PERAWAN

  • Adik Ipar Yang Galau

    Adik Ipar Yang Galau


    22 views

    Namaku benny, sudah 1 tahun aku menikah dengan istriku ana. Istriku memiliki satu adik yang bernama putri yang tinggal dengan ibu mertuaku. Ayah istriku sudah lama meninggal sejak istriku masih kecil. Pekerjaanku adalah seorang freelancer yang lebih sering melakukan pekerjaan di rumah. Hanya kadang-kadang aku keluar untuk menemui clientku.
    Seperti hari-hari biasa siang itu aku bekerja di rumah, tiba-tiba aku mendengar pintu depan dibuka dan terdengar suara tv dinyalakan. Hmmmmm pasti adik iparku lagi si putri. Putri memang sering datang kerumahku, sehingga sering langsung masuk rumah tanpa permisi.

    cerita-sex-dewasa-adik-ipar-yang-galau
    Aku keluar dari ruang kerjaku dan melihat putri menonton tv dengan wajah cemberut. Tangannya sibuk memencet-mencet remot, entah mau menonton apa. Yang pasti dia sedang dalam mood yang tidak baik.

    “Berantem lagi sama ibu ?” tanyaku ke putri.

    Memang sudah sering kali putri mengungsi ke rumahku kalau sedang berseteru dengan dengan ibu mertuaku.

    “Iya” jawab putri ketus.
    “Masih masalah yang sama ?” tanyaku lagi.
    “Ya begitu deh…” jawab putri singkat.

    Putri dan ibu mertuaku memang sering berseteru dengan masalah yang sama yaitu nikah. Setelah aku menikah dengan istriku, ibu mertuaku berharap adik iparku segera menyusul untuk menikah. Apalagi jarak usia istriku dengan putri cuma 1 tahun, tentu aja setelah aku dan ana menikah 1 tahun, ibu mertuaku sangat berharap putri segera menikah juga.

    Cuma masalahnya… selama ini putri tidak tertarik dengan laki-laki. Yap, rahasia ini sudah jadi pengetahuan umum antara putri, ibu mertuaku, ana dan aku. Putri yang selalu berpenampilan tomboy itu tidak pernah dekat dengan laki-laki, jadi jangankan menikah, punya pacar saja setahuku tidak pernah. Yang ada putri punya beberapa teman dekat wanita yang agak tidak wajar tingkat kedekatannya. Bahkan dia sempat membawa teman dekatnya yang bernama dina kerumahku.

    Aku duduk disebelah putri menemaninya menonton tv. “Ya bagaimana lagi put, namanya orang tua pasti harapannya ya kayak ibu itu” kataku ke putri. Putri cuma merengut mendengar omonganku.

    Putri sering datang kerumahku untuk curhat. Walaupun aku cuma kakak iparnya, putri lebih sering cerita ke aku karena cuma aku yang bisa mendengarkan cerita dia soal pacar dan nikah ini. Kalau dengan istri atau ibu mertuaku, pasti ujung-ujungnya bertengkar. Tapi sebenarnya selama ini aku cuma pendengar pasif aja sih.

    “Tapi kan abang tau sendiri aku bagaimana” kata putri menjawab omonganku.
    “Iya abang ngerti, tapi solusinya bagaimana ? Kamu sama ibu berantem terus. Umur kamu juga makin dewasa, enggak bisa selamanya kayak begini kan ?” kataku.
    “Ya abang enggak ngerti sih, aku ya begini, enggak tertarik sama cowok. Mau dipaksa bagaimanapun juga enggak akan suka” jawab putri meninggi.Cerita Sex Dewasa

    Sebenernya aku ngerti banget. Sudah banyak sekali buku dan artikel yang aku dan istriku baca untuk menghadapi keadaan putri ini. aku ngerti sekali bahkan komunitas dokter juga seakan sudah lepas tangan untuk kasus penyuka sejenis ini, tapi kita masih di indonesia. Tidak ada orang tua yang mau anaknya menjadi penyuka sejenis. Semua orang tua berharap anaknya menikah dan punya anak.

    “Sorry banget ya put, apa kamu bener-bener yakin kamu lesbian ?” aku bertanya karena ada beberapa kasus ada wanita yang cuma mengalami fase beberapa waktu untuk menyukai sesama tapi setelah fase itu lewat bisa kembali normal.
    “Yakin lah” jawab putri memerah. Memang pertanyaanku tadi agak sensitif.
    “Maaf lagi ya, kamu dah pernah nyoba pacaran sama sama cowok ?” tanyaku hati-hati

    putri terdiam lama. “Dulu sih bang pernah”. jawab putri pelan

    “Nah dulu bisa, kenapa sekarang enggak bisa” tanyaku sambil tertawa sedikit untuk mencairkan suasana.
    “Enggak sesederhana itu bang” jawab putri masih kesal
    “Dulu kenapa bisa pacaran, si dia ganteng ya ?” tanyaku masih dengan nada bercanda.
    “Iya sih..” jawab putri agak malu-malu

    Aku sebenarnya tidak mau memaksa putri. Tapi demi kebaikan ibu mertuaku, dengan fakta putri pernah pacaran dengan laki-laki, aku berharap putri bisa mencoba lagi dekat laki-laki, atau….. dalam pikiran nakal,aku berharap minimal putri biseksual sehingga masih bisa nikah…. ha.ha..maksa sih.

    “Ya sekarang cari aja yang ganteng lagi, mungkin kamu bisa jadian” kataku menyederhanakan, walau aku tau pasti tidak sesederhana itu.
    “Aku dah pernah coba dekat lagi dengan cowok bang, aku juga enggak mau kayak gini terus. Tapi bagaimana lagi, aku ngerasa hambar” jawab putri
    “Aku juga capek bang kayak gini terus, aku juga pengen normal, tapi aku cuma merasa hambar ke cowok” jawab putri hampir menangis

    aku terdiam. Memang sulit sih.. pikiranku macam-macam membayangkan putri menjalani hubungan dengan laki-laki dengan terpaksa, apalagi sampai menikah..

    “Maaf ya, abang sih berharap kamu bisa coba lagi dekat dengan laki-laki, cuma untuk memastikan…. siapa tau setelah dekat dengan laki-laki yang tepat, hati kamu bisa terbuka untuk menikah” kataku
    “Atau mungkin kamu nyoba itu dulu sama laki-laki biar tau enak apa enggak” kataku sambil tertawa..Cerita Sex Dewasa
    “Nyoba apa ?” tanya putri bingung.
    “Udah ah enggak usah dibahas lagi, lagian abang masih banyak kerjaan” kataku masih tertawa sambil beranjak ke ruang kerjaku lagi.
    “Nyoba apaan bang ? Yeiy ngomong enggak jelas” tanya putri lagi sewot.

    Aku yang sudah berjalan ke ruang kerjaku cuma tertawa saja melihat putri sewot.

    Malam harinya, saat aku dan istriku sudah diatas ranjang hampir tertidur, teleponku berbunyi menandakan ada sms masuk. Dengan malas aku mengambil handphoneku dan melihat ternyata sms berasal dari putri.

    “Dari siapa bang” tanya istriku dengan mata masih terpejam.
    “Putri” jawabku
    “Berantem lagi dia sama ibu ?” tanya istriku.
    “Mungkin” jawabku.

    Istriku memang sudah hapal, putri sering sms ke aku kalau sedang bertengkar dengan ibu. Agak aneh sih putri lebih dekat ke aku daripada ke istriku yang kakaknya. Tapi kalau melihat betapa miripnya watak istriku dengan ibunya, jadi terlihat wajar putri dekat ke aku kalau sedang bertengkar dengan ibu.
    Aku membuka sms putri, sedang istriku langsung menarik selimut untuk melanjutkan tidur

    “Yang tadi siang maksudnya apa bang ?” isi sms putri

    Aku terdiam sebentar.

    “Ping” sms putri berikutnya masuk
    “Sudah enggak usah dibahas lagi, cuma bercanda tadi” jawabku berharap putri tidak melanjutkan pertanyaanya.
    “Maksudnya jorok ya ?” sms putri datang lagi.
    “hehe” jawabku singkat.
    “Ih abang… serius abang nyuruh aku untuk ML sama cowok ?” sms putri lagi
    “hehe sorry, sudah lupain aja ya. Abang enggak serius tadi” jawabku

    lama tidak ada jawab dari putri. Sesaat aku menduga putri tidak melanjutkan perbincangan kami.

    “Menurut abang kalau aku ML sama cowok bisa normal lagi gitu ?” sms putri datang setelah aku teridur sebentar.
    “Maaf put, enggak seharusnya aku bilang gitu ke kamu. Itu ide gila aja. Jangan dianggap serius” jawabku

    kembali tidak ada jawaban dari putri untuk beberapa lama

    “Kalau memang bisa ngebuat aku normal lagi, mungkin aku mau” sms putri
    “Gila kamu, sudah itu ide gila. jangan dilanjutin” sms aku
    “Lagian kamu masih perawan, sayang banget. Lebih baik perawan kamu diberi ke pasangan kamu nanti” sms aku lagi.
    “Perawan ? Hmmmmm….” jawab sms putri

    aku sedikit bingung dengan jawaban putri

    “Maksudnya ?” tanya ku lewat sms

    lama putri tidak menjawab.

    “Jangan bilang siapa-siapa ya bang, aku sebenernya sudah enggak perawan” jawab putri lewat sms
    “Kamu dah pernah ML sama cowok ?” tanyaku terkejut
    “Belum sih, tapi aku dah pernah nyoba dildo” jawab putri semakin mengagetkan ku.

    lama aku berfikir untuk menjawab apa.

    “Sebenernya sayang sih… tapi kalau kamu dah pernah nyoba dildo, ya ML sama cowok enggak jauh beda lah, Enak kan ?” jawabku
    “Tapi…” jawab putri terputus
    “Aku nyobanya sama cewek bang, sama dina yang aku kenalin ke abang dulu. Jadi yang aku rasain begituan sama cewek” jawab putri gamblang

    aku menarik nafas panjang. Aku tidak menduga putri sudah sejauh itu pengalamannya. Aku sungguh tidak tau harus berkata apa lagi.

    “Jadi bagaimana bang, aku perlu nyoba ML sama cowok ?” tanya putri lewat sms

    Kepalaku pusing bagaimana menjawabnya. Sungguh informasi baru ini terlalu mengagetkanku.

    “Bang ?” tanya putri lagi.
    “Sorry put, abang enggak tau sih. Tadi cuma bercanda aja, eh kamu nanggapin serius” jawabku setelah lama berfikir
    “Iya putri tau ini ide gila, tapi mungkin berhasil bang. Putri juga pengen normal kayak yang lain” jawab sms putri.
    “Mungkin kalau putri dah ML sama cowok jadi tau enaknya, mungkin putri bisa buka hati ke cowok”. lanjut putri lagi

    Aku cuma menarik nafas panjang

    “Tapi masalahnya, putri bisa nyoba itu sama siapa ? Putri enggak punya temen cowok sekarang”

    Setelah lama berfikir aku menjawab “Sebenernya abang masih kaget put sama omongan kamu. Tapi kalau kamu memang mau coba, ya seharusnya sama cowok yang menurut kamu bisa dilanjutin ke tingkat pernikahan. Enggak seharusnya kamu melakuin itu sama sembarangan cowok”

    “Tapi aku bener-bener enggak punya temen cowok yang deket bang” jawab putri
    “Hmmmm…” aku menjawab singkat karena tidak mau ikut campurCerita Sex Dewasa

    Setelah lama tidak ada pesan, sms putri masuk lagi. “Atau sama abang aja nyobanya bagaimana ?”

    “Gila kamu, aku ini suami kakakmu tau” jawabku dengan marah
    “Tapi abang kan yang tau banget aku, dan aku dah percaya abang” jawab sms putri

    Tiba-tiba istriku bangun. “Bahas apaan sih bang, kok smsnya banyak banget” tanya istriku.

    “Oh biasa si putri habis berantem” jawabku agak gagap.
    “Udah suruh putri tidur aja” kata istriku kemudian membalik badannya untuk melajutkan tidurnya.
    “Sudah ya put, besok deh dilanjutin lagi pembicaraannya” sms aku ke putri.

    Aku menaruh handphoneku untuk tidur. Tapi sebelumnya aku menghapus beberapa sms pembicaraanku dengan putri. Kalau istriku tau, bisa ngamuk-ngamuk dia.

    Esok harinya putri datang kerumahku jam 1 siang. Seperti biasa dia langsung masuk dan menonton TV. Aku tau dia pasti ingin melanjutkan pembicaraan semalam. Tapi aku juga ragu untuk melanjutkan. Sehingga untuk beberapa saat aku tetap melanjutkan pekerjaanku di ruang kerja. Tapi akhirnya aku keluar juga menemui putri di ruang keluarga. Bagaimanapun pasti akan diteruskan suatu saat kan ?

    “Dah makan put ?” tanyaku sewaktu keluar dari ruang kerja dan duduk di samping dia.

    putri cuma menjawab dengan anggukan. akhirnya kami berdua hanya saling diam. Putri terlihat sekali menghindar pandangan mata dari aku. Matanya fokus ke televisi dengan sesekali melihat ke handphonenya.

    Jujur semalam aku sulit tidur karena membayangkan putri. Walaupun selama menikah aku tidak pernah selingkuh dari isriku, tapi sebelum menikah aku punya beberapa pengalaman nakal. Setelah aku menikah, kadang aku membayangkan untuk mencoba lagi perempuan lain selain istriku. Apalagi tiba-tiba ada wanita yang menawarkan diri. Ya walau dengan alasan yang sedikit nyeleneh.

    Walaupun tomboy, putri termasuk wanita yang cantik. Wajahnya sangat mirip dengan istriku, tapi dengan wajah yang lebih segar karena lebih muda. Tubuhnya pun lebih tinggi semampai, jauh lebih ramping dari istriku. Kekurangganya cuma 1, kulitnya sedikit lebih hitam dibandingkan istriku. Wajar lah aku susah tidur membayangkan sensasi putri dengan semua keadaan ini.

    Setelah beberapa lama akhirnya aku membuka pembicaraan.

    “Kamu yakin pengen mencoba itu ?” tanyaku.

    putri cuma menjawab dengan seyum kecil.

    “Aku ini suami kakakmu loh” kataku lagi. Aku agak heran dengan diriku sendiri. Rencananya aku ingin menghindar, tapi aku malah berbicara seperti ini. Kelihatan sekali kalau aku juga mau. he..he..
    “Malah dari itu, aku yakin abang akan bisa jaga rahasia kan” kata putri dengan sedikit senyum menggoda

    Kami terdiam beberapa saat.

    “Hmm.. kalau begitu ayo kita ke kamar aja” kataku sedikit bergetar.

    Agak kagok aku mengajak adik iparku sendiri ke kamar tidur.

    Putri segera bangkit, dia menunggu aku yang mengunci pintu depan terlebih dahulu. Kemudian putri mengikutiku masuk ke kamar. Aku pun tidak lupa untuk mengunci pintu kamar, walaupun dirumah cuma ada kami berdua.

    “Kamu duduk aja di tempat tidur put” kataku mempersilakkan.

    Putri kemudian duduk dengan sedikit malu-malu. Putri yang memakai kaus dan celana jeans itu seperti mengkerut duduk diujung tempat tidurku. Aku pun duduk disebelahnya. Karena kagok akhirnya kami terdiam beberapa saat.

    “Dah siap ?” tanyaku. Putri menjawab dengan anggukan.
    “Mungkin kita mulai dengan kissing dulu” kataku menyarankan. Putri tidak menjawab, tapi menghadapkan tubuhnya ke hadapanku.

    Aku kemudian mendekatkan muka ku ke wajahnya, secara perlahan aku kecup bibirnya. Putri secara refleks menghindar.

    “Maaf… maaf..” kata putri. Putri pun kembali memajukan tubuhnya sehingga aku bisa mengecup bibirnya lagi.

    Terlihat putri agak sulit menerima ciumanku. Wajar menurutku, lagi pula selama ini dia tidak pernah mengalami ciuman dari laki-laki.

    Setelah beberapa lama putri mulai agak rileks dan mencoba menikmati ciuman dari aku. Melihat putri agak rileks, aku memeluk tubuhnya agar ciuman kami bisa lebih dalam. Sesekali aku membelai-belai tubuh dan rambutnya sambil terus mencium bibirnya dengan intens.

    Aku melihat putri sudah terbawa dengan permainan french kiss kami. Dengan perlahan aku membimbinganya untuk terlentang ditempat tidur. Tidak sulit aku memposisikan putri untuk terlentang ditengah ranjang dengan aku masih terus mencium bibirnya dengan posisi badan disamping putri.

    Tangan kananku mencoba untuk memegang payudara putri. Dengan cepat putri menahan tanganku. Dengan perlahan aku sisihkan tangannya kesamping, tapi dengan cepat tangannya kembali menahan tanganku. Tapi setelah 3 kali mencoba, tangan putri tidak menahan lagi walaupun tangannya menggegam tanganku. Lagi pula telapak tanganku sudah diatas payudaranya.

    Payudara putri tidak terlalu besar, tapi cukup enak untuk digenggam. Satu payudara penuh bisa masuk ke dalam genggamanku. Perlahan aku meremas payudaranya. Kenyal layaknya gadis yang belum menikah. Setelah puas meremas payudara, aku mencoba untuk memegang putingnya. Ah sial, pakaian dan bra menyulitkan aku untuk memegang putingnya.

    Secara perlahan aku masukan tanganku dari bawah baju menuju payudaranya lagi, kuulangi lagi meremas-remas payudaranya, kali ini hanya terhalang bra.

    Setelah beberapa saat aku melepaskan ciumanku dan berkata “Branya dilepas ya”. Putri tidak menjawab, hanya mengangkat tubuhnya supaya tanganku bisa menjangkau kait branya. Dengan sekali jalan aku lepaskan kait bra putri. aku sudah terlalu pengalaman melepas bra hasil pengalamanku dengan istriku

    Kait bra putri sudah terlepas, tapi bra belum dibuka. Sekarang aku menjangkau langsung payudara putri dari bawah kain bra sambil terus mencium bibirnya. Putri sedikit melenguh saat aku memainkan putingnya.

    Setelah puas memainkan payudara kiri dan kanan, aku mencoba membuka kancing dan resleting celananya. Ada sedikit perlawanan dari putri sedikit, tapi setelah kancing dan resleting terbuka, putri memangkat pinggulnya untuk memudahkan aku untuk membuka celananya.

    Aku membelai celana dalamnya, terutama diatas garis vaginanya. Terasa ada sedikit lembab di celana dalam itu. Perlahan aku belai-belai segaris dengan garis vagina. Terasa celana dalamnya makin basah. Beda dengan istriku yang tidak pernah sebegitu basah sampai membasahi celana dalam.Cerita Sex Dewasa

    “Bajunya aku buka ya” kataku sambil menarik bajunya keatas. Putri mengganguk kecil dan merubah posisi untuk mempermudah aku membuka baju dan bra-nya sekaligus.

    Segera aku juga membuka baju dan celanaku sehingga kami berdua hanya memakai celana dalam.

    Kemudian aku memposisikan badanku diatasnya, dengan perlahan aku meneruskan ciumanku dengan posisi badanku diatas badan putri. Ciumanku aku variasikan ke telinga dan leher putri. Tidak lupa tanganku juga terus memainkan payudara kiri dan kanan.

    Penisku yang sudah sangat tegang menggesek vagina putri walaupun masih terhalang dengan celana dalam. Tapi terasa gesekan penisku ditanggapi dengan gerakan pinggul putri.

    Kemudian aku turun ke dadanya untuk menjilati dan menghisap payudara dan puting putri. Suara lenguhan putri mulai terdengar. Puas menghisap puting putri, aku turun kebawah lagi untuk membuka celana dalam putri. Mengerti dengan maksudku, putri mengangkat pinggulnya untuk memudahkan aku membuka celana dalamnya.

    Aku melebarkan paha putri sehingga aku dengan mudah melihat vaginanya. Vagina putri masih sangat mungil. Hanya terlihat satu garis dengan rambut tipis mengelilinginya. Kalau memang putri baru mencoba memasukkan dildo beberapa kali, pasti vagina ini masih sangat sempit.

    Aku melebarkan bibir vagina putri untuk melihat klitoris. Klitoris putri tergolong kecil, tapi masih terlihat dengan mudah. Aku mulai menjilati klitoris putri dibarengi dengan tanganku memainkan puting payudaranya. Lenguhan putri makin menggila. Kepalanya sesekali kekiri dan kekanan. Sesekali kepalanya terdongak saat aku menghisap klitorisnya.

    “Bang… bang.. bang…” lenguhan putri sesekali memanggilku
    “Akh….” tubuh putri menegang sambil pahanya mengatup keras. Putri sudah mencapai orgasmenya.
    “Udah dulu bang sebentar.” kata putri sambil terengah-engah…

    Aku segera memposisikan diri untuk rebahan di samping dia.

    “Kok aku dibuat keluar bang, kan belum itu” tanya putri
    “Ya tenang aja, habis ini kita lanjutin lagi” kataku sambil membelai-belai tubuhnya.

    Setelah putri agak tenang, aku kembali mencium bibir putri sambil terus membelai-belai tubuhnya. Terasa birahi putri mulai naik lagi.

    Aku mencoba memegang vagina-nya untuk mengecek, ternyata masih sangat basah sisa orgasmenya tadi. aku sempat mengelap sedikit vaginanya.

    Segera aku melebarkan kakinya dan menempatkan diriku diatas tubuh putri. Otomatis penisku sudah menjurus langsung ke vaginanya.

    “Aku masukin ya” tanyaku ke putri
    “Pelan-pelan bang” kata putri terdengar sedikit takut

    Aku mengarahkan penisku ke vaginanya, kugesek-gesek sedikit kepala penisku searah dengan garis vagina putri. Terasa sangat basar vaginanya.

    Kemudian aku dorong perlahan penisku masuk ke vagina putri. Walaupun memang sudah tidak perawan, tapi terasa vaginanya sangat sempit. Aku jadi teringat awal-awal ML-ku dengan istriku. Sempit, peret.

    Putri menggigit bibirnya sewaktu penisku mulai masuk mengisi vaginanya. Tampang putri tersebut sangat menggodaku sehingga penisku makin keras. Setelah penisku masuk keseluruhan, aku mulai menarik penisku sedikit untuk didorong kembali masuk kedalam vagina putri.

    “Akh…akh…akh…” lenguhan putri setiap kali penisku masuk secara total kedalam vaginanya.

    Teringat akan istriku, aku mencoba untuk mengocok dengan irama dangkal-dangkal-dangkal-dalam separti gerakan favorit istriku. Ternyata hasilnya tidak jauh beda. Putri semakin melenguh dengan keras.

    “Akh..akh..akh…bang..akh..ak hh..” lenguhan putri sambil sesekali memanggilku. Lenguhan itu semakin menyemangati aku untuk melakukan penetrasi ke vaginanya.

    aku sengaja hanya memakai posisi missionary karena ini ML pertama putri, sebaiknya tidak usah posisi aneh-aneh.

    Aku ambil bantal kemudian aku selipkan dibawah pinggul putri sehingga vaginanya makin menantang keatas. Kemudian aku masukkan penisku dengan posisi tubuhku tegak. Penisku terasa menggaruk-garuk bagian atas vaginanya.

    Putri makin meracau menikmati penetrasi penisku. Kemudian tiba-tiba dia merenggut tubuhku dan memelukku dengan erat. tubuhnya terasa bergetar dan kakinya merenggut erat pinggulku.

    “Aduh bang,aku keluar lagi” kata putri terengah-engah

    Aku yang belum puas kemudian memposisikan putri lagi dibawah, aku melakukan penetrasi dengan cepat. keluar, masuk, keluar masuk. aku mengejar untuk bisa ejakulasi secepatnya sebelum vagina putri kering. Sudah 2 kali dia orgasme, pasti sudah sangat kelelahan

    Dengan tidak banyak bicara akhirnya aku merasakan dorongan di penisku untuk melakukan ejakulasi. Aku dorong dalam-dalam penisku ke dalam vagina putri dan melepaskan spermaku dengan kuat.

    “ah…ah..” nafasku terengah-engah setelah melepaskan spermaku.Kemudian aku rebahan disamping putri. Putri yang sudah mulai pulih kemudian mengelap vaginanya dari sperma dan cairan vagina.

    Setelah itu dia langsung memakai bajunya dan bersiap-siap pergi.

    Baca Juga Cerita Seks Godaan Maut

    “Buru-buru sekali” kataku. aku biasanya berbaring sambil bermesraaan setelah ML dengan istriku.
    “Takut kakak pulang” kata putri sambil membenahi rambutnya

    aku melihat jam, baru jam 4, tapi memang agak riskan sih, takutnya istriku tiba-tiba pulang cepat dari kantornya.

    “Aku pulang dulu ya bang” kata putri pamit.
    “Trus bagaimana ?” tanyaku..

    ‘Nanti malem aja lewat sms” putri tersenyum kemudian keluar dari kamar.

    aku yang masih kelelahan akhirnya kembali rebahan.

    “Gimana put hasilnya ?” smsku keputri pada malam harinya setelah istriku tidur.
    “Hasil apa ” jawab putri menggoda
    “Enak gak gituan sama cowok” tanyaku to the point
    “He..he..he.. enak sih, tapi….” jawab putri menggantung
    “Tapi apa ? Jadi mau mencoba sama cowok lagi ?” tanyaku
    “Mau sih, tapi…” jawab putri menggantung lagi
    “Tapi apa ?” tanyaku penasaran..
    “Tapi aku perlu diyakinkan beberapa kali lagi ” jawab putri nakal

    setelah itu aku beberapa kali ML dengan putri. Putri sendiri mengaku masih berhubungan dengan dina. Mungkin putri masuk ke kategori biseks.

    Setelah beberapa lama putri akhirnya mengenalkan calon suaminya ke ibu, ana dan aku. Tapi….walaupun dia sudah punya calon suami, kadang-kadang kami masih melanjutkan perselingkugan kami.

  • ADIK IPARKU YANG CANTIK

    ADIK IPARKU YANG CANTIK


    6275 views

    adik piar ku yang cantik aku entot saat telanjang

    Aku hidup bahagia bersama istri dan ke-2 anak-anaku, laki2 dan perempuan walopun akuhanya pegawai rendahan di suatu instansi pemerintah di kota B. Kami menempati rumahtipe 45, cicilan rumah BTN, yang kemudian di renov secara sederhana sehinggamempunyai 3 kamar tidur yang berukuran tidak terlalu besar.

     

    Suatu hari, di tahun 1992, kami kedatangan ibu mertua bersama adik ipar saya yangpaling kecil, sebut saja Neng, baru lulus SLA. Atas permintaan ibu mertua, untuksementara ikut kami sambil mencari pekerjaan. Perbedaan umur Aku dan Neng cukupjauh, sekitar 10 tahun. Karena kami dari daerah Jawa Barat, Neng memanggilku dengansebutan Aa (yang artinya kakak laki2).

    Sementara belum mendapatkan pekerjaan, Neng mengikuti berbagai kursus, BahasaInggris, Komputer, Akutansi, dan atas ijin serta perintah istriku, Aku kebagian untukantar jemput menggunakan motor ëbekjulí ku. Bekjul maksudnya motor bebek 70 cc. Mungkin karena nasib baik atau memang wajah Neng cukup cantik, tidak sampaiseminggi, Neng mendapat tawaran pekerjaan sebagai pelayan toko yang cukup bonafidedenga pembagian kerja, seminggu bagian pagi dan seminggu kebagian malam, demikiansilih berganti. dan kalau kebagian kerja malam, aku bertugas untuk menjemputnya, biasanya toko tutup pukul 21.00 dan pegawai baru bisa pulang sekitar 21.30. Perjalanandari toko ke rumah tidak begitu jauh, bisanya ditempuh sekitar 30 menitan. Neng anaknya manja, mungkin karena bungsu, setiap kali di bonceng motor, apalagi kalomalam pulang kerja, dia akan memelukku dengan erat, mungkin juga karena hawa malamyang dingin.

    Entah sengaja atau tidak, payudaranya yang sudah cukup besar akanmenempel di punggungku. Hal ini selalu terjadi setiap kali aku menjemput Neng pulangkerja malam, tapi yang heran, kelihatannya Neng tidak ada rasa bersalah ataupun rikuhsedikitpun setiap kali payudara nempel di punggungku, mungkin dianggapnya hal inisuatu konsekuensi logis bila berboncengan naik motor. Akulah yang sering berhayal yangtidak-tidak, seringkali dengan sengaja motor kukemudikan dengan kecepatan rendah, kadangkala sengaja mencari jalan yang memutar agar bisa merasakan gesekan-gesekannikmat di punggungku lebih lama. Pada suatu malam, seperti biasanya Aku menjemput Neng pulang kerja malem, sampairumah sekitar pukul 22.15 dan seperti biasanya istriku yang membukakan pintu. Setelahmembukakan pintu istriku akan kembali ke kamar untuk melanjutkan tidur.

    Malam ituaku tidak langsung tidur, aku ke dapur, memanaskan air untuk membuat kopi karenaberniat untuk menonton pertandinga sepak bola di TV, kalau tidak salah saat itukesebelasan paforitku main, Brazil. Saat aku keluar dari dapur, secara bersamaan Nengjuga keluar dari kamar mandi, sehingga kami sama berada di lorong depan kamar mandi, entah apa penyebabnya, malam itu kami sama-sama berhenti dan saling pandang tanpasepatah katapun keluar dari mulut kami masing-masing.Tiba-tiba ada suatu dorongan, secara cepat aku rangkul dan aku kecup bibirnya selamabeberapa detik. Setelah itu Neng melepaskan diri dari rangkulanku dan dengan tergesamasuk ke kamarnya. Aku kembali ke ruang tengah untuk melihat pertandingan bola, tapiperasaanku kacau, tidak konsen pada acara di TV. Saat itu ada perasaan takutmenghantuiku, takut Neng ngadu ke istriku, bisa-bisa perang dunia ke tiga.

    Saat pikiranku kacau, aku dikejutkan suara peluit dari dapur yang menandakan air telahmendidih, bergegas aku ke dapur untuk membuat kopi. Kembali aku keruang tengansambil membawa secangkir kopi yang nikmat sekali, tetapi tetap saja pikiranku kacau. kok bisa-bisanya tadi aku mengecup bibir Neng??????Dalam kegalauan perasaanku, kembali dikejutkan dengan suara lonceng yangmenunjukkan pukul 23.30. Saat itu aku melihat kamar Neng lampunya masih nyala, yangmenandakan penghuninya belum tidur, karena aku tau Neng selalu mematikan lampunyaapabila tidur. Terpikirkan olehku, harus memastikan bahwa Neng tidak marah olehulahku tadi dan berharap istriku tidak sampai tau insiden tersebut. Dengan pelahan, aku buka kamarku untuk melihat istriku, ternyata dia sudah pulas, tergambar dari dengkurannya yang halus disertasi helaan nafar yang teratur. Denganpelahan kututup kembali pintu kamar dan secara pelahan pula kubuka pegangan pintukamar Neng, ternyata tidak dikunci, pelahan tapi pasti pintu kubuka dan kudapati Nengduduk di atas tempat tidur sambil memeluk bantal menghadap tembok. Perlahan akudekati, tiba-tiba Neng menoleh kearahku, kulihat matanya merah berkaca-kaca, akubertambah khawatir, Neng pasti marah dengan kelakuanku tadi. Diluar dugaan, Nengberdiri mendekatiku dan tiba-tiba memelukku dengan erat sambil kembali menangis lirih. Tambah bingung aku dibuatnya, kemudian utnuk memastikan apa yang terjadisebenarnya, dengan pelahan dan hati-hati aku raih mukanya dan aku tengadahkan, ìKamu marah?î, pertanyaan konyol tiba-tiba keluar dari mulutku. Tanpa kata-kata, Nengmenjawab dengan gelengan kepala sambil tajam menatapku. Kami beradu pandang, danentah dorongan dari mana, secara pelahan kudekatkan bibirku ke bibirnya, ketika tidakada usaha tolakan dari Neng, dengan lembut kembali kukecup bibirnya.

    Setelah beberapalama, terasa ada reaksi dari Neng, rupanya dia juga menikmati kecupan tersebut. Akhirnya kecupan ini berlangsung lebih lama dan kami saling memeluk dengan erat, saling mengeluarkan emosi yang kami sendiri tidak tau bagaimana menggambarkannya. Tetapi kemesraan ini harus segera diakhiri, sebelum dipergoki oleh isi rumah yang lain, terutama istriku. Segera aku keluar kamar, kembali keruang tengah untuk melanjutkanmelihat sepak bola yang ternyata sudah berakhir dengan skor yang tidak aku ketahui. Akhirnya TV kumatikan dan aku masuk kekamarku untuk tidur dengan perasaan yangsangat bahagia. Hubungan kami tambah erat dan tambah mesra, setiapkali ada kesempatan kejadianmalam itu selalu kami ulangi, dan tentunyanya makin hari kualitasnya makin bertambahmesra.Suatu hari, aku pulang kerja lebih awal dan kudapati di rumah hanya ada adikku Nengdan pembantu. Pembantuku anak perempuan lulusan SMP yang tidak melanjutkansekolah karena biaya, rumahnya tidak jauh dari rumahku, jadi pagi-pagi datang dan sorehari pulang. Badan pembantuku termasuk bongsor, kulitnya sawo matang dengan mukayang cukup manis untuk ukuran pembantu.

    Kembali kepokok cerita, rupanya istriku sedang pergi dengan ke 2 anakku, berdasarkansurat yang diditipkan ke Neng, sedang berkunjung ketempat Tante yang katanya sedangmengadakan syukuran. Seperti biasanya, sore itu sekitar pk 16.00 pembantuku ijin pulang, maka tinggallah kamiberdua, aku dan Neng, sementara istri dan anak-anakku masih dirumah tante. Tanpa dikomando, rupanya kami sama-sama memendam kerinduan, sepeninggalpembantu, setelah pintu depan dikunci, kami saling berpelukan dengan erar danberpagutan untuk menumpahkan perasaan masing-masing. Setelah beberapa lama kamiberpagutan sambil berdiri, secara perlahan aku menuntun Neng sambil masih berpelukanke arah kamar dan melanjutkan pergulatan di atas tempat tidur. abibir kami saling berpagutan sambil saling sedot dan saling menggelitik menggunakanlidah, tanganku mencoba meraba payudaranya dari balik kaos yang dipakai, rupanyaulahku sangat mengejutkan, ssstttttÖÖ.. sssttt Ö. sssstttt, terdengar erangan sepertiorang kepedasan pada saat aku permainkan putingnya. Aku tambah agresip, kuangkat kaos yang dipakainya, telihatlah payudaranya yang masihditutupi beha tipis, dengan tergesa aku singkap beha-nya dan dengan rakus aku kecup danaku permainkan dengan lidah putingnya. Akibatnya sangat luar biasa, ssstttt Ö.. ooohhhÖ.. uuuhh Ö.ssstttt ,,, demikian rintihanpanjang Neng,

    hal ini terjadi karena belum pernah ada laki-laki yang menjamah, ternyataakulah laki-laki pertama yang mencium bibirnya dan pembermainkan payudaranya. Pakaian kami makin awut-awutan, aku berharap istriku tidak pulang cepat. kamimelanjutkan kemesaraan, kali ini aku kembali mencium bibirnya sambil meremas-remaspayudara dan sesekali mempermainkan putingnya. kali ini aku memesrai Neng sambilmenindih badannya, perlahan tapi pasti aku berusaha menggesekkan adik kecilku yangsudah sangat keras ke kemaluannya yang rupanya juga sudah mulai lembab. Kembali terdengar eranga-erangan nikmat, ssssttt ÖÖÖ uuuhhh Ö.. ooohhhh ÖÖuuuh. Bibir dengan cekatan menyedot payudaranya silih berganti sambil menggesekkan adikkecilku yang sudah sangat keras ke kemaluannya, kami masih sama-sama pakai baju. Neng pakai bawahan dan kaos, aku masih memakai pakain kerja. Aku makin bernafsu, aku singkap bawahan Neng sehingga nampak celana dalamnyayang sudah lembab kemudian kembali aku gesek-gesekan adik kecilku sambi tidak henti- hentinya mengecup payudara dan mempermainkan putingnya.Erangan-erangan panjang kembali terdengan dan tiba-tiba Neng memeluku dengan sangat erat dan terdengar erangan panjang uuuuhhhhÖÖÖÖ.. uuuuuuuuhhhhÖÖ. uuuuuuhhhhhhhÖ.. aduuuuuuuuhhÖÖ. rupanya Neng mengalami orgasme, mungkinini adalah orgasme yang pertama yang pernah dialaminya.

    Lama-lama cengekeramanNeng makin mengendur dan lepas seiiring dengan selesainya orgasme tadi. Aku????belum tersalurkan, tapi merasakan kebahagiaanya yang amat sangat karena telah berhasilmembuat Neng yang sangat kusayang bisa mendapatkan orgasme yang ternyata barudialami saat itu dan merupakan orgasme yang pertama. Sejak kejadian itu, maksudnya sejak Neng mendapatkan orgasme yang pertama, kamiselalu mencari-cari kesempatan untuk mengulanginya. Tetapi kesempatannya tidakmudah, karena kami tidak mau menanggung resiko sampai kepergok oleh istriku.

    Pada suatu malam, sekitar pukul 23.00, saat aku berada dalam kamar bersama istriku, terdengar suara pintu kamar sebelah terbuka, dan terdengar langkah-langkah halusmenuju kamar mandi, aku dapat menebak dengan pasti bahwa itu adalah Neng yang adakeperluan ke kamar mandi, kuperhatikan istriku sudah tertidur dengan nyenyak yangditandai dengan dengkuran halus yang teratur. Dengan sangat hati-hati, aku buka pintukamar sehalus mungkin dengan harapan tidak ada suara yang dapat menyebabkan istrikuterbangun, lalu dengan perlahan pula pintu kututup kembali dan secara pelahan akumenuju lorong yang menghubungkan ke kamar mandi. Aku berdiri di lorong sambilmemperhatikan pintu kamarku bagian bawah, kalau-kalau ada lintasan bayangan yangmenandakan istriku bangun, sementara telingaku tidak lepas mendengarkan apa yangterjadi di kamar mandi. Tidak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka, dan benar dugaanku, Neng keluar darikamar mandi dengan memakai baju tidur warna kuning kesukaannya. Baju tidur yangdipakai adalah model terusan dengan bukaan di bagian dada dan bagian bawah sebataslutut. ìNgapain A berdiri di situî tegur Neng memecah kesunyian, ìNungguin kamuî jawabku. Tanpa dikomando, kuraih lengannya dan wajah kami saling mendekat, tak ayal lagi kamiberpagutan melampiaskan kerinduan kami. Beberapa saat kemudian kami melepaskanpagutan sambil tersengal. ìA, Neng pengen Öî bisiknya lirih di telingaku. Aku maklum apa yang diinginkan Neng, kembali kukecup bibirnya sambil kuremas halus payudaranya, rupanya Neng kali initidak memakai beha.

    Aku buka satu kancing baju tidurnya, dan nongolah payudaranyayang putih disertai tonjolan coklat kemerahan. Tak ayal lagi, bibirku berpindah kepayudaranya dengan disertai sedotan dan gigitan-gigitan lembut pada tonjolan halus yangcoklat kemerahan itu. î Sssstttttt ÖÖ uuuhhî terdengar desahan-desahan halus, menandakan Neng mulaiterangsang. Tanganku turun, meraba pinggang, terus turun lagi, lagi dan sampailahkegundukan di bawah pusar, kuusap halus sambil kadang meremas sampai jari tengahku menemui lekukan di balik baju tidur dan celana dalam. î uuuhhh Ö. uuuhhh î rupanyarabaan itu menambah rangsangan. ìA, pengen Ö.î kembali bisikan lirih di telingaku, kemudian aku jongkok sehinggakemaluan Neng tepat di mukaku, Kuangkat rok baju tidur, terlihat celana dalam warnaputih yang tipis dan agak lembab, dengan bernafsu aku mulai menjilati kemaluan Nengyang masih dibungkus celana dalam. î uuuhhh Ö.ssstttt Ö.. uuhhuuî kembali terdengarerangan-erangan kenikmatan yang menambah nafsuku makin bergejolak. Kucoba menyingkap celana dalamnya, terlihatlah gumpalah daging yang ditumbuhi bulu- bulu halus. Untuk pertama kali aku melihat langsung kemaluan Neng, aroma khas mulaitercium, tanpa membuang waktu aku mulai mencium gundukan daging yang sangatmenimbulkan minat itu, sampai akhirnya aku menemukan lekukan yang lembabberwarna kemerah-merahan.

