JANDA

  • AIRPORT SEX NIKMAT

    AIRPORT SEX NIKMAT


    1141 views

    SEMUA INI TENTANG AIRPORT YANG BASAH DALAM CELANA

    Dua tahun yang lalu aku dan Lily bertamasya ke Disney World di Orlando, AmerikaSerikat. Karena keuangan yang agak pas-pasan, kami membeli tiket pesawat dari perusahaan penerbangan yang lebih murah. Pilihan kami jatuh pada Malaysia Airline(selain murah, pada saat itu sedang ada harga promosi). Semua perencanaan terlihat begitu baik. Kami berangkat dari Jakarta sekitar jam 7malam. Sesuai jadwal yang telah diberitahukan, kami transit selama 1 jam di KualaLumpur untuk melanjutkan ke penerbangan selanjutnya langsung ke bandara John FKennedy (JFK) di New York .Itu yang kami tahu. Akan tetapi pada kenyataannya kami harus transit sekali lagi diDubai (Arab). Aku sempat kecewa karena kami tidak diberitahukan akan hal inisebelumnya. Aku sempat menanyakan tempat transit mana saja yang akan kami jalanipada perusahaan travel tempat kami memesan tiket namun mereka mengatakan bahwakami hanya transit satu kali di Kuala Lumpur . Aku sempat mengira kami telah salah naik pesawat karena persinggahan pesawat kami diDubai itu. Setelah mengetahui kapal yang kami naiki benar-benar menuju ke New York , kami hanya pasrah saja. Pemeriksaan yang bertele-tele di bandara Dubai sungguh melelahkan. Kami harusmengantri sekitar 1 jam untuk melewati pemeriksaan bagasi saja. Setelah barang-barang bawaan kami melewati alat sensor, seorang petugas menghampiritas koper istri saya dan berseru dengan suara agak keras untuk menanyakan siapa pemilikkoper tersebut. Istri saya maju dan mengatakan kepadanya bahwa tas itu miliknya. Petugas tersebut memandangi Lily cukup lama.

     

    Salah satu hal yang paling kuingat dari wajahnya adalah kumis yang lebat seperti Pak Raden dalam film si Unyil. Lalu iamembuka koper itu dan mulai mengacak-acak isinya. Isi koper itu hanyalah pakaian- pakaian dan peralatan kosmetik Lily. Tangan pria itu (sebut saja si Kumis) mengeluarkansatu kantong berisi bubuk hitam dari dalam koper. ìWhat is this?î tanyanya dengan logat yang sulit dimengerti. Lily menjawab gugup, ìCoffee.î Alis si Kumis mengkerut. Matanya menatap tajam Lily. Lalu ia mengatakan beberapakalimat yang sulit dipahami. Kemungkinan besar apa yang ingin dikatakan si Kumis(dengan menggunakan bahasa inggris yang sangat aneh) adalah membawa kopi dilarang.!Aku mendekati petugas itu dan menanyakan lebih jelas permasalahannya. Si Kumismasih saja mengacak-acak koper itu seakan mencari sesuatu yang hilang. Tanpa merapihkan isi koper itu lagi, ia menutupnya dan memandang aku dengan wajah curiga. ìWho are you?î aku menduga ia mengucapkan kata-kata tersebut. ìIím her husband. Whatís the problem, sir?îIa terus memandangi kami berdua secara bergantian. Ia memanggil dua orang petugaslain di belakangnya dengan gerak isyarat. Lalu ia berkata, ìFollow me!î Dua koper kami diangkat oleh salah satu opsir yang baru dipanggil si Kumis sedang yangsatunya lagi menggiring kami untuk mengikuti si Kumis.

    Si Kumis berjalan dengan cepatmasuk ke dalam ruangan tertutup di pojok lorong tak jauh dari WC. Ruangan yang tak lebih dari 3 x 3 meter itu sangat terang dan seluruh temboknya dilapisicermin setinggi 2 meter dari lantainya. Koper kami dilemparkan dengan kasar ke atasmeja di pinggir. Ketiga pria itu (termasuk si Kumis) telah masuk ke dalam ruangan. Priayang memiliki brewok lebat menutup pintu lalu menguncinya. Kami berdua berdiri terpaku di hadapan mereka bertiga. Aku merasa cemas akan semua ini. Apa yang akan terjadi? Apa masalah yang begitu besar sehingga kami harus diperiksadi ruangan terpisah? Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang memenuhi pikiranku(mungkin tak beda jauh dengan benak Lily). Baru saja aku ingin membuka mulut untuk menanyakan permasalahannya, si Kumismengatakan sesuatu yang tak jelas. Kata-kata yang dapat tertangkap oleh telingaku hanyalah ìstandî, ìwallî (dan ìagainstî setelah berpikir beberapa detik untuk mencernanya). Menurut perkiraanku mereka ingin kami berdiri menghadap tembok. Informasi ini kuteruskan ke Lily yang tidak mengerti sama sekali perkataan si Kumis. Dengan enggan kami membalik badan kami menghadap tembok. Dari pantulan cermin didepan kami, aku melihat si Brewok dan pria yang satunya lagi yang berbadan lebih tegap(sebut saja si Tegap) menghampiri kami. Telapak tangan kami di tempelkan di tembok (cermin) di depan kami dan kaki kami direnggangkan dengan menendang telapak kakikami agar bergeser menjauh. Si Brewok mulai memeriksa seluruh tubuhku. Dimulai dari atas dan bergerak ke bawah. Pemeriksaan berlangsung cepat. Beberapa benda di kantong baju dan celanakudikeluarkan dan diletakkannya di meja terpisah. Sama halnya seperti yang terjadi pada diriku, si Tegap memeriksa Lily dari atas kebawah.

    Sekilas aku melihat dari cermin, si Tegap menggerayangi payudara Lily walauhanya sebentar.!Tak ada ekspresi yang berubah dari wajah Lily. Sejak tadi ekspresi yang terlihat hanyalahekspresi kecemasan. Aku menepis pemikiran bahwa si Tegap mencari kesempatan dalamkesempitan pada tubuh istriku. Mungkin saja memang ia harus memeriksa bagian dadaLily, toh dadaku juga diperiksa oleh si Brewok, pikirku. Benda-benda juga dikeluarkan dari kantong jaket, baju dan celana Lily. Meja itu dipenuhioleh uang receh, permen, sapu tangan dan kertas-kertas tak berguna dari isi kantong kamiberdua. Kemudian setelah harus mencerna hampir lima kali kata-kata yang tak jelas dari si Kumis(yang ternyata adalah atasan si Brewok dan si Tegap), aku menyadari bahwa ia menyuruhkami untuk membuka pakaian kami. Jantungku seperti berhenti berdetak. Lily masihbelum dapat mengira-ngira perkataan si Kumis itu. Tanpa memberitahu istriku, aku mencoba untuk memprotes kepada si Kumis. Namun siKumis membentak, yang kuduga isinya (jika diterjemahkan): ìJangan macam-macam!Cepat laksanakan!î Beberapa kata yang dapat tertangkap jelas oleh telingaku adalahìDonít playî dan ìQuickî. Aku membisikkan kepada istriku keinginan si Kumis. Mata Lily membesar dan mulutnyaterbuka sedikit karena kaget. Si Tegap dan si Brewok sudah berdiri di samping kami dan mengawasi kami denganpandangan tajam. Aku melirik ke pinggang si Brewok. Pandanganku tertumpu padapistol yang menggantung di pinggang tersebut. Perasaan takut sudah menguasai diriku. Aku mulai melepaskan pakaianku dari sweater, kemeja, kaos dan celana panjang.

    Pada saat aku melepaskan kemejaku, Lily masih belum beranjak untuk melepaskan pakaiannya. Karena takut istriku dilukai, aku memberi pandangan isyarat kepadanya agar ia segera melepaskan pakaiannya. Akhirnya dengan berat hati ia melepaskannya satu per satu. Jaket, kemeja, kaos dalam dan terakhir celana jeansnya. Kami berdua berdiri hanya dengan pakaian dalam kami. Si Kumis berkata sesuatu yang sama sekali tidak dapat kumengerti. Detik berikutnya si Tegap menarik tangan Lily dan membawanya ke sisi tembok yang bersebelahan dengantembok di hadapan kami. Tangan si Brewok menahanku ketika aku hendak mengikutiLily. ìDonít move!î katanya kepadaku dengan sangat jelas. Aku masih dapat melihat Lily (dari bayangan di tembok cermin) berdiri tak jauh disebelah kananku. Ia menghadap tembok namun pada sisi yang berbeda dengan tembokku. Lalu si Brewok menarik tanganku agar kedua telapak tanganku menempel di tembokcermin dan merenggangkan kakiku. Si Tegap melakukan hal yang sama pula terhadapLily.!Si Brewok yang berdiri di belakangku, meraba-raba bagian tubuhku yang ditutupi olehcelana dalamku, mencari-cari sesuatu untuk ditemukan. Setelah itu sambilmenggelengkan kepalanya, ia mengatakan sesuatu kepada si Kumis. Pada saat itulah aku melihat tangan si Tegap menggerayangi tubuh Lily. Dengan jelasaku melihat tangannya meremas payudara Lily selama beberapa detik. Tangannyabergerak ke bagian bawah tubuh Lily. Kemudian si Tegap berjongkok di belakang Lilydan aku tak dapat lagi melihat apa yang dikerjakannya setelah itu. Lily memejamkanmatanya. Alisnya sedikit mengkerut. Selama sekitar 20 detik, aku tak berani memalingkan wajahku untuk melihat apa yangdikerjakan si Tegap pada istriku. Lalu ia berdiri dan berkata pelan kepada si Kumis (lagilagiaku tak dapat menangkap kata-kata yang diucapkan mereka). Si Kumis berkata-kata lagi diikuti dengan ditariknya celana dalamku ke bawah oleh siBrewok.

    Belum sempat kaget, aku mendengar Lily menjerit kecil. Rupanya celanadalamnya sudah ditarik ke bawah sampai ke lututnya, sama seperti yang dilakukan siBrewok terhadap celana dalamku. Setelah itu si Tegap meraih kaitan di belakang BH Lilydan melepaskannya dengan cepat. Si Tegap meraih BH itu dan menariknya satu kalidengan keras sehingga lepas dari tubuh Lily. Secepat kilat Lily menutupi kedua dadanya. Aku pun menutupi kemaluanku. Kamiberdua berdiri tegang. Si Kumis berjalan perlahan menghampiriku lalu bergerak ke arahLily. Untuk beberapa saat ia hanya berdiri dan memperhatikan tubuh istriku. Aku rasa, Lily mulai akan menangis. Si Kumis memberi isyarat kepada si Tegap. Lalu si Tegap menghampiriku dan berdirimenantang di sampingku. Aku hanya melirik sekali dan mendapati wajahnya berubahmenjadi lebih kejam tiga kali lipat. Sambil mengatakan sesuatu, si Kumis mendorong pentungan hitam (yang biasa dibawaoleh polisi) yang dipegangnya ke arah tangan Lily yang menutupi buah dadanya. Akudapat melihat istriku menjatuhkan kedua tangannya ke sisi tubuhnya. Si Kumis kembalimemandangi Lily dan kali ini pandangannya terkonsentrasi ke arah payudara istriku. Hampir semenit penuh ia memandangi tubuh Lily. Lily hanya memejamkan matanya, mungkin karena takut (atau malu?). Dengan menggunakan pentungan hitamnya itu, si Kumis menurunkan celana dalam Lilydari lutut sampai ke mata kakinya. Lalu ia memaksa Lily untuk merenggangkan kakinyasehingga mau tak mau ia melangkah keluar dari celana dalamnya. Pada saat si Kumis mulai menggerayangi payudara istriku, aku beringsut dari tempatkuuntuk mencegahnya.

    Namun bukan aku yang mencegah perbuatan si Kumis, si Tegapdibantu oleh si Brewok menahan tubuhku untuk tetap berdiri di tempat.!Aku meneriaki si Kumis untuk menghentikan perbuatannya. Teriakanku disambut dengantamparan keras pada pipi kananku. Aku merasakan rasa asin yang kutahu berasal daridarah yang mengalir dalam mulutku. Akhirnya aku hanya berdiri dan berdiam diri. Tak beberapa lama setelah itu, si Kumis berjongkok di depan Lily sehingga aku tak dapatmelihat apa yang dilakukannya. Dari sudut pandangku, aku hanya dapat melihat daribayangan di cermin bagian belakang tubuh si Kumis yang sedang berjongkok di antarakedua paha Lily. Tidak terdengar suara apa pun selain suara detak jantungku yang semakin keras dancepat. Lily tetap memejamkan matanya dengan alis sedikit mengkerut, sama seperti tadi. Lily tidak mengeluarkan sepatah kata pun sejak tadi masuk ke dalam ruangan itu. Istrikumemang agak penakut dan kurang berani mengungkapkan pendapatnya pada orang lain. Walaupun demikian, aku agak heran dengan sikap istriku saat itu yang tidak memprotessedikit pun atas perbuatan si Kumis terhadap dirinya. Atau mungkin saja si Kumis tidakmelakukan apa-apa saat itu, batinku. Setelah lima menit berlalu dalam keheningan, tiba-tiba istriku mengeluh (lebihmenyerupai mendesah), ìHhwwhhhÖî Aku melirik ke arahnya dan mendapati ia tidaklagi menutup matanya. Matanya agak membelalak dan mulutnya terbuka sedikit.
    Setelah itu, si Kumis berdiri dan menghampiri si Tegap. Ia memberi isyarat dengantangannya kepada si Tegap dan si Brewok untuk meninggalkan ruangan itu. Aku yakin (sangat yakin, untuk lebih tepatnya) bahwa aku melihat beberapa jari si Kumismengkilap karena basah. Hanya dengan melihat hal itu, cukup bagiku untuk menduga apayang telah dilakukan si Kumis terhadap istriku. Si Kumis berkata-kata kepada kami. Kali ini aku yakin ia mengatakannya dalam bahasainggris. Walau aku hanya dapat menangkap sepenggal kalimat (ìmay passî), namun akuyakin bahwa ia menyuruh kami mengenakan kembali pakaian kami dan memperbolehkankami untuk melanjutkan perjalanan kami. Awalnya aku tak mempercayai pendengaranku (dan tafsiranku terhadap kata-katanya). Namun setelah mereka keluar dari ruangan itu dan meninggalkan kami berdua saja, akusemakin yakin.
    Aku menyuruh Lily untuk mengenakan pakaiannya secepat mungkin. Dan ia mulaimenangis terisak-isak sambil

    mengenakan pakaiannya. Setelah selesai mengenakan seluruh pakaian kami, aku memeluk istriku yang masihmenangis. Dalam pelukanku tangisannya semakin menjadi. Aku hanya mengelus-elusrambutnya dan menenangkan hatinya dengan mengatakan bahwa semua itu sudahberakhir.!Sesampai kami di hotel (di Orlando), Lily akhirnya menceritakan apa yang diperbuat siKumis terhadap dirinya. Ia bercerita bahwa sambil menjilati klitorisnya, si Kumismenggesek-gesekkan jarinya ke kemaluan istriku. Pada akhirnya si Kumis memasukkansatu ñ dua jarinya ke dalam liang kewanitaannya lalu mengocoknya beberapa kali. Lily mengatakan bahwa dirinya merasa jijik atas perbuatan si Kumis. Setelah beberapasaat, aku menanyakan padanya apakah ia terangsang saat itu. Mendengar pertanyaan itu, Lily langsung mencak-mencak dan mengambek. Dalamrajukannya, ia menanyakan kenapa aku berpikiran seperti itu.

    Aku mengungkapkan bahwa aku melihat jari-jari si Kumis basah pada saat iamenghampiriku sebelum keluar dari ruangan itu. Lily menjawab bahwa jari-jari itu basahkarena terkena ludah dari lidah yang menjilati klitorisnya. Karena tak mau melihatdirinya merajuk lagi, akhirnya aku menerima penjelasannya dan meminta maaf karenatelah berpikiran seperti itu. Sebenarnya di dalam otak, logikaku terus berputar. Bagaimana mungkin ludah si Kumisdapat membasahi sepanjang jari-jarinya itu, pikirku. Dalam hatiku yang terdalamsebenarnya aku tahu bahwa jari-jari si Kumis bukan basah oleh ludah melainkan olehcairan yang meleleh dari kemaluan istriku. Namun aku menepis pendapatku itu dan tidak berniat membahasnya lagi dengan Lilyagar kami dapat menikmati sisa waktu kami di Amerika itu.!

  • BERCINTA DENGAN PERAWAN

    BERCINTA DENGAN PERAWAN


    2009 views

    PERAWAN MEMANG MENGGODA

    Shanti baru saja selesai menyapu lantai. Dan sekarang ia berniat mencuci piring kotor. Iaberjalan masuk kedalam dapur dan mendapati Mbak Tuti sedang membenahi peralatandapur. Pada jam seperti ini restoran tempat mereka bekerja sudah sepi. Hari ini giliranShanti yang harus pulang lambat karena ia harus merapikan restoran untuk buka nantimalam. Begitulah keadaan restoran dikota kecil, pagi buka sampai jam 3 sore lalu tutupdan buka kembali jam 7 malam. Shanti tahu ia tak akan sempat pulang karena ia harusbekerja merapihkan tempat itu bersama Tuti. Shanti adalah seorang gadis yang cantik dan ramah. Usianya sudah 17 tahun dan ia takdapat lagi meneruskan sekolahnya karena orang tuanya tidak mampu. Wajahnya oval dansangat bersih, kulit gadis itu kuning langsat.

    Mata Shanti bersinar lembut, bibirnyakemerahan tanpa lipstik. Shanti mempunyai rambut yang panjang sampai dadanya, berwarna hitam, tubuhnya seperti layaknya gadis kampung seusianya. Buah dada Shantimembusung walaupun tidak dapat dikatakan besar namun Shanti memiliki pantat yangindah dan serasi dengan bentuk tubuhnya. Pendek kata Shanti seorang gadis yang sedangtumbuh mekar dan selalu dikagumi setiap pemuda dikampungnya. Tuti seorang wanita yang sudah berusia 32 tahun. Ia seorang janda ditinggal ceraisuaminya. Sudah 3 tahun Tuti bercerai dengan suaminya karena laki-laki itu main giladengan seorang pelacur dari Jawa Tengah. Tuti bertubuh montok dan bahenol. Semuanyaserba bulat dan kencang, wajahnya cukup manis dengan rambut sebahu dan ikal. BibirTuti sangat menggoda setiap laki-laki, walaupun hidungnya agak pesek. Kulit Tutiberwarna coklat tua karena ia sering ke pasar dan ke sawah sebagai buruh tani kalausedang musim tanam atau panen. Tuti dulunya adalah seorang pelacur daerah Tretes, Jawa Timur.

    Dulu uang begitu gampang diperoleh dan laki-laki begitu gampang dipeluknya, sampaiakhirnya hukum karma membuat ia menjanda karena sesama teman seprofesinya juga. Banyak orang dikampung yang diam-diam mengetahui sejarah kelam Tuti dan banyakjuga yang mencoba hendak memanfaatkan dia. Tapi selama ini Tuti terlihat sangat cuekdan sinis terhadap orang-orang yang menggodanya. Buah dada Tuti besarnya bukanmain, sering ia merasa risih dengan miliknya sendiri. Tapi ia tahu buah dadanya menjadibuah-bibir baginya. Dan sedikit banyak ia juga bangga dengan buah dadanya yang besardan kenyal itu. Tuti juga memiliki pantat yang besar dan indah, nungging sepertimeminta.. Tubuh Tuti sering menjadi mimpi basah para pemuda dikampungnya. ìShan, kamu sudah punya pacar belum?î Tiba Tuti berjongkok didepan Shanti dan mulaimembantu gadis itu mencuci piriong-piring kotor. Shanti terkikik dan menggeleng. ìBelum tuhîìLho? Gadis secantik kamu pasti banyak yang naksirî kata Tuti sambil memandangShanti. Shanti tertawa lagi. ìPayah.?? semuanya mikir kesitu meluluî Jawab Shanti.ìMemang.?? laki-laki itu kalau melihat perempuan pikirannya langsung ingin ngeweî kata Tuti tanpa merasa risih berkata kasar. ìAh Mbak, jangan suka ngomong gitu ahî timpal Shanti. ìKan nggak ada yang dengar iniî Jawab Tuti.

    Mereka terdiam lama. ìMbak.. î suara Shanti menggantung. Tuti terus mencuci. ìMmm?î Jawab wanita itu. ìNgg..îì Ngomong aja susah banget sihî Tuti mulai hilang sabar. Shanti menunduk. ìNgg.. Anu.. Ngewe itu enak nggak sih?î Akhirnya keluar juga. Tuti memandang gadisitu. ìYaa.. Enaak banget Shan, apalagi kalo yang ngewein kita pinterî jawab Tuti seenaknya. ìMaksud Mbak?î Shanti penasaran. ìIya pinter.. Bisa macam-macam dan punya kontol yang keras!î kata Tuti sambilterkikik. Shanti merah padam mendengarnya. Tapi gadis itu makin penasaran. ìBisa macam-macam apa sih, Mbak?î tanya Shanti. Tuti memandangnya sambil menimbang. Ah.. Toh nanti gadis kecil ini harus tahu juga. Dan Shanti sungguh cantik sekali, sekilas mata Tuti tertumbuk pada posisi Shanti yangsedang berjongkok. Tuti melihat gadis itu mengangkang dan terlihat celana dalam gadisitu berwarna coklat muda. ìMacam-macam seperti tempik kita diciumin, dijilat bahkan ada yang sampai maungemut tempik kita lohh..î jawab Tuti. Entah kenapa Tuti merasa sangat terangsang dengan jawabannya dan darahnya mendidihmelihat selangkangan Shanti yang bersih serta mulus. ìIdiih.. Jorok ihh.. Kok ada yang mau sih?î Shanti sekarang melotot tak percaya. ìLho.. Banyak yang doyan ngemut memek Shan. Ngemut kontol juga enak banget kokîjawab Tuti masih terus melihat selangkangan Shanti.

    ìAstaga.. Masak anunya lelaki diemut?î Shanti merasa aneh dan jantungnya berdebar, iamerasa ada aliran aneh menjalar dalam dirinya. Gadis itu tidak mengerti bahwa iaterangsang. ìOh enak banget Shan, rasanya hangat dan licin, apalagi kalo ehm.. Ehmm.. ììKalo apa Mbak?î Shanti makin penasaran. Tuti merasa melihat bagian memek Shantiyang tertutup celana dalam krem itu ada bercak gelap, tapi Tuti tidak yakin. ìYaa.. Malu ahh..!î Tuti sengaja membuat Shanti penasaran. ìAyo doong Mbakî rengek Shanti. Tuti sekarang yakin bahwa memek gadis itu sudah basah sehingga terlihat bercak gelapdi celana dalamnya. Tuti sendiri merasa sangat terangsang melihat pemandangan itu. ìKalo pejuhnya menyembur dalam mulut kita, rasanya panas dan asin, lengket tapi enakbanget!î bisik Tuti didekat telinga Shanti. Shanti membelalakkan matanya. ìApa itu pejuh?î tanyanya. Tuti merasa tidak tahan. ìPejuh itu seperti santan yang sering bikin memek kita basah lhoî Jawab Tuti. Ia melihatbagian memek Shanti makin gelap, wah gadis ini banjir, pikir Tuti. ìIdiihh amit-amit, jorok banget sihîìLho kok jorok? Laki-laki juga doyan banget sama santan kita,

    apalagi kalo memek kitaharum, tidak bau terasiîìIdiihh Mbak saru ah!îìTapi aku yakin memek kita pasti wangi, soalnya kita kan minum jamu terusîìUdah ah, lama-lama jadi saru nihî kata Shanti. Tuti tertawa. ìKamu udah banjir yaa?î goda Tuti. Shanti memerah, buru-buru ia merapatkan keduakakinya. ìAhh.. Mbaakk!!î Tuti tersenyum melihat Shanti melotot. ìNggak usah malu, aku sendiri juga basah nihî Kata Tuti.Ia lalu membuka kakinya sehingga Shanti bisa melihat celana dalam putih dengan bercakgelap di tengah, Shanti terbelak melihat bulu-bulu kemaluan Tuti yang mencuat keluardari samping celana dalamnya, lebat sekali, pikirnya. ìIhh.. Mbak jorok nihî desis Shanti. Tuti terkekeh. ìMau merasakan bagaimana tempik kamu diemut?î bisik Tuti. Shanti berdebar. ìNgaco ah!îìAku mau emutin punya kamu, Shan?î Tuti mendekat. Shanti buru-buru bangun danmundur ketakutan. Tuti tertawa. ìKamu akan bisa pingsan merasakannyaî bisik Tuti lagi. ìOgah ah.. Udah deh.. Jangan nakut-nakutin akhhî Shanti mundur mendekati pintukamar mandi dan Tuti makin maju. ìNggak apa-apa kok.. Cuman diemut aja kok takut?îìMasak Mbak yang ngemut?îìIya.. Supaya kamu tahu rasanyaîìMalu ahh..îìNggak apa-apaa..î Tuti mendekat dan Shanti terpojok sampai akhirnya pantatnyamenyentuh bibir bak mandi. Dan Tuti sudah meraba pahanya. Shanti merinding dan roknya terangkat ke atas, Shantimemejamkan matanya. Tuti sudah berjongkok dan mendekatkan wajahnya ke memekShanti yang tertutup celana dalam.

    Tuti mencium bau memek Shanti, dan Tuti puas sekalidengan harumnya memek Shanti. Dulu ia sering melakukan hal-hal seperti ini, malahpernah ia bermain-main bersama 4 pelacur sekaligus untuk memuaskan tamunya. Tubuh Shanti gemetar dan seluruh bulu kuduknya meremang, gadis itu merasa suhutubuhnya meningkat dan perasaannya aneh. Tuti mulai menciumi memek Shanti yangmasih tertutup. Pelan-pelan tangannya menurunkan celana dalam Shanti dan Tutiterangsang melihat cairan lendir bening tertarik memanjang menempel pada celana dalamgadis itu ketika ditarik turun. Tuti menjulurkan lidahnya memotong cairan memanjang itudan lidahnya merasakan asin yang enak sekali. Memek Shanti sungguh indah sekali, tidakterlihat bibir kemaluannya bahkan bulu-bulunya pun masih halus dan lembut.Tuti mencium dan mulai melumat memek Shanti. Gadis itu mengerang dan menggeliatliatketika lidah Tuti menjalar membelai liang memeknya. Shanti benar-benar shockdengan kenikmatan aneh yang dirasakannya, ada perasaan geli dan jijik, tapi ada perasaannikmat yang bukan alang kepalang. Gadis itu merasakan keanehan yang belum pernahdirasakan sebelumnya. Bulu kuduknya berdiri hebat tatkala lidah Tuti menyapu dindingmemeknya, Shanti menggeliat-liat menahan perasaan nyeri nikmat bagian bawahperutnya. ìAahh.. Mbak.. Uuuhh.. Ssshh.. Ja.. Jangan mb.. Mbbak! Ji.. Jijikhh.. Aahhî Tuti tidak memperdulikan rintihan dan erangan Shanti. Lidahnya bergumul danmenembus liang memek Shanti dengan lembut, Tuti tahu Shanti masih perawan dan iatak ingin merusak keperawanan Shanti, lidahnya hanya menjulur tidak terlalu dalam, namun Tuti sudah dapat merasakan cairan asin hangat yang mengalir membasahilidahnya dan Tuti mengendus-endus bau khas memek Shanti dengan sangatmenikmatinya.

    Tuti perlahan-lahan menyelipkan jari-jarinya kesela-sela bokong Shanti, dengan lembut dan dibelai-belainya liang anus Shanti, dan Shanti sedikit tersentak tapikemudian menggelinjang geli, tapi Shanti membiarkan dirinya pasrah terhadap Tuti. Iapercaya sepenuhnya pada Tuti dan sekarang ia benar-benar merasakan kenikmatan yangselama ini belum pernah ia rasakan bahkan dalam mimpipun! ìEnak Shan?î desah Tuti dengan mulut berlumuran lendir Shanti. Shanti memandang kebawah dan mengangguk, tubuhnya bergetar hebat, ia tak menyadari bahwa itu yangdinamakan klimaks kenikmatan seorang perempuan. Tuti merasakan liang memeknyaberdenyut dan ia meraba serta menusuk-nusukkan jarinya sendiri keliang memeknya danmerasakan cairan licin membasahi jarinya. Ia merintih dengan wajah tersuruk diselangkangan Shanti, lidahnya kini menjulur dan membelai liang dubur Shanti danmembuat gadis itu terlonjak-lonjak kegelian serta terpana mendapatkan perlakuan yangtidak pernah dibayangkannya. Shanti merasa liang duburnya ditekan-tekan oleh bendalunak dan sesekali terselip masuk kedalam dan ia akan terlonjak kaget bercampur geli, tapi lebih banyak merasakan kenikmatannya. Entah bagaimana awalnya, tapi kenyataannya Shanti dan Tuti telah saling memelukdalam keadaan telanjang bulat dilantai kamar mandi. Tuti mencium mulut Shanti, mulanya gadis itu menolak tapi permainan jari-jemari Tuti diitilnya membuat gadis itumabuk kepayang dan kepalanya dipenuhi nafsu berahi yang memuncak dashyat. Tutimelumat mulut Shanti dengan penuh nafsu, Shanti membalasnya dengan malu-malu tapimereka berdua memang saling melumat juga akhirnya.

    Terdengar bunyi mulut merekaketika lidah mereka saling mengait dan saling menghisap. Shanti berkelojotan berkali- kali dan Tuti merasakan memeknya berdenyut-denyut nikmat, ia membayangkan Shantimenjilati dan mengemuti kemaluannya. Perlahan-lahan Tuti mulai menjilati leher gadis itu dan terus menciumi ketiak Shanti, gadis itu menggelinjang kenikmatan dan makin mengerang keras ketika Tuti mulaimenghisap puting tetek Shanti. Perlahan Tuti menggeser posisinya sehingga Shanti dapatmembelai memeknya, tapi gadis itu hanya menggeliat saja. Tuti tidak sabar, diambilnyatangan Shanti dan ditaruhnya di memeknya, Shanti mulai membelai dengan canggung. Ketika jarinya tidak sengaja masuk keliang memek Tuti, segera saja wanita itumemajukan pinggulnya dan memompa jari Shanti. Shanti mulai mengerti dan ia mulaimemainkan itil Tuti dan membuat wanita itu terlonjak-lonjak nikmat. Lalu perlahan Tuti sudah mengangkangi Shanti dan ia menciumi memek Shanti kembali, lidahnya kembali menggumuli liang kemaluan gadis itu. Shanti kembali merasakanterjangan gelombang kenikmatan manakala memeknya digumuli Tuti, Shantimembiarkan wajahnya basah karena cairan memek Tuti berjatuhan, menetes danmembentuk lendir panjang, tapi Shanti tidak berani menjilat lendir yang jatuh dibibirnya. Ia memandang liang memek wanita itu dengan heran. Memek Tuti dengan bibir tebalkehitaman, bulu kemaluan yang lebat bukan main tapi tidak menutupi liang itu. Shantimelihat memek Tuti lain dengan miliknya. Dan memek itu makin turun sehingga nyarismenyentuh hidungnya.

    Shanti mencium bau memek Tuti dan dirasakannya sama baunyadengan memeknya. Shanti menjerit tertahan ketika mencapai klimak, tanpa sadar ia menarik bokong Tutisehingga wajahnya terbenam dalam memek wanita itu, Shanti gelap mata, ia menjulurkanlidahnya dan menggumuli liang penuh lendir bening itu. Shanti bahkan menghisap lendiritu seperti kelaparan. Shanti mengemut itil Tuti yang besar dan menonjol. Tubuh Tutikaku seperti kayu dan bergetar hebat, pinggulnya kejang-kejang merasakan orgasme yangluar biasa ketika itilnya dihisap dan dijilat Shanti. Tuti menjerit keras dan ia menekan memeknya sehingga ia dapat merasakan hidungShanti terselip dibelahan liang memeknya dan ia menggoyang-goyangkan pinggulnyamaju mundur dan dirasakannya itilnya bergesekan dengan hidung Shanti dan gadis itumalah menambahkan kenikmatan Tuti dengan menjulurkan lidahnya sehingga setiap kaliTuti memajukan atau memundurkan pinggulnya selalu bergesekan dengan lidah sertahidung Shanti. Tuti berkelojotan hebat sekali, ia meliuk-liuk seperti menahan nyeri, matanya berputar sehingga menampakan putihnya saja dan mulutnya mengeluarkandesahan kenikmatan. ìShantii!! Aaarrgghh!!î Tuti merasakan bagian bawah perutnya nyeri dan ngilu. Orgasme yang ternikmat yang pernah dirasakannya sejak ia meninggalkan duniahitamnya. Shanti merasa puas karena berhasil membuat Tuti menjerit-jerit minta ampunkarena kenikmatan. Shanti merasa, ternyata ia suka sekali dengan rasa dan bau memekTuti. Ia berpikir apakah memeknya juga seenak itu. Ia merasakan hangatnya liang memekTuti dan ia merasakan kasarnya bulu-bulu kemaluan Tuti kala menggesek diwajahnya.

    Shanti tersenyum lemah karena lelah. Tuti ambruk diatas tubuhnya dan Shanti membiarkan, dan gadis itu iseng membukapantat Tuti dan memperhatikan liang anus Tuti. Shanti melihat liang dubur Tuti sepertibintang berwarna kehitaman dan sangat indah. Shanti penasaran, ia mencium sertamengendus liang itu.. Tidak berbau apa-apa. Tuti diam saja membiarkan Shanti berbuatsesukanya. Shanti menjulurkan lidahnya dan menyentuh liang dubur Tuti denganperlahan, kemudian ia menempelkan hidungnya lagi dan merasakan kehangatan liang itu. Dan Shanti mulai menekan-nekan lidahnya ke liang itu dan membuat Tuti menggelinjanggeli. ìAduh Shan, enak.. Terus Shan.. Jilat.. Jilat terus.. Ya.. Ya.. Aaakkhh..î Tuti merasakan lidah Shanti kaku menusuk liang duburnya. Tuti bangkit lalu berjongkokdiatas wajah Shanti dan ia mulai menurun naikkan bokongnya sehingga lidah Shanti yangkaku dirasakannya menembus sedikit kedalam liang duburnya. Tuti menggeram pelan.. Shanti merasakan perasaan aneh ketika lidahnya melesak masuk kedalam liang duburTuti, ia menyukai permainannya itu dan merasa senang dengan apa yang diperbuatnya. Lidahnya tidak merasakan apa-apa, yang dirasakan cuma perasaan anehnya saja. Tuti tidak ingin Shanti terus melakukan untuknya. Ia menggulingkan Shanti sehinggagadis itu terlentang, lalu kedua kakinya diangkat oleh Tuti sehingga liang dubur gadis itumencuat keatas wajahnya. Dijilatnya liang dubur Shanti dengan rakus, lalu setelah licinoleh air liurnya dimasukkannya jarinya kedalam liang itu. Shanti menggigit bibir, iamerasa mulas tapi sekaligus nikmat.

    Kemudian dilihatnya Tuti mengeluarmasukkan jarinya lalu setelah beberapa lama Tutimenjilati jari itu dengan nikmat, bahkan lidahnya terbenam jauh kedalam liang duburnya. Shanti mengeluh, belum pernah itu membayangkan apalagi merasakan perbuatan sepertiitu, gadis itu mabuk kepayang dan sangat terangsang dengan perbuatan Tuti. Ia merasaseolah-olah Tuti adalah pembersihnya, Shanti memejamkan mata dan merasakanmemeknya berdenyut mengeluarkan cairan. Tuti benar-benar tergila-gila dengan perbuatannya itu, ia tidak pernah menjilat liangdubur pria dan ia tak pernah ingin, tapi liang dubur Shanti begitu merangsang, begitulembut dan begitu nikmat. Tuti tidak mau membayangkan apa yang biasa keluar darilubang itu, ia cuma ingin merasakan lidahnya terjepit diliang itu dan bagaimana rasanya. Ia tahu Shanti gadis yang sangat bersih, sama dengan dirinya. Tuti tidak kuatir dengan halitu. Yang diinginkannya saat ini hanyalah membuat Shanti betul-betul puas dan dewasa. Tuti kemudian memompa liang memek Shanti dengan lidahnya dan membuat gadis itumeraung-raung serta kejang-kejang. ìMbaakk.. Sudah mbaakk.. Ampuunn.. Ooohh!!î Shanti sudah tidak kuat lagi menanggung kenikmatan yang datangnya bertubi-tubimelanda tubuh dan perasaannya. Ia menjambak rambut Tuti dan berusaha membuatwajah itu jauh dari memeknya. Dan akhirnya mereka berbaring lelah dilantai kamarmandi. Tuti memandang Shanti.. ìBagaimana? Sudah mau pingsan keenakan belum?î tanya Tuti.

    Shanti membukamatanya dan memandang wanita itu. ìBisa gila aku Mbak.. Aahh benar-benar bisa gila!î Desah Shanti. Tuti tersenyum. ìMau lagi?îìJangan! Bisa semaput benaran aku nanti.. ììYa sudah tak mandikan yuk!î Kata Tuti. Mereka bangkit dan kemudian saling memandikan. Sejak itu Shanti mengetahui apa yangharus dilakukannya jika berahinya datang melanda. Kejadian pertama itu membuatnyatahu apa sebenarnya yang dapat membuatnya nikmat dan puas. Shanti belajar banyak dariTuti. Dan ia memuja wanita itu. Malam itu Shanti tidak dapat memejamkan matanya, ia teringat perbuatannya denganTuti. Terbayang olehnya perbuatan Tuti terhadap dirinya, Shanti merasa seluruh buluditubuhnya berdiri dan ia merasa agak demam. Ia mengeluh karena merasa ingin sekalimengulangi lagi dengan wanita itu. Shanti bangun dan berjalan kemeja kecil tempat iabiasa merias diri. Dikamar sebelah terdengar suara-suara aneh, itu kamar Supriati, temansesama kostnya. Shanti mencoba mendengar, antara kamar dengan kamar hanya dibatasi dinding papantipis. Shanti kadang suka kesal dengan Supriati yang bekerja di pabrik karena wanita itusuka menendang-nendang dalam tidurnya dan itu membuat Shanti kaget setengah matiditengah malam.

    Tapi suara sekarang lain, bukan suara yang keras, suara yang samar- samar dan sepertinya ada suara lain, Shanti menempelkan telinganya dan ia mendengarsuara rintihan Supriati. Shanti berdebar, ini malam minggu.. Biasanya pacar wanita itusuka datang menginap. Sedang apa mereka?Shanti berjingkat keluar kamar. Di luar sepi sekali, sekarang sudah jam 1 pagi, pastiSupriati sedang berasyik-asyik dengan pacarnya. Shanti tegang, ia berjalan k ebalikkamar Supriati yang bersebelahan dengan ruang televisi. Shanti tahu disana dindingnyatidak sampai atas dan dinding itu yang menyekat kamar Supriati. Pelan-pelan Shanti naikkeatas bangku, lalu naik lagi keatas lemari pendek dan ia berjongkok disana. Ia raguhendak berdiri, takut terlihat, tapi keingin tahuannya membuatnya nekad. Dan pelan- pelan kepalanya menyembul dan pandangannya menatap ke dalam kamar Supriati. Penerangan kamar itu agak redup tapi Shanti bisa melihat dengan jelas Supriati sedangditindih oleh pacarnya! Supriati mengerang sambil menggeliat-geliat menggoyangpinggulnya, kedua kakinya terlipat dan menekan pantat pacarnya. Pacarnya menggenjotSupriati dengan cepat. Shanti merasa meriang, matanya terbelalak dan tubuhnya gemetar. Laki-laki itu sedang meremas buah dada Supriati dan wajah mereka menempel satu samalainnya. Mereka sedang berciuman dengan liar. Supriati menggumam dan melihat tanganSupriati meremas-remas pantat pacarnya dengan keras. Shanti terangsang sekali, belumpernah ia melihat pemandangan orang yang sedang bersetubuh dan sekarang ia merasaaneh, ia merasa perutnya ngilu dan dengkulnya gemetar tak keruan.

    Pacar Supriati berteriak tertahan dan mengangkat bokongnya. Shanti melihat tanganSupriati masuk kebawah dan terlihatlah kontol yang besar sekali didalam genggamanSupriati dan kontol itu menyemburkan cairan putih ke perut Supriati. Supriati mengocokkontol pacarnya dengan cepat dan laki-laki itu nafasnya mendengus-dengus hebat dengantubuh bergetar. Shanti merinding melihat benda yang besar dan panjang seperti itu,Shanti ngeri melihat kontol yang begitu besar, ia tahu bahwa itu besar sekali karenasebelumnya Shanti belum pernah membayangkan kontol dapat membesar dan sepanjangitu! Shanti merosot turun dengan lutut lemas, ia berjingkat kembali masuk kedalamkamarnya lalu merebahkan diri diranjang.
    Mengerikan sekali kontol lelaki, pikirnya. Mana mungkin benda sebesar itu muat dimemeknya? Shanti merinding membayangkanlubang memek Supriati yang pasti luar biasa besar. Dan Shanti akhirnya terlelap. Seminggu lewat sudah dan Shanti bingung memikirkan Tuti. Wanita itu tidak masukseminggu sejak pergumulan mereka. Nanti sore ia akan menanyakan pada pemilikwarung mengapa Tuti tidak masuk. Selama seminggu ini Shanti tidak bergairan dalampekerjaan, memeknya basah terus kalau mengingat Tuti atau mengingat pemandanganadegan Supriati dengan pacarnya. Shanti tidak bersemangat, apalagi sehari-hari temantemannyaselalu bergunjing mengenai laki-laki dan mereka tidak segan-seganmembicarakan hal-hal yang paling pribadi dan selalu berakhir dengan cekikikan panjang. Shanti merasa terkucil karena teman-taman lainnya semua sudah menikah dan usiamereka jauh diatasnya, sehingga mereka selalu terdiam kalau Shanti mendekat, padahalia ingin sekali turut mendengar gunjingan mereka. Shanti lebih banyak menghabiskanwaktunya dengan menyibukkan diri didapur membantu pemilik restoran. Malam itu Shanti merasa tidak bersemangat bekerja, hatinya sedih memikirkan Tuti.

    Iasudah menanyakan pada majikannya dan ternyata Tuti telah berhenti bekerja karenamendapatkan pekerjaan di Jakarta. Shanti diam-diam menangis memikirkan Tuti yangtega meninggalkannya tanpa pesan sedikitpun. Akhirnya Shanti hanya pasrah danmenjelang tutup restoran ia pulang kekostnya yang berada tidak jauh dari tempatnyabekerja lalu masuk kedalam kamarnya dan menangis kembali memikirkan Tuti. Iamenangis sampai akhirnya terlelap dan bermimpi bertemu dengan Tuti dan wanita itumembelai rambutnya dengan sayang, Shanti menyusup dalam ketiak Tuti dan menangissesunggukan, wanita itu mengucapkan kata-kata hiburan padanya dan gadis itu menangismakin keras.. *****Tidak terbayangkan oleh Shanti ketika memandang wajah wanita itu didepan pinturestoran. Tubuh Shanti bergetar dan jantungnya berdebar keras sekali. Air matamengambang dipelupuk matanya yang indah. Bibir Shanti terbuka dengan mata terbukaseolah melihat hantu. Wanita itu berjalan masuk dan tersenyum padanya.. Sudah setahunlewat sejak kepergiannya dan Shanti merasa waktu setahun berlalu seperti siput, tiadamalam tanpa tangisan dan tiada hari ceria lagi selama setahun itu baginya dan kini wanitaitu berdiri dihadapannya dan sungguh cantik bukan main!Wanita itu mendekat dan Shanti tiba-tiba saja sudah menghambur dalam pelukannya.

    Semerbak wangi tercium oleh Shanti, wanita itu membelai rambutnya sambil memelukerat tubuhnya. Shanti merasakan debar jantungnya menghantam dada wanita itu. Tangisan sedih terdengar dari dalam pelukan Tuti. Wanita itu merasakan aliran hangatjatuh dari matanya. Ia berusaha menahan air matanya tapi mengalir juga setetes dan jatuhdirambut Shanti.ìMbak.. Oh..î Shanti tak kuasa berbicara. Ia menyusupkan wajahnya makin dalamdipelukan Tuti. ìShan, sudah lama sekali yaa..î Bisik Tuti. Shanti mengangguk-angguk. Shantimerasakan lembutnya buah dada Tuti dan ia tidak ingin melepaskan pelukannya. ìAku rindu sekali Mbak.. Ja.. Jangan pergi lagi..î Suara tercekat dari Shanti membuatTuti sangat terharu. Dadanya terasa sesak dan ia ingin menjerit tapi kedewasaannyamembuatnya bertahan. ìAku juga rindu Shan, sudah, sudah..î Wanita itu mendorong Shanti pelan danmembawanya duduk disalah satu kursi. Restoran itu sedang sepi sekali dan Tuti memang sudah mengamatinya sejak satu jamyang lalu. Ia tidak ingin ada orang yang dikenalnya melihatnya datang denganpenampilan seperti itu, apalagi bermobil.
    ìMbak cantik sekali..î Bisik Shanti, ia menatap Tuti kagum. Tuti memang terlihat cantik dan menawan, make up wajahnya tipis sehingga kehalusankulitnya terlihat nyata, matanya masih seperti dulu, bersinar nakal dan genit, bibirnyayang penuh juga makin terlihat merangsang. Shanti menelan ludah, ia melihat pakaianTuti yang sangat indah, ia melihat potongan tubuh Tuti yang juga tidak berubah, montokdan kencang. Hidung peseknya tidak terlihat lagi dan penampilan keseluruhan wanita itumembuat Shanti rindu bukan main. ìKamu kelihatan makin cantik dan matang Shan..î Bisik Tuti lalu dibelainya pipi Shantiyang kemerahan. Kulit gadis itu masih betul-betul halus sekali, jari Tuti merayap menyentuh bibir Shanti, Shanti membiarkan jari Tuti menyentuh bibirnya, ia membuka mulutnya dan menjilat jariitu, jantungnya berdegup, Tuti membiarkan jarinya dihisap oleh Shanti. ìAku rindu sekali Shan dan aku kesini untuk mengajak kamu ikut akuî Kata Tuti. Shantiterkejut. ìKemana?î Tanya Shanti. Tuti tertawa. ìIkut saja aku, pokoknya kamu akan hidup enak dengankuî Kata Tuti. Shanti memandang wanita itu, hatinya gundah, apa yang harus dilakukannya? Apakahmemang ia akan hidup lebih enak? Tapi kalau sekali ini ia tidak ikut dengan Tuti makakemungkinan wanita itu tidak akan menemuinya kembali, Shanti sungguh bingung.

    ìJangan kuatir Shan, aku nggak bakalan menelantarkan kamu. Justru aku selalu ingatsama kamu, makanya aku nggak tahan lagi untuk mengajak kamu ikut dengankuî KataTuti sambil membelai tangan Shanti. ìLagipula kamu dan aku sudah seperti.. Seperti.. Kekasih..î Suara Tuti berbisik danbibirnya bergetar.Shanti ingin sekali memangut bibir wanita itu tapi ia agak jengah. Ia menunduk saja. Kemudian dirasakannya belaian tangan Tuti dibawah meja menjamah pahanya danmengelus serta meremas lembut pahanya, Shanti merinding, ia ingin merintih tapi iahanya menatap saja wanita itu. Tuti memandangnya sendu dan bibirnya terbuka. ìBaiklah Mbak.. Ka.. Kapan kita berangkat?î Bisik Shanti bergetar. ìBesok kamu temui aku dihotel M, malam ini aku tinggal disanaî Jawab Tuti. ìJangan membawa barang terlalu banyak, nanti aku belikan disanaî Shanti mengangguk. Gadis itu memandang Tuti, ia haus sekali akan belaian wanita itu, tapi Shanti tahu Tutitidak dapat berlama-lama, lagipula sepertinya wanita itu bukan lagi Tuti yang dulu. ìJaga diri kamu baik-baik, Shan.. Sampai besokî Bisik Tuti. Shanti merasa pahanya diremas oleh Tuti dan wanita itu bangkit sambil tersenyum. Shanti memandang kepergian Tuti dan ia merasa ada sesuatu yang terbang meninggalkanjiwanya.

    Tuti menghilang dalam mobil dan pergi meninggalkan halaman restoran itu. *****Shanti memandang pemilik restoran, seorang pria berusia pertengahan. Restoran sudahsepi karena sudah agak malam dan teman-teman Shanti juga sudah pulang, beberapayang tinggal dibelakang restoran telah masuk dan mungkin sudah tidur. Shanti sengajamemilih waktu setelah semuanya telah sepi, karena ia ingin pamit dan meminta upahnyaselama bekerja disana pada sang pemilik restoran. Perjanjiannya memang begitu, semuakaryawan wanita hanya dapat mengambil upahnya enam bulan sekali atau sewaktu iaingin berhenti. Dan sekarang Shanti hendak berhenti karena besok ia sudah akan diJakarta. ìMengapa kamu tolol sekali hendak ikut dengan sundal itu?î Sergah Pak Mohan denganwajah mengeras dan kelihatannya marah betul. Shanti membisu, tubuhnya tegang karenatakut. ìKamu tidak tahu dia itu jadi lonte disana? Hah?î Desis laki laki itu.Ia memandang Shanti dan terus memandang gadis yang menunduk diam itu. Matanyatertumbuk pada seonggok daging yang membusung di dada Shanti yang ditutupi kaustipis kumuh berwarna putih kekuningan. Pak Mohan terkesiap merasakan berahinya tibatibamemuncak melihat keremajaan gadis itu, laki-laki itu menahan napas dan menelanludah, matanya tidak lepas dari dada Shanti dan mulutnya terkunci. Shanti tidak tahumajikannya memandangnya seperti seekor serigala yang sedang menatap domba yang takberdaya. ìBaik, kamu boleh keluar dari sini dan sekarang kamu ikut aku untuk mengambiluangmu!î Suara serak Pak Mohan terdengar aneh di telinga Shanti, tapi gadis itu merasalega karena tidak ada lagi nada kemarahan dalam suara itu.Ia mengikuti laki-laki itu menuju kebelakang terus kebelakang berlawanan dengan messtempat tinggal para karyawan restoran. Shanti tahu ia menuju kantor Pak Mohan, atautepatnya tempat biasa Pak Mohan membereskan bon-bon dan beristirahat kalau sedangcapek.

    Rumah majikannya itu jauh dari sini jadi ia suka berleha-leha diruang itu kalausedang capek melayani tamu. Pak Mohan menyalakan lampu kamar dan Shanti disuruh duduk di dipan yang biasaditiduri oleh laki-laki itu. Shanti duduk dan Pak Mohan berjalan mendekatinya, tiba-tibatangan laki-laki setengah baya itu terjulur dan meremas teteknya dengan keras, Shantimenjerit tertahan dan beringsut kesudut, ketakutan. ìKamu mau uang kamu khan? Kamu akan ke Jakarta khan? Dan kamu toh akan jadi lontejuga nanti, sekarang kamu layani aku dululah, dan kamu akan menjadi lebih pengalamannantiî bisik Pak Mohan dekat sekali dengan wajahnya. Shanti mencium bau rokokmenyembur dari mulut laki-laki itu, sehingga membuatnya ia ingin muntah. ìSaya akan menjerit pak.. Jangan pak.. Malu!î bisik Shanti. Pak Mohan menerkamShanti dengan tiba-tiba dan Shanti terhimpit oleh tubuh laki-laki itu, Shanti membukamulutnya hendak menjerit, tapi tangan Pak Mohan dengan sigap menutup mulutnya. Shanti terbelalak, ia benar-benar kalah tenaga dengan laki-laki itu, yang ternyata kuatsekali. ìSekali kamu bersuara, maka kamu tidak akan bisa menemui sanak saudaramu lagi, kamubisa tunggu mereka semua di neraka!î Desis Pak Mohan, wajahnya sungguh kejamsekali, membuat gadis itu merasa takut setengah mati. Perasaannya mengatakan percuma melawan laki-laki itu, ia akan sangat menyesal nanti. Lagi pula siapa yang tidak takut dengan Pak Mohan? Hanya sang isteri yang baik padakaryawan, sedangkan laki-laki ini sudah terkenal suka judi dan membuat onar. Shantimenangis tanpa suara, ia takut sekali, dan sekarang ia merasakan tubuhnya digerayangioleh tangan lelaki itu. ìIkuti apa yang aku suruh, maka kamu akan mendapatkan uangmu dan yang pentingkamu akan selamat dan bisa jadi lonte di Jakarta, mengerti?î Ancam Pak Mohan, Shantimenggigit bibir menahan sakit ketika teteknya kembali diremas oleh laki-laki itu, iacepat-cepat menganggukkan kepalanya dalam bisu. Pak Mohan menarik kaki Shanti sehingga gadis itu terlentang di dipan kayu yangberalaskan tikar. Kemudian Shanti melihat Pak Mohan dengan gugup melepaskanpakaiannya. Shanti memejamkan matanya ketika melihat kontol Pak Mohan bergoyang- goyang seperti ketimun. Ketika ia membuka matanya kembali, Shanti melihat Pak Mohansudah duduk disampingnya dan tangannya mulai menarik kaus Shanti, gadis itu tidakbergerak. Tiba-tiba pipinya ditampar oleh Pak Mohan, Shanti menjerit pelan merasakan pipinyapanas, tamparan yang tidak begitu keras tapi sangat menyakitkan hatinya. Shantimengangkat tubuhnya membiarkan kausnya lolos begitu saja dan kemudian membiarkanjuga roknya diloloskan dengan mudah oleh Pak Mohan. Shanti bisa merasakan napaspanas membara dari hidung laki-laki itu, Pak Mohan berusaha menciumnya tapi Shantimemalingkan wajah, tapi laki-laki itu memaksa dan Shanti terpaksa membiarkan bibirnyadikulum mulut laki-laki itu, Shanti merasa mual.. ìPegang ini, awas jangan macam-macam kamu!î bentak Pak Mohan. Tangan Shantidituntun untuk menggenggam kontol Pak Mohan. Shanti merasa jijik, kontol yang tidakbegitu besar dan dalam keadaan layu, keriput dan hitam. ìKocok!î perintah Pak Mohan. Shanti belum pernah melakukannya. Ia meremas-remaspelan, kenyal dan licin seperti berlendir, Shanti merasa jijik. ìKocok seperti ini goblok!î desis laki-laki itu sambil mengocok kontolnya sendiri. Shantiberusaha menurutinya dan Shanti sedikit terkejut mendapati kontol itu bangun perlahan.

    Pak Mohan tidak sabar, ia harus cepat-cepat karena sang isteri menantinya dirumah. Iamenyodorkan kontolnya kemulut Shanti, gadis itu menghindar. ìSialan kamu! Cepat hisap dan jilat! Atau kubunuh kau!î bentak Pak Mohan sepertikalap. Shanti menggenggam kontol laki-laki itu dengan tangan gemetar, dipandangnyabenda yang lembek dan setengah tegang, ia memejamkan matanya dan sebelum sempatberbuat sesuatu, dirasakannya benda itu menerobos masuk kedalam mulutnya danbergerak maju mundur. Shanti ingin muntah tapi ia ketakutan. Laki-laki itu memompa mulut Shanti dengantergesa-gesa, dari mulutnya keluar lengkuhan-lengkuhan aneh dan tiba-tiba Shantimendengar Pak Mohan mengerang tertahan lalu mulutnya tiba-tiba terasa asin dan penuhdengan cairan lengket dan berbau aneh. Shanti menahannya supaya tidak tertelan, ia mualsekali, ia berpikir itu pasti yang dikatakan Tuti sebagai pejuh. Jijik sekali, pikirnya. Shanti memejamkan matanya erat-erat dan membiarkan kontol Pak Mohan terus bergerakmaju mundur dan makin pelan. Lalu benda itu ditarik keluar dari mulutnya. Dan Shantisegera memuntahkan cairan kental itu, ia memandang Pak Mohan yang kelelahan denganperasaan benci bukan main. ìHhh.. Bagus.. Memang punya bakat lonte kau! Ini uangmu dan ini bayaran pertama buatseorang lonte!î Desis Pak Mohan lalu melemparkan lembaran-lembaran uang kewajahShanti. Shanti terkulai tak berdaya dan Pak Mohan bergegas hendak keluar tapi sebelumnyasekali lagi laki-laki itu meremas teteknya dan Shanti terbelalak kesakitan.

