JANDA

  • AIRPORT SEX NIKMAT

    AIRPORT SEX NIKMAT


    1141 views

    SEMUA INI TENTANG AIRPORT YANG BASAH DALAM CELANA

    Dua tahun yang lalu aku dan Lily bertamasya ke Disney World di Orlando, AmerikaSerikat. Karena keuangan yang agak pas-pasan, kami membeli tiket pesawat dari perusahaan penerbangan yang lebih murah. Pilihan kami jatuh pada Malaysia Airline(selain murah, pada saat itu sedang ada harga promosi). Semua perencanaan terlihat begitu baik. Kami berangkat dari Jakarta sekitar jam 7malam. Sesuai jadwal yang telah diberitahukan, kami transit selama 1 jam di KualaLumpur untuk melanjutkan ke penerbangan selanjutnya langsung ke bandara John FKennedy (JFK) di New York .Itu yang kami tahu. Akan tetapi pada kenyataannya kami harus transit sekali lagi diDubai (Arab). Aku sempat kecewa karena kami tidak diberitahukan akan hal inisebelumnya. Aku sempat menanyakan tempat transit mana saja yang akan kami jalanipada perusahaan travel tempat kami memesan tiket namun mereka mengatakan bahwakami hanya transit satu kali di Kuala Lumpur . Aku sempat mengira kami telah salah naik pesawat karena persinggahan pesawat kami diDubai itu. Setelah mengetahui kapal yang kami naiki benar-benar menuju ke New York , kami hanya pasrah saja. Pemeriksaan yang bertele-tele di bandara Dubai sungguh melelahkan. Kami harusmengantri sekitar 1 jam untuk melewati pemeriksaan bagasi saja. Setelah barang-barang bawaan kami melewati alat sensor, seorang petugas menghampiritas koper istri saya dan berseru dengan suara agak keras untuk menanyakan siapa pemilikkoper tersebut. Istri saya maju dan mengatakan kepadanya bahwa tas itu miliknya. Petugas tersebut memandangi Lily cukup lama.

     

    Salah satu hal yang paling kuingat dari wajahnya adalah kumis yang lebat seperti Pak Raden dalam film si Unyil. Lalu iamembuka koper itu dan mulai mengacak-acak isinya. Isi koper itu hanyalah pakaian- pakaian dan peralatan kosmetik Lily. Tangan pria itu (sebut saja si Kumis) mengeluarkansatu kantong berisi bubuk hitam dari dalam koper. ìWhat is this?î tanyanya dengan logat yang sulit dimengerti. Lily menjawab gugup, ìCoffee.î Alis si Kumis mengkerut. Matanya menatap tajam Lily. Lalu ia mengatakan beberapakalimat yang sulit dipahami. Kemungkinan besar apa yang ingin dikatakan si Kumis(dengan menggunakan bahasa inggris yang sangat aneh) adalah membawa kopi dilarang.!Aku mendekati petugas itu dan menanyakan lebih jelas permasalahannya. Si Kumismasih saja mengacak-acak koper itu seakan mencari sesuatu yang hilang. Tanpa merapihkan isi koper itu lagi, ia menutupnya dan memandang aku dengan wajah curiga. ìWho are you?î aku menduga ia mengucapkan kata-kata tersebut. ìIím her husband. Whatís the problem, sir?îIa terus memandangi kami berdua secara bergantian. Ia memanggil dua orang petugaslain di belakangnya dengan gerak isyarat. Lalu ia berkata, ìFollow me!î Dua koper kami diangkat oleh salah satu opsir yang baru dipanggil si Kumis sedang yangsatunya lagi menggiring kami untuk mengikuti si Kumis.

    Si Kumis berjalan dengan cepatmasuk ke dalam ruangan tertutup di pojok lorong tak jauh dari WC. Ruangan yang tak lebih dari 3 x 3 meter itu sangat terang dan seluruh temboknya dilapisicermin setinggi 2 meter dari lantainya. Koper kami dilemparkan dengan kasar ke atasmeja di pinggir. Ketiga pria itu (termasuk si Kumis) telah masuk ke dalam ruangan. Priayang memiliki brewok lebat menutup pintu lalu menguncinya. Kami berdua berdiri terpaku di hadapan mereka bertiga. Aku merasa cemas akan semua ini. Apa yang akan terjadi? Apa masalah yang begitu besar sehingga kami harus diperiksadi ruangan terpisah? Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang memenuhi pikiranku(mungkin tak beda jauh dengan benak Lily). Baru saja aku ingin membuka mulut untuk menanyakan permasalahannya, si Kumismengatakan sesuatu yang tak jelas. Kata-kata yang dapat tertangkap oleh telingaku hanyalah ìstandî, ìwallî (dan ìagainstî setelah berpikir beberapa detik untuk mencernanya). Menurut perkiraanku mereka ingin kami berdiri menghadap tembok. Informasi ini kuteruskan ke Lily yang tidak mengerti sama sekali perkataan si Kumis. Dengan enggan kami membalik badan kami menghadap tembok. Dari pantulan cermin didepan kami, aku melihat si Brewok dan pria yang satunya lagi yang berbadan lebih tegap(sebut saja si Tegap) menghampiri kami. Telapak tangan kami di tempelkan di tembok (cermin) di depan kami dan kaki kami direnggangkan dengan menendang telapak kakikami agar bergeser menjauh. Si Brewok mulai memeriksa seluruh tubuhku. Dimulai dari atas dan bergerak ke bawah. Pemeriksaan berlangsung cepat. Beberapa benda di kantong baju dan celanakudikeluarkan dan diletakkannya di meja terpisah. Sama halnya seperti yang terjadi pada diriku, si Tegap memeriksa Lily dari atas kebawah.

    Sekilas aku melihat dari cermin, si Tegap menggerayangi payudara Lily walauhanya sebentar.!Tak ada ekspresi yang berubah dari wajah Lily. Sejak tadi ekspresi yang terlihat hanyalahekspresi kecemasan. Aku menepis pemikiran bahwa si Tegap mencari kesempatan dalamkesempitan pada tubuh istriku. Mungkin saja memang ia harus memeriksa bagian dadaLily, toh dadaku juga diperiksa oleh si Brewok, pikirku. Benda-benda juga dikeluarkan dari kantong jaket, baju dan celana Lily. Meja itu dipenuhioleh uang receh, permen, sapu tangan dan kertas-kertas tak berguna dari isi kantong kamiberdua. Kemudian setelah harus mencerna hampir lima kali kata-kata yang tak jelas dari si Kumis(yang ternyata adalah atasan si Brewok dan si Tegap), aku menyadari bahwa ia menyuruhkami untuk membuka pakaian kami. Jantungku seperti berhenti berdetak. Lily masihbelum dapat mengira-ngira perkataan si Kumis itu. Tanpa memberitahu istriku, aku mencoba untuk memprotes kepada si Kumis. Namun siKumis membentak, yang kuduga isinya (jika diterjemahkan): ìJangan macam-macam!Cepat laksanakan!î Beberapa kata yang dapat tertangkap jelas oleh telingaku adalahìDonít playî dan ìQuickî. Aku membisikkan kepada istriku keinginan si Kumis. Mata Lily membesar dan mulutnyaterbuka sedikit karena kaget. Si Tegap dan si Brewok sudah berdiri di samping kami dan mengawasi kami denganpandangan tajam. Aku melirik ke pinggang si Brewok. Pandanganku tertumpu padapistol yang menggantung di pinggang tersebut. Perasaan takut sudah menguasai diriku. Aku mulai melepaskan pakaianku dari sweater, kemeja, kaos dan celana panjang.

    Pada saat aku melepaskan kemejaku, Lily masih belum beranjak untuk melepaskan pakaiannya. Karena takut istriku dilukai, aku memberi pandangan isyarat kepadanya agar ia segera melepaskan pakaiannya. Akhirnya dengan berat hati ia melepaskannya satu per satu. Jaket, kemeja, kaos dalam dan terakhir celana jeansnya. Kami berdua berdiri hanya dengan pakaian dalam kami. Si Kumis berkata sesuatu yang sama sekali tidak dapat kumengerti. Detik berikutnya si Tegap menarik tangan Lily dan membawanya ke sisi tembok yang bersebelahan dengantembok di hadapan kami. Tangan si Brewok menahanku ketika aku hendak mengikutiLily. ìDonít move!î katanya kepadaku dengan sangat jelas. Aku masih dapat melihat Lily (dari bayangan di tembok cermin) berdiri tak jauh disebelah kananku. Ia menghadap tembok namun pada sisi yang berbeda dengan tembokku. Lalu si Brewok menarik tanganku agar kedua telapak tanganku menempel di tembokcermin dan merenggangkan kakiku. Si Tegap melakukan hal yang sama pula terhadapLily.!Si Brewok yang berdiri di belakangku, meraba-raba bagian tubuhku yang ditutupi olehcelana dalamku, mencari-cari sesuatu untuk ditemukan. Setelah itu sambilmenggelengkan kepalanya, ia mengatakan sesuatu kepada si Kumis. Pada saat itulah aku melihat tangan si Tegap menggerayangi tubuh Lily. Dengan jelasaku melihat tangannya meremas payudara Lily selama beberapa detik. Tangannyabergerak ke bagian bawah tubuh Lily. Kemudian si Tegap berjongkok di belakang Lilydan aku tak dapat lagi melihat apa yang dikerjakannya setelah itu. Lily memejamkanmatanya. Alisnya sedikit mengkerut. Selama sekitar 20 detik, aku tak berani memalingkan wajahku untuk melihat apa yangdikerjakan si Tegap pada istriku. Lalu ia berdiri dan berkata pelan kepada si Kumis (lagilagiaku tak dapat menangkap kata-kata yang diucapkan mereka). Si Kumis berkata-kata lagi diikuti dengan ditariknya celana dalamku ke bawah oleh siBrewok.

    Belum sempat kaget, aku mendengar Lily menjerit kecil. Rupanya celanadalamnya sudah ditarik ke bawah sampai ke lututnya, sama seperti yang dilakukan siBrewok terhadap celana dalamku. Setelah itu si Tegap meraih kaitan di belakang BH Lilydan melepaskannya dengan cepat. Si Tegap meraih BH itu dan menariknya satu kalidengan keras sehingga lepas dari tubuh Lily. Secepat kilat Lily menutupi kedua dadanya. Aku pun menutupi kemaluanku. Kamiberdua berdiri tegang. Si Kumis berjalan perlahan menghampiriku lalu bergerak ke arahLily. Untuk beberapa saat ia hanya berdiri dan memperhatikan tubuh istriku. Aku rasa, Lily mulai akan menangis. Si Kumis memberi isyarat kepada si Tegap. Lalu si Tegap menghampiriku dan berdirimenantang di sampingku. Aku hanya melirik sekali dan mendapati wajahnya berubahmenjadi lebih kejam tiga kali lipat. Sambil mengatakan sesuatu, si Kumis mendorong pentungan hitam (yang biasa dibawaoleh polisi) yang dipegangnya ke arah tangan Lily yang menutupi buah dadanya. Akudapat melihat istriku menjatuhkan kedua tangannya ke sisi tubuhnya. Si Kumis kembalimemandangi Lily dan kali ini pandangannya terkonsentrasi ke arah payudara istriku. Hampir semenit penuh ia memandangi tubuh Lily. Lily hanya memejamkan matanya, mungkin karena takut (atau malu?). Dengan menggunakan pentungan hitamnya itu, si Kumis menurunkan celana dalam Lilydari lutut sampai ke mata kakinya. Lalu ia memaksa Lily untuk merenggangkan kakinyasehingga mau tak mau ia melangkah keluar dari celana dalamnya. Pada saat si Kumis mulai menggerayangi payudara istriku, aku beringsut dari tempatkuuntuk mencegahnya.

    Namun bukan aku yang mencegah perbuatan si Kumis, si Tegapdibantu oleh si Brewok menahan tubuhku untuk tetap berdiri di tempat.!Aku meneriaki si Kumis untuk menghentikan perbuatannya. Teriakanku disambut dengantamparan keras pada pipi kananku. Aku merasakan rasa asin yang kutahu berasal daridarah yang mengalir dalam mulutku. Akhirnya aku hanya berdiri dan berdiam diri. Tak beberapa lama setelah itu, si Kumis berjongkok di depan Lily sehingga aku tak dapatmelihat apa yang dilakukannya. Dari sudut pandangku, aku hanya dapat melihat daribayangan di cermin bagian belakang tubuh si Kumis yang sedang berjongkok di antarakedua paha Lily. Tidak terdengar suara apa pun selain suara detak jantungku yang semakin keras dancepat. Lily tetap memejamkan matanya dengan alis sedikit mengkerut, sama seperti tadi. Lily tidak mengeluarkan sepatah kata pun sejak tadi masuk ke dalam ruangan itu. Istrikumemang agak penakut dan kurang berani mengungkapkan pendapatnya pada orang lain. Walaupun demikian, aku agak heran dengan sikap istriku saat itu yang tidak memprotessedikit pun atas perbuatan si Kumis terhadap dirinya. Atau mungkin saja si Kumis tidakmelakukan apa-apa saat itu, batinku. Setelah lima menit berlalu dalam keheningan, tiba-tiba istriku mengeluh (lebihmenyerupai mendesah), ìHhwwhhhÖî Aku melirik ke arahnya dan mendapati ia tidaklagi menutup matanya. Matanya agak membelalak dan mulutnya terbuka sedikit.
    Setelah itu, si Kumis berdiri dan menghampiri si Tegap. Ia memberi isyarat dengantangannya kepada si Tegap dan si Brewok untuk meninggalkan ruangan itu. Aku yakin (sangat yakin, untuk lebih tepatnya) bahwa aku melihat beberapa jari si Kumismengkilap karena basah. Hanya dengan melihat hal itu, cukup bagiku untuk menduga apayang telah dilakukan si Kumis terhadap istriku. Si Kumis berkata-kata kepada kami. Kali ini aku yakin ia mengatakannya dalam bahasainggris. Walau aku hanya dapat menangkap sepenggal kalimat (ìmay passî), namun akuyakin bahwa ia menyuruh kami mengenakan kembali pakaian kami dan memperbolehkankami untuk melanjutkan perjalanan kami. Awalnya aku tak mempercayai pendengaranku (dan tafsiranku terhadap kata-katanya). Namun setelah mereka keluar dari ruangan itu dan meninggalkan kami berdua saja, akusemakin yakin.
    Aku menyuruh Lily untuk mengenakan pakaiannya secepat mungkin. Dan ia mulaimenangis terisak-isak sambil

    mengenakan pakaiannya. Setelah selesai mengenakan seluruh pakaian kami, aku memeluk istriku yang masihmenangis. Dalam pelukanku tangisannya semakin menjadi. Aku hanya mengelus-elusrambutnya dan menenangkan hatinya dengan mengatakan bahwa semua itu sudahberakhir.!Sesampai kami di hotel (di Orlando), Lily akhirnya menceritakan apa yang diperbuat siKumis terhadap dirinya. Ia bercerita bahwa sambil menjilati klitorisnya, si Kumismenggesek-gesekkan jarinya ke kemaluan istriku. Pada akhirnya si Kumis memasukkansatu ñ dua jarinya ke dalam liang kewanitaannya lalu mengocoknya beberapa kali. Lily mengatakan bahwa dirinya merasa jijik atas perbuatan si Kumis. Setelah beberapasaat, aku menanyakan padanya apakah ia terangsang saat itu. Mendengar pertanyaan itu, Lily langsung mencak-mencak dan mengambek. Dalamrajukannya, ia menanyakan kenapa aku berpikiran seperti itu.

    Aku mengungkapkan bahwa aku melihat jari-jari si Kumis basah pada saat iamenghampiriku sebelum keluar dari ruangan itu. Lily menjawab bahwa jari-jari itu basahkarena terkena ludah dari lidah yang menjilati klitorisnya. Karena tak mau melihatdirinya merajuk lagi, akhirnya aku menerima penjelasannya dan meminta maaf karenatelah berpikiran seperti itu. Sebenarnya di dalam otak, logikaku terus berputar. Bagaimana mungkin ludah si Kumisdapat membasahi sepanjang jari-jarinya itu, pikirku. Dalam hatiku yang terdalamsebenarnya aku tahu bahwa jari-jari si Kumis bukan basah oleh ludah melainkan olehcairan yang meleleh dari kemaluan istriku. Namun aku menepis pendapatku itu dan tidak berniat membahasnya lagi dengan Lilyagar kami dapat menikmati sisa waktu kami di Amerika itu.!

  • Aku mau dong

    Aku mau dong


    343 views

    Cerita Seks Aku mau dong

    Namaku Sony, wajahku ganteng, tubuh tinggi dan sexy sehingga banyak cewek tergila-gila. Tapi keadaan ekonomiku kurang mencukupi. Pernah aku mencintai dan ingin melamar seorang gadis idamanku. Orang tuanya menolak lamaranku karena aku miskin. Disaat itulah aku ditawari sebuah pekerjaan oleh atasan bapakku dimana beliau bekerja. Aku akan diberi kedudukan, tapi dengan syarat aku harus mau menjadi suami kontrak anaknya yang hamil diluar nikah. Oleh karena keadaan itulah aku menerima persyaratannya meskipun bapakku tidak setuju akan keputusanku. Tapi karena tekadku sudah bulat maka aku terpaksa tidak mendengar nasehat bapakku. Maka berangkatlah aku menuju ke rumahnya.Sesampai di rumahnya, aku dikenalkan dengan cewek calon istriku itu. Namanya Sari. Cantik juga orangnya tapi agak sombong dan cerewetnya minta ampun.

      Dia melihatku cuek dan sepertinya tidak ada rasa suka padaku. Wuih hebat juga nich cewek, padahal di kampung aku jadi primadona desa. Cewek-cewek yang mandi di sungai biasanya mengajakku untuk mandi bersama. Mereka tidak malu telanjang di hadapanku, mulai dari gadis cilik, gadis perawan, ibu-ibu muda, janda muda, janda tua, bahkan sampai nenek-nenek pun pamer tubuh di hadapanku. Aku sungguh heran dengan cewek satu ini kenapa dia tidak ada rasa suka sama sekali padaku yang ganteng ini.

    Di saat hari pernikahan, dia tidak menampakkan wajah gembira sama sekali. Wajahnya murung dan cuek padaku, meskipun di hadapan tamu dia masih bisa tersenyum.Selesai acara resepsi pernikahan kami, disaat para tamu sudah pulang. Dia langsung masuk ke kamar. Aku langsung menyusul dari belakang, tapi tidak kuduga pintu kamar telah terkunci dari dalam. Aku bingung dan agak kesal karena sikapnya. Sepertinya dia tidak menghormatiku, meskipun aku hanya suami kontrakan. Kedua mertuaku pun jadi bingung akan sikap anaknya. Mereka minta maaf padaku, lalu menyuruhku tidur di kamar tamu.Keesokan harinya, disaat aku mau mandi dan ganti baju kuketok pintu kamarnya yang terkunci. Nggak ada jawaban. “Sayang, aku mau mandi.. tolong buka pintunya dong..?” Tidak ada jawaban, aku bingung. Lalu.. “Sayang, aku mau berangkat kerja nich nanti telat lho.. Tolong buka pintunya sayang.?”Lalu beberapa saat kemudian pintu kamar terbuka, aku masuk. Kulihat dia tidur lagi dengan posisi tengkurap, memakai daster putih transparan sehingga lekuk-lekuk tubuhnya kelihatan jelas sekali. Pantatnya yang montok itu terpampang jelas karena ia tidak memakai CD.

    Lalu aku masuk ke kamar mandi, sengaja pintu kamar mandi tidak kututup. Saat aku sedang mandi dan kebetulan aku sedang menggosok penisku yang besar dan panjang dengan sabun LUX dan penisku sedang berdiri tegak karena gosokanku tadi. “Eeehh..” tiba-tiba Sari masuk terburu-buru sambil kedua tangannya mengangkat dasternya ke atas. Melihat aku ada di dalam kamar mandi dan kebetulan aku menghadap ke arah pintu.”Aaahh.. Sonnyy..” teriaknya kaget sekaligus senang tertahan sambil menutupkan kedua tangannya ke arah mulutnya, tapi matanya yang terbelalak kaget itu tetap tertuju ke arah penisku. Lalu..”Sonnyy..” lanjutnya setelah kekagetannya sedikit hilang, “Lho.. kok.. pintunya nggak ditutup sih..” katanya. Sambil matanya masih tetap tertegun ke arah penisku.”Lho.. ini kan kamar mandi kita Sayang.. buat apa pintunya ditutup.. ya kan sayang.. Kamu pasti mau pipis kan Sayang.. sini aku bantu.. buka aja dasternya biar nggak basah nanti..” kataku sambil membuka dasternya dan terpampanglah tubuhnya yang indah, susunya yang besar dan perutnya yang datar. Dan itu.. vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu hitam yang lumayan lebat dan mungil.”Akhh.. kamu orangnya lembut juga ya Son..? Oh.. ya maafkan aku tadi malam, bukannya aku tidak mau menerima kamu sebagai suamiku meski hanya kontrakan. Tapi sebetulnya aku hanya memberi sebuah ujian buat kamu. Apakah kamu mau mengawini aku yang sudah ternoda ini dengan tulus dan ikhlas. Dan sepertinya kamu orangnya baik dan sabar.

    Buktinya tadi sewaktu kamu masuk ke kamar, kamu ingat kan aku tidur tanpa menggunakan CD dan BH. Itu juga suatu ujian buat kamu, apakah kamu kuat menahan nafsumu untuk tidak menyentuhku sebelum aku mengijinkanmu untuk menyentuhku. Dan sekarang kamu memiliki semua apa yang kumiliki dan tentunya apa yang kamu miliki juga akan jadi milikku. Nah, sekarang aku mau pipis dan kamu harus meminum air kencingku sebagai tanda kamu cinta padaku. Dan nanti aku juga meminum air kencingmu.. jadi kita adil.. bagaimana Sayang setujukah kamu..?” katanya.”Baiklah, Sayang.. Ayo arahkan vaginamu ke mukaku..?”Hatiku berdebar, aku belum pernah merasakan bagaimana dikencingi orang, siapa yang mau? Tapi demi masa depanku, aku merelakan nasibku yang malang.Lalu dia berdiri diantara kepalaku, kemudian pelan-pelan dia jongkok di atas wajahku, kurasakan vaginanya menyentuh hidungku. Aku sedikit menekan pinggulnya sehingga hidungku amblas ke dalam vaginanya, dia tak peduli, terus digosok-gosokkan vaginanya di sana, setelah itu lidahku mulai menjulur lalu menjilati lubang pantatnya lagi, sementara dia sepertinya sudah tidak tahan.”Awas.. mau keluar Sayang..”Aku memejamkan mataku. Diarahkannya lubang vaginanya ke mulutku, dikuakkan bibir vaginanya supaya air kencingnya tidak memencar, lalu aku menjulurkan lidahku menjilati bibir vaginanya, lalu memancarlah air kencingnya dengan sangat deras, semuanya masuk ke dalam mulutku, sebagian besar keluar lagi. Setelah itu, kutusuk vaginanya dengan jariku sehingga kencingnya tertahan seketika, badannya mulai menggeliat dan mulutnya mendesah. Kenikmatan yang luar biasa dirasakannya ketika kencingnya tertahan oleh jariku. Lalu vaginanya kutusuk terus keluar masuk dengan jariku.

    Kira-kira 1 menit kulihat air kencingnya kembali memancar dashyat, sambil kencing dia menggosok-gosokkan vaginanya ke seluruh wajahku. Aku masih memejamkan mata. Akhirnya kulihat air kencingnya habis, yang keluar cuma tetes tersisa disertai lendir bening keputihan menjuntai masuk ke dalam mulutku, dan aku langsung menjilat serta menghisap habis. Dia mungkin juga tidak tahan, lalu mencium mulutku dengan lahap, terus dia memegang penisku, dikocok-kocoknya penisku, kemudian dikulumnya penisku yang besar itu. Dia menyuruhku nungging di atas wajahnya, lalu disedotnya penisku yang sudah basah sekali oleh lendir bening yang terus-menerus menetes dari lubang kencingku. Aku mulai memompa penisku di dalam mulutnya, keluar masuk seolah-olah mulutnya adalah vaginanya, dia tidak peduli. Dia beranikan diri mencoba menjilat lubang pantatku yang berbulu lebat dan berwarna kehitam-hitaman. Dia menjilat lubang pantatku, kadang-kadang disedotnya 2 telor kembarku, kadang-kadang penisku kembali masuk ke mulutnya. Tak lama kemudian tubuhku menegang lalu aku menjerit keras. Penisku menyemburkan air mani yang banyak sekali ke dalam mulutnya. Dia hisap terus, dia menelan semua air maniku yang agak asin tapi gurih itu, dan sebagian menyembur ke wajahnya, terus dikocok lagi penisku, aku seperti meregang nyawa, tubuhku meliuk-liuk disertai erangan-erangan keras. Setelah beberapa lama, akhirnya penisku agak melemas, tapi terus dihisapnya dengan mulutnya.
    “Nah, sekarang giliran kamu Sayang.. ok?””Baiklah Sayang, aku siap..?”
    Kemudian aku berlutut di atas wajahnya, lalu kedua tanganku mengangkat kepalanya sehingga penisku tepat mengarah ke mulutnya.

    Dia jilat-jilat kepala penisku yang masih berlendir. Tak lama kemudian air kencingku menyembur masuk ke dalam mulutnya. Dia pejamkan matanya, kemudian air kencingku terus menyembur ke seluruh wajahnya, sebagian diminumnya. Lalu, kupukulkan penisku ke wajah dan mulutnya. Setelah habis kencingku, dia kembali menyedot penisku sambil mengocoknya.

    Kira-kira 1 menit penisku mulai besar dan tegang kembali, keras seperti tiang listrik. Aku lalu mengarahkan penisku ke vaginanya, dituntunnya penisku itu masuk ke dalam vaginanya. Kemudian aku mulai memompa penisku yang besar itu ke dalam vaginanya.

    Dia merasakan kenikmatan yang bukan main setiap penisku kucabut lalu kutusukkan lagi. Kadang-kadang aku mencabut penisku lalu kumasukkan ke dalam mulutnya, kemudian aku mulai berusaha menusukkan penisku masuk ke dalam lubang pantatnya.
    “Pelan-pelan Sayang.. sakit.. uhh..” katanya.Kemudian penisku itu mulai menerobos pelan masuk ke dalam lubang pantatnya, dia agak kesakitan, tapi diantara rasa sakit itu mungkin dia merasakan ada rasa nikmatnya. Dia makin lama makin menikmati, sudah 2 kali dia mencapai orgasme, sedangkan aku masih terus bergantian menusuk vagina dan pantatnya.

    Tubuh kami sudah berkubang keringat dan air kencing, kulihat lantai kamar mandinya yang tadinya kering, sekarang basah semua.”Aakkhh.. Sarii, Saarrii.. aa..” aku merengek-rengek keenakan sambil memompa terus penisku di dalam lubang pantatnya. Dengan sigap dia bangun lalu secepat guntur terus dimasukkannya penisku ke dalam mulutnya, dikulumnya penisku itu sampai akhirnya menyemburlah cairan kenikmatan dari penisku. Air maniku menyembur banyak sekali, sebagian ditelannya, sebagian lagi diarahkannya ke wajahnya sendiri sehingga seluruh wajahnya berlumuran air maniku.

    Kemudian aku menggosok-gosokkan penisku ke seluruh wajahnya, lalu kami berpelukan erat sambil bergulingan di lantai kamar mandi. Kami saling berciuman sangat dalam sekali.”Sony kamu sungguh luar biasa Sayang, kamu sangat lembut, romantis, baik dan selalu menuruti segala permintaanku.. oohh.. kamu sungguh suami yang pengertian.. Son.. peluk dan cium aku lagi Son.. oohh.. sayangku aku cinta kamu..” katanya sambil memeluk dan menciumiku dengan agresif.”Aku bahagia kamu mau menerima aku, Sari sayang..” kataku sambil membalas ciumannya.

    Kepuasan yang mestinya kudapat tadi malam, tercapai sudah dan itu benar-benar sangat berarti bagiku. Sari makin sayang denganku.Mohon saran dan tanggapannya. Oh ya, khusus untuk cewek-cewek, segala status, segala usia, yang ingin kenalan, berbagi cerita atau pengalaman

  • BERCINTA DENGAN PERAWAN

    BERCINTA DENGAN PERAWAN


    2009 views

    PERAWAN MEMANG MENGGODA

    Shanti baru saja selesai menyapu lantai. Dan sekarang ia berniat mencuci piring kotor. Iaberjalan masuk kedalam dapur dan mendapati Mbak Tuti sedang membenahi peralatandapur. Pada jam seperti ini restoran tempat mereka bekerja sudah sepi. Hari ini giliranShanti yang harus pulang lambat karena ia harus merapikan restoran untuk buka nantimalam. Begitulah keadaan restoran dikota kecil, pagi buka sampai jam 3 sore lalu tutupdan buka kembali jam 7 malam. Shanti tahu ia tak akan sempat pulang karena ia harusbekerja merapihkan tempat itu bersama Tuti. Shanti adalah seorang gadis yang cantik dan ramah. Usianya sudah 17 tahun dan ia takdapat lagi meneruskan sekolahnya karena orang tuanya tidak mampu. Wajahnya oval dansangat bersih, kulit gadis itu kuning langsat.

    Mata Shanti bersinar lembut, bibirnyakemerahan tanpa lipstik. Shanti mempunyai rambut yang panjang sampai dadanya, berwarna hitam, tubuhnya seperti layaknya gadis kampung seusianya. Buah dada Shantimembusung walaupun tidak dapat dikatakan besar namun Shanti memiliki pantat yangindah dan serasi dengan bentuk tubuhnya. Pendek kata Shanti seorang gadis yang sedangtumbuh mekar dan selalu dikagumi setiap pemuda dikampungnya. Tuti seorang wanita yang sudah berusia 32 tahun. Ia seorang janda ditinggal ceraisuaminya. Sudah 3 tahun Tuti bercerai dengan suaminya karena laki-laki itu main giladengan seorang pelacur dari Jawa Tengah. Tuti bertubuh montok dan bahenol. Semuanyaserba bulat dan kencang, wajahnya cukup manis dengan rambut sebahu dan ikal. BibirTuti sangat menggoda setiap laki-laki, walaupun hidungnya agak pesek. Kulit Tutiberwarna coklat tua karena ia sering ke pasar dan ke sawah sebagai buruh tani kalausedang musim tanam atau panen. Tuti dulunya adalah seorang pelacur daerah Tretes, Jawa Timur.

    Dulu uang begitu gampang diperoleh dan laki-laki begitu gampang dipeluknya, sampaiakhirnya hukum karma membuat ia menjanda karena sesama teman seprofesinya juga. Banyak orang dikampung yang diam-diam mengetahui sejarah kelam Tuti dan banyakjuga yang mencoba hendak memanfaatkan dia. Tapi selama ini Tuti terlihat sangat cuekdan sinis terhadap orang-orang yang menggodanya. Buah dada Tuti besarnya bukanmain, sering ia merasa risih dengan miliknya sendiri. Tapi ia tahu buah dadanya menjadibuah-bibir baginya. Dan sedikit banyak ia juga bangga dengan buah dadanya yang besardan kenyal itu. Tuti juga memiliki pantat yang besar dan indah, nungging sepertimeminta.. Tubuh Tuti sering menjadi mimpi basah para pemuda dikampungnya. ìShan, kamu sudah punya pacar belum?î Tiba Tuti berjongkok didepan Shanti dan mulaimembantu gadis itu mencuci piriong-piring kotor. Shanti terkikik dan menggeleng. ìBelum tuhîìLho? Gadis secantik kamu pasti banyak yang naksirî kata Tuti sambil memandangShanti. Shanti tertawa lagi. ìPayah.?? semuanya mikir kesitu meluluî Jawab Shanti.ìMemang.?? laki-laki itu kalau melihat perempuan pikirannya langsung ingin ngeweî kata Tuti tanpa merasa risih berkata kasar. ìAh Mbak, jangan suka ngomong gitu ahî timpal Shanti. ìKan nggak ada yang dengar iniî Jawab Tuti.

    Mereka terdiam lama. ìMbak.. î suara Shanti menggantung. Tuti terus mencuci. ìMmm?î Jawab wanita itu. ìNgg..îì Ngomong aja susah banget sihî Tuti mulai hilang sabar. Shanti menunduk. ìNgg.. Anu.. Ngewe itu enak nggak sih?î Akhirnya keluar juga. Tuti memandang gadisitu. ìYaa.. Enaak banget Shan, apalagi kalo yang ngewein kita pinterî jawab Tuti seenaknya. ìMaksud Mbak?î Shanti penasaran. ìIya pinter.. Bisa macam-macam dan punya kontol yang keras!î kata Tuti sambilterkikik. Shanti merah padam mendengarnya. Tapi gadis itu makin penasaran. ìBisa macam-macam apa sih, Mbak?î tanya Shanti. Tuti memandangnya sambil menimbang. Ah.. Toh nanti gadis kecil ini harus tahu juga. Dan Shanti sungguh cantik sekali, sekilas mata Tuti tertumbuk pada posisi Shanti yangsedang berjongkok. Tuti melihat gadis itu mengangkang dan terlihat celana dalam gadisitu berwarna coklat muda. ìMacam-macam seperti tempik kita diciumin, dijilat bahkan ada yang sampai maungemut tempik kita lohh..î jawab Tuti. Entah kenapa Tuti merasa sangat terangsang dengan jawabannya dan darahnya mendidihmelihat selangkangan Shanti yang bersih serta mulus. ìIdiih.. Jorok ihh.. Kok ada yang mau sih?î Shanti sekarang melotot tak percaya. ìLho.. Banyak yang doyan ngemut memek Shan. Ngemut kontol juga enak banget kokîjawab Tuti masih terus melihat selangkangan Shanti.

    ìAstaga.. Masak anunya lelaki diemut?î Shanti merasa aneh dan jantungnya berdebar, iamerasa ada aliran aneh menjalar dalam dirinya. Gadis itu tidak mengerti bahwa iaterangsang. ìOh enak banget Shan, rasanya hangat dan licin, apalagi kalo ehm.. Ehmm.. ììKalo apa Mbak?î Shanti makin penasaran. Tuti merasa melihat bagian memek Shantiyang tertutup celana dalam krem itu ada bercak gelap, tapi Tuti tidak yakin. ìYaa.. Malu ahh..!î Tuti sengaja membuat Shanti penasaran. ìAyo doong Mbakî rengek Shanti. Tuti sekarang yakin bahwa memek gadis itu sudah basah sehingga terlihat bercak gelapdi celana dalamnya. Tuti sendiri merasa sangat terangsang melihat pemandangan itu. ìKalo pejuhnya menyembur dalam mulut kita, rasanya panas dan asin, lengket tapi enakbanget!î bisik Tuti didekat telinga Shanti. Shanti membelalakkan matanya. ìApa itu pejuh?î tanyanya. Tuti merasa tidak tahan. ìPejuh itu seperti santan yang sering bikin memek kita basah lhoî Jawab Tuti. Ia melihatbagian memek Shanti makin gelap, wah gadis ini banjir, pikir Tuti. ìIdiihh amit-amit, jorok banget sihîìLho kok jorok? Laki-laki juga doyan banget sama santan kita,

    apalagi kalo memek kitaharum, tidak bau terasiîìIdiihh Mbak saru ah!îìTapi aku yakin memek kita pasti wangi, soalnya kita kan minum jamu terusîìUdah ah, lama-lama jadi saru nihî kata Shanti. Tuti tertawa. ìKamu udah banjir yaa?î goda Tuti. Shanti memerah, buru-buru ia merapatkan keduakakinya. ìAhh.. Mbaakk!!î Tuti tersenyum melihat Shanti melotot. ìNggak usah malu, aku sendiri juga basah nihî Kata Tuti.Ia lalu membuka kakinya sehingga Shanti bisa melihat celana dalam putih dengan bercakgelap di tengah, Shanti terbelak melihat bulu-bulu kemaluan Tuti yang mencuat keluardari samping celana dalamnya, lebat sekali, pikirnya. ìIhh.. Mbak jorok nihî desis Shanti. Tuti terkekeh. ìMau merasakan bagaimana tempik kamu diemut?î bisik Tuti. Shanti berdebar. ìNgaco ah!îìAku mau emutin punya kamu, Shan?î Tuti mendekat. Shanti buru-buru bangun danmundur ketakutan. Tuti tertawa. ìKamu akan bisa pingsan merasakannyaî bisik Tuti lagi. ìOgah ah.. Udah deh.. Jangan nakut-nakutin akhhî Shanti mundur mendekati pintukamar mandi dan Tuti makin maju. ìNggak apa-apa kok.. Cuman diemut aja kok takut?îìMasak Mbak yang ngemut?îìIya.. Supaya kamu tahu rasanyaîìMalu ahh..îìNggak apa-apaa..î Tuti mendekat dan Shanti terpojok sampai akhirnya pantatnyamenyentuh bibir bak mandi. Dan Tuti sudah meraba pahanya. Shanti merinding dan roknya terangkat ke atas, Shantimemejamkan matanya. Tuti sudah berjongkok dan mendekatkan wajahnya ke memekShanti yang tertutup celana dalam.

    Tuti mencium bau memek Shanti, dan Tuti puas sekalidengan harumnya memek Shanti. Dulu ia sering melakukan hal-hal seperti ini, malahpernah ia bermain-main bersama 4 pelacur sekaligus untuk memuaskan tamunya. Tubuh Shanti gemetar dan seluruh bulu kuduknya meremang, gadis itu merasa suhutubuhnya meningkat dan perasaannya aneh. Tuti mulai menciumi memek Shanti yangmasih tertutup. Pelan-pelan tangannya menurunkan celana dalam Shanti dan Tutiterangsang melihat cairan lendir bening tertarik memanjang menempel pada celana dalamgadis itu ketika ditarik turun. Tuti menjulurkan lidahnya memotong cairan memanjang itudan lidahnya merasakan asin yang enak sekali. Memek Shanti sungguh indah sekali, tidakterlihat bibir kemaluannya bahkan bulu-bulunya pun masih halus dan lembut.Tuti mencium dan mulai melumat memek Shanti. Gadis itu mengerang dan menggeliatliatketika lidah Tuti menjalar membelai liang memeknya. Shanti benar-benar shockdengan kenikmatan aneh yang dirasakannya, ada perasaan geli dan jijik, tapi ada perasaannikmat yang bukan alang kepalang. Gadis itu merasakan keanehan yang belum pernahdirasakan sebelumnya. Bulu kuduknya berdiri hebat tatkala lidah Tuti menyapu dindingmemeknya, Shanti menggeliat-liat menahan perasaan nyeri nikmat bagian bawahperutnya. ìAahh.. Mbak.. Uuuhh.. Ssshh.. Ja.. Jangan mb.. Mbbak! Ji.. Jijikhh.. Aahhî Tuti tidak memperdulikan rintihan dan erangan Shanti. Lidahnya bergumul danmenembus liang memek Shanti dengan lembut, Tuti tahu Shanti masih perawan dan iatak ingin merusak keperawanan Shanti, lidahnya hanya menjulur tidak terlalu dalam, namun Tuti sudah dapat merasakan cairan asin hangat yang mengalir membasahilidahnya dan Tuti mengendus-endus bau khas memek Shanti dengan sangatmenikmatinya.

    Tuti perlahan-lahan menyelipkan jari-jarinya kesela-sela bokong Shanti, dengan lembut dan dibelai-belainya liang anus Shanti, dan Shanti sedikit tersentak tapikemudian menggelinjang geli, tapi Shanti membiarkan dirinya pasrah terhadap Tuti. Iapercaya sepenuhnya pada Tuti dan sekarang ia benar-benar merasakan kenikmatan yangselama ini belum pernah ia rasakan bahkan dalam mimpipun! ìEnak Shan?î desah Tuti dengan mulut berlumuran lendir Shanti. Shanti memandang kebawah dan mengangguk, tubuhnya bergetar hebat, ia tak menyadari bahwa itu yangdinamakan klimaks kenikmatan seorang perempuan. Tuti merasakan liang memeknyaberdenyut dan ia meraba serta menusuk-nusukkan jarinya sendiri keliang memeknya danmerasakan cairan licin membasahi jarinya. Ia merintih dengan wajah tersuruk diselangkangan Shanti, lidahnya kini menjulur dan membelai liang dubur Shanti danmembuat gadis itu terlonjak-lonjak kegelian serta terpana mendapatkan perlakuan yangtidak pernah dibayangkannya. Shanti merasa liang duburnya ditekan-tekan oleh bendalunak dan sesekali terselip masuk kedalam dan ia akan terlonjak kaget bercampur geli, tapi lebih banyak merasakan kenikmatannya. Entah bagaimana awalnya, tapi kenyataannya Shanti dan Tuti telah saling memelukdalam keadaan telanjang bulat dilantai kamar mandi. Tuti mencium mulut Shanti, mulanya gadis itu menolak tapi permainan jari-jemari Tuti diitilnya membuat gadis itumabuk kepayang dan kepalanya dipenuhi nafsu berahi yang memuncak dashyat. Tutimelumat mulut Shanti dengan penuh nafsu, Shanti membalasnya dengan malu-malu tapimereka berdua memang saling melumat juga akhirnya.