    Aku makin semangat menjilat-jilat lekukan yang sudahsangat lembab itu. ìuuhhh Ö.. aaahhhhh Ö.sssttt Ö. uuuhhhhhî suara erangan makinkeras dan terasa rambutku dipegang dengan keras dengan gerakan menekan. Hal inisemakin membuat nafsuku berkobar-kobar dan makin inten lidahku menjilati lekukan itu, keluar – masuk, ke kiri – kana, ke atas – bawah, demikian berulang ulang sampai padasuatu saat terasa jambakan pada rambutku makin keras disertai himpitan kaki dikepalaku. ìUuuuuuuuhhhhhhh Ö.. aaaaaahhhhhhh Ö.. uuuuhhhhhî terdengan erangan panjangdisertai keluarya cairan yang cukup banyak membasahi mulut dan mukaku. Mukakuterasa dihimpit keras sekali sampai-sampai kesulitan untuk bernafas. ìUuuhhhhhhhhhhh Ö. aaahhhhhhhhhhî kembali erangan panjang terdengar disertaidengan himpitan dan gerataran yang khas, menandakan orgasme telah dicapai oleh Nengdisertai semprotan cairan yang cukup banyak membasahi mukaku. Aku peluk dengankuat kakinya disertai himpitan dan tekanan mukaku ke kemaluan Neng, karena akumaklum hal seperti inilah yang diinginkan wanita pada saat mencapai puncakorgasmenya. Beberapa lama kemudian, mulai mengendur himpitan pada mukaku, sampai akhirnyatenang kembali. Aku berdiri dan ku peluk Neng dengan mesra ìTerima kasih ya Aîterdengar bisikan di telingaku. Kejadian-kejadian ini terus kami ulangi kalau ada kesempatan, tapi karena niatku yangtidak ingin merusak adiku sendiri, sampai akhirnya Neng menemukan jodoh dan menikahmasih dalam keadaan perawan.

    Demikian sebagian pengalamanku dengan adik iparkuyang cantik.

  • ARYANI GADIS DESA

    ARYANI GADIS DESA


    1149 views

    aryani hebat saat bersetubuh

    Aryani, Gadis DesaDitulis pada Februari 14, 2008 oleh indostoriesNamaku Roni, masih single, sekarang eksekutif di salah satu perusahaan ternama diJakarta. Aku mau cerita mengenai pengalaman pertamaku berhubungan dengan seoranggadis ketika baru naik ke kelas 3 SMA. Dalam perbincangan dengan teman-teman sekelas terutama cowok-cowok, sering kamiberbagi pengalaman seru masing-masing. Dari para sahabatku, cuma aku seorang yangmasih perjaka. Yang lainnya sudah masuk golongan pemanah. Ada yang nyikatpembantunya, pacarnya, dan ada juga yang melakukannya dengan wanita pro. Sedangaku ? Pacarku seorang yang tekun menjalani agama. Kalau bertamu ke rumahnya sajaselalu ada orang lain yang menemani entah ayah, ibu atau saudara kandungnya. Kesempatan yang ada cuma saat pamit ketika ia mengantarkan ke luar rumah. Itupanhanya ciuman di pipi saja. Main dengan yang pro aku tidak punya cukup keberanian. Pembantu ? Pembantuku STW berkain kebaya, dan sama sekali tidak menarik. Suatu hari sepulang ke rumah setelah latihan band dengan teman-temanku, aku berteriakmemanggil bik Minah pembantuku agar menyiapkan makanan. ìBik Minah pulang kekampungnya, dijemput adiknya tadi pagi, karena salah satu ponakannya akan dinikahioleh seorang cukup terpandang di desanya. Nah rupanya akan ada pesta besar-besaran dikampung. Mungkin bulan depan bik Minah baru balik, î kata ibuku. ìTapi nggak usahkhawatir, Aryani anak bik Minah yang membantu kita selama bik Minah tidak ada, kebetulan ini kan musim liburan sekolah.

    ì Tak lama ada seseorang yang datang membawakan makanan. Aku tidak memperhatikankarena kupikir anaknya bik Minah pasti kurang lebih sama dengan ibunya. Tapi ketikaaku menoleh, ya ampun, ternyata manis juga anak ini. Kulitnya bening, wajahnya polosdengan bibir tipis agak kemerahan, rambut dikepang kuda. Ukurannya sedang-sedangsaja. Mungkin kalau dipermak sedikit orang tidak akan menyangka ia cuma anakpembantu. Tak lama ibuku berteriak dari ruang depan, mengatakan bahwa ia akan pergi kepertemuan wanita sampai malam. Di rumah tinggal aku dan Aryani. ìYani, sini temenin aku ngobrol sambil aku makan, î kataku ketika melihat Aryanimelintas. ìKamu sekolah kelas berapa Yan ?ìSMP kelas 3, mas. Tapi tidak tahu tahun depan apa bisa melanjutkan ke SMA, î katanyapolos. ìDi kampung sudah punya pacar apa belum ? Atau apa malah sudah dilamar ? î tanyakulagi.!ìBelum mas, sungguh !î jawab Aryani. ìKalau mas sendiri, pasti sudah punya pacar ya?îìGadis kota mana mau sama aku, Ya ? î kataku mulai mengeluarkan rayuan gombal. ìLagipula aku sukanya gadis yang masih polos seperti kamu. ììAh mas, bisa saja, î katanya malu-malu, ìAku kan cuma anak seorang pembantu. ììYan, aku sudah selesai makan. Nanti setelah beres-beres kamu temenin aku ke ruangatas ya. Soalnya aku kesepian, bapak dan ibu baru pulang malam hari, î kataku sambilbergegas naik ke lantai atas sambil mikir gimana ya bisa ngadalin si Aryani. Kutunggu-tunggu Aryani tidak naik-naik ke lantai atas. Akhirnya dia datang juga, rupanya habis mandi, karena tercium wangi sabun luks.

    Segera kusuruh ia dudukmenemaniku nonton VCD. Sengaja kuputar film pinjeman temanku yang biasanyakuputar kalau bapak/ ibu tidak di rumah. Kupilih yang tidak terlalu vulgar, supaya Aryanijangan sampai kaget melihatnya. Adegan yang ada paling cuma percintaan sampai diranjang tanpa memperlihatkan dengan detail. Rupanya adegan-adegan itu membuat Aryani terpengaruh juga, duduknya jadi tidak bisadiam. ìMas. sudah ya nontonnya, aku mau ke bawah, î katanya. ìTunggu dulu, Yan, aku mau ngomong, î kataku yang telah dapat ide untuk menjeratnya, ìKamu takut tidak bisa melanjutkan sekolah apa karena biaya ? Kalau cuma itu, soalsepele, aku akan membantumu, asal ÖîìAsal apa mas, î katanya bersemangat. ìAsal kamu mau membantu aku juga, î kataku sambil pindah ke dekatnya. Segera kuraihtangannya, kupeluk dan kucium bibirnya. Aryani sangat kaget dan segera berontaksambil menangis. ìYani, kamu pikir aku akan memperkosamu ? î kataku lembut. ìAku cuma mau supayakamu bersedia menjadi pacarku. ìIa membelalak tidak percaya. Sebelum ia sempat mngucapkan apa-apa kuserbu lagi, tapikali dengan lebih lembut kukecup keningnya, lalu bibirnya. Kugigit telinganya, dankuciumi lehernya. Aryani terengah-engah terbawa kenikmatan yang belum pernahdialami sebelumnya. Ingin rasanya segera kurebahkan dan kutiduri, tapi akal sehatkumengatakan jangan terburu-buru.

    Menikmati kopi panas harus ditiup-tiup dulu sebelumdireguk. Kalau langsung bisa lidah terbakar dan akhirnya malah tidak dapat apa-apa. Perlahan-lahan dari menciumi lehernya aku turun ke bagian atas dadanya, dan kubukakancing dasternya dari belakang tanpa setahunya. Tetapi ketika akan kuturnkan dasternyaia tersadar dan mau protes. Segera kubuka baju kaos t-shirt ku sambil mengatakan udara!sangat panas. Ia tersipu melihat dadaku yang bidang, hasil rajin fitness. ìYan kamucurang sudah lihat dadaku, sekarang biar impas aku juga mau lihat kamu punya dong. ììAh jangan mas, malu, î katanya sambil memegang erat bagian depan dasternya. ìBajunya doang yang dibuka, Yan. kalau malu behanya nggak usah, î kataku sambilmenyerbunya lagi dengan ciuman. Yani tergagap dan kurang siap dengan serbuankusehingga aku berhasil membuka dasternya. Segera kuciumi bagian seputar payudaranyayang masih tertutup beha berwarna hitam. ìAduh mas, mhm, enak sekali, î katanya sambil menggelinjang. Tangankupun bergerilyamembuka pengait behanya. Tetapi ketika kulepaskan ciumanku karena hendak membuka behanya ia kembali tersadardan protes, î lho mas janjinya behanya tidak dibuka, ì Tanpa menjawab segera kuserbu payudaranya yang tidak besar tetapi sangat indahbentuknya, dengan puting yang kecil berwarna coklat muda. Kukulum payudarakanannya sambil kuemut-emut.

    Ia tidak dapat berkata-kata tetapi menjerit-jerit keenakan. Terdengar alunan suara erangan yang indah, î mph, ehm, ahhh, ë dari bibirnya yangmungil. Jemariku segera mulai menjelajah selangkangannya yang masih tertutup CDyang juga berwarna hitam. Rupanya hebat sekali rangsangan demi rangsangan yangAyryani terima sehingga mulai keluar cairan dari MQ-nya yang membasahi CDnya. ìOh mas, oh mas, mph, enak sekali, î lenguhnya. Tanpa disadarinya jariku sudahmenyelinap ke balik CD-nya dan mulai menari-nari di celah kewanitaannya. Jarikuberhasil menyentuh klitorisnya dan terus kuputar-putar, membuatnya badannyagemetaran merasakan kenikmatan yang amat sangat. Sengaja tidak kucolok, karena itubukan bagian jariku tetapi adik kecilku nanti. ìAhhh !î jerit Aryani, dibarengi tubuhnya yang mengejang. Rupanya ia sudah mencapaiklimaksnya. Tak lama tubuhnya melemas, setelah mengalami kenikmatan pertama kalidalam hidupnya. Ia terbaring di sofa dengan setengah telanjang, hanya sebuah CD yangmenutupi tubuhnya. Segera aku berdiri dan melepaskan celana panjang serta CD-ku, pikirku ia masih lemas, pasti tidak akan banyak protes. ìLho mas, kok mas telanjang. Jangan mas, jangan sampaiterlalu jauh, î katanya sambil berusaha untuk duduk. ììYan, kamu itu curang sekali. Kamu sudah merasakan kenikmatan, aku belum. kamusudah melihat seluruh tubuhku, aku cuma bagian atas saja, î kataku sambil secepat kilatmenarik cd-nya. ìMas, jangan ! î protesnya sambil mau memertahankan CD-nya, tetapi ternyata kalahtangkas dengan kecepatan tanganku yang berhasil melolosi CD-nya dari kedua kakinya. Terlihatlah pemandangan indah yang baru pertama kali kulihat langsung. MQ-nya masih  , dan baru ditumbuhi sedikit bulu-bulu jarang. Adik kecilku langsung membesardan mengerasSegera kuciumi bibirnya kembali dan kulumat payudaranya. Aryani kembali terangsang. Lalu sambil kuciumi lehernya Kunaiki tubuhnya. Kubuka kedua kakinya dengan keduakakiku, ìmas, jangan, oh !î katanya. Tetapi tanpa memperdulikan protesnya kulumatbibirnya agar tidak dapat bersuara.

    Perlahan-lahan torpedoku mulai mencari sasarannya. Ah, ternyata susah sekali memasukkan burung peliaraanku ke sangkarnya yang baru. Bolak-balik meleset dari sasarannya. Aku tidak tahu pasti di mana letaknya sang lubangkenikmatan. ìMas, jangan, aku masih perawan, î protes Aryani ketika berhasil melepaskan bibirnyadari ciumanku. ìJangan takut sayang, aku cuma gesek-gesek di luar saja, î kataku ngegombal sambilmemegang torpedo dan mengarahkannya ke celah yang sangat sempit. Ketika tepat di depan gua kewanitaannya, kutempelkan dan kusegesk-gesek sambil jugakuputar-putar di dinding luar MQ-nya. ìMas, mas, mphm, oh, uenak sekali, î katanyapenuh kenikmatan.

    Kurasakan cairan pelumasnya mulai keluar kembali dan membasahihelmku. Lalu mulai kepala helmku sedikit demi sedikit kumasukkan ke dalam MQ-nya denganmenyodoknya perlahan-lahan, ìAw mas, sakit ! Tadi katanya tidak akan dimasukkan, î protes Aryani, ketika kepala helmku mulai agak masuk. ìNggak kok, ini masih di luar. Udah nggak usah protes, nikmatin aja, Yan !î kataku setengah berbohong sambil terusbekerja. Sempit sekali lubangnya si Yani, sehingga susah bagiku untuk memasukkan torpoedokuseluruhnya. Wah kalau begini terus, jangan-jangan si otong sudah muntah duluan di luar, pikirku. Sambil sedikit demi sedikit memaju-mundurkan torpedoku, kugigiti telinganyadengan gigitan kecil-kecil. Tiba-tiba kugigit telinganya agak keras, Yani terpekik, ìAw !î Saat itu dengan sekuat tenagaku kusodok torpedoku yang berhasil tenggelam semuanyadi MQ-nya Aryani. Gerakan pantatku semakin menggila memaju-mundurkan torpedoku di dalam MQAryani. Tetapi tidak kutarik sampai kelaut, takut susah lagi memasukkannya.

    Rupanyarasa sakit yang dialami Aryani tergantikan dengan rasa nikmat. Yang keluar dari bibirmungilnya hanyalah suara ah, uh, ah, uh setiap kali ku maju mundurkan torpedoku, menandakan ia sangat menikmati pengalaman baru ini. Torpedoku semakin menegang. Keringat bercucuran dari tubuhku, Akupun melngalamikenikmatan yang selama ini hanya kuimpikan. Sekitar selangkanganku terasa ngilu. Rupanya aku sudah mendekati klimaks. Gerakan pantatku semakin cepat, terasa jepitanMQ perawan desa ini semakin kencang juga. Empuk sekali rasanya setiap kali torpedokuterbenam di dalamnya. Terasa hampir meledak torpedoku, siap memuntahkan lahar!panasnya ke dalam surga kenikmatan Aryani. Dengan sekut tenaga kubenamkantorpedoku sedalam-dalamnya dan crot, crot, cort ! Air maniku muncrat ke dalam rahimAryani, Terdengar lenguhan panjang dari bibir mungil Aryani.

    Rupanya kami mencapai orgasme bersamaan. Tubuhkupun jatuh terbaring di atas tubuhnya penuh dengan kenikmatan. Kami berdua terbaring tak berdaya. Tubuh lemas, tetapi masih terasa kenikmatan yang sampai ke ubun-bubun!

  • Asyiknya Ngentot di Bioskop

    Asyiknya Ngentot di Bioskop


    1194 views

     Cerita Sex Dewasa | Ngentot di Bioskop

    Pagi itu aku bangun kesiangan, seisi rumah rupanya sudah pergi semua. Akupun segera mandi dan berangkat ke kampus. Meskipun hari itu kuliah sangat padat, pikiranku nggak bisa konsentrasi sedikitpun, yang aku pikirkan cuma Rani. Aku pulang kerumah sekitar jam 3 sore, dan rumah masih sepi. Kemudian ketika aku sedang nonton TV di ruang keluarga sehabis ganti baju, Rani keluar dari kamarnya, sudah berpakaian rapi. Dia mendekat dan mukanya menunduk. “Dodi, kamu ada acara nggak? Temani aku nonton dong..” “Eh.. apa? Iya, iya aku nggak ada acara, sebentar yah aku ganti baju dulu” jawabku, dan aku buru- buru ganti baju dengan jantung berdebaran.

    Setelah siap, akupun segera mengajaknya berangkat. Rani menyarankan agar kami pergi dengan mobilnya. Aku segera mengeluarkan mobil, dan ketika Rani duduk di sebelahku, aku baru sadar kalau dia memakai rok pendek, sehingga ketika duduk ujung roknya makin ke atas. Sepanjang perjalanan ke bioskop mataku nggak bisa lepas melirik kepahanya.

    Sesampainya dibioskop, aku beranikan memeluk pinggangnya, dan Rani tidak menolak. Dan sewaktu mengantri di loket aku peluk dia dari belakang. Aku tahu Rani merasa penisku sudah tegang karena menempel di pantatnya. Rani meremas tanganku dengan kuat. Kita memesan tempat duduk paling belakang, dan ternyata yang nonton nggak begitu banyak, dan disekeliling kita tidak ditempati. Kita segera duduk dengan tangan masih saling meremas. Tangannya sudah basah dengan keringat dingin, dan mukanya selalu menunduk. Ketika lampu mulai dipadamkan, aku sudah tidak tahan, segera kuusap mukanya, kemudian aku dekatkan ke mukaku, dan kita segera berciuman dengan gemasnya. Lidahku dan lidahnya saling berkaitan, dan kadang- kadang lidahku digigitnya lembut.

    Tanganku segera menyelinap ke balik bajunya. Dan karena tidak sabar, langsung saja aku selinapkan ke balik BH-nya, dan payudaranya yang sebelah kiri aku remas dengan gemas. Mulutku langsung diisap dengan kuat oleh Rani. Tangankupun semakin gemas meremas payudaranyanya, memutar-mutar putingnya, begitu terus, kemudian pindah ke susu yang kanan, dan Rani mulai mengerang di dalam mulutku, sementara penisku semakin meronta menuntut sesuatu. Kemudian tanganku mulai mengelus pahanya, dan kuusap- usap dengan arah semakin naik ke atas, ke pangkal pahanya. Roknya aku singkap ke atas, sehingga sambil berciuman, di keremangan cahaya, aku bisa melihat celana dalamnya. Dan ketika tanganku sampai di selangkangannya, mulut Rani berpindah menciumi telingaku sampai aku terangsang sekali. Celana dalamnya sudah basah.

    Tanganku segera menyelinap ke balik celana dalamnya, dan mulai memainkan clitorisnya. Aku elus- elus, pelan-pelan, aku usap dengan penuh perasaan, kemudian aku putar-putar, makin lama makin cepat, dan makin lama makin cepat. Tiba- tiba tangannya mencengkeram tanganku, dan pahanya juga menjepit telapak tanganku, sedangkan kupingku digigitnya sambil mendesis-desis. Badanya tersentak- sentak beberapa saat. “Dodi.. aduuhh.., aku nggak tahan sekali.., berhenti dulu yaahh.., nanti dirumah ajaa..”, rintihnya. Akupun segera mencabut tanganku dari selangkangannya. “Dodi.., sekarang aku mainin punya kamu yaahh..”, katanya sambil mulai meraba celanaku yang sudah menonjol. Aku bantu dia dengan aku buka ritsluiting celana, kemudian tangannya menelusup, merogoh, dan ketika akhirnya menggenggam penisku, aku merasa nikmat luar biasa. Penisku ditariknya keluar celana, sehingga mengacung tegak. “Dodi.., ini sudah basah.., cairannya licin..”, rintihnya dikupingku sambil mulai digenggam dengan dua tangan. Tangan yang kiri menggenggam pangkal penisku, sedangkan yang kanan ujung penisku dan jari-jarinya mengusap-usap kepala penis dan meratakan cairannya. “Rani.., teruskan sayang..”, kataku dengan ketegangan yang semakin menjadi-jadi. Aku merasa penisku sudah keras sekali.

    Rani meremas dan mengurut penisku semakin cepat. Aku merasa spermaku sudah hampir keluar. Aku bingung sekal i karena takut kalau sampai keluar bakal muncrat kemana-mana. “Rani.., aku hampir keluar nih.., berhenti dulu deh..”, kataku dengan suara yang nggak yakin, karena masih keenakan. “Waahh.., Rani belum mau berhenti.., punya kamu ini bikin aku gemes..”, rengeknya “Terus gimana.., apa enaknya kita pulang saja yuk..?!” ajakku, dan ketika Rani mengangguk setuju, segera kurapikan celanaku, juga pakaian Rani, dan segera kita keluar bioskop meskipun filmnya belum selesai. Di mobil tangan Rani kembali mengusap-usap celanaku. Dan aku diam saja ketika dia buka ritsluitingku dan menelusupkan tangannya mencari penisku. Aduh, rasanya nikmat sekali. Dan penisku makin berdenyut ketika dia bilang, “Nanti aku boleh nyium itunya yah..”. Aku pengin segera sampai ke rumah. Dan, akhirnya sampai juga. Kita berjalan sambil berpelukan erat-erat. Sewaktu Rani membuka pintu rumah, dia kupeluk dari belakang, dan aku ciumi samping lehernya. Tanganku sudah menyingkapkan roknya ke atas, dan tanganku meremas pinggul dan pantatnya dengan gemas. Rani aku bimbing ke ruang keluarga. Sambil berdiri aku ciumi bibirnya, aku lumat habis mulutnya, dan dia membalas dengan sama gemasnya. Pakaiannya kulucuti satu persatu sambil tetap berciuman. Sambil melepas bajunya, aku mulai meremasi payudaranya yang masih dibalut BH. Dengan tak sabar BH- nya segera kulepas juga.

    Kemudian roknya, dan terakhir celana dalamnya juga aku turunkan dan semuanya teronggok di karpet. Badannya yang telanjang aku peluk erat- erat. Ini pertama kalinya aku memeluk seorang gadis dengan telanjang bulat. Dan gadis ini adalah Rani yang sering aku impikan tapi tidak terbayangkan untuk menyentuhnya. Semuanya sekarang ada di depan mataku. Kemudian tangan Rani juga melepaskan bajuku, kemudian celana panjangku, dan ketika melepas celana dalamku, Rani melakukannya sambil memeluk badanku. penisku yang sudah memanjang dan tegang sekali segera meloncat keluar dan menekan perutnya. uuhh, rasanya nikmat sekali ketika kulit kami yang sama-sama telanjang bersentuhan, bergesekan, dan menempel dengan ketat. Bibir kami saling melumat dengan nafas yang semakin memburu. Tanganku meremas pantatnya, mengusap punggungnya, mengelus pahanya, dan meremasi payudaranya dengan bergantian. Tangan Rani juga sudah menggenggam dan mengelus penisku. Badan Rani bergelinjangan, dan dari mulutnya keluar rintihan yang semakin membangkitkan birahiku. Karena rumah memang sepi, kita jadi mengerang dengan bebas.

    Kemudian sambil tetap meremasi penisku, Rani mulai merendahkan badannya, sampai akhirnya dia berlutut dan mukanya tepat didepan selangkanganku. Matanya memandangi penisku yang semakin keras di dalam genggamannya, dan mulutnya setengah terbuka. Penisku terus dinikmati, dipandangi tanpa berkedip, dan rupanya makin membuat nafsunya memuncak. Mulutnya perlahan mulai didekatkan kekepala penisku. Aku melihatnya dengan gemas sekali. Kepalaku sampai terdongak ketika akhirnya bibirnya mengecup kepala penisku. Tangannya masih menggenggam pangkal penisku, dan mengelusnya pelan- pelan.
    Mulutnya mulai mengecupi kepala penisku berulang-ulang, kemudian memakai lidahnya untuk meratakan cairan penisku. Lidahnya memutar-mutar, kemudian mulutnya mulai mengulum dengan lidah tetap memutari kepala penisku. Aku semakin mengerang, dan karena nggak tahan, aku dorong penisku sampai terbenam ke mulutnya. Aku rasa ujungnya sampai ke tenggorokannya. Rasanya nikmat sekali. Kemudian pelan-pelan penisku disedot-sedot dan dimaju-mundurkan di dalam mulutnya.

    Rambutnya kuusap-usap dan kadang-kadang kepalanya aku tekan- tekan agar penisku semakin terasa nikmat. Isapan mulut dan lidahnya yang melingkar-lingkar membuatku merasa sudah nggak tahan. Apalagi sewaktu Rani melakukannya semakin cepat, dan semakin cepat, dan semakin cepat. Ketika akhirnya aku merasa spermaku mau muncrat, segera kutarik penisku dari mulutnya. Tapi Rani menahannya dan tetap mengisap penisku. Maka akupun nggak bisa menahan lebih lama lagi, spermaku muncrat di dalam mulutnya dengan ras a nikmat yang luar biasa.
    Spermaku langsung ditelannya dan dia terus mengisapi dan menyedot penisku sampai spermaku muncrat berkali-kali. Badanku sampai tersentak-sentak merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Meskipun spermaku sudah habis, mulut Rani masih terus menjilat. Akupun akhirnya nggak kuat lagi berdiri dan akhirnya dengan nafas sama-sama tersengal- sengal kita berbaring di karpet dengan mata terpejam. “Thanks ya Ran, tadi itu nikmat sekali”, kataku berbisik “Ah.., aku juga suka kok.., makasih juga kamu ngebolehin aku mainin kamu..”. Kemudian ujung hidungnya aku kecup, matanya juga, kemudian bibirnya.

    Mataku memandangi tubuhnya yang terbaring telanjang, alangkah indahnya. Pelan-pelan aku ciumi lehernya, dan aku merasa nafsu kita mulai naik lagi. Kemudian mulutku turun dan menciumi payudaranya yang sebelah kanan sedangkan tanganku mulai meremas susu yang kiri. Rani mulai menggeliat-geliat, dan erangannya membuat mulut dan tanganku tambah gemas memainkan susu dan putingnya. Aku terus menciumi untuk beberapa saat, dan kemudian pelan-pelan aku mulai mengusapkan tanganku keperutnya, kemudian kebawah lagi sampai merasakan bulu jembutnya, aku elus dan aku garuk sampai mulutnya menciumi telingaku. Pahanya mulai aku renggangkan sampai agak mengangkang. Kemudian sambil mulutku terus menciumi payudaranya, jariku mulai memainkan clitorisnya yang sudah mulai terangsang juga. Cairan kenikmatannya kuusap-usapkan ke seluruh permukaan kemaluannya, juga ke clitorisnya, dan semakin licin clitoris serta liang kewanitaannya, membuat Rani semakin menggelinjang dan mengerang. clitorisnya aku putar-putar terus, juga mulut kemaluannya bergantian. “Ahh.., Dodii.., aahh.., teruss.., aahh.., sayaangg..”, mulutnya terus meracau sementara pinggulnya mulai bergoyang- goyang. Pantatnya juga mulai terangkat-angkat.

    Akupun segera menurunkan kepalaku kearah selangkangannya, sampai akhirnya mukaku tepat di selangkangannya. Kedua kakinya aku lipat ke atas, aku pegangi dengan dua tanganku dan pahanya kulebarkan sehingga liang kewanitaan dan clitorisnya terbuka di depan mukaku.
    Aku tidak tahan memandangi keindahan liang kewanitaannya. Lidahku langsung menjulur dan mengusap clitoris dan liang kewanitaannya. Cairan surganya kusedot-sedot dengan nikmat. Mulutku menciumi bibir kemaluannya dengan ganas, dan lidahku aku selip- selipkan ke lubangnya, aku kait-kaitkan, aku gelitiki, terus begitu, sampai pantatnya terangkat, kemudian tangannya mendorong kepalaku sampai aku terbenam di selangkangannya. Aku jilati terus, clitorisnya aku putar dengan lidah, aku isap, aku sedot, sampai Rani meronta-ronta. Aku merasa penisku sudah tegak kembali, dan mulai berdenyut-denyut. “Dodii.., aku nggak tahan.., aduuhh.., aahh.., enaakk sekalii..”, rintihnya berulang-ulang. Mulutku sudah berlumuran cairan kewanitaannya yang semakin membuat nafsuku tidak tertahankan. Kemudian aku lepaskan mulutku dari liang kewanitaannya. Sekarang giliran penisku aku usap-usapkan ke clitoris dan bibir kemaluannya, sambil aku duduk mengangkang juga. Pahaku menahan pahanya agar tetap terbuka. Rasanya nikmat sekali ketika penisku digeser-geserkan diliang senggamanya. Rani juga merasakan hal yang sama, dan sekarang tangannya ikut ngebantu dan menekan penisku digeser-geserkan di clitorisnya. “Ranii.., aahh.., enakk.., aahh..” “aahh.., iya.., eennaakk sekalii..”. Kita saling merintih.

    Kemudian karena penisku semakin gatal, aku mulai menggosokkan kepala penisku ke bibir kemaluannya. Rani semakin menggelinjang. Akhirnya aku mulai mendorong pelan sampai kepala penisku masuk ke liang senggamanya. “Aduuhh.. Dodii.., saakiitt.., aadduuhh.., jaangaann..”, rintihnya “Tahan dulu sebentar.., Nanti juga ilang sakitnya..”, kataku membujuk Kemudian pelan-pelan penisku aku keluarkan, kemudian aku tekan lagi, aku keluarkan lagi, aku tekan lagi, kemudian akhirnya aku tekan lebih dalam sampai masuk hampir setengahnya. Mulut Rani sampai terbuka tapi sudah nggak bisa bersuara. Punggungnya terangkat dari karp et menahan desakan penisku. Kemudian pelan-pelan aku keluarkan lagi, aku dorong lagi, aku keluarkan lagi, terus sampai dia tenang lagi. Akhirnya ketika aku mendorong lagi kali ini aku dorong sampai amblas semuanya ke dalam. Kali ini kita sama- sama mengerang dengan keras. Badan kita berpelukan, mulutnya yang terbuka aku ciumi, dan pahanya menjepit pinggangku dengan keras sekali sehingga aku merasa ujung penisku sudah mentok ke dinding kemaluannya.

    Kita tetap berpelukan dengan erat saling mengejang untuk beberapa saat lamanya. Mulut kita saling mengisap dengan kuat. Kami sama-sama merasakan keenakan yang tiada taranya. Setelah itu pantatnya sedikit demi sedikit mulai bergoyang, maka akupun mulai menggerakkan penisku pelan-pelan, maju, mundur, pelan, pelan, makin cepat, makin cepat, dan goyangan pantat Rani juga semakin cepat. “Dodii.., aduuhh.., aahh.., teruskan sayang.., aku hampir niihh..”, rintihnya. “Iya.., nihh.., tahan dulu.., aku juga hampir.., kita bareng ajaa..”, kataku sambil terus menggerakkan penis makin cepat. Tanganku juga ikut meremasi susunya.

    Penisku makin keras kuhujam- hujamkan ke dalam liang surganya sampai pantatnya terangkat dari karpet. Dan aku merasa liang senggamanya juga menguruti penisku di dalam. penis kutarik dan tekan semakin cepat, semakin cepat.., dan semakin cepat..”. “Raanii.., aku mau keluar niihh..”. “Iyaa.., keluarin saja.., Rani juga keluar sekarang niihh”. Akupun menghunjamkan penisku keras-keras yang disambut dengan pantat Rani yang terangkat ke atas sampai ujung penisku menumbuk dinding kemaluannya dengan keras. Kemudian pahanya menjepit pahaku dengan keras sehingga penisku makin mentok, tangannya mencengkeram punggungku. Liang kewanitaannya berdenyut-denyut. Spermaku memancar, muncrat dengan sebanyak-banyaknya menyirami liang senggamanya. “aahh.., aahh.., aahh..”, kita sama-sama mengerang, dan liang kewanitaannya masih berdenyut, mencengkeram penisku, sehingga spermaku berkali-kali menyembur. Pantatnya masih juga berusaha menekan- nekan dan memutar sehingga penisku seperti diperas. Kita orgasme bersamaan selama beberapa saat, dan sepertinya nggak akan berakhir. Pantatku masih ditahan dengan tangannya, pahanya masih menjepit pahaku erat-erat, dan liang senggamanya masih berdenyut meremas- remas penisku dengan enaknya sehingga sepertinya spermaku keluar semua tanpa bersisa sedikitpun. “aahh.., aahh.., aduuhh..”, kita sudah nggak bisa bersuara lagi selain mengerang-erang keenakan. Ketika sudah mulai kendur, aku ciumi Rani dengan penis masih di dalam liang senggamanya.

    Kita saling berciuman lagi untuk beberapa saat sambil saling membelai. Aku ciumi terus sampai akhirnya aku menyadari kalau Rani sedang menangis. Tanpa berbicara kita saling menghibur. Aku menyadari bahwa selaput daranya telah robek oleh penisku. Dan ketika penisku aku cabut dari sela-sela liang kewanitaannya memang mengalir darah yang bercampur dengan spermaku. Kami terus saling membelai, dan Rani masih mengisak di dadaku, sampai akhirnya kita berdua tertidur kelelahan dengan berpelukan.

  • BERCINTA DENGAN PERAWAN

    BERCINTA DENGAN PERAWAN


    2012 views

    PERAWAN MEMANG MENGGODA

    Shanti baru saja selesai menyapu lantai. Dan sekarang ia berniat mencuci piring kotor. Iaberjalan masuk kedalam dapur dan mendapati Mbak Tuti sedang membenahi peralatandapur. Pada jam seperti ini restoran tempat mereka bekerja sudah sepi. Hari ini giliranShanti yang harus pulang lambat karena ia harus merapikan restoran untuk buka nantimalam. Begitulah keadaan restoran dikota kecil, pagi buka sampai jam 3 sore lalu tutupdan buka kembali jam 7 malam. Shanti tahu ia tak akan sempat pulang karena ia harusbekerja merapihkan tempat itu bersama Tuti. Shanti adalah seorang gadis yang cantik dan ramah. Usianya sudah 17 tahun dan ia takdapat lagi meneruskan sekolahnya karena orang tuanya tidak mampu. Wajahnya oval dansangat bersih, kulit gadis itu kuning langsat.

    Mata Shanti bersinar lembut, bibirnyakemerahan tanpa lipstik. Shanti mempunyai rambut yang panjang sampai dadanya, berwarna hitam, tubuhnya seperti layaknya gadis kampung seusianya. Buah dada Shantimembusung walaupun tidak dapat dikatakan besar namun Shanti memiliki pantat yangindah dan serasi dengan bentuk tubuhnya. Pendek kata Shanti seorang gadis yang sedangtumbuh mekar dan selalu dikagumi setiap pemuda dikampungnya. Tuti seorang wanita yang sudah berusia 32 tahun. Ia seorang janda ditinggal ceraisuaminya. Sudah 3 tahun Tuti bercerai dengan suaminya karena laki-laki itu main giladengan seorang pelacur dari Jawa Tengah. Tuti bertubuh montok dan bahenol. Semuanyaserba bulat dan kencang, wajahnya cukup manis dengan rambut sebahu dan ikal. BibirTuti sangat menggoda setiap laki-laki, walaupun hidungnya agak pesek. Kulit Tutiberwarna coklat tua karena ia sering ke pasar dan ke sawah sebagai buruh tani kalausedang musim tanam atau panen. Tuti dulunya adalah seorang pelacur daerah Tretes, Jawa Timur.

    Dulu uang begitu gampang diperoleh dan laki-laki begitu gampang dipeluknya, sampaiakhirnya hukum karma membuat ia menjanda karena sesama teman seprofesinya juga. Banyak orang dikampung yang diam-diam mengetahui sejarah kelam Tuti dan banyakjuga yang mencoba hendak memanfaatkan dia. Tapi selama ini Tuti terlihat sangat cuekdan sinis terhadap orang-orang yang menggodanya. Buah dada Tuti besarnya bukanmain, sering ia merasa risih dengan miliknya sendiri. Tapi ia tahu buah dadanya menjadibuah-bibir baginya. Dan sedikit banyak ia juga bangga dengan buah dadanya yang besardan kenyal itu. Tuti juga memiliki pantat yang besar dan indah, nungging sepertimeminta.. Tubuh Tuti sering menjadi mimpi basah para pemuda dikampungnya. ìShan, kamu sudah punya pacar belum?î Tiba Tuti berjongkok didepan Shanti dan mulaimembantu gadis itu mencuci piriong-piring kotor. Shanti terkikik dan menggeleng. ìBelum tuhîìLho? Gadis secantik kamu pasti banyak yang naksirî kata Tuti sambil memandangShanti. Shanti tertawa lagi. ìPayah.?? semuanya mikir kesitu meluluî Jawab Shanti.ìMemang.?? laki-laki itu kalau melihat perempuan pikirannya langsung ingin ngeweî kata Tuti tanpa merasa risih berkata kasar. ìAh Mbak, jangan suka ngomong gitu ahî timpal Shanti. ìKan nggak ada yang dengar iniî Jawab Tuti.

    Mereka terdiam lama. ìMbak.. î suara Shanti menggantung. Tuti terus mencuci. ìMmm?î Jawab wanita itu. ìNgg..îì Ngomong aja susah banget sihî Tuti mulai hilang sabar. Shanti menunduk. ìNgg.. Anu.. Ngewe itu enak nggak sih?î Akhirnya keluar juga. Tuti memandang gadisitu. ìYaa.. Enaak banget Shan, apalagi kalo yang ngewein kita pinterî jawab Tuti seenaknya. ìMaksud Mbak?î Shanti penasaran. ìIya pinter.. Bisa macam-macam dan punya kontol yang keras!î kata Tuti sambilterkikik. Shanti merah padam mendengarnya. Tapi gadis itu makin penasaran. ìBisa macam-macam apa sih, Mbak?î tanya Shanti. Tuti memandangnya sambil menimbang. Ah.. Toh nanti gadis kecil ini harus tahu juga. Dan Shanti sungguh cantik sekali, sekilas mata Tuti tertumbuk pada posisi Shanti yangsedang berjongkok. Tuti melihat gadis itu mengangkang dan terlihat celana dalam gadisitu berwarna coklat muda. ìMacam-macam seperti tempik kita diciumin, dijilat bahkan ada yang sampai maungemut tempik kita lohh..î jawab Tuti. Entah kenapa Tuti merasa sangat terangsang dengan jawabannya dan darahnya mendidihmelihat selangkangan Shanti yang bersih serta mulus. ìIdiih.. Jorok ihh.. Kok ada yang mau sih?î Shanti sekarang melotot tak percaya. ìLho.. Banyak yang doyan ngemut memek Shan. Ngemut kontol juga enak banget kokîjawab Tuti masih terus melihat selangkangan Shanti.

    ìAstaga.. Masak anunya lelaki diemut?î Shanti merasa aneh dan jantungnya berdebar, iamerasa ada aliran aneh menjalar dalam dirinya. Gadis itu tidak mengerti bahwa iaterangsang. ìOh enak banget Shan, rasanya hangat dan licin, apalagi kalo ehm.. Ehmm.. ììKalo apa Mbak?î Shanti makin penasaran. Tuti merasa melihat bagian memek Shantiyang tertutup celana dalam krem itu ada bercak gelap, tapi Tuti tidak yakin. ìYaa.. Malu ahh..!î Tuti sengaja membuat Shanti penasaran. ìAyo doong Mbakî rengek Shanti. Tuti sekarang yakin bahwa memek gadis itu sudah basah sehingga terlihat bercak gelapdi celana dalamnya. Tuti sendiri merasa sangat terangsang melihat pemandangan itu. ìKalo pejuhnya menyembur dalam mulut kita, rasanya panas dan asin, lengket tapi enakbanget!î bisik Tuti didekat telinga Shanti. Shanti membelalakkan matanya. ìApa itu pejuh?î tanyanya. Tuti merasa tidak tahan. ìPejuh itu seperti santan yang sering bikin memek kita basah lhoî Jawab Tuti. Ia melihatbagian memek Shanti makin gelap, wah gadis ini banjir, pikir Tuti. ìIdiihh amit-amit, jorok banget sihîìLho kok jorok? Laki-laki juga doyan banget sama santan kita,

    apalagi kalo memek kitaharum, tidak bau terasiîìIdiihh Mbak saru ah!îìTapi aku yakin memek kita pasti wangi, soalnya kita kan minum jamu terusîìUdah ah, lama-lama jadi saru nihî kata Shanti. Tuti tertawa. ìKamu udah banjir yaa?î goda Tuti. Shanti memerah, buru-buru ia merapatkan keduakakinya. ìAhh.. Mbaakk!!î Tuti tersenyum melihat Shanti melotot. ìNggak usah malu, aku sendiri juga basah nihî Kata Tuti.Ia lalu membuka kakinya sehingga Shanti bisa melihat celana dalam putih dengan bercakgelap di tengah, Shanti terbelak melihat bulu-bulu kemaluan Tuti yang mencuat keluardari samping celana dalamnya, lebat sekali, pikirnya. ìIhh.. Mbak jorok nihî desis Shanti. Tuti terkekeh. ìMau merasakan bagaimana tempik kamu diemut?î bisik Tuti. Shanti berdebar. ìNgaco ah!îìAku mau emutin punya kamu, Shan?î Tuti mendekat. Shanti buru-buru bangun danmundur ketakutan. Tuti tertawa. ìKamu akan bisa pingsan merasakannyaî bisik Tuti lagi. ìOgah ah.. Udah deh.. Jangan nakut-nakutin akhhî Shanti mundur mendekati pintukamar mandi dan Tuti makin maju. ìNggak apa-apa kok.. Cuman diemut aja kok takut?îìMasak Mbak yang ngemut?îìIya.. Supaya kamu tahu rasanyaîìMalu ahh..îìNggak apa-apaa..î Tuti mendekat dan Shanti terpojok sampai akhirnya pantatnyamenyentuh bibir bak mandi. Dan Tuti sudah meraba pahanya. Shanti merinding dan roknya terangkat ke atas, Shantimemejamkan matanya. Tuti sudah berjongkok dan mendekatkan wajahnya ke memekShanti yang tertutup celana dalam.