    Sekejabkemudian bayangan laki-laki tua itu sudah lenyap dari pandangannya. Shanti menangispelan, ia tidak berani lebih keras, ia malu dan takut terdengar oleh teman-teman yangtinggal di seberang tempat ini. Lalu pelan-pelan gadis itu bangun, ia meraba teteknya danmeringis nyeri, lalu ia memungut uang-uang yang jatuh berserakan. Dihitungnya dan ia merasa senang juga menerima lebih dari yang diperkirakannya, iamenerima kelebihan dua puluh ribu rupuah! Jumlah yang lumayan untuknya. Shantidengan jijik mengusap cairan mani yang menempel di dadanya dengan BHnya. Iamelepaskan benda itu dan memutuskan tidak akan memakainya. Ia memakai rok dankausnya lalu berjingkat-jingkat keluar dari kamar itu. Diluar gelap dan kelam, sunyi, entah sudah jam berapa sekarang. Shanti berjingkat masuk kedalam kamar mandi, rumah kostnya sudah sepi dan ia tidakingin membangunkan semua penghuninya. Ia mulai membersihkan badannya dan iamenggosok teteknya kuat-kuat, ia tak peduli nyeri yang ditimbulkan, ia hendakmelenyapkan jejak remasan Pak Mohan. Shanti menangis tanpa suara, ia tidakmenyangka malam terakhir merupakan malam jahanam baginya. Ia berkumur danmenusuk-nusuk kerongkongannya sampai muntah, ia tak peduli mulutnya terasa pahitdan ia terus hendak mengeluarkan semuanya, ia tak yakin apakah tadi cairan Pak Mohantertelan atau tidak dan ia tidak ingin cairan itu berada diperutnya. Shanti menggosok giginya berkali-kali dan akhirnya dengan pelan ia masuk kedalamkamarnya. Ia telah mencuci bersih BHnya dan pakaiannya juga, ia akan meninggalkanpakaian itu disini saja. Lalu Shanti berbaring berusaha untuk tidur.. Diam-diam iabersyukur dirinya masih perawan, entah mengapa laki-laki keparat itu tidakmenyetubuhinya, Shanti menghela napas dalam lelap. *****ìIni kamar kamu Shan, suka?î bisik Tuti sambil memandang gadis itu. Shanti ter-nganga tidak dapat berkata apa-apa. Keletihan berjam-jam dalamperjalanannya dengan Tuti seakan lenyap begitu saja. Kamar yang untuknya sangat luas, ia membadingkan mungkin 3 kali dari kamar kostnya di kampung. Luar biasa, ranjangnyabesar dengan sprei putih bersih, ada radio kaset disamping ranjang lalu ada meja rias danShanti heran melihat ada kamar mandi dalam kamar tidur, ia belum pernah tahu mengapaada orang yang membuat kamar mandi dalam kamar tidur. Sangat membuang uangsekali, pikirnya.

    Tapi gadis itu sudah dapat membayangkan betapa nikmatnya denganfasilitas seperti itu, kapan saja ia ingin mandi, ia tidak usah lagi mengantri sambilmenimba air, oh menyenangkan sekali, batinnya. ìAda air panasnya lho Shan..î kata Tuti. Shanti memandang wanita itu dengan penuh sayang. Ia memeluk Tuti dan berterimakasih padanya dengan air mata mengalir. ìKamu berhak mendapatkannya sayang..î bisik wanita itu. ìIndah sekali Mbak! Bagaimana aku harus membalas semua ini?î kata Shanti dengansuara serak. Tuti tersenyum, lalu ia memanggil supir yang membawa mereka tadi untuk memasukkanbarang-barang Shanti. Shanti sangat kagum dengan rumah Tuti. Besar, bersih, mewahdan berkesan anggun sekali. Tembok-temboknya dicat dengan warna kuning beras, indahbukan main. Ruang tamu yang besar dengan lantai marmer dan perabotan yang menurutgadis itu tentu sangat mahal harganya, lalu ruang makan dengan meja makan yang besarlengkap dengan kursi-kursi berderet, tirai-tirai yang mewah seperti membuang-buangkain saja. Kemudian Shanti melihat ruang keluarga yang luar biasa besarnya, dengan TVyang juga seperti layar bioskop, seprangkat sofa yang besar pula menghias ruangan itu. Ada kolam renang dipekarangan belakang, kolam yang besar bukan main, Shanti tidakdapat membayangkan berenang di kolam itu, ia belum pernah berenang dikolam renang, ia hanya pernah berenang disungai. ìKamu istirahat saja dulu Shan. Nanti sore baru kita ngobrol-ngobrol lagiî kata Tuti. Lalu ia berjalan keluar kamar meninggalkan Shanti. Gadis itu duduk di atas ranjang, wahempuk sekali! Ia tersenyum sendiri membayangkan nasibnya, sungguh beruntung sekaliia disayangi seperti itu oleh Tuti. Ia merebahkan dirinya lalu dalam sekejab ia sudahterlelap.. Shanti terbangun oleh belaian Tuti. Jari-jemari Tuti membelai pipinya, Shanti memegangtangan Tuti kemudian menciumnya dengan lembut. ìTerima kasih Mbakî bisiknya. Tuti tersenyum. ìAh tidak apa-apa sayang, aku memang selalu teringat akan kamu dan akhirnya akunggak tahan lagi. Aku berkata pada suamiku bahwa aku tidak dapat merasakan keriangantanpa kamu Shanî kata Tuti. Shanti mengecup lagi tangan yang membelainya. ìKok Mbak kawin nggak bilang-bilang sih?î tanya Shanti.

    Tuti tertawa.Ia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir gadis itu dengan lembut. Tuti rindu sekalidengan hembusan napas Shanti dan ia sudah tidak tahan ingin merasakan lidah sertamulut gadis itu. Sudah lama ia rindu pada Shanti, selama ini ia selalu melayani ísuamiínya dengan baik. Dan sang ísuamií juga kelihatan sangat sayang padanya, makaitu ia memberanikan diri untuk meminta ijin mengajak gadis itu tinggal dengannya. Tutimenceritakan semuanya kepada ísuaminyaí dan tak disangka ísuaminyaí sangatmenyetujui.. ìJadi kamu suka bermain dengan cewek juga?î tanya ísuaminyaí, yang sebetulnya adalahlaki-laki yang bernama Rahman dan selama ini memelihara hidup Tuti dan diam-diammereka melangsungkan pernikahan tanpa sepengetahuan isteri pertama laki-laki itu. Tutimengangguk, ia pasrah jika Rahman meledak marah dan mendampratnya. Tapi yang ialihat hanya pandangan terpesona saja. ìYa Mas, aku selalu teringat kepadanya, aku sangat mencintainya Masî Jawab Tuti. ìJadi selama ini kamu tidak cinta padaku?î Tanya Rahman menyelidik. ìAku mencintaimu melebihi segalanya, semuanya kuberikan dan semuanya kulakukan. Tapi selama Mas tidak denganku, aku sering merasa sepi dan..îìDan apa?îìDan membayangkan gadis ituî Tuti menjawab terus terang. ìBoleh saja kamu ajak gadis itu, aku akan sangat senang sekali kalau..î Rahman tidakmeneruskan kata-katanya. Tuti tersenyum. Ia tahu apa yang dipikirkan Rahman.ìAku akan mencobanya sayy.. Aku juga ingin sekali kalau kamu bisa menikmatikeperawanan gadis ituî bisik Tuti. Rahman lega dan merasa tegang sendiri membayangkan ia digumuli oleh dua wanita, wah tentu lebih luar biasa, selama ini saja ia sudah sangat puas dengan pelayanan Tutiyang sampai kemanapun belum pernah dirasakannya. Tutinya yang begitu hebat diatasranjang, didalam kamar mandi, dimanapun dan kapanpun ia membutuhkannya, wanita ituselalu akan membuatnya terkulai dalam lautan kenikmatan. ìMbak.. Kok melamun?î bisikan Shanti menyadarkan lamunan Tuti. Wajahnya dekat sekali dengan Shanti dan gadis itu rupanya menanti dari tadi. Tutitertawa geli lalu tiba-tiba ia memangut bibir Shanti dan melumatnya. Shanti terengah- engah membalas lumatan gadis itu. Ia merasa tangan Tuti mengelus-elus buah dadanyadan ia pun membalas, ia meremas-remas tetek Tuti dengan gemas dan membuat wanitaitu merintih-rintih, tak dibutuhkan waktu lama untuk membuat mereka berdua berbugilria dalam pergumulan panas. Shanti tidak tahu bahwa dilangit-langit kamar ada sebuah bintik hitam sebesar uanglogam. Dan semua kejadian di kamar itu dapat disaksikan dari lantai dua rumah itu. Diruang kerja Rahman! Dan sekarang Rahman sedang menahan napas memandangkearah layar besar didalam ruang kerjanya.

    Tubuhnya tegang dan dirasakan dagingdicelananya membengkak. Ia bisa melihat Tuti melucuti pakaian Shanti dan ia bisamelihat bagaimana wanita itu menggerayangi tubuh Shanti dengan penuh nafsu. Rahman tersengal-sengal menahan nafsu, ia melihat Shanti memangut tetek Tuti danmenyedotnya seperti bayi, dan Tuti dengan kalap menyuruk keselangkangan Shanti danmulai menggumuli memek gadis itu dengan mulutnya. Rahman tak kuasa menahannya, iajuga ingin merasakan bau memek gadis itu dan bagaimana lendir gadis itu lumer dalammulutnya, lendir perawan! Ia mengendap-endap turun dan menghampiri kamar Shanti, ruangan sepi sekali dan dibukanya pintu itu, dilihatnya wajah Shanti sedang ditindih olehbagian bawah tubuh Tuti dan Tuti asyik menjilat-jilat memek Shanti, Rahman dapatmelihat dengan jelas bagian dalam memek gadis itu yang kemerahan dan berkilat karenalendir.Ia merangkak masuk dan dengan sebelah tangannya ia mengambil celana dalam Shantiyang tergeletak diujung ranjang. Rahman membawa benda itu kewajahnya danmenciumnya, oohh.. Nikmat sekali baunya, bau pesing bercampur dengan bau khasmemek seperti punya Tuti, Rahman menjilat bercak kuning dicelana dalam itu danmerasakan rasa asin, ia menjilat terus sampai bercak itu menjadi licin dan berubahmenjadi lendir. Tapi ia takut ketahuan, ia segera melemparkan benda itu dan merangkakmundur keluar dari ruangan. Semuanya dilakukan tanpa mereka mengetahuinya, Rahmanberdebar-debar membayangkan kapan Tuti dan Shanti akan siap melayaninya bersama- sama.ìAduh Mbaakk, aku keluar lagi Mbak.. Aduh duh..î Shanti berkelojotan, memeknyaterangkat dan menekan-nekan wajah Tuti, Tuti tidak mau kalah dan mengulek memeknyadengan goyangan yang membuatnya merasa hendak kencing. ìShaan.. Mati aku Shan.. Ooohh.. Terus Shan, terus!î desah Tuti dan Shantimempercepat tusukan lidahnya dalam memek Tuti, ia menghujamkan mulutnya danlidahnya menjulur dalam sekali, berkelana disekitar dinding memek wanita itu dan Shantimerasakan cairan masuk ke dalam mulutnya dengan mudah, Shanti tidak peduli bahwaitu adalah air kencing yang keluar sedikit dari memek Tuti karena gadis itu membuatnyaseperti gila dan entah mengapa ia merasa ingin kencing terus setiap Shanti menjalarkanlidahnya didalam memeknya. Tuti merasa pinggangnya nyeri karena menahan nikmat yang membuatnya tanpa sadarmeliuk-liuk seperti ular, apalagi dirasakannya lubang anusnya ditusuk-tusuk juga olehjari-jemari gadis itu, ternyata gadis itu sekarang pandai sekali memuaskan dirinya. Tutijuga tidak mau kalah dan ia membuat Shanti berguling sehingga gadis itu sekarang yangberada diatasnya dan dengan leluasa Tuti menjilati cairan bening yang jatuh dari liangmemek Shanti, cairan lengket dan hangat terasa asin itulah yang selalu dirindukan Tuti. Enak bukan main rasanya dan Tuti seperti gila menghisap lubang memek gadis itu, lidahnya dengan kaku memasuk kedalam memek Shanti dan membuat gadis itumengerang, kadang malah Shanti tersentak kesakitan karena lidah Tuti masuk terlaludalam dan Tuti cepat-cepat mengeluarkan lidahnya, ia lupa bahwa gadis itu masihperawan dan ia ingin Rahman yang memerawani gadis ini, kalau bisa nanti malam. ìMbakhh.. Aah.. Enak sekali Mbak.. Aaa.. Keluar lagi Mbak.. Aduuhhî Shantimengerang panjang dan Tuti merasakan cairan bening makin banyak masuk kedalammulutnya. Tuti menggosok-gosokkan hidungnya di lubang anus Shanti, ia merasa terangsang sekalimelihat liang itu dan dijilatinya lubang anus Shanti, Tuti memasukkan jari telunjuknya, membuat Shanti mengerang lagi. Lalu dikocok-kocoknya telunjuk itu di dalam anusShanti. Gadis itu tersentak-sentak sambil merintih, Shanti merasa mulas tapi ada perasaannikmatnya juga. Ia mengejan agar jari Tuti lebih mudah masuk kedalam anusnya, Shantimerasa enak sekali dan ia merasa memeknya banjir besar. Sedangkan Tuti dengan lahapmenjilati lubang anus Shanti dan bahkan ia menjilati jarinya yang baru keluar dari dalamanus Shanti, ia mencium bau yang baginya enak sekali dan ia menghisap jari itu. Shanti melakukan hal serupa, ia memasukkan jarinya dan buat Tuti yang sudah terbiasa, kocokkan jari-jari Shanti di dalam anusnya membuatnya orgasme. Apalagi Shanti dengantanpa jijik menjilat anusnya dan menusuk-nusuk lubang itu dengan lidahnya, Tutimerasakan kenikmatan yang membuat tubuhnya panas dan gemetar. Dengan rintihanpanjang Tuti mencapai orgasme lagi dan terkulai lemas. Shanti juga lemas diatas tubuhTuti.

    Mereka merasa rindu mereka telah terobati sementara dan Shanti diam-diam memohonagar kejadian seperti ini terus akan terjadi, ia tak ingin kehilangan Tuti lagi, ia tak akankuasa hidup tanpa wanita yang dapat membuatnya merasakan kenikmatan seperti ini. Shanti menyusukkan kepalanya disela-sela ketiak Tuti, ia sangat merindukan kejadianseperti ini dimana ia merasa terlindungi dan Shanti sangat suka sekali bau ketiak Tutiyang sedang berkeringat dan dengan bernafsu Shanti menjilati keringat yang membasahibulu-bulu ketiak wanita itu. Shanti mengendus dalam dan menikmati bau khas yangsangat disukainnya, bau khas ketiak wanita kampung, tapi baginya bau ketiak Tutisungguh merangsang. Tuti cekikikan kegelian karena jilatan lidah Shanti tapi ia merasa nafsunya bangkitkembali. Tuti memandang lidah Shanti membelai ketiaknya dan menjilati keringatnyadengan lahap, ia terangsang sekali melihat bagaimana gadis itu menghisap-hisap buluketiaknya yang lebat, seperti dikeramas saja, pikirnya. Tuti menarik wajah Shanti danmelumat mulutnya, dirasakan bau ketiaknya ada dimulut Shanti dan Tuti melumat habismulut Shanti, gadis itu pasrah membiarkan lidah Tuti menjalar dan menyelusup kemanasuka.Ia merasa jari-jari Tuti mengocok-ngocok didalam liang memeknya dan memeknya licinsekali karena banjir, wanita itu tidak menusuk terlalu dalam dan Shanti merasa nyamansekali. Tuti membawa jari-jarinya yang berlumuran lendir itu kemulutnya dan kemulutShanti dan mereka menjilati lendir itu dengan lahap seolah-olah itu adalah tajin yangbiasa dimakan bayi. Mereka saling berpelukan dengan mesra dan terlelap dalamrengkuhan kenikmatan. *****Ketika bangun, hari sudah senja dan mereka mandi sama-sama dalam kamar Shanti. Tutimengangumi tubuh Shanti yang benar-benar sedang ranum, matang dan sangat indah, semuanya mulus tanpa cacat. Bulu kemaluannya yang halus, buah dadanya dengan putingmerah muda sangat kontras dengan tubuhnya. Tubuhnya sendiri memang masih padatdan serba kencang, tapi ia tak dapat menghindari kegemukan di perutnya, padahal iasudah senam mati-matian, mungkin inilah karena umur, pikirnya. Sebaliknya Shantisangat iri melihat tetek Tuti yang begitu besar dan kenyal, walaupun puting susunya jugabesar dan kehitaman tapi Shanti tahu banyak sekali laki-laki dikampungnya yang tergila- gila ingin menikmati tubuh Tuti. ìMbak teteknya besar sekali, kapan aku bisa punya tetek sebesar itu?î Kata Shanti, Tutitertawa terkekeh-kekeh. ìIni dulu salah urus, sebenarnya tetekku dulu tidak sebesar ini, tapi ada gara-gara digosokdengan minyak bulus jadi gede kayak giniî Jawab Tuti. Ia tak memberitahu Shanti bahwadulu germonyalah yang menyuruhnya menggosok teteknya dengan minyak itu. ìMemang bisa?îìEntahlah, tapi kupikir gara-gara itu sihî mereka terkikik. ìSelesai mandi nanti kita kekamarku yukî ajak Tuti. ìAh nanti ada suami Mbakî jawab Shanti. ìAh mungkin dia pulang malam hari iniî jawab Tuti. Ia tak mau Shanti mengetahuirencananya.ìWah kamar Mbak hebat sekali!î seru Shanti kagum melihat kemewahan kamar Tuti. Tuti tertawa dan mengajak gadis itu duduk diatas ranjang besar. ìHeh kamu mau nonton film?î tanya Tuti. Shanti menggeleng. ìFilm?îìIya film yang hebat dehî kata Tuti lalu berjalan ke lemari TV yang terletak pas dikakiranjang. Tuti memasukkan sesuatu ke dalam kotak alat dan kembali duduk bersama Shanti. Iamemeluk Shanti dan gadis itu membalas pelukannya. Tiba-tiba Shanti melotot ketikamelihat adegan dalam film itu. Ia melihat dua wanita sedang disetubuhi oleh beberapalelaki. Ia melihat kedua wanita itu sedang disetubuhi sambil menghisap kontol prialainnya. Shanti menahan napas, jantungnya berdebar kencang, tubuhnya meriang danhangat.

    Tuti merasa gadis itu gemetar. ìLho.. Kok.. Kok.. Ih Mbak! Idiihh besar sekali Mbak!î desis Shanti. Tuti diam. ìJijik Mbak.. Aduh jijik sekali!î seru gadis itu tatkala melihat salah seorang pria itumenyemprotkan air mani kedalam mulut sang wanita dan wanita itu dengan lahapmenjilatnya sambil merengek-rengek manja. Shanti teringat malam jahanamnya dengan Pak Mohan, ternyata ada wanita yang sukasekali dengan itu. ìOh enak sekali Shan, wah rasanya luar biasa!î kata Tuti.Ia membelai tengkuk Shanti. Shanti bergidik melihat wanita itu kembali menjilati kontolyang baru keluar dari memeknya dan kontol itu dengan ganas menyemburkan cairankental kedalam mulutnya lagi. ìAduuhh.. Geli amat. Kok mau sih.. î Suara Shanti bergetar, diam-diam ia merasa adaperasaan aneh merambati tubuhnya. Ia merasa berahinya naik dengan cepat, apalagi Tutimembelai-belai tengkuknya. ìMbak! Gila ihh!î Shanti melotot melihat laki-laki lain menusuk lubang pantat wanita itudan laki-laki lainnya lagi menusuk dari bawah dan dimulut wanita itu tetap tertusuksebuah kontol hitam. Semua lubang ditubuh wanita itu telah terisi. ìWah itu yang paling enak Shan, kamu harusnya merasakan bagaimana memek kamudimasuki kontol Shan.. Enaknya luar biasa!î Desis Tuti. Wanita itu juga merasa terangsang. Ia melirik ke pintu yang dibiarkan tidak terkunci. Ditelevisi terlihat adegan dua wanita itu saling memangut kontol hitam dan mereka salingmenjilat dan menyuapi satu sama lain. Shanti mendesah, ia merasa meriang sekali danmemeknya banjir besar, Shanti merasa terangsang bukan main melihat bagaimana keduawanita itu saling membagi air mani laki-laki itu dan laki-laki itu bergantian memompamulut wanita-wanita itu. ìMbaakk.. Aduh Mbak.. Nggak tahan akuî Bisik Shanti manja sambil menatap Tuti. Tutimelumat bibir gadis itu.ìNafsu yaa..?î Bisiknya. Shanti mengangguk lalu menyurukkan wajahnya ke ketiak Tutilagi. Tiba-tiba pintu terbuka dan.., ìWah ada tamu nih?î Suara besar dan berat menyengatShanti. Ia melompat berdiri dan membenahi roknya yang tersingkap. Tuti tersenyummanis pada laki-laki itu. ìOh Mas, lho kok sudah pulang? Ini kenalkan keponakanku Shantiî Kata Tuti sambilmendorong Shanti mendekat kepada laki-laki tinggi besar itu. Laki-laki yang bertampangseram dengan brewok di wajahnya. ìIni suamiku Shan, kamu panggil saja Oom Rahmanî Kata Tuti. ìOh Haloo! Wah aku tidak menyangka keponakan kamu cantik beginiî Kata Rahmansambil menjabat tangan Shanti. Shanti tersipu menundukkan wajahnya. Rahman dudukdiatas ranjang dan membuka sepatunya, matanya menatap televisi. ìLho kok putar film begitu?î Tanyanya berpura-pura. Tuti tersenyum, Shanti tidak beranimemandang, ia malu bukan main. ìYa iseng saja, lagian aku ingin kasih tahu Shanti bagaimana punya laki-laki itu lho!î Kata Tuti manja sambil membantu melepaskan dasi Rahman. ìMbaakk.. î Shanti melotot. ìLho? Nggak apa-apa kok Shan. Mas Rahman orangnya sangat terbuka kok. Lagian kamisudah biasa dengan adegan-adegan seperti di film ituî kata Tuti sambil menarik Shantisupaya mendekat. Kemudian ia memeluk Shanti dan mencium mulutnya. Shanti merasa malu denganperlakuan Tuti tapi ia juga tak ingin menghindar, ia takut Tuti marah. Malah sekarangTuti meremas buah dadanya dengan perlahan. ìMbaakk.. Malu ahî rengek Shanti. ìAh tidak apa-apa kok Shan, Oom sudah biasa kokî kata Rahman sambil menelan ludah.Ia merasa lidahnya kaku dan sepertinya ia sudah merasakan cairan memek Shanti lumerdimulutnya. Lalu Tuti membuka celana Rahman dan sekaligus memelorotkan celanadalamnya, maka meloncat keluar kontol yang sudah agak tegang. Shanti menutupmulutnya melihat kontol yang lumayan besar dan panjang itu. Wajahnya bersemu merah, ia tidak dapat berkata apa karena malu, ia ingin lari tapi ia takut Tuti tersinggung. ìNih lihat ini Shan. Ini yang namanya kontol enak..î bisik Tuti sambil mengocok pelankontol Rahman dan Shanti bisa melihat ada lendir bening di kepala kontol itu sepertilendir memeknya.

    Lalu ia terbelalak melihat Tuti dengan lahap mengulum kontol itu, bahkan Shantibingung melihat kontol itu lenyap dalam mulut Tuti. Dan Rahman mendengus-dengussambil memompanya dalam mulut wanita itu. Shanti gemetar menyaksikan pemandanganyang tidak pernah dibayangkannya. Sungguh mengerikan, pikirnya. Apakah begituenaknya sampai Tuti mau menghisap kontol itu demikian dengan lahapnya?ìMau cobain Shan? Enak banget..î Tuti menarik gadis itu supaya berlutut juga.Rahman berdiri dan tersenyum pada Shanti. Ia menyodorkan kontolnya yang sudah agakkeras itu. Tuti mengambil tangan Shanti dan dipaksanya tangan itu menjamah kontolsuaminya. Shanti berusaha menahan tangannya dengan setengah hati. Ia bingung dangundah, ia merasa memeknya seperti hendak meledak karena berahi yang memuncak tapiia juga malu dan ia tak ingin berselingkuh dengan suami Tuti, tapi sekarang malah Tutimemaksanya menjamah daging yang seperti dodol itu. ìNggak apa-apa Shan, suamiku milik kamu juga kok..î bisik Tuti. Kemudian Shanti merasakan daging itu di tangannya, lumayan besar dan kenyal, adalendir bening keluar dari ujung kontol Rahman, dan Tuti mengusap lendir itu danmemasukkannya ke mulut Shanti, Shanti merasa jijik, tapi ia hanya merasakan asinseperti pejuh Pak Mohan. Lalu Tuti mendekatkan mulut Shanti sambil menekankepalanya supaya mendekati kontol Rahman. Dan entah bagaimana Shanti pasrah sajaketika kontol itu sudah dalam mulutnya dan bergerak maju mundur. Shanti merasadaging itu hangat dalam mulutnya dan memang kalau dirasa-rasakan enak sekali, sepertimengemut es krim tapi tidak dingin melainkan hangat, hanya sesekali lidahnyamerasakan asinnya lendir yang jatuh dalam mulutnya. Tuti juga ikut mengemut kontolRahman dan sesekali kedua wanita itu saling melumat dan meremas. ìMmhh.. Enak sekali Mas.. Ayo.. Cepat keluarkan.. Aku sudah tak tahan lagi Mas!î Desah Tuti, tangannya dan tangan Shanti berebut mengocok kontol Rahman. Bola mata Rahman terbalik dan mulutnya meleguh nikmat seperti kerbau. Kontolnyasungguh keras bukan main dalam maianan kedua perempuan itu. Ia merasakanbagaimanapun jilatan dan kocokan Tuti jauh lebih luar biasa daripada Shanti. Memang iatak salah memilih gundik, Tuti memang sungguh luar biasa. Dan Rahman menyadariselama ini ia belum pernah bisa tahan lebih dari 3 menit kalau Tuti sudah mengeluarkankeahlian mulut dan tangannya, apalagi kalau kontolnya sudah dalam cengkraman memekwanita itu, maka tak ayal lagi ia akan menyerah sebelum hitungan kedua puluh, padahaldengan isteri tuanya ia tidak pernah bisa keluar dan benar-benar tidak pernah bisaejakulasi!Walau bagaimanapun sang isteri melayaninya tetap saja ia tidak dapat puas, bahkankadang-kadang kontolnya menciut kembali sehingga harus dirangsang lagi. Tapi kalaudengan Tuti, dipegang sebentar saja kontolnya sudah seperti paku baja, terus digoyangsebentar saja, kontolnya sudah meletuskan lahar panasnya, tapi Tuti dapat dengan cepatmembangunkan kembali meriamnya walaupun baru meledak. Rahman bersyukur denganTuti, ia tak merasa sayang sedikitpun mengeluarkan uang luar biasa besarnya untukmembuat wanita itu mencintainya. ìOouughh.. Aku.. Aku.. Mau keluar sayy!!î seru Rahman sambil berkelojotan. Kontolnya dikemot oleh Tuti sedemikian rupa sehingga membuat seluruh otot tubuhnyangilu menahan gelombang nikmat yang akan segera melanda. Tuti mengeluarkan kontolRahman dan segera dimasukkannya ke dalam mulut Shanti, gadis itu membiarkan kontolitu menerobos masuk kedalam mulutnya dan ia mengocoknya dengan bibirnya, lidahnyaberusaha menjilat kontol yang keluar masuk dalam mulutnya itu. Sementara Tuti mengemuti pelir Rahman dengan keahliannya, tiba-tiba Rahmanmengeluarkan leguhan keras, tubuhnya kaku dan wajahnya tegang bukan main, mulutnyaternganga sedangkan matanya terbelalak dan berputar ketika kontolnya menyemburkancairan pejuh panas ke dalam mulut Shanti, tubuhnya kejang dan ia membiarkankontolnya diam dalam mulut gadis itu, Tuti dengan sigap mengurut dan mengocok batangkontolnya, biasanya Tuti akan terus mengocok kontol itu dengan mulutnya sampaiRahman berkelojotan seperti orang sekarat, tapi ia tahu Shanti baru pertama kali danbelum tahu bagaimana membuat seorang laki-laki mengalami ejakulasi dashyat yangdapat membuatnya mati kaku. Jadi Tuti membantu dengan mengurut batang kontolRahman dan membuat laki-laki itu menggeram dashyat seperti singa. Shanti merasa mulutnya penuh dengan cairan lengket, ia tak ingin menelannya jadi iamengeluarkan dari sela-sela bibirnya walaupun ia tahu sebagian sudah tersembur masukke dalam kerongkongannya.

    Jantungnya berdebar melihat Tuti dengan lahap menjilatisetiap lelehan pejuh yang keluar dari mulutnya. ìTelan Shan.. Enak kok.. Mmhh.. Sllrrpp.. Mmmhh..î Tuti menjilati cairan kentalkeputihan itu. Dan Tuti dengan cepat menelanjangi Shanti, sehingga Shanti benar-benarberlutut tanpa selembar benangpun ditubuhnya dan wanita itu juga sudah telanjang bulatdan bahkan kini Tuti berdiri dan menyodorkan memeknya pada Shanti. Shanti hendak berpindah menggumuli memek Tuti tapi Rahman masih membiarkankontolnya dalam mulut gadis itu. Shanti mengeluarkan kontol Rahman dan menjilatipejuh yang menempel disana, ia mengemut kontol Rahman, sekarang ia merasa sukadengan rasanya, ternyata untuk menjadi biasa cepat sekali apalagi kalau memang ternyataenak. Memek Tuti digesek-gesek di wajah Shanti dan Shanti menyelipkan hidungnya di memekTuti serta mengendusnya, hhmm nikmat sekali baunya, pikir Shanti. Ia menjulurkanlidahnya dan mengorek-ngorek liang memek Tuti yang sudah licin dan banjir. Tangankanan Shanti sibuk mengocok kontol Rahman, tapi kontol itu lemas tidak bangunkembali. Rahman meringis kesakitan karena kocokan Shanti yang tidak berpengalaman, mulutnya sedang dilumat oleh Tuti, ia tidak mau melepaskan lumatan Tuti hanya untukmeringis, karena semua yang diberikan Tuti padanya adalah istimewa, dan belum pernahseumur hidupnya Rahman mendapatkan wanita seperti Tuti. Pelan-pelan mereka beringsut dan akhirnya mereka bertiga bergumul di ranjang. Rahmansibuk melumat mulut Shanti, ternyata gadis itu masih tidak berpengalaman sama sekali, lumatan bibirnya masih jauh dibanding Tuti. Tapi kontolnya sudah tegang seperti bajakembali karena Tuti yang mengocoknya. ìMau cobain rasanya memek Shanti Mas?î desis Tuti.Rahman mengangguk, ia mengidam-idamkannya dan dari tadi sore serta ia jugamemimpikannya. Tuti menyuruh Shanti memberikan memeknya tapi Shanti malu, Tutimenariknya sehingga pelan-pelan Shanti bergeser sampai tubuhnya di atas Rahman dania menungging diatas wajah Rahman. Tuti mendorong pantat Shanti supaya turun danpelan-pelan Shanti menurunkan pantatnya, tiba-tiba ia mengerang ketika lidah kasarRahman dan berewoknya menyapu memeknya yang sempit menimbulkan sensasi yangtidak terkirakan nikmatnya. Shanti merasa orgasme padahal belum diapa-apakan. Sekarang ia meliuk-liuk seperti penari ular ketika lidah Rahman menjelajahi bibirmemeknya dan menyapu itilnya dengan kasar. Geli dan nikmat bukan main.

    Tuti melihat lendir memek Shanti berjatuhan seperti tirai air terjun dan ia bersamaRahman menjilati lendir itu, sesekali ia meludah kedalam mulut Rahman dan laki-laki itusegera menikmati air liurnya. Tuti menjilati liang anus Shanti dari atas dan lidahnyamenusuk-nusuk lubang itu dengan ganas. Shanti mengerang, merintih, menjerit histeriskarena gelombang orgasme melandanya tanpa ampun membuat perutnya mulas sertamembuatnya ingin kencing. Shanti merasakan memeknya benar-benar disedot olehRahman sehingga mengeluarkan suara keras, lalu ia merasa air kencingnya keluar sedikit, ia malu dan berharap Rahman tidak menyadarinya. Tapi Rahman tahu, Tuti pun tahubahwa Shanti sampai terkencing-kencing saking nikmatnya. ìAyo Shan kencing saja Shan.. Mmmhh.. Enak sekali kencing kamuî gerang Rahmansambil memainkan itil Shanti dengan lidahnya. Shanti tidak berdaya, dan ia tak kuasamenahannya lagi, ia hanya punya pilihan menderita karena menahan kencing ataumenerima kenikmatan yang sedang diambang perasaannya. ìAduh nggak kuat! Aaakkhh.. Mbaakk!î Shanti merengek sambil mengocok kontolRahman yang licin karena lendir. Air seninya menyemprot keluar dari lubang kencingnya, memancar menyemprot wajahRahman dan Tuti. Panas dan berbau pesing, Tuti memejamkan matanya dan membukamulutnya sehingga air kencing Shanti masuk kedalam mulutnya dan keluar lagi jatuhkedalam mulut Rahman. Mereka meminum air kencing Shanti yang masih perawan, airkencing yang tidak banyak dan kekuningan tapi sensasinya membuat Rahman melayang, ia merasakan asin dan pahit ketika air kencing gadis itu membasahi tenggorokannya. Tutimalah dengan liar dan lahap meminum dan menjilati air kencing yang jatuh membasahiwajah Rahman kemudian membasahi ranjang mereka, untung Tuti sudah menjaga-jaga, tadi sore ia sudah memasang karpet karet dalam sprei, ia yakin akan terjadi permainandashyat malam ini dan sekarang terbukti. Rahman sangat menyukai cairan memek Shanti, ada bau khas seperti punya Tuti tapi iatetap berpendapat cairan memek Tuti lebih enak dan lebih asin serta kental dan baunya- pun lebih keras daripada punya perawan ini. Rahman merasa kontolnya sudah tak sabarlagi ingin mencari korban, Tuti ingin mengulumnya tapi ia menghindar, ia tidak akanbertahan lama jika dikulum oleh Tuti dan itu membuat Tuti terkikik kegelian.ìTakut? Hi hi hi..î Rahman tersenyum kecut dengan brewok yang berlumuran lendirmemek Shanti.Ia menarik Tuti agar menggantikan Shanti. Tuti beringsut. Ia berbisik pada Shanti, gadisitu menggeleng. ìCoba saja Shan, enak bukan main. Memang pertama-tama akan perih tapi kamu akansegera merasa enak..î kata Tuti. Shanti diam dan ia pasrah ketika Tuti pelan-pelan membaringkannya terlentang diatasranjang yang besar itu. Rahman bangun dan menggumulinya, teteknya dikulum oleh lakilakiitu, tapi remasan Rahman ternyata lembut dan menimbulkan berahi. Padahal tadiShanti melihat bagaimana laki-laki itu mengulum tetek Tuti, membuat wanita itumeringis. Tapi terhadap dirinya Rahman lembut sekali bahkan Shanti merasa enak sekaliteteknya disedot-sedot seperti itu. Lalu ia melihat kebawah dan dilihatnya Tutimerenggangkan pahanya lalu memegang kontol Rahman yang sudah keras seperti kayu. Perlahan-lahan kontol itu turun, tapi sebelum menyentuh memeknya ia melihat Tutimenyelomoti kontol itu sebentar dan itu membuat Rahman menjerit seperti tersentak, wanita itu terkekeh-kekeh senang, lalu Tuti mulai menempelkan kepala kontol Rahmankebibir memek Shanti yang sudah banjir hebat. Pelan-pelan kontol itu mulai masuksesenti demi sesenti sampai terdengar raungan Shanti. ìAaakkhh.. Sakiitt.. Uuuhh Mbaakk.. Ampuunn..î Shanti merintih keras ketika kontolRahman mendesak terus, ia berkelojotan sambil berontak. Lalu ia merasa lega ketika kontol itu diam dan pelan-pelan memompa tapi tidak turunlagi, gadis itu meriang mendapati kenikmatan melandanya dengan pompaan yangdiberikan Rahman. Shanti mendesis-desis seperti orang kepedasan. Tuti memainkan itilShanti membuat Shanti kejang-kejang, lalu Rahman kembali menusuk, kali ini dengancepat dan keras. ìAduuhh.. Ampuunn!! Sakiitt!! Mati aku mbaakk!!î teriak Shanti histeris ketikamerasakan lubang memeknya seolah-olah robek dan meledak, perih bukan main danpanas merayapi tubuhnya. Matanya terbelalak, keringatnya keluar sebesar butian jagung. Jari-jarinya mencakarpunggung Rahman, tapi sang kontol sudah tertanam dalam memek Shanti dan Rahmanmulai mengangkat perlahan diiringi jeritan Shanti, gadis itu hendak pingsan, sakit sekali, setiap kali laki-laki itu menusuk atau mencabut dirasakannya kenyerian disekelilingmemek dan perutnya. ìTahan Shan, nanti kamu akan keenakanî bisik Tuti.

    Setelah beberapa saat, apa yang dikatakan Tuti ternyata benar. Shanti merintih danmengerang karena kenikmatan. Rahman merasakan hal yang sama pada kontolnya. Iamerasa kontolnya seperti diremas dan dicengkram oleh gadis itu, Rahman benar-benarmerasa beruntung, setua ini ia masih mendapatkan perawan! Rahman menghisapi tetekShanti bergantian dan ia merasakan pentil kecil itu keras dalam mulutnya. Rahman merasa menang karena ia membuat Shanti menjerit dan berteriak histeris terusmenerus tatkala gadis itu mendapatkan orgasmenya, dengan Tuti ia tidak pernah menang, memang dulu pertama kali Tuti menjerit-jerit seolah-olah orgasme tapi akhirnya Rahmantahu itu hanya pura-pura saja, Tuti hanya bisa orgasme kalau memek dan liang anusnyadijilati atau dikocok dengan sesuatu, seperti kontol-kontolan yang bergetar atau dildokaret yang berbuku-buku dan Rahman melarang Tuti memberikan rintihan palsu sewaktumereka sedang bersetubuh, ia tak ingin kepalsuan dan dengan ksatria ia mengakui tidakdapat mengalahkan Tuti, selalu saja ia yang terjerambab kalah. ìOommhh.. Aduh Mbak, aku nggak sanggup lagi Mbaak!î Shanti mengeluh, tubuhnyabersimbah peluh dan ia merasa melayang karena lautan kenikmatan yang terusmelandanya. Tuti tidak mau mendengarkannya karena wanita itu juga sedang dilanda nafsu yang luarbiasa, ia menyurukkan kepalanya dan menjilati liang anus Rahman lalu beberapa saat jikaingin keluar ia mencabut kontolnya dan Tuti segera menyelomotinya dengan kasarsupaya laki-laki itu tidak orgasme lalu Tuti akan menyuruk kememek Shanti danmenjilati cairan yang menggenang bercampur dengan darah perawan gadis itu sampaibersih, ia juga menjilati cairan yang mengalir ke liang anus Shanti, ia menghisap danmenelan cairan itu dengan penuh nafsu, baru Rahman memasukkan kembali kontolnyadan memompa Shanti kembali. Tuti juga mencapai orgasme karena merasa terangsangdengan ulahnya, ia merasa seperti binatang, ia merasa seperti budak yang harusmembersihkan semua cairan berahi Rahman dan Shanti dan itu membuatnya sangatterangsang. Lalu Tuti mengatur posisi Shanti, ia menyuruh gadis itu menungging dan Rahmanmenyetubuhinya dari belakang, sedangkan Tuti menyurukkan tubuhnya kebawah Shantidan mengemut itil gadis itu sementara Rahman memompa dengan irama pelan. Kali iniShanti terbelalak dan gemetaran karena kenikmatan yang datang jauh lebih dashyatdaripada tadi. Mulut Shanti keluar erangan, ia merasakan itilnya diputar-putar didalammulut Tuti dan ia merasakan daging yang menyesakkan liang memeknya sepertimembuatnya ingin kencing lagi, ia menjerit-jerit histeris dengan tubuh berkelojotanseperti gadis yang tengah sekarat. Dan Shanti seperti gila membenamkan wajahnyakeselangkangan Tuti, lidahnya dengan liar mengorek-ngorek liang memek wanita itu danmenjilati cairan kental yang berlumuran disana. Mulut Shanti terasa asin dan tubuhnyaterasa lengket oleh keringat. ìSudah Oom.. Ampun.. Aduh.. Nggak kuat lagi akuu!î jerit Shanti dan ia terkulaimenindih tubuh Tuti. Rahman mencabut kontolnya dan dari dalam memek Shanti mengalir cairan encer beningbanyak sekali. Tuti dengan lahap menjilati cairan itu bahkan Rahman tak segan-seganmenjilati liang anus Shanti dengan penuh nafsu. Kontolnya yang keras bagi baja itumasih tegak perkasa menunggu sesuatu yang dapat dipasaknya. Tuti meremas kontolRahman sambil menghisap memek Shanti. Kemudian Tuti cepat-cepat mencegahRahman ketika laki-laki itu hendak mengarahkan kontolnya keliang anus Shanti.

    Rahmansadar dan buru-buru mengurungkan niatnya. Tuti tidak dapat membayangkan bagaimanaShanti menerima tusukan kontol Rahman diliang duburnya, pasti gadis itu akan meraungraungkesakitan luar biasa. ìSekarang giliran aku manis..î desis Tuti. Lalu ia tidur terlentang dan mengangkat keduakakinya terlipat ke wajahnya sehingga memek dan liang anusnya menghadap keatas. Shanti segera menyelomoti liang memek Tuti dengan rakus. Ia mengocok memek Tutidengan jarinya dan membuat wanita itu berkelojotan, Tuti dapat orgasme bila denganShanti karena ia sangat menikmati waktunya dengan gadis itu. Shanti mulai menjilatiliang anus Tuti sedangkan wanita itu menyelomoti kontol Rahman. Tuti menyelomotidengan kasar, ia membiarkan sesekali kontol Rahman mengenai giginya dan Rahmansenang karena wanita itu tidak akan membuatnya keluar dengan cepat. Ia tahu keinginanTuti, ia tahu Tuti ingin dipompa dan Rahman senang sekali. Kontolnya tidak lemaskarena ia sangat terangsang melihat keliaran Shanti melumat liang anus Tuti denganrakus, Rahman sekarang makin bersyukur mendapatkan dua perempuan yang punyanafsu besar, semula ia tidak menyangka gadis muda itu akan mudah didapatkan, ternyatamemang Tutilah yang memegang peranan. ìJilat dalamnya Shan, .. Oooh bersihkan.. Terus.. Aduh enak sekali Shan.. Emut terusShanî desis Tuti, Shanti menusuk-nusukan lidahnya di liang anus wanita itu dan sesekalilidahnya terjepit sampai dalam, kemudian ditusuk-tusukannya dan membuat Tutitersentak-sentak. Kemudian Shanti melihat Rahman mendekati dan mengarahkan kontolnya. Tapi Shantikaget ketika kontol Rahman pelan-pelan menusuk keliang anus Tuti. Shanti memandangTuti, dan wanita itu mengedipkan matanya. Tuti mengejan sedikit dan blup! KontolRahman melesak masuk kedalam liang itu. Shanti terpana ketika melihat Rahmanmengayun maju mundur memompa liang anus Tuti, pompaan yang berirama dan adalendir yang keluar bersama pompaan kontol Rahman. ìShan, jilat Shan.. Ooohh.. Terus.. Aaakkhh..î Tuti merasa orgasme ketika melihatdengan tanpa merasa jijik Shanti menjilati lendir yang keluar dari liang anusnya danbahkan Rahman mencabut kontolnya dan Shanti seperti sudah tahu langsung menghisapdan menyelomoti kontol itu. Shanti sama sekali tidak jijik karena kalau itu liang anus Tuti, apapun diminta Tuti iaakan melakukannya karena Shanti sadar bahwa yang dikatakan Tuti selalu benar. Shantimerasakan cairan asin dan berbau tapi ia menikmatinya. Bahkan beberapa kali iamemaksa kontol Rahman dicabut supaya ia bisa menghisap dan membersihkan cairanlengket keputihan itu. Rahman beberapa kali sudah ingin meledak karena berahi yangmencapai puncak tapi untung setiap kali ada Shanti yang membuatnya mengurungkanledakan laharnya dan ia tersenyum senang pada Tuti, sedangkan Tuti sudah lebih dari duakali orgasme karena perbuatan Shanti didepan matanya daripada pompaan kontolRahman di duburnya.Ia menarik Shanti dan memaksa melumat mulut gadis itu, Shanti membuka mulutnya danmembiarkan cairan keputihan yang baru saja dijilat di liang anus Tuti mengalir jatuhkedalam mulut Tuti. Tuti merintih dan menikmati cairan itu, kemudian mereka salingmembelit dan melumat. Tuti menggoyang berirama dan membuat Rahman menggerungseperti binatang terluka. ìAaarrgghh.. Gilaa!!î teriak Rahman. ìCepat, cepat!î teriak Tuti sambil mendorong Shanti. Seperti sudah mengetahui apa yang harus dilakukannya Shanti segera menyurukkanwajahnya dan sedikit terlambat ketika Rahman memuntahkan pejuhnya didalam anusTuti tapi laki-laki itu memaksa mencabutnya dan Shanti segera menangkap denganmulutnya.

    Rahman memompanya dalam mulut Shanti seperti orang kesetanan dan cairanyang keluar seperti tidak ada habis-habisnya, Shanti kali ini menelan cairan itu, sebagiandisekanya dengan tangannya kemudian disodorkan kepada Tuti dan wanita itu menjilatcairan itu dengan lahap. Rahman berkelojotan seperti akan putus nyawanya, mulutnya mengeluarkan suara sepertiorang sekarat. Ia benar-benar puas. Shanti menyelomoti kontolnya dengan ahli sekarang. Ia bisa merasakan jalaran lidah gadis itu menyapu permukaan topi bajanya dan keleherkontolnya yang paling peka, membuatnya melayang-layang dalam perasaan aneh yangmembuat tubuhnya panas meriang. Setelah agak lama Rahman tumbang diatas ranjang. ìAku bisa gila..î desahnya. Rahman memandang Shanti yang sedang menjilati cairan pejuh di anus Tuti, ia bahkanmengorek-ngorek liang anus Tuti dengan lidahnya dan itu membuat Tuti menjerit-jeritkenikmatan dan kegelian, tapi Shanti seperti kesetanan dengan perbuatan joroknya. Shanti tidak peduli apa yang dijilatnya, ia hanya merasa ada sensasi aneh denganmelakukannya, ia merasa hebat dan ia merasa terangsang bukan main dengan apa yangdiperbuatnya. Shanti betul-betul pembersih, ia membuat liang memek dan anus Tuti berkilat karenajilatannya. Tak ada setetes-pun lendir disana kecuali bekas jilatan-jilatan lidahnya. Shantipuas dengan pekerjaannya. Ia memandang Tuti dengan penuh cinta ketika wanita itumenurunkan kakinya. Tuti merasa kakinya hendak copot karena pegal dan perutnyakeram, tapi ia tersenyum letih pada Shanti. Ia membelai kepala gadis itu kemudianmereka saling melumat dan berpelukan dalam senyap, sementara Rahman dengan mulutter-nganga mendengkur seperti babi. ìAku cinta sama Mbakî bisik Shanti. Tuti tersenyum lembut. ìAku juga mencintaimu Shan, kamu segalanya buatkuî bisiknya.ìJangan tinggalkan saya Mbakî Tuti menggeleng dalam diam. Tidak akan, pikirnya. Tidak akan pernah! Shanti menyusupkan kepalanya di payudara Tuti dan tidur lelapdalam kelelahan.. *****ìWah segar sekali kamu kelihatannya?î kata Tuti sambil duduk disamping Shanti. Gadis itu sedang melamun diteras belakang rumah Tuti sambil memandang kolamrenang. Shanti terkejut sebentar tapi tersenyum manis. Wajahnya bersih dan segar, rambutnya yang panjang dibiarkan terurai dan pagi itu Shanti benar-benar cantik sekali. Ia memakai daster warna kuning dengan bunga-bunga kecil di bagian dada. ìWah Mbak juga kelihatan cantik sekali!î seru Shanti. Tak lama kemudian seorang wanita tua yang dikenal dengan mbok Iyem menaruh kopisusu dan roti panggang di meja kecil dihadapan mereka. ìMelamunin semalam ya?î bisik Tuti setelah pembantunya pergi. Shanti mencubit perutTuti, membuat wanita itu tekikik geli. ìAaahh Mbak! Malu nih..î rengek Shanti. Tuti tertawa lagi. ìKok malu? Itu biasa kok, semua orang juga pasti melakukannyaî kata Tuti sambilmenyerahkan kopi susu kepada gadis itu. ìTapi kan nggak kayak semalam Mbak. Aku malu dan risih sama Mbak..î kata Shanti.Ia menghirup kopi susunya. Tuti tersenyum sambil minum juga. ìAku kan sudah bilang, buat aku sama sekali nggak apa-apa. Malah aku senang sekalikamu juga merasakan kesenangan dengankuî jawab Tuti. ìTetap aku merasa malu, sebab itu kan suami MbakîìJangan berkata seperti itu, yang aku inginkan cuma kebahagiaan dan kesenangan kitaberdua Shan. Rahman memang sangat mencintaiku, dan aku juga sangat mencintainya, tapi aku juga sangat mencintaimu, kamu kan tahu itu?îìTapii.. Ah pokoknya entah bagaimana aku nanti kata orang. Bersetubuh dengan suamiorang dan bersama pula!îìAh mana orang yang tahu? Sudahlah, pokoknya aku merasa sangat bahagiaî kata Tuti. Tuti membelai rambut Shanti. ìApakah kamu tidak bahagia?îìAku bukan main bahagianya Mbak dan aku juga bingung bagaimana aku harusberterima kasih pada semua kebaikan Mbakî jawab Shanti. ìJangan berkata begitu sayang, aku malah takut kamu menjadi marah padaku karenakejadian semalam keperawananmu hilangî kata Tuti sambil memandang Shanti. ìAh buatku tidak masalah Mbak, yang penting enaakk.. Hi hi hiî Shanti merasa lucusendiri, ia sama sekali tidak peduli dengan keperawanannya, masa bodo, pikirnya. Akumalah merasa aneh dan sangat ketagihan.. ìMasih sakit?î tanya Tuti.

    Shanti menggeleng. ìNggak, cuma tadi pagi perih waktu mau kencing. Mbak tidurnya enak sekali ya, tapi kokOom Rahman udah menghilang sepagi itu?î tanya Shanti. ìOh itu mah biasa Shan. Bisnisnya terlalu banyak dan seringnya malah jam dua pagisudah pergi kalau mau keluar negeriî kata Tuti. ìWah enak dong ya, Mbak pasti sudah sering keluar negeriîìYah hanya ke Singapura dan Malaysia saja, lainnya belum ada kesempatanî jawab Tutitertawa. ìNanti juga pada saatnya kita akan bisa pergi bersama-samaî lanjutnya. ìWah tadi pagi mulutku baunya bukan main Mbak! Semalam ketiduran padahal belumgosok gigiî kata Shanti sambil cekikikan. Tuti tertawa juga. ìAku juga! Uekh, aku pengen muntah saja tadi pagi, hi hi hi..î Tuti membuat wajahnyaterlihat lucu. ìTapi sekarang sudah nggak lagi kan?î lanjutnya sambil membuka mulutnya danmendekatkan pada Shanti. Shanti mencium mulut Tuti dan melumatnya. ìMmmhh.. Sedaapp..î desisnya. ìUdah ah, ntar kelihatan sama si Mbok bisa pingsan dia melihat kita ciuman beginiî kataTuti. Mereka tertawa. ìApakah kamu nggak merasa jijik dengan perbuatan kita semalam?î tanya Tuti ingintahu. Shanti memandangnya sambil menggeleng. ìEntahlah, aku malah kepengen lagi Mbak. Padahal tadi pagi aku berpikir betapamenjijikkannya perbuatan kita semalam, tapi mengapa aku merasa aneh dan terangsangsetiap kali membayangkannya?î Shanti memang merasa bingung. Tadi pagi ia merasa risih dan malu sekali mendapati dirinya bangun dari tidur dengantubuh telanjang bulat diatas tubuh Tuti. Dan ia ingin muntah mendapati mulutnya bausekali, tubuhnya berbercak-bercak putih seperti kerak dan ia yakin itu pejuh atau lendirTuti atau bahkan miliknya sendiri. Tapi anehnya ia malah tersenyum waktu itu dan merasa jantungnya berdebar ketikamembersihkan kerak-kerak itu dan merasakan kerak itu menjadi lendir kembali sewaktukena air. Ia malah mencicipinya lagi sambil membayangkan apa yang dilakukannyasemalam. Mungkin kalau menurut adat kampung perbuatannya semalam sudah termasukkatagori gila atau perempuan laknat, bersetubuh dengan suami orang, menciumi anussesama jenis bahkan menjilatinya, oh itu sungguh bisa menimbulkan masalah yang luarbiasa besarnya jika diketahui orang tuanya. Untung orang tuanya berada jauh sekali darisini. ìHeh! Melamun lagi!î seru Tuti. ìOh eh.. Ih Mbak ngagetin melulu!îìMikirin apa lagi?î tanya Tuti. ìMikirin semalam kok Mbak mau saja sih ditusuk di pantat?î tanya Shanti. Tutimengerling pura-pura marah. ìKamu ini jorok ya, pagi-pagi sudah ngomong gituan..îìAaahh.. Ayo dong Mbakî rengek Shanti. Tuti mencubit pipi gadis itu.ìYa mau saja, wong buatku enak sekali kokî jawab Tuti. ìLho? Kan sakit Mbak?îìNdak lagi, malah aku sering sekali ngecret kalo dientot pantatkuî jawab Tuti seenaknya. ìDulu pertama kali memang sakit, tapi lama-lama malah enak, seperti mau berak rasanya. Rasanya mulas sewaktu kontol masuk kedalam sanaîìAstaga! Mbak ih, jorok..îìEnaakk.. Kan kamu dulu yang mulaiin ngomong jorokî Tuti tersenyum genit. ìSekali-kali aku pengen juga dientot di sana Mbakî kata Shanti tiba-tiba. ìNanti juga kesampaian, dan kamu bisa ketagihan nanti. Apalagi kalau kita dientot daridepan dan belakang, wah rasanya semua laki-laki jadi budak nafsu kita. Kita bisa matikeenakan Shan!î kata Tuti. Shanti melotot. ìGila! Masak ditusuk dari depan dan belakang?î Tuti baru mendengarnya lagi. ìIya, dulu sekali aku pernah dientot 6 laki-laki Shan. Satu menusuk pantatku sambilnungging, sedangkan aku mengentoti kontol laki-laki dibawahku dengan memekku danmulutku dientot dua kontol, dan dua kontol lagi mengentoti ketekku, wah aku merasaseperti mesin pejuh Shan, mereka semua menyemburkannya dimulutku, dipantatku, dimemekku, di ketekku, di tetekku, di perut, di kaki, di paha, di wajah serta di rambutku!î Cerita Tuti kebablasan. Shanti tegang sekali sehingga napasnya memburu. Ia terkejut mendapati Tuti begituberpengalaman dengan laki-laki. ìEmang dulu Mbak.. ììYa aku dulu pelacur Shan. Pelacur idaman setiap laki-laki, bukan sombong, tapipenghasilanku dulu besar sekali. Karena aku selalu memuaskan setiap laki-laki dan akuselalu menuruti apa yang mereka inginkan. Kamu akan tahu laki-laki itu punya fantasiyang gila Shan. Mereka kebanyakan membayangkan kita-kita ini seperti binatangpeliharaan mereka..î cerita Tuti lagi. Shanti tegang mendengarkan. ìDan kebetulan aku juga maniak seks, jadi aku juga merasa enak sekali, nafsu berahikubesar sekali Shan. Dulu aku begitu menghayati pekerjaanku, bayangkan saja, sudahdientot enak dapat uang pula!î lanjut Tuti. ìMbak hebat sekali! Aku tidak pernah membayangkan Mbak jadi pelacur lho!î seruShanti. ìSsstt.. Pelan-pelan dong, kedengaran orang mati aku!î desis Tuti. Mereka tertawa. ìTapi ada juga nggak enaknya, tapi umumnya aku puas dengan apa yang kuhasilkan duludan sekarang lebih enak lagi.

