita making love disini Okay?”
    “Harry lakukanlah, entoti aku dengan gaya dan nafsu birahimu, aku akan menikmatinya”

    Harrypun tersenyum dan menusukkan kontol yang tegang dan perkasa itu kedalam vagina Tara yang sudah
    membasah melelehkan air nikmatnya, karena menahan birahinya.

    Sambil berdiri Harry mengentot, memompa kontolnya kuat-kuat dan penuh birahi, sesekali badannya
    dibungkukkannya, untuk menggapai wajah Tara yang tersenyum manis selama di entotnya. Geregetan rasa
    Harry melihat wajah yang manis dan penuh gelora cinta di depan matanya. Tara sangat menikmati hujaman
    kontol Harry dan sambil berkata,

    “Harry, terus sayaang puaskan daku, ingin aku mati bersamamu dalam keadaan kau entoti aku begini.”
    “Enak Harry enak sekali teruskan.. nikmat batang kontolmu menghentak-hentak ubunku Harryy, ngiluu
    Harry!”

    Segera diangkatnya tubuh Tara.

    “Tara pompa kontolku naik turun, kau tentu pandai mengerjakan buat sukmaku melayang bersamamu Taraa”,

    Segera Tara digendong menghadapnya dengan kedua kakinya di pinggang nya, serta tanggan Harry memegang
    pinggang Tara. Segera dikocoknya badan Tara naik-turun, dan Tarapun ikut aktive melakukan permintaannya
    sambil terus berfucus pada kenikmatan gesekan kontol Haryy, yang membuatnya gilu geli menhujam seluruh
    tubuhnya hingga bergetar.

    “Harry boleh aku keluaar?”
    “Ya gadisku kita sama-sama, memekmu hangat menjepit, memilin kuat kontolku, kontolku berdenyut mau
    keluar spermaku sayang, Oooh kau gadis nakalku.. kau binall!”

    Dan orgasmelah mereka berdua dengan rasa bahagia meliputi mereka.

    Kemudian diletakkannya tubuh Tara di pantry kembali, sambil melepaskan kontol Harry, digesernya badan
    Tara sejajar dengan pinggir pantry, kemudian disodorkannya dimulut Tara, segara Tara mengerti maksudnya
    dikulum dan dihisapnya kontol tegang itu sampai bersih kembali. Cepat-cepat mereka membersihkan diri di
    “wash basin” di”pantry” itu, segera mereka merapikan baju mereka. Harry mendekap Tara, mencium kening
    pipi dan mulutnya, sambil mengatakan:

    “Kau sempurna, gadisku, kita nikmati hidup ini dengan sebaik-baiknya, seindah matahari bersinar setiap
    hari..”
    “Adakah kamu menikmati permainan kita tadi Tara?” maukan kau menikmatinya ditiap kesempatan ada?”
    “Ya Harry saya bahagia, dan menikmatinya ngentot denganmu darling”

    Dikecupmya Tara sekali lagi dan mengucapkan selamat kerja, kemudian ditinggalkannya Tara meneruskan
    pekerjaannya. Adapun Tara sendiri merasa bahagia, nikmat, seolah ringan dalam tubuhnya, karena birahinya
    tersalurkan baik dengan orang yang dia cintai, dia lalu mengerjakan pekerjaannya dengan suka cita.

    Selang dua hari kemudian, dipagi hari, jam 7 pagi Tara sudah ada dikantornya, Tara mendapatkan SMS dari
    Harry, dimana Tara memang sangat mengharapkannya.

    “Datanglah ke lantai 9, aku sedang mencek kamar VIP untuk siang ini, bawa set brochures yang untuk kamar
    914, Housekeepernya kelupaan.”

    Segera datanglah Tara kelantai 9 dan memberikan nya ke Harry, yang bertemu dilorong dekat kamar
    penyimpanan Linen Hotel.