    Tuti mencium bau memek Shanti, dan Tuti puas sekalidengan harumnya memek Shanti. Dulu ia sering melakukan hal-hal seperti ini, malahpernah ia bermain-main bersama 4 pelacur sekaligus untuk memuaskan tamunya. Tubuh Shanti gemetar dan seluruh bulu kuduknya meremang, gadis itu merasa suhutubuhnya meningkat dan perasaannya aneh. Tuti mulai menciumi memek Shanti yangmasih tertutup. Pelan-pelan tangannya menurunkan celana dalam Shanti dan Tutiterangsang melihat cairan lendir bening tertarik memanjang menempel pada celana dalamgadis itu ketika ditarik turun. Tuti menjulurkan lidahnya memotong cairan memanjang itudan lidahnya merasakan asin yang enak sekali. Memek Shanti sungguh indah sekali, tidakterlihat bibir kemaluannya bahkan bulu-bulunya pun masih halus dan lembut.Tuti mencium dan mulai melumat memek Shanti. Gadis itu mengerang dan menggeliatliatketika lidah Tuti menjalar membelai liang memeknya. Shanti benar-benar shockdengan kenikmatan aneh yang dirasakannya, ada perasaan geli dan jijik, tapi ada perasaannikmat yang bukan alang kepalang. Gadis itu merasakan keanehan yang belum pernahdirasakan sebelumnya. Bulu kuduknya berdiri hebat tatkala lidah Tuti menyapu dindingmemeknya, Shanti menggeliat-liat menahan perasaan nyeri nikmat bagian bawahperutnya. ìAahh.. Mbak.. Uuuhh.. Ssshh.. Ja.. Jangan mb.. Mbbak! Ji.. Jijikhh.. Aahhî Tuti tidak memperdulikan rintihan dan erangan Shanti. Lidahnya bergumul danmenembus liang memek Shanti dengan lembut, Tuti tahu Shanti masih perawan dan iatak ingin merusak keperawanan Shanti, lidahnya hanya menjulur tidak terlalu dalam, namun Tuti sudah dapat merasakan cairan asin hangat yang mengalir membasahilidahnya dan Tuti mengendus-endus bau khas memek Shanti dengan sangatmenikmatinya.

    Tuti perlahan-lahan menyelipkan jari-jarinya kesela-sela bokong Shanti, dengan lembut dan dibelai-belainya liang anus Shanti, dan Shanti sedikit tersentak tapikemudian menggelinjang geli, tapi Shanti membiarkan dirinya pasrah terhadap Tuti. Iapercaya sepenuhnya pada Tuti dan sekarang ia benar-benar merasakan kenikmatan yangselama ini belum pernah ia rasakan bahkan dalam mimpipun! ìEnak Shan?î desah Tuti dengan mulut berlumuran lendir Shanti. Shanti memandang kebawah dan mengangguk, tubuhnya bergetar hebat, ia tak menyadari bahwa itu yangdinamakan klimaks kenikmatan seorang perempuan. Tuti merasakan liang memeknyaberdenyut dan ia meraba serta menusuk-nusukkan jarinya sendiri keliang memeknya danmerasakan cairan licin membasahi jarinya. Ia merintih dengan wajah tersuruk diselangkangan Shanti, lidahnya kini menjulur dan membelai liang dubur Shanti danmembuat gadis itu terlonjak-lonjak kegelian serta terpana mendapatkan perlakuan yangtidak pernah dibayangkannya. Shanti merasa liang duburnya ditekan-tekan oleh bendalunak dan sesekali terselip masuk kedalam dan ia akan terlonjak kaget bercampur geli, tapi lebih banyak merasakan kenikmatannya. Entah bagaimana awalnya, tapi kenyataannya Shanti dan Tuti telah saling memelukdalam keadaan telanjang bulat dilantai kamar mandi. Tuti mencium mulut Shanti, mulanya gadis itu menolak tapi permainan jari-jemari Tuti diitilnya membuat gadis itumabuk kepayang dan kepalanya dipenuhi nafsu berahi yang memuncak dashyat. Tutimelumat mulut Shanti dengan penuh nafsu, Shanti membalasnya dengan malu-malu tapimereka berdua memang saling melumat juga akhirnya.

    Terdengar bunyi mulut merekaketika lidah mereka saling mengait dan saling menghisap. Shanti berkelojotan berkali- kali dan Tuti merasakan memeknya berdenyut-denyut nikmat, ia membayangkan Shantimenjilati dan mengemuti kemaluannya. Perlahan-lahan Tuti mulai menjilati leher gadis itu dan terus menciumi ketiak Shanti, gadis itu menggelinjang kenikmatan dan makin mengerang keras ketika Tuti mulaimenghisap puting tetek Shanti. Perlahan Tuti menggeser posisinya sehingga Shanti dapatmembelai memeknya, tapi gadis itu hanya menggeliat saja. Tuti tidak sabar, diambilnyatangan Shanti dan ditaruhnya di memeknya, Shanti mulai membelai dengan canggung. Ketika jarinya tidak sengaja masuk keliang memek Tuti, segera saja wanita itumemajukan pinggulnya dan memompa jari Shanti. Shanti mulai mengerti dan ia mulaimemainkan itil Tuti dan membuat wanita itu terlonjak-lonjak nikmat. Lalu perlahan Tuti sudah mengangkangi Shanti dan ia menciumi memek Shanti kembali, lidahnya kembali menggumuli liang kemaluan gadis itu. Shanti kembali merasakanterjangan gelombang kenikmatan manakala memeknya digumuli Tuti, Shantimembiarkan wajahnya basah karena cairan memek Tuti berjatuhan, menetes danmembentuk lendir panjang, tapi Shanti tidak berani menjilat lendir yang jatuh dibibirnya. Ia memandang liang memek wanita itu dengan heran. Memek Tuti dengan bibir tebalkehitaman, bulu kemaluan yang lebat bukan main tapi tidak menutupi liang itu. Shantimelihat memek Tuti lain dengan miliknya. Dan memek itu makin turun sehingga nyarismenyentuh hidungnya.

    Shanti mencium bau memek Tuti dan dirasakannya sama baunyadengan memeknya. Shanti menjerit tertahan ketika mencapai klimak, tanpa sadar ia menarik bokong Tutisehingga wajahnya terbenam dalam memek wanita itu, Shanti gelap mata, ia menjulurkanlidahnya dan menggumuli liang penuh lendir bening itu. Shanti bahkan menghisap lendiritu seperti kelaparan. Shanti mengemut itil Tuti yang besar dan menonjol. Tubuh Tutikaku seperti kayu dan bergetar hebat, pinggulnya kejang-kejang merasakan orgasme yangluar biasa ketika itilnya dihisap dan dijilat Shanti. Tuti menjerit keras dan ia menekan memeknya sehingga ia dapat merasakan hidungShanti terselip dibelahan liang memeknya dan ia menggoyang-goyangkan pinggulnyamaju mundur dan dirasakannya itilnya bergesekan dengan hidung Shanti dan gadis itumalah menambahkan kenikmatan Tuti dengan menjulurkan lidahnya sehingga setiap kaliTuti memajukan atau memundurkan pinggulnya selalu bergesekan dengan lidah sertahidung Shanti. Tuti berkelojotan hebat sekali, ia meliuk-liuk seperti menahan nyeri, matanya berputar sehingga menampakan putihnya saja dan mulutnya mengeluarkandesahan kenikmatan. ìShantii!! Aaarrgghh!!î Tuti merasakan bagian bawah perutnya nyeri dan ngilu. Orgasme yang ternikmat yang pernah dirasakannya sejak ia meninggalkan duniahitamnya. Shanti merasa puas karena berhasil membuat Tuti menjerit-jerit minta ampunkarena kenikmatan. Shanti merasa, ternyata ia suka sekali dengan rasa dan bau memekTuti. Ia berpikir apakah memeknya juga seenak itu. Ia merasakan hangatnya liang memekTuti dan ia merasakan kasarnya bulu-bulu kemaluan Tuti kala menggesek diwajahnya.

    Shanti tersenyum lemah karena lelah. Tuti ambruk diatas tubuhnya dan Shanti membiarkan, dan gadis itu iseng membukapantat Tuti dan memperhatikan liang anus Tuti. Shanti melihat liang dubur Tuti sepertibintang berwarna kehitaman dan sangat indah. Shanti penasaran, ia mencium sertamengendus liang itu.. Tidak berbau apa-apa. Tuti diam saja membiarkan Shanti berbuatsesukanya. Shanti menjulurkan lidahnya dan menyentuh liang dubur Tuti denganperlahan, kemudian ia menempelkan hidungnya lagi dan merasakan kehangatan liang itu. Dan Shanti mulai menekan-nekan lidahnya ke liang itu dan membuat Tuti menggelinjanggeli. ìAduh Shan, enak.. Terus Shan.. Jilat.. Jilat terus.. Ya.. Ya.. Aaakkhh..î Tuti merasakan lidah Shanti kaku menusuk liang duburnya. Tuti bangkit lalu berjongkokdiatas wajah Shanti dan ia mulai menurun naikkan bokongnya sehingga lidah Shanti yangkaku dirasakannya menembus sedikit kedalam liang duburnya. Tuti menggeram pelan.. Shanti merasakan perasaan aneh ketika lidahnya melesak masuk kedalam liang duburTuti, ia menyukai permainannya itu dan merasa senang dengan apa yang diperbuatnya. Lidahnya tidak merasakan apa-apa, yang dirasakan cuma perasaan anehnya saja. Tuti tidak ingin Shanti terus melakukan untuknya. Ia menggulingkan Shanti sehinggagadis itu terlentang, lalu kedua kakinya diangkat oleh Tuti sehingga liang dubur gadis itumencuat keatas wajahnya. Dijilatnya liang dubur Shanti dengan rakus, lalu setelah licinoleh air liurnya dimasukkannya jarinya kedalam liang itu. Shanti menggigit bibir, iamerasa mulas tapi sekaligus nikmat.

    Kemudian dilihatnya Tuti mengeluarmasukkan jarinya lalu setelah beberapa lama Tutimenjilati jari itu dengan nikmat, bahkan lidahnya terbenam jauh kedalam liang duburnya. Shanti mengeluh, belum pernah itu membayangkan apalagi merasakan perbuatan sepertiitu, gadis itu mabuk kepayang dan sangat terangsang dengan perbuatan Tuti. Ia merasaseolah-olah Tuti adalah pembersihnya, Shanti memejamkan mata dan merasakanmemeknya berdenyut mengeluarkan cairan. Tuti benar-benar tergila-gila dengan perbuatannya itu, ia tidak pernah menjilat liangdubur pria dan ia tak pernah ingin, tapi liang dubur Shanti begitu merangsang, begitulembut dan begitu nikmat. Tuti tidak mau membayangkan apa yang biasa keluar darilubang itu, ia cuma ingin merasakan lidahnya terjepit diliang itu dan bagaimana rasanya. Ia tahu Shanti gadis yang sangat bersih, sama dengan dirinya. Tuti tidak kuatir dengan halitu. Yang diinginkannya saat ini hanyalah membuat Shanti betul-betul puas dan dewasa. Tuti kemudian memompa liang memek Shanti dengan lidahnya dan membuat gadis itumeraung-raung serta kejang-kejang. ìMbaakk.. Sudah mbaakk.. Ampuunn.. Ooohh!!î Shanti sudah tidak kuat lagi menanggung kenikmatan yang datangnya bertubi-tubimelanda tubuh dan perasaannya. Ia menjambak rambut Tuti dan berusaha membuatwajah itu jauh dari memeknya. Dan akhirnya mereka berbaring lelah dilantai kamarmandi. Tuti memandang Shanti.. ìBagaimana? Sudah mau pingsan keenakan belum?î tanya Tuti.

    Shanti membukamatanya dan memandang wanita itu. ìBisa gila aku Mbak.. Aahh benar-benar bisa gila!î Desah Shanti. Tuti tersenyum. ìMau lagi?îìJangan! Bisa semaput benaran aku nanti.. ììYa sudah tak mandikan yuk!î Kata Tuti. Mereka bangkit dan kemudian saling memandikan. Sejak itu Shanti mengetahui apa yangharus dilakukannya jika berahinya datang melanda. Kejadian pertama itu membuatnyatahu apa sebenarnya yang dapat membuatnya nikmat dan puas. Shanti belajar banyak dariTuti. Dan ia memuja wanita itu. Malam itu Shanti tidak dapat memejamkan matanya, ia teringat perbuatannya denganTuti. Terbayang olehnya perbuatan Tuti terhadap dirinya, Shanti merasa seluruh buluditubuhnya berdiri dan ia merasa agak demam. Ia mengeluh karena merasa ingin sekalimengulangi lagi dengan wanita itu. Shanti bangun dan berjalan kemeja kecil tempat iabiasa merias diri. Dikamar sebelah terdengar suara-suara aneh, itu kamar Supriati, temansesama kostnya. Shanti mencoba mendengar, antara kamar dengan kamar hanya dibatasi dinding papantipis. Shanti kadang suka kesal dengan Supriati yang bekerja di pabrik karena wanita itusuka menendang-nendang dalam tidurnya dan itu membuat Shanti kaget setengah matiditengah malam.

    Tapi suara sekarang lain, bukan suara yang keras, suara yang samar- samar dan sepertinya ada suara lain, Shanti menempelkan telinganya dan ia mendengarsuara rintihan Supriati. Shanti berdebar, ini malam minggu.. Biasanya pacar wanita itusuka datang menginap. Sedang apa mereka?Shanti berjingkat keluar kamar. Di luar sepi sekali, sekarang sudah jam 1 pagi, pastiSupriati sedang berasyik-asyik dengan pacarnya. Shanti tegang, ia berjalan k ebalikkamar Supriati yang bersebelahan dengan ruang televisi. Shanti tahu disana dindingnyatidak sampai atas dan dinding itu yang menyekat kamar Supriati. Pelan-pelan Shanti naikkeatas bangku, lalu naik lagi keatas lemari pendek dan ia berjongkok disana. Ia raguhendak berdiri, takut terlihat, tapi keingin tahuannya membuatnya nekad. Dan pelan- pelan kepalanya menyembul dan pandangannya menatap ke dalam kamar Supriati. Penerangan kamar itu agak redup tapi Shanti bisa melihat dengan jelas Supriati sedangditindih oleh pacarnya! Supriati mengerang sambil menggeliat-geliat menggoyangpinggulnya, kedua kakinya terlipat dan menekan pantat pacarnya. Pacarnya menggenjotSupriati dengan cepat. Shanti merasa meriang, matanya terbelalak dan tubuhnya gemetar. Laki-laki itu sedang meremas buah dada Supriati dan wajah mereka menempel satu samalainnya. Mereka sedang berciuman dengan liar. Supriati menggumam dan melihat tanganSupriati meremas-remas pantat pacarnya dengan keras. Shanti terangsang sekali, belumpernah ia melihat pemandangan orang yang sedang bersetubuh dan sekarang ia merasaaneh, ia merasa perutnya ngilu dan dengkulnya gemetar tak keruan.

    Pacar Supriati berteriak tertahan dan mengangkat bokongnya. Shanti melihat tanganSupriati masuk kebawah dan terlihatlah kontol yang besar sekali didalam genggamanSupriati dan kontol itu menyemburkan cairan putih ke perut Supriati. Supriati mengocokkontol pacarnya dengan cepat dan laki-laki itu nafasnya mendengus-dengus hebat dengantubuh bergetar. Shanti merinding melihat benda yang besar dan panjang seperti itu,Shanti ngeri melihat kontol yang begitu besar, ia tahu bahwa itu besar sekali karenasebelumnya Shanti belum pernah membayangkan kontol dapat membesar dan sepanjangitu! Shanti merosot turun dengan lutut lemas, ia berjingkat kembali masuk kedalamkamarnya lalu merebahkan diri diranjang.
    Mengerikan sekali kontol lelaki, pikirnya. Mana mungkin benda sebesar itu muat dimemeknya? Shanti merinding membayangkanlubang memek Supriati yang pasti luar biasa besar. Dan Shanti akhirnya terlelap. Seminggu lewat sudah dan Shanti bingung memikirkan Tuti. Wanita itu tidak masukseminggu sejak pergumulan mereka. Nanti sore ia akan menanyakan pada pemilikwarung mengapa Tuti tidak masuk. Selama seminggu ini Shanti tidak bergairan dalampekerjaan, memeknya basah terus kalau mengingat Tuti atau mengingat pemandanganadegan Supriati dengan pacarnya. Shanti tidak bersemangat, apalagi sehari-hari temantemannyaselalu bergunjing mengenai laki-laki dan mereka tidak segan-seganmembicarakan hal-hal yang paling pribadi dan selalu berakhir dengan cekikikan panjang. Shanti merasa terkucil karena teman-taman lainnya semua sudah menikah dan usiamereka jauh diatasnya, sehingga mereka selalu terdiam kalau Shanti mendekat, padahalia ingin sekali turut mendengar gunjingan mereka. Shanti lebih banyak menghabiskanwaktunya dengan menyibukkan diri didapur membantu pemilik restoran. Malam itu Shanti merasa tidak bersemangat bekerja, hatinya sedih memikirkan Tuti.

    Iasudah menanyakan pada majikannya dan ternyata Tuti telah berhenti bekerja karenamendapatkan pekerjaan di Jakarta. Shanti diam-diam menangis memikirkan Tuti yangtega meninggalkannya tanpa pesan sedikitpun. Akhirnya Shanti hanya pasrah danmenjelang tutup restoran ia pulang kekostnya yang berada tidak jauh dari tempatnyabekerja lalu masuk kedalam kamarnya dan menangis kembali memikirkan Tuti. Iamenangis sampai akhirnya terlelap dan bermimpi bertemu dengan Tuti dan wanita itumembelai rambutnya dengan sayang, Shanti menyusup dalam ketiak Tuti dan menangissesunggukan, wanita itu mengucapkan kata-kata hiburan padanya dan gadis itu menangismakin keras.. *****Tidak terbayangkan oleh Shanti ketika memandang wajah wanita itu didepan pinturestoran. Tubuh Shanti bergetar dan jantungnya berdebar keras sekali. Air matamengambang dipelupuk matanya yang indah. Bibir Shanti terbuka dengan mata terbukaseolah melihat hantu. Wanita itu berjalan masuk dan tersenyum padanya.. Sudah setahunlewat sejak kepergiannya dan Shanti merasa waktu setahun berlalu seperti siput, tiadamalam tanpa tangisan dan tiada hari ceria lagi selama setahun itu baginya dan kini wanitaitu berdiri dihadapannya dan sungguh cantik bukan main!Wanita itu mendekat dan Shanti tiba-tiba saja sudah menghambur dalam pelukannya.

    Semerbak wangi tercium oleh Shanti, wanita itu membelai rambutnya sambil memelukerat tubuhnya. Shanti merasakan debar jantungnya menghantam dada wanita itu. Tangisan sedih terdengar dari dalam pelukan Tuti. Wanita itu merasakan aliran hangatjatuh dari matanya. Ia berusaha menahan air matanya tapi mengalir juga setetes dan jatuhdirambut Shanti.ìMbak.. Oh..î Shanti tak kuasa berbicara. Ia menyusupkan wajahnya makin dalamdipelukan Tuti. ìShan, sudah lama sekali yaa..î Bisik Tuti. Shanti mengangguk-angguk. Shantimerasakan lembutnya buah dada Tuti dan ia tidak ingin melepaskan pelukannya. ìAku rindu sekali Mbak.. Ja.. Jangan pergi lagi..î Suara tercekat dari Shanti membuatTuti sangat terharu. Dadanya terasa sesak dan ia ingin menjerit tapi kedewasaannyamembuatnya bertahan. ìAku juga rindu Shan, sudah, sudah..î Wanita itu mendorong Shanti pelan danmembawanya duduk disalah satu kursi. Restoran itu sedang sepi sekali dan Tuti memang sudah mengamatinya sejak satu jamyang lalu. Ia tidak ingin ada orang yang dikenalnya melihatnya datang denganpenampilan seperti itu, apalagi bermobil.
    ìMbak cantik sekali..î Bisik Shanti, ia menatap Tuti kagum. Tuti memang terlihat cantik dan menawan, make up wajahnya tipis sehingga kehalusankulitnya terlihat nyata, matanya masih seperti dulu, bersinar nakal dan genit, bibirnyayang penuh juga makin terlihat merangsang. Shanti menelan ludah, ia melihat pakaianTuti yang sangat indah, ia melihat potongan tubuh Tuti yang juga tidak berubah, montokdan kencang. Hidung peseknya tidak terlihat lagi dan penampilan keseluruhan wanita itumembuat Shanti rindu bukan main. ìKamu kelihatan makin cantik dan matang Shan..î Bisik Tuti lalu dibelainya pipi Shantiyang kemerahan. Kulit gadis itu masih betul-betul halus sekali, jari Tuti merayap menyentuh bibir Shanti, Shanti membiarkan jari Tuti menyentuh bibirnya, ia membuka mulutnya dan menjilat jariitu, jantungnya berdegup, Tuti membiarkan jarinya dihisap oleh Shanti. ìAku rindu sekali Shan dan aku kesini untuk mengajak kamu ikut akuî Kata Tuti. Shantiterkejut. ìKemana?î Tanya Shanti. Tuti tertawa. ìIkut saja aku, pokoknya kamu akan hidup enak dengankuî Kata Tuti. Shanti memandang wanita itu, hatinya gundah, apa yang harus dilakukannya? Apakahmemang ia akan hidup lebih enak? Tapi kalau sekali ini ia tidak ikut dengan Tuti makakemungkinan wanita itu tidak akan menemuinya kembali, Shanti sungguh bingung.

    ìJangan kuatir Shan, aku nggak bakalan menelantarkan kamu. Justru aku selalu ingatsama kamu, makanya aku nggak tahan lagi untuk mengajak kamu ikut dengankuî KataTuti sambil membelai tangan Shanti. ìLagipula kamu dan aku sudah seperti.. Seperti.. Kekasih..î Suara Tuti berbisik danbibirnya bergetar.Shanti ingin sekali memangut bibir wanita itu tapi ia agak jengah. Ia menunduk saja. Kemudian dirasakannya belaian tangan Tuti dibawah meja menjamah pahanya danmengelus serta meremas lembut pahanya, Shanti merinding, ia ingin merintih tapi iahanya menatap saja wanita itu. Tuti memandangnya sendu dan bibirnya terbuka. ìBaiklah Mbak.. Ka.. Kapan kita berangkat?î Bisik Shanti bergetar. ìBesok kamu temui aku dihotel M, malam ini aku tinggal disanaî Jawab Tuti. ìJangan membawa barang terlalu banyak, nanti aku belikan disanaî Shanti mengangguk. Gadis itu memandang Tuti, ia haus sekali akan belaian wanita itu, tapi Shanti tahu Tutitidak dapat berlama-lama, lagipula sepertinya wanita itu bukan lagi Tuti yang dulu. ìJaga diri kamu baik-baik, Shan.. Sampai besokî Bisik Tuti. Shanti merasa pahanya diremas oleh Tuti dan wanita itu bangkit sambil tersenyum. Shanti memandang kepergian Tuti dan ia merasa ada sesuatu yang terbang meninggalkanjiwanya.

    Tuti menghilang dalam mobil dan pergi meninggalkan halaman restoran itu. *****Shanti memandang pemilik restoran, seorang pria berusia pertengahan. Restoran sudahsepi karena sudah agak malam dan teman-teman Shanti juga sudah pulang, beberapayang tinggal dibelakang restoran telah masuk dan mungkin sudah tidur. Shanti sengajamemilih waktu setelah semuanya telah sepi, karena ia ingin pamit dan meminta upahnyaselama bekerja disana pada sang pemilik restoran. Perjanjiannya memang begitu, semuakaryawan wanita hanya dapat mengambil upahnya enam bulan sekali atau sewaktu iaingin berhenti. Dan sekarang Shanti hendak berhenti karena besok ia sudah akan diJakarta. ìMengapa kamu tolol sekali hendak ikut dengan sundal itu?î Sergah Pak Mohan denganwajah mengeras dan kelihatannya marah betul. Shanti membisu, tubuhnya tegang karenatakut. ìKamu tidak tahu dia itu jadi lonte disana? Hah?î Desis laki laki itu.Ia memandang Shanti dan terus memandang gadis yang menunduk diam itu. Matanyatertumbuk pada seonggok daging yang membusung di dada Shanti yang ditutupi kaustipis kumuh berwarna putih kekuningan. Pak Mohan terkesiap merasakan berahinya tibatibamemuncak melihat keremajaan gadis itu, laki-laki itu menahan napas dan menelanludah, matanya tidak lepas dari dada Shanti dan mulutnya terkunci. Shanti tidak tahumajikannya memandangnya seperti seekor serigala yang sedang menatap domba yang takberdaya. ìBaik, kamu boleh keluar dari sini dan sekarang kamu ikut aku untuk mengambiluangmu!î Suara serak Pak Mohan terdengar aneh di telinga Shanti, tapi gadis itu merasalega karena tidak ada lagi nada kemarahan dalam suara itu.Ia mengikuti laki-laki itu menuju kebelakang terus kebelakang berlawanan dengan messtempat tinggal para karyawan restoran. Shanti tahu ia menuju kantor Pak Mohan, atautepatnya tempat biasa Pak Mohan membereskan bon-bon dan beristirahat kalau sedangcapek.

    Rumah majikannya itu jauh dari sini jadi ia suka berleha-leha diruang itu kalausedang capek melayani tamu. Pak Mohan menyalakan lampu kamar dan Shanti disuruh duduk di dipan yang biasaditiduri oleh laki-laki itu. Shanti duduk dan Pak Mohan berjalan mendekatinya, tiba-tibatangan laki-laki setengah baya itu terjulur dan meremas teteknya dengan keras, Shantimenjerit tertahan dan beringsut kesudut, ketakutan. ìKamu mau uang kamu khan? Kamu akan ke Jakarta khan? Dan kamu toh akan jadi lontejuga nanti, sekarang kamu layani aku dululah, dan kamu akan menjadi lebih pengalamannantiî bisik Pak Mohan dekat sekali dengan wajahnya. Shanti mencium bau rokokmenyembur dari mulut laki-laki itu, sehingga membuatnya ia ingin muntah. ìSaya akan menjerit pak.. Jangan pak.. Malu!î bisik Shanti. Pak Mohan menerkamShanti dengan tiba-tiba dan Shanti terhimpit oleh tubuh laki-laki itu, Shanti membukamulutnya hendak menjerit, tapi tangan Pak Mohan dengan sigap menutup mulutnya. Shanti terbelalak, ia benar-benar kalah tenaga dengan laki-laki itu, yang ternyata kuatsekali. ìSekali kamu bersuara, maka kamu tidak akan bisa menemui sanak saudaramu lagi, kamubisa tunggu mereka semua di neraka!î Desis Pak Mohan, wajahnya sungguh kejamsekali, membuat gadis itu merasa takut setengah mati. Perasaannya mengatakan percuma melawan laki-laki itu, ia akan sangat menyesal nanti. Lagi pula siapa yang tidak takut dengan Pak Mohan? Hanya sang isteri yang baik padakaryawan, sedangkan laki-laki ini sudah terkenal suka judi dan membuat onar. Shantimenangis tanpa suara, ia takut sekali, dan sekarang ia merasakan tubuhnya digerayangioleh tangan lelaki itu. ìIkuti apa yang aku suruh, maka kamu akan mendapatkan uangmu dan yang pentingkamu akan selamat dan bisa jadi lonte di Jakarta, mengerti?î Ancam Pak Mohan, Shantimenggigit bibir menahan sakit ketika teteknya kembali diremas oleh laki-laki itu, iacepat-cepat menganggukkan kepalanya dalam bisu. Pak Mohan menarik kaki Shanti sehingga gadis itu terlentang di dipan kayu yangberalaskan tikar. Kemudian Shanti melihat Pak Mohan dengan gugup melepaskanpakaiannya. Shanti memejamkan matanya ketika melihat kontol Pak Mohan bergoyang- goyang seperti ketimun. Ketika ia membuka matanya kembali, Shanti melihat Pak Mohansudah duduk disampingnya dan tangannya mulai menarik kaus Shanti, gadis itu tidakbergerak. Tiba-tiba pipinya ditampar oleh Pak Mohan, Shanti menjerit pelan merasakan pipinyapanas, tamparan yang tidak begitu keras tapi sangat menyakitkan hatinya. Shantimengangkat tubuhnya membiarkan kausnya lolos begitu saja dan kemudian membiarkanjuga roknya diloloskan dengan mudah oleh Pak Mohan. Shanti bisa merasakan napaspanas membara dari hidung laki-laki itu, Pak Mohan berusaha menciumnya tapi Shantimemalingkan wajah, tapi laki-laki itu memaksa dan Shanti terpaksa membiarkan bibirnyadikulum mulut laki-laki itu, Shanti merasa mual.. ìPegang ini, awas jangan macam-macam kamu!î bentak Pak Mohan. Tangan Shantidituntun untuk menggenggam kontol Pak Mohan. Shanti merasa jijik, kontol yang tidakbegitu besar dan dalam keadaan layu, keriput dan hitam. ìKocok!î perintah Pak Mohan. Shanti belum pernah melakukannya. Ia meremas-remaspelan, kenyal dan licin seperti berlendir, Shanti merasa jijik. ìKocok seperti ini goblok!î desis laki-laki itu sambil mengocok kontolnya sendiri. Shantiberusaha menurutinya dan Shanti sedikit terkejut mendapati kontol itu bangun perlahan.

    Pak Mohan tidak sabar, ia harus cepat-cepat karena sang isteri menantinya dirumah. Iamenyodorkan kontolnya kemulut Shanti, gadis itu menghindar. ìSialan kamu! Cepat hisap dan jilat! Atau kubunuh kau!î bentak Pak Mohan sepertikalap. Shanti menggenggam kontol laki-laki itu dengan tangan gemetar, dipandangnyabenda yang lembek dan setengah tegang, ia memejamkan matanya dan sebelum sempatberbuat sesuatu, dirasakannya benda itu menerobos masuk kedalam mulutnya danbergerak maju mundur. Shanti ingin muntah tapi ia ketakutan. Laki-laki itu memompa mulut Shanti dengantergesa-gesa, dari mulutnya keluar lengkuhan-lengkuhan aneh dan tiba-tiba Shantimendengar Pak Mohan mengerang tertahan lalu mulutnya tiba-tiba terasa asin dan penuhdengan cairan lengket dan berbau aneh. Shanti menahannya supaya tidak tertelan, ia mualsekali, ia berpikir itu pasti yang dikatakan Tuti sebagai pejuh. Jijik sekali, pikirnya. Shanti memejamkan matanya erat-erat dan membiarkan kontol Pak Mohan terus bergerakmaju mundur dan makin pelan. Lalu benda itu ditarik keluar dari mulutnya. Dan Shantisegera memuntahkan cairan kental itu, ia memandang Pak Mohan yang kelelahan denganperasaan benci bukan main. ìHhh.. Bagus.. Memang punya bakat lonte kau! Ini uangmu dan ini bayaran pertama buatseorang lonte!î Desis Pak Mohan lalu melemparkan lembaran-lembaran uang kewajahShanti. Shanti terkulai tak berdaya dan Pak Mohan bergegas hendak keluar tapi sebelumnyasekali lagi laki-laki itu meremas teteknya dan Shanti terbelalak kesakitan.

    Sekejabkemudian bayangan laki-laki tua itu sudah lenyap dari pandangannya. Shanti menangispelan, ia tidak berani lebih keras, ia malu dan takut terdengar oleh teman-teman yangtinggal di seberang tempat ini. Lalu pelan-pelan gadis itu bangun, ia meraba teteknya danmeringis nyeri, lalu ia memungut uang-uang yang jatuh berserakan. Dihitungnya dan ia merasa senang juga menerima lebih dari yang diperkirakannya, iamenerima kelebihan dua puluh ribu rupuah! Jumlah yang lumayan untuknya. Shantidengan jijik mengusap cairan mani yang menempel di dadanya dengan BHnya. Iamelepaskan benda itu dan memutuskan tidak akan memakainya. Ia memakai rok dankausnya lalu berjingkat-jingkat keluar dari kamar itu. Diluar gelap dan kelam, sunyi, entah sudah jam berapa sekarang. Shanti berjingkat masuk kedalam kamar mandi, rumah kostnya sudah sepi dan ia tidakingin membangunkan semua penghuninya. Ia mulai membersihkan badannya dan iamenggosok teteknya kuat-kuat, ia tak peduli nyeri yang ditimbulkan, ia hendakmelenyapkan jejak remasan Pak Mohan. Shanti menangis tanpa suara, ia tidakmenyangka malam terakhir merupakan malam jahanam baginya. Ia berkumur danmenusuk-nusuk kerongkongannya sampai muntah, ia tak peduli mulutnya terasa pahitdan ia terus hendak mengeluarkan semuanya, ia tak yakin apakah tadi cairan Pak Mohantertelan atau tidak dan ia tidak ingin cairan itu berada diperutnya. Shanti menggosok giginya berkali-kali dan akhirnya dengan pelan ia masuk kedalamkamarnya. Ia telah mencuci bersih BHnya dan pakaiannya juga, ia akan meninggalkanpakaian itu disini saja. Lalu Shanti berbaring berusaha untuk tidur.. Diam-diam iabersyukur dirinya masih perawan, entah mengapa laki-laki keparat itu tidakmenyetubuhinya, Shanti menghela napas dalam lelap. *****ìIni kamar kamu Shan, suka?î bisik Tuti sambil memandang gadis itu. Shanti ter-nganga tidak dapat berkata apa-apa. Keletihan berjam-jam dalamperjalanannya dengan Tuti seakan lenyap begitu saja. Kamar yang untuknya sangat luas, ia membadingkan mungkin 3 kali dari kamar kostnya di kampung. Luar biasa, ranjangnyabesar dengan sprei putih bersih, ada radio kaset disamping ranjang lalu ada meja rias danShanti heran melihat ada kamar mandi dalam kamar tidur, ia belum pernah tahu mengapaada orang yang membuat kamar mandi dalam kamar tidur. Sangat membuang uangsekali, pikirnya.

    Tapi gadis itu sudah dapat membayangkan betapa nikmatnya denganfasilitas seperti itu, kapan saja ia ingin mandi, ia tidak usah lagi mengantri sambilmenimba air, oh menyenangkan sekali, batinnya. ìAda air panasnya lho Shan..î kata Tuti. Shanti memandang wanita itu dengan penuh sayang. Ia memeluk Tuti dan berterimakasih padanya dengan air mata mengalir. ìKamu berhak mendapatkannya sayang..î bisik wanita itu. ìIndah sekali Mbak! Bagaimana aku harus membalas semua ini?î kata Shanti dengansuara serak. Tuti tersenyum, lalu ia memanggil supir yang membawa mereka tadi untuk memasukkanbarang-barang Shanti. Shanti sangat kagum dengan rumah Tuti. Besar, bersih, mewahdan berkesan anggun sekali. Tembok-temboknya dicat dengan warna kuning beras, indahbukan main. Ruang tamu yang besar dengan lantai marmer dan perabotan yang menurutgadis itu tentu sangat mahal harganya, lalu ruang makan dengan meja makan yang besarlengkap dengan kursi-kursi berderet, tirai-tirai yang mewah seperti membuang-buangkain saja. Kemudian Shanti melihat ruang keluarga yang luar biasa besarnya, dengan TVyang juga seperti layar bioskop, seprangkat sofa yang besar pula menghias ruangan itu. Ada kolam renang dipekarangan belakang, kolam yang besar bukan main, Shanti tidakdapat membayangkan berenang di kolam itu, ia belum pernah berenang dikolam renang, ia hanya pernah berenang disungai. ìKamu istirahat saja dulu Shan. Nanti sore baru kita ngobrol-ngobrol lagiî kata Tuti. Lalu ia berjalan keluar kamar meninggalkan Shanti. Gadis itu duduk di atas ranjang, wahempuk sekali! Ia tersenyum sendiri membayangkan nasibnya, sungguh beruntung sekaliia disayangi seperti itu oleh Tuti. Ia merebahkan dirinya lalu dalam sekejab ia sudahterlelap.. Shanti terbangun oleh belaian Tuti. Jari-jemari Tuti membelai pipinya, Shanti memegangtangan Tuti kemudian menciumnya dengan lembut. ìTerima kasih Mbakî bisiknya. Tuti tersenyum. ìAh tidak apa-apa sayang, aku memang selalu teringat akan kamu dan akhirnya akunggak tahan lagi. Aku berkata pada suamiku bahwa aku tidak dapat merasakan keriangantanpa kamu Shanî kata Tuti. Shanti mengecup lagi tangan yang membelainya. ìKok Mbak kawin nggak bilang-bilang sih?î tanya Shanti.

    Tuti tertawa.Ia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir gadis itu dengan lembut. Tuti rindu sekalidengan hembusan napas Shanti dan ia sudah tidak tahan ingin merasakan lidah sertamulut gadis itu. Sudah lama ia rindu pada Shanti, selama ini ia selalu melayani ísuamiínya dengan baik. Dan sang ísuamií juga kelihatan sangat sayang padanya, makaitu ia memberanikan diri untuk meminta ijin mengajak gadis itu tinggal dengannya. Tutimenceritakan semuanya kepada ísuaminyaí dan tak disangka ísuaminyaí sangatmenyetujui.. ìJadi kamu suka bermain dengan cewek juga?î tanya ísuaminyaí, yang sebetulnya adalahlaki-laki yang bernama Rahman dan selama ini memelihara hidup Tuti dan diam-diammereka melangsungkan pernikahan tanpa sepengetahuan isteri pertama laki-laki itu. Tutimengangguk, ia pasrah jika Rahman meledak marah dan mendampratnya. Tapi yang ialihat hanya pandangan terpesona saja. ìYa Mas, aku selalu teringat kepadanya, aku sangat mencintainya Masî Jawab Tuti. ìJadi selama ini kamu tidak cinta padaku?î Tanya Rahman menyelidik. ìAku mencintaimu melebihi segalanya, semuanya kuberikan dan semuanya kulakukan. Tapi selama Mas tidak denganku, aku sering merasa sepi dan..îìDan apa?îìDan membayangkan gadis ituî Tuti menjawab terus terang. ìBoleh saja kamu ajak gadis itu, aku akan sangat senang sekali kalau..î Rahman tidakmeneruskan kata-katanya. Tuti tersenyum. Ia tahu apa yang dipikirkan Rahman.ìAku akan mencobanya sayy.. Aku juga ingin sekali kalau kamu bisa menikmatikeperawanan gadis ituî bisik Tuti. Rahman lega dan merasa tegang sendiri membayangkan ia digumuli oleh dua wanita, wah tentu lebih luar biasa, selama ini saja ia sudah sangat puas dengan pelayanan Tutiyang sampai kemanapun belum pernah dirasakannya. Tutinya yang begitu hebat diatasranjang, didalam kamar mandi, dimanapun dan kapanpun ia membutuhkannya, wanita ituselalu akan membuatnya terkulai dalam lautan kenikmatan. ìMbak.. Kok melamun?î bisikan Shanti menyadarkan lamunan Tuti. Wajahnya dekat sekali dengan Shanti dan gadis itu rupanya menanti dari tadi. Tutitertawa geli lalu tiba-tiba ia memangut bibir Shanti dan melumatnya. Shanti terengah- engah membalas lumatan gadis itu. Ia merasa tangan Tuti mengelus-elus buah dadanyadan ia pun membalas, ia meremas-remas tetek Tuti dengan gemas dan membuat wanitaitu merintih-rintih, tak dibutuhkan waktu lama untuk membuat mereka berdua berbugilria dalam pergumulan panas. Shanti tidak tahu bahwa dilangit-langit kamar ada sebuah bintik hitam sebesar uanglogam. Dan semua kejadian di kamar itu dapat disaksikan dari lantai dua rumah itu. Diruang kerja Rahman! Dan sekarang Rahman sedang menahan napas memandangkearah layar besar didalam ruang kerjanya.