    Mendapatkan suami kaya dan gadis cantik seperti kamuyang..î Tuti menggantung kalimatnya. ìYang apa?îìAh nggak jadi deh..îìAaahh ayo doongg..îìYang siap dientot dan mengentot!î bisik Tuti.Shanti menjerit sambil mencubiti Tuti, mereka saling cubit mencubit sambil cekikikan. Tuti memang merasa bersyukur bukan main dengan keadaannya sekarang, tapi Shantijuga sangat bersyukur dengan apa yang didapatnya sekarang. Jadi kurang apa lagi?ìEhh Mbak, nanti malam kalo Oom Rahman pulang kita lakukan hal yang semalamyuukk..?î kata Shanti memecahkan lamunan Tuti. ìAhh.. Kamu masa sih tadi malam belum puas??îìAaahh.. Ayo doongg.. Mbak khan Shanti mau ngobain dientot lewat anus, seperti Mbaksemalam?îìMemangnya kamu udah siap dientot di pantat?? tanya Tuti meragukan perkataanShanti.îìAku khan mau nyobain Mbak, abis Shanti lihat semalam Mbak sangat keenakkansihh..?îìShan apa kamu engga takut sama kontolnya Oom Rahman? Khan kontolnya OomRahman besar sekali. Nanti anusmu bisa jebol lohh..!!?î kata Tuti meyakinkankesungguhan Shanti. ìEngga aku sama sekali engga takut, masa kontol itu di anus Mbak bisa masuk di anusShanti engga bisa??îìYaa bisa sihh.., tapi pertama-tama musti sedikit dipaksakan, dan lagi waktu pertama kalimasuk wahh.. Sakitnya bukan main lohh..?îìTapi abis itu enak khan Mbak??îìIya sih, yaa kurang lebih sama lah waktu kamu kesakitan semalam, malahan bisa lebihsakit ke anus?îìPokoknya Shanti mau nyoba, tapi Mbak ajarin yaa..!!î Shanti memohon ke Tuti. ìYaa udah bersiaplah nanti malam?î Waktu terus berlalu, akhirnya malam-pun tiba. Shanti dan Tuti keduanya menungguiRahman di ruang tamu. Mereka duduk-duduk disana sambil makan kue-kue kecil. Akhirnya pada jam 9.20 terdengar suara klakson mobil. ìShan itu Oom Rahman pulang?î teriak Tuti. ìAyu Mbak kita kedepan membukakan pintu?î kata Shanti sambil beranjak dariduduknya. Lalu Tuti pun mengikutinya dari belakang. Setelah Rahman memarkir mobilnya digarasi, Tuti menutup pagar, lalu mereka bertiga masuk kedalam. Ketiganya langsungmenuju ke kamar yang sudah disiapkan oleh Tuti. Sesampainya disana Rahman langsung mencopot pakaiannya, terus ia beranjak ke kamarmandi untuk mandi. Sementara itu Shanti menunggunya dengan hati berdebar-debar. Sambil menunggu Rahman mandi, Tuti menyetel film biru. Shanti semakin terangsangmelihat adegan-adegan pada film tersebut. Ia merasakan itilnya berdenyut-denyut, putingsusunya mengeras. Melihat perubahan wajah dari gadis tersebut, Tuti yang sangatberpengalaman langsung saja melumat bibir gadis itu.Perlahan-lahan Tuti mulai melepaskan pakaian Shanti. Gadis itu malah ikut membantumengangkat pantatnya ketika Tuti melepaskan pakaiannya. Lalu setelah ia melepaskanpakaian gadis itu, ia-pun segera melepaskan pakaiannya. Akhirnya mereka berduatelanjang diatas ranjang tanpa mengenakan sehelai benang-pun. Bibir mereka salingmelumat, tangan mereka saling meraba bagian-bagian sensitif, sehingga membuat merekalebih terangsang. Pada saat rangsangan mereka mencapai puncaknya, tiba-tiba Rahman keluar dari kamarmandi dengan lilitan handuk yang menutupi kemaluannya. Segera saja kedua perempuantersebut menyambut Rahman, mereka melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya, lalu Shanti dengan rakus langsung mengemut kontol laki-laki tersebut. Sementara itu Tutisibut menjilati buah zakarnya. Lalu Tuti mengajak mereka semua pindah keranjang. Kemudian Rahman mencium belakang telinga Shanti dan lidahnya bermain-main didalam kupingnya. Hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli, yang menyebabkanbadan Shanti mengeliat-geliat. Mulut Rahman berpindah dan melumat bibir Shantidengan ganas, lidahnya bergerak-gerak menerobos ke dalam mulut gadis itu danmenggelitik-gelitik lidahnya. ìAaahh.., hmm.., hhmmî, terdengar suara menggumam dari mulut Shanti yang tersumbatoleh mulut Rahman. Mulut Rahman sekarang berpindah dan mulai menjilat-jilat dari dagu Shanti turun keleher, kepala gadis belia itu tertengadah ke atas dan badan bagian atasnya yang terlanjangmelengkung ke depan, ke arah Rahman, payudaranya yang kecil mungil tapi bulatkencang itu, seakan-akan menantang ke arah lelaki setengah baya tersebut. Laki-laki itu langsung bereaksi, tangan kanannya memegangi bagian bawah payudaragadis tersebut, mulutnya menciumi dan mengisap-isap kedua puting itu secara bergantian. Mulanya buah dada Shanti yang sebelah kanan menjadi sasaran mulutnya. Buah dadaShanti yang kecil mungil itu hampir masuk semuanya ke dalam mulut Rahman yangmulai mengisap-isapnya dengan lahap. Lidahnya bermain-main pada puting buah dadaShanti yang segera bereaksi menjadi keras.

    Terasa sesak napas Shanti menerimapermainan Rahman yang lihai itu. Badan Shanti terasa makin lemas dan dari mulutnyaterus terdengar erangan, ìSsshh.., sshh.., aahh.., aahh.., sshh.., sshh.., aduh Mbak aku engga kuat, sshh.., enaak.. Oomî, mulut Rahman terus berpindah-pindah dari buah dada yang kiri, ke yang kanan, mengisap-isap dan menjilat-jilat kedua puting buah dadanya secara bergantian. BadanShanti benar-benar telah lemas menerima perlakuan ini. Matanya terpejam pasrah dankedua putingnya telah benar-benar mengeras. Sementara itu Tuti terus bermain-main dipaha Shanti yang mulus itu dan secara perlahan-lahan merambat ke atas dan, tiba-tibajarinya menyentuh bibir kemaluan Shanti. Segera badan Shanti tersentak dan, ìAaahh.., oohh.., Mbaak..!î.Mula-mula hanya ujung jari telunjuk Tuti yang mengelus-elus bibir kemaluannya. MukaShanti yang ayu terlihat merah merona dengan matanya yang terpejam sayu, sedangkangiginya terlihat menggigit bibir bawahnya yang bergetar. Kedua tangan Tuti memegangkedua kaki gadis itu, bahkan dengan gemas ia mementangkan kedua belah pahanya lebarlebar.Matanya benar-benar nanar memandang daerah di sekitar selangkangan Shantiyang telah terbuka itu. Nafas perempuan itu terdengar mendengus-dengus memburu. Shanti merasakanbadannya amat lemas serta panas dan perasaannya sendiri mulai diliputi oleh suatusensasi yang mengila, apalagi melihat tubuh Rahman yang besar berbulu dengankemaluannya yang hitam, besar yang pada ujung kepalanya membulat mengkilat denganpangkalnya yang ditumbuhi rambut yang hitam lebat terletak diantara kedua paha yanghitam gempal itu. Sambil memegang kedua paha Shanti dan merentangkannya lebarlebar,Tuti membenamkan kepalanya di antara kedua paha Shanti. Mulut dan lidahnyamenjilat-jilat penuh nafsu di sekitar kemaluan gadis belia tersebut yang yang masih rapat, tertutup rambut halus dan tipis itu. Shanti hanya bisa memejamkan mata, ìOoohh.., nikmatnya.., oohh!î, Shanti mengumandalam hati, sampai-sampai tubuhnya bergerak menggelinjang-gelinjang kegelian. ìOoohh.., hhmm!î, terdengar rintihan halus, memelas keluar dari mulutnya. ìMbaakk.., aku tak tahan lagi..!î, Shanti memelas sambil menggigit bibir. Sungguh Shanti tidak bisa menahan lagi, dia telah diliputi nafsu birahi, perasaan nikmatyang melanda di sekujur tubuhnya akibat serangan-serangan mematikan yang dilancarkanTuti dan Rahman yang telah bepengalaman itu. Namun rupanya mereka berdua itu tidakpeduli dengan keadaan Shanti yang telah orgasme beberapa kali itu, bahkan merekaterlihat amat senang melihat Shanti mengalami hal itu. Tangannya yang melingkari keduapantat Shanti, kini dijulurkan ke atas, menjalar melalui perut ke arah dada dan mengelus- elus serta meremas-remas kedua payudara Shanti dengan sangat bernafsu. Menghadapiserangan bertubi-tubi yang dilancarkan Rahman dan Tuti ini, Shanti benar-benar sangatkewalahan dan kamaluannya telah sangat basah kuyup. ìMbaakk.., aakkhh.., aakkhh!î, Shanti mengerang halus, kedua pahanya yang jenjangmulus menjepit kepala Tuti untuk melampiaskan derita birahi yang menyerangnya, dijambaknya rambut Tuti keras-keras. Gadis ayu yang lemah lembut ini benar-benar telah ditaklukan oleh permainan Tuti danlaki-laki setengah baya yang dapat sangat membangkitkan gairahnya. Tiba-tiba Tutimelepaskan diri, kemudian bangkit di depan Shanti yang masih tertidur di tepi ranjang, ditariknya Shanti dari atas ranjang dan kemudian Rahman disuruhnya duduk ditepiranjang. Kemudian kedua tangan Tuti menekan bahu Shanti ke bawah, sehingga sekarangposisi Shanti berjongkok di antara kedua kaki berbulu lelaki tersebut dan kepalanya tepatsejajar dengan bagian bawah perutnya. Shanti sudah tahu apa yang diinginkan kedua orang tersebut, namun tanpa sempatberpikir lagi, tangan Rahman telah meraih belakang kepalanya dan dibawa mendekatikontol laki-laki tersebut. Tanpa melawan sedikitpun Shanti memasukkan kepala penisRahman ke dalam mulutnya sehingga kontol tersebut terjepit di antara kedua bibir mungilShanti, yang dengan terpaksa dicobanya membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu Shantimulai mengulum alat vital Rahman dalam mulutnya, hingga membuat lelaki itu meremmelek keenakan. Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulut Shantiyang kecil, itupun sudah terasa penuh benar. Shanti hampir sesak nafas dibuatnya. Kelihatan ia bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itukeluar masuk ke dalam mulutnya. Terasa benar kepala itu bergetar hebat setiap kali lidahShanti menyapu kepalanya. Sementara itu Tuti sibuk menjilati buah peler laki-lakitersebut. Kadang lidahnya menyapu anus suaminya itu. Beberapa saat kemudian Rahman melepaskan diri, ia mengangkat badan Shanti yangterasa sangat ringan itu dan membaringkan di atas ranjang dengan pantat Shanti terletakdi tepi ranjang, kaki kiri Shanti diangkatnya agak melebar ke samping, di pinggirpinggang lelaki tersebut.

    Kemudian Rahman mulai berusaha memasuki tubuh Shanti. Tangan kanan Rahman menggenggam batang penisnya yang besar itu dan kepalapenisnya yang membulat itu digesek-gesekkannya pada klitoris dan bibir kemaluanShanti, hingga Shanti merintih-rintih kenikmatan dan badannya tersentak-sentak. Rahmanterus berusaha menekan kontolnya ke dalam kemaluan Shanti yang memang sudah sangatbasah itu, akan tetapi sangat sempit untuk ukuran penis Rahman yang besar itu. Pelahan-lahan kepala penis Rahman itu menerobos masuk membelah bibir kemaluanShanti. Ketika kepala penis lelaki setengah baya itu menempel pada bibir kemaluannya, Shanti merasa kaget ketika menyadari saluran vaginanya ternyata panas dan basah. Kemudian Rahman memainkan kepala penisnya pada bibir kemaluannya yangmenimbulkan suatu perasaan geli yang segera menjalar ke seluruh tubuhnya. Dalam keadaan seperti itu, dengan perlahan Rahman menekan pantatnya kuat-kuat kedepan sehingga pinggulnya menempel ketat pada pinggul Shanti, rambut lebat padapangkal penis lelaki tersebut mengesek pada kedua paha bagian atas dan bibir kemaluanShanti yang makin membuatnya kegelian, sedangkan seluruh batang penisnya amblas kedalam liang vagina Shanti. Dengan tak kuasa menahan diri, dari mulut Shanti terdengar jeritan halus tertahan, ìAduuh!, oohh.., aahhî, disertai badannya yang tertekuk ke atas dan kedua tangan Shantimencengkeram dengan kuat pinggang Rahman. Perasaan sensasi luar biasa bercampursedikit pedih menguasai diri Shanti, hingga badannya mengejang beberapa detik. Melihat keadaan itu, dengan sigap Tuti langsung menuju ke payudara gadis itu. Dikulumnya payudara Shanti yang sebelah kiri dengan mulutnya, lidahnya sibukmenyentik-yentik putingnya yang telah keras dan runcing itu. Sementara tangannya yangkanan sibuk memilin-milin puting susu yang sebelah kiri. Shanti semakin menggeliat. Kemudian Tuti pun berpindah ke puting sebelahnya. Perasaannya campur aduk, antarapedih dan nikmat.Rahman cukup mengerti keadaan Shanti, ketika dia selesai memasukkan seluruh batangpenisnya, dia memberi kesempatan kemaluan Shanti untuk bisa menyesuaikan denganpenisnya yang besar itu. Shanti mulai bisa menguasai dirinya. Beberapa saat kemudianRahman mulai menggoyangkan pinggulnya, mula-mula perlahan, kemudian makin lamasemakin cepat. Seterusnya pinggul lelaki setengah baya itu bergerak dengan kecepatantinggi diantara kedua paha halus gadis ayu tersebut. Shanti berusaha memegang lengan pria itu, sementara tubuhnya bergetar dan terlonjakdengan hebat akibat dorongan dan tarikan penis lelaki tersebut pada kemaluannya, giginya bergemeletuk dan kepalanya menggeleng-geleng ke kiri kanan di atas ranjang. Shanti mencoba memaksa kelopak matanya yang terasa berat untuk membukanyasebentar dan melihat wajah lelaki itu yang sedang menatapnya, dengan takjub. Shantiberusaha bernafas dan.. ìOoomm.., aahh.., oohh.., sshhî, erangnya sementara pria tersebut terus menyetubuhinyadengan ganas. Shanti sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap kali Rahman menggerakkantubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding liang vaginanya, sungguh membuatnyamelayang-layang dalam sensasi kenikmatan yang belum pernah dia alami. Setiap kaliRahman menarik penisnya keluar, Shanti merasa seakan-akan sebagian dari badannyaturut terbawa keluar dari tubuhnya dan pada gilirannya Rahman menekan masukpenisnya ke dalam vaginanya, maka clitoris Shanti terjepit pada batang penis lelaki itudan terdorong masuk kemudian tergesek-gesek dengan batang penis lelaki tersebut yangberurat itu. Hal ini menimbulkan suatu perasaan geli yang dahsyat, yang mengakibatkanseluruh badan Shanti menggeliat dan terlonjak, sampai badannya tertekuk ke atasmenahan sensasi kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Lelaki tersebut terus menyetubuhi Shanti dengan cara itu. Sementara tangannya yang laintidak dibiarkan menganggur, dengan terus bermain-main pada bagian vagina Tuti danmenarik-narik klitorisnya, sehingga membuatnya menggeliat-geliat menahan nikmat. Shanti bisa melihat bagaimana batang penis yang hitam besar dari lelaki itu keluar masukke dalam liang kemaluannya yang sempit. Shanti selalu menahan nafas ketika benda itumenusuk ke dalamnya. Kemaluannya hampir tidak dapat menampung ukuran penis Rahman yang super besar itu. Shanti menghitung-hitung detik-detik yang berlalu, ia berharap lelaki itu segera mencapaiklimaksnya, namun harapannya itu tak kunjung terjadi. Ia berusaha menggerakkanpinggulnya, akan tetapi paha, bokong dan kakinya mati rasa. Tapi ia mencoba berusahamembuat lelaki itu segera mencapai klimaks dengan memutar bokongnya, menjepitkanpahanya, akan tetapi Rahman terus menyetubuhinya dan tidak juga mencapai klimaks.

    Lalu tiba-tiba Shanti merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya, rasanya sepertiada kekuatan dahsyat pelan-pelan bangkit di dalamnya, perasaan yang tidak diingininya, tidak dikenalnya, keinginan untuk membuat dirinya meledak dalam kenikmatan. Shantimerasa dirinya seperti mulai tenggelam dalam genangan air, dengan gleiser di dalamvaginanya yang siap untuk membuncah setinggi-tingginya. Saat itu dia tahu dengan pasti, ia akan kehilangan kontrol, ia akan mengalami orgasme yang luar biasa dahsyatnya. Jari-jarinya dengan keras mencengkeram sprei ranjang, ia menggigit bibirnya, dankemudian terdengar erangan panjang keluar dari mulutnya yang mungil, ìOooh.., ooh.., aahhmm.., sstthh!î. Gadis ayu itu melengkungkan punggungnya, kedua pahanya mengejang serta menjepitdengan kencang, menekuk ibu jari kakinya, membiarkan bokongnya naik-turun berkali- kali, keseluruhan badannya berkelonjotan, menjerit serak dan.., akhirnya larut dalamorgasme total yang dengan dahsyat melandanya, diikuti dengan suatu kekosonganmelanda dirinya dan keseluruhan tubuhnya merasakan lemas seakan-akan seluruhtulangnya copot berantakan. Shanti terkulai lemas tak berdaya di atas ranjang dengankedua tangannya terentang dan pahanya terkangkang lebar-lebar dimana penis hitambesar Rahman tetap terjepit di dalam liang vaginanya. Selama proses orgasme yang dialami Shanti ini berlangsung, memberikan suatukenikmatan yang hebat yang dirasakan oleh Rahman, dimana penisnya yang masihterbenam dan terjepit di dalam liang vagina Shanti dan merasakan suatu sensasi luarbiasa, batang penisnya serasa terbungkus dengan keras oleh sesuatu yang lembut licinyang terasa mengurut-urut keseluruhan penisnya, terlebih-lebih pada bagian kepalapenisnya setiap terjadi kontraksi pada dinding vagina Shanti, yang diakhiri dengansiraman cairan panas. Perasaan Rahman seakan-akan menggila melihat Shanti yangbegitu cantik dan ayu itu tergelatak pasrah tak berdaya di hadapannya dengan kedua pahayang halus mulus terkangkang dan bibir kemaluan yang kemerahan mungil itu menjepitdengan ketat batang penisnya yang hitam besar itu. Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian Rahman membalik tubuh Shanti yangtelah lemas itu hingga sekarang Shanti setengah berdiri tertelungkup di pinggir ranjangdengan kaki terjurai ke lantai, sehingga posisi pantatnya menungging ke arah lelakitersebut. Kemudian Shanti merasakan Rahman menjilati liang anusnya dari atas danlidahnya menusuk-nusuk lubang itu dengan ganas. Shanti mengerang, merintih, menjerithisteris karena gelombang orgasme melandanya tanpa ampun membuat perutnya mulas. Payudara Shanti yang menggantung itu tidak didiamkan. Segera saja Tuti tidur dibawahShanti kemudian menyusu pada payudara gadis itu. Gadis itu semakin merasakan nikmatyang tak terbayangkan. Rahman melanjutkan kegiatannya itu dan sekarang dia melihat pantat gadis itu danbagian anus Shanti sudah basah dengan ludahnya, sementara dengan ibu jarinya yangtelah basah dengan ludah, mulai ditekan masuk ke dalam lobang anus Shanti dan diputar- putar di sana. Shanti terus mengeliat-geliat dan mendesah. ìJaannggaann jaannggaan.. Aaadduuhh.. Aadduuhh.. Saakiitt.. Saakiitt..!î akan tetapiRahman tidak menanggapinya dan terus melanjutkan kegiatannya.Selang sesaat setelah merasa cukup membasahinya, Rahman sambil memegang dengantangan kiri penisnya yang telah tegang itu, menempatkan kepala penisnya tepat di tengahliang masuk anus Shanti yang telah basah dan licin itu. Kemudian Rahman membukabelahan pantat Shanti lebar-lebar. ìAaaduhh, janggaann! Sakkiit! Aaammpuunn, aammppuunn! Aagkkh.., Sakiitt.. Mbaakk..î Rahman mulai mendorong masuk, kemudian ia berhenti dan membiarkankontol itu terjepit dalam anus Shanti. ìTahan Shan, nanti kamu akan keenakanî bisik Tuti. ìMemang pertama-tama sakit, tapi nanti akan enak, tahan yaa.. Sayang..!î Sementara itu Shanti menjerit-jerit dan menggelepar-gelepar kesakitan. Segera saja Tutiberalih ke klitoris gadis itu, lalu diemutnya klitoris gadis itu, sementara tangannya iagunakan untuk mengocok di vagina Shanti agar rasa sakitnya hilang. ìAduuh.. Sakkiit.. Oomm..î ketika kontol itu mulai masuk lagi anusnya. ìTenang sayang nanti juga enggak sakitî jawab Rahman sambil terus melesakkan bagiankontolnya kepalanya sudah seluruhnya masuk ke pantat Shanti. ìAduuhh.. Sakiitt..î jerit Shanti. Bersamaan dengan itu kontol Rahman amblas dalam lobang anusnya yang sempit. ìTenang Shan, nanti enak deh.. Aku jadi ketagihan sekarangî kata Tuti sambil mengelusrambut kemaluannya dan menggosok klitorisnya. ìTuuh.. Kan sudah masuk tuh.. Enak kan nanti pantatmu juga terbiasa kok kayakpantatku iniî kata Tuti. Shanti diam saja. Ternyata sakit kalo dimasukan melalui anus, pikirnya. Rahman mulaimengocok kontolnya di pantat Shanti. ìPelan-pelan, Oomm.. Masih sakitî kata Shanti pada Rahman. ìIya sayang enaakk.. Niihh.. Seempiitt..î kata Rahman. Tuti yang berada di bawah sibuk menyedot klitorisnya dengan mulutnya dan mengocokliang vaginanya dengan tangannya, sehingga membuat Shanti semakin menggelinjangnikmat. Shanti meronta-ronta, sehingga semakin menambah gairah Rahman untuk terusmengocok di anusnya. Shanti terus menjerit, ketika perlahan seluruh penis hitam besarRahman masuk ke anusnya. ìAaauugghh..! Saakkiit..!î jerit Shanti ketika Rahman mulai bergerak pelan-pelan keluarmasuk anus Shanti. Akhirnya dengan tubuh berkeringat menahan sakit, Shanti terkulai lemas tertelungkup diatas badan Tuti kelelahan. Secara berirama Rahman menekan dan menarik penisnya darilobang anus Shanti, dimana setiap kali Rahman menekan ke bawah, penisnya semakinterbenam ke dalam lobang anus gadis itu.

    Benar-benar sangat menyesakkan melihat penisbesar hitam itu keluar masuk di anus Shanti. Terlihat kedua kaki Shanti yang terkangkangitu bergetar-getar lemah setiap kali Rahman menekan masuk penisnya ke dalam lobanganusnya. Dalam kesakitan itu, Shanti telah pasrah menerima perlakuan lelaki tersebut. Tak lama kemudian mereka bertukar posisi, sekarang Rahman duduk melonjor di ranjangdengan penisnya tetap berada dalam lobang anus Shanti, sehingga badan Shanti tertidurterlentang di atas badan Rahman dengan kedua kakinya terpentang lebar ditarik melebaroleh kedua kaki Rahman dari bawah dan Tuti mengambil posisi di atas Shanti untukmenjilati vaginanya. Tuti mulai mengocok tangannya keluar masuk kemaluan Shanti, yang sekarang semakinbasah saja, cairan pelumas yang keluar dari dalam kemaluan Shanti mengalir ke bawah, sehingga membasahi dan melicinkan lobang anusnya, hal ini membuat penis Rahmanyang sedang bekerja pada lobang anusnya menjadi licin dan lancar, sehingga denganperlahan-lahan perasaan sakit yang dirasakan Shanti berangsur-angsur hilang digantidengan perasaan nikmat yang merambat ke seluruh badannya. Shanti mulai dapat menikmati penis besar laki-laki tersebut yang sedang menggaraplobang anusnya. Perlahan-lahan perasaan nikmat yang dirasakannya melingkupi segenapkesadarannya, menjalar dengan deras tak terbendung seperti air terjun yang tumpah deraske dalam danau penampungan, menimbulkan getaran hebat pada seluruh bagiantubuhnya, tak terkendali dan meletup menjadi suatu orgasme yang spektakulermelandanya. Setelah itu badannya terkulai lemas, Shanti terlentang pasrah seakan-akanpingsan dengan kedua matanya terkatup. Melihat keadaan Shanti itu semakin membangkitkan nafsu Rahman, lelaki tersebutmenjadi sangat kasar dan kedua tangan Rahman memegang pinggul Shanti dan lelakitersebut menarik pinggulnya keras-keras ke belakang dan ìAduuh.. Aaauugghh..!î keluhShanti merasakan seakan-akan anusnya terbelah dua diterobos penis laki-laki itu yangbesar itu. Kedua mata Shanti terbelalak, kakinya menggelepar-gelepar dengan kuatnyadiikuti badannya yang meliuk-liuk menahan gempuran penis Rahman pada anusnya. Dengan buasnya Rahman menggerakkan penisnya keatas bawah dengan cepat dan keras, sehingga penisnya keluar masuk pada anus Shanti yang sempit itu. Rahman merasapenisnya seperti dijepit dan dipijit-pijit sedangkan Shanti merasakan penis lelaki tersebutseakan-akan sampai pada dadanya, mengaduk-aduk di dalamnya, di samping itu suatuperasaan yang sangat aneh mulai terasa menjalar dari bagian bawah tubuhnya bersumberdari anusnya, terus ke seluruh badannya terasa sampai pada ujung-ujung jari-jarinya. Shanti tidak bisa menggambarkan perasaan yang sedang menyelimutinya, akan tetapibadannya kembali serasa mulai melayang-layang dan suatu perasaan nikmat yang tidakdapat dilukiskan terasa menyelimuti seluruh badannya. Hal yang dapat dilakukannya pada saat itu hanya mengerang-erang, ìAaahh.. Ssshhoouusshh!î sampai suatu saat perasaan nikmatnya itu tidak dapat dikendalikan lagi serasamenjalar dan menguasai seluruh tubuhnya dan tiba-tiba meledak membajiri keluar berupasuatu orgasme yang dasyat yang mengakibatkan seluruh tubuhnya bergetar tak terkendalidisertai tangannya yang menggapai-gapai seakan-akan orang yang mau tenggelammencari pegangan. Kedua kakinya berkelejotan. Dari mulut Shanti keluar suatu erangan, ìAaaduhh.. Laagii.. Laagii.. Oohh.. Ooohh..î Halini berlangsung kurang lebih 20 detik terus menerus. Sementara itu lelaki itu terus melakukan aktivitasnya, dengan memompa penisnya keluarmasuk anus. Tuti yang sedari tadi mengocok kemaluan gadis itu menjadi sangatterangsang melihat ekspresi muka Shanti dan tiba-tiba Tuti merasakan bagian dalamvagina Shanti mulai bergerak-gerak melakukan pijitan-pijitan kuat pada jari-jarinya. Gerakan kaki Shanti disertai goyangan pinggulnya mendatangkan suatu kenikmatan padapenis lelaki tersebut, terasa seperti diurut-urut dan diputar-putar.

    Tiba-tiba Rahman merasakan sesuatu gelombang yang melanda dari di dalam tubuhnya, mencari jalan keluar melalui penisnya yang besar itu, dan terasa suatu ledakan yang tibatibamendorong keluar, sehingga penisnya terasa membengkak seakan-akan mau pecahdan.. ìAaaduuh..!î secara tidak sadar tangannya mencengkram erat badan Shanti dan pinggulRahman terangkat ke atas, pinggulnya mendorong masuk penis terbenam habis ke dalamlobang anus Shanti, sambil menyemburkan cairan kental panas ke dalam lobang anusgadis itu. Menerima semburan cairan kental panas pada lobang anusnya, Shanti merasakan suatu sensasi yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, hanya reaksi badannya yang bergetar-getar dan ekspresi mukanya yang seakan-akan merasakan suatu kengiluan yangtak terbayangkan, diikuti badannya yang tergolek lemas, tanpa dapat bergerak. Shantiterlena oleh kedahsyatan orgasme yang dialami dan diterimanya dari mereka berdua

  • BIBI ELHA PEMBANTU YANG SINTAL

    BIBI ELHA PEMBANTU YANG SINTAL


    1703 views

    PEMBANTU KU, AKU YANG ENTOT

    Bi Eha sudah cukup lama menjadi pembantu di rumah Tuan Hartono. Ini merupakantahun ketiga ia bekerja di sana. Bi Eha merasa kerasan karena keluarga Tuan Hartonocukup baik memperlakukannya bahkan memberikan lebih dari apa yang diharapkan olehseorang pembantu. Bi Eha sadar akan hal ini, terutama akan kebaikan Tuan Hartono, yang dianggapnya terlalu berlebihan. Namun ia tak begitu memikirkannya. Sepanjanghidupnya terjamin, iapun dapat menabung kelebihannya untuk jaminan hari tua. Perkarakelakuan Tuan Hartono yang selalu minta dilayani jika kebetulan istrinya tak ada dirumah, itu adalah perkara lain. Ia tak memperdulikannya bahkan ikut menikmati pula. Walaupun orang kampung, Bi Eha tergolong wanita yang menarik. Usianya tidak terlalutua, sekitar 32 tahunan. Penampilannya tidak seperti perempuan desa. Ia pandai merawattubuhnya sehingga nampak masih sintal dan menggairahkan. Bahkan Tuan Hartonosangat tergila-gila melihat kedua payudaranya yang montok dan kenyal. Kulitnya agakgelap namun terawat bersih dan halus. Soal wajah meski tidak tergolong cantik namunmemiliki daya tarik tersendiri. Sensual! Begitu kata Tuan hartono saat pertama kalimereka bercinta di belakang dapur suatu ketika. Dalam usianya yang tidak tergolong muda ini, Bi Eha ñ janda yang sudah lama ditinggalsuami ñ masih memiliki gairah yang tinggi karena ternyata selain berselingkuh denganmajikannya, ia pernah bercinta pula dengan Kang Ujang, Satpam penjaga rumah. Perselingkuhannya dengan Kang Ujang berawal ketika ia lama ditinggalkan oleh TuanHartono yang sedang pergi ke luar negeri selama sebulan penuh. Selama itu pula Bi Ehamerasa kesepian, tak ada lelaki yang mengisi kekosongannya. Apalagi di saat itu udaramalam terasa begitu menusuk tulang. Tak tahan oleh gairahnya yang meletup-letup, ianekat menggoda Satpam itu untuk diajak ke atas ranjangnya di kamar belakang. Malam itu, Bi Eha kembali tak bisa tidur. Ia gelisah tak menentu. Bergulingan di atasranjang. Tubuhnya menggigil saking tak tahannya menahan gelora gairah seksnya yangmenggebu-gebu.

    Malam ini ia tak mungkin menantikan kehadiran Tuan Hartono dalampelukannya karena istrinya ada di rumah. Perasaannya semakin gundah kalamembayangkan saat itu Tuan Hartono tengah menggauli istrinya. Ia bayangkan istrinyaitu pasti akan tersengal-sengal menghadapi gempuran Tuan Hartono yang memiliki ísenjataí dahsyat. Bayangan batang kontol Tuan Hartono yang besar dan panjang itu sertakeperkasaannya semakin membuat Bi Eha nelangsa menahan nafsu syahwatnya sendiri. Sebenarnya terpikir untuk memanggil Kang Ujang untuk menggantikannya namun ia takberani selama majikannya ada di rumah. Kalau ketahuan hancur sudah akibatnya nasibmereka nantinya. Akhirnya Bi Eha hanya bisa mengeluh sendiri di ranjang sampai takterasa gairahnya terbawa tidur. Dalam mimpinya Bi Eha merasakan gerayangan lembut ke sekujur tubuhnya. Iamenggeliat penuh kenikmatan atas sentuhan jemari kekar milik Tuan Hartono. Menggerayang melucuti kancing baju tidurnya hingga terbuka lebar, mempertontonkankedua buah dadanya yang mengkal padat berisi. Tanpa sadar Bi Eha mengigau sambilmembusungkan dadanya. ìRemas.. uugghh.. isep putingnya.. aduuhh enaknya..î Kedua tangan Bi Eha memegang kepala itu dan membenamkannya ke dadanya.!Tubuhnya menggeliat mengikuti jilatan di kedua putingnya. Bi Eha terengah-engahsaking menikmati sedotan dan remasan di kedua payudaranya, sampai-sampai iaterbangun dari mimpinya. Perlahan ia membuka kedua matanya sambil merasakan mimpinya masih terasa meskisudah terbangun. Setelah matanya terbuka, ia baru sadar bahwa ternyata ia tidak sedangmimpi. Ia menengok ke bawah dan ternyata ada seseorang tengah menggumuli bukitkembarnya dengan penuh nafsu. Ia mengira Tuan Hartono yang sedang mencumbuinya. Dalam hati ia bersorak kegirangan sekaligus heran atas keberanian majikannya ini meskisang istri ada di rumah. Apa tidak takut ketahuan. Tiba-tiba ia sendiri yang merasaketakutan. Bagaimana kalau istrinya datang?Bi Eha langsung bangkit dan mendorong tubuh yang menindihnya dan hendakmengingatkan Tuan Hartono akan situasi yang tidak memungkinkan ini. Namun belumsempat ucapan keluar, ia melihat ternyata orang itu bukan Tuan Hartono?! Yang lebihmengejutkannya lagi ternyata orang itu tidak lain adalah Andre, putra tunggal majikannyayang masih berumur 15 tahunan!?ìDen Andre?!î pekiknya sambil menahan suaranya.

    ìDen ngapain di kamar Bibi?î tanyanya lagi kebingungan melihat wajah Andre yangmerah padam. Mungkin karena birahi bercampur malu ketahuan kelakuan nakalnya. ìBi.. ngghh.. anu.. ma-maafin Andre..î katanya dengan suara memelas. Kepalanya tertunduk tak berani menatap wajah Bi Eha. ìTapi.. barusan nga.. ngapain?î tanyanya lagi karena tak pernah menyangka anakmajikannya berani berbuat seperti itu padanya. ìAndre.. ngghh.. tadinya mau minta tolong Bibi bikinin minuman..î katanyamenjelaskan. ìTapi waktu liat Bibi lagi tidur sambil menggeliat-geliat. . ngghh.. Andre nggak tahan..î katanya kemudian. ìOohh.. Den Andre.. itu nggak boleh. Nanti kalau ketahuan Papa Mama gimana?î TanyaBi Eha. ìAndre tahu itu salah.. tapi.. ngghh..î jawab Andre ragu-ragu. ìTapi kenapa?î Tanya Bi Eha penasaranìAndre pengen kayak Kang Ujang..î jawabnya kemudian. Kepala Bi Eha bagaikan disamber geledek mendengar ucapan Andre. Berarti dia tahuper buatannya dengan Satpam itu, kata hatinya panik. Wah bagaimana ini?ìKenapa Den Andre pengen itu?î tanyanya kemudian dengan lembut. ìAndre sering ngebayangin Bibi.. juga.. ngghh.. anu..îìAnu apa?î desak Bi Eha makin penasaran. ìAndre suka ngintip.. Bibi lagi mandi,î akunya sambil melirik ke arah pakaian tidur BiEha yang sudah terbuka lebar. Andre melenguh panjang menyaksikan bukit kembar montok yang menggantung tegak didada pengasuhnya itu. Bi Eha dengan refleks merapikan bajunya untuk menutupidadanya yang telanjang. Kurang ajar mata anak bau kencur ini, gerutu Bi Eha dalam hati. Nggak jauh beda dengan Bapaknya. ìBoleh khan Bi?î kata Andre kemudian. ìBoleh apa?î sentak Bi Eha mulai sewot. ìBoleh itu.. ngghh.. anu.. kayak tadi..î pinta Andre tanpa rasa bersalah seraya mendekati!kembali Bi Eha. ìDen Andre jangan kurang ajar begitu sama perempuan.., î katanya seraya mundurmenjauhi anak itu. ìNggak boleh!îìKok Kang Ujang boleh? Nanti Andre bilangin lho..î kata Andre mengancam. ìEh jangan! Nggak boleh bilang ke siapa-siapa. .î kata Bi Eha panik. ìKalau gitu boleh dong Andre?î Kurang ajar bener anak ini, berani-beraninya mengancam, makinya dalam hati. Tapibagaimana kalau ia bilang-bilang sama orang lain. Oh Jangan. Jangan sampai! Bi Ehaberpikir keras bagaimana caranya agar anak ini dapat dikuasai agar tak cerita kepadayang lain. Bi Eha lalu tersenyum kepada Andre seraya meraih tangannya. ìDen Andre mau pegang ini?î katanya kemudian sambil menaruh tangan Andre ke atasbuah dadanya.

    ìIya.. ii-iiya..,î katanya sambil menyeringai gembira. Andre meremas kedua bukit kembar milik Bi Eha dengan bebas dan sepuas-puasnya. ìGimana Den.. enak nggak?î Tanya Bi Eha sambil melirik wajah anak itu. ìTampan juga anak ini, walau masih ingusan tapi ia tetap seorang lelaki jugaî, pikir BiEha. Bukankah tadi ia merindukan kehadiran seorang lelaki untuk memuaskan rasa dahagayang demikian menggelegak? Mungkin saja anak ini tidak sesuai dengan apa yangdiharapkan, tetapi dari pada tidak sama sekali?Setelah berpikiran seperti itu, Bi Eha menjadi penasaran. Ingin tahu bagaimana rasanyabercinta dengan anak di bawah umur. Tentunya masih polos, lugu dan perlu diajarkan. Mengingat ini hal Bi Eha jadi terangsang. Keinginannya untuk bercinta semakinmenggebu-gebu. Kalau saja lelaki ini adalah Tuan Hartono, tentunya sudah ia terkamsejak tadi dan menggumuli batang kontolnya untuk memuaskan nafsunya yang sudah keubun-ubun. Tapi tunggu dulu. Ia masih anak-anak. Jangan sampai ia kaget dan malahakan membuatnya ketakutan. Lalu ia biarkan Andre meremas-remas buah dadanya sesuka hati. Dadanya sengajadibusungkan agar anak ini dapat melihat dengan jelas keindahan buah dadanya yangpaling dibanggakan. Andre mencoba memilin-milin putingnya sambil melirik ke wajahBi Eha yang nampak meringis seperti menahan sesuatu. ìSakit Bi?î tanyanya. ìNggak Den. Terus aja. Jangan berhenti. Ya begitu.. terus sambil diremas.. uugghh..î Andre mengikuti semua perintah Bi Eha. Ia menikmati sekali remasannya. Begitu kenyal, montok dan oohh asyik sekali! Pikir Andre dalam hati. Entah kenapa tiba-tiba ia inginmencium buah dada itu dan mengemot putingnya seperti ketika ia masih bayi. Bi Eha terperanjat akan perubahan ini sekaligus senang karena meski sedotan itu tidaksemahir lelaki dewasa tapi cukup membuatnya terangsang hebat. Apalagi tangan Andresatunya lagi sudah mulai berani mengelus-elus pahanya dan merambat naik di balik bajutidurnya. Perasaan Bi Eha seraya melayang dengan cumbuan ini. Ia sudah tak sabarmenunggu gerayangan tangan Andre di balik roknya segera sampai ke pangkal pahanya. Tapi nampaknya tidak sampai-sampai. Akhirnya Bi Eha mendorong tangan itu menyusuplebih dalam dan langsung menyentuh daerah paling sensitive. Bi Eha memang tak pernahmemakai pakaian dalam kalau sedang tidur. ìTidak bebasî, katanya. Andre terperanjat begitu jemarinya menyentuh daerah yang terasa begitu hangat danlembab. Hampir saja ia menarik lagi tangannya kalau tidak ditahan oleh Bi Eha.!ìNggak apa-apa.. pegang aja.. pelan-pelan. . ya.. terus.. begitu.. ya.. teruusshh.. uggh Denenaak!î Andre semangat mendengar erangan Bi Eha yang begitu merangsang. Sambil terusmengemot puting susunya, jemarinya mulai berani mempermainkan bibir kemaluan BiEha. Terasa hangat dan sedikit basah. Dicoba-cobanya menusuk celah di antara bibir itu. Terdengar Bi Eha melenguh. Andre meneruskan tusukannya. Cairan yang mulai rembesdi daerah itu membuat jari Andre mudah melesak ke dalam dan terus semakin dalam. ìAkhh.. Den masukin terusshh.. ya begitu. Oohh Den Andre pinter!î desah Bi Eha mulaimeracau ucapannya saking hebatnya rangsangan ke sekujur tubuhnya. Sambil terus menyuruh Andre berbuat ini dan itu. Tangan Bi Eha mulai menggerayang ketubuh Andre.

    Pertama-tama ia lucuti pakaian atasnya kemudian melepaskan ikatpinggangnnya dan langsung merogoh ke balik celana dalam anak itu. ìMmmpphh..î, desah Bi Eha begitu merasakan batang kontol anak itu sudah keras sepertibaja. Ia melirik ke bawah dan melihat batang Andre mengacung tegang sekali. Boleh juga anakini. Meski tidak sebesar bapaknya, tapi cukup besar untuk ukuran anak seumurnya. Tangan Bi Eha mengocok perlahan batang itu. Andre melenguh keenakan. ìOouhhgghh.. Bii.. uueeanaakkhh! î pekik Andre perlahan. Bi Eha tersenyum senang melihatnya. Anak ini semakin menggemaskan saja. Kepolosandan keluguannya membuat Bi Eha semakin terangsang dan tak tahan menghadapi emotanbibirnya di puting susunya dan gerakan jemarinya di dalam liang mem*knya. Rasanya iatak kuat menahan desakan hebat dari dalam dirinya. Tubuhnya bergetar.. lalu.., Bi Ehamerasakan semburan hangat dari dalam dirinya berkali-kali. Ia sudah orgasme. Heranjuga. Tak seperti biasanya ia secepat itu mencapai puncak kenikmatan. Entah kenapa. Mungkin karena dari tadi ia sudah terlanjur bernafsu ditambah pengalaman baru dengananak di bawah umur, telah membuatnya cepat orgasme. Andre terperangah menyaksikan ekspresi wajah Bi Eha yang nampak begitumenikmatinya. Guncangan tubuhnya membuat Andre menghentikan gerakannya. Iaterpesona melihatnya. Ia takut malah membuat Bi Eha kesakitan. ìBi? Bibi kenapa? Nggak apa-apa khan?î tanyanya demikian polos. ìNggak sayang.. Bibi justru sedang menikmati perbuatan Den Andre,î demikian kata BiEha seraya menciumi wajah tampan anak itu. Dengan penuh nafsu, bibir Andre dikulum, dijilati sementara kedua tangannyamenggerayang ke sekujur tubuh anak muda ini. Andre senang melihat kegarangan BiEha. Ia balas menyerang dengan meremas-remas kedua payudara pengasuhnya ini, lalumempermainkan putingnya. ìAduh Den.. enak sekali. Den Andre pinter.. uugghh!î erang Bi Eha kenikmatan. Bi Eha benar-benar menyukai anak ini. Ia ingin memberikan yang terbaik buat majikanmudanya ini. Ingin memberikan kenikmatan yang tak akan pernah ia lupakan. Ia yakinAndre masih perjaka tulen. Bi Eha semakin terangsang membayangkan nikmatnyasemburan cairan mani perjaka. Lalu ia mendorong tubuh Andre hingga telentang lurus diranjang dan mulai menciuminya dari atas hingga bawah. Lidahnya menyapu-nyapu disekitar kemaluan Andre. Melumat batang yang sudah tegak bagai besi tiang pancang danmegulumnya dengan penuh nafsu. Tubuh Andre berguncang keras merasakan nikmatnya cumbuan yang begitu lihai. Apalagi saat lidah Bi Eha mempermainkan biji pelernya, kemudian melata-lata ke sekujur!batang kemaluannya. Andre merasakan bagian bawah perutnya berkedut-kedut akibatjilatan itu. Bahkan saking enaknya, Andre merasa tak sanggup lagi menahan desakanyang akan menyembur dari ujung moncong kemaluannya. Bi Eha rupanya merasakan halitu. Ia tak menginginkannya. Dengan cepat ia melepaskan kulumannya dan langsungmemencet pangkal batang kemaluan Andre sehingga tidak langsung menyembur. ìAkh Bi.. kenapa?î Tanya Andre bingung karena barusan ia merasakan air maninya akanmuncrat tapi tiba-tiba tidak jadi. ìNggak apa-apa. Tenang saja, Den. Biar tambah enak,î jawabnya seraya naik ke atastubuh Andre. Dengan posisi jongkok dan kedua kaki mengangkang, Bi Eha mengarahkan batang kontolAndre persis ke arah liang mem*knya. Perlahan-lahan tubuh Bi Eha turun sambilmemegang kontol Andre yang sudah mulai masuk. ìUugghh.. enak nggak Den?îìAduuhh.. Bi Eha.. sedaapphh..! î pekiknya. Andre merasakan batang kontolnya seperti disedot liang mem*k Bi Eha. Terasa sekalikedutan-kedutannya. Ia lalu menggerakan pantatnya naik turun. Konotlnya bergerakceapt keluar masuk liang nikmat itu. Bi Eha tak mau kalah. Pantatnya bergoyang kekanan-kiri mengimbangi tusukan kontol Andre. ìAuugghh Deenn..uueennaakk! î jerit Bi Eha seperti kesetanan. ìTerus Den, jangan berhenti. Ya tusuk ke situ.. auughgg.. aakkhh..î Andre mempercepat gerakannya karena mulai merasakan air maninya akan muncrat. ìBi.. saya mau keluaarr..î Jeritnya. ìIya Den.. ayo.. keluarin aja. Bibi juga mau keluar.. ya terusshh.. oohh teruss..î katanyatersengal-sengal. Andre mencoba bertahan sekuat tenaga dan terus menggenjot liang mem*k Bi Ehadengan tusukan bertubi-tubi sampai akhirnya kewalahan menghadapi goyangan pinggulwanita berpengalaman ini. Badannya sampai terangkat ke atas dan sambil memeluk tubuhBi Eha erat-erat, Andre menyemburkan cairan kentalnya berkali-kali. ìCrot.. croott.. crott!îìAaakkhh..î Bi Eha juga mengalami orgasme.

    Sekujur tubuhnya bergetar hebat dalam pelukan erat Andre. ìOoohh.. Deenn.. hebat sekali..î Kedua insan yang tengah lupa daratan ini bergulingan di atas ranjang merasakan sisa-sisaakhir dari kenikmatan ini. Nafas mereka tersengal-sengal. Peluh membasahi seluruhtubuh mereka meski udara malam di luar cukup dingin. Nampak senyum Bi Ehamengembang di bibirnya. Penuh dengan kepuasan. Ia melirik genit kepada Andre. ìGimana Den. Enak khan?îìIya Bi, enak sekali,î jawab Andre seraya memeluk Bi Eha. Tangannya mencolek nakal ke buah dada Bi Eha yang menggelantung persis di depanmukanya. ìIh Aden nakal,î katanya semakin genit. Tangan Bi Eha kembali merayap ke arah batang kontol Andre yang sudah lemas. Mengelus-elus perlahan hingga batang itu mulai memperlihatkan kembali kehidupannya. ìBibi isep lagi ya Den?î Andre hanya bisa mengangguk dan kembali merasakan hangatnya mulut Bi Eha ketikamengulum kontolnya. Mereka kembali bercumbu tanpa mengenal waktu dan baru!berhenti ketika terdengar kokok ayam bersahutan. Andre meninggalkan kamar Bi Ehadengan tubuh lunglai. Habis sudah tenaganya karena bercinta semalaman. Tapi nampakwajahnya berseri-seri karena malam itu ia sudah merasakan pengalaman yang luar biasa.!

  • ibu haji dan nafsu sex yang tak terbendung

    ibu haji dan nafsu sex yang tak terbendung


    3526 views

    Universitas swasta yang terletak di Jalan DI Panjaitan – Jakarta Timur itu berada di antara jalan uatama, satu jalan sekunder, sebuah sungai yang kalau musim banjir pasti meluap, dan rumah2 penduduk yang padat. Dan di antara kepadatan rumah2 penduduk itu terdapat suatu kisah mesum.

    Kisah ini terjalin antara mahasiswa yang kuliah universitas swasta tersebut dan pemilik kos2an di mana sang mahasiswa tinggal ngekos.Bangunan itu terdiri atas rumah2 petak sebanyak 5 pintu yang masing2 petak terdiri atas 3 ruangan.Di samping rumah2 petak tersebut menempel rumah utama yang merupakan tempat pemilik kos2an tinggal. Nama pemilik kos2an adalah Haji Imron. Biasa dipanggil oleh tetangga dan mahasiswa dengan sebutan Pak Haji. Tempat kos2an dan rumah utama ini di kelilingi oleh pagar besi setinggi 1,5 meter di bagian depan yang memiliki dua pintu masuk dan pagar tembok di tiga sisi lainnya setinggi 3 meter. Halamannnya dihampari oleh konblok dan dihiasi oleh berbagai tanaman, sehingga terlihat sangat rapi, asri, anggun, dan sejuk. Kos2an ini hanya diperuntukkan bagi mahasiswa. Di sinilah Andri, mahasiswa di universitas swasta itu tinggal. Sudah 3 bulan ia tinggal di sini. Andri adalah mahasiswa asal Cikampek, tetapi ia bukanlah asli Cikampek.Haji Imron memiliki 3 orang anak. Satu laki2, dan dua perempuan. Dua anaknya sudah berkeluarga, sedangkan satu lagi yang laki2 masih duduk di kleas 2 SMU. Yang paling menarik hati Andri adalah Bu Haji.

    Walau usianya sudah 43 tahun penampilanya masih seperti umur 30-an. Bu Haji selalu ramah pada tetangga maupun mahasiswa2 yang ngekos di rumahnya. Bodynya bongsor, berkulit kuning langsat, dan selalu memakai kerudung. Bila ia keluar dengan mobil Innova-nya ia akan memakai kaca mata hitam sebagai hiasan. Andri sering mencuri pandang mengamati Bu Haji. Pernah Andri menggoda Bu Haji ketika Andri hendak berangkat ke kampus dengan motor Honda nya sedangkan Bu Haji hendak keluar dengan Kijang Innova-nya. “Wah, Bu Haji, gayanya seperti cewek2 di kampusku aja nih..,”goda Andri “Iya dong, Dri. Biarpun udah tua harus tetap jaga penampilan lho…harus semangat seperti anak2 muda, ”balas Bu Haji sambil melemparkan senyumnya. “Iya deh, Bu Haji. Saya setuju kok..,”ujar Bu Andri. “Saya duluan ,Bu Haji,”seru Andri sambil melajukan motornya. Setiap Andri pulang malam, Andri sering mengamati Bu Haji nongkrong sendirian di ruang tengah menonton televisi. Bahkan kadang sampai larut malam. Yang paling membuat Andri kagum sekaligus ngiler adalah ketika suatu sore ia bertamu sekaligus hendak membayar uang kontrakan bulanan. Andri diterima oleh Bu Haji di ruang tengah yang sejuk dan asri itu. Bu Haji menemuinya dengan celana pendek yang ketat dan kemeja yang longgar. Bu Haji hanya senyum2 saja melihat Andri yang kikuk dan mata Andri yang kadang2 melirik ke pahanya. Di dalam rumahnya Bu Haji memang sering memakai celana pendek dan melepaskan kerudungnya.Setelah keluar daru rumah Bu Haji dan sampai di kamarnya sendiri, Andri membayangkan semua yang baru saja dilihatnya. Paha putih yang gempal dan padat. Sangat mulus, pikir Andri. Dan Andri yakin di balik kemeja longgar yang dipakai Bu Haji terdapat kulit yang putih-mulus dan buah dada yang besar.

    Andri sering membayangkan bisa menggumuli tubuh Bu Haji yang bongsor dan putih mulus itu. Andri juga sering membayangkan memek Bu Haji, pasti tebal dan empuk gumamnya dalam hati. Tetapi Andri lalu tersenyum masem karena tubunya termasuk agak kurus walaupun ia memiliki tinggi 173 cm. Kalau sudah begitu Andri akan mengusap-usap kontolnya lalu melepaskan pusingnya di kamar mandi.Pak Haji Imron termasuk tuan tanah.

    Ia memiliki beberapa kos2an dan sejumlah rumah yang dikontrakkan. Semua tersebar di wilayah Jabodetabek. Ia paling sering ke wilayah Depok. Selain mengunjungi anaknya dan rumah kos2an yang pengelolaannya diserahkan pada anaknya juga karena di sebelah kos2an itu terdapat kolam pancing yang yang cukup ramai dikunjungi. Kolam pancing itu juga dikelola oleh anaknya dan menantunya di samping beberapa pembantu. Hampir setiap hari Pak Haji Imron pergi ke Depok. Kalau sudah asyik memancing Pak Haji Imron bisa menginap sampai 3-4 hari.Suatu sore Andri berjalan ke samping rumah utama yang ditanami beberapa batang pohon jambu Taiwan. Ia bermaksud mengambil beberapa buah jambu Taiwan. Pak Haji dan Bu Haji memang tidak melarang anak2 kosnya mengambil hasil tanaman yang ada di sekitar rumah itu. Karena kadang2 anak2 kos juga ikut membantu mengurusi tanaman2 tersebut. Saat itu beberapa pohon jambu sedang berbuah. Buahnya besar2 dan siap dipanen.Pohon2 itu terletak di antara tembok pagar dan tembok dinding rumah utama. Ketika ia hendak melangkah ke rimbunan pohon jambu, ia melihat daun jendela yang menghadap ke pohon2 jambu itu terbuka. Itu merupakan kamar tidur Pak Haji dan Bu Haji. Ia seketika ragu. Tetapi di benaknya adalah bahwa tadi pagi ia melihat Pak Haji dan Bu Haji keluar rumah memakai Suzuki Escudo. Dan ketika ia terbangun sore ini Suzuki Escudo belum ada di halaman. Ia hendak membatalkan niatnya karena takut jangan2 ketika ia tertidur tadi Pak Haji dan Bu Haji pulang dan Suzuki Escudo mungkin dipinjam seseorang atau salah satu anaknya. Setelah beberpa detik, Andri memutuskan memeriksa perlahan. Ia berjalan di atas teras keramik samping yang sempit. Dengan ujung matanya ia mencoba meneliti kamar itu. Untunglah…,pikirnya. Kamar itu kosong.Lalu Andri pun melanjutkan niatnya. Ia mengambil beberapa buah jambu. Ketika ia hendak berbalik, Andri sangat kaget dan pucat. Karena pada saat yang sama ia melihat Bu Haji masuk ke dalam kamar. Bu Haji hanya memakai celana pendek yang sangat ketat. Dan di atasnya, seluruh kancing kemeja Bu Haji belum terpasang sehingga memperlihatkan perut dan pusarnya yang mulus dan putih dan juga BH nya yang membungkus dadanya yang besar.