    Terdengar bunyi mulut merekaketika lidah mereka saling mengait dan saling menghisap. Shanti berkelojotan berkali- kali dan Tuti merasakan memeknya berdenyut-denyut nikmat, ia membayangkan Shantimenjilati dan mengemuti kemaluannya. Perlahan-lahan Tuti mulai menjilati leher gadis itu dan terus menciumi ketiak Shanti, gadis itu menggelinjang kenikmatan dan makin mengerang keras ketika Tuti mulaimenghisap puting tetek Shanti. Perlahan Tuti menggeser posisinya sehingga Shanti dapatmembelai memeknya, tapi gadis itu hanya menggeliat saja. Tuti tidak sabar, diambilnyatangan Shanti dan ditaruhnya di memeknya, Shanti mulai membelai dengan canggung. Ketika jarinya tidak sengaja masuk keliang memek Tuti, segera saja wanita itumemajukan pinggulnya dan memompa jari Shanti. Shanti mulai mengerti dan ia mulaimemainkan itil Tuti dan membuat wanita itu terlonjak-lonjak nikmat. Lalu perlahan Tuti sudah mengangkangi Shanti dan ia menciumi memek Shanti kembali, lidahnya kembali menggumuli liang kemaluan gadis itu. Shanti kembali merasakanterjangan gelombang kenikmatan manakala memeknya digumuli Tuti, Shantimembiarkan wajahnya basah karena cairan memek Tuti berjatuhan, menetes danmembentuk lendir panjang, tapi Shanti tidak berani menjilat lendir yang jatuh dibibirnya. Ia memandang liang memek wanita itu dengan heran. Memek Tuti dengan bibir tebalkehitaman, bulu kemaluan yang lebat bukan main tapi tidak menutupi liang itu. Shantimelihat memek Tuti lain dengan miliknya. Dan memek itu makin turun sehingga nyarismenyentuh hidungnya.

    Shanti mencium bau memek Tuti dan dirasakannya sama baunyadengan memeknya. Shanti menjerit tertahan ketika mencapai klimak, tanpa sadar ia menarik bokong Tutisehingga wajahnya terbenam dalam memek wanita itu, Shanti gelap mata, ia menjulurkanlidahnya dan menggumuli liang penuh lendir bening itu. Shanti bahkan menghisap lendiritu seperti kelaparan. Shanti mengemut itil Tuti yang besar dan menonjol. Tubuh Tutikaku seperti kayu dan bergetar hebat, pinggulnya kejang-kejang merasakan orgasme yangluar biasa ketika itilnya dihisap dan dijilat Shanti. Tuti menjerit keras dan ia menekan memeknya sehingga ia dapat merasakan hidungShanti terselip dibelahan liang memeknya dan ia menggoyang-goyangkan pinggulnyamaju mundur dan dirasakannya itilnya bergesekan dengan hidung Shanti dan gadis itumalah menambahkan kenikmatan Tuti dengan menjulurkan lidahnya sehingga setiap kaliTuti memajukan atau memundurkan pinggulnya selalu bergesekan dengan lidah sertahidung Shanti. Tuti berkelojotan hebat sekali, ia meliuk-liuk seperti menahan nyeri, matanya berputar sehingga menampakan putihnya saja dan mulutnya mengeluarkandesahan kenikmatan. ìShantii!! Aaarrgghh!!î Tuti merasakan bagian bawah perutnya nyeri dan ngilu. Orgasme yang ternikmat yang pernah dirasakannya sejak ia meninggalkan duniahitamnya. Shanti merasa puas karena berhasil membuat Tuti menjerit-jerit minta ampunkarena kenikmatan. Shanti merasa, ternyata ia suka sekali dengan rasa dan bau memekTuti. Ia berpikir apakah memeknya juga seenak itu. Ia merasakan hangatnya liang memekTuti dan ia merasakan kasarnya bulu-bulu kemaluan Tuti kala menggesek diwajahnya.

    Shanti tersenyum lemah karena lelah. Tuti ambruk diatas tubuhnya dan Shanti membiarkan, dan gadis itu iseng membukapantat Tuti dan memperhatikan liang anus Tuti. Shanti melihat liang dubur Tuti sepertibintang berwarna kehitaman dan sangat indah. Shanti penasaran, ia mencium sertamengendus liang itu.. Tidak berbau apa-apa. Tuti diam saja membiarkan Shanti berbuatsesukanya. Shanti menjulurkan lidahnya dan menyentuh liang dubur Tuti denganperlahan, kemudian ia menempelkan hidungnya lagi dan merasakan kehangatan liang itu. Dan Shanti mulai menekan-nekan lidahnya ke liang itu dan membuat Tuti menggelinjanggeli. ìAduh Shan, enak.. Terus Shan.. Jilat.. Jilat terus.. Ya.. Ya.. Aaakkhh..î Tuti merasakan lidah Shanti kaku menusuk liang duburnya. Tuti bangkit lalu berjongkokdiatas wajah Shanti dan ia mulai menurun naikkan bokongnya sehingga lidah Shanti yangkaku dirasakannya menembus sedikit kedalam liang duburnya. Tuti menggeram pelan.. Shanti merasakan perasaan aneh ketika lidahnya melesak masuk kedalam liang duburTuti, ia menyukai permainannya itu dan merasa senang dengan apa yang diperbuatnya. Lidahnya tidak merasakan apa-apa, yang dirasakan cuma perasaan anehnya saja. Tuti tidak ingin Shanti terus melakukan untuknya. Ia menggulingkan Shanti sehinggagadis itu terlentang, lalu kedua kakinya diangkat oleh Tuti sehingga liang dubur gadis itumencuat keatas wajahnya. Dijilatnya liang dubur Shanti dengan rakus, lalu setelah licinoleh air liurnya dimasukkannya jarinya kedalam liang itu. Shanti menggigit bibir, iamerasa mulas tapi sekaligus nikmat.

    Kemudian dilihatnya Tuti mengeluarmasukkan jarinya lalu setelah beberapa lama Tutimenjilati jari itu dengan nikmat, bahkan lidahnya terbenam jauh kedalam liang duburnya. Shanti mengeluh, belum pernah itu membayangkan apalagi merasakan perbuatan sepertiitu, gadis itu mabuk kepayang dan sangat terangsang dengan perbuatan Tuti. Ia merasaseolah-olah Tuti adalah pembersihnya, Shanti memejamkan mata dan merasakanmemeknya berdenyut mengeluarkan cairan. Tuti benar-benar tergila-gila dengan perbuatannya itu, ia tidak pernah menjilat liangdubur pria dan ia tak pernah ingin, tapi liang dubur Shanti begitu merangsang, begitulembut dan begitu nikmat. Tuti tidak mau membayangkan apa yang biasa keluar darilubang itu, ia cuma ingin merasakan lidahnya terjepit diliang itu dan bagaimana rasanya. Ia tahu Shanti gadis yang sangat bersih, sama dengan dirinya. Tuti tidak kuatir dengan halitu. Yang diinginkannya saat ini hanyalah membuat Shanti betul-betul puas dan dewasa. Tuti kemudian memompa liang memek Shanti dengan lidahnya dan membuat gadis itumeraung-raung serta kejang-kejang. ìMbaakk.. Sudah mbaakk.. Ampuunn.. Ooohh!!î Shanti sudah tidak kuat lagi menanggung kenikmatan yang datangnya bertubi-tubimelanda tubuh dan perasaannya. Ia menjambak rambut Tuti dan berusaha membuatwajah itu jauh dari memeknya. Dan akhirnya mereka berbaring lelah dilantai kamarmandi. Tuti memandang Shanti.. ìBagaimana? Sudah mau pingsan keenakan belum?î tanya Tuti.

    Shanti membukamatanya dan memandang wanita itu. ìBisa gila aku Mbak.. Aahh benar-benar bisa gila!î Desah Shanti. Tuti tersenyum. ìMau lagi?îìJangan! Bisa semaput benaran aku nanti.. ììYa sudah tak mandikan yuk!î Kata Tuti. Mereka bangkit dan kemudian saling memandikan. Sejak itu Shanti mengetahui apa yangharus dilakukannya jika berahinya datang melanda. Kejadian pertama itu membuatnyatahu apa sebenarnya yang dapat membuatnya nikmat dan puas. Shanti belajar banyak dariTuti. Dan ia memuja wanita itu. Malam itu Shanti tidak dapat memejamkan matanya, ia teringat perbuatannya denganTuti. Terbayang olehnya perbuatan Tuti terhadap dirinya, Shanti merasa seluruh buluditubuhnya berdiri dan ia merasa agak demam. Ia mengeluh karena merasa ingin sekalimengulangi lagi dengan wanita itu. Shanti bangun dan berjalan kemeja kecil tempat iabiasa merias diri. Dikamar sebelah terdengar suara-suara aneh, itu kamar Supriati, temansesama kostnya. Shanti mencoba mendengar, antara kamar dengan kamar hanya dibatasi dinding papantipis. Shanti kadang suka kesal dengan Supriati yang bekerja di pabrik karena wanita itusuka menendang-nendang dalam tidurnya dan itu membuat Shanti kaget setengah matiditengah malam.

    Tapi suara sekarang lain, bukan suara yang keras, suara yang samar- samar dan sepertinya ada suara lain, Shanti menempelkan telinganya dan ia mendengarsuara rintihan Supriati. Shanti berdebar, ini malam minggu.. Biasanya pacar wanita itusuka datang menginap. Sedang apa mereka?Shanti berjingkat keluar kamar. Di luar sepi sekali, sekarang sudah jam 1 pagi, pastiSupriati sedang berasyik-asyik dengan pacarnya. Shanti tegang, ia berjalan k ebalikkamar Supriati yang bersebelahan dengan ruang televisi. Shanti tahu disana dindingnyatidak sampai atas dan dinding itu yang menyekat kamar Supriati. Pelan-pelan Shanti naikkeatas bangku, lalu naik lagi keatas lemari pendek dan ia berjongkok disana. Ia raguhendak berdiri, takut terlihat, tapi keingin tahuannya membuatnya nekad. Dan pelan- pelan kepalanya menyembul dan pandangannya menatap ke dalam kamar Supriati. Penerangan kamar itu agak redup tapi Shanti bisa melihat dengan jelas Supriati sedangditindih oleh pacarnya! Supriati mengerang sambil menggeliat-geliat menggoyangpinggulnya, kedua kakinya terlipat dan menekan pantat pacarnya. Pacarnya menggenjotSupriati dengan cepat. Shanti merasa meriang, matanya terbelalak dan tubuhnya gemetar. Laki-laki itu sedang meremas buah dada Supriati dan wajah mereka menempel satu samalainnya. Mereka sedang berciuman dengan liar. Supriati menggumam dan melihat tanganSupriati meremas-remas pantat pacarnya dengan keras. Shanti terangsang sekali, belumpernah ia melihat pemandangan orang yang sedang bersetubuh dan sekarang ia merasaaneh, ia merasa perutnya ngilu dan dengkulnya gemetar tak keruan.

    Pacar Supriati berteriak tertahan dan mengangkat bokongnya. Shanti melihat tanganSupriati masuk kebawah dan terlihatlah kontol yang besar sekali didalam genggamanSupriati dan kontol itu menyemburkan cairan putih ke perut Supriati. Supriati mengocokkontol pacarnya dengan cepat dan laki-laki itu nafasnya mendengus-dengus hebat dengantubuh bergetar. Shanti merinding melihat benda yang besar dan panjang seperti itu,Shanti ngeri melihat kontol yang begitu besar, ia tahu bahwa itu besar sekali karenasebelumnya Shanti belum pernah membayangkan kontol dapat membesar dan sepanjangitu! Shanti merosot turun dengan lutut lemas, ia berjingkat kembali masuk kedalamkamarnya lalu merebahkan diri diranjang.
    Mengerikan sekali kontol lelaki, pikirnya. Mana mungkin benda sebesar itu muat dimemeknya? Shanti merinding membayangkanlubang memek Supriati yang pasti luar biasa besar. Dan Shanti akhirnya terlelap. Seminggu lewat sudah dan Shanti bingung memikirkan Tuti. Wanita itu tidak masukseminggu sejak pergumulan mereka. Nanti sore ia akan menanyakan pada pemilikwarung mengapa Tuti tidak masuk. Selama seminggu ini Shanti tidak bergairan dalampekerjaan, memeknya basah terus kalau mengingat Tuti atau mengingat pemandanganadegan Supriati dengan pacarnya. Shanti tidak bersemangat, apalagi sehari-hari temantemannyaselalu bergunjing mengenai laki-laki dan mereka tidak segan-seganmembicarakan hal-hal yang paling pribadi dan selalu berakhir dengan cekikikan panjang. Shanti merasa terkucil karena teman-taman lainnya semua sudah menikah dan usiamereka jauh diatasnya, sehingga mereka selalu terdiam kalau Shanti mendekat, padahalia ingin sekali turut mendengar gunjingan mereka. Shanti lebih banyak menghabiskanwaktunya dengan menyibukkan diri didapur membantu pemilik restoran. Malam itu Shanti merasa tidak bersemangat bekerja, hatinya sedih memikirkan Tuti.

    Iasudah menanyakan pada majikannya dan ternyata Tuti telah berhenti bekerja karenamendapatkan pekerjaan di Jakarta. Shanti diam-diam menangis memikirkan Tuti yangtega meninggalkannya tanpa pesan sedikitpun. Akhirnya Shanti hanya pasrah danmenjelang tutup restoran ia pulang kekostnya yang berada tidak jauh dari tempatnyabekerja lalu masuk kedalam kamarnya dan menangis kembali memikirkan Tuti. Iamenangis sampai akhirnya terlelap dan bermimpi bertemu dengan Tuti dan wanita itumembelai rambutnya dengan sayang, Shanti menyusup dalam ketiak Tuti dan menangissesunggukan, wanita itu mengucapkan kata-kata hiburan padanya dan gadis itu menangismakin keras.. *****Tidak terbayangkan oleh Shanti ketika memandang wajah wanita itu didepan pinturestoran. Tubuh Shanti bergetar dan jantungnya berdebar keras sekali. Air matamengambang dipelupuk matanya yang indah. Bibir Shanti terbuka dengan mata terbukaseolah melihat hantu. Wanita itu berjalan masuk dan tersenyum padanya.. Sudah setahunlewat sejak kepergiannya dan Shanti merasa waktu setahun berlalu seperti siput, tiadamalam tanpa tangisan dan tiada hari ceria lagi selama setahun itu baginya dan kini wanitaitu berdiri dihadapannya dan sungguh cantik bukan main!Wanita itu mendekat dan Shanti tiba-tiba saja sudah menghambur dalam pelukannya.

    Semerbak wangi tercium oleh Shanti, wanita itu membelai rambutnya sambil memelukerat tubuhnya. Shanti merasakan debar jantungnya menghantam dada wanita itu. Tangisan sedih terdengar dari dalam pelukan Tuti. Wanita itu merasakan aliran hangatjatuh dari matanya. Ia berusaha menahan air matanya tapi mengalir juga setetes dan jatuhdirambut Shanti.ìMbak.. Oh..î Shanti tak kuasa berbicara. Ia menyusupkan wajahnya makin dalamdipelukan Tuti. ìShan, sudah lama sekali yaa..î Bisik Tuti. Shanti mengangguk-angguk. Shantimerasakan lembutnya buah dada Tuti dan ia tidak ingin melepaskan pelukannya. ìAku rindu sekali Mbak.. Ja.. Jangan pergi lagi..î Suara tercekat dari Shanti membuatTuti sangat terharu. Dadanya terasa sesak dan ia ingin menjerit tapi kedewasaannyamembuatnya bertahan. ìAku juga rindu Shan, sudah, sudah..î Wanita itu mendorong Shanti pelan danmembawanya duduk disalah satu kursi. Restoran itu sedang sepi sekali dan Tuti memang sudah mengamatinya sejak satu jamyang lalu. Ia tidak ingin ada orang yang dikenalnya melihatnya datang denganpenampilan seperti itu, apalagi bermobil.
    ìMbak cantik sekali..î Bisik Shanti, ia menatap Tuti kagum. Tuti memang terlihat cantik dan menawan, make up wajahnya tipis sehingga kehalusankulitnya terlihat nyata, matanya masih seperti dulu, bersinar nakal dan genit, bibirnyayang penuh juga makin terlihat merangsang. Shanti menelan ludah, ia melihat pakaianTuti yang sangat indah, ia melihat potongan tubuh Tuti yang juga tidak berubah, montokdan kencang. Hidung peseknya tidak terlihat lagi dan penampilan keseluruhan wanita itumembuat Shanti rindu bukan main. ìKamu kelihatan makin cantik dan matang Shan..î Bisik Tuti lalu dibelainya pipi Shantiyang kemerahan. Kulit gadis itu masih betul-betul halus sekali, jari Tuti merayap menyentuh bibir Shanti, Shanti membiarkan jari Tuti menyentuh bibirnya, ia membuka mulutnya dan menjilat jariitu, jantungnya berdegup, Tuti membiarkan jarinya dihisap oleh Shanti. ìAku rindu sekali Shan dan aku kesini untuk mengajak kamu ikut akuî Kata Tuti. Shantiterkejut. ìKemana?î Tanya Shanti. Tuti tertawa. ìIkut saja aku, pokoknya kamu akan hidup enak dengankuî Kata Tuti. Shanti memandang wanita itu, hatinya gundah, apa yang harus dilakukannya? Apakahmemang ia akan hidup lebih enak? Tapi kalau sekali ini ia tidak ikut dengan Tuti makakemungkinan wanita itu tidak akan menemuinya kembali, Shanti sungguh bingung.

    ìJangan kuatir Shan, aku nggak bakalan menelantarkan kamu. Justru aku selalu ingatsama kamu, makanya aku nggak tahan lagi untuk mengajak kamu ikut dengankuî KataTuti sambil membelai tangan Shanti. ìLagipula kamu dan aku sudah seperti.. Seperti.. Kekasih..î Suara Tuti berbisik danbibirnya bergetar.Shanti ingin sekali memangut bibir wanita itu tapi ia agak jengah. Ia menunduk saja. Kemudian dirasakannya belaian tangan Tuti dibawah meja menjamah pahanya danmengelus serta meremas lembut pahanya, Shanti merinding, ia ingin merintih tapi iahanya menatap saja wanita itu. Tuti memandangnya sendu dan bibirnya terbuka. ìBaiklah Mbak.. Ka.. Kapan kita berangkat?î Bisik Shanti bergetar. ìBesok kamu temui aku dihotel M, malam ini aku tinggal disanaî Jawab Tuti. ìJangan membawa barang terlalu banyak, nanti aku belikan disanaî Shanti mengangguk. Gadis itu memandang Tuti, ia haus sekali akan belaian wanita itu, tapi Shanti tahu Tutitidak dapat berlama-lama, lagipula sepertinya wanita itu bukan lagi Tuti yang dulu. ìJaga diri kamu baik-baik, Shan.. Sampai besokî Bisik Tuti. Shanti merasa pahanya diremas oleh Tuti dan wanita itu bangkit sambil tersenyum. Shanti memandang kepergian Tuti dan ia merasa ada sesuatu yang terbang meninggalkanjiwanya.

    Tuti menghilang dalam mobil dan pergi meninggalkan halaman restoran itu. *****Shanti memandang pemilik restoran, seorang pria berusia pertengahan. Restoran sudahsepi karena sudah agak malam dan teman-teman Shanti juga sudah pulang, beberapayang tinggal dibelakang restoran telah masuk dan mungkin sudah tidur. Shanti sengajamemilih waktu setelah semuanya telah sepi, karena ia ingin pamit dan meminta upahnyaselama bekerja disana pada sang pemilik restoran. Perjanjiannya memang begitu, semuakaryawan wanita hanya dapat mengambil upahnya enam bulan sekali atau sewaktu iaingin berhenti. Dan sekarang Shanti hendak berhenti karena besok ia sudah akan diJakarta. ìMengapa kamu tolol sekali hendak ikut dengan sundal itu?î Sergah Pak Mohan denganwajah mengeras dan kelihatannya marah betul. Shanti membisu, tubuhnya tegang karenatakut. ìKamu tidak tahu dia itu jadi lonte disana? Hah?î Desis laki laki itu.Ia memandang Shanti dan terus memandang gadis yang menunduk diam itu. Matanyatertumbuk pada seonggok daging yang membusung di dada Shanti yang ditutupi kaustipis kumuh berwarna putih kekuningan. Pak Mohan terkesiap merasakan berahinya tibatibamemuncak melihat keremajaan gadis itu, laki-laki itu menahan napas dan menelanludah, matanya tidak lepas dari dada Shanti dan mulutnya terkunci. Shanti tidak tahumajikannya memandangnya seperti seekor serigala yang sedang menatap domba yang takberdaya. ìBaik, kamu boleh keluar dari sini dan sekarang kamu ikut aku untuk mengambiluangmu!î Suara serak Pak Mohan terdengar aneh di telinga Shanti, tapi gadis itu merasalega karena tidak ada lagi nada kemarahan dalam suara itu.Ia mengikuti laki-laki itu menuju kebelakang terus kebelakang berlawanan dengan messtempat tinggal para karyawan restoran. Shanti tahu ia menuju kantor Pak Mohan, atautepatnya tempat biasa Pak Mohan membereskan bon-bon dan beristirahat kalau sedangcapek.

    Rumah majikannya itu jauh dari sini jadi ia suka berleha-leha diruang itu kalausedang capek melayani tamu. Pak Mohan menyalakan lampu kamar dan Shanti disuruh duduk di dipan yang biasaditiduri oleh laki-laki itu. Shanti duduk dan Pak Mohan berjalan mendekatinya, tiba-tibatangan laki-laki setengah baya itu terjulur dan meremas teteknya dengan keras, Shantimenjerit tertahan dan beringsut kesudut, ketakutan. ìKamu mau uang kamu khan? Kamu akan ke Jakarta khan? Dan kamu toh akan jadi lontejuga nanti, sekarang kamu layani aku dululah, dan kamu akan menjadi lebih pengalamannantiî bisik Pak Mohan dekat sekali dengan wajahnya. Shanti mencium bau rokokmenyembur dari mulut laki-laki itu, sehingga membuatnya ia ingin muntah. ìSaya akan menjerit pak.. Jangan pak.. Malu!î bisik Shanti. Pak Mohan menerkamShanti dengan tiba-tiba dan Shanti terhimpit oleh tubuh laki-laki itu, Shanti membukamulutnya hendak menjerit, tapi tangan Pak Mohan dengan sigap menutup mulutnya. Shanti terbelalak, ia benar-benar kalah tenaga dengan laki-laki itu, yang ternyata kuatsekali. ìSekali kamu bersuara, maka kamu tidak akan bisa menemui sanak saudaramu lagi, kamubisa tunggu mereka semua di neraka!î Desis Pak Mohan, wajahnya sungguh kejamsekali, membuat gadis itu merasa takut setengah mati. Perasaannya mengatakan percuma melawan laki-laki itu, ia akan sangat menyesal nanti. Lagi pula siapa yang tidak takut dengan Pak Mohan? Hanya sang isteri yang baik padakaryawan, sedangkan laki-laki ini sudah terkenal suka judi dan membuat onar. Shantimenangis tanpa suara, ia takut sekali, dan sekarang ia merasakan tubuhnya digerayangioleh tangan lelaki itu. ìIkuti apa yang aku suruh, maka kamu akan mendapatkan uangmu dan yang pentingkamu akan selamat dan bisa jadi lonte di Jakarta, mengerti?î Ancam Pak Mohan, Shantimenggigit bibir menahan sakit ketika teteknya kembali diremas oleh laki-laki itu, iacepat-cepat menganggukkan kepalanya dalam bisu. Pak Mohan menarik kaki Shanti sehingga gadis itu terlentang di dipan kayu yangberalaskan tikar. Kemudian Shanti melihat Pak Mohan dengan gugup melepaskanpakaiannya. Shanti memejamkan matanya ketika melihat kontol Pak Mohan bergoyang- goyang seperti ketimun. Ketika ia membuka matanya kembali, Shanti melihat Pak Mohansudah duduk disampingnya dan tangannya mulai menarik kaus Shanti, gadis itu tidakbergerak. Tiba-tiba pipinya ditampar oleh Pak Mohan, Shanti menjerit pelan merasakan pipinyapanas, tamparan yang tidak begitu keras tapi sangat menyakitkan hatinya. Shantimengangkat tubuhnya membiarkan kausnya lolos begitu saja dan kemudian membiarkanjuga roknya diloloskan dengan mudah oleh Pak Mohan. Shanti bisa merasakan napaspanas membara dari hidung laki-laki itu, Pak Mohan berusaha menciumnya tapi Shantimemalingkan wajah, tapi laki-laki itu memaksa dan Shanti terpaksa membiarkan bibirnyadikulum mulut laki-laki itu, Shanti merasa mual.. ìPegang ini, awas jangan macam-macam kamu!î bentak Pak Mohan. Tangan Shantidituntun untuk menggenggam kontol Pak Mohan. Shanti merasa jijik, kontol yang tidakbegitu besar dan dalam keadaan layu, keriput dan hitam. ìKocok!î perintah Pak Mohan. Shanti belum pernah melakukannya. Ia meremas-remaspelan, kenyal dan licin seperti berlendir, Shanti merasa jijik. ìKocok seperti ini goblok!î desis laki-laki itu sambil mengocok kontolnya sendiri. Shantiberusaha menurutinya dan Shanti sedikit terkejut mendapati kontol itu bangun perlahan.

    Pak Mohan tidak sabar, ia harus cepat-cepat karena sang isteri menantinya dirumah. Iamenyodorkan kontolnya kemulut Shanti, gadis itu menghindar. ìSialan kamu! Cepat hisap dan jilat! Atau kubunuh kau!î bentak Pak Mohan sepertikalap. Shanti menggenggam kontol laki-laki itu dengan tangan gemetar, dipandangnyabenda yang lembek dan setengah tegang, ia memejamkan matanya dan sebelum sempatberbuat sesuatu, dirasakannya benda itu menerobos masuk kedalam mulutnya danbergerak maju mundur. Shanti ingin muntah tapi ia ketakutan. Laki-laki itu memompa mulut Shanti dengantergesa-gesa, dari mulutnya keluar lengkuhan-lengkuhan aneh dan tiba-tiba Shantimendengar Pak Mohan mengerang tertahan lalu mulutnya tiba-tiba terasa asin dan penuhdengan cairan lengket dan berbau aneh. Shanti menahannya supaya tidak tertelan, ia mualsekali, ia berpikir itu pasti yang dikatakan Tuti sebagai pejuh. Jijik sekali, pikirnya. Shanti memejamkan matanya erat-erat dan membiarkan kontol Pak Mohan terus bergerakmaju mundur dan makin pelan. Lalu benda itu ditarik keluar dari mulutnya. Dan Shantisegera memuntahkan cairan kental itu, ia memandang Pak Mohan yang kelelahan denganperasaan benci bukan main. ìHhh.. Bagus.. Memang punya bakat lonte kau! Ini uangmu dan ini bayaran pertama buatseorang lonte!î Desis Pak Mohan lalu melemparkan lembaran-lembaran uang kewajahShanti. Shanti terkulai tak berdaya dan Pak Mohan bergegas hendak keluar tapi sebelumnyasekali lagi laki-laki itu meremas teteknya dan Shanti terbelalak kesakitan.

    Sekejabkemudian bayangan laki-laki tua itu sudah lenyap dari pandangannya. Shanti menangispelan, ia tidak berani lebih keras, ia malu dan takut terdengar oleh teman-teman yangtinggal di seberang tempat ini. Lalu pelan-pelan gadis itu bangun, ia meraba teteknya danmeringis nyeri, lalu ia memungut uang-uang yang jatuh berserakan. Dihitungnya dan ia merasa senang juga menerima lebih dari yang diperkirakannya, iamenerima kelebihan dua puluh ribu rupuah! Jumlah yang lumayan untuknya. Shantidengan jijik mengusap cairan mani yang menempel di dadanya dengan BHnya. Iamelepaskan benda itu dan memutuskan tidak akan memakainya. Ia memakai rok dankausnya lalu berjingkat-jingkat keluar dari kamar itu. Diluar gelap dan kelam, sunyi, entah sudah jam berapa sekarang. Shanti berjingkat masuk kedalam kamar mandi, rumah kostnya sudah sepi dan ia tidakingin membangunkan semua penghuninya. Ia mulai membersihkan badannya dan iamenggosok teteknya kuat-kuat, ia tak peduli nyeri yang ditimbulkan, ia hendakmelenyapkan jejak remasan Pak Mohan. Shanti menangis tanpa suara, ia tidakmenyangka malam terakhir merupakan malam jahanam baginya. Ia berkumur danmenusuk-nusuk kerongkongannya sampai muntah, ia tak peduli mulutnya terasa pahitdan ia terus hendak mengeluarkan semuanya, ia tak yakin apakah tadi cairan Pak Mohantertelan atau tidak dan ia tidak ingin cairan itu berada diperutnya. Shanti menggosok giginya berkali-kali dan akhirnya dengan pelan ia masuk kedalamkamarnya. Ia telah mencuci bersih BHnya dan pakaiannya juga, ia akan meninggalkanpakaian itu disini saja. Lalu Shanti berbaring berusaha untuk tidur.. Diam-diam iabersyukur dirinya masih perawan, entah mengapa laki-laki keparat itu tidakmenyetubuhinya, Shanti menghela napas dalam lelap. *****ìIni kamar kamu Shan, suka?î bisik Tuti sambil memandang gadis itu. Shanti ter-nganga tidak dapat berkata apa-apa. Keletihan berjam-jam dalamperjalanannya dengan Tuti seakan lenyap begitu saja. Kamar yang untuknya sangat luas, ia membadingkan mungkin 3 kali dari kamar kostnya di kampung. Luar biasa, ranjangnyabesar dengan sprei putih bersih, ada radio kaset disamping ranjang lalu ada meja rias danShanti heran melihat ada kamar mandi dalam kamar tidur, ia belum pernah tahu mengapaada orang yang membuat kamar mandi dalam kamar tidur. Sangat membuang uangsekali, pikirnya.

    Tapi gadis itu sudah dapat membayangkan betapa nikmatnya denganfasilitas seperti itu, kapan saja ia ingin mandi, ia tidak usah lagi mengantri sambilmenimba air, oh menyenangkan sekali, batinnya. ìAda air panasnya lho Shan..î kata Tuti. Shanti memandang wanita itu dengan penuh sayang. Ia memeluk Tuti dan berterimakasih padanya dengan air mata mengalir. ìKamu berhak mendapatkannya sayang..î bisik wanita itu. ìIndah sekali Mbak! Bagaimana aku harus membalas semua ini?î kata Shanti dengansuara serak. Tuti tersenyum, lalu ia memanggil supir yang membawa mereka tadi untuk memasukkanbarang-barang Shanti. Shanti sangat kagum dengan rumah Tuti. Besar, bersih, mewahdan berkesan anggun sekali. Tembok-temboknya dicat dengan warna kuning beras, indahbukan main. Ruang tamu yang besar dengan lantai marmer dan perabotan yang menurutgadis itu tentu sangat mahal harganya, lalu ruang makan dengan meja makan yang besarlengkap dengan kursi-kursi berderet, tirai-tirai yang mewah seperti membuang-buangkain saja. Kemudian Shanti melihat ruang keluarga yang luar biasa besarnya, dengan TVyang juga seperti layar bioskop, seprangkat sofa yang besar pula menghias ruangan itu. Ada kolam renang dipekarangan belakang, kolam yang besar bukan main, Shanti tidakdapat membayangkan berenang di kolam itu, ia belum pernah berenang dikolam renang, ia hanya pernah berenang disungai. ìKamu istirahat saja dulu Shan. Nanti sore baru kita ngobrol-ngobrol lagiî kata Tuti. Lalu ia berjalan keluar kamar meninggalkan Shanti. Gadis itu duduk di atas ranjang, wahempuk sekali! Ia tersenyum sendiri membayangkan nasibnya, sungguh beruntung sekaliia disayangi seperti itu oleh Tuti. Ia merebahkan dirinya lalu dalam sekejab ia sudahterlelap.. Shanti terbangun oleh belaian Tuti. Jari-jemari Tuti membelai pipinya, Shanti memegangtangan Tuti kemudian menciumnya dengan lembut. ìTerima kasih Mbakî bisiknya. Tuti tersenyum. ìAh tidak apa-apa sayang, aku memang selalu teringat akan kamu dan akhirnya akunggak tahan lagi. Aku berkata pada suamiku bahwa aku tidak dapat merasakan keriangantanpa kamu Shanî kata Tuti. Shanti mengecup lagi tangan yang membelainya. ìKok Mbak kawin nggak bilang-bilang sih?î tanya Shanti.

    Tuti tertawa.Ia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir gadis itu dengan lembut. Tuti rindu sekalidengan hembusan napas Shanti dan ia sudah tidak tahan ingin merasakan lidah sertamulut gadis itu. Sudah lama ia rindu pada Shanti, selama ini ia selalu melayani ísuamiínya dengan baik. Dan sang ísuamií juga kelihatan sangat sayang padanya, makaitu ia memberanikan diri untuk meminta ijin mengajak gadis itu tinggal dengannya. Tutimenceritakan semuanya kepada ísuaminyaí dan tak disangka ísuaminyaí sangatmenyetujui.. ìJadi kamu suka bermain dengan cewek juga?î tanya ísuaminyaí, yang sebetulnya adalahlaki-laki yang bernama Rahman dan selama ini memelihara hidup Tuti dan diam-diammereka melangsungkan pernikahan tanpa sepengetahuan isteri pertama laki-laki itu. Tutimengangguk, ia pasrah jika Rahman meledak marah dan mendampratnya. Tapi yang ialihat hanya pandangan terpesona saja. ìYa Mas, aku selalu teringat kepadanya, aku sangat mencintainya Masî Jawab Tuti. ìJadi selama ini kamu tidak cinta padaku?î Tanya Rahman menyelidik. ìAku mencintaimu melebihi segalanya, semuanya kuberikan dan semuanya kulakukan. Tapi selama Mas tidak denganku, aku sering merasa sepi dan..îìDan apa?îìDan membayangkan gadis ituî Tuti menjawab terus terang. ìBoleh saja kamu ajak gadis itu, aku akan sangat senang sekali kalau..î Rahman tidakmeneruskan kata-katanya. Tuti tersenyum. Ia tahu apa yang dipikirkan Rahman.ìAku akan mencobanya sayy.. Aku juga ingin sekali kalau kamu bisa menikmatikeperawanan gadis ituî bisik Tuti. Rahman lega dan merasa tegang sendiri membayangkan ia digumuli oleh dua wanita, wah tentu lebih luar biasa, selama ini saja ia sudah sangat puas dengan pelayanan Tutiyang sampai kemanapun belum pernah dirasakannya. Tutinya yang begitu hebat diatasranjang, didalam kamar mandi, dimanapun dan kapanpun ia membutuhkannya, wanita ituselalu akan membuatnya terkulai dalam lautan kenikmatan. ìMbak.. Kok melamun?î bisikan Shanti menyadarkan lamunan Tuti. Wajahnya dekat sekali dengan Shanti dan gadis itu rupanya menanti dari tadi. Tutitertawa geli lalu tiba-tiba ia memangut bibir Shanti dan melumatnya. Shanti terengah- engah membalas lumatan gadis itu. Ia merasa tangan Tuti mengelus-elus buah dadanyadan ia pun membalas, ia meremas-remas tetek Tuti dengan gemas dan membuat wanitaitu merintih-rintih, tak dibutuhkan waktu lama untuk membuat mereka berdua berbugilria dalam pergumulan panas. Shanti tidak tahu bahwa dilangit-langit kamar ada sebuah bintik hitam sebesar uanglogam. Dan semua kejadian di kamar itu dapat disaksikan dari lantai dua rumah itu. Diruang kerja Rahman! Dan sekarang Rahman sedang menahan napas memandangkearah layar besar didalam ruang kerjanya.

    Tubuhnya tegang dan dirasakan dagingdicelananya membengkak. Ia bisa melihat Tuti melucuti pakaian Shanti dan ia bisamelihat bagaimana wanita itu menggerayangi tubuh Shanti dengan penuh nafsu. Rahman tersengal-sengal menahan nafsu, ia melihat Shanti memangut tetek Tuti danmenyedotnya seperti bayi, dan Tuti dengan kalap menyuruk keselangkangan Shanti danmulai menggumuli memek gadis itu dengan mulutnya. Rahman tak kuasa menahannya, iajuga ingin merasakan bau memek gadis itu dan bagaimana lendir gadis itu lumer dalammulutnya, lendir perawan! Ia mengendap-endap turun dan menghampiri kamar Shanti, ruangan sepi sekali dan dibukanya pintu itu, dilihatnya wajah Shanti sedang ditindih olehbagian bawah tubuh Tuti dan Tuti asyik menjilat-jilat memek Shanti, Rahman dapatmelihat dengan jelas bagian dalam memek gadis itu yang kemerahan dan berkilat karenalendir.Ia merangkak masuk dan dengan sebelah tangannya ia mengambil celana dalam Shantiyang tergeletak diujung ranjang. Rahman membawa benda itu kewajahnya danmenciumnya, oohh.. Nikmat sekali baunya, bau pesing bercampur dengan bau khasmemek seperti punya Tuti, Rahman menjilat bercak kuning dicelana dalam itu danmerasakan rasa asin, ia menjilat terus sampai bercak itu menjadi licin dan berubahmenjadi lendir. Tapi ia takut ketahuan, ia segera melemparkan benda itu dan merangkakmundur keluar dari ruangan. Semuanya dilakukan tanpa mereka mengetahuinya, Rahmanberdebar-debar membayangkan kapan Tuti dan Shanti akan siap melayaninya bersama- sama.ìAduh Mbaakk, aku keluar lagi Mbak.. Aduh duh..î Shanti berkelojotan, memeknyaterangkat dan menekan-nekan wajah Tuti, Tuti tidak mau kalah dan mengulek memeknyadengan goyangan yang membuatnya merasa hendak kencing. ìShaan.. Mati aku Shan.. Ooohh.. Terus Shan, terus!î desah Tuti dan Shantimempercepat tusukan lidahnya dalam memek Tuti, ia menghujamkan mulutnya danlidahnya menjulur dalam sekali, berkelana disekitar dinding memek wanita itu dan Shantimerasakan cairan masuk ke dalam mulutnya dengan mudah, Shanti tidak peduli bahwaitu adalah air kencing yang keluar sedikit dari memek Tuti karena gadis itu membuatnyaseperti gila dan entah mengapa ia merasa ingin kencing terus setiap Shanti menjalarkanlidahnya didalam memeknya. Tuti merasa pinggangnya nyeri karena menahan nikmat yang membuatnya tanpa sadarmeliuk-liuk seperti ular, apalagi dirasakannya lubang anusnya ditusuk-tusuk juga olehjari-jemari gadis itu, ternyata gadis itu sekarang pandai sekali memuaskan dirinya. Tutijuga tidak mau kalah dan ia membuat Shanti berguling sehingga gadis itu sekarang yangberada diatasnya dan dengan leluasa Tuti menjilati cairan bening yang jatuh dari liangmemek Shanti, cairan lengket dan hangat terasa asin itulah yang selalu dirindukan Tuti. Enak bukan main rasanya dan Tuti seperti gila menghisap lubang memek gadis itu, lidahnya dengan kaku memasuk kedalam memek Shanti dan membuat gadis itumengerang, kadang malah Shanti tersentak kesakitan karena lidah Tuti masuk terlaludalam dan Tuti cepat-cepat mengeluarkan lidahnya, ia lupa bahwa gadis itu masihperawan dan ia ingin Rahman yang memerawani gadis ini, kalau bisa nanti malam. ìMbakhh.. Aah.. Enak sekali Mbak.. Aaa.. Keluar lagi Mbak.. Aduuhhî Shantimengerang panjang dan Tuti merasakan cairan bening makin banyak masuk kedalammulutnya. Tuti menggosok-gosokkan hidungnya di lubang anus Shanti, ia merasa terangsang sekalimelihat liang itu dan dijilatinya lubang anus Shanti, Tuti memasukkan jari telunjuknya, membuat Shanti mengerang lagi. Lalu dikocok-kocoknya telunjuk itu di dalam anusShanti. Gadis itu tersentak-sentak sambil merintih, Shanti merasa mulas tapi ada perasaannikmatnya juga. Ia mengejan agar jari Tuti lebih mudah masuk kedalam anusnya, Shantimerasa enak sekali dan ia merasa memeknya banjir besar. Sedangkan Tuti dengan lahapmenjilati lubang anus Shanti dan bahkan ia menjilati jarinya yang baru keluar dari dalamanus Shanti, ia mencium bau yang baginya enak sekali dan ia menghisap jari itu. Shanti melakukan hal serupa, ia memasukkan jarinya dan buat Tuti yang sudah terbiasa, kocokkan jari-jari Shanti di dalam anusnya membuatnya orgasme. Apalagi Shanti dengantanpa jijik menjilat anusnya dan menusuk-nusuk lubang itu dengan lidahnya, Tutimerasakan kenikmatan yang membuat tubuhnya panas dan gemetar. Dengan rintihanpanjang Tuti mencapai orgasme lagi dan terkulai lemas. Shanti juga lemas diatas tubuhTuti.