    Tubuhnya tegang dan dirasakan dagingdicelananya membengkak. Ia bisa melihat Tuti melucuti pakaian Shanti dan ia bisamelihat bagaimana wanita itu menggerayangi tubuh Shanti dengan penuh nafsu. Rahman tersengal-sengal menahan nafsu, ia melihat Shanti memangut tetek Tuti danmenyedotnya seperti bayi, dan Tuti dengan kalap menyuruk keselangkangan Shanti danmulai menggumuli memek gadis itu dengan mulutnya. Rahman tak kuasa menahannya, iajuga ingin merasakan bau memek gadis itu dan bagaimana lendir gadis itu lumer dalammulutnya, lendir perawan! Ia mengendap-endap turun dan menghampiri kamar Shanti, ruangan sepi sekali dan dibukanya pintu itu, dilihatnya wajah Shanti sedang ditindih olehbagian bawah tubuh Tuti dan Tuti asyik menjilat-jilat memek Shanti, Rahman dapatmelihat dengan jelas bagian dalam memek gadis itu yang kemerahan dan berkilat karenalendir.Ia merangkak masuk dan dengan sebelah tangannya ia mengambil celana dalam Shantiyang tergeletak diujung ranjang. Rahman membawa benda itu kewajahnya danmenciumnya, oohh.. Nikmat sekali baunya, bau pesing bercampur dengan bau khasmemek seperti punya Tuti, Rahman menjilat bercak kuning dicelana dalam itu danmerasakan rasa asin, ia menjilat terus sampai bercak itu menjadi licin dan berubahmenjadi lendir. Tapi ia takut ketahuan, ia segera melemparkan benda itu dan merangkakmundur keluar dari ruangan. Semuanya dilakukan tanpa mereka mengetahuinya, Rahmanberdebar-debar membayangkan kapan Tuti dan Shanti akan siap melayaninya bersama- sama.ìAduh Mbaakk, aku keluar lagi Mbak.. Aduh duh..î Shanti berkelojotan, memeknyaterangkat dan menekan-nekan wajah Tuti, Tuti tidak mau kalah dan mengulek memeknyadengan goyangan yang membuatnya merasa hendak kencing. ìShaan.. Mati aku Shan.. Ooohh.. Terus Shan, terus!î desah Tuti dan Shantimempercepat tusukan lidahnya dalam memek Tuti, ia menghujamkan mulutnya danlidahnya menjulur dalam sekali, berkelana disekitar dinding memek wanita itu dan Shantimerasakan cairan masuk ke dalam mulutnya dengan mudah, Shanti tidak peduli bahwaitu adalah air kencing yang keluar sedikit dari memek Tuti karena gadis itu membuatnyaseperti gila dan entah mengapa ia merasa ingin kencing terus setiap Shanti menjalarkanlidahnya didalam memeknya. Tuti merasa pinggangnya nyeri karena menahan nikmat yang membuatnya tanpa sadarmeliuk-liuk seperti ular, apalagi dirasakannya lubang anusnya ditusuk-tusuk juga olehjari-jemari gadis itu, ternyata gadis itu sekarang pandai sekali memuaskan dirinya. Tutijuga tidak mau kalah dan ia membuat Shanti berguling sehingga gadis itu sekarang yangberada diatasnya dan dengan leluasa Tuti menjilati cairan bening yang jatuh dari liangmemek Shanti, cairan lengket dan hangat terasa asin itulah yang selalu dirindukan Tuti. Enak bukan main rasanya dan Tuti seperti gila menghisap lubang memek gadis itu, lidahnya dengan kaku memasuk kedalam memek Shanti dan membuat gadis itumengerang, kadang malah Shanti tersentak kesakitan karena lidah Tuti masuk terlaludalam dan Tuti cepat-cepat mengeluarkan lidahnya, ia lupa bahwa gadis itu masihperawan dan ia ingin Rahman yang memerawani gadis ini, kalau bisa nanti malam. ìMbakhh.. Aah.. Enak sekali Mbak.. Aaa.. Keluar lagi Mbak.. Aduuhhî Shantimengerang panjang dan Tuti merasakan cairan bening makin banyak masuk kedalammulutnya. Tuti menggosok-gosokkan hidungnya di lubang anus Shanti, ia merasa terangsang sekalimelihat liang itu dan dijilatinya lubang anus Shanti, Tuti memasukkan jari telunjuknya, membuat Shanti mengerang lagi. Lalu dikocok-kocoknya telunjuk itu di dalam anusShanti. Gadis itu tersentak-sentak sambil merintih, Shanti merasa mulas tapi ada perasaannikmatnya juga. Ia mengejan agar jari Tuti lebih mudah masuk kedalam anusnya, Shantimerasa enak sekali dan ia merasa memeknya banjir besar. Sedangkan Tuti dengan lahapmenjilati lubang anus Shanti dan bahkan ia menjilati jarinya yang baru keluar dari dalamanus Shanti, ia mencium bau yang baginya enak sekali dan ia menghisap jari itu. Shanti melakukan hal serupa, ia memasukkan jarinya dan buat Tuti yang sudah terbiasa, kocokkan jari-jari Shanti di dalam anusnya membuatnya orgasme. Apalagi Shanti dengantanpa jijik menjilat anusnya dan menusuk-nusuk lubang itu dengan lidahnya, Tutimerasakan kenikmatan yang membuat tubuhnya panas dan gemetar. Dengan rintihanpanjang Tuti mencapai orgasme lagi dan terkulai lemas. Shanti juga lemas diatas tubuhTuti.

    Mereka merasa rindu mereka telah terobati sementara dan Shanti diam-diam memohonagar kejadian seperti ini terus akan terjadi, ia tak ingin kehilangan Tuti lagi, ia tak akankuasa hidup tanpa wanita yang dapat membuatnya merasakan kenikmatan seperti ini. Shanti menyusukkan kepalanya disela-sela ketiak Tuti, ia sangat merindukan kejadianseperti ini dimana ia merasa terlindungi dan Shanti sangat suka sekali bau ketiak Tutiyang sedang berkeringat dan dengan bernafsu Shanti menjilati keringat yang membasahibulu-bulu ketiak wanita itu. Shanti mengendus dalam dan menikmati bau khas yangsangat disukainnya, bau khas ketiak wanita kampung, tapi baginya bau ketiak Tutisungguh merangsang. Tuti cekikikan kegelian karena jilatan lidah Shanti tapi ia merasa nafsunya bangkitkembali. Tuti memandang lidah Shanti membelai ketiaknya dan menjilati keringatnyadengan lahap, ia terangsang sekali melihat bagaimana gadis itu menghisap-hisap buluketiaknya yang lebat, seperti dikeramas saja, pikirnya. Tuti menarik wajah Shanti danmelumat mulutnya, dirasakan bau ketiaknya ada dimulut Shanti dan Tuti melumat habismulut Shanti, gadis itu pasrah membiarkan lidah Tuti menjalar dan menyelusup kemanasuka.Ia merasa jari-jari Tuti mengocok-ngocok didalam liang memeknya dan memeknya licinsekali karena banjir, wanita itu tidak menusuk terlalu dalam dan Shanti merasa nyamansekali. Tuti membawa jari-jarinya yang berlumuran lendir itu kemulutnya dan kemulutShanti dan mereka menjilati lendir itu dengan lahap seolah-olah itu adalah tajin yangbiasa dimakan bayi. Mereka saling berpelukan dengan mesra dan terlelap dalamrengkuhan kenikmatan. *****Ketika bangun, hari sudah senja dan mereka mandi sama-sama dalam kamar Shanti. Tutimengangumi tubuh Shanti yang benar-benar sedang ranum, matang dan sangat indah, semuanya mulus tanpa cacat. Bulu kemaluannya yang halus, buah dadanya dengan putingmerah muda sangat kontras dengan tubuhnya. Tubuhnya sendiri memang masih padatdan serba kencang, tapi ia tak dapat menghindari kegemukan di perutnya, padahal iasudah senam mati-matian, mungkin inilah karena umur, pikirnya. Sebaliknya Shantisangat iri melihat tetek Tuti yang begitu besar dan kenyal, walaupun puting susunya jugabesar dan kehitaman tapi Shanti tahu banyak sekali laki-laki dikampungnya yang tergila- gila ingin menikmati tubuh Tuti. ìMbak teteknya besar sekali, kapan aku bisa punya tetek sebesar itu?î Kata Shanti, Tutitertawa terkekeh-kekeh. ìIni dulu salah urus, sebenarnya tetekku dulu tidak sebesar ini, tapi ada gara-gara digosokdengan minyak bulus jadi gede kayak giniî Jawab Tuti. Ia tak memberitahu Shanti bahwadulu germonyalah yang menyuruhnya menggosok teteknya dengan minyak itu. ìMemang bisa?îìEntahlah, tapi kupikir gara-gara itu sihî mereka terkikik. ìSelesai mandi nanti kita kekamarku yukî ajak Tuti. ìAh nanti ada suami Mbakî jawab Shanti. ìAh mungkin dia pulang malam hari iniî jawab Tuti. Ia tak mau Shanti mengetahuirencananya.ìWah kamar Mbak hebat sekali!î seru Shanti kagum melihat kemewahan kamar Tuti. Tuti tertawa dan mengajak gadis itu duduk diatas ranjang besar. ìHeh kamu mau nonton film?î tanya Tuti. Shanti menggeleng. ìFilm?îìIya film yang hebat dehî kata Tuti lalu berjalan ke lemari TV yang terletak pas dikakiranjang. Tuti memasukkan sesuatu ke dalam kotak alat dan kembali duduk bersama Shanti. Iamemeluk Shanti dan gadis itu membalas pelukannya. Tiba-tiba Shanti melotot ketikamelihat adegan dalam film itu. Ia melihat dua wanita sedang disetubuhi oleh beberapalelaki. Ia melihat kedua wanita itu sedang disetubuhi sambil menghisap kontol prialainnya. Shanti menahan napas, jantungnya berdebar kencang, tubuhnya meriang danhangat.

    Tuti merasa gadis itu gemetar. ìLho.. Kok.. Kok.. Ih Mbak! Idiihh besar sekali Mbak!î desis Shanti. Tuti diam. ìJijik Mbak.. Aduh jijik sekali!î seru gadis itu tatkala melihat salah seorang pria itumenyemprotkan air mani kedalam mulut sang wanita dan wanita itu dengan lahapmenjilatnya sambil merengek-rengek manja. Shanti teringat malam jahanamnya dengan Pak Mohan, ternyata ada wanita yang sukasekali dengan itu. ìOh enak sekali Shan, wah rasanya luar biasa!î kata Tuti.Ia membelai tengkuk Shanti. Shanti bergidik melihat wanita itu kembali menjilati kontolyang baru keluar dari memeknya dan kontol itu dengan ganas menyemburkan cairankental kedalam mulutnya lagi. ìAduuhh.. Geli amat. Kok mau sih.. î Suara Shanti bergetar, diam-diam ia merasa adaperasaan aneh merambati tubuhnya. Ia merasa berahinya naik dengan cepat, apalagi Tutimembelai-belai tengkuknya. ìMbak! Gila ihh!î Shanti melotot melihat laki-laki lain menusuk lubang pantat wanita itudan laki-laki lainnya lagi menusuk dari bawah dan dimulut wanita itu tetap tertusuksebuah kontol hitam. Semua lubang ditubuh wanita itu telah terisi. ìWah itu yang paling enak Shan, kamu harusnya merasakan bagaimana memek kamudimasuki kontol Shan.. Enaknya luar biasa!î Desis Tuti. Wanita itu juga merasa terangsang. Ia melirik ke pintu yang dibiarkan tidak terkunci. Ditelevisi terlihat adegan dua wanita itu saling memangut kontol hitam dan mereka salingmenjilat dan menyuapi satu sama lain. Shanti mendesah, ia merasa meriang sekali danmemeknya banjir besar, Shanti merasa terangsang bukan main melihat bagaimana keduawanita itu saling membagi air mani laki-laki itu dan laki-laki itu bergantian memompamulut wanita-wanita itu. ìMbaakk.. Aduh Mbak.. Nggak tahan akuî Bisik Shanti manja sambil menatap Tuti. Tutimelumat bibir gadis itu.ìNafsu yaa..?î Bisiknya. Shanti mengangguk lalu menyurukkan wajahnya ke ketiak Tutilagi. Tiba-tiba pintu terbuka dan.., ìWah ada tamu nih?î Suara besar dan berat menyengatShanti. Ia melompat berdiri dan membenahi roknya yang tersingkap. Tuti tersenyummanis pada laki-laki itu. ìOh Mas, lho kok sudah pulang? Ini kenalkan keponakanku Shantiî Kata Tuti sambilmendorong Shanti mendekat kepada laki-laki tinggi besar itu. Laki-laki yang bertampangseram dengan brewok di wajahnya. ìIni suamiku Shan, kamu panggil saja Oom Rahmanî Kata Tuti. ìOh Haloo! Wah aku tidak menyangka keponakan kamu cantik beginiî Kata Rahmansambil menjabat tangan Shanti. Shanti tersipu menundukkan wajahnya. Rahman dudukdiatas ranjang dan membuka sepatunya, matanya menatap televisi. ìLho kok putar film begitu?î Tanyanya berpura-pura. Tuti tersenyum, Shanti tidak beranimemandang, ia malu bukan main. ìYa iseng saja, lagian aku ingin kasih tahu Shanti bagaimana punya laki-laki itu lho!î Kata Tuti manja sambil membantu melepaskan dasi Rahman. ìMbaakk.. î Shanti melotot. ìLho? Nggak apa-apa kok Shan. Mas Rahman orangnya sangat terbuka kok. Lagian kamisudah biasa dengan adegan-adegan seperti di film ituî kata Tuti sambil menarik Shantisupaya mendekat. Kemudian ia memeluk Shanti dan mencium mulutnya. Shanti merasa malu denganperlakuan Tuti tapi ia juga tak ingin menghindar, ia takut Tuti marah. Malah sekarangTuti meremas buah dadanya dengan perlahan. ìMbaakk.. Malu ahî rengek Shanti. ìAh tidak apa-apa kok Shan, Oom sudah biasa kokî kata Rahman sambil menelan ludah.Ia merasa lidahnya kaku dan sepertinya ia sudah merasakan cairan memek Shanti lumerdimulutnya. Lalu Tuti membuka celana Rahman dan sekaligus memelorotkan celanadalamnya, maka meloncat keluar kontol yang sudah agak tegang. Shanti menutupmulutnya melihat kontol yang lumayan besar dan panjang itu. Wajahnya bersemu merah, ia tidak dapat berkata apa karena malu, ia ingin lari tapi ia takut Tuti tersinggung. ìNih lihat ini Shan. Ini yang namanya kontol enak..î bisik Tuti sambil mengocok pelankontol Rahman dan Shanti bisa melihat ada lendir bening di kepala kontol itu sepertilendir memeknya.

    Lalu ia terbelalak melihat Tuti dengan lahap mengulum kontol itu, bahkan Shantibingung melihat kontol itu lenyap dalam mulut Tuti. Dan Rahman mendengus-dengussambil memompanya dalam mulut wanita itu. Shanti gemetar menyaksikan pemandanganyang tidak pernah dibayangkannya. Sungguh mengerikan, pikirnya. Apakah begituenaknya sampai Tuti mau menghisap kontol itu demikian dengan lahapnya?ìMau cobain Shan? Enak banget..î Tuti menarik gadis itu supaya berlutut juga.Rahman berdiri dan tersenyum pada Shanti. Ia menyodorkan kontolnya yang sudah agakkeras itu. Tuti mengambil tangan Shanti dan dipaksanya tangan itu menjamah kontolsuaminya. Shanti berusaha menahan tangannya dengan setengah hati. Ia bingung dangundah, ia merasa memeknya seperti hendak meledak karena berahi yang memuncak tapiia juga malu dan ia tak ingin berselingkuh dengan suami Tuti, tapi sekarang malah Tutimemaksanya menjamah daging yang seperti dodol itu. ìNggak apa-apa Shan, suamiku milik kamu juga kok..î bisik Tuti. Kemudian Shanti merasakan daging itu di tangannya, lumayan besar dan kenyal, adalendir bening keluar dari ujung kontol Rahman, dan Tuti mengusap lendir itu danmemasukkannya ke mulut Shanti, Shanti merasa jijik, tapi ia hanya merasakan asinseperti pejuh Pak Mohan. Lalu Tuti mendekatkan mulut Shanti sambil menekankepalanya supaya mendekati kontol Rahman. Dan entah bagaimana Shanti pasrah sajaketika kontol itu sudah dalam mulutnya dan bergerak maju mundur. Shanti merasadaging itu hangat dalam mulutnya dan memang kalau dirasa-rasakan enak sekali, sepertimengemut es krim tapi tidak dingin melainkan hangat, hanya sesekali lidahnyamerasakan asinnya lendir yang jatuh dalam mulutnya. Tuti juga ikut mengemut kontolRahman dan sesekali kedua wanita itu saling melumat dan meremas. ìMmhh.. Enak sekali Mas.. Ayo.. Cepat keluarkan.. Aku sudah tak tahan lagi Mas!î Desah Tuti, tangannya dan tangan Shanti berebut mengocok kontol Rahman. Bola mata Rahman terbalik dan mulutnya meleguh nikmat seperti kerbau. Kontolnyasungguh keras bukan main dalam maianan kedua perempuan itu. Ia merasakanbagaimanapun jilatan dan kocokan Tuti jauh lebih luar biasa daripada Shanti. Memang iatak salah memilih gundik, Tuti memang sungguh luar biasa. Dan Rahman menyadariselama ini ia belum pernah bisa tahan lebih dari 3 menit kalau Tuti sudah mengeluarkankeahlian mulut dan tangannya, apalagi kalau kontolnya sudah dalam cengkraman memekwanita itu, maka tak ayal lagi ia akan menyerah sebelum hitungan kedua puluh, padahaldengan isteri tuanya ia tidak pernah bisa keluar dan benar-benar tidak pernah bisaejakulasi!Walau bagaimanapun sang isteri melayaninya tetap saja ia tidak dapat puas, bahkankadang-kadang kontolnya menciut kembali sehingga harus dirangsang lagi. Tapi kalaudengan Tuti, dipegang sebentar saja kontolnya sudah seperti paku baja, terus digoyangsebentar saja, kontolnya sudah meletuskan lahar panasnya, tapi Tuti dapat dengan cepatmembangunkan kembali meriamnya walaupun baru meledak. Rahman bersyukur denganTuti, ia tak merasa sayang sedikitpun mengeluarkan uang luar biasa besarnya untukmembuat wanita itu mencintainya. ìOouughh.. Aku.. Aku.. Mau keluar sayy!!î seru Rahman sambil berkelojotan. Kontolnya dikemot oleh Tuti sedemikian rupa sehingga membuat seluruh otot tubuhnyangilu menahan gelombang nikmat yang akan segera melanda. Tuti mengeluarkan kontolRahman dan segera dimasukkannya ke dalam mulut Shanti, gadis itu membiarkan kontolitu menerobos masuk kedalam mulutnya dan ia mengocoknya dengan bibirnya, lidahnyaberusaha menjilat kontol yang keluar masuk dalam mulutnya itu. Sementara Tuti mengemuti pelir Rahman dengan keahliannya, tiba-tiba Rahmanmengeluarkan leguhan keras, tubuhnya kaku dan wajahnya tegang bukan main, mulutnyaternganga sedangkan matanya terbelalak dan berputar ketika kontolnya menyemburkancairan pejuh panas ke dalam mulut Shanti, tubuhnya kejang dan ia membiarkankontolnya diam dalam mulut gadis itu, Tuti dengan sigap mengurut dan mengocok batangkontolnya, biasanya Tuti akan terus mengocok kontol itu dengan mulutnya sampaiRahman berkelojotan seperti orang sekarat, tapi ia tahu Shanti baru pertama kali danbelum tahu bagaimana membuat seorang laki-laki mengalami ejakulasi dashyat yangdapat membuatnya mati kaku. Jadi Tuti membantu dengan mengurut batang kontolRahman dan membuat laki-laki itu menggeram dashyat seperti singa. Shanti merasa mulutnya penuh dengan cairan lengket, ia tak ingin menelannya jadi iamengeluarkan dari sela-sela bibirnya walaupun ia tahu sebagian sudah tersembur masukke dalam kerongkongannya.

    Jantungnya berdebar melihat Tuti dengan lahap menjilatisetiap lelehan pejuh yang keluar dari mulutnya. ìTelan Shan.. Enak kok.. Mmhh.. Sllrrpp.. Mmmhh..î Tuti menjilati cairan kentalkeputihan itu. Dan Tuti dengan cepat menelanjangi Shanti, sehingga Shanti benar-benarberlutut tanpa selembar benangpun ditubuhnya dan wanita itu juga sudah telanjang bulatdan bahkan kini Tuti berdiri dan menyodorkan memeknya pada Shanti. Shanti hendak berpindah menggumuli memek Tuti tapi Rahman masih membiarkankontolnya dalam mulut gadis itu. Shanti mengeluarkan kontol Rahman dan menjilatipejuh yang menempel disana, ia mengemut kontol Rahman, sekarang ia merasa sukadengan rasanya, ternyata untuk menjadi biasa cepat sekali apalagi kalau memang ternyataenak. Memek Tuti digesek-gesek di wajah Shanti dan Shanti menyelipkan hidungnya di memekTuti serta mengendusnya, hhmm nikmat sekali baunya, pikir Shanti. Ia menjulurkanlidahnya dan mengorek-ngorek liang memek Tuti yang sudah licin dan banjir. Tangankanan Shanti sibuk mengocok kontol Rahman, tapi kontol itu lemas tidak bangunkembali. Rahman meringis kesakitan karena kocokan Shanti yang tidak berpengalaman, mulutnya sedang dilumat oleh Tuti, ia tidak mau melepaskan lumatan Tuti hanya untukmeringis, karena semua yang diberikan Tuti padanya adalah istimewa, dan belum pernahseumur hidupnya Rahman mendapatkan wanita seperti Tuti. Pelan-pelan mereka beringsut dan akhirnya mereka bertiga bergumul di ranjang. Rahmansibuk melumat mulut Shanti, ternyata gadis itu masih tidak berpengalaman sama sekali, lumatan bibirnya masih jauh dibanding Tuti. Tapi kontolnya sudah tegang seperti bajakembali karena Tuti yang mengocoknya. ìMau cobain rasanya memek Shanti Mas?î desis Tuti.Rahman mengangguk, ia mengidam-idamkannya dan dari tadi sore serta ia jugamemimpikannya. Tuti menyuruh Shanti memberikan memeknya tapi Shanti malu, Tutimenariknya sehingga pelan-pelan Shanti bergeser sampai tubuhnya di atas Rahman dania menungging diatas wajah Rahman. Tuti mendorong pantat Shanti supaya turun danpelan-pelan Shanti menurunkan pantatnya, tiba-tiba ia mengerang ketika lidah kasarRahman dan berewoknya menyapu memeknya yang sempit menimbulkan sensasi yangtidak terkirakan nikmatnya. Shanti merasa orgasme padahal belum diapa-apakan. Sekarang ia meliuk-liuk seperti penari ular ketika lidah Rahman menjelajahi bibirmemeknya dan menyapu itilnya dengan kasar. Geli dan nikmat bukan main.

    Tuti melihat lendir memek Shanti berjatuhan seperti tirai air terjun dan ia bersamaRahman menjilati lendir itu, sesekali ia meludah kedalam mulut Rahman dan laki-laki itusegera menikmati air liurnya. Tuti menjilati liang anus Shanti dari atas dan lidahnyamenusuk-nusuk lubang itu dengan ganas. Shanti mengerang, merintih, menjerit histeriskarena gelombang orgasme melandanya tanpa ampun membuat perutnya mulas sertamembuatnya ingin kencing. Shanti merasakan memeknya benar-benar disedot olehRahman sehingga mengeluarkan suara keras, lalu ia merasa air kencingnya keluar sedikit, ia malu dan berharap Rahman tidak menyadarinya. Tapi Rahman tahu, Tuti pun tahubahwa Shanti sampai terkencing-kencing saking nikmatnya. ìAyo Shan kencing saja Shan.. Mmmhh.. Enak sekali kencing kamuî gerang Rahmansambil memainkan itil Shanti dengan lidahnya. Shanti tidak berdaya, dan ia tak kuasamenahannya lagi, ia hanya punya pilihan menderita karena menahan kencing ataumenerima kenikmatan yang sedang diambang perasaannya. ìAduh nggak kuat! Aaakkhh.. Mbaakk!î Shanti merengek sambil mengocok kontolRahman yang licin karena lendir. Air seninya menyemprot keluar dari lubang kencingnya, memancar menyemprot wajahRahman dan Tuti. Panas dan berbau pesing, Tuti memejamkan matanya dan membukamulutnya sehingga air kencing Shanti masuk kedalam mulutnya dan keluar lagi jatuhkedalam mulut Rahman. Mereka meminum air kencing Shanti yang masih perawan, airkencing yang tidak banyak dan kekuningan tapi sensasinya membuat Rahman melayang, ia merasakan asin dan pahit ketika air kencing gadis itu membasahi tenggorokannya. Tutimalah dengan liar dan lahap meminum dan menjilati air kencing yang jatuh membasahiwajah Rahman kemudian membasahi ranjang mereka, untung Tuti sudah menjaga-jaga, tadi sore ia sudah memasang karpet karet dalam sprei, ia yakin akan terjadi permainandashyat malam ini dan sekarang terbukti. Rahman sangat menyukai cairan memek Shanti, ada bau khas seperti punya Tuti tapi iatetap berpendapat cairan memek Tuti lebih enak dan lebih asin serta kental dan baunya- pun lebih keras daripada punya perawan ini. Rahman merasa kontolnya sudah tak sabarlagi ingin mencari korban, Tuti ingin mengulumnya tapi ia menghindar, ia tidak akanbertahan lama jika dikulum oleh Tuti dan itu membuat Tuti terkikik kegelian.ìTakut? Hi hi hi..î Rahman tersenyum kecut dengan brewok yang berlumuran lendirmemek Shanti.Ia menarik Tuti agar menggantikan Shanti. Tuti beringsut. Ia berbisik pada Shanti, gadisitu menggeleng. ìCoba saja Shan, enak bukan main. Memang pertama-tama akan perih tapi kamu akansegera merasa enak..î kata Tuti. Shanti diam dan ia pasrah ketika Tuti pelan-pelan membaringkannya terlentang diatasranjang yang besar itu. Rahman bangun dan menggumulinya, teteknya dikulum oleh lakilakiitu, tapi remasan Rahman ternyata lembut dan menimbulkan berahi. Padahal tadiShanti melihat bagaimana laki-laki itu mengulum tetek Tuti, membuat wanita itumeringis. Tapi terhadap dirinya Rahman lembut sekali bahkan Shanti merasa enak sekaliteteknya disedot-sedot seperti itu. Lalu ia melihat kebawah dan dilihatnya Tutimerenggangkan pahanya lalu memegang kontol Rahman yang sudah keras seperti kayu. Perlahan-lahan kontol itu turun, tapi sebelum menyentuh memeknya ia melihat Tutimenyelomoti kontol itu sebentar dan itu membuat Rahman menjerit seperti tersentak, wanita itu terkekeh-kekeh senang, lalu Tuti mulai menempelkan kepala kontol Rahmankebibir memek Shanti yang sudah banjir hebat. Pelan-pelan kontol itu mulai masuksesenti demi sesenti sampai terdengar raungan Shanti. ìAaakkhh.. Sakiitt.. Uuuhh Mbaakk.. Ampuunn..î Shanti merintih keras ketika kontolRahman mendesak terus, ia berkelojotan sambil berontak. Lalu ia merasa lega ketika kontol itu diam dan pelan-pelan memompa tapi tidak turunlagi, gadis itu meriang mendapati kenikmatan melandanya dengan pompaan yangdiberikan Rahman. Shanti mendesis-desis seperti orang kepedasan. Tuti memainkan itilShanti membuat Shanti kejang-kejang, lalu Rahman kembali menusuk, kali ini dengancepat dan keras. ìAduuhh.. Ampuunn!! Sakiitt!! Mati aku mbaakk!!î teriak Shanti histeris ketikamerasakan lubang memeknya seolah-olah robek dan meledak, perih bukan main danpanas merayapi tubuhnya. Matanya terbelalak, keringatnya keluar sebesar butian jagung. Jari-jarinya mencakarpunggung Rahman, tapi sang kontol sudah tertanam dalam memek Shanti dan Rahmanmulai mengangkat perlahan diiringi jeritan Shanti, gadis itu hendak pingsan, sakit sekali, setiap kali laki-laki itu menusuk atau mencabut dirasakannya kenyerian disekelilingmemek dan perutnya. ìTahan Shan, nanti kamu akan keenakanî bisik Tuti.

    Setelah beberapa saat, apa yang dikatakan Tuti ternyata benar. Shanti merintih danmengerang karena kenikmatan. Rahman merasakan hal yang sama pada kontolnya. Iamerasa kontolnya seperti diremas dan dicengkram oleh gadis itu, Rahman benar-benarmerasa beruntung, setua ini ia masih mendapatkan perawan! Rahman menghisapi tetekShanti bergantian dan ia merasakan pentil kecil itu keras dalam mulutnya. Rahman merasa menang karena ia membuat Shanti menjerit dan berteriak histeris terusmenerus tatkala gadis itu mendapatkan orgasmenya, dengan Tuti ia tidak pernah menang, memang dulu pertama kali Tuti menjerit-jerit seolah-olah orgasme tapi akhirnya Rahmantahu itu hanya pura-pura saja, Tuti hanya bisa orgasme kalau memek dan liang anusnyadijilati atau dikocok dengan sesuatu, seperti kontol-kontolan yang bergetar atau dildokaret yang berbuku-buku dan Rahman melarang Tuti memberikan rintihan palsu sewaktumereka sedang bersetubuh, ia tak ingin kepalsuan dan dengan ksatria ia mengakui tidakdapat mengalahkan Tuti, selalu saja ia yang terjerambab kalah. ìOommhh.. Aduh Mbak, aku nggak sanggup lagi Mbaak!î Shanti mengeluh, tubuhnyabersimbah peluh dan ia merasa melayang karena lautan kenikmatan yang terusmelandanya. Tuti tidak mau mendengarkannya karena wanita itu juga sedang dilanda nafsu yang luarbiasa, ia menyurukkan kepalanya dan menjilati liang anus Rahman lalu beberapa saat jikaingin keluar ia mencabut kontolnya dan Tuti segera menyelomotinya dengan kasarsupaya laki-laki itu tidak orgasme lalu Tuti akan menyuruk kememek Shanti danmenjilati cairan yang menggenang bercampur dengan darah perawan gadis itu sampaibersih, ia juga menjilati cairan yang mengalir ke liang anus Shanti, ia menghisap danmenelan cairan itu dengan penuh nafsu, baru Rahman memasukkan kembali kontolnyadan memompa Shanti kembali. Tuti juga mencapai orgasme karena merasa terangsangdengan ulahnya, ia merasa seperti binatang, ia merasa seperti budak yang harusmembersihkan semua cairan berahi Rahman dan Shanti dan itu membuatnya sangatterangsang. Lalu Tuti mengatur posisi Shanti, ia menyuruh gadis itu menungging dan Rahmanmenyetubuhinya dari belakang, sedangkan Tuti menyurukkan tubuhnya kebawah Shantidan mengemut itil gadis itu sementara Rahman memompa dengan irama pelan. Kali iniShanti terbelalak dan gemetaran karena kenikmatan yang datang jauh lebih dashyatdaripada tadi. Mulut Shanti keluar erangan, ia merasakan itilnya diputar-putar didalammulut Tuti dan ia merasakan daging yang menyesakkan liang memeknya sepertimembuatnya ingin kencing lagi, ia menjerit-jerit histeris dengan tubuh berkelojotanseperti gadis yang tengah sekarat. Dan Shanti seperti gila membenamkan wajahnyakeselangkangan Tuti, lidahnya dengan liar mengorek-ngorek liang memek wanita itu danmenjilati cairan kental yang berlumuran disana. Mulut Shanti terasa asin dan tubuhnyaterasa lengket oleh keringat. ìSudah Oom.. Ampun.. Aduh.. Nggak kuat lagi akuu!î jerit Shanti dan ia terkulaimenindih tubuh Tuti. Rahman mencabut kontolnya dan dari dalam memek Shanti mengalir cairan encer beningbanyak sekali. Tuti dengan lahap menjilati cairan itu bahkan Rahman tak segan-seganmenjilati liang anus Shanti dengan penuh nafsu. Kontolnya yang keras bagi baja itumasih tegak perkasa menunggu sesuatu yang dapat dipasaknya. Tuti meremas kontolRahman sambil menghisap memek Shanti. Kemudian Tuti cepat-cepat mencegahRahman ketika laki-laki itu hendak mengarahkan kontolnya keliang anus Shanti.

    Rahmansadar dan buru-buru mengurungkan niatnya. Tuti tidak dapat membayangkan bagaimanaShanti menerima tusukan kontol Rahman diliang duburnya, pasti gadis itu akan meraungraungkesakitan luar biasa. ìSekarang giliran aku manis..î desis Tuti. Lalu ia tidur terlentang dan mengangkat keduakakinya terlipat ke wajahnya sehingga memek dan liang anusnya menghadap keatas. Shanti segera menyelomoti liang memek Tuti dengan rakus. Ia mengocok memek Tutidengan jarinya dan membuat wanita itu berkelojotan, Tuti dapat orgasme bila denganShanti karena ia sangat menikmati waktunya dengan gadis itu. Shanti mulai menjilatiliang anus Tuti sedangkan wanita itu menyelomoti kontol Rahman. Tuti menyelomotidengan kasar, ia membiarkan sesekali kontol Rahman mengenai giginya dan Rahmansenang karena wanita itu tidak akan membuatnya keluar dengan cepat. Ia tahu keinginanTuti, ia tahu Tuti ingin dipompa dan Rahman senang sekali. Kontolnya tidak lemaskarena ia sangat terangsang melihat keliaran Shanti melumat liang anus Tuti denganrakus, Rahman sekarang makin bersyukur mendapatkan dua perempuan yang punyanafsu besar, semula ia tidak menyangka gadis muda itu akan mudah didapatkan, ternyatamemang Tutilah yang memegang peranan. ìJilat dalamnya Shan, .. Oooh bersihkan.. Terus.. Aduh enak sekali Shan.. Emut terusShanî desis Tuti, Shanti menusuk-nusukan lidahnya di liang anus wanita itu dan sesekalilidahnya terjepit sampai dalam, kemudian ditusuk-tusukannya dan membuat Tutitersentak-sentak. Kemudian Shanti melihat Rahman mendekati dan mengarahkan kontolnya. Tapi Shantikaget ketika kontol Rahman pelan-pelan menusuk keliang anus Tuti. Shanti memandangTuti, dan wanita itu mengedipkan matanya. Tuti mengejan sedikit dan blup! KontolRahman melesak masuk kedalam liang itu. Shanti terpana ketika melihat Rahmanmengayun maju mundur memompa liang anus Tuti, pompaan yang berirama dan adalendir yang keluar bersama pompaan kontol Rahman. ìShan, jilat Shan.. Ooohh.. Terus.. Aaakkhh..î Tuti merasa orgasme ketika melihatdengan tanpa merasa jijik Shanti menjilati lendir yang keluar dari liang anusnya danbahkan Rahman mencabut kontolnya dan Shanti seperti sudah tahu langsung menghisapdan menyelomoti kontol itu. Shanti sama sekali tidak jijik karena kalau itu liang anus Tuti, apapun diminta Tuti iaakan melakukannya karena Shanti sadar bahwa yang dikatakan Tuti selalu benar. Shantimerasakan cairan asin dan berbau tapi ia menikmatinya. Bahkan beberapa kali iamemaksa kontol Rahman dicabut supaya ia bisa menghisap dan membersihkan cairanlengket keputihan itu. Rahman beberapa kali sudah ingin meledak karena berahi yangmencapai puncak tapi untung setiap kali ada Shanti yang membuatnya mengurungkanledakan laharnya dan ia tersenyum senang pada Tuti, sedangkan Tuti sudah lebih dari duakali orgasme karena perbuatan Shanti didepan matanya daripada pompaan kontolRahman di duburnya.Ia menarik Shanti dan memaksa melumat mulut gadis itu, Shanti membuka mulutnya danmembiarkan cairan keputihan yang baru saja dijilat di liang anus Tuti mengalir jatuhkedalam mulut Tuti. Tuti merintih dan menikmati cairan itu, kemudian mereka salingmembelit dan melumat. Tuti menggoyang berirama dan membuat Rahman menggerungseperti binatang terluka. ìAaarrgghh.. Gilaa!!î teriak Rahman. ìCepat, cepat!î teriak Tuti sambil mendorong Shanti. Seperti sudah mengetahui apa yang harus dilakukannya Shanti segera menyurukkanwajahnya dan sedikit terlambat ketika Rahman memuntahkan pejuhnya didalam anusTuti tapi laki-laki itu memaksa mencabutnya dan Shanti segera menangkap denganmulutnya.

    Rahman memompanya dalam mulut Shanti seperti orang kesetanan dan cairanyang keluar seperti tidak ada habis-habisnya, Shanti kali ini menelan cairan itu, sebagiandisekanya dengan tangannya kemudian disodorkan kepada Tuti dan wanita itu menjilatcairan itu dengan lahap. Rahman berkelojotan seperti akan putus nyawanya, mulutnya mengeluarkan suara sepertiorang sekarat. Ia benar-benar puas. Shanti menyelomoti kontolnya dengan ahli sekarang. Ia bisa merasakan jalaran lidah gadis itu menyapu permukaan topi bajanya dan keleherkontolnya yang paling peka, membuatnya melayang-layang dalam perasaan aneh yangmembuat tubuhnya panas meriang. Setelah agak lama Rahman tumbang diatas ranjang. ìAku bisa gila..î desahnya. Rahman memandang Shanti yang sedang menjilati cairan pejuh di anus Tuti, ia bahkanmengorek-ngorek liang anus Tuti dengan lidahnya dan itu membuat Tuti menjerit-jeritkenikmatan dan kegelian, tapi Shanti seperti kesetanan dengan perbuatan joroknya. Shanti tidak peduli apa yang dijilatnya, ia hanya merasa ada sensasi aneh denganmelakukannya, ia merasa hebat dan ia merasa terangsang bukan main dengan apa yangdiperbuatnya. Shanti betul-betul pembersih, ia membuat liang memek dan anus Tuti berkilat karenajilatannya. Tak ada setetes-pun lendir disana kecuali bekas jilatan-jilatan lidahnya. Shantipuas dengan pekerjaannya. Ia memandang Tuti dengan penuh cinta ketika wanita itumenurunkan kakinya. Tuti merasa kakinya hendak copot karena pegal dan perutnyakeram, tapi ia tersenyum letih pada Shanti. Ia membelai kepala gadis itu kemudianmereka saling melumat dan berpelukan dalam senyap, sementara Rahman dengan mulutter-nganga mendengkur seperti babi. ìAku cinta sama Mbakî bisik Shanti. Tuti tersenyum lembut. ìAku juga mencintaimu Shan, kamu segalanya buatkuî bisiknya.ìJangan tinggalkan saya Mbakî Tuti menggeleng dalam diam. Tidak akan, pikirnya. Tidak akan pernah! Shanti menyusupkan kepalanya di payudara Tuti dan tidur lelapdalam kelelahan.. *****ìWah segar sekali kamu kelihatannya?î kata Tuti sambil duduk disamping Shanti. Gadis itu sedang melamun diteras belakang rumah Tuti sambil memandang kolamrenang. Shanti terkejut sebentar tapi tersenyum manis. Wajahnya bersih dan segar, rambutnya yang panjang dibiarkan terurai dan pagi itu Shanti benar-benar cantik sekali. Ia memakai daster warna kuning dengan bunga-bunga kecil di bagian dada. ìWah Mbak juga kelihatan cantik sekali!î seru Shanti. Tak lama kemudian seorang wanita tua yang dikenal dengan mbok Iyem menaruh kopisusu dan roti panggang di meja kecil dihadapan mereka. ìMelamunin semalam ya?î bisik Tuti setelah pembantunya pergi. Shanti mencubit perutTuti, membuat wanita itu tekikik geli. ìAaahh Mbak! Malu nih..î rengek Shanti. Tuti tertawa lagi. ìKok malu? Itu biasa kok, semua orang juga pasti melakukannyaî kata Tuti sambilmenyerahkan kopi susu kepada gadis itu. ìTapi kan nggak kayak semalam Mbak. Aku malu dan risih sama Mbak..î kata Shanti.Ia menghirup kopi susunya. Tuti tersenyum sambil minum juga. ìAku kan sudah bilang, buat aku sama sekali nggak apa-apa. Malah aku senang sekalikamu juga merasakan kesenangan dengankuî jawab Tuti. ìTetap aku merasa malu, sebab itu kan suami MbakîìJangan berkata seperti itu, yang aku inginkan cuma kebahagiaan dan kesenangan kitaberdua Shan. Rahman memang sangat mencintaiku, dan aku juga sangat mencintainya, tapi aku juga sangat mencintaimu, kamu kan tahu itu?îìTapii.. Ah pokoknya entah bagaimana aku nanti kata orang. Bersetubuh dengan suamiorang dan bersama pula!îìAh mana orang yang tahu? Sudahlah, pokoknya aku merasa sangat bahagiaî kata Tuti. Tuti membelai rambut Shanti. ìApakah kamu tidak bahagia?îìAku bukan main bahagianya Mbak dan aku juga bingung bagaimana aku harusberterima kasih pada semua kebaikan Mbakî jawab Shanti. ìJangan berkata begitu sayang, aku malah takut kamu menjadi marah padaku karenakejadian semalam keperawananmu hilangî kata Tuti sambil memandang Shanti. ìAh buatku tidak masalah Mbak, yang penting enaakk.. Hi hi hiî Shanti merasa lucusendiri, ia sama sekali tidak peduli dengan keperawanannya, masa bodo, pikirnya. Akumalah merasa aneh dan sangat ketagihan.. ìMasih sakit?î tanya Tuti.