    Bu Haji juga kaget dan hampir berteriak. Tetapi ketika menyadari bahwa orang yang ada di samping rumah adalah Andri ia hanya kaget sebentar saja. Tangannya bergerak mengatupkan kemejanya tanpa memasang kancingnya.“Ah…kirain tadi siapa…Ibu kaget setengah mati,”seru Bu Haji dari dalam kamar. Ia melipat kedua tangan diperutnya sehingga kemejanya tidak terbuka.“Maaf Bu Haji…maaf…Maaf Bu Haji…tadi saya kira Bu Haji pergi dengan Pak Haji…jadi saya berani ke sini,”Andri berusaha menjelaskan. Ia terlihat kikuk dan agak malu2.“Iya sudah…kirain siapa..,”kata Bu Haji. Ia tersenyum pada Andri.“Maaf Bu Haji…,”kata Andri berjalan menunduk. “Permisi Bu Haji…,” kata Andri permisi dan melihat ke Bu Haji sebentar. Bu Haji mengangguk tersenyum. Ketika Andri melihat Bu Haji sebentar, ia sempat melirik ke dada Bu Haji yang tidak begitu serius menutupi bagian dadanya.Sesampai di kamarnya, Andri malah tidak memperdulikan jambu yang baru saja diambilnya. Yang ada dalam pikirannya adalah pusar, perut, dan BH Bu Haji. Ia terduduk dalam kasurnya. Memandang langit2 kamarnya. Bayangan Bu Haji yang super seksi tadi memenuhi angannya. Ia menggerakkan tangannya mengusap-usap kontolnya yang seketika menegang keras. Andri menghempaskan punggunya ke kasur. Menarik tangannya dari selangkangannnya. Ia merenung, jika tadi di belakang Bu Haji muncul Pak Haji, maka ia akan kena tegur.Ketika Andri masih berusa menenangkan pikirannya tiba2 handphone-nya berbunyi. Andri mengambil handphone-nya.

    “Hallo..”jawabnya. Tapi diseberang tidak ada jawaban. Panggilan itu terputus. Andri mengamati nomor “Received Calls” pada handphonenya. Nomor yang tidak dikenalnya. Ia meletakkan handphone itu. Tetapi ketika teringat dengan seorang cewek yang baru dikenalnya kemarin ia meraih lagi handphone tersebut. Siapa tahu cewek itu, pikir Andri. Andri memanggil nomor itu. “Hallo…,”panggilnya.“Hallo…emang kamu gak kuliah..?” seketika Andri heran. Ada riak senang dalam hatinya. Suara itu adalah suara Bu Haji.“Eh, Bu Haji…eh..nggak Bu Haji…hari ini saya emang ga ada jadwal kuliah…,”ujar Andri dengan suara yang dibuatnya sedemikian rupa. “Hhhmm, gimana jambunya? Enak ga?”tanya Bu Haji di seberang. Suaranya terdengar akrab dan manis di telinga Andri“Ah, belum sempat Bu Haji…baru juga mau makan…dari bentuk dan warnanya kayaknya enak sih..,”kata Andri mencoba berakrab-akrab ria.“Ntar kalau udah makan bilang ibu iya. Kalau enak Ibu juga mau ambil,”“Iya Bu Haji…,”jawab Andri. Ketika ia merasa Bu Haji hendak menutup pembicaraan, Andri buru-buru bertanya. ”Ehh, hhmmm…maaf Bu, Pak Haji kemana? Tadi sepertinya saya lihat bareng Bu Haji keluar,” “Tadi pagi emang keluar bareng Ibu tapi sebentar aja ke salon. Trus pulang. Sekarang bapak ke Depok….,” kata Bu Haji menjelaskan. “Ohh..iya udah deh bu…maaf tadi ya Bu Haji…saya tidak tahu..,”ujar Andri. “Hmmm-hhmm..,”Bu Haji tertawa kecil di seberang.”Nanti kalau udah dimakan jambunya jangan lupa sms bilang ibu ya. SMS aja enak apa nggak..!” “Iya bu..”ujar Andri. Dan pembicaraan pun selesai.Malamnya jam tujuh setelah makan, Andri mengambil HP-nya. Ia belum memakan jambunya, tetapi dalam hatinya ia akan mengatakan saja bahwa jambu itu enak. “Malam Bu Haji…jambunya enak,”begitu is isms Andri. “Bener enak?”balas sms Bu Haji. “Iya Bu. Bener enak”. “Kamu lagi ngapain?”sms Bu Haji. “Gak lagi ngapain Bu. Tiduran aja,”balas Andri sambil heran dgn isi sms Bu Haji. “Emang ga keluar? Mahasiswa kan ngapelnya ga cuma malam minggu”balas Bu Haji lagi. “Nggak Bu. Lagi pengen di rumah aja. Maaf, kalau Bu Haji sedang apa?”sms Andri. “Lagi sms an ama kamu..hehe..!”jawab sms Bu Haji.

    Isi sms ini membuat Andri senang setengah mati. Ia tersenyun-senyum dalam hati. Andri agak bingung untum membalas. Ia tidak tahu hendak mengetik apa. Tiba2 sms Bu Haji masuk lagi. “Tadi kamu lihat ibu ya..?”Andri hampir berteriak senang setengah mati membaca sms ini. Ia membaca sms itu berulang-ulang. Ia berpikir sejenak untuk membalas apa. “Hhmm, iya bu. Maaf…saya tadi tidak sengaja..,”akhirnya hanya itu yang ditulisnya. “Gak sengaja tapi dah lihat ya…?”sms Bu Haji. Andri jadi makin semangat. “Iya bu. Maaf…saya ga ingat lagi kok Bu…tapi…,”balas Andri. Ia sengaja menggantung sms nya untuk membuat Bu Haji yang sering diidam-idamkanya jadi penasaran. Tetapi setelah Andri menunggu 5 menit Bu Haji tidak lagi membalas. Ia pun ragu untuk mengirim sms lagi.Ketika ia hendak meletakkan HPnya, Bu Haji menelepon. Andri bersorak dalam hati. “Hallo…,”sahut Andri dengan suara dibuat merdu. “Tapi apa, Dri?”tanya Bu Haji pelan. Suaranya agak sengau. “Nnnggg…apa ya…? Andri menyahut dengan canda. “Apa..ayo apa..?”desak Bu Haji dengan nada seperti tertawa. “Hhmm…tapi aku senang aja melihatnya…,”akhirnya Andri memberanikan diri. “Hhhmmm…kamu ini…kirain apa tadi…emang kamu lihat apa coba..?”tanya Bu Haji. “Lihat sesuatu…nnggg…yang pengennya ga cuma dilihat…,”Andri makin berani menggoda. “Emang pengennya diapain..?” “Susah dibilangin dengan kata-kata Bu…hehe…,”Andri tertawa renyah.”Susah bilanginnya…tapi kalau tiba2 ada di sini…ah..gau taulah…,”Andri dengan berani menggoda lebih jauh. “Heheh….kamu…,”hanya itu ucapan Bu Haji. “Ibu lagi di mana?” Tanya Andri. “Lagi di kamar, kenapa?”Tanya Bu Haji. “Ga…nanya aja kok Bu..!”ujar Andri. “Hhhmm..iya udah iya, Dri,”kata Bu Haji menutup pembicaraan. “Iya Bu. Met malam..,”sahut Andri “Iya..,”balas Bu Haji sambil menutup pembicaraan.Dalam kamarnya Andri tersenyum-senyum senang. Entah kenapa nafsu birahinya timbul. Ia tidur2an di kasurnya sambil senyum-senyum mengingat semua pembicaraan dengan Bu Haji. Lalu dua jam kemudian sms Bu Haji masuk lagi. “Nonton MetroTV deh…acaranya bagus…,”demikian is isms Bu Haji.Andri yang memang sedang nonton MetroTV di kamarnya lagsung membalas dengan semangat. “Iya. Ini juga lagi nonton MetroTV kok Bu. Bu Haji belum bobo..?”tanya Andri dalam sms nya. Sengaja ia memilih kata “bobo” untuk membuat suasana jadi nyaman. “Belum..kan masih jam 10…,”balas sms Bu Haji. “Masih di kamar?” Andri sengaja menanyakan ini. “Iya…,”jawab Bu Haji “Di tempat tidur..?” tanya Rizl “Iya…,”jawab Bu Haji “Hehe..sama dong…,”balas Andri genit. Tetapi Bu Haji tidak lagi membalas.Sekitar jam 12 malam ketika Andri dilanda kantuk. Bunyi sms masuk ke HP nya. “Udah bobo..?” itu isi sms Bu Haji “Belum…Bu Haji belum bobo..?”Andri membalas “Belum juga…masih nonton..,” “Sama dong…”isi sms Andri. Kembai lagi Bu Haji tidak membalas. Tetapi entah kenapa Andri mengurungkan niatnya tidur.

    Entah kenapa ia yakin Bu Haji akan sms lagi. Tetapi kali ini tidak lagi.Sekitar jam setengah satu malam yang ada adalah “missed call” dari Bu Haji. Andri menelepon balik. Tapi tidak telepon tidak diangkat. “Belum tidur..?”Andri coba kirim sms. Tetapi setelah menunggu sepuluh menit tidak ada jawaban, Andri akhirnya meletakkan HPnya. Dan menghempaskan badannya ke kasur. Sekitar jam 02.10 HP nya berbunyi. Di seberang terdengar suara Bu Haji yang agak sengau dan manja. “Lagi ngapain, Dri..?”tanya Bu Haji.Andri menjawab dengan segenap keyakinan dan keberanian. “Belum bisa tidur Bu. Gara-gara pemandangan tadi siang di kamar Bu Haji,”Andri menahan nafasnya ketika berbicara. Ia pun membuat suaranya agak sengau dan lirih. “Hhhmm…terus..?”sahut Bu Haji “Iya jadi susah tidurnya nih…,”Andri merengek. Lalu Andri menyambung lagi.”Bu…!” “Apa..?jawab Bu Haji “Tapi jangan marah ya Bu…,”ujar Andri “Gak kok..apa..?”tanya Bu Haji. “Hhhhmm..boleh ga saya kesitu sekarang…?”tanya Andri dengan suara dibuat merdu. Dadanya berdegup ketika mengucapkan kata-kata itu. “Hhhmm kamu…,”hanya itu ucapan Bu Haji.”Udah iya..,”ucap Bu Haji.Pembicaraan seketika terputus. Andri terdiam. Tetapi hanya berselang dua menit bunyi sms masuk ke HPnya. “Pintu samping terbuka…kutunggu..,”demikian isi sms Bu Haji.Andri langsung gembira. Badanya dipenuhi nafsu sex. Ia merasakan kontolnya semakin menegang saja. Dengan perlahan ia keluar kamar dan melintasi halaman menuju pinti samping. Ketika sampai di pintu samping dengan yakin ia mendorongnya. Pintu itu terbuka. Di dalam cahaya yang remang ia melihat bayangan Bu Haji dengan celana pendek dan baju tidur yang ketat. Bu Haji menarik tangannya dan menutup pintu.Ketika Bu Haji membelakanginya sambil mengunci pintu, Andri langsung memeluk Bu Haji dari belakang. Ia menekan pantat Bu Haji dengan bagian kontolnya yang tegang. Kedua tangannya melingkari pinggang Bu Haji. Andri dengan liar mendaratkan ciuman2 di trengkuk Bu Haji. Bu Haji langsung berbalik. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Andri dan dengan agresif menarik tubuh Andri ke tembok. Dalam hitungan detik bibir Andri sudah dilumat oleh Bu Haji. Andri membalas dengan memutar dan memilin lidahnya. Andri menarik lidah Bu Haji dengan lidahnya. Bu Haji membalasnya dengan pagutan dan lumatan yang bergelora. Andri menarik tubuh Bu Haji sehingga kini Andri yang bersandar di tembok ruangan belakang itu.

    Mereka saling menciumi dan menjilati dengan liar. Mulut Bu Haji tak henti-henti mengeluartkan bunyi kecipak ketika mulut Andri menyedoti lidah dan bibir Bu Haji. Bu Haji makin dipenuhi nafsu birahi. Ia makin merapatkan tubuh ke dalam pelukan Andri. Andri menariknya penuh nafsu dan meremasi pantat dan pinggul Bu Haji. Bu Haji melingkarkan satu tangnnya di leher Andri dan satunya lagi merababi leher Andri. Mulutnya tidak berhenti melumat lidah dan mulut Andri. Bu Haji menggeserkan badannya agak ke bawah. Ketika Bu Haji merasakan Andri yang tegang telah berada di daerah selangkangannya, ia membuka paha sedikit lalu merapatkannya. Andri membalas dengan menekan kontolnya ke arah Bu Haji. Lalu Bu Haji menggesek-gesek MR.P Andri dengan memeknya yang masih tertutup celana pendek. Andri membalas dengan sodokan ke depan sambil meremasi pantat Bu Haji. Ciuman dan jilatan mereka makin penuh nafsu dan semakin liar. Andri mengulum bibir Bu Haji. Lalu menarik bibir Bu Haji dengan sedotan mulutnya. Ketika bibir Bu Haji terlepas, Andri merangsek ke leher Bu Haji. Bu Haji menengadah sambil bagian selangkangannya tetap digesek-gesekkan ke selangkangan Andri. Andri makin nafsu. Ia menciumi bagian atas dada Bu Haji. Bu Haji makin menengadah…badannya dilengkungkan.

    “Hhhmmmhhaahh…jangan bikin merah di situ yah..,”desah Bu Haji “Mmmhhaahh…,”Andri hanya mendesah penuh nafsu. Ia membuka kancing depan baju tidur Bu Haji. Lalu membenamkan wajahnya di dada Bu Haji yang besar. Andri menggeser BH Bu Haji ke atas. Lalu tangannya meraih buah dada yang besar itu. Ia lalu menciumi dan menjilatinya. “Mmmhhoohhh…,”desah Bu Haji. Andri makin bernafsu mendengar desah penuh nafsu Bu Haji. Ia menjilati puting susu Bu Haji lalu menyedotinya. “Mmmhhhoohhh…hhhoohh…ooohhh…hhhooohhhh…,”begit u desahan penuh nafsu Bu Haji setiap kali Andri menyedot puting susu Bu Haji dengan keras. Tubuh Bu Haji makin melengkung. Ia membusungkan dadanya, menekankan buah dadanya ke mulut Andri. Bu Haji melihati mulut Andri menjilati,menciumi, dan mengisap-isap buah dadanya. Bu Haji makin keras menggesekkan selangkangannya ke bagian MR.P Andri. Tangan kirinya mendekap kepala Andri untuk terus menciumi buah dadanya sementara tangan kanannya merabai dada Andri dan memijat-mijat puting susu Andri yang kecil.

    Mulut Andri mengecupi puting susu Bu Haji, menyedotinya, lalu menarik-nariknya dengan mulutnya. “Hhhmmhhoohh…hhoohhh…hhaaahhh…nngggoohh…,”hany a desah penuh nafsu itu yang keluar dari mulut Bu Haji. “Mmhhhhh…Dri..Dri…,”bisk Bu Haji di telinga Andri. Andri terus saja menyedot-nyedot susu Bu Haji. Pikiran Andri sudah dipenuhi nafsu sex. “Dri…hhhmm…Dri…ke kamar aja…,”bisik Bu Haji.Andri mengendorkan pelukannya. Bu Haji menarik tubuhnya dari pelukan ketat Andri. Ia bergerak ke saklar. Klik!!Lalu seluruh ruangan tengah yang menuju kamar Bu Haji yang terlihat dari luar kalau lampu menyala langsung gelap. Andri kembali merangkuli tubuh Bu Haji dan menciumi bibirnya. Bu Haji membalas dengan tak kalah agresif. Bu Haji meciumi Andri, memeluknya, dan menariknya. Andri mengikuti gerakan Bu Haji. Bu Haji dan Andri tetap berpelukan dan berciuman ketika meraka melangkah ke kamar. Ketika akhirnya sampai di kamar, Bu Haji menarik tubuh Andri ke kasur. Andri tertarik menindih tubuh Bu Haji. Kaki Bu Haji terbuka menjuntai di lantai sementara tubuhnya rebah di kasur. Andri menunduk menggumulinya. Ia menempatkan bagian kontolnya di selangkangan Bu Haji yang terbuka. Andri bisa merasakan empuknya memek Bu Haji yang masih terbungkus celana pendek ketat. Mulutnya menciumi pusar Bu Haji sambil kedua tangannya menelanjangi tubuh bagian atas Bu Haji. Bu Haji tak kalah agresif membuka baju Andri. Ciuman Andri makin liar. Mulutnya bergerak ke pinggul Bu Haji. Kedua tangannya membuka celana ketat pendek Bu Haji. Ia membukanya perlahan-lahan. Bibirnya merangsek menciumi bagian celana dalam Bu Haji yang terlihat. Bu Haji hanya melihati Andri. Ketika akhirnya celana pendek itu lepas, terlihatlah gundukan memek Bu Haji yang tebal terbungkus celana dalam putih. “Mmhhhoooh..,”desah Andri sambil mengecup permukaan celana dalam itu pelan. Lalu ia berdiri membuka celananya. Ia berdiri telanjang bulat dengan MR.P yang mengacung tegang. Bu Haji memandangi MR.P Andri.

    Andri berdiri mengocok kontolnya sebentar lalu membungkuk membuka celana dalam Bu Haji. Kini tubuh bugil Bu Haji terpampang di depanya.Andri mendekatkan mulutnya ke memek Bu Haji yang dipenuhi jembut lebat. “Nnnggghhooohh…, “Andri mendesah ketika mengecup permukaan memek Bu Haji.Bu Haji mengangkangkan pahanya lebar-lebar dan mengangkat pantatnya ketika mulut Andri menyentuh permukaan memeknya. Andri lalu mendorong tubuh Bu Haji perlahan ke tengah tempat tidur. Di tengah2 tempat tidur itu Bu Haji telentang pasrah dengan paha terbuka. Ia melihat Andri mendatangi ke tengah tempat tidur dengan kontol yang teracung tegang. Ketika Andri telah memasuki pahanya yang terbuka lebar,Bu Haji melihat Andri mengocok-ngocok kontolnya. Lalu ketika Andri mulai bergerak menindihnya, Bu Haji merasa darahnya mendesir. Ia makin melebarkan pahanya. Ia merangkul leher Andri. Andri menindih tubuh Bu Haji dan mencium mulutnya. Bu Haji membalasnya dengan mengulum bibr Andri. Andri mengerakkan pantatnya, dengan kontolnya yang tegang ia mencari memek Bu Haji. Akhirnya ujung MR.P Andri merasakan permukaan memek Bu Haji yang basah. Ia menekan-nekannya perlahan. Bu Haji membantunya dengan menggerakkan pinggulnya. Andri merasakn ujung kontolnya masuk sedikit di celah memek Bu Haji. Bu Haji merapatkan selangkangannya. Lalu Andri menusukkan kontolnya. “Hhhooohh Bu Haji..,’desahnya seraya menusukkan kontolnya. “Nnngghhhoohhh sayang…,”desah Bu Haji. Bu Haji merasakan MR.P Andri melesak memasuki memeknya yang basah. Bu Haji menggerakkan pinggulnya menyambut Andri yang menusuk lobang memeknya. Lalu seketika melingkarkan pahanya di pinggul Andri. “Hhhooohhh sayang….besar sekali kontolmu…,”desah Bu Haji di telinga Andri. Desahan ini membuat Andri berkobar. Ia menarik kontolnya dan menusukkannya dengan cepat ke dalam lobang memek Bu Haji. “Hhhhhooohhh Bu Haji…hhoohhh…”Andri mengerang penuh nafsu. “Hhhoohh sayang..kocok terus…hhoohh..enak sekali sayang..hhoohh..,”Bu Ijah mendesah lirih sendu di telunga Andri. “HHoohh…hhoohh….hhoo enak sekali..hhohh..hhoohh…Bu Haji sayang…hhoohhh…hhhoohhh…,”Andri mengerang penuh nafsu. Andri menggerakkan pantatnya naik-turun. Ia menggenjoti tubuh Bu Haji dengan cepat. Kontolnya keluar masuk dengan cepat dan kuat dalam lobang memek Bu Haji. Bu Haji makin mengetatkan selangkangannya di pinggul Andri. “Oooohhh sayang…genjot sayang…hhhoohh … entoti terus sayang…hhhooohhh…hhhoohhh..enak sekali tusukan kontolmu sayang…hhoohh…entotin yang lama say…ooohhh…sayang…oohhh…,”Bu Haji mendesah penuh nafsu. Andri merasakan tubuhnya dan tubuh Bu Haji hangat. Ia melihat wajah Bu Haji yang redup penuh nafsu. Ia melihat wajah Bu Haji bergerak-gerak mengikuti setiap tusukan kontolnya.

    Ia merasakan nikmat yang luar biasa di ujung kontolnya ketika menusuki bagian dalam lobang memek Bu Haji. Bu Haji merasakan tusukan-tuskan dalam lobang memeknya begitu cepat. Ia melebarkan pahanya dan betisnya merangkul pinggul Andri.Dengan matanya yang sayu Bu Haji melihat pantat Andri naik-turun memompa dan menggenjotinya. Seiring itu lobang memeknya merasakan nikmat yang penuh sensasi ditusuki *MR.P Andri. Ia menggerakkan tanggannya merangkul pinggang Andri. Berusaha menguasai dan memiliki tubuh yang sedang menggumuli dan menggagahinya. “Hhhhoohhh sayang… entotin memekku say…ooohhh…terus say..hhhoohh..enak sekali sayang…oooohhh….,”Bu Haji makin gelap mata menahan nikmatnya senggama itu. “Iya say…hhoohh..iya sayang…,”bisik Andri penuh birahi di telinga Bu Haji. Ia makin merapatkan tubuhnya yang penuh keringat ke tubuh Bu Haji.”Iya say..hhhoohh..iya say…enak sekali mengentotimu say…hhhoohh..,”erang Andri lirih. Bu Haji makin dipenuhi birahi nafsu. Dengan kedua tangan mencengkeram erat pinggang Andri ia menggerakkan pinggulnya makin liar menerima tusukan-tusukan MR.P Andri dalam lobang memeknya. “Hhhhggggg….nnggghhooohhh…nnnggghhhhoohhh…,” Bu Haji makin ketat menempelkan memenya ke pangakal MR.P Andri.. Andri merasakan tubuh Bu Haji makin hangat, dan mulai bergoyang liar tidak teratur.

    Andri tahu Bu Haji sesaat lagi akan mengalami orgasme. Andri memacu tusukan kontolnya makin cepat. Ia terus memompa dan menggenjot. Lalu ia merasakan pangkal paha Bu Haji makin melebar dan mendesak ke tubuhnya. Tangan Bu Haji mencengkeram kuat pinngangnya…. “Hhhhggggghhh…nnggghhhhooohh..Dri…nnggghhhoohh h…oo oohhh…hhhggg..,” desahan sengau penuh nafsu Bu Haji tiba2 tertahan dan seketika Andri merasakan lobang memek Bu Haji berdenyut-denyut cepat, dan seiring itu kontolnya merasakan siraman mani yang hangat dalam lobang memek Bu Haji.  “Hhhngghhoohhh..hhhoohhh…ooohh..nnggghhhooohhh …,”B u Haji tak henti2 menjerit keenakan merasakan orgasmenya. Andri memacu makin kuat dan. “Hhhhnggghhhoohhh…hohohh..ohhhh..,” tak lama berselang Andripun menghujamkan kotolnya dalam2 dan kuat dalam memek Bu Haji. “Hhhaahh..hhhaaahhh…,”desah Andri memuncratkan maninya dalam memek Bu Haji. Kontolnya menyemprotkan mani berkali kali. Kontolnya mengangguk-angguk dalam memek Bu Haji. Bu Haji merasakan lobang memeknya dipenuhi mani yang hangat. Ia merem-melek menikmati *MR.P Andri yang berdenyut-denyut dalam lobang memeknya. Bu Haji terus merasakan gerakan pinggulnya yang belum berhenti bergerak otomatis karena orgsmenya. Ia meraih mulut Andri dan seperti kehausan langsung menciumin dan mengulumnya liar.Andri membalas lumatan mulut Bu Haji. Matanya merem-melek menahan nikmatnya orgasmenya sambil tak berhenti mengulumi bibr Bu Haji.Lalu akhirnya ciuman2 mereka mulai longgar seiring makain lemahnya denyutan2 yang mereka rasakan dalam alat senggama mereka berdua. Dan akhirnya gerakan2 itu berhenti. Bu Haji mendenguskan nafas sambil merentangkan kedua tangannya lebar2 ke kiri-kanan.

    Ia memalingkan wajah ke samping. Andri melemaskan tubuhnya di atas tubuh Bu Haji. Wajahnya menelungkup di sisi leher Bu Haji. Ia mendesahkan nafas satu-satu.Kurang lebih lima menit mereka diam membisu. Mereka masih merasakan suhu tubuh yang hangat. “Dri…,”Bu Haji menggerakkan tangannya ke punggung Andri. Dan merabanya. “Nggghhahh…,”Andri menyahut lemah. Ia bergulir turun dari atas tubuh Bu Haji. Bu Haji mengejarnya dan memeluknya. Mulutnya mengulum lembut bibir Andri. “Dri, kamu memang sering memimpikan hal ini kan..,”bisik Bu Haji. “Iya…sangat sering…,”jawab Andri pelan sambil memadangi mata Bu Haji.Aku tahu…,”kata Bu Haji. “Dari caramu memandangi aku, aku tahu kamu sering menginginkan ini. Aku juga Dri..,”bisik Bu Haji lagi. Tangannya membelai-belai puting Andri yang mungil. “Kok bisa..? Ibu cantik. Putih. Tubuh ibu juga bongsor dan seksi sekali. Sedangkan aku bisa dibilang agak kurus…,”kata Andri. “Nnngghhhmmmmaahh…,”desah Bu Haji sambil mengulum lagi bibir Andri. Andri membalasnya. “Justru karena badanmu ini yang bikin ibu penasaran. Karena orang yang punya badan kurusnya seperti kamu ini pasti memiliki nafsu yang besar. Dan ibu sering membayangkan nafsumu seperti apa. Apalagi kamu sering memandangi ibu. Dan tadi nafsumu udah bikin ibu gelap mata..,” jelas Bu Haji. Andri lalu mendesakkan badannya ke tubuh bugil Bu Haji. Memeluknya erat. Menciumi lehernya. Andri berbisik di telinga Bu Haji…,”Bu, aku tidur di sini yah…?” “Iya sayang…,”jawab Bu Haji membalas merengkuh tubuh Andri.Malam itu Andri tidur di ranjang yang biasa jadi tempat tidur Bu Haji dan Pak Haji. Menjelang subuh mereka kembali menuntaskan nafsu syahwat mereka. Yang berlanjut hingga esok siangnya.Sejak itu Bu Haji makin jarang mengikuti Pak Haji mengawasi rumah2 mereka. Ia lebih senang tinggal di rumah dan mengikuti dorongan nafsu seksnya. Andri berkali-kali menggumuli tubuh Bu Haji mulai dari kamar mandi, ruang tengah, dapur, sampai kamar tidur. Ia memperlakukan Bu Haji seperti pacarnya.

  • Aku mau dong

    Aku mau dong


    343 views

    Cerita Seks Aku mau dong

    Namaku Sony, wajahku ganteng, tubuh tinggi dan sexy sehingga banyak cewek tergila-gila. Tapi keadaan ekonomiku kurang mencukupi. Pernah aku mencintai dan ingin melamar seorang gadis idamanku. Orang tuanya menolak lamaranku karena aku miskin. Disaat itulah aku ditawari sebuah pekerjaan oleh atasan bapakku dimana beliau bekerja. Aku akan diberi kedudukan, tapi dengan syarat aku harus mau menjadi suami kontrak anaknya yang hamil diluar nikah. Oleh karena keadaan itulah aku menerima persyaratannya meskipun bapakku tidak setuju akan keputusanku. Tapi karena tekadku sudah bulat maka aku terpaksa tidak mendengar nasehat bapakku. Maka berangkatlah aku menuju ke rumahnya.Sesampai di rumahnya, aku dikenalkan dengan cewek calon istriku itu. Namanya Sari. Cantik juga orangnya tapi agak sombong dan cerewetnya minta ampun.

      Dia melihatku cuek dan sepertinya tidak ada rasa suka padaku. Wuih hebat juga nich cewek, padahal di kampung aku jadi primadona desa. Cewek-cewek yang mandi di sungai biasanya mengajakku untuk mandi bersama. Mereka tidak malu telanjang di hadapanku, mulai dari gadis cilik, gadis perawan, ibu-ibu muda, janda muda, janda tua, bahkan sampai nenek-nenek pun pamer tubuh di hadapanku. Aku sungguh heran dengan cewek satu ini kenapa dia tidak ada rasa suka sama sekali padaku yang ganteng ini.

    Di saat hari pernikahan, dia tidak menampakkan wajah gembira sama sekali. Wajahnya murung dan cuek padaku, meskipun di hadapan tamu dia masih bisa tersenyum.Selesai acara resepsi pernikahan kami, disaat para tamu sudah pulang. Dia langsung masuk ke kamar. Aku langsung menyusul dari belakang, tapi tidak kuduga pintu kamar telah terkunci dari dalam. Aku bingung dan agak kesal karena sikapnya. Sepertinya dia tidak menghormatiku, meskipun aku hanya suami kontrakan. Kedua mertuaku pun jadi bingung akan sikap anaknya. Mereka minta maaf padaku, lalu menyuruhku tidur di kamar tamu.Keesokan harinya, disaat aku mau mandi dan ganti baju kuketok pintu kamarnya yang terkunci. Nggak ada jawaban. “Sayang, aku mau mandi.. tolong buka pintunya dong..?” Tidak ada jawaban, aku bingung. Lalu.. “Sayang, aku mau berangkat kerja nich nanti telat lho.. Tolong buka pintunya sayang.?”Lalu beberapa saat kemudian pintu kamar terbuka, aku masuk. Kulihat dia tidur lagi dengan posisi tengkurap, memakai daster putih transparan sehingga lekuk-lekuk tubuhnya kelihatan jelas sekali. Pantatnya yang montok itu terpampang jelas karena ia tidak memakai CD.

    Lalu aku masuk ke kamar mandi, sengaja pintu kamar mandi tidak kututup. Saat aku sedang mandi dan kebetulan aku sedang menggosok penisku yang besar dan panjang dengan sabun LUX dan penisku sedang berdiri tegak karena gosokanku tadi. “Eeehh..” tiba-tiba Sari masuk terburu-buru sambil kedua tangannya mengangkat dasternya ke atas. Melihat aku ada di dalam kamar mandi dan kebetulan aku menghadap ke arah pintu.”Aaahh.. Sonnyy..” teriaknya kaget sekaligus senang tertahan sambil menutupkan kedua tangannya ke arah mulutnya, tapi matanya yang terbelalak kaget itu tetap tertuju ke arah penisku. Lalu..”Sonnyy..” lanjutnya setelah kekagetannya sedikit hilang, “Lho.. kok.. pintunya nggak ditutup sih..” katanya. Sambil matanya masih tetap tertegun ke arah penisku.”Lho.. ini kan kamar mandi kita Sayang.. buat apa pintunya ditutup.. ya kan sayang.. Kamu pasti mau pipis kan Sayang.. sini aku bantu.. buka aja dasternya biar nggak basah nanti..” kataku sambil membuka dasternya dan terpampanglah tubuhnya yang indah, susunya yang besar dan perutnya yang datar. Dan itu.. vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu hitam yang lumayan lebat dan mungil.”Akhh.. kamu orangnya lembut juga ya Son..? Oh.. ya maafkan aku tadi malam, bukannya aku tidak mau menerima kamu sebagai suamiku meski hanya kontrakan. Tapi sebetulnya aku hanya memberi sebuah ujian buat kamu. Apakah kamu mau mengawini aku yang sudah ternoda ini dengan tulus dan ikhlas. Dan sepertinya kamu orangnya baik dan sabar.

    Buktinya tadi sewaktu kamu masuk ke kamar, kamu ingat kan aku tidur tanpa menggunakan CD dan BH. Itu juga suatu ujian buat kamu, apakah kamu kuat menahan nafsumu untuk tidak menyentuhku sebelum aku mengijinkanmu untuk menyentuhku. Dan sekarang kamu memiliki semua apa yang kumiliki dan tentunya apa yang kamu miliki juga akan jadi milikku. Nah, sekarang aku mau pipis dan kamu harus meminum air kencingku sebagai tanda kamu cinta padaku. Dan nanti aku juga meminum air kencingmu.. jadi kita adil.. bagaimana Sayang setujukah kamu..?” katanya.”Baiklah, Sayang.. Ayo arahkan vaginamu ke mukaku..?”Hatiku berdebar, aku belum pernah merasakan bagaimana dikencingi orang, siapa yang mau? Tapi demi masa depanku, aku merelakan nasibku yang malang.Lalu dia berdiri diantara kepalaku, kemudian pelan-pelan dia jongkok di atas wajahku, kurasakan vaginanya menyentuh hidungku. Aku sedikit menekan pinggulnya sehingga hidungku amblas ke dalam vaginanya, dia tak peduli, terus digosok-gosokkan vaginanya di sana, setelah itu lidahku mulai menjulur lalu menjilati lubang pantatnya lagi, sementara dia sepertinya sudah tidak tahan.”Awas.. mau keluar Sayang..”Aku memejamkan mataku. Diarahkannya lubang vaginanya ke mulutku, dikuakkan bibir vaginanya supaya air kencingnya tidak memencar, lalu aku menjulurkan lidahku menjilati bibir vaginanya, lalu memancarlah air kencingnya dengan sangat deras, semuanya masuk ke dalam mulutku, sebagian besar keluar lagi. Setelah itu, kutusuk vaginanya dengan jariku sehingga kencingnya tertahan seketika, badannya mulai menggeliat dan mulutnya mendesah. Kenikmatan yang luar biasa dirasakannya ketika kencingnya tertahan oleh jariku. Lalu vaginanya kutusuk terus keluar masuk dengan jariku.

    Kira-kira 1 menit kulihat air kencingnya kembali memancar dashyat, sambil kencing dia menggosok-gosokkan vaginanya ke seluruh wajahku. Aku masih memejamkan mata. Akhirnya kulihat air kencingnya habis, yang keluar cuma tetes tersisa disertai lendir bening keputihan menjuntai masuk ke dalam mulutku, dan aku langsung menjilat serta menghisap habis. Dia mungkin juga tidak tahan, lalu mencium mulutku dengan lahap, terus dia memegang penisku, dikocok-kocoknya penisku, kemudian dikulumnya penisku yang besar itu. Dia menyuruhku nungging di atas wajahnya, lalu disedotnya penisku yang sudah basah sekali oleh lendir bening yang terus-menerus menetes dari lubang kencingku. Aku mulai memompa penisku di dalam mulutnya, keluar masuk seolah-olah mulutnya adalah vaginanya, dia tidak peduli. Dia beranikan diri mencoba menjilat lubang pantatku yang berbulu lebat dan berwarna kehitam-hitaman. Dia menjilat lubang pantatku, kadang-kadang disedotnya 2 telor kembarku, kadang-kadang penisku kembali masuk ke mulutnya. Tak lama kemudian tubuhku menegang lalu aku menjerit keras. Penisku menyemburkan air mani yang banyak sekali ke dalam mulutnya. Dia hisap terus, dia menelan semua air maniku yang agak asin tapi gurih itu, dan sebagian menyembur ke wajahnya, terus dikocok lagi penisku, aku seperti meregang nyawa, tubuhku meliuk-liuk disertai erangan-erangan keras. Setelah beberapa lama, akhirnya penisku agak melemas, tapi terus dihisapnya dengan mulutnya.
    “Nah, sekarang giliran kamu Sayang.. ok?””Baiklah Sayang, aku siap..?”
    Kemudian aku berlutut di atas wajahnya, lalu kedua tanganku mengangkat kepalanya sehingga penisku tepat mengarah ke mulutnya.

    Dia jilat-jilat kepala penisku yang masih berlendir. Tak lama kemudian air kencingku menyembur masuk ke dalam mulutnya. Dia pejamkan matanya, kemudian air kencingku terus menyembur ke seluruh wajahnya, sebagian diminumnya. Lalu, kupukulkan penisku ke wajah dan mulutnya. Setelah habis kencingku, dia kembali menyedot penisku sambil mengocoknya.

    Kira-kira 1 menit penisku mulai besar dan tegang kembali, keras seperti tiang listrik. Aku lalu mengarahkan penisku ke vaginanya, dituntunnya penisku itu masuk ke dalam vaginanya. Kemudian aku mulai memompa penisku yang besar itu ke dalam vaginanya.

    Dia merasakan kenikmatan yang bukan main setiap penisku kucabut lalu kutusukkan lagi. Kadang-kadang aku mencabut penisku lalu kumasukkan ke dalam mulutnya, kemudian aku mulai berusaha menusukkan penisku masuk ke dalam lubang pantatnya.
    “Pelan-pelan Sayang.. sakit.. uhh..” katanya.Kemudian penisku itu mulai menerobos pelan masuk ke dalam lubang pantatnya, dia agak kesakitan, tapi diantara rasa sakit itu mungkin dia merasakan ada rasa nikmatnya. Dia makin lama makin menikmati, sudah 2 kali dia mencapai orgasme, sedangkan aku masih terus bergantian menusuk vagina dan pantatnya.

    Tubuh kami sudah berkubang keringat dan air kencing, kulihat lantai kamar mandinya yang tadinya kering, sekarang basah semua.”Aakkhh.. Sarii, Saarrii.. aa..” aku merengek-rengek keenakan sambil memompa terus penisku di dalam lubang pantatnya. Dengan sigap dia bangun lalu secepat guntur terus dimasukkannya penisku ke dalam mulutnya, dikulumnya penisku itu sampai akhirnya menyemburlah cairan kenikmatan dari penisku. Air maniku menyembur banyak sekali, sebagian ditelannya, sebagian lagi diarahkannya ke wajahnya sendiri sehingga seluruh wajahnya berlumuran air maniku.

    Kemudian aku menggosok-gosokkan penisku ke seluruh wajahnya, lalu kami berpelukan erat sambil bergulingan di lantai kamar mandi. Kami saling berciuman sangat dalam sekali.”Sony kamu sungguh luar biasa Sayang, kamu sangat lembut, romantis, baik dan selalu menuruti segala permintaanku.. oohh.. kamu sungguh suami yang pengertian.. Son.. peluk dan cium aku lagi Son.. oohh.. sayangku aku cinta kamu..” katanya sambil memeluk dan menciumiku dengan agresif.”Aku bahagia kamu mau menerima aku, Sari sayang..” kataku sambil membalas ciumannya.

    Kepuasan yang mestinya kudapat tadi malam, tercapai sudah dan itu benar-benar sangat berarti bagiku. Sari makin sayang denganku.Mohon saran dan tanggapannya. Oh ya, khusus untuk cewek-cewek, segala status, segala usia, yang ingin kenalan, berbagi cerita atau pengalaman

  • Kenikmatan Bersama Seorang Janda

    Kenikmatan Bersama Seorang Janda


    418 views

    BONUS VIDEO BOKEP DAN FOTO BUGIL


    Cerita Sek Dewasa | Kenikmatan Bersama Seorang Janda

    Peristiwa itu bermula ketika aku berkeinginan untuk mencari tempat kos-kosan di Surabaya. Pada saat itu, pencarian tempat kost-kostan ternyata membuahkan hasil. Setelah aku menetap di tempat kost-kostan yang baru, aku berkenalan dengan seorang wanita, sebut saja namanya Varia. Usia Varia saat itu baru menginjak 30 tahun dengan status janda Tionghoa beranak satu. Perkenalanku semakin berlanjut. Pada saat itu, aku baru saja habis mandi sore. Aku melihat Varia sedang duduk-duduk di kamarnya sambil nonton TV. Kebetulan, kamarku dan kamarnya bersebelahan. Sehingga memudahkanku untuk mengetahui apa yang diperbuatnya di kamarnya.

    Dengan hanya mengenakan handuk, aku mencoba menggoda Varia. Dengan terkejut ia lalu meladeni olok-olokanku. Aku semakin berani mengolok-oloknya. Akhirnya ia mengejarku. Aku pura-pura berusaha mengelak dan mencoba masuk ke kamarku. Eh.. ternyata dia tidak menghentikan niatnya untuk memukulku dan ikut masuk ke kamarku.
    “Awas kau.. entar kuperkosa baru tahu..” gertaknya.
    “Coba kalau berani..” tantangku penuh harap.
    Aku menatap matanya, kulihat, ada kerinduan yang selama ini terpendam, oleh jamahan lelaki. Kemudian, tanpa dikomando ia menutup kamarku. Aku yang sebenarnya juga menahan gairah tidak membuang-buang kesempatan itu.345119_18
    Aku meraih tangannya, Varia tidak menolak. Kemudian kami sama-sama berpagutan bibir. Ternyata, wanita cantik ini sangat agresif. Belum lagi aku mampu berbuat lebih banyak, ternyata ia menyambar handuk yang kukenakan. Ia terkejut ketika melihat kejantananku sudah setengah berdiri. Tanpa basa-basi, ia menyambar kejantananku serta meremas-remasnya.
    “Oh.. ennaakk.. terussh..” desisanku ternyata mengundang gairahnya untuk berbuat lebih jauh. Tiba-tiba ia berjongkok, serta melumat kepala kontolku.
    “Uf.. Sshh.. Auhh.. Nikmmaat..” Ia sangat mahir seperti tidak memberikan kesempatan kepada untuk berbuat tanya.
    Dengan semangat, ia terus mengulum dan mengocok kontolku. Aku terus dibuai dengan sejuta kenikmatan. Sambil terus mengocok, mulutnya terus melumat dan memaju-mundurkan kepalanya.
    “Oh.. aduhh..” teriakku kenikmatan.
    Akhirnya hampir 10 menit aku merasakan ada sesuatu yang mendesak hendak keluar dari kontolku.
    “Oh.. tahann.. sshh. Uh.. aku mau kkeluaar.. Oh..”
    Dengan seketika muncratlah air maniku ke dalam mulutnya. Sambil terus mencok dan mengulum kepala kontolku, Varia berusaha membersihkan segala mani yang masih tersisa.
    Aku merasakan nikmat yang luar biasa. Varia tersenyum. Lalu aku mencium bibirnya. Kami berciuman kembali. Lidahnya terus dimasukkan ke dalam mulutku. Aku sambut dengan mengulum dan menghisap lidahnya.

    Perlahan-lahan kejantananku bangkit kembali. Kemudian, tanpa kuminta, Varia melepaskan seluruh pakaiannya termasuk bra dan CDnya. Mataku tak berkedip. Buah dadanya yang montok berwarna putih mulus dengan puting yang kemerahan terasa menantang untuk kulumat. Kuremas-remas lembut payudaranya yang semakin bengkak.
    “Ohh.. Teruss Ted.. Teruss..” desahnya.

    345119_13Kuhisap-hisap pentilnya yang mengeras, sementara tangan kiriku menelusuri pangkal pahanya. Akhirnya aku berhasil meraih belahan yang berada di celah-celah pahanya. Tanganku mengesek-geseknya. Desahan kenikmatan semakin melenguh dari mulutnya. Kemudian ciumanku beralih ke perut dan terus ke bawah pusar. Aku membaringkan tubuhnya ke kasur. Tanpa dikomando, kusibakkan pahanya. Aku melihat vaginanya berwarna merah muda dengan rumput-hitam yang tidak begitu tebal.
    Dengan penuh nafsu, aku menciumi memeknya dan kujilati seluruh bibir kemaluannya.
    “Oh.. teruss.. Ted.. Aduhh.. Nikmat..”
    Aku terus mempermainkan klitorisnya yang lumayan besar. Seperti orang yang sedang mengecup bibir, bibirku merapat dibelahan vaginanya dan kumainkan lidahku yang terus berputar-putar di kelentitnya seperti ular cobra.
    “Ted.. oh.. teruss sayangg.. Oh.. Hhh.”
    Desis kenikmatan yang keluar dari mulutnya, semakin membuatku bersemangat. Kusibakkan bibir kemaluannya tanpa menghentikkan lidah dan sedotanku beraksi.
    “Srucuup-srucuup.. oh.. Nikmat.. Teruss.. Teruss..” teriakannya semakin merintih.
    Tiba-tiba ia menekankan kepalaku ke memeknya, kuhisap kuat lubang memeknya. Ia mengangkat pinggul, cairan lendir yang keluar dari memeknya semakin banyak.
    “Aduhh.. Akku.. keluuaarr.. Oh.. Oh.. Croot.. Croot.”
    Ternyata Varia mengalami orgasme yang dahsyat. Sebagaimana yang ia lakukan kepadaku, aku juga tidak menghentikan hisapan serta jilatan lidahku dari memeknya. Aku menelan semua cairan yang keluar dari memeknya. Terasa sedikit asin tapi nikmat.
    Varia masih menikmati orgasmenya, dengan spontan, aku memasukkan kontolku ke dalam memeknya yang basah. Bless..
    “Oh.. enakk..”
    Tanpa mengalami hambatan, kontolku terus menerjang ke dalam lembutnya vagina Varia.
    “Oh.. Variaa.. sayang.. enakk.”
    Batang kontolku sepeti dipilin-pilin. Varia yang mulai bergairah kembali terus menggoyangkan pinggulnya.
    “Oh.. Ted.. Terus.. Sayang.. Mmhhss..”
    Kontolku kuhujamkan lagi lebih dalam. Sekitar 15 menit aku menindih Varia.. Lalu ia meminta agar aku berada di bawah.
    “Kamu di bawah ya, sayang..” bisiknya penuh nikmat.

    345119_08Aku hanya pasra. Tanpa melepaskan hujaman kontolku dari memeknya, kami merobah posisi. Dengan semangat menggelora, kontolku terus digoyangnya. Varia dengan hentakan pinggulnya yang maju-mundur semakin menenggelamkan kontolku ke liang memeknya.
    “Oh.. Remas dadaku.. Sayaangg. Terus.. Oh.. Au.. Sayang enakk..” erangan kenikmatan terus memancar dari mulutnya.
    “Oh.. Varia.. terus goyang sayang..” teriakku memancing nafsunya.
    Benar saja. Kira-kira 15 menit kemudian goyang pinggulnya semakin dipercepat. Sembari pinggulnya bergoyang, tangannya menekan kuat ke arah dadaku. Aku mengimbanginya dengan menaikkan pinggulku agar kontolku menghujam lebih dalam.
    “Tedii.. Ah.. aku.. Keluuaarr, sayang.. Oh..”
    Ternyata Varia telah mencapai orgasme yang kedua. Aku semakin mencoba mengayuh kembali lebih cepat. Karena sepertinya otot kemaluanku sudah dijalari rasa nikmat ingin menyemburkan sperma.
    Kemudian aku membalikkan tubuh Varia, sehingga posisinya di bawah. Aku menganjal pinggulnya dengan bantal. Aku memutar-mutarkan pinggulku seperti irama goyang dangdut.
    “Oh.. Varia.. Nikmatnya.. Aku keluuarr..”
    Crott.. Crott.. Tttcrott.
    345119_07Aku tidak kuat lagi mempertahankan sepermaku.. Dan langsung saja memenuhi liang vagina Varia.
    “Oh.. Ted.. kau begitu perkasa.”
    Telah lama aku menantikan hal ini. Ujarnya sembari tangannya terus mengelus punggungku yang masih merasakan kenikmatan karena, Varia memainkan otot kemaluannya untuk meremas-remas kontolku.
    Kemudian, tanpa kukomando, Varia berusaha mencabut kontolku yang tampak mengkilat karena cairan spermaku dan cairan memeknya. Dengan posisi 69, kemudian ia meneduhi aku dan langsung mulutnya bergerak ke kepala kontolku yang sudah mulai layu. Aku memandangi lobang memeknya. Varia terus mengulum dan memainkan lidahnya di leher dan kepala kontolku. Tangan kanannya terus mengocok-ngocok batang kontolku. Sesekali ia menghisap dengan keras lobang kontolku. Aku merasa nikmat dan geli.
    “Ohh.. Varia.. Geli..” desahku lirih.

    Namun Varia tidak peduli. Ia terus mengecup, mengulum dan mengocok-ngocok kontolku. Aku tidak tinggal diam, cairan rangsangan yang keluar dari vagina varia membuatku bergairah kembali. Aku kemudian mengecup dan menjilati lobang memeknya. Kelentitnya yang berada di sebelah atas tidak pernah aku lepaskan dari jilatan lidahku. Aku menempelkan bibirku dikelentit itu.
    “Oh.. Ted.. nikmat.. ya.. Oh..” desisnya.

    Varia menghentikan sejenak aksinya karena tidak kuat menahan kenikmatan yang kuberikan.
    “Oh.. Terus.. Sss.” desahnya sembari kepalanya berdiri tegak.
    Kini mememeknya memenuhi mulutku. Ia menggerak-gerakkan pinggulnya.
    “Ohh.. Yaahh. Teruss.. Oh.. Ooohh” aku menyedot kuat lobang vaginanya.
    “Ted.. Akukk ohh.. Keluuaarra.. Ssshhss..”
    Ia menghentikan gerakannya, tapi aku terus menyedot-nyedot lobang memeknya dan hampir senmua cairan yang keuar masuk kemulutku. Kemudian dengan sisa-sisa tenaganya, kontolku kembali menjadi sasaran mulutnya. Aku sangat suka sekali dan menikmatinya. Kuakui, Varia merupakan wanita yang sangat pintar membahagiakan pasangannya.
    Varia terus menghisap dan menyedoti kontolku sembari mengocok-ngocoknya. Aku merasakan nikmat yang tiada tara.
    “Oh.. Varia.. Teruss.. Teruss..” rintihku menahan sejuta kenikmatan. Varia terus mempercepat gerakan kepalanya.
    “Au.. Varia.. Aku.. Keluuarr.. Oh..”
    Croott.. Croott.. Croot..
    Maniku tumpah ke dalam mulutnya. Sementara varia seakan tidak merelakan setetespun air maniku meleleh keluar.
    “Terimakasih sayang..” ucapku..
    Aku merasa puas.. Ia mengecup bibirku.
    “Ted.. mungkinkah selamanya kita bisa seperti ini. Aku sangat puas dengan pelayananmu. Aku tidak ingin perbuatan ini kau lakukan dengan wanita lain. Aku sangat puas. Biarlah aku saja yang menerima kepuasan ini.” Aku hanya terdiam.

    345119_06Sejak saat itu, aku sering meniduri di kamarnya, selalu dalam keadaan telanjang bulat, terkadang dia juga tidur di dalam kamar kostku, tentu saja dengan mengendap-endap. Terkadang, kami tidur saling tumpang tindih, membentuk posisi 69, aku tertidur dengan menghirup aroma segar kemaluannya, sedangkan Varia mengulum penisku. Di kala pagi, penisku selalu ereksi, diemut-emutnya penisku yang ereksi itu, sementara aku dengan cueknya tetap tidur sambil menikmati oralnya, terkadang aku jilat kemaluannya karena gemas.

    345119_05

    345119_04

    345119_01

  • Ibu Ratna Muda cantik bergairah

    Ibu Ratna Muda cantik bergairah


    455 views

    BONUS VIDEO BOKEP DAN FOTO BUGIL


    Cerita Dewasa Sex | Ibu Ratna Muda cantik bergairah

    Paginya ternyata bi Ratna juga bangun agak kesiangan, kecapekan juga. Benarnya Deni mau ngebetot lagi, sayang ada si Ucil. Bibinya setelah selesai sarapan, minta diantar ke kota, mau beli pil KB, buat jaga – jaga katanya, walau pakai alat KB, tetap lebih baik berjaga. Di puskesmas di balai warga sebenarnya ada dan bisa beli pil KB, tapi nggak mungkin bibinya membeli di sana, bisa geger dunia persilatan…eh salah…maksudnya bisa geger warga kampung sini, kalau bibinya yang menjanda melenggang santai ke Puskesmas untuk membeli pil KB. Akhirnya mereka berangkat, si Ucil diajak juga tentunya, bocah itu juga tak’kan paham apa yang akan dibeli ibunya. Agak siangan mereka sudah sampai, bibinya segera ke kebun seperti biasa. Ucil mengajak Deni ke rumah abahnya, ya sudah Deni mau saja.

    myrna_star_037-1Kini sudah hampir 2 minggu Deni melakukan hubungan seks sama bi Ratna, sudah bisa dibilang mahir dan mampu memuaskan bibinya. Hari ini Ucil tak di rumah, dijemput abahnya, diajak kondangan ke saudara di bandung, pulangnya besok sore. Dari pagi Deni ikut bibinya ke kebun, tapi baru sebentaran di sana sudah terus colek – colek bibinya minta pulang. Nggak tahan mau nyodok lagi. Hari ini bi Ratna memakai kaos dan celana selutut.Akhirnya bi Ratna nyengir memaklumi kemauan keponakannya yang lagi doyan – doyannya, belum siang mereka sudah pulang. Bibinya masuk ke rumah, menuju kamar.Deni yang sudah ngaceng berat, segera memasukkan motor ke dalam rumah, menutup pintu asal rapat tanpa menyadari belum terkunci, dengan semangat 45 segera ke kamar bibinya. Bi ratna baru juga membuka baju kaosnya, hanya menyisakan BH, Deni sudah menomploknya merebahkannya ke kasur. Bibinya tertawa kecil…

    ”Sabar atuh Den, semalam kan sudah sampai 3 kali, masa sekarang belum tengah hari sudah minta lagi….doyan amat sih ponakan bibi ini.”
    ”Namanya juga anak muda masih semangat. Lagian memang bi ratna sangat menggoda sih.”