    Begitu melihat Tara datang, segera Harry membuka kedua lenggannya dan menyambutnya dengan dekapan dan
    ciumannya dibibir hangat Tara. Sadar akan keadaan, segera dibawanya Tara kekamar linen tersebut segera
    dilanjutkannya melumat bibir Tara, sambil tangan kirinya meraba pantatnya yang penuh, dan memerosotkan
    CD dan stokingnya, ditariknya dengan kakinya supaya turun terus ke lantai.

    Segera setelah itu, tanggannya pindah ke depan menggapai gundukan vagina Tara yang sudah menunggu
    kenikmatan ciptaan tangan Harry. Tangan Tarapun tak tinggal diam, dan dibukanya retsleting celana Harry
    dan segera diturukannya semua termasuk celana dalam Harry secepat kilat.

    “Tara, kita sambut pagi ini dengan ceria matahari pagi ya, Kita making love disini, para ‘Housemaid’
    belum datang, tenang saja kita OK.”

    Tara meminta Harry untuk memindahkan kursi ini ke pintu, maka dilakukannya perintah Tara, untuk
    memindahkan sebuah kursi didepan pintu. Dan dibukanya baju Tara semua dan juga Tara membuka baju Harry,
    hingga mereka telajang bulat, tak selembar benangpun melekat pada tubuh mereka. Harry memposisikan
    dirinya berdiri berhadapan dengan Tara, kaki Tara sebelah kiri mengait kaki kanan Harry dan sebaliknya
    Kaki kiri Harry mengait kaki kanan Tara, segera Harry menyelipkan penisnya dalam vagina Tara, sambil
    tangan kiri mereka memegangi kaki kiri mereka yang menepel di pantat mereka masing-masing.

    Harry mengayun pantatnya kuat-kuat dan Tarapun menjepit, dan mengerakkan vaginanya mengimbangi ayunan
    Harry, kenikmatan mereka daki bersama, dengan dengausan dan erangan kecil-kecil dari mulut mereka
    terlepaskan, dan dengan sepenuh tenaga, Harry melaksanakan tugasnya dengan sempurna, hingga Tara
    mengerang kuat mendapat orgasmenya. Tara merangkul Harry kuat-kuat sambil memangut, dan menghisap liur
    Harry dengan garang penuh nafsu birahi.

    Setelah reda emosi dan getaran seluruh tubuh Tara, dilepaskannya semua posisi itu dan Harrypun minta
    Tara menungging dengan berpegangan ditiang teroli linen yang terbuat dari kayu yang kuat dan besar itu.
    Maka ditusukkannya penis merah Harry divagina Tara dari belakang, dan digoyang-goyangkan berulangkali
    untuk mendapatkan posisi yang nikmat untuk Tara, reaksi tarapun segera merintih menikmati goyangan
    tersebut, dengan goncangan penis Harry yang menggesek G-spotnya didalam sana, seolah ada sesosok tubuh
    yang kuasa menarik dorong sukma nya dari ubun-ubun, Tara pun mencengkeram tiang kayu itu sambil meracau
    tak menentu.

    Kemudian dengan ayunan pasti penuh nafsu birahi dihujamkannya penis tegang Harry itu berualang-ulang
    pada Vagina Tara, terasa Vagina Tara melelehkan cairan kenikmatannya membuat derap penis Harry semakin
    lincah menari didalam relung nikmat Tara.Cerita Sex Dewasa

    Sungguh, nikmat yang dirasakan Tara, diapun mendongak-dongakkan kepalanya sambil meracau.

    “Harry, enaak, Haarry teruskan aku sedang mendaki bersamamu sayang.”
    “Hunjam memekku keras-keras, layangkan aku ke angkasa, biarkan aku mendapatkan orgameku yang indah lagi
    Harry!”

    Harrypun semakin giat mendapat seruan Tara, di hentakkannya lebih keras kontol yang keras itu di relung
    nikmat Tara dan akhirnya iapun merasakan denyutan kepala kontolnya tak tertahankan lagi.

    “Tarra aku dataang, nikmatilah ini, siapkah kau menerimanya?”
    “Ya Harry, aku sudah siap, membungkuklah dan cium punggungku dan remas susuku Harry”
    “Cepat lakukanlah aku akan orgasme aacchh sshhtt, Harry enak sekali aku sampai juga Harryy..”

