JANDA

  • ibu haji dan nafsu sex yang tak terbendung

    ibu haji dan nafsu sex yang tak terbendung


    3526 views

    Universitas swasta yang terletak di Jalan DI Panjaitan – Jakarta Timur itu berada di antara jalan uatama, satu jalan sekunder, sebuah sungai yang kalau musim banjir pasti meluap, dan rumah2 penduduk yang padat. Dan di antara kepadatan rumah2 penduduk itu terdapat suatu kisah mesum.

    Kisah ini terjalin antara mahasiswa yang kuliah universitas swasta tersebut dan pemilik kos2an di mana sang mahasiswa tinggal ngekos.Bangunan itu terdiri atas rumah2 petak sebanyak 5 pintu yang masing2 petak terdiri atas 3 ruangan.Di samping rumah2 petak tersebut menempel rumah utama yang merupakan tempat pemilik kos2an tinggal. Nama pemilik kos2an adalah Haji Imron. Biasa dipanggil oleh tetangga dan mahasiswa dengan sebutan Pak Haji. Tempat kos2an dan rumah utama ini di kelilingi oleh pagar besi setinggi 1,5 meter di bagian depan yang memiliki dua pintu masuk dan pagar tembok di tiga sisi lainnya setinggi 3 meter. Halamannnya dihampari oleh konblok dan dihiasi oleh berbagai tanaman, sehingga terlihat sangat rapi, asri, anggun, dan sejuk. Kos2an ini hanya diperuntukkan bagi mahasiswa. Di sinilah Andri, mahasiswa di universitas swasta itu tinggal. Sudah 3 bulan ia tinggal di sini. Andri adalah mahasiswa asal Cikampek, tetapi ia bukanlah asli Cikampek.Haji Imron memiliki 3 orang anak. Satu laki2, dan dua perempuan. Dua anaknya sudah berkeluarga, sedangkan satu lagi yang laki2 masih duduk di kleas 2 SMU. Yang paling menarik hati Andri adalah Bu Haji.

    Walau usianya sudah 43 tahun penampilanya masih seperti umur 30-an. Bu Haji selalu ramah pada tetangga maupun mahasiswa2 yang ngekos di rumahnya. Bodynya bongsor, berkulit kuning langsat, dan selalu memakai kerudung. Bila ia keluar dengan mobil Innova-nya ia akan memakai kaca mata hitam sebagai hiasan. Andri sering mencuri pandang mengamati Bu Haji. Pernah Andri menggoda Bu Haji ketika Andri hendak berangkat ke kampus dengan motor Honda nya sedangkan Bu Haji hendak keluar dengan Kijang Innova-nya. “Wah, Bu Haji, gayanya seperti cewek2 di kampusku aja nih..,”goda Andri “Iya dong, Dri. Biarpun udah tua harus tetap jaga penampilan lho…harus semangat seperti anak2 muda, ”balas Bu Haji sambil melemparkan senyumnya. “Iya deh, Bu Haji. Saya setuju kok..,”ujar Bu Andri. “Saya duluan ,Bu Haji,”seru Andri sambil melajukan motornya. Setiap Andri pulang malam, Andri sering mengamati Bu Haji nongkrong sendirian di ruang tengah menonton televisi. Bahkan kadang sampai larut malam. Yang paling membuat Andri kagum sekaligus ngiler adalah ketika suatu sore ia bertamu sekaligus hendak membayar uang kontrakan bulanan. Andri diterima oleh Bu Haji di ruang tengah yang sejuk dan asri itu. Bu Haji menemuinya dengan celana pendek yang ketat dan kemeja yang longgar. Bu Haji hanya senyum2 saja melihat Andri yang kikuk dan mata Andri yang kadang2 melirik ke pahanya. Di dalam rumahnya Bu Haji memang sering memakai celana pendek dan melepaskan kerudungnya.Setelah keluar daru rumah Bu Haji dan sampai di kamarnya sendiri, Andri membayangkan semua yang baru saja dilihatnya. Paha putih yang gempal dan padat. Sangat mulus, pikir Andri. Dan Andri yakin di balik kemeja longgar yang dipakai Bu Haji terdapat kulit yang putih-mulus dan buah dada yang besar.

    Andri sering membayangkan bisa menggumuli tubuh Bu Haji yang bongsor dan putih mulus itu. Andri juga sering membayangkan memek Bu Haji, pasti tebal dan empuk gumamnya dalam hati. Tetapi Andri lalu tersenyum masem karena tubunya termasuk agak kurus walaupun ia memiliki tinggi 173 cm. Kalau sudah begitu Andri akan mengusap-usap kontolnya lalu melepaskan pusingnya di kamar mandi.Pak Haji Imron termasuk tuan tanah.

    Ia memiliki beberapa kos2an dan sejumlah rumah yang dikontrakkan. Semua tersebar di wilayah Jabodetabek. Ia paling sering ke wilayah Depok. Selain mengunjungi anaknya dan rumah kos2an yang pengelolaannya diserahkan pada anaknya juga karena di sebelah kos2an itu terdapat kolam pancing yang yang cukup ramai dikunjungi. Kolam pancing itu juga dikelola oleh anaknya dan menantunya di samping beberapa pembantu. Hampir setiap hari Pak Haji Imron pergi ke Depok. Kalau sudah asyik memancing Pak Haji Imron bisa menginap sampai 3-4 hari.Suatu sore Andri berjalan ke samping rumah utama yang ditanami beberapa batang pohon jambu Taiwan. Ia bermaksud mengambil beberapa buah jambu Taiwan. Pak Haji dan Bu Haji memang tidak melarang anak2 kosnya mengambil hasil tanaman yang ada di sekitar rumah itu. Karena kadang2 anak2 kos juga ikut membantu mengurusi tanaman2 tersebut. Saat itu beberapa pohon jambu sedang berbuah. Buahnya besar2 dan siap dipanen.Pohon2 itu terletak di antara tembok pagar dan tembok dinding rumah utama. Ketika ia hendak melangkah ke rimbunan pohon jambu, ia melihat daun jendela yang menghadap ke pohon2 jambu itu terbuka. Itu merupakan kamar tidur Pak Haji dan Bu Haji. Ia seketika ragu. Tetapi di benaknya adalah bahwa tadi pagi ia melihat Pak Haji dan Bu Haji keluar rumah memakai Suzuki Escudo. Dan ketika ia terbangun sore ini Suzuki Escudo belum ada di halaman. Ia hendak membatalkan niatnya karena takut jangan2 ketika ia tertidur tadi Pak Haji dan Bu Haji pulang dan Suzuki Escudo mungkin dipinjam seseorang atau salah satu anaknya. Setelah beberpa detik, Andri memutuskan memeriksa perlahan. Ia berjalan di atas teras keramik samping yang sempit. Dengan ujung matanya ia mencoba meneliti kamar itu. Untunglah…,pikirnya. Kamar itu kosong.Lalu Andri pun melanjutkan niatnya. Ia mengambil beberapa buah jambu. Ketika ia hendak berbalik, Andri sangat kaget dan pucat. Karena pada saat yang sama ia melihat Bu Haji masuk ke dalam kamar. Bu Haji hanya memakai celana pendek yang sangat ketat. Dan di atasnya, seluruh kancing kemeja Bu Haji belum terpasang sehingga memperlihatkan perut dan pusarnya yang mulus dan putih dan juga BH nya yang membungkus dadanya yang besar.

    Bu Haji juga kaget dan hampir berteriak. Tetapi ketika menyadari bahwa orang yang ada di samping rumah adalah Andri ia hanya kaget sebentar saja. Tangannya bergerak mengatupkan kemejanya tanpa memasang kancingnya.“Ah…kirain tadi siapa…Ibu kaget setengah mati,”seru Bu Haji dari dalam kamar. Ia melipat kedua tangan diperutnya sehingga kemejanya tidak terbuka.“Maaf Bu Haji…maaf…Maaf Bu Haji…tadi saya kira Bu Haji pergi dengan Pak Haji…jadi saya berani ke sini,”Andri berusaha menjelaskan. Ia terlihat kikuk dan agak malu2.“Iya sudah…kirain siapa..,”kata Bu Haji. Ia tersenyum pada Andri.“Maaf Bu Haji…,”kata Andri berjalan menunduk. “Permisi Bu Haji…,” kata Andri permisi dan melihat ke Bu Haji sebentar. Bu Haji mengangguk tersenyum. Ketika Andri melihat Bu Haji sebentar, ia sempat melirik ke dada Bu Haji yang tidak begitu serius menutupi bagian dadanya.Sesampai di kamarnya, Andri malah tidak memperdulikan jambu yang baru saja diambilnya. Yang ada dalam pikirannya adalah pusar, perut, dan BH Bu Haji. Ia terduduk dalam kasurnya. Memandang langit2 kamarnya. Bayangan Bu Haji yang super seksi tadi memenuhi angannya. Ia menggerakkan tangannya mengusap-usap kontolnya yang seketika menegang keras. Andri menghempaskan punggunya ke kasur. Menarik tangannya dari selangkangannnya. Ia merenung, jika tadi di belakang Bu Haji muncul Pak Haji, maka ia akan kena tegur.Ketika Andri masih berusa menenangkan pikirannya tiba2 handphone-nya berbunyi. Andri mengambil handphone-nya.

    “Hallo..”jawabnya. Tapi diseberang tidak ada jawaban. Panggilan itu terputus. Andri mengamati nomor “Received Calls” pada handphonenya. Nomor yang tidak dikenalnya. Ia meletakkan handphone itu. Tetapi ketika teringat dengan seorang cewek yang baru dikenalnya kemarin ia meraih lagi handphone tersebut. Siapa tahu cewek itu, pikir Andri. Andri memanggil nomor itu. “Hallo…,”panggilnya.“Hallo…emang kamu gak kuliah..?” seketika Andri heran. Ada riak senang dalam hatinya. Suara itu adalah suara Bu Haji.“Eh, Bu Haji…eh..nggak Bu Haji…hari ini saya emang ga ada jadwal kuliah…,”ujar Andri dengan suara yang dibuatnya sedemikian rupa. “Hhhmm, gimana jambunya? Enak ga?”tanya Bu Haji di seberang. Suaranya terdengar akrab dan manis di telinga Andri“Ah, belum sempat Bu Haji…baru juga mau makan…dari bentuk dan warnanya kayaknya enak sih..,”kata Andri mencoba berakrab-akrab ria.“Ntar kalau udah makan bilang ibu iya. Kalau enak Ibu juga mau ambil,”“Iya Bu Haji…,”jawab Andri. Ketika ia merasa Bu Haji hendak menutup pembicaraan, Andri buru-buru bertanya. ”Ehh, hhmmm…maaf Bu, Pak Haji kemana? Tadi sepertinya saya lihat bareng Bu Haji keluar,” “Tadi pagi emang keluar bareng Ibu tapi sebentar aja ke salon. Trus pulang. Sekarang bapak ke Depok….,” kata Bu Haji menjelaskan. “Ohh..iya udah deh bu…maaf tadi ya Bu Haji…saya tidak tahu..,”ujar Andri. “Hmmm-hhmm..,”Bu Haji tertawa kecil di seberang.”Nanti kalau udah dimakan jambunya jangan lupa sms bilang ibu ya. SMS aja enak apa nggak..!” “Iya bu..”ujar Andri. Dan pembicaraan pun selesai.Malamnya jam tujuh setelah makan, Andri mengambil HP-nya. Ia belum memakan jambunya, tetapi dalam hatinya ia akan mengatakan saja bahwa jambu itu enak. “Malam Bu Haji…jambunya enak,”begitu is isms Andri. “Bener enak?”balas sms Bu Haji. “Iya Bu. Bener enak”. “Kamu lagi ngapain?”sms Bu Haji. “Gak lagi ngapain Bu. Tiduran aja,”balas Andri sambil heran dgn isi sms Bu Haji. “Emang ga keluar? Mahasiswa kan ngapelnya ga cuma malam minggu”balas Bu Haji lagi. “Nggak Bu. Lagi pengen di rumah aja. Maaf, kalau Bu Haji sedang apa?”sms Andri. “Lagi sms an ama kamu..hehe..!”jawab sms Bu Haji.

    Isi sms ini membuat Andri senang setengah mati. Ia tersenyun-senyum dalam hati. Andri agak bingung untum membalas. Ia tidak tahu hendak mengetik apa. Tiba2 sms Bu Haji masuk lagi. “Tadi kamu lihat ibu ya..?”Andri hampir berteriak senang setengah mati membaca sms ini. Ia membaca sms itu berulang-ulang. Ia berpikir sejenak untuk membalas apa. “Hhmm, iya bu. Maaf…saya tadi tidak sengaja..,”akhirnya hanya itu yang ditulisnya. “Gak sengaja tapi dah lihat ya…?”sms Bu Haji. Andri jadi makin semangat. “Iya bu. Maaf…saya ga ingat lagi kok Bu…tapi…,”balas Andri. Ia sengaja menggantung sms nya untuk membuat Bu Haji yang sering diidam-idamkanya jadi penasaran. Tetapi setelah Andri menunggu 5 menit Bu Haji tidak lagi membalas. Ia pun ragu untuk mengirim sms lagi.Ketika ia hendak meletakkan HPnya, Bu Haji menelepon. Andri bersorak dalam hati. “Hallo…,”sahut Andri dengan suara dibuat merdu. “Tapi apa, Dri?”tanya Bu Haji pelan. Suaranya agak sengau. “Nnnggg…apa ya…? Andri menyahut dengan canda. “Apa..ayo apa..?”desak Bu Haji dengan nada seperti tertawa. “Hhmm…tapi aku senang aja melihatnya…,”akhirnya Andri memberanikan diri. “Hhhmmm…kamu ini…kirain apa tadi…emang kamu lihat apa coba..?”tanya Bu Haji. “Lihat sesuatu…nnggg…yang pengennya ga cuma dilihat…,”Andri makin berani menggoda. “Emang pengennya diapain..?” “Susah dibilangin dengan kata-kata Bu…hehe…,”Andri tertawa renyah.”Susah bilanginnya…tapi kalau tiba2 ada di sini…ah..gau taulah…,”Andri dengan berani menggoda lebih jauh. “Heheh….kamu…,”hanya itu ucapan Bu Haji. “Ibu lagi di mana?” Tanya Andri. “Lagi di kamar, kenapa?”Tanya Bu Haji. “Ga…nanya aja kok Bu..!”ujar Andri. “Hhhmm..iya udah iya, Dri,”kata Bu Haji menutup pembicaraan. “Iya Bu. Met malam..,”sahut Andri “Iya..,”balas Bu Haji sambil menutup pembicaraan.Dalam kamarnya Andri tersenyum-senyum senang. Entah kenapa nafsu birahinya timbul. Ia tidur2an di kasurnya sambil senyum-senyum mengingat semua pembicaraan dengan Bu Haji. Lalu dua jam kemudian sms Bu Haji masuk lagi. “Nonton MetroTV deh…acaranya bagus…,”demikian is isms Bu Haji.Andri yang memang sedang nonton MetroTV di kamarnya lagsung membalas dengan semangat. “Iya. Ini juga lagi nonton MetroTV kok Bu. Bu Haji belum bobo..?”tanya Andri dalam sms nya. Sengaja ia memilih kata “bobo” untuk membuat suasana jadi nyaman. “Belum..kan masih jam 10…,”balas sms Bu Haji. “Masih di kamar?” Andri sengaja menanyakan ini. “Iya…,”jawab Bu Haji “Di tempat tidur..?” tanya Rizl “Iya…,”jawab Bu Haji “Hehe..sama dong…,”balas Andri genit. Tetapi Bu Haji tidak lagi membalas.Sekitar jam 12 malam ketika Andri dilanda kantuk. Bunyi sms masuk ke HP nya. “Udah bobo..?” itu isi sms Bu Haji “Belum…Bu Haji belum bobo..?”Andri membalas “Belum juga…masih nonton..,” “Sama dong…”isi sms Andri. Kembai lagi Bu Haji tidak membalas. Tetapi entah kenapa Andri mengurungkan niatnya tidur.

    Entah kenapa ia yakin Bu Haji akan sms lagi. Tetapi kali ini tidak lagi.Sekitar jam setengah satu malam yang ada adalah “missed call” dari Bu Haji. Andri menelepon balik. Tapi tidak telepon tidak diangkat. “Belum tidur..?”Andri coba kirim sms. Tetapi setelah menunggu sepuluh menit tidak ada jawaban, Andri akhirnya meletakkan HPnya. Dan menghempaskan badannya ke kasur. Sekitar jam 02.10 HP nya berbunyi. Di seberang terdengar suara Bu Haji yang agak sengau dan manja. “Lagi ngapain, Dri..?”tanya Bu Haji.Andri menjawab dengan segenap keyakinan dan keberanian. “Belum bisa tidur Bu. Gara-gara pemandangan tadi siang di kamar Bu Haji,”Andri menahan nafasnya ketika berbicara. Ia pun membuat suaranya agak sengau dan lirih. “Hhhmm…terus..?”sahut Bu Haji “Iya jadi susah tidurnya nih…,”Andri merengek. Lalu Andri menyambung lagi.”Bu…!” “Apa..?jawab Bu Haji “Tapi jangan marah ya Bu…,”ujar Andri “Gak kok..apa..?”tanya Bu Haji. “Hhhhmm..boleh ga saya kesitu sekarang…?”tanya Andri dengan suara dibuat merdu. Dadanya berdegup ketika mengucapkan kata-kata itu. “Hhhmm kamu…,”hanya itu ucapan Bu Haji.”Udah iya..,”ucap Bu Haji.Pembicaraan seketika terputus. Andri terdiam. Tetapi hanya berselang dua menit bunyi sms masuk ke HPnya. “Pintu samping terbuka…kutunggu..,”demikian isi sms Bu Haji.Andri langsung gembira. Badanya dipenuhi nafsu sex. Ia merasakan kontolnya semakin menegang saja. Dengan perlahan ia keluar kamar dan melintasi halaman menuju pinti samping. Ketika sampai di pintu samping dengan yakin ia mendorongnya. Pintu itu terbuka. Di dalam cahaya yang remang ia melihat bayangan Bu Haji dengan celana pendek dan baju tidur yang ketat. Bu Haji menarik tangannya dan menutup pintu.Ketika Bu Haji membelakanginya sambil mengunci pintu, Andri langsung memeluk Bu Haji dari belakang. Ia menekan pantat Bu Haji dengan bagian kontolnya yang tegang. Kedua tangannya melingkari pinggang Bu Haji. Andri dengan liar mendaratkan ciuman2 di trengkuk Bu Haji. Bu Haji langsung berbalik. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Andri dan dengan agresif menarik tubuh Andri ke tembok. Dalam hitungan detik bibir Andri sudah dilumat oleh Bu Haji. Andri membalas dengan memutar dan memilin lidahnya. Andri menarik lidah Bu Haji dengan lidahnya. Bu Haji membalasnya dengan pagutan dan lumatan yang bergelora. Andri menarik tubuh Bu Haji sehingga kini Andri yang bersandar di tembok ruangan belakang itu.

    Mereka saling menciumi dan menjilati dengan liar. Mulut Bu Haji tak henti-henti mengeluartkan bunyi kecipak ketika mulut Andri menyedoti lidah dan bibir Bu Haji. Bu Haji makin dipenuhi nafsu birahi. Ia makin merapatkan tubuh ke dalam pelukan Andri. Andri menariknya penuh nafsu dan meremasi pantat dan pinggul Bu Haji. Bu Haji melingkarkan satu tangnnya di leher Andri dan satunya lagi merababi leher Andri. Mulutnya tidak berhenti melumat lidah dan mulut Andri. Bu Haji menggeserkan badannya agak ke bawah. Ketika Bu Haji merasakan Andri yang tegang telah berada di daerah selangkangannya, ia membuka paha sedikit lalu merapatkannya. Andri membalas dengan menekan kontolnya ke arah Bu Haji. Lalu Bu Haji menggesek-gesek MR.P Andri dengan memeknya yang masih tertutup celana pendek. Andri membalas dengan sodokan ke depan sambil meremasi pantat Bu Haji. Ciuman dan jilatan mereka makin penuh nafsu dan semakin liar. Andri mengulum bibir Bu Haji. Lalu menarik bibir Bu Haji dengan sedotan mulutnya. Ketika bibir Bu Haji terlepas, Andri merangsek ke leher Bu Haji. Bu Haji menengadah sambil bagian selangkangannya tetap digesek-gesekkan ke selangkangan Andri. Andri makin nafsu. Ia menciumi bagian atas dada Bu Haji. Bu Haji makin menengadah…badannya dilengkungkan.

    “Hhhmmmhhaahh…jangan bikin merah di situ yah..,”desah Bu Haji “Mmmhhaahh…,”Andri hanya mendesah penuh nafsu. Ia membuka kancing depan baju tidur Bu Haji. Lalu membenamkan wajahnya di dada Bu Haji yang besar. Andri menggeser BH Bu Haji ke atas. Lalu tangannya meraih buah dada yang besar itu. Ia lalu menciumi dan menjilatinya. “Mmmhhoohhh…,”desah Bu Haji. Andri makin bernafsu mendengar desah penuh nafsu Bu Haji. Ia menjilati puting susu Bu Haji lalu menyedotinya. “Mmmhhhoohhh…hhhoohh…ooohhh…hhhooohhhh…,”begit u desahan penuh nafsu Bu Haji setiap kali Andri menyedot puting susu Bu Haji dengan keras. Tubuh Bu Haji makin melengkung. Ia membusungkan dadanya, menekankan buah dadanya ke mulut Andri. Bu Haji melihati mulut Andri menjilati,menciumi, dan mengisap-isap buah dadanya. Bu Haji makin keras menggesekkan selangkangannya ke bagian MR.P Andri. Tangan kirinya mendekap kepala Andri untuk terus menciumi buah dadanya sementara tangan kanannya merabai dada Andri dan memijat-mijat puting susu Andri yang kecil.

    Mulut Andri mengecupi puting susu Bu Haji, menyedotinya, lalu menarik-nariknya dengan mulutnya. “Hhhmmhhoohh…hhoohhh…hhaaahhh…nngggoohh…,”hany a desah penuh nafsu itu yang keluar dari mulut Bu Haji. “Mmhhhhh…Dri..Dri…,”bisk Bu Haji di telinga Andri. Andri terus saja menyedot-nyedot susu Bu Haji. Pikiran Andri sudah dipenuhi nafsu sex. “Dri…hhhmm…Dri…ke kamar aja…,”bisik Bu Haji.Andri mengendorkan pelukannya. Bu Haji menarik tubuhnya dari pelukan ketat Andri. Ia bergerak ke saklar. Klik!!Lalu seluruh ruangan tengah yang menuju kamar Bu Haji yang terlihat dari luar kalau lampu menyala langsung gelap. Andri kembali merangkuli tubuh Bu Haji dan menciumi bibirnya. Bu Haji membalas dengan tak kalah agresif. Bu Haji meciumi Andri, memeluknya, dan menariknya. Andri mengikuti gerakan Bu Haji. Bu Haji dan Andri tetap berpelukan dan berciuman ketika meraka melangkah ke kamar. Ketika akhirnya sampai di kamar, Bu Haji menarik tubuh Andri ke kasur. Andri tertarik menindih tubuh Bu Haji. Kaki Bu Haji terbuka menjuntai di lantai sementara tubuhnya rebah di kasur. Andri menunduk menggumulinya. Ia menempatkan bagian kontolnya di selangkangan Bu Haji yang terbuka. Andri bisa merasakan empuknya memek Bu Haji yang masih terbungkus celana pendek ketat. Mulutnya menciumi pusar Bu Haji sambil kedua tangannya menelanjangi tubuh bagian atas Bu Haji. Bu Haji tak kalah agresif membuka baju Andri. Ciuman Andri makin liar. Mulutnya bergerak ke pinggul Bu Haji. Kedua tangannya membuka celana ketat pendek Bu Haji. Ia membukanya perlahan-lahan. Bibirnya merangsek menciumi bagian celana dalam Bu Haji yang terlihat. Bu Haji hanya melihati Andri. Ketika akhirnya celana pendek itu lepas, terlihatlah gundukan memek Bu Haji yang tebal terbungkus celana dalam putih. “Mmhhhoooh..,”desah Andri sambil mengecup permukaan celana dalam itu pelan. Lalu ia berdiri membuka celananya. Ia berdiri telanjang bulat dengan MR.P yang mengacung tegang. Bu Haji memandangi MR.P Andri.

    Andri berdiri mengocok kontolnya sebentar lalu membungkuk membuka celana dalam Bu Haji. Kini tubuh bugil Bu Haji terpampang di depanya.Andri mendekatkan mulutnya ke memek Bu Haji yang dipenuhi jembut lebat. “Nnnggghhooohh…, “Andri mendesah ketika mengecup permukaan memek Bu Haji.Bu Haji mengangkangkan pahanya lebar-lebar dan mengangkat pantatnya ketika mulut Andri menyentuh permukaan memeknya. Andri lalu mendorong tubuh Bu Haji perlahan ke tengah tempat tidur. Di tengah2 tempat tidur itu Bu Haji telentang pasrah dengan paha terbuka. Ia melihat Andri mendatangi ke tengah tempat tidur dengan kontol yang teracung tegang. Ketika Andri telah memasuki pahanya yang terbuka lebar,Bu Haji melihat Andri mengocok-ngocok kontolnya. Lalu ketika Andri mulai bergerak menindihnya, Bu Haji merasa darahnya mendesir. Ia makin melebarkan pahanya. Ia merangkul leher Andri. Andri menindih tubuh Bu Haji dan mencium mulutnya. Bu Haji membalasnya dengan mengulum bibr Andri. Andri mengerakkan pantatnya, dengan kontolnya yang tegang ia mencari memek Bu Haji. Akhirnya ujung MR.P Andri merasakan permukaan memek Bu Haji yang basah. Ia menekan-nekannya perlahan. Bu Haji membantunya dengan menggerakkan pinggulnya. Andri merasakn ujung kontolnya masuk sedikit di celah memek Bu Haji. Bu Haji merapatkan selangkangannya. Lalu Andri menusukkan kontolnya. “Hhhooohh Bu Haji..,’desahnya seraya menusukkan kontolnya. “Nnngghhhoohhh sayang…,”desah Bu Haji. Bu Haji merasakan MR.P Andri melesak memasuki memeknya yang basah. Bu Haji menggerakkan pinggulnya menyambut Andri yang menusuk lobang memeknya. Lalu seketika melingkarkan pahanya di pinggul Andri. “Hhhooohhh sayang….besar sekali kontolmu…,”desah Bu Haji di telinga Andri. Desahan ini membuat Andri berkobar. Ia menarik kontolnya dan menusukkannya dengan cepat ke dalam lobang memek Bu Haji. “Hhhhhooohhh Bu Haji…hhoohhh…”Andri mengerang penuh nafsu. “Hhhoohh sayang..kocok terus…hhoohh..enak sekali sayang..hhoohh..,”Bu Ijah mendesah lirih sendu di telunga Andri. “HHoohh…hhoohh….hhoo enak sekali..hhohh..hhoohh…Bu Haji sayang…hhoohhh…hhhoohhh…,”Andri mengerang penuh nafsu. Andri menggerakkan pantatnya naik-turun. Ia menggenjoti tubuh Bu Haji dengan cepat. Kontolnya keluar masuk dengan cepat dan kuat dalam lobang memek Bu Haji. Bu Haji makin mengetatkan selangkangannya di pinggul Andri. “Oooohhh sayang…genjot sayang…hhhoohh … entoti terus sayang…hhhooohhh…hhhoohhh..enak sekali tusukan kontolmu sayang…hhoohh…entotin yang lama say…ooohhh…sayang…oohhh…,”Bu Haji mendesah penuh nafsu. Andri merasakan tubuhnya dan tubuh Bu Haji hangat. Ia melihat wajah Bu Haji yang redup penuh nafsu. Ia melihat wajah Bu Haji bergerak-gerak mengikuti setiap tusukan kontolnya.

    Ia merasakan nikmat yang luar biasa di ujung kontolnya ketika menusuki bagian dalam lobang memek Bu Haji. Bu Haji merasakan tusukan-tuskan dalam lobang memeknya begitu cepat. Ia melebarkan pahanya dan betisnya merangkul pinggul Andri.Dengan matanya yang sayu Bu Haji melihat pantat Andri naik-turun memompa dan menggenjotinya. Seiring itu lobang memeknya merasakan nikmat yang penuh sensasi ditusuki *MR.P Andri. Ia menggerakkan tanggannya merangkul pinggang Andri. Berusaha menguasai dan memiliki tubuh yang sedang menggumuli dan menggagahinya. “Hhhhoohhh sayang… entotin memekku say…ooohhh…terus say..hhhoohh..enak sekali sayang…oooohhh….,”Bu Haji makin gelap mata menahan nikmatnya senggama itu. “Iya say…hhoohh..iya sayang…,”bisik Andri penuh birahi di telinga Bu Haji. Ia makin merapatkan tubuhnya yang penuh keringat ke tubuh Bu Haji.”Iya say..hhhoohh..iya say…enak sekali mengentotimu say…hhhoohh..,”erang Andri lirih. Bu Haji makin dipenuhi birahi nafsu. Dengan kedua tangan mencengkeram erat pinggang Andri ia menggerakkan pinggulnya makin liar menerima tusukan-tusukan MR.P Andri dalam lobang memeknya. “Hhhhggggg….nnggghhooohhh…nnnggghhhhoohhh…,” Bu Haji makin ketat menempelkan memenya ke pangakal MR.P Andri.. Andri merasakan tubuh Bu Haji makin hangat, dan mulai bergoyang liar tidak teratur.

    Andri tahu Bu Haji sesaat lagi akan mengalami orgasme. Andri memacu tusukan kontolnya makin cepat. Ia terus memompa dan menggenjot. Lalu ia merasakan pangkal paha Bu Haji makin melebar dan mendesak ke tubuhnya. Tangan Bu Haji mencengkeram kuat pinngangnya…. “Hhhhggggghhh…nnggghhhhooohh..Dri…nnggghhhoohh h…oo oohhh…hhhggg..,” desahan sengau penuh nafsu Bu Haji tiba2 tertahan dan seketika Andri merasakan lobang memek Bu Haji berdenyut-denyut cepat, dan seiring itu kontolnya merasakan siraman mani yang hangat dalam lobang memek Bu Haji.  “Hhhngghhoohhh..hhhoohhh…ooohh..nnggghhhooohhh …,”B u Haji tak henti2 menjerit keenakan merasakan orgasmenya. Andri memacu makin kuat dan. “Hhhhnggghhhoohhh…hohohh..ohhhh..,” tak lama berselang Andripun menghujamkan kotolnya dalam2 dan kuat dalam memek Bu Haji. “Hhhaahh..hhhaaahhh…,”desah Andri memuncratkan maninya dalam memek Bu Haji. Kontolnya menyemprotkan mani berkali kali. Kontolnya mengangguk-angguk dalam memek Bu Haji. Bu Haji merasakan lobang memeknya dipenuhi mani yang hangat. Ia merem-melek menikmati *MR.P Andri yang berdenyut-denyut dalam lobang memeknya. Bu Haji terus merasakan gerakan pinggulnya yang belum berhenti bergerak otomatis karena orgsmenya. Ia meraih mulut Andri dan seperti kehausan langsung menciumin dan mengulumnya liar.Andri membalas lumatan mulut Bu Haji. Matanya merem-melek menahan nikmatnya orgasmenya sambil tak berhenti mengulumi bibr Bu Haji.Lalu akhirnya ciuman2 mereka mulai longgar seiring makain lemahnya denyutan2 yang mereka rasakan dalam alat senggama mereka berdua. Dan akhirnya gerakan2 itu berhenti. Bu Haji mendenguskan nafas sambil merentangkan kedua tangannya lebar2 ke kiri-kanan.

    Ia memalingkan wajah ke samping. Andri melemaskan tubuhnya di atas tubuh Bu Haji. Wajahnya menelungkup di sisi leher Bu Haji. Ia mendesahkan nafas satu-satu.Kurang lebih lima menit mereka diam membisu. Mereka masih merasakan suhu tubuh yang hangat. “Dri…,”Bu Haji menggerakkan tangannya ke punggung Andri. Dan merabanya. “Nggghhahh…,”Andri menyahut lemah. Ia bergulir turun dari atas tubuh Bu Haji. Bu Haji mengejarnya dan memeluknya. Mulutnya mengulum lembut bibir Andri. “Dri, kamu memang sering memimpikan hal ini kan..,”bisik Bu Haji. “Iya…sangat sering…,”jawab Andri pelan sambil memadangi mata Bu Haji.Aku tahu…,”kata Bu Haji. “Dari caramu memandangi aku, aku tahu kamu sering menginginkan ini. Aku juga Dri..,”bisik Bu Haji lagi. Tangannya membelai-belai puting Andri yang mungil. “Kok bisa..? Ibu cantik. Putih. Tubuh ibu juga bongsor dan seksi sekali. Sedangkan aku bisa dibilang agak kurus…,”kata Andri. “Nnngghhhmmmmaahh…,”desah Bu Haji sambil mengulum lagi bibir Andri. Andri membalasnya. “Justru karena badanmu ini yang bikin ibu penasaran. Karena orang yang punya badan kurusnya seperti kamu ini pasti memiliki nafsu yang besar. Dan ibu sering membayangkan nafsumu seperti apa. Apalagi kamu sering memandangi ibu. Dan tadi nafsumu udah bikin ibu gelap mata..,” jelas Bu Haji. Andri lalu mendesakkan badannya ke tubuh bugil Bu Haji. Memeluknya erat. Menciumi lehernya. Andri berbisik di telinga Bu Haji…,”Bu, aku tidur di sini yah…?” “Iya sayang…,”jawab Bu Haji membalas merengkuh tubuh Andri.Malam itu Andri tidur di ranjang yang biasa jadi tempat tidur Bu Haji dan Pak Haji. Menjelang subuh mereka kembali menuntaskan nafsu syahwat mereka. Yang berlanjut hingga esok siangnya.Sejak itu Bu Haji makin jarang mengikuti Pak Haji mengawasi rumah2 mereka. Ia lebih senang tinggal di rumah dan mengikuti dorongan nafsu seksnya. Andri berkali-kali menggumuli tubuh Bu Haji mulai dari kamar mandi, ruang tengah, dapur, sampai kamar tidur. Ia memperlakukan Bu Haji seperti pacarnya.

  • BERCINTA DENGAN PERAWAN

    BERCINTA DENGAN PERAWAN


    2009 views

    PERAWAN MEMANG MENGGODA

    Shanti baru saja selesai menyapu lantai. Dan sekarang ia berniat mencuci piring kotor. Iaberjalan masuk kedalam dapur dan mendapati Mbak Tuti sedang membenahi peralatandapur. Pada jam seperti ini restoran tempat mereka bekerja sudah sepi. Hari ini giliranShanti yang harus pulang lambat karena ia harus merapikan restoran untuk buka nantimalam. Begitulah keadaan restoran dikota kecil, pagi buka sampai jam 3 sore lalu tutupdan buka kembali jam 7 malam. Shanti tahu ia tak akan sempat pulang karena ia harusbekerja merapihkan tempat itu bersama Tuti. Shanti adalah seorang gadis yang cantik dan ramah. Usianya sudah 17 tahun dan ia takdapat lagi meneruskan sekolahnya karena orang tuanya tidak mampu. Wajahnya oval dansangat bersih, kulit gadis itu kuning langsat.

    Mata Shanti bersinar lembut, bibirnyakemerahan tanpa lipstik. Shanti mempunyai rambut yang panjang sampai dadanya, berwarna hitam, tubuhnya seperti layaknya gadis kampung seusianya. Buah dada Shantimembusung walaupun tidak dapat dikatakan besar namun Shanti memiliki pantat yangindah dan serasi dengan bentuk tubuhnya. Pendek kata Shanti seorang gadis yang sedangtumbuh mekar dan selalu dikagumi setiap pemuda dikampungnya. Tuti seorang wanita yang sudah berusia 32 tahun. Ia seorang janda ditinggal ceraisuaminya. Sudah 3 tahun Tuti bercerai dengan suaminya karena laki-laki itu main giladengan seorang pelacur dari Jawa Tengah. Tuti bertubuh montok dan bahenol. Semuanyaserba bulat dan kencang, wajahnya cukup manis dengan rambut sebahu dan ikal. BibirTuti sangat menggoda setiap laki-laki, walaupun hidungnya agak pesek. Kulit Tutiberwarna coklat tua karena ia sering ke pasar dan ke sawah sebagai buruh tani kalausedang musim tanam atau panen. Tuti dulunya adalah seorang pelacur daerah Tretes, Jawa Timur.

    Dulu uang begitu gampang diperoleh dan laki-laki begitu gampang dipeluknya, sampaiakhirnya hukum karma membuat ia menjanda karena sesama teman seprofesinya juga. Banyak orang dikampung yang diam-diam mengetahui sejarah kelam Tuti dan banyakjuga yang mencoba hendak memanfaatkan dia. Tapi selama ini Tuti terlihat sangat cuekdan sinis terhadap orang-orang yang menggodanya. Buah dada Tuti besarnya bukanmain, sering ia merasa risih dengan miliknya sendiri. Tapi ia tahu buah dadanya menjadibuah-bibir baginya. Dan sedikit banyak ia juga bangga dengan buah dadanya yang besardan kenyal itu. Tuti juga memiliki pantat yang besar dan indah, nungging sepertimeminta.. Tubuh Tuti sering menjadi mimpi basah para pemuda dikampungnya. ìShan, kamu sudah punya pacar belum?î Tiba Tuti berjongkok didepan Shanti dan mulaimembantu gadis itu mencuci piriong-piring kotor. Shanti terkikik dan menggeleng. ìBelum tuhîìLho? Gadis secantik kamu pasti banyak yang naksirî kata Tuti sambil memandangShanti. Shanti tertawa lagi. ìPayah.?? semuanya mikir kesitu meluluî Jawab Shanti.ìMemang.?? laki-laki itu kalau melihat perempuan pikirannya langsung ingin ngeweî kata Tuti tanpa merasa risih berkata kasar. ìAh Mbak, jangan suka ngomong gitu ahî timpal Shanti. ìKan nggak ada yang dengar iniî Jawab Tuti.

    Mereka terdiam lama. ìMbak.. î suara Shanti menggantung. Tuti terus mencuci. ìMmm?î Jawab wanita itu. ìNgg..îì Ngomong aja susah banget sihî Tuti mulai hilang sabar. Shanti menunduk. ìNgg.. Anu.. Ngewe itu enak nggak sih?î Akhirnya keluar juga. Tuti memandang gadisitu. ìYaa.. Enaak banget Shan, apalagi kalo yang ngewein kita pinterî jawab Tuti seenaknya. ìMaksud Mbak?î Shanti penasaran. ìIya pinter.. Bisa macam-macam dan punya kontol yang keras!î kata Tuti sambilterkikik. Shanti merah padam mendengarnya. Tapi gadis itu makin penasaran. ìBisa macam-macam apa sih, Mbak?î tanya Shanti. Tuti memandangnya sambil menimbang. Ah.. Toh nanti gadis kecil ini harus tahu juga. Dan Shanti sungguh cantik sekali, sekilas mata Tuti tertumbuk pada posisi Shanti yangsedang berjongkok. Tuti melihat gadis itu mengangkang dan terlihat celana dalam gadisitu berwarna coklat muda. ìMacam-macam seperti tempik kita diciumin, dijilat bahkan ada yang sampai maungemut tempik kita lohh..î jawab Tuti. Entah kenapa Tuti merasa sangat terangsang dengan jawabannya dan darahnya mendidihmelihat selangkangan Shanti yang bersih serta mulus. ìIdiih.. Jorok ihh.. Kok ada yang mau sih?î Shanti sekarang melotot tak percaya. ìLho.. Banyak yang doyan ngemut memek Shan. Ngemut kontol juga enak banget kokîjawab Tuti masih terus melihat selangkangan Shanti.

    ìAstaga.. Masak anunya lelaki diemut?î Shanti merasa aneh dan jantungnya berdebar, iamerasa ada aliran aneh menjalar dalam dirinya. Gadis itu tidak mengerti bahwa iaterangsang. ìOh enak banget Shan, rasanya hangat dan licin, apalagi kalo ehm.. Ehmm.. ììKalo apa Mbak?î Shanti makin penasaran. Tuti merasa melihat bagian memek Shantiyang tertutup celana dalam krem itu ada bercak gelap, tapi Tuti tidak yakin. ìYaa.. Malu ahh..!î Tuti sengaja membuat Shanti penasaran. ìAyo doong Mbakî rengek Shanti. Tuti sekarang yakin bahwa memek gadis itu sudah basah sehingga terlihat bercak gelapdi celana dalamnya. Tuti sendiri merasa sangat terangsang melihat pemandangan itu. ìKalo pejuhnya menyembur dalam mulut kita, rasanya panas dan asin, lengket tapi enakbanget!î bisik Tuti didekat telinga Shanti. Shanti membelalakkan matanya. ìApa itu pejuh?î tanyanya. Tuti merasa tidak tahan. ìPejuh itu seperti santan yang sering bikin memek kita basah lhoî Jawab Tuti. Ia melihatbagian memek Shanti makin gelap, wah gadis ini banjir, pikir Tuti. ìIdiihh amit-amit, jorok banget sihîìLho kok jorok? Laki-laki juga doyan banget sama santan kita,

    apalagi kalo memek kitaharum, tidak bau terasiîìIdiihh Mbak saru ah!îìTapi aku yakin memek kita pasti wangi, soalnya kita kan minum jamu terusîìUdah ah, lama-lama jadi saru nihî kata Shanti. Tuti tertawa. ìKamu udah banjir yaa?î goda Tuti. Shanti memerah, buru-buru ia merapatkan keduakakinya. ìAhh.. Mbaakk!!î Tuti tersenyum melihat Shanti melotot. ìNggak usah malu, aku sendiri juga basah nihî Kata Tuti.Ia lalu membuka kakinya sehingga Shanti bisa melihat celana dalam putih dengan bercakgelap di tengah, Shanti terbelak melihat bulu-bulu kemaluan Tuti yang mencuat keluardari samping celana dalamnya, lebat sekali, pikirnya. ìIhh.. Mbak jorok nihî desis Shanti. Tuti terkekeh. ìMau merasakan bagaimana tempik kamu diemut?î bisik Tuti. Shanti berdebar. ìNgaco ah!îìAku mau emutin punya kamu, Shan?î Tuti mendekat. Shanti buru-buru bangun danmundur ketakutan. Tuti tertawa. ìKamu akan bisa pingsan merasakannyaî bisik Tuti lagi. ìOgah ah.. Udah deh.. Jangan nakut-nakutin akhhî Shanti mundur mendekati pintukamar mandi dan Tuti makin maju. ìNggak apa-apa kok.. Cuman diemut aja kok takut?îìMasak Mbak yang ngemut?îìIya.. Supaya kamu tahu rasanyaîìMalu ahh..îìNggak apa-apaa..î Tuti mendekat dan Shanti terpojok sampai akhirnya pantatnyamenyentuh bibir bak mandi. Dan Tuti sudah meraba pahanya. Shanti merinding dan roknya terangkat ke atas, Shantimemejamkan matanya. Tuti sudah berjongkok dan mendekatkan wajahnya ke memekShanti yang tertutup celana dalam.