    Deni segera memendamkan wajahnya di antara belahan tetek bi Ratna, menciuminya, wangi dan harum, aroma wangi tubuh dan sabun bercampur satu dan memabukkan. Tangannya segera meremasi BH bibinya, tak lama, sebentar saja, tangannya tak sabaran segera melucuti paksa Bh bibinya. Kini ia asik mengulum dan memainkan pentil bibinya, menghisapnya kuat – kuat. Bibi Ratna sampai kelojotan. Keponakannya ini benar – benar murid yang pandai, sebentar saja sudah mahir mengetahui juga lihai memainkan titik – titik sensitifnya. Mampu secara kreatif mengembangkan potensinya. Tangan bi Ratna menyusup ke balik celana pendek Deni, mulai meremas – remas kont01 Deni.

    myrna_star_038Dengan cepat akhirnya keduanya kini sudah tak berbusana lagi, Deni masih di atas menindih bibinya, mengangkat lengan bibinya, menciumi dan menjilati rimbunan keteknya, enak dan harum. Bibinya masih asik mengocok kont01nya, karena sudah tak tahan, Deni menurunkan pantatnya sedikit dan…blesss…kont01nya menerobos m3mek bibinya. Kini Deni sudah tak culun lagi, sudah pandai menjaga tempo. Ia mulai memompa dengan semangat, kaki bibinya terkangkang lebar, Deni menyodokkan kont01nya, kuat dan bertenaga serta sedalam mungkin. Tetek bibina bergoyang nafsuin. Gemas banget Deni melihatnya, ia dekatkan mulutnya, menghisap pentil itu kuat, sodokannya makin kuat, hampir 3 menit lewatt, masih tetap menghisap kedua pentil tetek bibinya secara kuat dan bergantian juga menyodok dengan cepat dan konstant, efeknya bibinya mendesah kuat dan penuh gairah…

    ”Aaahh…..Ssssshhh…..lagiii ii….”
    ”Huahhhh….ooohhhh……Wooow www…”
    ”Yessss……”

    Tubuh bi Ratna menggeliat dan mengejang kuat, menyemburkan cairan orgasmenya, sebenarnya Ratna juga heran di awalnya, dulu sama suaminya yang bejat, sulit sekali ia orgasme, tapi sama keponakannya ini, sangat mudah dan sering, mungkin karena ia sendiri enjoy dan menikmati semangat Deni yang penuh gairah tanpa surut. Deni tak memperdulikan bibinya yang masih lemas, makin mantap menyodokkan kont01nya, mata bi Ratna merem – melek menrima gempuran sodokan kont01 Deni, tangannya memeluk erat pundak Deni.

    myrna_star_042Sementara kedua insan ini masih seru memacu birahi, Bi Lasmi melongok melalui hordeng yang sedikit terbuka di pintu depan, motornya ada, kenapa dari tadi tak ada yang menjawab, masa si Ratna sama Deni jam segini sudah tidur siang. Penasaran ia memutar gagang pintu…tuh ceroboh sekali tak dikunci, mana ada motor, nanti digondol maling lagi. Perlahan ia masuk dan menutup pintu, menguncinya. Memandang sekeliling…sepi amat sih. Oh ya, si Ucil kan ikut si Abah, tadi pagi Ratna sempat ngomong waktu ketemu di kebun. Ah paling adiknya lagi tiduran di kamarnya. Yakin dengan perkiraannya, Lasmi segera menuju kamar adiknya, sambil berseru..

    ”Rat, teteh minta kecap dulu dong, nanggung lagi masak, tadi ke warungnya si Ros, tapi tutup, lagi belanja ke pasar, makanya minta sedikit ke…APA…?”

    Lasmi membelalak, saat menyingkap gordeng yang menutup kamar adiknya, ia mendapati pemandangan yang tak pernah ia duga atau bayangkan. Keponakannya Deni sedang menindih adiknya Ratna, keduanya tanpa busana. Matanya terbelalak memandangi keduanya bergantian.

    Ratna dan Deni diam membatu, kont01 Deni masih menancap di m3mek bibinya. Terkejut sekali tentunya, situasi amat memojokkan mereka, mau ngomong apapun posisi mereka sangat nyata sedang melakukan hubungan yang terlarang. Rasanya mulut mereka terkunci rapat sulit menjelaskan. Setelah lama terombang – ambing dalam kesunyian yang menegangkan, rasa keterkejutan sudah berkurang, pikiran mulai mengalir kembali…

    ”Eh…teteh…eh…a..anu…”
    ”Bi…eng bi Las…Lasmi, De..Deni bi….bisa jelas…jelaskan…i…ini sa..salah Deni.”

    myrna_star_051Lasmi masih terkejut, dalam pikirannya, ampun Ratna, banyak lelaki yang mengejar kamu, mau memperistri kamu, tapi kenapa kamu malah memilih ngewek sama…ke…keponakan kita, Deni ? Harus ada penjelasan yang masuk akal, karena saat Lasmi memrgokinya, walau sesaat saja, jelas keduanya melakukannya dengan sukarela, tak ada pihak yang terpaksa. Dia duduk di pinggir ranjang, masih terkejut, semuanya diam, akhirnya Lasmi bisa menguasai diri. Ratna sudah mendahului bicara. Saking tegangnya, Deni sampai lupa mencabut kont01nya.

    ”Teh…nanti Ratna pasti jelaskan, ada alasan yang membuat Ratna melakukan hal ini.”
    ”Rasanya tak perlu kamu jelaskan. Teteh bisa membaca pikiranmu. Selama ini teteh dan teh Santi sudah mengerti kalau kamu memang trauma sama perkawinan, tapi juga butuh pelampiasan…Cuma kenapa sama si Deni..?”
    ”Awalnya tak pernah terencanakan, terjadi begitu saja dan tak bisa dihindarkan….”

    Lasmi diam saja, saat itu deni baru sadar masih posisi menancap, ia mencabut kont01nya, bergulir ke samping bi Ratna. Mata Lasmi sempat memandang kont01 Deni, dan sama seperti Ratna dulu kala pertma kali melihat kont01 Deni, Lasmi juga terkesiap. Sebenarnya Lasmi juga belakangan ini selalu uring – uringan, iyalah…suaminya yang pelaut, kalau melaut waktunya selalu lama,kalau berlabuh cuma sebentar, tentu saja ia kurang terpuaskan. Mana terakhir ia ngewek hampir setengah tahun yang lalu, suaminya juga masih lama pulangnya. Matanya memandang kont01 Deni dengan raut kepingin. Tak heran kalau ratna sampai mau melakukannya sama keponakannya ini pikir Lasmi. Dia mulai bergairah dan merasakan denyutan pada m3meknya. Kalau tadinya hal ini hanya menjadi rahasia Ratna dan Deni berdua…kini sudah saatnya menjadi rahasia mereka bertiga. Tapi keduanya harus dihukum dulu. Ratna dan Deni masih tegang menunggu reaksi Lasmi selanjutnya, makin tegang melihat Lasmi yang sedang serius berpikir. Untunglah Lasmi kembali berbicara…
    ”Kalian…selesaikan apa yang sedang kalian perbuat…”
    ”HAH…?” Ratna dan Deni mengucapkan keheranan mereka berbarengan, melongo bingung menatap Lasmi minta penjelasan lebih lanjut.

    myrna_star_073”Kenapa ? kalian dengarkan. Lanjutkan saja apa yang sedang kalian perbuat.”
    ”Ta..tapi teh…nggak mungkinlah…di di depan teteh.”
    ”Mungkin saja, kenapa malu ? Untuk apa ? Melakukannya sama keponakanmu kamu bisa nggak malu, apa bedanya sekarang ?”
    ”Ti…tidak…Ratna nggak mau. Ini lain soal.”

    Deni hanya diam saja, bingung dan nggak tahu harus ngomong apa. Akhirnya Lasmi menggetokkan palu terakhir, final….

    ”Baik…kalau begitu bersiaplah…teteh akan membicarakan hal ini ke Santi…ya tetehmu Ratna, dan juga ibumu,Deni. Dan teteh yakin kalau Santi tak akan senang dan bisa menerima hal ini. Bagaimana…?”

    Deni sangat terkejut. Gila…mampus deh…..wah nggak bisa begini, ia akhirnya membuka suara.

    ”Sudah bi Ratna, kita teruskan saja. Daripada berabe.”
    ”Ta..tapi Den…i…itu…”
    ”Sudah…tenang saja, ayo, santai saja.”
    ”Kamu dengarkan Rat, Deni benar, daripada berabe. Lagipula teteh sudah berbaik hati mau membiarkan kalian menuntaskan ngewek kalian yang terputus menddak tadi.”

    Akhirnya Ratna siap melanjutkan, canggung rasanya. Deni walau tadi terkejut, tapi kont01nya masih ngaceng, maklum tadi dalam posisi tempur dan terangsang berat. Ratna kembali berbaring, melebarkan kakinya dengan agak ragu. Deni sudah di atasnya, beda dengan ratna, Deni tak ada keraguan, kalau bi Lasmi bilang teruskan dan ia tak akan mengadukan hal ini ke ibunya, ya sudah, teruskan saja. Blesss….kont01nya dengan cepat sudah menerobos, mulai memompa. Deni sih tetap semangat, cuma Ratna sudah kehilangan selera. Jadilah ini pergumulan satu arah. Kont01 Deni menyodok dengan mantap. Mulutnya juga mulai menciumi dan menghisapi pentil bi Ratna. Nafsunya sudah kembali normal, seakan jeda yang menegangkan barusan tak pernah terjadi.

    myrna_star_094Lasmi duduk menyaksikan, duduk manis di pinggir ranjang, dekat kaki pasangan yang sedang bergelut itu, sedikit demi sedikit gairahnya naik, menyaksikan kont01 keponakannya yang gede itu menerobos m3mek Ratna, memompanya keluar masuk membuat m3mek Lasmi mulai basah, tangannya perlahan menyingkap kainnya, kini asik mengelus CD-nya yang tebal, perlahan lalu makin cepat, akhirnya tangannya enyusup ke balik Cd-nya, mulai asik mengelus belahan m3meknya. Merasa kurang nyaman, ia lepskan CD-nya. Melepas kainnya. Lasmi di usianya yang ke 40 juga masih menggairahkan. Bodynya memang sedikit lebih montok dan berisi, tapi tetap tperutnya juga rata, nyaris tanpa timbunan lemak yang berarti. Kakinya mulai ia kangkangkan, m3meknya juga sama seperti saudaranya, ditumbuhi jembut yang lebat samapi ke belahan pantatnya, tangannya mulai mengelus belahan m3meknya yang sudah basah, segera saja belahan itu mekar, menampakkan lobang m3meknya yang merah. Jarinya masih asik hanya mengelus. Ratna dan Deni masih belum sadar dengan yang sedang dilakukan Lasmi.

    myrna_star_099Lama – lama karena sodokan kont01 Deni, Ratna mulai On lagi, desahannya mulai terdengar kembali. Deni menjilati lehernya, memompa kont01nya kuat – kuat, terasa sangat mentok di m3meknya, jilatan Deni juga sangat merangsangnya. Bi Ratna menggelinjang kegelian, rasa nikmat makin menjalar ke seluruh tubuhnya. Geli dijilati, enak disodok di bagian m3mek. Tanganya memeluk pundak Deni kuat…

    ”Awww….Den….geliiiiii ”
    ”Oooohhhh….Owwwww…..Sshhh. ..”
    ”Dikiiiitttt…….laaaggiiiii ….Aaaaahhhh….”

    Tanpa ampun bi Ratna kembali jebol, Deni jadi makin bergairah, senang karena bi Ratna kembali menikmati pergumulan mereka. Deni sebenarnya mau ganti posisi, tapi malas, ada bi Lasmi…mendingan cepat tuntaskan saja yang sekarang.

    Lasmi mulai menyodokkan jarinya ke lobang m3meknya, dikocoknya dengan cepat, tangan yang lain mulai memainkan dan mengelus it1lnya yang besar dan menonjol, memainkannya dengan ujung jari jempol dan telunjuk, cepat dan konstant, menahan desahannya agar tak terdengar. Makin naik gairahnya…Aaahh…Ssshhh…. enak…rasa nikmat yang sangat, ditambah melihat adegan yang terjadi di depan matanya. Saat ia melihat dan mendengar Ratna mendesah kuat terakhir tadi, nafsunya jadi naik. Makin cepat jemarinya beraksi….Ooooohhhhhhh….ia menekan bibirnya kuat, menahan agar suara desahannya saat orgasme tak terdengar.

    myrna_star_184Ratna mengangkangkan kakinya selebar mungkin, sudah kepalang enak, sebodoh amatlah sama teh Lasmi,eh di mana dia….ia agak mengangkat bahunya…lho….lho….ngapai n teh Lasmi, ke mana kain dan Cd-nya…lagian dia kok lagi mainin m3meknya pakai jarinya sendiri. Seketika otak Ratna seperti diterangi cahaya terang…sialan…pikirnya..te h Lasmi ngerjain aku sama Deni. Saat itu teh Lasmi sedang asik bermasturbasi, matanya terpejam. Ratna menarik kepala Deni, mendekatkan kuping Deni ke mulutnya, ia segera membisikkan sesuatu, Deni masih tetap memompakan kont01nya. Deni mengangguk.

    Lasmi sudah lupa dengan Ratna dan Deni, ia asik bermasturbasi sambil terpejam, hal yang biasa ia lakukan di rumahnya sendiri, kalau sudah bergairah dan orgasme,ia makin asik menikmati pemainan jarinya. Tiba – tiba ia merasakan tubuhnya seperti ditarik merebahkannya. Siapa….Deni yang menariknya…walau kuat tapi tetap lembut. Ratna nampak sedang mengaso berbaring memulihkan tenaga. Dengan cepat Deni segera beraksi, mulutnya langsung menyasar daerah selangkangan bi Lasmi, tanpa sungkan lagi mulutnya dengan ganas menciumi m3mek bi Lasmi, aromanya enak. Bi Lasmi yang sadar kalau sekarang gilirannya telah tiba, mengangkangkan kakinya. Lobang m3meknya menganga jelas. Deni segera menjilatnya dengan rakus, Lasmi mendesah Lidah Deni segera menjilati it1lnya yang besar, menggoyangkannya dengan cepat membuat bi lasminya kelojotan. Melihat lobang m3mek bi Lasmi yang sangat merangsang, Deni segera mempersiapkan jari telunjuk dan jari tengahnya, menyodok lobang m3mek itu dengan cepat, Lasmi kelabakan. Sementara Deni menggarap m3meknya, Lasmi dengan cepat melepas kaos dan BHnya, keteknya juga rimbun, dan teteknya jauh lebih besar dari tetek Ratna. Tentu Deni belum sadar, masih sibuk bergerilya di bawah sana. Bi Lasmi meremas teteknya dengan tangannya sendiri

    Ratna melihat Deni sedang gantian mengerjai bi Lasmi…dasar teteh…padahal kepengen, pakai acara nakutin segala. Gairah Ratna mulai naik lagi. Ia mendekat ke arah tetehnya. Memang kalau gelombang seks sudah memancar, kadang pengertian yang paling mustahilpun akan timbul, tanpa perlu diucapkan lagi, pelakunya bisa memahami niat dan kemauan yang lain. Ratna mulai meremas tetek Lasmi. Lasmi diam saja tak protest, tangan Ratna mulai memilin pentilnya yang sudah mengacung, dia sudah sering melihat tetehnya ganti baju, tapi tetap saat ini ia megagumi betapa besar dan kenyalnya tetek tetehnya. Mulutnya mulai menghisap pentil teh Lasmi.menjilati dan menggoyangnya dengan lidahnya. Lasmi makin kelojotan, tangannya menarik lembut pantat Ratna, mengarahkannya m3mek ratna ke mulutnya, dia belum pernah menjilat m3mek perempuan, tapi tak sulit, tinggal melakukan seperti yang dilakukan suaminya dan kini Deni pada m3meknya sendiri. Lidah Lasmi mulai menyapu m3mek Ratna, m3mek Ratna kemerahan karena baru disodok Deni, juga belahannya dalam posisi mekar. Lidahnya mulai menjilati it1l Ratna. Awalnya canggung, tapi makin lama makin terbiasa, buktinya Ratna di tengah kesibukannya menghisap pentil Lasm mulai mendesah.
    Deni terlalu konsent bermain dengan m3mek bi Lasmi, tak menyadari bi Ratna telah bergabung, saat ia mendongakkan kepalanya sedikit…ya…ampuun….ini.. .ini….terlalu hot buat dirinya. Gilaaaa…tetek bi Lasmi….kont01nya berdenyut, ngaceng dengan keras sekali. Makin ganas menyerang m3mek bi Lasmi. Lidahnya makin cepat menggoyang it1lnya demikian sodokan jarinya. Lasmi menggoyang pantatnya, desahannya tertahan keasikannya menjilati m3mek Ratna.
    Akhirnya bi Lasmi tak tahan, pantatnya terangkat, badannya mengejang….awww…orgasme yang dashyat baru saja menghantamnya.

    Deni segera berhenti memainkan mulut dan lidahnya. Karena posisi bi Lasmi agak di pinggir ranjang, Deni menarik pelan kaki bi Lasmi, menjuntaikannya menggantung di pinggir tempat tidur. Deni turun berdiri di pinggir tempat tidur….blesss kont01nya menerobos m3mek bi Lasmi. Bi Lasmi bergetar, tubuhnya serasa luluh lantak saat kont01 keponakannya menghujam tadi…gilaaaa….penuh dan terasa sesak di m3meknya. Deni segera memulai pompaannya, ia condongkan badannya, mulai meremas tetek bi Lasmi, mainan baru bagi Deni. Buseeet….kalah deh bi Ratna, Deni membatin. Ia meremasnya kuat – kuat, pentilnya gede sekali. Gemas Deni memilinnya. Karena Deni mulai sibuk memainkan tetek bi Lasmi, Bi Ratna mengalah, berhenti menghisap tetek teh Lasmi. Kini bibirnya berganti haluan mencium bibir Deni. Deni makin cepat saja menyodok m3mek bi Lasmi, membuat bi Lasmi mengimbangi dengan ikut menggoyangkan pantatnya.

    myrna_star_190Lasmi makin asik saja menjilati it1l adiknya, Ratna, bahkan jari tengahnya sudah sedari tadi menyodok lobang m3mek Ratna. Lidahnya menggoyangkan dan menghisap pelan it1l adiknya itu. Ratna yang posisinya agak nungging karena mecondongakan tubuhnya untuk kemudian asik berciuman dengan Deni mulai kewalahan. Pinggulnya bergoyang liar, mengejang…lalu orgasme. Setelah Ratna orgasme, Lasmi menghentikan kegiatannya, konsentrasi pada sodokan Deni yang makin lama makin enak. Ratna berhenti mencium Deni, terkapar berbaring, kecapekan. Kini Deni melawan Lasmi. Deni langsung menghisap pentil bi Lasmi, mantap banget, sangat kuat ia menghisapnya, bi Lasmi sampai mendesah kuat, belum lagi sodokan keponakannya itu makin bertenaga, ia mendesah, mengangkat lengannya ke atas, menikmati serbuan nikmat. Deni terpesona memandang rimbunan ketek bi lasmi, mulai menciumnya dengan ganas sambil menjilatinya bergantian, pompaan kont01nya sudah sangat cepat.Bi lasmi makin kewalahan…

    ”Aaahh…..Pelaaaaannn….diki iitttt…”
    ”Ooooh….janggaaaannnn dipelaniiiinnnn…..”
    ”Ughhhh….ampuuunnnn…..Awww ……”

    Bi Lasmi pun menggelepar penuh kenikmatan…ternyata keponakannya sungguh hebat. Deni mulai menciumnya dengan ganas dan panas, bi Lasmi tanpa sungkan meladeni, lidah mereka saling beradu, tapi tekhnik Deni belum maksimal, ciuman bi Lasmi jelas lebih tinggi tekhniknya, ia menyedot lidah deni membuat Deni serasa melayang, nyaris lepas kendali, untung tak lama kemudian bibinya melepas ciumannya, Deni samapai megap – megap….Awas ya…pikir Deni, ia bertekad membalas, sodokannya kini sudah amat sangat cepat,membuat bi Lasmi merasakan sensasi yang tertinggi, belum pernah m3meknya disodok dengan secepat dan seganas ini, apalagi kont01 Deni sangat memenuhi m3meknya.

    Ada yang merenggangkan kaki Deni, deni melirik, ternyata bi Ratna yang sudah merasa segra kembali berjongkok di bawah selangkangan Deni yang sedang berdiri sambil menyodok bi Lasmi. Bi ratna mulai menghisap dan menyedot biji pelernya, tentu saja menyesuaikan dengan ritme gerakan pompaan dan sodokan kont01 Deni. Sintiiiingg…..enaknya tak terkira, sambil tetap asik menyodok bi Lasmi, bijinya diemut sama bi Ratna, Deni merasa dirinya menjadi manusia paling berbahagia di bumi saat ini. Tapi ketahanan Deni juga ada batasnya, seiring sodokannya yang makin kuat, ia merasakan denyut nikmat pada kont01nya, ia hujamkan sedalam mungkin kont01nya. Bi Lasmi nampaknya sadar Deni ma ngecret segera berucap…di dalam saja…di dalam saja. Bi lasmi bergetar saat pejunya menyemprot kuat…..selesai…dan melelahkan. Bi ratna masih asik menghisap biji pelernya, membuat dengkul deni makin lemas. Deni segera mencabut kont01nya. Bi ratna dengan rakus segera memburu kont01 Deni, menjilati sisa peju yang menempel. Setelah Bi Ratna menuntaskan jilatannya yang terakhir Deni segera menghempaskan diri ke atas kasur. Sangat lelah saat ini. Hanya bisa berdiam diri. Bi ratna juga bergabung tiduran di atas ranjang. 3 orang tanpa busana tergeletak lemas penuh kepuasan. Deni masih diam saja, menengarkan bi ratna dan bi Lasmi yang mulai bercakap…

    myrna_star_195”Ih teh Lasmi jahat, nakut – nakuti saja, padahal juga mau…dasar.”
    ”Awalnya sih nggak begitu. Tapi kont01 Deni sangat menggoda, akhirnya aku terangsang.”
    ”Terus bagaimana komenter teh Lasmi.”
    ”Ya puaslah, tapi….”
    ”Tapi apa teh…?”
    ”Belum puas banget…Rat, malam ini Deni menginap di rumah teteh saja ya.”
    ”Huh maunya…nggak, teh Santi kan menitipkan Deni menginap di sini.”
    ”Ya…jangan begitu dong…suami teteh masih lama berlayarnya..”

    Mana rela Ratna membiarkan jagoannya dibajak sama tetehnya. Lagian tadi teh Lasmi sudh tega menakuti mereka. Akhirnya Ratna berkompromi.

    ”Teteh saja yang nginap, Ucil kan lagi pergi sama abah.”
    ”Ya sudah, tapi nanti banyakkan teteh ya, kan kamu sudah puas, sedang teteh baru hari ini.”
    ”Terserah teteh saja.”
    ”Iya…teteh mau ngerasain keponakan teteh sendirian, mungkin masih bisa maksimal lagi kemampuannya.”

    Deni yang menjadi object hanya diam, selain masih lelah, juga ia sedang berpikir…gilaaaa….beruntun g banget dirinya hari ini. Bi Lasmi jelas – jelas masih cantik dan juga nafsuin, ia bisa ngewek bi Lami tanpa terduga….sangat beruntung. Akhirnya semua membersihkan diri, nggak melanjutkan lagi, walau jarak rumah di sini renggang – renggang, teta nggak enak sama tetangga, siang – siang rumah terkunci rapat. Akhirnya bi Lasmi pulang, mau pinjam kecap…malah dapat saos putih kental……..

    Malamnya bi Lasmi menginap, sore – sore sudah datang. Rumahnya paling dititipin sama tetangga yang juga ikut bekerja d kebun. Bi Lasmi ikut makan di sini, setealah makan, mereka bersantai. Deni asik menghisap rokok di dekat pintu sambil ngopi, baru SMS mamanya, sekedar say hello dan mengabarkan kalau ia betah di kampung. Kalau mamanya masih kurang suka ia merokok, beda sama bibi – bibinya, di kampung sini mah sudah wajar saja. Bahkan bi Lasmi sesekali merokok, seperti sekarang. Bi Lasmi asik ngobrol sama bi Ratna sambil menonton TV. Keduanya memakai busana kesukaan Deni, kain dan kutang model kampung. Lumayan seru obrolan mereka. Tak lama bi Ratna ke kamar mandi, keluar lagi, masuk kamar seprti mengambil sesuatu di lemari, lalu kembali ke kamar mandi. Agak berapa lama ia keluar, menghampiri tetehnya, sambil nyengir campur sedikit BeTe bi Ratna berbicara…

    ”Wah..sepertinya teh Lasmi memang beruntung, aku baru dapat tamu bulanan. Nasib…”
    ”Ya..mau gimana lagi Rat.”
    ”Tapi sudahlah…teteh nggak usah pulang sudah terlanjur, nginap saja.”
    ”Iya…takut amat si Deni dibawa kabur sama teteh hehehe.”
    ”Nggak kok teh. Ya sudah, hitung – hitung teteh mengejar ketinggalan teteh.”

    Bibi lasmi terkekeh geli, setelah puas tertawa, ia berbicara kepada Deni yang masih asik bertengger di pintu, kayak burung saja bertengger hehehe.
    ”Den sudah dengar kan, nanti malam tidur sama bi Lasmi ya.”

    myrna_star_228Deni hanya mengangguk saja, baginya tak masalah, baik bi Ratna maupun bi Lasmi sama – sama yahud kok, ada kelebihan tersendiri. Bahkan kini ia bisa memuaskan diri bermain berdua sama bi Lasmi, kalau tadi siang kan keroyokan, nanti malam bisa puas ngewek berduaan. Keduanya masih asik menonton TV, sambil ngobrol, Deni tak mendengar apa obrolan mereka, tapi yang pasti mereka nampak gembira, cekikikan terus. Deni menyalakan sebatang rokok lagi. Sambil menghirup kopi, santai, mengumpulkan energi. Akhirnya jam 7 Deni menaruh gelas kopinya yang sudah habis, menutup dan mengunci pintu, sambil memeriksa jendela. Seelah semua diperiksa dia duduk bergabung menonton TV, bi Lasmi lagi ke WC, jadi Deni mengambil tempatnya di sofa panjang, kini Deni duduk berdampingan sama bi Ratna. Ketika bi Lasmi kembali, ia duduk di sofa kecil. Mereka menonton TV, sesekali mengobrol ringan. Jam 8-an Deni mulai merasakan bergairah kembali, acara TV juga tak menarik. Ia berucap…

    ”Bi Lasmi..eh anu…Deni mau netek dulu ya sama bi Ratna, habis sudah kebiasaan, nggak enapa kan ?”
    ”Sama bi lasmi juga bisa kan, tapi sudahlah, sesukamu.”
    ”Ya..bi Ratna…eng..boleh kan.”
    ” Dasar deh si Deni, tadi nanya dulu ke bi Ratna, baru ngomong ke bi Lasmi, tapi kamu cuma bisa netek saja ya…ayo sini.”

    Deni mendekat, memojokkan bi Ratna, kini bi Ratna posisi kepala bi Ratna bersandar di atas pinggiran sofa. Deni menurunkan kutangnya, segera asik menetek dan menghisapi pentil bi Ratna. Deni membandingkan, saat sedang datang bulan pentil bibinya kelihatannya lebih membesar. Juga nantinya Deni baru tahu waktu bibinya memberitahu, kalau wanita lagi datang bulan sebenarnya nafsunya justru meningkat. Tapi ya itu, tetap nggak bisa disodok, hanya orang yang tak sabaran saja yang nekad menyodok orang lagi palang hehehe. Deni sangat menikmati menetek di teteknya bi Ratna, ia menghisapnya kuat, sambil sesekali menggoyangkan pentil itu dengan lidahnya. Bi ratna mendesah. Jadi tambah ngaceng kont01 Deni, Deni menurunkan tangannya segera mengelus tonjolan di balik celananya itu.

    Lagi enak – enaknya mengelus kont01nya sendiri, ada tangan halus menepikan tangannya, lalu menurunkan celananya…oh Bi Lasmi rupanya tak sabar ingin berpartisipasi. Celananya sudah lepas, kini kont01nya mengacung bebas. Deni membiarkan bi Lasmi erbuat semaunya pada kontolnya, masih asik menetek. Tangan deni mengangkat lengan bi Ratna, mulai menciumi dan menjilati keteknya, nyaman sekali rasanya.

    Kont01nya terasa dibelai, biji pelernya dipijat – pijat cukup lama, enak…membuat Deni merasa rileks dan nyaman, sementara tangan satunya bertugas juga, batang kont01nya dikocok perlahan oleh bi Lasmi. Jempolnya mengelus lembut kepala kont01 Deni mengusapnya dengan penuh perasaan. Sesekali jempol bi Lasmi memainkan lobang pipisnya. Setelah agak lama menggenggam, mengelus dan mengocok dengan tangannya, bi Lasmi mulai memakai jurus lidahnya. Satu tangannya masih tetap memijat – mijit biji peler Deni. Lidah bi Lasmi mulai menjilati kepala kont0lnya, ringan saja, bahkan hanya ujung lidahnya yang beraksi, tapi rasanya sangat nikmat menjalar ke seluruh tubuh Deni. Amboiii….kayaknya bi Lasmi lebih piawai buat urusan Oral pikir Deni. Lidah bi Lasmi mulai bergerak lagi, menjilati batang kont01 dan juga biji pelernya, menggelitik urat – urat pada batang kont01nya, Deni samapai merem melek dibuatnya, entahlah, gerakannya santai namun sensasi yang diberikan sangat besar. Akhirnya mulut bi Lasmi mulai menelan kont01nya, perlahan dari kepala kont01, sampai batangnya, akhirnya amblas seluruhnya…ampuuun…..mulut Bi Lasmi terlihat sesak disumpal kont01nya batin Deni dalam hati. Deni jadi nggak konsen neteknya, sesekali melirik.

    Mulutnya mulai mengulum, meghisap dan mengemuti kont01nya, mulai mengocoknya, lagi – lagi dengan santai, nyaris tanpa semangat, tapi anehnya kok enak ya terasa bagi Deni. Oh rupanya walau sambil mengulum ujung lidahnya tetap aktif bergerak menjilati. Deni menggoyangkan pantatnya keenakan. Lalu kembali bi Lasmi menelan kont01nya samapi pangkalnya, mendiamkan sebentar, dan kemudian mengemut dan menghisapnya kuat, Deni merasakan lemas sekli, saking nikmatnya. Hisapan Deni pada pentil bi Ratna makin kuat saja seiring rasa kenikmatan yang ia rasakan pada kont01nya. Akhirnya bi Lasmi mulai mengulum dengan cepat, tanpa jeda…entah berapa lama, akhirnya Deni merasakan klimaks, tanpa permisi pejunya muncrat membasahi mulut bi Lasmi. Deni melepas hisapannya pada pentil bi Ratna, mendesah puaaassss…. Bi Lasmi memainkan pejunya sebentar lalu menelannya samapi habis, belum cukup, dijilatinya sisa peju di ujung kont01 Deni. Gila…dihisap sampai ngecret pikir Deni…mantap juga bi Lasmi.

    Bi Lasmi beristirahat sebentar, meminum air di gelas yang ada di meja. Bi Ratna yang sadar kali ini bukan dia pemeran utama wanitanya, merapikan kutangnya, permisi masuk kamar, capek mau tidur. Deni mengambil remote, mematikan TV, masih duduk di sofa, ia segera membuka kaosnya. Bi Lasmi juga mulai melucuti busananya, kini juga bugi…gil…gil….kont01 Deni segera saja mengeras, Bi Lasmi menatapnya dngan antusias. Bi Lasmi duduk di samping Deni. Dasr nggak sabarn Deni langsung saja tancap gas, mulai meremas – remas teteknya Bi Lasmi tertawa melihat ketidaksabaran keponakannya ini.

    ”Den sabar dulu, ke kamar saja ya, lebih enak.”
    ”Ayo..ayo bi.”

    Bibinya bangun, Deni mengikuti dari belakan masih saja meremas tetek bi Lasmi yang memang sangat besar, kencang dan menantang.

    Sesampainya di kamar bi Lasmi malah ngobrol dulu.

    ”Den, tadi bi Ratna cerita ke bi Lasmi, katanya kamu belum lama ya diajarin sama dia…hebat juga kamu, cepat pandai ya, si Ratna juga pintar ngajarnya….”
    ”Iya…iya..ih bi Lasmi ngobrol melulu…”
    ”Hehehe…sabar dong, nah kalau bi Ratna bisa ngajarin kamu, nanti bi Lasmi juga berharap bisa menambahkan pelajaran lagi deh, biar kamu makin pintar.”
    ”Iya…iya…ayo deh dimulai pelajarannya.”
    ”Ih kamu ini, pemanasan dulu kek, maunya langsung nyodok saja…”

    Mana mikirin pemanasan sih, dari tadi sudah panas bi, batin Deni.Deni segera menidurkan bibinya, bersiap menindihnya, bi Lasmi malah mendorongnya, membuat Deni berbaring sejajar dengannya, posisi bi Lasmi di depannya. Bi Lasmi memiringkan tubuhnya, mengangkat satu kakinya ke atas, tangannya meraih kont01 Deni, diarahkan ke lobang m3meknya…blesss. Deni segera memompakan kont01nya, sodokannya masih agak santai. M3mek bi Lasmi terasa nyaman, sama nyamannya dengan m3mek bi Ratna. Bi Lasmi menaikkan satu tangannya ke atas, meraih bagian belakang kepala keponakannya itu, didorongnya kepala Deni, bi Lasmi agak memiringkan kepalanya, mulutnya mulai mencium bibir Deni, mulanya santai, lalu makin panas, dan seperti tadi siang, kembali menyedot lidah Deni, kembali membuat Deni kehilanga kendali, sodokannya makin cepat. Bibinya melepaskan ciumannya…ayo Den coba kamu sedot lidah bibi saat berciuman. Bibinya kembali menciumnya, menautkan dan beradu lidah dengan Deni, Deni berusaha menyedot – nyedot lidahnya, sulit juga…lagi…lagi, akhirnya berhasil, dan ketika Deni menyedot, bibinya balas menyedot…mantaaappp, enak banget rasanya berciuman dengan gaya ini, lidah serasa saling membetot.

    Deni melepaskan ciumannya, pandangannya segera menuju ketek bi Lasmi, jarinya segera saja asik mengelus dan memainkan bulu ketek bi Lasmi, pompaan kont01nya sudah stabil. Tapi bi Lasmi segera membimbing tangan Deni ke selangkangannya, menaruhnya di atas tilnya, kalau ini Deni paham, segera saja ia memainkan it1l bi Lasmi yang menonjol, sodokan kontolnya juga mulai ia percepat, gemas, mulutnya menciumi ketek lebat bibinya. Jemarinya mengurut – ngurut it1l bibinya dengan cepat, sodokannya makin kuat dan dalam…tetek bibinya bergoyang – goyang.
    ”Terussss…Den…Pintar. …”
    ”Arghhhh…..Uhhhhh….Awww… ”
    ”Yesss…Yesss….Ssshhhh …”

    Bibinya mengejang, orgasme. Deni makin beringas, bi Lasmi yang baru keluar jelas kelojotan digenjot Deni habis – habisan, matanya kini merem melek.Sodokan kont01 Deni yang gede, it1lnya yang dimainin, belum lagi kini deni menambahnya dengan menghisap pentilnya, kuat sekali. Aaahhh…..suaminya kalah jauh sama keponakannya yang pemula ini. Mulut bi Lasmi mendesah terus. Saat melihat pantat bi Lasmi yang montok, Deni jadi mau nyodok m3mek bi Lasmi dari belakang, seperti di film bokep yang sering ia tonton. Deni berhenti menyodok, bi Lasmi mengambil nafas sejenak, Deni mencabut kont01nya..

    ”Nungging dong bi…”
    ”Siapa takut…ayo…”

    Bibinya segera nungging, tangannya bertumpu pada kepala tempat tidur. Montok benar pantatnya pikir Deni. Ia segera meyodokkan kont01nya ke lobang m3mek bibinya, gila pakai posisi begini, lobang m3mek bibinya terasa lebih nikmat, terasa lebih sempit dan mencengkram. Deni memompakan kont01nya, matanya asik melihat saat kont01nya menerobos keluar masuk, gemas ia tepok pantat bi Lasmi perlahan, bi Lasmi tertawa kecil. Deni mulai mempercepat pompaannya, plok…plok…plok….bunyi kont01nya saat keluar masuk m3mek bibinya yang sudah basah menambah kenikmatan tersendiri. Belum lagi desahan bi Lasmi. Deni pasangogigi paling tinggi, tanpa pengumuman, ia menyodok dengan cepat sekali dan bertenaga, kedua tangannya memegang pinggiran pantat bi Lasmi, bi Lasmi kelojotan dan mendesah sejadi- jadinya…gimana nggak keenakan, kalau m3meknya disodok dengan penuh semangat begini. Pantatnya juga bergoyang mengimbangi rasa nikmat. Deni terus memperthankan kecepatan pompaan kont01nya, hampir 4 menitan sejak ia mulai mempercepat sodokannya…makin terasa denyutan pada kont01nya, bibinya orgasme kembali, dan sedetik kemudian kont01 Deni memuncratkan pejunya. Keduanya terdiam lemas, akhirnya Deni mencabut kont01nya, berbaring dulu memulihkan tenaga, demikian pula bi Lasmi.

    ”Walah…untung banget bii tadi siang mergoki kamu sama bi Ratna, akhirnya bibi bisa ikutan ngerasain enaknya kont01 kamu.”
    ”Samalah Bi. Deni juga senang bisa nyodok m3mek bibi.”
    ”Ya sudah istirahat dulu, sebentar lagi kita sambung.”

    Dan akhirnya karena bi Ratna sedang halangan, selama 4 hari ke depan Deni diboyong bi Lasmi untuk menginap di rumahnya, bahkan nambah satu hari. Bi Ratna yang sebal karena bi Lasmi curang nambah jatah Deni nginap sehari lagi itu, segera memboyong Den kembali ke rumahnya.Pendeknya sisa liburan ini benar – benar menyenangkan dan membahagiakan mereka bertiga.

    Deni nampak termenung, ia bukannya tak sadar liburannya akan berakhir. Senin besok ia harus kembali sekolah. Dan sekarang hari Sabtu. Sengaja ia tak menjawab telepon ibunya atau membalas SMS ibunya. Ia tak mau pulang. Tapi pagi ini ia mau tak mau harus menjawab telepon mamanya..

    ”Aduh anak ibu tak ingat pulang ya..? Ditelepon tak menjawab, SMS tak dibalas.”
    ”Ingat bu…besok Minggu pagi Deni pulang.”
    ”Sayang ayahmu sibuk tak bisa jemput. Ibu juga repot. Oh ya, ibu sudah urus daftar ulang sekolahmu.”
    ”Iya..bu. Sudah dulu ya bu. Besok pagi Deni pulang.”
    ”Den…Den…nanti dulu dong, ibu kan masih kangen lama tak ketemu kamu. Kamu sakit ya, kok lemas banget.”
    ”Nggak bu..sudah ya…bye.”

    Deni mematikan HP-nya mencari bibinya. Mengabarkan ia akan pulang. Malamnya Bi Lasmi sengaja dan niat banget buat nginap. Sore – sore si Ucil sudah tidur, jadilah sepanjang sore sampai tengah malam, Deni, bi Ratna dan bi Lasmi mengadakan acara pesta perpisahan yang panas.

    Paginya Deni pamit pulang, sedih hatinya. Ia mencium pipi kedua bibinya, nggak enak cium bibir ada Ucil. Si Ucil juga nampak sedih. Mereka mengantar kepulangan Deni. Menunggu angkot yang ke terminal. Deni berharap angkotnya tak akan pernah lewat, tapi tak lama angkot lewat, Deni naik melambaikan tangan….sedih sekali hatinya.

    Ratna duduk termenung, agak anaeh rasanya setelah sebulan lebih terakhir ini ia menghabiskan waktu bersama keponakanya tersayang, Deni, kini rumahnya sepi kembali. Hanya ia dan anaknya Ucil. Ratna diam saja melamun memikirkan Deni.

  • Kisah Janda yang Haus Seks

    Kisah Janda yang Haus Seks


    366 views

    BONUS VIDEO BOKEP DAN FOTO BUGIL


    Cerita Sex Dewasa | Kisah Janda yang Haus Seks

    aku ingin sekali menceritakan pengalaman hidup masa laluku kepada anda semua, mungkin ada di antara anda yang dapat mengobati perasaanku ini. Tetapi tolong jangan terobsesi dengan ceritaku ini. Ceritaku ini berawal ketika di usiaku yang masih terbilang muda, 19 tahun, papaku waktu itu menjodohkan aku dengan seorang pemuda yang usianya 10 tahun lebih tua dari aku dan katanya masih ada hubungan saudara dengan keluarga mamaku.

    223969_02Memang usiaku saat itu sudah cukup untuk berumah tangga dan wajahku juga tergolong lumayan, walaupun badanku terlihat agak gemuk mungkin orang menyebutku bahenol, namun kulitku putih, tidak seperti kebanyakan teman-temanku karena memang aku dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang berdarah Cina-Sunda, papaku Cina dan mamaku Sunda asli dari Bandung. Sehingga kadang banyak pemuda-pemuda iseng yang mencoba merayuku. Bahkan banyak di antara mereka yang bilang bahwa payudaraku besar dan padat berisi sehingga banyak laki-laki yang selalu memperhatikan buah dadaku ini saja. Apalagi bila aku memakai kaos yang agak ketat, pasti dadaku akan membumbung tinggi dan mancung. Tetapi sampai aku duduk di kelas 3 SMA aku masih belum memiliki pacar dan masih belum mengenal yang namanya cinta.

    Sebenarnya dalam hatiku aku menolak untuk dijodohkan secepat ini, karena sesungguhnya aku sendiri masih ingin melanjutkan sekolah sampai ke perguruan tinggi. Namun apa daya aku sendiri tak dapat menentang keinginan papa dan lagi memang kondisi ekonomi keluarga saat itu tidak memungkinkan untuk terus melanjutkan sekolah sampai ke perguruan tinggi. Karena ke-3 orang adikku yang semua laki-laki masih memerlukan biaya yang cukup besar untuk dapat terus bersekolah. Sementara papa hanya bekerja sebagai pegawai swasta biasa. Maka dengan berbagai bujukkan dari keluarga terutama mamaku aku mengalah demi membahagiakan kedua orangtuaku.

    223969_05Begitulah sampai hari pernikahan tiba, tidak ada hal-hal serius yang menghalangi jalannya pernikahanku ini dengan pemuda yang baru aku kenal kurang dari dua bulan sebelumnya. Selama proses perkenalan kamipun tidak ada sesuatu hal yang serius yang kami bicarakan tentang masa depan karena semua sudah diatur sebelumnya oleh keluarga kedua belah pihak. Maka masa-masa perkenalan kami yang sangat singkat itu hanya diisi dengan kunjungan-kunjungan rutin calon suamiku setiap malam minggu. Itupun paling hanya satu atau dua jam saja dan biasanya aku ditemani papa atau mama mengobrol mengenai keadaan keluarganya. Setelah acara resepsi pernikahan selesai seperti biasanya kedua pengantin yang berbahagia memasuki kamar pengantin untuk melaksanakan kewajibannya.

    Yang disebut malam pengantin atau malam pertama tidak terjadi pada malam itu, karena setelah berada dalam kamar aku hanya diam dan tegang tidak tahu apa yang harus kulalukan. Maklum mungkin karena masih terlalu lugunya aku pada waktu itu. Suamiku pada waktu itupun rupanya belum terlalu “mahir” dengan apa yang disebut hubungan suami istri, sehingga malam pertama kami lewatkan hanya dengan diraba-raba oleh suami. Itupun kadang-kadang aku tolak karena pada waktu itu aku sendiri sebenarnya merasa risih diraba-raba oleh lelaki. Apalagi oleh lelaki yang “belum” aku cintai, karena memang aku tidak mencintai suamiku. Pernikahan kami semata-mata atas perjodohan orang tua saja dan bukan atas kehendakku sendiri.

    223969_06Barulah pada malam kedua suamiku mulai melancarkan serangannya, ia mulai melepas bajuku satu per satu dan mencumbu dengan menciumi kening hingga jari kaki. Mendapat serangan seperti itu tentu saja sebagai seorang wanita yang sudah memasuki masa pubertas akupun mulai bergairah walaupun tidak secara langsung aku tunjukkan ke depan suamiku. Apalagi saat ia mulai menyentuh bagian-bagian yang paling aku jaga sebelumnya, kepalaku bagaikan tak terkendali bergerak ke kanan ke kiri menahan nikmat sejuta rasa yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

    Kemaluanku mulai mengeluarkan cairan dan sampai membasahi rambut yang menutupi vaginaku. Suamiku semakin bersemangat menciumi puting susu yang berwarna merah muda kecoklatan dan tampak bulat mengeras mungkin karena pada saat itu aku pun sudah mulai terangsang. Aku sudah tidak ingat lagi berapa kali ia menjilati klitorisku pada malam itu, sampai aku tak kuasa menahan nikmatnya permainan lidah suamiku menjilati klitoris dan aku pun orgasme dengan menyemburkan cairan hangat dari dalam vaginaku ke mulutnya.

    223969_07Dengan perasaan tidak sabar, kubuka dan kuangkat lebar kakiku sehingga akan terlihat jelas oleh suamiku lubang vagina yang kemerahan dan basah ini. Atas permintaan suami kupegang batang kemaluannya yang besar dan keras luar biasa menurutku pada waktu itu. Perlahan-lahan kutuntun kepala kemaluannya menyentuh lubang vaginaku yang sudah basah dan licin ini. Rasa nikmat yang luar biasa kurasakan saat kepala penis suamiku menggosok-gosok bibir vaginaku ini. Dengan sedikit mendorong pantatnya suamiku berhasil menembus keperawananku, diikuti rintihanku yang tertahan.

    Untuk pertama kalinya vaginaku ini dimasuki oleh penis laki-laki dan anehnya tidak terasa sakit seperti yang seringkali aku dengar dari teman-temanku yang baru menikah dan menceritakan pengalaman malam pertama mereka. Memang ada sedikit rasa sakit yang menyayat pada saat kepala penis itu mulai menyusup perlahan masuk ke dalam vaginaku ini, tetapi mungkin karena pada waktu itu aku pun sangat bergairah sekali sehingga aku sudah tidak perduli lagi dengan rasa sakitnya. Apalagi saat suamiku mulai menggosok-gosokkan batang penisnya itu di dalam vaginaku, mataku terpejam dan kepalaku hanya menengadah ke atas, menahan rasa geli dan nikmat yang tidak dapat aku ceritakan di sini.

    223969_08Sementara kedua tanganku memegang tepian ranjang yang berada di atas kepalaku. Semakin lama goyangan pinggul suamiku semakin cepat diikuti dengan desahan nafasnya yang memburu membuat nafsuku makin menggebu. Sesekali terdengar suara decak air atau becek dari lubang vaginaku yang sedang digesek-gesek dengan batang penis suamiku yang besar, yang membuatku semakin cepat mencapai orgasme yang kedua. Sementara suami masih terus berpacu untuk mencapai puncak kenikmatannya, aku sudah dua kali orgasme dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sampai akhirnya suamiku pun menahan desahannya sambil menyemburkan cairan yang hangat dan kental dari kepala penisnya di dalam lubang vaginaku ini.

    Belakangan baru aku ketahui cairan itu yang disebut dengan sperma, maklum dulu aku tergolong gadis yang kurang gaul jadi untuk hal-hal atau istilah-istilah seperti itu aku tidak pernah tahu. Cairan sperma suamiku pun mengalir keluar dari mulut vaginaku membasahi sprei dan bercampur dengan darah keperawananku. Kami berdua terkulai lemas, namun masih sempat tanganku meraba-raba bibir vagina untuk memuaskan hasrat dan gairahku yang masih tersisa. Dengan menggosok-gosok klitoris yang masih basah, licin dan lembut oleh sperma suamiku, aku pun mencapai orgasme untuk yang ketiga kalinya.

    223969_14Luar biasa memang sensasi yang aku rasakan pada saat malam pengantin itu, dan hal seperti yang aku ceritakan di atas terus berlanjut hampir setiap malam selama beberapa bulan. Dan setiap kali kami melakukannya aku selalu merasa tidak pernah puas dengan suami yang hanya mampu melakukannya sekali. Aku membutuhkannya lebih dari sekali dan selalu menginginkannya setiap hari. Entah apa yang sebenarnya terjadi dalam diriku sehingga aku tidak pernah bisa membendung gejolak nafsuku. Padahal sebelum aku menikah tidak pernah kurasakan hal ini apalagi sampai menginginkannya terus menerus. Mungkinkah aku termasuk dalam golongan yang namanya hypersex itu?

    Setelah 2 tahun kami menikah aku bercerai dengan suamiku, karena semakin hari suamiku semakin jarang ada di rumah, karena memang sehari-harinya ia bekerja sebagai manajer marketing di sebuah perusahaan swasta sehingga sering sekali ia keluar kota dengan alasan urusan kantor. Dan tidak lama terdengar berita bahwa ia memiliki istri simpanan. Yang lebih menyakitkan sehingga aku minta diceraikan adalah istri simpanannya itu adalah bekas pacarnya yang dulu, ternyata selama ini dia pun menikah denganku karena dipaksa oleh orang tuanya dan bukan karena rasa cinta.

    Tak rela berbagi suami dengan wanita lain, akhirnya aku resmi diceraikan suamiku. Sakit memang hati ini seperti diiris-iris mendengar pengakuan suami tentang istri simpanannya itu, dengan terus terang dia mengatakan bahwa dia lebih mencintai istri simpanannya yang sebetulnya memang bekas pacarnya. Apalagi katanya istri simpanan suamiku itu selalu dapat membuat dirinya bahagia di atas ranjang, tidak seperti diriku ini yang selalu hanya minta dipuaskan tetapi tidak bisa memuaskan keinginan suamiku, begitu katanya.

    Lima tahun sudah aku hidup menjanda, dan kini aku tinggal sendiri dengan mengontrak sebuah rumah di pinggiran kota Jakarta. Beruntung aku mendapat pekerjaan yang agak lumayan di sebuah perusahaan swasta sehingga aku dapat menghidupi diriku sendiri. Belakangan ini setiap malam aku tidak dapat tidur dengan nyenyak, sering aku baru bisa tertidur pulas di atas jam 03.00 pagi. Mungkin dikarenakan pikiranku yang sering ngelantur belakangan ini. Sering aku melamun dan membayangkan saat-saat indah bersama suamiku dulu.

    223969_15Terkadang sering pula aku membayangkan diriku bermesraan dengan seorang teman kerjaku, sehingga setiap malam hanya onani saja yang dapat kulakukan. Tidak ada keberanian untuk menceritakan hal ini kepada orang lain apalagi pada teman-teman kerjaku, bisa-bisa aku diberi julukkan yang tidak baik di kantor. Hanya dengan tanganku ini kuelus-elus bibir vaginaku setiap malam sambil membayangkan bercumbu dengan seorang laki-laki, terkadang juga kumasukkan jari telunjukku agar aku dapat lebih merasakan kenikmatan yang pernah kualami dulu.

  • Ibu Kost Yang Baik

    Ibu Kost Yang Baik


    10 views

    Perkenalkan namaku Evan, kira kira hampir satu tahun Evan ngekost di rumah bu Fely, tak sengaja juga aku bisa ngekost di tmuah ibu Fely dimana awal ceritanya kita bertemu di pasar, saat itu Ibu Fely mendapat kejadian kecopetan saat Ibu Fely teriak minta tolong aku langsung mengejar pencopet itu dan bisa menangkap copet tersebut dan mengembalikan dompetnya.

    cerita-sex-dewasa-ibu-kost-yang-baik

    Setelah kejadian itu aku sedikit bercerita ingin mancari tempat kost disitulah ibu Fely berbalik baik hati untuk ngekost di tempatnya yaitu di rumah bedengan. Suatu hari sudah empat bulan aku ngekost di kostnya dan aku telat bayar kost selama tiga bulan, mungkin juga karena ibu Fely masih teringat saat aku bantu mengembalikan dompetnya jadi beliau terlalu baik denganku.

    Tapi dalam hatiku Evan tidak enak tapi gimana lagi duitku juga tidak punya jadi apabila bertemu ibu Fely aku banyak menghindar unutk bertemu dengannya langsung. Sampai satu hari waktu itu masih sore jam 4.

    Evan masih tidur-tiduran dengan malasnya di kamarnya. Tempat kost itu berupa kamar tidur dan kamar mandi di dalam. Terdengar pintu kamarnya di ketok tok..tok..tok.. lalu suara bu Fely yang manggil,Van Van ada di dalem gak?Sontak Evan bangun, wah bisa berabe kalo nanyain duit sewa kamar nie, pikir Evan.

    Dengan cepat meraih handuk, pura-pura lagi mandi aja ah, ntar juga bu Fely pergi sendiri. Setelah masuk kamar mandi kembali terdengar suara bu Fely,t Evan lagi tidur ya..?t dan dari kamar mandi Evan menyahut sedikit teriak,t lagi mandi bu.

    Sesaat tidak ada sahutan, tapi kemudian suara bu Fely jadi dekat,tya udah mandi aja dulu Van, ibu tunggu di sini yat eh ternyata masuk ke kamar, Evan tadi gak mengunci pintu. sbusyet dah, terpaksa bener-bener harus mandi nie,tpikir Evan.

    Sekitar lima belas menit Evan di kamar mandi, sengaja mandinya agak dilamain dengan maksud siapa tau bu Fely bosan trus gak jadi nunggu. Tapi rasanya percuma lama-lama toh bu Fely sepertinya masih menunggu.

    Akhirnya keluar juga Evan dari kamar mandi, dengan hanya handuk yang melilit di pinggang, tidak pakai celana dalem lagi, maklum tadi gak sempet ambil karena terburu-buru. Bu Fely tersenyum manis melihat Evan yang salah tingkah,lama juga kamu mandi ya Zackt bu Fely membuka pembicaraan.

    Pasti bersih banget mandinya yat gurau bu Fely sambil sejenak melirik dada bidang Evan. sah ibu bisa aja biasa aja kok bu.., oia ada apa ya bu..? jawab Evan sekenanya saja sambil mengambil duduk di pinggiran tempat tidur.

    Bu Fely mendekat dan duduk di samping Evan, sCuma mau ngingetin aja, uang sewa kamarmu dah telat 3 bulan lho trus mau ngobrol-ngobrol aja sama kamu, kan dah lama gak ngobrol, kamu sie pergi mlulutucap bu Fely.

    Evan jadi kikuk,twahduh kalo uang sewanya ntar aku bayar cicil boleh gak bu? Soalnya lagi seret niet jawab Evan dengan sedikit memohon. Bu Fely terlihat sedikit berpikirtmmmm boleh deh, tapi jangan lama-lama ya emang uangmu di pakai untuk apa sie? terlihat bu Fely sedikit menyelidik.

    Hmmmm pasti buat cewe mu yatdia terlihat kurang senang. sah nggak juga kok bu.. saya emang lagi ada keperluan,t jawab Evan hati-hati melihat raut wajah bu Fely yang kurang senang. shuhlaki-laki sama aja, kalo lagi ada maunya, apa aja pasti di kasih pada perempuan yang lagi di dekatinya, hhhh sama aja dengan suamiku.tkeluh bu Fely dengan nada kesal.

    Waduh nampaknya bu Fely lagi marahan nie sama suaminya, jangan-jangan amarahnya ditumpahkan pula sama Evan. Dengan cepat Evan menjawab,tapi saya janji kok bu, akan saya lunasi kokshhhhh.bu Fely menghela nafas,tudahlah Van, gak apa-apa kok, gak di bayar juga kalo buat kamu ga masalah ibu Cuma lagi kesel aja sama suamiku, dia cuma perhatiannya sama Marni terus aku seperti gak dianggap lagi, mentang-mentang Marni jauh lebih muda ya.”Cerita Sex”

    Sedikit penjelasan bahwa bu Fely ini istri pertama dari pak Kardi, sedangkan istri keduanya bu Marni. Dan sekarang sepertinya pak Kardi lebih sering tinggal di rumahnya yang satu lagi bersama bu Marni dan bu Fely tampaknya udah mulai kesepian nie wah kalo masalah keluarga sie aku kurang paham bu. jawab Evan kikuk gak apa-apa Van, ibu hanya mau curhat aja sama kamu boleh kan Van?suara bu Fely sendu.

    Agak lama terdiam, terdengar tarikan nafas bu Fely terasa berat, dan sedikit sesunggukan, waduh lama-lama bisa nangis nie, gawat dong pikir Evan. sudah bu jangan terlalu dipikirkan, nanti juga pak Kardi kembali lagi kok, kan ibu juga gak kalah cantiknya sama bu Marni,

    Evan bermaksud menghibur. sah kamu Van emang ibu masih cantik menurutmu? bu Fely menatap sendu ke arah Evan, terlihat dua butir air mata mengalir di pipinya.