    Cepat otomatis, Hary membungkuk dan menciumi punggung Tara, meremas-remas payudara Tara dengan gairahnya
    yang memuncak.

    “Tarra, achh aku keluarr, adduhh enak Tara!”

    Sesudah selesai mereka orgasme, lunglailah mereka di kursi duduk dan saling berpangkuan.

    Jam menunjukkan jam 8:20 am, telah 1 jam 20 menit mereka bermain cinta di kamar linen lantai 9 tersebut;
    segera, diraihnya lipatan handuk dari tumpukannya di troli kayu tersebut dan di bersihkannya badanya
    dengan handuk itu, kemudian berpakain sebaik-baiknya dan mereka berpelukan kembali mengucapkan selamat
    bekerja, lalu mereka membuang handuk kotornya ke tube, supaya jatuh ke ruang linen di basement, kemudian
    mereka berpisah.

    Tara cepat kekamar mandi wanita di lantai 3 dan cepat-cepat membersihkan badannya di bawah shower,
    menyabun tubuhnya dan di elus-elus lembut memeknya, sambil tersenyum sendiri mengenang nikmatnya ngentot
    dengan Harry, terlupakanlah sedikit pedih kehidupan yang ada dihatinya, hidup bersama suaminya Nico.
    Dibilasnya dibawah shower tubuhnya, segera setelah itu berpakaian, kemudian membetulkan “grooming” wajah
    dan rambutnya.

    Segera dia kembali keruang kerja dikantornya, jam menunjukkan 8:50am, segera Tara memulai pekerjaannya
    hingga selesai. Adapun Harry berlaku sama hanya dia menuju ke Pavilliunnya dan mandi lagi sebentar dan
    turun ketinggkat 5 di kantor Executive Office dan menunaikan kerja nya kembali dengan aman dan damai.
    Hari itu sangat indah baginya dan harapannya untuk ngentot dengan Tara selalu menjadi obsesinya disetiap
    harinya.

    Event week end mendatang ada penyelenggaraan ‘Grand Prix’ di kota itu, Hotel penuh dari pertengahan
    minggu sebelumnya, sebagian staff dapur dan para waiter/waitress dikonsentrasikan kelapangan diweek end
    itu, dengan membuka dua tenda atas nama Hotel disekitar lapangan pacuan itu; karena banyak para
    Businesman/woman, dan paraa Celebreties menyaksikan balap mobil Formula 1 itu. Sebagian besar lagi para
    waitres/waitress dikonsentrasikan untuk event malam hari di restaurant-restaurant diproperty hotel,
    adapun siang hari memang agak lengang suasana di Hotel. Karena Kebetulan ‘General Manager’nya tugas
    turun kelapangan, maka Harry ditugaskan incharge didalam property Hotel tersebut.

    Kesibukan Tara sudah agak menurun, karena biasanya kesibukan Tara memuncak sebelum event berlangsung.
    Saat yang indah itu, dimanfaatkan mereka berdua saling mengirim SMS, Harrypun datang kekantor kerja
    Tara, yang berada di pojok itu, segera ia mengunci pintu kantornya dan diraihnya Tara dengan buasnya
    kemudian dilucutinya baju bawahnya, semua tanpa kecuali, dan diangkatnya Tara dimeja kerjanya lalu
    didudukkanya diatas meja kerja, segera dijilatinya memek hangatnya dengan lahapnya.

    Tara memejamkan matanya, sambil berpegangan kepala Harry menahan serentetan kenikmatan dan denyutan
    memeknya yang sangat luarbiasa sensasinya; maka digoyangkannya pantatnya sambil duduk, mengharapkan dera
    dan tusukan lidah Harry untuk segera menggapai dinding dalam rahimnya, Tara mendorong-dorong kepala
    Harry supaya masuk jauh kedalam selangkangannya. Sambil mengerang, ia menjepit kepala Harry karena dia
    mendapat Orgasmenya di pagi itu. Harry bangun dari selangkangan Tara setelah Tara mulai merenggangkan
    selangkangannya dan segera mendekapnya, diciuminya Tara dengan nafsunya yang membara bersama asmaranya
    menutupi semua perasaan yang ada di pagi itu.