    Mereka merasa rindu mereka telah terobati sementara dan Shanti diam-diam memohonagar kejadian seperti ini terus akan terjadi, ia tak ingin kehilangan Tuti lagi, ia tak akankuasa hidup tanpa wanita yang dapat membuatnya merasakan kenikmatan seperti ini. Shanti menyusukkan kepalanya disela-sela ketiak Tuti, ia sangat merindukan kejadianseperti ini dimana ia merasa terlindungi dan Shanti sangat suka sekali bau ketiak Tutiyang sedang berkeringat dan dengan bernafsu Shanti menjilati keringat yang membasahibulu-bulu ketiak wanita itu. Shanti mengendus dalam dan menikmati bau khas yangsangat disukainnya, bau khas ketiak wanita kampung, tapi baginya bau ketiak Tutisungguh merangsang. Tuti cekikikan kegelian karena jilatan lidah Shanti tapi ia merasa nafsunya bangkitkembali. Tuti memandang lidah Shanti membelai ketiaknya dan menjilati keringatnyadengan lahap, ia terangsang sekali melihat bagaimana gadis itu menghisap-hisap buluketiaknya yang lebat, seperti dikeramas saja, pikirnya. Tuti menarik wajah Shanti danmelumat mulutnya, dirasakan bau ketiaknya ada dimulut Shanti dan Tuti melumat habismulut Shanti, gadis itu pasrah membiarkan lidah Tuti menjalar dan menyelusup kemanasuka.Ia merasa jari-jari Tuti mengocok-ngocok didalam liang memeknya dan memeknya licinsekali karena banjir, wanita itu tidak menusuk terlalu dalam dan Shanti merasa nyamansekali. Tuti membawa jari-jarinya yang berlumuran lendir itu kemulutnya dan kemulutShanti dan mereka menjilati lendir itu dengan lahap seolah-olah itu adalah tajin yangbiasa dimakan bayi. Mereka saling berpelukan dengan mesra dan terlelap dalamrengkuhan kenikmatan. *****Ketika bangun, hari sudah senja dan mereka mandi sama-sama dalam kamar Shanti. Tutimengangumi tubuh Shanti yang benar-benar sedang ranum, matang dan sangat indah, semuanya mulus tanpa cacat. Bulu kemaluannya yang halus, buah dadanya dengan putingmerah muda sangat kontras dengan tubuhnya. Tubuhnya sendiri memang masih padatdan serba kencang, tapi ia tak dapat menghindari kegemukan di perutnya, padahal iasudah senam mati-matian, mungkin inilah karena umur, pikirnya. Sebaliknya Shantisangat iri melihat tetek Tuti yang begitu besar dan kenyal, walaupun puting susunya jugabesar dan kehitaman tapi Shanti tahu banyak sekali laki-laki dikampungnya yang tergila- gila ingin menikmati tubuh Tuti. ìMbak teteknya besar sekali, kapan aku bisa punya tetek sebesar itu?î Kata Shanti, Tutitertawa terkekeh-kekeh. ìIni dulu salah urus, sebenarnya tetekku dulu tidak sebesar ini, tapi ada gara-gara digosokdengan minyak bulus jadi gede kayak giniî Jawab Tuti. Ia tak memberitahu Shanti bahwadulu germonyalah yang menyuruhnya menggosok teteknya dengan minyak itu. ìMemang bisa?îìEntahlah, tapi kupikir gara-gara itu sihî mereka terkikik. ìSelesai mandi nanti kita kekamarku yukî ajak Tuti. ìAh nanti ada suami Mbakî jawab Shanti. ìAh mungkin dia pulang malam hari iniî jawab Tuti. Ia tak mau Shanti mengetahuirencananya.ìWah kamar Mbak hebat sekali!î seru Shanti kagum melihat kemewahan kamar Tuti. Tuti tertawa dan mengajak gadis itu duduk diatas ranjang besar. ìHeh kamu mau nonton film?î tanya Tuti. Shanti menggeleng. ìFilm?îìIya film yang hebat dehî kata Tuti lalu berjalan ke lemari TV yang terletak pas dikakiranjang. Tuti memasukkan sesuatu ke dalam kotak alat dan kembali duduk bersama Shanti. Iamemeluk Shanti dan gadis itu membalas pelukannya. Tiba-tiba Shanti melotot ketikamelihat adegan dalam film itu. Ia melihat dua wanita sedang disetubuhi oleh beberapalelaki. Ia melihat kedua wanita itu sedang disetubuhi sambil menghisap kontol prialainnya. Shanti menahan napas, jantungnya berdebar kencang, tubuhnya meriang danhangat.

    Tuti merasa gadis itu gemetar. ìLho.. Kok.. Kok.. Ih Mbak! Idiihh besar sekali Mbak!î desis Shanti. Tuti diam. ìJijik Mbak.. Aduh jijik sekali!î seru gadis itu tatkala melihat salah seorang pria itumenyemprotkan air mani kedalam mulut sang wanita dan wanita itu dengan lahapmenjilatnya sambil merengek-rengek manja. Shanti teringat malam jahanamnya dengan Pak Mohan, ternyata ada wanita yang sukasekali dengan itu. ìOh enak sekali Shan, wah rasanya luar biasa!î kata Tuti.Ia membelai tengkuk Shanti. Shanti bergidik melihat wanita itu kembali menjilati kontolyang baru keluar dari memeknya dan kontol itu dengan ganas menyemburkan cairankental kedalam mulutnya lagi. ìAduuhh.. Geli amat. Kok mau sih.. î Suara Shanti bergetar, diam-diam ia merasa adaperasaan aneh merambati tubuhnya. Ia merasa berahinya naik dengan cepat, apalagi Tutimembelai-belai tengkuknya. ìMbak! Gila ihh!î Shanti melotot melihat laki-laki lain menusuk lubang pantat wanita itudan laki-laki lainnya lagi menusuk dari bawah dan dimulut wanita itu tetap tertusuksebuah kontol hitam. Semua lubang ditubuh wanita itu telah terisi. ìWah itu yang paling enak Shan, kamu harusnya merasakan bagaimana memek kamudimasuki kontol Shan.. Enaknya luar biasa!î Desis Tuti. Wanita itu juga merasa terangsang. Ia melirik ke pintu yang dibiarkan tidak terkunci. Ditelevisi terlihat adegan dua wanita itu saling memangut kontol hitam dan mereka salingmenjilat dan menyuapi satu sama lain. Shanti mendesah, ia merasa meriang sekali danmemeknya banjir besar, Shanti merasa terangsang bukan main melihat bagaimana keduawanita itu saling membagi air mani laki-laki itu dan laki-laki itu bergantian memompamulut wanita-wanita itu. ìMbaakk.. Aduh Mbak.. Nggak tahan akuî Bisik Shanti manja sambil menatap Tuti. Tutimelumat bibir gadis itu.ìNafsu yaa..?î Bisiknya. Shanti mengangguk lalu menyurukkan wajahnya ke ketiak Tutilagi. Tiba-tiba pintu terbuka dan.., ìWah ada tamu nih?î Suara besar dan berat menyengatShanti. Ia melompat berdiri dan membenahi roknya yang tersingkap. Tuti tersenyummanis pada laki-laki itu. ìOh Mas, lho kok sudah pulang? Ini kenalkan keponakanku Shantiî Kata Tuti sambilmendorong Shanti mendekat kepada laki-laki tinggi besar itu. Laki-laki yang bertampangseram dengan brewok di wajahnya. ìIni suamiku Shan, kamu panggil saja Oom Rahmanî Kata Tuti. ìOh Haloo! Wah aku tidak menyangka keponakan kamu cantik beginiî Kata Rahmansambil menjabat tangan Shanti. Shanti tersipu menundukkan wajahnya. Rahman dudukdiatas ranjang dan membuka sepatunya, matanya menatap televisi. ìLho kok putar film begitu?î Tanyanya berpura-pura. Tuti tersenyum, Shanti tidak beranimemandang, ia malu bukan main. ìYa iseng saja, lagian aku ingin kasih tahu Shanti bagaimana punya laki-laki itu lho!î Kata Tuti manja sambil membantu melepaskan dasi Rahman. ìMbaakk.. î Shanti melotot. ìLho? Nggak apa-apa kok Shan. Mas Rahman orangnya sangat terbuka kok. Lagian kamisudah biasa dengan adegan-adegan seperti di film ituî kata Tuti sambil menarik Shantisupaya mendekat. Kemudian ia memeluk Shanti dan mencium mulutnya. Shanti merasa malu denganperlakuan Tuti tapi ia juga tak ingin menghindar, ia takut Tuti marah. Malah sekarangTuti meremas buah dadanya dengan perlahan. ìMbaakk.. Malu ahî rengek Shanti. ìAh tidak apa-apa kok Shan, Oom sudah biasa kokî kata Rahman sambil menelan ludah.Ia merasa lidahnya kaku dan sepertinya ia sudah merasakan cairan memek Shanti lumerdimulutnya. Lalu Tuti membuka celana Rahman dan sekaligus memelorotkan celanadalamnya, maka meloncat keluar kontol yang sudah agak tegang. Shanti menutupmulutnya melihat kontol yang lumayan besar dan panjang itu. Wajahnya bersemu merah, ia tidak dapat berkata apa karena malu, ia ingin lari tapi ia takut Tuti tersinggung. ìNih lihat ini Shan. Ini yang namanya kontol enak..î bisik Tuti sambil mengocok pelankontol Rahman dan Shanti bisa melihat ada lendir bening di kepala kontol itu sepertilendir memeknya.

    Lalu ia terbelalak melihat Tuti dengan lahap mengulum kontol itu, bahkan Shantibingung melihat kontol itu lenyap dalam mulut Tuti. Dan Rahman mendengus-dengussambil memompanya dalam mulut wanita itu. Shanti gemetar menyaksikan pemandanganyang tidak pernah dibayangkannya. Sungguh mengerikan, pikirnya. Apakah begituenaknya sampai Tuti mau menghisap kontol itu demikian dengan lahapnya?ìMau cobain Shan? Enak banget..î Tuti menarik gadis itu supaya berlutut juga.Rahman berdiri dan tersenyum pada Shanti. Ia menyodorkan kontolnya yang sudah agakkeras itu. Tuti mengambil tangan Shanti dan dipaksanya tangan itu menjamah kontolsuaminya. Shanti berusaha menahan tangannya dengan setengah hati. Ia bingung dangundah, ia merasa memeknya seperti hendak meledak karena berahi yang memuncak tapiia juga malu dan ia tak ingin berselingkuh dengan suami Tuti, tapi sekarang malah Tutimemaksanya menjamah daging yang seperti dodol itu. ìNggak apa-apa Shan, suamiku milik kamu juga kok..î bisik Tuti. Kemudian Shanti merasakan daging itu di tangannya, lumayan besar dan kenyal, adalendir bening keluar dari ujung kontol Rahman, dan Tuti mengusap lendir itu danmemasukkannya ke mulut Shanti, Shanti merasa jijik, tapi ia hanya merasakan asinseperti pejuh Pak Mohan. Lalu Tuti mendekatkan mulut Shanti sambil menekankepalanya supaya mendekati kontol Rahman. Dan entah bagaimana Shanti pasrah sajaketika kontol itu sudah dalam mulutnya dan bergerak maju mundur. Shanti merasadaging itu hangat dalam mulutnya dan memang kalau dirasa-rasakan enak sekali, sepertimengemut es krim tapi tidak dingin melainkan hangat, hanya sesekali lidahnyamerasakan asinnya lendir yang jatuh dalam mulutnya. Tuti juga ikut mengemut kontolRahman dan sesekali kedua wanita itu saling melumat dan meremas. ìMmhh.. Enak sekali Mas.. Ayo.. Cepat keluarkan.. Aku sudah tak tahan lagi Mas!î Desah Tuti, tangannya dan tangan Shanti berebut mengocok kontol Rahman. Bola mata Rahman terbalik dan mulutnya meleguh nikmat seperti kerbau. Kontolnyasungguh keras bukan main dalam maianan kedua perempuan itu. Ia merasakanbagaimanapun jilatan dan kocokan Tuti jauh lebih luar biasa daripada Shanti. Memang iatak salah memilih gundik, Tuti memang sungguh luar biasa. Dan Rahman menyadariselama ini ia belum pernah bisa tahan lebih dari 3 menit kalau Tuti sudah mengeluarkankeahlian mulut dan tangannya, apalagi kalau kontolnya sudah dalam cengkraman memekwanita itu, maka tak ayal lagi ia akan menyerah sebelum hitungan kedua puluh, padahaldengan isteri tuanya ia tidak pernah bisa keluar dan benar-benar tidak pernah bisaejakulasi!Walau bagaimanapun sang isteri melayaninya tetap saja ia tidak dapat puas, bahkankadang-kadang kontolnya menciut kembali sehingga harus dirangsang lagi. Tapi kalaudengan Tuti, dipegang sebentar saja kontolnya sudah seperti paku baja, terus digoyangsebentar saja, kontolnya sudah meletuskan lahar panasnya, tapi Tuti dapat dengan cepatmembangunkan kembali meriamnya walaupun baru meledak. Rahman bersyukur denganTuti, ia tak merasa sayang sedikitpun mengeluarkan uang luar biasa besarnya untukmembuat wanita itu mencintainya. ìOouughh.. Aku.. Aku.. Mau keluar sayy!!î seru Rahman sambil berkelojotan. Kontolnya dikemot oleh Tuti sedemikian rupa sehingga membuat seluruh otot tubuhnyangilu menahan gelombang nikmat yang akan segera melanda. Tuti mengeluarkan kontolRahman dan segera dimasukkannya ke dalam mulut Shanti, gadis itu membiarkan kontolitu menerobos masuk kedalam mulutnya dan ia mengocoknya dengan bibirnya, lidahnyaberusaha menjilat kontol yang keluar masuk dalam mulutnya itu. Sementara Tuti mengemuti pelir Rahman dengan keahliannya, tiba-tiba Rahmanmengeluarkan leguhan keras, tubuhnya kaku dan wajahnya tegang bukan main, mulutnyaternganga sedangkan matanya terbelalak dan berputar ketika kontolnya menyemburkancairan pejuh panas ke dalam mulut Shanti, tubuhnya kejang dan ia membiarkankontolnya diam dalam mulut gadis itu, Tuti dengan sigap mengurut dan mengocok batangkontolnya, biasanya Tuti akan terus mengocok kontol itu dengan mulutnya sampaiRahman berkelojotan seperti orang sekarat, tapi ia tahu Shanti baru pertama kali danbelum tahu bagaimana membuat seorang laki-laki mengalami ejakulasi dashyat yangdapat membuatnya mati kaku. Jadi Tuti membantu dengan mengurut batang kontolRahman dan membuat laki-laki itu menggeram dashyat seperti singa. Shanti merasa mulutnya penuh dengan cairan lengket, ia tak ingin menelannya jadi iamengeluarkan dari sela-sela bibirnya walaupun ia tahu sebagian sudah tersembur masukke dalam kerongkongannya.

    Jantungnya berdebar melihat Tuti dengan lahap menjilatisetiap lelehan pejuh yang keluar dari mulutnya. ìTelan Shan.. Enak kok.. Mmhh.. Sllrrpp.. Mmmhh..î Tuti menjilati cairan kentalkeputihan itu. Dan Tuti dengan cepat menelanjangi Shanti, sehingga Shanti benar-benarberlutut tanpa selembar benangpun ditubuhnya dan wanita itu juga sudah telanjang bulatdan bahkan kini Tuti berdiri dan menyodorkan memeknya pada Shanti. Shanti hendak berpindah menggumuli memek Tuti tapi Rahman masih membiarkankontolnya dalam mulut gadis itu. Shanti mengeluarkan kontol Rahman dan menjilatipejuh yang menempel disana, ia mengemut kontol Rahman, sekarang ia merasa sukadengan rasanya, ternyata untuk menjadi biasa cepat sekali apalagi kalau memang ternyataenak. Memek Tuti digesek-gesek di wajah Shanti dan Shanti menyelipkan hidungnya di memekTuti serta mengendusnya, hhmm nikmat sekali baunya, pikir Shanti. Ia menjulurkanlidahnya dan mengorek-ngorek liang memek Tuti yang sudah licin dan banjir. Tangankanan Shanti sibuk mengocok kontol Rahman, tapi kontol itu lemas tidak bangunkembali. Rahman meringis kesakitan karena kocokan Shanti yang tidak berpengalaman, mulutnya sedang dilumat oleh Tuti, ia tidak mau melepaskan lumatan Tuti hanya untukmeringis, karena semua yang diberikan Tuti padanya adalah istimewa, dan belum pernahseumur hidupnya Rahman mendapatkan wanita seperti Tuti. Pelan-pelan mereka beringsut dan akhirnya mereka bertiga bergumul di ranjang. Rahmansibuk melumat mulut Shanti, ternyata gadis itu masih tidak berpengalaman sama sekali, lumatan bibirnya masih jauh dibanding Tuti. Tapi kontolnya sudah tegang seperti bajakembali karena Tuti yang mengocoknya. ìMau cobain rasanya memek Shanti Mas?î desis Tuti.Rahman mengangguk, ia mengidam-idamkannya dan dari tadi sore serta ia jugamemimpikannya. Tuti menyuruh Shanti memberikan memeknya tapi Shanti malu, Tutimenariknya sehingga pelan-pelan Shanti bergeser sampai tubuhnya di atas Rahman dania menungging diatas wajah Rahman. Tuti mendorong pantat Shanti supaya turun danpelan-pelan Shanti menurunkan pantatnya, tiba-tiba ia mengerang ketika lidah kasarRahman dan berewoknya menyapu memeknya yang sempit menimbulkan sensasi yangtidak terkirakan nikmatnya. Shanti merasa orgasme padahal belum diapa-apakan. Sekarang ia meliuk-liuk seperti penari ular ketika lidah Rahman menjelajahi bibirmemeknya dan menyapu itilnya dengan kasar. Geli dan nikmat bukan main.

    Tuti melihat lendir memek Shanti berjatuhan seperti tirai air terjun dan ia bersamaRahman menjilati lendir itu, sesekali ia meludah kedalam mulut Rahman dan laki-laki itusegera menikmati air liurnya. Tuti menjilati liang anus Shanti dari atas dan lidahnyamenusuk-nusuk lubang itu dengan ganas. Shanti mengerang, merintih, menjerit histeriskarena gelombang orgasme melandanya tanpa ampun membuat perutnya mulas sertamembuatnya ingin kencing. Shanti merasakan memeknya benar-benar disedot olehRahman sehingga mengeluarkan suara keras, lalu ia merasa air kencingnya keluar sedikit, ia malu dan berharap Rahman tidak menyadarinya. Tapi Rahman tahu, Tuti pun tahubahwa Shanti sampai terkencing-kencing saking nikmatnya. ìAyo Shan kencing saja Shan.. Mmmhh.. Enak sekali kencing kamuî gerang Rahmansambil memainkan itil Shanti dengan lidahnya. Shanti tidak berdaya, dan ia tak kuasamenahannya lagi, ia hanya punya pilihan menderita karena menahan kencing ataumenerima kenikmatan yang sedang diambang perasaannya. ìAduh nggak kuat! Aaakkhh.. Mbaakk!î Shanti merengek sambil mengocok kontolRahman yang licin karena lendir. Air seninya menyemprot keluar dari lubang kencingnya, memancar menyemprot wajahRahman dan Tuti. Panas dan berbau pesing, Tuti memejamkan matanya dan membukamulutnya sehingga air kencing Shanti masuk kedalam mulutnya dan keluar lagi jatuhkedalam mulut Rahman. Mereka meminum air kencing Shanti yang masih perawan, airkencing yang tidak banyak dan kekuningan tapi sensasinya membuat Rahman melayang, ia merasakan asin dan pahit ketika air kencing gadis itu membasahi tenggorokannya. Tutimalah dengan liar dan lahap meminum dan menjilati air kencing yang jatuh membasahiwajah Rahman kemudian membasahi ranjang mereka, untung Tuti sudah menjaga-jaga, tadi sore ia sudah memasang karpet karet dalam sprei, ia yakin akan terjadi permainandashyat malam ini dan sekarang terbukti. Rahman sangat menyukai cairan memek Shanti, ada bau khas seperti punya Tuti tapi iatetap berpendapat cairan memek Tuti lebih enak dan lebih asin serta kental dan baunya- pun lebih keras daripada punya perawan ini. Rahman merasa kontolnya sudah tak sabarlagi ingin mencari korban, Tuti ingin mengulumnya tapi ia menghindar, ia tidak akanbertahan lama jika dikulum oleh Tuti dan itu membuat Tuti terkikik kegelian.ìTakut? Hi hi hi..î Rahman tersenyum kecut dengan brewok yang berlumuran lendirmemek Shanti.Ia menarik Tuti agar menggantikan Shanti. Tuti beringsut. Ia berbisik pada Shanti, gadisitu menggeleng. ìCoba saja Shan, enak bukan main. Memang pertama-tama akan perih tapi kamu akansegera merasa enak..î kata Tuti. Shanti diam dan ia pasrah ketika Tuti pelan-pelan membaringkannya terlentang diatasranjang yang besar itu. Rahman bangun dan menggumulinya, teteknya dikulum oleh lakilakiitu, tapi remasan Rahman ternyata lembut dan menimbulkan berahi. Padahal tadiShanti melihat bagaimana laki-laki itu mengulum tetek Tuti, membuat wanita itumeringis. Tapi terhadap dirinya Rahman lembut sekali bahkan Shanti merasa enak sekaliteteknya disedot-sedot seperti itu. Lalu ia melihat kebawah dan dilihatnya Tutimerenggangkan pahanya lalu memegang kontol Rahman yang sudah keras seperti kayu. Perlahan-lahan kontol itu turun, tapi sebelum menyentuh memeknya ia melihat Tutimenyelomoti kontol itu sebentar dan itu membuat Rahman menjerit seperti tersentak, wanita itu terkekeh-kekeh senang, lalu Tuti mulai menempelkan kepala kontol Rahmankebibir memek Shanti yang sudah banjir hebat. Pelan-pelan kontol itu mulai masuksesenti demi sesenti sampai terdengar raungan Shanti. ìAaakkhh.. Sakiitt.. Uuuhh Mbaakk.. Ampuunn..î Shanti merintih keras ketika kontolRahman mendesak terus, ia berkelojotan sambil berontak. Lalu ia merasa lega ketika kontol itu diam dan pelan-pelan memompa tapi tidak turunlagi, gadis itu meriang mendapati kenikmatan melandanya dengan pompaan yangdiberikan Rahman. Shanti mendesis-desis seperti orang kepedasan. Tuti memainkan itilShanti membuat Shanti kejang-kejang, lalu Rahman kembali menusuk, kali ini dengancepat dan keras. ìAduuhh.. Ampuunn!! Sakiitt!! Mati aku mbaakk!!î teriak Shanti histeris ketikamerasakan lubang memeknya seolah-olah robek dan meledak, perih bukan main danpanas merayapi tubuhnya. Matanya terbelalak, keringatnya keluar sebesar butian jagung. Jari-jarinya mencakarpunggung Rahman, tapi sang kontol sudah tertanam dalam memek Shanti dan Rahmanmulai mengangkat perlahan diiringi jeritan Shanti, gadis itu hendak pingsan, sakit sekali, setiap kali laki-laki itu menusuk atau mencabut dirasakannya kenyerian disekelilingmemek dan perutnya. ìTahan Shan, nanti kamu akan keenakanî bisik Tuti.

    Setelah beberapa saat, apa yang dikatakan Tuti ternyata benar. Shanti merintih danmengerang karena kenikmatan. Rahman merasakan hal yang sama pada kontolnya. Iamerasa kontolnya seperti diremas dan dicengkram oleh gadis itu, Rahman benar-benarmerasa beruntung, setua ini ia masih mendapatkan perawan! Rahman menghisapi tetekShanti bergantian dan ia merasakan pentil kecil itu keras dalam mulutnya. Rahman merasa menang karena ia membuat Shanti menjerit dan berteriak histeris terusmenerus tatkala gadis itu mendapatkan orgasmenya, dengan Tuti ia tidak pernah menang, memang dulu pertama kali Tuti menjerit-jerit seolah-olah orgasme tapi akhirnya Rahmantahu itu hanya pura-pura saja, Tuti hanya bisa orgasme kalau memek dan liang anusnyadijilati atau dikocok dengan sesuatu, seperti kontol-kontolan yang bergetar atau dildokaret yang berbuku-buku dan Rahman melarang Tuti memberikan rintihan palsu sewaktumereka sedang bersetubuh, ia tak ingin kepalsuan dan dengan ksatria ia mengakui tidakdapat mengalahkan Tuti, selalu saja ia yang terjerambab kalah. ìOommhh.. Aduh Mbak, aku nggak sanggup lagi Mbaak!î Shanti mengeluh, tubuhnyabersimbah peluh dan ia merasa melayang karena lautan kenikmatan yang terusmelandanya. Tuti tidak mau mendengarkannya karena wanita itu juga sedang dilanda nafsu yang luarbiasa, ia menyurukkan kepalanya dan menjilati liang anus Rahman lalu beberapa saat jikaingin keluar ia mencabut kontolnya dan Tuti segera menyelomotinya dengan kasarsupaya laki-laki itu tidak orgasme lalu Tuti akan menyuruk kememek Shanti danmenjilati cairan yang menggenang bercampur dengan darah perawan gadis itu sampaibersih, ia juga menjilati cairan yang mengalir ke liang anus Shanti, ia menghisap danmenelan cairan itu dengan penuh nafsu, baru Rahman memasukkan kembali kontolnyadan memompa Shanti kembali. Tuti juga mencapai orgasme karena merasa terangsangdengan ulahnya, ia merasa seperti binatang, ia merasa seperti budak yang harusmembersihkan semua cairan berahi Rahman dan Shanti dan itu membuatnya sangatterangsang. Lalu Tuti mengatur posisi Shanti, ia menyuruh gadis itu menungging dan Rahmanmenyetubuhinya dari belakang, sedangkan Tuti menyurukkan tubuhnya kebawah Shantidan mengemut itil gadis itu sementara Rahman memompa dengan irama pelan. Kali iniShanti terbelalak dan gemetaran karena kenikmatan yang datang jauh lebih dashyatdaripada tadi. Mulut Shanti keluar erangan, ia merasakan itilnya diputar-putar didalammulut Tuti dan ia merasakan daging yang menyesakkan liang memeknya sepertimembuatnya ingin kencing lagi, ia menjerit-jerit histeris dengan tubuh berkelojotanseperti gadis yang tengah sekarat. Dan Shanti seperti gila membenamkan wajahnyakeselangkangan Tuti, lidahnya dengan liar mengorek-ngorek liang memek wanita itu danmenjilati cairan kental yang berlumuran disana. Mulut Shanti terasa asin dan tubuhnyaterasa lengket oleh keringat. ìSudah Oom.. Ampun.. Aduh.. Nggak kuat lagi akuu!î jerit Shanti dan ia terkulaimenindih tubuh Tuti. Rahman mencabut kontolnya dan dari dalam memek Shanti mengalir cairan encer beningbanyak sekali. Tuti dengan lahap menjilati cairan itu bahkan Rahman tak segan-seganmenjilati liang anus Shanti dengan penuh nafsu. Kontolnya yang keras bagi baja itumasih tegak perkasa menunggu sesuatu yang dapat dipasaknya. Tuti meremas kontolRahman sambil menghisap memek Shanti. Kemudian Tuti cepat-cepat mencegahRahman ketika laki-laki itu hendak mengarahkan kontolnya keliang anus Shanti.

    Rahmansadar dan buru-buru mengurungkan niatnya. Tuti tidak dapat membayangkan bagaimanaShanti menerima tusukan kontol Rahman diliang duburnya, pasti gadis itu akan meraungraungkesakitan luar biasa. ìSekarang giliran aku manis..î desis Tuti. Lalu ia tidur terlentang dan mengangkat keduakakinya terlipat ke wajahnya sehingga memek dan liang anusnya menghadap keatas. Shanti segera menyelomoti liang memek Tuti dengan rakus. Ia mengocok memek Tutidengan jarinya dan membuat wanita itu berkelojotan, Tuti dapat orgasme bila denganShanti karena ia sangat menikmati waktunya dengan gadis itu. Shanti mulai menjilatiliang anus Tuti sedangkan wanita itu menyelomoti kontol Rahman. Tuti menyelomotidengan kasar, ia membiarkan sesekali kontol Rahman mengenai giginya dan Rahmansenang karena wanita itu tidak akan membuatnya keluar dengan cepat. Ia tahu keinginanTuti, ia tahu Tuti ingin dipompa dan Rahman senang sekali. Kontolnya tidak lemaskarena ia sangat terangsang melihat keliaran Shanti melumat liang anus Tuti denganrakus, Rahman sekarang makin bersyukur mendapatkan dua perempuan yang punyanafsu besar, semula ia tidak menyangka gadis muda itu akan mudah didapatkan, ternyatamemang Tutilah yang memegang peranan. ìJilat dalamnya Shan, .. Oooh bersihkan.. Terus.. Aduh enak sekali Shan.. Emut terusShanî desis Tuti, Shanti menusuk-nusukan lidahnya di liang anus wanita itu dan sesekalilidahnya terjepit sampai dalam, kemudian ditusuk-tusukannya dan membuat Tutitersentak-sentak. Kemudian Shanti melihat Rahman mendekati dan mengarahkan kontolnya. Tapi Shantikaget ketika kontol Rahman pelan-pelan menusuk keliang anus Tuti. Shanti memandangTuti, dan wanita itu mengedipkan matanya. Tuti mengejan sedikit dan blup! KontolRahman melesak masuk kedalam liang itu. Shanti terpana ketika melihat Rahmanmengayun maju mundur memompa liang anus Tuti, pompaan yang berirama dan adalendir yang keluar bersama pompaan kontol Rahman. ìShan, jilat Shan.. Ooohh.. Terus.. Aaakkhh..î Tuti merasa orgasme ketika melihatdengan tanpa merasa jijik Shanti menjilati lendir yang keluar dari liang anusnya danbahkan Rahman mencabut kontolnya dan Shanti seperti sudah tahu langsung menghisapdan menyelomoti kontol itu. Shanti sama sekali tidak jijik karena kalau itu liang anus Tuti, apapun diminta Tuti iaakan melakukannya karena Shanti sadar bahwa yang dikatakan Tuti selalu benar. Shantimerasakan cairan asin dan berbau tapi ia menikmatinya. Bahkan beberapa kali iamemaksa kontol Rahman dicabut supaya ia bisa menghisap dan membersihkan cairanlengket keputihan itu. Rahman beberapa kali sudah ingin meledak karena berahi yangmencapai puncak tapi untung setiap kali ada Shanti yang membuatnya mengurungkanledakan laharnya dan ia tersenyum senang pada Tuti, sedangkan Tuti sudah lebih dari duakali orgasme karena perbuatan Shanti didepan matanya daripada pompaan kontolRahman di duburnya.Ia menarik Shanti dan memaksa melumat mulut gadis itu, Shanti membuka mulutnya danmembiarkan cairan keputihan yang baru saja dijilat di liang anus Tuti mengalir jatuhkedalam mulut Tuti. Tuti merintih dan menikmati cairan itu, kemudian mereka salingmembelit dan melumat. Tuti menggoyang berirama dan membuat Rahman menggerungseperti binatang terluka. ìAaarrgghh.. Gilaa!!î teriak Rahman. ìCepat, cepat!î teriak Tuti sambil mendorong Shanti. Seperti sudah mengetahui apa yang harus dilakukannya Shanti segera menyurukkanwajahnya dan sedikit terlambat ketika Rahman memuntahkan pejuhnya didalam anusTuti tapi laki-laki itu memaksa mencabutnya dan Shanti segera menangkap denganmulutnya.

    Rahman memompanya dalam mulut Shanti seperti orang kesetanan dan cairanyang keluar seperti tidak ada habis-habisnya, Shanti kali ini menelan cairan itu, sebagiandisekanya dengan tangannya kemudian disodorkan kepada Tuti dan wanita itu menjilatcairan itu dengan lahap. Rahman berkelojotan seperti akan putus nyawanya, mulutnya mengeluarkan suara sepertiorang sekarat. Ia benar-benar puas. Shanti menyelomoti kontolnya dengan ahli sekarang. Ia bisa merasakan jalaran lidah gadis itu menyapu permukaan topi bajanya dan keleherkontolnya yang paling peka, membuatnya melayang-layang dalam perasaan aneh yangmembuat tubuhnya panas meriang. Setelah agak lama Rahman tumbang diatas ranjang. ìAku bisa gila..î desahnya. Rahman memandang Shanti yang sedang menjilati cairan pejuh di anus Tuti, ia bahkanmengorek-ngorek liang anus Tuti dengan lidahnya dan itu membuat Tuti menjerit-jeritkenikmatan dan kegelian, tapi Shanti seperti kesetanan dengan perbuatan joroknya. Shanti tidak peduli apa yang dijilatnya, ia hanya merasa ada sensasi aneh denganmelakukannya, ia merasa hebat dan ia merasa terangsang bukan main dengan apa yangdiperbuatnya. Shanti betul-betul pembersih, ia membuat liang memek dan anus Tuti berkilat karenajilatannya. Tak ada setetes-pun lendir disana kecuali bekas jilatan-jilatan lidahnya. Shantipuas dengan pekerjaannya. Ia memandang Tuti dengan penuh cinta ketika wanita itumenurunkan kakinya. Tuti merasa kakinya hendak copot karena pegal dan perutnyakeram, tapi ia tersenyum letih pada Shanti. Ia membelai kepala gadis itu kemudianmereka saling melumat dan berpelukan dalam senyap, sementara Rahman dengan mulutter-nganga mendengkur seperti babi. ìAku cinta sama Mbakî bisik Shanti. Tuti tersenyum lembut. ìAku juga mencintaimu Shan, kamu segalanya buatkuî bisiknya.ìJangan tinggalkan saya Mbakî Tuti menggeleng dalam diam. Tidak akan, pikirnya. Tidak akan pernah! Shanti menyusupkan kepalanya di payudara Tuti dan tidur lelapdalam kelelahan.. *****ìWah segar sekali kamu kelihatannya?î kata Tuti sambil duduk disamping Shanti. Gadis itu sedang melamun diteras belakang rumah Tuti sambil memandang kolamrenang. Shanti terkejut sebentar tapi tersenyum manis. Wajahnya bersih dan segar, rambutnya yang panjang dibiarkan terurai dan pagi itu Shanti benar-benar cantik sekali. Ia memakai daster warna kuning dengan bunga-bunga kecil di bagian dada. ìWah Mbak juga kelihatan cantik sekali!î seru Shanti. Tak lama kemudian seorang wanita tua yang dikenal dengan mbok Iyem menaruh kopisusu dan roti panggang di meja kecil dihadapan mereka. ìMelamunin semalam ya?î bisik Tuti setelah pembantunya pergi. Shanti mencubit perutTuti, membuat wanita itu tekikik geli. ìAaahh Mbak! Malu nih..î rengek Shanti. Tuti tertawa lagi. ìKok malu? Itu biasa kok, semua orang juga pasti melakukannyaî kata Tuti sambilmenyerahkan kopi susu kepada gadis itu. ìTapi kan nggak kayak semalam Mbak. Aku malu dan risih sama Mbak..î kata Shanti.Ia menghirup kopi susunya. Tuti tersenyum sambil minum juga. ìAku kan sudah bilang, buat aku sama sekali nggak apa-apa. Malah aku senang sekalikamu juga merasakan kesenangan dengankuî jawab Tuti. ìTetap aku merasa malu, sebab itu kan suami MbakîìJangan berkata seperti itu, yang aku inginkan cuma kebahagiaan dan kesenangan kitaberdua Shan. Rahman memang sangat mencintaiku, dan aku juga sangat mencintainya, tapi aku juga sangat mencintaimu, kamu kan tahu itu?îìTapii.. Ah pokoknya entah bagaimana aku nanti kata orang. Bersetubuh dengan suamiorang dan bersama pula!îìAh mana orang yang tahu? Sudahlah, pokoknya aku merasa sangat bahagiaî kata Tuti. Tuti membelai rambut Shanti. ìApakah kamu tidak bahagia?îìAku bukan main bahagianya Mbak dan aku juga bingung bagaimana aku harusberterima kasih pada semua kebaikan Mbakî jawab Shanti. ìJangan berkata begitu sayang, aku malah takut kamu menjadi marah padaku karenakejadian semalam keperawananmu hilangî kata Tuti sambil memandang Shanti. ìAh buatku tidak masalah Mbak, yang penting enaakk.. Hi hi hiî Shanti merasa lucusendiri, ia sama sekali tidak peduli dengan keperawanannya, masa bodo, pikirnya. Akumalah merasa aneh dan sangat ketagihan.. ìMasih sakit?î tanya Tuti.

    Shanti menggeleng. ìNggak, cuma tadi pagi perih waktu mau kencing. Mbak tidurnya enak sekali ya, tapi kokOom Rahman udah menghilang sepagi itu?î tanya Shanti. ìOh itu mah biasa Shan. Bisnisnya terlalu banyak dan seringnya malah jam dua pagisudah pergi kalau mau keluar negeriî kata Tuti. ìWah enak dong ya, Mbak pasti sudah sering keluar negeriîìYah hanya ke Singapura dan Malaysia saja, lainnya belum ada kesempatanî jawab Tutitertawa. ìNanti juga pada saatnya kita akan bisa pergi bersama-samaî lanjutnya. ìWah tadi pagi mulutku baunya bukan main Mbak! Semalam ketiduran padahal belumgosok gigiî kata Shanti sambil cekikikan. Tuti tertawa juga. ìAku juga! Uekh, aku pengen muntah saja tadi pagi, hi hi hi..î Tuti membuat wajahnyaterlihat lucu. ìTapi sekarang sudah nggak lagi kan?î lanjutnya sambil membuka mulutnya danmendekatkan pada Shanti. Shanti mencium mulut Tuti dan melumatnya. ìMmmhh.. Sedaapp..î desisnya. ìUdah ah, ntar kelihatan sama si Mbok bisa pingsan dia melihat kita ciuman beginiî kataTuti. Mereka tertawa. ìApakah kamu nggak merasa jijik dengan perbuatan kita semalam?î tanya Tuti ingintahu. Shanti memandangnya sambil menggeleng. ìEntahlah, aku malah kepengen lagi Mbak. Padahal tadi pagi aku berpikir betapamenjijikkannya perbuatan kita semalam, tapi mengapa aku merasa aneh dan terangsangsetiap kali membayangkannya?î Shanti memang merasa bingung. Tadi pagi ia merasa risih dan malu sekali mendapati dirinya bangun dari tidur dengantubuh telanjang bulat diatas tubuh Tuti. Dan ia ingin muntah mendapati mulutnya bausekali, tubuhnya berbercak-bercak putih seperti kerak dan ia yakin itu pejuh atau lendirTuti atau bahkan miliknya sendiri. Tapi anehnya ia malah tersenyum waktu itu dan merasa jantungnya berdebar ketikamembersihkan kerak-kerak itu dan merasakan kerak itu menjadi lendir kembali sewaktukena air. Ia malah mencicipinya lagi sambil membayangkan apa yang dilakukannyasemalam. Mungkin kalau menurut adat kampung perbuatannya semalam sudah termasukkatagori gila atau perempuan laknat, bersetubuh dengan suami orang, menciumi anussesama jenis bahkan menjilatinya, oh itu sungguh bisa menimbulkan masalah yang luarbiasa besarnya jika diketahui orang tuanya. Untung orang tuanya berada jauh sekali darisini. ìHeh! Melamun lagi!î seru Tuti. ìOh eh.. Ih Mbak ngagetin melulu!îìMikirin apa lagi?î tanya Tuti. ìMikirin semalam kok Mbak mau saja sih ditusuk di pantat?î tanya Shanti. Tutimengerling pura-pura marah. ìKamu ini jorok ya, pagi-pagi sudah ngomong gituan..îìAaahh.. Ayo dong Mbakî rengek Shanti. Tuti mencubit pipi gadis itu.ìYa mau saja, wong buatku enak sekali kokî jawab Tuti. ìLho? Kan sakit Mbak?îìNdak lagi, malah aku sering sekali ngecret kalo dientot pantatkuî jawab Tuti seenaknya. ìDulu pertama kali memang sakit, tapi lama-lama malah enak, seperti mau berak rasanya. Rasanya mulas sewaktu kontol masuk kedalam sanaîìAstaga! Mbak ih, jorok..îìEnaakk.. Kan kamu dulu yang mulaiin ngomong jorokî Tuti tersenyum genit. ìSekali-kali aku pengen juga dientot di sana Mbakî kata Shanti tiba-tiba. ìNanti juga kesampaian, dan kamu bisa ketagihan nanti. Apalagi kalau kita dientot daridepan dan belakang, wah rasanya semua laki-laki jadi budak nafsu kita. Kita bisa matikeenakan Shan!î kata Tuti. Shanti melotot. ìGila! Masak ditusuk dari depan dan belakang?î Tuti baru mendengarnya lagi. ìIya, dulu sekali aku pernah dientot 6 laki-laki Shan. Satu menusuk pantatku sambilnungging, sedangkan aku mengentoti kontol laki-laki dibawahku dengan memekku danmulutku dientot dua kontol, dan dua kontol lagi mengentoti ketekku, wah aku merasaseperti mesin pejuh Shan, mereka semua menyemburkannya dimulutku, dipantatku, dimemekku, di ketekku, di tetekku, di perut, di kaki, di paha, di wajah serta di rambutku!î Cerita Tuti kebablasan. Shanti tegang sekali sehingga napasnya memburu. Ia terkejut mendapati Tuti begituberpengalaman dengan laki-laki. ìEmang dulu Mbak.. ììYa aku dulu pelacur Shan. Pelacur idaman setiap laki-laki, bukan sombong, tapipenghasilanku dulu besar sekali. Karena aku selalu memuaskan setiap laki-laki dan akuselalu menuruti apa yang mereka inginkan. Kamu akan tahu laki-laki itu punya fantasiyang gila Shan. Mereka kebanyakan membayangkan kita-kita ini seperti binatangpeliharaan mereka..î cerita Tuti lagi. Shanti tegang mendengarkan. ìDan kebetulan aku juga maniak seks, jadi aku juga merasa enak sekali, nafsu berahikubesar sekali Shan. Dulu aku begitu menghayati pekerjaanku, bayangkan saja, sudahdientot enak dapat uang pula!î lanjut Tuti. ìMbak hebat sekali! Aku tidak pernah membayangkan Mbak jadi pelacur lho!î seruShanti. ìSsstt.. Pelan-pelan dong, kedengaran orang mati aku!î desis Tuti. Mereka tertawa. ìTapi ada juga nggak enaknya, tapi umumnya aku puas dengan apa yang kuhasilkan duludan sekarang lebih enak lagi.