    Uhh. ingin rasanya Evan menghapus air mata itu, pak Kardi emang keterlaluan masa wanita cantik nan elok seperti ini dianggurin sie, coba Evan bisa berbuat sesuatu busyet Evan memaki dalam hati skenapa otak gwa jadi kotor gini.

    Dengan sedikit gugup Evan menjawab,tmmmeeeiya kok bu, ibu masih cantik, kalo masih gadis mungkin aku yang duluan tergoda.Cerita Sex Dewasa

    Uupsss . Maksud hati ingin menghibur, tapi kenapa kata-kata yang menggoda yang keluar dari mulut gerutu Evan dalam hati. Evan jadi panik, jangan-jangan bu Fely marah dengan ucapan Evan. Tapi ternyata Evan salah, karena bu Fely tersenyum, manis sekali dengan deretan gigi yang putih dan rapi, ih Evan bisa aja menghibur.

    Iya juga sie, kalo masih gadis bisa aja tergoda, pantes aja suamiku gak ngelirik aku lagi, bis nya dah tua siet rona wajah bu Fely berubah sedih lagi, kalo menurutmu Van, apa ibu emang gak menarik lagi? sambil berdiri dan memperhatikan tubuhnya kemudian menatap Evan minta penilaian.

    Terang aja Evan makin kikuk, wah aku mau ngomong apa ya bu? Takutnya nanti di bilang lancang lho tapi kalo mau jujur. Ibu cantik banget, seperti masih 30an deh. Bu Fely tampaknya senang dengan pujian itu,thmmm.. kamu ada-ada aja saja ibu udah 43 lho.. emang Evan liat dari mananya bisa bilang begitu? Evan jadi cengar cengir, itu penilaian laki-laki lho bu, saya malu bilangin nya.

    Bu Fely kembali duduk mendekat, sekarang malah sangat dekat hampir merapat ke Evan sambil berkata, ah.. gak perlu malu.
    Bilang ajat Nafas Evan terasa sesak, badan nya terasa panas dingin menghadapi tatapan bu Fely, matanya indah dengan bulu mata yang lentik, sesaat kemudian Evan mengalihkan pandangan ke arah tubuh bu Fely mencari alasan penilaian tadi, uups baru deh Evan memperhatikan bahwa bu Fely memakai baju terusan seperti daster tapi dengan lengan yang berupa tali dan diikat simpul di bahunya.

    Hmmm .. kulit itu mulus kuning langsat dengan tali baju dan tali bra yang saling bertumpuk di bahu, pandangan Evan beralih ke bagian depan uupss terlihat belahan dada yang hmmm sepertinya buah dada itu lumayan besar.

    Sentuhan lembut tangan bu Fely di paha Evan yang masih dibungkus handuk cepat menyadarkan Evan.

    Dengan penuh selidik bu Fely bertanya,lho kok jadi bengong sie..? apa dong alasannya tadi bilang ibu masih 30an Evan sedikit tergagap karena merasa ketahuan terlalu lama memandangi tubuh bu Fely,mmm eeemm.. ibu benar-benar masih cantik

    Kulitnya masih kencang masih sangat menggodat Tidak ada jawaban dari mulut bu Fely, hanya pandangan mata yang kini saling beradu, saling tatap untuk beberapa saat dan seperti ada magnet yang kuat, wajah bu Fely makin mendekat, dengan bibir yang semakin merekah.

    Evan pun seakan terbawa suasana, dan tanpa komando lagi, Evan menyambut bibir merah bu Fely, desahan nafas mulai terasa berat hhhhhhhhciuman terus bertambah dahsyat, bu Fely menjulurkan lidahnya masuk menerobos ke mulut Evan, dan dibalas dengan lilitan lidah Evan sehingga lidah tersebut berpilin-pilin dan kemudian deru nafas semakin berat terasa.

    Dengan naluri yang alami, tangan Evan merambat naik ke bahu bu Fely, dengan sekali tarik, terlepas tali pengikat baju di bahu tersebut dan dengan lembut Evan meraba bahu bu Fely sampai ke lehernya.

    Kemudian turun ke arah dada, dengan remasan lembut Evan meremas payudara yang masih terbungkus bra itu. shhhhhhhhht nafas bu Fely mulai terasa menggebu, nampaknya gairah birahinya mulai memuncak.

    Jemari lentik bu Fely tak ketinggalan meraba dan mengelus lembut dada Evan melingkari pinggang Evan, mencari lipatan handuk, hendak membukanya Uupps. Evan tersentak dan sadar.,tupshhh maaf bu maaf bu saya terbawa suasana.

    Evan tertunduk tak berani menatap bu Fely sambil merapikan kembali handuknya, baru kemudian dengan sedikit takut melihat ke arah bu Fely. Terlihat bu Fely pun agak tersentak, tapi tidak berusaha merapikan pakaiannya, sehingga tubuh bagian atas yang hanya tertutup bra itu dibiarkan terbuka.

    Pemandangan yang menakjubkan. napa Van kita sudah memulainya dan kamu sudah membangkitkan kembali gairah ibu yang lama terpendam kamu harus menyelesaikannya Evan tatapan bu Fely terlihat semakin sendu mmm ibu gak marah..? gimana nanti kalo ada yang lihat bu bisa gawat dong pak Kardi juga bisa marah besar but jawab Evan.

    Tanpa menjawab bu Fely bangkit berdiri, namun karena tidak merapikan pakaiannya, otomatis baju terusan yang dipakai jadi melorot jatuh ke lantai. Evan terpana melihat tubuh indah itu, sedikit berlemak di perut dan bokongnya namun itu malah menambah seksi lekuk tubuh bu Fely.

    Kemudian dengan tenang bu Fely melangkah ke arah pintu kamar dan menguncinya. Saat berjalan membelakangi Evan itu nampak gerakan bokong bu Fely naik turun, dan perasaan Evan semakin tegang dengan nafsu yang semakin tak tertahankan, demikian juga saat bu Fely berbalik dan melangkah kembali menuju tempat tidur.”Cerita Sex”

    Evan tidak melepaskan sedikit pun gerakan bu Fely. Sampai bu Fely berdiri dekat di depan Evan dan berkata,tkamarnya udah di kunci Van, dan gak ada yang akan mengganggu. Evan tidak langsung menjawab, menghidupkan tape dengan suara yang agak besar, setidaknya untuk menyamarkan suara yang ada di ruangan.

    Bu Fely kembali duduk di pinggiran tempat tidur, dan membuka bra yang digunakannya. Evan mendekat dan duduk di samping bu Fely hmmm nampak payudara itu masih montok dan kenyal, ingin Evan langsung melahap dengan mulut dan menjilatnya.

    Bu Fely yang memulai gerakan dengan melingkarkan lengannya ke leher Evan, menarik wajah dan langsung melumat bibir Evan dengan nafsu yang membara. Evan membalas dengan tidak kalah sengit, sambil meladeni serangan bibir dan lidah bu Fely, tangan Evan meremas payudara montok milik bu Fely.

    Desahan nafas menderu di seputar ruangan, diselingi alunan musik menambah gairah. Setelah beberapa saat, bu Fely mendorong lembut badan Evan, menyudahi pertempuran mulut dan lidah, dengan nafas yang memburu.

    Evan mendorong lembut tubuh bu Fely, berbaring terlentang dengan kaki tetap menjuntai di pinggiran tempat tidur. Dada yang penuh dengan gunung kembar itu seakan menantang dengan puting yang telah tegang.

    Tanpa menunggu lagi Evan melaksanakan tugasnya menjelajahi gunung kembar itu mulai dari lembah antara, melingkari dan menuju puncak puting.

    Dengan gemas Evan menyedot dan memainkan puting susu itu sambil tangan meremas payudara kembarannya HHHH. AHHH.MMMH. suara bu Fely mulai kencang terdengar, desahan-desahan nikmat yang semakin menggairahkan. Evan melanjutkan penjelajahan dengan menyusuri lembah payudara menuju perut dan sebentar memainkan lidah pada udel bu Fely yang menggelinjang kegelian.

    Evan menghentikan penjelajahan lidah, kemudian dengan cekatan menarik celana dalam bu Fely, melepaskan dan membuang ke lantai. Dengan spontan bu Fely mengangkat kaki ke atas tempat tidur dan memuka lebar pahanya, terlihat gundukan vagina dengan rambut-rambut yang tertata rapi.

    Evan mulai kembali aksi dengan menjilati menyusuri paha bu Fely yang halus mulus, terus mendekat ke selangkangan menemui bibir vagina yang mulai mengeluarkan cairan senggama. Tanpa menunggu lama.

    Evan menyapu cairan senggama itu dengan lidahnya dan meneruskan penjelajahan lidah sepanjang bibir vagina bu Fely dan sesekali menggetarkan lidah pada klitorisnya yang membuat bu Fely mengerang kenikmatan, ceritasexdewasa.org AHHHH. MMMMH HHH Van.UHH desahan birahi yang memuncak dari bu Fely membuat Evan semakin bersemangat dan sesekali lidah di julurkan mencoba masuk ke liang senggama yang menanti pemenuhan itu.

    Setelah beberapa menit Evan mengeksplorasi liang kewanitaan itu, nampaknya bu Fely tidak sabar lagi menuntut pemenuhan hasrat birahinya, Van. Ayo sayang masukkin Van hhhhmmmmh. Suara bu Fely ditingkahi desahan-desahan yang semakin kencang.

    Dengan tenang Evan menyudahi penjelajahan lidah dan bersiap bertempur yang sesungguhnya. Dengan sekali tarik lepaslah handuk yang melilit di pinggang dan bebas mengacung penis dengan bagian kepala yang merah mengkilap.

    Bu Fely semakin membuka lebar pahanya, besiap menanti pemenuhan terhadap liang wanitanya. Evan naik ke tempat tidur dan langsung mengarahkan batang penis ke arah vagina bu Fely yang dengan sigap lansung meraih dan meremas batang kemaluan Evan dan membantu mengarahkannya tepat ke liang vaginanya.

    Dengan sekali dorongan penis Evan amblas sampai setengahnya. Evan menahan gerakan sebentar menikmati prosesi masuknya penis yang disambut desahan bu Fely, AHHH.TERUSKAN Van.AHHH.

    Kemudian dengan meresapi masuknya penis sampai sedalam-dalamnya. Setelah dorongan pertama dan batang zakar yang masuk seluruhnya barulah Evan memompa menaik turunkan pantat dengan irama beraturan seakan mengikuti irama musik yang terasa semakin menggebu dan hot.

    Evan bertumpu pada kedua siku lengan sedangkan bu Fely mencengkam punggung Evan, meresapi dorongan dan tarikan penis yang bergerak nikmat di liang senggamanya. Suara desahan bercampur aduk dengan alunan musik dan peluh mulai bercucuran di sekujur tubuh

    AH..AH..AH..MMHMHHHHHH. tak hentinya desahan meluncur dari bibir Evan dan bu Fely. Sesaat Evan menghentikan gerakan untuk mencoba mengambil nafas segar, bu Fely memeluk Evan dan menggulingkan badan tanpa melepas penis yang tetap berada di liang vaginanya.

    Dengan posisi di atas dan setengah berjongkok, bu Fely memompa dan menaikturunkan pantatnya dengan badan bertumpu pada lengan.

    Sesekali bu Fely memutar pantatnya dan kemudian memasukkan batang zakar Evan lebih dalam. Evan tak diam saja, tangan meremas kedua payudara yang menggantung bebas dan menarik-narik puting susu bu Fely.

    Suasana makin membara dengan peluh yang bercucuran, sampai saat bu Fely seperti tak sanggup melanjutkan pompaan karena birahi yang hendak mencapai puncak pemenuhan. Dengan sigap Evan membalikkan posisi, bu Fely kembali berada di bawah, dengan mempercepat tempo dorongan Evan meneruskan pertempuran.

    Van ..AHH..AH..AH..UHTERUS Van. AHHHAHH IBU SAMPAI VAN.AHHHHHHHHH MMMMMHHH.Cerita Sex Dewasa

    Setelah teriakan tertahan bu Fely mengatup bibirnya menikmati orgasme yang didapat, tubuhnya sedikit bergetar. Evan merasa vagina yang mengalami orgasme itu berkedut-kedut seperti menyedot zakarnya.

    Evan menikmatinya dengan memutar “mutar pantatnya dan memasukkan lebih dalam lagi batang zakarnya, dan terasa ada dorongan kuat menyelimuti batang zakarnya, semakin besar dan sesaat Evan kembali mendorong batangnya dengan cepat dan saat terakhir menarik keluar batanga zakarnya dan melepaskan air maninya di atas perut bu Fely.

    Yang dengan cepat meraih penis Evan dan mengocoknya sampai air mani itu berhenti muncrat, dengan lembut bu Fely mengusap penis yang mulai turun ketegangannya. Evan membaringkan tubuhnya disamping bu Fely.

    Baca Juga Cerita Sex Elvina

    Terdiam untuk beberapa saat. Bu Fely bangkit duduk meraih kain di pinggiran tempat tidur dan menyeka sisa air mani di perutnya. Kemudian dengan manja membaringkan tubuhnya diatas Evan. makasih ya sayang ini rahasia kita berdua I love u Van,t bisik mesra bu Fely di telinga Evan.

    mmm baik but belum sempat Evan menyelesaikan ucapannya, jari telunjuk bu Fely menempel di bibirnya, kalo lagi berdua gini jangan pangil ibu dongtucap bu Fely manja. iya sayang. Balas Evan, senyum manis merekah di bibir seksi bu Fely.

    Setelah itu dengan cepat Evan dan bu Fely merapikan pakaian, dan sebelum meninggalkan Evan, bu Fely berbisik mesra,tsayang tar malem suamiku gak ada di rumah.. aku tunggu di kamar ya berapa ronde pun dilakoni buat Evan sayang. Sambil berpelukan mesra, Evan menyanggupi ajakan bu Fely

  • Murid Nakal 2

    Murid Nakal 2


    13 views

    Esok harinya, aku pun terbangun dalam keadaan galau. Semalaman aku mencoba tidur, namun di kepalaku
    selalu terbayang kejadian kemarin sore di rumah bu Diana. Akibatnya, bisa ditebak, aku benar-benar
    merasa amat letih dan lesu.

    cerita-sex-dewasa-murid-nakal-2

    Aku pun mencoba menyetel lagu yang kemarin diberikan Reza padaku untuk mempercerah suasana. Aku lalu
    membuka handphoneku untuk mendengarkan lagu. Tapi aku tidak menemukan satupun file musik baru di
    handphoneku, malahan, lagu-lagu koleksiku banyak yang terhapus.

    Penasaran, aku pun memeriksa isi handphoneku. Sekarang, di bagian video, malah ada sebuah video yang
    berukuran ekstra besar. Penasaran dengan video di handphoneku, aku pun mulai memutar video itu.

    Astaga! Aku benar-benar terkejut setengah mati saat melihat diriku yang sedang memamerkan celana dalam
    di hadapan Reza terekam di video itu dan bagaimana Reza memainkan jari-jarinya di vaginaku juga
    terlihat dengan amat jelas dari arah samping. Saat itulah aku baru ingat bahwa saat aku memamerkan
    selangkanganku, sebuah handycam milik Reza tergeletak di ranjangnya yang ada disamping meja
    belajarnya. Berarti, Reza secara diam-diam berhasil merekam adegan mesumku!

    Tidak terbayang bagaimana perasaanku saat itu. Rasa letih dan lesu yang menyerangku dari pagi kini
    ditambah dengan perasaan cemas dan takut kalau video itu disebarluaskan, apalagi wajahku tampak jelas
    di video itu.

    Aku bingung, apa yang harus kulakukan? Bagaimana apabila video itu sudah disebarluaskan? Aku pasti
    diberhentikan dari universitas. Parahnya lagi, aku pasti akan dianggap sebagai perempuan rendahan oleh
    masyarakat.

    Baca Juga Cerita Sebelumnya Di Murid Nakal 1

    Bagaimana caraku menjelaskan pada keluargaku tentang video itu? Bayangan-bayangan itu terus berkecamuk
    didalam pikiranku selama seharian penuh.

    Walaupun begitu, sore harinya aku kembali berangkat menuju rumah bu Diana untuk mengajari Reza. Saat
    aku datang, bu Diana masih belum pulang karena harus menyelesaikan proyek di studionya. Aku pun segera
    menemui Reza untuk menyelesaikan masalah ini. Kebetulan, Reza yang membukakan pintu untukku. Seolah ia
    sudah lama menunggu kedatanganku.

    “Halo, Kak Linda. Bagaimana, video klip lagunya bagus tidak?” tanyanya dengan nada mengejek.

    “Reza, kenapa kamu sejahat itu dengan kakak?! Buat apa kamu merekam video beginian sih?! Belum cukup
    kamu mempermainkan kakak kemarin?!!” jawabku dengan perasaan kesal bercampur cemas.

    “Waah, kenapa Reza dibilang mempermainkan kakak? Bukannya kemarin kakak terlihat nyaman saat aku
    layani?” Mata Reza tampak semakin merendahkanku.Cerita Sex Dewasa

    “Sudahlah! Mana videonya? Cepat berikan ke kakak!!” perintahku.

    “Tenang saja kak, videonya Reza simpan dengan baik kok. Jadi kakak tenang saja!” Aku mengepalkan
    tanganku, menahan berbagai macam emosi yang bergejolak didalam hatiku.

    Nyaris aku kembali menangis karena rasa cemas yang semakin kuat mencengkeram diriku, namun aku
    berusaha mengendalikan diri. Aku sadar aku tidak bisa mengambil jalan kekerasan untuk menghadapi Reza,
    karena malah akan membuat masalahku tambah runyam.

    “Oh iya, Reza juga belum memperlihatkan videonya ke orang lain. Waah, sayang sekali ya kak? Padahal
    videonya bagus kan?” lanjutnya.

    Mendengar pernyataan Reza itu, aku merasa melihat secercah cahaya dan harapanku sedikit pulih. Namun
    masih saja aku merasa tegang dan cemas. Aku pun berusaha membujuk Reza untuk menyerahkan video itu
    padaku.

    “Reza, kakak mohon… berikan video itu ke kakak, ya? Tolong jangan sakiti kakak lagi…” aku memohon
    meminta belas kasihan pada Reza.

    “Hmm… kalau begitu, kakak harus mau menuruti perintahku lagi, aku berjanji akan memberikan videonya ke
    kakak.”

    “Kakak mohon, Reza… Jangan lagi…” air mataku kembali mengucur saat mendengar syarat yang diajukan
    Reza.

    Berarti aku harus kembali merendahkan diriku dihadapannya.

    “Kakak mau atau tidak?! Kalau tidak, ya sudah! Kakak bisa melihat videonya di internet besok pagi.”
    Ketusnya tanpa menghiraukan perasaanku.

    Aku pun tidak punya pilihan lain, selain menuruti kemauan Reza. Tampaknya percuma saja aku berusaha
    meminta belas kasihan anak ini.

    Yang ada di pikirannya saat ini pasti hanyalah keinginan untuk mempermainkan diriku sekali lagi.
    Terpaksa aku harus melayani permintaannya lagi agar video itu kudapatkan.

    “Baiklah, kakak mengerti… Kakak akan menuruti perintahmu, tapi kamu harus berjanji akan memberikan
    video itu ke kakak!” jawabku memberi persetujuan.

    “Beres, Kak!” Kali ini Reza tampak girang sekali saat mendengar kalimat persetujuanku itu.

    “Nah, sekarang apa yang kamu mau?!” Tanyaku tidak sabaran

    “Tunggu sebentar dong Kak… Jangan buru-buru! Kalau sekarang pasti cuma sebentar karena Mami sebentar
    lagi pulang.”

    “Lalu, kamu maunya kapan?”

    “Nah, kebetulan 2 hari lagi Mami akan berangkat ke luar negeri, soalnya Mami akan memperagakan busana
    pengantin buatannya di pameran.”

    “Lalu kenapa?”

    “Kebetulan minggu depan ada ulangan yang penting, jadi aku boleh tinggal di rumah ini sampai mami
    pulang. Selama itu, aku mau kakak untuk tinggal bersamaku di rumah, sambil mengajariku! Bagaimana?
    Kita bisa bersenang-senang sampai puas kan, Kak?”

    “Memangnya sampai kapan bu Diana ada di luar negeri?” tanyaku kembali.

    “Yaah, karena Mami juga mau ketemu Papi di Jerman, makanya Mami tinggal di sana selama 2 minggu.”

    “Tapi apa bu Diana akan mengizinkan kakak untuk tinggal disini?”

    “Tenang saja, kak! Biar nanti Reza yang bicara dengan Mami.” Ujarnya meyakinkanku.

    Aku menghela nafas sejenak sambil berpikir menimbang-nimbang permintaan Reza. Sebenarnya aku tidak
    begitu rugi apabila aku menginap di rumah bu Diana. Aku bisa menghemat uang kosku selama setengah
    bulan kalau aku menginap di rumah bu Diana.

    Lagipula aku akan lebih bisa mengawasi Reza untuk belajar menghadapi ujian semesternya yang kian
    mendekat, dengan begitu, aku bisa mendapat kesempatan untuk mengamankan pekerjaanku. Sebenarnya yang
    perlu kulakukan hanyalah memastikan kalau Reza tidak “mengerjaiku” lebih parah dari kemarin.

    “Baiklah, kakak setuju. Tapi kamu juga harus berjanji, kamu harus belajar yang rajin selama kakak
    tinggal di rumahmu.” Anggukku sambil memberinya penawaran.

    “Berees, kak! Asal kakak mau menurutiku selama itu, aku pasti belajar!” jawabnya dengan bersemangat.

    “Iya, iya…” balasku dengan perasaan agak lega.

    Kami lalu segera beranjak ke kamar Reza dan aku pun mulai mengajarinya. Tapi hari ini ada yang berbeda
    dari Reza.

    Ia tampak lebih serius dan bersemangat dalam menyimak penjelasanku. Kurasa dia sudah cukup senang saat
    mendengar aku akan menginap di rumahnya 2 hari lagi. Tak lama kemudian, kudengar suara bu Diana di
    lantai bawah.

    “Nah, Mami sudah pulang! Kakak tunggu sebentar ya! Aku mau bicara dulu dengan Mami!” Reza segera
    beranjak dari kursinya dan keluar dari kamarnya tanpa menghiraukanku.

    Sayup-sayup kudengar suara percakapan Reza dengan bu Diana, namun aku tidak dapat mendengar dengan
    jelas apa yang mereka katakan. Sambil menunggu Reza, aku mempersiapkan soal-soal latihan yang akan
    kuberikan untuknya nanti. Sekitar 5 menit kemudian, Reza kembali ke kamarnya bersama bu Diana.

    “Halo, Linda. Reza meminta saya untuk mengizinkanmu tinggal di rumah ini selama saya tidak dirumah.”

    “Eh? I… iya, bu Diana! Reza memberitahu saya kalau ia ingin mendapat les tambahan dari saya selama bu
    Diana tidak dirumah… Katanya… untuk persiapan ujian semester…” ujarku dengan agak gugup.

    “Wah, kebetulan sekali kalau begitu! Soalnya tante Reza juga akan ikut ke Jerman. Makanya tadi saya
    sempat mengajak Reza untuk ikut. Tapi karena ada ulangannya yang penting, Saya jadi ragu-ragu.”

    “Jadi?” tanyaku “Kalau kamu mau, Saya memperbolehkan kamu tinggal disini selama saya tidak dirumah.
    Tapi saya juga meminta kamu untuk mengurus Reza selama itu. Sebagai gantinya, saya akan berikan
    tambahan bonus untukmu di akhir bulan ini. Bagaimana?” Jawab bu Diana memberikan tawaran.

    “Baik, bu Diana. Saya setuju!” anggukku sambil tersenyum.

    Sekarang aku mendapat tambahan keuntungan dengan menerima tawaran Reza. Dengan bonus yang disediakan
    bu Diana dan penghematan uang kosku selama setengah bulan, aku bisa menambah uang tabunganku sekaligus
    membiayai sebagian keperluanku bulan depan.

    “Baguslah! Kalau begitu, Linda, tolong kamu siapkan barang-barangmu yang akan kamu bawa untuk tinggal
    disini. Lusa nanti saya akan menjemputmu sebelum kamu mengajar Reza.” Ujar bu Diana.
    “Iya, bu Diana!” aku mengiyakan permintaan bu Diana.

    Setelah menyelesaikan tugasku hari itu, aku segera bergegas pulang untuk mulai mengemas barang-
    barangku. Untunglah aku tidak memiliki banyak barang selain pakaian dan perlengkapan-perlengkapan
    kecil milikku.

    Aku juga memberitahu pemilik rumah kosku bahwa aku akan pindah selama setengah bulan. Syukurlah mereka
    mau mengerti dan bersedia menyimpankan kamar bagiku apabila aku kembali. 2 hari kemudian, bu Diana dan
    Reza pun datang menjemputku sebelum aku mengajar Reza. Aku lalu diantar ke rumah mereka. Aku diizinkan
    untuk tidur di kamar tamu di lantai bawah.

    Malam harinya, aku diberitahu bu Diana tugas-tugasku di rumah itu selama bu Diana di luar negeri. Aku
    diminta untuk mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci dan membersihkan
    rumah.

    Aku sudah terbiasa memasak dan mencuci sendiri sejak kecil, maka tugas ini tidak lagi sesulit yang
    kubayangkan. Lagipula untuk keperluan sehari-hari, bu Diana sudah menyuruh anak buahnya untuk
    mengantar bahan makanan dan supir studio untuk mengantar-jemput kami. Apabila ada hal lainnya yang
    diperlukan, aku hanya perlu menelepon studio untuk meminta bantuan mereka.

    Esok harinya, bu Diana sudah berangkat saat aku pulang dari kuliah. Sehingga hanya ada aku dan Reza
    sendiri di rumah.

    Aku segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Seusai mandi, aku benar-benar terkejut saat
    melihat semua pakaian milikku menghilang. Hanya ada satu pelaku yang dapat melakukan hal ini! Aku lalu
    menutupi tubuhku dengan selembar handuk yang untungnya, tidak sempat diambil oleh “pencuri” itu.

    Aku segera naik ke lantai atas untuk mengambil kembali pakaian milikku.

    “Reza! Reendyy!! Buka pintunya!” Seruku sambil menggedor kamar Reza.

    Pintu kamar itu sedikit dibuka dan wajah Reza muncul dari sela-sela pintu kamar itu.

    “Ya, ada apa kak?!” tanyanya padaku.

    Namun matanya segera melirik tubuhku yang hanya berbalutkan sebuah handuk dan ia tersenyum cengengesan
    melihat keadaanku.

    “Wah, waah… Kakak sudah tidak sabaran ya?” tanyanya sambil tertawa kecil.

    “Huuh! Dasar usiil!! Ayo, kembalikan baju kakak!!” gerutuku.

    “Lhooo… memangnya baju kakak kuambil? Apa ada buktinya?”

    “Kalau bukan kamu siapa lagii? Sudah, ayo cepat kembalikan baju kakak!”

    “Kak, kalau menuduh orang tanpa bukti itu tidak baik lho! Hukumannya, aku tidak mau memberitahu dimana
    kusembunyikan baju kakak, Hehehe…” Reza tersenyum mengejekku dan menutup dan mengunci pintu kamarnya
    dihadapanku.

    “Aah! Hei, Reza! Tunggu duluu…” protesku, tapi Reza sudah keburu menutup pintu kamarnya sambil
    mengejekku dibalik pintu.

    Aku pun terpaksa menggigil kedinginan, suhu di rumah itu dingin sekali karena dipasangi AC, ditambah
    lagi aku baru saja mandi dan sekarang tubuhku hanya ditutupi oleh selembar handuk saja.

    Selama beberapa menit aku terus menggedor pintu kamar Reza dan berusaha membujuknya, namun ia sama
    sekali tidak menggubrisku.

    “HATSYII…!!!” Karena tidak biasa, aku pun bersin akibat pilek karena suhu dingin itu.

    “Kak! Kakak pilek, ya?” tiba-tiba terdengar suara Reza dari balik pintu.

    “I… iya… Reza, tolong…. kembalikan pakaian kakak… disini dingin sekali… kakak tidak tahan…”

    “Oke deh, tapi kakak harus mau memakai pakaian yang kuberikan ya!”

    “Iya… iya… cepat doong…. Kakak kedinginan disini…” pintaku pada Reza Reza kembali keluar dari
    kamarnya.

    Ia melihat sekujur tubuhku yang menggigil kedinginan. Anehnya, raut wajahnya tampak berubah, ia tidak
    lagi tampak senang ataupun puas mengerjaiku. Kini ia tampak agak gelisah.

    “Haa… HATSYII!!!” kembali aku bersin dihadapannya.

    Kulihat raut wajahnya semakin cemas saja melihat keadaanku.

    “Ayo Kak, ikut denganku!” pinta Reza padaku yang segera kuturuti saja.

    Reza menuntunku ke ruang disebelah kamarnya. Pintu ruang itu dikunci, namun Reza segera membuka pintu
    itu dengan sebuah kunci di tangannya. Begitu aku masuk, aku takjub melihat puluhan helai gaun
    pengantin putih dalam berbagai ukuran dan model yang tergantung rapi di kamar itu.

    Berbagai aksesoris pengantin wanita juga tertata rapi bersama gaun-gaun itu. Rupanya kamar itu adalah
    kamar desain bu Diana sekaligus tempatnya menyimpan hasil rancangannya yang belum dikirim ke studio.

    “Kak, aku minta kakak memakai baju itu.” ujar Reza seraya menunjuk ke arah sehelai gaun pengantin
    putih yang dipasang di sebuah mannequin.

    “Apaa?! Kenapa kakak harus memakai baju seperti itu? Memangnya kakak mau menikah, apa?!” jawabku
    setengah tak percaya, setengah kebingungan.

    “Ya, sudah! Kalau kakak tidak mau, kakak boleh memakai handuk itu saja kok!” balas Reza.

    “Iyaa! Dasar!! Kamu mintanya yang aneh-aneh saja!!” ujarku agak kesal.

    Terpaksa kuturuti permintaan Reza, daripada pilekku semakin parah.

    “Oh iya Kak!”

    “Apa lagii?”

    “Pakaiannya yang lengkap ya, Kak! Soalnya baju itu sudah 1 set dengan aksesorisnya!” pinta Reza.Cerita Sex Dewasa

    “Jangan lupa juga untuk merias diri dengan kosmetik Mami ya Kak! Sudah kusiapkan lhoo…” imbuhnya.

    Aku menghela nafas dan menutup pintu kamar itu. Memang kulihat gaun itu dilengkapi dengan mahkota,
    sarung tangan, bahkan stocking dan sepatu yang semuanya berwarna putih susu. Luar biasa! Sejenak aku
    kagum dengan kepandaian bu Diana dalam merancang gaun itu, komposisi yang disusunnya benar-benar
    serasi.

    Aku lalu menuruti perintah Reza untuk memakai semua pakaian itu dengan lengkap. Berat bagiku memang,
    karena aku belum pernah memakai gaun pengantin sebelumnya. Setelahnya, aku pun merias diriku dengan
    kosmetik milik bu Diana.

    Kulihat semua kosmetik itu buatan luar negeri. Aku sendiri agak canggung untuk memakai kosmetik-
    kosmetik itu, mengingat harganya yang selangit bagi mahasiswi sepertiku.

    Tapi setidaknya, aku mendapat sebuah kesempatan untuk mencoba kosmetik-kosmetik itu, maka aku berusaha
    untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Setelah beberapa lama, aku akhirnya selesai mempengantinkan
    diriku.

    Kubuka pintu kamar itu dan seperti yang sudah kuduga, Reza sedari tadi sudah menungguku didepan pintu.
    Ia tampak amat terpana melihatku yang berbusana pengantin itu. Busana pengantinku berupa sebuah gaun
    pengantin putih yang indah sekali.

    Atasan gaun memiliki sepasang puff bahu yang terikat dengan sepasang sarung tangan satin dengan
    panjang selengan di kedua tanganku yang kini menutupi jari-jariku yang lentik. Di bagian perut dan
    dada gaunku bertaburan kristal-kristal imitasi yang samar-samar membentuk sebuah pola hati.

    Bagian pinggang gaun itu memiliki hiasan kembang-kembang sutra yang melingkari bagian pinggang gaun
    itu seperti sebuah ikat pinggang yang seolah menghubungkan atasan gaunku dengan rok gaun polos yang
    dihiasi manik-manik membentuk hiasan bunga-bunga yang bertebaran disekeliling rok gaunku. Pinggulku
    dipasangi pita putih besar. Aku juga memakaikan rok petticoat di pinggangku agar rok gaunku tampak
    mengembang.

    Reza sendiri tampak kagum melihat cantiknya wajahku yang sudah kurias sendiri; kelopak mataku kurias
    dengan eye-shadow berwarna pink dan alsiku yang kurapikan dengan eye-pencil. Sementara lipstick yang
    berwarna pink lembut kupilih untuk melapisi bibirku yang tampak serasi dengan riasan bedak make-upku.

    Riasan mahkota bunga putih tampak serasi dengan rambut hitam-sebahuku yang kubiarkan tergerai bebas.
    Aku telah memasang stocking sutra berwarna putih yang lembut di kakiku yang dilengkapi dengan sepasang
    sepatu hak tinggi berwarna putih yang tampak serasi seperti gaun pengantinku.

    Tubuhku juga kuberi parfum melati milik bu Diana sehingga sekujur tubuhku memancarkan aroma melati
    yang amat wangi.

    “Nah, bagaimana?” ujarku pada Reza yang masih melongo melihat penampilanku.

    “Hei! Kok malah bengong sih?!” seruku, yang segera menyadarkan Reza dari lamunannya.

    “E… eh… ccantik sekali Kak!” jawab Reza tergagap-gagap, aku tertawa kecil melihat tingkahnya yang
    kebingungan.

    “Kak, ini… buat kakak…” Reza mengulurkan setangkai mawar merah kepadaku.

    Mawar merah yang indah itu tampak segar berkilauan.

    “Waah, terima kasih ya!!” otomatis aku mencium bunga itu untuk menghirup aromanya. Sejenak aroma yang
    menyengat memasuki hidungku aku pun langsung merasa pandanganku tiba-tiba kabur dan tubuhku terasa
    lemas. Aku pun ambruk tidak sadarkan diri.

    Sayup-sayup kulihat senyuman Reza, aku berusaha untuk tetap sadarkan diri, namun mataku terasa berat
    sekali dan akhirnya aku menutup kelopak mataku. Entah apa yang terjadi pada tubuhku, namun saat aku
    sadar, aku melihat diriku sudah terbaring mengangkang di sebuah ranjang canopy dalam keadaan berbusana
    pengantin lengkap.

    Kedua tanganku terikat di belakang punggungku sementara kakiku terikat erat di sisi kanan-kiri tiang
    ranjang itu sehingga posisi tubuhku mengangkang lebar. Aku merasa amat geli di daerah kewanitaanku,
    seperti ada sebuah daging lunak hangat yang menyapu-nyapu daerah kewanitaanku, terkadang daging itu
    menusuk-nusuk seolah hendak membuka bibir kewanitaanku melewati celah vaginaku.

    Aku juga merasa daerah disekitar vaginaku amat becek akibat gerakan daging itu.

    “Aahh… oohhh…” Aku pun mendesah pelan menikmati sensasi di kewanitaanku itu.

    Rasanya vaginaku seolah diceboki, namun gerakan daging itu yang seolah berputar-putar mempermainkan
    vaginaku menimbulkan sensasi nikmat disekujur tubuhku. Aku merasa tubuhku diairi listrik tegangan
    rendah saat daging itu membelah bibir kewanitaanku dan menyentuh lubang pipisku.

    “Eh! Kakak sudah bangun rupanya!!” tiba-tiba kudengar suara Reza dibalik gaunku.

    Aku berusaha mendongak dan kulihat wajah Reza sedang berada tepat didepan selangkanganku yang terbuka
    lebar. Sadarlah aku kalau “daging” tadi tak lain adalah lidah Reza yang sedang menjilati vaginaku. Aku
    berusaha berontak, namun untuk menutup kedua pahaku yang sedang terbuka lebar saja amat sulit.

    Tubuhku terasa amat lemas tanpa tenaga. Saat aku melihat sekitarku, aku baru sadar kalau aku kini
    berada didalam kamar bu Diana.

    “Badan kakak masih belum bisa digerakkan, soalnya pengaruh obat tidur Mami masih tersisa.” Jelas Reza
    sambil berjalan ke sampingku.

    Sekejap aku merasa amat panik dan berusaha mengerahkan seluruh tenagaku untuk kabur, tapi sia-sia
    saja. Tubuhku tidak mau bergerak sedikitpun.

    Astaga! Bagaimana aku bisa sebodoh itu mencium aroma bunga yang ditaburi obat bius?! Niatku untuk
    menjaga jarak dari Reza kini sia-sia saja. Sekarang malah kesucianku terpampang jelas dihadapannya,
    aku dalam keadaan terjepit dan tidak bisa kabur lagi.

    “Kakak tenang saja, dijamin enak kok! Hehehe…” tawa Reza terkekeh-kekeh.

    “Jangan, Reza… Jangan… kakak mohon!!” pintaku berderai air mata saat melihat Reza berbalik berjalan
    menuju arah selangkanganku.

    Namun sia-sia saja, Reza sama sekali tidak mau mendengar permohonanku. Aku pun semakin panik dan
    cemas. Air mataku kembali meleleh membasahi mataku, namun apa dayaku? Tubuhku kini amat sulit
    digerakkan karena ikatan itu ditambah rasa lemas disekujur tubuhku karena pengaruh obat bius yang
    tersisa.

    Kini aku hanya bisa pasrah membiarkan Reza menyantap kewanitaanku. Jantungku berdegup semakin kencang
    dan wajahku merah merona saat Reza semakin mendekati selangkanganku. Reza lalu memegang kedua pahaku
    yang mulus. Ia mulai mengendusi paha kananku sementara paha kiriku dibelai-belai dengan tangannya.

    “Essh…” aku mendesis sesaat setelah bibir Reza mencium bibir kemaluanku.

    Hembusan nafas Reza di pahaku membuat tubuhku sedikit mengigil kegelian. Saat bibir kemaluanku bertemu
    dengan bibir Reza, Reza mulai menjulurkan lidahnya. Seperti lidah ular yang menari-nari, bibir
    kemaluanku dijilati olehnya.

    Kembali bibir kewanitaanku dibelah oleh lidah Reza, yang kembali menarikan lidahnya menceboki liang
    vaginaku perlahan-lahan. Aku berusaha sekuat mungkin untuk menahan gejolak birahi yang kini mulai
    melanda diriku,

    namun tetap saja suara desahan-desahanku yang tertahan sesekali terdengar keluar dari bibirku karena
    rasa nikmat yang menjuluri tubuhku apalagi belaian lembut Reza di pahaku semakin terasa geli akibat
    stocking sutra yang kupakai.

    “Haaa?! Aakh…!!” Sontak aku menjerit terkejut saat merasakan sensasi rasa geli dan nikmat yang tiba-
    tiba melanda tubuhku.

    Rupanya Reza menjilati klitorisku. Sesekali ia menyentil klitorisku dengan lembut sehingga sekujur
    tubuhku seperti dialiri listrik dan bulu kudukku berdiri. Reza menyadari bahwa aku mulai dikuasai oleh
    gejolak birahiku. Ia terus melancarkan serangannya ke klitorisku.

    Berulang kali permohonanku yang disertai dengan desahan kusampaikan ke Reza, namun ia malah tampak
    kian bersemangat mengerjaiku. Kesadaranku pun semakin menghilang tergantikan dengan rasa nikmat dan
    hasrat seksual yang semakin merasuki tubuhku.

    “Bagaimana kak? Enak tidak?” tanya Reza padaku.

    “Rezay… stoop… auhhh… jangaan…”

    “Ah masaa? Bukannya kakak mendesah keenakan tuh? Yakin nih, nggak mau lagi?” ejeknya sambil menjauhkan
    wajahnya dari kemaluanku.

    Namun secara refleks, aku malah mengangkat pinggangku kehadapan wajah Reza, seolah menawarkannya untuk
    kembali mencicipi liang vaginaku.

    “Tuh, kan?! Malu-malu mau, nih cewek!” kembali Reza menghinaku.

    Dipeganginya kedua bongkahan pantatku dengan telapak tangannya dan dtegadahkannya tangannya, sehingga
    kini pinggangku ikut terangkat tepat dihadapan wajah Reza.

    “Aww… aww… aaahh…” kembali aku merintih saat Reza mengecup dan mengisap-isap daging klitorisku.

    Sesekali aku merasa sentuhan giginya pada klitorisku dan hisapannya membuatku kini hanya berusaha
    untuk mengejar kenikmatan seksualku semata. SLURP… SLURP… Sesekali terdengar suara Reza yang
    menyeruput cairan cintaku yang sudah banyak keluar dari vaginaku, seolah hendak melepas dahaganya
    dengan cairan cintaku.

    “AAHH… AAHHH… AAA…” Desahanku semakin keras.

    Aku merasa ada sebuah tekanan luar biasa di vaginaku yang sebentar lagi hendak meledak dari dalam
    tubuhku. Otot-otot tubuhku secara otomatis mulai menegang sendirinya.

    “HYAA… AAAKH!!!” jeritku bersamaan dengan meledaknya tekanan dalam tubuhku.

    Tanpa bisa kutahan, pinggangku menggelepar liar, bahkan Reza terlontar mundur akibat dorongan tubuhku.
    Aku bisa merasakan vaginaku memuncratkan cairan cintaku dalam jumlah yang banyak.
    Seluruh simpul sarafku terasa tegang dan kaku saat sensasi geli dan nikmat yang luar biasa itu
    menjalari tubuhku, dan akhirnya muncul perasaan lega yang nyaman setelahnya.

    Aku pun terkapar kelelahan, nafasku tersengal-sengal. Tenaga di tubuhku seolah lenyap seketika. Aku
    sadar, baru saja aku mengalami orgasme yang luar biasa!

    “Wah, waah… Rupanya galak juga nih, kalau orgasme!” ejek Reza yang kini terduduk dihadapan
    selagkanganku.

    Ia mendekati vaginaku dan kembali ia menyeruput cairan cintaku yang masih tersaji di vaginaku setelah
    ledakan orgasmeku barusan. Aku pun hanya mendesah kecil tanpa memberontak. Kepalaku serasa kosong dan
    aku membiarkan Reza menikmati cairan cintaku sesuka hatinya.

    Setelah puas meminum cairan cintaku, Reza berdiri di hadapanku dan melepas pakaiannya sehingga ia
    telanjang bulat dihadapanku. Bisa kulihat penisnya yang panjangnya sekitar 14 cm sudah menegang keras
    melihat keadaanku yang mengangkang lebar, memamerkan kewanitaanku didepannya. Reza berjalan melewati
    tubuhku hingga akhirnya ia tiba didepan kepalaku.

    Reza lalu berlutut dihadapan wajahku sambil mengocok penisnya.

    “Kak, tadi rasa memek kakak enak sekali loh! Nah sekarang giliran kakak ya, ngerasain punya Reza?”
    seloroh Reza.

    Aku yang menyadari kalau Reza akan mengoral penisnya dengan mulutku, mulai menjerit meminta
    pertolongan.

    “TOL… uumph!!” jeritanku terhenti karena Reza langsung menyumpalkan penisnya didalam mulutku.

    Walaupun ukuran penisnya tidak begitu besar, namun batang penisnya sudah cukup memenuhi rongga mulutku
    yang mungil.

    “Hhmmphh… hmph…” suaraku teredam oleh penis Reza.

    Aku berusaha memuntahkan penis itu, namun Reza memajukan pantatnya sehingga penisnya tetap masuk
    didalam mulutku hingga menyentuh kerongkonganku.

    Reza menjambak poni rambutku dan mulai menggerakkan kepalaku maju mundur. Rasa sakit di ubun-ubunku
    karena poni rambutku dijambak sudah cukup untuk membuatku tidak berontak lebih jauh, aku mengikuti
    gerakan tangan Reza yang sedang memaksaku mengulum dan mempermainkan penisnya dalam mulutku.

    “Aahh… Enaak…” desah Reza saat penisnya keluar masuk dari mulutku.

    “Hmmp… mpp… phh…” aku berusaha mengambil nafas untuk menyesuaikan gerakan penis Reza dalam mulutku.

    Kocokan mulutku masih belum berhenti, namun aku merasa agak mual karena rasa dalam mulutku saat ini.
    Sementara leherku juga pegal karena dipaksa naik-turun oleh Reza.

    Beberapa saat kemudian, Reza berhenti manjambak poniku, aku pun segera merebahkan kepalaku yang
    pegal-pegal keatas bantal yang lembut untuk melepas penat. Namun rupanya penderitaanku belum juga
    berakhir. Reza belum mau melepaskan kenikmatannya dioral olehku.

    Belum sempat penisnya keluar dari mulutku, sekarang ia malah menekan selangkangannya ke wajahku dan
    menggoyang-goyangkan pantatnya sehingga penisnya kembali masuk kedalam rongga mulutku.

    Aku bisa merasakan buah zakarnya yang tergantung menampar-nampar daguku berulang kali bersamaan dengan
    gerakan pantatnya yang maju mundur dihadapan wajahku yang kini tertekan oleh bantal, aku pun berulang
    kali tersedak karena penis Reza dalam mulutku bergerak dengan amat cepat.

    “Oke, kak! Sekarang giliran kakak yang main! Ayo kulum dan mainin pakai lidah kakak!” perintah Reza
    sambil menghentikan gerakannya.

    Aku sendiri sudah mati kutu, kepalaku terjepit diantara selangkangan Reza dan bantalku, sehingga aku
    tidak bisa bergerak bebas.

    “Ayo, Kak! Atau mau kugerakkan sendiri dimulut kakak seperti barusan?” ancamnya padaku.
    Aku pun tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah Reza, setidaknya aku akan lebih leluasa
    bernafas apabila aku yang bergerak sendiri.Cerita Sex Dewasa

    Aku pun menggerakkan lidahku membelai-belai batang penisnya yang masuk hingga rongga mulutku. Sesekali
    lidahku juga bersentuhan dengan kepala penisnya. Sebenarnya aku agak jijik juga karena tercium bau
    agak pesing dari ujung penis Reza, namun apa dayaku? Lebih baik kuturuti perintah anak ini supaya
    siksaanku cepat selesai.

    Aku pun berusaha untuk tidak begitu mempedulikan bau itu. Penis Reza kuanggap saja seperti permen yang
    luar biasa tidak enak. Aku pun terus mengemut penis Reza itu.

    “Ayo, kak! Terus! Jago juga nih, nyepongnya! Enak bangeet!”

    “Mmphh…” erangku.

    “Isapin juga kak! Seperti ngisap permen!” kembali Reza memberi perintah padaku, yang langsung saja
    kuturuti.

    Kuhisap penisnya dengan pelan dan lembut dengan harapan anak ini bisa segera menghentikan aksinya dan
    aku bisa terbebas dari siksaan ini. Herannya, selama beberapa menit kuoral, Reza masih saja tidak
    puas.

    Aku pun mulai kelelahan mempermainkan penisnya dalam mulutku, walaupun aku mulai terbiasa dengan
    situasiku sekarang.

    Entah setan apa yang merasukiku, namun saat aku mengingat bahwa aku sedang mengoral penis anak kecil
    yang tak lain adalah muridku, aku merasa hasrat seksualku kembali meninggi dalam tubuhku.

    Aku ingin sekali mencapai orgasme sekali lagi dan aku ingin mencoba sesuatu yang lebih hebat lagi
    bersama Reza. Pikiran itupun membuatku memainkan penis Reza sebaik mungkin dalam mulutku agar Reza
    mencapai kepuasannya.

    “Ookh…” Aku mendengar suara erangan panjang keluar dari mulut Reza dan saat itulah, aku merasa mulutku
    disembur oleh cairan kental berbau amis.

    Aku menyadari bahwa Reza baru saja berejakulasi dalam mulutku, dan kini mulutku dipenuhi spermanya.
    Reza kembali menekankan selangkangannya ke wajahku.

    “Telan kak! Jangan sampai bersisa!” Aku pun menuruti perintah Reza, kutelan semua sperma dalam
    mulutku, sekaligus kuhisap-hisap penis Reza agar spermanya tidak bersisa.

    Reza hanya mengerang keenakan saat penisnya kubersihkan dengan mulutku.

    “Woow… enaak… lebih enak dari onanii….” seloroh Reza.

    Namun aku tidak peduli, aku terus menghisap-hisap penisnya itu hingga aku yakin tidak ada lagi sperma
    yang tersisa. Setelah selesai, Reza mengeluarkan penisnya dari dalam mulutku.

    “Waah… Kakak jago banget lho! Enak sekali kak!”

    “Reza, kamu jahaat…” protesku.

    “Lho kenapa? Bukannya kakak sekarang sudah jadi pengantinku?” balasnya.

    “You may kiss your briide!!” sorak Reza tiba-tiba.

    Tanpa basa-basi, Reza segera mencium bibirku. Bibirku diemut-emut dengan lembut dan sesekali bibirku
    juga dijilati oleh lidahnya. Aku hanya membiarkannya mempermainkan bibirku sesuka hatinya.

    Pelan-pelan lidah Reza membelah bibirku dan lidahnya menyusup kedalam rongga mulutku. Aku pun merespon
    dengan menghisap lidah Reza dengan lembut. Sesekali juga kujulurkan lidahku, sehingga giliran Reza
    yang menghisap air ludahku yang menyelimuti lidahku.

    Gairah seksualku sekarang benar-benar menguasai tubuhku, semakin kuingat bahwa Reza yang saat ini
    sedang bercinta denganku, semakin aku tenggelam dalam hasratku. Selama beberapa menit kami terlibat
    dalam French kiss itu, sebelum akhirnya Reza menghentikan ciumannya di bibirku. Aku pun tampak kecewa
    saat Reza menjauhkan wajahnya.

    “Kenapa kak? Enak kan rasanya? Masih mau lagi?” tanyanya.

    Pertanyaan Reza itu seketika memancing gairah seksualku yang meningkat. Aku merasa ini adalah sebuah
    kesempatan bagiku, namun sebelum aku sempat menjawab, tiba-tiba Reza mengambil sehelai celana dalam
    putih berenda yang tadi kupakai dan menjejalkannya ke mulutku hingga celana dalamku memenuhi seluruh
    rongga mulutku. Belum puas, Reza juga melakban mulutku sehingga celana dalamku itu tersumpal sempurna
    didalam mulutku.

    “Mmfff….” Protesku pada Reza. Namun suaraku terhalang oleh celana dalam yang menyumbat mulutku.
    “Jangan dijawab dulu, Kak. Nanti ya, Reza mau istirahat dulu!”

    “Oh, Kakak juga boleh istirahat kok! Nah, daripada bosan, bagaimana kalau kakak nonton saja dulu?”
    lanjut Reza.

    Aku bisa mendengar suara televisi yang dinyalakan dan suara pemutar DVD yang dibuka oleh Reza. Setelah
    selesai, Reza lalu mendatangiku yang masih terbaring mengangkang di ranjang.

    “Jangan berontak ya, Kak! Kalau macam-macam, video kakak kusebarkan!” ancamnya.

    Reza lalu melepaskan ikatan kakiku di kedua tiang ranjang itu. Aku disandarkan ke kepala ranjang dan
    Reza menyandarkan sebuah bantal di punggungku dan juga sebuah bantal kecil di pantatku untuk kududuki
    agar aku merasa nyaman.

    Tali yang tadi dipakai untuk mengikat kakiku kini digunakan untuk mengikat sikut tanganku yang masih
    terikat di punggungku pada kedua tiang bagian atas ranjang canopy itu agar aku tidak kabur.

    “Oke deh! Rasanya sudah cukup!! Nah, kakak santai saja ya? Nikmati saja filmnya!” Reza lalu memutar
    DVD itu.

    “Mmff!!” Aku berteriak terkejut saat melihat adegan percintaan seorang wanita berambut pirang di layar
    televisi itu, rupanya Reza menyetelkan DVD porno untuk kutonton..

    “Kakak pelajari gayanya dulu, ya! Supaya nanti siap main dengan Reza! OK?!” Reza tersenyum dan
    beranjak pergi, meninggalkanku sendiri terikat di ranjang sambil berusaha menahan gejolak birahiku
    yang semakin mendera karena suguhan adegan panas dihadapanku.

    Aku pun terpaksa menonton film porno itu sekitar 2 jam. Yah, aku memang pernah melihat sekilas film
    porno di handphone teman-teman SMUku, namun mungkin karena ini pengalaman pertamaku melihat film porno
    selama itu, muncul keinginanku agar vaginaku dimasuki oleh penis seperti wanita bule yang ada di film
    porno itu.

    Pikiranku bergejolak, aku sadar bahwa aku akan kehilangan keperawananku apabila vaginaku dimasuki
    penis Reza, namun di sisi lain, aku penasaran akan rasa nikmat yang tampaknya melanda wanita di film
    itu saat vaginanya dimasuki oleh penis.

    Aku juga ingin merasakan kenikmatan itu. Apakah aku juga akan merasa senikmat itu apabila vaginaku
    dimasuki oleh penis? Aku masih bisa mengingat dengan jelas rasa nikmat saat vaginaku dijilati dan
    dipermainkan oleh Reza sebelumnya.

    Tentunya aku akan merasa lebih nikmat lagi apabila vaginaku dipermainkan oleh penis Reza. Lagipula,
    setidaknya aku tidak perlu khawatir akan hamil sebab masa suburku baru saja terlewati minggu lalu.

    Akhirnya rasa penasaran dan gairah seksualku mengalahkan perasaanku. Sudah kuputuskan, aku akan
    melayani Reza sepenuh hatiku. Aku sudah tidak peduli lagi akan statusku sebagai gurunya ataupun
    perbedaan usia kami, yang kini kuinginkan hanyalah mengejar kenikmatan seksualku semata. Bahkan status
    dan perbedaan usia kami malah menjadi sumber gejolak gairah seksualku.

    Detik dan menit berlalu, namun bagiku yang kini dikuasai gairah seksualku, serasa menunggu selama
    berhari-hari. Cairan cintaku sudah semakin banyak keluar dari vaginaku sehingga aku bisa merasakan
    bantal yang kududuki semakin basah.

    Akhirnya, pintu kamar itu terbuka juga dan masuklah Reza kedalam kamar itu.

    “Bagaimana kak? Sudah puas nontonnya?”

    “Sudah tahu kan bagaimana gaya-gayanya?” lanjutnya.

    Aku hanya mengangguk pelan dengan wajah memelas.

    “Bagus, bagus!! Kakak emang pintar!” ujarnya sambil membelai kepalaku dengan pelan, seolah memuji anak
    kecil.

    “Hff…” jawabku.

    “Nah, kalau begitu kakak mau tidak kalau aku setubuhi seperti di film?” muncullah pertanyaan yang
    sedari tadi kutunggu.

    Tanpa pikir panjang, aku langsung mengangguk sambil melihat wajah Reza. Namun Reza malah pura-pura
    tidak melihat sambil mematikan DVD playernya.

    “Apaa? Reza nggak bisa dengar nih!”

    “Mmff!!” Aku berusaha untuk meminta Reza melepaskan sumbatan mulutku agar aku bisa berbicara, namun
    Reza malah melepas ikatan di kedua sikutku sehingga aku terbebas dari ranjang canopy itu. namun
    tanganku masih terikat kencang di punggungku.

    Aku lalu dituntun turun dari ranjang. Reza tidak lagi mengawasiku dengan ketat. Ia tahu bahwa aku
    sekarang sudah tidak ingin kabur lagi.

    “Waah, udah gede masih ngompol yah, Kak?” ejek Reza saat melihat bekas cairan cintaku di bantal yang
    tadi kududuki.

    Aku hanya menggeleng pelan, namun kurasa Reza juga tahu bahwa itu adalah cairan cintaku yang meluber
    karena aku terangsang sedari tadi. Reza lalu menarikku kehadapan sebuah papan tulis putih di kamar itu
    yang ditempeli berbagai rancangan bu Diana.