    Tuti mencium bau memek Shanti, dan Tuti puas sekalidengan harumnya memek Shanti. Dulu ia sering melakukan hal-hal seperti ini, malahpernah ia bermain-main bersama 4 pelacur sekaligus untuk memuaskan tamunya. Tubuh Shanti gemetar dan seluruh bulu kuduknya meremang, gadis itu merasa suhutubuhnya meningkat dan perasaannya aneh. Tuti mulai menciumi memek Shanti yangmasih tertutup. Pelan-pelan tangannya menurunkan celana dalam Shanti dan Tutiterangsang melihat cairan lendir bening tertarik memanjang menempel pada celana dalamgadis itu ketika ditarik turun. Tuti menjulurkan lidahnya memotong cairan memanjang itudan lidahnya merasakan asin yang enak sekali. Memek Shanti sungguh indah sekali, tidakterlihat bibir kemaluannya bahkan bulu-bulunya pun masih halus dan lembut.Tuti mencium dan mulai melumat memek Shanti. Gadis itu mengerang dan menggeliatliatketika lidah Tuti menjalar membelai liang memeknya. Shanti benar-benar shockdengan kenikmatan aneh yang dirasakannya, ada perasaan geli dan jijik, tapi ada perasaannikmat yang bukan alang kepalang. Gadis itu merasakan keanehan yang belum pernahdirasakan sebelumnya. Bulu kuduknya berdiri hebat tatkala lidah Tuti menyapu dindingmemeknya, Shanti menggeliat-liat menahan perasaan nyeri nikmat bagian bawahperutnya. ìAahh.. Mbak.. Uuuhh.. Ssshh.. Ja.. Jangan mb.. Mbbak! Ji.. Jijikhh.. Aahhî Tuti tidak memperdulikan rintihan dan erangan Shanti. Lidahnya bergumul danmenembus liang memek Shanti dengan lembut, Tuti tahu Shanti masih perawan dan iatak ingin merusak keperawanan Shanti, lidahnya hanya menjulur tidak terlalu dalam, namun Tuti sudah dapat merasakan cairan asin hangat yang mengalir membasahilidahnya dan Tuti mengendus-endus bau khas memek Shanti dengan sangatmenikmatinya.

    Tuti perlahan-lahan menyelipkan jari-jarinya kesela-sela bokong Shanti, dengan lembut dan dibelai-belainya liang anus Shanti, dan Shanti sedikit tersentak tapikemudian menggelinjang geli, tapi Shanti membiarkan dirinya pasrah terhadap Tuti. Iapercaya sepenuhnya pada Tuti dan sekarang ia benar-benar merasakan kenikmatan yangselama ini belum pernah ia rasakan bahkan dalam mimpipun! ìEnak Shan?î desah Tuti dengan mulut berlumuran lendir Shanti. Shanti memandang kebawah dan mengangguk, tubuhnya bergetar hebat, ia tak menyadari bahwa itu yangdinamakan klimaks kenikmatan seorang perempuan. Tuti merasakan liang memeknyaberdenyut dan ia meraba serta menusuk-nusukkan jarinya sendiri keliang memeknya danmerasakan cairan licin membasahi jarinya. Ia merintih dengan wajah tersuruk diselangkangan Shanti, lidahnya kini menjulur dan membelai liang dubur Shanti danmembuat gadis itu terlonjak-lonjak kegelian serta terpana mendapatkan perlakuan yangtidak pernah dibayangkannya. Shanti merasa liang duburnya ditekan-tekan oleh bendalunak dan sesekali terselip masuk kedalam dan ia akan terlonjak kaget bercampur geli, tapi lebih banyak merasakan kenikmatannya. Entah bagaimana awalnya, tapi kenyataannya Shanti dan Tuti telah saling memelukdalam keadaan telanjang bulat dilantai kamar mandi. Tuti mencium mulut Shanti, mulanya gadis itu menolak tapi permainan jari-jemari Tuti diitilnya membuat gadis itumabuk kepayang dan kepalanya dipenuhi nafsu berahi yang memuncak dashyat. Tutimelumat mulut Shanti dengan penuh nafsu, Shanti membalasnya dengan malu-malu tapimereka berdua memang saling melumat juga akhirnya.

    Terdengar bunyi mulut merekaketika lidah mereka saling mengait dan saling menghisap. Shanti berkelojotan berkali- kali dan Tuti merasakan memeknya berdenyut-denyut nikmat, ia membayangkan Shantimenjilati dan mengemuti kemaluannya. Perlahan-lahan Tuti mulai menjilati leher gadis itu dan terus menciumi ketiak Shanti, gadis itu menggelinjang kenikmatan dan makin mengerang keras ketika Tuti mulaimenghisap puting tetek Shanti. Perlahan Tuti menggeser posisinya sehingga Shanti dapatmembelai memeknya, tapi gadis itu hanya menggeliat saja. Tuti tidak sabar, diambilnyatangan Shanti dan ditaruhnya di memeknya, Shanti mulai membelai dengan canggung. Ketika jarinya tidak sengaja masuk keliang memek Tuti, segera saja wanita itumemajukan pinggulnya dan memompa jari Shanti. Shanti mulai mengerti dan ia mulaimemainkan itil Tuti dan membuat wanita itu terlonjak-lonjak nikmat. Lalu perlahan Tuti sudah mengangkangi Shanti dan ia menciumi memek Shanti kembali, lidahnya kembali menggumuli liang kemaluan gadis itu. Shanti kembali merasakanterjangan gelombang kenikmatan manakala memeknya digumuli Tuti, Shantimembiarkan wajahnya basah karena cairan memek Tuti berjatuhan, menetes danmembentuk lendir panjang, tapi Shanti tidak berani menjilat lendir yang jatuh dibibirnya. Ia memandang liang memek wanita itu dengan heran. Memek Tuti dengan bibir tebalkehitaman, bulu kemaluan yang lebat bukan main tapi tidak menutupi liang itu. Shantimelihat memek Tuti lain dengan miliknya. Dan memek itu makin turun sehingga nyarismenyentuh hidungnya.

    Shanti mencium bau memek Tuti dan dirasakannya sama baunyadengan memeknya. Shanti menjerit tertahan ketika mencapai klimak, tanpa sadar ia menarik bokong Tutisehingga wajahnya terbenam dalam memek wanita itu, Shanti gelap mata, ia menjulurkanlidahnya dan menggumuli liang penuh lendir bening itu. Shanti bahkan menghisap lendiritu seperti kelaparan. Shanti mengemut itil Tuti yang besar dan menonjol. Tubuh Tutikaku seperti kayu dan bergetar hebat, pinggulnya kejang-kejang merasakan orgasme yangluar biasa ketika itilnya dihisap dan dijilat Shanti. Tuti menjerit keras dan ia menekan memeknya sehingga ia dapat merasakan hidungShanti terselip dibelahan liang memeknya dan ia menggoyang-goyangkan pinggulnyamaju mundur dan dirasakannya itilnya bergesekan dengan hidung Shanti dan gadis itumalah menambahkan kenikmatan Tuti dengan menjulurkan lidahnya sehingga setiap kaliTuti memajukan atau memundurkan pinggulnya selalu bergesekan dengan lidah sertahidung Shanti. Tuti berkelojotan hebat sekali, ia meliuk-liuk seperti menahan nyeri, matanya berputar sehingga menampakan putihnya saja dan mulutnya mengeluarkandesahan kenikmatan. ìShantii!! Aaarrgghh!!î Tuti merasakan bagian bawah perutnya nyeri dan ngilu. Orgasme yang ternikmat yang pernah dirasakannya sejak ia meninggalkan duniahitamnya. Shanti merasa puas karena berhasil membuat Tuti menjerit-jerit minta ampunkarena kenikmatan. Shanti merasa, ternyata ia suka sekali dengan rasa dan bau memekTuti. Ia berpikir apakah memeknya juga seenak itu. Ia merasakan hangatnya liang memekTuti dan ia merasakan kasarnya bulu-bulu kemaluan Tuti kala menggesek diwajahnya.

    Shanti tersenyum lemah karena lelah. Tuti ambruk diatas tubuhnya dan Shanti membiarkan, dan gadis itu iseng membukapantat Tuti dan memperhatikan liang anus Tuti. Shanti melihat liang dubur Tuti sepertibintang berwarna kehitaman dan sangat indah. Shanti penasaran, ia mencium sertamengendus liang itu.. Tidak berbau apa-apa. Tuti diam saja membiarkan Shanti berbuatsesukanya. Shanti menjulurkan lidahnya dan menyentuh liang dubur Tuti denganperlahan, kemudian ia menempelkan hidungnya lagi dan merasakan kehangatan liang itu. Dan Shanti mulai menekan-nekan lidahnya ke liang itu dan membuat Tuti menggelinjanggeli. ìAduh Shan, enak.. Terus Shan.. Jilat.. Jilat terus.. Ya.. Ya.. Aaakkhh..î Tuti merasakan lidah Shanti kaku menusuk liang duburnya. Tuti bangkit lalu berjongkokdiatas wajah Shanti dan ia mulai menurun naikkan bokongnya sehingga lidah Shanti yangkaku dirasakannya menembus sedikit kedalam liang duburnya. Tuti menggeram pelan.. Shanti merasakan perasaan aneh ketika lidahnya melesak masuk kedalam liang duburTuti, ia menyukai permainannya itu dan merasa senang dengan apa yang diperbuatnya. Lidahnya tidak merasakan apa-apa, yang dirasakan cuma perasaan anehnya saja. Tuti tidak ingin Shanti terus melakukan untuknya. Ia menggulingkan Shanti sehinggagadis itu terlentang, lalu kedua kakinya diangkat oleh Tuti sehingga liang dubur gadis itumencuat keatas wajahnya. Dijilatnya liang dubur Shanti dengan rakus, lalu setelah licinoleh air liurnya dimasukkannya jarinya kedalam liang itu. Shanti menggigit bibir, iamerasa mulas tapi sekaligus nikmat.

    Kemudian dilihatnya Tuti mengeluarmasukkan jarinya lalu setelah beberapa lama Tutimenjilati jari itu dengan nikmat, bahkan lidahnya terbenam jauh kedalam liang duburnya. Shanti mengeluh, belum pernah itu membayangkan apalagi merasakan perbuatan sepertiitu, gadis itu mabuk kepayang dan sangat terangsang dengan perbuatan Tuti. Ia merasaseolah-olah Tuti adalah pembersihnya, Shanti memejamkan mata dan merasakanmemeknya berdenyut mengeluarkan cairan. Tuti benar-benar tergila-gila dengan perbuatannya itu, ia tidak pernah menjilat liangdubur pria dan ia tak pernah ingin, tapi liang dubur Shanti begitu merangsang, begitulembut dan begitu nikmat. Tuti tidak mau membayangkan apa yang biasa keluar darilubang itu, ia cuma ingin merasakan lidahnya terjepit diliang itu dan bagaimana rasanya. Ia tahu Shanti gadis yang sangat bersih, sama dengan dirinya. Tuti tidak kuatir dengan halitu. Yang diinginkannya saat ini hanyalah membuat Shanti betul-betul puas dan dewasa. Tuti kemudian memompa liang memek Shanti dengan lidahnya dan membuat gadis itumeraung-raung serta kejang-kejang. ìMbaakk.. Sudah mbaakk.. Ampuunn.. Ooohh!!î Shanti sudah tidak kuat lagi menanggung kenikmatan yang datangnya bertubi-tubimelanda tubuh dan perasaannya. Ia menjambak rambut Tuti dan berusaha membuatwajah itu jauh dari memeknya. Dan akhirnya mereka berbaring lelah dilantai kamarmandi. Tuti memandang Shanti.. ìBagaimana? Sudah mau pingsan keenakan belum?î tanya Tuti.

    Shanti membukamatanya dan memandang wanita itu. ìBisa gila aku Mbak.. Aahh benar-benar bisa gila!î Desah Shanti. Tuti tersenyum. ìMau lagi?îìJangan! Bisa semaput benaran aku nanti.. ììYa sudah tak mandikan yuk!î Kata Tuti. Mereka bangkit dan kemudian saling memandikan. Sejak itu Shanti mengetahui apa yangharus dilakukannya jika berahinya datang melanda. Kejadian pertama itu membuatnyatahu apa sebenarnya yang dapat membuatnya nikmat dan puas. Shanti belajar banyak dariTuti. Dan ia memuja wanita itu. Malam itu Shanti tidak dapat memejamkan matanya, ia teringat perbuatannya denganTuti. Terbayang olehnya perbuatan Tuti terhadap dirinya, Shanti merasa seluruh buluditubuhnya berdiri dan ia merasa agak demam. Ia mengeluh karena merasa ingin sekalimengulangi lagi dengan wanita itu. Shanti bangun dan berjalan kemeja kecil tempat iabiasa merias diri. Dikamar sebelah terdengar suara-suara aneh, itu kamar Supriati, temansesama kostnya. Shanti mencoba mendengar, antara kamar dengan kamar hanya dibatasi dinding papantipis. Shanti kadang suka kesal dengan Supriati yang bekerja di pabrik karena wanita itusuka menendang-nendang dalam tidurnya dan itu membuat Shanti kaget setengah matiditengah malam.

    Tapi suara sekarang lain, bukan suara yang keras, suara yang samar- samar dan sepertinya ada suara lain, Shanti menempelkan telinganya dan ia mendengarsuara rintihan Supriati. Shanti berdebar, ini malam minggu.. Biasanya pacar wanita itusuka datang menginap. Sedang apa mereka?Shanti berjingkat keluar kamar. Di luar sepi sekali, sekarang sudah jam 1 pagi, pastiSupriati sedang berasyik-asyik dengan pacarnya. Shanti tegang, ia berjalan k ebalikkamar Supriati yang bersebelahan dengan ruang televisi. Shanti tahu disana dindingnyatidak sampai atas dan dinding itu yang menyekat kamar Supriati. Pelan-pelan Shanti naikkeatas bangku, lalu naik lagi keatas lemari pendek dan ia berjongkok disana. Ia raguhendak berdiri, takut terlihat, tapi keingin tahuannya membuatnya nekad. Dan pelan- pelan kepalanya menyembul dan pandangannya menatap ke dalam kamar Supriati. Penerangan kamar itu agak redup tapi Shanti bisa melihat dengan jelas Supriati sedangditindih oleh pacarnya! Supriati mengerang sambil menggeliat-geliat menggoyangpinggulnya, kedua kakinya terlipat dan menekan pantat pacarnya. Pacarnya menggenjotSupriati dengan cepat. Shanti merasa meriang, matanya terbelalak dan tubuhnya gemetar. Laki-laki itu sedang meremas buah dada Supriati dan wajah mereka menempel satu samalainnya. Mereka sedang berciuman dengan liar. Supriati menggumam dan melihat tanganSupriati meremas-remas pantat pacarnya dengan keras. Shanti terangsang sekali, belumpernah ia melihat pemandangan orang yang sedang bersetubuh dan sekarang ia merasaaneh, ia merasa perutnya ngilu dan dengkulnya gemetar tak keruan.

    Pacar Supriati berteriak tertahan dan mengangkat bokongnya. Shanti melihat tanganSupriati masuk kebawah dan terlihatlah kontol yang besar sekali didalam genggamanSupriati dan kontol itu menyemburkan cairan putih ke perut Supriati. Supriati mengocokkontol pacarnya dengan cepat dan laki-laki itu nafasnya mendengus-dengus hebat dengantubuh bergetar. Shanti merinding melihat benda yang besar dan panjang seperti itu,Shanti ngeri melihat kontol yang begitu besar, ia tahu bahwa itu besar sekali karenasebelumnya Shanti belum pernah membayangkan kontol dapat membesar dan sepanjangitu! Shanti merosot turun dengan lutut lemas, ia berjingkat kembali masuk kedalamkamarnya lalu merebahkan diri diranjang.
    Mengerikan sekali kontol lelaki, pikirnya. Mana mungkin benda sebesar itu muat dimemeknya? Shanti merinding membayangkanlubang memek Supriati yang pasti luar biasa besar. Dan Shanti akhirnya terlelap. Seminggu lewat sudah dan Shanti bingung memikirkan Tuti. Wanita itu tidak masukseminggu sejak pergumulan mereka. Nanti sore ia akan menanyakan pada pemilikwarung mengapa Tuti tidak masuk. Selama seminggu ini Shanti tidak bergairan dalampekerjaan, memeknya basah terus kalau mengingat Tuti atau mengingat pemandanganadegan Supriati dengan pacarnya. Shanti tidak bersemangat, apalagi sehari-hari temantemannyaselalu bergunjing mengenai laki-laki dan mereka tidak segan-seganmembicarakan hal-hal yang paling pribadi dan selalu berakhir dengan cekikikan panjang. Shanti merasa terkucil karena teman-taman lainnya semua sudah menikah dan usiamereka jauh diatasnya, sehingga mereka selalu terdiam kalau Shanti mendekat, padahalia ingin sekali turut mendengar gunjingan mereka. Shanti lebih banyak menghabiskanwaktunya dengan menyibukkan diri didapur membantu pemilik restoran. Malam itu Shanti merasa tidak bersemangat bekerja, hatinya sedih memikirkan Tuti.

    Iasudah menanyakan pada majikannya dan ternyata Tuti telah berhenti bekerja karenamendapatkan pekerjaan di Jakarta. Shanti diam-diam menangis memikirkan Tuti yangtega meninggalkannya tanpa pesan sedikitpun. Akhirnya Shanti hanya pasrah danmenjelang tutup restoran ia pulang kekostnya yang berada tidak jauh dari tempatnyabekerja lalu masuk kedalam kamarnya dan menangis kembali memikirkan Tuti. Iamenangis sampai akhirnya terlelap dan bermimpi bertemu dengan Tuti dan wanita itumembelai rambutnya dengan sayang, Shanti menyusup dalam ketiak Tuti dan menangissesunggukan, wanita itu mengucapkan kata-kata hiburan padanya dan gadis itu menangismakin keras.. *****Tidak terbayangkan oleh Shanti ketika memandang wajah wanita itu didepan pinturestoran. Tubuh Shanti bergetar dan jantungnya berdebar keras sekali. Air matamengambang dipelupuk matanya yang indah. Bibir Shanti terbuka dengan mata terbukaseolah melihat hantu. Wanita itu berjalan masuk dan tersenyum padanya.. Sudah setahunlewat sejak kepergiannya dan Shanti merasa waktu setahun berlalu seperti siput, tiadamalam tanpa tangisan dan tiada hari ceria lagi selama setahun itu baginya dan kini wanitaitu berdiri dihadapannya dan sungguh cantik bukan main!Wanita itu mendekat dan Shanti tiba-tiba saja sudah menghambur dalam pelukannya.

    Semerbak wangi tercium oleh Shanti, wanita itu membelai rambutnya sambil memelukerat tubuhnya. Shanti merasakan debar jantungnya menghantam dada wanita itu. Tangisan sedih terdengar dari dalam pelukan Tuti. Wanita itu merasakan aliran hangatjatuh dari matanya. Ia berusaha menahan air matanya tapi mengalir juga setetes dan jatuhdirambut Shanti.ìMbak.. Oh..î Shanti tak kuasa berbicara. Ia menyusupkan wajahnya makin dalamdipelukan Tuti. ìShan, sudah lama sekali yaa..î Bisik Tuti. Shanti mengangguk-angguk. Shantimerasakan lembutnya buah dada Tuti dan ia tidak ingin melepaskan pelukannya. ìAku rindu sekali Mbak.. Ja.. Jangan pergi lagi..î Suara tercekat dari Shanti membuatTuti sangat terharu. Dadanya terasa sesak dan ia ingin menjerit tapi kedewasaannyamembuatnya bertahan. ìAku juga rindu Shan, sudah, sudah..î Wanita itu mendorong Shanti pelan danmembawanya duduk disalah satu kursi. Restoran itu sedang sepi sekali dan Tuti memang sudah mengamatinya sejak satu jamyang lalu. Ia tidak ingin ada orang yang dikenalnya melihatnya datang denganpenampilan seperti itu, apalagi bermobil.
    ìMbak cantik sekali..î Bisik Shanti, ia menatap Tuti kagum. Tuti memang terlihat cantik dan menawan, make up wajahnya tipis sehingga kehalusankulitnya terlihat nyata, matanya masih seperti dulu, bersinar nakal dan genit, bibirnyayang penuh juga makin terlihat merangsang. Shanti menelan ludah, ia melihat pakaianTuti yang sangat indah, ia melihat potongan tubuh Tuti yang juga tidak berubah, montokdan kencang. Hidung peseknya tidak terlihat lagi dan penampilan keseluruhan wanita itumembuat Shanti rindu bukan main. ìKamu kelihatan makin cantik dan matang Shan..î Bisik Tuti lalu dibelainya pipi Shantiyang kemerahan. Kulit gadis itu masih betul-betul halus sekali, jari Tuti merayap menyentuh bibir Shanti, Shanti membiarkan jari Tuti menyentuh bibirnya, ia membuka mulutnya dan menjilat jariitu, jantungnya berdegup, Tuti membiarkan jarinya dihisap oleh Shanti. ìAku rindu sekali Shan dan aku kesini untuk mengajak kamu ikut akuî Kata Tuti. Shantiterkejut. ìKemana?î Tanya Shanti. Tuti tertawa. ìIkut saja aku, pokoknya kamu akan hidup enak dengankuî Kata Tuti. Shanti memandang wanita itu, hatinya gundah, apa yang harus dilakukannya? Apakahmemang ia akan hidup lebih enak? Tapi kalau sekali ini ia tidak ikut dengan Tuti makakemungkinan wanita itu tidak akan menemuinya kembali, Shanti sungguh bingung.

    ìJangan kuatir Shan, aku nggak bakalan menelantarkan kamu. Justru aku selalu ingatsama kamu, makanya aku nggak tahan lagi untuk mengajak kamu ikut dengankuî KataTuti sambil membelai tangan Shanti. ìLagipula kamu dan aku sudah seperti.. Seperti.. Kekasih..î Suara Tuti berbisik danbibirnya bergetar.Shanti ingin sekali memangut bibir wanita itu tapi ia agak jengah. Ia menunduk saja. Kemudian dirasakannya belaian tangan Tuti dibawah meja menjamah pahanya danmengelus serta meremas lembut pahanya, Shanti merinding, ia ingin merintih tapi iahanya menatap saja wanita itu. Tuti memandangnya sendu dan bibirnya terbuka. ìBaiklah Mbak.. Ka.. Kapan kita berangkat?î Bisik Shanti bergetar. ìBesok kamu temui aku dihotel M, malam ini aku tinggal disanaî Jawab Tuti. ìJangan membawa barang terlalu banyak, nanti aku belikan disanaî Shanti mengangguk. Gadis itu memandang Tuti, ia haus sekali akan belaian wanita itu, tapi Shanti tahu Tutitidak dapat berlama-lama, lagipula sepertinya wanita itu bukan lagi Tuti yang dulu. ìJaga diri kamu baik-baik, Shan.. Sampai besokî Bisik Tuti. Shanti merasa pahanya diremas oleh Tuti dan wanita itu bangkit sambil tersenyum. Shanti memandang kepergian Tuti dan ia merasa ada sesuatu yang terbang meninggalkanjiwanya.

    Tuti menghilang dalam mobil dan pergi meninggalkan halaman restoran itu. *****Shanti memandang pemilik restoran, seorang pria berusia pertengahan. Restoran sudahsepi karena sudah agak malam dan teman-teman Shanti juga sudah pulang, beberapayang tinggal dibelakang restoran telah masuk dan mungkin sudah tidur. Shanti sengajamemilih waktu setelah semuanya telah sepi, karena ia ingin pamit dan meminta upahnyaselama bekerja disana pada sang pemilik restoran. Perjanjiannya memang begitu, semuakaryawan wanita hanya dapat mengambil upahnya enam bulan sekali atau sewaktu iaingin berhenti. Dan sekarang Shanti hendak berhenti karena besok ia sudah akan diJakarta. ìMengapa kamu tolol sekali hendak ikut dengan sundal itu?î Sergah Pak Mohan denganwajah mengeras dan kelihatannya marah betul. Shanti membisu, tubuhnya tegang karenatakut. ìKamu tidak tahu dia itu jadi lonte disana? Hah?î Desis laki laki itu.Ia memandang Shanti dan terus memandang gadis yang menunduk diam itu. Matanyatertumbuk pada seonggok daging yang membusung di dada Shanti yang ditutupi kaustipis kumuh berwarna putih kekuningan. Pak Mohan terkesiap merasakan berahinya tibatibamemuncak melihat keremajaan gadis itu, laki-laki itu menahan napas dan menelanludah, matanya tidak lepas dari dada Shanti dan mulutnya terkunci. Shanti tidak tahumajikannya memandangnya seperti seekor serigala yang sedang menatap domba yang takberdaya. ìBaik, kamu boleh keluar dari sini dan sekarang kamu ikut aku untuk mengambiluangmu!î Suara serak Pak Mohan terdengar aneh di telinga Shanti, tapi gadis itu merasalega karena tidak ada lagi nada kemarahan dalam suara itu.Ia mengikuti laki-laki itu menuju kebelakang terus kebelakang berlawanan dengan messtempat tinggal para karyawan restoran. Shanti tahu ia menuju kantor Pak Mohan, atautepatnya tempat biasa Pak Mohan membereskan bon-bon dan beristirahat kalau sedangcapek.

    Rumah majikannya itu jauh dari sini jadi ia suka berleha-leha diruang itu kalausedang capek melayani tamu. Pak Mohan menyalakan lampu kamar dan Shanti disuruh duduk di dipan yang biasaditiduri oleh laki-laki itu. Shanti duduk dan Pak Mohan berjalan mendekatinya, tiba-tibatangan laki-laki setengah baya itu terjulur dan meremas teteknya dengan keras, Shantimenjerit tertahan dan beringsut kesudut, ketakutan. ìKamu mau uang kamu khan? Kamu akan ke Jakarta khan? Dan kamu toh akan jadi lontejuga nanti, sekarang kamu layani aku dululah, dan kamu akan menjadi lebih pengalamannantiî bisik Pak Mohan dekat sekali dengan wajahnya. Shanti mencium bau rokokmenyembur dari mulut laki-laki itu, sehingga membuatnya ia ingin muntah. ìSaya akan menjerit pak.. Jangan pak.. Malu!î bisik Shanti. Pak Mohan menerkamShanti dengan tiba-tiba dan Shanti terhimpit oleh tubuh laki-laki itu, Shanti membukamulutnya hendak menjerit, tapi tangan Pak Mohan dengan sigap menutup mulutnya. Shanti terbelalak, ia benar-benar kalah tenaga dengan laki-laki itu, yang ternyata kuatsekali. ìSekali kamu bersuara, maka kamu tidak akan bisa menemui sanak saudaramu lagi, kamubisa tunggu mereka semua di neraka!î Desis Pak Mohan, wajahnya sungguh kejamsekali, membuat gadis itu merasa takut setengah mati. Perasaannya mengatakan percuma melawan laki-laki itu, ia akan sangat menyesal nanti. Lagi pula siapa yang tidak takut dengan Pak Mohan? Hanya sang isteri yang baik padakaryawan, sedangkan laki-laki ini sudah terkenal suka judi dan membuat onar. Shantimenangis tanpa suara, ia takut sekali, dan sekarang ia merasakan tubuhnya digerayangioleh tangan lelaki itu. ìIkuti apa yang aku suruh, maka kamu akan mendapatkan uangmu dan yang pentingkamu akan selamat dan bisa jadi lonte di Jakarta, mengerti?î Ancam Pak Mohan, Shantimenggigit bibir menahan sakit ketika teteknya kembali diremas oleh laki-laki itu, iacepat-cepat menganggukkan kepalanya dalam bisu. Pak Mohan menarik kaki Shanti sehingga gadis itu terlentang di dipan kayu yangberalaskan tikar. Kemudian Shanti melihat Pak Mohan dengan gugup melepaskanpakaiannya. Shanti memejamkan matanya ketika melihat kontol Pak Mohan bergoyang- goyang seperti ketimun. Ketika ia membuka matanya kembali, Shanti melihat Pak Mohansudah duduk disampingnya dan tangannya mulai menarik kaus Shanti, gadis itu tidakbergerak. Tiba-tiba pipinya ditampar oleh Pak Mohan, Shanti menjerit pelan merasakan pipinyapanas, tamparan yang tidak begitu keras tapi sangat menyakitkan hatinya. Shantimengangkat tubuhnya membiarkan kausnya lolos begitu saja dan kemudian membiarkanjuga roknya diloloskan dengan mudah oleh Pak Mohan. Shanti bisa merasakan napaspanas membara dari hidung laki-laki itu, Pak Mohan berusaha menciumnya tapi Shantimemalingkan wajah, tapi laki-laki itu memaksa dan Shanti terpaksa membiarkan bibirnyadikulum mulut laki-laki itu, Shanti merasa mual.. ìPegang ini, awas jangan macam-macam kamu!î bentak Pak Mohan. Tangan Shantidituntun untuk menggenggam kontol Pak Mohan. Shanti merasa jijik, kontol yang tidakbegitu besar dan dalam keadaan layu, keriput dan hitam. ìKocok!î perintah Pak Mohan. Shanti belum pernah melakukannya. Ia meremas-remaspelan, kenyal dan licin seperti berlendir, Shanti merasa jijik. ìKocok seperti ini goblok!î desis laki-laki itu sambil mengocok kontolnya sendiri. Shantiberusaha menurutinya dan Shanti sedikit terkejut mendapati kontol itu bangun perlahan.

    Pak Mohan tidak sabar, ia harus cepat-cepat karena sang isteri menantinya dirumah. Iamenyodorkan kontolnya kemulut Shanti, gadis itu menghindar. ìSialan kamu! Cepat hisap dan jilat! Atau kubunuh kau!î bentak Pak Mohan sepertikalap. Shanti menggenggam kontol laki-laki itu dengan tangan gemetar, dipandangnyabenda yang lembek dan setengah tegang, ia memejamkan matanya dan sebelum sempatberbuat sesuatu, dirasakannya benda itu menerobos masuk kedalam mulutnya danbergerak maju mundur. Shanti ingin muntah tapi ia ketakutan. Laki-laki itu memompa mulut Shanti dengantergesa-gesa, dari mulutnya keluar lengkuhan-lengkuhan aneh dan tiba-tiba Shantimendengar Pak Mohan mengerang tertahan lalu mulutnya tiba-tiba terasa asin dan penuhdengan cairan lengket dan berbau aneh. Shanti menahannya supaya tidak tertelan, ia mualsekali, ia berpikir itu pasti yang dikatakan Tuti sebagai pejuh. Jijik sekali, pikirnya. Shanti memejamkan matanya erat-erat dan membiarkan kontol Pak Mohan terus bergerakmaju mundur dan makin pelan. Lalu benda itu ditarik keluar dari mulutnya. Dan Shantisegera memuntahkan cairan kental itu, ia memandang Pak Mohan yang kelelahan denganperasaan benci bukan main. ìHhh.. Bagus.. Memang punya bakat lonte kau! Ini uangmu dan ini bayaran pertama buatseorang lonte!î Desis Pak Mohan lalu melemparkan lembaran-lembaran uang kewajahShanti. Shanti terkulai tak berdaya dan Pak Mohan bergegas hendak keluar tapi sebelumnyasekali lagi laki-laki itu meremas teteknya dan Shanti terbelalak kesakitan.

    Sekejabkemudian bayangan laki-laki tua itu sudah lenyap dari pandangannya. Shanti menangispelan, ia tidak berani lebih keras, ia malu dan takut terdengar oleh teman-teman yangtinggal di seberang tempat ini. Lalu pelan-pelan gadis itu bangun, ia meraba teteknya danmeringis nyeri, lalu ia memungut uang-uang yang jatuh berserakan. Dihitungnya dan ia merasa senang juga menerima lebih dari yang diperkirakannya, iamenerima kelebihan dua puluh ribu rupuah! Jumlah yang lumayan untuknya. Shantidengan jijik mengusap cairan mani yang menempel di dadanya dengan BHnya. Iamelepaskan benda itu dan memutuskan tidak akan memakainya. Ia memakai rok dankausnya lalu berjingkat-jingkat keluar dari kamar itu. Diluar gelap dan kelam, sunyi, entah sudah jam berapa sekarang. Shanti berjingkat masuk kedalam kamar mandi, rumah kostnya sudah sepi dan ia tidakingin membangunkan semua penghuninya. Ia mulai membersihkan badannya dan iamenggosok teteknya kuat-kuat, ia tak peduli nyeri yang ditimbulkan, ia hendakmelenyapkan jejak remasan Pak Mohan. Shanti menangis tanpa suara, ia tidakmenyangka malam terakhir merupakan malam jahanam baginya. Ia berkumur danmenusuk-nusuk kerongkongannya sampai muntah, ia tak peduli mulutnya terasa pahitdan ia terus hendak mengeluarkan semuanya, ia tak yakin apakah tadi cairan Pak Mohantertelan atau tidak dan ia tidak ingin cairan itu berada diperutnya. Shanti menggosok giginya berkali-kali dan akhirnya dengan pelan ia masuk kedalamkamarnya. Ia telah mencuci bersih BHnya dan pakaiannya juga, ia akan meninggalkanpakaian itu disini saja. Lalu Shanti berbaring berusaha untuk tidur.. Diam-diam iabersyukur dirinya masih perawan, entah mengapa laki-laki keparat itu tidakmenyetubuhinya, Shanti menghela napas dalam lelap. *****ìIni kamar kamu Shan, suka?î bisik Tuti sambil memandang gadis itu. Shanti ter-nganga tidak dapat berkata apa-apa. Keletihan berjam-jam dalamperjalanannya dengan Tuti seakan lenyap begitu saja. Kamar yang untuknya sangat luas, ia membadingkan mungkin 3 kali dari kamar kostnya di kampung. Luar biasa, ranjangnyabesar dengan sprei putih bersih, ada radio kaset disamping ranjang lalu ada meja rias danShanti heran melihat ada kamar mandi dalam kamar tidur, ia belum pernah tahu mengapaada orang yang membuat kamar mandi dalam kamar tidur. Sangat membuang uangsekali, pikirnya.

    Tapi gadis itu sudah dapat membayangkan betapa nikmatnya denganfasilitas seperti itu, kapan saja ia ingin mandi, ia tidak usah lagi mengantri sambilmenimba air, oh menyenangkan sekali, batinnya. ìAda air panasnya lho Shan..î kata Tuti. Shanti memandang wanita itu dengan penuh sayang. Ia memeluk Tuti dan berterimakasih padanya dengan air mata mengalir. ìKamu berhak mendapatkannya sayang..î bisik wanita itu. ìIndah sekali Mbak! Bagaimana aku harus membalas semua ini?î kata Shanti dengansuara serak. Tuti tersenyum, lalu ia memanggil supir yang membawa mereka tadi untuk memasukkanbarang-barang Shanti. Shanti sangat kagum dengan rumah Tuti. Besar, bersih, mewahdan berkesan anggun sekali. Tembok-temboknya dicat dengan warna kuning beras, indahbukan main. Ruang tamu yang besar dengan lantai marmer dan perabotan yang menurutgadis itu tentu sangat mahal harganya, lalu ruang makan dengan meja makan yang besarlengkap dengan kursi-kursi berderet, tirai-tirai yang mewah seperti membuang-buangkain saja. Kemudian Shanti melihat ruang keluarga yang luar biasa besarnya, dengan TVyang juga seperti layar bioskop, seprangkat sofa yang besar pula menghias ruangan itu. Ada kolam renang dipekarangan belakang, kolam yang besar bukan main, Shanti tidakdapat membayangkan berenang di kolam itu, ia belum pernah berenang dikolam renang, ia hanya pernah berenang disungai. ìKamu istirahat saja dulu Shan. Nanti sore baru kita ngobrol-ngobrol lagiî kata Tuti. Lalu ia berjalan keluar kamar meninggalkan Shanti. Gadis itu duduk di atas ranjang, wahempuk sekali! Ia tersenyum sendiri membayangkan nasibnya, sungguh beruntung sekaliia disayangi seperti itu oleh Tuti. Ia merebahkan dirinya lalu dalam sekejab ia sudahterlelap.. Shanti terbangun oleh belaian Tuti. Jari-jemari Tuti membelai pipinya, Shanti memegangtangan Tuti kemudian menciumnya dengan lembut. ìTerima kasih Mbakî bisiknya. Tuti tersenyum. ìAh tidak apa-apa sayang, aku memang selalu teringat akan kamu dan akhirnya akunggak tahan lagi. Aku berkata pada suamiku bahwa aku tidak dapat merasakan keriangantanpa kamu Shanî kata Tuti. Shanti mengecup lagi tangan yang membelainya. ìKok Mbak kawin nggak bilang-bilang sih?î tanya Shanti.

    Tuti tertawa.Ia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir gadis itu dengan lembut. Tuti rindu sekalidengan hembusan napas Shanti dan ia sudah tidak tahan ingin merasakan lidah sertamulut gadis itu. Sudah lama ia rindu pada Shanti, selama ini ia selalu melayani ísuamiínya dengan baik. Dan sang ísuamií juga kelihatan sangat sayang padanya, makaitu ia memberanikan diri untuk meminta ijin mengajak gadis itu tinggal dengannya. Tutimenceritakan semuanya kepada ísuaminyaí dan tak disangka ísuaminyaí sangatmenyetujui.. ìJadi kamu suka bermain dengan cewek juga?î tanya ísuaminyaí, yang sebetulnya adalahlaki-laki yang bernama Rahman dan selama ini memelihara hidup Tuti dan diam-diammereka melangsungkan pernikahan tanpa sepengetahuan isteri pertama laki-laki itu. Tutimengangguk, ia pasrah jika Rahman meledak marah dan mendampratnya. Tapi yang ialihat hanya pandangan terpesona saja. ìYa Mas, aku selalu teringat kepadanya, aku sangat mencintainya Masî Jawab Tuti. ìJadi selama ini kamu tidak cinta padaku?î Tanya Rahman menyelidik. ìAku mencintaimu melebihi segalanya, semuanya kuberikan dan semuanya kulakukan. Tapi selama Mas tidak denganku, aku sering merasa sepi dan..îìDan apa?îìDan membayangkan gadis ituî Tuti menjawab terus terang. ìBoleh saja kamu ajak gadis itu, aku akan sangat senang sekali kalau..î Rahman tidakmeneruskan kata-katanya. Tuti tersenyum. Ia tahu apa yang dipikirkan Rahman.ìAku akan mencobanya sayy.. Aku juga ingin sekali kalau kamu bisa menikmatikeperawanan gadis ituî bisik Tuti. Rahman lega dan merasa tegang sendiri membayangkan ia digumuli oleh dua wanita, wah tentu lebih luar biasa, selama ini saja ia sudah sangat puas dengan pelayanan Tutiyang sampai kemanapun belum pernah dirasakannya. Tutinya yang begitu hebat diatasranjang, didalam kamar mandi, dimanapun dan kapanpun ia membutuhkannya, wanita ituselalu akan membuatnya terkulai dalam lautan kenikmatan. ìMbak.. Kok melamun?î bisikan Shanti menyadarkan lamunan Tuti. Wajahnya dekat sekali dengan Shanti dan gadis itu rupanya menanti dari tadi. Tutitertawa geli lalu tiba-tiba ia memangut bibir Shanti dan melumatnya. Shanti terengah- engah membalas lumatan gadis itu. Ia merasa tangan Tuti mengelus-elus buah dadanyadan ia pun membalas, ia meremas-remas tetek Tuti dengan gemas dan membuat wanitaitu merintih-rintih, tak dibutuhkan waktu lama untuk membuat mereka berdua berbugilria dalam pergumulan panas. Shanti tidak tahu bahwa dilangit-langit kamar ada sebuah bintik hitam sebesar uanglogam. Dan semua kejadian di kamar itu dapat disaksikan dari lantai dua rumah itu. Diruang kerja Rahman! Dan sekarang Rahman sedang menahan napas memandangkearah layar besar didalam ruang kerjanya.