    Mendapatkan suami kaya dan gadis cantik seperti kamuyang..î Tuti menggantung kalimatnya. ìYang apa?îìAh nggak jadi deh..îìAaahh ayo doongg..îìYang siap dientot dan mengentot!î bisik Tuti.Shanti menjerit sambil mencubiti Tuti, mereka saling cubit mencubit sambil cekikikan. Tuti memang merasa bersyukur bukan main dengan keadaannya sekarang, tapi Shantijuga sangat bersyukur dengan apa yang didapatnya sekarang. Jadi kurang apa lagi?ìEhh Mbak, nanti malam kalo Oom Rahman pulang kita lakukan hal yang semalamyuukk..?î kata Shanti memecahkan lamunan Tuti. ìAhh.. Kamu masa sih tadi malam belum puas??îìAaahh.. Ayo doongg.. Mbak khan Shanti mau ngobain dientot lewat anus, seperti Mbaksemalam?îìMemangnya kamu udah siap dientot di pantat?? tanya Tuti meragukan perkataanShanti.îìAku khan mau nyobain Mbak, abis Shanti lihat semalam Mbak sangat keenakkansihh..?îìShan apa kamu engga takut sama kontolnya Oom Rahman? Khan kontolnya OomRahman besar sekali. Nanti anusmu bisa jebol lohh..!!?î kata Tuti meyakinkankesungguhan Shanti. ìEngga aku sama sekali engga takut, masa kontol itu di anus Mbak bisa masuk di anusShanti engga bisa??îìYaa bisa sihh.., tapi pertama-tama musti sedikit dipaksakan, dan lagi waktu pertama kalimasuk wahh.. Sakitnya bukan main lohh..?îìTapi abis itu enak khan Mbak??îìIya sih, yaa kurang lebih sama lah waktu kamu kesakitan semalam, malahan bisa lebihsakit ke anus?îìPokoknya Shanti mau nyoba, tapi Mbak ajarin yaa..!!î Shanti memohon ke Tuti. ìYaa udah bersiaplah nanti malam?î Waktu terus berlalu, akhirnya malam-pun tiba. Shanti dan Tuti keduanya menungguiRahman di ruang tamu. Mereka duduk-duduk disana sambil makan kue-kue kecil. Akhirnya pada jam 9.20 terdengar suara klakson mobil. ìShan itu Oom Rahman pulang?î teriak Tuti. ìAyu Mbak kita kedepan membukakan pintu?î kata Shanti sambil beranjak dariduduknya. Lalu Tuti pun mengikutinya dari belakang. Setelah Rahman memarkir mobilnya digarasi, Tuti menutup pagar, lalu mereka bertiga masuk kedalam. Ketiganya langsungmenuju ke kamar yang sudah disiapkan oleh Tuti. Sesampainya disana Rahman langsung mencopot pakaiannya, terus ia beranjak ke kamarmandi untuk mandi. Sementara itu Shanti menunggunya dengan hati berdebar-debar. Sambil menunggu Rahman mandi, Tuti menyetel film biru. Shanti semakin terangsangmelihat adegan-adegan pada film tersebut. Ia merasakan itilnya berdenyut-denyut, putingsusunya mengeras. Melihat perubahan wajah dari gadis tersebut, Tuti yang sangatberpengalaman langsung saja melumat bibir gadis itu.Perlahan-lahan Tuti mulai melepaskan pakaian Shanti. Gadis itu malah ikut membantumengangkat pantatnya ketika Tuti melepaskan pakaiannya. Lalu setelah ia melepaskanpakaian gadis itu, ia-pun segera melepaskan pakaiannya. Akhirnya mereka berduatelanjang diatas ranjang tanpa mengenakan sehelai benang-pun. Bibir mereka salingmelumat, tangan mereka saling meraba bagian-bagian sensitif, sehingga membuat merekalebih terangsang. Pada saat rangsangan mereka mencapai puncaknya, tiba-tiba Rahman keluar dari kamarmandi dengan lilitan handuk yang menutupi kemaluannya. Segera saja kedua perempuantersebut menyambut Rahman, mereka melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya, lalu Shanti dengan rakus langsung mengemut kontol laki-laki tersebut. Sementara itu Tutisibut menjilati buah zakarnya. Lalu Tuti mengajak mereka semua pindah keranjang. Kemudian Rahman mencium belakang telinga Shanti dan lidahnya bermain-main didalam kupingnya. Hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli, yang menyebabkanbadan Shanti mengeliat-geliat. Mulut Rahman berpindah dan melumat bibir Shantidengan ganas, lidahnya bergerak-gerak menerobos ke dalam mulut gadis itu danmenggelitik-gelitik lidahnya. ìAaahh.., hmm.., hhmmî, terdengar suara menggumam dari mulut Shanti yang tersumbatoleh mulut Rahman. Mulut Rahman sekarang berpindah dan mulai menjilat-jilat dari dagu Shanti turun keleher, kepala gadis belia itu tertengadah ke atas dan badan bagian atasnya yang terlanjangmelengkung ke depan, ke arah Rahman, payudaranya yang kecil mungil tapi bulatkencang itu, seakan-akan menantang ke arah lelaki setengah baya tersebut. Laki-laki itu langsung bereaksi, tangan kanannya memegangi bagian bawah payudaragadis tersebut, mulutnya menciumi dan mengisap-isap kedua puting itu secara bergantian. Mulanya buah dada Shanti yang sebelah kanan menjadi sasaran mulutnya. Buah dadaShanti yang kecil mungil itu hampir masuk semuanya ke dalam mulut Rahman yangmulai mengisap-isapnya dengan lahap. Lidahnya bermain-main pada puting buah dadaShanti yang segera bereaksi menjadi keras.

    Terasa sesak napas Shanti menerimapermainan Rahman yang lihai itu. Badan Shanti terasa makin lemas dan dari mulutnyaterus terdengar erangan, ìSsshh.., sshh.., aahh.., aahh.., sshh.., sshh.., aduh Mbak aku engga kuat, sshh.., enaak.. Oomî, mulut Rahman terus berpindah-pindah dari buah dada yang kiri, ke yang kanan, mengisap-isap dan menjilat-jilat kedua puting buah dadanya secara bergantian. BadanShanti benar-benar telah lemas menerima perlakuan ini. Matanya terpejam pasrah dankedua putingnya telah benar-benar mengeras. Sementara itu Tuti terus bermain-main dipaha Shanti yang mulus itu dan secara perlahan-lahan merambat ke atas dan, tiba-tibajarinya menyentuh bibir kemaluan Shanti. Segera badan Shanti tersentak dan, ìAaahh.., oohh.., Mbaak..!î.Mula-mula hanya ujung jari telunjuk Tuti yang mengelus-elus bibir kemaluannya. MukaShanti yang ayu terlihat merah merona dengan matanya yang terpejam sayu, sedangkangiginya terlihat menggigit bibir bawahnya yang bergetar. Kedua tangan Tuti memegangkedua kaki gadis itu, bahkan dengan gemas ia mementangkan kedua belah pahanya lebarlebar.Matanya benar-benar nanar memandang daerah di sekitar selangkangan Shantiyang telah terbuka itu. Nafas perempuan itu terdengar mendengus-dengus memburu. Shanti merasakanbadannya amat lemas serta panas dan perasaannya sendiri mulai diliputi oleh suatusensasi yang mengila, apalagi melihat tubuh Rahman yang besar berbulu dengankemaluannya yang hitam, besar yang pada ujung kepalanya membulat mengkilat denganpangkalnya yang ditumbuhi rambut yang hitam lebat terletak diantara kedua paha yanghitam gempal itu. Sambil memegang kedua paha Shanti dan merentangkannya lebarlebar,Tuti membenamkan kepalanya di antara kedua paha Shanti. Mulut dan lidahnyamenjilat-jilat penuh nafsu di sekitar kemaluan gadis belia tersebut yang yang masih rapat, tertutup rambut halus dan tipis itu. Shanti hanya bisa memejamkan mata, ìOoohh.., nikmatnya.., oohh!î, Shanti mengumandalam hati, sampai-sampai tubuhnya bergerak menggelinjang-gelinjang kegelian. ìOoohh.., hhmm!î, terdengar rintihan halus, memelas keluar dari mulutnya. ìMbaakk.., aku tak tahan lagi..!î, Shanti memelas sambil menggigit bibir. Sungguh Shanti tidak bisa menahan lagi, dia telah diliputi nafsu birahi, perasaan nikmatyang melanda di sekujur tubuhnya akibat serangan-serangan mematikan yang dilancarkanTuti dan Rahman yang telah bepengalaman itu. Namun rupanya mereka berdua itu tidakpeduli dengan keadaan Shanti yang telah orgasme beberapa kali itu, bahkan merekaterlihat amat senang melihat Shanti mengalami hal itu. Tangannya yang melingkari keduapantat Shanti, kini dijulurkan ke atas, menjalar melalui perut ke arah dada dan mengelus- elus serta meremas-remas kedua payudara Shanti dengan sangat bernafsu. Menghadapiserangan bertubi-tubi yang dilancarkan Rahman dan Tuti ini, Shanti benar-benar sangatkewalahan dan kamaluannya telah sangat basah kuyup. ìMbaakk.., aakkhh.., aakkhh!î, Shanti mengerang halus, kedua pahanya yang jenjangmulus menjepit kepala Tuti untuk melampiaskan derita birahi yang menyerangnya, dijambaknya rambut Tuti keras-keras. Gadis ayu yang lemah lembut ini benar-benar telah ditaklukan oleh permainan Tuti danlaki-laki setengah baya yang dapat sangat membangkitkan gairahnya. Tiba-tiba Tutimelepaskan diri, kemudian bangkit di depan Shanti yang masih tertidur di tepi ranjang, ditariknya Shanti dari atas ranjang dan kemudian Rahman disuruhnya duduk ditepiranjang. Kemudian kedua tangan Tuti menekan bahu Shanti ke bawah, sehingga sekarangposisi Shanti berjongkok di antara kedua kaki berbulu lelaki tersebut dan kepalanya tepatsejajar dengan bagian bawah perutnya. Shanti sudah tahu apa yang diinginkan kedua orang tersebut, namun tanpa sempatberpikir lagi, tangan Rahman telah meraih belakang kepalanya dan dibawa mendekatikontol laki-laki tersebut. Tanpa melawan sedikitpun Shanti memasukkan kepala penisRahman ke dalam mulutnya sehingga kontol tersebut terjepit di antara kedua bibir mungilShanti, yang dengan terpaksa dicobanya membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu Shantimulai mengulum alat vital Rahman dalam mulutnya, hingga membuat lelaki itu meremmelek keenakan. Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulut Shantiyang kecil, itupun sudah terasa penuh benar. Shanti hampir sesak nafas dibuatnya. Kelihatan ia bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itukeluar masuk ke dalam mulutnya. Terasa benar kepala itu bergetar hebat setiap kali lidahShanti menyapu kepalanya. Sementara itu Tuti sibuk menjilati buah peler laki-lakitersebut. Kadang lidahnya menyapu anus suaminya itu. Beberapa saat kemudian Rahman melepaskan diri, ia mengangkat badan Shanti yangterasa sangat ringan itu dan membaringkan di atas ranjang dengan pantat Shanti terletakdi tepi ranjang, kaki kiri Shanti diangkatnya agak melebar ke samping, di pinggirpinggang lelaki tersebut.

    Kemudian Rahman mulai berusaha memasuki tubuh Shanti. Tangan kanan Rahman menggenggam batang penisnya yang besar itu dan kepalapenisnya yang membulat itu digesek-gesekkannya pada klitoris dan bibir kemaluanShanti, hingga Shanti merintih-rintih kenikmatan dan badannya tersentak-sentak. Rahmanterus berusaha menekan kontolnya ke dalam kemaluan Shanti yang memang sudah sangatbasah itu, akan tetapi sangat sempit untuk ukuran penis Rahman yang besar itu. Pelahan-lahan kepala penis Rahman itu menerobos masuk membelah bibir kemaluanShanti. Ketika kepala penis lelaki setengah baya itu menempel pada bibir kemaluannya, Shanti merasa kaget ketika menyadari saluran vaginanya ternyata panas dan basah. Kemudian Rahman memainkan kepala penisnya pada bibir kemaluannya yangmenimbulkan suatu perasaan geli yang segera menjalar ke seluruh tubuhnya. Dalam keadaan seperti itu, dengan perlahan Rahman menekan pantatnya kuat-kuat kedepan sehingga pinggulnya menempel ketat pada pinggul Shanti, rambut lebat padapangkal penis lelaki tersebut mengesek pada kedua paha bagian atas dan bibir kemaluanShanti yang makin membuatnya kegelian, sedangkan seluruh batang penisnya amblas kedalam liang vagina Shanti. Dengan tak kuasa menahan diri, dari mulut Shanti terdengar jeritan halus tertahan, ìAduuh!, oohh.., aahhî, disertai badannya yang tertekuk ke atas dan kedua tangan Shantimencengkeram dengan kuat pinggang Rahman. Perasaan sensasi luar biasa bercampursedikit pedih menguasai diri Shanti, hingga badannya mengejang beberapa detik. Melihat keadaan itu, dengan sigap Tuti langsung menuju ke payudara gadis itu. Dikulumnya payudara Shanti yang sebelah kiri dengan mulutnya, lidahnya sibukmenyentik-yentik putingnya yang telah keras dan runcing itu. Sementara tangannya yangkanan sibuk memilin-milin puting susu yang sebelah kiri. Shanti semakin menggeliat. Kemudian Tuti pun berpindah ke puting sebelahnya. Perasaannya campur aduk, antarapedih dan nikmat.Rahman cukup mengerti keadaan Shanti, ketika dia selesai memasukkan seluruh batangpenisnya, dia memberi kesempatan kemaluan Shanti untuk bisa menyesuaikan denganpenisnya yang besar itu. Shanti mulai bisa menguasai dirinya. Beberapa saat kemudianRahman mulai menggoyangkan pinggulnya, mula-mula perlahan, kemudian makin lamasemakin cepat. Seterusnya pinggul lelaki setengah baya itu bergerak dengan kecepatantinggi diantara kedua paha halus gadis ayu tersebut. Shanti berusaha memegang lengan pria itu, sementara tubuhnya bergetar dan terlonjakdengan hebat akibat dorongan dan tarikan penis lelaki tersebut pada kemaluannya, giginya bergemeletuk dan kepalanya menggeleng-geleng ke kiri kanan di atas ranjang. Shanti mencoba memaksa kelopak matanya yang terasa berat untuk membukanyasebentar dan melihat wajah lelaki itu yang sedang menatapnya, dengan takjub. Shantiberusaha bernafas dan.. ìOoomm.., aahh.., oohh.., sshhî, erangnya sementara pria tersebut terus menyetubuhinyadengan ganas. Shanti sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap kali Rahman menggerakkantubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding liang vaginanya, sungguh membuatnyamelayang-layang dalam sensasi kenikmatan yang belum pernah dia alami. Setiap kaliRahman menarik penisnya keluar, Shanti merasa seakan-akan sebagian dari badannyaturut terbawa keluar dari tubuhnya dan pada gilirannya Rahman menekan masukpenisnya ke dalam vaginanya, maka clitoris Shanti terjepit pada batang penis lelaki itudan terdorong masuk kemudian tergesek-gesek dengan batang penis lelaki tersebut yangberurat itu. Hal ini menimbulkan suatu perasaan geli yang dahsyat, yang mengakibatkanseluruh badan Shanti menggeliat dan terlonjak, sampai badannya tertekuk ke atasmenahan sensasi kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Lelaki tersebut terus menyetubuhi Shanti dengan cara itu. Sementara tangannya yang laintidak dibiarkan menganggur, dengan terus bermain-main pada bagian vagina Tuti danmenarik-narik klitorisnya, sehingga membuatnya menggeliat-geliat menahan nikmat. Shanti bisa melihat bagaimana batang penis yang hitam besar dari lelaki itu keluar masukke dalam liang kemaluannya yang sempit. Shanti selalu menahan nafas ketika benda itumenusuk ke dalamnya. Kemaluannya hampir tidak dapat menampung ukuran penis Rahman yang super besar itu. Shanti menghitung-hitung detik-detik yang berlalu, ia berharap lelaki itu segera mencapaiklimaksnya, namun harapannya itu tak kunjung terjadi. Ia berusaha menggerakkanpinggulnya, akan tetapi paha, bokong dan kakinya mati rasa. Tapi ia mencoba berusahamembuat lelaki itu segera mencapai klimaks dengan memutar bokongnya, menjepitkanpahanya, akan tetapi Rahman terus menyetubuhinya dan tidak juga mencapai klimaks.

    Lalu tiba-tiba Shanti merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya, rasanya sepertiada kekuatan dahsyat pelan-pelan bangkit di dalamnya, perasaan yang tidak diingininya, tidak dikenalnya, keinginan untuk membuat dirinya meledak dalam kenikmatan. Shantimerasa dirinya seperti mulai tenggelam dalam genangan air, dengan gleiser di dalamvaginanya yang siap untuk membuncah setinggi-tingginya. Saat itu dia tahu dengan pasti, ia akan kehilangan kontrol, ia akan mengalami orgasme yang luar biasa dahsyatnya. Jari-jarinya dengan keras mencengkeram sprei ranjang, ia menggigit bibirnya, dankemudian terdengar erangan panjang keluar dari mulutnya yang mungil, ìOooh.., ooh.., aahhmm.., sstthh!î. Gadis ayu itu melengkungkan punggungnya, kedua pahanya mengejang serta menjepitdengan kencang, menekuk ibu jari kakinya, membiarkan bokongnya naik-turun berkali- kali, keseluruhan badannya berkelonjotan, menjerit serak dan.., akhirnya larut dalamorgasme total yang dengan dahsyat melandanya, diikuti dengan suatu kekosonganmelanda dirinya dan keseluruhan tubuhnya merasakan lemas seakan-akan seluruhtulangnya copot berantakan. Shanti terkulai lemas tak berdaya di atas ranjang dengankedua tangannya terentang dan pahanya terkangkang lebar-lebar dimana penis hitambesar Rahman tetap terjepit di dalam liang vaginanya. Selama proses orgasme yang dialami Shanti ini berlangsung, memberikan suatukenikmatan yang hebat yang dirasakan oleh Rahman, dimana penisnya yang masihterbenam dan terjepit di dalam liang vagina Shanti dan merasakan suatu sensasi luarbiasa, batang penisnya serasa terbungkus dengan keras oleh sesuatu yang lembut licinyang terasa mengurut-urut keseluruhan penisnya, terlebih-lebih pada bagian kepalapenisnya setiap terjadi kontraksi pada dinding vagina Shanti, yang diakhiri dengansiraman cairan panas. Perasaan Rahman seakan-akan menggila melihat Shanti yangbegitu cantik dan ayu itu tergelatak pasrah tak berdaya di hadapannya dengan kedua pahayang halus mulus terkangkang dan bibir kemaluan yang kemerahan mungil itu menjepitdengan ketat batang penisnya yang hitam besar itu. Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian Rahman membalik tubuh Shanti yangtelah lemas itu hingga sekarang Shanti setengah berdiri tertelungkup di pinggir ranjangdengan kaki terjurai ke lantai, sehingga posisi pantatnya menungging ke arah lelakitersebut. Kemudian Shanti merasakan Rahman menjilati liang anusnya dari atas danlidahnya menusuk-nusuk lubang itu dengan ganas. Shanti mengerang, merintih, menjerithisteris karena gelombang orgasme melandanya tanpa ampun membuat perutnya mulas. Payudara Shanti yang menggantung itu tidak didiamkan. Segera saja Tuti tidur dibawahShanti kemudian menyusu pada payudara gadis itu. Gadis itu semakin merasakan nikmatyang tak terbayangkan. Rahman melanjutkan kegiatannya itu dan sekarang dia melihat pantat gadis itu danbagian anus Shanti sudah basah dengan ludahnya, sementara dengan ibu jarinya yangtelah basah dengan ludah, mulai ditekan masuk ke dalam lobang anus Shanti dan diputar- putar di sana. Shanti terus mengeliat-geliat dan mendesah. ìJaannggaann jaannggaan.. Aaadduuhh.. Aadduuhh.. Saakiitt.. Saakiitt..!î akan tetapiRahman tidak menanggapinya dan terus melanjutkan kegiatannya.Selang sesaat setelah merasa cukup membasahinya, Rahman sambil memegang dengantangan kiri penisnya yang telah tegang itu, menempatkan kepala penisnya tepat di tengahliang masuk anus Shanti yang telah basah dan licin itu. Kemudian Rahman membukabelahan pantat Shanti lebar-lebar. ìAaaduhh, janggaann! Sakkiit! Aaammpuunn, aammppuunn! Aagkkh.., Sakiitt.. Mbaakk..î Rahman mulai mendorong masuk, kemudian ia berhenti dan membiarkankontol itu terjepit dalam anus Shanti. ìTahan Shan, nanti kamu akan keenakanî bisik Tuti. ìMemang pertama-tama sakit, tapi nanti akan enak, tahan yaa.. Sayang..!î Sementara itu Shanti menjerit-jerit dan menggelepar-gelepar kesakitan. Segera saja Tutiberalih ke klitoris gadis itu, lalu diemutnya klitoris gadis itu, sementara tangannya iagunakan untuk mengocok di vagina Shanti agar rasa sakitnya hilang. ìAduuh.. Sakkiit.. Oomm..î ketika kontol itu mulai masuk lagi anusnya. ìTenang sayang nanti juga enggak sakitî jawab Rahman sambil terus melesakkan bagiankontolnya kepalanya sudah seluruhnya masuk ke pantat Shanti. ìAduuhh.. Sakiitt..î jerit Shanti. Bersamaan dengan itu kontol Rahman amblas dalam lobang anusnya yang sempit. ìTenang Shan, nanti enak deh.. Aku jadi ketagihan sekarangî kata Tuti sambil mengelusrambut kemaluannya dan menggosok klitorisnya. ìTuuh.. Kan sudah masuk tuh.. Enak kan nanti pantatmu juga terbiasa kok kayakpantatku iniî kata Tuti. Shanti diam saja. Ternyata sakit kalo dimasukan melalui anus, pikirnya. Rahman mulaimengocok kontolnya di pantat Shanti. ìPelan-pelan, Oomm.. Masih sakitî kata Shanti pada Rahman. ìIya sayang enaakk.. Niihh.. Seempiitt..î kata Rahman. Tuti yang berada di bawah sibuk menyedot klitorisnya dengan mulutnya dan mengocokliang vaginanya dengan tangannya, sehingga membuat Shanti semakin menggelinjangnikmat. Shanti meronta-ronta, sehingga semakin menambah gairah Rahman untuk terusmengocok di anusnya. Shanti terus menjerit, ketika perlahan seluruh penis hitam besarRahman masuk ke anusnya. ìAaauugghh..! Saakkiit..!î jerit Shanti ketika Rahman mulai bergerak pelan-pelan keluarmasuk anus Shanti. Akhirnya dengan tubuh berkeringat menahan sakit, Shanti terkulai lemas tertelungkup diatas badan Tuti kelelahan. Secara berirama Rahman menekan dan menarik penisnya darilobang anus Shanti, dimana setiap kali Rahman menekan ke bawah, penisnya semakinterbenam ke dalam lobang anus gadis itu.

    Benar-benar sangat menyesakkan melihat penisbesar hitam itu keluar masuk di anus Shanti. Terlihat kedua kaki Shanti yang terkangkangitu bergetar-getar lemah setiap kali Rahman menekan masuk penisnya ke dalam lobanganusnya. Dalam kesakitan itu, Shanti telah pasrah menerima perlakuan lelaki tersebut. Tak lama kemudian mereka bertukar posisi, sekarang Rahman duduk melonjor di ranjangdengan penisnya tetap berada dalam lobang anus Shanti, sehingga badan Shanti tertidurterlentang di atas badan Rahman dengan kedua kakinya terpentang lebar ditarik melebaroleh kedua kaki Rahman dari bawah dan Tuti mengambil posisi di atas Shanti untukmenjilati vaginanya. Tuti mulai mengocok tangannya keluar masuk kemaluan Shanti, yang sekarang semakinbasah saja, cairan pelumas yang keluar dari dalam kemaluan Shanti mengalir ke bawah, sehingga membasahi dan melicinkan lobang anusnya, hal ini membuat penis Rahmanyang sedang bekerja pada lobang anusnya menjadi licin dan lancar, sehingga denganperlahan-lahan perasaan sakit yang dirasakan Shanti berangsur-angsur hilang digantidengan perasaan nikmat yang merambat ke seluruh badannya. Shanti mulai dapat menikmati penis besar laki-laki tersebut yang sedang menggaraplobang anusnya. Perlahan-lahan perasaan nikmat yang dirasakannya melingkupi segenapkesadarannya, menjalar dengan deras tak terbendung seperti air terjun yang tumpah deraske dalam danau penampungan, menimbulkan getaran hebat pada seluruh bagiantubuhnya, tak terkendali dan meletup menjadi suatu orgasme yang spektakulermelandanya. Setelah itu badannya terkulai lemas, Shanti terlentang pasrah seakan-akanpingsan dengan kedua matanya terkatup. Melihat keadaan Shanti itu semakin membangkitkan nafsu Rahman, lelaki tersebutmenjadi sangat kasar dan kedua tangan Rahman memegang pinggul Shanti dan lelakitersebut menarik pinggulnya keras-keras ke belakang dan ìAduuh.. Aaauugghh..!î keluhShanti merasakan seakan-akan anusnya terbelah dua diterobos penis laki-laki itu yangbesar itu. Kedua mata Shanti terbelalak, kakinya menggelepar-gelepar dengan kuatnyadiikuti badannya yang meliuk-liuk menahan gempuran penis Rahman pada anusnya. Dengan buasnya Rahman menggerakkan penisnya keatas bawah dengan cepat dan keras, sehingga penisnya keluar masuk pada anus Shanti yang sempit itu. Rahman merasapenisnya seperti dijepit dan dipijit-pijit sedangkan Shanti merasakan penis lelaki tersebutseakan-akan sampai pada dadanya, mengaduk-aduk di dalamnya, di samping itu suatuperasaan yang sangat aneh mulai terasa menjalar dari bagian bawah tubuhnya bersumberdari anusnya, terus ke seluruh badannya terasa sampai pada ujung-ujung jari-jarinya. Shanti tidak bisa menggambarkan perasaan yang sedang menyelimutinya, akan tetapibadannya kembali serasa mulai melayang-layang dan suatu perasaan nikmat yang tidakdapat dilukiskan terasa menyelimuti seluruh badannya. Hal yang dapat dilakukannya pada saat itu hanya mengerang-erang, ìAaahh.. Ssshhoouusshh!î sampai suatu saat perasaan nikmatnya itu tidak dapat dikendalikan lagi serasamenjalar dan menguasai seluruh tubuhnya dan tiba-tiba meledak membajiri keluar berupasuatu orgasme yang dasyat yang mengakibatkan seluruh tubuhnya bergetar tak terkendalidisertai tangannya yang menggapai-gapai seakan-akan orang yang mau tenggelammencari pegangan. Kedua kakinya berkelejotan. Dari mulut Shanti keluar suatu erangan, ìAaaduhh.. Laagii.. Laagii.. Oohh.. Ooohh..î Halini berlangsung kurang lebih 20 detik terus menerus. Sementara itu lelaki itu terus melakukan aktivitasnya, dengan memompa penisnya keluarmasuk anus. Tuti yang sedari tadi mengocok kemaluan gadis itu menjadi sangatterangsang melihat ekspresi muka Shanti dan tiba-tiba Tuti merasakan bagian dalamvagina Shanti mulai bergerak-gerak melakukan pijitan-pijitan kuat pada jari-jarinya. Gerakan kaki Shanti disertai goyangan pinggulnya mendatangkan suatu kenikmatan padapenis lelaki tersebut, terasa seperti diurut-urut dan diputar-putar.

    Tiba-tiba Rahman merasakan sesuatu gelombang yang melanda dari di dalam tubuhnya, mencari jalan keluar melalui penisnya yang besar itu, dan terasa suatu ledakan yang tibatibamendorong keluar, sehingga penisnya terasa membengkak seakan-akan mau pecahdan.. ìAaaduuh..!î secara tidak sadar tangannya mencengkram erat badan Shanti dan pinggulRahman terangkat ke atas, pinggulnya mendorong masuk penis terbenam habis ke dalamlobang anus Shanti, sambil menyemburkan cairan kental panas ke dalam lobang anusgadis itu. Menerima semburan cairan kental panas pada lobang anusnya, Shanti merasakan suatu sensasi yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, hanya reaksi badannya yang bergetar-getar dan ekspresi mukanya yang seakan-akan merasakan suatu kengiluan yangtak terbayangkan, diikuti badannya yang tergolek lemas, tanpa dapat bergerak. Shantiterlena oleh kedahsyatan orgasme yang dialami dan diterimanya dari mereka berdua

  • BIBI ELHA PEMBANTU YANG SINTAL

    BIBI ELHA PEMBANTU YANG SINTAL


    1703 views

    PEMBANTU KU, AKU YANG ENTOT

    Bi Eha sudah cukup lama menjadi pembantu di rumah Tuan Hartono. Ini merupakantahun ketiga ia bekerja di sana. Bi Eha merasa kerasan karena keluarga Tuan Hartonocukup baik memperlakukannya bahkan memberikan lebih dari apa yang diharapkan olehseorang pembantu. Bi Eha sadar akan hal ini, terutama akan kebaikan Tuan Hartono, yang dianggapnya terlalu berlebihan. Namun ia tak begitu memikirkannya. Sepanjanghidupnya terjamin, iapun dapat menabung kelebihannya untuk jaminan hari tua. Perkarakelakuan Tuan Hartono yang selalu minta dilayani jika kebetulan istrinya tak ada dirumah, itu adalah perkara lain. Ia tak memperdulikannya bahkan ikut menikmati pula. Walaupun orang kampung, Bi Eha tergolong wanita yang menarik. Usianya tidak terlalutua, sekitar 32 tahunan. Penampilannya tidak seperti perempuan desa. Ia pandai merawattubuhnya sehingga nampak masih sintal dan menggairahkan. Bahkan Tuan Hartonosangat tergila-gila melihat kedua payudaranya yang montok dan kenyal. Kulitnya agakgelap namun terawat bersih dan halus. Soal wajah meski tidak tergolong cantik namunmemiliki daya tarik tersendiri. Sensual! Begitu kata Tuan hartono saat pertama kalimereka bercinta di belakang dapur suatu ketika. Dalam usianya yang tidak tergolong muda ini, Bi Eha ñ janda yang sudah lama ditinggalsuami ñ masih memiliki gairah yang tinggi karena ternyata selain berselingkuh denganmajikannya, ia pernah bercinta pula dengan Kang Ujang, Satpam penjaga rumah. Perselingkuhannya dengan Kang Ujang berawal ketika ia lama ditinggalkan oleh TuanHartono yang sedang pergi ke luar negeri selama sebulan penuh. Selama itu pula Bi Ehamerasa kesepian, tak ada lelaki yang mengisi kekosongannya. Apalagi di saat itu udaramalam terasa begitu menusuk tulang. Tak tahan oleh gairahnya yang meletup-letup, ianekat menggoda Satpam itu untuk diajak ke atas ranjangnya di kamar belakang. Malam itu, Bi Eha kembali tak bisa tidur. Ia gelisah tak menentu. Bergulingan di atasranjang. Tubuhnya menggigil saking tak tahannya menahan gelora gairah seksnya yangmenggebu-gebu.

    Malam ini ia tak mungkin menantikan kehadiran Tuan Hartono dalampelukannya karena istrinya ada di rumah. Perasaannya semakin gundah kalamembayangkan saat itu Tuan Hartono tengah menggauli istrinya. Ia bayangkan istrinyaitu pasti akan tersengal-sengal menghadapi gempuran Tuan Hartono yang memiliki ísenjataí dahsyat. Bayangan batang kontol Tuan Hartono yang besar dan panjang itu sertakeperkasaannya semakin membuat Bi Eha nelangsa menahan nafsu syahwatnya sendiri. Sebenarnya terpikir untuk memanggil Kang Ujang untuk menggantikannya namun ia takberani selama majikannya ada di rumah. Kalau ketahuan hancur sudah akibatnya nasibmereka nantinya. Akhirnya Bi Eha hanya bisa mengeluh sendiri di ranjang sampai takterasa gairahnya terbawa tidur. Dalam mimpinya Bi Eha merasakan gerayangan lembut ke sekujur tubuhnya. Iamenggeliat penuh kenikmatan atas sentuhan jemari kekar milik Tuan Hartono. Menggerayang melucuti kancing baju tidurnya hingga terbuka lebar, mempertontonkankedua buah dadanya yang mengkal padat berisi. Tanpa sadar Bi Eha mengigau sambilmembusungkan dadanya. ìRemas.. uugghh.. isep putingnya.. aduuhh enaknya..î Kedua tangan Bi Eha memegang kepala itu dan membenamkannya ke dadanya.!Tubuhnya menggeliat mengikuti jilatan di kedua putingnya. Bi Eha terengah-engahsaking menikmati sedotan dan remasan di kedua payudaranya, sampai-sampai iaterbangun dari mimpinya. Perlahan ia membuka kedua matanya sambil merasakan mimpinya masih terasa meskisudah terbangun. Setelah matanya terbuka, ia baru sadar bahwa ternyata ia tidak sedangmimpi. Ia menengok ke bawah dan ternyata ada seseorang tengah menggumuli bukitkembarnya dengan penuh nafsu. Ia mengira Tuan Hartono yang sedang mencumbuinya. Dalam hati ia bersorak kegirangan sekaligus heran atas keberanian majikannya ini meskisang istri ada di rumah. Apa tidak takut ketahuan. Tiba-tiba ia sendiri yang merasaketakutan. Bagaimana kalau istrinya datang?Bi Eha langsung bangkit dan mendorong tubuh yang menindihnya dan hendakmengingatkan Tuan Hartono akan situasi yang tidak memungkinkan ini. Namun belumsempat ucapan keluar, ia melihat ternyata orang itu bukan Tuan Hartono?! Yang lebihmengejutkannya lagi ternyata orang itu tidak lain adalah Andre, putra tunggal majikannyayang masih berumur 15 tahunan!?ìDen Andre?!î pekiknya sambil menahan suaranya.

    ìDen ngapain di kamar Bibi?î tanyanya lagi kebingungan melihat wajah Andre yangmerah padam. Mungkin karena birahi bercampur malu ketahuan kelakuan nakalnya. ìBi.. ngghh.. anu.. ma-maafin Andre..î katanya dengan suara memelas. Kepalanya tertunduk tak berani menatap wajah Bi Eha. ìTapi.. barusan nga.. ngapain?î tanyanya lagi karena tak pernah menyangka anakmajikannya berani berbuat seperti itu padanya. ìAndre.. ngghh.. tadinya mau minta tolong Bibi bikinin minuman..î katanyamenjelaskan. ìTapi waktu liat Bibi lagi tidur sambil menggeliat-geliat. . ngghh.. Andre nggak tahan..î katanya kemudian. ìOohh.. Den Andre.. itu nggak boleh. Nanti kalau ketahuan Papa Mama gimana?î TanyaBi Eha. ìAndre tahu itu salah.. tapi.. ngghh..î jawab Andre ragu-ragu. ìTapi kenapa?î Tanya Bi Eha penasaranìAndre pengen kayak Kang Ujang..î jawabnya kemudian. Kepala Bi Eha bagaikan disamber geledek mendengar ucapan Andre. Berarti dia tahuper buatannya dengan Satpam itu, kata hatinya panik. Wah bagaimana ini?ìKenapa Den Andre pengen itu?î tanyanya kemudian dengan lembut. ìAndre sering ngebayangin Bibi.. juga.. ngghh.. anu..îìAnu apa?î desak Bi Eha makin penasaran. ìAndre suka ngintip.. Bibi lagi mandi,î akunya sambil melirik ke arah pakaian tidur BiEha yang sudah terbuka lebar. Andre melenguh panjang menyaksikan bukit kembar montok yang menggantung tegak didada pengasuhnya itu. Bi Eha dengan refleks merapikan bajunya untuk menutupidadanya yang telanjang. Kurang ajar mata anak bau kencur ini, gerutu Bi Eha dalam hati. Nggak jauh beda dengan Bapaknya. ìBoleh khan Bi?î kata Andre kemudian. ìBoleh apa?î sentak Bi Eha mulai sewot. ìBoleh itu.. ngghh.. anu.. kayak tadi..î pinta Andre tanpa rasa bersalah seraya mendekati!kembali Bi Eha. ìDen Andre jangan kurang ajar begitu sama perempuan.., î katanya seraya mundurmenjauhi anak itu. ìNggak boleh!îìKok Kang Ujang boleh? Nanti Andre bilangin lho..î kata Andre mengancam. ìEh jangan! Nggak boleh bilang ke siapa-siapa. .î kata Bi Eha panik. ìKalau gitu boleh dong Andre?î Kurang ajar bener anak ini, berani-beraninya mengancam, makinya dalam hati. Tapibagaimana kalau ia bilang-bilang sama orang lain. Oh Jangan. Jangan sampai! Bi Ehaberpikir keras bagaimana caranya agar anak ini dapat dikuasai agar tak cerita kepadayang lain. Bi Eha lalu tersenyum kepada Andre seraya meraih tangannya. ìDen Andre mau pegang ini?î katanya kemudian sambil menaruh tangan Andre ke atasbuah dadanya.

    ìIya.. ii-iiya..,î katanya sambil menyeringai gembira. Andre meremas kedua bukit kembar milik Bi Eha dengan bebas dan sepuas-puasnya. ìGimana Den.. enak nggak?î Tanya Bi Eha sambil melirik wajah anak itu. ìTampan juga anak ini, walau masih ingusan tapi ia tetap seorang lelaki jugaî, pikir BiEha. Bukankah tadi ia merindukan kehadiran seorang lelaki untuk memuaskan rasa dahagayang demikian menggelegak? Mungkin saja anak ini tidak sesuai dengan apa yangdiharapkan, tetapi dari pada tidak sama sekali?Setelah berpikiran seperti itu, Bi Eha menjadi penasaran. Ingin tahu bagaimana rasanyabercinta dengan anak di bawah umur. Tentunya masih polos, lugu dan perlu diajarkan. Mengingat ini hal Bi Eha jadi terangsang. Keinginannya untuk bercinta semakinmenggebu-gebu. Kalau saja lelaki ini adalah Tuan Hartono, tentunya sudah ia terkamsejak tadi dan menggumuli batang kontolnya untuk memuaskan nafsunya yang sudah keubun-ubun. Tapi tunggu dulu. Ia masih anak-anak. Jangan sampai ia kaget dan malahakan membuatnya ketakutan. Lalu ia biarkan Andre meremas-remas buah dadanya sesuka hati. Dadanya sengajadibusungkan agar anak ini dapat melihat dengan jelas keindahan buah dadanya yangpaling dibanggakan. Andre mencoba memilin-milin putingnya sambil melirik ke wajahBi Eha yang nampak meringis seperti menahan sesuatu. ìSakit Bi?î tanyanya. ìNggak Den. Terus aja. Jangan berhenti. Ya begitu.. terus sambil diremas.. uugghh..î Andre mengikuti semua perintah Bi Eha. Ia menikmati sekali remasannya. Begitu kenyal, montok dan oohh asyik sekali! Pikir Andre dalam hati. Entah kenapa tiba-tiba ia inginmencium buah dada itu dan mengemot putingnya seperti ketika ia masih bayi. Bi Eha terperanjat akan perubahan ini sekaligus senang karena meski sedotan itu tidaksemahir lelaki dewasa tapi cukup membuatnya terangsang hebat. Apalagi tangan Andresatunya lagi sudah mulai berani mengelus-elus pahanya dan merambat naik di balik bajutidurnya. Perasaan Bi Eha seraya melayang dengan cumbuan ini. Ia sudah tak sabarmenunggu gerayangan tangan Andre di balik roknya segera sampai ke pangkal pahanya. Tapi nampaknya tidak sampai-sampai. Akhirnya Bi Eha mendorong tangan itu menyusuplebih dalam dan langsung menyentuh daerah paling sensitive. Bi Eha memang tak pernahmemakai pakaian dalam kalau sedang tidur. ìTidak bebasî, katanya. Andre terperanjat begitu jemarinya menyentuh daerah yang terasa begitu hangat danlembab. Hampir saja ia menarik lagi tangannya kalau tidak ditahan oleh Bi Eha.!ìNggak apa-apa.. pegang aja.. pelan-pelan. . ya.. terus.. begitu.. ya.. teruusshh.. uggh Denenaak!î Andre semangat mendengar erangan Bi Eha yang begitu merangsang. Sambil terusmengemot puting susunya, jemarinya mulai berani mempermainkan bibir kemaluan BiEha. Terasa hangat dan sedikit basah. Dicoba-cobanya menusuk celah di antara bibir itu. Terdengar Bi Eha melenguh. Andre meneruskan tusukannya. Cairan yang mulai rembesdi daerah itu membuat jari Andre mudah melesak ke dalam dan terus semakin dalam. ìAkhh.. Den masukin terusshh.. ya begitu. Oohh Den Andre pinter!î desah Bi Eha mulaimeracau ucapannya saking hebatnya rangsangan ke sekujur tubuhnya. Sambil terus menyuruh Andre berbuat ini dan itu. Tangan Bi Eha mulai menggerayang ketubuh Andre.