    Setelah Tara pulih kembali, dibiarkan dia merebahkan dirinya di meja kerjanya, selang beberapa menit,
    segera diturunkannya celana Harry, sambil berdiri dijulurkannya kontol tegangnya pada klitoris Tara,
    dimainkannya lagi klitoris itu dengan kontolnya, hal ini menimbulkan gairah Tara kembali menyelubungi
    tubuhnya. Setelah Tara menggeliat dan melelehkan getah bening memeknya, Harrypun menusukan kontolnya
    dalam Vaginanya, segera dipompanya dengan ritme pelan dan kemudiaan cepat, di tariknya lagi, diam
    sejenak dan dihujamkannya lagi dengan kuat.

    Tara belingsatan dan mendongkak-dongkak kembali dan digoyang-goyangkannya kepalanya kekiri dan kekanan
    sambil giginya menggigit bibir bawahnya dengan kuat untuk menahan dera nikmat yang sangat dia inginkan
    tiap harinya. Sampai akhirnya Harry mengatakan akan mencapai ejakulasinya, ingin mereka menuangkan
    sama-sama, dan mereka selesaikan kenikmatan itu dengan sempurna, muncat tiga kali sperma dalam rahim
    Tara, segera dicabutnya kontol Harry, diputarnya badan Tara kepinggir meja dan disodorkannya kontol
    Harry kemulut Tara, segera Tara membuka mulutnya dan dikulumnya kontol Harry yang tegang merah, sedang
    memuncratkan spermanya langsung dalam tenggorokannya, segera ditelannya semua sperma itu, lalu
    dijilatinya kontol Harry dengan penuh kasih sayang. Setelah selesai session itu, mereka segera merapikan
    diri dan bekerja kembali.

    Jam 11 siang, Tara telephone Marissa mengatakan akan ke dokter lagi, dan Marissa pun akan menolongnya
    mencatat pesan untuk Tara. Namun sebetulnya Tara hanya naik ke tinggkat 14 kamar No 31, di Paviliun
    Harry, disana Harry telah menunggu nya, setelah Harry berpesan ke Marissa bahwa dia akan pergi
    kelapangan balap selama 3 jam, kontrol keadaan di sana.

    Segera setelah Tara Masuk ke Paviliun, tak sabar lagi Harry menggendong tara di kamar mandi dan melepas
    semua bajunya, untuk mandi bersama. Setelah mereka telanjang dimasukkannya Tara dalam bathtub, Harry
    berdiri dipinggir bathtub, di mintanya Tara menyepong dan mengelus-elus kontolnya, maka di elusnya buah
    zakar Harry lalu dikulum, dijilatnya dengan lidah nakal Tara, dimain-mainkannya dalam mulutnya, Harry
    mengerang kuat-kuat sambil matanya dipejamkan. Kemudian dirambatkannya lidah Tara kebatang kontol Harry,
    sambil menyapu dan menyedot seluruh batang kontol Harry, tangan Tara memilin dan memainkan buah zakarnya
    yang mengecil.

    “Tara, kamu nakal, kamu menggodaku, kulumlah Tara kepala penisku itu, mainkanlah dengan lidah yang nakal
    itu..”

    Diturutinya kemauannya, di kulumnya kepala Panis Harry, dan dimainkannya lidahnya dilingkaran kepala
    Panis yang menyembul itu.

    “Aaacchh Tara, manisku, kau jalang, kau binal.. kau gadisku, kau milikku Taraa, kau selalu memuaskanku
    Tarra..”

    Tara pun melepaskan kulumannya, dan minta dicium mulutnya dengan mulut lembutnya Harry.

    “Harry kiss me darling, I need you always, I want to be with you always darling.”