    Tubuhnya tegang dan dirasakan dagingdicelananya membengkak. Ia bisa melihat Tuti melucuti pakaian Shanti dan ia bisamelihat bagaimana wanita itu menggerayangi tubuh Shanti dengan penuh nafsu. Rahman tersengal-sengal menahan nafsu, ia melihat Shanti memangut tetek Tuti danmenyedotnya seperti bayi, dan Tuti dengan kalap menyuruk keselangkangan Shanti danmulai menggumuli memek gadis itu dengan mulutnya. Rahman tak kuasa menahannya, iajuga ingin merasakan bau memek gadis itu dan bagaimana lendir gadis itu lumer dalammulutnya, lendir perawan! Ia mengendap-endap turun dan menghampiri kamar Shanti, ruangan sepi sekali dan dibukanya pintu itu, dilihatnya wajah Shanti sedang ditindih olehbagian bawah tubuh Tuti dan Tuti asyik menjilat-jilat memek Shanti, Rahman dapatmelihat dengan jelas bagian dalam memek gadis itu yang kemerahan dan berkilat karenalendir.Ia merangkak masuk dan dengan sebelah tangannya ia mengambil celana dalam Shantiyang tergeletak diujung ranjang. Rahman membawa benda itu kewajahnya danmenciumnya, oohh.. Nikmat sekali baunya, bau pesing bercampur dengan bau khasmemek seperti punya Tuti, Rahman menjilat bercak kuning dicelana dalam itu danmerasakan rasa asin, ia menjilat terus sampai bercak itu menjadi licin dan berubahmenjadi lendir. Tapi ia takut ketahuan, ia segera melemparkan benda itu dan merangkakmundur keluar dari ruangan. Semuanya dilakukan tanpa mereka mengetahuinya, Rahmanberdebar-debar membayangkan kapan Tuti dan Shanti akan siap melayaninya bersama- sama.ìAduh Mbaakk, aku keluar lagi Mbak.. Aduh duh..î Shanti berkelojotan, memeknyaterangkat dan menekan-nekan wajah Tuti, Tuti tidak mau kalah dan mengulek memeknyadengan goyangan yang membuatnya merasa hendak kencing. ìShaan.. Mati aku Shan.. Ooohh.. Terus Shan, terus!î desah Tuti dan Shantimempercepat tusukan lidahnya dalam memek Tuti, ia menghujamkan mulutnya danlidahnya menjulur dalam sekali, berkelana disekitar dinding memek wanita itu dan Shantimerasakan cairan masuk ke dalam mulutnya dengan mudah, Shanti tidak peduli bahwaitu adalah air kencing yang keluar sedikit dari memek Tuti karena gadis itu membuatnyaseperti gila dan entah mengapa ia merasa ingin kencing terus setiap Shanti menjalarkanlidahnya didalam memeknya. Tuti merasa pinggangnya nyeri karena menahan nikmat yang membuatnya tanpa sadarmeliuk-liuk seperti ular, apalagi dirasakannya lubang anusnya ditusuk-tusuk juga olehjari-jemari gadis itu, ternyata gadis itu sekarang pandai sekali memuaskan dirinya. Tutijuga tidak mau kalah dan ia membuat Shanti berguling sehingga gadis itu sekarang yangberada diatasnya dan dengan leluasa Tuti menjilati cairan bening yang jatuh dari liangmemek Shanti, cairan lengket dan hangat terasa asin itulah yang selalu dirindukan Tuti. Enak bukan main rasanya dan Tuti seperti gila menghisap lubang memek gadis itu, lidahnya dengan kaku memasuk kedalam memek Shanti dan membuat gadis itumengerang, kadang malah Shanti tersentak kesakitan karena lidah Tuti masuk terlaludalam dan Tuti cepat-cepat mengeluarkan lidahnya, ia lupa bahwa gadis itu masihperawan dan ia ingin Rahman yang memerawani gadis ini, kalau bisa nanti malam. ìMbakhh.. Aah.. Enak sekali Mbak.. Aaa.. Keluar lagi Mbak.. Aduuhhî Shantimengerang panjang dan Tuti merasakan cairan bening makin banyak masuk kedalammulutnya. Tuti menggosok-gosokkan hidungnya di lubang anus Shanti, ia merasa terangsang sekalimelihat liang itu dan dijilatinya lubang anus Shanti, Tuti memasukkan jari telunjuknya, membuat Shanti mengerang lagi. Lalu dikocok-kocoknya telunjuk itu di dalam anusShanti. Gadis itu tersentak-sentak sambil merintih, Shanti merasa mulas tapi ada perasaannikmatnya juga. Ia mengejan agar jari Tuti lebih mudah masuk kedalam anusnya, Shantimerasa enak sekali dan ia merasa memeknya banjir besar. Sedangkan Tuti dengan lahapmenjilati lubang anus Shanti dan bahkan ia menjilati jarinya yang baru keluar dari dalamanus Shanti, ia mencium bau yang baginya enak sekali dan ia menghisap jari itu. Shanti melakukan hal serupa, ia memasukkan jarinya dan buat Tuti yang sudah terbiasa, kocokkan jari-jari Shanti di dalam anusnya membuatnya orgasme. Apalagi Shanti dengantanpa jijik menjilat anusnya dan menusuk-nusuk lubang itu dengan lidahnya, Tutimerasakan kenikmatan yang membuat tubuhnya panas dan gemetar. Dengan rintihanpanjang Tuti mencapai orgasme lagi dan terkulai lemas. Shanti juga lemas diatas tubuhTuti.

    Mereka merasa rindu mereka telah terobati sementara dan Shanti diam-diam memohonagar kejadian seperti ini terus akan terjadi, ia tak ingin kehilangan Tuti lagi, ia tak akankuasa hidup tanpa wanita yang dapat membuatnya merasakan kenikmatan seperti ini. Shanti menyusukkan kepalanya disela-sela ketiak Tuti, ia sangat merindukan kejadianseperti ini dimana ia merasa terlindungi dan Shanti sangat suka sekali bau ketiak Tutiyang sedang berkeringat dan dengan bernafsu Shanti menjilati keringat yang membasahibulu-bulu ketiak wanita itu. Shanti mengendus dalam dan menikmati bau khas yangsangat disukainnya, bau khas ketiak wanita kampung, tapi baginya bau ketiak Tutisungguh merangsang. Tuti cekikikan kegelian karena jilatan lidah Shanti tapi ia merasa nafsunya bangkitkembali. Tuti memandang lidah Shanti membelai ketiaknya dan menjilati keringatnyadengan lahap, ia terangsang sekali melihat bagaimana gadis itu menghisap-hisap buluketiaknya yang lebat, seperti dikeramas saja, pikirnya. Tuti menarik wajah Shanti danmelumat mulutnya, dirasakan bau ketiaknya ada dimulut Shanti dan Tuti melumat habismulut Shanti, gadis itu pasrah membiarkan lidah Tuti menjalar dan menyelusup kemanasuka.Ia merasa jari-jari Tuti mengocok-ngocok didalam liang memeknya dan memeknya licinsekali karena banjir, wanita itu tidak menusuk terlalu dalam dan Shanti merasa nyamansekali. Tuti membawa jari-jarinya yang berlumuran lendir itu kemulutnya dan kemulutShanti dan mereka menjilati lendir itu dengan lahap seolah-olah itu adalah tajin yangbiasa dimakan bayi. Mereka saling berpelukan dengan mesra dan terlelap dalamrengkuhan kenikmatan. *****Ketika bangun, hari sudah senja dan mereka mandi sama-sama dalam kamar Shanti. Tutimengangumi tubuh Shanti yang benar-benar sedang ranum, matang dan sangat indah, semuanya mulus tanpa cacat. Bulu kemaluannya yang halus, buah dadanya dengan putingmerah muda sangat kontras dengan tubuhnya. Tubuhnya sendiri memang masih padatdan serba kencang, tapi ia tak dapat menghindari kegemukan di perutnya, padahal iasudah senam mati-matian, mungkin inilah karena umur, pikirnya. Sebaliknya Shantisangat iri melihat tetek Tuti yang begitu besar dan kenyal, walaupun puting susunya jugabesar dan kehitaman tapi Shanti tahu banyak sekali laki-laki dikampungnya yang tergila- gila ingin menikmati tubuh Tuti. ìMbak teteknya besar sekali, kapan aku bisa punya tetek sebesar itu?î Kata Shanti, Tutitertawa terkekeh-kekeh. ìIni dulu salah urus, sebenarnya tetekku dulu tidak sebesar ini, tapi ada gara-gara digosokdengan minyak bulus jadi gede kayak giniî Jawab Tuti. Ia tak memberitahu Shanti bahwadulu germonyalah yang menyuruhnya menggosok teteknya dengan minyak itu. ìMemang bisa?îìEntahlah, tapi kupikir gara-gara itu sihî mereka terkikik. ìSelesai mandi nanti kita kekamarku yukî ajak Tuti. ìAh nanti ada suami Mbakî jawab Shanti. ìAh mungkin dia pulang malam hari iniî jawab Tuti. Ia tak mau Shanti mengetahuirencananya.ìWah kamar Mbak hebat sekali!î seru Shanti kagum melihat kemewahan kamar Tuti. Tuti tertawa dan mengajak gadis itu duduk diatas ranjang besar. ìHeh kamu mau nonton film?î tanya Tuti. Shanti menggeleng. ìFilm?îìIya film yang hebat dehî kata Tuti lalu berjalan ke lemari TV yang terletak pas dikakiranjang. Tuti memasukkan sesuatu ke dalam kotak alat dan kembali duduk bersama Shanti. Iamemeluk Shanti dan gadis itu membalas pelukannya. Tiba-tiba Shanti melotot ketikamelihat adegan dalam film itu. Ia melihat dua wanita sedang disetubuhi oleh beberapalelaki. Ia melihat kedua wanita itu sedang disetubuhi sambil menghisap kontol prialainnya. Shanti menahan napas, jantungnya berdebar kencang, tubuhnya meriang danhangat.

    Tuti merasa gadis itu gemetar. ìLho.. Kok.. Kok.. Ih Mbak! Idiihh besar sekali Mbak!î desis Shanti. Tuti diam. ìJijik Mbak.. Aduh jijik sekali!î seru gadis itu tatkala melihat salah seorang pria itumenyemprotkan air mani kedalam mulut sang wanita dan wanita itu dengan lahapmenjilatnya sambil merengek-rengek manja. Shanti teringat malam jahanamnya dengan Pak Mohan, ternyata ada wanita yang sukasekali dengan itu. ìOh enak sekali Shan, wah rasanya luar biasa!î kata Tuti.Ia membelai tengkuk Shanti. Shanti bergidik melihat wanita itu kembali menjilati kontolyang baru keluar dari memeknya dan kontol itu dengan ganas menyemburkan cairankental kedalam mulutnya lagi. ìAduuhh.. Geli amat. Kok mau sih.. î Suara Shanti bergetar, diam-diam ia merasa adaperasaan aneh merambati tubuhnya. Ia merasa berahinya naik dengan cepat, apalagi Tutimembelai-belai tengkuknya. ìMbak! Gila ihh!î Shanti melotot melihat laki-laki lain menusuk lubang pantat wanita itudan laki-laki lainnya lagi menusuk dari bawah dan dimulut wanita itu tetap tertusuksebuah kontol hitam. Semua lubang ditubuh wanita itu telah terisi. ìWah itu yang paling enak Shan, kamu harusnya merasakan bagaimana memek kamudimasuki kontol Shan.. Enaknya luar biasa!î Desis Tuti. Wanita itu juga merasa terangsang. Ia melirik ke pintu yang dibiarkan tidak terkunci. Ditelevisi terlihat adegan dua wanita itu saling memangut kontol hitam dan mereka salingmenjilat dan menyuapi satu sama lain. Shanti mendesah, ia merasa meriang sekali danmemeknya banjir besar, Shanti merasa terangsang bukan main melihat bagaimana keduawanita itu saling membagi air mani laki-laki itu dan laki-laki itu bergantian memompamulut wanita-wanita itu. ìMbaakk.. Aduh Mbak.. Nggak tahan akuî Bisik Shanti manja sambil menatap Tuti. Tutimelumat bibir gadis itu.ìNafsu yaa..?î Bisiknya. Shanti mengangguk lalu menyurukkan wajahnya ke ketiak Tutilagi. Tiba-tiba pintu terbuka dan.., ìWah ada tamu nih?î Suara besar dan berat menyengatShanti. Ia melompat berdiri dan membenahi roknya yang tersingkap. Tuti tersenyummanis pada laki-laki itu. ìOh Mas, lho kok sudah pulang? Ini kenalkan keponakanku Shantiî Kata Tuti sambilmendorong Shanti mendekat kepada laki-laki tinggi besar itu. Laki-laki yang bertampangseram dengan brewok di wajahnya. ìIni suamiku Shan, kamu panggil saja Oom Rahmanî Kata Tuti. ìOh Haloo! Wah aku tidak menyangka keponakan kamu cantik beginiî Kata Rahmansambil menjabat tangan Shanti. Shanti tersipu menundukkan wajahnya. Rahman dudukdiatas ranjang dan membuka sepatunya, matanya menatap televisi. ìLho kok putar film begitu?î Tanyanya berpura-pura. Tuti tersenyum, Shanti tidak beranimemandang, ia malu bukan main. ìYa iseng saja, lagian aku ingin kasih tahu Shanti bagaimana punya laki-laki itu lho!î Kata Tuti manja sambil membantu melepaskan dasi Rahman. ìMbaakk.. î Shanti melotot. ìLho? Nggak apa-apa kok Shan. Mas Rahman orangnya sangat terbuka kok. Lagian kamisudah biasa dengan adegan-adegan seperti di film ituî kata Tuti sambil menarik Shantisupaya mendekat. Kemudian ia memeluk Shanti dan mencium mulutnya. Shanti merasa malu denganperlakuan Tuti tapi ia juga tak ingin menghindar, ia takut Tuti marah. Malah sekarangTuti meremas buah dadanya dengan perlahan. ìMbaakk.. Malu ahî rengek Shanti. ìAh tidak apa-apa kok Shan, Oom sudah biasa kokî kata Rahman sambil menelan ludah.Ia merasa lidahnya kaku dan sepertinya ia sudah merasakan cairan memek Shanti lumerdimulutnya. Lalu Tuti membuka celana Rahman dan sekaligus memelorotkan celanadalamnya, maka meloncat keluar kontol yang sudah agak tegang. Shanti menutupmulutnya melihat kontol yang lumayan besar dan panjang itu. Wajahnya bersemu merah, ia tidak dapat berkata apa karena malu, ia ingin lari tapi ia takut Tuti tersinggung. ìNih lihat ini Shan. Ini yang namanya kontol enak..î bisik Tuti sambil mengocok pelankontol Rahman dan Shanti bisa melihat ada lendir bening di kepala kontol itu sepertilendir memeknya.

    Lalu ia terbelalak melihat Tuti dengan lahap mengulum kontol itu, bahkan Shantibingung melihat kontol itu lenyap dalam mulut Tuti. Dan Rahman mendengus-dengussambil memompanya dalam mulut wanita itu. Shanti gemetar menyaksikan pemandanganyang tidak pernah dibayangkannya. Sungguh mengerikan, pikirnya. Apakah begituenaknya sampai Tuti mau menghisap kontol itu demikian dengan lahapnya?ìMau cobain Shan? Enak banget..î Tuti menarik gadis itu supaya berlutut juga.Rahman berdiri dan tersenyum pada Shanti. Ia menyodorkan kontolnya yang sudah agakkeras itu. Tuti mengambil tangan Shanti dan dipaksanya tangan itu menjamah kontolsuaminya. Shanti berusaha menahan tangannya dengan setengah hati. Ia bingung dangundah, ia merasa memeknya seperti hendak meledak karena berahi yang memuncak tapiia juga malu dan ia tak ingin berselingkuh dengan suami Tuti, tapi sekarang malah Tutimemaksanya menjamah daging yang seperti dodol itu. ìNggak apa-apa Shan, suamiku milik kamu juga kok..î bisik Tuti. Kemudian Shanti merasakan daging itu di tangannya, lumayan besar dan kenyal, adalendir bening keluar dari ujung kontol Rahman, dan Tuti mengusap lendir itu danmemasukkannya ke mulut Shanti, Shanti merasa jijik, tapi ia hanya merasakan asinseperti pejuh Pak Mohan. Lalu Tuti mendekatkan mulut Shanti sambil menekankepalanya supaya mendekati kontol Rahman. Dan entah bagaimana Shanti pasrah sajaketika kontol itu sudah dalam mulutnya dan bergerak maju mundur. Shanti merasadaging itu hangat dalam mulutnya dan memang kalau dirasa-rasakan enak sekali, sepertimengemut es krim tapi tidak dingin melainkan hangat, hanya sesekali lidahnyamerasakan asinnya lendir yang jatuh dalam mulutnya. Tuti juga ikut mengemut kontolRahman dan sesekali kedua wanita itu saling melumat dan meremas. ìMmhh.. Enak sekali Mas.. Ayo.. Cepat keluarkan.. Aku sudah tak tahan lagi Mas!î Desah Tuti, tangannya dan tangan Shanti berebut mengocok kontol Rahman. Bola mata Rahman terbalik dan mulutnya meleguh nikmat seperti kerbau. Kontolnyasungguh keras bukan main dalam maianan kedua perempuan itu. Ia merasakanbagaimanapun jilatan dan kocokan Tuti jauh lebih luar biasa daripada Shanti. Memang iatak salah memilih gundik, Tuti memang sungguh luar biasa. Dan Rahman menyadariselama ini ia belum pernah bisa tahan lebih dari 3 menit kalau Tuti sudah mengeluarkankeahlian mulut dan tangannya, apalagi kalau kontolnya sudah dalam cengkraman memekwanita itu, maka tak ayal lagi ia akan menyerah sebelum hitungan kedua puluh, padahaldengan isteri tuanya ia tidak pernah bisa keluar dan benar-benar tidak pernah bisaejakulasi!Walau bagaimanapun sang isteri melayaninya tetap saja ia tidak dapat puas, bahkankadang-kadang kontolnya menciut kembali sehingga harus dirangsang lagi. Tapi kalaudengan Tuti, dipegang sebentar saja kontolnya sudah seperti paku baja, terus digoyangsebentar saja, kontolnya sudah meletuskan lahar panasnya, tapi Tuti dapat dengan cepatmembangunkan kembali meriamnya walaupun baru meledak. Rahman bersyukur denganTuti, ia tak merasa sayang sedikitpun mengeluarkan uang luar biasa besarnya untukmembuat wanita itu mencintainya. ìOouughh.. Aku.. Aku.. Mau keluar sayy!!î seru Rahman sambil berkelojotan. Kontolnya dikemot oleh Tuti sedemikian rupa sehingga membuat seluruh otot tubuhnyangilu menahan gelombang nikmat yang akan segera melanda. Tuti mengeluarkan kontolRahman dan segera dimasukkannya ke dalam mulut Shanti, gadis itu membiarkan kontolitu menerobos masuk kedalam mulutnya dan ia mengocoknya dengan bibirnya, lidahnyaberusaha menjilat kontol yang keluar masuk dalam mulutnya itu. Sementara Tuti mengemuti pelir Rahman dengan keahliannya, tiba-tiba Rahmanmengeluarkan leguhan keras, tubuhnya kaku dan wajahnya tegang bukan main, mulutnyaternganga sedangkan matanya terbelalak dan berputar ketika kontolnya menyemburkancairan pejuh panas ke dalam mulut Shanti, tubuhnya kejang dan ia membiarkankontolnya diam dalam mulut gadis itu, Tuti dengan sigap mengurut dan mengocok batangkontolnya, biasanya Tuti akan terus mengocok kontol itu dengan mulutnya sampaiRahman berkelojotan seperti orang sekarat, tapi ia tahu Shanti baru pertama kali danbelum tahu bagaimana membuat seorang laki-laki mengalami ejakulasi dashyat yangdapat membuatnya mati kaku. Jadi Tuti membantu dengan mengurut batang kontolRahman dan membuat laki-laki itu menggeram dashyat seperti singa. Shanti merasa mulutnya penuh dengan cairan lengket, ia tak ingin menelannya jadi iamengeluarkan dari sela-sela bibirnya walaupun ia tahu sebagian sudah tersembur masukke dalam kerongkongannya.

    Jantungnya berdebar melihat Tuti dengan lahap menjilatisetiap lelehan pejuh yang keluar dari mulutnya. ìTelan Shan.. Enak kok.. Mmhh.. Sllrrpp.. Mmmhh..î Tuti menjilati cairan kentalkeputihan itu. Dan Tuti dengan cepat menelanjangi Shanti, sehingga Shanti benar-benarberlutut tanpa selembar benangpun ditubuhnya dan wanita itu juga sudah telanjang bulatdan bahkan kini Tuti berdiri dan menyodorkan memeknya pada Shanti. Shanti hendak berpindah menggumuli memek Tuti tapi Rahman masih membiarkankontolnya dalam mulut gadis itu. Shanti mengeluarkan kontol Rahman dan menjilatipejuh yang menempel disana, ia mengemut kontol Rahman, sekarang ia merasa sukadengan rasanya, ternyata untuk menjadi biasa cepat sekali apalagi kalau memang ternyataenak. Memek Tuti digesek-gesek di wajah Shanti dan Shanti menyelipkan hidungnya di memekTuti serta mengendusnya, hhmm nikmat sekali baunya, pikir Shanti. Ia menjulurkanlidahnya dan mengorek-ngorek liang memek Tuti yang sudah licin dan banjir. Tangankanan Shanti sibuk mengocok kontol Rahman, tapi kontol itu lemas tidak bangunkembali. Rahman meringis kesakitan karena kocokan Shanti yang tidak berpengalaman, mulutnya sedang dilumat oleh Tuti, ia tidak mau melepaskan lumatan Tuti hanya untukmeringis, karena semua yang diberikan Tuti padanya adalah istimewa, dan belum pernahseumur hidupnya Rahman mendapatkan wanita seperti Tuti. Pelan-pelan mereka beringsut dan akhirnya mereka bertiga bergumul di ranjang. Rahmansibuk melumat mulut Shanti, ternyata gadis itu masih tidak berpengalaman sama sekali, lumatan bibirnya masih jauh dibanding Tuti. Tapi kontolnya sudah tegang seperti bajakembali karena Tuti yang mengocoknya. ìMau cobain rasanya memek Shanti Mas?î desis Tuti.Rahman mengangguk, ia mengidam-idamkannya dan dari tadi sore serta ia jugamemimpikannya. Tuti menyuruh Shanti memberikan memeknya tapi Shanti malu, Tutimenariknya sehingga pelan-pelan Shanti bergeser sampai tubuhnya di atas Rahman dania menungging diatas wajah Rahman. Tuti mendorong pantat Shanti supaya turun danpelan-pelan Shanti menurunkan pantatnya, tiba-tiba ia mengerang ketika lidah kasarRahman dan berewoknya menyapu memeknya yang sempit menimbulkan sensasi yangtidak terkirakan nikmatnya. Shanti merasa orgasme padahal belum diapa-apakan. Sekarang ia meliuk-liuk seperti penari ular ketika lidah Rahman menjelajahi bibirmemeknya dan menyapu itilnya dengan kasar. Geli dan nikmat bukan main.

    Tuti melihat lendir memek Shanti berjatuhan seperti tirai air terjun dan ia bersamaRahman menjilati lendir itu, sesekali ia meludah kedalam mulut Rahman dan laki-laki itusegera menikmati air liurnya. Tuti menjilati liang anus Shanti dari atas dan lidahnyamenusuk-nusuk lubang itu dengan ganas. Shanti mengerang, merintih, menjerit histeriskarena gelombang orgasme melandanya tanpa ampun membuat perutnya mulas sertamembuatnya ingin kencing. Shanti merasakan memeknya benar-benar disedot olehRahman sehingga mengeluarkan suara keras, lalu ia merasa air kencingnya keluar sedikit, ia malu dan berharap Rahman tidak menyadarinya. Tapi Rahman tahu, Tuti pun tahubahwa Shanti sampai terkencing-kencing saking nikmatnya. ìAyo Shan kencing saja Shan.. Mmmhh.. Enak sekali kencing kamuî gerang Rahmansambil memainkan itil Shanti dengan lidahnya. Shanti tidak berdaya, dan ia tak kuasamenahannya lagi, ia hanya punya pilihan menderita karena menahan kencing ataumenerima kenikmatan yang sedang diambang perasaannya. ìAduh nggak kuat! Aaakkhh.. Mbaakk!î Shanti merengek sambil mengocok kontolRahman yang licin karena lendir. Air seninya menyemprot keluar dari lubang kencingnya, memancar menyemprot wajahRahman dan Tuti. Panas dan berbau pesing, Tuti memejamkan matanya dan membukamulutnya sehingga air kencing Shanti masuk kedalam mulutnya dan keluar lagi jatuhkedalam mulut Rahman. Mereka meminum air kencing Shanti yang masih perawan, airkencing yang tidak banyak dan kekuningan tapi sensasinya membuat Rahman melayang, ia merasakan asin dan pahit ketika air kencing gadis itu membasahi tenggorokannya. Tutimalah dengan liar dan lahap meminum dan menjilati air kencing yang jatuh membasahiwajah Rahman kemudian membasahi ranjang mereka, untung Tuti sudah menjaga-jaga, tadi sore ia sudah memasang karpet karet dalam sprei, ia yakin akan terjadi permainandashyat malam ini dan sekarang terbukti. Rahman sangat menyukai cairan memek Shanti, ada bau khas seperti punya Tuti tapi iatetap berpendapat cairan memek Tuti lebih enak dan lebih asin serta kental dan baunya- pun lebih keras daripada punya perawan ini. Rahman merasa kontolnya sudah tak sabarlagi ingin mencari korban, Tuti ingin mengulumnya tapi ia menghindar, ia tidak akanbertahan lama jika dikulum oleh Tuti dan itu membuat Tuti terkikik kegelian.ìTakut? Hi hi hi..î Rahman tersenyum kecut dengan brewok yang berlumuran lendirmemek Shanti.Ia menarik Tuti agar menggantikan Shanti. Tuti beringsut. Ia berbisik pada Shanti, gadisitu menggeleng. ìCoba saja Shan, enak bukan main. Memang pertama-tama akan perih tapi kamu akansegera merasa enak..î kata Tuti. Shanti diam dan ia pasrah ketika Tuti pelan-pelan membaringkannya terlentang diatasranjang yang besar itu. Rahman bangun dan menggumulinya, teteknya dikulum oleh lakilakiitu, tapi remasan Rahman ternyata lembut dan menimbulkan berahi. Padahal tadiShanti melihat bagaimana laki-laki itu mengulum tetek Tuti, membuat wanita itumeringis. Tapi terhadap dirinya Rahman lembut sekali bahkan Shanti merasa enak sekaliteteknya disedot-sedot seperti itu. Lalu ia melihat kebawah dan dilihatnya Tutimerenggangkan pahanya lalu memegang kontol Rahman yang sudah keras seperti kayu. Perlahan-lahan kontol itu turun, tapi sebelum menyentuh memeknya ia melihat Tutimenyelomoti kontol itu sebentar dan itu membuat Rahman menjerit seperti tersentak, wanita itu terkekeh-kekeh senang, lalu Tuti mulai menempelkan kepala kontol Rahmankebibir memek Shanti yang sudah banjir hebat. Pelan-pelan kontol itu mulai masuksesenti demi sesenti sampai terdengar raungan Shanti. ìAaakkhh.. Sakiitt.. Uuuhh Mbaakk.. Ampuunn..î Shanti merintih keras ketika kontolRahman mendesak terus, ia berkelojotan sambil berontak. Lalu ia merasa lega ketika kontol itu diam dan pelan-pelan memompa tapi tidak turunlagi, gadis itu meriang mendapati kenikmatan melandanya dengan pompaan yangdiberikan Rahman. Shanti mendesis-desis seperti orang kepedasan. Tuti memainkan itilShanti membuat Shanti kejang-kejang, lalu Rahman kembali menusuk, kali ini dengancepat dan keras. ìAduuhh.. Ampuunn!! Sakiitt!! Mati aku mbaakk!!î teriak Shanti histeris ketikamerasakan lubang memeknya seolah-olah robek dan meledak, perih bukan main danpanas merayapi tubuhnya. Matanya terbelalak, keringatnya keluar sebesar butian jagung. Jari-jarinya mencakarpunggung Rahman, tapi sang kontol sudah tertanam dalam memek Shanti dan Rahmanmulai mengangkat perlahan diiringi jeritan Shanti, gadis itu hendak pingsan, sakit sekali, setiap kali laki-laki itu menusuk atau mencabut dirasakannya kenyerian disekelilingmemek dan perutnya. ìTahan Shan, nanti kamu akan keenakanî bisik Tuti.

    Setelah beberapa saat, apa yang dikatakan Tuti ternyata benar. Shanti merintih danmengerang karena kenikmatan. Rahman merasakan hal yang sama pada kontolnya. Iamerasa kontolnya seperti diremas dan dicengkram oleh gadis itu, Rahman benar-benarmerasa beruntung, setua ini ia masih mendapatkan perawan! Rahman menghisapi tetekShanti bergantian dan ia merasakan pentil kecil itu keras dalam mulutnya. Rahman merasa menang karena ia membuat Shanti menjerit dan berteriak histeris terusmenerus tatkala gadis itu mendapatkan orgasmenya, dengan Tuti ia tidak pernah menang, memang dulu pertama kali Tuti menjerit-jerit seolah-olah orgasme tapi akhirnya Rahmantahu itu hanya pura-pura saja, Tuti hanya bisa orgasme kalau memek dan liang anusnyadijilati atau dikocok dengan sesuatu, seperti kontol-kontolan yang bergetar atau dildokaret yang berbuku-buku dan Rahman melarang Tuti memberikan rintihan palsu sewaktumereka sedang bersetubuh, ia tak ingin kepalsuan dan dengan ksatria ia mengakui tidakdapat mengalahkan Tuti, selalu saja ia yang terjerambab kalah. ìOommhh.. Aduh Mbak, aku nggak sanggup lagi Mbaak!î Shanti mengeluh, tubuhnyabersimbah peluh dan ia merasa melayang karena lautan kenikmatan yang terusmelandanya. Tuti tidak mau mendengarkannya karena wanita itu juga sedang dilanda nafsu yang luarbiasa, ia menyurukkan kepalanya dan menjilati liang anus Rahman lalu beberapa saat jikaingin keluar ia mencabut kontolnya dan Tuti segera menyelomotinya dengan kasarsupaya laki-laki itu tidak orgasme lalu Tuti akan menyuruk kememek Shanti danmenjilati cairan yang menggenang bercampur dengan darah perawan gadis itu sampaibersih, ia juga menjilati cairan yang mengalir ke liang anus Shanti, ia menghisap danmenelan cairan itu dengan penuh nafsu, baru Rahman memasukkan kembali kontolnyadan memompa Shanti kembali. Tuti juga mencapai orgasme karena merasa terangsangdengan ulahnya, ia merasa seperti binatang, ia merasa seperti budak yang harusmembersihkan semua cairan berahi Rahman dan Shanti dan itu membuatnya sangatterangsang. Lalu Tuti mengatur posisi Shanti, ia menyuruh gadis itu menungging dan Rahmanmenyetubuhinya dari belakang, sedangkan Tuti menyurukkan tubuhnya kebawah Shantidan mengemut itil gadis itu sementara Rahman memompa dengan irama pelan. Kali iniShanti terbelalak dan gemetaran karena kenikmatan yang datang jauh lebih dashyatdaripada tadi. Mulut Shanti keluar erangan, ia merasakan itilnya diputar-putar didalammulut Tuti dan ia merasakan daging yang menyesakkan liang memeknya sepertimembuatnya ingin kencing lagi, ia menjerit-jerit histeris dengan tubuh berkelojotanseperti gadis yang tengah sekarat. Dan Shanti seperti gila membenamkan wajahnyakeselangkangan Tuti, lidahnya dengan liar mengorek-ngorek liang memek wanita itu danmenjilati cairan kental yang berlumuran disana. Mulut Shanti terasa asin dan tubuhnyaterasa lengket oleh keringat. ìSudah Oom.. Ampun.. Aduh.. Nggak kuat lagi akuu!î jerit Shanti dan ia terkulaimenindih tubuh Tuti. Rahman mencabut kontolnya dan dari dalam memek Shanti mengalir cairan encer beningbanyak sekali. Tuti dengan lahap menjilati cairan itu bahkan Rahman tak segan-seganmenjilati liang anus Shanti dengan penuh nafsu. Kontolnya yang keras bagi baja itumasih tegak perkasa menunggu sesuatu yang dapat dipasaknya. Tuti meremas kontolRahman sambil menghisap memek Shanti. Kemudian Tuti cepat-cepat mencegahRahman ketika laki-laki itu hendak mengarahkan kontolnya keliang anus Shanti.

    Rahmansadar dan buru-buru mengurungkan niatnya. Tuti tidak dapat membayangkan bagaimanaShanti menerima tusukan kontol Rahman diliang duburnya, pasti gadis itu akan meraungraungkesakitan luar biasa. ìSekarang giliran aku manis..î desis Tuti. Lalu ia tidur terlentang dan mengangkat keduakakinya terlipat ke wajahnya sehingga memek dan liang anusnya menghadap keatas. Shanti segera menyelomoti liang memek Tuti dengan rakus. Ia mengocok memek Tutidengan jarinya dan membuat wanita itu berkelojotan, Tuti dapat orgasme bila denganShanti karena ia sangat menikmati waktunya dengan gadis itu. Shanti mulai menjilatiliang anus Tuti sedangkan wanita itu menyelomoti kontol Rahman. Tuti menyelomotidengan kasar, ia membiarkan sesekali kontol Rahman mengenai giginya dan Rahmansenang karena wanita itu tidak akan membuatnya keluar dengan cepat. Ia tahu keinginanTuti, ia tahu Tuti ingin dipompa dan Rahman senang sekali. Kontolnya tidak lemaskarena ia sangat terangsang melihat keliaran Shanti melumat liang anus Tuti denganrakus, Rahman sekarang makin bersyukur mendapatkan dua perempuan yang punyanafsu besar, semula ia tidak menyangka gadis muda itu akan mudah didapatkan, ternyatamemang Tutilah yang memegang peranan. ìJilat dalamnya Shan, .. Oooh bersihkan.. Terus.. Aduh enak sekali Shan.. Emut terusShanî desis Tuti, Shanti menusuk-nusukan lidahnya di liang anus wanita itu dan sesekalilidahnya terjepit sampai dalam, kemudian ditusuk-tusukannya dan membuat Tutitersentak-sentak. Kemudian Shanti melihat Rahman mendekati dan mengarahkan kontolnya. Tapi Shantikaget ketika kontol Rahman pelan-pelan menusuk keliang anus Tuti. Shanti memandangTuti, dan wanita itu mengedipkan matanya. Tuti mengejan sedikit dan blup! KontolRahman melesak masuk kedalam liang itu. Shanti terpana ketika melihat Rahmanmengayun maju mundur memompa liang anus Tuti, pompaan yang berirama dan adalendir yang keluar bersama pompaan kontol Rahman. ìShan, jilat Shan.. Ooohh.. Terus.. Aaakkhh..î Tuti merasa orgasme ketika melihatdengan tanpa merasa jijik Shanti menjilati lendir yang keluar dari liang anusnya danbahkan Rahman mencabut kontolnya dan Shanti seperti sudah tahu langsung menghisapdan menyelomoti kontol itu. Shanti sama sekali tidak jijik karena kalau itu liang anus Tuti, apapun diminta Tuti iaakan melakukannya karena Shanti sadar bahwa yang dikatakan Tuti selalu benar. Shantimerasakan cairan asin dan berbau tapi ia menikmatinya. Bahkan beberapa kali iamemaksa kontol Rahman dicabut supaya ia bisa menghisap dan membersihkan cairanlengket keputihan itu. Rahman beberapa kali sudah ingin meledak karena berahi yangmencapai puncak tapi untung setiap kali ada Shanti yang membuatnya mengurungkanledakan laharnya dan ia tersenyum senang pada Tuti, sedangkan Tuti sudah lebih dari duakali orgasme karena perbuatan Shanti didepan matanya daripada pompaan kontolRahman di duburnya.Ia menarik Shanti dan memaksa melumat mulut gadis itu, Shanti membuka mulutnya danmembiarkan cairan keputihan yang baru saja dijilat di liang anus Tuti mengalir jatuhkedalam mulut Tuti. Tuti merintih dan menikmati cairan itu, kemudian mereka salingmembelit dan melumat. Tuti menggoyang berirama dan membuat Rahman menggerungseperti binatang terluka. ìAaarrgghh.. Gilaa!!î teriak Rahman. ìCepat, cepat!î teriak Tuti sambil mendorong Shanti. Seperti sudah mengetahui apa yang harus dilakukannya Shanti segera menyurukkanwajahnya dan sedikit terlambat ketika Rahman memuntahkan pejuhnya didalam anusTuti tapi laki-laki itu memaksa mencabutnya dan Shanti segera menangkap denganmulutnya.

    Rahman memompanya dalam mulut Shanti seperti orang kesetanan dan cairanyang keluar seperti tidak ada habis-habisnya, Shanti kali ini menelan cairan itu, sebagiandisekanya dengan tangannya kemudian disodorkan kepada Tuti dan wanita itu menjilatcairan itu dengan lahap. Rahman berkelojotan seperti akan putus nyawanya, mulutnya mengeluarkan suara sepertiorang sekarat. Ia benar-benar puas. Shanti menyelomoti kontolnya dengan ahli sekarang. Ia bisa merasakan jalaran lidah gadis itu menyapu permukaan topi bajanya dan keleherkontolnya yang paling peka, membuatnya melayang-layang dalam perasaan aneh yangmembuat tubuhnya panas meriang. Setelah agak lama Rahman tumbang diatas ranjang. ìAku bisa gila..î desahnya. Rahman memandang Shanti yang sedang menjilati cairan pejuh di anus Tuti, ia bahkanmengorek-ngorek liang anus Tuti dengan lidahnya dan itu membuat Tuti menjerit-jeritkenikmatan dan kegelian, tapi Shanti seperti kesetanan dengan perbuatan joroknya. Shanti tidak peduli apa yang dijilatnya, ia hanya merasa ada sensasi aneh denganmelakukannya, ia merasa hebat dan ia merasa terangsang bukan main dengan apa yangdiperbuatnya. Shanti betul-betul pembersih, ia membuat liang memek dan anus Tuti berkilat karenajilatannya. Tak ada setetes-pun lendir disana kecuali bekas jilatan-jilatan lidahnya. Shantipuas dengan pekerjaannya. Ia memandang Tuti dengan penuh cinta ketika wanita itumenurunkan kakinya. Tuti merasa kakinya hendak copot karena pegal dan perutnyakeram, tapi ia tersenyum letih pada Shanti. Ia membelai kepala gadis itu kemudianmereka saling melumat dan berpelukan dalam senyap, sementara Rahman dengan mulutter-nganga mendengkur seperti babi. ìAku cinta sama Mbakî bisik Shanti. Tuti tersenyum lembut. ìAku juga mencintaimu Shan, kamu segalanya buatkuî bisiknya.ìJangan tinggalkan saya Mbakî Tuti menggeleng dalam diam. Tidak akan, pikirnya. Tidak akan pernah! Shanti menyusupkan kepalanya di payudara Tuti dan tidur lelapdalam kelelahan.. *****ìWah segar sekali kamu kelihatannya?î kata Tuti sambil duduk disamping Shanti. Gadis itu sedang melamun diteras belakang rumah Tuti sambil memandang kolamrenang. Shanti terkejut sebentar tapi tersenyum manis. Wajahnya bersih dan segar, rambutnya yang panjang dibiarkan terurai dan pagi itu Shanti benar-benar cantik sekali. Ia memakai daster warna kuning dengan bunga-bunga kecil di bagian dada. ìWah Mbak juga kelihatan cantik sekali!î seru Shanti. Tak lama kemudian seorang wanita tua yang dikenal dengan mbok Iyem menaruh kopisusu dan roti panggang di meja kecil dihadapan mereka. ìMelamunin semalam ya?î bisik Tuti setelah pembantunya pergi. Shanti mencubit perutTuti, membuat wanita itu tekikik geli. ìAaahh Mbak! Malu nih..î rengek Shanti. Tuti tertawa lagi. ìKok malu? Itu biasa kok, semua orang juga pasti melakukannyaî kata Tuti sambilmenyerahkan kopi susu kepada gadis itu. ìTapi kan nggak kayak semalam Mbak. Aku malu dan risih sama Mbak..î kata Shanti.Ia menghirup kopi susunya. Tuti tersenyum sambil minum juga. ìAku kan sudah bilang, buat aku sama sekali nggak apa-apa. Malah aku senang sekalikamu juga merasakan kesenangan dengankuî jawab Tuti. ìTetap aku merasa malu, sebab itu kan suami MbakîìJangan berkata seperti itu, yang aku inginkan cuma kebahagiaan dan kesenangan kitaberdua Shan. Rahman memang sangat mencintaiku, dan aku juga sangat mencintainya, tapi aku juga sangat mencintaimu, kamu kan tahu itu?îìTapii.. Ah pokoknya entah bagaimana aku nanti kata orang. Bersetubuh dengan suamiorang dan bersama pula!îìAh mana orang yang tahu? Sudahlah, pokoknya aku merasa sangat bahagiaî kata Tuti. Tuti membelai rambut Shanti. ìApakah kamu tidak bahagia?îìAku bukan main bahagianya Mbak dan aku juga bingung bagaimana aku harusberterima kasih pada semua kebaikan Mbakî jawab Shanti. ìJangan berkata begitu sayang, aku malah takut kamu menjadi marah padaku karenakejadian semalam keperawananmu hilangî kata Tuti sambil memandang Shanti. ìAh buatku tidak masalah Mbak, yang penting enaakk.. Hi hi hiî Shanti merasa lucusendiri, ia sama sekali tidak peduli dengan keperawanannya, masa bodo, pikirnya. Akumalah merasa aneh dan sangat ketagihan.. ìMasih sakit?î tanya Tuti.