    Pertama-tama ia lucuti pakaian atasnya kemudian melepaskan ikatpinggangnnya dan langsung merogoh ke balik celana dalam anak itu. ìMmmpphh..î, desah Bi Eha begitu merasakan batang kontol anak itu sudah keras sepertibaja. Ia melirik ke bawah dan melihat batang Andre mengacung tegang sekali. Boleh juga anakini. Meski tidak sebesar bapaknya, tapi cukup besar untuk ukuran anak seumurnya. Tangan Bi Eha mengocok perlahan batang itu. Andre melenguh keenakan. ìOouhhgghh.. Bii.. uueeanaakkhh! î pekik Andre perlahan. Bi Eha tersenyum senang melihatnya. Anak ini semakin menggemaskan saja. Kepolosandan keluguannya membuat Bi Eha semakin terangsang dan tak tahan menghadapi emotanbibirnya di puting susunya dan gerakan jemarinya di dalam liang mem*knya. Rasanya iatak kuat menahan desakan hebat dari dalam dirinya. Tubuhnya bergetar.. lalu.., Bi Ehamerasakan semburan hangat dari dalam dirinya berkali-kali. Ia sudah orgasme. Heranjuga. Tak seperti biasanya ia secepat itu mencapai puncak kenikmatan. Entah kenapa. Mungkin karena dari tadi ia sudah terlanjur bernafsu ditambah pengalaman baru dengananak di bawah umur, telah membuatnya cepat orgasme. Andre terperangah menyaksikan ekspresi wajah Bi Eha yang nampak begitumenikmatinya. Guncangan tubuhnya membuat Andre menghentikan gerakannya. Iaterpesona melihatnya. Ia takut malah membuat Bi Eha kesakitan. ìBi? Bibi kenapa? Nggak apa-apa khan?î tanyanya demikian polos. ìNggak sayang.. Bibi justru sedang menikmati perbuatan Den Andre,î demikian kata BiEha seraya menciumi wajah tampan anak itu. Dengan penuh nafsu, bibir Andre dikulum, dijilati sementara kedua tangannyamenggerayang ke sekujur tubuh anak muda ini. Andre senang melihat kegarangan BiEha. Ia balas menyerang dengan meremas-remas kedua payudara pengasuhnya ini, lalumempermainkan putingnya. ìAduh Den.. enak sekali. Den Andre pinter.. uugghh!î erang Bi Eha kenikmatan. Bi Eha benar-benar menyukai anak ini. Ia ingin memberikan yang terbaik buat majikanmudanya ini. Ingin memberikan kenikmatan yang tak akan pernah ia lupakan. Ia yakinAndre masih perjaka tulen. Bi Eha semakin terangsang membayangkan nikmatnyasemburan cairan mani perjaka. Lalu ia mendorong tubuh Andre hingga telentang lurus diranjang dan mulai menciuminya dari atas hingga bawah. Lidahnya menyapu-nyapu disekitar kemaluan Andre. Melumat batang yang sudah tegak bagai besi tiang pancang danmegulumnya dengan penuh nafsu. Tubuh Andre berguncang keras merasakan nikmatnya cumbuan yang begitu lihai. Apalagi saat lidah Bi Eha mempermainkan biji pelernya, kemudian melata-lata ke sekujur!batang kemaluannya. Andre merasakan bagian bawah perutnya berkedut-kedut akibatjilatan itu. Bahkan saking enaknya, Andre merasa tak sanggup lagi menahan desakanyang akan menyembur dari ujung moncong kemaluannya. Bi Eha rupanya merasakan halitu. Ia tak menginginkannya. Dengan cepat ia melepaskan kulumannya dan langsungmemencet pangkal batang kemaluan Andre sehingga tidak langsung menyembur. ìAkh Bi.. kenapa?î Tanya Andre bingung karena barusan ia merasakan air maninya akanmuncrat tapi tiba-tiba tidak jadi. ìNggak apa-apa. Tenang saja, Den. Biar tambah enak,î jawabnya seraya naik ke atastubuh Andre. Dengan posisi jongkok dan kedua kaki mengangkang, Bi Eha mengarahkan batang kontolAndre persis ke arah liang mem*knya. Perlahan-lahan tubuh Bi Eha turun sambilmemegang kontol Andre yang sudah mulai masuk. ìUugghh.. enak nggak Den?îìAduuhh.. Bi Eha.. sedaapphh..! î pekiknya. Andre merasakan batang kontolnya seperti disedot liang mem*k Bi Eha. Terasa sekalikedutan-kedutannya. Ia lalu menggerakan pantatnya naik turun. Konotlnya bergerakceapt keluar masuk liang nikmat itu. Bi Eha tak mau kalah. Pantatnya bergoyang kekanan-kiri mengimbangi tusukan kontol Andre. ìAuugghh Deenn..uueennaakk! î jerit Bi Eha seperti kesetanan. ìTerus Den, jangan berhenti. Ya tusuk ke situ.. auughgg.. aakkhh..î Andre mempercepat gerakannya karena mulai merasakan air maninya akan muncrat. ìBi.. saya mau keluaarr..î Jeritnya. ìIya Den.. ayo.. keluarin aja. Bibi juga mau keluar.. ya terusshh.. oohh teruss..î katanyatersengal-sengal. Andre mencoba bertahan sekuat tenaga dan terus menggenjot liang mem*k Bi Ehadengan tusukan bertubi-tubi sampai akhirnya kewalahan menghadapi goyangan pinggulwanita berpengalaman ini. Badannya sampai terangkat ke atas dan sambil memeluk tubuhBi Eha erat-erat, Andre menyemburkan cairan kentalnya berkali-kali. ìCrot.. croott.. crott!îìAaakkhh..î Bi Eha juga mengalami orgasme.

    Sekujur tubuhnya bergetar hebat dalam pelukan erat Andre. ìOoohh.. Deenn.. hebat sekali..î Kedua insan yang tengah lupa daratan ini bergulingan di atas ranjang merasakan sisa-sisaakhir dari kenikmatan ini. Nafas mereka tersengal-sengal. Peluh membasahi seluruhtubuh mereka meski udara malam di luar cukup dingin. Nampak senyum Bi Ehamengembang di bibirnya. Penuh dengan kepuasan. Ia melirik genit kepada Andre. ìGimana Den. Enak khan?îìIya Bi, enak sekali,î jawab Andre seraya memeluk Bi Eha. Tangannya mencolek nakal ke buah dada Bi Eha yang menggelantung persis di depanmukanya. ìIh Aden nakal,î katanya semakin genit. Tangan Bi Eha kembali merayap ke arah batang kontol Andre yang sudah lemas. Mengelus-elus perlahan hingga batang itu mulai memperlihatkan kembali kehidupannya. ìBibi isep lagi ya Den?î Andre hanya bisa mengangguk dan kembali merasakan hangatnya mulut Bi Eha ketikamengulum kontolnya. Mereka kembali bercumbu tanpa mengenal waktu dan baru!berhenti ketika terdengar kokok ayam bersahutan. Andre meninggalkan kamar Bi Ehadengan tubuh lunglai. Habis sudah tenaganya karena bercinta semalaman. Tapi nampakwajahnya berseri-seri karena malam itu ia sudah merasakan pengalaman yang luar biasa.!

  • Bu Suti

    Bu Suti


    21 views

    Sudah tak terhitung berapa kali aku dan Bu Suti melakukan hubungan layaknya suami istri. Sudah lebih dari satu tahun, kita bercumbu dan saling memberi kepuasan. Dari Bu Suti, aku tahu bahwa suaminya sudah lebih dari 2 tahun tidak bisa memberinya kepuasaan. Akibat dari suaminya yang sudah tua dan sering pulang sore dengan keadaan yang lelah setelah bekerja sebagai kuli. Maka dari itu, diusianya yang sudah tua yang kini sudah 49 tahun ia masih begitu liar bersetubuh.

    cerita-sex-dewasa-bu-suti
    Seringkali Bu Suti memintaku supaya setiap kali ngentot, ia ingin di atas (WOT) dulu. Aku tak pernah menolak walaupun dengan posisi itu ia sering kelelahan dan orgasme. Tapi perlahan dan tanpa paksaan aku setubuhi ia dalam posisi berbaring miring, kadang telentang, kadang tengkurap, dan kadang kalau Bu Suti masih kuat ada sisa-sisa tenaga bisa bervariasi sampai ke dogystyle. Dan walaupun Bu Suti kelelahan ia selalu bersedia memberikan tubuhnya untuk aku nikmati sampai aku mencapai orgasme dan puas.

    Memang, aku kecewa karena setelah aku duduk di kelas 3 SMP hubungan ngentotku dengan Bu Suti menjadi sulit terealisasi. Sebab, sekolahku masuk pagi. Tak ayal, aku seringkali sakit kepala menahan birahi yang membuat pusing bukan kepalang. Namun, pada suatu hari ketika aku sudah di caturwulan 3 (maklum dulu masih caturwulan bukan semester) yaitu caturwulan terakhir keluargaku mendapat jatah liburan ke Pangandaran. Aku menolak ikut dengan alasan mau ikut pelatihan untuk persiapan ujian dan banyak tugas yang mesti dipenuhi sebagai syarat kelulusan.

    Akhirnya keluarga membolehkan aku tinggal di rumah. Aku pun menyarankan kepada ibuku, untuk urusan makan, biar Bu Suti yang menyiapkan untukku dan mengurusku selama keluarga berlibur. Ibuku setuju tanpa banyak bertanya ini itu. Sebab, nenekku yang biasa diandalkan jika keluarga bepergian kini ikut berlibur ke Pangandaran menggantikan jatahku. Sungguh senang hatiku. Artinya aku punya kesempatan untuk ngentot lagi dengan Bu Suti. Hari jumat pukul 7 malam keluargaku berangkat. Sambil bersantai di kursi dan nonton televisi, aku membayangkan ngentot dengan Bu Suti lagi. Teringat kembali kenangan-kenangan ngentotku yang liar bersamanya. Sungguh menjadi kenangan yang indah.

    Sekitar pukul setengah 8, Bu Suti masuk ke rumahku. Dag dig dug jantungku. Bingung memulainya tapi aku pun sudah kebelet ingin segera ngentot. “dek puji sama mama sudah dibuatkan makan malam?” tanyanya.

    “belum, bu. Mama gak sempet masak soalnya sedari siang mama ribet ngurus perlengkapan dan barang yang akan dibawa berlibur untuk keluarga.” jawabku.
    “oh yaudah, biar ibu yang masakin buat kamu. Tadi sebelum berangkat mama ke rumah ibu memberikan uang untuk keperluan kamu selama mama berlibur.”ujarnya penuh perhatian.
    “asik dimasakin Bu Suti. Bikin nasi goreng udang aja, bu. Itu di lemari es ada persediaan udang.” pintaku pada Bu Suti.
    “iya, boleh. Tapi tunggu bentar ya. Ibu mau ke rumah dulu ijin sama suami takut nyariin.” jawabnya sambil beranjak ke luar rumah ketika aku menganggukan kepala pertanda mengiayakan.

    Sambil menunggu Bu Suti, aku bersantai kembali di kursi sambil tiduran. Aku masih bingung, bagaimana caranya memulai persetubuhan yang sudah lebih dari 9 bulan tidak aku lakukan bersama Bu Suti. Semakin berpikir, semakin sakit kepalaku. Padahal birahiku sudah tak dapat aku bendung lagi. Tanpa menunggu lama, Bu Suti telah kembali. Dalam keadaan bingung, aku hanya bengong ketika Bu Suti melintas dihadapanku menuju dapur. Antara birahi dan kebingungan memulai akhirnya aku beranikan diri beranjak dari kursi menuju dapur.

    Tampak Bu Suti tengah menyiapkan bahan-bahan masakan. Akibat nafsu yang besar, tanpa banyak cakap aku peluk tubuh Bu Suti sambil mengesek-gesekan kontolku pada pantatnya yang bahenol. Sambil mencium dan menjilati lehernya, kedua telapak tanganku pun bergerilia pada kedua susunya yang kecil dan kendor. Susu 32B dengan puting sebesar kelingking itu selalu aku ingat.

    “sssshhh dek, ibu udah gak bisa begituan. ibu udah menopause sssshhhhhh.” ucapnya sambil mendesah pelan tanpa menghindari tindakanku yang penuh nafsu.
    “emang kenapa kalau menopause?” tanyaku polos sambil terus bergerilya di tubuhnya karena memang tidak tahu dan baru mendengar kata asing tersebut.
    “ibu udah gak menstruasi jadi memek ibu udah kering!” jawabnya sambil diselingi desah karena terbawa nafsu birahi. “oh itu, nanti pakai ludah aja, bu!” saranku sambil terus bergerilya.
    “gak bisa, ludah gampang kering. Memek ibu pasti perih kalau dimasukin kontol kamu” sergahnya masih disertai desahan pelan.

    Dengan kecewa, aku beranjak pergi dari dapur. Aku tak bisa memaksa Bu Suti untuk melakukan persetubuhan. Karena aku tidak mau menyakitinya. Ketika aku hendak duduk, aku melihat ada baby oil di dalam perlengkapan mandi adikku.

    Rupanya ibu lupa membawanya. Dengan secepat kilat, aku ambil dan segera menuju dapur.

    “bu, ada ini! Nah, kalau pakai ini pasti licin dan ibu gak akan merasa perih memeknya!” ucapku sambil menunjukan botol baby oil.

    Bu Suti mengangguk menandakan bahwa ia setuju dengan inginku. Maka, aku segera menghampirinya dan kembali bergerilya ditubuh Bu Suti yang sedang sibuk mengiris bahan masakan. Sampai akhirnya Bu Suti terbawa bernafsu kembali. Dengan secepat kilat ia membalikan badan dan langsung menyosor bibirku sambil tangannya meremas rambut serta kepalaku. Aku tak tinggal diam, aku balas ciumannya sampai lidah kami saling hisap, saling jilat, saling lilit dan bertukaran air liur.Cerita Sex Dewasa

    Sambil berciuman dan saling remas, aku tuntun tubuh Bu Suti menuju meja makan. Aku tarik kursi, aku dudukan ia. Terlihat mata Bu Suti begitu sayu karena terbakar nafsu birahi. Aku naikan daster hijau dengan belalahan dada rendah milik Bu Suti sampai ke perutnya. Aku Turunkan perlahan celana dalam berwarna hitam yang ia kenakan. Tampak bulu hitam memeknya. Segera aku arahkan kepalaku untuk melakukan jilatan dan hisapan pada liang memeknya sampai ke klitorisnya.

    Aku kenyot-kenyot itilnya. Terdengar desahan dan erangan saat lidahku dengan lincah menari-nari pada memeknya.

    “emmmmhhhh aaaahhhh ahhhhhhh ouuuuhhhhhh ssssshhhh.” desahnya membuat suasana menjadi semakin mesum.
    “bagaimana bu, masih enak?” tanyaku disela-sela kesibukan menjilat dan mengenyot-ngenyot memeknya.
    “aaaahhhhhhh ssshhhhh iiyyaaaa deeek eeeennaaakkk baangeeett!” jawabnya sambil meracau dengan erangan nikmat.

    Aku terus lakukan aktivitas lidahku di memeknya. Terlihat ia semakin bernafsu, wajahnya memerah, dan matanya semakin mengecil sehingga terlihat warna putih matanya saja sambil tangannya meremas-remas susunya sendiri. Maka, aku bantu ia menelanjangi dirinya sampai tak ada sehelai benangpun melekat pada tubuhnya. Setelah telanjang bulat, aku jilat dan kenyot- kenyot kedua susu kecilnya dengan penuh nafsu. Ia tampak begitu menikmati ulahku. Perlahan kepalaku mulai terbenam kembali pada memeknya.

    Aku jilat, aku hisap, aku kenyot liang memeknya sampai pada itilnya. Bu Suti tampak menggelinjang-gelinjang karena geli dan nikmat. Rupanya, menopause membuat dinding memeknya menjadi semakin tebal dan memang kering memeknya. Beruntung, ludahku cukup banyak sehingga memeknya menjadi basah.

    “oouuuuuhhhhhh ssshhhhhh deeekkk maaassssuuuukkkiiiiiiinnnn meeeemmmeeekkk uuddddaaaahhh gaaatttt eeeellll!” rintihnya disertai desahan penuh gairah.

    Aku menuruti kemauannya, aku tak mau menyiksanya dengan ulahku. Maka aku lebarkan kakinya. Tapi Bu Suti menolak. Ia meminta untuk duduk di atasku. Maka setelah membaluri kontolku dengan baby oil cukup banyak, Bu Suti mulai menurunkan pantatnya dan membimbing kontolku supaya bisa masuk ke dalam memeknya. Dengan perlahan dan hati-hati akhirnya kontolku terbenam dalam di memeknya.

    Bu Suti terdiam sejenak supaya kontolku bisa menyesuaikan diri dengan memeknya. Ketika kontolku sudah bisa beradaptasi, Bu Suti mulai menggoyang memutar serta menaik turunkan pantatnya. Terasa nikmat, kontolku bagai ada yang mengurut-urut. Membuat kami saling mendesah, mengerang, dan melenguh akibat nikmat yang tak terhingga.

    “ooooouuuuuhhhh aaaaaahhhhh aaaahhhhh sssssshhhhh eeeeemmmmhhhh.” desahnya sambil terus menggoyang dan menaik turunkan pantatnya pada pangkuanku.

    Tangan kananku, aku gunakan untuk memilin puting dan meremas-remas susunya secara bergantian. Sedang tangan kiriku yang sudah aku beri baby oil aku arahkan ke liang duburnya. Bu Suti tidak menolak ketika jari tangan kiriku menjamah liang duburnya.

    “eeeeeemmmmhhhh deeeekkkk ssssshhhhhh eeeennnaaaakkkk aaaaahhhhhhh.” desahnya merasakan sensasi dari kontol dan jari tengahku pada memek dan duburnya.

    Sampai akhirnya, Bu Suti melenguh cukup lama. Badannya meliuk-liuk dan bergetar. Sedangkan liang memeknya berkedut-kedut pertanda bahwa ia mencapai orgasme.

    “auuuuuuhhhhh oooooouuuuuwwwww ssssssshhhh keeeelllluuuaaaaarrrr!” lenguhnya cukup panjang sambil sesekali menghentak- hentakan pinggulnya.

    Bu Suti menikmati sisa-sisa orgasmenya sambil melingkarkan tangannya pada pundakku. Dengan posisi demikian, bau keringat penuh birahinya menusuk hidungku. Sungguh baunya membuatku mabuk kepayang. Setelah nafas ngos-ngosan Bu Suti agak mereda, aku bimbing ia menuju tempat cucian piring. Aku arahkan tangannya supaya bertumpu pada pinggir bak cuci. Aku kangkangkan kakinya. Dan setelah menambah baby oil pada kontolku, aku mulai masukan kontolku pada liang memeknya. Dengan perlahan aku mulai maju mundurkan kontolku pada liang memeknya yang setengah menungging.

    “aaaahhhhh oooouuuuuuhhhh ssssshhhhh heeeemmmmmm.” desahnya kembali membahana. Aku menggoyang-goyangkan pinggul dan mengocok dengan memaju mundurkan kontolku dengan cepat.

    Jari tengah tangan kiriku yang basah oleh baby oil mulai aku arahkan kembali menuju duburnya. Perlahan-lahan mulai aku tusukkan jari tengahku pada duburnya.

    “emmmmmhhhhh sssshhhhh deeeeekkkk eeemmmhhhhh peeeerrrriiiihhhh.” erangnya yang bercampur dengan desahan.

    Aku diamkan jari tengahku yang sudah masuk setengah di dalam liang duburnya. Dengan tangan kanan aku raih botol baby oil dan kemudian mengucurkannya pada duburnya. Perlahan, jari tengahku mulai sedikit mudah masuk lebih dalam. Tersentuh daging-daging kenyal di dalam liang duburnya. Sungguh nikmat sekali. Bu Suti semakin mendesah serta mengerang- erang mendapat perlakuan jari tengah tangan kiriku pada liang duburnya dan kontolku yang semakin lincah pada liang memeknya karena cairan baby oil yang mengucur dari duburnya. Sampai akhirnya, aku sudah tak tahan lagi menahan geli serta gatal pada kepala kontolku. Dengan gerakan cepat aku kocok memeknya dengan kontolku.Cerita Sex Dewasa

    “bbuuuuuu aku keluaaaarrr aaaahhh!” lenguhanku yang disambut lenguhan panjang Bu Suti yang mencapai orgasmenya lagi. “ooouuuuuuuuhhhh ssssshhhh aaaaahhh iibbbuuuu juugggaaaaa heeeemmmm aaaaaaahhhh eeennnaaaakkkk!” lenguhnya panjang.

    Setelah usai bersetubuh, aku dan Bu Suti sama- sama masuk kamar mandi membersihkan diri. Kemudian aku beranjak menuju kursi tempatku menonton televisi. Hampir 15 menit, nasi goreng udang pesananku selesai dibuatkan oleh Bu Suti. Ketika aku hendak makan di meja makan, aku ajak Bu Suti makan bersama. Tetapi Bu Suti menolak karena sebelumnya sudah makan di rumah bersama suami dan kedua cucunya. Maka Bu Suti memilih pamit pulang. Aku mengangguk mengiyakan sambil memberikan kecupan pada bibir dan keningnya.

    Tak lupa aku ucapkan banyak terima kasih atas segala pelayanannya. Bu Suti berjanji akan kembali besok pagi-pagi sekali. Namun aku katakan padanya jangan terlalu pagi sebab, besok hari sabtu sekolahku libur untuk siswa kelas 3 untuk mempersiapkan diri ikut pra ujian. Setelah mendapat informasi demikian ia pun mengerti dan mohon diri. Ketika berjalan ke luar dapur untuk pulang, aku lihat Bu Suti berjalan agak gemetar. Mungkin ia lemas setelah dua kali mendapat orgasme.

    Besoknya, aku bangun agak siang. Sekitar pukul 8 pagi. Aku segera membuka kunci rumah kemudian beranjak mandi. Selesai mandi, ketika aku ke luar kamar mandi tampak Bu Suti tengah membuatkanku sarapan. Dengan perasaan riang, aku sibak rambut sepunggung Bu Suti kemudian aku ciumi tengkuk dan pundaknya. Bu Suti tersenyum ketika membalikan badannya. Aku sosor bibirnya dan kami pun berciuman dengan saling rangkul dan peluk.

    “emhhhh sudah pakai baju dulu. Sarapan dulu.” ujarnya sambil tersenyum penuh perhatian.
    “yah ibu, aku pengen nih bu!” jawabku sambil meremas-remas susu kecil yang sudah kendor miliknya.
    “yaudah deh, mumpung lagi sepi. Jangan lupa baby oilnya.” ujarnya.

    Dengan masih berbalut handuk aku mengambil baby oil dan menunjukan padanya. Bu Suti tersenyum penuh arti. Maka aku tuntun tangannya meninggalkan dapur menuju kamar tidurku. Di dalam kamar, aku mulai serang bibirnya. Kami pun berciuman dengan liar. Em nikmatnya. Tanganku mulai membuka kancing daster warna putih yang di kenakan Bu Suti. Sampai akhirnya daster putih itu kandas dari tubuhnya sehingga terlihat kutang cream dan celana dalam berwarna merah yang dikenakannya.

    ” wow, ibu seksi sekali!” bisikku memujinya.

    Ia tersenyum membalas ucapanku. Kami kembali berciuman dengan penuh birahi. Lidah kami kembali saling lilit, saling jilat, saling hisap dan saling menukar air liur. emm sungguh nikmat rasanya. Aku buka kutang creamnya dan mulai meremas serta memilin puting susunya yang sebesar kelingking. Sedangkan tanganku yang lain meremas-remas pantat bahenolnya dengan gemas. Bu Suti melepaskan ciumannya dan mendesah-desah seperti orang makan sambal. Sungguh menggairahkan sekali. Sehingga, mulutku yang menganggur aku gunakan untuk menjilat susu dan mengenyot puting susunya yang menggairahkan. Tanganku mulai aku mainkan menggosok memeknya yang masih dibalut celana dalam merahnya.

    “aaaaahhhh ssssshhhhh heeeemmmmm.” desahnya membuat suasana semakin panas.

    Aku buka handukku sedangkan ia membuka celana dalam merahnya sehingga kami sama- sama bugil. Aku rebahkan badanku di kasur. Aku bimbing Bu Suti untuk melakukan 69. Awalnya ia tidak mengerti namun setelah aku jelaskan ia pun paham dan mulai naik di atasku dengan memeknya yang sudah berada tepat di wajahku. Dengan rakus aku lahap memeknya, aku sedot- sedot itilnya. Bu Suti pun tak hanya mengocok kontolku dengan tangannya tapi ia mulai mengulum kontolku pada mulutnya.

    BAca JUga Cerita Sex Cinta

    Sungguh sensasi 69 yang aku lihat di film bokef emang mantap. Nikmat rasanya. Aku semakin liar melakukan kenyotan, jilatan serta hisapan pada seluruh permukaan memek, liang memek, dan itilnya. Begitupun Bu Suti yang mengulum lebih bervariasi dengan menjilat dan mengenyot kepala dan batang kontolku. Kontolku ia jilat dan hisap dari kepala sampai ke biji pelerku. Rasanya sungguh luar biasa, walaupun ketika kepala Bu Suti naik turun saat mengulum kontolku masih sering kena gigi yang mengakibatkan rasa ngilu pada kontolku. Memang, selama berhubungan dengan Bu Suti bisa di hitung berapa kali ia mengoral kontolku. Sebab, kerapkali Bu Suti gatel memeknya dan memintaku segera memasukan kontol pada memeknya.

    “emmmmhhhh sssshhhhh aaaaahhhh maaaassssuuukkkiiiiinnn deeeeekkk!” pintanya sambil mendesah yang terdegar begitu sensual.

    Aku pun meminta supaya aku di atasnya. Ia pun setuju dan mulai berbaring telentang membuka kakinya lebar-lebar supaya aku lebih leluasa memasukan kontolku. Setelah memberi pelumas (baby oil) yang cukup banyak pada kontolku dengan perlahan aku masukan kontolku pada liang memeknya. Secara perlahan kontolku mulai masuk melewati gerbang memeknya, perlahan lebih dalam dan lebih dalam lagi. Aku memaju mundurkan kontolku denga perlahan. plok plok plok, suara yang khas itu menggema di ruang kamarku. Aku remas-remas susu kecil nan kendor itu secara bergantian. Aku pun memilin dengan gemas puting sebesar kelingking yang bergelayutan.

    Bu Suti yang sudah sangat birahi kemudian menarik kepalaku dan mencium bibirku. kami pun saling pagut, saling jilat, saling hisap, saling kenyot. Liur kami saling bertukar. Mulutnya sesekali menganga saat sedang berciuman untuk mengeluarkan desah atau erangan. Semakin lama, kocokan kontolku semakin kencang dan cepat. Sampai akhirnya badan Bu Suti melengkung-lengkung. Erangan dan desahannya semakin menggema dan panjang. Badannya bergetar dengan wajah memerah. Memeknya berkedut-kedut.

    “aaaaaaahhhhhh ssssshhhhhhhhhh.” lenguhnya ketika mendapat orgasme.

    Aku hentikan gerakanku. Aku sedot kuat-kuat susunya yang kendor sambil lidahku menjepit kuat-kuat puting susunya di mulutku. Bu Suti mencengkram kepalaku begitu kuat dengan kedua tangannya merasakan orgasmenya yang dahsyat. Ketika orgamsenya mereda, aku pinta Bu Suti untuk posisi dogystyle. Ia menuruti kemauanku sambil mengambil posisi nungging di atas kasurku. Aku mulai mengucurkan baby oil pada duburnya. Dengan perlahan dan hati-hati aku mulai tusuk liang duburnya dengan jari tengahku. Bu Suti mengerang mungkin terasa pedas di liang duburnya. Namun ia tidak berontak dan mencegah perbuatanku.

    Sampai akhirnya jari tengahku amblas semuanya di liang duburnya. Perlahan aku kembali mengucurkan baby oil pada duburnya. Setelah baby oil itu cukup banyak, aku mulai masukan jari telunjukku berbarengan dengan jari tengahku. Bu Suti kembali mengerang. Dengan perlahan aku kocok pelan supaya tidak terlalu terasa pedih. Bu Suti mengerang dan mendesah ketika kedua jariku mengocok-ngocok liang duburnya. Liang duburnya kini telah menyesuaikan diri dengan kedua jariku.

    Aku lumasi kontolku dengan baby oil cukup banyak dan mulai mengarahkannya pada liang duburnya. Tampak Bu Suti kaget ketika kepala kontolku telah masuk secara perlahan pada liang duburnya. Namun, dengan gerakanku yang perlahan ia mulai lebih santai. Sedikit demi sedikit kontolku semakin dalam memasuki liang duburnya. Kontolku merasakan sensasi luar biasa nikmat. Kontolku tercengkram kuat otot duburnya.Cerita Sex Dewasa

    Aku mulai melenguh merasakan kenikmatan yang baru. Rasanya nikmat sekali walau memang agak sakit sedikit sebab, kontolku seperti terjepit di dalam duburnya. Perlahan-lahan liang duburnya telah beradaptasi dan mulai menerima kehadiran kontolku. Maka dengan menambahkan lagi baby oil membuat aku menjadi lebih leluasa memaju mundurkan kontolku.

    Memang fantasy untuk ngentot dubur muncul ketika aku dan kawan-kawan sekolahku menonton bokef yang memasukan kontol secara bergantian pada memek dan dubur. Akibat tontonan itu, muncul keinginan untuk mencobanya. Sampai akhirnya dapat terealisasikan. Dan memang luar biasa sensasinya. Kini kocokan dalam duburnya aku naikan temponya dengan lebih cepat. Desah dan erangan Bu Suti sambil menahan perih terdengar menggema di seluruh ruangan kamarku.

    “aaaaahhhhhh sssshhhhhh aaaauuuuuuwwwww sssshhhhhh.” desah dan erangan Bu Suti merasakan sensasi baru yang aku berikan.

    Cukup lama aku mengentot duburnya, Bu Suti tiba-tiba mengejang-ngejang sambil melenguh panjang. Aku baru tahu kalau dengan cara mengentot liang dubur pun ternyata dapat membuat orgasme. Duburnya ikut berkedut-kedut dan mencengkram kuat-kuat kontolku. Sehingga aku pun merasakan sensasi gatal dan geli menggelitik kontolku. Hingga aku kembali mempercepat gerakanku untuk memburu orgasme.

    “ooooouuuuuwwwwwhhhh aaaaaaaaaahhhhh sssshhhhhhhhhh.” lenguhan Bu Suti yang dilanda orgasme.
    “aaaaaaaahhhhhhh ooooouuuuhhhhh!” lenguhanku sambil memuncratkan sperma sebanyak-banyaknya dalam dubur Bu Suti.

    Usai sperma terkuras habis, aku cabut perlahan kontolku ke luar dari duburnya. Terlihat cairan spermaku mengalir dari liang duburnya begitu banyaknya. Aku merasakan badanku cukup lemas sehingga aku baringkan tubuhku di samping Bu Suti. Kemudian ia berbalik badan mengarahku. Seperti yang pernah ia lakukan dahulu, ia menciumi pipi dan wajahku. Aku tersenyum dan balas mengecup bibirnya sambil merasakan pegal dan agak ngilu di kontolku akibat ngentot duburnya. Tiba-tiba, telephone rumahku berdering. Aku segera bangkit untuk mengangkat telephone. Rupanya temanku Dendy yang telphone. Ia menelphone sebab, aku tidak masuk sekolah. Sungguh perhatian sekali kawan dekatku ini.

    Ketika asik berbincang di telphone dengan kawanku, Bu Suti kemudian ke luar dari kamar. Ketika melintas di belakangku, ia berbisik, “pinjam handuknya ya dek, ibu mau mandi dulu. Ini sprei kasurnya basah biar ibu cuciin sekalian.

    ” Aku menggangguk mengiyakan. Bu Suti kemudian berlalu meninggalkanku yang masih asik berbincang dengan kawanku.

    Setelah menutup telphone, aku segera ke kamar mandi. Pintunya tidak di kunci oleh Bu Suti. Segera aku buka dan masuk. Bu Suti sedang menyabuni tubuhnya. Seksi sekali.

    “bu, nanti kawanku Dendy akan menginap di sini.” ujarku memberitahukan pada Bu Suti.
    “oh iya, gampang nanti ibu masakin buat kalian berdua.” jawabnya santai sambil menggosok- gosok badannya.
    “kayaknya enak bu jika begituan bertiga.” kataku sambil nyengir.Cerita Sex Dewasa
    “ah kamu, aneh-aneh aja. Begituan sama kamu aja ibu udah kewalahan apalagi ditambah satu lagi.” jawabnya sambil ikut-ikutan nyengir.
    “ya kita coba aja ya bu. Kalau gak malam ini, mungkin besok pagi!” pintaku dengan sungguh- sungguh.
    “gimana nanti ajak dek. Jika ibu udah gak lemes.” jawabnya sambil geleng-geleng kepala.

    Senangnya hatiku walaupun belum mendapat kepastian dari Bu Suti. Setelah mencuci tangan dan kelamin, aku segera ke luar kamar mandi untuk sarapan. Perut lumayan keroncongan setelah melakukan kegiatan mengentot yang banyak makan energi.

  • Cerita Panas Erangan Rini Yang Hot

    Cerita Panas Erangan Rini Yang Hot


    116 views

    Cerita Panas Erangan Rini Yang Hot

    Bulan kemarin dimana aku dimintai tolong mertuaku utk mengambilkan barang di rumah kakak ipar, Santi nama kakakku saat ini dia tinggal sendirian padahal dia sudah menikah tp saat ini pisah ranjang dgn suaminya karena kerja di luar kota.

    Setibanya disana jam 7 malam aku mengetuk pintunya karena pagarnya terkunci, tak lama kemudian Santi datang dan menemui dan dia tdk tahu kalau aku datang kerumahnya.

    “Ehh kamu Jef, maaf pintunya udah saya gembok soalnya Santi takut karena di rumah sendirian “sautnya.

    Aku melihat tubuh Santi dia sedang memakai daster tipis karena waktu itu malam dan dia hendak tidur, daster Yg dia pakai mempunyai potongan leher Yg lebar dgn model tangan ‘you can see’. -ngentot ipar-

    Kemudian kami berdua ngobrol-ngobrol sambil duduk bersebalahan di sofa ruang tengah. Selama ngobrol, Santi sering mondar-mandir mengambil minuman dan snack buat kita berdua. Setiap dia menyajikan makanan atau minuman di meja, Secara tdk sengaja aku mendapat kesempatan melihat kedalam dasternya Yg menampilkan kedua buah dadanya secara utuh karena Santi tdk memakai bra lagi dibalik dasternya.

    Santi memang lebih cantik dari istriku, Tubuhnya mungil dgn kulit Yg putih mulus dan rambut Yg hitam panjang tergerai. Walaupun sudah kawin cukup lama tp karena tdk punya anak tubuhnya masih terlihat seksi. buah dadanya Yg kelihatan olehku, walaupun tdk terlalu besar tetapi tetap padat dan membulat.

    Melihat pemandangan begini terus-menerus aku mulai tak bisa berpikir jernih lagi dan puncaknya tiba-tiba kudekap dan tindih Santi di sofa sambil berusaha menciumi bibir tipisnya dan meremas-remas buah dadanya.

    Santi terkejut dan menjerit,

    “Jef, apa-apaan kamu ini!”.

    Dia mencoba berontak, menampar, mencakar dan menendang-nendang. Tp perlawanannya membuat birahiku semakin memuncak apalagi akibat gerakannya itu pakaiannya menjadi makin acak-acakkan dan semakin merangsang.

    “Breett..”, daster bagian atas kurobek ke bawah sehingga sekarang kedua buh dadanya terpampang dgn jelas.

    Pentilnya Yg berwarna coklat tua terlihat kontras dgn kulitnya Yg putih mulus.

    Santi terlihat shock dgn kekasaranku, perlawanannya mulai melemah dan kedua tangannya berusaha menutup dadanya Yg terbuka.

    “Jef.., ingat, kamu itu adikku..”, rintihnya memelas.

    Aku sudah tdk mempedulikan rintihannya dan terus kutarik daster Yg sudah robek itu ke bawah sekaligus dgn cd nya Yg sudah aku tdk ingat lagi warnanya. Sekarang dgn jelas dapat kulihat memeknya Yg ditumbuhi dgn bulu-bulu hitam Yg tertata rapi.

    Setelah berhasil menelanjangi Santi, kulepaskan pegangan pada dia dan berdiri di sampingnya sambil mulai melucuti bajuku dgn tenang.

    Santi mulai menangis sambil meringkuk di atas sofa sambil sebisa mungkin mencoba menutupi tubuhnya dgn kedua tangannya. Saat itu otakku mulai jernih kembali menyadari apa Yg telah kulakukan tp pada titik itu, aku merasa tdk bisa mundur lagi dan aku putuskan utk berlaku lebih halus.

    Setelah aku sendiri bugil, kubopong Santi ke kamarnya dan kuletakkan dgn lembut di atas ranjang. Dgn halus kutepiskan tangannya Yg masih menutupi buah dadanya dan memeknya, kemudian aku mulai menindih badannya.

    Santi tdk melawan. Santi memalingkan muka dgn mata terpejam dan menteskan air mata setiap kali aku mencoba mencium bibirnya. Gagal mencium bibirnya, aku teruskan kebawah menciumi telinga, leher dada dan berhenti utk mengulum puting dan meremas-remas buah dada satunya lagi. Santi tdk bereaksi.

    Aku lanjutkan petualangan bibirku lebih ke bawah, perut dan memeknya sambil merentangkan pahanya lebar-lebar terlebih dahulu. Aku mulai dgn menjilati dan menjilat clitorisnya. Santi mulai bereaksi. Setiap kuhisap clitorisnya Santi mulai mengangkat pantatnya mengikuti arah hisapan.

    Kemudian dgn lidah, kucoba membuka labia minoranya dan menggoyangkan lidahku pada bagian dlm lubang kenikmatan nya. Tangan Santi mencekram kain sprei sambil menggigit bibir. Ketika memeknya mulai basah kumasukkan jari menggantikan lidahku Yg kembali berpindah ke puting buah dadanya.

    Mulanya hanya 1 jari kemudian disusul 2 jari Yg bergerak keluar masuk lubang kenikmatan nya. Santi mulai mendesah dan memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan. Sekitar 2 atau 3 menit kemudian aku keluarkan jari-jariku dari lubang kenikmatannya.

    Merasakan ini, Santi membuka matanya (Yg sejak tadi selalu tertutup) dan menatapku dgn pandangan penuh harap seakan ingin diberi sesuatu Yg sangat berharga tp tdk berani ngomong. Aku segera merubah posisi badanku utk segera menyetubuhinya. Melihat posisi ‘tempur’ seperti itu, pandangan matanya berubah menjadi tenang dan menutup kembli matanya.

    Kuarahkan k0ntolku ke bibir memeknya Yg sudah berwarna merah matang dan sangat becek itu. Secara perlahan k0ntolku masuk ke liang senggamanya dan Santi hanya mengigit bibirnya. Tiba-tiba tangan Santi bergerak memegang sisa batang k0ntolku Yg belum sempat masuk, sehingga penetrasiku tertahan.

    “Jef, kita tak seharusnya melakukan ini..”, Kata Santi setengah berbisik sambil menatapku.

    Tp waktu kulihat matanya, tak terlihat ada penolakkan bahkan lebih terlihat adanya birahi Yg tertahan. Aku tahu dia berkata begitu utk berusaha memperoleh pembenaran atas perbuatan Yg sekarang jadi sangat diinginkannya.

    “Tdk apa-apa ‘Na, kita kan bukan saudara kandung”, Jawabku.
    “Nikmati saja dan lupakan Yg lainnya”.

    Mendengar perkataanku itu, Santi melepaskan pegangannya pada k0ntolku Yg sekaligus aku tangkap sebagai instruksi utk melanjutkan ‘perkosaannya’. Dlm ‘posisi biasa’ itu aku mulai memompa Santi dgn gerakan perlahan, setiap kali k0ntolku masuk, aku ambil sisi lubang kenikmatannya Yg berbeda sambil mengamati reaksinya.

    Dari eksperimen awal ini aku tahu bahwa bagian paling sensitif dia terletak pada dinding dlm bagian atas Yg kemudian menjadi titik sasaran k0ntolku selanjutnya.