    Reza melepas semua rancangan itu agar papan tulis itu bersih. Reza juga memposisikan tubuhku agar
    terjepit diantara sebuah meja dihadapanku dan papan tulis itu dibelakangku.

    Aku terkejut saat Reza dengan sigap menundukkan tubuhku di meja itu sehingga posisiku kini menungging
    kearah papan tulis itu. Reza juga menaikkan rok gaun dan petticoatku bagian belakang dan mengaitkannya
    di pita putih gaunku yang ada di pinggangku, sehingga kini pantatku terpampang jelas menungging
    didepan papan tulis itu.

    “Nah, gimana kalau kakak tulis saja apa yang kakak mau? Soalnya kakak nggak bisa ngomong sekarang”
    ujarnya dari belakang.

    Aku pun semakin heran, bagaimana caraku menulis dengan tangan terikat dan posisi tubuh menungging
    seperti ini? Aku hendak berdiri, namun punggungku ditekan ke meja itu oleh Reza.
    “Tahan sebentar ya, Kak” ujar Reza sambil membuka celah pantatku.

    Reza lalu menuangkan lotion ke jari telunjuknya dan mengusapkan lotion itu ke lubang pantatku. Sesaat
    aku merasakan jari Reza yang menempel dilubang pantatku bergerak pelan mengoleskan lotion itu dan aku
    bisa merasakan rasa dingin dan licin akibat lotion itu di pantatku.

    Setelah lubang pantatku selesai dilumuri lotion, aku merasa ada sesuatu di lubang pantatku, aku tahu
    benda itu bukanlah jari Reza karena benda itu terasa lebih besar dan keras dari jari Reza.

    “HMMFF!!” jeritku saat tiba-tiba aku merasakan rasa sakit yang luar biasa di lubang pantatku.
    Suatu benda yang panjang dan keras menekan memasuki lubang pantatku. Aku menoleh kebelakang dan
    melihat Reza memaksakan untuk memasukkan benda itu kedalam anusku. Benda itu diputarnya perlahan masuk
    kedalam pantatku seperti sekrup.

    Air mataku meleleh saat merasakan rasa perih yang amat sangat saat Reza memperawani anusku dengan
    benda itu. Lubang pantatku serasa tersayat-sayat dan rasa perihnya tak terkira.

    “Wuiih… lubang pantatnya seret banget! Padahal sudah dikasih lotion! Pasti masih perawan, nih!”
    komentar Reza yang terus memutar benda itu masuk kedalam anusku.

    Aku hanya bisa menggeleng-geleng keras memohon agar Reza menghentikan aksinya itu. Namun Reza terus
    memaksakan benda itu untuk masuk kedalam pantatku.

    “Oke! Selesai deh!” seru Reza.

    Aku menoleh kebelakang, aku amat panik saat menyadari sebuah spidol berukuran besar kini tertanam
    didalam pantatku. Spidol itu tampak mengacung tegak kearah papan tulis karena posisi tubuhku yang
    menungging.

    “Oops, tenang saja, Kak! Spidolnya sudah kumasukkan dengan baik, kok! Kakak tahan saja spidolnya
    dengan otot pantat kakak supaya tidak jatuh!” ujar Reza.

    Kata-kata Reza sama sekali tidak menenangkanku apalagi saat merasakan spidol besar yang sedang
    tertanam dalam pantatku.

    “Nah, ayo tulis apa yang kakak mau!”

    “MMFF!!” aku menggeleng memprotes Reza.

    Ide anak ini benar-benar gila! Aku yakin dia pasti mempelajari cara ini lewat film-film pornonya untuk
    mempermalukanku.

    “Ayoo, kalau tidak, kakak nanti kubiarkan seperti ini, lho! Spidolnya tidak akan kucabut kalau kakak
    tidak mau menurut!” ancamnya.

    “Mmm…” aku memelas mendengar ancaman Reza.Cerita Sex Dewasa

    Aku tahu kalau sedari awal aku tidak memiliki posisi menawar melawan Reza dengan kondisi seperti ini.

    “Nah! Ayo, tulis di papan tulis kak! Seperti waktu kita belajar! Sekarang, aku mau kakak mengajariku
    menulis!” ujar Reza sambil beranjak duduk dihadapanku, seolah sedang mendengarkan pelajaran di kelas.

    Aku berusaha tetap tenang dan mulai menggerakkan pantatku di papan tulis itu.

    “Mmf!” aku menjerit kecil dan mataku membelalak saat ujung spidol di pantatku menyentuh permukaan
    papan tulis.

    Pantatku terasa geli dan sedikit perih akibat tekanan spidol itu. Reza tampak senang melihat ekspresi
    wajahku yang dipenuhi rasa panik, malu dan bingung akan keadaanku sekarang. Perlahan-lahan aku
    berusaha untuk menulis dengan pantatku di papan tulis itu.

    Kaki dan pahaku ikut bergerak menaik-turunkan tubuhku yang menungging. Aku selalu merintih setiap kali
    satu goresan kutulis di papan tulis itu karena sensasi yang ditimbulkan spidol itu dalam pantatku,
    yang entah bagaimana semakin membangkitkan gairah seksualku.

    “Hati-hati lho, kak. Kalau terlalu ditekan, spidolnya bisa tergelincir masuk kedalam pantat kakak.
    Nanti tidak bisa keluar lagi lhoo…” sorak Reza.

    Dasar badung! Pikirku. Memangnya salah siapa kalau nanti spidol ini malah terselip masuk kedalam
    pantatku?! Malah sekarang aku yang harus berusaha keras menangkal resiko yang diciptakan oleh anak ini
    untuk tubuhku!

    Aku pun mulai kehilangan ketenanganku akibat sorakan Reza itu. Apalagi sesekali aku merasa spidol itu
    semakin masuk kedalam pantatku saat aku menulis. Namun aku tetap berusaha keras dan hasilnya, 5 huruf
    yang acak-acakan tertulis di papan tulis itu.

    Aku menghela nafas lega saat aku melihat hasil tulisanku itu. Sulit untuk dibaca memang, bahkan aku
    yakin tulisan anak SD pasti jauh lebih mudah dibaca dari tulisanku; namun aku yakin telah menulis
    huruf P-E-N-I-S di papan tulis itu.

    “Waah, tulisan kakak jelek sekali! Padahal katanya sudah kuliah!” kembali Reza mempermalukan diriku.

    Ia lalu berjalan kehadapanku, melepas lakban mulutku dan menarik keluar celana dalamku yang sedari
    tadi telah menjejali mulutku.

    “Ahh… ohk… ohkk…” Aku terbatuk-batuk dan menghela nafas lega.

    Kulihat Reza sedang mengendusi celana dalamku yang basah karena ludahku dan sesekali ia menghisap-
    hisap ludahku yang membasahi celana dalamku itu.

    “Hmmm… ludahnya kakak memang enaak… Nah sekarang coba kakak baca apa yang kakak tulis!”
    “Pe… penis…” ujarku pelan dengan perasaan yang amat malu.

    “Apaa? Apa yang kakak mau?” tanyanya dengan nada mengejek, seolah tidak mendengar ucapanku barusan.

    “Penis!!” jawabku tidak sabaran.

    “Penis siapa, hayooo?”

    “Penisnya Reza!!” aku mengumpulkan seluruh keberanianku untuk meneriakkan kata itu dan akhirnya
    terucap juga.

    “Iya deh! Nah, tahan sebentar ya, Kak!” Reza lalu berjalan kebelakang tubuhku yang masih menungging.

    Aku bisa merasakan ia memegang spidol yang tertanam dalam pantatku. Perlahan-lahan ditariknya spidol
    itu keluar dari pantatku.

    “Aww… auuch…” rintihku pelan saat merasakan gesekan batang spidol itu di permukaan lubang pantatku
    yang rasanya sedikit sakit, namun agak geli juga.

    Apalagi saat aku mengejan, pantatku terasa semakin nikmat dengan tekanan itu. PLOOP! Terdengarlah
    suara lepasnya spidol itu dari pantatku.

    “AAHH!!” Sontak aku berteriak merasakan kelegaan yang kembali ke lubang pantatku setelah sekian lama
    disumbat.

    Namun, sebelum aku sempat berdiri dan merasakan kelegaan, Reza segera menarik dan menghempaskan
    tubuhku ke ranjang canopy itu sehingga aku kembali terbaring diatas ranjang.
    “Aduh!” Aku segera berusaha bangkit, namun Reza segera menerkam dan menimpa tubuhku.
    “Jangan bergerak Kak!” perintahnya.

    Entah bagaimana, aku segera menuruti perintah Reza dan mulai merelakan tubuhku dipermainkan olehnya.

    “Sekarang kakak kupanggil pakai nama saja ya? Linda…” pintanya manja.

    “I, iya… terserah kamu…” jawabku dengan wajah memerah saat menatap wajah Reza yang ada tepat diatas
    wajahku.

    “Ah!” aku menjerit kecil saat Reza mencengkeram dan meremas-remas dadaku.

    Tangan kanannya menekan payudaraku dengan perlahan dan mencubitnya dengan lembut, sementara tangan
    kirinya menyibakkan rambutku. Reza lalu mendekatkan wajahnya dan mencium pipiku.

    “Linda, kamu wangi deh!” pujinya seraya melayangkan kecupan ke bibirku yang segera kubalas.
    Reza lalu duduk bersimpuh diatas ranjang itu dan memangku kepalaku diatas pahanya. Reza kembali
    menjamah payudaraku, namun kali ini ia mengulurkan tangannya menyusupi bagian dada gaunku.

    Jari-jarinya menjalar pelan diatas payudaraku sambil mencari puting payudaraku. Aku merasa agak sesak
    karena aku masih memakai BH, namun itu tidak menghalangi jari-jari nakal Reza untuk mempermainkan
    dadaku.

    “Aw!” aku merasakan puting payudaraku disentuh oleh jari Reza. Reza segera memencet putingku sehingga
    aku merasa seperti tersetrum oleh listrik di sekujur dadaku.

    “Ahh…” desahku pelan saat Reza kembali meremas payudaraku.

    Payudaraku digerakkan berputar pelan oleh jari Reza sambil sesekali memencet putingku. Aku semakin
    terhanyut saat Reza menyentil-nyentil puting payudaraku dengan kukunya yang agak panjang ataupun saat
    memencet puting susuku dengan kuku jempol dan jari telunjuknya.

    Saraf-saraf tubuhku kini semakin sensitif karena aku semakin terangsang dengan pijatan di payudaraku.
    Kakiku mulai menggeliat-geliat pelan dan aku bisa merasakan cairan cintaku kembali meluber dari
    vaginaku. Reza yang melihat pergerakan-pergerakan terangsang tubuhku, mengentikan aksinya.

    Kini ia kembali bergerak kearah selangkanganku. Ia lalu duduk dihadapan tubuhku yang masih terbaring

    “Nah, Linda. Ayo buka pahamu. Yang lebar ya!” aku merentangkan kakiku selebar mungkin dihadapan Reza.

    Ia tersenyum melihat aku yang tidak menolak perintahnya lagi. Reza lalu mengamati selangkanganku.
    Bagaimana kewanitaanku yang masih basah oleh cairan cintaku dan lubang pantatku yang terbuka sedikit
    setelah diperawani spidol, terhidang di hadapannya.

    Reza mencolek vaginaku dan mencicipi cairan cintaku yang ada di jarinya. Reza kembali membenamkan
    jarinya dengan pelan di celah vaginaku, jarinya bergerak lembut seolah mencari sesuatu.

    “Aww…” desahku pelan saat jari telunjuk Reza menyentuh klitorisku.

    Reza yang akhirnya menemukan apa yang dicarinya dalam liang vaginaku tampak kegirangan. Jarinya segera
    menyentil-nyentil klitorisku.

    Akibatnya, bisa ditebak, aku kembali melayang kelangit ketujuh. Aku merintih-rintih keenakan dihadapan
    muridku yang kini sedang memainkan gairah seksualku.
    “Aahh… ohh… aww…” desahanku semakin keras dan akhirnya tubuhku kembali serasa akan meledak.

    Punggungku melengkung bagai busur dan kakiku kembali menegang, siap untuk menyambut orgasmeku untuk
    yang kedua kalinya.

    Namun, Reza yang tahu bahwa aku akan orgasme segera mencabut jarinya keluar dari liang vaginaku;
    otomatis, kenikmatan yang sebentar lagi akan kucapai lenyap seketika.

    “Rezay… jahaat… ayo lagiii…” pintaku memohon pada Reza.

    “Apanya yang lagi, Linda?” tanyanya seolah tidak mengerti.

    “Ayoo… mainin vagina Lindaa… Linda sukaa…” jawabku seperti seorang pelacur rendahan.
    “Suka apa?”

    “Linda suka kalau vagina Linda dimainin Reza… ayo doong… Linda mau orgasme lagii… enaak…” kembali aku
    mempermalukan diriku sendiri.

    Aku sudah tidak bisa berpikir lagi karena tubuhku sudah sepenuhnya dikuasai dorongan seksualku yang
    sudah diambang batas.

    “Panggil aku “Sayang”! Kan kamu sudah jadi pengantinku!” perintah Reza

    “Iyaa… Reza sayaang… ayoo…” entah bagaimana aku terjebak dalam permainan psikologis Reza.
    Aku sekarang bertingkah seolah-olah dia adalah suamiku yang sah. Aku agak terkesan karena walaupun
    masih begitu muda,

    Reza sudah tahu bagaimana menjalankan trik psikologis untuk mempengaruhiku agar menuruti
    permintaannya, mungkin ini juga pengaruh dari video pornonya. Namun kuakui, permainan psikologis ini
    semakin membangkitkan gairahku dan aku amat menikmatinya! Sekarang hubungan kami bukan lagi seperti
    seorang murid dan guru, namun lebih seperti sepasang pengantin baru.

    “Nah, Linda. Boleh tidak kalau Reza memasukkan ‘adik kecil’ ke memek Linda?”

    “Boleh sayang… Linda kan pengantinnya Reza…” selorohku.

    Aku sekarang sudah rela memberikan keperawananku untuk Reza. Lagipula mulut dan pantatku kini sudah
    tidak perawan lagi, jadi tidak ada salahnya kalau aku sekalian merelakan kesucianku kepada Reza. Aku
    pun menarik rok gaunku hingga ke perutku sehingga kewanitaanku terpampang jelas sekali dihadapan Reza.

    “Ayo sayang. Linda mau orgasme lagi…” aku memohon pada Reza.

    Reza segera merespon dengan duduk dihadapan selangkanganku dan mengatur posisi tubuh kami sehingga
    penisnya sekarang berada di bibir kewanitaanku. Aku bisa merasakan penisnya yang kembali membesar
    seperti saat aku mengoralnya barusan menyentuh celah vaginaku.

    Aku menghela nafas, menyiapkan diriku untuk menerima kenyataan bahwa keperawananku akan direnggut
    sesaat lagi. Aku berusaha mengatur nafasku yang memburu untuk mengusir rasa takut dan cemas akibat
    degup jantungku yang amat kencang.

    “Bagaimana, Linda? Sudah siap?” aku mengangguk pelan menjawab pertanyaan Reza akan kesiapanku.

    “Reza… yang pelan ya? Jangan kasar…” pintaku kembali.

    Aku tidak ingin Reza memperawaniku seperti sebuah pemerkosaan, yang kuinginkan hanya agar aku bisa
    diperlakukan lebih lembut. Maklumlah, ini juga merupakan pengalaman pertamaku yang pasti akan berkesan
    seumur hidupku.

    Untunglah, Reza tampaknya mengerti akan perasaanku. Ia mengangguk dan sorot matanya seolah
    menenangkanku. Reza mulai mendorong pinggangnya ke depan. Sesaat penisnya berhasil membelah bibir
    vaginaku, namun mungkin karena vaginaku licin akibat cairan cintaku, penis Reza malah meleset keluar
    dari celah vaginaku. Mengakibatkan timbulnya suara tertahan dari mulutku.

    Reza kembali berusaha, namun tampaknya agak susah baginya untuk memasukkan penisnya kedalam vaginaku
    karena diameter penisnya juga cukup lebar (walaupun masih kalah dengan penis yang kulihat di film
    porno barusan), apalagi aku juga masih perawan sehingga liang vaginaku masih sempit.

    Setelah beberapa kali berusaha, Reza tampak kesal karena belum berhasil memperawaniku. Akhirnya ia
    meraih batang penisnya dan mengarahkannya tepat dihadapan celah bibir kewanitaanku. Tangannya masih
    kuat mencengkeram penisnya saat ia sekali lagi menggerakkan pantatnya ke depan dan…

    “AAGH!!!” aku membelalak dan menjerit keras saat merasakan rasa ngilu dan perih yang amat hebat
    melanda vaginaku.

    Akhirnya selaput daraku robek dan keperawananku sekarang lenyap sudah terenggut oleh Reza. Aku bisa
    merasakan penis Reza yang kini terjepit di vaginaku dan ujung penisnya didalam lubang pipisku.

    Reza kembali memajukan pinggulnya dengan pelan, mengakibatkan rasa sakit itu semakin mendera vaginaku.
    Bahkan rasanya jauh lebih sakit daripada saat pantatku diperawani oleh spidol barusan.

    “Reza, Reza!! Sakit! Sebentar!! Aduuh!!” aku kembali meminta dengan panik pada Reza.
    Air mataku meleleh akibat rasa perih itu.

    “Sebentar, Linda. Tenang ya, sebentar lagi…” jawab Reza sambil mendorong pinggangnya dengan pelan.

    Penisnya semakin dalam memasuki vaginaku diiringi dengan jeritan piluku yang tersiksa oleh rasa sakit
    itu. Kepalaku terbanting kekiri-kanan menahan rasa sakit, seolah menolak penetrasi Reza kedalam lubang
    vaginaku.

    “Ohh…” Reza melenguh dan menghentikan dorongannya. Aku bisa merasakan sepasang buah zakarnya
    bergelantungan di bongkahan pantatku dan paha kami yang sekarang saling bersentuhan.

    “Hhh…” aku mengambil nafas sejenak merasakan rasa sesak di vaginaku akibat besarnya penis Reza didalam
    lubang pipisku.

    Aku akhirnya sadar kalau sekarang ini seluruh penis Reza sudah terbenam sepenuhnya didalam
    kewanitaanku. Rambut-rambut kemaluannya yang baru tumbuh juga menggelitik selangkanganku. Untuk
    beberapa saat, kami terdiam dalam posisi itu. Reza memberiku waktu untuk menyesuaikan diri dengan
    keadaanku.

    “Linda…” panggil Reza pelan.

    “Ya?”

    “Hangat sekali rasanya didalam. Kamu lembut sekali, Linda…” pujinya.

    Aku tidak bisa merespon jelas karena rasa perih yang menyiksa ini, namun bisa kulihat kalau Reza
    tampak mencemaskan keadaanku.

    “Sakit ya?” tanyanya penuh perhatian

    “I, iya, sakit sekali…” jawabku pelan.Cerita Sex Dewasa

    “Sekarang kita sudah bersatu lho, Linda. Aku dan kamu sekarang jadi satu…” Aku mengangguk membenarkan
    pernyataan Reza.

    Memang, sekarang tubuh kami sudah bersatu karena kemaluan kami masing-masing telah menyatukan tubuh
    kami.

    “Reza… sakiit…” protesku pada Reza.

    Reza terdiam, ia hanya mengusap air mataku.

    “Sabar ya, Linda? Sebentar lagi pasti enak kok!” Reza lalu menarik penisnya sedikit vaginaku dan
    dengan pelan dilesakkannya kembali kedalam liang vaginaku.

    Rasa pedih kembali menyengat vaginaku, namun Reza selalu berusaha menenangkanku. Aku merasa tampaknya
    Reza juga tahu bagaimana sakitnya saat seorang gadis diperawani untuk pertama kalinya karena ia selalu
    berusaha memompa penisnya selembut mungkin untuk mengurangi rasa sakitku.

    Lama kelamaan, muncul rasa nikmat dari vaginaku akibat gerakan penis Reza. Walaupun masih bercampur
    dengan rasa perih, aku bisa merasakan bahwa sensasi baru ini berbeda dari saat vaginaku dioral dan
    dipermainkan oleh jari Reza. Sensasi ini lebih menyentuh sekujur syarafku.

    Reza kembali membelai pahaku sambil menjilatinya pelan sehingga gairah seksualku kembali bangkit
    perlahan.

    Rasa perih itu semakin hilang dan digantikan dengan sensasi baru di tubuhku. Rasa geli, sakit dan
    sesak yang melanda vaginaku memberikan sensasi tersendiri yang mengasyikkan. Reza yang melihat bahwa
    aku sudah terbiasa akan pergerakannya mulai leluasa mengatur gerakannya.

    Sekarang penisnya ditarik keluar hingga hanya tersisa pangkal penisnya saja dalam vaginaku otomatis
    bibir vaginaku ikut tertarik keluar. Tiba-tiba, Reza mendorong pantatnya mendadak dengan cepat
    sehingga penisnya kembali menghunjam liang vaginaku dengan keras.

    “Hyahh…” jeritku kaget, namun sekarang rasanya tidak lagi perih seperti tadi.

    Reza mulai menggerakkan penisnya dengan tempo yang lebih cepat, membuatku akhirnya melenguh-lenguh
    nikmat merasakan sensasi di vaginaku.

    “Oohh…ahhh….aahh…aakhh…” aku mendesah-desah keenakan saat penis Reza menghunjam vaginaku.

    Sesekali Reza berhenti menggerakkan pinggangnya saat penisnya tertanam penuh dalam vaginaku dan mulai
    menggoyang-goyangkan pantatnya sehingga penisnya seolah mengaduk-aduk isi liang vaginaku, membuatku
    semakin melayang diatas awan kenikmatan seksual.

    Semakin lama, kurasakan tempo goyangan penis Reza semakin cepat keluar-masuk vaginaku dan menggesek
    klitorisku saat memasuki vaginaku. Tubuhku juga berguncang mengikuti irama pompaan penis Reza seiring
    dengan desahan-desahan erotis dari bibirku.

    Malah, saat Reza menghentikan gerakan penisnya, secara otomatis aku menurunkan pinggulku menjemput
    penisnya, seolah tidak rela melepaskan penisnya itu.

    Reza terlihat puas melihatku yang sekarang sudah berhasil ditaklukkan olehnya. Tidak terasa sudah
    sekitar 10 menit sejak penis Reza memasuki vaginaku pertama kalinya. Reza masih dengan giat terus
    menggerakkan penisnya menjelajahi vaginaku. Sementara aku sendiri sudah kewalahan menerima serangan
    kenikmatan di vaginaku, orgasmeku sudah siap meledak kapan saja.

    “OH! AAKHHH…!!!” akhirnya aku menjerit keras dan tubuhku terbanting-banting saat aku merasakan
    gelombang kenikmatan yang melanda seluruh simpul syarafku, mengiringi ledakan orgasmeku untuk kedua
    kalinya.

    Tanpa bisa kukontrol, kakiku menendang bahu Reza sehingga Reza terpelanting ke ranjang. PLOP! Otomatis
    terdengar suara pelepasan penisnya yang tercabut keluar dari vaginaku seiring dengan rebahnya tubuh
    Reza di ranjang.

    Cairan cintaku yang hangat kembali terasa meluap dari celah kewanitaanku. Reza bergerak menjauh
    sedikit membiarkan tubuhku bergerak liar meresapi kenikmatan orgasme yang saat ini kurasakan.

    Setelah merasakan ledakan orgasme itu, tubuhku kembali melemas, serasa tenagaku lenyap seluruhnya.
    Nafasku terasa berat dan degup jantungku juga masih saja kencang. Reza membiarkanku beristirahat
    sesaat untuk mengembalikan staminaku.

    “Waah, nggak nyangka nih! Padahal tampangnya alim, tapi rupanya Linda memang galak kalau orgasme!”
    Reza menggodaku .

    “Gimana? Enak nggak rasanya?” tanyanya padaku.

    Aku mengangguk pelan sambil tersenyum kecil.

    “Mau lagi?” kembali Reza bertanya menantangku.

    “Mau…” jawabku mengiyakan.

    “Nah, sekarang ikut aku kak!” Reza menarik tanganku turun dari ranjang dan melepas ikatan kedua
    tanganku.

    Aku lalu digandengnya kehadapan meja rias bu Diana. Meja rias itu delengkapi sebuah cermin besar
    sehingga aku bisa melihat penampilanku dengan jelas dihadapan cermin itu.

    “Linda, sekarang coba kamu menungging!” aku pun membungkukkan badanku dan menumpukan tubuhku pada
    kedua lenganku yang menekan meja rias bu Diana, sehingga aku dalam posisi menungging dihadapan cermin
    meja rias itu.

    “Lebarkan pahamu dan coba lebih menunduk!” kembali Reza memberi perintah yang segera kuturuti, pahaku
    kulebarkan dan aku semakin menunggingkan tubuhku.

    Reza lalu menyingkapkan rok gaunku dan menaikkan petticoatku dari belakang dan menjepitnya dengan pita
    gaunku, sehingga kembali pantat dan vaginaku terpampang jelas dihadapannya. Reza lalu berdiri
    dibelakangku, aku bisa melihat tubuhnya yang berdiri dibelakang pantatku lewat cermin itu. Tampaknya
    Reza memang ingin agar aku bisa melihat keadaan sekitarku lewat cermin itu.

    “Auuch…” aku merintih pelan saat penis Reza kembali menghunjam vaginaku dari belakang.
    Sekarang Reza memegang pinggulku dan menggerakkannya maju mundur sehingga vaginaku dihentak-hentakkan
    oleh penisnya.

    “Aw… aakhh… aawww…” rintihku saat gesekan antara kemaluan kami kembali menimbulkan sensasi kenikmatan
    yang melanda tubuhku.
    Suara beturan tubuh kami juga menggema didalam kamar itu mengikuti desahan-desahan yang keluar dari
    bibirku.

    “Linda, coba kamu lihat cermin.” Perintah Reza sambil terus memompaku.

    Aku menatap cermin dan aku bisa melihat ekspresi wajah cantikku yang tampak dilanda kenikmatan di
    tubuhku. Aku bisa melihat mataku yang sayu dan bibirku yang megap-megap berusaha mencari nafas dan
    melontarkan desahan-desahanku.

    “Apa yang kamu lihat di cermin itu?” tanyanya

    “Linda… aakh… Linda jadi… pengantin… Reza… auuhh…” jawabku terbata-bata.

    “Oh ya? Apa yang sedang dilakukan Linda, pengantin Reza itu?”

    “Oohh… Linda… Linda sedang disetubuhi… aww… Reza… ahh…”

    “Bagaimana menurutmu, penampilanmu sekarang?”

    “Linda… Linda jadi… aww… cantik sekali… Linda… suka… gaun Linda… juga… ahh… indah…”

    “Linda senang tidak jadi pengantin?” ujar Reza.

    Aku hanya menganggukkan kepalaku merespon pertanyaan Reza karena mulutku sekarang sedang sibuk
    mendesah penuh kenikmatan.

    Memang dengan penampilanku sebagai pengantin saat ini, aku tampak cantik sekali. Saat aku melihat
    wajah cantikku itu tampak dikuasai oleh gairah seksualku, entah kenapa aku semakin terangsang. Apalagi
    saat aku melihat diriku yang sedang disetubuhi dari belakang oleh Reza, dalam balutan busana
    pengantinku yang indah, gairah seksualku semakin meningkat drastis.

    “Oouch… ahhh…aww…” aku berusaha menggapai orgasmeku, namun Reza malah berusaha bertahan agar aku tidak
    mencapai orgasmeku dengan cepat.

    Sesekali gerakannya dipercepat, namun saat merasakan aku akan mencapai orgasmeku, ia segera
    menghentikan serangan penisnya di vaginaku. Akibatnya siksaan orgasmeku semakin mendera tubuhku.

    “Rezay… kamu jahaat… auuch… Linda mau orgasmee…hyaah…” aku memprotes perlakuan Reza padaku.

    “Iyaa… soalnya Linda kan sudah orgasme dua kali! Reza juga mau! ” balasnya.

    Memang benar, dari tadi Reza terus memberi pelayanan yang membuatku mencapai orgasme dua kali, namun
    dia sendiri hanya sekali berejakulasi dalam mulutku. Tiba-tiba, Reza menghentikan gerakannya, sehingga
    aku mendesah tertahan sejenak. Aku cemas karena tampaknya Reza tidak berminat lagi meneruskan
    pompaannya.

    “Sekarang, giliran Linda yang gerak, ya?” pinta Reza yang segera kurespon dengan senang hati.
    Goyangan maju-mundur pantatku pun menjemput dan mempermainkan penisnya dalam vaginaku.

    Aku merasa lega karena setidaknya vaginaku masih bisa merasakan kenikmatan dari persetubuhanku dengan
    Reza. “Linda, ayo lihat cerminnya lebih dekat!” kembali aku menuruti perintah Reza.

    Wajahku kudekatkan pada cermin itu sehingga cermin itu mengembun akibat hembusan nafasku. Aku bisa
    melihat pantatku yang kini bergerak maju-mundur dan ekspresi nikmat di wajah Reza.

    “Linda suka lihat cerminnya?”

    “Iyaa… wajah Linda cantiik… eeghh… dan nakaal…”

    “Jadi, Linda cewek yang nakal yaa?” tanyanya sedikit menggodaku sambil menghentakkan penisnya secara
    tiba-tiba di vaginaku.

    “Aww… iyaa… Linda memang nakaal…” celotehku tanpa pikir panjang.

    “Bagaimana, rasanya enak tidak dientot, Linda?”

    “Mmm… aah…enaak… nikmaaat… Linda sukaa…”

    “Kalau begitu, boleh kan kalau Reza mengentoti Linda lagi?” selorohnya.

    “Boleeh… Linda… auuh… boleh dientot Reza… kapaan saja… Linda kan… sudah jadi… pengantin Reza… oh…”
    jawabku yang sekarang sudah sepenuhnya takluk oleh Reza.

    “Kalau begitu, Linda tidak boleh selingkuh dengan orang lain ya?”

    “Iyaa… ooh… Reza sayaang… Linda cuma mau dientot Reza sajaa… nggak mau sama cowok laiin…” secara
    otomatis aku menyatakan kesetiaanku pada Reza.

    Reza terus mempermainkan mentalku sambil mempermalukanku. Anehnya, dipermalukan sedemikian rupa, malah
    semakin merangsangku dan aku semakin mempercepat gerakan pantatku walaupun sendi-sendi paha dan
    pinggangku terasa ngilu akibat kelelahan. Akhirnya Reza mencengkeram pinggulku dan menghentikan
    pergerakanku.

    “Rezay… kenapaa?” tanyaku penuh kekecewaan.

    “Sekarang giliranku ya, Linda?” aku hanya mengangguk pelan mengiyakan permintaan Reza.
    Ada untungnya juga bagiku karena tubuhku sudah amat lelah dan aku juga merasa aku tidak bisa
    melanjutkan gerakanku lebih lama lagi. Reza kembali menggerakkan pinggulku maju-mundur dengan cepat
    sehingga aku semakin kewalahan.

    Dengan nakalnya, Reza melesakkan jari telunjuknya kedalam lubang pantatku. Tidak seperti tadi, anusku
    yang sekarang sudah amat becek akibat lelehan cairan cintaku yang sekarang juga meluber ke anusku.

    Lubang pantatku dengan mudahnya menelan jari telunjuk Reza sehingga kembali rasa perih yang sedikit
    nikmat melanda anusku. Jari telunjuk itu lalu digerakkan seirama dengan gerakan penisnya di vaginaku
    sehingga aku semakin tenggelam dalam kenikmatanku.

    Desahan-desahanku semakin keras karena sensasi di selangkanganku saat ini dimana penis Reza masih
    terbenam dalam vaginaku, sementara jari telunjuknya berputar-putar menjelajahi isi pantatku apalagi
    saat jarinya mempermainkan saraf di sekitar lubang pantatku. Saat aku mengejan, Reza malah semakin
    memasukkan jarinya lebih dalam kedalam pantatku sehingga sensasi rasa geli dan sakit di anusku kian
    menjadi.

    Aku semakin kewalahan dengan rasa nikmat yang datang menguasai tubuhku apalagi aku bisa merasakan
    otot-otot tubuhku yang menegang lebih keras dari sebelumnya, aku mengepalkan tanganku dengan keras
    menahan desakan dari dalam tubuhku. Namun sekuat-kuatnya aku berusaha menahan diri, akhirnya
    pertahananku runtuh juga.

    “Ahhk… aah… AKHHH!!!” dengan diiringi teriakanku, orgasmeku kembali meledak.

    Aku merasakan vaginaku berdenyut keras seolah menyempit dan penis Reza semakin terjepit erat di
    dinding kewanitaanku. Tubuhku langsung dialiri oleh ledakan rasa nikmat dan kelegaan yang luar biasa.

    “OOKH… Lindaa…” Merasakan sensasi jepitan vaginaku saat orgasme, Reza akhirnya tidak bisa menahan
    dirinya.

    Sekali lagi dihentakkannya penisnya sekeras mungkin kedalam vaginaku dan saat itu pula aku merasakan
    cairan hangat menyembur dari penis Reza memenuhi rahimku.

    Reza pun mencabut jarinya dari lubang pantatku sebelum menarik penisnya keluar dari vaginaku setelah
    spermanya telah tertuang sepenuhnya kedalam rahimku. Aku tidak tahan lagi melawan rasa lelah tubuhku.

    Setelah mencapai orgasmeku itu tubuhku serasa kehilangan seluruh tenagaku. Aku pun jatuh lunglai tanpa
    tenaga di lantai kamar bu Diana. Reza menghampiriku yang masih tergeletak lelah dan mencium bibirku
    sekali lagi dengan lembut sambil melumat bibirku. Aku menggerakkan bibirku membalas kecupan Reza
    dengan pelan sebelum rasa lelah mengalahkanku sehingga aku pun tertidur kelelahan.

    Baca Juga Cerita Sex Lobi – Lobi

    Aku terbangun saat kurasakan sentuhan lembut di pipiku. Saat aku membuka mataku, aku melihat Reza
    sedang duduk disampingku yang kini terbaring di ranjang bu Diana. Aku masih berbusana pengantin
    lengkap seperti sebelumnya.

    Melihatku yang terbangun, Reza segera membelai kepalaku dengan penuh kasih sayang. Aku merasa terkesan
    dengan perhatiannya, belaiannya terasa lembut melindungiku seolah menjawab perasaanku sebagai seorang
    wanita yang ingin dilindungi dan diperhatikan oleh seorang kekasih.
    Akhirnya kusadari kalau aku telah jatuh cinta pada Reza. Walaupun bisa disebut sebagai cinta terlarang
    antara guru dan murid, namun bagiku hal itu sekarang bukan lagi hambatan bagiku. Aku hanya ingin agar
    bisa bersama dengan Reza selama mungkin.

    Lagipula, dialah yang telah membuatku menjadi pengantinnya dan merenggut keperawananku yang tadinya
    kujaga dengan baik demi calon suamiku dimasa depan. Jadi, wajar saja kalau dia berhak menerima
    cintaku.

    “Linda, kamu akhirnya bangun juga…” panggil Reza pelan.

    “Ya, sayang…” jawabku manja sambil melihat wajahnya.

    “Kamu suka tidak sama Reza?” tanyanya dengan mimik cemas.

    “Linda cinta Reza kok! Linda mau jadi pengantin Reza selamanya!” jawabku mantap.

    “Benar?” tanyanya dengan ragu.

    “Iyaa… kan Linda sudah jadi pengantin Reza? Niih lihaat!” jawabku nakal sambil memamerkan gaun
    pengantinku.

    Reza tersenyum melihat tingkahku itu dan ia segera mencium bibirku. Sekali lagi kami berciuman diatas
    ranjang itu dan kali ini, tidak ada paksaan atas diriku untuk memadu kasih dengan Reza. Perasaanku
    terhadap Reza telah berubah seluruhnya menjadi perasaan cinta sepenuh hatiku.

    Sekarang aku adalah seorang pengantin wanita bagi seorang lelaki yang telah berhasil menaklukkan
    hatiku dengan kehebatannya bercinta denganku. Reza juga tampak bahagia karena berhasil menjadikanku
    sebagai kekasih hidupnya. Ya, sekarang aku telah menjadi pengantin muridku, Reza!

  • Pijatan Lelaki Macho

    Pijatan Lelaki Macho


    13 views

    Berterimakasih aku diberi suami yang kaya dia berprofesi sebagai pengusaha , kami sudah mempunyai dua
    anak yang mana kebetulan kesemuanya adalah cowok dan usianya sudah cukup dewasa mereka memilih untuk
    bersekolah di luar negeri, sedangkan suamiku orangnya cukup sibuk dengan usahanya.

    cerita-sex-dewasa-pijatan-lelaki-macho

    Akhirnya tinggallah aku sendiri dirumah dengan segala kesepian, apalagi jika pagi hari aku selalu
    termenung, karena dirumahku yang besar tinggal hanya aku sendiri ditemania seorang pembantuku, jika
    malam hari pun sama setelah pembantuku habis beraktifitas mereka langsung istirahat , cuman acara
    televisi yang selalu setia menemaniku.

    Karena semua acara sudah aku hafal dan semua menjadi tidak menarik lagi. Aku mencoba untuk mulai
    beraktifitas dengan tetangga, tapi menjadi percuma karena tetanggaku semua sibuk dengan urusan masing
    – masing. Karena stress di rumah, aku memutuskan untuk pergi ke tempat sahabatku Lena, di Jakarta. Hal
    itulah yang membuat aku berubah total dan drastis.

    Hai Len, udah tidur belon?

    Belon, lagi nonton TV. Ada apa ? Koq tumben kamu malem malem nelpon.

    Gue lagi stress banget nih, sejak anak-anak pergi ke Singapore di rumah sepi banget. Mana Ruben gak
    pulang-pulang. Boleh gak gue nginep di rumahmu ?

    Jelas bolehlah, kamu kayak ama siapa aja. Kita khan udah kayak sodara.

    Iya tapi gue khan takut ngeganggu elo en suami kamu. ( Lena anaknya dua satu cowok, satu lagi cewek.
    Yang cowok kuliah di Amerika, sedangkan yang cewek udah nikah trus ikut suaminya ke Aussie )
    Its oke koq, William lagi pergi ke Amrik mungkin 2 3 minggu lagi baru pulang.

    Ya udah kalo gitu, besok jemput gue di airport ya. Gue naek pesawat paling pagi.

    Oke, ntar pagi gue suruh sopir standby di bandara.

    Itulah pembicaraan singkat dengan sahabatku malam sebelum keberangkatanku.

    Ketika mobil berhenti tepat di depan pintu rumah, ku lihat Lena bergegas menghampiriku, lalu kami
    berpelukan sambil bercipika cipiki. Wah wah makin cantik dan sexy aja nih kata Lena sambil menatapku
    dari atas sampai ke bawah.

    Ah, biasa aja, kamu sendiri juga oke , spa di mana ? Gue pengen di pijit nih biar relax. Ah bisa aja
    deh, gue cuma luluran aja di rumah.

    Kalo cuma pijit sih, Iwan juga bisa. Yang ngelulur en mijitin aku khan si Iwan. jago lho, di jamin
    ketagihan deh.

    Iwan .. ? Siapa Iwan ? Sopir pribadi gue, yang tadi ngejemput kamu.

    Sekarang kamu ke kamar, ntar gue suruh si Iwan ke kamar kamu Tapi Len.., gue khan malu. Masak yang
    mijit cowok, masih muda lagi. Udah kamu tenang aja, ntar gue temenin deh biar kamu nggak risih

    Sesampainya di kamar, aku berbaring sejenak membayangkan Iwan yang akan memijitku, menyentuh bagian-
    bagian tubuhku yang sudah lama tidak disentuh oleh suamiku. Orangnya masih muda kira-kira umur 25
    tahun, tinggi sekitar 177 cm, berat sekitar 70 kg, berkulit sawo matang tapi bersih sehingga memberi
    kesan macho, dengan rambut berpotongan rapi, sopan dan ramah terlebih sorot matanya yang tajam dan
    rahang yang memberikan kesan gagah.

    Apabila dalam setelan safarinya, terlihat seperti seorang bodyguard. Sehingga aku merasakan ada suatu
    desiran aneh dalam diriku. Seperti adrenalin yang bergejolak, membuatku darahku bergejolak, dan aku
    pun terbuai dalam lamunanku sendiri.

    Toktoktok suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Siapa ? Iwan, bu. Lalu akupun melangkah dan
    membuka pintu. Ku lihat Iwan sudah berganti pakaian, dari setelan safari berganti dengan celana jeans
    dan kaos ketat tipis warna putih yang semakin memperlihatkan otot-otot lengannya yang kekar, juga six
    pack perutnya terlihat menonjol.

    Aku sempet berpikir, koq kayak model iklan susu L-men, tadi kayak body guard. Hebat juga Lena nyari
    sopir pribadi, jangan-jangan dia sopir plusnya Lena, tapi segera ku tepis pikiranku.

    Mari masuk, lho.. bu Lena mana ? tadi sedang terima telpon, saya disuruh duluan, jawab Iwan dengan
    sopan. Hm, ya udah kamu tunggu sebentar saya ganti dulu. Iya bu, permisi, jawabnya.

    Lalu aku pun berjalan ke kamar mandi, setelah pintu ku tutup, ku buka pakaianku. Ku pandang tubuhku
    dari kaca besar yang terletak di atas wastafel. Ku putar ke kiri dan ke kanan, benar juga apa yang di
    katakan sahabatku tadi.

    Tubuhku, walaupun sudah beranak dua masih terlihat seperti iklan Tropicana Slim, memang agak montok
    sedikit membuat terlihat lebih sekal. Di usia yang hampir memasuki kepala empat, dengan tinggi 169 cm
    dan berat 53 kg, di tunjang dengan payudara 34 B, aku masih tidak kalah dengan anak-anak remaja
    sekarang.

    Maklumlah aku sering spa untuk mengurangi stress yang ku alami, tak heran jika kulitku pun putih
    mulus. Bahkan selulitku telah ku buang melalui operasi di Singapore setelah aku melahirkan anak yang
    kedua.

    Lalu kuperhatikan wajahku, meski ada sedikit keriput samar di daerah mata, tapi menurutku wajahku
    masih cukup cantik. Karena di kala aku pergi shopping atau sekedar jalan-jalan di mall, banyak lelaki
    termasuk remaja melirik ke arahku, bahkan ada di antara mereka bersuit ke arahku.Cerita Sex Dewasa

    Ku libatkan handuk di sekeliling tubuhku, lalu kurapikan rambutku, aku pun berjalan ke luar.
    Ketika ku tutup pintu kamar mandi dari luar, Iwan bangkit berdiri dan menatapku. Ku lihat dia terpana
    melihatku yang hanya berbalut selembar handuk dengan rambut yang tergerai di bahu.

    kenapa Wan ? Eh, enggak bu.

    Ibu terlihat cantik sekali, mirip cerita bidadari yang di filem filem.

    Ah, kamu bisa aja Wan, pinter ngerayu.

    Udah berapa pacar yang kena ama rayuan kamu? kataku sambil duduk di springbed.

    Enggak ada bu, saya gak punya pacar. Dulu waktu sma pernah punya pacar, tapi pas lulus langsung di
    nikahin sama bapaknya.

    Bapaknya gak mau anaknya pacaran sama orang miskin kayak saya.

    Ibu mau dipijit sekarang ? Ehm, boleh deh kataku sambil berbaring. Iwan pun melangkah ke kasur sambil
    membuka tutup body lotion.

    Permisi bu, lalu kurasakan tangan Iwan menyentuh telapak kakiku. Ada rasa geli dan nyaman ketika Iwan
    memijit telapak kakiku. Setelah beberapa menit, pijitan mulai naik ke betis dan setengah pahaku,
    karena separuh pahaku yang atas masih terlilit handuk.

    Hem, benar juga yg dibilang Lena, nyaman juga pijitannya. Tapi koq Lena gak nongol-nongol, sahabatku
    itu kadang kalo nelpon bisa ber jam-jam lamanya, paling cepat 1 2 jam. Ah terserahlah, aku udah gak
    peduli karena terhanyut dalam pijitan-pijitan Iwan, sehingga tanpa sadar akupun terlelap.

    Entah sudah berapa menit, tiba-tiba aku merasa ada yang memanggilku. Bu..bu..Vina ya, ada apa jawabku
    dalam keadaan setengah sadar.

    Maaf, saya buka handuknya ya bu. Kakinya udah selesai dipijit, sekarang mau mijit punggungnya Ya,
    silahkan jawabku spontan. Ketika tangan Iwan menyentuh bahu dan pundakku, kesadaranku mulai pulih.

    Aku teringat keadaan saat ini, di mana Lena masih belum selesai menerima telepon. Sedangkan aku hanya
    berdua dengan Iwan, sedangkan tubuhku hanya bagian depan yang tertutup, karena aku berbaring
    tengkurap, sebagian dari payudaraku yang tertekan pasti terlihat.

    Berbagai perasaan terbersit dalam hatiku, karena ini pengalaman pertamaku disentuh oleh lelaki selain
    suamiku. Biasanya aku selalu dipijit oleh wanita, hal inilah yang membuatku menolak saat sahabatku
    menyarankan Iwan untuk memijitku.

    Dengan pemijat segagah Iwan, dan juga setelah sekian lama aku belum melakukan hubungan intim hal ini
    membuat hatiku berdebar-debar. Antara rasa malu dan nafsu yang mulai menghinggapi diriku.

    Hilang sudah rasa nyaman, berganti dengan perasaan aneh yang perlahan muncul seiring dengan pijatan
    Iwan. Sehingga saat perasaan aneh itu sudah menguasai diriku, tanpa sadar aku mulai mendesis kala
    tangan Iwan mengenai daerah-daerah sensitifku.

    Dia mengurut dari pinggul bawah ke atas, lalu tangannya beralih menuju pundak, ketika tangannya
    menyentuh leherku, aku langsung menggelinjang antara geli dan nafsu. ceritasexdewasa.org Di situ merupakan daerah sensitif
    keduaku, di mana yang utama adalah clitorisku.

    Sehingga aku semakin liar mendesis dan tanpa sadar aku berbalik. Dengan napas tersengal-sengal ku buka
    kelopak mataku, kutatap Iwan yang menatapku dengan posisi berdiri diatas lututnya. Ku lihat peluhnya
    bercucuran sehingga kaosnya basah oleh keringat, membuat tubuhnya jadi semakin sexy.

    Aku sudah kehilangan akal sehatku, sehingga aku sudah tak ingat lagi bahwa tubuhku yang telanjang kini
    terpampang jelas di hadapan Iwan. Iwan pun seolah mengerti akan keadaanku lalu di ambilnya handuk yang
    tadi melilit tubuhku.

    Di lapnya keringat di wajah, lalu ketika dia membuka kaosnya langsung aku ambil handuk ditangannya. Ku
    seka keringatnya sambil kuraba tubuhnya, karena tubuh suamiku sangat berbeda dengannya.

    Kuraba dadanya yang bidang, lalu tangan kiriku turun hingga six packnya sambil kuciumi dadanya.
    Sedangkan tangan yang satu lagi membelai punggungnya yang juga berotot. Ketika tangan kiriku meraih
    kancing celana jeans nya, tangan kanannya menangkap tangan kiriku, lalu tangan kirinya meraih
    pinggangku.

    Sambil menarik pinggangku ke atas, dilumatnya bibirku. Oohh.. aku merasakan sentuhan yang berbeda dari
    yang pernah aku rasakan. Kubalas dengan melumat bibir bawahnya, lalu kurasakan lidahnya menerobos
    masuk ke dalam mulutku, kami saling melumat.

    Lalu di rebahkannya aku, dan dia membuka kancing celananya. Pemandangan itu sungguh erotis sekali di
    hadapanku, aku bangkit lagi dan ku elus celana dalamnya yang terlihat kepenuhan itu. Ku cium bagian
    atasnya, tak tercium bau kejantanannya, tampaknya dia cukup merawat miliknya itu.

    Ku kecup kepalanya sambil ku pelorotkan celana dalamnya. Oohh, gelegak nafsuku semakin menggelora.
    Segera kumasukkan batangnya ke dalam mulutku, ku sedot keluar masuk, ku dengar rintihannya yang
    membuatku semakin panas.

    Ketika ku lihat ke atas, tampak dia terpejam menikmati sedotanku. Setelah ku hisap selama kurang lebih
    sepuluh menit, Iwan menghentikan gerakanku. Di lumatnya lagi mulutku sembari membaringkan aku di
    tempat tidur.

    Lalu dilumatnya leherku, sehingga aku kembali menggeliat liar. Ekhs.., wan Ku cengkeram sprei tempat
    tidur, sementara tangan yang satu lagi mencengkram punggungnya. Tampaknya Iwan sudah mengetahui
    kelemahanku, dia segera berpindah untuk melumat bukit kembarku.

    Lidahnya melumat habis kedua bukitku beserta ujung ujungnya. Sementara tangannya terus turun meluncur
    melalui perutku, sampai pada bukit kecilku yang berbulu tipis yang kini sudah semakin basah.

    Aku memang selalu rajin mencukur bulu jembutku, karena aku suka memakai celana dalam G-string.
    Tangannya kini sudah mencapai lipatan vaginaku, dan tersentuhlah clitorisku. Aku langsung tersentak,
    seperti terkena setrum ribuan volt. akhs.. wan jeritku sambil meremas rambutnya.

    Sementara tangan Iwan bermain di selangkanganku, lidahnya kini turun ke perutku, bermain sebentar di
    seputar perut lalu kembali turun ke vaginaku. Kedua belah tangannya memegang kedua belah pahaku,
    sambil di pandanginya meqi ku yang basah oleh cairan kewanitaanku.

    Meqi bu Vina indah sekali.. perkataan itu seakan memberi suntikan gairah sehingga ku berkata dengan
    merintih ayo wan.. jangan di liatin aja langsung di benamkannya bibirnya ke dalam meqi ku, sementara
    hidungnya mengenai clit ku, sehingga aku langsung tersentak mendongak ke atas.

    Di julurkannya lidahnya menyapu bagian dalam vaginaku, sehingga aku merasa seperti ada yang
    menggelitiki memekku itu. oohhh.terus wan..terus. rintihku sambil terus meremasi rambut di kepalanya.

    Tangannya menggapai kedua belah payudaraku, sambil meremasi sesekali dia pelintir kedua pentilku.
    Membuatku menjadi semakin liar, dan ku rasakan badai kenikmatan yang terus menggelora di dalam diriku.

    Sampai akhirnya saat bibir iwan mengecup lalu menghisap clit ku, aku tersentak sedemikian hebatnya
    sambil menjerit Aaakkhhsss wwaaannnn ku jepit kepalanya sambil kuangkat pinggulku tinggi tinggi, kedua
    tanganku menjambak rambutnya.

    Iwan pun tak henti hentinya terus menusuki memekku dengan lidahnya sembari memutarkan kepalanya,
    dihisap dan dijilatinnya hingga habis cairan yang keluar meleleh dari memekku, aku pun serasa terbang
    di awan-awan.

    Seketika itu tubuhku melemas, iwan pun merangkak naik ke arahku, di peluknya diriku, di kecupnya
    keningku lalu dilumatnya bibirku. Akupun membalasnya dengan melumat kembali bibirnya yang menurutku
    cukup sexy untuk dilumat.

    Kami saling berpandangan beberapa saat, aku serasa kembali menemukan sesuatu yang kini mengisi
    relung-relung hatiku yang sepi. Masukin kontolmu wan, tapi pelan-pelan dulu ya. Aku masih agak lemas
    nih kataku dengan lirih di telinganya.

    Baik, bu. Jangan panggil ibu terus ah, gak enak didengernya. Maukah kamu memanggilku sayang ? Baik,
    sayang. Aku masukin ya. He eh, tapi pelan pelan lho dan kurasakan kepala kontolnya yang mengkilap
    merah menempel pada kemaluanku.

    Ada rasa berdebar di hatiku, inilah kejantanan selain milik suamiku yang beruntung dapat memasuki
    liang senggama milikku. Kurasakan perih ketika kepalanya masuk sedikit di bibir lubangku wann,
    pelann.. agak perih nih.

    Iya sayang, ini juga pelan-pelan koq. Iwan kembali menekan pantatnya, dan penisnya kurasakan semakin
    menyeruak masuk ke dalam memekku. Akupun spontan memeluk iwan aakh..wann. tahan sedikit sayang!
    Iwanpun menghentakkan pantatnya dengan sekali hentakan dan seketika kurasakan perih yang kurasakan
    saat keperawananku hilang.Cerita Sex Dewasa

    Iwan pun mengangkat pantatnya pelan-pelan, sehingga aku merasa memekku seperti tersedot keluar seiring
    dengan kontol iwan. Lalu ditekannya kembali kontolnya ke dalam memekku, rasa perih yang semula kurasa
    itu hilang berganti sensasi nikmat di kala punya iwan keluar masuk dengan berirama menggelitiki
    dinding kewanitaanku.

    Akh enak wan.teruss sayang. memekmu seret banget yang, kontolku kayak di urut nih dilumatnya kembali
    bibirku, kamipun berpagutan sambil bergoyang pelan. Setelah beberapa saat iwan mengentotiku dengan
    irama pelan, yang membuatku seakan sedang bercinta dengan kekasih yang telah lama tak bersua, gairahku
    timbul bersama dengan kekuatan yang mulai pulih setelah orgasme tadi.

    Dengan berpelukan, ku gulingkan tubuhnya ke sampingku, kini posisiku ada di atas tubuhnya dengan penis
    tetap tertancap di memekku. giliranku sayang.. , aku ingin memberikan kamu kenikmatan, seperti yang
    udah kamu berikan kepadaku.

    Ku tekan dadanya yang bidang dengan kedua tanganku, lalu ku angkat pelan pelan pantatku Oookhh.. iwan
    memegang kedua tanganku sambil matanya membeliak kenapa sayang ? kontolku kayak di sedot ke atas.

    Akupun tersenyum sambil menurunkan kembali pantatku, ku lakukan beberapa saat, hingga ku lihat iwan
    pun merem melek keenakkan. Sesekali ku goyangkan pantatku ke kanan dan ke kiri.

    Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Lena pun masuk sambil ketawa-ketawa Wah, enak koq gak ngajak-ngajak.

    Gimana ? bener khan yang gue bilang, iwan tuh jago banget, gue aja udah gak tau berapa kali gue di KO
    in dia.

    Iya Len, kamu dapet dari mana sih ? rahasia donk, ya gak say ? jawabnya sembari mencium iwan.

    Mereka pun berpagutan, lalu Lena berhenti dan melepas pakaiannya. Dikangkanginnya muka Iwan dengan
    posisi berhadapan denganku. Iwanpun tanpa disuruh langsung dilahapnya memek Lena, sehingga Lena pun
    mendesis keenakan.

    Buah dada ku disambar oleh Lena dan dihisap hisapnya, tangan yang satu memilin milin putingku. Hal ini
    membuatku merem melek keenakan, sungguh suatu sensasi luar biasa timbul dalam diriku, inilah threesome
    pertamaku.

    Gairahku terus memuncak sehingga datanglah gelombang orgasme ku yang ke dua. Lena dan Iwan seperti
    mengetahui akan keadaanku, akupun dipeluk oleh Lena dan dikulum nya bibirku.

    Ada perasaan yang sulit diungkapkan ketika Lena menciumku, tapi yang kuingat adalah gelora birahi
    membara yang menuntunku menuju gerbang orgasme.

    Iwan pun menyambut hentakanku dengan mengangkat pantatnya ke atas sehingga batangnya terbenam habis ke
    dalam memekku dan menyentuh G-spot ku.

    Akupun mengerang panjang Aaakkkkhhhh.. cairan orgasme ku mendesir keluar membasahi kontol Iwan, akupun
    terkulai dalam pelukan Lena. Lena memandangku sambil membelai rambutku, dia menciumku mesra. Akupun
    membalasnya, aku merasa bahagia seperti menemukan kembali cinta yang hilang.