    Shanti menggeleng. ìNggak, cuma tadi pagi perih waktu mau kencing. Mbak tidurnya enak sekali ya, tapi kokOom Rahman udah menghilang sepagi itu?î tanya Shanti. ìOh itu mah biasa Shan. Bisnisnya terlalu banyak dan seringnya malah jam dua pagisudah pergi kalau mau keluar negeriî kata Tuti. ìWah enak dong ya, Mbak pasti sudah sering keluar negeriîìYah hanya ke Singapura dan Malaysia saja, lainnya belum ada kesempatanî jawab Tutitertawa. ìNanti juga pada saatnya kita akan bisa pergi bersama-samaî lanjutnya. ìWah tadi pagi mulutku baunya bukan main Mbak! Semalam ketiduran padahal belumgosok gigiî kata Shanti sambil cekikikan. Tuti tertawa juga. ìAku juga! Uekh, aku pengen muntah saja tadi pagi, hi hi hi..î Tuti membuat wajahnyaterlihat lucu. ìTapi sekarang sudah nggak lagi kan?î lanjutnya sambil membuka mulutnya danmendekatkan pada Shanti. Shanti mencium mulut Tuti dan melumatnya. ìMmmhh.. Sedaapp..î desisnya. ìUdah ah, ntar kelihatan sama si Mbok bisa pingsan dia melihat kita ciuman beginiî kataTuti. Mereka tertawa. ìApakah kamu nggak merasa jijik dengan perbuatan kita semalam?î tanya Tuti ingintahu. Shanti memandangnya sambil menggeleng. ìEntahlah, aku malah kepengen lagi Mbak. Padahal tadi pagi aku berpikir betapamenjijikkannya perbuatan kita semalam, tapi mengapa aku merasa aneh dan terangsangsetiap kali membayangkannya?î Shanti memang merasa bingung. Tadi pagi ia merasa risih dan malu sekali mendapati dirinya bangun dari tidur dengantubuh telanjang bulat diatas tubuh Tuti. Dan ia ingin muntah mendapati mulutnya bausekali, tubuhnya berbercak-bercak putih seperti kerak dan ia yakin itu pejuh atau lendirTuti atau bahkan miliknya sendiri. Tapi anehnya ia malah tersenyum waktu itu dan merasa jantungnya berdebar ketikamembersihkan kerak-kerak itu dan merasakan kerak itu menjadi lendir kembali sewaktukena air. Ia malah mencicipinya lagi sambil membayangkan apa yang dilakukannyasemalam. Mungkin kalau menurut adat kampung perbuatannya semalam sudah termasukkatagori gila atau perempuan laknat, bersetubuh dengan suami orang, menciumi anussesama jenis bahkan menjilatinya, oh itu sungguh bisa menimbulkan masalah yang luarbiasa besarnya jika diketahui orang tuanya. Untung orang tuanya berada jauh sekali darisini. ìHeh! Melamun lagi!î seru Tuti. ìOh eh.. Ih Mbak ngagetin melulu!îìMikirin apa lagi?î tanya Tuti. ìMikirin semalam kok Mbak mau saja sih ditusuk di pantat?î tanya Shanti. Tutimengerling pura-pura marah. ìKamu ini jorok ya, pagi-pagi sudah ngomong gituan..îìAaahh.. Ayo dong Mbakî rengek Shanti. Tuti mencubit pipi gadis itu.ìYa mau saja, wong buatku enak sekali kokî jawab Tuti. ìLho? Kan sakit Mbak?îìNdak lagi, malah aku sering sekali ngecret kalo dientot pantatkuî jawab Tuti seenaknya. ìDulu pertama kali memang sakit, tapi lama-lama malah enak, seperti mau berak rasanya. Rasanya mulas sewaktu kontol masuk kedalam sanaîìAstaga! Mbak ih, jorok..îìEnaakk.. Kan kamu dulu yang mulaiin ngomong jorokî Tuti tersenyum genit. ìSekali-kali aku pengen juga dientot di sana Mbakî kata Shanti tiba-tiba. ìNanti juga kesampaian, dan kamu bisa ketagihan nanti. Apalagi kalau kita dientot daridepan dan belakang, wah rasanya semua laki-laki jadi budak nafsu kita. Kita bisa matikeenakan Shan!î kata Tuti. Shanti melotot. ìGila! Masak ditusuk dari depan dan belakang?î Tuti baru mendengarnya lagi. ìIya, dulu sekali aku pernah dientot 6 laki-laki Shan. Satu menusuk pantatku sambilnungging, sedangkan aku mengentoti kontol laki-laki dibawahku dengan memekku danmulutku dientot dua kontol, dan dua kontol lagi mengentoti ketekku, wah aku merasaseperti mesin pejuh Shan, mereka semua menyemburkannya dimulutku, dipantatku, dimemekku, di ketekku, di tetekku, di perut, di kaki, di paha, di wajah serta di rambutku!î Cerita Tuti kebablasan. Shanti tegang sekali sehingga napasnya memburu. Ia terkejut mendapati Tuti begituberpengalaman dengan laki-laki. ìEmang dulu Mbak.. ììYa aku dulu pelacur Shan. Pelacur idaman setiap laki-laki, bukan sombong, tapipenghasilanku dulu besar sekali. Karena aku selalu memuaskan setiap laki-laki dan akuselalu menuruti apa yang mereka inginkan. Kamu akan tahu laki-laki itu punya fantasiyang gila Shan. Mereka kebanyakan membayangkan kita-kita ini seperti binatangpeliharaan mereka..î cerita Tuti lagi. Shanti tegang mendengarkan. ìDan kebetulan aku juga maniak seks, jadi aku juga merasa enak sekali, nafsu berahikubesar sekali Shan. Dulu aku begitu menghayati pekerjaanku, bayangkan saja, sudahdientot enak dapat uang pula!î lanjut Tuti. ìMbak hebat sekali! Aku tidak pernah membayangkan Mbak jadi pelacur lho!î seruShanti. ìSsstt.. Pelan-pelan dong, kedengaran orang mati aku!î desis Tuti. Mereka tertawa. ìTapi ada juga nggak enaknya, tapi umumnya aku puas dengan apa yang kuhasilkan duludan sekarang lebih enak lagi.

    Mendapatkan suami kaya dan gadis cantik seperti kamuyang..î Tuti menggantung kalimatnya. ìYang apa?îìAh nggak jadi deh..îìAaahh ayo doongg..îìYang siap dientot dan mengentot!î bisik Tuti.Shanti menjerit sambil mencubiti Tuti, mereka saling cubit mencubit sambil cekikikan. Tuti memang merasa bersyukur bukan main dengan keadaannya sekarang, tapi Shantijuga sangat bersyukur dengan apa yang didapatnya sekarang. Jadi kurang apa lagi?ìEhh Mbak, nanti malam kalo Oom Rahman pulang kita lakukan hal yang semalamyuukk..?î kata Shanti memecahkan lamunan Tuti. ìAhh.. Kamu masa sih tadi malam belum puas??îìAaahh.. Ayo doongg.. Mbak khan Shanti mau ngobain dientot lewat anus, seperti Mbaksemalam?îìMemangnya kamu udah siap dientot di pantat?? tanya Tuti meragukan perkataanShanti.îìAku khan mau nyobain Mbak, abis Shanti lihat semalam Mbak sangat keenakkansihh..?îìShan apa kamu engga takut sama kontolnya Oom Rahman? Khan kontolnya OomRahman besar sekali. Nanti anusmu bisa jebol lohh..!!?î kata Tuti meyakinkankesungguhan Shanti. ìEngga aku sama sekali engga takut, masa kontol itu di anus Mbak bisa masuk di anusShanti engga bisa??îìYaa bisa sihh.., tapi pertama-tama musti sedikit dipaksakan, dan lagi waktu pertama kalimasuk wahh.. Sakitnya bukan main lohh..?îìTapi abis itu enak khan Mbak??îìIya sih, yaa kurang lebih sama lah waktu kamu kesakitan semalam, malahan bisa lebihsakit ke anus?îìPokoknya Shanti mau nyoba, tapi Mbak ajarin yaa..!!î Shanti memohon ke Tuti. ìYaa udah bersiaplah nanti malam?î Waktu terus berlalu, akhirnya malam-pun tiba. Shanti dan Tuti keduanya menungguiRahman di ruang tamu. Mereka duduk-duduk disana sambil makan kue-kue kecil. Akhirnya pada jam 9.20 terdengar suara klakson mobil. ìShan itu Oom Rahman pulang?î teriak Tuti. ìAyu Mbak kita kedepan membukakan pintu?î kata Shanti sambil beranjak dariduduknya. Lalu Tuti pun mengikutinya dari belakang. Setelah Rahman memarkir mobilnya digarasi, Tuti menutup pagar, lalu mereka bertiga masuk kedalam. Ketiganya langsungmenuju ke kamar yang sudah disiapkan oleh Tuti. Sesampainya disana Rahman langsung mencopot pakaiannya, terus ia beranjak ke kamarmandi untuk mandi. Sementara itu Shanti menunggunya dengan hati berdebar-debar. Sambil menunggu Rahman mandi, Tuti menyetel film biru. Shanti semakin terangsangmelihat adegan-adegan pada film tersebut. Ia merasakan itilnya berdenyut-denyut, putingsusunya mengeras. Melihat perubahan wajah dari gadis tersebut, Tuti yang sangatberpengalaman langsung saja melumat bibir gadis itu.Perlahan-lahan Tuti mulai melepaskan pakaian Shanti. Gadis itu malah ikut membantumengangkat pantatnya ketika Tuti melepaskan pakaiannya. Lalu setelah ia melepaskanpakaian gadis itu, ia-pun segera melepaskan pakaiannya. Akhirnya mereka berduatelanjang diatas ranjang tanpa mengenakan sehelai benang-pun. Bibir mereka salingmelumat, tangan mereka saling meraba bagian-bagian sensitif, sehingga membuat merekalebih terangsang. Pada saat rangsangan mereka mencapai puncaknya, tiba-tiba Rahman keluar dari kamarmandi dengan lilitan handuk yang menutupi kemaluannya. Segera saja kedua perempuantersebut menyambut Rahman, mereka melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya, lalu Shanti dengan rakus langsung mengemut kontol laki-laki tersebut. Sementara itu Tutisibut menjilati buah zakarnya. Lalu Tuti mengajak mereka semua pindah keranjang. Kemudian Rahman mencium belakang telinga Shanti dan lidahnya bermain-main didalam kupingnya. Hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli, yang menyebabkanbadan Shanti mengeliat-geliat. Mulut Rahman berpindah dan melumat bibir Shantidengan ganas, lidahnya bergerak-gerak menerobos ke dalam mulut gadis itu danmenggelitik-gelitik lidahnya. ìAaahh.., hmm.., hhmmî, terdengar suara menggumam dari mulut Shanti yang tersumbatoleh mulut Rahman. Mulut Rahman sekarang berpindah dan mulai menjilat-jilat dari dagu Shanti turun keleher, kepala gadis belia itu tertengadah ke atas dan badan bagian atasnya yang terlanjangmelengkung ke depan, ke arah Rahman, payudaranya yang kecil mungil tapi bulatkencang itu, seakan-akan menantang ke arah lelaki setengah baya tersebut. Laki-laki itu langsung bereaksi, tangan kanannya memegangi bagian bawah payudaragadis tersebut, mulutnya menciumi dan mengisap-isap kedua puting itu secara bergantian. Mulanya buah dada Shanti yang sebelah kanan menjadi sasaran mulutnya. Buah dadaShanti yang kecil mungil itu hampir masuk semuanya ke dalam mulut Rahman yangmulai mengisap-isapnya dengan lahap. Lidahnya bermain-main pada puting buah dadaShanti yang segera bereaksi menjadi keras.

    Terasa sesak napas Shanti menerimapermainan Rahman yang lihai itu. Badan Shanti terasa makin lemas dan dari mulutnyaterus terdengar erangan, ìSsshh.., sshh.., aahh.., aahh.., sshh.., sshh.., aduh Mbak aku engga kuat, sshh.., enaak.. Oomî, mulut Rahman terus berpindah-pindah dari buah dada yang kiri, ke yang kanan, mengisap-isap dan menjilat-jilat kedua puting buah dadanya secara bergantian. BadanShanti benar-benar telah lemas menerima perlakuan ini. Matanya terpejam pasrah dankedua putingnya telah benar-benar mengeras. Sementara itu Tuti terus bermain-main dipaha Shanti yang mulus itu dan secara perlahan-lahan merambat ke atas dan, tiba-tibajarinya menyentuh bibir kemaluan Shanti. Segera badan Shanti tersentak dan, ìAaahh.., oohh.., Mbaak..!î.Mula-mula hanya ujung jari telunjuk Tuti yang mengelus-elus bibir kemaluannya. MukaShanti yang ayu terlihat merah merona dengan matanya yang terpejam sayu, sedangkangiginya terlihat menggigit bibir bawahnya yang bergetar. Kedua tangan Tuti memegangkedua kaki gadis itu, bahkan dengan gemas ia mementangkan kedua belah pahanya lebarlebar.Matanya benar-benar nanar memandang daerah di sekitar selangkangan Shantiyang telah terbuka itu. Nafas perempuan itu terdengar mendengus-dengus memburu. Shanti merasakanbadannya amat lemas serta panas dan perasaannya sendiri mulai diliputi oleh suatusensasi yang mengila, apalagi melihat tubuh Rahman yang besar berbulu dengankemaluannya yang hitam, besar yang pada ujung kepalanya membulat mengkilat denganpangkalnya yang ditumbuhi rambut yang hitam lebat terletak diantara kedua paha yanghitam gempal itu. Sambil memegang kedua paha Shanti dan merentangkannya lebarlebar,Tuti membenamkan kepalanya di antara kedua paha Shanti. Mulut dan lidahnyamenjilat-jilat penuh nafsu di sekitar kemaluan gadis belia tersebut yang yang masih rapat, tertutup rambut halus dan tipis itu. Shanti hanya bisa memejamkan mata, ìOoohh.., nikmatnya.., oohh!î, Shanti mengumandalam hati, sampai-sampai tubuhnya bergerak menggelinjang-gelinjang kegelian. ìOoohh.., hhmm!î, terdengar rintihan halus, memelas keluar dari mulutnya. ìMbaakk.., aku tak tahan lagi..!î, Shanti memelas sambil menggigit bibir. Sungguh Shanti tidak bisa menahan lagi, dia telah diliputi nafsu birahi, perasaan nikmatyang melanda di sekujur tubuhnya akibat serangan-serangan mematikan yang dilancarkanTuti dan Rahman yang telah bepengalaman itu. Namun rupanya mereka berdua itu tidakpeduli dengan keadaan Shanti yang telah orgasme beberapa kali itu, bahkan merekaterlihat amat senang melihat Shanti mengalami hal itu. Tangannya yang melingkari keduapantat Shanti, kini dijulurkan ke atas, menjalar melalui perut ke arah dada dan mengelus- elus serta meremas-remas kedua payudara Shanti dengan sangat bernafsu. Menghadapiserangan bertubi-tubi yang dilancarkan Rahman dan Tuti ini, Shanti benar-benar sangatkewalahan dan kamaluannya telah sangat basah kuyup. ìMbaakk.., aakkhh.., aakkhh!î, Shanti mengerang halus, kedua pahanya yang jenjangmulus menjepit kepala Tuti untuk melampiaskan derita birahi yang menyerangnya, dijambaknya rambut Tuti keras-keras. Gadis ayu yang lemah lembut ini benar-benar telah ditaklukan oleh permainan Tuti danlaki-laki setengah baya yang dapat sangat membangkitkan gairahnya. Tiba-tiba Tutimelepaskan diri, kemudian bangkit di depan Shanti yang masih tertidur di tepi ranjang, ditariknya Shanti dari atas ranjang dan kemudian Rahman disuruhnya duduk ditepiranjang. Kemudian kedua tangan Tuti menekan bahu Shanti ke bawah, sehingga sekarangposisi Shanti berjongkok di antara kedua kaki berbulu lelaki tersebut dan kepalanya tepatsejajar dengan bagian bawah perutnya. Shanti sudah tahu apa yang diinginkan kedua orang tersebut, namun tanpa sempatberpikir lagi, tangan Rahman telah meraih belakang kepalanya dan dibawa mendekatikontol laki-laki tersebut. Tanpa melawan sedikitpun Shanti memasukkan kepala penisRahman ke dalam mulutnya sehingga kontol tersebut terjepit di antara kedua bibir mungilShanti, yang dengan terpaksa dicobanya membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu Shantimulai mengulum alat vital Rahman dalam mulutnya, hingga membuat lelaki itu meremmelek keenakan. Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulut Shantiyang kecil, itupun sudah terasa penuh benar. Shanti hampir sesak nafas dibuatnya. Kelihatan ia bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itukeluar masuk ke dalam mulutnya. Terasa benar kepala itu bergetar hebat setiap kali lidahShanti menyapu kepalanya. Sementara itu Tuti sibuk menjilati buah peler laki-lakitersebut. Kadang lidahnya menyapu anus suaminya itu. Beberapa saat kemudian Rahman melepaskan diri, ia mengangkat badan Shanti yangterasa sangat ringan itu dan membaringkan di atas ranjang dengan pantat Shanti terletakdi tepi ranjang, kaki kiri Shanti diangkatnya agak melebar ke samping, di pinggirpinggang lelaki tersebut.

    Kemudian Rahman mulai berusaha memasuki tubuh Shanti. Tangan kanan Rahman menggenggam batang penisnya yang besar itu dan kepalapenisnya yang membulat itu digesek-gesekkannya pada klitoris dan bibir kemaluanShanti, hingga Shanti merintih-rintih kenikmatan dan badannya tersentak-sentak. Rahmanterus berusaha menekan kontolnya ke dalam kemaluan Shanti yang memang sudah sangatbasah itu, akan tetapi sangat sempit untuk ukuran penis Rahman yang besar itu. Pelahan-lahan kepala penis Rahman itu menerobos masuk membelah bibir kemaluanShanti. Ketika kepala penis lelaki setengah baya itu menempel pada bibir kemaluannya, Shanti merasa kaget ketika menyadari saluran vaginanya ternyata panas dan basah. Kemudian Rahman memainkan kepala penisnya pada bibir kemaluannya yangmenimbulkan suatu perasaan geli yang segera menjalar ke seluruh tubuhnya. Dalam keadaan seperti itu, dengan perlahan Rahman menekan pantatnya kuat-kuat kedepan sehingga pinggulnya menempel ketat pada pinggul Shanti, rambut lebat padapangkal penis lelaki tersebut mengesek pada kedua paha bagian atas dan bibir kemaluanShanti yang makin membuatnya kegelian, sedangkan seluruh batang penisnya amblas kedalam liang vagina Shanti. Dengan tak kuasa menahan diri, dari mulut Shanti terdengar jeritan halus tertahan, ìAduuh!, oohh.., aahhî, disertai badannya yang tertekuk ke atas dan kedua tangan Shantimencengkeram dengan kuat pinggang Rahman. Perasaan sensasi luar biasa bercampursedikit pedih menguasai diri Shanti, hingga badannya mengejang beberapa detik. Melihat keadaan itu, dengan sigap Tuti langsung menuju ke payudara gadis itu. Dikulumnya payudara Shanti yang sebelah kiri dengan mulutnya, lidahnya sibukmenyentik-yentik putingnya yang telah keras dan runcing itu. Sementara tangannya yangkanan sibuk memilin-milin puting susu yang sebelah kiri. Shanti semakin menggeliat. Kemudian Tuti pun berpindah ke puting sebelahnya. Perasaannya campur aduk, antarapedih dan nikmat.Rahman cukup mengerti keadaan Shanti, ketika dia selesai memasukkan seluruh batangpenisnya, dia memberi kesempatan kemaluan Shanti untuk bisa menyesuaikan denganpenisnya yang besar itu. Shanti mulai bisa menguasai dirinya. Beberapa saat kemudianRahman mulai menggoyangkan pinggulnya, mula-mula perlahan, kemudian makin lamasemakin cepat. Seterusnya pinggul lelaki setengah baya itu bergerak dengan kecepatantinggi diantara kedua paha halus gadis ayu tersebut. Shanti berusaha memegang lengan pria itu, sementara tubuhnya bergetar dan terlonjakdengan hebat akibat dorongan dan tarikan penis lelaki tersebut pada kemaluannya, giginya bergemeletuk dan kepalanya menggeleng-geleng ke kiri kanan di atas ranjang. Shanti mencoba memaksa kelopak matanya yang terasa berat untuk membukanyasebentar dan melihat wajah lelaki itu yang sedang menatapnya, dengan takjub. Shantiberusaha bernafas dan.. ìOoomm.., aahh.., oohh.., sshhî, erangnya sementara pria tersebut terus menyetubuhinyadengan ganas. Shanti sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap kali Rahman menggerakkantubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding liang vaginanya, sungguh membuatnyamelayang-layang dalam sensasi kenikmatan yang belum pernah dia alami. Setiap kaliRahman menarik penisnya keluar, Shanti merasa seakan-akan sebagian dari badannyaturut terbawa keluar dari tubuhnya dan pada gilirannya Rahman menekan masukpenisnya ke dalam vaginanya, maka clitoris Shanti terjepit pada batang penis lelaki itudan terdorong masuk kemudian tergesek-gesek dengan batang penis lelaki tersebut yangberurat itu. Hal ini menimbulkan suatu perasaan geli yang dahsyat, yang mengakibatkanseluruh badan Shanti menggeliat dan terlonjak, sampai badannya tertekuk ke atasmenahan sensasi kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Lelaki tersebut terus menyetubuhi Shanti dengan cara itu. Sementara tangannya yang laintidak dibiarkan menganggur, dengan terus bermain-main pada bagian vagina Tuti danmenarik-narik klitorisnya, sehingga membuatnya menggeliat-geliat menahan nikmat. Shanti bisa melihat bagaimana batang penis yang hitam besar dari lelaki itu keluar masukke dalam liang kemaluannya yang sempit. Shanti selalu menahan nafas ketika benda itumenusuk ke dalamnya. Kemaluannya hampir tidak dapat menampung ukuran penis Rahman yang super besar itu. Shanti menghitung-hitung detik-detik yang berlalu, ia berharap lelaki itu segera mencapaiklimaksnya, namun harapannya itu tak kunjung terjadi. Ia berusaha menggerakkanpinggulnya, akan tetapi paha, bokong dan kakinya mati rasa. Tapi ia mencoba berusahamembuat lelaki itu segera mencapai klimaks dengan memutar bokongnya, menjepitkanpahanya, akan tetapi Rahman terus menyetubuhinya dan tidak juga mencapai klimaks.

    Lalu tiba-tiba Shanti merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya, rasanya sepertiada kekuatan dahsyat pelan-pelan bangkit di dalamnya, perasaan yang tidak diingininya, tidak dikenalnya, keinginan untuk membuat dirinya meledak dalam kenikmatan. Shantimerasa dirinya seperti mulai tenggelam dalam genangan air, dengan gleiser di dalamvaginanya yang siap untuk membuncah setinggi-tingginya. Saat itu dia tahu dengan pasti, ia akan kehilangan kontrol, ia akan mengalami orgasme yang luar biasa dahsyatnya. Jari-jarinya dengan keras mencengkeram sprei ranjang, ia menggigit bibirnya, dankemudian terdengar erangan panjang keluar dari mulutnya yang mungil, ìOooh.., ooh.., aahhmm.., sstthh!î. Gadis ayu itu melengkungkan punggungnya, kedua pahanya mengejang serta menjepitdengan kencang, menekuk ibu jari kakinya, membiarkan bokongnya naik-turun berkali- kali, keseluruhan badannya berkelonjotan, menjerit serak dan.., akhirnya larut dalamorgasme total yang dengan dahsyat melandanya, diikuti dengan suatu kekosonganmelanda dirinya dan keseluruhan tubuhnya merasakan lemas seakan-akan seluruhtulangnya copot berantakan. Shanti terkulai lemas tak berdaya di atas ranjang dengankedua tangannya terentang dan pahanya terkangkang lebar-lebar dimana penis hitambesar Rahman tetap terjepit di dalam liang vaginanya. Selama proses orgasme yang dialami Shanti ini berlangsung, memberikan suatukenikmatan yang hebat yang dirasakan oleh Rahman, dimana penisnya yang masihterbenam dan terjepit di dalam liang vagina Shanti dan merasakan suatu sensasi luarbiasa, batang penisnya serasa terbungkus dengan keras oleh sesuatu yang lembut licinyang terasa mengurut-urut keseluruhan penisnya, terlebih-lebih pada bagian kepalapenisnya setiap terjadi kontraksi pada dinding vagina Shanti, yang diakhiri dengansiraman cairan panas. Perasaan Rahman seakan-akan menggila melihat Shanti yangbegitu cantik dan ayu itu tergelatak pasrah tak berdaya di hadapannya dengan kedua pahayang halus mulus terkangkang dan bibir kemaluan yang kemerahan mungil itu menjepitdengan ketat batang penisnya yang hitam besar itu. Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian Rahman membalik tubuh Shanti yangtelah lemas itu hingga sekarang Shanti setengah berdiri tertelungkup di pinggir ranjangdengan kaki terjurai ke lantai, sehingga posisi pantatnya menungging ke arah lelakitersebut. Kemudian Shanti merasakan Rahman menjilati liang anusnya dari atas danlidahnya menusuk-nusuk lubang itu dengan ganas. Shanti mengerang, merintih, menjerithisteris karena gelombang orgasme melandanya tanpa ampun membuat perutnya mulas. Payudara Shanti yang menggantung itu tidak didiamkan. Segera saja Tuti tidur dibawahShanti kemudian menyusu pada payudara gadis itu. Gadis itu semakin merasakan nikmatyang tak terbayangkan. Rahman melanjutkan kegiatannya itu dan sekarang dia melihat pantat gadis itu danbagian anus Shanti sudah basah dengan ludahnya, sementara dengan ibu jarinya yangtelah basah dengan ludah, mulai ditekan masuk ke dalam lobang anus Shanti dan diputar- putar di sana. Shanti terus mengeliat-geliat dan mendesah. ìJaannggaann jaannggaan.. Aaadduuhh.. Aadduuhh.. Saakiitt.. Saakiitt..!î akan tetapiRahman tidak menanggapinya dan terus melanjutkan kegiatannya.Selang sesaat setelah merasa cukup membasahinya, Rahman sambil memegang dengantangan kiri penisnya yang telah tegang itu, menempatkan kepala penisnya tepat di tengahliang masuk anus Shanti yang telah basah dan licin itu. Kemudian Rahman membukabelahan pantat Shanti lebar-lebar. ìAaaduhh, janggaann! Sakkiit! Aaammpuunn, aammppuunn! Aagkkh.., Sakiitt.. Mbaakk..î Rahman mulai mendorong masuk, kemudian ia berhenti dan membiarkankontol itu terjepit dalam anus Shanti. ìTahan Shan, nanti kamu akan keenakanî bisik Tuti. ìMemang pertama-tama sakit, tapi nanti akan enak, tahan yaa.. Sayang..!î Sementara itu Shanti menjerit-jerit dan menggelepar-gelepar kesakitan. Segera saja Tutiberalih ke klitoris gadis itu, lalu diemutnya klitoris gadis itu, sementara tangannya iagunakan untuk mengocok di vagina Shanti agar rasa sakitnya hilang. ìAduuh.. Sakkiit.. Oomm..î ketika kontol itu mulai masuk lagi anusnya. ìTenang sayang nanti juga enggak sakitî jawab Rahman sambil terus melesakkan bagiankontolnya kepalanya sudah seluruhnya masuk ke pantat Shanti. ìAduuhh.. Sakiitt..î jerit Shanti. Bersamaan dengan itu kontol Rahman amblas dalam lobang anusnya yang sempit. ìTenang Shan, nanti enak deh.. Aku jadi ketagihan sekarangî kata Tuti sambil mengelusrambut kemaluannya dan menggosok klitorisnya. ìTuuh.. Kan sudah masuk tuh.. Enak kan nanti pantatmu juga terbiasa kok kayakpantatku iniî kata Tuti. Shanti diam saja. Ternyata sakit kalo dimasukan melalui anus, pikirnya. Rahman mulaimengocok kontolnya di pantat Shanti. ìPelan-pelan, Oomm.. Masih sakitî kata Shanti pada Rahman. ìIya sayang enaakk.. Niihh.. Seempiitt..î kata Rahman. Tuti yang berada di bawah sibuk menyedot klitorisnya dengan mulutnya dan mengocokliang vaginanya dengan tangannya, sehingga membuat Shanti semakin menggelinjangnikmat. Shanti meronta-ronta, sehingga semakin menambah gairah Rahman untuk terusmengocok di anusnya. Shanti terus menjerit, ketika perlahan seluruh penis hitam besarRahman masuk ke anusnya. ìAaauugghh..! Saakkiit..!î jerit Shanti ketika Rahman mulai bergerak pelan-pelan keluarmasuk anus Shanti. Akhirnya dengan tubuh berkeringat menahan sakit, Shanti terkulai lemas tertelungkup diatas badan Tuti kelelahan. Secara berirama Rahman menekan dan menarik penisnya darilobang anus Shanti, dimana setiap kali Rahman menekan ke bawah, penisnya semakinterbenam ke dalam lobang anus gadis itu.

    Benar-benar sangat menyesakkan melihat penisbesar hitam itu keluar masuk di anus Shanti. Terlihat kedua kaki Shanti yang terkangkangitu bergetar-getar lemah setiap kali Rahman menekan masuk penisnya ke dalam lobanganusnya. Dalam kesakitan itu, Shanti telah pasrah menerima perlakuan lelaki tersebut. Tak lama kemudian mereka bertukar posisi, sekarang Rahman duduk melonjor di ranjangdengan penisnya tetap berada dalam lobang anus Shanti, sehingga badan Shanti tertidurterlentang di atas badan Rahman dengan kedua kakinya terpentang lebar ditarik melebaroleh kedua kaki Rahman dari bawah dan Tuti mengambil posisi di atas Shanti untukmenjilati vaginanya. Tuti mulai mengocok tangannya keluar masuk kemaluan Shanti, yang sekarang semakinbasah saja, cairan pelumas yang keluar dari dalam kemaluan Shanti mengalir ke bawah, sehingga membasahi dan melicinkan lobang anusnya, hal ini membuat penis Rahmanyang sedang bekerja pada lobang anusnya menjadi licin dan lancar, sehingga denganperlahan-lahan perasaan sakit yang dirasakan Shanti berangsur-angsur hilang digantidengan perasaan nikmat yang merambat ke seluruh badannya. Shanti mulai dapat menikmati penis besar laki-laki tersebut yang sedang menggaraplobang anusnya. Perlahan-lahan perasaan nikmat yang dirasakannya melingkupi segenapkesadarannya, menjalar dengan deras tak terbendung seperti air terjun yang tumpah deraske dalam danau penampungan, menimbulkan getaran hebat pada seluruh bagiantubuhnya, tak terkendali dan meletup menjadi suatu orgasme yang spektakulermelandanya. Setelah itu badannya terkulai lemas, Shanti terlentang pasrah seakan-akanpingsan dengan kedua matanya terkatup. Melihat keadaan Shanti itu semakin membangkitkan nafsu Rahman, lelaki tersebutmenjadi sangat kasar dan kedua tangan Rahman memegang pinggul Shanti dan lelakitersebut menarik pinggulnya keras-keras ke belakang dan ìAduuh.. Aaauugghh..!î keluhShanti merasakan seakan-akan anusnya terbelah dua diterobos penis laki-laki itu yangbesar itu. Kedua mata Shanti terbelalak, kakinya menggelepar-gelepar dengan kuatnyadiikuti badannya yang meliuk-liuk menahan gempuran penis Rahman pada anusnya. Dengan buasnya Rahman menggerakkan penisnya keatas bawah dengan cepat dan keras, sehingga penisnya keluar masuk pada anus Shanti yang sempit itu. Rahman merasapenisnya seperti dijepit dan dipijit-pijit sedangkan Shanti merasakan penis lelaki tersebutseakan-akan sampai pada dadanya, mengaduk-aduk di dalamnya, di samping itu suatuperasaan yang sangat aneh mulai terasa menjalar dari bagian bawah tubuhnya bersumberdari anusnya, terus ke seluruh badannya terasa sampai pada ujung-ujung jari-jarinya. Shanti tidak bisa menggambarkan perasaan yang sedang menyelimutinya, akan tetapibadannya kembali serasa mulai melayang-layang dan suatu perasaan nikmat yang tidakdapat dilukiskan terasa menyelimuti seluruh badannya. Hal yang dapat dilakukannya pada saat itu hanya mengerang-erang, ìAaahh.. Ssshhoouusshh!î sampai suatu saat perasaan nikmatnya itu tidak dapat dikendalikan lagi serasamenjalar dan menguasai seluruh tubuhnya dan tiba-tiba meledak membajiri keluar berupasuatu orgasme yang dasyat yang mengakibatkan seluruh tubuhnya bergetar tak terkendalidisertai tangannya yang menggapai-gapai seakan-akan orang yang mau tenggelammencari pegangan. Kedua kakinya berkelejotan. Dari mulut Shanti keluar suatu erangan, ìAaaduhh.. Laagii.. Laagii.. Oohh.. Ooohh..î Halini berlangsung kurang lebih 20 detik terus menerus. Sementara itu lelaki itu terus melakukan aktivitasnya, dengan memompa penisnya keluarmasuk anus. Tuti yang sedari tadi mengocok kemaluan gadis itu menjadi sangatterangsang melihat ekspresi muka Shanti dan tiba-tiba Tuti merasakan bagian dalamvagina Shanti mulai bergerak-gerak melakukan pijitan-pijitan kuat pada jari-jarinya. Gerakan kaki Shanti disertai goyangan pinggulnya mendatangkan suatu kenikmatan padapenis lelaki tersebut, terasa seperti diurut-urut dan diputar-putar.

    Tiba-tiba Rahman merasakan sesuatu gelombang yang melanda dari di dalam tubuhnya, mencari jalan keluar melalui penisnya yang besar itu, dan terasa suatu ledakan yang tibatibamendorong keluar, sehingga penisnya terasa membengkak seakan-akan mau pecahdan.. ìAaaduuh..!î secara tidak sadar tangannya mencengkram erat badan Shanti dan pinggulRahman terangkat ke atas, pinggulnya mendorong masuk penis terbenam habis ke dalamlobang anus Shanti, sambil menyemburkan cairan kental panas ke dalam lobang anusgadis itu. Menerima semburan cairan kental panas pada lobang anusnya, Shanti merasakan suatu sensasi yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, hanya reaksi badannya yang bergetar-getar dan ekspresi mukanya yang seakan-akan merasakan suatu kengiluan yangtak terbayangkan, diikuti badannya yang tergolek lemas, tanpa dapat bergerak. Shantiterlena oleh kedahsyatan orgasme yang dialami dan diterimanya dari mereka berdua

  • BIBI ELHA PEMBANTU YANG SINTAL

    BIBI ELHA PEMBANTU YANG SINTAL


    1703 views

    PEMBANTU KU, AKU YANG ENTOT

    Bi Eha sudah cukup lama menjadi pembantu di rumah Tuan Hartono. Ini merupakantahun ketiga ia bekerja di sana. Bi Eha merasa kerasan karena keluarga Tuan Hartonocukup baik memperlakukannya bahkan memberikan lebih dari apa yang diharapkan olehseorang pembantu. Bi Eha sadar akan hal ini, terutama akan kebaikan Tuan Hartono, yang dianggapnya terlalu berlebihan. Namun ia tak begitu memikirkannya. Sepanjanghidupnya terjamin, iapun dapat menabung kelebihannya untuk jaminan hari tua. Perkarakelakuan Tuan Hartono yang selalu minta dilayani jika kebetulan istrinya tak ada dirumah, itu adalah perkara lain. Ia tak memperdulikannya bahkan ikut menikmati pula. Walaupun orang kampung, Bi Eha tergolong wanita yang menarik. Usianya tidak terlalutua, sekitar 32 tahunan. Penampilannya tidak seperti perempuan desa. Ia pandai merawattubuhnya sehingga nampak masih sintal dan menggairahkan. Bahkan Tuan Hartonosangat tergila-gila melihat kedua payudaranya yang montok dan kenyal. Kulitnya agakgelap namun terawat bersih dan halus. Soal wajah meski tidak tergolong cantik namunmemiliki daya tarik tersendiri. Sensual! Begitu kata Tuan hartono saat pertama kalimereka bercinta di belakang dapur suatu ketika. Dalam usianya yang tidak tergolong muda ini, Bi Eha ñ janda yang sudah lama ditinggalsuami ñ masih memiliki gairah yang tinggi karena ternyata selain berselingkuh denganmajikannya, ia pernah bercinta pula dengan Kang Ujang, Satpam penjaga rumah. Perselingkuhannya dengan Kang Ujang berawal ketika ia lama ditinggalkan oleh TuanHartono yang sedang pergi ke luar negeri selama sebulan penuh. Selama itu pula Bi Ehamerasa kesepian, tak ada lelaki yang mengisi kekosongannya. Apalagi di saat itu udaramalam terasa begitu menusuk tulang. Tak tahan oleh gairahnya yang meletup-letup, ianekat menggoda Satpam itu untuk diajak ke atas ranjangnya di kamar belakang. Malam itu, Bi Eha kembali tak bisa tidur. Ia gelisah tak menentu. Bergulingan di atasranjang. Tubuhnya menggigil saking tak tahannya menahan gelora gairah seksnya yangmenggebu-gebu.

    Malam ini ia tak mungkin menantikan kehadiran Tuan Hartono dalampelukannya karena istrinya ada di rumah. Perasaannya semakin gundah kalamembayangkan saat itu Tuan Hartono tengah menggauli istrinya. Ia bayangkan istrinyaitu pasti akan tersengal-sengal menghadapi gempuran Tuan Hartono yang memiliki ísenjataí dahsyat. Bayangan batang kontol Tuan Hartono yang besar dan panjang itu sertakeperkasaannya semakin membuat Bi Eha nelangsa menahan nafsu syahwatnya sendiri. Sebenarnya terpikir untuk memanggil Kang Ujang untuk menggantikannya namun ia takberani selama majikannya ada di rumah. Kalau ketahuan hancur sudah akibatnya nasibmereka nantinya. Akhirnya Bi Eha hanya bisa mengeluh sendiri di ranjang sampai takterasa gairahnya terbawa tidur. Dalam mimpinya Bi Eha merasakan gerayangan lembut ke sekujur tubuhnya. Iamenggeliat penuh kenikmatan atas sentuhan jemari kekar milik Tuan Hartono. Menggerayang melucuti kancing baju tidurnya hingga terbuka lebar, mempertontonkankedua buah dadanya yang mengkal padat berisi. Tanpa sadar Bi Eha mengigau sambilmembusungkan dadanya. ìRemas.. uugghh.. isep putingnya.. aduuhh enaknya..î Kedua tangan Bi Eha memegang kepala itu dan membenamkannya ke dadanya.!Tubuhnya menggeliat mengikuti jilatan di kedua putingnya. Bi Eha terengah-engahsaking menikmati sedotan dan remasan di kedua payudaranya, sampai-sampai iaterbangun dari mimpinya. Perlahan ia membuka kedua matanya sambil merasakan mimpinya masih terasa meskisudah terbangun. Setelah matanya terbuka, ia baru sadar bahwa ternyata ia tidak sedangmimpi. Ia menengok ke bawah dan ternyata ada seseorang tengah menggumuli bukitkembarnya dengan penuh nafsu. Ia mengira Tuan Hartono yang sedang mencumbuinya. Dalam hati ia bersorak kegirangan sekaligus heran atas keberanian majikannya ini meskisang istri ada di rumah. Apa tidak takut ketahuan. Tiba-tiba ia sendiri yang merasaketakutan. Bagaimana kalau istrinya datang?Bi Eha langsung bangkit dan mendorong tubuh yang menindihnya dan hendakmengingatkan Tuan Hartono akan situasi yang tidak memungkinkan ini. Namun belumsempat ucapan keluar, ia melihat ternyata orang itu bukan Tuan Hartono?! Yang lebihmengejutkannya lagi ternyata orang itu tidak lain adalah Andre, putra tunggal majikannyayang masih berumur 15 tahunan!?ìDen Andre?!î pekiknya sambil menahan suaranya.

    ìDen ngapain di kamar Bibi?î tanyanya lagi kebingungan melihat wajah Andre yangmerah padam. Mungkin karena birahi bercampur malu ketahuan kelakuan nakalnya. ìBi.. ngghh.. anu.. ma-maafin Andre..î katanya dengan suara memelas. Kepalanya tertunduk tak berani menatap wajah Bi Eha. ìTapi.. barusan nga.. ngapain?î tanyanya lagi karena tak pernah menyangka anakmajikannya berani berbuat seperti itu padanya. ìAndre.. ngghh.. tadinya mau minta tolong Bibi bikinin minuman..î katanyamenjelaskan. ìTapi waktu liat Bibi lagi tidur sambil menggeliat-geliat. . ngghh.. Andre nggak tahan..î katanya kemudian. ìOohh.. Den Andre.. itu nggak boleh. Nanti kalau ketahuan Papa Mama gimana?î TanyaBi Eha. ìAndre tahu itu salah.. tapi.. ngghh..î jawab Andre ragu-ragu. ìTapi kenapa?î Tanya Bi Eha penasaranìAndre pengen kayak Kang Ujang..î jawabnya kemudian. Kepala Bi Eha bagaikan disamber geledek mendengar ucapan Andre. Berarti dia tahuper buatannya dengan Satpam itu, kata hatinya panik. Wah bagaimana ini?ìKenapa Den Andre pengen itu?î tanyanya kemudian dengan lembut. ìAndre sering ngebayangin Bibi.. juga.. ngghh.. anu..îìAnu apa?î desak Bi Eha makin penasaran. ìAndre suka ngintip.. Bibi lagi mandi,î akunya sambil melirik ke arah pakaian tidur BiEha yang sudah terbuka lebar. Andre melenguh panjang menyaksikan bukit kembar montok yang menggantung tegak didada pengasuhnya itu. Bi Eha dengan refleks merapikan bajunya untuk menutupidadanya yang telanjang. Kurang ajar mata anak bau kencur ini, gerutu Bi Eha dalam hati. Nggak jauh beda dengan Bapaknya. ìBoleh khan Bi?î kata Andre kemudian. ìBoleh apa?î sentak Bi Eha mulai sewot. ìBoleh itu.. ngghh.. anu.. kayak tadi..î pinta Andre tanpa rasa bersalah seraya mendekati!kembali Bi Eha. ìDen Andre jangan kurang ajar begitu sama perempuan.., î katanya seraya mundurmenjauhi anak itu. ìNggak boleh!îìKok Kang Ujang boleh? Nanti Andre bilangin lho..î kata Andre mengancam. ìEh jangan! Nggak boleh bilang ke siapa-siapa. .î kata Bi Eha panik. ìKalau gitu boleh dong Andre?î Kurang ajar bener anak ini, berani-beraninya mengancam, makinya dalam hati. Tapibagaimana kalau ia bilang-bilang sama orang lain. Oh Jangan. Jangan sampai! Bi Ehaberpikir keras bagaimana caranya agar anak ini dapat dikuasai agar tak cerita kepadayang lain. Bi Eha lalu tersenyum kepada Andre seraya meraih tangannya. ìDen Andre mau pegang ini?î katanya kemudian sambil menaruh tangan Andre ke atasbuah dadanya.

    ìIya.. ii-iiya..,î katanya sambil menyeringai gembira. Andre meremas kedua bukit kembar milik Bi Eha dengan bebas dan sepuas-puasnya. ìGimana Den.. enak nggak?î Tanya Bi Eha sambil melirik wajah anak itu. ìTampan juga anak ini, walau masih ingusan tapi ia tetap seorang lelaki jugaî, pikir BiEha. Bukankah tadi ia merindukan kehadiran seorang lelaki untuk memuaskan rasa dahagayang demikian menggelegak? Mungkin saja anak ini tidak sesuai dengan apa yangdiharapkan, tetapi dari pada tidak sama sekali?Setelah berpikiran seperti itu, Bi Eha menjadi penasaran. Ingin tahu bagaimana rasanyabercinta dengan anak di bawah umur. Tentunya masih polos, lugu dan perlu diajarkan. Mengingat ini hal Bi Eha jadi terangsang. Keinginannya untuk bercinta semakinmenggebu-gebu. Kalau saja lelaki ini adalah Tuan Hartono, tentunya sudah ia terkamsejak tadi dan menggumuli batang kontolnya untuk memuaskan nafsunya yang sudah keubun-ubun. Tapi tunggu dulu. Ia masih anak-anak. Jangan sampai ia kaget dan malahakan membuatnya ketakutan. Lalu ia biarkan Andre meremas-remas buah dadanya sesuka hati. Dadanya sengajadibusungkan agar anak ini dapat melihat dengan jelas keindahan buah dadanya yangpaling dibanggakan. Andre mencoba memilin-milin putingnya sambil melirik ke wajahBi Eha yang nampak meringis seperti menahan sesuatu. ìSakit Bi?î tanyanya. ìNggak Den. Terus aja. Jangan berhenti. Ya begitu.. terus sambil diremas.. uugghh..î Andre mengikuti semua perintah Bi Eha. Ia menikmati sekali remasannya. Begitu kenyal, montok dan oohh asyik sekali! Pikir Andre dalam hati. Entah kenapa tiba-tiba ia inginmencium buah dada itu dan mengemot putingnya seperti ketika ia masih bayi. Bi Eha terperanjat akan perubahan ini sekaligus senang karena meski sedotan itu tidaksemahir lelaki dewasa tapi cukup membuatnya terangsang hebat. Apalagi tangan Andresatunya lagi sudah mulai berani mengelus-elus pahanya dan merambat naik di balik bajutidurnya. Perasaan Bi Eha seraya melayang dengan cumbuan ini. Ia sudah tak sabarmenunggu gerayangan tangan Andre di balik roknya segera sampai ke pangkal pahanya. Tapi nampaknya tidak sampai-sampai. Akhirnya Bi Eha mendorong tangan itu menyusuplebih dalam dan langsung menyentuh daerah paling sensitive. Bi Eha memang tak pernahmemakai pakaian dalam kalau sedang tidur. ìTidak bebasî, katanya. Andre terperanjat begitu jemarinya menyentuh daerah yang terasa begitu hangat danlembab. Hampir saja ia menarik lagi tangannya kalau tidak ditahan oleh Bi Eha.!ìNggak apa-apa.. pegang aja.. pelan-pelan. . ya.. terus.. begitu.. ya.. teruusshh.. uggh Denenaak!î Andre semangat mendengar erangan Bi Eha yang begitu merangsang. Sambil terusmengemot puting susunya, jemarinya mulai berani mempermainkan bibir kemaluan BiEha. Terasa hangat dan sedikit basah. Dicoba-cobanya menusuk celah di antara bibir itu. Terdengar Bi Eha melenguh. Andre meneruskan tusukannya. Cairan yang mulai rembesdi daerah itu membuat jari Andre mudah melesak ke dalam dan terus semakin dalam. ìAkhh.. Den masukin terusshh.. ya begitu. Oohh Den Andre pinter!î desah Bi Eha mulaimeracau ucapannya saking hebatnya rangsangan ke sekujur tubuhnya. Sambil terus menyuruh Andre berbuat ini dan itu. Tangan Bi Eha mulai menggerayang ketubuh Andre.