    Shanti menggeleng. ìNggak, cuma tadi pagi perih waktu mau kencing. Mbak tidurnya enak sekali ya, tapi kokOom Rahman udah menghilang sepagi itu?î tanya Shanti. ìOh itu mah biasa Shan. Bisnisnya terlalu banyak dan seringnya malah jam dua pagisudah pergi kalau mau keluar negeriî kata Tuti. ìWah enak dong ya, Mbak pasti sudah sering keluar negeriîìYah hanya ke Singapura dan Malaysia saja, lainnya belum ada kesempatanî jawab Tutitertawa. ìNanti juga pada saatnya kita akan bisa pergi bersama-samaî lanjutnya. ìWah tadi pagi mulutku baunya bukan main Mbak! Semalam ketiduran padahal belumgosok gigiî kata Shanti sambil cekikikan. Tuti tertawa juga. ìAku juga! Uekh, aku pengen muntah saja tadi pagi, hi hi hi..î Tuti membuat wajahnyaterlihat lucu. ìTapi sekarang sudah nggak lagi kan?î lanjutnya sambil membuka mulutnya danmendekatkan pada Shanti. Shanti mencium mulut Tuti dan melumatnya. ìMmmhh.. Sedaapp..î desisnya. ìUdah ah, ntar kelihatan sama si Mbok bisa pingsan dia melihat kita ciuman beginiî kataTuti. Mereka tertawa. ìApakah kamu nggak merasa jijik dengan perbuatan kita semalam?î tanya Tuti ingintahu. Shanti memandangnya sambil menggeleng. ìEntahlah, aku malah kepengen lagi Mbak. Padahal tadi pagi aku berpikir betapamenjijikkannya perbuatan kita semalam, tapi mengapa aku merasa aneh dan terangsangsetiap kali membayangkannya?î Shanti memang merasa bingung. Tadi pagi ia merasa risih dan malu sekali mendapati dirinya bangun dari tidur dengantubuh telanjang bulat diatas tubuh Tuti. Dan ia ingin muntah mendapati mulutnya bausekali, tubuhnya berbercak-bercak putih seperti kerak dan ia yakin itu pejuh atau lendirTuti atau bahkan miliknya sendiri. Tapi anehnya ia malah tersenyum waktu itu dan merasa jantungnya berdebar ketikamembersihkan kerak-kerak itu dan merasakan kerak itu menjadi lendir kembali sewaktukena air. Ia malah mencicipinya lagi sambil membayangkan apa yang dilakukannyasemalam. Mungkin kalau menurut adat kampung perbuatannya semalam sudah termasukkatagori gila atau perempuan laknat, bersetubuh dengan suami orang, menciumi anussesama jenis bahkan menjilatinya, oh itu sungguh bisa menimbulkan masalah yang luarbiasa besarnya jika diketahui orang tuanya. Untung orang tuanya berada jauh sekali darisini. ìHeh! Melamun lagi!î seru Tuti. ìOh eh.. Ih Mbak ngagetin melulu!îìMikirin apa lagi?î tanya Tuti. ìMikirin semalam kok Mbak mau saja sih ditusuk di pantat?î tanya Shanti. Tutimengerling pura-pura marah. ìKamu ini jorok ya, pagi-pagi sudah ngomong gituan..îìAaahh.. Ayo dong Mbakî rengek Shanti. Tuti mencubit pipi gadis itu.ìYa mau saja, wong buatku enak sekali kokî jawab Tuti. ìLho? Kan sakit Mbak?îìNdak lagi, malah aku sering sekali ngecret kalo dientot pantatkuî jawab Tuti seenaknya. ìDulu pertama kali memang sakit, tapi lama-lama malah enak, seperti mau berak rasanya. Rasanya mulas sewaktu kontol masuk kedalam sanaîìAstaga! Mbak ih, jorok..îìEnaakk.. Kan kamu dulu yang mulaiin ngomong jorokî Tuti tersenyum genit. ìSekali-kali aku pengen juga dientot di sana Mbakî kata Shanti tiba-tiba. ìNanti juga kesampaian, dan kamu bisa ketagihan nanti. Apalagi kalau kita dientot daridepan dan belakang, wah rasanya semua laki-laki jadi budak nafsu kita. Kita bisa matikeenakan Shan!î kata Tuti. Shanti melotot. ìGila! Masak ditusuk dari depan dan belakang?î Tuti baru mendengarnya lagi. ìIya, dulu sekali aku pernah dientot 6 laki-laki Shan. Satu menusuk pantatku sambilnungging, sedangkan aku mengentoti kontol laki-laki dibawahku dengan memekku danmulutku dientot dua kontol, dan dua kontol lagi mengentoti ketekku, wah aku merasaseperti mesin pejuh Shan, mereka semua menyemburkannya dimulutku, dipantatku, dimemekku, di ketekku, di tetekku, di perut, di kaki, di paha, di wajah serta di rambutku!î Cerita Tuti kebablasan. Shanti tegang sekali sehingga napasnya memburu. Ia terkejut mendapati Tuti begituberpengalaman dengan laki-laki. ìEmang dulu Mbak.. ììYa aku dulu pelacur Shan. Pelacur idaman setiap laki-laki, bukan sombong, tapipenghasilanku dulu besar sekali. Karena aku selalu memuaskan setiap laki-laki dan akuselalu menuruti apa yang mereka inginkan. Kamu akan tahu laki-laki itu punya fantasiyang gila Shan. Mereka kebanyakan membayangkan kita-kita ini seperti binatangpeliharaan mereka..î cerita Tuti lagi. Shanti tegang mendengarkan. ìDan kebetulan aku juga maniak seks, jadi aku juga merasa enak sekali, nafsu berahikubesar sekali Shan. Dulu aku begitu menghayati pekerjaanku, bayangkan saja, sudahdientot enak dapat uang pula!î lanjut Tuti. ìMbak hebat sekali! Aku tidak pernah membayangkan Mbak jadi pelacur lho!î seruShanti. ìSsstt.. Pelan-pelan dong, kedengaran orang mati aku!î desis Tuti. Mereka tertawa. ìTapi ada juga nggak enaknya, tapi umumnya aku puas dengan apa yang kuhasilkan duludan sekarang lebih enak lagi.

    Mendapatkan suami kaya dan gadis cantik seperti kamuyang..î Tuti menggantung kalimatnya. ìYang apa?îìAh nggak jadi deh..îìAaahh ayo doongg..îìYang siap dientot dan mengentot!î bisik Tuti.Shanti menjerit sambil mencubiti Tuti, mereka saling cubit mencubit sambil cekikikan. Tuti memang merasa bersyukur bukan main dengan keadaannya sekarang, tapi Shantijuga sangat bersyukur dengan apa yang didapatnya sekarang. Jadi kurang apa lagi?ìEhh Mbak, nanti malam kalo Oom Rahman pulang kita lakukan hal yang semalamyuukk..?î kata Shanti memecahkan lamunan Tuti. ìAhh.. Kamu masa sih tadi malam belum puas??îìAaahh.. Ayo doongg.. Mbak khan Shanti mau ngobain dientot lewat anus, seperti Mbaksemalam?îìMemangnya kamu udah siap dientot di pantat?? tanya Tuti meragukan perkataanShanti.îìAku khan mau nyobain Mbak, abis Shanti lihat semalam Mbak sangat keenakkansihh..?îìShan apa kamu engga takut sama kontolnya Oom Rahman? Khan kontolnya OomRahman besar sekali. Nanti anusmu bisa jebol lohh..!!?î kata Tuti meyakinkankesungguhan Shanti. ìEngga aku sama sekali engga takut, masa kontol itu di anus Mbak bisa masuk di anusShanti engga bisa??îìYaa bisa sihh.., tapi pertama-tama musti sedikit dipaksakan, dan lagi waktu pertama kalimasuk wahh.. Sakitnya bukan main lohh..?îìTapi abis itu enak khan Mbak??îìIya sih, yaa kurang lebih sama lah waktu kamu kesakitan semalam, malahan bisa lebihsakit ke anus?îìPokoknya Shanti mau nyoba, tapi Mbak ajarin yaa..!!î Shanti memohon ke Tuti. ìYaa udah bersiaplah nanti malam?î Waktu terus berlalu, akhirnya malam-pun tiba. Shanti dan Tuti keduanya menungguiRahman di ruang tamu. Mereka duduk-duduk disana sambil makan kue-kue kecil. Akhirnya pada jam 9.20 terdengar suara klakson mobil. ìShan itu Oom Rahman pulang?î teriak Tuti. ìAyu Mbak kita kedepan membukakan pintu?î kata Shanti sambil beranjak dariduduknya. Lalu Tuti pun mengikutinya dari belakang. Setelah Rahman memarkir mobilnya digarasi, Tuti menutup pagar, lalu mereka bertiga masuk kedalam. Ketiganya langsungmenuju ke kamar yang sudah disiapkan oleh Tuti. Sesampainya disana Rahman langsung mencopot pakaiannya, terus ia beranjak ke kamarmandi untuk mandi. Sementara itu Shanti menunggunya dengan hati berdebar-debar. Sambil menunggu Rahman mandi, Tuti menyetel film biru. Shanti semakin terangsangmelihat adegan-adegan pada film tersebut. Ia merasakan itilnya berdenyut-denyut, putingsusunya mengeras. Melihat perubahan wajah dari gadis tersebut, Tuti yang sangatberpengalaman langsung saja melumat bibir gadis itu.Perlahan-lahan Tuti mulai melepaskan pakaian Shanti. Gadis itu malah ikut membantumengangkat pantatnya ketika Tuti melepaskan pakaiannya. Lalu setelah ia melepaskanpakaian gadis itu, ia-pun segera melepaskan pakaiannya. Akhirnya mereka berduatelanjang diatas ranjang tanpa mengenakan sehelai benang-pun. Bibir mereka salingmelumat, tangan mereka saling meraba bagian-bagian sensitif, sehingga membuat merekalebih terangsang. Pada saat rangsangan mereka mencapai puncaknya, tiba-tiba Rahman keluar dari kamarmandi dengan lilitan handuk yang menutupi kemaluannya. Segera saja kedua perempuantersebut menyambut Rahman, mereka melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya, lalu Shanti dengan rakus langsung mengemut kontol laki-laki tersebut. Sementara itu Tutisibut menjilati buah zakarnya. Lalu Tuti mengajak mereka semua pindah keranjang. Kemudian Rahman mencium belakang telinga Shanti dan lidahnya bermain-main didalam kupingnya. Hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli, yang menyebabkanbadan Shanti mengeliat-geliat. Mulut Rahman berpindah dan melumat bibir Shantidengan ganas, lidahnya bergerak-gerak menerobos ke dalam mulut gadis itu danmenggelitik-gelitik lidahnya. ìAaahh.., hmm.., hhmmî, terdengar suara menggumam dari mulut Shanti yang tersumbatoleh mulut Rahman. Mulut Rahman sekarang berpindah dan mulai menjilat-jilat dari dagu Shanti turun keleher, kepala gadis belia itu tertengadah ke atas dan badan bagian atasnya yang terlanjangmelengkung ke depan, ke arah Rahman, payudaranya yang kecil mungil tapi bulatkencang itu, seakan-akan menantang ke arah lelaki setengah baya tersebut. Laki-laki itu langsung bereaksi, tangan kanannya memegangi bagian bawah payudaragadis tersebut, mulutnya menciumi dan mengisap-isap kedua puting itu secara bergantian. Mulanya buah dada Shanti yang sebelah kanan menjadi sasaran mulutnya. Buah dadaShanti yang kecil mungil itu hampir masuk semuanya ke dalam mulut Rahman yangmulai mengisap-isapnya dengan lahap. Lidahnya bermain-main pada puting buah dadaShanti yang segera bereaksi menjadi keras.

    Terasa sesak napas Shanti menerimapermainan Rahman yang lihai itu. Badan Shanti terasa makin lemas dan dari mulutnyaterus terdengar erangan, ìSsshh.., sshh.., aahh.., aahh.., sshh.., sshh.., aduh Mbak aku engga kuat, sshh.., enaak.. Oomî, mulut Rahman terus berpindah-pindah dari buah dada yang kiri, ke yang kanan, mengisap-isap dan menjilat-jilat kedua puting buah dadanya secara bergantian. BadanShanti benar-benar telah lemas menerima perlakuan ini. Matanya terpejam pasrah dankedua putingnya telah benar-benar mengeras. Sementara itu Tuti terus bermain-main dipaha Shanti yang mulus itu dan secara perlahan-lahan merambat ke atas dan, tiba-tibajarinya menyentuh bibir kemaluan Shanti. Segera badan Shanti tersentak dan, ìAaahh.., oohh.., Mbaak..!î.Mula-mula hanya ujung jari telunjuk Tuti yang mengelus-elus bibir kemaluannya. MukaShanti yang ayu terlihat merah merona dengan matanya yang terpejam sayu, sedangkangiginya terlihat menggigit bibir bawahnya yang bergetar. Kedua tangan Tuti memegangkedua kaki gadis itu, bahkan dengan gemas ia mementangkan kedua belah pahanya lebarlebar.Matanya benar-benar nanar memandang daerah di sekitar selangkangan Shantiyang telah terbuka itu. Nafas perempuan itu terdengar mendengus-dengus memburu. Shanti merasakanbadannya amat lemas serta panas dan perasaannya sendiri mulai diliputi oleh suatusensasi yang mengila, apalagi melihat tubuh Rahman yang besar berbulu dengankemaluannya yang hitam, besar yang pada ujung kepalanya membulat mengkilat denganpangkalnya yang ditumbuhi rambut yang hitam lebat terletak diantara kedua paha yanghitam gempal itu. Sambil memegang kedua paha Shanti dan merentangkannya lebarlebar,Tuti membenamkan kepalanya di antara kedua paha Shanti. Mulut dan lidahnyamenjilat-jilat penuh nafsu di sekitar kemaluan gadis belia tersebut yang yang masih rapat, tertutup rambut halus dan tipis itu. Shanti hanya bisa memejamkan mata, ìOoohh.., nikmatnya.., oohh!î, Shanti mengumandalam hati, sampai-sampai tubuhnya bergerak menggelinjang-gelinjang kegelian. ìOoohh.., hhmm!î, terdengar rintihan halus, memelas keluar dari mulutnya. ìMbaakk.., aku tak tahan lagi..!î, Shanti memelas sambil menggigit bibir. Sungguh Shanti tidak bisa menahan lagi, dia telah diliputi nafsu birahi, perasaan nikmatyang melanda di sekujur tubuhnya akibat serangan-serangan mematikan yang dilancarkanTuti dan Rahman yang telah bepengalaman itu. Namun rupanya mereka berdua itu tidakpeduli dengan keadaan Shanti yang telah orgasme beberapa kali itu, bahkan merekaterlihat amat senang melihat Shanti mengalami hal itu. Tangannya yang melingkari keduapantat Shanti, kini dijulurkan ke atas, menjalar melalui perut ke arah dada dan mengelus- elus serta meremas-remas kedua payudara Shanti dengan sangat bernafsu. Menghadapiserangan bertubi-tubi yang dilancarkan Rahman dan Tuti ini, Shanti benar-benar sangatkewalahan dan kamaluannya telah sangat basah kuyup. ìMbaakk.., aakkhh.., aakkhh!î, Shanti mengerang halus, kedua pahanya yang jenjangmulus menjepit kepala Tuti untuk melampiaskan derita birahi yang menyerangnya, dijambaknya rambut Tuti keras-keras. Gadis ayu yang lemah lembut ini benar-benar telah ditaklukan oleh permainan Tuti danlaki-laki setengah baya yang dapat sangat membangkitkan gairahnya. Tiba-tiba Tutimelepaskan diri, kemudian bangkit di depan Shanti yang masih tertidur di tepi ranjang, ditariknya Shanti dari atas ranjang dan kemudian Rahman disuruhnya duduk ditepiranjang. Kemudian kedua tangan Tuti menekan bahu Shanti ke bawah, sehingga sekarangposisi Shanti berjongkok di antara kedua kaki berbulu lelaki tersebut dan kepalanya tepatsejajar dengan bagian bawah perutnya. Shanti sudah tahu apa yang diinginkan kedua orang tersebut, namun tanpa sempatberpikir lagi, tangan Rahman telah meraih belakang kepalanya dan dibawa mendekatikontol laki-laki tersebut. Tanpa melawan sedikitpun Shanti memasukkan kepala penisRahman ke dalam mulutnya sehingga kontol tersebut terjepit di antara kedua bibir mungilShanti, yang dengan terpaksa dicobanya membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu Shantimulai mengulum alat vital Rahman dalam mulutnya, hingga membuat lelaki itu meremmelek keenakan. Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulut Shantiyang kecil, itupun sudah terasa penuh benar. Shanti hampir sesak nafas dibuatnya. Kelihatan ia bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itukeluar masuk ke dalam mulutnya. Terasa benar kepala itu bergetar hebat setiap kali lidahShanti menyapu kepalanya. Sementara itu Tuti sibuk menjilati buah peler laki-lakitersebut. Kadang lidahnya menyapu anus suaminya itu. Beberapa saat kemudian Rahman melepaskan diri, ia mengangkat badan Shanti yangterasa sangat ringan itu dan membaringkan di atas ranjang dengan pantat Shanti terletakdi tepi ranjang, kaki kiri Shanti diangkatnya agak melebar ke samping, di pinggirpinggang lelaki tersebut.

    Kemudian Rahman mulai berusaha memasuki tubuh Shanti. Tangan kanan Rahman menggenggam batang penisnya yang besar itu dan kepalapenisnya yang membulat itu digesek-gesekkannya pada klitoris dan bibir kemaluanShanti, hingga Shanti merintih-rintih kenikmatan dan badannya tersentak-sentak. Rahmanterus berusaha menekan kontolnya ke dalam kemaluan Shanti yang memang sudah sangatbasah itu, akan tetapi sangat sempit untuk ukuran penis Rahman yang besar itu. Pelahan-lahan kepala penis Rahman itu menerobos masuk membelah bibir kemaluanShanti. Ketika kepala penis lelaki setengah baya itu menempel pada bibir kemaluannya, Shanti merasa kaget ketika menyadari saluran vaginanya ternyata panas dan basah. Kemudian Rahman memainkan kepala penisnya pada bibir kemaluannya yangmenimbulkan suatu perasaan geli yang segera menjalar ke seluruh tubuhnya. Dalam keadaan seperti itu, dengan perlahan Rahman menekan pantatnya kuat-kuat kedepan sehingga pinggulnya menempel ketat pada pinggul Shanti, rambut lebat padapangkal penis lelaki tersebut mengesek pada kedua paha bagian atas dan bibir kemaluanShanti yang makin membuatnya kegelian, sedangkan seluruh batang penisnya amblas kedalam liang vagina Shanti. Dengan tak kuasa menahan diri, dari mulut Shanti terdengar jeritan halus tertahan, ìAduuh!, oohh.., aahhî, disertai badannya yang tertekuk ke atas dan kedua tangan Shantimencengkeram dengan kuat pinggang Rahman. Perasaan sensasi luar biasa bercampursedikit pedih menguasai diri Shanti, hingga badannya mengejang beberapa detik. Melihat keadaan itu, dengan sigap Tuti langsung menuju ke payudara gadis itu. Dikulumnya payudara Shanti yang sebelah kiri dengan mulutnya, lidahnya sibukmenyentik-yentik putingnya yang telah keras dan runcing itu. Sementara tangannya yangkanan sibuk memilin-milin puting susu yang sebelah kiri. Shanti semakin menggeliat. Kemudian Tuti pun berpindah ke puting sebelahnya. Perasaannya campur aduk, antarapedih dan nikmat.Rahman cukup mengerti keadaan Shanti, ketika dia selesai memasukkan seluruh batangpenisnya, dia memberi kesempatan kemaluan Shanti untuk bisa menyesuaikan denganpenisnya yang besar itu. Shanti mulai bisa menguasai dirinya. Beberapa saat kemudianRahman mulai menggoyangkan pinggulnya, mula-mula perlahan, kemudian makin lamasemakin cepat. Seterusnya pinggul lelaki setengah baya itu bergerak dengan kecepatantinggi diantara kedua paha halus gadis ayu tersebut. Shanti berusaha memegang lengan pria itu, sementara tubuhnya bergetar dan terlonjakdengan hebat akibat dorongan dan tarikan penis lelaki tersebut pada kemaluannya, giginya bergemeletuk dan kepalanya menggeleng-geleng ke kiri kanan di atas ranjang. Shanti mencoba memaksa kelopak matanya yang terasa berat untuk membukanyasebentar dan melihat wajah lelaki itu yang sedang menatapnya, dengan takjub. Shantiberusaha bernafas dan.. ìOoomm.., aahh.., oohh.., sshhî, erangnya sementara pria tersebut terus menyetubuhinyadengan ganas. Shanti sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap kali Rahman menggerakkantubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding liang vaginanya, sungguh membuatnyamelayang-layang dalam sensasi kenikmatan yang belum pernah dia alami. Setiap kaliRahman menarik penisnya keluar, Shanti merasa seakan-akan sebagian dari badannyaturut terbawa keluar dari tubuhnya dan pada gilirannya Rahman menekan masukpenisnya ke dalam vaginanya, maka clitoris Shanti terjepit pada batang penis lelaki itudan terdorong masuk kemudian tergesek-gesek dengan batang penis lelaki tersebut yangberurat itu. Hal ini menimbulkan suatu perasaan geli yang dahsyat, yang mengakibatkanseluruh badan Shanti menggeliat dan terlonjak, sampai badannya tertekuk ke atasmenahan sensasi kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Lelaki tersebut terus menyetubuhi Shanti dengan cara itu. Sementara tangannya yang laintidak dibiarkan menganggur, dengan terus bermain-main pada bagian vagina Tuti danmenarik-narik klitorisnya, sehingga membuatnya menggeliat-geliat menahan nikmat. Shanti bisa melihat bagaimana batang penis yang hitam besar dari lelaki itu keluar masukke dalam liang kemaluannya yang sempit. Shanti selalu menahan nafas ketika benda itumenusuk ke dalamnya. Kemaluannya hampir tidak dapat menampung ukuran penis Rahman yang super besar itu. Shanti menghitung-hitung detik-detik yang berlalu, ia berharap lelaki itu segera mencapaiklimaksnya, namun harapannya itu tak kunjung terjadi. Ia berusaha menggerakkanpinggulnya, akan tetapi paha, bokong dan kakinya mati rasa. Tapi ia mencoba berusahamembuat lelaki itu segera mencapai klimaks dengan memutar bokongnya, menjepitkanpahanya, akan tetapi Rahman terus menyetubuhinya dan tidak juga mencapai klimaks.

    Lalu tiba-tiba Shanti merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya, rasanya sepertiada kekuatan dahsyat pelan-pelan bangkit di dalamnya, perasaan yang tidak diingininya, tidak dikenalnya, keinginan untuk membuat dirinya meledak dalam kenikmatan. Shantimerasa dirinya seperti mulai tenggelam dalam genangan air, dengan gleiser di dalamvaginanya yang siap untuk membuncah setinggi-tingginya. Saat itu dia tahu dengan pasti, ia akan kehilangan kontrol, ia akan mengalami orgasme yang luar biasa dahsyatnya. Jari-jarinya dengan keras mencengkeram sprei ranjang, ia menggigit bibirnya, dankemudian terdengar erangan panjang keluar dari mulutnya yang mungil, ìOooh.., ooh.., aahhmm.., sstthh!î. Gadis ayu itu melengkungkan punggungnya, kedua pahanya mengejang serta menjepitdengan kencang, menekuk ibu jari kakinya, membiarkan bokongnya naik-turun berkali- kali, keseluruhan badannya berkelonjotan, menjerit serak dan.., akhirnya larut dalamorgasme total yang dengan dahsyat melandanya, diikuti dengan suatu kekosonganmelanda dirinya dan keseluruhan tubuhnya merasakan lemas seakan-akan seluruhtulangnya copot berantakan. Shanti terkulai lemas tak berdaya di atas ranjang dengankedua tangannya terentang dan pahanya terkangkang lebar-lebar dimana penis hitambesar Rahman tetap terjepit di dalam liang vaginanya. Selama proses orgasme yang dialami Shanti ini berlangsung, memberikan suatukenikmatan yang hebat yang dirasakan oleh Rahman, dimana penisnya yang masihterbenam dan terjepit di dalam liang vagina Shanti dan merasakan suatu sensasi luarbiasa, batang penisnya serasa terbungkus dengan keras oleh sesuatu yang lembut licinyang terasa mengurut-urut keseluruhan penisnya, terlebih-lebih pada bagian kepalapenisnya setiap terjadi kontraksi pada dinding vagina Shanti, yang diakhiri dengansiraman cairan panas. Perasaan Rahman seakan-akan menggila melihat Shanti yangbegitu cantik dan ayu itu tergelatak pasrah tak berdaya di hadapannya dengan kedua pahayang halus mulus terkangkang dan bibir kemaluan yang kemerahan mungil itu menjepitdengan ketat batang penisnya yang hitam besar itu. Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian Rahman membalik tubuh Shanti yangtelah lemas itu hingga sekarang Shanti setengah berdiri tertelungkup di pinggir ranjangdengan kaki terjurai ke lantai, sehingga posisi pantatnya menungging ke arah lelakitersebut. Kemudian Shanti merasakan Rahman menjilati liang anusnya dari atas danlidahnya menusuk-nusuk lubang itu dengan ganas. Shanti mengerang, merintih, menjerithisteris karena gelombang orgasme melandanya tanpa ampun membuat perutnya mulas. Payudara Shanti yang menggantung itu tidak didiamkan. Segera saja Tuti tidur dibawahShanti kemudian menyusu pada payudara gadis itu. Gadis itu semakin merasakan nikmatyang tak terbayangkan. Rahman melanjutkan kegiatannya itu dan sekarang dia melihat pantat gadis itu danbagian anus Shanti sudah basah dengan ludahnya, sementara dengan ibu jarinya yangtelah basah dengan ludah, mulai ditekan masuk ke dalam lobang anus Shanti dan diputar- putar di sana. Shanti terus mengeliat-geliat dan mendesah. ìJaannggaann jaannggaan.. Aaadduuhh.. Aadduuhh.. Saakiitt.. Saakiitt..!î akan tetapiRahman tidak menanggapinya dan terus melanjutkan kegiatannya.Selang sesaat setelah merasa cukup membasahinya, Rahman sambil memegang dengantangan kiri penisnya yang telah tegang itu, menempatkan kepala penisnya tepat di tengahliang masuk anus Shanti yang telah basah dan licin itu. Kemudian Rahman membukabelahan pantat Shanti lebar-lebar. ìAaaduhh, janggaann! Sakkiit! Aaammpuunn, aammppuunn! Aagkkh.., Sakiitt.. Mbaakk..î Rahman mulai mendorong masuk, kemudian ia berhenti dan membiarkankontol itu terjepit dalam anus Shanti. ìTahan Shan, nanti kamu akan keenakanî bisik Tuti. ìMemang pertama-tama sakit, tapi nanti akan enak, tahan yaa.. Sayang..!î Sementara itu Shanti menjerit-jerit dan menggelepar-gelepar kesakitan. Segera saja Tutiberalih ke klitoris gadis itu, lalu diemutnya klitoris gadis itu, sementara tangannya iagunakan untuk mengocok di vagina Shanti agar rasa sakitnya hilang. ìAduuh.. Sakkiit.. Oomm..î ketika kontol itu mulai masuk lagi anusnya. ìTenang sayang nanti juga enggak sakitî jawab Rahman sambil terus melesakkan bagiankontolnya kepalanya sudah seluruhnya masuk ke pantat Shanti. ìAduuhh.. Sakiitt..î jerit Shanti. Bersamaan dengan itu kontol Rahman amblas dalam lobang anusnya yang sempit. ìTenang Shan, nanti enak deh.. Aku jadi ketagihan sekarangî kata Tuti sambil mengelusrambut kemaluannya dan menggosok klitorisnya. ìTuuh.. Kan sudah masuk tuh.. Enak kan nanti pantatmu juga terbiasa kok kayakpantatku iniî kata Tuti. Shanti diam saja. Ternyata sakit kalo dimasukan melalui anus, pikirnya. Rahman mulaimengocok kontolnya di pantat Shanti. ìPelan-pelan, Oomm.. Masih sakitî kata Shanti pada Rahman. ìIya sayang enaakk.. Niihh.. Seempiitt..î kata Rahman. Tuti yang berada di bawah sibuk menyedot klitorisnya dengan mulutnya dan mengocokliang vaginanya dengan tangannya, sehingga membuat Shanti semakin menggelinjangnikmat. Shanti meronta-ronta, sehingga semakin menambah gairah Rahman untuk terusmengocok di anusnya. Shanti terus menjerit, ketika perlahan seluruh penis hitam besarRahman masuk ke anusnya. ìAaauugghh..! Saakkiit..!î jerit Shanti ketika Rahman mulai bergerak pelan-pelan keluarmasuk anus Shanti. Akhirnya dengan tubuh berkeringat menahan sakit, Shanti terkulai lemas tertelungkup diatas badan Tuti kelelahan. Secara berirama Rahman menekan dan menarik penisnya darilobang anus Shanti, dimana setiap kali Rahman menekan ke bawah, penisnya semakinterbenam ke dalam lobang anus gadis itu.

    Benar-benar sangat menyesakkan melihat penisbesar hitam itu keluar masuk di anus Shanti. Terlihat kedua kaki Shanti yang terkangkangitu bergetar-getar lemah setiap kali Rahman menekan masuk penisnya ke dalam lobanganusnya. Dalam kesakitan itu, Shanti telah pasrah menerima perlakuan lelaki tersebut. Tak lama kemudian mereka bertukar posisi, sekarang Rahman duduk melonjor di ranjangdengan penisnya tetap berada dalam lobang anus Shanti, sehingga badan Shanti tertidurterlentang di atas badan Rahman dengan kedua kakinya terpentang lebar ditarik melebaroleh kedua kaki Rahman dari bawah dan Tuti mengambil posisi di atas Shanti untukmenjilati vaginanya. Tuti mulai mengocok tangannya keluar masuk kemaluan Shanti, yang sekarang semakinbasah saja, cairan pelumas yang keluar dari dalam kemaluan Shanti mengalir ke bawah, sehingga membasahi dan melicinkan lobang anusnya, hal ini membuat penis Rahmanyang sedang bekerja pada lobang anusnya menjadi licin dan lancar, sehingga denganperlahan-lahan perasaan sakit yang dirasakan Shanti berangsur-angsur hilang digantidengan perasaan nikmat yang merambat ke seluruh badannya. Shanti mulai dapat menikmati penis besar laki-laki tersebut yang sedang menggaraplobang anusnya. Perlahan-lahan perasaan nikmat yang dirasakannya melingkupi segenapkesadarannya, menjalar dengan deras tak terbendung seperti air terjun yang tumpah deraske dalam danau penampungan, menimbulkan getaran hebat pada seluruh bagiantubuhnya, tak terkendali dan meletup menjadi suatu orgasme yang spektakulermelandanya. Setelah itu badannya terkulai lemas, Shanti terlentang pasrah seakan-akanpingsan dengan kedua matanya terkatup. Melihat keadaan Shanti itu semakin membangkitkan nafsu Rahman, lelaki tersebutmenjadi sangat kasar dan kedua tangan Rahman memegang pinggul Shanti dan lelakitersebut menarik pinggulnya keras-keras ke belakang dan ìAduuh.. Aaauugghh..!î keluhShanti merasakan seakan-akan anusnya terbelah dua diterobos penis laki-laki itu yangbesar itu. Kedua mata Shanti terbelalak, kakinya menggelepar-gelepar dengan kuatnyadiikuti badannya yang meliuk-liuk menahan gempuran penis Rahman pada anusnya. Dengan buasnya Rahman menggerakkan penisnya keatas bawah dengan cepat dan keras, sehingga penisnya keluar masuk pada anus Shanti yang sempit itu. Rahman merasapenisnya seperti dijepit dan dipijit-pijit sedangkan Shanti merasakan penis lelaki tersebutseakan-akan sampai pada dadanya, mengaduk-aduk di dalamnya, di samping itu suatuperasaan yang sangat aneh mulai terasa menjalar dari bagian bawah tubuhnya bersumberdari anusnya, terus ke seluruh badannya terasa sampai pada ujung-ujung jari-jarinya. Shanti tidak bisa menggambarkan perasaan yang sedang menyelimutinya, akan tetapibadannya kembali serasa mulai melayang-layang dan suatu perasaan nikmat yang tidakdapat dilukiskan terasa menyelimuti seluruh badannya. Hal yang dapat dilakukannya pada saat itu hanya mengerang-erang, ìAaahh.. Ssshhoouusshh!î sampai suatu saat perasaan nikmatnya itu tidak dapat dikendalikan lagi serasamenjalar dan menguasai seluruh tubuhnya dan tiba-tiba meledak membajiri keluar berupasuatu orgasme yang dasyat yang mengakibatkan seluruh tubuhnya bergetar tak terkendalidisertai tangannya yang menggapai-gapai seakan-akan orang yang mau tenggelammencari pegangan. Kedua kakinya berkelejotan. Dari mulut Shanti keluar suatu erangan, ìAaaduhh.. Laagii.. Laagii.. Oohh.. Ooohh..î Halini berlangsung kurang lebih 20 detik terus menerus. Sementara itu lelaki itu terus melakukan aktivitasnya, dengan memompa penisnya keluarmasuk anus. Tuti yang sedari tadi mengocok kemaluan gadis itu menjadi sangatterangsang melihat ekspresi muka Shanti dan tiba-tiba Tuti merasakan bagian dalamvagina Shanti mulai bergerak-gerak melakukan pijitan-pijitan kuat pada jari-jarinya. Gerakan kaki Shanti disertai goyangan pinggulnya mendatangkan suatu kenikmatan padapenis lelaki tersebut, terasa seperti diurut-urut dan diputar-putar.

    Tiba-tiba Rahman merasakan sesuatu gelombang yang melanda dari di dalam tubuhnya, mencari jalan keluar melalui penisnya yang besar itu, dan terasa suatu ledakan yang tibatibamendorong keluar, sehingga penisnya terasa membengkak seakan-akan mau pecahdan.. ìAaaduuh..!î secara tidak sadar tangannya mencengkram erat badan Shanti dan pinggulRahman terangkat ke atas, pinggulnya mendorong masuk penis terbenam habis ke dalamlobang anus Shanti, sambil menyemburkan cairan kental panas ke dalam lobang anusgadis itu. Menerima semburan cairan kental panas pada lobang anusnya, Shanti merasakan suatu sensasi yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, hanya reaksi badannya yang bergetar-getar dan ekspresi mukanya yang seakan-akan merasakan suatu kengiluan yangtak terbayangkan, diikuti badannya yang tergolek lemas, tanpa dapat bergerak. Shantiterlena oleh kedahsyatan orgasme yang dialami dan diterimanya dari mereka berdua

  • Bercinta Dengan Wanita Bunting

    Bercinta Dengan Wanita Bunting


    8 views

    Aku akan sedikit cerita tentang pengalamanku tentang sex perkenalkan namaku Ratna umurku 19 tahun,
    kata orang aku mempunyai wajah cantik dan mempunyai payudara yang montok, aku sudah menikah setahun
    yang lalu dengan suamiku yang bernama Yeyen, dia berprfesi sebagai buruh tani dan pekerjaan tidak
    tetap.

    cerita-sex-dewasa-bercinta-dengan-wanita-bunting

    Meski demikian, aku sangat menyayangi Yeyen apa adanya. Untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari,
    aku bekerja sebagai penjual jamu gendong keliling, di desa tempat tinggalku daerah Jawa Tengah.

    Aku tidak sampai hati memaksa Yeyen untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga seorang diri, sehingga
    dari pagi hingga sore aku bekerja tanpa mengenal lelah.

    Belum lagi tanggunganku terhadap Ibuku yang sudah lanjut usia dan mulai sakit-sakitan. Tapi apa mau
    dikata, semua ini demi keadaan yang lebih baik.

    Saat ini aku sudah hamil 4 bulan, perutku sudah mulai membesar meski belum begitu terlihat. Yeyen pun
    semakin perhatian, ia sering berangkat bekerja lebih siang untuk membantuku membuat jamu yang akan
    kujual. Aku senang, meski begitu aku tetap menyuruh Yeyen bekerja tepat waktu karena aku tidak mau
    upahnya dipotong hanya karena terlambat.

    Kami berdua sangat rukun meski keadaan ekonomi kami cukup sulit. Seperti biasa, pagi-pagi aku
    berangkat ke pasar untuk membeli bahan-bahan daganganku. Semua tersusun rapi di dalam keranjang
    gendong di punggungku. Sampai rumah aku racik semua bahan-bahan tadi dalam sebuah kuali besar dan aku
    masukkan dalam botol-botol air mineral ukuran besar.

    “Wah, rAdin sekali istriku.” Yeyen menyapaku dan memberikan sebuah kecupan hangat di keningku.
    Aku pun membalasnya dengan ciuman di pipinya sebelah kanan.

    “Sudah mau berangkat ke ladang Pak Karjo?” Tanyaku.

    “Iya, mungkin sebentar lagi, hari ini ladangnya akan ditanam ulang setelah kemarin panen. Mungkin
    nanti aku tidak bisa mengantarmu sampai ujung jalan karena Pak Karjo akan marah jika aku sampai
    terlambat.” Jawab suamiku.

    “Tidak apa-apa, ini semua kan demi keluarga kita” Aku meyakinkannya sambil mengelus pipinya.
    “Tapi nanti hati-hati Ratna, ingat kamu sedang hamil. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan anak kita.”

    ”Iya, suamiku.” Jawabku mengakhiri obrolan kami.

    Sebentar saja suamiku minta pamit padaku untuk segera berangkat ke ladang Pak Karjo. Tak lupa aku
    memberikan rantang berisi makanan yang tadi telah aku siapkan. Setelah sedikit berbenah, akhirnya
    semua jamu sudah aku siapkan dan sudah aku masukkan ke keranjangku.Cerita Sex Dewasa

    Waktu juga sudah menunjuk pukul 09.00, berarti sudah saatnya aku mulai menjajakan jamu. Sebelumnya aku
    siap-siap dahulu dengan mengenakan kaos pendek warna putih dan rok selutut.

    Aku gendong keranjang berisi bermacam-macam jamu, aku kaitkan dengan selendang dengan tumpuan diantara
    dua payudaraku. Sehingga dadaku nampak menonjol sekali, belum lagi bawaan jamu yang cukup berat yang
    membuatku sedikit membusung hingga mencetak dengan jelas kedua dadaku.

    Setelah semuanya siap, aku segera berangkat berkeliling menjajakan jamu, tak lupa aku mengunci pintu
    depan dan belakang rumah warisan ayah Yeyen. Setiap hari rute perjalananku tidaklah sama, aku selalu
    mencari jalan baru sehingga orang-orang tidak akan bosan dengan jamu buatanku. Karena setiap hari aku
    bertemu dengan orang yang berbeda. Kali ini aku berjalan melewati bagian selatan desaku.

    “Jamu, Jamuuu.” Begitu teriakku setiap kali aku melewati rumah penduduk.

    “Mbakk, Mbakk, Jamunya satu.” Teriak seorang wanita.

    “Mau jamu apa mbak?” tanyaku.

    “Kunir Asem satu gelas saja mbak.” Pintanya.

    Segera aku tuangkan segelas jamu kunir asem yang aku tambahkan sedikit gula merah. Setelah itu aku
    berkeliling menjajakan jamu kembali.

    Siang itu begitu terik, hingga kaosku basah oleh keringat. Tapi aku tak peduli, toh penjualan hari ini
    cukup lumayan. Paling tidak sudah balik modal dari bahan-bahan tadi yang kubeli. Aku melangkah
    menyisir hamparan sawah dengan tanaman padi yang sudah mulai menguning.

    Memang mayoritas pekerjaan penduduk di Daerah tempatku tinggal adalah petani. Sehingga mulai dari
    anak-anak hingga dewasa sudah terbiasa dengan pekerjaan bercocok tanam.

    Aku melanjutkan perjalananku dan melewati sebuah gubuk sawah dimana para buruh tani sedang
    beristirahat karena sudah tengah hari. Belum sempat aku menawarkan mereka jamu, salah satu dari mereka
    sudah memanggil.

    ”Mbak, mbakk, jualan apa mbak?” tanya salah seorang dari mereka.

    “Anu, saya jualan jamu mas, ada jamu kunir asem, beras kencur, jamu pahitan, dan jamu pegel linu.”
    Jawabku sambil menunjukkan isi keranjangku.

    ”Ohh, kalau begitu saya minta beras kencurnya satu mbak.” kata salah seorang dari mereka.
    Segera kuturunkan keranjang bawaanku dan memberikan pesanannya.Mereka semua ada bertiga, salah satu
    dari mereka sepertinya masih smp.

    Aku duduk di pinggir gubuk tersebut. Sembari beristirahat dari teriknya siang hari. Mereka mengajakku
    berkenalan dan mengobrol sembari meminum jamu buatanku.

    “Wahh, sudah berapa lama mbak jualan jamu?” Tanya Adi yang memiliki tubuh kekar dan hitam.

    “Kurang lebih setahun mass, ya sedikit-sedikit buat bantu orang tua.” jawabku sekenanya.

    “Wah sama dengan Bowo, dia juga rAdin membantu orang tua.” Potong Abdul yang kurang lebih seumuran
    Adi, sedangkan Bowo adalah yang paling muda diantara mereka.

    “Yaa, mau gimana lagi mas, kalau nggak begini nanti nggak bisa makan.” Jawabku lagi.

    “Mbak tinggal di desa seberang ya?” tanya Bowo.

    “Iya mas, tiap hari saya berkeliling sekitar desa jualan jamu.”

    “Ooo, pantas kok saya belum pernah liat mbak.” Jawab Bowo lagi.

    Lama kami mengobrol ternyata mereka hampir seumuran denganku, Adi dan Abdul mereka berumur sekitar 20
    -an tahun, sedangkan Bowo masih 14-an tahun. Obrolan kami semakin lama hingga membuatku lupa waktu.

    “Wah, mbak kalo jamu kuda liar ada nggak ya?” Tanya Adi.

    “Wahh, mas ni ngaco, ya ndak ada to mas, adanya juga jamu pegel linu.” Jawabku sambil sedikit senyum.