    Cara ini ternyata cukup efektif karena belum sampai 2 menit Santi sudah orgasme, tangannya Yg asalnya hanya meremas-remas sprei tiba-tiba berpindah ke bokongku. Santi dgn kedua tangannya berusaha menekan bokongku supaya k0ntolku masuk semakin dlm, sedangkan dia sendiri mengangkat dan menggoyangkan bokongnya utk membantu semakin membenamnya k0ntolku itu. Utk sementara kubiarkan dia mengambil alih.

    “mmmppphhh.., sshh.., aahh”, rintihnya berulang-ulang setiap kali k0ntolku terbenam.

    Setelah Santi mulai reda, inisiatif aku ambil kembali dgn merubah posisi badanku utk style ‘pumping flesh’ utk mulai memanaskan kembali birahinya Yg dilanjutkan dgn style ‘stand hard’ (kedua kaki Santi dirapatkan, kakiku terbuka dan dikaitkan ke betisnya).

    Style ini kuambil karena cocok dgn cewek Yg bagian sensitifnya seperti Santi dimana memek Santi tertarik ke atas oleh gerakan k0ntol Yg cenderung vertikal. Santi mengalami dua kali orgasme dlm posisi ini.

    Ketika gerakan Santi semakin liar dan juga aku mulai merasa akan ejakulasi aku rubah stylenya lagi menjadi ‘frogwalk’ (kedua kaki Santi tetap rapat dan aku setengah berlutut/berjongkok).

    Dlm posisi ini setiap kali aku tusukkan k0ntolku, otomatis memek sampai pantat Santi akan terangkat sedikit dari permukaan kasur menimbulkan sensasi Yg luar biasa sampai pupil mata Santi hanya terlihat setengahnya dan mulutnya mengeluarkan erangan bukan rintihan lagi.

    “Santi, aku sudah mau keluar. Di mana keluarinnya?”, Kataku sambil terus mengocok secara pelan tp dlm.
    “di dlm saja, aauuhh.., jangan pedulikan”, Santi mejawab ditengah desahan kenikmatannya.
    “Aku keluar sekarraang..”, teriakku.

    Aku sodok memeknya keras-keras sampai terangkat sekitar 10 cm dari kasurnya dan sperma tersemprot dgn kerasnya Yg menyebabkan utk sesaat aku lupa akan dunia.

    “Jangan di cabut dulu Jef..”, bisik Santi.

    Sambil mengatur napas lagi, aku rentangkan kembali kedua paha Santi dan aku kocok k0ntolku pelan-pelan dgn menekan permukaan bawah memek pada waktu ditarik. Dgn cara ini sebagian sperma Yg tadi disemprotkan bisa dikeluarkan lagi sambil tetap dapat menikmati sisa-sisa birahi. Santi menjawabnya dgn hisapan-hisapan kecil pada k0ntolku dari memeknya

    “Jef, kenapa kamu lakukan ini ke Santi?”, tanJefya sambil memeluk pinggangku.
    “Kamu sendiri rasanya gimana?”, aku balik bertanya.

    “Awalnya kaget dan takut, tp setelah kamu berubah memperlakukan Santi dgn lembut tiba-tiba birahi Santi terpancing dan akhirnya turut menikmati apa Yg belum pernah Santi rasakan selama ini termasuk dari suami Santi”, Jawabnya.

    Kita kemudian mengobrol seolah-olah tdk ada kejadian apa-apa dan sebelum pulang kusetubuhi Santi sekali lagi, kali ini dgn sukarela.

    Sejak kejadian itu, aku ‘memelihara’ kakak iparku dgn memberinya nafkah lahir dan batin menggantikan suaminya Yg sudah tdk mempedulikannya lagi.

    Santi tdk pernah menuntut lebih karena istriku adalah adiknya dan aku membalasnya dgn menjadikan ‘pendamping tetap’ setiap aku pergi ke luar kota atau ke luar negeri.

  • Cerita Panas Mbak Dian yang Aduhai

    Cerita Panas Mbak Dian yang Aduhai


    90 views

    Cerita Panas Mbak Dian yang Aduhai

    Kejadian ini terjadi tepatnya pada tahun 2006, nama gue Donny Suhendra… Gue berasal dari suatu keluarga yang cukup berada di bilangan Jakarta Timur. Gue merupakan anak ke empat dari lima bersaudara yang sekarang berumur 25 tahun… gue punya pembokat namanya Dian yang sampai sekarang masih setia ngabdi di keluarga gue semenjak masih gadis hingga udah menikah dan kemudian cerai dengan suaminya.

    Kriteria pembokat gue dengan postur body menantang toket ukuran 36 B plus bokong yang bak bemper yang padet, tinggi badannya kira kira 160 dan berkulit putih…. karena pembantu gue ini orang asal Kota Bandung, umurnya sekarang kira kira 29 tahun. silakan bayangkan gimana bodynya, gue aja kalo liat dia lagi ngepel langsung otomatis dede yang di dalem celana langsung mengeliak saat bongkahan dadanya memaksa keluar dari celah kerah bajunya.

    Terkadang di pikiran gue terlintas pemikiran kapan yang bisa nyicipin tubuh montok pembokat gue yang aduhai itu… udah naga bonar gak bisa di ajak kompromi lagi, liat sedikit aja langsung bangun dari tidurnya…

    Pernah suatu hari gue lagi mau ganti baju di dalam kamar pas waktu itu gue lupa ngunci pintu… tiba tiba gue kaget pembokat gue masuk tanpa ngetuk ngetuk lagi, mungkin dia pikir udah lama kerja sama keluarga gue n udah kenal gue dari gue masih SD…

    “Eh…, lagi ganti baju ya… Donn” kata pembantu gue sambil buka pintu kamar gue tanpa ada rasa kegelisahan apa apa saat liat gue gak pake apa apa… cuma tinggal CD aja yang belom gue lepas.

    “Mbak, ketok dulu dong kalo mau masuk kamar Donny… gimana kalo pas masuk Donny lagi telanjang…” celetuk gue sama dia
    “Emangnya kenapa sih Donn, saya kan udah lama kerja di keluarga Donny… ,lagian’kan waktu masih SD juga kamu suka pake CD aja kalo di rumah…”. Kata Dian sama gue yang kayaknya acuh terhadap posisi gue yang telanjang.

    “Mbak… itu’kan dulu, waktu saya masih SD. Sekarang’kan saya sudah besar… Mbak memang gak malu yah liat saya kalo telanjang bulat gak pake apa apa…” celetuk asal keluar dari mulut.

    “Iiiihhh…. malu gapain… lagian saya juga gak mau liat… yah udah sana kalo mau ganti baju, mbak mau beresin kamar kamu nih yang berantakan mulu tiap hari kayak kandang sapi…”

    Karena dia menjawab dengan rasa yang tidak keberatan kalo gue ganti baju disaat ada dia. Dengan santai gue mulai turunin CD gue yang nutupin kont*l gue yang udah mulai agak kenceng dikit…

    Tanpa sengaja gue tangkap lirikan matanya yang memandang ke arak selangkangan gue yang di tumbuhin rambut yang lebat…

    “Nah… tuh ngeliatin mulu… katanya tadi mbak Dian gak mau liat, sekarang liat mulu…”
    “Siapa yang liat… wong saya lagi beresin sprei yang berantakan ini kok…” bantah dia karena malu mungkin kepergok ngelihat kearah selangkangan gue.

    AKhirnya gue tinggal dia di dalam kamar gue yang sedang beresin kamar gue yang berantakan itu, di luar gue jadi teringat gimana yah caranya buat bisa nikmatin tubuh pembantu gue yang bahenol ini… dan gue rasa dia juga kayaknya penasaran sama kont*l gue yang gede ini… buktinya beberapa kali gue pergokin dia ngelirik terus kearah gue.

    Pas suatu hari libur, hari minggu keluarga gue pada pergi ke rumah kerabat gue yang mau nikahin anaknya.

    “Donny… kamu mau ikut gak. Mama semuanya mau pergi ke pesta pernikahan anaknya tante Henny di Bandung…”. Tanya Mama gue.

    “Kapan pulangnya Ma,…” Jawab gue sambil ngucek ngucek mata karena baru bangun…

    “Mhhhmmm,… mungkin 2 hari deh baru pulang dari Bandung, kan capek dong Donn… kalo langsung pulang…
    kamu tanya kapan pulang, kamu mau ikut gak… atau mau di rumah saja” tanya mamaku kembali…

    “Kayaknya dirumah aja deh Ma… abis capek ah, jauh… lagian besok Donny ada acara sama teman teman Donny…” jawab

    ku seraya kembali membenamkan kepalaku kembali ke bantal…
    “Yah udah… mama mau berangkat jalan kamu baik baik yah jaga rumah… mau apa minta aja sama Mbak dian…”
    “Dian… Dian… Dian…” panggil Mamaku
    “Iyah Nyah…, Maaf saya lagi nyuci.

    Kurang denger tadi Nyonya panggil. Kenapa Nyah…” Jawab Mbak Dian Sambil datang dari belakang yang ternyata sedang cuci baju… baju yang dikenakan sebetulnya tidaklah menantang, namun

    karena terkena air sewaktu mencuci menjadi bagian paha dan dadanya seakan transparan menantang…
    “Dian… kamu jaga rumah yah selama saya dan tuan pergi ke Bandung”
    “Iyah Nyah… ,” jawab kembali pembokat gue itu ke mama gue…

    Setelah kira kira selang beberapa jam setelah keberangkatan mamaku… akhirnya aku keluar dari kamar hendak buang air kecil.

    Perlu Bro Bf ketahui jarak antara tempat pembantu gue nyuci sama kamar mandi deket banget… waktu gue jalan ke kamar mandi, gue liat pembantu gue yang lagi nyuci baju dengan posisi duduknya yang buat naga di dalam cd gue bangun…
    Pembantu gue pake T shirt putih yang tipis karena dah lama di tambah lagi kaosnya kena air, secara langsung keliatan jelas banget BH krem yang dipake pembantu gue berserta paha mulusnya yang udah agak terbuka karena duduknya hingga keliatan CD putihnya…

    “Anjriiit, mulus juga nih pembantu gue meskipun udah janda anak satu tapi dari paha dan teteknya masih keliatan kenceng, kayak cewek yang belum pernah kesentuh sama laki laki”.oceh gue dalam hati sambil kencing trus ngelirik ke pahanya yang mulus itu.
    Sambil kencing gue mikir gimana caranya buka omongan sama pembantu gue, biar gue bisa agak lamaan liat CD dan teteknya yang aduhai itu… pantes banyak tukang sayur selalu suka nanyain Mbak Dian mulu kalo tiap pagi…
    “Mbak gimana kabar Ani, sekarang udah umur berapa… Mbak Dian kok bisa sampai cerai sih sama suaminya”Iseng gue tanya seputar hubungan dia sama mantan suaminya yang sekarang udah cerai, dan kenapa bisa sampai cerai… gugup juga sih gua waktu nanyanya kayak gue nih psikolog aja…

    “Kok tiba tiba Donny tanya tentang itu sih sama Mbak… ”
    “Gak pa pa kan Mbak… “

    “Anak mbak sekarang udah umur lima tahun, mbak cerai sama suami mbak karena dia pengangguran… mau nya enak doang.
    Mau bikinnya tapi gak mau besarin. Yah… lebih baik mbak minta cerai aja. masa sih mbak sendiri yang banting tulang cari uang,

    sedangkan suami mbak cuman bangun, makan, main judi sampai subuh… males Donn punya suami pengangguran, lebih baik
    sendiri… sama aja kok” Jawab pembantu ku panjang lebar, seraya tangannya tetap membilas baju yang sedang ia cuci.

    Ini dia masuk ke dalam dialog yang sebenarnya… akhirnya pembicaraan yang gue maksud agar gue arahin pembicaraan hingga tentang persoalan hubungan intim.

    “Lah… bukannya enakan punya suami, mbak… daripada gak ada…”
    “Enak dari mananya Donn… punya suami sama gak punya sama aja ah…”
    “Loh beda dong mbak…”
    “Beda dari mananya Donn… coba jelasin, aah kamu ngomongnya kayak kamu dah pernah ngerasain menikah aja sih Donn…” tanya pembantuku sambil bercanda kecil.

    “Yah beda lah mbak… dulu kalo masih ada suami kan kalo lagi pengen tinggal minta sama suami mbak… sekarang udah cerai

    pas lagi pengen… mau minta sama siapa…” Jawab gue sambil menjuruskan kalimat kalimat yang gue tuju ke hal yang gue inginin.

    “Maksud Donny apa sih… mau apa. Ngomongnya jangan yang bikin mbak bingung dong Donn…”

    “Gini mbak, maksudnya apa mbak gak pernah pengen atau kangen sama ini nya laki laki…” waktu gue ngomong gitu sambil gue turunin dikit celana pendek gue, trus gue keluarin punya gue ngadep ke depan mukanya…

    “Iiih gede banget punya kamu Donn… punya mantan suami mbak sih gak begitu gede kayak gini…” Jawab mbak dian sambil melotot ke kont*l gue yang udah Super tegang, karena dari tadi udah minta di keluarin.

    “Kangen gak sama Kont*l laki laki mbak…” tanya kembali saya yang sempat membuyarkan pandangan mbak dian yang dari
    setadi tak lepas memandang kont*lku terus.
    “…… waduh mbak gak tahu deh Donn…, kalo punya mbak dimasukin sama punya kamu yang gede kayak gini. Gimana rasanya mbak gak bisa ngebayangin…”

    “Loh… mbak saya kan gak tanya apa rasanya di masukin sama punya saya yang lebih gede dari punya mantan suami mbak. Saya kan cuman tanya apa mbak gak kangen sama punyanya laki laki”Padahal didalam hati gue udah tahu keinginan dia yang pengen ngerasain kont*l gue yang super size ini…

    “mmmmhhhhh… maksud mbak dian sih… yah ada kangen sama punya laki laki… tapi kadang kadang mbak tahan aja, abis
    mbak kan dah cerai sama suami… ” jawab mbak dian yang keliatan di pipinya merona karena merasa jawabannya ngawur
    dari apa yang gue tanyain ke dia”

    “Mbak… boleh gak saya pegang tetek mbak ”
    “Iiihh… Donn kok mintanya sama mbak sih, minta dong sama pacar Donny… masa sama mbak…”
    “Yah… gak pa pa sih, saya mau ngerasain begituan sama mbak dian… gimana sih begitu sama ce yang udah pernah punya
    anak… boleh yah mbak… ” kata gue sambil mendekatkan kontol gue lebih dekat ke mulutnya…

    “iiih donny… punya kamu kena mulut mbak nih… memangnya kamu gak malu gituan sama mbak dian…” jawab mbak dian sambil merubah posisi duduknya sambil menghadap ke kont*l gue dan ngelepasin baju yang sedang dia bilas…

    “Yah gak lah kan gak ada yang tahu… lagian kan gak ada yang tahu, kan sekarang gak ada orang selain mbak dian sama saya” jawab gue sambil yakinin ke dia, biar di mau kasih yang gue pengen.

    “Tapi jangan keterusan yah… trus kamu mau di apain sama mbak…”
    “Mbak mulutnya di buka dikit dong, saya mau masukin punya saya ke dalam mulut mbak dian…”
    “Iih… gak ah jijik… masa punya kamu di masukin ke dalam mulut mbak… mbak gak pernah lakuin kayak gini sama mantan
    suami mbak, gak ahh… ” tapi posisi tangannya sekarang malah megang kont*l gue sambil ngocok ngocok maju mundur.
    “Cobain dulu mbak enak loh… anggap aja mbak dian lagi kemut permen lolipop atau es krim yang panjang” rayu gue ngarep mbak dian mau masukin kontol gue ke dalam mulutnya yang mungil itu.
    Akhirnya permintaan gue diturutin tanpa banyak ngomong lagi mbak dian majuin mukanya kearah kontol gue yang udah

    super tegang itu kedalam mulutnya yang mungil… sementara dia kemut kontol gue maju mundur yang terkadang di selingin jilatan jilatan yang bikin gue pegang kepalanya trus gue tarik maju hingga kepala kontol gue mentok sampe kerongkongan mbak dian.

    “Ooooooh… mbak emut truuuus mbak…. ennnnak banget” sambil tangan gue mulai turun megang tet*knya yang mengoda itu.

    Tangan gue masuk lewat kerah kaosnya, trus langsung gue remes kera tet*knya… Tangan mbak dian juga kayaknya gak mau

    kalah sama gue. Dia malah makin ngedorong pantat gue dengan tangannya hingga hidungnya nempel sama jembut gue…

    Karena tempatnya kurang tepat untuk bertempur lalu gue ajak mbak dian ke ruangan tengah sambil ngemut kontol gue jalan ke ruangan tengah. Perlu di ketahui mbak dian merangkak seperti ****** yang haus sex gak mau lepas dari kontol gue, merangkak berjalan ngikutin langkah kaki gue yang mundur ke arah ruang tengah.

    Gue liat mulutnya yang mungil sekarang terisi kontol gue… tangannya sambil remas remas buah dadanya sendiri…

    ” Mbak dian lepasin dulu dong kontol saya, buka dulu baju mbak dian. Entarkan mbak juga nikmatin sepenuhnya punya saya…”

    ” Donnn…. punya kamu enak banget… mbak kira dari dulu jijik kalo liat ce ngemut punyanya cowok… ehh ternyata nikmatnya bener bener bikin ketagihan Donn…”

    Dengan cepat cepat mbak dian membuka seluruh baju dan roknya yang tadi basah karena kena air… Wooow, sungguh pemandangan yang sangat indah… kini di hadapan gue telah ada seorang wanita yang telanjang tanpa tertutup sehelai benang… berjalan menghampiri gue dengan posisi doggie style mbak dian kembali memasukkan kontol gue ke dalam mulutnya yang mungil itu.

    Dengan jels bisa gue liat buah dada yang gelantungan dan bongkahan pantat yang begitu padat, yang slama ini udah banyak bikin kontol gue penasaran pengen di selipin diantara bongkahan itu… nafas suara mbak dian semakin lama semakin membara terpacu seiringin dengan birahi yang selama ini terkubur di dalam dirinya. Sekarang terbangun dan mendapatkan suatu kepuasan seks yang selama ini ia tahan tahan.

    Sementara mbak dian ngemut kontol gue, gue remas tet*knya yang menantang itu terkadang gue pegang MQ nya yang ternyata udah banjir oleh cairan kenikmatan.

    Gue tusuk tusuk jari tengah gue ke dalam memeknya hingga mbak dian ngeluarin desahan sambil meluk pantat gue…

    ” Mmmmhhhhh….. ooooooohhhhhh……” desahannya begitu menambah gue buat semakin cepat menusuk nusuk liang kenikmatannya semakin cepat.

    “Donnn…..OOooooohhhh…. Donnn… enak donnn… enak….” Desahan mbak dian benar benar membuat semakin terangsang… tusukan jari yang gue sodok sodok pun semakin gencar…

    ” Aaaaaahhhh…. Donnnyyyyyy…. OOOhhhhh Dooooonnn… mbakkkkk….. mmmmbb….. klllluuuaar… ” bersamaan dengan desahan mbak Dian yang panjang, akhirnya mbak Dian telah mencapai puncak kenikmatannya yang terasa di jari tengah yang gue sodok sodok ke lubang MQ nya waktu mbak Dian menyemprot cairan kenikmatannya….

    Karena mbak Dian telah mengalami organismenya yang pertama, maka Gue pun tak mau kala. Irama sodokkan kontol gue percepat kedalam mulut mbak Dian berkali kali hingga desahan panjang gue pun mulai keluar yang menandakan sperma gue akan muncrat… anuanuan.gif

    ” Mbak Donny mau kkkkelllluaaar…. aaaaahhhh…. sedot mbak… sedot peju Donny…. ” kata gue sama Mbak Dian sambil menahan kepalanya untuk memendamkan kontol gue hingga masuk ke tenggorokannya. Namun Mbak Dian meronta ronta tidak menginginkan sperma gue keluar di dalam mulutnya… sia sia rontahan mbak Dian Sperma gue akhirnya keluar hingga penuh di dalam mulutnya.

    Crroooot…. Crooot… crooot… crotz.gif akhirnya Gue semburkan berkali kali peju gue di dalam mulut mbak Dian. Meskipun pada saat Mbak Dian tidak ingin menelan Sperma gue namun gue memaksanya untuk menelannya dan menikmati Sperma gue yang segar itu.

    Posisi mbak Dian masih sama seperti sebelumnya, namun sekarang kakinya seperti kehilangan tenaga untuk menahan berat badannya mengalami kenikmatannya… dari sela sela bibirnya mengalir sisa spermaku yang di jilat kembali. Tubuh mbak Dian kini terkapar tak berdaya namun menampilkan sosok wajah penuh dengan kepuasan yang selama ini tak ia dapatkan.

    Melihat expresi wajahnya membuat gue kembali semakin nafsu… karena dari tadi gue anggap hanyalah pemanasan.

    Gue berjalan mendekat ke tubuh mbak dian yang sedang lemes… trus menelentangkan posisi tubuhnya dan gue rengangkan kedua belah pahanya. Dengan tangan sebelah kanan gue genggam kontol gue yang udah tegang terus menerus mengesek gesekan kepala kontol gue di atas permukaaan Mem*k mbak dian yang udah licin, basah karena cairan kenikmatan milik mbak dian. Saat Gue mau menjebloskan kontol gue yang udah menyibak bibir memeknya, tiba tiba mbak dian menahan dada gue dan berharap gue gak masukin kontol gue ke dalam memeknya yang sudah lima tahun gak pernah terisi sama kontol laki laki…

    Karena saat itu nafsu gue udah sampe otak, gue dah gak perduli lagi sambil tetap ngeliat ke bawah tempat dimana kontol gue sekarang akan menembus liang kenikmatan yang sungguh sungguh mengiurkan…

    “Tenang mbak tahan dikit… saya ngerti mungkin kontol saya terlihat terlalu besar dibandingkan memek mbak. Tapi nanti disaat udah masuk kedalam memek mbak… nikmatnya akan 10x lipat nikmat yang pernah mbak dian rasain sama mantan suami mbak…” gue bisa liat di matanya takut saat detik detik gue akan menghujang basoka yang besar ini kedalam memeknya yang terbilang sempit…

    ” Dooonnnn….. peeellllannn… mbak ngeri liat punya kamu yang besar banget itu…. ” kata mbak Dia sambil melirik ke arah basoka rambo yang siap mengaduk gaduk isi memeknya.

    ” Iya… Donny coba pelan pelan masukin nya… mbak tahan dikit yah… mungkin karena dah lama aja mbak kali mbak… ” kataku kembali kepada mbak Dian seraya meyakinkan hatinya.

    Sambil kembali menaikkan kembali libidonya, gue gesek gesek kepala kontol gue tepat diatas bibir memeknya yang mulai kembali basah sama cairan kewanitaannya. Terkadang gue selipin sedikit demi sedikit ke dalam liang memeknya mbak Dian, lalu gue tarik kembali dan mengesekkan kembali ke itil nya yang merah segar itu.

    sleep…sleep… sleeep… mungkin sangkin basahnya memek mbak Dian hingga mengakibatkan suara seperti itu….

    ” hhmmmmm… eeee… ssstttt….. Donnn… Donnn… Kamu apain punya mbak Dian. ” tanya mbak Dian sambil matanya terpejam mengigit bibir bawahnya sendiri…

    ” Donn… udah dong… jangan bikin mbak Dian kayak gini trus…. masukkin aja Donn “

    ” Mbak mohon kasihan kamu… entot*n mbak… mbak gak tahan lagi… ooohhh… eemmmm… ” rengge mbak Dian sama gue mengharap segera kontol gue masuk ke dalam memeknya dan memompa dia.

    ” Tahan mbak yah… ” lalu tanpa menunggu jawaban selanjutnya ku tancapkan seluruh batang kontol gue yang udah dari tadi mau mengobok gobok isi memeknya.

    ” Doooooonn…… ” sahut mbak Dian di saat pertama gue terobos memeknya, tangannya langsung merangkul leher gue. Seperti orang yang mengantungkan setengah badannya.

    ” Pelan… pelan… Donn… nyeri… bannngeet …”

    Namun gue gak sahutin ucapan mbak Dian, karena gue lagi nikmatin sesuatu yang memijit kontol gue yang terkadang menyedot yedod kontol gue ini. Rasanya begitu nikmat hingga gue tanjap lagi lebih dalam sampai terasa kontol gue mentok di dasar rahim mbak Dian yang motok ini.

    Desahan liar mbak Dian pun semakin tak karuan… terkadang dengan tangannya sendiri mbak Dian memelintir puting susunya yang udah mengeras…

    ” Gimana Mbak masih sakit… sekarang rasanya apa… enak gak mbak… ” tanya ku kepada mbak Dian setelah gue liat raut mukanya yang penuh dengan expresi kenikmatan. Gerakkannya dan goyangan pinggulnya yang mengikuti irama enjotan gue pun semakin lama semakin liar. Kadang kadang pantatnya di hentakkan ke atas yang berbarengan dengan sodok sodokkan yang gue hujam ke memeknya.

    ” Donnn… Donnn… kamu hebat banget… Donnnn….”

    ” Donnn… mmmmmaaauuu… mmmmmbbbaaakk keluar lagi nih… OOOOOoooooohhh ” Cengkraman tangannya di punggungku dan lipatan kedua kakinya pada pinggangku bersamaan dengan erangan panjang yang menandai bahwa mbak

    Dian akan menyemburkan air maninya untuk kedua kalinya…

    Karena gue masih ngaceng dan semakin bertambah bernafsu setelah ngeliat raut muka seorang janda beranak satu ini merasa kepuasaan, lalu tanpa banyak buang waktu lagi.

    Gue langsung membalikkan tubuh mbak Dian dan memintanya untuk menungging, ternyata mbak Dian tanpa bertanya kembali ia menuruti permintaan gue yang ingin cepat cepat menghajar kembali memeknya…

    ” Donnn, kamu memang hebat Donn… mbak baru pertama kali di entot sama laki laki lain selain mantan suami mbak sendiri “

    ” Donnn, sekarang kamu mau apain aja mbak ikutin aja… yang penting mbak bisa ikut nikmatin peju kamu Donn… ” kata mbak Dian sambil mempersiapkan memeknya dengan membersihkan memeknya dari cairannya sendiri yang mengalir hingga di kedua pangkal pahanya. Beberapa kali ia seka memeknya sendiri hingga bersih dan terlihat kering kembali… dan siap untuk di santap kembali.

    Sekarang di hadapan gue mbak Dian sudah siap dengan 2 pasang bongkahan pantatnya yang masih kenceng, dengan posisi kepalanya lebih rendah dari pada pantatnya. Liang kewanitaannya seakan akan menantang kontol gue untuk memompa memeknya mbak Dian kembali…

    Jelas terlihat belahan bibir memeknya yang membuka sedikit mengintip dari celah daging segar karena barusan gue entot.

    Dengan tangan sebelah kanan gue pegang batang kontol gue dan tangan sebelah kirinya gue membuka belahan pantatnya yang mulus sambil terkadang gue usap permukaan memeknya yang tandus bukan karena suka di cukur namun memang sudah keturunan, setiap wanita dikeluarga tidak akan memiliki bulu/jembut pada memek. Sungguh indah sekali pemandangan yang terpampang, memek yang mengiurkan terjepit oleh dua bongkahan pantatnya yang bahenol itu.

    Kumajukan kontol gue hingga menempel di permukaan memek mbak Dian, mengorek gorek permukaan memeknya dengan kepala kontol gue. Ternyata apa yang gue lakukan ini sangat dinikmati oleh mbak Dian sendiri… yang terkadang selalu mendesah setiap kali bibir memeknya tersibak karena gesekan kepala kontol gue.

    Lalu dengan gerakan perlahan gue tusuk memek mbak Dian perlahan biar sesasi yang timbul akan semakin nikmat disaat itilnya ikut masuk bersama dengan dorongan kontol gue yang mulai terpendam.
    ” Geli banget Donn rasanya… tapi lebih enak Donn rasanya daripada sebelumnya… “

    ” Donn… lebih keras…. Donn… entot*n mbak… puasin mbak Donn… ” pinta mbak Dian sembari memeras buah dadanya sendiri.

    ” Donn… lagiii… laggiii… Donn… lebiiihhh.. kencenggg lagi… ” pinta kembali mbak Dian sambil mulutnya yang ter engap engap seperti ikan yang baru saja keluar dari air.

    Hujangan kontol ku kini semakin cepat dan semakin gencar ke dalam memeknya… hingga menimbulkan suara suara yang terjadi karena sodokan sodokan kontol gue itu. Tingkat aktivitas yang gue lakukanpun kini semakin gencar. Tangan gue memeras buah dada mbak Dian hingga erangan mbak Dian pun semakin menjadi tak kala hentakan kontol gue yang kencang mengesek dinding liang kewanitaannya.

    Cukup lama juga gue mengentot*n mbak Dian dengan style doggie ini, hingga gue menyuruh mbak Dian berganti variasi seks. Posisi mbak dian sekarang tidur terlentang namun kakinya menimpa pada kaki sebelahnya dan badannya agak miring, dengan posisi ini memeknya yang terhimpit terlihat seakan membentuk belahan memek.

    Lalu kembali lagi gue masukin kontol gue yang masih keras ini kedalam memek mbak Dian, dengan tangan sebelah gue menahan di pinggulnya. Kali ini dengan mudah kontol gue masuk menerobos liang kewanitaannya, enjotan gue kali ini benar benar nikmat banget karena sekarang posisinya kontol gue serasa di jepit sama pantatnya.

    Setiap dorongan kontol gue menimbulkan sensasi yang lebih di raut muka mbak Dian. Mukanya mendahak ke arah gue sambil memegang lengan tangan sebelah kiri sambil mulutnya terbuka seperti pelacur yang haus kontol kontol para pelanggan setianya.

    ” Mbak… enak gak… kontol Donn… ” tanya gue sama mbak Dian dengan nafas yang telah terengah engah.

    ” Enaaaak… Donnn …. Truuus …. Donnn…. jgan brenti… “

    ” Ngomong mbak Dian kalo mulai saat ini mbak memang pelacur Donn… mbak suka banget sama kontol Donn…” Suruh gue ke mbak Dian buat niru ucapan gue.

    ” Mbak memang pelacur Donnny… kapan aja Donnny mau… mbak layani… sssstt… Dooonn… “

    ” Mbak suka bngeeeeet… koooont*l Donnnnyyy… ennnntot*n mbak Diannn tiap hari Donnnn… entot*n… entot*n…. trussss “

    Mendengar seruan mbak Dian yang tertahan tahan karena nafsu yang besar kini sudah menyelubungi seluruh saraf ditbuhnya, menambah birahi gue semakin memuncak. Menambah gue semakin cepat dan cepat mengentot*n mbak Dian, sampai sampai goyangan buah dadanya seiringan dengan dorongan yang gue berikan ke dalam memek…

    Akhirnya mbak Dian kembali mencapai puncaknya kembali, sambil memasukan jarinya kedalam lubang anusnya sendiri…

    ” Donnnn… mbak.. mmmmau… kllllluaaar laaagi…. ooooooohhh…Doooonnn…. ” erang mbak Dian yang hendak memuncratkan air semakin membuat ku terangsang karena mimik mukanya yang sungguh sungguh mengairahkan.

    Dengan badan yang telah lunglai, mbak Dian terkapar seperti orang yang lemah tak berdaya. Namun pompaan kontol gue yang keluar masuk tetap gak berhenti malah semakin lama semakin cepat.

    Tiba tiba gue ngerasain sesuatu yang berdenyut denyut disekitar pangkal kontol gue. Dengan keadaan mbak Dian yang sudah tidak berdaya aku terus mengentot*n memeknya tanpa memperdulikan keadaan mbak Dian yang sekujur tubuhnya berkeringat karena kelelahan setelah gue entot*n dari setadi.

    ” Mbaaaak… Dooonnn…nyyy mmmaaau.. kkklarrrr… Aaaahhhh…. ” Seruku disaat sesuatu hendak mau menyembur keluar dan terus menerus memaksa.

    Crrrooot… Crrrooot… CCrooot… akhirnya gue tersenyum puas dan mencabut kontol gue dari dalam memek mbak Dian dan menghampiri mbak Dian dan memangku kepalanya dan meminta mbak Dian membersihkan bekas bekas peju gue yang bececeran di selangkangan gue…

    Gak pernah gue sia sia in saat berdua dirumah… setiap saat gue mau, langsung gue entot mbak Dian. Saat mbak Dian lagi ngegosok baju tiba tiba gue sergap dia dari belakang dan langsung buka celananya dan gue entot mbak Dian dalam keadaan berdiri dan slalu gue keluarin di dalam memeknya dan yang terkadang gue suruh mbak Dian sepong kontol gue lalu gue keluarin di dalam mulutnya serta langsung di nikmatin peju gue itu… katanya nikmat manis…

    Hari hari yang sangat sungguh indah selama beberapa hari gue selalu entotin mbak Dian dengan berbagai variasi seks… hingga sampai mbak Dian sekarang hebat dalam mengemut kontol gue… Mbak Dian pun gak pernah menolak saat gue membutuhkan memeknya karena dia juga sudah ketagihan sodokan kontol gue. Sering malam malam mbak Dian suka masuk ke kamar gue dan suka sepongin kontol gue hingga gue bangun dan langsung gue entot mbak Dian.

  • Cerita Panas Mbak Sari

    Cerita Panas Mbak Sari


    147 views

    Cerita Panas Mbak Sari

    Namaku Bagus, waktu itu aku masuh berumur 21 tahunan dan aku bekerja di salah satu perusahaan swasta. Aku datang dari sebuah kota di Jawa Barat. Karena saudara-saudaraku jauh dari tempat kerjaku, terpaksa aku harus mencari tempat kost yg dekat dgn tempat berkerjaku.

    aku mendapatkan tempat kost di wilayah kwitang, jakarta pusat. Lumayan sih tempatnya ngga jelek-jelek banget tp bisa nyenyak tidur, murah lagi sewanya, cuma ya kamar mBagusnya masih bareng-bareng dgn warga sekitar. Kebetulan yg punya kost adalah orangtuanya temen kerjaku.

    Tak terasa hampir 6 bulan sdh aku kost, makin banyak kenal juga aku dgn warga sekitar. Tp herannya kenapa aku susah kenalnya dgn tetangga samping rumah kostku. Kalo ketemu sih saling sapa cuma ngga pernah ngobrol, dia adalah istri seorang pegawai swasta juga, kalo dgn suaminya sih akrab, malah suka nongkrong dan ngobrol-ngobrol bareng ketika santai, sedangkan istrinya yg berwajah cantik yg kebetulah kelahiran daerah Jawa Tengah tdk begitu akrab, padahal kalo berpapasan….oooohhhhh pandangannya itu menjadi tanda tanya bagi insting nakalku….menusuk hati.

    Si istri tersebut bernama Sari, aku memanggilnya Mbak Sari, kegiatan sehari-harinya mengelola salon kecantikan yg tak jauh lokasinya dari tempat kostku. Hampir setiap berpapasan tatapan matanya tak pernah lepas dari pandanganku sampai aku malu sendiri dan kalah pandangan. Dia selalu memandang dgn senyumnya yg manis. Kebetulan memang orangnya hitam manis.

    Pada suatu hari aku pulang larut dari kerjaan, sekitar jam 11 malam, aku selalu melewati daerah kamar mBagus menuju ke kamar kost ku…. terkejut hatiku melihat sosok wanita jongkok sedang cebok.. krecek krecek… krecek bunyi airnya kala itu. Dia tak memperhatikan suasana sekitar dan tak tahu aku sedang mengamatinnya sambil pura-pura membetulkan tali sepatu………. dia langsung bangun dan membetulkan CD-nya setelah cebok. Dag dig dug jantungku melihat pantat mulusnya.

    “Eh..ada orang… kirain sepi”, terkejut dia ketika melihatku….
    “Eh mbaakkk” agak gugup aku,
    “tali sepatuku terlepas mbak… aku kira juga ngga ada orang”, kataku sambil menyeringai agak malu.
    “Hmmmm, betulin sepatu apa hmmmmm”, katanya kepadaku.

    Semakin malu aku dibuatnya..

    “Bagus, kamu ngeliatin mbak yah tadi”, katanya pelan.
    “Engga mbak, emang mbak lagi ngapain”, jawabku.
    “yg benneerrrr”, serunya lagi.
    “Emmm dikit mbak hehehehehehe” kataku sambil nyengir. Tak sadar si otong sdh mengeras, sehingga celana bagian depan menyembul.
    “Dasar kamu tuh yah”, katanya lagi sambil mencubit tanganku dan langsung masuk ke rumahnya.

    Setelah kejadian itu, malamnya aku ngga bisa tidur membayangkan bercinta dgn Mbak Sari. Tak tahan aku, akhirnya onani sambil membayangkan apa yg baru aku lihat beberapa jam yg lalu.

    Semakin hari semakin terbayang wajah Mbak Sari, tak tahan rasanya ingin menyentuh mbak Sari.

    Ketika malam tiba aku duduk santai di depan kamar kostku, aku berharap bertemu mbak Sari, sejam dua jam hingga 9 malam kala itu, terlihat mbak Sari turun dari taxi, berdebar rasa jantungku, memikirkan rencana bagai mana caranya bisa dekat denganya.

    Hampir sampai dia ke dekatku, aku berdiri pura pura mau jalan ke arahnya…. seperti biasa tatapan dan senyumnya yg menggoda menusuk hatiku..

    “Dari mana mbak, kok malam pulangnya” tanyaku.
    “Abis belanja perlengkapan, kebetulan jalannya padat jadi kemalaman deh”, jawabnya sambil tersenyum.

    Sambil berpapasan kuberanikan diri tuk menempelnya agak bertubrukan, …nyelllll terasa ada benda yg kenyal menyentuh sikutku… detik itu juga si otong pun tegang.

    “mmaaff mbak ngga sengaja”, kataku….
    “hehehe kamu tuh bisa aja, ngga papa kok Gus, ngga sengaja kan”, jawabnya sambil tersenyum dan melangkah menuju rumahnya.

    Ampuuunnnnnnnnn, makin bingunk aku dgn sikap mbak Sari, seolah olah meberi harapan padaku. Semakin liar imajinasiku terhadap mbak Sari. Semakin hari semakin senewen.

    Akhirnya pada suatu hari aku mempunya ide tuk bertemu langsung dgn Mbak Sari, dgn cara mendatangi salonnya, dgn alasan memotong rambut. Hari itu aku libur kerja, demi menjalankan misiku yg penuh gairah. Kudatangi salon mbak Sari sekitar jam sepuluh siang. Kebetulan dia bekerja sendiri tanpa asisten.

    “Siang Mbak Sari”, salamku terhadapnya.
    “Siang, eh Ada apa Gus, tumben kesini”, jawabnya.
    “Mau potong rambut mbak, dan terlalu panjang neh biar rapih aja”.
    “oowwhh, boleh tunggu yah”, kata mbak Sari.

    Waktu itu Mbak Sari mengenakn rok hitam dan kaos putih bak orang training, senyum dan pandangannya tdk berubah tetap menusuk hatiku.

    “Ayo Gus katanya mau potong rambut” tanya nya.

    Iya mbak, langsung aku duduk di kursi, dan mbak Sari siap memotong rambutku. Tak karuan rasa hatiku ketika mbak Sari mulai memotong rambutku. Berkeringat tubuhku,

    “kenapa Gus, gerah”, tanyanya.
    “Ngga Mbak Sari, ngga gerah kok”, jawabku.
    “Nah itu berkeringat” tanya Mbak Sari lagi sambil tersenyum.

    “Emmmm, aku berkeringat karena dekat dgn mbak Sari “, upsss kelepasan aku ngomong….
    “hihihihi mbak Sari ketawa geli, kenapa kok deket saya jadi gerah emangnya saya kompor” katanya lagi.

    Tak tahan dgn hasrat ku, kulepaskan penutup tubuhku yg dijadikan alas rambut. Kutarik mbak Sari ke bagian belakang… sini dulu bentar mbak… Bagusyyy, ada apa sih, kata mbak Sari tp tetap menuruti ajakanku.

    Setibanya di belakang, langsung kupeluk Erat Mbak Sari, ohh mbak ini yg aku harapkan dari mbak,

    “Gus, apa-apan sih kamu nanti takut ada orang nih” gumam mbak Sari.

    Tp tak kulepaskan pelukanku, semakin liar diriku, ku pegang pantatnya yg membuat aku tergila-gila setelah dia kencing dulu. Dia sedikit berontak dan malah terjatuh ke dipan tempat creambath, dan posisi kami sekarang berubah. Dia berada dibawahku sementara aku menindih. Kusingkapkan rok nya dan uuhhhhh terlihat sembulan indah yg terhalang CD tipis warna putih.

    Semakin jalang saja aku sambil menindih tangan kananku menyelinak ke CDnya. ku raba dan kuelus-elus memeknya….hmmm mulai basah oleh cairan kenikmatannya..

    “Gus kamu nih, pintunya masih terbuka biar aku tutup dulu pintunya” gumamnya dgn wajah yg mulai memerah.

    Takut itu hanya alasan akhirnya aku bilang, biar aku yg tutup pintunya, kalo mbak Sari yg tutup nanti malah kabur mbak. sebelum pergi menutup pintu, kupelorotkan dulu CD nya….oooohhh indahnya pemandangan ini, bulu memeknya tipis. Langsung aku bergegas menutup pintu yg hanya berjarak 3 meter dari belakang.