    Pertama-tama ia lucuti pakaian atasnya kemudian melepaskan ikatpinggangnnya dan langsung merogoh ke balik celana dalam anak itu. ìMmmpphh..î, desah Bi Eha begitu merasakan batang kontol anak itu sudah keras sepertibaja. Ia melirik ke bawah dan melihat batang Andre mengacung tegang sekali. Boleh juga anakini. Meski tidak sebesar bapaknya, tapi cukup besar untuk ukuran anak seumurnya. Tangan Bi Eha mengocok perlahan batang itu. Andre melenguh keenakan. ìOouhhgghh.. Bii.. uueeanaakkhh! î pekik Andre perlahan. Bi Eha tersenyum senang melihatnya. Anak ini semakin menggemaskan saja. Kepolosandan keluguannya membuat Bi Eha semakin terangsang dan tak tahan menghadapi emotanbibirnya di puting susunya dan gerakan jemarinya di dalam liang mem*knya. Rasanya iatak kuat menahan desakan hebat dari dalam dirinya. Tubuhnya bergetar.. lalu.., Bi Ehamerasakan semburan hangat dari dalam dirinya berkali-kali. Ia sudah orgasme. Heranjuga. Tak seperti biasanya ia secepat itu mencapai puncak kenikmatan. Entah kenapa. Mungkin karena dari tadi ia sudah terlanjur bernafsu ditambah pengalaman baru dengananak di bawah umur, telah membuatnya cepat orgasme. Andre terperangah menyaksikan ekspresi wajah Bi Eha yang nampak begitumenikmatinya. Guncangan tubuhnya membuat Andre menghentikan gerakannya. Iaterpesona melihatnya. Ia takut malah membuat Bi Eha kesakitan. ìBi? Bibi kenapa? Nggak apa-apa khan?î tanyanya demikian polos. ìNggak sayang.. Bibi justru sedang menikmati perbuatan Den Andre,î demikian kata BiEha seraya menciumi wajah tampan anak itu. Dengan penuh nafsu, bibir Andre dikulum, dijilati sementara kedua tangannyamenggerayang ke sekujur tubuh anak muda ini. Andre senang melihat kegarangan BiEha. Ia balas menyerang dengan meremas-remas kedua payudara pengasuhnya ini, lalumempermainkan putingnya. ìAduh Den.. enak sekali. Den Andre pinter.. uugghh!î erang Bi Eha kenikmatan. Bi Eha benar-benar menyukai anak ini. Ia ingin memberikan yang terbaik buat majikanmudanya ini. Ingin memberikan kenikmatan yang tak akan pernah ia lupakan. Ia yakinAndre masih perjaka tulen. Bi Eha semakin terangsang membayangkan nikmatnyasemburan cairan mani perjaka. Lalu ia mendorong tubuh Andre hingga telentang lurus diranjang dan mulai menciuminya dari atas hingga bawah. Lidahnya menyapu-nyapu disekitar kemaluan Andre. Melumat batang yang sudah tegak bagai besi tiang pancang danmegulumnya dengan penuh nafsu. Tubuh Andre berguncang keras merasakan nikmatnya cumbuan yang begitu lihai. Apalagi saat lidah Bi Eha mempermainkan biji pelernya, kemudian melata-lata ke sekujur!batang kemaluannya. Andre merasakan bagian bawah perutnya berkedut-kedut akibatjilatan itu. Bahkan saking enaknya, Andre merasa tak sanggup lagi menahan desakanyang akan menyembur dari ujung moncong kemaluannya. Bi Eha rupanya merasakan halitu. Ia tak menginginkannya. Dengan cepat ia melepaskan kulumannya dan langsungmemencet pangkal batang kemaluan Andre sehingga tidak langsung menyembur. ìAkh Bi.. kenapa?î Tanya Andre bingung karena barusan ia merasakan air maninya akanmuncrat tapi tiba-tiba tidak jadi. ìNggak apa-apa. Tenang saja, Den. Biar tambah enak,î jawabnya seraya naik ke atastubuh Andre. Dengan posisi jongkok dan kedua kaki mengangkang, Bi Eha mengarahkan batang kontolAndre persis ke arah liang mem*knya. Perlahan-lahan tubuh Bi Eha turun sambilmemegang kontol Andre yang sudah mulai masuk. ìUugghh.. enak nggak Den?îìAduuhh.. Bi Eha.. sedaapphh..! î pekiknya. Andre merasakan batang kontolnya seperti disedot liang mem*k Bi Eha. Terasa sekalikedutan-kedutannya. Ia lalu menggerakan pantatnya naik turun. Konotlnya bergerakceapt keluar masuk liang nikmat itu. Bi Eha tak mau kalah. Pantatnya bergoyang kekanan-kiri mengimbangi tusukan kontol Andre. ìAuugghh Deenn..uueennaakk! î jerit Bi Eha seperti kesetanan. ìTerus Den, jangan berhenti. Ya tusuk ke situ.. auughgg.. aakkhh..î Andre mempercepat gerakannya karena mulai merasakan air maninya akan muncrat. ìBi.. saya mau keluaarr..î Jeritnya. ìIya Den.. ayo.. keluarin aja. Bibi juga mau keluar.. ya terusshh.. oohh teruss..î katanyatersengal-sengal. Andre mencoba bertahan sekuat tenaga dan terus menggenjot liang mem*k Bi Ehadengan tusukan bertubi-tubi sampai akhirnya kewalahan menghadapi goyangan pinggulwanita berpengalaman ini. Badannya sampai terangkat ke atas dan sambil memeluk tubuhBi Eha erat-erat, Andre menyemburkan cairan kentalnya berkali-kali. ìCrot.. croott.. crott!îìAaakkhh..î Bi Eha juga mengalami orgasme.

    Sekujur tubuhnya bergetar hebat dalam pelukan erat Andre. ìOoohh.. Deenn.. hebat sekali..î Kedua insan yang tengah lupa daratan ini bergulingan di atas ranjang merasakan sisa-sisaakhir dari kenikmatan ini. Nafas mereka tersengal-sengal. Peluh membasahi seluruhtubuh mereka meski udara malam di luar cukup dingin. Nampak senyum Bi Ehamengembang di bibirnya. Penuh dengan kepuasan. Ia melirik genit kepada Andre. ìGimana Den. Enak khan?îìIya Bi, enak sekali,î jawab Andre seraya memeluk Bi Eha. Tangannya mencolek nakal ke buah dada Bi Eha yang menggelantung persis di depanmukanya. ìIh Aden nakal,î katanya semakin genit. Tangan Bi Eha kembali merayap ke arah batang kontol Andre yang sudah lemas. Mengelus-elus perlahan hingga batang itu mulai memperlihatkan kembali kehidupannya. ìBibi isep lagi ya Den?î Andre hanya bisa mengangguk dan kembali merasakan hangatnya mulut Bi Eha ketikamengulum kontolnya. Mereka kembali bercumbu tanpa mengenal waktu dan baru!berhenti ketika terdengar kokok ayam bersahutan. Andre meninggalkan kamar Bi Ehadengan tubuh lunglai. Habis sudah tenaganya karena bercinta semalaman. Tapi nampakwajahnya berseri-seri karena malam itu ia sudah merasakan pengalaman yang luar biasa.!

  • Kenikmatan Setelah Mimpi Basah yang Kualami dengan Istri Baru Kakekku

    Kenikmatan Setelah Mimpi Basah yang Kualami dengan Istri Baru Kakekku


    1511 views

    Kenikmatan Setelah Mimpi Basah yang Kualami dengan Istri Baru Kakekku

    Cerita hot – Aku lahir dari keluarga yang sederhana, di sebuah desa yang masih dipenuhi persawahaan dan semak belukar. Aku anak pertama dari dua bersaudara, selisih usiaku dengan adikku kurang lebih sekitar tiga tahun. Kami tak punya rumah sendiri, sehari-hari kami hanya tinggal di gubuk kecil milik tetangga.

    Tapi saat ayah pergi ke kota besar untuk mencoba merubah nasib sebagai pedagang nasi goreng, kami dititipkan di rumah nenek yang ada di kampung sebelah. Saat itu aku kelas tiga SD. Sehari-hari, aku biasanya membantu kakek. Kakek mempunyai ladang yang meski tak begitu besar, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari.

    Ladang itu sebagian dia jadikan tempat memelihara ikan, dan sebagian lagi ia jadikan tempat bercocok tanam segala macam jenis sayuran, mulai dari kol, sawi, bawang merah, kacang panjang, tomat, bahkan cabe. Kampung kami memang sangat sepi, saat itu belum ada listrik.

    Di pertengahan kelas lima SD, nenek meninggal. Hal itu sempat membuat keluarga kami shock, khususnya kakek, dia tak menyangka akan ditinggal oleh nenek secara mendadak. Kakek sempat murung dan berubah jadi pendiam selama beberapa bulan.

    Aku sempat sedih juga karena kehilangan tempat main dan panutan kalau lagi ada masalah di sekolah. Ibu yang merasa iba pada kakek akhirnya berusaha menjodohkan kakek dengan seorang perempuan, sebut saja mbak Darsih, seorang wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik di usianya yang sudah lewat 30 tahun.

    Perkenalan ibu dengan mbak Darsih terjadi saat wanita itu ingin membeli ikan milik kakek untuk acara hajatan ultah putra sulungnya. Mengetahui kalau mbak Darsih adalah seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya -sama dengan kakek yang ditinggal mati oleh nenek – ibu berusaha menjodohkan mereka.

    Dan di luar dugaan, mbak Darsih menerimanya, padahal selisih usia mereka sekitar 30 tahun. Mungkin karena melihat kakek yang masih kelihatan gagah di usianya yang sudah lanjut, mbak Darsih jadi kesengsem. Kakek memang masih kelihatan berotot dan awet muda meski kulitnya agak sedikit gelap, itu akibat kebiasaannya bekerja keras di ladang setiap hari.

    Begitulah, sekitar tujuh bulan setelah ditinggal oleh nenek, kakek menikah lagi. Mbak Darsih yang dulunya tinggal di desa sebelah, setelah menikah dengan kakek, sepakat untuk tinggal bersama kami. Dia membawa serta dua orang anaknya yang masih kecil-kecil.

    Mbak Darsih ternyata orangnya baik, diapun secara ekonomi sangat mapan, jauh dibanding kakek, hingga tak jarang akhirnya sering membantu keuangan keluarga kami, khususnya ibuku yang memang tak tentu mendapat kiriman dari ayah. Mbak Darsih mempunyai beberapa rumah peninggalan almarhum suaminya yang dia kontrakkan.

    Sebagai rasa terima kasih, aku berusaha tidak menolak jika disuruh apapun olehnya, karena kadang mbak Darsih juga memberiku upah, meski kadang aku harus pergi melintasi kampung lain untuk berbelanja memenuhi permintaannya.

    Sifat lain dari mbak Darsih yang aku suka, dia bukan tipe orang yang malas. Tak jarang dia mencucikan pakaian milikku saat ibuku terlalu sibuk bekerja. Saat dia mencuci, aku sering kali membantunya menimba air, hal yang memang sudah rutin aku lakukan kalau mencuci bersama ibuku. Hal itu makin membuat mbak Darsih sayang kepadaku.

    Aku yang kadang suka diledek oleh teman-temanku -bahkan saudara-saudaraku- sebagai anak yang sedikit bodoh dan polos, tapi di mata mbak Darsih, aku adalah anak yang baik. Tapi ada satu kebiasaanku yang sering membuat ibuku marah; jika sudah tidur, aku akan sulit sekali dibangunkan. Apalagi kalau baru saja terpejam, mungkin butuh satu ember air, baru aku bisa bangun.

    Sampai akhirnya, saat aku di akhir kelas enam SD, ayah meminta ibu untuk pindah mengikutinya. Kata ayah, usahanya sudah lumayan rame, daripada membayar orang untuk membantu, mending mengajak ibu saja. Alasan lainnya, karena ayah tak kuat kalau harus terus jauh dari ibu. Saat itu aku masih belum mengerti apa maksudnya. Ibu yang tampaknya juga merindukan ayah, akhirnya setuju.

    Rencana awalnya, aku dan adikku akan dibawa. Tapi kakek melarang, katanya: mending kami ditinggal dulu, karena ayah belum benar-benar mapan, sayang kalau buang-buang uang untuk biaya kami pindah sekolah. Saat itu, aku memang sudah mendaftar ke SMP di kotaku. Adikku saat itu masih kelas lima SD. Alasan kakek cukup masuk akal.

    Tapi adik perempuanku yang memang sangat dekat dengan ibu, tidak mau ditinggal, dia ngotot untuk ikut dengan ibu pergi ke kota menemani ayah. Akhirnya, setelah berembug cukup lama, kakek memutuskan; adikku boleh ikut ibu, sedangkan aku akan tetap di kampung bersama kakek. Aku sendiri tidak keberatan karena selama ini aku memang dekat dengan kakek. Jadilah aku berpisah dengan ibu dan adikku.

    Kepindahan ibu tidak membuatku merasa kehilangan karena kadang tiap bulan ibu pulang. Selain untuk menengokku, ibu juga memberi uang sekedarnya untuk kakek. Selama kepergian ibu, mbak Darsih lah yang ganti menjagaku. Dia sudah menganggapku seperti anaknya sendiri.

    Kalau dulu aku sering tidur di bale-bale, sekarang aku lebih leluasa tidur di kamar. Mbak Darsih memberiku kamar belakang yang dulu ditempati oleh ibu. Sedangkan kakek dan mbak Darsih tetap di kamar depan, bersama anak-anaknya yang masih kecil. Kamar di rumah kakek memang hanya dua, berhadap-hadapan, walau kamar kakek sedikit lebih besar.

    Akhirnya, aku lalui hari-hari bersama kakek dan mbak Darsih dengan penuh suka cita. Seringnya di rumah berdua membuatku dekat dengan mbak Darsih, dia pun jadi tahu dengan salah satu kebiasaan burukku.

    ”Kenapa sih kamu kalau dibangunin susah sekali? Semalam mau mbak suruh pindah ke kamar karena udara dingin banget, takut kamu sakit.” kata mbak Darsih pada suatu hari, saat dia kesulitan membangunkanku.

    “Yah, dia mana bisa dibangunin! Ada bom meledak juga tetap ngorok,” sahut kakek sebelum aku sempat menjawab.

    Aku cuma tertawa menanggapinya.

    Tak terasa, sudah satu tahun kami hidup bertiga. Kini aku sudah naik ke kelas 2 SMP. Saat itulah, untuk pertama kalinya aku mengalami mimpi basah, itu sebenarnya membuatku sangat heran dan bingung. Ingin bertanya, tapi tak tahu kepada siapa. Seiring dengan itu, suaraku juga mulai berubah, membuat aku malas bermain dengan teman-teman lain.

    Ditambah bulu-bulu halus di bawah hidungku yang juga mulai tampak, aku makin menjadi bahan ledekan teman-temanku. Aku yang awalnya anak yang jarang suka bermain, sekarang jadi makin malas keluar. Paling hanya ke sawah tak jauh dari rumahku, itupun kalau pas musim layangan saja. Selebihnya, aku lebih suka melihat kakek berkebun atau memberi makan ikan.

    Biasanya, setelah adzan maghrib berkumandang, kampung kami menjadi sepi. Kegelapan terlihat dimana-mana, hanya lampu-lampu minyak yang menyala, atau kadang juga petromak yang menjadi penerang bagi warga kampung yang letak rumahnyapun tak begitu berdekatan. Hanya masjid yang biasanya ramai hingga sekitar jam tujuh malam. Setelah itu, desa kami benar-benar sepi dan kebanyakan penghuninya langsung terlelap dalam mimpi.

    Di pertengahan kelas dua, kulihat kakek suka mulai merasa kelelahan, mungkin karena usianya yang makin merambat senja. Aku memang kadang suka diminta kakek, atau bahkan mbak Darsih, untuk memijat mereka. Tapi di saat itu, hampir seminggu sekali kakek menyuruhku melakukannya. Aku pun kadang meminta pertolongan mbak Darsih, terutama jika aku ingin dikerok. Mbak Darsih memang kadang melakukan itu jika aku masuk angin.

    Pagi itu, kulihat kakek tidak ke ladang. “Sakit lagi ya, mbak?” tanyaku.

    ”Ah, biasa. Memang harus istirahat dulu. Seminggu lalu baru kuras kolam, eh kemarin malah tanam tomat.” katanya. Kulihat mbak Darsih menatapku penuh arti, saat itu aku sedang menimba air hanya dengan bercelana dalam saja. Aku tak merasa aneh karena aku sudah sering melakukan itu. Dan selama ini tidak pernah ada masalah.

    Hingga suatu hari, secara tak sengaja, handuk yang kupakai untuk melilit tubuhku jatuh saat aku sedang asyik menimba, padahal saat itu aku sedang tidak memakai celana dalam, hingga terlihatlah burung mudaku di depan mata mbak Darsih. Dia tertawa cekikikan saat melihatnya, ”Cepetan ditutup, nanti burungnya kabur lho!” dia berkata sambil melengos ke samping, kulihat mukanya jadi agak pucat dan memerah.

    Aku yang tak merasa risih sama sekali, hanya bersikap biasa saja. ”Iya, mbak.” kuraih handukku dan kusampirkan lagi ke pinggangku. Kuteruskan lagi menimba air. Di pikiranku; karena saat SD dulu mbak Darsih sering memandikanku jika ibu lagi repot, tentunya dia sudah sering melihat tubuh telanjangku, jadi buat apa malu. Aku tak pernah menyangka, kalau peristiwa sore itu ternyata begitu berkesan bagi mbak Darsih.

    Sampai kemudian, saat itu aku baru saja menyelesaikan ujian akhir kelas dua SMP. Hari itu, kakek lagi pergi ke kota untuk membeli benih. Jam tujuh malam, saat mbak Darsih masih asyik mendengarkan radio, aku sudah terlelap. Tidak seperti biasa, malam itu aku bermimpi, mimpi basah. Yaitu mimpi basah yang sangat aku nantikan.

    Mimpi basah. Tapi entah, malam itu mimpi basah ku terasa begitu nyata. Aku merasa kontolku memasuki lubang yang sangat hangat. Enaaak sekali! hingga tak lama kemudian, aku pun mengejang. Saat itu aku merasa ada orang duduk diatas pangkuanku, tapi dasar aku kalau tidur lelap sekali, aku tidak bisa mengetahui itu beneran atau cuma mimpi basah biasa.

    Paginya, aku langsung memeriksa celanaku. Heran, tak ada kerak kering bekas air maniku, hal yang biasanya aku temukan jika habis ber mimpi basah. Yang membuatku makin bingung, mimpi basah ku sepertinya terasa sangat nyata. Nikmatnya berkali-kali lipat daripada mimpi basah biasanya. Aku ingin mengulangi mimpi basah itu lagi.

    Dan keberuntungan membuatku merasakannya tak lama kemudian. Tepatnya kurang dari dua minggu sejak mimpi basah ku yang pertama. Tapi kali ini aku agak sedikit sadar karena aku memang belum benar-benar terlelap. Kembali kurasakan seperti ada orang duduk di atas pinggangku saat mimpi basah, tapi penyakit lelapku membuatku tak bisa membuka mata.

    Aku hanya bisa menikmati mimpi basah nya, rasa nikmat yang menjalar cepat di batang kontolku, rasa hangat dan geli seperti dipijit-pijit oleh benda yang sangat lembek dan empuk, membuatku meringis dan merintih dalam tidur. Cukup lama aku menikmatinya, sampai akhirnya aku mengejang tak lama kemudian.

    Sebenarnya aku tak ingin rasa itu cepat berakhir, tapi mau bagaimana lagi, kutahan sekuat apapun, aku tetap tidak bisa mencegah rasa nikmatnya. Terpaksa kubiarkan spermaku menyembur keluar sebelum aku kembali terlelap beberapa detik kemudian.

    Hal itu terus berlangsung selama beberapa minggu berikutnya. Meski cukup menggangu pikiranku, tapi jujur, aku sangat menikmati mimpi basah nya. Mimpi basah itu terasa nyata sekali, seperti aku benar-benar melakukannya. Sampai akhirnya, kembali kakek harus pergi ke kota untuk membeli bibit. “Besok senin, pagi-pagi aku sudah pulang.” katanya kepada mbak Darsih.

    Dia lalu menoleh kepadaku. “Kamu istirahat aja, besok kan sekolah.” katanya. Ya, saat itu badanku memang sedikit kurang enak. Sepertinya masuk angin. Kakek menyuruh mbak Darsih untuk mengerokiku, tapi aku tidak mau. ”Bentar juga enakan sendiri.” kataku.

    Tapi sorenya, saat aku masih meringkuk di kamar dengan badan lemas, mbak Darsih menghampiriku. “Sini, kukerok aja. Kamu juga nggak usah mandi dulu, takut nanti tambah parah.” katanya.

    Aku hanya diam dan tetap berbaring tengkurap. Mbak Darsih kemudian mengangkat kaosku. Sambil mengurut punggungku dengan uang koin, dia berkata. “Kamu tuh udah gede, kalau mandi tutup pintunya, jangan seenaknya gitu, apa nggak malu?” tanyanya.

    “Malu sama siapa, mbak? Kan nggak ada orang, paling cuma kakek.” kataku.

    “Iya, tapi kali aja ada tetangga yang datang.” kata mbak Darsih. ”Ah, nggak merah. Kamu mungkin telat makan aja, jadinya kembung. Makanya jangan telat makan.” dia menasehati dan akhirnya memijat punggungku.

    Setelah punggung selesai, ia kemudian menyuruhku berbalik. ”Biar kupijat dada sama perutmu.” katanya. Kubalikkan badan. Aku mulai merasa geli saat mbak Darsih perlahan mengurut perutku. Tanpa sadar, kontolku mulai bergerak menegang.

    ”Kamu tuh yang bener kalau pake celana. Celana rusak masih aja di pake.” katanya. Aku saat itu memang memakai celana bekas SD-ku dulu yang bagian resletingnya sudah rusak, hingga menampakkan sedikit kulit batang penisku.

    Saat mbak Darsih memijat bagian bawah perutku, kontolku makin tak karuan tegangnya, mbak Darsih hanya tersenyum saat melihatnya. ”Ih, tuh kan, saking sempitnya sampe nonjol gitu.” katanya dengan halus. ”Kayaknya sesak banget ya?” tanya mbak Darsih.

    Aku kira dia membicarakan celanaku, jadi aku menyahut enteng saja. ”Iya, mbak.” jawabku.

    ”Dibuang saja,” kata mbak Darsih.
    ”Dibuang gimana, mbak?” kataku tak mengerti.

    Tidak menjawab, perlahan mbak Darsih memijat pangkal pahaku. Dan entah sengaja atau tidak, dia berkali-kali menyenggol bagian selangkanganku. ”Ih, bener. Sesak banget! Kayaknya pengen dikeluarin tuh.” katanya.

    ”Dikeluarin?” aku semakin tak mengerti.
    ”Bener-bener harus dibuang, hehe.” sahut mbak Darsih sambil terkikik.

    “Terserah ah, gimana enaknya mbak aja.” jawabku pada akhirnya. Pasrah, percaya sepenuhnya kepadanya.

    “Iya, tapi kamu jangan bilang-bilang kakek ya?” bisiknya.

    “Iya, mbak, masa mau bilang kakek,” kataku mengangguk, masih berfikir dan tak mengerti apa yang ia maksudkan.

    ”Ehm… sekarang, tutup muka kamu dengan bantal.” kata mbak Darsih kemudian.

    Aku menurut, walau sedikit heran. Masa lepas celana aja harus pakai tutup muka segala? Tapi aku tetap melakukannya. “Gini ya, mbak?” kutindihkan bantal ke mukaku hingga aku tidak bisa melihat apa-apa.

    ”Aku buang semuanya ya?” kata mbak Darsih.

    Aku masih tak mengerti, tapi aku tetap menjawab, ”Terserah, mbak.”

    Akhirnya kurasakan celanaku ditarik ke bawah. Dan tidak cuma celana pendek, kurasakan celana dalamku pun ikut ia tarik hingga terlepas semuanya. Sungguh, aku merasa kikuk, malu, dan agak risih telanjang di depan mbak Darsih.

    ”Mungkin mbak mau mengganti semuanya karena aku nggak mandi,” bisikku dalam hati untuk menenangkan pikiranku yang mulai bergejolak. Di bawah, kontolku yang sudah menegang kini makin mengacung tegak ke atas saat tangan mbak Darsih mulai merabanya, memperlihatkan segala kejantanan dan kekuatannya.

    ”Ih, keras amat” katanya sambil mulai mengocok pelan. Rasa geli dan nikmat langsung kurasakan, aku tidak sanggup untuk menolak. Apalagi saat tak lama kemudian, kurasakan tubuh montok milik mbak Darsih mulai mengangkangiku, membuatku makin terbuai dan terpesona.

    Batang kontolku kini tepat menempel ke belahan vaginanya. Bahkan sesaat kemudian, kurasakan ujung kontolku perlahan menembus, memasuki belahan dagingnya yang sangat hangat, yang mengingatkanku akan nikmat mimpi basah ku beberapa minggu terakhir. Sungguh, seperti ini rasanya, sangat mirip sekali!!

    ”Kamu diam saja, jangan dibuka bantalnya!” mbak Darsih berkata sambil terus menekan pinggulnya ke bawah. Dinding vaginanya yang lembek dan lengket semakin menggerogoti batang kontolku. Ya Tuhan, apa mbak Darsih sedang menyetubuhiku? Tanyaku dalam hati, namun tidak bisa menolak. Begitu nikmat rasa ini hingga aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa diam dan menikmati apapun yang ia berikan.

    Di sela-sela kebingunganku, perlahan tapi pasti, kontolku semakin masuk ke dalam, menghunjam dan menembus memek mulus mbak Darsih, bahkan kini sudah mentok di mulut rahimnya. Kontolku kini sudah menancap sepenuhnya, mengisi rongga memek mbak Darsih yang kurasa sangat sempit dan legit.

    Aku hanya bisa menutup mata dan menyembunyikan mukaku di balik bantal saat perlahan mbak Darsih mulai menggerakkan badannya naik turun. Goyangannya itu membuat alat kelamin kami yang saling bertaut erat mulai bergesekan pelan. Rasanya sungguh nikmat sekali.

    Kudengar nafas mbak Darsih semakin berat dan tak teratur, membuatku semakin tak kuasa menahan gejolak. Akhirnya akupun mengejang. Perlahan cairan hangat keluar dari kontolku, menyemprot deras di liang memek mbak Darsih, yang dibalas olehnya dengan denyutan nikmat dinding-dinding rahimnya.

    Setelah muncrat semuanya, barulah mbak Darsih melepaskan himpitannya dan merapikan kembali celanaku. Kontolku yang basah oleh cairan kental, ia lap dengan menggunakan kain lembut. Kutebak itu adalah celana dalamnya. “Udah, boleh dibuka sekarang.” kata mbak Darsih kemudian. ”Sudah nggak sesak lagi kan?” tanyanya sambil tersenyum.

    Aku hanya diam, tidak tahu harus berkata apa. Persetubuhan pertamaku dengan mbak Darsih membuatku kehilangan kata-kata. Tapi, benarkah ini yang pertama? Setelah merapikan kembali pakaiannya, kuperhatikan mbak Darsih yang melangkah pergi meninggalkan kamarku.

    Keesokan harinya, kakek masih belum kembali. Di sekolah, aku jadi sering melamun, membayangkan apa yang telah aku dan mbak Darsih lakukan kemarin. Aku tahu bahwa itu terlarang dan tidak boleh, tapi entahlah, aku menyukainya. Dan aku tidak ingin berhenti, aku ingin mengulanginya lagi kalau ada kesempatan. Sepertinya aku telah ketagihan dan merindukan memek mbak Darsih. Aku telah dewasa sebelum waktunya.

    Pulang sekolah, meski lagi konak berat, aku cuma tiduran di kamar. Aku tidak berani mendekati mbak Darsih yang sedang asyik nonton teve di ruang tengah. Aku sedang mengusap-usap batang kontolku yang sudah tegang saat dia menyapaku dari pintu kamar.

    “Kamu sakit?” tanya mbak Darsih yang tahu-tahu sudah berada disana.
    ”Nggak, mbak.” kataku salah tingkah karena sudah dipergoki seperti itu.
    ”Kok di kamar aja,” kata mbak Darsih sambil tersenyum.

    Aku hanya diam, tak tahu harus memberikan jawaban apa.

    ”Apa sesak lagi?” dia bertanya lagi, matanya menatap penuh pengertian.

    ”Ah, nggak juga, mbak.” kilahku untuk menutupi rasa malu, untungnya saat itu aku juga mengenakan celana longgar yang sedikit banyak bisa menyembunyikan tonjolan penisku.

    “Ya udah, sini perutnya mbak minyakin biar nggak masuk angin lagi.” katanya, dan tanpa disuruh, dia pun meminyaki perutku, lalu memijatnya perlahan. Hal itu kembali membuat kontolku terbangun.

    ”Ih, dari luar memang nggak kelihatan, tapi dalamnya kelihatan sesak tuh,” mbak Darsih menunjuk daerah kontolku yang perlahan-lahan berubah menjadi semakin munjung.

    “Ehm, iya kali, mbak.” kataku pasrah karena aku memang tidak bisa menutupinya lagi.
    ”Tegang ya?” bisik mbak Darsih sedikit genit.
    ”Iya, kenapa ya, mbok?” kataku polos.

    “Nggak apa-apa, normal.” katanya sambil dengan tangan mulai mengusap-usap perlahan. Aku mulai merasa nikmat di batang kontolku akibat belaiannya. ”Mau dibuang?” tawarnya.

    ”Jangan, mbak, sayang.” kataku bodoh.
    ”Nggak apa, nanti juga ada gantinya.” ia tersenyum.

    Aku terdiam, berusaha mencerna ucapannya. “Ehm, terserah mbak aja deh.” kataku pada akhirnya. Kembali mbak Darsih menutup mukaku dengan bantal. Dan perlahan, kembali kurasakan nikmat menjalari batang kontolku saat dia menduduki dan menjepit batang kontolku di belahan lubang vaginanya.

    “Mbak, kalau kakek pulang bagaimana?” tanyaku sambil merintih keenakan menikmati genjotannya.

    ”Tenang saja, nanti juga gedor pintu.” jawab mbak Darsih. Kurasakan goyangannya menjadi semakin cepat sekarang.

    ”Mbak, maksud mbak sesek itu apa?” tanyaku dengan tangan berpegangan erat pada sprei, berusaha menahan desakan nikmat dari batang penisku agar tidak cepat memancar keluar.

    ”Ah, kamu pura-pura nggak tahu ya?” kata mbak Darsih.

    ”Beneran, mbak.” sahutku masih dengan muka tertutup bantal. Tidak bisa kuketahui bagaimana raut muka mbak Darsih sekarang, tepai dari erangan dan rintihannya, sepertinya dia merasa nikmat sekali, sama seperti yang aku rasakan sekarang.

    ”Maksud mbak, ininya kamu sudah penuh.” katanya sambil meraba biji pelirku.

    “Oh, kirain celanaku yang sesek.” kataku baru mengerti. Saat itulah mbak Darsih tersadar, ternyata kami telah salah paham. Dia langsung menghentikan gerakannya diatas kontolku. ”Mbak, kenapa?” tanyaku bingung, tak ingin kenikmatan ini terputus di tengah jalan.

    ”Aduh, gimana dong?” kata mbak Darsih sedikit panik. ”Maaf ya, kukira kamu mengerti…” dia sudah akan mencabut vaginanya, tapi segera kutahan pinggulnya.
    “Nggak apa-apa, mbak. Aku nggak akan cerita sama kakek.” kataku menenangkan.

    Mbak Darsih terdiam, seperti masih berusaha mencerna kata-kataku. ”Beneran ya?” ia bertanya memastikan.

    ”Iya, mbak. Asal mbak mau beginian terus sama aku.” kataku dari balik bantal. Selama dia tidak menyuruh, aku akan tetap bersembunyi.
    “Baiklah, mbak juga sudah tanggung. Mbak pinjam sebentar inimu ya?” katanya sambil memegangi penisku yang kini cuma kepalanya saja yang masih menancap.
    ”Iya, mbak.” sahutku dengan senang hati.

    Akhirnya mbak Darsih pun melanjutkan gerakan naik turunnya di atas batang kontolku, hingga tak lama kemudian, aku kembali memuntahkan cairan kental ke dalam memeknya.

    ”Terima kasih ya,” dia mencium pipiku dan kembali merapikan pakiannya.
    ”Sama-sama, mbak.” Aku yang kelelahan, dengan tetap telanjang, terlelap tak lama kemudian.

    Sejak itu, sesekali, jika mbak Darsih lagi pingin, dia suka berbisik; ”Boleh pinjam nggak?” Atau jika aku yang pingin, aku terkadang berkata, ”Mbak, kayaknya sesek.” itulah kode yang kami sepakati. Begitulah, hubungan terlarang kami terus terjalan.

    Bahkan kami seakan tak peduli tempat dan waktu, jika hasrat kami sudah tak terbendung, kami selalu berusaha menuntaskannya, kapanpun dan dimanapun. Bahkan pernah, di malam hari, mbak Darsih masuk ke kamarku dan naik ke atas tubuhku, padahal saat itu kakek lagi ada di rumah. Nekat sekali dia, tapi aku juga tidak bisa menolak karena aku tahu kalau kakek sudah terlelap.

    Yang lebih gila, pernah kusetubuhi mbak Darsih di gubuk tengah ladang saat ia tengah mengantarkan makanan buat kakek. Sementara kakek mencangkul untuk membuat bedengan, kutindih istrinya yang masih nikmat dan cantik itu hanya dengan beralaskan tikar lusuh. Kakek sama sekali tidak curiga karena matanya memang sudah sangat rabun, ia tidak bisa melihat jelas ke gubuk dimana kami berada.

    Sering juga saat kakek nonton teve di ruang tengah, kuseret mbak Darsih ke dapur. Hanya dengan bertumpu pada meja, kutusuk tubuh sintalnya dari belakang. Mbak Darsih berusaha menutupi mulutnya dengan tangan agar rintihan dan teriakannya tidak sampai terdengar oleh kakek. Tapi aku yakin itu tidak akan terjadi karena kakek juga sedikit tuli.

    Tapi selama kami bercinta dan bersetubuh, aku dan mbak Darsih tidak pernah melakukan kontak lain selain pertautan alat kelamin kami. Aku tak pernah mencium bibirnya, juga meraba tubuh sintalnya. Paling banter aku cuma sedikit memeluknya kalau sudah konak banget.

    Jika lagi pingin, aku biasanya langsung menusukkan kontolku ke memek mbak Darsih tanpa melakukan foreplay atau pemanasan terlebih dahulu. Gairah kami yang meluap-luap sudah cukup untuk membuat memek mbak Darsih jadi basah dan lengket.

    Jika mbak Darsih yang pingin, biasanya dia meremas-remas dulu batang penisku, baru memasukkannya ke dalam lubang kenikmatannya. Sesekali aku memang kadang meremas payudara montok milik mbak Darsih disela-sela genjotan kontolku, tapi tak pernah lebih dari itu. Bahkan melihat bagaimana warna dan bentuknya saja, aku juga tidak pernah. Bagiku yang penting kontolku bertemu dengan memeknya, itu sudah lebih dari cukup.

    Sungguh, walau diperlakukan begitu, aku tetap puas. Begitu juga dengan mbak Darsih. Jika aku datang, menusukkan kontolku, dan pergi meninggalkannya jika sudah usai, baginya itu sudah merupakan hal yang paling nikmat. Rupanya setelah hampir setahun tak pernah merasakan kepuasan dari kakek, ia jadi gampangan seperti itu.

    Tapi untungnya ada aku yang siap memuaskannya sewaktu-waktu, hingga disela-sela kesepiannya, dan kesepian di kampungku, mbak Darsih tetap bisa meraih kenikmatan ragawi yang lebih enak daripada sekedar mimpi basah dan berpacu di malam-malam gelap dan sunyi bersamaku.

  • AIRPORT SEX NIKMAT

    AIRPORT SEX NIKMAT


    1141 views

    SEMUA INI TENTANG AIRPORT YANG BASAH DALAM CELANA

    Dua tahun yang lalu aku dan Lily bertamasya ke Disney World di Orlando, AmerikaSerikat. Karena keuangan yang agak pas-pasan, kami membeli tiket pesawat dari perusahaan penerbangan yang lebih murah. Pilihan kami jatuh pada Malaysia Airline(selain murah, pada saat itu sedang ada harga promosi). Semua perencanaan terlihat begitu baik. Kami berangkat dari Jakarta sekitar jam 7malam. Sesuai jadwal yang telah diberitahukan, kami transit selama 1 jam di KualaLumpur untuk melanjutkan ke penerbangan selanjutnya langsung ke bandara John FKennedy (JFK) di New York .Itu yang kami tahu. Akan tetapi pada kenyataannya kami harus transit sekali lagi diDubai (Arab). Aku sempat kecewa karena kami tidak diberitahukan akan hal inisebelumnya. Aku sempat menanyakan tempat transit mana saja yang akan kami jalanipada perusahaan travel tempat kami memesan tiket namun mereka mengatakan bahwakami hanya transit satu kali di Kuala Lumpur . Aku sempat mengira kami telah salah naik pesawat karena persinggahan pesawat kami diDubai itu. Setelah mengetahui kapal yang kami naiki benar-benar menuju ke New York , kami hanya pasrah saja. Pemeriksaan yang bertele-tele di bandara Dubai sungguh melelahkan. Kami harusmengantri sekitar 1 jam untuk melewati pemeriksaan bagasi saja. Setelah barang-barang bawaan kami melewati alat sensor, seorang petugas menghampiritas koper istri saya dan berseru dengan suara agak keras untuk menanyakan siapa pemilikkoper tersebut. Istri saya maju dan mengatakan kepadanya bahwa tas itu miliknya. Petugas tersebut memandangi Lily cukup lama.

     

    Salah satu hal yang paling kuingat dari wajahnya adalah kumis yang lebat seperti Pak Raden dalam film si Unyil. Lalu iamembuka koper itu dan mulai mengacak-acak isinya. Isi koper itu hanyalah pakaian- pakaian dan peralatan kosmetik Lily. Tangan pria itu (sebut saja si Kumis) mengeluarkansatu kantong berisi bubuk hitam dari dalam koper. ìWhat is this?î tanyanya dengan logat yang sulit dimengerti. Lily menjawab gugup, ìCoffee.î Alis si Kumis mengkerut. Matanya menatap tajam Lily. Lalu ia mengatakan beberapakalimat yang sulit dipahami. Kemungkinan besar apa yang ingin dikatakan si Kumis(dengan menggunakan bahasa inggris yang sangat aneh) adalah membawa kopi dilarang.!Aku mendekati petugas itu dan menanyakan lebih jelas permasalahannya. Si Kumismasih saja mengacak-acak koper itu seakan mencari sesuatu yang hilang. Tanpa merapihkan isi koper itu lagi, ia menutupnya dan memandang aku dengan wajah curiga. ìWho are you?î aku menduga ia mengucapkan kata-kata tersebut. ìIím her husband. Whatís the problem, sir?îIa terus memandangi kami berdua secara bergantian. Ia memanggil dua orang petugaslain di belakangnya dengan gerak isyarat. Lalu ia berkata, ìFollow me!î Dua koper kami diangkat oleh salah satu opsir yang baru dipanggil si Kumis sedang yangsatunya lagi menggiring kami untuk mengikuti si Kumis.

    Si Kumis berjalan dengan cepatmasuk ke dalam ruangan tertutup di pojok lorong tak jauh dari WC. Ruangan yang tak lebih dari 3 x 3 meter itu sangat terang dan seluruh temboknya dilapisicermin setinggi 2 meter dari lantainya. Koper kami dilemparkan dengan kasar ke atasmeja di pinggir. Ketiga pria itu (termasuk si Kumis) telah masuk ke dalam ruangan. Priayang memiliki brewok lebat menutup pintu lalu menguncinya. Kami berdua berdiri terpaku di hadapan mereka bertiga. Aku merasa cemas akan semua ini. Apa yang akan terjadi? Apa masalah yang begitu besar sehingga kami harus diperiksadi ruangan terpisah? Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang memenuhi pikiranku(mungkin tak beda jauh dengan benak Lily). Baru saja aku ingin membuka mulut untuk menanyakan permasalahannya, si Kumismengatakan sesuatu yang tak jelas. Kata-kata yang dapat tertangkap oleh telingaku hanyalah ìstandî, ìwallî (dan ìagainstî setelah berpikir beberapa detik untuk mencernanya). Menurut perkiraanku mereka ingin kami berdiri menghadap tembok. Informasi ini kuteruskan ke Lily yang tidak mengerti sama sekali perkataan si Kumis. Dengan enggan kami membalik badan kami menghadap tembok. Dari pantulan cermin didepan kami, aku melihat si Brewok dan pria yang satunya lagi yang berbadan lebih tegap(sebut saja si Tegap) menghampiri kami. Telapak tangan kami di tempelkan di tembok (cermin) di depan kami dan kaki kami direnggangkan dengan menendang telapak kakikami agar bergeser menjauh. Si Brewok mulai memeriksa seluruh tubuhku. Dimulai dari atas dan bergerak ke bawah. Pemeriksaan berlangsung cepat. Beberapa benda di kantong baju dan celanakudikeluarkan dan diletakkannya di meja terpisah. Sama halnya seperti yang terjadi pada diriku, si Tegap memeriksa Lily dari atas kebawah.