    “Waduhh, kok nggak ada mbak? Padahal kan asik klo ada.” Jawab Abdul sambil terkekeh-kekeh.
    “Asik kenapa to mas?” Tanyaku heran.

    “Ya supaya saya jadi liar kayak kuda to mbak.” Jawab Adi sembari meletakkan gelas di dekat keranjangku
    kemudian duduk di sampingku.

    Posisiku kini ada diantara Adi dan Abdul, sedangkan Bowo ada dibelakangku. Rupanya Bowo diam-diam
    memperhatikan tubuhku dari belakang, memang BH ku saat itu terlihat karena kaosku yang sedikit basah
    oleh keringat dan celana dalamku yang sedikit mengecap karena posisi dudukku di pinggir gubuk. Tapi
    aku tidak tahu akan hal ini.

    “Wah panasnya hari ini, bikin tambah lelah saja.” Abdul berkata sambil tiduran di lantai gubuk itu.
    Saking keenakan tiduran tanpa terasa ia menggaruk-garuk bagian kemaluannya. Aku pura-pura tidak
    melihat, dalam hati aku berpikir,

    ”Dasar orang kampung tidak tahu malu.”

    Saat itu Panas semakin terik, sedangkan di gubuk sungguh sangat nyaman dengan angin yang semilir,
    tidak terasa aku pun mulai mengantuk. Mungkin karena tadi aku bangun pagi sekali sehingga aku belum
    sempat untuk beristirahat.

    Adi pun hanya bersandaran pada tiang kayu di sudut gubuk. Bowo juga sama seperti Abdul, tiduran di
    lantai dengan kepala menghadap ke arahku. Aku menghela nafas, mengeluh karena panas tak juga usai.
    Bukannya aku tidak mau berpanas-panasan berjualan, tapi mengingat kondisiku yang sedang hamil aku
    takut terjadi sesuatu dengan janinku.

    ”Wah, kok ngelamun aja to mbak? Cantik-cantik kok suka ngelamun, memang ngelamunin apa to mbak?” Kata
    Abdul mengagetkanku.

    ”A..anu mas saya cuma mikir kok panasnya tidak kunjung reda.” Jawabku.

    ”Wah, memangnya kenapa to mbak… tinggal ditunggu saja kok nanti juga tidak terik lagi.” Kata Bowo dari
    belakangku.

    “Ya gimana mas, kalau terus seperti ini nanti daganganku tidak laku, aku bisa rugi mas.” Jawabku
    sambil mengamati langit yang sangat terik.

    “Sudah mbak, tenang saja, kalau rezeki nggak akan kemana kok.” Hibur mas Adi.

    Tidak terasa aku semakin mengantuk. Semilir angin yang ditambah dengan suasana ladang sawah memang
    sangat nyaman.

    Tak terasa aku pun mulai memejamkan mata sembari bersandaran pada keranjang dagangan yang aku letakkan
    disampingku. Cukup lama aku ketiduran, hingga aku terbangun karena ada sesuatu yang menyentuh
    pantatku.

    “aaaaw apa-apaan ini!!?” Aku terbangun dan kaget ketika Abdul menciumi leherku yang putih, dibuatnya
    tubuhku merinding dan aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku menghindari jilatan liar lidah Abdul.

    Ciuman Abdul semakin turun mengarah pada dua gunung kembar milikku. Aku tak dapat mengan kasar.

    “Sudah diam! Nanti aku beli semua jamu milikmu dan sebagai bonusnya aku minta jamu milikmu yang indah
    itu.” Kata Adi sambil meremas payudara sebelah kiri milikku dan tertawa cenge-ngesan.Cerita Sex Dewasa

    Aku meronta-ronta minta tolong dan mencoba untuk melepaskan ikatan pada kaki dan tanganku. Tapi
    tenagaku tidak cukup untuk menolongku dari situasi ini.

    ”Ampunn mass, saya sudah menikah, nanti suamiku bisa menceraikanku.” Aku memelas dengan harapan mereka
    dapat berubah pikiran.

    ”Oh, ternyata kamu sudah tidak perawan toh, tapi tubuhmu masih sempurna.” Bisik abdul sambil meniup
    telingaku.

    Darahku serasa berdesir, dicampur rasa ketakutan yang mendalam. Dalam hati aku berpikir,

    ”bagaimana dengan Yeyen, aku takut, bagaimana dengan janinku, bagaimana kalau aku diperkosa.” Berbagai
    pertanyaan terus menghantui pikiranku saat itu.

    “Jangann mass, jangan, aku sedang haid, jadi tubuhku kotor.” Aku mencoba untuk mengelabui mereka.

    Setelah itu mereka bertiga berhenti menggerayangiku dan saling memandang satu sama lain.
    “Yang bener kamu sedang Haid? Wah Sial bener aku hari ini!” Jawab Abdul kesal.

    “iiya mas, sudah dua hari ini aku haid, jadi sedang banyak-banyaknya, tolong biarkan aku pergi.” Aku
    memohon pada mereka.

    “Ya.. ya sudahlah, mungkin kita sedang apes.” Kata Adi.

    Namun Bowo yang masih berumur 14 tahun ini tidak memperdulikan ucapanku, dia cukup senang meremas-
    remas pantatku.

    “Sudah wo, dia lagi haid, kamu mau apa kena darah?” Kata Adi pada Bowo.

    Bowo tetap tidak menghiraukannya. Justru ia semakin kencang meremas pantatku dan semakin kebawah
    menuju selangkanganku. Posisiku yang sambil tiduran membuat rok ku sedikit terangkat hingga celana
    dalam putihku terlihat. Bowo yang saat itu sedang meraba-raba pantatku rupanya tidak menyia-nyiakan
    hal ini, dibukanya rokku semakin keatas,

    “Mana? Tidak ada darah kok.” Kata Bowo.

    Sontak ucapan Bowo mendapat perhatian dari Adi dan Abdul.

    “Mana woo, jangan bohong kamu.” Kata mereka serempak.

    Kemudian Adi mengangkat rok dan menyentuh celana dalamku.

    “Kamu bohong!” dan PLakkk! Sebuah tamparan tepat mengenai wajahku.

    “Aaa Ampun mass, ampunn, Aku sedang hamil mass.” Aku semakin memelas dan ketakutan.
    “Ahh, mau pake alasan apa lagi kamu!” Abdul membentakku dan merobek bajuku, hingga aku hanya
    mengenakan BH warna hitam dan rok putih selutut.

    Adi melepaskan ikatan pada tangan dan kakiku.

    “Sekarang mau lari kemana kamu?! Memangnya kamu sanggup melawan kami bertiga?” Bowo menantangku,
    dengan cepat ia membuka baju dan celana pendeknya hingga hanya tersisa celana dalam warna coklat.

    Aku tersentak dan kaget, juga kulihat penis Bowo yang sudah membesar hingga sedikit mencuat ke atas
    celana dalamnya. Aku merangkak menuju sudut ruangan itu, aku menggedor-gedornya dengan harapan ada
    seseorang yang mendengar. Tapi tindakanku justru membuat mereka semakin bernafsu untuk segera
    menikmati tubuhku.

    “Mau kemana kamu, disini tidak ada orang lain kecuali kami bertiga hahaha.” Adi senang sekali
    melihatku hanya mengenakan BH dan Rok yang sedikit tersingkap.

    “Mass ampunn, aku sedang hamil, nanti suamiku bisa membunuhku.” Tubuhku merinding dan sesekali aku
    berteriak minta tolong.

    “Wahaha, aku sudah tidak percaya lagi dengan ucapanmu! Kalau suamimu ingin membunuhmu, ceraikan saja!
    Setelah itu kamu bisa jadi WTS sepuasnya.” Kata abdul sambil mendekatiku.

    Diraihnya kedua tanganku dan membuatku sedikit berdiri. Srakk, Abdul merobek rok ku dan melemparnya ke
    arah Bowo.

    “Itu wo, buat kenang-kenangan.” Kata abdul.

    “haha, iya mas, nanti aku pajang di rumah.” Kata Bowo cengar-cengir.

    Kini tubuhku sudah setengah bugil. Tanganku secara naluri menutup dada dan selangkanganku.

    “Wah bener-bener, ini namanya rejeki nomplok.” Abdul menciumi leherku yang putih, dibuatnya tubuhku
    merinding dan aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku menghindari jilatan liar lidah Abdul.

    Ciuman Abdul semakin turun mengarah pada dua gunung kembar milikku. Aku tak dapat mengelak, tanganku
    di pegang abdul dan diangkatnya keatas.

    Abdul semakin liar menjilati dadaku yang masih terbungkus BH, ia berpindah-pindah dari kiri ke kanan
    dan sebaliknya. Hingga ia kemudian menjilati ketiakku.

    “Aaa, ampun mass, ampun, too.. tolong nghh.” Aku tidak dapat berbohong kalau kelakuan Abdul membuat
    birahiku naik dan tubuhku menjadi sedikit lemas.

    Dengan sedikit dorongan, Abdul menjatuhkanku di tengah ruangan dan kait BH ku terlepas. Aku sudah
    tidak bisa lari dari mereka, kini yang ada di dalam pikiranku hanya janin di dalam perutku, aku
    menyadari semakin aku melawan maka mereka juga akan semakin kasar terhadapku.

    Aku terdiam, tak melakukan perlawanan, bahkan berteriak pun tidak. Air mata mulai menetes membasahi
    pipiku. Isak tangisku beradu dengan tawa dari mereka bertiga. Tubuhku lemas, antara takut dan pasrah
    menjadi satu.

    Dengan kedua tangannya Abdul membalikkan badanku hingga kini terlentang memperlihatkan Paha dan
    Payudaraku yang sudah sedikit terbuka. Mereka bertiga berdiri diatasku sambil cengengesan, rupanya Adi
    juga sudah melepas celananya diikuti dengan Abdul.

    Aku sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi sebentar lagi. Bowo yang sudah siap dari tadi
    telungkup dari atasku, tangannya mulai bermain di telingaku sedangkan kepalanya terus memburu bibirku.

    “mmpff… mmpff.” Bowo menciumku dengan ganas, aku hampir tidak bisa bernapas dibuatnya.
    Sambil tetap berciuman dia menggapai tanganku dan mengarahkannya ke penisnya yang sudah membesar.

    Dituntunnya aku untuk meremas-remas buah pelirnya yang kini ia berganti posisi dengan sedikit
    nungging. Aku pun menurut saja, aku remas-remas bagian buah zakar sampai ke dekat bagian anus yang
    masih tertutup celana dalam yang sudah usang.

    Tidak berapa lama Adi sudah berada di paha bagian kananku. Ia sudah telanjang, kini ia menindih pahaku
    diantara selangkangannya, hingga dapat kurasakan penisnya yang besar dan berotot menggesek-gesek pada
    pahaku yang mulus. Tangan Adi mulai bermain di dadaku, sambil sesekali ia menjilat bagian perutku.

    “nggghhh uaa mppff.” desahanku membuat mereka berdua semakin liar memainkan lidahnya di tubuhku.

    “ngghh, ahhh, mmppff.” sambil tetap berciuman desahanku tak henti-hentinya keluar. Memang harus kuakui
    meski dari rohani aku menolak, tapi tubuhku tidak dapat menolaknya dan aku rasakan vaginaku mulai
    basah oleh lendir kewanitaanku.

    “Heh! Minggir-Minggir!” Biar aku yang pertama merasakan tubuhnya.” Teriak Abdul.

    “Aku kan yang mendapatkan ide ini, jadi aku yang berhak untuk memulainya, awas-awas.” Tambahnya.

    Adi dan Bowo segera menyingkir dari tubuhku. Bak seorang raja, Abdul menindihku, dan kini penisnya
    yang sudah tidak dilapisi apapun tepat berada ditengah-tengah selangkanganku.

    “Gimana nona manis, sepertinya kamu juga keenakan ya?” Kata Abdul di depan mukaku.

    “Yang tadi itu belum pemanasan, baru tahap uji coba.” Ia semakin mendekat di wajahku.

    Seketika itu agus melepas BH ku, dan dengan liar putingku dimainkan.

    “nggg ahhh, aah, ah.” nafasku semakin tidak teratur.Cerita Sex Dewasa

    Bowo yang tidak bisa diam meraih tanganku dan mengarahkan ke penisnya lagi, lalu menyuruhku untuk
    mengocok-ocoknya. Adi pun tidak mau kalah, dari sisi yang lain ia memintaku untuk melakukan seperti
    apa yang kulakukan pada Bowo.

    Wajah Bowo menghilang dari hadapanku, rupanya ia turun dan kini ia tepat berada di atas daerah
    kemaluanku, dilebarkannya kakiku dan ia mulai menciumi vaginaku yang masih dilapisi celana dalam
    sambil tangannya memainkan putingku.

    Aku semakin bernafsu, tanpa kusadari aku mengangkat pinggulku agar ciuman Abdul pada vaginaku lebih
    terasa. Abdul tampaknya tahu kalau aku sudah sangat terangsang.

    Segera ia melepas celana dalamku yang sudah banjir oleh lendir dari vaginaku. Disibakkannya rambut
    kemaluanku dengan lidahnya. Kemudian Abdul mulai menjilati vaginaku dan sesekali menghisap klitorisku
    dan tangannya semakin liar bermain di kedua payudaraku.

    “nggghhh, ahhh, aaaa mmmh mass.” Aku mengerang keenakan sambil menekuk kedua pahaku sehingga abdul
    lebih leluasa memainkan vaginaku.

    Aku benar-benar serasa melayang, dihadapanku kini ada 3 orang yang secara beringas memperkosaku. Aku
    sangat malu pada diriku, kenapa aku justru bisa menikmati keadaan ini, tapi tubuhku seolah-olah sudah
    menyatu dengan jiwa mereka.

    “mass ahhh, terus mass, enn enak.” Aku terus meracau tak karuan yang membuat mereka bertiga semakin
    bernafsu. Lidah Abdul Semakin liar menghisap-hisap vaginaku diiringi kocokanku pada batang kemaluan
    Bowo dan Adi.

    “ ahhhh ahhh, mass. lebih cepat mass.” aku mengerang dan ketika itu juga aku mengalami orgasme.
    Cairanku membasahi wajah Abdul namun ia terus menjilatinya hingga aku menggelinjang kekanan dan
    kekiri.

    Kini Abdul membangunkan tubuhku, dan memintaku untuk menjilati ketiga penis mereka. Aku seperti
    dicekoki, didepanku kini ada 3 rudal yang siap menjejali mulutku.

    Tanpa menunggu lama, aku masukkan penis mereka bergantian di mulutku, sambil tanganku memainkan batang
    kemaluan mereka. Mereka bertiga nampaknya merasa keenakan,

    ”oohh.” Adi melenguh keenakan.

    Sekitar 15 menit aku memainkan penis mereka sambil terus mengocoknya. Abdul yang sudah sangat
    terangsang mendorong tubuhku dan mulai memasukkan penisnya yang besar itu.

    “mmass.” aku menahan sakit saat penis Abdul menghujam vaginaku.

    Dengan sekejap seluruh batang milik Abdul masuk kedalam liang kewanitaanku. Tanpa basa-basi, Abdul
    mulai menggerakkan penisnya maju mundur. Sedangkan Adi dan Bowo menjilat-jilat dan menghisap
    payudaraku.

    Aku dikeroyok oleh 3 orang. Libidoku pun semakin meningkat setelah tadi aku mengalami orgasme. Aku
    memegangi kepala Adi dan Bowo sambil terus melenguh keenakan.

    “Uhhh ahhh, umm. ahh.” Kata-kata itu yang terus muncul dari mulutku melihat perlakuan mereka
    terhadapku.

    Sekitar 10 menit kami melakukan posisi ini sambil bergantian Adi dan Bowo menciumi bibirku. Abdul
    belum juga keluar, ia cukup kuat untuk ukuran lelaki seperti dia. Kini ia menyuruhku untuk nungging.
    Aku hanya menuruti perkataannya.

    “Dul, gantian aku yang naikin dia.” Tanpa basa-basi Bowo mengarahkan penisnya ke arah vaginaku, kini
    posisiku berganti menjadi menungging sambil di genjot oleh penis Bowo.

    Penis Bowo tidak terlalu besar, bahkan hanya setengah milik Adi dan Abdul. Mungkin ini pertama kali
    baginya untuk merasakan liang vagina. Karena kulihat ia cukup lama sebelum seluruh batangnya masuk ke
    dalam vaginaku.

    “Uoogghh, uenakk tenann” Kata Bowo.

    Ia menggerakkan pinggulnya maju mundur mengikuti irama pantatku. Bowo cepat beradaptasi, Meski
    penisnya kecil, tapi gerakkannya sangat cepat, berbeda dengan Abdul yang menikmatiku dengan pelan.

    Adi berganti posisi, kini ia di depanku dan mengarahkan penisnya ke mulutku, kemudian ia memaju
    mundurkannya beriringan dengan genjotan Bowo. Abdul yang tadi menggenjotku kini asik bermain dengan
    putingku yang lumayan besar.

    Kami terus melakukan tarian kenikmatan ini, Bowo semakin cepat menggerakkan penisnya maju mundur,

    ”Ahhh, masss, aaa, aku keluaaarr. ummm, mmpfff.” Aku keluar untuk kedua kalinya. Begitu juga dengan
    Bowo, ia yang masih belum berpengalaman mengeluarkannya di dalam vaginaku, seketika itu juga ia
    langsung lemas.

    “Wah, wo, parah kamu, masa kamu keluarin di dalem, kan jadi kotor,” kata Adi.

    ”Aku saja belum sempat merasakannya sudah kotor sama peju kamu.” Tambahnya.

    “Maaf mas Adi, aku kelepasan.” Ucap Bowo.

    tampaknya Bowo sudah lelah, ia kemudian berbaring dan sepertinya akan tidur.

    “Wah, dasar anak ini, habis enak langsung minggat.” Ucap Abdul.

    Abdul kemudian menggantikan posisi Adi dengan memasukkan penisnya ke mulutku. Sedangkan Adi kini
    berada tepat dibelakangku dengan posisiku yang masih tetap menungging.

    “Tahan ya, sakit sedikit tapi enak kok..” Seringainya padaku.

    Aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan padaku, tidak begitu lama ternyata ada sesuatu yang mencoba
    masuk melalui anusku.

    “Nggghhh masss, sakitt, aa ampun mas.” Aku merasa kesakitan saat penis Adi yang besar mencoba
    menerobos anusku.

    “Ahhh, aaaw ashh, nnnhh.” Aku semakin tidak karuan merasakannya.

    Dengan sekuat tenaga meski sempat beberapa kali bengkok akhirnya penis Adi masuk ke dalam anusku,

    ”Nggg ahhh.” rasa sakitku pelan-pelan menjadi kenikmatan yang baru bagiku, karena baru kali ini anusku
    di jejali penis.

    “Hmmff Sempit banget , uahh.” Ucap Adi keenakan, ia juga tidak kalah keenakan daripada aku.

    Adi sudah mulai terbiasa dengan ini, sesekali ia meludahi anusku agar lebih mudah menggerakkan
    penisnya.

    “Akkkkhh, uuahhhh.” Adi mendesah keenakan saat ia mencapai puncak kenikmatan, spermanya mengisi penuh
    seluruh isi anusku hingga meleleh keluar. Tidak berapa lama Abdul yang sudah dari tadi memaju
    mundurkan penisnya di mulutku juga merasakan hal yang sama,Cerita Sex Dewasa

    “ouughhh teleennnn, sseeemuaa.” Ia meracau sambil tangannya menekan kepalaku pada penisnya.
    Seketika itu juga cairan spermanya menyemprot di dalam rongga mulutku dan mau tidak mau harus aku
    telan.

    Harus kuakui mereka bertiga cukup hebat, namun tetap saja tidak bisa mengalahkan mas Yeyen, Mereka
    bertiga hanya sanggup membuatku keluar 2 kali, tapi mas Yeyen mungkin bisa lebih, bahkan Hingga aku
    tidak mampu lagi untuk berdiri.

    Mereka bertiga duduk di dalam ruangan sambil beristirahat karena mereka sangat lelah. Aku pun masih
    terbaring di lantai tanpa sehelai benangpun. Abdul mengeluarkan 2 lembar lima puluh ribuan. “itu untuk
    ongkos jamu dan tubuh kamu.

    ”Sekarang kamu pergi dari sini!” Ucapnya sedikit membentak.

    “Bagaimana dengan pakaianku?” tanyaku.

    “Pikir saja sendiri” Balas abdul ketus.

    Kemudian aku memakai BH dan celana dalamku. Aku gunakan selendang yang kupakai untuk mengangkat
    keranjang tadi, Aku lilitkan untuk menutupi tubuhku dan untunglah cukup. Aku bergegas meninggalkan
    mereka sambil membawa kerangjangku. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 4 sore.

    “Mas Yeyen pasti sudah pulang ini.” Ucapku dalam hati sambil mengusap air mata di pipiku.

    Sesampainya di rumah ternyata benar, Mas Yeyen sudah menungguku pulang. Aku ceritakan semua kejadian
    ini padanya bagaimanapun aku tetap mencoba untuk terbuka padanya karena dialah satu-satunya orang yang
    kumiliki.

    Baca Juga Cerita Sex Aku Hamil

    Reaksi Mas Yeyen sungguh membuatku kaget, Ia justru memelukku dengan erat, dan mengelus perutku
    memberikan kasih sayang pada si Jabang Bayi.

    Aku terharu dengan Mas Yeyen. Meski sempat ia akan bergerak mengumpulkan warga untuk memberi pelajaran
    pada orang-orang yang memperkosaku, namun aku dapat meyakinkannya bahwa aku tidak apa-apa, dan semoga
    saja janinnya juga tidak terjadi apa-apa.

    Aku bangga dengan Mas Yeyen, ia tidak panik saat mendapatiku mengalami kejadian seperti ini, Selamanya
    aku tetap mencintainya.

    Setelah kejadian ini aku sudah tidak berjualan jamu lagi. Kali ini aku menjadi pendamping setia Mas
    Yeyen, dengan menemaninya pergi ke ladang setiap hari. Meski keadaan ekonomi kami semakin sulit, tapi
    kebahagiaan kami seolah menutup dalam-dalam semua keadaan ini dan kejadian masa lalu.

    Kini anakku sudah besar, peristiwa itu tidak membuat kondisinya saat lahir menjadi cacat mental atau
    sejenisnya. Ia tumbuh menjadi putri yang cantik dan kami beri nama Mentari, yang tetap bersinar
    sesulit apapun keadaan yang kami alami saat ini, esok, dan seterusnya

  • Berondong

    Berondong


    12 views

    Saya ibu rumah tangga berumur 36 tahun yang sehari-sehari mempunyai kegiatan terkait dengan kegiatan
    sosial yang kadang-kadang menyelenggarakan kegiatan di luar rumah, termasuk rapat-rapatnya. Suami
    bekerja di pemerintahan. Anak kami dua yang tertua berumur 14 tahun.

    cerita-sex-dewasa-berondong
    Saya sewaktu masih muda kadang-kadang ikut sebagai peragawati dan kadang-kadang juga foto model, dengan
    tinggi badan 165 cm. Dengan bagian-bagian tubuh depan dan belakang termasuk bagus. Berat badan sekitar
    47,5 kg. Orang bilang saya punya penampilan yang menarik dan seksi terutama juga bibir saya. Apa yang
    saya akan ceritakan adalah pengalaman saya yang menarik yang telah menjadikan hidup saya terpuaskan
    lahiriah dan batiniah. Dan telah memperkuat kehidupan perkawinan kami.

    Ceritanya berawal pada suatu peringatan ultah suami kakak saya kurang lebih 2 tahun yang lalu, dimana
    banyak sudara-saudara yang membantu dalam persiapannya. Ikut pula membantu keponakan saya Martin, anak
    kakak saya yang lain lagi. Martin berusia 25 tahunan, masih kuliah, berperawakan tegap atletis tinggi
    kurang lebih 1,7 m. Tampangnya cakep dengan rambut hitam bergelombang.

    Termasuk seksi juga. Genit juga. Suka mencuri-curi memandangi saya, sepert mau menelan. Kalau bertatap
    pandang matanya sepertinya tersenyum. Kurang ajar juga pikiran saya, tetapi terus terang saya juga
    senang. Anaknya simpatik sih. Kadang-kadang ada juga pikiran, enak barangkali kalau mencium Martin atau
    memeluknya/dipeluk. Kelihatannya ada setrum dan chemistry di antara kami.

    Sore itu kakak meminta saya untuk mengambilkan kue tart, karena tidak ada yang bisa dimintai tolong.
    Karena tidak ada yang lain juga terpaksa Martin yang mengantarkan dengan mobilnya. Apa yang terjadi
    adalah ketika secara bersama Martin dan saya memungut dompet saya yang terjatuh di garasi. Martin
    memegang tangan saya menarik dan mencium pipi saya dengan senyum. Saya tidak bereaksi tetapi juga tidak
    marah tetapi berusaha memberikan kesan kalau saya juga senang. Sikap saya yang tidak menentang
    membuatnya kemudian mengulangi ciumannya dalam mobil ketika berhenti di lampu merah. Kali ini ciumannya
    di mulut sambil menekankan tangannya pada paha.

    Martin mencium dengan melumat dan memainkan lidahnya. Meski ini bukan pengalaman saya pertama untuk
    dicium tetapi saya tergetar seluruh tubuh dan merasakan ada rasa menggelitik dan mengalir di kemaluan
    saya. Selintas terjadi pertempuran antara ya dan tidak, antara pertahanan kejujuran terhadap suami
    melawan spontanitas keindahan kemunculan gairah, dan nampaknya kejujuran akan terkalahkan. Getaran terus
    menggebu sampai kesadaran muncul dengan reaksi mendorong sambil menggumam, “Jangan di sini, jangan di
    sini, dilihat orang.” Terus terang keinginan sangat besar untuk tidak menghentikannya, tetapi memang
    tempatnya tidak tepat. Babak awal telah terbuka, dan cerita tidak ingin terputus dan babak berikut perlu
    dipanggungkan secara berkelanjutan.

    Sepanjang proses pengambilan kue tart Martin pada kesempatan yang memungkinkan selalu mencuri untuk
    mencium dan sesekali membisikkan kata-kata,

    “You are beautiful,” dan terakhir menjelang sampai kembali ke rumah dia bisikkan,
    “I want you,” sambil mencium telinga saya.

    Sekali lagi saya tergetar sampai ke bawah. Melirik ke arah dia sambil senyum. Saya harap Martin bisa
    menangkap senyum saya dan pandangan mata saya sebagai tanda “OK”. Kami diam. Sesampai di pagar rumah
    saya bisikkan pada Martin,

    “Telepon saya besok pagi.” Pesta ulang tahun berjalan dengan lancar. Martin tetap mencuri-curi pandang
    pada setiap kesempatan. Akhirnya semua pulang, saya pun pulang, bersama suami, dengan berbagai perasaan
    seperti gadis yang jatuh cinta. Malam hari menjelang tidur pikiran tidak bisa terlepas dari Martin.
    Gelitik dan kelembaban terasa disela-sela paha. Karena pikiran dipenuhi Martin mata pun tidak bisa
    terpejam. Mengharap pagi hari lekas datang. Gila kalau dipikir, kok bisa tergoda, hanyut.

    Keesokan harinya pagi-pagi Martin sudah menelepon. Untung bukan suami yang mengangkat. Singkatnya siang
    itu Martin dan saya lunch, menikmati keberduaan dan kedekatan yang merangsang. Kami meninggalkan dengan
    Martin memegang inisiatip yang kemudian berakhir di salah satu motel di timur Jakarta, tanpa ada sikap
    keberatan atau protes dari saya. Tanpa menunggu pintu kamar motel tertutup rapat, sambil berdiri saya
    telah berada dipelukan Martin, melumat mulut dengan ciuman yang berapi-api.

    Tangannya menjelajah keseluruh bagian tubuh saya. Ke bawah rok menekan pantat saya dan menekankan
    badannya dan burungnya. Saya menyerah, tangan saya pun jadi ikut menjelajah ke burungnya yang telah
    sangat keras. Meremasnya dari luar dengan keinginan yang makin menggebu untuk membukanya. “Gila nih,
    gila nih!” terngiang di benak, tetapi tak mampu menyetop gairah yang sudah memuncak ini.

    Setelah memastikan bahwa tidak akan ada gangguan dari room service Martin menggiring saya ke tempat
    tidur tanpa melepaskan pelukannya. Pelan-pelan dia tidurkan saya dan secara lembut mulai menciumi dari
    telinga leher mulut, sambil kancing bacu dibuka, dan terus menciumi buah dada saya secara bergantian
    kanan kiri, BH dilepas, dihisapnya puting dan dijilatnya secara halus.

    Seluruh badan terasa kena setrum, terangsang. Kewanitaan saya terasa basah karena memang saya mempunyai
    kekhasan produksi cairan kewanitaan yang banyak. Martin pun memulai membuka satu persatu bajunya, masih
    tertinggal CD-nya. Secara pelahan Martin membuka bagian bawah rok sambil tak hentinya menciumi seluruh
    bagian yang terbuka. Perut saya dia ciumi bermesra-mesra. Tangannya menjalar juga keseluruh badan dan
    mendekap pada kewanitaan saya yang telah membasahi CD, sambil mulut Martin mendesah penuh gairah.Cerita Sex Dewasa

    Saya sudah tak bisa menahan kenikmatan yang rasanya sudah lama tak saya alami lagi. Tangan Martin mulai
    dimasukkan ke dalam CD menulusuri kewanitaan saya dengan menggerakkan jarinya. Gila setengah mati
    rasanya. Mau teriak rasanya. Martin secara halus dan pandai memainkan seluruh badan dan bagian-bagian
    peka saya. Kewanitaan saya mulai banjir merespon pada rangsangan yang selangit. Gila benar rasanya.

    Martin berlanjut dengan membuka CD dan memulai mengkonsentrasikan perhatiannya pada kewanitaan saya.
    Diciumnya secara perlahan dengan memainkan lidahnya dari atas ke bawah. Paha saya ditegakkan dan
    dibukanya lebar-lebar. Diciumnya bibir kemaluan dengan bibirnya secara penuh, dihisapnya secara
    berkali-kali sambil lidahnya memasuki celah-celah kemaluan saya. Aduh gila rasanya selangit.

    Ganti dia hisap klitoris secara halus. Dihisapnya, terus. Sampai saya tidak tahan dan sampailah saya
    pada puncak. Terasa cairan mengalir. Disertai dengan teriakan ringan tangan memeras rambut Martin. Ini
    menjadikan Martin lebih lagi menggumuli lubang kemaluan saya. Dia benamkan dan usapkan seluruh wajahnya
    pada kemaluan saya yang basah dengan desahan kepuasan.

    Saya sudah tidak bisa lagi menguasai diri dan terasa selalu tercapai puncak-puncak yang nikmat. Gila
    benar. Belum pernah saya dibeginikan. Pintar sekali si Martin ini, sepertinya pengalamannya sudah
    banyak. Saya hanya bisa menggerakkan kepala ke kanan kiri dengan mata terpajam mulut terbuka, dengan
    suara mendesah keenakan. Gila benar. Selangit.

    Kini giliran saya. Martin saya tarik ke atas. Kini batang kemaluannya terasa menekan paha saya. Martin
    saya balikkan dan batang kemaluannya saya genggam. Wah besar juga dan kencang lagi, sudah basah pula.
    Langsung saya hisap dengan gairah. Lidah saya permainkan di ujung kemaluannya sambil dikeluar-masukkan.
    Martin mengerang. Setelah kurang lebih sepuluh menit Martin melepaskannya.

    Dia lebih menghendaki keluar di liang kemaluan saya. Kini dia di atas saya lagi dengan posisi batang
    kemaluan di depan lubang kemaluan. Dengan ujungnya digerak-gerakkan di bibir kemaluan ke atas ke bawah.
    Enak sekali. Mabok benar. Kemudian secara perlahan masuklah batang kemaluan ke lubang kemaluan saya dan
    terus menekan sampai terasa penuh sekali, dan terasa sampai di dasar rahim. Gila rasanya benar-benar
    selangit. Tidak pernah rasanya seenak seperti ini. Martin menekan terus sambil menggoyang-goyangkan
    pantatnya. Gila! Enak benar! Terus dia putar-putar sambil keluar masuk.

    Sampai saya lebih dulu tidak tahan dan sampai di puncak, keluar dengan meledak-ledak terasa melayang
    kehilangan nafas sampai terasa hampa saking nikmatnya. Kemaluan saya terasa basah sekali. Martin masih
    terus memompa dan belum mau menyelesaikan cepat-cepat. Batang kemaluannya masih diputar dengan keluar
    masuk di lubang kemaluan, sehingga saya pun tidak tahan keluar lagi, yang ketiga atau yang keenam dengan
    yang keluar karena dihisap tadi. Gila benar! Seluruh badan basah rasanya. Sprei sudah basah betul dari
    cairan kewanitaan saya.

    Martin masih terus menekan, memutar, menggaruk-garuk dan mencium sekali-sekali. Ciumannya di telinga
    bersamaan dengan tekanan batang kemaluan di dalam lubang kemaluan saya sungguh membuat seluruh badan
    menggigil nikmat dan membuat saya keluar secara dahsyat. Kemaluan saya terangkat menyongsong tekanan
    batang kemaluan Martin. Gila benar, sungguh nikmat tiada tandingan. Akhirnya Martin mulai menggerang-
    ngerang berbisik mau keluar. Dengan tekanan yang mantap keluarlah dia dengan semprotan yang keras ke
    dalam liang kemaluan saya. Hangat, banyak dan terasa mesra dan memuaskan. Oh Tuhan, sungguh tak ada
    tandingannya.

    Dia remas badan saya dengan menekankan bibirnya pada bibir saya. Hampir habis nafas. Kehangatan
    semprotan Martin menggelitik lagi kemaluan saya sehingga orgasme saya pun keluar lagi yang kedelapan
    menyusul semprotan Martin. Kami bersama-sama keluar dengan nikmat sekali. Sesaat terasa pingsan kami.
    Setelah selesai terasa kepuasan yang menyeluruh terasakan di badan. Pikiran terasa terlepas dari semua
    masalah dan hanya keindahanlah yang ada. Kami masih berpelukan menikmati tanpa kata-kata, sambil
    memulihkan kembali energi yang telah tercurahkan secara intensif. Kami tertidur sejenak. Siuman setelah
    sepuluh menit dengan perasaan yang lega, dan puas.

    Meski demikian rasa mengelitik, gatal-gatal kecil masih terasa di kemaluan saya, seolah belum puas
    dengan kenikmatan yang begitu hebat. Tangan saya mendekap batang kemaluan Martin mengusap-usapnya
    sayang. Ingin rasanya batang kemaluan Martin memenuhi lagi di lubang kemaluan saya. Bibir tidak bisa
    menahan, saya tarik batang kemaluan Martin dan mulai meluncur ke bawah dan menghisapnya lagi dengan
    kasih sayang, diliputi bau campuran antara cairan saya dan mani yang terasa sedap.

    Kemaluan Martin terasa sangat lunak tidak segagah tadi. Serasa menghisap marshmallow. Tetapi hal itu
    tidak berlangsung lama karena secara perlahan batang kemaluannya mulai membengkak dan menyesaki mulut.
    Sekali lagi kewanitaan saya tergelitik. Tanpa bertanya saya bangkit jongkok di atas Martin dan
    memasukkan Martin pelan-pelan. Seluruhnya masuk terasa sampai di ujung perut dan mulai menggelitik G-
    spot. Ganti saya pompa ambil kadang merunduk memeluk Martin dan menciumnya. Kadang sambil duduk
    menikmati penuhnya di kemaluan saya. Rasanya enak sekali karena saya yang mencari posisi yang terenak
    untuk saya.

    Setelah beberapa waktu merasakan kenikmatan yang masih datar, kenikmatan mulai memuncak lagi dan terus
    memuncak sampai akhirnya sampai puncak tertinggi. Meledak-ledak lagi orgasme dengan teriakan-teriakan
    nikmat. Yang ternyata diikuti oleh Martin dengan semprotan kedua. Tangannya memeluk erat-erat dengan
    gerangan pula. Gila enaknya sungguh sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Ini kali rasanya
    surga dunia. Kalau bisa maunya seharian begini terus rasanya. Gila! Gila benar, sungguh nikmat
    memuaskan.

    Tetapi kami harus pulang. Saya kembali ke rumah, ke suami dan keluarga saya. Dengan suatu pengalaman
    yang tak terlupakan selama hidup. Sepanjang jalan kami diam tetapi tangan saling memegang. Malamnya
    menjelang tidur, sekali lagi kemaluan saya menggelitik dengan ingatan pengalaman siang tadi tidak bisa
    hilang. Ini memang pembawaan saya yang orang barangkali mengatakannya sebagai maniak seks, histeris,
    multi orgasme, kelaparan terus. Sekali terbuka lebar dan dirangsang maunya terus dipenuhi.Cerita Sex Dewasa

    Sejauh ini dengan suami tidak pernah tercapai apa yang Martin bisa lakukan. Kepuasan dengan suami sama-
    sama tercapai tetapi kepuasan yang tidak mendalam seperti Martin. Suami yang lekas selesai menjadikan
    “bakat” saya tidak berkembang. Sekarang yang ada hanya suami di samping saya. Saya merengek minta pada
    suami dengan tangan meraba burungnya dan memijat-mijatnya halus. Dia tertawa sambil mengejek,

    “Gatel nih ya.” Dalam hati saya bilang memang gatal. Saya mencoba menikmati penetrasi kemaluannya dengan
    membayangkan kemaluan Martin. Kewanitaan saya, saya goyangkan mencari spot yang nikmat sambil mendekap.

    Dia menekan menarik beritme sampai kemudian saya mencapai puncak dulu diikuti dengan semprotan maninya.
    Selesailah sudah. Kemaluan saya masih ingin sebetulnya, tetapi dia biasanya sudah tidak bisa lagi.
    Jadinya tanganlah yang bergerak

    “Self Service”. Memang penyakit saya (atau karunia) ya itu. Sekali sudah diobok-obok tidak bisa
    berhenti. Saya tidur dengan nyenyak malam itu.

    Baca Juga Cerita Sex Hipnotis

    Seperti yang bisa diduga pertemuan saya dengan Martin berlanjut. Semua fantasi seks dan impian-impian
    tak ada yang tidak kami wujudkan. Sungguh sangat-sangat nikmat. Teknik kami makin sempurna dan Martin
    bisa membuat saya orgasme sampai tiga belas kali. Pada kesempatan lain akan saya ceritakan pengalaman-
    pengalaman kami yang aduhai. Semoga saya tidak jatuh cinta dan menghendaki hubungan yang lebih dalam,
    dan mengacaukan rumah tangga saya yang sudah ada. Saya hanya mau seksnya. Sama seperti Martin juga.

    Sehingga dari luar, partner seks saya resmi adalah suami. Dibalik itu Martin lah yang menjadi pemuas
    seks dan fantasi saya dan ini telah berjalan selama dua tahunan. Dua kali dalam seminggu paling sedikit.
    Suami tetap dilayani seminggu sekali, kadang sepuluh harian sekali. Saya merasa bahagia dengan
    pengaturan sedemikian. Keluarga tetap tidak terganggu. Hubungan dengan anak-anak dan suami tetap seperti
    biasa, bahkan kehidupan seks dengan suami menjadi lebih baik. Ternyata selingkuh ada manfaat dan
    kebaikannya juga

  • Birahi

    Birahi


    12 views

    Penampilanku selalu keren dan modis namaku Ivan umur 23 tahun tubuh saya atletis dengan tinggi yang
    ideal aku kelahiran Bandung jujur saja aku mempunyai gairah seks yang tinggi aku suka melakukan
    hubungan seks dengan variasi berbagai gaya.

    cerita-sex-dewasa-birahi

    Aku sudah mempunyai istri yang tentunya cantik, kulitnya putih dan seksi tentunya supaya merangsang
    nafsuku, kali ini aku akan bercerita pengalaman pribadiku saat aku mendapat undangan teman lamaku yang
    bernama Alvin , dia adalah teman kuliahku saat di bangku kuliah di kota Surabaya.

    Setelah lulus kita jarang kontak kontakan dan jarang bertemu saat ini di juga sudah menikah tapi aku
    belum kenal dengan istrinya, Pada saat menghubungiku, Alvin mengatakan bahwa dia akan berada di
    Jakarta selama satu minggu lamanya dan tinggal sementara di sebuah apartemen yang telah disediakan
    oleh perusahaannya.

    Dia juga datang bersama istrinya dan saat ini mereka juga belum mempunyai anak seperti aku dan
    istriku, maklum kami kan masing-masing baru menikah dan masih fokus ke karir kami, baik istriku
    ataupun istri Alvin hanya ibu rumah tangga saja, sebab kami pikir kondisi itu lebih aman untuk
    mempertahankan sebuah rumah tangga, karena dunia kerja pergaulannya menurut kami tidaklah aman bagi
    istri-istri kami.
    Malam itu sampailah kami di kamar apartemen yang dihuni oleh Alvin dan istrinya.

    “Hai… Alvin gimana kabar kamu, sudah lama yach kita nggak ketemu, kenalkan ini istriku Fariha,”
    kataku.