    Aku membaringkan diriku ke sebelah, ku lihat Lena mengulum batang kemaluan Iwan. Ehm.. peju mu enak
    banget Vin aku hanya tersenyum mendengar perkataan sahabatku itu. Lalu Lena pun berubah posisi, dia
    berbalik menghadap Iwan, di enjotnya kontol Iwan.

    Dengan liar ia bergoyang sambil mulutnya terus menceracau dan mendesis, payudaranya yang satu dihisap
    iwan, yang satu putingnya di pilin pilin. Lalu tubuhnya bergetar hebat, dicengkeramnya pundak Iwan
    Ooohhhh.

    Wwaannnn. aakkuuu kelluuaarrrr.. Iwanpun lalu bangkit, sambil mengangkat tubuh Lena dia membaringkan
    Lena lalu menggenjotnya. Sodokannya begitu cepat sehingga tubuh Lena terguncang guncang.

    Lalu diapun mengerang Aaakkkkhhhh.. bbbuuuu. Aakkuuu uuddaahh mmooo kelluuaarrrr.. Lena dengan sigap
    langsung menyambar kontol Iwan dan mengulumnya. Iwan pun langsung mengejang, seketika ditariknya
    kepala Lena sambil menyemprotkan pejunya ke dalam mulut Lena.

    Tampak cairan kental keputihan meleleh dari sela sela bibir Lena. Akupun beringsut maju, turut serta
    mengulum batang dan peju Iwan. Akhirnya kami bertiga tidur bareng dalam keadaan bugil.
    Itulah awal cerita yang membawaku ke dalam petualangan sex yang lebih liar. Mohon saran, kritik dan
    komentarnya, supaya di tulisan selanjutnya bisa lebih baik dari sekarang.

    Pintu kamarku tiba-tiba terbuka, tampak wajah cantik Lena di balik pintu. Udah siap belon ? Bentar
    lagi, gue belon make bedak nih. Gue tunggu di mobil ya. Lena segera menghilang dari balik pintu.
    Ku oleskan bedak tipis pada wajahku, ku pandang cermin, aku cukup puas dengan riasan yang ku pakai.

    Aku tidak suka merias wajah secara berlebihan, paling hanya menggunakan bedak, lipstik dan sedikit
    bloss on, itupun dengan olesan tipis. Ku ambil tas tangan yang tergeletak di meja, lalu kulangkahkan
    kaki menuju pintu.

    Mobil meluncur membelah jalanan kota Jakarta, kami menuju ke arah Kota. Di jalan Mangga Besar, kami
    membelok ke arah Lokasari Plaza. Setelah Iwan memarkirkan mobil, kamipun berjalan-jalan di daerah
    sekitar situ.

    Ada banyak tempat judi ketangkasan di daerah ini (pada waktu itu belum ada larangan seperti sekarang
    ini), tempat demi tempat kami masuki, rupanya Iwan hobi bermain judi ketangkasan. Lena pun sepertinya
    sudah tak asing dengan tempat tempat seperti ini, karena ku lihat beberapa orang menyapanya dengan
    sopan.

    Iwan memutuskan akan bermain di salah satu tempat, dia berbicara kepada Lena lalu Lena memberikan
    sejumlah uang dan kartu ATM kepadanya. Lena mengajakku keluar, kamipun keluar masuk di discotheque
    yang berada di daerah yang sama.

    Satu demi satu tempat itu kami masuki, aku merasa pengap dengan keadaan di dalam discotheque tersebut.
    Asap rokok, musik House yang hingar bingar, orang-orang yang berjoget sampai untuk jalan pun susah.

    Ada beberapa cowok yang mendekati dan berusaha mengajak kami berkenalan, ada yang menawarkan minuman,
    bahkan ada yang menawarkan inex (exstacy). Lena hanya tersenyum dan tertawa sambil terus berjalan,
    sesekali berhenti karena ada yang dia kenal.

    Aku heran dan takjub kepada sahabatku, koq bisa ya dia seperti ini tapi aku tidak mengetahui sama
    sekali. Apakah aku yang naif dan terlalu mudah dibohongi, atau dia yang hebat dalam bersandiwara. Kalo
    dia berprofesi sebagai aktris, aku rasa udah banyak dia sabet piala-piala penghargaan.

    Handphone Lena berdering, dia masuk ke dalam toilet, supaya dia dapat menjawab panggilan itu.
    Sekeluarnya Lena dari dalam toilet, dia mengajakku keluar.

    Setelah di luar, dia bercerita bahwa yang tadi menelepon adalah temannya yang lagi bete di rumah. Lalu
    setelah Lena menceritakan bahwa ia bersamaku, temannya itu mengundang ke rumahnya, katanya ingin
    berkenalan denganku dan akan mempersiapkan Welcome Party buatku.

    Kami mendatangi Iwan di tempatnya bermain ketangkasan, setelah kami menemukannya Lena meminta kunci
    mobil. Kamipun bergegas pergi dari tempat itu menuju rumah kawan Lena.

    Koq, kamu nyupir sendiri ? Kenapa gak pake Iwan ?

    Gak pa pa, dia tu kalo udah kena maen, mo sampe besok juga dia mah betah. Lagian kita khan mo
    ngerayain Welcome Party buat kamu. Kata temen gue, partynya khusus cewek aja.

    Aku jadi penasaran, party macam apa nih ? masak cuma cewek aja yang boleh.

    Mobil yang kami tumpangi mulai berbelok memasuki gerbang perumahan teman Lena, kami berhenti sebentar,
    setelah security menanyakan indentitas dan maksud kedatangan kami, kamipun diperbolehkan masuk.

    Kami tiba di depan sebuah rumah yang cukup megah dan luas, mobil langsung masuk ke pekarangan dan
    berhenti tepat di depan pintu garasi. Rumah rumah di komplek itu tidak mempunyai pintu pagar, tapi
    berhalaman taman yang cantik cantik dan menarik.

    Lena mengetuk pintu rumah itu, temannya yang membuka pintu. Cantik juga, tubuhnya tinggi semampai,
    bodynya langsing kulitnya putih, biasalah ciri khas keturunan Tionghoa. Hai, apa kabar ? Wah temen
    kamu cantik Len.

    Katanya sembari cipika cipiki dengan Lena, lalu dia menjabat tanganku sambil bercipika cipiki denganku
    Selamat datang ya, gue Jane Vina jawabku singkat. Mari masuk, gak usah sungkan-sungkan, anggap aja
    rumah sendiri.

    Lena masuk sambil ngobrol dengan Jane langsung menuju ke suatu ruangan. Sementara aku memandang
    sekeliling dinding yang penuh dengan lukisan lukisan wanita. Ada yang berdua, bertiga, berempat bahkan
    yang rame- rame pun ada.

    Waktu ku perhatikan lukisan lukisan itu, aku merasa janggal, kenapa wanita wanita dalam lukisan
    semuanya tak berbusana, paling banter terlilit kain itupun masih menonjolkan bentuk tubuh yang sexy.
    Vin, ngapain kamu ? tegur Lena tiba tiba yang mengejutkanku.

    Ah elo Len, ngagetin aja, untung gue gak jantungan. Koq rumahnya sepi sih Len ? Khan Jane tinggal
    sendiri di sini.

    Lha suami ma anaknya mana ? Dia gak punya anak, udah cerai ama suaminya gara-gara gak bisa ngasih
    keturunan. Koq gak nikah lagi ? Dia khan cantik, masa gak ada cowok yang mau. Dia pernah coba tapi
    malah dia lebih sering di sakitin.

    Ada yang cuma mau hartanya, ada yang suka maen cewek, yang terakhir yang paling parah, suka mukulin.
    Makanya dia lebih pilih hidup sendiri, dia udah trauma ma cowok.

    Apa karena itu, lukisan lukisan ini semua gambarnya cewek ? Hei, lagi pada ngapain sih di sini ?
    Ngobrolnya di dalem aja yuk ! Tiba tiba Jane muncul sehingga pertanyaanku tak terjawab oleh Lena,
    kamipun masuk mengikuti Jane.

    Kami duduk di sofa panjang dan lebar, yang ukurannya hampir mirip spring bed seukuran anak remaja. Di
    depan kami terdapat meja yang panjang dan lebarnya mengikuti ukuran sofa, di samping kiri ada sebuah
    mini Bar.

    Pembantu Jane, kira-kira berumur 19 tahun berwajah ayu, rambutnya panjang lurus sebahu, kulitnya sawo
    matang, berkaus putih ketat sehingga menonjolkan payudara yang berukuran sedang tapi tampak padat dan
    kencang.

    Celana pendeknya ketat membuat paha dan betisnya, yang kata orang Jawa mbunting padi, terpampang sexy
    dan indah. Dia sedang membuatkan minuman bagi kami, tampaknya dia cukup terlatih dalam hal meracik
    minuman. Kami pun ngobrol sambil nonton TV Plasma yang menyiarkan acara luar negeri.Cerita Sex Dewasa

    Yanti berjalan ke arah kami sambil membawa snack, sebuah pitcher berukuran besar dan empat gelas
    crystal, rupanya Yanti ikut nimbrung bersama kami. Setelah semua minuman sudah dituang, Jane mengajak
    kami melakukan

    Kamipun mereguk minuman kami masing-masing, bau wiskhy tercium ketika gelas itu menyentuh bibirku,
    tapi rasanya manis, sedikit agak keras ketika mengalir di tenggorokan, langsung berasa hangat ketika
    sampai di perut.

    Dituangnya kembali minuman ke dalam gelasku, sekarang gantian Lena yang mengajak Kamipun terlibat
    dalam perbincangan seru, seakan kami sudah kenal lama, beginilah wanita kalo udah ngumpul. Gelas demi
    gelas minuman telah kami teguk bersama, makin lama obrolan kamipun udah mulai ngawur.

    Kepalaku sudah mulai pening, akupun bersandar pada sandaran sofa. Acara TV yang dari tadi tidak kami
    tonton sudah berubah, sekarang mereka menyiarkan film percintaan dengan adegan sex yang tidak
    tersensor.

    Ku tonton film dengan keadaan setengah mabuk, ada desiran rangsangan yang merambati diriku. Ku
    pejamkan mataku, aku merasa seperti aku yang berada dalam film itu. Sentuhan tangan aktor di film itu
    seperti nyata merabai paha, membelai kepala dan wajahku.

    Kurasakan ciumannya lembut, melumat bibirku, aku semakin terbuai. Tangannya naik dari paha ke
    payudaraku, meremasinya membuatku mendesah nikmat. Ku rasakan kancing celana jeansku berusaha dibuka,
    tampaknya tidak berhasil sehingga aku mencoba membantunya.

    Saat aku menyentuh kancing celanaku, tersentuh olehku tangan halus yang berkuku, sehingga aku membuka
    mataku. Oohh.. ternyata yang aku kira aktor itu adalah Jane. Aku terkejut dan berusaha bangun, tapi
    tubuhku masih lemas sehingga hanya kepalaku yang terangkat.

    Ku arahkan pandang ke samping, ku lihat Lena pun tengah bercumbu dengan Yanti. Pakaian mereka sudah
    berantakan, berserakan di sekeliling mereka. Pemandangan ini membuat gairahku menggelora, ku palingkan
    wajah ke arah Jane yang telah berhasil membuka celana jeansku.

    Ku peluk Jane, ku tarik wajahnya mendekat ke mukaku, ku lumat bibirnya yang merah dengan rakus dan
    liar, diapun tak kalah seru membalas ciumanku. Tanganku meluncur turun dari punggung ke arah bongkahan
    pantatnya yang bahenol.

    Jane sudah melepas celananya dari tadi, dia hanya mengenakan BH dan celana G-String warna merah, yang
    kontras dengan warna kulitnya sehingga membuatnya semakin seksi. Kuremasi pantatnya, ku tarik tali
    celana dalamnya, sehingga bagian depannya masuk ke belahan memeknya yang sudah basah dari tadi,
    menggeseki kelentitnya.

    Janepun tak tinggal diam, tanggannya meluncur turun masuk ke dalam celana dalamku. Diremasinya bukit
    kemaluanku, tangannya liar mengobok obok vaginaku, jarinya lincah bermain di itilku, sesekali keluar
    masuk dalam memekku.

    Kamipun mendesah, nafas kami sama sama memburu, memburu kenikmatan yang tiada tara. Desakan gairah
    yang menggelora membuatku melepas orgasme yang pertama. Tubuhku yang mengejang segera disambut oleh
    gesekan jari Jane yang semakin cepat menari di itilku.

    Kuremas rambut Jane, aku mengerang sembari menarik pinggulnya agar semakin rapat menghimpit badanku.
    Aku mengejang beberapa kali, Jane menciumi dan membelaiku lembut tapi panas.

    Aku tahu Jane juga sudah dalam keadaan puncak?, orgasmeku mulai mereda, aku langsung melancarkan
    seranganku, kutarik badannya ke atas sehingga toketnya tepat berada di wajahku yang langsung kukenyot,
    sesekali ku gigit dan kutarik putingnya.

    Kuremasi bokongnya, sementara tangan yang satu bermain di vaginanya. Kujepit itilnya dengan dua
    jariku, kutarik pelan, kadang kuputar, Jane semakin liar mengerang dan menjambaki rambutku. Erangannya
    semakin keras, dia bangkit berdiri, dikaitkannya kakinya yang satu ke bahuku, memeknya kini tepat
    berada di wajahku.

    Langsung ditekannya pantatnya ke wajahku, yang segera kusambut dengan jilatan dan hisapan. Jane
    menjambak rambutku lalu menggoyangkan kepalaku ke kiri dan ke kanan, diikuti dengan gerakan pantatnya
    yang berlawanan.

    Dia mendongak sambil mengerang, kurasakan cairan hangat menyembur ke dalam mulutku, langsung kutelan
    dan kusedot lagi cairan berikutnya. Beberapa kali Jane mengejang, lalu badannya melemas dan rebah di
    sampingku.

    Ku peluk erat Jane, ku ciumi dengan penuh gairah, gairahku masih tinggi sehingga membuatku terus
    menggumuli Jane yang masih menikmati orgasmenya.

    Lalu aku bangkit, ku lihat Lena dan Yanti yang sedang dalam posisi 69, Lena berada di bawah. Kuhampiri
    mereka, ku belai punggung Yanti dari atas hingga pantat. Yanti mendongak yang langsung kusambut
    bibirnya, kami berciuman sambil ku masukkan jariku ke memek Lena.

    Lalu aku membantu Yanti menjilati memek Lena, jariku memilin milin kelentit Lena, sedangkan jari Yanti
    terus merojoki memek Lena. Lena semakin meliar, lalu dia mengerang dan mengejang. Cairannya yang
    keluar segera kami sambut, berebut kami jilati dan hisap, bahkan walaupun udah di mulut, kami masih
    saling hisap.

    Aku kini beralih ke arah Lena, wajahku menghadap bongkahan memek Yanti yang menggumpal tebal. Ku
    jilati memek Yanti dengan rakus, bibir memek yang tebal membuatku nafsu. Tiba tiba kurasakan ada benda
    menyentuh kemaluanku dari belakang.

    Kulihat Jane mengenakan celana bertali kulit hitam, di depannya tergantung penis buatan seperti dildo,
    di tangannya juga menggenggam tiga buah vibrator yang langsung diberikannya kepada Lena. Jane memegang
    pinggulku, aku masih dalam posisi nungging sambil memegangi pantat Yanti, di masukkannya penis itu ke
    dalam memekku.

    Bless… seketika terbenamlah penis itu kedalam punyaku yang basah. Jane mulai memaju mundurkan
    pantatnya, ku ambil vibrator di tangan Lena sambil kugoyangkan pantatku mengimbangi goyangan Jane.

    Kumainkan vibrator itu ke meqi Yanti, Lena pun memainkan vibrator tepat di itil Yanti. Yanti juga
    melakukan hal yang sama di memek Lena, kami berempat mendesis seperti orang kepedasan. Aku sudah
    sampai pada tahap tahap puncak, ku goyangkan pantatku sejadi jadinya, hingga tubuhku melemas. Jane
    mencabut penis nya dari memekku, penis itu terlihat mengkilap berlumuran pejuhku, ditusukannya penis
    itu ke dalam memek Yanti.

    Lena menjilati pangkal penis itu sampai ke lubang Jane, sesekali di tariknya itil Jane. Yanti yang
    sedari tadi belum orgasme, sudah tidak kuat lagi menahan gelombang orgasme yang menderanya. Dia pun
    mendongakkan kepalanya ambil mengerang keras, Jane semakin semangat mengocoknya dari belakang,
    akhirnya Yanti melemas di atas tubuh Lena.

    Aku dan Lena menjilati penis yang sudah berlumuran peju ku dan Yanti. Jane lalu duduk, Lena bangkit
    dan duduk berhadapan di atas Jane, Lena bergoyang erotis sekali. Jane menyedoti tetek Lena, aku
    meremasi dari belakang, jariku kumainkan di memek Jane.

    Tak lama Lena melepas orgasmenya, dia terkulai memeluk Jane. Yanti sudah bangkit mengikutiku memainkan
    memek Jane, dimainkannya vibrator dengan liar di memek itu. Ku hisap dan kugigiti itil jane, Jane pun
    mengeletar dan muncratlah pejuhnya.

    Aku dan Yanti langsung berebut menyambar cairan itu. Kami benar benar menikmati permainan yang baru
    saja kami lakukan. Dengan tubuh bugil dan basah oleh keringat, kami terlelap sambil berpeluk pelukkan.

    Saat ku terbangun di pagi hari, kepalaku masih agak pening karena mabuk semalam. Ku coba untuk
    mengembalikan kesadaranku yang belum benar benar pulih. Pelukan tangan yang halus, tubuh bugil tanpa
    selembar benangpun, mengingatkanku akan kejadian semalam.

    Aku membalikkan tubuhku, ternyata Yanti yang memelukku. Lena dan Jane berbaring berpelukan tak begitu
    jauh dari tempat ku berbaring, mereka pun dalam keadaan telanjang bulat. Ku pandangi wajah Yanti,
    hembusan nafasnya naik turun beraturan membuat payudaranya bergerak naik turun dengan berirama. Bibir
    tipisnya berwarna merah muda tanpa polesan lipstik, sedikit membuka sehingga terlihat agak menantang.

    Gairahku yang mulai berdesir membuatku tergerak untuk melumat bibir Yanti. Yanti terbangun karena
    lumatan bibirku, ketika tahu yang melumat bibirnya adalah aku, dia membalas lumatan bibirku. Kami
    berpagutan dengan romantis, lidah kami saling beradu, menggelitiki rongga mulut dengan bergantian,
    sesekali Yanti menggigit lidahku, yang ku balas dengan menggigit bibir bawahnya.

    Tangan Yanti yang tadi memelukku, kini aktif menelusuri tubuhku. Sentuhannya pelan tapi menggairahkan
    sekali, terutama bila aku mendesah karena sentuhannya mengena di bagian sensitifku, dia malah
    memainkan daerah itu dengan diiringi senyuman nakal, lalu dilumatnya bibirku yang membuka karena
    mendesah.

    Kepiawaiannya dalam bercumbu sungguh luar biasa, hal ini bisa jadi karena Yanti adalah pasangan Jane
    dalam menyalurkan hasrat sexualnya. Aku dibuatnya terbuai dengan cumbuan cumbuan Yanti, sehingga
    vaginaku menjadi becek karena cairan kewanitaanku yang terus mengalir beriringan dengan rangsangan
    yang kuterima.

    Kurasakan aku sudah mulai melihat gerbang dari puncak kenikmatan yang aku rasakan. Yan..please…aku
    udah gak tahan… rintihku sambil meremasi rambutnya. Langsung Yanti memposisikan wajahnya di
    selangkanganku, di jilat dan di hisapnya itil-ku.

    Aku merasa seperti tersengat listrik ribuan volt, aku terdongak sambil menjambak rambut Yanti. Ku
    angkat pinggulku, ku goyangkan ke kanan dan ke kiri, sesekali ku putar sembari tangan ku meremasi
    rambut Yanti.Cerita Sex Dewasa

    Lidahnya sungguh lihai bermain di memek ku, jarinya pun keluar masuk dengan cepat, membuatku sampai
    kepada orgasme, yang telah mendesak untuk segera dikeluarkan. Ooughh…yann… aku mengejang, pahaku
    menjepit kepalanya.

    Yanti masih terus mengocokkan jarinya sambil matanya menatapku. Aku mengejang beberapa kali sampai
    orgasme ku mereda, Yanti pun menghisap habis cairan yang ku keluarkan.

    Erangan dan teriakanku saat mencapai puncak telah membangunkan Lena dan Jane. Mereka pun terbakar
    gairahnya dan mulai saling mencumbu satu sama lain. Yanti kini bangkit dan jongkok di atas wajahku.
    Langsung ku sambar itil-nya yang sudah memerah dan basah oleh lendirnya, ku masukkan jariku ke dalam
    memek yang sudah basah itu, ku kocok dengan cepat sehingga berbunyi.

    Yanti menjambak rambutku sembari menggoyangkan pantatnya maju mundur. Tangannya yang satu meremasi
    payudaranya sendiri, tak berapa lama tubuhnya mulai bergetar. Sambil mengerang panjang, ditekannya
    pantatnya ke wajahku, pejuh menyembur banyak sekali.

    Saking derasnya semburan cairan pejuh nya, cairannya itu sebagian meleleh keluar dari mulutku. Yanti
    membungkuk mencium mulutku yang masih penuh dengan pejuh nya, di telannya sebagian pejuh itu.

    Lena pun sudah sampai pada orgasmenya, sekarang dia mengenakan celana kulit berpenis plastik yang
    semalam di kenakan Jane. Jane berposisi doggy, dengan kedua tangannya memegangi pinggiran sofa.

    Jane lututnya menempel di karpet lantai, tangannya yang satu memegangi pantat Jane, yang satu lagi
    sesekali menampar bokong Jane, sehingga bokong Jane yang putih itu memerah. Jane mendesis dan
    mengerang tak karuan, tangannya meremasi sofa sambil memaju mundurkan pantatnya.

    Jane mendongak dengan lenguhan panjang, Jane sampai di puncak orgasmenya, Lena menghentakkan pantatnya
    dengan keras sembari mencengkeram bokong Jane. Tubuh Jane bergetar beberapa kali, tampak cairan putih
    meleleh dari penis buatan itu, lalu mereka berdua ambruk bergulingan di dekat kami.

    Tak lama kamipun bangun dan mandi bersama, di dalam kamar mandi yang luas itu, kami kembali melakukan
    sex. Lalu kami sarapan, atau lebih tepatnya makan siang, makanan yang dipesan dari salah satu restoran
    cepat saji dari mall di dekat komplek perumahan Jane.

    Pada waktu kami habis makan telepon genggam Lena berdering, ternyata dari Iwan. Iwan yang menang judi,
    mengajak kami untuk dugem nanti malam. Lena menanyakan ajakan Iwan kepada Jane, yang dijawab dengan
    anggukan kepala tanda setuju. Kamipun memutuskan untuk tidur siang agar nanti malam bisa fit.

    Ketika malam tiba…

    Iwan sudah membooking sebuah room karaoke di discotheque yang berlokasi di daerah Glodok. Kami sudah
    tiba di room tersebut, ternyata room tersebut tidak digunakan untuk berkaraoke melainkan untuk
    triping. House music mengalun keras membahana di ruangan yang berukuran lumayan itu. Setelah minuman
    yang dipesan datang, Iwan membagi-bagikan pil yang berukuran kecil. Setelah kami meminumnya, kami
    berjoget dan bergoyang bersama.

    Kira kira 30 menit setelah aku meminum pil yang diberikan Iwan tadi, aku merasa ada perasaan aneh yang
    menyelimutiku, ada sensasi aneh yang sulit ku ungkapkan.

    Ku lihat Jane, Yanti & Lena berjoget dengan sexy dan erotis sekali, Iwan hanya duduk sambil
    menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Tak lama Lena menghampiri Iwan, dia membisikkan sesuatu
    ke Iwan, yang di jawab dengan anggukan kepala. Lalu Lena mengajakku keluar, langkah kakiku terasa
    ringan sekali.

    Ternyata Lena mengajakku ke discotheque yang letaknya tak jauh dari tempat karaoke, hanya berbatas
    sebuah lobby dengan aquarium besar di tengahnya. Kami masuk ke discotheque itu, Lena mengajakku
    berkeliling, sempat kami berjoget di panggung yang terletak di bagian depan tempat itu.

    Ada dua anak muda yang sedang berjoget di depan speaker besar, tak jauh dari tempat kami berjoget.
    Salah satu dari mereka melihat ke arah kami, Lena pun melihat ke arah mereka. Lalu Lena berjoget
    dengan salah satunya, sehingga praktis temannya menghampiri aku.

    Kami berkenalan, yang bersama Lena bernama Bule, yang bersamaku bernama Black. Keduanya keturunan
    chinese, yang satu berkulit putih dengan rambut di warna pirang sehingga dia dipanggil bule. Yang satu
    lagi berperawakan tinggi kekar, berkulit hitam, itulah yang menyebabkan dia dipanggil Black.

    Kami berjoget bersama, tak lama Lena berbisik kepada Bule, mengajaknya ke room. Bule dan Black tak
    menolak ajakan Lena, kamipun beranjak dari tempat itu kembali ke room kami.

    Setibanya di room, Iwan, Jane dan Yanti tengah bercumbu, tapi masih mengenakan pakaian, walaupun dalam
    keadaan berantakan dan terbuka di bagian bagian tertentu. Kedatangan kami membuat aktifitas mereka
    terhenti, setelah berkenalan, Iwan memberikan inex kepada Bule dan Black. Bule dan Black sendiri tadi
    telah on tapi masih menelan inex yang di berikan Iwan.

    Kamipun berjoget kembali, Iwan kembali meneruskan cumbuannya kepada Jane, Yanti bermain dengan penis
    Iwan. Pemandangan itu membuat kami terbakar, Lena pun mencumbu dengan Bule, Black juga tak mau kalah
    mencumbu aku. Satu persatu pakaian kami berserakan di lantai, hingga tak ada lagi yang mengenakan
    sehelai pakaian pun di tubuh.

    (Maaf, sulit untuk menceritakan secara detail yang tengah terjadi saat itu, karena pengaruh obat dan
    rangsangan) Iwan sudah mengentoti Jane yang nungging sambil menjilati memek Yanti, Lena sedang
    mengoral kontol Bule, Black tengah meremasi payudaraku sambil lidahnya bermain di memek ku.

    Tak tahan dengan gairah yang menggebu gebu aku melepas orgasme ku. Tapi aneh, walaupun aku sudah
    keluar , gairahku masih meluap. Kuraih kontol Black yang lumayan besar dan panjang itu, ku hisap
    sambil ku naik turunkan tanganku, Black hanya mendesah sambil memandangku.

    Jane pun sudah keluar, sekarang Iwan duduk di sofa, Yanti duduk mengangkang dengan punggung menghadap
    Iwan, goyangannya erotis sekali. Lena kini bersandar di dinding, dengan satu kaki terangkat di lengan
    Bule, tangannya bergayut pada leher Bule, Bule sedang mengentoti nya sambil berdiri.

    Baca Juga Cerita Sex Tante Ida Yang Cantik

    Aku duduk di meja sambil mengangkangkan pahaku selebarnya, Black berlutut lalu menancapkan kontol nya.
    Jane menghampiriku, menciumku sambil tangannya meremasi pantat Black. Black pun mencabut kontol nya,
    dia menarik Jane agar nungging di hadapannya, lalu ditancapkanlah kontol nya ke dalam memek Jane,
    memekku kini di jilati Jane.

    Lena juga sudah mengalami orgasme, Bule kini berbaring di lantai, dan Lena berada di atasnya (WOT).
    Yanti yang juga sudah keluar, duduk mengangkang di entoti Iwan. Aku keluar lagi, cairanku disedot Jane
    yang masih di doggy ama Black.

    Lalu Jane berposisi WOT di atas Black, tak lama Jane keluar di barengi dengan Black. Bule pun udah
    orgasme waktu Lena nungging sambil ngoral kontol Iwan yang abis orgasme.

    Kami beristirahat sambil minum minum, waktu gairah dan enerji kembali pulih, kami kembali melakukan
    sex seperti tadi dengan berganti ganti pasangan. Hingga pagi menjelang, kami berpisah dengan kenangan
    tak terlupakan.

  • Janda Yang Montok

    Janda Yang Montok


    10 views

    Siang itu panas panasnya terik matahari dimana ada janji dengan clientku waktu sangat berlalu dengan cepat dimana jam menunjukan pukul 12 siang mungkin kalau aku sampi kantor pasti pada sepi karena pada makan siang di luar kantor, kemudian dari dai pada aku begong sendirian dikantor mending aku menuju ke kantor istriku Tary dimana istriku bekerja sebagai wiraswasta di daerah Tomang.

    cerita-sex-dewasa-janda-yang-montok

    Oww Mas Tommy tumben dating kemari mas ?? “Filia bertanya denganku dia adalah seketaris Tany.

    “Sepi amat..? udah pada istirahat..?”sahutku sambil melangkah masuk kantor yang tampak sepi.

    “Mmm Tany ke customer sama pak Darmo, Liliek dan Tarjo nganterin barang dan katanya Tany

    sekalian meeting dengan customer sukri lagi Filia suruh beli makan siang, tunggu aja mas diruangan Tany..”celoteh Filia yang berjalan di depanku memperlihatkan pantatnya yang montok bergoyang seirama dengan langkah kakinya.

    Aku masuk ke ruangan Tany, kujatuhkan pantatku ke kursi direktur yang empuk

    Dalam hati aku mengutuk habis-habisan, atas kesialanku hari ini malah sampe disini, ketemu ama Filia oh ya Filia sebenarnya adalah sahabat Tany waktu kuliah, janda beranak 2 ini diajak kerja istriku setelah setahun menjanda.

    Orangnya cantik, ramah cuma sebagai lelaki aku kurang menyukai karakternya terutama dandanannya yang selalu tampak menor, dengan tubuhnya yang montok tetenya gede sebanding dengan pantatnya yg juga gede.

    Pokoknya bukan type wanita yg kusukai dan menurutku kulitnya terlalu putih jadi tampak kaya orang sakit-sakitan walaupun kata Tany.

    Filia orangnya sangat cekatan dan sangat doyan kerja alias rajin Kubuka laptopku dan kunyalakan kucari-cari file yang kira-kira bisa menemaniku disini daripada aku hrs ngobrol sama Filia, yang menurutku bukan temen ngobrol yang asyik wow di kantong tas laptopku terselip sebuah CD wiih DVD bokep punya Rudy ketinggalan disini lumayan juga buat ngabisin waktuku nungguin Tany.

    Mmmm Asia Carera lumayan bikin ngaceng juga setelah kira-kira setengah jam melihat aksi seks Asia Carera melawan aksi kasar Rocco Si fredi

    “Ooo.. ooo.. mas Tommy nonton apa tuuuh sorry mas Tommy mau minum apa..? panas, dingin hi..hi.. pasti sekarang lagi panas dingin kan..?”suara Filia bagaikan suara petir disiang bolong dengan nada menggodaku

    “Ah kamu bikin kaget aja ngg dingin boleh deh mm ga ngrepotin neeh..?”sahutku sambil memperbaiki posisiku yang ternyata dari arah pintu, layar laptopku keliatan banget sial lagiiii. aahh masa bodo laahh toh Filia bukan anak kecil.. Filia masuk ruangan lagi sambil membawa 2 gelas es jeruk..

    “Mas Tommy boleh dong Filia ikutan nonton mumpung lagi istirahat kayanya tadi ada Rocco sifredi yak..?”kata Filia sambil cengar cengir bandel..

    “ha kamu tau Rocco Sifredi juga..?”tanyaku spontan agak kaget juga, ternyata wanita yang tiba-tiba kini jadi tampak menggairahkan sekali di mataku, tau nama bintang film top bokep Rocco Sifredi

    “Woo bintang kesayangan Filia tuuuh..”sahut Filia yang berdiri di belakang kursiku

    “Kamu sering nonton bokep..?”tanyaku agak heran sebab Filia setelah menjanda tinggal dg orang tuanya dan rumahnya setahuku ditinggali banyak orang

    “Iya tapi dulu waktu masih sama “begajul”itu..”sahut Filia enteng dan membuatku ketawa geli mendengar Filia menyebut mantan suaminya yang kabur sama wanita lain Suasana hening tapi tak dapat dielakkan dan disembunyikan nafas kami berdua sdh tak beraturan.

    Bahkan beberapa kali kudengar Filia menghela nafas panjang ciri khas wanita yang hendak mengendorkan syaraf birahinya yang kelewat tegang dan beberapa kali kudengar desisan lembut.

    Seperti luapan ekspresi yang kuartikan Filia sudah larut dalam aksi para bintang bokep di layar monitor Sementara keadaanku tak jauh beda.. celanaku terasa menyempit desakan batang kemaluanku di selangkangan yang mengeras sejak setengah jam yang lalu, mulai menyiksaku dalam kondisi seperti ini biasanya, aku melakukan onani di tempat.

    Tapi kali ini masak onani di depan Filia..? ampuuuunn siaal lagiii..!

    “Kamu suka Rocco Sifredi..? memang suka apanya..?”tanyaku memulai komunikasi dengan Filia yang desah napasnya makin memburu tak beraturan dan sesekali kudengar remasan tangannya seolah gemas pada busa sandaran kursi yang kududuki

    “Mmm hhh.. apanya yak..? iih mas Tommy nanyanya sok ga tau..”sahut Filia sambil mencubit pundakku entah siapa yang menuntun tanganku untuk menangkap tangan Filia yang sedang mencubit mmm Filia membiarkan tanganku menangkap tangannya

    “Kamu ga cape, berdiri terus duduk sini deh..?”kataku sambil tetap menggenggam tangan Filia, kugeser pantatku memberi tempat untuknya, tapi ternyata kursi itu terlalu kecil untuk duduk berdua, apalagi untuk ukuran pantat Filia yang memang gede

    “Pantat Filia kegedean sih mas”kata Filia sambil matanya melempar kerling aneh, yang membuat darahku berdesir hebat, akhirnya Filia menjatuhkan pantatnya di sandaran tangan.. oooww aku dihadapkan pada paha mulus yang bertumpangan muncul dari belahan samping rok mininya dan entah sejak kapan kulit putih ini menjadi begitu menggairahkan dimataku..?

    Kembali perhatian kami tercurah pada aksi seks dilayar laptop sesekali remasan gemas tangan lembutnya pada telapak tanganku terasa hangat dimana tangan kami masih saling menggenggam dan menumpang diatas paha mulus Filia.Cerita Sex Dewasa

    “Iiih Gila Filia sudah lama enggak nonton yang begini..”kata Filia mendesah pelan seolah bicara sendiri.. menggambarkan kegelisahan dan kegalauan jiwanya

    “kalo ngerasain..?”tanyaku menyahut desahannya tadi

    “Apalagi”jawabnya pendek serta lirih sambil matanya menatapku dengan tatapan jalang yang bisa kuartikan sebagai tantangan, undangan atau sebuah kepasrahan, lembut tangannya dan diikuti tubuh montoknya kini pantat montok Filia mendarat empuk di pangkuanku sedangkan tanganku melingkar di pinggangnya yang ternyata cukup ramping tak berlemak Iblis dan setan neraka bersorak sorai mengiringi pertemuan bibir kami.

    Kemudian saling mengulum dan tak lama lidah kami saling belit di rongga mulut mmm tangan Filia melingkar erat di leherku dengan gemetaran kulayani serangan panas janda cantik berumur 32 tahun ini seolah ingin memuaskan dahaga dan rindu dendamnya lewat aksi ciuman panasnya

    Tanganku memang dari dulu trampil memainkan peran jika dihadapkan dengan tubuh wanita menelusup ke balik blazer hitam yang dikenakan Filia dan terus menelusup sampai menyentuh kulit tubuhnya sentuhan pertamaku pada kulit tubuhnya membuat Filia menggeliat resah dan menggerang gemas rangkulan tangannya semakin erat di leherku sementara ciuman bibirnya juga semakin menggila mengecupi dan mengulumi bibirku tanganku mulai merambah bukit dadanya yang memang luar biasa montok, yang jelas diatas cup B sebab buah dada Tany istriku yang ber bra 36B jauh tak semontok buah dada Filia Tiba-tiba Filia meronta keras, saat tanganku meremas lembut buah dadanya yang mengeras akibat terangsang birahi tinggi.

    “Ooohh mas Tommy suudaah mas hhh.. hhh jangan mas, Filia ga mau menyakiti Tanyhh ooohh..”kalimat diantara desah nafas birahi ini tak kuhiraukan dan rontaan kerasnya tak berarti banyak buatku tanganku yang melingkar di pinggangnya tak mudah utk dilepaskannya

    “Ada apa dengan Tany..? ga akan ada yang merasa disakiti atau menyakiti selama ini jadi rahasia ayo sayang waktu kita tak banyak nikmatilah apa yang kamu ingin nikmati”bisikku lembut di sela-sela aksi bibir dan lidahku di leher jenjang berkulit bersih milik janda cantik bertubuh montok ini

    “Ampuuun mas, oooww Filia ga tahaaan hh..hh ssshhh”rengek Filia memelas yang tak mampu membendung gelegak birahi yang mendobrak hebat pertahanannya Blazer hitam yang dikenakan Filia sudah teronggok dibawah kursi putar yang kami gunakan sebagai ajang pergulatan dibalik blazer hitam

    Tubuh montok berkulit putih mulus itu hanya mengenakan penutup model kemben berbahan kaos, sehingga dari dada bagian atas sampai leher terbuka nyata bergetar syahwatku menyaksikan pemandangan ini buah dadanya yang montok dengan kulit putih bersih. mulus sekali sehingga urat-urat halus berwarna kebiruan tampak dipermukaan.

    Buah dada montok yang sedang meregang nafsu birahi itu tampak mengeras, memperlihatkan lembah yang dalam di tengahnya tampak bergerak turun naik seirama dengan nafas birahinya yang mendengus-dengus tak beraturan iihh menggemaskan sekali.. woow.. bukan main..! begitu tabir berbahan kaos warna orange itu kupelorotkan ke bawah.. muncullah keindahan yang menakjubkan dari sepasang bukit payudara yang asli montok dan sangat mengkal, hanya tertutup bra mini tanpa tali, sewarna dengan kulit mulusnya.

    “Oooohh.. maaasss..?”desahnya lirih ketika tabir terakhir penutup payudaranya meninggalkan tempatnya dan secara refleks Filia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, tapi dimataku.

    Adegan itu sangat sensual.. apalagi dengan ekspresi wajahnya yang cantik sebagian tertutup rambutnya yang agak acak-acakan matanya yang bereye shadow gelap menatapku dengan makna yang sulit ditebak.

    “Mas.. janggaaan teruskan Filia takuut Tany datanghhh hhh “bisiknya dengan suara tanpa ekspresi tapi aku sdh tak mampu mempertimbangkan segala resiko yg kemungkinan muncul lembah payudara Filia yang dalam itulah yang kini menggodaku maka kubenamkan wajahku ke dalamnya lidahku terjulur melecuti permukaan kulit halus beraroma parfum mahal kontan tubuh bahenol di pangkuanku itu menggelepar liar, spt ikan kehilangan air, ditambah amukan janggut dan kumisku yang sdh 2 hari tak tersentuh pisau cukur.

    “Ampuuuunnn maaass. iiiihhh gellliii aaahh mmmssssshhh.. ooohh”rengek dan rintihannya mengiringi geliat tubuh indah itu wooow jemari lentiknya mulai mencari-cari. dan menemukannya di selangkanganku bonggolan besar yang menggembungkan celanaku diremas-remas dengan gemas sementara aku sedang mengulum dan memainkan lidahku di puting susunya yang sudah menonjol keras berwarna coklat hangus tanganku menggerayang masuk kedalam rok mininya yg semakin terangkat naik kudapatkan selangkangan yang tertutup celana dalam putih dan kurasakan pada bagian tertentu sudah basah kuyub.

    Filia tak menolak ketika celana dalam itu kulolosi dan kulempar entah jatuh dimana Filia mengerang keras dengan mata membelalak, manakala jariku membelah bibir vaginanya yang sudah sangat basah sampai ke rambut kemaluannya yang rimbun bibir cantik yang sudah kehilangan warna lipsticknya itu gemetaran layaknya orang kedinginan terdengar derit retsluiting.

    Ternyata jemari lentik Filia membuka celanaku dan menelusup masuk kedalam celana kerjaku kulihat matanya berbinar dan mulutnya mendesis seolah gemas, ketika tangannya berhasil menggenggam batang kemaluanku sesaat kemudian batang kemaluanku sudah mengacung-acung galak di sela bukaan retsluiting celanaku dalam genggaman tangan berjari lentik milik Filia makin lebar saja mata Filia yang menatap jalang ke batang kemaluanku yang sedang dikocok-kocoknya lembut

    “Aaaah mass Tommyy mana mungkin Filia sanggup menolak yang seperti ini hhhh. ssss.sssshhh lakukan mas.. oohhh toloong bikin Filia lupa segalanya mas Filia ga tahhaan”kalimatnya mendesis bernada penuh kepasrahan, namun matanya menatapku penuh tantangan dan ajakan.

    Kurebahkan tubuh montok Filia di meja kerja Tany yang lebar setelah kusisihkan beberapa kertas file dan gelas minum yang tadi ditaruh Filia diatas meja itu. sementara laptopku masih terbuka dan adegan seks dilayar monitornya.

    Sementara jari tengahku tak berhenti keluar masuk di liang sanggama Filia yang sangat becek mungkin benar kata orang, cewek yang berkulit putih cenderung lebih basah liang sanggamanya seperti halnya Filia, cairan liang sanggamanya yang licin kurasakan sangatlah banyak sampai ada tetesan yang jatuh di atas meja.

    Filia sudah mengangkangkan kakinya lebar-lebar menyambut tubuhku yang masuk diantara kangkangan pahanya, aku berdiri menghadap pinggiran meja, dimana selangkangan Filia tergelar tubuh Filia kembali menggeliat erotis disertai erangan seraknya ketika palkonku mengoles-oles belahan vaginanya.

    Sesekali kugesek-gesekan ke clitorisnya yang membengkak keras sebesar kacang tanah yang kecil.. bukit vaginanya yang diselimuti rimbunnya rambut kemaluan yang tercukur rapi.

    “Ayoooo maasss lakukan sekaraaang Filia ga tahaaannhh..hhh “rengek Filia memelas. Bibir cantik itu menganga tak bersuara, mata bereye shadow gelap itu membelalak lebar dengan alis berkerinyit gelisah, ketika palkonku membelah bibir vaginanya dan merentang mulut liang sanggamanya kurasakan palkonku kesulitan menembus mulut liang sanggama Filia yang sudah berlendir licin.

    Tubuh Filia meregang hebat diiringi erangan keras, manakala palkonku memaksa otot liang sanggama Filia merentang lebih lebar kedua tangannya mencengkeram keras lenganku sewaktu pelan-pelan tapi pasti batang kemaluanku menggelosor memasuki liang sanggama yang terasa menggigit erat benda asing yang memasukinya baru tiga perempat masuk batang kemaluanku, palkonnya sudah menabrak mentok dasar liang sanggama sempit itu.

    Kembali tubuh montok Filia menggeliat merasakan sodokan mantap pada ujung leher rahimnya. Sepasang kaki Filia membelit erat pinggangku sehingga menahan gerakku bibir cantik yang gemetaran itu tampak tersenyum dengan mata berbinar aneh

    “Mas Tommy tau kenapa Filia suka Rocco Sifredi..?”bisik Filia dengan tatapan mata mesra kujawab dengan gelengan kepalaku

    “Perih-perih nikmat kaya sekarang ini Filia pingin disetubuhi Rocco Sifredi ayoo mas.. beri Filia kenikmatan yang indah”bisik Filia sambil mengerling penuh arti,

    Belitan kaki di pinggangku dilonggarkan, pertanda aku boleh mulai mengayun batang kemaluanku memompa liang sanggamanya.

    Kembali suara erangan dan rintihan Filia mengalun sensual mengiringi ayunan batang kemaluanku yang pelan dan kalem keluar masuk liang sanggama yang kurasakan sangat menggigit saking sempitnya, walaupun produksi lendir pelicin vagina wanita bertubuh montok ini luar biasa banyaknya, sampai berlelehan ke meja kerja yang jadi alas tubuhnya.

    “Punya kamu sempit banget Din aku seperti menyetubuhi perawan”Bisikan mesraku tampak membuat janda beranak dua itu berbunga hatinya.. wajahnya tampak berseri bangga.

    “Punya mas Tommy aja yang kegedean kaya punya Rocco Sifredi Filia suka sama yang begini gemesssiiin hhh hhhoohhh mmmaasss”belum selesai kalimat Filia, kupercepat ayunan pinggulku.. membuat mata Filia kembali membelalak, bibirnya meringis memperlihatkan gigi indah yang beradu, mengeluarkan desis panjang.

    “Teeruuuss maaasss ammppuunn nikkmaaat bukan main.. oooohhh aaaaaahhh eeeenngghh..”ceracaunya dengan suara setengah berbisik sesaat kemudian aku merasakan serangan balasan Filia.

    Dengan gemulai janda cantik ini memutar pinggulnya, pinggangnya yang ramping bergerak menjadi engsel Luar biasa nikmat yang kurasakan di siang tengah hari bolong itu Suara berdecakan yang semakin keras di selangkangan kami menandakan semakin banjirnya lendir persetubuhan dari liang sanggama Filia Wajah cantik Filia semakin gelisah mulutnya komat-kamit seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tak ada suara yang keluar, hanya desah dan erangannya yang keluar alisnya yang runcing semakin berkerut apalagi matanya yang kadang membelalak lebar kadang menatapku dengan sorot mata gemasCerita Sex Dewasa

    “Oooooouuuuwww..!! mmmaaaaassssss. Diii..naa ga tahaann. mmmmmhhh!!”Kegelisahan dan keresahannya berujung pada rengekan panjang seperti orang menangis dibarengi dengan pinggul yang diangkat didesakan ke arahku bergerak-gerak liar.

    Aku tanggap dengan situasi wanita yang dihajar nikmatnya orgasme segera kuayun batang kemaluanku menembus liang sanggama Filia sedalam-dalamnya dengan kecepatan dan tenaga yang kutambah akibatnya tubuh Filia semakin liar menggelepar di atas meja kerja Tany kepalanya digeleng-gelengkan dengan keras ke kanan dan ke kiri sehingga rambutnya semakin riap-riapan di wajahnya

    “Ammmpppuuunnn. oooohhh nnnggghhh. niikmmmaattnya. hhoooo.”suara Filia seperti menangis pilu Ya ammmpppuunn. kurasakan nikmat bukan main.. dinding liang sanggama wanita yang tengah diamuk badai orgasme itu seakan mengkerut lembut menjepit erat batang kemaluanku.

    Kemudian mengembang lagi enam atau tujuh kali berulang membuatku sejenak menghentikan ayunan kontolku, pada posisi di kedalaman yg paling dalam pada liang sanggama Filia Tubuh Filia tergolek lunglai nafasnya tersengal-sengal.

    Tampak dari gerakan dada montoknya yang naik turun tak beraturan wajahnya yang miring ke samping kanan tampak kulitnya berkilat basah oleh keringat birahinya, sementara mata ber eyeshadow tebal itu tampak terpejam spt orang tidur rambut panjang yang dicat blondie tampak kusut, awut-awutan menutupi sebagian wajah cantiknya.

    Kira-kira setelah dua menit batang kemaluanku mengeram tak bergerak di liang sanggama yang semakin becek dengan gerakan lembut kembali kugerakkan pinggulku mengantarkan sodokan keliang sanggama Filia Tubuh montok itu kembali menggeliat lemah sambil mulutnya mendesis panjang Filia membuka matanya yang kini tampak sayu.

    “Ssssshh mmm luar biasa.”desah Filia sambil tersenyum manis. Kedua tangannya meraih leherku dan menarik ke arah tubuhnya.

    Tubuhku kini menelungkupi tubuh montok Filia, Filia memeluk tubuhku erat sekali sehingga bukit payudaranya tergencet erat oleh dada bidangku seolah balon gas mau meletus, tak hanya itu sepasang pahanya dilingkarkan di pinggangku dan saling dikaitkan di belakang tubuhku

    Woooww leherku disosotnya dengan laparnya jilatan dan kecupan nakal bertubi-tubi menghajar leher dan daun telingaku terdengar dengus nafasnya sangat merangsangku aku dibuat mengerang oleh aksinya

    “Ayo sayang, tuntaskan hasratmu Filia boleh lagi enggak?”bisiknya manja sambil bibirnya mengulum nakal daun telingaku.

    Kurasakan pantat montok Filia bergerak gemulai, membesut hebat batang kemaluanku yang terjepit di liang sanggamanya, sejenak kunikmati besutan dan pelintiran nikmat itu tanpa balasan.. karena kuhentikan ayunan kontolku

    “Kamu ingin berapa kali..?”sahutku berbisik tapi sambil mengayunkan batang kemaluanku dalam sekali.. “Eeeeehhhhhhhh! sampe pingsan Filia juga mauuuuuhhhhhh!”jawabnya sambil terhentak-hentak akibat rojokanku yang kuat dan cepat Aku mengakui kelihaian janda 2 anak ini dalam berolah sanggama, kelihaiannya memainkan kontraksi otot-otot perutnya yang menimbulkan kenikmatan luar biasa pada batang kemaluan yang terjebak di liang sanggamanya yang becek tehnik-tehnik bercintanya memang benar-benar canggih Tany istriku wajib berguru pada Filia.

    PikirkuTapi rupanya Filia tak mampu berbuat banyak menghadapi permainanku yang galak dan liar Setelah pencapaian orgasmenya yang ke tiga Wajah Filia semakin pucat, walaupun semangat tempurnya msh besar

    “Ooooww my God ayo sayaaang Filia masih kuat”desisnya berulang-ulang sambil sesekali pantatnya menggeol liar, mencoba memberikan counter attack Aku tak ingin memperpanjang waktu, walau sebenarnya masih blm ingin mengakhiri, tapi waktu yang berbicara hampir 2 jam aku dan Filia berrpacu birahi diatas meja kerja Tany.

    Aku mulai berkonsentrasi untuk pencapaian akhirku aku tak peduli erangan dan rintihan Filia yang memilukan akibat rojokanku yang menghebat

    “Ooohkk.. hhookkhh.. ooww.. sayaaang keluarkan.. di di.. mulutkuuu yakkkhh..hhkk..”Sebagai wanita yg berpengalaman Filia tahu gelagat ini diapun mempergencar counter attacknya dengan goyang dan geolnya yang gemulai kuku jarinya yang panjang menggelitiki dada bidangku dan aku mengeram panjang sebelum mencabut batang kemaluanku dari liang becek di tengah selangkangan Filia.

    Dengan lincah Filia mengatur posisinya sehingga kepalanya menggantung terbalik keluar dari meja, tepat didepan palkonku yang sedang mengembang siap menyemburkan cairan kental sewarna susu Filia mengangakan mulutnya lebar-lebar dan lidahnya terjulur menggapai ujung palkonku.

    Hwwwoooohhh!!!!! ledakan pertama mengantarkan semburatnya spermaku menyembur lidah dan rongga mulutnya aku sendiri tidak menyangka kalo sebegitu banyak spermaku yang tumpah. bahkan sebelum semburan berakhir dengan tidak sabar batang kemaluanku disambar dan dikoloh dan disedot habis-habisan.

    Filia duduk diatas meja sambil merapikan rambut blondienya yang kusut, sementara aku ngejoprak di kursi putar..

    “Wajah kamu alim ternyata mengerikan kalo sedang ML mas?”celetuk Filia sambil menatapku dengan pandangan gemas dengan senyum-senyum jalang.

    “Siang ini aku ketemu singa betina kelaparan”sahutku letoy.

    “Salah mas, yang bener kehausan peju mas Tommy bikin badanku terasa segarha.. ha..ha..”sambut Filia sambil ketawa ngakak

    “Waaakks mati aku mas, Tany dateng tuuuhh!”Tiba-tiba Filia loncat turun dari meja dengan wajah pucat, buru-buru merapikan pakaian sekenanya dan langsung cabut keluar ruangan akupun segera melakukan tindakan yg sama waaah di atas sepatuku ada onggokan kain putih ternyata celana dalam pasti milik Filia, segera kusambar masuk ke tas laptop dan aku segera masuk ke kamar mandi yg ada di ruang kerja Tany.

    “Yaaang chayaaang. bukain doong”suara Tany sambil mengetok pintu kamar mandi

    “Hei.. bentar sayang dari mana aja..?”sahutku setengah gugup dari dalam kamar mandi. Ketika pintu kubuka Tany langsung menerobos masuk busyeet Tany menubrukku dan aku dipepetin ke wastafel aku makin gugup

    “Sssshhhh untung kamu dateng say ga tau mendadak aja, tadi dijalan Tany horny berat”tanpa basa basi lagi celanaku dibongkarnya dan setelah batang kemaluanku yang masih loyo itu di dapatnya, segera istriku ini berlutut dan melakukan oral sex.

    Meski agak lama, tapi berhasil juga kecanggihan oral sex Tany istriku membangunkan kejantananku yang baru mo istirahat tanpa membuka pakaiannya Tany langsung membelakangiku sambil menyingkap rok kerjanya sampai ke pinggang.

    Pantat Tany kalah montok dibanding Filia, namun bentuknya yang bulat, mengkal sangat seksi di mataku sesaat kemudian CD G-String dan stocking Tany sdh lolos dari tempatnya

    “C’ mon darling. hajar liang cinta Tany dari belakang”dengan suara dengus nafas penuh birahi Tany mengangkangkan kakinya sambil menunggingkan pantatnya.

    Memang istriku akhir-akhir ini sangat menyukai gaya doggie style”lebih menyengat”katanya sesaat kemudian kembali batang kemaluanku beraksi di liang sanggama wanita yang berbeda Dalam posisi doggie style.

    Tany memang lihay memainkan goyang pantatnya yang bulat secara variatif dan apalagi aku sangat suka melihat goyangan pantat seksi Tany, membuat aku semakin semangat menghajar liang sanggama Tany yang tak sebecek Filia.

    Untungnya Tany adalah type wanita yang cepat dan mudah mencapai puncak orgasme.. nggak sampai 10 menit kemudian Tany mulai mengeluarkan erangan-erangan panjang aku hafal itu tanda-tanda bahwa istriku menjelang di puncak orgasme, maka segera kurengkuh pinggangnya dan kupercepat rojokan batang kemaluanku menghajar liang sanggama Tany tanpa ampun.
    ]
    “Tommm Tommmy gilaaa aaahkk niiikkmaaatt bangeeett!!!”jeritan kecil Tany itu dibarengi dengan tubuh sintal Tany yang gemetaran hebatpantat seksinya menggeol-geol liar menimbulkan rasa nikmat luar biasa pada batang kemaluanku yang terjepit di liang sanggamanya aku tak menahan lagi semburatnya spermaku yang kedua utk hari ini.

    Baca Juga Cerita Seks Jilatan Gigolo

    “Ma kasih Tommy chayaang”kata Tany sesaat kemudian sambil mendaratkan kecupan mesra dibibirku.

    Setelah membersihkan sisa-sisa persetubuhan, aku pamit untuk kembali ke kantor, sementara Tany masih berendam di bath up. Filia sudah duduk rapi di mejanya ketika aku keluar dari ruangan Tany, kudekati dia

    “Ssshh nggak takut masuk angin, bawahnya ga ditutup..?”bisikku sambil kuselipkan celana dalam putih Filia kelaci mejanya mata Filia melotot dengan mimik lucu

    “Ronde kedua niih yee..?”celetuknya nakal setelah tahu Tany tak ikut keluar dari ruangan.
    Aku melenggang memasuki mobilku, sambil memikirkan follow up ke Filia.. yang ternyata sangat menggairahkan.