    Sekilas aku melihat dari cermin, si Tegap menggerayangi payudara Lily walauhanya sebentar.!Tak ada ekspresi yang berubah dari wajah Lily. Sejak tadi ekspresi yang terlihat hanyalahekspresi kecemasan. Aku menepis pemikiran bahwa si Tegap mencari kesempatan dalamkesempitan pada tubuh istriku. Mungkin saja memang ia harus memeriksa bagian dadaLily, toh dadaku juga diperiksa oleh si Brewok, pikirku. Benda-benda juga dikeluarkan dari kantong jaket, baju dan celana Lily. Meja itu dipenuhioleh uang receh, permen, sapu tangan dan kertas-kertas tak berguna dari isi kantong kamiberdua. Kemudian setelah harus mencerna hampir lima kali kata-kata yang tak jelas dari si Kumis(yang ternyata adalah atasan si Brewok dan si Tegap), aku menyadari bahwa ia menyuruhkami untuk membuka pakaian kami. Jantungku seperti berhenti berdetak. Lily masihbelum dapat mengira-ngira perkataan si Kumis itu. Tanpa memberitahu istriku, aku mencoba untuk memprotes kepada si Kumis. Namun siKumis membentak, yang kuduga isinya (jika diterjemahkan): ìJangan macam-macam!Cepat laksanakan!î Beberapa kata yang dapat tertangkap jelas oleh telingaku adalahìDonít playî dan ìQuickî. Aku membisikkan kepada istriku keinginan si Kumis. Mata Lily membesar dan mulutnyaterbuka sedikit karena kaget. Si Tegap dan si Brewok sudah berdiri di samping kami dan mengawasi kami denganpandangan tajam. Aku melirik ke pinggang si Brewok. Pandanganku tertumpu padapistol yang menggantung di pinggang tersebut. Perasaan takut sudah menguasai diriku. Aku mulai melepaskan pakaianku dari sweater, kemeja, kaos dan celana panjang.

    Pada saat aku melepaskan kemejaku, Lily masih belum beranjak untuk melepaskan pakaiannya. Karena takut istriku dilukai, aku memberi pandangan isyarat kepadanya agar ia segera melepaskan pakaiannya. Akhirnya dengan berat hati ia melepaskannya satu per satu. Jaket, kemeja, kaos dalam dan terakhir celana jeansnya. Kami berdua berdiri hanya dengan pakaian dalam kami. Si Kumis berkata sesuatu yang sama sekali tidak dapat kumengerti. Detik berikutnya si Tegap menarik tangan Lily dan membawanya ke sisi tembok yang bersebelahan dengantembok di hadapan kami. Tangan si Brewok menahanku ketika aku hendak mengikutiLily. ìDonít move!î katanya kepadaku dengan sangat jelas. Aku masih dapat melihat Lily (dari bayangan di tembok cermin) berdiri tak jauh disebelah kananku. Ia menghadap tembok namun pada sisi yang berbeda dengan tembokku. Lalu si Brewok menarik tanganku agar kedua telapak tanganku menempel di tembokcermin dan merenggangkan kakiku. Si Tegap melakukan hal yang sama pula terhadapLily.!Si Brewok yang berdiri di belakangku, meraba-raba bagian tubuhku yang ditutupi olehcelana dalamku, mencari-cari sesuatu untuk ditemukan. Setelah itu sambilmenggelengkan kepalanya, ia mengatakan sesuatu kepada si Kumis. Pada saat itulah aku melihat tangan si Tegap menggerayangi tubuh Lily. Dengan jelasaku melihat tangannya meremas payudara Lily selama beberapa detik. Tangannyabergerak ke bagian bawah tubuh Lily. Kemudian si Tegap berjongkok di belakang Lilydan aku tak dapat lagi melihat apa yang dikerjakannya setelah itu. Lily memejamkanmatanya. Alisnya sedikit mengkerut. Selama sekitar 20 detik, aku tak berani memalingkan wajahku untuk melihat apa yangdikerjakan si Tegap pada istriku. Lalu ia berdiri dan berkata pelan kepada si Kumis (lagilagiaku tak dapat menangkap kata-kata yang diucapkan mereka). Si Kumis berkata-kata lagi diikuti dengan ditariknya celana dalamku ke bawah oleh siBrewok.

    Belum sempat kaget, aku mendengar Lily menjerit kecil. Rupanya celanadalamnya sudah ditarik ke bawah sampai ke lututnya, sama seperti yang dilakukan siBrewok terhadap celana dalamku. Setelah itu si Tegap meraih kaitan di belakang BH Lilydan melepaskannya dengan cepat. Si Tegap meraih BH itu dan menariknya satu kalidengan keras sehingga lepas dari tubuh Lily. Secepat kilat Lily menutupi kedua dadanya. Aku pun menutupi kemaluanku. Kamiberdua berdiri tegang. Si Kumis berjalan perlahan menghampiriku lalu bergerak ke arahLily. Untuk beberapa saat ia hanya berdiri dan memperhatikan tubuh istriku. Aku rasa, Lily mulai akan menangis. Si Kumis memberi isyarat kepada si Tegap. Lalu si Tegap menghampiriku dan berdirimenantang di sampingku. Aku hanya melirik sekali dan mendapati wajahnya berubahmenjadi lebih kejam tiga kali lipat. Sambil mengatakan sesuatu, si Kumis mendorong pentungan hitam (yang biasa dibawaoleh polisi) yang dipegangnya ke arah tangan Lily yang menutupi buah dadanya. Akudapat melihat istriku menjatuhkan kedua tangannya ke sisi tubuhnya. Si Kumis kembalimemandangi Lily dan kali ini pandangannya terkonsentrasi ke arah payudara istriku. Hampir semenit penuh ia memandangi tubuh Lily. Lily hanya memejamkan matanya, mungkin karena takut (atau malu?). Dengan menggunakan pentungan hitamnya itu, si Kumis menurunkan celana dalam Lilydari lutut sampai ke mata kakinya. Lalu ia memaksa Lily untuk merenggangkan kakinyasehingga mau tak mau ia melangkah keluar dari celana dalamnya. Pada saat si Kumis mulai menggerayangi payudara istriku, aku beringsut dari tempatkuuntuk mencegahnya.

    Namun bukan aku yang mencegah perbuatan si Kumis, si Tegapdibantu oleh si Brewok menahan tubuhku untuk tetap berdiri di tempat.!Aku meneriaki si Kumis untuk menghentikan perbuatannya. Teriakanku disambut dengantamparan keras pada pipi kananku. Aku merasakan rasa asin yang kutahu berasal daridarah yang mengalir dalam mulutku. Akhirnya aku hanya berdiri dan berdiam diri. Tak beberapa lama setelah itu, si Kumis berjongkok di depan Lily sehingga aku tak dapatmelihat apa yang dilakukannya. Dari sudut pandangku, aku hanya dapat melihat daribayangan di cermin bagian belakang tubuh si Kumis yang sedang berjongkok di antarakedua paha Lily. Tidak terdengar suara apa pun selain suara detak jantungku yang semakin keras dancepat. Lily tetap memejamkan matanya dengan alis sedikit mengkerut, sama seperti tadi. Lily tidak mengeluarkan sepatah kata pun sejak tadi masuk ke dalam ruangan itu. Istrikumemang agak penakut dan kurang berani mengungkapkan pendapatnya pada orang lain. Walaupun demikian, aku agak heran dengan sikap istriku saat itu yang tidak memprotessedikit pun atas perbuatan si Kumis terhadap dirinya. Atau mungkin saja si Kumis tidakmelakukan apa-apa saat itu, batinku. Setelah lima menit berlalu dalam keheningan, tiba-tiba istriku mengeluh (lebihmenyerupai mendesah), ìHhwwhhhÖî Aku melirik ke arahnya dan mendapati ia tidaklagi menutup matanya. Matanya agak membelalak dan mulutnya terbuka sedikit.
    Setelah itu, si Kumis berdiri dan menghampiri si Tegap. Ia memberi isyarat dengantangannya kepada si Tegap dan si Brewok untuk meninggalkan ruangan itu. Aku yakin (sangat yakin, untuk lebih tepatnya) bahwa aku melihat beberapa jari si Kumismengkilap karena basah. Hanya dengan melihat hal itu, cukup bagiku untuk menduga apayang telah dilakukan si Kumis terhadap istriku. Si Kumis berkata-kata kepada kami. Kali ini aku yakin ia mengatakannya dalam bahasainggris. Walau aku hanya dapat menangkap sepenggal kalimat (ìmay passî), namun akuyakin bahwa ia menyuruh kami mengenakan kembali pakaian kami dan memperbolehkankami untuk melanjutkan perjalanan kami. Awalnya aku tak mempercayai pendengaranku (dan tafsiranku terhadap kata-katanya). Namun setelah mereka keluar dari ruangan itu dan meninggalkan kami berdua saja, akusemakin yakin.
    Aku menyuruh Lily untuk mengenakan pakaiannya secepat mungkin. Dan ia mulaimenangis terisak-isak sambil

    mengenakan pakaiannya. Setelah selesai mengenakan seluruh pakaian kami, aku memeluk istriku yang masihmenangis. Dalam pelukanku tangisannya semakin menjadi. Aku hanya mengelus-elusrambutnya dan menenangkan hatinya dengan mengatakan bahwa semua itu sudahberakhir.!Sesampai kami di hotel (di Orlando), Lily akhirnya menceritakan apa yang diperbuat siKumis terhadap dirinya. Ia bercerita bahwa sambil menjilati klitorisnya, si Kumismenggesek-gesekkan jarinya ke kemaluan istriku. Pada akhirnya si Kumis memasukkansatu ñ dua jarinya ke dalam liang kewanitaannya lalu mengocoknya beberapa kali. Lily mengatakan bahwa dirinya merasa jijik atas perbuatan si Kumis. Setelah beberapasaat, aku menanyakan padanya apakah ia terangsang saat itu. Mendengar pertanyaan itu, Lily langsung mencak-mencak dan mengambek. Dalamrajukannya, ia menanyakan kenapa aku berpikiran seperti itu.

    Aku mengungkapkan bahwa aku melihat jari-jari si Kumis basah pada saat iamenghampiriku sebelum keluar dari ruangan itu. Lily menjawab bahwa jari-jari itu basahkarena terkena ludah dari lidah yang menjilati klitorisnya. Karena tak mau melihatdirinya merajuk lagi, akhirnya aku menerima penjelasannya dan meminta maaf karenatelah berpikiran seperti itu. Sebenarnya di dalam otak, logikaku terus berputar. Bagaimana mungkin ludah si Kumisdapat membasahi sepanjang jari-jarinya itu, pikirku. Dalam hatiku yang terdalamsebenarnya aku tahu bahwa jari-jari si Kumis bukan basah oleh ludah melainkan olehcairan yang meleleh dari kemaluan istriku. Namun aku menepis pendapatku itu dan tidak berniat membahasnya lagi dengan Lilyagar kami dapat menikmati sisa waktu kami di Amerika itu.!

  • Minta Jatah Sex dari Ibu Mertuaku yang Masih Terlihat Awet Muda

    Minta Jatah Sex dari Ibu Mertuaku yang Masih Terlihat Awet Muda


    612 views

    Minta Jatah Sex dari Ibu Mertuaku yang Masih Terlihat Awet Muda

    Cerita hot – Namaku Heri, umurku sekarang ini 26 tahun. Ini adalah pengalamanku yang benar-benar nyata dengan Ibu mertuaku. Umurnya belum terlalu tua baru sekitar 45th. Dulunya baru umur 18 tahun dia sudah kimpoi. Ibu mertuaku bentuk tubuhnya biasa-biasa saja malah boleh dikatakan langsing dan singset seperti perawan.

    Tak heran sebab hingga kini ia masih mengkonsumsi jamu untuk supaya selalu awet muda dan langsing. Singkat cerita ketika istriku baru melahirkan anak pertama dan aku harus puasa selama sebulan lebih. Bisa dibayangkan sendiri bagaimana pusingnya aku. Hingga suatu saat aku mengantar Ibu mertuaku pulang dari menengok cucu pertamanya itu.

    Aku biasa mengantarnya dengan motorku. Namun kali itu turun hujan ditengah perjalanan. Karena sudah basah kuyup dan hari sudah menjelang tengah malam aku paksakan untuk menerobos hujan yang deras itu. Setiba dirumah aku ingin segera membersihkan badan lalu menghangatkan badan.

    Di rumah itu hanya ada aku dan Ibu mertuaku karena kakak iparku tinggal ditempat lain. Sedangkan adik iparku yang biasa menemani Ibu mertuaku dirumah itu untuk sementara tinggal dirumahku untuk menjaga istriku.

    “Kamu mandi aja deh sana, Her” Kata Ibu mertuaku menyuruhku mandi
    “Ah.. nggak usah.. Ibu duluan deh” Kataku menolak dan menyuruhnya agar lebih dulu
    “Udah.. Ibu disini aja” Kata Ibu mertuaku yang memilih tempat cuci baju dan cuci piring diluar kamar mandi. Karena disitu juga ada air keran.
    “Yah.. udah deh” Kataku sambil mendahuluinya masuk ke kamar mandi.

    Suasana waktu itu agak remang-remang karena lampu penerangannya hanya lampu bohlam 5 watt. Aku iseng ingin tahu bentuk tubuh Ibu mertuaku yang sebenarnya ketika ia telanjang bulat. Maka aku singkapkan sedikit pintu kamar mandi dan menontonnya melepas satu per satu bajunya yang sudah basah kuyup karena kehujanan. Dia tidak tahu aku menontonnya karena dia membelakangiku.

    Aku perhatikan dia mencopot kaus T-shirt-nya ke atas melewati bahu dan lehernya. Lalu BH-nya dengan mencongkel sedikit pengaitnya lalu ia menarik tali BH-nya dan BH itupun terlepas. Adegan yang paling syur ialah ketika ia membuka celana panjang jeansnya. Sret.. celana jeans ketat itu ditariknya ke bawah sekaligus dengan CD-nya.

    Jreng..! Aku lihat kedua buah pantatnya yang kencang dan montok itu menantangku. Aku yang sudah tak merasakan sex selama satu bulan lebih dan lagi dihadapkan dengan pemandangan seperti itu. Aku nekat untuk mendekatinya dan aku peluk dia dari belakang.

    “Eh.. Her.. ini apa-apaan.. Her” hardik Ibu mertuaku.
    “Bu.. tolongin saya dong, Bu” rayuku
    “Ih.. apaan sih..?!” Katanya lagi
    “Bu, udah dua bulan ini saya nggak dapet dari Dewi.. tolong dong, Bu” bujukku lagi
    “Tapi aku inikan ibumu” Kata Ibu mertuaku
    “Bu.. tolong, Bu.. please banget” rayuku sambil tanganku mulai beraksi.

    Tanganku meremas-remas buah dadanya yang ukurannya sekitar 34b sambil jariku memelintir putting susunya. bibir dan lidahku menjilati tengkuk lehernya. Tanganku yang satu lagi memainkan klentit-nya dengan memelintir daging kecil itu dengan jariku.

    Batang penisku aku tekan dilubang pantatnya tapi tidak aku masukkan. Ibu mertuaku mulai bereaksi. Tangannya yang tadi berusaha meronta dan menahanku kini sudah mengendor. Dia membiarkanku memulai dan memainkan ini semua. Nafasnya memburu dan mulai mendesah-desah.

    “Dikamar aja yuk, Bu” bisikku

    Aku papah Ibu mertuaku menuju kamarnya. Aku baringkan dia tempat tidur. Aku buka kedua kakinya lebar-lebar dan sepertinya Ibu mertuaku sudah siap dengan batang penisku. Tapi aku belum mau memulai semua itu.

    “Tenang aja dulu, Bu. Rileks aja, Ok?” Kataku.

    Aku mengarahkan mukaku ke liang vaginanya dan aku mulai dengan sedikit jilatan dengan ujung lidahku pada klentitnya.

    “Ough.. sshhtt.. ough.. hmpf.. hh.. ooghh” Ibu mertuaku mendesah dan mengerang menahan kenikmatan jilatan lidahku.

    Dia sepertinya belum pernah merasakan oral sex dan baru kali ini saja ia merasakannya. Terlihat reaksi seperti kaget dengan kenikmatan yang satu ini.

    “Enak kan, Bu..?” Kataku
    “Hmh.. kamu.. sshtt.. kamu.. koq.. gak jijik.. sih, Her?” Tanyanya ditengah-tengah desah dan deru nafasnya.
    “Enggak, Bu.. enak koq.. gimana enak gak?”
    “Hmh.. iyahh.. aduh.. sshhtt.. eenak.. banget.. Her.. sshhtt” jawab Ibu mertuaku sambil terus merintih dan mendesah.
    “Itu baru awalnya, Bu” Kataku.

    Kali ini aku kulum-kulum klentitnya dengan bibirku dan memainkan klentit itu dengan lidahku. Aku lihat sekujur tubuh Ibu mertuaku seperti tersetrum dan mengejang. Ia lebih mengangkat lagi pinggulnya ketika aku hisap dalam-dalam klentitnya.

    Tak sampai disitu aku terobos liang vaginanya dengan ujung lidahku dan aku masukkan lidahku dalam-dalam ke liang vaginanya itu lalu aku mainkan liukkan lidahku didalam liang vaginanya. Seiring dengan liukanku pinggul Ibu mertuaku ikut juga bergoyang.

    “Ough.. sshhtt.. ough.. sshhtt.. oughh.. hmh.. ough.. shhtt.. ough.. hmh.. oufghh.. sshhtt” suara itu terus keluar dari mulut Ibu mertuaku menikmati kenikmatan oral sex yang aku berikan.

    Aku sudahi oral sex ku lalu aku bangun dan berlutut dihadapan liang vaginanya. Baru aku arahkan batang penisku ke liang vaginanya tiba-tiba tangan halus Ibu mertuaku memegang batang penisku dan meremas-remasnya.

    “Auw.. diapain, Bu..?” Tanyaku
    “Enggak.. ini supaya bisa lebih tahan lama” Kata Ibuku sambil mengurut batang penisku.

    Rasanya geli-geli nikmat bercamput sakit sedikit. Sepertinya hanya diremas-remas saja tetapi tidak ternyata ujung-ujung jarinya mengurut urat-urat yang ada dibatang penis untuk memperlancar aliran darah sehingga bisa lebih tegang dan kencang dan tahan lama.

    “Guedhe.. juga.. punya kamu, Her” Kata Ibu mertuaku sambil terus mengurut batang penisku.
    “Iya dong, Bu” Kataku.

    Kali ini kedua tangan Ibu mertuaku beraksi mengurut batang penisku. Tangan yang satunya lagi mengurut-urut buah pelirku dan yang satu lagi seperti mengocok namun tidak terlalu ditekan dengan jari jempol dan telunjuknya. Tak lama kemudian..

    “Egh.. yah.sudah.. pelan-pelan.. yah sayang” Kata Ibu mertuaku sambil menyudahi pijatan-pijatan kecilnya itu dan mewanti-wantiku supaya tidak terlalu terburu-buru menerobos liang vaginanya.

    Aku angkat kedua kaki Ibu mertuaku dan aku letakkan dikedua bahuku sambil mencoba menerobos liang vaginanya dengan batang penisku yang sedari tadi sudah keras dan kencang.

    “Ouh.. hgh.. ogh.. pelan-pelan, Her” Kata Ibu mertuaku ditengah-tengah deru nafasnya.

    “Iya, Bu.. sayang.. egh.. aku pelan-pelan koq” Kataku sambil perlahan-lahan mendorong penisku masuk ke liang vaginanya.
    “Ih.. punya kamu guedhe banget, sayang.. ini sih.. diatas rata-rata”Katanya
    “Kan tadi udah diurut, Bu” Kataku.

    Aku teruskan aksiku penetrasiku menerobos liang vaginanya yang kering. Aku tidak merasa istimewa dengan batang penisku yang panjangnya hanya 15cm dengan diameter sekitar 3 cm. Dengan sedikit usaha.. tiba-tiba.. SLEB-SLEB-BLESSS! Batang penisku sudah masuk semua dengan perkasanya kedalam liang vagina Ibu mertuaku.

    “Ough.. egh.. iya.. sshh.. pelan-pelan aja yah, sayang” Kata Ibu mertuaku yang mewantiku supaya aku tidak terlalu terburu-buru.

    Aku mulai meliukkan pinggulku sambil naik turun dan pinggul Ibu mertuaku berputar-putar seperti penyanyi dang-dut.

    “Ough.. gilaa, Bu.. asyik.. banget..!” Kataku sambil merasakan nikmatnya batang penisku diputar oleh pinggulnya.

    “Ough.. sshtt.. egh.. sshh.. hmh.. ffhh.. sshhtt.. ough.. sshhtt.. oughh” Ibu mertuaku tidak menjawab hanya memejamkan mata sambil mulutnya terus mendesah dan merintih menikmati kenikmatan sexual. Baru sekitar 30 menit aku sudah bosan dengan posisi ini dan ingin berganti posisi. Ketika itu kami masih dalam posisi konvensional. Aku mau menawarkan variasi lain pada Ibu mertuaku..

    “Eh.. Ibu yang di atas deh” Kataku.
    “Kenapa, sayang.. kamu capek.. yah..?” Tanyanya.
    “Gak” jawabku singkat.
    “Mo keluar yah.. hi.. hi.. hi..?” Godanya sambil mencubit pantatku.
    “Gak.. ih.. aku gak bakalan keluar duluan deh” Kataku sesumbar.
    “Awas.. yah.. kalo keluar duluan” Goda Ibu mertuaku sambil meremas-remas buah pantatku.
    “Enggak.. deh.. Ibu yang bakalan kalah sama aku”Kataku sombong sambil balas mencubit buah dadanya
    “Auw.. hi.. hi.. hi” Ibu mertuaku memekik kecil sambil tertawa kecil yang membuatku semakin horny.

    Dengan berguling ke samping kini Ibu mertuaku sudah berada di atas tubuhku. Sambil menyesuaikan posisi sebentar ia lalu duduk di atas pinggulku. Aku bisa melihat keindahan tubuhnya perutnya yang rata dan ramping. Tak ada seonggok lemakpun yang menumpuk diperutnya. Buah dadanya juga masih kencang dengan putting susu yang mengacung ke atas menantangku.

    Aku juga duduk dan meraih puting susu itu lalu ku jilat dan ku kulum. Ibu mertuaku mendorongku dan menyuruhku tetap berbaring seolah-olah kali ini cukup ia yang pegan kendali. Ibu mertuaku kembali meliuk-liukkan pinggulnya memutar-mutar seperti Inul Daratista.

    “Egh.. sshhtt.. ough.. sshhtt.. ough.. egh.. hmf” desah Ibu mertuaku.
    “Gila, Bu.. enak banget..!”
    “Ough.. sshhtt.. ough.. sshtt.. ough” Ibu mertuaku mendesah dan merintih sambil terus meliuk-liukkan pinggulnya memainkan batang penisku yang berada didalam liang vaginanya.

    Tanganku meremas buah dadanya yang tak terlalu besar tapi pas dengan telapak tangan. Tanganku yang satunya lagi meremas buah pantatnya. Batang penisku yang kencang dan keras terasa lebih keras dan kencang lagi. Ini berkat pijatan dari Ibu mertuaku tadi itu. Bisa dibayangkan jika tidak aku sudah lama orgasme dari tadi.

    “Ough.. sshtt.. emh.. enagh.. egh.. sshhtt.. ough.. iyaahh.. eeghh.. enak.. ough” liukan pinggul Ibu mertuaku yang tadinya teratur kini berubah semakin liar naik turun maju mundur tak karuan.

    “Ough.. iiyyaahh.. egghh.. eghmmhhff.. sshhtt.. ough.. aku udah mo nyampe” Kata Ibu mertuaku.
    “Bu.. aku juga pengen, Bu.. egh” Kataku sambil ikut menggoyang naik turun pinggulku.
    “Egh.. iyah.. bagusshh.. sayangg.. ough.. sshhtt.. ough.. sshtt.. ough” Ibu mertuaku merespons gerakanku untuk membantunya orgasme.

    Aku mempercepat goyanganku karena seperti ada yang mendesak dibatang penisku untuk keluar juga.

    “Hmfh.. terusshh.. iyah.. ough.. oughh.. AAAUGHH.. OUGH.. OUGH.. OUGH” Ibu mertuaku telah sampai pada orgasmenya.

    Pada batang penisku terasa seperti ada cairan hangat mengucur deras membasahi batang penisku. Ibu mertuaku menggelepar dan diakhiri dengan menggelinjang liar dan nafasnya yang tersengal. Ibu mertuaku telah berhenti melakukan liukan pinggulnya.

    Hanya denyutan-denyutan kencang didalam liang vaginanya. Aku merasakan denyutan-denyutan itu seperti menyedot-nyedot batang penisku Dan.. CROT.. CROTT.. CROTTT..! muncrat semua air maniku diliang vagina Ibu mertuaku.

    “Bu, kerasa nggak air mani saya muncratnya..?” Tanyaku
    “Eh.. iya, Heri sayang.. Ibu udah lama pengen beginian” Kata Ibu mertuaku
    “Iya.. sekarang kan udah, Bu” Kataku sambil mengecup keningnya
    “Oh.. kamu.. hebat banget deh, Her” Kata Ibu mertuaku sambil membelai-belai rambutku.
    “Itu semua kan karena Ibu” Kataku memujinya
    “Ih.. bisa aja.. kamu” sahut Ibu mertuaku sambil mencubit pinggulku.

    Ibu mertuaku masih di atas tubuhku ketika HP-ku berbunyi ternyata dari istriku yang menyuruhku supaya menginap saja dirumah Ibu mertuaku. Setelah telepon di tutup aku memekik kegirangan. Setelah itu kami melakukan pemanasan lagi dan melakukannya sepanjang malam hingga menjelang subuh kami sama-sama kelelahan dan tidur. Entah sudah berapa kali kami bersenggama dalam berbagai posisi.

    Pagi harinya kami masih melakukannya lagi dikamar mandi untuk yang terakhir lalu setelah itu aku sarapan dan pulang.

  • Menyetubuhi Ibu Mertua disamping Istriku yang Tidur di Satu Ranjang

    Menyetubuhi Ibu Mertua disamping Istriku yang Tidur di Satu Ranjang


    577 views

    Menyetubuhi Ibu Mertua disamping Istriku yang Tidur di Satu Ranjang

    Cerita Hot – Halo pembaca setia CeritaSeks15.com, perkenalkan namaku Alma, usiaku 25 tahun, karyawan sebuah perusahaan binafit di bandung, kali ini adalah kisah nyata dalam kehidupanku yang cukup unik dan tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Aku adalah lelaki yang sangat beruntung memiliki seorang istri yang cantik, baik, dan sangat setia.

    Tapi entah kenapa aku malah bisa-bisanya menghianati kesetiaannya, meskipun dia tidak pernah tahu. Kisahku terjadi 1,5 tahun lalu ketika kami baru saja pindah rumah. Dan rumah yang kami tempati memang jadi cukup jauh dengan orang tua kami.

    Sehingga hampir sebulan dua kali ibu mertuaku suka menginap di rumah kami, sekedar untuk menengok istri dan anakku. Ibu mertuaku orang biasa sewajarnya wanita berusia 37 tahun, dia memiliki tubuh gempal dengan tinggi sekitar 160 cm.

    Wajahnya manis dan kulitnya putih mulus, sangat serasi dengan penampilan jilbab dan baju kurung yang tertutup nya. Hubunganku dengannya biasa saja, terlelu dekat tidak, jauh pun tidak. Hari itu aku sudah mengira kalo di rumah akan ada ibu mertuaku yang biasa ku panggil mamah Lilis. Ternyata tebakanku tepat, dia tengah memasak dengan istriku.

    Entah kenapa malam itu mertuaku ingin tidur bareng istriku, dan menyuruhku tidak pindah tapi bertiga saja sekamar. Aku sih tidak ada masalah, dan mau-mau saja, kebetulan ranjang kami besar dan lebar, bahkan muat untuk 4 orang juga.

    Istriku dan mertuaku tidur di tengah karena dia tidak biasa kalo tak tidur di tengah-tengah. Mertuaku pun tidak mempermasalahkannya dan kami pun tidue dengan posisi ibu mertuaku tidur di tengah antara aku dan istriku dan kamipun mulai tertidur.

    Sekitar pukul setengah 12 malam aku terbangun karena ingin buang air kecil. Setelah itu aku kembali ke kamar dan aku melihat mertuaku yang tidur membalik ke arah istriku. Kulihat jelas pantatnya yang besar yang kala itu dia menggunakan baju kurung warna biru. Dia juga mengenakan kerudung sekalipun lagi tidur.

    Akupun melihat betisnya yang putih mulus dan berisi. Pikiran negatifku pun kembali muncul dan membuatku berpikir untuk mencumbunya. Aku segera berbaring mengarah ke mertuaku yang posisis tidurnya membelakangiku. Penisku semakin berdiri dan ingin sekali rasanya menancapkannya ke liang anusnya yang bulat dan besar itu.

    Akupun perlahan mendekati dan mengenakan kakiku ke betisnya yang lembut itu. Aku diamkan sejenak kemudian aku coba gesekkan perlahan. Rupanya dia memang tidur, dan akupun mulai bergerak perlahan mendekatinya. Aku memperhatikan istriku yang tertidur pulas dan kurasa aman. Lalu aku mencoba menempelkan penisku yang masih terbungkus celana pendekku ke pantat mertuaku. Mertuaku masih diam saja bahkan ketika kumulai gerakkan penisku yang begesekkan dengan pantatnya.

    Kemudian akupun mulai menggerakan tanganku negarah ke pahanya dan perlahan aku elus-elus. Tiba- tiba istriku bergerak membuatku kaget dan langsung menghentikan gerakanku. Ternyata dia mengigau. Ah sial pikirku yang sudah melepaskan kaki dan tanganku dari tubuh mertuaku. Akupun ingin melakukannya lagi tapi takut kali ini mertuaku terbangun.

    Beberapa menit kemudian mertuaku bergerak merapat kepadaku, rupanya dia bangun karena dia batuk. Aku heran kenapa dia bergerak padaku. Langsung saja otak mesumku bereaksi dan menggerakan tanganku untuk merabanya lagi. Saat aku merabanya, mertuaku batuk dan mengagetkanku.

    Tapi dia hanya diam saja. Lalu kulihat dia menyingkapkan rook nya sedikit keatas sehingga terlihat sampai ke belakang lutunya. Aku yakin kalo dari tadi mertuaku bangun dan sadar kalo aku meraba-rabanya. Kemudian aku nekad bertanya padanya.

    “mamah dari tadi nggak tidur?” bisikku

    Dia hanya diam saja, padahal aku tahu pasti kalo dia tidak tidur. Aku berpikir kalo dia pasrah kalo sekalipun aku lakukan sesuatu kepadanya. Kemudian aku lebih merapatkan tubuhku ke mertuaku. Aku buka perlahan penisku yang sudah kembali keras. Aku raih tangan mertuaku dan mengarahkannya ke penisku, dan aku biarkan dia genggam penisku.

    Dia hanya diam saja.aku buak perlahan celanaku sehingga aku hanya mengenakan baju tanpa celan dan memeng tertututpi sama selimut. Kemudian aku naikkan rok mertuaku sambil aku usap pahanya yang mulus dan lembut. Dia sedikit bergerak karena mungkin terangsang olehku.

    “gerakin dong mah tangannya” bisikku padanya.

    Kemudian dia melakukan apa yang aku minta. Dia remas dan kocok penisku pelan-pelan. Tanganku mulai masuk ke daerah vaginanya yang ternyata telah basah. Akupun semakin bergairah untuk melakukan hubungan seks gila ini. Kulepaskan tangannya dari penisku dan langsung saja kudekatkan pada anusnya.

    Aku coba memasukkanya ke lobang vaginanya, tapa ternyata susah karena posisi kami dan juga kami lakukan dengan hati-hati karena takut istriku bangun. Aku biarkan saja penisku digencet oleh kedua paha mertuaku yang besar dan berisi. Sementara itu aku meulai membuka risleting bajunya yang terletak di punggungnya. pelan-pelan sekali aku lepaskan busananya berikut bra dan cd nya. Kini dia telanjang bulat diantara aku dan istriku, aku ciumi punggung dan lehernya.

    Beberapa menit kemudian aku nekad dan berbisik “mah aku naikki aja mamah ya”

    Kemudian dia bergerak dan merubah posisi nya jadi berbaring. Akupun pelan-pelan menaiki tubuhnya yang besar itu. Dia masih menutup matanya seakan tak mau tahu kalo aku sedang menungganginya. Sesekali dia mendesah kecil ketika kuremas dadanya. Akupun mulai menciuminya dan menjilati leher samapi ketiaknya. Kemudian aku mulai mengarahkan penisku ke vaginyanya.

    Tidak butuh waktu lama bagiku untuk meluputkan penisku ke liang kenikmatannya karen memang vaginanya sudah nggak sempit lagi.aku kocokkan perlahan dan seseklai dpercepat. Aku lakukan itu sekitae 10 menitan hingga terasa cairan hangat menyembur penisku. Rupanya dia telah mencapai surganya.

    Akupun menyuruhnya merubah possisi. Kini dia diatas menindihku, dan mengulang lagi gerakanku tadi. Sampai beberapa menit kemudian aku orgasme dan meledakannya di dalam vagina mertuaku itu. Setelah itu barulah dia berani mebuka matanya dan tersenyum manis padaku. Aku hanya bisa bilang “maaf mah!”

    Kemudian dia menciumiku dan memelukku erat. Kami berpelukan sangat lama sekali sampai akhirnya dia memakai kan kembali busananya pelan-pelan, begitu pula aku karena takut istriku curiga. Setelah itu kami berciuman lagi beberapa lamanya. Kemudian kami tertidur karena letih dengan permainan gila kami. Bagaimana tidak, aku menyetubuhi mertuaku disamping anaknya sekaligus istriku yang tengah tertidur di ranjang yang sama.

    Besok paginya aku bangun paling akhir. Dan kuliahat istri dan mertuaku tengah mengobrol di teras depan. Kemudian setelah membasuh muka,aku menghampiri mereka. Kulihat mertuaku tersenyum tipis, dan aku balas senyumnya.

  • Ibu Ratna Muda cantik bergairah

    Ibu Ratna Muda cantik bergairah


    455 views

    BONUS VIDEO BOKEP DAN FOTO BUGIL


    Cerita Dewasa Sex | Ibu Ratna Muda cantik bergairah

    Paginya ternyata bi Ratna juga bangun agak kesiangan, kecapekan juga. Benarnya Deni mau ngebetot lagi, sayang ada si Ucil. Bibinya setelah selesai sarapan, minta diantar ke kota, mau beli pil KB, buat jaga – jaga katanya, walau pakai alat KB, tetap lebih baik berjaga. Di puskesmas di balai warga sebenarnya ada dan bisa beli pil KB, tapi nggak mungkin bibinya membeli di sana, bisa geger dunia persilatan…eh salah…maksudnya bisa geger warga kampung sini, kalau bibinya yang menjanda melenggang santai ke Puskesmas untuk membeli pil KB. Akhirnya mereka berangkat, si Ucil diajak juga tentunya, bocah itu juga tak’kan paham apa yang akan dibeli ibunya. Agak siangan mereka sudah sampai, bibinya segera ke kebun seperti biasa. Ucil mengajak Deni ke rumah abahnya, ya sudah Deni mau saja.

    myrna_star_037-1Kini sudah hampir 2 minggu Deni melakukan hubungan seks sama bi Ratna, sudah bisa dibilang mahir dan mampu memuaskan bibinya. Hari ini Ucil tak di rumah, dijemput abahnya, diajak kondangan ke saudara di bandung, pulangnya besok sore. Dari pagi Deni ikut bibinya ke kebun, tapi baru sebentaran di sana sudah terus colek – colek bibinya minta pulang. Nggak tahan mau nyodok lagi. Hari ini bi Ratna memakai kaos dan celana selutut.Akhirnya bi Ratna nyengir memaklumi kemauan keponakannya yang lagi doyan – doyannya, belum siang mereka sudah pulang. Bibinya masuk ke rumah, menuju kamar.Deni yang sudah ngaceng berat, segera memasukkan motor ke dalam rumah, menutup pintu asal rapat tanpa menyadari belum terkunci, dengan semangat 45 segera ke kamar bibinya. Bi ratna baru juga membuka baju kaosnya, hanya menyisakan BH, Deni sudah menomploknya merebahkannya ke kasur. Bibinya tertawa kecil…

    ”Sabar atuh Den, semalam kan sudah sampai 3 kali, masa sekarang belum tengah hari sudah minta lagi….doyan amat sih ponakan bibi ini.”
    ”Namanya juga anak muda masih semangat. Lagian memang bi ratna sangat menggoda sih.”

    Deni segera memendamkan wajahnya di antara belahan tetek bi Ratna, menciuminya, wangi dan harum, aroma wangi tubuh dan sabun bercampur satu dan memabukkan. Tangannya segera meremasi BH bibinya, tak lama, sebentar saja, tangannya tak sabaran segera melucuti paksa Bh bibinya. Kini ia asik mengulum dan memainkan pentil bibinya, menghisapnya kuat – kuat. Bibi Ratna sampai kelojotan. Keponakannya ini benar – benar murid yang pandai, sebentar saja sudah mahir mengetahui juga lihai memainkan titik – titik sensitifnya. Mampu secara kreatif mengembangkan potensinya. Tangan bi Ratna menyusup ke balik celana pendek Deni, mulai meremas – remas kont01 Deni.

    myrna_star_038Dengan cepat akhirnya keduanya kini sudah tak berbusana lagi, Deni masih di atas menindih bibinya, mengangkat lengan bibinya, menciumi dan menjilati rimbunan keteknya, enak dan harum. Bibinya masih asik mengocok kont01nya, karena sudah tak tahan, Deni menurunkan pantatnya sedikit dan…blesss…kont01nya menerobos m3mek bibinya. Kini Deni sudah tak culun lagi, sudah pandai menjaga tempo. Ia mulai memompa dengan semangat, kaki bibinya terkangkang lebar, Deni menyodokkan kont01nya, kuat dan bertenaga serta sedalam mungkin. Tetek bibina bergoyang nafsuin. Gemas banget Deni melihatnya, ia dekatkan mulutnya, menghisap pentil itu kuat, sodokannya makin kuat, hampir 3 menit lewatt, masih tetap menghisap kedua pentil tetek bibinya secara kuat dan bergantian juga menyodok dengan cepat dan konstant, efeknya bibinya mendesah kuat dan penuh gairah…

    ”Aaahh…..Ssssshhh…..lagiii ii….”
    ”Huahhhh….ooohhhh……Wooow www…”
    ”Yessss……”

    Tubuh bi Ratna menggeliat dan mengejang kuat, menyemburkan cairan orgasmenya, sebenarnya Ratna juga heran di awalnya, dulu sama suaminya yang bejat, sulit sekali ia orgasme, tapi sama keponakannya ini, sangat mudah dan sering, mungkin karena ia sendiri enjoy dan menikmati semangat Deni yang penuh gairah tanpa surut. Deni tak memperdulikan bibinya yang masih lemas, makin mantap menyodokkan kont01nya, mata bi Ratna merem – melek menrima gempuran sodokan kont01 Deni, tangannya memeluk erat pundak Deni.

    myrna_star_042Sementara kedua insan ini masih seru memacu birahi, Bi Lasmi melongok melalui hordeng yang sedikit terbuka di pintu depan, motornya ada, kenapa dari tadi tak ada yang menjawab, masa si Ratna sama Deni jam segini sudah tidur siang. Penasaran ia memutar gagang pintu…tuh ceroboh sekali tak dikunci, mana ada motor, nanti digondol maling lagi. Perlahan ia masuk dan menutup pintu, menguncinya. Memandang sekeliling…sepi amat sih. Oh ya, si Ucil kan ikut si Abah, tadi pagi Ratna sempat ngomong waktu ketemu di kebun. Ah paling adiknya lagi tiduran di kamarnya. Yakin dengan perkiraannya, Lasmi segera menuju kamar adiknya, sambil berseru..

    ”Rat, teteh minta kecap dulu dong, nanggung lagi masak, tadi ke warungnya si Ros, tapi tutup, lagi belanja ke pasar, makanya minta sedikit ke…APA…?”

    Lasmi membelalak, saat menyingkap gordeng yang menutup kamar adiknya, ia mendapati pemandangan yang tak pernah ia duga atau bayangkan. Keponakannya Deni sedang menindih adiknya Ratna, keduanya tanpa busana. Matanya terbelalak memandangi keduanya bergantian.

    Ratna dan Deni diam membatu, kont01 Deni masih menancap di m3mek bibinya. Terkejut sekali tentunya, situasi amat memojokkan mereka, mau ngomong apapun posisi mereka sangat nyata sedang melakukan hubungan yang terlarang. Rasanya mulut mereka terkunci rapat sulit menjelaskan. Setelah lama terombang – ambing dalam kesunyian yang menegangkan, rasa keterkejutan sudah berkurang, pikiran mulai mengalir kembali…

    ”Eh…teteh…eh…a..anu…”
    ”Bi…eng bi Las…Lasmi, De..Deni bi….bisa jelas…jelaskan…i…ini sa..salah Deni.”

    myrna_star_051Lasmi masih terkejut, dalam pikirannya, ampun Ratna, banyak lelaki yang mengejar kamu, mau memperistri kamu, tapi kenapa kamu malah memilih ngewek sama…ke…keponakan kita, Deni ? Harus ada penjelasan yang masuk akal, karena saat Lasmi memrgokinya, walau sesaat saja, jelas keduanya melakukannya dengan sukarela, tak ada pihak yang terpaksa. Dia duduk di pinggir ranjang, masih terkejut, semuanya diam, akhirnya Lasmi bisa menguasai diri. Ratna sudah mendahului bicara. Saking tegangnya, Deni sampai lupa mencabut kont01nya.

    ”Teh…nanti Ratna pasti jelaskan, ada alasan yang membuat Ratna melakukan hal ini.”
    ”Rasanya tak perlu kamu jelaskan. Teteh bisa membaca pikiranmu. Selama ini teteh dan teh Santi sudah mengerti kalau kamu memang trauma sama perkawinan, tapi juga butuh pelampiasan…Cuma kenapa sama si Deni..?”
    ”Awalnya tak pernah terencanakan, terjadi begitu saja dan tak bisa dihindarkan….”