    Dgn penuh gairah aku bergegas menuju belakang, alangkah terkejutnya aku melihat mbak Sari tdk ada di tempat Creambath….. langsung aku sibak gorden penghalang dekat kamar mBagus belakang.

    Oh my god, lebih terkejut lagi mbak Sari ternyata malah sdh bugil sambil tersenyum padaku…..langsung saja aku menyergapnya, oohhh putingnya sdh berdiri dan langsung saja aku menghisapnya, ohhhh..ohhhh, mbak Sari menggeliat, tak kuhiraukan, bibirku menghisap terus putingnya yg mencuat, sementara tangan kiriku meremas-remas toket kirinya. Tangan kananku tak mau kalah… bergerilya di sekitar memeknya yg sdh basah.

    Begitu juga mbak Sari, dia tak mau kalah, tangannya memegang batang kont0lku dgn penuh perasaan…..

    15 menit kami melakukan pemanasan.

    “Mbak, aku mau masukin yah” pintaku dgn penuh nafsu..mbak Sari hanya mengangguk.

    Kutuntun mbak Sari ke tempat creambath, kuterlentangkna mbak Sari… oohhh memeknya mengangga, tanpa basa basi langsung saja kumasukan batang kont0lku… sleeeeeebbbbbb, mbak Sari sedikit tersentak sambil menyeringai…. sleepp sleepp sleepp sleepp sleepp sleepp sleepp sleepp sleepp sleepp ooohhh sleepp sleepp sleepp ku keluar masukan kont0lku dlm memek mbak Sari……..

    “oooocccchhhhh Gus”, mbak Sari baru terdengar suara kerasnya…..
    “ssssttttt jangan keras-keras nanti kedengaran orang”, kataku.

    Kulanjutkan pergerakan ku, kulipat kaki mbak Sari keatas sehingga memeknya menyempit kugoyang kont0lku dgn penuh rasa….slekk slekk slekk slekk slekk kutahan dan ku putar kont0lku dlm memeknya…

    “mbbaakk bunggaaaa aku…oooocchhhh”

    Crooottt Crooottt Crooottt ooogghhh mbak Sari memeluku dgn eratt ooggghhh dia juga berteriak, ternyata dia juga merasakan ejakulasi. ooooh tubuh akmi berdua penuh basah kuyup oleh keringat. ku kecup bibir mbak Sari….

    “makasih mbak” kataku….
    “sama-sama Gus harusnya mbak yg berterima kasih….
    “loh kok”, tanyaku bingung.
    “begini Gus , aku ngga pernah mendapatkan kepuasan dari suamiku, selain dia ejakulasi dini, kont0lnya itu loh, kecil banget kealingan perutnya yg buncit. Makanya aku berterima kasih sama kamu karena sdh hampir 1 tahun mbak ngga ejakulasi dari ML. Cuppppppppph” katanya sambil mengecup bibirku.

    Berarti lain waktu bisa ML lagi dong mbak hehehehe….pintaku…

    “terserah kamu Gus”, mbak jadi suka sama kamu, lalu kami berdua berpelukan lagi dgn erat… dah dulu yah Gus, takut ada tamu… katanya.

    Aku langsung mengenakan pakaian dan mengelap keringat, setelah itu aku langsung pulang ke kost an dgn hati yg riang atas keberhasilanku bisa ML sama mbak Sari. Hampir ngga percaya semua itu akan terjadi dan ternyata memang mbak Sari membutuhkanku.

  • Cerita Panas Menikmati Diperkosa Pak RT

    Cerita Panas Menikmati Diperkosa Pak RT


    169 views

    Cerita Panas Menikmati Diperkosa Pak RT

    Aku masih ingat. Tahun 2007 silam aku diangkat sebagai Ketua RT oleh warga komplek di perumahan ku di Kelapa Gading Jakarta utara. Seperti biasa pekerjaan seorang ketua RT. Di lingkungan perumahanku yaitu menarik iuran keamanan dan kebersihan setiap bulannya. menyipan daftar warga dan membuat surat pengantar.

    3 bulan lebih menjadi ketua RT, aku mulai tahu secara lengkap profil setiap wargaku. Dari usia, alamat, telephon maupun berapa jumlah anggota keluarganya. Eh ternyata di lingkungan komplekku banyak sekali Ibu-ibu mudanya mereka cantik dan sexy-sexy, usia antara 25-32 Tahun. Setelah aku mempelajari data dan situasi.

    Aku tertarik pada istri tetanggaku yg cantik,putih dan sexy. Ia benama Titis. Usianya baru 25 Thn dan belum mempunyai anak. Suami Titis seorang pengusaha kayu. Jarak usia Titis dan suaminya terpaut 13 Thn. Karena suaminya sering ke kalimatan, Titis sering sendiri. Dalam sebulan, suaminya paling hanya 2-2,5 minggu di rumah.

    Dengan semangat 45 aku mengatur berbagai strategi agar aku harus mendapatkan / meniduri Titis istri tetanggaku, tepatnya akhir Maret lalu. Seperti biasa aku sengaja datang ke rumah Titis untuk menagih iuran keamanan dan kebersihan. Saat itu waktu menunjukkan pukul 18.00 WIB.

    Aku mengetok pintu rumah Titis. setelah beberapa saat, pintu dibuka. Dan ternyata yg membukakan pintu Titis sendiri.

    “Eh, pak RT. Maaf lama bukakan pintunya. karena pembantuku tidur dia sedang sakit katanya. Ada apa nih pak? Kok repot-repot datang ke sini sendiri?,” tanya Titis, saat membukakan pintu. “Ayo masuk pak !!,” ajaknya.

    “Nggak, cuma mau menarik iuran kamsih aja kok. Suami sedang di kalimantan ya?,” tanyaku.
    “Iya nih mungkin lusa dia baru balik,” jawabnya. “Kita ngobrol di ruang tengah aja ya karena AC di ruang tamu sedang rusak,” sebutnya.
    “Oya nggak apa-apa,” jawabnya seraya duduk di sofa ruang keluarganya.

    Saat itu Titis menggunakan daster transparan saat itu. sehingga BH dan CD nya yg berwarna hitam terlihat transparan aleh terangnya lampu ruang keluarga. Aku tdk konsentrasi saat itu.melihat paha yg putih mulus tepat didepan mataku. Kusodorkan kartu iuran agar di tanda tangani, ah saat itu Titis membungkuk dan terlihat jelas buah dadanya yg putih dan bulat dari balik dasternya.

    Kami ngobrol kesana kemari dan waktu sudah menunjukan Pk.18.45. Yg ada dalam pikiranku saat itu bagaimana aku bisa mencumbu dan melumat buah dada Titis ukuran 36B dan segera ingin meremas dan mengemutnya. Pembicaraan semakin akrab, sampai mengarah pada masalah pribadi.

    “Oya pak, aku ambilkan dulu uang iurannya di kamar. Bapak mau minum apa? Ambil aja sendiri di kulkas. Maklum pembantu sakit, pak,” ujarnya.

    setelah Titis masuk kekamar. Pikiran kotorku semakin menjadi jadi. aku berdiri dan nekad membuka pintu kamar Titis yg ternyata tdk dikunci. Titis masih di kamar mandi. Kututup pintu kamar dari dalam.

    Setelah kulepas baju dan celana panjangku. Aku tinggal memakai CD. Beberapa detik kemudian Titis keluar dari kamar mandi hanya mengenakan BH hitam saja. Ia kaget melihat aku masuk ke kamar dan tdk mengenakan busana. Secepatnya aku langsung mendorong tubuh Titis ke ranjang. Dan langsung tubuhku menindihnya.

    “Jangan pak, jangan pak. Sadar pak,” mintanya sambil memberontak,”

    Tanpa banyak bicara, aku langsung mencumbui Titis. Bibirnya yg mungil langsung ku lumat habis. Sekitar 4 menit kemudian, Titis ulai pasrah dan mulai menikmati cumbuanku.perlahan ciumanku turun kebawah.. akhrinya sampailah aku pada buah dada Titis yg masih tertutup oleh BH Triumph 36 B.

    Tanganku kiri terus meremas payudara Titis yg putih,montok dan tertutup BH hitam , sedang tangan kananku menyusup dibawah punggung Titis untuk mencari dan membuka tali pengikat BH Titis.

    Kutemukan pengkait BH nya dan kubuka pengkaitnya. Dengan posisi Titis yg masih tertindih dibawahku. kukepas BH nya kedepan.

    “Jangan pak, jangan !! Aku sudah punya suami,” harap Titis.

    BH Titis sudah terbuka. K0ntolku spontan mengeras. Tatkala kulihat buah dada Titis yg montok, bulat dengan punting kecil berwarna pink yg mancung keatas. Langsung kusedot, dan ku permainkan punting Kecil Titis yg mancung dengan lidahku dan gigitan mesraku. secara bergantian yg kanan dan yg kiri.

    Sambil tangan kananku terus membelai lembut memek Titis yg ditumbuhi bulu-bulu yg halus. bibir Memek Titis cukup tebal sehingga jari jemari tangan kamanku semakin napsu untuk mem-permainkannya.

    Setelah aku berhasil mencumbu payudara Titis dan tanganku aktif membelai dan menggosok Memeknya. Titis mulai menimati permainanku. terbukti dengan desahan desahan Titis yg terdengan lirih di telingaku.

    Cumbuanku terus ke bawah, melewati pusar dan terus 2. akhirnya sampailah bibirku pada Memek atau bagian paling sensitif dari Titis. kucium bibir Memek Titis yg sdh mulai membasah. OH.. memek yg yg harum.! sangat berbeda dengan memek istriku. kupermainkan bibir memek Titis dengan bibir dan lidahku.. sekali kali kusedot sedot bibir memeknya.

    Kenapa ini ku sebut bagian sensitif dari Titis, karena saat ku cumbu Memeknya desahan Titis tdk terdengar lirih lagi, Tapi semakin keras terdengar. dengan posisi kaki kanan dan kiri Titis menggelinjang kegelian.

    “Aahh.. Terus pak. Enak.!!!,” desahnya.

    Titis mulai terangsang hebat. Dia menarik kepalaku ke atas dan dia menciumiku dengan ganasnya. Gantian tangan kanan Titis memegani dan meremas remas MR P ku. yg semakin tegang. Kutarik tubuh Titis ke tepi ranjang, kurebahkan tubuhnya.

    Sambil posisi berdiri kuantat sedikit pantat Titis agar aku mudah mengarahkan k0ntolku ke Memeknya. tanpa basa basi kutancapkan k0ntolku ke memek Titis yg masih sempit itu.

    “AHH..!!!!,” teriak Titis dengan mata terbelalak.

    K0ntolku terus keluar masuk menghujani Memek Titis yg semakin kian membasah, sambil sekali kali ku goyang goyangkan pantatku kekiri dan kekanan.

    “OH.oh… Pak!! Terus-terus. Enak sekali pak,” katanya.

    Permainanku dengan Titis terus berjalan. dan berakhir setelah kutari k0ntolku dan ku muntahkan cairan spermaku di dalam memeknya. Aku terbaring lemas disamping tubuh Titis yg basah dengan keringat.

    “Pak, kamu hebat!!,” kata Titis padaku.
    “Kamu juga hebat. Beda dengan istriku. Kamu tdk hanya Cantik, putih dan Sexy tapi juga menggemaskan dan menggairahkan dalam bercinta,” kataku.
    “Ah bisa aja pak,” Titis tersenyum.

    Titis mengaku, semenjak 1,5 tahun menikah dengan suaminya, belum pernah ia merasakan nikmat dan klimaks seperti saat ini. “Apa karena suamiku badannya kegemukan dan kecapaian ya pak? sehingga dia malas mencumbuiku bila kita mau berhubungan,” tanyanya.

    “Dia selalu menonton film blue sebagai pemanasan sebelum berhubungan denganku. Setelah dia terangsang, main tancap saja tanpa memperhatikanku dan mencumbuku terlebih dahulu. Aku terasa seperti pelacur yg tdk berhak untuk mendapatkan kenikmatan yg seimbang dalam bercinta. Meskipun secara materi aku terpenuhi.” cerita Titis nanar habis mereguk kenikmatan.

    “Tapi kita sudah berdosa pak. Kita menghianati pasangan kita masing-masing kata Titis. kasihan juga istrimu,” ingatnya.
    “Aku juga tdk bahagia nikah dengan istriku. Istriku gendut dan tdk se sexy kamu. Kita bekomitmen bahwa hubungan ini hanya kita berdua yg tahu,” mintaku.

    Setelah itu aku memakai bajuku dan pulang ke rumah dengan tubuh yg segar. Kalau aku nggak buru2 pulang nanti bisa ketahuan tetangga yg lain karena waktu sudah menujukan jam 20.40 WIB. Nggak lucu kalau Aku ketahuan warga sebagai ketua RT.13 lama-lama di rumah Titis.

    Sejak peristiwa tersebut, aku dan Titis sering mengentot. Bukan saja di rumahnya, semak-semak, bahkan kami sering menginap di hotel atau liburan keluar kota berdua. Titis sangat berkeinginan memiliki anak. Dan selama tiga bulan aku sering mengentotnya, dia pun hamil. Apakah anaknya seperti aku ya? Kita lihat saja nanti.

  • Cerita Panas Ngesex Ibu Muda Seksi Di Kereta

    Cerita Panas Ngesex Ibu Muda Seksi Di Kereta


    156 views

    Cerita Panas Ngesex Ibu Muda Seksi Di Kereta

    Suatu pagi di hri minggu dibulan februari 2010 aku menunggu kereta ekspress yang akan mengantarku kembali ke kota Y karena esok hari aku harus masuk kuliah lagi. Sebelumnya perkenalkan namaku Danang berumur 23 tahun, menurut mantan – mantanku dan sahabat – sahabat cewekku aku ini orangnya berwajah menarik, supel, ramah, misterius, dan tinggi (sekitar 180cm) sehingga banyak yang tertarik denganku. aku mahasiswa semester atas di sebuah universitas ternama di kota Y. Aku berasal dari kota S, jadi bisa disimpulkan aku seorang perantau.

    Saat kereta mulai melaju aku menyegerakan tidur karena badanku sdh sangat lelah akibat begadang semalaman bersama kawan-kawan lamaku. Aku terbangun beberapa kali selama perjalanan yaitu saat pengen pipis (dikamar kecil aku sempat sedikit bingung karena kamar kecilnya tdk ada batang selotnya tp akhirnya teratasi dgn diselipin pulpen) dan saat berhenti di beberapa stasiun besar untuk menaikkan penumpang.

    Saat itu seingatku di stasiun kota M naiklah pasangan suami istri muda dan anaknya yang masih balita. Aku terperangah karena sang suami tdk cakep dan cenderung jelek akan tetapi istrinya cantik berambut lurus panjang, tinggi sekitar 170cm (lebih tinggi suaminya sedikit). Tp yang paling membuatku shock adalah meski tinggi tp tubuhnya montok dgn payudara yang ukurannya lumayan besar, pantat yang sekal dan pinggang yang ramping bak biola spanyol.tubuh bagus itu terbungkus dgn celana panjang ketat dan kemeja agak ketat yang paduan warnanya bagus.

    Sesaat setelah mereka duduk dibangku sebelah bangku yang aku tempati kereta mulai kembali berjalan dan sang suami dan anak langsung terlelap seperti aku tadi setelah perjalanan dilanjutkan kembali sekitar setengah jam. Karena sang istri tinggal sendirian, aku memberanikan diri menyapa dan mengajak ngobrol. Yah sekedar basa basi agar tdk boring selama perjalanan (kebiasaanku sejak aku SMA).

    “mbak, mau kemana?” sambil tersenyum ramah aku menyapanya.
    “mau ke ke kota Y karena mertua sedang sakit dik. Adik sendiri?” jawabnya sambil tersenyum manis.
    “oh, aku jg sama mbak tp karena aku emang kuliah di kota Y. Oya nama mbak siapa? Kenalkan namaku Danang” kuulurkan tangan untuk berjabat tangan.
    “aku Maya dik, ini suamiku rudi dan anakku sandi” dia menyambut jabat tanganku sambil memperkenalkan suami dan anaknya.

    Perbincanganpun mengalir dgn hangat selama kurang lebih 1 jam karena kelihaianku mengolah suasana. Kami jg sempat bercanda hingga dia tertawa terkikik karena lucunya. Menurutku mbak Maya orangnya terbuka dan supel, buktinya dia tdk marah saat leluconku mulai menjurus kearah sex bahkan dia malah membalas dgn lelucon yang lebih menjurus. Selama ngobrol mataku sesekali melirik bongkahan dadanya yang terlihat sedikit dari celah kemejanya yang tanpa dia sadari 1 kancingnya terbuka di bagian dada persis.

    Mbak Maya mulai salah tingkah dalam duduknya (dugaanku dia terangsang) saat menjawab pertanyaanku seputar tips menyenangkan wanita di ranjang. Dari pertanyaan – pertanyaanku mbak Maya bukan tipe wanita yang suka tentang variasi seks seperti oral dan anal. Tp dia sdh beberapa kali mencoba berbagai variasi gaya bersetubuh selama menikah 2 tahun ini.

    Perbincangan terpaksa diputus dulu karena dia permisi ke kamar kecil. Niat isengku muncul mengingat selot kamar kecil itu. Beberapa saat setelah dia pergi, aku membuntuti kekamar kecil. Rupanya dia tdk sadar bahwa pintunya tdk terkunci dan hanya tertutup, buktinya dia dgn santai telanjang bagian bawah membelakangiku. Hal itu membuatku mulai terangsang, segera kubuka resleting celana dan cd lalu keluarin si boy dari sarang. Ukuran si boy emang biasa aja (panjang 15cm dan diameter 3,5cm) tp lumayanlah.

    Kudekati mbak Maya perlahan, saat tangan kirinyanya mau meraih celana dan cdnya kuberanikan diri memegang tangannya dgn tangan kiriku sedangkan tangan kananku membekap mulutnya. Dia sempat kaget tp ketika mbak Maya menoleh siapa dibelakangnya dia terdiam.

    “mbak, jangan teriak ya kumohon. Aku hanya ingin diajari muasin cewek dalam sex..plis…” kataku sambil menampakkan wajah memelas.

    Awal mulanya dia hanya menggelengkan kepala dan tetap memberontak. Aku bisa membuat mataku sendiri berkaca – kaca seperti mau menangis, kulakukan itu sambil terus memohon dan pura – pura terisak. Akhirnya dia luluh dan menganggukkan kepala lemah. Kulepaskan tanganku,

    ”kena kau” batinku.
    “Danang udah pernah ciuman?” tanyanya.
    “sdh mbak,kenapa mbak?” balasku dgn wajah polos.
    “coba cium aku Nang” perintahnya. aku mulai memeluknya dan menciunmya, pada awalnya biasa saja lalu lidahku berusaha menyeruak kedalam mulutnya dan ternyata dia membalas dgn lebih agresif.

    Akhirnya kupakai teknik back door yang memanfaatkan lidahku yang panjang hingga aku bisa mengimbanginya.

    “ciuman Danang mantap jg ya” aku hanya tersenyum pura – pura malu.
    “sekarang coba rangsang aku Nang semampumu tp hanya sebatas sampai leher saja” dalam hati aku bersorak.

    Aku mulai menciumnya lagi lalu menggerayangi dan menciumi bagian belakang telinga dan menjilati telinganya.

    “Aaahhg…sssttt…eeeenggghh…” desahnya saat kulakuin itu,ciumanku mulai turun ke leher.

    Kujilat dan kucium leher putihnya, harum parfumnya membuatku bersemangat.

    “Uuuugghh….aaaahhhh….eeemmghh….sssstttt… Nang enak Nang… terus Nang… aaaaaahhh…eeeeennnggghh… Nang jangan ada bekasnya…” bisiknya.

    Aku sadar bahwa mbak Maya takut ketahuan suaminya. Kucoba menelusupkan tanganku kedalam bajunya saat kedua tangannya terangkat memeluk leherku. Terlambat buat mbak Maya untuk merespon karena kedua tanganku sdh masuk kedalam baju dan meremas – remas payudaranya dari luar BH. Yang bisa dia lakukan hanyalah mengerang dan mendesah karena kuserang leher dan kedua payudaranya secara bersamaan.

    “Danang…aaaaahhhhgg…kamu nakal…ssssttt….eeeennggghh…” rancaunya tp tanpa penolakan karena rangsangan yang mbak Maya alami begitu kuat.

    Secara mendadak kuangkat bajunya sebatas leher hingga mempertontonkan 2 bongkah gunung kembar dibungkus BH kuning menyala. Beruntungnya aku karena kancing Bhnya ada di depan. Sekilas kulihat ukurannya 36C (besar cuy…), seketika itu pula kubuka kancin bhnya dan terpampanglah payudaranya tanpa penutup apapun. Langsung aku kenyot putting kanannya dan kupilin – pilin putting kirinya.

    “Aaaaaaahhhh…eeeemmnggh…Nang…kamu apakan putingku…uuggghh…” erangnya sambil bersandar di dinding.
    “Geli Nang…aaaaaggghh…Nang…cukup…ssstt…Nang…enak banget…mmmnngghh..melayang aku rasanya…aaahhh…” rancaunya makin keras.

    Karena takut ada yang mendengar langsung aku cium lagi mbak Maya dgn ganas sambil tangan kananku meremas payudara kanannya dan tangan kiriku mengocok kemaluannya yang ternyata sdh banjir.

    “mmmpphh…nnnggghh…ssslllurrpp…” yang keluar dari mulutnya yang sedang kuajak french kiss lagi.

    Kedua tangannya tdk berdaya karena terjepit punggungnya sendiri sedang tubuh mbak Maya terjepit antara tubuhku dan dinding. Tp tubuhnya semakin menggelinjang kuperlakuin seperti itu. Tdk lama kemudian kemaluan mbak Maya makin lembab, disini aku lagi – lagi memasang perangkap. Kuhentikan semua cumbuanku hingga mbak Maya termangu.

    “lho Nang kok berhenti?! Jangan dong..lanjutin ya Nang..aku jadi ngambang dan aneh nih rasanya..lanjutin dong ampe mbak keluar..” pintanya.
    “ya mbak..tp sekarang boleh ya aku masukin si boy? Dari tadi berdiri ampe sakit nih” rayuku.
    “jangan Nang, aku sdh bersuami…” tolaknya.
    “cuma digesek – gesekin aja deh mbak enggak papa ampe aku jg keluar biar sama – sama enak. Boleh ya mbak? Plis……” rengekku sambil mulai kembali membelai – belai payudaranya dan tanganku satunya mengelus – elus si boy yang sedari tadi menganguk – angguk karena sdh tegang.

    Mendapat serangan psikologis seperti itu terus menerus akhirnya dia luluh.

    “cuma digesek – gesek aja ya ga lebih…” pintanya sambil kududukkan dia ke kloset.
    “makasih ya mbak Maya sayang” ucapku dan kukecup singkat bibirnya sambil ku posisikan tubuhku sedemikian rupa hingga k0ntolku terhimpit diantara pangkal pahanya persis di mulut memeknya (bayangin aja duduk berhadapan dan aku terlihat seperti memangku mbak Maya dan kakinya memeluk pinggangku sedang tubuh kami seperti berpelukan).

    Aku mulai menggoyang pantatku sehingga kemaluan kami bergesekan. Hal ini membuat kami sama – sama merasakan nikmat. Tak lupa kami tetap berciuman dan saling meraba. Saat kembali kuserbu lehernya, mbak Maya mulai mendesah dan merancau lagi. Desahannya makin sering saat kumulai menggesek dgn cepat. Hal ini membuatku semakin terangsang dan ingin segera memasukkan k0ntolku kedalam hangatnya liang memeknya.

    Saat asyik saling menggesek hingga kurasakan cairan memeknya makin membanjiri k0ntolku, tanpa mbak Maya sadari kumasukkan k0ntolku secara mendadak dan cepat hingga mentok. Ugh meski sdh pernah melahirkan tp memeknya masih ketat menjepit k0ntolku. Kelihatannya leher rahimnya dangkal, buktinya pangkal k0ntolku masih diluar sekitar 1-2cm saat kurasakan ujung k0ntolku membentur bagian terdalam memeknya.

    “aaaaauuuuhhh….Nang kok dimasukin??!! cabut Nang!! aku udah bersuami!!” perintahnya tp tak ku gubris dan malah melanjutkan menggonyang pantatku sehingga k0ntolku mulai bergerak menikmati jepitan kuat, hangat dan lembab memeknya sambil menciumnya agar tdk bisa berteriak. Posisiku yang sedikit menindih mbak Maya membuatnya tdk bisa berkutik.

    Pada awalnya mbak Maya terus meronta, tp karena kondisinya yang mendekati orgasme saat kumasukkan k0ntolku membuat mbak Maya akhirnya menyerah dan malah menikmati goyanganku.

    Kugoyang pantatku dgn semangat dgn beberapa variasi goyangan. Kadang maju mundur, kadang kiri kanan, kadang memutar. Hal ini membuatnya semakin melayang.

    “auuuhh…Nang..kamu apakan memekku?? enak banget… eeemmmggghhh…sssttt…Nang…aku udah ga tahan… aaaahhh…aku ingin keluar…” rintihnya kira – kira 15 menit setelah kemasukan k0ntol.
    “keluarin saja mbak Maya sayang…enggghh..memek mbak enak sekali..” pujiku sambil mempercepat goyanganku.
    “Nang…aku keluar sayang!!! aaahhhh..enggghh… ssssttt..uuunngghh..” lenguhnya menikmati orgasme panjang yang dirasakan.

    Suuurrr….Suuuurrrr.. k0ntolku merasakan siraman air surganya.

    “Nang..nikmat sekali sayang…makasih ya..aku baru kali ini merasakan orgasme karena bersetubuh..suamiku hanya peduli diri sendiri..kamu belum keluar ya??” ucapnya sambil kembali menciumku.
    “sebentar lagi mbak… masih boleh kan kugoyang??” tanyaku.
    “boleh dong sayang…kamu sdh membuatku melayang…sekarang nikmati tubuhku semaumu…tp sekarang kamu yang duduk ya Nang…” katanya sambil berganti posisi.

    Mbak Maya sekarang duduk dipangkuanku berhadapan.

    “sekarang biar mbak yang puasin kamu sayang… Danang haus ga??? mau minum susu??” tanyanya sambil menyodorkan payudaranya untuk kukenyot lagi sembari mulai menggoyang pantatnya maju mundur.

    Ternyata mbak Maya membalas perlakuanku kepadanya yaitu dgn kardang merubah arah goyangan pantatnya. Aku hanya menikmati itu semua sambil menjilati dan ku kenyot payudaranya serta mendesah sesekali di telinganya. Hal ini membuat mbak Maya makin bersemangat dan kembali terangsang.

    “Aaaahhh…Nang….k0ntolmu enak sekali..uunggghh…eemmmhhhgg…”rancaunya.
    “memek mbak jg enak…ssssttt…. aahh…mbak..enak mbak… bentar lagi…” rintihku yang disambut makin menggilanya goyangan mbak Maya.

    Tak lama kemudian aku yang hampir mencapai puncak merasakan bahwa mbak Maya jg merasakan yang sama karena memeknya makin ketat menjepit k0ntolku dan rintihannya makin sering dan merangsang.

    “ Nang…aku ingin keluar lagi…enak banget Nang…aaahhh…sssttt..” baru saja mbak Maya berkata seperti itu aku sdh tdk tahan ingin orgasme.
    “mbak aku keluar!!! aaaahhh…..eeengggghh…mmmppphhhh…uuungggghh…” lenguhku mengiringi muncratnya spermaku kedalam rahimnya.

    Merasakan semburan lahar panasku membuat mbak Maya jg orgasme.

    “ooooohhh… Nang!!!! aku keluar sayang!!!” segera saja kami kembali berciuman dgn rakus sambil menikmati orgasme berpelukan.

    Selama beberapa saat kami terus berciuman hingga akhirnya melepaskan pagutan mesra kami. Mbak Maya berbisik

    “terima kasih ya sayang…Danang sdh membuatku menikmati surga dunia yang belum pernah kurasakan.”
    “mbak ga takut hamil karena aku keluar didalam???” tanyaku ragu.
    “tenang saja…aku sedang tdk subur…” ucapnya tersenyum dan menciumku singkat.

    Lega rasanya mendengar hal itu hingga akupun tersenyum dan membalas dgn meremas gemas payudaranya sejenak. Kami cepat cepat merapikan pakaian dan keluar dari kamar mandi bergantian lalu duduk kembali di kursi masing – masing. Suami dan anaknya masih tertidur pulas padahal saat itu kulihat sdh memasuki kota Y. Kami saling berpandangan dan tersenyum. Mbak Maya kemudian memberikan nomer handphonenya kepadaku dan berkata

    “kapan – kapan lagi ya” sambil mengedipkan mata. Kujawab dgn senyuman dan kami berpisah di stasiun kota Y. Benar – benar beruntung aku bisa menikmati tubuh semantap itu.

  • Cerita Panas Nonik Hot

    Cerita Panas Nonik Hot


    98 views

    Cerita Panas Nonik Hot

    Nonik namannya, dia istri teman kantorku yg usianya lebih tua 2 tahun dariku, dia sosok perempuan yg menarik, dgn tinggi badan 160 cm dan memiliki kulit yg bisa dibilang lebih putih daripada orang-orang Indonesia kebanyakan, tp dia bukanlah keturunan chinese

    Di kantor aku satu-satunya keturunan chinese, tinggi badan 172 cm dan tdk gemuk, yah, wajar lah. Di kantor ini aku menduduki jabatan sebagai wakil kepala akunting. Aku sebenarnya tergolong baru bekerja di perusahaan ini, sekitar 1 tahun dan aku sdh cukup akrab dgn salah satu pegawai yg bernama Herman. Aku pernah diajak berkunjung ke rumahnya di daerah Jakarta Utara. Disinilah awalnya perkenalan aku dgn Nonik.

    Pada pandangan pertama, aku memang sdh menyadari kecantikan Nonik namun pikiran itu aku buang jauh-jauh karena menyadari bahwa dia adalah istri teman aku. Pembicaraan di rumah Herman berlangsung cukup lama dan cukup akrab sekali. Herman tinggal bertiga dgn pembantunya dan istrinya. Aku sendiri sempat makan malam di rumah mereka.

    Ku akui, sambutan mereka di rumahnya benar-benar membuat aku merasa betah dan ingin berlama-lama terus disitu tp akupun akhirnya harus pulang jg ke rumah. Setelah pertemuan itupun sikap aku terhadap Herman dan sebaliknya pun biasa-biasa saja, tdk ada istimewanya. Sampai suatu minggu sore jam 3-an hp ku berdering , ternyata dari rumah Herman. Aku pikir Herman yg menghubungi karena perlu sesuatu, ternyata yg kedengaran adalah suara perempuan.

    “Halo, ini Ridwan ya?”, kata suara perempuan disana.
    “Ya benar, ini siapa ya?”, jawabku.
    “Aku Nonik, istri Herman. Masih inget ngga?”
    “Oh, iya, masih inget. Aku kira siapa..? ada apa ya Nik?”
    “Begini Wan, aku ingin ketemu dgn kamu. Boleh aku ke rumahmu? Kamu lagi sendirian di rumah?”
    “Boleh, dulu aku pernah ke rumah kamu, sekarang boleh aja kalian main ke rumah aku. Kalian datang berdua?”
    “Ngga, aku sendiri saja. Herman sedang pergi dgn temannya.”

    Sempet terkejut jg aku mendengar pernyataan itu. Ada maksut apa? Mau apa Nonik ke rumah aku sendirian sore-sore begini? pikiranku jadi campur aduk di otakku.

    “Halo..Ridwan halo.. haloo.. Ridwan, kamu masih disitu?”
    “Eh.. oh.. iya Nik.. Oke oke, kamu boleh ke rumahku kok sekarang. Aku cuman bingung aja mau siapin makanan apa buat kamu.”
    “Ngga usah repot-repot Wan, biasa aja. Aku berangkat sekarang yah.”

    Jarak rumahku dgn rumah Herman cukup jauh, rumahku di daerah Jakarta Barat sedangkan rumah Herman di Jakarta Utara. Perlu waktu sekitar 1 jam utk sampai ke rumahku jika dari Jakarta Utara.

    Aku tinggal sendiri di rumah dgn seorang pembantu yg tdk menginap, pembantuku ini hanya datang pada pagi dan sore Ridwan setelah aku pulang kerja dan pada Ridwan sabtu atau minggu, dia datang pagi Ridwan utk membersihkan rumah.

    Setelah bersih-bersih rumah seadanya, aku menunggu kedatangan Nonik sambil nonton acara tv. Sambil menunggu, pikiranku tdk bisa konsen ke TV. Banyak pikiran yg berkecamuk dlm otakku mengenai kunjungan Nonik yg sendirian ke rumahku. Sekitar 1 jam menunggu akhirnya terdengar suara mobil di depan rumah. Aku segera keluar utk melihat; ternyata memang Nonik yg datang seorang diri. Langsung saja aku persilahkan dia masuk, begitu melihat ada tamu, langsung saja anjingku pada ribut (kebetulan aku dirumah memelihara sepasang anjing jenis ukuran yg tdk bisa besar).

    “Ehh.. kamu punya anjing ya, lucu-lucu bangeet anjingnya”, kata Nonik sambil mendekati anjingku lalu mengelusnya.
    “Iya. Kamu suka anjing jg”
    “Suka banget”

    Kemudian aku persilahkan Nonik utk masuk dan duduk di ruang tamu sementara aku menyiapkan minuman utk dia.

    “Kamu kok tdk datang bersama Herman? Biasanya kemana-mana berdua melulu?”
    “Memangnya harus sama Herman terus kalau kemana-mana?”
    “Iya dong, apalagi kamu sekarang datang ke rumahku, kalau ketauan sama dia kan, ntar gimana jadinya nanti?”
    “Ah.. sdhlah, kayak begituan biar aku yg urus dgn Herman”, Kata Nonik lebih lanjut.
    “Gini Wan, aku ingin ngobrol sama kamu nih tentang bisnis.”

    Kami berduapun berbicara masalah bisnis, ternyata dia kerumahku utk berbicara soal bisnis baru yg akan dirintisnya dan meminta bagaimana pendapat aku dari segi akunting dan manajemennya. Pembicaraan tersebut berlangsung kurang lebih selama 1 jam. Sambil berbicara konsentraasiku agak terganggu karena duduk bersebelahan dgn Nonik dan hampir berdekatan. Kadang-kadang kalau sedang bicara bertatapan ingin sekali rasanya melumat bibirnya soalnya hanya berjarak sekitar 45 cm.

    Saat itu Nonik berpakaian cukup sederhana, hanya mengenakan kaos dan celana jeans. Namun aku suka sekali apabila melihat wanita yg berpenampilan seperti itu. Sedangkan aku sendiri tadinya hanya memakai celana hawaii dan kaos tp setelah kedatangan Nonik, aku langsung mengganti dgn celana panjang.

    Akhirnya pembicaraan mengenai bisnis pun bearkhir, kamipun bersandar lega di sofa yg kami dudukin. Sekarang otakku benar-benar sdh gak karuan deh, pengen sekali rasanya utk mencium Nonik tp bagaimana caranya? Otakku memutar dgn keras dan akhirnya aku mengambil keputusan utk mencoba menyenggol tubuhnya. Tanganku dgn sengaja aku bentangkan kedepan badan dia seakan-akan aku sedang meregangkan otot dan menyentuh tangannya.

    “Kamu lelah ya Wan setelah ngomongin bisnis?”, kata Nonik.
    “Iya nih, kalo dipijit enak nih kayaknya”, pancingku.
    “Sini aku pijitin”, kata Nonik sambil memegang punggungku.
    “Ntar dulu ah, mao muter musik dulu”

    Akupun mulai memutar musik, maksduku supaya suasananya nyaman. Kemudian aku mulai duduk membelakangi Nonik dan ia mulai memijit punggungku.

    “Gimana Wan? Enak ngga pijitanku?”, kata Nonik disamping telingaku.
    “Enaak Nik..”

    Akupun memalingkan wajah menghadap Nonik maksudnya ingin bicara sesuatu tp karena wajah kita berdekatan seperti itu, aku lupa tdk tau mau omongin apa. Situasi saat itu sempat hening sebentar, lalu entah siapa yg mulai, kamipun saling berciuman dgn penuh hasrat. Langsung aku membalikkan badan dan memeluk tubuh Nonik dan membaringkan dia di sofa. Nonik hanya diam saja diperlakukan seperti itu. Sepertinya dia menikmati ciuman ini. Aku tdk mendengar suara apapun dari Nonik, hanya..

    “Mmmmpphhhh.. ssstthhh.. sshhh..”

    Itulah yg terdengar pada waktu kami ciuman. Aku menciumi bibirnya dgn sangat lembut meskipun aku sebenarnya bernapsu banget. Dgn lembut aku mainkan lidahnya, bibirnya. Aku memainkan lidahku didlm mulutnya, kadang-kadang aku tarik lidahnya dgn gigiku saat ada di dlm mulutku. Sambil berciuman aku melihat matanya, ternyata dia menciumku sambil memeramkan matanya, sungguh pemandangan yg menambah laju birahiku.

    Aku terus menciumi bibirnya, kadang ciumanku lari ke kupingnya serta lehernya. Sengaja aku tdk terlalu napsu menciumi lehernya supaya tdk meninggalkan bekas yg bisa mencurigakan. Demikian jg dgn Nonik, ia menciumi seluruh wajah dan leherku dgn bibirnya, saat itu perasaan geli seakan-akan ingin memeluk Nonik erat-erat sungguh tak tertahankan.

    Sejenak kemudian kami mengehentikan akivitas kami karena handphone Nonik berbunyi,

    “Kamu angkat dulu deh telponya, siapa tahu Herman”, kataku sambil tersenyum.
    “Oke”, jawabnya tersenyum pula. -sex selingkuh-

    Lalu Nonik mengangkat telpon dan memang benar dari Herman suaminya. Begitu tau dari suaminya, aku langsung mendekati dia, maksudnya utk mendengarkan pembicaraan mereka dan membantu kalau-kalau Nonik tdk bisa jawab. Tp aku tiba-tiba berubah pikiran dan mendekati Nonik dan memeluk dia dari belakang sambil menyiumi telinganya.

    Nonik sempat berbalik dan memelototi aku tp aku tdk perduli. Aku tetap mendekati dia dan menjilati lehernya. Tangankupun mulai menyusup ke dlm kaosnya dan lebih dlm lagi menyusup ke dlm BH-nya. Akupun bisa menjamah putingnya. Begitu aku merasakan putingnya, aku pun mulai memainkannya dgn jari-jari tanganku.

    Sementara itu Nonik sdh tdk bisa mencegahku lagi, diapun mulai menikmatinya dan malahan dia membuka kaosnya dan duduk di sofa kembali. Semua itu dilakukan sambil ia berbicara dgn suaminya di telpon. Nonik memberikan alasan bahwa dia sedang jalan-jalan di sebuah gallery busana. Aku jg segera melepaskan baju dan celana panjangku.

    Ketika Nonik sdh duduk di sofa, akupun mulai menciumi tetenya, aku meremas-remas toket Nonik dgn napsu, aku jilatin putingnya dan kadang aku gigit putingnya dgn bibirku. Aku lalu melihat ke wajah Nonik.. wahh.. wajah yg pasrah tp dia masih melihat ke aku sambil memberi isyarat bahwa dia lagi telpon.

    Sebenarnya dia sdh tdk tahan lagi ingin melepas semuanya tp karena ia masih nelpon maka ia terpaksa menahan semua gejolak tersebut. Aku tau bahwa saat ini dia sedang berusaha sekuat tenaga utk tdk berteriak ataupun mendesah karena rangsanganku; yg Nonik bisa lakukan adalah menggeliat-geliat tdk keruan berbaring di atas sofa di bawah tubuhku.

    Ketika kemudian telpon sdh selesai, Nonik langsung mengeluarkan gejolak yg tertahan dari tadi,

    “Oohhhh.. Ridwaannnn..”, teriak Nonik.
    “Gila kamu ya Wan, itu tadi kan si Herman, kalau aku kebablasan tadi gimana coba?”, katanya memarahi tp dgn nada menggoda.

    Aku hanya tersenyum saja,

    “Tp kamu suka kan Nik?”
    “Iya sih..heheheheh”, lanjutnya tersenyum.

    Lalu kami pun melanjutkan kegiatan yg tertunda itu. Aku mulai membuka celana jeansku dan celana jeans Nonik beserta dgn CDya. Aku menciumi paha Nonik yg bagian kiri dan meremas pahanya yg kanan. Aku jilatin sambil terus bergerak bergerak ke bagian selangkangannya. Selama itu jg tubuh Nonik tdk bisa diam, selalu bergerak dan mendesah. Sampai akhirnya aku menjilati pas di meqinya Nonik. Aku terus melakukan kegiatan ini dgn penuh napsu, aku memainkan klitorisnya sambil kadang-kadang aku hisap dlm-dlm dan aku kulum dgn bibirku.