    “Hai Van, nggak ngira gua kalau bakalan bisa ketemu lagi sama kamu, hai Fariha… apa kabar, ini Mella
    istriku, Mella ini Ivan dan Fariha…” kata Alvin balik memperkenalkan istrinya dan mengajak kami masuk.

    Kemudian kami ngobrol bersama sambil menikmati makanan yang telah disiapkan oleh Alvin dan Mella.
    Kulihat Fariha dan Mella cepat akrab walaupun mereka baru ketemu, begitu juga dengan aku dan Alvin.

    Ketika Mella dan Fariha asyik ngobrol macam-macam, Alvin menarikku ke arah balkon yang ada dan segera
    menarik tanganku sambil membawa minuman kami masing-masing.

    “Eh.. Van gua punya ide, mudah-mudahan aja elo setuju… karena ini pasti sesuai dengan kenakalan kita
    dulu… gimana…” kata Alvin.

    “Mengenai apa…” kataku.

    “Tapi elo jangan marah ya… kalau nggak setuju…” kata Alvin lagi.

    “Oke gua janji…” kataku.

    “Begini… gua tau kita kan masing-masing punya libido seks yang tinggi, gimana kalau kita coba bermain
    seks bersama malam ini, dengan berbagai variasi tentunya, elo boleh pakai istri gua dan gua juga boleh
    pake istri kamu, gimana…” ucap Alvin.

    “Ah.. gila kamu…” kataku spontan.

    Tetapi aku terdiam sejenak dan berpikir sambil memandangi Fariha dan Mella yang sedang asyik ngobrol.
    Kulihat Mella sangat cantik tidak kalah cantiknya dengan Fariha, dan aku yakin bahwa sebagai laki-laki
    aku sangat tertarik untuk menikmati tubuh seorang wanita seperti Fariha maupun Mella yang tidak kalah
    dengan ratu-ratu kecantikan Indonesia.

    “Gimana Van… kan kita akan sama-sama menikmatinya, tidak ada untung rugilah…” kata Alvin meminta
    keputusanku lagi.

    “Tapi gimana caranya… mereka pasti marah… kalau kita beritahu…” aku balik bertanya.

    “Tenang aja, gua punya caranya kalau elo setuju…” kata Alvin lagi.Cerita Sex Dewasa

    “Gua punya Pil perangsang… lalu kita masukkan ke minuman istriku dan istrimu.. tentunya dengan dosis
    yang lebih banyak, agar mereka cepat terangsang, dan kita mulai bereaksi.”

    “Oke… gua setuju..” kataku.

    Dan kami pun mulai melaksanakan rencana kami tersebut.

    Alvin mengambil gelas lagi dan memasukkan beberapa butir pil perangsang ke dalam dua buah gelas yang
    sudah diisi soft drink yang akan kami berikan kepada Fariha dan Mella.

    “Aduh.. asyik amat… apa sich yang diobrolin.. nich.. minumnya kita tambah…” kata Alvin sembari
    memberikan gelas yang satu ke Mella, sedangkan aku memberikan yang satu lagi ke Fariha, karena
    kebetulan minuman milik mereka yang sebelumnya kelihatan sudah habis.

    Kemudian Fariha dan Mella langsung menenggak minuman yang kami berikan beberapa kali. Aku duduk di
    samping Fariha dan Alvin duduk di dekat Mella, kami pun ikutan ngobrol bersama mereka.

    Beberapa waktu kemudian, baik aku maupun Alvin mulai melihat Fariha dan Mella mulai sedikit
    berkeringat dan gelisah sambil merubah posisi duduk dan kaki mereka, mungkin obat perangsang tersebut
    mulai bereaksi, pikirku.

    Kemudian Alvin berinisiatif mulai memeluk Mella istrinya dari samping, begitu juga aku, dengan sedikit
    meniupkan desah nafasku ke tengkuk Fariha istriku.

    “Mell… aku sayang kamu…” kata Alvin.

    Kulihat tangannya mulai meraba paha Mella, istrinya.

    “Eh Alvin… apaan.. sich kamu… kan malu… akh.. ah…” kudengar suara Mella halus.

    “Nggak pa-pa.. ah… ah… kamu sayangku… ah…” desah Alvin meneruskan serangannya ke Mella.
    Melihat kondisi itu, Fariha agak bingung… tapi aku tahu kalau dia pun mulai terangsang dan tak kuasa
    menahan gejolak nafsunya.

    “Lus… aku cinta kamu.. ukh… ulp… ah…”

    Aku pun mulai memeluk Fariha istriku dan langsung mencium bibirnya dengan nikmat, dan kurasa Fariha
    pun menikmatinya. Aku pun mulai memeluk tubuh istriku dari depan, dan tanganku pun mulai meraba bagian
    pahanya sama seperti yang dilakukan oleh Alvin.

    “Lus… akh… ak… kamu… sangat cantik sayang…” kataku.

    “Akh.. Van… ah… ah…” desah istriku panjang, karena tanganku mulai menyentuh bagian depan kemaluannya,
    dan mengelus dan mengusapnya dengan jari tangan kananku, setelah terlebih dahulu menyibakkan CD-nya
    secara perlahan.

    Kulihat Alvin sudah membuka bajunya dan mulai perlahan membuka kancing baju Mella istrinya, yang
    kelihatan sudah pasrah dan sangat terangsang.

    “Ah.. Alvin… ah… ah… ah…” desah Mella kudengar. Dan Alvin sudah berhasil membuka seluruh pakaian
    Mella, dan kulihat betapa mulusnya kulit Mella yang saat ini hanya tinggal CD-nya saja, dan itu pun
    sudah berhasil ditarik oleh Alvin.

    Tinggallah tubuh bugil Mella di atas sofa yang kami gunakan bersama itu dengan kelakuan Alvin pada
    dirinya. Kulihat Alvin pun sudah membuka semua pakaiannya dan sekarang tanpa sehelai benang pun yang
    menutupi tubuh Mella maupun Alvin yang saat ini saling rangkul dan cium di sampingku dan istriku.

    “Ah… ulp… ulp… ulp.. ah.. sst.. sst…” kulihat Mella menjilat dan menghisap kemaluan Alvin yang putih
    kemerahan dengan nikmatnya. “ukh…ukh..ohh….ukh…” erang Alvin menikmati permainan Mella.

    Aku pun sekarang sudah berhasil membuka semua pakaian Fariha istriku, kulanjutkan dengan meremas buah
    dadanya yang kenyal itu dan kulanjutkan dengan mengisap kedua puting susunya perlahan dan berulang-
    ulang.

    “Ah… ah… ah… Van… terus… ah.. ah..” desah Fariha keenakan. Tangan Fariha pun mulai membuka celanaku
    dengan tergesa-gesa karena hanya celanaku yang belum kubuka dan kelihatannya Fariha sudah mulai tidak
    sabaran.

    “Akh… akh… ukh… oh…” ketika celana dan CD-ku terbuka dan jatuh ke bawah, Fariha segera memegang
    kemaluanku dan menjilatinya seperti apa yang dilakukan oleh Mella.

    Aku kemudian segera mengatur permainan dengan mengambil posisi jongkok dan membuka lebar kedua kaki
    istriku dan mulai menjilati klitorisnya dan semua bagian luar kemaluannya,

    “Aah… oh.. terus.. terus Van… enak… akh… akh…” desah Fariha.

    “Ulp.. ulp.. sst… sst… ah… uhm.. uhm… uhm…”

    Aku terus menjilati klitoris istriku dan kulihat bibir kemaluan dan klitorisnya merekah merah
    merangsang serta kelihatan basah oleh jilatanku dan air kenikmatan milikya yang tentunya terus
    mengalir dari dalam kemaluannya.

    “Ah… terus.. ah… ah… terus Van.. enak… akh… akh… ukh…” rintih Fariha.

    Yang membuka lebar kedua kakinya serta meremas buah dadanya sendiri dengan penuh kenikmatan.

    Perlahan kulihat Alvin menggendong Mella istrinya dan membaringkannya sejajar di sebelah istriku di
    sofa panjang yang kami pakai bersama ini, kemudian Alvin mulai memasukkan kedua jari tangannya ke
    lubang kemaluan milik Mella dan mengocoknya pelan serta menariknya keluar masuk.

    “Akh… Alvin… ahk… kamu.. gila Alvin… akh.. terus… terus Alvin… ahh…” rintih Mella terdengar.

    “Ukh… ah… ulp… akh… akh… akh.. oh… oh… oh…”

    Suara dan desahan dari istriku dan Mella secara bersamaan dan penuh kenikmatan. Perlahan tangan
    kananku mulai ikut meraba kemaluan Mella yang berada di sebelah istriku. Dan aku pun ikutan memasukkan
    kedua buah jariku ke kemaluan Mella tersebut.

    Dan Alvin pun membiarkan semua itu kulakukan, kemudian sambil terus mengocok lubang kemaluan Mella,
    tangan kiri Alvin pun mulai ikut meraba kemaluan istriku yang saat ini tanpa rambut, karena habis
    kucukur kemarin, permainan ini terus berlanjut baik Mella maupun istriku membuka dan menutup matanya
    menikmati permainan yang aku dan Alvin lakukan.

    Perlahan aku mulai meraba buah dada Mella dengan tangan kananku dan meremasnya pelan, kurasakan buah
    dada milik Mella lebih kenyal dibanding milik istriku, tetapi buah dada istriku lebih besar dan
    menantang untuk dihisap dan dipermainkan.

    Kemudian aku mulai berdiri dan mengarahkan kemaluanku yang berukuran panjang 16 cm serta diameter 4 cm
    itu ke arah mulut istriku, dan tangan kananku terus meremas buah dada milik Mella. Istriku dan Mella
    pun membiarkan semuanya ini terus berlanjut.

    Dan kulihat Alvin tetap memasukkan dan mengocok kedua lubang kemaluan yang di depannya dengan kedua
    buah tangannya dengan sekali-kali meremas buah dada milik istriku maupun Mella, istrinya.

    Kemudian Alvin mulai berdiri dan mengarahkan kemaluannya ke lubang kemaluan Mella yang sudah sangat
    basah,

    “Ah… Alvin… terus… masukkan… terus Alvin semuanya…” kata Mella.

    Melihat itu aku pun mulai mengarahkan batang kemaluanku ke lubang kemaluan istriku.

    “Akh… ukh.. ah… oh… ah… oh…” erang istriku keenakan.

    Saat ini baik posisiku dan Alvin maupun Fariha dan Mella berada pada posisi yang sama. Aku dan Alvin
    terus menarik turunkan kemaluan kami di lubang kemaluan milik Mella dan Fariha.

    Begitu juga dengan Mella dan Fariha membuka lebar kakinya dan memeluk pinggangku maupun Alvin seolah-
    olah mereka takut kehilangan kami berdua.

    Selang beberapa saat kemudian Alvin menghentikan kegiatannya dan memintaku mundur, kemudian memasukkan
    batang kemaluannya yang berukuran panjang 17 cm tetapi diameternya mungkin 3 cm dan kelihatan begitu
    panjang dari punyaku hanya punyaku lebih besar dan keras dibanding kemaluan Alvin yang terus menuju ke
    lubang kemaluan milik istriku.

    Kulihat istriku cukup kaget tetapi hanya pasrah dan terus menikmati kemaluan milik Alvin yang mulai
    mengocok lubang miliknya tersebut. Aku pun mulai juga mengarahkan kemaluanku ke lubang kemaluan milik
    Mella, perlahan kurasakan lubang kemaluan Mella masih cukup sempit serta menjepit batang kemaluanku
    yang kutekan perlahan.

    “Akh… akh… Mell… memekmu begitu padat.. dan enak… akh…” kataku.

    “Terus… Van.. Terus.. punyamu begitu besar… terus Van… enak… akh…” rintih Mella.

    “Van.. terus… beri aku kenikmatan.. akh… akh… terus Van… enak… lebih dalam Van… akh..”

    “Lus… punyamu begitu enak… sangat… rapat dan menjepit kontolku.. akh…” desah Alvin kepada istriku.

    “Ehm… ehm… ukh… ukh… lebih dalam Alvin… lebih dalam… teruskan Alvin… teruskan… kontolmu… sangat
    panjang… akh.. dan menyentuh… dinding.. rahimku.. akh… akh… enak… Alvin..” desah istriku lirih.

    Kemudian aku terus meremas dan menjilat puting susu milik Mella dan sekali-kali kugigit pelan
    putingnya dan Mella terus menikmatinya, sementara kemaluanku terus naik-turun mengocok lubang kemaluan
    Mella yang terasa padat dan kenyal serta semakin basah tersebut.Cerita Sex Dewasa

    Terasa batang kemaluanku serasa masuk ke lubang yang sangat sempit dan padat ditumbuhi daging-daging
    yang berdenyut-denyut menjepit dan mengurut batang kemaluanku yang semakin keras dan menantang lubang
    kemaluan Mella yang kubuat basah sekali,

    Dan Mella pun terus menikmati dan mengangkat pinggulnya serta menggoyangkannya saat menerima hujaman
    batang kemaluanku yang saat masuk hanya menyisakan dua buah biji kemaluan yang menggantung dan
    terhempas di luar kemaluan Mella tersebut.

    “Akh… Mell… enak.. sekali.. punyamu… akh.. akh..” desahku.

    “Oh Van… aku sangat… suka… milikmu ini… Van yang besar dan keras ini… akh… ogh… ogh… terus Van… ah…”

    Kulihat Alvin membalikkan tubuh istriku dan memasukan kemaluannya yang panjang putih kemerahan
    tersebut dari belakang,

    “Akh… akh… akh… Alvin… terus.. lebih dalam Alvin… akh.. enak… Alvin…” rintih istriku, yang kulihat
    buah dadanya menggantung bergoyang mengikuti dorongan dari kemaluan Alvin yang terus keluar masuk, dan
    kemudian tangan Alvin meremas buah dada tersebut serta menariknya.

    “Akh… Alvin.. akh… ogh… ogh… ahh…” jerit nikmat istriku menikmati permainan Alvin dari belakang
    tersebut.

    “Ogh.. Lus… buah dadamu begitu besar… dan… enak… ukh… ehm… ehmmm…” sahut Alvin penuh kenikmatan.

    Mella mencoba merubah gaya dalam permainan kami, saat ini dia sudah berada di atas tubuhku yang duduk
    dengan kaki yang lurus ke depan, sedangkan Mella memasukkan dan menekan kemaluannya dari atas ke arah
    kemaluanku.

    “Blees…”

    “Aakh… enak… akh… Van punyamu begitu besar… akhg…” desah Mella yang terus menaik-turunkan tubuhnya dan
    sesekali menekan dan memutar pinggulnya menikmati kemaluanku yang terasa nikmat dan ngilu tetapi enak.

    “Oh… Mell.. terus… ah… ah…” desahku.

    “Oh Van… oh.. oh… oh… Van… aku hampir keluar Van… aogh… ogh…” jerit Mella.

    “Okh.. Van… okh… aku ke… luar… okh.. okh…” tubuh Mella mengejang bagaikan kuda dan kurasakan
    kemaluanku pun bergetar mengimbangi orgasme yang dicapai Mella.

    “Oh… ukh… okh.. Mell aku juga keluar.. okh… okh…”

    Kami pun berpelukan dan mengejang bergetar bersama serasa berada di awan, menikmati saat klimaks kami
    tersebut selama beberapa saat hingga kemudian kami berdua merasa lemas, dan tetap berpelukan dengan
    posisi Mella di atas, seolah kami sangat takut kehilangan satu sama lain sambil memandangi permainan
    Alvin dan istriku di sebelah kami.

    Kulihat Fariha istriku sangat menikmati permainan ini dengan posisi bagaikan atau kuda yang sedang
    kawin, buah dada istriku yang besar bergoyang-goyang ke depan-belakang dengan cepatnya, sekujur tubuh
    Alvin maupun istriku berkilap dikarenakan keringat yang mengalir pelan karena permainan seks mereka
    ini.

    Kulit Alvin yang putih mulus karena dia berdarah Manado ini kelihatan bersinar begitu juga istriku
    begitu menikmati panjangnya kemaluan Alvin. Tangan istriku meremas sandaran sofa dan berteriak lirih,

    “Ah… ah… ah… uh… uh… uh.. Alvin tekan terus Alvin dengan keras… ah.. ah..” kulihat satu tangan istriku
    memutar dan memelintir puting susunya sendiri serta sekali-kali meremas keras buah dadanya tersebut
    seolah takut kehilangan kenikmatan permainan mereka tersebut.

    Aku kemudian mendorong kepalanya dan sebagian tubuhku dan berbaring di bawah buah dada istriku,
    kemudian berinisiatif untuk ikut meremas buah dadanya dan mengisap puting susunya,
    “Akh… Van… akh… enak.. ogh… ogh… ogh… terus Van…” rintih istriku, terasa olehku kemudian Mella
    menjilati dan menghisap batang kemaluanku yang mulai mengeras kembali.

    “Ogh… ogh… ogh… Van… ogh… ogh… Alvin… kontolmu sangat panjang dan membuatku sangat… puas Alvin… akh…
    terus… akh…” kata Fariha.

    “Ulp.. ulp… ulp.. ulp… ulp..” jilatan Mella di kemaluanku yang mengeras.

    “Okh… Alvin… aku.. hampir.. ke.. ke.. luar… Alvin… terus” desah istriku.

    Kuremas dan kupelintir dengan keras puting susu dan buah dada istriku, dan kulihat Alvin juga
    mengejang.

    “Akh… akh.. akh… akh.. Lus.. aku juga keluar… akh… akh…” jerit Alvin kuat, kemudian tubuhnya mengejang
    dan bergetar hebat.

    “Ogh… ogh… ogh… ogh…” istriku pun mengejang dan meremas sandaran sofa dengan kuat.

    Beberapa saat. Aku pun kembali merasakan kenikmatan mengalir di batang kemaluanku dan…

    Baca Juga Cerita Sex Tante Vina

    “Akh… akh… akh… akh…” kemaluanku pun memuncratkan spermaku kembali, sebagian ke wajah Mella dan
    sebagian lagi meloncat hingga ke tubuh istriku dan aku pun kembali mengejang kenikmatan dan kulihat
    Mella terus menjilati kemaluanku yang besar tersebut dan membersihkannya dengan lidahnya.

    Kemudian kami terbaring dan tertidur bersama di sofa tersebut hingga pagi harinya, dalam kondisi tanpa
    sehelai benang pun menutupi tubuhku, istriku, Alvin dan Mella istrinya. Permainan ini kembali kami
    ulangi pagi harinya.

    Dan kembali kami ulangi bersama dalam beberapa hari hingga saatnya Alvin dan Mella harus pulang ke
    Surabaya, ini semua adalah awal dari permainan seks bersama kami yang hingga kini seringkali kami
    lakukan kembali jika aku dan istriku ke Surabaya, ataupun mereka ke Jakarta.

    Bahkan kadang-kadang-kadang Mella sendiri ke Jakarta bermain seks bertiga denganku dan istriku,
    ataupun aku atau istriku yang ke Surabaya bermain seks bertiga atau bersama dengan salah satu dari
    Alvin atau Mella.

  • Bulan Madu

    Bulan Madu


    18 views

    Pengalaman menarik ini kami alami sewaktu kami berbulan madu di Pulau Bali dan Lombok. Waktu itu sedang low session jadi keadaan tidak seramai kalau sedang hari libur, di mana kami melakukan hubungan seks di tepi pantai yang sepi sambil membuat film dokumentasi adegan kami tersebut, juga sewaktu kami di hotel kegiatan kami sempat diintip oleh seorang pegawai hotel. Saya dan Vonny senang sekali bereksperimen dalam melakukan hubungan seks, dari segala macam gaya, alat-alat bantu seks sampai membuat foto dan film hubungan seks kami.

    cerita-sex-dewasa-bulan-madu
    Vonny istriku itu kukenal sejak masih duduk dibangku SMA, ia adik kelasku, hingga setelah selesai kuliah ia akhirnya kunikahi. Sejak SMA kami sudah sering melakukan hubungan seks, apalagi semasa kuliah, karena kami berada di kota Malang meskipun tidak sekampus tetapi karena tempat kostku yang bebas jadi kami sering melakukan hubungan seks di tempat kost. Sebenarnya kami juga mempunyai cerita yang menarik sewaktu masih kuliah dulu, tetapi saya ingin menceritakan pengalaman yang satu ini dahulu.

    Singkat cerita, Siang hari sekitar pukul 1.00, akhirnya kami berdua sampai di Pulau Bali, dari airport kami di antar taksi untuk mencari hotel di daerah Kuta, sejenak kami melepas lelah, setelah itu kami jalan-jalan di sepanjang jalan di Kuta, Vonny rupanya tertarik untuk membeli beberapa potong bikini untuk dipakai nanti di pantai.

    Model yang ia beli sangat menggairahkan, kainnya tipis berwarna cerah hingga kalau dipakai lalu kena air, dipastikan apa yang dilapisinya akan terlihat dengan jelas, sengaja ia beli itu untuk membuat aku terangsang, lalu ada celana dalam yang hanya ada secungkup kain kecil untuk menutupi rambut kemaluannya, modelnya hanya bertali satu bagian belakangnya hingga belahan pantatnya jelas bebas terlihat, begitu juga penutup dadanya hanya sekedar untuk menutupi puting buah dadanya, selain itu banyak juga yang lain yang ia beli, pokoknya modelnya yang merangsang.
    Semalam kami di Bali, keesokan harinya kami menyeberang ke Pulau Lombok yang pastinya lebih alami dibanding Bali. Sesampainya di Lombok kami masih harus menyeberang ke Pulau kecil di sebelah Pulau lombok yaitu di Gili Meno. Tempatnya sangat cocok untuk berbulan madu, kami menempati sebuah cottage yang asri, setelah berkemas kami segera menuju ke pantai untuk berenang, mula-mula Vonny masih mengenakan kaos rangkap untuk menutupi bikininya, sesampai di pantai yang berjarak sangat dekat dengan hotel, kami mencari tempat yang nikmat untuk berenang, kami melihat sepasang bule yang sedang asyik bercumbu ria di pinggir pantai yang landai dan berpasir putih itu sehingga kami bisa melihat kalau mereka berdua dalam keadaan telanjang bulat.

    “Vonny, kamu berani nggak seperti mereka itu”, tanyaku.
    “Berani aja, pokoknya ada kamu aku mau aja”, sahut Vonny.

    Setelah menemukan tempat yang tepat segera kami berdua berenang di air laut yang jernih itu. Kulihat Vonny mengenakan bikini yang transparan hingga menampakkan bayang rambut kemaluannya di pangkal pahanya, sewaktu ia masuk ke air aku tidak dapat menahan nafsuku yang timbul melihat tubuh Vonny yang memakai bikini transparan itu. Payudaranya yang kencang menantang jelas terlihat di balik bikininya, ujung payudaranya yang berwarna coklat kemerahan membayang jelas terlihat. Segera saja penisku kerediri tegak melihat pemandangan yang indah itu, segera kuabadikan dengan handycamku tubuh Vonny dari segala sudut dan segala lekuk tubuhnya.Cerita Sex Dewasa

    “Von, kamu lepasin aja bikinimu itu, kan sama aja kamu seperti nggak make apa-apa kalau kamu pake bikini itu”, sahutku.
    “Enggak ah, malu aku”, jawab Vonny.
    “Malu sama siapa, kan nggak ada orang yang tahu di sini, kan sepi”, sahutku.

    Ia melihat sekelilingnya nggak ada orang kecuali sepasang bule yang sedang asyik main kuda-kudaan.

    “Iya deh aku lepas ya”, jawab Vonny.

    Tak kusia-siakan sewaktu ia melepas bikininya kurekam terus dengan handycam-ku hingga ia telanjang bulat di tepi pantai, kulepas sekalian celana renangku hingga penisku yang sudah berdiri tegak tadi meloncat keluar seolah merasa bebas dari kurungannya. Tampak olehku tubuh telanjang Vonny. Rambut kemaluannya tampak kontras sekali dengan kulit tubuhnya yang putih mulus, serta dua gumpalan buah dadanya yang tegak mengacung membuat nafsu ini menjadi berkobar.

    Ujung payudaranya yang berwarna coklat kemerahan itu tampak mengencang karena basah oleh air laut, ingin sekali kuremas-remas dan kuhisap ujung payudaranya itu. Kuabadikan semua tingkah laku Vonny yang telah telanjang bulat itu, ia bermain di air yang jernih sambil sekali-kali ia menoleh ke kiri dan kanan melihat kalau kalau ada yang melihat tubuhnya yang telanjang bulat itu.

    Ia berbaring telentang di pasir pantai dengan posisi kakinya mengangkang hingga tampak belahan lubang vaginanya yang berwarna merah kehitaman itu, kurekam terus adegan ini sambil arah kamera kuarahkan ke bagian vaginanya yang terbuka lebar itu. Tanganku yang satu sambil mengurut penisku yang sudah berdiri tegak sambil sesekali meraba dan meremasi payudara Vonny yang sudah mengencang itu.

    Rupanya Vonny juga sudah mulai terangsang ketika kuraba vaginanya dan kumainkan clitorisnya, ia lalu meraih penisku dan mengocoknya perlahan sambil mendesah keenakkan,

    “Ughh…, Ninoo…, gelii, enakk…”, sambil tangannya semakin kencang mengocok penisku, akhirnya kutaruh handycamnya di suatu tempat yang tepat agar segala adegan kami dapat direkam dengan jelas, selintas terpikir olehku andai ada seseorang yang mau membantu untuk mengambil gambar dengan handycamku pasti akan lebih bagus lagi hasilnya.

    Kulihat ke arah pasangan bule itu, ternyata mereka juga sedang melakukan hubungan seks di pasir pantai, kulihat Vonny juga asyik menyaksikan adegan itu dan tangannya yang satu meremasi payudaranya sedang tangannya yang lain dengan dua jarinya tampak sudah berada di dalam vaginanya yang tampak licin mengkilat karena cairan nafsunya tampaknya sudah membasahi liang vaginanya.

    Kuhampiri Vonny yang telentang di atas pasir pantai itu segera ia meraih penisku dan mengarahkannya ke mulutnya yang mungil dan selanjutnya bagai anak kecil yang sedang makan ice cream, dijilatinya seluruh batang penisku dari ujung kepala sampai ke buah penisku tak lupa dikulumnya sambil sesekali di sedot dengan kuat.

    “Ufffffff nikmat sekali Von…, terusin isapnya…, isap yang kenceng”, karena sudah bangkit nafsunya, Vonny dengan kuat menyedot ujung kepala penisku sambil sesekali menggunakan ujung lidahnya memainkan lubang kencingku, rasa yang ditimbulkan sangat nikmat sampai ke ubun-ubun.

    Segera kubuat posisi yang memungkinkan aku bisa menjilati dan menghisap vagina Vonny yang sudah terbuka itu, ketika kujilati clitorisnya ia menggelinjang kenikmatan sambil kepalaku di jepit dengan kedua belah pahanya, ia rupanya ingin agar aku lebih lama menjilati vaginanya. Dengan dua jariku, jari tengah dan telunjuk kumasukkan ke dalam vaginanya dan mengocok dengan lembut hingga ia tampak mengerang-erang keenakkan, penisku di genggamnya erat sambil terus menghisap-isap ujung penisku.

    Cukup lama kami saling isap dan jilat hingga aku melihat ke arah pasangan bule itu dan ternyata mereka sedang menyaksikan adegan kami. Kukatakan pada Vonny kalau kita sedang diperhatikan oleh pasangan bule itu.

    “Biarin aja, biar mereka terangsang melihat permainan seks kita”.Cerita Sex Dewasa

    Bukannya malu tapi Vonny malah lebih ganas dan agresif dalam permainan ini. Kini posisiku telentang di pasir dan Vonny berada di antara ke dua pahaku yang telentang, ia tampak begitu menikmati penisku yang kini sudah basah terkena air liurnya, tak henti-hentinya ia mengisap dan menggigit kecil ujung penisku sehingga aku kelojotan merasakan geli yang luar biasa, kurasakan desakan yang akan keluar dari penisku, segera aja kutarik kepala Vonny agar ia melepaskan penisku dari mulutnya, dan kini kurebahkan ia lalu kuhisap ujung payudaranya sebelah kanan sambil ujung yang satunya kumainkan dengan jariku, Vonny tampak menikmati permainan ini sambil tangannya sendiri memainkan ujung clitorisnya, kedua belah pahanya di buka lebar dan setengah diangkat agar lebih mudah dirinya memasukkan jarinya sendiri.

    “Ninoo…, ayo masukin penismu di vaginaku dong…, aku udah kepengen nihh”, pinta Vonny sambil mengarahkan penisku ke arah lubang vaginanya.

    Sambil dituntun tangannya kumasukkan ujung penisku ke lubang vaginanya. Vonny yang tampaknya memang sudah kepingin dengan mengangkat pantatnya ia sengaja membuat agar seluruh batang penisku masuk ke dalam vaginanya.

    “Acchh…, uufffffhh”, desah Vonny ketika seluruh penisku masuk ke dalam vaginanya. Kedua pahanya dilingkarkan di badanku agar penisku tetap menancap di vaginanya, kutarik sedikit keluar lalu kumasukkan dalam-dalam, kutarik lagi kumasukkan lagi dengan ritme yang berirama membuat Vonny mengerang-erang keenakkan.

    Kini dengan ritme yang lebih cepat kutekan-tekan sekuat tenaga hingga mulut Vonny menganga tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun karena nikmat yang dia rasakan membuat ia hanya sanggup mengelinjang-gelinjang keenakan.

    Kulihat payudaranya bergerak naik turun seirama dengan kocokan penisku di vaginanya.

    “Niinnoo…, egghh…, aacchh…, aakuu pengen puass dulu ya”, pinta Vonny.

    Tanpa kujawab ia lalu kini berada di atas tubuhku, penisku yang berdiri tegak itu dituntunnya ke liang vaginanya, lalu dengan jeritan kecil Vonny, “Aauu…”.

    Seluruh batang penisku kini amblas masuk ke dalam vagina Vonny yang semakin licin itu, kini ia sepenuhnya bebas menguasai penisku, seperti orang naik kuda semakin lama semakin cepat gerakannya sambil tanganku meremas-remas kedua bukit payudaranya yang indah itu, ia ingin kedua payudaranya itu kuremas-remas dengan kuat hanya dengan begitu ia merasakan nikmat yang sebenarnya, kini ia tidak lagi bergaya seperti naik kuda, tetapi tetap seperti posisi semula hanya kini ia menggesek-gesekkan vaginanya maju mundur sambil ia meremasi sendiri payudaranya hingga akhirnya ia tampak mengejang-ngejang beberapa saat sambil menggigit bibirnya dan matanya terpejam merasakan nikmat yang tiada tara itu, akhirnya ia terkulai di atas tubuhku beberapa saat.

    Lalu ia kembali mengocok penisku dengan vaginanya, kurasakan kini vaginanya lebih seret dari yang tadi sehingga menambah kenikmatanku, segera kuminta agar ia berjongkok aja, posisi doggie style adalah posisi kegemaranku, segera Vonny berjongkok sambil membuka lebar pahanya hingga kulihat dengan jelas lubang kenikmatan itu terbuka di hadapanku, vaginanya sangat merangsang sekali, rambutnya tidak terlalu lebat hingga seluruh bagian dalam vaginanya dapat terlihat dengan jelas.

    Kini kepala penisku kuarahkan ke dalam lubang itu, dengan sekali dorongan, masuklah sebagian penisku ke dalam vagina Vonny. Vonny menjerit kecil ketika sebagian penisku masuk ke vaginanya, kini ia memundurkan pantatnya hingga amblaslah seluruh batang penisku ke dalam vagina Vonny. Dengan kuat kudesak-desak seluruh batang penisku dengan irama yang beraturan hingga Vonny merasa kegelian lagi. Sambil mendesis ia memintaku agar jariku di masukkan ke dalam anusnya, kubasahi jari telunjukku dengan ludah dan sebagian lagi kubasahi pula lubang anusnya dengan air ludahku.

    Sambil terus menggoyang kumasukkan jari telunjukku ke anusnya hingga seluruh jariku masuk ke dalam anusnya, sambil kutekan ke bawah hingga kurasakan geseran penisku di dalam vagina Vonny, ia tampak menikmati sekali permainan ini, berulangkali ia memintaku agar lebih keras lagi goyangannya sambil ia membuat gerakan maju mundur pantatnya.

    “Uufffgghh…, Enak Vonn, vaginamu nikmat banget, orang lain pasti pengen ngrasain vaginamu ini, soalnya nikmat banget sih”, Kataku.
    “Iya dong, lain kali kita coba ya, mungkin orang lain pasti udah keluar duluan sebelum aku puas”, sahut Vonny.
    “Bener…, kamu pengen coba penis orang lain?”, tanyaku.
    “Iya…, itu kalau kamu kasih ijin lho, tapi kamu harus ada juga di situ melihat aku main ama orang lain”, jawaban itu semakin membuatku terangsang hingga kupercepat kocokan penisku sambil menekan kuat kuat jariku yang ada di dalam anusnya, hingga akhirnya kurasakan ada desakan yang kuat yang akan menyembur keluar dari penisku, rupanya Vonny juga mengerti kalau aku mau keluar, kucabut keluar dan segera oleh Vonny diraihnya penisku dan segera ia menghisap kuat penisku sampai akhirnya aku tak kuat lagi menahan rasa nikmat ini hingga akhirnya,

    Baca Juga Cerita Sex Boneka Dari India

    “Cett…, crett.., crett”, keluarlah cairan kenikmatanku, dengan lahap Vonny menghisap setiap tetes cairanku itu, lalu dengan lidahnya ia membersihkan ujung penisku hingga seluruh batang penisku mengkilat oleh air liurnya.

    Apa yang kami lakukan itu ternyata di saksikan oleh sepasang bule tadi, bule cowoknya mengacungkan ibu jarinya ketika melihat kami kini tergeletak kelelahan di pasir pantai, kubalas dengan acungan jempol pula lalu ia tertawa. Kuingat tadi handycam yang sejak tadi merekam adegan kami itu, lalu segera kuambil dan kusimpan film tadi sebagai kenang-kenangan yang indah.

    Dengan tetap telanjang bulat kami bermain di air sambil membersihkan diri dari pasir pantai yang menempel di seluruh tubuh kami, kami tetap di pantai itu sampai menunggu matahari terbenam, karena dari pantai itu kami dapat menyaksikan indahnya peristiwa alam itu, terlebih peristiwa yang baru kami alami tadi.

  • Butuh Seks

    Butuh Seks


    17 views

    Liburan panjang ini memang sungguh menyenangkan aku masih duduk di kelas 3 SMP beberapa minggu aku
    hanya tinggal dirumah saja dan bergaul kepada tetangga, bermain main disekitar wilayah desa, aku
    tinggal di peinggiran kota Surakarta Jawatengah.

    cerita-sex-dewasa-butuh-seks

    Ketika itu sedang bermain kerumahnya Bulek Yati aku tidak pernah tau rumah yang satunya sudah
    dikosongkan lama, dan dihuni oleh orang baru adiknya bulek Yati katanya dari jogja dan mulai menetap
    didesaku.

    Aku kemudian menyempatkan diri untuk mampir berkenalan dengan penghuni baru itu. Ternyata di depan
    rumahnya banyak sekali anak-anak bermain dan tampak dua anak wajah baru, dan ternyata adalah kedua
    anak dari warga baru itu.

    Semua anak tampak tertawa-tawa menggoda salah satu dari anak itu. Mereka tertawa kegirangan karena
    melihat anak itu yang ternyata bisu dengan gayanya yang nakal dan sok bisa bicara sehingga menggelikan
    sekali. Akupun langsung tertawa melihat tingkahnya.

    Tak berapa lama kemudian tampak seorang pria berumur tiga puluh lima tahunan keluar dan menyapaku.
    Pria itu ternyata suami adik bulek Yati. Lalu tak lama kemudian mbak Aminah adik bulek Yati keluar dan
    menyapaku.

    “Lho kok Mas Wawan to….Sudah besar ya sekarang, kelas berapa mas?’

    Banyak tetanggaku memanggilku mas biarpun mereka juga lebih dewasa dariku. Hal itu dikarenakan bapakku
    adalah seorang lurah jadi mereka memanggilku demikian mungkin sebagai bentuk rasa hormat mereka
    terhadap bapakku.

    “Eh mbak Aminah.. iya ini, lama nggak ketemu mbak..ini sudah mau lulus SMP mbak” jawabku.
    “Itu anak mbak sama mas ya?” tanyaku.

    “Iya mas…Ya sudah jatah dari yang kuasa mas…Yang besar itu malah tidak bisa ngomong sampai sekarang…

    Tapi ya saya syukuri saja mas”…jawab mbak Aminah dengan tetap tersenyum. Suaminya juga hanya ikut
    tersenyum.

    Setelah aku perhatikan dari tadi ternyata mbak Aminah semakin seksi. Dia memakai daster merah tanpa
    lengan membuat tubuhnya terlihat semakin putih. Rambutnya terurai panjang lurus dengan porsi panyudara
    dan pantatnya yang benar-benar proporsional.Cerita Sex Dewasa

    Kemudian mereka mempersilakanku masuk namun aku menolak dan ingin ikut bermain saja dengan anak-anak.
    Mulai dari sinilah aku berkenalan dengan Eko, anak mbak Aminah yang bisu itu. Eko berumur kira-kira
    tiga belas tahun sepantaran adik kelasku.

    Dia memang usil dan nakal sekali, namun karena ia banyak menggumam banyak omong tidak jelas karena
    kebisuannya, itu membuatnya terlihat lucu sekali.

    Aku senang sekali berkenalan dengan Eko dan kerap sekali aku mengajaknya main ke rumahku buat obat
    stress. Aku juga sering menyuruhnya membantuku beres-beres rumah.

    Mulai dari sinilah aku mengenal sosok dirinya sebagai seorang anak yang berpikiran mesum. Ternyata di
    balik kebisuannya itu tersimpan pikiran mesum yang luar biasa.

    Ketika itu saat anak-anak masih bersekolah Eko tidak ada teman main dan langsung menuju ke rumahku.
    Aku hanya tinggal dengan ibu, bapak dan tanteku kartika sedangkan dua kakak laki-lakiku sudah kerja
    merantau di Jakarta. Setelah aku kenalkan mereka dengan Eko, mereka tampak senang karena setiap
    gerak-geriknya membuat tertawa.

    Saat ibu memintaku untuk membersihkan kamar mandi, aku langsung mengajak Eko untuk ikut membantuku.
    Aku tidak berpikiran buruk apapun tentang anak itu namun setelah di kamar mandi tidak kusangka dtengah
    aku lagi menyikat kloset ia dengan tidak ada malunya terhadapku.

    Sedang memain-mainkan celana dalam kotor milik tante kartika yang berada di ember cucian. Dia tampak
    senang sekali dan memain-mainkannya. Melihat itu aku langsung marahin dia namun dia hanya tampak biasa
    saja dan malahan tertawa. Aku berpikir kalau dia memang selain bisu, pikirannya juga tidak waras,
    namun namanya juga obat stress.

    Setelah selesai bersih-bersih kami balik lagi menonton televisi. Tante Kartika sedang duduk membaca
    koran di ruang tamu persis sebelah kami menonton televisi. Sepintas aku amati pandangan Eko yang
    mencuri-curi mengintip celana dalam tante Kartika.

    Wah memang anak ini memang benar-benar berpikiran mesum. Tante kartika adalah janda dan berumur
    sepantaran ibu Eko, tubuhnya pun tidak kalah dengan mbak Aminah.

    Tante tinggal di rumahku karena dia tidak memiliki anak dan tidak mau tinggal sendirian di rumahnya di
    Jakarta setelah bercerai dengan suaminya. Aku terkadang juga berpikiran jorok dan berniat mengintip
    tante kalau sedang mandi namun sampai sekarang aku tidak berani melakukannya karena takut ketahuan dan
    malu dengan bapak ibuku.

    Tetapi dengan kehadiran Eko bisu yang berpikiran mesum ini, aku serasa memiliki rekan baru dalam
    berfantasi mesum karena saat melihatnya curi-curi kesempatan mengintip ada perasaan lain dalam hatiku.

    Aku tidak marah dengan tingkah Eko itu, malahan ketika aku membayangkan Eko bisa menyetubuhi tanteku
    itu aku malah semakin bernafsu. Aku sering beronani membayangkan bersetubuh dengan tanteku namun
    perasaan itu tidak senikmat ketika aku membayangkan Eko ngent0tin tanteku. Demi untuk menjaga imejku
    sebagai seorang anak lurah aku tidak boleh berbuat liar apalagi jika berurusan dengan seks dan nafsu
    birahi.

    Untung saja aku bertemu dengan sosok Eko yang memberikanku fantasi seks baru. Aku selalu optimis kalau
    anak itu urat malu dan sopan santunnya sudah putus, jadi mungkin sekali kalau ia bisa ngent0t dengan
    orang dan aku bermimpi sekali untuk bisa mengintipnya langsung ngent0t.

    Setelah itu aku sedikit menjauh dari Eko dan jika ada kesempatan aku membuntutinya ke manapun dia
    pergi. Ketika itu keluargaku sepi dan hanya tanteku yang ada di rumah. Aku berencana membuktikan
    imajinasiku itu tentang kemungkinan bahwa akan ada wanita yang akan memanfaatkan Eko untuk memuaskan
    dirinya.