    Lasmi diam saja, saat itu deni baru sadar masih posisi menancap, ia mencabut kont01nya, bergulir ke samping bi Ratna. Mata Lasmi sempat memandang kont01 Deni, dan sama seperti Ratna dulu kala pertma kali melihat kont01 Deni, Lasmi juga terkesiap. Sebenarnya Lasmi juga belakangan ini selalu uring – uringan, iyalah…suaminya yang pelaut, kalau melaut waktunya selalu lama,kalau berlabuh cuma sebentar, tentu saja ia kurang terpuaskan. Mana terakhir ia ngewek hampir setengah tahun yang lalu, suaminya juga masih lama pulangnya. Matanya memandang kont01 Deni dengan raut kepingin. Tak heran kalau ratna sampai mau melakukannya sama keponakannya ini pikir Lasmi. Dia mulai bergairah dan merasakan denyutan pada m3meknya. Kalau tadinya hal ini hanya menjadi rahasia Ratna dan Deni berdua…kini sudah saatnya menjadi rahasia mereka bertiga. Tapi keduanya harus dihukum dulu. Ratna dan Deni masih tegang menunggu reaksi Lasmi selanjutnya, makin tegang melihat Lasmi yang sedang serius berpikir. Untunglah Lasmi kembali berbicara…
    ”Kalian…selesaikan apa yang sedang kalian perbuat…”
    ”HAH…?” Ratna dan Deni mengucapkan keheranan mereka berbarengan, melongo bingung menatap Lasmi minta penjelasan lebih lanjut.

    myrna_star_073”Kenapa ? kalian dengarkan. Lanjutkan saja apa yang sedang kalian perbuat.”
    ”Ta..tapi teh…nggak mungkinlah…di di depan teteh.”
    ”Mungkin saja, kenapa malu ? Untuk apa ? Melakukannya sama keponakanmu kamu bisa nggak malu, apa bedanya sekarang ?”
    ”Ti…tidak…Ratna nggak mau. Ini lain soal.”

    Deni hanya diam saja, bingung dan nggak tahu harus ngomong apa. Akhirnya Lasmi menggetokkan palu terakhir, final….

    ”Baik…kalau begitu bersiaplah…teteh akan membicarakan hal ini ke Santi…ya tetehmu Ratna, dan juga ibumu,Deni. Dan teteh yakin kalau Santi tak akan senang dan bisa menerima hal ini. Bagaimana…?”

    Deni sangat terkejut. Gila…mampus deh…..wah nggak bisa begini, ia akhirnya membuka suara.

    ”Sudah bi Ratna, kita teruskan saja. Daripada berabe.”
    ”Ta..tapi Den…i…itu…”
    ”Sudah…tenang saja, ayo, santai saja.”
    ”Kamu dengarkan Rat, Deni benar, daripada berabe. Lagipula teteh sudah berbaik hati mau membiarkan kalian menuntaskan ngewek kalian yang terputus menddak tadi.”

    Akhirnya Ratna siap melanjutkan, canggung rasanya. Deni walau tadi terkejut, tapi kont01nya masih ngaceng, maklum tadi dalam posisi tempur dan terangsang berat. Ratna kembali berbaring, melebarkan kakinya dengan agak ragu. Deni sudah di atasnya, beda dengan ratna, Deni tak ada keraguan, kalau bi Lasmi bilang teruskan dan ia tak akan mengadukan hal ini ke ibunya, ya sudah, teruskan saja. Blesss….kont01nya dengan cepat sudah menerobos, mulai memompa. Deni sih tetap semangat, cuma Ratna sudah kehilangan selera. Jadilah ini pergumulan satu arah. Kont01 Deni menyodok dengan mantap. Mulutnya juga mulai menciumi dan menghisapi pentil bi Ratna. Nafsunya sudah kembali normal, seakan jeda yang menegangkan barusan tak pernah terjadi.

    myrna_star_094Lasmi duduk menyaksikan, duduk manis di pinggir ranjang, dekat kaki pasangan yang sedang bergelut itu, sedikit demi sedikit gairahnya naik, menyaksikan kont01 keponakannya yang gede itu menerobos m3mek Ratna, memompanya keluar masuk membuat m3mek Lasmi mulai basah, tangannya perlahan menyingkap kainnya, kini asik mengelus CD-nya yang tebal, perlahan lalu makin cepat, akhirnya tangannya enyusup ke balik Cd-nya, mulai asik mengelus belahan m3meknya. Merasa kurang nyaman, ia lepskan CD-nya. Melepas kainnya. Lasmi di usianya yang ke 40 juga masih menggairahkan. Bodynya memang sedikit lebih montok dan berisi, tapi tetap tperutnya juga rata, nyaris tanpa timbunan lemak yang berarti. Kakinya mulai ia kangkangkan, m3meknya juga sama seperti saudaranya, ditumbuhi jembut yang lebat samapi ke belahan pantatnya, tangannya mulai mengelus belahan m3meknya yang sudah basah, segera saja belahan itu mekar, menampakkan lobang m3meknya yang merah. Jarinya masih asik hanya mengelus. Ratna dan Deni masih belum sadar dengan yang sedang dilakukan Lasmi.

    myrna_star_099Lama – lama karena sodokan kont01 Deni, Ratna mulai On lagi, desahannya mulai terdengar kembali. Deni menjilati lehernya, memompa kont01nya kuat – kuat, terasa sangat mentok di m3meknya, jilatan Deni juga sangat merangsangnya. Bi Ratna menggelinjang kegelian, rasa nikmat makin menjalar ke seluruh tubuhnya. Geli dijilati, enak disodok di bagian m3mek. Tanganya memeluk pundak Deni kuat…

    ”Awww….Den….geliiiiii ”
    ”Oooohhhh….Owwwww…..Sshhh. ..”
    ”Dikiiiitttt…….laaaggiiiii ….Aaaaahhhh….”

    Tanpa ampun bi Ratna kembali jebol, Deni jadi makin bergairah, senang karena bi Ratna kembali menikmati pergumulan mereka. Deni sebenarnya mau ganti posisi, tapi malas, ada bi Lasmi…mendingan cepat tuntaskan saja yang sekarang.

    Lasmi mulai menyodokkan jarinya ke lobang m3meknya, dikocoknya dengan cepat, tangan yang lain mulai memainkan dan mengelus it1lnya yang besar dan menonjol, memainkannya dengan ujung jari jempol dan telunjuk, cepat dan konstant, menahan desahannya agar tak terdengar. Makin naik gairahnya…Aaahh…Ssshhh…. enak…rasa nikmat yang sangat, ditambah melihat adegan yang terjadi di depan matanya. Saat ia melihat dan mendengar Ratna mendesah kuat terakhir tadi, nafsunya jadi naik. Makin cepat jemarinya beraksi….Ooooohhhhhhh….ia menekan bibirnya kuat, menahan agar suara desahannya saat orgasme tak terdengar.

    myrna_star_184Ratna mengangkangkan kakinya selebar mungkin, sudah kepalang enak, sebodoh amatlah sama teh Lasmi,eh di mana dia….ia agak mengangkat bahunya…lho….lho….ngapai n teh Lasmi, ke mana kain dan Cd-nya…lagian dia kok lagi mainin m3meknya pakai jarinya sendiri. Seketika otak Ratna seperti diterangi cahaya terang…sialan…pikirnya..te h Lasmi ngerjain aku sama Deni. Saat itu teh Lasmi sedang asik bermasturbasi, matanya terpejam. Ratna menarik kepala Deni, mendekatkan kuping Deni ke mulutnya, ia segera membisikkan sesuatu, Deni masih tetap memompakan kont01nya. Deni mengangguk.

    Lasmi sudah lupa dengan Ratna dan Deni, ia asik bermasturbasi sambil terpejam, hal yang biasa ia lakukan di rumahnya sendiri, kalau sudah bergairah dan orgasme,ia makin asik menikmati pemainan jarinya. Tiba – tiba ia merasakan tubuhnya seperti ditarik merebahkannya. Siapa….Deni yang menariknya…walau kuat tapi tetap lembut. Ratna nampak sedang mengaso berbaring memulihkan tenaga. Dengan cepat Deni segera beraksi, mulutnya langsung menyasar daerah selangkangan bi Lasmi, tanpa sungkan lagi mulutnya dengan ganas menciumi m3mek bi Lasmi, aromanya enak. Bi Lasmi yang sadar kalau sekarang gilirannya telah tiba, mengangkangkan kakinya. Lobang m3meknya menganga jelas. Deni segera menjilatnya dengan rakus, Lasmi mendesah Lidah Deni segera menjilati it1lnya yang besar, menggoyangkannya dengan cepat membuat bi lasminya kelojotan. Melihat lobang m3mek bi Lasmi yang sangat merangsang, Deni segera mempersiapkan jari telunjuk dan jari tengahnya, menyodok lobang m3mek itu dengan cepat, Lasmi kelabakan. Sementara Deni menggarap m3meknya, Lasmi dengan cepat melepas kaos dan BHnya, keteknya juga rimbun, dan teteknya jauh lebih besar dari tetek Ratna. Tentu Deni belum sadar, masih sibuk bergerilya di bawah sana. Bi Lasmi meremas teteknya dengan tangannya sendiri

    Ratna melihat Deni sedang gantian mengerjai bi Lasmi…dasar teteh…padahal kepengen, pakai acara nakutin segala. Gairah Ratna mulai naik lagi. Ia mendekat ke arah tetehnya. Memang kalau gelombang seks sudah memancar, kadang pengertian yang paling mustahilpun akan timbul, tanpa perlu diucapkan lagi, pelakunya bisa memahami niat dan kemauan yang lain. Ratna mulai meremas tetek Lasmi. Lasmi diam saja tak protest, tangan Ratna mulai memilin pentilnya yang sudah mengacung, dia sudah sering melihat tetehnya ganti baju, tapi tetap saat ini ia megagumi betapa besar dan kenyalnya tetek tetehnya. Mulutnya mulai menghisap pentil teh Lasmi.menjilati dan menggoyangnya dengan lidahnya. Lasmi makin kelojotan, tangannya menarik lembut pantat Ratna, mengarahkannya m3mek ratna ke mulutnya, dia belum pernah menjilat m3mek perempuan, tapi tak sulit, tinggal melakukan seperti yang dilakukan suaminya dan kini Deni pada m3meknya sendiri. Lidah Lasmi mulai menyapu m3mek Ratna, m3mek Ratna kemerahan karena baru disodok Deni, juga belahannya dalam posisi mekar. Lidahnya mulai menjilati it1l Ratna. Awalnya canggung, tapi makin lama makin terbiasa, buktinya Ratna di tengah kesibukannya menghisap pentil Lasm mulai mendesah.
    Deni terlalu konsent bermain dengan m3mek bi Lasmi, tak menyadari bi Ratna telah bergabung, saat ia mendongakkan kepalanya sedikit…ya…ampuun….ini.. .ini….terlalu hot buat dirinya. Gilaaaa…tetek bi Lasmi….kont01nya berdenyut, ngaceng dengan keras sekali. Makin ganas menyerang m3mek bi Lasmi. Lidahnya makin cepat menggoyang it1lnya demikian sodokan jarinya. Lasmi menggoyang pantatnya, desahannya tertahan keasikannya menjilati m3mek Ratna.
    Akhirnya bi Lasmi tak tahan, pantatnya terangkat, badannya mengejang….awww…orgasme yang dashyat baru saja menghantamnya.

    Deni segera berhenti memainkan mulut dan lidahnya. Karena posisi bi Lasmi agak di pinggir ranjang, Deni menarik pelan kaki bi Lasmi, menjuntaikannya menggantung di pinggir tempat tidur. Deni turun berdiri di pinggir tempat tidur….blesss kont01nya menerobos m3mek bi Lasmi. Bi Lasmi bergetar, tubuhnya serasa luluh lantak saat kont01 keponakannya menghujam tadi…gilaaaa….penuh dan terasa sesak di m3meknya. Deni segera memulai pompaannya, ia condongkan badannya, mulai meremas tetek bi Lasmi, mainan baru bagi Deni. Buseeet….kalah deh bi Ratna, Deni membatin. Ia meremasnya kuat – kuat, pentilnya gede sekali. Gemas Deni memilinnya. Karena Deni mulai sibuk memainkan tetek bi Lasmi, Bi Ratna mengalah, berhenti menghisap tetek teh Lasmi. Kini bibirnya berganti haluan mencium bibir Deni. Deni makin cepat saja menyodok m3mek bi Lasmi, membuat bi Lasmi mengimbangi dengan ikut menggoyangkan pantatnya.

    myrna_star_190Lasmi makin asik saja menjilati it1l adiknya, Ratna, bahkan jari tengahnya sudah sedari tadi menyodok lobang m3mek Ratna. Lidahnya menggoyangkan dan menghisap pelan it1l adiknya itu. Ratna yang posisinya agak nungging karena mecondongakan tubuhnya untuk kemudian asik berciuman dengan Deni mulai kewalahan. Pinggulnya bergoyang liar, mengejang…lalu orgasme. Setelah Ratna orgasme, Lasmi menghentikan kegiatannya, konsentrasi pada sodokan Deni yang makin lama makin enak. Ratna berhenti mencium Deni, terkapar berbaring, kecapekan. Kini Deni melawan Lasmi. Deni langsung menghisap pentil bi Lasmi, mantap banget, sangat kuat ia menghisapnya, bi Lasmi sampai mendesah kuat, belum lagi sodokan keponakannya itu makin bertenaga, ia mendesah, mengangkat lengannya ke atas, menikmati serbuan nikmat. Deni terpesona memandang rimbunan ketek bi lasmi, mulai menciumnya dengan ganas sambil menjilatinya bergantian, pompaan kont01nya sudah sangat cepat.Bi lasmi makin kewalahan…

    ”Aaahh…..Pelaaaaannn….diki iitttt…”
    ”Ooooh….janggaaaannnn dipelaniiiinnnn…..”
    ”Ughhhh….ampuuunnnn…..Awww ……”

    Bi Lasmi pun menggelepar penuh kenikmatan…ternyata keponakannya sungguh hebat. Deni mulai menciumnya dengan ganas dan panas, bi Lasmi tanpa sungkan meladeni, lidah mereka saling beradu, tapi tekhnik Deni belum maksimal, ciuman bi Lasmi jelas lebih tinggi tekhniknya, ia menyedot lidah deni membuat Deni serasa melayang, nyaris lepas kendali, untung tak lama kemudian bibinya melepas ciumannya, Deni samapai megap – megap….Awas ya…pikir Deni, ia bertekad membalas, sodokannya kini sudah amat sangat cepat,membuat bi Lasmi merasakan sensasi yang tertinggi, belum pernah m3meknya disodok dengan secepat dan seganas ini, apalagi kont01 Deni sangat memenuhi m3meknya.

    Ada yang merenggangkan kaki Deni, deni melirik, ternyata bi Ratna yang sudah merasa segra kembali berjongkok di bawah selangkangan Deni yang sedang berdiri sambil menyodok bi Lasmi. Bi ratna mulai menghisap dan menyedot biji pelernya, tentu saja menyesuaikan dengan ritme gerakan pompaan dan sodokan kont01 Deni. Sintiiiingg…..enaknya tak terkira, sambil tetap asik menyodok bi Lasmi, bijinya diemut sama bi Ratna, Deni merasa dirinya menjadi manusia paling berbahagia di bumi saat ini. Tapi ketahanan Deni juga ada batasnya, seiring sodokannya yang makin kuat, ia merasakan denyut nikmat pada kont01nya, ia hujamkan sedalam mungkin kont01nya. Bi Lasmi nampaknya sadar Deni ma ngecret segera berucap…di dalam saja…di dalam saja. Bi lasmi bergetar saat pejunya menyemprot kuat…..selesai…dan melelahkan. Bi ratna masih asik menghisap biji pelernya, membuat dengkul deni makin lemas. Deni segera mencabut kont01nya. Bi ratna dengan rakus segera memburu kont01 Deni, menjilati sisa peju yang menempel. Setelah Bi Ratna menuntaskan jilatannya yang terakhir Deni segera menghempaskan diri ke atas kasur. Sangat lelah saat ini. Hanya bisa berdiam diri. Bi ratna juga bergabung tiduran di atas ranjang. 3 orang tanpa busana tergeletak lemas penuh kepuasan. Deni masih diam saja, menengarkan bi ratna dan bi Lasmi yang mulai bercakap…

    myrna_star_195”Ih teh Lasmi jahat, nakut – nakuti saja, padahal juga mau…dasar.”
    ”Awalnya sih nggak begitu. Tapi kont01 Deni sangat menggoda, akhirnya aku terangsang.”
    ”Terus bagaimana komenter teh Lasmi.”
    ”Ya puaslah, tapi….”
    ”Tapi apa teh…?”
    ”Belum puas banget…Rat, malam ini Deni menginap di rumah teteh saja ya.”
    ”Huh maunya…nggak, teh Santi kan menitipkan Deni menginap di sini.”
    ”Ya…jangan begitu dong…suami teteh masih lama berlayarnya..”

    Mana rela Ratna membiarkan jagoannya dibajak sama tetehnya. Lagian tadi teh Lasmi sudh tega menakuti mereka. Akhirnya Ratna berkompromi.

    ”Teteh saja yang nginap, Ucil kan lagi pergi sama abah.”
    ”Ya sudah, tapi nanti banyakkan teteh ya, kan kamu sudah puas, sedang teteh baru hari ini.”
    ”Terserah teteh saja.”
    ”Iya…teteh mau ngerasain keponakan teteh sendirian, mungkin masih bisa maksimal lagi kemampuannya.”

    Deni yang menjadi object hanya diam, selain masih lelah, juga ia sedang berpikir…gilaaaa….beruntun g banget dirinya hari ini. Bi Lasmi jelas – jelas masih cantik dan juga nafsuin, ia bisa ngewek bi Lami tanpa terduga….sangat beruntung. Akhirnya semua membersihkan diri, nggak melanjutkan lagi, walau jarak rumah di sini renggang – renggang, teta nggak enak sama tetangga, siang – siang rumah terkunci rapat. Akhirnya bi Lasmi pulang, mau pinjam kecap…malah dapat saos putih kental……..

    Malamnya bi Lasmi menginap, sore – sore sudah datang. Rumahnya paling dititipin sama tetangga yang juga ikut bekerja d kebun. Bi Lasmi ikut makan di sini, setealah makan, mereka bersantai. Deni asik menghisap rokok di dekat pintu sambil ngopi, baru SMS mamanya, sekedar say hello dan mengabarkan kalau ia betah di kampung. Kalau mamanya masih kurang suka ia merokok, beda sama bibi – bibinya, di kampung sini mah sudah wajar saja. Bahkan bi Lasmi sesekali merokok, seperti sekarang. Bi Lasmi asik ngobrol sama bi Ratna sambil menonton TV. Keduanya memakai busana kesukaan Deni, kain dan kutang model kampung. Lumayan seru obrolan mereka. Tak lama bi Ratna ke kamar mandi, keluar lagi, masuk kamar seprti mengambil sesuatu di lemari, lalu kembali ke kamar mandi. Agak berapa lama ia keluar, menghampiri tetehnya, sambil nyengir campur sedikit BeTe bi Ratna berbicara…

    ”Wah..sepertinya teh Lasmi memang beruntung, aku baru dapat tamu bulanan. Nasib…”
    ”Ya..mau gimana lagi Rat.”
    ”Tapi sudahlah…teteh nggak usah pulang sudah terlanjur, nginap saja.”
    ”Iya…takut amat si Deni dibawa kabur sama teteh hehehe.”
    ”Nggak kok teh. Ya sudah, hitung – hitung teteh mengejar ketinggalan teteh.”

    Bibi lasmi terkekeh geli, setelah puas tertawa, ia berbicara kepada Deni yang masih asik bertengger di pintu, kayak burung saja bertengger hehehe.
    ”Den sudah dengar kan, nanti malam tidur sama bi Lasmi ya.”

    myrna_star_228Deni hanya mengangguk saja, baginya tak masalah, baik bi Ratna maupun bi Lasmi sama – sama yahud kok, ada kelebihan tersendiri. Bahkan kini ia bisa memuaskan diri bermain berdua sama bi Lasmi, kalau tadi siang kan keroyokan, nanti malam bisa puas ngewek berduaan. Keduanya masih asik menonton TV, sambil ngobrol, Deni tak mendengar apa obrolan mereka, tapi yang pasti mereka nampak gembira, cekikikan terus. Deni menyalakan sebatang rokok lagi. Sambil menghirup kopi, santai, mengumpulkan energi. Akhirnya jam 7 Deni menaruh gelas kopinya yang sudah habis, menutup dan mengunci pintu, sambil memeriksa jendela. Seelah semua diperiksa dia duduk bergabung menonton TV, bi Lasmi lagi ke WC, jadi Deni mengambil tempatnya di sofa panjang, kini Deni duduk berdampingan sama bi Ratna. Ketika bi Lasmi kembali, ia duduk di sofa kecil. Mereka menonton TV, sesekali mengobrol ringan. Jam 8-an Deni mulai merasakan bergairah kembali, acara TV juga tak menarik. Ia berucap…

    ”Bi Lasmi..eh anu…Deni mau netek dulu ya sama bi Ratna, habis sudah kebiasaan, nggak enapa kan ?”
    ”Sama bi lasmi juga bisa kan, tapi sudahlah, sesukamu.”
    ”Ya..bi Ratna…eng..boleh kan.”
    ” Dasar deh si Deni, tadi nanya dulu ke bi Ratna, baru ngomong ke bi Lasmi, tapi kamu cuma bisa netek saja ya…ayo sini.”

    Deni mendekat, memojokkan bi Ratna, kini bi Ratna posisi kepala bi Ratna bersandar di atas pinggiran sofa. Deni menurunkan kutangnya, segera asik menetek dan menghisapi pentil bi Ratna. Deni membandingkan, saat sedang datang bulan pentil bibinya kelihatannya lebih membesar. Juga nantinya Deni baru tahu waktu bibinya memberitahu, kalau wanita lagi datang bulan sebenarnya nafsunya justru meningkat. Tapi ya itu, tetap nggak bisa disodok, hanya orang yang tak sabaran saja yang nekad menyodok orang lagi palang hehehe. Deni sangat menikmati menetek di teteknya bi Ratna, ia menghisapnya kuat, sambil sesekali menggoyangkan pentil itu dengan lidahnya. Bi ratna mendesah. Jadi tambah ngaceng kont01 Deni, Deni menurunkan tangannya segera mengelus tonjolan di balik celananya itu.

    Lagi enak – enaknya mengelus kont01nya sendiri, ada tangan halus menepikan tangannya, lalu menurunkan celananya…oh Bi Lasmi rupanya tak sabar ingin berpartisipasi. Celananya sudah lepas, kini kont01nya mengacung bebas. Deni membiarkan bi Lasmi erbuat semaunya pada kontolnya, masih asik menetek. Tangan deni mengangkat lengan bi Ratna, mulai menciumi dan menjilati keteknya, nyaman sekali rasanya.

    Kont01nya terasa dibelai, biji pelernya dipijat – pijat cukup lama, enak…membuat Deni merasa rileks dan nyaman, sementara tangan satunya bertugas juga, batang kont01nya dikocok perlahan oleh bi Lasmi. Jempolnya mengelus lembut kepala kont01 Deni mengusapnya dengan penuh perasaan. Sesekali jempol bi Lasmi memainkan lobang pipisnya. Setelah agak lama menggenggam, mengelus dan mengocok dengan tangannya, bi Lasmi mulai memakai jurus lidahnya. Satu tangannya masih tetap memijat – mijit biji peler Deni. Lidah bi Lasmi mulai menjilati kepala kont0lnya, ringan saja, bahkan hanya ujung lidahnya yang beraksi, tapi rasanya sangat nikmat menjalar ke seluruh tubuh Deni. Amboiii….kayaknya bi Lasmi lebih piawai buat urusan Oral pikir Deni. Lidah bi Lasmi mulai bergerak lagi, menjilati batang kont01 dan juga biji pelernya, menggelitik urat – urat pada batang kont01nya, Deni samapai merem melek dibuatnya, entahlah, gerakannya santai namun sensasi yang diberikan sangat besar. Akhirnya mulut bi Lasmi mulai menelan kont01nya, perlahan dari kepala kont01, sampai batangnya, akhirnya amblas seluruhnya…ampuuun…..mulut Bi Lasmi terlihat sesak disumpal kont01nya batin Deni dalam hati. Deni jadi nggak konsen neteknya, sesekali melirik.

    Mulutnya mulai mengulum, meghisap dan mengemuti kont01nya, mulai mengocoknya, lagi – lagi dengan santai, nyaris tanpa semangat, tapi anehnya kok enak ya terasa bagi Deni. Oh rupanya walau sambil mengulum ujung lidahnya tetap aktif bergerak menjilati. Deni menggoyangkan pantatnya keenakan. Lalu kembali bi Lasmi menelan kont01nya samapi pangkalnya, mendiamkan sebentar, dan kemudian mengemut dan menghisapnya kuat, Deni merasakan lemas sekli, saking nikmatnya. Hisapan Deni pada pentil bi Ratna makin kuat saja seiring rasa kenikmatan yang ia rasakan pada kont01nya. Akhirnya bi Lasmi mulai mengulum dengan cepat, tanpa jeda…entah berapa lama, akhirnya Deni merasakan klimaks, tanpa permisi pejunya muncrat membasahi mulut bi Lasmi. Deni melepas hisapannya pada pentil bi Ratna, mendesah puaaassss…. Bi Lasmi memainkan pejunya sebentar lalu menelannya samapi habis, belum cukup, dijilatinya sisa peju di ujung kont01 Deni. Gila…dihisap sampai ngecret pikir Deni…mantap juga bi Lasmi.

    Bi Lasmi beristirahat sebentar, meminum air di gelas yang ada di meja. Bi Ratna yang sadar kali ini bukan dia pemeran utama wanitanya, merapikan kutangnya, permisi masuk kamar, capek mau tidur. Deni mengambil remote, mematikan TV, masih duduk di sofa, ia segera membuka kaosnya. Bi Lasmi juga mulai melucuti busananya, kini juga bugi…gil…gil….kont01 Deni segera saja mengeras, Bi Lasmi menatapnya dngan antusias. Bi Lasmi duduk di samping Deni. Dasr nggak sabarn Deni langsung saja tancap gas, mulai meremas – remas teteknya Bi Lasmi tertawa melihat ketidaksabaran keponakannya ini.

    ”Den sabar dulu, ke kamar saja ya, lebih enak.”
    ”Ayo..ayo bi.”

    Bibinya bangun, Deni mengikuti dari belakan masih saja meremas tetek bi Lasmi yang memang sangat besar, kencang dan menantang.

    Sesampainya di kamar bi Lasmi malah ngobrol dulu.

    ”Den, tadi bi Ratna cerita ke bi Lasmi, katanya kamu belum lama ya diajarin sama dia…hebat juga kamu, cepat pandai ya, si Ratna juga pintar ngajarnya….”
    ”Iya…iya..ih bi Lasmi ngobrol melulu…”
    ”Hehehe…sabar dong, nah kalau bi Ratna bisa ngajarin kamu, nanti bi Lasmi juga berharap bisa menambahkan pelajaran lagi deh, biar kamu makin pintar.”
    ”Iya…iya…ayo deh dimulai pelajarannya.”
    ”Ih kamu ini, pemanasan dulu kek, maunya langsung nyodok saja…”

    Mana mikirin pemanasan sih, dari tadi sudah panas bi, batin Deni.Deni segera menidurkan bibinya, bersiap menindihnya, bi Lasmi malah mendorongnya, membuat Deni berbaring sejajar dengannya, posisi bi Lasmi di depannya. Bi Lasmi memiringkan tubuhnya, mengangkat satu kakinya ke atas, tangannya meraih kont01 Deni, diarahkan ke lobang m3meknya…blesss. Deni segera memompakan kont01nya, sodokannya masih agak santai. M3mek bi Lasmi terasa nyaman, sama nyamannya dengan m3mek bi Ratna. Bi Lasmi menaikkan satu tangannya ke atas, meraih bagian belakang kepala keponakannya itu, didorongnya kepala Deni, bi Lasmi agak memiringkan kepalanya, mulutnya mulai mencium bibir Deni, mulanya santai, lalu makin panas, dan seperti tadi siang, kembali menyedot lidah Deni, kembali membuat Deni kehilanga kendali, sodokannya makin cepat. Bibinya melepaskan ciumannya…ayo Den coba kamu sedot lidah bibi saat berciuman. Bibinya kembali menciumnya, menautkan dan beradu lidah dengan Deni, Deni berusaha menyedot – nyedot lidahnya, sulit juga…lagi…lagi, akhirnya berhasil, dan ketika Deni menyedot, bibinya balas menyedot…mantaaappp, enak banget rasanya berciuman dengan gaya ini, lidah serasa saling membetot.

    Deni melepaskan ciumannya, pandangannya segera menuju ketek bi Lasmi, jarinya segera saja asik mengelus dan memainkan bulu ketek bi Lasmi, pompaan kont01nya sudah stabil. Tapi bi Lasmi segera membimbing tangan Deni ke selangkangannya, menaruhnya di atas tilnya, kalau ini Deni paham, segera saja ia memainkan it1l bi Lasmi yang menonjol, sodokan kontolnya juga mulai ia percepat, gemas, mulutnya menciumi ketek lebat bibinya. Jemarinya mengurut – ngurut it1l bibinya dengan cepat, sodokannya makin kuat dan dalam…tetek bibinya bergoyang – goyang.
    ”Terussss…Den…Pintar. …”
    ”Arghhhh…..Uhhhhh….Awww… ”
    ”Yesss…Yesss….Ssshhhh …”

    Bibinya mengejang, orgasme. Deni makin beringas, bi Lasmi yang baru keluar jelas kelojotan digenjot Deni habis – habisan, matanya kini merem melek.Sodokan kont01 Deni yang gede, it1lnya yang dimainin, belum lagi kini deni menambahnya dengan menghisap pentilnya, kuat sekali. Aaahhh…..suaminya kalah jauh sama keponakannya yang pemula ini. Mulut bi Lasmi mendesah terus. Saat melihat pantat bi Lasmi yang montok, Deni jadi mau nyodok m3mek bi Lasmi dari belakang, seperti di film bokep yang sering ia tonton. Deni berhenti menyodok, bi Lasmi mengambil nafas sejenak, Deni mencabut kont01nya..

    ”Nungging dong bi…”
    ”Siapa takut…ayo…”

    Bibinya segera nungging, tangannya bertumpu pada kepala tempat tidur. Montok benar pantatnya pikir Deni. Ia segera meyodokkan kont01nya ke lobang m3mek bibinya, gila pakai posisi begini, lobang m3mek bibinya terasa lebih nikmat, terasa lebih sempit dan mencengkram. Deni memompakan kont01nya, matanya asik melihat saat kont01nya menerobos keluar masuk, gemas ia tepok pantat bi Lasmi perlahan, bi Lasmi tertawa kecil. Deni mulai mempercepat pompaannya, plok…plok…plok….bunyi kont01nya saat keluar masuk m3mek bibinya yang sudah basah menambah kenikmatan tersendiri. Belum lagi desahan bi Lasmi. Deni pasangogigi paling tinggi, tanpa pengumuman, ia menyodok dengan cepat sekali dan bertenaga, kedua tangannya memegang pinggiran pantat bi Lasmi, bi Lasmi kelojotan dan mendesah sejadi- jadinya…gimana nggak keenakan, kalau m3meknya disodok dengan penuh semangat begini. Pantatnya juga bergoyang mengimbangi rasa nikmat. Deni terus memperthankan kecepatan pompaan kont01nya, hampir 4 menitan sejak ia mulai mempercepat sodokannya…makin terasa denyutan pada kont01nya, bibinya orgasme kembali, dan sedetik kemudian kont01 Deni memuncratkan pejunya. Keduanya terdiam lemas, akhirnya Deni mencabut kont01nya, berbaring dulu memulihkan tenaga, demikian pula bi Lasmi.

    ”Walah…untung banget bii tadi siang mergoki kamu sama bi Ratna, akhirnya bibi bisa ikutan ngerasain enaknya kont01 kamu.”
    ”Samalah Bi. Deni juga senang bisa nyodok m3mek bibi.”
    ”Ya sudah istirahat dulu, sebentar lagi kita sambung.”

    Dan akhirnya karena bi Ratna sedang halangan, selama 4 hari ke depan Deni diboyong bi Lasmi untuk menginap di rumahnya, bahkan nambah satu hari. Bi Ratna yang sebal karena bi Lasmi curang nambah jatah Deni nginap sehari lagi itu, segera memboyong Den kembali ke rumahnya.Pendeknya sisa liburan ini benar – benar menyenangkan dan membahagiakan mereka bertiga.

    Deni nampak termenung, ia bukannya tak sadar liburannya akan berakhir. Senin besok ia harus kembali sekolah. Dan sekarang hari Sabtu. Sengaja ia tak menjawab telepon ibunya atau membalas SMS ibunya. Ia tak mau pulang. Tapi pagi ini ia mau tak mau harus menjawab telepon mamanya..

    ”Aduh anak ibu tak ingat pulang ya..? Ditelepon tak menjawab, SMS tak dibalas.”
    ”Ingat bu…besok Minggu pagi Deni pulang.”
    ”Sayang ayahmu sibuk tak bisa jemput. Ibu juga repot. Oh ya, ibu sudah urus daftar ulang sekolahmu.”
    ”Iya..bu. Sudah dulu ya bu. Besok pagi Deni pulang.”
    ”Den…Den…nanti dulu dong, ibu kan masih kangen lama tak ketemu kamu. Kamu sakit ya, kok lemas banget.”
    ”Nggak bu..sudah ya…bye.”

    Deni mematikan HP-nya mencari bibinya. Mengabarkan ia akan pulang. Malamnya Bi Lasmi sengaja dan niat banget buat nginap. Sore – sore si Ucil sudah tidur, jadilah sepanjang sore sampai tengah malam, Deni, bi Ratna dan bi Lasmi mengadakan acara pesta perpisahan yang panas.

    Paginya Deni pamit pulang, sedih hatinya. Ia mencium pipi kedua bibinya, nggak enak cium bibir ada Ucil. Si Ucil juga nampak sedih. Mereka mengantar kepulangan Deni. Menunggu angkot yang ke terminal. Deni berharap angkotnya tak akan pernah lewat, tapi tak lama angkot lewat, Deni naik melambaikan tangan….sedih sekali hatinya.

    Ratna duduk termenung, agak anaeh rasanya setelah sebulan lebih terakhir ini ia menghabiskan waktu bersama keponakanya tersayang, Deni, kini rumahnya sepi kembali. Hanya ia dan anaknya Ucil. Ratna diam saja melamun memikirkan Deni.

  • Kenikmatan Bersama Seorang Janda

    Kenikmatan Bersama Seorang Janda


    418 views

    BONUS VIDEO BOKEP DAN FOTO BUGIL


    Cerita Sek Dewasa | Kenikmatan Bersama Seorang Janda

    Peristiwa itu bermula ketika aku berkeinginan untuk mencari tempat kos-kosan di Surabaya. Pada saat itu, pencarian tempat kost-kostan ternyata membuahkan hasil. Setelah aku menetap di tempat kost-kostan yang baru, aku berkenalan dengan seorang wanita, sebut saja namanya Varia. Usia Varia saat itu baru menginjak 30 tahun dengan status janda Tionghoa beranak satu. Perkenalanku semakin berlanjut. Pada saat itu, aku baru saja habis mandi sore. Aku melihat Varia sedang duduk-duduk di kamarnya sambil nonton TV. Kebetulan, kamarku dan kamarnya bersebelahan. Sehingga memudahkanku untuk mengetahui apa yang diperbuatnya di kamarnya.

    Dengan hanya mengenakan handuk, aku mencoba menggoda Varia. Dengan terkejut ia lalu meladeni olok-olokanku. Aku semakin berani mengolok-oloknya. Akhirnya ia mengejarku. Aku pura-pura berusaha mengelak dan mencoba masuk ke kamarku. Eh.. ternyata dia tidak menghentikan niatnya untuk memukulku dan ikut masuk ke kamarku.
    “Awas kau.. entar kuperkosa baru tahu..” gertaknya.
    “Coba kalau berani..” tantangku penuh harap.
    Aku menatap matanya, kulihat, ada kerinduan yang selama ini terpendam, oleh jamahan lelaki. Kemudian, tanpa dikomando ia menutup kamarku. Aku yang sebenarnya juga menahan gairah tidak membuang-buang kesempatan itu.345119_18
    Aku meraih tangannya, Varia tidak menolak. Kemudian kami sama-sama berpagutan bibir. Ternyata, wanita cantik ini sangat agresif. Belum lagi aku mampu berbuat lebih banyak, ternyata ia menyambar handuk yang kukenakan. Ia terkejut ketika melihat kejantananku sudah setengah berdiri. Tanpa basa-basi, ia menyambar kejantananku serta meremas-remasnya.
    “Oh.. ennaakk.. terussh..” desisanku ternyata mengundang gairahnya untuk berbuat lebih jauh. Tiba-tiba ia berjongkok, serta melumat kepala kontolku.
    “Uf.. Sshh.. Auhh.. Nikmmaat..” Ia sangat mahir seperti tidak memberikan kesempatan kepada untuk berbuat tanya.
    Dengan semangat, ia terus mengulum dan mengocok kontolku. Aku terus dibuai dengan sejuta kenikmatan. Sambil terus mengocok, mulutnya terus melumat dan memaju-mundurkan kepalanya.
    “Oh.. aduhh..” teriakku kenikmatan.
    Akhirnya hampir 10 menit aku merasakan ada sesuatu yang mendesak hendak keluar dari kontolku.
    “Oh.. tahann.. sshh. Uh.. aku mau kkeluaar.. Oh..”
    Dengan seketika muncratlah air maniku ke dalam mulutnya. Sambil terus mencok dan mengulum kepala kontolku, Varia berusaha membersihkan segala mani yang masih tersisa.
    Aku merasakan nikmat yang luar biasa. Varia tersenyum. Lalu aku mencium bibirnya. Kami berciuman kembali. Lidahnya terus dimasukkan ke dalam mulutku. Aku sambut dengan mengulum dan menghisap lidahnya.

    Perlahan-lahan kejantananku bangkit kembali. Kemudian, tanpa kuminta, Varia melepaskan seluruh pakaiannya termasuk bra dan CDnya. Mataku tak berkedip. Buah dadanya yang montok berwarna putih mulus dengan puting yang kemerahan terasa menantang untuk kulumat. Kuremas-remas lembut payudaranya yang semakin bengkak.
    “Ohh.. Teruss Ted.. Teruss..” desahnya.

    345119_13Kuhisap-hisap pentilnya yang mengeras, sementara tangan kiriku menelusuri pangkal pahanya. Akhirnya aku berhasil meraih belahan yang berada di celah-celah pahanya. Tanganku mengesek-geseknya. Desahan kenikmatan semakin melenguh dari mulutnya. Kemudian ciumanku beralih ke perut dan terus ke bawah pusar. Aku membaringkan tubuhnya ke kasur. Tanpa dikomando, kusibakkan pahanya. Aku melihat vaginanya berwarna merah muda dengan rumput-hitam yang tidak begitu tebal.
    Dengan penuh nafsu, aku menciumi memeknya dan kujilati seluruh bibir kemaluannya.
    “Oh.. teruss.. Ted.. Aduhh.. Nikmat..”
    Aku terus mempermainkan klitorisnya yang lumayan besar. Seperti orang yang sedang mengecup bibir, bibirku merapat dibelahan vaginanya dan kumainkan lidahku yang terus berputar-putar di kelentitnya seperti ular cobra.
    “Ted.. oh.. teruss sayangg.. Oh.. Hhh.”
    Desis kenikmatan yang keluar dari mulutnya, semakin membuatku bersemangat. Kusibakkan bibir kemaluannya tanpa menghentikkan lidah dan sedotanku beraksi.
    “Srucuup-srucuup.. oh.. Nikmat.. Teruss.. Teruss..” teriakannya semakin merintih.
    Tiba-tiba ia menekankan kepalaku ke memeknya, kuhisap kuat lubang memeknya. Ia mengangkat pinggul, cairan lendir yang keluar dari memeknya semakin banyak.
    “Aduhh.. Akku.. keluuaarr.. Oh.. Oh.. Croot.. Croot.”
    Ternyata Varia mengalami orgasme yang dahsyat. Sebagaimana yang ia lakukan kepadaku, aku juga tidak menghentikan hisapan serta jilatan lidahku dari memeknya. Aku menelan semua cairan yang keluar dari memeknya. Terasa sedikit asin tapi nikmat.
    Varia masih menikmati orgasmenya, dengan spontan, aku memasukkan kontolku ke dalam memeknya yang basah. Bless..
    “Oh.. enakk..”
    Tanpa mengalami hambatan, kontolku terus menerjang ke dalam lembutnya vagina Varia.
    “Oh.. Variaa.. sayang.. enakk.”
    Batang kontolku sepeti dipilin-pilin. Varia yang mulai bergairah kembali terus menggoyangkan pinggulnya.
    “Oh.. Ted.. Terus.. Sayang.. Mmhhss..”
    Kontolku kuhujamkan lagi lebih dalam. Sekitar 15 menit aku menindih Varia.. Lalu ia meminta agar aku berada di bawah.
    “Kamu di bawah ya, sayang..” bisiknya penuh nikmat.