    Selama aku melakukan ‘serangan’ kepada Nonik, dia terus berteriak, mendesah, dan menekan kepalaku kuat-kuat seakan-akan tdk mau membiarkan kepalaku pindah dari selangkangannya. Suara yg ditimbulkan oleh Nonik membuat aku tambah bergairah dlm melakukan kegiatanku tersebut. Aku menjilati meqi Nonik makin liar, aku permainkan meqinya sampai dlm dgn lidahku dan jari-jari tanganku jg mulai masuk ke dalamnya sampai akhirnya.. aku merasakan kaki Nonik menjepit kepalaku dan tangannya menekan kepalaku sangat kuat serta pinggulnya terlihat menggelinjang dgn dahsyat.

    “Ooohhhh, Ridwannn, Aahhhhh”

    Ternyata Nonik sdh mencapai klimaksnya yg pertama dlm permainan ini. Aku melihat sebentar ke arah Nonik dan dia menatapku sambil tersenyum.

    “Kamu hebat Ridwan, aku suka banget”, katanya.
    “Masa sihh? Aku belum apa-apa nih”, jawabku sambil mencium bibirnya.
    “Aku maenin yah penismu?”,
    “Itu yg aku tunggu-tunggu sayang”, bisikku di telinganya

    Maka akupun segera mengambil posisi duduk bersandar di sofa dan dia perlahan mulai jongkok di hadapanku. Mula-mula ia mengelus penisku dgn tangannya, penisku dielus olehnya dari bijinya sampai ke ujung kepala penisnya. Lalu ia mulai menjulurkan lidahnya ke ujung penisku. Begitu lidahnya menyentuh penisku, aku merasa agak sedikit geli. Kemudian Nonik langsung memasukkan seluruh penisku ke dlm mulutnya.

    Wah, perasaanku saat itu benar-benar nikmat sekali, urat-urat penisku yg bergesekkan dgn bibir dan lidahnya memberikan suatu sensasi yg sulit utk diungkapkan dgn kata-kata. Saat itu yg bisa aku lakukan hanyalah menggeliat-geliat kenikmatan sambil membelai-belai rambutnya Nonik. Terkadang giginya Nonik menyentuh salah satu bagian penisku, sakit dikit sih, namun itu tdk mempengaruhi sensasi nikmat yg diberikan.

    Saat itu penisku benar-benar diberikan sensasi yg begitu dahsyat, titik-titik syaraf yg ada di seluruh penisku tdk ada yg tdk tersentuh oleh bibir dan lidahnya Nonik, benar-benar permainan yg membuat aku tdk dapat bertahan lama dan akhirnya aku mulai merasakan sesuatu yg mendorong dari dlm dan mengeluarkannya.

    “Ooohhhh..”

    Hanya itulah kata yg bisa keluar dari dlm mulutku saat semuanya tertumpah keluar. Akupun terbaring lemas namun terasa rilex banget dgn Nonik bersandar di dadaku. Tdk ada kata yg keluar dari mulut kami berdua saat itu. Setelah diam selama sekitar 10 menit, Nonik mulai meremas-remas penisku lagi sambil memandangku.

    “Kamu mau lagi ya Nik?”
    “Hmm..”, jawabnya sambil terus meremas penisku.

    Diberi rangsangan seperti itu, tdk berapa lama kemudian penisku sdh mulai kekar berdiri lebih tegak daripada tadi. Menurut pengalamanku dan cerita teman-teman, penis seorang lelaki akan lebih kekar pada ronde kedua daripada ronde pertama dan akan berlangsung lebih lama. Nonik terus meremas-remas dan mengelus penisku kemudian mengulumnya di dlm mulutnya. Akupun mulai mencari-cari daerah dada Nonik utk memainkan kembali tetenya. Begitu aku mendapatkannya, langsung aja aku membaringkan Nonik di sofa kembali dan melanjutkan mengulum puting susunya.

    “Oooccchhh..”, Nonik menjerit keras-keras ketika aku menggigit-gigit putingnya

    Rambutku diacak-acak olehnya dan dia mendekap erat-erat kepalaku di dadanya sehingga aku agak kesulitan utk bernapas. Setelah puas memainkan dadanya, akupun kembali turun ke selangkangannya. Pertama-tama aku mainkan bulu-bulu yg mengitari selangkangannya, aku jilatin bibir meqinya dan aku mainkan klitorisnya. Saat itu, Nonik sdh mendesah dan menggeliat-geliat tdk karuan. Aku sdh merasakan meqinya Nonik sdh basah lagi dan sepertinya dia akan mencapai klimaksnya kembali. Namun dgn segera aku menghentikan kegiatan menjilatku dan berdiri.

    “Kenapa Wan..?”, tanyanya lemas.
    “Ah, tdk”, jawabku tersenyum.

    Kemudian aku membuka selangkangannya dan mengarahkan penisku ke lubang itu. Mula-mula aku mengusap-usapkan ujung penisku ke bibir selangkangannya dan pelan-pelan aku masukkan penisku ke meqinya Nonik.

    “Ooohhhh.. Wan.. ayo..”, desah Nonik.
    “Aku masukkin yah yaangg..”, kataku.
    “Iyaah.. Ooocchh.. c’mon honey..”
    “Oke..”

    ‘Slleebbb..’ penisku langsung aku masukkan ke dlm meqi Nonik.

    “Ooocchhh..”, teriak Nonik.
    “Gimana sayang..?”, kataku sambil menciumi bibirnya.
    “Wann.. oocchhhhhhh.. yesshh.. terusinn..”

    Kemudian aku mulai menggerakkan penisku dlm meqinya, aku putar, aku goyang dgn berbagai macam cara, pendek kata aku mencoba utk memberikan kenikmatan pada Nonik dgn penisku itu.

    “Wann.. oohhhh.. nikmat bangett.. uhh..”, desah Nonik sambil memandangku
    “Enak yah Nik..?”
    “Iyah.. ohh.. goyang terus.. Wan..”,

    Kami melakukannya dgn penuh gairah, kadang aku mengambil posisi di atasnya menindih badannya sambil memegang telapak tangannya di telentangkan kiri kanan, kadang jg dia yg di atas menindih tubuhku dan aku mendekap dia erat-erat sambil meremas-meremas pantatnya dan dia terus bergoyang kadang berirama kadang tdk. Sampai akhirnya kami sama-sama merasakan ada sesuatu yg keluar dari diri kami masing-masing. Perasaan itu benar-benar merupakan sensasi yg luar biasa bagi kami berdua.

    Kamipun terbaring lemas di sofa itu, Nina berbaring didekapan dadaku. Pengalaman ini sungguh-sungguh diluar dugaanku sebelumnya ternyata aku telah mengkhianati temanku dgn meniduri istrinya dan mungkin jg pikiran Nonik sama dgnku bahwa ia sdh mengkhianati suaminya hanya karena selingan belaka.

    “Nik, kamu menyesal sdh ngesex dgnku?”, tanyaku padanya.
    “Sedikit sih ada perasaan menyesal, tp aku tau kok kalau Herman itu sering selingkuh di belakangku”, jawabnya lagi.
    “Jadi aku lakukan ini karena ingin membalasnya saja.”
    “Ohh begitu”

    Tdk kusangka sama sekali, Herman yg aku kenal sebagai orang yg baik ternyata sdh menyakiti istrinya beberapa kali.

    “Ridwan, kamu jangan marah ya dgn kelakuanku ini”
    “Tentu saja tdk”, jawabku tersenyum.
    “Lain waktu Kalau kamu butuh sesuatu aku siap mbantu kamu kok.”
    “Makasih ya”

    Waktu jglah yg memisahkan kami Ridwan itu, setelah membersihkan diri kemudian Nonik pulang meninggalkanku yg penuh dgn pikiran, apa yg akan aku lakukan? Apakah aku akan terus berhubungan dgn Nonik? Apakah aku akan berteman terus dgn Herman? Apakah yg akan terjadi kalau kami ketahuan Herman? Pusing aku memikirkan hal itu, akhirnya aku putuskan utk menjaNonik saja semuanya sesuai dgn alurnya nanti, namun yg pasti aku menikmati masa-masa bersama Nonik tadi sore.

    Dan akhirnya akupun pergi tidur dgn lelap malam itu memimpikan kejadian yg mungkin akan terjadi Ridwan-Ridwan berikutnya dgn Nonik atau dgn siapapun.

  • Cerita Panas Permainan Terlarang

    Cerita Panas Permainan Terlarang


    99 views

    Cerita Panas Permainan Terlarang

    Ini pengalamanku sekitar 5 tahun yg lalu. Saat ini aku sudah berusia 38 tahun dan bekerja di salah satu instansi pemerintahan. Dan aku menikah sejak 9 tahun yg lalu dgn 2 anak. Aku berasal dr salah satu kota di Kalimantan dan kuliah di salah satu kota di Jawa. Selepas kuliah aku sempat kerja di perusahaan swasta setahun dan akhirnya diterima di instansi pemerintahan tempat aku bekerja skrg.

    Tuntutan pekerjaan membuat aku harus beberapa kali pindah kota dan pada 5 tahun yg lalu aku sempat ditempatkan di salah satu kota di propinsi asalku di Kalimantan yg berjarak sekitar 1-1,5 jam dari kota asalku. Pada saat itu istri dan anakku tidak ikut serta karena istriku harus bekerja dan terikat kontrak kerja yg tidak memperkenankannnya mengundurkan diri atau bermohon pindah sebelum 5 tahun masa kerjanya. Sehingga jadilah aku sendiri di sana dan tinggal di salah satu rumah orang tuaku yg mereka beli untuk investasi.

    Krn kebutulan aku pindah ke sana maka aku tinggal sendiri. Rumah tersebut berada di kompleks perumahan yg cukup luas namun cenderung sepi krn kebanyakan hanya menjadi tempat investasi alternatif saja, dan kalau ada yg tinggal adalah para pendatang yg mengontrak rumah di sana. Jadi lingkungan relatif apatis di sana. Pada beberapa kesempatan aku kadang-kadang berkunjung ke tempat nenekku yg tinggal di suatu kabupaten (sekitar 4 jam dari kota tempat aku tinggal sekarang) utk sekedar silaturahmi dengan famili di sana. Pada salah satu kunjungan saya ke sana, saya sempat bertemu dengan salah seorang yg dalam hubungan kekerabatan bisa disebut nenekku juga di rumah salah satu famili, sebetulnya bukan nenek langsung.

    Persisnya ia adalah adik bungsu dari istri adik kakekku (susah ya ngurutnya). Usianya lebih tua sekitar 8-9 tahunan dariku. Profil mukanya seperti Yati Octavia (tentu Yati Octavia betulan lebih cantik), dengan kulit cenderung agak gelap, dan badannya sekarang sedikit agak gemuk. Walaupun terhitung nenekku, ia biasanya saya panggil bibi saja krn usianya ia risih dipanggil nenek. Pertemuan tsb sebetulnya biasa saja, tapi sebetulnya ada beberapa hal yg sedikit spesial terkait pertemuan tersebut. Pertama, saya baru tau kalau suaminya baru meninggal sekitar 1 tahunan yg lalu. Ia yg berstatus honorer di sebuah instansi pemerintah sedikit mengeluhkan kondisi kehidupannya (untung ia hidup di kota kabupaten yg kecil) dengan 2 anak perempuannya yg berusia 12 dan 8 tahun.

    Saat itu aku bilang akan mencoba utk membantu memperbaiki status honorernya dgn mencoba menghubungi beberapa relasi/kolegaku. Hal spesial yg lain adalah sedikit pengalamanku di masa lalu dgn dia yg sebetulnya agak memalukan bila diingat (saat itu saya berharap ia lupa). Wkt saya masih di bangku SMA, ia dan kadang bersama famili yg lain sering berkunjung ke rumahku krn ia pernah kuliah di kota kelahiranku namun kost di tempat lain. Ia kadang2 menginap di rumahku. Pada waktu ia nginap dengan beberapa famili yg lain, aku sering ngintip mereka mandi dan tidur. Sialnya sekali waktu, saat malam2 aku menyelinap ke kamarnya (di rumahku kamar tidur jarang di kunci), dan menyingkap kelambunya (dulu kelambu masih sering digunakan).

    Saya menikmati pemandangan di mana ia tidur telentang dan dasternya tersingkap sampai keliatan celana dalam dan sedikit perutnya. Saat itu saya mencoba mengusap tumpukan vaginanya yg terbungkus celana dalam dan pahanya. Setelah beberapa kali usapan ia tiba2 terbangun dan saya pun cepat2 menyingkir keluar kamar. Sepertinya ia sempat melihat saya, hanya saja ia tidak berteriak. Hari2 berikutnya saya selalu merasa risih bertemu dia, namun iapun bersikap seolah2 tdk terjadi apa2. Sejak saat itu saya tdk pernah coba2 lagi ngintip ia mandi dan tidur. Hal itu akhirnya seperti terlupakan setelah saya kuliah ke Jawa, ia menikah dan sayapun akhirnya menikah juga. Inilah pertemuan saya yg pertama sejak saya kuliah meninggalkan kota kelahiran saya.

    Beberapa wkt kemudian pada beberapa instansi ada program perekrutan pegawai termasuk yg eks honorer termasuk pada instansi nenek mudaku tersebut. Pada suatu pembicaraan seperti yg pernah saya singgung sebelumnya, nenek mudaku tersebut sempat minta tolong agar ia bisa diangkat sbg pegawai tetap dan akupun kasak-kusuk menemui kenalanku agar nenek mudaku tersebut dapat dialihkan status honorernya menjadi pegawai. Aku beberapa kali menelpon nenek mudaku tersebut untuk meminta beberapa data dan dokumen yg diperlukan. Entah karena bantuan kenalanku atau bukan, akhirnya ia dinyatakan diterima sebagai pegawai. Nenek mudaku itu beberapa kali menelponku utk mengucapkan terima kasih, dan aku yg saat itu memang tulus membantunya juga ikut merasa senang.

    Beberapa bulan kemudian aku mendapat telpon lagi dari nenek mudaku tersebut yang mengabarkan bhw ia akan ke kota tempatku bertugas karena ia harus mengikuti pelatihan terkait dengan pengangkatannya sebagai pegawai di salah satu balai pelatihan yang tempatnya relatif dekat dengan rumahku. Waktu itu ia menginformasikan akan menginap di balai pelatihan tersebut namun akan berkunjung ke rumahku juga. Pada suatu hari Sabtu sore ia tiba di rumahku dengan membawa koper dan oleh2 berupa penganan khas daerahnya tinggal dan buah2an. Ia mengatakan hari pelatihannya dimulai hari Senin namun ia takut terlambat dan akan segera ke balai pelatihan tersebut malamnya. Aku tawarkan untuk istirahat dulu dan menginap satu malam.

    Namun karena kekahwatiran tersebut ia menolak untuk menginap dan hanya beristirahat saja. Maka ia kutunjukkan kamar tidur yang ada di samping kamar tidurku utk istirahat sejenak. Tidak ada kejadian apa2 sampai saat itu, dan pada malam harinya ia kuantar ke balai latihan. Namun di balai latihan tersebut suasananya masih sepi dan baru 3 orang yang melapor itupun masih keluar jalan2. Melihat keraguan untuk masuk ke balai latihan tersebut kembali aku tawarkan untuk menginap di rumah dulu dan nanti Senin pagi baru kembali. Ia langsung menerima tawaranku sambil menambahkan komentar bahwa ia dengar balai pelatihan tersebut agak angker. Malam minggu ia menginap dan tidak ada kejadian yg spesial kecuali kami mengobrol sampai malam dan ia menyiapkan makanan/minumanku. Sampai saat itu belum terlintas apa2 dalam pikiranku.

    Namun ketika ia selesai mencuci piring dan melintas di depanku yaitu antara aku dan televisi yg sedang aku tonton ia berhenti untuk melihat acara televisi sejenak. Saat itu aku melihat silhuote tubuhnya di balik daster katunnya yang agak tipis diterobos cahaya monitor televisi. Saat itulah pikiranku mulai mengkhayalkan yang tidak2. Maklum aku jauh dari istri dan kalau ngesekspun dengan orang lain juga kadang2 (aku pernah ngeseks dengan PSK yg agak elit dan beberapa mahasiswi tapi frekuensinya jarang krn biaya tinggi). Saat itu ia saya suruh duduk dekat saya utk nonton TV bersama2. Kami pun ngobrol ngalor ngidul sampai malam dan ia pun pamit utk tidur. Malam Seninnya juga tidak terjadi apa2 kecuali saat ngobrol sudah mulai bersifat pribadi tentang masalah-masalahnya seperti anaknya yg perlu uang sekolah dan lainnya.

    Aku katakan bahwa aku akan bantu sedikit keuangannya dan iapun berterima kasih berkali2 dan mengatakan sangat berhutang budi padaku. Senin paginya ia kuantar ke balai pelatihan tersebut dan dengan membawakan kopernya saya ikut masuk ke kamarnya yang mestinya bisa untuk 6 orang. Dengan menginapnya ia di sana, maka buyarlah angan2 erotisku pd dirinya dan akupun terus ke kantorku utk kerja seperti biasa. Namun pada sore hari aku menerima telpon yang ternyata dari nenek mudaku tersebut. Ia mengatakan bahwa agak ragu2 menginap di balai pelatihan tersebut krn ternyata semua teman2 perempuannya tidak menginap di situ, tapi di rumah familinya masing2 yg ada di kota ini sehingga di kamar yg cukup utk 6 orang itu ia tinggal sendiri kecuali jam istirahat siang baru beberapa rekan perempuannya ikut istirahat di situ.

    Dgn bersemangat aku menawarkan ia menginap di rumah lagi sambil melontarkan kekhawatiranku kalau ia sendiri di situ (sekedar akting). Ia terima tawaranku dan aku berjanji akan menjemput dia sepulang kantor. Akhirnya iapun menginap di rumahku dan rencananya akan sampai sebulan sampai pelatihan selesai. Angan2ku kembali melambung namun aku masih tdk berani apa2 mengingat penampilannya yg sdh sangat keibuan, kedudukannya dalam kekerabatan kami yg terhitung nenek saya, dan sehari2nya kalau keluar rumah pakai kerudung (tapi bukan jilbab). Aku betul2 memeras otak namun tdk pernah ketemu bagaimana cara bisa menyetubuhinya tanpa ada resiko penolakan. Aku sedikit melakukan pendekatan yg halus. Sekedar utk memberi perhatian dan sedikit akal bulus sempat aku belikan ia baju dan daster.

    Utk daster aku pilihkan ia yg cenderung tipis dan model you can see. Hampir setiap malam ia aku ajak keluar makan malam atau belanja (walupun pernah ia sekali menolak dgn alasan capek). Kalau ada kesempatan aku kadang2 mendempetkan badanku ke badannya bila lagi jalan kaki bersama atau duduk makan berdua di rumah makan. Aku juga sering keluar kamar mandi (kamar mandi di rumahku ada di luar kamar tidur) dgn hanya melilitkan handuk di badan. Selain itu aku juga kadang menyapa dan memujinyaa sambil memegang salah satu atau kedua pundaknya bila ia memasak sarapan pagi di dapur. Dari semua itu saya belum bisa menangkap apakah responnya positif terhadap aku. Dan setelah hampir 1 minggu, yaitu pada hari Sabtu pagi iapun pamit pulang ke kotanya untuk menengok anaknya yg agak sakit dan akan kembali minggu malamnya.

    Iapun pulang dan aku yg sendirian di rumah akhirnya juga keluar kota ke kota kelahiranku yg jaraknya cuma 1 jam dr kota tinggalku utk main2 dgn teman2 masa SMAku serta silaturahmi ke rumah orang tuaku. Saat bertemu teman2 lamaku aku agak banyak minum bir dan waktu tidurku agak kurang. Sore menjelang Maghirib akupun pulang ke kota di mana aku tinggal, terlintas sebuah rencana utk menggauli nenek mudaku yg saya perkirakan akan lebih duluan sampai di rumahku (ia kukasihkan kunci duplikat rumah utk antisipasi seandainya aku tdk ada dirumah bila ia datang). Sayapun sampai di rumah dan memang benar ia sudah ada di rumah.

    Ia bertanya kepadaku kenapa aku pucat dan keringatan dan saat ia pegang dahi dan tanganku ia bilang agak hangat (mugkin krn pengaruh begadang). Aku hanya berkomentar bhw aku mau cerita tapi tdk enak dan minta agar malam ini makan malam di rumah saja krn aku tdk enak badan. Ia tdk keberatan dan tanya aku mau makan apa, aku bilang aku cuma mau makan indomie telur dan iapun setuju. Seperti kebiasaannya ia selalu buatkan aku kopi dan teh utk dirinya, tak terkecuali malam itu. Melihat aku masih pucat ia menawarkan obat flu tapi aku bilang aku tdk flu dan tdk bisa cerita sambil pergi dengan pura2 sempoyongan ke kamarku dan bilang aku mau istirahat. Aku masuk kamar dan membuka baju dan berbaring di tempat tidur dgn hanya pakai celana pendek.

    Iapun menyusulku ke kamarku dan dgn iba bertanya kenapa dan apa yg bisa ia bantu. Dalam hatiku aku mulai tersenyum dan mulai melihat suatu peluang. Ia bahkan menawarkan utk memijat atau mengerik punggungku, tapi aku mau langsung ke sasaran saja dengan mempersiapkan sebuah cerita rekayasa. Akhirnya aku menatap ia dan menanyakan apakah ia mau tau kenapa aku begini dan mau menolong saya. Ia segera menjawab bahwa ia akan senang sekali bisa menolong saya krn saya sudah banyak membantunya. Iapun kusuruh duduk di tempat tidur dan dengan memasang mimik serius dan memelas sambil memegang salah satu tangannya akupun bercerita.

    Aku karang cerita bhw aku baru saja kumpul2 sama teman2ku waktu ke luar kota tadi sore. Terus ada salah satu temanku yg bawa obat perangsang yg aku kira adalah obat suplemen penyegar badan. Karena tdk tau, obat itu aku minum dan skrg efeknya jadi begini di mana aku kepingin ML dgn perempuan. Aku karang cerita bhw bila tdk tersalur itu akan membahayakan kesehatanku sementara istriku tdk ada di sini. Aku juga mengarang cerita bhw aku sudah mengupayakan onani tapi tdk berhasil dan tdk mungkin aku mencari PSK krn tdk biasa. Aku katakan bhw dgn terpaksa dan berat hati aku mengajak ia bersedia utk ML denganku utk kepentingan kesehatanku.

    Mendengar ceritaku ia terdiam dan menundukkan wajahnya, tapi salah satu tangannya tetap kupegang sambil kubelai dengan lembut. Melihat itu, aku lanjutkan dgn berkata bhw kalau ia tdk bersedia agar tdk usah memaksakan diri dan aku mohon maaf dgn sikapku krn ini pengaruh obat perangsang yg terminum olehku. Selain itu kusampaikan bahwa biarlah kutanggung akibat kesalahan minum obat tersebut dan aku katakan lagi bhw aku sadar kalau permintaanku itu tdk pantas tapi aku tdk bisa melihat jalan keluar lain sambil minta ia memikirkan solusi selain yg kutawarkan. Ia tetap diam, namun kurasakan bhw nafasnya mulai memburu dan dengan lirih ia berkata apa aku benar2 mau ML sama dia padahal ia merasa ia sudah agak tua, tdk terlalu cantik, agak sedikit gemuk dan berasal dari kampung.

    Aku jawab bahwa ia masih menarik, namun yg penting aku harus menyalurkan hasratku. Ia diam lagi dan aku duduk dikasur sambil tanganku merangkul dan membelai pundaknya yg terbuka karena dasternya model you can see. Kulitnya terasa masih halus dan sedikit kuremas pundaknya yg agak lunak dagingnya. Mukanya pucat dan bersemu merah berganti2, ia juga terlihat gelisah. Sedikit lama situasi seperti itu terjadi tapi aku tdk tau entah berapa lama, sampai aku mengulang pertanyaanku kembali (walaupun aku sudah yakin ia tdk akan menolak) dan akhirnya ada suara pelan dan lirih dari mulutnya. Aku tdk tau apa yg ia katakan tapi instingku mengatakan itu tanda persetujuan dan dengan pelan aku dekatkan mukaku ke wajahnya.

    Mula2 aku cium dahinya, setelah itu mulutku menuju pipinya. Ia hanya memejamkan mata, namun gerakan wajahnya yg sedikit maju sudah menjadi isyarat bhw ia tdk keberatan. Sedikit lama aku mencium kedua pipinya dan aku sejenak mencium hidungnya (di situ kurasakan desah nafasnya agak memburu) lalu akhirnya aku mencium bibirnya yg sudah agak terbuka sejak tadi. Sambil melakukan itu kedua tanganku juga beraksi dengan halus. Tangan kananku merangkulnya melewati belakang kepalanya kadang di bahu kanannya dan kadang di tengkuknya di belakang rambutnya yg terurai. Sedang tangan kiriku merangkul punggungnya dan mengusap paha kanannya secara bergantian. Ciuman bibir mulai kuintensifkan dengan memasukan lidahku ke mulutnya.

    Ia gelagapan namun tangan kananku memegang tengkuknya untuk meredam gerakan kepalanya. Ternyata ia tidak biasa dicium dgn memasukan lidah ke mulut yg kelak baru saya ketahui belakangan.. Tangan kiriku terus bergerilya, aku menarik bagian bawah dasternya yg ia duduki agar tangan kiriku bisa masuk ke sela2 antara daster dan punggungnya. Berhasil, tanganku mengusap punggungnya yg halus namun masih kurasakan tali BH nya di situ. Dengan pelan2 kubuka tali BH nya. Terasa ada sedikit perlawanan dari dia dengan menggerak2an punggungnya sedikit. Iapun hampir melepaskan mulutnya dari mulutku. Namun bibirku terus mengunci bibirnnya dan tugas tangan kiriku membuka pengait BH nya dibelakan sudah terlaksana.

    Tangan kananku langsung berpindah dengan menyelinap di balik daster bagian depan dan menuju BH nya yg sudah terbuka. Aku biarkan BH tsb dan tangan kananku menyelinap di antara BH dan payudaranya. Aku elus2 dan cubit2 pelan payudara di sekitar putingnya beberapa saat sebelum akhirnya menuju puting sampai akhirnya payudara yang memang sudah tidak terlalu kencang tapi cukup besar itu kuremas2 bergantian kiri dan kanan. Saat itu mulutnya menggigit bibirku, aku terkaget2, dan dengan cepat kutanggalkan daster dan BHnya dan ia kutelentangkan dikasurku. Ia rebah di kasurku dengan hanya mengenakan celana dalam yg sudah tua dan sedikit lubangnya di bagian selangkangannya. Aku langsung menggumulinya dengan mulutku langsung menuju mulutnya.

    Ia sempat melenguhkan suara yg sepertinya menyebut namaku. Aku tidak peduli. Mulutku bergeser ke lehernya dan kudengar ia berkata dgn tidak jelas …. ?aduh kenapa kita jadi begini??. Aku tdk peduli dan mulutkupun bergeser ke payudaranya secara bergantion. Akhirnya suaranya yg awalnya seperti keberatan menjadi berganti dengan lenguhan dan desahan yg lirih. Aku bangkit dr badannya sejenak utk melepaskan celanaku sampai akupun telanjang bulat. Kulihat ia sedikit kaget dan matanya terbuka melihatku seolah2 tak rela aku melepaskan tubuhnya. Namun secepat kilat setelah aku telanjang bulat aku kembali menggumulinya dan melumat bibirnya habis2an. Kedua tanganku merangkulnya dengan memegang erat bahu dan belakang kepalanya.

    Kupeluk ia erat2 dan iapun membalas ciuman bibirku dengan hangat bahkan liar. Matanya terpejam dan kedua tangannyapun memeluk diriku dan kadang megusap punggungku. Mulutku beralih ke payudaranya. Sekarang aku baru bisa melihat jelas bentuk payudara dan tubuhnya yg lain. Memang bukan bentuk yg ideal sebagaimana umumnya diceritakan di cerita2 saru lainnya. Payudaranya memang besar (aku tidak tau ukurannya) tapi sedikit turun dan tdk kencang. Tubuhnya masih proporsional walaupun cenderung gemuk dengan adanya lipatan2 lemak di pinggangnya dan perut yg kendur karena bekas melahirkan (mungkin), namun kulitnya begitu halus. Mulutku lalu melumat puting payudaranya yg kiri dan tangan kiriku meremas payudara yg kanan.

    Sedang tangan kananku bergerilya ke selangkangannya dan mengusap2 bagian yg masih terbungkus celana dalam tersebut. Jari2 tanganku menemukan lubang pada robekan celana dalamnya yg sudah tua sehingga jari2ku tsb bisa mengakses ke bagian selangkangannya yang mulai lembab pd rambutnya yg kurasakan cukup lebat. Jari2 kananku memainkan klitorisnya dan kadang2 kumasukkan ke dalam lubangnya sambil menggesaek2annya. Kurasakan desahan dan lenguhannya sedikit lebih keras menceracau. Sekilas kulihat kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan dengan pelan tapi mulai liar. Tangan kirinya dia angkat sehingga jarinya ada didekat telinga kirinya sambil meremas2 seprai dan ujung bantal tidak karuan. Tangan kanannya mengusap kepala dan menarik2 rambutku.

    Akupun mulai tdk bisa menahan diri lagi karena penisku sudah berdiri tegak sejak tadi. Ukuran penisku biasa2 saja (sebetulnya aku agak heran dgn ceritaa erotis yg bilang sampai 20 cm, aku tdk pernah mengukur sendiri). Kutarik celana dalamnya sampai lepas. Kemudian aku melepaskan tubuhnya dan mengambil posisi di antara dua pahanya. Waktu kulepas tubuhnya sejenak tadi ia sempat tersetak dan matanya terbuka seolah2 bertanya kenapa. Tapi begitu melihat aku sudah dalam posisi siap mengeksekusi dirinya iapun mulai memejamkan matanya lagi. Sambil kuremas2 payudaranya sebelum memasukan rudalku ke liangnya aku sedikit berbasa basi dan menanyakan apa ia ikhlas aku setubuhi malam ini. Dengan lirih ia mempersilakan dan bibirnya sedikit tersenyum.

    Kedua tangannya menarik badanku dan akupun mulai memasukkan penisku ke lubangnya. Walaupun sudah lembab dan ia pernah melahirkan, ternayata aku tdk bisa langsunga memasukkan penisku. Sampai2 tangan wanita yg telah lama menjanda dan kehidupan sehari2nya begitu kolot ini ikut membantu mengarahkan rudalku ke lubangnya. Rupanya nafsunya sudah membuat ia terlupa. Di luar terdengar hujan mulai turun dengan lebat menambah liarnya suasana di kamarku dan pintu kamarku masih terbuka krn aku yakin tdk ada siapa2 lagi di rumah tipe 60 milik orang tuaku ini. Ujung rudalku mencoba merangsek kelubangnya scr pelan2 dgn gerakan maju mundur dan kadang2 berputar di area mulut lubangnya. Tidak terlalu lama rudalku mulai menembus liang senggamanya. Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan.

    Matanya merem dan kadang setengah terbuka. Tangannya ke sana kemari kadang meremas seprai dan ujung bantal, kadang meremas rambutku dan kadang mengusap punggung dan bahkan mencakar punggung atau dadaku. Pinggulnya kadang menyentak maju menuju rudalku seolah2 sangat ingin agar rudalku segera masuk. Akhirnya rudalku yg sudah masuk sepertiganya ke liang senggamanya kucabut tiba2. Terlihat ia kaget dan membuka matanya. Ia memanggil namaku dengan suara yg sudah dikuasai birahi dan bertanya ada apa. Namun sebelum selesai pertanyaannya aku langsung dengan cepat dan sedikit tekanan menghujamkan rudalku ke liangnya yg walaupun sedikit seret tapi akhirnya bisa masuk seluruhnya ke dalam lubangnya dan aku memeluknya dengan mukaku begitu dekat dengan mukanya sambil menatap wajahnya yg penuh kepasrahan namun juga dikuasai birahi yg kuat.

    Ia tersentak dan melenguh keras ………….. aaaaaaaahh …. sejenak aku mendiamkannya dengan posisi seperti itu. Ia mencoba menggerakkan pinggulnya maju dan mundur dengan ruang gerak yg terbatas. Aku pun mulai menggerakkan pinggulku ke belakang dan ke depan dengan gerakan pelan tapi pasti. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya dengan liar. Ia menceracau dan terus mendesah dan pinggulnya mencoba utk membawa diriku menggoyangnya lebih cepat lagi. Entah beberapa kali namaku ia sebut. Ia juga menceracau ia sayang dan mencintaiku. Dan aku yg sudah terbawa gelombang birahipun tidak memanggil ia ?bibi? lagi (ia sebetulnya terhitung nenekku, namun krn usianya tdk terlalu tua maka ia sering dipanggil bibi). Ya … dalam keadaan birahi tsb aku juga kadang menceracau memanggil namanya saja. Seperti tdk ada perbedaan usia dan kedudukan di antara kami.

    Entah berapa lama aku menggoyangnya dengan gerakan yang sedang2 saja, tiba2 kedua tangannya merangkul tubuhku utk lebih merapat dengan dia. Aku pun melepaskan payudaranya dan juga akan merangkul tubuhnya. Kurasakan betapa lunak dan empuk tubuhnya yg agak gemuk dan memang sudah tidak terlalu sexy itu ketika kudekap. Semua bagian tubuhnya tidak ada yg kencang lagi. Namun kelunakan tubuhnya dan kehalusan kulitnya ditambah pertemuan dan gesekan antara kulit dadaku dgn kedua payudaranya membawa sensasi yg luar biasa bagi diriku. Irama gerakan pinggulku dan pinggulnya tetap stabil. Tiba2 ia mendesah dengan suara yg agak berbeda dan kedua matanya memejam rapat2.

    Ia mempererat dekapannya dan mengangkat pinggulnya agar selangkangannya lebih rapat dengan selangkanganku. Setelah itu kedua kakinya mencoba mengkait kedua kakiku. Gerakan bibir dan raut mukanya menunjukan kelelahan tercampur dengan kenikmatan yg amat sangat. Rupanya ia sudah orgasme. Ia membuka matanya dan wajahnya ia dekatkan ke wajahku sambil bibirnya terbuka dan memperlihatkan isyarat utk minta aku cium. Bibirkupun menyambar bibirnya dan saling melumat. Ketika lidahku masuk kemulutnya, ternyata ia sudah bisa mengimbangi walaupun dengan terengah2. Terbayang reaksinya waktu orgasme tadi maka gairahku menjadi meningkat. Walaupun tau ia sudah orgasme beberapa saat setelah itu aku mulai meningkatkan kecepatan irama gerakan pinggulku utk membawa rudalku menghujam2 liang senggamanya.

    Walaupun sambil berciuman aku tetap mempercepat gerakan pinggulku. Awalnya pinggulnya mencoba mengikuti gerakan pinggulku. Namun tiba2 ia melepaskan mulutku dan kepalanya bergerak kekiri dan diam dengan posisi miring ke kiri sehingga aku hanya bisa mencium pipi kanannya. Matanya merem melek. Dekapan tangannya ketubuhkupun ia lepaskan dan ia angkat ke atas sehingga jari2 kedua tangannya hanya meremas2 seprai di atas kepalanya. Kedua kakinya berubah gerakan menjadi mengangkang dengan seluas2nya. Aku jadi mempecepat gerakan pinggulku. Bahkan gerakan rudalku menjadi lebih ganas yaitu saat aku memundurkan pinggulku maka rudal keluar seluruhnya sampai di depan mulut liang senggamanya namun secepat kilat masuk lagi ke dalam lubangnya dan begitu seterusnya namun tdk pernah meleset.

    Tangan kiriku kembali meraba payu daranya dan kadang2 ke klitorisnya. Ia menceracau dan kali ini tidak menyebut namaku namun berkali bilang ?aduh …. ampun … sayang …? atau ?kasian aku sayang? dan bahkan ia bilang sudah tidak tahan lagi. Namun aku tau ia terbawa kenikmatan yg luar biasa yang sekian tahun tidak pernah ia rasakan. Malam dingin dan AC di kamarku tdk bisa menahan keluarnya keringat di tubuh kami. Tiba2 kembali ia melenguh, kali ini lebih keras dan mulutnya maju mencari bibirku. Ya, ia kembali orgasme. Aku tidak menghiraukan mulutnya namun lebih berkosentrasi utk mempercepat gerakan pantatku sambil aku putar.

    Putus asa ia mencoba mencium bibirku ia rebah kembali, namun pd saat itu akupun mencapai puncaknya dan rudalku menyemburkan sperma yang banyak ke liang senggamanya. Sementara liang senggamanya berdenyut menerima sperma hangatku. Aku terkulai di atas tubuhnya dengan rudalku masih di dalam liang senggamanya. Kami berpelkan dgn sangat erat seolah2 tubuh kami ingin menjadi satu. Kami berciuman dan saling membelai. Berkali2 kami saling mengucapkan sayang. Iapun mengungkapkan betapa bahagianya ia krn selain bisa menolongku menyalurkan libidoku, juga ia merasa terpuaskan kebutuhan yang tdk pernah ia rasakan sekian tahu. Apalagi ketika setelah itu ia semapat bercerita betapa almarhum suaminya begitu kolot dalam bercinta dan sekedar mengeluarkan sperma saja.

    Ia baru tau bahwa bercinta dengan laki2 dapat lebih nikmat dibanding yg pernah ia rasakan. Kami tertidur sambil berpelukan. Paginya ketika terbangun jam 8 pagi kami bercinta lagi dengan sebelumnya menelpon ke tempat diklatnya utk memberitahukan bahwa ia tdk enak badan. Ia adalah tipe wanina yg juga agak kolot. Beberapa variasi ia lakukan dgn kikuk. Ia sering tdk bersedia bila vaginanya aku oral dgn alasan tdk sampai hati melihat aku yg banyak menolongnya mengoral vaginanya. Tapi ia mau mengoral penisku kadang2. Biasanya ia mau kalau ia sudah tdk bisa mengimbangi permainanku sedang aku masih mau bercinta. Selama sebulan ia tinggal di rumahku dan kami sudah seperti suami istri ….

    bahkan percintaan kami sering lebih panas. 2 hari setelah percintaan kami yg pertama aku malah sempat mengantar ia ke dokter utk pasang spiral agar tdk terjadi hal2 yg tdk diinginkan. Hal yg kusuka darinya adalah ia ternyata pandai menyembunyikan hubungan kami. Jadi bila ada tamu atau famili datang ke rumahku, sikap kami biasa2 saja. Memang aku sempat mendoktrin dia bhw hubungan kami ini adalah hubungan terlarang, namun krn awalnya menolongku maka tdk apa2 dilanjutkan krn ia harus mengerti dgn kebutuhanku sbg laki2 drpd aku kena penyakit bercinta di luaran maka ia tdk perlu tanggung2 menolongku. Selain itu hal yg kusukai dr dia adalah sikapnya yg berbakti kepadaku bila kami berdua saja. Hampir semua permintaanku mau ia terima selama ia anggap permainan normal. Ia bilang itu ia lakukan krn aku banyak menolongnya.

    Kadang2 aku memutarkan kaset video BF utk memperlihatkan beberapa variasi padanya. Aku bahkan sempat melakukan penetrasi di anusnya. Sebetulnya kesediaannya utk disodomi itu dilakukan dgn terpaksa krn pd saat kami melakukan foreplay ternyata ia menstruasi. Melihat aku sudah di puncak birahi ia mencoba melakukannya dengan tangan dan mulut tapi tdk berhasil krn ia mmg tdk terlalu lihay. Akhirnya dengan dibantu hand body cream maka anusnya lah yg jadi sasaranku. Sebetulnya aku kasian juga melihat ia menitikan airmata waktu aku mulai menusukan rudalku ke anusnya. Tapi karena aku sudah berada di ujung kenikmatan maka aku tetap melakukannya. Krn di rumah hanya kami berdua maka kami melakukannya di mana saja, bisa di kamar mandi, bisa di depan TV, dan lainnya.

    Hal yg paling mengesankan adalah suatu hari pada saat saya pulang jam istirahat siang, ternyata iapun baru pulang juga utk istirahat di rumah krn ada informasi instrukturnya akan datang terlambat sekitar setengah atau satu jam. Mendengar penyampaiannya itu aku langsung mutup pintu rumah dan menyergapnya. Aku baringkan ia di atas hambal di ruang tengah depan TV. Ia gelagapan dan berteriak2 senang sambil berpura2 protes. Aku hanya menurunkan celana tidak sampai lepas dan iapun cuma kusingkapkan rok panjangnya dan melepaskan celana dalamnya. Baju PNS nya hanya kubuka kancingnya dan menarik BHnya ke atas. Kerudungnya aku biarkan terpasang. Sehingga kamu bercinta dgn tdk sepenuhnya telanjang. Mungkin krn agak tegang permainan kami menjadi lebih lama dr permainan biasanya.

    Akhirnya kami istirahat di rumah dengan hanya makan nasi dan telur dadar krn waktu istirahat tersita utk bercinta. Pada saat ia kembali ke kotanya kami masih berhubungan sebulan 3-4 kali dalam sebulan. Namun setelah aku pindah ke kota lain hubungan kami jadi sangat jarang. Terakhir ia menikah lagi dengan seorang duda yang usianya 7 tahun lebih tua dari dia. Itupun ia terima setelah aku yg mendorong utk menerimanya wkt ia menceritakan bhw ada orang yg mau melamarnya. Demikianlah ceritaku. Sebetulnya sampai saat ia bersuamipun aku tau kalau aku datang kepada dirinya dan ia punya waktu maka ia akan bersedia melayaniku. Hanya aku tdk mau mengambil resiko yg lebih tinggi.