    Aku yakin tanteku butuh sekali seks dan dia tidak mungkin berbuat nakal karena akan sangat malu dengan
    ayah dan ibuku. Ketika itu aku pamit sama tante Kartika untuk main ke rumah temanku.

    “Tante, aku mau main dulu ke tempat temanku ya…Aku mungkin pulang larut sore karena ada banyak hal
    yang mesti aku selesaikan dengan temanku”.

    “Jangan terlalu malam Gun, aku sendiri ni”

    Itu jawaban yang aku nantikan, sehingga aku bisa merancang skenario dan mendatangkan Eko untuk ke
    rumahku menemani tanteku.

    Aku yakin pasti tante bakalan menggerayangi Eko karena ia bakalan tidak mengadu karena bisu, dan
    lagian aku yakin kalau Eko malahan yang senang dikerjain mengingat otak mesumnya itu. Aku ingin sekali
    melihat dari langsung mereka ngent0t dan aku akan bisa melihat tubuh bagian intim tante Kartika.

    Lalu langsung saja kujawab.

    “suruh aja Eko si bisu itu temenin tante kalau aku pulang terlalu malam, lumayan bisa buat obat stress
    nanti tan..hehe”

    “O yaudah kalau begitu…” jawab tante senyum.

    Aku mengeluarkan motorlu dan berhenti tidak jauh dari desaku. Aku mampir ke sebuah bengkel milik
    tetangga yang tidak terlalu jauh dari rumahku. Setelah kira-kira satu jam aku di sana aku minta
    diservisin motorku, padahal kedokku hanya ingin nitip motor dan kemudian pulang. Lalu aku pulang
    mengendap-endap dari belakan rumah.

    Aku bersembunyi di dapur dan mengintip segala apa yang terjadi di rumah. Tante ternyata sedang nonton
    video porno. Dia meremas-remas dadanya sendiri dan jarinya ia masukin ke dalam celana dalamnya.

    Rumah tertutup rapat dan tante dengan leluasa menonton video bokep itu di ruang tamu. Aku bernafsu
    sekali melihat pemandangan itu dan aku ingin sekali bersetubuh dengan tanteku. Namun itu hanya akan
    memperkeruh suasana dan lagian itu bukanlah rencanaku.

    Rencanaku hanya ingin berharap kalau Eko bisu benar-benar dipanggil tante dan dikerjainya sehingga aku
    bisa sambil menontonnya langsung sambil beronani.Cerita Sex Dewasa

    Tak berapa lama kemudian tante keluar rumah tanpa mematikan tontonan bokep itu. Aku yakin dia
    memanggil Eko, dan ternyata dugaanku benar. Ia datang bersama Eko dan segera mengunci rapat pintu. Eko
    ngomel-ngomel tidak jelas kegirangan melihat video itu. Aku juga kegirangan sekali melihat rancangan
    skenario imajinasiku itu yang ternyata menjadi kenyataan sebentar lagi.

    Tanteku mengecek menyentuh celana Eko di bagian depan bermaksud mengecek kont0lnya. Ternyata baru
    melototin bokep sebentar kont0l Eko sudah tegak menantang. Eko sepintas malu dan kemudian sedikit
    menutupinya dengan tangan.

    Tante langsung ambil tindakan. Dia langsung merenggangkan pahanya sehingga roknya tersibak, bermaksud
    memamerkan celana dalamnya. Eko langsung melotot kegirangan bercampur sok tengsin melihat itu dan
    jantungku berdebar keras.

    Aku langsung mengendap ke pintu samping menuju kamar di sebelah ruang tamu karena aku tidak begitu
    jelas melihat adegan itu. Setelah sampai di kamar sebelah aku benar-benar melihat dengan jelas adegan
    itu melalui celah-celah ventilasi.

    Tante membuka celana pendek Eko dan terlihat burung hitam Eko yang lumayan besar untuk anak
    seumurannya sudah tegak menantang. Tante langsung melumat kont0lnya itu dan Eko menggeliat kenikmatan.

    Setelah beberapa saat tante menyuruh Eko mlucuti semua pakaian tante. Tante menuntun tangan Eko
    menarik cawat merahnya dan dengan naluri nafsunya Eko langsung melucuti seluruh pakaian tante sampai
    tak ada benang sehelaipun menutupi.

    Benar-benar indah tubuh tanteku ini. Badanya yang sedikit chubby ini dan wajahnya yang ayu sekarang
    benar-benar terlihat telanjang di depan mataku. Kulitnya putih mulus, rambutnya panjang terurai dan
    pantatnya semok sekali serasa pengen kuremas. Aku semakin ingin mengocok kont0lku.

    Tante membuka lebar pahanya dan Eko gemetaran melihat mem3k tante yang bersih tanpa ada bulunya itu.
    Ia menarik kepala Eko dan menyuruhnya menjilati mem3knya itu dan setelahnya tante menggeliat
    kenikmatan. Banyak banget cairan yang keluar dari mem3knya.

    Tante kurang berpengalaman untuk hal pemanasan dan variasi sex, yang ia tahu untuk anak seumurannya
    hanya pengin cepat-cepat menikmati tubuh wanita.

    Eko kemudian berontak dan langsung menindih tubuh tante sambil menusukkan kont0lnya ke lubang basah
    puki tante. Tante kaget namun menikmati saja permainan kasar Eko itu. Takut kalau spermanya keluar di
    dalam, tante langsung mendorong tubuh kecil Eko keluar.

    Ia langsung mengulum kont0lnya dan tak berapa lama mulut tante dipenui sperma Eko yang bermuncratan
    keluar. Eko tergeletak di kasur tipis di depan TV merasa keenakan.

    Tante kemudian mengambil pelumas dan mengoleskannya ke penis Eko dan juga lubang anusnya. Mungkin
    tante tidak bisa memberitahu Agar tidak mengeluarkan spermanya di dalam vaginanya. Maka dari itu tante
    mencoba anal saja.

    Eko kemudian disuruh memasukkan anusnya ke dalam anus tante dengan posisi doggy. Setelah sedikit
    kesusahan akhirnya masuk juga penisnya dan tante merasa sedikit kesakitan tapi Eko tidak peduli. Ia
    terus memompa dengan kencang dan dibarengi suara tepukan pantat tante yang membuatku jadi ingin
    ejakulasi juga.

    Baca Juga Cerita Sex Tantangan

    Jari-jari tante ikut masuk ke dalam lubang vagina dan setelah beberapa saat cairan mem3knya
    bermuncratan keluar. Ia mengerang lirih takut kedengaran tetangga. Eko juga semakin liar menghajar
    bur1t tante sampai akhirnya ia menyemprotkan lagi spermanya di bur1t tante. Mereka terbaring puas di
    depan televisi sedangkan aku sibuk membersihkan spermaku yang bermuncratan di mana-mana melihat adegan
    itu.

    Tante kemudian menyuruh Eko pulang dan lalu menutup lagi pintu sambil senyum-senyum menuju ke kamar
    mandi membersihkan diri. Lagi-lagi pikiran menyetubuhi tanteku muncul lagi namun aku harus
    menghindarinya, lagian aku sudah puas melihatnya ngent0t dan beronani sampai puas. Aku segera keluar
    rumah dan bergegas pergi ke bengkel lagi.

    Kejadian itu berulang sekitar lima kali sampai saat tanteku kembali ke Jakarta melanjutkan kerjanya di
    sana kalau suasana rumah lagi sepi dan aku selalu merancang skenario yang sama.

    Aku terus membuntuti kisah seks Eko si bisu itu demi untuk fantasi langsungku karena untuk
    mewujudkannya serasa beban menanggung nama baik orang tua. Sampai ketika setelah tante pergi aku
    mendapati kisah seks Eko dengan beberapa wanita di desaku termasuk dengan ibunya sendiri, mbak Aminah.

  • CERITA DEWASA ADIK TEMAN KU YANG  AKU SIKAT JUGA

    CERITA DEWASA ADIK TEMAN KU YANG AKU SIKAT JUGA


    3825 views

    Pada waktu itu aku kelas 3 SMA.. Sebut saja namaku David. Disekolah si aku tergolong cowok yang ganteng dan digemari para cewek.. Mengapa tidak, aku yang tingginya 175cm, hidung mancung, kulit putih,trus pandai bermain Basket. Pada waktu itu aku sangat dekat dengan teman aku sebut saja namanya Revin. Kami berteman sangat dekat sekali. Karena kami berteman dari kami masih SMP sampai SMA pun kami bersama-sama. Suatu hari aku bermain kerumahnya Revin. Sesampai di rumah revin aku di kejutkan oleh sesosok cewek cantik yang tidak lain adalah adik temanku Revin. Sebut saja namanya Dinda. pada saat itu Dinda terlihat sangat manis sekali. karena pakaian yang di kenakannya terlalu minim,dan kebetulan sekali Dinda pada saat itu Dinda sedang membersihkan halaman rumah. Kuperhatikan mukanya yang manis,putih, tinggi mungkin 160cm. bisa di katakan Dinda adalah cewek tercantik di sekolahnya. Sejenak kuperhatikan buah dadanya yang montok dan bodynya yang aduhai montok itu yang membuat nafasku tak beraturan.

    Aku sangat kaget melihat Dinda. karena setiap kali aku bermain ke rumahnya revin jarang sekali aku melihat Dinda. pada saat itu Dinda berumur 14 tahun. pada saat aku masuk rumah revin, Dinda menegurku.”eh kakak David” sejenak aku terdiam, dan berfikir dalam hati ” tumben – tumbennya Dinda menegurku” aku pun membalasnya “eh Dinda, Revinnya ada nga…?” “oh kakak, ada tuh di dalam sedang mandi mungkin. bentar ya Dinda panggilin. Kakak David duduk aja dulu di teras.” aku pun langsung duduk diteras. Tiba-tiba Dinda keluar “Kakak David bentar ya,kakakku lagi mandi tuh. Katanya aku temenin kakak David dulu.” akupun sangat senang, mengapa tidak, aku bisa mengobrol dengan adik teman aku yang cantik. aku pun mulai memperhatikan Dinda dari ujung kakinya sampai kepalanya. Memang cantik benar adik temanku ini gumamku. kulitnya yang mulus dan putih, trus aku pun melihat pahanya yang putih semakin membuat nafasku tak beraturan. Tiba-tiba Dinda tersenyum dan menegurku “kakak David kok lihatin Dinda trus..?” akupun kaget lalu kujawab saja dengan nada yang kecil “oh itu soalnya Dinda cantik sih…. trus Dinda sekarang udah kelas berapa…?” Dinda pun menjawabnya ” kelas 3 SMP ka.” “oh kelas 3 SMP ya….!” kami berdua pun mengobrol sampai akhirnya Revin pun keluar. “Oi Vid maap yah lama soalnya air kerannya macet jadi harus ngambil air di tetangga ni.” dengan sedikit kesal sih,aku pun menjawab ” nga apa-apa soalnya kan ada adik kamu tuh yang temanin aku ngobrol.” Kami berdua pun berangkat karena kami harus menghadiri acara ulang tahunnya temen sekelas kami. Tapi aku sangat sedikit menyesal. Karena kapan lagi aku bisa mengobrol sama adik temanku ini.
    Pada suatu hari akhirnya aku bisa mengobrol sama adik temanku dan dimulai dari situlah kejadiannya..

    Pada saat itu aku berencana pergi ke rumah Revin mau bikin tugas,karena sudah kelas 3 jadi tugas yang diberikan sangatlah banyak. Jadi aku berencana untuk membuat tugas dirumahnya Revin. Sesampainya di rumah Revin, akupun mengetuk pintu rumahnya. Yang keluar ternyata adiknya Revin yaitu Dinda. Kulihat Dinda yang sedang memakai celana pendek dan baju yang hanya se utas tali. ketika kutanya tentang Revin dan tujuanku kerumahnya, Revinnya nga ada, kebetulan sekali,pada saat itu orang tua Revin sering keluar kota untuk urusan bisnis,sedangkan Revin sedang keluar sama pacarnya. Akupun langsung menghubungi Revin. Dan ternyata Revin pulangnya sedikit kemalaman. sedangkan pada waktu itu jam masi menunjukkan pukul 15:30. Revin menyuruh adiknya untuk menemani aku sampai Revin pulang dari kencannya. Adiknya hanya setuju-setuju saja.

     

    Akupun disuruh masuk sama Dinda,karena berhubung Dinda lagi sedang menonton Film Korea. Akupun menemani Dinda menonton Film Korea. Tiba-tiba dalam film tersebut ada adegan saling berciuman. Serentak Dinda pun malu. Trus waktu aku melihat mukanya yang merah, aku pun langsung mengajak ngobrol. “Dinda pernah ciuman nga seperti di film itu….?” kulihat wajahnya tambah merah, bisa dikatakan seperti kepiting rebus. Dindapun hanya menggelengkan kepala. Akupun senang mengetahuinya. Kulihat bibirnya yang berwarna merah muda, yang keliatan sekali masih belum di sentuh oleh laki-laki. akupun coba memancing untuk mengetahui apakah Dinda mau ciuman denganku atau tidak, jika tidak aku akan pasrah dengan keaadan ini. “Dinda mau ga coba ciuman kek di film…?” Wajah Dinda memerah, dan hanya berkata “Malu kak, soalnya Dinda nga pernah Ciuman.” akupun kebingungan, aku pun mencoba mendekati Dinda perlahan-lahan. Kemudian aku membisikkan ketelinganya ” Ga usah malu kan cuman kita berdua. kakak kamu sedang pergi,sedangkan orang tua kamu sedang keluar kota.”
    Kemudian kudekapkan bibirku kebibir Dinda. kupikir Dinda bakalan menjauhin bibirnya, ternyata tidak malahan Dinda membalas ciuman saya.tak disangka bibirnya Dinda halus trus lembut juga. kami berduapun saling berciuman selama 10menit. Tiba-tiba nga di sengaja Dinda menyentuh anuku yang sedang lagi dalam keadaan tegak lurus ke atas. Sontak Dinda kaget karena menyentuh aloku. Gimana aloku ga mo tegap melihat Dinda yang begitu seksi dan bibirnya yang lembut. “maap ka Dinda nga sengaja beneran kok” akupun menjawab dengan nada yang sopan”oh nga apa-apa kok”.

     

    Akupun berpikir bagaimana caranya agar Dinda bisa menyentuh lagi dan memainkan aloku ini. Aku pun memberanikan diri ” Dinda mau coba pegang anuku ga….?” wah tidak disangka Dinda tidak menolaknya… akupun langsung membuka celanaku. kulihat Dinda sedikit malu dan kaget dengan menutup setengah wajahnya karena melihat aloku yang berukuran 20Cm dan berdiameter 5cm. Kemudian akupun mengambil tangannya dan menyentuhnya ke aloku. Wah serasa di surga. mengapa Tidak, ternyata bukan cuma bibirnya saja yang lembut dan halus, tapi tangannya juga. kulihat Dinda sedikit keasikan memainkan aloku. Kemudian sambil Dinda memainkan Aloku, aku mencium bibirnya kembali.
    Aku pun sedikit-sedikit coba menyentuh dadanya yang menonjol. Kemudian aku pun coba memasukkan tanganku kedalam bajunya dan ternyata Dinda tidak memakai Bra. Waktu kuremas buah dadanya udah mengeras yang tandanya Dinda pun menikmatinya. Tak dihitung lagi aku langsung memainkan buah dadanya yg berukuran sekitar 34 A. Dan juga tak Lupa aku memainkan putingnya yang masih mekar itu.
    “Ah… Ah… Ah.. Ah…. enak ka… Ah… Ah…” Kulihat Dinda semakin keenakan.. akupun langsung membuka bajunya. kali ini aku melihat sesuatu yang sangat di luar pikiran saya. yaitu putingnya yang masih berwarna merah muda yang pengen sekali aku melumatnya.
    Akupun tak menyianyiakan kesempatan yang begitu beruntung ini.
    “Din coba donk masukkan ke mulut Dinda “
    “ takut kha”… ” takut kenapa..?..”
    “ Nga apa-apa, dah to dicoba dulu …” pintaku
    “ Rasanya gimana kha … ?” tanyanya
    “ Dah to di coba nanti kan tahu rasanya ..”
    Lalu dengan sedikit ragu dia mengarahkan ujung aloku ke mulutnya, mula-mula bibirnya yang lembut itu menempel di ujung aloku, kemudian dia membuka sedikit bibirnya lalu kepala aloku sudah masuk ke mulutnya, lalu dilepas lagi dan berkata “ Kok asin ya kha “ tanyanya, “ Iya nga apa-apa memang rasanya begitu. Selanjutnya dimasukkannya lagi aloku ke mulutnya sedikit demi sedikit, dengan pelan-pelan aku membantu mendorong agar aloku bisa masuk semua di mulutnya. Lalu ku gerak-gerakkan sehingga aloku maju mundur di mulutnya, dan dia juga mulau mengimbangi dengan memaju mundurkan mulutnya. “ Din … enak sekali Din …” aku merasa keenakan aloku di emut Dinda … ketika ujung aloku berada di bibirnya; “ Din disedot dong alonya “ …. aku meminta dia untuk menyedot dan ternyata walaupun belum pengalaman sedotannya enak sekali …

     

    Pada saat itu akupun pengen ngerasain vaginanya.. karena aku belom pernah melihat yang real.. biasanya aku melihat yang begituan lewat internet atau nga lewat DVD or Hp teman. akupun coba memasukkan tanganku ke celana mininya. dan tak disangka ternyata waktu aku menyentuh Vaginanya telah basah. Itu pertanda Dinda menikmati nya selama ini.. Akupun langsung membuka Celananya.. setelah aku membuka celananya, terlihat jelas Cd nya yg sudah basah. Tak kusiasiakan kesempatan ini.. aku langsung membuka Cdnya.. Yang tampak disana adalah vagina yang halus dan basah. akupun coba memasukkan jari telunjukku ke vaginanya. tak disangka,ternyata Dinda masih perawan tulen, takkan kubiarkan keperawanannya di ambil orang lain. kemudian aku coba memainkan jari telunjukku ke lobang vaginannya.
    “Ah…. sakit ka.. ah.. ah… sakit.. ka..”

     

    Akupun makin bersemangat memainkan jari telunjukku. Aku hanya diam sambil mempercepat sedotan mulut dan gesekkan jari tanganku di kedua daerah sensitifnya, lalu. “Ahhh. ahhh. mmmmmhgh.” secara tiba-tiba Dinda mengejang sambil tubuhnya terangkat tinggi keatas,yang tandanya Dinda mau Orgasme. Akupun dengan cepatnya menggoyangkan tanganku… Tiba-tiba Dinda Orgasme. Itu kurasakan karena ada sesuatu cairan yang panas. “Din kamu orgasme ya…?” Dindapun menjawab dengan wajah yang malu ” ia ka aku orgasme,makasih ya ka….!!”kulihat Dinda mulai lemas. ketika aku melihat Dinda orgasme akupun ingin orgasme juga tapi aku ingin merasakan vaginanya.. “Din kamu kan udah orgasme,ka belum ni. Dinda maukan bantu kakak orgasme…? ” ia kak nanti Dinda bantu.. trus Dinda musti ngapain..?” mendengar itu akupun gembira… nafasku lebih tak beraturan… “Aku pengen rasain aloku di masukin ke vagina Dinda…!!! bisa nga…?” “takut ka sakit” “tenang aja kakak nanti akan pelan-pelan kok.”

    Akupun langsung menyuruh Dinda bergaya Dogystyle. Pelan-pelan kumasukkan.. sedikit sulit untuk memasukkannya,karena Dinda masi perawan jadi vaginanya masih tertutup lobang yang kecil.. Tapi karena vaginanya sudah basah, akupun coba-coba memasukkannya dengan perlahan-lahan sampai masuk 1/3 aloku. Pada saat aloku masuk sepenuhnya,Kumulai mengenjot-enjot vaginanya sampai vaginanya mengeluarkan darah bercampur maninya… “ah.. ah.. ah.. sakit.. ah… sakit.. kha.. “sakit… cuman kata-kata itu yang kudengar keluar dari mulutnya. Mendengar suaranya yang lembut aku lebih cepat mengenjot vaginanya… kemudian aku membaringkannya dengan kedua kakinya di dadaku.. akupun mulai mengenjotnya dengan cepat.. Tiba-tiba Dinda menyempitkan kakinya yang pertanda Dinda mau orgasme untuk yang kedua kali… “khaa,,, khaa.. Dinda mau pipisss… ahh… enak kha,,, tapi Dinda mau pipis nih…. udah ga tahan kha…” Mendengar kata itu aku semakin bergairah dan mempercepat enjotan ku.. “Sabar Din… kita keluarin sama-sama…kha juga udah mau keluar nhi.. sabar yah..” mendengar itu Dinda pun berusaha untuk menahan nya… Akupun langsung mengenjotnya dengan cepat. “Din kakak udah mau keluar ni.. Din gimana..?” “Dinda juga udah mau keluar…” “crott… crottt… crottt… crottt…” kamipun orgasme bersamaan,tapi aku menumpahkannya di atas perut Dinda..

     

    Kemudian aku memeluk Dinda sambil mencium keningnya. “Din aku sayang sama kamu” “Aku juga sayang sama kakak. sebenarnya aku sudah meyukai kakak waktu Dinda kelas 1 SMP..” kami jadian pada saat itu. Setelah itu kami membersihkan diri kami masing-masing.. Tak berapa lama kakaknya Dinda datang. Tapi kami berdua hanya diam-diam saja seperti tidak terjadi apapun. Karena berhubung orang tua Revin nga ada,Revin meminta aku untuk menemaninya tidur dengan nya malam ini..
    Tanpa banyak basa basi aku langsung menerimanya.. Kulihat wajah Dinda juga senang. Pada malam harinya waktu Revin tidur aku menggunakan kesempatan dalam kesempitan.. Kami berdua pun melakukan kejadian yang serupa waktu sore tadi.

  • CERITA DEWASA KURENGGUT KEPERAWANAN PACAR KU

    CERITA DEWASA KURENGGUT KEPERAWANAN PACAR KU


    3607 views

    Hari ini aku libur kuliah dan aku bebas sampai malam, jam 7 pagi ini aku udah mandi dan berencana untuk bermain di tempat pacarku Ayu, sekitar pukul 9 pagi aku sudah sampai di rumahnya dan kebetulan Ayu juga libur hari ini aku pencet bel rumahnya, Ayu pun membuka pintunya .

     “Lho kok sepi si say” pada kemana , tanyaku. “Mama Lagi ke pasar adikku udah berangkat ke sekolah” “Duduk dulu ya, aku mau pake baju dulu nih, soalnya habis mandi buru-buru ada bel bunyi dan aku yakin pasti kamu yang datang, jadinya cuman sempet pake handuk sama kaos aja”. “Pasti belum pake baju dalam ya ? tebakku sambil senyum.
    “Ih dasar cowok, pikirannya yang ngeres-ngeres aja, ” tapi suka kan …hi hi hi.
    Sambil berjalan ke kamarnya, aku lihat pinggul dan pantat pacarku ini benar-benar aduhai, betisnya putih apalagi pahanya pasti lebih ok dan yang paling memabukkan adalah buah dadanya yang ranum dan montok, kaos ketatnya membungkus payudara indah tanpa bh itu dengan sempurna, memperlhatkan lekukan dada wanita yang sempurna. Kebayang waktu kenalan dulu, wih tangannya putih sekali dan mulusnya ampun, banyak cowok yang suka sama dia, tapi namanya cinta nggak bisa diboongin. “Sorry ya agak lama, nih kopi kesukaanmu mas “, aku agak kaget juga.
    “Eh, makasih ya?!” kataku sambil kaget dan agak konak lihat pakaiannya, Ayu cuma make celana pendek tipis batik yogya dan kaos tipis ketat coklat muda tanpa lengan dengan belahan kaos rendah yang memperlihatkan belahan dadanya yang putih dan montok.
    “Aku minum ya, wah masih panas sekali’ kataku sambil megangin mulutku yang kepanasan, Ayu ketawa ” makanya kira-kira ya kalau mau minum tiup dulu donk, mas”. “Wah lihat nih, lidahku sampai merah gini, mesti diobatin nih kalau nggak bisa dioperasi”, kataku.
    “Aduh kacian, sini ibu guru lihat dulu” kata Ayu sambil duduk disampingku dan memegang mulutku, aku diam dan memperlihatan lidahku yang kepanasan, sementara kuhirup wangi tubuhnya yang habis mandi, hmm.
    Kudekatkan dudukku pada tubuh Ayu, sambil tangannya melihat-lihat lidahku, tanganku memeluk pinggulnya dari samping sambil kulirik belahan dadanya yang putih, montok menantang dan menggairahkan itu.

    Sambil kupeluk tubuhnya, kurasakan kehangatan tubuh dan payudaranya yang montok membuat kontolku bangkit dan mulai membesar dengan cepat, hingga menyesakkan celana yang kupakai, “idih, kok sampai merah gini” kata Ayu, tiba-tiba mulutku dilumat olehnya dan tanpa menunggu lagi sambil tetap kupeluk tubuhnya akaupun gantian memgulum, melumat dan mencium bibir seksinya dengan penuh gairah, satu hal yang kusuka dari pacarku, meskipun dia orangnya pendiam kalau urusan lumat melumat dia jadi sangat ahli sekali, dan lumatan bibir seksinya sungguh sangat menggairahkan.
    Tiba-tiba Ayu mengangkat pantatnya dan duduk diatas pangkuanku, bongkahan pantatnya terasa sangat hangat kenyal dan menekan kontolku yang sudah mengeras, “Ih adikku sudah berdiri, katanya sambil menggoyangkan pantatnya diatas kontolku”.
    Kulihat matanya sudah mulai nanar dan sedikit berair, pandangannya mulai agak sayu, kemudian aku mulai beralih menciumi leher putihnya dan sedikit jilatan dibelakang telinga,kelihatannya salah satu titik rangsangnya ini sangat menggairahkan nafsu seks-nya.
    Lebih kebawah lagi, kuraba dari luar bongkahan payudaranya sudah sangat mengeras dan lebih membesar dari biasanya, pelan kuangkat kaosnya dan sepasang penutup BH-nya, payudara yang putih dan montok itupun menyembul dari dalam BH hitam yang dipakainya, sangat kontras sekali dengan dadanya yang sangat putih dan montok itu.
    Kuciumi dengan rakus payudara montok itu dan kujilati dengan lidahku, sampai akhirnya ke titik pusat dadanya, putting susunya yang sudah tegak seperti penghapus pensil di ujung, kujilati putting susunya dan ternyata titik inipun sangat mempengaruhi gairahnya, terlihat kedua tangannya dilepas dari pelukannya dan tangannya memegang dan menarik rambut panjangnya kebelakang sambil mulutnya mendesis seperti orang kepedasan.

    Tiba-tiba tubuhnya menggelinjang kuat sekali dan memeluk tubuhku erat sekali sambil digoyang-goyangkan pantatnya diatas tegakku dan akupun terasa dikeliilingi daging nikmat, dari sepasang dadanya yang montok dan ranum serta dibawah bongkahan pantatnya yang nggak kalah montok dan padat.
    Sejenak dia terdiam sambil tetap memelukku dan dia menggelendot manja diatas pangkuanku, “Mas, kita kemarku yuk, takut di ruang tamu ada yang masuk, lagian disana kan lebih leluasa, tapi aku minta digendong ya ..? pintanya manja.
    Sambil tangannya memelukku, akupun menggendong tubuhnya yang ramping dan montok itu ke kamarnya yang lumayan jauh dari ruang tamu. Setelah menaruh Ayu diatas kasur, kuhampiri tape disamping tempat tidurnya dan kusetel lagu Forever In Love-nya Kenny G yang sampai saat ini menjadi lagu kenangan kami berdua. Dalam ketegangan kontolku dan nafsu yang sudah naik, kuhampiri Ayu, Kucium lembut bibirnya dan seluruh wajahnya mulai dari keningnya, jidat, matanya yang terpejam, hidung dan akhirnya kukecup dan akhirnya kulumat bibir seksinya.
    Tanganku tak tinggal diam mulai dari kaos dan BHnya kubuka perlahan dan celana dalam hitam kecilnya yang menutupi lembah dan jembut halusnya, sambil terpejam Tangan Ayu meraih kancing dan resluting celanaku dan didapatinya kontolku yang sudah tegak berdiri, kubantu melepas baju yang kukenakan sehingga kita berdua telanjang bulat dan hanya celana dalam Ayu yang masih dipakainya.
    Tiba-tiba tubuhku didorongnya, “berdiri dulu sayang, katanya, akupun turun dari tempat tidur dan Ayu pun duduk ditepi tempat tidur dan sambil membelai kontolku yang sudah sangat tegang.

    “Aku belum pernah lihat titit lelaki dewasa, tetapi punyamu besar sekali mas, sampai-sampai tanganku rasanya mantap sekali memegangnya, boleh aku belai sayang?”. “Tentu, belai ciumi dan manjakan rodal besar ini sayang.”, kataku.

    Kontolku sebenarnya nggak terlalu besar ya kira-kira pernah kuukur pakai penggaris panjangnya 15 cm dan bonggolnya sebesar pepsodent ukuran jumbo, yah perfectable size-lah menurut ukuran pacarku. Sejak pertama kali mengenal oral sex hingga hari ini, Ayu menunjukkan antusias yang sangat tinggi dengan kontolku, matanya sempat terbelalak saat pertama melihat dan memegang kontolku yang sudah ereksi. Apalagi saat pertama kali melakukan “karaoke”, istilahku jika ingin di-oral-sex sama pacarku, cara memperlakukan kontolku benar-benar istimewa, saat kutanya emangnya sudah pernah karaoke ya, pacarku marah besar, bagaimana mungkin jawabnya, ciuman bibir aja baru dengan kamu , dan akupun teringat first kiss buatku dan buat dia benarbenar berkesan, habis sama-sama baru sekali itu sih.
    Sambil duduk dipingggir kasur kubuka pahaku sehingga kontolku yang sudah ereksi terlihat menantang seperti tugu monas, Ayu jongkok dibawah sambil membelai perlahan kontolku, jari jemarinya menari-nari sepanjang kontolku mengikuti urat-uratnya yang menonjol sambil sesekali meremas dengan gemas, kulihat payudara Ayu sangat menantang dan sesekali kuremas juga susunya. Dari pangkal kontolku, dekat anus, tiba-tiba Ayu menjulurkan lidahnya dan menjilat-jilat bonggol kontolku, jilatan itu kemudian berpindah keatas mengikuti batang kontolku, hingga akhirnya kepala kontolku dijilat dan disedot perlahan-lahan. Kurasakan aliran darah mengalir keras disepanjang urat kontolku, dan ketegangannya mungkin sudah mencapai 100%, kepalanya membesar seperti helm tentara, warnanya kemerah-merahan dan berdenyut-denyut nikmat sekali.
    Sampai akhirnya batang kontolku mulai dilumat dan dimasukkan ke dalam mulutnya, perlahanlahan hingga kurasakan menyentuh ujung tenggorokannya, sementara masih tersisa sekitar 5 cm. “Masukkan semuanya dong, pintaku, “Gimana mau masuk lagi, kontolmu terlalu panjang buat mulutku, katanya sambil melepaskan kulumannya.
    Akhirnya keluar masuk kontolku dimulutnya, wah rasanya nikmat sekali, mungkin seperti ini rasanya bersenggama, pikirku, kami memang selama ini belum pernah melakukan persetubuhan hingga memasukkan kontolku ke dalam vaginanya, yah hanya sekedar berbugil sambil menjilat dan mengulum alat kelamin dan orgasme tanpa melakukan senggama. Suasana pagi yang sejuk, karena jendela kamar yang terbuka ditambah alunan instrumen Kenny.G membuat kami sama-sama terbuai dan lupa dengan segala sesuatunya.
    Sambil kujamah payudaranya, Ayu kutarik dan kurebahkan di atas tempat tidur, wajahnya benarbenar merangsang, matanya berbinar.
    Bibirnya memerah dan payudara sangat kencang dan memadat dengan putting susu yang mengeras. Seperti diawal aku mulai menciumi wajah dan bibirnya kemudian aku turun kebawah, kuciumi dan kujilati mulai dari jari-jemarinya yang putih mulus hingga ke betis indahnya, sambil kubelai dan kusentuh paha mulusnya, tanpa terasa aku menyentuh CD hitamnya dan perlahan kuturunkan dan kulepaskan, Ayu diam dan hanya mendesah-desah menahan kenikmatan itu. Sampai di pahanya kubelai dan kuciumi paha mulusnya seinchi demi seinchi kelihatan sekali dia begitu terangsang, sebelum sampai ke pangkal pahanya, aku naik dan mulai menjilati dadanya.

    Payudara yang putih dan mulus itu kuremas sambil mulai kujilati melingkar hingga sampai ke putingnya kujilati dan kusedot penuh nafsu, Kulihat pinggul dan pantat Ayu bergerak dan menggelinjang tak karuan menahan kenikmatan jilatan, sedotan dan remasanku. Kujilati kebawah lagi dan sampai ke perut Ayu yang sangat mulus dan akhirnya hingga ke bukit indah yang ditumbuhi rumput hitam yang halus dan sangat kontras dengan kemulusan tubuhnya. Kusibakkan bulu-bulu halus yang menutupi vagina pacarku, terlihat bibir vaginanya masih tertutup rapat, namun terlihat disitu ada cairan disekelilingnya, ternyata dia sudah mulai basah.

    Kubuka sedikit dan terlihat kelentitnya berwarna merah jambu, kecil, menonjol dan kelihatan membasah, kuraba perlahan, Ayu melenguh keras dan menggoyangkan dan mengangkat pantatnya, Kuraba perlahan dengan jari telunjukku dan akhirnya mulai kujilati dengan ujung lidahku, kembali terdengar erangan dan lenguhannya merasakan nikmat yang luar biasa. “Mas, tolong aku sayang, masukkan penis besarmu ke vaginaku, aku sudah tak tahan lagi menahan kenikmatan ini, pintanya sambil setengah menangis.
    ” jangan sayang, kita belum boleh melakukan ini, toh nanti kita juga akan menikah, kataku masih sadar, meskipun aku jiga sudah tidak kuat lagi menahan nafsuku.
    “Biarlah mas, aku rela mmberikan perawanku untukmu sayang, aku sangat mencintaimu dan aku takut kehilangan dirimu, kata Ayu, sambil mulai menarik kontolku ke arah vaginanya yang membasah. Kontolku yang sudah agak menurun, mulai bangkit lagi begitu menyentuh bibir vagina Ayu, sangat tegang dan begitu membesar.
    Dengan masih deg degan akhirnya sedikit demi sedikit kumasukkan batang kontolku ke dalam vaginanya, saat kucoba menyelipkan kepala kontolku ke mulut vaginanya rasanya peret dan sulit sekali. Kulihat Ayu sedikit meringis dan membuka mulutnya dan sedikit menjerit, “aaah” ,namun akhirnya kepala kontolku sudah mulai masuk dan mulai kurasakan kehangat vaginya, perlahan kumasukkan seinchi demi seinchi, pada centimeter ke 3 menuju ke 4, Ayu tiba-tiba berteriak dan menjerit, ” aduh mas sakit sekali, katanya, seperti ada yang menusuk dan nyerinya sampai ke perut”, katanya.

    “Aku cabut aja ya ?” ” Jangan, biarkan dulu kutahan rasa sakit ini, aku yang sudah merasa kenikmatan yang luar biasa dan sedikit demi sedikit mulai kumasukkan lagi batang kontolku.
    Kulihat Ayu meneteskan air mata, namun tiba-tiba dia menggoyangkan pantatnya dan tentunya akhirnya kontolku hampir seluruhnya masuk, kenikmatan yang belum pernah kurasakan, kontolku serasa digigit bibir yang kenyal, hangat, agak lembab dan nikmat sekali.
    Akhirnya kamipun mulai menikmati hubungan badan ini, ” mas rasa sakitnya sudah agak berkurang, sekarang keluar masukkan kontolmu mas, rasanya nikmat sekali.
    Perlahan aku mulai menggoyang batang kontolku keluar masuk ke vagina Ayu, kulihat tangannya diangkat dan memegang erat-erat kepalanya dan akhirnya menarik sprei tempat tidurnya, sementara pahanya dia kangkangin lebar-lebar dan mencari-cari pinggulku, hingga akhirnya kakinya melingkar di pantatku dan seolah meminta kontolku untuk dimasukkan dalam-dalam ke vaginanya.
    Beberapa kali ayunan, akhirnya aku agak yakin dia sudah tidak begitu merasakan sakit di vaginanya, dan kupercepat goyangan kontolku di vaginanya.
    Ayu berteriak-teriak dan tiba merapatkan jepitan kakinya di pantatku, kepala menggeleng-geleng dan tangannya menarik kuat-kuat sprei tempat tidurnya, mungkin dia mau orgasme, pikirku.
    Tiba-tiba tangannya memelukku erat-erat dan kakinya makin merapatkan jepitannya di pantatku, kurasakan payudara besarnya tergencet dadaku, rasanya hangat dan kenyal sekali, aku diam sejenak dan kubenamkan kontolku seluruhnya di dalam vaginanya.
    ”Oh, mmmas aku keluar…. Ahhhhhhhhhhhhh ….ahhhhhhhhhhhhh…. ahhhhhhhhhhh, Aku merasakan nikmat yang amat sangat, kontolku berdenyut-denyut, rasanya aliran darah mengalir kencang di kontolku, dan aku yakin kontolku sangat tegang sekali dan begitu membesar di dalam vagina Ayu, sepertimya aku juga akan mengeluarkan air kejantananku.
    Kubuka sedikit jepitan kaki Ayu dipantatku, sambil kubuka lebar-lebar paha Ayu, kulihat ada cairan kental berwarna kemerah-merahan dari vagina Ayu, kontolku rasanya licin sekali dialiri cairan itu, dan akhirnya dengan cepat aku kayuh kontolku keluar masuk dari vagina Ayu, nikmat sekali rasanya.
    Ada mungkin delapan sampai sembilan kayuhan kontolku di vagina Ayu, tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang akan meledak dari dalam kontolku dan akhirnya …. Crooot …croooot ….crooot …crooot.
    Kontolku yang sudah kucabut dari dalam vagina Ayu, kudaratkan di atas perut mulusnya dan semburan air kejantananku muncrat sampai ke rambut, pipi, sebagian mulutnya, payudara dan diatas perut Ayu, kuurut-urut batang kontolku dan tetesan air maniku berjatuhan di atas jembut halus kekasihku.
    Aku merebahkan diri disamping tubuh mulus Ayu, kupeluk dia sambil kubelai rambutnya, Ayu terpejam, diam dan tiba-tiba dari ujung kedua belah matanya yang terpejam menetes air mata.

    Kuseka air matanya dan kupeluk dia erat-erat, dan dia memelukku juga, ” Mas, hari ini aku sudah persembahkan kesucianku untukmu, sesuatu yang berharga yang kumiliki telah kuberikan padamu, aku nggak mau kehilangan dirimu dan tak akan kulupakan seumur hidupku peristiwa indah hari ini … Aku sangat mencintaimu mas”.

    Ayu bangun dari rebahannya, mengambil saputangan dan membersihkan bercak dari sela-sela vaginya yang telah bercampur dengan cairan kenikmatannya, saputangan biru itu berbercak merah, memenuhi hampir setengah lembar saputangan biru itu. “Saputangan ini akan kusimpan selamanya, sebagai tanda buat cinta kita, mas” Aku terdiam, kemudian kubelai rambut indahnya, kukecup keningnya dan kukatakan, aku telah kau berikan sesuatu yang berharga darimu, keperawananmu membuktikan cinta sucimu, aku juga sangat mencintaimu, kuambil keperawananmu dengan keperjakaanku, dan tak kan kulupakan hari ini selama hidupku”. Dalam keadaan sama-sama bugil, kupeluk tubuh Ayu, kehangatan tubuhnya mengalir ke setiap pori-pori dan diapun meraskan hal yang sama, ” tahun depan aku sudah lulus, selanjutnya aku akan melamarmu dan kita akan menikmati cinta kita selamanya, aku mencintaimu Dea”. ” Mas, aku bangga memilikimu, lelaki sepertimu yang memang aku idamkan selama ini”.
    Keringat yang mengalir di badanku diseka Ayu dengan handuk dan dia membersihkan kontolku dengan handuk basah, akupun jadi terangsang lagi, ” Ih, si Adik kok bangun lagi, kamu benar-benar perkasa mas”, aku tersenyum, sebenarnya aku masih ingin melakukan sekali lagi tapi jam sudah menunjukkan jam 11.30, aku takut kalau tibatiba mamanya pulang.

    Kugandeng tangan Ayu dan membawanya ke kamar mandi dan dibawah guyuran shower kamar mandinya kita mandi bersama, saling menyabuni dan bercanda bersama, Kontolku menjadi tegang saat mandi dan Ayu sempat memasturbasi kontolku yang sudah tegang dengan busa sabun, tangannya yang halus sangat lincah mengocok batang kontolku, sekitar lima menitan air maniku sempat keluar lagi dan muncrat sampai ke atas seperti air mancur, Ayu tertawa puas, menciumiku dan melanjutkan mandi sampai selesai.

    Selesai mengeringkan badan, rambutku dikeringkan Ayu dengan hairdryernya, kupakai bajuku dan kitapun kembali ngobrol di ruang tamunya, ngopi, ngobrol dan bercanda sambil bermesraan menikmati hari indah itu