    345119_08Aku hanya pasra. Tanpa melepaskan hujaman kontolku dari memeknya, kami merobah posisi. Dengan semangat menggelora, kontolku terus digoyangnya. Varia dengan hentakan pinggulnya yang maju-mundur semakin menenggelamkan kontolku ke liang memeknya.
    “Oh.. Remas dadaku.. Sayaangg. Terus.. Oh.. Au.. Sayang enakk..” erangan kenikmatan terus memancar dari mulutnya.
    “Oh.. Varia.. terus goyang sayang..” teriakku memancing nafsunya.
    Benar saja. Kira-kira 15 menit kemudian goyang pinggulnya semakin dipercepat. Sembari pinggulnya bergoyang, tangannya menekan kuat ke arah dadaku. Aku mengimbanginya dengan menaikkan pinggulku agar kontolku menghujam lebih dalam.
    “Tedii.. Ah.. aku.. Keluuaarr, sayang.. Oh..”
    Ternyata Varia telah mencapai orgasme yang kedua. Aku semakin mencoba mengayuh kembali lebih cepat. Karena sepertinya otot kemaluanku sudah dijalari rasa nikmat ingin menyemburkan sperma.
    Kemudian aku membalikkan tubuh Varia, sehingga posisinya di bawah. Aku menganjal pinggulnya dengan bantal. Aku memutar-mutarkan pinggulku seperti irama goyang dangdut.
    “Oh.. Varia.. Nikmatnya.. Aku keluuarr..”
    Crott.. Crott.. Tttcrott.
    345119_07Aku tidak kuat lagi mempertahankan sepermaku.. Dan langsung saja memenuhi liang vagina Varia.
    “Oh.. Ted.. kau begitu perkasa.”
    Telah lama aku menantikan hal ini. Ujarnya sembari tangannya terus mengelus punggungku yang masih merasakan kenikmatan karena, Varia memainkan otot kemaluannya untuk meremas-remas kontolku.
    Kemudian, tanpa kukomando, Varia berusaha mencabut kontolku yang tampak mengkilat karena cairan spermaku dan cairan memeknya. Dengan posisi 69, kemudian ia meneduhi aku dan langsung mulutnya bergerak ke kepala kontolku yang sudah mulai layu. Aku memandangi lobang memeknya. Varia terus mengulum dan memainkan lidahnya di leher dan kepala kontolku. Tangan kanannya terus mengocok-ngocok batang kontolku. Sesekali ia menghisap dengan keras lobang kontolku. Aku merasa nikmat dan geli.
    “Ohh.. Varia.. Geli..” desahku lirih.

    Namun Varia tidak peduli. Ia terus mengecup, mengulum dan mengocok-ngocok kontolku. Aku tidak tinggal diam, cairan rangsangan yang keluar dari vagina varia membuatku bergairah kembali. Aku kemudian mengecup dan menjilati lobang memeknya. Kelentitnya yang berada di sebelah atas tidak pernah aku lepaskan dari jilatan lidahku. Aku menempelkan bibirku dikelentit itu.
    “Oh.. Ted.. nikmat.. ya.. Oh..” desisnya.

    Varia menghentikan sejenak aksinya karena tidak kuat menahan kenikmatan yang kuberikan.
    “Oh.. Terus.. Sss.” desahnya sembari kepalanya berdiri tegak.
    Kini mememeknya memenuhi mulutku. Ia menggerak-gerakkan pinggulnya.
    “Ohh.. Yaahh. Teruss.. Oh.. Ooohh” aku menyedot kuat lobang vaginanya.
    “Ted.. Akukk ohh.. Keluuaarra.. Ssshhss..”
    Ia menghentikan gerakannya, tapi aku terus menyedot-nyedot lobang memeknya dan hampir senmua cairan yang keuar masuk kemulutku. Kemudian dengan sisa-sisa tenaganya, kontolku kembali menjadi sasaran mulutnya. Aku sangat suka sekali dan menikmatinya. Kuakui, Varia merupakan wanita yang sangat pintar membahagiakan pasangannya.
    Varia terus menghisap dan menyedoti kontolku sembari mengocok-ngocoknya. Aku merasakan nikmat yang tiada tara.
    “Oh.. Varia.. Teruss.. Teruss..” rintihku menahan sejuta kenikmatan. Varia terus mempercepat gerakan kepalanya.
    “Au.. Varia.. Aku.. Keluuarr.. Oh..”
    Croott.. Croott.. Croot..
    Maniku tumpah ke dalam mulutnya. Sementara varia seakan tidak merelakan setetespun air maniku meleleh keluar.
    “Terimakasih sayang..” ucapku..
    Aku merasa puas.. Ia mengecup bibirku.
    “Ted.. mungkinkah selamanya kita bisa seperti ini. Aku sangat puas dengan pelayananmu. Aku tidak ingin perbuatan ini kau lakukan dengan wanita lain. Aku sangat puas. Biarlah aku saja yang menerima kepuasan ini.” Aku hanya terdiam.

    345119_06Sejak saat itu, aku sering meniduri di kamarnya, selalu dalam keadaan telanjang bulat, terkadang dia juga tidur di dalam kamar kostku, tentu saja dengan mengendap-endap. Terkadang, kami tidur saling tumpang tindih, membentuk posisi 69, aku tertidur dengan menghirup aroma segar kemaluannya, sedangkan Varia mengulum penisku. Di kala pagi, penisku selalu ereksi, diemut-emutnya penisku yang ereksi itu, sementara aku dengan cueknya tetap tidur sambil menikmati oralnya, terkadang aku jilat kemaluannya karena gemas.

    345119_05

    345119_04

    345119_01

  • Persetubuhan yang Kulakukan dengan Teman Kantor

    Persetubuhan yang Kulakukan dengan Teman Kantor


    369 views

    Persetubuhan yang Kulakukan dengan Teman Kantor

    Cerita hot – Saya adalah seorang laki laki biasa yang baru saja ditinggalkan oleh istri saya, karena ada masalah yang masing-masing tidak mau mengalah. Akhirnya dia memilih pergi dari saya. Dan karena kepergiannya, kini flat yang biasanya kami tempati itu jadi punya dua kamar kosong.

    Di tempat kerja, sayapun sudah tidak banyak bercanda seperti biasanya. Dan itu yang membuat salah satu wanita teman kerja saya merasa simpati pada saya. Sehingga setelah selesai jam kerja, kami pulang bareng. Selama di dalam tram saya banyak menjawab pertanyaannya tentang kepergian istri saya. Sehingga kami tidak banyak menaruh perhatian pada macetnya kota Melbourne pada jam-jam selesai kerja seperti ini.

    Tanpa terasa kami sudah berada di dalam tempat tinggal saya, setelah saya persilakan dia untuk mengambil apa yang dia mau di kulkas, saya langsung ke kamar mandi untuk menumpahkan air pipis yang sejak dari tadi sudah di ujung kemaluanku.

    Sekembalinya saya keruang tamu, teman saya sudah duduk sambil baca baca majalah dengan satu kaleng Coca-Cola. Sayapun duduk di sampingnya. Tapi tidak terlalu rapat. Saya hidupkan TV kebetulan acara berita nasional negara ini.

    Kamipun bercerita panjang lebar tentang teman saya itu, seperti sudah berapa lama dia telah meninggalkan Hongkong tempat asalnya. Tapi setiap kali dia menjawab pertanyaanku dia selalu tersenyum sambil matanya memandang ke arah selangkanganku. Aku langsung melirik selangkanganku, rupanya aku lupa men-zip-nya. Langsung kutarik zip-nya, sambil bercanda padanya.

    “Maklumlah Nov, soalnya udah lama sarangnya pergi!”, Kataku pada Novi.
    “Memangnya sudah berapa lama burungmu tidak masuk kandang?”, Novi membalas candaku sambil meneguk Coca Cola dengan sedikit senyum di bibirnya.
    “Kira kira 5 minggulah, emangnya kenapa nanya nanya?”, Aku meneruskan sambil mencoba membetulkan posisi dudukku.

    “Akh, aku nggak percaya. Mana ada sich laki laki yang sudah pernah begituan akan tahan selama itu untuk tidak melakukannya?”, Bantahnya sambil senyum.
    “Memang sich, aku nggak tahan. Jadi selama ini aku pakai tangan aja”, Jawabku.
    Sambil tertawa lebar, Novi menghampiriku. Dan Novi duduk di sebelahku, rapat sekali.”Perlu dibantu?”, Tanyanya sambil tangan kanannya meraba-raba penisku.

    Novi memang gadis Hongkong yang menawan, diusianya yang dua puluhan dia sangat menarik setiap mata laki-laki yang memandangnya. Karena dengan buah dada dan bongkahan pantatnya yang lebih besar dari ukuran rata-rata orang tempat asalnya. Aku jadi berani, kurangkul pundaknya sambil kulumat bibir yang berlipstick merah muda menawan itu.

    Novipun membalas dengan nafasnya yang semakin membuatku untuk mempererat rangkulanku. Aku merasa sedikit sakit pada penisku yang sudah sangat keras karena rabaan Novi. Dengan tak sabar kulepas rangkulanku dari pundak Novi dan dengan kedua tanganku kubuka celanaku sambil tetap duduk. Agak susah memang. Tapi berhasil juga.

    Kudengar Novi mendesah bersamaan dengan tangannya yang menggenggam langsung penisku yang hanya pas-pasan dengan lingkaran tangannya itu. Kamipun kembali berpagutan, hanya kali ini tangan kiriku telah meremas-remas buah dadanya yang kenyal dan semakin kenyal itu. Sedangkan tangan kananku membelai-belai tengkuknya. Novi semakin memperdengarkan desahnya.

    “Ed, kita ke kamarmu saja.., ayo Ed, aku sudah tak tahan nich?”, Novi memohon mesra. Aku pun berdiri, tapi ketika aku ingin membuka pakaianku, aku tersentak kaget karena Novi sudah menarik penisku sambil menanyakan di mana kamarku. “Pelan pelan Nov, sakit nich!”, protesku atas tangan Novi yang menggenggam penisku dengan sangat ketat itu.

    Aku berjalan sambil membuka bajuku ke arah kamarku yang telah kutunjukan pada Novi. (Sebenarnya aku tak mau menggunakan kamar dimana aku dan istriku tidur sebelum istriku itu pergi. Tapi bagaimana lagi. Sudah nafsu sekali saat itu).

    Sesampai di kamar Novi dengan tergesa membuka seluruh pakaiannya. BH-nya, CD-nya. Semua dibuka dengan tergesa. Lalu Novi langsung menghampiriku yang sudah lebih dulu berbaring telentang di atas kasur sambil mengocok perlahan penisku agar semakin tegang, sambil melihat Novi membuka pakaiannya.

    Novi berbaring miring di sebelahku, bibirnya mencari bibirku sedangkan tangan kanannya menggantikan tanganku untuk mengocok-ngocok penisku. Aku mendesah. Novipun semakin beringas menciumi seluruh wajahku. Telingakupun tak lepas dari sapuan lidahnya. Aku merasakan nikmat bercampur geli yang tak terkira.

    Jilatan Novi semakin turun ke arah leherku, dadaku dan kedua puting payudaraku juga dililitnya dengan lidah. Sambil tangannya semakin cepat mengocok penisku yang sedikit terasa sakit karena genggamannya terlalu keras.

    Jilatan Novi telah berada di atas pusarku, lidahnya dicoba untuk masuk dalam lubang pusarku, dapat kudengar desahnya. Walau desahku lebih besar darinya. Kini lidah Novi menyisir bulu-bulu penisku. Aku semakin tak tahan. Tapi aku menunggu, karena aku tahu kemana tujuan sebenarnya jilatan lidah Novi itu.

    Ternyata aku salah, kukira Novi akan melahap penisku. Ternyata Novi malah menjilat jilat kedua bijiku bergantian. Tangannya tak lepas mengocok penisku. Sambil sesekali jari jempolnya menyapu ujung penisku yang telah basah karena air nikmatku telah membasahi bibir ujung kemaluanku. Geli dan nikmat sekali waktu Novi melakukan itu. Aku tersentak karenanya.

    Karena waktu Novi melakukan itu badannya agak nungging di sampingku, maka kucoba meraih bongkahan pantatnya. Kuusap-usap, Novi mendesah nikmat rupanya. Jariku tak mau berhenti sampai disitu, jariku mencari-cari lubang kemaluannya. Setelah jariku menemukannya ternyata sudah basah sekali. Semua itu membuat jariku semakin mudah untuk mencari lubangnya.

    Kusapu lubangnya dengan jariku sambil sekali-kali kumasukan jari telunjukku ke dalam lubangnya. Novi mendesah hebat sambil melepas jilatan lidahnya dari kedua bijiku. Kuraih pantat Novi agar tepat berada di atas wajahku. Kini kedua tanganku beraksi atas bagian belakang tubuh Novi.

    Jari telunjuk tanganku yang kanan kumasukan ke dalam lubang vagina Novi sambil memaju mundurkan. Sedangkan jari telunjuk tangan kiriku menggosok gosok clitorisnya. Dapat kulihat dari bawah selangkangannya, Novi membuka mulutnya lebar tanpa bersuara merasakan nikmat.

    Ketika niatku hendak menggunakan lidahku untuk menjilat vaginanya, aku merasakan nikmat dan sedikit ngilu yang tak terkira. Rupanya Novi telah melahap bagian kepala penisku. Lidahnya melilit-lilit di atas permukaan kepala penisku.

    Akupun ingin menandinginya dengan mejilat-jilat permukaan lubang vagina Novi. Sambil sekali-kali kucoba untuk memasukan lidahku kedalam vaginanya. Agak asin memang, tapi yang lebih terasa adalah nikmatnya. Semakin nikmat lagi saat kudengar Novi mengeluh karena jilatan lidahku.

    Novi telah memasukan penisku setengahnya dalam mulutnya sebentar sebentar dinaikan kepalanya, kemudian diturunkan lagi. Yang membuat aku merasa nikmat adalah saat Novi menurunkan wajahnya untuk melahap penisku, karena Novi telah mengecilkan lingkaran mulutnya.

    Sehingga hanya pas sedikit ketat ketika bibirnya menelusuri penisku dari atas ke bawah. Oh nikmat sekali. Aku hampir saja muncrat kalau aku tidak segera minta Novi membalikan badannya hingga wajahnya berhadapan denganku. Aku membalas senyumnya yang kelelahan menahan nikmat yang baru saja kami alami.

    Kucium lagi mulutnya yang sangat becek oleh air liurnya. Lalu kubalikan Novi agar berada dibawahku. Kulebarkan selangkangannya kugenggam penisku dengan tangan kananku, lalu kugosok-gosok kepala penisku pada permukaan kemaluannya.

    “Oh.., Ed.., terus Ed.., aahh.., nikmat sekali.., sshh”, erang Novi. Akupun mempercepat gesekannya, Novi menggeleng gelengkan kepalanya.

    Lalu dengan tiba tiba kutancapkan penisku ke dalam vaginanya yang sudah banjir itu dengan satu hentakan keras, masuklah 3/4 nya penisku dengan leluasa. Bersamaan dengan itu Novi berteriak sambil badannya sebatas bahu terangkat seperti hendak berdiri matanya membelalak menghadapi tikamanku yang tiba-tiba itu.

    “oohh Edwiinn.., enaak.., terus.., Ed.., terus.., lebih cepat Ed.., ayo Ed.., terus.., aahh”, erang Novi sambil menghempaskan kembali bahunya ke kasur.

    Kedua tangan Novi membelai wajahku sambil menggigit bibirnya yang bawah matanyapun menunjukan bahwa saat ini Novi sedang merasakan nikmat persetubuhan yang tiada tara. Akupun semakin cepat memaju-mundurkan penisku. Nikmat yang kurasakan tiada bandingnya. Vagina Novi masih boleh dibilang sempit.

    “Enak Nov?”, tanyaku padanya sambil memaju-mundurkan penisku. Novi tidak menjawab, hanya desahannya saja yang semakin jelas terdengar.
    “Enak nggak Nov?”, tanyaku lagi. Novi menjawab dengan anggukan kecil sambil menggigit kembali bibir bawahnya.

    “Jawab dong Nov, nikmat nggak?”, paksaku walaupun ini adalah pertanyaan bodoh.
    “Luar biasa Ed.., sshh.., aku hampir keluar nich oohh”, katanya terputus putus.
    “Aku masukin semuanya yach Nov?”, tanyaku padanya yang sedang melayang.
    “sshh.., em.., emangnya belum semuanya dimasukin?”, Novi balik bertanya heran sambil menatapku dengan sayu.

    “Belum!”, Jawabku singkat sambil terus maju mundur.

    Tangannyapun bergerak ke bawah untuk memastikan belum semua penisku masuk ke dalam lubang vaginanya. Ketika tangannya berhasil menyentuh sisa penisku yang masih di luar, aku merasa tambah nikmat.

    “Oohh.., Ed masukin Ed.., masukin semuanya Ed.., aahh”, pintanya sambil menarik pinggangku dengan kedua tangannya dan matanyapun terpejam menantikan.

    Kucoba menahan tarikan tangan Novi pada pinggangku, agar masuknya sisa penisku tidak terlalu cepat. Aku ingin memberikan kenikmatan persetubuhan tak terlupakan padanya. Benar saja, ketika sedikit demi sedikit sisa penisku masuk, Novi mendesis seperti ular yang berhadapan dengan musuhnya. “Sshh.. sshh”, sambil matanya terpejam ketat sekali menahan nikmat telusuran penisku ke dalam vaginanya.

    Kedua tangannyapun menjambak-jambak rambutnya sendiri. Tanpa diduga kucabut penisku, hanya tinggal kepalanya saja yang masih tenggelam. Novi seperti ingin protes, tapi terlambat. Karena aku telah menekannya lagi dengan sekali tancap masuklah semua penisku.

    “Edwiinn!”, teriak Novi keras sekali sambil tangannya memukul-mukul tempat tidur.

    Aku semakin percepat gerakanku, walaupun aku sudah merasa sedikit lelah dengan pinggangku yang sejak tadi maju mundur terus.

    “Terus Ed.., oohh.., terus.., teruss.., oohh.., oohh.., aahh”.

    Novi mengerang bersamaan dengan tercapainya Novi pada puncaknya, sambil tangannya meremas-remas sprei tempat tidur di kanan dan kirinya, badannya tersentak-sentak hanya putih yang kulihat di matanya. Tapi aku masih terus memacu untuk menyusulnya, makin cepat, makin cepat lagi nafasku memburu. Bunyi nikmat terdengar dari dalam vagina Novi karena air nikmatnya itu.

    “Oh Nov.., oohh.., aahh..”, cepat kucabut penisku agar tak muncrat di dalam, kugenggam penisku, kuarahkan penisku ke perut Novi, di sanalah air nikmatku mendarat.

    Novi cepat bangkit dan mendorongku agar telentang, kemudian Novi melahap separuh penisku ke dalam mulutnya. Lidahnya menjilat-jilat mulut kecil di ujung penisku. Aku merasa ngilu sekali dan tangan Novi yang mengocok-ngocok penisku seperti hendak memastikan agar keluar semua air nikmatku.

    “Sudah Nov.., sudah.., ngilu nich.., uuhh.., sudah”, pintaku padanya. Tapi Novi masih saja memaju-mundurkan mulutnya terhadap penisku yang semakin ngilu sekali. Setelah yakin tidak ada lagi air nikmat yang akan keluar dari penisku Novipun merebahkan kepalanya di atas perutku sambil memandangku dengan penuh kepuasan.

    Kemudian keadaan membisu, hanya detak jam dinding yang mengingatkan akan kenikmatan persetubuhan yang baru saja kami alami. Kami memang mencoba untuk mengingat kembali persetubuhan yang sempat membawa kami ke awang-awang.

    “Nov, sudah jam 8 nich. Kamu nggak pulang?”, tanyaku memecahkan kesunyian. Novi seakan tak mendengar ucapanku. Kemudian dengan lembut kuangkat kepalanya dan keletakan di atas kasur. Akupun coba bangkit, tapi sebelum aku turun dari tempat tidur kurasakan tangan Novi memegang perutku.

    “Mau kemana Ed?”, tanyanya sambil melepas nafar panjang.

    “Mau mandi dulu nich, lengket semua rasanya badanku”, Jawabku sambil menoleh ke arahnya.

    “Tunggu dikit lagi, kita mandi sama-sama” Novi memohon sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggangku.

    Lalu kamipun pergi ke kamar mandi dan mandi berdua serta mengulanginya permainan seks yang sempat terputus tadi di kamar. Setelah merasa puas melakukan persetubuhan, kamipun istirahat sambil berpelukan hingga esok pagi. Sejak kejadian itui saya dan Novi semakin akrab dan selalu mengulangi persetubuhan yang telah kami lakukan. Sampai akhirnya istrikupun pulang kembali ke apartemenku, tapi itu tidak membuatku lupa akan persetubuhan dengan Novi.

    Kami sering melakukan persetubuhan di apartemenku tatkala istriku tidak ada atau di kantor, hotel serta apartemen Novi bila istriku sedang di rumah.

  • Kisah Janda yang Haus Seks

    Kisah Janda yang Haus Seks


    366 views

    BONUS VIDEO BOKEP DAN FOTO BUGIL


    Cerita Sex Dewasa | Kisah Janda yang Haus Seks

    aku ingin sekali menceritakan pengalaman hidup masa laluku kepada anda semua, mungkin ada di antara anda yang dapat mengobati perasaanku ini. Tetapi tolong jangan terobsesi dengan ceritaku ini. Ceritaku ini berawal ketika di usiaku yang masih terbilang muda, 19 tahun, papaku waktu itu menjodohkan aku dengan seorang pemuda yang usianya 10 tahun lebih tua dari aku dan katanya masih ada hubungan saudara dengan keluarga mamaku.

    223969_02Memang usiaku saat itu sudah cukup untuk berumah tangga dan wajahku juga tergolong lumayan, walaupun badanku terlihat agak gemuk mungkin orang menyebutku bahenol, namun kulitku putih, tidak seperti kebanyakan teman-temanku karena memang aku dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang berdarah Cina-Sunda, papaku Cina dan mamaku Sunda asli dari Bandung. Sehingga kadang banyak pemuda-pemuda iseng yang mencoba merayuku. Bahkan banyak di antara mereka yang bilang bahwa payudaraku besar dan padat berisi sehingga banyak laki-laki yang selalu memperhatikan buah dadaku ini saja. Apalagi bila aku memakai kaos yang agak ketat, pasti dadaku akan membumbung tinggi dan mancung. Tetapi sampai aku duduk di kelas 3 SMA aku masih belum memiliki pacar dan masih belum mengenal yang namanya cinta.

    Sebenarnya dalam hatiku aku menolak untuk dijodohkan secepat ini, karena sesungguhnya aku sendiri masih ingin melanjutkan sekolah sampai ke perguruan tinggi. Namun apa daya aku sendiri tak dapat menentang keinginan papa dan lagi memang kondisi ekonomi keluarga saat itu tidak memungkinkan untuk terus melanjutkan sekolah sampai ke perguruan tinggi. Karena ke-3 orang adikku yang semua laki-laki masih memerlukan biaya yang cukup besar untuk dapat terus bersekolah. Sementara papa hanya bekerja sebagai pegawai swasta biasa. Maka dengan berbagai bujukkan dari keluarga terutama mamaku aku mengalah demi membahagiakan kedua orangtuaku.

    223969_05Begitulah sampai hari pernikahan tiba, tidak ada hal-hal serius yang menghalangi jalannya pernikahanku ini dengan pemuda yang baru aku kenal kurang dari dua bulan sebelumnya. Selama proses perkenalan kamipun tidak ada sesuatu hal yang serius yang kami bicarakan tentang masa depan karena semua sudah diatur sebelumnya oleh keluarga kedua belah pihak. Maka masa-masa perkenalan kami yang sangat singkat itu hanya diisi dengan kunjungan-kunjungan rutin calon suamiku setiap malam minggu. Itupun paling hanya satu atau dua jam saja dan biasanya aku ditemani papa atau mama mengobrol mengenai keadaan keluarganya. Setelah acara resepsi pernikahan selesai seperti biasanya kedua pengantin yang berbahagia memasuki kamar pengantin untuk melaksanakan kewajibannya.

    Yang disebut malam pengantin atau malam pertama tidak terjadi pada malam itu, karena setelah berada dalam kamar aku hanya diam dan tegang tidak tahu apa yang harus kulalukan. Maklum mungkin karena masih terlalu lugunya aku pada waktu itu. Suamiku pada waktu itupun rupanya belum terlalu “mahir” dengan apa yang disebut hubungan suami istri, sehingga malam pertama kami lewatkan hanya dengan diraba-raba oleh suami. Itupun kadang-kadang aku tolak karena pada waktu itu aku sendiri sebenarnya merasa risih diraba-raba oleh lelaki. Apalagi oleh lelaki yang “belum” aku cintai, karena memang aku tidak mencintai suamiku. Pernikahan kami semata-mata atas perjodohan orang tua saja dan bukan atas kehendakku sendiri.

    223969_06Barulah pada malam kedua suamiku mulai melancarkan serangannya, ia mulai melepas bajuku satu per satu dan mencumbu dengan menciumi kening hingga jari kaki. Mendapat serangan seperti itu tentu saja sebagai seorang wanita yang sudah memasuki masa pubertas akupun mulai bergairah walaupun tidak secara langsung aku tunjukkan ke depan suamiku. Apalagi saat ia mulai menyentuh bagian-bagian yang paling aku jaga sebelumnya, kepalaku bagaikan tak terkendali bergerak ke kanan ke kiri menahan nikmat sejuta rasa yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

    Kemaluanku mulai mengeluarkan cairan dan sampai membasahi rambut yang menutupi vaginaku. Suamiku semakin bersemangat menciumi puting susu yang berwarna merah muda kecoklatan dan tampak bulat mengeras mungkin karena pada saat itu aku pun sudah mulai terangsang. Aku sudah tidak ingat lagi berapa kali ia menjilati klitorisku pada malam itu, sampai aku tak kuasa menahan nikmatnya permainan lidah suamiku menjilati klitoris dan aku pun orgasme dengan menyemburkan cairan hangat dari dalam vaginaku ke mulutnya.

    223969_07Dengan perasaan tidak sabar, kubuka dan kuangkat lebar kakiku sehingga akan terlihat jelas oleh suamiku lubang vagina yang kemerahan dan basah ini. Atas permintaan suami kupegang batang kemaluannya yang besar dan keras luar biasa menurutku pada waktu itu. Perlahan-lahan kutuntun kepala kemaluannya menyentuh lubang vaginaku yang sudah basah dan licin ini. Rasa nikmat yang luar biasa kurasakan saat kepala penis suamiku menggosok-gosok bibir vaginaku ini. Dengan sedikit mendorong pantatnya suamiku berhasil menembus keperawananku, diikuti rintihanku yang tertahan.

    Untuk pertama kalinya vaginaku ini dimasuki oleh penis laki-laki dan anehnya tidak terasa sakit seperti yang seringkali aku dengar dari teman-temanku yang baru menikah dan menceritakan pengalaman malam pertama mereka. Memang ada sedikit rasa sakit yang menyayat pada saat kepala penis itu mulai menyusup perlahan masuk ke dalam vaginaku ini, tetapi mungkin karena pada waktu itu aku pun sangat bergairah sekali sehingga aku sudah tidak perduli lagi dengan rasa sakitnya. Apalagi saat suamiku mulai menggosok-gosokkan batang penisnya itu di dalam vaginaku, mataku terpejam dan kepalaku hanya menengadah ke atas, menahan rasa geli dan nikmat yang tidak dapat aku ceritakan di sini.

    223969_08Sementara kedua tanganku memegang tepian ranjang yang berada di atas kepalaku. Semakin lama goyangan pinggul suamiku semakin cepat diikuti dengan desahan nafasnya yang memburu membuat nafsuku makin menggebu. Sesekali terdengar suara decak air atau becek dari lubang vaginaku yang sedang digesek-gesek dengan batang penis suamiku yang besar, yang membuatku semakin cepat mencapai orgasme yang kedua. Sementara suami masih terus berpacu untuk mencapai puncak kenikmatannya, aku sudah dua kali orgasme dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sampai akhirnya suamiku pun menahan desahannya sambil menyemburkan cairan yang hangat dan kental dari kepala penisnya di dalam lubang vaginaku ini.

    Belakangan baru aku ketahui cairan itu yang disebut dengan sperma, maklum dulu aku tergolong gadis yang kurang gaul jadi untuk hal-hal atau istilah-istilah seperti itu aku tidak pernah tahu. Cairan sperma suamiku pun mengalir keluar dari mulut vaginaku membasahi sprei dan bercampur dengan darah keperawananku. Kami berdua terkulai lemas, namun masih sempat tanganku meraba-raba bibir vagina untuk memuaskan hasrat dan gairahku yang masih tersisa. Dengan menggosok-gosok klitoris yang masih basah, licin dan lembut oleh sperma suamiku, aku pun mencapai orgasme untuk yang ketiga kalinya.

    223969_14Luar biasa memang sensasi yang aku rasakan pada saat malam pengantin itu, dan hal seperti yang aku ceritakan di atas terus berlanjut hampir setiap malam selama beberapa bulan. Dan setiap kali kami melakukannya aku selalu merasa tidak pernah puas dengan suami yang hanya mampu melakukannya sekali. Aku membutuhkannya lebih dari sekali dan selalu menginginkannya setiap hari. Entah apa yang sebenarnya terjadi dalam diriku sehingga aku tidak pernah bisa membendung gejolak nafsuku. Padahal sebelum aku menikah tidak pernah kurasakan hal ini apalagi sampai menginginkannya terus menerus. Mungkinkah aku termasuk dalam golongan yang namanya hypersex itu?

    Setelah 2 tahun kami menikah aku bercerai dengan suamiku, karena semakin hari suamiku semakin jarang ada di rumah, karena memang sehari-harinya ia bekerja sebagai manajer marketing di sebuah perusahaan swasta sehingga sering sekali ia keluar kota dengan alasan urusan kantor. Dan tidak lama terdengar berita bahwa ia memiliki istri simpanan. Yang lebih menyakitkan sehingga aku minta diceraikan adalah istri simpanannya itu adalah bekas pacarnya yang dulu, ternyata selama ini dia pun menikah denganku karena dipaksa oleh orang tuanya dan bukan karena rasa cinta.

    Tak rela berbagi suami dengan wanita lain, akhirnya aku resmi diceraikan suamiku. Sakit memang hati ini seperti diiris-iris mendengar pengakuan suami tentang istri simpanannya itu, dengan terus terang dia mengatakan bahwa dia lebih mencintai istri simpanannya yang sebetulnya memang bekas pacarnya. Apalagi katanya istri simpanan suamiku itu selalu dapat membuat dirinya bahagia di atas ranjang, tidak seperti diriku ini yang selalu hanya minta dipuaskan tetapi tidak bisa memuaskan keinginan suamiku, begitu katanya.

    Lima tahun sudah aku hidup menjanda, dan kini aku tinggal sendiri dengan mengontrak sebuah rumah di pinggiran kota Jakarta. Beruntung aku mendapat pekerjaan yang agak lumayan di sebuah perusahaan swasta sehingga aku dapat menghidupi diriku sendiri. Belakangan ini setiap malam aku tidak dapat tidur dengan nyenyak, sering aku baru bisa tertidur pulas di atas jam 03.00 pagi. Mungkin dikarenakan pikiranku yang sering ngelantur belakangan ini. Sering aku melamun dan membayangkan saat-saat indah bersama suamiku dulu.

    223969_15Terkadang sering pula aku membayangkan diriku bermesraan dengan seorang teman kerjaku, sehingga setiap malam hanya onani saja yang dapat kulakukan. Tidak ada keberanian untuk menceritakan hal ini kepada orang lain apalagi pada teman-teman kerjaku, bisa-bisa aku diberi julukkan yang tidak baik di kantor. Hanya dengan tanganku ini kuelus-elus bibir vaginaku setiap malam sambil membayangkan bercumbu dengan seorang laki-laki, terkadang juga kumasukkan jari telunjukku agar aku dapat lebih merasakan kenikmatan yang pernah kualami dulu.

  • Aku mau dong

    Aku mau dong


    343 views

    Cerita Seks Aku mau dong

    Namaku Sony, wajahku ganteng, tubuh tinggi dan sexy sehingga banyak cewek tergila-gila. Tapi keadaan ekonomiku kurang mencukupi. Pernah aku mencintai dan ingin melamar seorang gadis idamanku. Orang tuanya menolak lamaranku karena aku miskin. Disaat itulah aku ditawari sebuah pekerjaan oleh atasan bapakku dimana beliau bekerja. Aku akan diberi kedudukan, tapi dengan syarat aku harus mau menjadi suami kontrak anaknya yang hamil diluar nikah. Oleh karena keadaan itulah aku menerima persyaratannya meskipun bapakku tidak setuju akan keputusanku. Tapi karena tekadku sudah bulat maka aku terpaksa tidak mendengar nasehat bapakku. Maka berangkatlah aku menuju ke rumahnya.Sesampai di rumahnya, aku dikenalkan dengan cewek calon istriku itu. Namanya Sari. Cantik juga orangnya tapi agak sombong dan cerewetnya minta ampun.

      Dia melihatku cuek dan sepertinya tidak ada rasa suka padaku. Wuih hebat juga nich cewek, padahal di kampung aku jadi primadona desa. Cewek-cewek yang mandi di sungai biasanya mengajakku untuk mandi bersama. Mereka tidak malu telanjang di hadapanku, mulai dari gadis cilik, gadis perawan, ibu-ibu muda, janda muda, janda tua, bahkan sampai nenek-nenek pun pamer tubuh di hadapanku. Aku sungguh heran dengan cewek satu ini kenapa dia tidak ada rasa suka sama sekali padaku yang ganteng ini.

    Di saat hari pernikahan, dia tidak menampakkan wajah gembira sama sekali. Wajahnya murung dan cuek padaku, meskipun di hadapan tamu dia masih bisa tersenyum.Selesai acara resepsi pernikahan kami, disaat para tamu sudah pulang. Dia langsung masuk ke kamar. Aku langsung menyusul dari belakang, tapi tidak kuduga pintu kamar telah terkunci dari dalam. Aku bingung dan agak kesal karena sikapnya. Sepertinya dia tidak menghormatiku, meskipun aku hanya suami kontrakan. Kedua mertuaku pun jadi bingung akan sikap anaknya. Mereka minta maaf padaku, lalu menyuruhku tidur di kamar tamu.Keesokan harinya, disaat aku mau mandi dan ganti baju kuketok pintu kamarnya yang terkunci. Nggak ada jawaban. “Sayang, aku mau mandi.. tolong buka pintunya dong..?” Tidak ada jawaban, aku bingung. Lalu.. “Sayang, aku mau berangkat kerja nich nanti telat lho.. Tolong buka pintunya sayang.?”Lalu beberapa saat kemudian pintu kamar terbuka, aku masuk. Kulihat dia tidur lagi dengan posisi tengkurap, memakai daster putih transparan sehingga lekuk-lekuk tubuhnya kelihatan jelas sekali. Pantatnya yang montok itu terpampang jelas karena ia tidak memakai CD.

    Lalu aku masuk ke kamar mandi, sengaja pintu kamar mandi tidak kututup. Saat aku sedang mandi dan kebetulan aku sedang menggosok penisku yang besar dan panjang dengan sabun LUX dan penisku sedang berdiri tegak karena gosokanku tadi. “Eeehh..” tiba-tiba Sari masuk terburu-buru sambil kedua tangannya mengangkat dasternya ke atas. Melihat aku ada di dalam kamar mandi dan kebetulan aku menghadap ke arah pintu.”Aaahh.. Sonnyy..” teriaknya kaget sekaligus senang tertahan sambil menutupkan kedua tangannya ke arah mulutnya, tapi matanya yang terbelalak kaget itu tetap tertuju ke arah penisku. Lalu..”Sonnyy..” lanjutnya setelah kekagetannya sedikit hilang, “Lho.. kok.. pintunya nggak ditutup sih..” katanya. Sambil matanya masih tetap tertegun ke arah penisku.”Lho.. ini kan kamar mandi kita Sayang.. buat apa pintunya ditutup.. ya kan sayang.. Kamu pasti mau pipis kan Sayang.. sini aku bantu.. buka aja dasternya biar nggak basah nanti..” kataku sambil membuka dasternya dan terpampanglah tubuhnya yang indah, susunya yang besar dan perutnya yang datar. Dan itu.. vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu hitam yang lumayan lebat dan mungil.”Akhh.. kamu orangnya lembut juga ya Son..? Oh.. ya maafkan aku tadi malam, bukannya aku tidak mau menerima kamu sebagai suamiku meski hanya kontrakan. Tapi sebetulnya aku hanya memberi sebuah ujian buat kamu. Apakah kamu mau mengawini aku yang sudah ternoda ini dengan tulus dan ikhlas. Dan sepertinya kamu orangnya baik dan sabar.

    Buktinya tadi sewaktu kamu masuk ke kamar, kamu ingat kan aku tidur tanpa menggunakan CD dan BH. Itu juga suatu ujian buat kamu, apakah kamu kuat menahan nafsumu untuk tidak menyentuhku sebelum aku mengijinkanmu untuk menyentuhku. Dan sekarang kamu memiliki semua apa yang kumiliki dan tentunya apa yang kamu miliki juga akan jadi milikku. Nah, sekarang aku mau pipis dan kamu harus meminum air kencingku sebagai tanda kamu cinta padaku. Dan nanti aku juga meminum air kencingmu.. jadi kita adil.. bagaimana Sayang setujukah kamu..?” katanya.”Baiklah, Sayang.. Ayo arahkan vaginamu ke mukaku..?”Hatiku berdebar, aku belum pernah merasakan bagaimana dikencingi orang, siapa yang mau? Tapi demi masa depanku, aku merelakan nasibku yang malang.Lalu dia berdiri diantara kepalaku, kemudian pelan-pelan dia jongkok di atas wajahku, kurasakan vaginanya menyentuh hidungku. Aku sedikit menekan pinggulnya sehingga hidungku amblas ke dalam vaginanya, dia tak peduli, terus digosok-gosokkan vaginanya di sana, setelah itu lidahku mulai menjulur lalu menjilati lubang pantatnya lagi, sementara dia sepertinya sudah tidak tahan.”Awas.. mau keluar Sayang..”Aku memejamkan mataku. Diarahkannya lubang vaginanya ke mulutku, dikuakkan bibir vaginanya supaya air kencingnya tidak memencar, lalu aku menjulurkan lidahku menjilati bibir vaginanya, lalu memancarlah air kencingnya dengan sangat deras, semuanya masuk ke dalam mulutku, sebagian besar keluar lagi. Setelah itu, kutusuk vaginanya dengan jariku sehingga kencingnya tertahan seketika, badannya mulai menggeliat dan mulutnya mendesah. Kenikmatan yang luar biasa dirasakannya ketika kencingnya tertahan oleh jariku. Lalu vaginanya kutusuk terus keluar masuk dengan jariku.

    Kira-kira 1 menit kulihat air kencingnya kembali memancar dashyat, sambil kencing dia menggosok-gosokkan vaginanya ke seluruh wajahku. Aku masih memejamkan mata. Akhirnya kulihat air kencingnya habis, yang keluar cuma tetes tersisa disertai lendir bening keputihan menjuntai masuk ke dalam mulutku, dan aku langsung menjilat serta menghisap habis. Dia mungkin juga tidak tahan, lalu mencium mulutku dengan lahap, terus dia memegang penisku, dikocok-kocoknya penisku, kemudian dikulumnya penisku yang besar itu. Dia menyuruhku nungging di atas wajahnya, lalu disedotnya penisku yang sudah basah sekali oleh lendir bening yang terus-menerus menetes dari lubang kencingku. Aku mulai memompa penisku di dalam mulutnya, keluar masuk seolah-olah mulutnya adalah vaginanya, dia tidak peduli. Dia beranikan diri mencoba menjilat lubang pantatku yang berbulu lebat dan berwarna kehitam-hitaman. Dia menjilat lubang pantatku, kadang-kadang disedotnya 2 telor kembarku, kadang-kadang penisku kembali masuk ke mulutnya. Tak lama kemudian tubuhku menegang lalu aku menjerit keras. Penisku menyemburkan air mani yang banyak sekali ke dalam mulutnya. Dia hisap terus, dia menelan semua air maniku yang agak asin tapi gurih itu, dan sebagian menyembur ke wajahnya, terus dikocok lagi penisku, aku seperti meregang nyawa, tubuhku meliuk-liuk disertai erangan-erangan keras. Setelah beberapa lama, akhirnya penisku agak melemas, tapi terus dihisapnya dengan mulutnya.
    “Nah, sekarang giliran kamu Sayang.. ok?””Baiklah Sayang, aku siap..?”
    Kemudian aku berlutut di atas wajahnya, lalu kedua tanganku mengangkat kepalanya sehingga penisku tepat mengarah ke mulutnya.

    Dia jilat-jilat kepala penisku yang masih berlendir. Tak lama kemudian air kencingku menyembur masuk ke dalam mulutnya. Dia pejamkan matanya, kemudian air kencingku terus menyembur ke seluruh wajahnya, sebagian diminumnya. Lalu, kupukulkan penisku ke wajah dan mulutnya. Setelah habis kencingku, dia kembali menyedot penisku sambil mengocoknya.

    Kira-kira 1 menit penisku mulai besar dan tegang kembali, keras seperti tiang listrik. Aku lalu mengarahkan penisku ke vaginanya, dituntunnya penisku itu masuk ke dalam vaginanya. Kemudian aku mulai memompa penisku yang besar itu ke dalam vaginanya.

    Dia merasakan kenikmatan yang bukan main setiap penisku kucabut lalu kutusukkan lagi. Kadang-kadang aku mencabut penisku lalu kumasukkan ke dalam mulutnya, kemudian aku mulai berusaha menusukkan penisku masuk ke dalam lubang pantatnya.
    “Pelan-pelan Sayang.. sakit.. uhh..” katanya.Kemudian penisku itu mulai menerobos pelan masuk ke dalam lubang pantatnya, dia agak kesakitan, tapi diantara rasa sakit itu mungkin dia merasakan ada rasa nikmatnya. Dia makin lama makin menikmati, sudah 2 kali dia mencapai orgasme, sedangkan aku masih terus bergantian menusuk vagina dan pantatnya.

    Tubuh kami sudah berkubang keringat dan air kencing, kulihat lantai kamar mandinya yang tadinya kering, sekarang basah semua.”Aakkhh.. Sarii, Saarrii.. aa..” aku merengek-rengek keenakan sambil memompa terus penisku di dalam lubang pantatnya. Dengan sigap dia bangun lalu secepat guntur terus dimasukkannya penisku ke dalam mulutnya, dikulumnya penisku itu sampai akhirnya menyemburlah cairan kenikmatan dari penisku. Air maniku menyembur banyak sekali, sebagian ditelannya, sebagian lagi diarahkannya ke wajahnya sendiri sehingga seluruh wajahnya berlumuran air maniku.

    Kemudian aku menggosok-gosokkan penisku ke seluruh wajahnya, lalu kami berpelukan erat sambil bergulingan di lantai kamar mandi. Kami saling berciuman sangat dalam sekali.”Sony kamu sungguh luar biasa Sayang, kamu sangat lembut, romantis, baik dan selalu menuruti segala permintaanku.. oohh.. kamu sungguh suami yang pengertian.. Son.. peluk dan cium aku lagi Son.. oohh.. sayangku aku cinta kamu..” katanya sambil memeluk dan menciumiku dengan agresif.”Aku bahagia kamu mau menerima aku, Sari sayang..” kataku sambil membalas ciumannya.

    Kepuasan yang mestinya kudapat tadi malam, tercapai sudah dan itu benar-benar sangat berarti bagiku. Sari makin sayang denganku.Mohon saran dan tanggapannya. Oh ya, khusus untuk cewek-cewek, segala status, segala usia, yang ingin kenalan, berbagi cerita atau pengalaman