    Ditariknya pelan Harry kedalam air dan segera menduduki kontol yang keras itu dan menyelipkannya dalam
    vaginanya, sambil dia mendongkakkan kepala kearah belakang diayunkannya badannya, memompa penis Harry,
    dan Harry, memegang pinggang dan punggung belakang Tara menjaga supanya tak terbalik jatuh ke belakang.
    Sebagai, dewi amor sedang mengamuk Tara melonjak-lonjak memompa penis tegangnya Harry hingga pendakian
    birahinya mencapai puncaknya dan Tarrapun orgasme lagi.

    Harry mengangkat Tara, dibalikkannya badan Tara supaya dia tiduran menungging releks dalam bathtub,
    kemudian dia tusuk dan pompa memek Tara dari belakang sambil Harry menekuk lututnya dalam air tersebut.
    Tara mengerang lagi, diiringi dengusan nafas Harry yang memburu, terus penis Harry menghujam dan menari
    didalam relung nikmatnya Tara dengan bebasnya, erangan dan raugan mereka berdua tak bisa dihindarkan dan
    akhirnya mereka mencapai orgasmenya yang kesekian kalinya dihari yang indah itu.

    Mereka mandi bersama dan menguyur badan bersama, setelah puas mereka mengeringkan badan mereka dan
    beranjak ke tempat tidur. Melihat badan Tara yang masih telanjang itu, Harry ingin mencumbunya lagi,
    didorongnya Tara ketempat tidur, dan direbahkannya dia, dengan kaki masih menjutai dipinggir tempat
    tidur. Dimasukkannya lagi kontolnya walau belum tegang sepenuhnya, dan digoyang-goyangkannya terus
    menerus, sampai benar-benar keras, didalam liang vagina Tara, kemudian dihujamkannya kencang-kencang
    kontol buas itu pada memek Tara yang kenyal, sempit menghimpit dan berdenyut di dalam.

    “Tara biarkan aku biadab, menuruti nafsu binatangku kepadamu, kaupun akan merasa bahagia dengan
    perlakuanku ini, katakan bila kau tak menyukainya.”
    “Harry lakukanlah, kau wild dan aku menyenanginya, kuingin kontolmu nyelip disana terus dimanapun aku
    pergi, dari pagi sampai petang, akan ku pilin dan kupijit dengan denyutan memekku terus menerus Harry!”
    “Harry aku bosan memakai dcku akan kuganti pakai kontolmu saja didalam sana untuk menutupi memekku”

    Harry memejamkan matanya, sambil menjawab, “Heemm, Tara, kau benar-benar binaall!”

    Baca JUga Cerita Sex Perampok Sadis

    Tara, merasakan keindahkan making love dengan Harry, sukmanya menari, seiring deburan darah dan detup
    jantungnya setiap kali ia mendapatkan hujaman kontol Harry; ngilu, geli, seribu rasa ada dalam tubuhnya
    seakan ia melayang-layang dialangit yang biru tiada berbatas; hingga sampai saatnya terasa ia akan
    orgasme lagi.

    “Harry aku siap, magma didalam akan segera meledak Harry, berikan spermamu didalam sana”
    “Okey Tarra, aku dattaangg segera”

    Ddan Creett, creet, creet, sempurnalah pergumulan mereka disiang hari itu. Maka robohlah Harry di badan
    Tara, dengan penuh peluh di badan dan kepalanya..

    Mereka tertidur selama 1.5 jam, kemudian mereka membersihkan diri lagi, berpakaian kembali. Tara keluar
    dari Paviliun Harry dengan sebelumnya mengecup bibirnya mengucapkan selamat siang dan selamat kerja
    lagi.

    Hari itu Tara pulang sore, karena merasa capek sekali seharian ngentot bersama Harry, dijalan dia
    membeli makanan kesukaan Nico dan anak-anak. Sesampai dirumah mereka makan malam dan main dengan anak-
    anak sebentar, dan setelah bercakap-cakap dengan Nico, dibahasnya semua masalah rumah tangga sehari itu,
    kemudian menyuruh anak-anak tidur. Sedang Nico menggandeng Tara masuk kedalam kamar dan meminta jatahnya
    yang dua hari tidak didapatkannya dari Tara.

    Dalam hati Tara mengeluh, “Mati aku hari ini, sekian kali aku harus mengentot, memekku sudah terasa
    lelah sekali”, namun sekali lagi ini kewajiban, tak bisa ditolaknya permintaan Nico.

    Segera, Nico melucutinya, dan merebahkan Tara di tempat tidurnya, secepat itu juga Nico menghunjam memek
    Tara, mulailah “mesin sex” tersebut menderu sejalan dengan derap birahi Nico.

    Puas Nico, menghujam tanpa perasaan dari depan, dibalikkannya Tara supaya menungging, dan di hujamkannya
    kontol ngaceng Nico dari belakang, tak lama kemudaian dia sudah memuncratkan sperma birahinya di dalam
    rahim Tara, tanpa harus mengimbangi perasaan Tara, dalam usahanya mendaki birahinya untuk sama-sama
    menikmati cinta suami istri yang sedang memadu kasih, dengan cara yang terdalam, yakni ngentot.

    Kembali kecewa dalam hati Tara, dan benar-benar kesal akan perilaku Nico, yang selalu sepihak dalam
    menunaikan tugasnya sebagai suami. Sedih sekali perasaan Tara, namun sekali lagi dia tidak bisa mengelak
    dan protes kepada Nico suaminya. Esoknya, Tara kembali bekerja, dia mendapat e-mail dari sebuah
    perusahaan Garment dari designer terbaik di negeri itu, dimana mereka akan mengadakan pameran dan
    peragaan dalam Hotelnya, kira-kira 10 hari mendatang. Tara segera menyiapkan segala sesuatunya untuk
    penyelenggaraan pameran dan peragaan pakaian elite ini.

    Setiap sore Tara harus tinggal sampai agak larut, menyusun brochures dan undangan kepada orang-orang
    yang pantes diundang dan penyelenggaraannya. Harrypun harus juga mendorong dan mendukung usaha Tara
    dalam hal ini, maka kebersamaan mereka tak ada yang mencurigai. Sering Tara tinggal di Paviliunnya, dan
    mencari tanda tanggannya Harry; bila Harry bilang mau mengerjakannya di pavilliun, dan Tarapun harus
    datang, walau akhirnya mereka berdua selalu melampyaskan hasrat birahinya di paviliun itu.

    Di suatu hari Sabtu, Tara mengatakan ke Nico bahwa dia akan masuk kerja, ada kerjaan yang tidak selesai.
    Namun setelah dia kerja sejam di kantornya, Harry memanggilnya. Setelah Tara berada di Paviliunnya,
    sambil minum teh bersama, Harry mengeluarkan amplop tak tertutup diberikannya kepada Tara.

    “Tara, aku sangat mencintaimu, aku ingin juga sedikit memiliki cinta kepada anak-anakmu”
    “Ini tanda cintaku pada anak-anakmu, karena aku tentunya tak bisa memeluk dan menggapainya, Depositkan
    uang ini untuk sekolah anak-anakmu”
    “Jangan sekali-kali kau pakai, kau akan mendapatkan bagiannya sendiri dariku”Cerita Sex Dewasa

    Terperanggah Tara akan kata-kata Harry, dan melelehlah air matanya.

    “Harry, apa artinya semuanya ini, akankah kau meninggalkan aku?”
    “Tara, Jangan kau berburuk sangka padaku, kau adalah gadis binalku selamanya.”
    “Tak akan kutinggalkan dirimu akan selalu kuusahakan yang terbaik untukmu, untuk kita selalu saling
    memiliki”, maka diciumnya bibir Tara dan dihapusnya air matanya.

    Kembali mereka berpangutan, dan diteruskan seharian ngentot berdua diruang tamu setelah minum teh, di
    dapur sambil memasak, karena Harry dan Tara senang memasak.

    Mereka mempunyai tekad menjalani cinta dan kebahagian mereka, mereka tuai dalam “Rumah Besar” sambil
    melupakan kepedihan hidup dalam keluarganya masing-masing, sampai waktu dan umur memisahkan mereka.